: ABDILLAH NUR ZAIED K
|
|
|
- Indra Sasmita
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PENGARUH PENGGUNAAN ELEKTROLISER DENGAN VARIASI DIAMETER KAWAT TEMBAGA DAN VARIASI JENIS LARUTAN TERHADAP EMISI GAS BUANG CO DAN HC SEPEDA MOTOR HONDA SUPRA X 125D TAHUN 2007 SKRIPSI Oleh : ABDILLAH NUR ZAIED K FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA Agustus 2014 i
2 PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini Nama : Abdillah Nur Zaied NIM : K Jurusan/Program Studi : PTK / Pendidikan Teknik Mesin Menyatakan bahwa skripsi saya berjudul PENGARUH PENGGUNAAN ELEKTROLISER DENGAN VARIASI DIAMETER KAWAT TEMBAGA DAN VARIASI JENIS LARUTAN TERHADAP EMISI GAS BUANG CO DAN HC SEPEDA MOTOR HONDA SUPRA X 125D TAHUN 2007 ini benar - benar merupakan hasil karya sendiri. Selain itu informasi yang dikutip dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka. Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan dengan skripsi ini hasil jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya. Surakarta,14 Agustus 2014 Yang membuat pernyataan Abdillah Nur Zaied ii
3 PENGARUH PENGGUNAAN ELEKTROLISER DENGAN VARIASI DIAMETER KAWAT TEMBAGA DAN VARIASI JENIS LARUTAN TERHADAP EMISI GAS BUANG CO DAN HC SEPEDA MOTOR HONDA SUPRA X 125D TAHUN 2007 Oleh : ABDILLAH NUR ZAIED K SKRIPSI Dijadikan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mendapatkan Gelar Sarjana Program Studi Pendidikan Teknik Mesin, Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA Agustus 2014 iii
4 PERSETUJUAN Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Hari : Tanggal : Pembimbing I Pembimbing II Ir. Husin Bugis, M.Si. NIP Drs. Dubagsono, M.T. NIP iv
5 PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Hari : Tangal : Tim Penguji Skripsi Nama Terang Tanda Tangan Ketua. Sekretaris : Danar Susilo Wijayanto, ST.,M.Eng. Anggota I : Ir. Husin Bugis, M.Si. Anggota II : Drs. Subagsono, M.T. : Basori, S.Pd, M.Pd. Disahkan Oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Dekan, Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd NIP v
6 ABSTRAK Abdillah Nur Zaied. PENGARUH PENGGUNAAN ELEKTROLISER DENGAN VARIASI DIAMETER KAWAT TEMBAGA DAN VARIASI JENIS LARUTAN TERHADAP EMISI GAS BUANG CO DAN HC SEPEDA MOTOR HONDA SUPRA X 125D TAHUN Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Juli Tujuan penelitian ini adalah : (1) Mengetahui pengaruh penggunaan elektroliser dengan variasi diameter kawat tembaga terhadap emisi gas buang CO dan HC sepeda motor Honda Supra X 125D tahun (2) Mengetahui pengaruh penggunaan elektroliser dengan variasi jenis larutan emisi gas buang CO dan HC sepeda motor Honda Supra X 125D tahun (3) Mengetahui pengaruh penggunaan elektroliser dengan variasi diameter kawat tembaga dan variasi jenis larutan terhadap emsi gas CO dan HC buang sepeda motor Honda Supra X 125 D tahun Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan metode eksperimen. Sampel pada penelitian ini menggunakan sepeda motor Honda Supra X 125D tahun 2007 dengan nomor mesin JB51E di Laboratorium Otomotif Program Studi Pendidikan Teknik Mesin JPTK FKIP UNS Surakarta, dengan menggunakan menggunakan alat Gas Analyzer Technotest type STARGAS 898. Data diperoleh dari emisi gas buang CO dan HC sepeda motor dengan penambahan tabung elektroliser menggunakan variasi diameter kawat tembaga dan variasi jenis larutan. Data yang diperoleh dari hasil penelitian dimasukkan ke dalam tabel, dan ditampilkan dalam bentuk grafik, kemudian dianalisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Ada pengaruh penggunaan elektroliser dengan variasi diamter kawat tembaga terhadap emisi gas buang CO dan HC sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007, dari data hasil pengukuran menunjukkan bahwa kadar emisi gas buang CO lebih rendah dibandingkan sebelum menggunakan elektroliser dan kadar emisi gas buang HC lebih tinggi dibandingkan sebelum menggunakan elektroliser (2) Ada pengaruh penggunaan elektroliser dengan variasi jenis larutan terhadap emisi gas buang CO dan HC sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007, dari data hasil pengukuran menunjukkan bahwa kadar emisi gas buang CO lebih rendah dibandingkan sebelum menggunakan elektroliser dan kadar emisi gas buang HC lebih tinggi dibandingkan sebelum menggunakan elektroliser.(3) Ada pengaruh penggunaan elektroliser dengan variasi diameter kawat tembaga dan variasi jenis larutan terhadap emisi gas buang CO dan HC sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007, dari data hasil pengukuran menunjukkan bahwa kadar emisi gas buang CO lebih rendah dibandingkan sebelum menggunakan elektroliser dan kadar emisi gas buang HC lebih tinggi dibandingkan sebelum menggunakan elektroliser. vi
7 Simpulan penelitian ini adalah penggunaan elektroliser dengan variasi diameter kawat tembaga dan variasi jenis larutan mampu mengurangi emisi gas buang CO sepeda motor Honda Supra X 125D tahun 2007 yaitu emisi gas buang CO terendah adalah yaitu sebesar % dari kondisi tanpa menggunakan elektroliser % atau turun sebesar % namun menaikkan emisi gas buang HC sepeda motor Honda Supra X 125D tahun 2007 yaitu kenaikan paling sedikit adalah ppm dari kondisi tanpa elektroliser 605 ppm atau naik 4.07 %. Hasil emisi gas buang CO dan HC paling baik di dapat pada penggunaan elektroliser diameter kawat tembaga 1,5 mm dengan larutan KOH dimana emisi gas buang CO yang paling rendah adalah % dan emisi gas buang HC yang paling sedikit mengalami kenaikan adalah ppm. Kata Kunci : elektroliser, kawat tembaga, larutan, emisi gas buang CO dan HC.. vii
8 ABSTRACT Abdillah Nur Zaied. EFFECT OF ELECTROLYZER APPLICATION WITH VARIED DIAMETERS OF COPPER WIRE AND VARIED KIND OF SOLUTIONS ON CO AND HC EXHAUST GAS EMISSIONS OF MOTORCYCLE HONDA SUPRA X 125D Minithesis. Teacher Training and Education Faculty, Sebelas Maret University of Surakarta, July Purposes of the research are to: (1) know effect of electrolyzer application with varied diameters of copper wire on CO and HC exhaust gas emissions of Motorcycle Honda Supra X 125D 2007; (2) know effect of electrolyzer application with varied solutions on CO and HC exhaust gas emissions of Motorcycle Honda Supra X 125D 2007; (3) know effect of electrolyzer application with varied diameters of copper wire and varied solutions on CO and HC exhaust gas emissions of Motorcycle Honda Supra X 125D The research is a quantitative one with experimental method. Sample of the research is motorcycle Honda Supra X 125D 2007 with machine number of JB51E The research was performed in Automotive Laboratory of Machine Engineer Education Program of Teacher Training and Education Faculty of Sebelas Maret University of Surakarta assisted by Gas Analyzer Technotes type STARGAS 898 instrument. Data is obtained from CO and HC exhaust gas emissions of the motorcycle with addition of an electrolyzer tube containing varied diameters of copper wire and varied solutions. The data is listed on tables and presented in form of graphics, and then, they are analyzed. Results of the research indicated that: (1) the use of electrolyzer with varied diameters of copper wire had effect on CO and HC exhaust gas emissions of Motorcycle Honda Supra X 125D 2007, based from the measurement data shows that the CO exhaust gas emission levels lower than before the use of electrolysis and HC exhaust gas emissions levels higher than before the use of electrolysis. (2) The use of varied kind of solutions of the electrolyzer was also affecting CO and HC exhaust gas emissions of Motorcycle Honda Supra X 125D 2007,based from the measurement data shows that the CO exhaust gas emission levels lower than before the use of electrolysis and HC exhaust gas emissions levels higher than before the use of electrolysis. (3) the use of electrolyzer with varied diameters of copper wire and varied kind of solutions was also affecting CO and HC exhaust gas emissions of Motorcycle Honda Supra X 125D 2007, based from the measurement data shows that the CO exhaust gas emission levels lower than before the use of electrolysis and HC exhaust gas emissions levels higher than before the use of electrolysis The conclusions of this study is the use of electrolyzer with varied diameters of copper wire and varied kind of solutions can reduce CO exhaust gas emissions Honda Supra X 125D 2007 the lowest CO exhaust gas emissions is in the amount of 0.072% from 1.669% without the use of electrolysis or down by 95.68% but viii
9 increase HC exhaust gas emissions Honda Supra X 125D 2007 which is an increase of at least ppm is from the condition without elektrliser 605 ppmor increased 4.07%. Results of exhaust gas emissions of CO and HC are the best in the can on the use of copper wire of 1.5 mm diameter with KOH solution. the use of electrolyzer with varied diameters of copper wire and varied kind of solutions was also affecting CO and HC exhaust gas emissions of Motorcycle Honda Supra X 125D 2007 where the lowest CO exhaust gas emissions % and HC exhaust gas emissions at the least increase ppm. Key words: electrolyzer, copper wire, solution, CO and HC exhaust gas emissions. ix
10 MOTTO Sesungguhnya Allah Tidak Akan Mengubah Nasib Suatu Kaum, Sehingga Mereka Mengubah Keadaan Yang Ada Pada Diri Mereka Sendiri (Q.S. Ar Ro du :11) Allah tidak membebani seseorang diluar kemampuannya (Al-Baqarah: 286) You ll Never Walk Alone (Liverpool FC) Cintailah ibumu sebelum engkau mencintai kekasihmu (Hepy Ari S) Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalatmu Sebagai penolongmu,sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (Al-Baqarah: 153) x
11 PERSEMBAHAN Skripsi ini aku persembahkan untuk : Bapak dan Ibu Tercinta Doamu yang tiada terputus, kerja keras tiada henti, pengorbanan yang tak terbatas dan kasih sayang tidak terbatas pula. Semuanya membuatku bangga memiliki kalian. Tiada kasih sayang yang seindah dan seabadi kasih sayangmu. Adik adikku Terima kasih atas motivasi, semangat dan doa yang selalu kau berikan. Novie T Terima kasih atas motivasi, semangat dan doa yang selalu kau berikan. Adi dan Anggar Terima kasih atas kerja samanya selama ini dalam menyelesaikan skripsi ini ACT dan Teman-teman Mohsan, udin, uut, sinung, andi, pungky, adi, hanung boboho, adit black, bayu, haris, surahman kalian semua adalah manusia luar biasa yang sudah menemaniku dalam kebersamaan ini. Terima kasih atas kekompakan kita selama ini. Semua Teman-teman PTM 2010 Almamaterku Tercinta. xi
12 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rohmat, taufik, hidayah, dan karunia-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul Pengaruh Penggunaan Elektroliser dengan Variasi Diameter Kawat Tembaga dan Variasi Jenis Larutan terhadap Emisi Gas Buang CO dan HC Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian penulisan skripsi ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan yang timbul dapat teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat: 1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret yang telah memberikan ijin menyusun skripsi. 2. Ketua Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan FKIP UNS yang telah memberikan persetujuan atas permohonan penyusunan skripsi. 3. Ketua Program Studi Pendidikan Teknik Mesin JPTK FKIP UNS. 4. Drs. Karno, M.W, ST. selaku Pembimbing Akademik. 5. Ir Husin Bugis M.Si. selaku Dosen Pembimbing I, yang selalu memberikan pengarahan dan bimbingan dengan penuh kesabaran. 6. Drs. Subagsono, M.T. selaku Dosen Pembimbing II, yang memberikan motivasi dan bimbingan dengan penuh kesabaran. 7. Teman-teman seperjuangan PTM 10 terima kasih atas kerjasama dan bantuannya. 8. Semua pihak yang penulis tidak bisa sebutkan satu persatu. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak. Semoga skripsiini bermanfaat bagi pembaca. Surakarta,14 Agustus 2014 Penulis xii
13 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERNYATAAN... ii HALAMAN PENGAJUAN... iii HALAMAN PERSETUJUAN... iv HALAMAN PENGESAHAN... v HALAMAN ABSTRAK... vi HALAMAN ABSTRACT... viii HALAMAN MOTTO... x HALAMAN PERSEMBAHAN... xi KATA PENGANTAR... xii DAFTAR ISI... xiii DAFTAR GAMBAR... xviii DAFTAR TABEL... xix DAFTAR LAMPIRAN... xx BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Identifikasi Masalah... 4 C. Pembatasan Masalah... 5 D. Perumusan Masalah... 5 E. Tujuan Penelitian... 5 F. Manfaat Penelitian... 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori dan Penelitian yang Relevan Kajian Teori... 7 a. Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun b. Motor Bakar... 7 c. Prinsip Kerja Motor Bensin 4 Langkah... 8 xiii
14 d. Motor 4 Langkah (4 Tak)... 8 e. Proses Pembakaran f. Perbandingan Udara dan Bahan Bakar (Air Fuel Ratio) 11 g. Gas Buang h. Standar Emisi di Indonesia i. Elektroliser j. Komponen Elektroliser k. Cara Kerja Elektroliser l. Saluran Gas Brown m. Instalasi Elektroliser pada Sepeda Motor n. Dioda Bridge o. Spul Sepeda Motor p. Intake Manifold Penelitian yang Relevan B. Kerangka Berpikir C. Hipotesis BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat Penelitian Waktu Penelitian B. Rancangan/ Desain Penelitian C. Populasi dan Sampel Popolasi Penelitian Sampel penelitian D. Teknik Pengumpulan Data Identifikasi Variabel a. Variabel Bebas b. Variabel Terikat c. Variabel Kontrol Sumber Data xiv
15 E. Pelaksanaan Penelitian Peralatan Penelitian Bahan Penelitian Cara Pembuatan Larutan Elektroliser Prosedur Penelitian Langkah Penelitian a. Persiapan b. Pengukuran Emisi Gas Buang CO dan HC ) Tidak Menggunakan Elektroliser ) Menggunakan Elektroliser dengan Larutan KOH ) Menggunakan Elektroliser dengan Larutan Na2SO4 50 F. Analisis Data BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 pada Kondisi Standar tanpa Menggunakan Elektroliser Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 dengan Menggunakan Elektroliser Larutan KOH dan Diameter Kawat Tembaga 1,5 mm Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 dengan Menggunakan Elektroliser Larutan KOH dan Diameter Kawat Tembaga 2,5 mm Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 dengan Menggunakan Elektroliser Larutan KOH dan Diameter Kawat Tembaga 4,0 mm Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC pada xv 54
16 Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 dengan Menggunakan Elektroliser Larutan Na2SO4 dan Diameter Kawat Tembaga 1,5 mm Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 dengan Menggunakan Elektroliser Larutan Na2SO4 dan Diameter Kawat Tembaga 2,5 mm Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 dengan Menggunakan Elektroliser Larutan Na2SO4 dan Diameter Kawat Tembaga 4,0 mm Perbandingan Emisi Gas Buang CO dan HC tanpa Elektroliser dan dengan Menggunakan Elektroliser a. Perbandingan Emisi Gas Buang CO tanpa Menggunakan Elektroliser dan Menggunakan Elektroliser b. Perbandingan Emisi Gas Buang HC tanpa Menggunakan Elektroliser dan Menggunakan Elektroliser B. Analisis dan Pembahasan Hasil Pengamatan Emisi Gas Buang CO dan HC Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 tanpa Menggunakan Elektroliser Hasil Pengamatan Emisi Gas Buang CO dan HC Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 Menggunakan Elektroliser Dengan Variasi Jenis Larutan dan Variasi Diameter Kawat Tembaga a. Hasil Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Menggunakan Larutan KOH dan Diameter Kawat Tembaga 1,5 mm... xvi 61
17 b. Hasil Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Menggunakan Larutan KOH dan Diameter Kawat Tembaga 2,5 mm c. Hasil Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Menggunakan Larutan KOH dan Diameter Kawat Tembaga 4,0 mm d. Hasil Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Menggunakan Larutan Na2SO4 dan Diameter Kawat Tembaga 1,5 mm e. Hasil Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Menggunakan Larutan Na2SO4 dan Diameter Kawat Tembaga 2,5 mm f. Hasil Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Menggunakan Larutan Na2SO4 dan Diameter Kawat Tembaga 4,0 mm Temuan Penelitian Pada Penngunaan Elektroliser dengan Variasi Diameter Kawat Tembaga dan Variasi Jenis Larutan terhadap Emisi Gas Buang CO dan HC Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan B. Implikasi Implikasi Teoritis Implikasi Praktis C. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xvii
18 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Skema Mesin 4 Tak... 9 Gambar 2.2 Siklus Kerja Motor Bensin 4 Tak Gambar 2.3 Tabung Elektroliser Gambar 2.4 Zat Kimia KOH Gambar 2.5 Zat Kimia Na2SO Gambar 2.6 Deskripsi Proses Elektrolisis Air Gambar 2,7 Saluran Brown Gas BTV (Before Thtrottle Valve) Gambar 2.8. Saluran Brown Gas ATV (After Thtrottle Valve) Gambar 2.9. Dioda Bridge Gambar 2.10 Spul Sepeda Motor Gambar 3.1. Bagan Alir Pengujian Gambar 4.1. Histogram Perbandingan Emisi Gas Buang CO Sepeda Motor Honda Supra X 125D tanpa Menggunakan Elektroliser Dan Dengan Menggunakan Elektroliser Gambar 4.2. histogram Perbandingan Emisi Gas Buang HC Sepeda Motor Honda Supra X 125D tanpa Menggunakan Elektroliser Dan Dengan Menggunakan Elektroliser... xviii 60
19 DAFTAR TABEL Tabel 1.1 Ambang Batas Emisi Gas buang Kendaraan Bermotor Kategori L 2 Tabel 2.1 AFR Tabel 2.2 Nilai Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori L Tabel 2.3 Konduktivitas Listrik Berbagai Logam Pada Suhu Kamar Tabel 3.1 Jadwal Penelitian Tabel 3.2 Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Kategori L 43 Tabel 4.1 Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Supra X 125D Tahun 2007 tanpa Menggunakan Elektroliser.. 52 Tabel 4.2 Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Supra X 125 D Tahun 2007 Menggunakan Elektroliser Larutan KOH Diameter Kawat Tembaga 1,5 mm Tabel 4.3 Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Supra X 125 D Tahun 2007 Menggunakan Elektroliser Larutan KOH Diameter Kawat Tembaga 2,5 mm Tabel 4.4 Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Supra X 125 D Tahun 2007 Menggunakan Elektroliser Larutan KOH Diameter Kawat Tembaga 4,0 mm Tabel 4.5 Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Supra X 125 D Tahun 2007 Menggunakan Elektroliser Larutan Na2SO4 Diameter Kawat Tembaga 1,5 mm Tabel 4.6 Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Supra X 125 D Tahun 2007 Menggunakan Elektroliser Larutan Na2SO4 Diameter Kawat Tembaga 2,5 mm Tabel 4.7 Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Supra X 125 D Tahun 2007 Menggunakan Elektroliser Larutan Na2SO4 Diameter Kawat Tembaga 4,0 mm... xix 58
20 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman Lampiran 1. Surat Perijinan Daftar Hadir Seminar Proposal Skripsi Surat Keputusan Dekan FKIP Surat Permohonan Ijin Menyusun Skripsi Surat Permohonan Ijin Research/ Try Out Lab Otomotif PTM Surat Permohonan Ijin Research/ Try Out Rektor Lampiran 2. Hasil Print Out Pengujian Emisi Gas Buang Hasil Uji Emsis CO dan HC Tanpa Menggunakan Elektroliser Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC Elektroliser Larutan KOH Diameter Kawat Tembaga 1,5 mm Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC Elektroliser Larutan KOH Diameter Kawat Tembaga 2,5 mm Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC Elektroliser Larutan KOH Diameter Kawat Tembaga 4,0 mm Hasil Pengujian Emsi Gas Buang CO dan HC Larutan Na2SO4 Diameter Kawat Tembaga 1,5 mm Hasil Pengujian Emsi Gas Buang CO dan HC Larutan Na2SO4 Diameter Kawat Tembaga 2,5 mm Hasil Pengujian Emsi Gas Buang CO dan HC Larutan Na2SO4 Diameter Kawat Tembaga 4,0 mm Lampiran 3. Spesifikasi Sepeda Motor Spesifikasi Sepeda Motor Lampiran 4. Dokumentasi Pengujisn Emisi Gas Buang CO dan HC xx
21 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Perkembangan dunia teknologi di era globalisasi ini sangat pesat, tak terkecuali dunia otomotif, perusahaan otomotif memproduksi ribuan sepeda motor, sepeda motor merupakan alat transportasi darat roda dua yang sangat beragam penggunaanya dan di Indonesia sepeda motor merupakan alat transportasi yang paling banyak digunkan hal ini terlihat saat dijalan raya dimana sepeda motor mendominasi Menteri Perekonomian menyatakan bahwa jumlah kendaraan semakin meningkat dari waktu ke waktu. Kendaraan bermotor roda dua di Indonesia mencapai 73 % dan 27 % kendaraan bermotor roda empat (Anonim : 2011). Banyaknya pengguna kendaraan bermotor di Indonesia menyebabkan kendaraan bermotor sebagai penyumbang emisi terbesar di Indonesia terutama sepeda motor sebagai penyumbang emisi nasional terbesar, menurut catatan badan pusat statistik tahun 2007 transportasi adalah penyumbang emisi terbesar dimana sepeda motor menyumbang presentasi terbesar dengan 41,9 juta faktor emisi, bus menyumbang 2,1 juta faktor emisi dan truk menyumbang 4,8 juta faktor emisi. Dwi zain musofa (merdeka.com:2014/03/14) mengatakan bahwa sepeda motor bebek paling banyak terjual pada tahun 2013 adalah Honda Supra X 125 yang terjual sebanyak unit Gas polutan CO (karbon monoksida), gas ini sangat berbahaya bagi kesehatan manusia karena gas ini jika masuk kedalam tubuh manusia dapat menggantikan posisi oksigen dalam berikatan dengan hemoglobin dalam darah gas CO ini akhirnya akan masuk ke dalam jantung, pada sepeda motor gas CO ini terbentuk akibat pembakaran yang kurang sempurna dari kendaraan bermotor. Hidrokarbon (HC) terbentuk dari bahan bakar mentah yang tidak terbakar selama proses pembakaran. HC beraroma bensin dan terasa perih di mata serta menyebabkan gangguan iritasi mata, hidung, paru-paru dan saluran pernapasan (Sutiman, 2004). gas HC ini ada pada kendaraan karena bensin merupakan unsur 1
22 2 hidrogren sehingga jika ada unsur bensin yang tidak terbakar dalam proses pembakaran akan mengahasilkan emisi gas buang HC, Pertimbangan peneliti hanya akan mengukur kandungan emisi gas buang CO dan HC ini mengacu pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 tahun 2006 tentang ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor lama. Penggunaan gas brown pada kendaraan yang saat ini sudah mulai diteliti dan dikembangkan yaitu dengan cara mencampurkan gas brown dengan bahan bakar pada mesin, pemakaian gas brown dapat meningkatkan tenaga mesin, mengurangi konsumsi bahan bakar, serta memperbaiki kualitas emisi gas buang. Melihat bahayanya gas-gas polutan hasil emisi dari sisa pembakaran maka perlu dilakukan upaya untuk mengurangi dampak negatif dari emisi gas tersebut sekaligus dapat membantu program pemerintah dalam program go green dan meningktkan kualitas hidup manusia. Tabel 1.1 Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Kategori L. Kategori Parameter Tahun Metode Uji Pembuatan CO (%) HC (ppm) Sepeda motor 2 langkah < Idle Sepeda motor 4 langkah < Idle Idle Sepeda motor 2 langkah dan 4 langkah (Sumber: Kementrian Negara Lingkungan Hidup, 2006) Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak negatif dari emsi kendaraan bermotor antara lain adalah sebagai berikut : 1. Mengembangkan sumber tenaga alternatif selain bahan bakar fosil seperti tenaga surya, tenaga listrik yang lebih ramah lingkungan 2. Memperbaiki sistem pengapian agar pembakaran lebih sempurna seperti menggunakan sistem elektronic fuel injection
23 3 3. Meningkatkan perawatan kendaraan bermotor secara berkala dengan memeriksa emisi gas buang 4. Memodifikasi mesin untuk mengurangi jumlah polutan yang terbnentuk modifikasi mesin bisa dilakukan baik dengan menggunakan turbo cyclone, memperbaiki sistem percampuran bahan bakar, maupun mengatur pendinginan didalam ruang bakar. 5. Menginjeksikan udara ke lubang exhaust sehingga polutan gas buang jadi berkurang dari gas CO menjadi CO2 (SASS) Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan emisi gas buang adalah dengan cara menginjeksikan gas hasil dari elektrolisis air kedalam ruang bakar melalui intake manifold, Elektrolisis merupakan proses kimia yang mengubah energi listrik menjadi energi kimia ( Urip Sudirman : 2008 ). Gas yang dihasilkan dari proses elektrolisis air adalah gas HHO atau sering disebut sebagai brown gas. Brown gas merupakan bahan bakar yang kuat (powerfull), bersih, mampu meningkatkan jarak tempuh dan mengurangi secara signifikan emisi gas buang. Dalam elektrolisis dibutuhkan elektroda yang dialiri oleh arus listrik, elektroda ini juga yang berfungsi untuk menguraikan unsur-unsur air, elektroda terdiri dari unsur anoda (+) dan katoda (-) yang dimasukan dalam larutan elektrolit, elektroda yang digunakan dalam penelitian ini adalah kawat tembaga karena mempunyai daya hantar listrik yang tinggi dan mudah dijumpai dipasaran serta harganya murah. Larutan untuk menghasilkan gas brown, larutan ini berfungsi sebagai katalis, larutan yang digunakan adalah aquades dengan katalisator, katalisator yang digunakan biasanya adalah larutan yang masuk dalam golongan elektrolit kuat daya hantar listrik yang baik seperti kalium Hidroksida (KOH), Pemilihan Natrium Sulfat (Na2SO4) dan kalium Hidroksida (KOH), karena larutan tersebut rekasi kimia dalam elektroliser dapat bereaksi dengan cepat sehingga menghasilkan lebih cepat dan lebih banyak gas brown, selain itu zat kimia Na2SO4 dan KOH juga mudah dijumpai dipasaran, elektroliser ini merupakan alternatif energi yang sangat menjanjikan
24 4 karena bahan yang digunakan mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, namun pemanfaatan elektroliser sebagai alat mengurangi emisi gas buang kendaraan bermotor bukan tanpa resiko, oleh karena itu perlu dilakukan modifikasi agar elektroliser dapat dugunakan secara mudah dan aman. Melihat fakta diatas dengan bertambahnya jumlah kendaraan bermotor tiap tahunnya terutama sepeda motor maka tingkat polusi udara juga semakin banyak dan tidak diikuti dengan upaya pelestarian lingkungan hidup, sehingga perlu dipertimbangkan dampak dari gas buang dari sisa hasil pembakaran kendaraan bermotor terutama sepeda motor terhadap pencemaran udara di lingkungan, merujuk dari latar belakang diatas maka perlu dilakukan penelitian dengan judul PENGARUH PENGGUNAAN ELEKTROLISER DENGAN VARIASI DIAMETER KAWAT TEMBAGA DAN VARIASI JENIS LARUTAN TERHADAP EMISI GAS BUANG CO DAN HC PADA SEPEDA MOTOR HONDA SUPRA X 125D TAHUN 2007 B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasikan beberapa masalah dalam penelitian ini di antaranya : 1. Penggunaan sepeda motor yang semakin banyak menyebabkan emisi gas buang sepeda motor semakin banyak 2. Emisi gas buang mengandung gas-gas polutan yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia 3. Emisi dari kendaraan bermotor sangat banyak 4. Program go green yang dicanangkan oleh pemerintah dapat terlaksana 5. Penggunaan elektroliser dapat mengurangi kadar emisi dari kendaraan bermotor.
25 5 C. Pembatasan masalah Agar penelitian yang dilakukan mengarah dan tidak menyimpang dari permasalahan yang diteliti, maka akan dibatasi permasalahannya pada : 1. Elektroliser dengan variasi kawat tembaga dan variasi jenis larutan. 2. Emisi gas buang CO dan HC sepeda motor. D. Perumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah di atas, agar penelitian dapat dilaksanakan mengarah pada tujuan yang sebenarnya, maka dirumuskan masakah sebagai berikut : 1. Adakah pengaruh penggunaan elektroliser dengan variasi diameter kawat tembaga terhadap emisi gas buang CO dan HC sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007? 2. Adakah pengaruh penggunaan elektroliser dengan variasi jenis larutan terhadap emsis gas buang CO dan HC sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007? 3. Adakah pengaruh penggunaan elektroliser dengan variasi diameter kawat tembaga dan variasi jenis larutan terhadap emsis gas CO dan HC buang sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007? E. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah, tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah : 1. Menyelidiki pengaruh penggunaan elektroliser dengan variasi kawat tembaga terhadap emisi gas buang CO dan HC sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun Menyelidiki pengaruh penggunaan elektroliser dengan variasi jenis larutan terhadap emisi gas buang CO dan HC sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007.
26 6 3. Menyelidiki pengaruh penggunaan eltroliser dengan variasi diameter kawat tembaga dan variasi jenis larutan terhadap emsi gas CO dan HC buang sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun F. Manfaat Penelitian Dari hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi peneliti dan pihak yang berkeentingan. Adapun manfaat yang akan dicapai dari penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis a. Menambah ilmu pengetahuan tentang elektroliser dan pengaruhnya terhadap emisi gas buang CO dan HC sepeda motor. b. Memberikan informasi bahwa penggunaan elektroliser dengan variasi kawat tembaga dan variasi jenis larutan dapat meningkatkan emisi gas buang CO dan HC pada sepeda motor. c. Memberikan informasi gas brown dihasilkan melalui proses elektrolisis dan manfaatnya pada proses pembakaran pada sepeda motor. d. Sebagai bahan pertimbangan dan perbandingan bagi peneliti sejenis ini di masa yang akan datang. 2. Manfaat Praktis a. Mengaplikasikan penggunaan elektroliser kawat tembaga pada sepeda motor. dapat mengurangi emisi gas buang CO dan HC pada sepeda motor. b. Dapat mengamati secara langsung pengaruh elektroliser dengan variasi kawat tembaga dan variasi jenis larutan terhadap emsisi gas buang CO dan HC pada sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007.
27 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori dan Penelitian yang Relevan 1. Kajian Teori a. Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 Sepeda motor merupakan kendaraan bermotor yang perkembanganya sangat pesat penggunaanya karena harga yang relatif murah dan pengoperasian yang mudah Honda Supra X 125D Tahun 2007 merupakan sepeda motor 4 langkah produk Honda yang menggunakan bahan bakar bensin. Motor 4 Tak adalah motor yang dalam satu siklus kerjanya memerlukan dua kali putaran poros engkol dan empat kali gerakan torak. b. Motor Bakar Motor bakar adalah suatu pesawat yang digunakan untuk merubah energi kimia bahan bakar untuk melakukan kerja mekanik. Energi kimia tersebut diubah terlebih dahulu menjadi energi panas (thermal) sebelum digunakan untuk kerja mekanik. Motor bakar dibagi menjadi dua yakni motor pembakaran dalam dan motor pembakaran luar (Drs. Daryanto, 2013). 1) Motor Pembakaran Dalam Motor pembakaran dalam yaitu motor yang proses pembakaran bahan bakar terjadi di dalam motor, sehingga panas dari hasil pembakaran langsung diubah menjadi tenaga mekanik. Motor torak termasuk motor pembakaran dalam. 2) Motor Pembakaran Luar Motor pembakaran luar yakni proses pembakaran bahan bakar terjadi di luar motor, sehingga proses pembakaran memerlukan mekanisme tersendiri. Panas hasil pembakaran bahan bakar tidak langsung digunakan menjadi energi gerak melainkan melalui penghantar untuk melakukan kerja mekani seperti pada mesin uap dan turbin uap. 7
28 8 c. Prinsip Kerja Motor Bensin 4 Langkah Prinsip kerja motor bensin menurut penelitian Prihutomo (2011:7) adalah sebagai berikut : Pada motor bensin, bensin dibakar untuk memperoleh energi termal. Energi ini selanjutnya digunakan untuk melakukan gerakan mekanik. Prinsip kerja motor bensin, secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut: campuran udara dan bensin dari karburator diisap masuk ke dalam silinder, dimampatkan oleh gerak naik torak, dibakar untuk memperoleh tenaga panas, dan dengan terbakarnya gas-gas akan mempertinggi suhu dan tekanan dalam silinder motor. Bila torak bergerak turun naik di dalam silinder dan menerima tekanan tinggi akibat pembakaran, memungkinkan torak terdorong ke bawah. Bila batang torak dan poros engkol dilengkapi untuk merubah gerakan turun naik menjadi gerakan putar, torak akan menggerakkan batang torak dan akan memutarkan poros engkol. Dari penjelasan di atas prinsip kerja motor bensin yaitu karburator menghisap campuran udara dan bahan bakar ke dalam silinder, dan dimampatkan torak pada saat langkah kompresi. Pada langkah ini, campuran udara dan bensin terbakar dan menghasilkan tenaga panas mengakibatkan suhu dan tekanan dalam ruang bakar naik. d. Motor Empat Langkah (4 Tak) Mesin 4 tak pertama kali dipatenkan oleh Eugenio Bersanti dan Felice Matteuci pada tahun 1854, dikuti prototipe pertama pada tahun Namun Nicolaus Otto merupakan teknisi pertama yang mengembangkan penggunaan mesin 4 tak, oleh sebab itu prinsip 4 tak pada mesin dikenal dengan siklus Otto dan mesin 4 tak dengan busi disebut juga dengan mesin Otto. Siklus Otto terdiri dari kompresi menghasilkan panas, penambahan panas pada volume tetap, ekspansi volume akibat panas, dan pembuangan panas pada volume tetap.
29 9 Gambar 2.1. Skema Mesin 4 Tak motor 4 langkah adalah motor yang pada setiap empat langkah torak/piston (dua putaran poros engkol) menghasilkan satu tenaga kerja (satu langkah kerja). Empat langkah torak/piston tersebut adalah sebagai berikut : 1) Langkah Pemasukan (Hisap) Piston bergerak dari titik mati atas (TMA) ke titik mati bawah (TMB), untuk menaikkan massa terhisap katup masuk terbuka saat langkah ini dan menutup setelah langkah ini berakhir. 2) Langkah Kompresi Piston bergerak dari titik mati bawah (TMB) ke titik mati atas (TMA), posisi katup masuk dan katup keluar tertutup mengakibatkan udara atau gas dalam ruang bakar terkompresi. Sesaat sebelum mencapai TMA bunga api dari busi dipercikkan, sehingga terjadi pembakaran yang disertai ledakan. 3) Langkah Kerja atau Langkah Ekspansi Langkah ini dimulai saat piston pada titik mati atas dan berakhir sekitar 45º sebelum titik mati bawah. Gas yang terbakar dalam ruang bakar akan meningkatkan tekanan dalam ruang bakar, mengakibatkan piston terdorong dari TMA ke TMB. Energi dari gerak dorong itu kemudian akan
30 10 dipindahkan ke poros engkol melalui perantara batang penghubung (conecting rod). Pada poros engkol gerak bolak-balik piston diubah menjadi gerak rotasi mesin, sebagian energi ini digunakan untuk menggerakan komponen mesin yang lain dan sebagian lagi disimpan dalam roda gila untuk proses selanjutnya. 4) Langkah Pembuangan Piston bergerak dari TMB ke TMA dengan posisi katup masuk tertutup dan katup keluar terbuka, menyebabkan gas hasil pembakaran terdorong keluar menuju saluran pembuangan. Gambar 2.2. Siklus Kerja Motor Bensin 4 Langkah e. Proses Pembakaran Pembakaran merupakan reaksi kimia yang cepat antara oksigen dan bahan yang dapat terbakar, disertai timbulnya cahaya dan menghasilkan kalor. Proses pembakaran dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan gas sisa pembakaran. Proses pembakaran tersebut adalah : 1) Pembakaran Sempurna Proses pembakaran dapat dikatakan sempurna apabila semua unsur, C, H, S yang terkandung dalam bahan bakar bereaksi membentuk CO2, H2O, SO2. Syarat terjadinya proses pembakaran yang sempurna yaitu:
31 11 a) Kuantitas udara (oksigen) yang bercampur dengan bahan bakar cukup. b) Oksigen dan bahan bakar tercampur dengan sempurna. c) Campuran bahan bakar-udara terjaga di atas temperatur pengapiannya. d) Volume ruang bakar yang memadai sehingga memberikan waktu yang cukup bagi bahan bakar-udara untuk terbakar sempurna. 2) Pembakaran tidak Sempurna Proses pembakaran tidak sempurna jika ada sejumlah oksigen yang tidak memadai untuk terjadi pembakaran sepenuhnya. Reaktan akan terbakar di oksigen, tetapi akan menghasilkan berbagai produk. Ketika hidrokarbon terbakar di oksigen, reaksi akan menghasilkan karbon dioksida (CO2), air (H2O), karbon monoksida (CO), dan berbagai senyawa lain seperti oksida nitrogen. f. Perbandingan Udara Bahan Bakar ( Air Fuel Ratio) Untuk memperoleh pembakaran sempurna, bahan bakar harus dicampur dengan udara dengan perbandingan tertentu. Perbandingan udara bahan bakar ini disebut dengan Air Fuel Ratio (AFR). Campuran antara udara dan bahan bakar haruslah pada perbandingan tertentu, jika menginginkan suatu pembakaran yang sempurna. Perbandingan yang baik adalah kira-kira 15:1 dalam berat. Artinya 15 kg udara membutuhkan 1 kg bahan bakar, atau dapat juga dikatakan untuk pembakaran 1 cc bahan yang dibutuhkan lebih kurang 1 m3 udara. Campuran dikatakan kaya jika waktu pembakaran jumlah udara kurang dari perbandingan tersebut yang mengakibatkan tidak semua karbon terbakar menjadi CO2, tetapi sebagian bentuk CO (Carbon Monoksida). Pembakaran yang tidak sempurna ini tidak saja menyebabkan kerugian tenaga, tetapi gas CO sisa pembakaran adalah berbahaya (racun).
32 12 Suatu campuran dikatakan kurus jika pada campuran tersebut udaranya berlebihan. Sebagian Oksigen tidak ikut bereaksi dan akan keluar dari silinder. Peristiwa ini juga menyebabkan kerugian tenaga, dan apabila campuran terlalu kurus kendaraan akan menjadi panas. Tabel 2.1. AFR (Sumber : Fardiansah, 2012) AFR Terlalu kurus AFR Kurus AFR Ideal AFR Kaya AFR Terlalu Kaya a. b. c. d. e. a. b. c. a. Tenaga mesin menjadi sangat lemah Sering menimbulkan detonasi Mesin cepat panas Sering terjadi misfire Membuat kerusakan pada silinder ruang bakar Tenaga mesin berkurang Terkadang terjadi detonasi Konsumsi bensin irit Kondisi paling ideal a. b. c. a. b. c. d. e. Bensi agak boros Mesin lebih bertenaga Tidak terjadi detonasi Bensin sangat boros Asap knalpot berwarna hitam Asap pedih dimata Sering terjadi misfire Terjadi penumpukan kerak diruang bakar g. Gas Buang Gas buang yang dihasilkan oleh sisa pembakaran kendaraan bermotor perlu mendapat perhatian khusus, karena selain mencemari udara juga sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, terutama dari sepeda motor yang jumlahnya sangat banyak, adapun unsur-unsur gas buang yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor antar lain adalah : 1) Hidrokarbon (HC) Hidrokarbon atau yang sering disingkat dengan HC adalah pencemar udara yang dapat berupa gas, cairan maupun padatan. Dinamakan hidrokarbon karena penyusun utamanya adalah atom karbon
33 13 (C) dan atom hidrogen (H) yang dapat terikat secara ikatan lurus atau terikat secara cincin. Hidrokarbon yang sering menimbulkan masalah dalam polusi udara adalah yang berbentuk gas pada suhu atmosfer normal. Senyawa hidrokarbon (HC) terjadi karena bahan bakar yang belum terbakar tetapi sudah ikut terbuang dengan gas buang karena pembakaran yang tidak sempurna dan penguapan pada bahan bakar, senyawa hidrokarbon (HC) ini dibedakan menjadi dua yaitu bahan bakar yang tidak terbakar, sehingga menjadi gas mentah dan bahana bakar yang terpecah karena reaksi panas berubah menjadi gugusan HC lain yang keluar bersama dengan gas buang. Hidrokarbon di udara akan bereaksi dengan bahan-bahan lain dan akan membentuk ikatan baru yang disebut Plycyclic Aromatic Hidrocarbon (PAH) yang banyak dijumpai di daerah industri dan padat lalulintas. Bila PAH ini masuk dalam paru-paru akan menimbulkan luka dan merangsang terbentuknya sel-sel kanker. 2) Karbonmonoksida (CO) Karbonmonoksida atau CO adalah suatu gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan juga tidak berasa. Gas CO dapat berbentuk cairan pada suhu di bawah -192 oc. Karbonmonoksida yang terdapat dialam terbentuk dari salah satu proses sebagai berikut: a) Pembakaran tidak lengkap terhadap karbon atau komponen yang mengandung karbon. b) Reaksi antara karbondioksida dan komponen yang mengandung karbon pada suhu tinggi. c) Pada suhu tinggi, karbon dioksida terurai menjadi karbon monoksida dan oksigen. Karbonmonoksida di lingkungan dapat terbentuk secara alamiah maupun dari kegiatan manusia (antropogenik). Karbonmonoksida yang berasal dari alam termasuk dari lautan, pegunungan, dan kebakaran hutan.
34 14 Karbonmonoksida yang berasal dari sumber antropogenik dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil atau material organik akibat kebutuhan oksigen yang tidak mencukupi untuk proses pembakaran. Bila jumlah udara (oksigen) yang tersedia sudah mencukupi, CO masih saja dapat terbentuk, hal ini disebabkan oleh kurangnya turbulensi. menyebabkan udara dengan karbon tidak dapat bercampur dengan baik selama proses pembakaran serta proses dissosiasi CO2 menjadi CO pada pembakaran bertemperatur tinggi. Sehingga semua aktivitas yang melibatkan pembakaran bahan-bahan organik merupakan sumber karbonmonoksida. Gas CO sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dengan udara, berupa gas buangan. Secara sederhana pembakaran karbon dalam minyak bakar terjadi melalui beberapa tahap sebagai berikut: 2C + O2 2CO 2CO + O2 2CO2 Reaksi pertama berlangsung sepuluh kali lebih cepat daripada reaksi kedua, oleh karena itu CO merupakan intermediat pada reaksi pembakaran tersebut dan dapat merupakan produk akhir jika jumlah O2 tidak cukup untuk melangsungkan reaksi kedua. CO juga dapat merupakan produk akhir meskipun jumlah oksigen di dalam campuran pembakaran cukup, tetapi antara minyak bakar dan udara tidak tercampur rata. Pencampuran yang tidak merata antara minyak bakar dengan udara menghasilkan beberapa tempat atau area yang kekurangan oksigen. Semakin rendah perbandingan antara udara dengan minyak bakar, semakin tinggi jumlah karbon monoksida yang dihasilkan. 3) Karbon dioksida (CO2) Konsentrasi CO2 menunjukkan secara langsung status proses pembakaran di ruang bakar. Semakin tinggi maka semakin baik. Saat AFR berada di angka ideal, emisi CO2 berkisar antara 12% sampai 15%. Apabila AFR terlalu kurus atau terlalu kaya, maka emisi CO2 akan turun
35 15 secara drasfis. Apabila CO2 berada di bawah 12%, maka harus melihat emisi lainnya yang menunjukkan apakah AFR terlalu kaya atau terlalu kurus. Perlu diingat bahwa sumber dari CO2 ini hanya ruang bakar Apabila CO2 terlalu rendah tapi CO dan HC normal, menunjukkan adanya kebocoran exhaust pipe. 4) Oksigen (O2) Konsentrasi dari oksigen di gas buang kendaraan berbanding terbalik dengan konsentrasi CO2, Untuk mendapatkan proses pembakaran yang sempuma, maka kadar oksigen yang masuk ke ruang bakar harus mencukupi untuk setiap molekul hidrokarbon. Dalam ruang bakar, campuran udara dan bensin dapat terbakar dengan sempurna apabila bentuk dari ruang bakar tersebut melengkung secara sempurna. Kondisi ini memungkinkan molekul bensin dan molekul udara dapat dengan mudah bertemu untuk bereaksi dengan sempurna pada proses pembakaran. Ruang bakar tidak dapat sempuma melengkung dan halus sehingga memungkinkan molekul bensin seolah-olah bersembunyi dari molekul oksigen dan menyebabkan proses pembakaran tidak terjadi dengan sempurna. Untuk mengurangi emisi HC, maka dibutuhkan sedikit tambahan udara atau oksigen untuk memastikan bahwa semua molekul bensin dapat "bertemu" dengan molekul oksigen untuk bereaksi dengan sempuma. Ini berarti AFR 14,7:1 (lambda = 1.00) sebenarya merupakan kondisi yang sedikit kurus. Inilah yang menyebabkan oksigen dalam gas buang akan berkisar antara 0.5% sampai 1%. Pada mesin yang dilengkapi dengan CC, kondisi ini akan baik karena membantu fungsi CC untuk mengubah CO dan HC menjadi CO2. Mesin tetap dapat bekerja dengan baik walaupun AFR terlalu kurus bahkan hingga AFR mencapai 16:1. Dalam kondisi seperti ini akan
36 16 timbul efek lain seperti mesin cenderung knocking, suhu mesin bertambah dan emisi senyawa NOx juga akan meningkat drastis. Normalnya konsentrasi oksigen di gas buang adalah sekitar 12% atau lebih kecil bahkan mungkin 0%. Harus berhati-hati apabila konsentrasi oksigen mencapai 0%. Hal ini menunjukkan bahwa semua oksigen dapat terpakai semua dalam proses pembakaran dan ini dapat berarti bahwa AFR cenderung kaya. Dalam kondisi demikian, rendahnya konsentrasi oksigen akan berbarengan dengan tingginya emisi CO. Apabila konsentrasi oksigen tinggi dapat berarti AFR terlalu kurus tapi juga dapat menunjukkan beberapa hal lain. Apabila dibarengi dengan tingginya CO dan HC, maka pada mobil yang dilengkapi dengan CC berarti CC mengalami kerusakan. Untuk mobil yang tidak dilengkapi dengan CC, bila oksigen terlalu tinggi dan lainnya rendah berarti ada kebocoran di exhaust sytem. 5) Nitrogen Oksida (NOx) Senyawa NOx adalah ikatan kimia antara unsur nitrogen dan oksigen. Dalam kondisi normal atmosphere, nitrogen adalah gas inert yang amat stabil yang tidak akan berikatan dengan unsur lain. Tetapi dalam kondisi suhu tinggi dan tekanan tinggi dalam ruang bakar, nitrogen akan memecah ikatannya dan berikatan dengan oksigen. Senyawa NOx ini sangat tidak stabil dan bila terlepas ke udara bebas, akan berikatan dengan oksigen untuk membentuk NO2. Inilah yang amat berbahaya karena senyawa ini amat beracun dan bila terkena air akan membentuk asam nitrat. Tingginya konsentrasi senyawa NOx disebabkan karena tingginya konsentrasi oksigen ditambah dengan tingginya suhu ruang bakar. Untuk menjaga agar konsentrasi NOx tidak tinggi maka diperlukan kontrol secara tepat terhadap AFR dan suhu ruang bakar harus dijaga agar tidak terlalu tinggi baik dengan EGR maupun long valve overlap. Normalnya
37 17 NOx pada saat idle tidak melebihi 100 ppm. Apabila AFR terlalu kurus, timing pengapian yang terlalu tinggi atau sebab lainnya yang menyebabkan suhu ruang bakar meningkat, akan meningkatkan konsentrasi NOx dan ini tidak akan dapat diatasi oleh CC atau sistem EGR yang canggih sekalipun. Tumpukan kerak karbon yang berada di ruang bakar juga akan meningkatkan kompresi mesin dan dapat menyebabkan timbulnya titik panas yang dapat meningkatkan kadar NOx. Mesin yang sering detonasi juga akan menyebabkan tingginya konsentrasi NOx. h. Standar Emisi di Indonesia Peraturan mengenai nilai ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor di Indonesia tertuang dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 04 Tahun 2009 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendara Bermotor Tipe Baru dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2006 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Lama.
38 18 Tabel 2.2. Nilai Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori L (Sumber : Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 04 Tahun 2009) NO KATEGORI a. L1 b. L2 c. L3 <150 cm3 d. L3 150 cm3 e. L4 dan L5 motor bakar cetus api f. L4 dan L5 motor bakar kompresi penyalaan PARAMETE R CO HC + NOx CO HC + NOx CO HC NOX CO HC NOX CO HC NOX CO HC NOX NILAI AMBANG BATAS gram/km METODE UJI ECE R 47 ECE R 47 ECE R 40 ECE R 40 ECE R 40 ECE R 40 Keterangan : L1 : Kendaraan bermotor roda 2 dengan kapasitas silinder mesin tidak lebih dari 50 cm3 dan dengan desain kecepatan maksimum tidak lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya L2 : Kendaraan bermotor beroda 3 dengan susunan roda sembarang dengan kapasitas silinder mesin tidak lebih dari 50 cm3 dan dengan desain kecepatan maksimum tidak lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya L3 : Kendaraan bermotor beroda 2 dengan kapasitas silinder lebih dari 50 cm3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya
39 19 L4 : Kendaraan bermotor beroda 3 dengan susunan roda asimetris dengan kapasitas silinder mesin lebih dari 50 cm3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya (sepeda motor dengan kereta) L5 : Kendaraan bermotor beroda 3 dengan susunan roda simetris dengan kapasitas silinder mesin lebih dari 50 cm3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebihdari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya. Arief Aszhari (Okezone: 2013/07/03) mengatakan bahwa: terhitung mulai 1 Agustus 2013 indonesia menerapakan semua kendaraan bermotor harus memenuhi standard UERO 3, sedangkan peraturan mengenai kendaraan bermotor di dunia sebagian besar mengacu ke regulasi yang dikeluarkan oleh UN-ECE (United Nation-Economic Commission for Europe). i. Elektroliser Elektrolisis merupakan proses kimia yang mengubah energi listrik menjadi energi kimia (Sudirman 2008:7). Proses penguraian unsur-unsur pembentuk air disebut sebagai elektrolisis air. Dengan menggunakan arus listrik, dua molekul air bereaksi dengan menangkap dua elektron pada katoda yang tereduksi menjadi gas H2 dan ion hidrokida (OH-). Pada kutub anoda, dua molekul air lainnya akan terurai menjadi gas oksigen (O2) dengan melepaskan 4 ion H+ serta mengalirkan elektron ke katoda. Akibat reaksi tersebut, ion H+ dan OH- akan mengalami netralisasi dan membentuk molekul air kembali. Reaksi elektrolisis air dapat dituliskan sebagai berikut. 2H2O(l) 2H2(g) + O2(g) (Urip Sudirman 2008 : 7) Gas hidrogen dan oksigen yang dihasilkan oleh reaksi tersebut membentuk gelembung dan mengumpul di sekitar elektroda. Prinsip ini kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan hidrogen dan hidrogen peroksida (H2O2). Komponen terpenting dari proses elektrolisis ini adalah
40 20 elektroda dan larutan elektrolit. Pada proses elektrolisis diperlukan dua buah kutub, yaitu katoda sebagai kutub negatif dan anoda sebagai kutub positif. Alat yang digunakan untuk menguraikan air disebut dengan elektroliser (electrolyzer). Di dalam elektroliser, air (H2O) dipecah menjadi gas HHO atau sering disebut sebagai brown gas. Elektroliser menghasilkan hidrogen dengan cara mengalirkan arus listrik pada media air yang mengandung larutan elektrolit. Medan magnet akan mengubah struktur atom hidrogen (H2) dan oksigen (O) pada air dari bentuk diatomik menjadi monoatomik. Selain itu, ikatan neutron yang mengikat partikel H dan O akan terlepas, sehingga partikel H akan tertarik ke kutub positif dan partikel O akan tertarik ke kutub negatif elektroliser. Inilah yang disebut sebagai disosiasi. Sejalan dengan proses tersebut, volume dan gelembung gas H dan O yang melekat pada fin elektroliser akan bertambah, terlepas mengambang, dan kemudian bergerak naik. Saat gelembung gas hidrogen dan oksigen monoatomik terlepas dari permukaan air, partikel gas tersebut akan berikatan kembali di ruang udara sebagai brown gas atau gas HHO. Menurut Putero, S.H, dkk (2008) faktor faktor yang mempengaruhi proses elektrolisis antara lain : 1) Kerapatan arus listrik Kenaikan kerapatan arus akan mempercepat ion bermuatan membentuk flok. Jumlah arus listrik yang mengalir berbanding lurus dengan bahan yang dihasilkan selama proses. 2) Waktu Menurut hukum Faraday, jumlah muatan yang mengalir selama proses elektrolisis sebanding dengan jumlah waktu kontak yang digunakan. 3) Tegangan Karena arus yang menghasilkan perubahan kimia mengalir melalui medium (logam atau elekrolit) disebabkan adanya beda potensial, karena
41 21 tahanan listrik pada medium lebih besar dari logam, maka yang perlu diperhatikan adalah mediumnya dan batas antar logam dengan medium. 4) Kadar keasaman (ph) Karena pada proses ini terjadi proses elektrolisis air yang menghasilkan gas hidrogen dan ion hidroksida, dengan semakin lama waktu kontak yang digunakan, maka semakin cepat juga pembentukan gas hidrogen dan ion hidroksida, apabila ion hidroksida yang dihasilkan lebih banyak naka akan menaikkan ph dalam larutan. ph larutan juga mempengaruhi kondisi spesies pada larutan dan kelarutan dari produk yang dibentuk. ph larutan mempengaruhi keseluruhan efisiensi dan efektifitas dari elektrolisis. 5) Ketebalan plat Semakin tebal plat elektroda yang digunakan, daya tarik elektrostatiknya dalam mereduksi dan mengoksidasi ion logam dalam larutan akan semakin besar. 6) Jarak antar elektroda Besarnya jarak antar elektroda mempengaruhi besarnya hambatan elektrolit, semakin besar jaraknya semakin besar hambatannya, sehingga semakin kecil arus yang mengalir. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Waluyo, B (2009) dengan judul Kaji Eksperimen Pengaruh Penambahan Elektroliser pada Sistem Bahan Bakar Motor Satu Silinder C100 menyatakan bahwa dengan elektroliser terpasang setelah throtle valve (ATV), kadar hidrokarbon meningkat 83.24% dan karbon monoksida menurun 97,88 % dari kondisi awal sebelum dipasang elektroliser. Dengan elektroliser terpasang sebelum throtle valve (BTV), hidrocarbon meningkat 1,67 %, dan carbon monoksida meningkat 2,49 % dari kondisi awal sebelum dipasang elektroliser. Perubahan kadar HC dan CO yang besar pada pemasangan elektroliser setelah throttle valve ( ATV ) disebabkan karena udara luar masuk ke intake
42 22 manifold melalui selang ventilator elektroliser dan bintik-bintik air yang ikut terhisap masuk ke ruang bakar yang kemudian bereaksi dengan bahan bakar. j. Komponen Elektroliser Komponen penting yang menunjang proses elektrolisis untuk menghaasilkan gas HHO adalah tabung elektroliser, elektroda (katoda dan anoda), larutan elektrolit dan water trap (pada mobil). 1) Tabung Elektroliser Tabung elektroliser merupakan tempat penampungan larutan elektrolit, sekaligus tempat berlangsungnya proses elektrolisis untuk menghasilkan gas HHO. Di dalam tabung ini terdapat dudukan elektroda yang akan diberi arus listrik dari spul pada sepda motor. Tabung elektroliser yang digunakan tersebut dari bahan plastik tahan panas. Sebab, proses elektrolisis yang menghasilkan gas HHO akan memproduksi sejumlah panas. Adanya isapan yang cukup kuat dari mesin juga menyebabkan terjadinya perubahan bentuk, sehingga tabung elektrolisis haruslah kokoh dan tahan banting. Tabung yang digunakan untuk proses elektrolisis dapat juga menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar kita, seperti toples bekas makanan atau minuman. Diameter tabung yang digunakan adalah cm, sedangkan tingginya cm atau cukup menampung 1 liter air. Gambar 2.3. Tabung Elektroliser
43 23 2) Elektroda Gas HHO yang dihasilkan dalam proses elektrolisis ini akan terjadi karena adanya arus listrik yang melewati elektroda. Elektroda ini pula yang akan menguraikan unsur unsur air. Elektroda terdiri dari kutub katoda (-) dan kutub anoda (+) dimasukkan dalam larutan elektrolit. Elektroda yang digunakan pada penelitian ini adalah kawat tembaga. Pemilihan elektroda kawat tembaga ini didasari karena daya hantar /konduktivitas listriknya lebih tinggi setelah perak jika dibandingkan dengan logam yang lainnya. Selain itu kawat tembaga lebih mudah dijumpai atau didapat di toko bangunan. Berikut adalah tabel 2.3 merupakan konduktivitas listrik dari masing masing logam. Tabel 2.3 Konduktivitas Listrik Berbagai Logam Pada Suhu Kamar Logam Konduktivitas listrik (ohmmeter) Perak 6,8 x 107 Tembaga 6, 0 x 107 Emas 4,3 x 107 Alumunium 3,8 x 107 Kuningan 1,6 x 107 Besi 1,0 x 107 Adapun sifat- sifat dari tembaga menurut Fardiansah, I (2012), adalah sebagai berikut : Sifat fisika logam tembaga : a) Logam berwarna kemerah-merahan dan berkilauan b) Dapat ditempa, dibengkokan dan merupakan penghantar panas dan listrik yang baik kedua setelah perak c) Titik leleh : C, titik didih : C d) Berat jenis tembaga sekitar 8,92 gr/cm3 (Jim Clark, 2007).
44 24 Sifat kimia Tembaga a) Dalam udara kering sukar teroksidasi, akan tetapi jika dipanaskan akan membentuk oksida tembaga (CuO) b) Dalam udara lembab akan diubah menjadi senyawa karbonat atau karat basa. c) Tidak dapat bereaksi dengan larutan HCl encer maupun H2SO4 encer d) Dapat bereaksi dengan H2SO4 pekat maupun HNO3 encer dan pekat e) Tembaga merupakan unsur yang relatif tidak reaktif sehingga tahan terhadap korosi. Pada udara yang lembab permukaan tembaga ditutupi oleh suatu lapisan yang berwarna hijau yang menarik dari tembaga karbonat basa, Cu(OH)2CO3. f) Pada kondisi yang istimewa yakni pada suhu sekitar 300 C tembaga dapat bereaksi dengan oksigen membentuk CuO yang berwarna hitam. Sedangkan pada suhu yang lebih tinggi, sekitar 1000 ºC, akan terbentuk tembaga(i) oksida (Cu2O) yang berwarna merah. g) Tembaga tidak diserang oleh air atau uap air dan asam-asam nooksidator encer seperti HCl encer dan H2SO4 encer. Tetapi asam klorida pekat dan mendidih menyerang logam tembaga dan membebaskan gas hidrogen. Hal ini disebabkan oleh terbentuknya ion kompleks CuCl2 (aq) yang mendorong reaksi kesetimbangan bergeser ke arah produk. h) Asam nitrat encer dan pekat dapat menyerang tembaga i) Tembaga tidak bereaksi dengan alkali, tetapi larut dalam amonia oleh adanya udara membentuk larutan yang berwarna biru dari kompleks Cu(NH3)4+. Tembaga sebagai bahan konduktor berfungsi untuk menghantarkan arus listrik. Menurut hukum Ohm nilai tegangan dan kerapatan arus dapat dihitung dengan menggunsksn rumus sebagai berikut : Tegangan suatu konduktor dirumuskan : V= Dimana V = Tegangan (Volt) I = Arus (Ampere) R = Hambatan (Ohm)
45 25 Rapat arus listrik dalam suatu konduktor dirumuskan : J= Dimana J = rapat Arus ( ) I = Arus (ampere) A = Luas penampang ( m2 ) Mengacu pada teori di atas maka pada penelitian ini akan menggunanakan variasi diameter kawat tembaga yakni sebesar 1,5 mm, 2,5 mm, dan 4,0 mm. Variasi ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap emisi gas buang sepeda motor honda Honda Supra X 125D Tahun 2007 kaitannya sebagai penghantar arus listrik untuk menghasilkan gas HHO. 3) Elektrolit Elektrolit terdiri dari air murni dan katalisator. Elektrolit digunakan untuk menghasilkan gas HHO pada proses elektrolisis. Elektrolit terdiri dari atas air murni atau air destilasi dan katalisator Berdasarkan percobaan yang dilakukan oleh Sudirman (2008:11), komposisi yang paling ideal antara air murni dengan katalisator adalah 1,5 sendok teh atau sekitar 12 gram berbanding dengan 0,9-1 liter air. Komposisi tersebut hasilnya cukup baik, terlihat dari produksi brown gas dan temperatur tabung elektroliser yang cukup, yaitu 50 oc sampai dengan 70 oc. 4) Katalis Menurut Rufiati (2011: 11), katalis adalah suatu zat yang dapat meningkatkan laju reaksi dan setelah reaksi selesai, terbentuk kembali dalam kondisi tetap. Katalis ikut terlibat dalam reaksi, memberikan mekanisme baru dengan energi pengaktifan yang lebih rendah dibanding reaksi tanpa katalis.
46 26 a) Kalium Hidroksida (KOH) KOH merupakan senyawa basa, jika dilarutkan kedalam air maka akan membentuk larutan KOH. KOH tersebut akan menjadi katalisator yang berfungsi untuk mempermudah pemutusan ikatan gas hidrogen dan oksigen dalam air. Semakin besar konsentrasi larutan KOH ketika dielektrolisis, diduga semakin besar pula peluang untuk menghasilkan gas hidrogen dan oksigen dalam jumlah yang banyak. Begitu pula pengaruh arus yang di berikan oleh sumber tenaga. Semakin besar arus yang diberikan maka semakin banyak gelembung-gelembung yang muncul dari permukaan katoda. Gelembung-gelembung tersebut merupakan proses pemutusan ikatan antara H2 dan O2 di dalam senyawa air sehingga H2 dan O2 semakin banyak Nilai ph dalam 1 liter aquades yang dicampur dengan 12 gram KOH adalah : 1 liter aquades, 12 gr KOH, Mr=56 [ ] Keterangan : Mb : Molaritas Basa X : Jumlah OH- dalam rumus kimia Jadi KOH merupakan basa kuat yang mempunyai daya hantar listrik yang baik.
47 27 Gambar 2.4. Zat Kimia KOH b) Natrium Sulfat (Na2SO4) Natrium sulfat adalah hasil garam natrium dari asam sulfur. Dalam bentuk anhidratnya, senyawa ini berbentuk padatan kristal putih dengan rumus kimia Na2SO4. Bentuk dekahidratnya mempunyai rumus kimia Na2SO4 10H2O yang dikenal dengan nama garam Glauber atau sel mirabilis. Nilai ph dalam 1 liter aquades yang dicampur dengan 12 gram Na2SO4 adalah : 1 liter aquades, 12 gr Na2SO4, Mr=142 Garam yang terbentuk dari asam kuat dengan basa kuat bersifat netral sehingga nilai ph=7. Na2SO4 Na+ berasal dari NaOH berasal dari Kation Na+ tidak terhidrolisis karena berasal dari basa kuat NaOH. Anion tidak terhidrolisis karena berasal dari asam kuat. Karena kation dan anion tidak terhidrolisis, maka Na2SO4
48 28 termasuk garam yang tidak terhidrolisis. Sifat larutannya adalah netral dengan ph=7. Gambar 2.5. Zat Kimia Na2SO4 Dalam penelitian ini katalis yang digunakan adalah kalium hidroksida (KOH), Natrium Sulfat (Na2SO4) Katalis tersebut masing- masing akan dicampurkan dengan air murni untuk mengetahui perbedaan gas HHO yang dihasilkan dan bagaimana pengaruhnya terhadap emisi gas buang CO dan HC pada sepeda motor Honda Supra X 125 D. k. Cara Kerja Elektroliser Menurut penelitian yang dilakukan Saputra, menyatakan cara kerja elektroliser sebagai berikut : H.A. (2013) Gas Hidrogen Hidrogen Oksida (HHO) yang telah dihasilkan akan terisap oleh mesin. Gas tersebut terbentuk akibat adanya arus listrik yang berasal dari spull bukan dari accu, sebab kuat arus accu sepeda motor tidak mencukupi. Karena yang dibutuhkan adalah arus DC, sedangkan spull menyuplay arus AC, maka diperlukan komponen penyearah arus yang dinamakan diode bridge. Jika kedua kutub elektroda (katoda dan anoda) diberi arus listrik, elektroda tersebut akan saling berhubungan karena adanya larutan elektrolit sebagai penghantar listrik. Dengan adanya aliran listrik pada elektroda, menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung kecil berwarna putih. Inilah proses produksi gas Hidrogen-Hidrogen Oksida (HHO) berlangsung.
49 29 Gas hidrogen dihasilkan oleh kutup katoda (-), sedangkan oksigen dihasilkan oleh kutup anoda (+). Hidrogen dan oksigen akan berikatan kembali di ruang udara sebagai gas brown atau gas Hidrogen Hidrogen Oksigen (HHO). Gelembung-gelembung gas Hidrogen Hidrogen Oksigen (HHO) akan bergerak ke permukaan larutan elektrolit dan melayang ke atas dan terisap oleh putaran mesin. Selanjutnya, gas Hidrogen Hidrogen Oksigen (HHO) bercampur dengan campuran bahan bakar dan udara dari karburator. Reaksi kimia saat gas brown bercampur dengan bahan bakar dan udara dapat dituliskan sebagai berikut: H2O (g) + C8H18 + 9O2 9H2O (g) + 4CO2 + 2CO + 2HC Gas Hidrogen Hidrogen Oksigen (HHO) yang mempunyai nilai oktan lebih tinggi, secara otomatis akan meningkatkan kalori bahan bakar (bensin), Bensin yang memiliki nilai oktan jauh di bawah gas Hidrogen Hidrogen Oksigen (HHO) akan terbakar habis tanpa sisa (pembakaran sempurna). Semakin tinggi nilai oktan suatu bahan bakar, daya ledak yang dihasilkan akan lebih dahsyat. Efek ledakan tersebut membuat tenaga mesin akan meningkat dan konsumsi bahan bakar menjadi lebih irit. Secara sederhana cara kerja elektroliser dapat dijelaskan yaitu Elektroliser menghasilkan gas hidrogen hidrogen oksida (HHO) dengan cara mengalirkan arus listrik melewati elektroda yang dihubungkan dengan larutan elektrolit. Katoda dan anoda pada elektroda ini tidak bersentuhan, sehingga menghasilkan medan magnet yang memecah struktur atom hidrogen dan oksigen menjadi monoatomik. Gas hidrogen hidrogen oksida (HHO) inilah yang akan disalurkan melalui selang ke dalam intake manifold dan dicampurkan dengan campuran bahan bakar dan udara untuk dimanfaatkan dalam proses pembakaran di dalam silinder.
50 30 Gambar 2.6. Deskripsi Proses Elektrolisis Air l. Saluran Gas Brown Saluran brown gas adalah saluran yang berfungsi sebagai jalan hasil elektrolisis (brown gas) dari elektroliser menuju ke ruang bakar. Menurut penelitian Waluyo (2009) yang berjudul Kaji Eksperimen Pengaruh Penambahan Elektroliser pada Sistem Bahan Bakar Sepeda Motor Satu Silinder C100, pada sepeda motor saluran brown gas dapat diletakkan di sistem pemasukan udara dan bahan bakar, yaitu sebelum karburator atau sesudah karburator. Gambar 2.7. Saluran Brown Gas BTV (Before Thtrottle Valve) (Sumber: Waluyo, 2009: 32)
51 31 Gambar 2.7. menjelaskan bahwa saluran brown gas yang pemasangannya sebelum karburator diletakkan pada saringan udara. Hal ini berarti brown gas yang dihasilkan elektrolisis akan bercampur dengan udara terlebih dahulu (volume udara belum diatur oleh karburator) kemudian baru akan bercampur dengan bahan bakar di karburator. Pemasangan seperti ini juga memberikan jarak tempuh yang cukup jauh untuk gas mencapai ke ruang bakar. Gambar 2.8. Saluran Brown Gas ATV (After Thtrottle Valve) (Sumber: Waluyo, 2009: 32) Gambar 2.8. menjelaskan bahwa saluran brown gas yang pemasangannya sesudah karburator diletakkan pada intake manifold. Hal ini berarti brown gas yang dihasilkan elektrolisis akan bercampur dengan campuran udara-bahan bakar yang telah diatur oleh karburator. Pemasangan seperti ini juga memberikan jarak tempuh yang lebih dekat untuk brown gas mencapai ke ruang bakar dibandingkan dengan pemasangan sebelum karburator.
52 32 Cara pemasangan saluran brown gas tersebut menghasilkan emisi gas buang CO dan HC berbeda, dimana masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya, menurut penelitian yang dilakukan Waluyo (2009), Dengan elektroliser terpasang setelah throtle valve (ATV), kadar hidrokarbon meningkat 83.24% dan carbon monoksida menurun 97,88 % dari kondisi awal sebelum dipasang elektroliser. Dengan elektroliser terpasang sebelum throtle valve (BTV), hidrocarbon meningkat 1,67 %, dan karbonmonoksida meningkat 2,49 % dari kondisi awal sebelum dipasang elektroliser Perubahan pada kadar CO disebabkan Gas HHO terdiri atas 2 hidrogen dan 1 oksigen, penambahan gas HHO ini akan berdampak pada proses pembakaran mesin kendaraan bermotor, gas HHO ini mempunyai daya ledak yang tinggi, penambahan elektroliser menghasilkan gas HHO yang akan bercampur dengan campuran udara dan bahan bakar, gas HHO membuat pembakaran mendekati sempurna sehingga emisi gas buang CO dapat menurun. Perubahan kadar HC yang besar pada pemasangan elektroliser setelah throttle valve ( ATV ) disebabkan karena udara luar masuk ke intake manifold melalui selang ventilator elektroliser dan bintik-bintik air yang ikut terhisap masuk ke ruang bakar yang kemudian bereaksi dengan bahan bakar Dasar pemilihan peneliti meletakkan saluran brown gas setelah throtle valve (ATV) adalah karena dapat menurunkan gas CO walaupun menaikkan emisi gas buang HC. m. Instalasi Elektroliser pada Sepeda Motor Langkah-langkah instalasai pada sepeda motor menurut sudirman (2008 : 42) sebagai berikut : 1) Menyiapkan tabung elektroliser yang telah isi dengan air murni (aquades) sebanyak 1 liter dan menambahkan 12 gram katalis, lalu diaduk hingga rata dan menutup tabung dengan rapat.
53 33 2) Langkah selanjutnya adalah memasang kabel kutub positif pada spull jalan, setelah itu disolder dan diisolasi. 3) Memasang skun pada kabel kemudian mengisolasi, dan menghubungkan kabel ke diode bridge. 4) Memasang kabel ground, selanjutnya memasang tabung elektroliser pada tempat yang aman serta mengikat dengan kabeltis. 5) Menghubungkan saluran intake manifold. Memasang elbow dan selang penyalur gas Hidrogen Hidrogen Oksigen (HHO). Kemudian merapikan kabel-kabel. 6) Menghidupkan motor. Keuntungan yang diperoleh dari pemasangan tabung elektroliser pada sepeda motor menurut sudirman (2008 : 43) sebagai berikut 1) 2) 3) 4) Dari Menghemat bahan bakar hingga 30% atau bahkan bisa lebih Suara mesin lebih halus Tarikan tenaga mesin meningkat Emisi gas buang turun, sehingga lebih ramah lingkungan pernyataan diatas maka peneliti menyimpulkan bahwa pemasangan elektroliser pada sepeda motor Gas Hidrogen Hidrogen Oksigen (HHO) yang mempunyai nilai oktan lebih tinggi, secara otomatis akan meningkatkan kalori bahan bakar (bensin), Bensin yang memiliki nilai oktan jauh di bawah gas Hidrogen Hidrogen Oksigen (HHO) akan terbakar habis tanpa sisa (pembakaran sempurna). Semakin tinggi nilai oktan suatu bahan bakar, daya ledak yang dihasilkan akan lebih dahsyat. Efek ledakan tersebut membuat tenaga mesin akan meningkat dan konsumsi bahan bakar menjadi lebih irit. n. Dioda Bridge Dioda bridge adalah komponen elektronika semikonduktor yang berfungsi sebagai penyearah arus bolak-balik (AC). Disebut dioda bridge
54 34 karena didalam komponen ini terdapat empat buah dioda yang dihubungkan saling bertemu satu sama lain (bridge rectifier/penyearah jembatan). Dioda brige dipilih sebagai penyearah arus dalam penelitian ini karena dioda brige memiliki empat kaki sesuai dengan yang dibutuhkan untuk pemakaian/ perangkaian elektroliser pada sepeda motor, sedangkan dioda biasa hanya memiliki dua kaki sehingga tidak dapat digunakan pada penelitian ini. Gambar 2.9. Dioda Brige (Sumber : Ferdiansah, 2012 ) o. Spul Sepeda Motor Spul merupakan kumparan kawat tembaga yang berfungsi menghasilkan arus listrik. Pada spul honda beat arus listrik yang dihasilkan merupakan arus listrik AC dan pada spul terdapat 3 kabel output, yang pertama kabel warna hijau yakni spul pengapian, kabel warna putih yaitu spul pengisian, dan kabel warna kuning merupakan spul penerangan.
55 35 Gambar Spul Sepeda Motor p. Intake Manifold Intake manifold mendistribusikan campuran udara bahan bakar yang di proses oleh karburator ke silinder. Intake manifold dibuat dari paduan aluminium, yang dapat memindahkan panas lebih efektif dibanding dengan logam lainnya. Intake manifold diletakkan sedekat mungkin dengan sumber panas yang memungkinkan campuran udara dan bensin cepat menguap. Ketika terjadi langkah hisap campuran udara dan bensin yang berada di intake manifold akan terhisap ke dalam ruang bakar atas dasar inilah maka saluran untuk menginjeksikan gas hasil elektrolisis dipasangkan pada intake manifold agar ketika terjadi langkah hisap gas hasil elektrolisis ikut terhisap kedalam ruang bakar karena akibat dari kevakuman yang terjadi di ruang bakar. Gas brown hasil dari elektroliser disalurkan ke intake manifold lewat lubang secondary air supply system (SASS), fungsi SASS Menginjeksikan udara ke lubang exhaust. Sehingga polutan gas buang jadi berkurang. Komponen paling utama SASS adalah rumah SASS yang seperti keong, rumah keong ini sebenarnya hanya sebagai katup buka-tutup. Di rumah keong juga ada tiga slang. Dua selang besar berdiameter 10 mm dan satu lagi kecil dengan diameter 5 mm. Dua selang besar tadi beda tujuan. Ada yang yang menuju filter udara dan satu lagi menuju pipa di kepala
56 36 silinder, sedangkan slang kecil menuju intake manifold, ketika motor distarter terjadi kevakuman di manifold, lalu kevakuman diteruskan lewat slang kecil menuju rumah keong SASS. Katup SASS terbuka dan memungkinkan udara dari boks filter terhisap akibat kevakuman dari lubang buang akibatnya udara dari boks filter mengalir menuju lubang buang. Campuran dengan udara membuat gas buang jadi berkurang. Gas hasil pembakaran sudah pasti beracun, dan mengandung CO (karbon monoksida) dan HC (hidrokarbon), dengan diinjeksikannya udara lewat SASS gas buang lebih aman karena tidak begitu beracun. karena gas CO yang dihasilkan setelah pembakaran dicampur udara yang mengandung oksigen (O2) hasil percampuranya menjadi CO2 yang tidak begitu berbahaya dibanding CO. Begitupun HC jika dicampur udara yang mengandung oksigen (O2). Akan terjadi percampuran dan menghasilkan H2O (air) dan karbon yang dilepas ke udara. Ini membuat molekul hidrokarbon berbahaya jadi ramah lingkungan. Dilihat dari cara kerjanya, SASS bekerja diluar sistem kerja mesin. Dengan begitu tidak mempengaruhi kerja mesin, sehingga penyaluran gas brown melalui lubang SASS tidak akan mempengaruhi sistem kerja mesin. Gambar Intake Manifold Supra X 125 D
57 37 2. Penelitian yang Relevan Beberapa penelitian tentang penggunaan bahan bakar air telah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya dengan beragam hasil. Diantaranya yaitu : Menurut penelitian E. Leelakrishnan, N. Lokesh, H.suriyan (2013), dengan judul performance and emission characteristics of Brown s gas enriched air in spark ignition engine, mereka menyatakan bahwa penggunaan gas brown di mesin motor bakar dengan menggunakan mesin motor 100 cc silinder tunggal berpendingin udara pada 1500 rpm untuk berbagai beban dapat menurunkan emisi gas buang CO turun 94 % dan HC turun 88 %. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fardiansah, I (2012), dengan judul pengaruh penggunaan elektroliser kawat tembaga dan jenis busi terhadap emisi gas buang CO dan HC pada sepeda motor honda beat tahun 2010, menyatakan bahwa penggunaan elektroliser kawat tembaga 1 mm dan jenis busi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap emisi gas buang CO dan HC pada sepeda motor Honda Beat tahun 2010 Emisi gas buang CO yang paling rendah sebesar 1,511 % volume didapatkan pada penggunaan elektroliser I dan dengan jenis busi platinum dan emisi gas buang HC yang paling rendah sebesar 22 ppm volume didapatkan pada penggunaan elektroliser II dan dengan jenis busi Irridium, emisi gas buang CO yang tertinggi didapatkan ketika tanpa elektroliser dan dengan jenis busi platinum sebesar 3,298 % volume dan emisi gas buang HC yang tertinggi didapatkan ketika tanpa elektroliser dan dengan jenis busi platinum sebesar 387 ppm volum. Wahyu Puji Lestarini (2009), dengan judul Pengaruh Jenis Elektrolit dan Luas Permukaan Kontak Terhadap Gas HHO Hasil Elektrolisis Air ( Suatu Upaya untuk Meningkatkan Unjuk Kerja Kendaraan Bermotor. Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang. Penelitian ini menyatakan bahwa penggunaan elektrolisis air pasangan elektrolit (KOH, NaHCO3, MgSO4) 0,005 M dengan elektrode (plat, batang dan kawat) stainless steel AISI 304 yang paling baik untuk menghasilkan gas HHO,semakin banyak gas HHO yang dihasilkan,
58 38 semakin meningkatkan daya kendaraan, bahan bakar semakin efisien dan kadar emisi gas yang dihasilkan menurun dimana penurunan gas CO 13,9706% dan gas HC 52,2895% Menurut Penelitian yang dilakukan oleh Waluyo B (2009) dengan judul Penambahan Elektroliser pada Sepeda Motor terhadap Konsumsi Bahan Bakar Spesifik dan Perubahan Kadar Emisi Gas Buang, menyatakan dengan elektroliser terpasang setelah throtle valve (ATV), kadar hidrocarbon meningkat 83.24% dan carbon monoksida menurun 97,88 % dari kondisi awal sebelum dipasang elektroliser. Dengan elektroliser terpasang sebelum throtle valve (BTV), hidrocarbon meningkat 1,67 %, dan carbon monoksida meningkat 2,49 % dari kondisi awal sebelum dipasang elektroliser. Perubahan kadar HC dan CO yang besar pada pemasangan elektroliser setelah throttle valve ( ATV ) disebabkan karena udara luar masuk ke intake manifold melalui selang ventilator elektroliser dan bintik-bintik air yang ikut terhisap masuk ke ruang bakar yang kemudian bereaksi dengan bahan bakar Penelitian yang dilakukan oleh Y. Jamal dan M.L. Wyszynski (1994) yang berjudul Onboard Generation of Hydrogen-Rich Gaseous Fuels. Menyatakan bahwa gas penggunaan hidrogen dan bensin yang dicampur dengan hidrogen sebagai bahan bakar untuk mesin ketika pembakaran pada kondisi campuran kurus memungkinkan emisi gas buang CO sangat rendah. Hasil dari kelima penelitian yang relevan tersebut menjadi dasar penelitian ini yaitu dengan menggunakan elektroliser yang divariasikan diameter kawat tembaga sebagai elektrodanya dan variasi jenis larutan untuk diujikan pada sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun B. Kerangka Berpikir Pembakaran yang sempurna akan menghasilkan gas buang yang bersih dan ramah lingkungan. Untuk dapat mencapai pembakaran yang sempurna dapat
59 39 diusahakan dengan menginjeksikan gas HHO atau brown gas hasil proses elektrolisis ke ruang bakar melalui intake manifold sehingga gas HHO akan bercampur dengan campuran bahan bakar dan udara yang berasal dari karburator. Campuran bahan bakar, udara, dan gas HHO yang telah berikatan akan terbakar habis tanpa sisa (pembakaran sempurna). Efek dari pembakaran sempurna yakni gas buang yang dihasilkan nantinya akan lebih bersih dan ramah lingkungan. Nilai oktan gas HHO ynag lebih tinggi secara otomatis akan meningkatkan kalori bahan bakar (bensin). Campuran bahan bakar, udara, dan gas Hidrogen Hidrogen Oksigen (HHO) yang telah berikatan akan terbakar habis tanpa sisa (pembakaran sempurna). Penggunaan elektroda sebagai penghantar arus listrik dari alternator menuju tabung elektroliser juga berpengaruh terhadap gas HHO yang dihasilkan. Semakin baik kemampuan elektroda akan mempercepat dan akan menghasilkan gas HHO yang semakin banyak pula. Kawat tembaga digunakan sebagai elektroda dikarenakan tembaga merupakan logam yang mempunyai nilai konduktivitas yang baik. Selain itu tembaga juga logam yang tahan akan korosi karena air. Berdasarkan pernyataan di atas, salah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi emisi gas buang sehingga ramah lingkungan dengan pemasangan elektroliser. Elektroliser yang digunakan akan diberikan variasi diameter kawat tembaga dan variasi jenis larutan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap emsis gas buang kendaraan. Kawat tembaga sebagai elektroda yang digunakan yaitu 1,5 mm, 2,5 mm, dan 4,0 mm sedangkan katalis yang digunakan adalah KOH dan Na2SO4, dan gas dari hasil elektroliser ini akan dislurkan lewat lubang SASS pada intake manifold karena SASS yang kerjanya diluar sistem pembakaran sehingga tidak mengganggu proses pembakaran bahan bakar.
60 40 C. Hipotesis Berdasarkan kerangka berpikir maka dapat diambil hipotesis sebagai berikut : 1. Ada pengaruh penggunaan elektroliser dengan variasi diameter kawat tembaga terhadap emisi gas buang CO dan HC sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun Ada pengaruh jenis larutan terhadap Gas buang CO dan HC sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun Ada pengaruh penggunaan elektroliser dengan variasi diameter kawat tembaga dan variasi jenis larutan terhadap emsis gas buang CO dan HC sepeda motor Honda Supra X Tahun 2007.
61 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Pengambilan data emisi dilakukan di Laboratorium Otomotif Program Studi Pendidikan Teknik Mesin JPTK FKIP UNS Surakarta yang beralamatkan di Jalan Ahmad Yani No. 200, Kartasura. menggunakan alat Gas Analyzer Technotest type STARGAS 898. Tempat ini dipilih karena peralatan sudah cukup lengkap dan memadai serta lebih efisien waktu untuk melakukan penelitian ini. 2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan kurang lebih selama 8 bulan, dari bulan januari 2014 sampai bulan Agustus Adapun jadwal pelaksanaan penelitian seperti pada tabel 3.1 berikut : Tabel 3.1. Jadwal Penelitian No Kegiatan Penelitian Jan Feb Mar Bulan Apr Mei Jun Jul Ags Pengajuan judul dan pembimbing Pembuatan proposal Seminar proposal Revisi proposal Perijinan Penelitian Analisis data Penulisan laporan Pelaksanaan ujian skripsi dan revisi B. Rancangan / Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan metode eksperimen. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang memaparkan secara jelas hasil yang diperoleh dari eksperimen di laboratorium terhadap 41
62 42 sejumlah benda uji. Arikunto (2006) mendefinisikan eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminasi atau mengurangi atau menyisihkan faktor-faktor lain yang mengganggu. Penelitian eksperimen (eksperimental research) adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan dari suatu perlakuan pada variabel bebasnya terhadap subjek penelitian. Penelitian eksperimen adalah penelitian yang bertujuan untuk melihat hubungan antara sebab dan akibat antara suatu variabel. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan elektroliser dengan variasi diameter kawat tembaga dan variasi jenis larutan terhadap emisi gas buang sepeda motor Honda Supra X 125D tahun Pertimbangan peneliti hanya akan mengukur kandungan emisi gas buang CO dan HC ini mengacu pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 tahun 2006 tentang ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor lama. Di dalam peraturan tersebut disebutkan untuk pengujian emisi kendaraan bermotor lama, gas emisi yang diuji adalah gas CO dan HC. Untuk prosedur pengujian emisi gas buang CO dan HC peneliti mengacu pada prosedur pengujian emisi yang dikeluarkan oleh badan standarisasi nasional (BSN), yakni SNI nomor tentang cara pengujian emisi gas buang sumber bergerak, kendaraan bermotor kategori L pada kondisi idle. Selain itu peneliti juga mengacu pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup mengenai nilai ambang batas emisi gas buang CO maupun HC yang diijinkan pada kendaraan lama kategori L, yang dikelompokkan berdasarkan tahun pembuatannya. Data nilai ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor lama kategori L berdasarkan tahun pembuatannya dapat dilihat pada tabel 3.2.
63 43 Tabel 3.2. Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Kategori L. Kategori Parameter Tahun Metode Uji Pembuatan CO (%) HC (ppm) Sepeda motor 2 langkah < Idle Sepeda motor 4 langkah < Idle Sepeda motor 2 langkah dan 4 langkah Idle (Sumber: Kementrian Negara Lingkungan Hidup, 2006) C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Suharsimi, 2002). Populasi juga sebagai sumber data dari sebuah penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah sepeda motor Honda Supra X 125D tahun Sampel Penelitian Sampel adalah sebagian data atau wakil dari populasi yang akan diteliti (Suharsimi, 2002). Dalam penelitian ini sampel penelitian di ambil dengan menggunakan Purposive Sampling artinya teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. (Sugiyono, 2009: 85). Sampel dalam penelitian ini adalah sepeda motor Honda Supra-X 125D tahun 2007 bernomor mesin JB51E Data didapat dari pengukuran emisi gas buang tanpa menggunakan elektroliser dan menggunakan elektroliser dengan variasi diameter kawat tembaga dan variasi jenis larutan KOH dan Na2SO4 Pengukuran pada penelitian untuk mengetahui emisi gas buang ini dilakukan replikasi pengukuran sebanyak tiga kali. Pengujian emisi gas buang yang dilakukan sebanyak tujuh kali, sehingga akan diperoleh data sebanyak tujuh data. Tujuh data tersebut terdiri dari: a. Satu data untuk emsisi gas buang tanpa menggunakan elektroliser.
64 44 b. Satu data untuk emisi gas buang menggunakan elektroliser dengan variasi diameter elektroda yakni 1,5 mm diameter kawat tembaga dengan larutan kalium Hidroksida (KOH). c. Satu data untuk emisi gas buang menggunakan elektroliser dengan variasi diameter elektroda yakni 1,5 mm diameter kawat tembaga dengan larutan Natrium Sulfat (Na2SO4).. d. Satu data untuk emisi gas buang menggunakan elektroliser dengan variasi diameter elektroda yakni 2,5 mm diameter kawat tembaga dengan larutan kalium Hidroksida (KOH). e. Satu data untuk emisi gas buang menggunakan elektroliser dengan variasi diameter elektroda yakni 2,5 mm diameter kawat tembaga dengan larutan Natrium Sulfat (Na2SO4). f. Satu data untuk emisi gas buang menggunakan elektroliser dengan variasi diameter elektroda yakni 4,0 mm diameter kawat tembaga dengan larutan kalium Hidroksida (KOH). g. Satu data untuk emisi gas buang menggunakan elektroliser dengan variasi diameter elektroda yakni 4,0 mm diameter kawat tembaga dengan larutan Natrium Sulfat (Na2SO4) D. Teknik Pengumpulan Data 1. Identifikasi Variabel Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang digunakan oleh peneliti untuk dipelajari, sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditatik kesimpulannya (Sugiono, 2008 : 38). Di dalam variabel terdapat satu atau lebih, gejala yang mungkin pula dari berbagai aspek atau unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan. Dari pengertian diatas secara garis besar variabel dalam penelitian ini ada tiga variabel. Secara lebih terperinci dijelaskan sebagai berikut : a. Variabel Bebas Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat
65 45 (Sugiyono, 2009: 39). Variabel bebas identik dengan perlakuan yang akan dilakukan pada sebuah eksperimen. Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah penggunaan elektroliser dengan variasi diameter kawat tembaga dan variasi jenis larutan. b. Variabel Terikat Variabel terikat dipengaruhi karena adanya variabel bebas. Bisa dikatakan terikat bebas terjadi sebagai akibat karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah emisi gas buang CO dan HC sepeda motor Honda Supra-X 125D tahun c. Variabel Kontrol Variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan agar variabel terikat yang muncul bukan karena variabel lain, tetapi benar-benar karena variabel bebas yang tertentu. Pengendalian variabel ini dimaksudkan agar tidak merubah atau menghilangkan variabel bebas yang akan diungkap pengaruhnya. Adapun variabel kontrol dalam penelitian ini adalah : 1) Sepeda motor yang distel mendekati standart. 2) Seluruh komponen pada sampel sesuai dengan spesifikasi pabrik kecuali yang diperlakukan untuk penelitian, dalam penelitian ini adalah intake manifold. 3) Menggunakan kawat tembaga dengan panjang 2 meter. 4) Menggunakan larutan KOH dan Na2SO4 dengan berat 12 gram. 5) Bahan bakar bensin jenis premium. 6) Alat uji emisi menggunakan Gas Analyzer Technotest type STARGAS ) Aksesoris kendaraan tidak dioperasikan, kecuali lampu-lampu utama. 8) Tiap pengambilan data dengan selang waktu 5 menit.
66 46 2. Sumber Data Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan metode dokumentasi, observasi dan eksperimen langsung. Metode ini dengan sengaja dan secara sistematis mengadakan perlakuan atau tindakan pengamatan terhadap suatu variabel. Sumber data pada penelitian ini adalah hasil pengujian emsi gas buang CO dan HC pada sepeda motor supra x 125 D E. Pelaksanaan Penelitian 1. Peralatan Penelitian Peralatan penelitian merupakan alat-alat yang digunakan selama penelitian berlangsung. Alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain: a. Tool set Tool set adalah seperangkat alat yang digunakan untuk membongkar, dan memasang body sepeda motor juga digunakan untuk instalasi elektroliser b. Elektroliser, sebagai alat penghasil gas HHO (brown gas.) c. Tachometer Tachometer adalah alat untuk mengukur putaran mesin. d. Stopwatch Stopwatch digunakan untuk mengukur lama waktu dalam pengambilan data. e. Sendok Teh Untuk menakar zat kimia f. Gelas ukur 1 lt Untuk mengukur air aquades g. Gas Analyzer Gas Analyzer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar emisi pada gas buang, yang meliputi CO, HC, CO2, O2, dan NOx. 2. Bahan Penelitian Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007
67 47 b. Tabung elektroliser. c. Kabel digunakan utuk menyalurkan arus listrik ke elektroda yaitu katoda (-) dan anoda (+) yang ada di dalam tabung elektroliser. d. Selang plastik untuk menyamakan tekanan atmosfer di dalam dan diluar tabung elektroliser agar tabung elektroliser tidak kempes saat intake manifold menghisap gas HHO. 3. e. Intake manifold sepeda motor Honda supra-x 125D. f. Bahan bakar menggunakan bensin Premium g. Elektroda yakni berupa kawat tembaga. h. Larutan elektroliser yakni KOH dan Na2SO4 Cara Pembuatan Larutan Elektroliser a. Menyiapkan alat dan bahan b. Menuangkan air aquades kedalam tabung elektroliser sebanyak 1 liter c. Memasukkan zat kimia KOH sebanyak satu setengah sendok teh d. Tutup tabung elektroliser
68 48 4. Prosedur Penelitian Tahap eksperimen dalam penelitian ini dapat digambarkan dengan bagan aliran proses eksperimen seperti Gambar 3.1 Gambar 3.1 Bagan Alir Penelitian 5. Langkah Penelitian Adapun langkah-langkah dalam eksperimen dalam penelitian ini sebagai berikut : a. Persiapan 1) Menyiapkan bahan penelitian yang akan diuji yaitu sepeda motor Honda Supra X 125 D 2007
69 49 2) Menyiapkan alat uji emisi gas buang Gas Analyzer Technotest type STARGAS ) Menghidupkan mesin dan menaikkan putaran mesin hingga mencapai 1900 rpm sampai dengan 2100 rpm selama 60 detik dan selanjutnya dikembalikan pada kondisi idle. 4) Melaksanakan pengukuran pada kondisi idle dengan putaran mesin rpm. 5) Memasukkan probe alat uji (gas analyzer s probe) ke pipa gas buang sedalam 30 cm. 6) Setelah menunggu 20 detik, kemudian melakukan pengambilan data konsentrasi gas CO dalam satuan persen (%) dan gas HC dalam satuan ppm, yang terukur oleh alat uji gas analyzer 7) Autozero (kalibrasi otomatis), akan terulang dengan selang waktu tertentu secara otomatis. Setelah proses autozero selesai, alat uji akan berada pada kondisi stand by (kondisi alat uji siap pakai). 8) Mengulangi kembali langkah-langkah diatas sebanyak tiga kali untuk masing-masing kondisi perlakuan yang akan diteliti. 9) Mematikan mesin 10) Kendaraan siap uji b. Pengukuran Emisi Gas Buang CO dan HC 1) Tidak Menggunakan Elektroliser a) Menyiapkan bahan penelitian yang akan diuji yaitu sepeda motor Honda Supra X 125 D 2007 b) Menyiapkan alat uji emisi gas buang Gas Analyzer Technotest type STARGAS 898. c) Menghidupkan mesin dan menaikkan putaran mesin hingga mencapai 1900 rpm sampai dengan 2100 rpm selama 60 detik dan selanjutnya dikembalikan pada kondisi idle. d) Melaksanakan pengukuran pada kondisi idle dengan putaran mesin rpm.
70 50 e) Memasukkan probe alat uji (gas analyzer s probe) ke pipa gas buang sedalam 30 cm. f) Setelah menunggu 20 detik, kemudian melakukan pengambilan data konsentrasi gas CO dalam satuan persen (%) dan gas HC dalam satuan ppm, yang terukur oleh alat uji gas analyzer g) Autozero (kalibrasi otomatis), akan terulang dengan selang waktu tertentu secara otomatis. Setelah proses autozero selesai, alat uji akan berada pada kondisi stand by (kondisi alat uji siap pakai). h) Mengulangi kembali langkah-langkah diatas sebanyak tiga kali untuk masing-masing kondisi perlakuan yang akan diteliti. i) Mematikan mesin setelah pengujian selesai. 2) Menggunakan Elektroliser dengan larutan KOH a) Memasang elektroliser dengan elektroda kawat tembaga diameter 1,5 mm. b) Mengulangi langkah 1) a) sampai 1) i). c) Mengganti tabung elektroliser dengan diameter kawat tembaga 2.5 mm d) Mengulangi langkah 1) a) sampai 1) i). e) Mengganti tabung elektroliser dengan diameter kawat tembaga 4.0 mm 3) Menggunakan Elektroliser dengan Larutan Na2SO4 a) Memasang elektroliser dengan elektroda kawat tembaga diameter 1,5 mm. b) Mengulangi langkah 1) a) sampai 1) i). c) Mengganti tabung elektroliser dengan diameter kawat tembaga 2.5 mm d) Mengulangi langkah 1) a) sampai 1) i). e) Mengganti tabung elektroliser dengan diameter kawat tembaga 4.0 mm f) Mengulangi langkah 1) a) sampai 1) i).
71 51 F. Analisis Data Analisis data merupakan cara yang digunakan untuk mengolah data-data yang didapatkan dari pengumpulan data dari hasil penelitian yang dilakukan. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis data deskriptif. Metode penelitian deskriptif adalah metode penelitiaan yang tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan tentang suatu variabel, gejala atau keadaan (Suharsimi Arikunto, 2006). Datadata yang terkumpul selama proses penelitian, kemudian dianalisis dengan cara merangkum dan melukiskan pengamatan dari eksperimen yang telah dilakukan. Data yang diperoleh dari hasil eksperimen ini nantinya dimasukkan ke dalam tabel, juga dalam bentuk grafik kemudian membandingkan antara sepeda motor Honda Supra-X 125D tahun 2007 yang menggunakan elektroliser dengan diameter kawat tembaga masing-masing 1,5 mm, 2,5 mm, dan 4,0 mm dengan larutan KOH dan Na2SO4 dan yang tanpa menggunakan elektroliser.
72 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini adalah penelitian eksperimen, hasil dan pembahasan yang diuraikan adalah pengujian emisi gas buang CO dan HC sepeda motor supra X 125 D dan penggunaan elektroliser dengan variasi dismater kawat tembaga dan variasi jenis larutan. Alat yang digunakan Gas Analyzer dengan merk Stargas dengan prosedur pengujian sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) pada kondisi idle dan pengujian didalam ruangan dengan suhu o C, elektroliser menggunakan diameter kawat tembaga 1,5 mm, 2,5 mm dan 4,0 mm dan larutan yang digunakan campuran Aquades dan KOH dan Na2SO4.. A. Hasil penelitian 1. Pengujian Emisi Gas Buang Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 pada Kondisi Standar tanpa Menggunakan Elektroliser Berikut merupakan hasil pengujian emisi gas buang CO dalam % dan HC dalam part per million (ppm) pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 tanpa menggunakan elektroliser dapat dilihat pada tabel 4.1 Tabel 4.1. Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC Pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 Tanpa Menggunakan Elektroliser Pengujian Karbonmonoksida (%) Hidrokarbon (ppm) Jumlah Rata-rata
73 53 Hasil dari pengujian emisi gas buang CO dan HC sebanyak tiga kali pada Honda Supra X 125D Tahun 2007 pada kondisi tanpa menggunakan elektroliser diperoleh hasil emisi gas CO terendah % dan emisi gas HC 1.991, rata-rata hasil gas CO sebesar % dan emisi gas HC sebesar 605 ppm. 2. Pengujian Emisi Gas Buang Sepeda Motor Supra X 125D Tahun 2007 dengan Menggunakan Elektroliser Larutan KOH dan Diameter Kawat Tembaga 1,5 mm Berikut merupakan hasil pengujian emisi gas buang CO dalam % dan HC dalam ppm pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 menggunakan elektroliser larutan KOH dan kawat tembaga diameter 1,5 mm dapat dilihat pada tabel 4.2. Tabel 4.2. Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC Pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 Menggunakan Elektroliser Larutan KOH Diameter Kawat Tembaga 1,5 mm. Pengujian Karbonmonoksida (%) Hidrokarbon (ppm) Jumlah Rata-rata Hasil dari pengujian emisi gas buang CO dan HC sebanyak tiga kali pada Honda Supra X 125D Tahun 2007 menggunakan elektroliser larutan KOH dan diameter kawat tembaga 1,5 mm diperoleh emisi gas CO terendah % dan HC 563 ppm dan rata-rata gas CO sebesar % dan rata-rata emisi gas HC sebesar ppm.
74 54 3. Pengujian Emisi Gas Buang Sepeda Motor Supra X 125D Tahun 2007 dengan Menggunakan Elektroliser Larutan KOH dan Diameter Kawat Tembaga 2,5 mm Berikut merupakan hasil pengujian emisi gas buang CO dalam % dan HC dalam ppm pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 menggunakan elektroliser larutan KOH dan kawat tembaga diameter 2,5 mm dapat dilihat pada tabel 4.3 Tabel 4.3. Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC Pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 Menggunakan Elektroliser Larutan KOH Diameter Kawat Tembaga 2,5 mm. Pengujian Karbonmonoksida (%) Hidrokarbon (ppm) Jumlah Rata-rata Hasil dari pengujian emisi gas buang CO dan HC sebanyak tiga kali pada Honda Supra X 125D Tahun 2007 menggunakan elektroliser larutan KOH dan diameter kawat tembaga 2,5 mm diperoleh emisi gas CO terendah % dan HC 770 ppm dan hasil rata-rata gas CO sebesar % dan emisi gas HC sebesar ppm. 4. Pengujian Emisi Gas Buang Sepeda Motor Supra X 125D Tahun 2007 dengan Menggunakan Elektroliser Larutan KOH dan Diameter Kawat Tembaga 4,0 mm. Berikut merupakan hasil pengujian emisi gas buang CO dalam % dan HC dalam ppm pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 menggunakan elektroliser larutan KOH dan kawat tembaga diameter 4,0 mm dapat dilihat pada tabel 4.4.
75 55 Tabel 4.4. Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 menggunakan Elektroliser Larutan KOH Diameter Kawat Tembaga 4,0 mm. Pengujian Karbonmonoksida (%) Hidrokarbon (ppm) Jumlah Rata-rata Hasil dari pengujian emisi gas buang CO dan HC sebanyak tiga kali pada Honda Supra X 125D Tahun 2007 menggunakan elektroliser larutan KOH dan diameter kawat tembaga 4,0 mm diperoleh emisi gas CO terendah % dan HC 1041 ppm dan hasil rata-rata gas CO sebesar % dan emisi gas HC sebesar ppm. 5. Pengujian Emisi Gas Buang Sepeda Motor Supra X 125D Tahun 2007 dengan Menggunakan Elektroliser Larutan Na2SO4 dan Diameter Kawat Tembaga 1,5 mm Berikut merupakan hasil pengujian emisi gas buang CO dalam % dan HC dalam ppm pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 menggunakan elektroliser larutan Na2SO4 dan kawat tembaga diameter 1,5 mm dapat dilihat pada tabel 4.5.
76 56 Tabel 4.5. Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC Pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 Menggunakan Elektroliser Larutan Na2SO4 Diameter Kawat Tembaga 1,5 mm. Pengujian Karbonmonoksida (%) Hidrokarbon (ppm) Jumlah Rata-rata Hasil dari pengujian emisi gas buang CO dan HC sebanyak tiga kali pada Honda Supra X 125D Tahun 2007 menggunakan elektroliser larutan Na2SO4 dan diameter kawat tembaga 1,5 mm diperoleh emisi gas CO terendah % dan HC 584 ppm dan hasil rata-rata gas CO sebesar % dan emisi gas HC sebesar 777 ppm. 6. Pengujian Emisi Gas Buang Sepeda Motor Supra X 125D Tahun 2007 dengan Menggunakan Elektroliser Larutan Na2SO4 dan Diameter Kawat Tembaga 2,5 mm. Berikut merupakan hasil pengujian emisi gas buang CO dalam % dan HC dalam ppm pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 menggunakan elektroliser larutan Na2SO4 dan kawat tembaga diameter 2,5 mm dapat dilihat pada tabel 4.6.
77 57 Tabel 4.6. Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC Pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 Menggunakan Elektroliser Larutan Na2SO4 Diameter Kawat Tembaga 2,5 mm. Pengujian Karbonmonoksida (%) Hidrokarbon (ppm) Jumlah Rata-rata Hasil dari pengujian emisi gas buang CO dan HC sebanyak tiga kali pada Honda Supra X 125D Tahun 2007 menggunakan elektroliser larutan Na2SO4 dan diameter kawat tembaga 25 mm diperoleh emisi gas CO terendah % dan HC 933 ppm dan hasil rata-rata gas CO sebesar % dan emisi gas HC sebesar 777 ppm. 7. Pengujian Emisi Gas Buang Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 dengan Menggunakan Elektroliser Larutan Na2SO4 dan Diameter Kawat Tembaga 4,0 mm. Berikut merupakan hasil pengujian emisi gas buang CO dalam % dan HC dalam ppm pada sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 menggunakan elektroliser larutan Na2SO4 dan kawat tembaga diameter 4 mm dapat dilihat pada tabel 4.7.
78 58 Tabel 4.7. Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC Pada Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 Menggunakan Elektroliser Larutan Na2SO4 Diameter Kawat Tembaga 4,0 mm. Pengujian Karbonmonoksida (%) Hidrokarbon (ppm) Jumlah Rata-rata Hasil dari pengujian emisi gas buang CO dan HC sebanyak tiga kali pada Honda Supra X 125D Tahun 2007 menggunakan elektroliser larutan Na2SO4 dan diameter kawat tembaga 4,0 mm diperoleh emisi gas CO terendah % dan HC 819 ppm dan hasil rata-rata gas CO sebesar % dan emisi gas HC sebesar ppm
79 59 8. Perbandingan Emisi Gas Buang CO dan HC tanpa Elektroliser dan Menggunakan Elektroliser a. Perbandingan Emisi Gas Buang CO tanpa Menggunakan Elektroliser dan Menggunakan Elektroliser. Berikut merupakan diagram batang perbandingan gas CO dalam % tanpa menggunakan elektroliser dan menggunakan elektroliser. Gambar 4.1. Histogram Perbandingan Emisi Gas Buang CO Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tanpa Menggunakan Elektroliser dan dengan menggunakan Elektroliser. b. Perbandingan Emisi Gas Buang HC tanpa Menggunakan Elektroliser dan Menggunakan Elektroliser. Berikut merupakan diagram batang perbandingan emisi gas buang HC dalam ppm tanpa menggunakan elektroliser dan menggunakan elektroliser.
80 60 Gambar 4.2. Histogram Perbandingan Emisi Gas Buang HC Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tanpa Menggunakan Elektroliser dan dengan Menggunakan Elektroliser. B. Analisis dan Pembahasan Dari hasil pengujian emisi gas buang CO dan HC sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 dengan variasi diameter kawat tembaga dan variasi jenis larutan dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Hasil Pengamatan Emisi Gas Buang CO dan HC Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 tanpa Menggunakan Elektroliser. Dari hasil pengujian emisi gas buang CO dan HC pada tabel 4.1 dilihat bahwa emisi gas buang CO dan HC sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 adalah CO % dan HC 605 ppm. Hasil pengujian tersebut masih dibawah ambang batas emisi gas buang yang di tetapkan oleh kementrian Negara lingkungan hidup yaitu untuk motor dibawah tahun 2010 emisi gas CO maksimal sebesar 4.5 % dan HC 2400 ppm.
81 61 2. Hasil Pengamatan Emisi Gas Buang CO dan HC Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 Menggunakan Elektroliser dengan Variasi Diameter Kawat Tembaga dan Variasi Jenis Larutan. Pada tebel 4.2 sampai dengan 4.7 adalah hasil pengujian emisi gas buang CO dan HC pada Honda Supra X 125D Tahun 2007 menggunakan elektroliser dengan larutan KOH dan Na2SO4 dan diamater kawat tembaga sebagai elektroda yaitu 1,5 mm, 2,5 mm dan 4,0 mm. penjelasanya akan diuraikan satu persatu dibawah ini. a. Hasil Emisi Gas Buang CO Dan HC Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 Menggunakan Larutan KOH dan Diameter Kawat Tembaga 1,5 mm. Hasil pengujian emisi gas buang CO pada sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 pada kondisi idle menggunakan elektroliser larutan KOH dan diameter kawat tembaga 1,5 mm adalah setelah melakukan pengujian sebanyak tiga kali dan rata-rata didapatkan hasil emisi gas CO sebesar %, terjadi penurunan gas buang CO sebesar % atau presentase penurunannya sebesar % dibanding tanpa menggunakan elektroliser. Pada emsi gas HC didapatkan hasil rata-rata sebesar ppm, terjadi peningkatan emisi gas buang HC sebesar 667 ppm atau presentase kenaikannya sebesar 4.07 % dibanding tanpa menggunakan elektroliser. b. Hasil Emisi Gas Buang CO dan HC Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 Menggunakan Larutan KOH dan Diameter Kawat Tembaga 2,5 mm. Hasil pengujian emisi gas buang CO pada sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 pada kondisi idle menggunakan elektroliser larutan KOH dan diameter kawat tembaga 2,5 mm adalah setelah melakukan pengujian sebanyak tiga kali dan rata-rata didapatkan hasil emisi gas CO sebesar %, terjadi penurunan gas buang CO sebesar % atau
82 62 presentase penurunannya sebesar % dibanding tanpa menggunakan elektroliser. Pada emsi gas HC didapatkan hasil rata-rata sebesar ppm, terjadi peningkatan emisi gas buang HC sebesar ppm atau presentase kenaikannya sebesar % dibanding tanpa menggunakan elektroliser. c. Hasil Emisi Gas Buang CO dan HC Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 Menggunakan Larutan KOH dan Diameter Kawat Tembaga 4,0 mm. Hasil pengujian emisi gas buang CO pada sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 pada kondisi idle menggunakan elektroliser larutan KOH dan diameter kawat tembaga 4,0 mm adalah setelah melakukan pengujian sebanyak tiga kali dan rata-rata didapatkan hasil emisi gas CO sebesar %, terjadi penurunan gas buang CO sebesar % atau presentase penurunannya sebesar % dibanding tanpa menggunakan elektroliser. Pada emsi gas HC didapatkan hasil rata-rata sebesar ppm, terjadi peningkatan emisi gas buang HC sebesar ppm atau presentase kenaikannya sebesar 94.6 % dibanding tanpa menggunakan elektroliser. d. Hasil Emisi Gas Buang CO dan HC Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 Menggunakan Larutan Na2SO4 dan Diameter Kawat Tembaga 1,5 mm. Hasil pengujian emisi gas buang CO pada sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 pada kondisi idle menggunakan elektroliser larutan Na2SO4 dan diameter kawat tembaga 1,5 mm adalah setelah melakukan pengujian sebanyak tiga kali dan rata-rata didapatkan hasil emisi gas CO sebesar %, terjadi penurunan gas buang CO sebesar % atau
83 63 presentase penurunannya sebesar % dibanding tanpa menggunakan elektroliser. Pada emsi gas HC didapatkan hasil rata-rata sebesar 777 ppm, terjadi peningkatan emisi gas buang HC sebesar 172 ppm atau presentase kenaikannya sebesar % dibanding tanpa menggunakan elektroliser. e. Hasil Emisi Gas Buang CO dan HC Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 Menggunakan Larutan Na2SO4 dan Diameter Kawat Tembaga 2,5 mm. Hasil pengujian emisi gas buang CO pada sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 pada kondisi idle menggunakan elektroliser larutan Na2SO4 dan diameter kawat tembaga 2,5 mm adalah setelah melakukan pengujian sebanyak tiga kali dan rata-rata didapatkan hasil emisi gas CO sebesar %, terjadi penurunan gas buang CO sebesar % atau presentase penurunannya sebesar % dibanding tanpa menggunakan elektroliser. Pada emsi gas HC didapatkan hasil rata-rata sebesar 1024 ppm, terjadi peningkatan emisi gas buang HC sebesar 419 ppm atau presentase kenaikannya sebesar % dibanding tanpa menggunakan elektroliser. f. Hasil Emisi Gas Buang CO dan HC Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 Menggunakan Larutan Na2SO4 dan Diameter Kawat Tembaga 4,0 mm. Hasil pengujian emisi gas buang CO pada sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 pada kondisi idle menggunakan elektroliser larutan Na2SO4 dan diameter kawat tembaga 4,0 mm adalah setelah melakukan pengujian sebanyak tiga kali dan rata-rata didapatkan hasil emisi gas CO sebesar %, terjadi penurunan gas buang CO sebesar % atau presentase penurunannya sebesar % dibanding tanpa menggunakan elektroliser.
84 64 Pada emsi gas HC didapatkan hasil rata-rata sebesar ppm, terjadi peningkatan emisi gas buang HC sebesar ppm atau presentase kenaikannya sebesar % dibanding tanpa menggunakan elektroliser. 3. Temuan Penelitian pada penggunaan Elektroliser dengan Variasi Diameter Kawat Tembaga dan Variasi Jenis Larutan terhadap Emisi Gas Buang CO dan HC Sepeda Motor Honda Supra X 125D Tahun 2007 Pada penelitian yang dilakukan setelah menggunakan elektroliser terjadi penurunan emisi gas buang CO namun sebaliknya terjadi peningkatan kadar emisi gas buang HC pada semua rata-rata penggunaan elektroliser dibanding keadaan standard tanpa menggunakan elektroliser, pada kondisi standar kadar emisi gas CO sebesar %, terjadi penurunan emisi gas buang CO pada penggunaan elektroliser dengan larutan KOH dan diameter kawat tembga 1,5 mm yaitu rata-rata % atau presentase penurunannya adalah % dibanding kondisi standar dan setelah menggunakan diameter kawat tembaga 2,5 mm yaitu % atau presentase penurunannya adalah 92.3 % dan menggunakan kawat tembaga 4,0 mm yaitu % atau presentase penurunannya adalah %, sedangkan pada penggunaan larutan Na2SO4 diameter kawat tembaga 1,5 mm rata-rata gas CO yang dihasilkan adalah % atau presentase penurunannya adalah sebesar %, pada diamater kawat tembaga 2,5 mm yaitu % atau presentase penurunannya adalah sebesar % dan setelah menggunakan diamater 4,0 mm yaitu % dan presentase penurunannya adalah sebesar %, emisi gas CO yang dihasilkan paling rendah adalah pada latutan KOH dengan diamater kawat tembaga 1.5 mm hal ini disebakan karena KOH merupakan elektrolit kuat dan basa kuat dengan ph 12 yang bereaksi dengan cepat ketika dialiri oleh arus listik dan pada diamater kawat tembga 1,5 mm arus listrik yang mengalir lebih rapat dan tegangannya juga lebih besar dibandingkan dengan diameter 2,5 mm dan 4,0 mm
85 65 sehingga arus listrik yang dihasilkan lebih cepat dan reaksi ini menghasilkan gas HHO dengan cepat dan lebih banyak di dalam tabung elektroliser, selanjutnya gas HHO akan ditarik ke dalam intake manifold, sehingga bercampur dan berikatan dengan rantai karbon dari bahan bakar diruang pembakaran, Elektroliser menghasilkan gas HHO (Hidrogen-Hidrogen-Oksigen) hasil dari elektrolisis air. Gas HHO terdiri atas 2 hidrogen dan 1 oksigen, penambahan gas HHO ini akan berdampak pada proses pembakaran mesin kendaraan bermotor, gas HHO ini mempunyai daya ledak yang tinggi, penambahan elektroliser menghasilkan gas HHO yang akan bercampur dengan campuran udara dan bahan bakar, gas HHO membuat pembakaran mendekati sempurna sehingga emisi gas buang CO dapat menurun. Sebalikanya pada penggunaan emisi gas HC terjadi peningkatan dibanding tanpa menggunakan elektroliser, pada kondisi standar emisi gas HC adalah rata-rata 605 ppm,pada penggunaan elektroliser larutan KOH diamater kawat tembaga 1,5 mm yaitu rata-rata yang dihasilkan ppm atau presentase kenaikannya adalah sebesar 4.07 %, pada diamater kawat tembaga 2,5 mm yaitu rata-rata ppm atau presentase kenaikannya adalah sebesar % dan setelah menggunakan diameter kawat tembaga 4,0 mm yaitu ratarata ppm atau presentase kenaikannya sebesar 94.6 % dan pada larutan Na2SO4 pada diameter kawat tembaga 1,5 mm hasil rata-rata 777 ppm atau presentase kenaikannya sebesar %, pada penggunaan kawat tembaga 2,5 mm rata-rata yaitu 1024 ppm atau presentase kenaikannya sebesar % dan setelah menggunakan diameter kawat tembaga 4,0 mm rata-rata ppm atau presentase kenaikannya sebesar %, terjadi kenaikan pada semua variasi penggunaan elektroliser dimana kenaikan terendah terjadi pada larutan KOH dan diameter kawat tembaga 1,5 mm yaitu rata-rata dan kenaikan tertinggi pada larutan KOH diameter 4,0 mm yaitu rata-rata ppm, hal ini disebabkan karena gas HHO merupakan unsur hidrogen dan titik air pada tabung juga ikut naik ke intake manifold sehingga ikut masuk keruang bakar dan
86 66 ikut terbakar sehingga gas HC yang dihasilkan meningkat, jadi terjadi penurunan gas buang CO pada semua penggunaan variasi jenis larutan dan variasi diameter kawat tembaga dan pada emisi gas buang HC terjadi kenaikan pada semua jenis variasi penggunaan diameter kawat tembaga dan variasi penggunaan larutan dan elektroliser yang paling baik adalah elektroliser dengan dimater kawat tembaga 1.5 mm dan larutan KOH yaitu CO terendah % dan HC yang paling sedikit mengalami kenaikan yaitu ppm.
87 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. SIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikan pada bab IV dan mengacu pada perumusan masalah, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Ada pengaruh penggunaan elektroliser dengan variasi diameter kawat tembaga terhadap emisi gas buang CO dan HC sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007, dari data hasil pengukuran menunjukkan bahwa kadar emisi gas buang CO lebih rendah dibandingkan sebelum menggunakan elektroliser dan kadar emisi gas buang HC lebih tinggi dibandingkan sebelum menggunakan elektroliser 2. Ada pengaruh penggunaan elektroliser dengan variasi jenis larutan terhadap emisi gas buang CO dan HC sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007, dari data hasil pengukuran menunjukkan bahwa kadar emisi gas buang CO lebih rendah dibandingkan sebelum menggunakan elektroliser dan kadar emisi gas buang HC lebih tinggi dibandingkan sebelum menggunakan elektroliser. 3. Ada pengaruh penggunaan elektroliser dengan variasi diameter kawat tembaga dan variasi jenis larutan terhada emisi gas buang CO dan HC sepeda motor Honda Supra X 125D Tahun 2007, dari data hasil pengukuran menunjukkan bahwa kadar emisi gas buang CO lebih rendah dibandingkan sebelum menggunakan elektroliser dan kadar emisi gas buang HC lebih tinggi dibandingkan sebelum menggunakan elektroliser. 4. Emisi gas buang CO paling rendah sebesar % didapatkan ketika menggunakan elektroliser diameter kawat tembaga 1.5 mm dan larutan KOH dan emisi gas buang HC terendah sebesar 605 ppm didapatkan ketika tanpa menggunakan elektroliser 5. Emis gas buang CO tertinggi yaitu % didapatkan ketika tanpa menggunakan elektroliser dan emisi gas buang HC tertinggi yaitu
88 68 didapatkan ketika menggunakan elektroliser diameter kawat tembaga 4,0 mm dan larutan KOH B. IMPLIKASI Berdasarkan hasil penelitian yang didukung oleh landasan teori yang telah dikemukakan, tentang pengaruh penggunaan elektroliser kawat tembaga dan jenis busi terhadap emisi gas buang CO dan HC pada sepeda motor Honda Beat Tahun 2010, dapat diterapkan dalam beberapa implikasi yang dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. Implikasi teoritis Penelitian ini menyelidiki pengaruh penggunaan elektroliser vatiasi dimater kawat tembaga dan variasi jenis larutan terhadap emisi gas buang CO dan HC pada sepeda motor Honda Supra x 125D. Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar pengembangan penelitian selanjutnya yang relevan sesuai dengan masalah yang dibahas sebagai bukti dan pendukung teori yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa emisi gas buang CO dan HC pada sepeda motor Honda supra X 125D dapat diturunkan salah satunya dengan cara menambahkan elektroliser kawat tembaga walaupun terjadi peningkatan emisi gas buang HC. 2. Implikasi Praktis Penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan bagi para pemakai kendaraan bermotor khususnya sepeda motor Honda supra X 125D dan para stakeholder untuk mendapatkan emisi gas buang kendaraan yang lebih ramah lingkungan dengan penggunaan elektroliser variasi larutan tembaga kawat tembaga dan varias1 larutan dimana dengan menggunakan diameter kawat tembaga 1,5 mm dan larutan didapatkan emisi gas buang CO yang rendah dinading kondisi standar tanpa menggunakan elektroliser dan peningkatan gas HC yang tidak terlalu signifikan.
89 69 C. SARAN Menurut hasil penelitian dan implikasi yang timbul, maka disampaikan saran-saran sebagai berikut: 1. Untuk pengguna kendaraan sepeda motor bisa dipasang elektroliser, karena sudah terbukti dapat menurunkan emisi gas CO secara signifikan pada sepeda motor. 2. Para pengguna sepeda motor yang ingin mengaplikasikan elektroliser menggunakan kawat tembaga hendaknya memperhatikan kebersihan kawat tembaga dengan menyikat kawat tembaganya agar produksi gas brown bisa maksimal. 3. Perlu dilakukan pengamatan lebih lanjut mengenai penempatan tabung elektroliser agar lebih efisien dan tidak menganggu kenyamanan pengendara. 4. Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai dampak penggunaan elektroliser ini untuk jangka panjang, mengingat brown gas berasal dari elektrolisis air dan ada kemungkinan air ikut masuk ke dalam silinder 5. Perlu adanya penelitian lanjutan mengenai dampak penggunaan elektroliser terhadap piston dan ruang bakar. 6. Bagi penelitian yang akan datang diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan pertimbangan pemanfaatan gas HHO sebagai bahan bakar murni.
90 DAFTAR PUSTAKA AHM. (2007). Buku Pedoman Reparasi Honda Supra X 125. Jakarta: PT. Astra Honda Motor. Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. As adi, M. (2011). Uji Pemasangan Brown Gas terhadap Performa Motor Bensin Empat Langkah. Diperoleh 18 Februari 2014, dari a/bt-vol.7-no.2-ed.nov2011/06.as%27adi_2011.pdf Badan Pusat Statistika. (2012). Jumlah Pesawat dan Kendaraan Bermotor Menurut Jenisnya, Diperoleh 03 Maret 2014, dari ek=17¬ab=25 Badan Standardisasi Nasional. (2005). Emisi Gas Buang Sumber Bergerak Bagian 3: Cara Uji Kendaran Bermotor Kategori L pada Kondisi Idle. Jakarta: Dewan Standardisasi Nasional. Basori, dkk. (2012). Electronic Petrol Injection (EPI) dan Emisi Gas Buang. Modul Pelatihan Tidak Dipublikasikan. Surakarta: Program Pendidikan Teknik Mesin JPTK FKIP Universitas Sebelas Maret. Boentarto. (2002). Menghemat Bensin Sepeda Motor. Semarang: Effhar. Bugis,H. (2009). System Management Engine.Surakarta. Pendidikan Profesi Guru FKIP UNS Surakarta. Daryanto.(2013). Prinsip Dasar Mesin Otomotif. Bandung. Alpabeta. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. (2012). Pedoman Penulisan Skripsi. Surakarta: UNS Press. Ferdiansah, I (2012). Pengaruh Penggunaan Elektroliser Kawat Tembaga Dan Jenis Busi terhadap Emisi Gas Buang CO dan HC pada Sepeda Motor Honda Beat Tahun Skripsi Tidak Dipublikasikan, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Hidayatullah, P. & Mustari, F. (2008). Rahasia Bahan Bakar Air. Jakarta: PT Cahaya Insan Suci. 70
91 71 Kamajaya. (2007). Cerdas Belajar Fisika Untuk XI Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Alam. Bandung. Grafindo Media Pratama. Kementerian Negara Lingkungan Hidup. (2006). Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Lama. Jakarta: Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Mulyanto, A. Perbandingan Konduktivitas Tembaga, Baja dan Aluminium. Diperoleh 5 Februari 2014, dari 0DAN%20ALUMINIUM.pdf Putra, A.M. (2010). Analisis Produktivitas Gas Hidrogen dan Gas Oksigen pada Elektrolisis Larutan KOH diperoleh 5 Februari 2014 dari Saputra, H.A. (2012). Penggunaan Elektroliser Kawat Tembaga dan Variasi Larutan terhadap Konsumsi Bahan Bakar pada Sepeda Motor Yamaha Mio Tahun Skripsi Tidak Dipublikasikan, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Sudirman, U. (2008). Hemat BBM dengan Air. Jakarta: PT Kawan Pustaka. Suratman. (2003). Servis dan Teknik Reparasi Sepeda Motor. Bandung: Pustaka Grafika. Waluyo, B. & Setiyo, M. (2009). Kaji Eksperimen Pengaruh Penambahan Elektroliser pada Sistem Bahan Bakar Sepeda Motor Satu Silinder C100 (Versi Elektronik). Jurnal Momentum, 5 (1), Diperoleh 8 Februari 2014 dari view/149/141 Winarti. Aplikasi Metode Elektrolisis Menggunakan Elektroda Platina (Pt), Tembaga (Cu) dan Karbon (C) Untuk Penurunan Kadar Cr dalam Limbah Cair Industri Penyamakan Kulit di Desa Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta. Diperoleh 9 maret 2014, dari
92 Lampiran 1. Surat Perijinan Daftar Hadir Seminar Proposal 72
93 73
94 74 Surat Keputusan Dekan FKIP
95 75 Surat Permohonan Ijin Menyususun Skripsi
96 76 Surat Permohonan Ijin Research/ Try Out Lab Otomotif PTM
97 77 Surat Permohonan Ijin Research/ Try Out Rektor
98 78 Lampiran 2. Hasil Print Out Pengujian Emisi Gas Buang Hasil Uji Emsis CO dan HC Tanpa Menggunakan Elektroliser
99 79 Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC Elektroliser Larutan KOH Diameter Kawat Tembaga 1.5 mm
100 80 Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC Elektroliser Larutan KOH Diameter Kawat Tembaga 2.5 mm
101 81 Hasil Pengujian Emisi Gas Buang CO dan HC Elektroliser Larutan KOH Diameter Kawat Tembaga 4.0 mm
102 82 Hasil Pengujian Emsi Gas Buang CO dan HC Larutan Na2SO4 Diameter Kawat Tembaga 1.5 mm
103 83 Hasil Pengujian Emsi Gas Buang CO dan HC Larutan Na2SO4 Diameter Kawat Tembaga 2.5 mm
104 84 Hasil Pengujian Emsi Gas Buang CO dan HC Larutan Na2SO4 Diameter Kawat Tembaga 4.0 mm
105 85 Lampiran 3. Spesifikasi Sepeda Motor Spesifikasi Honda Supra X 125D Tahun ) Dimensi Dimensi (P x L x T) : x 702x 1094 mm Jarak sumbu roda : mm Jarak terendah ke tanah : 138 mm (STD) 138 mm (CW) Berat kosong : 105 mm (STD) 103 mm (CW) 2) Tipe Mesin Tipe mesin : 4 Langkah SOHC Sistem pendinginan : Pendinginan udara Diameter x langkah : 52.4 x 57.9 mm
106 86 Volume langkah : 124,8 cc Perbandingan kompresi : 9,0 : 1 Daya maksimum : 9,3 PS / rpm (STD) 9,3 PS / rpm (CW) Torsi maksimum : 1,03 kgf.m / 4000 rpm (STD) 1,03 kgf.m / 4000 rpm (CW) Kopling : Ganda, otomatis, sentrifugal, tipe basah Starter : Pedal dan elektrik Busi : ND U20EPR9, NGK CPR6EA-9 Sistem bahan bakar : Karburator (STD) Karburator (CW) 3) Rangka Rangka : Tulang punggung Suspensi depan : Teleskopik Suspensi belakang : Lengan ayun dengan shockbreaker ganda Ukuran Ban depan : 70/ P (STD) 70/ P (CW) Ukuran Ban Belakang : 70/ P (STD) 70/ P (CW) Rem depan : Cakram hidrolik dengan piston ganda Rem belakang : Piston ganda (STD)
107 87 Tromol (CW) 4) Kapasitas Kapasitas tangki bahan bakar : 3,7 liter Kapasitas Minyak Pelumas Mesin : 0,7 liter pada penggantian periodik Transmisi : 4 kecepatan/bertautan tetap Pola pengoperan gigi : N N 5) Kelistrikan Baterai : 12 V 3,5 Ah (STD) 12 V 3,5 Ah (CW) Sistem pengapian : DC CDI (STD) DC CDI (CW) (Sumber : Spesifikasi Motor Honda, 2011 : 1)
108 88 Lampiran 4. Dokumentasi Pengujian Emsi Gas Buang CO dan HC Alat UJi Emisi Gas Buang Pengujian Tanpa Menggunakan elektroliser
109 89 Pengujian Menggunakan Elektroliser Memasukkan Probe kedalam Knalpot
110 90 Posisi Saluran Gas Elektroliser Tabung Elektroliser
111 91 Diameter Kawat Tembaga 1,5 mm, 2,5 mm dan 4,0 mm Prinout Hasil Emisi Gas Buang
112 92 Zat Kimia KOH Zat Kimia Na2SO4
PENGGUNAAN ELEKTROLISER KAWAT TEMBAGA DAN VARIASI LARUTAN TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR PADA SEPEDA MOTOR YAMAHA MIO TAHUN 2010
PENGGUNAAN ELEKTROLISER KAWAT TEMBAGA DAN VARIASI LARUTAN TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR PADA SEPEDA MOTOR YAMAHA MIO TAHUN 2010 SKRIPSI Oleh : HEPY ARI SAPUTRA K2508099 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENGARUH PENGGUNAAN TURBO ELEKTRIK DAN SARINGAN UDARA MODIFIKASI TERHADAP KADAR EMISI GAS BUANG CO DAN HC SEPEDA MOTOR HONDA SUPRA X 125 TAHUN 2009
PENGARUH PENGGUNAAN TURBO ELEKTRIK DAN SARINGAN UDARA MODIFIKASI TERHADAP KADAR EMISI GAS BUANG CO DAN HC SEPEDA MOTOR HONDA SUPRA X 125 TAHUN 2009 SKRIPSI Oleh : SURYA CATUR SUDRAJAT K 2509061 FAKULTAS
Jurnal Ilmiah Pendidikan Teknik Kejuruan (JIPTEK)
Jurnal Ilmiah Pendidikan Teknik Kejuruan (JIPTEK) Jurnal Homepage: https://jurnal.uns.ac.id/jptk PENGARUH PENGGUNAAN HYDROGEN ECO BOOSTER TIPE DRY CELL DENGAN VARIASI LARUTAN ELEKTROLIT TERHADAP TORSI
PENGARUH PENGGUNAAN ELEKTROLISER AIR
PENGARUH PENGGUNAAN ELEKTROLISER AIR DAN PEMANASAN BAHAN BAKAR BENSIN MELALUI PIPA KAPILER BERSIRIP RADIAL DI DALAM UPPER TANK RADIATOR TERHADAP EMISI GAS BUANG CO DAN HC PADA MESIN TOYOTA KIJANG SKRIPSI
PENGHEMATAN BAHAN BAKAR SERTA PENINGKATAN KUALITAS EMISI PADA KENDARAAN BERMOTOR MELALUI PEMANFAATAN AIR DAN ELEKTROLIT KOH DENGAN MENGGUNAKAN METODE
Oleh: Dyah Yonasari Halim 3305 100 037 PENGHEMATAN BAHAN BAKAR SERTA PENINGKATAN KUALITAS EMISI PADA KENDARAAN BERMOTOR MELALUI PEMANFAATAN AIR DAN ELEKTROLIT KOH DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEKTROLISIS
BAB II TINJAUAN PUSTAKA/ LANDASAN TEORI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA/ LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Bahan bakar menggunakan teknologi elektrolisis air sebetulnya bukan merupakan sesuatu yang baru. Seorang berkebangsaan Swiss, Isaac De Rivaz
PENGARUH JENIS BAHAN PIPA PADA PEMANASAN BAHAN BAKAR
PENGARUH JENIS BAHAN PIPA PADA PEMANASAN BAHAN BAKAR DAN PENAMBAHAN ETANOL PADA PREMIUM TERHADAP EMISI GAS BUANG SUZUKI SHOGUN SP 125 TAHUN 2008 SEBAGAI BAHAN AJAR MATA KULIAH MOTOR BAKAR SKRIPSI Oleh:
ANALISIS PENGGUNAAN TURBO ELEKTRIK DAN SARINGAN UDARA MODIFIKASI TERHADAP TORSI DAN DAYA PADA SEPEDA MOTOR HONDA SUPRA X 125 TAHUN 2009
ANALISIS PENGGUNAAN TURBO ELEKTRIK DAN SARINGAN UDARA MODIFIKASI TERHADAP TORSI DAN DAYA PADA SEPEDA MOTOR HONDA SUPRA X 125 TAHUN 2009 SKRIPSI Oleh : HERMAN SUWITO K 2509030 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENGARUH PENGGUNAAN HYDROCARBON CRACK SYSTEM (HCS) DENGAN VARIASI BAHAN BAKAR BENSIN TERHADAP TORSI DAN DAYA SEPEDA MOTOR SUZUKI SATRIA FU150 SKRIPSI
PENGARUH PENGGUNAAN HYDROCARBON CRACK SYSTEM (HCS) DENGAN VARIASI BAHAN BAKAR BENSIN TERHADAP TORSI DAN DAYA SEPEDA MOTOR SUZUKI SATRIA FU150 SKRIPSI Oleh: WAHYU KURNIALY K2513069 FAKULTAS KEGURUAN DAN
Pemanfaatan Elektrolisis Sebagai Alternatif Suplemen Bahan Bakar Motor Diesel Untuk Mengurangi Polusi Udara
Pemanfaatan Elektrolisis Sebagai Alternatif Suplemen Bahan Bakar Motor Diesel Untuk Mengurangi Polusi Udara Joko Suwignyo Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, IKIP Veteran Semarang Email: [email protected]
BAB II TEORI DASAR Komponen sistem pengapian dan fungsinya
BAB II TEORI DASAR 2.1 Teori Dasar Pengapian Sistem pengapian pada kendaraan Honda Supra X 125 (NF-125 SD) menggunakan sistem pengapian CDI (Capasitor Discharge Ignition) yang merupakan penyempurnaan dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini transportasi tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Transportasi dapat diartikan sebagai kegiatan pengangkutan barang oleh berbagai jenis
PENGARUH VARIASI WAKTU PENGAPIAN DAN VOLUME LARUTAN
PENGARUH VARIASI WAKTU PENGAPIAN DAN VOLUME LARUTAN ELEKTROLIT PADA ELEKTROLISER TERHADAP DAYA MESIN SUPRA X 125 TAHUN 2007 DAN PENERAPAN HASIL PENELITIAN PADA MATA KULIAH TEKNIK SEPEDA MOTOR SKRIPSI Oleh:
BAWEGA YUDOPRIMARHENTO
SKRIPSI PENGARUH PERUBAHAN WAKTU PENGAPIAN (IGNITION TIMING) TERHADAP EMISI GAS BUANG CO DAN HC PADA SEPEDA MOTOR HONDA REVO 110 CC TAHUN 2013 DENGAN BAHAN BAKAR LPG (LIQUEFIED PETROLEUM GAS) BAWEGA YUDOPRIMARHENTO
PENGARUH PENGGUNAAN TIPE ELEKTROLISER DAN JENIS LARUTAN PADA HYDROGEN ECO BOOSTER TERHADAP EMISI GAS BUANG SEPEDA MOTOR 4 TAK
PENGARUH PENGGUNAAN TIPE ELEKTROLISER DAN JENIS LARUTAN PADA HYDROGEN ECO BOOSTER TERHADAP EMISI GAS BUANG SEPEDA MOTOR 4 TAK ARTIKEL ILMIAH Oleh: ABDUL AZIZ MANGGALA SAPUTRA K2512002 FAKULTAS KEGURUAN
PENGARUH PENAMBAHAN BIODIESEL KE DALAM BAHAN BAKAR SOLAR TERHADAP OPASITAS PADA MESIN DIESEL
PENGARUH PENAMBAHAN BIODIESEL KE DALAM BAHAN BAKAR SOLAR TERHADAP OPASITAS PADA MESIN DIESEL SKRIPSI Oleh : CHOERIN AMRI K2512025 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
PENGARUH PENGGUNAAN JENIS BUSI
PENGARUH PENGGUNAAN JENIS BUSI DAN VARIASI PENAMBAHAN CAMPHOR DALAM PREMIUM TERHADAP KADAR EMISI GAS CO DAN HC PADA SEPEDA MOTOR HONDA SUPRA X 125 PGM-FI TAHUN 2006 Oleh : RIWAD GALANG CANTYAJI K2509054
PENGARUH PENAMBAHAN ETANOL PADA BAHAN BAKAR
PENGARUH PENAMBAHAN ETANOL PADA BAHAN BAKAR DAN PEMANASAN BAHAN BAKAR MELALUI PIPA BERSIRIP PERSEGI DI DALAM UPPER TANK RADIATOR TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR TOYOTA KIJANG (IMPLIKASI PADA MATA KULIAH
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan manusia yang semakin lama semakin beraneka ragam dan kemampuan yang semakin tinggi membuat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin modern
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sehingga dapat menghasilkan data yang akurat.
9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Proses pengujian panas yang dihasilkan dari pembakaran gas HHO diperlukan perencanaan yang cermat dalam perhitungan dan ukuran. Teori-teori yang berhubungan dengan pengujian yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori Apabila meninjau mesin apa saja, pada umumnya adalah suatu pesawat yang dapat mengubah bentuk energi tertentu menjadi kerja mekanik. Misalnya mesin listrik,
BAB I PENDAHULUAN. Cadangan potensial/ Potential Reserve. Cadangan Terbukti/ Proven Reserve. Tahun/ Year. Total
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Energi merupakan komponen yang selalu dibutuhkan manusia dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya karena hampir semua kegiatan manusia bergantung pada ketersediaan energi.
BAB I PENDAHULUAN. campuran beberapa gas yang dilepaskan ke atmospir yang berasal dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pencemaran udara dewasa ini semakin menampakkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sumber pencemaran udara dapat berasal dari berbagai kegiatan antara lain industri,
TUGAS AKHIR. PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN BAKAR GAS LPG TERHADAP UNJUK KERJA MOTOR 4 LANGKAH 100cc
TUGAS AKHIR PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN BAKAR GAS LPG TERHADAP UNJUK KERJA MOTOR 4 LANGKAH 100cc Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pada Fakultas Teknik Program Studi Teknik
PENGARUH VARIASI JUMLAH PLAT STAINLESS STEEL
PENGARUH VARIASI JUMLAH PLAT STAINLESS STEEL DAN VARIASI PEMASANGAN SALURAN BROWN GAS PADA ELEKTROLISER TERHADAP TORSI DAN DAYA SEPEDA MOTOR SUPRA-X 125R CW TAHUN 2010 SKRIPSI Oleh: NURBUDI CAHYONO K2509046
TUGAS SARJANA PENGUJIAN PENGGUNAAN ALAT PENGHEMAT BBM PADA MESIN BERBAHAN BAKAR BENSIN DAN SPIRITUS DITINJAU DARI ASPEK EMISI GAS BUANG
TUGAS SARJANA PENGUJIAN PENGGUNAAN ALAT PENGHEMAT BBM PADA MESIN BERBAHAN BAKAR BENSIN DAN SPIRITUS DITINJAU DARI ASPEK EMISI GAS BUANG Diajukan sebagai syarat guna memperoleh gelar sarjana strata-1 (S-1)
BAB I PENDAHULUAN.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pencemaran udara merupakan masalah yang memerlukan perhatian khusus, terutama pada kota-kota besar. Pencemaran udara berasal dari berbagai sumber, antara lain asap
BAB IV ANALISA DATA DAN PERHITUNGAN
BAB IV ANALISA DATA DAN PERHITUNGAN 4..1. Analisis Reaksi Proses Proses Pembakaran 4.1.1 Perhitungan stoikiometry udara yang dibutuhkan untuk pembakaran Untuk pembakaran diperlukan udara. Jumlah udara
TUGAS SARJANA. Pengujian Mesin Sepeda Motor Dengan Menggunakan Bahan Bakar Premium Dan Gas (LPG) Ditinjau Dari Aspek Emisi Gas Buang
TUGAS SARJANA Pengujian Mesin Sepeda Motor Dengan Menggunakan Bahan Bakar Premium Dan Gas (LPG) Ditinjau Dari Aspek Emisi Gas Buang Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Kesarjanaan
Oleh: Nuryanto K BAB I PENDAHULUAN
Pengaruh penggantian koil pengapian sepeda motor dengan koil mobil dan variasi putaran mesin terhadap konsumsi bahan bakar pada sepeda motor Honda Supra x tahun 2002 Oleh: Nuryanto K. 2599038 BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN. merupakan suatu campuran komplek antara hidrokarbon-hidrokarbon sederhana
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pencemaran udara yang diakibatkan oleh gas buang kendaraan bermotor pada akhir-akhir ini sudah berada pada kondisi yang sangat memprihatinkan dan memberikan andil yang
PENGARUH VARIASI PUTARAN MESIN DAN PEMANASAN BAHAN BAKAR BENSIN MELALUI PIPA KAPILER BERSIRIP RADIAL DI DALAM UPPER TANK
PENGARUH VARIASI PUTARAN MESIN DAN PEMANASAN BAHAN BAKAR BENSIN MELALUI PIPA KAPILER BERSIRIP RADIAL DI DALAM UPPER TANK RADIATOR TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR BENSIN PADA MESIN TOYOTA KIJANG SKRIPSI Oleh
BAB II TINJAUAN LITERATUR
BAB II TINJAUAN LITERATUR Motor bakar merupakan motor penggerak yang banyak digunakan untuk menggerakan kendaraan-kendaraan bermotor di jalan raya. Motor bakar adalah suatu mesin yang mengubah energi panas
PENGARUH ph LARUTAN NaCl DENGAN INHIBITOR ASAM ASKORBAT 200 ppm DAN PELAPISAN CAT EPOXY TERHADAP LAJU KOROSI BAJA KARBON RENDAH
PENGARUH ph LARUTAN NaCl DENGAN INHIBITOR ASAM ASKORBAT 200 ppm DAN PELAPISAN CAT EPOXY TERHADAP LAJU KOROSI BAJA KARBON RENDAH SKRIPSI Oleh : FAJAR PRATOMO K2509023 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
BAHAN BAKAR KIMIA. Ramadoni Syahputra
BAHAN BAKAR KIMIA Ramadoni Syahputra 6.1 HIDROGEN 6.1.1 Pendahuluan Pada pembakaran hidrokarbon, maka unsur zat arang (Carbon, C) bersenyawa dengan unsur zat asam (Oksigen, O) membentuk karbondioksida
ANALISIS PENCAMPURAN BAHAN BAKAR PREMIUM - PERTAMAX TERHADAP KINERJA MESIN KONVENSIONAL
FLYWHEEL: JURNAL TEKNIK MESIN UNTIRTA Homepage jurnal: http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/jwl ANALISIS PENCAMPURAN BAHAN BAKAR PREMIUM - PERTAMAX TERHADAP KINERJA MESIN KONVENSIONAL Sadar Wahjudi 1
PENGARUH PEMANASAN BAHAN BAKAR MELALUI PIPA BERSIRIP TRANSVERSAL PADA UPPER TANK
PENGARUH PEMANASAN BAHAN BAKAR MELALUI PIPA BERSIRIP TRANSVERSAL PADA UPPER TANK RADIATOR DAN PENAMBAHAN ETANOL TERHADAP EMISI GAS BUANG PADA TOYOTA KIJANG Danar Susilo Wijayanto, Ngatou Rohman, Ranto,
PENGARUH PENGGUNAAN ALAT PENGHEMAT BAHAN BAKAR BERBASIS ELEKTROMAGNETIK TERHADAP UNJUK KERJA MESIN DIESEL ABSTRAK
PENGARUH PENGGUNAAN ALAT PENGHEMAT BAHAN BAKAR BERBASIS ELEKTROMAGNETIK TERHADAP UNJUK KERJA MESIN DIESEL Didi Eryadi 1), Toni Dwi Putra 2), Indah Dwi Endayani 3) ABSTRAK Seiring dengan pertumbuhan dunia
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Teori Motor Bakar. Motor bakar torak merupakan internal combustion engine, yaitu mesin yang fluida kerjanya dipanaskan dengan pembakaran bahan bakar di ruang mesin tersebut. Fluida
PENGARUH PEMASANGAN KAWAT KASA DI INTAKE MANIFOLD TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR DAN EMISI GAS BUANG PADA MESIN BENSIN KONVENSIONAL TOYOTA KIJANG 4K
PENGARUH PEMASANGAN KAWAT KASA DI INTAKE MANIFOLD TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR DAN EMISI GAS BUANG PADA MESIN BENSIN KONVENSIONAL TOYOTA KIJANG 4K Adi Purwanto 1, Mustaqim 2, Siswiyanti 3 1 Mahasiswa
PENGARUH VARIASI LARUTAN WATER INJECTION PADA INTAKE MANIFOLD TERHADAP PERFORMA DAN EMISI GAS BUANG SEPEDA MOTOR
PENGARUH VARIASI LARUTAN WATER INJECTION PADA INTAKE MANIFOLD TERHADAP PERFORMA DAN EMISI GAS BUANG SEPEDA MOTOR Dedi Antoni 1, M. Burhan Rubai Wijaya 2, Angga Septiyanto 3 123 Jurusan Pendidikan Teknik
VARIASI PENGGUNAAN IONIZER DAN JENIS BAHAN BAKAR TERHADAP KANDUNGAN GAS BUANG KENDARAAN
VARIASI PENGGUNAAN IONIZER DAN JENIS BAHAN BAKAR TERHADAP KANDUNGAN GAS BUANG KENDARAAN Wachid Yahya, S.Pd, M.Pd Mesin Otomotif, Politeknik Indonusa Surakarta email : [email protected] Abstrak Penelitian
PENGARUH JENIS BAHAN BAKAR BENSIN DAN VARIASI RASIO KOMPRESI TERHADAP TORSI DAN DAYA PADA SEPEDA MOTOR SUZUKI SHOGUN FL 125 SP TAHUN 2007
PENGARUH JENIS BAHAN BAKAR BENSIN DAN VARIASI RASIO KOMPRESI TERHADAP TORSI DAN DAYA PADA SEPEDA MOTOR SUZUKI SHOGUN FL 125 SP TAHUN 2007 SKRIPSI Oleh: NURLIANSYAH PUTRA K2509047 FAKULTAS KEGURUAN DAN
BAB II LANDASAN TEORI. didalam udara yang menyebabkan perubahan susunan (komposisi) udara dari
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Polusi udara Polusi udara diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat asing didalam udara yang menyebabkan perubahan susunan (komposisi) udara dari keadaan normalnya. Udara
ANALISA EMISI GAS BUANG MESIN EFI DAN MESIN KONVENSIONAL PADA KENDARAAN RODA EMPAT
NO. 2, TAHUN 9, OKTOBER 2011 130 ANALISA EMISI GAS BUANG MESIN EFI DAN MESIN KONVENSIONAL PADA KENDARAAN RODA EMPAT Muhammad Arsyad Habe, A.M. Anzarih, Yosrihard B 1) Abstrak: Tujuan penelitian ini ialah
PERENCANAAN MOTOR BAKAR DIESEL PENGGERAK POMPA
TUGAS AKHIR PERENCANAAN MOTOR BAKAR DIESEL PENGGERAK POMPA Disusun : JOKO BROTO WALUYO NIM : D.200.92.0069 NIRM : 04.6.106.03030.50130 JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
LAPORAN TUGAS AKHIR. PERUBAHAN CO YANG BERAKIBAT TERHADAP BATAS NYALA PADA MESIN AVANZA 1300 cc
LAPORAN TUGAS AKHIR PERUBAHAN CO YANG BERAKIBAT TERHADAP BATAS NYALA PADA MESIN AVANZA 1300 cc Diajukan Guna Memenuhi Syarat Kelulusan Mata Kuliah Tugas Akhir Pada Program Sarjana Strata Satu (S1) Disusun
PENGARUH PEMASANGAN ELEKTROMAGNET PADA SISTEM BAHAN BAKAR DAN IGNITION BOOSTER
PENGARUH PEMASANGAN ELEKTROMAGNET PADA SISTEM BAHAN BAKAR DAN IGNITION BOOSTER PADA KABEL BUSI TERHADAP EMISI GAS BUANG CO DAN HC PADA SEPEDA MOTOR YAMAHA JUPITER Z SKRIPSI Oleh: AGUS TRIYATNO K2509003
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Observasi terhadap analisis pengaruh jenis bahan bakar terhadap unjuk kerja
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Observasi terhadap analisis pengaruh jenis bahan bakar terhadap unjuk kerja mesin serta mencari refrensi yang memiliki relevansi terhadap judul
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Umum Motor Bensin Motor adalah gabungan dari alat-alat yang bergerak (dinamis) yang bila bekerja dapat menimbulkan tenaga/energi. Sedangkan pengertian motor bakar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi dari waktu ke waktu mengalami kemajuan yang sangat pesat terutama dalam bidang transportasi khususnya kendaraan bermotor. Dalam bidang
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Motor Bensin Motor bensin adalah suatu motor yang menggunakan bahan bakar bensin. Sebelum bahan bakar ini masuk ke dalam ruang silinder terlebih dahulu terjadi percampuran bahan
ANALISIS PERBANDINGAN KADAR GAS BUANG PADA MOTOR BENSIN SISTEM PENGAPIAN ELEKTRONIK (CDI) DAN PENGAPIAN KONVENSIONAL
ANALISIS PERBANDINGAN KADAR GAS BUANG PADA MOTOR BENSIN SISTEM ELEKTRONIK (CDI) DAN Ir. Adnan Surbakti MT Dosen Tetap ATI Immanuel Medan Abstrak Sistem pengapian CDI (capacitor discharge ignition) merupakan
Mesin uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah sepeda motor 4-
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Alat dan Bahan Pengujian. Spesifikasi Sepeda Motor 4-langkah Mesin uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah sepeda motor 4- langkah. Adapun spesifikasi dari mesin uji
Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin Makassar 2
PENGARUH SISTEM PEMBAKARAN TERHADAP JENIS DAN KONSENTRASI GAS BUANG PADA SEPEDA MOTOR BERDASARKAN TAHUN PEMBUATAN DENGAN SISTEM PENGAPIAN AC DAN DC Satriyani 1,Bualkar Abdullah 1, Sri Suryani 1, Abdul
PENGARUH PEMANASAN BAHAN BAKAR MELALUI PIPA BERSIRIP SPIRAL PADA UPPER TANK
PENGARUH PEMANASAN BAHAN BAKAR MELALUI PIPA BERSIRIP SPIRAL PADA UPPER TANK RADIATOR DAN PENAMBAHAN BIODIESEL DALAM SOLAR TERHADAP EMISI GAS BUANG PADA MESIN DIESEL MITSUBISHI L300 SKRIPSI Oleh : DIKI
Surya Didelhi, Toni Dwi Putra, Muhammad Agus Sahbana, (2013), PROTON, Vol. 5 No 1 / Hal 23-28
STUDI PENGARUH ACTIVE TURBO CYCLONE TERHADAP EMISI GAS BUANG PADA MOTOR BENSIN 4 TAK 1 SILINDER Surya Didelhi 1), Toni Dwi Putra 2), Muhammad Agus Sahbana 3) ABSTRAK Semakin banyaknya jumlah kendaraan
Pengaruh variasi celah reed valve dan variasi ukuran pilot jet, main jet terhadap konsumsi bahan bakar pada sepeda motor Yamaha F1ZR tahun 2001
Pengaruh variasi celah reed valve dan variasi ukuran pilot jet, main jet terhadap konsumsi bahan bakar pada sepeda motor Yamaha F1ZR tahun 2001 Ahmad Harosyid K.2599014 UNIVERSITAS SEBELAS MARET BAB I
MAKALAH DASAR-DASAR mesin
MAKALAH DASAR-DASAR mesin Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Pelajaran Teknik Dasar Otomotif Disusun Oleh: B cex KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah swt, karena atas limpahan rahmatnya,
Pengaruh Tabung Evaporasi Pada Instalasi Generator Hidrogen. Terhadap Kandungan Polutan Gas Sisa Pembakaran Pada Motor Statis Honda Supra
Pengaruh Tabung Evaporasi Pada Instalasi Generator Hidrogen Terhadap Kandungan Polutan Gas Sisa Pembakaran Pada Motor Statis Honda Supra Dengan Bahan Bakar Bensin Super Ekstra 95 Produksi Shell Christofel
PENGARUH SISTEM PEMBAKARAN TERHADAP JENIS DAN KONSENTRASI GAS BUANG PADA SEPEDA MOTOR
PENGARUH SISTEM PEMBAKARAN TERHADAP JENIS DAN KONSENTRASI GAS BUANG PADA SEPEDA MOTOR 110cc SILINDER TUNGGAL/MENDATAR DENGAN SISTEM PENGAPIAN DC (Direct Current) Nur Musfirah 1, Bualkar Abdullah 1, Sri
Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM).
Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM). Pertemuan ke Capaian Pembelajaran Topik (pokok, subpokok bahasan, alokasi waktu) Teks Presentasi Media Ajar Gambar Audio/Video Soal-tugas Web Metode Evaluasi
Gambar 1. Motor Bensin 4 langkah
PENGERTIAN SIKLUS OTTO Siklus Otto adalah siklus ideal untuk mesin torak dengan pengapian-nyala bunga api pada mesin pembakaran dengan sistem pengapian-nyala ini, campuran bahan bakar dan udara dibakar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu dan teknologi di dunia terus berjalan seiring dengan timbulnya masalah yang semakin komplek diberbagai bidang kehidupan, tidak terkecuali dalam
BAB I PENDAHULUAN. hidup manusia karena hampir semua aktivitas kehidupan manusia sangat tergantung
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan kebutuhan energy di Indonesia merupakan masalah yang serius dalam kehidupan manusia.energy merupakan komponen penting bagi kelangsungan hidup manusia karena
ANALISIS APLIKASI TURBO CYCLONE, HIDROGEN BOOSTER, DAN WATER INJEKSI TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR DAN EMISI GAS BUANG MOTOR BENSIN 110 CC
ANALISIS APLIKASI TURBO CYCLONE, HIDROGEN BOOSTER, DAN WATER INJEKSI TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR DAN EMISI GAS BUANG MOTOR BENSIN 110 CC M. Firdaus Jauhari (1), Ricky Harnoko (1) dan Untung (1) (1) Staf
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam perkembangan teknologi yang terjadi saat ini banyak sekali inovasi baru yang tercipta khususnya di dalam dunia otomotif. Dalam perkembanganya banyak orang yang
Setiawan M.B., et al., Pengaruh Molaritas Kalium Hidroksida Pada Brown Hasil Elektrolisis Terhadap.
1 Pengaruh Molaritas Kalium Hidroksida Pada Brown Gas Hasil Elektrolisis Terhadap Unjuk Kerja Dan Emisi (Pada Motor Bakar 4 Langkah) (The Influence of Potassium Hydroxide Molarity on Brown's Gas from the
BAB II LANDASAN TEORI. Sebelum bahan bakar ini terbakar didalam silinder terlebih dahulu dijadikan gas
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Motor Bensin Motor bensin adalah suatu motor yang mengunakan bahan bakar bensin. Sebelum bahan bakar ini terbakar didalam silinder terlebih dahulu dijadikan gas yang kemudian
PENGARUH PEMANASAN BAHAN BAKAR PADA RADIATOR TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR DAN KADAR EMISI GAS BUANG DAIHATSU HIJET Suriansyah Sabaruddin 1)
Widya Teknika Vol.18 No.2; Oktober 2010 ISSN 1411 0660 : 50-54 PENGARUH PEMANASAN BAHAN BAKAR PADA RADIATOR TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR DAN KADAR EMISI GAS BUANG DAIHATSU HIJET 1000 Suriansyah Sabaruddin
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bahan Bakar Bahan bakar yang dipergunakan motor bakar dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok yakni : berwujud gas, cair dan padat (Surbhakty 1978 : 33) Bahan bakar (fuel)
PENGARUH PENGGUNAAN BUSI PIJAR SEBAGAI PEMANAS BAHAN BAKAR
PENGARUH PENGGUNAAN BUSI PIJAR SEBAGAI PEMANAS BAHAN BAKAR TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR DAN EMISI GAS BUANG CO DAN HC PADA SEPEDA MOTOR JUPITER Z TAHUN 2008 SEBAGAI PENGAYAAN MATA KULIAH SEPEDA MOTOR
Denny Haryadhi N Motor Bakar / Tugas 2. Karakteristik Motor 2 Langkah dan 4 Langkah, Motor Wankle, serta Siklus Otto dan Diesel
Karakteristik Motor 2 Langkah dan 4 Langkah, Motor Wankle, serta Siklus Otto dan Diesel A. Karakteristik Motor 2 Langkah dan 4 Langkah 1. Prinsip Kerja Motor 2 Langkah dan 4 Langkah a. Prinsip Kerja Motor
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas lingkungan yang baik merupakan hal penting dalam menunjang kehidupan manusia di dunia.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas lingkungan yang baik merupakan hal penting dalam menunjang kehidupan manusia di dunia. Dewasa ini, penurunan kualitas lingkungan menjadi bahan petimbangan
ANALISIS PENGGUNAAN X POWER
ANALISIS PENGGUNAAN X POWER DAN VARIASI CAMPURAN BAHAN BAKAR PREMIUM ETANOL TERHADAP KADAR GAS POLUTAN CO DAN HC PADA SEPEDA MOTOR SUPRA X 125 TAHUN 2009 Suparyanto, Karno MW, dan Basori Prodi. Pendidikan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
digilib.uns.ac.id BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori Dan Penelitian yang Relevan 1. Kajian Teori a. Sepeda Motor Honda Supra-X 125D Tahun 2007 Sepeda motor honda Supra-X 125D merupakan sepeda motor
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI A. SEJARAH MOTOR DIESEL Pada tahun 1893 Dr. Rudolf Diesel memulai karier mengadakan eksperimen sebuah motor percobaan. Setelah banyak mengalami kegagalan dan kesukaran, mak akhirnya
STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH PENGGUNAAN CATALYTIC CONVERTER TERHADAP EMISI GAS BUANG PADA MOTOR YAMAHA Rx-King TAHUN PEMBUATAN 2006
STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH PENGGUNAAN CATALYTIC CONVERTER TERHADAP EMISI GAS BUANG PADA MOTOR YAMAHA Rx-King TAHUN PEMBUATAN 2006 RIMAN SIPAHUTAR 1* 1 Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hidrogen Hidrogen adalah unsur kimia terkecil karena hanya terdiri dari satu proton dalam intinya. Simbol hidrogen adalah H, dan nomor atom hidrogen adalah 1. Memiliki berat
PENGARUH MEDAN ELEKTROMAGNET TERHADAP EMISI GAS BUANG PADA MOTOR BENSIN 4 TAK 1 SILINDER
PENGARUH MEDAN ELEKTROMAGNET TERHADAP EMISI GAS BUANG PADA MOTOR BENSIN 4 TAK 1 SILINDER Suriansyah 1) ABSTRAK Semakin menipisnya persediaan bahan bakar serta mahalnya harga bahan bakar ini di Indonesia,
Emisi gas buang Sumber bergerak Bagian 3 : Cara uji kendaraan bermotor kategori L Pada kondisi idle SNI
Emisi gas buang Sumber bergerak Bagian 3 : Cara uji kendaraan bermotor kategori L Pada kondisi idle SNI 19-7118.3-2005 Daftar Isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif...
II. TEORI DASAR. kelompokaan menjadi dua jenis pembakaran yaitu pembakaran dalam (Internal
II. TEORI DASAR A. Motor Bakar Motor bakar adalah suatu pesawat kalor yang mengubah energi panas menjadi energi mekanis untuk melakukan kerja. Mesin kalor secara garis besar di kelompokaan menjadi dua
BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya pembangunan fisik kota dan pusat-pusat industri, kualitas udara
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Udara merupakan faktor yang penting dalam kehidupan, namun dengan meningkatnya pembangunan fisik kota dan pusat-pusat industri, kualitas udara telah mengalami
I. PENDAHULUAN. premium dan solar. Kelangkaan terjadi hampir di seluruh kabupaten dan kota di
1 I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Warga Lampung kini amat disulitkan akibat langkanya bahan bakar minyak jenis premium dan solar. Kelangkaan terjadi hampir di seluruh kabupaten dan kota di provinsi Lampung.
KAJIAN PENGARUH BAHAN BAKAR PREMIUN PERTAMAX, PERTAMAX PLUS DAN VAREASI RASIO KOMPRESI TERHADAP KADAR EMISIS GAS BUANG CO DAN HC PADA SEPEDA MOTOR
KAJIAN PENGARUH BAHAN BAKAR PREMIUN PERTAMAX, PERTAMAX PLUS DAN VAREASI RASIO KOMPRESI TERHADAP KADAR EMISIS GAS BUANG CO DAN HC PADA SEPEDA MOTOR Jarot Hari Astanto, ST, MT Sfaf Pengajar, Program Studi
Skripsi. Oleh : PURWANTO K
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN ANALISIS INTEGRAL MATA KULIAH MATEMATIKA TEKNIK II MELALUI PEMBELAJARAN MODEL KONSTRUKTIVISME MAHASISWA PROGRAM PENDIDIKAN TEKNIK MESIN UNIVERSITAS SEBELAS MARET TAHUN ANGKATAN
SKRIPSI PENGARUH VARIASI RASIO KOMPRESI DAN PENINGKATAN NILAI OKTAN TERHADAP EMISI GAS BUANG PADA SEPEDA MOTOR EMPAT LANGKAH
SKRIPSI PENGARUH VARIASI RASIO KOMPRESI DAN PENINGKATAN NILAI OKTAN TERHADAP EMISI GAS BUANG PADA SEPEDA MOTOR EMPAT LANGKAH Oleh : I Nyoman Darmaputra 0804305009 JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS
2.2.3 Persentil Konsep Perancangan dan Pengukuran Concept Scoring Hidrogen Karbon Monoksida 2-25
ABSTRAK Sepeda motor menjadi kendaraan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Selain mudah dan praktis dalam penggunaannya, konsumsi bahan bakar yang lebih rendah daripada mobil membuat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. Tinjauan Pustaka Nurdianto dan Ansori, (2015), meneliti pengaruh variasi tingkat panas busi terhadap performa mesin dan emisi gas buang sepeda motor 4 tak.
Pengaruh Penambahan Senyawa Acetone Pada Bahan Bakar Bensin Terhadap Emisi Gas Buang
LJTMU: Vol. 03, No. 02, Oktober 2016, (61-66) ISSN Print : 2356-3222 ISSN Online: 2407-3555 http://ejournal-fst-unc.com/index.php/ljtmu Pengaruh Penambahan Senyawa Acetone Pada Bahan Bakar Bensin Terhadap
DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. LEMBAR PENGESAHAN... ii. KATA PENGANTAR... iii. ABSTRAK... vi. ABSTRACT... vii. DAFTAR ISI... viii. DAFTAR TABEL...
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii KATA PENGANTAR... iii ABSTRAK... vi ABSTRACT... vii DAFTAR ISI... viii DAFTAR TABEL... xv DAFTAR GAMBAR... xviii BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar
PENGARUH FILTER UDARA PADA KARBURATOR TERHADAP UNJUK KERJA MESIN SEPEDA MOTOR
PENGARUH FILTER UDARA PADA KARBURATOR TERHADAP UNJUK KERJA MESIN SEPEDA MOTOR Naif Fuhaid 1) ABSTRAK Sepeda motor merupakan produk otomotif yang banyak diminati saat ini. Salah satu komponennya adalah
Pengaruh modifikasi diameter venturi dan pemasangan turbo cyclone terhadap daya mesin pada sepeda motor FIZR 2003
Pengaruh modifikasi diameter venturi dan pemasangan turbo cyclone terhadap daya mesin pada sepeda motor FIZR 2003 Tri Sularto NIM. K.2502062 UNIVERSITAS SEBELAS MARET BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
STUDI PERBANDINGAN PANJANG KRITIS PADA BEBERAPA MACAM SERAT ALAM DENGAN METODE PULL OUT FIBER TEST
STUDI PERBANDINGAN PANJANG KRITIS PADA BEBERAPA MACAM SERAT ALAM DENGAN METODE PULL OUT FIBER TEST SKRIPSI Oleh: MUHAMMAD KHOIRUDDIN K2507029 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
