BAB IV KONSEP MAHRAM MENURUT PARA MUFASIR
|
|
|
- Djaja Halim
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV KONSEP MAHRAM MENURUT PARA MUFASIR A. Penafsiran Para Mufasir tentang Ayat-ayat yang mengandung ajaran Mahram dalam perspektif Al-Qur an. 1. Penafsiaran QS. An-Nisa ayat 22: Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu Amat keji dan dibenci Allah SWT dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). (QS. An-Nisa: 22) 1 Mengenai ayat ini seluruh Ulama Mazhab sepakat bahwa istri ayah haram dinikahi oleh anak kebawah, semata-mata karena adanya akad nikah, baik sudah dicampuri ataupun belum. 2 Sedangkan makna yang benar menurut Ibnul Arabi dalam Tafsir-nya adalah: Janganlah kalian menikahi istri-istri bapak kalian. Dan maa disini tidak mengandung makna mashdar, karena ia bersambung dengan kata kerja. Disina maa berarti Alladzi (yang kata sambung), juga bermakna man (siapa). Sedangkan yang mengindikasikan itu, adalah dua hal: 1 Kementrian Agama RI. Al-qur an...,p Mughniyah, Muhammad Jawad Fiqih lima Mazhab...,p
2 48 a. Para sahabat Rasulallah SAW telah menerima ayat ini dengan makna: Dan dengannya mereka jadikan dalil pelarangan bagi anak-anak menikah dengan istri-istri ayahnya. b. Sesungguhnya tentang firman-nya Sesungguhnya perbuatan itu amat keji, dan dibenci oleh Allah SWT dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh), dengan demikian, maka ini menunjukan akan perilaku kejelekan yang amat sangat Penafsiran QS. An-Nisa ayat 23: 4 Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudarasaudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara- 3 Al-Barudi, Syaikh Imad Zaki, Tafsir Wanita. (Jakarta: pustaka Al-Kautar, 2003). p, Az-Zuhlaili, Wahbah Fiqih islam wa adilatuhu jilid 9. (Jakarta: Gema Insani, 2011).p,124
3 49 saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau, Sesungguhnya Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.( QS. An-Nisa: 23). 5 M. Quraish Shihab menafsirkan dalam Tasfirnya yang berjudul Tafsir Al-mishbah pesan, kesan dan keserasian Al-Qur an dijelaskan: Diharamkan atas kamu mengawini ibu-ibumu, baik ibu kandung, maupun ibu dari ibu dan ayah kandung: anak-anak kamu yang perempuan, termasuk cucu perempua dan anak perempuan cucu, saudara-saudara kamu yang perempuan, sekandung atau bukan, saudara-saudara bapak kamu yang perempuan: yakni semua wanita yang mempunyai hubungan dengan bapak dari segi asal usul kelahiran ibunya, baik ibu, bapak maupun hanya salah satunya, demikian juga halnya dengan saudara-saudara ibu kamu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudara kamu yang laki-laki; sekandung atau tidak, demikian juga anak-anak perempuan dari saudara-saudara kamu yang perempuan; ituah tujuh dari segi hubungan keturunan (nasab). 6 Selanjutnya diuraikan yang haram dinikahi oleh karena adanya faktor-faktor ekstern yang dimulai penyebutannya dengan ibu-ibu kamu yang menyusui kamu; karena persamaannya dengan ibu dari menyusukan, sehingga semua wanita yang pernah menyusui 5 Kementrian Agama RI. Al-qur an...,p.41 6 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-mishbah : pesan, kesan dan...,p.372
4 50 seorang anak dengan penyusuan yang memenuhi syarat yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, maka ia sama dengan ibu kandung. Demikian juga haram dikawini semua wanita yang berhubungan keibuan dengan ibu susu itu, baik karena keturunan atau karena penyusuan. Sebagaimana haram juga mengawini saudara-saudara perempuan sepersusuan, yakni wanita yang menghisap lima kali penyusuan pada tetek yang sama dengan yang kamu hisap, baik sebelum, bersamaan, atau sesudah kamu menghisapnya. Selanjutnya, setelah selesai penyebutan yang haram dikawini akibat penyusuan yang hampir mencapai tingkat hubungan keturunan, yakni: ibu-ibu istri kamu, yakni mertua, baik istri itu telah kamu gauli layaknya suami istri maupun belum, juga anakanak istri kamu yang sedang atau wajar, dan berpotensi menjadi anak dalam pemeliharaan kamu, yakni anak tiri, karena mereka dapat disamakan dengan anak kandung sendiri, dari istri yang telah kamu campuri sebagaimana layaknya suami istri. 7 Tetapi jika kamu belum campur dengan istri kamu itu dan dia sudah kamu ceraikan atau istri yang belum kamu campuri itu meninggal dunia, maka tidak berdosa kamu mengawininya, yakni anak-anak tiri dari bekas istri yang telah kamu ceraikan sebelum bercampur itu; demikian juga diharamkan bagi kamu istri-istri anak kandungmu, yakni menantu. Setelah menjelaskan wanita-wanita yang haram dikawini selama-lamanya, ayat ini melanjutkan penjelasannya tentang yang haram dikawini tetapi tidak mutlak selama-lamanya, yaitu menghimpun dalam perkawinan dan saat yang sama dua perempuan yang bersaudara, kecuali perkawinan serupa yang telah terjadi pada 7 Wahbah Az-Zuhlaili, Fiqih islam...,p.128
5 51 masa lampau, maka untuk kasus-kasus demikian itu Allah tidak menjatuhkan sanksi atas kamu karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang Penafsiran QS An-Nisa ayat 24: Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapannya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tidalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi maha bijaksana. ( Qs An-Nisa: 24) 9 Kata Al-muhsanat adalah jamak dari kata Al-muhsanah yang berarti perempuan yang telah menikah (telah bersuami), yang diambi dari kata ihsan, yang berarti menikah, iffah memelihara diri dan merdeka. Arti kata dasarnya (Al-Hisn) ialah menjaga, memelihara, 8 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-mishbah : pesan, kesan...,p Kementrian Agama RI. Al-qur an..., p.41
6 52 menyimpan benteng. Dinamakan hisn karena bisa menjaga orang yang ada di dalamnya. Seseorang laki-laki yang sudah menikah dikatakan Al-Muhsin karena ia telah memelihara dirinya dari zina. Sedangkan makna al-muhshanat adalah perempuan-perempuan yang telah bersuami, (telah menikah). 10 Kata Al-Muhsanat dalam Al-Qur an mempunyai empat pengertian, yaitu: a. Perempuan yang bersuami, itulah yang dimaksud ayat ini:...apabila mereka telah bersuami..(an-nisa: 25). b. Perempuan yang merdeka, seperti yang tercantum dalam firman Allah SWT: Dan barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budakbudak yang kamu milik..(an-nisa: 25). 11 c. Perempuan yang memelihara ahklaknya, seperti dalam firman Allah: Perempuan-perempauan yang memelihara diri, bukan pzina. 10 Kementrian Agama RI, Al-Qur an dan Tafsirnya,(edisi yang disempurnakan) jilid II.(Jakarta: widya cahaya,2011),p Kementrian Agama RI, Al-Qur an...,p.42
7 53 d. Perempuan-perempuan muslimah. 12 Dengan demikian dibolehkan seorang muslim menikahi perempuan tawanan perang yang sudah menjadi budaknya, walaupun ia masih bersuami, karena hubungan perkawinan-nya dengan suaminya yang dulu sudah putus, sebab ia ditawan tanpa suaminya, dan suaminya berada di daerah musuh, dengan syarat perempuan itu sudah haid satu kali untuk membuktikan kekosongan rahimnya. Sebagian ulama mensyaratkan bahwa suaminya tidak ikut tertawan bersama dia, jika ditawan bersama-sama perempuan itu, maka tidak boleh dinikahi oleh orang lain. Ketentuan ini sudah tidak berlaku lagi di zaman sekarang Penafsiran QS An-Nur ayat 3: Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin. (Qs An-Nur: 3). 14 Kata Az-Zaniayah adalah bentuk isim fa il dari zana-yaznizinan. Yang berarti perempuan yang berzina, atau perempuan 12 Kementrian Agama RI, Al-Qur an dan Tafsirnya,(edisi yang disempurnakan) jilid II. (Jakarta: widya cahaya,2011),p Kementrian Agama RI, Al-Qur an dan Tafsirny)...,p Kementrian Agama RI, Al-Qur an...,p.200
8 54 pezinaa. Sedangkan kata az-zani berarti laki-laki yang berzina, atau laki-laki pezina. 15 Diriwayatkan oleh Mujahid at a bahwa pada umumnya orang-orang muhajirin yang datang dari Makkah ke Madinah adalah orang-orang miskin yang tidak mempunyai harta dan keluarga. Sedang pada waktu itu di Madinah banyak perempuan tunasusila yang menyewakan dirinya, sehingga penghidupannya lebih lumayan dibandingkan dengan yang lain. Melihat dari kondisi perempuan tunasusila itu lumayan, maka timbulah keinginan orang-orang muslim yang miskin itu untuk mengawini perempuan-perempuan tersebut, maka turunlah ayat ini sebagai teguran untuk tidak melaksanakannya. Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa laki-laki pezina dilarang mengawini perempuan kecuali perempuanperempuan pezina atau perempuan musyrik. Begitu juga sebaliknya, kecuali bila laki-laki atau perempuan pezina itu sudah bertaubat, maka boleh menikah atau dinikahi oleh laki-laki atau perempuan baik-baik. 5. Penafsiran QS An-Nur ayat 6: Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), Padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah 15 Kementrian Agama RI, Al-Qur an dan Tafsirnya...,p.564
9 55 dengan nama Allah, Sesungguhnya Dia adalah Termasuk orang-orang yang benar. (QS An-Nur: 6) 16 Ayat ini menerangkan bahwa suami yang menuduh istrinya berzina, dan ia tidak dapat mendatangkan empat orang saksi yang melihat sendiri perbuatan zina yang dituduhkan itu, maka ia diminta untuk bersumpah demi Allah sebanyak empat kali bahwa istrinya itu benar-benar telah berzina. Sumpah empat kali untuk pengganti empat orang saksi yang diperlukan bagi setiap orang yang menuduh perempuan berzina. Seorang suami menuduh istrinya berzina adakalanya karena ia melihat sendiri istrinya berbuat mesum dengan laki-laki lain, atau karena istrinya hamil, atau melahirkan, padahal ia yakin bahwa janin yang ada dalam kandungan istrinya atau anak yang dilahirkan istrinya itu bukanlah dari hasil hubungan dengan istrinya itu. Untuk menyelesaikan kasus semacam ini, suami membawa istrinya ke hadapan yang berwenang dan di sanalah dinyatakan tuduhan kepada istrinya. Maka yang berwenang menyuruh suaminya bersumpah empat kali, sebagai pengganti atas empat orang saksi yang diperlukan bagi setiap penuduh perempuan berzina, bahwa ia adalah benar dengan tuduhannya. Kata-kata sumpah itu adalah : Demi Allah Yang Maha Agung, saya bersaksi bahwa sesungguhnya saya benar dalam tuduhanku terhadap istriku si pulan bahwa dia berzina Sumpah itu diulang empat kali Kementrian Agama RI. Al-qur an...,p Kementrian Agama RI Al-Qur an dan tafsirnya...,p.570
10 56 6. Penafsiran QS Al-Baqarah [2]: 221 Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayatnya (perintahperintahnya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (QS. Al-Baqarah: 221) 18 Ibnu Katsir berkata dalam Tafsir-Nya: Ayat ini menegaskan pengharaman dari Allah SWT, kepada kaum mukminin untuk menikahi wanita-wanita musyrik yang menyembah berhala, jika yang dimksud ayat ini adalah: wanita musyrik secara umum, maka termasuk di dalamnya semua wanita musyrik, baik dari golongan ahlul kitab maupun penyembah berhala. 19 Akan tetapi Allah SWT 18 Kementrian Agama RI. Al-qur an...,p Al-Awaisyah, Husain Bin Audah, Enslikopedi fiqih menurut Al-Qur an dan As-Sunnah. Jilid 3 (Jakarta; pustaka Imam As-Syaf I,2008),p.103
11 57 mengecualikan wanita ahlul kitab dari keharaman tersebut melalui firman-nya:... (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan, diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Alkitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik...(qs. Al-Maidah: 5) 20 Ali bin Abu Talhah menuturkan bahwa Ibnu Abbas berkata: Allah SWT mengecualikan wanita ahlul kitab dari mereka. pendpat yang sama juga dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Sa id bin Jubair, Makhmul, Al-Hasan, Adh-Dhahhak, Zaid Bin Aslam Ar-Rabi bin Anas, dan selain mereka. Ada juga yang berpendapat bahwa maksudnya adalah orang musyrik yang menyembah berhala Penafsiran QS Al-baqarah ayat 229: dan...,p Kementrian Agama RI. Al-qur an...,p Al-Awaisyah, Husain Bin Audah, Enslikopedi fiqih menurut Al-Qur an
12 58 Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukumhukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim. (QS Al-baqarah ayat 229). 22 Dalam ayat ini dijelaskan, bahwa orang arab itu menjatuhkan talak, menurut kehendak hatinya dan tidak terbatas, kemudian mereka rujuk sekehendak hatinya pula. Pekerjaan seperti itu mempermainkan perempuan dan menghina mereka, padahal mereka adalah hamba Allah yang harus dihormati dan dimuliakan, seperti halnya laki-laki. Maka turunya ayat ini adalah untuk mengubah dan memperbaiki yang buruk itu, untuk mneatur urusan pernikahan, talak, dan rujuk dengan sebaik-baiknya. 23 Dari Aisyah r.a bahwasannya istri Rifa ah Al-Qurazhi datang kepada Rasulallah Saw dan berkata: wahai Rasul, Rif ah mentallakku dan telah jatuh talak ketiga, setelah itu, aku menikahi 22 Kementrian Agama RI. Al-qur an...,p Kementrian Agama RI Al-Qur an dan tafsirnya...,p.338
13 59 dengan Abdurrahman bin az-zubair al-qurazhi, namun aku tidak merasakan kenikmatan pernikahan bersamanya. Maka Rasulallah SAW berkata:. 24 Yang artinya: Tampak nya kamu ingin kembali kepada Rif ah. Tidak boleh, hingga Abdurrahman merasakan madumu dan kamu merasakan madunya Yang dimaksud merasakan madunya pada hadis diatas adalah jima. Batasan minimalnya adalah bertemunya dua khitan (bagian kepala kemaluan) yang mewajibkan hedd bagi perzinaan dan mandi junub. Sehingga Allah berfirman: Kemudian jika sisuami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum AllahSWT...(QS. Al-Baqarah: 230). 25 Berdasarkan dalil diatas, seorang wanita tidak halal dinikahi oleh suaminya yang pertama melainkan sesudah terpenuhinya syarat-syarat berikut: 24 Al-Awaisyah, Husain Bin Audah, Enslikopedi fiqih menurut Al- Qur an...,p Kementrian Agama RI. Al-qur an,...p.37
14 60 a. Pernikahannya dengan suami yang kedua adalah sah. b. Pernikahan itu atas dasar cinta. Tidak bertujuan Cuma untuk menghalalkan wanita itu untuk suami yang pertama. c. Keduanya benar-benar telah melakukan hubngan suami istri setelah akad nikah dan sama-sama merasakan kenikmatan dalam hubungan intim mereka. B. Konsep Mahram menurut Ulama Imam Mazhab Untuk sahnya suatu akad nikah, disyaratkan agar tidak ada larangan-larangan pada diri wanita tersebut untuk dikawini. Artinya, boleh dilakukan akad nikah terhadap wanita tersebut. Laranganlarangan itu ada dua bagian: karena hubungan nasab dan karena sebab (yang lain). Larangan yang pertama ada tujuh macam, dan itu menyebabkan keharaman untuk selama-lamanya. Sedangkan yang kedua ada sepuluh macam, yang sebagian menyebabkan keharaman untuk selama-lamanya, dan sebagian lagi hanya bersifat sementara Larangan karena nasab: Para Ulama Mazhab menyepakati bahwa wanita-wanita tersebut dibawah ini haram dikawini karena hubungan nasabnya: a. Ibu, termasuk nenek dari pihak ayah atau pihak ibu. b. Anak-anak perempuan, termasuk cucu perempuan dari anak laki-laki atau anak perempuan, hingga keturunan dibawahnya. c. Saudara-saudara perempuan, baik saudara seayah, seibu maupun seayah dan seibu. 26 Mughniyah, Muhammd jawad Fiqih lima Mazhab,ja fari, Hanafi, Maliki, Syafi I, Hambali, (Jakarta: lentera 2010),p.326
15 61 d. Saudara perempuan ayah, termasuk saudara perempuan kakek dan nenek dari pihak ayah, dan seterusnya. e. Saudara perempuan ibu, termasuk saudara perempuan kakek dan nenek dari pihak ibu, dan seterusnya. f. Anak-anak perempuan saudara laki-laki hingga keturunan di bawahnya. g. Anak-anak perempuan saudara perempuan hingga keturunan si bawahnya. Dalil yang dijadikan pijakan untuk itu adalah: Diharamkan atas kamu mengawini ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan, dan saudara laki-laki dan perempuan.(qs. An-Nisa:23). 2. Laranagan Karena ikatan perkawinan (mushaharah). Mushaharah adalah hubungan antara seorang laki-laki dengan perempuan yang dengan itu menyebabkan dilarangnya suatu perkawinan, yaitu mencakup hal-hal berikut ini: Seluruh mazhab menyepakati bahwa istri ayah haram dinikahi oleh anak kebawah, semata-mata karena adanya akad nikah, baik sudah dicampuri atau belum. Dalilnya adalah firman Allah SWT berikut ini: Mughniyah, Muhammd jawad Fiqih lima Mazhab...,p.327
16 62 Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu.(qs. An-Nisa:24) Seluruh Mazhab sependapat bahwa istri anak laki-laki haram dikawini oleh ayah keatas, semata-mata karena akad nikah. Dalilnya adalah firman Allah SWT dibawah ini:... (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak-anakmu. (QS. An-Nisa :23) Seluruh Mazhab menyepakati bahwa ibu istri (mertua wanita) dan seterusnya ke atas adalah haram dikawini hanya sematamata adanya akad nikah dengan anak perempuannya, sekalipun belum dicampuri. Berdasarkan firman Allah SWT dibawah ini: (Dan diharamkan bagimu) ibu istri-istrimu. (QS. An-Nisa :23). Seluru Mazhab sepakat bahwa anak anak perempuan istri (anak perempuan tiri) tidak haram dinikahi semata-mata karena adanya akad nikah. Dia boleh diikahi selama ibunya belum dicampuri, dipandang dan disentuh dengan birahi. Berdasarkan firman Allah SWT yang berbunyi: Mughniyah, Muhammd jawad Fiqih lima Mazhab...,p.328
17 63 Anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri. (QS. An-Nisa:23). 29 Kalimat yang berbunyi, yang ada dalam pemeliharanmu, semata-mata menunjukan keladziman (ladzimnya anak perempuan itu tinggal bersama-sama ibunya dirumah ibunya itu), Semua mazhab juga sepakat bahwa, seseorang haram mengawini anak perempuan dari wanita yang melakuan akad dan telah dicampuri oleh dirinya, tetapai mereka berbeda pendapat dalam hal ini. Imamiyah, Syafi I dan Hambali berpendapat bahwa keharaman terjadi setelah dicampuri, menyentuh, memandang dengan birahi dan sebagainya tidak berpengaruh. 30 Sementara itu Imam Hanafi dan Maliki sepedapat bahwa menyentuhan dan melihat yang diserti birahi menyebabkan keharaman, seperti mencampuri. sebagai istri: Termasuk juga mengumpulkan dua wanita muhrim Dan haram bagimu mengumpulkan dua wanita besaudara sebagai istri. (QS. An-Nisa:23). Keempat Mazhab sepakat tentang ketidakbolehan menyatukan seorang wanita dengan bibinya dari pihak ayah sebagai istri, dan antara seorang wanita dengan bibi dari pihak ibu. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa boleh menyatukan kedunya, baik 29 Kementrian Agama RI Al-qur an...,p Ibn Rusyd, Bidayat Al-Mujahid, jilid II...,p.20
18 64 si bibi memberi izin kepada suaminya untuk menikahi keponakannya itu mauun tidak. 31 Sementara itu Imamiyah berpendapat berbeda, sebagian diantara mereka mangatakan seperti pendapat keempat Mazhab, sedangkan mayoritas diantaranya berpendapat bahwa, apabila orang tersebut lebih dahulu mengawini bibi istrinya, baik dari pihak ayah maupun ibu, maka ia tidak boleh mengawini keponakan perempuan istrinya. Para ulama berargumentasi dengan ayat berikut ini: Dan dihalalkan bagi kamu yang demikian. (QS. An-Nisa:24). Maksudnya sesudah ayat diatas mengemukakan deretan wanita-wanita yang boleh dikawini, selanjutnya ayat tersebut membolehkan wanita-wanita yang selain itu Tentang susuan Seluruh mazhab sepakat tentang sahihnya hadis yang berbunyi: Apa yang diharamkan karena susuan sama dengan apa yang diharamkan karena nasab. Berdasarkan hadis ini, maka setiap wanita yang haram dikawini karena hubungan nasab, haram pula dikawini karena hubungan persusuan. Jadi, wanita mana pun yang telah menjadi ibu atau anak perempuan, saudara perempuan atau bibi (baik dari pihak bapak atau ibu), atau telah menjadi keponakan (dari saudara sesusuan laki-laki maupun perempuan) karna persusuan, disepakati 31 Mughniyah, Muhammd jawad Fiqih lima Mazhab,ja fari, Hanafi, Maliki, Syafi I, Hambali, (Jakarta: lentera 2010),p Mughniyah, Muhammd jawad Fiqih lima Mazhab...,p.330
19 65 sebagai wanita-wanita yang haram dikawini. Akan tetapi terdapat perbedaan pendapat tentang jumlah susuan yang menyebabkan keharaman dikawini, dan tentang syarat yang ada pada orang yang disusui dan yang menyusui. 33 Imamiyah mensyaratkan bahwa air susu yang diberikan kepada anak susuan haruslah dihasilkan dari hubungan yang sah. Jadi, kalau air susu itu mengalir bukan disebabkan oleh nikah, atau karena kehamilan akibat zina, maka air susu tersebut tidak menyebabkan keharaman. Dalam hal ini, tidak disyaratkan bahwa wanita tersebut harus masih terikat tali perkawinan dengan suaminya. Artinya, kalau wanita tersebut dicerai oleh suaminya, atau ditinggal mati dalam keadaan hamil atau menyusui, lalu menyusui seorang anak laki-laki, maka terjadilah keharaman. Bahkan bila seandainya wanita tersebut telah kawin lagi dan dicampuri oleh suaminya yang kedua. Sementara itu, Syafi I, Hanafi, dan Hambali berpendapat bahwa, tidak ada perbedaan antara seorang gadis dan janda, yang sudah kawin atau belum, sepanjang dia bisa mngalirkan air susu yang bisa diminum oleh anak yang disusuinya. 34 Selanjutnya Hambali mengatakan, bahwa hukum-hukum persusuan tidak berlaku secara syar i, kecuali bila air susu itu diperoleh melalalui kehamilan dan menganut mazhab ini tidak mensyaratkan kehailan tersebut karena percampuran yang sah. Imamiyah mensyaratkan bahwa anak yang menyusui itu harus mengisap air susunya dari payudara wanita yang 33 Mughniyah, Muhammd jawad Fiqih lima Mazhab..., p Mughniyah, Muhammd jawad, Fiqih lima Mazhab...,p.341
20 66 menyusuinya. Kalau dia menerima cara yang tidak langsung seperti itu, maka keharaman tidak terjadi. Sedangkan mazhab empat lainnya mamandang bahwa sampainya air susu wanita itu ke perut anak yang disusuinya dengan jalan apa pun, sudah menyebabkan keharaman. 35 Bahkan dalam kitab Al-Fiqh ala Al-madzahib Al-Arba ah disebutkan bahwa menurut Hambali, sampainya air susu dari hidung dan bukan dari mulut, sudah cukup menyebabkan keharaman. Imamiyah berpendapat bahwa, keharaman tidak dianggap ada, kecuali jika si anak yang disusui telah menerima air susu dari wanita yang menyusuinya selama sehari semalam, di mana hanya air susu tersebut sajalah yang menjadi makanannya, dan tidak diselingi oleh makanan lainnya. Atau, penyusuan tersebut diperoleh sebanyak lima belas kali penuh, yang tidak diselingi oleh penyusuan dari wanita yang lain. Namun dalam kitab Al-Masalik dikatakan bahwa selingan makanan lain dianggap tidak berpengaruh. Mereka beralasan bahwa dalam jumlah susuan tersebut daging tumbuh dan tulang menguat. 36 Sedangkan Syafi i dan Hambali mengatakan bahwa, keharaman itu harus melalui, minimal, lima kali susuan. Sementara itu, Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa, keharaman terjadi dengan semata-mata mengalirnya air susu 35 Ibn Rsyd, Bidayat Al-Mujtahid, dan Hasyiah Al-Bajuri, bab Al- Radha,p Mughniyah, Muhammd jawad Fiqih lima Mazha...b,p.341
21 67 seorang wanita ke perut anak yang disusuinya, baik sedikit maupun banyak, dan bahkan setetes sekali pun. 37 Imamiyah, Syafi I, Maliki dan Hambali mengatakan bahwa usia maksimal anak yang menyusu (yang menyebabkan keharaman) adalah dua tahun, sedangkan Imam Abu Hanifah mengatakannya sampai usia dua setengah tahun. Hanafi, Maliki dan Hambali mengatakan bahwa, tidak disyaratkan bahwa wanita yang menyusui itu harus masih hidup. Artinya, jika dia mati lalu ada seorang bayi menyusui darinya, maka cukuplah sudah hal itu sebagai penyebab keharaman. Bahkan Maliki mengatkan, Kalaupun diragukan apakah yang diisapnya itu susu atau bukan, keharaman tetap saja terjadi. 38 Sementara itu Imamiyah dan Syafi i mengatakan bahwa, masih hidupnya wanita yang menyusui, merupakan syarat bagi terjadinya keharaman. Jadi, kalau seandainya wanita itu meninggal dunia sebelum sempurnya penyusuan, maka keharaman pun tidak terjadi. Seluruh mazhab juga sepakat bahwa, laki-laki pemilik air susu, yakni suami wanita yang menyusui itu, menjadi ayah bagi anak yang disusui istrinya itu. Keharaman mereka berdua, seperti keharaman ayah dan anak. Ibu suami wanita yang menyusui itu, menjadi nenek bagi anak yang menyusu, saudara perempuan lakilaki itu menjadi bibinya, ibu wanita itu menjadi neneknya, dan saudara perempuan wanita itu menjadi bibinya pula. 37 Al-Jazairi, Al-Fiqh ala Al-Mazhahib Al-Arba ah,p Al-Fiqh ala Al-Madzahib Al-Arba ah
22 68 4 Tentang zina Pada bagian ini terdadap beberapa masalah: Imam Syafi i dan Imam Maliki berpendapat: seorang lakilaki boleh mengawini anak perempuannya dari hasil zina, saudara perempuan, cucu perempuan, baik dari anaknya laki-laki maupun perempuan, dan keponakan perempuannya, baik dari saudaranya yang laki-laki maupun perempuan, sebab wanita-wanita itu secara syar i adalah orang-orang yang bukan muhrim. 39 Imam Hanafi dan Imam Hambali menyatakan: anak perempuan hasil zina itu haram dikawini sebagaimana keharaman anak perempuan yang sah, sebab anak perempuan tersebut merupakan darah dagingnya sendiri. Imamiyah berpendapat: barang siapa yang melakukan zina dengan seorang perempuan, atau mencampurinya karena subhat, sedangkan wanita tersebut bersuami atau dalam keadaan iddah karena dicerai suaminya, tapi masih bisa dirujuk kembali.maka laki-laki itu haram mengawininya untuk selama-lamanya. 40 Sementara itu bagi keempat Mazhab perbuatan zina tidak membuat perempuan yang dizinai itu haram dinikahi oleh laki-laki yang menzinainya. Baik perbuatan itu diakukan wanita tersebut ketika bersuami atau masih bersuami. 5 Tentang Li an Apabila seorang suami menuduh istrinya berbuat zina, atau tidak mengakui anak yang lahir dari istrinya sebagai anak kandungnya, sedangkan istrinya tersebut menolak tuduhannya itu; 39 Ibn Qu-damah, Al-mughni, jilid IV, bab Al-Zawaj. 40 Mughniyah, Muhammd jawad Fiqih lima Mazhab...,p.331
23 69 padahal si suami tidak punya bukti bagi tuduhannya itu, maka dia boleh melakukan sumpah li an terhadap istrinya itu. Caranya adalah: Si suami bersumpah dengan saksi Allah sebanyak empat kali bahwa dia adalah termasuk orang-orang yang berkata benar tentang apa yang dituduhkannya kepada istrinya itu. Kemudian pada sumpahnya yang kelima dia hendaknya mengatakan bahwa, laknat Allah akan menimpa dirinya manakala dirinya termasuk orang-orang yang berdusta. Selanjutnya, istrinya bersumpah pula dengan saksi Allah SWT sebanyak empat kali, bahwa suaminya itu termasuk orang-orang yang berdusta. Lalu pada sumpah yang kelima, hendaknya dia mengatakan bahw, murka Allah SWT akan menimpanya manakala suaminya itu termasuk orang-orang yang benar. 41 Apabila si suami tidak bersedia melakukan mula anah (saling bersumpah li an), maka dia harus dijatuhi had (hukuman). Sebaliknya, apabila suami melakukan li an dan istrinya menolak, maka istrinya harus dijatuhi had. Bila mula anah telah dilaksanakan kedua belah pihak, hukuman tidak dijatuhkan kepada mereka berdua. Keduanya dipisahkan, dan si anak tidak dinyatakan sebagai anak suaminya itu. Landasan untuk itu adalah firman Allah SWT yang berbunyi: Mughniyah, Muhammd jawad Fiqih lima...,p Mughniyah, Muhammd jawad Fiqih...,p.334
24 70 Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), Padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya Dia adalah Termasuk orang-orang yang benar.(qs An-Nur:6) Seluruh Mazhab sepakat atas wajibnya berpisah bagi kedua orang tersebut sesudah mereka berdua ber-mula anah, tetapi mereka berbeda pendapat tentang, apakah si istri itu menjadi haram selamanya bagi suaminya, dalam arti dia tidak boleh lagi melakukan akad nikah sesudah mula anah tersebut, bahkan sesudah si suami mengakui sendiri bahwa apa yang dia tuduhkan itu sebenarnya dusta belaka, ataukah haram secara temporal, dan dia boleh melakukan akad kembali dengan istrinya itu sesudah dia mengakui kedustaannya? Imam Syafi I, Imamiyah, Hambali, dan Maliki berpendapat bahwa istrinya itu menjadi haram dia kawini untuk selamalamanya, sekalipun dia telah mengakui bahwa dirinya telah berdusta. 43 Sementara itu, Hanafi berpendapat bahwa mula anah itu sama dengan talak, sehingga istrinya itu haram tidak untuk selamalamanya. Sebab, keharaman itu disebabkan mula anah, dan apabila si suami telah mengakui kedustaan dirinya, maka hilang pulalah keharaman itu. 6. Jumlah istri Semua mazhab sepakat bahwa seorang laki-laki boleh beristri empat dalam waktu bersamaan, dan tidak boleh lima, berdasarkan ayat: 43 Mughniyah, Muhammd jawad Fiqih lima Mazhab...,p.335
25 71 Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. (QS. An-Nisa:3). 44 Apabila salah seorang diantara keempat istri itu ada yang lepas dari tangannya karea meninggal atau diceraikan, maka orang tersebut boleh kawin dengan wanita yang lainnya. Imamiyah dan Syafi i mengatakan bahwa manakala salah seorang diantara keempat istri itu dicerai dalam bentuk talak raj i, maka laki-laki itu tidak boleh melakukan akad nikah dengan orang lain sebelum istri yang diceraikannya itu habis masa iddah- Nya.akan tetapi jika talaknya itu talak ba in, maka dia boleh menikah dengan wanita lainnya. Sementara itu seluruh Mazhab lainnya berpendapat bahwa seorang laki-laki tidak boleh kawin dengn wanita yang kelima tersebut, sebelum wanita yang dieraakannya itu habis masa iddahnya tanpa ada perbedaan antara talak raj i dan talak ba in. 7. Perbedaan agama. Semua mazhab sepakat bahwa, laki-laki dan perempuan muslim tidak boleh kawin dengan orang-orang yang tidak mempunyai kitab suci atau yang dengan kitab suci (sybh kitab). Orang-orang yang masuk katagori ini adalah para penyembah berhala, mathari, binatang, dan benda-benda lain yang mereka sembah, dan setiap orang zindik yang tida percaya kepada Allah SWT Abu Zahra, Muhammad Syehk, Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah,...,p Mughniyah, Muhammd jawad Fiqih lima Mazhab...,p.336
26 72 Keempat Mazhab sepakat bahwa orang-orang yang memiliki kitab yang dekat dengan kitab suci (syibh kitab), seperti orang-orang majusi, tidak boleh dikawini. Yang dimaksud syibh kitsb, misalnya anggapan bahwa orang-orang majusi itu mempunyai kitab suci yang kemudian mereka ubah, sehingga mereka menjadi orang-orang seperti yang ada sekarang ini, sedangkan kitab suci mereka yang asli sudah lenyap. Keempat Mazhab juga sepakat bahwa seorang laki-laki muslim boleh mengawini wanita ahli kitab, yakni wanita-wanita Yahudi dan Nasrani, dan tidak sebaliknya. 46 Sementara itu, para Ulama Imamiyah sebagaimana halnya dengan keempat mazhab lainnya sepakat bahwa wanita muslim tidak boleh kawin dengan laki-laki ahli kitab, tetapi mereka berbeda pendapat tentang kebolehan laki-laki muslim mengawini wanita ahli kitab. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal itu tidak baik dalam bentuk kawin daim atau kawin sementara (mut ah). Mereka berdasarkan pendapatnya pada firman Allah SWT yang berbunyi: Dan jangan kamu berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir. (QS. Al-Mumtahanah: 10). Juga berdasarkan firman Allah SWT yang berbunyi: 46 Mughniyah, Muhammd jawad Fiqih lima Mazha...b,p.336
27 73 Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman, (QS. Al-Baqarah: 221). Disini mereka menafsirkan syirik dengan kufur dan nonislam, ahli kitab, menurut istilah yang diberikan Al-Qur an, bukanlah orang-orang musyrik. Al-Qur an mengataka: Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tlidak akan meninggalkan (agama mereka ).(QS.Al-Bayyinah:1). Dan dihalalkan mangawini wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Alkitab.(QS. Al-maidah:5). 47 Ayat ini tampak menunjukkan kehalalan mengawini wanitawanita ahli kitab. Sedangkan kelompok lainnya mengatakan bahwa mengawini wanita-wanita ahli kitab itu boleh dalam bentuk kawin sementara, tapi tidak dalam bentuk kawin daim. Mereka mengkompromikan antara dalil yang melarang dan membolehkan. Dalil yang menunjukan larangan, menurut mereka, adalah larangan untuk kawin daim, sedangkan dalil yang membolehkan untuk kawin sementara. 48 Kecuali Imam Maliki, Seluruh Mazhab sepakat bahwa perkawinan yang diselenggarakan oleh orang-orang non-muslim adalah sah seluruhnya, sepanjang perkawinan itu dilaksanakan 47 Kementrian Agama RI Al-qur an...,p Mughniyah, Muhammd jawad Fiqih lima Mazhab...,p.337
28 74 sesuai dengan ajaran yang mereka yakini. Kita, kaum muslimin, juga memberlakukan hak-hak yang ditimbulkan-nya tanpa membedakan apakah mereka itu ahli kitab atau bukan, bahkan mencakup pula orang-orang yang menghalalkan perkawinan sesama muhrimnya. Imam Maliki mengatakan bahwa, perkawinan yang di selenggarakan oleh orang-orang non-muslim tidak sah, sebab menurut Mazhab ini kalau perkawinan mereka itu diterapkan bagi orang-orang muslim pasti tidak sah hukumnya. 8. Tentang iddah Seluruh Mazhab sepakat bahwa perempuan yang masih dalam masa iddah tidak boleh dinikahi, seperti wanita yang masih bersuami, baik dia ber iddah karena ditinggal mati atau dicerai raj i maupun ba in. Hal ini didasarkan firman Allah SWT yang berbunyi: Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. (QS. Al-Baqarah:228) 49 Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. (QS. Al-Baqarah:234) Mughniyah, Muhammd jawad Fiqih lima Mazhab...b,p Kementrian Agama RI Al-qur an...,p.29
29 75 Ber iddah artinya bersabar dan menunggu. Akan tetapi terdapat perbedaan pendapat tentang laki-laki yang mengawini seorang wanita yang dalam iddah apakah ia haram baginya. Imam Maliki mengatakan, manakala laki-laki itu kemudian mencampurinya (disaat masih ber iddah), maka wanita itu menjadi haram baginya untuk selama-lamanya, tapi bila tidak, maka dia tidak haram. Imam Syafi i dan Imam Hanafi mengatakan bahwa kedua orang ini harus diceraikan, dan bila wanita tersebut sudah habis masa idahh-nya, maka tidak ada halangan bagi laki-laki itu mengawininya untuk yang kedua kalinya. 51 Dalam kitab Al-Mugnhi yang beraliran Hambali, bab iddah, dikatakan bahwa, apabila seorang laki-laki mengawini wanita yang sedang ber- iddah, padahal mereka berdua tahu bahwa si wanitanya sedang ber- iddah dan haram kawin. Imam Hambali mngatakan bahwa akad nikah tidak boleh dilakukan dengan wanita yang sedang iddah, baik karena talak raj i maupun talak ba in. kalau tetap juga nikah, padahal ia tahu sedang ber iddah dan haram menikah, maka perkawinannya batal, dan wanita itu haram baginya untuk selamanya, baik telah dicampuri maupun belum. 9. Tentang Ihram Imamiyah, Syafi i, Maliki dan Hambali berpendapat bahwa, orang yang sedang ihram, baik untuk haji maupun umrah, tidak Ibn Rusyi, Bidayat Al-mujtahid dan _ Al-Masalik, jilid II, bab talak...,p.
30 76 boleh kawin dan mengawinkan orang lain, menjadi wakil atau wali nikah, dan bila perkawinan dilakukan dalam keadaan ihrm, maka perkawinan tersebut batal. 52 Ini didasarkan pada hadis Nabi: Yang artinya: Orang yang sedang ihram, tidak boleh kawin, mengawinkan, dan melamar Sementara itu Hanafi mengatakan bahwa, ihram tidak menjadi penghalang perkawinan. Sedangkan Imamiyah berpendapat bahwa manakala akad nikah dilaksanakan, bila dilakukan dalam keadaan tidak tahu tentang keharamannya, maka wanita tersebut untuk sementara tidak boleh dikawini. Kemudian, bila keduanya telah tahallul (menyelesaikan ibadah haji atau umrahnya), atau laki-laki itu telah ber-tahallul, sedangkan wanitanya bukan orang yang sedang ihram, maka akad nikah boleh dilakukan. Akan tetapi apabila hal itu dilakukan seraya tahu akan ketidak bolehannya, keduanya harus diceraikan dan menjadi haram untuk selamanya. Sedangkan Mazhab-mazhab lain mengatakan bahwa, wanita tersebut haram dikawini untuk sementara waktu dan tidak selamanya Mughniyah, Muhammd jawad Fiqih lima Mazhab,ja fari, Hanaf...i, p Al- Allamah Al-Hulli, Al-Tadzkirah, II, bab Al-Haj, dan Ibn Rusyd, Bidayat Al-Mujtahid...,p,144
BAB IV ANALISIS PERNIKAHAN DALAM MASA IDDAH. A. Analisis Pemikiran Pernikahan dalam Masa Iddah di Desa Sepulu Kecamatan
BAB IV ANALISIS PERNIKAHAN DALAM MASA IDDAH A. Analisis Pemikiran Pernikahan dalam Masa Iddah di Desa Sepulu Kecamatan Sepulu Kabupaten Bangkalan Syariat Islam telah menjadikan pernikahan menjadi salah
BAB III AYAT-AYAT AL-QUR AN TENTANG MAHRAM DALAM PERSPEKTIF AL-QUR AN. A. Ayat-ayat tentang Mahram 1. Firman Allah SWT dalam surah An-Nisa ayat 22:
BAB III AYAT-AYAT AL-QUR AN TENTANG MAHRAM DALAM PERSPEKTIF AL-QUR AN A. Ayat-ayat tentang Mahram 1. Firman Allah SWT dalam surah An-Nisa ayat 22: Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita yang telah dikawini
BAB II KONSEP MAHRAM DALAM PERSPEKTIF AL-QUR AN
BAB II KONSEP MAHRAM DALAM PERSPEKTIF AL-QUR AN A. Pengertian Mahram Mahram yakni wanita yang haram dinikahi, baik yang masih konservatif maupun yang sudah maju. Sebab-sebab keharamanya itu banyak, demkian
MENTELU DI DESA SUMBEREJO KECAMATAN LAMONGAN
BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP LARANGAN NIKAH MENTELU DI DESA SUMBEREJO KECAMATAN LAMONGAN KECAMATAN LAMONGAN KABUPATEN LAMONGAN JAWA TIMUR A. Analisis Hukum Islam Terhadap Alasan Larangan Nikah
APAKAH ITU MAHRAM. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:
APAKAH ITU MAHRAM Beberapa waktu yang lalu di berita salah satu televisi swasta nasional menayangkan kontak pemirsa. Di sana ada penelpon yang menyebutkan tentang kegeli-annya terhadap tingkah pejabat-pejabat
MBAREP DI DESA KETEGAN KECAMATAN TANGGULANGIN
BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP LARANGAN NIKAH ANAK PODO MBAREP DI DESA KETEGAN KECAMATAN TANGGULANGIN KABUPATEN SIDOARJO A. Analisis Terhadap Tradisi Larangan Nikah Anak Podo Mbarep Masyarakat desa
BAB IV ANALISIS PENDAPAT MAZHAB H{ANAFI DAN MAZHAB SYAFI I TENTANG STATUS HUKUM ISTRI PASCA MULA> ANAH
BAB IV ANALISIS PENDAPAT MAZHAB H{ANAFI DAN MAZHAB SYAFI I TENTANG STATUS HUKUM ISTRI PASCA MULA> ANAH A. Persamaan Pendapat Mazhab H{anafi Dan Mazhab Syafi i Dalam Hal Status Hukum Istri Pasca Mula> anah
ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP KASUS PERNIKAHAN SIRRI SEORANG ISTRI YANG MASIH DALAM PROSES PERCERAIAN
BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP KASUS PERNIKAHAN SIRRI SEORANG ISTRI YANG MASIH DALAM PROSES PERCERAIAN A. Analisis Latar Belakang Terjadinya Pernikahan Sirri Seorang Istri yang Masih dalam Proses
Perzinahan dan Hukumnya SEPUTAR MASALAH PERZINAHAN DAN AKIBAT HUKUMNYA
Perzinahan dan Hukumnya SEPUTAR MASALAH PERZINAHAN DAN AKIBAT HUKUMNYA Pertanyaan Dari: Ny. Fiametta di Bengkulu (disidangkan pada Jum at 25 Zulhijjah 1428 H / 4 Januari 2008 M dan 9 Muharram 1429 H /
Bolehkah melaksanakan perkawinan seorang perempuan dengan seorang laki laki yang bapak keduanya saudara sekandung, yaitu seayah dan seibu?
"kemal pasa", [email protected] Pertanyaan : Bolehkah melaksanakan perkawinan seorang perempuan dengan seorang laki laki yang bapak keduanya saudara sekandung, yaitu seayah dan seibu? Jawaban : Tidak
MENGENAL PERKAWINAN ISLAM DI INDONESIA Oleh: Marzuki
MENGENAL PERKAWINAN ISLAM DI INDONESIA Oleh: Marzuki Perkawinan atau pernikahan merupakan institusi yang istimewa dalam Islam. Di samping merupakan bagian dari syariah Islam, perkawinan memiliki hikmah
SIAPAKAH MAHRAMMU? Mahram adalah orang yang haram untuk dinikahi karena hubungan nasab atau hubungan susuan atau karena ada ikatan perkawinan1)
SIAPAKAH MAHRAMMU? Mahram adalah orang yang haram untuk dinikahi karena hubungan nasab atau hubungan susuan atau karena ada ikatan perkawinan1) Adapun ketentuan siapa yang mahram dan yang bukan mahram
BAB III Rukun dan Syarat Perkawinan
BAB III Rukun dan Syarat Perkawinan Rukun adalah unsur-unsur yang harus ada untuk dapat terjadinya suatu perkawinan. Rukun perkawinan terdiri dari calon suami, calon isteri, wali nikah, dua orang saksi
BAB IV ANALISIS TERHADAP PELAKSANAAN PERNIKAHAN WANITA HAMIL DI LUAR NIKAH DI KUA KECAMATAN CERME KABUPATEN GRESIK
BAB IV ANALISIS TERHADAP PELAKSANAAN PERNIKAHAN WANITA HAMIL DI LUAR NIKAH DI KUA KECAMATAN CERME KABUPATEN GRESIK A. Analisis Terhadap Prosedur Pernikahan Wanita Hamil di Luar Nikah di Kantor Urusan Agama
SOAL SEMESTER GANJIL ( 3.8 )
SOAL SEMESTER GANJIL ( 3.8 ) Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam Kompetensi Dasar : Pernikahan dalam Islam ( Hukum, hikmah dan ketentuan Nikah) Kelas : XII (duabelas ) Program : IPA IPS I. Pilihlah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mahram diambil dari kata bahasa Arab: mahram adalah semua orang yang dilarang / haram untuk dinikahi selamanya karena sebab keturunaan, persusuan dan pernikahan
MUNAKAHAT : IDDAH, RUJUK, FASAKH,KHULU DISEDIAKAN OLEH: SITI NUR ATIQAH
MUNAKAHAT : IDDAH, RUJUK, FASAKH,KHULU DISEDIAKAN OLEH: SITI NUR ATIQAH IDDAH PENGERTIAN Iddah adalah hari-hari di mana seorang wanita berpisah (bercerai) dengan suaminya menjalani masa menunggu. Selama
MACAM-MACAM MAHRAM 1. MAHRAM KARENA NASAB Allah berfirman:
Mahram Bagi Wanita Masalah mahram bagi wanita banyak diantara kaum muslimin yang kurang memahaminya. Padahal banyak sekali hukum tentang pergaulan wanita yang berkaitan erat dengan masalah mahram ini.
BAB III DEFINISI IJBAR, DASAR HUKUM DAN SYARAT IJBAR. Kata ijbar juga bisa mewajibkan untuk mengerjakan. 2 Sedangkan Ijbar
29 BAB III DEFINISI IJBAR, DASAR HUKUM DAN SYARAT IJBAR A. Pengertian Ijbar Ijbar berarti paksaan, 1 yaitu memaksakan sesuatu dan mewajibkan melakukan sesuatu. Kata ijbar juga bisa mewajibkan untuk mengerjakan.
Munakahat ZULKIFLI, MA
Munakahat ZULKIFLI, MA Perkawinan atau Pernikahan Menikah adalah salah satu perintah dalam agama. Salah satunya dijelaskan dalam surat An Nuur ayat 32 : Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara
Penyuluhan Hukum Hukum Perkawinan: Mencegah Pernikahan Dini
Penyuluhan Hukum Hukum Perkawinan: Mencegah Pernikahan Dini Oleh: Nasrullah, S.H., S.Ag., MCL. Tempat : Balai Pedukuhan Ngaglik, Ngeposari, Semanu, Gunungkidul 29 Agustus 2017 Pendahuluan Tujuan perkawinan
FATWA TARJIH MUHAMMADIYAH HUKUM NIKAH BEDA AGAMA
FATWA TARJIH MUHAMMADIYAH HUKUM NIKAH BEDA AGAMA Pertanyaan Dari: Hamba Allah, di Jawa Tengah, nama dan alamat diketahui redaksi (Disidangkan pada hari Jum at, 20 Syakban 1432 H / 22 Juli 2011 M) Pertanyaan:
BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN. Dari Penelitian yang penulis lakukan dilapangan 8 (delapan) orang responden. 1) Nama : KH.
BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Menjelaskan Persepsi Ulama Dari Penelitian yang penulis lakukan dilapangan 8 (delapan) orang responden. 1. Deskripsi Satu a. Identitas Responden 1) Nama : KH.
BAB II KRITERIA ANAK LUAR NIKAH DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA
48 BAB II KRITERIA ANAK LUAR NIKAH DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA A. Kriteria Anak Luar Nikah dalam Kompilasi Hukum Islam Dalam Kompilasi Hukum Islam selain dijelaskan
Bab 26 Mengadakan Perjalanan Tentang Masalah Yang Terjadi dan Mengajarkan kepada Keluarganya
- 26 Bab 26 Mengadakan Perjalanan Tentang Masalah Yang Terjadi dan Mengajarkan kepada Keluarganya Penjelasan : Nazilah adalah kejadian baru yang butuh kepada hukum syar I. istilah ini menjadi populer pada
BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PELARANGAN NIKAH DIKALANGAN KIAI DENGAN MASYARAKAT BIASA DI DESA BRAGUNG KECAMATAN GULUK-GULUK KABUPATEN SUMENEP
BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PELARANGAN NIKAH DIKALANGAN KIAI DENGAN MASYARAKAT BIASA DI DESA BRAGUNG KECAMATAN GULUK-GULUK KABUPATEN SUMENEP A. Analisis Hukum Islam terhadap Latar Belakang Pelarangan
BABA V PENUTUP A. KESIMPULAN. Dari beberapa penjelasan yang diuraikan di muka terhadap
BABA V PENUTUP A. KESIMPULAN Dari beberapa penjelasan yang diuraikan di muka terhadap pandangan mazhab Maliki dan mazhab Syafi i tentang menikahkan wanita hamil karena zina, maka penyusun dapat menarik
SIAPAKAH MAHRAMMU? 1
SIAPAKAH MAHRAM KITA SIAPAKAH MAHRAMMU? 1 Mahram adalah orang yang haram untuk dinikahi karena hubungan nasab atau hubungan susuan atau karena ada ikatan perkawinan. 2 Adapun ketentuan siapa yang mahram
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkawinan amat penting dalam kehidupan manusia, baik bagi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan amat penting dalam kehidupan manusia, baik bagi perseorangan maupun kelompok. Dengan jalan perkawinan yang sah, pergaulan laki-laki dan perempuan
BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP STATUS ANAK DARI PEMBATALAN PERKAWINAN
BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP STATUS ANAK DARI PEMBATALAN PERKAWINAN A. Analisis Status Anak Dari Pembatalan Perkawinan No: 1433/Pdt.G/2008/PA.Jombang Menurut Undang-Undang Perkawinan Dan Menurut
AKHLAQ. Materi Akhlaq Studi Islam Intensif (SII) YISC Al Azhar
AKHLAQ I. Definisi Imam Ibnu Qudamah menyebutkan dalam Mukhtashor Minhajul Qoshidiin bahwa akhlaq merupakan ungkapan tentang kondisi jiwa, yang begitu mudah menghasilkan perbuatan tanpa membutuhkan pemikiran
Bahaya Zina dan Sebab Pengantarnya
Bahaya Zina dan Sebab Pengantarnya Khutbah Pertama:??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????:????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????
Amir Syarifudin, Garis-Garis Besar FIQIH, (Jakarta:KENCANA. 2003), Hal-141. Totok Jumantoro, Kamus Ilmu Ushul Fiqih, (Jakarta: AMZAH.
I. PENDAHULUAN Pada dasarnya perkawinan itu dilakukan untuk waktu selamanya sampai matinya salah seorang suami-istri. Inlah yang sebenarnya dikehendaki oleh agama Islam. Namun dalam keadaan tertentu terdapat
Istri-Istri Rasulullah? Adalah Ibunya Orang-Orang Beriman
Istri-Istri Rasulullah? Adalah Ibunya Orang-Orang Beriman Khutbah Pertama:?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????:?????????????????????????????????????????
BAB V PERSAMAAN DAN PERBEDAAN WASIAT KEPADA NON MUSLIM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF
BAB V PERSAMAAN DAN PERBEDAAN WASIAT KEPADA NON MUSLIM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF A. Wasiat Kepada Non Muslim Perspektif Hukum Islam. 1. Syarat-syarat Mushii a. Mukallaf (baligh dan berakal
PERKAWINAN BEDA AGAMA DALAM PERSPEKTIF ISLAM Oleh Dr. ABDUL MAJID Harian Pikiran Rakyat
PERKAWINAN BEDA AGAMA DALAM PERSPEKTIF ISLAM Oleh Dr. ABDUL MAJID Harian Pikiran Rakyat 09-04-05 PERNIKAHAN bernuansa keragaman ini banyak terjadi dan kita jumpai di dalam kehidupan bermasyarakat. Mungkin
BAB I PENDAHULUAN. Pernikahan dalam Islam merupakan perintah bagi kaum muslimin. Dalam
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pernikahan dalam Islam merupakan perintah bagi kaum muslimin. Dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1974 pasal 1 dinyatakan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir batin
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Pembahasan perwalian nikah dalam pandangan Abu Hanifah dan Asy-
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Pembahasan perwalian nikah dalam pandangan Abu Hanifah dan Asy- Syafi i telah diuraikan dalam bab-bab yang lalu. Dari uraian tersebut telah jelas mengungkapkan
BAB I PENDAHULUAN. menginginkan bahagia dan berusaha agar kebahagiaan itu tetap menjadi
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Setiap manusia diatas permukaan bumi ini pada umumnya selalu menginginkan bahagia dan berusaha agar kebahagiaan itu tetap menjadi miliknya. Sesuatu kebahagiaan itu
YANG HARAM UNTUK DINIKAHI
YANG HARAM UNTUK DINIKAHI حفظه هللا Ustadz Kholid Syamhudi, Lc Publication : 1437 H_2016 M RINGHASAN FIKIH ISLAM: Yang Haram Untuk Dinikahi حفظه هللا Oleh : Ustadz Kholid Syamhudi Disalin dari web Beliau
BAB IV ANALISIS TENTANG STATUS PERWALIAN ANAK AKIBAT PEMBATALAN NIKAH
BAB IV ANALISIS TENTANG STATUS PERWALIAN ANAK AKIBAT PEMBATALAN NIKAH A. Analisis Status Perwalian Anak Akibat Pembatalan Nikah dalam Putusan Pengadilan Agama Probolinggo No. 154/Pdt.G/2015 PA.Prob Menurut
BAB I PENDAHULUAN. Rasulullah SAW juga telah memerintahkan agar orang-orang segera
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hubungan perkawinan antara seorang laki-laki dan perempuan pada kenyataannya merupakan sudut penting bagi kebutuhan manusia. Bahkan perkawinan adalah hukum
BAB IV. Larangan Menikahi Pezinah Dalam Al-Qur an Surat An-Nur Ayat 3; Studi Komparatif Penafsiran Kiya Al-Haras Dan Ibnu Al-Arabi
BAB IV Larangan Menikahi Pezinah Dalam Al-Qur an Surat An-Nur Ayat 3; Studi Komparatif Penafsiran Kiya Al-Haras Dan Ibnu Al-Arabi A. Metode Penafsiran al-haras dan Ibnu al-arabi terhadap Surat An-Nur Ayat
BAB IV PARADIGMA SEKUFU DI DALAM KELUARGA MAS MENURUT ANALISIS HUKUM ISLAM
BAB IV PARADIGMA SEKUFU DI DALAM KELUARGA MAS MENURUT ANALISIS HUKUM ISLAM A. Hal-Hal Yang Melatarbelakangi Paradigma Sekufu di dalam Keluarga Mas Kata kufu atau kafa ah dalam perkawinan mengandung arti
BAB III KERANGKA TEORITIS. serangkaian kebiasaan dan nilai-nilai dari satu generasi kepada generasi
BAB III KERANGKA TEORITIS Menurut Soekandar Wiriaatmaja, tradisi pernikahan merupakan suatu yang dibiasakan sehingga dapat dijadikan peraturan yang mengatur tata pergaulan hidup didalam masyarakat dan
PERNIKAHAN LINTAS AGAMA
PERNIKAHAN LINTAS AGAMA Yang dimaksud nikah beda agama disini ialah wanita muslimah menikah dengan laki-laki ahlul kitab; Yahudi dan Nasrani. Sebab fenomena tersebut akhir-akhir ini mencuat ke permukaan.fenomena
BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TENTANG IMPLIKASI TEKNOLOGI USG TERHADAP IDDAH
59 BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TENTANG IMPLIKASI TEKNOLOGI USG TERHADAP IDDAH A. Analisis terhadap Peran USG terhadap Iddah Tidak sedikit ulama yang mencoba mendefinisikan atau mencari alasan pemberlakuan
BAB IV DASAR PERTIMBANGAN MAHKAMAH AGUNG TERHADAP PUTUSAN WARIS BEDA AGAMA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
BAB IV DASAR PERTIMBANGAN MAHKAMAH AGUNG TERHADAP PUTUSAN WARIS BEDA AGAMA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM A. Dasar Pertimbangan Hakim Mahkamah Agung Terhadap Putusan Waris Beda Agama Kewarisan beda agama
TAFSIR AL BAQARAH Talak (Cerai) dalam Islam. Varyzcha
TAFSIR AL BAQARAH 228-231 Talak (Cerai) dalam Islam Varyzcha 228. Istri-istri yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh bagi mereka menyembunyikan apa yang diciptakan
yang dapat membuahi, didalam istilah kedokteran disebut Menarche (haid yang
20 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Perkawinan Usia Dini 1. Pengertian Perkawinan Usia Dini Menurut Ali Akbar dalam Rouf (2002) untuk menentukan seseorang melaksanakan kawin usia dini dapat dilihat dari sudut
FAKULTAS SYARI'AH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA 2015 M/1436 H
Status Perkawinan Orang Murtad (Studi Komparatif Mazhab Syafi'i dan KHI) SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Pada Fakultas Syari'ah/Jurusan Ahwal Asy-Syakhsiyah
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG IDDAH
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG IDDAH A. Pengertian Iddah Iddah adalah berasal dari kata al-add dan al-ihsha yang berarti bilangan. Artinya jumlah bulan yang harus dilewati seorang perempuan yang telah diceraikan
BAB IV HUKUM PERKAWINAN BAGI PENDERITA PENYAKIT IMPOTENSI DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
BAB IV HUKUM PERKAWINAN BAGI PENDERITA PENYAKIT IMPOTENSI DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM A. Analisis Pandangan Hukum Islam Dan Imam Madzhab Terhadap Perkawinan Bagi Penderita Impotensi Dalam sebuah perkawinan,
BAB V PENUTUP. mengambil kesimpulan bahwa:
BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN Dari beberapa pembahasan yang telah dikaji, penulis mengambil kesimpulan bahwa: 1. Kata zinā berasal dari bahasa arab yang artinya berbuat fajir (nista). Zinā adalah bentuk
BAB IV KOMPARASI ANTARA HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF TERHADAP STATUS PERKAWINAN KARENA MURTAD
BAB IV KOMPARASI ANTARA HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF TERHADAP STATUS PERKAWINAN KARENA MURTAD A. Analisis Persamaan antara Hukum Islam dan Hukum Positif Terhadap Status Perkawinan Karena Murtad Dalam
BAB IV ANALISIS KETENTUAN KHI PASAL 153 AYAT (5) TENTANG IDDAH BAGI PEREMPUAN YANG BERHENTI HAID KETIKA MENJALANI MASA IDDAH KARENA MENYUSUI
BAB IV ANALISIS KETENTUAN KHI PASAL 153 AYAT (5) TENTANG IDDAH BAGI PEREMPUAN YANG BERHENTI HAID KETIKA MENJALANI MASA IDDAH KARENA MENYUSUI A. Analisis Perhitungan Iddah Perempuan Yang Berhenti Haid Ketika
BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG PEMAKSAAN MENIKAH MENURUT HUKUM ISLAM
40 BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG PEMAKSAAN MENIKAH MENURUT HUKUM ISLAM Eksistensi perwalian dalam Islam memiliki dasar hukum yang sangat jelas dan kuat. Hal ini dapat dipahami sebagai salah satu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TINJAUAN UMUM TENTANG PERKAWINAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TINJAUAN UMUM TENTANG PERKAWINAN 1. Pengertian Perkawinan Dalam ajaran Islam sebuah perkawinan merupakan peristiwa sakral bagi manusia, karena melangsungkan perkawinan merupakan
IMA>MIYAH TENTANG HUKUM MENERIMA HARTA WARISAN DARI
BAB IV ANALISIS TERHADAP PANDANGAN IMAM SYAFI I DAN SYI> AH IMA>MIYAH TENTANG HUKUM MENERIMA HARTA WARISAN DARI PEWARIS NON MUSLIM A. Persamaan Pandangan Imam Syafi i dan Syi> ah Ima>miyah tentang Hukum
PERKAWINAN WANITA HAMIL DILUAR NIKAH SERTA AKIBAT HUKUMNYA PERSPEKTIF FIKIH DAN HUKUM POSITIF Oleh. Wahyu Wibisana
PERKAWINAN WANITA HAMIL DILUAR NIKAH SERTA AKIBAT HUKUMNYA PERSPEKTIF FIKIH DAN HUKUM POSITIF Oleh. Wahyu Wibisana Abstrak Fenomena saat ini, banyak wanita hamil karena zina yang salah satu faktornya dikarenakan
BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupannya. Apabila ada peristiwa meninggalnya seseorang yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masalah kewarisan itu sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia, karena setiap manusia pasti akan mengalami suatu peristiwa meninggal dunia di dalam kehidupannya.
BAB IV ANALISIS PANDANGAN TOKOH MUI JAWA TIMUR TERHADAP PENDAPAT HAKIM PENGADILAN AGAMA PASURUAN TENTANG STATUS ISTRI SETELAH PEMBATALAN NIKAH
75 BAB IV ANALISIS PANDANGAN TOKOH MUI JAWA TIMUR TERHADAP PENDAPAT HAKIM PENGADILAN AGAMA PASURUAN TENTANG STATUS ISTRI SETELAH PEMBATALAN NIKAH A. Analisis Pendapat Hakim Tentang Status Istri Setelah
BAB V PENUTUP. dapat dijerat dengan pasal-pasal : (1) Pasal 285 Kitab Undang-undang Hukum
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Sanksi hukum bagi seorang ayah melakukan tindak pidana pemerkosaan terhadap anak kandungnya, berdasarkan ketentuan hukum positif di Indonesia, ia dapat dijerat dengan pasal-pasal
FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 17 Tahun 2013 Tentang BERISTRI LEBIH DARI EMPAT DALAM WAKTU BERSAMAAN
FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 17 Tahun 2013 Tentang BERISTRI LEBIH DARI EMPAT DALAM WAKTU BERSAMAAN (MUI), setelah : MENIMBANG : a. bahwa dalam Islam, pernikahan adalah merupakan bentuk ibadah yang
Menggapai Ridha Allah dengan Birrul Wâlidain. Oleh: Muhsin Hariyanto
Menggapai Ridha Allah dengan Birrul Wâlidain Oleh: Muhsin Hariyanto AL-BAIHAQI, dalam kitab Syu ab al-îmân, mengutip hadis Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Amr ibn al- Ash: Ridha Allah bergantung
BAB IV ANALISIS PENDAPAT HUKUM TENTANG IDDAH WANITA KEGUGURAN DALAM KITAB MUGHNI AL-MUHTAJ
BAB IV ANALISIS PENDAPAT HUKUM TENTANG IDDAH WANITA KEGUGURAN DALAM KITAB MUGHNI AL-MUHTAJ A. Analisis Pendapat Tentang Iddah Wanita Keguguran Dalam Kitab Mughni Al-Muhtaj Dalam bab ini penulis akan berusaha
BAB I PENDAHULUAN. kelaminnya (laki-laki dan perempuan), secara alamiah mempunyai daya tarikmenarik
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan manusia di dunia ini yang berlainan jenis kelaminnya (laki-laki dan perempuan), secara alamiah mempunyai daya tarikmenarik antara satu dengan
[ Indonesia Indonesian
SUAMI TIDAK SHALAT : [ Indonesia Indonesian ] Penyusun : Misy'al al-utaibi Terjemah : Muh. Iqbal Ahmad Gazali Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad 2009-1430 : : : : 2009 1430 2 Suami Tidak Shalat Segala puji
Rasulullah SAW suri teladan yang baik (ke-86)
MAJLIS TAFSIR AL-QUR AN (MTA) PUSAT http://www.mta-online.com e-mail : [email protected] Fax : 0271 661556 Jl. Serayu no. 12, Semanggi 06/15, Pasarkliwon, Solo, Kode Pos 57117, Telp. 0271 643288 Ahad,
Di antaranya pemahaman tersebut adalah:
MENYOAL PEMAHAMAN ATAS KONSEP RAHMATAN LI AL- ÂLAMÎN Kata Rahmatan li al- Âlamîn memang ada dalam al-quran. Namun permasalahan akan muncul ketika orang-orang menafsirkan makna Rahmatan li al- Âlamîn secara
??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????
Nikah Beda Agama Khutbah Pertama:??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????
BAB IV ANALISIS TERHADAP TRADISI LARANGAN PERKAWINAN DUA SAUDARA KANDUNG PADA TAHUN YANG DI DESA PARADO KECAMATAN PARADO KABUPATEN BIMA
66 BAB IV ANALISIS TERHADAP TRADISI LARANGAN PERKAWINAN DUA SAUDARA KANDUNG PADA TAHUN YANG DI DESA PARADO KECAMATAN PARADO KABUPATEN BIMA A. Analisis Terhadap Faktor Faktor Yang Mendasari Adanya Tradisi
BAB IV ANALISIS TERHADAP STATUS NASAB DAN KEWAJIBAN NAFKAH ANAK YANG DI LI AN AYAHNNYA MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM PERDATA INDONESIA
BAB IV ANALISIS TERHADAP STATUS NASAB DAN KEWAJIBAN NAFKAH ANAK YANG DI LI AN AYAHNNYA MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM PERDATA INDONESIA A. Status Nasab Dan Kewajiban Nafkah Anak Yang Di Li an Menurut Hukum
Warisan Wanita Digugat!
Warisan Wanita Digugat! Allah mensyari atkan bagimu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, yaitu: bagian anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan ( An Nisa :11) WARISAN WANITA DIGUGAT.
MEMBANGUN KELUARGA YANG ISLAMI BAB 9
MEMBANGUN KELUARGA YANG ISLAMI BAB 9 A. KELUARGA Untuk membangun sebuah keluarga yang islami, harus dimulai sejak persiapan pernikahan, pelaksanaan pernikahan, sampai pada bagaimana seharusnya suami dan
Siapakah Mahrammu? Al-Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain
Siapakah Mahrammu? Al-Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain Mahram adalah orang yang haram untuk dinikahi karena hubungan nasab atau hubungan susuan atau karena ada ikatan perkawinan. Lihat Ahkam An-Nazhar Ila
BAB IV ANALISIS METODOLOGIS FATWA HUKUM PIMPINAN WILAYAH (PW) MUHAMMADIYAH JAWA TENGAH DALAM KONTEKS PEREMPUAN HAMIL DI LUAR NIKAH AKIBAT ZINA
BAB IV ANALISIS METODOLOGIS FATWA HUKUM PIMPINAN WILAYAH (PW) MUHAMMADIYAH JAWA TENGAH DALAM KONTEKS PEREMPUAN HAMIL DI LUAR NIKAH AKIBAT ZINA Melihat pengertian dan konsekuensi logis problem pernikahan
BAB III KAJIAN OBYEK PENELITIAN. A. Gambaran Umum Desa Telukawur Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara
BAB III KAJIAN OBYEK PENELITIAN A. Gambaran Umum Desa Telukawur Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara 1. Letak Geografis Ditinjau dari segi geografis wilayah Desa Telukawur Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara
KOMPETENSI DASAR: INDIKATOR:
SYARIAH - MUNAKAHAT KOMPETENSI DASAR: Menganalisis ajaran Islam tentang perkawinan Menganalisis unsur-unsur yang berkaitan dengan ajaran perkawinan dalam agama Islam INDIKATOR: Mendeskripsikan ajaran Islam
BAB IV KELEBIHAN DAN KELEMAHAN MANHAJ. sama, pengambilan hukum yang dilakukan oleh lembaga Dewan Hisbah yang
BAB IV KELEBIHAN DAN KELEMAHAN MANHAJ Manhaj yang digunakan tiap organisasi keagamaan pada dasarnya adalah sama, pengambilan hukum yang dilakukan oleh lembaga Dewan Hisbah yang cenderung menggunkan metode
BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP KEBOLEHAN PENDAFTARAN PENCATATAN PERKAWINAN PADA MASA IDDAH
65 BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP KEBOLEHAN PENDAFTARAN PENCATATAN PERKAWINAN PADA MASA IDDAH A. Analisis Hukum Islam terhadap Alasan Kebolehan Pendaftaran Pencatatan Perkawinan pada Masa Iddah Sha@ri
BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG PENARIKAN KEMBALI HIBAH OLEH AHLI WARIS DI DESA SUMOKEMBANGSRI KECAMATAN BALONGBENDO KABUPATEN SIDOARJO
BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG PENARIKAN KEMBALI HIBAH OLEH AHLI WARIS DI DESA SUMOKEMBANGSRI KECAMATAN BALONGBENDO KABUPATEN SIDOARJO A. Analisis Penarikan Kembali Hibah Oleh Ahli Waris Di Desa Sumokembangsri
BAB IV. ANALISIS DASAR DAN PERTIMBANGAN MAJELIS HAKIM DALAM PENETAPAN PENGADILAN AGAMA BLITAR NO. 0187/Pdt.P/2014/PA.BL
57 BAB IV ANALISIS DASAR DAN PERTIMBANGAN MAJELIS HAKIM DALAM PENETAPAN PENGADILAN AGAMA BLITAR NO. 0187/Pdt.P/2014/PA.BL A. Analisis Dasar Hukum Majelis Hakim dalam Menetapkan Penolakan Permohonan Dispensasi
TAWASSUL. Penulis: Al-Ustadz Muhammad As-Sewed
TAWASSUL Penulis: Al-Ustadz Muhammad As-Sewed Setelah kita mengetahui bahaya kesyirikan yang sangat besar di dunia dan akhirat, kita perlu mengetahui secara rinci bentuk-bentuk kesyirikan yang banyak terjadi
BAB IV ANALISIS TERHADAP TAFSIR TAFSIR FIDZILAL ALQURAN DAN TAFSIR AL-AZHAR TENTANG SAUDARA SEPERSUSUAN
BAB IV ANALISIS TERHADAP TAFSIR TAFSIR FIDZILAL ALQURAN DAN TAFSIR AL-AZHAR TENTANG SAUDARA SEPERSUSUAN A. Konsep Saudara Sepersusuan Menurut Mufassir Sayyid Quthub dan Hamka Dalam Tafsir Fii Dzilal Alquran
BAB VI PENUTUP. Berdasarkan penelitian penyusun sebagaimana pembahasan pada bab. sebelumnya, selanjutnya penyusun memaparkan beberapa kesimpulan
BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan penelitian penyusun sebagaimana pembahasan pada bab sebelumnya, selanjutnya penyusun memaparkan beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Putusan Mahkamah Konstitusi
Menyoal Poligami dan Kendalanya Jumat, 26 Nopember 04
Artikel Buletin An-Nur : Menyoal Poligami dan Kendalanya Jumat, 26 Nopember 04 Hukum Poligami Para ulama telah sepakat bahwa poligami diperbolehkan di dalam Islam hingga empat istri. Hal ini berlandaskan
A. Analisis Implementasi Pemberian Mut ah dan Nafkah Iddah dalam Kasus Cerai Gugat Sebab KDRT dalam Putusan Nomor 12/Pdt.G/ 2012/PTA.Smd.
62 BAB IV IMPLEMENTASI PEMBERIAN MUT AH DAN NAFKAH IDDAH SERTA PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN PENGADILAN TINGGI AGAMA (PTA) SAMARINDA Nomor 12/Pdt.G/ 2012/Pta.Smd. A. Analisis Implementasi Pemberian
BAB II KEDUDUKAN ANAK MENURUT HUKUM ISLAM
BAB II KEDUDUKAN ANAK MENURUT HUKUM ISLAM A. Perkawinan Menurut Hukum Islam 1. Pengertian Perkawinan Perkawinan merupakan masalah yang esensial bagi kehidupan manusia, karena disamping perkawinan sebagai
BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang
1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Dalam menjalani kehidupan sebagai suami istri pasti ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi sehingga dapat mengganggu keharmonisan dalam rumah tangga, karena namanya
BAB I PENDAHULUAN. Artinya : Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah. (Q.S.Adz-Dzariyat: 49).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Al-Quran dinyatakan bahwa hidup berpasang-pasangan, hidup berjodoh-jodohan adalah naluri segala makhluk Allah, termasuk manusia. 1 Dalam surat Adz-Dzariyat ayat
H.M.A Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat Kajian Fikih Nikah Lengkap (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), h.6
BAB I PENDAHULUAN Dalam kehidupan, manusia tidak dapat hidup dengan mengandalkan dirinya sendiri. Setiap orang membutuhkan manusia lain untuk menjalani kehidupannya dalam semua hal, termasuk dalam pengembangbiakan
BAB IV. A. Analisis Pertimbangan Dan Dasar Hukum Hakim. Berdasarkan keterangan pemohon dan termohon serta saksi-saksi dari
BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PERTIMBANGAN DAN DASAR HUKUM HAKIM TENTANG STATUS QABL AL-DUKHU
