REBA ORANG NGADA: SEBUAH REFLEKSI TERHADAP TATA NILAI YANG DIDENGAR, DIYAKINI, DAN DIJALANKAN SERTA DIKISAHKAN KEPADA ANAK CUCU*)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "REBA ORANG NGADA: SEBUAH REFLEKSI TERHADAP TATA NILAI YANG DIDENGAR, DIYAKINI, DAN DIJALANKAN SERTA DIKISAHKAN KEPADA ANAK CUCU*)"

Transkripsi

1 REBA ORANG NGADA: SEBUAH REFLEKSI TERHADAP TATA NILAI YANG DIDENGAR, DIYAKINI, DAN DIJALANKAN SERTA DIKISAHKAN KEPADA ANAK CUCU*) Oleh Leonardus Banilodu Pengamat Reba Orang Ngada ==================================================================== I. PENDAHULUAN Sebelum membahas tentang Reba dengan tata nilai yang terkait, pertama-tama kami menyampaikan terima kasih kepada Panitia Reba Ngada Tahun 2015 di Kupang dari Kecamatan Bajawa, yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk membagi pengetahuan tentang Reba Orang Ngada. Kami perlu menggarisbawahi di sini bahwa berbicara tentang Reba Orang Ngada akan selalu menjadi perdebatan karena masing-masing orang akan mendaraskan diri pada apa yang didengar, diyakini, dijalankan serta dikisahkan secara turun temurun. Konsep Reba juga akan berbeda karena tempat. Singkatnya, kebenaran tentang Reba menurut seseorang menjadi sah-sah saja sesuai dengan apa seseorang itu ketahui. Lebih dari itu, agaknya dipandang penting untuk mengetahui apakah Reba itu? Kata Reba tidak ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata Reba adalah nama lokal orang Ngada, nama suatu tumbuhan yang berperawakan (berhabitus) sebagai perdu, dan umumnya tumbuh di daerah dataran rendah hingga dataran tinggi. Reba adalah nama lokal Ngada, yang orang Mataloko dan Takatunga menyebutnya dengan nama Po. Tumbuhan Reba dikenal dengan nama latin atau nama ilmiah Mallotus philippinensis dalam suku atau familia Euphorbiaceae (Getah-getahan). Tumbuhan ini banyak dijumpai di lahan-lahan masyarakat, yang lazimnya menjadi penunjang atau tongkat bagi tanaman rambatan ubi kelapa (Dioscorea sp.), yang orang Ngada sebut Uwi. II. REBA SARAT NILAI Mengapa Reba menjadi sebuah pekan budaya orang Ngada yang sarat nilai? Dikisahkan bahwa pada zaman dahulu hasil-hasil pertanian masyarakat kurang memuaskan, artinya kelaparan selalu berdampingan dengan kehidupan masyarakat, dan kelompok yang paling menderita adalah kaum janda dan yatim piatu (Fai Walu Ana Salo). Jenis tanaman dan alat-alat pertanian di masa itu juga terbatas. Tanaman pertanian yang umum adalah ubi-ubian, termasuk ubi kelapa (Dioscorea sp.) dari suku atau familia Dioscoreaceae (Gadung-gadungan). Untuk membuka lahan baru di masa itu, masyarakat sangat mengandalkan kayu dan bambu untuk membuat alat pertanian yang namanya Woka dan untuk menghancurkan tanah guna memisahkan rerumputan digunakan Pepa. Jadi, tidak ada pacul dan tofa seperti sekarang. Masyarakat di masa itu giat menanam ubi-ubian. Suatu ketika, hasil panenan Uwi atau Ubi Kelapa melimpah. Masyarakat bersepakat untuk mensyukuri hasil panenan Uwi yang melimpah dengan memberi makan kepada sesama yang *) Makalah untuk memenuhi permintaan Panitia Reba Orang Ngada Tahun 2015 dari Kecamatan Bajawa. Kupang, 14 Pebruari

2 berkekurangan, terutama kaum janda dan yatim piatu. Disepakati pekan syukuran itu namanya Reba, karena Ubi Kelapa tumbuh merambat dengan suburnya pada pohon-pohon Reba. III. TAHAPAN REBA Reba adalah suatu pekan budaya orang Ngada (Woe Ngadha) setahun sekali di mana semua orang berdendang dan menari, dan sarat dengan pesan-pesan adat. Dalam kalender musim tradisional orang Ngada, Reba adalah puncak dari pergantian musim dalam setahun, dan sekaligus sebagai Tahun Baru Adat, untuk Reba Langa tepatnya 15 Januari setiap tahun, yang pada tanggal inilah belakangan ditandai dengan Misa Inkulturasi, sehingga Pembukaan Reba (Dheke Reba) di setiap Rumah Adat (Sao Meze Tangi Lewa) bergeser ke tanggal 16 Januari. Memasuki pekan budaya Reba, terdapat serangkaian tahapan yang harus dilalui di setiap rumah adat (Sao Ngaza). Pertama adalah pembukaan Reba (Kobe Dheke), yang didahului dengan acara makan nasi bercampur kelapa garukan atau parutan, yang dalam bahasa adat disebut Ka Maki Rebha. Untuk Ka Maki Rebha, lazimnya dilaksanakan pertama di rumah adat yang berkedudukan sebagai Rumah Pokok (Saka Pu u) dan selanjutnya diikuti di rumah-rumah adat dalam rumpun (One Woe) yang telah siap untuk memberikan anak cucu. Rumah Pokok di sini berkaitan makna dengan Lambang Persatuan Suku (Ngadhu Ne e Bhaga). Dalam satu suku, lazimnya ada satu Ngadhu Ne e Bhaga, atau bisa lebih dari satu, tergantung besar kecilnya suku. Jadi, dalam satu suku, paling sedikit terdapat empat rumah adat, yakni Saka Pu u, Saka Lobo, Kaka Saka Pu u, dan Kaka Saka Lobo. Atau paling banyak terdapat enam atau lebih rumah adat (tergantung jumlah rumah adat yang berstatus Dai), yakni Saka Pu u, Saka Lobo, Kaka Saka Pu u, Kaka Saka Lobo, Dai Kaka Saka Pu u, dan Dai Kaka Saka Lobo. Setelah Ka Maki Rebha secara bergilir di rumah-rumah adat, tahap berikutnya adalah Dheke Rebha di rumah adat masingmasing. Kedua kegiatan ini lazimnya dilakukan pada malam hari dengan menghadirkan semua anggota keluarga dari rumah adat yang bersangkutan, kecuali berhalangan hadir karena alasan kesehatan atau jauh di perantauan. Pada malam Kobe Dheke ini, tidak ada agenda evaluatif atau pembicaraan penting di dalam rumah adat. Yang terjadi adalah makan bersama, yang didahului dengan memberi makan nenek moyang (Ti i Ka Inu Ebu Nusi) karena diyakini bahwa pada malam Kobe Dheke semua nenek moyang dalam rumah adat dan suku hadir. Selanjutnya, bertawa ria atau berceritera apa saja di antara semua anggota keluarga. Pada malam ini pula akan terjadi saling meminjam pakaian adat untuk dipakai pada esok harinya ketika akan menari bersama (O Uwi), atau saling kompromi tentang hidangan rumah adat untuk menjamu para tamu undangan jika ada rencana dari kampung lain yang masuk atau datang O Uwi. Selain itu, terdapat acara adat yang lazimnya digandengkan dengan acara Dheke Reba adalah mengizinkan anak manantu (laki-laki atau perempuan, dan biasanya anak menantu perempuan) untuk masuk rumah adat (Tege Ana Tua). Acara lain yang dapat digandengkan dengan Pembukaan Reba adalah acara peminangan adat (Ka Maki Rene) untuk perempuan atau untuk laki-laki. Memasuki pekan Reba, tidak diperkenankan melakukan jual beli atau mendatangkan ikan mentah (segar). Sejak malam Dheke Reba hingga berakhirnya Reba (Kobe Sui), di tungku api rumah adat (Lika Lapu Sao Meze), tidak boleh menggoreng jagung atau memasak sayur-sayuran. Kedua adalah hari berdendang dan menari (O Uwi). Tahap ini biasanya diawali dengan kegiatan berdendang dan menari keliling kampung (Kelo Ghae Gili Nua). Tujuannya adalah untuk 2

3 mengajak sanak saudara untuk segera berpakaian adat, keluar dari rumah masing-masing, dan O Uwi bersama-sama di tengah kampung. O Uwi ini bisa dilakukan untuk satu kampung saja, atau bersama-sama dua atau tiga kampung, tergantung kesepakatan sebelumnya. Jumlah hari bisa dua atau tiga hari, juga tergantung kesepakatan dan kemampuan fisik dan suara. Karena jika tidak menjaga kemampuan fisik dan suara, di pasca O Uwi, orang merasakan kepegalan kaki, keletihan fisik dan berbicara dengan suara parau atau suara menghilang. Sajian utama di hari O Uwi adalah nasi daging (maki sui) dengan minuman alkohol (tua ara). Ketiga adalah Penutupan Reba (Kobe Su i), yang didahului dengan makan bersama semua anggota dan anak cucu dalam suku (Dhoi) di tugu atau tumpukan batu suku (Loka). Makan bersama ini dilakukan pada siang hari, lazimnya di pagi hari. Karena setelah acara Dhoi, masih ada orang yang bersiap diri untuk O Uwi, apakah di kampung sendiri atau di kampung tetamngga. Pada acara Dhoi di Loka, semua rumah adat yang tergabung dalam suku (Woe) harus membawa Tofa Ubi (Sua Uwi) masing-masing sebagai tanda kedaulatan adat di dalam suku, juga nasi daging dan minuman tua ara. Jumlah Sua Uwi, bisa empat jika satu Ngadhu Ne e Bhaga dan tidak ada Dhai, atau enam atau lebih jika ada Dhai. Acara penting di Loka adalah 1) pesanpesan oleh Tua Adat (Po Pena Pu u Ngia Dela One Woe) dan tukar pikiran dalam suku (Papa Ti i Go Magha Zeta One Woe), 2) makan bersama (Nalo), 3) ritual penyegaran tofa ubi (Bura Zua), dan 4) berdendang dan menari bersama keliling kampung (Kelo Ghae) dengan mengedepankan orang-orang (biasanya anak-anak) yang memikul Zua Uwi masing-masing, serta bubar ke rumah masing-masing. Setelah acara Dhoi di pagi hari, pada malam hari akan dilakukan acara Penutupan Reba (Kobe Su i) di masing-masing rumah adat sesuai kesepakatan dari anggota keluarga di rumah adat yang bersangkutan. Acara Kobe Su i ini terdiri dari 1) ritual untuk sembelih ayam (ngaza manu dan ghiri ate manu), 2) memotong-motong daun ubi dengan menyapa semua kedatangan anggota keluarga serta anak cucu dari berbagai penjuru (Su i O Uwi) yang hasil potongan daun ubi akan dibagikan kepada seisi rumah untuk dimakan, 3) memberi makan nenek moyang (yakni dua piring atau wati nasi, daging - hati ayam dan dua gelas atau tempurung minuman tua ara), 4) makan minum bersama seluruh anggota dalam rumah adat, dan 5) pesan-pesan dari lelaki tertua dalam rumah (Po Gege Wiri Meta Go Pene). Hal penting pada acara Dhoi dan Kobe Su i adalah pesan-pesan adat, yang akan disampaikan pada butir di bawah ini. IV. LINGKUP PESAN-PESAN ADAT REBA Kemajuan IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi) dan pembangunan, di satu sisi telah membawa kita kepada berbagai kemajuan hidup, tetapi di sisi lain telah melahirkan kita menjadi insan-insan yang individualistik, tidak mengenal saudara dan saudari, meremehkan atau merendahkan satu dengan yang lain, berperkara dengan sesama orang di dalam satu rumah adat atau di dalam satu suku. Bersamaan dengan bertumbuh suburnya sikap-sikap individualistik demikian, terjadilah pemutarbalikan dan penanaman tata nilai kepada anak cucu yang tidak benar hanya untuk sekedar mengamankan sikap individualistik diri. Lagi pula, jika sikap-sikap individualistik tersebut dipicu oleh sikap menguasai dari laki-laki yang adalah sang suami dari saudari perempuan. Dia laki-laki sang suami akan mendorong isterinya untuk bersikap sesuka hatinya terhadap saudara laki-laki dari dari isteri. Sikap dan tindakan sewenang-wenang dari sang laki-laki yang adalah suami dari saudari perempuan tidak dapat dibenarkan. Dia laki-laki 3

4 sebagai suami tidak memiliki hak adat di rumah adat isterinya. Dia memiliki hak adat di rumah adat yang didiami oleh saudarinya. Jadi, jika perlu diberi teguran dan sanksi adat. Berikut ini adalah pesan-pesan adat penting yang dapat selalu disampaikan, dipesankan, dan diluruskan, sehingga tidak menyesatkan anak cucu di kemudian hari. 1. Pesan-pesan Adat pada Acara Dhoi di Loka Pesan-pesan adat penting pada acara Dhoi di Loka adalah terkait dengan kepemilikan umum sebagai Suku (Woe), yaitu 1) tanah suku (Tana One Woe), 2) bambu suku (Bheto Ngadu Bhaga), 3) kedudukan hierarkis rumah adat sebagai Saka Pu u, Saka Lobo, Kaka Saka Pu,u, Kaka Saka Lobo, Dai Kaka Saka Pu,u, dan Dai Kaka Saka Lobo. Di dalam satu suku, lazimnya terdapat satu atau lebih lahan yang luasnya ratusan bahkan ribuan hektar. Tanah ini adalah milik bersama atau komunal dari semua rumah adat yang terhimpun di dalam satu suku. Tanah ini tidak dibenarkan untuk diklaim kepemilikan sebagai milik orang perorang atau milik dari rumah adat tertentu. Komunal artinya bahwa semua keturunan di dalam satu suku memiliki hak yang sama untuk menanam (Tuza Mula) guna memelihara anak cucu. Hal yang berbahaya dan pasti menimbulkan pecah belah di dalam suku adalah adanya upaya mengklaim kepemilikan hanya pada rumah adat tertentu (Melo Da Ne e Go Boro), atau ada upaya sertifikasi tanah oleh orang perorang karena merasa tidak perlu takut bahwa masih ada orang lain. Hal ini berati sudah terdapat upaya sadar untuk menghilangkan hak adat orang lain dalam satu suku. Sertifikasi dapat saja dilakukan, tetapi harus atas nama suku, dan beban PBB dikenakan kepada orang memanfaatkan tanah tersebut. Lazimnya terdapat sejumlah rumpun bambu di suatu lahan luas sebagai bambu milik suku. Bambu suku (Bheto Ngadhu Bhaga) juga merupakan milik komunal di dalam satu suku. Bambu ini biasanya dimanfaatkan jika ada kepentingan suku atau untuk merehabitasi rumah adat tertentu, namun harus sepengetahuan dan seizin tua adat dalam suku. Bambu ini tidak diperkenankan untuk dimanfaatkan orang perorang, apa lagi untuk tujuan ekonomi. Untuk satu suku terdapat sejumlah rumah adat dengan kedudukan hierarkis sebagai Saka Pu u, Saka Lobo, Kaka Saka Pu,u, Kaka Saka Lobo, Dai Kaka Saka Pu,u, dan Dai Kaka Saka Lobo. Kedudukan hierarkis ini disepakati dan dibentuk semenjak sejumlah orang mendaulatkan diri ke dalam satu suku. Kedudukan hierarkis ini tidak dapat dirubah karena ada jabatan sebagai gubernur, bupati, kepala dinas atau jabatan lainnya. Walaupun manusia yang berada di Rumah Pokok (Sao Saka Pu u) adalah manusia yang tidak berpendidikan, tidak memiliki kedudukan, hanya sebagai petani, mereka tetap dihormati sebagai manusia di Rumah Pokok dan harus didatangi oleh manusia dari Sao Kaka Saka Pu u atau dari Sao Dai Kaka Saka Pu u. Lebih dari itu, kekurangan atau keterbatasan di Rumah Pokok (Sao Saka Pu u) adalah juga seharusnya menjadi tanggung jawab adat (tidak tertulis) dari Sao Kaka Saka Pu u, dan kekurangan atau keterbatasan di Sao Kaka Saka Pu u adalah juga harus menjadi tanggung jawab adat dari Sao Dai Kaka Saka Pu u, demikian pula sebaliknya di Sao Saka Lobo, Sao Kaka Saka Lobo, dan Sao Dai Kaka Saka Lobo, dan juga hubungan antara Sao Saka Pu u dan Sao Saka Lobo. Jadi, pesan ini adalah Papa Wiu Zale One Woe We Modhe Gore. Mae Papa Lomo. 4

5 2. Pesan-pesan Adat pada Acara Kobe Su i di Rumah Adat (Sao Meze Tangi Lewa) Pesan-pesan adat penting pada acara Kobe Su i di Rumah Adat (Sao Meze Tangi Lewa) adalah terkait dengan kepemilikan umum sebagai Rumah Adat (Sao Ngaza), yaitu 1) tanah rumah adat (Tana One Sao), 2) bambu rumah adat (Bheto Ngaza Sa o), 3) kedudukan hierarkis adat laki-laki yang kawin keluar (La a Kawo Api Ngata) dan perempuan yang mendiami rumah (Di i We Noa Pui Papu). Di dalam satu rumah adat, lazimnya terdapat sejumlah lahan yang adalah tanah adat milik rumah adat (Ngia Ngora One Sao). Tanah ini adalah milik bersama atau komunal dari semua anggota keluarga (laki-laki atau perempuan) yang adalah keturunan langsung dari satu rumah adat, termasuk orang yang telah dibelis (Kaba Maza Wea Mezi) yang telah disahkan melalui mandi air kelapa (Neku Fu) kepada perempuan yang dibelis itu. Tanah komunal ini tidak benar untuk diklaim kepemilikannya sebagai tanah milik orang perorang. Lagi-lagi, sebagai milik komunal artinya bahwa semua keturunan di dalam satu rumah adat memiliki hak sama untuk menanam (Tuza Mula) guna memelihara anak cucu. Hal yang berbahaya dan menimbulkan pecah belah di dalam satu rumah adat adalah adanya upaya mengklaim kepemilikan hak atas tanah adat hanya pada orang perorang melalui sertifikasi tanah. Jika demikian, maka ini berati sudah terdapat upaya sadar untuk menghilangkan hak adat orang lain yang juga di dalam satu rumah adat. Jika demikian, masih perlukah memiliki Rumah Adat (Sao Meze Tangi Lewa)? Sertifikasi tanah dari rumah adat dapat saja dilakukan, tetapi harus atas nama rumah adat, dan beban PBB dikenakan kepada orang yang memanfaatkan tanah tersebut. Sertifikasi tanah adat (girik) oleh orang perorang dapat dilakukan jika tanah adat tersebut telah diperoleh melalui jual beli dengan pemiliknya yang sah. Fenomena ini hendaknya menjadi suatu perhatian penting bagi pihak yang berurusan dengan sertifikasi tanah adat, apa lagi proses sertifikasi tanah adat telah dilakukan secara diam-diam dan menyalahi prosedur sertifikasi tanah adat (girik). Selayaknya, para pihak harus memberi pengertian secara baik dan benar tentang proses sertifikasi tanah adat (girik). Sangat disayangkan jika para perempuan memproses sertifikasi tanah adat untuk menjadi kepemilikan orang perorang tanpa sepengetahuan saudara laki-laki. Pertanyaan di sini, siapa yang memberikan hak kepemilikan itu kepada perempuan untuk boleh memproses sertifikasi tanah adat menjadi milik pribadi orang perorang? Dalam rumah adat, juga terdapat sejumlah rumpun bambu di satu atau lebih lahan. Bambu rumah adat (Bheto Ngaza Sao) juga merupakan milik komunal di dalam satu rumah adat. Bambu ini biasanya dimanfaatkan jika ada kepentingan untuk merehabitasi rumah adat. Bambu ini diperkenankan untuk dimanfaatkan orang perorang, namun sepengetahuan atau seizin lelaki tertua di dalam rumah adat. Hal ketiga adalah kedudukan hierarkis laki-laki yang kawin keluar (La a Kawo Api Ngata) dan perempuan yang mendiami rumah (Di i Wi Sao Noa Pui Papu). Isu ini ramai diperbincangkan dan terkadang menyesatkan. Konsep Matriarka di Ngada, tidak sepenuhnya sebagai kebalikan dari Konsep Patriarka di banyak wilayah di Indonesia. Dalam sejumlah tata cara adat, laki-laki memiliki peran penting dan berkeputusan. Bo Nua, laki-laki. Saka Ngadhu, laki-laki. Sa Ngaza, laki-laki. Wake Sao Meze Tangi Lewa, laki-laki. Ria Ulu Ngana, laki-laki. Podhu Zele Mata Raga, laki-laki. Ti i Ka Ebu Nuzi, laki-laki. Doi Ngawu, laki-laki. Keputusan peminangan anak perempuan sebagai dibelis oleh calon suami atau calon suami kawin masuk adalah laki-laki Jadi, 5

6 semuanya, laki-laki. Kedhi-kedhi Go Nopo Besi artinya kecil-kecil dia laki-laki. Dia laki-laki berkedudukan penting dan berkeputusan atas segala sesuatu di dalam Rumah Adat. Benar bahwa yang mendiami rumah adat (Di i Sao Wi Noa Pui Papu) adalah perempuan, tetapi ada yang memberikan hak itu kepada perempuan, yaitu saudara laki-laki. Perempuan diberikan hak untuk menjaga dan merawat rumah adat (Di i Sao Wi Noa Pui Papu) dan mengolah tanah untuk menanam demi anak cucu (Tuza Mula Wi Polu Kedhi Banga). Mendiami rumah adat dan duduk di tungku api untuk memasak (Podhu Zili Tolo Lapu Noa Pana Teki), bukan untuk memiliki karena yang memiliki adalah tetap saudara laki-laki. Artinya, perempuan yang mendiami Rumah Adat tidak sewenang-wenang terhadap saudara laki-lakinya. Dia perempuan harus menjaga harkat dan martabat saudara laki-lakinya. Ketika dia perempuan sewenangwenang (dalam kata dan tindakan) terhadap saudara laki-lakinya, maka saudara laki-lakinya dapat membuat keputusan apakah saudari perempuannya tetap menjaga Rumah Adat ataukah dibiarkan mengikuti suaminya? Jadi, tidak benar bahwa Konsep Matriarka di Ngada dimaknai sebagai perempuan yang berhak atas segala harta. Bahkan sampai-sampai saudara laki-laki memanfaatkan lahan untuk tanam menanam pun dilarang oleh saudari perempuan. Apakah benar bahwa saudara laki-laki dengan serta merta kehilangan hak adatnya karena dia kawin keluar? Tidak benar! Saudara laki-laki tetap memiliki hak adat di Rumah Adat yang didiami oleh saudari perempuannya. Dia laki-laki boleh memanfaatkan lahan adat untuk tanam menanam guna memelihara isteri anaknya dan tidak boleh mengalihkan hak atas lahan tersebut kepada isteri anaknya. Kecuali, pengalihan hak atas tanah berkaitan dengan urusan adat, misalnya untuk Penghargaan Terhadap Mertua Laki-laki atau Mertua Perempuan, yang dikenal dengan Saga, dan ada tiga penghargaan, yakni Penghargaan Pertama (Saga Wunga), Penghargaan Kedua (Saga Kisa), dan Penghargaan Ketiga (Saga Repo). Jika pengalihan lahan ini terjadi untuk Saga, maka kepemilikan atas lahan bukan isteri anaknya, tetapi kepada Sao Adat dari pihak isteri anaknya. Konsep bahwa laki-laki kawin keluar (La a Kawo Api Ngata), itu artinya saudara laki-laki di Rumah Adat isteri anak, dia laki-laki tidak memiliki hak adat apapun. Dia hidup memberikan nafkah kepada isteri anak selama dia laki-laki masih kuat, produktif. Tetapi, ketika dia laki-laki sudah tua dan tidak produktif lagi, biasanya (dahulu) dia laki-laki akan pulang ke rumah saudari perempuan. Dan ketika saudara laki-laki meninggal dunia, yang membuat keputusan untuk penguburan saudara laki-laki adalah anak saudaranya (yang namanya Tange Tobo), bukan anak kandung yang membuat keputusan. Da Ringu Roe Woe Lau Zele Ngia Ana Dhadhi. Napa Da Wau Ngia Ana Weta. Hal ini penting untuk diluruskan agar tidak menyesatkan anak cucu tentang Konsep Matriarka di Ngada. V. PENUTUP Demikian sedikit pengetahuan yang didengar, diyakini, dan dijalankan serta dikisahkan kepada anak cucu. Kiranya pemikiran ini dapat menjadi bahan diskusi dan pertukaran pikiran dengan kelompok atau orang-orang yang lebih berpengetahuan tentang Reba Orang Ngada. Mohon maaf, jika ada yang tidak sependapat dengan isi tulisan ini karena masih sangat banyak yang perlu dibahas. Terima kasih. 6

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Setiap manusia hidup dalam suatu lingkaran sosial budaya tertentu.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Setiap manusia hidup dalam suatu lingkaran sosial budaya tertentu. BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Setiap manusia hidup dalam suatu lingkaran sosial budaya tertentu. Dimana dalam lingkungan sosial budaya itu senantiasa memberlakukan nilai-nilai sosial budaya yang

Lebih terperinci

AMANAT DALAM TUTURAN SU I UWI PADA UPACARA REBA MASYARAKAT BEIPOSO,KABUPATEN NGADA, NUSA TENGGARA TIMUR

AMANAT DALAM TUTURAN SU I UWI PADA UPACARA REBA MASYARAKAT BEIPOSO,KABUPATEN NGADA, NUSA TENGGARA TIMUR -Konferensi Nasional Bahasa dan Sastra III- AMANAT DALAM TUTURAN SU I UWI PADA UPACARA REBA MASYARAKAT BEIPOSO,KABUPATEN NGADA, NUSA TENGGARA TIMUR Ludgardis Sebo Mahasiswa S-2 PBI Universitas Selas Maret

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Komunikasi merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan dari

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Komunikasi merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan dari BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komunikasi merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia karena dengan berkomunikasi manusia dapat saling berhubungan satu dengan yang lain untuk

Lebih terperinci

BAB V PEMANFAATAN MANTRA SU I SEBAGAI BAHAN AJAR SMA

BAB V PEMANFAATAN MANTRA SU I SEBAGAI BAHAN AJAR SMA BAB V PEMANFAATAN MANTRA SU I SEBAGAI BAHAN AJAR SMA 5.1 Pengajaran Sastra Lisan Melalui Pembelajaran Bahasa Indonesia Sebagai Upaya Pelestarian Budaya Pelestarian budaya mengindikasikan adanya upaya menyesuaian

Lebih terperinci

SUAMI DAN ISTERI SEBAGAI PENDIRI C.V. P.T.

SUAMI DAN ISTERI SEBAGAI PENDIRI C.V. P.T. SUAMI DAN ISTERI SEBAGAI PENDIRI C.V. P.T. Ketika datang seorang lelaki dan seorang wanita ke kantor Notaris, setelah kita ajak bicara atau mengutarakan maksudnya ternyata akan mendirikan perseroan komanditer

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. dengan masyarakat Desa Waepana melalui mediasi adalah sebagai berikut,

BAB V PENUTUP. dengan masyarakat Desa Waepana melalui mediasi adalah sebagai berikut, 107 BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN 1. Proses penyelesaian dalam sengketa antara masyarakat adat Desa Seso dengan masyarakat Desa Waepana melalui mediasi adalah sebagai berikut, a) Pengaduan dari masyarakat

Lebih terperinci

TESIS KAJIAN POLA TATA RUANG KAMPUNG ADAT BENA DI DESA TIWORIWU KABUPATEN NGADA. MARIA CAROLIN TANDAFATU No. Mhs. :

TESIS KAJIAN POLA TATA RUANG KAMPUNG ADAT BENA DI DESA TIWORIWU KABUPATEN NGADA. MARIA CAROLIN TANDAFATU No. Mhs. : TESIS KAJIAN POLA TATA RUANG KAMPUNG ADAT BENA DI DESA TIWORIWU KABUPATEN NGADA MARIA CAROLIN TANDAFATU No. Mhs. : 125401864 PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK ARSITEKTUR PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS ATMA

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. penelitian, maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut : 1. Prosesi Sebambangan Dalam Perkawinan Adat Lampung Studi di Desa

BAB V PENUTUP. penelitian, maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut : 1. Prosesi Sebambangan Dalam Perkawinan Adat Lampung Studi di Desa BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Setelah penulis mengadakan pengolahan dan menganalisis data dari hasil penelitian, maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut : 1. Prosesi Sebambangan Dalam Perkawinan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kemajuan teknologi komunikasi menyebabkan generasi mudah kita terjebak dalam koptasi budaya luar. Salah kapra dalam memanfaatkan teknologi membuat generasi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA. Perkawinan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Perkawinan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA. Perkawinan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Perkawinan BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA A. Pengertian Perkawinan Perkawinan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Perkawinan nomor 1 Tahun 1974. Pengertian perkawinan menurut Pasal

Lebih terperinci

HUKUM KEKERABATAN A. PENDAHULUAN

HUKUM KEKERABATAN A. PENDAHULUAN HUKUM KEKERABATAN A. PENDAHULUAN Hukum adat kekerabatan adalah hukum adat yang mengatur tentang bagaimana kedudukan pribadi seseorang sebagai anggota kerabat, kedudukan anak terhadap orangtua dan sebaliknya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Manusia adalah makhluk sosial juga makhluk budaya. Sebagai makhluk

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Manusia adalah makhluk sosial juga makhluk budaya. Sebagai makhluk BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Manusia adalah makhluk sosial juga makhluk budaya. Sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dalam artian bahwa sesungguhnya manusia hidup dalam interaksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap lingkungan budaya senantiasa memberlakukan nilai-nilai sosial budaya yang

BAB I PENDAHULUAN. Setiap lingkungan budaya senantiasa memberlakukan nilai-nilai sosial budaya yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Setiap lingkungan budaya senantiasa memberlakukan nilai-nilai sosial budaya yang diacuh oleh warga masyarakat penghuninya. Melalui suatu proses belajar secara berkesinambungan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MUSYAWARAH DEWAN PERSEKUTUAN MASYARAKAT ADAT ARSO JAYAPURA NOMOR : 03/KPTS DPMAA/DJ/94 TENTANG

KEPUTUSAN MUSYAWARAH DEWAN PERSEKUTUAN MASYARAKAT ADAT ARSO JAYAPURA NOMOR : 03/KPTS DPMAA/DJ/94 TENTANG KEPUTUSAN MUSYAWARAH DEWAN PERSEKUTUAN MASYARAKAT ADAT ARSO JAYAPURA NOMOR : 03/KPTS DPMAA/DJ/94 TENTANG PEMBANGUNAN, HAK MASYARAKAT DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP MUSYAWARAH PERSEKUTUAN MASYARAKAT ADAT

Lebih terperinci

Kampung Bena, Flores. (Diambil dari

Kampung Bena, Flores. (Diambil dari Arsitektur vernakular adalah istilah yang digunakan untuk mengkategorikan metode konstruksi yang menggunkan sumber daya lokal yang tersedia di suatu lingkungan alam guna memenuhi kebutuhan hidup masyarakatnya

Lebih terperinci

Workshop Penyusunan Data Awal Referensi Nilai Budaya Tak Benda Kab. Sumba Barat Daya Prov. Nusa Tenggara Timur

Workshop Penyusunan Data Awal Referensi Nilai Budaya Tak Benda Kab. Sumba Barat Daya Prov. Nusa Tenggara Timur Workshop Penyusunan Data Awal Referensi Nilai Budaya Tak Benda Kab. Sumba Barat Daya Prov. Nusa Tenggara Timur Latar Belakang Verifikasi dan Validasi Pembelajaran, Warisan Budaya Tak Benda dan Kelembagaan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hak dan kewajiban yang baru atau ketika individu telah menikah, status yang

BAB I PENDAHULUAN. hak dan kewajiban yang baru atau ketika individu telah menikah, status yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di dalam masyarakat, perkawinan adalah ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan dan merupakan suatu pranata dalam

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG HARTA DALAM PERKAWINAN ISLAM. harta kerabat yang dikuasai, maupun harta perorangan yang berasal dari harta

BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG HARTA DALAM PERKAWINAN ISLAM. harta kerabat yang dikuasai, maupun harta perorangan yang berasal dari harta BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG HARTA DALAM PERKAWINAN ISLAM A. Pengertian Harta Dalam Perkawinan Islam Menurut bahasa pengertian harta yaitu barang-barang (uang dan sebagainya) yang menjadi kekayaan. 1

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lebih dulu telah merdeka bahkan jauh sebelum indonesia merdeka.

BAB I PENDAHULUAN. lebih dulu telah merdeka bahkan jauh sebelum indonesia merdeka. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bangsa Indonesia merupakan sebuah bangsa yang terdiri dari beribu-ribu pulau dan berbagai macam suku bangsa yang ada di dalamnya serta berbagai ragam budaya yang menjadi

Lebih terperinci

BAB III TRADISI METRAEH DAN NYALENEH DALAM MASA PERTUNANGAN DI DESA GILI TIMUR KECAMATAN KAMAL KABUPATEN BANGKALAN

BAB III TRADISI METRAEH DAN NYALENEH DALAM MASA PERTUNANGAN DI DESA GILI TIMUR KECAMATAN KAMAL KABUPATEN BANGKALAN BAB III TRADISI METRAEH DAN NYALENEH DALAM MASA PERTUNANGAN DI DESA GILI TIMUR KECAMATAN KAMAL KABUPATEN BANGKALAN A. Gambaran Umum Desa Gili Timur Luas wilayah Desa Gili Timur Kecamatan Kamal Kabupaten

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu Tujuan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu Tujuan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu Tujuan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam upaya ini pemerintah berupaya mencerdaskan anak bangsa melalui proses pendidikan di jalur

Lebih terperinci

BAB V POLA PENGUASAAN LAHAN DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUASAAN LAHAN

BAB V POLA PENGUASAAN LAHAN DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUASAAN LAHAN 39 BAB V POLA PENGUASAAN LAHAN DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUASAAN LAHAN 5.1 Penguasaan Lahan Pertanian Lahan pertanian memiliki manfaat yang cukup besar dilihat dari segi ekonomi, sosial dan lingkungan

Lebih terperinci

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1976 tentang Cuti PNS.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1976 tentang Cuti PNS. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1976 tentang Cuti PNS. Adapun jenis-jenis cuti adalah sebagai berikut : A. Cuti Tahunan Setiap Calon Pegawai Negeri Sipil / Pegawai Negeri Sipil yang telah bekerja sekurang-kurangnya

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG PENGASUHAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG PENGASUHAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG PENGASUHAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pulau dan bersifat majemuk. Kemajemukan itu berupa keanekaragaman ras,

BAB I PENDAHULUAN. pulau dan bersifat majemuk. Kemajemukan itu berupa keanekaragaman ras, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau dan bersifat majemuk. Kemajemukan itu berupa keanekaragaman ras, suku, dan kebudayaan di setiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. daerah pesisir pantai yang ada di Medan. Sebagaimana daerah yang secara

BAB I PENDAHULUAN. daerah pesisir pantai yang ada di Medan. Sebagaimana daerah yang secara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan merupakan salah satu daerah pesisir pantai yang ada di Medan. Sebagaimana daerah yang secara geografis berada di pesisir

Lebih terperinci

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah Perempuan merupakan kaum yang sering di nomor duakan di kehidupan sehari-hari. Perempuan seringkali mendapat perlakuan yang kurang adil di dalam kehidupan masyarakat

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Identitas Subjek Penelitian Nama Subjek S (p) S.R E.N N S (l) J Usia 72 Tahun 76 Tahun 84 Tahun 63 Tahun 68 Tahun 60 Tahun Jenis Perempuan Perempuan

Lebih terperinci

FH UNIVERSITAS BRAWIJAYA

FH UNIVERSITAS BRAWIJAYA NO PERBEDAAN BW/KUHPerdata Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 1 Arti Hukum Perkawinan suatu persekutuan/perikatan antara seorang wanita dan seorang pria yang diakui sah oleh UU/ peraturan negara yang bertujuan

Lebih terperinci

UNTAIAN KISAH KEHIDUPAN (JATAKAMALA) Kisah Ajastya

UNTAIAN KISAH KEHIDUPAN (JATAKAMALA) Kisah Ajastya 1 UNTAIAN KISAH KEHIDUPAN (JATAKAMALA) Kisah Ajastya Kelahiran Bodhisattva berikut menunjukkan bagaimana sebagai seorang pertapa, beliau mempraktikkan kemurahan hati dan pemberian secara terusmenerus,

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Perkawinan campuran suku bangsa Jawa dengan suku bangsa Batak. Mandailing yang terjadi pada masyarakat di daerah Kelurahan Gedung Johor

BAB V PENUTUP. Perkawinan campuran suku bangsa Jawa dengan suku bangsa Batak. Mandailing yang terjadi pada masyarakat di daerah Kelurahan Gedung Johor 1 BAB V 1. Kesimpulan PENUTUP Perkawinan campuran suku bangsa Jawa dengan suku bangsa Batak Mandailing yang terjadi pada masyarakat di daerah Kelurahan Gedung Johor Medan bukanlah rahasia umum lagi, serta

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sakral, sebuah pernikahan dapat menghalalkan hubungan antara pria dan wanita.

BAB 1 PENDAHULUAN. sakral, sebuah pernikahan dapat menghalalkan hubungan antara pria dan wanita. 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pernikahan merupakan salah satu tahap penting dalam kehidupan manusia. Selain merubah status seseorang dalam masyarakat, pernikahan juga merupakan hal yang

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1951 TENTANG PERNYATAAN BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG KECELAKAAN TAHUN 1947 NR. 33, DARI REPUBLIK INDONESIA UNTUK SELURUH INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Desa Sisobambowo merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan. - sebelah Utara : Desa Iraono Geba

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Desa Sisobambowo merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan. - sebelah Utara : Desa Iraono Geba BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN II.1.Lokasi dan Letak Desa Kabupaten Nias adalah salah satu daerah kabupaten di Propinsi Sumatera Utara. Kabupaten Nias berada satu pulau dengan Kabupaten Nias Selatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penuturnya dilindungi oleh Undang-undang Dasar Dalam penjelasan Undangundang

BAB I PENDAHULUAN. penuturnya dilindungi oleh Undang-undang Dasar Dalam penjelasan Undangundang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di Indonesia terdapat berbagai ragam bahasa daerah. Bahasa daerah hidup berdampingan dengan bahasa Indonesia. Semua bahasa daerah yang dipakai penuturnya dilindungi

Lebih terperinci

BAB III PELAKSANAAN PENGANGAKATAN ANAK TERHADAP BAPAK KASUN YANG TERJADI DI DESA BLURI KECAMATAN SOLOKURO KABUPATEN LAMONGAN

BAB III PELAKSANAAN PENGANGAKATAN ANAK TERHADAP BAPAK KASUN YANG TERJADI DI DESA BLURI KECAMATAN SOLOKURO KABUPATEN LAMONGAN BAB III PELAKSANAAN PENGANGAKATAN ANAK TERHADAP BAPAK KASUN YANG TERJADI DI DESA BLURI KECAMATAN SOLOKURO KABUPATEN LAMONGAN A. Sekilas Tentang Bapak Kasun Sebagai Anak Angkat Bapak Tasral Tasral dan istrinya

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TASIKMALAYA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TASIKMALAYA, SALINAN BUPATI TASIKMALAYA PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG PENATAAN DAN PEMBERDAYAAN PEDAGANG KAKI LIMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TASIKMALAYA,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Simalungun terbagi atas beberapa bagian seperti upacara adat Marhajabuan

BAB I PENDAHULUAN. Simalungun terbagi atas beberapa bagian seperti upacara adat Marhajabuan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Etnis Simalungun memiliki kebudayaan yang banyak menghasilkan kesenian daerah dan upacara adat, dan hal tersebut masih dilakukan oleh masyarakat Simalungun sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tangga. Melalui perkawinan dua insan yang berbeda disatukan, dengan segala

BAB I PENDAHULUAN. tangga. Melalui perkawinan dua insan yang berbeda disatukan, dengan segala 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Perkawinan adalah ikatan yang suci antara pria dan wanita dalam suatu rumah tangga. Melalui perkawinan dua insan yang berbeda disatukan, dengan segala kelebihan dan

Lebih terperinci

BAB VI PENUTUP. 1. Masyarakat Desa Be a Pawe, Kecamatan Golewa Barat, Kabupaten. dilakukan untuk mengucap syukur kepada arwah para leluhur atau

BAB VI PENUTUP. 1. Masyarakat Desa Be a Pawe, Kecamatan Golewa Barat, Kabupaten. dilakukan untuk mengucap syukur kepada arwah para leluhur atau BAB VI PENUTUP 6.1.Kesimpulan Berdasarkan data-data yang penulis peroleh di lapangan melalui wawancara, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Masyarakat Desa Be a Pawe, Kecamatan Golewa

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam pelaksanaan upacara perkawinan, setiap suku bangsa di Indonesia memiliki

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam pelaksanaan upacara perkawinan, setiap suku bangsa di Indonesia memiliki 9 II. TINJAUAN PUSTAKA 2. Tinjauan Pustaka 2.1 Konsep Pelaksanaan Adat Perkawinan Dalam pelaksanaan upacara perkawinan, setiap suku bangsa di Indonesia memiliki dan senantiasa menggunakan adat-istiadat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan orang perorang antar generasi. Konflik tersebut sering muncul antar tetangga,

BAB I PENDAHULUAN. dengan orang perorang antar generasi. Konflik tersebut sering muncul antar tetangga, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Konflik tanah yang muncul sering sekali terjadi karena adanya masalah dengan orang perorang antar generasi. Konflik tersebut sering muncul antar tetangga,

Lebih terperinci

TINJAUAN HUKUM TERHADAP HAK DAN KEWAJIBAN ANAK DAN ORANG TUA DILIHAT DARI UNDANG UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 DAN HUKUM ISLAM

TINJAUAN HUKUM TERHADAP HAK DAN KEWAJIBAN ANAK DAN ORANG TUA DILIHAT DARI UNDANG UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 DAN HUKUM ISLAM TINJAUAN HUKUM TERHADAP HAK DAN KEWAJIBAN ANAK DAN ORANG TUA DILIHAT DARI UNDANG UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 DAN HUKUM ISLAM Oleh : Abdul Hariss ABSTRAK Keturunan atau Seorang anak yang masih di bawah umur

Lebih terperinci

Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 1 TAHUN 1974 (1/1974) Tanggal: 2 JANUARI 1974 (JAKARTA)

Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 1 TAHUN 1974 (1/1974) Tanggal: 2 JANUARI 1974 (JAKARTA) Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 1 TAHUN 1974 (1/1974) Tanggal: 2 JANUARI 1974 (JAKARTA) Sumber: LN 1974/1; TLN NO. 3019 Tentang: PERKAWINAN Indeks: PERDATA. Perkawinan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jenis pekerjaan, pendidikan maupun tingkat ekonominya. Adapun budaya yang di. memenuhi tuntutan kebutuhan yang makin mendesak.

BAB I PENDAHULUAN. jenis pekerjaan, pendidikan maupun tingkat ekonominya. Adapun budaya yang di. memenuhi tuntutan kebutuhan yang makin mendesak. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masyarakat Indonesia merupakan suatu masyarakat majemuk yang terdiri dari banyak suku, bangsa, adat istiadat, agama, bahasa, budaya, dan golongan atas dasar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki banyak suku, etnis dan budaya. Salah satunya adalah suku

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki banyak suku, etnis dan budaya. Salah satunya adalah suku BAB I PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Masalah Indonesia memiliki banyak suku, etnis dan budaya. Salah satunya adalah suku X di Kabupaten Papua yang menganut tradisi potong jari ketika salah seorang anggota

Lebih terperinci

TINGKAT PEMAHAMAN SISWA TENTANG MAKANAN LAUK PAUK DAN SAYUR TRADISIONAL DI SMA NEGERI 11 YOGYAKARTA

TINGKAT PEMAHAMAN SISWA TENTANG MAKANAN LAUK PAUK DAN SAYUR TRADISIONAL DI SMA NEGERI 11 YOGYAKARTA KATA PENGANTAR Siswa yang terhormat, Pada kesempatan ini perkenankanlah saya meminta bantuan anda untuk mengisi angket yang telah kami berikan, angket ini berisi tentang TINGKAT PEMAHAMAN SISWA TENTANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rumah tangga. Melalui perkawinan dua insan yang berbeda disatukan, dengan

BAB I PENDAHULUAN. rumah tangga. Melalui perkawinan dua insan yang berbeda disatukan, dengan 1 BAB I PENDAHULUAN Perkawinan adalah ikatan yang suci antara pria dan wanita dalam suatu rumah tangga. Melalui perkawinan dua insan yang berbeda disatukan, dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Lebih terperinci

ANGKET UJI COBA PENELITIAN. 1. Identitas Siswa Nama : Kelas : Jenis Kelamin : Alamat :...

ANGKET UJI COBA PENELITIAN. 1. Identitas Siswa Nama : Kelas : Jenis Kelamin : Alamat :... 69 ANGKET UJI COBA PENELITIAN 1. Identitas Siswa Nama : Kelas : Jenis Kelamin : Alamat :... 2. Petunjuk Pengisian 1. Bacalah baik-baik butir pernyataan dan setiap alternatif jawaban! 2. Pilih alternatif

Lebih terperinci

Dengarkan Allah Bila Saudara Berdoa

Dengarkan Allah Bila Saudara Berdoa Dengarkan Allah Bila Saudara Berdoa!II Allah Ingin Berbicara dengan Saudara *I Bagaimana Allah Berbicara dengan Saudara li Bagaimana Mendengar Allah Berbicara III Bertindak Menurut Apa yang Dikatakan Allah

Lebih terperinci

Ramadan di Negeri Jiran

Ramadan di Negeri Jiran Ramadan di Negeri Jiran By: Tari Nabila Dengan langkah mengendap-endap dan hati berdebar aku memberanikan diri menuruni anak tangga. Dalam pikiranku selalu berkata semoga bos laki-laki sudah tidur di kamar.

Lebih terperinci

Entahlah, suamiku. Aku juga tidak pernah berbuat jahat dan bahkan selalu rajin beribadah, jawab sang isteri sambil menahan air mata.

Entahlah, suamiku. Aku juga tidak pernah berbuat jahat dan bahkan selalu rajin beribadah, jawab sang isteri sambil menahan air mata. Hikayat Cabe Rawit Alkisah, pada zaman dahulu hiduplah sepasang suami-isteri di sebuah kampung yang jauh dari kota. Keadaan suami-isteri tersebut sangatlah miskin. Rumah mereka beratap anyaman daun rumbia,

Lebih terperinci

BAB IV SISTEM PERNIKAHAN ADAT MASYARAKAT SAD SETELAH BERLAKUNYA UU NO. 1 TAHUN A. Pelaksanaan Pernikahan SAD Sebelum dan Sedudah UU NO.

BAB IV SISTEM PERNIKAHAN ADAT MASYARAKAT SAD SETELAH BERLAKUNYA UU NO. 1 TAHUN A. Pelaksanaan Pernikahan SAD Sebelum dan Sedudah UU NO. 42 BAB IV SISTEM PERNIKAHAN ADAT MASYARAKAT SAD SETELAH BERLAKUNYA UU NO. 1 TAHUN 1974 A. Pelaksanaan Pernikahan SAD Sebelum dan Sedudah UU NO.1/1974 Pelaksanaan Pernikahan Suku Anak Dalam merupakan tradisi

Lebih terperinci

PUTUSAN. Nomor 0532/Pdt.G/2013/PA.Plg. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

PUTUSAN. Nomor 0532/Pdt.G/2013/PA.Plg. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PUTUSAN Nomor 0532/Pdt.G/2013/PA.Plg. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Palembang yang memeriksa dan mengadili perkara tertentu pada tingkat pertama

Lebih terperinci

A. LATAR BELAKANG MASALAH

A. LATAR BELAKANG MASALAH I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Kebudayaan dalam arti luas adalah perilaku yang tertanam, ia merupakan totalitas dari sesuatu yang dipelajari manusia, akumulasi dari pengalaman yang dialihkan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. selamatan dan hajatan. Dalam pelaksanaan hajatan dan selamatan tersebut

BAB V PENUTUP. selamatan dan hajatan. Dalam pelaksanaan hajatan dan selamatan tersebut BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Kehidupan masyarakat Jawa di Dusun Jatirejo tidak dapat dilepaskan dari serangkaian kegiatan upacara yang berkaitan dengan siklus daur hidup, dimana dalam siklus daur hidup

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Pada hakekatnya, setiap manusia diciptakan sebagai makhluk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Pada hakekatnya, setiap manusia diciptakan sebagai makhluk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada hakekatnya, setiap manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Dimana manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Sejak manusia lahir hingga

Lebih terperinci

NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Undangundang

Lebih terperinci

PUTUSAN. Nomor : 1765/Pdt.G/2012/PA.Plg BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

PUTUSAN. Nomor : 1765/Pdt.G/2012/PA.Plg BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PUTUSAN Nomor : 1765/Pdt.G/2012/PA.Plg BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Palembang yang memeriksa dan mengadili perkara tertentu pada tingkat pertama

Lebih terperinci

BLUSUKAN SANG KHALIFAH ADIL UMAR BIN KHATTAB

BLUSUKAN SANG KHALIFAH ADIL UMAR BIN KHATTAB BLUSUKAN SANG KHALIFAH ADIL UMAR BIN KHATTAB Istilah blusukan belakangan menjadi sangat populer di telinga kita. Meski bukan istilah baru, blusukan kian dikenal setelah seorang gubernur di republik ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Humbang Hasundutan, Kabupaten Toba Samosir, dan Kabupaten Samosir.

BAB I PENDAHULUAN. Humbang Hasundutan, Kabupaten Toba Samosir, dan Kabupaten Samosir. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara geografis di Provinsi Sumatera Utara, suku Batak terdiri dari 5 sub etnis yaitu : Batak Toba (Tapanuli), Batak Simalungun, Batak Karo, Batak Mandailing,

Lebih terperinci

R U J U K A N UNDANG UNDANG DASAR 1945 DALAM PUTUSAN-PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI

R U J U K A N UNDANG UNDANG DASAR 1945 DALAM PUTUSAN-PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI R U J U K A N UNDANG UNDANG DASAR 1945 DALAM PUTUSAN-PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI Singkatan dalam Rujukan: PUTMK: Putusan Mahkamah Konstitusi HPMKRI 1A: Himpunan Putusan Mahkamah Konstitusi RI Jilid 1A

Lebih terperinci

V. KESIMPULAN DAN SARAN. sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : meliputi, Himpun (meliputi : Himpun Kemuakhian dan Himpun Pemekonan),

V. KESIMPULAN DAN SARAN. sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : meliputi, Himpun (meliputi : Himpun Kemuakhian dan Himpun Pemekonan), V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Proses upacara perkawinan adat

Lebih terperinci

BAB V STRUKTUR PENGUASAAN TANAH LOKAL

BAB V STRUKTUR PENGUASAAN TANAH LOKAL 38 BAB V STRUKTUR PENGUASAAN TANAH LOKAL 5.1 Pola Pemilikan Lahan Lahan merupakan faktor utama bagi masyarakat pedesaan terutama yang menggantungkan hidupnya dari bidang pertanian. Pada masyarakat pedesaan

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2002 NOMOR 43 SERI E

BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2002 NOMOR 43 SERI E BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2002 NOMOR 43 SERI E KEPUTUSAN BUPATI BANJARNEGARA NOMOR 511 TAHUN 2002 TENTANG KETENTUAN PEMBERIAN HAK CUTI DAN PERATURAN DISIPLIN BAGI PEGAWAI TIDAK TETAP DAN

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. hidup. Sektor pertanian merupakan sektor yang paling penting dalam pemenuhan

PENDAHULUAN. hidup. Sektor pertanian merupakan sektor yang paling penting dalam pemenuhan PENDAHULUAN Latar Belakang Dari masa ke masa kebutuhan manusia selalu meningkat. Itulah sebabnya manusia dituntut untuk selalu berusaha dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup. Sektor pertanian merupakan

Lebih terperinci

MEMUTUSKAN: IDENTITAS PEDAGANG KAKI LIMA.

MEMUTUSKAN: IDENTITAS PEDAGANG KAKI LIMA. Menimbang : BUPATI BULUNGAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA PERATURAN BUPATI BULUNGAN NOMOR TENTANG PERIZINAN DAN KARTU IDENTITAS PEDAGANG KAKI LIMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULUNGAN, a. bahwa

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Sejarah Singkat dan letak geografis Desa Sikijang

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Sejarah Singkat dan letak geografis Desa Sikijang 13 BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Sejarah Singkat dan letak geografis Desa Sikijang 1. Sejarah Singkat Desa sikijang adalah sebuah desa yang terletak Di Kecamatan Logas Tanah Darat, kabupaten

Lebih terperinci

NGOPI SEPULUH EWU. Ide festival ini terinspirasi dari kebiasaan minum kopi warga Kemiren, yakni tradisi ngopi bareng.

NGOPI SEPULUH EWU. Ide festival ini terinspirasi dari kebiasaan minum kopi warga Kemiren, yakni tradisi ngopi bareng. BARONG IDER BUMI Anda mungkin lebih mengenal Barong sebagai pertunjukan tari dari Bali. Dalam mitologi Bali, Barong adalah perlambang kebaikan, roh pelindung. Musuhnya ialah Rangda si tukang sihir jahat.

Lebih terperinci

BAB III DESKRIPSI PEMBAYARAN ZAKAT PERTANIAN MENUNGGU HASIL PANEN KEDUA DI DESA TANGGUNGHARJO KECAMATAN GROBOGAN KABUPATEN GROBOGAN

BAB III DESKRIPSI PEMBAYARAN ZAKAT PERTANIAN MENUNGGU HASIL PANEN KEDUA DI DESA TANGGUNGHARJO KECAMATAN GROBOGAN KABUPATEN GROBOGAN BAB III DESKRIPSI PEMBAYARAN ZAKAT PERTANIAN MENUNGGU HASIL PANEN KEDUA DI DESA TANGGUNGHARJO KECAMATAN GROBOGAN KABUPATEN GROBOGAN A. Profil Desa Tanggungharjo Kecamatan Grobogan Kabupaten Grobogan Desa

Lebih terperinci

A. PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang masalah

A. PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang masalah A. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah Di zaman di mana semakin berkembang pesatnya makanan-makanan ringan yang hadir di Indonesia dengan kelezatan dan berbagai macam aneka rasa yang berbeda di banding

Lebih terperinci

LAMPIRAN HASIL WAWANCARA

LAMPIRAN HASIL WAWANCARA LAMPIRAN HASIL WAWANCARA 83 LAMPIRAN Wawancara Dengan Bapak Eriyanto, Ketua Adat di Karapatan Adat Nagari Pariaman. 1. Bagaimana Proses Pelaksanaan Tradisi Bajapuik? - Pada umumnya proses pelaksanaan perkawinan

Lebih terperinci

PERUBAHAN KEDUA UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN

PERUBAHAN KEDUA UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA PERUBAHAN KEDUA UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945-59 - - 60 - MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA PERUBAHAN KEDUA

Lebih terperinci

Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka

Sungguh, kata Roh, supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #35 oleh Chris McCann Selamat malam dan selamat datang di pembahasan Alkitab EBible Fellowship dalam Kitab Wahyu. Malam ini adalah pembahasan #35 tentang Wahyu, pasal

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, yang di

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, yang di I. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, yang di dalamnya terdapat beraneka ragam suku bangsa, adat istiadat, dan kebudayaan yang berbeda-beda

Lebih terperinci

Bab II. Solusi Terhadap Masalah-Masalah Kesehatan. Cerita Juanita. Apakah pengobatan terbaik yang dapat diberikan? Berjuang untuk perubahan

Bab II. Solusi Terhadap Masalah-Masalah Kesehatan. Cerita Juanita. Apakah pengobatan terbaik yang dapat diberikan? Berjuang untuk perubahan Bab II Solusi Terhadap Masalah-Masalah Kesehatan Cerita Juanita Apakah pengobatan terbaik yang dapat diberikan? Berjuang untuk perubahan Untuk pekerja di bidang kesehatan 26 Beberapa masalah harus diatasi

Lebih terperinci

SULAWESI TENGAH. Elly Lasmanawati

SULAWESI TENGAH. Elly Lasmanawati SULAWESI TENGAH Elly Lasmanawati Program Studi Pendidikan Tata Boga Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia 2010 Selayang Pandang

Lebih terperinci

MADURA. Dra. Elly lasmanawati.msi

MADURA. Dra. Elly lasmanawati.msi MADURA Dra. Elly lasmanawati.msi Program Studi Pendidikan Tata Boga Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia 2010 Keadaan daerah

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 23 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pengelolaan Hutan Kemenyan di Desa Sampean Hutan kemenyan berawal dari hutan liar yang tumbuh tanpa campur tangan manusia. Pohon kemenyan tumbuh secara alami di hutan

Lebih terperinci

diasuh oleh team-teaching PROGRAM PASCASARJANA USU Program Magister Kenotariatan

diasuh oleh team-teaching PROGRAM PASCASARJANA USU Program Magister Kenotariatan diasuh oleh team-teaching PROGRAM PASCASARJANA USU Program Magister Kenotariatan KEKELUARGAAN SEDARAH DAN SEMENDA (bloedverwantschap en zwagerschap) BAB-XIII BUKU-I BW (Pasal-290 dst BW) (1) KELUARGA SEDARAH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sendiri, tetapi belakangan ini budaya Indonesia semakin menurun dari sosialisasi

BAB I PENDAHULUAN. sendiri, tetapi belakangan ini budaya Indonesia semakin menurun dari sosialisasi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan budaya Indonesia mengalami pasang surut, pada awalnya, Indonesia sangat banyak mempunyai peninggalan budaya dari nenek moyang kita terdahulu, hal

Lebih terperinci

PUTUSAN Nomor : 1068/Pdt.G/2014/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. Lawan

PUTUSAN Nomor : 1068/Pdt.G/2014/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. Lawan SALINAN PUTUSAN Nomor : 1068/Pdt.G/2014/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Pasuruan yang memeriksa dan mengadili perkara perdata pada tingkat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa salah satu alat bukti yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Dan

BAB 1 PENDAHULUAN. setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Dan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Pada bab ini maka penulis akan mengakhiri seluruh penulisan tesis ini dengan

BAB V PENUTUP. Pada bab ini maka penulis akan mengakhiri seluruh penulisan tesis ini dengan BAB V PENUTUP Pada bab ini maka penulis akan mengakhiri seluruh penulisan tesis ini dengan melakukan kesimpulan dan mengusulkan saran, sebagai berikut: A. KESIMPULAN Indonesia adalah sebuah kata yang dapat

Lebih terperinci

BAB LIMA PENUTUP. sebelumnya. Dalam bab ini juga, pengkaji akan mengutarakan beberapa langkah

BAB LIMA PENUTUP. sebelumnya. Dalam bab ini juga, pengkaji akan mengutarakan beberapa langkah BAB LIMA PENUTUP 5.0 Pendahuluan Di dalam bab ini, pengkaji akan mengemukakan kesimpulan yang diperoleh daripada perbahasan dan laporan analisis kajian yang telah dijalankan daripada babbab sebelumnya.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 61 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Perkawinan Menurut Hukum Adat Minangkabau di Kenagarian Koto Baru, Kecamatan Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat. Pelaksanaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pernikahan adalah salah satu peristiwa penting yang terjadi dalam

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pernikahan adalah salah satu peristiwa penting yang terjadi dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah salah satu peristiwa penting yang terjadi dalam kehidupan manusia, setiap pasangan tentu ingin melanjutkan hubungannya ke jenjang pernikahan.

Lebih terperinci

BAB I. bertujuan. untuk. mengidentifikasi. lokal asli di. penyebab. di Provinsi. Riau, dengan. konflik yang 93,764 45,849 27,450 3,907 29,280 14,000

BAB I. bertujuan. untuk. mengidentifikasi. lokal asli di. penyebab. di Provinsi. Riau, dengan. konflik yang 93,764 45,849 27,450 3,907 29,280 14,000 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab tidak terselesaikannya konflikk antara perusahaan hutan tanamann industri dan masyarakat lokal asli di Provinsi

Lebih terperinci

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI GARUT NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG PENGELOLAAN PEGAWAI NON PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH ATAU UNIT KERJA DI LINGKUNGAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

Surat Paulus yang pertama kepada jemaat Tesalonika

Surat Paulus yang pertama kepada jemaat Tesalonika 1 Surat Paulus yang pertama kepada jemaat Tesalonika Kepada yang kekasih saudara-saudari saya seiman di Tesalonika yaitu kalian yang sudah bersatu dengan Allah Bapa dan Tuhan kita Kristus Yesus: Salam

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL PANEN KELOMPOK PETANI JAGUNG DI KABUPATEN ACEH TENGGARA

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL PANEN KELOMPOK PETANI JAGUNG DI KABUPATEN ACEH TENGGARA Lampiran 1 Questioner ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL PANEN KELOMPOK PETANI JAGUNG DI KABUPATEN ACEH TENGGARA 1. Pertanyaan dalam Kuisioner ini tujuannya hanya semata-mata untuk penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebudayaan dan tradisinya masing-masing. Syari at Islam tidak

BAB I PENDAHULUAN. kebudayaan dan tradisinya masing-masing. Syari at Islam tidak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, adat istiadat serta tradisi. Jika dilihat, setiap daerah memiliki kebudayaan dan tradisinya masing-masing.

Lebih terperinci

P U T U S A N Nomor xxx/pdt.g/2011/pa Prg. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

P U T U S A N Nomor xxx/pdt.g/2011/pa Prg. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 1 P U T U S A N Nomor xxx/pdt.g/2011/pa Prg. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Pinrang yang memeriksa dan mengadili perkara tertentu dalam tingkat

Lebih terperinci

BAB III KARAKTER TANGGUNG JAWAB ANAK YANG BERADA DI SANGGAR GENIUS CEU WITA YATIM MANDIRI

BAB III KARAKTER TANGGUNG JAWAB ANAK YANG BERADA DI SANGGAR GENIUS CEU WITA YATIM MANDIRI BAB III KARAKTER TANGGUNG JAWAB ANAK YANG BERADA DI SANGGAR GENIUS CEU WITA YATIM MANDIRI Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup sendiri mereka membutuhkan orang di sekitar untuk membantu dalam

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG MASYARAKAT AGRARIS DAN INDUSTRI. dalam kode hukum sipil meiji ( ) ( Fukute, 1988:37 ).

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG MASYARAKAT AGRARIS DAN INDUSTRI. dalam kode hukum sipil meiji ( ) ( Fukute, 1988:37 ). BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG MASYARAKAT AGRARIS DAN INDUSTRI 2.1. Masyarakat Agraris Sejak zaman tokugawa sampai akhir perang dunia II, sistem keluarga Jepang diatur oleh konsep Ie dan bahkan mendapat

Lebih terperinci

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 1 PUTUSAN Nomor : 700/ Pdt.G /2013/ PA.Pas BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Pasuruan yang memeriksa dan mengadili perkara perdata pada tingkat

Lebih terperinci

Kalender Doa Februari 2017

Kalender Doa Februari 2017 Kalender Doa Februari 2017 Berdoa Bagi Pernikahan Dan Pertalian Keluarga Alkitab memberi gambaran mengenai pengabdian keluarga dalam Kitab Rut. Bisa kita baca di sana bagaimana Naomi dengan setia bepergian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Manusia adalah mahkluk sosial yang dilahirkan dalam suatu pangkuan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Manusia adalah mahkluk sosial yang dilahirkan dalam suatu pangkuan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia adalah mahkluk sosial yang dilahirkan dalam suatu pangkuan budaya yang pada awalnya merupakan unsur pembentukan kepribadiannya. Umumnya manusia sangat peka

Lebih terperinci