BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
|
|
|
- Handoko Sudjarwadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Organisasi merupakan salah satu wadah bagi mahasiswa untuk dapat melatih tanggungjawab, belajar bekerjasama dan mengembangkan soft skill yang dimiliki. Melalui organisasi, mahasiswa dapat memiliki teman baru, lingkungan baru dan mendapatkan berbagai pengalaman serta pembelajaran. Mahasiswa yang terlibat dalam organisasi, mau tidak mau harus mampu membagi waktu antara organisasi dan kewajibannya menuntut ilmu. Tidak jarang mahasiswa yang mengikuti organisasi merupakan individu yang sadar akan ketatnya persaingan di dunia industri. Melihat ketatnya persaingan di dunia industri menjadikan mahasiswa mempersiapkan diri lebih dini untuk dapat belajar melalui organisasi agar mampu menghadapi dunia industri sesuai dengan fakta di lapangan. Mahasiswa yang mengikuti organisasi tentunya akan dihadapkan pada lingkungan dimana mereka dituntut untuk mampu beradaptasi terhadap segala perubahan dan tantangan. Organisasi sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu kelompok formal yang melibatkan dua orang atau lebih untuk mencapai visi dan misi yang sama. Ciri dari organisasi adalah adanya hubungan kewenangan dan level pembagian tenaga kerja (Robbins, 2002). Ciri tersebut memiliki peran terhadap produktifitas dan keberlangsungan sebuah organisasi. Pencapaian sebuah organisasi dapat optimal karena terdapat pembagian tugas yang sesuai dan kontribusi dari banyak orang. Menurut Deeter, dkk., (2002) melalui organisasi, mahasiswa mendapatkan berbagai hal seperti, mampu untuk bekerjasama, mampu memecahkan masalah, mampu berkomunikasi dengan baik di depan umum, mampu memimpin dan tentunya mampu memanajemen waktu (Sutantoo & Simanjuntak, 2015). Organisasi dapat berjalan dengan baik karena adanya kinerja anggota yang produktif. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa dalam sebuah organisasi terdapat anggota yang pasif, sehingga kurang mampu menjalankan fungsi-fungsi organisasi dengan baik, kurang adanya keterbukaan dan cenderung membatasi diri
2 dalam berkontribusi (Bungin, 2006). Teori diatas menunjukkan bahwa anggota dalam sebuah organisasi memiliki peran penting bagi keberhasilan organisasi. Bergabung dalam sebuah organisasi memang menghasilkan berbagai keuntungan yang positif, seperti saling mengevaluasi kinerja antar sesama anggota dan menjalin relasi dengan berbagai organisasi. Adanya interaksi yang baik merupakan suatu keharusan yang patut dijaga dan dilakukan agar mencapai keberhasilan, baik untuk diri individu maupun untuk organisasi. Keberhasilan organisasi tersebut terjadi karena komunikasi yang berjalan secara baik melalui pertemuan atau rapat ketika sebelum melakukan kegiatan maupun pada saat pelaksanaan kegiatan. Sehingga kebersamaan antar sesama anggota organisasi dapat terbentuk. Meskipun demikian, terdapat beberapa anggota organisasi yang memiliki rasa malu, merasa bahwa dirinya tidak lebih unggul dari anggota yang lain dan memandang bahwa pendapat yang disampaikan selalu dihiraukan. Hal ini menyebabkan individu tersebut merasa malas dan mengurangi kinerjanya untuk berkontribusi dalam organisasi, karena penilaian hanya dilihat dari hasil kelompok bukan dari seberapa besar individu tersebut berkontribusi (Brehm & Kassin, 1996). Berdasarkan pengamatan peneliti, pertemuan atau rapat organisasi dapat menyita waktu mahasiswa, hal ini dikarenakan waktu yang dimiliki seorang mahasiswa bukan hanya untuk organisasi melainkan untuk menjalankan perkuliahan. Selain itu mahasiswa juga dihadapkan pada tugas dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda, sehingga beberapa mahasiswa yang tergabung dalam organisasi lebih memilih menyelesaikan tugas daripada berkontribusi untuk organisasi. Hal tersebut menjadikan kontribusi mahasiswa sebagai anggota organisasi berkurang dan melemparkan tanggungjawabnya pada teman sesama organisasi. Menurut Aulia & Saloom (2013) fenomena ini disebut dengan kemalasan sosial. Sarlito (2012) mengemukakan bahwa kemalasan sosial merupakan pengurangan motivasi dan usaha individu ketika berkontribusi dalam sebuah kelompok dibandingkan pada saat bekerja secara individual. Kemalasan sosial dapat terjadi ketika individu merasa tugas yang diberikan tidak bermakna, bekerja
3 dengan orang asing atau berada di lingkungan baru dan ketika output individu tidak dapat dievaluasi secara lebih terbuka (Rune, dkk., 2006). Rich, dkk., (2014) menyatakan bahwa semenjak dahulu kemalasan sosial adalah salah satu hal yang tidak dapat dihindari dalam mengerjakan sebuah tugas kelompok atau organisasi, sehingga menjadikan kemalasan sosial yang terjadi dalam sebuah organisasi bukanlah menjadi hal yang baru. Chidambaran (Aulia & Saloom, 2013) membuktikan bahwa kemalasan sosial dapat mengurangi produktifitas dalam organisasi. Hal ini dikarenakan anggota organisasi saling ketergantungan satu sama lain. Selain itu, Bacon (Hall & Buzwell, 2012) mengemukakan bahwa kemalasan sosial tidak hanya merugikan sebuah organisasi, namun juga dapat merugikan diri individu secara pribadi. Kerugian pribadi yang dirasakan individu dalam melakukan kemalasan sosial dikarenakan adanya kepribadian individualis. Individu menganggap diri pribadi lebih unggul dari individu yang lain dan lebih memperhatikan keberhasilan pribadi dibandingkan dengan keberhasilan kelompok, sehingga kontribusi dari individu lainnya tidak dapat terlihat. Menurut Dayakisni & Yuniardi (2012) kepribadian individualis membuat individu lebih mengutamakan kepentingan pribadi dibandingkan dengan kepentingan kelompok. Anggota organisasi yang melakukan kemalasan sosial tidak dibatasi oleh usia dan jenis kelamin. Clark & Baker (2011) mengemukakan bahwa kemalasan sosial berpeluang terjadi pada laki-laki maupun perempuan dan segala kegiatan yang dilakukan secara berkelompok. Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan oleh Aulia & Saloom (2013), menunjukkan bahwa kemalasan sosial dapat dilakukan dari berbagai kalangan usia. Kemalasan sosial yang terjadi dalam sebuah organisasi dapat menghilangkan fungsi kerjasama sebagai bentuk kinerja yang efektif dan efisien (Anggraeni & Alfian, 2015). Menurut Karau & Williams (1993) kemalasan sosial juga dapat mempengaruhi anggota organisasi lainnya untuk mengurangi usaha dan kontribusi dalam melakukan tugas yang diberikan. Sehingga kemalasan sosial menjadi salah satu point penting yang harus diperhatikan dalam sebuah organisasi karena melibatkan banyak orang.
4 Erdal, dkk., (2016) mengemukakan beberapa penyebab kemalasan sosial diantaranya adalah individu berbuat malas dan terlihat santai sehingga individu yang lain mengikuti perilaku tersebut. Individu beranggapan bahwa ketika sedang tidak berkontribusi maka dapat digantikan oleh individu yang lain. Dengan demikian maka akan memunculkan sikap individualis ketika berada dalam suatu kelompok. Studi pendahuluan dilakukan peneliti melalui wawancara dengan beberapa mahasiswa yang tergabung dalam sebuah organisasi di Universitas Islam Sultan Agung Semarang, berikut adalah hasil wawancara yang telah dilakukan: Dari semua organisasi yang aku ikuti orangnya baik-baik semua dan kebetulan aku itu orangnya welcome mbak. Tapi yaa bingungnya itu si mbak kalau lagi banyak tugas terus ada kepentingan pribadi tapi malah harus rapat dan ada kegiatan, kadang aku bolos rapat, kadang menghindar kalau sama senior, dan akhirnya mengandalkan teman yang satu angkatanku. (Mahasiswa berinisial K, 2014). Pernah waktu itu aku ngga dateng pas rapat, terus pada saat kegiatan aku juga ngga hadir. Kemudian suatu saat ada rapat lagi, aku coba untuk hadir tapi aku malu mbak, jadi ngrasa ngga enak, takut ngga dianggap sama yang lain, ngrasa aku bukan orang yang dibutuhkan sama mereka. (Mahasiswa berinisial A, 2014). Selama aku ikut organisasi semuanya hampir ga ada masalah mba, cuma ada beberapa yang bikin aku males. Misalnya di organisasi X itu kegiatannya itu-itu aja bikin bosen mbak monoton, jadine ikut organisasi itu cuma biar dapet sertifikat aja terus mau keluar. Terus kalo di organisasi Y itu orangnya yang terlalu senioritas mbak, kadang ngelompok sendiri-sendiri. (Mahasiswa berinisial M, 2015). Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang tergabung dalam sebuah organisasi tidak menutup kemungkinan untuk melakukan kemalasan sosial. Hal ini ditandai dengan adanya rasa ketergantungan antar sesama anggota, merasa malu, takut tidak dianggap, adanya senioritas dan kohesivitas kelompok rendah. Menurut Liden & Bennett (2004), salah satu penyebab kemalasan sosial adalah kohesivitas kelompok yang rendah.
5 Kohesivitas kelompok merupakan faktor-faktor yang dimiliki kelompok untuk membuat anggota kelompok tetap berada menjadi bagian dari kelompok (Sarlito & Meinarno, 2012). Menurut Walgito (Abdillah, 2012) kohesivitas meliputi keterikatan antar anggota kelompok maupun keterikatan anggota pada kelompoknya dan merupakan perhatian anggota kelompok untuk saling menyukai satu sama lain. Kohesivitas kelompok merupakan hal yang penting bagi sebuah organisasi. Apabila kohesivitas kelompok tinggi maka dapat terbentuk sebuah konformitas, meningkatnya komunikasi dalam kelompok dan memiliki rasa kebersamaan (Vaughan dan Hogg dalam Sarlito & Meinarno, 2012). Kohesivitas kelompok tidak menjamin sebuah kesuksesan organisasi dan juga bisa menjadi penyebab kemalasan sosial. seperti yang diungkapkan oleh Robbins & Judge (2007) apabila kelompok yang memiliki kohesif tinggi namun norma kinerja rendah, maka dapat menjadikan produktifitas rendah dan menimbulkan kemalasan sosial dalam organisasi. Kohesivitas kelompok dapat memberikan efek positif maupun negatif yang menyebabkan anggota akan tetap komitmen pada kelompok maupun meninggalkan kelompok. Semakin kuat kebersamaan dan ketertarikan antar sesama anggota maupun anggota terhadap kelompok, maka semakin kohesif pula anggota dalam kelompok tersebut. Anggraeni & Alfian (2015) mengemukakan bahwa kohesivitas dapat memberikan pengaruh positif bagi individu dari lingkungan maupun anggota kelompok. Perbedaan jabatan dalam sebuah organisasi menandakan struktur organisasi dan pembagian kejelasan peran, namun ketika terdapat anggota yang menyalahgunakan jabatan bisa mengakibatkan kohesivitas menurun yang akhirnya mengakibatkan atau menimbulkan kemalasan sosial. Menurut Aulia & Saloom (2013) penurunan kohesivitas kelompok membutuhkan kesadaran akan kepercayaan diri individu untuk melakukan sesuatu agar lebih maksimal sehingga tidak akan terjadi kemalasan sosial. Kepercayaan diri individu dalam penelitian ini diartikan sebagai efikasi diri yang merupakan salah satu aspek dari kepriadian. Efikasi diri berkaitan dengan seberapa besar pengetahuan dan perilaku anggota organisasi yang dipengaruhi oleh lingkungan, serta bagaimana cara menghadapi proses berpikir terhadap
6 informasi-informasi yang diterima. Bandura (Sahertian, 2010) mengemukakan bahwa efikasi diri berkaitan dengan keyakinan seseorang terhadap kemampuan yang dimiliki dalam mengontrol lingkungan. Legowo, dkk., (2010) menyatakan bahwa efikasi diri dapat menentukan seberapa besar usaha yang diberikan dan seberapa kuat individu bertahan dalam menghadapi pengalaman yang tidak menyenangkan. Individu yang tergabung dalam sebuah organisasi, pasti akan dihadapkan pada sebuah konflik atau pengalaman yang tidak menyenangkan baik dari dalam diri individu maupun dari lingkungan. Sehingga anggota organisasi dituntut untuk mampu bertahan dalam menghadapi konflik dan tanggap dalam mengambil sebuah tindakan atau keputusan. Sebagai individu yang tergabung dalam organisasi, sudah bukan hal yang baru ketika individu beranggapan bahwa bekerja dengan banyak orang pasti dapat meningkatkan kinerja dibandingkan bekerja secara individu. Namun, menurut Lamm dan Trommsdorf ketika individu bekerja secara individual dapat lebih fokus dan merasa bebas dalam bertindak tanpa beradu pendapat dengan orang lain (Sears, dkk., 2009). Oleh karena itu efikasi diri sangat berperan pada individu yang tergabung dalam organisasi. Bandura (1986) mengemukakan bahwa kunci dari efikasi diri adalah individu yang memiliki kepercayaan untuk dapat mengontrol pikiran, perasaan dan tindakan. Selain itu, dengan mengontrol pikirkan dan adanya kepercayaan dapat mempengaruhi bagaimana individu tersebut berperilaku. Harre mendefinisikan efikasi diri sebagai suatu pengambilan keputusan yang berdasarkan pada keyakinan individu (Bandura, 1999). Individu yang memiliki efikasi diri rendah cenderung kesulitan dalam mengambil keputusan dan memiliki daya tahan yang kurang dalam menghadapi sebuah konflik, sehingga individu menjadi takut untuk bertindak dan dapat menimbulkan kemalasan sosial dalam organisasi. Anggota organisasi yang memiliki efikasi diri tinggi, dapat menentukan tujuan dan mengerahkan segala kemampuan untuk mencapai harapan yang dituju, namun ketika dihadapkan dengan kesulitan dan hambatan, anggota tersebut akan
7 berusaha untuk tetap bertahan dan berhasil mencapai tujuan secara maksimal (Lee & Bobko dalam Sahertian, 2010). Sehingga ketika berkontribusi dapat memberikan usaha yang maksimal tanpa menimbulkan kemalasan sosial. Moeliono (2012) menyatakan bahwa efikasi diri tidak hanya mempengaruhi seberapa besar keyakinan dalam menghadapi tantangan yang dapat dilalui, namun juga dapat menentukan motivasi individu dalam melakukan tindakan atau berkontribusi dalam organisasi dan mampu menetapkan tujuan yang menantang. Pada penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni & Alfian (2015) mengenai kemalasan sosial dalam pengerjaan tugas berkelompok, terdapat hubungan antara kohesivitas dengan kemalasan sosial. Semakin tinggi kohesivitas maka kemalasan sosial semakin rendah, begitu pula sebaliknya ketika kohesivitas rendah maka kemalasan sosial semakin tinggi. Hal ini diperoleh dari hasil korelasi Pearson Product Moment sebesar -0,724 dengan taraf signifikansi sebesar 0,000. Sehingga kohesivitas dapat dijadikan sebagai faktor penting bagi keberhasilan suatu kelompok atau organisasi. Jassawalla, dkk., (2009) juga meneliti mengenai kemalasan sosial pada kelompok mahasiswa jurusan bisnis, dimana kemalasan sosial terjadi karena individu tidak memiliki rasa peduli terhadap sesama anggota maupun kelompok yang menandakan kurang adanya kohesivitas kelompok. Selain itu, kurangya kohesivitas membawa dampak negatif bagi kelompok dan dapat mengurangi kontribusi individu dalam kelompok. Pada penelitian eksperimen yang dilakukan oleh Sanna (1992) membuktikan bahwa kemalasan sosial dipengaruhi oleh efikasi diri. Hasil eksperimen pertama menunjukkan bahwa individu yang memiliki efikasi diri tinggi lebih optimal dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan secara individual daripada bekerja secara kelompok, sedangkan individu yang memiliki efikasi diri rendah lebih baik bekerja secara kelompok daripada secara individual. Selain itu, hasil eksperimen kedua menunjukkan ketika individu melakukan tugas atau pekerjaan yang mudah dapat meningkatkan efikasi diri, sedangkan ketika mengerjakan tugas yang sulit dapat menurunkan efikasi diri. Oleh sebab itu efikasi diri berperan penting terhadap kemalasan sosial.
8 Peneliti akan melakukan sebuah penelitian terhadap fokus penelitian yang sama, yaitu kemalasan sosial dengan kohesivitas kelompok dan efikasi diri. Perbedaan dari penelitian sebelumnya adalah peneliti menggunakan mahasiswa yang tergabung dalam sebuah organisasi sebagai subjek penelitian. Sehingga peneliti tertarik untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kohesivitas kelompok dan efikasi diri dengan kemalasan sosial pada anggota organisasi. B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu: Apakah ada hubungan antara kohesivitas kelompok dan efikasi diri dengan kemalasan sosial pada anggota organisasi? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti berusaha untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kohesivitas kelompok dan efikasi diri dengan kemalasan sosial pada anggota organisasi. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya teori dan riset mengenai psikologi sosial, psikologi industri dan organisasi serta dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian-penelitian selanjutnya. 2. Manfaat praktis dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi anggota atau pengurus organisasi mengenai kekompakan, keyakinan dalam bertindak dan berkontribusi dalam organisasi, sehingga hasil penelitian dapat diterapkan dalam waktu dekat pada organisasi dan mampu menciptakan organisasi yang produktif.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. usia 18 hingga 25 tahun (Santrock, 2010). Pada tahap perkembangan ini, individu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seorang individu dapat dikatakan menginjak masa dewasa awal ketika mencapai usia 18 hingga 25 tahun (Santrock, 2010). Pada tahap perkembangan ini, individu mengalami
BAB I PENDAHULUAN. Skripsi merupakan istilah yang digunakan di Indonesia untuk mengilustrasikan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Skripsi merupakan istilah yang digunakan di Indonesia untuk mengilustrasikan suatu karya tulis ilmiah berupa paparan tulisan hasil penelitian sarjana S-1 yang membahas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Motivasi Berprestasi Pada Atlet Sepak Bola. Menurut McClelland (dalam Sutrisno, 2009), motivasi berprestasi yaitu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Motivasi Berprestasi Pada Atlet Sepak Bola 1. Pengertian Motivasi Berprestasi Menurut McClelland (dalam Sutrisno, 2009), motivasi berprestasi yaitu usaha pada tiap individu dalam
BAB I PENDAHULUAN. atau interaksi dengan orang lain, tentunya dibutuhkan kemampuan individu untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah mahluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk berinteraksi timbal-balik dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Memulai suatu hubungan atau
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Universitas Bhayangkara Jaya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Idealnya seorang manajer yang sekaligus sebagai pemimpin suatu unit kerja dapat mengetahui kebutuhan, kepribadian, dan masalah-masalah yang dihadapi karyawannya.
BAB I PENDAHULUAN. membentuk karyawan untuk berfikir, bersikap dan berperilaku. Budaya organisasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Budaya dapat membantu organisasi agar dapat terus bertahan dengan menyediakan standar yang tepat. Secara tidak langsung budaya organisasi dapat membentuk
BAB I PENDAHULUAN. dan berfungsinya organ-organ tubuh sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Individu sejak dilahirkan akan berhadapan dengan lingkungan yang menuntutnya untuk menyesuaikan diri. Penyesuaian diri yang dilakukan oleh individu diawali dengan penyesuaian
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Mahasiswa saat ini diharapkan menjadi sosok manusia yang berintelektual
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mahasiswa saat ini diharapkan menjadi sosok manusia yang berintelektual tinggi sehingga menjadi sumber daya yang berkualitas, namun pada kenyataan masih banyak
BAB I PENDAHULUAN. positif ataupun negatif. Perilaku mengonsumsi minuman beralkohol. berhubungan dengan hiburan, terutama bagi sebagian individu yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan zaman terbukti megubah sebagian besar gaya hidup manusia. Mulai dari cara memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya seperti kebutuhan hiburan
BAB I PENDAHULUAN. individual yang bisa hidup sendiri tanpa menjalin hubungan apapun dengan individu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia di dunia ini dimana manusia memiliki akal, pikiran, dan perasaan. Manusia bukanlah makhluk individual yang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tugas perkembangan pada remaja salah satunya adalah mencapai kematangan hubungan sosial dengan teman sebaya baik pria, wanita, orang tua atau masyarakat. Dimana
BAB I PENDAHULUAN. sebagai hal yang tidak terhindarkan dan terjadi dimana pun mereka
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat lepas dari kehidupan berkelompok. Keanggotaan manusia pada suatu kelompok sebagai hal yang tidak terhindarkan dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perilaku asertif sangat penting bagi setiap orang guna memenuhi segala kebutuhan dan keinginan, terutama pada mahasiswa, dimana harus menyelesaikan tugas perkembangan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mahasiswa merupakan calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mahasiswa merupakan calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi, dididik dan diharapkan menjadi calon-calon intelektual (Knopfemacher, 1978). Mahasiswa
I. PENDAHULUAN. untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam kehidupannya. Pendidikan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan dan salah satu kebutuhan utama bagi setiap manusia untuk meningkatkan kualitas hidup serta untuk mencapai
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang mengutamakan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang mengutamakan pembangunan di berbagai bidang kehidupan, seperti pendidikan, ekonomi, teknologi dan budaya.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahasa Indonesia merupakan Bahasa Nasional Republik Indonesia dan Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di Sekolah Dasar. Dalam kurikulum,
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dorongan dalam melakukan pekerjaanya, intensitas dan frekuensi dari waktu ke
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya manusia mempunyai unsur pokok dalam berperilaku yang berupa aktifitas, baik itu aktifitas fisik maupun aktivitas mental, untuk itu perlu diperhatikan
BAB I PENDAHULUAN. juga diharapkan dapat memiliki kecerdasan dan mengerti nilai-nilai baik dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan dilaksanakan dengan tujuan untuk membentuk karakteristik seseorang agar menjadi lebih baik. Melalui jalur pendidikan formal, warga negara juga diharapkan
BAB I PENGANTAR. A. Latar Belakang Masalah. Menurut Hurlock (1980) bahwa salah satu tugas perkembangan masa
BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Masalah Penyesuaian diri bukanlah hal yang mudah bagi setiap remaja. Menurut Hurlock (1980) bahwa salah satu tugas perkembangan masa remaja yang paling sulit berhubungan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mahasiswa merupakan sebutan bagi seseorang yang sedang menempuh perguruan tinggi. Masa perguruan tinggi dengan masa SMA sangatlah berbeda, saat duduk dibangku perguruan
BAB I PENDAHULUAN. untuk mampu melakukan tugas rumah tangga. Kepala keluarga
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepala keluarga memiliki peran sangat penting dalam kehidupan berumah tangga, selain dituntut untuk memberikan nafkah, perlindungan fisik yang efektif dan dukungan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Organisasi merupakan wadah untuk kumpulan orang-orang dan memiliki tujuan tertentu yang khas. Organisasi ini dibentuk untuk mencapai sebuah tujuan tertentu.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. besar siswa hanya berdiam diri saja ketika guru meminta komentar mereka mengenai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kegiatan presentasi maupun diskusi biasanya melibatkan guru dan siswa maupun siswa dengan siswa dalam suatu proses belajar mengajar, di dalam kegiatan presentasi
BAB I PENDAHULUAN. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) merupakan salah satu organisasi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) merupakan salah satu organisasi mahasiswa yang ada di perguruan tinggi. Di Universitas Esa Unggul, BEM ini terbagi dalam 9 fakultas
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. puncak dari seluruh kegiatan akademik di bangku kuliah adalah menyelesaikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tahap akhir dari perjalanan panjang seorang mahasiswa yang merupakan titik puncak dari seluruh kegiatan akademik di bangku kuliah adalah menyelesaikan skripsi,
BAB I PENDAHULUAN. yang bersangkutan. Kondisi organisasi yang sedang dipimpin akan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam suatu organisasi atau perusahaan, diperlukan suatu jajaran pimpinan yang bertugas pokok untuk memimpin dan mengelola organisasi yang bersangkutan. Kondisi organisasi
BAB I PENDAHULUAN. sendiri. Sebagai makhluk sosial manusia tumbuh bersama-sama dan mengadakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia disebut juga sebagai makhluk holistik, yaitu bisa berfungsi sebagai makhluk individual, makhluk sosial, dan juga makhluk religi. Manusia sebagai makhluk
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat saat ini,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat saat ini, membawa banyak perubahan dalam setiap aspek kehidupan individu. Kemajuan ini secara tidak langsung
BAB IV HASIL PENELITIAN. 1. Karakteristik Responden
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Hasil Penelitian Kuantitatif 1. Karakteristik Responden Pengumpulan data kuantitatif pada penelitian ini dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner SRSSDL menggunakan kuesioner
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal penting dalam kehidupan manusia, melalui pendidikan manusia dapat belajar demi kelangsungan hidupnya. Bagoe (2014, h.1) mengemukakan
I. PENGANTAR Latar Belakang. Kualitas sumber daya manusia yang tinggi sangat dibutuhkan agar manusia
I. PENGANTAR 1.1. Latar Belakang Kualitas sumber daya manusia yang tinggi sangat dibutuhkan agar manusia dapat melakukan peran sebagai pelaksana yang handal dalam proses pembangunan. Sumber daya manusia
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP DOSEN PEMBIMBING DENGAN TINGKAT STRESS DALAM MENULIS SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP DOSEN PEMBIMBING DENGAN TINGKAT STRESS DALAM MENULIS SKRIPSI Diajukan oleh : Rozi Januarti F. 100 050 098 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2009 BAB
HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN PERILAKU ASERTIF PADA MAHASISWA AKTIVIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA. Skripsi
HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN PERILAKU ASERTIF PADA MAHASISWA AKTIVIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Dalam Mencapai
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manajemen sumber daya manusia merupakan satu bidang manajemen yang khusus mempelajari hubungan dan peranan manusia dalam organisasi. Hal ini disebabkan manajemen sumber
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berinteraksi dengan manusia lainnya. Masing-masing individu yang berinteraksi akan memberikan respon yang berbeda atas peristiwa-peristiwa
BAB I PENDAHULUAN. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. biasa atau persahabatan yang terjalin dengan baik. Kecenderungan ini dialami
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lingkungan sosial memberikan gambaran kepada kita bagaimana sebuah hubungan akan muncul dan berkembang, baik itu sebuah hubungan pertemanan biasa atau persahabatan
BAB I PENDAHULUAN. banyak hal, selain kualitas SDM, sistem dalam organisasi, prosedur
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini, kemajuan di bidang industri semakin berkembang. Oleh karena itu, maka semakin banyak pula persaingan yang ditandai dengan kompetisi yang semakin
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kaum perempuan di sektor publik. Tampak tidak ada sektor publik yang belum
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan di era globalisasi sekarang ini menimbulkan berbagai macam perubahan, salah satu dari perubahan tersebut ditandai dengan meningkatnya peran kaum
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi sangat pesat khususnya di bidang informasi dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi sangat pesat khususnya di bidang informasi dan komunikasi pada era globalisasi seperti sekarang ini. Teknologi informasi merupakan istilah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sumber daya manusia merupakan bagian terpenting dalam sebuah organisasi, di mana sumber daya manusia adalah penggerak roda kehidupan di dalam suatu organisasi.
BAB I PENDAHULUAN. manusia memegang peranan penting dalam melakukan aktivitas untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan globalisasi membuat suatu organisasi dituntut untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sehingga sumber daya manusia dianggap sebagai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat didukung oleh arus globalisasi yang hebat memunculkan adanya persaingan dalam berbagai bidang kehidupan,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kreativitas diperlukan setiap individu untuk menghadapi tantangan dan kompetisi yang ketat pada era globalisasi sekarang ini. Individu ditantang untuk mampu
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Motivasi mendasari setiap tindakan seseorang. Saat seseorang merasa terdapat suatu kebutuhan yang harus dipenuhi, maka timbul adanya keinginan untuk memuaskan atau
BAB I PENDAHULUAN. ketat dan terbuka, perusahaan harus mampu memaksimalkan sumber daya yang dimilikinya.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memasuki era globalisasi dimana terjadi kompetisi di bidang ekonomi yang semakin ketat dan terbuka, perusahaan harus mampu memaksimalkan sumber daya yang dimilikinya.
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Esa unggul merupakan salah satu Universitas swasta yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Universitas Esa unggul merupakan salah satu Universitas swasta yang terletak di daerah Jakarta Barat. Universitas yang telah berdiri sejak tahun 1993 telah berkembang
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan sangat penting dalam kehidupan dan diharapkan mampu. mewujudkan cita-cita bangsa. Pendidikan bertujuan untuk membantu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Pendidikan sangat penting dalam kehidupan dan diharapkan mampu mewujudkan cita-cita bangsa. Pendidikan bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan
BAB I PENDAHULUAN. dari kehidupan manusia. Dalam keluarga komunikasi orang tua dan anak itu. sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak komunikasi adalah bagian dari kehidupan manusia. Dalam keluarga komunikasi orang tua dan anak itu sangat penting bagi
BAB I PENDAHULUAN. Dalam sebuah perusahaan dan organisasi, baik swasta maupun. pemerintahan Sumber Daya Manusia yang produktif dapat tercapai apabila
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam sebuah perusahaan dan organisasi, baik swasta maupun pemerintahan Sumber Daya Manusia yang produktif dapat tercapai apabila karyawan-karyawan memiliki
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Skripsi adalah karya ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis di Perguruan Tinggi (Poerwadarminta, 2002). Semua
BAB I PENDAHULUAN. perkembangan yang khas yang menghadapkan manusia pada suatu krisis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap manusia dalam kehidupannya bisa menghadapi masalah berupa tantangan, tuntutan dan tekanan dari lingkungan sekitar. Setiap tahap perkembangan dalam rentang kehidupan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan sosial anak telah dimulai sejak bayi, kemudian pada masa kanak-kanak dan selanjutnya pada masa remaja. Hubungan sosial anak pertamatama masih sangat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang OMK (Orang Muda Katolik) merupakan sebuah wadah yang dapat menghimpun para pemuda Katolik untuk terus melayani Tuhan dan sesama, sebagai sebuah komunitas keagamaan.
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Manusia dikatakan makhluk sosial yang mempunyai akal pikiran di
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia dikatakan makhluk sosial yang mempunyai akal pikiran di mana dapat berkembang dan diperkembangkan (Giri Wiloso dkk, 2012). Sebagai makhluk sosial, manusia
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. bekerja bukanlah suatu hal yang baru di kalangan masyarakat. Berbeda dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Melihat perkembangan era modern ini, pemandangan wanita bekerja bukanlah suatu hal yang baru di kalangan masyarakat. Berbeda dari budaya Timur yang pada umumnya peran
HUBUNGAN ANTARA EFIKASI DIRI AKADEMIK DENGAN PENYESUAIAN DIRI AKADEMIK PADA MAHASISWA RANTAU DARI INDONESIA BAGIAN TIMUR DI SEMARANG
HUBUNGAN ANTARA EFIKASI DIRI AKADEMIK DENGAN PENYESUAIAN DIRI AKADEMIK PADA MAHASISWA RANTAU DARI INDONESIA BAGIAN TIMUR DI SEMARANG Rayhanatul Fitri 15010113130086 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penggunaan tugas kelompok semakin populer dalam dunia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penggunaan tugas kelompok semakin populer dalam dunia perkuliahan. Tugas kelompok telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran, baik untuk dosen
BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan perbedaan persepsi dan sikap terhadap pengalaman, sehingga
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap manusia adalah unik. Hal ini terjadi karena manusia tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang berbeda-beda, baik secara budaya, latar belakang pendidikan,
BAB I PENDAHULUAN. pada setiap individu tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau statusnya sebagai
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Memasuki era globalisasi sekarang ini, manusia dituntut untuk dapat menggunakan waktu dengan efektif sehingga efisiensi waktu menjadi sangat penting, namun sampai sekarang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting demi kemajuan bangsa. Dengan pendidikan maka sumber daya manusia dapat berkembang lebih pesat. Pendidikan merupakan
BAB I PENDAHULUAN. Pondok Pesantren Daar el-qolam merupakan salah satu pondok pesantren
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pondok Pesantren Daar el-qolam merupakan salah satu pondok pesantren yang menerapkan sistem pendidikan pondok modern (khalafi). Sistem pendidikan pondok pesantren modern
BAB I PENDAHULUAN. Ketika zaman berubah dengan cepat, salah satu kelompok yang rentan
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Ketika zaman berubah dengan cepat, salah satu kelompok yang rentan untuk terbawa arus adalah remaja. Remaja memiliki karakteristik tersendiri yang unik, yaitu
BAB II LANDASAN TEORI. berkaitan dengan komitmen afektif dan budaya organisasi. karena mereka menginginkannya (Meyer dan Allen, 1997)
BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dijabarkan teori-teori yang menjadi kerangka berfikir dalam melaksanakan penelitian ini. Beberapa teori yang dipakai adalah teori yang berkaitan dengan komitmen
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam pembangunan nasional, pendidikan diartikan sebagai upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia serta dituntut untuk menghasilkan kualitas manusia yang
BAB I PENDAHULUAN. pengangguran, demonstrasi dan unjuk rasa masih marak terjadi. Hal tersebut
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kondisi ketenagakerjaan di Indonesia seperti pemutusan hubungan kerja, pengangguran, demonstrasi dan unjuk rasa masih marak terjadi. Hal tersebut merupakan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Ketakutan akan kesuksesan terjadi pada laki-laki dan perempuan akan
1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Ketakutan akan kesuksesan terjadi pada laki-laki dan perempuan akan tetapi fear of success cenderung lebih besar dialami oleh wanita karena dalam situasi
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP KEPEMIMPINAN VISIONER DENGAN KOMITMEN ORGANISASI S K R I P S I
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP KEPEMIMPINAN VISIONER DENGAN KOMITMEN ORGANISASI S K R I P S I Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Meraih Gelar Sarjana S-1 Psikologi Oleh Doddy Agus S. F 100
BAB I PENDAHULUAN. setiap orang memiliki jalan dan cara masing-masing dalam menjalani,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap orang selalu berbeda antara satu sama lain, karena pada dasarnya setiap orang memiliki jalan dan cara masing-masing dalam menjalani, menyesuaikan diri, dan mengatasi
BAB I PENDAHULUAN. maupun bangsa. Pendidikan memperoleh perhatian khusus baik dari. dari berbagai media elektronik, cetak, dan lingkungan.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan dasar aktifitas untuk perubahan individu maupun bangsa. Pendidikan memperoleh perhatian khusus baik dari pemerintahan, masyarakat, maupun
BAB I PENDAHULUAN. kemampuan ini khususnya dalam melatih kemampuan verbal, kuantitatif, berpikir
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mahasiswa merupakan peserta didik di tingkat perguruan tinggi yang akan mengembangkan kemampuan intelektual dan kepribadian. Pengembangan kemampuan ini khususnya dalam
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Orang tua yang penuh perhatian tidak akan membiarkan anak untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Orang tua yang penuh perhatian tidak akan membiarkan anak untuk mengerjakan sesuatu sendiri, melainkan orang tua harus menemani dan memberi bimbingan sampai
BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan adalah suatu organisasi yang memiliki tujuan tertentu yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perusahaan adalah suatu organisasi yang memiliki tujuan tertentu yang hendak dicapai. Salah satu tujuan utama yang ingin dicapai oleh perusahaan adalah mempertahankan
BAB 1 PENDAHULUAN. Ekonomi Asean (MEA) untuk meningkatkan stabilitas perekonomian di. bidang ekonomi antar negara ASEAN (www.bppk.kemenkeu.go.id).
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 merupakan realisasi pasar bebas di Asia Tenggara yang telah dilakukan secara bertahap mulai KTT ASEAN di Singapura pada
