SEMINAR INTERNASIONAL
|
|
|
- Susanti Gunardi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 DILEMA PENINGKATAN KOMPETENSI MELALUI SERTIFIKASI GURU Oleh: Endang Mulyatiningsih* ABSTRACT Artikel ini bertujuan untuk menelaah kembali kebijakan sertifikasi guru yang sedang hangat diperbincangkan. Sertifikasi guru bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru. Setelah program sertifikasi guru berlangsung menggunakan penilaian dokumen portofolio, guru memberi tanggapan positif dan negatif. Artikel ini diangkat dari tanggapan 400 orang guru SMP di seluruh Indonesia yang menjadi responden penelitian Studi Pengembangan Model Uji Kompetensi Guru yang dilakukan oleh Tim FT UNY bekerjasama dengan Balitbang Depdiknas. Hasil penelitian menunjukkan pada umumnya guru mengharapkan cara-cara sertifikasi yang mudah tetapi kurang mencerminkan adanya peningkatan kompetensi. Komponen portofolio yang menunjukkan kompetensi tetapi sulit dicapai oleh guru kurang mendapat dukungan untuk digunakan. Keywords: Kompetensi, Sertifikasi Guru * Dosen Jurusan PTBB, FT, UNY A. Rasional Pendidikan kejuruan di Indonesia mempunyai sejarah yang cukup panjang. Sejak zaman penjajahan Belanda, lebih dari tiga abad yang lalu, A. PENDAHULUAN Guru memiliki peran strategis dalam bidang pendidikan. Sumber daya pendidikan yang memadai sering kali kurang berarti apabila tidak disertai sumberdaya guru yang berkualitas atau sebaliknya. Namun kenyataan yang ditemui menunjukkan bahwa kualitas guru di Indonesia yang ada saat ini masih tergolong rendah sehingga tidak menjamin kualitas hasil pendidikan dimasa yang akan datang menjadi semakin baik. Data Direktorat Tenaga Kependidikan Dikdasmen Depdiknas, pada tahun 2004 menunjukkan ada (14%) guru SMK negeri dan (29,3%) guru SMK swasta dinyatakan tidak layak mengajar (Balitbang, Depdiknas: 2004). Guru yang tidak layak mengajar antara lain disebabkan karena kualifikasi pendidikan dan bidang studi yang diajarkan belum sesuai dengan tuntutan 409 standar kompetensi guru yang ditetapkan dalam undang-undang. Tingkat pendidikan guru terutama guru pada jenjang pendidikan dasar banyak yang belum memenuhi kualifikasi tingkat pendidikan minimum S1 atau D4. Sedangkan bidang studi yang diajarkan guru banyak yang tidak relevan dengan bidang keahliannya. Pemerintah bertekad untuk meningkatkan mutu guru melalui uji kompetensi dan sertifikasi pendidik. Berbagai perangkat hukum yang mendukung pelaksanaan peningkatan kompetensi tersebut telah ditetapkan. Peningkatan mutu dan kompetensi guru tercantum dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Secara lebih spesifik, peningkatan kompetensi guru melalui uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat guru didukung dengan Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan diatur oleh Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 18 Tahun 2007 tentang sertifikasi guru dalam jabatan menggunakan penilaian portofolio.
2 Pasal 8 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, mengamanatkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani. Kompetensi yang harus dimiliki guru dijelaskan pada pasal 10 ayat 1 yaitu meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Uji kompetensi guru dalam jabatan ditetapkan dalam bentuk penilaian portofolio atau bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya/prestasi yang dicapai selama menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. Dokumen yang dapat dinilai meliputi: (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikut sertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan. Pemerintah mengharapkan kompetensi guru dapat ditingkatkan melalui sertifikasi kompetensi guru tersebut. Di sisi lain, guru mengharapkan kesejahteraannya meningkat tanpa persyaratan yang rumit dan sulit. Dua kepentingan yang saling bertentangan tersebut dapat menjadi penyebab tujuan pemerintah tidak dapat tercapai dengan sempurna. Melalui artikel ini, diharapkan ada solusi yang dapat menjembatani dua kepentingan tersebut supaya pelaksanaan uji kompetensi guru benar-benar dapat digunakan untuk memilih guru yang kompeten. Sertifikat telah menjadi persyaratan seseorang untuk memasuki dunia kerja pada era global. Sertifikat merupakan bentuk penghargaan yang secara umum digunakan dalam organisasi profesi, yaitu pada saat organisasi profesi tersebut menuntut penerapan standar kompetensi profesional tertentu. Sertifikat juga sering digunakan sebagai bentuk penghargaan ketika seseorang telah menyelesaikan pendidikan dan pelatihan tertentu. Sertifikat kompetensi diberikan apabila seseorang telah mencapai lebih dari 70% kompetensi yang telah ditetapkan ( 12 Mei 2008 ) Sertifikat dapat melindungi komunitas profesi dari praktik-praktik yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak kompeten atau berwenang. Sertifikat kompetensi seharusnya hanya berlaku untuk periode waktu tertentu sehingga perlu diperbaharui setiap jangka waktu tertentu pula. Sertifikasi guru di Indonesia hanya berlangsung satu kali tetapi hasilnya digunakan selama guru menjabat. Ketentuan ini tidak menjamin guru untuk meningkatkan kompetensi profesional secara terus menerus. Pengalaman uji kompetensi guru di beberapa negara cukup bervariasi. Di Amerika, sertifikasi guru dilakukan melalui National Teacher Examination (NTE). Baterai tes meliputi tes kemampuan dasar: reading, writing and mathematics serta pengetahuan profesi bidang studi (Freeborne, 1992). New York State Assessment of Teaching Assistant Skills (NYSATAS) menguji seseorang yang ingin mengikuti pra jabatan guru Level I, Level II, Level III. Sertifikat asisten guru dilakukan dengan menggunakan The Assessment of Teaching Assistant Skills (ATAS) yang berisi tes pilihan ganda untuk mengukur kemampuan membaca, menulis, matematik dan pendukung pembelajaran (Goldhaber, 2000) Masalah yang diangkat dalam artikel ini adalah tanggapan guru terhadap: (1) kebijakan sertifikasi pendidik; (2) input alat atau komponen dokumen portofolio yang digunakan untuk sertifikasi; (3) proses sertifikasi yang melibatkan asesor dan cara penilaian kompetensi guru; dan (4) dampak sertifikasi. B. METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan pendekatan survey. Menurut dimensi data yang digunakan, penelitian menggunakan data kuantitatif dan kualitatif. Data diambil dari 410
3 400 orang responden yang tersebar di sepuluh propinsi wilayah Indonesia Barat, Tengah dan Timur. Pengambilan sampel menggunakan metode multistage area random sampling. Data diambil menggunakan kuesioner dengan jawaban tertutup dan terbuka. Kuesioner dikembangkan dari indikator konteks kebijakan, input, proses dan produk sertifikasi. Analisis data dilakukan dengan cara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. C. HASIL DAN PEMBAHASAN Kebijakan sertifikasi guru dengan menggunakan penilaian portofolio mendapat tanggapan positif dan negatif. Hasil penelitian Studi Pengembangan Model Uji Kompetensi Guru SMP yang dilakukan oleh Tim FT UNY bekerjasama dengan Balitbang, Depdiknas pada tahun 2007 memperoleh data tanggapan guru terhadap kebijakan, input alat sertifikasi, asesor, proses penilaian dan dampak sertifikasi guru sebagai berikut: 1. Tanggapan Terhadap Kebijakan Sertifikasi Guru Kebijakan uji kompetensi guru mendapat respon positif terutama dari guru yunior yang berkemauan untuk maju. Sedangkan respon negatif pada umumnya disampaikan oleh guru-guru yang sudah merasa tidak mampu berkembang lagi. Guru berminat terhadap peningkatan kesejahteraan guru setelah mendapat sertifikat namun kurang berminat terhadap cara-cara peningkatan kompetensi yang digunakan untuk memperoleh sertifikat. Tanggapan guru tentang kebijakan sertifikasi dapat dirangkum sebagai berikut. Guru menanggapi uji kompetensi tidak perlu dilakukan untuk beberapa sasaran pendidik yaitu guru yang sudah senior dan guru yang hampir pensiun. Guru yang sudah mempunyai masa kerja lebih dari 20 tahun telah memiliki pengalaman mengajar yang matang. Peningkatan mutu guru lebih baik dilakukan dengan kegiatan yang dapat memberi peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas, misalnya pelatihan materi pembelajaran dan metode mengajar terbaru. Program peningkatan mutu guru dapat menyebabkan guru sering meninggalkan tugas mengajar. Guru yang terlalu banyak mengikuti kegiatan di luar sekolah akan banyak kehilangan waktu untuk mengajar di kelas. Sertifikasi guru memang perlu dilakukan namun jangan sampai dengan adanya sertifikasi ini kinerja guru malah kurang efektif karena seperti di kejar-kejar kegiatan administrasi sehingga tatap muka di kelas akan terhiraukan. Guru memberi usul yang kurang mendukung peningkatan kompetensi melalui program sertifikasi. Usul yang diajukan antara lain: (1) uji kompetensi guru dipermudah supaya setiap guru dapat memperoleh sertifikat terutama bagi mereka yang telah mengajar lebih dari 5 tahun, baik di sekolah swasta maupun negeri; (2). Guru yang belum lulus sertifikasi perlu dilihat kinerjanya. Model uji kompetensi fleksibel yaitu tidak mempersulit atau memberatkan bagi calon guru atau guru senior. Guru yang mewakili kelompok guru senior antara lain mengharapkan agar sertifikat mengajar secara otomatis diberikan kepada guru yang memiliki pangkat pada golongan IVa ke atas dan masa kerja lebih dari 20 tahun. Guru berharap sertifikat pendidik diberikan tanpa syarat kepada guru yang telah melaksanakan tugas dengan penuh rasa tanggung jawab dan mempunyai dedikasi tinggi yang dibuktikan oleh penilaian pimpinan. Harapan guru yang dipaparkan di atas mencerminkan usaha peningkatan mutu guru melalui sertifikasi pendidik sulit diwujudkan karena pada kenyataannya masih banyak guru yang menginginkan sertifikasi guru itu mudah dicapai oleh semua lapisan guru. 2. Tanggapan terhadap Alat Uji Kompetensi Guru Hasil pengisian kuesioner terbuka terhadap kebijakan sertifikasi guru mengindikasikan bahwa sebagian besar guru mendukung sertifikasi guru asalkan 411
4 dilakukan dengan menggunakan alat uji kompetensi yang objektif dan terhindar dari praktek-praktek KKN. Kebijakan uji kompetensi dapat menimbulkan kecemburuan jika hasil uji kompetensi tidak obyektif sehingga tidak dapat membedakan antara guru yang memiliki kinerja bagus dan kurang bagus. Jumlah guru yang menyetujui alat uji kompetensi menggunakan dokumen portofolio yang dinilai adalah sebagai berikut: a. Pendidikan S1/D4 (30,7%). b. Diklat dalam jabatan (87,5%) c. Pengalaman mengajar (88,4%) d. Rekaman pembelajaran (88,4%) e. Penilaian atasan (88,7%) f. Prestasi akademik (78%) g. Pengembangan profesi (61%) h. Keikutsertaan dlm forum ilmiah (54,4%) i. Pengalamam organisasi (57%) j. Penghargaan (75%) (Balitbang Depdiknas, 2007) Hasil penelitian tersebut menunjukkan, pada umumnya guru kurang mendukung komponen penilaian portofolio yang sulit dicapai. Dokumen portofolio yang mencerminkan peningkatan kompetensi guru seperti karya pengembangan profesi, keikutsertaan dalam forum ilmiah dan pengalaman organisasi hanya mendapat dukungan kurang dari 70% responden. Penelitian ini mengambil sampel guru SMP yang sebagian besar belum menempuh pendidikan S1 sehingga persyaratan kualifikasi pendidikan minimal S1 dan D4 kurang disetujui responden. Responden mendukung empat unsur kompetensi paedagogik, profesi, kepribadian dan sosial diukur bersamasama. Setelah kompetensi guru di pecah, kompetensi paedagogik (89,33%) dan kompetensi profesional (88,33%) mendapat dukungan lebih banyak untuk diuji dari pada kompetensi kepribadian (43%) dan kompetensi sosial (39,3%). Proporsi pendapat ini menunjukkan bahwa meskipun penilaian kompetensi kepribadian dan sosial diperlukan oleh guru tetapi pengukuran dua indikator kompetensi tersebut sulit dilakukan dan banyak mengandung bias sehingga guru kurang mendukung penilaian kompetensi tersebut dilakukan. 3. Proses Uji Kompetensi Guru memberi tanggapan apabila proses sertifikasi menggunakan uji kompetensi, guru menyetuji cara pengujian kompetensi menggunakan tes tertulis sebesar 85,67% sedangkan penilaian dari teman sejawat sebesar 28,7%. Melihat kecenderungan ini, guru sebenarnya menginginkan cara penilaian yang objektif dan rasional. Alat dan cara pengukuran kompetensi guru yang dipilih menggunakan tes tertulis karena parameternya jelas. Dengan menggunakan alat dan cara penilaian yang benar-benar objektif diharapkan dapat terpilih guru yang benar-benar bermutu. Guru memilih asesor uji kompetensi guru yang berasal dari orang-orang yang sudah dikenal guru yaitu kepala sekolah (51%) dan pengawas (33,3%) sedangkan dosen Perguruan Tinggi Negeri hanya dipilih oleh 14% responden. Pada umumnya responden memilih asesor dari orang yang sudah dikenal guru supaya tidak menyulitkan proses penilaian guru. Guru meragukan hasil penilaian portofolio dapat berlangsung objektif karena semua persyaratan tidak dapat diukur secara langsung. 4. Dampak Uji Kompetensi Guru yang sudah memperoleh sertifikat pendidik diberi tanggung jawab mengajar sebanyak 24 jam per minggu. Sebanyak 64,6% responden menanggapi pernyataan ini dengan jawaban kurang setuju. Guru yang tidak lulus penilaian portofolio, dapat mengikuti pendidikan profesi yang diakhiri dengan ujian disetujui oleh 83,4%. Guru yang tidak lulus ujian ulang tidak akan mendapat sertifikat guru disetujui oleh 30,7%. Tanggapan kualitatif terhadap dampak uji kompetensi yang diberikan responden adalah sebagai berikut: Guru yang tidak setuju terhadap kebijakan mengajar
5 jam per minggu mengatakan bahwa guru di daerah tertentu sulit dapat memenuhi tarjet tersebut. Guru disamping mengajar juga masih mempunyai tugas lain yaitu wali kelas, guru piket, membentuk kepribadian siswa dll. Pendidikan profesi guru yang diakhiri dengan ujian mutlak disetujui oleh responden. Beberapa alasan yang menyertai antara lain, pendidikan profesi dapat meningkatkan kemampuan guru dan menambah wawasan guru. Guru yang tidak lulus ujian ulang tidak akan mendapat sertifikat guru, kurang disetujui oleh responden karena guru sudah banyak mengabdi pada negara. Secara realistis guru juga memberi tanggapan terhadap sertifikat pendidik sebaiknya diperbaharui secara berkala supaya guru termotivasi untuk meningkatkan kompetensinya. 5. Analisis Peningkatan Kompetensi dalam Penilaian Dokumen Portolio. Jenis dokumen portofolio yang menjadi persyaratan uji kompetensi guru tidak semua mencerminkan kompetensi guru. Hasil analisis terhadap jenis dokumen portofolio yang menjadi persyaratan uji kompetensi guru dalam jabatan antara lain dapat dilaporkan: a. Kualifikasi akademik. Kualifikasi akademik merupakan tingkat pendidikan formal yang telah dicapai guru. Bukti fisik yang terkait dengan komponen ini dapat berupa ijazah atau sertifikat. Dokumen portofolio dapat menunjukkan kompetensi guru apabila program studi yang diambil sesuai dengan bidang studi yang diajarkan. b. Pendidikan dan Pelatihan Pendidikan dan pelatihan mencerminkan kompetensi guru apabila diklat tersebut dilaksanakan untuk pengembangan atau peningkatan kompetensi dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik. Sertifikat diklat yang mencerminkan peningkatan kompetensi guru adalah yang berkaitan dengan pengembangan materi pelajaran, teknologi pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan manajemen pendidikan. c. Pengalaman Mengajar Pengalaman mengajar mencerminkan kompetensi guru apabila bidang studi yang diajarkan sesuai dengan kualifikasi pendidikan dan surat tugas mengajar. Kasus yang terjadi di lapangan, banyak guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidang keahlian yang ditunjukkan dalam ijazah. Apabila hal ini terjadi, maka guru diakui kompetensi mengajarnya apabila guru pernah mengikuti diklat bidang studi yang mendukung. d. Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajaran Perencanaan pembelajaran dibuktikan dalam bentuk dokumen rencana pembelajaran (RP/RPP) yang diketahui dan disahkan oleh atasan. Pelaksanaan pembelajaran dibuktikan dengan dokumen hasil penilaian oleh kepala sekolah atau pengawas. Kunci pokok kompetensi guru terdapat pada komponen ini, namun apabila perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran hanya dibuktikan dengan dokumen portofolio hal ini akan banyak memberi peluang kepada guru untuk mengumpulkan dokumen yang tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya. e. Penilaian dari atasan dan pengawas Penilaian atasan terhadap kompetensi kepribadian dan sosial dapat mencerminkan kompetensi guru apabila personal yang menilai kompetensi guru bebas dari unsur KKN. Untuk menghindari praktek ini, penilaian dari atasan perlu di cross cek dengan penilai lain dari teman sejawat atau siswa. f. Prestasi akademik Prestasi akademik dibuktikan dengan surat penghargaan, surat keterangan atau sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga penyelenggara. Prestasi akademik menunjukkan kompetensi guru karena prestasi ini diraih oleh guru yang memiliki keunggulan khusus. g. Karya pengembangan profesi Karya pengembangan profesi dibuktikan dengan hasil karya guru dalam penulisan buku, penulisan artikel, penulis 413
6 soal, pembuat media pembelajaran, laporan penelitian tindakan kelas, karya seni dapat mencerminkan kompetensi guru. Karya pengembangan profesi guru sebaiknya diverifikasi karena saat ini banyak terjadi kegiatan plagiat dan replikasi karya ilmiah. h. Keikutsertaan dalam forum ilmiah. Keikutsertaan dalam forum ilmiah menunjang kompetensi guru selama guru mengikuti forum tersebut dengan seksama. Pada umumnya, keikutsertaan dalam forum ilmiah hanya sekedar formalitas untuk mendapatkan sertifikat bukan untuk meningkatkan kompetensi guru. Penghargaan terhadap komponen ini sebaiknya tidak terlalu tinggi karena sumbangan terhadap kompetensi guru relatif kecil. i. Pengalaman Organisasi di Bidang Kependidikan dan Sosial Pengalaman organisasi guru dibidang kependidikan dan sosial mencerminkan kompetensi guru di luar bidang akademik. Komponen ini perlu dihargai sesuai dengan peran guru dalam organisasi tersebut. j. Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan. Penghargaan yang relevan dibuktikan dengan sertifikat, piagam atau surat keterangan. Penghargaan yang relevan sangat bias untuk menunjukkan kompetensi guru. Penghargaan yang relevan perlu spesifikasi yang lebih jelas karena penghargaan komponen ini overlap dengan prestasi akademik. D. SARAN KEBIJAKAN Di bawah ini diajukan beberapa saran kebijakan untuk meningkatkan kompetensi guru melalui program sertifikasi yaitu: 1. Pemerintah membuat skala prioritas untuk menentukan sasaran uji kompetensi guru. Guru-guru yang sudah mendekati pensiun atau guru senior yang telah lama berprestasi di sekolahnya bisa diberi penghargaan tanpa melalui uji kompetensi. Apabila uji kompetensi dilakukan dengan menggunakan alat tes maka sebaiknya dipilih materi tes yang berkaitan dengan pengetahuan dan wawasan guru terhadap peningkatan mutu pendidikan. Alat tes yang digunakan untuk mengukur kompetensi guru menggunakan alat tes yang objektif. 2. Pemerintah merealisasikan berdirinya lembaga independen yang mengurus serifikasi guru sehingga proses sertifikasi guru dapat berjalan lancar. Pemerintah memberdayakan pengawas sebagai asesor sertifikasi guru SMP. 3. Hasil uji kompetensi diberikan secara bertingkat mulai dari sertifikat guru tingkat dasar, tingkat menengah sampai ke tingkat mahir. Penjenjangan sertifikat ini memberi konsekuensi terhadap tunjangan jabatan yang berbeda dan guru berusaha untuk meningkatkan mutu secara terus menerus. E. DAFTAR PUSTAKA Depdiknas, (2004) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Diambil dari (2005) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Diambil dari , (2007) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan, Jakarta: Depdiknas Freeborne, T. A. et. all. (1992). Model Standards for Beginning Teacher Licensing, Assessment and Development: A Resource for State Dialogue, Washington, DC: Council of Chief State School Officers One Massachusetts Avenue, NW Goldhaber, D., and D.J. Brewer. (2000). Does Teacher Certification Matter? 414
7 High School Teacher Certification Status and Student Achievement. Educational Evaluation and Policy Analysis, Volume 22: pp Wikipedia. (2008). Certificate. Diakses tanggal 12 Mei
MODEL UJI KOMPETENSI GURU PRAJABATAN MELALUI PENDIDIKAN PROFESI GURU. Oleh: Dr. Endang Mulyatininingsih Universitas Negeri Yogyakarta
MODEL UJI KOMPETENSI GURU PRAJABATAN MELALUI PENDIDIKAN PROFESI GURU Oleh: Dr. Endang Mulyatininingsih Universitas Negeri Yogyakarta ABSTRAK Artikel ini ditulis kembali dari hasil penelitian yang berjudul
SERTIFIKASI GURU, ANTARA PROFESIONALISME, TANTANGAN, DAN REALITA GURU*) Oleh : Badrun Kartowagiran**)
SERTIFIKASI GURU, ANTARA PROFESIONALISME, TANTANGAN, DAN REALITA GURU*) Oleh : Badrun Kartowagiran**) UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2008 ============================= *) Makalah disampaikan dalam Seminar
SERTIFIKASI PENDIDIK PERLU EVALUASI BERKALA. Oleh : Sukidjo Staf Pengajar FISE Universitas Negeri Yogyakarta
SERTIFIKASI PENDIDIK PERLU EVALUASI BERKALA Oleh : Sukidjo Staf Pengajar FISE Universitas Negeri Yogyakarta A. Latar Belakang Program Sertifikasi Dalam era global keberadaan sumber daya manusia (SDM) yang
SERTIFIKASI GURU DAN DOSEN TAHUN 2009: DASAR HUKUM DAN PELAKSANAANNYA 1
SERTIFIKASI GURU DAN DOSEN TAHUN 2009: DASAR HUKUM DAN PELAKSANAANNYA 1 Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. 2 PENDAHULUAN Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-undang RI
PROFESIONAL GURU. Drs.DUDI GUNAWAN,M.Pd.
PROFESIONAL GURU Drs.DUDI GUNAWAN,M.Pd. PROFESIONAL Menunjuk pada penampilan seseorang yang sesuai dengan tuntutan yang seharusnya dan menunjuk pada orangnya itu sendiri Profesi Menunjuk pada suatu pelayanan
DASAR DAN TEKNIK PENETAPAN KUOTA PESERTA SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN TAHUN 2009
DASAR DAN TEKNIK PENETAPAN KUOTA PESERTA SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN TAHUN 2009 Disajikan dalam Workshop Penetapan Peserta Sertifikasi Guru Tahun 2009 yang diselenggarakan oleh Lembaga Penjaminan Mutu
BAB I PENDAHULUAN. pemangku kepentingan (stakeholders), baik dari pihak pemerintah maupun
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan utama pendidikan adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai upaya untuk mencapai kesejahteraan lahir dan batin. Untuk itu masalah pendidikan
PELAKSANAAN SERTIFIKASI GURU DAN KESIAPAN LPTK DALAM MENDUKUNG PROGRAM SERTIFIKASI GURU
PELAKSANAAN SERTIFIKASI GURU DAN KESIAPAN LPTK DALAM MENDUKUNG PROGRAM SERTIFIKASI GURU HAND OUT Disampaikan pada kegiatan Forum Wartawan Pendidikan Wisma Depdiknas Argamulya, Bogor, Sabtu, 16 September2006
I. PENDAHULUAN. yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan salah satu standar yang harus dikembangkan adalah standar proses. Standar
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat modern yang menuntut spesialisasi dalam masyarakat yang. semakin kompleks. Masalah profesi kependidikan sampai sekarang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Profesionalisme berkembang sesuai dengan kemajuan masyarakat modern yang menuntut spesialisasi dalam masyarakat yang semakin kompleks. Masalah profesi kependidikan
Artikel: MODEL EVALUASI KINERJA GURU PASCA SERTIFIKASI. Oleh: Badrun Kartowagiran
Artikel: MODEL EVALUASI KINERJA GURU PASCA SERTIFIKASI Oleh: Badrun Kartowagiran PASCASARJANA UNY ====================== 2013 MODEL EVALUASI KINERJA GURU PASCA SERTIFIKASI ABSTRAK Oleh: Badrun Kartowagiran,
BAB I PENDAHULUAN. dihadapi kedepan adalah globalisasi dengan dominasi teknologi dan informasi
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Memasuki abad-21, tugas guru tidak akan semakin ringan. Tantangan yang dihadapi kedepan adalah globalisasi dengan dominasi teknologi dan informasi yang sangat
BAB I PENDAHULUAN. formal atau nonformal. Kedua pendidikan ini jika ditempuh dan dilaksanakan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kunci untuk mencapai kesejahteraan, tentunya langkah utama harus diawali dengan belajar lebih giat baik melalui pendidikan formal atau
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2007 TENTANG SERTIFIKASI BAGI GURU DALAM JABATAN
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2007 TENTANG SERTIFIKASI BAGI GURU DALAM JABATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang Mengingat
SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN TAHUN 2007
SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN TAHUN 2007 A. Sasaran Sejumlah 190.450 guru kelas dan guru mata pelajaran untuk semua jenjang pendidikan, PNS dan non PNS. Terdiri atas 20.000 guru SD dan SMP yang sudah
STUDI MODEL PENGEMBANGAN PROFESI GURU PENDIDIKAN DASAR DALAM RANGKA MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN NASIONAL
STUDI MODEL PENGEMBANGAN PROFESI GURU PENDIDIKAN DASAR DALAM RANGKA MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN NASIONAL BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2006 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG
Profil Keterampilan Mengajar Mahasiswa Calon Guru Melalui Kegiatan Induksi Guru Senior
Jurnal Riset Pendidikan ISSN: 2460-1470 Profil Keterampilan Mengajar Mahasiswa Calon Guru Melalui Kegiatan Induksi Guru Senior STKIP Al Hikmah Surabaya e-mail: [email protected] Abstrak Guru
ANALISIS DAMPAK AKREDITASI SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN (Studi Kasus Di SD Negeri Donohudan 3 Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali)
ANALISIS DAMPAK AKREDITASI SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN (Studi Kasus Di SD Negeri Donohudan 3 Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali) TESIS Diajukan Kepada Program Pasca Sarjana Universitas
SERTIFIKASI GURU MERUPAKAN PERLINDUNGAN PROFESI. Sugeng Muslimin Dosen Pend. Ekonomi FKIP Unswagati ABSTRAK
SERTIFIKASI GURU MERUPAKAN PERLINDUNGAN PROFESI Sugeng Muslimin 1 1. Dosen Pend. Ekonomi FKIP Unswagati ABSTRAK Profesi guru adalah profesi yang terhormat, tidak semua orang dapat menjadi guru. Untuk menjadi
PENYUSUNAN PORTOFOLIO GURU SEBAGAI INSTRUMEN SERTIFIKASI GURU Disampaikan dalam Seminar Pendidikan Nasional, di Hotel Bumi Wiyata Depok, 2009
PENYUSUNAN PORTOFOLIO GURU SEBAGAI INSTRUMEN SERTIFIKASI GURU Disampaikan dalam Seminar Pendidikan Nasional, di Hotel Bumi Wiyata Depok, 2009 Liliana Muliastuti, M.Pd. (Pembantu Dekan I Fakultas Bahasa
BAB I PENDAHULUAN. mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia. dan Undang-undang Dasar Tahun Upaya tersebut harus selalu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan di bidang pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat
Peran Diklat dan LPTK dalam Sertifikasi Guru Kejuruan Berdasarkan Spektrum Pendidikan Menengah Kejuruan
Peran Diklat dan LPTK dalam Sertifikasi Guru Kejuruan Berdasarkan Spektrum Pendidikan Menengah Kejuruan Oleh : Masduki Zakaria E-mail : [email protected] Staf Pengajar Jurusan Pendidikan Teknik
BERITA DAERAH KABUPATEN MAJALENGKA
BERITA DAERAH KABUPATEN MAJALENGKA NOMOR : 18 TAHUN 2006 SERI : E PERATURAN BUPATI MAJALENGKA NOMOR : 18 TAHUN 2006 TENTANG PENUGASAN GURU SEBAGAI KEPALA SEKOLAH DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN MAJALENGKA
BAB I PENDAHULUAN. yang maju, modern dan sejahtera. Sejarah bangsa-bangsa telah menunjukkan bahwa bangsa yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan yang bermutu merupakan syarat utama untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang maju, modern dan sejahtera. Sejarah bangsa-bangsa telah menunjukkan bahwa
PERANAN SERTIFIKASI GURU DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN *) Oleh: Dr. S. Eko Putro Widoyoko, M. Pd. **)
PERANAN SERTIFIKASI GURU DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN *) Oleh: Dr. S. Eko Putro Widoyoko, M. Pd. **) A. Pendahuluan Undang- Undang sistem pendidikan nasional nomor 20 tahun 2003 pasal 11 ayat 1 mengamanatkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat seluruhnya. Keberhasilan pembangunan tidak lagi diukur dari
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengertian peranan menurut Soejono Soekanto (2002;234) adalah sebagai berikut:
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Peranan Pengertian peranan menurut Soejono Soekanto (2002;234) adalah sebagai berikut: Peranan merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan
BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tantangan terberat bagi bangsa Indonesia pada era globalisasi abad
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu tantangan terberat bagi bangsa Indonesia pada era globalisasi abad 21 ini adalah bagaimana menyiapkan manusia Indonesia yang cerdas, unggul dan berdaya
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2018 TENTANG PENUGASAN GURU SEBAGAI KEPALA SEKOLAH
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2018 TENTANG PENUGASAN GURU SEBAGAI KEPALA SEKOLAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
I. PENDAHULUAN. ekonomi di negara ini belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Salah satu
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah penduduk yang sangat banyak jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga lainnya. Walaupun potensi sumber
BAB I LATAR BELAKANG. Pendidikan merupakan sesuatu yang harus diikuti oleh semua orang. Dengan
BAB I LATAR BELAKANG 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sesuatu yang harus diikuti oleh semua orang. Dengan pendidikan yang memadai seseorang akan mampu menjawab tantangan-tantangan global
PROSEDUR SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN BERDASARKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
PROSEDUR SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN BERDASARKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN riaumandiri.co I. PENDAHULUAN Tujuan pemerintah negara Indonesia sebagaimana dituangkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar
HAND OUT MATA KULIAH KONSEP DASAR PENDIDIKAN ANAK USIA DIN KODE MK/SKS : UD 100/3 SKS
HAND OUT MATA KULIAH KONSEP DASAR PENDIDIKAN ANAK USIA DIN KODE MK/SKS : UD 100/3 SKS Oleh : Nining Sriningsih, M.Pd NIP. 197912112006042001 1 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU - JURUSAN PEDAGOGIK FAKULTAS
BAB V PENUTUP. bagi guru dalam jabatan dilakukan dengan pola Portofolio, Pola Pendidikan dan
129 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dari hasil penelitian yang telah disajikan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Guna meningkatkan mutu pembelajaran dan pendidikan di Indonesia,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Guna meningkatkan mutu pembelajaran dan pendidikan di Indonesia, pemerintah telah meluncurkan berbagai kebijakan, salah satunya yang saat ini sedang hangat dibicarakan
Sasaran dan. Pengembangan Sikap Profesional. Kompetensi Dasar
Sasaran dan Pengembangan Sikap Kompetensi Dasar Mahasiswa mampu memahami Sasaran dan Pengembangan Sikap Indikator: Pengertian Sikap Guru Pengertian Kinerja Guru Sasaran Sikap Guru Pengembangan Sikap Kinerja
BAB I PENDAHULUAN. perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai dan diwujudkan oleh guru dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kompetensi guru merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai dan diwujudkan oleh guru dalam melaksanakan tugas
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Sesuai tanggung jawabnya bahwa guru adalah tenaga pendidik
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai tanggung jawabnya bahwa guru adalah tenaga pendidik profesional yang memiliki peran besar dalam upaya peningkatan mutu pendidikan dan dalam mencapai tujuan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keberhasilan pembangunan nasional dalam suatu Negara salah satunya
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberhasilan pembangunan nasional dalam suatu Negara salah satunya ditentukan oleh keberhasilan Negara tersebut dalam mengelola pendidikan nasional. Pendidikan
SERTIFIKASI PUSTAKAWAN: KONSEKUENSI DAN IMPLIKASI
SERTIFIKASI PUSTAKAWAN: KONSEKUENSI DAN IMPLIKASI Oleh: Sri Rumani Pustakawan Madya Fisipol UGM Email: [email protected] HP: 08157990303 (0274) 9270885 Apa yang terbayang dgn Sertifikasi? Pikiran Pustakawan
BAB I PENDAHULUAN. Kemampuan matematika merupakan suatu kemampuan dasar yang perlu
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kemampuan matematika merupakan suatu kemampuan dasar yang perlu mendapatkan perhatian khusus di Indonesia. Rendahnya kemampuan siswa di bidang matematika
Analisis Kebijakan Penyelenggaraan PPG SD/MI Pra Jabatan di Indonesia
Analisis Kebijakan Penyelenggaraan PPG SD/MI Pra Jabatan di Indonesia Dindin Abdul Muiz Lidinillah Dosen Program Studi PGSD UPI Kampus Tasikmalaya [email protected] Abstrak Guru sebagai tenaga profesional
Buku pedoman ini disusun sebagai acuan bagi semua pihak yang terkait dengan pelaksanaan penyaluran tunjangan profesi guru.
PEDOMAN PELAKSANAAN PENYALURAN TUNJANGAN PROFESI GURU DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2008 KATA PENGANTAR UU No 14 Tahun 2005 Tentang
MENGOPTIMALKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA DI SEKOLAH DENGAN JUMLAH SISWA SEDIKIT
ARTIKEL ILMIAH MENGOPTIMALKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA DI SEKOLAH DENGAN JUMLAH SISWA SEDIKIT Sunarto, M. Pd SDN GEDONGOMBO II PLOSO JOMBANG JAWA TIMUR 0 PENDAHULUAN Sekolah sebagai institusi pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif.
KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PELAKSANAAN SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN TAHUN 2008
KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PELAKSANAAN SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN TAHUN 2008 Disampaikan dalam Seminar Pendidikan dengan teman Isu isu Strategis Sertifikasi Guru di Jawa Barat yang diselenggarakan
PROSEDUR DAN MEKANISME SERTIFIKASI GURU
5 PROSEDUR DAN MEKANISME SERTIFIKASI GURU 1. Bagaimana mekanisme pelaksanaan sertifikasi guru? Ada dua macam pelaksanaan sertifikasi guru, yaitu: a. melalui penilaian portofolio bagi guru dalam jabatan,
BAB I PENDAHULUAN Nurul Ramadhani Makarao, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam kehidupan sehari-hari di kalangan karyawan sering muncul beragam pertanyaan yang terkait dengan masa depan mereka, khususnya tentang karier. Pertanyaan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Peningkatan mutu pendidikan khususnya di tingkat Sekolah Dasar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peningkatan mutu pendidikan khususnya di tingkat Sekolah Dasar merupakan fokus perhatian dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Hal ini karena
I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan sesuatu yang harus diikuti oleh semua orang. Dengan
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan sesuatu yang harus diikuti oleh semua orang. Dengan pendidikan yang memadai seseorang akan mampu menjawab tantangan-tantangan global dalam kehidupan.
PROGRAM PRIORITAS PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
PROGRAM PRIORITAS PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH Prof. Suyanto, Ph.D. Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional 1 Tahapan
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu program pemerintah dalam memajukan dunia pendidikan di Indonesia adalah melalui pembangunan sumber daya guru, yaitu menciptakan guru yang profesional dalam menjalankan
SERTIFIKASI GURU/DOSEN DALAM MENINGKATKAN INOVASI PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DAN PERGURUAN TINGGI
SERTIFIKASI GURU/DOSEN DALAM MENINGKATKAN INOVASI PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DAN PERGURUAN TINGGI Disajikan dalam seminar nasional Pemikiran Inovatif dalam Kajian Bahasa, Sastra, Seni, dan Pembelajarannya
jtä ~Éàt gtá ~ÅtÄtçt
Menimbang : jtä ~Éàt gtá ~ÅtÄtçt PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR 41 TAHUN 2014 TENTANG PENUGASAN GURU SEBAGAI KEPALA SEKOLAH DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA TASIKMALAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan
Drs., M.Pd. - - FIP - UPI Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan No Drs., M.Pd. - - FIP - UPI Perkembangan Jumlah Guru Sumber: Balitbang 2004 Jenjang Pendidikan Tahun 2000/2001 2001/2002 2002/2003 1 TK 102,503
DAFTAR ISI. ABSTRAKSI. KATA PENGANTAR... DAFTAR TABEL. DAFTAR GAMBAR... B. Pembatasan Masalah C. Rumusan Masalah D. Tujuan Penelitian...
DAFTAR ISI ABSTRAKSI. KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI. DAFTAR TABEL. DAFTAR GAMBAR... i ii iv vi viii BAB I PENDAHULUAN. 1 A. Latar Belakang Masalah.... 1 B. Pembatasan Masalah.... 7 C. Rumusan Masalah....
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pelaksanaan pendidikan di Indonesia belum bisa dikatakan berhasil. Hal ini dikarenakan masih banyaknya lembaga pendidikan yang tenaga pengajarnya masih belum
BAB I PENDAHULUAN. pembangunan. Indonesia sebagai suatu bangsa yang sedang giat-giatnya
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah kunci sukses tidaknya suatu bangsa dalam pembangunan. Indonesia sebagai suatu bangsa yang sedang giat-giatnya melakukan pembangunan di segala
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah hal yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah hal yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Setiap bangsa dan generasi memiliki dasar dan tujuan pendidikan tertentu. Tentunya dasar
REVITALISASI SERTIFIKASI GURU UNTUK MEWUJUDKAN TENAGA KEPENDIDIKAN PROFESIONAL
REVITALISASI SERTIFIKASI GURU UNTUK MEWUJUDKAN TENAGA KEPENDIDIKAN PROFESIONAL Oleh : Badrun Kartowagiran Dosen FT UNY/AnggotaTim Nasional Sertifikasi Guru 2010 Revitalisasi Sertifikasi Guru Badrun 1 REVITALISASI
PEDOMAN PENYELENGGARAAN SERTIFIKASI PROFESI PENYULUH PERTANIAN BAB I PENDAHULUAN
5 2013, No.640 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45/PERMENTAN/OT.140/4/2013 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN SERTIFIKASI PROFESI PENYULUH PERTANIAN PEDOMAN PENYELENGGARAAN SERTIFIKASI
BAB I PENDAHULUAN. kemampuan profesional secara maksimal. Hal ini disebabkan karena guru
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Guru merupakan salah satu profesi yang harus ditekuni untuk mewujudkan kemampuan profesional secara maksimal. Hal ini disebabkan karena guru merupakan faktor
BAB I PENDAHULUAN. dalam komunitas sosial untuk mengimbangi laju perkembangan ilmu. bersamaan terhadap perkembangan dan sistem pendidikan bagi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di era global ini pendidikan masih dianggap sebagai kekuatan utama dalam komunitas sosial untuk mengimbangi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
PENILAIAN PERSEPSIONAL DAN PERSONAL/DESKRIPSI DIRI. Disusun Oleh Prof. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag. (ASESOR SERTIFIKASI DOSEN PTAI) NIRA:
1 PENILAIAN PERSEPSIONAL DAN PERSONAL/DESKRIPSI DIRI Disusun Oleh Prof. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag. (ASESOR SERTIFIKASI DOSEN PTAI) NIRA: 10210041000044 SERTIFIKASI DOSEN 2 Sertifikasi dosen adalah proses
BAB I PENDAHULUAN. Fuja Siti Fujiawati, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang pada umumnya wajib dilaksanakan oleh setiap negara. Pendidikan merupakan
BAB I PENDAHULUAN. Manajemen adalah pengelolaan usaha, kepengurusan, ketatalaksanaan,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Manajemen adalah pengelolaan usaha, kepengurusan, ketatalaksanaan, penggunaan sumberdaya manusia dan sumber daya alam secara efektif untuk mencapai sasaran
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG SERTIFIKASI BAGI GURU DALAM JABATAN
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG SERTIFIKASI BAGI GURU DALAM JABATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang
SERTIFIKASI GURU MELALUI PENDIDIKAN PROFESI GURU DALAM JABATAN TAHUN 2015
BAHAN INFORMASI DAN PUBLIKASI SERTIFIKASI GURU MELALUI PENDIDIKAN PROFESI GURU DALAM JABATAN TAHUN 2015 LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Kualitas pelaksanaan pendidikan di sekolah ditentukan oleh berbagai unsur,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kualitas pelaksanaan pendidikan di sekolah ditentukan oleh berbagai unsur, seperti guru, sarana pembelajaran, aktivitas siswa, kurikulum dan faktor lain seperti
PETUNJUK TEKNIS PEMILIHAN GURU, KEPALA SEKOLAH, PENGAWAS SEKOLAH BERPRESTASI DAN GURU PLB/PK BERDEDIKASI PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2012
PETUNJUK TEKNIS PEMILIHAN GURU, KEPALA SEKOLAH, PENGAWAS SEKOLAH BERPRESTASI DAN GURU PLB/PK BERDEDIKASI PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2012 PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR DINAS PENDIDIKAN DASAR PELAKSANAAN
KAJIAN PELAKSANAAN SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN
KAJIAN PELAKSANAAN SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN Totok Sumaryanto F Universitas Negeri Semarang Abstract. The purpose of the research is to discover and develop: (1) the effectiveness of the components
(Invited Speaker dalam Seminar Nasional di Universitas Bengkulu, 29 Nopember 2009)
PROFESIONALISME GURU DAN KARYA TULIS ILMIAH Kardiawarman Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Jl. Setiabudi No. 229-Bandung, Jawa Barat e-mail: [email protected] (Invited Speaker dalam Seminar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mia Rosalina, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah Dasar merupakan jenjang pendidikan yang paling penting keberadaannya karena proses dimulainya seseorang dalam menempuh dunia pendidikan diawali dari
KINERJA GURU SEBELUM DAN SESUDAH SERTIFIKASI GURU DI SMU NEGERI I POSO. Serlia R. Lamandasa *)
KINERJA GURU SEBELUM DAN SESUDAH SERTIFIKASI GURU DI SMU NEGERI I POSO Serlia R. Lamandasa *) ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja guru sebelum dan sesudah sertifikasi di SMU Negeri
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan sarana penting untuk meningkatkan kualitas. Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menjamin kelangsungan pembangunan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan sarana penting untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menjamin kelangsungan pembangunan suatu bangsa. Keberhasilan pembangunan
PANDUAN P2M STANDAR PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PENGANTAR
PENGANTAR Buku panduan standar pendidik dan tenaga kependidikan ini dibuat dengan maksud dan tujuan untuk memenuhi kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat keahlian dosen, ratio dosen mahasiswa
PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 45/Permentan/OT.140/4/2013 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN SERTIFIKASI PROFESI PENYULUH PERTANIAN
PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 45/Permentan/OT.140/4/2013 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN SERTIFIKASI PROFESI PENYULUH PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA KUASA MENTERI PERTANIAN, Menimbang : a.
PENDIDIKAN PROFESI GURU ( PPG ) SEBUAH CATATAN PENINGKATAN KUALITAS GURU
PENDIDIKAN PROFESI GURU ( PPG ) SEBUAH CATATAN PENINGKATAN KUALITAS GURU Oleh : Dwi Yunanto Abstrak Pendidikan di Indonesia pada umumnya di artikan sebagai sebuah proses untuk memanusiakan manusia, sebagaimana
BUPATI DEMAK PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI DEMAK NOMOR 53 TAHUN 2015 TENTANG
SALINAN BUPATI DEMAK PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI DEMAK NOMOR 53 TAHUN 2015 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN BAGI GURU DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN DEMAK DENGAN
KEBIJAKAN SERTIFIKASI GURU SEBAGAI INOVASI DALAM SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL. Endang Irawan Supriyadi Universitas Subang
KEBIJAKAN SERTIFIKASI GURU SEBAGAI INOVASI DALAM SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL Endang Irawan Supriyadi Universitas Subang [email protected] ABSTRAK Dari 10 komponen portofolio guru yang dinilai, sedikitnya
BAB II KAJIAN PUSTAKA. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
6 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 ProfesiKeguruan Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur
