STUDI PERBANDINGAN MESIN CIPHER ENIGMA DAN HAGELIN
|
|
|
- Doddy Sugiarto
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 STUDI PERBANDINGAN MESIN CIPHER ENIGMA DAN HAGELIN Ferdian Thung ( ) Program Studi Teknik Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung Jalan Ganesha No. 10, Bandung ABSTRAK Pengiriman informasi memegang peranan penting dalam Perang Dunia II. Pada masa itu, digunakan mesin cipher untuk pengiriman pesan-pesan vital seperti pesan militer kepada anggota pasukan di daerah lain. Informasi ini harus dapat disampaikan dengan aman sehingga pihak musuh tidak dapat mengetahui isi pesan walaupun pesan tersebut berhasil disadap. Mesin cipher yang umumnya dipakai pada masa itu yakni mesin enigma buatan Jerman dan mesin hagelin yang dibuat oleh perusahaan milik Boris Hagelin di negara netral Swedia dan dijual kepada siapa pun yang menginginkannya sehingga mesin ini memiliki banyak variasi, seperti Hagelin, M209, C36, C38, C41, dan lain-lain. Walau memiliki banyak variasi, mesin hagelin pada dasarnya memiliki prinsip kerja yang sama. Pada makalah ini akan dibahas mengenai mesin enigma dan hagelin terutama metode cipher yang digunakan masing-masing mesin. Kemudian akan dilakukan analisis mengenai keunggulan metode cipher masing-masing mesin. Kata kunci: mesin cipher enigma, mesin cipher hagelin, vigenere cipher, beaufort cipher 1. PENDAHULUAN 1.1 Asal Usul Mesin Cipher Enigma Mesin Enigma adalah salah satu keluarga dari mesin rotor elektro-mekanis yang digunakan untuk enkripsi dan dekripsi pesan rahasia. Enigma pertama kali diciptakan oleh insinyur Jerman Arthur Scherbius pada akhir Perang Dunia I. Model dan varian dari versi original ini digunakan secara komersial dari awal 1920-an, dan diadopsi oleh militer dan jasa pemerintah beberapa negara terutama oleh Nazi Jerman sebelum dan selama Perang Dunia II. Berbagai model Enigma telah banyak diproduksi, tetapi model militer Jerman, Enigma Wehrmacht, adalah versi yang paling sering dibahas. Mesin ini menjadi terkenal karena, selama Perang Dunia II, pemecah kode dari Inggris dan Amerika, melanjutkan pekerjaan yang dimulai Polandia, berhasil mendekripsi sejumlah besar pesan yang telah dienkripsi menggunakan Enigma. Intelijen yang diperoleh dari sumber ini, yang diberi kode nama ULTRA oleh Inggris, merupakan bantuan substansial untuk usaha perang Sekutu. Pengaruh sebenarnya ULTRA terhadap jalannya perang masih diperdebatkan; sebuah penilaian berulang-ulang mengungkapkan bahwa dekripsi dari cipher Jerman mempercepat akhir perang Eropa dua tahun. Walaupun mesin cipher Enigma memiliki kelemahan kriptografik, pada prakteknya hal ini merupakan kombinasi dari berbagai faktor (kesalahan prosedural, kesalahan operator, perangkat keras dan tabel kunci yang berhasil didapatkan, dan lain-lain) sehingga kelemahan ini mengizinkan kriptografer Sekutu untuk mengkriptanalisis banyak pesan. 1.2 Asal Usul Mesin Cipher Hagelin Pada tahun 1925, Staf Umum Swedia dihubungi oleh A.B. Cryptograph untuk merancang sebuah mesin yang diharapkan lebih unggul daripada mesin Enigma milik Jerman. Hagelin mengembangkan sebuah prototipe untuk evaluasi yang disebut dengan B-21. B-21 telah disetujui untuk Staf Umum Swedia dan Hagelin juga menjual mesin ini ke beberapa negara lain. Prinsipnya didasarkan pada rotor Arvid Damm yang telah disederhanakan, disertai dengan desain grid 5x5. Mesin ini memiliki sebuah papan ketik, dua buah rotor yang putarannya dapat dikendalikan oleh dua pasang roda-pin dan sebuah layar display dengan 25 lampu yang akan menyajikan keluaran dari proses enkripsi dan dekripsi. Mesin ini beroperasi pada tegangan 110 atau 220 volt dan lampu panel ditenagai oleh baterai. Pada mesin ini, menekan sebuah tombol akan menutup dua kontak, masing-masing kontak merupakan salah satu dari dua kelompok lima kontak. Sinyal kemudian diteruskan dari dua rotor menuju 25 lampu. Adapun intechangeable leads, secara seri dengan rotor, bisa dihubungkan sesuai keinginan.
2 Mesin ini adalah mesin pertama yang menerapkan rodapin, sebuah fitur yang digunakan dalam banyak penerusnya. Sebuah roda-pin adalah sebuah disk dengan jumlah aksial lubang di mana pin tersebut berada. Pin ini dapat dipindahkan ke sisi kiri maupun kanan disk. Pada satu sisi, pin ini tidak aktif sedangkan di sisi lainnya pin ini aktif. Pada setiap langkah, roda-roda pin bergerak satu posisi. Beberapa roda-pin dengan jumlah pin yang berbeda dan tanpa faktor yang umum akan digunakan untuk memperoleh kunci dengan periode panjang. Pada tahun 1932, Angkatan Darat Perancis tertarik dengan B-21 tapi meminta untuk dua modifikasi penting. Mesin harus portabel dan harus mampu mencetak teks. Hagelin mengembangkan B-211 yang bisa dioperasikan baik dengan tenaga listrik atau dengan tangan menggunakan tenaga mekanik. Dia menggantikan lampu panel dengan roda untuk mekanisme percetakan dan sirkuit ciphering yang ditenagai oleh baterai. Sekitar 500 mesin B-211 kemudian dibangun. Pada tahun 1940, Hagelin membangun sebuah workshop di Swedia dengan menggunakan keuntungan yang diperoleh atas sukses B- 211 dan kemudian A.B. Cryptograph diubah namanya menjadi A.B. Ingenieursfirman Cryptoteknik. 2. MESIN CIPHER ENIGMA 2.1 Struktur Mesin Enigma Enigma yang dikonstruksikan dan ditampilkan Scherbius pada Universal Postal Union Congress di Vienna tahun 1923 didasarkan pada komponen-komponen berikut: (1) Sebuah papan ketik dengan 26 huruf untuk memasukkan pesan plainteks. (2) 26 buah lampu yang akan menyala untuk menunjukkan huruf cipher. (3) Sebuah sumber tegangan (baterai 3.5 volt atau ekivalensinya). (4) Tiga removable wired wheels yang dapat berputar pada sumbu tertentu. (5) Sebuah reflektor. (6) Sebuah entry wheel. Papan ketik yang digunakan serupa dengan papan ketik pada mesik bahasa Inggris dengan pengecualian, yakni huruf Y dan Z dipertukarkan serta huruf P berada di bawah baris, tidak di atas. Hanya huruf kapital yang digunakan, tidak ada nomor ataupun umlauts, seperti Ü. Pola yang sama juga diaplikasikan pada huruf di lampu. Kemudian, baterai hanya digunakan untuk mengirimkan arus ke roda dan reflektor, serta untuk menyalakan lampu. Ia tidak menyediakan tenaga untuk menggerakkan roda, di mana hal ini dilakukan secara mekanik. Gambar 1 Mesin Enigma Di dalam setiap removable wheel terdapat 26 kabel yang secara acak terhubung dengan 26 titik kontak pada salah satu sisi roda dengan 26 kontak pada sisi lain roda. Titik kontak pada salah satu sisi roda (sisi kiri bila dilihat dari depan mesin) akan di-flush dengan muka roda, tetapi kontak pada sisi yang lain (sisi kanan ) menonjol keluar dari muka di atas pegas kecil. Hal ini ditujukan untuk menyediakan kontak yang baik antara sebuah roda dengan roda yang berada di sebelahnya. Serupa dengan hal itu, kontak yang baik dijamin antara rightmost wheel dan entry wheel serta antara leftmost wheel dan reflektor. Sebuah alfabet tyre berada pada lingkaran setiap roda dan pada sisi kiri dari setiap removable wheel terdapat sebuah cincin metal (notch ring) yang diikatkan di mana cincin ini memiliki sebuah notch berbentuk V pada sisi berlawanan dari huruf-huruf dalam tyre. Pada sisi kanan dari roda ini terdapat cincin bergerigi dengan 26 gerigi (setting ring) yang mengizinkan operator cipher untuk memutar roda ke posisi yang diinginkannya. Reflektor berada pada posisi tetap dan memiliki sebanyak 26 kontak pada satu sisi. Di dalam reflector terdapat 13 kabel yang menghubugkan 26 kontak dalam pasangan sehingga arus yang memasuki sebuah titik kontak dari reflektor akan keluar pada titik kontak yang lain. Pengkabelan internal pada reflektor juga dilakukan secara acak. Tidak seperti three wired wheels, reflektor secara permanen tetap dan hanya diganti sekali pada tahun Entry wheel menyediakan koneksi antara rightmost wheel dan papan ketik serta antara rightmost wheel dan lampu. Hal yang mengejutkan, entry wheel dihubungkan dengan huruf pada papan ketik berdasarkan urutan alfabet normal, dibandingkan urutan pada papan ketik. Hal ini tidak memberikan keuntungan kriptografik apapun dan melibatkan pengkabelan internal yang berantakan. 2.2 Operasi pada Mesin Enigma Untuk mengilustrasikan operasi dari mesin Enigma, perhatikan diagram pengkabelan pada gambar (2). Untuk
3 menyederhanakan contoh, hanya empat komponen dari mesin Enigma utuh yang ditampilkan. Pada kenyataannya, terdapat 26 lampu dan kunci, beberapa plug (bervariasi berdasarkan model) dan pengkabelan rotor dalam setiap rotor (setidaknya ada tiga). Prinsip kerjanya yakni arus mengalir dari baterai(1) melalui depressed bi-directional letter-switch (2) menuju plugboard (3). Plugboard mengizinkan pengkabelan ulang beberapa koneksi huruf antara papan ketik (2) dan entry wheel (4). Kemudian, arus mengalir menuju (tidak digunakan pada contoh ini sehingga ditunjukkan tertutup) plug (3) melalui entry wheel (4) melewati pengkabelan tiga (Wehrmacht Enigma) atau empat four (varian Kriegsmarine M4 dan Abwehr) rotor yang terinstalasi (5), dan memasuki reflektor (6). Reflektor mengembalikan arus melalui jalur yang berbeda melewati rotor dan entry wheel(4), melanjutkan melalui plug 'S' yang terhubung dengan sebuah kabel(8) menuju plug 'D', dan bi-directional switch (9) untuk menyalakan lampu yang sesuai. Gambar 3 Aksi Scrambling pada Enigma untuk Penekanan Tombol A Berurutan Garis yang berwarna abu-abu merupakan beberapa jalur lain yang mungkin untuk setiap rotor; jalur ini diimplementasikan pada mesin secara langsung dari satu sisi pada setiap rotor ke rotor lainnya. Huruf A dienkripsi secara berbeda pada penekanan tombol yang berurutan, pertama ke G, kemudian ke C. Hal ini dikarenakan rotor pada sisi kanan telah naik dan mengirimkan sinyal pada rute yang berbeda; rotor lain juga akan mengalami hal yang sama saat penekanan sebuah tombol. 2.3 Algoritma Cipher pada Mesin Enigma Algoritma cipher yang digunakan pada mesin enigma pada dasarnya merupakan vigenere cipher. Algoritma ini dipublikasikan oleh diplomat (sekaligus seorang kriptologis) Perancis, Blaise de Vigènere pada abad 16 (tahun 1586). Cipher ini termasuk polyalphabetic substitution cipher. Vigenere cipher menggunakan rumus berikut untuk proses enkripsi huruf: Gambar 2 Cara Kerja Mesin Enigma Perubahan yang berulang pada jalur elektrikal melalui sebuah Enigma scrambler, mengimplementasikan sebuah enkripsi polyalphabetic substitution yang menyediakan tingkat keamanan tinggi Enigma pada zamannya. Diagram pada gambar (3) menunjukkan bagaimana jalur elektrikal berubah dengan setiap key depression, yang mengakibatkan rotasi pada setidaknya rotor pada sisi kanan. Arus akan mengalir menuju sekelompok rotor, masuk dan keluar dari reflektor, dan keluar melalui rotor lagi. c = (k+p) mod 26 (1) dan dekripsi: p = (c-k) mod 26 (2) di mana: c = cipherteks p = plainteks k = kunci Enkripsi dengan menggunakan vigenere cipher dapat diilustrasikan sebagai berikut. PLAINTEKS : VIGENERE KUNCI : KUNCIKUN CIPHERTEKS :????????
4 Ubah ke dalam angka untuk melakukan perhitungan. PLAINTEKS V I G E N E R E KUNCI K U N C I K U N CIPHERTEKS F C T G V O L R Dengan menggunakan rumus (1) diperoleh cipherteks FCTGVOLR dari plainteks VIGENERE dan kunci KUNCI. Plainteks dapat diperoleh kembali dari cipherteks dengan menggunakan rumus (2). Tabel 1 Tabel Enkripsi/Dekripsi Vigenere didekripsi. Setiap roda memiliki nomor pin pada sekitar lingkarannya dan setiap nomor pin ini dapat digerakkan sehingga ia berada pada sisi kiri atau kanan roda. Nomor pin ini berbeda untuk setiap roda; dilihat dari depan mesin nomor pin pada enam roda dari kiri ke kanan adalah 26, 25, 23, 21, 19 and 17. Setiap saat sebuah huruf dienkripsi setiap roda bergerak sebanyak satu posisi. Karena panjang enam roda tidak memiliki faktor umum, mereka tidak akan kembali ke posisi awal hingga (26x25x23x21x19x17) huruf telah dienkripsi. Huruf pada alfabet diukir di sekitar pinggiran setiap roda untuk memungkinkan operator untuk mengatur roda pada posisi awalnya. Pada roda dengan panjang 26, semua alfabet diukir tetapi roda lain tentunya membutuhkan huruf yang lebih sedikit. Jadi, pada roda dengan panjang 17 huruf A sampai Q akan memenuhi. Enkripsi dan dekripsi vigenere cipher akan lebih mudah apabila menggunakan tabel (2). Untuk enkripsi sebuah pesan plainteks, temukan indeks baris yang bernilai sama dengan huruf yang akan dienkripsi dan indeks kolom yang bernilai sama dengan huruf kunci. Huruf cipherteks terletak pada perpotongan baris dan kolom ini. Untuk dekripsi, ambil indeks kolom yang bernilai sama dengan huruf kunci dan telusuri isi tabel pada kolom tersebut hingga menemukan huruf cipherteks. Lihat indeks baris yang memuat huruf cipherteks tersebut, itulah huruf plainteks yang dicari. 3. MESIN CIPHER HAGELIN 3.1 Struktur Mesin Hagelin Mesin Hagelin membuat key stream menggunakan enam roda-pin dan sebuah lug cage. Enam roda-pin disusun parallel pada sumbu tertentu dan dapat digerakkan secara independen, di mana hal ini diperlukan ketika mesin sedang dikonfigurasi, atau bersamaan, di mana hal ini terjadi setiap saat sebuah huruf dienkripsi atau Gambar 4 Mesin Hagelin Lug cage terdiri dari 27 batang mendatar yang diatur sebagai sebuah silinder dengan akhir setiap batang berada pada dua disk sirkuler tertentu. Cage dapat berotasi pada sebuah sumbu tertentu yang paralel dengan sumbu pada roda-pin. Cage diposisikan tepat di belakang roda-pin. Pada setiap batang cage terdapat dua lugs, yakni bagian kecil metal yang dapat bergeser sepanjang batang dan dapat menempati delapan posisi. Enam dari delapan posisi secara langsung berlawanan dengan enam roda; dua yang lainnya, posisi netral, tidak berlawanan dengan roda mana pun tetapi berada di antara roda 1 dan 2 dan antara roda 5 dan 6. Jika tidak ada lebih dari satu lug pada bar mana pun yang berlawanan dengan sebuah roda, mesin dikatakan berada pada kondisi unoverlapped; jika pada bar mana pun terdapat dua lug yang berlawanan dengan roda, mesin dikatakan berada pada kondisi overlapped. Pada sebuah unoverlapped cage, sebuah lug pada setiap batang mungkin diletakkan berlawanan dengan roda. Merupakan hal yang tidak esensial untuk semua lugs
5 untuk berada pada posisi tersebut, tetapi tidak ada keuntungan kriptografik dalam menggunakan jumlah lebih sedikit. Jadi, sebagai contoh, 27 lugs mungkin didistribusikan kepada enam roda sebagai berikut. Tabel 2 Contoh Distribusi Lug pada Roda Mesin Cipher Hagelin Roda Jumlah Lug Jumlah lugs yang berlawanan dengan sebuah roda kadangkadang disebut sebagi kick dari roda tersebut. Jadi, roda dengan panjang 26 di atas memiliki kick of 4. Urutan merupakan hal yang penting; cage di atas (4, 1, 9, 6, 5, 2) tidak akan menghasilkan key stream yang sama seperti (9, 1, 4, 2, 6, 5) walaupun akan terdapat beberapa kesamaan statistik. Pada sisi kiri mesin terdapat roda kecil yang diukir dengan alfabet; ini digunakan untuk masukan huruf plainteks. Terdapat pula roda print yang mencetak huruf cipher pada sebuah sepotong pita kertas. Pita ini memiliki lem pada sisi berlawannya, tujuannya yakni untuk memungkinkan operator untuk menempelkan cipherteks atau plainteks pada lembaran kertas. Sebuah penggulung dari kertas berlem ini berada pada belakang mesin dan di sana juga terdapat obeng untuk memungkinkan operator mengeset pin dan lug. Pada sisi kanan mesin terdapat pegangan yang ketika dirotasikan akan memutar cage sehingga mengenkripsi atau mendekripsi teks; pegangan ini juga menyebabkan setiap roda untuk bergerak maju satu posisi. 3.2 Cara Kerja Mesin Hagelin Operasi dasar mesin hagelin relatif sederhana. Enam roda yang dapat diatur di atas mesin menampilkan sebuah huruf dalam alfabet. Enam roda ini terdiri dari kunci eksternal untuk mesin yang menyediakan kondisi awal (serupa dengan sebuah initialization vector) untuk proses enkripsi atau dekripsi. Gambar 5 Key Wheels Untuk mengenkripsi sebuah pesan, operator mengatur roda kunci ke sebuah urutan acak huruf. Encipheringdeciphering knob pada sisi kiri mesin diset pada "encipher". Sebuah dial yang dikenal sebagai indicator disk, juga pada sisi kiri, digeser ke huruf pertama pada pesan. Huruf ini dienkripsi dengan menggerakkan hand crank atau power handle pada sisi kanan mesin. Pada akhir siklus, huruf cipherteks dicetak pada pita kertas, roda kunci kemudian maju sebanyak satu huruf, dan mesin siap untuk memasukkan karakter selanjutnya dari pesan. Untuk mengindikasikan spasi antarkata dalam pesan, huruf "Z" dienkripsi. Mengulang proses ini untuk sisa pesan akan memberikan cipherteks lengkap, yang dapat ditransmisikan dengan metode apa pun. Karena pengaturan awal roda kunci adalah acak, perlu untuk mengirim pengaturan tersebut ke penerima pesan yang disampaikan. Pengiriman ini dapat dienkripsikan dengan menggunakan kunci harian atau ditransmisikan menthmentah. Cipherteks yang dicetak dapat secara otomatis dikelompokkan dalam suatu kelompok huruf. Berkaitan dengan ini, bergantung dengan variasi mesin hagelin yang digunakan. M-209, contohnya, mengelompokkan ke dalam kelompok lima huruf. Sebuah penghitung huruf di posisi atas mesin mengindikasikan jumlah huruf terenkripsi dan dapat digunakan sebagai penanda jika kesalahan dibuat pada proses enkripsi atau dekripsi. Prosedur dekripsi mirip dengan prosedur enkripsi. Operator mengeset enciphering-deciphering knob pada posisi "decipher", dan mengatur roda kunci dengan urutan yang digunakan pada proses enkripsi. Huruf pertama cipherteks dimasukkan melalui indicator disk, dan power handle dioperasikan sehingga memajukan roda kunci dan mencetak huruf hasil dekripsi. Ketika huruf "Z" ditemui, sebuah spasi tampak pada pesan, sehingga merekonstruksi pesan asli dengan spasi. "Z" yang hilang dapat diinterpretasikan dengan mudah oleh operator berdasarkan konteks kalimat. 3.3 Algoritma Cipher pada Mesin Hagelin Algoritma cipher yang digunakan pada mesin hagelin pada dasarnya merupakan beaufort cipher. Algoritma ini mirip dengan vigenere cipher, hanya saja ia menggunakan rumus yang sedikit berbeda untuk enkripsi huruf: c = (k-p) mod 26 (3) dan dekripsi: p = (k-c) mod 26 (4) di mana: c = cipherteks p = plainteks k = kunci Enkripsi dengan menggunakan beaufort cipher dapat diilustrasikan sebagai berikut.
6 PLAINTEKS : BEAUFORT KUNCI : KUNCIKUN CIPHERTEKS :???????? Ubah ke dalam angka untuk melakukan perhitungan. PLAINTEKS B E A U F O R T KUNCI K U N C I K U N CIPHERTEKS J Q N I D W D U Dengan menggunakan rumus (3) diperoleh cipherteks JQNIDWDU dari plainteks BEAUFORT dan kunci KUNCI. Plainteks dapat diperoleh kembali dari cipherteks dengan menggunakan rumus (4). Beaufort cipher menggunakan tabel yang sama dengan Vigenere cipher, tetapi dengan algoritma yang berbeda. Untuk mengenkripsi sebuah huruf, cari indeks baris yang bernilai sama dengan huruf yang ingin dienkripsi. Kemudian cek isi tabel pada baris tersebut hingga menemukan huruf kunci. Lalu lihat indeks kolom yang bersangkutan untuk mendapatkan huruf cipherteks. Untuk mendekripsi sebuah huruf, temukan indeks kolom yang bernilai sama dengan huruf yang ingin didekripsi lalu cari isi tabel pada kolom tersebut yang sesuai dengan huruf kunci kemudian lihat indeks baris yang bersangkutan untuk mendapatkan huruf plainteks. 4. PEMBAHASAN DAN ANALISIS Dalam penjelasan sebelumnya, telah diketahui bahwa mesin cipher enigma menggunakan algoritma vigenere cipher sedangkan mesin cipher hagelin menggunakan algoritma beaufort cipher. Pada dasarnya, kedua algoritma ini memiliki karakteristik yang mirip, yakni melakukan pergeseran huruf sesuai kunci dengan penerapan rumus tertentu. Fakta bahwa kedua algoritma ini dapat menggunakan tabel yang sama untuk melakukan enkripsi/dekripsi pesan secara implisit memberitahukan bahwa kedua algoritma tersebut memiliki suatu kemiripan. Menurut hipotesis saya, untuk setiap pesan yang dienkripsi dengan huruf kunci tertentu dengan vigenere cipher akan memiliki pemetaan bersifat korespondensi satu-satu dengan suatu huruf kunci pada beaufort cipher di mana jika pesan dienkripsi menggunakan huruf kunci tersebut maka akan dihasilkan cipherteks yang sama. Untuk membuktikannya, saya melakukan pemetaan huruf kunci pada vigenere cipher dengan huruf kunci pada beaufort cipher yang akan memberikan cipherteks yang sama. Pertama, saya mengambil huruf a-z yang akan dienkripsi selain huruf a, kemudian saya melakukan proses enkripsi dengan menggunakan tabel enkripsi/dekripsi dengan algoritma vigenere cipher untuk megenkripsi suatu huruf yang sama dengan kunci a-z. Kemudian, untuk mencari kunci pada beaufort cipher yang akan memberikan cipherteks yang sama untuk plainteks yang sama, dicari perpotongan indeks baris yang bernilai sama dengan plainteks dan indeks kolom yang bernilai sama dengan cipherteks untuk menemukan kunci tersebut. Contohnya, saya ambil huruf plainteks b dan huruf kunci a, maka dengan menggunakan tabel enkripsi/dekripsi, hasil enkripsi vigenere cipher memberikan huruf cipherteks b. Untuk memperoleh huruf kunci pada beaufort cipher yang memberikan cipherteks sama untuk plainteks yang sama, ambil perpotongan indeks baris dan kolom yang masing-masing bernilai sama b dan b, maka kita peroleh huruf kunci c. Lanjutkan dengan huruf kunci b, maka enkripsi vigenere cipher memberikan huruf cipherteks c. Cari kunci pada beaufort cipher dengan cara yang sama dengan sebelumnya, maka diperoleh huruf kunci d. Hal ini dilakukan untuk semua kemungkinan domain huruf plainteks b-z dengan domain kunci a-z. Untuk kasus plainteks dengan huruf a hasil enkripsi pada vigenere cipher dan beaufort cipher dengan kunci yang sama akan menghasilkan cipherteks yang sama. Hal ini dapat dibuktikan dengan mudah dengan menggunakan rumus (1) dan (3), yakni: Vigenere cipher c = (p+k) mod 26 = (0+k) mod 26 = k Beaufort cipher c = (k-p) mod 26 = (k-0) mod 26 = k Dengan melakukan semua langkah di atas, diperoleh pemetaan dari kunci pada vigenere cipher dengan kunci pada beaufort cipher di mana jika plainteks yang sama dienkripsi dengan kunci tersebut menggunaka beaufort cipher maka akan diperolah cipherteks yang sama. Untuk pemetaan kunci tersebut, dapat dibuat tabel seperti tabel (3). Dengan menggunakan tabel ini, untuk mencari kunci beaufort yang akan menghasilkan cipherteks yang sama, dicari perpotongan antara indeks baris yang bernilai sama dengan huruf plainteks yang ingin dienkripsi dan indeks kolom yang bernilai sama dengan kunci vigenere yang akan dipetakan ke kunci beaufort. Isi tabel pada perpotongan tersebut merupakan kunci beaufort yang dicari.
7 Tabel 3 Pemetaan Kunci Vigenere ke Kunci Beaufort REFERENSI [1] Munir, Rinaldi Diktat Kuliah IF 5054 Kriptografi. Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung : Bandung. [2] Churchouse, Robert Codes and Ciphers, Julius Caesar, the Enigma and the Internet. Cambridge University Press : Cambridge. [3] m diakses tanggal 23 Maret 2010 pukul [4] diakses tanggal 23 Maret 2010 pukul [5] diakses tanggal 23 Maret 2010 pukul Karena untuk setiap kasus dapat diperoleh pemetaan bersifat korespondensi satu-satu antara kunci pada vigenere cipher dan kunci pada beaufort cipher di mana kunci ini menghasilkan cipherteks yang sama untuk kedua algoritma, maka pada dasarnya kedua algoritma cipher ini memiliki kesamaan karakteristik. Setiap sifat yang dimiliki vigenere cipher akan dimiliki pula oleh beaufort cipher, begitupula sebaliknya. Misalnya, karena vigenere cipher dapat dipecahkan dengan metode kasiski, maka beaufort cipher juga dapat dipecahkan dengan metode kasiski. Tampak bahwa untuk kedua mesin cipher, tidak ada yang lebih unggul dalam hal algoritma enkripsi karena pada dasarnya kedua algoritma memiliki karakteristik yang sama. Keunggulan mesin akan lebih bergantung pada periode pengulangan kunci. Hal ini akan berbeda-beda pada setiap varian dan model mesin enigma dan hagelin yang telah ada. 5. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan dan analisis yang dilakukan, dapat ditarik kesimpulan berikut: 4.1 Mesin cipher enigma menggunakan algoritma vigenere cipher sedangkan mesin cipher hagelin menggunakan algoritma beaufort cipher. 4.2 Secara teori, antara enigma dan hagelin, tidak ada mesin cipher yang lebih unggul dalam hal metode enkripsi. Keunggulan mesin tergantung periode pengulangan kuncinya, yang berbeda-beda pada setiap varian dan modelnya.
DESAIN, ANALISIS, DAN PEMECAHAN KODE MESIN ENIGMA
DESAIN, ANALISIS, DAN PEMECAHAN KODE MESIN ENIGMA Dominikus D Putranto - 13506060 Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10, Bandung E-mail : [email protected]
Modifikasi Pergeseran Bujur Sangkar Vigenere Berdasarkan Susunan Huruf dan Angka pada Keypad Telepon Genggam
Modifikasi Pergeseran Bujur Sangkar Vigenere Berdasarkan Susunan Huruf dan Angka pada Keypad Telepon Genggam Pradita Herdiansyah NIM : 13504073 1) 1)Program Studi Teknik Informatika ITB, Jl. Ganesha 10,
Aplikasi Kriptografi dalam Mesin Enigma, Pengenkripsi Pesan Tentara Jerman pada Perang Dunia
Aplikasi Kriptografi dalam Mesin Enigma, Pengenkripsi Pesan Tentara Jerman pada Perang Dunia Adi Purwanto Sujarwadi NIM : 13506010 Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha
Metode Enkripsi baru : Triple Transposition Vigènere Cipher
Metode Enkripsi baru : Triple Transposition Vigènere Cipher Maureen Linda Caroline (13508049) Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha
TRIPLE VIGENÈRE CIPHER
TRIPLE VIGENÈRE CIPHER Satrio Adi Rukmono NIM : 13506070 Program Studi Teknik Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung Jalan Ganesha 10, Bandung 40132 E-mail : [email protected]
Modifikasi Vigenere Cipher dengan Enkripsi-Pembangkit Kunci Bergeser
Modifikasi Vigenere Cipher dengan Enkripsi-Pembangkit Kunci Bergeser Abstrak Anggrahita Bayu Sasmita, 13507021 Program Studi Teknik Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi
MODIFIKASI VIGENERE CIPHER DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK SUBSTITUSI BERULANG PADA KUNCINYA
MODIFIKASI VIGENERE CIPHER DENGAN MENGGUNAKAN Program Studi Teknik Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10, Bandung E-mail : [email protected]
Penyamaran Plainteks pada Algoritma Vigenere Chiper StegaVig Makalah IF5054 Kriptografi
Penyamaran Plainteks pada Algoritma Vigenere Chiper StegaVig Makalah IF5054 Kriptografi Dyah Saptanti Perwitasari Teknik Informatika ITB, Bandung 40135, email: [email protected] Abstract Permasalahan
STUDI DAN KRIPTANALISIS PADA ENIGMA CIPHER
Masagus Krisna Ismaliansyah 13503115 STUDI DAN KRIPTANALISIS PADA ENIGMA CIPHER Abstraksi Makalah ini membahas tentang studi dan kriptanalisis pada mesin enigma. Mesin enigma merupakan sebuah mesin enkripsi
Vigènere Transposisi. Kata Kunci: enkripsi, dekripsi, vigènere, metode kasiski, known plainteks attack, cipherteks, plainteks 1.
Vigènere Transposisi Rangga Wisnu Adi Permana - 13504036 1) 1) Program Studi Teknik Informatika ITB, Bandung 40132, email: [email protected] Abstract Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi
Aplikasi Perkalian dan Invers Matriks dalam Kriptografi Hill Cipher
Aplikasi Perkalian dan Invers Matriks dalam Kriptografi Hill Cipher Catherine Pricilla-13514004 Program Studi Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha
SUPER ENKRIPSI & ALGORITMA SEMPURNA
Add your company slogan SUPER ENKRIPSI & ALGORITMA SEMPURNA Kriptografi - Week 6 Aisyatul Karima, 2012 LOGO Standar Kompetensi Pada akhir semester, mahasiswa menguasai pengetahuan, pengertian, & pemahaman
Enkripsi Pesan pada dengan Menggunakan Chaos Theory
Enkripsi Pesan pada E-Mail dengan Menggunakan Chaos Theory Arifin Luthfi P - 13508050 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10
Cipher yang Tidak Dapat Dipecahkan (Unbreakable Cipher)
Bahan Kuliah ke-6 IF5054 Kriptografi Cipher yang Tidak Dapat Dipecahkan (Unbreakable Cipher) Disusun oleh: Ir. Rinaldi Munir, M.T. Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung 2004 6. Cipher
Pergeseran Kemiringan pada Vigènere Chiper
Pergeseran Kemiringan pada Vigènere Chiper YulieAnneria Sinaga NIM :13504085 1) 1) Jurusan Teknik Informatika ITB, Bandung 40116, email: [email protected] Abstract Terdapat metode-metode untuk
Venigmarè Cipher dan Vigenère Cipher
Venigmarè Cipher dan Vigenère Cipher Unggul Satrio Respationo NIM : 13506062 Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10, Bandung E-mail : [email protected]
Streamed Key Vigenere Cipher : Vigenere Cipher Menggunakan Penerapan Metode Pembangkitan Aliran Kunci
Streamed Key Vigenere Cipher : Vigenere Cipher Menggunakan Penerapan Metode Pembangkitan Aliran Kunci Faradina Ardiyana Program Studi Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl.Ganesha 10 Bandung
Modifikasi Ceasar Cipher menjadi Cipher Abjad-Majemuk dan Menambahkan Kunci berupa Barisan Bilangan
Modifikasi Ceasar Cipher menjadi Cipher Abjad-Majemuk dan Menambahkan Kunci berupa Barisan Bilangan Ari Wardana / 135 06 065 Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10,
Beberapa Algoritma Kriptografi Klasik. Haida Dafitri, ST, M.Kom
Beberapa Algoritma Kriptografi Klasik Haida Dafitri, ST, M.Kom Playfair Cipher Termasuk ke dalam polygram cipher. Ditemukan oleh Sir Charles Wheatstone namun dipromosikan oleh Baron Lyon Playfair pada
BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Kriptografi Definisi Kriptografi
BAB 2 LANDASAN TEORI 2. Kriptografi 2.. Definisi Kriptografi Kriptografi adalah ilmu mengenai teknik enkripsi di mana data diacak menggunakan suatu kunci enkripsi menjadi sesuatu yang sulit dibaca oleh
STUDI DAN PERBANDINGAN PERFORMANSI ALGORITMA SIMETRI VIGENERE CHIPPER BINNER DAN HILL CHIPPER BINNER Ivan Nugraha NIM :
STUDI DAN PERBANDINGAN PERFORMANSI ALGORITMA SIMETRI VIGENERE CHIPPER BINNER DAN HILL CHIPPER BINNER Ivan Nugraha NIM : 13506073 Abstrak Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl.
Modifikasi Vigenère Cipher dengan Metode Penyisipan Kunci pada Plaintext
Modifikasi Vigenère Cipher dengan Metode Penyisipan Kunci pada Plaintext Kevin Leonardo Handoyo/13509019 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung,
Wheel Cipher dan Perkembangannya Marianti Putri Wulandari
Wheel Cipher dan Perkembangannya Marianti Putri Wulandari 13503093 Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl Ganesha No 10, Bandung Email : [email protected] Abstraksi
Perbandingan Germany Enigma Machine dengan Japanese Purple Machine
Perbandingan Germany Enigma Machine dengan Japanese Purple Machine Lio Franklyn Kemit - 090 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha
BAB II LANDASAN TEORI. bilangan bulat dan mengandung berbagai masalah terbuka yang dapat dimengerti
BAB II LANDASAN TEORI A. Teori Bilangan Teori bilangan adalah cabang dari matematika murni yang mempelajari sifat-sifat bilangan bulat dan mengandung berbagai masalah terbuka yang dapat dimengerti sekalipun
Aplikasi Pewarnaan pada Vigener Cipher
1 Aplikasi Pewarnaan pada Vigener Cipher Denver - 13509056 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia [email protected]
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Manusia memiliki keinginan untuk saling berkomunikasi atau bertukar informasi dengan manusia lain. Salah satu komunikasi tersebut dilakukan dengan mengirimkan pesan
BAB III PENGERTIAN DAN SEJARAH SINGKAT KRIPTOGRAFI
BAB III PENGERTIAN DAN SEJARAH SINGKAT KRIPTOGRAFI 3.1. Sejarah Kriptografi Kriptografi mempunyai sejarah yang panjang. Informasi yang lengkap mengenai sejarah kriptografi dapat ditemukan di dalam buku
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Kriptografi 2.1.1 Pengertian Kriptografi Kriptografi (cryptography) berasal dari Bahasa Yunani criptos yang artinya adalah rahasia, sedangkan graphein artinya tulisan. Jadi kriptografi
PERANCANGAN ALGORITMA KRIPTOGRAFI KUNCI SIMETRI DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SARAF TIRUAN
PERANCANGAN ALGORITMA KRIPTOGRAFI KUNCI SIMETRI DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SARAF TIRUAN Ibrahim Arief NIM : 13503038 Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10, Bandung
MODIFIKASI VIGÈNERE CIPHER DENGAN MENGGUNAKAN MEKANISME CBC PADA PEMBANGKITAN KUNCI
MODIFIKASI VIGÈNERE CIPHER DENGAN MENGGUNAKAN MEKANISME CBC PADA PEMBANGKITAN KUNCI Sibghatullah Mujaddid Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung
RANCANGAN,IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN ZENARC SUPER CIPHER SEBAGAI IMPLEMENTASI ALGORITMA KUNCI SIMETRI
RANCANGAN,IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN ZENARC SUPER CIPHER SEBAGAI IMPLEMENTASI ALGORITMA KUNCI SIMETRI Ozzi Oriza Sardjito NIM 13503050 Program Studi Teknik Informatika, STEI Institut Teknologi Bandung
WINDOWS VISTA BITLOCKER DRIVE ENCRYPTION
WINDOWS VISTA BITLOCKER DRIVE ENCRYPTION Yudha Adiprabowo NIM : 13506050 Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10, Bandung E-mail : [email protected] Abstrak
Modifikasi Nihilist Chiper
Modifikasi Nihilist Chiper Fata Mukhlish 1 Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Program Studi Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10 Bandung 40132 E-mail : [email protected]
PEMANFAATAN KEMBALI KRIPTOGRAFI KLASIK DENGAN MELAKUKAN MODIFIKASI METODE-METODE KRIPTOGRAFI YANG ADA
PEMANFAATAN KEMBALI KRIPTOGRAFI KLASIK DENGAN MELAKUKAN MODIFIKASI METODE-METODE KRIPTOGRAFI YANG ADA Primanio NIM : 13505027 Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10,
ENKRIPSI CITRA BITMAP MELALUI SUBSTITUSI WARNA MENGGUNAKAN VIGENERE CIPHER
ENKRIPSI CITRA BITMAP MELALUI SUBSTITUSI WARNA MENGGUNAKAN VIGENERE CIPHER Arifin Luthfi P - 13508050 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung,
Modifikasi Affine Cipher Dan Vigènere Cipher Dengan Menggunakan N Bit
Modifikasi Affine Cipher Dan Vigènere Cipher Dengan Menggunakan N Bit Nur Fadilah, EntikInsannudin Jurusan Teknik Informatika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Jln. A.H.Nasution
Cipher Jefferson. Abstraksi`
Cipher Jefferson Teguh Pamuji NIM : 13503054 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10, Bandung E-mail : [email protected]
Penerapan Vigenere Cipher Untuk Aksara Arab
Penerapan Vigenere Cipher Untuk Aksara Arab Prisyafandiafif Charifa (13509081) Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung
STUDI PERBANDINGAN ALGORITMA SIMETRI BLOWFISH DAN ADVANCED ENCRYPTION STANDARD
STUDI PERBANDINGAN ALGORITMA SIMETRI BLOWFISH DAN ADVANCED ENCRYPTION STANDARD Mohammad Riftadi NIM : 13505029 Program Studi Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha No. 10, Bandung E-mail :
Vigènere Cipher dengan Pembangkitan Kunci Menggunakan Bilangan Euler
Vigènere Cipher dengan Pembangkitan Kunci Menggunakan Bilangan Euler Budi Satrio - 13504006 Program Studi Teknik Informatika ITB, Bandung 40132, email: if14006@studentsifitbacid Abstract Vigènere cipher
KEAMANAN JARINGAN KOMPUTER MODUL 2 ENKRIPSI. DISUSUN OLEH Kundang K.Juman,Ir,MMSI
KEAMANAN JARINGAN KOMPUTER MODUL 2 ENKRIPSI DISUSUN OLEH Kundang K.Juman,Ir,MMSI UNIVERSITAS INDONUSA ESA UNGGUL 2008 Enkripsi Tujuan Pembelajaran 1. Mahasiswa dapat memahami mengenai enkripsi 2. Mahasiswa
Analisis Kriptografi Klasik Jepang
Analisis Kriptografi Klasik Jepang Ryan Setiadi (13506094) Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia [email protected]
SKK: ENKRIPSI KLASIK - SUBSTITUSI
SKK: ENKRIPSI KLASIK - SUBSTITUSI Isram Rasal S.T., M.M.S.I, M.Sc. Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri Universitas Gunadarma 1 Tujuan Perkuliahan Mahasiswa dapat memahami: Mengetahui
PENERAPAN KRIPTOGRAFI DAN GRAF DALAM APLIKASI KONFIRMASI JARKOM
PENERAPAN KRIPTOGRAFI DAN GRAF DALAM APLIKASI KONFIRMASI JARKOM Mario Orlando Teng (13510057) Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha
APLIKASI TEORI BILANGAN UNTUK AUTENTIKASI DOKUMEN
APLIKASI TEORI BILANGAN UNTUK AUTENTIKASI DOKUMEN Mohamad Ray Rizaldy - 13505073 Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10, Bandung, Jawa Barat e-mail: [email protected]
MAKALAH KRIPTOGRAFI KLASIK
MAKALAH KRIPTOGRAFI KLASIK Disusun Oleh : Beny Prasetyo ( 092410101045 ) PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI UNIVERSITAS JEMBER 2011 BAB 1 LATAR BELAKANG 1.1. Latar Belakang Kriptografi berasal dari bahasa
Teknik Konversi Berbagai Jenis Arsip ke Dalam bentuk Teks Terenkripsi
Teknik Konversi Berbagai Jenis Arsip ke Dalam bentuk Teks Terenkripsi Dadan Ramdan Mangunpraja 1) 1) Jurusan Teknik Informatika, STEI ITB, Bandung, email: [email protected] Abstract Konversi berbagai
Studi dan Implementasi Komputerisasi Mesin Enigma
Studi dan Implementasi Komputerisasi Mesin Enigma Akhmad Ratriono Anggoro 13505003 Program Studi Teknik Informatika ITB, Jalan Ganesha 10 Bandung, Jawa Barat, email: [email protected] Abstract
H-Playfair Cipher. Kata Kunci: H-Playfair cipher, playfair cipher, polygram cipher, kriptanalisis, kriptografi.
H-Playfair Cipher Hasanul Hakim / NIM : 13504091 1) 1) Program Studi Teknik Informatika ITB, Bandung, email: [email protected], [email protected] Abstract Playfair Cipher memiliki banyak
Modifikasi Cipher Block Chaining (CBC) MAC dengan Penggunaan Vigenere Cipher, Pengubahan Mode Blok, dan Pembangkitan Kunci Berbeda untuk tiap Blok
Modifikasi Cipher Block Chaining (CBC) MAC dengan Penggunaan Vigenere Cipher, Pengubahan Mode Blok, dan Pembangkitan Kunci Berbeda untuk tiap Blok Fatardhi Rizky Andhika 13508092 Program Studi Teknik Informatika
STUDI ALGORITMA SOLITAIRE CIPHER
STUDI ALGORITMA SOLITAIRE CIPHER Puthut Prabancono NIM : 13506068 Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10, Bandung E-mail : [email protected] Abstrak Penggunaan
Pengembangan Vigenere Cipher menggunakan Deret Fibonacci
Pengembangan Vigenere Cipher menggunakan Deret Fibonacci Jaisyalmatin Pribadi (13510084) 1 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha
ANALISA PROSES ENKRIPSI DAN DESKRIPSI DENGAN METODE DES
INFOKAM Nomor I / Th. VII/ Maret / 11 39.. ANALISA PROSES ENKRIPSI DAN DESKRIPSI DENGAN METODE DES Muhamad Danuri Dosen Jurusan Manajemen Informatika, AMIK JTC Semarang ABSTRAKSI Makalah ini membahas tentang
Studi dan Implementasi Algoritma Inverse Generator Cipher
Studi dan Implementasi Algoritma Inverse Generator Cipher Muhamad Fajrin Rasyid 1) 1) Program Studi Teknik Informatika ITB, Bandung 40132, email: [email protected] Abstract Vigenere Cipher
RC4 Stream Cipher. Endang, Vantonny, dan Reza. Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung Jalan Ganesha 10 Bandung 40132
Endang, Vantonny, dan Reza Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung Jalan Ganesha 10 Bandung 40132 E-mail : [email protected] [email protected] [email protected]
Modifikasi Playfair Chiper Dengan Kombinasi Bifid, Caesar, dan Transpositional Chiper
Modifikasi Playfair Chiper Dengan Kombinasi Bifid, Caesar, dan Transpositional Chiper Indra Mukmin Jurusan Teknik Informatika ITB, Jalan Ganesha 10 Bandung 40132, email: [email protected] Abstraksi
Transposition Cipher dan Grille Cipher
Transposition Cipher dan Grille Cipher Kevin Wibowo-13509065 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia
Analisis Keamanan dan Penerapan Kriptografi pada Sistem Keyless Entry Mobil
Analisis Keamanan dan Penerapan Kriptografi pada Sistem Keyless Entry Mobil Pradita Herdiansyah NIM : 13504073 1) 1)Program Studi Teknik Informatika ITB, Jl. Ganesha 10, Bandung, email: [email protected]
Implementasi Algoritma Vigenere Subtitusi dengan Shift Indeks Prima
Implementasi Algoritma Vigenere Subtitusi dengan Shift Indeks Prima Muslim Ramli Magister Teknik Informatika, Universitas Sumatera Utara [email protected] Rahmadi Asri Magister Teknik Informatika,
Vigènere Chiper dengan Modifikasi Fibonacci
Vigènere Chiper dengan Modifikasi Fibonacci Anggriawan Sugianto / 13504018 Teknik Informatika - STEI - ITB, Bandung 40132, email: [email protected] Abstrak - Vigènere chiper merupakan salah
3D Model Vigenere Cipher
3D Model Vigenere Cipher Muhammad Anis,13508068 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia [email protected]
IMPLEMENTASI ALGORITMA VIGENERE CIPHER DAN RIVEST SHAMMER ADLEMAN (RSA) DALAM KEAMANAN DATA TEKS
Jurnal INFOTEK, Vol 1, No 2, Juni 2016 ISSN 2502-6968 (Media Cetak) IMPLEMENTASI ALGORITMA VIGENERE CIPHER DAN RIVEST SHAMMER ADLEMAN (RSA) DALAM KEAMANAN DATA TEKS Ridho Ananda Harahap (12110848) Mahasiswa
PERBANDINGAN METODE VIGENERE DAN AFFINE UNTUK PESAN RAHASIA
Jurnal Informatika Mulawarman Vol. 7 No. 2 Edisi Juli 2012 70 PERBANDINGAN METODE VIGENERE DAN AFFINE UNTUK PESAN RAHASIA Hamdani Jurusan Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Modifikasi Algoritma Caesar Cipher Menjadi SPICA-XB (Spinning Caesar dengan XOR Binary)
Modifikasi Algoritma Caesar Cipher Menjadi SPICA-XB (Spinning Caesar dengan XOR Binary) Rizal Panji Islami (13510066) Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi
Tipe dan Mode Algoritma Simetri (Bagian 2)
Bahan Kuliah ke-10 IF5054 Kriptografi Tipe dan Mode Algoritma Simetri (Bagian 2) Disusun oleh: Ir. Rinaldi Munir, M.T. Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung 2004 Rinaldi Munir IF5054
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi informasi dan komunikasi telah berkembang dengan pesat dan memberikan pengaruh yang besar bagi kehidupan manusia. Sebagai contoh perkembangan teknologi jaringan
KRIPTOGRAFI DAN KRIPTANALISIS KLASIK
KRIPTOGRAFI DAN KRIPTANALISIS KLASIK Raka Mahesa (13508074) Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung Jln. Ganesha No. 10, Bandung [email protected] ABSTRAK Kriptologi terus berkembang
STUDI & IMPLEMENTASI ALGORITMA TRIPLE DES
STUDI & IMPLEMENTASI ALGORITMA TRIPLE DES Anugrah Adeputra NIM : 13505093 Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10, Bandung E-mail : [email protected] Abstrak
Transformasi Linier dalam Metode Enkripsi Hill- Cipher
Transformasi Linier dalam Metode Enkripsi Hill- Cipher Muhammad Reza Ramadhan - 13514107 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan dan perkembangan teknologi informasi dewasa ini telah berpengaruh pada hampir semua aspek kehidupan manusia, tak terkecuali dalam hal berkomunikasi. Dengan
Jln. Perintis Kemerdekaan, Makassar, Indonesia, Kode Pos ENCRYPTION AND DECRYPTION OF ENIGMA MACHINE
ENKRIPSI DAN DEKRIPSI PADA MESIN ENIGMA Augried Leoni Famela 1), Loeky Haryanto 2), Armin Lawi 3) [email protected] 1), [email protected] 2), [email protected] 3) 1 Jurusan Matematika, Fakultas
Penerapan Mode Blok Cipher CFB pada Yahoo Messenger
Penerapan Mode Blok Cipher CFB pada Yahoo Messenger Sesdika Sansani -- 13507047 1 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung
Data Encryption Standard (DES)
Bahan Kuliah ke-12 IF5054 Kriptografi Data Encryption Standard (DES) Disusun oleh: Ir. Rinaldi Munir, M.T. Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung 2004 12. Data Encryption Standard (DES)
PEMBUATAN PERANGKAT LUNAK MEDIA PEMBELAJARAN KRIPTOGRAFI KLASIK
PEMBUATAN PERANGKAT LUNAK MEDIA PEMBELAJARAN KRIPTOGRAFI KLASIK Abd. Hallim 1, Isbat Uzzin Nadhori 2, Setiawardhana 2 Mahasiswa Jurusan Teknologi Informasi 1, Dosen Pembimbing 2 Politeknik Elektronika
Disusun oleh: Ir. Rinaldi Munir, M.T.
Disusun oleh: Ir. Rinaldi Munir, M.T. Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung 2004 9. Tipe dan Mode Algoritma Simetri 9.1 Pendahuluan Algoritma kriptografi (cipher) yang beroperasi dalam
Algoritma Kriptografi Klasik Baru
Algoritma Kriptografi Klasik Baru William - 13508032 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia [email protected]
Penerapan Kriptografi Pada Perangkat Digital Book Reader (DigiReader) Untuk Kelestarian Lingkungan
Penerapan Kriptografi Pada Perangkat Digital Book Reader (DigiReader) Untuk Kelestarian Lingkungan Ecko Manalu 13508604 Program Studi Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung Jl Ganesha 10, Bandung
Algoritma Rubik Cipher
Algoritma Rubik Cipher Khoirunnisa Afifah Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia [email protected]
BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN
BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN III.1. Analisis Masalah Analisa sistem yang berjalan bertujuan untuk mengidentifikasi serta melakukan evaluasi terhadap sistem Keamanan Data SMS Dengan Menggunakan Kriptografi
Penggabungan Algoritma Kriptografi Simetris dan Kriptografi Asimetris untuk Pengamanan Pesan
Penggabungan Algoritma Kriptografi Simetris dan Kriptografi Asimetris untuk Pengamanan Pesan Andreas Dwi Nugroho (13511051) 1 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut
Penerapan Metode Enkripsi Vigenere Cipher dalam Pengamanan Transaksi Mobile Banking
Abstrak Penerapan Metode Enkripsi Vigenere Cipher dalam Pengamanan Transaksi Mobile Banking Ario Yudo Husodo NIM : 13507017 Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1. Hasil Hasil yang disajikan oleh sistem berdasarkan Perancangan Keamanan Data SMS Dengan Menggunakan Kriptografi Vigenere Cipher Berbasis Android adalah berupa sistem yang
Algoritma Kriptografi Modern (Bagian 2)
Algoritma Kriptografi Modern (Bagian 2) Bahan Kuliah Kriptografi Sumber : Rinaldi Munir FTSI Unipdu / Kriptografi 1 Kategori Algoritma (cipher) Berbasis Bit 1. Cipher Aliran (Stream Cipher) - beroperasi
Algoritma Kriptografi Modern (Bagian 2)
Algoritma Kriptografi Modern (Bagian 2) 1 Mode Operasi Cipher Blok Mode operasi: berkaitan dengan cara blok dioperasikan Ada 4 mode operasi cipher blok: 1. Electronic Code Book (ECB) 2. Cipher Block Chaining
Termasuk ke dalam cipher abjad-majemuk (polyalpabetic substitution cipher ).
IF5054 Kriptografi 1 Termasuk ke dalam cipher abjad-majemuk (polyalpabetic substitution cipher ). Ditemukan oleh diplomat (sekaligus seorang kriptologis) Perancis, Blaise de Vigènere pada abad 16. Sudah
Blok Cipher JUMT I. PENDAHULUAN
Blok Cipher JUMT Mario Tressa Juzar (13512016) Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia [email protected]
Penggunaan Transformasi Matriks dalam Enkripsi dan Dekripsi
Penggunaan Transformasi Matriks dalam Enkripsi dan Dekripsi Varian Caesar - 13514041 Program Studi Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung
Vigenere Minimum-Prime Key-Adding Cipher
Vigenere Minimum-Prime Key-Adding Cipher Zakka Fauzan Muhammad 1) 1) Teknik Informatika ITB, Bandung, email: [email protected] Abstraksi Akhir-akhir ini, keamanan data dan berkas yang dikirimkan
BAB III ANALISIS KEBUTUHAN DAN PERANCANGAN SISTEM. KriptoSMS akan mengenkripsi pesan yang akan dikirim menjadi ciphertext dan
BAB III ANALISIS KEBUTUHAN DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 Analisis Kebutuhan Aplikasi KriptoSMS ini digunakan untuk mengirim dan menerima pesan. KriptoSMS akan mengenkripsi pesan yang akan dikirim menjadi
STUDI ENKRIPSI DAN KRIPTANALISIS TERHADAP ENIGMA
STUDI ENKRIPSI DAN KRIPTANALISIS TERHADAP ENIGMA Eddo Fajar N 23505029 Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10, Bandung [email protected] Abstrak Makalah ini membahas
Implementasi Vigenere Chiper Kunci Dinamis dengan Perkalian Matriks
Implementasi Vigenere Chiper Kunci Dinamis dengan Perkalian Matriks Ahmad Zufri -13504044 1) Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB, Bandung,40132, email: if14044@studentsifitbacid Abstract Semakin
Pengembangan Fungsi Random pada Kriptografi Visual untuk Tanda Tangan Digital
Pengembangan Fungsi Random pada Kriptografi Visual untuk Tanda Tangan Digital Abdurrahman Dihya Ramadhan/13509060 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi
Pembangkit Kunci Acak pada One-Time Pad Menggunakan Fungsi Hash Satu-Arah
Pembangkit Kunci Acak pada One-Time Pad Menggunakan Fungsi Hash Satu-Arah Junita Sinambela (13512023) Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung,
STUDI MENGENAI JARINGAN FEISTEL TAK SEIMBANG DAN CONTOH IMPLEMENTASINYA PADA SKIPJACK CIPHER
STUDI MENGENAI JARINGAN FEISTEL TAK SEIMBANG DAN CONTOH IMPLEMENTASINYA PADA SKIPJACK CIPHER Stevie Giovanni NIM : 13506054 Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10,
Pemanfaatan Vigenere Cipher untuk Pengamanan Foto pada Sistem Operasi Android
Pemanfaatan Vigenere Cipher untuk Pengamanan Foto pada Sistem Operasi Android Raka Mahesa - 13508074 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung,
ALGORITMA ELGAMAL DALAM PENGAMANAN PESAN RAHASIA
ABSTRAK ALGORITMA ELGAMAL DALAM PENGAMANAN PESAN RAHASIA Makalah ini membahas tentang pengamanan pesan rahasia dengan menggunakan salah satu algoritma Kryptografi, yaitu algoritma ElGamal. Tingkat keamanan
BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kemajuan dan perkembangan teknologi informasi saat ini sangatlah pesat dan berpengaruh terhadap hampir semua kehidupan manusia, salah satunya adalah teknologi jaringan
BAB I PENDAHULUAN. Pada era teknologi informasi yang semakin berkembang, pengiriman data
1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pada era teknologi informasi yang semakin berkembang, pengiriman data dan informasi merupakan suatu hal yang sangat penting. Apalagi dengan adanya fasilitas internet
