BAB III METODE PENELITIAN
|
|
|
- Susanto Lesmono
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 30 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Dalam penelitian ini menggunakan teknik eksperimen semu dengan pendekatan metode SSR (Single Subject Research). SSR involves studying a single individual or system by taking repeated measurements of one or more dependent variables and systematically applying and sometimes withdrawing or varying the independent variable (Ottenbacher, 1986; dalam Bloom dan Fischer, 1982). Nama lain dari SSR yaitu single case experimental design dimana teknik ini masuk ke dalam teknik penelitian menggunakan quasi experimental dengan individual subject. Peneliti memilih SSR karena beberapa alasan diantaranya teknik SSR relatif lebih mudah dan lebih fokus dalam pemberian materi untuk dilakukan terhadap anak berkebutuhan khusus yang dimana anak dengan sindrom down yang dipilih oleh peneliti, menunjukkan bahwa masing-masing anak memiliki kemampuan yang berbeda, pengukuran terus diulang hingga mendapatkan hasil yang stabil, dan demonstrasi treatment yang dilakukan pada saat intervensi (B) lebih efektif. Desain yang digunakan dalam penelitian SSR ini adalah desain A-B-A. Desain A-B-A ini menunjukkan adanya hubungan sebab akibat antara variabel terikat dan variabel bebas yang lebih kuat dibandingkan dengan desain A-B, hanya saja ada pengulangan kondisi baseline (Susanto, 2006: hlm. 44). Desain A-B-A dimaksudkan untuk menarik kesimpulan tentang hubungan fungsional antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Terdapat tiga tahapan dalam desain A-B-A antara lain: Baseline-1 (A-1), Intervensi/Treatment (B), Baseline-2 (A-2). Prosedur desain A-B-A adalah seperti yang terlihat pada grafik berikut ini:
2 Ordinat (Y) 31 Desain A-B-A Baseline 1 (A-1) Intervensi (B) Baseline 2 (A-2) Grafik 3.1 Desain A-B-A Pola desain eksperimen subjek tunggal yang digunakan dalam penelitian ini adalah desan A-B-A di mana: 1. A-1 adalah lambang dari data garis datar (baseline dasar). Baseline merupakan suatu kondisi awal kemampuan subjek dalam motorik sebelum diberikan perlakuan. 2. B (intervensi) adalah untuk data perlakuan atau intervensi, kondisi kemampuan subjek dalam motorik dengan permasalahan pembentukkan selama intervensi. Pada tahap ini subjek diberikan perlakuan dengan menggunakan aktivitas pembelajaran gerak tari secara berulang-ulang. 3. A-2 (baseline 2) merupakan pengulangan kondisi baseline sebagai evaluasi bagaimana hasil intervensi yang diberikan berpengaruh pada subjek. B. Lokasi Penelitian Peneliti memilih tempat penelitian di Yayasan Terapi Anak Berkebutuhan Khusus Our Dream, Jalan Pangkur, Bandung sebagai tempat untuk peniliti meneliti anak berkebutuhan khusus, yaitu anak dengan sindrom Down. Intervensi dilakukan di ruangan selama satu jam pelajaran.
3 32 C. Subjek Penelitian Dari sekian banyak anak berkebutuhan khusus di Our Dream, peneliti memilih anak berkebutuhan khusus anak Tunagrahita dengan kategori sindrom Down. Subjek yang diambil didasarkan karena rendahnya kemampuan subjek dalam gerak motoriknya. Anak dengan sindrom Down memiliki kelemahan dalam melakukan aktivitas kegiatan motorik, baik motorik halus maupun motorik kasarnya. Anak dengan sindrom Down cenderung sebagai tipe yang aktif namun lemah dalam melakukan gerakan yang lebih kompleks. Nama : F Jenis Kelamin : Laki-laki Agama Kondisi Kelas Sekolah : Kristen : Down Syndrome : TK : Yayasan Terapi Anak Berkebutuhan Khusus Our Dream D. Instrumen Penelitian a. Alat tes Data merupakan bahan mentah yang perlu diolah sehingga menghasilkan informasi atau keterangan baik kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukan fakta. Dalam hal ini data yang diperlukan adalah data yang dapat menunjukan ada tidaknya pengaruh stimulasi gerak dalam peningkatan koordinasi motorik anak dengan sindrom Down melalui pembelajaran gerak tari. Teknik pengumpulan data dilakukan untuk mengumpulkan informasi atau data yang dibutuhkan dalam penelitian. Alat pengumpulan data yang bersifat kuantitatif adalah dengan teknik pengukuran salah satunya yaitu tes. Tes ialah seperangkat rangsangan stimulus
4 33 yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban yang dapat dijadikan dasar bagi penetapan skor angka. Tes yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu tes perbuatan. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa tes tindakan pada fase baseline 1 (A-1), intervensi (B), dan baseline 2 (A-2). Tes yang diberikan menggunakan soal-soal yang dibuat berdasarkan kemampuan motorik. Pada baseline 1 anak diberikan tes, yaitu memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri, menengok ke samping kanan dan samping kiri, duduk, berdiri, berjongkok, berjalan, melompat, melangkah dan meloncat, berputar di tempat, melambaikan kedua tangan ke atas, melambaikan kedua tangan ke atas sambil berputar, membuka dan menutup kedua tangan ke samping kanan dan kiri, menggerakan tangan kanan ke samping kanan, menggerakkan tangan kiri ke samping kiri, menggerakkan tangan kanan ke depan, menggerakkan tangan kiri ke depan, bertepuk tangan, menekukkan tangan kiri ke depan dada, menekukkan tangan kanan ke depan dada, mengambil, menggenggam dan meletakkan benda, membangun bentuk, menggerakkan badan ke samping kanan dan kiri, dan membungkukkan badan ke depan. Hal itu dilakukan kembali pada saat fase intervensi. Pada fase ini anak diberikan bantuan pada tes yang anak belum mampu lakukan. Saat baseline 2 dilaksanakan, tes kembali diberikan. Untuk aspek kemampuan motorik anak akan diberi skor dengan rentang nilai 1-4 dengan kriteria yang disebutkan pada alat ukur. b. Alat ukur Alat Ukur dalam suatu penelitian adalah instrument penelitian yang digunakan untuk mengukur nilai variabel yang akan diteliti. Menurut Sugiyono (2008: Hal. 108), instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Penggunaan instrumen dalam penelitian ini bertujuan untuk mengukur kemampuan motorik gerak anggota tubuh pada anak down syndrome.
5 34 Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan berupa tes. Penggunaan instrumen dalam penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data pencapaian hasil belajar pada ranah kemampuan motorik gerak anggota tubuh pada anak down syndrome. Tes yang diberikan yaitu tes perbuatan pada kondisi baseline-1 (A-1) untuk mengetahui kemampuan awal anak dalam kemampuan motorik gerak anggota tubuh. Tes perbuatan pada kondisi intervensi (B) diberikan ketika proses evaluasi yaitu proses terakhir pada pelaksanaan intervensi. Tes perbuatan terakhir diberikan pada kondisi baseline-2 (A-2) untuk mengetahui apakah intervensi yang dilakukan memberikan perubahan terhadap kemampuan motorik gerak anggota tubuh pada subjek. Prosedur yang dilakukan untuk mempermudah jalannya penelitian agar mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu: a) Melakukan asesmen awal untuk mengetahui kemampuan motorik subjek sehingga dapat memberikan intervensi yang disesuaikan dengan kebutuhannya. b) Membuat kisi-kisi yang merupakan rancangan penyusunan instrumen agar peneliti memiliki pedoman dan gambaran yang jelas tentang isi dan butir-butir yang akan disusun. Kisi-kisi Instrumen untuk Mengukur Kemampuan Motorik Anak Down Syndrome Variabel Sub Variabel Aspek Indikator Variabel pada penelitian ini adalah kemampuan motorik subjek. Aktivitas motorik halus dan motorik kasar. Pada penelitian ini yang menjadi sub variabelnya adalah gerak anggota tubuh. Koordinasi adalah kemampuan seseorang dalam menjaga keselarasan antara aspek kekuatan, ketahanan, kecepatan, c. Mampu mengambil, menggenggam, dan meletakkan properti tari. d. Mampu memiringkan
6 35 ketepatan, kepala ke ketahanan, kanan dan ke kekuatan, kiri dan kelincahan, menengok ke keseimbangan, samping dan fleksibilitas. kanan dan kiri. e. Mampu menggerakkan badan. f. Mampu duduk dan berdiri g. Mampu menggerakkan kedua tangan dan kaki. Tabel 3.1 Kisi-kisi instrumen untuk mengukur kemampuan motorik anak down syndrome c) Membuat butir-butir soal yang disesuaikan berdasarkan indikator yang ada pada kisi-kisi sebelumnya. butir-butir soal yang dibuat sebanyak 21 soal. d) Membuat sistem penilaian pada setiap butir soal untuk mengetahui skor pada tahap baseline 1, intervensi, dan baseline 2. Adapun penilaian dalam penelitian ini sebagai berikut: Kriteria Penilaian Penelitian Indikator Kriteria Penilaian a. Mampu mengambil, Skor 1: belum mampu menggenggam, dan meletakkan properti tari (berupa bulu-bulu mengambil, menggenggam, dan meletakkan properti tari. yang berbeentuk seperti kipas yang Skor 2: mampu mengambil, terbuka). menggenggam, dan meletakkan
7 36 properti tari dengan bantuan orang lain. Skor 3: mampu mengambil, menggenggam, dan meletakkan properti tari tanpa bantuan orang lain tetapi masih kaku dan lambat dalam melakuknnya. Skor 4: mampu mengambil, menggenggam, dan meletakkan properti tari tanpa bantuan orang lain dan tidak kaku dalam melakukannya. b. Mampu memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri dan menengok ke samping kanan dan kiri. Skor 1: belum mampu memiringkan kepala dan menengok Skor 2: mampu memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri dan menengok ke samping kanan dan samping kiri dengan bantuan orang lain. Skor 3: mampu memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri dan menengok ke samping kanan dan samping kiri tanpa bantuan orang lain tetapi masih lemah dalam melakukannya. Skor 4: mampu memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri dan mengengok ke samping kanan dan samping kiri tanpa bantuan orang lain dan tidak lemah dalam
8 37 melakukannya. c. Mampu menggerakkan badan. Skor 1: belum mampu menggerakkan badan. Skor 2: mampu menggerakkan badan dengan bantuan orang lain. Skor 3: mampu menggerakkan badan tanpa bantuan orang lain tetapi masih kaku dalam melakukannya. Skor 4: mampu menggerakkan bada tanpa bantuan orang lain dan tidak kaku dalam melakukannya. d. Mampu duduk dan berdiri Skor 1: belum mampu duduk dan berdiri. Skor 2: mampu duduk dan berdiri dengan bantuan orang lain. Skor 3: mampu duduk dan berdiri tanpa bantuan orang lain tetapi masih kaku dan lambat dalam melakukannya. Skor 4: mampu duduk dan berdiri tanpa bantuan orang lain dan tidak kaku dalam melakukannya. e. Mampu menggerakkan kedua Skor 1: belum mampu tangan dan kaki. menggerakkan kedua tangan dan kaki. Skor 2: mampu menggerakkan kedua tangan dan kaki dengan bantuan orang lain. Skor 3: mampu menggerakkan
9 38 kedua tangan dan kaki tanpa bantuan orang lain tetapi masih kaku dalam melakukannya. Skor 4: mampu menggerakkan keda tangna dan kaki tanpa bantuan orang lain dan tidak kaku dalam melakukannya. Tabel 3.2 Kriteria penilaian penelitian Skor akhir: Persentase= jumlah benar x 100 jumlah soal Dalam hal ini, acuan penilaian yang digunakan menggunakan teknik Penilaian Acuan Patokan (PAP) yang dikenal juga dengan standar mutlak yang berusaha untuk menafsirkan hasil tes yang diperoleh anak dengan membandingkannya dengan indikator yang dibuat oleh peneliti. Dengan teknik ini setiap individu dapat diketahui apa yang telah dan belum dikuasainya. Melalui PAP, berkembang upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan melaksanakan tes awal yaitu baseline 1 (A-1) lalu melalui proses intervensi (B), kemudian tes dilakukan kembali pada tahap baseline 2 (A-2). Perbedaan hasil tes awal baseline 1 (A-1) dan tes akhir baseline 2 (A-2) merupakan petunjuk tentang kualitas proses pembelajaran pada tahap intervensi (B). Di samping itu, bentuk pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus khususnya down syndrome diupayakan untuk menggunakan teknik-teknik yang bersifat dapat memunculkan relaksasi dan teknik perlakuan sesuai dengan tingkat kemampuan gerak. Evaluasi terhadap kemampuan gerak dan koordinasi gerak perlu dilakukan dalam bentuk screening test. Kendrick dan Hanten, 1980 dalam Fraser dan Hensinger, 1983: hlm , menjelaskan bahwa screening test dilakukan untuk mengetahui fungsi gerak dan instrument yang digunakan yaitu basic gross motor assessment test. Bentuk skrining tes lainnya, berupa Delta Phi
10 39 Seri C. Instrumen ini dapat menggambarkan penyimpangan khusus bentuk perkembangan motorik. Daftar cek pada Delta Phi Seri C meliputi pengamatan terhadap tingkat kemampuan gerak seorang anak dalam hal berikut ini: 1. Menjaga keseimbangan dan bentuk tubuh 2. Gerak dasar dan daya gerak 3. Kesadaran tubuh 4. Kemampuan persepsi 5. Koordinasi gerak dengan anggota tubuh lainnya 6. Manipulasi gerak 7. Mampu menggunakan benda dan menggerakkannya. Dalam instrumen Delta Phi Seri C ini terdapat acuan nilai dalam mengukur perkembangan motorik anak yaitu: a. Nilai 4 jika anak dapat melakukan sendiri dan tidak lemah dan lambat b. Nilai 3 jika anak dapat melakukan sendiri namun masih lemah dan lambat c. Nilai 2 jika anak dapat melakukan dengan bantuan orang lain d. Nilai 1 jika anak belum mampu melakukannya h. Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument (Arikunto, 2006: Hal. 168). Insrumen yang valid atau sahih berarti memiliki validitas tinggi yang menunjukkan data tidak menyimpang dari gambaran validitas yang dimaksud. Instrumen yang sudah teruji validitasnya maka hasil penelitiannya valid sehingga mampu mengukur apa yang akan diukur. Validitas yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Sugiyono (2011: Hal. 182) menyatakan bahwa Untuk instrument yang berbentuk tes, pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrument dengan materi pelajaran yang telah diajarkan. Menguji validitas butirbutir instrumen lebih lanjut, setelah dikonsultasikan dengan ahli, maka selanjutnya diujicobakan, dan dianalisis. Uji validitas isi ini menggunakan teknik
11 40 penilaian para ahli (expert-judgement). Penilaian dari para ahli terhadap butirbutir instrumen dilakukan dengan memberikan tanda ceklis pada kolom cocok atau kolom tidak cocok. Setelah hasil penilaian terhadap butir-butir instrumen diketahui, maka tindakan selanjutnya menghitung presentase menggunakan rumus: P = F x 100% N Keterangan: P = Skor/persentase F = Jumlah sesuai N = Jumlah penlilaian Para ahli yang melakukan expert-judgment diantaranya satu psikolog anak berkebutuhan khusus dan satu terapis anak berkebutuhan khusus seperti penjelasan yang ada pada table berikut ini: Tabel 3.3 Para ahli yang Melakukan Expert-Judgment No Nama para Ahli Keterangan 1 Sri Rusma, S.Psi Psikolog Anak Berkebutuhan Khusus 2 Alya Fattha Karima, S.Pd Terapis Anak Berkebutuhan Khusus Tabel 3.4 Kriteria Penilaian Uji Validasi No Kriteria Presentase 1 Valid 80% - 100% 2 Kurang Valid 50% - 80% 3 Tidak Valid 0% - 50% Tabel 3.5 Hasil Perhitungan Uji Validasi Butir Soal Bobot Penilaian Persentase (%) Keterangan Cocok Tidak Cocok 1 2-2/2 x 100% = 100% Valid
12 /2 x 100% = 100% Valid 3 2-2/2 x 100% = 100% Valid 4 2-2/2 x 100% = 100% Valid 5 2 2/2 x 100% = 100% Valid 6 2-2/2 x 100% = 100% Valid 7 2-2/2 x 100% = 100% Valid 8 2-2/2 x 100% = 100% Valid 9 2-2/2 x 100% = 100% Valid /2 x 100% = 100% Valid /2 x 100% = 100% Valid /2 x 100% = 100% Valid /2 x 100% = 100% Valid /2 x 100% = 100% Valid /2 x 100% = 100% Valid /2 x 100% = 100% Valid /2 x 100% = 100% Valid /2 x 100% = 100% Valid /2 x 100% = 100% Valid /2 x 100% = 100% Valid /2 x 100% = 100% Valid /2 x 100% = 100% Valid /2 x 100% = 100% Valid
13 42 E. Metode Penelitian a. Desain penelitian Rencana penelitian Menentukan dan mengidentifikasi objek Observasi Pelaksanaan penelitian dan pengumpulan data 1. Menentukan judul penelitian 2. Menyusun proposal penelitian 3. Mengajukan seminar proposal penelitian Bimbingan dengan dosen Pengolahan data Penulisan laporan penelitian Bagan 3.1 Desain Penelitian Berdasarkan permasalahan yang diteliti yaitu Pengaruh gerak tari terhadap perkembangan motorik anak down syndrome maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen. Metode eksperimen merupakan bagian dari metode kuantitatif yang dimaksudkan untuk menguji hubungan sebab dan akibat. Menurut Sugiyono (2008, Hal: 11) Metode penelitian eksperimen merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh treatment (perlakuan) tertentu. sedangkan Arikunto (2003,
14 43 Hal: 3) mengemukakan pendapatnya mengenai penelitian eksperimen sebagai berikut: Eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja sditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminasi atau mengurangi faktor-faktor lain yang bisa mengganggu. Eksperimen selalu dilakukan dengan maksud untuk melihat akibat dari suatu perlakuan. Disimpulkan bahwa penelitian dengan metode eksperimen dimaksudkan untuk mengetahui gambaran tentang pengaruh perlakuan yang diberikan secara sengaja. Penelitian yang bersifat eksperimen ini memiliki subjek tunggal dengan pendekatan Single Subjek Research (SSR). Penelitian SSR dilakukan untuk mendokumentasikan perubahan tingkah laku subjek yang diteliti setelah diberi treatment (perlakuan). Dalam proses penelitian SSR memiliki tahapan-tahapan yaitu tahap awal baseline 1 (A-1), tahap intervensi (B), dan tahap akhir baseline 2 (A-2). b. Variabel penelitian Kidder dalam (Sugiyono, 2001:20) berpendapat bahwa Variabel adalah suatu kualitas dimana peneliti ingin mempelajari dna menarik kesimpulan darinya.arikunto (2002: 96) mengemukakan bahwa Variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Pada penelitian dengan subjek tunggal variabel bebas disebut juga dengan intervensi atau perlakuan. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu: 1) Variabel bebas atau variabel yang memperngaruhi timbulnya variabel lain, yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini adalah stimulasi gerak dengan menggunakan pembelajaran gerak tari, yaitu: a. Melakukan gerak tangan Mengepal, mengayun, dan menepuk tangan ke depan, ke belakang, ke samping kanan kiri. b. Melakukan gerak kepala Mematahkan dan menengok ke samping kanan dan kiri. c. Melakukan gerak badan
15 44 Mengerakkan badan ke samping kanan dan kiri dan membungkukkan badan. 2) Variabel terikat atau variabel yang timbul akibat variabel bebas, yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini adalah Koordinasi Motorik, yaitu penyesuaian komponen-komponen kekuatan, ketepatan, dan ketahanan gerak yang dilakukan secara teratur sehingga mencapai hasil yang optimal. Aktivitas gerak tari yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini akan diberikan saat intervensi, di mana siswa akan dilatih melakukan gerak tari c. Definisi operasional Judul penelitian yang diangkat adalah Pengaruh Gerak Tari Terhadap Perkembangan Motorik pada Anak dengan Down Syndrome. Pengertian pengaruh menurut Scott dan Mitchell merupakan suatu transaksi sosial dimana seseorang atau kelompok orang yang digerakkan oleh seseorang atau sekelompok orang yang lainnya untuk melakukan kegiatan sesuai dengan harapan. Stimulasi gerak melalui pembelajaran gerak tari merupakan dorongan untuk melatih otak dan otot-otot dengan menggunakan gerak tari sehingga otot-otot menjadi lentur dan membangkitkan emosi anak untuk melakukan gerak tari tersebut. Koordinasi motorik adalah hubungan timbal balik antara pusat susunan gerakan dengan alat gerak anak dengan sindrom Down dalam mengatur dan mengendalikan implus tenaga dan kerja otot serta proses-proses motorik yang terjadi untuk pelaksanaan gerakan. Sindrom Down termasuk dalam kategori dengan tunagrahita berat yang disebabkan oleh faktor genetik. Kondisi ini merupakan kondisi genetika yang diakibatkan adanya kromosom tambahan kedua puluh satu dalam setiap sel. Kromosom dari dalam masing-masing sel merupakan tempat disimpannya semua informasi genetikayang menentukan bagaimana seorang janin akan berkembang. Kesimpulan yang diambil adalah pengaruh stimulasi gerak terhadap kemampuan koordinasi motorik kasar anak dengan sindrom Down melalui pembelajaran gerak tari merupakan penelitian untuk anak dengan sindrom Down,
16 45 dengan menggunakan stimulasi gerak terhadap kemampuan koordinasi motorik anak anak dengan sindrom Down dapat mengendalikan impuls tenaga dan kerja otot serta proses-proses motorik yang terjadi untuk pelaksanaan gerak sehari-hari. d. Hipotesis penelitian Sugino (2007, hal. 96) mengemukakan bahwa Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap suatu permasalahan penelitian yang diajukan untuk dibuktikan kebenarannya. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: 1. Terdapat pengaruh stimulasi gerak terhadap kemampuan koordinasi motorik anak dengan sindrom Down melalui pembelajaran gerak tari. 2. Tidak terdapat pengaruh stimulasi gerak terhadap kemampuan koordinasi motorik anak dengan sindrom Down melalui pembelajaran gerak tari. F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data 1. Pengolahan data Pengolahan data merupakan kegiatan yang dilakukan setelah data terkumpul sebelum adanya kesimpulan. teknik pengolahan data dalam peneilitian ini menggunakan persentase (%) dihitung dengan cara jumlah soal yang benar dibagi soal, dikalikan seratus: Persentase = jawaban yang benar x 100% jumlah butir soal 2. Analisis data Setelah data terkumpul kemudian data dianalisis untuk mengetahui pengaruh intervensi terhadap perilaku sasaran yang ingin diubah. Analisis data yang digunakan untuk subjek tunggal aalah statistik deskriptif yang berbentuk grafik dengan tujuan untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang hasil intervensi dalam jangka waktu yang ditentukan. Sunanto (2006: Hal. 30) menjelaskan beberapa komponen dalam membuat grafik, yaitu:
17 46 a. Absis adalah sumbu X yang merupakan sumbu mendatar yang menunjukan satuan untuk waktu (misalnya sesi, hari, dan tanggal). b. Ordinat adalah sumbu Y merupakan sumbu vertikal yang menunjukan satuan untuk variabel terikat atau perilaku sasaran (misalnya persen, frekuensi, dan durasi). c. Titik awal merupakan pertemuan antara sumbu X dengan sumbu Y sebagai titik awal skala. d. Skala, garis-garis pendek pada sumbu X dan Y yang menunjukan ukuran (misalnya 0%, 25%, 50%, dan 75%). e. Label kondisi, yaitu keterangan yang menggambarkan kondisi eksperimen, misalnya baseline atau intervensi. f. Garis perubahan kondisi, yaitu garis vertikal yang menunjukan adanya perubahan dari kondisi ke kondisi lainnya, biasanya dalam bentuk garis putus-putus. g. Judul grafik, judul yang mengerahkan perhatian pembaca agar segera diketahui hubungan antara variabel bebas dan terikat. Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya, tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi Langkah-langkah yang dilakukan untuk menganalisis data dari kondisi baseline-1 (A-1), kondisi intervensi (B), dan kondisi baseline-2 (A-2) adalah sebagai berikut: a. Menskor hasil penilaian pada kondisi baseline-1 (A-1) b. Menskor hasil penilaian pada kondisi intervensi (B) c. Menskor hasil penilaian pada kondisi baseline-2 (A-2) d. Membuat table penilaian untuk skor yang telah diperoleh pada kondisi baseline-1 (A-1), kondisi intervensi (B), dan kondisi baseline-2 (A-2). e. Membandingkan hasil skor yang telah diperoleh pada kondisi baseline-1 (A-1), kondisi intervensi (B), dan kondisi baseline-2 (A-2). f. Membuat analisis dalam bentuk grafik garis sehingga dapat dilihat perubahan yang terjadi dari setiap kondisi
18 47 g. Membuat analisis dalam kondisi dan analisis antar kondisi. Analisis perubahan dalam kondisi adalah menganalisis perubahan data dalam suatu kondisi misalnya kondisi baseline atau kondisi intervensi, sedangkan komponen yang akan dianalisis adalah sebagai berikut: a. Panjang kondisi (condition length), adalah banyaknya data poin dalam kondisi yang menggambarkan banyaknya sesi pada tiap kondisi (baseline dan intervensi). b. Estimasi kecenderungan arah (estimate of trend direction), digambarkan oelh garis lururs yang melintasi semua data dalam suatu kondisi. Terdapat dua cara untuk menentukan kecenderungan arah grafik, yaitu dengan metode freehand dan metode split-middle. Metode tangan bebas (freehand) adalah mengamati secara langsung terhadap data poin pada suatu kondisi kemudian menarik garis lurus yang membagi data poin menjadi dua bagian. Metode belah tengah (split-middle) adalah menentukan kecenderungan arah grafik berdasarkan median data poin nilai ordinatnya. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode belah tengah (split-middle). Langkah-langkah perhitungannya adalah sebagai berikut: i. Membagi data menjadi dua bagian yaitu bagian kanan dan bagian kiri. ii. Membagi data bagian kanan dan bagian kiri masing-masing menjadi dua bagian. iii. Menentukan posisi median dari masing-masing belahan. iv. Menarik garis sejajar dengna absis yang menghubungkan titik temu antara median data bagian kanan dan data bagian kiri. c. Kecenderungan stabilitas (trend stability), menunjukan tingkat homogenitas data dalam suatu kondisi. Tingkat kestabilan data dapat ditentukan dengan menghitung banyaknya data poin yang berada di dalam rentang, kemudian dibagi banyaknya data poin, dikalikan 100%. d. Jejak data (data path), yaitu perubahan data satu ke data lain dalam suatu kondisi, yang dapat terjadi dalam tiga kemungkinan yaitu: menaik, menurun,
19 48 dan mendatar. Menentukan kecenderungan jejak data sama dengan menentukan estimasi kecenderungan arah. e. Rentang (range), yaitu selisih nilai terendah dan nilai tertinggi pada setiap fase. f. Perubahan level (level change), menunjukkan besarnya perubahan data dalam suatu kondisi dan dapat dilihat dari selisis antara data terakhir dan data pertama pada setiap fase. Analisis antar kondisi adalah perubahan data antar kondisi, misalnya dari kondisi baseline ke kondisi intervensi. Komponen-komponen analisis antar kondisi meliputi: a. Jumlah variabel yang diubah, sebaiknya difokuskan pada satu variabel terikat. b. Perubahan kecenderungan dan efeknya, menunjukkan makna perubahan target behavior yang disebabkan oleh intervensi. c. Perubahan stabilitas, menunjukkan tingkat stabilitas peubahan dari serentetan data. d. Perubahan level data, menunjukkan seberapa besar data berubah yang ditunjukkan oelh selisih antara data terakhir pada kondisi pertama (baseline) dengan data pertama pada kondisi berikutnya (intervensi). e. Data overlap (tumpang tindih), yaitu terjadi data yang sama pada kedua kondisi, baseline dengna intervensi. Hal ini menunjukkan tidak adanya perubahan pada kedua kondisi dan semakin banyak data yang tumpang tindih, semakin menguatkan dugaan tidak adanya perubahan pada kedua kondisi.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. LOKASI PENELITIAN Penelitian dilakukan di SLB-D YPAC Bandung. Intervensi dilakukan di ruang kelas selama dua jam pelajaran. Berhubung beberapa kali terpotong oleh hari libur,
BAB III METODE PENELITIAN
26 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimen, karena penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk melihat akibat dari suatu perlakuan.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian Penelitian yang berjudul Kegiatan Meronce Manik-Manik untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak Tunagrahita Sedang, memiliki dua variabel penelitian,
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian Variabel merupakan suatu atribut atau ciri-ciri mengenai sesuatu diamati dalam penelitian. Dengan demikian variabel dapat berbentuk benda atau kejadian
BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian eksperimen
19 BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian eksperimen dengan menggunakan desain Single Subject Research (SSR). Sugiyono (2007: 11) mengemukakan bahwa Metode
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis Kelamin : Laki-Laki TTL : Bandung, 10 Februari 1999
BAB III METODE PENELITIAN A. Subyek dan Lokasi Penelitian 1. Subyek Penelitian Nama : MP Jenis Kelamin : Laki-Laki TTL : Bandung, 10 Februari 1999 Usia : 14 tahun. Alamat : Jln. H.Anwar No.34/189A Cijerah
BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian merupakan cara ilmiah yang digunakan oleh peneliti untuk
34 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian merupakan cara ilmiah yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data dan pengumpulan hasil penelitian dengan tujuan dan kegunaan
BAB III METODE PENELITIAN
20 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian adalah suatu cara untuk memperoleh pengetahuan atau pemecahan suatu masalah yang dihadapi dan dilakukan secara ilmiah, sistematis dalam
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di ruang keterampilan SLB Rama Sejahtera. Peneliti melakukan penelitian pada saat jam pelajaran keterampilan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian Variabel penelitian merupakan sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh suatu penelitian tentang suatu
BAB III METODE PENELITIAN
20 BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian dan Paradigma Penelitian 1. Definisi Konsep Variabel Adapun variabel dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu: a. Variabel bebas (variabel
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Variabel Penelitian ini terdapat dua variabel penelitian, yaitu variabel bebas dan variabel terikat, adapun penjelasannya sebagai berikut : 1. Variabel
BAB III METODE PENELITIAN. Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk
BAB III METODE PENELITIAN Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2007:3). Pada penelitian ini, peneliti bermaksud
BAB III METODE PENELITIAN
Target Behavior BAB III METODE PENELITIAN A. Subjek dan Lokasi Penelitian 1. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah satu orang anak di PSBN Wyata Guna Bandung. Nama : MTS Jenis Kelamin :
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Work Shop Otomotif UPI yang terletak di Jl. Dr. Setiabudhi No. 299 Bandung Tlp./Fax. 022-2020162.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian Variabel dapat diartikan sebagai atribut dalam penelitian berupa benda atau kejadian yang dapat diamati dan dapat di ukur perubahannya. Sesuai pernyataan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian 1. Definisi Konsep Variabel Variabel penelitian dapat diartikan sebagai (1) atribut mengenai sesuatu yang diamati dalam penelitian, (2) suatu konsep yang
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian Variabel yaitu batasan konsep-konsep atau pengertian yang terkandung dalam permasalahan penelitian. Hatch dan Farhady dalam Sugiyono (2007: 60) menyatakan:
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode eksperimen dengan rancangan penelitian subjek tunggal (Single Subjek Research/SSR), yaitu penelitian
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah suatu objek yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Variabel yang terdapat pada penelitian
BAB III METODE PENELITIAN
37 BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian 1. Definisi Konsep a. Variabel Bebas Variabel bebas adalah yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahan ataupun timbulnya variabel terikat, atau disebut
BAB III METODE PENELITIAN. eksperimen, karena penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk melihat
27 BAB III METODE PENELITIAN A. DESAIN PENELITIAN Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimen, karena penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk melihat akibat dari suatu perlakuan.
BAB III METODE PENELITIAN. Variabel bebas dan Variabel terikat ( target behavior )
BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu Variabel bebas dan Variabel terikat ( target behavior ) 1. Variabel bebas adalah variabel yang
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian 1. Definisi Konsep Variabel a. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah permainan bocce. Permainan adalah suatu bentuk aktivitas yang menyenangkan yang
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi, Populasi dan Sampel Penelitian 1. Lokasi Penelitian Konteks penelitian mencakup situasi dan kondisi obyektif yang terjadi di lapangan. Lokasi penelitian ini dilaksanakan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat yang digunakan untuk memperoleh data, informasi, keterangan, dan hal-hal lain yang dibutuhkan dalam pelaksanaan penelitian
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Variabel Penelitian 1. Definisi Konsep Variabel BAB III METODOLOGI PENELITIAN Menurut Hact dan Farhady (Sugiyono, 2011:38) Secara teoritis variabel penelitian dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang,
basket kecil, dan bola karet ringan, lalu modifikasi pada ringnya yaitu tinggi
23 BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian 1. Variabel Bebas Variabel bebas adalah variabel yang diduga mempengaruhi variabel terikat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas (X) adalah
BAB III METODE PENELITIAN. terikat yang memiliki keterkaitan satu sama lain. Variabel (dalam Sunanto, J.,
19 BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Variabel Dalam penelitian eksperimen ini menggunakan variabel bebas dan variabel terikat yang memiliki keterkaitan satu sama lain. Variabel (dalam Sunanto,
BAB III METODE PENELITIAN. beberapa komponen yaitu variabel penelitian, metode penelitian, subjek
24 BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini, akan dijelaskan tentang metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini. Pada metode penelitian ini akan memuat beberapa komponen yaitu variabel penelitian,
BAB III METODE PENELITIAN. Tempat Tanggal Lahir:Bandung, 21 April : III (Tiga) SDLB Purnama Asih Bandung
BAB III METODE PENELITIAN A. SUBJEK DAN LOKASI PENELITIAN 1. Subjek Penelitian Subjek yang diteliti merupakan subjek tunggal, sesuai dengan metode penelitian yang digunakan, yaitu penelitian subjek tunggal.
BAB III METODE PENELITIAN
29 BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian 1. Definisi Konsep a. Variabel Bebas Variabel bebas adalah yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahan ataupun timbulnya variabel terikat, atau disebut
BAB III METODE PEELITIAN
30 BAB III METODE PEELITIAN A. Variabel Penelitian Menurut Sunanto, D, dkk (2005:12) dalam buku pengantar penelitian dengan subjek tunggal, yaitu: variabel merupakan istilah dasar dalam penelitian eksperimen
BAB III METODE PENELITIAN
23 BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian 1. Definisi Konsep Variabel Variabel dapat diartikan sebagai atribut dalam penelitian berupa benda atau kejadian yang dapat diamati dan dapat di ukur
BAB III METODE PENELITIAN. Menurut Sugiyono (2011: 61) variabel ini sering disebut stimulus,
BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian 1. Variabel Bebas Menurut Sugiyono (2011: 61) variabel ini sering disebut stimulus, prediktor, antecedent...variabel bebas adalah merupakan variabel yang
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian 1. Definisi Konsep Permainan sondah adalah permainan meloncati garis dengan satu kaki, permainan ini terdapat di daerah Jawa Barat dan deerah luar Jawa.
BAB III METODE PENELITIAN. a. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah media tabel bilangan. Media
26 BAB III METODE PENELITIAN A. VARIABLE PENELITIAN 1. Definisi Konsep Variabel a. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah media tabel bilangan. Media adalah alat atau bahan yang digunakan dalam proses
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Menurut Sugiyono (2011, hlm. 72) metode eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang
BAB III METODE PENELITIAN
28 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Metode penelitian merupakan suatu cara untuk memperoleh pengetahuan atau pemecahan masalah yang sedang dihadapi, yang dilakukan secara ilmiah dan sistematis
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan subjek tunggal (Single Subject Tunggal) yaitu suatu metode yang bertujuan untuk
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Subyek dan Lokasi Penelitian 1. Subyek Penelitian Nama : SR Jenis Kelamin : Laki-laki Tempat Tanggal Lahir : Surabaya, 19 April 1999 Usia : 14 tahun Agama : Islam Alamat Kelas
BAB III METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran yang objektif tentang
BAB III METODELOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran yang objektif tentang pengaruh motivasi belajar ekstrinsik terhadap kemampuan membaca permulaan siswa tunagrahita
BAB III METODE PENELITIAN. Dalam melaksanakan suatu penelitian diperlukan adanya suatu metode yang akan
22 BAB III METODE PENELITIAN Dalam melaksanakan suatu penelitian diperlukan adanya suatu metode yang akan digunakan. Adapun tujuannya adalah untuk memperoleh pemecahan masalah dari suatu masalah yang sedang
BAB III METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat penelitian Tempat penelitian adalah tempat dimana penelitian memperoleh data-data yang diperlukan dalam penelitian. Tempat penelitian
X₁ X₂ X₃ X₄ X₅... O₁ O₂ O₃ O₄ O₅ O₁ O₂ O₃ O₄ O₅... O₁ O₂ O₃ O₄ O₅ Baselin1 (A1) Intervensi (B) Baseline (A2)
BAB III METODE PENELITIAN Sesuai dengan rumusan masalah maka penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan kasus tunggal atau Single Subject Research (SSR). Metode penelitian eksperimen yang dilakukan
BAB III METODE PENELITIAN
30 BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian Terdapat dua variabel dalam penelitian ini yaitu variabel bebas dan variabel terikat. 1. Variabel bebas (Variabel Independen), yaitu: variabel yang mempengaruhi
BAB III METODE PENELITIAN
21 BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian 1. Definisi Konsep Variabel Variabel merupakan ciri-ciri atau gejala-gejala dari sesuatu yang dapat diukur secara kualitatif atau kuantitatif. Secara
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA... 70
DAFTAR ISI ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii UCAPAN TERIMAKASIH... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GRAFIK... ix DAFTAR GAMBAR... x BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1 B. Identifikasi
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian Penelitian yang berjudul Permainan Media Clay untuk Meningkatkan Kemampuan Mengenal Bangun Datar pada Anak Tunarungu Kelas 1 di SLB Az-Zakiyah Bandung,
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Dalam melakukan suatu penelitian diperlukan suatu metode yang tepat, Tujuannya adalah untuk memperoleh suatu pemecahan masalah dari suatu fokus yang sedang
BAB III METODE PENELITIAN
28 BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian Variabel yang terdapat pada penelitian ini adalah variabel bebas dan variabel terikat. (Sunanto, et al. 2006 : 13) variabel bebas dalam penelitian subjek
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu : 1. Media Animasi Komputer MANTAP
32 BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Variabel Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu : 1. Media Animasi Komputer MANTAP Media Animasi komputer MANTAP adalah singkatan dari (Matematika
BAB III METODE PENELITIAN
31 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen, karena penelitian ini dilakukan dengan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian 1. Definisi Konsep Variabel Variabel dalam penelitian ini merupakan objek yang diteliti. Objek penelitian yang diteliti ini saling berhubungan dan mempengaruhi
BAB III METODE PENELITIAN. tunggal (single subject research), yaitu penelitian yang dilaksanakan pada subyek
23 BAB III METODE PENELITIAN Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode dengan subyek tunggal (single subject research), yaitu penelitian yang dilaksanakan pada subyek dengan tujuan untuk mengetahui
E-JUPEKhu(JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)
Volume Nomor September 2014 E-JUPEKhu(JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS) http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu Halaman : 205-220 MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGHIAS SANDAL JEPIT MELALUI MEDIA AUDIO
BAB III MEDOTE PENELITIAN
29 BAB III MEDOTE PENELITIAN A. Metode Penelitian Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2008, hlm.3). Metode
BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah rancangan Case Experimental
BAB III METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah rancangan Case Experimental Design atau disebut juga sebagai penelitian subjek tunggal (Single Subject Research). Subjek tunggal
E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)
Volume 4 Nomor 3 September 2015 E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS) http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu Halaman : 639-648 Meningkatkan Keterampilan Gerak Dasar Tari Melalui Media Audio
BAB III METODE PENELITIAN
16 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Pelaksanaan penelitian membutuhkan suatu metode yang tepat untuk memperoleh pemecahan masalah dari suatu fokus yang diteliti agar mencapai target yang
BAB III METODE PENELITIAN. dicapai dalam penelitian. Bila tujuan penelitian sudah jelas, maka teknik
22 BAB III METODE PENELITIAN Penerapan metode penelitian senantiasa didasarkan pada tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian. Bila tujuan penelitian sudah jelas, maka teknik pengumpulan data juga dapat
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode merupakan salah satu cara yang dipergunakan untuk menjawab suatu permasalahan, yang dihadapi dalam suatu penelitian agar tercapai suatu tujuan
1) Langkah pertama tempelkan spons dan potongan plat.
BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian Penelitian yang mengangkat judul Penggunaan Media Papan Habitat Fauna Dalam Meningkatkan Pemahaman Pokok Bahasan Tempat Hidup Hewan Pada Anak Tunarungu
E-JUPEKhu(JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS) UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERJALAN ANAK CEREBRAL PALSY (CP) TIPE SPASTIK MELALUI BERMAIN DI AIR
Volume 3 Nomor 3 Septrmber 2014 E-JUPEKhu(JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS) http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu Halaman : 98-110 UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERJALAN ANAK CEREBRAL PALSY (CP) TIPE
BAB III METODE PENELITIAN. metode penelitian tunggal yang dikenal dengan istilah single subject research
40 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam metode penelitian ini adalah metode penelitian tunggal yang dikenal dengan istilah single subject research (SSR)
BAB III METODE PENELITIAN
26 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian merupakan suatu cara yang dipergunakan dalam pengumpulan dan analisis data, serta menginterpretasikan data yang diperoleh menjadi suatu
BAB III METODE PENELITIAN. dengan subjek tunggal (single subject research), yaitu penilitian yang
21 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan subjek tunggal (single subject research), yaitu penilitian yang dilaksanakan pada
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian 1. Definisi Konsep Variabel a. Media Komunikasi Visual Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. METODE PENELITIAN Menentukan metode adalah langkah yang sangat penting, karena metode digunakan sebagai langkah untuk membuktikan penelitian yang telah dirancang. Diperlukan
BAB III METODE PENELITIAN
34 BAB III METODE PENELITIAN Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah dengan menggunakan metode eksperimen kuantitatif. Eksperimen, merupakan bentuk metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan
BAB III METODE PENELITIAN
24 BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian 1. Definisi Konsep Media papan congkak hitung merupakan sebuah Alat Permainan Edukatif (APE) atau media pembelajaran matematika. Eliyawati,dkk (2005
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Skor hasil penelitian adalah perolehan data dari seluruh rangkaian
49 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Skor hasil penelitian adalah perolehan data dari seluruh rangkaian penelitian yang dilakukan di lapangan, mulai dari kegiatan menguji coba
Pengaruh Penggunaan Aromaterapi Cendana Dengan Teknik Vaporizer Terhadap Perilaku Agresif Pada Anak Tunagrahita Dalam Pembelajaran Di PAUD Wisana
BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian 1. Penggunaan Aromaterapi Cendana Di Kelas dalam Pembelajaran Variabel bebas pada penelitian ini adalah penggunaan aromaterapi cendana di kelas dalam pembelajaran
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yang bersifat ekperimen dengan subjek tunggal (single subjet research), yaitu penilitian yang dilaksanakan pada satu subjek.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di SLB Negeri Karanganyar yang terletak di Jalan Kapten Mulyadi Komplek Perkantoran Kecamatan
E-JUPEKhu(JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)
Volume Nomor September 2014 E-JUPEKhu(JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS) http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu Halaman : 169-181 MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN DENGAN METODE ABACA-BACA PADA
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode merupakan suatu yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Metode penelitian merupakan suatu cara untuk memperoleh pengetahuan atau pemecahan suatu
BAB III METODE PENELITIAN
30 BAB III METODE PENELITIAN Metode adalah cara sistematis untuk melakukan sesuatu secara sistematis. Sementara metodologi ialah kajian yang mempelajari tata aturan untuk sebuah metode. Metode penelitian
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian 1. Variabel Bebas Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Variabel bebas
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pelaksanaan penelitian membutuhkan suatu metode yang tepat untuk memperoleh
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode dan Teknik Penelitian Pelaksanaan penelitian membutuhkan suatu metode yang tepat untuk memperoleh pemecahan masalah dari suatu fokus yang sedang diteliti agar mencapai
