BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak bisa diamati oleh pihak luar. Pada dasarnya perilaku adalah keseluruhan pemahaman dan aktivitas seseorang yang bersama antara faktor eksternal dan internal (Edberg, 2009). Perilaku manusia terbentuk karena kebutuhan biologis, sosial, dan rohani. Adanya dorongan atau motivasi, faktor perangsang, pengaruh sikap dan kepercayaan. Suatu perilaku tertentu dikondisikan melalui aplikasipenguatan positif dan negatif yang dikaitkan dengan perilaku. Penguatan dapat diberikan dalam interval berbeda atau terjadwal untuk memberi efek berbeda dalam memelihara perilaku, dan perilaku dapat dipelajari melalui pembentukan dengan menguatkan perkiraan perilaku yang semakin dekat dengan perilaku sebenarnya. Pada perilaku yang beragam itu, ada perilaku yang tidak menunjang kesehatan yaitu faktor penyebab masalah kesehatan (Edberg, 2009). Perilaku hidup sehat yang mencakup factor internal dan eksternal akan mempengaruhi standar hidup. Ada empat faktor yang mempengaruhi hidup sehat yaitu motivasi, kemampuan, persepsi dan kepribadian. Motivasi adalah suatu kekuatan yang mendorong orang berperilaku tertentu, kemampuan menunjukkan kapasitas seseorang, persepsi adalah bagaimana seseorang menafsirkan informasi secara seksama, sehingga perilakunya sesuai dengan yang diinginkan, sedangkan

2 kepribadian adalah karakteristik seseorang yang meliputi pengetahuan, sikap, keterampilan dan kemauan (Chiras, 1990). Contoh perilaku hidup bersih dan sehat ialah setiap buang air besar selalu menyiram dan membersihkan jamban serta mencuci tangan atau kaki dengan sabun sehabis menggunakan jamban. Perilaku masyarakat bisa berubah pada pola tertentu.menurut Mubarak (2012), Cara- cara berperilaku hidup bersih dan sehat terkait buang air besar (BAB) adalah : 1. Jangan Buang Air Besar (BAB) di sembarang tempat, karena kotoran atau tinja manusia yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan. biasakan buang air besar di jamban 2. Jamban/WC tidak boleh kotor, harus sering dibersihkan sehingga tidak menjadi sarang serangga penyebar penyakit seperti nyamuk, lalat, dan kecoa. 3. Selesai buang air besar harus disiram sampai jamban benar-benar bersih, lubang ditutup kembali agar tidak berbau dan tidak dimasuki kecoa 4. Setelah buang air besar, biasakan cuci tangan pakai sabun sampai bersih. Menurut Maulana (2009), perubahan sikap dan perilaku individu ada 3 cara yaitu : 1. Keterpaksaan (kepatuhan/compliance) Cara ini individu merubah perilakunya karena berharap imbalan, atau pengakuan dari kelompoknya dan terhindar dari hukuman serta tetap

3 terpelihara hubungan baik dengan yang menganjurkan perubahan perilaku itu. 2. Keinginan untuk meniru (identification) Cara ini individu merubah perilaku karena ingin disamakan dengan orang lain 3. Menghayati manfaatnya (internalization) Cara ini perubahan cukup mendasar, artinya menjadi bagian dari hidupnya, karena itu perubahan melalui cara ini umumnya lestari. 2.2 Pengertian Jamban Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya (Proverawati, 2012). Menurut Chandra (2006), Jamban sangat berguna bagi manusia dan merupakan bagian dari kehidupan manusia karena jamban dapat mencegah berkembangbiaknya berbagai penyakit yang disebabkan oleh kotoran manusia yang tidak dikelola dengan baik. Sebaliknya jika pembuangan tinja tidak baik sembarangan dapat mengakibatkan kontaminasi pada air, tanah atau menjadi sumber infeksi dan akan mendatangkan bahaya bagi kesehatan karena penyakit yang tergolong waterborn disease seperti diare, kolera dan kulit akan mudah berjangkit.

4 Pembuangan tinja merupakan salah satu upaya kesehatan lingkungan yang harus memenuhi sanitasi dasar bagi setiap keluarga. Ekskreta manusia merupakan salah satu penyebab terjadinya pencemaran lingkungan. Berbagai cara telah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut agar tidak menjadi ancaman bagi kesehatan lingkungan (Chandra, 2006). 2.3 Fungsi dan Manfaat Jamban Keluarga Jamban berfungsi sebagai pengisolasi tinja dari lingkungan. Jamban yang baik dan memenuhi syarat kesehatan menggunakan sistem saluran air (water carriage system) dan pengolahan limbah (sewage treatment) yang merupakan perwujudan persyaratan sanitasi yang harus dipenuhi dalam pembuangan tinja. Persyaratan sanitasi tersebut, antara lain : 1. Tinja tidak mengotori permukaan tanah. 2. Tinja tidak mencemari air tanah 3. Tinja tidak mengotori air permukaan 4. Kotoran tidak boleh terbuka agar tidak dapat dicapai lalat atau binatang 5. Tinja tidak menyebarkan bau busuk dan mengganggu estetika 6. Penerapan teknologi tepat guna : a. Penggunaan mudah b. Konstruksi murah c. Pemeliharaan mudah (Chandra, 2006).

5 2.4 Jenis-jenis Jamban Menurut Mubarak (2009), Beberapa macam tempat pembuangan kotoran (Jamban) dan cara pembuatannya adalah : 1. Jamban Cemplung Bentuk jamban ini adalah yang paling sederhana yang dapat dianjurkan kepada masyarakat. Nama ini digunakan karena bila orang mempergunakan jamban macam ini. Maka kotorannya langsung masuk jatuh ke dalam tempat penampungan. Kotoran yang dalam bahasa jawa nyemplung. Jamban cemplung ini hanya terdiri atas sebuah galian yang diatasnya diberi lantai dan tempat jongkok. Lantai kakus ini dapat dibuat dari bambu atau kayu, tapi dapat juga dari pasangan batu bata atau beton. Agar tidak menjadi sarang dan makanan serangga penyebar penyakit. Jamban semacam ini masih menimbulkan gangguan karena baunya. 2. Jamban Plengsengan Plengsengan juga berasal dari bahasa Jawa melengseng yang berarti miring. Nama ini digunakan karena dari lubang tempat jongkok ke tempat penampungan kotoran di hubungkan oleh suatu saluran yang miring. Jadi, tempat jongkok dari jamban ini tidak dibuat persis diatas tempat penampungan, tetapi agak jauh. Jamban semacam ini sedikit lebih baik dan menguntungkan dari pada kakus cemplung, karena baunya agak berkurang dan keamanan bagi pemakai lebih terjamin. Seperti halnya jamban cemplung, maka cemplung dari tempat jongkok harus dibuatkan tutup.

6 3. Jamban Bor Dinamakan demikian karena tempat penampungan kotorannya dibuat dengan mempergunakan bor. Bor yang dipergunakan adalah bor tangan yang disebut bor auger dengan diameter antara cm. sudah tentu lubang yang dibuat harus jauh lebih dalam dibandingkan dengan lubang yang digali seperti pada jamban cemplung dan jamban plengsengan, karena diameter jamban bor jauh lebih kecil. Jamban bor mempunyai keuntungan bau yang ditimbulkan sangat berkurang. Akan tetapi, kerugian jamban bor adalah perembesan kotoran akan lebih jauh dan mengotori air tanah. Jamban bor tidak dapat dibuat di daerah atau tempat yang tanahnya banyak mengandung batu. 4. Jamban Angsatrine (Water Seal Latrine) Jamban ini dibawah tempat jongkoknya ditempatkan atau dipasang suatu alat yang berbentuk seperti leher angsa yang disebut bowl. Bowl ini berfungsi mencegah timbulnya bau. Kotoran yang berada ditempat penampungan tidak tercium baunya. Karena terhalang oleh air yang selalu terdapat dalam bagian yang melengkung. Dengan demikian dapat mencegah hubungan lalat dengan kotoran. Karena dapat mencegah gangguan lalat dan bau, maka memberikan kemungkinan untuk dibuat didalam rumah. Agar dapat terjaga kebersihannya, maka pada jamban semacam ini harus cukup tersedia air.

7 5. Jamban diatas Balong (Empang) Membuat jamban diatas balong (yang kotorannya dialirkan ke balong) adalah cara pembuangan kotoran yang tidak dianjurkan, tetapi sulit untuk menghilangkannya, terutama di daerah yang terdapat banyak balong. Sebelum kita berhasil mengalihkan kebiasaan tersebut kepada kebiasaan yang di harapkan, dapatlah cara tersebut diteruskan dengan memberikan persyaratan tertentu, antara lain: Air dari balong itu jangan dipergunakan untuk mandi; Balong tersebut tidak boleh kering; Balong hendaknya cukup luas; Letak kakus harus sedemikian rupa, sehingga kotoran selalu jatuh di air Ikan dari balong tersebut jangan di makan; Aman dalam pemakaiannya Tidak terdapat sumber air minum yang terletak dibah balong tersebut atau yang sejajar dengan jarak 15 meter; Tidak terdapat tanam-tanaman yang tumbuh di atas permukaan air 6. Jamban Septic Tank Septic Tank berasal dari kata septic, yang berarti pembusukan secara anaerobic. Kita pergunakan nama septik tank karena dalam pembuangan kotoran terjadi proses pembusukan oleh kuman-kuman pembusuk yang sifatnya anaerob. Septictank bisa terjadi dari dua bak atau lebih serta dapat pula terdiri atas satu bak saja dengan mengatur sedemikian rupa (misalnya

8 dengan memasang beberapa sekat atau tembok penghalang), sehingga dapat memperlambat pengaliran air kotor di dalam bak tersebut. Di dalam bak bagian pertama akan terdapat proses penghancuran, pembusukan, dan pengendapan. Di dalam bak terdapat tiga macam lapisan : a. Lapisan yang terapung, yang terdiri atas kotoran-kotoran padat b. Lapisan cair c. Lapisan endap (lumpur) Menurut Proverawati (2012), cara memilih jenis jamban yang baik adalah : 1. Jamban cemplung digunakan untuk daerah yang sulit air 2. Jamban tangki septik/leher angsa digunakan untuk : a. Daerah yang cukup air b. Daerah yang padat penduduk, karena dapat menggunakan multiplelatrine yaitu satu lubang penampungan tinja/tangki septik digunakan oleh beberapa jamban (suatu lubang dapat menampung kotoran/tinja dari 3-5 jamban). c. Daerah pasang surut, tempat penampungan kotoran/tinja hendaknya ditinggikan kurang lebih 60 cm dari permukaan air pasang. 2.5 Persyaratan Jamban Sehat Syarat Jamban Sehat Jamban keluarga sehat adalah jamban yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut (Depkes RI, 2008 dalam Tarigan) :

9 1. Tidak mencemari sumber air minum, letak lubang penampung berjarak meter dari sumber air minum. 2. Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga maupun tikus 3. Cukup luas dan lantai miring ke arah lubang jongkok sehingga tidak mencemari tanah disekitarnya. 4. Mudah dibersihkan dan aman penggunaannya 5. Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna 6. Cukup penerangan 7. Lantai kedap air 8. Ventilasi cukup baik 9. Tersedia air dan alat pembersih Menurut Proverawati (2012), syarat jamban sehat adalah : 1. Tidak mencemari sumber air minum (jarak antara sumber air minum dengan lubang penampungan minimal 10 meter) 2. Tidak berbau 3. Kotoran tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus 4. Tidak mencemari tanah sekitarnya 5. Mudah dibersihkan dan aman digunakan 6. Dilengkapi dinding dan atap pelindung 7. Penerangan dan ventilasi yang cukup 8. Lantai kedap air dan luas ruangan memadai 9. Tersedia air, sabun, dan alat pembersih.

10 Bila ditinjau dari konstruksinya menurut Simanjuntak 1999, jamban harus dilengkapi 8 komponen yaitu: a. Rumah kakus Melihat fungsinya sebagai pelindung pemakai, maka rumah kakus sebaiknya terlindung dari pandangan orang, gangguan cuaca dan keamanan b. Lantai kakus Fungsinya sebagai sarana penahan atau tempat pemakai yang sifatnya harus baik, kuat dan mudah dibersihkan serta tidak menyerap air. Pada dasarnya menyangkut konstruksi serta bahan buatannya. c. Tempat Duduk Melihat fungsi tempat duduk kakus merupakan tempat penampungan tinja maka kondisinya harus memenuhi konstruksi yang kuat dan mudah dibersihkan juga bisa mengisolir rumah kakus jadi tempat pembuangan tinja, serta berbentuk leher angsa atau memakai tutup yang mudah diangkat. d. Kecukupan Air Bersih Untuk menjaga keindahan jamban dari pandangan estetika, jamban hendaklah disiram air minimal 4-5 gayung sampai kotoran tidak mengapung di lubang jamban atau closet. Tujuannya menghindari penyebaran penyebaran bau tinja dan menjaga kondisi jamban tetap bersih, selain itu kotoran tidak dihinggapi serangga sehingga

11 mencegah penyakit menular. Air bersih ada di bak penampungan dalam kakus. e. Tersedia Alat Pembersih Alat pembersih adalah bahan yang ada di rumah kakus didekat jamban. Jenis alat pembersih ini yaitu sikat, bros, sapu, tissu dan lainnya. Tujuan alat pembersih ini agar jamban tetap bersih setelah jamban disiram air. Pembersihan dilakukan minimal 2-3 hari sekali meliputi kebersihan lantai agar tidak berlumut, tempat jongkok tidak licin, dan lubang tempat penampungan tinja bersih. f. Tempat Penampungan Tinja Penampungan tinja yaitu lubang isolasi serta tempat proses penguraian tinja dan stabilisasi serta menurut sifatnya bisa berbentuk lubang tanah atau tangki dalam berbagai modifikasi. g. Septic Tank Septic Tank ini merupakan cara yang paling memenuhi persyaratan. Septic merupakan cara yang memuaskan dalam pembuangan tinja untuk sekelompok kecil rumah tangga dan lembaga yang memiliki persediaan air yang mencukupi, tetapi tidak memiliki hubungan dengan sistem penyaluran limbah masyarakat. Desain utama dari septik tank (Chandra,2006), antara lain : 1. Kapasitas septik tank bergantung pada jumlah pemakai. Kapasitas galon/orang dianjurkan untuk penggunaan rumah tangga. Kapasitas untuk rumah tangga itu tidak berlaku

12 untuk septik tank yang ditujukan untuk kepentingan umum (kapasitas minimal 50 galon/orang). 2. Ukuran panjang biasanya 2 kali lebar 3. Kedalaman lubang antara 1,5-2 meter 4. Kedalaman cairan dianjurkan hanya 1,2 m 5. Ruangan udara minimal 30 cm diantara titik tertinggi cairan di dalam tank dengan permukaan bawah penutup 6. Dasar dibuat miring kearah lubang pengeluaran 7. Memiliki lubang air masuk dan keluar, terdapat pipa masuk dan keluar 8. Pelapis septik tank terbuat dari papan yang kuat dengan tebal yang sama 9. Periode retensi septik tank dirancang selama 24 jam. h. SumurResapan Sumur resapan merupakan sumur tempat menampung air limbah yang telah mengalami pengolahan dalam sistem lain, misalnya dari aqua privy atau septic tank. Dengan cara ini, air hanya tinggal mengalami peresapan ke dalam tanah. Sumur resapan ini dibuat pada tanah. Sumur resapan ini dibuat pada tanah yang porous, dengan diameter 1-2,5 dan kedalaman 2,5 m. Lama pemakaian dapat mencapai sekitar 6-10 tahun (Chandra, 2006).

13 2.5.2 Pemeliharaan Jamban Jamban hendaknya selalu dijaga dan dipelihara dengan baik. Adapun cara pemeliharaan yang baik menurut Depkes RI 2004 dalam Tarigan adalah sebagai berikut : 1. Lantai jamban hendaknya selalu bersih dan kering 2. Disekeliling jamban tidak ada genangan air 3. Tidak ada sampah berserakan 4. Rumah jamban dalam keadaan baik 5. Lantai selalu bersih dan tidak ada kotoran yang terlihat 6. Lalat, tikus, dan kecoa tidak ada 7. Tersedia alat pembersih 8. Bila ada yang rusak segera diperbaiki Menurut Depkes RI 2008 dalam Tarigan, dalam menjaga jamban tetap sehat dan bersih kegiatan keluarga yang dapat dilakukan adalah : 1. Bersihkan dinding, lantai dan pintu ruang jamban secara teratur 2. Bersihkan jamban secara rutin 3. Cuci dan bersihkan tempat duduk (jika ada) dengan menggunakan sabun dan air bersih 4. Perbaiki setiap celah, retak pada dinding, lantai dan pintu 5. Jangan membuang sampah dilantai 6. Selalu sediakan sabun untuk mencuci tangan 7. Yakinkan bahwa ruangan jamban ada ventilasinya 8. Tutup lubang ventilasi jamban dengan kasa anti lalat

14 9. Beritahukan pada ank-anak cara menggunakan jamban yang benar 10. Cucilah tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir setelah menggunakan jamban. Selain itu ditambahkan juga pemeliharaan jamban keluarga dapat dilakukan dengan : 1. Air selalu tersedia dalam bak ataupun ember 2. Sehabis digunakan, lantai dan lubang jongkok harus disiram bersih agar tidak bau dan mengundang lalat 3. Lantai jamban diusahakan selalu bersih dan tidak licin, sehingga tidak membahayakan pemakai 4. Tidak memasukkan bahan kimia dan detergen pada lubang jamban 5. Tidak ada aliran masuk kedalam lubang jamban selain untuk membilas tinja. Dalam penentuan letak kakus ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu jarak terhadap sumber air dan kakus. Penentuan jarak tergantung pada : 1. Keadaan daerah datar atau lereng; 2. Keadaan permukaan air tanah dangkal atau dalam; 3. Sifat, macam dan susunan tanah berpori atau padat, pasir, tanah liat atau kapur. Faktor tersebut di atas merupakan faktor yang mempengaruhi daya peresapan tanah. Di Indonesia pada umumnya jarak yang berlaku antara sumber air dan lokasi jamban berkisar antara 8 s/d 15 meter atau rata-rata 10 meter. Dalam penentuan letak jamban ada tiga hal yang perlu diperhatikan :

15 1. Bila daerahnya berlereng, kakus atau jamban harus dibuat di sebelah bawahdari letak sumber air. Andaikata tidak mungkin dan terpaksa diatasnya, makajarak tidak boleh kurang dari 15 meter dan letak harus agak ke kanan ataukekiri dari letak sumur. 2. Bila daerahnya datar, kakus sedapat mungkin harus di luar lokasi yang seringdigenangi banjir. Andaikata tidak mungkin, maka hendaknya lantai jamban(diatas lobang) dibuat lebih tinggidari permukaan air yang tertinggi padawaktu banjir. 3. Mudah dan tidaknya memperoleh air (Proverawati, 2012). 2.6 Jamban Keluarga Di Pedesaan Jamban keluarga merupakan bagian dari rumah yang sangat penting baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Bedanya dipedesaan umumnya masih tersedia lahan yang cukup luas dan beberapa kondisi tertentu di pedesaan sulit diperoleh air yang cukup (Sarudji, 2010). Banyak macam jamban yang digunakan tetapi jamban pedesaan di Indonesia pada dasarnya digolongkan menjadi 2 macam yaitu : 1. Jamban tanpa leher angsa, Jamban bermacam cara pembuangan kotorannya. a. Jamban cubluk, bila kotoran dibuang ke tanah b. Jamban empang, bila kotoran dialirkan keempang atau kolam. 2. Jamban dengan Leher Angsa. Jamban ini mempunyai 2 cara : a. Tempat jongkok dan leher angsa atau pemasangan slab dan bowl langsung diatas lubang galian penampungan kotoran.

16 b. Tempat jongkok dan leher angsa tidak berada langsung diatas lubang galian penampungan kotoran atau pemasangan slab dan bowl tapi dibangun terpisah dan dihubungkan oleh satu saluran yang miring kedalam lubang galian penampungan kotoran (Warsito, 1996). 2.7 Tinja dan Kesehatan Dalam kehidupan setiap makhluk selalu membuang bahan yang tidak diperlukan atau ekskreta. Tinja adalah bahan buangan yang dikeluarkan oleh tubuh yaitu sekitar 27 gram berat kering per orang per hari, atau dengan rerata 150 gram berat basah per orang per hari. Tinja sangat mengganggu kehidupan manusia sendiri karena beberapa hal sebagai berikut : 1. Bau busuk yang menimbulkan tidak sedapnya / terganggunya estetika; 2. Adanya bau busuk tadi menimbulkan rangsangan berdatangannya lalat yang juga berperan sebagai vector penyakit; 3. Tinja merupakan sumber beberapa penyakit tertentu, terutama penyakit yang berbasis saluran alat cerna seperti Typhus abdominalis, para typhus, Cholera, Dysenteri, Hepatitis A, Poliomyelitis dan berbagai parasit usu. 4. Tinja mencemari tanah dan air. Bila hal ini terjadi maka air yang merupakan vehicle dalam proses penularan penyakit akan menunjukkan perannya apabila air tanah yang menjadi sumber air minum terkontaminasi oleh tinja yang mengandung pathogen; 5. Pencemaran terhadap air atau tanah yang akan mempengaruhi ekosistem air karena tinja merupakan bahan yang mengandung bahan

17 organic tinggi, yang diperlukan oleh bakteri saprofitik. Hasil penguraian tinja akan mempengaruhi kesuburan badan air, sehingga berpengaruh terdadap ledakan air populasi biota air; 6. Baik tidaknya teknik pengelolaan tinja akan berpengaruh terhadap nilai budaya suatu masyarakat. Masyarakat dengan pembuangan tinja di sungai atau tempat terbuka lainnya merupakan cermin betapa masih rendahnya kesadaran dan pengetahuan mereka tentang nilai estetika dan budaya hidup sehat (Sarudji, 2010) Pengaruh Tinja Bagi Kesehatan Manusia Kualitas tinja seseorang dipengaruhi oleh keadaan setempat, selain faktor fisiologis, juga budaya dan kepercayaan. Ada perbedaan dari isi tinja yang dihasilkan oleh berbagai kalangan masyarakat. Isi dan komposisi tinja tergantung dari beberapa faktor yaitu diet, iklim, dan status kesehatan ( Sukarni, 1994). Tinja manusia ialah buangan padat yang kotor dan bau juga media penularan penyakit bagi masyarakat. Kotoran manusia mengandung organisme pathogen yang dibawa air, makanan, lalat menjadi penyakit seperti : salmonella, vibriokolera, amuba, virus, cacing, disentri, poliomyetes, ascariasis, dll. Kotoran mengandung agen penyebab infeksi masuk saluran pencernaan (Warsito, 1996) Jenis-Jenis Penyakit yang berhubungan dengan Tinja Penyakit yang dapat berhubungan dengan tinja adalah penyakit-penyakit yang penyebab dan bibit penyakit bisa terdapat didalam tinja tersebut seperti : Vibrio Cholera, Amuba, Calmonella, Virus, Infestasi cacing, serta bahan beracun.

18 Tabel 2.1. Penyakit Yang Ditularkan Oleh Tinja Agen Penyebab Penyakit Penyakit Virus Rotavirus Virus Hepatitis A Bakteri Diare pada anak Hepatitis A Vibrio Cholera Salmonella Salmonella typhi Shigella dysenteriae Ascaris Lumbricoides Entamoeba histolytica Parasit Cholera Diare/disentri Typoid Fever Shigellosis Askariasis Disentri amoebawi Jenis - jenis penyakit diatas termasuk jenis penyakit yang tergolong penyakit saluran pencernaan makanan atau termasuk juga waterborne disease yang erat hubungannya dengan manusia dan air yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain ( Soedarto, 2013) Peranan Tinja Dalam Mata Rantai Penularan Penyakit Kotoran manusia (Tinja dan Urine) dapat mengandung bermacam organisme yang pathogen, yang dapat dibawa oleh air, makanan, lalat/serangga, yang menjadi saran transmisi kepada orang yang dapat menimbulkan penyakit bagi orang yang peka atau lemah daya tahan tubuhnya. Tinja merupakan hasil dari buangan atau sisa dari proses metabolisme manusia atau binatang, sehingga tinja dapat mengandung berbagai macam organisme yang pathogen atau yang non pathogen.

19 Mikroorganisme yang terdapat dalam tinja akan dapat menyebar atau disebarkan melalui berbagai cara : a. Melalui Kontak Langsung Hal ini dapat terjadi apabila seseorang sesudah mencuci kotoran dengan tangan, bila tidak dicuci bersih dapat berpindah kepada makanan atau minuman yang dipegangnya yang kemudian dimakan. b. Kontak Tak Langsung Melalui Air Melalui serangga dan tikus. Serangga seperti lalat, kecoa, tikus dapat memindahkan mikroorganisme dari tinja kepada makanan dan minuman yang akan dimakan (tercemar) akan dapat membahayakan kesehatan orang lain. Melalui Lingkungan lainnya seperti tumbuh-tumbuhan yang terkontak dengan tinja misalnya sayur-sayuran yang dipupuk dengan tinja manusia. Melihat kemungkinan tersebut maka tinja dapat mempunyai peranan yang berbahaya bagi kesehatan manusia apabila pembuangan tinja tidak dilakukan dengan cara yang sebaik-baiknya. Usaha utama yang dapat dilakukan adalah mengadakan lokalisasi serta isolasi terhadap tinja serta pengolahannya melalui sarana pembuangan tinja yang memenuhi syarat kesehatan, penularan penyakit diare dapat terjadi secara orafecal, yaitu melalui makanan, minuman, dan muntah yang tercemar oleh kuman. Penularan ini berlangsung apabila terjadi interaksi antara agent, penyebab, reservoir atau sumber infeksi dari agent penyebab.

20 Terjadinya penyakit dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berkaitan antara satu dengan lainnya seperti : keadaan sanitasi lingkungan, keadaan gizi, keadaan sosial ekonomi, keadaan sosial budaya, kepadatan penduduk, Higiene perorangan, perilaku masyarakat, pelayanan kesehatan dan lain sebagainya. AIR Sembuh Tinja Sumber infeksi TANAH ARTHOPODA MAKANAN Penjamu Baru Carier TANAH Mati (sumber : Machfoedz, 2008) Telah diketahui bahwa penyakit ditularkan melalui makanan dan minuman. Makanan dan minuman dapat merupakan sumber penularan apabila dicemari oleh tinja manusia. Kesakitan terjadi karena seseorang yang rentan memakan makanan yang terkontaminasi oleh tinja, pada prinsipnya kejadian penyakityang digambarkan sebagai segitiga epidemiologi menggambarkan hubungan tiga komponen penyebab penyakit yaitu penjamu, agen, dan lingkungan.

21 Host Agent Environment Gambar 2.1 Paradigma Host, Agent, Environment Sumber : Tulchinsky dkk, 2009 Menurut Depkes RI (2004) dalam Tarigan, jalur penularan penyakit dari tinja atau kotoran manusia sebagai sumber penyakit melalui mulut sehingga menjadi sakit dapat digambarkan sebagai berikut : 1. Tinja atau kotoran manusia mengandung agent penyakit sebagai sumber penularan bila pembuangannya tidak aman maka dapat mencemari tangan,air, tanah, atau dapat menempel pada lalat dan serangga lainnya yang menghinggapinya. 2. Air yang tercemar tinja dapat mencemari makanan yang selanjutnya makanan tersebut dimakan oleh manusia atau air yang tercemar diminum oleh manusia. 3. Tinja dapat mencemari tangan atau jari-jari manusia selanjutnya dapat mencemari makanan pada waktu memasak atau menyiapkan makanan, demikian juga yang telah tercemar dapat langsung kontak dengan mulut

22 4. Tinja secara langsung dapat mencemari makanan yang kemudian makanan tersebut dimakan oleh manusia, melalui lalat/serangga kuman penyakit dapat mencemari makanan yang kemudian dimakan oleh manusia. 5. Melalui lalat atau serangga lainnya kuman penyakit dapat mencemari makanan sewaktu hinggap dimakanan yang kemudian dimakan oleh manusia. 6. Tinja juga dapat mencemari tanah sebagai akibat tidak baiknya sarana pembuangan tinja atau membuang tinja disembarang tempat dimana tanah tersebut selanjutnya dapat mencemari makanan atau kontak langsung dengan mulut manusia. 2.8 Faktor Yang Berhubungan dengan Penggunaan Jamban Menurut Lawrence Green perilaku dapatdipengaruhi oleh 3 faktor utama yakni : 1. Faktor predisposisi Faktor yang yang berasal dari diri seseorang, antara lain ini mencakup pengetahuan masyarakat, sikap, keyakinan, kebiasaan, dan sebagainya. 2. Faktor pemungkin/pendorong Faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang, antara lain ini mencakup dalam lingkungan fisik atau fasilitas kesehatan misalnya kecukupan air bersih, sanitasi dasar dan sebagainya. 3. Faktor penguat Faktor yang memungkinkan atau memfasilitasi perilaku atau tindakan mencakup keahlian, sumber daya, dan hambatan yang membantu atau

23 mencegah perilaku yang diinginkan misalnya peran penyuluh kesehatan (Edberg, 2009) Faktor Predisposisi Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu,yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan merupakan pedoman dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Pengetahuan yang tercakup dalam dominan kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu : 1. Tahu (Know) berarti ingat materidipelajari sebelumnya secara benar 2. Memahami (Comprehension) artinya mampu menjelaskan objek yang diketahui dan bisa menginterpretasikan materi dengan benar. 3. Analisis (Aplication) berarti mampu memakai materi yang dipelajari dari situasi sebenarnya. 4. Analisis (Analysis) berarti mampu menjabarkan materi pada komponen, tetapi dalam struktur organisasi yang masih berkaitan 5. Sintesis (Sinthesis) berarti mampu menghubungkan bagian dalam bentuk keseluruhan yang baru 6. Evaluasi (Evaluation) berarti mampu menilai materi (Maulana, 2009).

24 Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden. Menurut Mubarak (2009) faktor-faktor yang mempenaruhi pengetahuan seseorang antara lain : 1. Pendidikan, pendidikan berarti bimbingan yang di berikan seseorang pada orang lain terhadap sesuatuhal yang mereka dapat pahami. Semakin tinggi pendikan seseorang semakin mudah pula mereka menerima informasi, dan pada akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. 2. Pekerja, lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengatahuan baik secara langsung maupun tidak langsung. 3. Umur, dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada aspek pada fisik dan psikologi (mental) yang semakin matang dan dewasa. 4. Minat, Minat seseorang menjadikan seseorang untuk mencoba atau menekuni suatu hal dan akhirnya diperoleh pengetahuan yang lebih mendalam. 5. Pengalaman, jika pengalaman obyek menyenangkan maka secara psikologis akan timbul sikap positif dalam kehidupannya. 6. Kebudayaan lingkungan sekitar, kebudayaan dimana kita hidup mempengaruhi terhadap perubahan sikap kita. 7. Informasi, kemudahan memperoleh suatu informasi akan membantu mempercepat seseorang memperoleh pengetahuan yang baru. Dari hasil penelitian terkait penggunaan jamban di Kecamatan kabanjahe didapatkan hasil uji dimana dari 28 responden yang berpengetahuan tinggi ada 28 orang (100,0%) berpartisipasi baik, sedangkan dari 14 responden berpengetahuan

25 rendah ada 9 orang (28,1%) berpartisipasi buruk, terlihat bahwa pengetahuan tinggi membuat persentase partisipasi keluarga lebih besar dibandingkan responden yang berpengetahuan rendah dan dapat disimpulkan bahwa ada hubungan bermakna antara pengetahuan dengan partisipasi keluarga dalam penggunaan jamban ( Tarigan, 2008) Sikap Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan. Sikap merupakan kecendrungan yang berasal dari dalam diri individu untuk berkelakuan dengan pola-pola tertentu, terhadap suatu objek akibat pendirian dan perasaan terhadap objek tersebut (Maulana, 2009). Sikap terdiri dari berbagai tingkatan yaitu : 1. Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). 2. Merespon ( responding) Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.

26 3. Menghargai (valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. 4. Bertanggung jawab (responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi. Pengukuran sikap dapat secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek (Maulana, 2009). Dalam penelitian Pane (2009), didapatkan hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara sikap ibu terhadap jamban dengan perilaku keluarga terhadap penggunaan jamban artinya, ibu yang bersikap positif terhadap jamban mempunyai peluang untuk menggunakan jamban 8,5 kali dibanding ibu yang bersikap negatif terhadap jamban. Kepala Keluarga (KK) terhadap jamban juga mempunyai hubungan dengan ketidakmauan keluarga menggunakan jamban, dimana KK yang memiliki sikap positif lebih banyak mau menggunakan jamban (57,85%) dibandingkan yang tidak menggunakan (37,98%) Kebiasaan Masyarakat Kebiasaan itu timbul karena proses penyusutan kecenderungan respons dengan menggunakan stimulasi yang berulang-ulang. Karena proses penyusutan/pengurangan inilah, muncul suatu pola bertingkah laku baru yang relative menetap dan otomatis (Sumantri, 2010).

27 Mengubah kebiasaan adalah sebuah hal yang terlihat sepele, tetapi amat sulit jika ingin kita lakukan terutama ketika sebuah kebiasaan telah berganti menjadi sebuah kenyamanan, tentunya kita akan merasa ganjil jika kebiasaan kita tersebut tidak kita laksanakan. Kebiasaan pada masyarakat misalnya buang air besar di sungai itu dianggap normal atau dapat diterima secara social budaya. Dengan demikian hygiene lingkungan sangat ditentukan oleh norma atau kebiasaan masyarakat (Slamet, 2002). Berdasarkan hasil penelitian diketahui sebanyak 69 responden (71,9%) menyatakan tidak selalu menggunakan jamban sebagai tempat membuang hajat dan 27 responden (28,1%) menggunakan jamban sebagai tempat membuang hajat. Responden yang menyatakan tidak menggunakan jamban sebagai tempat membuang hajat, responden memanfaatkan sungai yang berada tepat dibelakang rumahnya sebagai tempat membuang hajat di sungai adalah suatu kebiasaan yang telah mendarah daging pada masyarakat Desa Gunung Tua (Ain, 2014) Faktor Pemungkin Kecukupan Air Bersih Hygiene tidak mungkin dapat dipenuhi tanpa air bersih yang cukup dan aman. Cukup tidaknya air bersih pada tingkat rumah tangga ditentukan juga oleh keterjangkauan sumber air oleh anggota rumah tangga. Tempat pengambilan air yang jauh dan sulit terjangkau menyebabkan pemakaian air bersih dalam rumah tangga tidak cukup dan berdampak pada kebersihan dan kesehatan (Purwana, 2013).

28 Air juga mempengaruhi penggunaan jamban seseorang. Sudah sejak lama masyarakat menggunakan air sebagai penggelontor buangan. Dapat diperkirakan andaikata air untuk keperluan ini dikurangi maka jumlah penderita penyakit pasti akan meningkat dan angka harapan hidup akan menurun (Slamet, 2002). Tempat yang kesulitan air, akan susah untuk menggunakan jamban dengan baik. Untuk menjaga keindahan jamban dari pandangan estetika, jamban hendaknya disiram air minimal 4-5 gayung sampai kotoran tidak mengapung di lubang jamban atau closet. Tujuannya menghindari penyebaran bau tinja dan menjaga kondisi jamban tetap bersih, selain itu kotoran tidak dihinggapi serangga, sehingga mencegah penularan penyakit. Air bersih yang tersedia sebaiknya berada didalam rumah kakus (Simanjuntak, 1999) Sanitasi Jamban Sanitasi jamban keluarga adalah bagian dari usaha sanitasi yang cukup penting perananya khususnya dalam usaha pencegahan penyakit saluran pencernaan.ditinjau dari sudut kesehatan lingkungan, maka pembuangan tinja yang tidak saniter akan dapat mencemari lingkungan, terutama dalam mencemari tanah dan air, serta dapat menurunkan kenyamanan dalam penggunaan jamban. Adapun Jamban keluarga sehat adalah jamban yang memenuhi syaratsyarat sebagai berikut : (Depkes RI, 2008 dalam Tarigan). 1. Tidak mencemari sumber air minum, letak lubang penampung berjarak meter dari sumber air minum. 2. Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga maupun tikus

29 3. Cukup luas dan lantai miring ke arah lubang jongkok sehingga tidak mencemari tanah disekitarnya. 4. Mudah dibersihkan dan aman penggunaannya 5. Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna 6. Cukup penerangan 7. Lantai kedap air 8. Ventilasi cukup baik 9. Tersedia air dan alat pembersih Dalam penelitian Yani (2011), juga didapati hasil penelitian bahwa sebagian besar kondisi jamban responden berada pada kategori buruk yaitu sebanyak 48 responden (33,1%) dan paling sedikit berada dalam kategori baik yaitu sebanyak 36 responden (24,8%) dan menyebutkan bahwa kondisi jamban mempunyai pengaruh terhadap perilaku BAB. Karena kondisi jamban yang baik akan memberikan kenyamanan bagi sipemakai dan sebaliknya jika kondisi jamban kurang baik memungkinkan sipemakai merasa kurang nyaman untuk menggunakannya dan hal tersebut akan mempengaruhi perilaku BAB Faktor Penguat Peran penyuluh kesehatan Untuk berperilaku sehat, masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif dan dukungan fasilitas saja, melainkan perilaku contoh atau acuan dari pada tokoh para petugas kesehatan. Disamping itu undangundang juga diperlukan untuk memperkuat perilaku masyarakat tersebut dalam menerapkan buang air besar di jamban yang sehat, bisa saja masyarakat yang

30 tidak menggunakan jamban sebagai tempat buang air besar disebabkan oleh ketidaktahuan dampak dari buang air besar sembarangan, yang merupakan tugas dari penyuluh kesehatan (Edberg, 2009). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hutasoit (2003), didapatkan hasil penelitian di mana yang mendapat penyuluhan sebanyak 59 KK (65,6%) yang tidak mendengar sebanyak 31 KK (34,4%). Artinya secara tidak langsung apabila dilaksanakannya penyuluhan kesehatan di suatu daerah akan mempengaruhi pengetahuan,sikap, dan kebiasaan masyarakat terhadap kesehatan, dari data tersebut dijelaskan bahwa secara tidak langsung responden yang tidak mendengar termotivasi melaksanakan karena diajak/diarahkan oleh responden yang mendapat atau mendengar penyuluhan, sehingga responden yang termotivasi pun meningkat pula hingga 97,8 %. 2.9 Kerangka Konsep Faktor Predisposisi - Pengetahuan - Sikap - Kebiasaan masyarakat Faktor Pemungkin - Kecukupan Air Bersih - Sanitasi jamban keluarga Penggunaan Jamban Faktor Penguat - Peran penyuluh kesehatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. secara langsung maupun tidak langsung oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2007).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. secara langsung maupun tidak langsung oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2007). BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perilaku 2.1.1. Batasan Perilaku Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) yang mempunyai cakupan luas antara lain: berbicara,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi semua manusia

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi semua manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi semua manusia karena tanpa kesehatan yang baik, maka setiap manusia akan sulit dalam melaksanakan aktivitasnya sehari-hari.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran sehingga kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab

Lebih terperinci

JAMBAN SISTEM LEHER ANGSA

JAMBAN SISTEM LEHER ANGSA JAMBAN SISTEM LEHER ANGSA 1. PENDAHULUAN Jamban atau kakus merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pembuatan jamban merupakan usaha manusia untuk memelihara kesehatan dengan membuat lingkungan tempat

Lebih terperinci

KAKUS/JAMBAN SISTEM CEMPLUNG ATAU GALIAN

KAKUS/JAMBAN SISTEM CEMPLUNG ATAU GALIAN KAKUS/JAMBAN SISTEM CEMPLUNG ATAU GALIAN 1. PENDAHULUAN Jamban atau kakus merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pembuatan jamban merupakan usaha manusia untuk memelihara kesehatan dengan membuat

Lebih terperinci

PEMBUATAN JAMBAN KELUARGA

PEMBUATAN JAMBAN KELUARGA MODUL: PEMBUATAN JAMBAN KELUARGA I. DESKRIPSI SINGKAT J amban atau kakus merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pembuatan jamban merupakan usaha manusia untuk memelihara kesehatan dengan membuat

Lebih terperinci

KAKUS VIETNAM 1. PENDAHULUAN

KAKUS VIETNAM 1. PENDAHULUAN KAKUS VIETNAM 1. PENDAHULUAN Jamban atau kakus merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pembuatan jamban merupakan usaha manusia untuk memelihara kesehatan dengan membuat lingkungan tempat hidup yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya (Abdullah, 2010).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya (Abdullah, 2010). BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian 2.1.1 Jamban Keluarga Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang dipergunakan untuk membuang tinja atau kotoran manusia atau najis bagi suatu keluarga yang lazim

Lebih terperinci

JAMBAN SEPTIK TANK GANDA

JAMBAN SEPTIK TANK GANDA JAMBAN SEPTIK TANK GANDA 1. PENDAHULUAN Jamban atau kakus merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pembuatan jamban merupakan usaha manusia untuk memelihara kesehatan dengan membuat lingkungan tempat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lebih sering dari biasanya (biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari) 9) terjadinya komplikasi pada mukosa.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lebih sering dari biasanya (biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari) 9) terjadinya komplikasi pada mukosa. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Diare 9) 1. Definisi Diare Secara operasional, didefinisikan bahwa diare adalah buang air besar lembek atau cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih

Lebih terperinci

ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2

ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2 ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2 Lintang Sekar Langit [email protected] Peminatan Kesehatan Lingkungan,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Status Gizi 1. Pengertian Status Gizi Status gizi merupakan gambaran keseimbangan antara kebutuhan akan zat-zat gizi dan penggunaannya dalam tubuh. Status gizi dipengaruhi oleh

Lebih terperinci

KAKUS SOPA SANDAS 1. PENDAHULUAN

KAKUS SOPA SANDAS 1. PENDAHULUAN KAKUS SOPA SANDAS 1. PENDAHULUAN Jamban atau kakus merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pembuatan jamban merupakan usaha manusia untuk memelihara kesehatan dengan membuat lingkungan tempat hidup

Lebih terperinci

HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN DIARE DI KECAMATAN SEMARANG UTARA KOTA SEMARANG.

HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN DIARE DI KECAMATAN SEMARANG UTARA KOTA SEMARANG. JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT, Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012, Halaman 922-933 Online di http://ejournals1.undip.ac.id/index.php/jkm HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS. Jamban atau tempat pembuangan kotoran adalah suatu bangunan yang. kakus/wc dan memenuhi jamban sehat dan baik.

BAB II KAJIAN TEORITIS. Jamban atau tempat pembuangan kotoran adalah suatu bangunan yang. kakus/wc dan memenuhi jamban sehat dan baik. BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1 Definisi Jamban Pembuangan tinja merupakan salah satu upaya kesehatan lingkungan yang harus memenuhi sanitasi dasar bagi setiap individu. Pembuangan kotoran yang baik harus dibuang

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN JAMBAN OLEH MASYARAKAT DI DESA MAREK KECAMATAN KAWAY XVI KABUPATEN ACEH BARAT SKRIPSI

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN JAMBAN OLEH MASYARAKAT DI DESA MAREK KECAMATAN KAWAY XVI KABUPATEN ACEH BARAT SKRIPSI FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN JAMBAN OLEH MASYARAKAT DI DESA MAREK KECAMATAN KAWAY XVI KABUPATEN ACEH BARAT SKRIPSI OLEH: NURMALAWATI NIM :07C10104126 PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

Lebih terperinci

BAB 5 : PEMBAHASAN. penelitian Ginting (2011) di Puskesmas Siantan Hulu Pontianak Kalimantan Barat mendapatkan

BAB 5 : PEMBAHASAN. penelitian Ginting (2011) di Puskesmas Siantan Hulu Pontianak Kalimantan Barat mendapatkan BAB 5 : PEMBAHASAN 5.1 Analisis Univariat 5.1.1 Kejadian Diare pada Balita Hasil penelitian diketahui bahwa lebih dari separoh responden (59,1%) mengalami kejadian diare. Beberapa penelitian terdahulu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sanitasi Rumah Pengertian sanitasi adalah usaha usaha pengawasan yang ditujukan terhadap faktor faktor lingkungan yang dapat merupakan mata rantai penularan penyakit 3. Sedangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. derajat kesehatan masyarakat dan upaya penyehatan lingkungan yang setinggitingginya(

BAB I PENDAHULUAN. derajat kesehatan masyarakat dan upaya penyehatan lingkungan yang setinggitingginya( BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen Bangsa Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan

Lebih terperinci

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI ILMU GIZI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI ILMU GIZI Lampiran 1 KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI ILMU GIZI KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN KARAKTERISTIK RESPONDEN, PENGETAHUAN, LINGKUNGAN, PELATIHAN

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sampel 343 KK. Adapun letak geografis Kecamatan Bone sebagai berikut :

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sampel 343 KK. Adapun letak geografis Kecamatan Bone sebagai berikut : BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.1 Hasil Penelitian 1. Gambaran Lokasi penelitian Lokasi penelitian ini di wilayah Kecamatan Bone, Kabupaten Bone Bolango. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi

Lebih terperinci

PEMANFAATAN DRUM PLASTIK BEKAS SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN SEPTIC TANK

PEMANFAATAN DRUM PLASTIK BEKAS SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN SEPTIC TANK PEMANFAATAN DRUM PLASTIK BEKAS SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN SEPTIC TANK Masykur Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Metro Jl. Ki Hajar Dewantara 15 A Metro, Lampung. Email : [email protected] ABSTRAK

Lebih terperinci

Kuesioner Penelitian

Kuesioner Penelitian Kuesioner Penelitian PERILAKU MASYARAKAT TENTANG BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN PADA DESA YANG DIBERI INTERVENSI DAN TIDAK DIBERI INTERVENSI GERAKAN SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT DI KECAMATAN GUMAI TALANG

Lebih terperinci

B. Bangunan 1. Umum Bangunan harus dibuat sesuai dengan peraturan perundangundangan

B. Bangunan 1. Umum Bangunan harus dibuat sesuai dengan peraturan perundangundangan Syarat kesehatan yang mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519/MENKES/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat: A. Lokasi 1. Lokasi sesuai dengan Rencana Umum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dilindungi dari ancaman yang merugikannya. perilaku sangat mempengaruhi derajat kesehatan. Termasuk lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. dilindungi dari ancaman yang merugikannya. perilaku sangat mempengaruhi derajat kesehatan. Termasuk lingkungan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesehatan merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas Sumber Daya Manusia.Oleh karena itu kesehatan perlu dipelihara

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA. Anonimous, Mengenal Jenis-jenis Restoran. Diakses tanggal 13 Januari jttcugm.wordpress.com/2008/12/16/restoran/

DAFTAR PUSTAKA. Anonimous, Mengenal Jenis-jenis Restoran. Diakses tanggal 13 Januari jttcugm.wordpress.com/2008/12/16/restoran/ DAFTAR PUSTAKA Anonimous, 2008. Mengenal Jenis-jenis Restoran. Diakses tanggal 13 Januari 2011. http:// jttcugm.wordpress.com/2008/12/16/restoran/ Azwar,Azrul, 1995. Pengantar Kesehatan Lingkungan, PT.

Lebih terperinci

peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2025 adalah meningkatnya kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang. Peningkatan derajat kesehatan

Lebih terperinci

PENGELOLAAN AIR LIMBAH KAKUS I

PENGELOLAAN AIR LIMBAH KAKUS I PENGELOLAAN AIR LIMBAH KAKUS I 1. PENDAHULUAN Limbah rumah tangga adalah limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, cucian, limbah bekas industri rumah tangga dan kotoranmanusia. Limbah merupakan buangan/bekas

Lebih terperinci

FIELD BOOK SANITATION LADDER (TANGGA SANITASI)

FIELD BOOK SANITATION LADDER (TANGGA SANITASI) FIELD BOOK SANITATION LADDER (TANGGA SANITASI) SANITATION LADDER (TANGGA SANITASI) Sanitation Ladder atau tangga sanitasi merupakan tahap perkembangan sarana sanitasi yang digunakan masyarakat, dari sarana

Lebih terperinci

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN TEMANGGUNG

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN TEMANGGUNG Volume, Nomor, Tahun 0, Halaman 535-54 Online di http://ejournals.undip.ac.id/index.php/jkm HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN

Lebih terperinci

MENGHITUNG VOLUME SEPTICTANK

MENGHITUNG VOLUME SEPTICTANK MAKALAH MENGHITUNG VOLUME SEPTICTANK Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Penyehatan Air dan Pengelolaan Limbah Cair Disusun oleh : 1. Fitria Nur Hidayati NIM : P07133110015 2. Irma Rita Gusmaranti

Lebih terperinci

SANITASI DAN KEAMANAN

SANITASI DAN KEAMANAN SANITASI DAN KEAMANAN Sanitasi adalah.. pengendalian yang terencana terhadap lingkungan produksi, bahan bahan baku, peralatan dan pekerja untuk mencegah pencemaran pada hasil olah, kerusakan hasil olah,

Lebih terperinci

TINJAUAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PEMELIHARAAN JAMBAN KELUARGA DI GAMPONG LAM ILIE MESJID KECAMATAN INDRAPURI KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2012

TINJAUAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PEMELIHARAAN JAMBAN KELUARGA DI GAMPONG LAM ILIE MESJID KECAMATAN INDRAPURI KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2012 TINJAUAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PEMELIHARAAN JAMBAN KELUARGA DI GAMPONG LAM ILIE MESJID KECAMATAN INDRAPURI KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2012 Zulfitri Program S1 Kesehatan Masyarakat U Budiyah Indonesia,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bersih, cakupan pemenuhan air bersih bagi masyarakat baik di desa maupun

BAB I PENDAHULUAN. bersih, cakupan pemenuhan air bersih bagi masyarakat baik di desa maupun BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air adalah materi essensial didalam kehidupan. Tidak satupun makhluk hidup di dunia ini yang tidak memerlukan dan tidak mengandung air. Sel hidup, baik tumbuhan maupun

Lebih terperinci

PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN MASYARAKAT TERHADAP PENGGUNAAN JAMBAN KELUARGA (Studi Kasus Di Desa Ilomangga Kecamatan Tabongo Kabupaten Gorontalo)

PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN MASYARAKAT TERHADAP PENGGUNAAN JAMBAN KELUARGA (Studi Kasus Di Desa Ilomangga Kecamatan Tabongo Kabupaten Gorontalo) PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN MASYARAKAT TERHADAP PENGGUNAAN JAMBAN KELUARGA (Studi Kasus Di Desa Ilomangga Kecamatan Tabongo Kabupaten Gorontalo) Oleh: LIAN G. OTAYA Lian.otaya@yahoocom Dosen Pendidikan

Lebih terperinci

LEMBAR PENILAIAN PASAR SETONOBETEK SESUAI KEPMENKES RI NO. 519/MENKES/SK/VI/2008 YANG TELAH DIMODIFIKASI

LEMBAR PENILAIAN PASAR SETONOBETEK SESUAI KEPMENKES RI NO. 519/MENKES/SK/VI/2008 YANG TELAH DIMODIFIKASI LEMBAR PENILAIAN PASAR SETONOBETEK SESUAI KEPMENKES RI NO. 9/MENKES/SK/VI/ YANG TELAH DIMODIFIKASI NO. a. b. - VARIABEL UPAYA BANGUNAN PASAR Penataan ruang dagang Tempat penjualan bahan pangan dan makanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Kebutuhan air kita menyangkut dua hal. Pertama, air untuk

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Kebutuhan air kita menyangkut dua hal. Pertama, air untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Air merupakan kebutuhan yang sangat pokok bagi kehidupan. Semua makhluk hidup memerlukan air, tanpa air tak akan ada kehidupan termasuk manusia. Kebutuhan air

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan menerapkan model CLTS (Community Led Total Sanitation). Pendekatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan menerapkan model CLTS (Community Led Total Sanitation). Pendekatan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat 2.1.1 Sejarah STBM STBM merupakan adopsi dari keberhasilan pembangunan sanitasi total dengan menerapkan model CLTS (Community Led Total Sanitation).

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. program pembangunan sanitasi pedesaan. Dari beberapa studi evaluasi terhadap

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. program pembangunan sanitasi pedesaan. Dari beberapa studi evaluasi terhadap BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Sanitasi total berbasis masyarakat dilatar belakangi adanya kegagalan dalam program pembangunan sanitasi pedesaan. Dari beberapa studi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4,48 Ha yang meliputi 3 Kelurahan masing masing adalah Kelurahan Dembe I, Kecamatan Tilango Kab.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4,48 Ha yang meliputi 3 Kelurahan masing masing adalah Kelurahan Dembe I, Kecamatan Tilango Kab. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Geografi Luas Puskesmas Pilolodaa Kecamatan Kota Barat Kota Gorontalo yaitu 4,48 Ha yang meliputi 3 Kelurahan masing masing

Lebih terperinci

No. Kriteria Ya Tidak Keterangan 1 Terdapat kloset didalam atau diluar. Kloset bisa rumah.

No. Kriteria Ya Tidak Keterangan 1 Terdapat kloset didalam atau diluar. Kloset bisa rumah. Lampiran 1 Lembar Observasi Penelitian Gambaran Pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Lolowua Kecamatan Hiliserangkai Kabupaten Nias Sumatera UtaraTahun 2014 Nama : Umur : Jenis

Lebih terperinci

KUISIONER PENELITIAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN MASYARAKAT TENTANG SANITASI DASAR DAN RUMAH SEHAT

KUISIONER PENELITIAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN MASYARAKAT TENTANG SANITASI DASAR DAN RUMAH SEHAT Lampiran KUISIONER PENELITIAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN MASYARAKAT TENTANG SANITASI DASAR DAN RUMAH SEHAT I. Karakteristik Responden. Nama :. Jenis Kelamin :. Pekerjaan : 4. Pendidikan : II. Pengetahuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sasaran pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Adanya kebutuhan fisiologis manusia seperti. mencakup kepemilikan jamban sebagai dari kebutuhan setiap anggota keluarga.

BAB I PENDAHULUAN. Adanya kebutuhan fisiologis manusia seperti. mencakup kepemilikan jamban sebagai dari kebutuhan setiap anggota keluarga. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Adanya kebutuhan fisiologis manusia seperti memiliki rumah, yang mencakup kepemilikan jamban sebagai dari kebutuhan setiap anggota keluarga. Kepemilikan jamban bagi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sanitasi Makanan 1. Pengertian Hygiene dan Sanitasi Makanan Makanan adalah salah satu kebutuhan pokok menusia untuk kelangsungan hidup, selain kebutuhan sandang dan perumahan.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Diare 1. Pengertian Diare Diare adalah penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi tinja melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi berak lebih dari

Lebih terperinci

TATA CARA PERENCANAAN BANGUNAN MCK UMUM

TATA CARA PERENCANAAN BANGUNAN MCK UMUM TATA CARA PERENCANAAN BANGUNAN MCK UMUM COPY SNI 03-2399 - 2002 TATA CARA PERENCANAAN BANGUNAN MCK UMUM 1 Ruang Iingkup Tata cara ini meliputi istilah dan definisi, persyaratan yang berlaku untuk sarana

Lebih terperinci

septic tank Septic tank

septic tank Septic tank septic tank Septic tank Pengertian Septic Tank Septic Tank atau sering disebut sebagai tangki septik adalah bangunan pengolah dan pengurai kotoran tinja manusia cara setempat (onsite) dengan menggunakan

Lebih terperinci

Terdapat hubungan yang erat antara masalah sanitasi dan penyediaan air, dimana sanitasi berhubungan langsung dengan:

Terdapat hubungan yang erat antara masalah sanitasi dan penyediaan air, dimana sanitasi berhubungan langsung dengan: SANITASI AIR BERSIH VIRGIA RINANDA ( 15714006 ) REKAYASA INFRASTRUKTUR LINGKUNGAN PENGERTIAN SANITASI Sanitasi adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan lingkungan dari subjeknya,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini di laksanakan pada 28 April sampai 5 Mei 2013 di Desa

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini di laksanakan pada 28 April sampai 5 Mei 2013 di Desa BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini di laksanakan pada 28 April sampai 5 Mei 2013 di Desa Tabumela. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui gambaran Sanitasi Lingkungan wilayah pesisir danau Limboto

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. A. Kesimpulan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. A. Kesimpulan 98 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang Hubungan Kondisi Sanitasi Lingkungan Rumah, Higiene Perorangan dan Karakteristik Orangtua dengan Kejadian

Lebih terperinci

Rekayasa Lingkungan???

Rekayasa Lingkungan??? Rekayasa Lingkungan Semester V Norma Puspita, ST. MT. Rekayasa Lingkungan??? Lingkungan Hidup adalah semua benda, daya dan kondisi yang terdapat dalam suatu tempat atau ruang tempat manusia atau makhluk

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. waktu terjadi pasang. Daerah genangan pasang biasanya terdapat di daerah dataran

PENDAHULUAN. waktu terjadi pasang. Daerah genangan pasang biasanya terdapat di daerah dataran PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Daerah genangan pasang adalah daerah yang selalu tergenang air laut pada waktu terjadi pasang. Daerah genangan pasang biasanya terdapat di daerah dataran rendah di dekat

Lebih terperinci

PENGELOLAAN AIR LIMBAH

PENGELOLAAN AIR LIMBAH PENGELOLAAN AIR LIMBAH 1. PENDAHULUAN Limbah rumah tangga adalah limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, cucian, limbah bekas industri rumah tangga dan kotoranmanusia. Limbah merupakan buangan/bekas

Lebih terperinci

PENGELOLAAN AIR LIMBAH RUMAH TANGGA I

PENGELOLAAN AIR LIMBAH RUMAH TANGGA I PENGELOLAAN AIR LIMBAH RUMAH TANGGA I 1. PENDAHULUAN Limbah rumah tangga adalah limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, cucian, limbah bekas industri rumah tangga dan kotoranmanusia. Limbah merupakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. upaya sanitasi dasar meliputi sarana air bersih, sarana pembuangan kotoran (jamban),

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. upaya sanitasi dasar meliputi sarana air bersih, sarana pembuangan kotoran (jamban), 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengerian Sanitasi Dasar Sanitasi dasar adalah sanitasi yang diperlukan untuk menyediakan lingkungan sehat yang memenuhi syarat kesehatan yang menitikberatkan pada pengawasan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lelah, beristirahat setelah penat melaksanakan kewajiban sehari-hari,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lelah, beristirahat setelah penat melaksanakan kewajiban sehari-hari, BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Rumah Sehat 1) Definisi Rumah Sehat Rumah bagi manusia memiliki arti sebagai tempat untuk melepas lelah, beristirahat setelah penat melaksanakan kewajiban sehari-hari,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Konsep diare a. Definisi Diare Diare pada dasarnya adalah buang air besar dengan konsistensi encer dengan frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari

Lebih terperinci

2.1. Dampak Terhadap Kehidupan Biota Air

2.1. Dampak Terhadap Kehidupan Biota Air Bab ii Dampak dari pencemaran air limbah Terdapat banyak ragam pengaruh yang ditimbulkan akibat pencemaran air, seperti air minum yang mengandung racun, hewanhewan potong yang beracun (akibat akumulasi

Lebih terperinci

Bertindak tepat untuk sehat dengan menjaga lingkungan dan kebersihan

Bertindak tepat untuk sehat dengan menjaga lingkungan dan kebersihan Bertindak tepat untuk sehat dengan menjaga lingkungan dan kebersihan Menanam dan merawat pohon Mengelola sampah dengan benar Mulai dari diri sendiri menjaga kebersihan untuk hidup sehat 1 Perubahan Iklim,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengetahuan 2.1.1. Definisi Pengetahuan Dalam kamus besar bahasa Indonesia (2002), disebutkan bahwa istilah pengetahuan berasal dari kata dasar tahu yaitu paham, maklum, mengerti.

Lebih terperinci

MAKALAH MASALAH KECACINGAN DAN INTERVENSI

MAKALAH MASALAH KECACINGAN DAN INTERVENSI MAKALAH MASALAH KECACINGAN DAN INTERVENSI Oleh: Muhammad Fawwaz (101211132016) FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS AIRLANGGA 1 DAFTAR ISI COVER... 1 DAFTAR ISI... 2 BAB I... 3 A. LATAR BELAKANG...

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengetahuan (Knowledge) Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui

Lebih terperinci

ANALISIS HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN KONTRUKSI SUMUR GALI TERHADAP KUALITAS SUMUR GALI

ANALISIS HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN KONTRUKSI SUMUR GALI TERHADAP KUALITAS SUMUR GALI ANALISIS HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN KONTRUKSI SUMUR GALI TERHADAP KUALITAS SUMUR GALI Enda Silvia Putri Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Teuku Umar, Meulaboh Email: [email protected] ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam sistem kesehatan nasional disebutkan bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Pengetahuan adalah hasil dari proses pembelajaran dengan melibatkan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Pengetahuan adalah hasil dari proses pembelajaran dengan melibatkan BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil dari proses pembelajaran dengan melibatkan indra penglihatan, pendengaran, penciuman dan pengecapkan (Setiawati,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. pelabuhan terbesar di provinsi Gorontalo yang terbuka untuk perdagangan luar

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. pelabuhan terbesar di provinsi Gorontalo yang terbuka untuk perdagangan luar BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Pelabuhan Gorontalo telah dibangun sejak tahun 1980 merupakan pelabuhan terbesar di provinsi Gorontalo yang terbuka untuk perdagangan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penyakit Diare Penyakit diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan bagi masyarakat Indonesia. Selain penyakit ini masih endemis di hampir semua daerah, juga sering muncul

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan. Tanpa air kehidupan di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan. Tanpa air kehidupan di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan. Tanpa air kehidupan di alam ini tidak dapat berlangsung, baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Tubuh manusia sebagian

Lebih terperinci

PEMBUATAN SALURAN AIR BEKAS MANDI DAN CUCI

PEMBUATAN SALURAN AIR BEKAS MANDI DAN CUCI PEMBUATAN SALURAN AIR BEKAS MANDI DAN CUCI 1. PENDAHULUAN Limbah rumah tangga adalah limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, cucian, limbah bekas industri rumah tangga dan kotoranmanusia. Limbah merupakan

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK BELAJAR LAPANGAN (PBL) SURVEY JAMBAN KELUARGA DAN SPAL PUSKESMAS PAAL V

LAPORAN PRAKTEK BELAJAR LAPANGAN (PBL) SURVEY JAMBAN KELUARGA DAN SPAL PUSKESMAS PAAL V LAPORAN PRAKTEK BELAJAR LAPANGAN (PBL) SURVEY JAMBAN KELUARGA DAN SPAL PUSKESMAS PAAL V Disusun Oleh : Kelompok III Anang Santoso Aziza Septia Citra Yolansari S Egi Munandha Eni Arista Gilang Prayoga Ici

Lebih terperinci

Sanitasi Penyedia Makanan

Sanitasi Penyedia Makanan Bab 6 Sanitasi Penyediaan Makanan Sanitasi Penyedia Makanan Sanitasi Jasa Boga Sanitasi Rumah Makan & Restoran Sanitasi Hotel Sanitasi Rumah Sakit Sanitasi Transportasi Penggolongan Jasa Boga Jasa boga

Lebih terperinci

HUBUNGAN SANITASI DASAR RUMAH DAN PERILAKU IBU RUMAH TANGGA DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI DESA BENA NUSA TENGGARA TIMUR

HUBUNGAN SANITASI DASAR RUMAH DAN PERILAKU IBU RUMAH TANGGA DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI DESA BENA NUSA TENGGARA TIMUR HUBUNGAN SANITASI DASAR RUMAH DAN PERILAKU IBU RUMAH TANGGA DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI DESA BENA NUSA TENGGARA TIMUR Correlation between Basic Home Sanitation and Housewives Behavior with Diarrhea

Lebih terperinci

KESEHATAN DAN SANITASI LINGKUNGAN TIM PEMBEKALAN KKN UNDIKSHA 2018

KESEHATAN DAN SANITASI LINGKUNGAN TIM PEMBEKALAN KKN UNDIKSHA 2018 KESEHATAN DAN SANITASI LINGKUNGAN TIM PEMBEKALAN KKN UNDIKSHA 2018 PENYEBAB??? Status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air bersih dan sebagainya. Pentingnya

Lebih terperinci

Gambaran Sanitasi Lingkungan Wilayah Pesisir Danau Limboto di Desa Tabumela Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo Tahun 2013

Gambaran Sanitasi Lingkungan Wilayah Pesisir Danau Limboto di Desa Tabumela Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo Tahun 2013 Summary Gambaran Sanitasi Lingkungan Wilayah Pesisir Danau Limboto di Desa Tabumela Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo Tahun 2013 Merliyanti Ismail 811 409 043 Jurusan kesehatan masyarakat Fakultas

Lebih terperinci

Gambar lampiran 1: Tempat Pencucian Alat masak dan makan hanya satu bak

Gambar lampiran 1: Tempat Pencucian Alat masak dan makan hanya satu bak Gambar lampiran : Tempat Pencucian Alat masak dan makan hanya satu bak Gambar lampiran 2: saluran limbah yang kotor dan tidak tertutup dekat dengan Pengolahan sambal Gambar lampiran 3: keadaan dapur yang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Kabupaten Gorontalo, dan memiliki batas-batas administrasi sebagai berikut :

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Kabupaten Gorontalo, dan memiliki batas-batas administrasi sebagai berikut : 4.1 Hasil Penelitian BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian a. Kondisi Demografi Secara administratif Desa Tabumela terletak di wilayah Kecamatan Tilango Kabupaten

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN FAKTOR RESIKO TERJADINYA DIARE DI KELURAHAN HAMDAN KECAMATAN MEDAN MAIMUN KOTA MEDAN TAHUN : Tidak Tamat Sekolah.

KUESIONER PENELITIAN FAKTOR RESIKO TERJADINYA DIARE DI KELURAHAN HAMDAN KECAMATAN MEDAN MAIMUN KOTA MEDAN TAHUN : Tidak Tamat Sekolah. KUESIONER PENELITIAN FAKTOR RESIKO TERJADINYA DIARE DI KELURAHAN HAMDAN KECAMATAN MEDAN MAIMUN KOTA MEDAN TAHUN 2014 Nama : Umur : Tingkat Pendidikan : Tidak Tamat Sekolah Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA

Lebih terperinci

- 5 - BAB II PERSYARATAN TEKNIS HIGIENE DAN SANITASI

- 5 - BAB II PERSYARATAN TEKNIS HIGIENE DAN SANITASI - 5 - BAB II PERSYARATAN TEKNIS HIGIENE DAN SANITASI A. BANGUNAN 1. Lokasi Lokasi jasaboga tidak berdekatan dengan sumber pencemaran seperti tempat sampah umum, WC umum, pabrik cat dan sumber pencemaran

Lebih terperinci

UNTUK KEPALA SEKOLAH SDN KOTA BINJAI

UNTUK KEPALA SEKOLAH SDN KOTA BINJAI Lampiran 1. LEMBAR KUESIONER UNTUK KEPALA SEKOLAH SDN KOTA BINJAI A. IDENTITAS INFORMAN Nama :. Alamat : Usia :.Tahun Jenis Kelamin : 1.Laki-laki 2. Perempuan Pendidikan terakhir : Unit Kerja : Masa kerja

Lebih terperinci

MODUL STBM SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT

MODUL STBM SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT MODUL STBM SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM) Program sanitasi yang berbasis Kebijakan STBM Kementerian Kesehatan, menerapkan pemberdayaan masyarakat dengan metode

Lebih terperinci

Pencemaran Air. Oleh: Tien Zubaidah

Pencemaran Air. Oleh: Tien Zubaidah Pencemaran Air Oleh: Tien Zubaidah Air adalah kehidupan di Bumi. Apa itu Pencemaran????? PENCEMARAN AIR Definisi pencemaran air mengacu pada definisi lingkungan hidup yang ditetapkan dalam UU tentang lingkungan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat ( STBM ) Sanitasi total berbasis masyarakat dilatarbelakangi dengan adanya kegagalan dalam program pembangunan sanitasi pedesaan. Dari beberapa

Lebih terperinci

FIELD BOOK PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DAN PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN

FIELD BOOK PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DAN PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN FIELD BOOK PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN 1 PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN I. RUMAH Rumah merupakan tempat tinggal bagi suatu keluarga yang berfungsi

Lebih terperinci

PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PEMBANGUNAN IPLT SISTEM KOLAM

PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PEMBANGUNAN IPLT SISTEM KOLAM PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PEMBANGUNAN IPLT SISTEM KOLAM TATA CARA PEMBANGUNAN IPLT SISTEM KOLAM BAB I DESKRIPSI 1.1 Ruang lingkup Tatacara ini meliputi ketentuan-ketentuan, cara pengerjaan bangunan utama

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dihuni. Kualitas lingkungan dapat diidentifikasi dengan melihat aspek-spek

BAB 1 PENDAHULUAN. dihuni. Kualitas lingkungan dapat diidentifikasi dengan melihat aspek-spek BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tingkat kesejahteraan tercermin dari kualitas lingkungan dan rumah yang dihuni. Kualitas lingkungan dapat diidentifikasi dengan melihat aspek-spek berikut: jaringan

Lebih terperinci

Lampiran III : Tabel Frekuensi. Frequency Table. Universitas Sumatera Utara. Infeksi kecacingan STH

Lampiran III : Tabel Frekuensi. Frequency Table. Universitas Sumatera Utara. Infeksi kecacingan STH Lampiran III : Tabel Frekuensi Frequency Table Infeksi Valid Positif Negatif Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent 49 64.5 64.5 64.5 27 35.5 35.5 100.0 76 100.0 100.0 Valid 1 2 Umur Responden

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organization) dalam Buletin. penyebab utama kematian pada balita adalah diare (post neonatal) 14%,

BAB I PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organization) dalam Buletin. penyebab utama kematian pada balita adalah diare (post neonatal) 14%, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit diare merupakan salah satu masalah kesehatan di negara berkembang terutama di Indonesia, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Penyakit diare bersifat endemis

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JENIS KEPEMILIKAN JAMBAN DI DESA BOGEM KECAMATAN GURAH KABUPATEN KEDIRI

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JENIS KEPEMILIKAN JAMBAN DI DESA BOGEM KECAMATAN GURAH KABUPATEN KEDIRI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JENIS KEPEMILIKAN JAMBAN DI DESA BOGEM KECAMATAN GURAH KABUPATEN KEDIRI RatnaWardani Prodi IlmuKesehatanMasyarakat STIKes Surya MitraHusada Kediri [email protected]

Lebih terperinci

kotak turun 4. Berapa persen air tawar (freshwater) dari seluruh total air di bumi? Jawaban : Kurang lebih 4%.

kotak turun 4. Berapa persen air tawar (freshwater) dari seluruh total air di bumi? Jawaban : Kurang lebih 4%. Aturan Permainan A i r M i n u m & S a n i ta s i kotak turun 4. Berapa persen air tawar (freshwater) dari seluruh total air di bumi? Kurang lebih 4%. Sumber: http://water.usgs.gov/edu/earthhowmuch.html

Lebih terperinci

Ular Tangga Air Minum dan Sanitasi merupakan permainan yang disusun untuk meningkatkan kepedulian tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Ular Tangga Air Minum dan Sanitasi merupakan permainan yang disusun untuk meningkatkan kepedulian tentang pentingnya menjaga lingkungan. Aturan Permainan & A i r M i n u m S a n i t a s i U l a r Ta n g g a A i r M i n u m & S a n i ta s i Ular Tangga Air Minum dan Sanitasi merupakan permainan yang disusun untuk meningkatkan kepedulian

Lebih terperinci

BUKU SAKU VERIFIKASI SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM)

BUKU SAKU VERIFIKASI SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM) BUKU SAKU VERIFIKASI SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM) Direktorat Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI 2013 Tangga

Lebih terperinci

Tata cara perencanaan bangunan MCK umum

Tata cara perencanaan bangunan MCK umum Standar Nasional Indonesia Tata cara perencanaan bangunan MCK umum ICS 27.180 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Halaman Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3

Lebih terperinci

Pedoman Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia

Pedoman Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia Pedoman Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia PENYEDIAAN AIR BERSIH 1. Pendahuluan Air bersih merupakan kebutuhan yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan di rumah sakit. Namun mengingat bahwa rumah sakit

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. gletser, aliran sungai, atau karena adanya mata air (Hamdi, 2013).

BAB II KAJIAN PUSTAKA. gletser, aliran sungai, atau karena adanya mata air (Hamdi, 2013). BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pesisir Danau Danau yaitu kumpulan genangan air yang cukup luas dan dikelilingi oleh daratan. Danau juga dapat diartikan sebagai sejumlah air (tawar atau asin) yang terakumulasi

Lebih terperinci

Jarak Ideal Septic Tank Dengan Sumber Air Bersih. terkontaminasi dengan air tangki septic oleh bakteri patogen yang dapat mengganggu

Jarak Ideal Septic Tank Dengan Sumber Air Bersih. terkontaminasi dengan air tangki septic oleh bakteri patogen yang dapat mengganggu Jarak Ideal Septic Tank Dengan Sumber Air Bersih Jarak 10 meter antara tangki septic (septic tank) dan sumur telah menjadi pengetahuan umum dan populer di masyarakat. Alasannya, agar air sumur tidak terkontaminasi

Lebih terperinci