V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN RESPONDEN
|
|
|
- Sudirman Iskandar
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN RESPONDEN 5.1. Gambaran Umum Desa Pasirlangu Gambaran umum Desa Pasirlangu meliputi keadaan geografi dan administratif, kependudukan, serta sarana dan prasarana Keadaan Geografi dan Administratif Desa Pasirlangu merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Jarak dari Desa Pasirlangu ke ibukota kecamatan relatif dekat, yaitu 5 kilometer, sedangkan jarak ke ibukota kabupaten adalah 34 kilometer, dan jarak ke ibukota provinsi yaitu 25 kilometer. Batas wilayah administratif Desa Pasirlangu adalah sebagai berikut: Utara : Kabupaten Purwakarta Timur : Desa Tugu Mukti, Kecamatan Cisarua Selatan : Desa Cimanggu, Kecamatan Ngamprah Barat : Desa Cipada, Kecamatan Cisarua Luas wilayah Desa Pasirlangu mencapai hektar, dengan bentang wilayah yang berupa perbukitan seluas 710 hektar dan lereng gunung seluas 355 hektar. Ditinjau dari ketinggiannya Desa Pasirlangu berada pada ketinggian meter di atas permukaan laut, dengan suhu rata-rata C, dan curah hujan rata-rata per tahun adalah mm. Menurut penggunaan lahan di Desa Pasirlangu, 88,08 hektar luas lahan digunakan sebagai lahan pemukiman, 10 hektar digunakan sebagai lahan persawahan, 7 hektar digunakan sebagai lahan perkebunan, 1 hektar digunakan sebagai lahan kuburan, 58 hektar digunakan sebagai lahan pekarangan, 1,56 hektar digunakan sebagai lahan perkantoran, dan 899,36 hektar digunakan sebagai prasarana umum lainnya. Sebesar 10 hektar lahan persawahan, seluruhnya merupakan sawah irigasi setengah teknis. Sementara lahan kering untuk tegalan atau ladang sebesar 467,49 hektar. Lahan pertanian di Desa Pasirlangu banyak ditanami jenis tanaman sayuran, buah-buahan, serta padi dan palawija. Beberapa komoditas sayuran yang ditanam di desa ini adalah labu siam, paprika, cabe, tomat, kubis, mentimun, buncis, brokoli, dan terong. Jenis sayuran yang paling banyak ditanam adalah labu siam dengan luas lahan sekitar 74 hektar dan paprika dengan luas lahan sebesar 26
2 hektar. Meskipun luas lahan paprika lebih kecil dibandingkan dengan labu siam, tetapi paprika menjadi komoditas unggulan di Desa Pasirlangu karena memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi. Jumlah keluarga yang memiliki tanah pertanian di desa ini sekitar keluarga. Sebagian besar termasuk dalam kelompok yang memiliki tanah kurang dari 1 hektar yaitu sebanyak keluarga, 27 keluarga lainnya memiliki tanah 1,0-5,0 hektar, dan hanya 2 keluarga yang memiliki tanah 5,0-10 hektar Kependudukan Jumlah penduduk di Desa Pasirlangu pada tahun 2011 berjumlah jiwa, yang terdiri dari orang penduduk laki-laki dan orang penduduk perempuan dengan jumlah kepala keluarga sebanyak kepala keluarga. Mata pencaharian penduduk Desa Pasirlangu sebagian besar dari sektor pertanian. Struktur penduduk berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Struktur Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Pasirlangu Tahun 2011 No Mata Pencaharian Jumlah Persentase (%) 1 Petani ,55 2 Buruh Tani ,22 3 PNS 23 0,89 4 Pengrajin Industri Rumah Tangga 7 0,27 5 Pedagang 29 1,13 6 Peternak 1 0,04 7 Montir 5 0,19 8 Perawat Swasta 1 0,04 9 TNI 7 0,27 10 POLRI 4 0,16 11 Pensiunan 9 0,35 12 Pengusaha Kecil dan Menengah 7 0,27 13 Karyawan Perusahaan Swasta 13 0,50 14 Karyawan Perusahaan Pemerintah 3 0,12 Jumlah ,00 Sumber : Laporan Profil Desa Pasirlangu (2011) 45
3 Dilihat dari tingkat pendidikan, sebanyak 25 penduduk tidak pernah sekolah, 650 penduduk belum sekolah, penduduk sedang sekolah, penduduk tamat SD/sederajat, 191 penduduk pernah SD tetapi tidak tamat, 825 penduduk tamat SMP, 103 penduduk pernah SMP tetapi tidak tamat, 438 penduduk tamat SMA, dan 50 penduduk pernah SMA tetapi tidak tamat. Sementara itu penduduk yang melanjutkan ke perguruan tinggi/sederajat jumlahnya tidak terlalu banyak seperti tamat D1 berjumlah 5 penduduk, tamat D2 berjumlah 2 penduduk, tamat D3 sebanyak 12 penduduk, tamat S1 sebanyak 51 penduduk, dan tamat S2 sebanyak 2 penduduk Sarana dan Prasarana Sarana dan Prasarana umum yang dapat mendukung kegiatan pemerintahan di Desa Pasirlangu antara lain : Sarana Pemerintah Desa Sarana jalan/perhubungan Sarana perekonomian (kios dan warung) Jasa transportasi Sarana pendidikan Sarana dan prasarana kesehatan Sarana ibadah Prasarana olah raga 5.2. Karakteristik Responden Karakteristik petani responden diklasifikasikan berdasarkan usia, tingkat pendidikan formal, pendidikan non formal (penyuluhan), status usahatani, pengalaman usahatani, modal, luas lahan, dan status kepemilikan lahan. Keragaan karakteristik tersebut diduga akan mempengaruhi keputusan petani dalam melaksanakan kegiatan usahatani. Usia petani responden di lokasi penelitian berada di antara usia tahun. Berdasarkan distribusi usia petani responden pada Tabel 7 terlihat bahwa sebagian besar petani responden yang melakukan usahatani paprika hidroponik adalah petani yang berusia kurang dari 45 tahun (64,40 persen). Sebanyak 35,60 persen lainnya berusia lebih dari sama dengan 45 tahun. Hal tersebut 46
4 menunjukkan bahwa mayoritas petani responden berada dalam usia produktif. Petani responden dengan usia produktif umumnya memiliki kemampuan fisik dan kinerja yang baik sehingga dapat bekerja lebih optimal. Tabel 7. Sebaran Responden Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2012 Kelompok Usia (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%) < , , , , ,39 > ,69 Total ,00 Usia merupakan salah satu karakteristik petani yang diduga mempengaruhi efisiensi teknis dalam usahatani paprika hidroponik. Pertambahan umur akan mempengaruhi kondisi fisik petani yang berakibat pada penurunan kinerja petani tersebut. Petani yang sudah termasuk dalam ketegori tua atau usia lanjut diduga memiliki tingkat efisiensi teknis yang lebih rendah karena berkaitan dengan kemampuan mengalokasikan input-input produksi. Sebaliknya petani yang berusia muda atau produktif diduga akan lebih efisien secara teknis. Pendidikan formal merupakan salah satu karakteristik yang dapat mempengaruhi petani paprika dalam pengambilan keputusan, terutama yang berkaitan dengan penyerapan informasi dan penerapan teknologi paprika hidroponik yang diperkenalkan. Seluruh petani responden di lokasi penelitian sudah menjalankan pendidikan formal, dengan tingkat tertinggi S2 dan tingkat terendah yaitu Sekolah Dasar. Tabel 8 menunjukkan bahwa mayoritas petani responden merupakan lulusan Sekolah Dasar (SD) yaitu sebanyak 37,29 persen. Sementara petani responden lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) masing-masing sebesar 27,87 persen dan 22,95 persen. 47
5 Tabel 8. Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Formal Tahun 2012 Tingkat Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%) Lulusan SD 22 37,29 Lulusan SMP 17 28,81 Lulusan SMA 13 22,03 Diploma 2 3,40 S1 4 6,78 S2 1 1,69 Total ,00 Selain pendidikan formal, pendidikan non-formal seperti penyuluhan juga sangat penting dan berpengaruh dalam mengembangkan pengetahuan petani paprika karena dengan dengan semakin berkembangnya zaman maka petani juga dituntut untuk mengikuti perkembangan ilmu pertanian dari waktu ke waktu serta dapat berinovasi. Penyuluhan yang pernah diperoleh para petani responden di antaranya mengenai Pengendalian Hama Terpadu (PHT), Good Agricultural Practices (GAP), praktek penerapan teknologi baru, dan sebagainya. Berdasarkan hasil penelitian, lebih dari setengah petani responden atau sebesar 66,10 persen responden telah mengikuti penyuluhan yang diselenggarakan penyuluh setempat. Tabel 9. Sebaran Responden Berdasarkan Keikutsertaan Penyuluhan Tahun 2012 Pernah Mengikuti Jumlah (orang) Persentase (%) Penyuluhan Ya 39 66,10 Tidak 20 33,90 Total ,00 Tidak semua petani responden menjadikan usahatani paprika hidroponik sebagai mata pencaharian atau sumber penghasilan utama, tetapi ada juga sebagian kecil responden yang menjadikan usahatani paprika hidroponik sebagai penghasilan sampingan. Sebanyak 54 orang responden atau 91,53 persen responden mengandalkan penghasilan utama dari usahatani paprika hidroponik, 48
6 sedangkan responden yang menjadikan usahatani paprika hidroponik sebagai pekerjaan sampingan hanya berjumlah 5 orang atau 8,47 persen. Petani responden yang menjadikan usahatani paprika hidroponik sebagai pekerjaan sampingan, memiliki pekerjaan utama sebagai pegawai negeri ataupun wiraswasta. Tabel 10. Sebaran Responden Berdasarkan Status Usahatani Tahun 2012 Status Usahatani Jumlah (orang) Persentase (%) Pekerjaan Utama 54 91,53 Pekerjaan Sampingan 5 8,47 Total ,00 Perbedaan status usahatani tersebut akan mempengaruhi keputusan manajerial dalam melakukan kegiatan usahatani paprika hidroponik sehingga akan mempengaruhi efisiensi teknis usahatani paprika hidroponik. Petani responden yang menjadikan usahatani paprika hidroponik sebagai pekerjaan utama akan memiliki curahan waktu yang lebih banyak untuk usahataninya, sedangkan petani responden yang menjadikan usahatani paprika hidroponik sebagai pekerjaan sampingan memiliki curahan waktu lebih sedikit untuk usahataninya sehingga lebih banyak mempekerjakan tenaga kerja dari luar. Tabel 11. Sebaran Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani Paprika Tahun 2012 Pengalaman Usahatani Jumlah (orang) Persentase (%) Paprika (tahun) , , , ,12 Total ,00 Tabel 11 menunjukkan sebaran petani responden berdasarkan pengalaman usahatani paprika yang dijalankan. Paprika sendiri sudah lama dikembangkan di Desa Pasirlangu. Lamanya pengalaman usahatani paprika yang dijalankan oleh petani responden beragam, yaitu sebanyak 32,20 persen memiliki pengalaman 6-49
7 10 tahun, sebanyak 28,81 persen memiliki pengalaman tahun, dan sebanyak 27,12 persen yang memiliki pengalaman lebih dari 16 tahun. Seorang petani akan semakin banyak memperoleh pelajaran seiring dengan semakin lamanya pengalaman yang ia miliki. Pengalaman dan pelajaran yang dimiliki tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan agar dapat menghasilkan produksi yang lebih baik. Modal yang digunakan petani responden dalam menjalankan usahatani paprika selain berasal dari modal sendiri dan pinjaman dari keluarga/saudara juga dapat berasal dari kredit bank. Kredit bank yang diambil petani biasaya berasal dari BRI dan BPR. Dari Tabel 12 terlihat bahwa petani responden yang memperoleh kredit dari bank jumlahnya lebih sedikit dibandingkan yang tidak memperoleh kredit bank, yaitu sebesar 18,64 persen. Akan tetapi, petani yang memperoleh kredit bank akan memiliki kemampuan menggali modal yang lebih banyak untuk membiayai faktor-faktor produksi dan mengembangkan usahataninya. Selain itu, petani yang memperoleh kredit bank juga memiliki tanggung jawab untuk dapat mengembalikan pinjaman beserta beban bunga sehingga dalam menjalankan usahataninya dituntut agar dapat berproduksi dengan lebih efisien. Tabel 12. Sebaran Responden Berdasarkan Perolehan Kredit Bank Tahun 2012 Memperoleh Kredit Bank Jumlah (orang) Persentase (%) Ya 11 18,64 Tidak 48 81,36 Total ,00 Lahan usahatani sangat berkaitan erat dengan efisiensi penggunaan faktor produksi usahatani paprika yang dijalankan. Luas greenhouse paprika yang berada di Desa Pasirlangu berbeda-beda tergantung dari luas lahan yang dikuasai oleh petani. Sebagian besar petani responden memiliki lahan seluas m 2 yaitu sebanyak 32,20 persen. Sementara petani lainnya tersebar dengan luas lahan yang berbeda-beda. Terdapat 3 orang responden atau 5,08 persen yang memiliki lahan dengan luas lebih dari 1 hektar. Sebaran petani responden berdasarkan luas lahan yang dikuasainya dapat dilihat pada Tabel
8 Tabel 13. Sebaran Responden Berdasarkan Luas Lahan Greenhouse Tahun 2012 Luas Lahan (m 2 ) Jumlah (orang) Persentase (%) , , , , , , ,08 Total ,00 Status kepemilikan lahan petani paprika yang menjadi responden berbedabeda. Sebagian besar petani responden memiliki lahan sendiri yaitu sebanyak 49 orang atau 83,05 persen dari total responden yang ada. Di lokasi penelitian juga terdapat petani responden yang menggarap pada lahan bagi hasil. Petani yang memiliki status kepemilikan lahan bagi hasil yaitu sebanyak 10 orang atau sebesar 16,95 persen dari total responden. Status kepemilikan lahan dapat berpengaruh dalam pengambilan keputusan usahtani dimana petani yang berusahatani paprika hidroponik menggunakan lahan bagi hasil diduga akan memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar. Tabel 14. Sebaran Responden Berdasarkan Status Kepemilikan Lahan Tahun 2012 Status Kepemilikan Lahan Jumlah Responden (orang) Persentase (%) Lahan milik 49 83,05 Lahan bagi hasil 10 16,95 Total , Budidaya Paprika Hidroponik Proses budidaya paprika hidroponik di Desa Pasirlangu, terdiri dari proses persiapan greenhouse dan lahan, penyemaian dan pembibitan, penanaman, pemeliharaan serta panen dan pasca panen. 51
9 Persiapan Greenhouse dan Lahan Greenhouse merupakan sarana produksi utama dalam usahatani paprika karena karakteristik tanaman yang rentan terhadap kondisi cuaca yang tidak menentu sehingga membutuhkan rumah khusus sebagai naungan. Terdapat dua jenis greenhouse dalam budidaya paprika yaitu greenhouse penyemaian dan pembibitan serta greenhouse penanaman. Umumnya greenhouse penyemaian dan pembibitan dibuat lebih sederhana dibandingkan dengan greenhouse penanaman. Persiapan greenhouse meliputi pembangunan greenhouse dan pembuatan bedengan untuk greenhouse penanaman. Konstruksi greenhouse di Desa Pasirlangu terbuat dari bambu seperti yang terlihat pada Gambar 5a. Bagian atap ditutupi oleh plastik UV yang berfungsi untuk mengatur cahaya yang masuk sehingga suhu dan kelembaban di dalam greenhouse tetap terjaga. Sementara bagian dinding ditutupi oleh plastik poly ethylene dan kasa polynet. Rata-rata ketinggian greenhouse tanam mencapai 7 meter, yaitu setinggi 4 meter diukur dari dasar lantai hingga dinding atas dan setinggi 3 meter diukur dari dinding atas hingga atap. Sementara luas greenhouse disesuaikan dengan jumlah tanaman yang akan masuk. Pendirian greenhouse harus memperhatikan kekokohan bangunan dan pertukaran udara dalam greenhouse. Instalasi yang harus ada dalam greenhouse antara lain tangki penampung air serta nutrisi karena sumber kehidupan utama untuk jenis tanaman hidroponik adalah air atau nutrisi. a b Gambar 5. Bangunan Greenhouse Budidaya di Desa Pasirlangu (a) dan Bedengan yang Ditutupi Mulsa (b) 52
10 Pada bagian dalam greenhouse penanaman dibuat bedengan-bedengan dimana polybag akan diletakkan di atasnya. Bedengan dibuat dengan lebar 100 cm, tinggi cm, dan jarak antar bedengan cm, sedangkan panjang bedengan disesuaikan dengan lahan. Bedengan ini sengaja dibuat lebih tinggi dari lantai agar air yang keluar dari polybag akan mengalir sehingga daerah sekitar perakaran tidak akan tergenang oleh air dan mencegah pembusukan akar. Seperti yang terlihat pada Gambar 5b, bedengan juga ditutupi oleh plastik mulsa untuk menghindari kontak langsung dengan tanah yang berpotensi menghasilkan gulma dan bibit penyakit. Sebelum penanaman, petani melakukan persiapan lahan yang meliputi sanitasi dan sterilisasi greenhouse. Sanitasi dilakukan dengan membuang sisa tanaman yang masih ada dan gulma di dalam greenhouse untuk menghindari penularan penyakit dari tanaman lama. Sementara sterilisasi dilakukan dengan menyemprotkan bahan kimia sejenis lysol dan gramoxone untuk membunuh bibit penyakit yang dapat menyerang tanaman paprika. Untuk musim tanam berikutnya, secara rutin dilakukan pencucian polybag tanam, plastik mulsa, dan atap greenhouse. Pencucian atap greenhouse bertujuan untuk membersihkan plastik UV dari lumut agar tidak menghalangi sinar matahari yang masuk Penyemaian dan Pembibitan Varietas benih paprika merah yang umumnya digunakan oleh petani paprika Desa Pasirlangu adalah Edison, sedangkan benih paprika kuning yang digunakan adalah Sunny dan Capino. Baik varietas paprika merah dan kuning semuanya merupakan benih hibrida F1. Proses penyemaian benih paprika dilakukan dalam greenhouse khusus dengan ukuran yang lebih kecil yaitu sekitar 16 meter persegi. Sebelum penyemaian, benih terlebih dahulu direndam dalam air hangat selama kurang lebih 60 menit untuk merangsang perkecambahan. Setelah direndam, benih kemudian dikeringkan di tempat teduh. Setelah kering, benih dimasukkan satu per satu ke dalam tray yang telah berisi arang sekam basah. Setelah itu, tray ditutup oleh plastik mulsa hitam perak sampai sekitar 10 hari. Selama benih disemai, petani harus selalu mengontrol suhu, tingkat kelembaban, dan kebasahan media 53
11 arang sekam. Suhu yang baik untuk penyemaian berkisar C dengan tingkat kelembaban antara persen. Gambar 6. Penyemaian dan Pembibitan Paprika Hidroponik Benih akan mulai berkecambah setelah berumur 10 hari. Umumnya dari semua benih yang disemai, hanya sekitar 90 persen benih yang berhasil berkecambah. Rata-rata jumlah benih yang disemai oleh responden untuk lahan seluas m 2 adalah sebanyak benih, sehingga potensi bibit yang mungkin dihasilkan yaitu kurang lebih sebanyak bibit. Jika telah berkecambah, bibit sudah dapat dipindahkan ke polybag kecil dan diletakkan di tempat yang terang. Selama proses pembibitan, petani harus tetap melakukan penyiraman (tergantung cuaca dan keadaan media arang sekam) dan pengendalian hama seperti thrips Penanaman Rata-rata umur bibit yang digunakan oleh petani responden adalah yang berumur 30 hari. Sementara rekomendasi umur bibit dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran yaitu yang berumur sekitar enam minggu setelah semai. Bibit yang ditanam sebaiknya adalah bibit yang sehat atau tidak terserang hama dan penyakit serta memiliki daun sebanyak 5-8 helai. Media tanam yang akan ditanami bibit terlebih dahulu dibasahi dengan nutrisi kurang lebih sebanyak 500 ml per polybag. Agar bibit tidak patah dan tidak merusak daerah perakaran, maka saat pemindahan ke polybag tanam bibit dilepas dari polybag kecil bersama medianya dengan hati-hati. Bagian bawah polybag penanaman sebelumnya diberi lubang sebanyak 5-10 lubang agar air yang diberikan tidak tergenang untuk mencegah pembusukan akar. Dalam satu polybag biasanya hanya berisi satu 54
12 tanaman dengan jarak antar tanaman yaitu sekitar 30 x 30 cm. Rata-rata populasi tanaman paprika petani responden yaitu 3,48 pohon per m Pemeliharaan Pemeliharaan merupakan bagian penting dari tahap budidaya yang akan menentukan keberhasilan produksi paprika. Pemeliharaan tanaman paprika meliputi penyiraman dan pemupukan, pengajiran, pembentukan dan pemilihan batang produksi, pewiwilan, dan pengendalian hama dan penyakit Penyiraman dan pemupukan Penyiraman dan pemupukan atau pemberian larutan nutrisi merupakan kegiatan yang sangat vital dalam menunjang pertumbuhan paprika hidroponik. Hal ini disebabkan dalam media tanam arang sekam yang digunakan tidak ada penunjang air dan makanan layaknya tanah. Pemberian air dan pupuk dilakukan secara bersamaan dalam bentuk larutan nutrisi. Sistem tersebut disebut juga fertigasi. Sistem fertigasi yang dilakukan oleh petani responden dan sebagian besar petani paprika hidroponik yang ada di Desa Pasirlangu masih manual, yaitu masih menggunakan selang. Nutrisi yang digunakan untuk tanaman paprika terdiri atas dua campuran yaitu pupuk A dan B yang dijual sepaket dan dikenal dengan sebutan pupuk AB Mix. Dalam pupuk AB MIX terkandung unsur makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman seperti KNO3, KH2PO4, K2O, MgSO4, CaNO3, SO4, Tenso Fe, MnSO4, H3BO3, CuSO4, dan MO. Dalam penggunaannya, paket pupuk A dan B masing-masing dilarutkan dalam drum terpisah hingga menjadi 100 liter larutan pekat. Untuk menghasilkan larutan nutrisi yang siap siram, dari masing-masing larutan pekat A dan B diambil 5-7 liter dan diencerkan dengan liter air. a b Gambar 7. Pupuk AB Mix (a) dan Tangki Penampung Nutrisi (b) 55
13 Pemberian nutrisi pada tanaman paprika dilakukan setiap hari dengan frekuensi pemberian nutrisi yang dianjurkan sebanyak dua kali per hari pada saat cuaca normal. Dari 59 orang responden, terdapat 12 orang atau 20,34 persen responden yang memberikan nutrisi hanya satu kali per hari ditambah satu kali penyiraman dengan air biasa. Volume pemberian nutrisi diberikan secara berpola sesuai dengan umur tanaman. Tanaman muda diberi nutrisi sebanyak 400 ml per tanaman per hari, tanaman yang sudah mulai berbunga diberi nutrisi sebanyak 600 ml per tanaman per hari, dan tanaman yang sudah memasuki usia produktif atau berbuah diberi nutrisi sebanyak ml per tanaman per hari. Untuk tanaman yang menjelang dibongkar maka pemberian nutrisi diturunkan kembali menjadi 400 ml per tanaman per hari. Akan tetapi, para petani responden sebenarnya tidak dapat memastikan secara tepat jumlah nutrisi yang diberikan untuk setiap tanaman karena terkendala oleh sistem fertigasi manual yang mereka gunakan. Rata-rata pupuk AB Mix yang dihabiskan responden untuk satu musim tanam pada greenhouse m 2 atau pohon adalah sekitar 25 paket atau jika dikonversi yaitu sekitar liter larutan nutrisi siap pakai. Selain nutrisi, beberapa petani paprika di Desa Pasirlangu juga memberikan pupuk daun dan pupuk pelengkap cair untuk tanaman paprika. Pupuk daun yang digunakan antara lain Growmore yang berbentuk padat, dosis pemakaiannya yaitu 1 gram per liter air. Sementara pupuk pelengkap cair yang digunakan antara lain Trubus dan Atonic dengan dosis pemakaian 1 ml per liter air. Pupuk daun biasanya dicampurkan bersama dengan larutan pekat pupuk B, sedangkan pupuk pelengkap cair digunakan secara terpisah. Akan tetapi pemberian kedua jenis pupuk ini bersifat kondisional, dapat disesuaikan dengan kondisi tanaman paprika di lahan. Dalam satu musim tanam, rata-rata pupuk daun yang dibutuhkan per m 2 adalah sebanyak 1,81 kg dan pupuk pelengkap cair sebanyak 2,82 liter Pengajiran Pengajiran tanaman paprika dilakukan saat usia 14 hari setelah tanam. Tali yang akan digunakan untuk pengajiran telah diikatkan pada kawat yang melintang. Ujung atas tali ajir diikatkan pada kawat yang melintang di bagian langit-langit greenhouse, sedangkan bagian bawah tali diikatkan pada kawat yang 56
14 melintang di dekat perakaran tanaman. Pengajiran dilakukan dengan melilitkan tali penyangga tersebut pada batang tanaman paprika. tali penyangga Gambar 8. Tanaman Paprika yang Dililitkan Tali Pelilitan harus dilakukan secara rutin karena batang tanaman akan terus tumbuh tinggi. Selain itu lilitan juga harus sesuai, tidak terlalu kencang agar tidak merusak tanaman dan tidak terlalu longgar agar tanaman tidak roboh. Pengajiran bertujuan agar tanaman dapat tumbuh tegak lurus dan kokoh seperti yang terlihat pada Gambar Pemilihan dan Pembentukan Batang Produksi Pemilihan dan pembentukan batang produksi dilakukan pada saat tanaman paprika berumur hari. Dari tiga atau empat cabang yang tumbuh pada ujung batang utama, maka hanya dipilih dua cabang saja yang akan tetap dipelihara. Cabang yang dipilih adalah cabang yang kokoh dan membentuk sudut paling lebar. Cabang yang dibuang dipatahkan secara manual dengan tangan tanpa menggunakan alat bantu. Pemilihan cabang dimaksudkan agar pertumbuhan tanaman optimal sehingga dapat menghasilkan produk yang memiliki kuantitas dan kualitas yang baik Pewiwilan Pewiwilan dilakukan dengan melakukan pemangkasan terhadap tunas air dan cabang yang tidak dipelihara, pemangkasan daun dan mahkota bunga, serta penjarangan buah. Pewiwilan atau pemangkasan perlu dilakukan agar nutrisi yang 57
15 diberikan tidak terbagi kepada bagian tanaman yang memang tidak memerlukannya. Dengan kata lain, dengan adanya kegiatan pewiwilan maka nutrisi yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan tepat sehingga produksi lebih optimal. Kegiatan pewiwilan ini harus dilakukan secara rutin dan kontinyu. Proses pemangkasan terhadap tunas air dan cabang yang tidak dipelihara serupa dengan proses pemilihan cabang produksi utama yaitu memilih dua dari tiga atau empat cabang yang tumbuh di bagian ketiak daun, sedangkan pemangkasan daun dilakukan dengan membuang daun yang sudah tua atau terkena penyakit seperti embun tepung yang menyebabkan daun menjadi putih dan busuk. Sementara pemangkasan mahkota bunga dilakukan dengan membuang mahkota bunga yang menjadi tempat persembunyian bagi hama thrips. Pemangkasan tunas air yang tidak dipelihara dapat dilihat pada Gambar 9. pemangkasan tunas air satu dari tiga tunas air Gambar 9. Proses Pemangkasan Tunas Air yang Tidak Dipelihara Kegiatan pewiwilan selanjutnya adalah penjarangan buah. Kegiatan penjarangan buah akan menghasilkan buah yang terseleksi dengan baik. Buah yang sebaiknya tidak dipelihara adalah buah yang tumbuh di dekat cabang utama karena jika buah tersebut dibiarkan maka sebagian besar nutrisi akan terserap oleh buah tersebut sehingga dapat menghambat pertumbuhan batang dan mengganggu pertumbuhan buah lainnya. Selain itu jika ada dua buah yang tumbuh secara berdempetan maka harus dipilih salah satu saja, yaitu yang memiliki pertumbuhan lebih baik. Adapun buah yang sudah terserang hama juga sebaiknya tidak perlu dipelihara karena hanya akan menghasilkan buah yang berkualitas rendah. 58
16 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman paprika tidak terlepas dari serangan hama dan penyakit. Hama yang menjadi musuh utama petani paprika adalah thrips yaitu berupa serangga kecil. Sementara jenis penyakit yang menyerang tanaman paprika sebagian besar disebabkan oleh jamur, seperti embun tepung serta busuk akar dan batang. Pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap hama dan penyakit sejak dini, serta pengendalian secara kimia dan mekanik. Pengendalian secara kimia dilakukan dengan menyemprotkan pestisida pada tanaman yang terkena serangan hama dan penyakit, sedangkan pengendalian mekanik dilakukan dengan memasang kertas perangkap berwarna kuning untuk hama thrips dan juga dengan membuang tanaman yang sudah terjangkit penyakit dan berpotensi untuk mati. Jenis insektisida yang umumnya digunakan antara lain Demolish, Agrimec, Supmax, Tracer, dan Buldok. Petani di Desa Pasirlangu biasa mencampurkan dua jenis insektisida secara bersamaan karena penggunaan dua jenis insektisida dinilai lebih efektif untuk mengendalikan hama thrips dibandingkan dengan hanya menggunakan satu jenis insektisida. Dosis insektisida yang digunakan adalah 0,5-1 ml per liter air per jenis pestisida, sebagai contoh dalam satu liter air petani dapat mencampurkan 0,5 ml Demolish dengan 1 ml Buldok atau 0,5 ml Supmax dengan 1 ml Buldok. Jenis insektisida pencampur yang selalu dipakai adalah Buldok, sedangkan insektisida utama yang digunakan selalu berganti-ganti setiap kegiatan penyemprotan. Penggunaan insektisida yang berganti-ganti dilakukan agar hama thrips tidak menjadi kebal terhadap satu jenis insektisida tertentu. Penyemprotan insektisida rutin dilakukan setiap satu minggu sekali. Ratarata insektisida yang dibutuhkan oleh responden dalam satu kali penyemprotan adalah sebanyak 294,98 ml untuk satu greenhouse dengan luas 1.000m 2 atau tanaman. Jika serangan hama sedang tinggi penyemprotan insektisida dapat dilakukan hingga dua kali dalam seminggu. Selain disemprotkan ke tanaman paprika, petani juga menyemprotkan insektisida pada greenhouse untuk mencegah penyebaran hama yang tersebar melalui lubang kasa pada dinding greenhouse. 59
17 Selain insektisida, petani juga menggunakan fungisida untuk mengendalikan penyakit pada tanaman paprika yang disebabkan oleh jamur. Jenis fungsisida yang umumnya digunakan petani adalah Score dan Amistartop dengan dosis pemakaian 0,25-0,5 ml per liter air. Sama seperti pupuk daun, penggunaan fungisida juga bersifat kondisional yaitu dapat disesuaikan dengan kondisi tanaman di lapang. Dalam satu musim tanam, rata-rata kebutuhan fungisida untuk lahan seluas m 2 adalah sebanyak 909,32 ml. Penyemprotan fungsida dapat dilakukan bersamaan dengan penyemprotan insektisida maupun secara terpisah Panen dan Pasca Panen Tanaman paprika dapat berproduksi rata-rata hingga 8 bulan dalam satu kali periode tanam dan dapat dipanen secara kontinu selama tanaman masih produktif. Beberapa jenis paprika yang dihasilkan oleh petani Desa Pasirlangu diantaranya paprika hijau, paprika merah, dan paprika kuning. Paprika hijau merupakan jenis paprika merah atau kuning yang belum berubah warna (buah muda). Paprika dapat dipanen hijau setelah berusia 70 hari setelah tanam dan baru dapat dipanen warna 100 hari setelah tanam. Pemanenan dilakukan dengan memotong bagian tangkai buah dengan hati-hati tanpa menggunakan peralatan khusus. Gambar 10. Paprika Hidroponik yang Dihasilkan di Desa Pasirlangu Jumlah paprika yang akan dipanen hijau atau warna biasanya disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Buah yang siap panen ditandai dengan daging buah yang sudah keras, persentase warna buah yang sudah mencapai 90 persen untuk panen warna merah dan kuning, serta ukuran dan bobot yang sudah mencapai ideal. Ukuran ideal untuk paprika yang akan dipanen yaitu yang memiliki diameter 75-60
18 110 mm, sedangkan bobot ideal untuk paprika yang akan dipanen adalah sekitar gram. Bentuk yang dihasilkan adalah blocky, yaitu buah paprika yang agak bulat dan melebar ke samping (tidak terlalu lonjong) seperti yang terlihat pada Gambar 10. Hasil panen kemudian dimasukkan ke dalam plastik bening besar. Para petani biasanya hanya meletakkan hasil panen paprikanya di luar greenhouse untuk kemudian diambil oleh para pekerja dari koperasi, kelompok tani, atau bandar lokal untuk dibawa ke gudang. Di gudang-gudang tersebutlah baru akan dilakukan proses sortasi, grading, penimbangan, pencatatan, dan pengemasan. Melalui koperasi, kelompok tani, dan bandar lokal itulah proses pemasaran paprika dilakukan. 61
MANAJEMEN TANAMAN PAPRIKA
Nama : Sonia Tambunan Kelas : J NIM : 105040201111171 MANAJEMEN TANAMAN PAPRIKA Dengan lahan seluas 1500 m², saya akan mananam tanaman paprika (Capsicum annuum var. grossum L) dengan jarak tanam, pola
VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PAPRIKA HIDROPONIK
VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PAPRIKA HIDROPONIK Analisis pendapatan usahatani paprika hidroponik meliputi analisis penerimaan, analisis biaya, analisis pendapatan, dan analisis R/C. Perhitungan usahatani
VI ANALISIS EFISIENSI TEKNIS
VI ANALISIS EFISIENSI TEKNIS Model yang digunakan untuk mengestimasi fungsi produksi usahatani paprika hidroponik di lokasi penelitian adalah model fungsi Cobb-Douglas dengan pendekatan Stochastic Production
Peluang Usaha Budidaya Cabai?
Sambal Aseli Pedasnya Peluang Usaha Budidaya Cabai? Tanaman cabai dapat tumbuh di wilayah Indonesia dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Peluang pasar besar dan luas dengan rata-rata konsumsi cabai
Cara Menanam Cabe di Polybag
Cabe merupakan buah dan tumbuhan berasal dari anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas
24 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan September 2012 sampai bulan Januari 2013. 3.2 Bahan
III. TATA LAKSANA TUGAS AKHIR
16 III. TATA LAKSANA TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Tugas Akhir Kegiatan Tugas Akhir dilaksanakan di Banaran RT 4 RW 10, Kelurahan Wonoboyo, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. B. Waktu
BUDIDAYA CABAI PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA
BUDIDAYA CABAI PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA 1. PERENCANAAN TANAM 1. Pemilihan lokasi tanam 2. Sistem tanam 3. Pola tanam 4. Waktu tanam 5. Pemilihan varietas Perencanaan Persyaratan Tumbuh
Cara Menanam Tomat Dalam Polybag
Cara Menanam Tomat Dalam Polybag Pendahuluan Tomat dikategorikan sebagai sayuran, meskipun mempunyai struktur buah. Tanaman ini bisa tumbuh baik didataran rendah maupun tinggi mulai dari 0-1500 meter dpl,
VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN
VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN 6.1. Analisis Budidaya Kedelai Edamame Budidaya kedelai edamame dilakukan oleh para petani mitra PT Saung Mirwan di lahan persawahan.
I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung.
I. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung. Waktu penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2010 sampai dengan panen sekitar
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Letak dan Keadaan Geografi Daerah Penelitian Desa Perbawati merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Batas-batas
Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag
Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag Oleh : Tatok Hidayatul Rohman Cara Budidaya Cabe Cabe merupakan salah satu jenis tanaman yang saat ini banyak digunakan untuk bumbu masakan. Harga komoditas
BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Desa Manjung, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kecamatan Sawit memiliki ketinggian tempat 150 m dpl. Penelitian ini dilaksanakan
I PENDAHULUAN Latar Belakang
1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN Subsektor hortikultura merupakan bagian dari sektor pertanian yang mempunyai peran penting dalam menunjang peningkatan perekonomian nasional dewasa ini. Subsektor ini
BAB IV. PRAKTEK PEMBIBITAN DAN TRANSPLANTING
Deskripsi Singkat BAB IV. PRAKTEK PEMBIBITAN DAN TRANSPLANTING Pokok Bahasan : Praktek Pembibitan dan Transplanting Waktu : 2 (satu) kali tatap muka pelatihan Tujuan : Agar Praja mampu menjelaskan dan
VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BELIMBING DEWA
VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BELIMBING DEWA Analisis pendapatan usahatani dilakukan untuk mengetahui gambaran umum mengenai struktur biaya, penerimaan dan pendapatan dari kegiatan usahatani yang dijalankan
BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum, Geografis, dan Iklim Lokasi Penelitian Desa Ciaruten Ilir merupakan desa yang masih berada dalam bagian wilayah Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten
III BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan. Kabupaten Pesawaran dari Oktober 2011 sampai April 2012.
III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran dari Oktober 2011 sampai April 2012. 3.2 Bahan dan alat Bahan
III. METODE KEGIATAN TUGAS AKHIR (TA) A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan di Dusun Selongisor RT 03 RW 15, Desa Batur,
23 III. METODE KEGIATAN TUGAS AKHIR (TA) A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan di Dusun Selongisor RT 03 RW 15, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
PEMBAHASAN. Budidaya Bayam Secara Hidroponik
38 PEMBAHASAN Budidaya Bayam Secara Hidroponik Budidaya bayam secara hidroponik yang dilakukan Kebun Parung dibedakan menjadi dua tahap, yaitu penyemaian dan pembesaran bayam. Sistem hidroponik yang digunakan
Bercocok Tanam Tomat dalam Pot/Polybag Oleh: Muhamad Ichsanudin (Produk Spesialis Terong dan Tomat PT EWINDO)
Bercocok Tanam Tomat dalam Pot/Polybag Oleh: Muhamad Ichsanudin (Produk Spesialis Terong dan Tomat PT EWINDO) Menanam tomat dalam pot atau polybag dapat menjadi salah satu solusi pemanfaatan lahan sempit
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan
15 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran, dari bulan Oktober 2011 sampai dengan April 2012. 3.2
III. BAHAN DAN METODE
III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Unit Pelayanan Teknis (UPT), Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Riau. Pelaksanaannya dilakukan pada bulan
Oleh Administrator Kamis, 07 November :05 - Terakhir Diupdate Kamis, 07 November :09
Tanaman tomat (Lycopersicon lycopersicum L.) termasuk famili Solanaceae dan merupakan salah satu komoditas sayuran yang sangat potensial untuk dikembangkan. Tanaman ini dapat ditanam secara luas di dataran
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung (POLINELA). Waktu
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung (POLINELA). Waktu penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2011 sampai dengan panen sekitar
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. memiliki aksesibilitas yang baik sehingga mudah dijangkau dan terhubung dengan
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak Geografis Desa wukirsari merupakan salah satu Desa dari total 4 Desa yang berada di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Desa Wukirsari yang berada sekitar
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas
17 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung mulai
MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan
III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempatdan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, JalanH.R. Soebrantas No.155
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Kabupaten Kerinci 5.1.1 Kondisi Geografis Kabupaten Kerinci terletak di sepanjang Bukit Barisan, diantaranya terdapat gunung-gunung antara lain Gunung
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Letak dan Keadaan Geografi Daerah Penelitian Desa Pulorejo merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Batas-batas
BAB III BAHAN DAN METODE. Medan Area yang berlokasi di Jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di Jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan Percut
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Karakteristik Wilayah Lokasi yang dipilih untuk penelitian ini adalah Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Desa Gunung Malang merupakan salah
Penanganan bibit jati (Tectona grandis Linn. f.) dengan perbanyakan stek pucuk
Standar Nasional Indonesia Penanganan bibit jati (Tectona grandis Linn. f.) dengan perbanyakan stek pucuk ICS 65.020.20 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup...
BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR
13 BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir dilaksanakan di Dusun Kwojo Wetan, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. B. Waktu Pelaksanaan
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Kel. Gunung sulah, Kec.Way Halim, Kota Bandar
21 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kel. Gunung sulah, Kec.Way Halim, Kota Bandar Lampung dengan kondisi iklim tropis, memiliki curah hujan 2000 mm/th dan
TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten
III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Green House Fak. Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul,
III. METODOLOGI TUGAS AKHIR (TA)
III. METODOLOGI TUGAS AKHIR (TA) A. Tempat Pelaksanaan Kegiatan Tugas Akhir (TA) akan dilaksanakan pada lahan kosong yang bertempat di Dusun Selongisor RT 03 / RW 15, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten
III. TATA LAKSANA KEGIATAN TUGAS AKHIR
20 III. TATA LAKSANA KEGIATAN TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan di Dusun Kenteng Rt 08 Rw 02, Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1
PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1 Wahyu Asrining Cahyowati, A.Md (PBT Terampil Pelaksana) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya I. Pendahuluan Tanaman kakao merupakan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan maka pada bagian ini penulis akan memberikan beberapa kesimpulan tentang pengaruh modal,
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Teknik Budidaya Ikan Nila, Bawal, dan Udang Galah
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Teknik Budidaya Ikan Nila, Bawal, dan Udang Galah 1. Persiapan kolam Di Desa Sendangtirto, seluruh petani pembudidaya ikan menggunakan kolam tanah biasa. Jenis kolam ini memiliki
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate,
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate,
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan dikebun percobaan Politeknik Negeri Lampung,
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dikebun percobaan Politeknik Negeri Lampung, Bandar lampung. Waktu penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2011 sampai
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada di lahan sawah milik warga di Desa Candimas
16 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada di lahan sawah milik warga di Desa Candimas Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan. Penelitian ini dilakukan
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Lokasi dan Keadaan Geografis Kelompok Tani Pondok Menteng merupakan salah satu dari tujuh anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rukun Tani yang sebagian besar
III. BAHAN DAN METODE
III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Lahan pertanian milik masyarakat Jl. Swadaya. Desa Sidodadi, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan
21 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran dan Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian Universitas
IV. KEADAAN UMUM DESA GEDANGAN. A. Letak Geografis, Batas dan Kondisi Wilayah. Purwodadi. Kabupaten Grobogan terletak pada sampai Bujur
IV. KEADAAN UMUM DESA GEDANGAN A. Letak Geografis, Batas dan Kondisi Wilayah Kabupaten grobogan salah satu wilayah yang secara terletak di Provinsi Jawa Tengah. Secara administratif Kabupaten Grobogan
IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak Geografis Desa Karangsewu terletak di Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun batas wilayah Desa Karangsewu adalah
V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1. Karakteristik Wilayah dan Keadaan Alam Penelitian ini dilaksanakan di Desa Paya Besar Kecamatan Payaraman Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Daerah ini
BUDIDAYA BELIMBING MANIS ( Averhoa carambola L. )
BUDIDAYA BELIMBING MANIS ( Averhoa carambola L. ) PENDAHULUAN Blimbing manis dikenal dalam bahasa latin dengan nama Averhoa carambola L. berasal dari keluarga Oralidaceae, marga Averhoa. Blimbing manis
III. BAHAN DAN METODE. Universitas Lampung pada titik koordinat LS dan BT
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada titik koordinat 5 22 10 LS dan 105 14 38 BT
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Agustus 2013 sampai Oktober
Percobaan 3. Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Kacang Tanah pada Populasi Tanaman yang Berbeda
Percobaan 3. Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Kacang Tanah pada Populasi Tanaman yang Berbeda Latar Belakang Untuk memperoleh hasil tanaman yang tinggi dapat dilakukan manipulasi genetik maupun lingkungan.
III. METODE PENELITIAN. A. Definisi Operasional, Pengukuran, dan Klasifikasi. yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan data yang
III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional, Pengukuran, dan Klasifikasi Definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabelvariabel yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan
DENGAN HIBRIDA HASIL PRODUKSI PADI MENINGKAT
DENGAN HIBRIDA HASIL PRODUKSI PADI MENINGKAT Penerapan Padi Hibrida Pada Pelaksanaan SL - PTT Tahun 2009 Di Kecamatan Cijati Kabupaten Cianjur Jawa Barat Sekolah Lapang (SL) merupakan salah satu metode
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 1.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area, Jalan Kolam No.1 Medan Estate kecamatan Percut Sei
III. MATERI DAN METODE
III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Jalan H.R. Soebrantas No.
HASIL DAN PEMBAHASAN
50 HASIL DAN PEMBAHASAN Produktivitas Kebun Air sangat diperlukan tanaman untuk melarutkan unsur-unsur hara dalam tanah dan mendistribusikannya keseluruh bagian tanaman agar tanaman dapat tumbuh secara
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Keadaan Umum, Geografis dan Iklim Desa Cipelang Desa Cipelang merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor, desa ini memiliki luas daerah
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai September 2015 di
12 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai September 2015 di Laboraturium Rekayasa Sumber Daya Air dan Lahan, Jurusan Teknik Pertanian
III. METODE PENELITIAN
9 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada periode Juli 2015 sampai dengan Februari 2016. Bertempat di screen house B, rumah kaca B dan laboratorium ekologi dan
BUDIDAYA DAN PEMELIHARAAN TANAMAN STROBERI
BUDIDAYA DAN PEMELIHARAAN TANAMAN STROBERI Pembibitan Pembibitan ulang stroberi di Vin s Berry Park dilakukan dengan stolon. Pembibitan ulang hanya bertujuan untuk menyulam tanaman yang mati, bukan untuk
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Petani cabai merah lahan pasir pantai di Desa Karangsewu berusia antara
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identitas Petani 1. Umur Petani Petani cabai merah lahan pasir pantai di Desa Karangsewu berusia antara 30 sampai lebih dari 60 tahun. Umur petani berpengaruh langsung terhadap
III. BAHAN DAN METODE
III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini telah di laksanakan di Rumah Kaca Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Jalan Bina Widya KM 12,5 Simpang Baru Kecamatan Tampan Pekanbaru yang berada
Created By Pesan bibit cabe kopay. Hub SEKILAS TENTANG CARA BERTANAM CABE KOPAY
Created By www.penyuluhthl.wordpress.com Pesan bibit cabe kopay. Hub. 081274664892 SEKILAS TENTANG CARA BERTANAM CABE KOPAY I. PENGOLAHAN LAHAN Pengolahan lahan Pengolahan lahan yang sempurna merupakan
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.. Wilayah dan Topografi Secara geografis Kota Pagar Alam berada pada 4 0 Lintang Selatan (LS) dan 03.5 0 Bujur Timur (BT). Kota Pagar Alam terletak di Provinsi Sumatera
PENGEMBANGAN PEPAYA SEBAGAI KOMODITAS UNGGULAN DAERAH INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PENGEMBANGAN PEPAYA SEBAGAI KOMODITAS UNGGULAN DAERAH Pusat Kajian Hortikultura Tropika INSTITUT PERTANIAN BOGOR PROLOG SOP PEPAYA PEMBIBITAN TIPE BUAH PENYIAPAN LAHAN PENANAMAN PEMELIHARAAN PENGENDALIAN
PELAKSANAAN MAGANG Penanaman Ulang Tanaman Stroberi
16 PELAKSANAAN MAGANG Penanaman Ulang Tanaman Stroberi Tanaman stroberi mampu berproduksi dengan baik sampai dengan dua tahun apabila dipelihara dengan baik. Tanaman stroberi di Vin s Berry Park umurnya
I. TATA CARA PENELITIAN. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten
I. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Green House Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul,
METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian. C. Rancangan Penelitian dan Analisis Data
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan ketinggian tempat 95 m dpl bulan
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Profil Kecamatan Cisarua 5.1.1. Letak dan Keadaan Geografis Secara Geografis, Kecamatan Cisarua terletak di Selatan wilayah Bogor pada 06 42 LS dan 106 56 BB. Kecamatan
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung di Desa Muara Putih Kecamatan Natar Kabupaten Lampung
II. HASIL DAN PEMBAHASAN
II. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identitas Petani 1. Umur Petani Faktor umur adalah salah satu hal yang berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Semakin produktif umur seseorang maka curahan tenaga yang dikeluarkan
BAB II DESA PULOSARI. Desa Pulosari merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan
BAB II DESA PULOSARI 2.1 Keadaan Umum Desa Pulosari 2.1.1 Letak Geografis, Topografi, dan Iklim Desa Pulosari merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi
KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kranggan, Desa Banaran, Desa Nomporejo, Desa Karangsewu, Desa Pandowan
IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak Geografis Kecamatan Galur adalah salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Kulon Progo. Kecamatan Galur terdiri dari 7 Desa yaitu Desa Brosot, Desa Kranggan,
Welcome! Seminar Praktek Lapangan Bogor, 07 Desember 2006
Welcome! Seminar Praktek Lapangan Bogor, 07 Desember 2006 MEMPELAJARI ASPEK KETEKNIKAN PERTANIAN PADA BUDIDAYA BUNGA HEBRAS DALAM GREENHOUSE ROHMAT FARM, CISARUA KAB. BANDUNG Disusun oleh: Anne Noor Inayah
Teknik Budidaya Kubis Dataran Rendah. Untuk membudidayakan tanaman kubis diperlukan suatu tinjauan syarat
Teknik Budidaya Kubis Dataran Rendah Oleh : Juwariyah BP3K garum 1. Syarat Tumbuh Untuk membudidayakan tanaman kubis diperlukan suatu tinjauan syarat tumbuh yang sesuai tanaman ini. Syarat tumbuh tanaman
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2011 sampai dengan Januari
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2011 sampai dengan Januari 2012 di Jalan Palapa VI, Bandar Lampung. 3.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan
BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian. Bahan dan Alat
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Cikabayan-University Farm IPB, Darmaga Bogor. Areal penelitian bertopografi datar dengan elevasi 250 m dpl dan curah
TEKNIK BUDIDAYA PADI DENGAN METODE S.R.I ( System of Rice Intensification ) MENGGUNAKAN PUPUK ORGANIK POWDER 135
TEKNIK BUDIDAYA PADI DENGAN METODE S.R.I ( System of Rice Intensification ) MENGGUNAKAN PUPUK ORGANIK POWDER 135 PUPUK ORGANIK POWDER 135 adalah Pupuk untuk segala jenis tanaman yang dibuat dari bahan
BAB V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Desa Banjar termasuk salah satu wilayah di Kecamatan Banjar Kabupaten
BAB V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1 Letak Geografis Desa Banjar termasuk salah satu wilayah di Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng dengan jarak kurang lebih 18 km dari ibu kota Kabupaten Buleleng
TEKNOLOGI PRODUKSI TSS SEBAGAI ALTERNATIF PENYEDIAAN BENIH BAWANG MERAH
TEKNOLOGI PRODUKSI TSS SEBAGAI ALTERNATIF PENYEDIAAN BENIH BAWANG MERAH Budidaya bawang merah umumnya menggunakan umbi sebagai bahan tanam (benih). Pemanfaatan umbi sebagai benih memiliki beberapa kelemahan
Gambar 2. Tingkat Produktivitas Tanaman Unggulan Kab. Garut Tahun
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Gambaran Umum Agroekonomi Kabupaten Garut Kabupaten Garut memiliki 42 kecamatan dengan luas wilayah administratif sebesar 306.519 ha. Sektor pertanian Kabupaten
IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis, Sumber, dan Metode Pengumpulan Data 4.3. Metode Pengambilan Sampel
IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi tersebut dilakukan
Agroteknologi Tanaman Rempah dan Obat
Agroteknologi Tanaman Rempah dan Obat Syarat Tumbuh Tanaman Jahe 1. Iklim Curah hujan relatif tinggi, 2.500-4.000 mm/tahun. Memerlukan sinar matahari 2,5-7 bulan. (Penanaman di tempat yang terbuka shg
TATA CARA PENELITIN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian
III. TATA CARA PENELITIN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan di areal perkebunan kelapa sawit rakyat di Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhanbatu Utara, Provinsi Sumatera Utara.
III. METODOLOGI. A. Tempat dan Waktu Pelaksanaan. B. Bahan dan Peralatan. C. Metodologi
III. METODOLOGI A. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan terhitung dari minggu pertama April 2010 sampai minggu kedua juni 2010 di Laboratorium Teknik Pengolahan
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum dan Geografis Penelitian dilakukan di Desa Lebak Muncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Desa Lebak Muncang ini memiliki potensi yang baik dalam
BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1. Karakteristik Desa 5.1.1. Kondisi Geografis Secara administratif Desa Ringgit terletak di Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Letak Desa
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Paprika. Syarat Tumbuh
4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Paprika Tanaman paprika (Capsicum annum var. grossum L.) termasuk ke dalam kelas Dicotyledonae, ordo Solanales, famili Solanaceae dan genus Capsicum. Tanaman paprika merupakan
Pupuk Organik Powder 135 (POP 135 Super TUGAMA)
Penggunaan pupuk kimia atau bahan kimia pada tanaman, tanpa kita sadari dapat menimbulkan berbagai macam penyakit seperti terlihat pada gambar di atas. Oleh karena itu beralihlah ke penggunaan pupuk organik
TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Mei 2016
III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Mei 2016 di Lahan Percobaan, Laboratorium Penelitian dan Laboratorium Tanah Fakultas
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Kondisi Geografis Kecamatan Cigombong Kecamatan Cigombong adalah salah satu daerah di wilayah Kabupaten Bogor yang berjarak 30 km dari Ibu Kota Kabupaten, 120 km
BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Parung Farm yang terletak di Jalan Raya Parung Nomor 546, Parung, Bogor, selama satu bulan mulai bulan April sampai dengan Mei 2011. Bahan
III. MATERI DAN METODE
III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau yang beralamat di Jl. H.R.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan Oktober 2012 dilaksanakan di Kebun Kelompok Wanita Tani Ilomata Desa Huntu
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang
70 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Tanggamus 1. Keadaan Geografis Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten
