BAB III LANDASAN TEORI
|
|
|
- Susanti Setiawan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB III LANDASAN TEORI A. Konsep Dasar Pracetak Beton pracetak merupakan elemen atau komponen beton dengan atau tanpa tulangan yang dicetak terlebih dahulu sebelum dirakit menjadi bangunan. Dan semua komponen pracetak beserta sambungannya harus mampu menahan semua kondisi pembebanan dan kekangan dari fabrikasi awal sampai penggunaan akhir pada struktur. Termasuk pembongkaran bekisting, penyimpanan, transportasi, dan ereksi (SNI 2847:2013). Nurjaman (2000) dalam Makmur (2015) menyatakan bahwa secara umum sistem struktur komponen pracetak digolongkan sebagai sistem struktur komponen pracetak sebagian, dimana kekakuannya tidak dipengaruhi oleh pemutusan komponenisasi, misal pelat, dinding dimana pemutusan dilakukan tidak pada balok dan kolom. Sistem pracetak penuh, dalam sistem ini kolom dan balok serta pelat di pracetak dan disambung sehingga menjadi monolit. Sambungan elemen pracetak adalah bagian yang kritis, dimana berfungsi sebagai penyalur gaya-gaya antar elemen pracetak. Menurut Elliot (2002) dalam Makmur (2015) kelemahan konstruksi yang menggunakan sistem beton pracetak adalah terletak pada sambungan yang relatif kurang kaku dan monolit, sehingga lemah terhadap beban lateral khususnya dalam menahan beban gempa. Untuk itu sambungan antara elemen balok pracetak dengan kolom maupun dengan plat pracetak direncanakan supaya memiliki kekakuan seperti beton monolit. Sambungan elemen pracetak dengan beton cast in place diharapkan memiliki perilaku yang mendekati sama dengan struktur monolit. Gaya-gaya boleh disalurkan antar komponen-komponen struktur dengan menggunakan sambungan grouting, kunci geser, sambungan mekanis, sambungan baja tulangan, pelapisan dengan beton bertulang cor di tempat atau kombinasi dari cara-cara tersebut. Sambungan elemen pracetak meliputi sambungan pelat pracetak dengan balok pracetak, sambungan balok pracetak dengan balok pracetak, dan kolom pracetak dengan kolom pracetak. Panjang lekatan setidaknya tiga puluh kali diameter tulangan. Kait digunakan kalau panjang penyaluran yang diperlukan terlalu panjang. Panjang pengangkuran yang didapat dari eksperimen adalah antara 8 kali 10
2 11 diameter sampai 15 kalau diameter pada sisi yang tidak mengalami retak. Guna mengatasi kondisi terburuknya sebaiknya digunakan tiga puluh kali diameter tulangan. B. Komponen Pracetak Plastisitas beton pracetak memungkinkannya dibuat ke berbagai bentuk dan ukuran. Meskipun perancang beton precast secara rutin menghasilkan desain dan bentuk yang sesuai. Perancang biasanya memanfaatkan kecepatan dan ekonomi dengan menggunakan standar komponen yang bisa dirubah dan direplikasi berkali-kali dengan bentuk yang ada. Precaster menyediakan sejumlah komponen khas yang memenuhi besar tantangan desain tradisional. Berikut adalah komponen yang paling sering digunakan dalam pengaplikasian bangunan. a. Balok Bagian horisontal yang mendukung komponen dek dan hollow slab, balok biasanya dianggap komponen struktural. Tiga jenis balok yang sering diguanakan : balok persegi panjang, balok tee terbalik, dan balok-l b. Kolom Kolom biasanya mendukung anggota yang bersilangan silang seperti balok, spandrels, atau panel. Secara tradisional bentuk kolom persegi atau empat persegi panjang, kolom biasanya diperuntukkan sebagai komponen bertingkat. Dari komponen satu tingkat sampai enam atau lebih tingkatan. c. Hollow Slab Hollow slab, juga dikenal sebagai papan, digunakan di berbagai bangunan untuk komponen lantai/dinding. Ini termasuk rumah untuk keluarga dan keluarga tunggal, sekolah, hotel, pusat perawatan kesehatan, perkantoran, fasilitas manufaktur, dan lainnya d. Pile, dll Pile biasanya digunakan untuk mendukung struktur dalam kondisi tanah yang buruk, terutama di lingkungan laut, karena adaptasi dan ketahanannya yang sangat baik terhadap korosi. Ukuran pile yang paling kecil, 10 sampai 14 inci, biasanya digunakan untuk membangun proyek seperti pusat konvensi, hotel, dan fasilitas besar lainnya, dll.
3 12 C. Sistem Struktur Beton Pracetak Berbagai sistem struktur beton pracetak yang telah dikembangkan oleh berbagai perusahaan maupun instansi pemerintah di Indonesia untuk bangunan gedung berupa sistem join balok-kolom dan dinding geser berturut-turut diperlihatkan pada Tabel 3.1 dan Tabel 3.2. Selain itu, terdapat pula sistem struktur panel beton pracetak yang digunakan sebagai pelat jembatan yang harus mampu menahan beban kendaraan. Tabel 3.1 Beberapa Sistem Struktur Beton Pracetak Join Balok-Kolom yang Telah Dikembangkan di Indonesia (Sumber: Puslitbang Permukiman, 2011) No Nama Sistem Produsen Tahun 1 MPS SYSTEM PT. MEITAMA ABADI CIRCON SYSTEM PT. ANUGERAH PUTRA NOBAS CLIPCON SYSTEM PT. SINERGY PRACON 2011 NUSANTARA 4 JOINT APBN SYSTEM Pusat Penelitian dan Pengembangan 2010 Permukiman, Balitbang, Kementerian Pekerjaan Umum 5 Kencana System PT. Kencana Precast TRINITY SYSTEM PT. PRIMA USAHA TRINITY RB-CON SYSTEM PT. PRIMA JAYA PERSADA BKP SYSTEM PT. BANGUN KHARISMA PRIMA W-PLUS SYSTEM PT. CIPTA JAYA FADHILAH MANARA SYSTEM PT. MANARA INDAH SAKORI SYSTEM Saudara Dedi P. Putra Highrise Building System P.T. Dantosan Precon Perkasa SISTEM PRECAST Rigid P. T. Hiper Concrete Precast 2010 Joint Precast (RJP) Structure Industry 14 ERDEA SYSTEM P.T. ERDEA DDC ( DOUBLE DOWEL PT. HARIS JAYA UTAMA 2009 CONNECTION) SYSTEM 16 JHS SYSTEM COLUMN P. T. JHS PRECAST CONCRETE 2009
4 13 BEAM SLAB G3 INDONESIA 17 ORICON (OVAL RING PT. VALTEK KARSATAMA 2009 CONNECTION) SYSTEM 18 TRICON 3 - JUPITER P.T. TRIBINA PRIMA LESTARI 2009 SYSTEM 19 VIRTU SYSTEM PT. TOTAL BOANERGES 2009 INDONESIA 20 PT. TOTAL BOANERGES PT. WIDYA SATRIA 2009 INDONESIA 21 KOTAPARI SYSTEM PT. BUANA CONSTRUCTION JHS SYSTEM COLUMN P.T. JHS Precast Concrete Indonesia 2008 BEAM SLAB G3 SYSTEM 23 Interior Less Moment P.T. RIYAH PERMATA 2008 Connection High Rise System (LMC-HRS) ANUGRAH DAN P.T. BINANUSA PRACETAK DAN REKAYASA 24 TRICON L10 SYSTEM P.T. TRIBINA PRIMA LESTARI WASKITA PRECAST 07 P. T. Waskita Karya dan Ir SYSTEM Prijasambada, MM 26 JAVA PERKASA P. T. Java Perkasa dan Ir PRECAST 07 SYSTEM Prijasambada, MM. 27 SYSTEM sambungan Balok P. T. Hutama Karya 2007 & Kolom HK PRECAST 28 PLATCON PRECAST 07 P. T. Rang Pratama dan Ir. Sutadji 2007 SYSTEM Yuwasdiki, Dipl. E. Eng. 29 TBR-J SYSTEM P. T. Tata Bumi Raya dan Ir. Junaedi 2008 ME 30 DPI SYSTEM P. T. DANIA PRATAMA 2009 INTERNASIONAL 31 CCP (COUPLE COMB PT. Victory Sena Utama 2008 PLATE) SYSTEM 32 KW SYSTEM P.T. KUMALA WANDIRA Well Conn System P.T. BORNEO SAKTI 2008
5 14 34 PPI SYSTEM P T. Pacific Prestres Indonesia Sistem Struktur Beton P. T. Wijaya Karya Beton 2007 Pracetak WITON-SC 36 C-PLUS SYSTEM Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, Balitbang, Kementerian Pekerjaan Umum 2006 Tabel 3.2 Beberapa Sistem Struktur Beton Pracetak Dinding Geser yang Telah Dikembangkan di Indonesia (Sumber: Puslitbang Permukiman, 2011) No. Nama Sistem Produsen Tahun 1 Precast Coupled P.T. Catur Cipta Graha 2011 Wall System 2 n-panel System Pusat Penelitian dan Pengembangan 2009 Permukiman, Balitbang, Kementerian Pekerjaan Umum 3 PRECON P.T. Dantosan Precon Perkasa 2008 SYSTEM 4 Sistem Wall and P.T. Griyaton 2006 Slab D. Hubungan Tegangan-Regangan 1. Tegangan Tegangan adalah besaran pengukuran intensitas gaya (F) atau reaksi dalam yang timbul per satuan luas(a). Apabila terjadi tegangan secara merata pada luasan (A) dan tegangan (S ) bernilai konstan, hal ini sesuai dengan pernyataan Zainuri, maka persamaan yang digunakan. = F/A (3.1) Dimana, = Tegangan (N/mm 2 ) F = Gaya (N) A = Luasan (mm Besarnya tegangan lentur dapat dirumuskan sebagai
6 15 (3.2) dimana, Tegangan (N/mm Momen maksimum (Nmm) y = Jarak pusat titik berat (mm) Inersia (mm 4 ) 2. Regangan Regangan adalah perubahan ukuran dari panjang awal sebagai hasil dari gaya yang menarik atau menekan pada material. Apabila suatu spesimen struktur material diikat pada jepitan mesin penguji dan beban serta pertambahan panjang spesimen diamati serempak, maka dapat digambarkan pengamatan pada grafik dimana ordinat menyatakan beban dan absis menyatakan pertambahan panjang. Untuk memperoleh satuan deformasi atau regangan yaitu dengan membagi perpanjangan (l-lo) dengan panjang material mula-mula (lo). Hal ini sesuai dengan pernyataan Zainuri, Dengan rumusan : = (L-Lo)/Lo (3.3) Dimana, = Regangan L = Panjang mula-mula Lo = Panjang akhir 3. Hubungan Tegangan dan Regangan Zainuri (2008) menyatakan jika suatu benda ditarik maka akan mulur (Extension), terdapat hubungan antara pertambahan panjang dan tegangan yang diberikan. Jika gaya persatuan luasan disebut tegangan dan pertambahan panjang disebut regangan maka hubungan ini dinyatakan dengan grafik tegangan regangan (stress-strain graph). Pada hubungan tegangan dan regangan didapatkan modulus elastisitas suatau bahan. modulus elastisitas dapat dihitung dengan rumus : (3.4) Dimana, E = Modulus Elastisitas (N/mm 2 )
7 16 Diagram tegangan dan regangan yang ditunjukkan pada Gambar 3.1 dapat digunakan untuk mencirikan beberapa karakteristik tegangan bahan, diantaranya: a) Batas proporsi (proportional limit) Dari titik asal O ke titik yang disebut batas proporsional masih merupakan garis lurus (Gambar 3.1). Pada daerah itu berlaku hukum Hooke, bahwa tegangan sebanding dengan Regangan. b) Batas elastis (Elastic limit) Batas elastis merupakan batas tegangan dimana bahan tidak dapat kembali ke bentuk semula apabila beban dilepas tetapi akan terjadi deformasi tetapyang disebut permanent set. c) Titik mulur (Yield point). Titik mulur adalah titik di mana bahan memanjang mulur tanpa pertambahan beban. d) Kekuatan maksimum (Ultimate strength) Titik ini merupakan ordinat tertinggi pada kurva tegangan dan regangan yang menunjukkan kekuatan tarik (tensile strength) bahan. e) Kekuatan patah (Breaking strength) Kekuatan patah terjadi akibat bertambahnya beban mencapai beban patah sehingga beban meregang dengan sangat cepat dan secara simultan luas penampang bertambah kecil. Gambar 3.1 Diagram Tegangan-Regangan khusus (Zainuri, 2008).
8 17 E. Daktilitas Zainuri, (2008) menyatakan bahwa duktilitas adalah sifat bahan yang mampu berdeformasi terhadap beban tarik sebelum benar-benar patah (rupture). Daktilitas adalah kemampuan stuktur atau komponen syruktur untuk mengalami deformasi inelastic bolak-balik berulang setelah leleh pertama, sambil mempertahankan kekuatan dan kekakuan yang cukup untuk mendukung bebannya, sehingga struktur tetap berdiri walaupun sudah retak/rusak dan diambang keruntuhan. Faktor daktalitas struktur gedung µ adalah rasio antara simpangan maksimum struktur gedung akibat pengaruh gempa pada saat mencapai kondisi di ambang keruntuhan ( m) dengan simpanan struktur gedung pada saat terjadinya pelelahan pertama ( y). pada kondisi elastik penuh nilai µ = 1,0. Tingkat dakilitas struktur dipengaruhi olah pola retak atau sendi plastis terjadi di ujung-ujung balok dan bukan pada kolom dan dinding yang memikulnya. Menurut Paulay & Priesley (1992) daktilitas terbagi dalam: 1. Daktilitas regangan (strain ductility) dapat dirumuskan sebagai berikut:.(3.5) Seperti terlihat pada Gambar 3.2 Gambar 3.2 Daktilitas regangan (Paulay & Priesley (1992)). 2. Daktilitas kelengkungan (curvature ductility), dapat dirumuskan seagai berikut : (3.6) Dimana = sudut klengkungan (putaran sudut per unit panjang)
9 18 Gambar 3.3 Daktilitas kelengkungan (Paulay & Priesley (1992)). 3. Daktilitas perpindahan (displacement ductility) adalah perbandungan anara perpindahan struktur maksimum pada arah lateal terhadap perpinahan struktur saat leleh. (3.7) Seperti terlihat pada Gambar 3.4 berikut : Gambar 3.4 Daktilitas Perpindahan (Paulay & Priesley (1992)). F. Disipasi Energi Disipasi energi adalah kemampuan struktur dalam menyerap energi melalui proses lelah pada daerah sendi plastis. Dalam merencanakan suatu struktur gedung tahan gempa bersifat daktail di daerah sendi plastis sehingga diharapkan terjadinya deformasi plastis sebelum keruntuhan. Total energi terdisipasi selama pembebanan berlangsung merupakan luas daerah dari kurva beban (p) dan displacement (u). faktor-faktor yang mempengaruhi disipasi energi adalah kuat
10 19 tekan, dimensi penampang dan riwayat pembebanan. Luas area kurva dapat dihitung dengan pendekatan aturan trapesium banyak pias seperti Gambar 3.4. Luas area (A) dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut : ( ( ) ( ) )...(3.8) Gambar 3.5 aturan trapesium dengan banyak pias. G. Pola Retak Retak merupakan adalah terjadinya pemisahan antara massa beton yang relatif panjang dengan yang sempit. Secara visual retak nampak seperti garis yang tak beraturan. Retak yang terjadi setelah beton mengeras salah satunya adalah retak struktural. Retak ini terjadi karena adanya pembebanan yang mengakibatkan timbulnya tegangan lentur, tegangan geser dan tegangan tarik. Retak merupakan jenis kerusakan yang paling sering terjadi pada struktur beton, retak bisa terjadi pada saat beton mulai mengeras maupun setelah beton mengeras. Retak yang terjadi saat beton mulai mengeras (beton belum mampu menahan beban) antara lain terjadi karena pembekuan udara dingin (pada daerah dengan musim dingin), susut (shrinkage), penurunan (settlement), dan penurunan acuan (formwork).
11 20 Retak yang terjadi setelah beton mengeras salah satunya adalah retak structural. Rertak ini terjadi karena adanya pembebanan yang mengakibatkan munculnya tegangan lentur, geser dan tarik. Pada dasarnya, reta yang terjadi pad aelemen atau struktur beton terdiri dari tiga macam yaitu (Triwiyono, 2000) : 1. Retak Lentur (flexural crack) Retak yg terjadi akibat dari beban lentur yang jauh lebih besar dari beban gesernya. Bentuk retak ini akan merupakan garis lurus sejajar dengan arah gaya yang bekerja pada komponen tersebut (mengarah/menjalar dari bagian terik menuju bagian tekan). 2. Retak Geser Lentur (flexural shear crack) Retak geser lentur adalah retak miring yang merupakan retak lanjutan dari retak lentur yang terjadi sebelumnya. Retak ini terjadi jika agaya momen dan geser yang terjadi sama besar. 3. Retak Geser (shear crack) Retak yang terjadi akibat gaya geser dan bentuk dari retak ini akan membentuk sudut 45 o terhadap gaya yang bekerja pada komponen tersebut. retak ini terjadi pada lokasi yang belum mengalami retak lentur dan hal ini terjadi karena gaya geser yang ada lebih besar dari momen yang ada. Gambar 3.6 Pola retak pada beton bertulang (Triwiyono,2000)
12 21 H. Metode Elemen Hingga ABAQUS merupakan proram computer berbasis elemen hingga untuk menganalisis berbagai macam permasalahan nonlinier termasuk beton bertulang. Kemampuan program ini tidak laho diragukan karena mampu untuk melakukan meshing dengan akurat dengan berbagai pilihan model elemen agar dapat semakin mendekati dengan kondisi sebenarnya serta mampu melakukan analisis dinamik dan siklik loading. ABAQUS memberikan solusi berbagai persamaan konstitutif untuk menyelesaikan permasalahan nonliniersehingga emudahkan pengguna untuk memilih solusi yang tepat untuk model yang akan dianalisis. Proses pemodelan pada ABAQUS/CAE dibagi dalam beberapa modul. Setiap modul memiliki fungsi yang spesifik dalam mendefinisikan model dan setiap modul hanya memiliki tools yang relevan dengan fungsi spesifik tersebut. Modul-modul tersebut antara lain : 1. Modul Part. Pada modul ini part-part individual diciptakan dengan cara mensketsa geometri masing-masing atau mengimport geometri yang telah dibuat dari program pemodelan geometri yang lain. 2. Modul Property Pada modul ini section dan defenisi material diciptakan dan kemudian diaplikasikannya ke suatu part atau suatu bagian dari part. 3. Modul Assembly Pada modul ini part-part individual yang memilki sistem koordinatnya masing-masing digabungkan ke dalam suatu koordinat global dan kedudukan relative antara satu part dengan yang lainnya diatur sehingga menjadi satu model yang utuh. Part yang telah dimasukkan kedalam modul assembly disebut part instance. Satu model ABAQUS hanya dapat memiliki satu macam assembly. 4. Modul Step Pada modul ini analisys step diciptakan dan kemudian dikonfigurasikan. Selain itu output request juga dapat dikonfigurasikan disini sesuai kebutuhan.
13 22 5. Modul Interaction Pada modul ini interksi mekanik dan termal antara daerah-daerah dari model atau antar daerah model dan lingkungannya didefinisikan. Contohnya adalah interaksi antara dua permukaan yang bersinggungan. ABAQUS/CAE tidak dapat mengenali kontak mekanik antara permukaan part instance dari suatu assembly walaupun kedua part instance tersebut bersinggungan, kecuali jika kontak itu didefinisikan secara spesifik pada modul interaksi. Interaksi adalah objek yang bersifat dependen terhadap analisys step, yang berarti untuk setiap interaksi harus didefinisikan pada analisys step yang mana ia bekerja. 6. Modul Load Pada modul ini beban, kondisi batas dan predefined fields didefinisikan. Beban dan kodisi batas bersifat dependen terhadap analisys step yang berarti untuk setiap beban dan kondisi batas harus didefinisikan pada analisys step yang mana mereka bekerja. Beberapa predefined field bersifat dependen terhadap analisys step sementara sisanya diplikasikan hanya pada permulaan analisis. 7. Modul Mesh Pada modul ini tersedia tools yang bertujuan menciptakan mesh elemen hingga pada assembly yang telah dibuat. 8. Modul Job Pada modul ini analisis model dilakukan dan dimonitor, lebih dari satu model dan run dapat dilakukan bersamaan serta dimonitor secara bersamaan juga. 9. Modul Visualization Modul ini menyediakan penyajian secara grafis dari model elemen hingga dan hasil analisis. Informasi hasil yang dikeluarkan sesuai dengan informasi output yang diminta yaitu output request pada modul step. Software ABAQUS juga menyediakan program yang digunakan untuk memodelkan benda yang akan dianalisis yang diberi nama ABAQUS CAE. Program ini berfungsi sebagai desain model yang akan kita analisis kekuatannya. Seperti kebanyakan program komputer yang banyak tersedia di pasaran,
14 23 ABAQUS mempunyai fasilitas CAD/CAM/CAE yang bisa difungsikan sebagai program analisis elastis dan plastis. Keunggulan ABAQUS dibanding dengan program lain sejenis adalah lengkapnya menu yang tersedia pada part module. Selain itu kita juga bisa melakukan test dengan memasukkan data secara manual didalam input file. Pengembangan bahasa program dalam ABAQUS memungkinkan para desainer lebih mudah dalam memilih metode yang digunakan dalam melakukan proses simulasi dan analisis (ABAQUS CAE User manual,2003). Kemungkinan terjadi kesalahan dan kegagalan selama proses running dari input file yang telah dimasukkan bisa disebabkan karena kesalahan dalam memasukan data pada module ABAQUS CAE Analisis ABAQUS secara lengkap biasanya terdiri dari tiga tingkat tertentu : preprocessing, simulasi, dan postprocessing seperti yang ditunjukan pada diagram berikut : Gambar 3.7 Diagram alir proses running (ABAQUS Manual). Konsentrasi ABAQUS dalam pengembangan software memberikan kemajuan dalam ketetapan permodelan material, geometrid an model pembebanan sehingga bisa semakin diperoleh hasil yang eksak dan mendekati kondisi nyata dalam pemodelan, ABAQUS memeberikan banyak pilihan model yang dapat digunakan. Pengguna dapat memilih model sesuai dengan geometri, material, perilaku benda uji yang dimodelkan.
15 24 Gambar 3.8 Macam-Macam Model Elemen (ABAQUS manual) 1. Material beton Dalam pemodelannya, beton bertulang dimodelkan sebagai threedimensionalsolid part/continuum element. Pertimbangannya adalah penggunaan Three-dimensional meodel akan memberikan kemungkinan untuk menggunakan konsisi batas yang lebih kompleks dan diharapkan lebih mendekati kondisi actual sebenarnya dari benda uji. Tipe elemen ini memiliki delapan titk dengan tiga derajat kebebeasan tiap titikya dan translasinya pada araj x, y, z. Elemen ini mampu untuk melakukan deformasi, retak pada tiga arah sumbu orthogonal dan kemudian hancur. Geomerti dan posisi titik dapat dilihat pada Gambar 3.9 berikut. Gambar 3.9 Three dimensional solid element (ABAQUS manual) 2. Model Baja Tulangan & Plat Sambung Model truss disediakan pada ABAQUS untuk memodelkan baja tulangan. Diperlukan minimal dua titik untuk menggunakan elemen ini.
16 25 Tiap titiknya memiliki tiga derajat kebebasan dan translasinya pada arah x, y, z. Elemen ini mempunyai kemampuan untuk mengalami deformasi plastis. Bentuk geometi dan posisi penempatan titik dapat dilihat pada Gambar 3.10 berikut : Gambar 3.10 Truss elemen (ABAQUS manual) ABAQUS memberikan dua pilihan untuk mendiskrisikan tulangan diskrit dalam model tiga dimensi. Tulangan dapat didesain sebagai embedded surface dengan model rebar layer atau embedded dengan menggunkan truss elemen. Namun umumnya pada pilihan pertama biasanya digunakan dalam pemodelan untuk plat, untuk benda uji berupa balok kolom atau joint digunakan dalam pemodelan plat, untuk benda uji berupa balok kolom beton atau joint yang digunakan embedded of truss element. Untuk plat sambung digunakan permodelan embedded dalam interaksinya dengan elemen beton. Konsep jika interaksi elemen didefinisikan sebagai embedded maka akan terjadi interaksi yang sama antara elemen embedded dengan host elemennya. Translasional derajat kebebasan dari titik embedded terkait dengan hasil interpolasi berdasarkan derajat kebebasan dari host elemennya. Jadi host elemen sebagai constrain pada embedded elemen, sehingga translasi yang terjadi pada titik embedded akan identik dengan host elemennya. Penjelasan dapat dilihat pada Gambar 3.11.
17 26 Gambar 3.11 Konsep embedded elemen ( ABAQUS manual) 3. Model Material Grouting Material Grouting sebagai pengisi memiliki karakter yang sama dengn beton sehingga permodelannya pun menggunakan three-dimensional solid part. Perbedaannya pada interaksi antara beton basah dengan beton pracetak dimana diusulkan oleh lin xin (2007) menggunakan tie function dalam pemodelannya sehingga terjadi perbedaan perilaku pada daerah pertemuan antara beton pracetak dengan material pengisi. Pada Tabel 3.3 didapat dilihat jenis karakter permukaan permukaan yang dapat diterapkan dalam interaksi tie function. Tabel 3.3 Perbandingan karakter permukaan tie formulation (ABAQUS manual) Treatment of Mixture of nodes/facets Optimized Node-based rigid and shared Tie Formulation stress surfaces deformable between accuracy allowed subreglons master and slave surfaces Surface-to- Yes Reverts to No Eliminated
18 27 surface (abaqus/standard or Abaqus/Explicit) Node-to-surface in Abaqus/Standard Node-to-surface in Abaqus/Explicit node-tosurface form slave formulation No Yes No Eliminated form slave No Yes Yes Eliminated form slave Gambar 3.12 Model Tie Function (ABAQUS manual) 4. Mashing Beton Pemodelan elemen hingga pada penelitian ini dibatasi oleh jenis material yang tersedia didalam ABAQUS yang dianamakan brick elements sehingga dapat diperoleh distribusi gaya yang paling tepat pada analisis 3 dimensi. ABAQUS menyediakan beberapa tipe dalam contonya C3D8R elemen, dengan penjelasan pada Gambar 3,13 Gambar 3.13 Model brick element 3D untuk beton (ABAQUS Manual).
19 28 5. Mashing baja tulangan Tulangan merupakan elemen tarik pada beton bertulang, dapat didefinisikan sebagai elemen truss tiga dimensi baik secara linear (T3D2) atau pun quadric order (T3D3). Pemilihan elemen ini sebagai truss, terkait dengan sifat tulangan yang menerusakn distribusi gaya sepanjang tulangan. Hal ini sesuai dengan sifat elemen truss pada ABAQUS yang mendistribusikan gaya sepanjang elemen. Sehingga dapat diperoleh perilaku yang tepat pada baja tulangan. Gambar 3.14 Model Truss Element 3D (ABAQUS Manual).
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI A. Konsep Dasar Sistem Pracetak Konsep perencanaan bangunan tahan gempa pada masa kini merupakan hasil penelitian dari para pakar selandia baru sejak tahun 1960, yaitu Park, Paulay
S-3. Siti Aisyah Nurjannah 1* Lapangan Hatta, Palembang.
PERKEMBANGAN SISTEM STRUKTUR BETON PRACETAK SEBAGAI ALTERNATIF PADA TEKNOLOGI KONSTRUKSI INDONESIA YANG MENDUKUNG EFISIENSI ENERGI SERTA RAMAH LINGKUNGAN S-3 Siti Aisyah Nurjannah 1* 1 Balai Diklat Wilayah
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI A. Konsep Dasar Sistem Pracetak Beton pracetak merupakan elemen atau komponen beton dengan atau tanpa tulangan yang dicetak terlebih dahulu sebelum dirakit menjadi bangunan. Semua
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini akan membahas hasil dari analisis uji sambungan balok kolom pracetak. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode elemen hingga yang menggunakan program ABAQUS CAE
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sistem Sambungan Balok-Kolom Pacetak Hutahuruk (2008), melakukan penelitian tentang sambungan balok-kolom pracetak menggunakan kabel strand dengan sistem PSA. Penelitian terdiri
TUGAS AKHIR STUDI NUMERIK PERILAKU SAMBUNGAN BALOK-KOLOM BETON BERTULANG PRACETAK INTERIOR DENGAN PEMBEBAN STATIK
TUGAS AKHIR STUDI NUMERIK PERILAKU SAMBUNGAN BALOK-KOLOM BETON BERTULANG PRACETAK INTERIOR DENGAN PEMBEBAN STATIK Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Mencapai Jenjang Strata-1 (S1), Jurusan Teknik
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
5 BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1 Manajemen Konstruksi Manajemen proyek adalah merencanakan, mengoorganisir, memimpin dan mengendalikan sumber daya perusahaan untuk mencapai sasaran jarak pendek yang telah
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN A. Materi Penelitian Penelitian ini meneliti tentang perilaku sambungan interior balok-kolom pracetak, dengan benda uji balok T dan kolom persegi, serta balok persegi dan kolom
Gambar 5.1 Tegangan yang terjadi pada model 1.
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Tegangan dan Regangan Gambar 5.1, Gambar 5.2, Gambar 5.3 dan Gambar 5.4 memperlihatkan sebaran tegangan dan regangan yang terjadi pada model 1 dan 2 akibat beban yang diberikan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pergesekan lempeng tektonik (plate tectonic) bumi yang terjadi di daerah patahan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Gempa adalah fenomena getaran yang diakibatkan oleh benturan atau pergesekan lempeng tektonik (plate tectonic) bumi yang terjadi di daerah patahan (fault zone). Besarnya
BAB II STUDI PUSTAKA
BAB II STUDI PUSTAKA 2.1. TINJAUAN UMUM Pada Studi Pustaka ini akan membahas mengenai dasar-dasar dalam merencanakan struktur untuk bangunan bertingkat. Dasar-dasar perencanaan tersebut berdasarkan referensi-referensi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang aman. Pengertian beban di sini adalah beban-beban baik secara langsung
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Struktur Dalam perencanaan struktur bangunan harus mengikuti peraturanperaturan pembebanan yang berlaku untuk mendapatkan suatu struktur bangunan yang aman. Pengertian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pembebanan Komponen Struktur Dalam perencanaan bangunan tinggi, struktur gedung harus direncanakan agar kuat menahan semua beban yang bekerja padanya. Berdasarkan Arah kerja
Pengujian Tahan Gempa Sistem Struktur Beton Pracetak
Pengujian Tahan Gempa Sistem Struktur Beton Pracetak Oleh : Yoga Megantara Balai Struktur dan Konstruksi Bangunan KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT B A D A N P E N E L I T I A N D A N P E
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. gedung dalam menahan beban-beban yang bekerja pada struktur tersebut. Dalam. harus diperhitungkan adalah sebagai berikut :
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Pembebanan Struktur Perencanaan struktur bangunan gedung harus didasarkan pada kemampuan gedung dalam menahan beban-beban yang bekerja pada struktur tersebut. Dalam Peraturan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Struktur Dalam perencaaan struktur bangunan harus mengikuti peraturan pembebanan yang berlaku untuk mendapatkan struktur bangunan yang aman. Pengertian beban adalah
STUDI DAKTILITAS DAN KUAT LENTUR BALOK BETON RINGAN DAN BETON MUTU TINGGI BERTULANG
9 Vol. Thn. XV April 8 ISSN: 854-847 STUDI DAKTILITAS DAN KUAT LENTUR BALOK BETON RINGAN DAN BETON MUTU TINGGI BERTULANG Ruddy Kurniawan, Pebrianti Laboratorium Material dan Struktur Jurusan Teknik Sipil
ANALISIS PERUBAHAN SISTEM STRUKTUR KONVENSIONAL MENJADI SISTEM PRACETAK UNTUK GEDUNG RUSUNAWA DI MENADO T-24 DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ETABS9.
ANALISIS PERUBAHAN SISTEM STRUKTUR KONVENSIONAL MENJADI SISTEM PRACETAK UNTUK GEDUNG RUSUNAWA DI MENADO T-24 DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ETABS9.0 SKRIPSI OLEH FREDDY 1100005860 UNIVERSITAS BINA NUSANTARA
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5.1 Spesifikasi Benda Uji Benda Uji Tulangan Dimensi Kolom BU 1 D mm x 225 mm Balok BU 1 D mm x 200 mm
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini akan membahas hasil dari analisa uji sambungan balok kolom precast. Penelitian dilakukan dengan metode elemen hingga yang menggunakan program ABAQUS. memodelkan dua jenis
STUDI PERILAKU SAMBUNGAN BALOK PRACETAK UNTUK RUMAH SEDERHANA TAHAN GEMPA AKIBAT BEBAN STATIK
STUDI PERILAKU SAMBUNGAN BALOK PRACETAK UNTUK RUMAH SEDERHANA TAHAN GEMPA AKIBAT BEBAN STATIK Leonardus Setia Budi Wibowo Tavio Hidayat Soegihardjo 3 Endah Wahyuni 4 dan Data Iranata 5 Mahasiswa S Jurusan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pembebanan yang berlaku untuk mendapatkan suatu struktur bangunan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Pembebanan Struktur Dalam perencanaan struktur bangunan harus mengikuti peraturanperaturan pembebanan yang berlaku untuk mendapatkan suatu struktur bangunan yang aman. Pengertian
BAB III UJI LABORATORIUM. Pengujian bahan yang akan diuji merupakan bangunan yang terdiri dari 3
BAB III UJI LABORATORIUM 3.1. Benda Uji Pengujian bahan yang akan diuji merupakan bangunan yang terdiri dari 3 dimensi, tiga lantai yaitu dinding penumpu yang menahan beban gempa dan dinding yang menahan
BAB II DASAR-DASAR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT
BAB II DASAR-DASAR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT 2.1 KONSEP PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RAWAN GEMPA Pada umumnya struktur gedung berlantai banyak harus kuat dan stabil terhadap berbagai macam
Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur
STUDI PERILAKU SAMBUNGAN BALOK PRACETAK UNTUK RUMAH SEDERHANA TAHAN GEMPA AKIBAT BEBAN STATIK Leonardus Setia Budi Wibowo 1 Tavio 2 Hidayat Soegihardjo 3 Endah Wahyuni 4 dan Data Iranata 5 1 Mahasiswa
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan konstruksi beton pracetak di Indonesia berkembang pesat, hal ini terkait dengan biaya konstruksi yang terus meningkat. Bila dibandingkan dengan biaya pada
KERUNTUHAN LENTUR BALOK PADA STRUKTUR JOINT BALOK-KOLOM BETON BERTULANG EKSTERIOR AKIBAT BEBAN SIKLIK
KERUNTUHAN LENTUR BALOK PADA STRUKTUR JOINT BALOK-KOLOM BETON BERTULANG EKSTERIOR AKIBAT BEBAN SIKLIK Ratna Widyawati 1 Abstrak Dasar perencanaan struktur beton bertulang adalah under-reinforced structure
PERILAKU STRUKTUR BETON BERTULANG AKIBAT PEMBEBANAN SIKLIK
PERILAKU STRUKTUR BETON BERTULANG AKIBAT PEMBEBANAN SIKLIK Raja Marpaung 1 ), Djaka Suhirkam 2 ), Lina Flaviana Tilik 3 ) Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Polsri Jalan Srijaya Negara Bukit Besar Palembang
Pembebanan Batang Secara Aksial. Bahan Ajar Mekanika Bahan Mulyati, MT
Pembebanan Batang Secara Aksial Suatu batang dengan luas penampang konstan, dibebani melalui kedua ujungnya dengan sepasang gaya linier i dengan arah saling berlawanan yang berimpit i pada sumbu longitudinal
BAB IV EVALUASI KINERJA DINDING GESER
BAB I EALUASI KINERJA DINDING GESER 4.1 Analisis Elemen Dinding Geser Berdasarkan konsep gaya dalam yang dianut dalam SNI Beton 2847-2002, elemen struktur dinding geser tidak dicek terhadap kegagalan gesernya.
Bab II STUDI PUSTAKA
Bab II STUDI PUSTAKA 2.1 Pengertian Sambungan, dan Momen 1. Sambungan adalah lokasi dimana ujung-ujung batang bertemu. Umumnya sambungan dapat menyalurkan ketiga jenis gaya dalam. Beberapa jenis sambungan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Struktur Dalam perencanaan suatu struktur bangunan gedung bertingkat tinggi sebaiknya mengikuti peraturan-peraturan pembebanan yang berlaku untuk mendapatkan suatu
BAB I PENDAHULUAN. fisik menuntut perkembangan model struktur yang variatif, ekonomis, dan aman. Hal
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Umum Ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dan pembangunan sarana prasarana fisik menuntut perkembangan model struktur yang variatif, ekonomis, dan aman. Hal tersebut menjadi mungkin
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. desain untuk pembangunan strukturalnya, terutama bila terletak di wilayah yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Struktur bangunan bertingkat tinggi memiliki tantangan tersendiri dalam desain untuk pembangunan strukturalnya, terutama bila terletak di wilayah yang memiliki faktor resiko
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Dalam perencanaan suatu struktur bangunan harus memenuhi peraturanperaturan yang berlaku untuk mendapatkan suatu struktur bangunan yang aman secara konstruksi berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Semakin berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan dewasa ini, juga membuat semakin berkembangnya berbagai macam teknik dalam pembangunan infrastruktur, baik itu
B. Peralatan penelitian
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN METODELOGI PENELITIAN A. Materi penelitian Materi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sistem struktur portal rangka baja yang pada awalnya tanpa menggunakan pengikat
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Materi Penelitian Materi penelitian diambil dari hasil pengujian eksperimental oleh Tjahjono dan Purnomo (2004). Benda uji sambungan balok-kolom pracetak bagian sisi luar
Latar Belakang : Banyak bencana alam yang terjadi,menyebabkan banyak rumah penduduk rusak
Bab I Pendahuluan Latar Belakang : Kebutuhan perumahan di Indonesia meningkat seiring pertumbuhan penduduk yang pesat. Banyak bencana alam yang terjadi,menyebabkan banyak rumah penduduk rusak Latar Belakang
T I N J A U A N P U S T A K A
B A B II T I N J A U A N P U S T A K A 2.1. Pembebanan Struktur Besarnya beban rencana struktur mengikuti ketentuan mengenai perencanaan dalam tata cara yang didasarkan pada asumsi bahwa struktur direncanakan
BAB 1 PENDAHULUAN. metoda desain elastis. Perencana menghitung beban kerja atau beban yang akan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PENULISAN Umumnya, pada masa lalu semua perencanaan struktur direncanakan dengan metoda desain elastis. Perencana menghitung beban kerja atau beban yang akan dipikul
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. harus dilakukan berdasarkan ketentuan yang tercantum dalam Tata Cara
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Struktur Dalam perencanaan komponen struktur terutama struktur beton bertulang harus dilakukan berdasarkan ketentuan yang tercantum dalam Tata Cara Perhitungan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. aman secara konstruksi maka struktur tersebut haruslah memenuhi persyaratan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar-dasar Pembebanan Struktur Dalam merencanakan suatu struktur bangunan tidak akan terlepas dari beban-beban yang bekerja pada struktur tersebut. Agar struktur bangunan tersebut
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi beton pracetak adalah struktur beton yang dibuat dengan metode percetakan sub elemen struktur (sub assemblage) secara mekanisasi dalam pabrik atau workshop
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pada perencanaan bangunan bertingkat tinggi, komponen struktur
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Struktur Pada perencanaan bangunan bertingkat tinggi, komponen struktur direncanakan cukup kuat untuk memikul semua beban kerjanya. Pengertian beban itu sendiri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Analisis Lentur Balok Mac. Gregor (1997) mengatakan tegangan lentur pada balok diakibatkan oleh regangan yang timbul karena adanya beban luar. Apabila beban bertambah maka pada
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pembebanan Komponen Struktur Pada perencanaan bangunan bertingkat tinggi, komponen struktur direncanakan cukup kuat untuk memikul semua beban kerjanya. Pengertian beban itu
BAB V. Resume kerusakan benda uji pengujian material dapat dilihat pada Tabel V-1 berikut. Tabel V-1 Resume pola kerusakan benda uji material
BAB V ANALISIS HASIL EKSPERIMEN 5.1 UMUM Hasil eksperimen pada 10 benda uji menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan pada benda uji satu sama lain. Bab ini menampilkan pembahasan hasil eksperimen dengan
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini menampilkan hasil pengujian karakteristik material bata dan elemen dinding bata yang dilakukan di Laboratorium Rekayasa Struktur Pusat Rekayasa Industri ITB. 4.1. Uji
ANALISA KINERJA LINK TERHADAP VARIASI TIPE PENGAKU PADA RANGKA BERPENGAKU EKSENTRIS
ANALISA KINERJA LINK TERHADAP VARIASI TIPE PENGAKU PADA RANGKA BERPENGAKU EKSENTRIS Alfin Septya Nugroho, Data Iranata, Budi Suswanto. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Beton Beton didefinisikan sebagai campuran antara sement portland atau semen hidraulik yang lain, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan tambahan yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan gedung bertingkat saat masa sekarang ini semakin pesat dan dalam pembangunannya masih dilaksanakan dengan metode konvensional (cast in situ), sehingga
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pemilihan Struktur Desain struktur harus memperhatikan beberapa aspek, diantaranya : Aspek Struktural ( kekuatan dan kekakuan struktur) Aspek ini merupakan aspek yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. gedung dalam menahan beban-beban yang bekerja pada struktur tersebut.
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Komponen Struktur Perencanaan suatu struktur bangunan gedung didasarkan pada kemampuan gedung dalam menahan beban-beban yang bekerja pada struktur tersebut. Pengertian
STUDI EKSPERIMENTAL SAMBUNGAN KOLOM-KOLOM PADA SISTEM BETON PRACETAK DENGAN MENGGUNAKAN SLEEVES
STUDI EKSPERIMENTAL SAMBUNGAN KOLOM-KOLOM PADA SISTEM BETON PRACETAK DENGAN MENGGUNAKAN SLEEVES 1. PENDAHULUAN Iswandi Imran, Liyanto Eddy, Mujiono, Elvi Fadilla Sistem beton pracetak telah banyak digunakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Hasil Penelitian Eksperimen Sambungan Balok-Kolom Sistem Pracetak Ertas, dkk (2006) melakukan penelitian tentang sambungan daktail pada struktur rangka pemikul momen pracetak.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Beban Struktur Pada suatu struktur bangunan, terdapat beberapa jenis beban yang bekerja. Struktur bangunan yang direncanakan harus mampu menahan beban-beban yang bekerja pada
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini akan dianalisis periode struktur, displacement, interstory drift, momen kurvatur, parameter aktual non linear, gaya geser lantai, dan distribusi sendi plastis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Baja Baja merupakan bahan konstruksi yang sangat baik, sifat baja antara lain kekuatannya yang sangat besar dan keliatannya yang tinggi. Keliatan (ductility) ialah kemampuan
DAFTAR ISI. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Umum Beban Gempa Menurut SNI 1726: Perkuatan Struktur Bresing...
DAFTAR ISI PERNYATAAN... i ABSTRAK... ii UCAPAN TERIMA KASIH... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR TABEL... ix BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Rumusan Masalah... 2 1.3 Tujuan...
BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN
BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1. Gambaran Umum Obyek Penelitian Binus Square merupakan sebuah apartemen yang berlokasi di Jl. Budi Raya, Kemanggisan, Jakarta Barat. Jumlah lantai apartemen Binus Square
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Komponen Struktur Pada perencanaan bangunan bertingkat tinggi, komponen struktur direncanakan cukup kuat untuk memikul semua beban kerjanya. Pengertian beban itu
RESPON DINAMIS STRUKTUR PADA PORTAL TERBUKA, PORTAL DENGAN BRESING V DAN PORTAL DENGAN BRESING DIAGONAL
RESPON DINAMIS STRUKTUR PADA PORTAL TERBUKA, PORTAL DENGAN BRESING V DAN PORTAL DENGAN BRESING DIAGONAL Oleh : Fajar Nugroho Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan,Institut Teknologi Padang [email protected]
Desain Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa
Mata Kuliah : Struktur Beton Lanjutan Kode : TSP 407 SKS : 3 SKS Desain Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa Pertemuan 13, 14 TIU : Mahasiswa dapat mendesain berbagai elemen struktur beton bertulang TIK
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pembebanan Komponen Struktur Pada perencanaan bangunan bertingkat tinggi, komponen struktur direncanakan cukup kuat untuk memikul semua beban kerjanya. Pengertian beban itu
BAB I PENDAHULUAN Konsep Perencanaan Struktur Beton Suatu struktur atau elemen struktur harus memenuhi dua kriteria yaitu : Kuat ( Strength )
BAB I PENDAHULUAN 1. Data Teknis Bangunan Data teknis dari bangunan yang akan direncanakan adalah sebagai berikut: a. Bangunan gedung lantai tiga berbentuk T b. Tinggi bangunan 12 m c. Panjang bangunan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Beton berlulang merupakan bahan konstruksi yang paling penting dan merupakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Beton berlulang merupakan bahan konstruksi yang paling penting dan merupakan suatu kombinasi antara beton dan baja tulangan. Beton bertulang merupakan material yang kuat
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Beton bertulang telah dikenal luas dalam penggunaan material struktur bangunan, dengan pertimbangan pemanfaatan kelebihan perilaku yang dimiliki masing-masing komponen
PERILAKU STRUKTUR RANGKA DINDING PENGISI DENGAN BUKAAN PADA GEDUNG EMPAT LANTAI
PERILAKU STRUKTUR RANGKA DINDING PENGISI DENGAN BUKAAN PADA GEDUNG EMPAT LANTAI TUGAS AKHIR Oleh: Gusti Putu Satria Eka Pratama NIM: 1104105013 JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA
BAB IV PERMODELAN STRUKTUR
BAB IV PERMODELAN STRUKTUR IV.1 Deskripsi Model Struktur Kasus yang diangkat pada tugas akhir ini adalah mengenai retrofitting struktur bangunan beton bertulang dibawah pengaruh beban gempa kuat. Sebagaimana
Oleh : MUHAMMAD AMITABH PATTISIA ( )
Oleh : MUHAMMAD AMITABH PATTISIA (3109 106 045) Dosen Pembimbing: BUDI SUSWANTO, ST.,MT.,PhD. Ir. R SOEWARDOJO, M.Sc PROGRAM SARJANA LINTAS JALUR JURUSAN TEKNIK SIPIL Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
BAB III METODOLOGI. 3.1 Dasar-dasar Perancangan
BAB III METODOLOGI 3.1 Dasar-dasar Perancangan Struktur gedung beton komposit masih jarang digunakan pada gedunggedung bertingkat tinggi terutama di indonesia karena material ini masih tergolong baru bila
PENGARUH SENSITIFITAS DIMENSI DAN PENULANGAN KOLOM PADA KURVA KAPASITAS GEDUNG 7 LANTAI TIDAK BERATURAN
Konferensi Nasional Teknik Sipil 3 (KoNTekS 3) Jakarta, 6 7 Mei 2009 PENGARUH SENSITIFITAS DIMENSI DAN PENULANGAN KOLOM PADA KURVA KAPASITAS GEDUNG 7 LANTAI TIDAK BERATURAN Nurlena Lathifah 1 dan Bernardinus
PEMODELAN NUMERIK METODE ELEMEN HINGGA NONLINIER STRUKTUR BALOK TINGGI BETON BERTULANG ABSTRAK
PEMODELAN NUMERIK METODE ELEMEN HINGGA NONLINIER STRUKTUR BALOK TINGGI BETON BERTULANG Jhony NRP: 0721003 Pembimbing: Yosafat Aji Pranata, ST., MT. ABSTRAK Balok tinggi adalah balok yang mempunyai rasio
BAB III PEMODELAN RESPONS BENTURAN
BAB III PEMODELAN RESPONS BENTURAN 3. UMUM Struktur suatu bangunan tidak selalu dapat dimodelkan dengan Single Degree Of Freedom (SDOF), tetapi lebih sering dimodelkan dengan sistem Multi Degree Of Freedom
MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR BAJA KOMPOSIT PADA GEDUNG PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS NEGERI JEMBER
MAKALAH TUGAS AKHIR PS 1380 MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR BAJA KOMPOSIT PADA GEDUNG PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS NEGERI JEMBER FERRY INDRAHARJA NRP 3108 100 612 Dosen Pembimbing Ir. SOEWARDOYO, M.Sc. Ir.
PENGARUH PENEMPATAN PENYAMBUNGAN PADA PERILAKU RANGKAIAN BALOK-KOLOM BETON PRACETAK BAGIAN SISI LUAR
MAKARA, TEKNOLOGI, VOL. 8, NO. 3, DESEMBER 2004: 90-97 PENGARUH PENEMPATAN PENYAMBUNGAN PADA PERILAKU RANGKAIAN BALOK-KOLOM BETON PRACETAK BAGIAN SISI LUAR Elly Tjahjono dan Heru Purnomo Departemen Teknik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. geser membentuk struktur kerangka yang disebut juga sistem struktur portal.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Struktur Bangunan Suatu sistem struktur kerangka terdiri dari rakitan elemen struktur. Dalam sistem struktur konstruksi beton bertulang, elemen balok, kolom, atau dinding
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2010
TUGAS AKHIR (RC 09-1380 ) STUDI SAMBUNGAN BALOK-KOLOM BETON PRACETAK DENGAN PROGRAM BANTU LUSAS (LONDON UNIVERSITY STRESS ANALYSIS SYSTEM) Charles Arista Pugoh 3106 100 129 DOSEN PEMBIMBING Tavio, ST,
BAB I PENDAHULUAN. pesat yaitu selain awet dan kuat, berat yang lebih ringan Specific Strength yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Konstruksi Baja merupakan suatu alternatif yang menguntungkan dalam pembangunan gedung dan struktur yang lainnya baik dalam skala kecil maupun besar. Hal ini
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gempa di Indonesia Tahun 2004, tercatat tiga gempa besar di Indonesia yaitu di kepulauan Alor (11 Nov. skala 7.5), gempa Papua (26 Nov., skala 7.1) dan gempa Aceh (26 Des.,skala
FAKTOR DAKTILITAS KURVATUR BALOK BETON BERTULANG MUTU NORMAL (PEMANFAATAN OPEN SOURCE RESPONSE2000)
FAKTOR DAKTILITAS KURVATUR BALOK BETON BERTULANG MUTU NORMAL (PEMANFAATAN OPEN SOURCE RESPONSE2000) Heru Satiadi 1, Zulfikar Djauhari 2, dan Reni Suryanita 3 1 Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Fakultas
Jurnal Teknika Atw 1
PENGARUH BENTUK PENAMPANG BATANG STRUKTUR TERHADAP TEGANGAN DAN DEFLEKSI OLEH BEBAN BENDING Agung Supriyanto, Joko Yunianto P Program Studi Teknik Mesin,Akademi Teknologi Warga Surakarta ABSTRAK Dalam
BAB II STUDI LITERATUR
BAB II STUDI LITERATUR. PENDAHULUAN Pada struktur pelat satu-arah beban disalurkan ke balok kemudian beban disalurkan ke kolom. Jika balok menyatu dengan ketebalan pelat itu sendiri, menghasilkan sistem
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Umum Struktur kayu merupakan suatu struktur yang susunan elemennya adalah kayu. Dalam merancang struktur kolom kayu, hal pertama yang harus dilakukan adalah menetapkan besarnya
l l Bab 2 Sifat Bahan, Batang yang Menerima Beban Axial
Bab 2 Sifat Bahan, Batang yang Menerima Beban Axial 2.1. Umum Akibat beban luar, struktur akan memberikan respons yang dapat berupa reaksi perletakan tegangan dan regangan maupun terjadinya perubahan bentuk.
Gambar 2.1 Rangka dengan Dinding Pengisi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Dinding Pengisi 2.1.1 Definisi Dinding pengisi yang umumnya difungsikan sebagai penyekat, dinding eksterior, dan dinding yang terdapat pada sekeliling tangga dan elevator secara
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Berfikir Sengkang merupakan elemen penting pada kolom untuk menahan beban gempa. Selain menahan gaya geser, sengkang juga berguna untuk menahan tulangan utama dan
BAB IV HASIL EKSPERIMEN DAN ANALISIS
IV-1 BAB IV HASIL EKSPERIMEN DAN ANALISIS Data hasil eksperimen yang di dapat akan dilakukan analisis terutama kemampuan daktilitas beton yang menggunakan 2 (dua) macam serat yaitu serat baja dan serat
ANALISA PERBANDINGAN BERBAGAI PENAMPANG DINDING GESER KOMPOSIT AKIBAT BEBAN LATERAL
TUGAS AKHIR ANALISA PERBANDINGAN BERBAGAI PENAMPANG DINDING GESER KOMPOSIT AKIBAT BEBAN LATERAL DOSEN KONSULTASI BUDI SUSWANTO, ST. MT.PhD. IR. R. SOEWARDOJO, MSc. OLEH: FRAN SINTA SURYANI 311 0106 041
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Umum. Berkembangnya kemajuan teknologi bangunan bangunan tinggi disebabkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Umum Berkembangnya kemajuan teknologi bangunan bangunan tinggi disebabkan oleh kebutuhan ruang yang selalu meningkat dari tahun ke tahun. Semakin tinggi suatu bangunan, aksi gaya
ANALISIS PERILAKU STRUKTUR PELAT DATAR ( FLAT PLATE ) SEBAGAI STRUKTUR RANGKA TAHAN GEMPA TUGAS AKHIR
ANALISIS PERILAKU STRUKTUR PELAT DATAR ( FLAT PLATE ) SEBAGAI STRUKTUR RANGKA TAHAN GEMPA TUGAS AKHIR SEBAGAI SALAH SATU SYARAT UNTUK MENYELESAIKAN PENDIDIKAN SARJANA TEKNIK DI PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RUSUNAWA UNIMUS
TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RUSUNAWA UNIMUS Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata (S-1) Pada Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Katolik
BAB I PENDAHULUAN. Pada bangunan tinggi tahan gempa umumnya gaya-gaya pada kolom cukup besar untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada bangunan tinggi tahan gempa umumnya gaya-gaya pada kolom cukup besar untuk menahan beban gempa yang terjadi sehingga umumnya perlu menggunakan elemen-elemen
ANALISIS DAKTILITAS BALOK BETON BERTULANG
ANALISIS DAKTILITAS BALOK BETON BERTULANG Bobly Sadrach NRP : 9621081 NIRM : 41077011960360 Pembimbing : Daud Rahmat Wiyono, Ir., M.Sc FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Balok dan kolom adalah elemen struktur yang berfungsi untuk membentuk kerangka dari suatu bangunan. Balok adalah elemen struktur yang dirancang untuk menahan dan mentransfer
Kinerja Hubungan Pelat-Kolom Struktur Flat Plate Bertulangan Geser Stud Rail dan Sengkang Dalam Menahan Beban Lateral Siklis
ISBN 978-979-3541-25-9 Kinerja Hubungan Pelat-Kolom Struktur Flat Plate Bertulangan Geser Stud Rail dan Sengkang Dalam Menahan Beban Lateral Siklis Riawan Gunadi 1, Bambang Budiono 2, Iswandi Imran 2,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II A. Konsep Pemilihan Jenis Struktur Pemilihan jenis struktur atas (upper structure) mempunyai hubungan yang erat dengan sistem fungsional gedung. Dalam proses desain struktur perlu dicari kedekatan
