Farmakologi hiv aids Presentation Transcript

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Farmakologi hiv aids Presentation Transcript"

Transkripsi

1 Farmakologi hiv aids Presentation Transcript 1. HIV/AIDS Disusun oleh : Dinda Ayu Deliana Linda Kirana Nurlina Wenny Indriasari Farmakologi Antitumor & Antiinfeksi Magister Farmakologi Sekolah Farmasi ITB What is HIV/AIDS? HIV, or human immunodeficiency virus, is the virus that causes AIDS. HIV attacks the immune system by destroying CD4 positive (CD4+) T cells, a type of white blood cell that is vital to fighting off infection. The destruction of these cells leaves people infected with HIV vulnerable to other infections, diseases and other complications. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) is the final stage of HIV infection. A person infected with HIV is diagnosed with AIDS when he or she has one or more opportunistic infections, such as pneumonia or tuberculosis, and has a dangerously low number of CD4+ T cells (less than 200 cells per cubic millimeter of blood). 3. Prevalensi Kasus HIV/AIDS di Indonesia Periode 1 Januari 1987 Maret 2010 Sumber : Ditjen PPM & PL Depkes RI, Patofisiologi Virulensi HIV : Replikasi cepat Mudah bermutasi Dapat bersembunyi dari sistem imun 5. SIKLUS HIDUP HIV HIV Devastates the Immune System Killing Cells Directly Apoptosis 8. The Death of Innocent Bystander Cells Destruction of Immune Precursor Cells 9. HIV bersembunyi dari sistem imun 10. Progresivitas HIV/AIDS 11. Gejala Early symptoms : Fever Headache Tiredness Enlarged lymph nodes in the neck and groin area >> flu-like symptoms 12. Later symptoms : Rapid weight loss Recurring fever or profuse night sweats Extreme and unexplained fatigue Prolonged swelling of the lymph glands in the armpits, groin, or neck Diarrhea that lasts for more than a week Sores of the mouth, anus, or genitals Pneumonia Red, brown, pink, or purplish blotches on or under the skin or inside the mouth, nose, or eyelids Memory loss, depression, and other neurologic disorders. 13. Diagnosa ELISA -> Mendeteksi antibodi thd HIV-1. Positif palsu dpt tjd pd perempuan yg telah melahirkan beberapa kali, pd yg baru mendapatkan vaksin hepatitis B, HIV, influeza, atau rabies, penerima tranfusi darah berulang, dan penderita gagal ginjal atau hati, atau menjalani hemodialisa kronik. Negatif palsu dapat terjadi bila pasien baru terinfeksi, dan test dilakukan sebelum pembentukan antibodi yg adekuat. Waktu minimum utk terbentuknya antibodi 3-4 minggu dari awal terpapar. Uji Western blot adalah yang paling umum dilakukan untuk test konfirmasi. 14. Diagnosa Test beban virus menghitung viremia dgn mengukur jumlah virus RNA. Cara yg digunakan: RT-PCR, bdna, dan Transcription-Mediated Amplification. Jumlah limfosit CD4 dalam darah adalah tanda pengganti perkembangan penyakit. Normal CD4 berkisar antara sel/mikroliter atau 40-70% dari seluruh limfosit.

2 15. Faktor Resiko PMS (Penyakit Menular Seksual) dicurigai meningkatkan kerentanan terhadap infeksi HIV dengan dua mekanisme. Ulkus genetial (misalnya, sifilis, herpes, atau chancroid) mengakibatkan adanya celah pada lapisan saluran kelamin atau kulit. Celah tsb membuat portal masuk bagi HIV. PMS Non-ulseratif (misalnya, klamidia, gonore, dan trikomoniasis) meningkatkan konsentrasi sel-sel dalam cairan vagina yang dapat berfungsi sebagai target untuk HIV (misalnya, sel CD4 +). 16. Faktor Resiko Studi menunjukkan bahwa ketika orang yang terinfeksi HIV juga terinfeksi dengan PMS lain, mereka lebih mungkin memiliki HIV dalam cairan vagina mereka. Misalnya, pria yang terinfeksi dengan kedua gonore dan HIV lebih dari dua kali lebih mungkin untuk menyebarkan HIV pada cairan kelamin mereka daripada mereka yang hanya terinfeksi HIV. Selain itu, konsentrasi median HIV dalam air mani adalah sebanyak 10 kali lebih tinggi pada pria yang terinfeksi dengan kedua gonore dan HIV dibandingkan pria yang hanya terinfeksi HIV. 17. Penularan HIV Transmisi seksual k ontak antara sekresi cairan vagina atau cairan sem en seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa mulut pasangannya Penularan melalui darah p enggunaan kembali obat suntik, penderita hemofilia, dan resipien transfusi darah dan produk darah Ibu-ke-anak transmisi t erjadi melalui rahim selama masa perinatal 18. Komplikasi Penyakit p aru-paru u tama ( p neumonia pneumo si stis) Penyakit saluran pencernaan utama ( e sofagitis) Penyakit saraf dan kejiwaan utama Kanker dan tumor ganas (malignan) Infeksi oportunistik lainnya gejala tidak spesifik, terutama demam ringan dan kehilangan berat badan termasuk infeksi Mycobacterium avium-intracellulare dan sitomegalovirus 19. Opportunistic Infections associated with AIDS Bacterial Tuberculosis (TB) Strep pneumonia Viral Kaposi Sarcoma Herpes Influenza (flu) 20. Opportunistic Infections associated with AIDS Parasitic Pneumocystis carinii Fungal Candida Cryptococcus 21. GOAL -> Mencapai efek penekanan maksimum replikasi HIV. Sasaran sekunder : peningkatan limfosit CD4 dan perbaikan kualitas hidup. Sasaran akhir : penurunan mortalitas dan morbiditas. 22. Sistem Tahapan Infeksi 23. Rekomendasi utk memulai terapi dgn ARV pd remaja dan dewasa berdasar kategori klinis dan tanda imunologi 24. TERAPI FARMAKOLOGI HIV 25. PRINSIP TERAPI ANTI RETROVIRAL Pengobatan antiretroviral tidak akan menyembuhkan, karena infeksi HIV tidak dapat dihilangkan, hanya bisa menekan replikasi HIV dan meningkatkan jumlah CD4. Pengobatan bisa berlangsung seumur hidup dengan obat yang tersedia Semua regimen pengobatan yang ada, berkaitan dengan toksisitas. Beberapa dapat mengancam nyawa 26. Selalu ada resiko resistensi jika tidak patuh dalam penggunaan obat ARV. Walaupun ada kerusakan dari sistem imun inang karena infeksi HIV, Infeksi Oportunistik yang serius hanya akan terjadi pada infeksi HIV parah. 27. PENGGOLONGAN OBAT ANTIRETROVIRAL Nukleosida reverse transcriptase inhibitor (NRTI) Nucleotide reverse transcriptase inhibitor (NtRTI) Non Nukleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTIs) Protease inhibitor (PI) Viral Enrty Inhibitor

3 Nukleosida analog reverse transcriptase inhibitor (NRTI) Bekerja pada enzim reverse transkriptase Untuk dapat bekerja, semua golongan NRTI hrs mengalami fosforilasi oleh enzim sel hospes di sitoplasma Mekanisme kerjanya : menginhibisi pemasukan nukleotida secara kompetitif. Virus harus menjalani fosforilasi intrasel untuk membentuk trifosfatnya yang merupakan analog nukleosida untuk DNA polimerase. 30. ZIDOVUDIN Mekanisme kerja : Zidovudin bekerja dengan menghambat enzim reverse transkriptase virus. Gugus Azidotimidin (AZT) pada zidovudin mengalami fosforilasi. Gugus AZT 5 - monofosfat akan bergabung pada ujung 3 rantai DNA virus dan menghambat reaksi reverse transkriptase Spektrum : HIV 1 dan 2 Resistensi : mutasi enzim reverse transkriptase; bisa terjadi resistensi silang dg analog nukleosida lainnya 33. Dosis : 600 mg po per hari Efek samping : anemia, neutropenia, sakit kepala, mual 34. DIDANOSIN Didanosin diubah mjd dideoksiadenosin trifosfat scr intraselular 35. DIDANOSIN Mekanisme kerja : Trifosfat ini menghambat sintesa DNA retrovirus (HIV) melalui penghambatan kompetitif RT dan penggabungan ke dalam DNA viral Resistensi : mutasi enzim RT Spektrum : HIV 1 dan 2 Indikasi : infeksi HIV tingkat lanjut Dosis : 400 mg po per hari dosis tunggal/terbagi 36. Efek samping : neuropathy perifer, pankreatitis, diare, fatigue, sakit kepala, mual, rash, muntah, retinal depigmentasi, alopecia, anemia, mulut kering, demam, kembung, pembesaran kelenjar parotid, leukopenia, hiperuricaemia, laktat asidosis dan hepatomegali dengan steatosis stlh pengobatan berjalan beberapa bulan. 37. ZALSITABIN Analog dideoksisistidin [ddc] Mekanisme kerja : diubah menjadi dideoksi trifosfat. Shg menghambat enzim reverse transkriptase. 38. Indikasi : infeksi HIV lanjut pada dewasa yg tdk tahan zidovudin (anemia, neutropenia)/pasien yg ggl diobati dg zidovudin (perburuk klinis, penurunan status immunologis progresif) Dosis : mg (1 tab) tiap 8 jam, dlm kombinasi Zalcitabine kurang poten dibdgkan NRTI lain, krn ES yg serius. Jrg digunakan utk pengobatan HIV. 39. STAVUDIN Stavudine (2'-3'-didehydro-2'-3'-dideoxythymidine, d4t, brand name Zerit) mrpkn analog nukleosida penghambat reverse transkriptase 40. Mekanisme kerja : Stavudine difosforilasi mjd trifosfat. Stavudine triphosphate menghambat reverse transkriptase dg berkompetisi dengan substrat alami, timidin trifosfat. Stavudin juga mnybbkan terminasi sintesis DNA dg masuk k dlmnya. Interaksi Obat : penggunaan AZT & STA bersamaan tdk direkomendasikan. AZT menghmbt fosforilasi stavudine. Anti hiv lain tidak mmpunyai aktv ini. 41. LAMIVUDIN Lamivudine (2',3'-dideoxy-3'-thia cytidine, commonly called 3TC) mrpkn suatu analog nukleosida penghambat reverse transkriptase yg poten. 42. Mekanisme kerja : Lamivudine = analog sitidin. Menghambat reverse transkriptase HIV tipe 1&2 dan jg hep-b. Lamivudin terfosforilasi dan berkompetisi dg sitidin untuk masuk ke dlm viral DNA. Lamivudin menghambat enzim reverse transkriptase scr kompetitif & sbg terminator rantai sintesis DNA akibat hilangnya grup 3 hidroksil pada analog nukleosida (mybbkan pemanjangan DNA dan pertumbuhan DNA terhenti)

4 43. Lamivudin : BA > 80%; dpt melintas blood brain barrier; Lamivudine diberikan bersama Zidovudin & bersifat sinergistik. Lamivudin utk mengembalikan sensitivitas zidovudin-resisten. Lamivudin tdk mybbkan aktv mutagen pd dosis terapetik. Dosis : 300 mg dlm dosis tunggal atau terbagi (2x). Diberikan dg kombinasi obat lain 44. EMITRISITABIN Emtricitabine mrpkn analog sitidin Menghambat reverse transkriptase (enzim yg mengkopi RNA HIV di dlm DNA viral). Emtricitabin dpt menurunkan jml viral load HIV dan meningkatkan T-sel/ CD Menghambat reverse transkriptase (enzim yg mengkopi RNA HIV di dlm DNA viral). Emtricitabin dpt menurunkan jml viral load HIV dan meningkatkan T-sel/ CD ABAKAVIR Abacavir mrpkn analog guanosin. Mekanisme kerja : Menghambat reverse transkriptase (enzim yg mengkopi RNA HIV di dlm DNA viral). 47. Indikasi : Viral strains resistant Zidovudin (AZT) / Lamivudine (3TC) BA Abacavir (83%:oral). Dapat melewati sawar darah otak. ES : dpt ditoleransi, ES utama adl hipersensitivitas. Namun dpt meningkatkan resiko serangan jantung 90%. 48. APRICITABINE Apricitabine = an experimental NRTI. Analog sitidin. Strukturnya berhubungan dengan lamivudin dan emtricitabine. 49. Dosis : Apricitabine dosis 1200 mg/per hari sebagai monoterapi dapat menurunkan viral load > 1.65 logs (45 fold) pada trial 10 hari. ES : lebih dpt ditoleransi. Tdk menyebabkan ES yg berhubungan dengan bone-marrow suppresion, ginjal dan hati. Indikasi : pasien dg resistensi lamivudin, zidovudin, didanosin dan tenofovir 50. NUCLEOTIDE REVERSE TRANSCRIPTASE INHIBITOR (NtRTI) 51. TENOFOVIR DISOKPROKSIL STRUKTUR KIMIA Mekanisme Kerja Tenofovir akan dikonversi menjadi difosfat di intrasel. Bentuk difosfat akan menghentikan sintesis DNA HIV melalui penghambatan reverse transkriptase dan penggabungan ke dalam DNA virus secara kompetitif. Efek Samping Gangguan yang paling sering dilaporkan adalah pusing, kelelahan, dan sakit kepala. Gangguan pencernaan ringan hingga sedang seperti anoreksia, nyeri perut, diare, dispepsia, kembung, mual dan muntah. 52. TENOFOVIR DISOKPROKSIL SPEKTRUM AKTIVITAS Infeksi HIV (tipe 1 dan 2) serta berbagai retrovirus lainnya dan infeksi HBV kronik INDIKASI Infeksi HIV dalam kombinasi dengan efavirens, tidak boleh dikombinasi dengan lamivudin dan abakavir RESISTENSI Resistensi pada tenofovir disebabkan oleh mutasi pada reverse transkriptase kodon 65 DOSIS Sekali sehari 300 mg secara per oral, bentuk sediaan tablet; 53. TENOFOVIR DISOKPROKSIL PERHATIAN Dihentikan jika terjadi peningkatan pesat konsentrasi aminotransferase Pemberian secara hati-hati pada pasien dengan hepatomegali atau untuk pasien dengan penyakit hati yang lain Untuk pasien dengan gangguan penyakit ginjal harus diberikan dengan hati-hati dan dilakukan modifikasi dosis 54. TENOFOVIR DISOKPROKSIL FARMAKOKINETIK Cepat diserap secara peroral dengan konsentrasi puncak plasma terjadi setelah 1-2 jam Bioavailabilitas pada pasien puasa adalah sekitar 25%, akan meningkat jika disertai dengan makanan lemak tinggi Tenofovir didistribusikan secara luas ke dalam jaringan tubuh, terutama ginjal dan hati. Mengikat protein plasma kurang dari 1% dan dengan serum protein sekitar 7%. Waktu paruh tenofovir adalah 12 sampai 18 jam. Tenofovir diekskresikan terutama dalam urin oleh sekresi tubular aktif dan filtrasi glomerulus. 55. VIRAL ENTRY INHIBITOR

5 56. ENFURVITIDE STRUKTUR KIMIA INDIKASI Terapi infeksi HIV1 dalam kombinasi dengan antihiv lainnya RESISTENSI Perubahan pada genotip gp41 asam amino menyebabkan resistensi terhadap enfuvirtide 57. ENFURVITIDE Mekanisme Kerja Enfuvirtide menghambat masuknya virus HIV-1 ke dalam sel dengan menghambat fusi virus ke dalam membran sel. Enfuvirtide berikatan dengan bagian HR1 (first heptad-repeat) pada sub unit gp41 envelope glikoprotein virus serta menghambat terjadinya perubahan komformasi yang dibutuhkan untuk fusi virus ke membran sel. 58. ENFURVITIDE EFEK SAMPING Reaksi lokal pada tempat injeksi yang menghasilkan nyeri, eritema, nodul dan kista, pruritus, dan ecchymosis. Reaksi ini telah dilaporkan terjadi di 98% pasien Efek samping yang sangat umum termasuk mual, diare, penurunan berat badan, dan neuropati perifer. Anorexia, sakit perut, konstipasi, pankreatitis, mialgia, kelemahan atau kehilangan kekuatan, limfadenopati, insomnia, depresi, penyakit 'flu seperti', sinusitis, dan konjungtivitis 59. ENFURVITIDE FARMAKOKINETIK Enfuvirtide diserap setelah injeksi subkutan dengan bioavailabilitas absolut rata-rata 84%. Dan 92% terikat protein plasma. Enfuvirtide adalah peptida yang dicerna melalui hidrolisis, tetapi tidak menghambat isoenzim sitokrom P450. Eliminasi waktu paruh 3,8 jam setelah digunakan subkutan,. 60. ENFURVITIDE PERHATIAN Reaksi hipersensitivitas. Peningkatan insiden dengan infeksi bakteri, khususnya pneumonia,harus dimonitor secara ketat hati-hati pada pasien dengan penurunan fungsi hati dan pada mereka dengan penurunan fungsi ginjal sedang sampai parah 61. ENFURVITIDE DOSIS Enfuvirtide 90 mg (1`ml) dua kali sehari diinjeksikan secara subkutan atau di abdomen. 62. Non Nukleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTIs) 63. Mekanisme Kerja NNRTI Berikatan dengan p66 subunit pada reverse transkriptase >> menyebabkan perubahan konformasi >> penurunan aktivitas enzim 64. NNRTIs spesifik terhadap HIV1 tapi tidak untuk HIV2 dan retrovirus lainnya NNRTIs tidak memiliki aktivitas pada DNA polimerase sel hospes. NNRTIs tidak memerlukan fosforilasi intraseluler untuk aktivitasnya Resistensi dapat terjadi dengan cepat. 65. Struktur Kimia NNRTI 66. Karakter Farmakokinetik NNRTI 67. Adverse Effects The most frequent adverse effect with these drugs is rash, which typically occurs in 15 25% of patients. The most severe form is life-threatening Stevens- Johnson syndrome. Elevations of hepatic transaminases also are common with all drugs of this class 68. Nevirapine Nevirapine readily crosses the placenta and therefore has been used to prevent mother-to-child transmission of HIV-1 In addition to elevated hepatic transaminases, severe and fatal hepatitis has been associated with nevirapine use; this may be more common in women, especially during pregnancy 69. Delavirdine Krn waktu paruhnya yg pendek & tingkat tjdnya resisten yg cepat, delavirdin jrg digunakan Absorbsi terbaik pd ph asam dan bisa menurun krn antagonis reseptor histamin h2/penghambat pompa proton Delavirdine diklirens mll sitokrom p450 dan eliminasi waktu paruh 6 jam.

6 70. Efavirenz Efavirenz digunakan scr luas karena aman, efektif dan tolerabilitas jangka panjang. Efavirens hny bisa digunakan dalam kombinasi dengan agen efektif lain dan tdk boleh digunakan sebagai agen tunggal pada regimen yg gagal Efavirenz diklirens mll sitokrom p450 dengan waktu paruh yg diperpanjang yg memungkinkan dosis tunggal per hari ES : rash, CNS (pusing, konsentrasi terpecah, depresi, halusinasi) ES CNS timbul stlh penggunaan 4 minggu terapi Efavirenz merupakan satu-satunya retroviral yg teratogenik 71. ` Agent Approved Saquinavir-HGC (SQV-HGC, Invirase ) 12/95 Ritonavir (RTV, Norvir ) 3/96 Indinavir (IDV, Crixivan ) 3/96 Nelfinavir (NFV, Viracept ) 3/97 Saquinavir-SGC (SQV-SGC, Fortovase ) 11/97 Amprenavir (APV, Agenerase ) 4/99 Lopinavir/ritonavir (KAL, Kaletra ) 9/00 Atazanavir (ATV, Reyataz ) 6/03 Fosamprenavir (fos-apv, Lexiva ) 10/03 Tipranavir (TPV, Aptivus ) 6/05 Darunavir (DRV, Prezista ) 6/ Selama tahap akhir dari siklus pertumbuhan HIV, dan produk gen Gag dan Gag-Pol dijabarkan ke polyproteins dan kemudian menjadi partikel tunas muda.protease bertanggung jawab untuk membelah molekul-molekul prekursor untuk menghasilkan protein struktural akhir dari inti virion matang. Mekanisme: Dengan mencegah pembelahan dari polyprotein Gag-Pol atau mengahambat enzim protease yg memecah poliprotein besar yg terbentuk oleh DNA-viral menjadi protein-protein lebih kecil untuk digunakan bagi pembangunan virus baru. Dengan PI, produksi virion dan perlekatan dengan sel inang masih terjadi, namun virus gagal berfungsi dan tidak infeksius terhadap sel 73. Inidavir (Crixivan) Berkhasiat terutama pada HIV tipe-1, pada tipe-2 efeknya kurang kuat. Mekanisme: menghambat protease-hiv yg memotong rantai polipeptida menjadi bagian-bagian yg lebih kecil. Dengan demikian, pemasakan virus-virus baru dihalangi dan terbentuklah virus yg belum masak dan tidak bersifat menular lagi. Resorpsi dan BA sangat berkurang oleh makanan yg kaya protein dan lemak, maka hrs diminum dengan perut kosong. Plasma t ½ -nya rata2 1,8 jam. Dimetabolisme di hati oleh sistem oksidasi P450, eksresi melalui tinja (80%) dan kemih (20%). 74. Efek samping: tersering berupa gangguan lambung-usus, agak sering juga timbulnya batu ginjal dengan kencing berdarah (hematuria) mungkin akibat kristalisasi dalam kemih - > untuk mengurangi resiko ini perlu minum sekurang2nya 1,5 lt air sehari. Selain itu dapat juga terjadi nyeri otot dan kepala, pusing, rasa letih dan penat, exanthema, gatal-gatal, kesemutan dan sukar tidur. Dosis: 3 dd 800 mg 1 jam a.c. 75. Ritonavir (Norvir) Derivat dengan khasiat sama, teapi kerjanya lebih panjang (t ½ = 3-5 jam). Resorpsinya dinakkan oleh makanan, BA-nya lebih dari 60%. Efek samping: sama dengan idinavir Dosis: 2 dd 600 mg d.c. 76. Saquinavir (Invirase) Derivat dengan daya kerja dan sifat yang sama. Plasma t ½-nya 13 jam, tetapi resorpsinya buruk dengan BA hanya ca 4%. Dosis: 3 dd 600 mg p.c. 77. Karakteristik PI (Data from Panel on Clinical Practices for the Treatment of HIV Infection. Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in HIV-Infected Adults and Adolescents. 2006, Anderson PL, Kakuda TN, Lichtenstein KA) 78. Current Clinical Strategies :Manual of HIV/AIDS Therapy 2003 Edition, Douglas C. Princeton, MD Oligonucleotides Oligonucleotides have been designed to bind at various sites along the genome of the human immunodeficiency virus (HIV) Oligonucleotides Directed against HIV.). Antisense nucleotides can bind to the proviral long terminal repeats, which are regulatory regions that have an important role in integrating the proviral DNA into the human genome (a necessary step in the life cycle of HIV) 80.

7 81. Inhibitor Integrase Raltegravir, also known as Isentress and MK-0518, is a type of medicine called an integrase inhibitor. Integrase inhibitors work by blocking integrase, a protein that HIV needs to insert its viral genetic material into the genetic material of an infected cell. The recommended dosage of raltegravir for adults is 400 mg twice a day. Doses of 200, 400, and 600 mg have been studied in clinical trials. An 800 mg dose taken twice a day is recommended for individuals also taking rifampin.some individuals may benefit from different doses of raltegravir 82. Inhibitor Integrase side effect Although not all of these effects are known, the most common side effects seen in clinical trials have been diarrhea, nausea, headache, and fever. Outside of clinical trials and following approval by the FDA, some people have experienced rash, Stevens-Johnson syndrome, depression, and suicidal tendencies. 83. Terapi HIV/AIDS pada Ibu Hamil & menyusui Resiko transmisi ibu ke bayi 25-35% ZDV > setelah trimester pertama > selama proses melahirkan (IV) > pada bayi selama 6 minggu menurunkan resiko transmisi hingga < 10% Hindari obat yang toksik terhadap fetus seperti EFV Ibu hamil disarankan untuk melahirkan secara caesar Disarankan untuk menghindari menyusui 84. Summary 85. STRATEGI TERAPI ANTIVIRAL HIV Virus -> replikasi Perhatikan tahapan replikasi virus yang mungkin untuk dihambat/dihentikan : 1) penghambatan translasi mrna viral; 2) penghambatan pemasukan dan atau pengeluaran virus dari sel inang Enzim yg terdapat pada viral : 1) viral RNA Polimerase; 2) reverse transkripatase; 3) protease; 4) integrase Mutagenitas -> reverse transkriptase 86. ANTIVIRAL TARGET Pengikatan reseptor dipermukaan sel Fusi/proses pemasukan ke dalam membran Uncoating/terlepasnya capsid membran virus Sintesis asam nukleat Sintesis protein viral Proses pengeluaran virus/pelepasan virus Rekomendasi regimen terapi HIV REGIMEN LINI PERTAMA REGIMEN LINI KEDUA RTi Pi STANDAR Zidovudin / Stavudin + Lamivudin + Nevirapin + Nelfinavir Didanosin + Abacavir atau Tenovofir + Abacavir atau Tenovofir + Lamivudin Protease Inhibitor / ritonavir dosis rendah Tenovofir + Lamivudin + Nevirapin atau EFV Didanosin + Abacavir atau Didanosin + Lamivudin (+Zidovudin) Abacavir + Lamivudin + Nevirapin atau EFV Didanosin + Lamivudin (+Zidovudin) atau Tenovofir + Lamivudin (+Zidovudin 89. Rekomendasi regimen terapi HIV REGIMEN LINI PERTAMA REGIMEN LINI KEDUA RTi Pi ALTERNATIF Zidovudin atau Stavudin + Lamivudin + Tenovofir atau Abacavir EFV atau Nevirapin (+didanosin) 90. TERIMA KASIH ^^

OBAT ANTIVIRUS GOLONGAN OBAT ANTI NONRETROVIRUS

OBAT ANTIVIRUS GOLONGAN OBAT ANTI NONRETROVIRUS OBAT ANTIVIRUS Virus hanya dapat ditanggulangi oleh antibodies selama masih berada di dalam darah. Bila virus sudah masuk ke dalam sel, segera system-interferon dengan khasiat antiviralnya turun tangan,

Lebih terperinci

Pemberian ARV pada PMTCT. Dr. Janto G. Lingga,SpP

Pemberian ARV pada PMTCT. Dr. Janto G. Lingga,SpP Pemberian ARV pada PMTCT Dr. Janto G. Lingga,SpP Terapi & Profilaksis ARV Terapi ARV Penggunaan obat antiretroviral jangka panjang untuk mengobati perempuan hamil HIV positif dan mencegah MTCT Profilaksis

Lebih terperinci

Senarai Ubat HIV Dunia

Senarai Ubat HIV Dunia Senarai Ubat HIV Dunia Lebih daripada 20 jenis ubat anti-hiv boleh didapati sekarang ini. Kelas-kelas Ubatan HIV Ubat-ubat di bawah disusun oleh kelas ubatan. Kelas-kelas ini mempunyai nama panjang yang

Lebih terperinci

Apa itu HIV/AIDS? Apa itu HIV dan jenis jenis apa saja yang. Bagaimana HIV menular?

Apa itu HIV/AIDS? Apa itu HIV dan jenis jenis apa saja yang. Bagaimana HIV menular? Apa itu HIV/AIDS? Apa itu HIV dan jenis jenis apa saja yang HIV berarti virus yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Ini adalah retrovirus, yang berarti virus yang mengunakan sel tubuhnya sendiri

Lebih terperinci

TINJAUAN TENTANG HIV/AIDS

TINJAUAN TENTANG HIV/AIDS BAB 2 TINJAUAN TENTANG HIV/AIDS 2.1 Pengenalan Singkat HIV dan AIDS Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, HIV adalah virus penyebab AIDS. Kasus pertama AIDS ditemukan pada tahun 1981. HIV

Lebih terperinci

ANTIVIRUS. D. Saeful Hidayat. Bagian Farmakologi dan Terapeutik, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

ANTIVIRUS. D. Saeful Hidayat. Bagian Farmakologi dan Terapeutik, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara ANTIVIRUS D. Saeful Hidayat Bagian Farmakologi dan Terapeutik, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara 1 (VISHAM = racun ) VIRUS Mikroorganisme terkecil 20 30 mikron Prion protein penyebab penyakit

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan kriteria WHO, anemia merupakan suatu keadaan klinis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan kriteria WHO, anemia merupakan suatu keadaan klinis 11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anemia Pada Pasien HIV/AIDS 2.1.1 Definisi Anemia Berdasarkan kriteria WHO, anemia merupakan suatu keadaan klinis dimana konsentrasi hemoglobin kurang dari 13 g/dl pada laki-laki

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi AIDS Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKAA. tertinggi dia Asia sejumlah kasus. Laporan UNAIDS, memperkirakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKAA. tertinggi dia Asia sejumlah kasus. Laporan UNAIDS, memperkirakan 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKAA 2.1 Epidemiologi HIV/AIDS Secara global Indonesia menduduki peringkat ketiga dengan kasusa HIV tertinggi dia Asia sejumlah 380.000 kasus. Laporan UNAIDS, memperkirakan pada tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Infeksi Menular Seksual (IMS) atau Sexually Transmited Infections (STIs) adalah penyakit yang didapatkan seseorang karena melakukan hubungan seksual dengan orang yang

Lebih terperinci

BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala

BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). 10,11 Virus ini akan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 HIV/AIDS 2.1.1 Definisi HIV/AIDS AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. Jika diterjemahkan secara bahasa : Acquired artinya didapat, jadi bukan merupakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus ribonucleic acid (RNA) yang termasuk family retroviridae dan genus lentivirus yang menyebabkan penurunan imunitas tubuh.

Lebih terperinci

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2PL) Kementerian Kesehatan RI (4),

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2PL) Kementerian Kesehatan RI (4), BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi dari virus HIV (Human Immunodeficiency

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. imuno kompromis infeksius yang berbahaya, dikenal sejak tahun Pada

I. PENDAHULUAN. imuno kompromis infeksius yang berbahaya, dikenal sejak tahun Pada 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan suatu penyakit imuno kompromis infeksius yang berbahaya, dikenal sejak tahun 1981. Pada tahun 1983, agen penyebab

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan pengobatan dan pencegahan terhadap acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) telah menjadi masalah global sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1981

Lebih terperinci

ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME ZUHRIAL ZUBIR

ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME ZUHRIAL ZUBIR ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME ZUHRIAL ZUBIR PENDAHULUAN Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) adalah penyakit yg disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) HIV : HIV-1 : penyebab

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. infeksi Human Immunodificiency Virus (HIV). HIV adalah suatu retrovirus yang

BAB I. PENDAHULUAN. infeksi Human Immunodificiency Virus (HIV). HIV adalah suatu retrovirus yang BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang AIDS (Accquired Immunodeficiency Syndrom) adalah stadium akhir pada serangkaian abnormalitas imunologis dan klinis yang dikenal sebagai spektrum infeksi Human Immunodificiency

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus ribonucleic acid (RNA) yang termasuk family retroviridae dan genus lentivirus yang menyebabkan penurunan imunitas tubuh.

Lebih terperinci

Dampak Perpaduan Obat ARV pada Pasien HIV/AIDS ditinjau dari Kenaikan Jumlah Limfosit CD4 + di RSUD Dok II Kota Jayapura

Dampak Perpaduan Obat ARV pada Pasien HIV/AIDS ditinjau dari Kenaikan Jumlah Limfosit CD4 + di RSUD Dok II Kota Jayapura PLASMA, Vol. 1, No. 2, 2015 : 53-58 Dampak Perpaduan Obat ARV pada Pasien HIV/AIDS ditinjau dari Kenaikan Jumlah Limfosit CD4 + di RSUD Dok II Kota Jayapura Comparison of the Efficacy of ARV Combination

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah gejala atau

I. PENDAHULUAN. Penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah gejala atau I. PENDAHULUAN Penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah gejala atau infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusiaakibat infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berkurang. Data dari UNAIDS (Joint United Nations Programme on HIV and

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berkurang. Data dari UNAIDS (Joint United Nations Programme on HIV and BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) merupakan masalah kesehatan global yang menjadi perbincangan masyarakat di seluruh

Lebih terperinci

Integrasi Konsep Biologi Sel pada jurusan Farmasi

Integrasi Konsep Biologi Sel pada jurusan Farmasi Integrasi Konsep Biologi Sel pada jurusan Farmasi Biologi Sel Dasar BI-100A The Human Perspective The growing problem of antibiotic resistance Sebagian besar antibiotik adalah produk alami yang dihasilkan

Lebih terperinci

CURRENT DIAGNOSIS & THERAPY HIV. Dhani Redhono Tim CST VCT RS dr. Moewardi

CURRENT DIAGNOSIS & THERAPY HIV. Dhani Redhono Tim CST VCT RS dr. Moewardi CURRENT DIAGNOSIS & THERAPY HIV Dhani Redhono Tim CST VCT RS dr. Moewardi Di Indonesia, sejak tahun 1999 telah terjadi peningkatan jumlah ODHA pada kelompok orang berperilaku risiko tinggi tertular HIV

Lebih terperinci

HIV dan Anak. Prakata. Bagaimana bayi menjadi terinfeksi? Tes HIV untuk bayi. Tes antibodi

HIV dan Anak. Prakata. Bagaimana bayi menjadi terinfeksi? Tes HIV untuk bayi. Tes antibodi Prakata Dengan semakin banyak perempuan di Indonesia yang terinfeksi HIV, semakin banyak anak juga terlahir dengan HIV. Walaupun ada cara untuk mencegah penularan HIV dari ibu-ke-bayi (PMTCT), intervensi

Lebih terperinci

TELAAH EFEK SAMPING PENGGUNAAN OBAT ANTITUBERKULOSIS DAN ANTIRETROVIRAL PADA PASIEN KO-INFEKSI HIV-TUBERKULOSIS DI RSUP SANGLAH DENPASAR

TELAAH EFEK SAMPING PENGGUNAAN OBAT ANTITUBERKULOSIS DAN ANTIRETROVIRAL PADA PASIEN KO-INFEKSI HIV-TUBERKULOSIS DI RSUP SANGLAH DENPASAR TELAAH EFEK SAMPING PENGGUNAAN OBAT ANTITUBERKULOSIS DAN ANTIRETROVIRAL PADA PASIEN KO-INFEKSI HIV-TUBERKULOSIS DI RSUP SANGLAH DENPASAR Skripsi DESAK PUTU MEILINDA ASRI SWANTARI 1208505037 JURUSAN FARMASI

Lebih terperinci

Pemutakhiran Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Ba

Pemutakhiran Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Ba Pemutakhiran Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Ba Dr. Muh. Ilhamy, SpOG Direktorat Bina Kesehatan Ibu, Ditjen Bina Kesmas, Depkes RI Pertemuan Update Pedoman Nasional PMTCT Bogor, 4

Lebih terperinci

SKRIPSI diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan mencapai gelar Sarjana Farmasi ( S1 )

SKRIPSI diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan mencapai gelar Sarjana Farmasi ( S1 ) STUDI PENGGUNAAN ANTIRETROVIRAL PADA PENDERITA HIV(Human Immunodeficiency Virus) POSITIF DI KLINIK VOLUNTARY CONSELING AND TESTING RSUD dr. SOEBANDI JEMBER Periode 1 Agustus 2007-30 September 2008 SKRIPSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. rentan terhadap infeksi dan pembentukan kanker. AIDS disebabkan oleh virus

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. rentan terhadap infeksi dan pembentukan kanker. AIDS disebabkan oleh virus BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah AIDS (Acquired Immunodeficiency Sindrome) adalah suatu penyakit yang merusak kemampuan penderita untuk melawan penyakit, mengakibatkan tubuh rentan terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1,2,3. 4 United Nations Programme on HIV/AIDS melaporkan

BAB I PENDAHULUAN 1,2,3. 4 United Nations Programme on HIV/AIDS melaporkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi dari virus Human Immunodeficiency

Lebih terperinci

Terapi antiretroviral untuk infeksi HIV pada bayi dan anak:

Terapi antiretroviral untuk infeksi HIV pada bayi dan anak: Terapi antiretroviral untuk infeksi HIV pada bayi dan anak: Menuju akses universal Oleh: WHO, 10 Juni 2010 Ringkasan eksekutif usulan. Versi awal untuk perencanaan program, 2010 Ringkasan eksekutif Ada

Lebih terperinci

BAB II PENDAHULUANN. Syndromem (AIDS) merupakan masalah global yang terjadi di setiap negara di

BAB II PENDAHULUANN. Syndromem (AIDS) merupakan masalah global yang terjadi di setiap negara di 1 BAB II PENDAHULUANN 1.1 Latar Belakangg Humann Immunodeficiencyy Viruss (HIV) / Acquired Immuno Deficiency Syndromem (AIDS) merupakan masalah global yang terjadi di setiap negara di dunia, dimana jumlah

Lebih terperinci

KOMISI PENANGGULANGAN AIDS PROVINSI BALI Jl. Melati No. 21 Denpasar Telpon/Fax:

KOMISI PENANGGULANGAN AIDS PROVINSI BALI Jl. Melati No. 21 Denpasar Telpon/Fax: KOMISI PENANGGULANGAN AIDS PROVINSI BALI Jl. Melati No. 21 Denpasar Telpon/Fax: 0361 228723 PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN HIV-AIDS DAN NARKOBA MADE SUPRAPTA 9/13/2011 1 JUMLAH KUMULATIF KASUS HIV-AIDS

Lebih terperinci

Virus tersebut bernama HIV (Human Immunodeficiency Virus).

Virus tersebut bernama HIV (Human Immunodeficiency Virus). AIDS (Aquired Immune Deficiency Sindrome) adalah kumpulan gejala penyakit yang timbul akibat menurunnya kekebalan tubuh. Penyebab AIDS adalah virus yang mengurangi kekebalan tubuh secara perlahan-lahan.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. menurunnya sistem kekebalan tubuh. AIDS yang merupakan singkatan dari Acquired

BAB 1 PENDAHULUAN. menurunnya sistem kekebalan tubuh. AIDS yang merupakan singkatan dari Acquired BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang AIDS dapat terjadi pada hampir semua penduduk di seluruh dunia, termasuk penduduk Indonesia. AIDS merupakan sindrom (kumpulan gejala) yang terjadi akibat menurunnya

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 : Alur Penelitian. di Poli Napza

LAMPIRAN 1 : Alur Penelitian. di Poli Napza 63 LAMPIRAN 1 : Alur Penelitian Mencatat Nomor Rekam Medik di Poli Napza Pengambilan Data Pasien Di Bagian Medical Record Melengkapi Data CD4 dan Adherent Di Poli Napza Skrining Data Menganalisis Data

Lebih terperinci

ABSTRAK. STUDI TATALAKSANA SKRINING HIV di PMI KOTA BANDUNG TAHUN 2007

ABSTRAK. STUDI TATALAKSANA SKRINING HIV di PMI KOTA BANDUNG TAHUN 2007 vi ABSTRAK STUDI TATALAKSANA SKRINING HIV di PMI KOTA BANDUNG TAHUN 2007 Francine Anne Yosi, 2007; Pembimbing I: Freddy Tumewu Andries, dr., MS Pembimbing II: July Ivone, dr. AIDS (Acquired Immunodeficiency

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1 Sejarah Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi dari virus HIV (Human

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit HIV & AIDS merupakan suatu penyakit yang terus berkembang dan menjadi masalah global yang melanda dunia. Indonesia merupakan negara di ASEAN yang paling tinggi

Lebih terperinci

Pengantar Farmakologi

Pengantar Farmakologi Pengantar Farmakologi Kuntarti, S.Kp, M.Biomed 1 PDF Created with deskpdf PDF Writer - Trial :: http://www.docudesk.com 4 Istilah Dasar Obat Farmakologi Farmakologi klinik Terapeutik farmakoterapeutik

Lebih terperinci

Termasuk ke dalam retrovirus : famili flaviviridae dan genus hepacivirus. Virus RNA, terdiri dari 6 genotip dan banyak subtipenya

Termasuk ke dalam retrovirus : famili flaviviridae dan genus hepacivirus. Virus RNA, terdiri dari 6 genotip dan banyak subtipenya Felix Johanes 10407004 Rahma Tejawati Maryama 10407017 Astri Elia 10407025 Noor Azizah Ba diedha 10407039 Amalina Ghaisani K.10507094 Febrina Meutia 10507039 Anggayudha A. Rasa 10507094 Termasuk ke dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan salah satu. Penurunan imunitas seluler penderita HIV dikarenakan sasaran utama

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan salah satu. Penurunan imunitas seluler penderita HIV dikarenakan sasaran utama BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan salah satu infeksi yang perkembangannya terbesar di seluruh dunia, dalam dua puluh tahun terakhir diperkirakan

Lebih terperinci

FARMAKOTERAPI AIDS FOR : MAHASISWA FARMASI UNISSULA

FARMAKOTERAPI AIDS FOR : MAHASISWA FARMASI UNISSULA FARMAKOTERAPI AIDS FOR : MAHASISWA FARMASI UNISSULA Epidemi HIV/AIDS di Indonesia Total Populasi 240 juta Prevalensi HIV 0,2% dan estimasi ODHA 186.000 HIV Prevalence Estimation PLHIV Estimation Apa yang

Lebih terperinci

XII. Pertimbangan untuk bayi dan anak koinfeksi TB dan HIV

XII. Pertimbangan untuk bayi dan anak koinfeksi TB dan HIV ART untuk infeksi HIV pada bayi dan anak dalam rangkaian terbatas sumber daya (WHO) XII. Pertimbangan untuk bayi dan anak koinfeksi TB dan HIV Tuberkulosis (TB) mewakili ancaman yang bermakna pada kesehatan

Lebih terperinci

PERBEDAAN PENGETAHUAN SISWA SMA MUHAMMADIYAH 1 SURAKARTA TENTANG HIV/AIDS SESUDAH PEMBERIAN EDUKASI SKRIPSI

PERBEDAAN PENGETAHUAN SISWA SMA MUHAMMADIYAH 1 SURAKARTA TENTANG HIV/AIDS SESUDAH PEMBERIAN EDUKASI SKRIPSI PERBEDAAN PENGETAHUAN SISWA SMA MUHAMMADIYAH 1 SURAKARTA TENTANG HIV/AIDS SESUDAH PEMBERIAN EDUKASI SKRIPSI Oleh : FATI RIFIATUN K100070186 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SURAKARTA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan penyakit Acquired UKDW

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan penyakit Acquired UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan penyakit Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) semakin nyata menjadi masalah kesehatan utama di seluruh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan penyebab Acquired

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan penyebab Acquired BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan penyebab Acquired Immunodeficiency Syndrome atau AIDS (Ramaiah, 2008). Target dari HIV adalah sistem kekebalan tubuh

Lebih terperinci

MAKALAH PELAYANAN INFORMASI OBAT HIV/AIDS. Anggota Kelompok:

MAKALAH PELAYANAN INFORMASI OBAT HIV/AIDS. Anggota Kelompok: MAKALAH PELAYANAN INFORMASI OBAT HIV/AIDS Anggota Kelompok: 1. RIZKA AMELIA SALEH 1720333672 2. RIZKA MAULINA 1720333673 3. SINTYA LARA MARISTA 1720333678 FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 27 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Desain Penelitian yang dipilih adalah rancangan studi potong lintang (Cross Sectional). Pengambilan data dilakukan secara retrospektif terhadap data

Lebih terperinci

Fenasetin (anti piretik jaman dulu) banyak anak2 mati, Prodrug Hasil metabolismenya yg aktif

Fenasetin (anti piretik jaman dulu) banyak anak2 mati, Prodrug Hasil metabolismenya yg aktif Sebelum PCT Fenasetin (anti piretik jaman dulu) banyak anak2 mati, orang dewasa Prodrug Hasil metabolismenya yg aktif Dlm tubuh dimetabolisme menjadi PCT (zat aktif) + metaboliknya Yg sebenarnya antipiretik

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN LABORATORIUM INFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS PADA BAYI DAN ANAK

PEMERIKSAAN LABORATORIUM INFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS PADA BAYI DAN ANAK PEMERIKSAAN LABORATORIUM INFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS PADA BAYI DAN ANAK Endang Retnowati Departemen/Instalasi Patologi Klinik Tim Medik HIV FK Unair-RSUD Dr. Soetomo Surabaya, 15 16 Juli 2011

Lebih terperinci

Etiology dan Faktor Resiko

Etiology dan Faktor Resiko Etiology dan Faktor Resiko Fakta Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis C (HCV). Virus hepatitis C merupakan virus RNA yang berukuran kecil, bersampul, berantai tunggal, dengan sense positif Karena

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. HIV/AIDS Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah sejenis virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yaitu pada sel-sel darah putih yang bertugas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan agen penyebab Acquired

BAB I PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan agen penyebab Acquired BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan agen penyebab Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) dan AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV. AIDS didefinisikan

Lebih terperinci

Obat-obat yang efektif terhadap virus ini bekerja selama fase akut infeksi virus dan tidak

Obat-obat yang efektif terhadap virus ini bekerja selama fase akut infeksi virus dan tidak B. ANTIVIRAL 1. PENGERTIAN Obat antivirus adalah obat yang menghambat atau merusak replikasi virus. Obat-obat yang efektif terhadap virus ini bekerja selama fase akut infeksi virus dan tidak memberikan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV di Indonesia termasuk yang tercepat di Asia. (2) Meskipun ilmu. namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV di Indonesia termasuk yang tercepat di Asia. (2) Meskipun ilmu. namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masalah HIV/AIDS adalah masalah besar yang mengancam Indonesia dan banyak negara di seluruh dunia. Tidak ada negara yang terbebas dari HIV/AIDS. (1) Saat ini

Lebih terperinci

SISTEM IMUN (SISTEM PERTAHANAN TUBUH)

SISTEM IMUN (SISTEM PERTAHANAN TUBUH) SISTEM IMUN (SISTEM PERTAHANAN TUBUH) FUNGSI SISTEM IMUN: Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit; menghancurkan & menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan

Lebih terperinci

Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS), yaitu sekumpulan gejala. oleh adanya infeksi oleh virus yang disebut Human Immuno-deficiency Virus

Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS), yaitu sekumpulan gejala. oleh adanya infeksi oleh virus yang disebut Human Immuno-deficiency Virus BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS), yaitu sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya sistem kekebalan tubuh. AIDS disebabkan oleh adanya infeksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada tahun 2013, United Nations Program on HIV/AIDS (UNAIDS) melaporkan bahwa diperkirakan 35,3 juta orang hidup dengan HIV secara global. Wilayah yang terkena dampak

Lebih terperinci

Selama berabad-abad orang mengetahui bahwa penyakit-penyakit tertentu tidak pernah menyerang orang yang sama dua kali. Orang yang sembuh dari

Selama berabad-abad orang mengetahui bahwa penyakit-penyakit tertentu tidak pernah menyerang orang yang sama dua kali. Orang yang sembuh dari Selama berabad-abad orang mengetahui bahwa penyakit-penyakit tertentu tidak pernah menyerang orang yang sama dua kali. Orang yang sembuh dari serangan epidemi cacar dapat menangani para penderita dengan

Lebih terperinci

PENGANTAR VIRUS. dr. Fauzia Andrini M.Kes Bagian Mikrobiologi / Unit Ketrampilan Medik FK UR

PENGANTAR VIRUS. dr. Fauzia Andrini M.Kes Bagian Mikrobiologi / Unit Ketrampilan Medik FK UR PENGANTAR VIRUS dr. Fauzia Andrini M.Kes Bagian Mikrobiologi / Unit Ketrampilan Medik FK UR PENDAHULUAN Virus intraseluler parasit Tdd DNA/RNA, hanya dapat bermultiplikasi di sel host Virion : partikel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)/ Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) telah menjadi masalah yang serius bagi dunia kesehatan. Menurut data World Health

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Sakit Perut Berulang Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut berulang pada remaja terjadi paling sedikit tiga kali dengan jarak paling sedikit

Lebih terperinci

4.6 Instrumen Penelitian Cara Pengumpulan Data Pengolahan dan Analisis Data Etika Penelitian BAB V.

4.6 Instrumen Penelitian Cara Pengumpulan Data Pengolahan dan Analisis Data Etika Penelitian BAB V. DAFTAR ISI SAMPUL DALAM... I LEMBAR PERSETUJUAN... II PENETAPAN PANITIA PENGUJI... III KATA PENGANTAR... IV PRASYARAT GELAR... V ABSTRAK... VI ABSTRACT... VII DAFTAR ISI... VIII DAFTAR TABEL... X Bab I.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Human immunodeficiency virus (HIV) adalah suatu jenis retrovirus yang memiliki envelope, yang mengandung RNA dan mengakibatkan gangguan sistem imun karena menginfeksi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1) AIDS adalah suatu kumpulan gejala penyakit kerusakan sistem. 2) Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1) AIDS adalah suatu kumpulan gejala penyakit kerusakan sistem. 2) Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Konsep HIV-AIDS a. Pengertian 1) AIDS adalah suatu kumpulan gejala penyakit kerusakan sistem kekebalan tubuh; bukan penyakit bawaan tetapi didapat dari hasil

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. merusak sel-sel darah putih yang disebut limfosit (sel T CD4+) yang tugasnya

BAB 1 PENDAHULUAN. merusak sel-sel darah putih yang disebut limfosit (sel T CD4+) yang tugasnya BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang secara progresif merusak sel-sel darah putih yang disebut limfosit (sel T CD4+) yang tugasnya menjaga sistem kekebalan

Lebih terperinci

MODEL MATEMATIKA. Gambar 1 Proses Infeksi Virus HIV terhadap sel Darah Putih Sehat (Feng dan Rong 2006)

MODEL MATEMATIKA. Gambar 1 Proses Infeksi Virus HIV terhadap sel Darah Putih Sehat (Feng dan Rong 2006) 5 MODEL MATEMATIKA Interaksi Virus Terhadap Sel Darah Putih Sehat AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV. Virus ini merusak sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh mudah diserang berbagai

Lebih terperinci

ANTIBIOTIK AMINOGLIKOSIDA

ANTIBIOTIK AMINOGLIKOSIDA ANTIBIOTIK AMINOGLIKOSIDA 1 AMINOGLIKOSIDA 2 AMINOGLIKOSIDA Mekanisme Kerja Ikatan bersifat ireversibel bakterisidal Aminoglikosida menghambat sintesi protein dengan cara: 1. berikatan dengan subunit 30s

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Infeksi HIV dan AIDS 2.1.1 Patofisiologi infeksi HIV HIV merupakan virus golongan retrovirus yang dapat menginfeksi manusia, menyerang sistem imun tubuh, dan merupakan penyebab

Lebih terperinci

TERAPI GEN. oleh dr.zulkarnain Edward MS PhD

TERAPI GEN. oleh dr.zulkarnain Edward MS PhD TERAPI GEN oleh dr.zulkarnain Edward MS PhD Pendahuluan Penyakit-penyakit metabolik bawaan biasanya akibat tidak adanya gen atau adanya kerusakan pada gen tertentu. Pengobatan yang paling radikal adalah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala

BAB 1 PENDAHULUAN. Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala akibat penurunan sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi human immunodeficiency virus

Lebih terperinci

PEMBERIAN ANTI RETRO VIRAL SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN PENULARAN INFEKSI HIV DARI IBU KE BAYI. dr. Made Bagus Dwi Aryana, SpOG (K)

PEMBERIAN ANTI RETRO VIRAL SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN PENULARAN INFEKSI HIV DARI IBU KE BAYI. dr. Made Bagus Dwi Aryana, SpOG (K) PEMBERIAN ANTI RETRO VIRAL SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN PENULARAN INFEKSI HIV DARI IBU KE BAYI dr. Made Bagus Dwi Aryana, SpOG (K) BAGIAN/SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI FK UNUD / RSUP SANGLAH DENPASAR 2012 AIDS.

Lebih terperinci

ABSTRAK KORELASI ANTARA TOTAL LYMPHOCYTE COUNT DAN JUMLAH CD4 PADA PASIEN HIV/AIDS

ABSTRAK KORELASI ANTARA TOTAL LYMPHOCYTE COUNT DAN JUMLAH CD4 PADA PASIEN HIV/AIDS ABSTRAK KORELASI ANTARA TOTAL LYMPHOCYTE COUNT DAN JUMLAH CD4 PADA PASIEN HIV/AIDS Ardo Sanjaya, 2013 Pembimbing 1 : Christine Sugiarto, dr., Sp.PK Pembimbing 2 : Ronald Jonathan, dr., MSc., DTM & H. Latar

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) & Acquired Immunodeficieny Syndrome (AIDS) merupakan suatu penyakit yang terus berkembang dan menjadi masalah global yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. retrovirus terutama HIV memiliki sifat khusus karena memiliki enzim reverse

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. retrovirus terutama HIV memiliki sifat khusus karena memiliki enzim reverse BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. HIV HIV adalah retrovirus yang termasuk golongan virus RNA yang menggunakan RNA sebagai molekul pembawa informasi genetik. Golongan retrovirus terutama HIV memiliki sifat khusus

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Definisi Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Definisi Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome HIV merupakan virus Ribonucleic Acid (RNA) yang termasuk dalam golongan Retrovirus dan memiliki

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci : CD4, HIV, obat antiretroviral Kepustakaan : 15 ( )

ABSTRAK. Kata kunci : CD4, HIV, obat antiretroviral Kepustakaan : 15 ( ) PERBEDAAN KADAR CD4 SEBELUM DAN SESUDAH PENGGUNAAN ANTI RETROVIRAL TERAPI PADA PENDERITA HIV DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KAHURIPAN KECAMATAN TAWANG KOTA TASIKMALAYA TAHUN 2014 Prayitno ) Hidayanti 2) Program

Lebih terperinci

HIV/AIDS. Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH

HIV/AIDS. Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH HIV/AIDS Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH 1 Pokok Bahasan Definisi HIV/AIDS Tanda dan gejala HIV/AIDS Kasus HIV/AIDS di Indonesia Cara penularan HIV/AIDS Program penanggulangan HIV/AIDS Cara menghindari

Lebih terperinci

HIV/AIDS 1/1/2002. dr Rachmah Laksmi Ambardini dkk Tim Pengabdi UNY. Asia dan Pacific. Kumulatif kasus HIV sp Maret 2008.

HIV/AIDS 1/1/2002. dr Rachmah Laksmi Ambardini dkk Tim Pengabdi UNY. Asia dan Pacific. Kumulatif kasus HIV sp Maret 2008. HIV/AIDS dr Rachmah Laksmi Ambardini dkk Tim Pengabdi UNY Asia dan Pacific Setiap hari, hampir 1.500 orang meninggal krn AIDS (lebih 500.000 kematian terkait AIDS per tahun). Setiap hari, tjd hampir 3.000

Lebih terperinci

Pertemuan Koordinasi Kelompok Penggagas. Update pengobatan HIV. Penyembuhan. Perkembangan obat. Pertemuan Koordinasi Kelompok Penggagas

Pertemuan Koordinasi Kelompok Penggagas. Update pengobatan HIV. Penyembuhan. Perkembangan obat. Pertemuan Koordinasi Kelompok Penggagas Pertemuan Koordinasi Kelompok Penggagas Update tentang Pengobatan HIV 1. Perkenalkan diri serta pengalaman Anda. Perkenalkan sesi ini sebagai ringkasan yang sangat singkat mengenai perkembangan dalam perawatan,

Lebih terperinci

Obat Penyakit Diabetes Metformin Biguanide

Obat Penyakit Diabetes Metformin Biguanide Obat Penyakit Metformin Biguanide Obat Penyakit Metformin Biguanide. Obat diabetes ini bekerja dengan meningkatkan sensitivitas insulin, baik pada jaringan hati maupun perifer. Peningkatan sensitivitas

Lebih terperinci

Prevalensi Sindrom Stevens-Johnson Akibat Antiretroviral pada Pasien Rawat Inap di RSUP Dr. Hasan Sadikin

Prevalensi Sindrom Stevens-Johnson Akibat Antiretroviral pada Pasien Rawat Inap di RSUP Dr. Hasan Sadikin Prevalensi Sindrom Stevens-Johnson Akibat Antiretroviral pada Pasien Rawat Inap di RSUP Dr. Hasan Sadikin Nurmilah Maelani*, Irna Sufiawati**, Hartati Purbo Darmadji*** *Student of Dental Faculty, Padjadjaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyakit, diantaranya Acquired Immuno Defeciency Syndrome. (AIDS) adalah kumpulan penyakit yang disebabkan oleh Virus

BAB I PENDAHULUAN. penyakit, diantaranya Acquired Immuno Defeciency Syndrome. (AIDS) adalah kumpulan penyakit yang disebabkan oleh Virus BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Akhir dekade ini telah di jumpai berbagai macam penyakit, diantaranya Acquired Immuno Defeciency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan penyakit yang disebabkan oleh Virus

Lebih terperinci

TREND DAN ISU PENULARAN HIV DI INDONESIA DAN DI LUAR NEGRI

TREND DAN ISU PENULARAN HIV DI INDONESIA DAN DI LUAR NEGRI TREND DAN ISU PENULARAN HIV DI INDONESIA DAN DI LUAR NEGRI Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus yang mempunyai kemampuan menggunakan RNA-nya dan DNA pejamu untuk membentuk virus DNA dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit menular menjadi masalah dalam kesehatan masyarakat di Indonesia dan hal ini sering timbul sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) yang menyebabkan kematian penderitanya.

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian 1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan penyakit Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) semakin menjadi masalah kesehatan utama di seluruh dunia.

Lebih terperinci

PATOGENESIS DAN RESPON IMUN TERHADAP INFEKSI VIRUS. Dr. CUT ASMAUL HUSNA, M.Si

PATOGENESIS DAN RESPON IMUN TERHADAP INFEKSI VIRUS. Dr. CUT ASMAUL HUSNA, M.Si PATOGENESIS DAN RESPON IMUN TERHADAP INFEKSI VIRUS Dr. CUT ASMAUL HUSNA, M.Si PATOGENESIS INFEKSI VIRUS Port d entree Siklus replikasi virus Penyebaran virus didalam tubuh Respon sel terhadap infeksi Virus

Lebih terperinci