BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang
|
|
|
- Suryadi Tan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Kehadiran anak memberikan kebahagiaan yang lebih di tengah tengah keluarga dan membawa berbagai perubahan yang berdampak positif pada keluarga. Perubahan yang mendasar ini berkaitan dengan status baru sebagai orangtua, yakni orangtua memiliki kewajiban dan tanggung jawab dalam mengasuh anak (Akbar, dalam Khusnah, 2016: 1). Orangtua berharap anak yang terlahir sehat baik secara fisik maupun mental, karena anak adalah generasi penerus bagi keluarga. Pada kenyataannya, tidak semua orangtua memiliki anak yang lahir sehat secara fisik ataupun mental. Orangtua dengan anak berkebutuhan khusus harus menerima kenyataan bahwa anak mereka memiliki kekurangan. Dalam perjalanannya kemudian, keluarga menghadapi banyak masalah dan tantangan karena memiliki anak berkebutuhan khusus (Saniya, 2016: 1). Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki kondisi kekurangan pada fisik, perkembangan, perilaku ataupun emosional dan memerlukan layanan yang berbeda dari anak-anak pada umumnya (Wong, Hockenberry-Eaton, M., Wilson, Winkelstein,& Schwartz, 2008: 657). Batasan pengertian anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang memiliki keterbelakangan mental, kerusakan/gangguan pendengaran (termasuk ketulian), kerusakan/gangguan bicara atau bahasa, kerusakan/gangguan penglihatan (termasuk kebutaan), gangguan emosional yang serius, kerusakan/gangguan ortopedik, autisme, kerusakan otak, kerusakan/gangguan kesehatan lainnya atau gangguan belajar tertentu sehingga membutuhkan pendidikan dan pelayanan khusus dari orang-orang yang berada di sekitarnya (Wilmshurst & Brue, 2005: 17). 1
2 Keterbatasan dalam merawat anak berkebutuhan khusus juga akan berdampak pada sisi emosi orangtua karena harapan orangtua tidak terpenuhi. Hal tersebut diperkuat oleh Mangunsong (2011: 163) bahwa reaksi umum yang terjadi pada orangtua adalah perasaan sedih, kecewa, adanya rasa bersalah, bahkan menolak dan marah. 2 Oleh karena anak berkebutuhan khusus sangat membutuhkan layanan yang khusus, orangtua yang merawat dan membesarkan anak berkebutuhan khusus akan dapat dengan mudahnya mengalami stres yang tinggi, dikarenakan harus mengantarkan anak untuk terapi, merawat anak selama di rumah, memberikan pendidikan dan mengusahakan layanan kesehatan yang dibutuhkan oleh anak di mana semuanya itu membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Berikut ini adalah kutipan wawancara dengan salah satu orangtua dari anak berkebutuhan khusus: sampai saat ini saya masih kecewa karena anak saya lahir normal tetapi karena sakit panas menyebabkan dia seperti ini, secara pengasuhan saya mengasuh seperti anak normal namun susahnya ya ketika dia tidak mau datang ke terapis (Ibu I, 35tahun) Berdasarkan wawancara di atas, tampak bahwa hal terberat dalam pengasuhan anak berkebutuhan khusus adalah ketika ibu harus mengantarkan anaknya mengikuti terapi. Ibu harus menghadapi perilaku anaknya yang bermasalah seperti saat anak menunjukkan perilaku agresi atau melawan, anak tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari yang membuat ibu harus selalu membantu dan mendampingi anaknya. Di sisi lain, orangtua masih mengalami masalah untuk menerima kondisi
3 3 anaknya seperti yang dinyatakan dalam wawancara bahwa perasaan awal saat mengetahui kondisi anak adalah kaget, dan kecewa. Hal yang serupa juga dialami oleh salah satu orangtua lain yang peneliti wawancarai : saya kaget ketika saya mengasuh anak autis karena saya merasa kebingungan bagaimana cara merawatnya apalagi ketika anak itu masuk usia sekolah dimana anak saya harus beradaptasi dengan orang baru dengan perilaku anak saya yang agresi. (Ibu N, 38 tahun) Berdasarkan wawancara di atas, tampak bahwa hal terberat dalam pengasuhan anak autis adalah Ibu N merasa kebingungan dalam merawat anak tersebut. Di sisi lain, ketika anak tersebut masuk usia sekolah, anak tersebut harus beradaptasi dengan orang baru, sehingga dapat memicu munculnya perilaku anak yang agresif (seperti memukul). Hal yang serupa juga dialami oleh salah satu orangtua lain yang peneliti wawancarai: saya sedih ketika saya mengasuh anak saya, saya merasa cemas (keluar keringat dingin) dan down ketika itu terjadi pada diri saya, seperti halnya bagaimana cara merawat anak tersebut dengan kondisi yang berbeda dengan anak yang lainnya. Apalagi ketika anak saya berperilaku aneh yang membuat saya semakin marah dan menyalahkan diri saya sendiri (Ibu L, 30 tahun) Berdasarkan wawancara di atas, tampak bahwa hal terberat dalam pengasuhan anak autis adalah ibu merasa cemas dan merasa down, karena cara merawat anak autis berbeda dengan mengasuh anak pada umumnya, sehingga ketika anak berperilaku aneh, hal ini membuat ibu tersebut
4 menjadi semakin marah dan menyalahkan dirinya sendiri. Hal yang serupa juga dialami oleh salah satu orangtua lain yang peneliti wawancarai: dibilang tidak kecewa ya bohonglah, awalnya saya merasa kecewa berat, karena anak saya lahir sudah tidak memiliki telinga dan kaki yang lumpuh, harapan saya kan lahir normal, seperti anak pada umumnya, tetapi suami saya memberi semangat saya jadi tidak merasa down sekali (Ibu R, 38 tahun) 4 Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pengalaman menimbulkan stres yang signifikan dibandingkan dengan penyebab stres yang lain pada orangtua dari anak berkebutuhan khusus (Lyons, Leon, Phelps, & Dunleavy, dalam Sa diyah, 2010: 10). Penelitian lain menunjukkan, bahwa penurunan dukungan sosial dari keluarga dekat akan meningkatkan tekanan psikologis yang dialami oleh ibu (Bromley, Hare, Davison, & Emerson, 2004: 8). Secara khusus, ibu mengalami stres yang lebih besar dibandingkan dengan ayah (Tehee, Honan, & Hevey, 2009: 7). Gejala-gejala depresi lebih sering nampak pada ibu dibandingkan dengan ayah dari anak berkebutuhan khusus. (Davis & Carter, 2008). Hal inilah yang membuat peneliti membatasi subjek penelitian pada ibu dari anak berkebutuhan khusus. Selain itu, agar tidak meluas, peneliti juga membatasi jenis gangguan dan usia dari anak berkebutuhan khusus, yakni anak yang mengalami gangguan perkembangan seperti autisma dan yang berusia 6-12 tahun. Hal ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Pakenham (2005 dalam Sari, Maridawan, & Prakoso, 2011: 6) dan McGrath (2006 dalam Sari, Mardiawan & Prakoso, 2011 : 9) yang menunjukkan bahwa ibu yang memiliki anak dengan autisma mengalami stres yang lebih besar
5 5 dan penyesuaian diri yang lebih sulit dibandingkan dengan ibu yang memiliki anak dengan kesulitan fisik dan intelektual lainnya. Sementara itu, usia 6-12 tahun dipilih, karena anak pada usia tersebut berada pada akhir masa kanak-kanak (Hurlock, 2002: 42) di mana anak sudah mulai mandiri dan menunjukkan perkembangan emosional seperti mengenali emosi, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan dengan orang lain (Desmita, 2010: 35). Oleh karena anak berkebutuhan khusus, seperti autisma memiliki kekurangan dalam perkembangan ini, maka orangtua diduga mengalami stres yang cukup besar. Seperti diketahui, gejala autisme antara lain adalah tidak adanya kontak mata dan anak tidak menunjukkan respons terhadap lingkungan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Wardhani (2009: 9) pada anak dengan autisme berusia 7-15 tahun menunjukkan bahwa anak mengalami masalah dalam berkomunikasi, tidak memberikan respon tapi hanya mendengarkan saja. Hal ini menimbulkan stres pada orangtua karena orangtua khawatir meninggalkan anak sendirian di sekolah. Orangtua tersebut, takut jika anaknya mengalami kesusahan, karena tidak bisa berinteraksi dengan guru dan teman-temannya di sekolah. Reaksi-reaksi stres psikologis dialami oleh ibu yang memiliki anak autis, seperti kecemasan, ketegangan, kebingungan, mudah tersinggung, perasaan frustrasi terhadap diri sendiri, rasa marah, sensitif, menarik diri dari orang lain, komunikasi yang kurang baik dengan lingkungan dan kurangnya rasa percaya diri, terhadap orang lain, serta penarikan diri dari orang lain yang disebabkan karena perilaku anak yang cenderung agresif, dan hal ini dapat menyebabkan munculnya depresi.
6 6 Berikut ini adalah kutipan wawancara oleh peneliti dengan salah satu orangtua dari anak berkebutuhan khusus yang mengalami gangguan autisme yang memiliki masalah dalam berbahasa dan berbicara: Saat ini, saya masih merasa sedih padahal jika dilihat usia, anak saya usianya sudah 7 tahun, tetapi rasa sedih saya tidak bisa hilang karena anak saya mengalami kesulitan dalam berbahasa dan berbicara sehingga perkataan yang diucapkan susah untuk dipahami dan saya sulit memahami keinginan atau apa yang dibutuhkan anak saya. (Ibu K, 32 tahun) Berdasarkan hasil wawancara, tampak bahwa ibu K mengalami stress, karena anak saya mengalami kesulitan dalam berbahasa dan berbicara. Menurut Wahjono (2010: 82), stres adalah reaksi tubuh yang digunakan untuk mempertahankan diri sendiri dari tekanan secara psikis, supaya manusia tetap waspada untuk menghindari bahaya yang akan dialaminya dan biasanya kondisi tersebut apabila berlangsung lama dapat menimbulkan perasaan cemas, takut dan tegang. Menurut Selye (1998: 56), stres juga memiliki dampak positif dan negatif bagi kehidupan seseorang, dampak positifnya, adalah meningkatnya semangat seseorang dalam menyelesaikan suatu pekerjaan yang dimilikinya dan dampak negatif dari stres adalah seseorang mudah mengalami penyakit seperti hipertensi, dan gejala lainnya seperti depresi dan kecemasan. Pada tingkat stres yang berat, orangtua dapat mengalami depresi atau kehilangan rasa percaya diri. Akibatnya, ia lebih banyak menarik diri dari lingkungan dan menyembunyikan anak dari lingkungan sekitar karena terjadi rasa takut terhadap penolakan lingkungan terkait dengan kehadiran anaknya (Bromley, Hare, Davison, & Emerson, 2004: 6 ).
7 7 Faktor-faktor yang mempengaruhi stres menurut Wahjono (2010 : 45) adalah lingkungan, sekolah dan individu. Peneliti tertarik untuk mengungkap salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya stress, yakni karakteristik atau sifat individu. Beberapa penelitian mengungkap peran dari faktor kepribadian seperti neuroticm terhadap kecemasan dan stres. Jika seseorang memiliki skor yang tinggi pada kepribadian neuroticism, maka orang tersebut akan mengalami sikap negatif yang kronik (Watson & Clark, 1984, dalam McCrae & John, 1996 : 6). Orang dengan sikap ini mudah tegang, depresi, frustasi, merasa bersalah, sering berpikir kurang rasional, rendah diri, memiliki kontrol impuls dan keinginan yang rendah, serta menunjukkan keluhan somatik (McCrae & John, 1996: 7). Berkebalikan dengan kepribadian neuroticism, individu dengan emosi yang positif seperti gratitude menunjukkan well-being yang baik. Beberapa hasil penelitian tentang pribadi yang mudah bersyukur (grateful personality) menunjukkan bahwa orang dengan grateful personality tampak lebih suka membantu, lebih religus, lebih ekstrover, dan lebih mudah bersosialisasi (McCullough, Emmons, & Tsang, 2002 dalam Setiadi, 2016: 76 ). Orang tersebut juga lebih mudah memaafkan dan lebih puas akan hidupnya (Adler & Fagley, 2005 dalam Setiadi, 2016: 77), lebih banyak merasakan emosi positif dari pada emosi negatif (McCullough, Emmons & Tsang, 2002 dalam Setiadi, 2016: 77). Mereka tidak begitu materilistik, lebih jarang merasa iri dan lebih rendah derajat kecemasan dan depresinya dari pada mereka yang tidak memiliki grateful personality (McCullough, Emmons & Tsang, 2002 dalam Setiadi, 2016: 77). Gratitude adalah suatu perasaan menyenangkan yang khas yang berwujud rasa syukur atau terima kasih yang muncul, ketika individu menerima kebaikan (kindness, compassion, love), manfaat (benefit), atau
8 bantuan altruistik dari pihak lain terutama hal-hal yang sebenarnya tidak layak diterima, yaitu hal-hal yang bukan disebabkan oleh upaya sendiri (Emmons & McCullough, 2004 dalam Setiadi, 2016: 71). Gratitude merupakan salah satu bentuk perilaku dari emosi positif dan bertolak belakang dengan perilaku cemas, cemburu, marah serta bentuk perilaku negatif lainnya (Emmons & McCullough, 2004: 12). Menurut Emmons dan McCullough (2004: 12), gratitude adalah pengalaman seseorang, ketika menerima sesuatu yang berharga, dan merupakan ungkapan perasaan seseorang yang menerima perlakuan baik dari orang lain. Gratitude dapat mengubah seseorang menjadi lebih baik, bijaksana dan menciptakan keharmonisan antara dirinya dengan lingkungan (Emmons, 2007 dalam Setiadi, 2016: 72). Gratitude sebagai kecenderungan bertingkah laku yang sifatnya menetap (trait) dapat menjadi bagian dari jati diri seseorang (part of character), serta merupakan kekuatan moral yang menggerakkan dan mengarahkan hidup seseorang untuk memberikan kontribusi khas dari dirinya (Emmons, 2007 dalam Setiadi, 2016: 76). Gratitude juga dinampakkan oleh ibu dengan anak gangguan autis, seperti yang terlihat dalam wawancara berikut ini: Awalnya saya merasa sedih dan kecewa, tetapi saya selalu bersyukur dan berdoa, yang terpenting adalah menerima apa adanya yang sudah Tuhan berikan dan kita harus merawat anak tersebut kalau kita tidak merawat anak tersebut itu akan dosa. Dengan kondisi seperti saya tetap merawat anak saya seperti anak pada umumnya atau anak normal. Kita punya anak harus tetap semangat apapun yang terjadi pada anak tersebut (Ibu O, 52 tahun ) 8
9 9 Penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki sifat grateful cenderung menunjukkan kecemasan dan depresi yang lebih rendah dari pada mereka yang tidak memiliki grateful personality (McCullough, Emmons, & Tsang, 2002: 13). Berdasarkan hal inilah maka diperkirakan bahwa gratitude dapat mengurangi stres yang dialami oleh orangtua anak berkebutuhan khusus. Lebih jauh, beberapa penelitian menyebutkan bahwa gratitude adalah salah satu bentuk dari emosi positif. Adanya emosi positif ini penting, sebagai protective factor agar individu menjadi pribadi yang resilien dalam melampaui kondisi yang penuh tekanan (Tugade & Frederickson, 2004; Tugade, Fredrickson & Barrett, 2004; Ong, Bergeman, Bisconti & Wallace, 2006 dalam Setiadi, 2016: 18). Dengan demikian, pada orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, yang sering bersyukur, mereka akan mengalami banyak emosi positif yang dapat membantunya untuk menjadi pribadi yang resilien atau tangguh di saat menghadapi tekanan yang dirasakan dalam merawat anak berkebutuhan khusus. Emosi positif inilah yang akan menuntun orangtua anak berkebutuhan khusus untuk bangkit dalam mengalami situasi yang menekan. Jika salah satu orangtua memiliki karakteristik bersyukur, maka ia akan mengalami sejahtera dalam dirinya dan mengalami stres dengan tingkatan rendah, namun jika orangtua kurang memiliki rasa bersyukur, maka ia cenderung kurang merasa sejahtera dan mudah mengalami stres yang tinggi. Individu yang memiliki tingkat syukur yang tinggi cenderung memiliki kebahagiaan yang tinggi sehingga lebih puas diri dan optimis dibandingkan dengan individu yang tidak bersyukur. Selain itu rasa bersyukur yang tinggi akan memunculkan emosi yang positif yang
10 10 selanjutnya memunculkan evaluasi diri yang positif (Wood, Joseph & Maltby dalam (Ratnayanti & Wahyuningrum, 2016: 6). Penelitian ini hendak mengkaji keterkaitan antara gratitude dengan stres yang dialami oleh orangtua dari anak berkebutuhan khusus. Sejauh ini belum ada penelitian yang melihat keterkaitan di antara kedua variabel tersebut pada orangtua dari anak berkebutuhan khusus Batasan Masalah Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada gratitude sebagai kecenderungan/sifat individu yang sifatnya menetap (trait) dapat menjadi bagian dari jati diri seseorang (part of character), serta merupakan kekuatan moral yang menggerakkan dan mengarahkan hidup seseorang untuk memberikan kontribusi khas dari dirinya sehingga memunculkan emosi positif pada ibu dari anak autis. Gratitude sendiri, berarti suatu perasaan menyenangkan yang dialami oleh seseorang yang merupakan bentuk dari emosi yang positif yang muncul, ketika individu menerima sesuatu yang berharga dan menerima kebaikan serta bantuan dari orang lain. Stres dibatasi pada reaksi terhadap kejadian lingkungan yang bersifat mengancam atau menantang yang menghasilkan perubahan fisiologis, emosi, kognitif dan behavioral pada ibu dari anak autis. Partisipan dalam penelitian ini adalah ibu dari anak autis di beberapa sekolah inklusi dan pusat terapi di Sidoarjo. Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional, yakni mengkaitkan antara satu variabel dengan variabel lainnya.
11 Rumusan Masalah Rumusan dari masalah pada penelitian ini adalah: apakah ada hubungan antara gratitude dengan stres yang dialami oleh ibu dengan anak gangguan autis Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah ada hubungan antara gratitude dengan stres yang dialami oleh ibu yang memiliki anak autis Manfaat Penelitian a. Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan di bidang psikologi perkembangan khususnya mengenai hubungan antara gratitude pada orangtua anak berkebutuhan khusus dengan stres yang dialaminya. b. Manfaat praktis 1. Bagi orangtua anak berkebutuhan khusus: Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat menambah wawasan bagi orangtua dari anak berkebutuhan khusus, bahwa gratitude dapat menurunkan stres sehingga diharapkan orangtua dapat berlatih untuk sering bersyukur. 2. Bagi keluarga dari anak berkebutuhan khusus (selain orangtua) Penelitian ini dapat digunakan untuk memberikan gambaran kepada anggota keluarga mengenai besarnya peran bersyukur bagi kesehatan mental.
12 12 3. Bagi Sekolah/ Pusat Terapis : Sekolah dapat menyadari pentingnya gratitude bagi orangtua dari anak autis tersebut dengan hal yang didapat diharapkan dapat membantu orangtua yang mengalami stres yang tinggi, antara lain dengan cara mendorong munculnya sikap gratitude, melalui apresiasi terhadap kelebihan anak atau kemajuan yang dialami oleh anak. 4. Bagi Anak autis : Melalui penelitian ini, orangtua dapat menyadari pentingnya gratitude bagi kesehatan mental. Dengan demikian, penelitian ini secara tidak langsung bermanfaat bagi anak, karena orangtua memiliki tingkat stres yang cenderung kurang dan emosi yang lebih stabil dalam menghadapi perilaku anak.
BAB I PENDAHULUAN. akan merasa sedih apabila anak yang dimiliki lahir dengan kondisi fisik yang tidak. sempurna atau mengalami hambatan perkembangan.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kelahiran anak merupakan dambaan setiap keluarga yang tidak ternilai harganya. Anak adalah anugerah yang diberikan Tuhan, yang harus dijaga, dirawat, dan diberi bekal
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. telah membina keluarga. Menurut Muzfikri (2008), anak adalah sebuah anugrah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memiliki buah hati tentunya merupakan dambaan bagi setiap orang yang telah membina keluarga. Menurut Muzfikri (2008), anak adalah sebuah anugrah terbesar nan
BAB I PENDAHULUAN. Membentuk sebuah keluarga yang bahagia dan harmonis adalah impian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Membentuk sebuah keluarga yang bahagia dan harmonis adalah impian setiap orang. Ketika menikah, tentunya orang berkeinginan untuk mempunyai sebuah keluarga yang
BAB I PENDAHULUAN. yang sehat, pintar, dan dapat berkembang seperti anak pada umumnya. Namun, tidak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak merupakan bagian dari keluarga, dimana sebagian besar kelahiran disambut bahagia oleh anggota keluarganya, setiap orang tua mengharapkan anak yang sehat,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kemudian dilanjutkan ke tahapan selanjutnya. Salah satu tahapan individu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan hidup manusia dialami dalam berbagai tahapan, yang dimulai dari masa kanak-kanak, remaja dan dewasa. Dalam setiap tahapan perkembangan terdapat
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dewasa kini banyak pola hidup yang kurang sehat di masyarakat sehingga
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa kini banyak pola hidup yang kurang sehat di masyarakat sehingga menimbulkan beberapa macam penyakit dari mulai penyakit dengan kategori ringan sampai
2016 HUBUNGAN SENSE OF HUMOR DENGAN STRES REMAJA SERTA IMPLIKASINYA BAGI LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Stres merupakan fenomena umum yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat beberapa tuntutan dan tekanan yang
BAB I PENDAHULUAN. terjadi pada waktu dan tempat yang kadang sulit untuk diprediksikan. situasi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada dasarnya setiap individu pasti mengalami kesulitan karena individu tidak akan terlepas dari berbagai kesulitan dalam kehidupannya. Kesulitan dapat terjadi pada
BABI PENDAHULUAN. Semua orangtua menginginkan anak lahir dengan keadaan fisik yang
BAB I PENDAHULUAN BABI PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah penelitian Semua orangtua menginginkan anak lahir dengan keadaan fisik yang sempurna, tetapi terkadang keinginan tersebut bertolak belakang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Panti Asuhan adalah suatu lembaga usaha sosial yang mempunyai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Panti Asuhan adalah suatu lembaga usaha sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan sosial kepada anak terlantar dengan melaksanakan penyantunan
BAB I PENDAHULUAN. kepada para orang tua yang telah memasuki jenjang pernikahan. Anak juga
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anak merupakan anugerah terindah yang diberikan Allah kepada para orang tua yang telah memasuki jenjang pernikahan. Anak juga bisa menjadi sebuah impian setiap orang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tidak tahu kehidupan macam apa yang akan dihadapi nanti (Rini, 2008). Masa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pensiun seringkali dianggap sebagai kenyataan yang tidak menyenangkan sehingga menjelang masanya tiba sebagian orang sudah merasa cemas karena tidak tahu kehidupan
MODUL PERKULIAHAN. Kesehatan Mental. Kesehatan Mental yang Berkaitan dengan Kesejahketaan Psikologis (Penyesuaian Diri)
MODUL PERKULIAHAN Kesehatan Mental yang Berkaitan dengan Kesejahketaan Psikologis (Penyesuaian Diri) Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 03 MK61112 Aulia Kirana,
BABI PENDAHULUAN. Anak adalah permata bagi sebuah keluarga. Anak adalah sebuah karunia
BABI PENDAHULUAN BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak adalah permata bagi sebuah keluarga. Anak adalah sebuah karunia dan perhiasan dunia bagi para orangtua. Banyak pasangan muda yang baru
1.1 Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perjalanan hidup seorang anak tidak selamanya berjalan dengan baik. Beberapa anak dihadapkan pada pilihan yang sulit bahwa anak harus berpisah dari keluarganya
BAB I PENDAHULUAN. melihat sisi positif sosok manusia. Pendiri psikologi positif, Seligman dalam
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam menjalani kehidupan ini, tentunya seseorang pasti pernah mengalami beberapa masalah. Sesuatu dirasakan atau dinilai sebagai suatu masalah ketika kenyataan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dapat diukur secara kuantitas dari waktu ke waktu, dari satu tahap ke tahap
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seorang anak dikatakan tumbuh dapat dilihat dari perubahan fisik yang dapat diukur secara kuantitas dari waktu ke waktu, dari satu tahap ke tahap berikutnya
BAB I PENDAHULUAN. Sekolah dan Pemuda Departemen Pendidikan Indonesia, Fasli Jalal (Harian
BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah Di Indonesia jumlah anak berkebutuhan khusus semakin mengalami peningkatan, beberapa tahun belakangan ini istilah anak berkebutuhan khusus semakin sering terdengar
BAB I PENDAHULUAN. masa pernikahan. Berbagai harapan mengenai keinginan memiliki anak pun
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam perjalanan hidup manusia dewasa, pada umumnya akan masuk masa pernikahan. Berbagai harapan mengenai keinginan memiliki anak pun mulai tumbuh saat orang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Destalya Anggrainy M.P, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kepribadian seorang anak merupakan gabungan dari fungsi secara nyata maupun fungsi potensial pola organisme yang ditentukan oleh faktor keturunan dan penguatan
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Di era sekarang perceraian seolah-olah menjadi. langsung oleh Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perceraian merupakan kata yang umum dan tidak asing lagi di telinga masyarakat. Di era sekarang perceraian seolah-olah menjadi trend, karena untuk menemukan informasi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi setiap manusia.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi setiap manusia. Manusia dapat menjalankan berbagai macam aktivitas hidup dengan baik bila memiliki kondisi kesehatan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan perilaku anak berasal dari banyak pengaruh yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan perilaku anak berasal dari banyak pengaruh yang berbeda-beda, diantaranya faktor genetik, biologis, psikis dan sosial. Pada setiap pertumbuhan dan
BAB I PENDAHULUAN. membangun bangsa ke arah yang lebih baik. Mahasiswa, adalah seseorang
15 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mahasiswa, pada dasarnya sebagai generasi penerus. Mereka diharapkan sebagai subyek atau pelaku didalam pergerakan pembaharuan. Sebagai bagian dari masyarakat,
BAB I PENDAHULUAN. 40 tahun dimana terjadi perubahan fisik dan psikologis pada diri individu, selain itu
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Dewasa awal adalah individu yang berada pada rentang usia antara 20 hingga 40 tahun dimana terjadi perubahan fisik dan psikologis pada diri individu, selain
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Usia tua adalah periode penutup dalam rentang hidup individu, yaitu suatu masa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Usia tua adalah periode penutup dalam rentang hidup individu, yaitu suatu masa dimana individu telah beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan atau
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kelahiran anak dalam kondisi sehat dan normal adalah harapan setiap ibu (UNICEF,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kelahiran anak dalam kondisi sehat dan normal adalah harapan setiap ibu (UNICEF, 2010). Namun faktanya, tidak semua anak lahir dalam kondisi normal. Anak yang
BAB I PENDAHULUAN. baik dari faktor luar dan dalam diri setiap individu. Bentuk-bentuk dari emosi yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Emosi adalah respon yang dirasakan setiap individu dikarenakan rangsangan baik dari faktor luar dan dalam diri setiap individu. Bentuk-bentuk dari emosi yang sering
BAB I PENDAHULUAN. diberikan dibutuhkan sikap menerima apapun baik kelebihan maupun kekurangan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penerimaan diri dibutuhkan oleh setiap individu untuk mencapai keharmonisan hidup, karena pada dasarnya tidak ada manusia yang diciptakan oleh Allah SWT tanpa kekurangan.
BAB I PENDAHULUAN. Terdapat beberapa karakteristik anak autis, yaitu selektif berlebihan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak adalah dambaan dalam setiap keluarga dan setiap orang tua pasti memiliki keinginan untuk mempunyai anak yang sempurna, tanpa cacat. Bagi ibu yang sedang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menempuh berbagai tahapan, antara lain pendekatan dengan seseorang atau
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa awal adalah masa dimana seseorang memperoleh pasangan hidup, terutama bagi seorang perempuan. Hal ini sesuai dengan teori Hurlock (2002) bahwa tugas masa
BAB I PENDAHULUAN. Remaja merupakan fase yang disebut Hall sebagai fase storm and stress
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja merupakan fase yang disebut Hall sebagai fase storm and stress (santrock, 2007 : 200). Masa remaja adalah masa pergolakan yang dipenuhi oleh konflik dan
BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Kehadiran seorang bayi dalam keluarga merupakan berkah yang luar
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kehadiran seorang bayi dalam keluarga merupakan berkah yang luar biasa. Setiap orang tua mengharapkan anak yang dilahirkan kelak tumbuh menjadi anak yang menyenangkan,
BAB I PENDAHULUAN. perilaku, komunikasi dan interaksi sosial (Mardiyono, 2010). Autisme adalah
BAB I PENDAHULUAN Bab ini menggambarkan tentang latar belakang masalah, perumusan penelitian, tujuan umum dan tujuan khusus penelitian serta manfaat yang diperoleh dari penelitian ini. 1.1 Latar Belakang
1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Gambaran Stres..., Muhamad Arista Akbar, FPSI UI, 2008
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kehidupan berumah tangga, setiap keluarga tentunya akan mendambakan kehadiran seorang anak sebagai pelengkap kebahagiaan kehidupan pernikahan mereka. Setiap pasangan
BAB I PENDAHULUAN. Perawat atau Nurse berasal dari bahasa Latin yaitu dari kata Nutrix yang berarti
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perawat atau Nurse berasal dari bahasa Latin yaitu dari kata Nutrix yang berarti merawat atau memelihara. Profesi perawat diharapkan dapat membantu mempertahankan
BAB I PENDAHULUAN. permasalahan, persoalan-persoalan dalam kehidupan ini akan selalu. pula menurut Siswanto (2007; 47), kurangnya kedewasaan dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Manusia hidup selalu dipenuhi oleh kebutuhan dan keinginan. Seringkali kebutuhan dan keinginan tersebut tidak dapat terpenuhi dengan segera. Selain itu
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tidak setiap anak atau remaja beruntung dalam menjalani hidupnya.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tidak setiap anak atau remaja beruntung dalam menjalani hidupnya. Beberapa anak dihadapkan pada pilihan bahwa anak harus berpisah dari keluarganya karena sesuatu
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Anak adalah anugerah, anak adalah titipan dari Allah SWT. Setiap
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak adalah anugerah, anak adalah titipan dari Allah SWT. Setiap orangtua pasti menginginkan memiliki anak yang normal dan sehat baik secara jasmani maupun rohani. Anak
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam masyarakat, seorang remaja merupakan calon penerus bangsa, yang memiliki potensi besar dengan tingkat produktivitas yang tinggi dalam bidang yang mereka geluti
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa. (Stanley Hall dalam Panuju, 2005). Stres yang dialami remaja berkaitan dengan proses perkembangan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Meninggalnya seseorang merupakan salah satu perpisahan alami dimana
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Meninggalnya seseorang merupakan salah satu perpisahan alami dimana seseorang akan kehilangan orang yang meninggal dengan penyebab dan peristiwa yang berbeda-beda
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan negara yang tiap elemen bangsanya sulit
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang tiap elemen bangsanya sulit lepas dari belenggu anarkisme, kekerasan, dan perilaku-perilaku yang dapat mengancam ketenangan masyarakat.
BAB I PENDAHULUAN. Stres senantiasa ada dalam kehidupan manusia yang terkadang menjadi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Stres senantiasa ada dalam kehidupan manusia yang terkadang menjadi masalah kesehatan mental. Jika sudah menjadi masalah kesehatan mental, stres begitu mengganggu
HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN KEMAMPUAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN KEMAMPUAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S 1 Psikologi Diajukan oleh : Refti Yusminunita F 100 050
BAB I PENDAHULUAN. masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa yang terdiri dari dewasa awal,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia akan mengalami perkembangan sepanjang hidupnya, mulai dari masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa yang terdiri dari dewasa awal, dewasa menengah,
BAB I PENDAHULUAN. dan berfungsinya organ-organ tubuh sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Individu sejak dilahirkan akan berhadapan dengan lingkungan yang menuntutnya untuk menyesuaikan diri. Penyesuaian diri yang dilakukan oleh individu diawali dengan penyesuaian
Disusun Oleh : SARI INDAH ASTUTI F
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KESTABILAN EMOSI PADA PENDERITA PASCA STROKE DI RSUD UNDATA SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian
HUBUNGAN ANTARA KEBERSYUKURAN DENGAN EFIKASI DIRI PADA GURU TIDAK TETAP DI SEKOLAH DASAR MUHAMMADIYAH
HUBUNGAN ANTARA KEBERSYUKURAN DENGAN EFIKASI DIRI PADA GURU TIDAK TETAP DI SEKOLAH DASAR MUHAMMADIYAH NASKAH PUBLIKASI Diajukan oleh: ARRIJAL RIAN WICAKSONO F 100 090 117 Kepada : FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Beberapa teori akan dipaparkan dalam bab ini sebagai pendukung dari dasar
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Beberapa teori akan dipaparkan dalam bab ini sebagai pendukung dari dasar pelitian. Berikut adalah beberapa teori yang terkait sesuai dengan penelitian ini. 2.1 Anxiety (Kecemasan)
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. Perawat dalam pelayanan kesehatan dapat diartikan sebagai tenaga
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Perawat dalam pelayanan kesehatan dapat diartikan sebagai tenaga kesehatan yang sangat vital dan secara terus-menerus selama 24 jam berinteraksi dan berhubungan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah. yang lain untuk dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, baik kebutuhan secara
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sebagai mahkluk sosial selalu berhubungan dengan orang lain karena pada dasarnya manusia tercipta sebagai mahluk sosial,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Istilah autisme sudah cukup familiar di kalangan masyarakat saat ini, karena media baik media elektronik maupun media massa memberikan informasi secara lebih
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk hidup senantiasa barada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan berakhir ketika individu memasuki masa dewasa awal, tetapi
BAB I PENDAHULUAN. Nasional (Susenas) tahun 2010 di daerah perkotaan menurut kelompok usia 0-4
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angka kesakitan anak di Indonesia berdasarkan Survei Kesehatan Nasional (Susenas) tahun 2010 di daerah perkotaan menurut kelompok usia 0-4 tahun sebesar 25,8%, usia
BAB 1 PENDAHULUAN. dilahirkan akan tumbuh menjadi anak yang menyenangkan, terampil dan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap orang tua menginginkan dan mengharapkan anak yang dilahirkan akan tumbuh menjadi anak yang menyenangkan, terampil dan pintar. Anak-anak yang patuh, mudah diarahkan,
BAB I PENDAHULUAN. Pencapaian utama masa dewasa awal berkaitan dengan pemenuhan. intimasi tampak dalam suatu komitmen terhadap hubungan yang mungkin
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian Pencapaian utama masa dewasa awal berkaitan dengan pemenuhan intimasi tampak dalam suatu komitmen terhadap hubungan yang mungkin menuntut pengorbanan dan
STRATEGI KOPING ANAK DALAM PENGATASAN STRES PASCA TRAUMA AKIBAT PERCERAIAN ORANG TUA
STRATEGI KOPING ANAK DALAM PENGATASAN STRES PASCA TRAUMA AKIBAT PERCERAIAN ORANG TUA Skripsi Diajukan Guna Memenuhi Sebagian Persyaratan Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana S-1 Psikologi Disusun oleh : Agung
BAB I PENDAHULUAN. kemandirian sehingga dapat diterima dan diakui sebagai orang dewasa. Remaja
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja adalah masa transisi dimana pada masa itu remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sedang mencari jati diri, emosi labil serta butuh pengarahan,
BAB I PENDAHULUAN. orangtua, akan tetapi pada kenyataannya tidak semua pasangan dikarunia anak. merasa bangga dan bahagia ketika harapan tersebut
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Anak yang normal baik fisik maupun mental adalah harapan bagi semua orangtua, akan tetapi pada kenyataannya tidak semua pasangan dikarunia anak yang normal.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. manusia, ditandai dengan perubahan-perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa kehidupan yang penting dalam rentang hidup manusia, ditandai dengan perubahan-perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional (Santrock,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kehadiran anak umumnya merupakan hal yang dinanti-nantikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehadiran anak umumnya merupakan hal yang dinanti-nantikan oleh orang tua. Anak merupakan harta berharga dan anugerah dari Tuhan. Anak juga merupakan pemacu harapan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa tua merupakan masa paling akhir dari siklus kehidupan manusia, dalam masa ini akan terjadi proses penuaan atau aging yang merupakan suatu proses yang dinamis sebagai
BAB I PENDAHULUAN. semakin menyadari pentingnya mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Salah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan jaman yang semakin maju menuntut masyarakat untuk semakin menyadari pentingnya mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Salah satu tujuan seseorang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Penyesuaian Diri. dalam dirinya, ketegangan-ketegangan, konflik-konflik, dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penyesuaian Diri 1. Pengertian Penyesuaian diri ialah suatu proses yang mencakup respon mental dan tingkah laku, individu berusaha untuk dapat berhasil mengatasi kebutuhankebutuhan
BAB I PENDAHULUAN. I. A. Latar Belakang. Anak yang dilahirkan secara sehat baik dalam hal fisik dan psikis
14 BAB I PENDAHULUAN I. A. Latar Belakang Anak yang dilahirkan secara sehat baik dalam hal fisik dan psikis merupakan harapan bagi semua orangtua yang sudah menantikan kehadiran anak dalam kehidupan perkawinan
BAB I PENDAHULUAN. sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Masyarakat semakin berkembang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam zaman pembangunan di Indonesia dan globalisasi dunia yang menuntut kinerja yang tinggi dan persaingan semakin ketat, semakin dibutuhkan sumber daya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Prevalensi penderita skizofrenia pada populasi umum berkisar 1%-1,3% (Sadock
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penderita skizofrenia dapat ditemukan pada hampir seluruh bagian dunia. Prevalensi penderita skizofrenia pada populasi umum berkisar 1%-1,3% (Sadock dan Sadock,
`BAB I PENDAHULUAN. mengalami kebingungan atau kekacauan (confusion). Suasana kebingunan ini
1 `BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Siswa sekolah menengah umumnya berusia antara 12 sampai 18/19 tahun, yang dilihat dari periode perkembangannya sedang mengalami masa remaja. Salzman (dalam
POLA INTERAKSI SOSIAL ANAK AUTIS DI SEKOLAH KHUSUS AUTIS. Skripsi Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan. Mencapai derajat Sarjana S-1
POLA INTERAKSI SOSIAL ANAK AUTIS DI SEKOLAH KHUSUS AUTIS Skripsi Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan Mencapai derajat Sarjana S-1 Fakultas Psikologi Disusun Oleh : YULI TRI ASTUTI F 100 030
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang pada umumnya ditandai dengan perubahan fisik, kognitif, dan psikososial, tetapi
BAB II TINJAUAN TEORI. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. ditandai dengan adanya perkembangan yang pesat pada individu dari segi fisik, psikis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja berasal dari kata adolescence yang memiliki arti tumbuh untuk mencapai kematangan, baik mental, emosional, sosial, dan fisik. Masa remaja ditandai dengan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilaksanakan pada tanggal 20 Februari 2017 hingga 5 Maret 2017 di Panti Wreda Pengayoman Semarang. Adapun rincian pelaksanaan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama bagi anak yang memberi dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah satunya adalah
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Uji Asumsi 1. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui sebaran data normal atau tidak. Alat yang digunakan adalah One Sample Kolmogorov- Smirnov
A. LATAR BELAKANG Perselingkuhan dalam rumah tangga adalah sesuatu yang sangat tabu dan menyakitkan sehingga wajib dihindari akan tetapi, anehnya hal
HARGA DIRI PADA WANITA DEWASA AWAL MENIKAH YANG BERSELINGKUH KARTIKA SARI Program Sarjana, Universitas Gunadarma Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran harga diri
BAB I PENDAHULUAN. memasuki masa dewasa (Rumini, 2000). Berdasarkan World Health. Organization (WHO) (2010), masa remaja berlangsung antara usia 10-20
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa (Rumini, 2000).
2016 PROSES PEMBENTUKAN RESILIENSI PADA IBU YANG MEMILIKI ANAK PENYANDANG DOWN SYNDROME
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Setiap orang tua pasti berharap memiliki anak yang dapat bertumbuh kembang normal sebagaimana anak-anak lainnya, baik dari segi fisik, kognitif, maupun emosional.
kalangan masyarakat, tak terkecuali di kalangan remaja. Beberapa kejadian misalnya; kehilangan orang yang dicintai, konflik keluarga,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini stres menjadi problematika yang cukup menggejala di kalangan masyarakat, tak terkecuali di kalangan remaja. Beberapa kejadian misalnya; kehilangan orang yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Kebermaknaan Hidup
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kebermaknaan Hidup 1. Pengertian Kebermaknaan Hidup Kebermaknaan adalah berarti, mengandung arti yang penting (Poewardarminta, 1976). Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Proses Adaptasi Psikologi Ibu Dalam Masa Nifas
Proses Adaptasi Psikologi Ibu Dalam Masa Nifas Masa nifas adalah masa 2 jam setelah lahirnya plasenta sampai enam minggu berikutnya. Pengawasan dan asuhan postpartum masa nifas sangat diperlukan yang tujuannya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dianggap sebagai masa topan badai dan stres, karena remaja telah memiliki
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa transisi ke masa dewasa. Masa ini dianggap sebagai masa topan badai dan stres, karena remaja telah memiliki keinginan bebas untuk menentukan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Seorang anak sejak lahir tentu sejatinya membutuhkan kasih sayang yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seorang anak sejak lahir tentu sejatinya membutuhkan kasih sayang yang diberikan oleh orang tua. Keluarga inti yang terdiri atas ayah, ibu dan saudara kandung
