BAB II LANDASAN TEORI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II LANDASAN TEORI"

Transkripsi

1 7 BAB II LANDASAN TEORI A. Penelitian yang Relevan Novel Kelir Slindet karya Kedung Darma Romansha sudah pernah dikaji oleh beberapa pengamat sastra. Selain itu, wujud dan unsur kebudayaan juga sudah pernah menjadi bahan kajian penelitian oleh beberapa mahasiswa. Berikut kajian yang berkaitan dengan novel Kelir Slindet karya Kedung Darma Romansha serta wujud dan unsur kebudayaan. Konflik sosial masyarakat pedesaan dalam novel Kelir Slindet Karya Kedung Darma Romansha (Kajian Sosiologi Sastra) Skripsi berjudul Konflik Sosial Masyarakat Pedesaan dalam Novel Kelir Slindet Karya Kedung Darma Romansha disusun Hani Kurniasih dari jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji permasalahan konflik sosial masyarakat yang mencakup bentuk-bentuk konflik sosial dan pemicunya. Data dalam penelitian ini adalah teks-teks yang berpotensi memiliki konflik sosial. Sumber data penelitian ini adalah novel Kelir Slindet karya Kedung Darma Romansha. Pendekatan yang digunakan adalah adalah pendekatan sosiologi sastra. Metode yang digunakan adalah dekriptif analitis. Penelitian ini mengungkapkan bahwa ada dua hal yang berkaitan dengan konflik sosial masyarakat pedesaan dalam novel Kelir Slindet karya Kedung Darma Romansha. Analisis terkait dengan bentuk-bentuk konflik sosial masyarakat meliputi enam hal, yaitu konflik antar kelas, konflik antar kelompok, konflik antar antar individu, konflik antar generasi, konflik status dan peran aktif, dan konflik pribadi. 7

2 8 Selain itu, ada empat faktor yang melatarbelakangi terjadinya konflik sosial masyarakat dalam novel Kelir Slindet karya Kedung Darma Romansha. Keempat faktor tersebut adalah (1) faktor ekonomi; (2) faktor kebudayaan; (3) faktor sosial; dan (4) faktor SDM rendah. Wujud dan unsur kebudayaan dalam Kumpulan Cerita Legenda Jawa Kabupaten Cilacap yang Diterbitkan oleh yayasan Pembinaan Pendidikan Generasi Muda Penelitian berjudul Wujud dan Unsur Kebudayaan dalam Kumpulan Cerita Legenda Jawa Kabupaten Cilacap yang diterbitkan oleh Yayasan Pembinaan Pendidikan Generasi Muda disusun oleh Fiqih Nursanti Nugraheni dari jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud dan unsur kebudayaan dalam kumpulan legenda Jawa kabupaten Cilacap. Sumber data penelitian ini adalah kumpulan cerita legenda Jawa kabupaten Cilacap. Data dalam penelitian ini adalah teks yang mengandung wujud dan unsur kebudayaan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan antropologi sastra. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analitis. Penelitian ini mengungkapkan bahwa dalam kumpulan cerita legenda Jawa Kabupaten Cilacap terdapat wujud kebudayaan berupa sistem pengetahuan, sistem peralatan hidup dan teknologi, serta sistem religi. Selain itu, dalam kumpulan cerita legenda Jawa Kabupaten Cilacap terdapat wujud kebudayan sebagai suatu aktivitas yang terdiri dari unsur kebudayaan berupa bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, serta sistem religi. Dalam kumpulan cerita legenda Jawa Kabupaten Cilacap juga terdapat wujud kebudayaan sebagai

3 9 hasil karya manusia yang terdiri dari unsur kebudayaan yang berupa kesenian. Unsur kebudayan yang terdapat dalam kumpulan cerita legenda Kabupaten Cilacap terdiri dari bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem religi, serta kesenian. Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang dilalukan oleh Hani Kurniasih dan Fiqih Nursanti Nugraheni adalah data dan sumber data penelitian. Data dalam penelitian ini adalah teks yang mengandung wujud dan unsur kebudayaan. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Kelir Slindet Karya Kedung Darma Romansha. Berdasarkan penelusuran yang telah dilakukan, peneliti tidak menemukan ulasan maupun kajian ilmiah yang meneliti tentang wujud dan unsur kebudayaan dalam novel Kelir Slindet karya Kedung Darma Romansha. B. Landasan Teori 1. Pengertian Kebudayaan Kebudayaan berasal adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cinta, karsa, dan rasa (Setiadi dkk, 2009: 27). Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar, berpikir, merasa, mempercayai, dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanaya. Budaya menampakan diri dalam pola-pola bahasa dalam bentuk kegiatan dan perilaku yang berfungsi sebagai model-model bagi tindakantindakan penyesuaian diri dari gaya komunikasi yang memungkinkan orang-orang tinggal dalam suatu masyarakat di suatu lingkunagan geografis (Mulyana, 2010:18) kebudayaan merupakan perilaku yang berfungsi sebagai ciri masyarakat yang berbudaya. Dengan kebudayaan masyarakat akan lebih teraahkan kehidupan dalam kebudayaan.

4 10 Ihromi (2000:18) menjelaskan bahwa kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang manapun dan tidak hanya mengenai sebagian dari cara hidup itu yaitu bagian yang oleh masyarakat dianggap lebih tinggi atau lebih diinginkan. Menurut Koentjaraningrat (1996: 144) kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Menurut Herimanto dan Winarno (2010: 24-25) kebudayaan sebagai sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan bersifat abstrak. Ada perbedaan antara definisi kebudayaan dengan budaya. Warsito (2012: 49) menjelaskan bahwa dalam antroplogi budaya, perbedaan antara kebudayaan dan budaya ditiadakan. Kata budaya dipakai sebagai singkatan dari kebudayaan dengan pengertian yang sama. Hal tersebut membuat peneliti beranggapan bahwa kebudayaan dan budaya sebagai sebuah kesatuan. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini, peneliti menggunakan istilah budaya dengan kebudayaan yang merujuk pada pengertian yang sama. 2. Antropologi Sastra Ihromi (1996: 1) menjelaskan bahwa secara harfiah dalam bahasa Yunani, kata antropos berarti manusia dan logos berarti studi. Lebih lanjut, Mustolikh (1997: 1) menjelaskan bahwa antropologi merupakan ilmu yang paling luas kajiannya. Antropologi ingin memahami sesuatu yang ada hubungannya dengan mahluk manusia dari dahulu sampai sekarang. Antropologi mencoba memahami kehidupan manusia secara menyeluruh. Kaitannya dengan hal tersebut, ada lima masalah besar yang dikaji oleh antropologi, yaitu: (a) masalah sejarah terjadinya dan perkembangan manusai

5 11 sebagai mahluk biologis, (b) masalah terjadinya aneka warna mahluk manusia yang dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya, (c) masalah persebaran dan terjadinya aneka warna bahasa yang diucapkan oleh manusia seluruh dunia, (d) masalah perkembangan, persebaran, dan terjadinya warna dari kebudayaan manusia dan seluruh dunia, (e) masalah dasar-dasar dan aneka warna kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat dan suku bangsa yang tersebar di seluruh muka bumi pada jaman sekarang ini. Menurut Ratna (2013: 351) antropologi sastra merupakan pendekatan interdisiplin yang paling baru dalam ilmu sastra. Antropologi sastra memberikan perhatian pada manusia sebagai agen kultural, sistem kekerabatan, sistem mitos, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Antropologi sastra cenderung memusatkan perhatiannya pada masyarakat kuno. Antropologi sastra mempermasalahkan karya sastra dengan hubungannya dengan manusia sebagai penghasil kebudayaan. Manusia yang dimaksud adalah manusia dalam karya, khususnya sebagai tokoh-tokoh. Lebih lanjut, Ratna (2011: 31) menjelaskan bahwa antroplogi sastra adalah analisis dan pemahaman terhadap karya sastra dalam kaitannya dengan kebudayaan. Secara definitif antropologi sastra adalah studi mengenai karya sastra dengan relevansi manusia (anthropos). Dengan melihat pembagian antropologi menjadi dua macam yaitu antropologi fisik dan antropologi kultural, maka antropologi sastra dibicarakan dalam kaitannya dengan antropologi kultural dengan karya-karya yang dihasilkan oleh manusia, seperti: bahasa, religi, mitos, sejarah, hukum, adat-istiadat, dan karya seni, khususnya karya sastra. Dalam kaitannya dengan tiga macam bentuk kebudayaan yang dihasilkan oleh manusia yaitu: kompleks ide, kompleks aktivitas, dan kompleks benda-benda (Ratna, 2013: 351). Antropologi sastra merupakan karya

6 12 yang dihasilkan oleh manusia yang dijadikan sumber bagi manusia. Dalam hal ini antropologi cangkupannya lebih luas dari sosiologi sastra. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa antropologi sastra adalah kajian yang memusatkan perhatian terhadap manusia. Dalam hal ini, manusia sebagai penghasil kebudayaan. Manusia dianggap sebagai agen budaya yang menciptakan kebudayaan. Kebudayaan yang dimaksud berupa kompleks ide, kompleks aktivitas, dan kompleks benda-benda. Antroplogi sastra juga membicarakan kaitan antropologi kultural dengan karya-karya yang dihasilkan oleh manusia. Hasil yang dihasilkan oleh manusia bias dilihat bahkan di lihat dengan mata. Kesenian contohnya dapat kita lihat dengan cara melihat hasil dari karya sastra. 3. Wujud Kebudayaan Koentjaraningrat (1996: 74) menggolongkan kebudayaan dalam dalam tiga wujud. Wujhud yang ada pada kebudayaan ini masing-masing memiliki fungsi dan ciri yang berbeda. Dari tiga wujud juga dapat menghasilkan sebuah kebudayaan yang akan membawa manusia untuk menghasilkan kebudayaan. Hasil dari wujud kebudayaan juga akan menghasilkan kebudayaan yang akan dihasilkan manusia. Wujud tersebut yaitu, kebudayaan sebagai suatu ide, sebagai gagasa, dan wujud hasil karya manusia. Berikut ini adalah ketiga wujud kebudayaan tersebut. a. Wujud Kebudayaan sebagai Suatu dari Ide, Gagasan, Nilai, Norma, Peraturan, dan Sebagainya Wujud pertama adalah wujud yang ideal dari kebudayaan. Sifatnya abstrak, tidak dapat diraba atau difoto. Lokasinya ada di dalam kepala atau dengan perkataan lain, dalam alam pikiran warga masyarakat tempat kebudayaan bersangkutan itu

7 13 hidup. Kalau warga masyarakat menyatakan gagasan mereka tadi dalam tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal sering berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat bersangkutan. Ide dan gagasan manusia banyak yang hidup bersama dalam suatu masyarakat, memeberi jiwa kepada masyarakat itu. Gagasan satu dengan yang lain selalu berkaitan menjadi suatu sistem. Menurut Herimanto dan Winarno (2010: 25) wujud ide kebudayaan adalah kebudayaan berbentuk kumpulan ide, gagasan, nilai, norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. b. Wujud Kebudayaan sebagai Suatu Aktivitas serta Tindakan Berpola dari Manusia dalam Masyarakat Wujud kedua dari kebudayaan disebut sistem sosial atau social system, mengenai tindakan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial terdiri dari aktivitasaktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan, dan bergaul satu sama lain dari detik ke detik, dari hari ke hari, dan dari tahun ke tahun, selalu menurut pola-pola berdasarkan adat tata kelakuan. Sebagai rangkaian aktivitas manusia dan masyarakat, sistem sosial itu bersifat konkret, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasi. Menurut Halida (2011: 94) wujud kebudayaan yang kedua adalah dalam bentuk aktivitas, sistem sosial, dan mengenai pola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial yang dapat dikenali adalah aktivitas-aktivitas interaksi manusia, saling berhubungan dan pola pergaulan dari waktu ke waktu. c. Wujud Kebudayaan sebagai Benda-Benda Hasil Karya Manusia. Wujud ketiga kebudayaan disebut kebudayaan fisik (artefak). Berupa seluruh hasil fisik dan aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat.

8 14 Sifatnya paling konkret dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto. Ada pabrik-pabrik besar seperti pabrik baja, benda-benda yang amat kompleks dan canggih seperti komputer, atau benda-benda yang besar dan bergerak seperti kapal tangki minyak, bangunan hasil seni arsitek seperti suatu candi yang indah, benda-benda kecil seperti kain batik atau yang lebih kecil lagi seperti kancing baju, dan masih banyak yang lainnya. Hasil dari kebudayaan banyak dimanfaatkan manusia sebagai wujud dari kebudayaan. Wujud yang dinyatakan ialah \wujud yang dapat dilihat secara langsung. Artefak merupakan produk dari seseorang atau sekelompok orang dari suatu masyarakat, misalnya barang-barang yang mereka hasilkan pada jaman tertentu seperti alat-alat rumah tangga, patung, lukisan, dan lain-lain. Menurut Halida (2011: 94) wujud kebudayaan artefak merupakan totalitas dari hasil fisik yang berupa perbuatan, karya yang bersifat konkret berupa benda-benda atau hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto. Menurut Sujarwa (2014: 32) artefak adalah hasil kebudayaan yang berupa benda-benda maupun bangunan. Seperti keris, candi, monumen, gedung dan lain-lain. Benda-benda tersebut biasanya berupa sebuah bangunan yang dihasilkan manusia. Semua hasil karya manusia juga dapat dimanfaatkan dengan adanya hasil karya manusia. Semua hasil yang dihasilkan kebudayaan menjadi suatu kebudayaan yang ada. 4. Unsur-Unsur Kebudayaan Menurut Koentjaraningrat (1996: 80-84) unsur-unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia berjumlah tujuh buah. Berikut ini ketujuh unsur-unsur kebudayaan yaitu, bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem

9 15 peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi,kesenian. Unsur kebudayaan merupakan sebuah tujuan untuk menciptakan budaya. Dengan kebudayaan juga akan menghasilkan sebuah unsur kebudayaan. Semua yang ada dalam unsur kebudayaan juga akan menjadikan unsur kebudayaan menjadi olengkap. Kebudayaan juga sebagai hasil karya manusia yang berwujud benda maupun artefak. a. Bahasa Menurut Chaer (2007: 32) bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, bekomunikasi, dan mengidetifikasi diri. Menurut Koentjaraningarat (1996: 339) bahasa atau sistem lambang bunyi manusia yang lisan maupun tertulis untuk berkomunikasi satu dengan yang lain, memberi deskripsi tentang ciri-ciri terpenting dari sebuah bahasa yang diucapkan oleh suku bangsa yang bersangkutan, beserta variasi-variasi dari bahasa itu. Lebih lanjut, Sedyawati (2007: 397) menjelaskan bahwa bahasa dapat dililhat sebagai wadah utama dari sistem pengetahuan suatu bangsa. Kata-kata adalah konsep, dan pengembangan pengetahuan paling teguh posisinya dalam budaya apabila terungkap secara jelas dalam media dan lebih-pebih apabila hal-hal yang diungkap dengan media bahasa itu telah dituangkan ke dalam tulisan. b. Sistem Pengetahuan Soemarno (1988:143) menjelaskan bahwa manusia mendapatkan ilmu (pengetahuan) dengan pikirannya. Menurut Koentjaraningrat (1996: ) sistem pengetahuan yaitu perangkat unsur yang berkaitan dengan suatu hal yang perlu

10 16 diketahui. Tiap suku bangsa di dunia mempunyai pengetahuan tentang:1. Alam sekitar 2. Alam flora 3. Alam fauna 4. Tubuh manusia. Tubuh manusia juga akan terlihat dari cara kita melihat langsung ciri tubuh manusia. Ciri tubuh manusia tiap individu tentu saja akan berbeda. Perbedaan tersebut juga akan menjadi sebuah nilai tersendiri dari tubuh manusia. Dengan adanya tubuh manusia ciri fisik lebih akan terlihat secara nyata. 1) Alam Sekitar Pengetahuan manusia tentang alam sekitarnya misalnya pengetahuan tentang musim-musim, sifat-sifat gejala alam. Pengetahuan mengenai masalah tersebut biasanya berasal dari keperluan praktis untuk berburu, bertani, berlayar menyeberangi laut dari suatu pulau ke pulau lain. Pengetahuan ini seringkali berupa dongengdongeng yang dianggap suci (Koentjaraningrat, 1990: 373). Pengetahuan alam sekitar berkaitan dengan hal- hal yang terjadi di sekitar kita berhubungan dengan alam yang terkadang tidak dapat kita duga. Oleh karena itu, manusia sering kali belum memiliki kesiapan untuk menghadapi kejadian yang berkaitan dengan alam. Alam yang ada disekitar lingkungan masyarakat juga akan menandai sebuah lingkungan yang akan di huninya. Semua dari masalah itu akan terlihat adanya sebuah pengetahuan masyarakat tentang alam sekitar. Berikut merupakan tujuan yang terjadi didalam lingkungan sekitar. 2) Alam Flora Pengetahuan tentang alam flora sudah tentu merupakan salah satu pengetahuan dasar bagi kehidupan manusia dalam masyarakat kecil, terutama bila mata

11 17 pencaharian hidupnya yang pokok adalah pertanian, tetapi juga suku suku bangsa yang hidup dari berburu, peternakan, atau perikanan tidak dapat mengabaikan pengetahuan tentang alam tumbuh-tumbuhan sekelilingnya. Selain itu, hampir semua suku bangsa yang hidup dalam masyarakat kecil mengetahui pengetahuan tentang rempah- rempah yang dapat di pakai untuk menyebuhkan penyakit, upacara keagamaan, ilmu dukun dan sebagainya, atau suatu pengetahuan tentang tumbuhtumbuhan untuk membuat bahan cat, membuat berbagai racun senjata, dan sebagainya. 3) Alam Fauna Pengetahuan tentang alam fauna merupakan pengetahuan dasar bagi suku-suku bangsa yang hidup dari berburu atau perikanan, tetapi juga bagi yang hidup dari pertanian. Daging binatang merupakan unsur penting dalam makanan suku-suku bangsa bertani juga. Selain itu, petani harus banyak mengetahui juga tentang kelakuan binatang untuk dapat menjaga tumbuh-tumbuhan di ladang atau di sawah terhadap gangguan binatang -binatang itu (Koentjaraningrat, 1990: 374). Dari pengertian binatang sebuah pengetahuan akan terlihat karena pengetahuan tentang binatang. Adanya pengetahuan ini merupakan sebuah pengetahuan manusia dilingkungan kehidupannya. Pengetahuan tentang alam fauna ini, manusia juga perlu mengetahui kelakuan dan peran berbagai binatang. Hal itu dilakukan agar manuisa dapat memanfaatkan binatang yang ada sesuai dengan keperluan hidup yang dibutuhkan. 4) Tubuh manusia Pengetahuan tentang tubuh manusia dalam kebudayaan-kebudayaan yang belum begitu banyak dipengaruhi ilmu kedokteran masa kini, sering juga luas sekali.

12 18 Pengetahuan dan ilmu untuk menyembuhkan penyakit dalam masyarakat pedesaan banyak dilakukan oleh para dukun dan tukang pijat, oleh karena itu penulis sebut ilmu dukun. Ilmu dukun memang biasanya menggunakan banyak sekali ilmu gaib, tetapi disamping itu para dukun juga sering mempunyai pengetahuan luas`tentang ciri-ciri tubuh manusia, letak dan susunan urat-urat dan sebagainya (Koentjaraningrat, 1990: 374). Pengetahuan tentang tubuh manusia biasanya berkaitan dengan hal-hal yang perlu diketahui mengenai organ-organ tubuh manusia beserta fungsinya sehngga kita mengetahui kelemahan dan kelebihan dari organ-organ yang terdapat dalam tubuh manusia. c. Organisasi Sosial Koentjaraningrat (1996: 366) menjelaskan bahwa organisasi sosial yaitu suatu kelompok masyarakat yang dibentuk dalam rangka mewujudkan bersama. Setiap kehidupan masyarakat diorganisasi atau diatur oleh adat-istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan lingkunga tempat individu hidup dan bergaul dari hari ke hari. Lebih lanjut, Soemarno (1988: 190) menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak mungkin berdiri sendiri untuk memenuhi kepentingan hidupnya sehingga manusia kemudian membentuk masyarakat. Untuk kepentingan berhubungan (berinteraksi) dengan sesamanya. Oleh karena itu, manusia kemudian membentuk organisasi sosial, membentuk kelompok sosial. Organisasi sosial dibentuk masyarakat baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum sama-sama. Namun hal itu memiliki manfaat sebagai sarana partisipasi masyarakat untuk pembangunan. Manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan tertentu yang tidak dapat dicapai sendiri. Oleh karena itu, manusia menggunakan akalnya untuk

13 19 membentuk kekuatan. Itu ditunjukan dengan cara menyusun organisasi kemasyarakatan yang merupakan tempat bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama yaitu meningkatkan kesejahteraan hidup. d. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi Koentjaraningrat (1990: 341) menjelaskan bahwa sistem peralatan hidup dan teknologi yaitu perangkat unsur berkaitan dengan alat perkakas dan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Teknologi atau cara-cara memproduksi, memakai, dan memelihara segala peralatan hidup dari suku bangsa, cukup membatasi diri terhadap teknologi yang tradisional. Dalam teknologi tradisional paling sedikit ada delapan macam sistem peralatan yang dipakai oleh manusia yang hidup dalam masyarakat kecil atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian, yaitu: (1) alat alat produksi, (2) alat membuat api, (3) senjata, (4) wadah, (5) makanan, (6)pakaian, (7) tempat berlindung dan perumahan, dan (8) alat-alat transportasi. Lebih lanjut, Poerwanto (2000: 161) mengungkapkan bahwa masalah teknologi dalam pembangunan di Indonesia adalah sesuatu yang essensial. Teknologi mampu membuat akomodasi terhadap lingkungan, baik biologis maupun sosial budaya akan menghasilkan kemajuan teknis yang dilandasi moral yang merupakan cita-cita pembangunan. Koentjaraningrat (1996: 346) menjelaskan bahwa alat-alat produksi dari sudut fungsinya dapat dibagi ke dalam alat poton, alat tusuk dan pembuat lubang, alat pukul, alat penggiling, alat peraga, alat untuk membuat api, alat meniup api, tangga dan sebagainya. Sedangkan dari sudut lapangan pekerjaannya ada alat-alat rumah tangga, alat pengikal dan tenun, alat alat pertanian, alat- alat penangkap ikan, jerat

14 20 perangkap dan sebagainya. Lebih lanjut, Koentjaraningrat (1996: ) menjelaskan bahwa alat membuat api masuk dalam alat-alat produksi. Sedangkan senjata menurut fungsinya, ada senjata potong, senjata tusuk, senjata lempar, dan senjata penolak. Sedangkan menurut lapangan pemakaiannnya ada senjata untuk berburu dan menangkap ikan, serta senjata untuk berkelahi dan berperang. Senjata dikenal dengan benda yang berbahaya. Senjata dengan berbagai manfaat yaitu untuk melukai sesuatu seperti berperang dan berburu maupun untuk membela diri/mempertahankan diri. Wadah adalah alat dan tempat untuk menimbun, memuat dan menyimpan barang (container). Berbagai macam wadah juga dapat dikelaskan menurut bahan mentahnya yaitu kayu, bambu, kulit kayu, tempurung, serat- seratan, atau tanah liat. Menurut Koentjaraningrat (1996: 348) makanan dapat kita anggap sebagai barang yang dalam ilmu antropologi dapat dibicarakan dalam teknologi dan kebudayaan fisik. Makanan dapat dipandang dari sudut mentahnya, yaitu sayur sayuran dan daun-daunan, buah-buahan, akar-akaran, biji-bijian, daging, susu, dan hasil susu (dairi products), ikan, dan sebagainya. Hasil yang sangat menarik dari sudut teknologi adalah cara cara mengolah, memasak, serta menyajikan makanan dan minuman. Dalam berbagai kebudayaan di dunia ada dua macam cara memasak yaitu dengan api yang tentu bukan hal yang aneh bagi kita dan dengan cara memakai batu- batu panas. Cara memakai batu batu panas atau stone boiling technique, sering kali ada sangkut-pautnya dengan wadah wadah yang dikenal dalam kebudayaan kebudayaan yang bersangkutan. Cara-cara yang ada didalam masyarakat ini mnerupakan cara yang bersangkutan dengan kehidupan. Pengetahuan tentang alam fauna ini, manusia juga perlu mengetahui kelakuan dan peran berbagai binatang. Hal

15 21 itu dilakukan agar manuisa dapat memanfaatkan binatang yang ada sesuai dengan keperluan hidup yang dibutuhkan. Dinyatakan Koentjaraningrat(1990: ) pakaian dalam arti seluas luasnya juga merupakan suatu benda kebudayaan yang sangat penting untuk hampir semua suku bangsa di dunia. Di pandang dari sudut bahan mentahnya pakaian dapat dikelaskan ke dalam pakaian dari bahan tenun, pakaian dari kulit pohon, pakaian dari kulit binatang dan lain lain. Dinyatakan Koentjaraningrat(1990: ) pakaian dalam arti seluas luasnya juga merupakan suatu benda kebudayaan yang sangat penting untuk hampir semua suku bangsa di dunia. Di pandang dari sudut bahan mentahnya pakaian dapat dikelaskan ke dalam pakaian dari bahan tenun, pakaian dari kulit pohon, pakaian dari kulit binatang dan lain lain. Lebih lanjut Koentjraningrat menerangkan tempat berlindung dapat dibagi dalam tiga golongan dipandang dari sudut pemakaiannya, yaitu : (a) tadah angin, (b) tenda atau gubuk yang segera dapat dilepas, dibawa pindah, dan didirikan lagi, dan (c) rumah untuk menetap. Dipandang dari sudut fungsi sosialnya, berbagai macam rumah yang tersebut dapat dibagi ke dalam (a) rumah tempat tinggal keluarga kecil, (b) rumah tempat tinggal keluarga besar, (c) rumah suci, (d) rumah pemujaan, (e) rumah tempat berkumpul umum, dan (f) rumah pertahanan (Koentjaraningrat, 1996 :350). Lebih lanjut Koentjraningrat menerangkan tempat berlindung dapat dibagi dalam tiga golongan dipandang dari sudut pemakaiannya, yaitu : (a) tadah angin, (b) tenda atau gubuk yang segera dapat dilepas, dibawa pindah, dan didirikan lagi, dan (c) rumah untuk menetap. Dipandang dari sudut fungsi sosialnya, berbagai macam rumah yang tersebut dapat dibagi ke dalam (a) rumah tempat tinggal keluarga kecil, (b) rumah tempat tinggal keluarga besar, (c) rumah suci, (d) rumah pemujaan, (e) rumah tempat berkumpul umum, dan (f) rumah pertahanan (Koentjaraningrat, 1996 :350).

16 22 Selain itu Koentjaraningrat menyatakan alat -alat transportasi dalam kebudayaan agak sukar dikelaskan menurut bahan mentahnya. Alat-alat transportasi berdasarkan fungsinya, alat-alat transportasi yang terpenting adalah (a) sepatu, (b) binatang, (c) alat seret, (d) kereta beroda, (e) rakit, dan (f) perahu. Lebih lanjut Ratna (2011: ) menjelaskan bahwa ecara alamiah manusia membuat peralatan jelas untuk membantu mempermudah dalam melaksanakan aktivitas kehidupannya. Tetapi dalam perkembangan berikutnya tujuan-tujuan yang telah direncanakan semua sering berubah. e. Sistem Mata Pencaharian Sistem mata pencaharian yaitu perangkat unsur yang berkaitan dengan profesi atau pekerjaan manusia. Hal itu dilakukan oleh seseorang dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Perhatian para ahli antropologi terhadam berbagai macam sistem mata pencaharian atau sistem ekonomi hanya terbatas pada sistem-sistem yang bersifat tradisional saja. Terutama perhatian terhadap kebudayaan suatu suku bangsa secara holistik. Berbagai sistem tersebut, yaitu (1) berburu dan meramu, (2) beternak, (3) bercocok tanam di ladang, (4) menangkap ikan, dan (5) bercocok tanam menetap dengan irigasi (Koentjaraningrat, 1996: ). System matapencaharian merupakan sitem yang sangat berpengaruh besar dalam kehidupan manusia. Dengan adanya matapencaharian manusia dapat melangsungkan kehidupannya dengan baik. f. Sistem Religi Menurut Koentjraningrat (1996: ) sistem religi adalah perangkat unsur yang berkaitan dengan adanya kepercayaan kepada Tuhan. masalah asal mula dari suatu unsur universal. Misalnya religi, artinya masalah penyebab manusia percaya

17 23 pada adanya suatu kekuatan gaib yang dianggapnya lebih tinggi daripadanya. Penyebab manusia itu melakukan berbagai hal dengan cara-cara yang beragam untuk berkomunikasi dan mencari hubungan dengan kekuatan-kekuatan tadi, telah lama menjadi pusat perhatian banyak orang di Eropa, dan juga dari dunia ilmiah pada umumnya Sistem religi ini merujuk pada fungsi itu sendiri. Bagaimana manusia memperlakukan sisten religi yang ada dilingkungannya. Sistem religi misalnya memiliki wujud sistem keyakinan, dan gagasan tentang Tuhan, roh halus, neraka, surga, dan sebagainya, tetapi juga mempunyai wujud berupa upacara, baik bersifat musiman maupun kadangkala. Selain itu setiap sistem religi juga mempunyai wujud sebagai benda-benda suci dan benda-benda religius. Lebih lanjut, Sedyawati (2007: 398) menjelaskan bahwa dari sistem religi dapat dikhususkan perhatian pada konsep-konsep ajaran keagamaan, dapat pula aspek sosialnya yang meliputi masalah pembagian peran dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan. Yang termasuk dalam konsep keagamaan termasuk konsep mengenai kebenaran tertinggi, hakikat manusia, kaidah pelaksanaan peribadatan, dan lain-lain. Konsep yang dianut bahwa tiap religi merupakan suatu sistem yang terdiri dari empat komponen, yaitu emosi keagamaan yang menyebabkan manusia itu bersikap religius, sistem keyakinan yang mengandung segala keyakinan serta bayangan manusia tentang wujud dari alam gaib, serta segala nilai, norma, dan ajaran religi yang bersangkutan, dan sistem ritus dan upacara yang merupakan usaha manusia untuk mncari hubungan dengan Tuhan atau makhluk-makhluk halus yang mendiami alam gaib. g. Kesenian Menurut Soemarno (1988: 6) kesenian merupakan bagian dari kebudayaan. Sebagaimana kebudayaan, kesenian yang juga mempunyai unsur-unsur dari perasaan,

18 24 cipta, dan karsa. Kesenian itu tumbuh dari suatu perasaan yang dalam dan kuat yaitu emosi dan menjelma dalam jiwa seorang seniman. Emosi itu kemudian didorong oleh hasratnya lalu menciptakan atau mewujudkan suatu bentuk. Di dalam perasaan itu berubah menjadi suatu pikiran (ide) yang kemudian menjadi suatu wujud ciptaan. Koentjaraningrat (1996: 379) menjelaskan bahwa kesenian adalah perihal seni atau keindahan dalam membuat karya yang berkualitas. Dipandang dari cara sudut kesenian sebagai ekspresi hasrat manusia akan keindahan itu dinikmati, maka ada dua lapangan besar, yaitu (1) seni rupa, atau kesenian yang dinikmati oleh manusia dengan mata yang dapat berupa seni patung, seni relief (termasuk seni ukir), seni lukis dan gambar, dan seni rias, dan (2) seni suara, atau kesenian yang dinikmati oleh manusia dengan telinga yang berupa seni vokal (menyanyi) dan ada yang instrumental (dengan alat-alat bunyi-bunyian).

PERTEMUAN MINGGU KE 5

PERTEMUAN MINGGU KE 5 PERTEMUAN MINGGU KE 5 WUJUD KEBUDAYAAN Talcott Parsons bersama A.L. Kroeber pernah menganjurkan untuk membedakan wujud kebudayaan sebagai suatu sistem dari ide-ide dan konsep-konsep dari wujud kebudayaan

Lebih terperinci

Antropologi Psikologi

Antropologi Psikologi Modul ke: Antropologi Psikologi Wujud dan Unsur Kebudayaan Fakultas PSIKOLOGI Wenny Hikmah Syahputri, M.Psi., Psi. Program Studi Psikologi Wujud Kebudayaan Koentjaraningrat menyebutkan kebudayaan ada tiga

Lebih terperinci

Kebudayaan (2) Pengantar Antropologi. Dian Kurnia Anggreta, S.Sos, M.Si 1

Kebudayaan (2) Pengantar Antropologi. Dian Kurnia Anggreta, S.Sos, M.Si 1 Kebudayaan (2) Pengantar Antropologi Dian Kurnia Anggreta, S.Sos, M.Si 1 Unsur-unsur Kebudayaan Integrasi Kebudayaan Kerangka Teori Tindakan Dian Kurnia Anggreta, S.Sos, M.Si 2 Sebagaimana yang telah dipelajari

Lebih terperinci

PENGERTIAN DASAR SEJARAH KEBUDAYAAN

PENGERTIAN DASAR SEJARAH KEBUDAYAAN PENGERTIAN DASAR SEJARAH KEBUDAYAAN Pengertian dasar sejarah kebudayaan yang dimaksudkan di sini adalah pembahasan umum mencakup pembahasan mengenai istilah dan definisi kebudayan, perbedaan kebudayaan

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN KEBUDAYAAN

BAB II URAIAN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN KEBUDAYAAN BAB II URAIAN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN KEBUDAYAAN 2.1 Uraina Tentang Seni Kata seni berasal dari kata "SANI" yang kurang lebih artinya "Jiwa Yang Luhur/ Ketulusan jiwa". Menurut kajian ilmu di eropa

Lebih terperinci

- alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama) - organisasi kekuatan (politik)

- alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama) - organisasi kekuatan (politik) 1. Unsur Kebudayaan Terdapat 7 unsur-unsur universal, yaitu sebagai berikut: 1. Bahasa 2. Sistem pengetahuan 3. Organisasi sosial 4. Sistem peralatan hidup dan teknologi 5. Sistem mata pencaharian hidup

Lebih terperinci

KEBUDAYAAN & MASYARAKAT

KEBUDAYAAN & MASYARAKAT KEBUDAYAAN & MASYARAKAT Pengantar Sosiologi FITRI DWI LESTARI MASYARAKAT Masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Tak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan dan sebaliknya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN A. Tinjauan Pustaka 1. Definisi Kebudayaan Kata kebudayaan berasal dari kata Sansekerta buddhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau

Lebih terperinci

Etnografi. Oleh : Tine A. Wulandari, S.I.Kom.

Etnografi. Oleh : Tine A. Wulandari, S.I.Kom. Etnografi Oleh : Tine A. Wulandari, S.I.Kom. Perbedaan Definisi Istilah-istilah Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ethnos artinya Bangsa Etnik-Etnis : bertalian dengan kelompok dalam sistem sosial.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai fakta sosial, manusia sebagai makhluk kultural (Ratna, 2005:14). Dalam

BAB I PENDAHULUAN. sebagai fakta sosial, manusia sebagai makhluk kultural (Ratna, 2005:14). Dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan salah satu hasil karya seni yang sekaligus menjadi bagian dari kebudayaan. Sebagai salah satu hasil kesenian, karya sastra mengandung

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Senakin kabupaten Landak Kalimantan Barat. Teori-teori tersebut dalah sebagai

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Senakin kabupaten Landak Kalimantan Barat. Teori-teori tersebut dalah sebagai BAB II KAJIAN PUSTAKA Dalam Bab II ini penulis akan menjelaskan kajian teori yang akan digunakan dalam menganalisis data hasil penelitian yang berjudul pergeseran makna Tangkin bagi masyarakat Dayak Kanayatn

Lebih terperinci

MODUL PERKULIAHAN Kapita Selekta Ilmu Sosial Masyarakat & Budaya

MODUL PERKULIAHAN Kapita Selekta Ilmu Sosial Masyarakat & Budaya MODUL PERKULIAHAN Masyarakat & Budaya FAKULTAS Bidang Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh ILMU KOMUNIKASI Public relations/ MK 42005 Yuni Tresnawati,S.Sos., M.Ikom. Humas 5 Abstract Dalam pokok bahasan

Lebih terperinci

GEOGRAFI BUDAYA Materi : 7

GEOGRAFI BUDAYA Materi : 7 GEOGRAFI BUDAYA Materi : 7 Agus sudarsono 1 VII. KEBUDAYAAN 2 A. BUDAYA DAN KEBUDAYAAN Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi

Lebih terperinci

I.PENDAHULUAN. kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah berupa folklor yang hidup dalam masyarakat.

I.PENDAHULUAN. kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah berupa folklor yang hidup dalam masyarakat. I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah Negara kepulauan, yang memiliki berbagai macam suku bangsa yang kaya akan kebudayaan serta adat istiadat, bahasa, kepercayaan, keyakinan dan kebiasaan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN BAB II KAJIAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN A. Kebudayaan dan Kesenian. 1. Kebudayaan sebagai proses pembangunan Koentjaraningrat dalam Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan mendeskripsikan bahwa

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Anton M. Moeliono dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Analisis adalah 1.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Anton M. Moeliono dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Analisis adalah 1. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Analisis Menurut Anton M. Moeliono dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Analisis adalah 1. penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenar-benarnya;

Lebih terperinci

KEBUDAYAAN. 1. Pengertian

KEBUDAYAAN. 1. Pengertian SISTEM BUDAYA Setiap manusia memiliki unsur dalam dirinya yang disebut Perilaku, yaitu : suatu totalitas dari gerak motoris, persepsi, dan fungsi kognitif. Salah satu unsur perilaku adalah gerak sosial

Lebih terperinci

Bab 1. Pendahuluan. Candrasengkala sebagai..., Meirissa Ramadhani, FIB UI, Universitas Indonesia

Bab 1. Pendahuluan. Candrasengkala sebagai..., Meirissa Ramadhani, FIB UI, Universitas Indonesia 1 Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar belakang Kebudayaan adalah segala hal yang terkait dengan seluruh aspek kehidupan manusia, yang dihayati dan dimiliki bersama. Di dalam kebudayaan terdapat kepercayaan, kesenian

Lebih terperinci

KEBUDAYAAN. Sosped Fapet UHN

KEBUDAYAAN. Sosped Fapet UHN KEBUDAYAAN Sosped Fapet UHN 2013 1 1. Pengertian Kebudayaan Pd umumnya, istilah kebudayaan sering diartikan sama dengan kesenian yaitu seni suara, seni tari dan seni-seni lainnya. Namun bila diartikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Struktur karya sastra dibedakan menjadi dua jenis yaitu struktur dalam

BAB I PENDAHULUAN. Struktur karya sastra dibedakan menjadi dua jenis yaitu struktur dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Struktur karya sastra dibedakan menjadi dua jenis yaitu struktur dalam (intrinsik) dan luar (ekstrinsik). Pada gilirannya analisis pun tidak terlepas dari kedua

Lebih terperinci

2015 KAJIAN NILAI-NILAI BUDAYA UPACARA ADAT NYANGKU DALAM KEHIDUPAN DI ERA MODERNISASI

2015 KAJIAN NILAI-NILAI BUDAYA UPACARA ADAT NYANGKU DALAM KEHIDUPAN DI ERA MODERNISASI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan keanekaragaman budaya, hal ini dikarenakan Indonesia terdiri dari berbagai suku dan adat budaya. Setiap suku

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki lingkungan geografis. Dari lingkungan geografis itulah

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki lingkungan geografis. Dari lingkungan geografis itulah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kekompleksitasan Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang memiliki lingkungan geografis. Dari lingkungan geografis itulah membuat Indonesia menjadi

Lebih terperinci

ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR

ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR Manusia dan Kebudayaan Drs. Ermansyah, M.Hum. 2013 Manusia sebagai Makhluk Budaya Manusia makhluk Tuhan yang mempunyai akal. Akal adalah kemampuan pikir manusia sebagai kodrat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN. Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, ialah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN. Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, ialah BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN A. Tinjauan Pustaka 1. Definisi Kebudayaan Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi

Lebih terperinci

CERITA RAKYAT GUNUNG SRANDIL DI DESA GLEMPANG PASIR KECAMATAN ADIPALA KABUPATEN CILACAP (TINJAUAN FOLKLOR)

CERITA RAKYAT GUNUNG SRANDIL DI DESA GLEMPANG PASIR KECAMATAN ADIPALA KABUPATEN CILACAP (TINJAUAN FOLKLOR) CERITA RAKYAT GUNUNG SRANDIL DI DESA GLEMPANG PASIR KECAMATAN ADIPALA KABUPATEN CILACAP (TINJAUAN FOLKLOR) Oleh: Dyah Susanti program studi pendidikan bahasa dan sastra jawa [email protected] Abstrak:

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN. suci. Ritual menciptakan dan memelihara mitos, adat, sosial, dan agama, ritual

BAB II URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN. suci. Ritual menciptakan dan memelihara mitos, adat, sosial, dan agama, ritual BAB II URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN 2.1 Pengertian Ritual Ritual adalah tehnik (cara metode) membuat suatu adat kebiasaan menjadi suci. Ritual menciptakan dan memelihara mitos, adat, sosial, dan agama,

Lebih terperinci

KEBUDAYAAN. Pengantar Antropologi. Dian Kurnia Anggreta, S.Sos, M.Si

KEBUDAYAAN. Pengantar Antropologi. Dian Kurnia Anggreta, S.Sos, M.Si KEBUDAYAAN Pengantar Antropologi 1 Sub Pokok Bahasan: 1. Definisi Kebudayaan 2. Wujud Kebudayaan 3. Adat Istiadat 2 Definisi Kebudayaan Kebudayaan (dalam bahasa sehari-hari): Dibatasi pada hal-hal yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. setiap etnis menebar diseluruh pelosok Negeri. Masing masing etnis tersebut

BAB I PENDAHULUAN. setiap etnis menebar diseluruh pelosok Negeri. Masing masing etnis tersebut 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia merupakan Negara yang kaya akan etnis budaya, dimana setiap etnis menebar diseluruh pelosok Negeri. Masing masing etnis tersebut memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terjadi sebuah perubahan. Perlawanan budaya merupakan sebuah perjuangan

BAB I PENDAHULUAN. terjadi sebuah perubahan. Perlawanan budaya merupakan sebuah perjuangan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perlawanan budaya merupakan perjuangan hak yang bertentangan agar terjadi sebuah perubahan. Perlawanan budaya merupakan sebuah perjuangan untuk melakukan perubahan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN. a. Kebudayaan sebagai proses pembangunan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN. a. Kebudayaan sebagai proses pembangunan BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN A. Tinjauan Pustaka 1. Kebudayaan a. Kebudayaan sebagai proses pembangunan Koentjaraningrat dalam Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan mendeskripsikan

Lebih terperinci

Pertemuan6 Peradaban; Wujud kebudayaan danunsur-unsur kebudayaan MATA KULIAH ANTROPOLOGI BUDAYA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MEDAN AREA

Pertemuan6 Peradaban; Wujud kebudayaan danunsur-unsur kebudayaan MATA KULIAH ANTROPOLOGI BUDAYA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MEDAN AREA Pertemuan6 Peradaban; Wujud kebudayaan danunsur-unsur kebudayaan MATA KULIAH ANTROPOLOGI BUDAYA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MEDAN AREA Kebudayaandan Peradaban Peradaban adalah suatu bentuk masayarakat

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN RELEVAN

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN RELEVAN BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN RELEVAN A. Landasan Teori 1. Kebudayaan Banyak orang mengartikan kebudayaan dalam arti yang terbatas yaitu pikiran, karya, dan semua hasil karya manusia yang memenuhi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tradisi merupakan aktivitas yang diturunkan secara terus-menerus dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tradisi merupakan aktivitas yang diturunkan secara terus-menerus dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tradisi merupakan aktivitas yang diturunkan secara terus-menerus dan mengandung nilai-nilai luhur. Aktivitas yang terdapat dalam tradisi secara turuntemurun

Lebih terperinci

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN PENDAHULUAN Manusia dalam hidup kesehariannya tidak akan lepas dari kebudayaan, karena manusia adalah pencipta dan pengguna kebudayaan itu sendiri. Hubungan yang erat antara manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari beragamnya kebudayaan yang ada di Indonesia. Menurut ilmu. antropologi, (dalam Koentjaraningrat, 2000: 180) kebudayaan adalah

BAB I PENDAHULUAN. dari beragamnya kebudayaan yang ada di Indonesia. Menurut ilmu. antropologi, (dalam Koentjaraningrat, 2000: 180) kebudayaan adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang memiliki keanekaragaman di segala aspek kehidupan. Keanekaragaman tersebut terlihat dari beragamnya kebudayaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dilestarikan dan dikembangkan terus menerus guna meningkatkan ketahanan

I. PENDAHULUAN. dilestarikan dan dikembangkan terus menerus guna meningkatkan ketahanan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara kesatuan yang memiliki beranekaragam kebudayaan. Budaya Indonesia yang beraneka ragam merupakan kekayaan yang perlu dilestarikan dan dikembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masyarakat dan kebudayaan merupakan hubungan yang sangat sulit dipisahkan. Sebab masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian

Lebih terperinci

Mata Kuliah Persepsi Bentuk

Mata Kuliah Persepsi Bentuk Modul ke: Mata Kuliah Persepsi Bentuk Pertemuan 11 Fakultas FDSK Ali Ramadhan S.Sn.,M.Ds Program Studi Desain Produk Grafis Dan Multimedia www.mercubuana.ac.id IDE Dalam dunia seni rupa umumnya dikenal

Lebih terperinci

kebudayaan Cina Peranakan bagi peneliti maupun pemba BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

kebudayaan Cina Peranakan bagi peneliti maupun pemba BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA untuk menambah wawasan dan pemahaman tentang museum Tjong A Fie serta kebudayaan Cina Peranakan bagi peneliti maupun pemba BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dalam Kamus Besar

Lebih terperinci

KEBUDAYAAN DAN MASYARAKAT Y E S I M A R I N C E, S. I P

KEBUDAYAAN DAN MASYARAKAT Y E S I M A R I N C E, S. I P KEBUDAYAAN DAN MASYARAKAT Y E S I M A R I N C E, S. I P Kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddhayah yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang kaya keanekaragaman seni dan budaya.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang kaya keanekaragaman seni dan budaya. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya keanekaragaman seni dan budaya. Kebudayaan lokal sering disebut kebudayaan etnis atau folklor (budaya tradisi). Kebudayaan lokal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dikaruniai berbagai kelebihan dibandingkan dengan ciptaan lainnya. Karunia itu

BAB I PENDAHULUAN. dikaruniai berbagai kelebihan dibandingkan dengan ciptaan lainnya. Karunia itu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dan dikaruniai berbagai kelebihan dibandingkan dengan ciptaan lainnya. Karunia itu berupa akal, cipta, rasa,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. buddayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal.

BAB I PENDAHULUAN. buddayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia dikenal sebagai Negara yang terdiri atas berbagai suku bangsa. Masing-masing suku bangsa memiliki warisan budaya yang tak ternilai harganya.kata budaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di Indonesia disatupadukan dari kebudayaan nasional dan kebudayaan. daerah. Kebudayaan nasional Indonesia merupakan puncak puncak

BAB I PENDAHULUAN. di Indonesia disatupadukan dari kebudayaan nasional dan kebudayaan. daerah. Kebudayaan nasional Indonesia merupakan puncak puncak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepulauan Nusantara terdiri atas aneka warna kebudayaan dan bahasa. Keaneka ragaman kebudayaan dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia disatupadukan dari kebudayaan

Lebih terperinci

TARI KREASI NANGGOK DI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SUMATERA SELATAN

TARI KREASI NANGGOK DI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SUMATERA SELATAN 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sumatera Selatan merupakan salah satu provinsi yang terletak di bagian selatan pulau Sumatera, dengan ibukotanya adalah Palembang. Provinsi Sumatera Selatan

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI TEORETIS DAN FOKUS PENELITIAN

BAB II DESKRIPSI TEORETIS DAN FOKUS PENELITIAN BAB II DESKRIPSI TEORETIS DAN FOKUS PENELITIAN A. Deskripsi Teoretis 1. Hakikat Tradisi dan Kebudayaan Tradisi adalah adat kebiasaan turun temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat.

Lebih terperinci

Blangkon gaya Yogyakarta ditinjau dari bentuk motif dan makna simbolisnya

Blangkon gaya Yogyakarta ditinjau dari bentuk motif dan makna simbolisnya Blangkon gaya Yogyakarta ditinjau dari bentuk motif dan makna simbolisnya Oleh Sarimo NIM: K3201008 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perjalanan peradaban bangsa Indonesia telah berlangsung dalam kurun

Lebih terperinci

Kain Sebagai Kebutuhan Manusia

Kain Sebagai Kebutuhan Manusia KAIN SEBAGAI KEBUTUHAN MANUSIA 1 Kain Sebagai Kebutuhan Manusia A. RINGKASAN Pada bab ini kita akan mempelajari kain sebagai kebutuhan manusia. Manusia sebagai salah satu makhluk penghuni alam semesta

Lebih terperinci

KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENGARAH

KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENGARAH 41 KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENGARAH Kerangka Berpikir Kebudayaan adalah sebuah pola dari makna-makna yang tertuang dalam simbol-simbol yang diwariskan melalui sejarah. Kebudayaan adalah sebuah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut sejarah, sesudah Kerajaan Pajajaran pecah, mahkota birokrasi

BAB I PENDAHULUAN. Menurut sejarah, sesudah Kerajaan Pajajaran pecah, mahkota birokrasi 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Menurut sejarah, sesudah Kerajaan Pajajaran pecah, mahkota birokrasi dialihkan oleh Kerajaan Sunda/Pajajaran kepada Kerajaan Sumedanglarang. Artinya, Kerajaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sastra memiliki kekhasan dari pengarangnya masing-masing. Hal inilah yang

BAB I PENDAHULUAN. sastra memiliki kekhasan dari pengarangnya masing-masing. Hal inilah yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Karya sastra merupakan suatu karya yang sifatnya estetik. Karya sastra merupakan suatu karya atau ciptaan yang disampaikan secara komunikatif oleh penulis

Lebih terperinci

KEBUDAYAAN: PELURUSAN ATAS PEMAKNAAN Oleh Sumaryadi Staf Pengajar pada FBS UNY

KEBUDAYAAN: PELURUSAN ATAS PEMAKNAAN Oleh Sumaryadi Staf Pengajar pada FBS UNY KEBUDAYAAN: PELURUSAN ATAS PEMAKNAAN Oleh Sumaryadi Staf Pengajar pada FBS UNY Pendahuluan Kebudayaan berkembang sejalan dengan perjalanan kehidupan manusia itu sendiri. Manusia merupakan satu-satunya

Lebih terperinci

MANUSIA DAN BUDAYA. A. MANUSIA 1. Pengertian Manusia. Ringkasan Tugas Ilmu Budaya Dasar:

MANUSIA DAN BUDAYA. A. MANUSIA 1. Pengertian Manusia. Ringkasan Tugas Ilmu Budaya Dasar: MANUSIA DAN BUDAYA Ringkasan Tugas Ilmu Budaya Dasar: A. MANUSIA 1. Pengertian Manusia Makhluk Yang Tidak Bisa Hidup Sendiri. Ilmu Filsafat Memandang Manusia Sebagai Makhluk Berbudaya Yang Diciptakan Tuhan

Lebih terperinci

KONSEP-KONSEP POKOK DALAM ANTROPOLIGI: KEBUDAYAAN

KONSEP-KONSEP POKOK DALAM ANTROPOLIGI: KEBUDAYAAN KONSEP-KONSEP POKOK DALAM ANTROPOLIGI: KEBUDAYAAN Oleh: Suyatno, Ir., MKes. KEBUDAYAAN??? KE BUDAYA AN BUDAYA Sosioantro 2 adaptasi tantangan manusia Alam : (REAKSI) KEBUDAYAAN Geografis, Geologis, Iklim,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan ungkapan kehidupan manusia yang memiliki nilai dan disajikan melalui bahasa yang menarik. Karya sastra bersifat imajinatif dan kreatif

Lebih terperinci

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (Alwi, dkk 2003: 588).

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (Alwi, dkk 2003: 588). BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Konsep adalah gambaran mental dari suatu objek, proses, atau apapun yang ada diluar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal

Lebih terperinci

Mata Kuliah Persepsi Bentuk

Mata Kuliah Persepsi Bentuk Modul ke: Mata Kuliah Persepsi Bentuk Pertemuan 11 Fakultas FDSK Nina Maftukha, S.Pd., M.Sn Program Studi Desain Produk www.mercubuana.ac.id IDE Dalam dunia seni rupa umumnya dikenal ada dua struktur,

Lebih terperinci

NILAI-NILAI SOSIAL DAN BUDAYA DALAM MITOS KIAI KALADETE TENTANG ANAK BERAMBUT GEMBEL DI DATARAN TINGGI DIENG KABUPATEN WONOSOBO SKRIPSI

NILAI-NILAI SOSIAL DAN BUDAYA DALAM MITOS KIAI KALADETE TENTANG ANAK BERAMBUT GEMBEL DI DATARAN TINGGI DIENG KABUPATEN WONOSOBO SKRIPSI NILAI-NILAI SOSIAL DAN BUDAYA DALAM MITOS KIAI KALADETE TENTANG ANAK BERAMBUT GEMBEL DI DATARAN TINGGI DIENG KABUPATEN WONOSOBO SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana

Lebih terperinci

2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS

2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Struktur masyarakat Indonesia yang majemuk menjadikan bangsa Indonesia memiliki keanekaragaman adat istiadat, budaya, suku, ras, bahasa dan agama. Kemajemukan tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maupun kehidupan sehari-hari. Seseorang dapat menggali, mengolah, dan

BAB I PENDAHULUAN. maupun kehidupan sehari-hari. Seseorang dapat menggali, mengolah, dan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karya sastra merupakan ungkapan pikiran dan perasaan, baik tentang kisah maupun kehidupan sehari-hari. Seseorang dapat menggali, mengolah, dan mengekspresikan gagasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kelompok atau lapisan sosial di dalam masyarakat. Kebudayaan ini merupakan suatu cara

BAB I PENDAHULUAN. kelompok atau lapisan sosial di dalam masyarakat. Kebudayaan ini merupakan suatu cara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehidupan manusia pada dasarnya dilatarbelakangi oleh adanya suatu sejarah kebudayaan yang beragam. Keberagaman yang tercipta merupakan hasil dari adanya berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Provinsi Riau adalah rumpun budaya melayu yang memiliki beragam

BAB I PENDAHULUAN. Provinsi Riau adalah rumpun budaya melayu yang memiliki beragam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Provinsi Riau adalah rumpun budaya melayu yang memiliki beragam suku, yang dapat di jumpai bermacam-macam adat istiadat, tradisi, dan kesenian yang ada dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini sudah memiliki kebudayaan dan karya sastra tersendiri.

BAB I PENDAHULUAN. ini sudah memiliki kebudayaan dan karya sastra tersendiri. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar yang terdiri atas berbagai suku yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Salah satunya adalah etnis Batak. Etnis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sejarah kehidupan manusia, kebudayaan selalu ada sebagai upaya dan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sejarah kehidupan manusia, kebudayaan selalu ada sebagai upaya dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam sejarah kehidupan manusia, kebudayaan selalu ada sebagai upaya dan kegiatan manusia untuk menguasai alam dan mengolahnya bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Kebudayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Suryohadiprojo (1982: ), rakyat Jepang pada dasarnya

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Suryohadiprojo (1982: ), rakyat Jepang pada dasarnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jepang adalah sebuah bangsa yang menyimpan keunikan pada hal kebudayaan. Kebudayaan Jepang dipengaruhi oleh karakteristik geografis negaranya serta mempunyai pengaruh

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. mengkaji karya sastra dengan cara menghubungkannya dengan aspek-aspek sosial

BAB 1 PENDAHULUAN. mengkaji karya sastra dengan cara menghubungkannya dengan aspek-aspek sosial BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sastra dengan sosiologi adalah dua bidang ilmu yang berbeda, tetapi mampu menjadi bidang ilmu baru yaitu sosiologi sastra. Sosiologi sastra berarti mengkaji karya sastra

Lebih terperinci

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN MODE BUSANA

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN MODE BUSANA SEJARAH DAN PERKEMBANGAN MODE BUSANA Dipresentasikan pada Pendidikan dan Latihan Tenaga Pendidik dan Penguji Praktek Menjahit Pakaian Wanita dan Anak se Jawa Barat Tanggal 19 Juli 2005 Oleh Dra. Arifah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki banyak suku, etnis dan budaya. Salah satunya adalah suku

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki banyak suku, etnis dan budaya. Salah satunya adalah suku BAB I PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Masalah Indonesia memiliki banyak suku, etnis dan budaya. Salah satunya adalah suku X di Kabupaten Papua yang menganut tradisi potong jari ketika salah seorang anggota

Lebih terperinci

TUGAS SENI BUDAYA ARTIKEL SENI RUPA

TUGAS SENI BUDAYA ARTIKEL SENI RUPA TUGAS SENI BUDAYA ARTIKEL SENI RUPA Nama : Muhammad Bagus Zulmi Kelas : X 4 MIA No : 23 SENI RUPA Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan

Lebih terperinci

b. Karya seni rupa tiga dimensi atau trimatra, contoh; patung, monumen, mebel. rumah, pesawat, sepatu, sandal, tas, dll.

b. Karya seni rupa tiga dimensi atau trimatra, contoh; patung, monumen, mebel. rumah, pesawat, sepatu, sandal, tas, dll. SENI RUPA 2 DIMENSI DAN 3 DIMENSI 1. PEMBAGIAN BERDASARKAN DIMENSI Pengertian dimensi adalah ukuran yang meliputi panjang, lebar, dan tinggi. Karya seni rupa yang hanya memiliki panjang dan lebar disebut

Lebih terperinci

UAS-Basic Culture Social Sciences

UAS-Basic Culture Social Sciences UAS-Basic Culture Social Sciences MANUSIA SEBAGAI MAHLUK BUDAYA Fungsi akal dan budi bagi manusia 1. Dua kekayaan manusia yang paling utama adalah akal dan budi 2. Muncul tuntutan hidup yang lebih daripada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan seloka. Sedangkan novel, cerpen, puisi, dan drama adalah termasuk jenis sastra

BAB I PENDAHULUAN. dan seloka. Sedangkan novel, cerpen, puisi, dan drama adalah termasuk jenis sastra 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra pada umumnya terdiri atas dua bentuk yaitu bentuk lisan dan bentuk tulisan. Sastra yang berbentuk lisan seperti mantra, bidal, pantun, gurindam, syair,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara kita adalah Negara yang memiliki beragam kebudayaan daerah dengan ciri khas masing-masing. Bangsa Indonesia telah memiliki semboyan Bhineka Tunggal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seorang manusia sebagai bagian dari sebuah komunitas yang. bernama masyarakat, senantiasa terlibat dengan berbagai aktifitas sosial

BAB I PENDAHULUAN. Seorang manusia sebagai bagian dari sebuah komunitas yang. bernama masyarakat, senantiasa terlibat dengan berbagai aktifitas sosial BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seorang manusia sebagai bagian dari sebuah komunitas yang bernama masyarakat, senantiasa terlibat dengan berbagai aktifitas sosial yang berlaku dan berlangsung

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Secara umum, kebudayaan memiliki tiga wujud, yakni kebudayaan secara ideal

I. PENDAHULUAN. Secara umum, kebudayaan memiliki tiga wujud, yakni kebudayaan secara ideal 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebudayaan dalam masyarakat tidak begitu saja ada dengan sendirinya. Kebudayaan itu sendiri merupakan sebuah hasil dari cipta, rasa dan karsa manusia yang diperoleh melalui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman budaya yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman budaya yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman budaya yang berbeda-beda dan mempunyai ciri khas yang unik di setiap daerahnya. Keanekaragaman budaya

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan 45 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara

Lebih terperinci

Contoh lukisan daerah Bali. Contoh lukisan daerah kalimatan

Contoh lukisan daerah Bali. Contoh lukisan daerah kalimatan Seni Rupa Murni Daerah Seni Rupa Murni Daerah adalah Gagasan manusia yang berisi nilai nilai budaya daerah tertentu yang diekspresikan melalui pola kelakuan tertentu dengan media titik, garis, bidang,

Lebih terperinci

BAB IV SISTEM SOSIAL 4.1 Pengantar 4.2 Sistem Sosial

BAB IV SISTEM SOSIAL 4.1 Pengantar  4.2 Sistem Sosial BAB IV SISTEM SOSIAL 4.1 Pengantar Kebudayaan merupakan proses dan hasil dari kehidupan masyarakat. Tidak ada mayarakat yang tidak menghasilkan kebudayaan, hanya saja kebudayaan yang dimiliki masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kenyataannya pada saat ini, perkembangan praktik-praktik pengobatan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kenyataannya pada saat ini, perkembangan praktik-praktik pengobatan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sistem pengobatan modern telah berkembang pesat di masa sekarang ini dan telah menyentuh hampir semua lapisan masyarakat seiring dengan majunya ilmu pengetahuan,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. sosialnya. Imajinasi pengarang dituangkan dalam bentuk bahasa yang kemudian

PENDAHULUAN. sosialnya. Imajinasi pengarang dituangkan dalam bentuk bahasa yang kemudian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Karya sastra merupakan imajinasi pengarang yang dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Imajinasi pengarang dituangkan dalam bentuk bahasa yang kemudian dinikmati oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. beberapa unsur. Unsur-unsur tersebut sengaja dipadukan pengarang dan dibuat

BAB I PENDAHULUAN. beberapa unsur. Unsur-unsur tersebut sengaja dipadukan pengarang dan dibuat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu bentuk karya sastra berupa novel. Novel dibangun melalui beberapa unsur. Unsur-unsur tersebut sengaja dipadukan pengarang dan dibuat mirip dengan dunia nyata

Lebih terperinci

Unsur - unsur potensi Fisik desa. Keterkaitan Perkembangan Desa & Kota

Unsur - unsur potensi Fisik desa. Keterkaitan Perkembangan Desa & Kota Geografi Pengertian Desa Kota Potensi Desa Kota Unsur - unsur potensi Fisik desa Keterkaitan Perkembangan Desa & Kota Sekian... Pengertian Desa... Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Emile Durkheim (dalam Salim, 2002:54-57) perubahan struktur masyarakat terbagi

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Emile Durkheim (dalam Salim, 2002:54-57) perubahan struktur masyarakat terbagi BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Perubahan Scial Budaya Menurut Emile Durkheim (dalam Salim, 2002:54-57) perubahan struktur masyarakat terbagi menjadi dua slidaritas, yaitu masyarakat dari berslidaritas mekanik

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. Kebudayaan berasal dari kata sansekerta budhayah, yaitu bentuk jamak

BAB II KAJIAN TEORI. Kebudayaan berasal dari kata sansekerta budhayah, yaitu bentuk jamak BAB II KAJIAN TEORI A. Kajian Pustaka 1. Kebudayaan Kebudayaan berasal dari kata sansekerta budhayah, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budhi atau akal. Kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang

Lebih terperinci

JURNAL SKRIPSI. MAKNA RITUAL DALAM PEMENTASAN SENI TRADISI REOG PONOROGO (Studi Kasus di Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo)

JURNAL SKRIPSI. MAKNA RITUAL DALAM PEMENTASAN SENI TRADISI REOG PONOROGO (Studi Kasus di Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo) JURNAL SKRIPSI MAKNA RITUAL DALAM PEMENTASAN SENI TRADISI REOG PONOROGO (Studi Kasus di Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo) SKRIPSI Oleh: DESI WIDYASTUTI K8409015 FAKULTAS KEGURUAN DAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan sehari-hari, kita ketahui terdapat beberapa jenis seni yang di

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan sehari-hari, kita ketahui terdapat beberapa jenis seni yang di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari, kita ketahui terdapat beberapa jenis seni yang di antaranya adalah Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari, dan Seni Teater. Beberapa jenis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terhadap suatu olahraga. Dapat dibuktikan jika kita membaca komik dan juga

BAB I PENDAHULUAN. terhadap suatu olahraga. Dapat dibuktikan jika kita membaca komik dan juga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Di Jepang terdapat bermacam-macam budaya, salah satunya adalah olahraga. Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki ketertarikan tinggi terhadap suatu olahraga.

Lebih terperinci

intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain yang semuanya bersifat imajinatif. Novel adalah karya fiksi yang

intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain yang semuanya bersifat imajinatif. Novel adalah karya fiksi yang 1 PENDAHULUAN Karya sastra adalah salah satu bentuk karya seni yang pada dasarnya merupakan sarana menuangkan ide atau gagasan seorang pengarang. Kehidupan manusia dan berbagai masalah yang dihadapinya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta buddhayah yang merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta buddhayah yang merupakan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berarti akal atau budi dan dapat diartikan sebagai hal-hal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. satu suku yang dapat ditemui di Sumatera bagian Utara yang ber-ibukota Medan.

BAB I PENDAHULUAN. satu suku yang dapat ditemui di Sumatera bagian Utara yang ber-ibukota Medan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pulau Sumatera merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia dan memiliki penduduk dengan beraneka ragam suku. Suku Batak merupakan salah satu suku yang dapat ditemui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. batas formal namun semua itu tidak begitu subtansial. Mitos tidak jauh dengan

BAB I PENDAHULUAN. batas formal namun semua itu tidak begitu subtansial. Mitos tidak jauh dengan 1 BAB I PENDAHULUAN E. Latar Belakang Mitos adalah tipe wicara, segala sesuatu bisa menjadi mitos asalkan disajikan oleh sebuah wacana. Mitos tidak ditentukan oleh objek pesannya, namun oleh bagaimana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bukan sekedar jumlah penduduk saja, melainkan sebagai suatu system yang

BAB I PENDAHULUAN. bukan sekedar jumlah penduduk saja, melainkan sebagai suatu system yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut pandangan yang popular, masyarakat dilihat sebagai kekuatan impersonal yang mempengaruhi, mengekang dan juga menentukan tingkah laku anggota-anggotanya.

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. antara keadaan sistem tertentu dalam jangka waktu berlainan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. antara keadaan sistem tertentu dalam jangka waktu berlainan. BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Kajian Pustaka 1. Perubahan Sosial Perubahan sosial dapat dibayangkan sebagai perubahan yang terjadi di dalam atau mencakup sistem sosial. Lebih tepatnya perbedaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Kebudayaan Indonesia sangat beragam. Pengaruh-pengaruh

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Kebudayaan Indonesia sangat beragam. Pengaruh-pengaruh 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebudayaan merupakan sistem nilai yang terkandung dalam sebuah masyarakat. Kebudayaan Indonesia sangat beragam. Pengaruh-pengaruh kebudayaan yang membentuk lapis-lapis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Koentjaraningrat (1947), wujud kebudayaan ada tiga macam: 1)

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Koentjaraningrat (1947), wujud kebudayaan ada tiga macam: 1) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebudayaan adalah keseluruhan aktivitas manusia, termasuk pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, dan kebiasaan kebiasaan lain. Menurut

Lebih terperinci

Bahan ajar handout Komunikasi Politik (pertemuan 3 dan 4 ) KOMUNIKASI POLITIK 1 Oleh: Kamaruddin Hasan 2

Bahan ajar handout Komunikasi Politik (pertemuan 3 dan 4 ) KOMUNIKASI POLITIK 1 Oleh: Kamaruddin Hasan 2 Bahan ajar handout Komunikasi Politik (pertemuan 3 dan 4 ) KOMUNIKASI POLITIK 1 Oleh: Kamaruddin Hasan 2 KOMUNIKASI SEBAGAI PROSES; SOSIAL dan BUDAYA Komunikasi Sebagai Proses Sosial Dalam hubungannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bima itu. Namun saat adat istiadat tersebut perlahan-lahan mulai memudar, dan

BAB I PENDAHULUAN. Bima itu. Namun saat adat istiadat tersebut perlahan-lahan mulai memudar, dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masyarakat Bima merupakan perpaduan dari berbagai suku, etnis dan budaya yang hampir menyebar di seluruh pelosok tanah air.akan tetapi pembentukan masyarakat Bima yang

Lebih terperinci