V. KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "V. KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN"

Transkripsi

1 57 V. KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 5.1. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah Kota Padang merupakan Ibukota Provinsi Sumatera Barat yang terletak di pesisir pantai bagian barat Sumatera. Luas keseluruhan Kota Padang adalah 694,96 km², terletak pada 100º05 05 BT 100º34 09 BT dan 00º44 00 LS- 01º08 35 LS. Batas-batas administrasi wilayah Kota Padang, adalah : Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Padang Pariaman. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Solok. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Pesisir Selatan. Sebelah barat berbatasan dengan Selat Mentawai. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1980, luas wilayah Kota Padang secara administratif adalah 694,96 km². Wilayah Kota Padang yang sebelumnya terdiri dari 3 kecamatan dengan 15 kelurahan dikembangkan menjadi 11 kecamatan dengan 193 kelurahan, secara rinci diuraikan pada Tabel 4 berikut: Tabel 4. Administrasi Wilayah Kota Padang Sebelum UU 22/1999 Setelah UU 22/1999 No. Kecamatan Luas (Km²) Jumlah Kelurahan Luas (Km²) Jumlah Kelurahan A Wilayah Darat 694,96 1 Bungus Teluk Kabung 100, , Lubuk Kilangan 85, , Lubuk Begalung 30, , Padang Selatan 10, , Padang Timur 8, , Padang Barat 7, , Padang Utara 8, , Nanggalo 8,07 7 8, Kuranji 57, , Pauh 146, , Koto Tangah 232, ,25 13 B Wilayah Laut ,00 - Total 694, , Sumber : Bappeda dan BPS Kota Padang, 2009 UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang diikuti oleh Peraturan Pemerintah nomor 25 Tahun 2000 menyebabkan terjadi penambahan

2 58 luas administrasi Kota Padang menjadi 1.414,96 km² (720,00 km² di antaranya adalah wilayah laut) dan penggabungan beberapa kelurahan, sehingga menjadi 104 kelurahan (Bappeda Kota Padang, 2010). Total sebelas kecamatan yang ada di Kota Padang, enam diantaranya merupakan kecamatan yang memiliki wilayah pesisir dengan total luas wilayahnya mencapai ± 694,96 km 2 berdasarkan PP Nomor 17/1980. Total panjang garis pantai 68,126 km dan tidak termasuk panjang garis pantai pulau-pulau kecil. Nama kecamatan dan kelurahan pesisir di Kota Padang ditampilkan pada Tabel 5 (Peta administrasi lihat Lampiran 2). Tabel 5. Nama Kecamatan dan Kelurahan Pesisir di Kota Padang No. Kecamatan Kelurahan 1 Koto Tangah Padang Sarai, Pasie Nan Tigo, Parupuk Tabing 2 Padang Utara Air Tawar Barat, Ulak Karang Utara, Ulak Karang Selatan, Lolong Belanti 3 Padang Barat Rimbo Kaluang, Purus, Olo, Berok Nipah 4 Padang Selatan 5 Bungus 6 Lubuk Begalung Gates Nan Duapuluh Sumber : BPS Kota Padang, 2010 Batang Harau, Bukit Gado-gado, Air Manis, Teluk Bayur Selatan Bungus Barat, Bungus Selatan, Teluk Kabung Utara, Teluk Kabung Tengah, Teluk Kabung Selatan Wilayah pesisir Kota Padang yang sebagian besar memiliki topografi datar (dijelaskan pada Sub-bab 5.2.1) sangat mendukung perekonomian masyarakat di sektor perdagangan, perikanan dan pariwisata. Hal ini menyebabkan ketiga sektor tersebut menjadi sektor yang mendominasi kegiatan perekonomian di wilayah pesisir. Ketiga sektor tersebut bahkan akan dijadikan sebagai sumber devisa utama selain dari perpajakan oleh Pemerintah Propinsi Sumatera Barat Kondisi Fisik Dasar dan Kebencanaan Topografi Wilayah Kota Padang memiliki topografi yang bervariasi, perpaduan daratan yang landai dan perbukitan bergelombang yang curam. Sebagian besar topografi wilayah Kota Padang memiliki tingkat kelerengan lahan rata-rata lebih dari 40 persen. Ketinggian wilayah Kota Padang dari permukaan laut juga

3 59 bervariasi, mulai 0 meter dpl sampai lebih dari meter dpl. Peta topografi Kota Padang dimuat pada Lampiran 3. Kondisi topografi Kota Padang yang bervariasi menyebabkan kelerengan Kota Padang juga bervariasi dari yang datar dengan kemiringan 0 persen sampai dengan daerah yang mempunyai kemiringan lebih dari 40 persen. Secara garis besar wilayah Kota Padang dikelompokan dalam empat klasifikasi kemiringan dan luas masing-masing wilayah yang diuraikan pada Tabel 6. Tabel 6. Klasifikasi Kemiringan Wilayah Kota Padang No. Klasifikasi Luas Wilayah Lereng Kemiringan (Km 2 ) Persentase 1 0 2% Datar sampai Landai 210,36 30,27% % Landai sampai Bergelombang 50,98 7,34% % Bergelombang sampal Berbukit 124,74 17,95% 4 >40 % Berbukit sampai Bergunung 308,88 44,45% Total 694,96 100,00% Sumber : Bappeda Kota Padang, 2010 Kawasan dengan kelerengan lahan antara 0 2 persen umumnya terdapat di Kecamatan Padang Barat, Padang Timur, Padang Utara, Nanggalo, sebagian Kecamatan Kuranji, Kecamatan Padang Selatan, Kecamatan Lubuk Begalung dan Kecamatan Koto Tangah. Kawasan dengan kelerengan lahan antara 2 15 persen tersebar di Kecamatan Koto Tangah, Kecamatan Pauh dan Kecamatan Lubuk Kilangan yakni berada pada bagian tengah Kota Padang. Kawasan dengan kelerengan lahan persen tersebar di Kecamatan Lubuk Begalung, Lubuk Kilangan, Kuranji, Pauh dan Kecamatan Koto Tangah. Sedangkan kawasan dengan kelerengan lahan lebih dari 40 persen tersebar di bagian Timur Kecamatan Koto Tangah, Kuranji, Pauh, dan bagian Selatan Kecamatan Lubuk Kilangan dan Lubuk Begalung serta sebagian besar Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Kawasan dengan kelerengan lahan lebih dari 40 persen ini merupakan kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung (Bappeda Kota Padang, 2010). Selain dari perbedaan ketinggian bentuk topografi, Kota Padang juga memiliki bentuk pantai yang bervariasi. Bentuk pantai daerah ini adalah landai

4 60 dan curam serta dibeberapa lokasi pantainya memiliki teluk-teluk dan tanjung yang dikelilingi oleh pulau-pulau kecil. Pantai yang terjal (curam) dan dalam sebagian besar terdapat di daerah Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Kota Padang berhubungan langsung dengan Samudera Hindia dan sebahagian wilayahnya merupakan deretan pegunungan Bukit Barisan yang memanjang dari barat laut ke tenggara. Hal ini mengakibatkan topografi wilayah Kota Padang mempunyai kemiringan mulai dari yang landai sampai ketinggian 500 m di atas permukaan laut. Topografi kawasan pesisir Kota Padang dapat dikelompokkan dalam enam kelompok yang disajikan pada Tabel 7. Tabel 7. Klasifikasi Topografi Kawasan Pesisir Kota Padang No. Kawasan Pesisir Ketinggian (m) DPL Keterangan 1 Padang Sarai-Batang Arau 0-10 Pedataran pantai 2 Batang Arau-Labuhan Tarok m dari permukaan laut relatif kecil 3 Labuhan Tarok-Pasar Laban m dari permukaan laut relatif besar 4 Pasar Laban-Sungai Pisang Sungai Pisang sekitarnya m dari permukaan laut relatif sangat kecil 6 Sungai Pisang-Pesisir Selatan Sumber : Bappeda Kota Padang, Melalui Tabel 7 dapat dilihat bahwa wilayah Kota Padang secara umum pada bagian Utara mempunyai topografi yang landai. Pada bagian selatan Kota Padang sebagian besar mempunyai topografi yang berbukit. Wilayah yang mempunyai topografi relatif datar adalah Kecamatan Padang Utara, Padang Barat, Padang Timur, Nanggalo, dan sebagian Kecamatan Kuranji, Pauh, Lubuk Begalung, Lubuk Kilangan serta sebagian kecil Padang Selatan. Wilayah perbukitan di Kota Padang terdapat di sebagian besar Kecamatan Koto Tangah bagian timur, Kecamatan Pauh, Lubuk Kilangan dan Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Secara garis besar klasifikasi ketinggian Kota Padang dapat dikelompokan atas 5 kelas ketinggian seperti yang disajikan pada Tabel 8. Melalui data tersebut dapat diketahui persentase terbesar wilayah Kota Padang berada pada ketinggian meter dpl yakni hampir mencapai 30 persen dari total wilayah.

5 61 Tabel 8. Klasifikasi Ketinggian Wilayah Kota Padang No. Kelas Ketinggian Luas Wilayah (Km 2 ) Persentase meter dpl 149,50 21,51% meter dpl 63,69 9,16% meter dpl 205,30 29,54% meter dpl 164,22 23,63% 5 Lebih dari 1000 meter dpl 112,25 16,15% Total 694,96 100,00% Sumber : Bappeda Kota Padang, 2010 Berdasarkan Tabel 8 dapat dilihat bahwa wilayah Kota Padang yang berada pada ketinggian meter dpl sebesar 30,67 persen dan wilayah dengan ketinggian di atas 250 meter mencapai 69,33 persen. Topografi wilayah yang beragam ini secara tidak langsung akan menyebabkan karakteristik SDM, pengelolaan SDA, penyebaran pemukiman serta berbagai kondisi kependudukan lainnya berkaitan erat dengan kondisi wilayah tersebut. Gambar 10. Sebagian Bentuk Topografi Kota Padang Sumber : DKP Kota Padang, 2010 Gambar 10 menunjukkan sebagian bentuk topografi Kota Padang yang terdiri atas pebukitan, pesisir pantai, dataran rendah dan dataran tinggi. Sedangkan topografi pada pulau-pulau kecil yang terdapat di Kota Padang sebagian besar berbentuk datar, berpasir dan berkarang. Pulau-pulau yang terdapat di Kota Padang sebagian besar pantainya agak landai sehingga seperti dataran dan sebagian kecil saja yang pantainya agak curam atau dalam. Pulau-pulau yang pantainya agak curam biasanya pantai berbatu seperti Pulau Ular, Pisang Gadang, Pasumpahan, dan Sironjong.

6 Oseanografi Kota Padang mempunyai garis pantai sepanjang ±84 km dan luas kewenangan pengelolaan perairan ± ha serta 19 pulau-pulau kecil. Secara fisik administratif ada 6 kecamatan yang bersentuhan langsung dengan pantai yaitu: Kecamatan Koto Tangah, Kecamatan Padang Utara, Kecamatan Padang Barat, Kecamatan Padang Selatan, Kecamatan Lubuk Begalung dan Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Wilayah pesisir, laut dan pulau-pulau kecil ini mempunyai potensi sumber daya alam yang dapat pulih (renewable) antara lain perikanan, hutan bakau, terumbu karang, padang lamun, estuaria, dan pulau-pulau kecil. Peta Rencana Pola Ruang Laut Kota Padang terdapat pada Lampiran 4. Pulau-pulau kecil di Kota Padang menyimpan potensi ekonomi yang tinggi. Hal ini didasari oleh karakteristik pulau yang unik serta pesona bahari yang tinggi. Kondisi pulau-pulau kecil di Kota Padang umumnya memiliki karakteristik landai, hanya beberapa pulau yang mempunyai ketinggian sampai 100 m dpl, yaitu; Pulau Pasumpahan, Pulau Sikuai, Pulau Sironjong. Karakteristik pantai pulau-pulau kecil secara rinci dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Karakteristik Pulau-Pulau di Wilayah Kota Padang No. Nama Pulau Kecamatan Luas Keliling Karakteristik (ha) (m) Pantai Jenis Pantai 1 Bintangur Bungus 56, ,80 Landai, curam Pasir, batu, cadas 2 Sikuai Bungus 48, ,11 Landai, curam Pasir, batu, cadas 3 Toran Padang Selatan 33, ,23 Landai Pasir, batu 4 Bindalang Padang Selatan 27, ,47 Landai Pasir, batu 5 Pisang Padang Selatan 26, ,05 Landai, curam Pasir, batu, cadas 6 Pandan Padang Selatan 24, ,77 Landai Pasir, batu 7 Sirandah Bungus 19, ,27 Landai Pasir, batu 8 Pasumpahan Bungus 16, ,02 Landai, curam Pasir, batu, cadas 9 Sibonta Bungus Kabung 13, ,56 Landai Pasir, batu 10 Sao Koto Tangah 12, ,79 Landai Pasir, batu 11 Sironjong Bungus 11, ,15 Curam Cadas, pasir 12 Sinyaru Bungus 7, ,06 Landai Pasir, batu 13 Setan Bungus 7, ,92 Landai, curam Batu, cadas 14 Air Koto Tangah 7,09 990,20 Landai Pasir, batu 15 Pasir Gadang Padang Selatan 4,91 891,71 Landai Pasir, batu 16 Setan Kecil Bungus 3,33 692,47 Landai, curam Batu, cadas 17 Pisang Ketek Padang Selatan 3,02 846,43 Landai, curam Batu, cadas 18 Kasik Bungus 1,73 483,82 Landai Pasir, batu 19 Ular Bungus 1,38 594,98 Curam Cadas Sumber : DKP Kota Padang 2011.

7 63 Kota Padang selain memiliki kekhasan bentuk pulau-pulau juga mempunyai bentuk pantai yang bervariasi dan indah. Pantai-pantai di Kota Padang memiliki karakteristik landai dan curam. Jenis pantai yang terdapat pada wilayah ini terdiri atas pantai berpasir, berbatu, cadas dan berlumpur. Kota Padang memiliki 16 pantai dengan karakteristik yang berbeda. Pengelompokan pantai menurut karakteristiknya secara rinci dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Karakteristik Pantai di Kota Padang No. Pantai Karakteristik Jenis Pantai 1 Padang Sarai Parupuk Tabing Landai Pasir 2 Parupuk Tabing - Muaro Padang Landai Pasir, batu/krip 3 Batang Arau - Air Manis Curam Cadas 4 Air Manis Landai Pasir, batu 5 Air Manis - Teluk Bayur Curam Batu, cadas 6 Teluk Bayur - Sungai Baremas Landai Pasir, batu 7 Sungai Baremas - Labuhan Tarok Curam Cadas 8 Labuhan Tarok - Teluk Kabung Landai Pasir, batu 9 Teluk Labuhan Cina Landai Lumpur, pasir, batu 10 Labuhan Cina - Teluk Kaluang Landai, dan curam Pasir, batu, cadas 11 Teluk Kaluang Landai Lumpur 12 Teluk Kaluang - Teluk Buo Landai curam Pasir, batu, cadas 13 Teluk Buo Landai Lumpur, pasir, batu 14 Teluk Buo - Sungai Pisang Landai, curam Pasir, batu, cadas 15 Sungai Pisang Landai Pasir, lumpur 16 Sungai Pisang - Pesisir Selatan Landai, curam, Pasir, batu, cadas Sumber : DKP Kota Padang, 2001 Kota Padang memiliki dua jenis bentuk pantai yaitu bentuk pantai landai dan curam/terjal. Bentuk landai tersebar di wilayah pesisir pantai mulai Purus sampai perbatasan Kabupaten Padang Pariaman (Batang Anai). Sedangkan bentuk pantai terjal dan perbukitan dicirikan dengan adanya tebing laut dengan dataran sempit dibawahnya sebagaimana ditemukan pada Batang Arau sampai wilayah Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Pantai berpasir (Sandy beach) adalah pantai berpasir di Pantai Padang (terdiri beberapa macam tipe antara lain; pasir coklat keabu-abuan, pasir putih kecoklatan dan pasir putih. Pasir coklat keabu-abuan merupakan materi pantai yang paling umum ditemukan, tersebar di sekitar Pantai Padang mulai dari Muara Jambak

8 64 sampai Pantai Gunung Padang. Pasirnya sebagian besar berbutir kasar dan terpilah sedang. Pasir putih kecoklatan adalah jenis yang tersebar di Pantai Bungus Teluk Kabung sekitar lokasi wisata Pantai Carlos dan Pantai Carolin. Di Pantai Carlos, vegetasi umumnya ditumbuhi oleh kelapa dan pohon waru, dengan kelerengan pantai tinggi. Sedangkan vegetasi Pantai Carolin didominasi oleh pohon waru dengan sedikit pohon kelapa. Pasir putih umumnya terdiri dari materi biogenik atau pecahan cangkang/ kerang yang terpilah sedang, tersebar di sekitar pantai-pantai pulau kecil yaitu; Pulau Sikuai, Pulau Sironjong (Kelurahan Sungai Pisang), Pulau Sawo, Pulau Air (bagian barat Muara Jambak). Pantai berbatu dan bertebing (rocky beach) dapat dibagi menjadi dua macam tipe yaitu : Pantai berbatu terdapat di selatan Kota Padang di Air Manis, Teluk Bayur (Tanjung Selatan), Selatan Teluk Bungus dan di sekitar Kelurahan Sungai Pisang. Pantai berbatu terjal/tebing bersusunan basal tersebar sekitar Gunung Padang Barat, Kelurahan Sungai Pisang, Teluk Buo, Ujung Nibung Ujung Sungai Brameh, Ujung Jungut Batupati (bagian selatan Teluk Bayur). Secara umum, pembentukan pantai ini berasal dari keadaan struktur geologi, geomorfologi turf vulkan, batuan andesit/basalt. Jenis batuan tersebut banyak mengandung deposit mineral, terutama dalam bentuk bahan galian golongan C seperti pasir, tanah liat, kerikil, koral, batu kali dan bebagai jenis batuan lainnya. Kerusakan lingkungan pantai di Kota Padang umumnya diakibatkan oleh abrasi, sedangkan sedimentasi dalam jumlah kecil terjadi pada muara-muara sungai di Teluk Bungus dan Perairan Sungai Pisang. Terjadinya abrasi juga disebabkan oleh arus yang melalui pulau kecil dan saat-saat tertentu terjadi gelombang besar dari Lautan Hindia serta semakin berkurangnya pohon-pohon pelindung di pinggir pantai seperti hutan mangrove sehingga hantaman ombak langsung ke pantai. Daerah-daerah yang sering terkena abrasi pantai adalah Ulak Karang, Purus, Air Tawar dan Tabing (Bappeda Kota Padang, 2010).

9 65 Proses abrasi Pantai Padang dimulai sejak 70an tahun yang lalu, yang disebabkan oleh terganggunya keseimbangan antara sedimen yang hanyut dan sedimen yang terendapkan. Pada awalnya sedimen yang terangkut sebagian berasal dari selatan Pantai Padang, pengangkutan sedimen tersebut sekarang ini tidak lagi terjadi disebabkan perubahan morfologi pantai bahagian selatan. Proses abrasi pantai di Kota Padang telah mulai berkurang, karena sepanjang pantai telah di bangun penahan abrasi berupa krib. Parameter Hidro Oseanografi Kota Padang (DKP Kota Padang, 2005) yaitu: a. Arus dan Angin Perairan Kota Padang dan sekitarnya memiliki pola arus permukaan yang umumnya sangat dipengaruhi oleh pola angin geostropik atau angin muson. Berdasarkan karakteristik iklim di belahan bumi selatan (southtern emisphere), maka kawasan sepanjang Pantai Padang dipengaruhi oleh angin musim barat yang bertiup Bulan November sampai Maret dan angin musim timur bertiup dari Bulan Mei sampai September. Angin musim barat dan timur di perairan Kota Padang berkekuatan rata-rata 9 11 knot bertiup ke arah tenggara (hampir sejajar dengan garis Pantai Padang) dan rata-rata 8 knot dengan pola berubah-ubah namun arah dominannya hampir tegak lurus garis pantai. Lemahnya kecepatan angin musin timur disebabkan karena arah angin musim timur telah mengalami pembelokan arah akibat gaya Coriolis pada saat ITCZ (Inter Tropical Convergence Zone) yang berada di bagian selatan khatulistiwa. Selain itu di perairan Kota Padang juga terjadi arus pantai yang diakibatkan oleh gelombang. Arus ini berpengaruh terhadap abrasi dan sedimentasi pantai, sehingga menjadikan tinggi gelombang laut yang terjadi berkisar antara 0,5 2,0 meter b. Pasang Surut (Pasut) Jenis pasang surut yang terdapat di perairan Kota Padang adalah tipe campuran condong ke harian ganda (mixed semi diurnal tide) yaitu terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari. Abrasi yang tergolong kuat dan merusak di perairan dan sekitarnya dipengaruhi arus pasang yang menimbulkan gelombang pasang dan mempengaruhi pola arus sejajar pantai

10 Hidrologi Wilayah Kota Padang dilalui oleh banyak aliran sungai besar dan kecil. Terdapat tidak kurang dari 23 aliran sungai yang mengalir di wilayah Kota Padang dengan total panjang mencapai 155,40 km (10 sungai besar dan 13 sungai kecil). Umumnya sungai-sungai besar dan kecil yang ada di wilayah Kota Padang ketinggiannya tidak jauh berbeda dengan tinggi permukaan laut. Kondisi ini mengakibatkan cukup banyak bagian wilayah Kota Padang yang rawan terhadap banjir/genangan (Bappeda Kota Padang, 2010). Wilayah pesisir Kota Padang tercakup dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Kandis, Kuranji dan Air Dingin (utara) serta DAS Batang Arau, Lubuk Paradu dan Timbulun (selatan). Beberapa sungai besar yang mendominasi daerah aliran sungai di sekitar Kota Padang membentuk pola aliran sungai tertentu berupa pedial, sub dendritik dan dendritik. Pola aliran sungai itu yaitu (dari utara ke selatan): Batang Anai bermuara di Kelurahan Pasia Nan Tigo. Air Dingin bermuara di Kelurahan Pasia Nan Tigo. Batang Kuranji bermuara di Kelurahan Ulak Karang Utara. Batang Arau termasuk Sungai Banjir Kanal (merupakan sungai yang dipecah dari Batang Arau) bermuara di Muaro Pantai Padang. Air Pinang bermuara di Muaro Bungus Teluk Kabung. Pola pengaliran yang berkembang di wilayah ini berkisar antara dendritik hingga sub-dendritik. Pola dendritik banyak berkembang pada bagian timur laut wilayah Kota Padang yang sekaligus mewakili wilayah dengan ketinggian lebih besar. Sementara pola sub-dendritik berkembang pada bagian barat daya wilayah Kota Padang terutama di sekitar wilayah pemukiman. Muka air tanah di wilayah Kota Padang yang tercermin dari aliran sungai, sumur gali maupun beberapa data pemboran teknik umumnya dangkal hingga sangat dangkal, hal ini dipengaruhi oleh faktor litologi yang melandasi paparan dataran Kota Padang yang berupa endapan aluvial dan dataran pantai Holosen. Arah aliran air tanah di dalam akifer di daerah ini umumnya terdiri dari material lapisan pasir halus hingga sangat kasar, lapisan lanau dan yang semipermeable yaitu lanau-lempung dengan jenis akifer bebas. Endapan sedimen kuarter tersebut

11 67 dengan distribusi muka air tanah yang dangkal dapat memungkinkan untuk terjadinya fenomena likuifaksi di beberapa lokasi tertentu (Bappeda Kota Padang, 2010). Peta Hidrologi dan Tata Air Kota Padang terdapat pada Lampiran Klimatologi Kota Padang termasuk daerah yang curah hujannya tinggi dengan rata-rata mm per tahun. Curah hujan rata-rata tahunan Kota Padang pada tahun 2008 sebesar mm, dengan curah hujan rata-rata 385 mm/bulan. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari dengan curah hujan 776 mm dan terendah pada Bulan Mei dengan curah hujan 167 mm. Suhu udara rata-rata Kota Padang sepanjang tahun 2008 berkisar antara 22,0ºC 31,7ºC dan kelembaban udara rata-rata berkisar antara persen (Bappeda Kota Padang, 2010) Geologi Secara regional wilayah Kota Padang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Sesar Besar Sumatera (Sumatera Great Fault System). Sesar Semangko yang terdapat pada bagian tengah Pulau Sumatera dan palung laut di barat Pulau Sumatera mengapit wilayah Kota Padang dan sekaligus merupakan kontrol bagi terjadinya kegiatan tektonik di wilayah ini. Struktur geologi yang berkembang di Kota Padang umumnya berupa patahan/sesar mendatar dengan arah barat laut tenggara dan timur laut barat daya, beberapa diantaranya berarah hampir utara selatan dan barat timur. Struktur geologi di wilayah Kota Padang pada umumnya tertutupi oleh endapan kuarter. Banyaknya kekar-kekar pada litologi yang berumur pra-tersier menunjukkan terjadinya kegiatan tektonik yang intensif pasca terbentuknya batuan ini dan mengingat tidak adanya singkapan struktur geologi pada permukaan endapan kuarter, maka dapat dipastikan bahwa struktur geologi pratersier dan tersier tertutupi oleh endapan kuarter. namun demikian juga dijumpai adanya struktur geologi yang teramati pada litologi berumur kuarter. Kota Padang merupakan endapan kuarter berupa dataran pantai yang berumur holosen yang berhadapan dengan endapan laut terbuka yang dibagian timur dibatasi berupa patahan-patahan yang berarah hampir barat laut tenggara,

12 68 dicirikan oleh endapan kuarter yang terdiri dari endapan aluvial, rawa, dan pematang pantai. Dataran tersebut terpisah oleh laut terbuka dan pematang pantai yang bagian belakangnya terbentuk rawa-rawa pantai sebagai endapan swamp. Gambaran geologi pesisir ini dicirikan oleh endapan pasir lepas, kerikil dengan terputusnya lapisan lanau dan lempung. Peta geologi Kota Padang terdapat pada Lampiran 6. Indikasi terdapatnya struktur geologi di wilayah Kota Padang diperkirakaan berupa sesar-sesar yang berarah barat-timur pada skala yang lebih besar dan sesar-sesar relatif kecil dengan arah relatif utara. Struktur ini didapati pada satuan litologi tufa Kristal (QTt) yang terdapat pada wilayah timur Kota Padang. Hubungan antara aktivitas megastruktur geologi (Mandala Tektonik) dalam hal ini Sistem Sesar Besar Sumatera ataupun Palung Laut di Samudera Hindia dengan aktivitas unit struktur geologi segmentasi Sesar Sumatera di wilayah Kota Padang sangat jelas terlihat pada peristiwa-peristiwa gempa yang pernah terjadi (Bappeda Kota Padang, 2010) Litologi Litologi yang menutupi wilayah Kota Padang secara umum didominasi oleh endapan aluvium kuarter (Qal) terutama pada wilayah radius 5 sampai 10 kilometer dari garis pantai ke arah timur laut. Endapan ini terdiri dari material berupa lanau, pasir dan kerikil serta terdapat butiran-butiran batu apung. Bagian selatan Kota Padang sebagian berupa litologi lahar, konglomerat dan endapanendapan kolovium lain yang merupakan bagian dari satuan batuan aliran yang tak teruraikan (Qtau) menurut Peta Geologi lembar Padang. Satuan batuan berupa Tufa Kristal (QTt) yang keras juga terdapat di bagian selatan Kota Padang. Satuan batuan lain yang terdapat di wilayah pantai Kota Padang adalah andesit dan tufa yang terdapat berselingan (QTta). Di beberapa tempat pada satuan ini juga dijumpai andesit sebagai inklusi di dalam tufa. Satuan batuan kipas aluvium (Qf) terdapat pada beberapa tempat pada radius kurang lebih 10 kilometer arah timur laut garis pantai. Satuan ini merupakan hasil rombakan gunung api strato yang permukaannya ditutupi oleh bongkah-bongkah andesit (Bappeda Kota Padang, 2010).

13 69 Wilayah Kota Padang juga terdapat satuan batu gamping hablur (ptls) yang merupakan litologi berumur pra-tersier dan menempati bagian timur wilayah Kota Padang. Litologi ini memiliki ciri khas membentuk punggunganpunggungan tajam. Struktur geologi berupa kekar-kekar berkembang intensif pada satuan ini. Satuan berumur pra-tersier lain yang terdapat di wilayah timur Kota Padang adalah satuan batuan yang terdiri dari litologi berupa filit, batu lanau meta dan batu pasir meta (ptps). Litologi ini biasanya mendasari bukit-bukit atau punggungan yang relatif landai. Masing-masing satuan batuan yang terdapat di wilayah Kota Padang memiliki daya dukung yang bervariasi. Daya dukung masing-masing jenis batuan ditampilkan pada Tabel 11. Tabel 11. Jenis Batuan dan Daya Dukungnya No. Simbol Jenis Batuan Daya Dukung 1 Qtau Aliran yang tak teruraikan ; jenis batuan vulkanik rendah yang tak dipisah aliran lahar, konglomerat dan endapan koluvium 2 Qal Alluvium; terdiri dari lempung, pasir, kerikil, pasir rendah - sedang dan bongkahan 3 Q t Kipas alluvium; terdiri rombakan batuan andesit sedang - tinggi berupa bongkahan dari gunung api 4 QTt Tufa kristal; jenis batuan tufa basal, tufa abu, sedang - tinggi lapili, tufa basal berkaca, dan pecahan lava. 5 Qta dan Andesit dan Tufa sedang - tinggi QTp 6 PTls Batu gamping; dari lunak sampai keras sedang - tinggi 7 PTps Fillit, kwarsit, batu lanau meta. Lokasi terlihat pada singkapan sekitar Koto Lalang jalan ke arah Solok yang mendasari bukit-bukit dan pegunungan yang landai Sumber : Bappeda Kota Padang, 2010 sedang Geomorfologi Morfologi merupakan aspek yang sangat penting dalam pembahasan kebencanaan maupun dalam kaitannya dengan penataan ruang. Wilayah Kota Padang memiliki topografi yang bervariasi, perpaduan daratan yang landai dan perbukitan bergelombang yang curam. Sebagian besar topografi wilayah Kota Padang memiliki tingkat kelerengan lahan rata-rata lebih dari 40 persen.

14 70 Menurut data Bappeda Kota Padang (2010), sebagian wilayah Kecamatan Padang Barat merupakan daerah dengan morfologi berupa dataran pantai (M4) yang tersusun dari litologi dominan pasir dan lempung. Dataran pantai ini juga terdapat di pantai barat Kecamatan Padang Utara. Wilayah Kecamatan Padang Utara merupakan morfologi berupa rawa buri (F3) dan pematang pantai (M1). Sebagian besar wilayah Kecamatan Pauh, Padang Timur dan Kuranji merupakan morfologi kipas alluvial (F4) yang tersusun atas litologi berupa lanau, pasir, kerikil dan bongkah. Sebagian besar wilayah Kecamatan Koto Tangah memiliki morfologi berupa dataran alluvial (F1) yang tersusun dari litologi berupa lempung, lanau pasir dan kerikil. Ketinggian wilayah Kota Padang dari permukaan laut juga bervariasi, mulai 0 m dpl sampai lebih dari m dpl. Kawasan dengan kelerengan lahan antara 0 2 persen umumnya terdapat di Kecamatan Padang Barat, Padang Timur, Padang Utara, Nanggalo, sebagian Kecamatan Kuranji, Kecamatan Padang Selatan, Kecamatan Lubuk Begalung dan Kecamatan Koto Tangah. Kawasan dengan kelerengan lahan antara 2 15 persen tersebar di Kecamatan Koto Tangah, Kecamatan Pauh dan Kecamatan Lubuk Kilangan yakni berada pada bagian tengah Kota Padang dan kawasan dengan kelerengan lahan persen tersebar di Kecamatan Lubuk Begalung, Lubuk Kilangan, Kuranji, Pauh dan Kecamatan Koto Tangah. Sedangkan kawasan dengan kelerengan lahan lebih dari 40 persen tersebar di bagian timur Kecamatan Koto Tangah, Kuranji, Pauh, dan bagian selatan Kecamatan Lubuk Kilangan dan Lubuk Begalung dan sebagian besar Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Kawasan dengan kelerengan lahan lebih dari 40 persen ini merupakan kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung Kondisi Kependudukan Jumlah dan Perkembangan Penduduk Penduduk Kota Padang tahun 2009 berjumlah jiwa. Selama kurun waktu 10 tahun ( ), jumlah penduduk Kota Padang bertambah sebanyak jiwa atau 11,41 persen, atau rata-rata tumbuh sekitar 1,14 persen per tahun. Koto Tangah merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak

15 71 (18,96 persen) sedangkan Kecamatan Bungus Teluk Kabung merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terkecil (2,79 persen). Tiga kecamatan memiliki pertumbuhan penduduk yang negatif, yakni Kecamatan Padang Barat, Padang Utara dan Nanggalo. Tabel 12. Sebaran dan Perkembangan Jumlah Penduduk Kota Padang Tahun 1999 dan Tahun 2009 No. Kecamatan Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk Luas (Jiwa) (Jiwa/Km²) (Km²) Bungus Teluk Kabung 100, Lubuk Kilangan 85, Lubuk Begalung 30, Padang Selatan 10, Padang Timur 8, Padang Barat 7, Padang Utara 8, Nanggalo 8, Kuranji 57, Pauh 146, Koto Tangah 232, Total 694, Sumber : Bappeda Kota Padang 2010 Perkembangan jumlah penduduk Kota Padang dalam 24 tahun terakhir menunjukkan kecenderungan pertambahan yang tidak terlalu signifikan. Pada tahun 1986 penduduk Kota Padang tercatat sebanyak jiwa, dan pada tahun 2009 bertambah menjadi jiwa. Jadi dalam kurun waktu , jumlah penduduk Kota Padang bertambah sebanyak jiwa atau 55,15 persen, atau rata-rata tumbuh sekitar 2,30 persen per tahun Komposisi Penduduk Rasio penduduk berdasarkan jenis kelamin, penduduk perempuan ( jiwa) lebih banyak dari penduduk laki-laki ( jiwa) dengan rasio (51,26:48,74). Komposisi penduduk Kota Padang menurut kelompok umur menunjukkan pola piramida yang menggambarkan penduduk berusia muda (<50 tahun) memiliki jumlah terbesar (96%), dan semakin tinggi kelompok umurnya semakin sedikit jumlahnya. Kelompok penduduk pada kelompok usia produktif

16 72 (15-44 tahun) mencapai 578,484 jiwa ( laki-laki dan perempuan), kelompok usia produktif ini mencapai 66,06 persen dari jumlah penduduk Kota Padang, terdiri dari laki-laki sebesar 32 persen dan perempuan 34 persen. Gempa yang terjadi di Kota Padang berdampak pula terhadap jumlah penduduk. Berdasarkan hasil evaluasi korban gempa yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Padang sebanyak 383 jiwa telah meninggal dunia akibat gempa. Kecamatan Padang Barat merupakan kecamatan yang mengalami korban meninggal terbanyak yaitu 81 jiwa sedangkan Kecamatan Lubuk Kilangan adalah yang paling sedikit yaitu sebanyak 5 jiwa meninggal. Melalui data penduduk Kota Padang yang berumur 5 tahun ke atas, persentase terbesar adalah tidak bersekolah lagi sebesar 67,99 persen, sedangkan yang masih bersekolah sebesar 29,31 persen. Penduduk yang masih sekolah, persentase terbesar adalah kelompok umur 7-12 tahun atau jenjang SD sebesar 11,92 persen, jenjang SLTP 6,24 persen dan jenjang SLTA sebesar 4,01 persen. Secara rinci presentase penduduk menurut tingkat pendidikan di Kota Padang disajikan dalam Tabel 13. Tabel 13. Persentase Penduduk 5 Tahun ke atas menurut Tingkat Pendidikan di Kota Padang No. Kelompok Umur (tahun) Jenjang Sekolah Tidak/Belum Pernah Sekolah (%) Masih Sekolah (%) Tidak Bersekolah Lagi (%) Total (%) TK 1,88 1,58 0,00 3, SD 0,06 11,92 0,03 12, SLTP 0,03 6,24 0,48 6, SLTA 0,06 4,01 1,24 5,31 5 > 18 PT 0,66 5,56 66,24 72,46 Jumlah 2,69 29,31 67,99 100,00 Sumber : BPS Kota Padang, Ketenagakerjaan Melalui data penduduk Kota Padang yang berumur 15 tahun ke atas tahun 2009 (630,919 jiwa), angkatan kerja mencapai 54,75 persen (345,428 jiwa). Sebesar 45,25 persen (285,491 jiwa) adalah bukan angkatan kerja, termasuk didalamnya adalah orang yang bersekolah, mengurus rumah tangga dan lain-lain.

17 73 Presentase penduduk berumur 10 tahun ke atas menurut jenis kegiatan dan kelamin diuraikan pada Tabel 14. Tabel 14. Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke atas menurut Jenis Kegiatan dan Jenis Kelamin No. Jenis Kegiatan Laki-laki Perempuan Jumlah 1 Angkatan Kerja 69,69% 39,80% 54,75% a. Bekerja 59,97% 32,11% 46,04% b. Mencari Pekerjaan 9,72% 7,68% 8,70% 2 Bukan Angkatan Kerja 30,31% 60,20% 45,26% a. Sekolah 18,89% 21,04% 19,97% b. Mengurus Rumahtangga 1,31% 35,13% 18,22% c. Lainnya 10,11% 4,04% 7,08% Total 100,00% 100,00% 100,00% Sumber : Bappeda Kota Padang, 2010 Persentase angkatan kerja penduduk Kota Padang berumur 10 tahun ke atas adalah sebanyak 54,75 persen, 46 persen didalamnya adalah dengan status bekerja. Sedangkan jumlah penduduk yang sedang mencari pekerjaan adalah 8,7 persen. Melalui Tabel 14, diketahui bahwa persentase terbesar penduduk Kota Padang bekerja di sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 35,40 persen dan sektor jasa-jasa sebesar 31,16 persen. Hal yang menarik pada dua sektor ini adalah penyumbang tenaga kerja terbesar berjenis kelamin perempuan. Jumlah penduduk yang bekerja di bidang perikanan tangkap diuraikan pada Tabel 23. Tabel 15. Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke atas yang Bekerja menurut Lapangan Usaha di Kota Padang No. Lapangan Usaha Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah 1 Pertanian 7,55 % 1,54% 4,55% 2 Pertambangan dan Penggalian 1,48% 0,00% 0,74% 3 Industri 4,49% 4,37% 4,43% 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 1,22% 0,21% 0,72% 5 Konstruksi 8,54% 0,64% 4,59% 6 Perdagangan, Hotel & Restoran 24,31% 46,48% 35,40% 7 Komunikasi dan Transportasi 14,83% 1,01% 7,92% 8 Keuangan 3,20% 1,04% 2,12% 9 Jasa-jasa 25,89% 36,43% 31,16% 10 Lainnya 8,50% 8,28% 8,39% Total 100,00% 100,00% 100,00% Sumber : Bappeda Kota Padang, 2010

18 Tingkat Kesejahteraan Penduduk Secara umum, kondisi tingkat kesejahteraan penduduk di Kota Padang dapat dikatakan sudah cukup baik. Hal ini terindikasi dari data kondisi tingkat kesejahteraan keluarga pada akhir tahun 2008, dari total keluarga, ternyata sebagai besar yaitu sekitar 92,05 persen ( keluarga) merupakan kelompok Keluarga Sejahtera (KS) dengan proporsi terbesar pada KS III sekitar 34,76 persen, disusul oleh KS II sekitar 33,46 persen, KS I sekitar 20,11 persen, dan KS Plus sekitar 8,84 persen, dan selebihnya yaitu sekitar 7,95 persen (4.759 keluarga) merupakan kelompok keluarga Pra Sejahtera. Tabel 16. Jumlah Keluarga menurut Tingkat Kesejahteraan di Kota Padang No. Kecamatan Tingkat Kesejahteraan (KK) PS KS I KS II KS III KS Plus Jumlah 1 Bungus Tl. Kabung Lubuk Kilangan Luhuk Begalung Padang Selatan Padang Timur Padang Barat Padang Utara Nanggalo Kuranji Pauh Koto Tangah Jumlah ,95% 20,11% 33,46% 34,76% 8,84% 100,00% Sumber : Bappeda Kota Padang, 2010 Ekonomi yang tumbuh semakin kuat dan disertai kenaikan PDRB per kapita, belum diikuti oleh penyebaran kekayaan pada seluruh penduduk sehingga masih terdapat kesenjangan. Kesenjangan itu tercermin pada angka gini ratio, dimana semakin besar gini ratio semakin besar kesenjangan yang ada. Meski ekonomi Kota Padang terus tumbuh, tetapi belum dapat dinikmati secara merata oleh seluruh penduduk kota. Hal tersebut bisa dilihat dari angka gini ratio Kota Padang yakni sebesar 0,2637 pada tahun 2008 yang berarti masih terjadi ketimpangan distribusi pendapatan walaupun nilainya masih moderat. Kesenjangan pendapatan antara kelompok penduduk, salah-satunya merefleksikan masih banyaknya penduduk yang hidup dalam kemiskinan.

19 75 Dalam rangka pelaksanaan berbagai program pemerintah, khususnya penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT), maka pendekatan yang digunakan adalah jumlah rumah tangga miskin dan bukan jumlah penduduk miskin. Pendataan yang dilakukan oleh BPS Kota Padang tahun 2006, jumlah Rumah Tangga Miskin (RTM) di Kota Padang berjumlah RTM. Tahun 2007 jumlahnya tetap RTM, dan pada akhir tahun anggaran 2008 jumlah RTM telah berkurang menjadi RTM atau turun sebesar 22,19 persen. Namun pada tahun 2009 jumlah rumah tangga miskin kembali meningkat jumlahnya menjadi RTM Kondisi Sosial Budaya Salah satu ciri masyarakat Minangkabau adalah sistem kekerabatannya yang bersifat matrilineal. Sistem sosial atas kehidupan kekerabatan yang menganut sistem garis keturunan ibu ini menjadikan garis keturunan dan harga benda-benda diperhitungkan melalui garis ibu bukan garis bapak, sehingga yang berkuasa atas seluruh kelompok keluarga adalah saudara laki-laki seorang wanita dan bukan suaminya. Pada sistem kekerabatan ini terdapat tiga unsur yang paling dominan, yaitu (a) garis keturunan menurut garis ibu, (b) perkawinan harus dengan kelompok lain, di luar kelompok sendiri yang saat ini dikenal istilah eksogami matrilineal, dan (c) ibu memegang peran sentral dalam pendidikan, pengamanan kekayaan dan kesejahteraan keluarga. Aspek sosial budaya lainnya yang penting di Minangkabau adalah adanya kepala-kepala suku yang diangkat menjadi penghulu atau kepala kaum atau kepala suku. Kepala suku disebut penghulu suku dan berkuasa sepenuhnya secara adat terhadap kaumnya dan segala urusan sukunya tidak dapat dicampuri oleh orang atau kaum di luar sukunya. Sebagai masyarakat yang menganut paham kekeluargaan, orang Minangkabau dilingkupi oleh lembaga-lembaga yang dijiwai oleh sistem kekeluargaan tersebut dalam mengatur kehidupan sosial, budaya dan ekonomi masyarakatnya. Kota Padang jika dilihat dari kultur sejarah Minangkabau, maka termasuk daerah rantau pesisir, sehingga budaya dan keseniannya juga sangat dipengaruhi oleh kondisi tersebut. Pengaruh budaya daerah lain yang cukup kuat mewarnai

20 76 budaya dan kesenian di Kota Padang adalah budaya dan kesenian daerah Solok, Padang Pariaman, dan Pesisir Selatan sebagai kawasan yang berbatasan langsung dengan Kota Padang. Kota Padang sebenarnya masih memiliki budaya dan kesenian yang khas, namun saat ini gambaran nilai budaya dan kesenian ini hanya dapat dilihat di daerah pinggiran kota, seperti daerah Teluk Kabung, Kuranji, dan Koto Tangah. Minangkabau jika ditinjau dari sektor pendidikan, maka merupakan salahsatu daerah pertama yang mewadahi gerakan pembaruan pendidikan Islam. Hal ini dapat dibuktikan pada koreksi beberapa nilai adat yang tidak sesuai dengan nilainilai Islam. Masyarakat Minangkabau merupakan komunitas yang sangat kuat memegang teguh nilai-nilai adat, namun perlu diingat bahwa nilai-nilai adat merupakan buatan manusia yang dapat berubah sesuai dengan kondisi, maka perlu adanya penyesuaian nilai-nilai adat ketika nilai yang lama telah tidak relevan lagi. Perubahan nilai-nilai dalam masyarakat tersebut akan menentukan masa depan suatu masyarakat sehingga pendidikan memegang peran yang sangat penting. Pendidikan bagi suatu masyarakat berfungsi sebagai penentu masa depan, menjawab berbagai persoalan dalam masyarakat, sekaligus melestarikan nilainilai dan warisan sosial-kultural tempat pendidikan tersebut dilaksanakan. Sumatera Barat pada umumnya dan Minangkabau khususnya dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan agama, hal ini dapat dilihat dari falsafah hidup yang telah menjadi cita-cita, dan pedoman dalam kehidupan masyarakat yaitu nilai falsafah hidup Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Kota Padang sebagai Ibukota Provinsi Sumatera Barat melalui RPJP telah menyusun program kegiatan untuk mendukung terwujudnya cita-cita kembali ke nagari dan kembali ke surau dengan cara : Mendorong peningkatan peran dan fungsi lembaga Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cadiak Pandai (tali tigo sapilin, tungku tigo sajarangan) dalam pembinaan anak kemenakan dan anak nagari khususnya, dan masyarakat dalam arti luas. Mengembangkan dan memberikan mata pelajaran BAM (Budaya Alam Minangkabau) sejak dari tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi.

21 77 Mendorong aktivitas keagamaan dan perayaan hari besar agama. Untuk terlaksananya program kegiatan ini harus didukung oleh prasarana dan sarana yang memadai, baik dari segi kelembagaan maupun mekanisme pelaksanaan. Nilai positif dari aspek sosial budaya yang merupakan kultur dari masyarakat Kota Padang yang juga dimiliki oleh masyarakat Minangkabau pada umumnya adalah nilai kebersamaan, demokratis dan gotong-royong. Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang, saciok bak ayam, sadantiang bak basi, duduak samo randah, tagak samo tinggi, duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang Kondisi Perekonomian Kondisi perekonomian Kota Padang dijelaskan melalui laju pertumbuhan ekonomi, struktur perekonomian dan inflasi yang diuraikan dalam sub bab sebagai berikut: a. Laju Pertumbuhan Ekonomi Selama 10 tahun terakhir, laju pertumbuhan ekonomi Kota Padang dapat dibagi menjadi dua pola kecenderungan, yaitu sebelum tahun 2000 dan setelah tahun Sebelum tahun 2000, setelah mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi sampai tahun 1997, laju pertumbuhan ekonomi Kota Padang mengalami koreksi sangat besar akibat terjadinya krisis ekonomi pada tahun Pada periode 1999 sampai 2009 laju pertumbuhan ekonomi Kota Padang menunjukkan kecenderungan pertumbuhan yang cukup stabil pada kisaran angka 5-6 persen per-tahun. Apabila dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Barat dan laju pertumbuhan ekonomi nasional, laju pertumbuhan ekonomi Kota Padang terlihat masih di bawah rata-rata provinsi dan nasional. Sebelum gempa pertumbuhan ekonomi Kota Padang tahun 2008 mencapai 6,21 persen, setelah gempa, tahun 2009 pertumbuhan ekonomi Kota Padang turun menjadi 5,08 persen yang merupakan pertumbuhan terendah selama periode Pertumbuhan ekonomi Kota Padang ini jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Barat tahun

22 laju pertumbuhan (%) , maka kondisi Kota Padang jauh lebih baik. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor bencana menjadi salah satu parameter penting dalam pertumbuhan ekonomi daerah. Perkembangan laju pertumbuhan ekonomi Kota Padang dapat dilihat pada Tabel 17 dan Gambar 11. Tabel 17. Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Padang No. T a h u n Laju Pertumbuhan Ekonomi Keterangan ,82% ,05% ,12% ,48% ,76% krisis ekonomi ,49% ,47% ,07% ,30% Mulai digunakan tahun dasar 2000 untuk ,55% menghitung PDRB atas dasar harga konstan ,89% ,29% ,12% ,14% ,21% ,08% Sumber : Padang Dalam Angka , Bappeda Kota Padang dan BPS Kota Padang. 12,0% 10,0% 8,82% 9,05% 9,12% 8,0% 6,0% 4,0% 2,0% 0,0% -2,0% -4,0% 6,48% 5,30% 5,55% 5,89% 6,14% 6,21% 5,29% 5,12% 5,08% 4,47% 4,07% 1,49% -6,0% -8,0% -7,76% -10,0% Gambar 11. Grafik Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Padang Sumber : Padang Dalam Angka , Bappeda Kota Padang dan BPS Kota Padang.

23 79 b. Struktur Perekonomian Struktur perekonomian Kota Padang pada tahun 2009 masih didominasi oleh sektor pengangkutan dan komunikasi dengan kontribusi sebesar 24,31 persen, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan konstribusi sebesar 20,85 persen. Besaran nilai PDRB Kota Padang berdasarkan harga berlaku menunjukkan nilai PDRB yang meningkat dari Rp 20,14 triliun tahun 2008 meningkat menjadi Rp 21,84 triliun menjadi 2009, walaupun dengan kenaikan yang tidak sebesar dari tahun 2007 yang sebesar Rp 17,37 triliun. Nilai PDRB Kota Padang berdasarkan harga konstan tahun 2000 juga menunjukkan peningkatan dari Rp 10,80 triliun tahun 2008 meningkat menjadi Rp 11,35 triliun menjadi 2009, terjadi kenaikan yang cukup besar jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. (PDRB Kota Padang dan PDRB Provinsi Sumatera Barat atas harga konstan termuat dalam Lampiran 7 dan Lampiran 8). Struktur ekonomi Kota Padang pasca gempa pada tahun 2009 masih tetap didominasi oleh sektor pengangkutan dan komunikasi diikuti dengan sektor perdagangan, hotel dan restoran sektor jasa-jasa sebesar 16,99 persen dan sektor industri sebesar 14,97 persen. c. Inflasi Pasca gempa bumi 30 September 2009, Kota Padang mengalami deflasi selama 2 bulan berturut-turut. Satu bulan pasca gempa bumi terjadi, inflasi Kota Padang merupakan yang tertinggi dibandingkan kota lain di Indonesia yaitu sebesar 1,78 persen (m-t-m). Pada bulan selanjutnya, Kota Padang justru mengalami deflasi yang cukup dalam yaitu sebesar -0,53 persen (m-tm) di Bulan November dan persen (m-t-m) di Bulan Desember. Banyaknya obat-obatan dan bahan makanan yang masuk ke Kota Padang selama periode ini lebih bersifat bantuan sehingga dapat dikatakan bahwa sebenarnya sebagian besar aktivitas ekonomi di Kota Padang masih terhenti. Selain itu, hancurnya beberapa pusat perdagangan serta terbatasnya kapasitas konsumsi masyarakat membuat tingkat inflasi juga tidak mengalami lonjakan seperti yang dikhawatirkan oleh banyak pihak sebelumnya. Perkembangan laju inflasi Kota Padang dalam beberapa tahun terakhir ditampilkan pada Tabel 18.

24 80 Tabel 18. Perkembangan Laju Inflasi di Kota Padang Laju Inflasi ,99% 9,86% 10,22% 5,55% 6,98% 19,33% 8,05% 6,73% 13,09% 17,56% Sumber : BPS Kota Padang (Padang Dalam Angka ) 5.4. Potensi Perikanan dan Kelautan Potensi dan Karakteristik Sub Sektor Perikanan Kota Padang memiliki potensi perikanan yang besar, baik pada usaha perikanan laut maupun perairan umum. Potensi ini dinyatakan dalam kontribusi yang dihasilkan bagi perekonomian daerah. Hal ini ditandai dengan tingginya produksi dan nilai yang dihasilkan bagi peningkatan ekonomi daerah. Rincian nilai produksi menurut jenis usaha perikanan di Sumatera Barat ditampilkan pada Tabel 19 sebagai berikut: Tabel 19. Nilai Produksi menurut Jenis Usaha Perikanan di Sumatera Barat No. Kabupaten/Kota Total Penangkapan Laut Sektor Perikanan Budidaya Laut Penangkapan Perairan Umum 1 Kab. Kep.Mentawai Kab. Pesisir Selatan Kab. Padang Pariaman Kab. Pasaman Barat Kota Padang Kota Pariaman Sumber: DKP Provinsi Sumatera Barat, 2010 Usaha perikanan tangkap laut di Kota Padang memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian daerah. Kontribusi ini sebagaimana yang ditampilkan pada Tabel 19 menunjukkan usaha penangkapan di laut memberikan nilai sebesar Rp Nilai ini setara 86 persen dari total nilai produksi sektor perikanan di Kota Padang selama tahun 2010 sebesar Rp 293,31 milyar. Salah satu potensi perairan wilayah Kota Padang yang telah dimanfaatkan adalah sumberdaya perikanan. Menurut Dinas Kelautan dan Perikanan Kota

25 81 Padang (2010) potensi perikanan daerah ini terdiri dari kelompok sumberdaya sebagai berikut; Ikan Pelagis Besar seperti; tuna, albakora, setuhuk, ikan pedang, layaran, cakalang, tongkol dan tenggiri dengan potensi lestari ton. Ikan Pelagis Kecil meliputi; ikan-ikan yang hidup di daerah permukaan laut yang berukuran relatif kecil seperti ikan kembung, bentong, layang, selar, lemuru dan lain sebagainya dengan potensi lestari ton. Sumber daya ikan pelagis ini relatif telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan dengan alat tangkap yang sederhana. Ikan Demersal, adalah jemis ikan yang hidup di perairan dalam, meliputi; ikan kerapu, bambangan, bawal dan lainnya. Potensi lestari jenis ikan Demersal ini sebesar ton. Ikan Karang yang terdapat di sekitar terumbu karang, dimanfaatkan untuk dikonsumsi dan sebagai ikan hias. Udang, dengan daerah penangkapan sekitar perairan pantai Kota Padang dan perairan Kepulauan Mentawai. Kota Padang memiliki potensi pengembangan yang besar pada bidang perikanan, hal ini ditandai dengan adanya faktor penunjang baik perikanan tangkap laut maupun perikanan budidaya laut. Faktor penunjang tersebut dijabarkan dalam Tabel 20 dan Tabel 21. Tabel 20. Potensi Perikanan Tangkap Laut No. Lokasi Potensi Potensi Sarana Pelabuhan 1 Laut Kota Padang Ikan Pelagis, Demersal, Sarana Pelabuhan Perikanan, PPI Muaro Anai, TPI Gaung, TPI Pasie Nan Tigo 2 Pesisir Kota Padang Ikan Karang, Ikan Hias Batang Arau, Purus 3 ZEE Tuna (Bigeye, Yellowfin) PPS Bungus Sumber: DKP Padang, 2010 Wilayah desa pantai yang terdapat di Kota Padang memiliki keuntungan alamiah karena terletak pada kawasan geografis yang sangat sesuai dengan aktivitas perikanan laut. Selain itu, lokasi ini juga didukung oleh faktor kawasan pusat pengembangan perikanan karena berada di Ibukota Provinsi. Aktivitas perikanan laut telah turun temurun menjadi bagian yang integral bagi masyarakat

26 82 pesisir ini dimana telah menjadi karakteristik utama masyarakatnya. Potensi budidaya perikanan laut disajikan pada Tabel 21 berikut: Tabel 21. Potensi Budidaya Laut No. Lokasi Potensi Pemanfaatan Keuntungan Jenis budidaya 1 Bungus Teluk Budidaya laut Kabung 2 Sungai Pisang Budidaya laut 3 Pulau Pesumpahan Budidaya laut 4 Teluk Buo Budidaya laut Sumber: DKP Padang, 2010 Terlindung dari hempasan gelombang, Bebas Pencemaran, Kedalaman air lebih 5 meter pada saat surut, Terhindar dari pengaruh air tawar Marine fin fish, Echinodermata (Marine teat fish) Rumput laut (Sea weed), Kondisi biofisik lokasi di beberapa kawasan pesisir dan pantai Kota Padang memperlihatkan adanya peluang yang cukup potensial untuk pengembangan usaha budidaya perikanan, terutama budidaya kepiting bakau dan kerapu. Adapun kecamatan yang memenuhi persyaratan lokasi secara umum untuk budidaya laut adalah Kecamatan Teluk Kabung di daerah Teluk Buo dan Sungai Pisang. Karakteristik wilayah Kota Padang dengan sebagian besar kecamatan berada di pesisir menyebabkan komposisi penduduk menyebar di sepanjang garis pantai. Total sebelas kecamatan yang ada di Kota Padang, tercatat ada enam kecamatan yang berada di pesisir pantai dengan komposisi penduduk seperti yang disajikan pada Tabel 22. Komposisi penduduk ini secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap pengembangan usaha perikanan. Tabel 22. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Wilayah Pesisir di Kota Padang No. Kecamatan Jumlah Luas (km 2 Kepadatan Penduduk ) Penduduk (jiwa/km 2 ) 1 Koto Tangah , Padang Barat , Padang Utara Lubuk Begalung , Padang Selatan , Bungus T. Kabung , Jumlah , ,83 Sumber: DKP Padang, 2010

27 83 Koto Tangah merupakan kecamatan pesisir dengan jumlah penduduk terbesar yaitu jiwa. Posisi kedua jumlah penduduk terbesar adalah Kecamatan Lubuk Begalung sebanyak jiwa. Bungus Teluk Kabung dengan luas wilayah kedua terluas setelah Koto Tangah hanya dihuni oleh jiwa, hal ini disebabkan oleh topografi wilayahnya berupa pebukitan sehingga kepadatan penduduk daerah ini kecil. Peta kecamatan pesisir Kota Padang ditampilkan pada Gambar 12 sebagai berikut: Gambar 12. Peta Kecamatan Pesisir Kota Padang Kota Padang memiliki enam kecamatan pesisir yang terbentang dari utara hingga selatan. Bagian barat kecamatan pesisir ini berhadapan dengan Samudera Hindia (Lautan Indonesia). Faktor posisi dan kondisi daerah ini menyebabkan adanya keterkaitan yang kuat dengan kebiasaan dan aktivitas masyarakat setempat. Keterkaitan ini berupa sistem mata pencaharian, kebudayaan/tradisi setempat serta berbagai aktivitas sosial lainnya. Aktivitas perikanan sebagian besar menjadi pola kehidupan masyarakat kecamatan pesisir Kota Padang. Kecamatan pesisir itu antara lain Kecamatan Koto Tangah, Padang Utara, Padang Barat, Lubuk Begalung, Padang Selatan dan Kecamatan Bungus Teluk Kabung.

28 84 Nelayan dapat dikelompokan menjadi nelayan penuh dan nelayan sambilan. Nelayan penuh adalah nelayan yang seluruh waktu kerjanya digunakan untuk melaut sehingga status pekerjaannya sebagai nelayan merupakan pekerjaan pokok. Nelayan sambilan adalah nelayan yang sebagian waktu kerjanya digunakan untuk melaut sehingga status pekerjaannya sebagai nelayan merupakan pekerjaan sampingan (DKP Padang, 2010). Kota Padang memiliki jumlah nelayan yang cukup banyak, baik sebagai nelayan penuh maupun sambilan. Perkembangan jumlah nelayan di Kota Padang ditampilkan pada Tabel 23 di bawah ini: Tabel 23. Jumlah Nelayan Laut Menurut Kecamatan No. Kecamatan Penuh Sambilan Jumlah 1 Bungus Teluk Kabung Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Padang Selatan Padang Timur Padang Barat Padang Utara Nanggalo Kuranji Pauh Koto Tangah Padang Sumber: DKP Padang, 2010 Melalui data jumlah nelayan laut Kota Padang tahun 2010 terlihat bahwa jumlah nelayan terbesar di Kota Padang terdapat di daerah Kota Tangah sebanyak orang, kemudian posisi kedua Kecamatan Bungus Teluk Kabung orang. Sedangkan tiga kecamatan tidak memiliki tenaga kerja nelayan karena lokasinya yang tidak memiliki perairan pantai yaitu Kecamatan Lubuk Kilangan, Kecamatan Kuranji dan Kecamatan Pauh.

29 85 Teknologi penangkapan ikan di Kota Padang terdiri dari berbagai macam alat tangkap dan berbagai macam armada tangkap mulai dari yang bersifat tradisional seperti pancing, colok, sampai yang menggunakan teknologi mesin bagan ukuran besar dan tonda. Masing-masing alat tangkap memiliki kapasitas yang berbeda-beda sehigga hasil tangkapannya juga berbeda-beda dan juga dipengaruhi oleh wilayah operasi penangkapan yang berbeda. Alat tangkap yang bersifat tradisional umumnya operasi penangkapannya masih dalam skala kecil. Usaha penangkapan ikan oleh nelayan di Kota Padang sebagian besar sudah menggunakan sarana atau armada penangkapan menggunakan mesin, namun di beberapa tempat masih ada yang menggunakan alat tangkap tanpa motor. Berdasarkan jenis armada yang digunakan, nelayan Kota Padang dibedakan atas nelayan yang menggunakan perahu tanpa motor (PTM), menggunakan motor tempel (MT) dan kelompok nelayan yang menggunakan kapal motor (KM). Data rinci jumlah armada tangkap yang ada di enam kecamatan pesisir di Kota Padang dijabarkan pada Tabel 24 sebagai berikut: Tabel 24. Jumlah Perahu dan Kapal Menurut Kecamatan No. Kecamatan Perahu Tanpa Motor (PTM) Motor Tempel (MT) Kapal Motor (KM) Jumlah Total 1 Bungus TL. Kabung Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Padang Selatan Padang Timur Padang Barat Padang Utara Nanggalo Kuranji Pauh Koto Tangah Padang Sumber: DKP Kota Padang, 2010

30 Produksi (Ton) Nilai (juta rupiah) 86 Tabel 24 menunjukkan bahwa persentase usaha nelayan dengan menggunakan perahu tanpa motor tahun 2010 sebanyak 22,57 persen dan motor tempel 71,49 persen, sementara jumlah nelayan yang menggunakan Kapal Motor sebesar 5,94 persen. Hal ini memperlihatkan aktivitas kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan sudah memasuki jalur I, II dan wilayah ZEEI. Perkembangan armada dari tahun ke tahun terlihat adanya tren kenaikan jumlah motor tempel, sementara Perahu Tanpa Motor (PTM) dan Kapal Motor (KM) cenderung mengalami penurunan. Hasil analisis data primer di lapangan mengungkapkan bahwa usaha penangkapan oleh nelayan yang sudah jauh dari pantai juga disebabkan karena sumberdaya ikan sejauh 4 mil dari pantai sudah mengalami degradasi, sehingga produksi penangkapan ikan di kawasan ini sangat minim. Perkembangan produksi dan nilai perikanan tangkap Kota Padang ditampilkan pada Gambar , , , , , , Produksi Nilai Gambar 13. Perkembangan Produksi dan Nilai Perikanan Kota Padang Sumber: DKP Kota Padang, 2011 Perkembangan produksi dan nilai perikanan tangkap Kota Padang sebagaimana yang ditampilkan pada Gambar 13 menunjukkan tren positif. Kontribusi terbesar sektor perikanan di Kota Padang adalah berasal dari produksi jenis ikan pelagis besar seperti tuna, cakalang dan tongkol. Ketiga spesies pelagis ini menyumbang 66,33 persen dari total nilai kontribusi seluruh jenis ikan di Kota Padang tahun Tuna merupakan penyumbang kontribusi terbesar Kota Padang yakni mencapai Rp ,00. Hal ini dikarenakan selain

31 87 produksi yang cukup besar, tuna juga merupakan produk ekspor untuk tujuan Jepang, Singapura dan Amerika (DKP Kota Padang, 2011) Potensi dan Karakteristik Bidang Kelautan Kota Padang memiliki berbagai potensi kelautan yang penting untuk dikembangkan, baik renewable resource maupun non renewable resource. Kondisi dan potensi pemanfaatan ruang pesisir Kota Padang dijelaskan dalam Lampiran 9. Adapun potensi kelautan Kota Padang sebagaimana disajikan dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota Padang (Bappeda Kota Padang, 2010) antara lain: a. Hutan Bakau (Mangrove) Potensi hutan bakau di wilayah Kota Padang relatif sedikit dibanding dengan kabupaten lainnya di Sumatera Barat yaitu seluas 64,45 ha. Hutan bakau umumnya terdapat di pulau-pulau kecil Kota Padang. Namun demikian, potensi ini masih bisa dikembangkan di beberapa pesisir Kota Padang sebagai sarana mitigasi alam dan juga untuk manfaat ekonomi lainnya. b. Terumbu Karang Terumbu karang merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat penting dalam menjaga ekosistem dan merupakan habitat tempat hidup ikan mencari makan dan tempat pemijahan. Luas terumbu karang yang ada di wilayah Kota Padang sekitar 400 ha. c. Padang Lamun dan Rumput Laut Padang Lamun terdapat di sepanjang pantai yang merupakan habitat, tempat makanan ikan, tempat pemijahan dan tempat berlindung larva ikan. Rumput laut merupakan salah-satu sumber daya alam laut yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Saat ini pengolahan rumput laut di Kota Padang masih dalam skala kecil rumah tangga untuk dijadikan bahan agar-agar. d. Estuaria Estuaria merupakan kawasan yang fungsinya sebagai salah satu sumber penyedia dan penyimpan zat hara bagi lautan. Estuaria terdiri dari estuaria

32 88 muara sungai, estuaria laguna dan estuaria dataran pasir. Fungsi estuaria di Kota Padang belum banyak mendukung kesuburan pantai kecuali yang ada di Kecamatan Bungus Teluk Kabung, hal ini disebabkan kawasan estuaria telah tercemar oleh limbah permukiman dan industri di sekitarnya. Estuaria di kawasan Bungus Teluk Kabung perlu diantisipasi pengelolaannya agar tidak rusak karena berdekatan dengan Pelabuhan Pertamina. e. Pulau-pulau Kecil Pulau pulau kecil yang ada di wilayah Kota Padang berjumlah 19 pulau, 13 pulau terletak relatif dekat dengan daratan. Pulau terjauh terletak 13,15 mil dari daratan, yaitu Pulau Pandan. Pemanfaatan pulau-pulau kecil ini belum optimal, sebagian telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kebun kelapa, dan beberapa pulau telah dikembangkan untuk kegiatan pariwisata. Kondisi pulau ini sebagian mengalami abrasi akibat terumbu karang yang mengelilinginya telah rusak, disebabkan oleh alam dan penangkapan ikan yang menggunakan bom dan potasium Prasarana Pendukung Prasarana dan sarana pendukung sektor perikanan dan kelautan Kota Padang adalah: a. Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Bandar udara ini berjarak lebih kurang 23 Km dari pusat Kota Padang. BIM menempati lahan seluas ± 427 hektar sebagai pintu gerbang utama Sumatera Barat. Bandara ini mulai dibangun tahun 2001 menggantikan Bandara Tabing yang telah beroperasi selama 34 tahun. BIM dapat menampung pesawat udara berbadan lebar seperti A 330 atau MD 11. Kelengkapan fasilitas yang jauh berbeda dengan Bandara Tabing dapat lebih menggairahkan aktivitas penerbangan di bandara ini. Bandara ini dibuka sejak Februari 2005 dan sudah dapat dimanfaatkan untuk melayani pesawat domestik dan internasional. Kondisi ini membuka peluang dan tersedianya Space Cargo ekspor tuna segar dan komoditi perikanan lainya langsung ke mancanegara.

33 89 b. Pelabuhan Teluk Bayur Kegiatan jasa dan perhubungan laut di Sumatera Barat secara umum lebih banyak dilakukan di Pelabuhan Teluk Bayur. Pelabuhan Teluk Bayur merupakan salah satu pelabuhan yang ramai dan terbesar yang dikunjungi kapal samudra dan kapal antar pulau sehingga mempunyai kedudukan yang strategis untuk Provinsi Sumatera Barat serta merupakan pintu gerbang perekonomian Sumatera Bagian Barat. Fungsi dari pelabuhan ini adalah: Fungsi utama sebagai pusat pelayanan transportasi laut skala regional dan internasional. Pintu gerbang Pantai Barat Sumatera melalui laut yang dapat melayani penumpang maupun cargo domestik serta internasional. c. Pelabuhan Muaro Pelabuhan Muaro diarahkan untuk pelayanan lingkup lokal dan antar pulaupulau (interinsuler). Kapal penumpang, kapal barang dan kapal pesiar (yacht) dengan kapasitas terbatas menggunakan pelabuhan ini sebagai tempat sandar dan pemberangkatan kapal. Kawasan sarana pendukung transportasi (Pelabuhan) Muaro seluas 5 Ha. d. Pelabuhan Batang Arau Pelabuhan Batang Arau berfungsi sebagai pelabuhan kapal-kapal mesin dan perahu motor tempel. Kapal-kapal tonda di Kota Padang sebagian besar mendarat di pelabuhan ini. Aktivitas perikanan di pelabuhan ini antara lain bongkar hasil tangkapan, pelelangan dan aktivitas perbaikan kapal. Beberapa tempat pendaratan dan pangkalan ikan di Kota Padang selain Batang Arau adalah PPI Muaro Anai, TPI Gaung, TPI Pasie Nan Tigo dan Purus. e. Pelabuhan Umum Bungus Pelabuhan Umum Bungus merupakan pelabuhan yang melayani penumpang umum (Ferri) dari Kepulauan Mentawai, Nias dan pulau-pulau lainnya. Pelabuhan ini terletak di utara Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus Kecamatan Teluk Kabung Padang. Pelabuhan ini hanya difungsikan sebagai sarana transportasi, sedangkan untuk kegiatan perikanan dioperasikan di PPS Bungus.

34 90 f. Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus (PPSB) Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus terletak di Kecamatan Bungus Teluk Kabung, 16 km dari pusat Kota Padang dan ± 30 km dari Bandara Internasional Minangkabau dengan luas lahan 14 Ha. Secara geografis berada pada posisi koordinat dan BT. Keadaan cuaca secara umum sama dengan cuaca di sekeliling equator, angin beraturan, panas, curah hujan banyak. Kondisi perairan cukup tenang karena terlindung oleh gugusan pulau-pulau Kepulauan Mentawai. Pelabuhan ini lebih difokuskan sebagai pelabuhan Tempat Pendaratan Ikan (TPI) dan pelabuhan untuk kapal-kapal yang membawa hasil pemanfaatan sumberdaya laut lainnya. Selain itu PPS Bungus juga difungsikan sebagai tempat perbaikan dan pembuatan kapal-kapal khususnya kapal nelayan dan kapal angkut barang interinsuler. PPS Bungus merupakan salah satu pusat perekonomian penting Kota Padang yang berfungsi sebagai pintu gerbang kegiatan ekspor perikanan khususnya tuna ke negara lain. Terhitung sejak tanggal 1 Mei 2001 Pelabuhan Perikanan Nusantara Bungus ditingkatkan statusnya menjadi eselon II/b dengan klasifikasi Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus (PPSB) berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.26.1/MEN/2001. Fasilitas yang tersedia pada pelabuhan PPS Bungus yaitu; kolam pelabuhan, dermaga, receiving hall, perbengkelan, perbekalan, pabrik es, dan fasilitas penunjang (Rincian fasilitas PPS Bungus disajikan dalam Lampiran 10). Di samping itu pada beberapa tempat terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) mini, antara lain di Pasir Jambak, Gaung, dan Batung. Potensi usaha dan investasi Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus tergolong masih besar, hal ini dipengaruhi antara lain; dukungan sumberdaya ikan masih cukup besar, usaha perikanan tuna longline dan purseseine, pembangunan pabrik es dan Cold Storage, unit pengolahan berupa pengalengan ikan, pengeringan tepung ikan, dan lain-lain. dock yard (slip way kapasitas 100 GT), dukungan perbankan, jasa keuangan non bank, penyaluran logistik (perbekalan melaut), toko alat-alat atau bahan perikanan serta waserba. PPS Bungus sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan

35 91 Nomor 16 tahun 2006, memiliki potensi dan karakteristik yaitu; melayani kapal perikanan yang beroperasi di laut teritorial, ZEEI, dan laut lepas. Kapasitas tambat labuh 60 GT dan menampung 100 kapal perikanan (6.000 GT). Panjang dermaga sekitar 300 m, sarana ekspor ikan serta terdapat industri perikanan. Produksi hasil tangkapan tuna yang didaratkan di PPS Bungus dari tahun sangat berfluktuasi. Fluktuasi hasil tangkapan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain perbedaan upaya penangkapan yang dilakukan, keadaan cuaca yang berbeda setiap bulannya, ketersediaan sumber makanan, peningkatan/penurunan jumlah armada longline, serta kondisi oseanografi yang mempengaruhi kehidupan dan keberadaan tuna pada fishing ground.

GAMBARAN UMUM SWP DAS ARAU

GAMBARAN UMUM SWP DAS ARAU 75 GAMBARAN UMUM SWP DAS ARAU Sumatera Barat dikenal sebagai salah satu propinsi yang masih memiliki tutupan hutan yang baik dan kaya akan sumberdaya air serta memiliki banyak sungai. Untuk kemudahan dalam

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI 16 KONDISI UMUM WILAYAH STUDI Kondisi Geografis dan Administratif Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106 0 45 50 Bujur Timur dan 106 0 45 10 Bujur Timur, 6 0 49

Lebih terperinci

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 3.1. Letak Geografis dan Administrasi Pemerintahan Propinsi Kalimantan Selatan memiliki luas 37.530,52 km 2 atau hampir 7 % dari luas seluruh pulau Kalimantan. Wilayah

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI WILAYAH PERENCANAAN 2.1. KONDISI GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI

BAB II DESKRIPSI WILAYAH PERENCANAAN 2.1. KONDISI GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI BAB II DESKRIPSI WILAYAH PERENCANAAN 2.1. KONDISI GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI Kabupaten Kendal terletak pada 109 40' - 110 18' Bujur Timur dan 6 32' - 7 24' Lintang Selatan. Batas wilayah administrasi Kabupaten

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 1. Wilayah Administratif Kabupaten Tanggamus

II. TINJAUAN PUSTAKA. 1. Wilayah Administratif Kabupaten Tanggamus II. TINJAUAN PUSTAKA A. Gambaran Umum Kabupaten Tanggamus 1. Wilayah Administratif Kabupaten Tanggamus Secara geografis wilayah Kabupaten Tanggamus terletak pada posisi 104 0 18 105 0 12 Bujur Timur dan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Kondisi Lingkungan Fisik Wilayah Penelitian 4.1.1. Letak, Luas dan Batas Secara geografis wilayah kota Padang berada antara 00º44 00-01º08 35 LS dan 100º05 05-100º34

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 63 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Penelitian Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2011) Provinsi Lampung meliputi areal dataran seluas 35.288,35 km 2 termasuk pulau-pulau yang

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 26 Administrasi Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak diantara 6 o 57`-7 o 25` Lintang Selatan dan 106 o 49` - 107 o 00` Bujur

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 39 KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN Letak Geografis dan Administrasi Kabupaten Deli Serdang merupakan bagian dari wilayah Propinsi Sumatera Utara dan secara geografis Kabupaten ini terletak pada 2º 57-3º

Lebih terperinci

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec BAB III KONDISI UMUM LOKASI Lokasi penelitian bertempat di Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Kota Banjarbaru, Kabupaten Kota Banjarmasin, dan Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 - IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI 4.1 Kondisi Geografis Kota Dumai merupakan salah satu dari 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37-101 o 8'13

Lebih terperinci

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah 2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah Provinsi Kalimantan Timur dengan ibukota Samarinda berdiri pada tanggal 7 Desember 1956, dengan dasar hukum Undang-Undang

Lebih terperinci

ES R K I R P I S P I S SI S S I TEM

ES R K I R P I S P I S SI S S I TEM 69 4. DESKRIPSI SISTEM SOSIAL EKOLOGI KAWASAN PENELITIAN 4.1 Kondisi Ekologi Lokasi studi dilakukan pada pesisir Ratatotok terletak di pantai selatan Sulawesi Utara yang termasuk dalam wilayah administrasi

Lebih terperinci

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Kondisi Geografis Kota Makassar secara geografi terletak pada koordinat 119 o 24 17,38 BT dan 5 o 8 6,19 LS dengan ketinggian yang bervariasi antara 1-25 meter dari

Lebih terperinci

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Kabupaten Sukabumi 4.1.1 Letak geografis Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Provinsi Jawa Barat dengan jarak tempuh 96 km dari Kota Bandung dan 119 km

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Sejarah Pelabuhan Sunda Kelapa Pelabuhan Sunda Kelapa berlokasi di Kelurahan Penjaringan Jakarta Utara, pelabuhan secara geografis terletak pada 06 06' 30" LS,

Lebih terperinci

KONDISI UMUM BANJARMASIN

KONDISI UMUM BANJARMASIN KONDISI UMUM BANJARMASIN Fisik Geografis Kota Banjarmasin merupakan salah satu kota dari 11 kota dan kabupaten yang berada dalam wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Kota Banjarmasin secara astronomis

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB II TINJAUAN UMUM BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Profil Perusahaan PT. Cipta Kridatama didirikan 8 April 1997 sebagai pengembangan dari jasa penyewaan dan penggunaan alat berat PT. Trakindo Utama. Industri tambang Indonesia yang

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Kondisi Geografis dan Iklim

IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Kondisi Geografis dan Iklim IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Kondisi Geografis dan Iklim Provinsi Banten secara geografis terletak pada batas astronomis 105 o 1 11-106 o 7 12 BT dan 5 o 7 50-7 o 1 1 LS, mempunyai posisi strategis pada lintas

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam 1. Letak dan Batas Wilayah Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang ada di pulau Jawa, letaknya diapit oleh dua provinsi besar

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI 2.1 Geografis dan Administratif Sebagai salah satu wilayah Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Kendal memiliki karakteristik daerah yang cukup

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi

IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik 4.1.1 Wilayah Administrasi Kota Bandung merupakan Ibukota Propinsi Jawa Barat. Kota Bandung terletak pada 6 o 49 58 hingga 6 o 58 38 Lintang Selatan dan 107 o 32 32 hingga

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM WILAYAH

GAMBARAN UMUM WILAYAH 3 GAMBARAN UMUM WILAYAH 3.1. Batas Administrasi dan Luas Wilayah Kabupaten Sumba Tengah merupakan pemekaran dari Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dibentuk berdasarkan UU no.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB II TINJAUAN UMUM 6 BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi Penelitian Secara administrasi, lokasi penelitian berada di Kecamata Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh. Sebelah utara Sebelah selatan Sebelah timur Sebelah

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu dari delapan Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara geografis terletak antara 116-117

Lebih terperinci

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 21 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN Kondisi Umum Fisik Wilayah Geomorfologi Wilayah pesisir Kabupaten Karawang sebagian besar daratannya terdiri dari dataran aluvial yang terbentuk karena banyaknya sungai

Lebih terperinci

BAB II KONDISI WILAYAH STUDI

BAB II KONDISI WILAYAH STUDI II-1 BAB II 2.1 Kondisi Alam 2.1.1 Topografi Morfologi Daerah Aliran Sungai (DAS) Pemali secara umum di bagian hulu adalah daerah pegunungan dengan topografi bergelombang dan membentuk cekungan dibeberapa

Lebih terperinci

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar BAB II PROFIL WILAYAH KAJIAN Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah

Lebih terperinci

BAB 3 GEOLOGI SEMARANG

BAB 3 GEOLOGI SEMARANG BAB 3 GEOLOGI SEMARANG 3.1 Geomorfologi Daerah Semarang bagian utara, dekat pantai, didominasi oleh dataran aluvial pantai yang tersebar dengan arah barat timur dengan ketinggian antara 1 hingga 5 meter.

Lebih terperinci

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 33 4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Kondisi Umum Kepulauan Seribu Wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu terletak di sebelah Utara Teluk Jakarta dan Laut Jawa Jakarta. Pulau Paling utara,

Lebih terperinci

BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. Secara Geografis Kota Depok terletak di antara Lintang

BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. Secara Geografis Kota Depok terletak di antara Lintang BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Letak, Luas dan Batas Wilayah Secara Geografis Kota Depok terletak di antara 06 0 19 06 0 28 Lintang Selatan dan 106 0 43 BT-106 0 55 Bujur Timur. Pemerintah

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN. batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Sumatera Barat. - Sebelah Barat dengan Samudera Hindia

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN. batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Sumatera Barat. - Sebelah Barat dengan Samudera Hindia BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Kondisi Geografis Daerah Kota Bengkulu merupakan ibukota dari Provinsi Bengkulu dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah

Lebih terperinci

KONDISI UMUM. Bogor Tengah, Bogor Timur, Bogor Barat, Bogor Utara, Bogor Selatan, dan Tanah Sareal (Gambar 13).

KONDISI UMUM. Bogor Tengah, Bogor Timur, Bogor Barat, Bogor Utara, Bogor Selatan, dan Tanah Sareal (Gambar 13). 28 IV. KONDISI UMUM 4.1 Wilayah Kota Kota merupakan salah satu wilayah yang terdapat di Provinsi Jawa Barat. Kota memiliki luas wilayah sebesar 11.850 Ha yang terdiri dari 6 kecamatan dan 68 kelurahan.

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1. Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Seluma Kabupaten Seluma merupakan salah satu daerah pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Selatan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 3

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 53 IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografis Selat Rupat merupakan salah satu selat kecil yang terdapat di Selat Malaka dan secara geografis terletak di antara pesisir Kota Dumai dengan

Lebih terperinci

KONDISI UMUM. Sumber: Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Depok (2010) Gambar 12. Peta Adminstratif Kecamatan Beji, Kota Depok

KONDISI UMUM. Sumber: Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Depok (2010) Gambar 12. Peta Adminstratif Kecamatan Beji, Kota Depok IV. KONDISI UMUM 4.1 Lokasi Administratif Kecamatan Beji Secara geografis Kecamatan Beji terletak pada koordinat 6 21 13-6 24 00 Lintang Selatan dan 106 47 40-106 50 30 Bujur Timur. Kecamatan Beji memiliki

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK PANTAI GUGUSAN PULAU PARI. Hadiwijaya L. Salim dan Ahmad *) ABSTRAK

KARAKTERISTIK PANTAI GUGUSAN PULAU PARI. Hadiwijaya L. Salim dan Ahmad *) ABSTRAK KARAKTERISTIK PANTAI GUGUSAN PULAU PARI Hadiwijaya L. Salim dan Ahmad *) ABSTRAK Penelitian tentang karakter morfologi pantai pulau-pulau kecil dalam suatu unit gugusan Pulau Pari telah dilakukan pada

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Pulau Panjang (310 ha), Pulau Rakata (1.400 ha) dan Pulau Anak Krakatau (320

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Pulau Panjang (310 ha), Pulau Rakata (1.400 ha) dan Pulau Anak Krakatau (320 28 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak dan Luas Kepulauan Krakatau terletak di Selat Sunda, yaitu antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Luas daratannya sekitar 3.090 ha terdiri dari Pulau Sertung

Lebih terperinci

BAB III KONDISI EKSISTING DKI JAKARTA

BAB III KONDISI EKSISTING DKI JAKARTA BAB III KONDISI EKSISTING DKI JAKARTA Sejalan dengan tingginya laju pertumbuhan penduduk kota Jakarta, hal ini berdampak langsung terhadap meningkatnya kebutuhan air bersih. Dengan meningkatnya permintaan

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 31 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Gambaran Geografis Wilayah Secara astronomis, wilayah Provinsi Banten terletak pada 507 50-701 1 Lintang Selatan dan 10501 11-10607 12 Bujur Timur, dengan luas wilayah

Lebih terperinci

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Berdasarkan pengamatan awal, daerah penelitian secara umum dicirikan oleh perbedaan tinggi dan ralief yang tercermin dalam kerapatan dan bentuk penyebaran kontur pada

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung.

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. IV. GAMBARAN UMUM A. Kondisi Umum Kabupaten Lampung Tengah Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. Luas wilayah Kabupaten Lampung Tengah sebesar 13,57 % dari Total Luas

Lebih terperinci

V. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonom yang baru

V. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonom yang baru V. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN Geografis dan Administratif Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonom yang baru terbentuk di Provinsi Sulawesi Tengah berdasarkan Undang-Undang Nomor 51 tahun

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM KOTA SIBOLGA

IV. GAMBARAN UMUM KOTA SIBOLGA IV. GAMBARAN UMUM KOTA SIBOLGA 4.1 Sejarah Kota Sibolga Kota Sibolga dahulunya merupakan bandar kecil di teluk Tapian Nauli dan terletak di pulau Poncan Ketek. Pulau kecil ini letaknya tidak jauh dari

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Administrasi Kabupaten Garut terletak di Provinsi Jawa Barat bagian Selatan pada koordinat 6º56'49'' - 7 º45'00'' Lintang Selatan dan 107º25'8'' - 108º7'30'' Bujur Timur

Lebih terperinci

IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Lokasi penelitian merupakan wilayah Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang No 12 Tahun 1999 sebagai hasil pemekaran Kabupaten

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.. Luas Wilayah Kota Tasikmalaya berada di wilayah Priangan Timur Provinsi Jawa Barat, letaknya cukup stratgis berada diantara kabupaten Ciamis dan kabupaten Garut.

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Situasi Wilayah Letak Geografi Secara geografis Kabupaten Tapin terletak antara 2 o 11 40 LS 3 o 11 50 LS dan 114 o 4 27 BT 115 o 3 20 BT. Dengan tinggi dari permukaan laut

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI DAERAH STUDI

BAB II DESKRIPSI DAERAH STUDI BAB II 2.1. Tinjauan Umum Sungai Beringin merupakan salah satu sungai yang mengalir di wilayah Semarang Barat, mulai dari Kecamatan Mijen dan Kecamatan Ngaliyan dan bermuara di Kecamatan Tugu (mengalir

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kastowo (1973), Silitonga (1975), dan Rosidi (1976) litologi daerah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kastowo (1973), Silitonga (1975), dan Rosidi (1976) litologi daerah BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Geologi Regional Menurut Kastowo (1973), Silitonga (1975), dan Rosidi (1976) litologi daerah Padang dan sekitarnya terdiri dari batuan Pratersier, Tersier dan Kwarter. Batuan

Lebih terperinci

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Kabupaten Bengkalis merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Riau. Wilayahnya mencakup daratan bagian pesisir timur Pulau Sumatera dan wilayah kepulauan,

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS RISIKO BENCANA TSUNAMI DI KOTA PADANG

BAB 4 ANALISIS RISIKO BENCANA TSUNAMI DI KOTA PADANG BAB 4 ANALISIS RISIKO BENCANA TSUNAMI DI KOTA PADANG Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat risiko bencana tsunami di Kota Padang berdasarkan atas faktor-faktor yang mempengaruhi risiko bencana

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB II TINJAUAN UMUM BAB II TINJAUAN UMUM Kegiatan penelitian dilakukan di Laboratorium BALAI BESAR KERAMIK Jalan Jendral A. Yani 392 Bandung. Conto yang digunakan adalah tanah liat (lempung) yang berasal dari Desa Siluman

Lebih terperinci

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 15 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN Lokasi Kabupaten Lebak secara geografis terletak antara 6º18'-7º00' Lintang Selatan dan 105º25'-106º30' Bujur Timur, dengan luas wilayah 304.472 Ha atau 3.044,72 km².

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah 35 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Provinsi Lampung Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah Provinsi Lampung adalah 3,46 juta km 2 (1,81 persen dari

Lebih terperinci

POLA SPASIAL SEBARAN MATERIAL DASAR PERAIRAN DI TELUK BUNGUS, KOTA PADANG

POLA SPASIAL SEBARAN MATERIAL DASAR PERAIRAN DI TELUK BUNGUS, KOTA PADANG POLA SPASIAL SEBARAN MATERIAL DASAR PERAIRAN DI TELUK BUNGUS, KOTA PADANG Yulius, G. Kusumah & H.L. Salim Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Nonhayati BRKP-DKP Jl. Pasir Putih I Ancol Timur-Jakarta

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Beberapa gambaran umum dari kondisi fisik Kabupaten Blitar yang merupakan wilayah studi adalah kondisi geografis, kondisi topografi, dan iklim.

Lebih terperinci

1.1 LUAS DAN BATAS WILAYAH KOTA

1.1 LUAS DAN BATAS WILAYAH KOTA Kota Padang adalah salah satu Kota tertua di pantai barat Sumatera di Lautan Hindia.Menurut sumber sejarah pada awalnya (sebelum abad ke-7) Kota Padang dihuni oleh paranelayan, petani garam dan pedagang.

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.113, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEMERINTAHAN. WILAYAH. NASIONAL. Pantai. Batas Sempadan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG BATAS SEMPADAN PANTAI DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH V. GAMBARAN UMUM WILAYAH 5.1. Kondisi Geografis Luas wilayah Kota Bogor tercatat 11.850 Ha atau 0,27 persen dari luas Propinsi Jawa Barat. Secara administrasi, Kota Bogor terdiri dari 6 Kecamatan, yaitu

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG BATAS SEMPADAN PANTAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG BATAS SEMPADAN PANTAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG BATAS SEMPADAN PANTAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam 1. Letak dan Batas Wilayah Secara geografis Provinsi Sumatera Selatan terletak antara 1 0 4 0 Lintang Selatan dan 102 0-106 0 Bujur Timur dengan

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA 31 KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA Administrasi Secara administratif pemerintahan Kabupaten Katingan dibagi ke dalam 11 kecamatan dengan ibukota kabupaten terletak di Kecamatan

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Umum 4.1.1. Letak Geografis dan Batas Administrasi Kota Jambi sebagai pusat wilayah dan Ibukota Provinsi Jambi, secara geografis terletak pada koordinat 01 32 45

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 29 IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Kondisi Fisik Dasar 4.1.1. Letak Geografis dan Luas Wilayah Teluk Bungus memiliki panjang garis pantai 21.050 meter dan panjang teluk 5.418 meter, volume 223.255.052,2

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak Geografis dan Luas Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara geografis terletak pada 104 0 50 sampai 109 0 30 Bujur Timur dan 0 0 50 sampai 4 0 10 Lintang

Lebih terperinci

Gambar 2. Lokasi Penelitian Bekas TPA Pasir Impun Secara Administratif (http://www.asiamaya.com/peta/bandung/suka_miskin/karang_pamulang.

Gambar 2. Lokasi Penelitian Bekas TPA Pasir Impun Secara Administratif (http://www.asiamaya.com/peta/bandung/suka_miskin/karang_pamulang. BAB II KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 2.1 Geografis dan Administrasi Secara geografis daerah penelitian bekas TPA Pasir Impun terletak di sebelah timur pusat kota bandung tepatnya pada koordinat 9236241

Lebih terperinci

RESUME HASIL KEGIATAN PEMETAAN GEOLOGI TEKNIK PULAU LOMBOK SEKALA 1:

RESUME HASIL KEGIATAN PEMETAAN GEOLOGI TEKNIK PULAU LOMBOK SEKALA 1: RESUME HASIL KEGIATAN PEMETAAN GEOLOGI TEKNIK PULAU LOMBOK SEKALA 1:250.000 OLEH: Dr.Ir. Muhammad Wafid A.N, M.Sc. Ir. Sugiyanto Tulus Pramudyo, ST, MT Sarwondo, ST, MT PUSAT SUMBER DAYA AIR TANAH DAN

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Administrasi Kabupaten Bangka Tengah secara administratif terdiri atas Kecamatan Koba, Kecamatan Lubuk Besar, Kecamatan Namang, Kecamatan Pangkalan Baru, Kecamatan

Lebih terperinci

BAB III Data Lokasi 3.1. Tinjauan Umum DKI Jakarta Kondisi Geografis

BAB III Data Lokasi 3.1. Tinjauan Umum DKI Jakarta Kondisi Geografis BAB III Data Lokasi 3.1. Tinjauan Umum DKI Jakarta 3.1.1. Kondisi Geografis Mengacu kepada Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Akhir Masa Jabatan 2007 2012 PemProv DKI Jakarta. Provinsi DKI Jakarta

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... Halaman BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-3 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sumatera terletak di sepanjang tepi Barat Daya Paparan Sunda, pada perpanjangan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sumatera terletak di sepanjang tepi Barat Daya Paparan Sunda, pada perpanjangan II. TINJAUAN PUSTAKA A. Struktur Geologi Sumatera terletak di sepanjang tepi Barat Daya Paparan Sunda, pada perpanjangan Lempeng Eurasia ke daratan Asia Tenggara dan merupakan bagian dari Busur Sunda.

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA PADANG

PEMERINTAH KOTA PADANG 409 PEMERINTAH KOTA PADANG PERATURAN DAERAH KOTA PADANG NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA KELURAHAN KOTA PADANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG, Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan Negara kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang termasuk rawan

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. bumi dan dapat menimbulkan tsunami. Ring of fire ini yang menjelaskan adanya

BAB 1 : PENDAHULUAN. bumi dan dapat menimbulkan tsunami. Ring of fire ini yang menjelaskan adanya BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang tergolong rawan terhadap kejadian bencana alam, hal tersebut berhubungan dengan letak geografis Indonesia yang terletak di antara

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI. Undang-Undang No. 61 tahun Secara geografis Provinsi Jambi terletak

IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI. Undang-Undang No. 61 tahun Secara geografis Provinsi Jambi terletak IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI 4.1 Keadaan Umum Provinsi Jambi secara resmi dibentuk pada tahun 1958 berdasarkan Undang-Undang No. 61 tahun 1958. Secara geografis Provinsi Jambi terletak antara 0º 45

Lebih terperinci

III. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

III. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN III. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 3.1. Kabupaten Tanjung Jabung Timur 3.1.1. Letak dan Luas Luas Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur adalah 5.445,0 km 2. Ibukota kabupaten berkedudukan di Muara Sabak.

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN Kondisi Wilayah Letak Geografis dan Wilayah Administrasi Wilayah Joglosemar terdiri dari kota Kota Yogyakarta, Kota Surakarta dan Kota Semarang. Secara geografis ketiga

Lebih terperinci

4. KEADAAN UMUM 4.1 Kedaan Umum Kabupaten Banyuwangi Kedaan geografis, topografi daerah dan penduduk 1) Letak dan luas

4. KEADAAN UMUM 4.1 Kedaan Umum Kabupaten Banyuwangi Kedaan geografis, topografi daerah dan penduduk 1) Letak dan luas 26 4. KEADAAN UMUM 4.1 Kedaan Umum Kabupaten Banyuwangi 4.1.1 Kedaan geografis, topografi daerah dan penduduk 1) Letak dan luas Menurut DKP Kabupaten Banyuwangi (2010) luas wilayah Kabupaten Banyuwangi

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 41 IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Provinsi Lampung 1. Keadaan Umum Provinsi Lampung merupakan salah satu provinsi di Republik Indonesia dengan areal daratan seluas 35.288 km2. Provinsi

Lebih terperinci

BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi 3.1.1 Geomorfologi Daerah Penelitian Secara umum, daerah penelitian memiliki morfologi berupa dataran dan perbukitan bergelombang dengan ketinggian

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR 4. 1 Kondisi Geografis Provinsi Jawa Timur membentang antara 111 0 BT - 114 4 BT dan 7 12 LS - 8 48 LS, dengan ibukota yang terletak di Kota Surabaya. Bagian utara

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH KONDISI GEOGRAFIS Kota Batam secara geografis mempunyai letak yang sangat strategis, yaitu terletak di jalur pelayaran dunia internasional. Kota Batam berdasarkan Perda Nomor

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU 4.1 Kondisi Geografis Secara geografis Provinsi Riau membentang dari lereng Bukit Barisan sampai ke Laut China Selatan, berada antara 1 0 15 LS dan 4 0 45 LU atau antara

Lebih terperinci

3 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

3 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 3 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 3.1 Deskripsi umum lokasi penelitian 3.1.1 Perairan Pantai Lovina Kawasan Lovina merupakan kawasan wisata pantai yang berada di Kabupaten Buleleng, Bali dengan daya tarik

Lebih terperinci

Gambar 5. Peta Citra Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi

Gambar 5. Peta Citra Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi 54 IV. DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN IV.1. Deskripsi Umum Wilayah yang dijadikan objek penelitian adalah kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Propinsi Jawa Barat. Kecamatan Muara Gembong berjarak

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak Geografis. 08º00'27" Lintang Selatan dan 110º12'34" - 110º31'08" Bujur Timur. Di

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak Geografis. 08º00'27 Lintang Selatan dan 110º12'34 - 110º31'08 Bujur Timur. Di IV. KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI A. Letak Geografis Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai lima Kabupaten dan satu Kotamadya, salah satu kabupaten tersebut adalah Kabupaten Bantul. Secara geografis,

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH

IV. KONDISI UMUM WILAYAH 29 IV. KONDISI UMUM WILAYAH 4.1 Kondisi Geografis dan Administrasi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 50-7 50 LS dan 104 48-104 48 BT dengan batas-batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti secara geografis terletak pada koordinat antara sekitar 0 42'30" - 1 28'0" LU dan 102 12'0" - 103 10'0" BT, dan terletak

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN A. Kondisi Fisik Kabupaten Lampung Timur Kabupaten Lampung Timur dibentuk berdasarkan Undang Undang Nomor 12 Tahun 1999, diresmikan pada tanggal 27 April 1999 dengan

Lebih terperinci

BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT

BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT 2.1. Gambaran Umum 2.1.1. Letak Geografis Kabupaten Sumba Barat merupakan salah satu Kabupaten di Pulau Sumba, salah satu

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM KABUPATEN SINTANG

KEADAAN UMUM KABUPATEN SINTANG KEADAAN UMUM KABUPATEN SINTANG Geografis dan Administrasi Kabupaten Sintang mempunyai luas 21.635 Km 2 dan di bagi menjadi 14 kecamatan, cakupan wilayah administrasi Kabupaten Sintang disajikan pada Tabel

Lebih terperinci

BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Letak Geografis Kabupaten Bandung terletak di Provinsi Jawa Barat, dengan ibu kota Soreang. Secara geografis, Kabupaten Bandung berada pada 6 41 7 19 Lintang

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI

BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI 39 BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI 4.1 KARAKTERISTIK UMUM KABUPATEN SUBANG 4.1.1 Batas Administratif Kabupaten Subang Kabupaten Subang berada dalam wilayah administratif Propinsi Jawa Barat dengan luas wilayah

Lebih terperinci

TINGKAT KERAWANAN BENCANA TSUNAMI KAWASAN PANTAI SELATAN KABUPATEN CILACAP

TINGKAT KERAWANAN BENCANA TSUNAMI KAWASAN PANTAI SELATAN KABUPATEN CILACAP TINGKAT KERAWANAN BENCANA TSUNAMI KAWASAN PANTAI SELATAN KABUPATEN CILACAP Lailla Uswatun Khasanah 1), Suwarsito 2), Esti Sarjanti 2) 1) Alumni Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Keguruan dan

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM KABUPATEN SIMEULUE

IV. KONDISI UMUM KABUPATEN SIMEULUE IV. KONDISI UMUM KABUPATEN SIMEULUE 4.1 Kondisi Wilayah Pulau Simeulue merupakan salah satu pulau terluar dari propinsi Nanggroe Aceh Darussalam Ο Ο Ο Ο berada pada posisi 0 0 03-03 0 04 lintang Utara

Lebih terperinci