HASIL DAN PEMBAHASAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 HASIL DAN PEMBAHASAN ANALISIS SITUASIONAL Keadaan Umum Kawasan Sentra Produksi di Propinsi Jambi KSP komoditas pertanian di Propinsi Jambi dibagi dalam tiga wilayah pengembangan, yaitu Wilayah Timur, Wilayah Tengah, dan Wilayah Barat (Bappeda, 2000 b ). Pembagian wilayah pengembangan tersebut didasarkan pada karakteristik agroekologi wilayah. Kawasan pengembangan Wilayah Timur didominasi oleh karakteristik agroekologi pesisir dan lahan basah. Kawasan pengembangan Wilayah Tengah merupakan daerah dataran rendah yang didominasi oleh karakteristik agroekologi daerah aliran sungai (DAS) Batanghari. Kawasan pengembangan Wilayah Barat merupakan daerah dataran tinggi. Wilayah ini merupakan daerah perbukitan dan pegunungan dengan karakteristik agroekologi lahan kering (Bappeda, 2000 b ). Masing-masing wilayah pengembangan terdiri dari dua KSP Makro. Wilayah Timur terdiri dari KSP Makro A dan KSP Makro B. Wilayah Tengah terdiri dari KSP Makro C dan KSP Makro D. Wilayah Barat terdiri dari KSP Makro E dan KSP Makro F (Bappeda, 2000 b ). Secara konseptual, KSP Makro menggambarkan suatu kesatuan fungsional kawasan yang merupakan batas pasar yang secara ekonomis dapat dijangkau oleh komoditas pertanian yang dihasilkan oleh sentrasentra produksi (KSP Mikro) yang terdapat di kawasan tersebut (Tim Pembina Pusat P-KSP, 1999 b ). Hal ini berarti batas wilayah KSP Makro meng-gambarkan aksesibilitas kawasan. Semakin baik aksesibilitas suatu kawasan, maka akan semakin jauh jangkauan wilayah pemasaran komoditas pertanian yang dihasilkan oleh kawasan tersebut. Hal ini digambarkan dengan semakin luasnya wilayah KSP Makro. Gambar 14 dan Tabel 14 menyajikan pembagian wilayah pengembangan KSP Makro di Propinsi Jambi.

2 Gambar 14. Peta pembagian wilayah pengembangan KSP Makro di Propinsi Jambi Tabel 14. Pembagian wilayah pengembangan KSP Makro di Propinsi Jambi Wilayah Pengembangan KSP Makro Cakupan Wilayah Pusat Pemasaran* ) Orientasi Pasar Eksternal* ) Wilayah Timur A Kab. Tanjab Barat Kuala Tungkal - Jakarta - Pekanbaru - Singapura B Kab. Tanjab Timur Muara Sabak - Jakarta - Singapura Wilayah Tengah C - Kota Jambi - Kab. Batanghari - Kab. Ma. Jambi D - Kab. Bungo - Kab. Tebo Wilayah Barat E - Kab. Merangin - Kab. Sarolangun Pasar Jambi Muara Bungo Bangko - Padang - Palembang - Pekanbaru - Jakarta - Singapura - Padang - Palembang - Jakarta - Padang - Palembang - Jakarta F Kab. Kerinci Sungai Penuh - Padang - Jakarta Sumber : Bappeda, 2000 b. * ) Hasil analisis

3 Karakteristik Agroekologi Wilayah Pengembangan KSP Karakterisasi agroekologi wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi dilakukan berdasarkan parameter topografi, ketinggian tempat, jenis tanah dan iklim dari masing-masing wilayah pengembangan. Topografi Masing-masing wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi memiliki dominasi topografi yang khas. Wilayah Timur merupakan daerah dataran rendah yang landai. Wilayah Tengah merupakan daerah perbukitan dengan kelas kemi-ringan lahan dari landai sampai agak curam. Wilayah Barat merupakan daerah perbukitan dan pergunungan dengan kelas kemiringan lahan dari agak curam sampai sangat curam (Gambar 15). Luas dan proporsi tingkat kemiringan lahan masing-masing wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi disajikan pada Tabel 15. Gambar 15. Topografi wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi

4 Tabel 15. Luas dan proporsi kemiringan lahan wilayah pengembangan KSP Tingkat Kemiringan Lahan Wilayah Pengembangan KSP Wilayah Timur Wilayah Tengah Wilayah Barat Luas (ha) % Luas (ha) % Luas (ha) % Landai (0-2%) , , ,8 Agak Curam (2-15%) , , ,8 Curam (15-40%) , , ,8 Sangat Curam (>40%) , , ,6 Luas Wilayah , , ,0 Sumber : Hasil perhitungan pada Lampiran 3. Ketinggian Tempat Ketinggian tempat masing-masing wilayah pengembangan KSP di Pro-pinsi Jambi memiliki karakteristik yang khas. Wilayah Timur merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian 0 sampai 10 m di atas permukaan laut (dpl). Wilayah Tengah didominasi oleh daerah dataran rendah dengan ketinggian antara 10 sampai 100 m dpl. Sedangkan Wilayah Barat merupakan daerah dataran tinggi (Gambar 16). Lebih dari 50% Wilayah Barat berada di ketinggian di atas 500 m dpl (Tabel 16). Gambar 16. Ketinggian tempat wilayah pengembangan KSP

5 Tabel 16. Ketinggian tempat wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi Ketinggian Tempat Wilayah Pengembangan KSP Wilayah Timur Wilayah Tengah Wilayah Barat Luas (ha) % Luas (ha) % Luas (ha) % 0-10 m dpl , ,4 0 0, m dpl , , , m dpl , , , m dpl 0 0, , ,2 > m dpl 0 0, , ,9 Luas Wilayah , , ,0 Sumber : Hasil perhitungan pada Lampiran 3. Jenis Tanah Sebagian besar tanah di wilayah pengembangan KSP Propinsi Jambi ter-golong jenis podsolik merah kuning (PMK). Jenis ini tersebar di seluruh wilayah, terutama di Wilayah Tengah, lebih dari 64% kawasan ini memiliki jenis tanah PMK. Jenis tanah ini memiliki tekstur liat, sehingga relatif kurang subur diban-dingkan dengan jenis tanah lainnya. Adapun jenis tanah yang relatif lebih subur terdapat di Wilayah Barat. Tabel 17 menyajikan luas dan proporsi jenis tanah pada masing-masing wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi. Tabel 17. Jenis tanah pada wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi Jenis Tanah Wilayah Pengembangan KSP Wilayah Timur Wilayah Tengah Wilayah Barat Luas (ha) % Luas (ha) % Luas (ha) % PMK , , ,9 Organosol , , ,9 Aluvial , , ,2 Andosol 0 0, , ,6 Latosol 0 0, , ,4 Lainnya , , ,0 Luas Wilayah , , ,0 Sumber : Hasil perhitungan pada Lampiran 4. Iklim Secara umum hampir seluruh wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi beriklim tipe A. Hanya sebagian kecil wilayah, yaitu Kecamatan Tebo Tengah dan Sumay di Wilayah Tengah serta Kecamatan Sitinjau Laut di Wilayah Barat merupakan

6 kawasan beriklim tipe B (Gambar 17). Tabel 18 menyajikan luas dan proporsi tipe iklim pada ketiga wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi. Gambar 17. Penyebaran iklim di wilayah pengembangan KSP Tabel 18. Tipe iklim pada wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi Tipe Iklim Wilayah Pengembangan KSP Wilayah Timur Wilayah Tengah Wilayah Barat Luas (ha) % Luas (ha) % Luas (ha) % Tipe A , , ,6 Tipe B 0 0, , ,4 Luas Wilayah , , ,0 Sumber : Hasil perhitungan pada Lampiran 3. Zona Agroekologi Zona agroekologi dirakit berdasarkan pada kondisi agroekologi wilayah dengan menggunakan parameter topografi, ketinggian tempat, dan iklim suatu kawasan. Zona I sampai IV menggambarkan topografi kawasan. Zona I untuk kawasan dengan kelas kemiringan lahan sangat curam (lebih dari 40%); zona II untuk kawasan dengan kelas kemiringan lahan curam (15-40%); zona III untuk kawasan dengan kelas kemiringan lahan agak curam (2-15%) dan zona IV untuk kawasan yang landai dengan kemiringan lahan 0-2%. Sedangkan sub-zona a dan b menggambarkan ketinggian tempat kawasan. Sub-zona a untuk kawasan yang

7 berada pada ketinggian di bawah 700 m dpl. Sebaliknya sub-zona b untuk kawasan yang berada pada ketinggian di atas 700 m dpl. Adapun sub-zona x dan y menggambarkan iklim kawasan. Sub-zona x untuk kawasan yang tidak memiliki bulan kering. Sedangkan sub-zona y untuk kawasan yang memiliki bulan kering 3 sampai 6 bulan per tahun (Busyra, dkk, 2000). Tabel 19 menyajikan proporsi zona agroekologi pada ketiga wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi. Zona I mendominasi Wilayah Barat (38,6%), hanya sebagian kecil berada di Wilayah Tengah (6,5%) dan kurang dari 1% di Wilayah Timur. Zona I berupa perbukitan dan pegunungan dengan lereng dominan lebih dari 40%. Karena memiliki lereng yang curam, zona ini tidak diperuntukan sebagai kawasan budi-daya melainkan sebagai kawasan lindung. Zona II tersebar di Wilayah Barat (24,1%) dan Wilayah Tengah (22,0%), hanya sebagian kecil (1,1%) di Wilayah Timur. Zona ini merupakan daerah perbukitan dengan lereng dominan 16 sampai 40%. Menurut Busyra, dkk. (2000), zona ini mempunyai tingkat kesuburan tanah yang rendah serta hanya sesuai untuk budidaya tanaman tahunan (perkebunan dan buah-buahan). Tabel 19. Zonasi agroekologi wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi Zona Agroekologi Wilayah Pengembangan KSP Wilayah Timur Wilayah Tengah Wilayah Barat Luas (ha) % Luas (ha) % Luas (ha) % Zona Iax , , ,7 Zona Ibx 0 0,0 0 0, ,9 Zona Iby 0 0, ,9 0 0,0 Zona Iiax , , ,4 Zona Iibx 0 0,0 0 0, ,7 Zona Iiby 0 0, ,1 0 0,0 Zona IIIax , , ,4 Zona IIIay 0 0, ,7 0 0,0 Zona IIIbx 0 0,0 0 0, ,1 Zona Ivax , , ,5 Zona Ivay 0 0, ,5 0 0,0 Zona Ivbx 0 0,0 0 0, ,0 Luas Wilayah , , ,0 Sumber : Hasil perhitungan pada Lampiran 5. Zona III mendominasi Wilayah Barat (29,5%) dan Wilayah Tengah (31,8%), hanya sebagian kecil (1,8%) di Wilayah Timur. Zona ini berupa daerah perbukitan dan dataran dengan kemiringan lahan 8-15%. Zona ini mempunyai tingkat

8 kesuburan tanah yang rendah dan hanya sesuai untuk budidaya tanaman tahunan (perkebunan dan buah-buahan) serta palawija. Zona IV mendominasi Wilayah Timur (96,2%), hampir separuh (49,7%) Wilayah Tengah dan hanya sebagian kecil (7,5%) di Wilayah Barat. Zona ini berupa daerah dataran dengan lereng dominan kurang dari 8%. Zona ini merupa-kan kawasan budidaya pertanian, baik untuk pertanian lahan kering maupun pertanian lahan basah. Wilayah Pengembangan Komoditas Pertanian Unggulan Pewilayahan komoditas pertanian unggulan pada kawasan sentra produksi di Propinsi Jambi dilakukan secara berjenjang berdasarkan pada kondisi yang telah ada (existed) dan perkembangannya selama lima tahun ( ). Pewilayahan dimulai dengan penentuan komoditas pertanian potensial pada masingmasing wilayah pengembangan, dilanjutkan dengan penentuan komoditas pertanian unggulan, dan diakhiri dengan penentuan sentra produksi (KSP Mikro) untuk pengembangan komoditas pertanian unggulan. Wilayah Pengembangan Komoditas Pertanian Potensial Penentuan komoditas pertanian potensial pada masing-masing wilayah pengembangan didasarkan pada kesesuaian persyaratan tumbuh suatu komoditas dengan kondisi agroekologis wilayah (Samijan, dkk, 1999). Dari hasil pemadanan komoditas dengan kondisi wilayah (Lampiran 6), diketahui bahwa jenis tanaman padi dan palawija sesuai untuk dikembangkan pada semua wilayah pengembangan KSP di Propinsi Jambi (Tabel 20). Demikian pula halnya dengan tanaman hortikultura buah-buahan sesuai untuk dikembangkan pada semua wilayah pengembangan, kecuali untuk tanaman mangga dan nenas hanya sesuai di Wilayah Tengah. Sedangkan jenis tanaman hortikultura sayuran hanya sesuai di Wilayah Barat dan di sebagian kecil Wilayah Tengah. Untuk komoditas perkebunan, hampir semua jenis tanaman perkebunan sesuai untuk dikembangkan di Wilayah Barat. Sedangkan pada Wilayah Timur hanya sesuai untuk pengembangan tanaman kelapa, kelapa sawit, kopi, kakao dan karet. Rincian jenis komoditas pertanian yang sesuai untuk dikembangkan pada masing-

9 masing wilayah pengembangan kawasan sentra produksi di Propinsi Jambi dapat dilihat pada Tabel 20. Tabel 20. Kesesuaian agroekologi wilayah pengembangan komoditas pertanian Komoditas Pertanian A. Padi dan Palawija B. Hortikultura Sayuran C. Hortikultura Buah-Buahan Jenis Komoditas dan Wilayah Pengembangan Wilayah Timur Wilayah Tengah Wilayah Barat - Padi - Jagung - Ubi Jalar - Ubi Kayu - Kacang Tanah - Kacang Kedelai - Alpokat - Duku - Durian - Jambu - Jeruk - Pepaya - Pisang - Rambutan - Salak - Sawo D. Perkebunan - Kelapa - Kelapa Sawit - Kopi - Kakao - Karet Sumber : Hasil analisis pada Lampiran 6. - Padi - Jagung - Ubi Jalar - Ubi Kayu - Kacang Tanah - Kacang Kedelai - Bawang Merah - Bawang Daun - Alpokat - Duku - Durian - Jambu - Jeruk - Mangga - Nenas - Pepaya - Pisang - Rambutan - Salak - Sawo - Kelapa - Kelapa Sawit - Kopi - Kakao - Karet - Kayu Manis - Padi - Jagung - Ubi Jalar - Ubi Kayu - Kacang Tanah - Kacang Kedelai - Bawang Merah - Bawang Daun - Kentang - Kubis - Petsai - Wortel - Alpokat - Duku - Durian - Jambu - Jeruk - Pepaya - Pisang - Rambutan - Salak - Sawo - Kelapa - Kelapa Sawit - Kopi - Kakao - Karet - Kayu Manis - Kemiri - Kapulaga - Lada - Teh - Vanili Berdasarkan pada kondisi yang telah ada dan perkembangannya selama lima tahun ( ) diketahui hanya tanaman perkebunan yang potensial untuk dikembangkan di seluruh wilayah pengembangan KSP yang ada di Pro-pinsi

10 Jambi (Lampiran 7). Jenis tanaman perkebunan potensial tersebut beserta wilayah pengembangan dan tingkat produktivitasnya selama lima tahun ( ) disajikan pada Tabel 21. Tabel 21. Jenis tanaman potensial, wilayah pengembangan dan produktivitas pada tahun Wilayah KSP Kabupate Komoditas Produktivitas (kwintal/ha) Pengembang Makr Pertania an o n 1998 n Wilayah Timur Wilayah Tengah Wilayah Barat A B Tanjab Barat Karet 6,84 6,84 8,24 8,21 8,34 Kelapa 14,6 9 14,7 1 14,5 5 14,2 3 14,2 3 K. Sawit 27,4 9 23,2 2 36,2 0 29,3 0 27,9 2 Tanjab Timur Karet 6,84 6,84 6,88 9,50 8,69 14,6 14,7 14,9 14,8 14,8 Kelapa K. Sawit 9 27, , , , ,4 3 C Batanghari Karet 6,85 8,84 8,41 7,28 7,28 Kelapa 10,1 2 9,96 10,0 7 9,95 9,95 K. Sawit 19,8 7 25,8 2 28,4 5 30,8 9 31,1 6 Muaro Jambi Karet 6,85 8,84 7,99 6,71 6,74 Kelapa 10,1 2 9,96 9,76 9,80 9,80 K. Sawit 19,8 7 25,8 2 31,7 8 32,9 1 32,7 4 Kopi 5,64 5,55 5,97 6,11 6,25 Kapulag a 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 Lada 7,65 7,65 7,65 7,65 7,65 D Bungo Karet 7,50 6,92 6,56 6,90 6,94 E K. Sawit 19,5 7 23,2 6 29,8 0 31,2 7 31,9 6 Tebo Karet 7,50 6,92 7,32 7,92 7,54 K Sawit 19,5 7 23,2 6 21,4 9 21,6 2 18,5 0 Merangin Karet 7,18 7,18 6,80 6,81 6,88 Ky. 7,86 7,68 9,18 9,28 9,28

11 Manis Kelapa 4,87 4,86 5,44 5,38 5,38 K. Sawit 23,1 7 23,2 8 29,4 7 32,9 8 36,3 3 Sarolangun Karet 7,18 7,18 7,55 7,58 7,54 K Sawit 23,1 7 23,2 8 31,9 0 30,7 2 25,7 1 Kemiri 6,07 6,43 7,50 8,50 7,50 F Kerinci Karet 5,78 5,75 6,22 6,09 6,26 Ky. Manis 16,3 3 20,2 4 19,9 0 24,3 4 22,9 2 Teh 20,9 3 21,2 9 21,2 9 24,5 5 20,9 0 Vanili 37,9 3 11,7 2 8,57 2,50 3,45 Sumber : Hasil analisis pada Lampiran 7 Penentuan Komoditas Pertanian Unggulan Komoditas pertanian unggulan pada masing-masing KSP Makro ditentu-kan berdasarkan pada daya saing dari komoditas pertanian yang menjadi basis ekonomi di wilayah pengembangan KSP Makro. Daya saing komoditas unggulan ditentukan berdasarkan hasil analisis ekonomi dengan menggunakan indikator biaya sumberdaya domestik (Domestic Resources Cost atau DRC) dan hasil analisis finansial dengan menggunakan indikator rasio manfaat/biaya (Benefit Cost Ratio atau B/C Ratio). Suatu komoditas memiliki keunggulan komparatif, jika nilai DRC lebih kecil dari satu (DRC < 1) dan memiliki keunggulan kompetitif jika nilai rasio B/C lebih besar dari satu (B/C > 1) (Budiharsono, 2001; Tarigan, 2004; Pearson, et al., 2004). Penentuan komoditas pertanian yang menjadi basis ekonomi menggunakan model basis ekonomi (economic base model) dengan parameter indeks LQ (Location Quotien) pendapatan dan tenaga kerja. Indeks LQ menyatakan perbandingan pangsa relatif pendapatan atau tenaga kerja suatu sektor pada suatu wilayah dibandingkan dengan pangsa relatif pada wilayah yang lebih luas (Budiharsono, 2001; Tarigan, 2004). Dalam hal ini, perbandingan pangsa relatif pendapatan atau tenaga kerja pada wilayah KSP Makro dibandingkan dengan pangsa relatif

12 propinsi. Suatu komoditas pertanian dapat menjadi basis ekonomi pada suatu wilayah jika nilai LQ pendapatan atau tenaga kerja komoditas tersebut lebih besar dari satu (LQ > 1). Dari hasil analisis basis ekonomi (Lampiran 8) diketahui tidak semua komoditas pertanian potensial merupakan basis ekonomi bagi wilayah pengembangannya. Dari 10 komoditas pertanian potensial (Tabel 21) hanya 4 komoditas yang merupakan basis ekonomi bagi wilayah pengembangannya, yaitu karet, kelapa, kelapa sawit, dan kayu manis. Sedangkan keenam komoditas lainnya (kopi, kapulaga, kemiri, lada, teh, dan vanili) walaupun potensial, tetapi bukan merupakan basis ekonomi bagi wilayah pengembangannya. Indeks LQ keempat jenis komoditas yang menjadi basis ekonomi tersebut beserta wilayah pengembangannya dapat dilihat pada Tabel 22 dan 23. Tabel 22. Indeks LQ pendapatan komoditas pertanian yang menjadi basis ekonomi dan wilayah pengembangan KSP Makro di Propinsi Jambi KSP Komoditas Indeks LQ Pendapatan Wilayah Kabupaten Makro Pertanian Timur A Tanjab Barat Kelapa 25,97 23,87 23,85 22,24 20,81 Sawit 10,06 11,32 15,15 15,43 13,91 B Tanjab Timur Kelapa 19,08 18,26 16,49 16,19 15,74 Tengah C Batanghari Karet 37,26 42,31 48,93 45,54 40,46 Sawit 14,50 16,68 33,64 35,07 31,17 Muaro Sawit 17,45 21,60 34,00 41,85 40,20 D Bungo Karet 37,55 39,16 36,97 37,59 37,19 Tebo Karet 88,40 90,46 94,50 90,64 80,69 Barat E Merangin Karet 39,74 44,37 46,23 41,80 41,94 Sawit 17,19 15,93 34,55 22,97 24,80 Kayu Manis 61,69 66,59 49,03 41,73 40,82 Sarolangun Karet 54,52 61,77 60,09 57,35 59,69 F Kerinci Kayu Manis 558, , , , ,5 2 Sumber : Hasil analisis pada Lampiran 8, Bagian a. Tabel 23. Indeks LQ tenaga kerja komoditas pertanian yang menjadi basis ekonomi dan wilayah pengembangan KSP Makro di Propinsi Jambi Komoditas Indeks LQ Tenaga Kerja Wilayah KSP Makro Kabupaten/ Kota Pertanian Timur A Tanjab Barat Kelapa 3,08 3,54 3,76 2,79 3,22 Sawit 1,80 1,95 1,65 1,60 1,75 B Tanjab Kelapa 2,98 2,98 3,13 3,22 3,48

13 Timur Tengah C Batanghari Karet 2,00 2,13 1,94 2,01 2,06 Sawit 2,08 2,25 2,24 1,74 2,11 Muaro Sawit 2,53 2,74 2,83 2,23 2,34 D Bungo Karet 1,77 1,64 1,56 1,77 1,81 Tebo Karet 2,15 2,00 1,99 2,04 2,23 Barat E Merangin Karet 2,01 1,74 1,95 1,90 1,96 Sawit 2,66 2,43 2,25 2,19 1,57 Kayu Manis 1,81 1,65 1,75 1,71 1,73 Sarolangun Karet 2,36 2,05 2,56 2,38 1,90 F Kerinci Kayu Manis 4,56 4,81 4,88 4,91 4,99 Sumber : Hasil analisis pada Lampiran 8, Bagian b. Dari hasil analisis daya saing dengan menggunakan matriks analisis kebijakan (Policy Analysis Matrix atau PAM) (Tabel 24) diketahui keempat jenis komoditas pertanian yang menjadi basis ekonomi bagi wilayah pengembangannya (Tabel 22 dan 23) merupakan komoditas yang memiliki keunggulan komparatif (DRC < 1) dan kompetitif (Rasio B/C > 1), sehingga keempat jenis komoditas pertanian tersebut dapat dijadikan sebagai komoditas pertanian unggulan wilayah. Wilayah Tabel 24. Hasil analisis daya saing komoditas pertanian unggulan dan wilayah pengembangan KSP Makro di Propinsi Jambi DR B/ KSP Makro Kabupaten Timur A Tanjab Barat B Tanjab Timur Tengah C Batanghari D Muaro Jambi Bungo Tebo Barat E Merangin Komoditas Pertanian C C Keunggulan 0,1 1,5 Komparatif dan Kelapa 3 7 Kompetitif 0,4 1,3 Komparatif dan K. Sawit 2 0 Kompetitif 0,1 1,5 Komparatif dan Kelapa 3 7 Kompetitif 0,4 1,7 Komparatif dan Karet 0 4 Kompetitif 0,4 1,3 Komparatif dan K. Sawit 2 0 Kompetitif 0,4 1,3 Komparatif dan K. Sawit 2 0 Kompetitif 0,4 1,7 Komparatif dan Karet 0 4 Kompetitif 0,4 1,7 Komparatif dan Karet 0 4 Kompetitif 0,4 1,7 Komparatif dan Karet 0 4 Kompetitif K. Sawit 0,4 1,3 Komparatif dan

14 Ky. Manis Sarolangun Karet F Kerinci Ky Manis Sumber : Hasil analisis pada Lampiran Kompetitif 0,2 1,8 Komparatif dan 4 0 Kompetitif 0,4 1,7 Komparatif dan 0 4 Kompetitif 0,2 1,8 Komparatif dan 4 0 Kompetitif Kawasan Sentra Pengembangan Komoditas Pertanian Unggulan Pengembangan komoditas pertanian unggulan dilakukan dalam suatu KSP Mikro. Secara konsepsional, KSP Mikro merupakan suatu kesatuan spasial kawasan yang memiliki kondisi agroekologi yang memungkinkan untuk pengembangan ekonomi produktif berbasis komoditas pertanian unggulan (Tim Pembina Pusat P-KSP, 1999 b ). Oleh karenanya, penentuan kawasan sentra produksi untuk pengembangan komoditas pertanian unggulan dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan kesesuaian agroekologi, potensi produksi dan basis ekonomi kawasan. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan parameter kesesuaian agroekologi (Lampiran 6), potensi produksi (Lampiran 7) dan basis ekonomi kawasan (Lampiran 8) diperoleh sentra produksi andalan untuk komoditas pertanian unggulan di Propinsi Jambi sebagai dapat dilihat pada Tabel 25 dan Gambar 18. Wilayah Tabel 25. KSP komoditas pertanian unggulan di Propinsi Jambi KSP Makr o Kabupaten Komoditas Pertanian Sentra Produksi Timur A Tanjab Barat Kelapa Tungkal Ilir, Pengabuan, Betara Kelapa Sawit Tungkal Ulu B Tanjab Timur Kelapa Muara Sabak, Mendahara, Dendang, Nipah Panjang,

15 Tengah C Batanghari Muaro Jambi Karet Kelapa Sawit Kelapa Sawit D Bungo Karet Tebo Karet Barat E Merangin Karet Kelapa Sawit Rantau Rasau, Sadu Muara Tembesi, Batin XXIV, Muara Bulian, Pemayung, Muaro Sebo Ulu Mersam, Batin XXIV, Pemayung, Muaro Sebo Ulu Mestong, Sekerna, Muaro Sebo, Kumpeh Ulu Pelepat, Rantau Pandan, Tanah Sepenggal, Tanah Tumbuh, Jujuha, Muara Bungo Tebo Ilir, Tebo Tengah, Sumay, Tebo Ulu, VII Koto, Rimbo Bujang Muara Siau, Bangko, Sungai Manau, Tabir, Tabir Ulu Pamenang, Bangko, Tabir Kayu Manis Jangkat, Muara Siau, Bangko, Sungai Manau, Tabir Sarolangun Karet Batang Asai, Sungai Limun, Pelawan Singkut, Sarolangun, Pauh, Mandiangin F Kerinci Kayu Manis Gunung Raya, Batang Merangin, Danau Kerinci, Keliling Danau, Air Hangat, Air Hangat Timur, Gunung Kerinci, Kayu Aro Sumber : Hasil analisis pada Lampiran 6, 7 dan 8. Gambar 18. Peta KSP komoditas pertanian unggulan

16 Perkembangan KSP Komoditas Pertanian Unggulan Dari hasil analisis diketahui komoditas pertanian unggulan di Propinsi Jambi terdiri dari karet, kelapa, kelapa sawit dan kayu manis. Keempat jenis komoditas ini tergolong sebagai tanaman perkebunan. Menurut Budiharjo (2001), komoditas perkebunan sudah menjadi komoditas unggulan masyarakat Jambi sejak awal abad XX. Bahkan akar historis pertumbuhan dan perkembangan perekonomian daerah Jambi berakar pada komoditas perkebunan yang memiliki peran sentral pada dinamika kehidupan sosial ekonomi masyarakat Jambi sejak abad XIX. Tinjauan terhadap peran perkebunan dalam pertumbuhan dan perkembangan perekonomian daerah dapat dilihat dari kontribusinya dalam pembentukan produk domestik regional bruto (PDRB) dan penyerapan tenaga kerja. Sejak tahun 2000, sub-sektor perkebunan merupakan penyumbang terbesar dari sektor pertanian terhadap pembentukan PDRB Propinsi Jambi, sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 19 yang memberikan gambaran perkembangan kontribusi subsektor perkebunan terhadap pembentukan PDRB Propinsi Jambi dibandingkan keempat sub-sektor pertanian lainnya. 15 Persentase (%) Pangan Perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan Gambar 19. Distribusi persentase sumbangan sektor pertanian terhadap PDRB Propinsi Jambi pada tahun

17 Dibandingkan dengan sub-sektor lainnya di dalam sektor pertanian, perkebunan merupakan sub-sektor yang memiliki laju pertumbuhan tertinggi. Bahkan pada saat puncak krisis ekonomi pada tahun 1998, dimana sub-sektor tanaman pangan, peternakan dan kehutanan tumbuh negatif, sub-sektor perkebunan bersama-sama sub-sektor perikanan mampu tumbuh positif dengan laju pertumbuhan masing-masing 7,14 dan 6,45% (Gambar 20). Laju Pertumbuhan (%) Pangan Perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan Gambar 20. Laju pertumbuhan sektor pertanian Propinsi Jambi pada tahun Jumlah Tenaga Kerja (Orang) ,00 45,00 40,00 35,00 30,00 25,00 Persentase Tenaga Kerja (%) Jumlah Tenaga Kerja Persentase Tenaga Kerja Gambar 21. Jumlah dan pesentase penyerapan tenaga kerja di sub-sektor perkebunan di Propinsi Jambi pada tahun

18 Dari aspek penyerapan tenaga kerja, peran sub-sektor perkebunan di Propinsi Jambi ditinjau dari keterlibatan rumah tangga pertanian dalam budidaya tanaman perkebunan. Dalam kurun waktu lima tahun ( ), diketahui lebih dari kepala keluarga rumah tangga pertanian di Propinsi Jambi bekerja di sub-sektor perkebunan. Gambar 21 memperlihatkan perkembangan jumlah kepala keluarga yang berkerja di sub-sektor perkebunan dan persentase penyerapan tenaga kerja di sub-sektor perkebunan di Propinsi Jambi pada tahun Perkembangan Sentra Produksi Karet Diperkirakan tanaman karet pertama kali dibudidayakan oleh rakyat di daerah Jambi pada tahun 1904 (Budihardjo, 2001). Sejak awal tanaman ini sudah dibudidayakan di sentra-sentra produksi karet yang ada sekarang yang meliputi: Kabupaten Batanghari, Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Merangin, dan Kabupaten Sarolangun (Gambar 22). Perkembangan jumlah tanaman karet di kelima kabupaten sentra produksi tersebut pada tahap awal dibudidayakan diperlihatkan pada Gambar 23. Adapun perkembangan luas areal dan produksi serta laju pertumbuhan luas areal dan produksi pada sentra produksi karet di kelima kabupaten tersebut dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ( ) diperlihatkan pada Gambar Dalam kurun waktu lima tahun terakhir ( ) luas areal pertanaman karet di Propinsi Jambi relatif statis dengan laju pertumbuhan luas rata-rata 0,45% per tahun, bahkan beberapa sentra produksi karet mengalami laju pertumbuhan negatif sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 23 dan 24. Hal yang sama terjadi pada perkembangan produksi karet, dalam kurun waktu pertumbuhan produksi karet relatif statis dengan laju pertumbuhan produksi sebesar 1,33% per tahun. Di beberapa sentra produksi, pertumbuhan produksi karet bahkan terjadi dengan laju pertumbuhan negatif sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 25 dan 26.

19 Gambar 22. Peta KSP karet di Propinsi Jambi Jumlahan Tanaman (Pohon) Batanghari Bungo Tebo Merangin Sarolangun Gambar 23. Perkembangan jumlah tanaman karet pada tahap awal budidaya di sentra produksi karet Propinsi Jambi pada tahun Berdasarkan pola pengusahaannya, sebagian besar (97,71%) areal perkebunan karet di Propinsi Jambi merupakan perkebunan rakyat, hanya 0,94% yang merupakan perkebunan negara dan 1,35% perkebunan swasta. Gambar 27 mempelihatkan perbandingan luas areal dari ketiga pola pengusahaan perkebunan karet tersebut.

20 Luas Areal (ha) Batanghari Bungo Tebo Merangin Sarolangun Luar Sentra Gambar 24. Perkembangan luas areal tanaman karet di sentra produksi karet Propinsi Jambi pada tahun Laju Pertumbuhan Luas (%) 15,00 10,00 5,00 0,00-5,00-10,00-15, Batanghari Bungo Tebo Merangin Sarolangun Luar Sentra Gambar 25. Laju pertumbuhan luas areal tanaman karet di sentra produksi karet Propinsi Jambi pada tahun Produksi (ton) Batanghari Bungo Tebo Merangin Sarolangun Luar Sentra Gambar 26. Perkembangan produksi karet di sentra produksi karet Propinsi Jambi pada tahun

21 Laju Pertumbuhan Produksi (%) 30,00 20,00 10,00 0,00-10,00-20,00-30, Batanghari Bungo Tebo Merangin Sarolangun Luar Sentra Gambar 27. Laju pertumbuhan produksi karet di sentra produksi karet Propinsi Jambi pada tahun Luas Areal (ha) Perkebunan Rakyat Perkebunan Negara Perkebunan Swasta Gambar 28. Perkembangan luas areal perkebunan karet berdasarkan pola pengusahaan di Propinsi Jambi pada tahun Perkembangan Sentra Produksi Kelapa Perkembangan sentra produksi kelapa di kawasan pantai timur Propinsi Jambi sudah dimulai pada abad XIX. Menurut Budihardjo (2001), pada tahun 1934 lebih dari 75% perkebunan kelapa di daerah Jambi berada pada kawasan pantai timur yang mencakup wilayah dari Kuala Tungkal (Kabupaten Tanjung Jabung Barat) sampai Muara Sabak (Kabupaten Tanjung Jabung Timur). Pemusatan sentra produksi kelapa di kawasan pantai timur terus berlanjut hingga saat ini dimana lebih dari 90% luas areal perkebunan kelapa berada di sentra produksi Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur (Gambar 29). Pada

22 Gambar 30 dan 31 diperlihatkan perkembangan luas areal dan produksi perkebunan kelapa di kedua kawasan sentra produksi tersebut pada tahun Gambar 29. Peta KSP kelapa di Propinsi Jambi Luas Areal (ha) Tanjab Barat Tanjab Timur Luar Sentra Gambar 30. Perkembangan luas areal perkebunan kelapa di sentra produksi Propinsi Jambi pada tahun

23 Produksi (Ton) Tanjab Barat Tanjab Timur Luar Sentra Gambar 31. Perkembangan produksi kelapa di sentra produksi kelapa Propinsi Jambi pada tahun Pada Gambar 30 dan 31 dapat dilihat perkebunan kelapa di Propinsi Jambi terkonsentrasi di dua wilayah KSP, yaitu di KSP Makro A (Kabupaten Tanjung Jabung Barat) dan KSP Makro B (Kabupaten Tanjung Jabung Timur). Gambar 32 dan 33 juga memperlihatkan perkembangan luas areal dan produksi perkebunan kelapa di kedua KSP tersebut cenderung stagnan. Dalam kurun waktu lima tahun ( ) laju pertumbuhan luas areal perkebunan kelapa rata-rata sebesar 0,41% per tahun (Gambar 32), sedangkan laju pertumbuhan produksi rata-rata untuk KSP Makro A dan B masing-masing sebesar 0,12 dan 0,98% per tahun (Gambar 33). Sementara dalam periode waktu yang sama laju pertumbuhan luas areal dan produksi perkebunan kelapa di Indonesia rata-rata sebesar 0,18 dan 3,27% per tahun (Gambar 34). Pertumbuhan Luas Areal (%) 6,00 4,00 2,00 0,00-2,00-4,00-6,00-8, Tanjab Barat Tanjab Timur Luar Sentra Gambar 32. Laju pertumbuhan luas areal perkebunan kelapa di sentra produksi kelapa Propinsi Jambi pada tahun

24 Laju Pertumbuhan Produksi (%) 6,00 5,00 4,00 3,00 2,00 1,00 0,00-1,00-2, Tanjab Barat Tanjab Timur Luar Sentra Gambar 33. Laju pertumbuhan produksi kelapa di sentra produksi kelapa Propinsi Jambi pada tahun Laju Pertumbuhan (%) Luas Areal Tahun Produksi Gambar 34. Laju pertumbuhan luas areal dan produksi kelapa di Indonesia pada tahun Perkembangan Sentra Produksi Kelapa Sawit Kelapa sawit merupakan komoditas pertanian unggulan yang baru mulai dikembangkan secara besar-besaran pada hampir semua wilayah kabupaten di Propinsi Jambi pada dasawarsa 1990 (BKPMD Prop. Jambi, 2000). Dewasa ini, hampir semua kabupaten (kecuali Kabupaten Kerinci) dikembangkan perkebunan kelapa sawit melalui berbagai pola pengembangan, baik dalam bentuk perkebunan besar swasta (PBS), perkebunan besar negara (PBN), perkebunan rakyat plasma ataupun dalam bentuk swadaya murni oleh petani perkebunan. Gambar 35 memperlihatkan kawasan sentra produksi kelapa sawit di Propinsi Jambi. Adapun perkembangan luas areal dan produksi perkebunan kelapa sawit di Propinsi Jambi berdasarkan pola pengembangannya dapat dilihat pada Gambar 36 dan 37.

25 Gambar 35. Peta KSP kelapa sawit di Propinsi Jambi Luas Areal (ha) Swadaya Plasma PBN PBS Gambar 36. Perkembangan luas areal perkebunan kelapa sawit di Propinsi Jambi berdasarkan pola pengembangannya pada tahun Perkembangan luas areal dan produksi perkebunan kelapa sawit pada sentra-sentra produksi kelapa sawit dibandingkan dengan perkembangan luas areal dan produksi perkebunan kelapa sawit di luar sentra produksi di Propinsi Jambi dalam kurun waktu lima tahun ( ) dapat dilihat pada Gambar 38 dan 39.

26 Produksi (ton) Swadaya Plasma PBN PBS Gambar 37. Perkembangan produksi perkebunan kelapa sawit di Propinsi Jambi berdasarkan pola pengembangannya pada tahun Luas Areal (ha) Tanjab Barat Batanghari Muaro Jambi Merangin Luar Sentra Gambar 38. Perkembangan luas areal perkebunan kelapa sawit di sentra produksi Propinsi Jambi pada tahun Produksi (ton) Tanjab Barat Batanghari Muaro Jambi Merangin Luar Sentra Gambar 39. Perkembangan produksi kelapa sawit di kawasan sentra produksi Propinsi Jambi pada tahun

27 Perkembangan Sentra Produksi Kayu Manis Kawasan sentra produksi (KSP) kayu manis unggulan di Propinsi Jambi terkonsentrasi di Kabupaten Kerinci (Gambar 40). Dari 11 kecamatan yang ada di Kabupaten Kerinci, 8 kecamatan merupakan kawasan sentra produksi kayu manis unggulan. Lebih dari 75% luas areal perkebunan kayu manis di Propinsi Jambi berada di Kabupaten Kerinci dan lebih dari 85% produksi kayu manis berasal dari Kabupaten Kerinci. Adapun perbandingan luas areal kayu manis pada sentra produksi dibandingkan dengan luas areal di luar sentra produksi dapat dilihat pada Gambar 41. Sedangkan perbandingan produksi kayu manis yang berasal dari sentra produksi dengan dari luar sentra produksi dapat dilihat pada Gambar 42. Gambar 40. Peta KSP kayu manis di Propinsi Jambi

28 Luas Areal (ha) Sentra Produksi Luar Sentra Gambar 41. Perkembangan luas areal perkebunan kayu manis di kawasan sentra produksi Propinsi Jambi pada tahun Produksi (ton) Sentra Produksi Luar Sentra Gambar 42. Perkembangan produksi kayu manis dari kawasan sentra produksi Propinsi Jambi pada tahun Keadaan Umum Agroindustri Pangan di Propinsi Jambi Perkembangan Sektor Industri di Propinsi Jambi Sampai dengan tahun 2002 di Propinsi Jambi terdapat perusahaan industri yang menyerap orang tenaga kerja (BPS Prop. Jambi, 2004). Perkembangan jumlah perusahaan industri dan penyerapan tenaga kerja sektor industri di Propinsi Jambi dalam kurun waktu 15 tahun terakhir ( ) dapat dilihat pada Gambar 43.

29 Jumlah Perusahaan OO O1 O Tenaga Kerja Jumlah Perusahaan (Unit) Tenaga Kerja (Orang) Gambar 43. Perkembangan industri dan penyerapan tenaga kerja industri di Propinsi Jambi pada tahun Dari Gambar 43 dapat dilihat puncak pertumbuhan jumlah perusahaan industri tercapai pada tahun 1997 dimana terdapat sebanyak perusahaan industri yang mempekerjakan orang tenaga kerja. Pada tahun 1998 jumlah perusahaan industri turun menjadi perusahaan, karena sebanyak perusahaan kolap akibat krisis ekonomi yang mulai terjadi pada tahun Penurunan jumlah perusahaan pada tahun 1998 menyebabkan penurunan penyerapan tenaga kerja. Pada tahun 1998, tenaga kerja yang bekerja di sektor industri turun menjadi orang, berkurang sebanyak orang dibandingkan dengan keadaan sebelum krisis ekonomi tahun Baru pada tahun 2002 jumlah penyerapan tenaga kerja sektor industri kembali ke keadaan seperti sebelum krisis ekonomi tahun Dampak dari krisis ekonomi yang mulai terjadi pada tahun 1997 terhadap sektor industri di Propinsi Jambi juga dapat dilihat dari penurunan kontribusi sektor industri terhadap PDRB Propinsi Jambi pada tahun Dari tahun 1993 sampai 1997 terjadi peningkatan yang tajam persentase kontribusi sektor industri terhadap PDRB, dari 15,97% pada tahun 1993 menjadi 18,91% pada tahun Akan tetapi pada tahun 1998, akibat krisis ekonomi, kontribusi sektor industri terhadap PDRB turun menjadi 18,12% dan mencapai titik terendah pada tahun 2001 sebesar 17,16% (Gambar 44).

30 Nilai Tambah (Rp Juta) OO O1 O2 Nilai Tambah Sektor Industri Persentase terhadap PDRB 19,50 19,00 18,50 18,00 17,50 17,00 16,50 16,00 15,50 15,00 14,50 Persentase (%) Gambar 44. Kontribusi sektor industri terhadap PDRB Propinsi Jambi pada tahun Struktur Industri di Propinsi Jambi Berdasarkan skala usaha, sebagian besar (lebih dari 98%) perusahaan industri yang ada di Propinsi Jambi tergolong dalam industri skala kecil, hanya sebagian kecil (kurang dari 2%) yang tergolong dalam industri skala besar/sedang. Akan tetapi dalam penyerapan tenaga kerja, industri skala kecil menyerap kurang dari 50% tenaga kerja sektor industri, sedangkan industri besar/sedang menyerap lebih dari 50% tenaga kerja sektor industri. Tabel 26 memperlihatkan perkembangan jumlah perusahaan industri dan penyerapan tenaga kerja sektor industri berdasarkan skala usaha di Propinsi Jambi dalam kurun waktu lima tahun ( ). Tabel 26. Perkembangan jumlah perusahaan industri dan penyerapan tenaga kerja sektor industri di Propinsi Jambi ( ) ahun T Jumlah Perusahaan Industri Penyerapan Tenaga Kerja Besar/Sedang Kecil Besar/Sedang Kecil Jumlah Persen Jumlah Persen Jumlah Persen Jumlah Persen (Unit) (%) (Unit) (%) (Orang) (%) (Orang) (%) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,13 Sumber : BPS Prop. Jambi, 2004.

31 Berdasarkan kode klasifikasi industri, perusahaan industri skala besar/ sedang yang ada di Propinsi Jambi dapat diklasifikasikan ke dalam 9 sub-sektor industri, yaitu industri makanan dan minuman (ISIC 15), industri pakaian jadi (ISIC 18), industri pengolahan kayu (ISIC 20), industri kertas (ISIC 21), industri kimia (ISIC 24), industri karet (ISIC 25), industri barang galian (ISIC 26), industri alat angkutan (ISIC 35), dan industri funitur (ISIC 36). Sub-sektor industri pengolahan kayu (ISIC 20) mendominasi perkembangan sektor industri di Propinsi Jambi. Lebih dari 55% dari jumlah total perusahaan industri termasuk dalam sub-sektor industri pengolahan kayu, diikuti oleh subsektor industri makanan dan minuman (ISIC 15) sebesar lebih dari 20%. Adapun ketujuh sub-sektor industri lainnya (ISIC 18, 21, 24, 25, 26, 35, dan 36) masingmasing kurang dari 5% dari jumlah industri besar/sedang yang terdapat di Propinsi Jambi (Gambar 45). 100 Jumlah Perusahaan Kode Sub-Sektor Industri Gambar 45. Perkembangan jumlah perusahaan industri berdasarkan kelompok industri di Propinsi Jambi pada tahun Perkembangan Agroindustri Pangan Perkembangan sub-sektor industri makanan dan minuman (ISIC 15) di Propinsi Jambi didominasi oleh golongan industri pengolahan dan pengawetan hasil pertanian (agroindustri pangan) (ISIC 151). Pada tahun 2002, dari sejumlah 35 perusahaan industri makanan dan minuman yang ada di Propinsi Jambi, sebanyak 29 perusahaan (82,86%) termasuk dalam golongan agroindustri pangan.

32 Adapun golongan industri makanan lainnya (ISIC 154) dan golongan industri minuman (ISIC 155) masing-masing sebanyak 3 perusahaan atau 8,57% dari jumlah keseluruhan industri makanan dan minuman yang ada di Propinsi Jambi pada tahun Perkembangan sub-sektor industri makanan dan minuman di Propinsi Jambi dalam kurun waktu lima tahun ( ) dirinci berdasarkan golongan industri dapat dilihat pada Gambar 46. Jumlah Perusahaan Agroindustri Pangan Industri Pangan Lainnya Industri Minuman Gambar 46. Perkembangan jumlah perusahaan sub-sektor industri makanan dan minuman di Propinsi Jambi pada tahun Perincian lebih lanjut golongan agroindustri pangan skala besar/sedang yang ada di Propinsi Jambi ke dalam sub-golongan industri memperlihatkan bahwa agroindustri pangan skala besar/sedang di Propinsi Jambi terdiri dari industri: minyak kasar (crude oil) (ISIC 15141), minyak goreng dari minyak kelapa (ISIC 15143) dan minyak goreng dari minyak kelapa sawit (ISIC 15144). Perkembangan jumlah perusahaan dari ketiga sub-golongan industri tersebut dalam kurun waktu lima tahun ( ) dapat dilihat pada Gambar 47. Industri minyak kasar (ISIC 15141) yang berkembang di Propinsi Jambi terdiri dari industri: minyak kelapa (crude coconut oil, CCO), minyak kelapa sawit (crude palm oil, CPO) dan minyak inti sawit (palm kernel oil, PKO). Perusahaan industri PKO baru berdiri pada tahun 2001 dan sampai akhir tahun 2002 belum berproduksi. Perkembangan jumlah perusahaan dari ketiga jenis industri minyak kasar ini dalam kurun waktu lima tahun ( ) dapat dilihat pada Gambar 48.

33 Jumlah Perusahaan Minyak Kasar (15141) Minyak Kelapa (15143) Minyak Sawit (15144) Gambar 47. Perkembangan jumlah perusahaan golongan agroindustri pangan skala besar/sedang di Propinsi Jambi pada tahun Jumlah Perusahaan CCO CPO PKO Gambar 48. Perkembangan jumlah perusahaan industri pengolahan CCO, CPO, dan PKO di Propinsi Jambi pada tahun Crude Coconut Oil (CCO) merupakan produk olahan primer dari kelapa. Sedangkan Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel Oil (PKO) merupakan produk olahan primer dari kelapa sawit. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa agroindustri pangan yang berkembang di Propinsi Jambi adalah agroindustri minyak nabati kasar (crude vegetable oil) (ISIC 15141) yang menggunakan bahan baku dari perkebunan kelapa dan kelapa sawit. Kedua komoditas perkebunan ini merupakan komoditas pertanian unggulan di Propinsi Jambi (Tabel 25).

34 Keterkaitan Perkembangan Agroindustri Pangan dengan Komoditas Pertanian Unggulan Agroindustri Kelapa Berdasarkan hasil analisis keterkaitan dengan menggunakan uji korelasijenjang Spearman (Daniel, 1989) diketahui terdapat korelasi antara produksi kelapa dengan kapasitas produksi industri minyak kelapa (CCO) pada suatu kawasan sentra produksi. Peningkatan produksi kelapa pada suatu KSP berkorelasi positif dengan peningkatan kapasitas produksi industri CCO pada kawasan tersebut, tetapi tidak berkorelasi dengan kapasitas produksi industri CCO di luar KSP. Sebaliknya, peningkatan produksi kelapa di luar KSP tidak berkorelasi dengan peningkatan kapasitas produksi industri CCO, baik di dalam ataupun di luar KSP (Tabel 27). Tabel 27. Koefisien korelasi-jenjang Spearman antara produksi kelapa dengan kapasitas produksi industri CCO Kapasitas Produksi Kawasan Sentra Produksi IndustriCCO (KSP) Dalam KSP Luar KSP Produksi Dalam KSP 0,9000* ) -0,5000 Kelapa Luar KSP ,3000 Sumber: Hasil analisis * ) sangat nyata Tabel 28. Koefisien korelasi-jenjang Spearman antara industri CCO dengan industri minyak goreng kelapa Kawasan Sentra Produksi (KSP) Kapasitas Produksi Industri CCO Sumber: Hasil analisis Kapasitas Produksi Industri Minyak Goreng Kelapa Dalam KSP Luar KSP Dalam KSP 0,5000 0,5000 Luar KSP 0,5000 0,5000

35 Korelasi antara produksi kelapa dengan kapasitas produksi industri CCO pada suatu KSP mengindikasikan adanya keterkaitan ke belakang (backward linkage) antara industri CCO dengan sub-sektor perkebunan kelapa (Tabel 27). Sebaliknya, dari Tabel 28 diketahui kapasitas produksi CCO tidak berkorelasi dengan kapasitas produksi industri minyak goreng kelapa, baik di dalam KSP ataupun di luar KSP. Hal ini mengindikasikan rendahnya keterkaitan ke depan (forward linkage) industri CCO terhadap industri minyak goreng. Dari hasil analisis tataniaga komoditi CCO diketahui kurang dari 40% produksi CCO yang diserap oleh industri minyak goreng kelapa, hampir 20% diperdagangkan di pasar regional, dan lebih dari 40% diekspor. Rendahnya persentase CCO yang diolah menjadi minyak goreng kelapa mengindikasikan rendahnya keterkaitan ke depan antara industri CCO dengan industri minyak goreng kelapa di Propinsi Jambi. Agroindustri Kelapa Sawit Dari hasil analisis dengan menggunakan uji korelasi-jenjang Spearman diketahui terdapat korelasi antara perkembangan produksi kelapa sawit dengan perkembangan kapasitas produksi industri CPO pada suatu kawasan sentra produksi. Peningkatan produksi kelapa sawit di dalam suatu KSP berkorelasi positif dengan peningkatan kapasitas produksi industri CPO di dalam dan di luar kawasan tersebut. Sedangkan peningkatan produksi kelapa sawit di luar KSP hanya berkorelasi dengan peningkatan kapasitas produksi industri CPO yang terdapat di dalam KSP. Adapun korelasi antara peningkatan produksi kelapa sawit di dalam suatu KSP dengan peningkatan kapasitas produksi industri PKO di dalam ataupun di luar kawasan belum dapat dianalisis, karena belum tersediannya data produksi PKO (Tabel 29). Korelasi antara produksi kelapa sawit dengan kapasitas produksi industri CPO mengindikasikan adanya keterkaitan ke belakang (backward linkage) antara industri CPO dengan perkembangan perkebunan kelapa sawit. Dari hasil analisis (Tabel 29) diketahui keterkaitan tersebut terjadi pada industri CPO yang terdapat di dalam kawasan sentra produksi. Sebaliknya, korelasi antara kapasitas produksi industri CPO dengan kapasitas produksi industri minyak goreng kelapa sawit

36 hanya terjadi pada industri yang terdapat di luar KSP (Tabel 30). Hal ini mengindikasikan rendahnya kaitan ke dapan (forward lingkage) industri CPO yang ada di Propinsi Jambi. Tabel 29. Koefisien korelasi-jenjang Spearman antara produksi kelapa sawit dengan kapasitas produksi industri CPO dan PKO Kawasan Sentra Produksi (KSP) Kapasitas Produksi Industri CPO Industri PKO Dalam KSP Luar KSP Dalam KSP Luar KSP Produksi Dalam KSP 0,9750** ) 0,9000** ) t.a.d. t.a.d. Kelapa Sawit Luar KSP 0,8000* ) 0,5000 t.a.d. t.a.d. Sumber: Hasil analisis Keterangan : ** ) = sangat nyata, * ) = nyata t.a.d. = tidak ada data Tabel 30. Koefisien korelasi-jenjang Spearman antara industri CPO dengan industri minyak goreng kelapa sawit Kawasan Sentra Produksi (KSP) Kapasitas Produksi Kapasitas Produksi Industri Minyak Goreng Kelapa Sawit Dalam KSP Luar KSP Dalam KSP 0,5500 0,6750 Industri CPO Luar KSP 0,6000 0,8500* ) Sumber: Hasil analisis * ) nyata Dari hasil analisis tataniaga CPO di Propinsi Jambi diketahui lebih dari 95% produksi CPO diekspor. Adapun yang diperdagangkan secara lokal kurang dari 5% dari total produksi CPO. Rendahnya persentase CPO yang diserap di dalam perdagangan lokal ini mengindikasikan rendahnya keterkaitan ke depan antara industri CPO dengan industri minyak goreng kelapa sawit di Propinsi Jambi.

37 DIAGNOSIS AGROINDUSTRI PANGAN KOMODITAS PERTANIAN UNGGULAN DI PROPINSI JAMBI Diagnosis agroindustri pangan komoditas pertanian unggulan dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran posisi strategis agroindustri pangan komoditas pertanian unggulan yang ada di Propinsi Jambi pada saat sekarang dan prakiraan perkembangannya dalam jangka waktu 5 tahun yang akan datang. Berdasarkan hasil analisis situasional diketahui agroindustri pangan komoditas pertanian unggulan yang berkembang di Propinsi Jambi adalah agroindustri minyak nabati kasar (crude vegetable oil, ISIC 15141) yang terdiri dari agroindustri kelapa dengan produk berupa minyak kelapa kasar (crude coconut oil, CCO) dan agroindustri kelapa sawit dengan produk berupa minyak kelapa sawit kasar (crude palm oil, CPO) dan minyak inti sawit (palm karnel oil, PKO). Penempatan posisi strategis agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit dilakukan pada level perusahaan berdasarkan hasil analisis portofolio dengan menggunakan matriks McKinsey-Ansoff. Matriks ini merupakan pengembangan dari matriks daya tarik industri (the industry attractiveness business strength matrix) GE-McKinsey dan matriks posisi menyebar (dispersed positioning) Ansoff. Matriks ini digunakan untuk menggambarkan posisi strategis perusahaan pada saat sekarang dan prakiraan perkembangannya pada masa mendatang. Di samping itu, matriks ini juga digunakan untuk mensintesis alternatif strategi pada level perusahaan (Pearce and Robinson, 1996; Muhammad, 2002; Supratikno, dkk, 2003). Penyusunan matriks posisi strategis perusahaan agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit dilakukan dalam tiga tahap. Pada tahap pertama dilakukan analisis perkembangan agroindustri. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan daya tarik agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit pada saat sekarang dan prakiraan perkembangannya dalam jangka waktu 5 tahun yang akan datang. Pada tahap kedua dilakukan diagnosis posisi persaingan perusahaan yang tergolong dalam agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit yang ada di Propinsi Jambi. Adapun pada tahap ketiga dilakukan sintesis posisi strategis

38 perusahaan agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit berdasarkan hasil analisis daya tarik agroindustri dan diagnosis posisi persaingan perusahaan. Perkembangan Agroindustri Pangan Pendeskripsian perkembangan daya tarik agroindustri pangan menggunakan pendekatan refleksi pasar (pre-commercialization, Metode PRECOM) berdasarkan konsep produk, konsep teknik dan konsep ekonomi yang dikembangkan oleh Hubeis (1997 dan 1998) dengan indikator pertumbuhan pasar dan pangsa pasar (konsep ekonomi), perkembangan mutu dan jajaran/variasi produk turunan (konsep produk) serta perkembangan teknologi proses (konsep teknik). Pertumbuhan Pasar Agroindustri Pangan Daya tarik agroindustri pangan berdasarkan indikator pertumbuhan pasar dianalisis dengan menggunakan data pertumbuhan pasar ekspor dan pertumbuhan pasar domestik produk agroindustri kelapa (CPO) dan produk agroindustri kelapa sawit (CPO dan PKO). Pertumbuhan pasar ekspor dihitung dari data keseimbangan penawaran dan permintaan minyak nabati dunia. Pada tahun 2002, pasar ekspor CCO, CPO dan PKO masing-masing sebesar ton, ton dan ton atau masing-masing tumbuh sebesar 1,4%, 8,8% dan 7,7% dibandingkan dengan pasar ekspor pada tahun 2001 (Ditjen Perkebunan, 2004 a dan 2004 b ). Dengan demikian, berdasarkan indikator pertumbuhan pasar ekspor, daya tarik agroindustri kelapa (CCO) berada pada posisi sedang. Adapun daya tarik agroindustri kelapa sawit (CPO dan PKO) berada pada posisi tinggi (Tabel 31). Prediksi pertumbuhan pasar ekspor CCO, CPO dan PKO dalam kurun waktu 5 tahun mendatang didasarkan pada ekstrapolasi data pasar ekspor ketiga komoditi tersebut selama 10 tahun terakhir. Berdasarkan data tahun (Gambar 49), diketahui pasar ekspor CCO berfluktuasi dengan pertumbuhan ratarata sebesar 1,6% per tahun (Ditjen Bina Produksi Perkebunan, 2004 a ). Pada tahun yang sama pertumbuhan pasar ekspor CPO sebesar 10,7% per tahun, sedangkan pertumbuhan pasar ekspor PKO sebesar 7,4% per tahun (Ditjen Bina Produksi Perkebunan, 2004 b ).

39 Ekstrapolasi data pertumbuhan pasar ekspor CCO, CPO dan PKO untuk 5 tahun mendatang menghasilkan angka pertumbuhan pasar ekspor CCO pada tahun 2007 sebesar 1,4% per tahun. Pada tahun yang sama pertumbuhan pasar ekspor CPO sebesar 4,8% per tahun dan pertumbuhan pasar ekspor PKO sebesar 4,5% per tahun. Dengan demikian, berdasarkan indikator pertumbuhan pasar ekspor, daya tarik agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit dalam kurun waktu 5 tahun mendatang tergolong sedang (Tabel 31) Pasar Ekspor (.000 Ton) CCO CPO PKO Gambar 49. Pasar ekspor CCO, CPO dan PKO pada tahun Tabel 31. Pertumbuhan pasar ekspor produk agroindustri kelapa dan kelapa sawit Golongan/Jenis Industri Pertumbuhan Pasar Ekspor Pada Saat Sekarang 5 Tahun Mendatang Nilai Daya Tarik Nilai Daya Tarik Agroindustri Kelapa CCO 1,4% Rendah 1,3% Rendah Agroindustri Kelapa Sawit CPO 8,8% Tinggi 4,8% Sedang PKO 7,7% Tinggi 4,5% Sedang Sumber : Hasil analisis Berdasarkan indikator pertumbuhan pasar domestik, daya tarik agroindustri kelapa tergolong rendah, sebaliknya daya tarik agroindustri kelapa sawit berada pada posisi sedang sampai tinggi (Tabel 32). Hal ini diindikasikan oleh pertumbuhan pasar domestik pada tahun 2002 dimana pasar domestik produk CCO mengalami konstraksi sebesar 1,4% (Ditjen Perkebunan, 2004 a ), sebaliknya

40 pasar domestik produk CPO tumbuh sebesar 5,4% dan pasar domestik PKO tumbuh sebesar 8,2% (Ditjen Perkebunan, 2004 b ). Prediksi pertumbuhan pasar domestik CCO, CPO dan PKO untuk 5 tahun mendatang menggunakan data perkembangan pasar domestik 10 tahun terakhir ( ) sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 50 (Ditjen Perkebunan, 2004 a dan 2004 b ). Hasil prediksi mengindikasikan berdasarkan pertumbuhan pasar domestik, daya tarik agroindustri kelapa dalam kurun waktu 5 tahun mendatang berada pada posisi rendah. Pada waktu yang sama, daya tarik agroindustri kelapa sawit berada pada posisi sedang (Tabel 32). Hal ini dapat dilihat dari prediksi pertumbuhan pasar domestik CCO dlam kurun waktu 5 tahun mendatang yang mengalami konstraksi sebesar 4,5%, sedangkan pasar domestik produk CPO dan PKO masing-masing tumbuh sebesar 3,5% dan 5,2% Pasar Domestik (.000 Ton) CCO CPO PKO Gambar 50. Pasar domestik CCO, CPO dan PKO pada tahun Tabel 32. Pertumbuhan pasar domestik produk agroindustri kelapa dan kelapa sawit Golongan/Jenis Industri Pertumbuhan Pasar Domestik Pada Saat Sekarang 5 Tahun Mendatang Nilai Daya Tarik Nilai Daya Tarik Agroindustri Kelapa CCO -1,4% Rendah -4,5% Rendah Agroindustri Kelapa Sawit CPO 5,4% Sedang 3,5% Sedang PKO 8,2% Tinggi 5,2% Sedang Sumber : Hasil analisis

41 Pangsa Pasar Penilaian daya tarik agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit berdasarkan pangsa pasar ditinjau dari perkembangan pasar ekspor produk CCO, CPO dan PKO Indonesia dalam perdagangan dunia. Volume dan pangsa ekspor CCO, CPO dan PKO Indonesia dalam perdagangan dunia pada tahun 2002 dapat dilihat pada Tabel 33. Tabel 33. Volume dan pangsa ekspor CCO, CPO dan PKO Indonesia pada tahun 2002 Komoditi Ekspor Volume (ton) Pangsa (%) CCO ,5% CPO ,6% PKO ,8% Sumber : Ditjen Perkebunan, 2004 a dan 2004 b Prediksi pangsa ekspor CCO, CPO dan PKO untuk jangka waktu 5 tahun mendatang didasarkan pada prediksi volume ekspor Indonesia dan perkembangan pasar ekspor dengan menggunakan data keseimbangan penawaran dan permintaan dunia terhadap CCO, CPO dan PKO dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ( ). Prediksi volume dan pangsa ekspor CCO, CPO dan PKO Indonesia dalam perdagangan dunia pada kurun waktu 5 tahun mendatang dapat dilihat pada Tabel 34. Tabel 34. Prakiraan volume dan pangsa ekspor CCO, CPO dan PKO Indonesia pada tahun 2007 Komoditi Ekspor Volume (ton) Pangsa (%) CCO ,3% CPO ,6% PKO ,2% Sumber : Hasil analisis Dari data ekspor CCO, CPO dan PKO pada tahun 2002 (Tabel 33) dan prediksi pertumbuhannya pada kurun waktu 5 tahun kemudian (Tabel 34), dapat

42 diperkirakan agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit di Indonesia akan memiliki daya tarik yang tinggi sampai jangka waktu 5 tahun mendatang. Hal ini diindikasikan oleh pangsa ekspor untuk ketiga komoditi agroindustri tersebut pada saat sekarang dan prakiraannya pada masa mendatang berada pada kisaran angka yang tinggi, yaitu di atas 25% (Tabel 35). Tabel 35. Pertumbuhan pangsa pasar produk agroindustri kelapa dan kelapa sawit Jenis Industri Pangsa Pasar Pada Saat Sekarang 5 Tahun Mendatang Nilai Daya Tarik Nilai Daya Tarik Agroindustri Kelapa CCO 27,5% Tinggi 38,3% Tinggi Agroindustri Kelapa Sawit CPO 32,6% Tinggi 39,6% Tinggi PKO 46,8% Tinggi 49,2% Tinggi Sumber : Hasil analisis Perkembangan Produk Agroindustri Pangan Penilaian daya tarik agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit berdasarkan konsep produk dilakukan dengan menggunakan pendekatan refleksi pasar (pre-commercialization) dengan parameter posisi horizontal dan posisi vertikal (Hubeis, 1997 dan 1998) produk CCO, CPO dan PKO. Penilaian posisi horizontal didasarkan pada perkembangan mutu produk. Sedangkan posisi vertikal dinilai dari kedudukan CCO, CPO dan PKO di dalam produk turunannya. Dari hasil diagnosis agroindustri kelapa dengan menggunakan parameter perkembangan produk CCO, diketahui daya tarik agroindustri kelapa berada pada posisi tinggi yang diindikasikan dari adanya segmentasi pasar berdasarkan diferensiasi produk CCO. Posisi ini akan terus bertahan dalam jangka waktu 5 tahun mendatang. Hal yang sama diperoleh dari hasil diagnosis agroindustri kelapa sawit dengan menggunakan parameter perkembangan produk CPO, diketahui daya saing agroindustri kelapa sawit pada saat sekarang dan 5 tahun ke depan berada pada posisi tinggi. Sebaliknya dari hasil diagnosis agroindustri kelapa sawit dengan menggunakan parameter perkembangan produk PKO, diketahui daya saing

43 agroindustri kelapa sawit pada saat sekarang berada pada posisi sedang dan akan meningkat menjadi tinggi dalam jangka waktu 5 tahun mendatang (Tabel 36). Tabel 36. Perkembangan mutu produk agroindustri kelapa dan kelapa sawit Jenis Industri Perkembangan Mutu Produk Pada Saat Sekarang 5 Tahun Mendatang Nilai Daya Tarik Nilai Daya Tarik Agroindustri Kelapa CCO 3 Tinggi 3 Tinggi Agroindustri Kelapa Sawit CPO 3 Tinggi 3 Tinggi PKO 2 Sedang 3 Tinggi Sumber : Hasil analisis Dari hasil diagnosis agroindustri kelapa dengan menggunakan parameter perkembangan produk turunan CCO, diketahui daya tarik agroindustri kelapa berada pada posisi tinggi yang diindikasikan dari adanya produk hilir yang menggunakan CCO sebagai bahan baku utama. Diperkirakan produk hilir CCO akan terus berkembang sampai jangka waktu 5 tahun mendatang. Hasil yang sama diperoleh dari hasil diagnosis agroindustri kelapa sawit dengan menggunakan parameter perkembangan produk turunan CPO, diketahui daya saing agroindustri kelapa sawit pada saat sekarang dan 5 tahun ke depan berada pada posisi tinggi. Sedangkan dari hasil diagnosis dengan menggunakan parameter perkembangan produk turunan PKO, diketahui daya saing agroindustri kelapa sawit pada saat sekarang berada pada posisi rendah dan akan berkembang menjadi tinggi dalam jangka waktu 5 tahun mendatang (Tabel 37). Tabel 37. Perkembangan produk turunan agroindustri kelapa dan kelapa sawit Jenis Industri Perkembangan Produk Turunan Pada Saat Sekarang 5 Tahun Mendatang Nilai Daya Tarik Nilai Daya Tarik Agroindustri Kelapa CCO 3 Tinggi 3 Tinggi Agroindustri Kelapa Sawit CPO 3 Tinggi 3 Tinggi PKO 1 Rendah 3 Tinggi Sumber : Hasil analisis

44 Perkembangan Teknologi Proses Penilaian daya tarik agroindustri pangan berdasarkan indikator perkembangan teknologi proses dilakukan dengan menggunakan parameter perkembangan perangkat teknologi (technoware) dan metode proses produksi yang digunakan oleh perusahaan yang tergolong dalam agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit. Dari hasil diagnosis terhadap agroindustri kelapa, diketahui daya tarik agroindustri kelapa berada pada posisi sedang. Diperkirakan posisi ini akan tetap bertahan dalam jangka waktu 5 tahun mendatang (Tabel 38). Dari hasil diagnosis terhadap agroindustri kelapa sawit berdasarkan perkembangan teknologi proses produksi CPO, diketahui daya tarik agroindustri kelapa sawit berada pada posisi tinggi. Diperkirakan posisi ini akan terus bertahan sampai jangka waktu 5 tahun mendatang. Adapun dari hasil diagnosis berdasarkan perkembangan teknologi proses produksi PKO, diketahui daya tarik agroindustri kelapa sawit berada pada posisi sedang. Posisi daya tarik ini akan berkembang menjadi tinggi dalam kurun waktu 5 tahun mendatang (Tabel 38). Tabel 38. Perkembangan teknologi proses agroindustri kelapa dan kelapa sawit Jenis Industri Perkembangan Teknologi Proses Pada Saat Sekarang 5 Tahun Mendatang Nilai Daya Tarik Nilai Daya Tarik Agroindustri Kelapa CCO 2 Sedang 2 Sedang Agroindustri Kelapa Sawit CPO 3 Tinggi 3 Tinggi PKO 2 Sedang 3 Tinggi Sumber : Hasil analisis Perkembangan Daya Tarik Agroindustri Pangan Pendeskripsian perkembangan agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit mengggunakan ukuran daya tarik industri pada saat sekarang dan pra-

45 kiraan perkembangannya 5 tahun mendatang. Penilaian dilakukan dengan cara memberi pembobotan terhadap indikator daya tarik industri yang digunakan (Tabel 39) Tabel 39. Perkembangan daya tarik agroindustri kelapa dan kelapa sawit Daya Tarik Agroindustri Pangan Indikator Daya Tarik Bobot Sekarang Mendatang CCO CPO PKO CCO CPO PKO 1. Pertumbuhan Pasar - Pasar Ekspor 0, Pasar Domestik 0, Pangsa Pasar 0, Perkembangan Produk 0, Perkembangan Produk Turunan 0, Perkembangan Teknologi 0, Jumlah Rataan Tertimbang 2,100 2,850 2,500 2,100 2,600 2,750 Sumber : Hasil Analisis Keterangan : 1 = Rendah, 2 = Sedang, 3 = Tinggi Dari hasil analisis daya tarik agroindustri kelapa dengan menggunakan parameter perkembangan daya tarik produk CCO diketahui posisi daya tarik agroindustri kelapa berada pada posisi sedang. Posisi daya tarik ini akan bertahan sampai jangka waktu 5 tahun mendatang. Adapun dari hasil analisis daya tarik agroindustri kelapa sawit dengan menggunakan parameter perkembangan daya tarik produk CPO diketahui posisi daya tarik agroindustri kelapa sawit akan mengalami penurunan dalam jangka waktu 5 tahun mendatang. Penurunan daya tarik ini disebabkan oleh penurunan laju pertumbuhan pasar ekspor CPO dari posisi tinggi ke posisi sedang. Sebaliknya dari hasil analisis daya tarik agroindustri kelapa sawit dengan menggunakan parameter perkembangan daya tarik produk PKO diketahui posisi daya tarik agroindustri kelapa sawit akan mengalami peningkatan dalam jangka waktu 5 tahun mendatang. Peningkatan in terutama disebabkan oleh adanya perkembangan mutu produk PKO dan produk turunannya dalam jangka waktu 5 tahun mendatang (Tabel 39). Posisi Persaingan Perusahaan Agroindustri Pangan Pendeskripsian posisi persaingan perusahaan agroindustri pangan dilakukan pada tataran lingkungan operasional perusahaan. Pendeskripsian didasarkan pada

46 hasil penilaian kekuatan bisnis (business strengths) perusahaan yang termasuk dalam golongan agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit yang terdapat di Propinsi Jambi. Penilaian menggunakan lima indikator posisi persaingan perusahaan yang terdiri dari: pesaing, pelanggan, tenaga kerja, pemasok dan teknologi. Kelima indikator ini merupakan turunan dari lima faktor kekuatan industri Porter (Porter Five Forces) yang terdiri dari: pesaing, pendatang baru dan produk substitusi serta pemasok dan pembeli (Pearce and Robinson, 1996). Posisi Persaingan Perusahaan Agroindustri Kelapa Pada tahun 2002 di Propinsi Jambi terdapat 8 perusahaan skala sedang yang termasuk dalam golongan industri CCO. Dari hasil diagnosis terhadap lima perusahaan contoh (Tabel 40) diketahui kelima perusahaan tersebut berada pada posisi lemah sampai mendekati sedang dalam persaingan antar perusahaan dalam golongan industri CCO. Satu perusahaan hampir mencapai posisi sedang (skor 2,900) yang diindikasikan dengan kemampuan perusahaan meningkatkan marjin laba dengan cara meningkatkan volume penjualan melalui kontak bisnis formal dengan perusahaan industri minyak goreng kelapa. Perusahaan ini juga menjalin kontak bisnis formal dengan pemasok kopra yang berada di dalam kawasan sentra produksi kopra. Di samping itu, perusahaan juga sudah melakukan standarisasi pola kerja, walaupun belum menerapkan sistem manajemen mutu. Satu-satunya indikator yang menyebabkan perusahaan ini belum mampu mencapai posisi sedang adalah karena tingkat kecanggihan peralatan pengolahan yang dimiliki masih bersifat manual, setara dengan rata-rata tingkat kecanggihan peralatan pengolahan CCO yang digunakan oleh umumnya industri CCO. Tabel 40. Posisi bersaing perusahaan industri CCO di Propinsi Jambi Indikator Bobot Skor Posisi Persaingan Perusahaan Pesaing 0, Pelanggan 0, Tenaga Kerja 0, Pemasok 0, Teknologi 0,

47 Jumlah 1,000 Rata-Rata Tertimbang 2,750 2,900 1,500 2,000 2,000 Sumber : Hasil analisis Keterangan: 1 = Sangat Lemah, 2 = Lemah, 3 = Sedang, 4 = Kuat, 5 = Sangat Kuat Posisi Persaingan Perusahaan Agroindustri Kelapa Sawit Sampai dengan akhir tahun 2002 di Propinsi Jambi terdapat 12 perusahaan industri pengolahan CPO yang mengelola 15 pabrik kelapa sawit (PKS) dan satu perusahaan industri pengolahan PKO yang baru berada pada tahap praoperasi. Dari hasil diagnosis terhadap lima PKS contoh (Tabel 41) diketahui kelima PKS tersebut berada pada posisi sedang sampai mendekati kuat dalam persaingan antar perusahaan yang termasuk dalam golongan industri CPO. Pencapaian posisi yang relatif baik pada kelima PKS contoh bersumber dari kemampuan perusahaan menciptakan jaringan kemitraan yang bersifat integratif dengan perkebunan sebagai pemasok tandan buah segar (TBS) yang merupakan bahan baku bagi PKS melalui pembangunan perkebunan dengan pola PIR (Perkebunan Inti Rakyat), PIR Trans (PIR Transmigrasi), dan KKPA (Kredit Koperasi Primer untuk Anggota). Dua dari lima PKS contoh juga terintegrasi secara vertikal dengan industri hilir dalam satu holding company. Di samping itu, kedua PKS ini juga sudah menerapkan sistem mutu dalam proses produksi. Tabel 41. Posisi bersaing perusahaan industri CPO di Propinsi Jambi Indikator Bobot Skor Posisi Persaingan Perusahaan Pesaing 0, Pelanggan 0, Tenaga Kerja 0, Pemasok 0, Teknologi 0, Jumlah 1,000 Rataan Tertimbang 3,650 3,650 3,000 3,150 3,150 Sumber: Hasil analisis Keterangan: 1 = Sangat Lemah, 2 = Lemah, 3 = Sedang, 4 = Kuat, 5 = Sangat Kuat Sebagaimana halnya dengan perusahaan industri CCO, satu-satunya indikator posisi persaingan PKS yang belum mampu mencapai posisi sedang adalah indikator teknologi. Akan tetapi tidak seperti perusahaan industri CCO yang ma-

48 sih menggunakan peralatan pengolahan yang bersifat manual, perusahaan PKS sudah menggunakan peralatan pengolahan special purposes yang bersifat otomatis. Adapun posisi indikator teknologi berada pada skor 2 (lemah), karena perangkat peralatan pengolahan yang digunakan oleh PKS di Propinsi Jambi setara dengan rata-rata peralatan yang digunakan oleh PKS secara nasional. Posisi Strategis Perusahaan Agroindustri Pangan Posisi strategis menggambarkan posisi persaingan perusahaan di dalam lingkungan industri yang digelutinya. Posisi strategis perusahaan yang tergolong dalam agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit di Propinsi Jambi digambarkan dalam matrik McKinsey-Ansoff sebagaimana dapat dapat dilihat pada Gambar 51. Matrik ini mengelompokkan perusahaan ke dalam sembilan sel. Tiga sel berada di atas garis diagonal, tiga sel pada garis diagonal, dan tiga sel berikutnya berada di bawah garis diagonal. Gambar 51. Matriks McKinsey-Ansoff posisi strategis perusahaan agroindustri kelapa dan kelapa sawit di Propinsi Jambi Dari Gambar 51. dapat dilihat perusahaan agroindustri kelapa di Propinsi Jambi menempati posisi sel selektif yang berada pada garis diagonal dan sel divestasi yang berada di bawah garis diagonal. Bagi perusahaan yang berada pada posisi selektif tersedia dua pilihan strategi spesifik, yaitu menyehatkan atau memperpanjang usaha. Sedangkan pilihan strategi spesifik bagi perusahaan yang berada pada sel divestasi adalah mengundurkan diri atau divestasi. Adapun bagi agro-

49 industri kelapa sawit yang menempati posisi sel pertumbuhan selektif, pilihan strategi yang dapat dikembangkan adalah mengejar atau mempertahankan posisi bersaing serta menemukan atau mengeksploitasi ceruk pasar (Pearce and Robinson, 1996; Muhammad, 2002; Supratikno, dkk, 2003).

50 ANALISIS STRUKTURAL Analisis struktural dilakukan untuk mengidentifikasi parameter sistem dan hubungan antar parameter yang membentuk struktur sistem agroindustri pangan, dalam hal ini sistem pembangunan agroindustri minyak nabati kasar (crude vegetable oil, ISIC 15141) di Propinsi Jambi. Analisis struktural dilakukan dalam tiga tahap, mencakup: 1) identifikasi paramater sistem, 2) identifikasi hubungan kontekstual antar parameter sistem, dan 3) klasifikasi parameter sistem. Identifikasi Parameter Sistem Identifikasi parameter sistem diawali dengan pembangkitan parameter dengan menggunakan perangkat pembangkit (generating tool) berupa survei pakar (expert survey) melalui wawancara mendalam (in-depth interview) terhadap pakar lintas disiplin. Tahap ini menghasilkan daftar parameter sistem (brainwriting) yang memuat daftar lengkap (exhausted list) 250 parameter sistem pembangunan agroindustri pangan. Selanjutnya, dilakukan reduksi jumlah parameter sistem. Reduksi didasarkan pada prinsip eliminasi parameter yang kurang relevan dan agregasi parameter yang sejenis. Tahap ini menghasilkan daftar 44 parameter sistem hasil reduksi dari 250 parameter yang telah diidentifikasi pada tahap sebelumnya. Daftar 44 parameter sistem tersebut dapat dilihat pada Tabel 39. Adapun rincian komponen dari masing-masing parameter sistem dapat dilihat pada Lampiran 2, Bagian b. Identifikasi Hubungan Kontekstual Identifikasi hubungan kontekstual antar parameter sistem menggunakan notasi biner untuk mengetahui adanya pengaruh suatu parameter terhadap parameter lainnya. Identifikasi dilakukan secara berpasangan (pairwise comparison). Notasi 1 diberikan jika suatu parameter berpengaruh terhadap parameter pasangannya. Sebaliknya notasi 0 diberikan jika suatu parameter tidak berpengaruh

51 terhadap parameter pasangannya. Hasil identifikasi dapat dilihat pada Lampiran 10. Tabel 42. Daftar parameter sistem pembangunan agroindustri pangan Kode Parameter P01 P02 P03 P04 P05 P06 P07 P08 P09 P10 P11 P12 P13 P14 P15 P16 P17 P18 P19 P20 P21 P22 P23 P24 P25 P26 P27 P28 P29 P30 P31 P32 P33 P34 P35 P36 P37 P38 P39 P40 P41 P42 P43 Sarana dan Prasarana Pertanian Teknik dan Manajemen Usahatani Lahan Pertanian Produk Pertanian Karakteristik Usahatani Petani dan Buruh Tani Investasi dan Pertumbuhan Usahatani Teknik dan Manajemen Produksi Karakteristik Perusahaan Pengolahan Produk Agroindustri Investasi dan Pertumbuhan Perusahaan Pengolahan Kualitas Tenaga Kerja Skim dan Akses Kredit Pelanggan Kelembagaan dan Kemitraan Pesaing Kebijakan Fiskal dan Moneter Kebijakan Industri dan Perdagangan Kebijakan Agraria Kebijakan Perburuhan Penyelenggaraan Otonomi Daerah Stabilitas Politik dan Kepastian Hukum Tren Pertumbuhan Ekonomi Global Fundamental Ekonomi Nasional Struktur dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional Ketersediaan dan Formasi Lapangan Kerja Iklim Investasi Psikososio Masyarakat Sosial Ekonomi Masyarakat Perkembangan Teknologi Implementasi Sistem Perdagangan Bebas Lingkungan Hidup HAM dan Demokratisasi Daya Saing Daerah Demografi Keadaan Geofisik Wilayah Struktur Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Infrastruktur dan Tata Ruang Wilayah Pendapatan Daerah Kerjasama Regional Perdagangan Produk Agroindustri Ekspor Produk Agroindustri Pola Pengembangan Perkebunan

52 P44 Perkembangan Kawasan Sentra Produksi Sumber : Hasil identifikasi Klasifikasi Parameter Sistem Klasifikasi parameter sistem didasarkan pada tingkat motor (driver power) dan respon (dependence) dari masing-masing parameter sistem. Tingkat motor menunjukkan kekuatan pengaruh suatu parameter terhadap parameter lainnya. Sebaliknya, tingkat respon menunjukkan derajat pengaruh yang diterima oleh suatu parameter sebagai respon terhadap parameter lainnya. Berdasarkan tingkat motor dan respon, parameter sistem dapat diklasifikasikan ke dalam empat sektor. Karakteristik parameter pada keempat sektor tersebut disajikan pada Tabel 43. Adapun hasil pengklasifikasian parameter sistem pembangunan agroindustri pangan di Propinsi Jambi dalam bentuk diagram motor-respon dapat dilihat pada Gambar 52. M 44 Sektor Sektor 3 o t o r Sektor 1 28 Sektor Respon Gambar 52. Diagram motor-respon sistem pembangunan agroindustri pangan

53 Tabel 43. Karakteristik parameter sistem Karakteristik Sektor 1 Sektor 2 Sektor 3 Sektor 4 Tingkat Motor Lemah Lemah Kuat Kuat Tingkat Respon Lemah Kuat Kuat Lemah Keterkaitan dengan Sistem Hubungan dengan Parameter Lain Klasifikasi Parameter Lemah (dapat diabaikan) Luaran (output) Penghubung (linkage) Masukan (input) Stabil Stabil Labil Stabil Parameter Parameter Parameter Parameter Bebas Terikat Penghubung Eksplikatif Parameter yang menjadi faktor penentu (key factors) kinerja sistem adalah parameter eksplikatif yang terletak di Sektor 4. Parameter ini merupakan parameter masukan sistem. Adapun parameter yang dapat dijadikan sebagai pengendali sistem adalah parameter penghubung (Sektor 3). Sedangkan parameter yang menjadi luaran sistem adalah parameter terikat (Sektor 2). Kedudukan ketiga kategori parameter ini dalam diagram kotak gelap sistem pembangunan agroindustri pangan di Propinsi Jambi dapat dilihat pada Gambar 54. Parameter Eksplikatif (Masukan) Dari hasil pengklasifikasian parameter sistem (Gambar 52) diketahui terdapat 15 parameter eksplikatif. Akan tetapi dalam konteks pembangunan agroindustri pangan di Propinsi Jambi, terdapat 5 parameter yang bersifat eksogen dan 10 parameter endogen (Tabel 44). Kelima parameter eksogen tersebut adalah P03 (Lahan Pertanian) dan P36 (Keadaan Geofisik Wilayah) yang bersumber dari faktor lingkungan fisik yang bersifat given; P31 (Implementasi Sistem Perdagangan Bebas) yang bersumber dari faktor lingkungan global; serta P17 (Kebijakan Fiskal dan Moneter) dan P18 (Kebijakan Industri dan Perdagangan) yang bersumber dari faktor lingkungan politik dan ekonomi nasional.

54 Kesepuluh parameter endogen yang merupakan parameter masukan bagi pembangunan agroindustri pangan di Propinsi Jambi terdiri dari P01 (Sarana dan Prasarana Pertanian), P05 (Karakteristik Usahatani), P09 (Karakteristik Perusa-haan Pengolahan), P12 (Kualitas Tenaga Kerja), P15 (Kelembagaan dan Kemi-traan), P19 (Kebijakan Agraria), P21 (Penyelenggaraan Otonomi Daerah), P29 (Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat), P30 (Perkembangan Teknologi) dan P38 (Infrastruktur dan Tata Ruang Wilayah). Grouping kesepuluh parameter endogen tersebut menghasilkan 6 tema parameter. Tiga tema bersifat mikro, yaitu Karakteristik Usaha, Jaringan Usaha, dan Status Teknologi. Tiga tema berikutnya bersifat makro, yaitu: Infrastruktur, Kualitas Pemerintahan, dan Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat. Keenam tema parameter eksplikatif ini sejalan dengan Teori Arthur Mosher tentang Getting Agricultural Moving dan pendapat Sondakh (2003) tentang pembangunan agroindustri pada era globalisasi dan desentralisasi. Teori Mosher mengajukan prasyarat untuk keberhasilan pembangunan pertanian yang terdiri dari: teknologi, kredit, pasar, transportasi, penyuluhan dan land-reform (Sajogjo, 1997). Sondakh (2003) menyatakan, bahwa determinan utama yang menentukan arah, proses dan intensitas perkembangan agroindustri dalam era globalisasi dan desentralisasi adalah: teknologi, pasar, skala ekonomi, networking, akses permodalan dan kualitas pemerintahan. Tabel 44. Parameter masukan sistem pembangunan agroindustri pangan Kode Parameter Masukan A. Parameter Eksogen P03 Lahan Pertanian P17 Kebijakan Fiskal dan Moneter P18 Kebijakan Industri dan Perdagangan P31 Implementasi Sistem Perdagangan Bebas P36 Keadaan Geofisik Wilayah B. Parameter Endogen P01 Sarana dan Prasarana Pertanian P05 Karakteristik Usahatani P09 Karakteristik Perusahaan Pengolahan P12 Kualitas Tenaga Kerja

55 P15 Kelembagaan dan Kemitraan P19 Kebijakan Agraria P21 Penyelenggaraan Otonomi Daerah P29 Sosial Ekonomi Masyarakat P30 Perkembangan Teknologi P38 Infrastruktur dan Tata Ruang Wilayah Sumber : Hasil analisis pada Gambar 52. Parameter Pengendali (Linkage) Parameter yang menjadi pengendali sistem adalah parameter penghubung (linkage) yang terdapat di Sektor 3. Dari hasil analisis (Gambar 52) diketahui terdapat 7 parameter penghubung yang dapat dijadikan sebagai parameter pengendali sistem pembangunan agroindustri pangan (Tabel 45) dengan model struktur pengendalian sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 53. Tabel 45. Parameter pengendali sistem pembangunan agroindustri pangan Kode Parameter Pengendali P04 Produk Pertanian P07 Investasi dan Pertumbuhan Usahatani P10 Produk Agroindustri P16 Pesaing P32 Lingkungan Hidup P43 Pola Pengembangan Perkebunan P44 Perkembangan Kawasan Sentra Produksi Sumber : Hasil analisis pada Gambar 52. P10 Produk Agroindustri P16 Pesaing P04 Produk Pertanian P44 P07 P32 Perkembangan Investasi/Pertumbuhan Lingkungan Kawasan Usahatani Hidup P43

56 Pola Pengembangan Perkebunan Gambar 53. Model struktural pengendalian sistem pembangunan agroindustri pangan Tujuan pengendalian sistem adalah untuk menghasilkan produk agroindustri berdaya saing tinggi yang memperhatikan perkembangan pesaing melalui pengendalian kualitas, kuantitas dan kontinuitas produksi produk pertanian yang menjadi bahan baku agroindustri pangan. Upaya ini dilakukan dengan cara me-ngendalikan investasi dan pertumbuhan usahatani melalui pengendalian pola pengembangan perkebunan dengan memperhatikan perkembangan kawasan sentra produksi dan kelestarian lingkungan. Parameter Luaran Dari hasil analisis (Gambar 52) diketahui terdapat 15 parameter luaran sistem pembangunan agroindustri pangan. Kelima belas parameter luaran tersebut dapat dikelompokkan ke dalam empat tingkat luaran, yaitu usahatani, industri pengolahan, wilayah dan nasional. Dalam konteks pembangunan agroindustri pangan di Propinsi Jambi, luaran sistem dibatasi sampai pada tingkat wilayah. Dengan demikian tersisa 10 parameter luaran sistem pembangunan agroindustri pangan di Propinsi Jambi yang terdiri dari masing-masing 2 parameter luaran pada tingkat usahatani dan industri pengolahan, serta 6 parameter luaran pada tingkat wilayah (Tabel 46). Tabel 46. Parameter luaran sistem pembangunan agroindustri pangan Kode Parameter Luaran A. Tingkat Usahatani P02 Teknik dan Manajemen Usahatani P06 Petani dan Buruh Tani B. Tingkat Industri Pengolahan P11 Investasi dan Pertumbuhan Perusahaan Pengolahan P14 Pelanggan C. Tingkat Wilayah

57 P26 Ketersediaan dan Formasi Lapangan Kerja P28 Psikososio Masyarakat P34 Daya Saing Daerah P35 Demografi P37 Struktur Pertumbuhan Ekonomi Wilayah P39 Pendapatan Daerah Sumber : Hasil analisis pada Gambar 52. Struktur Sistem Struktur sistem pembangunan agroindustri pangan dibangun berdasarkan hasil identifikasi dan klasifikasi parameter sistem. Struktur sistem dibangun dalam bentuk diagram masukan-luaran (Gambar 54). Luaran sistem pada tingkat usahatani berupa penerapan good agriculture practices (GAP) dalam kegiatan usahatani, peningkatan keterampilan dan produktivitas petani dan buruh tani. Pada tingkar industri pengolahan, luaran sistem berupa peningkatan investasi dan pertumbuhan perusahaan pengolahan untuk meraih loyalitas pelanggan. Adapun luaran sistem pada tingkat wilayah berupa: ketersediaan lapangan kerja, transformasi psikososiodemografi, peningkatan daya saing wilayah serta perkembangan perekonomian wilayah. Untuk mendapatkan luaran yang dikehendaki tersebut dibutuhkan masukan mikro berupa karakteristik usaha, jaringan usaha, serta status teknologi dan masukan makro berupa infrastruktur wilayah serta dukungan penyelenggara pemerintahan dan masyarakat. Masukan sistem mikro dikendalikan melalui manajemen pengendalian pola pengembangan perkebunan dengan memperhatikan investasi dan pertumbuhan usahatani, perkembangan kawasan, dan kelestarian lingkungan hidup, serta posisi strategis produk pertanian, produk agroindustri dan pesaing. Melalui manajemen pengendalian pola pengembangan perkebunan diharapkan usahatani perkebunan dan perusahaan pengolahan dapat berproduksi secara efisien dan berkelanjutan dengan menggunakan strategi pemanfaatan economic of scale dan economic of scope, jaringan kemitraan yang integratif, sinergis, strategis dan inovatif, serta kerjasama teknologi dan pemanfaatan teknologi.

58 LINGKUNGAN 1. Stabilitas politik dan kepastian hukum 2. Pertumbuhan ekonomi global 3. Kebijakan negara tujuan ekspor MASUKAN TIDAK TERKENDALI LUARAN DIKEHENDAKI A. Tingkat Usahatani 1. Kebijakan Fiskal dan Moneter 1. Teknik Manajemen Usahatani 2. Petani dan Buruh Tani 2. Kebijakan Industri dan B. Tingkat Industri Pengolahan Perdagangan 1. Investasi & Pertumbuhan 2. Pelanggan 3. Implementasi Sistem Perdagangan C. Tingkat Wilayah Bebas 1. Lapangan Kerja 2. Psikososiodemografi 4. Keadaan Geofisik Wilayah 3. Daya Saing Wilayah 4. Perekonomian Wilayah SISTEM PEMBANGUNAN AGROINDUSTRI MINYAK NABATI MASUKAN TERKENDALI LUARAN TIDAK DIKEHENDAKI A.. Masukan Mikro Tidak tercapainya luaran yang- 1. Karakteristik Usaha dikehendaki, baik pada tingkat 2. Jaringan Usaha usahatani, industri pengolahan 3. Status Teknologi ataupun pada tingkat wilayah B. Masukan Makro 1. Infrastruktur Wilayah 2. Penyelenggaraan Pemerintahan 3. Sosial Ekonomi Masyarakat

59 PARAMETER PENGENDALIAN 1. Pola Pengembangan Perkebunan 2. Investasi/Pertumbuhan Usahatani 3. Perkembangan Kawasan 4. Kelestarian Lingkungan Hidup 5. Produk Pertanian 6. Produk Agroindustri 7. Pesaing MANAJEMEN PENGENDALIAN Gambar 54. Diagram masukan-luaran sistem

60 ANALISIS PROSPEKTIF Kejadian Hipotetis Analisis prospektif dilakukan untuk mengetahui prospek agroindustri pangan di Propinsi Jambi. Analisis didasarkan pada peramalan jalur perubahan yang dilalui oleh masing-masing parameter peramal dalam proses evolusi sistem dalam kurun waktu 5-20 tahun yang akan datang. Sebagai parameter peramal digunakan parameter eksplikatif (parameter pada Sektor 4) yang diperoleh dari hasil analisis struktural yang terdiri dari: Karakteristik Usaha, Jaringan Usaha, Status Teknologi, Infrastruktur, Penyelenggara Pemerintahan, dan Sosial Ekonomi Masyarakat. Proses peramalan dimulai dengan mensintesis dua kejadian (event, E) hipotetis untuk masing-masing parameter peramal. Dengan demikian, dari 6 parameter eksplikatif dapat disintesis 12 kejadian hipotetis. Agar dapat memberikan gambaran proses evolusi sistem agroindustri pangan pada masa 5-20 tahun mendatang, kedua belas kejadian hipotetis tersebut disintesis dalam bentuk kejadian yang paling diharapkan dapat dicapai dalam kurun waktu 20 tahun mendatang. Kedua belas kejadian hipotetis tersebut dapat dilihat pada Tabel 47. Selanjutnya dilakukan peramalan peluang (probability, p) terjadinya kejadian bebas/tunggal dari masing-masing kejadian hipotetis. Prediksi peluang kejadian digunakan untuk memperoleh gambaran (mental map) jalur perubahan yang dilalui oleh masing-masing parameter peramal secara tunggal/bebas selama proses evolusi sistem berlangsung. Peramalan peluang kejadian hipotetis menggunakan indikator tahap evolusi parameter sistem (Lampiran 11). Hasil prediksi dalam bentuk gambaran secara grafis dari proses evolusi dari masingmasing parameter peramal secara tunggal/bebas dalam kurun waktu 5-20 tahun yang akan datang dapat dilihat pada Gambar

61 Tabel 47. Daftar kejadian hipotetis Parameter Peramal Kejadian Hipotetis Karakteristik Usaha Jaringan Usaha Status Teknologi Infrastruktur dan Tata Ruang Penyelenggaraan Pemerintahan Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat E01: Karakteristik Usahatani Tidak ada lagi usahatani yang bersifat subsisten, tetapi sudah berkembang menjadi usahatani komersial yang modern, berskala besar, efisien, inovatif dan berkelanjutan. E02: Karakteristik Perusahaan Pengolahan Perusahaan pengolahan sudah mencapai skala dan lingkup ekonomi yang memungkinkan pertumbuhan mutu produk dan pasar yang stabil dan berkelanjutan, serta responsif terhadap perubahan. E03: Jaringan Kemitraan Keterkaitan dan kemitraan dalam sistem agroindustri yang didasarkan pada asas saling membutuhkan, saling memperkuat dan saling menguntungkan sudah berhasil menjalin integrasi sinergis, strategis dan berkelanjutan. E04: Kerjasama Teknologi Sudah terjalin kerjasama teknologi dalam pengembangan created factor dan proses produksi yang memungkinkan terciptanya produk inovatif unggulan. E05: Status Technoware Perusahaan pengolahan sudah memanfaatkan teknologi tinggi (computerized and integrated technology) untuk menghasilkan produk inovatif unggulan berdaya saing tinggi. E06: Status Humanware SDM perusahaan pengolahan sudah mampu berinovasi untuk menciptakan produk inovatif unggulan berdaya saing tinggi. E07: Infrastruktur Wilayah Infrastruktur dasar dan utilitas industri, serta infrastruktur sistem informasi sudah berkembang sesuai dengan kebutuhan pembangunan agroindustri. E08: Pewilayahan Sentra Produksi Pewilayahan komoditas unggulan dalam bentuk kawasan sentra produksi sudah sesuai dengan kondisi agroekologi wilayah, serta telah mencapai skala dan lingkup ekonomi yang memungkinkan untuk memproduksi komoditas unggulan secara efisien dan berkelanjutan. E09: Kualitas Kebijakan Pemerintah sudah dapat menciptakan kebijakan dan program yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan agroindustri. E10: Kualitas Penyelenggara Pemerintahan Daerah Penyelenggara pemerintahan sudah mampu berfungsi sebagai fasilitator dan katalisator pembangunan agroindustri. E11: Pendidikan Masyarakat Tingkat pendidikan masyarakat sudah berada pada kualifikasi unggul dan mampu menghasilkan SDM terdidik dan terlatih, serta produktif, inovatif dan intuitif sesuai dengan kebutuhan pembangunan agroindustri. E12: Preferensi, Pilihan dan Loyalitas Konsumen Preferensi, pilihan dan loyalitas konsumen didasarkan pada nilai lebih (kualitas prima) dari produk.

62 Karakteristik Usaha Karakteristik Usahatani Dari hasil peramalan proses evolusi usahatani (Tabel 48) diketahui perkembangan usahatani kelapa tertinggal 10 tahun dibandingkan dengan perkembangan usahatani kelapa sawit. Dalam kurun waktu sampai dengan 10 tahun mendatang, usahatani kelapa belum mampu berproduksi secara efisien. Sedangkan dalam kurun waktu yang sama, usahatani kelapa sawit sudah berkembangan menjadi perkebunan modern dan efisien. Tabel 48. Tahapan evolusi karakteristik usahatani kelapa dan kelapa sawit Periode Karakteristik Usahatani (Tahun) Kelapa Kelapa Sawit 5 10 Skala ekonomi, tetapi belum efisien Skala ekonomi, tetapi belum efisien 15 Skala ekonomi dan efisien 20 Skala ekonomi, modern dan efisien Skala ekonomi dan efisien Skala ekonomi, modern dan efisien Skala ekonomi, modern, efisien dan inovatif Skala ekonomi, modern, efisien, inovatif dan berkelanjutan Sumber: Data hasil penelitian. Upaya peningkatan produktivitas dan efisiensi usahatani kelapa dengan menggunakan pendekatan dan strategi pemanfaatan skala ekonomi (economic of scale) dan lingkup ekonomi (economic of scope) melalui investasi (investmentdriven) diprediksi baru akan tercapai dalam kurun waktu 15 tahun yang akan datang. Sebelumnya, dalam periode waktu 5-10 tahun yang akan datang, peningkatan produktivitas usahatani kelapa masih bersumber dari faktor-faktor endowment (factors-driven). Dibutuhkan waktu lebih dari 20 tahun agar usahatani kelapa dapat menjadi perkebunan modern yang inovatif (innovation-driven). Adapun pada usahatani kelapa sawit, skala dan lingkup ekonomi yang sudah dicapai melalui investasi memungkinkan usahatani kelapa sawit tumbuh menjadi

63 perkebunan modern yang berproduksi secara efisien, inovatif dan berkelanjutan dalam kurun waktu tahun yang akan datang (Gambar 55). Gambar 55. Tahapan evolusi karakteristik usahatani Karakteristik Perusahaan Pengolahan Tahapan proses evolusi yang dilalui oleh perusahaan pengolahan (Gambar 56) memiliki pola yang sama dengan proses evolusi di tingkat usahatani (Gambar 55). Pada agroindustri kelapa, sebagaimana halnya dengan usahatani kelapa, dalam kurun waktu 5 10 tahun mendatang, pertumbuhan perusahaan pengolahan kelapa masih bersumber dari faktor-faktor endowment. Jaringan pemasaran masih dalam bentuk kontak informal ataupun sub-kontrak, baru pada periode tahun akan datang, perusahaan pengolahan kelapa tumbuh atas dorongan investasi, dan diprediksi dalam kurun waktu 20 tahun yang akan datang, perusahaan pengolahan kelapa baru mampu tumbuh stabil (Tabel 49). Pada agroindustri kelapa sawit, skala dan lingkup ekonomi yang sudah dicapai melalui investasi pada saat sekarang memungkinkan bagi perusahaan pengolahan kelapa sawit untuk tumbuh stabil dan mampu beradaptasi terhadap perubahan faktor-faktor eksternal dalam kurun waktu 15 tahun mendatang dan mencapai puncak pertumbuhan dalam kurun waktu 20 tahun yang akan datang (Tabel 49 dan Gambar 56).

64 Tabel 49. Tahapan evolusi karakteristik perusahaan pengolahan Periode Karakteristik Perusahaan Pengolahan (Tahun) Agroindustri Kelapa Agroindustri Kelapa Sawit Sub-kontrak dari perusahaan besar Memiliki jaringan kerjasama pemasaran Memiliki saluran pemasaran sendiri 20 Produk dan pasar tumbuh stabil Sumber : Data hasil penelitian. Memiliki saluran pemasaran Produk dan pasar tumbuh stabil Tumbuh stabil dan responsif terhadap pasar Tumbuh stabil dan responsif terhadap pasar Gambar 56. Tahapan evolusi karakteristik perusahaan pengolahan Jaringan Usaha Kemitraan Usaha Jaringan kemitraan usaha pada agroindustri kelapa dalam periode 5 tahun mendatang baru berada pada tahap kontak bisnis yang bersifat informal dan menjadi formal dalam bentuk sub-kontrak pada periode 10 tahun mendatang. Bentuk kemitraan yang integratif baru mulai dirintis dalam periode waktu 15 tahun

65 mendatang dalam bentuk integrasi vertikal antara usahatani dengan perusahaan pengolahan. Dalam hal ini, usahatani masih bersifat sub-ordinasi dari perusahaan pengolahan. Bentuk integrasi ini akan menjadi kemitraan yang sinergis pada periode waktu 20 tahun yang akan datang (Tabel 50 dan Gambar 57). Tabel 50. Tahapan evolusi kemitraan agroindustri kelapa dan kelapa sawit Periode Jaringan Kemitraan (Tahun) Agroindustri Kelapa Agroindustri Kelapa Sawit 5 Kontak bisnis informal Sub-ordinatif 10 Kontrak bisnis (sub-kontrak) Integratis dan sinergis 15 Sub-ordinatif Integratif, sinergis, dan strategis 20 Integratif dan sinergis Integratif, sinergis, strategis, dan berkelanjutan Sumber : Data primer hasil penelitian. Gambar 57. Tahapan evolusi jaringan kemitraan. Pada agroindustri kelapa sawit, integrasi horizontal antar usahatani dan integrasi vertikal antara usahatani dengan perusahaan pengolahan ataupun integrasi horizontal di dalam industri pengolahan yang dilakukan atas dasar prinsip saling membutuhkan, saling memperkuat dan saling menguntungkan untuk mencapai skala dan lingkup ekonomi akan mencapai tahap integrasi strategis yang sinergis dan inovatif dalam kurun waktu 20 tahun mendatang. Sementara itu, dalam

66 periode 5 tahun mendatang, kemitraan usaha baru pada tahap integrasi yang bersifat sub-ordinatif dan berkembang menjadi integrasi sinergis pada tahun ke-10. Kerjasama Teknologi Proses evolusi jaringan kerjasama teknologi pada agroindustri kelapa tertinggal lebih dari 5 tahun dibandingkan dengan proses evolusi pada agroindustri kelapa sawit (Tabel 51 dan Gambar 58). Pada agroindustri kelapa, jaringan kerjasama teknologi dimulai dengan kontrak pembelian teknologi dilanjutkan dengan adaptasi, akuisisi dan modifikasi teknologi. Sedangkan pada agroindustri kelapa sawit, kerjasama teknologi berkembang dari pembelian lisensi, adaptasi, akuisisi teknologi melalui investasi menjadi kerjasama dalam inovasi untuk memodifikasi teknologi dan pengembangan created factor guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi proses produksi. Tabel 51. Tahapan evolusi kerjasama teknologi Periode Kerjasama Teknologi (Tahun) Agroindustri Kelapa Agroindustri Kelapa Sawit 5 Kontrak Lisensi/adaptasi teknologi 10 Lisensi teknologi Akuisisi teknologi 15 Akuisisi teknologi Modifikasi teknologi 20 Modifikasi teknologi Pengembangan created factors Sumber: Data hasil penelitian. Gambar 58. Tahapan evolusi kerjasama teknologi.

67 Status Teknologi Status Technoware Perkembangan status fasilitas pengolahan (technoware) pada agroindustri kelapa tertinggal 10 tahun dibelakang fasilitas pengolahan yang digunakan pada agroindustri kelapa sawit (Tabel 52 dan Gambar 59). Pada agroindustri kelapa sawit, rekayasa proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan pengolahan untuk menciptakan produk unggulan berdaya saing tinggi (world class) secara efisien dengan menggunakan fasilitas pengolahan yang computerized dan terintegrasi dapat terwujud dalam kurun waktu 20 tahun mendatang. Pada saat itu, agroindustri kelapa baru pada tahap penggunaan fasilitas yang bersifat otomatis. Tabel 52. Tahapan evolusi status technoware Periode Status Technoware (Tahun) Agroindustri Kelapa Agroindustri Kelapa Sawit 5 Fasilitas mekanik Fasilitas bersifat khusus 10 Fasilitas bersifat umum Fasilitas bersifat otomatis 15 Fasilitas bersifat khusus Fasilitas computerized 20 Fasilitas bersifat otomatis Fasilitas sudah terintegrasi Sumber : Data hasil penelitian. Gambar 59. Tahapan evolusi status technoware

68 Status Humanware Perkembangan kemampuan SDM (humanware) agroindustri kelapa lebih lambat 5 tahun dibandingkan dengan perkembangan SDM agroindustri kelapa sawit. Pada agroindustri kelapa sawit, kemampuan SDM untuk melakukan rekayasa produk dan proses produksi guna menciptakan produk inovatif unggulan berdaya saing tinggi (world class) secara efisien diprediksi dapat diwujudkan dalam kurun waktu tahun mendatang (Tabel 53 dan Gambar 60). Hal ini dimungkinkan karena dalam kurun waktu 5-10 tahun yang akan datang, penanaman modal (investasi) pada agroindustri kelapa sawit memungkinkan perkembangan kemampuan SDM agroindustri kelapa sawit berkembang lebih cepat daripada kemampuan SDM agroindustri kelapa. Tabel 53. Tahapan evolusi status humanware Periode Status Humanware (Tahun) Agroindustri Kelapa Agroindustri Kelapa Sawit 5 Kemampuan merawat Kemampuan memperbaiki 10 Kemampuan memperbaiki Kemampuan memodifikasi 15 Kemampuan memodifikasi Kemampuan mengembangkan 20 Kemampuan mengembangkan Kemampuan berinovasi Sumber : Data primer hasil penelitian. Gambar 60. Tahapan evolusi status humanware

69 Infrastruktur dan Tata Ruang Wilayah Infrastruktur Wilayah Sampai dengan 5 tahun mendatang, pemerintah baru dapat membangun infrastruktur dasar seperti sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi. Adapun utilitas industri dan infrastruktur sistem informasi baru tersedia dalam kurun waktu tahun yang akan datang. Pembangunan infrastruktur wilayah akan terus berkembang mengikuti kebutuhan pembangunan agroindustri dan akan mencapai taraf sophisticated setelah lebih dari 20 tahun yang akan datang (Gambar 61). Gambar 61. Tahapan evolusi infrastruktur wilayah. Pewilayahan Sentra Produksi Dari hasil analisis (Tabel 54 dan Gambar 61) diketahui, pewilayahan sentra produksi kelapa lebih dulu berkembang daripada sentra produksi kelapa sawit, akan tetapi laju pertumbuhan sentra produksi kelapa sawit lebih tinggi daripada pertumbuhan sentra produksi kelapa, sehingga sentra produksi kelapa sawit lebih dulu mencapai tahap pertumbuhan alami yang berkelanjutan. Pada tahun ke-20 sentra produksi kelapa sawit sudah berkembang sesuai dengan kondisi agroekologi wilayah serta telah mencapai skala dan lingkup ekonomi yang

70 memungkinkan untuk memproduksi komoditas unggulan secara efisien dan berkelanjutan, pada saat tersebut sentra produksi kelapa masih bertahan pada tahap pertumbuhan alamiah. Tabel 54. Tahapan evolusi pewilayahan sentra produksi Periode Pewilayahan Sentra Produksi (Tahun) Kelapa Kelapa Sawit 5 Wilayah berkembang, tetapi Pewilayahan sesuai agroekologi, masih ada potensi konflik tetapi masih ada konflik 10 Wilayah berkembang, tetapi Wilayah berkembang, tetapi masih ada potensi konflik masih ada potensi konflik 15 Wilayah berkembang alamiah Wilayah berkembang alamiah 20 Wilayah berkembang alamiah Wilayah berkembang alamiah dan berkelanjutan Sumber : Data hasil penelitian. Penyelenggaraan Pemerintahan Mutu Kebijakan Pemerintah Harmonisasi kebijakan pemerintah dengan kebutuhan pembangunan agroindustri diprediksi akan tercapai dalam kurun waktu 15 tahun yang akan datang, didahului oleh pencapaian batas minimum (threshold) tingkat kesesuaian kebijakan pemerintah dengan kebutuhan pembangunan agroindustri dalam kurun waktu 10 tahun mendatang. Sebelumnya, dalam kurun waktu sampai 5 tahun mendatang, masih terdapat kebijakan pemerintah yang berbenturan dengan kebutuhan pembangunan agroindustri (Tabel 55 dan Gambar 62). Penyelenggara Pemerintahan Fungsi penyelenggara pemerintahan sebagai fasilitator dan katalisator pembangunan agroindustri sudah dapat terwujud dalam kurun waktu 15 tahun mendatang. Sementara itu, dalam kurun waktu 5-10 tahun mendatang, fungsi penyelenggara pemerintahan sudah beralih dari perannya sebagai penguasa menjadi regulator dan provider bagi pembangunan agroindustri pangan (Tabel 55 dan Gambar 62).

71 Tabel 55. Tahapan evolusi penyelenggaraan pemerintahan Periode Penyelenggaraan Pemerintahan (Tahun) Kebijakan Penyelenggara Kebijakan kadang masih berbenturan dengan kebutuhan agroindustri Kebijakan berada pada batas kesesuaian minimum dengan kebutuhan agroindustri. Harmonisasi kebijakan dengan kebutuhan agroindustri Kebijakan sudah sempurna, sesuai dengan kebutuhan agroindustri Sumber : Data hasil penelitian Penyelenggara pemerintahan berperan sebagai pengatur (regulator) pembangunan agroindustri Penyelenggara pemerintahan sudah berperan sebagai penyedia (provider) sarana/prasarana Penyelenggara pemerintahan berperan sebagai fasilisator Penyelenggara pemerintahan berperan sebagai katalisator pembangunan agroindustri Gambar 62. Tahapan evolusi penyelenggaraan pemerintahan. Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat Mutu Sumber Daya Manusia Tingkat pendidikan masyarakat baru dapat menghasilkan tenaga kerja berkualifikasi unggul (kualifikasi tenaga kerja untuk pembangunan agroindustri)

72 dalam periode waktu 20 tahun yang akan datang. Sementara itu, dalam periode waktu 5-10 tahun ke depan, kualifikasi tenaga kerja masih dalam taraf unskilled labors. Hasil investasi di bidang pendidikan terhadap kualitas tenaga kerja baru dapat dirasakan dalam kurun waktu 15 tahun yang akan datang (Tabel 56). Tabel 56. Tahapan evolusi sosial ekonomi masyarakat Periode Sosial Ekonomi Masyarakat (Tahun) Kualitas SDM Preferensi Konsumen 5 Kurang terdidik dan kurang terlatih 10 Terdidik, tetapi kurang terlatih 15 Terdidik dan terlatih Terdidik, terlatih, produktif, 20 dan inovatif Sumber : Data hasil penelitian. Selektif berdasarkan harga produk Selektif berdasarkan atribut mutu produk Mengutamakan keamanan, kenyamanan, dan keselamatan Menuntut tingkat kepuasan yang tinggi Gambar 63. Tahapan evolusi keadaan sosial ekonomi. Preferensi Konsumen Dari hasil analisis (Gambar 63), diketahui pergeseran preferensi konsumen terjadi dengan cepat dalam periode waktu tahun mendatang. Dalam kurun

73 waktu tersebut terjadi pergeseran preferensi dari sikap selektif terhadap harga menjadi selektif terhadap mutu produk. Pergeseran preferensi ini diharapkan dapat mendorong agroindustri pangan melakukan inovasi produk dan proses pro-duksi agar dapat dihasilkan produk unggulan sesuai dengan perkembangan prefe-rensi konsumen. Menurut Saragih (1997), kemampuan menghasilkan produk yang sesuai dengan preferensi konsumen merupakan keharusan (necessary of conditi-on) bagi pengembangan keunggulan kompetitif (competitive advantage). Harga produk yang murah baru dapat menjadi keunggulan kompetitif hanya jika produk tersebut memiliki atribut mutu yang sesuai dengan preferensi konsumen (Sharples dan Milham, 1990; Cook dan Bredahl, 1991; Hafsah, 2000; Sumardjo, dkk, 2004). Skenario Eksploratif Model Struktural Kejadian Hipotetis Skenario eksploratif disintesis berdasarkan hubungan kontekstual antar pasangan kejadian hipotetis. Identifikasi hubungan kontekstual dilakukan oleh suatu panel pakar dengan menggunakan skala biner untuk menunjukkan adanya hubungan prasyarat suatu kejadian terhadap kejadian pasangannya. Hasil identifikasi dapat dilihat pada Lampiran 12. Dari hasil identifikasi hubungan kontekstual diperoleh dua model struktural kejadian hipotetis (Gambar 64). Model pertama terdiri dari lima kejadian hipotetis yang membentuk struktur berjenjang (hierarchy). Struktur ini terdiri dari empat level, dimana pada level pertama adalah Penyelenggara Pemerintahan (E10), diikuti oleh Infrastruktur Wilayah (E07) dan Kualitas Kebijakan (E09) pada Level-2, Pewilayahan Sentral Produksi (Level-3) dan Karakteristik Usahatani pada level keempat (Gambar 64, Bagian a). Pada model kedua terdapat tujuh kejadian hipotetis yang membentuk struktur berjenjang yang terdiri dari empat level. Level pertama ditempati oleh Jaringan Kemitraan (E03) dan Penyelenggara Pemerintahan (E10), diikuti oleh Pendidikan Masyarakat (E11) dan Kerjasama Teknologi (E04) pada Level-2, Status Technoware (E05) dan Humanware (E06)

74 pada level-3, dan Karakteristik Perusahaan Pengolahan (E02) pada Level-4 (Gambar 64, Bagian b). Model struktural (Gambar 64) dipergunakan sebagai skenario eksploratif untuk peramalan prospek agroindustri pangan. Pada model pertama (Gambar 64, Bagian a) dapat dilihat keberhasilan pembangunan agroindustri pangan dapat diprediksi dari kemampuan sistem membangun usahatani komersial yang modern, berskala besar, efisien, inovatif, dan berkelanjutan (Level-4) melalui pewilayahan komoditas unggulan dalam bentuk kawasan sentra produksi yang sesuai dengan kondisi agroekologi wilayah (Level-3) yang didukung oleh infrastruktur wilayah dan suprastruktur kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan agroindustri pangan (Level-2). Semuanya ini membutuhkan adanya penyelenggara pemerintahan yang dapat berperan sebagai fasilitator dan katalisator bagi pembangunan agroindustri pangan (Level-1). E01 E02 Karakteristik Level-4 Karakteristik Usahatani Perusahaan E08 E05 E06 Pewilayahan Level-3 Status Status Sentra Produksi Technoware Humanware E07 E09 Level E11 E04 Infrastruktur Kualitas 2 Pendidikan Kerjasama Wilayah Kebijakan Masyarakat Teknologi E10 E10 E03 Penyelenggara Level-1 Penyelenggara Jaringan Pemerintahan Pemerintahan Kemitraan (a) (b) Gambar 64. Model struktural kejadian hipotetis

75 Pada model kedua (Gambar 64, Bagian b), peran penyelenggara pemerintahan sebagai fasilitator dan katalisator bagi pembangunan agroindustri pangan juga menempati jenjang pertama (Level-1) pada struktur kejadian hipotetis. Dalam hal ini, pemerintah berperan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sehingga dapat dihasilkan SDM yang terdidik, terlatih, produktif, inovatif, dan intuitif sesuai dengan kebutuhan pembangunan agroindustri pangan (Level-2), sehingga perusahaan pengolahan dapat memanfaatkan teknologi tinggi (computerized and integrated technology) dan SDM yang inovatif (Level-3) untuk menghasilkan produk inovatif dengan kualitas prima (Level-4). Selain melalui jalur pendidikan, pemanfaatan teknologi (technoware) dan SDM (humanware) yang inovatif (Level-3) dapat diperoleh dari kerjasama teknologi (Level-2) melalui jaringan kerjasama kemitraan yang bersifat sinergis, strategis, dan berkelanjutan (Level-1). Jalur Evolusi Sistem Model pertama struktur kejadian hipotetis (Gambar 64, Bagian a) memetakan dua jalur proses evolusi sistem pembangunan agroindustri pangan, yaitu : Jalur 1a : E10 E07 E08 E01 Jalur 1b : E10 E09 E08 E01 Adapun model kedua struktur kejadian hipotetis (Gambar 64, Bagian b) memetakan empat jalur proses evolusi sistem pembangunan agroindustri pangan, yaitu : Jalur 2a : E10 E11 E05 E02 Jalur 2b : E10 E11 E06 E02 Jalur 3a : E03 E04 E05 E02 Jalur 3b : E03 E04 E06 E02 Keenam jalur proses evolusi di atas beserta elemen proses dan peluang kejadian bersyaratnya dapat dilihat pada Tabel 57. Sedangkan secara grafis, keenam jalur proses evolusi sistem tersebut diperlihatkan pada Gambar Pada Gambar 65 dapat dilihat dalam jangka waktu 20 tahun yang akan datang, usahatani kelapa ataupun usahatani kelapa sawit sudah berkembang

76 menjadi usahatani modern, efisien, dan inovatif. Hal ini dapat terwujud karena penyelenggara pemerintahan sudah mampu membangun infrastruktur wilayah sekaligus menciptakan kebijakan yang dapat mendorong pertumbuhan kawasan sentra produksi. Sebaliknya, dalam jangka waktu yang sama, penyelenggara pemerintahan belum mampu menciptakan sistem pendidikan yang dapat menghasil perangkat teknologi (technoware) dan sumberdaya manusia (humanware) unggulan, sehingga perusahaan pengolahan kelapa dan kelapa sawit walaupun dapat berkembang, akan tetapi kecepatan perkembangannya tidak dapat mencapai taraf pertumbuhan yang stabil (Gambar 66). Tabel 57. Peluang bersyarat proses evolusi sistem pembangunan agroindustri pangan Peluang Kejadian Bersyarat (%) Jalur Elemen Proses Evolusi Kelapa Kelapa Sawit Evolusi Jalur 1a Penyelenggara Pemerintahan Infrastruktur Wilayah Pewilayahan Sentra Produksi Karakteristik Usahatani Jalur 1b Penyelenggara Pemerintahan Kualitas Kebijakan Pewilayahan Sentra Produksi Karakteristik Usahatani Jalur 2a Penyelenggara Pemerintahan Pendidikan Masyarakat Status Technoware Karakteristik Perusahaan Jalur 2b Penyelenggara Pemerintahan Pendidikan Masyarakat Status Humanware

77 Karakteristik Perusahaan Jalur 3a Jaringan Kemitraan Kerjasama Teknologi Status Technoware Karakteristik Perusahaan Jalur 3b Jaringan Kemitraan Kerjasama Teknologi Status Humanware Karakteristik Perusahaan Sumber : Data primer hasil penelitian Pada Gambar 65 dapat dilihat upaya penyelenggara pemerintahan membangun infrastruktur wilayah sekaligus menciptakan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan sentra produksi dapat mempercepat perkembangan usahatani kelapa menjadi usahatani modern, efisien, dan inovatif. Akan tetapi, upaya tersebut tidak mampu mempercepat perkembangan usahatani kelapa sawit, karena secara alamiah usahatani kelapa sawit memiliki potensi untuk berkembang lebih cepat daripada perkembangan infra dan suprastruktur wilayah.

78 Gambar 65. Jalur pertama evolusi karakteristik usahatani Sebagaimana halnya dengan sub-sistem usahatani, perkembangan perusa-haan pengolahan kelapa sawit secara alamiah lebih cepat daripada perusahaan pe-ngolahan kelapa. Upaya pemerintah mendorong perkembangan agroindustri de-ngan cara meningkatkan status perangkat teknologi dan SDM melalui jalur pendi-dikan sampai dengan jangka waktu 20 tahun mendatang belum mampu mendo-rong perkembangan agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit ke taraf in-novation-driven, walaupun secara alamiah, agroindustri kelapa sawit memiliki po-tensi untuk berkembang ke taraf innovation-driven dalam kurun waktu 20 tahun mendatang (Gambar 66). Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Yudhoyono (2004) yang menyimpulkan bahwa jalur pendidikan kurang efektif untuk diguna-kan sebagai pendorong pertumbuhan di sektor pertanian. Adapun upaya untuk mendorong pertumbuhan agroindustri melalui pe-manfaatan perangkat teknologi dan SDM unggulan melalui jalur kerjasama tekno-logi hanya mampu memacu pertumbuhan perusahaan pengolahan kelapa sawit, te-tapi belum mampu memacu pertumbuhan perusahaan pengolahan kelapa, sehing-ga dalam jangka waktu 20 tahun yang akan datang, perkembangan agroindustri kelapa sawit sudah berada pada tahap innovation-driven, sedangkan agroindustri kelapa masih berada pada tahap investment-driven (Gambar 67).

79 Gambar 66. Jalur kedua evolusi karakteristik perusahaan pengolahan Gambar 67. Jalur ketiga evolusi karakteristik perusahaan pengolahan

80 STRATEGI PEMBANGUNAN AGROINDUSTRI PANGAN Skenario Normatif Pembangunan Agroindustri Pangan Visi Pembangunan Agroindustri Pangan Strategi pembangunan agroindustri pangan (agroindustri minyak nabati di Propinsi Jambi) disintesis dalam bentuk skenario normatif. Skenario normatif pada hakekatnya adalah rencana jangka panjang (planifikasi) yang disintesis berdasarkan harapan (visi pembangunan agroindustri pangan) yang ingin dicapai pada masa mendatang dengan mempertimbangkan sumber daya yang tersedia (analisis situasional dan struktural) dalam perspektif masa depan (analisis prospektif). Dalam hal ini, visi pembangunan agroindustri pangan adalah terwujudnya agroindustri pangan yang berdaya saing global, desentralistik dan berkelanjutan. Agroindustri pangan yang berdaya saing global memiliki ciri berorientasi pasar, serta mengandalkan produktivitas dan nilai tambah melalui pemanfaatan modal (investment-driven) dan teknologi (innovation-driven); tidak hanya mengandalkan kelimpahan faktor endowment seperti sumber daya alam dan tenaga kerja tidak terdidik (factor-driven). Agroindustri pangan yang desentralistik dimaksudkan sebagai agroindustri pangan berbasis pada pemanfaatan dan peningkatan daya saing komoditas pertanian unggulan yang menjadi basis ekonomi suatu wilayah (local specific products). Dalam hal ini komoditas unggulan dalam suatu wilayah KSP. Agar pembangunan agroindustri pangan yang berdaya saing global dan desentralistik tersebut dapat berkelanjutan (sustainable), maka pembangunan agroindustri pangan harus berorientasi pada kepentingan jangka panjang dengan cara menggunakan teknologi ramah lingkungan dan mengupayakan kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup. Di samping itu, agar memiliki daya saing global berkelanjutan, agroindustri pangan yang dibangun harus memiliki kemampuan merespons perubahan pasar dengan cepat dan efisien, serta secara terusmenerus melakukan inovasi teknologi.

81 Faktor Pendukung Pembangunan Agroindustri Pangan Dari hasil analisis struktural diketahui terdapat enam faktor kunci (key factors) penentu keberhasilan pembangunan agroindustri pangan. Keenam faktor tersebut terdiri dari: karakteristik usaha, jaringan usaha dan status teknologi yang merupakan faktor-faktor mikro, serta infrastruktur, penyelenggaraan pemerintahan dan sosial ekonomi masyarakat yang merupakan faktor-faktor makro. Dari hasil analisis prospektif dengan menggunakan skenario ekploratif diketahui bahwa keberhasilan pembangunan agroindustri pangan berdaya saing, desentralistik dan berkelanjutan tergantung pada : (1) kemampuan sistem membangun usahatani komersial yang modern, berskala besar, efisien, inovatif dan berkelanjutan; (2) kemampuan sistem membangun perusahaan pengolahan yang memiliki lingkup dan skala ekonomi yang memungkinkan pertumbuhan produk dan pasar yang stabil dan berkelanjutan, serta responsif terhadap perubahan. Pembangunan usahatani komersial modern, berskala besar, efisien, inovatif dan berkelanjutan dilakukan melalui (1) pewilayahan komoditas unggulan dalam bentuk KSP yang sesuai dengan kondisi agroekologi wilayah dan (2) didukung oleh infrastruktur wilayah, (3) suprastruktur kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan agroindustri pangan dan (4) adanya penyelenggara pemerintahan yang dapat berperan sebagai fasilitator dan katalisator pembangunan agroindustri pangan (Gambar 64, Bagian a). Pembangunan perusahaan pengolahan dengan lingkup dan skala ekonomi yang memungkinkan untuk menghasilkan produk inovatif dengan kualitas prima dan berdaya saing global dilakukan melalui pemanfaatan (1) perangkat teknologi dan (2) SDM inovatif yang diperoleh melalui (3) penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan atau (4) kerjasama teknologi (Gambar 64, Bagian b). Akan tetapi, dari hasil analisis prospektif (Gambar 66) diketahui bahwa upaya mendorong perkembangan agroindustri pangan dengan cara meningkatkan status perangkat teknologi dan SDM melalui jalur pendidikan sampai dengan jangka waktu 20 tahun mendatang belum berhasil mendorong perkembangan agroindustri pangan sampai ke taraf innovation-driven. Hanya melalui kerjasama teknologi upaya peningkat-

82 an status perangkat teknologi dan SDM untuk mencapai tahap unggul (innovationdriven) dapat terwujud. Dengan demikian dapat disimpulkan terdapat delapan peubah yang menjadi kunci keberhasilan pembangunan agroindustri pangan. Empat peubah berpengaruh secara langsung terhadap keberhasilan pembangunan sub-sistem usahatani dan empat perubah berikutnya berpengaruh secara langsung terhadap keberhasilan pembangunan sub-sistem agroindustri. Rincian kedelapan peubah kunci tersebut beserta kriteria pengukuran/penilaian keberhasilannya dalam pembangunan agroindustri pangan dapat dilihat pada Tabel 58. Tabel 58. Daftar peubah kunci keberhasilan pembangunan agroindustri pangan beserta kriteria pengukuran/penilaian Peubah Kriteria Pengukuran/Penilaian Keberhasilan Pembangunan Sub-Sistem Usahatani 1. Pewilayahan Sentra Produksi 2. Infrastruktur Wilayah 3. Kualitas Kebijakan Pembangunan 4. Kualitas Penyelenggara Pemerintahan Pembangunan Sub- Sistem Agroindustri Kemampuan sistem membangun usahatani komersial yang modern berskala besar, efisien, inovatif dan berkelanjutan(sustainable). Keberhasilan pewilayahan komoditas pertanian unggulan dalam bentuk kawasan sentra produksi yang sesuai dengan kondisi agroekologi kawasan serta memiliki skala dan lingkup ekonomi yang memungkinkan untuk memproduksi komoditas unggulan secara efisien dan berkelanjutan. Ketersediaan infrastruktur fisik wilayah dan infrastruktur pertanian yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan pertanian berkelanjutan. Kesesuaian kebijakan dan program pembangunan dengan kebutuhan pembangunan pertanian berkelanjutan. Keberhasilan transformasi fungsi penyelenggara pemerintahan serta kualitas pelayanan publik. Kemampuan sistem membangun perusahaan pengolahan yang memiliki lingkup dan skala ekonomi yang memungkinkan pertumbuhan produk dan pasar yang stabil dan berkelanjutan serta responsif terhadap perubahan.

83 1. Status Technoware Status technoware yang digunakan oleh perusahaan pengolahan sudah sampai pada taraf teknologi tinggi (computerized and integrated technology). 2. Status Humanware Status SDM yang bekerja pada perusahaan pengolahan sudah memiliki kemampuan berinovasi untuk menciptakan produk unggulan yang berdaya saing tinggi. 3. Kerjasama Jalinan kerjasama teknologi antar perusahaan pengolahan Teknologi sudah sampai pada taraf pengembangan created factors untuk menghasilkan produk inovatif unggulan. 4. Jaringan Kemitraan Kemitraan usaha sudah terjalin secara sinergis, strategis dan berkelanjutan atas dasar prinsip saling membutuhkan, memperkuat dan menguntungkan. Skenario Normatif Skenario normatif pembangunan agroindustri pangan disintesis berdasarkan tahapan perkembangan peubah kunci pembangunan agroindustri pangan yang dibagi dalam tiga tahap perkembangan, yaitu Factor-Driven, Investment-Driven dan Innovation-Driven. Model struktural skenario normatif pembangunan agroindustri pangan dibagi dalam dua model pembangunan, yaitu : (a) model struktural pembangunan sub-sistem usahatani dan (b) model struktural pembangunan perusahaan pengolahan (Gambar 68). Pembangunan Sub-Sistem Usahatani Pembangunan Perusahaan Pengolahan Perkembangan Perkembangan Perkembangan Kawasan Status Status Sentra Produksi Technoware Humanware

84 Perkembangan Perkembangan Intensitas Infrastruktur Kualitas Kerjasama Wilayah Kebijakan Teknologi Kualitas Penyelenggara Pemerintahan (a) Pembangunan sub-sistem usahatani Intensitas Jaringan Kemitraan b) Pembangunan perusahaan pengolahan Gambar 68. Model struktural skenario pembangunan agroindustri pangan Skenario Pembangunan Agroindustri Kelapa Strategi Pembangunan Usahatani Kelapa Strategi pembangunan usahatani kelapa dimaksudkan untuk menjadikan perkebunan kelapa sebagai usahatani komersial modern, berskala besar, efisien, inovatif dan berkelanjutan. Upaya ini tergantung pada: (1) perkembangan KSP kelapa, (2) perkembangan infrastruktur wilayah, (3) kebijakan pemerintah dalam pembangunan sub-sistem usahatani kelapa dan (4) kualitas penyelenggara pemerintahan. Pembangunan usahatani kelapa tidak akan berhasil jika penyelenggara pemerintahan: (1) tidak memahami permasalahan dan (2) tidak memiliki visi pembangunan usahatani kelapa. Permasalahan utama dalam pembangunan usahatani kelapa pada KSP kelapa di Propinsi Jambi saat ini adalah tidak efisiennya usahatani kelapa sebagai akibat dari menurunnya tingkat produktivitas kelapa. Penurunan produktivitas kelapa adalah akibat dari tidak dilakukannya perawatan dan peremajaan tanaman kelapa yang sudah tua sebagai akibat dari penurunan nilai tukar (term of trade) komoditas kelapa, sehingga usahatani kelapa menjadi tidak menarik. Diprediksi keadaan ini masih akan berlangsung dalam waktu 5 sampai 10 tahun yang akan datang.

85 Upaya untuk meningkatkan daya tarik usahatani kelapa dapat dilakukan dengan cara : (1) membangun infrastruktur guna meningkatkan akses pasar bagi komoditas kelapa; (2) membuat kebijakan yang berpihak pada usahatani kelapa, seperti penghapusan retribusi terhadap komoditas kelapa dan pemberian kredit untuk perawatan dan peremajaan tanaman kelapa. Dari hasil analisis prospektif, diketahui kedua faktor ini (infrastruktur dan kualitas kebijakan) merupakan faktor kritis dalam pembangunan sistem usahatani kelapa (Tabel 59) Agar perkembangan usahatani kelapa dapat mencapai tahap innovationdriven dalam kurun waktu 20 tahun mendatang, maka perlu dilakukan strategi periodesasi tahapan pembangunan sistem usahatani kelapa berikut : Tabel 59. Tahap perkembangan usahatani kelapa Parameter Tahap Perkembangan (Tahun) Perkembangan Karakteristik Usahatani Factor- Factor- Investment- Investment- Driven Driven Driven Driven Perkembangan KSP Investment- Investment- Innovation- Innovation- Driven Driven Driven Driven Infrastruktur Wilayah Factor- Investment- Investment- Innovation- Driven Driven Driven Driven Kualitas Kebijakan Factor- Investment- Investment- Innovation- Driven Driven Driven Driven Penyelenggara Pemerintahan Investment- Driven Investment- Driven Innovation- Driven Innovation- Driven Sumber : Hasil analisis pada Gambar 55, 61 dan 62. Periode Pertama (0 10 tahun) Pada periode pertama pembangunan usahatani kelapa, dalam kurun waktu sampai 10 tahun mendatang, penyelenggara pemerintahan harus mampu : (1) membangun infrastruktur dasar guna meningkatkan akses pasar bagi komoditas kelapa yang diproduksi pada suatu KSP; (2) menghapus kebijakan yang berbenturan dengan pembangunan usahatani kelapa; dan (3) menciptakan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan usahatani kelapa. Ketiga upaya ini diharapkan dapat menggeser tahap perkembangan infrastruktur wilayah dan kualitas

86 kebijakan dari factor-driven ke investmen-driven, sehingga pada tahun ke-10, perkembangan usahatani kelapa sudah berada pada tahap investment-driven (Tabel 60). Tabel 60. Skenario perkembangan usahatani kelapa Parameter Tahap Perkembangan (Tahun) Perkembangan Karakteristik Usahatani Factor- Investment- Investment- Innovation- Driven Driven Driven Driven Perkembangan KSP Investment- Investment- Innovation- Innovation- Driven Driven Driven Driven Infrastruktur Wilayah Investment- Investment- Innovation- Innovation- Driven Driven Driven Driven Kualitas Kebijakan Investment- Investment- Innovation- Innovation- Driven Driven Driven Driven Penyelenggara Pemerintahan Investment- Driven Investment- Driven Innovation- Driven Innovation- Driven Sumber : Hasil analisis Periode Kedua (10 20 tahun) Pada periode kedua pembangunan sistem usahatani kelapa, dalam kurun 10 sampai 20 tahun mendatang, investasi pemerintah diprioritaskan pada pengembangan riset untuk menghasilkan teknologi aplikatif bagi pembangunan usahatani kelapa. Di samping itu, penyelenggara pemerintahan harus mampu menciptakan kebijakan yang harmonis sesuai dengan kebutuhan pembangunan usahatani kelapa, sehingga dalam kurun waktu 20 tahun mendatang perkembangan usahatani kelapa sudah sampai pada tahap innovation-driven (Tabel 60).

87 Strategi Pembangunan Perusahaan Pengolahan Kelapa Strategi pembangunan perusahaan pengolahan kelapa bertujuan agar perusahaan pengolahan memiliki lingkup dan skala ekonomi yang memungkinkan untuk menghasilkan produk inovatif dengan kualitas prima dan berdaya saing global melalui pemanfaatan : (1) perangkat teknologi (technoware) dan (2) SDM (humanware) inovatif yang dihasilkan dari (3) jaringan kemitraan dan (4) kerjasama teknologi. Dari hasil analisis tahap perkembangan perusahaan pengolahan kelapa (Tabel 61), diketahui bahwa faktor kritis dalam pembangunan perusahaan pengolahan kelapa adalah status technoware dan jaringan kemitraan. Dengan demikian, upaya pengembangan perusahaan pengolahan kelapa dapat difokuskan pada peningkatan status technoware dan jaringan kemitraan. Tabel 61. Tahap perkembangan perusahaan pengolahan kelapa Parameter Tahap Perkembangan (Tahun) Perkembangan Karakteristik Perusahaan Factor- Factor- Investment- Investment- Driven Driven Driven Driven Status Technoware Factor- Factor- Investment- Investment- Driven Driven Driven Driven Status Humanware Factor- Investment- Investment- Innovation- Driven Driven Driven Driven Kerjasama Teknologi Factor- Investment- Investment- Innovation- Driven Driven Driven Driven Jaringan Kemitraan Factor- Factor- Investment- Investment- Driven Driven Driven Driven Sumber : Hasil analisis pada Gambar Pada tahap pertama pembangunan perusahaan pengolahan kelapa, yaitu dalam periode waktu sampai dengan 10 tahun mendatang, harus dilakukan upaya : 1) Peningkatan status technoware pada perusahaan pengolahan kelapa melalui kerjasama teknologi. Pada tahap ini, kerjasama teknologi setidaknya sudah

88 sampai pada tahap adaptasi ataupun akuisisi teknologi untuk menghasilkan perangkat pengolahan yang bersifat otomatis untuk penggunaan khusus. 2) Peningkatan intensitas integrasi ke belakang perusahaan pengolahan dengan usahatani kelapa. Pada tahap ini setidaknya pembangunan perusahaan pengolahan sudah terintegrasi dengan pembangunan sistem usahatani, walaupun dengan pola integrasi yang masih bersifat sub-ordinatif ataupun hanya melalui koordinasi vertikal. Kedua upaya ini diharapkan dapat menggeser perkembangan status technoware dan intensitas kemitraan dari factor-driven ke investmen-driven, sehingga pada tahun ke-10, perkembangan perusahaan pengolahan sudah berada pada tahap investment-driven (Tabel 62). Tabel 62. Skenario perkembangan perusahaan pengolahan kelapa Parameter Tahap Perkembangan (Tahun) Perkembangan Karakteristik Perusahaan Factor- Investment- Investment- Innovation- Driven Driven Driven Driven Status Technoware Factor- Investment- Investment- Innovation- Driven Driven Driven Driven Status Humanware Factor- Investment- Investment- Innovation- Driven Driven Driven Driven Kerjasama Teknologi Factor- Investment- Investment- Innovation- Driven Driven Driven Driven Jaringan Kemitraan Factor- Investment- Investment- Innovation- Driven Driven Driven Driven Sumber : Hasil analisis Upaya yang harus dilakukan pada periode kedua pembangunan perusahaan pengolahan kelapa, yaitu dalam kurun waktu tahun mendatang, adalah melanjutkan upaya yang telah dilakukan pada periode pertama, yaitu : 1) Peningkatan status technoware pada perusahaan pengolahan kelapa melalui kerjasama teknologi. Pada tahap ini, kerjasama teknologi sudah harus sampai

89 pada tahap modifikasi teknologi untuk menghasilkan created factors dengan menggunakan perangkat teknologi canggih (computerized and integrative technology). 2) Peningkatan intensitas integrasi ke belakang perusahaan pengolahan dengan usahatani kelapa. Pada tahap ini, intensitas integrasi sudah harus sampai pada bentuk integrasi vertikal yang sinergis, inovatif dan berkelanjutan. Kedua upaya ini diharapkan dapat menggeser perkembangan status technoware dan intensitas kemitraan dari investmen-driven ke innovation-driven, sehingga pada tahun ke-20, perkembangan perusahaan pengolahan sudah berada pada tahap innovation-driven (Tabel 62). Skenario Pembangunan Agroindustri Kelapa Sawit Strategi Pembangunan Usahatani Kelapa Sawit Sebagaimana halnya dengan pembangunan usahatani kelapa, strategi pembangunan sistem usahatani kelapa sawit dimaksudkan untuk menjadikan perkebunan kelapa sawit sebagai usahatani komersial modern, berskala besar, efisien, inovatif dan berkelanjutan. Dari hasil analisis prospektif (Tabel 63), diketahui secara alamiah, usahatani kelapa sawit di Propinsi Jambi memiliki potensi untuk berkembang lebih cepat daripada perkembangan faktor-faktor pendukungnya, sehingga strategi pembangunan usahatani kelapa sawit hanya perlu diarahkan pada upaya menyelaraskan pertumbuhan usahatani kelapa sawit dengan perkembangan perusahaan pengolahan kelapa sawit. Tabel 63. Tahap perkembangan usahatani kelapa sawit Parameter Tahap Perkembangan (Tahun) Perkembangan Karakteristik Usahatani Investment- Investment- Innovation- Innovation- Driven Driven Driven Driven Perkembangan KSP Investment- Investment- Innovation- Innovation- Driven Driven Driven Driven Infrastruktur Wilayah Factor- Investment- Investment- Innovation-

90 Driven Driven Driven Driven Kualitas Kebijakan Factor- Investment- Investment- Innovation- Driven Driven Driven Driven Penyelenggara Pemerintahan Investment- Driven Investment- Driven Innovation- Driven Innovation- Driven Sumber: Hasil analisis pada Gambar 55, 61 dan 62 Penyelarasan pertumbuhan usahatani kelapa sawit dengan perkembangan perusahaan pengolahan dilakukan dengan menggunakan sistem pengendali pembangunan agroindustri kelapa sawit. Model struktural pengendalian sistem pembangunan agroindustri kelapa sawit tersebut dapat dilihat pada Gambar 69. Tujuan pengendalian sistem pembangunan agroindustri kelapa sawit adalah untuk mengendalikan investasi dan pertumbuhan usahatani kelapa sawit melalui pola pengembangan perkebunan dengan mempertimbangkan : (1) perkembangan KSP, (2) kelestarian lingkungan hidup, (3) kuantitas, kualitas dan kontinuitas produksi kelapa sawit, serta (4) posisi persaingan produk agroindustri kelapa sawit. Produk Agroindustri Pesaing Produksi Kelapa Sawit Perkembangan Investasi/Pertumbuhan Lingkungan Kawasan Usahatani Kelapa Sawit Hidup Pola Pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit Gambar 69. Model struktural pengendalian sistem pembangunan agroindustri kelapa sawit Strategi Pembangunan Perusahaan Pengolahan Kelapa Sawit

91 Sebagaimana halnya dengan pembangunan perusahaan pengolahan kelapa, strategi pembangunan perusahaan pengolahan kelapa sawit bertujuan agar perusahaan memiliki lingkup dan skala ekonomi yang memungkinkan untuk menghasilkan produk inovatif dengan kualitas prima dan berdaya saing global melalui pemanfaatan : (1) perangkat teknologi (technoware) dan (2) SDM (humanware) inovatif, (3) kerjasama teknologi dan (4) jaringan kemitraan. Dari hasil analisis tahap perkembangan perusahaan pengolahan kelapa sawit (Tabel 64), diketahui perkembangan perusahaan pengolahan kelapa sawit seiring dengan perkembangan faktor-faktor pendukungnya. Dalam kurun waktu 5-10 tahun yang akan datang, perkembangan perusahaan pengolahan kelapa sawit bersama-sama dengan faktor-faktor pendukungnya telah berada pada tahap investment-driven. Hal ini memungkin bagi perusahaan pengolahan dan faktorfaktor pendukungnya berkembang ke tahap innovation-driven dalam kurun waktu tahun yang akan datang. Prediksi ini didukung dengan hasil analisis prospektif dengan menggunakan skenario eksploratif yang memperlihatkan perkembangan perusahaan pengolahan kelapa sawit akan sampai pada tahap innovationdriven dalam kurun waktu 20 tahun yang akan datang. Tabel 64. Tahap perkembangan perusahaan pengolahan kelapa sawit Parameter Tahap Perkembangan (Tahun) Perkembangan Karakteristik Perusahaan Investment- Investment- Innovation- Innovation- Driven Driven Driven Driven Status Technoware Investment- Investment- Innovation- Innovation- Driven Driven Driven Driven Status Humanware Investment- Investment- Innovation- Innovation- Driven Driven Driven Driven Kerjasama Teknologi Investment- Investment- Innovation- Innovation- Driven Driven Driven Driven Jaringan Kemitraan Investment- Investment- Innovation- Innovation- Driven Driven Driven Driven Sumber: Hasil analisis pada Gambar

92 Perkembangan usahatani kelapa sawit dan perusahaan pengolahan kelapa sawit akan mencapai tahap innovation-driven dalam kurun waktu tahun yang akan datang. Hal ini mengindikasikan agroindustri kelapa sawit akan tumbuh menjadi agroindustri unggulan yang memiliki daya saing global dalam kurun waktu tahun yang akan datang. Hasil ini sesuai dengan laporan Oil World (2002) yang memprediksi Indonesia akan menjadi produsen CPO terbesar di dunia pada tahun 2005, dan pada tahun 2020 Indonesia akan menguasai hampir 50% produksi CPO dunia. Dukungan pemerintahan untuk mendorong perkembangan agroindustri kelapa sawit ini adalah melalui investasi pada pengembangan riset yang menghasilkan teknologi yang dapat diadopsi menjadi sumber pertumbuhan usahatani dan pengolahan hasil agar pembangunan agroindustri kelapa sawit dapat segera memasuki tahap innovation-driven.

93 STRATEGI PEMBANGUNAN AGROINDUSTRI PANGAN PADA TINGKAT PERUSAHAAN Sintesis strategi pada tingkat perusahaan didasarkan pada posisi strategis perusahaan. Posisi strategis perusahaan menggambarkan posisi bersaing perusahaan berdasarkan daya tarik industri dimana perusahaan tersebut beroperasi. Dari hasil analisis, diketahui posisi strategis perusahaan dalam kelompok agroindustri kelapa di Propinsi Jambi berada pada sel selektif dan divestasi. Adapun posisi strategis perusahaan dalam kelompok agroindustri kelapa sawit di Propinsi Jambi berada pada sel pertumbuhan selektif sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 51. Berdasarkan pada posisi strategis perusahaan dapat ditentukan posisi spesifik yang sesuai dengan tahap pertumbuhan perusahaan. Tabel 65 menyajikan posisi spesifik untuk masing-masing sel pertumbuhan perusahaan agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit di Propinsi Jambi. Adapun ragam strategi untuk masing-masing posisi spesifik perusahaan dapat dilihat pada Lampiran 13. Tabel 65. Posisi strategis dan spesifik agroindustri kelapa dan agroindustri kelapa sawit di Propinsi Jambi Jenis Industri Posisi Strategis Posisi Spesifik Agroindustri Kelapa Selektif Divestasi - Menyehatkan Usaha - Memperpanjang Usaha - Mengundurkan Diri - Divestasi Agroindustri Pertumbuhan Selektif Kelapa Sawit Sumber : Hasil analisis pada Gambar Mengejar Posisi Bersaing - Mempertahankan Posisi Bersaing - Menemukan Ceruk Pasar - Mengeksploitasi Ceruk Pasar

94 Strategi Pembangunan Perusahaan Agroindustri Kelapa Perkembangan perusahaan dalam kelompok agroindustri kelapa di Propinsi Jambi berada dalam dua posisi strategis. Pada posisi selektif terdapat perusahaan yang berada pada posisi spesifik untuk penyehatan usaha dan perpanjangan usaha. Adapun pada posisi divestasi terdapat perusahaan yang sedang berada pada posisi spesifik untuk mengundurkan diri dan divestasi. Ragam strategi untuk masing-masing posisi spesifik perusahaan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 13. Adapun penentuan prioritas strategi untuk masing-masing posisi spesifik perusahaan menggunakan metode AHP (Saaty, 1993) dengan enam jenjang hirarki, yaitu posisi spesifik perusahaan, faktor pendukung, pelaku, tujuan pelaku, kebijakan dan strategi (Lampiran 14). Strategi Penyehatan Usaha Strategi penyehatan usaha (turnaround strategy) diperlukan oleh perusahaan yang memiliki posisi bersaing yang lemah dan pertumbuhan pasar yang lambat (Pearce and Robinson, 1996) yang disebabkan oleh ketidakmampuan perusahaan memenuhi kebutuhan pelanggan dengan produk yang dihasilkannya. Dalam hal ini, perusahaan tidak mampu menghasilkan minyak kelapa kasar (CCO) yang kompetitif baik dari segi harga ataupun kualitas. Oleh karena itu diperlukan strategi untuk penyehatan usaha. Terdapat tiga pilihan ragam strategi yang dapat dikembangkan pada perusahaan yang berada pada posisi spesifik untuk penyehatan usaha. Ketiga pilihan ragam strategi tersebut adalah rasionalisasi produksi, rasionalisasi pasar dan efisiensi. Berdasarkan hasil analisis (Lampiran 14, Bagian a) diketahui bobot prioritas ketiga ragam strategi ini relatif sama dengan urutan prioritas rasionalisasi produksi, diikuti dengan efisiensi dan rasionalisasi pasar (Tabel 66).

95 Tabel 66. Ragam strategi penyehatan usaha Ragam Strategi Bobot Prioritas Rasionalisasi Produksi Efisiensi Rasionalisasi Pasar Sumber : Hasil analisis pada Lampiran 14, Bagian a. Strategi Perpanjangan Usaha Untuk perusahaan agroindustri kelapa yang berada pada posisi spesifik untuk memperpanjang usaha tersedia empat pilihan ragam strategi, yaitu integrasi ke belakang, rasionalisasi produksi, rasionalisasi pasar dan efisiensi. Berdasarkan hasil analisis (Lampiran 14, Bagian b) diketahui prioritas ragam strategi yang dapat dikembangkan oleh perusahaan yang berada pada posisi ini adalah strategi integrasi ke belakang (backward integration) diikuti dengan strategi efisiensi (Tabel 67). Menurut Pearce and Robinson (1996), ragam strategi integrasi ke belakang diperlukan oleh perusahaan guna mengatasi kelemahan yang dimiliki untuk mengejar pertumbuhan eksternal. Pada agroindustri kelapa di Propinsi Jambi, strategi integrasi ke belakang dapat diterapkan melalui kontrak bisnis formal antara perusahaan dengan petani perkebunan kelapa. Tabel 67. Ragam strategi memperpanjang usaha Ragam Strategi Bobot Prioritas Integrasi ke Belakang Efisiensi Rasionalisasi Pasar Rasionalisasi Produksi Sumber : Hasil analisis pada Lampiran 14, Bagian b.

96 Strategi Mengundurkan Diri dan Divestasi Strategi mengundurkan diri atau divestasi termasuk dalam strategi penciutan usaha (retrenchment) (Supratikno, dkk, 2003). Kedua strategi ini sesuai digunakan untuk mengatasi kelemahan pada perusahaan yang memiliki posisi bersaing yang lemah dan berada pada pasar yang tumbuh lambat (Pearce and Robinson, 1996). Berdasarkan hasil analisis (Lampiran 14, Bagian c dan d) diketahui prioritas ragam strategi yang dapat dikembangkan oleh perusahaan yang berada pada posisi spesifik mengundurkan diri sama dengan prioritas ragam strategi bagi perusahaan yang akan divestasi, yaitu rasionalisasi produksi (Tabel 68 dan 69). Tabel 68. Ragam strategi mengundurkan diri Ragam Strategi Bobot Prioritas Rasionalisasi Produksi Rasionalisasi Pasar Sumber : Hasil analisis pada Lampiran 14, Bagian c. Tabel 69. Ragam strategi divestasi Ragam Strategi Bobot Prioritas Rasionalisasi Produksi Rasionalisasi Pasar Bertahan Sumber : Hasil analisis pada Lampiran 14, Bagian d. Strategi Pembangunan Perusahaan Agroindustri Kelapa Sawit Perkembangan perusahaan dalam kelompok agroindustri kelapa sawit berada pada sel pertumbuhan selektif. Pada sel tersebut terdapat perusahaan yang sedang mengejar atau mempertahankan posisi bersaing serta mencari atau mengeks-

97 ploitasi ceruk pasar yang dikuasainya. Ragam strategi untuk masing-masing posisi spesifik perusahaan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 13. Adapun penentuan prioritas strategi untuk masing-masing posisi spesifik perusahaan menggunakan metode AHP (Saaty, 1993) dengan enam jenjang hirarki, yaitu posisi spesifik perusahaan, faktor pendukung, pelaku, tujuan pelaku, kebijakan dan strategi (Lampiran 15). Strategi Mengejar Posisi Bersaing Untuk perusahaan agroindustri kelapa sawit yang berada pada tahap mengejar posisi bersaing (positioning) tersedia tiga ragam strategi, yaitu utilisasi kapasitas produksi, pengembangan pasar baru dan efisiensi. Berdasarkan hasil analisis (Lampiran 15, Bagian a) diketahui prioritas strategi yang dapat dikembangkan oleh perusahaan yang berada pada tahap ini adalah utilisasi kapasitas produksi, diikuti dengan strategi pengembangan pasar baru dan efisiensi (Tabel 70). Tabel 70. Ragam strategi mengejar posisi bersaing Ragam Strategi Bobot Prioritas Utilisasi Kapasitas Produksi Pengembangan Pasar Baru Efesiensi Sumber: Hasil analisis pada Lampiran 15, Bagian a Hasil analisis menunjukkan ragam strategi utilitas kapasitas produksi lebih diprioritaskan daripada ragam strategi pengembangan pasar baru bagi perusahaan yang berada pada tahap mengejar posisi bersaing. Hasil analisis ini sesuai dengan diagnosis terhadap perusahaan pengolahan kelapa sawit yang ada di Propinsi Jambi yang menunjukkan rata-rata tingkat utilitas perusahaan baru mencapai 68.20% (Disbun Prop. Jambi, 2003 a ), sehingga upaya perusahaan untuk mengejar posisi bersaing dapat dilakukan melalui strategi peningkatan utilitas, diikuti dengan strategi pengembangan pasar baru.

98 Strategi Mempertahankan Posisi Bersaing Untuk perusahaan agroindustri kelapa sawit yang berada pada tahap mempertahankan posisi bersaing tersedia dua pilihan strategi, yaitu integrasi ke belakang atau efisiensi. Berdasarkan hasil analisis (Lampiran 15, bagian b) diketahui prioritas strategi yang dapat dikembangkan oleh perusahaan yang berada pada tahap ini adalah strategi strategi integrasi ke belakang (backward integration) diikuti dengan strategi efisiensi (Tabel 71). Tabel 71. Ragam strategi mempertahankan posisi bersaing Ragam Strategi Bobot Prioritas Integrasi ke Belakang Efisiensi Sumber : Hasil analisis pada Lampiran 15, Bagian b. Menurut Pearce and Robinson (1996), integrasi vertikal ke belakang adalah ragam strategi yang sesuai untuk dikembangkan pada perusahaan yang memiliki posisi bersaing yang kuat, terutama pada pasar yang tumbuh dengan cepat. Ragam strategi integrasi ke belakang dibutuhkan untuk meningkatkan posisi bersaing perusahaan melalui peningkatan efisiensi ekonomi sebagai dampak dari adanya kombinasi operasi, koordinasi dan pengendalian internal, ekonomi informasi, penghematan biaya transaksi dan stabilitas hubungan dalam rantai produksi. Pada agroindustri kelapa sawit, sebagian besar integrasi ke belakang sudah terjalin sebelum perusahaan berproduksi melalui berbagai pola pembangunan perkebunan. Akan tetapi, karena efek efisiensi ekonomi dari integrasi ke belakang baru dapat dirasakan jika skala ekonomi kedua unit usaha yang berintegrasi mencapai minimum economic of scale (Muhammad, 2002), maka penekanan integrasi ke belakang pada agroindustri kelapa sawit dititikberatkan pada kemampuan perusahaan untuk menyeimbangkan skala ekonomi pada berbagai tahapan produksi.

99 Strategi Menemukan Ceruk Pasar Untuk perusahaan agroindustri kelapa sawit yang sedang berada pada tahap mencari ceruk pasar tersedia tiga ragam strategi, yaitu integrasi ke depan, rasionalisasi produksi dan pengembangan pasar. Berdasarkan hasil analisis (Lampiran 15, Bagian c) diketahui prioritas strategi yang dapat dikembangkan oleh perusahaan yang berada pada tahap ini adalah strategi rasionalisasi produksi, diikuti dengan strategi integrasi ke depan (forward integration) (Tabel 72). Tabel 72. Ragam strategi menemukan ceruk pasar Ragam Strategi Bobot Prioritas Rasionalisasi Produksi Integrasi ke Depan Pengembangan Pasar Sumber: Hasil analisis pada Lampiran 15, Bagian c. Ragam strategi rasionalisasi produksi termasuk dalam kelompok strategi intensif yang diperuntukkan bagi perusahaan yang berada pada posisi mempertahankan unit usahanya (Supratikno, dkk, 2003). Ragam strategi ini sesuai bagi perusahaan yang berada pada posisi untuk mengatasi kelemahan yang dimilikinya (Pearce and Robinson, 1996) melalui upaya menemukan ceruk pasar bagi produk yang dihasilkannya. Untuk itu, perusahaan harus mampu merasionalisasi produksi mengikuti dinamika dari pasar sasaran yang akan dimasukinya.

100 Strategi Eksploitasi Ceruk Pasar Untuk perusahaan agroindustri kelapa sawit yang sedang berada pada tahap mengeksploitasi ceruk pasar yang sudah dikuasainya tersedia empat pilihan ragam strategi, yaitu: utilisasi kapasitas produksi, efisiensi, pengembangan produk dan pengembangan pasar. Berdasarkan hasil analisis (Lampiran 15, bagian d) diketahui prioritas strategi yang dapat dikembangkan oleh perusahaan yang berada pada tahap ini adalah strategi utilisasi kapasitas produksi, diikuti dengan strategi efisiensi (Tabel 73). Tabel 73. Ragam strategi eksploitasi ceruk pasar Ragam Strategi Bobot Prioritas Utilisasi Kapasitas Produksi Efisiensi Pengembangan Produk Pengembangan Pasar Sumber: Hasil analisis pada Lampiran 15, Bagian d. Menurut Pearce and Robinson (1996), ragam strategi utilisasi kapasitas produksi sangat sesuai untuk diterapkan pada perusahaan yang sedang berupaya memaksimalkan kekuatan melalui peningkatan pertumbuhan internal. Dalam hal ini melalui upaya mengeksploitasi ceruk pasar yang sudah dikuasainya dengan jalan meningkatkan utilitas kapasitas produksi.

DATA AGREGAT KEPENDUDUKAN PER KECAMATAN (DAK2)

DATA AGREGAT KEPENDUDUKAN PER KECAMATAN (DAK2) KABUPATEN / KOTA : KERINCI 15.01 KERINCI 122.288 121.30 244.018 1 15.01.01 GUNUNG RAYA 5.335 5.128 10.463 2 15.01.02 DANAU KERINCI 9.838 9.889 19.2 3 15.01.04 SITINJAU LAUT.345.544 14.889 4 15.01.05 AIR

Lebih terperinci

Lampiran I.15 PENETAPAN DAERAH PEMILIHAN DAN JUMLAH KURSI ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DALAM PEMILIHAN UMUM TAHUN 2014

Lampiran I.15 PENETAPAN DAERAH PEMILIHAN DAN JUMLAH KURSI ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DALAM PEMILIHAN UMUM TAHUN 2014 Lampiran I.5 : Keputusan Komisi Pemilihan Umum : 97/Kpts/KPU/TAHUN 0 : 9 MARET 0 ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DALAM PEMILIHAN UMUM TAHUN 0 No DAERAH PEMILIHAN JUMLAH PENDUDUK JUMLAH

Lebih terperinci

Lampiran I.15 PENETAPAN DAERAH PEMILIHAN DAN JUMLAH KURSI ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DALAM PEMILIHAN UMUM TAHUN 2014

Lampiran I.15 PENETAPAN DAERAH PEMILIHAN DAN JUMLAH KURSI ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DALAM PEMILIHAN UMUM TAHUN 2014 Lampiran I.5 : Keputusan Komisi Pemilihan Umum : 97/Kpts/KPU/TAHUN 0 : 9 MARET 0 ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DALAM PEMILIHAN UMUM TAHUN 0 No DAERAH PEMILIHAN JUMLAH PENDUDUK JUMLAH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. langsung persoalan-persoalan fungsional yang berkenaan dengan tingkat regional.

BAB I PENDAHULUAN. langsung persoalan-persoalan fungsional yang berkenaan dengan tingkat regional. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan regional memiliki peran utama dalam menangani secara langsung persoalan-persoalan fungsional yang berkenaan dengan tingkat regional. Peranan perencanaan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. 4.1 Kondisi Geografis dan Persebaran Tanaman Perkebunan Unggulan Provinsi Jambi. Jambi 205,43 0,41% Muaro Jambi 5.

IV. GAMBARAN UMUM. 4.1 Kondisi Geografis dan Persebaran Tanaman Perkebunan Unggulan Provinsi Jambi. Jambi 205,43 0,41% Muaro Jambi 5. IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Kondisi Geografis dan Persebaran Tanaman Perkebunan Unggulan Provinsi Jambi Provinsi Jambi secara geografis terletak antara 0 0 45 sampai 2 0 45 lintang selatan dan antara 101 0 10

Lebih terperinci

Perkembangan Ekonomi Makro

Perkembangan Ekonomi Makro Boks 1.2. Pemetaan Sektor Pertanian di Jawa Barat* Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB (harga berlaku) tahun 2006 sebesar sekitar 11,5%, sementara pada tahun 2000 sebesar 14,7% atau dalam kurun waktu

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan PDB Hortikultura Atas Dasar Harga Berlaku di Indonesia Tahun Kelompok

PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan PDB Hortikultura Atas Dasar Harga Berlaku di Indonesia Tahun Kelompok I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Hortikultura merupakan salah satu sektor pertanian unggulan yang memiliki beberapa peranan penting yaitu dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, peningkatan pendapatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. berkaitan dengan sektor-sektor lain karena sektor pertanian merupakan sektor

I. PENDAHULUAN. berkaitan dengan sektor-sektor lain karena sektor pertanian merupakan sektor I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor yang memiliki peran besar dalam perekonomian di Indonesia. Hal ini dikarenakan pertanian merupakan penghasil bahan makanan yang dibutuhkan

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Kabupaten Kerinci 5.1.1 Kondisi Geografis Kabupaten Kerinci terletak di sepanjang Bukit Barisan, diantaranya terdapat gunung-gunung antara lain Gunung

Lebih terperinci

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan pertanian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional, yang memiliki warna sentral karena berperan dalam meletakkan dasar yang kokoh bagi

Lebih terperinci

UU 54/1999, PEMBENTUKAN KABUPATEN SAROLANGUN, KABUPATEN TEBO, KABUPATEN MUARO JAMBI, DAN KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR

UU 54/1999, PEMBENTUKAN KABUPATEN SAROLANGUN, KABUPATEN TEBO, KABUPATEN MUARO JAMBI, DAN KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR UU 54/1999, PEMBENTUKAN KABUPATEN SAROLANGUN, KABUPATEN TEBO, KABUPATEN MUARO JAMBI, DAN KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 54 TAHUN 1999 (54/1999) Tanggal: 4 OKTOBER

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dan jasa menjadi kompetitif, baik untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional. kerja bagi rakyatnya secara adil dan berkesinambungan.

I. PENDAHULUAN. dan jasa menjadi kompetitif, baik untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional. kerja bagi rakyatnya secara adil dan berkesinambungan. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada masa globalisasi, persaingan antarbangsa semakin ketat. Hanya bangsa yang mampu mengembangkan daya sainglah yang bisa maju dan bertahan. Produksi yang tinggi harus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Isu strategis yang kini sedang dihadapi dunia adalah perubahan iklim global, krisis pangan dan energi dunia, harga pangan dan energi meningkat, sehingga negara-negara

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU 4.1 Kondisi Geografis Secara geografis Provinsi Riau membentang dari lereng Bukit Barisan sampai ke Laut China Selatan, berada antara 1 0 15 LS dan 4 0 45 LU atau antara

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Kondisi Geografis LS dan BT. Beriklim tropis dengan

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Kondisi Geografis LS dan BT. Beriklim tropis dengan III. KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI A. Kondisi Geografis Secara geografis Kabupaten Tebo terletak diantara titik koordinat 0 52 32-01 54 50 LS dan 101 48 57-101 49 17 BT. Beriklim tropis dengan ketinggian

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 5.1. Gambaran Umum Kabupaten Kerinci 5.1.1. Keadaan Geografis. Kabupaten Kerinci terletak di daerah bukit barisan, dengan ketinggian 5001500 mdpl. Wilayah ini membentang

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian dan sektor basis baik tingkat Provinsi Sulawsi Selatan maupun Kabupaten Bulukumba. Kontribusi sektor

Lebih terperinci

Analisis keterkaitan sektor tanaman bahan makanan terhadap sektor perekonomian lain di kabupaten Sragen dengan pendekatan analisis input output Oleh :

Analisis keterkaitan sektor tanaman bahan makanan terhadap sektor perekonomian lain di kabupaten Sragen dengan pendekatan analisis input output Oleh : 1 Analisis keterkaitan sektor tanaman bahan makanan terhadap sektor perekonomian lain di kabupaten Sragen dengan pendekatan analisis input output Oleh : Sri Windarti H.0305039 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Lebih terperinci

3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. Letak Geografis

3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. Letak Geografis 3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Letak Geografis Penelitian dilakukan di dua kabupaten di Provinsi Jambi yaitu Kabupaten Batanghari dan Muaro Jambi. Fokus area penelitian adalah ekosistem transisi meliputi

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT : TINJAUAN SECARA MAKRO

PERKEMBANGAN EKONOMI KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT : TINJAUAN SECARA MAKRO PERKEMBANGAN EKONOMI KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT 2011-2015: TINJAUAN SECARA MAKRO Prof. Dr. Ir. Zulkifli Alamsyah, M.Sc. Guru Besar Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jambi Disampaikan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG.UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 1999 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN SAROLANGUN, KABUPATEN TEBO, KABUPATEN MUARO JAMBI, DAN KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Jumlah petani di Indonesia menurut data BPS mencapai 45% dari total angkatan kerja di Indonesia, atau sekitar 42,47 juta jiwa. Sebagai negara dengan sebagian besar penduduk

Lebih terperinci

PRODUKSI PERTAMBANGAN MENURUT JENIS BARANG TAHUN

PRODUKSI PERTAMBANGAN MENURUT JENIS BARANG TAHUN PRODUKSI PERTAMBANGAN MENURUT JENIS BARANG TAHUN 2010 2015 JENIS BARANG TAHUN MINYAK BUMI (000 barel) GAS BUMI (MMBTU) BATUBARA (ton) BIJIH BESI (ton) 2010 6.588,05 17.410,00 3.876.280,00 317.300,00 2011

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sumber pangan utama penduduk Indonesia. Jumlah penduduk yang semakin

I. PENDAHULUAN. sumber pangan utama penduduk Indonesia. Jumlah penduduk yang semakin I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Indonesia memiliki sumber daya lahan yang sangat luas untuk peningkatan produktivitas tanaman pangan khususnya tanaman padi. Beras sebagai salah satu sumber pangan utama

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1 Kementerian Pertanian Kontribusi Pertanian Terhadap Sektor PDB.

I. PENDAHULUAN. 1 Kementerian Pertanian Kontribusi Pertanian Terhadap Sektor PDB. I. PENDAHULUAN 1.1. Latarbelakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan penting dalam meningkatkan perkembangan ekonomi Indonesia. Hal ini dikarenakan sektor pertanian adalah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang tangguh dalam perekonomian dan memiliki peran sebagai penyangga pembangunan nasional. Hal ini terbukti pada saat Indonesia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pelestarian keseimbangan lingkungan. Namun pada masa yang akan datang,

I. PENDAHULUAN. pelestarian keseimbangan lingkungan. Namun pada masa yang akan datang, I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan sub sektor pertanian tanaman pangan, merupakan bagian integral dari pembangunan pertanian dan telah terbukti memberikan peranan penting bagi pembangunan nasional,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkebunan merupakan salah satu subsektor strategis yang secara ekonomis, ekologis dan sosial budaya memainkan peranan penting dalam pembangunan nasional. Sesuai Undang-Undang

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi 69 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak dan Luas Daerah Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi Lampung yang letak daerahnya hampir dekat dengan daerah sumatra selatan.

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 26 Administrasi Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak diantara 6 o 57`-7 o 25` Lintang Selatan dan 106 o 49` - 107 o 00` Bujur

Lebih terperinci

5 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

5 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 27 Secara rinci indikator-indikator penilaian pada penetapan sentra pengembangan komoditas unggulan dapat dijelaskan sebagai berikut: Lokasi/jarak ekonomi: Jarak yang dimaksud disini adalah jarak produksi

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN SUKABUMI. Administrasi

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN SUKABUMI. Administrasi KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN SUKABUMI Administrasi Secara administrasi pemerintahan Kabupaten Sukabumi dibagi ke dalam 45 kecamatan, 345 desa dan tiga kelurahan. Ibukota Kabupaten terletak di Kecamatan

Lebih terperinci

REKOMENDASI SEMINAR STRATEGI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI JANGKA MENENGAH PROVINSI JAMBI 22 DESEMBER 2005

REKOMENDASI SEMINAR STRATEGI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI JANGKA MENENGAH PROVINSI JAMBI 22 DESEMBER 2005 BOKS REKOMENDASI SEMINAR STRATEGI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI JANGKA MENENGAH PROVINSI JAMBI 22 DESEMBER 2005 I. PENDAHULUAN Dinamika daerah yang semakin kompleks tercermin dari adanya perubahan

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. bujur timur. Wilayahnya sangat strategis karena dilewati Jalur Pantai Utara yang

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. bujur timur. Wilayahnya sangat strategis karena dilewati Jalur Pantai Utara yang IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Kondisi Geografis Kabupaten Batang adalah salah satu kabupaten yang tercatat pada wilayah administrasi Provinsi Jawa Tengah. Letak wilayah berada diantara koordinat

Lebih terperinci

PROGRAM PENGEMBANGAN KELAPA BERKELANJUTAN DI PROVINSI JAMBI

PROGRAM PENGEMBANGAN KELAPA BERKELANJUTAN DI PROVINSI JAMBI PROGRAM PENGEMBANGAN KELAPA BERKELANJUTAN DI PROVINSI JAMBI Hasan Basri Agus Gubernur Provinsi Jambi PENDAHULUAN Provinsi Jambi dibagi dalam tiga zona kawasan yaitu: 1) Zona Timur, yang merupakan Kawasan

Lebih terperinci

KAJIAN KEMAMPUAN EKONOMI PETANI DALAM PELAKSANAAN PEREMAJAAN KEBUN KELAPA SAWIT DI KECAMATAN SUNGAI BAHAR KABUPATEN MUARO JAMBI

KAJIAN KEMAMPUAN EKONOMI PETANI DALAM PELAKSANAAN PEREMAJAAN KEBUN KELAPA SAWIT DI KECAMATAN SUNGAI BAHAR KABUPATEN MUARO JAMBI KAJIAN KEMAMPUAN EKONOMI PETANI DALAM PELAKSANAAN PEREMAJAAN KEBUN KELAPA SAWIT DI KECAMATAN SUNGAI BAHAR KABUPATEN MUARO JAMBI SKRIPSI YAN FITRI SIRINGORINGO JURUSAN/PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan yang dititikberatkan pada pertumbuhan ekonomi berimplikasi pada pemusatan perhatian pembangunan pada sektor-sektor pembangunan yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan

Lebih terperinci

ANALISIS KEBUTUHAN INVESTASI BIDANG USAHA UNGGULAN BERBAHAN BAKU PERTANIAN DALAM SUBSEKTOR INDUSTRI MAKANAN DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA

ANALISIS KEBUTUHAN INVESTASI BIDANG USAHA UNGGULAN BERBAHAN BAKU PERTANIAN DALAM SUBSEKTOR INDUSTRI MAKANAN DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA ANALISIS KEBUTUHAN INVESTASI BIDANG USAHA UNGGULAN BERBAHAN BAKU PERTANIAN DALAM SUBSEKTOR INDUSTRI MAKANAN DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA OLEH MUHAMMAD MARDIANTO 07114042 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tingkat perekonomian suatu wilayah didukung dengan adanya. bertahap. Pembangunan adalah suatu proses multidimensional yang meliputi

I. PENDAHULUAN. Tingkat perekonomian suatu wilayah didukung dengan adanya. bertahap. Pembangunan adalah suatu proses multidimensional yang meliputi 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tingkat perekonomian suatu wilayah didukung dengan adanya pembangunan ekonomi jangka panjang yang terencana dan dilaksanakan secara bertahap. Pembangunan adalah suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat secara ekonomi dengan ditunjang oleh faktor-faktor non ekonomi

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat secara ekonomi dengan ditunjang oleh faktor-faktor non ekonomi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses perubahan yang dilakukan melalui upaya-upaya terencana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi dengan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan merupakan upaya perubahan secara terencana seluruh dimensi kehidupan menuju tatanan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Sebagai perubahan yang terencana,

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Sekilas Tentang Kabupaten Bungo-Tebo Hingga tahun 1999, Kabupaten Bungo-Tebo masih berada di dalam satu kabupaten. Secara administrative, kabupaten ini adalah

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI. Undang-Undang No. 61 tahun Secara geografis Provinsi Jambi terletak

IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI. Undang-Undang No. 61 tahun Secara geografis Provinsi Jambi terletak IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI 4.1 Keadaan Umum Provinsi Jambi secara resmi dibentuk pada tahun 1958 berdasarkan Undang-Undang No. 61 tahun 1958. Secara geografis Provinsi Jambi terletak antara 0º 45

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM Letak Wilayah, Iklim dan Penggunaan Lahan Provinsi Sumatera Barat

IV. GAMBARAN UMUM Letak Wilayah, Iklim dan Penggunaan Lahan Provinsi Sumatera Barat 51 IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Letak Wilayah, Iklim dan Penggunaan Lahan Provinsi Sumatera Barat Sumatera Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pesisir barat Pulau Sumatera dengan ibukota

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Indonesia menguasai ekspor pasar minyak sawit mentah dunia sebesar

BAB I PENDAHULUAN Indonesia menguasai ekspor pasar minyak sawit mentah dunia sebesar 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi pertanian yang cukup besar dan dapat berkontribusi terhadap pembangunan dan ekonomi nasional. Penduduk di Indonesia

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN AGROPOLITAN KABUPATEN PASAMAN

IDENTIFIKASI KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN AGROPOLITAN KABUPATEN PASAMAN 1 IDENTIFIKASI KOMODITAS UNGGULAN DI KAWASAN AGROPOLITAN KABUPATEN PASAMAN Benny Oksatriandhi 1, Eko Budi Santoso 2 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut

Lebih terperinci

KOMODITAS HORTIKULTURA UNGGULAN DI KABUPATEN SEMARANG (PENDEKATAN LQ DAN SURPLUS PRODUKSI)

KOMODITAS HORTIKULTURA UNGGULAN DI KABUPATEN SEMARANG (PENDEKATAN LQ DAN SURPLUS PRODUKSI) KOMODITAS HORTIKULTURA UNGGULAN DI KABUPATEN SEMARANG (PENDEKATAN DAN SURPLUS PRODUKSI) Eka Dewi Nurjayanti, Endah Subekti Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Wahid Hasyim Jl. Menoreh

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor agribisnis merupakan sektor ekonomi terbesar dan terpenting dalam perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah kemampuannya dalam menyerap

Lebih terperinci

Krisis ekonomi yang melanda lndonesia sejak pertengahan bulan. Sektor pertanian di lndonesia dalam masa krisis ekonomi tumbuh positif,

Krisis ekonomi yang melanda lndonesia sejak pertengahan bulan. Sektor pertanian di lndonesia dalam masa krisis ekonomi tumbuh positif, I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Krisis ekonomi yang melanda lndonesia sejak pertengahan bulan Juli 1997 mempunyai dampak yang besar terhadap perekonomian negara. Sektor pertanian di lndonesia dalam

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM LOKASI. Tabel 7. Banyaknya Desa/Kelurahan, RW, RT, dan KK di Kabupaten Jepara Tahun Desa/ Kelurahan

KEADAAN UMUM LOKASI. Tabel 7. Banyaknya Desa/Kelurahan, RW, RT, dan KK di Kabupaten Jepara Tahun Desa/ Kelurahan KEADAAN UMUM LOKASI Keadaan Wilayah Kabupaten Jepara adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang terletak di ujung utara Pulau Jawa. Kabupaten Jepara terdiri dari 16 kecamatan, dimana dua

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM PROVINSI LAMPUNG dan SUBSIDI PUPUK ORGANIK

GAMBARAN UMUM PROVINSI LAMPUNG dan SUBSIDI PUPUK ORGANIK 34 IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI LAMPUNG dan SUBSIDI PUPUK ORGANIK 4.1 Gambaran Umum Provinsi Lampung Lintang Selatan. Disebelah utara berbatasan dengann Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu, sebelah Selatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. hortikultura, subsektor kehutanan, subsektor perkebunan, subsektor peternakan,

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. hortikultura, subsektor kehutanan, subsektor perkebunan, subsektor peternakan, I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan penting dalam perekonomian di Indonesia. Sektor pertanian terbagi atas subsektor tanaman pangan, subsektor hortikultura, subsektor kehutanan,

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1. Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Seluma Kabupaten Seluma merupakan salah satu daerah pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Selatan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 3

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Secara geografis, Kabupaten OKU Selatan terletak antara sampai

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Secara geografis, Kabupaten OKU Selatan terletak antara sampai 49 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak dan Luas Daerah Penelitian Secara geografis, Kabupaten OKU Selatan terletak antara 4 0 14 sampai 4 0 55 Lintang Selatan dan diantara 103 0 22 sampai 104

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. daerah bersangkutan (Soeparmoko, 2002: 45). Keberhasilan pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. daerah bersangkutan (Soeparmoko, 2002: 45). Keberhasilan pembangunan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada, dengan menjalin pola-pola kemitraan

Lebih terperinci

VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN WILAYAH KEPULAUAN PROVINSI MALUKU Sektor-Sektor Ekonomi Unggulan Provinsi Maluku

VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN WILAYAH KEPULAUAN PROVINSI MALUKU Sektor-Sektor Ekonomi Unggulan Provinsi Maluku VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN WILAYAH KEPULAUAN PROVINSI MALUKU 6.1. Sektor-Sektor Ekonomi Unggulan Provinsi Maluku Aktivitas atau kegiatan ekonomi suatu wilayah dikatakan mengalami kemajuan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki sumber daya alam yang beraneka ragam dan memiliki wilayah yang cukup luas. Hal ini yang membuat Indonesia menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam pembangunan nasional, khususnya yang berhubungan dengan pengelolaan

BAB I PENDAHULUAN. dalam pembangunan nasional, khususnya yang berhubungan dengan pengelolaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang menjadi pusat perhatian dalam pembangunan nasional, khususnya yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 38 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Identifikasi Komoditas Basis Komoditas basis adalah komoditas yang memiliki keunggulan secara komparatif dan kompetitif. Secara komparatif, tingkat keunggulan ditentukan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan suatu hal yang cukup penting dalam mewujudkan

I. PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan suatu hal yang cukup penting dalam mewujudkan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan merupakan suatu hal yang cukup penting dalam mewujudkan keadilan dan kemakmuran masyarakat serta pencapaian taraf hidup masyarakat ke arah yang lebih baik.

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Luas dan Potensi Wilayah Luas fungsional daerah penelitian adalah 171.240 ha, secara administratif meliputi 3 (tiga) kabupaten, yaitu Kabupaten Subang, Sumedang,

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA BARAT. Provinsi Jawa Barat, secara geografis, terletak pada posisi 5 o 50-7 o 50

V. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA BARAT. Provinsi Jawa Barat, secara geografis, terletak pada posisi 5 o 50-7 o 50 5.1. Kondisi Geografis V. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA BARAT Provinsi Jawa Barat, secara geografis, terletak pada posisi 5 o 50-7 o 50 Lintang Selatan dan 104 o 48-108 o 48 Bujur Timur, dengan batas wilayah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kota Tasikmalaya dibentuk berdasarkan pada Peraturan Daerah Kota Tasikmalaya nomor 8 tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan nasional bertujuan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat di segala

I. PENDAHULUAN. Pembangunan nasional bertujuan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat di segala I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan nasional bertujuan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat di segala bidang, yaitu bidang politik, ekonomi, sosial budaya, dan agama serta pertahanan dan keamanan

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA EKSPOR 5 KOMODITAS PERKEBUNAN UNGGULAN INDONESIA TAHUN

ANALISIS KINERJA EKSPOR 5 KOMODITAS PERKEBUNAN UNGGULAN INDONESIA TAHUN ANALISIS KINERJA EKSPOR 5 KOMODITAS PERKEBUNAN UNGGULAN INDONESIA TAHUN 2012-2016 Murjoko Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret email: [email protected] Abstrak Indonesia merupakan negara yang

Lebih terperinci

Analisis Nilai Sektor Basis Perkebunan Kelapa-Dalam (Cocos nucifera L) Di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi

Analisis Nilai Sektor Basis Perkebunan Kelapa-Dalam (Cocos nucifera L) Di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi Analisis Nilai Sektor Basis Perkebunan Kelapa-Dalam (Cocos nucifera L) Di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi Rozaina Ningsih 1*) ¹Mahasiswa Program Studi Doktor (S3) Ilmu Pertanian Fakultas

Lebih terperinci

MATRIKS RENCANA KEGIATAN PELAKSANAAN DIKLAT UPSUS MENDUKUNG PENINGKATAN PRODUKSI PADI, JAGUNG DAN KEDELAI APBN-P 2015 DI PROVINSI JAMBI

MATRIKS RENCANA KEGIATAN PELAKSANAAN DIKLAT UPSUS MENDUKUNG PENINGKATAN PRODUKSI PADI, JAGUNG DAN KEDELAI APBN-P 2015 DI PROVINSI JAMBI MATRIKS RENCANA KEGIATAN PELAKSANAAN DIKLAT UPSUS MENDUKUNG PENINGKATAN PRODUKSI PADI, JAGUNG DAN KEDELAI APBN-P 2015 DI PROVINSI JAMBI WAKTU PELAKSANAAN NO KEGIATAN / NAMA DIKLAT TUJUAN TEMPAT PELAKSANAAN

Lebih terperinci

KEBIJAKAN DAN STRATEGI OPERASIONAL PENGEMBANGAN BIOINDUSTRI KELAPA NASIONAL

KEBIJAKAN DAN STRATEGI OPERASIONAL PENGEMBANGAN BIOINDUSTRI KELAPA NASIONAL KEBIJAKAN DAN STRATEGI OPERASIONAL PENGEMBANGAN BIOINDUSTRI KELAPA NASIONAL Gamal Nasir Direktorat Jenderal Perkebunan PENDAHULUAN Kelapa memiliki peran strategis bagi penduduk Indonesia, karena selain

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM LOKASI

4 GAMBARAN UMUM LOKASI 21 4 GAMBARAN UMUM LOKASI 4.1 Keadaan Geografis Kabupaten Bulukumba merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang terletak terletak di bagian selatan dengan jarak kurang lebih 153 kilometer dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki potensi sangat besar dalam menyerap tenaga kerja di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. memiliki potensi sangat besar dalam menyerap tenaga kerja di Indonesia. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi pertanian yang cukup besar dan dapat berkontribusi terhadap pembangunan dan ekonomi nasional. Penduduk di Indonesia

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Pada Tahun Kelompok

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Pada Tahun Kelompok I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu komoditas pertanian yang berpotensi untuk dikembangkan. Pengembangan hortikuktura diharapkan mampu menambah pangsa pasar serta berdaya

Lebih terperinci

5.1. Analisa Produk Unggulan Daerah (PUD) Analisis Location Quotient (LQ) Sub Sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan

5.1. Analisa Produk Unggulan Daerah (PUD) Analisis Location Quotient (LQ) Sub Sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan 5.1. Analisa Produk Unggulan Daerah (PUD) 5.1.1 Analisis Location Quotient (LQ) Sub Sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan Produk Unggulan Daerah (PUD) Lamandau ditentukan melalui

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN KARO

IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN KARO IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN KARO 4.1. Keadaan Geografis Kabupaten Karo terletak diantara 02o50 s/d 03o19 LU dan 97o55 s/d 98 o 38 BT. Dengan luas wilayah 2.127,25 Km2 atau 212.725 Ha terletak pada ketinggian

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan PDB Hortikultura Tahun Komoditas

PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan PDB Hortikultura Tahun Komoditas I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Subsektor hortikultura berperan penting dalam mendukung perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat melalui nilai Produk Domestik Bruto (PDB). Produk Domestik Bruto (PDB)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. daya yang dimiliki daerah, baik sumber daya alam maupun sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. daya yang dimiliki daerah, baik sumber daya alam maupun sumber daya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tujuan utama dari pembangunan ekonomi Indonesia adalah terciptanya masyarakat adil dan sejahtera. Pembangunan yang ditujukan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu tanaman pangan

I. PENDAHULUAN. Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu tanaman pangan 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu tanaman pangan yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia, yaitu dalam penyediaan

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 45 KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN Lokasi Administrasi Secara geografis, Kabupaten Garut meliputi luasan 306.519 ha yang terletak diantara 6 57 34-7 44 57 Lintang Selatan dan 107 24 3-108 24 34 Bujur Timur.

Lebih terperinci

Programa Penyuluhan Kab.Bangka

Programa Penyuluhan Kab.Bangka Programa Penyuluhan Kab.Bangka 2013 1 LEMBAR PENGESAHAN PROGRAMA PENYULUHAN PERTANIAN KABUPATEN BANGKA TAHUN 2013 Tim Penyusun, Kepala Bidang Penyuluhan Pada Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka, Koordinator

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Banjarnegara terletak antara 7⁰12 7⁰31 Lintang Selatan dan

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Banjarnegara terletak antara 7⁰12 7⁰31 Lintang Selatan dan IV. GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Administrasi Kabupaten Banjarnegara terletak antara 7⁰12 7⁰31 Lintang Selatan dan 109⁰29 109⁰45 50 Bujur Timur. Berada pada jalur pegunungan di bagian tengah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Tujuan utama dari pembangunan ekonomi Indonesia adalah terciptanya

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Tujuan utama dari pembangunan ekonomi Indonesia adalah terciptanya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tujuan utama dari pembangunan ekonomi Indonesia adalah terciptanya masyarakat adil dan sejahtera. Pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia meliputi pembangunan segala

Lebih terperinci

PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar

PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Sains dan Teknologi ABSTRAK Penelitian

Lebih terperinci

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH No. 46/8/15/Th.IX, 3 Agustus 215 PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 214, PRODUKSI CABAI BESAR SEBESAR 36.715 TON, CABAI RAWIT SEBESAR 6.764 TON, DAN BAWANG MERAH SEBESAR 4.836 TON

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Tim Penyusun

KATA PENGANTAR. Tim Penyusun KATA PENGANTAR Puji skukur Kami panjatkan kehadirat Tuhan YME atas terselesaikannya Laporan Akhir Penyusunan Kajian Kebutuhan Teknologi Potensi Daerah Kabupaten Jepara. Buku Laporan ini merupakan laporan

Lebih terperinci

S. Andy Cahyono dan Purwanto

S. Andy Cahyono dan Purwanto S. Andy Cahyono dan Purwanto Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Jl. Jend A. Yani-Pabelan, Kartasura. PO BOX 295 Surakarta 57102 Telp/Fax: (0271) 716709; 716959 Email:

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. besar penduduk, memberikan sumbangan terhadap pendapatan nasional yang

I. PENDAHULUAN. besar penduduk, memberikan sumbangan terhadap pendapatan nasional yang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor yang mendapatkan perhatian cukup besar dari pemerintah dikarenakan peranannya yang sangat penting dalam rangka pembangunan ekonomi jangka

Lebih terperinci

III. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

III. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN III. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 3.1. Kabupaten Tanjung Jabung Timur 3.1.1. Letak dan Luas Luas Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur adalah 5.445,0 km 2. Ibukota kabupaten berkedudukan di Muara Sabak.

Lebih terperinci

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Sektor pertanian sampai sekarang masih tetap memegang peran penting dan strategis dalam perekonomian nasional. Peran

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM PRODUK PERTANIAN

BAB V GAMBARAN UMUM PRODUK PERTANIAN BAB V GAMBARAN UMUM PRODUK PERTANIAN 5.1 Komoditas Perkebunan Komoditi perkebunan merupakan salah satu dari tanaman pertanian yang menyumbang besar pada pendapatan nasional karena nilai ekspor yang tinggi

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. daratan menjadi objek dan terbukti penyerapan tenaga kerja yang sangat besar.

PENDAHULUAN. daratan menjadi objek dan terbukti penyerapan tenaga kerja yang sangat besar. PENDAHULUAN Latar Belakang Kekayaan Negara Indonesia merupakan sebuah anugerah yang tidak ternilai. Seluruh potensi alam yang terkandung baik di dalam perut bumi Indonesia maupun di daratan dan lautan

Lebih terperinci