HUKUM PERDATA INTERNASIONAL

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HUKUM PERDATA INTERNASIONAL"

Transkripsi

1 HUKUM PERDATA INTERNASIONAL Dosen : 1. Dr. Ahmad M. Ramli, S.H., M.H. 2. Rika Ratna Permata, S.H. 3. M.Amirullah, S.H. MATERI PERKULIAHAN Antara lain meliputi: I. Pendahuluan. II. Langkah awal penyelesaian HPI. III. Menentukan lex causa bagi status personil. IV. Menentukan lex causa bagi benda. V. Menentukan lex causa bagi kontrak. VI. Menentukan lex causa bagi perbuatan melawan hukum. VII. Menentukan lex causa bagi bentuk formal atau perbuatan hukum VIII. Kedudukan hukum asing sebagai lex causa PENDAHULUAN Pengertian Hukum Perdata Internasional (HPI) berbicara tentang hukum perdata yang mengandung unsur asing (foreign elements). Suatu kasus akan menjadi kasus HPI apabila ada keterlibatan unsur asing (foreign elements) didalamnya. Walaupun kecil, HPI pada prinsipnya hanya sebagai kaidah penunjuk yaitu berkaitan dengan kaidah mana yang akan berlaku dalam suatu kasus (choice of law) dan juga pengadilan mana yang berhak untuk mengadili (choice of forum)(hpi menjawab choice of law dan choice of forum) Unsur-unsur asing tersebut diantaranya : 1

2 1. Subjek, 2. Tempat perbuatan dilakukan 3. Bendera kapal 4. choice of law ( dalam kontrak), dll HPI termasuk HATAH ekstern. Cotoh kasus HPI : Terjadi sengketa antara dua negara bagian Amerika Serikat, yaitu Kansas dengan Oklahoma. Dimana kedua negara bagian tersebut dilalui oleh jalur kereta api. Suatu ketika kereta api tersebut mengeluarkan percikan api sehingga membakar sebuah rumah di Oklahoma. Dalam hal ini maka peradilan yang memutuskan untuk menggunakan hukum yang paling menguntungkan korban. HPI hanya mempelajari aspek perdata Internasional (yang banyak menggunakan hukum privat). Contoh: kontak franchaise Mc Donald antara perusahaan AS dengan perusahaan Indonesia, disini yang menjadi topik bagi HPI karena melibatkan dua hukum, yaitu hukum AS dan hukum Indonesia. Prinsip-prinsip dalam HPI : 1. Preliminary topic (Perkara pendahuluan), misal; dalam hukum keluarga, dua orang WNI menikah di Berlin dan melahirkan anak di Indoonesia, suatu ketika keduanya bercerai. Anak dapat menentukan hak Aliementasi dengan melihat sah tidaknya pernikahan orang tuanya yang dilakukan di Jerman. 2. Recognition of vested right Masih berkaitan dengan kasus tersebut diatas maka anak tersebut dimanapun ia berada. Ia dapat menuntut hak Aliementasinya. 3. Qualificaion of fact Misalnya berkaitan dengan domisili, kewarganegaraan,dsb. 4. Qualification of law (Angka 3 dan 4 digunakan untuk menentukan titik taut sekunder, dengan kata lain maka untuk menenukan hukum mana yang diberlakukan maka ditentukan berdasarkan kualifikasi tersebut). 2

3 Perjanjian internasional bukan objek HPI. Berbeda dengan kontrak internasional, dimana perjanjian internasional lebih bersifat pulik (antar negara, ruang lingkup subjek HI) sedangkan HPI adalah hukum privat. Sumber Hukum Antara lain: 1. Hukum Nasional. Misalnya hukum yang berkaitan dengan - Penanaman modal asing. - Hak-hak atas tanah untuk orang lain. - The Protection for the well known Mark (perlindungan terhadap merk terkenal). - Perkawinan dengan WNA, dsb. 2. Hukum Internasional. Misalnya Konvensi Wina 1980,dsb Sumber Hukum itu dapat berupa : 1. Prinsip-prinsip hukum umum, 2. Kebiasaan 3. Perjanjian internasional 4. Peraturan Perundang-undangan 5. Yurisprudensi 6. Doktrin Penggolongan HPI : terdiri dari: 1. HPI yang bersifat substantif (materiil) Berhubungan denga peristiwa perdata (yaitu berkaitan dengan bagaimana aturanaturan hukumnya). Antara lain : Hukum Pribadi 3

4 - status personil - Kewarganegaraan (nationality) - Domisili - Pribadi, hukum/ badan hukum (corporation) Hukum Harta kekayaan (Law of Property) - Perikatan/ kontrak yang bersifat privat - Penyelewengan - Hukum yang bersifat materiil, benda-benda tetap, benda-benda lepas. - Hukum kekayaan imateriil. Contoh: HKI (Hak Kekayaan Intelektual) Hukum Keluarga - Perkawinan - Hubungan orang tua dengan anak - Pengangkatan anak - Perceraian - Harta perkawinan - Hukum waris 2. HPI yang bersifat Adjektif (formil) Berhubungan dengan beracara. Antara lain : 1. Kualifikasi 2. Persoalan pendahuluan 3. Penyelundupan hukum (mencari hukum yang lebih menguntungkan dengan menggunakan hukum yang tidak seharusnya digunakan) 4. pengakuan hak yang telah diperoleh 5. Ketertiban umum 6. Asas Timbal balik (resiprositas) 7. Penyesuaian (adaption) 8. Pemakaian hukum asing 9. Renvoi (penunjukan kembali kepada hukum asing) 4

5 10. Pelaksanaan putusan Hakim LANGKAH AWAL PENYELESAIAN PERKARA HPI Dalam HPI dikenal langkah awal dalam penyelesaian sengketa yang antara lain meliputi : 1. Titik taut primer 2. Kualifikasi 3. Titik taut Skunder Titik Taut Istilah asingnya - point of contract - connecting partner - aanknoping punten Titik taut adalah factor-faktor yang berguna untuk menentukan kaitan pokok perkara dengan sistem hukum kaidah hukum tertentu. Contoh titik taut : lex loci actus, lex rei sitae, locus contractus, locus solutionis. Ada 2 titik dalam mempelajari kasus-kasus HPI, antara lain : 1. Titik taut primer - (Atau titk taut pembeda) yaitu suatu ukuran yang menyatakan apakah perkara tersebut adalah perkara HPI atau bukan. - Titik taut primer adalah unsur-unsur yang menunjukan bahwa suatu peristiwa hukum merupakan HPI atau bukan. - Titik taut primer dapat berupa : Kewarganegaraan Bendera Tempat kedudukan badan hukum Domisili 2. Titik taut Sekunder Tempat kediaman, dll - Yaitu suatu ukuran yang menentukan hukum mana yang diberlakukan. 5

6 - Adalah factor-faktor yang menentukan berlakunya sistem hukum tertentu yang meliputi ; Pilihan hukum (choice of law) Tempat letaknya benda (lex sitae) Tempat dilaksanakannya perjanjian (lex loci solutionis) Tempat dilangsungkannya perkawinan (lex celebration) Tempat ditanda-tanganinya kontrak (lex contractus) Tempat terjadinya perbuatan melawan hukum (lex loci delicti commisi) Contoh kasus : Perkawinan Yuni Shara dan Siahaan di Australia. Titik taut primer : Dalam kasus ini dapat kita lihat bahwa telah dilakukan suatu perbuatan hukum (perkawinan) di Australia, maka merupakan kasus HPI. Titik taut sekunder : Berdasarkan hukum nasional maka secara materiil, maka perkawinan harus dilakukan berdasarkan KUHPdt. Berdasarkan hukum Australia maka secara materiil maupun formal harus diselesaikan dengan hukum Australia karena dilakukan dengan cara hukum Australia. Kualifikasi Adalah penggolongan peristiwa atau hubungan hukum kedalam kaidah-kaidah HPI dan hukum materiil. Sebagai contoh, misal; berkaitan dengan definifi domisili. Menurut hukum Indonesia, maka domisili diartikan sebagai tempat kediaman seharihari, sedangkan menurut hukum Inggris domisili diartikan sebagai domicilie of origin, domicie of independence dan domicile of choice. HPI mengenai 2 macam kualifikasi : 1. Kualifikasi hukum (qualification of law) 6

7 Yaitu penggolongan kaidah-kaidah hukum menurut kriteria yang telah ditentukan sebelumnya, misal: tidak memenuhi prestasi dalam suatu perjanjian maka dikategorikan sebagai breach of contract atau tort. 2. Kualifikasi fakta (qualfication of fact) Yaitu penggolongan fakta-fakta menjadi satu atau beberapa peristiwa hukum tertentu. Beberapa mengenai kualifikasi dalam HPI : 1. Kualifikasi menurut lex fori. Yaitu kualifikasi yang didasarkan pada hukum material Hakim. 2. Kualifikasi menurut lex cause. Yaitu kualifikasi yang dilakukan sesuai dengan sistem dan aturan-aturan sesuai sistem hukum yang bersangkutan. 3. Kualifikasi secara otonom. Yaitu kualifikasi yang didasarkan pada suatu perbandingan hukum. 4. Kualifikasi secara bertahap. Yaitu kualifikasi yang dilakukan melalui beberapa tingkatan, yaitu : a. Qualification erstern Grades; berdasarkan lex fori b. Qualification zwetten Grades; berdasarkan lex cause 5. Kualifikasi HPI. Memperhatikan tujuan HPI yang ditinjau dari latar belakang kepentingan HPI, yaitu: keadilan, ketertiban, kepastian hukum, dan kelancara pergaulan internasional. MENENTUKAN LEX CAUSE BAGI STATUS PERSONIL Pengertian Status Personil (menurut Sudargo Gautama) adalah kelompok kaidah-kaidah yang mengikuti seseorang dimanapun ia pergi. Status personil (menurut Purnadi Purbacaraka dan Agus Broto susilo) adalah kondisi atau keadaan suatu pribadi dalam hukum yang diberikan atau diakui untuk mengamankan dan melindung masyarakat dan lembaga-lembaganya. Dasar hukum status personil adalah pasal 16 AB. 7

8 Cara penentuan Status Personil : 1. Asas personalitas/ kewarganegaraan (lex patriae): - Berlaku hukum nasionalnya. - Dianut di Indonesia dan negara-negara Eropa Kontinental (Civil Law) 2. Asas teritorialitas/ domisili (lex domisili): - Tunduk pada hukum tempat dia berdomisili - Dianut di negara-negara Anglo Saxon (Common Law) Kewarganegaraan Menetapkan Kewarganegaraan seseorang merupakan hak mutlak suatu negara yang berdaulat. Kebebasan tersebut dibatasi oleh prinsip-prinsip umum Hukum Internasional mengenai Kewarganegaraan, yang berupa : konvensi-konvensi Internasional dan prinsip-prinsip yang secara Internasional diterima berkenaan dengan masalah Kewarganegaraan. Bentuk pembatasan: - Orang-orang yang tidak memiliki hubungan apapun dengan suatu negara tidak boleh dimasukan sebagai warga negara yang bersangkutan. - Suatu negara tidak boleh menentukan siapa-siapa yang merupakan warga negara suatu negara lain. Cara menentukan Kewarganegaraan : - Asas tempat kelahiran (ius soli). Kewarganegaraan seseorang ditentukan oleh tempat kelahirannya. - Asas keturunan (ius sanguinis). Kewarganegaraan seseorang ditentukan berdasarkan keturunannya (mengikuti orang tua). Kedua cara dapat menyebabkan terjadinya apatride, bipatride dan multipatride. Kewarganegaraan Indonesia diatur dalam UU No. 62 Tahun Yang dianggap WNI adalah : - Orang yang lahir dari seorang WNI (pasal 1 ayat (1)); asas sanguinis. 8

9 - Orang-orang yang lahir di wilayah RI, jika memenuhi persyaratan tertentu: ius soli secara terbatas. - Orang-orang yang berkehendak menjadi WNI dan memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditetapkan UU ini (proses naturalisasi). 9

10 Pencegahan apartride : - Pasal 1 sub e : menentukan bahwa seseoarang yang dilahirkan dengan ayah yang tidak berkewarganegaraan (staatless), maka kewarganegaraannya mengikuti kewarganegaraan ibunya, bila ibunya adalah WNI. - Pasal 1 sub f : bila kedua orang tuanya tidak dikenal atau tidak diketahui, maka anak tersebut dianggap sebagai WNI. - Pasal 1 sub g : anak yang ditemukan di wilayah RI maka anak tersebut dianggap sebagai WNI. - Pasal 1 sub h : bila kedua orang tuanya tidak memiliki kewarganegaraan maka anaknya merupakan WNI. Pencegahan bipatride - Ketentuan khusus UU No. 62 Tahun Undang-undang No. 2 tahun 1958 Tentang Perjanjian Bilateral RI- China tentang Kewarganegaraan keturunan cina, dimana sejak tanggal 20 Januari 1962 sudah dihapuskan dwi-kewarganegaraan WNI dan keturunan China. Asas kewarganegaraan seseorang ditentukan oleh tempat kelahiran. Cara perolehan dan hilangnya Kewarganegaraan dibahas dalam HTN dan HAN. Domisili Adalah negara/ tempat menetap menurut hukum dianggap sebagai pusat kehidupan seseorang (center of his life) Sistem hukum Inggris mempunyai keistimewaan dengan adanya 3 macam domisili : 1. Domicilie of origin (DO) 2. Domicilie of choice (DC) 3. Domicilie by operatian of law (DL) Ad 1): Domicilie of origin (DO) 10

11 Diperoleh seseorang pada waktu kelahirannya. Bagi anak sah maka DO-nya adalah negara dimana tempat ayahnya berdomisili pada saat dilahirkan. Bagi anak tidak sah, domisili ibunya lah yang menjadi DO-nya. Bila sang ayah memiliki DC, maka yang menjadi domisili sang anak adalah DC ayahnya. Konsep DO yang dianut Inggris menyerupai konsepsi kewarganegaraan, karena dimanapun ia berada, hukum yang berlaku adalah hukum tempat ia berasal. Ad 2): Domicilie of Choice (DC) Sistem hukum Inggris memerlukan 3 syarat untuk memilliki DC : 1. kemampuan (capacity) 2. tempat kediaman (residence) 3. hasrat atau itikad (intention) (Angka 1 dan 2 merupakan cakupan domisili menurut Eropa Kontinental, menurut Inggris sama dengan Habitual residence). Doctrine of revival (Inggris); jika seseorang melepaskan domisili semula tapi tidak mendapatkan domisili lainnya, maka DO-nyalah yang hidup kembali. Ad 3): Domicilie by Operation of the Law (DL) Adalah domisili yang dimiliki oleh pribadi-pribadi yang tergantung pada domisili orang lain (dependent). Ex : anak yang belm dewasa, Wanita yang berada dalam perkawinan, Orang-orang berada dalam pengampuan. Dalam hukum adat kita, maka istilahnya adalah keterikatan batin manusia dengan tanahnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan mengenai domisili menurut ketentuan Inggris : - Setiap orang harus memiliki domisili. - Hanya satu domisili untuk setiap orangnya. - Penentuan domisili seseorang dalam HPI di Inggris ditentukan oleh hukum Inggris (lex fori). 11

12 Masalah Hukum Masalah Hukum yang berlaku bagi status personil orang, meliputi : 1. Hukum perkawinan 2. Harta benda perkawinan 3. Peceraian 4. Perwalian anak 5. Wewenang Hukum 6. Nama Ad 1): Hukum perkawinan Ada 2 syarat yang harus dipenuhi sehingga dapat dikatakan bahwa perkawinan termasuk dalam bahasan status personil : 1. Syarat materiil Berkaitan dengan masalah kewenangan, syarat-syarat yang bersifat mutlak yang dapat menjadikan suatu perkawinan menjadi batal atau dapat dibatalkan. Kewenangan seseorang untuk menikah ditentukan oleh hukum nasionalnya. 2. Syarat fomil Berkaitan dengan upacara perkawinan. Dilakukan menurut ketentuan-ketentuan hukum setempat. (lex loci celebrationis). Jika terjadi perbedaan kewarganegaraan maka hukum yang berlaku adalah hukum suami. Ad 2): Harta benda perkawinan Jika terdapat kewarganegaraan yang sama antara suami dan istri, maka yang berlaku adalah hukum nasional, tetapi jika keduanya berbeda kewarganegaran maka yang berlaku ialah hukum nasional suami. Ad 3): Peceraian Ada 3 pendapat : 12

13 1. Apabila salah satu dari mempelai adalah warga negara asli, maka diakui perceraian yang diucapkan oleh Hakim dari negara dan tempat tinggal dari pihak mempelai yang bukan warga negara. 2. Jika jika keduanya warga negara asli, maka keputusan cerai yang diperoleh diluar atas dasar yang tidak dikenal dalam hukum nasional warga negara tersebut sulit untuk diakui. 3. Jika keduanya merupakan warga negara asli, tetapi salah satu diantara mereka bipatride, maka diakuilah perceraian dalam negara asing tersebut apabila kewarganegaraan itu merupakan yang efektif. Ad 4): Perwalian anak Jika berkenaan dengan renvoi, yang berlaku adalah hukum di mana anak itu berasal (nasionalitas si anak). Perwalian atas anak yang belum dewasa, yang berlaku adalah hukum dari kedua orang tuanya. Ad 5): Wewenang hukum Kemampuan atau ketidakmampuan seseorang untuk bertindak dalam hukum diatur oleh hukum nasional yang bersangkutan. Ad 6): Nama Untuk mengganti nama keturunanmaka ada 2 pendaat : 1. Yang berlaku adalah asas nasionalitas dari orang tua anak yang namanya diganti. 2. Asas domisili, yaitu berdasarkan pada tempat kediaman orang tua dan anak. Renvoi Timbul apabila hukum asing yang ditunjuk oleh lex fori menunjuk kembali kearah lex fori atau kepada hukum asing yang lain. Renvoi hanya dapat dilakukan satu kali. 13

14 Lex Cause Bagi Status Personil Badan Hukum Negara yang menganut Common law system meniitikberatkan pada hukum dari negara tempat didirikannya badan hukum tersebut. (place of incorporation) Negara yang menganut civil law system menitikberatkan pada hukum dimana kantor pusat manajemen beroprasi. Sebagai titik taut penentu (menurut Sudargo) : 1. Teori inkorporasi 2. Teori tentang tempat kedudukan secara statutair bahwa hukum yang berlaku adalah hukum yang ditentukan oleh statuen mengenai tempat kedudukannya. 3. Teori tentang tempat kedudukan manajemen yang efektif (pusat beroperasi) MENENTUKAN LEX CAUSE BAGI BENDA Lex rei sitae mempunyai arti bahwa perkara-perkara yang menyangkut benda-benda tidak bergerak (unmoveable) tunduk pada hukum dari tempat dimana benda itu berada/ terletak. Dasar hukum asas lex rei sitae adalah pasal 17 AB. Untuk benda bergerak maka sebelumnya tunduk pada asas mobilia personan sequuntur, yaitu benda-benda bergerak mengikuti status orang yang menguasainya. Namun selanjutnya benda bergerak pun akan berlaku asas Lex rei sitae. Pengecualian berlakunya asas lex rei sitae: Terhadap benda bergerak tidak berlaku jika : - Hukum dari pemegang hak atas benda tersebut tidak berkewarganegaraan.(asas nasionalitas). - Hukum dari tempat pemegang hak atas benda tidak berdomisili (asas domisili). - Bukan hukum dari tempat benda terletak (bukan lex situs). Terhadap benda tidak berwujud, tidak berlaku jika : 14

15 - Kreditur atau pemegang hak atas benda tidak berkewarganegaraan. (lex patriae atau lex domisili). - Gugatan atas benda itu tidak diajukan (lex fori). - Tidak ada perbuatan perjanjian hutang piutang (khusus untuk perjanjian utang-piutang (lex loci contractus) - Yang sistem hukumnya tidak dipilih oleh para pihak dalam perjanjian yang menyangkut benda-benda itu (choice of law). - Tidak ada yang memiliki kaitan yang paling nyata dan substansial terhadap transaksi yang menyangkut benda tersebut (the most substantial connection). - Pihak yang prestasinya dalam perjanjian tentang benda yang bersangkutan tidak tampak paling khas dan karakteristik (the most characteristic connection). Berkaitan dengan hukum mana untuk benda, maka HPI mengenal dua asas utama yang menetapkan kualifikasi itu harus berdasarkan : 1. Hukum dari tempat gugatan atas benda itu diajukan (lex fori). 2. Hukum dari tempat benda itu berada/ terletak (lex situs). MENENTUKAN LEX CAUSE BAGI CONTRACT Menentukan Hukum yang berlaku (lex cause) bagi kontrak, meliputi : 1. Pilihan hukum (Choice of law). 2. Hukum yang berlaku menurut lex loci contractus. 3. Hukum yang berlaku menurut lex loci solutionis. 4. Hukum yang berlaku menurut the proper law of the contract. 5. The most characteristic connection. The proper law of contract (menurut Chesire) adalah hukum apa yang harus diberlakukan untuk mengatur masalah-masalah yang ada dalam suatu kontrak. Untuk menentukan The proper law of contract, maka berlaku asas-asas hukum, yaitu : 1. Asas lex loci contractus 2. Asas lex loci solutionis 15

16 3. Asas kebebasan para pihak (dasar hukum bagi kita adalah 1338 KUHpdt) Pembatasan terhadap pilihan hukum: 1. Bila Pilihan hukum dimaksudkan hanya untuk membentuk dan menafsirkan persyaratan-persyaratan dalam kontrak, maka kebebasan para pihak pada dasarnya tidak dibatasi. 2. Pilihan hukumnya tidak boleh melanggar publict policy atau publict order (ketertiban umum) dari sistem-sistem hukum yang mempunyai kaitan yang nyata dan substansial. 3. Pilihan hukum hanya dapat dilakukan terhadap suatu sistem hukum yang berkaitan secara substansial dengan kontrak. 4. Pilihan hukum tidak boleh dimaksudkan sebagai usaha menundukan seluruh kontrak atau bagian tertentu dari kontrak mereka pada suatu sistem hukum asing, sekedar untuk menghindarkan diri dari suatu kaidah hukum yang memaksa dari sistem hukum yang seharusnya berlaku seandainya tidak ada pilihan hukum (penyuludupan hukum/ fraus legis). 5. Pilihan hukum hanya dapat dilakukan untuk mengatur hak dan kewajiban yang timbul dari kontrak. 6. Pilihan hukum ke arah suatu sistem hukum tertentu harus dipahami sebagai pemilihan ke arah kaidah-kaidah hukum intern dari sistem hukum yang bersangkutan. The most characteristic connection adalah suatu asas yang menentukan bahwa yang menjadi the prope law of contract adalah sistem hukum yang dianggap memberi sistem prestasi yang khas dalam suatu jenis kontrak tertentu, misal; dalam kontrak jual-beli maka hukum penjual dianggap lebih kuat (center of grafity). Sehingga hukum penjuallah yang digunakan. MENENTUKAN LEX CAUSE BAGI PERBUATAN MELAWAN HUKUM Perbuatan melawan hukum yang diatur dalam pasal 1365 KUHPdt, adapun dikatakan perbuatan hukum, apabila mengandung unsur : 1. adanya perbuatan yang mengandung kesalahan. 16

17 2. adanya kerugian. 3. adanya hubungan causal antara perbuatan dan kerugian. Berkaitan dengan perbuatan melawan hukum maka terdapat beberapa prinsip : 1. Prinsip lex loci delicti commissi 2. Prinsip lex fori 3. Prinsip kombinasi antara lex loci dengan lex fori 4. Prinsip lex loci delicti dengan pelembutan. Ad 1): Prinsip lex loci delicti commissi Bahwa hukum yang berlaku bagi perbuatan melawan hukum adalah dimana perbuatan hukum tersebut dilakukan atau terjadi. Alasan-alasan prinsip ini; antara lain : 1. Alasan dipermudahnya menemukan hukum. 2. Alasan perlindungan harapan sewajarnya bagi khalayak ramai Masyarakat suatu negara ingin memakai produk hukum nasional negaranya. 3. Alasan preventive Oleh pembuat hukum agar perbuatan melawan hukum tersebut tidak dilakukan. 4. Alasan demi kepentingan si pelanggar. Bahwa apa yang dipandang sah oleh hukum suatu negara tidak akan dianggap tidak sah oleh hukum negara lain. 5. Alasan alasan Uniformitas keputusan. Akan menciptakan harmonisasi dari keputusan-keputusan. Alasan-alasan kontra prinsip ini, antara lain : 1. Tidak sesuainya hard and fast rule. Dalam penemuan hukumnya maka Hakim akan cendenrung tidak memperhatikan segala segi kehidupan hukum yang beraneka ragam dan fakta-fakta realitas kehidupan sekitar peristiwa yang bersangkutan (werktuiglijk). 2. Perlindungan harapan publik. Bahwa kita tidak dapat mengatakan harapan itu harus dilindungi manakala belum ada kepastian hukum mengenai hukum yang akan diberlakukan. 17

18 3. Prevensi yang relatif. 4. Tidak ada kesatuan Universal. Bahwa prinsip ini tidak diakui secara universal. 5. Sukarnya penentuan locus. 6. Tidak sesuai dengan milleu sosial. 18

19 Ad 2): prinsip lex fori Bahwa penentuan kualitas suatu perbuatan hukum sebagai perbuatan melawan hukum harus ditentukan oleh forum hukum. Hal ini disebabkan karena kaidah-kaidah yang mengatur perbuatan melawan hukum dan akibatnya yaitu ganti kerugian yang sifatnya memaksa. Ad 3): prinsip kombinasi antara lex loci dan lex fori Harus memenuhi 2 syarat : 1. Actionality Yaitu seorang penggugat si Pengadilan Negeri harus dapat membuktikan bahwa tindakan penggugat merupakan suatu perbuatan yang membawa kewajiban untuk memberikan ganti kerugian. 2. Justifiability Yaitu perbuatan yang dipersengketakan harus juga merupakan perbuatan yang melanggar hukum ditempat dimana perbuatan tersebut dilaksanakan. Ad 4): Prinsip lex loci delicti dengan pelembutan Merupakan prinsip lex loci commissi yang tidak diberlakukan secara kaku, melainkan dapat dilakukan perubahan seperlunya dalam pengevaluasian beratnya titiktitik taut yang bersangkutan. Cara menentukan tempat (locus) suatu perbuatan melawan hukum, ada beberapa teori : 1. Tempat terjadinya kerugian. 2. Tempat dilakukannya perbuatan. 3. Kombinasi dengan kebebasan memilih, Yaitu korban dapat memilih hukum manakah yang akan diterapkan. MENENTUKAN LEX CAUSE BAGI BENTUK FORMAL SUATU PERBUATAN HUKUM 19

20 Asas yang berlaku bagi bentuk formil suatu perbuatan hukum adalah locus regit actum. Bentuk formil dari perbuatan hukum merupakan sebagai sifat-sifat lahiriah yang harus dipenuhi waktu dilakukannya perbuatan-perbuatan hukum dan yang menentukan pada umumnya apakah perbuatan yang bersangkutan telah dilakukan secara sah atau tidak. Dasar hukum asas tersebut adalah pasal 18 AB : Bentuk dari tiap perbuatan ditentukan menurut hukum dari negara atau tempat, dimana perbuatan itu dilakukan. Suatu contoh pemakaian prinsip locus regit actum oleh pembuat UU BW Indonesia, dapat kita lihat dari pasal 183 BW : Perkawinan dari Warga Negara Indonesia di luar negeri, berlaku jika mengenai vormnya sesuai dengan lex loci celebrationis. Asas locus regit actum memiliki fungsi sosial : 1. Memberikan perlindungan kepada masyarakat pada umumnya (kepentingan umum tidak dapat dikorbankan demi kepentingan individu). 2. Perlindungan terhadap individu. Pengecualian berlakunya asas locus regit actum : 1. Apabila bertentangan dengan ketertiban umum. 2. Untuk semua peraturan tentang bagaimana perbuatan-perbuatan itu harus dilakukan dihadapan atau dengan bantuan pejabat-pejabat negara (terhadap kaidah-kaidah yang bersifat publik dan juga perdata). Dalam hal ini yang berlaku adalah hukum dari negara yang pejabat-pejabatnya diikutsertakan dalam perbuatan-perbuatan yang bersangkutan (lex magistratus). 3. Jika sifat dari perbuatan hukum tersebut bertentangan dengan hukum negara setempat, maka hukum negara setempat akan diabaikan. Contoh : pada benda tidak bergerak berlaku asas lex rei sitae, maka apabila terdapat perbuatan yang bertujuan untuk menciptakan, mengalihkan, mengubah atau menghapuskan hak-hak milik atau kebendaan atas benda-benda tidak bergerak, 20

21 maka yang berlaku adalah hukum dimana benda-benda tidak bergerak itu berada tanpa memperhatikan apakah yang memiliki hak itu orang asing atau bukan. 4. Apabila hukum nasional dari pihak yang melakukan penentangan dipakainya asas lex loci actus, maka lex loci actus tersebut tidak boleh digunakan. KEDUDUKAN HUKUM ASING SEBAGAI LEX CAUSA Ada beberapa dasar teoritis yang menjadi dasar bagi berlakunya hukum asing, yaitu antara lain : 1. Hukum asing ini dianggap sebagai suatu fakta, sebagai suatu hal yang seperti juga fakta-fakta lainnya, harus didalilkan dan dibuktikan dalam suatu perkara perdata. 2. Hukum asing ini dianggap sebagai suatu hukum (law/ recht), yang oleh Hakim harus dipergunakan secara karena jabatan (lex officio). 3. Hukum asing ini dimasukkan dalam lex fori dan karenanya dianggap menjadi bagian daripada lex fori (menurut teori inkorporasi atau resepsi, maka hukum asing ini harus dipergunakan karena jabatan). Pada pokoknya keputusan-keputusan luar negeri tidak dapat dilaksanakan (not enforceable) di Indonesia. Perdapat tersebut merupakan perwujudan asas kedaulatan territorial (principle of territorial souvereignity). Demikian bahwa perlu adanya suatu persetujuan internasional untuk dapat melaksanakan suatu hukum asing dalam suatu negara/ lex fori atau juga dengan penerapan prinsip resiprositas. Adapun ketentuan hukum yang menjadi dasar hukum bagi penerapan prinsip tersebut diatas adalah pasal 22a A.B., yang menyatakan bahwa kompetensi Pengadilan dan pelaksanaan keputusan-keputusan serta akta-akta otentik dibataskan oleh prinsip-prinsip yang dikenal dalam hukum antar bangsa. Pelaksanaan dari keputusan-keputusan asing hanya akan dimungkinkan jika disesuaikan dengan prinsip territorial sebagaimana tersirat diatas. Ketentuan lainnya adalah pasal 436 R.V. : Kecuali dalam hal-hal yang ditentukan oleh pasal 724 WvK dan lain-lain perundangundangan, tidak dapat dilaksanakan keputusan-keputusan yang diucapkan oleh Hakim- Hakim asing atau Pengadilan-pengadilan asing di Indonesia di dalam wilayah RI. 21

22 Tidak semua keputusan dapat dilaksanakan di Indonesia, kebanyakan ahli hukum berpendapat bahwa pada umumnya keputusan-keputusan yang bersifat deklaratoir dan konstitutif dapat diakui dalam wilayah RI, karena keputusan-keputusan tersebut tidak memerlukan pelaksanaan. Berkenaan dengan keputusan arbitrase, maka ketentuan yang mengaturnya adalah New York Convention 1958, yang selanjutnya bagi Indonesia sendiri pengaturannya diatur lebih lanjut dalam Keppres No. 34 Tahun Adapun yang berwenang menangani eksekusi adalah Pengadilan Jakarta Pusat. Hak-hak yang Telah Diperoleh Hak-hak yang telah diperoleh merupakan terjemahan langsung dari istilah yang dipergunakan dalam ilmu Bahasa Belanda verkregen rechten, dalam Bahasa Perancis dipergunakan istilah droit acquits, dalam Bahasa Jerman dipergunakan istilah wohlerworbene Rechte, dan dalam Bahasa Inggris dinamakan vested rights atau acquired rights. Istilah lain dalam Bahasa Indonesia diantaranya adalah pelanjutan keadaan hukum. Yang menjadi dasar hukum bagi pengakuan terhadap hak-hak yang telah diperoleh adalah tersirat dalam pasal 3 dan 16 A.B. engenai prinsip nasionalitas dan pasal 17 A.B. mengenai asas lex rei sitae. Sudargo berpendapat bahwa kita menjadi penganut teori vested rights yang qualified, artinya tidak dianut lagi secara mutlak, melainkan terbatas. Hukum Asing Sebagai Fakta Hukum luar negeri sebagai fakta belaka (non legal fact) dianut dalam negara-negara Anglo Saxon. Mengandung konsekuensi bahwa terhadap hukum asing tersebut harus didalilkan/ disebutkan dalam gugatan pihak yang berperkara dan kemudian harus dibuktikan bahwa hukum asing ini benar-benar adalah fakta dalam perkara tersebut. sebagai konsekuensi lain dari hukum luar negeri sebagai fakta adalah bahwa dengan demikian maka hukum domestik sajalah yang dianggap sebagai hukum. 22

23 Hukum Asing Sebagai Hukum Hukum luar negeri sebagai suatu hukum dianut dalam negara-negara Eropa Kontinental. Hukum sebagai hukum mengandung konsekuensi : - Tidak perlu diadakan pembuktian lagi, karena Hakim harus mempergunakan hukum asing tersebut karena jabatannya (ex officio), meskipun pemakaian hukum asing itu tidak didalilkan atau dibuktikan oleh pihak-pihak yang berperkara. - Hukum asing tersebut diperkenankan untuk diajukan pertama kali pada tingkat kasasi. Apabila Hakim tidak dapat menentukan isi daripada hukum asing, ada empat kemungkinan yang dapat dilakukan Hakim, yaitu : 1. Hakim dapat mempergunakan lex fori. - Paling banyak dianut, baik di negara yang menganggap hukum asing sebagai fakta maupun sebagai hukum. 2. Hakim mempergunakan suatu sangkaan hukum (rechts vermoeden) bahwa hukum asing bersangkutan adalah sama dengan lex fori. - Merupakan pemakaian lex fori secara tidak langsung. - Negara-negara Anglo Saxon pada umumnya membatasi fictie bahwa hukum asing adalah sama dengan lex fori pada negara-negara common law. 3. Hakim mempergunakan hukum asing yang paling berdekatan dengan hukum asing bersangkutan. - Hukum dari sister state atau hukum dari negara yang termasuk dalam family hukum yang bersamaanlah yang dipergunakan. 4. Hakim secara mudah mengalahkan pihak yang telah mendalilkan pemakaian hukum asing ini (gugatan ditolak). - Tidak memenuhi rasa keadilan. - Yang menjadi dasar pemikiran konsepsi ini adalah bahwa hukum asing ini dipandang sebagai fakta, dalam hal para pihak tidak berhasil membuktikannya, maka ia akan dikalahkan. 23

24 Konsekuensi lainnya dalam hal hukum asing sebagai hukum adalah berkaitan dengan kasasi, yang dalam hal ini maka konsepsi hukum asing sebagai hukum telah membuka pintu untuk kasasi. Tetapi kebanyakan negara-negara Eropa Kontinental tidak menerimanya dengan alasan bahwa lembaga kasasi ini hanya dimaksudkan untuk membentuk dan mempertahankan kesatuan interpretasi daripada lex fori. Pengecualian berlakunya hukum asing : 1. Ketertiban umum 2. Penyelundupan hukum 3. Penyesuaian 4. Asas timbal balik dan pembalasan. Kasus White Sugar (Lihat : Catatan Kuliah Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional Arbitrase Dagang Internasional/ Arbitrase Komersial) Analisis dan Komentar : - Dari awal, maka kontrak tersebut tidak sah karena tidak memenuhi salah satu ketentuan mengenai sahnya perjanjian (Pasal 1320 KUHPerdata), yaitu suatu sebab yang halal (tepatnya terhadap causa yang dilarang Undang-undang). - Syarat suatu sebab yang halal merupakan syarat objektif, sehingga tidak dipenuhinya syarat ini menyebabkan perjanjian batal demi hukum. - Baik Pengadilan Indonesia maupun Pengadilan Inggris tidak berwenang untuk mengadili perkara, karena yang berwenang adalah Badan Arbitrase Gula. - Badan Arbitrase Gula tetap berwenang meskipun perjanjian batal demi hukum, karena terhadap klausul arbitrase berlaku asas severability. - Putusan arbitrase asing yang bertentangan dengan kepentingan umum tidak dapat dilaksanakan di Indonesia. - Dasar hukum Peraturan MA No. 1 Tahun 1990; UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration Pasal 36 ayat (1) b, bagian II Konvensi New York Tahun 1958 pasal V ayat (2) b. 24

25 - Kesimpulan; ketika vested rights bertabrakan dengan public policy, maka yang menang (didahulukan) adalah public policy. 25

26 REFERENSI - Dasar-dasar Hukum Perdata Internasional, oleh Bayu Setio, SH. LL.M. - Hukum Perdata Indonesia Buku I s/d VIII, oleh Prof. Dr. M. Sudargo Gautama. - Sendi-sendi Hukum Perdata Internasional Suatu Pengantar, oleh : Purnadi Purbacaraka, SH. dan Agus Brotosusilo, SH. - Dll. 26

STATUS PERKAWINAN INTERNASIONAL DAN PERJANJIAN PERKAWINAN. (Analisis Kasus WNI Yang Menikah Dengan Warga Negara Prancis di Jepang)

STATUS PERKAWINAN INTERNASIONAL DAN PERJANJIAN PERKAWINAN. (Analisis Kasus WNI Yang Menikah Dengan Warga Negara Prancis di Jepang) STATUS PERKAWINAN INTERNASIONAL DAN PERJANJIAN PERKAWINAN (Analisis Kasus WNI Yang Menikah Dengan Warga Negara Prancis di Jepang) A. Latar Belakang Masalah Seorang WNI menikah dengan warga Negara Prancis

Lebih terperinci

Materi Diskusi Perkumpulan Gemar Belajar (GEMBEL) Hukum Internasional Lanjutan

Materi Diskusi Perkumpulan Gemar Belajar (GEMBEL) Hukum Internasional Lanjutan Hukum Perdata Internasional Jum at, 10 Maret 2017 Materi Diskusi Perkumpulan Gemar Belajar (GEMBEL) Hukum Internasional Lanjutan Pembicara :HendraSiahaan (2013) SaraiBangun (2013) Pemateri : Herman Gea

Lebih terperinci

Kualifikasi. All images:internet s Archives. Hukum Perdata Internasional Kelas D

Kualifikasi. All images:internet s Archives. Hukum Perdata Internasional Kelas D Kualifikasi All images:internet s Archives Hukum Perdata Internasional Kelas D 1 FOKUS BAHASAN DEFINISI KUALIFIKASI J E N I S T E O R I KUALIFIKASI JENIS KUALIFIKASI Aanknopingspunten (Ned) Momenti di

Lebih terperinci

HPI PILIHAN HUKUM PERTEMUAN IX. By Malahayati, SH., LLM

HPI PILIHAN HUKUM PERTEMUAN IX. By Malahayati, SH., LLM HPI 1 PILIHAN HUKUM PERTEMUAN IX By Malahayati, SH., LLM TOPIK 2 PENGERTIAN CARA PILIHAN HUKUM LEX MERCATORIA LEX LOCI CONTRACTUS TEORI PENGERTIAN 3 Pada prinsipnya hukum yang berlaku di dalam kontrak

Lebih terperinci

HUKUM PERDATA INTERNASIONAL

HUKUM PERDATA INTERNASIONAL HUKUM PERDATA INTERNASIONAL oleh Moch Najib Imanullah, SH, MH, Ph.D. Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Buku wajib 1 Bayu Seto Dasar-dasar Hukum Perdata Internasional : Pengertian, masalah pokok

Lebih terperinci

HUKUM PERDATA INTERNASIONAL

HUKUM PERDATA INTERNASIONAL HUKUM PERDATA INTERNASIONAL I Nyoman Ngurah Suwarnatha, S.H., LL.M. 9/18/2012 3:21 PM Ngurah Suwarnatha 1 Pendahuluan dan Definisi HPI HPI merupakan bagian daripada hukum nasional. Istilah internasional

Lebih terperinci

WARGANEGARA DAN KEWARGANEGARAAN

WARGANEGARA DAN KEWARGANEGARAAN WARGANEGARA DAN KEWARGANEGARAAN DASAR HUKUM Pasal 26 UUD 1945 UU no 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan KEWARGANEGARAAN Keanggotaan seseorang dalam satuan politik tertentu (secara khusus: negara) yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. istri, tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat. Perkawinan

BAB I PENDAHULUAN. istri, tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat. Perkawinan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan merupakan suatu peristiwa penting dalam kehidupan manusia, karena perkawinan tidak saja menyangkut pribadi kedua calon suami istri, tetapi juga

Lebih terperinci

SILABUS NAMA MATA KULIAH : HUKUM PERDATA INTERNASIONAL STATUS MATA KULIAH : WAJIB KONSENTRASI KEPERDATAAN KODE MATA KULIAH : HKI4004

SILABUS NAMA MATA KULIAH : HUKUM PERDATA INTERNASIONAL STATUS MATA KULIAH : WAJIB KONSENTRASI KEPERDATAAN KODE MATA KULIAH : HKI4004 SILABUS A. IDENTITAS MATA KULIAH NAMA MATA KULIAH : HUKUM PERDATA INTERNASIONAL STATUS MATA KULIAH : WAJIB KONSENTRASI KEPERDATAAN KODE MATA KULIAH : HKI4004 JUMLAH SKS : 2 (DUA) PRASYARAT : Seluruh Mata

Lebih terperinci

SILABUS DAN SATUAN ACARA PERKULIAHAN

SILABUS DAN SATUAN ACARA PERKULIAHAN SILABUS DAN SATUAN ACARA PERKULIAHAN Nama Mata Kuliah : HUKUM PERDATA INTERNASIONAL Bobot sks : 2 sks Tim Penyusun : 1. Afifah Kusumadara, SH. LL.M. SJD. 2. Djumikasih SH. M.Hum. 3. Amelia Sri Kusuma Dewi,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Hukum Perdata Internasional. tunduk pada hukum perdata (nasional) yang berbeda. Pendapat lain yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Hukum Perdata Internasional. tunduk pada hukum perdata (nasional) yang berbeda. Pendapat lain yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Hukum Perdata Internasional 1. Pengertian Hukum Perdata Internasional Menurut Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Hukum Perdata Internasional adalah keseluruhan kaidah dan asas

Lebih terperinci

HPI PEMAKAIAN HUKUM ASING PERTEMUAN XIII, XIV & XV. By Malahayati, SH, LLM

HPI PEMAKAIAN HUKUM ASING PERTEMUAN XIII, XIV & XV. By Malahayati, SH, LLM HPI 1 PEMAKAIAN HUKUM ASING PERTEMUAN XIII, XIV & XV By Malahayati, SH, LLM TOPIK 2 PEMAKAIAN HUKUM ASING PELAKSANAAN PUTUSAN PUTUSAN PAILIT PUTUSAN ARBITRASE ICC 3 International Chamber of Commerce, Paris;

Lebih terperinci

TITIK-TITIK TAUT & KUALIFIKASI

TITIK-TITIK TAUT & KUALIFIKASI TITIK-TITIK TAUT & KUALIFIKASI HPI Kelas D All Images : Internet s Archive FOKUS BAHASAN Definisi & Jenis Titik Taut Definisi & Jenis Kualifikasi TITIK-TITIK TAUT Aanknopingspunten (Ned) Momenti di collegamento

Lebih terperinci

PILIHAN HUKUM DALAM KONTRAK BISNIS I.

PILIHAN HUKUM DALAM KONTRAK BISNIS I. PILIHAN HUKUM DALAM KONTRAK BISNIS I. Latar Belakang. Kontrak binis Internasional selalu dipertautkan oleh lebih dari system hukum. Apabila para pihak dalam kontrak kontrak bisnis yang demikian ini tidak

Lebih terperinci

Sejarah Perkembangan Hukum Perdata Internasional

Sejarah Perkembangan Hukum Perdata Internasional Bahan Kuliah Sejarah Perkembangan Hukum Perdata Internasional Isnaini Sejarah Perkembangan HPI HPI mulai abad ke-2 SM Masa kekaisaran Romawi s/d Perkemba ngan HPI universsal di Jerman Friederich Carl Von

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN DAN PENGATURAN MENURUT KUH PERDATA. A. Pengertian Perjanjian dan Asas Asas dalam Perjanjian

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN DAN PENGATURAN MENURUT KUH PERDATA. A. Pengertian Perjanjian dan Asas Asas dalam Perjanjian BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN DAN PENGATURAN MENURUT KUH PERDATA A. Pengertian Perjanjian dan Asas Asas dalam Perjanjian 1. Pengertian Perjanjian Pasal 1313 KUH Perdata menyatakan Suatu perjanjian

Lebih terperinci

TEORI-TEORI UMUM HUKUM PERDATA INTERNASIONAL YANG DAPAT MENGESAMPINGKAN BERLAKUNYA HUKUM ASING DENGAN MEMBERLAKUKAN HUKUM NASIONAL SANG HAKIM"

TEORI-TEORI UMUM HUKUM PERDATA INTERNASIONAL YANG DAPAT MENGESAMPINGKAN BERLAKUNYA HUKUM ASING DENGAN MEMBERLAKUKAN HUKUM NASIONAL SANG HAKIM 202 Hukum dan Pembangunan TEORI-TEORI UMUM HUKUM PERDATA INTERNASIONAL YANG DAPAT MENGESAMPINGKAN BERLAKUNYA HUKUM ASING DENGAN MEMBERLAKUKAN HUKUM NASIONAL SANG HAKIM" Zulfa Djoko Basuki Penulis artikel

Lebih terperinci

(Negara dan Kedaulatan)

(Negara dan Kedaulatan) PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Materi Kuliah HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA (Negara dan Kedaulatan) Modul 10 Oleh : Rohdearni Tetty Yulietty Munthe, SH/08124446335 77 1. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah proses

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kerangka Teori

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kerangka Teori digilib.uns.ac.id BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori 1. Tinjauan Mengenai Perkawinan a. Pengertian Perkawinan Menurut Para Ahli Perkawinan merupakan bentuk kerjasama dalam kehidupan antara seorang

Lebih terperinci

Muhammad Risnain, S.H.,M.H. 1

Muhammad Risnain, S.H.,M.H. 1 PROBLEMATIKA PILIHAN HUKUM (CHOICE OF LAW) DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TRANSAKSI BISNIS ELEKTRONIK INTERNASIONAL DALAM UNDANG- UNDANG (UU) NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sedangkan menurut Pendapat Umum, yang dimaksud dengan Hukum adalah:

BAB I PENDAHULUAN. Sedangkan menurut Pendapat Umum, yang dimaksud dengan Hukum adalah: BAB I PENDAHULUAN A. HUKUM PERDATA 1. Pengertian Hukum Perdata Para ahli banyak memberikan pengertian-pengertian maupun penggunaan istilah Hukum Perdata. Adapun pengertian-pengertian tersebut tergantung

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DUALISME AKAD PEMBIAYAAN MUD{ARABAH MUQAYYADAH DAN AKIBAT HUKUMNYA

BAB IV ANALISIS DUALISME AKAD PEMBIAYAAN MUD{ARABAH MUQAYYADAH DAN AKIBAT HUKUMNYA BAB IV ANALISIS DUALISME AKAD PEMBIAYAAN MUD{ARABAH MUQAYYADAH DAN AKIBAT HUKUMNYA A. Analisis Dualisme Akad Pembiayaan Mud{arabah Muqayyadah Keberadaaan suatu akad atau perjanjian adalah sesuatu yang

Lebih terperinci

BAB II PERKAWINAN DAN PUTUSNYA PERKAWINAN MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN

BAB II PERKAWINAN DAN PUTUSNYA PERKAWINAN MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN BAB II PERKAWINAN DAN PUTUSNYA PERKAWINAN MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN 2.1 Pengertian Perkawinan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata)

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KEWARGANEGARAAN DI INDONESIA. 1. Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa asli dan orang-orang bangsa lain

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KEWARGANEGARAAN DI INDONESIA. 1. Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa asli dan orang-orang bangsa lain BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KEWARGANEGARAAN DI INDONESIA A. PENGERTIAN DAN ASAS-ASAS KEWARGANEGARAAN. Defenisi kewarganegaraan secara umum yaitu hak dimana manusia tinggal dan menetap di suatu kawasan

Lebih terperinci

Pengantar Ilmu Hukum. Disampaikan oleh : Fully Handayani R, SH,M.Kn

Pengantar Ilmu Hukum. Disampaikan oleh : Fully Handayani R, SH,M.Kn Pengantar Ilmu Hukum Pengertian Pokok dalam Sistem Hukum Disampaikan oleh : Fully Handayani R, SH,M.Kn Subjek Hukum Adalah segala sesuatu yang menurut hukum dapat menjadi pendukung (dapat memiliki) hak

Lebih terperinci

Bagaimana Praktek Hukum di Indonesia?

Bagaimana Praktek Hukum di Indonesia? ADOPTION What is adoption? Is there any certain definition of adoption? Look at adoption system in: Islam Western countries Adat system in different islands in Indonesia Timur Asing See p. 86 89 HPI Indonesia

Lebih terperinci

Konvensi ini mengandung 16 pasal. Dari pasal-pasal ini dapat ditarik 5 prinsip berikut dibawah ini:

Konvensi ini mengandung 16 pasal. Dari pasal-pasal ini dapat ditarik 5 prinsip berikut dibawah ini: NAMA: Catherine Claudia NIM: 2011-0500-256 PELAKSANAAN KEPUTUSAN BADAN ARBITRASE KOMERSIAL NTERNASIONAL MENURUT KONVENSI NEW YORK 1958 Salah satu fokus utama dalam Konvensi New York 1958, yakni Convetion

Lebih terperinci

Pelanggaran Hak Cipta Melalui Internet (Studi Kasus: Itar-Tass Russian Agency Melawan Russian Kurier Agency) Rehulina Tarigan

Pelanggaran Hak Cipta Melalui Internet (Studi Kasus: Itar-Tass Russian Agency Melawan Russian Kurier Agency) Rehulina Tarigan Pelanggaran Hak Cipta Melalui Internet (Studi Kasus: Itar-Tass Russian Agency Melawan Russian Kurier Agency) Rehulina Tarigan Dosen Bagian Hukum Internasional Fakultas Hukum Unila Abstrak Kasus Itar-Tass

Lebih terperinci

FH UNIVERSITAS BRAWIJAYA

FH UNIVERSITAS BRAWIJAYA NO PERBEDAAN BW/KUHPerdata Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 1 Arti Hukum Perkawinan suatu persekutuan/perikatan antara seorang wanita dan seorang pria yang diakui sah oleh UU/ peraturan negara yang bertujuan

Lebih terperinci

HUKUM PERDATA H. BUDI MULYANA, S.IP., M.SI.

HUKUM PERDATA H. BUDI MULYANA, S.IP., M.SI. HUKUM PERDATA H. BUDI MULYANA, S.IP., M.SI. A. PENDAHULUAN I. Pembidangan Hukum Privat Hukum Hukum Publik II. Istilah Hukum Perdata = Hukum Sipil >< Militer (Hukum Privat Materil) Lazim dipergunakan istilah

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. TAHUN.. TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. TAHUN.. TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. TAHUN.. TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa warga negara merupakan

Lebih terperinci

istilah perjanjian dalam hukum perjanjian merupakan kesepadanan Overeenkomst dari bahasa belanda atau Agreement dari bahasa inggris.

istilah perjanjian dalam hukum perjanjian merupakan kesepadanan Overeenkomst dari bahasa belanda atau Agreement dari bahasa inggris. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM PERJANJIAN A.Pengertian perjanjian pada umumnya a.1 Pengertian pada umumnya istilah perjanjian dalam hukum perjanjian merupakan kesepadanan dari istilah Overeenkomst

Lebih terperinci

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Modul ke: HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA Fakultas TEKNIK Martolis, MT Program Studi Teknik Mesin NEGARA = State (Inggris), Staat (Belanda),Etat (Perancis) Organisasi tertinggi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Indonesia merupakan negara hukum yang menyadari, mengakui, dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Indonesia merupakan negara hukum yang menyadari, mengakui, dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Indonesia merupakan negara hukum yang menyadari, mengakui, dan menjamin hak asasi manusia dalam proses penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara serta memberikan

Lebih terperinci

A.Latar Belakang Masalah

A.Latar Belakang Masalah A.Latar Belakang Masalah Setiap manusia hidup mempunyai kepentingan. Guna terpenuhinya kepentingan tersebut maka diperlukan adanya interaksi sosial. Atas interaksi sosial tersebut akan muncul hak dan kewajiban

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PERCERAIAN DALAM PERKAWINAN CAMPURAN (STUDI KASUS PERCERAIAN DI PENGADILAN NEGERI SINGARAJA) Agus Teresna Witaskara

PELAKSANAAN PERCERAIAN DALAM PERKAWINAN CAMPURAN (STUDI KASUS PERCERAIAN DI PENGADILAN NEGERI SINGARAJA) Agus Teresna Witaskara PELAKSANAAN PERCERAIAN DALAM PERKAWINAN CAMPURAN (STUDI KASUS PERCERAIAN DI PENGADILAN NEGERI SINGARAJA) Agus Teresna Witaskara - 1310122026 ABSTRAK This study was conducted to determine of normatively

Lebih terperinci

MASALAH KEWARGANEGARAAN DAN TIDAK BERKEWARGANEGARAAN. Oleh : Dr. Widodo Ekatjahjana, S.H, M.H. 1. Abstrak

MASALAH KEWARGANEGARAAN DAN TIDAK BERKEWARGANEGARAAN. Oleh : Dr. Widodo Ekatjahjana, S.H, M.H. 1. Abstrak MASALAH KEWARGANEGARAAN DAN TIDAK BERKEWARGANEGARAAN Oleh : Dr. Widodo Ekatjahjana, S.H, M.H. 1 Abstrak Masalah kewarganegaraan dan tak berkewarganegaraan merupakan masalah yang asasi, dan menyangkut perlindungan

Lebih terperinci

Pokok-Pokok Masalah Pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional di Indonesia oleh: M. Husseyn Umar *)

Pokok-Pokok Masalah Pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional di Indonesia oleh: M. Husseyn Umar *) Pokok-Pokok Masalah Pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional di Indonesia oleh: M. Husseyn Umar *) Ketentuan ketentuan tentang pelaksanaan (eksekusi) putusan Arbitrase Asing (Internasional) di Indonesia

Lebih terperinci

2.1 Konsep Aset Bisnis Pengertian Bisnis, Aset, Dan Aset Bisnis Klasifikasi Aset Bisnis Istilah Dan Pengertian

2.1 Konsep Aset Bisnis Pengertian Bisnis, Aset, Dan Aset Bisnis Klasifikasi Aset Bisnis Istilah Dan Pengertian DAFTAR ISI JUDUL...ii PRASYARAT GELAR... iii LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING... iv PANITIA PENGUJI SKRIPSI... v KATA PENGANTAR... vi SURAT PERNYATAAN KEASLIAN... ix DAFTAR ISI... x ABSTRAK... xiii ABSTRACT...

Lebih terperinci

Hukum Perdata Internasional. Bagas Samudera

Hukum Perdata Internasional. Bagas Samudera Hukum Perdata Internasional Bagas Samudera Sejarah Perkembangan Hukum Perdata Internasional Awal Perkembangan Hukum Perdata Internasional Didalam perkembangan sejarah HPI, tampaknya perdagangan (pada taraf

Lebih terperinci

PERKAWINAN CAMPURAN DAN AKIBAT HUKUMNYA. Oleh : Sasmiar 1 ABSTRACT

PERKAWINAN CAMPURAN DAN AKIBAT HUKUMNYA. Oleh : Sasmiar 1 ABSTRACT PERKAWINAN CAMPURAN DAN AKIBAT HUKUMNYA Oleh : Sasmiar 1 ABSTRACT Mixed marriage according to Nomor.1 Act of 1974 on Marriage is a marriage between Indonesian citizens with a foreign citizen (Article 57).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Hal janji adalah suatu sendi yang amat penting dalam Hukum

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Hal janji adalah suatu sendi yang amat penting dalam Hukum BAB I PENDAHULUAN Hukum perjanjian adalah bagian dari Hukum Perdata yang berlaku di Indonesia. Hal janji adalah suatu sendi yang amat penting dalam Hukum Perdata, karena Hukum Perdata banyak mengandung

Lebih terperinci

AKIBAT PERKAWINAN & PUTUSNYA PERKAWINAN

AKIBAT PERKAWINAN & PUTUSNYA PERKAWINAN AKIBAT PERKAWINAN & PUTUSNYA PERKAWINAN 1 KUHPerdata 103 106 105 107 KUHPerdata 107 108 110 Akibat perkawinan terhadap diri pribadi masing-masing Suami/Istri Hak & Kewajiban Suami-Istri UU No.1/1974 30

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. khususnya dalam bidang harta kekayaan menjadi pendorong tumbuh dan

BAB 1 PENDAHULUAN. khususnya dalam bidang harta kekayaan menjadi pendorong tumbuh dan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan kehidupan manusia untuk mencapai suatu tujuan ekonomi khususnya dalam bidang harta kekayaan menjadi pendorong tumbuh dan berkembangnya badan hukum.

Lebih terperinci

Judul buku: Kebatalan dan pembatalan akta notaris. Pengarang: Dr. Habib Adjie, S.H., M.Hum. Editor: Aep Gunarsa

Judul buku: Kebatalan dan pembatalan akta notaris. Pengarang: Dr. Habib Adjie, S.H., M.Hum. Editor: Aep Gunarsa Judul buku: Kebatalan dan pembatalan akta notaris Pengarang: Dr. Habib Adjie, S.H., M.Hum. Editor: Aep Gunarsa Penerbit dan pencetak: PT Refika Aditama (Cetakan kesatu, Juni 2011. Cetakan kedua, April

Lebih terperinci

HUKUM PERJANJIAN. Aspek Hukum dalam Ekonomi Hal. 1

HUKUM PERJANJIAN. Aspek Hukum dalam Ekonomi Hal. 1 HUKUM PERJANJIAN Ditinjau dari Hukum Privat A. Pengertian Perjanjian Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain/lebih (Pasal

Lebih terperinci

Pilihan Hukum (Terkait dengan Transaksi Bisnis Internasional)

Pilihan Hukum (Terkait dengan Transaksi Bisnis Internasional) Pilihan Hukum (Terkait dengan Transaksi Bisnis Internasional) TRANSAKSI BISNIS INTERNASIONAL PASCASARJANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA 2012 Bridge Ingat tujuan ilmu Hukum Perdata Internasional

Lebih terperinci

POKOK-POKOK HUKUM PERDATA

POKOK-POKOK HUKUM PERDATA POKOK-POKOK HUKUM PERDATA 1 m.k. hukum perdata 2 m.k. hukum perdata 3 m.k. hukum perdata 4 m.k. hukum perdata 5 PERBEDAAN COMMON LAW/ANGLO SAXON CIVIL LAW/EROPA KONT SISTEM PERATURAN 1. Didominasi oleh

Lebih terperinci

II. Istilah Hukum Perdata

II. Istilah Hukum Perdata I. Pembidangan Hukum Privat Hukum Hukum Publik II. Istilah Hukum Perdata = Hukum Sipil >< Militer (Hukum Privat Materil) Lazim dipergunakan istilah Hukum Perdata Prof.Soebekti pokok-pokok Hukum Perdata

Lebih terperinci

Indonesian translation of the 12 articles of the Principles on Choice of Law in International Commercial Contracts

Indonesian translation of the 12 articles of the Principles on Choice of Law in International Commercial Contracts Indonesian translation of the 12 articles of the Principles on Choice of Law in International Commercial Contracts This translation was kindly prepared by Dr. Afifah Kusumadara, Mr. Zairul Alam, Ms. Ranitya

Lebih terperinci

BAB IV PENUTUP. yang dikemukakakan sebelumnya maka Penulis memberikan kesimpulan sebagai

BAB IV PENUTUP. yang dikemukakakan sebelumnya maka Penulis memberikan kesimpulan sebagai BAB IV PENUTUP Setelah melakukan penelitian dan analisis mengenai bagaimanakah pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase asing di indonesia, maka dalam bab IV yang merupakan bab penutup ini, Penulis

Lebih terperinci

SEJARAH PERKEMBANGAN HUKUM PERDATA INTERNASIONAL

SEJARAH PERKEMBANGAN HUKUM PERDATA INTERNASIONAL SEJARAH PERKEMBANGAN HUKUM PERDATA INTERNASIONAL Kelas D- Fakultas Hukum UGM All Images: Internet s Archive FOKUS BAHASAN PRINSIP TERITORIAL PRINSIP PERSONAL TEORI STATUTA TEORI UNIVERSAL LAHIRNYA HPI

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA digilib.uns.ac.id 12 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori 1. Pengertian Perkawinan Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 pasal 1 ditegaskan mengenai pengertian perkawinan yaitu Perkawinan ialah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tahun 1974, TLN No.3019, Pasal.1.

BAB I PENDAHULUAN. Tahun 1974, TLN No.3019, Pasal.1. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia

Lebih terperinci

TINJAUAN YURIDIS ANAK DILUAR NIKAH DALAM MENDAPATKAN WARISAN DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN

TINJAUAN YURIDIS ANAK DILUAR NIKAH DALAM MENDAPATKAN WARISAN DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN 1 2 TINJAUAN YURIDIS ANAK DILUAR NIKAH DALAM MENDAPATKAN WARISAN DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN (Studi Penelitian di Pengadilan Agama Kota Gorontalo) Nurul Afry Djakaria

Lebih terperinci

2002), hlm Ibid. hlm Komariah, Hukum Perdata (Malang; UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang,

2002), hlm Ibid. hlm Komariah, Hukum Perdata (Malang; UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang, Pendahuluan Perkawinan merupakan institusi yang sangat penting dalam masyarakat. Di dalam agama islam sendiri perkawinan merupakan sunnah Nabi Muhammad Saw, dimana bagi setiap umatnya dituntut untuk mengikutinya.

Lebih terperinci

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 80/PUU-XIV/2016 Hak Konstitusional Untuk Mendapatkan Status Kewarganegaraan Indonesia Bagi Anak Belum Berusia 18 Tahun Atau Belum Kawin Yang Lahir Dari Ibu Warga Negara

Lebih terperinci

BAB II PERJANJIAN JUAL BELI. undang-undang telah memberikan nama tersendiri dan memberikan

BAB II PERJANJIAN JUAL BELI. undang-undang telah memberikan nama tersendiri dan memberikan A. Pengertian Perjanjian Jual Beli BAB II PERJANJIAN JUAL BELI Jual beli termasuk dalam kelompok perjanjian bernama, artinya undang-undang telah memberikan nama tersendiri dan memberikan pengaturan secara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suami istri, tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat 2. Pada

BAB I PENDAHULUAN. suami istri, tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat 2. Pada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan merupakan suatu peristiwa penting dalam kehidupan manusia, karena perkawinan tidak saja menyangkut pribadi kedua calon suami istri, tetapi juga menyangkut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai warga Negara dan masyarakat, setiap warga Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama, yang pokok adalah bahwa setiap orang haruslah terjamin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Suatu Negara dikatakan sebagai Negara berdaulat jika memiliki

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Suatu Negara dikatakan sebagai Negara berdaulat jika memiliki 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Suatu Negara dikatakan sebagai Negara berdaulat jika memiliki wilayah, pemerintah yang berdaulat, dan warga Negara. Negara Indonesia merupakan salah satu Negara yang

Lebih terperinci

HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA

HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA Modul ke: HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA Mengetahui lebih banyak hak dan kewajiban sebagai warga negara Fakultas FAKULTAS RINA KURNIAWATI, SHI, MH Program Studi http://www.mercubuana.ac.id DEFINISI Pengertian

Lebih terperinci

PENGGOLONGAN HUKUM H. BUDI MULYANA, S.IP., M.SI

PENGGOLONGAN HUKUM H. BUDI MULYANA, S.IP., M.SI PENGGOLONGAN HUKUM H. BUDI MULYANA, S.IP., M.SI HUKUM WUJUD DAERAH WAKTU PRIBADI ISINYA PELAKS. BERLAKUNYA TERTULIS TDK TERTULIS HKM NASIONAL HKM INTERN HKM ASING IUS CONSTIT UM IUS CONSTITU EDUM 1 GOL

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kebijakan dan saling menyantuni, keadaan seperti ini lazim disebut sakinah.

BAB 1 PENDAHULUAN. kebijakan dan saling menyantuni, keadaan seperti ini lazim disebut sakinah. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan adalah akad yang bersifat luhur dan suci antara laki-laki dan perempuan yang menjadi sebab sahnya sebagai suami istri dan dihalalkannya hubungan seksual

Lebih terperinci

Hukum Perjanjian menurut KUHPerdata(BW)

Hukum Perjanjian menurut KUHPerdata(BW) Hukum Perjanjian menurut KUHPerdata(BW) Pengertian Perjanjian Pasal 1313 KUHPerdata: Suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Oleh: Nama

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA. Perkawinan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Perkawinan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA. Perkawinan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Perkawinan BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA A. Pengertian Perkawinan Perkawinan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Perkawinan nomor 1 Tahun 1974. Pengertian perkawinan menurut Pasal

Lebih terperinci

BAB I. Persada, 1993), hal Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, cet.17, (Jakarta:Raja Grafindo

BAB I. Persada, 1993), hal Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, cet.17, (Jakarta:Raja Grafindo BAB I 1. LATAR BELAKANG Salah satu kebutuhan hidup manusia selaku makhluk sosial adalah melakukan interaksi dengan lingkungannya. Interaksi sosial akan terjadi apabila terpenuhinya dua syarat, yaitu adanya

Lebih terperinci

DIPONEGORO LAW JOURNAL Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Website :

DIPONEGORO LAW JOURNAL Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Website : PENERAPAN HUKUM HARTA KEKAYAAN PERKAWINAN DALAM PERKARA YANG PARA PIHAKNYA WNI KETURUNAN TIONGHOA Niko Siahaan*, Yunanto, Herni Widanarti Program Studi S1 Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. etnis,suku, agama dan golongan. Sebagai salah satu negara terbesar di dunia,

BAB I PENDAHULUAN. etnis,suku, agama dan golongan. Sebagai salah satu negara terbesar di dunia, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia yang merupakan negara yang terdiri dari berbagai etnis,suku, agama dan golongan. Sebagai salah satu negara terbesar di dunia, Indonesia merupakan negara

Lebih terperinci

Kewarganegaraan. Pengembangan dan Pemeliharaan sikap dan nilai-nilai kewarganegaraan. Uly Amrina ST, MM. Kode : Semester 1 2 SKS.

Kewarganegaraan. Pengembangan dan Pemeliharaan sikap dan nilai-nilai kewarganegaraan. Uly Amrina ST, MM. Kode : Semester 1 2 SKS. Modul ke: Kewarganegaraan Pengembangan dan Pemeliharaan sikap dan nilai-nilai kewarganegaraan Fakultas Teknik Uly Amrina ST, MM Program Studi Teknik Industri Kode : 90003 Semester 1 2 SKS Hak dan Kewajiban

Lebih terperinci

PEMBENTUKAN KONTRAK MANAJEMEN HOTEL JARINGAN INTERNASIONAL DI BALI

PEMBENTUKAN KONTRAK MANAJEMEN HOTEL JARINGAN INTERNASIONAL DI BALI PEMBENTUKAN KONTRAK MANAJEMEN HOTEL JARINGAN INTERNASIONAL DI BALI Oleh : Nyoman Santi Dewi Ni Nyoman Sukeni Ida Ayu Sukihana Hukum Bisnis Program Ekstensi Fakultas Hukum Universitas Udayana ABSTRAK Perkembangan

Lebih terperinci

BAB II PERJANJIAN JUAL BELI MENURUT KUH PERDATA

BAB II PERJANJIAN JUAL BELI MENURUT KUH PERDATA BAB II PERJANJIAN JUAL BELI MENURUT KUH PERDATA Perjanjian jual beli diatur dalam Pasal 1457-1540 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Dalam Pasal 1457 KUH Perdata pengertian jual beli adalah suatu persetujuan

Lebih terperinci

Kontrak: Pendekatan-pendekatan Hukum Perdata dan Common Law

Kontrak: Pendekatan-pendekatan Hukum Perdata dan Common Law Kontrak: Pendekatan-pendekatan Hukum Perdata dan Common Law Sistem Common Law: Kebanyakan negara-negara yang dulunya di bawah pemerintahan Kolonial Inggris manganut sistem hukum kasus (common law) Inggris.

Lebih terperinci

BENTUK-BENTUK PERUSAHAAN

BENTUK-BENTUK PERUSAHAAN BENTUK-BENTUK PERUSAHAAN Klasifikasi Perusahaan Jumlah Pemilik 1. Perusahaan Perseorangan. 2. Perusahaan Persekutuan. 1. 2. Status Pemilik 1. Perusahaan Swasta. 2. Perusahaan Negara (BUMN). 1. 2. Bentuk

Lebih terperinci

BENTUK-BENTUK PERUSAHAAN

BENTUK-BENTUK PERUSAHAAN BENTUK-BENTUK PERUSAHAAN BENTUK-BENTUK PERUSAHAAN Klasifikasi Perusahaan Jumlah Pemilik 1. Perusahaan Perseorangan. 2. Perusahaan Persekutuan. Status Pemilik 1. Perusahaan Swasta. 2. Perusahaan Negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Aristoteles manusia adalah zoon politicon atau makhluk sosial.

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Aristoteles manusia adalah zoon politicon atau makhluk sosial. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Aristoteles manusia adalah zoon politicon atau makhluk sosial. Manusia tidak dapat terlepas dari interaksi dengan lingkungan dan manusia disekitarnya

Lebih terperinci

HAKIM SALAH MEMBAGI BEBAN BUKTI GAGAL MENDAPATKAN KEADILAN ( H. Sarwohadi, S.H.,M.H., Hakim Tinggi PTA Mataram )

HAKIM SALAH MEMBAGI BEBAN BUKTI GAGAL MENDAPATKAN KEADILAN ( H. Sarwohadi, S.H.,M.H., Hakim Tinggi PTA Mataram ) HAKIM SALAH MEMBAGI BEBAN BUKTI GAGAL MENDAPATKAN KEADILAN ( H. Sarwohadi, S.H.,M.H., Hakim Tinggi PTA Mataram ) A. Pendahuluan Pembuktian merupakan bagian dari tahapan pemeriksaan perkara dalam persidangan

Lebih terperinci

Indonesian translation of the 2005 Choice of Court Convention

Indonesian translation of the 2005 Choice of Court Convention Indonesian translation of the 2005 Choice of Court Convention This translation was kindly prepared by Dr. Afifah Kusumadara, Vannia Nur Isyrofi, and Hary Stiawan (lecturer and students at the Faculty of

Lebih terperinci

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN digilib.uns.ac.id BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Hukum yang Berlaku dalam Pembagian Harta Bersama Akibat Perceraian dari Perkawinan Campuran Di dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 26/PUU-XV/2017 Pembatalan Putusan Arbitrase

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 26/PUU-XV/2017 Pembatalan Putusan Arbitrase I. PEMOHON Zainal Abidinsyah Siregar. Kuasa Hukum: RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 26/PUU-XV/2017 Pembatalan Putusan Arbitrase Ade Kurniawan, SH., Heru Widodo, SH., MH., dkk, advokat/ penasehat hukum

Lebih terperinci

memperhatikan pula proses pada saat sertipikat hak atas tanah tersebut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

memperhatikan pula proses pada saat sertipikat hak atas tanah tersebut peraturan perundang-undangan yang berlaku. 101 kepemilikannya, bertujuan untuk memberikan kepastian hukum terhadap sertipikat hak atas tanah dan perlindungan terhadap pemegang sertipikat hak atas tanah tersebut. Namun kepastian hukum dan perlindungan

Lebih terperinci

HAK ATAS TANAH UNTUK WARGA NEGARA ASING

HAK ATAS TANAH UNTUK WARGA NEGARA ASING HAK ATAS TANAH UNTUK WARGA NEGARA ASING MAKALAH Oleh : Hukum Agraria Dosen : FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2012 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam fase kehidupan manusia terdapat tiga peristiwa penting yaitu, kelahiran,

BAB I PENDAHULUAN. Dalam fase kehidupan manusia terdapat tiga peristiwa penting yaitu, kelahiran, BAB I PENDAHULUAN Dalam fase kehidupan manusia terdapat tiga peristiwa penting yaitu, kelahiran, perkawinan, dan kematian. Dengan adanya kelahiran maka berakibat pada timbulnya hak dan kewajban baik dari

Lebih terperinci

BAB IV. Putusan Pengadilan Agama Malang No.0758/Pdt.G/2013 Tentang Perkara. HIR, Rbg, dan KUH Perdata atau BW. Pasal 54 Undang-undang Nomor 7

BAB IV. Putusan Pengadilan Agama Malang No.0758/Pdt.G/2013 Tentang Perkara. HIR, Rbg, dan KUH Perdata atau BW. Pasal 54 Undang-undang Nomor 7 BAB IV ANALISIS YURIDIS TERHADAP PENGAKUAN SEBAGAI UPAYA PEMBUKTIAN DALAM PUTUSAN PENGADILAN AGAMA MALANG NO. 0758/PDT.G/2013 TENTANG PERKARA CERAI TALAK A. Analisis Yuridis Terhadap Pengakuan Sebagai

Lebih terperinci

Lex et Societatis, Vol. I/No. 4/Agustus/2013. PENYELESAIAN SENGKETA KONTRAK DAGANG INTERNASIONAL 1 Oleh : Raditya N. Rai 2

Lex et Societatis, Vol. I/No. 4/Agustus/2013. PENYELESAIAN SENGKETA KONTRAK DAGANG INTERNASIONAL 1 Oleh : Raditya N. Rai 2 PENYELESAIAN SENGKETA KONTRAK DAGANG INTERNASIONAL 1 Oleh : Raditya N. Rai 2 ABSTRAK Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui prinsip-prinsip apa yang ada dalam hukum kontrak dagang internasional

Lebih terperinci

AKIBAT HUKUM PERKAWINAN SIRI DALAM UNDANG-UNDANG PERKAWINAN. Oleh Sukhebi Mofea*) Abstrak

AKIBAT HUKUM PERKAWINAN SIRI DALAM UNDANG-UNDANG PERKAWINAN. Oleh Sukhebi Mofea*) Abstrak AKIBAT HUKUM PERKAWINAN SIRI DALAM UNDANG-UNDANG PERKAWINAN Oleh *) Abstrak Perkawinan merupakan suatu kejadian yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Ikatan perkawinan ini, menimbulkan akibat

Lebih terperinci

Mata Kuliah Kewarganegaraan HAK DAN KEWAJIBAN WARGANEGARA

Mata Kuliah Kewarganegaraan HAK DAN KEWAJIBAN WARGANEGARA Mata Kuliah Kewarganegaraan Modul ke: HAK DAN KEWAJIBAN WARGANEGARA Fakultas EKONOMI DAN BISNIS Panti Rahayu, SH, MH Program Studi MANAJEMEN http://www.mercubuana.ac.id Warga negara: anggota atau bangsa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa. 5 Dalam perspektif

BAB I PENDAHULUAN. yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa. 5 Dalam perspektif BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Perkawinan ialah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga)

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KUMULASI GUGATAN. Secara istilah, kumulasi adalah penyatuan; timbunan; dan akumulasi

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KUMULASI GUGATAN. Secara istilah, kumulasi adalah penyatuan; timbunan; dan akumulasi 13 BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KUMULASI GUGATAN A. Pengertian Kumulasi Gugatan Secara istilah, kumulasi adalah penyatuan; timbunan; dan akumulasi adalah pengumpulan; penimbunan; penghimpunan. 1 Kumulasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau para pemuka agama. Aturan tata tertib itu terus berkembang maju, bahkan. negara Indonesia dengan warga negara asing.

BAB I PENDAHULUAN. atau para pemuka agama. Aturan tata tertib itu terus berkembang maju, bahkan. negara Indonesia dengan warga negara asing. BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Masalah Aturan tata tertib perkawinan sudah ada sejak masyarakat masih sederhana dan dipertahankan oleh anggota masyarakat serta para pemuka masyarakat adat atau para

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyebutkan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria

BAB I PENDAHULUAN. menyebutkan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menyebutkan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita

Lebih terperinci

ALTERNATIF HUKUM PERKAWINAN HOMOSEKSUAL

ALTERNATIF HUKUM PERKAWINAN HOMOSEKSUAL ALTERNATIF HUKUM PERKAWINAN HOMOSEKSUAL Muchamad Arif Agung Nugroho Fakultas Hukum Universitas Wahid Hasyim Semarang [email protected] ABSTRAK Perkawinan heteroseksual merupakan suatu perikatan

Lebih terperinci

Hukum Administrasi Negara

Hukum Administrasi Negara Hukum Administrasi Negara Pertemuan XI & XII Malahayati, S.H., LL.M. (c) 2014 Malahayati 1 Topik Istilah dan Pengertian Hubungan HAN dengan HTN Sumber HAN Ruang Lingkup HAN Asas Pemerintahan Yang Baik

Lebih terperinci