KEINDUSTRIAN DALAM SENI KRIYA
|
|
|
- Devi Salim
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Yusuf Affendi Jalari Guru Besar Ilmu Seni Rupa dan Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti, Jakarta ABSTRAK Proses penggarapan produk kriya berbeda dengan proses industri yang modern. Proses produksi kriya selain ditentukan oleh teknologi lokal juga ditentukan oleh sentuhan akhir dari kerja seni seorang seniman. Makalah ini membicarakan tentang proses pembakaran keramik di kampung Kebagusan Sitiwinangun Cirebon, proses pembuatan batik tulis tenun gedog Tuban, dan motif-motif batik Madura. Proses pembakaran keramik di kampung Kebagusan Sitiwinangun Cirebon dilakukan secara gotongroyong dan bergiliran. Proses pembakaran menghasilkan permukaan gerabah yang berbeda-beda, misalnya apabila dibakar dengan daun jati, maka permukaan gerabah akan kemerah-merahan, selain coklat kopi hangus. Sedang apabila dibakar dengan daun nangka, maka permukaan gerabah akan kecoklatan dengan nuansa kehijauan tembaga disana sini. Kekhasan tenun gedog adalah bahannya yang agak kasar dan warnanya cenderung kumal. Bintikan-bintikan kapas dari proses pemintalan tradisional telah memunculkan tekstur yang khas tenun gedog. Kekhasan lainnya adalah bahwa proses pembuatan tenun gedog seluruhnya dikerjakan secara tradisonal. Untuk sampai menjadi tenun gedog terdapat beberapa proses dan setiap proses terdiri dari beberapa langkah. Kegiatan membatik di Pulau Madura sudah berlangsung lama dan diprakarsai oleh seorang pedagang yang berasal dari daerah pesisir Pekalongan, yang kemudian berkeluarga dan menetap di Madura. Pada awalnya kegiatan membatik di pulau Madura hanya berfungsi sebagai kerja sambilan ibu-ibu rumah tangga yang sering ditinggal suami pergi berlayar dalam rangka mencari nafkah. Kerinduan pada kedatangan suami dilepaskan oleh mereka dengan membatik. Kondisi psikologis yang seperti itulah yang kemudian mempengaruhi dan memunculkan motif-motif batik tulis yang khas Madura. Kata kunci: proses keramik Desa Sitiwinangun, batik tulis gedog Tuan, motif-motif batik Madura ABSTRACT The making process of craft product is different from modern industrial processes. Beside determined by local technology, the production process of craft is also determined by the finishing touch of an artist's work of art. This paper talks about the ceramic firing process in the Village of Kebagusan Sitiwinangun Cirebon, the making process of gedog batik weaving of Tuban, and batik motifs of Madura. The burning process of ceramics in the village Kebagusan Sitiwinangun Cirebon is conducted in mutual cooperation. and turns. The burning process results in different vessels surfaces; for example, when burned with teak leaves, then the surface will be reddish in appearance, in addition to coffee brown one. When burned with jackfruit leaves, then the surface will be earthenware copper in color with shades of green here and there. The specificity of gedog batik weaving is that its material is rough and its color is dull. The portruding appearance of the cotton resulted from traditional spinning process has created a distinctive texture of the woven gedog. The other specificity is that the process of the gedog weaving is entirely done traditionally. There are several processes to make woven gedog and each process consists of several steps. Batik making activities in Madura have been going on for a long time and initiated by a trader who came from a coastal area of Pekalongan, who later got married and settled in Madura. At the beginning the activities of batik making on the Island of Madura serve only as a side activities of housewives whose husbands often went sailing in order to earn a living. Longing for the arrival of their husbands, they spent the time by making batik. Psychological condition like that later affected the batik of Madura and gave its characteristic motifs. Keywords: Sitiwinangun Village ceramic process, gedog batik weaving of Tuban, batik motifs of Madura
2 70 SEMINAR NASIONAL Pengabdian Kepada Masyarakat A. PENDAHULUAN Pada awalnya adalah sebuah kata yang mengandung makna. Kata itu kerajinan. Imbuhannya beragam-ragam, seperti : kerajinan rakyat, industri kecil kerajinan, kerajinan tangan, usaha kerajinan. Pemakaiannya dari sejak masa kolonial hingga kini kata kerajinan masih digunakan, walaupun maknanya sudah menyimpang atau berbeda dengan asal mulanya. Kalau ada kerajinan pasti ada kemalasan. Begitulah makna kerajinan pada masa terjajah supaya rajin kerja, karena pemerintah kolonial tidak dapat lagi membiayai pemerintahan jajahannya. Kejadiannya sekitar 1930-an, ketika masa Malaise melanda dunia. Kini kata kerajinan sudah tidak pantas lagi digunakan, karena Indonesia sudah terbebas dari penjajahan. Kata yang disebarkan, untuk menggantikannya adalah kriya, yang berakar dari kata karya, kerja yang bermakna lebih luas serta lebih mendalam. Kriya lebih dekat pada kreativitas, pada proses kerja yang runtut, pada pengaturan, pengelolaan pelaksanaan atau managemen yang lebih jelas. Selain itu kriya berkaitan dengan teknologi proses dan bahan serta seni, selain proses beradaptasi dengan lingkungan budaya dan pasar. Akhirnya kriya mendapat imbuhan seni, menjadi seni kriya, yang hingga kini masih dalam perdebatan. Tentang Keindustrian Kriya Rekan-rekan dari Design Centre Jepang memberi sedikit batasan tentang craft atau kriya, yaitu sebagai berikut : Dikerjakan oleh lebih dari 20 pekriya, dalam proses yang sama, dengan bantuan peralatan tertentu serta menghasilkan benda berdaya guna yang artistik. Beberapa bukti menunjukkan seperti keramik Widayanto, batik seni Amri Yahya, batik sutra Obin, mebel rotan Haji Ebon, tenun Reni Aqub, tenunan batik Jadin, mebel Farouk Kamal, anyaman bambu Rini Joeda, perhiasan peak Runi Palar, ukiran Taqim, busana seni Harry Darsono, tapestri Yusug - Anas, tenun seni Ridaka, batik Hasan dan masih banyak lagi. Keadaan tersebut berjalan sejak tahun 1979 hingga kini. Pengambil inisiatif kreatif kebanyakan akademisi, lulusan pendidikan tinggi seni rupa dan desain. Kecenderungan perkembangan kriya itu sangat menarik, karena kelompok tradisional mendapat imbas gagas-cipta atau desain dari kelompok kriya akademisi, sedang kelompok terakhir mendapat bahan atau sumber gagas-cipta, teknologi dan hasilnya yaitu kriya yang diindustrikan dalam skala kecil semacam studio atau bengkel (sekitar ). Proses penggarapan produk kriya berbeda dengan proses industri yang modern dan sudah mapan. Proses produksi kriya selain ditentukan oleh teknologi lokal setempat, maka ditentukan pula sentuhan akhir dari kerja seni seorang seniman atau suatu kelompok pekriya yang nyeniman. Di dunia seni rupa Barat kriya lebih banyak dicirikan oleh ekspresi inividu senimannya. Sedangkan di Timur lebih banyak dicirikan oleh kelompok seniman atau pekriya. Seikat bukti seperti batik Cirebon, gerabah Lombok, sulaman Kawalu, songket Pandai Sikat, pelangi Palembang, pasar seni Sukawati, ukiran Jepara, gerabah Kasongan, batik Garutan, lampu gentur Cianjur, sulam tangan Naras, dan sebagainya. Baru pada dekade tahun 1970-an, terjadi perubahan dalam ungkapan ekspresi kriya, yaitu bergeser ke arah ungkapan senimannya. Pergeseran itu disebabkan oleh kehadiran seniman akademisi dalam bidang kriya atau cendekiawan yang berkiprah di bidang tertentu.
3 SEMINAR NASIONAL Pengabdian Kepada Masyarakat 71 B. METODOLOGI Pada bagian selanjutnya dari tulisan singkat ini, digambarkan keadaan di lapangan hasil pengamatan dari suatu kerja kekriyaan yang dapat dan sudah berkembang ke industri. Gambaran dilapangan itu hanya untuk menggambarkan bahwa dasar-dasar keindustrian telah dan sedang berjalan menuju tradisi baru seni atau desain kriya. Seni kriya untuk pembangunan yang berkelanjutan. Dua dekade terakhir kemajuan seni kriya Indonesia cukup berarti dalam menunjang pembangunan ekonomi masyarakat. Salah satu penunjang terbesar adalah sektor pariwisata yang secara saling menunjang meningkatkan produk seni kriya tradisional maupun kriya yang baru. Pada saat ini industri kecil kerajinan atau dapat disebut juga dengan istilah seni kriya di Indonesia, terbagi dua : pertama seni kriya yang dikerjakan secara tradisional dan kedua, seni kriya yang dikerjakan secara modern. Yang pertama jumlahnya lebih banyak dengan tenaga kerja sekitar sepuluh juta perajin yang terlibat, tersebar diseluruh Indonesia. Dari Aceh sampai Asmat di Irian Jaya. Sedangkan yang kedua, jumlah lebih terbatas dengan peralatan produksi dan manajemen yang lebih pasti dan teratur, biasanya dipimpin oleh seorang atau beberapa orang lulusan akademisi atau seorang seniman terdidik. Lulusan akademi seni rupa dan desain dari institut di dalam negri maupun dari luar negeri telah banyak menyumbangkan karyanya untuk seni kriya Indonesia. Selain itu pengaruh turis asing yang datang di berbagai pusat seni kriya seperti di Bali, Yogyakarta dan Jepara telah menyumbangkan kreasinya dengan cara kerjasama dalam bisnis kriya dengan pengusaha kriya setempat. Pengaruh dari turis desainer itu terlihat nyata di Bali Selatan, yang ditunjang oleh tradisi kuat dari budaya seni kriya perajin-perajin Bali. Selain kegiatan seni kriya dan industri kecil yang telah maju serta mendapat keuntungan melimpah, masih terdapat usaha kriya yang mentradisi di kampung dan di desa. Kegiatannya bersatu dengan alam dan manusianya, sedang proses kerjanya masih sederhana, seperti yang terdapat dalam proses kerja pembakaran keramik gerabah (earthware) di desa Sitiwinangun Cirebon serta pembatikan di Kampung Terusmi Cirebon, di Indramayu dan di Tuban, semuanya di pantai Utara pulau Jawa. C. PEMBAHASAN 1. Kerja Gotong Royong yang Mentradisi. Pembakaran Keramik Gerabah (earthware) di Desa Sitiwinangun Cirebon. Bagaimana suatu karya seni kriya tercipta? Prosesnya dari mulai bahan mentah hingga terwujudnya suatu bentuk, memiliki cerita atau tahapan kerja yang cukup panjang. Sehelai jarit Batik, sebentuk keris atau sebentuk Paso keramik tidak terwujud begitu saja, melainkan ada tangan-tangan terampil yang mengerjakannya. Ada lingkungan yang menciptakannya. Ada tradisi artistik yang mendukungnya. Pada umumnya karya kriya atau kerajinan tidak dikerjakan sendiri, melainkan digarap melalui banyak tangan secara beraturan (collective artwork). Di balik sebentuk kendi gerabah, terjalin suatu kisah proses gerabahnya, kiranya perlu pendekatan secara sosiologis terhadap karya seni kriya. Selain pendekatan teknis ekonomis yang selama ini diterapkan, disamping pendekatan desain estetis. Karena lingkungan desa atau kampung perajin memiliki karakter atau perilaku budaya yang tersendiri, bahkan dari setiap wilayah di Indonesia lingkungan budaya perajin lebih banyak menentukan hasil akhir dari suatu desain kriya.
4 72 SEMINAR NASIONAL Pengabdian Kepada Masyarakat Umpamanya, motif gambar kuda pada kain ikat Sumba, mengapa tidak tercipta motif kuda itu di kain tenun Dayak Iban di Kalimantan? Alasan yang khusus, karena lingkungan budaya dan alam yang berbeda masing-masing memiliki sifat tersendiri yang dicirikan oleh kehidupan perajin, pekriya beserta lingkungannya. Bagi seorang seniman, perajin dan desainer lingkungan kerja yang namanya studio, bengkel, kampung atau laboratorium sangat menentukan proses garapan suatu karya. Demikian pula bagi perajin yang tinggal di desa dan kampung, akan terikat oleh lingkungan kebiasaan atau adat yang berlaku di seputar kampungnya. Suatu gambaran yang dramatis terjadi setiap minggu di kampung Kebagusan Sitiwinangun Cirebon, perajin keramik gerabah melakukan pembakaran secara gotong royong atau kolektif. Caranya sederhana, setiap keluarga atau rumah perajin mendapat giliran untuk menjadi koordinator pembakaran. Bilamana seseorang perajin mendapat giliran untuk membakar gerabah mentahnya, biasanya ditentukan oleh kelompoknya. Sedang keluarga perajin lainnya, berkewajiban untuk membantu kegiatan pembakaran itu. Seorang perajin yang cekatan dan terampil biasanya ditunjuk oleh kelompoknya untuk menjalankan sebagai koordinator pembakaran. Aneka tugasnya antara lain : menentukan hari dan jam pembakaran. Tentang jam berapa tidak pernah diberiitahukan secara pasti, cukup dengan perkiraan yang berkaitan dengan waktu sholat atau bedug di Mesjid. Seperti : sebelum atau sesudah Dhuhur, Ba da ashar dan sebagainya. Tugas lainnya adalah menyediakan bahan bakar berupa jerami, daun-daun kering dan bahan bakar lainnya yang cukup untuk satu kali pembakaran. Kemudian benda-benda gerabah mentah dari mulai gentong yang berukuran besar sampai pada paso atau celengan yang kecil-kecil. Menata gerabah mentah hingga menyerupai bukit bukan pekerjaan yang mudah, karena kalau salah menyusunnya pada pembakaran bisa hancur. Apabila si pemilik gerabah mentah telah menyusunnya dengan rapi, maka segera bukit gerabah ditimbuni oleh jerami diseling dedaunan kering. Pembakaran berlangsung api menyala dan dalam sekejap menjalar menghabiskan jerami dan daun-daun, tanpa diperintah atau komando setiap orang yang tergabung dalam kelompok perajin membawa galah bambu untuk menggeser jerami supaya api tetap menyala merata serta semakin tinggi panasnya. Maka teater pembakaran sampai pada klimaksnya, setiap pemain perajin sibuk mempertahankan api agar tetap di puncak panasnya, pada saatnya yaitu ketika gerabah yang dibakar telah berubah menjadi pijar nyala api yang merah bening. Pembakaran gerabah itu sangat alami, karena tidak pernah mempergunakan alat-alat ukuran panas atau waktu untuk mengukur lama pembakaran. Walaupun demikian secara prinsip dasardasar pembakaran gerabah atau biskuit telah memenuhi persyaratan yang mendasar. Seperti ketika pijar-pijar api sedang berada di puncaknya, maka para perajin mempertahankan api itu supaya tidak segera turun panasnya. Apabila terjadi penurunan panas yang drastis, seketika maka barang-barang gerabah akan pecah-pecah. Bagaimana caranya menurunkan panas secara beraturan? Dalam kelompok kerja gotong royong tidak kehilangan akal yang logis tetapi mendtradisi, caranya : disiramkan air sedikir demi sedikit di sekeliling lingkaran api, yaitu di seputr pembakaran agar mulai menurun panasnya. Dalam waktu bersamaan pijar-pijar api dari jerami mulai berkurang. Maka proses kerja pembakaran hampir selesai, dalam waktu singkat hanya sekitar 40 menit. Bukit api berubah bentuk menjadi tumpukan bara api dari gerabah yang baru saja dibakar. Panasnya masih terasa dari jarak 4-5 meter. Proses pendinginan sedang berjalan, kira-kira memerlukan waktu sekitar
5 SEMINAR NASIONAL Pengabdian Kepada Masyarakat 73 satu jam. Dan secara perlahan-lahan benda gerabah yang asalnya putih menjadi merah keabuabuan, kemudian dikeluarkan dari tumpukan pembakaran dengan jepitan dari galah bambu. Pengalaman dari proses pembakaran menyajikan permukaan gerabah yang berbeda-beda, misalnya apabila bahan baku bakarnya dari daun-daun jati, maka gerabah yang terbakar akan menjadi kemerah-merahan, selain coklat kopi hangus. Sedang apabila dibakar dengan daundaun nangka, maka menyebabkan permukaan gerabah jadi kecoklatan dan sedikit nada kehijauan tembaga disana sini. Di kampung Kebagusan Cirebon, digunakan bahan bakar jerami dicampur daun-daun jati, menghasilkan antara kemerahan terra cotta dan nada warna abu-abu seperti hangus disana sini. Tidak merata seperti lukisan abstrak, menyajikan permukaaan yang artistik. Ada permukaan yang hangus dan yang tidak. Budaya gotong royong masih tetap hidup dalam masyarakat kampung dan desa, seperti di kampung Kebagusan, kegiatan kreatif dan produktif dilandasi budaya gotong royong. Dalam prinsip yang sederhana, seorang warga perajin bertanggung jawab pada warga kampungnya secara keseluruhan. Sebaliknya dalam proses kerja gerabah, semua perajin bertanggung jawab kepada seorang perajin yang lebih pintar atau terampil serta dianggap sebagai tetua. Untuk keberhasilan bersama dari kampungnya. Selain budaya gotong royong yang ramah menjadi nafas desa, maka budaya daur ulang telah berjalan secara mentradisi. Seperti penggunaan jerami untuk bahan bakar gerabah yang diperoleh sesudah panen sawah. Abu jerami sisa pembakaran dikumpulkan dan ditabur kembali di pesawahan untuk menyuburkan tanah. Cara lain, abu itu disaring halus dan dicampur dengan tanah gerabah ditambah pasir halus. Suatu budaya daur ulang yang melestarikan lingkungan alam tanpa suara teriakan. 2. Tenun Gedog Tuban dan Batik Madura Tanjung Bumi. a. Batik Tulis Tenun Gedog Tuban. Tuban merupakan salah satu kota Kabupaten di pantai Utara Jawa Timur, yang mayoritas penduduknya nelayan dan petani. Selain mempunyai potensi yang bagus sebagai salah satu kota pemasok ikan asin dan terasi, Tuban juga berpotensi sebagai daerah kunjungan wisata. Potensi wisata lain yang dimiliki Tuban adalah pantai dan Masjid Agung Tuban dimana terdapat Makam Sunan Giri (salah satu dari sembilan Wali penyebar agama Islam di pulau Jawa). Selain makam terdapat mitologi Ronggo Lawe, seorang panglima perang yang gagah berani, menjadi kebanggaan masyarakat Tuban. Terdapat Kelenteng yang konon merupakan satu-satunya Kelenteng di Asia yang menghadap ke laut. Selain tempat-tempat tersebut, Tuban juga dikenal dengan batik tulis Tenun Gedog. Desa Margorejo merupakan suatu desa yang berjarak sekitar 28 km ke arah Barat Daya kota Tuban, yang merupakan desa penghasil batik tulis tenun Gedog. Bagi desa yang berjumlah penduduk 3750 orang (pada tahun 1980) atau 917 kepala keluarga, membatik merupakan kegiatan yang menghidupi di samping bertani sebagai lahan penghidupan utamanya. Selain desa Margorejo yang termasuk kecamatan Kerek juga terdapat desa-desa lainnya di kecamatan yang sama juga penghasil tenun Gedog, seperti : desa Gaji, desa Kedungrejo, desa Karanglo. Konon, seperti yang dipercayai oleh masyarakat Margorejo, hingga saat ini bahwa nama Gedog berasal dari suara yang dikeluarkan oleh pemintal : gedog..gedog..gedog. Motif-motif yang terdapat dalam batik tenun Gedog adalah motif-motif tipikal pesisir. Motif bunga laut dengan berbagai variasinya, selalu muncul dalam setiap olahannya. Selain motif bunga, juga muncul motif-motif binatang. Munculnya motif-motif yang memakai desain dasar bunga laut, sangatlah wajar jika kita melihat Tuban dari posisi geografisnya. Masyarakat Tuban
6 74 SEMINAR NASIONAL Pengabdian Kepada Masyarakat yang akbrab dengan dunia bahari tentu saja akrab dengan bentuk-bentuk flora dan fauna laut. Dari keakraban tersebut munculah imaji-imajimya yang kemudian diaktualisasikan ke batik tulis tenun Gedog. Motif-motif guntingan, kapsaan, campursari, kembang waluh, ganggeng, titik (baris) adalah motif-motif yang banyak dikenal sebagai motif hias tenun gedogan. Kekhasan tenun gedog adalah bahannya yang agak kasar dan warnanya cenderung kumal. Bintikan-bintikan kapas dari proses pemintalan yang tradisional, telah memunculkan tekstur yang khas tenun Gedog. Kekhasan lainnya adalh bahwa proses pembuatan tenun gedog, seluruhnya dikerjakan secara tradisonal yaitu gedogan. Untuk sampai menjadi tenun gedog terdapat beberapa langkah proses. Proses pertama : 1. Bahan baku kapas 2. Kapas dibibis/menghilangkan biji kapas 3. Usoni adalah menguraikan (disentangle) serat kapas agar mudah dipintal 4. Digulung (roll) untuk kemudian dibuat bulatan 5. Diantih (spin) dengan menggunakan jontro (alat pemintal, spinning wheel) 6. Dilikasi dengan alat likasan 7. Distreng/ukel jadi benang lawe Proses kedua : Proses pembuatan kain lawon putihan. 1. Benang lawe (lawe yarn) 2. Benang direbus untuk menghilangkan lemak 3. Dijemur hingga kering 4. Dikanji (starchel) dengan nasi jagung/ tepung kanji 5. Disikati dengan serabut kelapa 6. Dijemur hingga kering 7. Diulur (extented) dengan alat ingan 8. Dihani untuk menentukan panjang dan lebar kain 9. Memasukkan benang dalam sisir 10. Ditenun jadi kain lawon putih Proses ketiga (membatik lawon) Proses produksi batik tulis tenun gedog 1. Kain lawon 2. Diputihkan : dicuci dengan campuran thepol 3. Dijemur sampai kering 4. Dilengkreng atau di pola 5. Dilengkapi isen-isen 6. Ditembok 7. Dicelup warna dasar 8. Diangin-angin hingga kering 9. Isen-isen 10. Celup dengan warna yang dikehendaki 11. Diangin-anginkan 12. Dilorot atau diproses pemisahan dari lilin malam 13. Diangin-anginkan hingga kering 14. Jadi kain tenun gedog
7 SEMINAR NASIONAL Pengabdian Kepada Masyarakat 75 Tahap proses seperti tersebut di atas merupakan tahapan yang selalu dilalui oleh setiap perajin batik tulis di Tuban dan justru pada proses seperti itulah kekhasan batik tulis tenun gedog. Sementara itu tahapan dan waktu proses produksi sebuah batik tulis tenun gedog secara sederhana dapat disusun sebagai berikut : Tahap Awal pekerjaan pemintalan : untuk satu potong kain lawon dengan ukuran 90 x 250 cm, memerlukan waktu sekitar 7 hingga 9 hari dengan kebutuhan lawe sebanyak 5 ukel. Tahap Kedua pekerjaan menenun : untuk menghasilkan satu potong lawon ukuran 90 x 250 cm memerlukan waktu 4 hingga 5 hari kerja. Tahap Ketiga pekerjaan membatik : untuk menyelesaikan satu potong kain batik ukuran 90 x 250 cm membutuhkan waktu 3 hingga 4 hari kerja. Jadi untuk menyelesaikan satu potong batik tulis tenun gedog memerlukan waktu kurang lebih 14 hingga 18 hari kerja. b. Batik Madura punya Tradisi kegiatan membatik di pulau Madura telah ada sejak 250 tahun yang lalu, dan diprakarsai oleh seorang pedagang yang berasal dari daerah pesisir Pekalongan, yang kemudian berkeluarga dan menetap di Madura. Pada awalnya kegiatan membatik di pulau Madura hanya berfungsi sebagai kerja sambilan ibu rumah tangga yang sering ditinggal suami pergi berlayar dalam rangka mencari nafkah. Kehidupan semacam itu terdapat juga di kawasan Indramayu, Cirebon dan Pekalongan sebagai kawasan pesisir Utara Jawa. Sebagai pedagang antar pulau, sebagian besar masyarakat Madura saat itu, setiap bepergian memerlukan waktu antara 30 hingga 40 hari lamanya. Dalam suasana menunggu suami kembali dari berniaga, para istri mengisi waktu luangnya dengan membatik. Bahkan ketika kerinduan pada suami datang dilepaskannya dengan membatik. Dalam kondisi psikologis yang seperti itulah yang kemudian mempengaruhi dan memunculkan motif-motif batik tulis yang khas Madura. Suasan kerinduan, kesepian, menunggu dan lain-lain terkadang diimplementasikan pada desain-desain yang serasi dengan situasi psikologis pengrajinnya. Munculnya gambar-gambar burung, yang bisa muncul sebagai gambaran dari sang suami yang sering pergi merantau banyak muncul dalam batik tulis Madura. Selain gambar burung, juga banyak muncul pancing/ kail yang menggambarkan masyarakat Madura suka mencari ikan di laut. Motif Tasekmalaya (gelombang laut) merupakan manifestasi dari kebiasaan masyarakat Madura dalam mengarungi lautan. Begitu pula dengan motif-motif dari gambar-gambar binatang dan sisik ikan dan masih banyak lagi yang menggambarkan dunia bahari. Batik tulis Madura tersebar di beberapa kabupaten seperti Sumenep, Bangkalan, Pamekasan dan Sampang. Motif-motif tradisional yang ada di dalam batik tulis Madura berjumlah kira-kira 96 motif yang didata lebih lanjut dan yang paling khas adalah motif Tasekmalaya yang dilatarbelakangi oleh kehidupan masyarakat Madura pada umumnya. Selain motif Tasekmalaya, juga ada motif Sekar Jagat, Sapu Jagat, Sesek Bei, Purik Ramo, Ji Panji, Adzan Sakera, Daun Rnimba, Ceremai, Banglan, Seref dan masih banyak motif lainnya. D. KATA AKHIR, SIMPULAN DAN SARAN Tradisi Keindustrian Seni Kriya yang Berkelanjutan Tiga sentra seni kriya yaitu Cirebon, Tuban dan Madura yang masih memegang tradisi artistik telah digambarkan secara sekilas, data informasinya langsung dari lapangan serta belum terolah dengan rapi. Berbagai pertanyaan timbul :
8 76 SEMINAR NASIONAL Pengabdian Kepada Masyarakat Masih dapatkah seni kriya itu hidup untuk 10 atau 20 tahun lagi? Dalam lingkungan kampung/desa yang kurang terjamin? Mungkin besok atau lusa kampung perajin itu sudah digusur, karena digantikan oleh pabrik atau pertokoan atau jalan tol. Masih memungkinkah dikembangkan desain atau seni kriya dalam lingkungan kerja seni yang tidak mendapat perlindungan hukum, perlindungan hak cipta, perlindungan terhadap alam lingkungan hidup perajin, perlindungan kemudahan untuk mendapatkan bahan mentah, perlindungan untuk mendapatkan laba/nilai lebih secara ekonomis yang adil serta perlindungan terhadap kebebasan berkarya seni? Desain kriya dalam keseluruhan penggarapan seni menjadi satu dengan unsur-unsur seperti lingkungan hidup, persediaan bahan mentah, kesempatan pemasaran, kreativitas dan latar budaya (etnik). Penggarapan seni kriya di Indonesia lebih bersifat komunal dari pada individual. Kekayaan tradisi artistik masih melekat di setiap lingkungan kerja seni kriya yang tersebar dari Aceh sampai ke Asmat di Irian Jaya. Penggarapan seni kriya secara inividual dikerjakan oleh seniman/desainer lulusan akademi yang jumlahnya tidak banyak. Karena di Indonesia terdapat beberapa perguruan tinggi seni rupa dan desain, tetapi hanya dua perguruan perguruan tinggi yang memiliki jurusan kriya. Dalam waktu duapuluh tahun terakhir telah terjadi kerjasama antara perajin desa yang tradisional dengan seniman/desainer akademisi. Hasilnya terciptanya desain-desain baru yang memberikan harapan untuk terus dikembangkan. Keindustrian dalam seni kriya tidak hanya mengandung suatu proses kerja teknologi seni kriya, melainkan melibatkan unsur-unsur sosiologi, budaya lokal, adat istiadat dan bisnis yang telah melekat. Semuanya pada saat ini abad 21, berbenturan dasyat dengan arus budaya baru, teknologi media informasi yang tidak sedikit menyebabkan masyarakat pengusaha dan pekerja kriya menjadi kebingungan. Bimbingan dan penyuluhan teknik dan desain yang langsung di bengkel/studio kriya akan segera meningkatkan ketrampilan kriya, selain lebih banyak menanamkan kepercayaan diri. Terutama kepercayaan akan pekerjaan kriya yang dapat menghidupi keluarga pekriya. Bimbingan dan penyululan teknologi bersifat lebih menebalkan kepercayaan diri, mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan untuk mencapai gubahan seni kriya yang tinggi mutunya. Barang seni kriya tidak dapat direndahkan, selama proses pengerjaan dilakukan dengan kesungguhan, karena pengolahannya dilandasi kecintaan pada pekerjaan kriya tersebut. Pada gilirannya, hasil kriya seni akan lebih mendapat penghargaan tinggi dibandingkan dengan barang buatan mesin. Untuk mencapai hasil yang maksimal diperlukan perangkat dasar berupa watak ulet dan kreativitas yang dinamis serta tanggap terhadap perubahan zaman. Catatan : Karangan tentang seni kriya di atas merupakan satu bagian dari 60 (enam puluh) tulisan riset di pedesaan. Sejak tahun , belum sempat disusun kembali. DAFTAR PUSTAKA Borgdorff, Henk. (2012). The Conflict of The Faculties, Perspective on Artistic Research and Academia. Leiden University Press. Polangi, Michael. (1966). The Tacit Dimension. New York: Doubleday. Yanagi, Soetsu. (1972). The Unknown Craftsman : A Japanese Insight into Beauty. New York: Kodausha.
Batik Tulis TradBatik Tradisional Tuban
Batik Tulis TradBatik Tradisional Tuban Keberadaan profesi pengrajin batik tulis tradisional sekarang ini hampir-hampir merupakan pekerjaan yang telah banyak ditinggalkan oleh banyak orang, karena ketrampilan
BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan harkat dan martabat masyarakat yang dalam kondisi sekarang. tidak mampu melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan
BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Dewasa ini memberdayakan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu melepaskan diri dari perangkap
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia terdiri dari beberapa pulau yang memiliki keanekaragaman dan warisan budaya yang bernilai tinggi yang mencerminkan budaya bangsa. Salah satu warisan
TUGAS SENI BUDAYA ARTIKEL SENI RUPA
TUGAS SENI BUDAYA ARTIKEL SENI RUPA Nama : Muhammad Bagus Zulmi Kelas : X 4 MIA No : 23 SENI RUPA Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai Kain Tenun Ikat di Kampung Tenun (Analisis Deskriptif Ornamen Kain Tenun Ikat dengan Bahan Sutera Alam di Kampung Tenun
2016 ANALISIS PROSES PEMBUATAN BONEKA KAYU LAME D I KAMPUNG LEUWI ANYAR KOTA TASIKMALAYA
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kriya merupakan seni kerajinan tangan yang menghasilkan sebuah karya yang memiliki manfaat dan kegunaan dalam kehidupan sehari-hari. Kriya sebagai media ekspresi,
2015 ANALISIS DESAIN ALAT MUSIK KERAMIK DI DESA JATISURA KECAMATAN JATIWANGI KABUPATEN MAJALENGKA
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia dikenal sebagai negara kaya akan sumber daya alam mineral. Berbagai macam bahan mineral yang banyak ditemukan diantaranya berupa batuan sedimen,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penciptaan Nisa Apriyani, 2014 Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penciptaan Objek karya seni sangat bermacam-macam, ini sangat tergantung pada ketertarikan seniman tersebut dalam memilih objek.bukan hal kebetulan bahwa penulis sangat
BAB I PENDAHULUAN. permukaannya. Misalnya furniture sebagai tempat penyimpan biasanya
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Furniture adalah istilah yang digunakan untuk perabot rumah tangga yang berfungsi sebagai tempat penyimpan barang, tempat duduk, tempat tidur, tempat mengerjakan
Tahun 1970-an batik Indonesia diunggulkan sebagai busana resmi di Indonesia oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.
PEMBERDAYAAN BATIK Oleh Suciati, S.Pd., M.Ds Prodi Pendidikan Tata Busana JPKK FPTK UPI Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari pulau-pulau besar dan kecil tersebar di sepanjang garis khatulistiwa.
BAB I PENDAHULUAN. Daerah Kabupaten Batubara yang terletak pada kawasan hasil pemekaran
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Daerah Kabupaten Batubara yang terletak pada kawasan hasil pemekaran dari Kabupaten Asahan Provinsi Sumatera Utara adalah salah satu daerah yang didiami masyarakat
BAB II PERSPEKTIF TEORITIS
BAB II PERSPEKTIF TEORITIS A. Kajian Kepustakaan Konseptual 1. Pemberdayaan Masyarakat Secara konseptual, pemberdayaan atau pemberkuasaan (empowerment), berasal dari kata power (kekuasaan atau keberdayaan).
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Batik merupakan salah satu seni budaya Indonesia yang sudah menyatu dengan masyarakat Indonesia sejak beberapa abad lalu. Batik menjadi salah satu jenis seni kriya yang
Ragam Hias Tenun Ikat Nusantara
RAGAM HIAS TENUN IKAT NUSANTARA 125 Ragam Hias Tenun Ikat Nusantara A. RINGKASAN Pada bab ini kita akan mempelajari sejarah teknik tenun ikat pada saat mulai dikenal masyarakat Nusantara. Selain itu, akan
BAB I PENDAHULUAN LatarBelakang Eko Juliana Susanto, 2015
1 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Indonesia kaya akan seni dan budaya, dari sekian banyak seni dan budaya yang terdapat di Indonesia salah satunya adalah seni kriya dari bahan lidi. Penggarapan produk
Nama jenis produk kerajinan tekstil beserta gambar dan komentarnya
Nama jenis produk kerajinan tekstil beserta gambar dan komentarnya kerajinan batik,batik merupakan warisan budaya indonesia. kerajinan pahat, kerajinan yang membutuhkan ketekunan. kerajinan ukir, adalah
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Busana merupakan kebutuhan dasar manusia sepanjang hidupnya. Semakin tinggi taraf ekonomi seseorang, kebutuhan berbusana juga akan meningkat. Peningkatan tersebut dapat
Penerapan Ragam Hias pada Bahan Tekstil
Penerapan ragam hias flora, fauna, dan geometris pada bahan tekstil banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. Penerapan ragam hias pada bahan tekstil dapat dilakukan dengan cara membatik, menenun,
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. memanfaatkan limbah dari tanaman kelapa sawit yang selanjutnya diolah menjadi
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan Chantiqa Handycraft merupakan suatu jenis usaha kerajinan yang memanfaatkan limbah dari tanaman kelapa sawit yang selanjutnya diolah menjadi barang
Pengertian Seni Kriya, Fungsi, Macam & Contoh Seni Kriya
Pengertian Seni Kriya, Fungsi, Macam & Contoh Seni Kriya Pengertian Seni Kriya, Fungsi, Macam & Contoh Seni Kriya Secara Umum, Pengertian Seni Kriya adalah sebuah karya seni yang dibuat dengan menggunakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan suatu kota dapat dilihat salah satunya dari sektor perekonomiannya. Secara umum, dapat diperhatikan bahwa suatu kota yang berkembang dan maju, memiliki
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Kain Tenun merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia, karena keberadaannya merupakan salah satu karya Bangsa Indonesia yang tersebar luas diseluruh kepulauan
DESKRIPSI KARYA SENI KRIYA BERJUDUL: PRADA
DESKRIPSI KARYA SENI KRIYA BERJUDUL: PRADA Judul : Prada Ukuran : 100x100 cm Tahun : 2010 Media : Batik di atas kain Dipamerkan pada acara Pameran Karya Seni Batik tingkat Nasional di Hall Rektorat UNY
BAB I PENDAHULUAN. ragam bentuk seni kerajinan yang sudah sangat terkenal di seluruh dunia. Sejak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah salah satu negara kepulauan yang memiliki beraneka ragam bentuk seni kerajinan yang sudah sangat terkenal di seluruh dunia. Sejak jaman kerajaan-kerajaan
SOAL UJIAN TENGAH SEMESTER PRAKARYA KELAS VII
SOAL UJIAN TENGAH SEMESTER PRAKARYA KELAS VII 1. Arti dari kata kerajinan adalah? a. Kreativitas pada suatu barang melalui ketrampilan tangan. b. Kreativitas pada suatu barang dari bahan alam. c. Barang
Pengertian. Ragam hias. Teknik. Pada pelajaran Bab 4, peserta didik diharapkan peduli dan melakukan aktivitas berkesenian,
Bab 4 Menerapkan Ragam Hias pada Bahan Kayu Alur Pembelajaran Pengertian Menerapkan Ragam Hias pada Bahan Kayu Ragam hias Teknik Menggambar Ragam Hias Ukiran Melukis Ragam Hias di Atas Bahan Kayu Pada
KERAJINAN DARI BAHAN ALAM
TUGAS PRAKARYA KERAJINAN DARI BAHAN ALAM Oleh: NAMA : FARHAN ARIYANDI SAPUTRA KELAS : VII D SMP YKPP DUMAI T.A 2015/2016 I. PENDAHULUAN Indonesia memiliki banyak kekayaan alam yang berlimpah. Kekayaan
Kerajinan Fungsi Hias
Kerajinan Fungsi Hias KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayah-nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan
Teknik dasar BATIK TULIS
Teknik dasar BATIK TULIS Bandung, November 2009 Pengertian Batik 1. Batik adalah karya seni rupa pada kain dengan pewarnaan rintang, yang menggunakan lilin batik sebagai perintang. Menurut konsensus Nasional
BAB I GAMBARAN USAHA. India, Cina, Thailand, dan terakhir Malaysia, mengakui bahwa Seni Batik berasal
BAB I GAMBARAN USAHA 1.1 Deskripsi Konsep Bisnis Seni batik di Indonesia usianya telah sangat tua, namun belum diketahui secara pasti kapan mulai berkembang di Indonesia, khususnya di Jawa. Banyak negara
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Definisi Batik
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1.1 Definisi Batik Batik, adalah salah satu bagian dari kebudayaan Indonesia, Belum ada di negara manapun yang memiliki kekayaan desain motif batik seperti yang dimiliki
BAB III METODE PENCIPTAAN. Batik Lukis (Batik Tulis) diajukan konsep berkarya. Pada dasarnya, manusia baik
43 BAB III METODE PENCIPTAAN A. Konsep Berkarya Pada tugas akhir penciptaan berjudul Padi sebagai Sumber Ide Penciptaan Batik Lukis (Batik Tulis) diajukan konsep berkarya. Pada dasarnya, manusia baik secara
BAB III PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI (HPP) PADA PERUSAHAAN BATIK UD. AL- MUBAROK TANJUNGBUMI MADURA
BAB III PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI (HPP) PADA PERUSAHAAN BATIK UD. AL- MUBAROK TANJUNGBUMI MADURA A. Perusahaan Batik UD. Al- Mubarok 1. Sejarah dan Gambaran Umum Perusahaan Batik UD. Al- Mubarok Awal
BAB I PENDAHULUAN. GambarI.1 Teknik pembuatan batik Sumber: <www.expat.or.id/infi/info.html#culture>
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keberadaan museum tidak hanya sekedar untuk menyimpan berbagai bendabenda bersejarah saja. Namun dari museum dapat diuraikan sebuah perjalanan kehidupan serta
BAB I PENDAHULUAN. dan memenuhi kepentingan politis pihak yang berkuasa sari negara yang di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pariwisata merupakan salah satu sektor yang diandalkan oleh beberapa negara di seluruh dunia. Negara menggunakan pariwisata sebagai penyokong ekonomi dan juga devisa
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masyarakat Indonesia mengenal adanya keramik sudah sejak dahulu.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masyarakat Indonesia mengenal adanya keramik sudah sejak dahulu. Namun mereka menyebutnya dengan istilah gerabah atau tembikar. Terbukti dengan ditemukannya
PENERAPAN RAGAM HIAS PADA BAHAN TEKSTIL
PENERAPAN RAGAM HIAS PADA BAHAN TEKSTIL PENERAPAN RAGAM HIAS PADA BAHAN TEKSTIL TEKNIK RAGAM JENIS PENGERTIAN DAN HIAS SIFAT BAHAN TEKSTIL BAHAN PEWARNA TEKSTIL Penerapan ragam hias flora, fauna, dan geometris
Kata Kunci: Pakaian siap pakai, rotan, Suku Dayak Iban, Obnasel, Bordir
ABSTRAK Rancangan koleksi See Dayak merupakan sebuah rancangan ready to wear. Perancang terinspirasi dari budaya Suku Dayak Iban yang berasal dari Kalimantan Barat. Keindahan motif serta busana tradisional
BAB I PENDAHULUAN. dari serangga atau hewan-hewan tertentu. Rumput, bambu, kupasan kulit dan otot-otot
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia memiliki berbagai macam kebutuhan yang terdiri dari kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Kebutuhan pangan berupa makanan, sandang berupa pakaian, dan kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN. beberapa budaya dan karya seni Indonesia ini adalah seni kerajinan tangan. kerajinan logam, kerajinan gerabah, dan kerajinan tenun.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki berbagai macam budaya dan karya seni, diantara beberapa budaya dan karya seni Indonesia ini adalah seni kerajinan tangan. Beberapa seni kerajinan
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Aini Loita, 2014 Pola Pewarisan Budaya Membatik Masyarakat Sumedang
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebudayaan Indonesia dikenal unik oleh dunia dengan hasil kebudayaannya yang bersifat tradisional, hasil kebudayaan yang bersifat tradisional itu berupa seni rupa, seni
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sekarang ini komunikasi modern, pendidikan, serta proses modernisasi telah membawa banyak dampak. Terutama pada perubahanperubahan dalam masyarakat dan kebudayaan
BAB I PENDAHULUAN. seperti pakaian dan alat-alat rumah tangga. Namun seiring dengan perkembangan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia memerlukan beraneka macam kebutuhan demi keberlangsungan hidupnya, baik secara pokok yaitu berupa makan, minum, serta kebutuhan lainnya seperti pakaian
PUSAT BATIK DI PEKALONGAN (Showroom,Penjualan,Pelatihan Desain,dan Information center)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu hasil karya rakyat bangsa yang sampai saat ini masih membuat dunia terkagum-kagum dan bahkan terpesona adalah Batik. Batik merupakan produk budaya Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara kodrati, manusia dianugerahi akal dan pikiran yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk lain. Akal dan pikiran tersebut merupakan modal awal dari terbentuknya
SENI KRIYA. Oleh: B Muria Zuhdi
SENI KRIYA Oleh: B Muria Zuhdi PENGERTIAN SENI KRIA Kriya dalam konteks masa lampau dimaknai sebagai suatu karya seni yang unik dan karakteristik yang di dalamnya mengandung muatan nilai estetik, simbolik,
I. PENDAHULUAN. dilestarikan dan dikembangkan terus menerus guna meningkatkan ketahanan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara kesatuan yang memiliki beranekaragam kebudayaan. Budaya Indonesia yang beraneka ragam merupakan kekayaan yang perlu dilestarikan dan dikembangkan
BAB I PENDAHULUAN. Sebagai negara kepulauan, Indonesia kaya dengan aset kebaharian. Terutama bagi
BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Sebagai negara kepulauan, Indonesia kaya dengan aset kebaharian. Terutama bagi masyarakat yang menghuni kawasan pesisir, laut adalah sumber penghidupan. Dengan keberadaan
Kain Sebagai Kebutuhan Manusia
KAIN SEBAGAI KEBUTUHAN MANUSIA 1 Kain Sebagai Kebutuhan Manusia A. RINGKASAN Pada bab ini kita akan mempelajari kain sebagai kebutuhan manusia. Manusia sebagai salah satu makhluk penghuni alam semesta
PEMANFAATAN KAIN PERCA BATIK YANG MELIMPAH DAN TERABAIKAN SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN BROS PETIK
PEMANFAATAN KAIN PERCA BATIK YANG MELIMPAH DAN TERABAIKAN SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN BROS PETIK (PERCA BATIK) DI DESA PAWEDEN, KECAMATAN BUARAN, KABUPATEN PEKALONGAN Eky Risqiana Universitas Negeri Semarang
DESKRIPSI KARYA SENI LUKIS BERJUDUL: KELUARGA NELAYAN
DESKRIPSI KARYA SENI LUKIS BERJUDUL: KELUARGA NELAYAN Judul : Keluarga Nelayan Ukuran : 100x100 cm Tahun : 2005 Media : Batik di atas kain Dipamerkan pada acara: Pameran Karya Seni Rupa tingkat Nasional
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia memiliki berbagai jenis kain tradisional yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, dan kain-kain tersebut termasuk salah satu bagian dari kesenian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Batik sudah diakui masyarakat internasional sebagai warisan budaya Indonesia. Selain sebagai karya kreatif yang sudah berkembang sejak jaman dahulu serta sebagai hasil
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
219 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Keberadaan gerabah dan keramik Bayat masih terus berlangsung hingga sekarang, karena didukung oleh tiga faktor utama, yaitu: (1) Ketersediaan bahan baku di
BAB III DATA, PROSES EKSPLORASI DAN ANALISA
BAB III DATA, PROSES EKSPLORASI DAN ANALISA 3.1 Analisa Data Lapangan Untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap tentang tenun baduy, Penulis mengadakan perjalanan ke salah satu desa pemukiman masyarakat
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada era modern saat ini sangat jarang terlihat rumah-rumah tradisional
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada era modern saat ini sangat jarang terlihat rumah-rumah tradisional dibangun, namun cukup banyak ditemukan bangunan-bangunan yang diberi sentuhan tradisional
BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara yang memiliki tradisi dan hasil budaya yang
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penciptaan Indonesia adalah negara yang memiliki tradisi dan hasil budaya yang beraneka ragam, salah satu hasil budaya tersebut adalah batik. Batik merupakan warisan
ABSTRAK. Kata kunci : Peony, bunga, sulam, Cina, feminin. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Koleksi busana ready-to-wear deluxe berjudul Mudanin. Mudanin merupakan nama Cina dari bunga Peony. Peony adalah bunga nasional Cina yang melambangkan kecantikan dan feminin. Sebagian besar Peony
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia merupakan bangsa yang memiliki keanekaragaman kekayaan alam, kesenian, dan budaya yang masih dipelihara dan dilestarikan oleh masyarakatnya.
Ragam Hias Tenun Songket Nusantara
RAGAM HIAS TENUN SONGKET NUSANTARA 115 Ragam Hias Tenun Songket Nusantara A. RINGKASAN Dalam bab ini kita akan mempelajari kebiasaan masyarakat Nusantara dalam membuat hiasan, khususnya menghias dengan
STRATEGI ADAPTASI MASYARAKAT PENRAJIN KECIL GERABAH TRADISIONAL DALAM MEMPERTAHANKAN KEMISKINANNYA DI DESA BAYAT KABUPATEN KLATEN
Zaini Rohmad, Strategi Adaptasi Masyarakat Pengrajin Kecil Gerabah Tradisional Dalam Mempertahankan Kemiskinannya Di Desa Bayat kabupaten Klaten STRATEGI ADAPTASI MASYARAKAT PENRAJIN KECIL GERABAH TRADISIONAL
BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Motif Seni Ukir Jepara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki seni dan budaya yang sangat beraneka ragam. Tidak hanya satu daerah saja yang memiliki kebudayaan khas, namun hampir
Penyusunan Data Awal Referensi Nilai Budaya Tak Benda Kota Jakarta Barat D.K.I. Jakarta Batik Betawi
Penyusunan Data Awal Referensi Nilai Budaya Tak Benda Batik Betawi DAFTAR ISI A. Pendahuluan B. Pengertian Warisan Budaya Tak Benda C. Definisi Sekura Cakak Buah D. Kesimpulan dan Koreksi Kegiatan Penyusunan
BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN
35 BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN A. Metode Penciptaan Dalam penciptaan Tugas Akhir ini penulis mengambil judul APLIKASI TEKNIK BATIK TULIS DENGAN MOTIF RUMAH ADAT DAYAK KANAYATN PADA PEMBUATAN TAS
BAB I PENDAHULUAN. daerah atau suku- suku yang telah membudaya berabad- abad. Berbagai ragam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ragam hias di Indonesia merupakan kesatuan dari pola- pola ragam hias daerah atau suku- suku yang telah membudaya berabad- abad. Berbagai ragam hias yang ada
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai Analisis Visual Motif dan Makna Simbolis Batik Majalengka yang telah di uraikan, akhirnya peneliti memperoleh kesimpulan
BAB I PENDAHULUAN. Mada 1990) 1 P4N UG, Rencana Induk Pembangunan Obyek Wisata Desa Wisata Kasongan (Universitas Gajah
BAB I PENDAHULUAN Di Indonesia keramik sudah dikenal sejak jaman dahulu. Keramik disebut juga gerabah, termasuk bata dan genteng. Bata dan genteng sudah digunakan sejak jaman majapahit. Terbukti dari beberapa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Kartika Dian Pratiwi, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Bahan alam telah dimanfaatkan manusia sejak zaman prasejarah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahan alam banyak digunakan untuk menunjang keperluan sehari-hari mulai
BAB I PENDAHULUAN. istilah keramik tradisional. Keramik gerabah dikenal sebagai produk benda pakai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keramik merupakan salah satu kerajinan rakyat yang dikembangkan secara turun temurun diciptakan dalam pemenuhan kebutuhan hidup manusia, terutama berfungsi sebagai peralatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pariwisata telah menjadi sektor industri yang sangat pesat dewasa ini, pariwisata sangat berpengaruh besar di dunia sebagai salah satu penyumbang atau membantu
BAB I PENDAHULUAN. Benda keramik sering kita jumpai dalam kehidupan kita sehari hari, seperti
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Benda keramik sering kita jumpai dalam kehidupan kita sehari hari, seperti berbagai peralatan dapur, rumah tangga, bahan bangunan, benda benda perlengkap interior
BAB I PENDAHULUAN. budaya. Indonesia merupakan negara di dunia ini yang memiliki ragam budaya
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hidup adalah sebuah karunia sang Ilahi dimana didalam hidup ini banyak hal-hal yang dapat menambah gairah untuk hidup, salah satunya adalah seni dan budaya. Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Perusahaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan Pasca Perang Dunia II, industri kerajinan tangan dengan berbagai keunggulan seni dan budayanya menjadi perhatian serius dari berbagai negara. 10 Juni 1964,
BAB I. 2. Lokasi Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali.
BAB I 1. Judul Tema Pemberdayaan Tenun Rangrang sebagai Pendukung Pariwisata di Desa Suana, Nusa Penida, Klungkung 2. Lokasi Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. 3. Bidang
BAB III KONSEP PERANCANGAN A.
BAB III KONSEP PERANCANGAN A. Bagan Pemecahan Masalah Perancangan Motif teratai sebagai hiasan tepi kain lurik Sumber Ide teratai Identifikasi Masalah 1. Perancangan motif teratai sebagai hiasan tepi pada
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Batik di Indonesia bukan merupakan sesuatu yang baru. Secara historis, batik
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Batik di Indonesia bukan merupakan sesuatu yang baru. Secara historis, batik sudah dikenal sekitar abad ke-13, yang pada saat itu masih ditulis dan dilukis pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pariwisata merupakan salah satu jenis industri baru yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN. Dari segi peristilahan, kata potensi berasal dari bahasa Inggris to patent yang
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN A. Kajian Pustaka 1. Pengertian Potensi Dari segi peristilahan, kata potensi berasal dari bahasa Inggris to patent yang berarti keras, kuat. Dalam pemahaman
KRiYA TEKSTIL DAN BATIK 1 OLEH: TITY SOEGIARTY JURUSAN PENDIDIKAN SENI RUPA FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2009
KRiYA TEKSTIL DAN BATIK 1 OLEH: TITY SOEGIARTY JURUSAN PENDIDIKAN SENI RUPA FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2009 TEKNIK PEMBUATAN BATIK TULIS ALAT 1. GAWANGAN 2. KUAS
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari puluhan ribu pulau, salah satunya adalah Pulau Belitung. Belitung merupakan pulau kecil
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. penelitian dan siklus PTK sebagai berikut : Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor. Untuk pelajaran IPA sebagai
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Setting dalam penelitian ini meliputi 3 : langkah penelitian, waktu penelitian dan siklus PTK sebagai berikut : 1. Tempat penelitian Penelitian Tindakan
III. Kerajinan dari Daur Ulang A. Produk Kerajinan dari Kertas Daur Ulang Banyak hal yang dapat diciptakan dari kertas seni (handmade paper).
III. Kerajinan dari Daur Ulang A. Produk Kerajinan dari Kertas Daur Ulang Banyak hal yang dapat diciptakan dari kertas seni (handmade paper). Akan tetapi, pada dasarnya unsur kreativitas dan pengalaman
BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan dan keterampilan yang mewujud dalam bentuk keahlian tertentu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memiliki relevansi yang langsung dengan perkembangan pengetahuan dan keterampilan yang mewujud dalam bentuk keahlian tertentu yang bermanfaat bagi
1. Toko-toko gerabah dan kerajinan di Desa Kapal dan Desa Sempidi Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung.
Desa Kapal, Sebagai sentra Pemasaran Produk Gerabah di Bali. Kiriman: Drs. I Wayan Mudra, MSn., Dosen PS Kriya Seni ISI Denpasar. Tulisan ini adalah data awal penelitian Hibah Bersaing Tahun I Tahap 1
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Seni adalah karya cipta manusia yang memiliki nilai estetika dan artistik.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seni adalah karya cipta manusia yang memiliki nilai estetika dan artistik. Sepanjang sejarah, manusia tidak terlepas dari seni. Karena seni adalah salah satu
Kreativitas Busana Pengantin Agung Ningrat Buleleng Modifikasi
Kreativitas Busana Pengantin Agung Ningrat Buleleng Modifikasi Oleh: Nyoman Tri Ratih Aryaputri Mahasiswa Program Studi Seni Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia Denpasar Email: [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Seni rupa adalah salah satu dari cabang seni yang dapat dilihat dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seni rupa adalah salah satu dari cabang seni yang dapat dilihat dan dirasakan dengan rabaan. Seni rupa memiliki dua fungsi antara lain seni rupa murni (fine art) dan
BAB II KAJIAN PUSTAKA. Mata kuliah Kriya Tekstil dan Batik III ini merupakan mata kuliah lanjutan dari Kriya
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Mata Kuliah Kriya Tekstil dan Batik III Mata kuliah Kriya Tekstil dan Batik III ini merupakan mata kuliah lanjutan dari Kriya Tekstil dan Batik II. Mata kuliah Kriya Tekstil
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sofyan Alamhudi, 2014 Kajian Visual Celengan Gerabah Di Desa Arjawinangun Blok Posong Kabupaten Cirebon
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia sejak zaman dahulu selalu melakukan banyak hal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dari kebutuhan pokok hingga kepuasan batin. Banyak teori yang mengemukakan
BAB V KESIMPULAN. Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, kiranya. telah cukup menjawab berbagai permasalahan yang diajukan
305 BAB V KESIMPULAN Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, kiranya telah cukup menjawab berbagai permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini. Penjelasan yang terkait dengan keberadaan seni lukis
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Berkembangnya Islam di Nusantara tidak lepas dari faktor kemunduran
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Berkembangnya Islam di Nusantara tidak lepas dari faktor kemunduran kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia, sehingga kemudian jalur perdagangan berpindah tangan ke para
Fungsi Seni kerajinan Ukir Batu Padas Sukawati II. Oleh Drs. I Wayan Suardana, M.Sn
Fungsi Seni kerajinan Ukir Batu Padas Sukawati II Oleh Drs. I Wayan Suardana, M.Sn Pengaruh Kolektif Seni Kerajinan Batu Padas Seni kerajinan berkembang dan dilakukan melalui tradisi sosial suatu masyarakat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah Istimewa Yogyakarta atau DIY adalah kota kecil yang terletak di bagian selatan pulau Jawa, DIY merupakan provinsi yang berdasarkan wilayah Kasultanan Ngayogyakarta
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Bhineka Tunggal Ika
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak keanekaragaman budaya, mulai dari indahnya potensi alam, tempat wisata, sajian kuliner hingga peninggalan
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Seni kriya merupakan bagian dari kehidupan perajin sebagai perwujudan
149 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. KESIMPULAN Seni kriya merupakan bagian dari kehidupan perajin sebagai perwujudan imajinasi keindahan telah direspon positif oleh masyarakat sebagai apresiator dan
Maulana Achmadi, Lisna Pekerti, Rizky Musfiati, Siti Juwariyah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin
PKMK-2-9-2 PENYULUHAN DAN PELATIHAN PENGRAJIN KAIN SASIRANGAN DI KELURAHAN SEBERANG MESJID KECAMATAN BANJARMASIN TENGAH KOTA BANJARMASIN DALAM RANGKA PENINGKATAN MUTU DAN KUALITAS SASIRANGAN Maulana Achmadi,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pariwisata di Indonesia merupakan sektor ekonomi yang penting dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata di Indonesia merupakan sektor ekonomi yang penting dalam mendongkrak pendapatan di sektor usaha atau pendapatan daerah. Dunia pariwisata saat ini sudah mengalami
Panduan Wawancara. Indikator Pertanyaan
Indikator Pertanyaan Panduan Wawancara Knowledge (pengetahuan) 1. Mengapa anda tertarik terhadap pembuatan motif batik semarangan? 2. Dari mana anda mendapatkan ide tersebut? 3. Ikon-ikon kota Semarang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lanskap Budaya Menurut Simonds (2006), lanskap adalah suatu bentang alam yang memiliki karakteristik tertentu yang dapat dinikmati keberadaannya melalui seluruh indera yang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perkembangan disektor industri adalah salah satu sasaran pembangunan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan disektor industri adalah salah satu sasaran pembangunan dibidang ekonomi pada SDA dan SDM yang produktif, mandiri, maju dan berdaya saing. Karena dibidang
