BAB III LANDASAN TEORI
|
|
|
- Hengki Budiaman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB III LANDASAN TEORI A. Konsep Dasar Sistem Pracetak Konsep perencanaan bangunan tahan gempa pada masa kini merupakan hasil penelitian para pakar Selandia baru sejak tahun 1960, yaitu Park, Pauly dan Prestley. Konsep ini dikenal dengan konsep kapasitas yang secara prinsip struktur harus mengembangkan perilaku daktail sehingga dapat direncakan dengan beban gempa yang direduksi sesuai tingkat daktilitasnya. Konsep ini menghasilkan perencanaan yang ekonomis, namun perlu dilakukan pendetailan khusus pada sambungan yang direncanakan sebagai pemancar energi gempa (Park, 1968). Oleh karena itu masalah utama pada sistem pracetak adalah bagaimana mendesain sistem sambungan sehingga dapat berperilaku seperti sistem sambungan monolit. Pada sistem pracetak, masalah sambungan harus memenuhi beberapa persyaratan berikut (Elliot, 2002) 1. Sambungan bertranslasi dalam batas tertentu pada titik kumpul umumnya terjadi deformasi geser yang signifikan dan timbulnya celah. 2. Sambungan mampu menahan beban sesuai perencanaan baik sebagai sistem secara keseluruhan maupun sebagai individual members. 3. Sambungan memiliki kekuatan dan kekakuan yang cukup agar berperilaku stabil dalam menahan beban. 4. Adanya penyimpangan baik dalam hal pemasangan maupun ukuran masingmasing elemen precast dengan batas toleransi 3 mm pada sambungan joint. B. Balok Beton Bertulang Beton tidak dapat digunakan sendiri pada balok karena sangat kecil kekuatan tariknya, dan karena sifat getasnya (sifat brittle). Retak-retak yang berakibat gagalnya struktur, dapat terjadi ketika balok beton mengalami lentur. Penambahan baja di dalam daerah tarik untuk membentuk balok beton bertulang dapat meningkatkan kekuatan sekaligus juga daktilitas. Elemen struktur beton bertulang menggabungkan sifat yang dimiliki oleh beton dan baja. Hubungan seperti; Fy = My I... (3.1) 13
2 14 yang digunakan untuk analisis dan desain balok di dasarkan atas asumsi bahwa material tidak retak dan bersifat elastis linier. Kedua asumsi ini tidak sahih untuk penampang beton bertulang. Karena itu prosedur analisis dan desain didasarkan atas tinjauan langsung bahwa momen internal tahanan yang ada pada suatu penampang adalah mengimbangi momen eksternal yang ada. Gambar 3.1 dan Gambar 3.2 menjelaskan tentang saat beban menyebabkan terjadinya lentur, maka deformasi akan terjadi. Daerah dibawah sumbu netral mengalami tarik. Beton diasumsikan telah retak di daerah ini dan gaya-gaya yang akan dipikul seluruhnya oleh baja. Retak-retak ini menjalar ke atas dan berakhir di tekan. Momen tahanan internal akan timbul pada balok tersebut untuk mengimbangi momen eksternal yang ada, yaitu dengan adanya kopel yang dibentuk oleh gaya tarik dari baja tulangan dan gaya tekan yang merupakan resultan dari beton tertekan. Jadi, di di dalam balok beton bertulang, hanya sebagian dari beton sajalah yang sebenarnya berpartisipasi dalam memikul beban. Baja dan beton secara rasional diangggap melekat satu sama lain dan mempunyai regangan yang sama di lokasi yang berdekatan. Penambahan baja dalam bentuk U sering dilakukan untuk menanggulangi retak akibat geser. Gambar 3.1 (a) Tegangan pada beton di atas subu netral adalah tekan dan terdistribusi tidak linier. Di daerah tarik di bawah sumbu netral, beton di anggap retak dan gaya tarik yang ada diberikan oleh tulangan baja. Gambar 3.1 (b) Kurva tegangan regangan yang umum untuk beton. Gambar 3.1 (c) Analisis tegangan kerja, distribusi tegangan beton dianggap linier. Beban layan service load di pakai dalam perhitungan. Gambar 3.1 (d) Distribusi tegangan actual dekat kekuatan batas (tak linier). Gambar 3.1 (e) Analisis kekuatan batas, suatu balok tegangan segiempat digunakan untuk mengidealisasikan tegangan actual. Gambar 3.1 Balok beton bertulang T. Bentuk penampang menyebabkan tegangan di flens atas lebih kecil daripada di badan. Beton digunakan di bagian atas dan baja digunakan di bagian di mana dianggap telah retak. (a) (b)
3 15 (c) (d) (e) Gambar 3. 1 Balok beton bertulang (Schodek, 1999) Gambar 3.2 Balok beton bertulang (Schodek, 1999) C. Kolom Beton Bertulang Kolom beton bertulang sulit untuk dianalisis dan didesain karena sifat komposit pada materialnya, keadaan rumit tegangan yang diakibatkan beban aksial dan lentur, serta karena beban aksial tekan yang menyebabkan terjadinya tekuk. Jadi, hanya pembahasan umum tentang kolom beton bertulang yang dilakukan disini. Ada dua jenis kolom beton bertulang yang menarik: yang bertulang spiral yang biasanya berpenampang lingkaran dan yang bersengkang yang biasanya berpenampang persegi panjang. Spiral dan sengkang berfungsi memegang tulangan memanjang dan mencegah pemisah dan tekuk tulangan itu sendiri. Kolom yang bertulangan spiral mempunyai perilaku yang lebih diinginkan pada keadaan dekat gagal dan dalam memikul beban lateral, dibandingkan dengan yang bersengkang, meskipun yang disebut terakhir ini lebih murah dan mudah dibuat.
4 16 Perilaku yang berbeda ini diwujudkan dengan penggunaan harga-harga ƒ yang berbeda pada cara desain kekuatan batas. D. Tegangan Tegangan adalah besaran pengukuran intensitas gaya (F) atau reaksi dalam yang timbul per satuan luas (A). Apabila terjadi tegangan secara merata pada luasan (A) dan tegangan (S) bernilai konstan, maka persamaan yang digunakan menurut singer, 1995, Ilmu Kekuatan Bahan edisi ke 2, Erlangga, Jakarta, adalah. Tegangan aksial σ = Fn...(3.1) A Keterangan: F : besar gaya tekan/tarik (N) A : luas penampang (m 2 ) σ : tegangan (N/m 2 ) Tegangan Lentur σ = M.y...(3.2) I Keterangan: M : Momen lentur pada penampang Y : Jarak dari sumbu netral ke tegangan normal σ : tegangan (N/m 2 ) I : Momen Inersia (mm 4 ) Tegangan Geser σ = V.Q...(3.3) B.I Keterangan: V : Gaya geser (N) Q : Momen pertama/statis momen (mm 2 ) σ : tegangan (N/m 2 ) I : Momen Inersia (mm 4 ) B : Lebar penampang balok (mm) E. Regangan Regangan adalah perubahan ukuran dari panjang awal sebagai hasil dari gaya yang menarik atau menekan pada material.
5 17 Apabila suatu spesimen struktur material diikat pada jepitan mesin penguji dan beban serta pertambahan panjang spesimen diamati serempak, maka dapat digambarkan pengamatan pada grafik dimana ordinat menyatakan beban dan absis menyatakan pertambahan panjang. ε = (l lo)...(3.4) lo Keterangan: ε : Regangan lo : Panjang akhir (mm) lo : panjang awal (mm) F. Modulus Elastisitas Selama gaya F yang bekerja pada benda elastis tidak melampaui batas elastisitasnya, maka perbandingan antara tegangan (σ) dengan regangan (ε) adalah konstan. Bilangan (konstanta) tersebut dinamakan modulus elastis atau modulus Young (E). Jadi, modulus elastis atau modulus Young merupakan perbandingan antara tegangan dengan regangan yang dialami oleh suatu benda. Secara matematis ditulis seperti berikut. E = σ ε... (3.5) Keterangan: E : modulus Young (N/m 2 atau Pascall) G. Hubungan Tegangan dan Regangan Cara utama menjelaskan perubahan ukuran dan bentuk adalah dengan menggunakan konsep Regangan (ε). Secara umum regangan didefinisikan sebagai rasio (perbandingan) antara perubahan ukuran atau bentuk suatu elemen yang mengalami tegangan, terhadap ukuran atau bentuk semula (S) elemen Yaitu ε = ΔS S + ΔS... (3.6) Karena merupakan perbandingan, regangan tidak mempunyai dimensi fasis. Ada hubungan umum antara regangan dan tegangan untuk material elastis yang pertama kali dinyatakan oleh Robert Hooke ( ) dan dikenal dengan hokum hooke. Hukum hooke ini menyatakan bahwa untuk benda elastis, perbandingan antara tegangan yang ada pada elemen terhadap regangan yang dihasilkan adalah konstan. Jadi :
6 18 Regangan = Pertambahan Panjang Panjang Semula atau ε = ΔL L... (3.7) Besar konstanta ini merupakan salah satu sifat dari material dan, seperti telah disinggung diatas, biasanya disebut sebagai modulus elastisitas. Satuan untuk konstanta ini sama dengan satuan tegangan (yaitu gaya per satuan luas) karena regangan tidak mempunyai dimensi. Hubungan antara tegangan dan regangan di atas mengandung arti bahwa regangan pada suatu elemen struktur tergantung linier pada tegangan untuk taraf tegangan yang ada. Konstanta yang menghubungkan tegangan dan regangan (modulus elastisitas) ditentukan secara eksperimental. Apabila elemen struktur mengalami gaya tarik murni, maka elemen struktur tersebut akan mengalami perpanjangan. Jika L menunjukan panjang semula, dan ΔL adalah perubahan panjang, maka regangan yang ada pada batang tersebut adalah Modulus Elastisitas = tegangan E = σ...(3.8) regangan ε Seperti telah disebut di atas, regangan tidak mempunyai dimensi. Tetapi, kita dapat memandang regangan sebagai dasar deformasi per satuan panjang dengan pengertian ini, regangan dapat dipandang seolah-olah mempunyai dimensi mm/mm atau in/in. Cara yang biasa dipakai untuk menentukan modulus elastisitas (E) material adalah dengan menggunakan suatu batang dari material tersebut, yang mempunyai panjang serta luas tertentu, kemudian diberi beban yang diketahui, dan mengukur besarnya perpanjangan ΔL. Karena tegangan yang ada dapat secara langsung dihitung dengan menggunakan hubungan ƒ = P A... (3.9) dan regangan dapat diperoleh dari hubungan ε = ΔL L... (3.10) maka modulus elastisitas material tersebut dapat ditentukan dengan menggunakan E = f...(3.11) ε Nilai E untuk kayu dan beton bergantung pada karakteristik campuran beton atau mutu dan jenis kayu yang digunakan. Apabila nilainya telah diketahui, E dapat dipakai sebagai konstanta dalam memprediksi deformasi material yang mengalami deformasi akibat berbagai kondisi tegangan.
7 19 Batang yang diberi beban aksial akan mengalami perubahan elastis dalam dimensi lateral selain itu juga akan terjadi dalam arah longitudinal. Dimensi lateral batang berkurang apabila batang tersebut mengalami beban tarik, dan bertambah apabila batang tersebut mengalami beban tekan. Ada suatu konstanta di antara kedua perubahan lateral ini dengan yang terjadi dalam arah longitudinal. Konstanta hubungan ini biasanya disebut sebagai angka poisson (υ) yang didefinisikan υ = εy εx... (3.12) untuk baja, angka poisson ini adalah sekitar 0,3 Gambar 3.3 (a) batang yang dibebani aksial : gaya tarik yang diberikan menyebabkan perpanjangan aksial yang besarnya tergantung pada luas penampang panjang batang, jenis material dan besar gaya tarik. Gambar 3.3 (b) Perilaku elastis : untuk batang yang terbuat dari material elastis linier (misalnya baja), besar deformasi yang terjadi sebanding dengan besar beban, hubungan elastis ini tetap berlaku sampai bebanya cukup besar untuk menghancurkan material. Gambar 3.3 (a) Regangan pada batang tarik : regangan adalah besar deformasi per satuan panjang yang terjadi pada batang yang dibebani. Gambar 3.4 (b) Hubungan antara tegangan dan regangan : pada material elastis linier, ada konstanta yang menghuungkan besar tegangan dan regangan, yaitu tegangan regangan = konstanta = modulus elastisitas ( E ). Gambar 3.5 menjelaskan bahwa beberapa material, seperti alumunium, tidak menunjukan limit proporsional yang jelas. Bahkan material lain, seperti besi tuang, tidak menunjukan deformasi plastis sama sekali. Dengan demikian, material yng berbeda akan menunjukan perilaku yang berbeda-beda terhadap beban (a) Gambar 3.3 (a) ; (b) Tegangan, regangan, dan Perpanjangan pada batang yanng mengalami gaya tarik murni (Schodek, 1999) (b)
8 20 (a) (b) gambar 3.4 (a) regangan pada batang tarik ; (b) Hubungan antara tegangan regangan, konstanta dan modulus elastisitas (Schodek, 1999). Gambar 3.5 Diagram tegangan-regangan untuk berbagai material (Schodek, 1999) Gambar 3.6 Pengukuran kekuatan (Strength) (Hastomo, 2009)
9 21 H. Sambungan Lewatan Baja Tulangan Salah satu dasar anggapan yang digunakan dalam perencanaan dan analisis struktur beton ialah bahwa batang tulangan baja dengan beton yang mengelilinginya berlangsung sempurna tanpa terjadi pergelinciran atau pergeseran (perfect bond). Berdasarkan atas anggapan tersebut dan juga sebagai akibat lebih lanjut, pada saat komponen struktur beton bertulang bekerja menahan beban akan timbul tegangan lekat yang berupa shear interlock pada permukaan singgung antara batang tulangan dengan beton. Untuk balok struktur yang menahan beban momen lentur misalnya, tegangan lekat timbul setara dengan variasi perubahan nilai momen lentur yang ditahan sepanjang balok. Dengan berubahnya nilai momen nilai lentur mengakibatkan berlangsungnya suatu interksi longitudinal antara baja dan beton sehingga besar tegangan Tarik yang harus ditahan juga menyesuaikan disepanjang batang tulangan baja Tarik. Dengan demikian maka upaya untuk menjamin tercapainya lekatan kuat adalah dengan memperhitungkan efek penambahan atau penjangkaran atau ujung-ujung batang tulangan baja didalam beton. Penambahan atau penjangkaran ujung batang tulangan baja akan berlangsung dengan baik apabila batang tulangan tersebut tertanam kokoh di dalam beton pada jarak kedalaman tertentu yang disebut sebagai panjang penyaluran batang tulangan baja. Terbatasnya panjang batang tulangan baja yang tersedia dipasaran pada umumnya maka dalam pelaksanaan penulangan pekerjaan beton bertulang diperlukan sistem penyambungan baja tulangan. Sambungan baja tulangan berfungsi untuk mentransfer gaya antar baja tulangan. Gaya yang terjadi pada tulangan satu diteruskan ke tulangan yang lain ditunjukan pada gambar. I. Sistem Sambungan Pracetak Terdapat ebberapa sistem pracetak yang digunakan dan diterapkan di Indonesia, antara lain : 1. Sistem Pracetak C-Plus Sistem Pracetak struktur ini memiliki konsep struktur pracetak rangka terbuka, komponen kolom plus dan balok persegi dengan stek tulangan yang berulir.
10 22 Sistem sambungan mekanis balok dan kolom, plat baja berlubang dengan mur. Gambar 3.7 Sistem sambungan C-Plus (Puslitbang, 2010) 2. Sistem Brespaka Bresphaka adalah suatu rekayasa konstruksi gedung dengan sistem struktur pracetak model open frame yang terdiri dari elemen pracetak kolom, balok, lantai, dinding, tangga dan elemen lainnya, dengan penggunaan bahan beton ringan atau beton normal atau kombinasi keduanya. Sistem ini bersifat rangka terbuka bentuk sesuai dengan model dan perhitungan struktur, bersifat daktail penuh, perencanaan mempertimbangkan shear control dan ditumpu dengan perletakanpada kondisi beban pelaksanaan. Kelebihan sistem brespaka ini dibuat dengan mutu tinggi untuk memperkecil dimensi struktur, adanya efisiensi biya karena produktivitas tenaga kerja tinggi. Gambar 3.8 Sistem sambungan Brespaka (Puslitbang, 2010)
11 23 3. Sistem Pracetak KML (Kolom Multi Lantai) Sistim KML adalah Sistim beton pracetak yang memberikan percepatan pelaksanaan, karena komponen precast kolom dapat dicetak dan dierection langsung untuk 2-5 lantai, sehingga dapat menghemat waktu dalam pelaksanaan erection komponen kolom. Sistem ini menjamin ketegakan as kolom, integritas antar komponen struktur lebih bik karena joint kolombalok-slab yang cukup monolit, tulangan kolom atas maupun bawah dapat dibuat menerus. Gambar 3.9 Sistem sambungan KML (Puslitbang, 2010) 4. Sistem Struktur Pracetak JEDDS (Joint Elemen Dengan Dua Simpul) Konsep dari sistem ini adalah penanaman DUA SIMPUL, simpul pertama yaitu transfer gaya antar balok melalui besi tulangan yang diikat pada kuping strand dengan plat baja, simpul kedua yaitu lilitan lilitan strand. Perkuatan tambahan joint dengan besi tulangan dan begel. Gambar 3.10 Sistem sambungan JEDDS (Puslitbang, 2010)
12 24 5. Sistem Struktur Pracetak Adhi BCS (Beam Column System) Sistem ini menggunakan kecepatan pada saat pemasangan antar kolom, dengan menggunakan sambungan strand. Keunggulan sistem ini terletak pada perencanaan struktur elemen dan kepraktisannya. Gambar 3.11 Sistem sambungan Adhi BCS (Puslitbang, 2010) J. Gaya Pada Elemen Struktur Gaya Tarik mempunyai kecenderungan untuk menarik elemen hingga putus. Kekuatan elemen tarik tergantung pada luas penampang elemen dan material yang digunakan. Elemen yang mengalami tarik dapat mempunyai kekuatan tinggi, misalnya pada kabel yang digunakan untuk struktur terbentang panjang. Kekuatan elemen tarik umumnya tergantung pada panjangnya. Tegangan tarik terdistribusi merata pada penampang elemen (tegangan = gaya / luas). Gaya tekan cenderung untuk menyebabkan hancur atau tekuk pada elemen. Elemen yang pendek cenderung hancur, dan mempunyai kekuatan relative setara dengan kekuatan elemen tersebut apabila mengalami tarik. Sebaliknya, kapasitas pikul beban elemen tekan panjang semakin kecil untuk elemen yang semakin panjang. Elemen tekan panjang dapat menjadi tidak stabil dan dapat secara tiba-tiba menekuk pada taraf beban kritis. Kestabilan tiba-tiba yang menyebabkan elemen tidak dapat memikul beban tambahan sedikitpun, bisa terjadi tanpa terjadi kelebihan tegangan pada material. Fenomena ini disebut tekuk (bukling). Karena adanya fenomena tekuk ini, elemen tekan panjang tidak dapat memikul beban yang sangat besar.
13 25 Gambar 3.12 Tekan, Tarik, Lentur Geser, Torsi, Tumpu, dan Defleksi (Schodek, 1999) Gaya Lentur adalah keadaan gaya kompleks yang berkaitan dengan melenturnya elemen (biasanya elemen tersebut adalah balok) sebagai akibat dari adanya beban transversal. Aksi lentur menyebabkan serat-serat pada satu muka elemen memanjang, mengalami tarik, dan serat pada muka lainnya mengalami tekan. Jadi, baik tarik maupun tekan terjadi pada satu penampang yang sama. Tegangan tarik dan tekan ini bekerja dalam arah tegak lurus permukaan penampang. Kekuatan elemen yang mengalami lentur tergantung pada distibusi material pada penampang, juga jenis material. Sebagai respon atas adanya lentur, penampang mempunyai bentuk-bentuk khusus, misalnya profil sayap lebar dari baja, atau penampang beton bertulang (yang menggunakan tulangan baja sebagai pemikul tarik). Gaya Geser adalah gaya yang berkaitan dengan aksi gaya-gaya berlawanan arah yang menyebabkan satu bagian struktur tergelincir terhadap bagian didekatnya. Tegangan akan timbul (disebut tegangan geser) dalam arah tangensial permukaan tergelincir. Tegangan geser umumnya terjadi pada balok. Torsi adalah punter. Baik tegangan tekan maupun tarik pada lemen yang mengalami torsi. Tegangan Tumpu terjadi antara bidang muka dua elemen apabila gaya-gaya disalurkan dari satu elemen ke elemen lainnya. Sebagai contoh, tegangan tumpu pada ujung-ujung balok yang terletak di atas dinding atau kolom.
14 26 Tegangan-tegangan yang terjadi mempunyai arah tegak lurus permukaan elemen. Defleksi yang diakibatkan beban pada elemen harus dibatasi pada taraf yang diijinkan. Tegangan dan interaksi tegangan dapat saja terjadi pada elemen struktur. K. Kekuatan Luluh (Yield Strength) Kekuatan luluh adalah harga tegangan terendah dimana material mulai mengalami deformasi plastis. Deformasi plastis adalah perubahan bentuk material secara permanen jika bebannya di lepas. Kekuatan luluh ditetapkan sebagai harga tegangan yang jika dilepas akan menghasilkan perpanjangan yang tetap sebesar 0,2% panjang semula. Suatu material yang kuat memerlukan beban tinggi untuk mengubah bentuknya secara permanen atau pecah untuk menjadi tidak rusak dengan suatu material kaku, yang memerlukan beban tinggi untuk secara elastis mengubah bentuk itu. Untuk batang-batang rel, polymers, kayu da komposit, "kekuatan" pada tabel pemilihan mengacu pada pembebanan dalam tegangan sebagai kegagalan adalah oleh. keluluhan. Untuk material rapuh (keramik), kegagalan dalam tarikan adalah oleh retak, dan " kekuatan-tarik" sangat bervariasi. " Kekuatan" pada tabel pemilihan selanjutnya adalah " kekuatan penekanan" (yang memerlukan suatu beban jauh lebih tinggi). Kekuatan spesifik adalah kekuatan dibagi oleh kepadatan. Banyak komponen rancang-bangun dirancang untuk menghindari kegagalan oleh keluluhan atau pematahan (keran, sepeda, kebanyakan bagian-bagian dari kereta, mobil, penekan kapal). Dalam aplikasi struktural, material rapuh hampir selalu digunakan di dalam tegangan (contoh: batu bata, batu dan beton untuk jembatan dan bangunan). Di dalam aplikasi pengangkutan (contoh: pesawat udara, sepeda balap) kekuatan tinggi diperlukan pada berat/beban rendah. Di dalam kasus material ini dengan suatu besar " kekuatan spesifik" terbaik. Dua pengukuran kekuatan digambarkan, kekuatan luluh dan kekuatan tarik puncek. L. Disipasi Energi Kapasitas disipasi energi merupakan parameter yang penting untuk struktur yang direncanakan dengan beban gempa dengan periode ulang yang lama.
15 27 Pada struktur yang mendapat beban lateral statik nilai disipasi energi untuk satu siklus (Ei) dapat dihitung dari luas area grafik hubungan beban dengan lendutan seperti pada gambar disipasi energi total : Untuk tujuan perbandingan nilai disipasi energi total dapat diformulasikan dengan persamaan berikut : E N = Ei H maks Δy Keterangan:... (3.13) E total N EN H maks = Ei = Jumlah siklus Selama pengujian = Disipasi energi yang dinormalisasi = Beban lateral maksimum Gamar 3.13 Aturan trapesium dengan banyak pias (Sudjati, 2007) Luas area (A) dihitung dengan persamaan berikut : A = Δx Keterangan: f (xi)+f (xi 1) 2... (3.14) Δx A F (x) = Pertambahan panjang = Luas area (mm) = Persamaan matriks
16 28 M. Kekakuan Untuk struktur yang mengalami beban statik kekakuan ditetapkan sebagai kemiringan garis yang menghubungkan puncak-puncak beban maksimum arah positif dan negatif dari kurva beban dan defleksi. K = Py...(3.15) Δδ Keterangan: K Py Δδ = Kekakuan (N/mm) = Beban yield (N) = Lendutan yield (mm) N. Daktilitas Daktilitas adalah kemampuan struktur atau komponene struktur untuk mengalami deformasi inelastic bolak-balik berulang setelah leleh pertama, sambil mempertahankan kekuatan dan kekakuan yang cukup untuk mendukung bebannya, sehingga struktur tetap berdiri walaupun sudah retak/rusak dan diambang keruntuhan. µ = εu εy Dengan u εu εy... (3.16) = Daktilitas struktur = Regangan ultimite = Regangan yield O. Pembebanan Statik Beban statik adalah beban yang bekerja pada suatu struktur dengan intensitas yang tetap, tempat yang tetap, dan arah/garis kerja yang tetap. Analisis beban statik merupakan penyederhanaan analisis dinamik suatu struktur yang dilanda gempa dengan menggunakan gaya lateral. Pembebanan statil yang dilakukan mengacu statik load test ASTM E Pembebanan statik umumnya dapat dibagi menjadi beban mati, beban hidup dan beban akibat penurunan efek ternal. Beban Mati adalah beban-beban yang bekerja vertikal ke bawah pada struktur dan mempunyai karakteristik bangunan, seperti misalnya penutup lantai,
17 29 alat mekanis, partisi yang dapat dipindahkan, adalah beban mati. Berat eksak elemen-elemen ini pada umumnya diketahui atau dapat dengan mudah ditentukan dengan derajat ketelitian cukup tinggi. Semua metode untuk menghitung beban mati suatu elemen adalah didasarkan atas peninjauaan berat satuan material yang terlihat dan berdasarkan velume lemen tersebut. bereat satuan (unit weight) material secara empiris telah ditentukan dan telah banyak dicantumkan tabelnya pada sejumlah sumber untuk mempermudah perhitungan beban mati. Volume suatu material biasanya dapat dihitung. Informasi mengenai berat satuan berbagai material yang sering digunakan pada bangunan untuk perhitungan beban mati dicantumkan berikut ini. Tabel 3.1 Berat satuan rata-rata berbagai material (Schodek, 1999) Material Lb / ft 3 Kg / m 3 Logam Alumunium, tuang Tembaga, tuang Timbal Baja, giling Beton Polos Ringan Bertulang Brick (bata) Gelas, plat Bumi Lempung, kering Lempung, lembab Bumi, kering Bumi, basah Beban hidup adalah beban-beban yang bisa ada atau tidak ada pada struktur untuk suatu waktu yang diberikan. Meskipun dapat berpindah-pindah, beban hidup masih dapat dikatakan bekerja secara perlahan-lahan pada struktur.
18 30 Beban penggunaan (occupancy loads) adalah beban hidup. Yang termasuk kedalam beban penggunaan adalah berat manusia, perabot, barang yang disimpan dan sebagainya. Beban salju juga termasuk ke dalam beban hidup, semua beban hidup mempunyai karakteristik dapat berpindah atau dapat bergerak, secara umum beban ini bekerja dengan arah vertikal ke bawah. Tetapi kadang-kadang dapat berarah horizontal. P. Program Komputer untuk Simulasi Keruntuhan Analisa struktur dengan metode matriks kekakuan merupakan versi awal metode elemen hingga yang menjadi andalan untuk digunakan bersama dengan komputer. Dasar teori penyelesaian statik yang digunakan metode matriks kekakuan adalah persamaan keseimbangan struktur yang dapat ditulis dalam bentuk matriks sebagai berikut [K]{ δ }= { F}...(3.16) Formulasi persamaan keseimbangan memperlihatkan bahwa besarnya deformasi {δ} berbanding lurus dengan gaya{f}yang diberikan, di mana matriks [K] adalah sesuatu yang menghubungkan perpindahan (deformasi) dan beban. Lebih tepatnya lagi, matriks [K] adalah besarnya gaya yang diperlukan untuk menghasilkan perpindahan (deformasi) satu satuan. Kondisi di atas menunjukkan bahwa jenis analisa struktur yang digunakan adalah elastik linier hingga perlu diingat batasan-batasannya sebagai berikut : 1. Lendutan struktur relatif kecil sehingga dapat dianggap kondisi geometri struktur sebelum dan sesudah pembebanan tidak ada perubahan. 2. Material yang digunakan pada struktur masih berperilaku elastis-linier. Kedua kondisi tersebut merupakan prinsip yang dipakai juga untuk analisa struktur klasik untuk mengevaluasi gaya-gaya yang bekerja pada struktur sebagai dasar dalam perencanaan struktur pada umumnya, dan hanya valid jika digunakan untuk mengetahui perilaku struktur pada beban layan. Sedangkan jika diperlukan simulasi keruntuhan bangunan maka diperlukan analisis yang mampu mencakup daerah in-elastis non-linier, yang sumber penyebabnya pada rekayasa mekanik ada tiga, yaitu a) Geometri non-linier. b) Material non-linier. c) Problem kontak, sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 3.14
19 31 Gambar (a) Geometri non-linier; (b) perilaku tegangan regangan material non-linier; (c) Problem gap atau kontak pada Rekayasa Mekanik (Cook et. Al, 2002) Masalah menjadi non-linier karena kekakuan [K] dan atau beban {F} merupakan fungsi dari lendutan {δ} atau deformasi. Jika persamaan [K ] { δ }= {F} bersifat non-linier maka prinsip super-posisi tidak bisa diterapkan. Jadi hasilnya tidak bisa dilakukan proporsional terhadap beban atau super-posisi dengan kasus beban yang lain. Setiap kasus beban yang berbeda memerlukan analisis yang tersendiri, urutan pembebanan juga berpengaruh karena hasilnya bisa berbeda. Solusi persamaan non-linier memerlukan strategi-strategi penyelesaian khusus, karena tiap-tiap strategi penyelesaian hanya cocok untuk kasus-kasus nonlinier tertentu, dengan kata lain tidak ada satu strategi ampuh yang dapat menyelesaikan semua persoalan non-linier (general closed form solution). Kondisi di atas menyebabkan penyelesaian kasus non-linier memerlukan pemahaman yang mendalam dan hati-hati. Adapun hasilnya biasanya bukan merupakan satu angka tunggal tetapi bisa berupa kurva perilaku struktur (kurva gaya-lendutan) terhadap suatu tahapan beban yang diberikan. Q. Metode Elemen Hingga Metode matriks peralihan yang dimana titik nodalnya didefinisikan biasanya di pertemuan elemen-elemennya dan koefisien kekakuaan secara konseptual mudah didefinisikan.
20 32 Masalah kontinum, seperti pada analisis cangkang tipis, teknik elemen hingga banyak dan mudah digunakan. Dalam model elemen hingga, kontinum diganti dengan jaring tersebut Jaring Elemen Hingga. Elemen-elemen ini dipandang terhubung satu sama lain di titik-titik yang disebut titik-titik nodal (biasanya dipojok dan kadang-kadang di tepi). Beban dipermukaan dikonversikan menjadi beban titik nodal. Model struktur ini digunakan untuk menghasilkan gaya dan peralihan. Model yang digunakan ini didasarkan atas berbagai prinsip energi. Model elemen hingga menghasilkan solusi eksak pada kondisi tertentu, tergantung pada sifat masalah dan karakteristik elemen yang digunakan. Program computer analisis struktur untuk rangka batang dan rangka sebenarnya adalah program elemen hingga, di mana matriks kekakuaan diformulasikan menurut teori eksak. Akan tetapi, untuk kebanyakan masalah, model elemen hingga hanya merupakan pendekatan dari kontinum dan tentunya harus ada asumsi lain dalam formulasi kekakuaan atau bentuk deformasi. Penggunaan asumsi peralihan yang cocok merupakan bagian penting dari formulasi elemen hingga untuk masalah kompleks. Program analisis telah banyak dikembangkan, baik untuk rangka maupun masalah dua dimensi. Karena metode ini berupa pendekatan, maka penggunanya harus benar-benar hati-hati dengan memperhatikan asumsi yang ada dan perlu ditekankan bahwa program elemen hingga tidak selalu merupakan akhir analisis struktural. 1. Model Konstitutif Beton Bertulang Non Linear ABAQUS menyediakan dua model untuk perilaku beton non-linier, smeared cracking dan concrete demage plasticity. Model smeared cracking berdasarkan pada formula kegagalan elastic dan umumnya diterapkan pada struktur denga pebebanan monotonic hal ini berkaitan dengan statik, model ini dapat menfasilitasi penelitian ini. Sedangkan concrete demage plasticity model yang lebih tepat digunakan untuk struktur yang mengalami model siklik. Hal yang paling membedakan antara demage plasticity dan smeared cracking adalah kemmapuannya untuk mendefinisikan degradasi tekan dan Tarik.
21 33 2. Permodelan Elemen Hingga ABAQUS ABAQUS merupakan program komputer berbasis elemen hingga untuk menganalisis berbagai macam permasalahan non-linier termasuk beton bertulang. Kemampuan program ini tidak diragukan lagi karena mampu untuk melakukan meshing dengan akurat dengan berbagai pilihan model elemen agar dapat semakin mendekati dengan kondisi sebenarnya serta mampu melakukan analisis dinamik maupun statik loading. ABAQUS memberikan solusi berbagai persamaan konstutif untuk menyelesaikan permasalahan non-linier sehingga memudahkan pengguna untuk memilih solusi yang tepat untuk model yang akan dianalisis. Konsistensi ABAQUS dalam pengembangan software memberikan kemajuan dalam ketepatan permodelan material, geometri dan model pembebeanan sehingga bisa semakin memperoleh hasil yang eksak dan mendekati kondisis nyata. Dalam pemodelan, ABAQUS memberikan banyak pilihan model yang dapat digunakan. Pengguna dapat memilih model sesuai geometri, material, perilaku benda uji yang akan dimodelkam. Gambar 3.16 menunjukan beberapa bentuk model yang akan dipilih secara langsung dengan menggunakan program ABAQUS. Gambar 3.15 Macam-macam model elemen (ABAQUS Manual)
22 34 a. Model Beton Dalam pemodelannya, beton dimodelkan sebagai three-dimentional solid part/continuum element. Pertimbangan adalah three-dimensional model akan memeberikan kemungkinan untuk menggunakan kondisi batas yang lebih kompleks dan diharap lebih mendekati kondisi aktual sebenarnya dari benda uji. Tipe elemen ini memiliki delapan titik dengan tiga derajat kebebasan pada tiap titiknya dan translasinya pada arah x, y, dan z. elemen ini mampu untuk melakukan deformasi, retak pada tiga arah sumbu orthogonal dan kemudian hancur. Geometri dan posisi titik dapat dilihat pada gambar 3.17 berikut. Gambar 3.16 three dimensional element (Software ABAQUS ) b. Model Baja tulangan dan Plat Model truss disediakan pada ABAQUS untuk memodelkan baja tulangan. Diperlukan minimal dua titik untuk dapat menggunakan elemen ini. Tiap titiknya memliki tiga derajat kebebasan dan translasinya pada arah x, y, z. elemen ini memiliki kemampuan untuk mengalami deformasi statis dan plastis.
23 35 Gambar 3.17 Truss element (Software ABAQUS ) c. Modul Part Modul Part adalah bagian dari modul yang akan digunakan untuk menggambar benda yang akan disimulasikan didalam ABAQUS Modul part menyediakan menu tool bar yang berfungsi untuk melakukan modifikasi benda maupun bentuk sesuai dengan model yang akan kita buat. d. Modul Property Modul Property berfungsi untuk memasukaan sifat mekanis bahan, jenis material, kekuatan bahan dan spesifikasi teknis dari material yang akan dianalisis. Modul property ini sangat penting sebelum kita masuk melangkah berikutnya, karena property dari material harus diberikan sebelum kita melakukan proses assembly. e. Modul Assembly Assembly adalah menyusun bagian-bagian komponen (instance part) yang akan dibuat menjadi satu kesatuan model sehingga memungkinkan untuk dilakukan analisis numerik. f. Modul step Step Berfungsi untuk menentukan urutan langkah-langkah yang mana akan didefinisikan seagai letak pemberian beban atau kecepetan. Modul step menyediakan menu set dan surface untuk meletakkan beban yang akan kita kerjakan pada benda.
24 36 g. Modul Interaction Interaction berfungsi untuk menentukan bagian material yang akan mengalami kontak. Interaction juga berguna untuk memberikan constraint pada benda yang akan dianalisis untuk mencegah bergesernya benda dari kedudukan awalnya. h. Modul Load Load digunakan uttuk memberikan beban, kecepatan, boundry pada benda uji. Modul load juga digunakan sebagai sarana untuk memasukan tipe kondisi batas (Boundry Conditions) yang akan kita buat. i. Modul Mesh Mesh Berfungsi membagi geometri dari benda yang akna kita buat node dan element. Kita bisa menentukan jenis mesh yang akan kita gunakan serta mengontrol jenis mesh yang kita berikan pada benda. j. Modul Job Job berfungsi untuk melakukan proses running terhadap model yang telah kita buat. Setalah data yang kita masukan sudah selesai selanjutanya kita serahkan pada job module untuk melakukan proses penyelesaiaan secara numerik. Selama proses numerik diadalam software kita bisa memonitor dari message area yang berada dibawah viewport apakan submit job berhasil atau tidak, apabila terjadi error message kita kembali kepada modul untuk melakukan modifikasi terhadap bagian-bagian yang masih terdapat kesalahan atau terjadi eror. k. Kondisi Batas Penentuan kondisi batas/broundary condition pada permodelan sambungan balok-kolom ditentukan oleh beberapa hal yaitu : Penempatan perletakan pada satu kesatuaan struktur elemen terdapat kondisi tertentu dimana nilai momen adalah nol gambar pada lokasi ini dapat dilakukan penyederhanaan elemen struktur yang dijadikan benda uji. Sehingga dengan demikian pada lokasi tersebut dapat diletakkan perletakan berupa rol, sendi ataupun jepit.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. gedung dalam menahan beban-beban yang bekerja pada struktur tersebut. Dalam. harus diperhitungkan adalah sebagai berikut :
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Pembebanan Struktur Perencanaan struktur bangunan gedung harus didasarkan pada kemampuan gedung dalam menahan beban-beban yang bekerja pada struktur tersebut. Dalam Peraturan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pembebanan Komponen Struktur Pada perencanaan bangunan bertingkat tinggi, komponen struktur direncanakan cukup kuat untuk memikul semua beban kerjanya. Pengertian beban itu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Struktur Dalam perencanaan suatu struktur bangunan gedung bertingkat tinggi sebaiknya mengikuti peraturan-peraturan pembebanan yang berlaku untuk mendapatkan suatu
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5.1 Spesifikasi Benda Uji Benda Uji Tulangan Dimensi Kolom BU 1 D mm x 225 mm Balok BU 1 D mm x 200 mm
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini akan membahas hasil dari analisa uji sambungan balok kolom precast. Penelitian dilakukan dengan metode elemen hingga yang menggunakan program ABAQUS. memodelkan dua jenis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Struktur Dalam perencaaan struktur bangunan harus mengikuti peraturan pembebanan yang berlaku untuk mendapatkan struktur bangunan yang aman. Pengertian beban adalah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pembebanan yang berlaku untuk mendapatkan suatu struktur bangunan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Pembebanan Struktur Dalam perencanaan struktur bangunan harus mengikuti peraturanperaturan pembebanan yang berlaku untuk mendapatkan suatu struktur bangunan yang aman. Pengertian
Pembebanan Batang Secara Aksial. Bahan Ajar Mekanika Bahan Mulyati, MT
Pembebanan Batang Secara Aksial Suatu batang dengan luas penampang konstan, dibebani melalui kedua ujungnya dengan sepasang gaya linier i dengan arah saling berlawanan yang berimpit i pada sumbu longitudinal
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Baja Baja merupakan bahan konstruksi yang sangat baik, sifat baja antara lain kekuatannya yang sangat besar dan keliatannya yang tinggi. Keliatan (ductility) ialah kemampuan
B. Peralatan penelitian
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN METODELOGI PENELITIAN A. Materi penelitian Materi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sistem struktur portal rangka baja yang pada awalnya tanpa menggunakan pengikat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sistem Sambungan Balok-Kolom Pacetak Hutahuruk (2008), melakukan penelitian tentang sambungan balok-kolom pracetak menggunakan kabel strand dengan sistem PSA. Penelitian terdiri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pembebanan Komponen Struktur Dalam perencanaan bangunan tinggi, struktur gedung harus direncanakan agar kuat menahan semua beban yang bekerja padanya. Berdasarkan Arah kerja
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI A. Konsep Dasar Sistem Pracetak Beton pracetak merupakan elemen atau komponen beton dengan atau tanpa tulangan yang dicetak terlebih dahulu sebelum dirakit menjadi bangunan. Semua
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pembebanan Komponen Struktur Pada perencanaan bangunan bertingkat tinggi, komponen struktur direncanakan cukup kuat untuk memikul semua beban kerjanya. Pengertian beban itu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Komponen Struktur Pada perencanaan bangunan bertingkat tinggi, komponen struktur direncanakan cukup kuat untuk memikul semua beban kerjanya. Pengertian beban itu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kolom Kolom beton murni dapat mendukung beban sangat kecil, tetapi kapasitas daya dukung bebannya akan meningkat cukup besar jika ditambahkan tulangan longitudinal. Peningkatan
BAB II DASAR-DASAR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT
BAB II DASAR-DASAR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT 2.1 KONSEP PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RAWAN GEMPA Pada umumnya struktur gedung berlantai banyak harus kuat dan stabil terhadap berbagai macam
BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembangunan prasarana fisik di Indonesia saat ini banyak pekerjaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam pembangunan prasarana fisik di Indonesia saat ini banyak pekerjaan konstruksi bangunan menggunakan konstruksi baja sebagai struktur utama. Banyaknya penggunaan
BAB IV EVALUASI KINERJA DINDING GESER
BAB I EALUASI KINERJA DINDING GESER 4.1 Analisis Elemen Dinding Geser Berdasarkan konsep gaya dalam yang dianut dalam SNI Beton 2847-2002, elemen struktur dinding geser tidak dicek terhadap kegagalan gesernya.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Dalam perencanaan suatu struktur bangunan harus memenuhi peraturanperaturan yang berlaku untuk mendapatkan suatu struktur bangunan yang aman secara konstruksi berdasarkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. desain untuk pembangunan strukturalnya, terutama bila terletak di wilayah yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Struktur bangunan bertingkat tinggi memiliki tantangan tersendiri dalam desain untuk pembangunan strukturalnya, terutama bila terletak di wilayah yang memiliki faktor resiko
BAB II TEORI DASAR. Gambar 2.1 Tipikal struktur mekanika (a) struktur batang (b) struktur bertingkat [2]
BAB II TEORI DASAR 2.1. Metode Elemen Hingga Analisa kekuatan sebuah struktur telah menjadi bagian penting dalam alur kerja pengembangan desain dan produk. Pada awalnya analisa kekuatan dilakukan dengan
BAB III ANALISA PERENCANAAN STRUKTUR
BAB III ANALISA PERENCANAAN STRUKTUR 3.1. ANALISA PERENCANAAN STRUKTUR PELAT Struktur bangunan gedung pada umumnya tersusun atas komponen pelat lantai, balok anak, balok induk, dan kolom yang merupakan
d b = Diameter nominal batang tulangan, kawat atau strand prategang D = Beban mati atau momen dan gaya dalam yang berhubungan dengan beban mati e = Ek
DAFTAR NOTASI A g = Luas bruto penampang (mm 2 ) A n = Luas bersih penampang (mm 2 ) A tp = Luas penampang tiang pancang (mm 2 ) A l =Luas total tulangan longitudinal yang menahan torsi (mm 2 ) A s = Luas
BAB I PENDAHULUAN. fisik menuntut perkembangan model struktur yang variatif, ekonomis, dan aman. Hal
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Umum Ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dan pembangunan sarana prasarana fisik menuntut perkembangan model struktur yang variatif, ekonomis, dan aman. Hal tersebut menjadi mungkin
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. harus dilakukan berdasarkan ketentuan yang tercantum dalam Tata Cara
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Struktur Dalam perencanaan komponen struktur terutama struktur beton bertulang harus dilakukan berdasarkan ketentuan yang tercantum dalam Tata Cara Perhitungan
BAB II DASAR-DASAR DESAIN BETON BERTULANG. Beton merupakan suatu material yang menyerupai batu yang diperoleh dengan
BAB II DASAR-DASAR DESAIN BETON BERTULANG. Umum Beton merupakan suatu material yang menyerupai batu yang diperoleh dengan membuat suatu campuran yang mempunyai proporsi tertentudari semen, pasir, dan koral
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. geser membentuk struktur kerangka yang disebut juga sistem struktur portal.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Struktur Bangunan Suatu sistem struktur kerangka terdiri dari rakitan elemen struktur. Dalam sistem struktur konstruksi beton bertulang, elemen balok, kolom, atau dinding
BAB II STUDI PUSTAKA
BAB II STUDI PUSTAKA 2.1. TINJAUAN UMUM Pada Studi Pustaka ini akan membahas mengenai dasar-dasar dalam merencanakan struktur untuk bangunan bertingkat. Dasar-dasar perencanaan tersebut berdasarkan referensi-referensi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang aman. Pengertian beban di sini adalah beban-beban baik secara langsung
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Struktur Dalam perencanaan struktur bangunan harus mengikuti peraturanperaturan pembebanan yang berlaku untuk mendapatkan suatu struktur bangunan yang aman. Pengertian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pergesekan lempeng tektonik (plate tectonic) bumi yang terjadi di daerah patahan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Gempa adalah fenomena getaran yang diakibatkan oleh benturan atau pergesekan lempeng tektonik (plate tectonic) bumi yang terjadi di daerah patahan (fault zone). Besarnya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Analisis Lentur Balok Mac. Gregor (1997) mengatakan tegangan lentur pada balok diakibatkan oleh regangan yang timbul karena adanya beban luar. Apabila beban bertambah maka pada
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pembebanan Struktur bangunan yang aman adalah struktur bangunan yang mampu menahan beban-beban yang bekerja pada bangunan. Dalam suatu perancangan struktur harus memperhitungkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Beban Struktur Pada suatu struktur bangunan, terdapat beberapa jenis beban yang bekerja. Struktur bangunan yang direncanakan harus mampu menahan beban-beban yang bekerja pada
DAFTAR ISI. LEMBAR JUDUL... i KATA PENGANTAR... UCAPAN TERIMA KASIH... iii. DAFTAR ISI... iv DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... ABSTRAK...
DAFTAR ISI HALAMAN LEMBAR JUDUL... i KATA PENGANTAR...... ii UCAPAN TERIMA KASIH......... iii DAFTAR ISI...... iv DAFTAR TABEL...... v DAFTAR GAMBAR...... vi ABSTRAK...... vii BAB 1PENDAHULUAN... 9 1.1.Umum...
sejauh mungkin dari sumbu netral. Ini berarti bahwa momen inersianya
BABH TINJAUAN PUSTAKA Pada balok ternyata hanya serat tepi atas dan bawah saja yang mengalami atau dibebani tegangan-tegangan yang besar, sedangkan serat di bagian dalam tegangannya semakin kecil. Agarmenjadi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Beton berlulang merupakan bahan konstruksi yang paling penting dan merupakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Beton berlulang merupakan bahan konstruksi yang paling penting dan merupakan suatu kombinasi antara beton dan baja tulangan. Beton bertulang merupakan material yang kuat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
28 BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Material Beton II.1.1 Definisi Material Beton Beton adalah suatu campuran antara semen, air, agregat halus seperti pasir dan agregat kasar seperti batu pecah dan kerikil.
A. Struktur Balok. a. Tunjangan lateral dari balok
A. Struktur Balok 1. Balok Konstruksi Baja Batang lentur didefinisikan sebagai batang struktur yang menahan baban transversal atau beban yang tegak lurus sumbu batang. Batang lentur pada struktur yang
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Berfikir Sengkang merupakan elemen penting pada kolom untuk menahan beban gempa. Selain menahan gaya geser, sengkang juga berguna untuk menahan tulangan utama dan
ANALISIS DAKTILITAS BALOK BETON BERTULANG
ANALISIS DAKTILITAS BALOK BETON BERTULANG Bobly Sadrach NRP : 9621081 NIRM : 41077011960360 Pembimbing : Daud Rahmat Wiyono, Ir., M.Sc FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
Bab II STUDI PUSTAKA
Bab II STUDI PUSTAKA 2.1 Pengertian Sambungan, dan Momen 1. Sambungan adalah lokasi dimana ujung-ujung batang bertemu. Umumnya sambungan dapat menyalurkan ketiga jenis gaya dalam. Beberapa jenis sambungan
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI A. Konsep Dasar Sistem Pracetak Konsep perencanaan bangunan tahan gempa pada masa kini merupakan hasil penelitian dari para pakar selandia baru sejak tahun 1960, yaitu Park, Paulay
Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur
STUDI PERILAKU SAMBUNGAN BALOK PRACETAK UNTUK RUMAH SEDERHANA TAHAN GEMPA AKIBAT BEBAN STATIK Leonardus Setia Budi Wibowo 1 Tavio 2 Hidayat Soegihardjo 3 Endah Wahyuni 4 dan Data Iranata 5 1 Mahasiswa
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Desain struktur merupakan faktor yang sangat menentukan untuk menjamin
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Desain struktur merupakan faktor yang sangat menentukan untuk menjamin kekuatan dan keamanan suatu bangunan, karena inti dari suatu bangunan terletak pada kekuatan bangunan
Jurnal Teknika Atw 1
PENGARUH BENTUK PENAMPANG BATANG STRUKTUR TERHADAP TEGANGAN DAN DEFLEKSI OLEH BEBAN BENDING Agung Supriyanto, Joko Yunianto P Program Studi Teknik Mesin,Akademi Teknologi Warga Surakarta ABSTRAK Dalam
STUDI DAKTILITAS DAN KUAT LENTUR BALOK BETON RINGAN DAN BETON MUTU TINGGI BERTULANG
9 Vol. Thn. XV April 8 ISSN: 854-847 STUDI DAKTILITAS DAN KUAT LENTUR BALOK BETON RINGAN DAN BETON MUTU TINGGI BERTULANG Ruddy Kurniawan, Pebrianti Laboratorium Material dan Struktur Jurusan Teknik Sipil
BAB 1 PENDAHULUAN...1
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...i HALAMAN PENGESAHAN...ii HALAMAN PERNYATAAN...iii KATA PENGANTAR...iv DAFTAR ISI...v DAFTAR TABEL...ix DAFTAR GAMBAR...xi DAFTAR PERSAMAAN...xiv INTISARI...xv ABSTRACT...xvi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pembahasan hasil penelitian ini secara umum dibagi menjadi lima bagian yaitu
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembahasan hasil penelitian ini secara umum dibagi menjadi lima bagian yaitu pengujian mekanik beton, pengujian benda uji balok beton bertulang, analisis hasil pengujian, perhitungan
T I N J A U A N P U S T A K A
B A B II T I N J A U A N P U S T A K A 2.1. Pembebanan Struktur Besarnya beban rencana struktur mengikuti ketentuan mengenai perencanaan dalam tata cara yang didasarkan pada asumsi bahwa struktur direncanakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keruntuhan akibat gaya geser pada suatu elemen struktur beton bertulang bersifat getas (brittle), tidak daktil, dan keruntuhannya terjadi secara tiba-tiba tanpa ada
BAB I PENDAHULUAN Umum. Pada dasarnya dalam suatu struktur, batang akan mengalami gaya lateral
1 BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Umum Pada dasarnya dalam suatu struktur, batang akan mengalami gaya lateral dan aksial. Suatu batang yang menerima gaya aksial desak dan lateral secara bersamaan disebut balok
STUDI PERILAKU SAMBUNGAN BALOK PRACETAK UNTUK RUMAH SEDERHANA TAHAN GEMPA AKIBAT BEBAN STATIK
STUDI PERILAKU SAMBUNGAN BALOK PRACETAK UNTUK RUMAH SEDERHANA TAHAN GEMPA AKIBAT BEBAN STATIK Leonardus Setia Budi Wibowo Tavio Hidayat Soegihardjo 3 Endah Wahyuni 4 dan Data Iranata 5 Mahasiswa S Jurusan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Beton Beton didefinisikan sebagai campuran antara sement portland atau semen hidraulik yang lain, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan tambahan yang
L p. L r. L x L y L n. M c. M p. M g. M pr. M n M nc. M nx M ny M lx M ly M tx. xxi
DAFTAR SIMBOL a tinggi balok tegangan persegi ekuivalen pada diagram tegangan suatu penampang beton bertulang A b luas penampang bruto A c luas penampang beton yang menahan penyaluran geser A cp luasan
BAB III PEMODELAN STRUKTUR
BAB III Dalam tugas akhir ini, akan dilakukan analisis statik ekivalen terhadap struktur rangka bresing konsentrik yang berfungsi sebagai sistem penahan gaya lateral. Dimensi struktur adalah simetris segiempat
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Beton tidak dapat menahan gaya tarik melebihi nilai tertentu tanpa mengalami retak-retak. Untuk itu, agar beton dapat bekerja dengan baik dalam suatu sistem struktur,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisis Statik Beban Dorong (Static Pushover Analysis) Menurut SNI Gempa 03-1726-2002, analisis statik beban dorong (pushover) adalah suatu analisis nonlinier statik, yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Semakin berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan dewasa ini, juga membuat semakin berkembangnya berbagai macam teknik dalam pembangunan infrastruktur, baik itu
Kuliah ke-6. UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI FAKULTAS TEKNIK Jalan Sudirman No. 629 Palembang Telp: , Fax:
Kuliah ke-6 Bar (Batang) digunakan pada struktur rangka atap, struktur jembatan rangka, struktur jembatan gantung, pengikat gording dn pengantung balkon. Pemanfaatan batang juga dikembangkan untuk sistem
BAB I PENDAHULUAN. menggunakan SNI Untuk mendukung penulisan tugas akhir ini
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pada saat ini kolom bangunan tinggi banyak menggunakan material beton bertulang. Seiring dengan berkembangnya teknologi bahan konstruksi di beberapa negara, kini sudah
BAB 4 PENGUJIAN LABORATORIUM
BAB 4 PENGUJIAN LABORATORIUM Uji laboratorium dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan perilaku struktur bambu akibat beban rencana. Pengujian menjadi penting karena bambu merupakan material yang tergolong
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Hasil Penelitian Eksperimen Sambungan Balok-Kolom Sistem Pracetak Ertas, dkk (2006) melakukan penelitian tentang sambungan daktail pada struktur rangka pemikul momen pracetak.
Tegangan Dalam Balok
Mata Kuliah : Mekanika Bahan Kode : TSP 05 SKS : SKS Tegangan Dalam Balok Pertemuan 9, 0, TIU : Mahasiswa dapat menghitung tegangan yang timbul pada elemen balok akibat momen lentur, gaya normal, gaya
BAB III UJI LABORATORIUM. Pengujian bahan yang akan diuji merupakan bangunan yang terdiri dari 3
BAB III UJI LABORATORIUM 3.1. Benda Uji Pengujian bahan yang akan diuji merupakan bangunan yang terdiri dari 3 dimensi, tiga lantai yaitu dinding penumpu yang menahan beban gempa dan dinding yang menahan
Gambar 2.1 Rangka dengan Dinding Pengisi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Dinding Pengisi 2.1.1 Definisi Dinding pengisi yang umumnya difungsikan sebagai penyekat, dinding eksterior, dan dinding yang terdapat pada sekeliling tangga dan elevator secara
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Pembebanan merupakan faktor penting dalam merancang stuktur bangunan. Oleh karena itu, dalam merancang perlu diperhatikan beban-bean yang bekerja pada struktur agar
PERENCANAAN STRUKTUR RANGKA BAJA BRESING KONSENTRIK BIASA DAN STRUKTUR RANGKA BAJA BRESING KONSENTRIK KHUSUS TIPE-X TUGAS AKHIR
PERENCANAAN STRUKTUR RANGKA BAJA BRESING KONSENTRIK BIASA DAN STRUKTUR RANGKA BAJA BRESING KONSENTRIK KHUSUS TIPE-X TUGAS AKHIR Diajukan sebagai salah satu persyaratan menyelesaikan Tahap Sarjana pada
BAB II STUDI LITERATUR
BAB II STUDI LITERATUR. PENDAHULUAN Pada struktur pelat satu-arah beban disalurkan ke balok kemudian beban disalurkan ke kolom. Jika balok menyatu dengan ketebalan pelat itu sendiri, menghasilkan sistem
BAB 1 PENDAHULUAN. metoda desain elastis. Perencana menghitung beban kerja atau beban yang akan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PENULISAN Umumnya, pada masa lalu semua perencanaan struktur direncanakan dengan metoda desain elastis. Perencana menghitung beban kerja atau beban yang akan dipikul
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan konstruksi selalu terjadi hingga saat ini yang dapat dilihat dengan usaha para ahli yang selalu melalukan inovasi untuk dapat menemukan
PERENCANAAN GEDUNG BETON BERTULANG BERATURAN BERDASARKAN SNI DAN FEMA 450
PERENCANAAN GEDUNG BETON BERTULANG BERATURAN BERDASARKAN SNI 02-1726-2002 DAN FEMA 450 Eben Tulus NRP: 0221087 Pembimbing: Yosafat Aji Pranata, ST., MT JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS
D3 TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG BAB II STUDI PUSTAKA
BAB II STUDI PUSTAKA 2.1 Definisi Jembatan merupakan satu struktur yang dibuat untuk menyeberangi jurang atau rintangan seperti sungai, rel kereta api ataupun jalan raya. Ia dibangun untuk membolehkan
DAFTAR NOTASI. Luas penampang tiang pancang (mm²). Luas tulangan tarik non prategang (mm²). Luas tulangan tekan non prategang (mm²).
DAFTAR NOTASI A cp Ag An Atp Luas yang dibatasi oleh keliling luar penampang beton (mm²). Luas bruto penampang (mm²). Luas bersih penampang (mm²). Luas penampang tiang pancang (mm²). Al Luas total tulangan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. gedung dalam menahan beban-beban yang bekerja pada struktur tersebut.
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Komponen Struktur Perencanaan suatu struktur bangunan gedung didasarkan pada kemampuan gedung dalam menahan beban-beban yang bekerja pada struktur tersebut. Pengertian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi dalam bidang konstruksi terus menerus mengalami peningkatan, kontruksi bangunan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak akan pernah
03. Semua komponen struktur diproporsikan untuk mendapatkan kekuatan yang. seimbang yang menggunakan unsur faktor beban dan faktor reduksi.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendahuluan Perancangan struktur suatu bangunan gedung didasarkan pada besarnya kemampuan gedung menahan beban-beban yang bekerja padanya. Disamping itu juga harus memenuhi
KAJIAN EKSPERIMENTAL PERILAKU BALOK BETON TULANGAN TUNGGAL BERDASARKAN TIPE KERUNTUHAN BALOK ABSTRAK
VOLUME 5 NO. 2, OKTOBER 9 KAJIAN EKSPERIMENTAL PERILAKU BALOK BETON TULANGAN TUNGGAL BERDASARKAN TIPE KERUNTUHAN BALOK Oscar Fithrah Nur 1 ABSTRAK Keruntuhan yang terjadi pada balok tulangan tunggal dipengaruhi
KERUNTUHAN LENTUR BALOK PADA STRUKTUR JOINT BALOK-KOLOM BETON BERTULANG EKSTERIOR AKIBAT BEBAN SIKLIK
KERUNTUHAN LENTUR BALOK PADA STRUKTUR JOINT BALOK-KOLOM BETON BERTULANG EKSTERIOR AKIBAT BEBAN SIKLIK Ratna Widyawati 1 Abstrak Dasar perencanaan struktur beton bertulang adalah under-reinforced structure
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN A. Materi Penelitian Penelitian ini meneliti tentang perilaku sambungan interior balok-kolom pracetak, dengan benda uji balok T dan kolom persegi, serta balok persegi dan kolom
PENGANTAR KONSTRUKSI BANGUNAN BENTANG LEBAR
Pendahuluan POKOK BAHASAN 1 PENGANTAR KONSTRUKSI BANGUNAN BENTANG LEBAR Struktur bangunan adalah bagian dari sebuah sistem bangunan yang bekerja untuk menyalurkan beban yang diakibatkan oleh adanya bangunan
BAB I PENDAHULUAN. membutuhkan penanganan yang serius, terutama pada konstruksi yang terbuat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Umum dan Latar Belakang Pembangunan terhadap gedung gedung bertingkat pada umumnya sangat membutuhkan penanganan yang serius, terutama pada konstruksi yang terbuat dari beton, baja
Pertemuan I,II,III I. Tegangan dan Regangan
Pertemuan I,II,III I. Tegangan dan Regangan I.1 Tegangan dan Regangan Normal 1. Tegangan Normal Konsep paling dasar dalam mekanika bahan adalah tegangan dan regangan. Konsep ini dapat diilustrasikan dalam
Meliputi pertimbangan secara detail terhadap alternatif struktur yang
BAB II TINJAUAN PIISTAKA 2.1 Pendahuluan Pekerjaan struktur secara umum dapat dilaksanakan melalui 3 (tiga) tahap (Senol,Utkii,Charles,John Benson, 1977), yaitu : 2.1.1 Tahap perencanaan (Planningphase)
EVALUASI PERBANDINGAN KONSEP DESAIN DINDING GESER TAHAN GEMPA BERDASARKAN SNI BETON
EVALUASI PERBANDINGAN KONSEP DESAIN DINDING GESER TAHAN GEMPA BERDASARKAN SNI BETON TUGAS AKHIR SEBAGAI SALAH SATU SYARAT UNTUK MENYELESAIKAN PENDIDIKAN SARJANA TEKNIK DI PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL oleh
BAB IV HASIL EKSPERIMEN DAN ANALISIS
IV-1 BAB IV HASIL EKSPERIMEN DAN ANALISIS Data hasil eksperimen yang di dapat akan dilakukan analisis terutama kemampuan daktilitas beton yang menggunakan 2 (dua) macam serat yaitu serat baja dan serat
BAB 4 PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA
BAB 4 PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA 4.1 Studi Eksperimental 4.1.1 Pendahuluan Model dari eksperimen ini diasumsikan sesuai dengan kondisi di lapangan, yaitu berupa balok beton bertulang untuk balkon yang
BAB I PENDAHULUAN Konsep Perencanaan Struktur Beton Suatu struktur atau elemen struktur harus memenuhi dua kriteria yaitu : Kuat ( Strength )
BAB I PENDAHULUAN 1. Data Teknis Bangunan Data teknis dari bangunan yang akan direncanakan adalah sebagai berikut: a. Bangunan gedung lantai tiga berbentuk T b. Tinggi bangunan 12 m c. Panjang bangunan
Pedoman Pengerjaan PERANCANGAN STRUKTUR BETON
Pedoman Pengerjaan PERANCANGAN STRUKTUR BETON I. Kriteria & Jadwal Pedoman ini disusun dengan tujuan untuk: Memberi gambaran tahapan dalam mengerjakan tugas Perancangan Struktur Beton agar prosedur desain
BAB III LANDASAN TEORI. A. Pembebanan
BAB III LANDASAN TEORI A. Pembebanan Dalam perancangan suatu struktur bangunan harus memenuhi peraturanperaturan yang berlaku sehingga diperoleh suatu struktur bangunan yang aman secara konstruksi. Struktur
BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pada tahun 1850, J.L Lambot memperkenal konsep dasar konstruksi komposit yaitu gabungan dua bahan konstruksi yang berbeda yang bekerja bersama sama memikul
Latar Belakang : Banyak bencana alam yang terjadi,menyebabkan banyak rumah penduduk rusak
Bab I Pendahuluan Latar Belakang : Kebutuhan perumahan di Indonesia meningkat seiring pertumbuhan penduduk yang pesat. Banyak bencana alam yang terjadi,menyebabkan banyak rumah penduduk rusak Latar Belakang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tengah sekitar 0,005 mm 0,01 mm. Serat ini dapat dipintal menjadi benang atau
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Fiber Glass Fiber glass adalah kaca cair yang ditarik menjadi serat tipis dengan garis tengah sekitar 0,005 mm 0,01 mm. Serat ini dapat dipintal menjadi benang atau ditenun
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut PBI 1983, pengertian dari beban-beban tersebut adalah seperti yang. yang tak terpisahkan dari gedung,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Dalam perencanaan suatu struktur bangunan harus memenuhi peraturanperaturan yang berlaku untuk mendapatkan suatu struktur bangunan yang aman secara kontruksi. Struktur
PERILAKU STRUKTUR BETON BERTULANG AKIBAT PEMBEBANAN SIKLIK
PERILAKU STRUKTUR BETON BERTULANG AKIBAT PEMBEBANAN SIKLIK Raja Marpaung 1 ), Djaka Suhirkam 2 ), Lina Flaviana Tilik 3 ) Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Polsri Jalan Srijaya Negara Bukit Besar Palembang
BAB III LANDASAN TEORI. untuk bangunan gedung (SNI ) dan tata cara perencanaan gempa
BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Pembebanan Beban yang ditinjau dan dihitung dalam perancangan gedung ini adalah beban hidup, beban mati dan beban gempa. 3.1.1. Kuat Perlu Beban yang digunakan sesuai dalam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktural yang memikul beban dari balok. Kolom meneruskan beban-beban dari elevasi atas ke elevasi yang lebih bawah hingga akhirnya
STUDI PERILAKU TEKUK TORSI LATERAL PADA BALOK BAJA BANGUNAN GEDUNG DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ABAQUS 6.7. Oleh : RACHMAWATY ASRI ( )
TUGAS AKHIR STUDI PERILAKU TEKUK TORSI LATERAL PADA BALOK BAJA BANGUNAN GEDUNG DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ABAQUS 6.7 Oleh : RACHMAWATY ASRI (3109 106 044) Dosen Pembimbing: Budi Suswanto, ST. MT. Ph.D
BAB I PENDAHULUAN. Berbagai inovasi yang ditemukan oleh para ahli membawa proses pembangunan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kontruksi bangunan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak akan pernah berhenti dan terus mengalami perkembangan dari masa ke masa. Berbagai inovasi yang
BAB 1. PENGENALAN BETON BERTULANG
BAB 1. PENGENALAN BETON BERTULANG Capaian Pembelajaran: Setelah mempelajari sub bab 1 Pengenalan Beton bertulang diharapkan mahasiswa dapat memahami definisi beton bertulang, sifat bahan, keuntungan dan
Kinerja Hubungan Pelat-Kolom Struktur Flat Plate Bertulangan Geser Stud Rail dan Sengkang Dalam Menahan Beban Lateral Siklis
ISBN 978-979-3541-25-9 Kinerja Hubungan Pelat-Kolom Struktur Flat Plate Bertulangan Geser Stud Rail dan Sengkang Dalam Menahan Beban Lateral Siklis Riawan Gunadi 1, Bambang Budiono 2, Iswandi Imran 2,
