Konverter DC/AC (Inverter) Multilevel
|
|
|
- Yanti Setiawan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Konverter DC/AC (Inverter) Multilevel I Made Wiwit Kastawan Jurusan Teknik Konversi Energi, Politeknik Negeri Bandung [email protected] Abstraksi Tulisan ini menampilkan bahasan tentang perkembangan berbagai struktur inverter atau konverter daya dc ke ac. Bahasan tentang struktur dasar inverter dua-level disajikan, diikuti dengan bahasan tentang perkembangannya menjadi struktur multilevel yang lebih kompleks. Perbandingan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing struktur ini juga disajikan. Perkembangan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan penggunaan inverter multilevel yang semakin meluas mengingat beberapa kelebihan yang dimiliki oleh struktur inverter multilevel ini relatif terhadap inverter dua-level konvensional. Kata kunci: inverter, inverter dua-level konvensional, inverter multilevel. I. PENDAHULUAN Secara prinsip, inverter merupakan perangkat daya listrik yang berfungsi untuk mengkonversi daya dc menjadi daya ac dengan gelombang tegangan yang memiliki magnituda, frekuensi dan fasa tetap atau variabel melalui suatu proses penyaklaran (switching) terhadap saklar-saklar statis semikonduktor inverter yang terealisasikan melalui pemberian deretan pulsa-pulsa penyaklaran dengan frekuensi tertentu, umumnya frekuensi tinggi, pada saklar-saklar statis semikonduktor tersebut. Deretan atau rangkaian pulsa-pulsa penyaklaran ini dibangkitkan melalui suatu teknik yang dikenal sebagai teknik modulasi lebar pulsa (pulse width modulation, PWM). Jika ditinjau dari aspek struktur atau topologinya, perangkat daya listrik inverter dapat dikelompokkan menjadi inverter dua-level konvensional dan inverter multilevel yang sejatinya merupakan pengembangan dari inverter dua-level konvensional. Karena strukturnya yang relatif sederhana, inverter dua-level telah digunakan secara luas dalam berbagai aplikasi. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir inverter multilevel terus dikembangkan secara intensif dan mulai banyak digunakan dalam aplikasi-aplikasi tertentu khususnya yang memerlukan level tegangan lebih tinggi dan kapasitas daya lebih besar. Hal ini ditunjang oleh beberapa kelebihan yang dimiliki inverter multilevel dibandingkan relatif terhadap inverter dua-level konvensional. Dengan struktur multilevel, gelombang tegangan/arus dengan riak lebih rendah dapat diperoleh melalui frekuensi penyaklaran lebih rendah sehingga rugi-rugi dalam konversi daya inverter dapat dikurangi. Selain itu, magnituda gelombang tegangan keluaran yang sama dapat diperoleh dari gelombang tegangan masukan yang lebih rendah sehingga stres tegangan yang dirasakan oleh setiap saklar statis inverter menjadi lebih rendah. Tulisan ini akan memaparkan bahasan tentang perkembangan berbagai struktur inverter serta perbandingan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing struktur inverter tersebut. II. STRUKTUR DASAR INVERTER Inverter memiliki dua struktur dasar yang dikenal sebagai struktur setengah jembatan (half-bridge) dan struktur jembatan penuh (full-bridge atau H-bridges). Masing-masing struktur ini dapat dikembangkan untuk membentuk struktur tiga fasa atau multifasa. Gambar 1 dan 2 masing-masing menunjukkan struktur inverter setengah jembatan satu fasa dan tiga fasa serta struktur inverter jembatan penuh satu fasa dan tiga fasa. Untuk konfigurasi setengah jembatan satu fasa, terdapat dua mode penyaklaran yang akan menentukan nilai tegangan terminal keluaran inverter,. Apabila saklar statis S 1 ON dan saklar statis S 2 OFF maka =. Kebalikannya, pada saat S 1 OFF dan S 2 ON maka =. Jadi, konfigurasi inverter ini akan membangkitkan gelombang tegangan keluaran yang memiliki dua level nilai. Sementara, inverter jembatan penuh satu fasa memiliki empat mode penyaklaran yang akan membangkitkan tegangan terminal keluaran,, yang memiliki tiga level nilai yaitu, 0 dan seperti tertera dalam Tabel 1. Gambar 3 (a) dan (b) menunjukkan dua macam gelombang tegangan keluaran yang dapat dibangkitkan oleh masingmasing konfigurasi inverter ini. Gelombang tegangan keluaran pertama memiliki bentuk persegi empat yang diperoleh dengan mengoperasikan saklar-saklar statis inverter ON atau OFF masing-masing sepanjang setengah periode gelombang. Gelombang tegangan keluaran ini disebut sebagai gelombang yang tidak termodulasi. Adapun bentuk gelombang tegangan keluaran kedua merupakan gelombang termodulasi dimana gelombang persegi empat tadi terpotong-potong (chopped) beberapa kali dalam setengah periode gelombang. Artinya saklar-saklar statis konverter berada dalam kondisi ON atau OFF beberapa kali dalam setengah periode. Proses ON-OFF inilah yang direalisasikan melalui teknik modulasi lebar pulsa (pulse width modulation, PWM).
2 (a) (a) (b) Gambar 1. Struktur Inverter Setengah Jembatan (a) Satu Fasa (b) Tiga-Fasa (b) (a) (b) Gambar 2. Struktur Inverter Jembatan Penuh (a) Satu Fasa (b) Tiga-Fasa No TABEL1. MODE PENYAKLARAN INVERTER JEMBATAN PENUH Saklar statis yang konduksi (ON) Tegangan terminal keluaran, 1 S1, S4 2 S2, S3 3 S1, S3 0 4 S2, S4 0 III. STRUKTUR INVERTER MULTILEVEL Selain dua struktur inverter tersebut diatas, terdapat struktur yang lain yaitu inverter multilevel yang akhir-akhir ini makin berkembang luas pemakaiannya. Inverter ini dinilai cocok untuk aplikasi-aplikasi yang melibatkan kapasitas daya besar atau tegangan kerja lebih tinggi seperti aplikasi pada sistem tenaga listrik. Inverter multilevel sendiri dapat dibagi lagi menjadi berbagai struktur yang berbeda. Tiga yang paling umum dikenal adalah struktur cascaded multicells (cascaded H-bridges), diode clamped (neutral point clamped) dan flying capacitor (capacitor clamped). Gambar 3. Gelombang Tegangan Keluaran Inverter Yang Tak Termodulasi dan Termodulasi (a) Setengah Jembatan (b) Jembatan Penuh. Gambar 4 menampilkan contoh satu lengan fasa struktur cascaded H-bridges inverter sembilan level. Dapat dilihat bahwa inverter ini terbentuk dari hubungan seri empat inverter jembatan penuh satu fasa yang masing-masing memiliki sumber tegangan dc terpisah. Masing-masing inverter akan membangkitkan tegangan keluaran +V dc, 0 dan V dc. Dengan mengendalikan operasi dari keempat inverter yang terhubung seri ini maka dapat dibangkitkan tegangan keluaran konverter yang memiliki nilai berayun antara 4V dc sampai dengan +4V dc dengan step V dc sehingga diperoleh sembilan level nilai seperti terlihat dalam gambar. Perhatikan bahwa gelombang tegangan keluaran yang dihasilkan inverter cascaded H- bridges ini memiliki bentuk bertingkat-tingkat mengikuti bentuk sinyal sinusoidal. Dengan menggunakan sumber tegangan dc lebih banyak maka tegangan keluaran yang dihasilkan akan memiliki level atau tingkatan yang lebih banyak dan bentuk gelombang yang semakin mendekati sinusoidal. Contoh inverter multilevel diode clamped ditunjukkan oleh Gambar 5. Gambar ini menampilkan inverter diode clamped satu fasa lima level. Terlihat bahwa inverter terbentuk dari empat buah kapasitor yang terhubung seri yaitu C 1, C 2, C 3, dan C 4 dan terhubung pada rel tegangan dc dengan nilai V dc. Oleh karenanya stres tegangan yang dirasakan oleh masing-masing kapasitor adalah ¼ V dc. Dengan dioda clamping dan, dan serta dan tegangan pada saklar-saklar statis inverter dijaga agar selalu sama dengan tegangan kapasitor yaitu ¼ V dc. Titik tengah dari keempat buah kapasitor ini didefinisikan sebagai titik netral, n, dan dijadikan referensi untuk tegangan keluaran inverter,.
3 3. Bila masing-masing dua buah saklar statis konverter di sisi atas dan bawah yaitu S 3, S 4,, dan ON maka =0. 4. Bila satu buah saklar statis konverter di sisi atas yaitu S 4 serta tiga buah saklar statis konverter di sisi bawah yaitu,, dan ON maka =. 5. Bila keempat konverter saklar statis di sisi bawah yaitu,, dan yang ON maka =. catatan: dalam pola operasi ini terdapat empat pasangan saklar statis yang bersifat komplementer yaitu dan, dan, dan, serta dan dimana apabila salah satunya ON maka saklar statis pasangannya OFF. Secara umum, setiap saklar statis pada struktur inverter diode clamped dengan L-level tegangan harus mampu menahan stres tegangan sebesar 1. Akan tetapi, komponen dioda clamping-nya memiliki kemampuan reverse voltage blocking yang berbeda-beda. Sebagai contoh, untuk inverter diode clamped lima level yang ditunjukkan oleh Gambar 5, pada saat saklar statis,, dan seluruhnya ON atau konduksi maka diode clamping, dan berturut-turut akan merasakan reverse voltage yang berbeda yaitu sebesar ¾ V dc, ½ V dc, dan ¼ V dc. Apabila inverternya dirancang agar setiap diode clamping memiliki kemampuan reverse voltage blocking yang sama dengan saklar statisnya maka diperlukan jumlah diode clamping sebanyak 1 2. Gambar 4. Inverter Cascaded H-Bridges Sembilan Level. Proses terbentuknya lima level tegangan keluaran inverter ini dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Bila empat buah saklar statis inverter di sisi atas (di atas titik a) yaitu S 1, S 2, S 3, dan S 4 ON maka =. 2. Bila tiga buah saklar statis inverter di sisi atas yaitu S 2, S 3, dan S 4 serta sebuah saklar statis inverter di sisi bawah (di bawah titik a) yaitu ON maka =. Gambar 5. Inverter Diode-Clamped Lima Level.
4 Gambar 6 menampilkan contoh inverter satu fasa lima level dengan struktur flying capacitor. Kapasitor clamping,,, dan masing-masing akan mempertahankan agar tegangan pada setiap saklar statis inverter selalu sama dengan tegangan sebuah kapasitor. Proses terbentuknya kelima level tegangan keluaran inverter dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Untuk memperoleh tegangan =, semua saklar statis inverter di sisi atas (di atas titik a) yaitu S 1, S 2, S 3, dan S 4 konduksi. 2. Untuk memperoleh tegangan =, terdapat tiga kombinasi penyaklaran yaitu: a. S 1, S 2, S 3, dan konduksi, = dari C 4 atas dari C 1. b. S 2, S 3, S 4, dan konduksi, = dari C 3 dari C 4 bawah. c. S 1, S 3, S 4, dan konduksi, = dari C 4 atas dari C 3 + dari C Untuk memperoleh tegangan keluaran =0, terdapat enam kombinasi penyaklaran yaitu: a. S 1, S 2,, dan konduksi, = dari C 2. dari C 4 atas b. S 3, S 4,, dan konduksi, = dari C 2 dari C 4 bawah. c. S 1, S 3,, dan konduksi, = dari C 4 atas dari C 3 + dari C 2 d. S 1, S 4,, dan konduksi, = dari C 1. dari C 3 + dari C 1. e. S 2, S 4,, dan konduksi, = dari C 2 + dari C 3 f. S 2, S 3,, dan konduksi, = dari C 1 dari C 4bawah. 4. Untuk memperoleh tegangan = kombinasi penyaklaran yaitu: a. S 1,, dan konduksi, = dari C 3. dari C 4 atas dari C 1 dari C 4 bawah. dari C 3, terdapat tiga dari C 4 atas b. S 4,,, dan konduksi, = dari C 1 dari C 4 bawah. c. S 3,,, dan konduksi, = dari C 2 dari C 1 dari C 4bawah. 5. Untuk memperoleh tegangan keluaran =, semua saklar statis inverter di sisi bawah (di bawah titik a) yaitu,,, dan konduksi. Mirip dengan inverter diode clamped, inverter dengan struktur flying capacitor ini memerlukan cukup banyak komponen kapasitor untuk mengikat (clamp) nilai tegangan saklar-saklar statis inverter. Jika rating tegangan masing-masing kapasitor ditentukan sama dengan rating tegangan saklar statis inverter maka untuk L-level inverter dengan topologi flying capacitor ini akan memerlukan total sebanyak 1 2/2 kapasitor clamping diluar 1 kapasitor yang digunakan pada rel dc sumber. Selain ketiga topologi inverter tersebut diatas, perkembangan lebih lanjut menghadirkan beberapa struktur inverter yang lain seperti generalized multilevel cells [F. Z. Peng (2001)], mixed level hybrid multilevel cells [W. A. Hill dan C. Harbourt (1999)] dan asymetric hybrid multilevel cells [M. D. Manjrekar, P. K. Steimer dan T. A. Lipo (2000)]. Gambar 7 menunjukkan struktur inverter generalized multilevel cells. Inverter ini memiliki struktur dasar yang terdiri dari dua buah saklar statis dan satu buah kapasitor yang dapat dikembangkan lebih lanjut untuk membentuk m-level inverter sebagaimana tampak dalam gambar. Struktur inverter multilevel seperti diode clamped, capacitor clamped ataupun inverter dua-level konvensional dapat diturunkan dari struktur generalized multilevel cells ini. Pada inverter generalized multilevel cells ini setiap komponen saklar statis, dioda dan kapasitor memiliki tegangan sebesar V dc yang adalah 1/(m 1) dari nilai tegangan dc-link. Gambar 6. Inverter Flying Capacitor Lima Level.
5 Inverter dengan struktur mixed level hybrid multilevel cells ditunjukkan oleh Gambar 8. Struktur ini mengadopsi penggunaan struktur multilevel diode clamped atau capacitor clamped untuk mengganti sel H-bridges dalam hubungan kaskade. Dengan cara ini maka penggunaan sumber dc terpisah dapat dikurangi. Seperti ditunjukkan oleh Gambar 8, apabila inverter tiga level yang digunakan untuk mengganti sel H-bridges maka level tegangan untuk setiap sel akan menjadi dua kalinya sehingga untuk memperoleh sembilan level tegangan keluaran inverter hanya diperlukan dua buah sumber dc terpisah per lengan fasa inverter. Untuk struktur cascaded H-bridges, diperlukan empat buah sumber dc terpisah per lengan fasa inverter untuk menghasilkan tegangan keluaran inverter yang memiliki sembilan level nilai. Inverter dengan struktur asymetric hybrid multilevel cells diperlihatkan oleh Gambar 9 dan 10. Secara struktur inverter ini memiliki kesamaan dengan struktur cascaded multicells. Perbedaannya terletak pada nilai tegangan dari sumber dc terpisah yang digunakan serta frekuensi penyaklaran yang dikenakan pada saklar-saklar statis dari masing-masing sel inverter. Inverter asymetric hybrid multilevel cells tipe pertama memiliki level tegangan yang berbeda untuk setiap selnya tetapi frekuensi penyaklarannya sama. Sedangan tipe kedua memiliki level tegangan yang sama untuk setiap selnya tetapi frekuensi penyaklaran yang dikenakan berbeda. Dengan cara ini dapat diperoleh tegangan keluaran inverter yang mengandung gelombang harmonisa lebih rendah dengan level kaskade sel inverter yang lebih sedikit. Gambar 7. Inverter Generalized Multilevel Cells. V dc V dc V dc/2 V dc/2 V dc/2 V dc/2 Gambar 8. Inverter Mixed Level Hybrid Multilevel Cells. Secara umum, perbandingan antara struktur inverter dualevel konvensional dan inverter multilevel menunjukkan adanya beberapa keunggulan yang dimiliki oleh inverter multilevel yaitu: 1. Tegangan keluaran inverter multilevel pada frekuensi penyaklaran fundamental dapat diupayakan agar mendekati bentuk sinusoidal dengan cara menggunakan sumber tegangan dc yang lebih banyak atau memperbanyak tap rel tegangan dc sumber. Dalam arti yang lain, dengan menggunakan inverter multilevel kita dapat membangkitkan gelombang tegangan keluaran yang memiliki kandungan harmonisa lebih rendah melalui proses penyaklaran pada frekuensi jauh lebih rendah sehingga rugi-rugi konversi daya inverter jauh berkurang. 2. Tegangan keluaran dengan magnituda yang sama dapat diperoleh dari tegangan masukan lebih rendah sehingga stres tegangan setiap saklar statis inverter menjadi lebih rendah. 3. Menarik arus masukan dengan distorsi gelombang yang lebih rendah. Namun, kelemahan inverter multilevel ini yang utama adalah banyaknya penggunaan komponen saklar statis semikonduktor, sumber dc terpisah, dioda clamping (untuk inverter multilevel diode clamped) serta kapasitor clamping (untuk inverter multilevel flying capacitor). Disamping itu, setiap saklar statis semikonduktor inverter tentunya memerlukan rangkaian penyulut (gate drive circuit) masingmasing sehingga secara keseluruhan sistem inverter multilevel ini menjadi lebih mahal dan kompleks. Alur perkembangan struktur inverter ini dapat dilihat pada rangkuman yang diberikan oleh Tabel 2. a n
6 S 1a S 1c a S 1a S 1c Saklar statis frekuensi tinggi a C 1 V C1 C 1 V C1 S 1b S 1d S 1b S 1d S 2a S 2c S 2a S 2c C 2 V C2 n C 2 V C2 n S 2b S 2d S 2b S 2d Saklar statis frekuensi rendah/ fundamental 2Vdc Vdc Van Gelombang tegangan sinusoidal 2Vdc Vdc Van Gelombang tegangan sinusoidal 0 T/2 T 0 T/2 T Vdc Vdc 2Vdc 2Vdc VC1 V dc /2 V C1 T/2 T Vdc T/2 T VC2 V C2 V dc T/2 T Vdc T/2 T Gambar 9. Inverter Asymetric Hybrid Multilevel Cells Dengan Level Tegangan Tiap Sel berbeda, Frekuensi Penyaklaran Sama. Gambar 10. Inverter Asymetric Hybrid Multilevel Cells Dengan Level Tegangan Tiap Sel Sama, Frekuensi Penyaklaran Berbeda.
7 TABEL2. ALUR PERKEMBANGAN STRUKTUR INVERTER No Struktur Karakteristik Keterangan 1 Struktur dasar ½ jembatan satu fasa. Merupakan struktur inverter yang paling sederhana. Dapat dikembangkan menjadi struktur tiga fasa ataupun multifasa dan struktur multilevel yang lebih kompleks. Membangkitkan gelombang tegangan keluaran yang memiliki dua level nilai tegangan dengan amplituda setengah nilai tegangan dc sumber. Memerlukan dua buah saklar statis per satu lengan fasa. Merupakan struktur inverter yang pertama kali dikenal. 2 Struktur dasar jembatan penuh (Hbridges) satu fasa. Strukturnya relatif masih sederhana dan dapat dikembangkan menjadi struktur tiga fasa ataupun multifasa dan struktur multilevel yang lebih kompleks. Membangkitkan gelombang tegangan keluaran yang memiliki tiga level nilai tegangan dengan amplituda sama dengan nilai tegangan dc sumber. Memerlukan empat buah saklar statis per-lengan fasa. Masih tergolong sebagai struktur inverter yang pertama kali dikenal. 3 Inverter cascaded multicells (cascaded H-bridges) Terbentuk dari hubungan seri beberapa sel konverter H-bridge dengan sumber dc terpisah. Masing-masing sel konverter membangkitkan tegangan keluaran +V dc, 0 dan V dc. Untuk n sumber tegangan dc, level tegangan konverter yang diperoleh adalah 2n + 1. Jumlah saklar statis yang diperlukan adalah (4 n) per-fasa. Berdasarkan catatan paten, mulai dikenal pada tahun 1975 (R. H. Baker dan L. H. Bannister. Kajiannya mulai dilakukan pada sekitar pertengahan dasa warsa 1990 antara lain: P. W. Hammond (1997), F. Z. Peng dan J. S. Lai (1997) yang mengkaji penggunaan konverter cascaded multicells untuk penggerak motor dan utilitas daya listrik. 1998, E. Cengelci, P. Enjeti, yang mengkaji penggunaan inverter multilevel cascaded multicells untuk adjustable speed drives. P. W. Hammond (2000), M. F. Aiello, P. W. Hammond, M. Rastogi (2001) melakukan kajian penggunaan konverter cascaded multicells untuk aplikasi penggerak motor regenerative. 4 Inverter diode clamped Terbentuk dari n hubungan seri kapasitor yang terhubung dengan rel tegangan dc, V dc, sehingga stres tegangan setiap kapasitor adalah V dc/n. n kapasitor menghasilkan (n + 1) level tegangan keluaran konverter. Dioda clamping menjaga agar tegangan pada setiap saklar statis konverter sama dengan tegangan kapasitor. Jumlah dioda clamping yang diperlukan bersifat kuadratis terhadap level tegangan konverter. Mulai dikenal sekitar tahun 1980 (catatan paten atas nama R. H. Baker) 1981, A. Nabae, I. Takahashi dan H. Akagi menggunakan struktur diode clamped untuk mengonstruksi tiga level tegangan keluaran dimana level tegangan tengah didefinisikan sebagai titik netral dan muncul istilah neutral point clamped (NPC). 5 Inverter capacitor clamped Tegangan saklar statis konverter di-clamp oleh kapasitor clamping. untuk L-level tegangan konverter diperlukan sebanyak (L 1) (L 2)/ 2 kapasitor clamping. Mulai dikenal sekitar tahun 1990-an (catatan paten atas nama J. P. Lavieville, P. Carrere dan T. Meynard). Digunakan dalam kajian antara lain oleh T. A. Meynard dan H. Foch (1992), C. Hochgraf, R. Lassester dan T.A. Lipo (1994), serta J.S. Lai dan F. Z. Peng (1996). 6 Generalized multilevel cells Memiliki struktur dasar yang terdiri dari dua buah saklar statis dan satu buah kapasitor yang dapat dikembangkan lebih lanjut untuk membentuk m-level konverter. Konfigurasi diode clamped, capacitor clamped ataupun inverter konvensional dua level dapat diturunkan dari struktur ini. Setiap komponen saklar statis, dioda dan kapasitor memiliki tegangan 1 V dc yang adalah 1/(m 1) dari tegangan dc-link. Diperkenalkan oleh F. Z. Peng (2001)]
8 7 Mixed level hybrid multilevel cells Dapat mengurangi jumlah penggunaan sumber dc terpisah (cascaded multicells) dengan mengadopsi struktur diode atau capacitor clamped untuk mengganti sel H-bridges. Bila sel H-bridges diganti dg konverter tiga level maka level tegangan keluaran untuk masing-masing sel akan menjadi dua kalinya yaitu 5 level. Jumlah sumber dc terpisah yang digunakan untuk menghasilkan 9 level tegangan berkurang dari 4 menjadi 2. Diperkenalkan oleh W. A. Hill dan C. Harbourt (1999). 8 Asymetric hybrid multilevel cells Masing-masing sel dalam struktur cascaded multicells memiliki tegangan berbeda, frekuensi penyaklaran sama. Setiap sel memiliki tegangan sama tetapi dikenakan frekuensi penyaklaran yang berbeda. Dengan struktur asymetric hybrid multilevel cells ini dapat diperoleh kandungan gelombang harmonisa tegangan yang lebih rendah dengan kaskade sel yang lebih sedikit Diperkenalkan oleh M. D. Manjrekar, P. K. Steimer dan T. A. Lipo (2000). IV. KESIMPULAN Dalam tulisan ini telah dilakukan kajian terhadap perkembangan struktur inverter daya listrik. Hasil kajian menunjukkan adanya perkembangan struktur inverter dari struktur dasar dua-level konvensional menjadi struktur inverter multilevel. Perkembangan terkini menunjukkan kecenderungan semakin luasnya penggunaan struktur inverter multilevel. Hal ini dikarenakan inverter multilevel memiliki beberapa keunggulan dibandingkan terhadap konverter dc/ac konvensional dua-level terutama pada aspek kemampuan pembangkitan tegangan dan kapasitas daya yang lebih tinggi serta karakteristik distorsi gelombang harmonisa tegangan dan arus yang lebih rendah. Namun, struktur inverter multilevel ini juga memiliki beberapa kelemahan terutama pada aspek banyaknya penggunaan komponen saklar statis semikonduktor, sumber dc terpisah, dioda clamping (untuk inverter multilevel diode clamped) serta kapasitor clamping (untuk inverter multilevel flying capacitor) serta kompleksitas rangkaian tinggi. REFERENCES 1. D. G. Holmes, T. A. Lipo, Pulse Width Modulation for Power Converters. Principles and Practice, IEEE Press Series on Power Engineering, Wiley-Interscience, J. Rodriguez, J. Sheng Lai, F. Z. Peng, Multilevel Inverter: A Survey of Topologies, Controls and Applications, IEEE Transactions on Industrial Electronics, Vol. 49, N0.4, August Surin Khomfoi and Leon M. Tolbert, Ph.D, Multilevel Power Converters 4. Hasmukh S. Patel, Richard G. Hoft, Generalized Techniques of Harmonic Elimination and Voltage Control in Thyristor Inverter: Part I Harmonic Elimination, IEEE Transactions on Industry Applications, Vol. 1A-9, No. 3, May/June Hasmukh S. Patel, Richard G. Hoft, Generalized Techniques of Harmonic Elimination and Voltage Control in Thyristor Inverter: Part II Voltage Control Techniques, IEEE Transactions on Industry Applications, Vol. 1A-9, No. 3, May/June John. N. Chiasson, Leon M. Tolbert, Keith McKenzie, Z. Du, Harmonic Elimination in Multilevel Converters.
BAB I PENDAHULUAN. Inverter merupakan suatu rangkaian elektronik yang berfungsi sebagai
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inverter merupakan suatu rangkaian elektronik yang berfungsi sebagai pengubah tegangan arus searah menjadi tegangan arus bolak-balik dengan frekuensi tertentu. Tegangan
Dielektrika, [P-ISSN ] [E-ISSN X] 127 Vol. 4, No. 2 : , Agustus 2017
Dielektrika, [P-ISSN 2086-9487] [E-ISSN 2579-650X] 127 Vol. 4, No. 2 : 127-134, Agustus 2017 REALISASI INVERTER MULTILEVEL CASCADED H-BRIDGE (CHB) 5 TINGKAT SATU FASA MENGGUNAKAN ARDUINO MEGA 2560 Realization
Penggunaan Filter Daya Aktif Paralel untuk Kompensasi Harmonisa Akibat Beban Non Linier Menggunakan Metode Cascaded Multilevel Inverter
Penggunaan Filter Daya Aktif Paralel untuk Kompensasi Harmonisa Akibat Beban Non Linier Menggunakan Metode Cascaded Multilevel Inverter Renny Rakhmawati 1, Hendik Eko H. S. 2, Setyo Adi Purwanto 3 1 Dosen
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Inverter dan Aplikasi Inverter daya adalah sebuah perangkat yang dapat mengkonversikan energi listrik dari bentuk DC menjadi bentuk AC. Diproduksi dengan segala bentuk dan ukuran,
BAB 1 PENDAHULUAN. adalah rectifier, converter, inverter, tanur busur listrik, motor-motor listrik,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini banyak konsumen daya listrik menggunakan beban tidak linier, baik konsumen rumah tangga, perkantoran maupun industri. Contoh beban tidak linier adalah rectifier,
PERANCANGAN INVERTER SATU FASA LIMA LEVEL MODIFIKASI PULSE WIDTH MODULATION
Jurnal Teknologi Elektro, Universitas Mercu Buana ISSN : 86 9479 PERANCANGAN INVERTER SATU FASA LIMA LEVEL MODIFIKASI PULSE WIDTH MODULATION Benriwati Maharmi Jurusan Teknik Elektro, Sekolah Tinggi Teknologi
KAJIAN TAPIS DAYA AKTIF PARALEL DENGAN MENGGUNAKAN INVERTER BERTINGKAT SEBAGAI METODE PERBAIKAN ARUS SUMBER
KAJIAN TAPIS DAYA AKTIF PARALEL DENGAN MENGGUNAKAN INVERTER BERTINGKAT SEBAGAI METODE PERBAIKAN ARUS SUMBER Slamet Riyadi, Emmanuel Agung Nugroho Fakultas Teknik Elektro Unika Soegijapranata, Mahasiswa
BAB I PENDAHULUAN. sumber energi tenaga angin, sumber energi tenaga air, hingga sumber energi tenaga
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini, penelitian mengenai sumber energi terbarukan sangat gencar dilakukan. Sumber-sumber energi terbarukan yang banyak dikembangkan antara lain sumber energi tenaga
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. rendah banyak dibahas dalam forum-forum kelistrikan. Permasalahan kualitas daya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era sekarang ini, permasalahan kualitas daya pada sistem tegangan rendah banyak dibahas dalam forum-forum kelistrikan. Permasalahan kualitas daya sistem disebabkan
SATUAN ACARA PERKULIAHAN
Topik Bahasan : Komponen Elektronika Daya Tujuan Pembelajaran Umum : Mahasiswa Dapat Memahami karakteristik komponen dasar elektronika daya. Jumlah : 3( tiga ) kali Tujuan Pembelajaran Khusus 1,2 dan 3
DC-DC Step-Up Converter Rasio Tinggi Kombinasi Charge Pump dan Boost Converter untuk Catu Daya Motor Induksi pada Mobil Listrik
JURNA TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-6 1 DC-DC Step-Up Converter Rasio Tinggi Kombinasi Charge Pump dan Boost Converter untuk Catu Daya Motor Induksi pada Mobil istrik A. M. Husni, M. Ashari Prof,
BAB I PENDAHULUAN. Tenaga listrik memegang peranan yang penting dalam industri. Pada aplikasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tenaga listrik memegang peranan yang penting dalam industri. Pada aplikasi industri bahwa tenaga listrik ini harus dikontrol terlebih dahulu sebelum diberikan ke beban.
MENGHILANGKAN DISTORSI YANG DISEBABKAN PEMBEBANAN NONLINIER RANGKAIAN RL, RC DAN RLE
MENGHILANGKAN DISTORSI YANG DISEBABKAN PEMBEBANAN NONLINIER RANGKAIAN RL, RC DAN RLE Indriarto Yuniantoro Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Universitas Trisakti E-mail: [email protected]
Reduksi Harmonisa Arus Sumber Tiga-Fasa Dengan Transformator Penggeser Fasa
Vol. 2, 2017 Reduksi Harmonisa Arus Sumber Tiga-Fasa Dengan Transformator Penggeser Fasa I. M. Wiwit Kastawan Jurusan Teknik Konversi Energi, Politeknik Negeri Bandung Jl. Gegerkalong Hilir, Bandung Barat,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harmonisa Dalam sistem tenaga listrik dikenal dua jenis beban yaitu beban linier dan beban tidak linier. Beban linier adalah beban yang memberikan bentuk gelombang keluaran
BAB I 1. BAB I PENDAHULUAN
BAB I 1. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan akan konverter daya yang efisien dan berukuran kecil terus berkembang di berbagai bidang. Mulai dari charger baterai, catu daya komputer, hingga
I. Voltage Source Inverter (VSI) II. Metode PWM. A. Six-Step VSI B. Pulse-Width Modulated VSI. A. Sinusoidal PWM
I. oltage Source Inverter (SI) A. Six-Step SI B. Pulse-Width Modulated SI II. Metode PWM A. Sinusoidal PWM B. Hysteresis (Bang-bang) C. Space ector PWM 2/5 oltage Source Inverter Tiga Fasa Six Step Gambar
Perancangan dan Simulasi Full Bridge Inverter Lima Tingkat dengan Dual Buck Converter Terhubung Jaringan Satu Fasa
JURNL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (214) 16 1 Perancangan dan Simulasi Full Bridge Inverter Lima Tingkat dengan Dual Buck Converter Terhubung Jaringan Satu Fasa Zamratul Fuadi 1, Mochamad shari 2, dan
Perancangan dan Simulasi Full Bridge Inverter Lima Tingkat dengan Dual Buck Converter Terhubung Jaringan Satu Fasa
JURNL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 1, (214) ISSN: 23373539 (2319271 Print) B18 Perancangan dan Simulasi Full Bridge Inverter Lima Tingkat dengan Dual Buck Converter Terhubung Jaringan Satu Fasa Zamratul Fuadi,
Desain dan Simulasi Filter Aktif Shunt Multilevel Inverter untuk Kompensasi Harmonisa Akibat Penggunaan Beban Non Linear
Desain dan Simulasi Filter Aktif Shunt Multilevel Inverter untuk Kompensasi Harmonisa Akibat Penggunaan Beban Non Linear Suhendar, Teguh Firmansyah, dan Zuldiag Solih Afin Jurusan Teknik Elektro, Universitas
PENGATURAN DAYA AKTIF PADA UNIFIED POWER FLOW CONTROLLER (UPFC) BERBASIS DUA KONVERTER SHUNT DAN SEBUAH KAPASITOR SERI
PENGATURAN DAYA AKTIF PADA UNIFIED POWER FLOW CONTROLLER (UPFC) BERBASIS DUA KONVERTER SHUNT DAN SEBUAH KAPASITOR SERI Mochamad Ashari 1) Heri Suryoatmojo 2) Adi Kurniawan 3) 1) Jurusan Teknik Elektro
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Konverter elektronika daya merupakan suatu alat yang mengkonversikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konverter Elektronika Daya Konverter elektronika daya merupakan suatu alat yang mengkonversikan daya elektrik dari satu bentuk ke bentuk daya elektrik lainnya di bidang elektronika
PENDEKATAN BARU UNTUK SINTESIS KONVERTER DAYA
5 PENDEKATAN BARU UNTUK 2 SINTESIS KONVERTER DAYA 2.1 Pendahuluan Beberapa teknik sintesis konverter sudah dipakai untuk mendapatkan suatu konverter baru yang memenuhi kriteria yang diinginkan [1]-[10].
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam sepuluh tahun terakhir perkembangan mengenai teknologi konversi energi mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini disebabkan oleh penetrasi yang
Analisa dan Pemodelan PWM AC-AC Konverter Satu Fasa Simetri
1 Analisa dan Pemodelan PWM AC-AC Konverter Satu Fasa Simetri Rizki Aulia Ratnani, Mochamad Ashari, Heri Suryoatmojo. Bidang Studi Teknik Sistem Tenaga Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri,
BAB 1 PENDAHULUAN. Pemakaian daya listrik dengan beban tidak linier banyak digunakan pada
14 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pemakaian daya listrik dengan beban tidak linier banyak digunakan pada konsumen rumah tangga, perkantoran maupun industri seperti penggunaan rectifier, converter,
Desain dan Simulasi Konverter Buck Sebagai Pengontrol Tegangan AC Satu Tingkat dengan Perbaikan Faktor Daya
1 Desain dan Simulasi Konverter Buck Sebagai Pengontrol Tegangan AC Satu Tingkat dengan Perbaikan Faktor Daya Dimas Setiyo Wibowo, Mochamad Ashari dan Heri Suryoatmojo Teknik Elektro, Fakultas Teknologi
Materi 3: ELEKTRONIKA DAYA (2 SKS / TEORI) SEMESTER 106 TA 2016/2017 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA
Materi 3: ELEKTRONIKA DAYA 52150492 (2 SKS / TEORI) SEMESTER 106 TA 2016/2017 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA KONVERTER DC KE DC CHOPPER PENGERTIAN DC to DC converter itu merupakan suatu device
Faisyal Rahman et al., Pengendalian Tegangan Inverter 3 Fasa... 12
Faisyal Rahman et al., Pengendalian Tegangan Inverter 3 Fasa... 12 PENGENDALIAN TEGANGAN INVERTER 3 FASA MENGGUNAKAN SPACE VECTOR PULSE WIDTH MODULATION (SVPWM) PADA BEBAN FLUKTUATIF ( VOLTAGE CONTROL
Desain Inverter Tiga Fasa dengan Minimum Total Harmonic Distortion Menggunakan Metode SPWM
79 Desain Inverter Tiga Fasa dengan Minimum Total Harmonic Distortion Menggunakan Metode SPWM Lalu Riza Aliyan, Rini Nur Hasanah, M. Aziz Muslim Abstrak- Salah satu elemen penting dalam proses konversi
Elektronika daya. Dasar elektronika daya
Elektronika daya Dasar elektronika daya Pengertian Elektronika daya merupakan cabang ilmu elektronika yang berkaitan dengan pengolahan dan pengaturan daya listrik yang dilakukan secara elektronis Elektronika
BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan permasalahan kualitas daya. Komponen power
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Meningkatnya penggunaan power electronic pada sitem tenaga listrik telah menimbulkan permasalahan kualitas daya. Komponen power electronic tersebut seperti dioda, thyristor,
KONVERTER TEGANGAN JALA-JALA SATU FASA KE TIGA FASA (Aplikasi Untuk Alat Pengajaran SMK di Rural Area)
KONVERTER TEGANGAN JALA-JALA SATU FASA KE TIGA FASA (Aplikasi Untuk Alat Pengajaran SMK di Rural Area) Kristian Ismail 1, Aam Muharam 2 Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI Komp. LIPI Gd.20,
I Wayan Rinas. Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Udayana Kampus Bukit Jimbaran, Bali, *
Simulasi Penggunaan Filter Pasif, Filter Aktif dan Filter Hybrid Shunt untuk Meredam Meningkatnya Distorsi Harmonisa yang Disebabkan Oleh Munculnya Gangguan Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas
MODUL 1: DIODA DAYA PERCOBAAN 1 PENYEARAH SETENGAH GELOMBANG SATU FASA. Dioda dilambangkan seperti pada gambar di bawah ini :
MODUL 1: DIODA DAYA PERCOBAAN 1 PENYEARAH SETENGAH GELOMBANG SATU FASA I. TUJUAN PERCOBAAN 1. Melihat bentuk gelombang keluaran dari penyearah setengah gelombang tanpa beban pada sumber satu fasa. 2. Melihat
RANCANG BANGUN PENYEARAH AC TO DC RESONANSI SERI DENGAN ISOLASI TERHADAP FREKUENSI TINGGI
RANCANG BANGUN PENYEARAH AC TO DC RESONANSI SERI DENGAN ISOLASI TERHADAP FREKUENSI TINGGI Renny Rakhmawati, ST, MT Jurusan Teknik Elektro Industri PENS-ITS Kampus ITS Sukolilo Surabaya Phone 03-5947280
PENGATURAN ARUS KOMPENSASI UNTUK PEMBEBANAN NONLINIER PADA SISTEM FILTER AKTIF TIGA FASE
PENGATURAN ARUS KOMPENSASI UNTUK PEMBEBANAN NONLINIER PADA SISTEM FILTER AKTIF TIGA FASE Indriarto Yuniantoro & Rudy S. Wahyudi Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Trisakti
BAB II LANDASAN TEORI. Harmonisa adalah satu komponen sinusoidal dari satu perioda gelombang
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Harmonisa Harmonisa adalah satu komponen sinusoidal dari satu perioda gelombang yang mempunyai satu frekuensi yang merupakan kelipatan integer dari gelombang fundamental. Jika
PENGATURAN KECEPATAN DAN POSISI MOTOR AC 3 PHASA MENGGUNAKAN DT AVR LOW COST MICRO SYSTEM
PENGATURAN KECEPATAN DAN POSISI MOTOR AC 3 PHASA MENGGUNAKAN DT AVR LOW COST MICRO SYSTEM Fandy Hartono 1 2203 100 067 Dr. Tri Arief Sardjono, ST. MT. 2-1970 02 12 1995 12 1001 1 Penulis, Mahasiswa S-1
PERENCANAAN INVERTER PWM SATU FASA UNTUK PENGATURAN TEGANGAN OUTPUT PEMBANGKIT TENAGA ANGIN
PERENCANAAN INVERTER PWM SATU FASA UNTUK PENGATURAN TEGANGAN OUTPUT PEMBANGKIT TENAGA ANGIN Oleh Herisajani, Nasrul Harun, Dasrul Yunus Staf Pengajar Teknik Elektro Politeknik Negeri Padang ABSTRACT Inverter
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Perkembangan elektronika daya telah membuat inverter menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari mesin-mesin listrik AC. Penggunaan inverter sebagai sumber untuk mesin-mesin
BAB I SEMIKONDUKTOR DAYA
BAB I SEMIKONDUKTOR DAYA KOMPETENSI DASAR Setelah mengikuti materi ini diharapkan mahasiswa memiliki kompetensi: Menguasai karakteristik semikonduktor daya yang dioperasikan sebagai pensakelaran, pengubah,
DC-DC Step-Up Converter Rasio Tinggi Kombinasi Charge Pump dan Boost Converter untuk Catu Daya Motor Induksi pada Mobil Listrik
DC-DC Step-Up Converter Rasio Tinggi Kombinasi Charge Pump dan Boost Converter untuk Catu Daya Motor Induksi pada Mobil Listrik Agus Miftahul Husni 2209100132 Dosen Pembimbing: Prof. Ir. Mochamad Ashari,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Motor Induksi Tiga Fasa Motor induksi adalah suatu mesin listrik yang merubah energi listrik menjadi energi gerak dengan menggunakan gandengan medan listrik dan mempunyai slip
meningkatkan faktor daya masukan. Teknik komutasi
1 Analisis Perbandingan Faktor Daya Masukan Penyearah Satu Fasa dengan Pengendalian Modulasi Lebar Pulsa dan Sudut Penyalaan Syaifur Ridzal¹, Ir.Soeprapto,M.T.², Ir.Soemarwanto,M.T.³ ¹Mahasiswa Teknik
Analisis Kinerja Motor Arus Searah Dengan Menggunakan Sistem Kendali Modulasi Lebar Pulsa. Sudirman S.*
Analisis Kinerja Motor Arus Searah Dengan Menggunakan Sistem Kendali Modulasi Lebar Pulsa Sudirman S.* ABSTRACT This paper aim to analysed.c.motor performance by using Pulse Width Modulation ( PWM). Output
Inverter Multi Level Tipe Jembatan Satu Fasa Tiga Tingkat Dengan Mikrokontroler AT89S51
Available online at TRANSMISI Website http://ejournal.undip.ac.id/index.php/transmisi TRANSMISI, 3 (4), 2, 35-4 Research Article Inverter Multi Level Tipe Jembatan Satu Fasa Tiga Tingkat Dengan Mikrokontroler
Oleh : ARI YUANTI Nrp
TUGAS AKHIR DESAIN DAN SIMULASI FILTER DAYA AKTIF SHUNT UNTUK KOMPENSASI HARMONISA MENGGUNAKAN METODE CASCADED MULTILEVEL INVERTER Oleh : ARI YUANTI Nrp.. 2207 100 617 Dosen Pembimbing Prof. Dr. Ir. Mochamad
LAMPIRAN A RANGKAIAN CATU DAYA BEBAN TAK LINIER. Berikut adalah gambar rangkaian catu daya pada lampu hemat energi :
LAMPIRAN A RANGKAIAN CATU DAYA BEBAN TAK LINIER Berikut adalah gambar rangkaian catu daya pada lampu hemat energi : Gb-A.1. Rangkaian Catu Daya pada Lampu Hemat Energi Gb-A.2. Rangkaian Catu Daya pada
Adaptor/catu daya/ Power Supply
Adaptor/catu daya/ merupakan sumber tegangan DC. Sumber tegangan DC ini dibutuhkan oleh berbagai macam rangkaian elektronika untuk dapat dioperasikan. Rangkaian inti dari catu daya / Power Supply ini adalah
TEKNIK PEMBANGKITAN GELOMBANG SINUS PWM UNTUK INVERTER DAYA TIGA FASE
SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO 03 TEKNIK PEMBANGKITAN GELOMBANG SINUS PWM UNTUK INVERTER DAYA TIGA FASE Francisca H.C Hari Sutiksno Setya Ardhi fhc @quadraluminari.ac.id [email protected]
Rancang Bangun Rangkaian AC to DC Full Converter Tiga Fasa dengan Harmonisa Rendah
Rancang Bangun Rangkaian AC to DC Full Converter Tiga Fasa dengan Harmonisa Rendah Mochammad Abdillah, Endro Wahyono,SST, MT ¹, Ir.Hendik Eko H.S., MT ² 1 Mahasiswa D4 Jurusan Teknik Elektro Industri Dosen
Elektronika Daya ALMTDRS 2014
12 13 Gambar 1.1 Diode: (a) simbol diode, (b) karakteristik diode, (c) karakteristik ideal diode sebagai sakaler 14 2. Thyristor Semikonduktor daya yang termasuk dalam keluarga thyristor ini, antara lain:
Analisis Rugi-Rugi Daya Konverter DC-DC
Analisis Rugi-Rugi Daya Konverter DC-DC Kus Adi Nugroho 13196 / Teknik Tenaga Elektrik (A) / Program Studi Teknik Elektro Laboratorium Penelitian Konversi Energi Elektrik Sekolah Teknik Elektro dan nformatika
BAB III RANGKAIAN PEMICU DAN KOMUTASI
BAB III RANGKAIAN PEMICU DAN KOMUTASI KOMPETENSI DASAR Setelah mengikuti materi ini diharapkan mahasiswa memiliki kompetensi: Menguasai prinsip kerja rangkaian pemicu dan rangkaian komutasi. Menguasai
Pengaruh Bentuk Gelombang Pembawa Terhadap Harmonisa pada Inverter Satu Fasa
Pengaruh Bentuk Gelombang Pembawa Terhadap Harmonisa pada Inverter Satu Fasa Iim Nursalim¹, Bambang Susanto², Agus Rusdiyanto³, Nanang Ismail 4 1,4 Teknik Elektro UIN SGD Bandung Jl. A.H. Nasution No.
MODUL PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DAYA
modul praktikumelektronika daya MODUL PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DAYA LABORATORIUM KONVERSI ENERGI LISTRIK DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA 2016 1 MODUL 1 BRIEFING PRAKTIKUM Briefing
MODUL PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DAYA
MODUL PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DAYA modul praktikumelektronika daya MODUL PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DAYA LABORATORIUM KONVERSI ENERGI LISTRIK DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA 2016
BAB I PENDAHULUAN. Teknologi konverter elektronika daya telah banyak digunakan pada. kehidupan sehari-hari. Salah satunya yaitu dc dc konverter.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi konverter elektronika daya telah banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari. Salah satunya yaitu dc dc konverter. DC-DC konverter merupakan komponen penting
UNINTERRUPTIBLE POWER SUPPLY MENGGUNAKAN DOUBLE SWITCH SEBAGAI PENYEARAH DAN PERBAIKAN FAKTOR DAYA
TUGAS AKHIR RE 1599 UNINTERRUPTIBLE POWER SUPPLY MENGGUNAKAN DOUBLE SWITCH SEBAGAI PENYEARAH DAN PERBAIKAN FAKTOR DAYA FELDY MARTINUS CHANDRA NRP 2202100040 Dosen Pembimbing Dr. Ir. Mochamad Ashari, M.Eng
RANGKAIAN PENYEARAH GELOMBANG (RECTIFIER) OLEH: SRI SUPATMI,S.KOM
RANGKAIAN PENYEARAH GELOMBANG (RECTIFIER) OLEH: SRI SUPATMI,S.KOM RANGKAIAN PENYEARAH (RECTIFIER) Rangkaian penyearah gelombang merupakan rangkaian yang berfungsi untuk merubah arus bolak-balik (alternating
DISAIN SWITCHING POWER SUPPLIES
Politeknik Negeri Bandung, 1 Oktober 2003 IAIN WITHING POWER UPPIE Rustamaji Jurusan Teknik Elektro, Institut Teknologi Nasional Jl. P.H. Mustofa 23 Bandung Tlp : (022)7272215 e-mail : [email protected]
REALISASI KONVERTER DC-DC TIPE PUSH-PULL BERBASIS IC TL494 DENGAN UMPAN BALIK TEGANGAN
REALISASI KONVERTER DC-DC TIPE PUSH-PULL BERBASIS IC TL9 DENGAN UMPAN BALIK TEGANGAN Argianka Satrio Putra *), Trias Andromeda, and Agung Warsito Departemen Teknik Elektro, Universitas Diponegoro Jl. Prof.
ANALISIS HARMONISA YANG DIHASILKAN CYCLOCONVERTER DENGAN BERBAGAI PARAMETER
ANALISIS HARMONISA YANG DIHASILKAN CYCLOCONVERTER DENGAN BERBAGAI PARAMETER Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa M.K., MT., Fikri Umar Bajuber Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Kampus UI, Depok, 16424,
MODUL PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DAYA LABORATORIUM KONVERSI ENERGI LISTRIK
MODUL PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DAYA LABORATORIUM KONVERSI ENERGI LISTRIK DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA 2018 1 MODUL 1 BRIEFING PRAKTIKUM Briefing praktikum dilaksanakan hari
TEORI DASAR. 2.1 Pengertian
TEORI DASAR 2.1 Pengertian Dioda adalah piranti elektronik yang hanya dapat melewatkan arus/tegangan dalam satu arah saja, dimana dioda merupakan jenis VACUUM tube yang memiliki dua buah elektroda. Karena
Perancangan Dan Realisasi Converter Satu Fasa untuk Baterai Menjalankan Motor AC 1 Fasa 125 Watt
Jurnal Reka Elkomika 2337-439X Januari 2016 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Teknik Elektro Itenas Vol.4 No.1 Perancangan Dan Realisasi Converter Satu Fasa untuk Baterai Menjalankan Motor AC 1
BAB I SEMIKONDUKTOR DAYA
Semikonduktor Daya 2010 BAB I SEMIKONDUKTOR DAYA KOMPETENSI DASAR Setelah mengikuti materi ini diharapkan mahasiswa memiliki kompetensi: Menguasai karakteristik semikonduktor daya yang dioperasikan sebagai
Rancang Bangun Inverter Tiga Phasa Back to Back Converter Pada Sistem Konversi Energi Angin
Rancang Bangun Inverter Tiga Phasa Back to Back Converter Pada Sistem Konversi Energi Angin Rifdian I.S Program Studi Diploma III Teknik Listrik Bandar Udara Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan
BAB 1 PENDAHULUAN. ini terlihat dengan semakin banyaknya penggunaan peralatan elektronik baik pada
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini peralatan elektronika daya cukup berkembang dengan pesat. Hal ini terlihat dengan semakin banyaknya penggunaan peralatan elektronik baik pada rumah tangga,
Penyusun: Isdawimah,ST.,MT dan Ismujianto,ST.,MT Prodi D-IV Teknik Otomasi Listrik Industri
Penyusun: Isdawimah,ST.,MT dan Ismujianto,ST.,MT Prodi D-IV Teknik Otomasi Listrik Industri Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Jakarta-Tahun 2013 DAFTAR ISI Modul Pokok Bahasan Halaman 1 Rangkaian
INVERTER MULTI LEVEL TIPE JEMBATAN SATU FASA TIGA TINGKAT DENGAN MIKROKONTROLER AT89S51. A. Warsito, M. Facta, E. Aptono. T.Y *)
INVERTER MULTI LEVEL TIPE JEMBATAN SATU FASA TIGA TINGKAT DENGAN MIKROKONTROLER AT89S51 A. Warsito, M. Facta, E. Aptono. T.Y *) Abstract Inverter is a power electronics circuit which is used to convert
PEMANFAATAN MIKROKONTROLER AT89S52 UNTUK MENGENDALIKAN MULTILEVEL INVERTER TUJUH LEVEL
PEMANFAATAN MIKROKONTROLER AT89S52 UNTUK MENGENDALIKAN MULTILEVEL INVERTER TUJUH LEVEL LAPORAN TUGAS AKHIR OLEH : ASWIN BUDI H. 02.50.0072 PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS
Elektronika Daya dan Electrical Drives. AC & DC Driver Motor
Elektronika Daya dan Electrical Drives AC & DC Driver Motor Driver Motor AC Tujuan : Dapat melakukan pengontrolan dan pengendalian pad motor AC : Motor induksi atau motor asinkron adalah motor arus bolak-balik
BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA. Dalam system tenaga listrik, daya merupakan jumlah energy listrik yang
BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 3.1 Daya 3.1.1 Daya motor Secara umum, daya adalah energi yang dikeluarkan untuk melakukan usaha. Dalam system tenaga listrik, daya merupakan jumlah energy listrik
1 BAB I PENDAHULUAN. bidang ilmu kelistrikan yang menggabungkan ilmu elektronika dengan ilmu ketenaga-listrikan.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu bidang ilmu kelistrikan yang sedang berkembang pesat dan berpengaruh dalam perkembangan teknologi masa kini adalah bidang elektronika daya. Elektronika
Perancangan dan Implementasi Konverter Boost Rasio Tinggi dengan Transformator Hybrid untuk Aplikasi Photovoltaic
Proseding Seminar Tugas Akhir Teknik Elektro FTI-ITS, Juni 2014 1 Perancangan dan Implementasi Konverter Boost Rasio Tinggi dengan Transformator Hybrid untuk Aplikasi Photovoltaic Edi Wibowo, Heri Suryoatmojo
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Harmonisa Arus Di Gedung Direktorat TIK UPI Sebelum Dipasang Filter
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Harmonisa Arus Di Gedung Direktorat TIK UPI Sebelum Dipasang Filter Dengan asumsi bahwa kelistrikan di Gedung Direktorat TIK UPI seimbang maka dalam penggambaran bentuk
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Inverter BAB II TINJAUAN PUSTAKA Kedudukan inverter pada sistem pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS adalah sebagai peeralatan yang mengubah listrik arus searah (DC) menjadi listrik arus bolak-balik
PENGERTIAN THYRISTOR
PENGERTIAN THYRISTOR Thyristor merupakan salah satu devais semikonduktor daya yang paling penting dan telah digunakan secara ekstensif pada rangkaian elektronika daya.thyristor biasanya digunakan sebagai
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI KONVERTER DC-DC SINGLE-INPUT MULTIPLE- OUTPUT BERBASIS COUPLED INDUCTOR
Proseding Seminar Tugas Akhir Teknik Elektro FTI-ITS, Juni 214 1 PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI KONVERTER DC-DC SINGLE-INPUT MULTIPLE- OUTPUT BERBASIS COUPLED INDUCTOR Sugma Wily Supala, Dedet Candra Riawan,
POLITEKNIK NEGERI MEDAN
RANCANG BANGUN INVERTER SATU FASA MODULASI LEBAR PULSA 250 WATT LAPORAN TUGAS AKHIR Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Program Studi Teknik
DESAIN DAN IMPLEMENTASI MULTI-INPUT KONVERTER DC-DC PADA SISTEM TENAGA LISTRIK HIBRIDA PV/WIND
DESAIN DAN IMPLEMENTASI MULTI-INPUT KONVERTER DC-DC PADA SISTEM TENAGA LISTRIK HIBRIDA PV/WIND Yahya Dzulqarnain, Prof. Dr. Ir. Mochamad Ashari, M.Eng., Dedet Chandra Riawan, ST., M.Eng., Ph.D. Jurusan
Laporan Praktikum Analisa Sistem Instrumentasi Rectifier & Voltage Regulator
Laporan Praktikum Analisa Sistem Instrumentasi Rectifier & Voltage Regulator Ahmad Fauzi #1, Ahmad Khafid S *2, Prisma Megantoro #3 #Metrologi dan Instrumentasi, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Beban non linier pada peralatan rumah tangga umumnya merupakan peralatan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sumber Harmonisa Beban non linier pada peralatan rumah tangga umumnya merupakan peralatan elektronik yang didalamnya banyak terdapat penggunaan komponen semi konduktor pada
NAMA :M. FAISAL FARUQI NIM : TUGAS:ELEKTRONIKA DAYA -BUCK CONVERTER
NAMA :M. FAISAL FARUQI NIM :2201141004 TUGAS:ELEKTRONIKA DAYA -BUCK CONVERTER Rangkaian ini merupakan salah satu konverter DC-DC pada Elektronika Daya (ELDA). Dengan rangkaian Buck-Converter ini, kita
ANALISIS INVERTER SATU FASA PADA KONFIGURASI MASTER-SLAVE
Analisis Inverter Satu Fasa (Noviarianto, dkk.) ANALISIS INVERTER SATU FASA PADA KONFIGURASI MASTER-SLAVE Noviarianto *, F. Danang Wijaya, Eka Firmansyah Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi,
Disain Konverter Charge Pump Rasio Tinggi Untuk Aplikasi Mobil Listrik
Disain Konverter Charge Pump Rasio Tinggi Untuk Aplikasi Mobil Listrik Heri Suryoatmojo E-mail: [email protected] Priyo Edy Wibowo E-mail: [email protected] Mochamad Ashari E-mail: [email protected]
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya ITS Kampus ITS Sukolilo Surabaya
Pengaturan Kecepatan Motor Induksi untuk Membuat Simulasi Gelombang Air pada Lab. Pengujian Miniatur Kapal Ir.Hendik Eko H.S, MT. 1, Suhariningsih, S.ST, MT.,Risky Ardianto 3, 1 Dosen Jurusan Teknik Elektro
PERBAIKAN FAKTOR KERJA PADA PENYEARAH SCR PWM (PULSEWIDTH MODULATION) TIGA FASA MENGGUNAKAN METODE PEMADAMAN AKTIF
Tugas Akhir RE 1549 PERBAIKAN FAKTOR KERJA PADA PENYEARAH SCR PWM (PULSEWIDTH MODULATION) TIGA FASA MENGGUNAKAN METODE PEMADAMAN AKTIF Himawan Sutamto 2203.109.615 Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Mochamad Ashari,
BAB III METODE PENELITIAN
2 BAB III METODE PENELITIAN Pada skripsi ini metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen (uji coba). Tujuan yang ingin dicapai adalah membuat suatu alat yang dapat mengkonversi tegangan DC ke AC.
IMPLEMENTASI SISTEM KENDALI SPACE VECTOR PWM PADA INVERTER 3 FASA MENGGUNAKAN MIKROKONTROL AT89S52
IMPLEMENTASI SISTEM KENDALI SPACE VECTOR PWM PADA INVERTER FASA MENGGUNAKAN MIKROKONTROL AT89S52 Emmanuel Agung Nugroho *), Joga Dharma Setiawan Program Studi Magister Teknik Mesin Spesialisasi Mekatronika
ANALISA SIMULASI UNJUK KERJA FILTER AKTIF CASCADED MULTILEVEL INVERTER
ANALISA SIMULASI UNJUK KERJA FILTER AKTIF CASCADED MULTILEVEL INVERTER UNTUK MENGURANGI EFEK HARMONISA KELUARAN HYBRID BIDIRECTIONAL INVERTER 1500 WATT Ade Maulana*, Amir Hamzah** *Alumni Teknik Elektro
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Suatu sistem tenaga listrik dikatakan ideal jika bentuk gelombang arus yang dihasilkan dan bentuk gelombang tegangan yang disaluran ke konsumen adalah gelombang sinus murni.
DAFTAR ISI PROSEDUR PERCOBAAN PERCOBAAN PENDAHULUAN PERCOBAAN Kontrol Motor Induksi dengan metode Vf...
DAFTAR ISI DAFTAR ISI... 1 PERCOBAAN 1... 2 1.Squirrel Cage Induction Motor (Motor Induksi dengan rotor sangkar)... 2 2.Double Fed Induction Generator (DFIG)... 6 PROSEDUR PERCOBAAN... 10 PERCOBAAN 2...
PERTEMUAN 4 RANGKAIAN PENYEARAH DIODA (DIODE RECTIFIER)
PERTEMUAN 4 RANGKAIAN PENYEARAH DIODA (DIODE RECTIFIER) Rangkaian Penyearah Dioda (Diode Rectifier) Peralatan kecil portabel kebanyakan menggunakan baterai sebagai sumber dayanya, namun sebagian besar
Studi Perencanaan Filter Hybrid Untuk Mengurangi Harmonisa Pada Proyek Pakistan Deep Water Container Port
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 2, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) A-142 Studi Perencanaan Filter Hybrid Untuk Mengurangi Harmonisa Pada Proyek Pakistan Deep Water Container Port Rahman Efandi,
STUDI PENGGUNAAN PENYEARAH 18 PULSA DENGAN TRANSFORMATOR 3 FASA KE 9 FASA HUBUNGAN SEGIENAM
ISSN: 1693-693 21 STUDI PENGGUNAAN PENYEARAH 18 PULSA DENGAN TRANSFORMATOR 3 FASA KE 9 FASA HUBUNGAN SEGIENAM Ahmad Saudi Samosir Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Lampung Gedung H-FT
BAB I PENDAHULUAN. pengontrolan sumber tegangan AC 1 fasa dengan memafaatkan sumber
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Regulator tegangan merupakan sebuah rangkaian yang dapat melakukan pengontrolan sumber tegangan AC 1 fasa dengan memafaatkan sumber tegangan AC yang bernilai tetap
