INFOKOP VOLUME 19 JULI Pelindung Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "INFOKOP VOLUME 19 JULI Pelindung Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK"

Transkripsi

1 ISSN: X INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 Infokop adalah media ilmiah berisi gagasan/pemikiran yang berkaitan dengan upaya dengan pengembangan Koperasi dan UKM di Indonesia. Terbit pertama kali tahun 2002 selanjutnya dengan frekuensi terbit minimal satu kali setahun Pelindung Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Penyunting Ketua : Ir. Endah Srinarni, MSc Anggota : Dr. Riana Panggabean Ir. Teuku Syarif, MS Drs. Joko Sutrisno, MM Penyunting Ahli Drs. H.M. Iskandar Soesilo, MM Prof. Dr. Suhendar Sulaeman Dr. Eko Agus Nugroho Tata Usaha Wiworowati, S.Ap Drs. Widyono Kun Ismandari, S.Pt Eko Sari Budi Rahayu, SE Budi Setiadji, SE Infokop telah terakreditasi B dengan Nomor 343/AU1/P2MBI/04/2011, berdasarkan keputusan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Nomor 482/D/2011, tanggal 12 April 2011 Alamat Redaksi/Penerbit: Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Jln. M.T. Haryono Kav Jakarta Selatan, Telp. (021) Fax (021) atau (021) wesite: Infokop diterbitkan oleh Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Kementerian Koperasi dan UKM Jakarta

2 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 INFOKOP ISSN: X VOLUME 19 JULI 2011 DAFTAR ISI Daftar Isi... Editorial Strategi Pengembangan Kewirausahaan Nasional : Sebuah Rekomendasi Operasional... Handito Joewono 2. Metode Coblas (Consulting Based Learning for ASEAN SMEs) Untuk Pendidikan Entrepreneurship di Perguruan Tinggi... L. Setyobudi 3. Penguatan Kompetensi Kewirausahaan dan Daya Saing UKM Komoditi Unggulan Ekspor di Provinsi Aceh... Ishak Hasan 4. Model Pengembangan Wirausaha... I Wayan Dipta 5. Pengembangan Kewirausahaan Dikalangan UMKM Dalam Era Otonomi Daerah... Teuku Syarif 6. Dampak Penerapan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang UMKM Terhadap Pengembangan Kewirausahaan Bagi UMKM... Saudin Sijabat 7. Kewirausahaan dan Pengembangan Teknologi UMK... Joko Sutrisno ii - iii iv - vi ii

3 INFOKOP VOLUME 19 JULI Aliansi Strategis Sebagai Praktek Kewirausahaan Usaha Kecil dan Menengah... Achmad H. Gopar 9. Pengembangan Koperasi dan UKM Dengan Pendekatan Ovop Riana Panggabean 10. Pengembangan Produk Unggulan Jeruk Kalamansi Kota Bengkulu Dengan Pendekatan Ovop... Akhmad Junaidi iii

4 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 EDITORIAL Tema infokop edisi ini adalah Kewirausahaan Untuk Meningkatkan Daya Saing UKM. Kewirausahaan bertujuan meningkatkan daya saing, menyediakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Kewirausahaan diredefinisi sebagai gairah mengembangkan bisnis baru. Bisnis yang dikembangkan bisa berupa bisnis independen baru yang dimiliki oleh seorang atau lebih wirausaha, tetapi bisa juga bisnis baru yang dikembangkan dalam perusahaan tempatnya bekerja. Kebijakan kewirausahaan adalah salah satu bentuk intervensi pemerintah yang berperanan positif dalam pengembangan kewirausahaan, yang tidak hanya memberi perhatian pada wirausaha yang sudah jadi, tetapi juga kepada calon wirausaha yang dengan serius sedang mempertimbangkan untuk memulai suatu usaha. Menjadi wirausaha berhasil perlu mempunyai modal dasar seperti kemauan kerja keras, semangat juang tinggi, kecerdasan, kesabaran, wawasan bisnis yang luas, ketajaman melihat peluang dan tahan banting dalam menghadapi situasi yang sulit, tetapi rumus tersebut tidak berlaku reversible bahwa seseorang yang mempunyai lima karakter unggul kewirausahaan tersebut akan menjadi wirausaha berhasil. Mengapa? Karena jiwa wirausaha hanyalah modal dasar bagi seorang wirausaha. Untuk menjadi wirausaha diperlukan modal lain yaitu kompetensi mengelola bisnis. Calon pebisnis sukses juga perlu punya prasyaratan dasar sebagai calon pebisnis yaitu risk taker atau keberanian menghadapi resiko. Pada dasarnya, keberanian menghadapi resiko lebih merupakan faktor bawaan. Calon wirausaha yang sudah mempunyai lima karakter unggul, kemampuan mengelola resiko dan kompetensi mengelola bisnis tetap saja akan menjadi calon wirausaha abadi kalau tidak melakukan langkah-langkah kongkrit memulai bisnis baru. Pada buku The five Arrows of Entrepreneurship (Joewono, 2011), ada lima langkah mudah untuk memulai bisnis baru dalam kerangka The five Arrows of New Business Creation yaitu: (1) Day Dreaming, (2) Creative Thinking, (3) Push The Pedal,( 4) Speeding-Up dan (5) Looking-Up. Wirausaha saat ini tidak bisa lagi menghindar dari situasi dan kondisi perdagangan bebas dunia, apalagi kalau ingin berperan lebih besar di perekonomian dunia. Wirausaha perlu akses pasar sebesar-besarnya ke pasar dunia, dan sebaliknya juga dituntut oleh pelaku usaha global untuk membuka pasar domestik. Untuk menghadapi tantangan tersebut, dibutuhkan keberadaan wirausaha-wirausaha baru iv

5 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 yang tahan banting, punya daya saing global dan memegang nilai-nilai luhur dan cinta pada negerinya. Bisakah wirausaha dibentuk dan diciptakan?. Jawabannya bisa karena banyak wirausaha yang mewarisi bisnis orang tua atau leluhurnya. Seseorang yang hidup di lingkungan bisnis akan relatif mudah termotivasi untuk berbisnis yang langsung diimplementasikan dengan mengembangkan bisnis yang sudah dijalankan oleh keluarganya. Bagaimana dengan seseorang yang tidak hidup di lingkungan bisnis? Bisakah seseorang yang bukan dari keluarga wirausaha akan mempunyai gairah mengembangkan bisnis baru? Jawabannya : bisa. Bahkan para leluhur wirausaha besar pada mulanya juga bukan seorang wirausaha. Benih kewirausahaan bisa diajarkan dan dicangkokkan kepada siapapun. Mentransfer dan mencangkokkan kewirausahaan tidak selalu menghasilkan wirausaha yang mendirikan bisnis baru. Bisa jadi benih kewirausahaan tersebut bertumbuh baik tetapi tidak menjadi pohon bisnis mandiri tetapi berkembang menjadi gairah mengembangkan bisnis di perusahaan sebagai corpreneur, atau bisa juga tumbuh menjadi penggerak bisnis untuk masyarakat, atau menjadi pembina kewirausahaan di pemerintah sebagai govpreneur. Selain yang bertumbuh, ada juga benih kewirausahaan yang tidak tumbuh karena lingkungan hidupnya sangat ekstrim tidak mendukung kewirausahaan. Atau bisa juga benih kewirausahaan tersebut tumbuh tetapi tidak dipelihara dengan baik sehingga mati atau bahkan layu sebelum sempat berkembang. Tidak ada satu kebijakan kewirausahaan terbaik yang bisa diaplikasikan di semua negara. Pengembangan kewirausahaan tidak bisa dilepaskan dari aspek budaya di masing-masing negara. Eropa banyak mengandalkan pendekatan pengembangan kewirausahaan dengan pola top-down, sementara Amerika lebih cenderung bottomup dengan beragam fasilitasi terencana. Pendekatan pengembangan kewirausahaan mana yang cocok untuk Indonesia, top-down atau bottom-up? Pengembangan wirausahaan di Indonesia agar memperhatikan tahapan pengembangan wirausaha baru, komparasi kebijakan kewirausahaan di berbagai negara, karakter dan kebiasaan orang Indonesia, serta memahami kewirausahaan sebagai implementasi kemandirian. Selain itu mendorong peningkatan kegairahan berwirausaha di antara calon wirausaha dan fasilitatornya yang dilakukan bersamaan dengan penyediaan sarana dan prasarana untuk memudahkan calon wirausaha memulai, menjalankan dan membesarkan bisnis baru. Intervensi pemerintah yang bersifat top-down tetap diperlukan tetapi sebaiknya tidak terlalu jauh agar tidak kontraproduktif. v

6 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kelemahan kewirausahaan di kalangan UMKM, yaitu dalam hal karakter karena: 1) belum memiliki daya kreativitas dan inovasi yang kuat; 2) kurang mampu melihat adanya peluang usaha dari ketersediaan sumberdaya pada suatu daerah dan waktu tertentu; 3) belum mempunyai kemampuan manajerial yang tinggi; 4) kurang menguasai pengetahuan teknis tentang bisnis secara mendalam; dan 5) belum berani menanggung resiko kegagalan dari usaha yang dilaksanakan. Peningkatan kemampuan UKM agar menjadi wirausahawan perlu dilakukan pendidikan, pelatihan, dan pendampingan agar tumbuh produktivitas dan berdaya saing secara konsisten, berkelanjutan dengan komitmen dan implementasi yang kuat. Pada edisi ini penulis menyampaikan beberapa ide untuk mengembangkan Koperasi dan UKM menjadi wirausaha melalui (1) Aliansi strategis, (2) Pendekatan One Village One Product (OVOP), (3) Agribisnis dengan pendekatan ekspor, (4) Inkubator dan beberapa model yang ada di Perguruan Tinggi, Lembaga Riset dan model bisnis dan teknologi. Diharapkan tulisan tulisan ini dapat menjadi pedoman bagi pembaca untuk mengembangkan kewirausahaan di Indonesia. Pada tahun 2012 Infokop akan diterbitkan dua kali setahun. vi

7 STRATEGI PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN NASIONAL : Sebuah Rekomendasi Operasional (Handito Joewono) STRATEGI PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN NASIONAL : Sebuah Rekomendasi Operasional*) Handito Joewono**) Abstrak Kewirausahaan diredefinisi sebagai gairah mengembangkan bisnis baru. Bisnis yang dikembangkan bisa berupa bisnis independen baru yang dimiliki oleh seorang atau lebih wirausaha, tetapi bisa juga bisnis baru yang dikembangkan dalam perusahaan tempatnya bekerja. Kebijakan kewirausahaan adalah salah satu bentuk intervensi pemerintah yang berperanan positif dalam pengembangan kewirausahaan, yang tidak hanya memberi perhatian pada wirausaha yang sudah jadi, tetapi juga kepada calon wirausaha yang dengan serius sedang mempertimbangkan untuk memulai suatu usaha. Tidak ada satu kebijakan kewirausahaan terbaik yang bisa diaplikasikan di semua negara. Pengembangan kewirausahaan tidak bisa dilepaskan dari aspek budaya di masing-masing negara. Negara-negara Eropa banyak mengandalkan pendekatan pengembangan kewirausahaan dengan pola top-down, sementara Amerika lebih cenderung bottom-up dengan beragam fasilitasi terencana. Pendekatan pengembangan kewirausahaan mana yang cocok untuk Indonesia, top-down atau bottom-up? Dengan memperhatikan tahapan pengembangan wirausaha baru, komparasi kebijakan kewirausahaan di berbagai negara, karakter dan kebiasaan orang Indonesia, serta memahami kewirausahaan sebagai implementasi kemandirian; maka pendekatan pengembangan kewirausahaan yang sesuai di Indonesia adalah mendorong peningkatan kegairahan berwirausaha di antara calon wirausaha dan fasilitatornya yang dilakukan bersamaan dengan penyediaan sarana dan prasarana untuk memudahkan calon wirausaha memulai, menjalankan dan membesarkan bisnis baru. Intervensi pemerintah yang bersifat top-down tetap diperlukan tetapi sebaiknya tidak terlalu jauh agar tidak kontraproduktif. Kata Kunci : Kewirausahaan, Gairah mengembangkan bisnis baru, Kebijakan kewirausahaan, Indonesia *) Artikel diterima 21 April 2011, peer review Mei 2011, review akhir 14 Juni 2011 **) Ketua Tim Koordinasi Nasional Pengembangan Wirausaha Kreatif, Kemenko Perekonomian, Ketua Komite Tetap Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri, KADIN Indonesia, Penulis buku The 5 Arrows of Entrepreneurship, Pendiri SPLASHH - School of Entrepreneurship, Chief Strategy Consultant ARRBEY 1

8 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : 1-23 Abstract Entrepreneurship is redefined as the passion to create new business. The new business could be a new independent business which is belong to the entrepreneur himself (herself), or a new business which is developed in the company where he/she work. Entrepreneurship Policy is a form of government intervention with a positive impact in developing entrepreneurship, which is not only cover the existing entrepreneurs, but also the potential entrepreneurs who are considering to start a new business seriously. None of the entrepreneurship policy which could be applied perfectly in all nations. Entrepreneurship development is inseparable from the cultural aspects in each nation. Many European countries rely on entrepreneurship development approach with a top-down pattern, while Americans are more likely to bottom-up. Which one is more suitable in Indonesia: top-down or bottom-up approach? Taking into account the development stage of new entrepreneurship, comparative entrepreneurship policy in different countries, the character and customs of Indonesia, as well as understand entrepreneurship as the implementation of self-reliance; the right approach to entrepreneurship development in Indonesia is to encourage greater entrepreneurial excitement among potential entrepreneurs and their facilitators, and at the same time delivering the support structures and infrastructures to ease the potential entrepreneurs in creating, starting, and developing new business.top-down government intervention for certain aspects is needed as long as not too excessively. Keywords : Entrepreneurship, The passion to create a new business, Entrepreneurship policy, Indonesia. I. KEWIRAUSAHAAN Kewirausahaan dirasa semakin penting peranannya dalam pengembangan perekonomian nasional. Kewirausahaan efektif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui kontribusinya pada peningkatan pertumbuhan perekonomian sekaligus pemerataan pertumbuhan ekonomi. Negara-negara yang perekonomiannya sedang tumbuh seperti China dan India adalah contoh negara yang punya jutaan wirausaha baru yang tangguh dan berdaya saing global. Pertumbuhan perekonomian mendorong lahirnya banyak wirausaha baru, demikian juga sebaliknya banyaknya wirausaha baru menggerakkan pertumbuhan perekonomian yang semakin tinggi. Kewirausahaan dan pertumbuhan perekonomian punya korelasi sebab akibat yang saling timbal balik. Kewirausahaan perlu ditumbuhkembangkan secara sistematis dan komprehensif dengan mengikutsertakan segenap komponen bangsa. 2

9 STRATEGI PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN NASIONAL : Sebuah Rekomendasi Operasional (Handito Joewono) 1. Pengertian Kewirausahaan Kewirausahaan dan wirausaha didefinisikan berbeda-beda. Wirausaha atau wirausahawan/wati adalah orang yang melakoni kewirausahaan. Pada banyak literatur, kata wirausaha digunakan untuk menyebut seseorang yang berniat meluncurkan usaha baru dan bersedia bertanggung jawab penuh atas hasil yang akan dicapainya. Jean Batiste Say, seorang ekonom French menggunakan istilah entrepreneur pada abad ke-19 untuk mendefinisikan seseorang yang membuat usaha baru, khususnya kontraktor, yang bertindak menjembatani modal dana dan tenaga kerja. Pada buku The five Arrows of Entrepreneurship Joewono (2011), meredefinisi kewirausahaan atau entrepreneurship sebagai gairah untuk mengembangkan bisnis baru. Bisnis yang dikembangkan bisa berupa bisnis independen baru yang dimiliki oleh satu atau lebih wirausaha, tetapi bisa juga bisnis baru yang dikembangkan dalam perusahaan tempatnya bekerja. Gairah mengembangkan bisnis baru di perusahaan yang sudah ada disebut corporate entrepreneurship, disingkat corpreneurship. Kalau gairah pengembangan bisnis baru tersebut diterapkan untuk kegiatan kemasyarakatan, disebut social entrepreneurship. Bila gairah pengembangan bisnis baru tersebut dipahami dan dilaksanakan oleh aparatur pemerintah, disebut sebagai government entrepreneurship (Joewono, 2011). Untuk bisa menjadi pebisnis yang berhasil, seorang wirausaha perlu mempunyai modal dasar seperti kemauan kerja keras, semangat juang tinggi, kecerdasan, kesabaran, wawasan bisnis yang luas, ketajaman melihat peluang dan tahan banting dalam menghadapi situasi yang sulit. Wirausaha berhasil masa kini adalah wirausaha yang tidak terlalu sering meminta perlindungan pemerintah. Wirausaha haruslah pebisnis yang punya kemauan dan kemampuan untuk bersaing di pasar global. Oleh karenanya Tim Koordinasi Nasional Pengembangan Wirausaha Kreatif merumuskan bahwa wirausaha baru yang hendak ditumbuhkembangkan adalah Wirausaha yang kreatif, inovatif dan berdaya saing global. Globalisasi dan liberalisasi merupakan sebuah kenyataan. Wirausaha masa kini tidak bisa lagi menghindar dari situasi dan kondisi perdagangan bebas dunia, apalagi kalau ingin berperan lebih besar di perekonomian dunia. Kita perlu akses pasar sebesar-besarnya ke pasar dunia, dan sebaliknya kita juga dituntut oleh pelaku usaha global untuk membuka pasar domestik. Untuk menghadapi tantangan tersebut, 3

10 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : 1-23 dibutuhkan keberadaan wirausaha-wirausaha baru yang tahan banting, punya daya saing global dan memegang nilai-nilai luhur dan cinta pada negerinya. 2. Bisakah Wirausaha Dibentuk? Sering diperdebatkan, apakah wirausaha bisa dibentuk? Bisakah wirausaha diciptakan?. Pertanyaan strategis seperti ini sangat realistis, apalagi didasarkan kenyataan bahwa banyak wirausaha yang mewarisi bisnis orang tua atau leluhurnya. Seseorang yang hidup di lingkungan bisnis akan relatif mudah termotivasi untuk berbisnis yang langsung diimplementasikan dengan mengembangkan bisnis yang sudah dijalankan oleh keluarganya. Bagaimana dengan seseorang yang tidak hidup di lingkungan bisnis? Bisakah seseorang yang bukan dari keluarga wirausaha akan mempunyai gairah mengembangkan bisnis baru? Jawabannya tentu saja: bisa. Bahkan para leluhur wirausaha besar pada mulanya juga bukan seorang wirausaha. Benih kewirausahaan bisa diajarkan dan dicangkokkan kepada siapapun. Mentransfer dan mencangkokkan kewirausahaan tidak selalu menghasilkan wirausaha yang mendirikan bisnis baru. Bisa jadi benih kewirausahaan tersebut bertumbuh baik tetapi tidak menjadi pohon bisnis mandiri tetapi berkembang menjadi gairah mengembangkan bisnis di perusahaan sebagai corpreneur, atau bisa juga tumbuh menjadi pengggerak bisnis untuk masyarakat, atau menjadi pembina kewirausahaan di pemerintah sebagai govpreneur. Selain yang bertumbuh, ada juga benih kewirausahaan yang tidak tumbuh karena tanahnya kelewat gersang atau lingkungan hidupnya sangat ekstrim tidak mendukung kewirausahaan. Atau bisa juga benih kewirausahaan tersebut tumbuh tetapi tidak dipelihara dengan baik sehingga mati atau bahkan layu sebelum sempat berkembang. Kondisi yang banyak ditemui adalah benih kewirausahan yang telah tertanam atau tercangkok tetapi belum tumbuh menjadi pohon bisnis. Karenanya tidak perlu menyesal atau berkecil hati kalau penumbuhkembangan kewirausahaan tidak menghasilkan pohon bisnis sesuai target jangka pendek berupa berdirinya usaha bisnis baru sejumlah tertentu. Pada dasarnya tidak sia-sia menyebarkan, menanam atau mencangkokkan benih kewirausahaan. Akan selalu ada manfaat positif yang dihasilkan karena benih kewirausahaan bisa tumbuh di kemudian hari. 4

11 STRATEGI PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN NASIONAL : Sebuah Rekomendasi Operasional (Handito Joewono) Menumbuhkembangkan kewirausahaan dan wirausaha baru mendapat perhatian besar dari banyak pihak termasuk peneliti. Riset seputar kewirausahaan mendapat banyak perhatian terutama pada bidang studi ekonomi, geografi, manajemen, psikologi, dan sosiologi. Akhir-akhir ini riset yang dilakukan telah mengintegrasikan pengertian supply yang melibatkan wirausaha dan strategi berwirausaha, serta demand yang melibatkan usaha baru atau lebih luas lagi mencakup struktur kesempatan atau konteks kewirausahaan (Aldrich 1993; Thornton 1999). Konteks kewirausahaan meliputi dimensi yang luas dari faktorfaktor ekonomi, sosial, dan budaya. Ketersediaan sumber daya seperti finansial, perlindungan hak milik intelektual, dan keahlian khusus adalah penting bagi perekonomian suatu negara. Ketersediaan informasi yang spesifik dapat menentukan apakah wirausaha tersebut mampu menangkap kesempatan yang terbuka (Aldrich dan Fiol 1994; Shane dan Venkataraman 2000). Perhatian besar pada kewirausahaan antara lain tergambar pada World Entrepreneurship Forum ketiga di Lyon, Perancis pada November 2010 menghasilkan rekomendasi yang diberi judul Shaping the World of 2050: The Entrepreneurial Impact. Beberapa rekomendasi dari forum tersebut adalah : 1) Percepatan pengembangan perusahaan inovatif dan highgrowth. Kewirausahaan bisa ditingkatkan dengan penyelenggaraan pertemuan para wirausaha sukses di seluruh dunia, mendukung perspektif internasional mereka, dan menciptakan kondisi saling berbagi pengalaman serta mengembangkan jejaring global inkubator high-growth. Penyelenggaraan temu-bisnis perusahaan multinasional dengan para wirausaha baru juga akan efektif utuk mendorong kewirausahaan. 2) Mendorong kewirausahaan Base of the Pyramid (BoP). Kewirausahaan bisa ditumbuhkembangkan dengan mempercepat perubahan mindset warga miskin, menyusun kebijakan pemerintah yang kondusif dan menciptakan kluster dan inkubator melalui BoP. 3) Mempromosikan lingkungan yang mendorong kewirausahaan di daerah. 5

12 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : 1-23 Kewirausahaan bisa ditingkatkan melalui pengembangan kerjasama riset dengan berbagai pihak terkait, mengangkat duta wirausaha dengan kepala daerah sebagai motor utama, dan menyediakan fasilitas ritel dengan biaya rendah. 4) Mengedukasi wirausaha dunia. Edukasi wirausaha bisa dioptimalkan antara lain dengan merancang sistem akreditasi dan metode pengajaran yang dibutuhkan untuk mempercepat terciptanya wawasan kewirausahaan; mengembangkan cara pembelajaran baru yang mendorong kreatifitas dan keberanian untuk mengambil resiko; mendorong pemerintah, pebisnis, orang tua, guru, dan pelajar untuk lebih menghargai kewirausahaan dari segi sosial maupun ekonomi; dan merancang program pelatihan untuk mendorong sensitivitas pada kewirausahaan. II. KEBIJAKAN KEWIRAUSAHAAN BERBAGAI NEGARA Kebijakan kewirausahaan tidak hanya perlu memberi perhatian pada wirausaha yang sudah jadi, tetapi juga calon wirausaha yang dengan serius sedang mempertimbangkan untuk memulai suatu usaha. Meskipun kewirausahaan banyak bersentuhan dengan usaha kecil tetapi kebijakan kewirausahaan berbeda dengan kebijakan usaha kecil. Usaha bisnis baru bisa saja berskala besar, demikian juga warung makan atau usaha berskala kecil lainnya bisa jadi tidak tergolong usaha baru karena sudah didirikan belasan tahun sebelumnya. Ciri khusus dari kewirausahaan adalah baru dan dinamis. Kebijakan kewirausahaan juga bertujuan untuk mendorong terciptanya governance yang lebih baik. Tentu saja tidak semua kebijakan publik yang membentuk konteks kewirausahaan dan ketersediaan wirausaha potensial dapat digolongkan sebagai kebijakan kewirausahaan. Kebijakan pendidikan, misalnya, dapat mempengaruhi motivasi berbisnis, pengetahuan, keahlian, dan terbentuknya jejaring yang bermanfaat bagi pelajar atau mahasiswa untuk kelak menjadi wirausaha. Kebijakan makro ekonomi, misalnya dapat mempengaruhi ketersediaan modal jangka pendek dan kondisi perdagangan internasional yang juga mempengaruhi gairah mengembangkan bisnis baru dalam konteks kewirausahaan. Diperlukan beragam masukan dari sistem hukum, budaya, kelembagaan, kebijakan perekonomian dan pendidikan yang kondusif untuk kewirausahaan (Rosenberg dan Birdzell 1986; North 1984). 6

13 STRATEGI PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN NASIONAL : Sebuah Rekomendasi Operasional (Handito Joewono) 1. Kebijakan Kewirausahaan di Eropa Menurut David Audretsch ilmuwan dari Institut Max Planck dan Universitas Indiana, Jerman telah berhasil menciptakan perusahaanperusahaan baru yang inovatif. Jerman telah melalui lima tahapan dalam penciptaan kewirausahaan, yaitu: penyangkalan, pengakuan, iri hati, konsensus dan pencapaian. Karena perekonomiannya telah melalui masa-masa sulit dalam menghadapi persaingan global dan hilangnya lapangan kerja di bidang manufaktur, maka Jerman telah mengalami tahap peralihan dari penyangkalan ke iri hati terhadap kemampuan negara-negara lain dalam menciptakan perusahaan-perusahaan baru dan keberhasilan mereka dalam menghadapi persaingan global. Negara-negara di kawasan Nordic menggunakan Model MOS (Motivation, Opportunities, Skills) untuk menumbuhkembangkan kewirausahaan. Model MOS menjelaskan tiga bagian yang saling berintegrasi yaitu motivasi, kesempatan dan keahlian. Model yang terintegrasi adalah model yang bila diterapkan akan berpengaruh posisif pada beberapa alat ukur berbeda. Pendidikan kewirausahaan misalnya, sudah pasti dapat mempengaruhi motivasi dan keahlian. Kebijakan kewirausahaan dapat dipandang sebagai alat ukur yang digunakan untuk mempengaruhi individu-individu dalam masyarakat. Studi yang dilakukan di Denmark menyebutkan bahwa didapati perkembangan yang nyata dalam hal kewirausahaan di negara itu. Denmark menggunakan pendekatan yang agak berbeda untuk menumbuhkembangkan kewirausahaan. Dukungan bagi para wirausaha diberikan terutama dengan menciptakan sistem yang seragam dan sederhana dengan model one stop shop untuk mempermudah para wirausaha baru. Di Finlandia, fenomena sosial di bidang kewirausahaan dan perkembangannya, dimonitor melalui Program Kebijakan Kewirausahaan (Entrepreneuship Policy Programme). Jumlah perusahaan, ukuran, lokasi, sektor, keuntungan, pendapatan serta distribusi umur dari para wirausaha adalah faktor-faktor yang diamati. Studi ini bermaksud untuk mengamati tingkat efektifitas program dan perubahan kondisi di Finlandia dan daerah sekitarnya. Kebijakan kewirausahaan dilakukan secara baik di Finlandia, terutama dalam hal struktur, organisasi dan alat ukur. Instrumen dan alat ukurnya didasarkan pada kebutuhan. Meskipun instrumennya baik belum tentu menciptakan kesuksesan bisnis maupun inovasi. Ada 7

14 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : 1-23 kebutuhan untuk menganalisa secara kritis sistem pendukung dan struktur yang ada, untuk melakukan relokasi seperlunya termasuk jika diperlukan adanya perubahan struktur. Karena level kewirausahaan berhubungan erat dengan kondisi sosial, budaya dan perekonomian, maka dibutuhkan aktifitas jangka panjang seperti melembagakan pendidikan kewirausahaan, yang diharapkan meningkatkan jumlah wirausaha baru. Tantangan bagi kebijakan kewirausahaan Finlandia berhubungan dengan populasi penduduk. Jumlah populasi yang makin menurun dan cenderung menjadi populasi penduduk yang berumur semakin tua akan membuat aktifitas kewirausahaan di masa datang menjadi lebih sulit. Oleh karena itu, menjadikan generasi baru sebagai target kebijakan kewirausahaan belumlah cukup. Dinamika dan keragaman populasi perlu ditingkatkan melalui penggalakan imigrasi tenaga kerja produktif ke Finlandia, yang diharapkan dapat membantu mempercepat perubahan budaya menuju masyarakat kewirausahaan. Di Islandia, sejak tahun 1995 dukungan terhadap perusahaan kecil menengah menjadi isu dalam pembuatan kebijakan. Perhatian terhadap kewirausahaan juga terus meningkat. Diaktifkan tiga lembaga utama (Rannis, NSA, dan NMI) yang mendukung inovasi dan kewirausahaan. Memang sulit mengukur keberhasilan kebijakan kewirausahaan yang dilakukan pemerintah. Menurut GEM, aktifitas kewirausahaan di Islandia lebih tinggi dibandingkan negara-negara Eropa lainnya, yaitu sekitar 12% di Islandia dibandingkan dengan 6% di negara Eropa lainnya. Di Norwegia dikembangkan rencana strategi nasional bagi kewirausahaan dalam sistem pendidikan di sekolah. Rencana ini selesai pada tahun 2008 dan terus dievaluasi, namun tidak diketahui apakah akan ada tindak lanjut dari rencana ini. Kewirausahaan juga menjadi salah satu prasyarat dalam proses pengembangan wilayah. Dalam kebijakan inovasi Norwegia yang diluncurkan pada tahun 2008 diharapkan juga termasuk kebijakan mengenai kewirausahaan. Ada tiga kementerian yang terlibat dalam kebijakan kewirausahaan di Norwegia, yaitu : Kementerian Perdagangan dan Industri, Kementerian Pendidikan dan Riset, serta Kementerian Pemerintahan Daerah dan Pengembangan Wilayah. Juga ada tiga lembaga negara yang menangani hal-hal terkait kewirausahaan di tingkat nasional, yaitu : The Industrial Development Corporation (SIVA), Innovation Norway, dan Norwegian Research Council. Sekalipun ada unit administratif di 8

15 STRATEGI PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN NASIONAL : Sebuah Rekomendasi Operasional (Handito Joewono) pemerintah pusat yang bertanggung jawab dalam bidang ini, tetapi tidak ada pejabat resmi yang bertanggung jawab dalam bidang pengembangan bisnis ataupun kewirausahaan di negara tersebut. Swedia terus bergerak maju dalam bidang kewirausahaan termasuk pengembangan kebijakan kewirausahaan. Ada peralihan dari kebijakan tradisional terhadap perusahaan kecil menengah yang tadinya fokus pada usaha-usaha melengkapi para wirausaha dengan keahlian dan faktor-faktor produksi, menjadi lebih fokus pada orientasi motivasi dan kesempatan. Kebijakan kewirausahaan di Eropa pada dasarnya adalah pendekatan dari atas ke bawah, atau pendekatan top down. Kebijakan dibuat pada level Kementerian di pemerintah pusat dan dilaksanakan di pemerintah daerah. Namun demikian, seiring dengan bertambahnya waktu, diperlukan juga adanya kebijakan-kebijakan yang dibuat di level regional atau kota. Kebijakan kewirausahaan di Denmark menggunakan tiga instrumen utama yaitu : 1) Akses permodalan; 2) Budaya kewirausahaan; dan 3) Kompetensi kewirausahaan. Khusus untuk permodalan, bank swasta di Denmark mengambil peranan besar dalam pembiayaan bisnis baru. Di Denmark, menggalakkan kewirausahaan dari aspek budaya dilakukan dengan membangun budaya inovasi dan sisi budaya kewirausahaan lain melalui kampanye di media televisi dan pertunjukan yang menayangkan para wirausaha saling berkompetisi untuk merealisasikan ide-ide bisnis mereka. Peningkatan kompetensi kewirausahaan di Denmark dilakukan melalui program pendidikan kewirausahaan di sekolah-sekolah. Pada tahun 2004 pemerintah Denmark memperkenalkan strategi inovasi, kewirausahaan, dan kemandirian ke dalam sistem pendidikan. Strategi ini diterapkan untuk menangkap ide-ide yang mampu mempromosikan dan memperkuat budaya kewirausahaan. Acara seperti Independence Fund dan Entrepreneurship Barometer dirancang untuk mengukur dan meningkatkan kewirausahaan di jenjang pendidikan tinggi. Strateginya ditekankan pada pentingnya membangun interaksi yang lebih kuat antara komunitas bisnis dan pendidikan tinggi, untuk meningkatkan persepsi masyarakat terhadap kewirausahaan. Dari sisi struktur organisasi, tanggung jawab utama pengembangan kebijakan kewirausahaan di Denmark dipegang oleh dua kementerian, yaitu Kementerian Perekonomian dan Business 9

16 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : 1-23 Affairs, serta Kementerian Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi, yang kadangkala menimbulkan kesulitan. Kementerian Pendidikan juga memegang peranan penting dalam perumusan kebijakan. Di Denmark dibentuk forum pertumbuhan regional yang anggotanya terdiri dari perwakilan bidang bisnis dan perdagangan, lembaga pendidikan, tenaga kerja dan pemberi kerja, serta politisi dari setiap daerah. Forum ini bertanggung jawab memonitor kondisi lokal dan regional yang menunjang pertumbuhan. Strategi pengembangan bisnis daerah menjadi dasar pembuatan rencana pengembangan daerah. Forum regional berperan dalam pembuatan kebijakan kewirausahaan karena mereka terlibat dalam proses pengembangan strategi pertumbuhan daerah dan memelopori aktifitas pengembangan bisnis. 2. Kebijakan Kewirausahaan di Amerika Kebijakan kewirausahaan di Amerika diterapkan di negara bagian maupun di tingkat nasional. Kekuatan pemerintah dan mitra kerjanya digunakan untuk mendorong pertumbuhan kewirausahaan, yang mungkin berbeda untuk setiap wilayah, sesuai dengan aktifitas ekonomi dan komunitas yang ingin dipengaruhi. 3. Level Federal Undang-undang Antitrust Sherman yang disetujui kongres Amerika tahun 1890 adalah titik awal yang tepat untuk memulai riset, karena undang-undang mencerminkan perbedaan Amerika dengan negara-negara industri lainnya. Undang-undang ini merupakan puncak dari kegelisahan sekian lama mengenai semakin dominannya peranan perusahaan besar dalam perekonomian. Oleh karena itu Undangundang Antitrust Sherman membatasi aktifitas perusahaan besar, agar dapat memberi peluang bagi usaha baru. Setelah seabad proses pengembangan kebijakan dan hukum antitrust, motivasi berwirausaha semakin tumbuh, dan analisa seputar hambatan untuk memulai usaha baru serta bagaimana cara mengatasinya menjadi perhatian utama (Hart 2001). Kebijakan regulasi federal juga terkait langsung dengan kewirausahaan. Undang-undang antitrust dan beberapa kebijakan federal lainnya, dibuat untuk mendukung usaha baru. Hak atas intelektual properti misalnya, telah diterapkan dengan tegas sejak tahun 1970an, sehingga para pemegang hak mendapat perlindungan yang lebih secara hukum. Berbagai produk dan proses telah dipatenkan. Ada juga copyright, 10

17 STRATEGI PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN NASIONAL : Sebuah Rekomendasi Operasional (Handito Joewono) yaitu hak atas perbanyakan software dan format digital lainnya. Universitas dan pihak-pihak yang menerima bantuan pendanaan dari federal untuk melakukan kegiatan riset dan pengembangan didorong untuk mendapatkan perlindungan atas intelektual properti hasil temuan mereka. Perlindungan ini menjadi aset tak ternilai bagi sebuah usaha baru. Bantuan dana di bidang kewirausahaan juga diusulkan oleh para pembuat kebijakan federal. Subsidi langsung bagi usaha baru dilakukan melalui program SBIR (Small Business Innovation Research) dan program teknologi lanjutan dari Kementerian Perdagangan. Ada juga program pengadaan yang memberi bantuan dana proyek federal ke usaha kecil dan bisnis yang dikelola oleh wanita, kaum minoritas, serta grup lain yang mewakili komunitas wirausaha. Program dengan jaminan pinjaman dari federal mendorong kreditur swasta untuk juga berbisnis dengan para pengusaha baru. Perubahan dalam perpajakan Amerika, seperti fluktuasi perlakuan terhadap capital gain, mempengaruhi ketersediaan pendanaan bagi usaha baru. Peraturan federal mengenai investasi, misalnya peraturan tahun 1978 yang memungkinkan sebagian dana pensiun disimpan dalam bentuk investasi beresiko tinggi, telah memberi pengaruh penting bagi pertumbuhan industri venture capital, yang kemudian juga menjadi pemicu tumbuhnya kewirausahaan. 4. Inisiatif Lokal Entrepreneurial state, istilah yang digunakan oleh Peter K.Eisinger pada era 1980an, timbul sebagai tanggapan atas adanya persepsi bahwa model pengembangan daerah, terutama smokestackchasing (yaitu memberi insentif bagi perusahaan di luar area yurisdiksi yang mau membuat usaha baru di daerah tersebut), tidak lagi efektif di era inovasi teknologi yang begitu cepat, integrasi ekonomi global, dan melemahnya peranan federal (Eisinginer 1988). Timbul argumentasi bahwa daerah harus bertanggung jawab atas pertumbuhan ekonominya sendiri. Munculnya Silicon Valley dengan perekonomian berbasis ilmu pengetahuan yang melibatkan dunia pendidikan, usaha baru, dan layanan pendukung, telah menjadi topik pembicaraan dalam berbagai diskusi. Adanya berbagai negara bagian di Amerika menjadi tantangan tersendiri, dan membuat kebijakan kewirausahaan antar negara bagian 11

18 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : 1-23 bisa berbeda-beda. Strategi untuk mendorong tumbuhnya kreatifitas pengetahuan mempunyai rentang yang luas. California misalnya, menanam investasi yang cukup besar di institusi yang berbasis universitas, baik dalam bidang bioteknologi, teknologi informasi, dan telekomunikasi yang menjadi pelengkap bagi dana R&D federal, yang mampu mendorong pertumbuhan kewirausahaan berbasis teknologi tinggi. Sebaliknya, Georgia, telah melakukan usaha ekstensif untuk membangun sistem universitas yang berdaya saing tinggi dengan dana minimal. Elemen penting dalam program pemerintah adalah Georgia Research Alliance, kerjasama masyarakat dan pihak swasta, yang telah mengeluarkan dana sebanyak $242 juta dari dana pemerintah dan $65 juta dari dana swasta selama tahun 1990an, dalam rangka pengembangan ekonomi dengan mengoptimalkan pemanfaatan kemampuan riset perguruan tinggi (Georgia Research Alliance, 2002). Masing-masing negara bagian di Amerika menggunakan instrumen kebijakan yang berbeda untuk memfasilitasi penyebaran ilmu pengetahuan ke usaha baru dan usaha yang sedang berkembang. Beberapa pihak memberi sponsor dalam bentuk fasilitas, seperti inkubator dan taman pengetahuan, yang memungkinkan para wirausaha menempatkan kantor atau bahkan operasional usaha mereka di lokasi sponsor. Kampus yang telah memperoleh hak intelektual atas beberapa temuannya bersedia menjadikan hak mereka ke dalam bentuk saham di perusahaan baru (Plosila 2001). Inisiatif tingkat daerah atau negara bagian lainnya bertujuan untuk menyediakan layanan bisnis dan kesempatan memperluas jaringan bisnis bagi para wirausaha, baik yang berafiliasi dengan kampus maupun tidak. Manufacturing Extention Partnership misalnya, mempunyai outlet di semua 50 negara bagian yang dapat menjadi pedoman bagi perusahaan manufaktur kecil dan menghubungkan mereka ke beberapa penyedia jasa (Shapira, 1998). 5. Apakah Kebijakan Kewirausahaan Menghasilkan Wirausaha? Kebijakan kewirausahaan merupakan rangkaian aktifitas yang seringkali tidak terkoordinasi dan tidak direncanakan dengan baik. Para wirausaha baru menghadapi serangkaian pilihan yang berbeda dalam proses membangun usaha baru. Mereka bisa saja mendapat bantuan pendanaan dalam bentuk kredit pinjaman atau subsidi, atau kontribusi lain dalam bentuk modal intelektual. Konteks kewirausahaan begitu 12

19 STRATEGI PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN NASIONAL : Sebuah Rekomendasi Operasional (Handito Joewono) kompleks, melebihi kompleksitas kebijakan publik. Kondisi latar belakang juga mempengaruhi, baik dari sisi tingkat pendidikan maupun demografi. Kondisi jangka pendek, seperti tingkat suku bunga dan ketersediaan modal dapat juga memberi pengaruh yang besar dalam hal pengambilan keputusan berwirausaha. Pengaruh kebijakan kewirausahaan terhadap usaha baru seringkali dipengaruhi oleh banyak faktor lain, bisa kapan saja, di mana saja, dalam sektor apa saja. Terlihat jelas bahwa level dan kualitas kewirausahaan sangat dipengaruhi oleh kebijakan publik dan governance. Kewirausahaan di bidang bioteknologi, seperti yang diutarakan oleh Nathan Rosenberg dan Andrew Toole adalah salah satu contohnya. Kebangkitan Wahington D.C. sebagai kota kewirausahaan di bidang teknologi tinggi adalah contoh di tingkat regional (Feldman 2001). Dari beberapa contoh di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kebijakan kewirausahaan adalah salah satu bentuk intervensi yang berperanan positif dalam pengembangan kewirausahaan. Pengaruh kebijakan kewirausahaan seringkali tidak bersifat statis. Kebijakan atas ide-ide yang telah dirancang dengan matang dan diterapkan dengan hati-hati dapat memperkaya pengaruh positif yang ditimbulkannya, sebaliknya kebijakan yang tidak dirancang dengan baik dan tidak diterapkan dengan hati-hati dapat mengurangi manfaatnya, atau bahkan dapat berpengaruh negatif. Pada umumnya para analis kebijakan tidak cukup memahami dengan baik interaksi yang terjadi antara kewirausahaan dengan kebijakan publik, yang seyogyanya dapat bermanfaat posisi dalam mengidentifikasi kesempatan dan resiko yang ada atau yang mungkin ada (Bartik 1991; Isseman 1994; Dewar 1998). III. REORIENTASI KEBIJAKAN KEWIRAUSAHAAN Perumusan strategi pengembangan kewirausahaan nasional sebaiknya diawali dengan mengedepankan peran wirausaha selaku pelaku kewirausahaan. Oleh karenanya rekomendasi pengembangan kewirausahaan dimulai dengan merumuskan pemikiran tentang hakiki wirausaha. Pada buku The five Arrows of Entrepreneurship seperti dikutip di bagian awal tulisan ini, penulis meredefinisi kewirausahaan atau entrepreneurship sebagai gairah untuk mengembangkan bisnis baru. Mengembangkan bisnis baru, termasuk di dalamnya memulai dan menjalankan bisnis, pada 13

20 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : 1-23 era sekarang ini tidak cukup hanya bermodalkan tekad kuat. Memang benar tanpa tekad yang kuat untuk memulai bisnis maka tidak akan pernah berdiri bisnis baru, tetapi tekad kuat hanyalah salah satu modal awal. Berbisnis harus menggunakan perhitungan karena keberhasilan bisnis sejatinya juga merupakan hasil perhitungan rasional. Harus ada perhitungan untung-rugi yang pada dasarnya merupakan selisih pendapatan dan biaya. Memulai bisnis tidak bisa hanya memikirkan bagaimana cara memulai, tetapi juga merancang bagaimana proses tersebut akan dijalankan, dan ada kalanya perlu memikirkan kemungkinan kegagalan dan langkah antisipatifnya. Konsep The five Arrows of Strategic Development yang menjadi referensi induk The five Arrows of Entrepreneurship jelas-jelas menggarisbawahi perlunya pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Bisnis yang dikembangkan seorang wirausaha perlu terus bertumbuh, atau sebaliknya akan berujung pada kegagalan. Growth or Die, tumbuh atau mati. Tanpa pertumbuhan bisnis yang terukur, wirausaha jaman sekarang tidak akan mampu mengatasi persaingan yang semakin mengglobal. Diperlukan langkah-langkah strategis untuk menumbuhkembangkan usaha bisnis baru. Pengembangan bisnis baru bisa dilakukan dengan menggunakan model tiga anak tangga pertumbuhan di atas, yaitu : Belajar Jalan, Belajar Lari dan Latihan Maraton. 1) Belajar Jalan Bisnis baru bisa dianalogikan dengan bayi atau batita yang sedang merangkak dan belajar jalan. Usaha bisnis yang ada di tahapan Belajar Jalan masih tertatih-tatih, terutama untuk mendapatkan order bisnis. Pada tahapan ini, bisnis baru sebaiknya dikelola dengan penuh konsentrasi dan kehati-hatian agar bisa normal berjalan. Usaha bisnis yang sedang dijalankan sebaiknya berkonsentrasi pada produk dan segmen pasar tertentu. 2) Belajar Lari Ketika bisnis baru sudah mulai berjalan lancar, akan membosankan kalau terus berjalan di tempat. Usaha bisnis harus mulai diperbesar dan belajar lari dengan meluncurkan produk baru atau menambah segmen pasar yang dituju. Sangat banyak usaha bisnis yang tidak berani masuk ke tahapan belajar lari ini. Bisa jadi karena takut gagal atau karena faktor keterbatasan sumberdaya. 14

21 STRATEGI PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN NASIONAL : Sebuah Rekomendasi Operasional (Handito Joewono) 3) Latihan Maraton Tidak semua pelari mau dan mampu ikut lomba lari maraton. Demikian juga tidak semua pebisnis mampu membawa perusahaannya menjadi bisnis yang besar atau menjadi pemimpin pasar. Meskipun begitu, setiap pebisnis baru perlu punya dorongan motivasi untuk membesarkan bisnisnya sampai di tahapan latihan maraton yang bersaing dengan perusahaan besar di pasar. Bisnis jaman sekarang merupakan bisnis dengan tingkat kompetisi tinggi. Tidak peduli bisnis yang ada merupakan bisnis baru atau bisnis lama, kompetisi berlaku untuk keduanya. Artinya semua bisnis akan menghadapi tantangan kompetisi yang sama. Untuk menjawab tantangan kompetisi seperti ini, kreativitas dan inovasi menjadi salah satu jawaban ideal. Karenanya bagi bisnis dan pebisnis baru, kreativitas dan inovasi merupakan makanan pokok. Untuk menghasilkan wirausaha baru yang kreatif, inovatif dan berdaya saing global dibutuhkan bahan baku berupa calon wirausaha yang mempunyai karakter-karakter unggul wirausaha yang bisa berasal dari bawaan lahir atau dibentuk melalui pelatihan dan pengalaman. Dari penelitian yang dilakukan oleh Arrbey Competitivenes Center, ada lima karakter unggul wirausaha, yaitu: 1) Opportunity Seeker Seorang pebisnis adalah seorang pencari kesempatan usaha yang tidak pernah tega membiarkan kesempatan bisnis berlalu begitu saja. Pebisnis tidak mengenal kata letih dan bosan untuk terus mencari dan mencari kesempatan yang belum dilirik oleh orang lain. 2) Network Builder Seorang pebisnis adalah seseorang yang bisa menjembatani berbagai kepentingan dan bahkan perbedaan prinsipil yang terjadi pada orang lain. Pebisnis mempunyai karakter supel dalam bergaul dengan siapapun dan menjadi jembatan terjadinya kesepakatan termasuk kesepakatan transaksi bisnis. 3) Smart Leader Seorang pebisnis adalah seseorang yang cerdas dan mempunyai jiwa kepemimpinan sehingga bisa memimpin orang lain untuk menjalankan kepentingannya. Tidak mengherankan jika seorang 15

22 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : 1-23 pebisnis sering dijuluki sebagai seseorang yang cerdik karena kepiawaiannya memimpin atau mengarahkan orang lain agar dia bisa mendapatkan keuntungan. 4) Hard Worker Seorang pebisnis, apalagi pebisnis baru, adalah seorang pekerja keras yang tidak kenal lelah memperjuangkan kepentingan bisnisnya. Pebisnis mempunyai tujuan yang besar dan punya tekad yang kuat untuk mencapai tujuannya. 5) Progress Demander Seorang pebisnis adalah seorang yang mendambakan kemajuan dari waktu ke waktu, dan tidak merasa cukup hanya dengan maju selangkah demi selangkah. Pebisnis seringkali memaksakan adanya lompatan untuk maju sehingga bisa segera mencapai tujuan lebih cepat dari orang lain. Besarnya tekad untuk maju, seringkali membuat pebisnis tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Seseorang wirausaha berhasil tentunya mempunyai lima karakter unggul wirausaha di atas. Tetapi rumus tersebut tidak berlaku reversible bahwa seseorang yang mempunyai lima karakter unggul kewirausahaan di atas akan menjadi wirausaha berhasil. Mengapa? Karena jiwa wirausaha hanyalah modal dasar bagi seorang wirausaha. Untuk menjadi wirausaha diperlukan modal lain yaitu kompetensi mengelola bisnis. Calon pebisnis sukses juga perlu punya prasyaratan dasar untuk calon pebisnis yaitu risk taker atau keberanian menghadapi resiko. Pada dasarnya, keberanian menghadapi resiko lebih merupakan faktor bawaan. Pelatihan bisa diberikan untuk pengelolaan resiko atau risk management. Calon wirausaha yang sudah mempunyai lima karakter unggul, kemampuan mengelola resiko dan kompetensi mengelola bisnis tetap saja akan menjadi calon wirausaha abadi kalau tidak melakukan langkah-langkah kongkrit memulai bisnis baru. Pada buku The five Arrows of Entrepreneurship (Joewono, 2011), disediakan lima langkah mudah untuk memulai bisnis baru dalam kerangka The five Arrows of New Business Creation yaitu: 1) Day Dreaming, 2) Creative Thinking, 3) Push The Pedal, 4) Speeding-Up dan 5) Looking-Up. Day Dreaming atau berangan-angan merupakan langkah kongkrit awal untuk memulai bisnis baru. Angan-angan perlu digantungkan 16

23 STRATEGI PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN NASIONAL : Sebuah Rekomendasi Operasional (Handito Joewono) setinggi langit. Calon wirausaha perlu punya mimpi atau cita-cita yang ideal. Bisa berupa angan-angan menjadi orang yang sangat kaya, menjadi orang yang tinggal ongkang-ongkang kaki, menjadi orang yang terhormat dan sebagainya. Setelah berangan-angan yang ideal dan bisa jadi muluk-muluk, langkah berikutnya adalah merasionalisasikannya dalam bentuk Creative Thinking. Angan-angan perlu diterjemahkan dalam bentuk rencana bisnis yang kreatif dan terukur dengan perhitungan keuangan yang jelas. Rencana bisnis yang hebat tidak akan menjadi bisnis yang sesungguhnya jika hanya menjadi proposal, laporan studi kelayakan atau business plan. Bisnis baru bisa disebut mulai jalan ketika sudah melangkah secara nyata. Kalau hanya punya ide, punya semangat menggebu-gebu, atau punya konsep yang hebat tetapi tidak juga kunjung melangkah mulai berbisnis maka yang bersangkutan hanyalah seorang calon pebisnis atau berwacana bisnis. Dengan konsep Push The Pedal, memulai bisnis baru dianalogikan seperti memulai naik sepeda. Speeding Up merupakan langkah akselerasi capaian kinerja bisnis. Ketika bisnis sudah mulai berjalan, diperlukan langkah akselerasi untuk mempercepat pencapaian tujuan. Pada balapan mobil Formula-1, pembalap mengakselerasi kecepatannya dan tancap gas penuh atau melakukan Speeding Up segera begitu kondisi memungkinkan. Tidak perlu menunggu momentum yang lebih pas untuk melakukan Speeding Up, karena seringkali kesempatan baik tidak muncul untuk keduakalinya. Jadi begitu ada kesempatan melakukan Speeding Up, seorang wirausaha baru tidak perlu ragu-ragu tancap gas memperbesar skala usahanya. Dengan segala resiko yang sudah maupun belum terpikirkan sejak awal, seorang calon wirausaha baru hendaknya tidak gentar, dan terus bertekad maju dengan terus mengayun pedal sepeda bisnisnya bahkan ketika permasalahan menghadang. Permasalahan di bisnis baru bisa berupa kompetisi sengit, keterbatasan permodalan atau teknologi, persoalan pengelolaan karyawan dan sebagainya. Pada situasi seperti ini seorang wirausaha baru memerlukan mentor yang bisa berupa konsultan, senior bisnis, dosen, guru sekolah, kakak, saudara atau teman baik untuk dia bisa berbagi permasalahan dan mendapat solusi. Wirausaha tetap saja manusia biasa yang membutuhkan orang lain. 17

24 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : 1-23 Situasi kritis seperti ini bila tidak ditangani dengan baik bisa membuat wirausaha baru mengurungkan niatnya untuk melanjutkan bisnis. Pada kondisi seperti ini wirausaha baru perlu diberi motivasi atau memotivasi dirinya sendiri bahwa ada capaian besar di depan yang menanti kalau permasalahannya bisa diatasi. Looking-Up merupakan langkah melihat ke depan sambil terus menatap ke atas. Wirausaha baru bisa disebut berhasil melewati tahapan Looking-Up dan masuk ke siklus bisnis baru kembali ke tahapan Day Dreaming ketika persoalannya sudah tertangani dan sudah berani berangan-angan lagi untuk mengembangkan bisnis baru. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman Arrbey dan Splash School of Entrepreneurship ketika memberikan konsultasi bisnis baru bagi calon wirausaha atau wirausaha baru, dari kelima tahapan siklus The five Arrows of New Business Creation di atas, tahapan yang paling banyak memacetkan proses menjadi wirausaha baru ada di titik Push The Pedal. Banyak calon wirausaha baru yang punya niat berbisnis dan bahkan sudah mempunyai rencana bisnis yang rapi, tetapi tidak kunjung melangkah menjadi wirausaha. Pada buku The five Arrows of Entrepreneurship (Joewono, 2011), diuraikan prinsip memulai bisnis baru dengan konsep Push The Pedal (Roberto Evans Joewono, 2006) yang menganalogikan langkah memulai bisnis seperti layaknya seorang anak kecil yang belajar naik sepeda. Lima tahap Push The Pedal untuk memulai bisnis baru adalah: 1. Push The Pedal Push the pedal atau mengayun pedal sepeda merupakan langkah pembuka merealisasikan niat dan rencana berbisnis. Memulai bisnis baru semudah mengayuh pedal sepeda, asalkan sudah bermodalkan day dreaming dan creative thinking. 2. Concentrate Ketika bisnis sudah mulai berjalan, seringkali muncul go daan untuk berbisnis lain atau melakukan kegiatan lain yang membutuhkan perhatian. Padahal pada tahap awal, bisnis yang baru dimulai belum berjalan dengan lancar. Seperti ketika naik sepeda perlu berkonsentrasi ke depan, demikian juga wirausaha yang baru memulai bisnis perlu berkonsentrasi pada bisnis barunya. 18

25 STRATEGI PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN NASIONAL : Sebuah Rekomendasi Operasional (Handito Joewono) 3. Balance It Ketika sepeda baru dikayuh, sering terjadi pengendara sepeda oleng hilang keseimbangan dan bisa terjatuh. Demikian juga wirausaha yang baru memulai bisnis perlu menjaga keseimbangan dalam hal waktu, arus kas, perhatian pada keluarga dan faktorfaktor lain. 4. Don t Be Afraid Ketika sudah mulai bersepeda, Roberto Evans sempat merasa takut terjatuh. Beruntung ada orang yang memberi dorongan semangat sehingga dia tetap melanjutkan naik sepedanya. Demikian juga seorang wirausaha baru bisa tiba-tiba merasa takut gagal dan bisa berlanjut jadi gagal beneran. 5. Then You re Done Ketika rasa takut sudah berlalu, naik sepeda menjadi nikmat. Ternyata bersepeda itu gampang. Demikian juga analoginya, memulai berbisnis itu gampang. IV. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Dengan memperhatikan tahapan-tahapan pengembangan wirausaha baru di atas dan komparasi kebijakan kewirausahaan di berbagai negara, bisa disimpulkan bahwa tidak ada satu kebijakan kewirausahaan terbaik yang bisa diaplikasikan di semua negara. Bahkan negara-negara yang berdekatan di Eropa Utara ternyata juga punya pola kebijakan pengembangan kewirausahaan yang berbeda. Dinamika perekonomian global yang telah menggeser peta kekuatan ekonomi dunia juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Bisa jadi setelah satu strategi berhasil dirumuskan, situasinya sudah berubah dan perlu merumuskan strategi yang lain. Pengembangan kewirausahaan juga tidak bisa dilepaskan dari aspek budaya di masing-masing negara. Dengan berkaca pada kemajemukan budaya Indonesia, maka akan sangat sulit merumuskan satu strategi pengembangan kewirausahaan nasional yang terbaik dan sesuai dengan budaya Indonesia. Salah satu hal penting dalam pengembangan kewirausahaan nasional adalah pola pendekatan pengembangan kewirausahaan nasional yang hendak ditempuh. Opsi strategisnya: top-down atau bottom-up? Negara-negara Eropa seperti dibahas sebelumnya banyak mengandalkan pola top-down, 19

26 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : 1-23 sementara Amerika lebih cenderung bottom-up dengan beragam fasilitasi terencana. China dan India yang cenderung memberi kebebasan pada rakyatnya untuk memilih opsi berbisnis tanpa gembar-gembor ternyata berhasil mendorong lahirnya wirausaha baru yang berdaya saing global dan kini merajai perekonomian dunia. Tentu saja Indonesia tidak bisa mengekor salah satu negara tersebut karena Indonesia berbeda dengan negara-negara Eropa, Amerika, China maupun India. Dengan memperhatikan karakter dan kebiasaan warga Indonesia serta memahami kewirausahaan sebagai implementasi kemandirian, pola pendekatan kewirausahaan yang sesuai untuk dikembangkan di Indonesia adalah mendorong peningkatan kegairahan berwirausaha di antara calon wirausaha dan fasilitatornya yang dilakukan bersamaan dengan penyediaan sarana dan prasarana untuk memudahkan calon wirausaha memulai, menjalankan dan membesarkan bisnis baru. Intervensi pemerintah yang bersifat top-down tetap diperlukan tetapi sebaiknya tidak terlalu jauh agar tidak kontra produktif. Pada situasi seperti ini peran serta pemerintah sangat dibutuhkan tetapi diarahkan untuk yang sifatnya mendukung dan mengapresiasi kewirausahaan. Dalam rangka mempercepat penumbuhkembangan kewirausahaan nasional, pemerintah membentuk Tim Koordinasi Nasional Pengembangan Wirausaha Kreatif di Kementerian Koordinator Perekonomian RI, yang mendorong pengembangan kewirausahaan nasional melalui tiga jalur terpadu Tri Tunggal Kewirausahaan yaitu Pembenihan, Penempaan dan Pengembangan. 1. Tahap Pembenihan Pembenihan kewirausahaan dimaksudkan untuk menanamkan atau mencangkokkan benih kewirausahaan pada target group yang potensial menjadi wirausaha. Pembenihan dilakukan melalui kampanye terpadu above the line dan below the line menggunakan media massa dan beragam pertemuan dengan audien berjumlah banyak. Pembenihan dimaksudkan untuk meningkatkan minat dan tekad para calon wirausaha agar termotivasi untuk memulai bisnis baru. Kegiatan pembenihan kewirausahaan yang dilakukan antara lain penyelenggaraan Creative Entrepeneur Dialog pada bulan Desember 2010 dan Pencanangan Gerakan Kewirausahaan Nasional pada bulan Februari 2011 bertempat di SMESCO. Antusiasme ribuan mahasiswa, anggota Pramuka, pelajar dan kalangan muda yang hadir pada saat itu memberi optimisme bagi kita semua bahwa sebuah momentum bertumbuh-kembangnya wirausaha baru Indonesia telah tercipta. 20

27 STRATEGI PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN NASIONAL : Sebuah Rekomendasi Operasional (Handito Joewono) KADIN dan DIKTI pada beberapa tahun terakhir ini juga mengadakan seminar dan pelatihan dan dosen di belasan kota untuk mengobarkan semangat berwirausaha di kampus yang diikuti ribuan calon wirausaha baru dengan semangat tinggi. Kalangan BUMN, perusahaan swasta dan berbagai lembaga swadaya masyarakat telah memberi perhatian besar pada program pembenihan kewirausahaan. 2. Tahap Penempaan Pada kebanyakan calon wirausaha yang sudah punya tekad berwirausaha, diperlukan program penempaan dalam bentuk pelatihan teknis dan praktis untuk memulai bisnis baru. Para penyelenggara pelatihan dan kursus di pemerintahan, perusahaan dan masyarakat perlu memberi porsi lebih besar pada penyelenggaraan program penempaan wirausaha. Kegiatan mentoring dalam bentuk konsultasi bisnis baru, conselling dan pendampingan sangat diperlukan oleh para calon wirausaha agar berani dan bisa memulai bisnis barunya. 3. Tahap Pengembangan Bagi wirausaha yang sudah memulai bisnisnya dan membutuhkan, perlu disediakan fasilitasi untuk memperlancar pengembangan bisnisnya agar tercipta wirausaha-wirausaha baru Indonesia yang berdaya saing global. Fasilitasi yang diberikan di tahap pengembangan antara lain peningkatan akses permodalan, pemanfaatan teknologi, akses pasar, dan pengembangan daya saing. Pendayagunaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendorong inovasi perlu dioptimalkan dalam pengembangan kewirausahaan nasional, termasuk didalamnya pengembangan lembaga dan fasilitas inkubator bisnis dan teknologi. Kebersamaan Kewirausahaan Nasional Pengembangan kewirausahaan nasional merupakan tugas besar dan mulia yang membutuhkan kebersamaan segenap komponen bangsa. Penumbuhan wirausaha baru tidak bisa dilakukan secara parsial ataupun oleh satu instansi saja, karena masing-masing instansi mempunyai keterbatasan sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing. Program penumbuhan wirausaha baru harus dilakukan secara comprehensive dengan melibatkan seluruh instansi yang terkait baik pemerintah pusat maupun daerah, lembaga pendidikan, badan usaha dan lembagalembaga swadaya masyarakat. Semangat kebersamaan dan sinergi unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, wirausaha baru dan segenap komponen masyarakat 21

28 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : 1-23 lainnya perlu terus menerus didorong agar lebih banyak anak negeri yang menetapkan pilihan profesi menjadi wirausaha. Tim Koordinasi Nasional Pengembangan Wirausaha Kreatif pada Kementerian Koordinator Perekonomian bisa digunakan sebagai contoh miniatur kebersamaan tersebut. Dalam rangka pengembangan kewirausahaan nasional yang lebih efektif perlu dipertimbangkan untuk membentuk lembaga koordinasi pengembangan kewirausahaan nasional yang tetap menjaga aspek sinergi dan kebersamaan dari segenap komponen bangsa dengan memberikan akses koordinasi yang lebih terstruktur. Potensi pengembangan kewirausahaan nasional yang sudah tersedia di banyak kementerian, lembaga, dunia usaha, BUMN, perguruan tinggi, sekolah dan masyarakat pada umumnya akan menghasilkan jutaan wirausaha baru yang kreatif, inovatif dan berdaya saing global bila dikoordinasikan dengan baik. DAFTAR PUSTAKA Anders Lundstrom (editor), Entrepreneurship Policy in The Nordic Countries. policy_since_2003_lowres2.pdf [September 2008] Daniela Sutan (press contact), Four International Personalities Receive The Entrepreneurs for The World Award.World Entrepreneurship Forum. Paper% pdf [5 November 2010] David M. Hart, Entrepreneurship Policy: What It Is and Where It Came From. %20final%20submission%20-%20web%20version.pdf James Onracek, Keith itwer, Ji-Hee Kim, State-Level Entrepreneurship Policy and Tertiary Entrepreneurship Education : A Study of Benchmarks and Trends in North Dakota. proceedings/proceedingsdocs/usasbe2005proceedings-ondracek%2047. pdf Joewono, Handito Hadi The 5 Arrows of New Business Development. Arrbey, Jakarta, Indonesia, 154h. 22

29 STRATEGI PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN NASIONAL : Sebuah Rekomendasi Operasional (Handito Joewono) Joewono, Handito Hadi The 5 Arrows of New Business Creation and Entrepreneurship. Arrbey, Jakarta, Indonesia, 150h. Joewono, Handito Hadi The 5 Arrows of New Marketing. Arrbey, Jakarta, Indonesia, 148h. 23

30 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : METODE COBLAS (Consulting Based Learning for ASEAN SMEs) UNTUK PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP DI PERGURUAN TINGGI *) L. Setyobudi**) Abstrak Pengembangan program studi percobaan pendidikan untuk fasilitator kewirausahaan dilakukan selama di Universitas Brawijaya. Hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan situasi aktual negara-negara berkembang, seperti ASEAN, dengan tujuan memberikan informasi yang berguna, dengan negara Indonesia sebagai sebuah kasus, di mana ada perubahan cepat dari konsumsi swasta kemudian mengarah ke investasi swasta sehingga menyebabkan struktur perekonomian. Penelitian percobaan ini telah mengembangkan materi percontohan program pendidikan dan pengajaran. Program pendidikan dikembangkan dan bahan ajar dirancang berdasarkan situasi aktual di Indonesia. Juga, kombinasi dari kerja lapangan dan pelatihan praktis diperkenalkan. Universitas lokal memainkan peranan penting bagi pembangunan daerah di studi percobaan ini. Untuk mempromosikan kerjasama yang efektif antara industri/ukm, pemerintah, dan perguruan tinggi juga merupakan faktor yang sangat penting dalam studi percobaan ini. Metode yang khusus mengkaji penerapan COBLAS dievaluasi dan hasilnya dilaporkan dalam makalah ini. Kata kunci : Pendidikan, Kewirausahaan, Metode COBLAS, UKM, Mahasiswa Abstract Development of an Educational Program for Entrepreneurship Facilitators pilot study was conducted during at the University of Brawijaya. It aims to meet the needs of the actual situation of developing countries, such as ASEAN, with the goal to providing useful information, using Indonesia as a case of study. There is a rapid shift from consumption to investment effecting economic structure. The preliminary studies have developed a pilot educational program and teaching materials. The developed educational program and teaching materials are designed on the base of the actual situation in Indonesia. Also, a combination of field work and practical training has been introduced. Local universities play an important role for regional development in study. Promoting effective collaboration among industry/ukm, government, and universities is a very important factor in this Pilot *) Artikel diterima 21 April 2011, peer review Mei 2011, review akhir 14 Juni 2011 **) Dosen dan Kepala Divisi Pendidikan Entrepreneurship Universitas Brawijaya 24

31 METODE COBLAS (Consulting Based Learning for ASEAN SMEs) UNTUK PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP DI PERGURUAN TINGGI (L. Setyobudi) Study. The particular method of COBLAS implementation study has been evaluated and the results are reported in this paper. Keywords: Education, Entreupreunership, COBLAS Method, SME, university student I. PENDAHULUAN Metode COBLAS (Consulting Based Learning for ASEAN SMEs) untuk pendidikan entrepreneurship di perguruan tinggi dan sekaligus UKM pertama kali dikemukakan dan diimplementasikan pada awal tahun 2000 an oleh Prof. Takeru Ohe di Waseda University di Tokyo, Jepang. Selanjutnya dengan sponsor dari JBIC (Japan Bank for International Cooperation) pada tahun 2003 metode COBLAS diujicobakan di Universitas Mae Fah Luang, Thailand, di National University of Laos (NUL) pada tahun Pada tahun 2006 diujicoba Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), dan di Universitas Brawijaya (UB) Malang Indonesia. Di UB inilah dideklarasikan oleh tujuh perguruan tinggi dari lima negara kesepakatan untuk menjadikan COBLAS sebagai common curriculum pendidikan entrepreneurship di masing-masing negara. Selanjutnya metode ini berkembang di berbagai perguruan tinggi di ASEAN dan puncaknya pada bulan Mei 2010 di Philippina, metode ini diratifikasi oleh perwakilan negara-negara anggota ASEAN sebagai common curriculum pendidikan entrepreneurship perguruan tinggi di kawasan ini. Sampai dengan tahun 2011 ini tinggal satu negara yaitu Myanmar yang masih belum mengimplementasikan metode ini. Tentu saja metode COBLAS yang diimplementasikan telah mengalami berbagai adaptasi penyesuaian terhadap kondisi masing-masing perguruan tinggi dan masing-masing negara (Setyobudi & Ohe, 2007). Di abad yang ke 21 ini tingkat ketidakpastian ekonomi semakin tinggi, namun demikian diperkirakan bahwa Indonesia akan memasuki Golden Economic Era tahun dengan PDB (Product Domestic Bruto) per kapita Indonesia dari US $ pada tahun 2011 akan menjadi sekitar US$ pada tahun 2030 (Kadin Indonesia, 2011). Peluang emas tersebut diperkirakan hanya akan dapat diraih bila entrepreneur di Indonesia terutama yang berbasis IPTEK dapat tumbuh dan berkembang. Entrepreneur yang demikian, hanya mungkin akan terjadi bila memiliki tingkat pengetahuan setara dengan lulusan perguruan tinggi atau minimal lulusan SLTA plus. Oleh karena itu, pendidikan entrepreneurship di perguruan tinggi menjadi suatu keharusan. 25

32 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : II. KONSEP PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP METODE COBLAS Pendidikan entrepreneurship di perguruan tinggi dewasa ini lebih banyak menekankan pada pemahaman teori di dalam kelas. Hal ini berbeda dengan pendekatan pembelajaran metode COBLAS yang menitikberatkan 60% berbasis pada praktek dan 40% teori. Praktek difokuskan pada pengembangan industri lokal, pertumbuhan UKM dan keberhasilan entrepreneur lokal (Kuratko, 2005). Konsep pendidikan entrepreneurship metode COBLAS dikembangkan melalui filosofi belajar dari menolong Consulting Based Learning. Karena dengan menolong, mahasiswa dapat mengingat 90% lebih dari apa yang mereka pelajari. Konsep ini diangkat dari hasil studi tentang efektivitas belajar yang dilakukan oleh Duke University Medical Center. Pada prinsipnya konsep COBLAS mengintegrasikan tiga komponen yaitu UKM lokal, Mahasiswa dan Akademia (Dosen) di Perguruan Tinggi yang mencerminkan pendekatan kerjasama antara pendidikan, pelatihan dan praktek usaha (Gambar 1). UKM lokal Real business case Konsultan bisnis Akademia Gambar 1. COBLAS untuk fasilitator Indonesia Sumber: Setyobudi et al. (2011) Teaching without teaching Mahasiswa Metode COBLAS adalah metode pembelajaran entrepreneurship yang unik dan efektif untuk kondisi kultur budaya Indonesia dan ASEAN pada umumnya. Bila kita perhatikan pada gambar 1, sangat jelas masing-masing komponen memiliki manfaat yang seimbang dari adanya kerjasama tersebut. 26

33 METODE COBLAS (Consulting Based Learning for ASEAN SMEs) UNTUK PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP DI PERGURUAN TINGGI (L. Setyobudi) Pertama, bagi akademia yang merupakan center of excellence dan landasan pijak bagi pengembangan sumber daya manusia, serta dalam interaksinya dengan UKM, akan memiliki praktek mekanisme transfer IPTEKs perguruan tinggi kepada masyarakat usaha di kawasan regional perguruan tinggi. Sedangkan UKM akan dapat memberi informasi IPTEKs yang dibutuhkan dalam praktek bisnis. Secara tidak langsung transfer IPTEKs kepada UKM dapat terjadi melalui mahasiswa yang berperan sebagai konsultan. Kedua, UKM lokal dapat memperoleh konsultan bisnis yang terjangkau dan sesuai dengan bisnis usahanya karena hubungannya dengan mahasiswa. Sebab sebagai UKM akan sangat berat dalam pembiayaan bila harus mempekerjakan konsultan profesional untuk pengembangan bisnisnya, namun secara tidak langsung UKM telah memperoleh konsultan profesional dari akademia melalui kerjasama dengan mahasiswa. Pengusaha cukup hanya memberikan fasilitas kerja sama dengan mahasiswa yang membantu untuk memajukan bisnisnya. Dengan demikian UKM juga secara langsung dapat memberi pembelajaran usaha kepada mahasiswa. Ketiga, mahasiswa dapat belajar dari dunia usaha secara nyata (practice). Mahasiswa yang berfungsi sebagai konsultan UKM, secara tidak langsung dibantu oleh dosennya (Academia) mahasiswa belajar bisnis tanpa harus secara langsung melaksanakan bisnisnya sendiri. Karena mahasiswa dapat belajar memahami dunia usaha melalui interaksinya dengan UKM, maka mahasiswa dapat belajar usaha tanpa harus diajarkan yang dalam sistem COBLAS dinamakan Teaching Without Teaching. Berdasarkan proses pembelajaran yang saling membantu dan saling memperoleh manfaat (mutualisme) tersebut maka sistem pembelajaran entrepreneursip metode COBLAS dinamakan belajar dari menolong (Learning From Helping) yang berdasarkan pengalaman UB diketahui memiliki efektifitas belajar tertinggi dari berbagai metode pembelajaran pendidikan entrepreneurship. Implementasi metode COBLAS juga membantu perkembangan UKM yang baru start-up maupun yang telah berdiri sekitar regional perguruan tinggi. Selain itu, implementasi metode COBLAS juga memiliki tiga manfaat pendidikan entrepreneurship/kewirausahaan yang secara simultan dapat diraih yaitu (1) mendidik entrepreneur untuk berhasil, (2) mendidik mahasiswa untuk menjadi entrepreneur, dan (3) menguatkan interaksi antara perguruan tinggi dengan masyarakat usaha melalui transfer IPTEKs yang memungkinkan terjadinya pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial di wilayah regional perguruan tinggi. 27

34 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : III. PENGALAMAN UB MENGIMPLEMENTASIKAN COBLAS Program pendidikan metode COBLAS yang telah dikembangkan kemudian diterapkan dalam percobaan di Universitas Brawijaya untuk mengetahui keuntungan dan tantangannya. Proses dan hasil dari penerapan program pendidikan metode Coblas adalah sebagai berikut : 1. Tujuan Tujuan pendidikan kewirausahaan dengan metode COBLAS adalah untuk : 1. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam: (1) Membangun pendalaman bisnis (2) Meningkatkan kepercayaan diri untuk menghadapi permasalahan nyata dalam bisnis (3) Meningkatkan pengetahuan dan skil kewirausahaan (4) Meningkatkan kualitas kepemimpinan (5) Membangun skil dan pengetahuan untuk membantu wirausahawan lokal (6) Menyatukan berbagai kelas manajemen untuk menghadapi situasi kenyataan bisnis 2. Meningkatkan kapasitas wirausahawan lokal dalam (1) Meningkatkan pemahaman teori dasar bisnis (2) Mengembangkan produk baru pasar internasional (3) Mengembangkan strategi pertumbuhan (4) Meningkatkan keefektifan kepemimpinan mereka (UKM) (5) Mengembangkan pengetahuan dan skil kewirausahaan 3. Mendorong perguruan tinggi untuk (1) Meningkatkan kepemimpinan dan partisipasi perguruan tinggi dalam pembangunan masyarakat daerah (2) Meningkatkan transfer pengetahuan mereka kepada masyarakat 28

35 METODE COBLAS (Consulting Based Learning for ASEAN SMEs) UNTUK PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP DI PERGURUAN TINGGI (L. Setyobudi) 2. Metode (3) Meningkatkan integrasi dari sekolah bisnis, teknik dan disiplin lain untuk mendukung pembangunan komunitas daerah (4) Menerapkan praktek pinjaman lunak pada rencana bisnis UKM lokal Seleksi dilakukan terhadap 64 mahasiswa dan 13 dosen yang melamar untuk program pelatihan pendidikan kewirausahaan Pilot Studi metode COBLAS ini. Seleksi menggunakan kuisioner tes pola pikir kewirausahaan yang dimiliki oleh UBEED (University of Brawijaya Entrepreneurship Education Division). Hasilnya adalah 17 orang mahasiswa dan 5 dosen muda yang terpilih. Kemudian mereka mengikuti pendidikan entrepreneurship metode COBLAS. Selanjutnya UKM mitra yang dipilih ada 5 UKM yang beragam mulai dari industri sampai dengan pengolahan pertanian dan industri kerajinan. Data UKM disajikan dalam tabel 1. Tabel 1. Jenis UKM Alasan Pemilihannya dalam Uji Coba Pendidikan Entrepreneurship Metode COBLAS 29

36 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Konten Dasar Materi Pengajaran Kandungan dasar materi program pengajaran ini memiliki 3 (tiga) bagian yaitu: (1) konsep utama, (2) piranti strategies (Strategic Tools), dan (3) piranti fungsional (Functional Tools). Ketiga materi program sangat dibutuhkan dalam situasi global trend (Information age, Uncertainty, and Customer Driven Period) dewasa ini. Materi pengajaran yang lebih rinci disajikan dalam tabel 2. Global Trend saat ini biasa disebut pula sebagai abad informasi yang secara teknis orang dapat menerima banyak informasi dengan cepat dari mana saja dengan harga yang murah dan juga mengirim banyak informasi kemana saja di belahan dunia. Tiga fitur utama dalam era informasi abad ini adalah ketidakpastian, fokus pengaruh pelanggan, dan pola pikir kewirausahaan. Masyarakat dengan persaingan ketat juga merupakan salah satu dimensi dari era informasi. Ketidakpastian ditengarai dengan terjadinya perubahan yang cepat baik pada pelanggan dan konsumen, serta pada saat yang sama memiliki kemampuan untuk menggerakkan masyarakat. Frekuensi ini dapat dilihat dari banyaknya perubahan bisnis misalnya jatuh dan bangun perusahaan yang semakin sering akibat dari persaingan yang ketat. Perubahan ketidakpastian dipercepat oleh kekuasaan konsumen yang tahu lebih banyak daripada produsen sehingga konsep rantai konsumsi (Consumption chain) dan peta atribut (Attribute map) menjadi sangat penting untuk diberikan kepada peserta program COBLAS (Chopra & Meindl, 2000). Tabel 2. Konten Dasar Materi Pengajaran Metode COBLAS KONSEP (Concept) 1. Manajemen pelanggan (Management of Customers) 2. Manajemen asumsi (Management of Assumption) 3. Pola pikir kewirausahaan (Entrepreneurship Mindsets) 4. Perencanaan bisnis (Business Plan) PIRANTI STRATEGIS (Strategic Tools) 1. Rantai konsumsi (Consumption Chain) 2. Peta atribut (Attribute Map) 3. Reverse Financials 4. Perencanaan jangka panjang (Milestone Planning) PIRANTI FUNGSIONAL (Functional Tools) 1. Kreatifitas (Creativity) 2. Idea Momming/Curah Pendapat (Brain storming) 3. Mengemukakan pendapat secara singkat (Elevator Speech) 30

37 METODE COBLAS (Consulting Based Learning for ASEAN SMEs) UNTUK PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP DI PERGURUAN TINGGI (L. Setyobudi) 5. Analisa SWOT 6. Lima kekuatan (Five Forces) 7. Kaizen & 5s 8. Rantai nilai (Value Chain)Plan) 4. Gaya belajar (Learning Style) 5. Kerjasama tim (Team working) 6. Perencanaan bisnis (Business Planning) Forces) 7. Kaizen & 5s 8. Rantai nilai (Value Chain)Plan) Dewasa ini kewirausahaan dapat dilihat dari dua aliran, yaitu interdisiplin dan pendekatan proses (Kuratko & Hodgetts, 2004). Selanjutnya kumpulan pemikiran interdisiplin dibagi menjadi dua pandangan yaitu makro dan mikro. Pandangan makro melihat pada lingkungan, pendanaan modal dan penempatan. Pandangan mikro berfokus pada kontrol lokus internal yang meliputi ciri kewirausahaan dan formulasi strategis. Program COBLAS ini berfokus pada pandangan mikro karena pandangan makro berada diluar lingkup sebuah program pendidikan. Orang yang memiliki pola pikir kewirausahaan atau Entrepreneurial mindset, akan berorientasi pada tindakan. Banyak orang yang berpikir atau bertindak, tetapi hanya sedikit yang berpikir dan bertindak pada waktu yang sama dan tepat. Kewirausahaan dapat menjadi faktor utama untuk merubah ketidakpastian menjadi sesuatu yang berguna. Untuk berhasil orang harus belajar dari kesalahannya, oleh karena itu manajemen asumsi (management of assumption) menjadi lebih penting untuk dipelajari dari pada manajemen pengetahuan yang lebih sesuai pada era sebelumnya. Piranti strategi dan fungsional sebagaimana disajikan pada tabel 2 merupakan pengetahuan operasional dalam metode COBLAS yang diberikan kepada para peserta. Secara umum implementasi pengajaran metode COBLAS dilaksanakan dengan proporsi 60% praktek lapang dengan UKM terpilih dan 40% teori yang secara keseluruhan dilaksanakan total selama 6 (enam) bulan mulai Januari-Juni Tiga bulan pertama adalah persiapan yang terdiri dari seleksi peserta dan UKM serta pemberian materi konsep COBLAS. Sedangkan tiga bulan terakhir adalah pemahaman tentang piranti strategi dan fungsional serta praktek pendampingan UKM dan lokakarya. Program ini dimulai dengan kegiatan Seminar Internasional tentang pendidikan 31

38 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : entrepreneurship dan diakhiri dengan lokakarya internasional pada bulan Juni Selanjutnya pada akhir program ini setiap kelompok mempresentasikan kemajuan UKM yang menjadi indikator keberhasilan pendampingan (consulting). Sedangkan untuk mengetahui terjadinya perubahan pola pikir entrepreneurship dilakukan perbandingan tes pola pikir entrepreneurial sebelum dan sesudah program pendidikan dengan metode COBLAS. Instrumen test yang dipergunakan adalah management system International (MSI) oleh Mansfield dan McClelland (1987). IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah melalui program pendidikan tiap kelompok berbasis hasil observasi dan interaksi mereka dengan UKM yang terkait membangun rencana kegiatan, pada umumnya menunjukkan hasil akhir positif. Hasil positif tersebut ditandai dengan meningkatnya penjualan (sales) produk UKM yang didampingi oleh tim yang terdiri dari mahasiswa dan dosen. Rencana kegiatan tim dibagi dalam tiga tipe: 1. Kegiatan jangka panjang (perluasan pasar, pendirian cabang baru) 2. Kegiatan jangka pendek (penambahan tenaga kerja, alur produk baru, rencana pelatihan staf) 3. Kegiatan yang segera/immediate activity (pengaturan ulang area operasi/produksi, desain toko, desain kemasan baru, logo perusahaan/ branding, nama merk, home page, brosur, promosi penjualan). Sehubungan dengan kendala waktu maka dari tiga kegiatan yang telah dibuat hanya kegiatan ketiga yaitu kegiatan yang segera yang dapat diimplementasikan secara nyata sedangkan yang lain hanya sebatas rencana yang disusun bersama antara tim dengan pemilik UKM. Hasil observasi saat ini, tahun 2010, rencana jangka pendek bahkan panjang pada UKM terpilih dalam studi ini ternyata sebagian telah terlaksana. Secara umum contoh rencana kegiatan disajikan pada Tabel 3. 32

39 METODE COBLAS (Consulting Based Learning for ASEAN SMEs) UNTUK PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP DI PERGURUAN TINGGI (L. Setyobudi) Tabel 3. Rencana Kegiatan Tim dengan UKM*) Ket : *) Rencana disusun oleh tim dan UKM Berdasarkan hasil presentasi akhir mahasiswa/tim dapat diketahui permasalahan yang dihadapi oleh UKM secara umum yang kemudian dituangkan dalam rencana bisnis tim (Tabel 3). Permasalahan tersebut antara lain materi promosi belum tersedia atau perlu peningkatan atau baru dikembangkan dan promosi yang kurang aktif dan efektif. Misalnya, pada Tamim Bakery, nomor telepon dan alamat toko mereka tidak tercetak pada kotak. Dengan mengikuti saran dari para mahasiswa, pemilik mencantumkan nama dan nomor telepon perusahaan pada kotak. Hasilnya mereka mendapat lebih banyak pesanan dari pelanggan. Kegiatan pemasaran diterapkan lebih aktif. Kelompok COBLAS dari perusahaan keramik mendorong untuk bergabung dalam kegiatan pameran. Hasilnya, pesanan perusahaan meningkat. 33

40 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Pembukaan jalur distribusi baru. Misalnya, letak perusahan kerajinan tangan cukup jauh dari pusat kota Malang. Salah satu anggota kelompok COBLAS Azizah Florist menawarkan rumahnya sebagai tempat distribusi kedua, rumah ini lebih dekat dengan area perkotaan. Perusahaan kerajinan tangan ini dapat dengan mudah menunjukkan produk baru mereka kepada pelanggan. Pemiliknya menerima banyak pelanggan setelah program pendidikan ini. Kebanyakan perusahaan sasaran tidak mempunyai pembukuan yang memadai. Dalam rangka mengetahui situasi keuangan nyata perusahaan dan juga untuk membantu mereka mengakses dukungan keuangan, diperkenalkanlah sistem pembukuan bagi UKM-UKM tersebut. Peningkatan tata ruangan produksi dalam rangka meningkatkan produktifitas dan menghindari kecelakaan, juga aspek higienitas secara hatihati ditingkatkan. Pemilik perusahaan pengolah ikan membangun tempat produksi baru yang lebih aman dan lebih bersih dari tempat sebelumnya. Demikianlah secara umum hasil konsultasi dengan mahasiswa mampu meningkatkan secara nyata kesejahteraan pemilik UKM melalui meningkatnya penjualan perusahaan. Hal yang juga penting, semua pemilik perusahaan sasaran mendapat ide baru dari kelompok konsultasi mahasiswa ini. Tentu saja mereka ada yang telah mempunyai ide sendiri bahkan sebelum mendapat saran dari para mahasiswa. Seringkali beberapa pemilik terlalu sibuk untuk menerapkan idenya sehingga tidak terjadi perubahan karena mereka sudah puas dengan keadaan yang ada. Namun setelah kelompok mahasiswa memberikan ide bisnis, teknik atau piranti baru ternyata ide dari para pemilik ini terstimulasi dan mereka berusaha lebih aktif meningkatkan usahanya. Hasil program pendidikan entrepreneurship metode COBLAS terhadap perubahan mindsets dievaluasi dengan menggunakan MSI (Management Systems International). MSI dapat juga digunakan sebagai instrumen stimulan untuk mengembangkan karakter entrepreneurial. Test MSI ini juga didesain untuk menjelaskan 10 karakteristik entrepreneur. Hasil radar analisis perbandingan antara sebelum dan sesudah pelatihan menunjukkan hasil perubahan mindset entrepreneurship disajikan dalam Gambar 2. Grafik pada Gambar 2 menunjukkan hasil yang mirip dengan evaluasi MSI dalam pelatihan. Dampak jangka pendek menunjukkan perkembangan rasional dari sikap entrepreneurship kewirausahaan para mahasiswa/peserta. Kenaikan yang tinggi dapat dilihat pada kepercayaan diri, mengambil resiko, dan keteguhan pendirian. Kategori lain juga meningkat, kecuali perencanaan dan pengawasan sistematis, dan mencari informasi. Ini dapat diartikan bahwa program pelatihan ini membawa dampak yang besar pada peningkatan karakter 34

41 METODE COBLAS (Consulting Based Learning for ASEAN SMEs) UNTUK PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP DI PERGURUAN TINGGI (L. Setyobudi) kewirausahaan mahasiswa. Selain hasil tersebut diatas, diketemukan pula peningkatan dalam pemahaman terminologi (Understanding of terminology) pada setiap item. Pemahaman tersebut terutama tentang peta atribut, perencanaan jangka panjang, elevator speech, gaya belajar dan pemicu event. Gambar 2. Perbandingan Sepuluh Karakteristik Entrepreneur Peserta Program Pendidikan Entrepreneurship Metode COBLAS Sebelum dan Setelah Pelatihan Diakhir pelatihan ini juga dilakukan sesi dengar pendapat dengan mahasiswa sebagai umpan balik tentang program pendidikan kewirausahaan di Universitas Brawijaya. Komentar utamanya adalah sebagai berikut: 1) Program pendidikan ini berlangsung terlalu singkat. Mahasiswa memiliki banyak ide namun, waktunya tidak mencukupi untuk mencoba menerapkan seluruhnya. Perbandingan yang ideal antara praktek dan kuliah adalah 8 : 2. 2) Alokasi pendanaan yang fleksibel harus dipertimbangkan (misal, dana transpotasi untuk mengunjungi UKM) 3) Harus ada metode yang terancang rapi untuk memilih UKM sasaran bagi Pilot Studi. Beberapa pemilik UKM terlalu sibuk menerima ide-ide mahasiswa. Akan lebih baik bagi perguruan tinggi untuk merumuskan kontrak dengan UKM yang berpartisipasi dalam program pendidikan ini. 35

42 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : ) Program pendidikan dan jaringan yang terbentuk melalui Pilot Studi ini harus dijaga dan disebarkan ke luar universitas. Staf Pendidikan Kewirausahaan Universitas Brawijaya setuju untuk menjaga jaringan yang telah terbentuk. Mahasiswa yang mengikuti Pilot Studi akan berperan membantu staf UBEED memfasilitasi UKM lokal, mengajar mahasiswa lain, dan juga menyebarkan hasilnya pada universitas lain. V. KESIMPULAN Secara ringkas dari hasil studi ini dapat disimpulkan bahwa pengembangan program pendidikan untuk pembimbing kewirausahaan, (Consulting Based Learning for ASEAN SMEs (COBLAS)) sangatlah penting. Program ini telah sukses menghasilkan tiga keuntungan dalam bidang pendidikan, ekonomi dam pembangunan sosial, yang juga berpotensi pada pengurangan kemiskinan dan kesenjangan antar daerah. Program ini juga membantu meremajakan kegiatan bisnis UKM lokal dan daerah, yang berkontribusi secara langsung dalam perekonomiam lokal dan lapangan pekerjaan dan tidak langsung pada pengurangan kemiskinan. Program ini juga membantu mengurangi kegagalan dalam bisnis yang dikarenakan skil dan pengetahuan kewirausahaan yang tidak memadai. Secara otomatis, program ini mendukung pembangunan sosial dan jaringan antar daerah. Tingkat ketahanan program COBLAS bergantung pada kerangka penerapan, terutama peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan daerah yang mengkoordinasi dan menyebarkan program yang telah ada. Dalam sudut pandang ini, perguruan tinggi adalah pusat yang ideal untuk menjalankan program COBLAS berkaitan dengan peranan fundamentalnya dalam pengembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan. Lebih jauh lagi, perguruan tinggi adalah kesatuan permanen antara mahasiswa, dosen, peneliti, dan konsultan, dan karena itu akan menyediakan sumber SDM berkelanjutan dan transfer ilmu pengetahuan yang sangat penting bagi daya tahan program pendidikan, pengembangan UKM lokal, dan pengembangan kewirausahaan ini. Akhirnya, potensi program COBLAS dan dampaknya terhadap perkembangan UKM dan juga kontribusinya terhadap pengurangan kemiskinan di daerah jelas membutuhkan tim pemantau dan institusi/organisasi pendukung untuk menjaga usaha ini. 36

43 METODE COBLAS (Consulting Based Learning for ASEAN SMEs) UNTUK PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP DI PERGURUAN TINGGI (L. Setyobudi) DAFTAR PUSTAKA Chopra, S. and P. Meindl. (2000). Supplay Chain Management: Strategy, Planning, and Operation. 1st Ed. Prentice Hall. Kuratko, D. F. (2005). The Emergence of Entrepreneurship Education: Development, Trends, and Challenges. J. Entrepreneurship Theory and Practice 29(5): Kuratko, D. F. and R. M. Hodgetts. (2004). Entrepreneurship: Theory, Process, Practices. Mason OH; South-Western Publisher. McMillan, I. and R. McGrath. (2005). Market Buster: 40 Strategic Moves that Drive Exceptional Business Growth. Harvard Business School Press. 264 pp. Setyobudi, L. dan T. Ohe. (2007). Laporan Pilot Studi Pengembangan Program Pendidikan Untuk Pembimbing Kewirausahaan. (Tidak dipublikasikan). Setyobudi, L., T. Ohe, dan P. Chanming. (2011). Pendidikan Entrepreneurship: Pembelajaran Berbasis Konsultan Untuk Fasilitator (COBLAS Fasilitator). Petunjuk untuk Dosen. Universitas Brawijaya Press. (in print). 37

44 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : PENGUATAN KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN DAN DAYA SAING UKM KOMODITI UNGGULAN EKSPOR DI PROVINSI ACEH*) Ishak Hasan**) Abstrak Kompetensi kewirausahaan memiliki peranan penting dalam memajukan negara. Kewirausahaan memiliki kekuatan yang diperlukan untuk menghasilkan kreativitas dan inovasi dalam kehidupan masyarakat. Aplikasi jiwa wirausaha yang lemah menyebabkan rendahnya daya saing bisnis. UKM sangat perlu menerapkan semangat kewirausahaan daya saing UKM relatif baik dan merata di seluruh negeri, termasuk Provinsi Aceh. Di Propinsi Aceh, UKM memiliki kontribusi pada ketahanan ekonomi masyarakat baik dalam fase konflik maupun pasca konflik. Berbagai UKM terutama di sektor agribisnis yang memproduksi komoditas unggulan seperti kopi gayo, pinang, coklat, minyak nilam, karet, kelapa sawit, pala, cengkeh, produk perikanan, daging sapi, dan berbagai jenis sayuran. Semua komoditas ini memiliki nilai tinggi dan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks kewirausahaan perlu dilakukan inovasi seperti: (1) Invensi (penemuan) produk UKM yang baru, (2) Ekstensi (pengembangan/perluasan), (3) Duplikasi (penggandaan), dan (4) Sintesis (kombinasi/formulasi baru). Kata kunci: UKM, Kewirausahaan, Daya Saing, Agribisnis, Ekspor Abstract Entrepreunership competence has an important role in advancing the state. This makes entrepreunership has the strength to produce high creativity and innovation in the community s lives. The weak application of spiritual entrepreunership causes the low products in various kinds of lives, including enterprises. As one of the economic actors, the UKM is fairly needed to apply the spirit of entrepreneurship with the consideration that the UKM potency is relatively great provided and evenly spread in the whole country included the Aceh Province. In Aceh Province, nowadays the UKM is well-considered full function as the economic resistance for the community, either in the phase of conflict or in the crisis monetary and after the phase of conflict. Nowadays the UKM potency is not yet existed optimally. Hence, the Aceh Province has so many UKM s that are based on the enterprise of agribusiness handling the superior commodities such as gayo coffee, areca nut, cacao, patchouli oil, rubber, *) Artikel diterima 7 April 2011, peer review Mei 2011, review akhir 14 Juni 2011 **) Dosen Universitas Syiah Kuala, Nanggroe Aceh Darussalam 38

45 PENGUATAN KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN DAN DAYA SAING UKM KOMODITI UNGGULAN EKSPOR DI PROVINSI ACEH (Ishak Hasan) palm oil, nutmeg, cloves, fishery product, beef, and various kinds of vegetables. All of those commodities mentioned above have high value to be exported in order to increase national income and improve social welfare. In the context of entrepreneurial innovation needs to be done such as: (1) Invention (discovery of new SMEs products, (2) Extensions (development/ expansion), (3) duplication (doubling), and (4) Synthesis (combination/new formulation). Keywords: SME, entrepreneurship, competitiveness, agribusiness, export I. PENDAHULUAN Jika kita telisik sejarah Aceh ke masa silam, Aceh telah tercatat sebagai salah satu pusat perdagangan internasional yang ramai dikunjungi pedagang Arab, India, Cina dan Eropa. Dengan keunggulan letak geografis yang berada di jalur perdagangan internasional, Aceh telah berperan sebagai pintu keluar berbagai komoditas ekspor tradisional Sumatera ke negara-negara lain di Utara Indonesia, seperti kopi, karet, pinang, coklat, lada, dan lain-lain (Bank Indonesia, 2009). Jauh sebelum Pulau Penang dan Singapura (dulu Pulau Temasek) menjadi kota perdagangan yang sibuk di Selat Malaka, Aceh telah melakukannya. Terlebih lagi setelah Malaka di bawah pengaruh Inggris tahun 1511, Aceh semakin penting sebagai pasar utama bagi para pedagang Muslim dari berbagai penjuru nusantara dan dunia. Namun demikian, kondisi banyak komoditas dari Aceh yang dulu menjadi daya tarik pedagang luar dan diunggulkan pada masa itu terhenti untuk diekspor akibat munculnya konflik Kerajaan Aceh dengan pendatang kolonial (Reid, 2005). Bahkan aktivitas ekspor terus menurun hingga munculnya konflik horizontal dan konflik vertikal dengan pemerintah pusat hingga akhir tahun 2004 setelah tsunami menerjang Aceh dan ditandatanganinya MOU Helsinki pada 25 Agustus Menurunnya ekspor Aceh disamping disebabkan oleh konflik dan tsunami juga disebabkan oleh merosotnya semangat kewirausahaan di sektor pertanian. Sektor pertanian merupakan andalan karena sampai saat ini masih yang terbesar memberikan kontribusi kepada pembentukan PDRB Aceh. Bank Indonesia (2009) memberi gambaran bahwa kontribusi sektor pertanian sampai triwulan I 2009 mencapai 31% dari total PDRB. Seiring dengan semakin kondusifnya Aceh pasca konflik dan tsunami, produksi sektor pertanian diproyeksikan akan tumbuh sekitar 2,8% pertahun. Prediksi ini diharapkan dapat menjadi peluang bagi UKM Aceh untuk berkembang. Dalam kontek ini salah satu cara/sosusi terbaik adalah meningkatkan daya saing dan kompetensi kewirausahaan UKM. 39

46 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Kewirausahaan dan daya saing merupakan faktor penting dalam mengembangkan bisnis. Kedua faktor ini sangat berkaitan erat satu dengan yang lain. Banyak ahli ekonomi sepakat bahwa dalam era global kewirausahaan berfungsi sebagai faktor kunci dalam menggerakkan roda usaha menghadapi persaingan. Tanpa penerapan jiwa kewirausahaan yang tangguh dipastikan banyak perusahaan cepat atau lambat akan tersingkir dari persaingan pasar (Roopke, 1992; Yuyun Wirasasmita, 2002). Kewirausahaan adalah masalah human resources development (Sri Edi Swasono, 1992). Hal ini sangat beralasan karena kewirausahaan berkaitan dengan pengembangan kualitas sumberdaya manusia guna meningkatkan kemampuan bersaing dalam segala hal. Pada saat ini konsep kewirausahaan bukan saja diterapkan di dunia usaha, bahkan juga telah dikaitkan dengan berbagai program, pembangunan, termasuk penerapannya di birokrasi dan di bidang politik. Di bidang pendidikan konsep kewirausahaan telah dimasukkan ke dalam pendidikan yang berbasis luas (Broad Based Education = BBE) dan Life Skills (LS) (Suparman Sumahamijaya, 2003). Konsep ini sedang dimaksimalkan perwujudannya oleh pemerintah melalui pelaksanaan kurikulum pada berbagai jenjang pendidikan (Ishak Hasan, 2005). Masalah kewirausahaan menjadi sangat penting bagi negara berkembang yang sumberdaya manusianya belum berkuwalitas. Ketersediaan sumberdaya alam yang melimpah belum menjamin suatu bangsa mencapai tingkat kesejahteraan yang maksimal, kalau tanpa dibarengi oleh entrepreneur (Wasty Soemanto. 2002). Di negara-negara yang telah maju, kemajuan diberbagai bidang kehidupan terletak pada ketersediaan sumberdaya manusia yang memiliki jiwa enterpreuneur. Hal ini telah ditunjukkan oleh beberapa negara maju seperti Inggris, Jerman, Perancis, Amerika Serikat, Kanada dan Jepang. Di Asia, negara-negara yang telah mengedepankan semangat kewirausahaan yang kuat, selain Jepang, adalah Korea Selatan, Taiwan, Cina, Singapura dan Malaysia. Negara-negara ini telah menikmati pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan negara yang kurang memperhatikan pentingnya kewirausahaan (Seng. 2007; Kynge, 2007). J.A. Schumpeter (1994), yang dikenal sebagai bapak penggagas konsep kewirausahaan menegaskan bahwa jika sebuah negara ingin meraih kemajuan pesat dalam berbagai bidang kehidupan, maka jalan yang harus ditempuh adalah, negara atau bangsa tersebut harus memiliki kemampuan untuk banyak melahirkan manusia wirausaha (enterpreneur). Pandangan Schumpeter ini sangat mendasar karena manusia wirausaha adalah manusia yang memiliki kemampuan untuk berkreasi dan berinovasi. Dengan kreasi dan inovasi manusia dapat meningkatkan kualitas kehidupannya (Drucker, 1996). 40

47 PENGUATAN KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN DAN DAYA SAING UKM KOMODITI UNGGULAN EKSPOR DI PROVINSI ACEH (Ishak Hasan) Di Indonesia kemampuan berinovasi relatif sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh ketiadaan kemampuan wiraswasta atau kualitas sumberdaya manusianya yang rendah (Jhingan, 1988). Kualitas sumberdaya manusia yang rendah terkait dengan kelemahan penguasaan teknologi, rendahnya tingkat pendapatan, konsumsi dengan gizi yang rendah, rendahnya kualitas kesehatan dan lingkungan hidup (Sadono Sukirno, 1998; Todaro, 1984). Rendahnya kualitas sumberdaya manusia di bidang entrepreneur juga telah menyebabkan pula tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan (Yuyun Wirasasmita, 1994). Kurang mampunya lembaga pendidikan dalam mentransformasikan semangat kewirausahaan di dalam masyarakat menurut Sumitro Djojohadikusumo (1998) telah menyebabkan negara-negara berkembang memiliki kekurangan tenaga kewiraswastaan dalam mendorong kemajuan masyarakat. Dengan berlandaskan pada beberapa pandangan tersebut maka sudah saatnya UKM perlu memperkuat kompetensinya di bidang kewirausahaan. Hal ini penting untuk meningkatkan daya saing dalam menghadapi persaingan yang semakin gencar di masa depan. Selama ini semangat kewirausahaan pada UKM khususnya di Provinsi Aceh relatif masih sangat rendah. Akibatnya daya saing UKM juga relatif rendah. Padahal potensi yang dimiliki UKM di Aceh sangatlah besar terutama yang berbasis usaha menangani komoditas unggulan di agribisnis. Banyak komoditas unggulan Aceh dapat diekspor apabila kompetensi kewirausahaan UKM nya dapat dikembangkan secara optimal. Komoditas unggulan Aceh yang memiliki nilai ekspor tinggi tapi belum digarap secara maksimal adalah kopi gayo, pinang, coklat (kakao), minyak nilam, karet, minyak sawit, pala, cengkeh, melinjo, kemiri, produk perikanan, daging, dan holtikultura. Melalui peningkatan kompetensi kewirausahaan, semua komoditas ini dapat diperbesar kapasitas produksinya guna menghasilkan devisa negara dan peningkatan kesejahteraan. Negara-negara tujuan ekspor yang selama ini telah dilakukan adalah Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Jepang, India, Cina, negara Timur Tengah dan sebagian untuk tujuan Eropa, Australia dan Amerika Serikat (Bank Indonesia, 2009). Sayangnya aktivitas ekspornya selama ini masih sporadis dengan kapasitas yang masih sangat terbatas. II. KEWIRAUSAHAAN DAN DAYA SAING UKM AGRIBISNIS KOMODITI UNGGULAN EKSPOR Kompetensi kewirausahaan menurut Cusson (Yuyun Wirasamita, 1992) meliputi: (1) Self Knowledge (Memiliki Pengetahuan), (2) Imagination (Daya Khayal), (3) Practical Knowledge (Pengetahuan Praktik), (4) Search 41

48 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Skill (Keahlian Meneliti), (5) Foresight (Memandang jauh ke depan), (6) Computation Skill (Keahlian Berhitung), (7) Communication Skill (Keahlian Berkomunikasi). Wirausahawan harus memiliki kompetensi tersebut di samping sifat jujur, inovatif, keberanian dan tangkas dalam menghadapi risiko (Suryana, 2003). Cunningham dalam Dewi Riyanti, (2003) sehubungan dengan itu memperkuat keyakinan bahwa kompetensi kewirausahaan merupakan faktor penting dalam memajukan usaha. Faktor penyumbang dominan pada keberhasilan usaha meliputi: sifat kepribadian (49%), kemampuan berhubungan dengan pelanggan (17%), kemampuan memahami lingkungan bisnis (15%), orientasi ke masa depan dan fleksibilitas (11%), kesadaran pribadi (4%) dan faktor lain (4%). Di samping memiliki pengetahuan khusus tentang dunia usaha, entrepreneur juga dituntut memiliki pengetahuan umum yang terkait dengan usahanya, seperti dalam bidang sosial budaya, politik, hukum dan perkembangan teknologi. Pengetahuan yang luas akan mampu mendukung keberhasilan usaha. Apalagi saat ini banyak UKM di Indonesia, termasuk di Aceh semakin tidak dapat terhindarkan dari persaingan usaha yang semakin mengglobal. Pengaruh globalisasi adakalanya berdampak positif tetapi tidak sedikit pula berdampak negatif pada UKM. Oleh sebab itu keluasan pengetahuan sangat diperlukan dalam mengendalikan usaha dalam konteks global. Memandang jauh ke depan, seorang wirausahawan harus mampu menangkap berbagai peluang dan tantangan. Banyak peluang, baik lokal, regional maupun internasional dapat dimanfaatkan oleh UKM dalam memajukan usahanya. Dalam kaitan tersebut UKM memang harus bermitra dan menjalin hubungan bisnis dengan berbagai pihak agar usahanya dapat berkembang dengan baik. Terkait pentingnya kemitraan usaha dalam lingkungan global, Kenichi Ohmae (2005), dalam bukunya yang terkenal The Next Global Stage, tantangan dan peluang di dunia tidak mengenal batas kewilayahan, mengemukakan bahwa kita hidup dalam dunia yang benarbenar terjalin dan saling bergantung, disatukan oleh perekonomian global. Pada masa lampau aktivitas apapun bentuknya termasuk bisnis dan ekonomi berjalan secara terpisah-pisah, tertutup dan sendirian. Saat ini pemikiran seperti itu sudah menjadi kuno alias usang. Attali (1993) mengingatkan bahwa apabila dunia mendatang berjalan seperti masa lampau maka kita tinggal hanya menyaksikan mana bangsabangsa yang menang dan yang kalah dalam tata dunia mendatang. Demikian tulis Attali dalam bukunya Milenium Ketiga; Yang Menang dan Yang Kalah 42

49 PENGUATAN KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN DAN DAYA SAING UKM KOMODITI UNGGULAN EKSPOR DI PROVINSI ACEH (Ishak Hasan) Dalam Tata Dunia Mendatang. Kini Milenium Ketiga sedang kita langkahi. Drama panggung global sedang bereaksi. Akankah kita dapat bertahan, menjadi kalah atau mungkin jadi pemenang. Semua jawaban itu ada pada kita. Kata kunci untuk itu menurut Ohmae maupun Attali asalkan kita mau hidup terbuka, tidak sendirian, saling bergantungan dan bekerjasama. Apa yang dikemukakan oleh kedua futurolog tersebut artinya bahwa usaha perlu saling berhubungan atau saling bemitra. Melalui kemitraan satu dengan yang lain, akan memperkuat jiwa kemandirian pada berbagai lini dan sektor usaha. Dalam rangka mencapai kemandirian banyak hal harus dilakukan di antaranya: (1) perlu penataan alokasi sumberdaya, sumberdana dan sumber informasi yang transparan, (2) penataan strategi jangka pendek dan panjang, (3) penataan peran dan struktur organisasi, (4) memperbaiki sistem komunikasi, (5) menata perencanaan, (6) pemahaman lingkungan, dan (7) meningkatkan kerjasama baik internal maupun eksternal (Mutis, 1995). Apabila hal tersebut tidak mampu dilakukan maka akan menimbulkan rendahnya daya saing UKM terutama UKM yang berorientasi ekspor. Rendahnya daya saing UKM tercermin pada rendahnya daya saing Indonesia secara keseluruhan karena jumlah UKM yang mendominir usaha di Indonesia (99,99% dari total unit usaha). Kelemahan utama dalam daya saing Indonesia terletak pada tiga pilar, yaitu kesiapan teknologi, infrastrukur, dan kualitas lembaga-lembaga publik (Srinarni, 2010). Kelemahan daya saing yang disebabkan oleh tiga pilar tersebut ternyata juga terjadi pada UKM di Aceh. Akibat dari keterbatasan teknologi, rendahnya kualitas infrastruktur dan rendahnya kualitas lembaga-lembaga publik, telah menyebabkan potensi yang diusahakan UKM di Aceh juga sangat terbatas. Padahal dukungan ketiga pilar tersebut sangat diperlukan guna meningkatkan daya saing dan inovasi berkaitan dengan usaha yang dilakukan. Dalam hubungan dengan persaingan, Porter (2000) mengemukakan bahwa: (1) Persaingan adalah inti keberhasilan dan kegagalan, (2) Keunggulan bersaing bersumber dari nilai yang diciptakan untuk pelanggan, (3) Ada dua keunggulan bersaing; low cost strategy, product differentiation, (4) Berdasarkan keunggulan bersaing tersebut menghasilkan tiga strategi generik: 1. biaya rendah, 2. differensiasi dan 3. fokus. Lebih lanjut Porter mengemukakan bahwa persaingan dalam industri (pasar) atau usaha adalah: (1) Ancaman pemasok, (2) Ancaman pembeli, (3) Ancaman produk pengganti, dan (4) Ancaman pendatang baru. Dengan bercermin dari sumber ancaman dalam usaha yang dikatakan Porter maka pemilik dan pengelola UKM harus lebih giat melakukan langkah-langkah inovatif. Sebab hanya dengan melalukan berbagai terobosan 43

50 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : yang bersifat inovatiflah kesuksesan usaha dapat dicapai. Proses penerapan kemampuan berinovatif menurut Kuratko dalam (Tedjasutisna, 2001) ada 4 jenis: (1) Invensi (penemuan), (2) Ekstensi (perngembangan/perluasan), (3) Duplikasi (penggandaan), dan (4) Sintesis (kombinasi/formulasi baru) Tabel 1. Jenis Inovasi Sumber: Tedjasutisna (2000) Berdasarkan jenis inovasi pada Tabel 1, pada dasarnya keempat jenis inovasi tersebut dapat diaplikasikan pada UKM, baik yang bersifat invensi, ekstensi, duplikasi, maupun kombinasi. Kalaupun UKM di Aceh tidak mampu melakukan inovasi dengan dan invensi ekstensi, inovasi dengan duplikasi dan kombinasi dapat dilakukan UKM Aceh, misalnya produk kopi Aceh dengan citarasa baru dan sebagainya. Penguatan kewirausahaan pada UKM dapat dilakukan dengan melibatkan UKM dalam berbagai kegiatan pelatihan. Namun yang paling penting adalah kemauan pengelola UKM sendiri dalam memperbaiki kinerjanya agar UKM dapat tumbuh sesuai dengan harapan. Secara rinci supaya pelibatan UKM dimaksud melalui: (1) Program pendidikan dan latihan, (2) Program magang, (3) Program pendampingan, dan (5) Program katalisator (ikut berpartisipasi langsung pada UKM sebagai konsultan, manajer, dan lain-lain). 44

51 PENGUATAN KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN DAN DAYA SAING UKM KOMODITI UNGGULAN EKSPOR DI PROVINSI ACEH (Ishak Hasan) III. KOMODITI UNGGULAN EKSPOR UKM DALAM RANTAI PRODUKSI DAN DISTRIBUSI PROVINSI ACEH Pasca GATT, negara-negara yang menikmati bagian terbesar dari keuntungan perdagangan global adalah Amerika Serikat, Eropa, Jepang dan Cina. Cina dapat menikmati bagian terbesar dari keuntungan global karena negara ini memiliki agroindustri yang cukup kuat di samping industri ringan lainnya dengan orientasi pasar global. Thailand juga menikmati keuntungan global karena agroindustrinya tangguh (Moch. Rum Alim, 2008). Belajar dari pengalaman negara tersebut Indonesia yang memiliki potensi sangat besar hendaknya segera mengoptimalkan langkah dan strategi yang tepat dalam mewujudkan nilai tambah dalam perdagangan dunia, khususnya di sektor agribisnis. Dalam kaitan ini, Saragih (1999) menganjurkan agar pembangunan ekonomi Indonesia menitikberatkan pada pembangunan agribisnis. Anjuran ini didasarkan pada empat alasan: 1. Indonesia memiliki potensi yang amat besar untuk mengembangkan agribisnis karena memiliki sumberdaya agrolimat dan keanekaragaman sumberdaya hayati yang sangat besar dan terlengkap di dunia. Selain itu, potensi pasar juga besar, baik domestik maupun internasional. 2. Agribisnis pada dasarnya merupakan pemberdayaan keanekaragaman ekosistem yang terdapat di setiap daerah, sehingga pembangunan agribisnis tidak lain adalah pembangunan ekonomi pada setiap daerah. 3. Teknologi produksinya memiliki variasi yang sangat luas, mulai dari padat karya (labor intensive) sampai padat ilmu pengetahuan (knowledge intensive), sehingga mampu mengakomodasikan tenaga kerja dari berbagai jenjang dan latar belakang pendidikan. 4. Pembangunan agribisnis yang berbasis sumberdaya lokal tidak terlalu menuntut pembiayaan dengan utang luar negeri yang besar, bahkan dapat menghasilkan devisa dan memupuk cadangan devisa. Apabila agribisnis dibangun dengan baik dan sungguh-sungguh, Indonesia akan mampu mewujudkan pemerataan pembangunan, serta meningkatkan kesempatan kerja dan memupuk cadangan devisa. Potensi UKM dan sumberdaya agro di Provinsi Aceh relatif sangat besar namun sampai saat ini belum tergarap secara maksimal. Aceh memiliki keragaman hayati yang juga besar. Iklim yang mendukung dan sebagian besar wilayah hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia berada di wilayah Aceh, yaitu KEL (Kawasan Ekosistem Leuser). Selain itu Aceh juga memiliki banyak 45

52 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : sumberdaya perairan. Panjang pantainya lebih dari 1000 KM belum termasuk wilayah kepulauan merupakan potensi yang sangat besar untuk agroindustri dan agrobisnis perikanan. Produksi pertanian khususnya komoditas unggulan ekspor Provinsi Aceh pada dasarnya memiliki prospek yang sangat besar untuk dikembangkan. Produksi pertanian Aceh diperkirakan mengalami peningkatan. Sebagaimana yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu bahwa PDRB sektor pertanian penyumbang terbesar perekonomian Aceh dan diproyeksikan tumbuh sebesar 2,8% (yoy), didorong oleh pertumbuhan pada semua subsektornya kecuali sub sektor tanaman bahan makanan dan sub sektor kehutanan. Pertumbuhan terbesar diperkirakan berada pada produksi peternakan seperti sapi, ayam, telur dan lain-lain. Sub sektor perikanan diperkirakan juga tumbuh signifikan sekitar 21,7% (Bank Indonesia, 2009). Tabel. 2 PDRB Sektor Pertanian Aceh *) angka sementara **) angka poyeksi Sumber BPS Aceh (2009) Produksi tanaman perkebunan sebagai penyumbang kedua sektor pertanian diperkirakan tumbuh signifikan. Produksi tanaman perkebunan diproyeksikan tumbuh cukup baik Dengan membaiknya harga komoditi perkebunan seperti sawit, kopi, kakao ikut merangsang petani untuk kembali meningkatkan produksinya. Aceh sebagai produsen sawit nomor delapan di Indonesia, menghasilkan 709 ribu ton pada tahun 2008 atau naik sekitar 18% dibandingkan tahun Dalam hal produksi kopi, Aceh tercatat sebagai penghasil kopi terbesar ke-4 di Indonesia (khusus Kopi Arabica) dan terbesar 46

53 PENGUATAN KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN DAN DAYA SAING UKM KOMODITI UNGGULAN EKSPOR DI PROVINSI ACEH (Ishak Hasan) dihasilkan di dataran tinggi Gayo dengan mencapai ton produksi tahun Prospek kakao di Aceh juga menggembirakan. Bila sebelum tsunami produksi kakao Aceh hanya sebesar 13 ribu ton, pada tahun 2008 telah meningkat sampai 19,9 ribu ton (Bank Indonesia, 2009). Sebagian besar rantai tata niaga produk pertanian diusahakan oleh UKM (Disperindag UKM Aceh, 2009). Berdasarkan data di atas, peluang dan prospek UKM di Provinsi Aceh untuk meningkatkan kegiatan usaha agribisnis terbuka lebar. Oleh karena itu diperlukan upaya yang lebih kuat dari pelaku UKM untuk memanfaat peluang tersebut melalui peningkatan kompetensi kewirausahaan dan daya saing. Gambar 1. Rantai Nilai Komoditas Unggulan Ekspor UKM Dalam kaitan dengan aktivitas produksi dan rantai nilai yang dapat diciptakan oleh UKM, khususnya untuk komoditi unggulan ekspor adalah: (1) Pemanfaatan sumberdaya ekonomi potensial lokal, (2) Adopsi teknologi dan transfer teknologi, (3) Perbaikan budaya kerja dan kinerja usaha, (4) Modernisasi atau inovasi produk. Sedangkan pada sisi distribusi berdampak pada pasar domestik dan ekspor. Pasar domestik meliputi: (1) Terpenuhi permintaan pasar lokal, (2) Perluasan lapangan kerja, (3) Multiplier 47

54 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : pendapatan, (4) Akselerasi pembangunan daerah dan Nasional. Pada sisi ekspor rantai nilai yang tercipta meliputi: (1) Memenuhi permintaan pasar luar negeri, (2) Pemasukan devisa, (3) Kemitraan/hubungan bisnis, dan (4) Pembelajaran mekanisme transaksi internasional (perdagangan dan pembayaran internasional) sebagai pengalaman yang penting bagi UKM yang berorientasi ekspor. IV. PENERAPAN BUDAYA USAHA (CORPORATE CULTURE) DAN USAHA INTI (CORE BUSINESS) PADA UKM Dalam persaingan pasar yang semakin kompetitif, keberhasilan usaha ditentukan oleh kemampuan menerapkan budaya usaha (corporate culture) dan usaha inti (core business) yang tangguh. Tanpa kedua faktor ini, sulit dipastikan bagi dunia usaha dapat mencapai kemajuan yang signifikan. Banyak ekonom meyakini bahwa kedua hal tersebut merupakan modal yang tidak bisa diabaikan dalam mengembangkan dan memajukan usaha. Konsep budaya usaha di sini dimaksudkan adalah tradisi yang dibangun dalam wujud efisiensi dan tata nilai dengan kedisiplinan yang kuat untuk mencapai kesuksesan. Hal ini dibuktikan oleh perusahaan-perusahaan multinasional, seperti: Coca-Cola, Nokia, General Electric, dan lain-lain (Mantle, 2009). Demikian juga dengan perusahaan multinasinal baru, seperti: Samsung, Microsoft, Geogle, serta masih banyak yang lainnya telah sukses dan unggul lantaran kuatnya budaya dari perusahaan (Muljono dan Sudjatmiko, 2007). Rhenald Kasali (2010) dalam buku terbarunya Myelin: Mobilisasi Intengibles Menjadi Kekuatan Perubahan mengemukakan bahwa tanpa tata nilai, tak akan ada budaya korporat. Dan tanpa budaya korporat yang dibangun dengan tata nilai, tidak ada culture of discipline. Tanpa culture of discipline, tidak ada masa depan, tak ada respek, dan tak ada kemajuan. Tanpa culture of discipline, tidak ada myelin, apalagi intengibles yang dapat dimobilisasi untuk merakit perubahan. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa Perusahaan bisa hidup, bisa mati. Yang melakukan perubahanpun bisa saja mati. Tetapi tanpa intengibles tak akan ada perubahan, tanpa perubahan takkan ada pembaharuan. Banyak cara dapat dilakukan guna meningkatkan penerapan budaya usaha di antaranya: (1) Menanamkan semangat dan etos kerja keras, bahwa tidak akan ada kesuksesan tanpa ada pengorbanan, (2) Memberi arti yang tinggi terhadap waktu, sehingga waktu tidak berlalu begitu saja, dengan demikian produktivitas KUMKM akan meningkat, (3) Memperkuat upaya pencapaian visi dan misi sesuai dengan perencanaan dan program kerja yang telah ditentukan, (4) Membangun sinergitas, relasi dan networking yang 48

55 PENGUATAN KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN DAN DAYA SAING UKM KOMODITI UNGGULAN EKSPOR DI PROVINSI ACEH (Ishak Hasan) kuat dengan semua unsur yang terkait dengan usaha, (5) Menjadikan kejujuran sebagai nilai yang berkembang dan dihayati konsisten secara bersama, dan (6) Membangun image yang positif terhadap usaha, baik produk fisik maupun layanannya, demikian juga dengan manajemennya. Di sisi lain penguatan usaha inti dapat dilakukan dengan cara: (1) Meningkatkan pemahaman manajemen terhadap potensi ekonomi berdasarkan sumberdaya yang dimiliki di sekitarnya, (2) Mendorong perusahaan untuk menciptakan produk yang memiliki karakteristik yang khas dan bermutu agar mendapat perhatian khusus dari masyarakat, (3) Menjalin hubungan yang kokoh baik ke hulu (pasar input) maupun ke hilir (pasar output) sehingga memunculkan stabilitas dalam berusaha, (4) Menciptakan kemitraan yang kuat dengan berbagai unsur, seperti lembaga keuangan, lawyer, dan institusi terkait lainnya (Ishak Hasan, 2010). Mencermati dinamika persaingan yang semakin kuat, maka UKM diharapkan dapat lebih beradaptasi dengan lingkungan usaha yang semakin berubah agar tetap eksis mengembangkan usahanya. UKM perlu secepatnya memperbaiki mentalitas berusaha menjadi lebih profesional. Dalam konteks ini mentalitas yang dimaksud lebih kepada mentalitas bersaing. Mentalitas bersaing memiliki kaitan erat dengan dimensi kesadaran, meliputi: (1) menumbuhkan kesadaran mutu layanan yang lebih baik, (2) menumbuhkan kesadaran organisasi yang sehat, (3) kesadaran terhadap lingkungan usaha yang semakin dinamis (Ismawan, 2001). Sebab dengan tanpa menumbuhkan kesadaran tersebut UKM akan sulit berkembang. Hal ini dikarenakan kondisi pasar sudah berubah yang diindikasikan dari: (1) Kekuasaan sudah beralih ke tangan konsumen (demand driven), (2) Skala produksi yang besar bukan lagi merupakan suatu keharusan, (3) Batas negara dan wilayah tidak lagi menjadi kendala, (4) Teknologi dengan cepat dapat dikuasai dan mudah ditiru, (5) Setiap saat muncul pesaing dengan biaya yang lebih murah, (6) Meningkatnya kepekaan konsumen terhadap harga dan nilai (Burhanuddin, 2008). Penerapan budaya usaha pada UKM mutlak dilakukan mengingat perusahaan-perusahaan modern di seluruh dunia telah dipacu pada landasan ini dalam meraih kesuksesannya, yaitu: memiliki tata nilai, perumusan visi dan pencapaian misi yang kuat, disiplin yang tinggi dan efisiensi. Semua ini dapat dilakukan oleh UKM asalkan semua pihak yang menggerakkan UKM memiliki motivasi yang kuat dalam mewujudkannya. UKM harus memiliki kemampuan untuk berkreasi dan berinovasi di tengah-tengah persaingan yang keras, disamping juga pintar menjalin hubungan kemitraan dan selalu memperbaiki kondisi internal agar lebih solid menghadapi perubahan di luar perusahaan. UKM harus taat pada prinsip-prinsip usaha yang baik, yaitu bekerja dengan skill SDM yang memadai, menerapkan fungsi- fungsi 49

56 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : manajemen profesional, akuntabilitas, transparansi, menerapkan prosedur keuangan yang sehat dan selalu berinovasi. Tanpa menerapkan hal-hal yang dikemukaan di atas dikhawatirkan UKM tidak mampu untuk eksis di tengah-tengah persaingan pasar, apalagi yang difokuskan adalah UKM yang menangani komoditi unggulan ekspor. Oleh karena itu guna menepis kekhawatiran tersebut maka UKM harus selalu responsif terhadap dinamika perubahan yang ada dan juga mampu mengadopsi berbagai pemikiran positif guna mencapai kemajuan dalam usahanya. V. KESIMPULAN DAN SARAN Penguatan kompetensi kewirausahaan dan peningkatan daya saing pada UKM, terutama dalam menangani/mengusahakan komoditi unggulan ekspor sangat mendesak untuk dilakukan. Hal ini mengingat Komoditi Unggulan Ekspor berhadapan dengan pasar global dengan citarasa tertentu. Dalam konteks kewirausahaan perlu dilakukan inovasi seperti: (1) Invensi (penemuan) produk UKM yang baru, (2) Ekstensi (pengembangan/perluasan), (3) Duplikasi (penggandaan), dan (4) Sintesis (kombinasi/formulasi baru). Penguatan kompetensi kewirausahaan pada UKM dapat dilakukan dengan pelibatan UKM dalam berbagai bidang pelatihan. Pelibatan UKM dimaksud melakukan: (1) Program pendidikan dan latihan, (2) Program magang, (3) Program pendampingan, dan (4) Program katalisator (ikut berpartisipasi langsung pada UKM sebagai konsultan, manajer, dan lain-lain). Sedangkan dalam konteks daya saing diperlukan low cost strategy, product differentiation dan focus. Untuk keperluan tersebut diperlukan mentalitas bersaing yang memiliki kaitan erat dengan dimensi kesadaran: (1) menumbuhkan kesadaran mutu layanan yang lebih baik, (2) menumbuhkan kesadaran organisasi yang sehat, dan (3) terhadap lingkungan usaha yang semakin dinamis. Selain itu pentingnya penguatan budaya usaha dan usaha inti juga tidak boleh diabaikan karena kedua hal ini juga akan dapat memperkuat kemampuan UKM khususnya yang menangani komoditi ekspor untuk hidup dan berkembang dalam era pasar yang semakin kompetitif. DAFTAR PUSTAKA Ateng Tedjasutisna Kewirausahaan. Bandung: Armico. Attali, Jacques Milenium Ketiga: Yang Menang, Yang Kalah Dalam Tata Dunia Mendatang. Jakarta: Pustaka Pelajar. 50

57 PENGUATAN KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN DAN DAYA SAING UKM KOMODITI UNGGULAN EKSPOR DI PROVINSI ACEH (Ishak Hasan) Bank Indonesia Kajian Ekonomi Regional Provinsi NAD. Banda Aceh Benedicta Prihatin Dwi Riyanti Kewirausahaan: Dari Sudut Pandang Psikologi Kepribadian. Jakarta: Grasindo. Burhanuddin Tinjauan Prospek Koperasi Indonesia Dari Perspektif Disiplin Ilmu Manajemen Bisnis. Jurnal Infokop Vol. 16 September Djojohadikusumo, Sumitro Perkembangan Pemikiran Ekonomi: Buku II Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi. Jakarta: Yayasan Obor. Djokosantoso Muljono dan Steve Sudjatmiko Corporate Culture: Challenge to Excellence. Jakarta: Elex Media Komputindo. Drucker, Peter F Inovasi dan Kewiraswastaan: Praktek dan Dasar-dasar. Jaklarta: Erlangga. Hasan, Ishak Isue Pendidikan NAD: Menanam Nilai Moral, Mengejar Mutu Lulusan, dan Memperluas Praktek Kewirausahaan. Makalah Seminar Nasional. FKIP Unsyiah. Banda Aceh. Indra Ismawan Sukses Di Era Ekonomi Liberal Bagi Koperasi dan Perusahaan Kecil Menengah. Jakarta: Grasindo Penguatan Budaya Usaha (Corporate Culture) dan Usaha Inti (Core Business) KUMKM Aceh Pasca Konflik. Jurnal Ekonomika. FE Universitas Almuslim. Aceh. Jhingan, M.L Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta: Rajawali Pers. Kynge, James Rahasia Sukses Ekonomi Cina. Bandung: Mizan. Mantle, Jonathan Companies That Changed the Worl. Quercus Publishing Ltd, 21 Bloomsbury Square, London. Moch. Nur Alim Ekspor Berbasis Agribisnis Sebagai Strategi Pembangunan Nasional. Jurnal Poelitik Vol. 4/No.1. Program Pascasarjana Universitas Nasional Jakarta. Ohmae, Kenichi The Next Global Stage: Tantangan dan Peluang di Dunia Yang Tidak Mengenal Batas Kewilayahan. Klaten: PT. Intan Sejati. Porter, Michael E Keunggulan Bersaing. Jakarta: Erlangga. Reid, Anthony Asal Mula Konflik Aceh; Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19. Jakarta: Yayasan Obor. 51

58 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Rhenald Kasali Myelin: Mobilisasi Intengibles Menjadi Kekuatan Perubahan. Jakarta: Gramedia. Roopke, Jochen Cooperative Entrepreneurship. Germany: Philips Marburg. Sadono Sukirno Ekonomi Pembangunan. Jakarta: Rajawali Pers. Saragih, Bungaran Membangun Masa Depan Ekonomi Indonesia Melalui Pembangunan Sektor Agrobisnis. Bogor: IPB. Schumpeter, J.A An Entrepreneurial System. Germany: Philips Marburg. Seng, An Wang Rahasia Bisnis Orang Korea. Bandung: Hikmah. Srinarni, Endah Meningkatkan Daya Saing UMKM Dalam Menghadapi ASEAN-CHINA Free Trade Agreement (ACFTA). Jurnal INFOKOP Vol. 18- Juli Kemenkop dan UKM. Jakarta. Suparman Sumahamijaya dkk Pendidikan Karakter Mandiri dan Kewiraswastaan: Suatu Upaya Bagi Keberhasilan Program Pendidikan Berbasis Luas/Broad Based Education dan Life Skills. Bandung: Angkasa. Suryana Kewirausahaan : Pedoman Praktis, Kiat dan Proses Menuju Sukses, edisi revisi. Jakarta: Salemba Empat. Swasono, Sri Edi Kewirausahaan dan Pembangunan Ekonomi, Makalah, IKOPIN, Bandung. Todaro, Machael P Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jakarta: Ghalia Indonesia. Wasty Soemanto Sekuncup Ide Operasional Pendidikan Wiraswasta, cetakan ketujuh. Jakarta: Bumi Aksara. Yuyun Wirasasmita Kewirausahaan Koperasi. Bandung: Makalah IKOPIN Kewirausahaan: Buku Pegangan. Bandung: UPT- IKOPIN Kewirausahaan di Perguruan Tinggi. Bandung: Makalah Universitas Padjadjaran. 52

59 MODEL PENGEMBANGAN WIRAUSAHA (I Wayan Dipta ) MODEL PENGEMBANGAN WIRAUSAHA*) I Wayan Dipta**) Abstrak Salah satu masalah bangsa yang perlu mendapatkan perhatian adalah tingkat pengangguran. Walaupun selama dua tahun terakhir, tingkat pengangguran mulai menurun, namun tingkat penurunannya relatif masih lambat. Tentu hal ini tidak bisa dibiarkan berlanjut. Apa yang bisa dipetik dari perkembangan ini? Tampaknya dunia pendidikan tinggi asyik dengan kesendiriannya, hanya mengejar kuantitas kelulusan, tanpa memperhatikan kualitas dan kebutuhan pasar kerja. Karenanya, dalam rangka mengurangi tingkat pengangguran, kita harus mendorong tumbuhnya wirausaha sarjana yang inovatif. Pengembangan wirausaha inovatif menjadi keharusan sejalan dengan tuntutan globalisasi yang dicirikan semakin ketatnya persaingan. Melalui wirausaha inovatif ini, kita berharap akan ada produk inovatif yang dikembangkan dan memiliki daya saing tinggi. Daya saing produk harus terus kita kembangkan agar daya saing bangsa juga meningkat. Tulisan ini mengemukakan beberapa model pengembangan wirausaha inovatif yang dapat dilakukan, termasuk pentingnya peran inkubator bisnis/teknologi, baik untuk UKM yang sudah ada, maupun pengembangan baru dari kalangan terdidik dan dari kalangan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau Tenaga Kerja Wanita (TKW). Model-model pengembangan kewirausahaan tersebut adalah: (1) model program kewirausahaan di Perguruan Tinggi, (2) model program kewirausahaan bagi UKM yang sudah ada, (3) model program kewirausahaan bagi inventor di Lembaga Riset dan (4) model program kewirausahaan bagi TKI/TKW. Kata kunci: Pengangguran, pendidikan tinggi, wirausaha inovatif, inkubator bisnis dan teknologi Abstract One of the nation problems that need to have special attention is unemployment rate. Although in the past two years, the unemployment rate began to decline, the rate of decline is still relatively slow. In 2009 the number of unemployed reached 8.14%, then in the year 2010 has been reduced only by 7.4%. Within last two years, only 3.34 million jobs can be created. *) Artikel diterima 7 April 2011, peer review Mei 2011, review akhir 14 Juni 2011 **) Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK 53

60 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : The unemployment rate, for graduate student (diploma and bachelor) is on the rise every year. This problem is paradox with the unemployment rate from lower education, which in fact decreased per cent in the last 5 years. On the other hand, the unemployment rate of higher education diploma and a Bachelor s degree increased twice during the past 5 year. What can be learned from this growth? Higher education institutions seem preoccupied with their own activities; only pursuing quantity of graduation, regardless of the quality and the existing labor market needs. Therefore, in order to reduce unemployment, we must encourage the growth of innovative entrepreneurship. Development of innovative entrepreneurs is imperative in line with the trends of globalization. Through the innovative entrepreneur, we hope that innovative products can be developed and strengthen competitiveness. There are several innovative models of entrepreneurship development whied can be done and the role of business incubators/technology becomes important, both for existing SMEs and educated people and as well as workers or female. Those models are includes: (1) model of entrepreneurship program at university, (2) model of entrepreneurship program for existing SMEs, (3) model of entrepreneurship program for inventors at Research Centers and (4) model of entrepreneurship program for Indonesian workers abroad. Keywords: Unemployment, graduate education, innovative entrepreneur, business and technology incubator I. PENDAHULUAN Masalah bangsa yang masih belum dapat dipecahkan bahkan sejak zaman Orde Lama sampai dengan saat ini adalah pengangguran dan kemiskinan. Tampaknya ada korelasi yang kuat antara pengangguran dan kemiskinan. Sejak dua tahun terakhir persentase pengangguran di Indonesia cenderung menurun, menurut BPS (2010) bahwa pada tahun 2009 jumlah pengangguran terbuka 8,14% dan pada bulan Maret 2010 sudah menurun menjadi 7,4%. Sepanjang tahun ada tambahan kesempatan kerja 3,34 juta orang. Pada tahun 2010 pertumbuhan ekonomi sebesar 6,1% dan akan berdampak positif, karena setiap kenaikan 1% pertumbuhan akan menambah lapangan kerja bagi 548 ribu orang tenaga kerja baru. Untuk mengurangi masalah pengangguran ini, idealnya dapat dilakukan dengan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi melalui investasi dan ekspor. Upaya ini yang perlu terus kita dorong pada tahun-tahun mendatang. Pertumbuhan yang tinggi melalui investasi dan ekspor, selain oleh usaha besar dapat juga dilakukan oleh Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Peran UMKM dalam mendorong pertumbuhan ekonomi telah terbukti nyata 54

61 MODEL PENGEMBANGAN WIRAUSAHA (I Wayan Dipta ) ketika Indonesia dilanda krisis moneter tahun 1997/1998. Ketika krisis terjadi, banyak usaha besar yang selama ini mendapat banyak fasilitas dari negara dan pinjaman luar negeri menghadapi masalah serius akibat depresiasi rupiah. UMKM sebaliknya menikmati adanya depresiasi rupiah terhadap dollar tersebut. Banyak UMKM, khususnya yang bergerak di sektor agribisnis dan agro-industri, seperti ekspor kopi, lada, pala, cengkeh, udang, ikan dan produk perikanan lainnya, serta furnitur sangat menikmati adanya depresiasi rupiah tersebut. Pengurangan tingkat pengangguran telah menjadi agenda resmi pemerintah setiap tahun. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) , pemerintah menetapkan target pengurangan jumlah pengangguran, dimana pada tahun 2014 pemerintah bertekad menguranginya menjadi 5-6%. Mewujudkan cita-cita ini, memang tidaklah mudah apalagi perkembangan tingkat pengangguran yang terjadi belakangan ini, tingkat penurunannya masih relatif kecil. Dalam rangka mengurangi jumlah pengangguran salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengembangkan kewirausahaan. Pengembangan kewirausahaan harus menjadi agenda bangsa agar setiap lulusan, khususnya mulai dari tingkat pendidikan menengah ke atas tidak hanya berharap menjadi pekerja, tetapi memiliki kemampuan menciptakan pekerjaan. Sejalan dengan tantangan globalisasi yang menuntut adanya persaingan yang semakin ketat, upaya mengembangkan wirausaha yang inovatif harus terus dilakukan dan ditingkatkan. II. PENGGANGGURAN TERDIDIK Upaya pemerintah dalam menurunkan tingkat pengangguran sudah menunjukkan perbaikan. Namun demikian, tingkat pengangguran terdidik selama beberapa tahun terakhir tampak terus mengalami peningkatan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS-2010), jumlah penganggur yang tidak/ belum menamatkan pendidikan SD terus meningkat selama 3 tahun terakhir. Pada Agustus tahun 2008 ada orang penganggur yang tidak/belum tamat SD, pada Agustus tahun 2010 menjadi orang dan selama tiga tahun terakhir bertambah sebesar 17,70%. Pengangguran ditingkat Diploma, meningkat setiap tahun dari orang tahun 2008 menjadi orang tahun 2010 atau meningkat sekitar 11,05%. Pengangguran Sarjana juga terus berkembang, pada tahun 2008 ada sektar orang Sarjana penganggur, pada Agustus 2010 meningkat menjadi orang atau meningkat sekitar 9,24%. Secara rinci tingkat pengangguran menurut pendidikan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut. 55

62 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Tabel 1. Pengangguran Terbuka Menurut Tingkat Pendidikan Yang Ditamatkan Keterangan: BPS diolah (data per Agustus, 2010) Ironisnya, peningkatan penganggur terdidik terjadi pada saat jumlah pengangguran secara keseluruhan mengalami penurunan, baik dalam persentase maupun secara absolut. Pertanyaannya, mengapa hal ini terjadi? Kalau kita cermati, tercatat ada tiga penyebab utama, yaitu fenomena parasit lajang, informalisasi pasar serta anggapan adanya ketidaksesuaian pendidikan yang ada dengan kebutuhan pasar kerja (Media Indonesia edisi 24 Agustus 2009). Fenomena parasit lajang, menurut ekonom Profesor Aris Ananta dari National University of Singapore, merupakan sebutan bagi para generasi muda yang manja dan terlalu bergantung pada orangtua dalam mencukupi kebutuhan hidupnya. Dengan kata lain, adanya jaminan kelangsungan hidup meski mereka tidak bekerja, dan bagi sebagian besar dari mereka, tidak bekerja tidak menjadi sebuah masalah besar. Informalisasi pasar kerja dan tidak sesuainya antara pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja, dapat dilihat dengan semakin sempitnya lapangan kerja pada sektor formal yang ada. Berkurangnya lapangan kerja formal, mau tidak mau para penganggur terdidik mencari alternatif lain untuk mensiasatinya, dengan beralih ke lapangan kerja informal. Ciri dari lapangan kerja informal antara lain bersifat tidak tetap, upah rendah, bahkan tidak mendapat kompensasi sama sekali, dan memiliki tingkat produkitvitas yang rendah. Terdapat indikasi bahwa Pendidikan tinggi Indonesia belum mampu memberikan pelatihan dan ilmu yang sesuai dengan tuntutan pasar kerja. 56

63 MODEL PENGEMBANGAN WIRAUSAHA (I Wayan Dipta ) Ada dua hal yang bisa dipetik dari perkembangan tingkat pengangguran ini. Pertama, baik pendidikan dasar sampai sekolah lanjutan atas maupun lulusan perguruan tinggi/universitas ternyata belum mampu menghasilkan lulusan yang siap pakai, baik sebagai karyawan maupun sebagai tenaga yang memiliki kemampuan yang dibutuhkan dunia usaha. Kedua, pendidikan yang diterapkan di Indonesia, yang kurikulumnya selalu mengalami perubahan hampir setiap pergantian pemerintahan belum mampu menjawab tantangan global, khususnya berkaitan dengan penumbuhan wirausaha baru. Tingkat kewirausahaan di Indonesia memang masih sangat rendah bila dibandingkan dengan di negara lain. Di Amerika Serikat sekitar 11 persen, di Singapura 7%, sedangkan di Indonesia hanya 0,24% saja yang memiliki kompentensi kewirausahaan dari sekitar 237,6 juta orang penduduk Indonesia. Menurut Award (1993), rata-rata wirausahawan yang lahir di dunia sekitar 2%. Ini menunjukkan semangat dan jiwa kewirausahaan orang yang lahir di Indonesia masih sangatlah rendah. Rendahnya orang Indonesia yang mempunyai semangat dan jiwa wirausahawan juga mempengaruhi tingkat pengangguran. Angkatan kerja yang lahir cenderung ingin menjadi pekerja, atau menjadi birokrasi di kantor pemerintahan, bukan pencipta lapangan kerja baru. Berbeda jauh dengan karakteristik orang China pada umumnya yang selalu ingin menjadi pengusaha, bukan bekerja di perusahaan orang lain. Mereka merasa lebih bangga memiliki sebuah perusahaan, walau perusahaan dengan skala usaha yang kecil. Fenomena diatas tidak lepas kaitannya, dengan sistem pendidikan yang belum mampu menghasilkan lulusan yang siap pakai dan menjawab tantangan kebutuhan pasar tenaga kerja. Sistem pendidikan mestinya mampu menghasilkan lulusan yang siap menciptakan pekerjaan baru. Angkatan kerja terdidik harusnya memiliki naluri untuk mau memanfaatkan peluang, berani mengambil risiko, kreatif, dan inovatif. Kalau setiap jenjang pendidikan sudah menanamkan pentingnya kewirausahaan, maka tidak seyogyanya jumlah pengangguran semakin bertambah setiap tahun, walaupun disadari bahwa iklim usaha yang kondusif turut mempengaruhi. Iklim usaha yang kondusif tanpa didukung oleh hasil lulusan dari dunia pendidikan yang tidak memiliki bekal kewirausahaan akan sia-sia, demikian juga sebaliknya. Keduanya harus dikembangkan bersamaan. Pemerintahpun sudah memulai dengan diterbitkan Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal dan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah untuk memberikan iklim yang lebih kondusif bagi para pelaku bisnis, khsususnya bagi UMKM. 57

64 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Di masa depan setiap lembaga pendidikan, baik pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi harus sudah menanamkan akan pentingnya jiwa dan semangat kewirausahaan. Apalagi para pemimpin ASEAN, ketika pertemuan di Hua Hin, Thailand tahun 2009 telah sepakat mendorong pengembangan kewirausahaan di setiap negara anggota. Dalam kaitan ini Indonesia dan Singapura ditugasi menyusun Common Curriculum for Entrepreneurship in ASEAN dan sudah berhasil disusun serta disosialisasikan di Jakarta dan Yogyakarta pada tahun 2009 dan III. PERAN STRATEGIS USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH Sebagai bagian dari pengembangan kewirausahaan, perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perlu terus didorong. Kehadiran dan eksistensi UMKM di telah mendapatkan pengakuan di dunia, tanpa kecuali di Indonesia. Hampir semua negara menyadari akan posisi dan peran penting UMKM, bukan saja sebagai mesin pertumbuhan ekonomi atau engine of economic growth, tetapi juga sangat penting untuk mengatasi masalah pengangguran. Peran UMKM di Indonesia semakin terasa ketika terkena dampak krisis moneter pada pertengahan tahun Ketika itu, sebagaian besar usaha besar larut dan menggantungkan hidupnya dari pinjaman dan bantuan luar negeri, sebaliknya UMKM yang hidupnya sangat tergantung pada sumberdaya lokal justru menikmati adanya krisis moneter. Tanpa UMKM, dapat dibayangkan Indonesia terus terpuruk dan mungkin bisa berlanjut menjadi negara yang tidak setabil. Dalam penyerapan tenaga kerja kontribusi UMKM tidak perlu diragukan, kalau pada tahun 2004, mampu menyerap sekitar 80,45 juta orang tenaga kerja atau sekitar 96,23% dari total angkatan kerja yang ada, maka pada tahun 2009 mampu menyerap sekitar 96,2 juta orang atau 97,30%. Bahkan dalam pembentukan PDB, peran UMKM semakin signifikan, yakni meningkat dari 55,6% pada tahun 2008 menjadi 59,62% pada tahun Arah Kebijakan Pengembangan UMKM Peningkatan daya saing UMKM perlu terus dikembangkan sejalan dengan perkembangan era globalisasi dan tuntutan dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Masalah krusial yang banyak dikeluhkan pelaku binis tanpa kecuali UMKM adalah munculnya berbagai peraturan-peraturan baru di daerah. Peraturan-peraturan daerah ini kurang memberikan ruang bagi UMKM untuk berkembang. Birokrasi administrasi yang berbelitt dan tumpang tindih peraturan menjadi tantangan harus kita diatasi ke depan. Pemerintah perlu melakukan 58

65 MODEL PENGEMBANGAN WIRAUSAHA (I Wayan Dipta ) revitalisasi arah kebijakan, strategi sampai kepada program-program pemberdayaan UMKM. Arah kebijakan yang dapat ditempuh meliputi: (1). Mengembangkan UKM untuk memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing; sedangkan pengembangan Usaha Mikro untuk memberikan kontribusi dalam peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah; (2). Memperkuat kelembagaan dengan menerapkan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan berwawasan gender terutama untuk: 1. Memperluas akses kepada sumber permodalan khususnya perbankan; 2. Memperbaiki lingkungan usaha dan menyederhanakan prosedur perijinan; 3. Memperluas dan meningkatkan kualitas institusi pendukung yang menjalankan fungsi intermediasi sebagai penyedia jasa pengembangan usaha, teknologi, manajemen, pemasaran dan informasi. (3) Memperluas basis dan kesempatan berusaha serta menumbuhkan wirausaha baru berkeunggulan untuk mendorong pertumbuhan, peningkatan ekspor dan penciptaan lapangan kerja terutama dengan: 1. Meningkatkan perpaduan antara tenaga kerja terdidik dan terampil dengan adopsi penerapan teknologi; 2. Mengembangkan UMKM melalui pendekatan klaster dan pengembangan produk unggulan daerah dengan pendekatan One Village One Product (OVOP) di sektor agribisnis dan agroindustri serta potensi lokal lainnya; 3. Mengembangkan UMKM untuk makin berperan dalam proses industrialisasi, perkuatan keterkaitan industri, percepatan pengalihan teknologi, dan peningkatan kualitas SDM; 4. Mengintegrasikan pengembangan usaha dalam konteks pengembangan regional, sesuai dengan karakteristik pengusaha dan potensi usaha unggulan di setiap daerah. 59

66 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : (4). Mengembangkan UMKM untuk makin berperan sebagai penyedia barang dan jasa pada pasar domestik yang semakin berdaya saing dengan produk impor, khususnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat banyak 2. Strategi Pengembangan UMKM Arah kebijakan pemerintah dalam pengembangan UMKM pada intinya ditujukan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, penyerapan tenaga kerja, peningkatan daya saing dan penanggulangan kemiskinan serta termasuk pengembangan usaha yang ramah terhadap lingkungan. Oleh karena itulah, strategi pengembangan UMKM haruslah ditujukan dalam rangka mewujudkan keempat hal tersebut. Pertama, menumbuhkan iklim usaha yang kondusif, ditujukan untuk memberikan kesempatan yang sama kepada masyarakat dan pelaku usaha dalam mengembangkan usahanya, termasuk akses kepada sumberdaya produktif. Penekanan lebih banyak ditujukan dalam aspek regulasi dan deregulasi. Peraturan perundang-undangan yang dipandang masih dibutuhkan untuk pengembangan UMKM sebagian sudah diselesaikan, diantaranya pada tahun 2008 sudah terbit UU Nomor 20 Tahun 2008 Tentang UMKM dan kini masih diselesaikan beberapa peraturan pendukungnya. Pemerintah sudah mengeluarkan Inpres Nomor 25 Tahun 2010 Tentang Sistem Pelayanan Perizinan Satu Pintu. Selain itu, peraturan lain yang juga sangat penting adalah UU Lembaga Keuangan Mikro diharapkan dapat diselesaikan pada tahun 2011 ini. Sedangkan beberapa peraturan yang dipandang menghambat dan umumnya lebih banyak terdapat di daerah setelah otonomi daerah diterapkan dalam bentuk Perda, seperti Perda Perdagangan Antar Pulau untuk kelapa dan kayu akan dikaji ulang untuk dihilangkan karena membebani dan menghambat berkembangnya UMKM. Kedua, meningkatkan akses pada sumberdaya finansial, yang merupakan masalah klasik, namun setelah ditelaah masalah utamanya bukanlah terletak pada permodalan semata melaikan terkait dengan pasarnya yang tidak ada, dan barang yang diproduksi dalam jumlah yang kecil sehingga tidak terjual. Dalam kaitan permodalan, pemerintah sejak Nopember 2007 bekerjasama dengan 6 bank nasional menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dijamin oleh pemerintah dan telah diperluas pada 13 Bank Pembangunan Daerah (BPD). Selain melalui perbankan, pemerintah juga mendorong pengoptimalan pemanfaatan laba 1-3% BUMN. Pemerintah juga terus mengalokasikan sebagian APBN untuk perkuatan koperasi termasuk KSP/USP guna meningkatkan 60

67 MODEL PENGEMBANGAN WIRAUSAHA (I Wayan Dipta ) kemampuannya dalam melayani kebutuhan pendanaan bagi usaha mikro dan kecil anggotanya. Selain itu, meningkatkan peranan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) dalam menggulirkan berbagai bantuan perkuatan kepada KUMKM. Ketiga, meningkatkan akses pasar, melalui peningkatan kualitas, desain, dan harga yang bersaing karena masalah ini berdampak pada kecilnya pemasaran produk UMKM, baik di pasar domestik dan internasional. Kajian HSBC Commercial Banking (Juli 2010) terhadap UMKM di 21 negara, seperti Hong-Kong, India, Indonesia, China, Malaysia, Singapura, Taiwan, Viet-Nam, Mesir, Qatar, Saudi Arabia, UEA, Prancis, Turki, Inggris, Kanada, Amerika Serikat, Argentina, Brasil, Mexico, dan Panama menyebutkan, bahwa secara umum indeks tingkat optimisme bisnis dari waktu ke waktu semakin meningkat. Namun demikian, hanya 23% saja UMKM Indonesia dapat memperluas jaringan bisnis ke pasar internasional pada periode 2 tahun mendatang. Hambatan terletak pada: regulasi lokal dan kompleksitas hukum; kompleksitas dari beberapa pasar internasional; dan kebijakan perdagangan internasional yang semakin dipersulit. Mengatasi permasalahan pemasaran perlu ada penyederhanaan regulasi, pelatihan keterampilan dan manajemen untuk meningkatkan kemampuan UMKM dalam memproduksi produk berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Di samping pelatihan, temu bisnis dan negosiasi hambatan non tarif di pasar luar negeri, serta eksibisi di dalam dan luar negeri perlu terus digalakkan dalam rangka memperkenalkan produk yang dihasilkan UMKM. Pada sisi lain, pengembangan lembaga pendukung pemasaran produk seperti revitalisasi pasar tradisional, trading house atau rumah dagang dan pusat-pusat pemasaran produk UMKM lainnya seperti trading board perlu terus dikembangkan, mulai dari tingkat kabupaten/kota, propinsi, pusat dan di luar negeri. Keempat, meningkatkan kewirausahaan dan kemampuan UMKM, terutama dalam hal semangat kewirausahaan. Rendahnya kewirausahaan UMKM dapat dilihat dari kurangnya kreativitas dan inovasi serta keberanian dalam pengambilan keputusan. Secara umum, UMKM Indonesia memiliki ketergantungan pada program pemerintah. Hal ini tampak nyata sebelum Indonesia terkena krisis moneter, banyak usaha menengah dan besar tidak mampu meneruskan bisnisnya karena terlilit hutang luar negeri, baik hutang modal dan bahan baku impor. Ke depan kita harus mampu mengembangkan wirausaha-wirausaha yang tangguh yang berbasis pada sumberdaya lokal atau resources based; mendorong wirausaha dari kelompok UMKM yang berbasiskan 61

68 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : pada ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK); dan mengembangkan ekonomi industri kreatif, khususnya yang berbasiskan pada warisan budaya bangsa. Industri kreatif telah mampu menyumbang sekitar 6,28% terhadap PDB tahun Dari 14 sub-sektor yang tergolong dalam industri kreatif, produk fashion, kerajinan, periklanan dan desain merupakan sub-sektor potensial yang telah memberikan kontribusi besar selama ini. Untuk pengembangan kewirausahaan ini, pemerintah seharusnya terus mendorong pengembangan inkubator bisnis, baik di perguruan tinggi maupun melalui peran dunia usaha besar. Selain itu, pengembangan modal ventura perlu lebih digalakkan agar para pengusaha-pengusaha baru dapat kemudahan akses permodalan awal melalui modal ventura. Kelima, pemberdayaan Usaha Mikro, yang merupakan bagian terbesar pelaku usaha nasional sangat penting diprioritaskan guna mendorong kegiatan usaha ekonomi di sektor informal yang berskala mikro, terutama yang masih berstatus keluarga miskin melalui peningkatan kapasitas usaha, keterampilan, perlindungan, dan pembinaan usaha. IV. MODEL PENGEMBANGAN WIRAUSAHA INOVATIF Pembinaan UKM tidak mungkin dilakukan sendiri oleh pemerintah. Peran dan dukungan masyarakat, perguruan tinggi termasuk para pelaku bisnis dan stakeholders lainnya sangat dibutuhkan. Sinergitas dalam pengembangan wirausaha baru yang inovatif agar menghasilkan pelaku bisnis yang handal dan berdaya saing amat diperlukan. Ada beberapa model program pengembangan wirausaha baru inovatif yang bisa dikembangkan, diantaranya: 1. Program kewirausahaan di Perguruan Tinggi, untuk dosen dan mahasiswa; 2. Program kewirausahaan bagi UMKM yang ada 3. Program kewirausahaan bagi inventor di lembaga riset 4. Pengembangan kewirausahaan bagi Eks-TKI/TKW Ad.1. Model Program Kewirausahaan di Perguruan Tinggi Sebuah perguruan tinggi/universitas dapat melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi lain dengan adopsi teknologi yang ada. Hal ini dapat dilakukan oleh perguruan tinggi dalam negeri atau kerjasama antar perguruan tinggi dari negara lain. Adopsi teknologi dari perguruan 62

69 MODEL PENGEMBANGAN WIRAUSAHA (I Wayan Dipta ) tinggi ke perguruan tinggi lain, sering dikenal dengan technological seed spin-in model. Untuk mendukung kebutuhan teknologi suatu perusahaan melalui pengembangan produk baru dapat dikembangkan dengan inkubator bisnis/teknologi di Perguruan Tinggi. Model seperti ini sudah banyak dikembangkan di negara maju, seperti Jepang, Korea, Taiwan, dan Singapura dengan bekerjasama dengan perguruan tinggi dari negara lain, seperti Amerika Serikat. Peranan Perguruan Tinggi sangat penting dalam membimbing mahasiswa untuk mengembangkan bisnis tertentu. Secara singkat keterkaitan para stokeholder dapat dilihat pada gambar berikut. Ad.2. Model Program Kewiirausahaan bagi UKM yang sudah ada Bagi UKM yang sudah ada, pengembangan kewirausahaan dapat dilakukan dengan memfokuskan pada sektor tertentu, misalnya agribisnis/agro-industri, manufaktur, ICT, green technology serta industry kreatif. Program yang diberikan sebagai berikut. 1. Pendidikan dan pelatihan 2. Pendampingan (konsultasi dan monitoring) 3. Fasilitasi pendanaan 4. Fasilitasi HKI 5. Fasilitasi promosi (dalam dan luar negeri) 63

70 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Ad.3. Model Pengembangan Wirausaha bagi Inventor Lembaga Riset Di Korea dan Taiwan, para inventor sangat dikukung oleh pemerintah untuk mengembangkan bisnis dengan mengkomersialkan hasil-hasil penelitiannya. Model seperti ini mungkin sangat baik bila dikembangkan di Indonesia. Para inventor dapat berkreasi dan mengembangkan bisnis yang inovatif dan kompetitif ke depan. Selain itu, keterlibatan inventor dalam pengembangan wirausaha baru dapat juga memotivasi mereka berkarya lebih banyak dan diharapkan ikut berperan penciptaan wirausaha guna mengatasi masalah pengangguran baru. Secara umum pelibatan inventor dalam pengembangan wirausaha baru dapat digambarkan pada gambar berikut. Ad.4. Model Program Wirausaha bagi TKI/TKW Indonesia cukup banyak mengirim TKI/TKW ke luar negeri. Diperkirakan tidak kurang dari 6 juta orang TKI/TKW yang saat ini masih bekerja di luar negeri, baik dari pekerja rumah tangga, maupun dari kalangan tenaga terampil. Kalau hal ini dimanfaatkan ketika mereka sudah mau kembali ke tanah air dengan membekali spirit kewirausahaan dan dukungan fasilitas lainnya, kiranya kita akan mampu menghasilkan wirausaha yang andal ke depan. Mereka dengan pengalaman di luar negeri dan jaringan yang dimiliki, tampaknya akan mudah membangun 64

71 MODEL PENGEMBANGAN WIRAUSAHA (I Wayan Dipta ) bisnis sesuai dengan kemampuan dan pengalaman yang diperolehnya. Proses pembekalan kepada TKI/TKW dapat dilakukan sejak sebelum berangkat, dua minggu sebelum pulang dan setelah di tanah air melalui inkubator bisnis/teknologi. Kalau hal ini digambarkan dan jenis pembekalan yang diberikan dapat dilihat sebagai berikut. V. KESIMPULAN DAN SARAN Pengembangan wirausaha inovatif harus menjadi prioritas dalam rangka mengatasi masalah pengangguran dan peningkatan daya saing. Kewirausahaan dapat dikembangkan melalui peran perguruan tinggi/ universitas, pengembangan UKM yang ada, inventor lembaga riset dan dari kalangan TKI/TKW. Dukungan pemerintah menjadi penting dalam penumbuhan iklim yang kondusif dan fasilitasi lainnya. Dukungan pemerintah yang sangat urgen dilakukan, berkaitan dengan penyempurnaan berbagai aturan perundangan; akses pada sumberdaya produktif (mulai dari bahan baku, dan finansial); dan akses pasar. Jika fasilitasi dan kerjasama dengan seluruh stakeholders dilaksanakan dengan baik, maka upaya penumbuhan wirausaha baru inovatif akan dapat dicapai. 65

72 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : DAFTAR PUSTAKA Anonymous Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia. Badan Pusat Statistik, Jakarta, Indonesia; Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia. Badan Pusat Statistik, Jakarta, Indonesia; Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia. Badan Pusat Statistik, Jakarta, Indonesia; Awasthi, Dinesh N Short Steps Long Leaps: Stories of Impact Making Rural Entrepreneurs. Tata McGraw-Hill Publishing Company Limited, New Delhi; Awasthi, Dinesh N Appreciation Workshop on Entrepreneurship Development. Entrepreneurship Development Institute of India; Boorman, Jane. Cheryl A. Mills. dan Ellen Thrasher An Introduction to the U.S. Small Business Administration (SBA). Office of Entrepreneurial Development; Ohe, Takeru and Goi, Hoe Chin. (2010). Entrepreneurship Ecosystem in ASEAN Universities Based on COBLAS Program. Waseda University, Japan; 66

73 PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DIKALANGAN UMKM DALAM ERA OTONOMI DAERAH (Teuku Syarif ) PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DIKALANGAN UMKM DALAM ERA OTONOMI DAERAH *) Teuku Syarif **) Abstrak Pembangunan Koperasi dan UMKM sebelum era reformasi yang cenderung terpusat, keberhasilannya lebih banyak ditunjukkan dengan indikator-indikator kuantitatif yang bersifat sementara. Sedangkan keberhasilan yang bersifat kualitatif sangat sedikit dan terbatas pada beberapa aspek yang sulit dipertahankan untuk jangka panjang seperti peningkatan rata-rata tingkat pendidikan UMKM. Demikian juga kebijakan dan program-program pembangunan tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah klasik dalam UMKM dan koperasi seperti kesulitan dalam mengakses sumberdaya potensial, informasi pasar dan teknologi. Kondisi yang demikian seharusnya tidak terjadi jika dua masalah pokok dalam pemberdayaan koperasi dan UMKM dapat diselesaikan yaitu rendahnya kewirausahaan dan tidak kondusifnya iklim usaha koperasi dan UMKM. Pelaksanaan otonomi daerah diharapkan dapat menjadi bahan acuan yang kondusif dalam menyusun programprogram pemberdayaan koperasi dan UMKM yang tidak lagi sentralistik. Era otonomi daerah juga diharapkan mampu mendukung pengembangan usaha koperasi dan UMKM, terutama dari aspek pembukaan kesempatan usaha, perizinan, kepastian tempat usaha, serta pengembangan kualitas SDM. Faktor lain yang idealnya dapat dikembangkan dalam era otonomi daerah adalah kerjasama antar daerah dan kemitraan antara UMKM dengan usaha besar. Kata kunci: Kewirausahaan otonomi daerah Abstract Development of Cooperatives and MSMEs before the reform era tended to be centralized. It showed success from temporary quantitative indicators. While success in qualitative indicator had been relatively low and limited to certain aspects which difficult to maintain on the long term, such as increasing the average educational level of MSMEs. Also, policies and development programs are not able to solve the classic problem of MSMEs and cooperatives, such as difficulty in accessing potential resources, market information and technology. Those conditions should not occur if the two main issues in the empowerment of cooperatives and MSMEs can be resolved. These problem are lack of entrepreneurship and business environment *) Artikel diterima 7 April 2011, peer review Mei 2011review akhir 14 Juni 2011 **) Peneliti Utama pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM dan Koperasi Kementerian Koperasi dan UKM 67

74 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : that is not conducive for cooperatives and MSMEs. The implementation of regional autonomy is expected to be a conducive reference on underpining programs for the empowerment of cooperatives and MSMEs. The era of regional autonomy is also expected to support the development of cooperatives and MSMEs, especially to enhance access to business opportunities, licensing, certainty of business premises, and the development of human resources. Another factor that should be developed is the cooperation and partnership between MSMEs with large enterprises. Keywords: Enterpreneurship of regional autonomy I. PENDAHULUAN Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam era orde baru yang lalu pembangunan ekonomi dijadikan kegiatan sentral pembangunan nasional yang dilakukan sedemikian intensif. Prioritas pada pembangunan ekonomi ini ditandai dengan banyak dikeluarkannya kebijakan-kebijakan dan program-program baik yang bersifat sektoral, maupun kedaerahan. Keberhasilan pembangunan pada waktu itu dari aspek produksi dan pendapatan dinyatakan sangat meyakinkan, karena didukung oleh eksistensi usaha besar yang memproduksi terutama barangbarang substitusi impor. Dengan menggunakan justifikasi pertumbuhan, pendapatan nasional (GNP) antara tahun 1970 sampai dengan tahun 1996 dinyatakan ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata 4,8% per tahun. Sedangkan keberadaan pengusaha besar yang membentuk konglomerasi dinyatakan sebagai motor penggerak pembangunan, karena mereka memiliki produkfitas yang tinggi dan dapat mengurangi beban impor produk-produk konsumsi. Masalah yang paling menonjol adalah tidak tercapainya optimalitas pemanfaatan sumberdaya itu sendiri. Indikasi lain yang juga memprihatinkan adalah bahwa pemanfaatan sumberdaya potensial lainnya terutama manusia (SDM), lahan dan lautan pada waktu itu semakin jauh dari optimal. Akibat tidak termanfaatkannya berbagai sumberdaya tersebut, terjadi ledakan pengangguran, demikian juga banyaknya lahan-lahan tidur (In absensia land) atau yang diusahakan tidak optimal. Demikian juga belum sumberdaya kelautan yang sangat besar belum termanfaatkan dengan baik. Akibatnya pendistribusian manfaat sumberdaya kesempatan dan modal secara adil dan merata tidak pernah tercapai. Hal ini menjadi masalah pelik yang berakhir dengan gejolak sosial yang terjadi pada tahun Dengan perkatan lain, limpahan hasil dari eksploitasi sumberdaya potensial, serta sistem perekonomian yang didominansi oleh kelompok usaha besar (konglomerat), ternyata tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang, karena tidak mampu mengoptimalkan dan memperbaiki kualitas sumberdaya pembangunan lainnya terutama SDM lahan dan lautan. 68

75 PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DIKALANGAN UMKM DALAM ERA OTONOMI DAERAH (Teuku Syarif ) Disisi yang lain terlihat bahwa semua obsesi pembangunan yang ada dalam pikiran para perencana, ternyata luntur dengan timbulnya krisis perekonomian di tahun Krisis ekonomi yang berlanjut dengan krisis sosial dan politik tersebut telah menurunkan angka pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya diagung-agungkan sampai ke titik terendah, yaitu minus 17%. Dalam kondisi krisis ini hampir semua kelompok konglomerat terjebak dalam hutang yang sangat besar, yang ternyata tidak dapat terbayar hanya dengan aset yang dimiliki. Berbeda dengan keberhasilan kelompok konglomerat dalam mendukung produksi dan produktifitas nasional, hasil pembangunan KUMKM dalam era orde baru secara kuantitatif sudah mencapai beberapa tujuan pokok seperti pertumbuhan jumlah koperasi dan anggota koperasi yang selama 1978 sampai dengan tahun 1998 mencapai rata-rata 5,6% dan 8,1% per tahun. Tetapi dari aspek kualitatif pertumbuhan koperasi belum menunjukkan hasil nyata (significant) yang antara lain diindikasikan dari masih rendahnya pemahaman dan idealisme anggota koperasi (Nasution 1993). Kondisi yang demikian selain dikarenakan orientasi pembangunan koperasi yang lebih diupayakan kepada upaya mengejar tolok ukur keberhasilan kuantitif, unsur keberhasilan yang bersifat kualitatif kurang mendapat perhatian. Keberhasilan pembangunan KUMKM dari aspek kualitatif menurut Nasution, 2001 antara lain dicerminkan dari: (1) meningkatnya pemahaman anggota tentang nilai-nilai dasar, prinsip-prinsip dan asas koperasi, sedangkan 2) keberhasilan pembangunan UMKM diindikasi dari meningkatnya kewirausahaan dan kualitas produk UMKM yang berdampak langsung terhadap peningkatan daya saing UMKM. Berbagai indikasi seperti ketidakmampuan KUMKM untuk mengakses sumberdaya potensial, mengakses informasi, mengakses pasar dan mengakses teknologi menunjukkan bahwa kewirausahaan dikalangan KUMKM relatif rendah. Rendahnya kewirausahaan ini terkait dengan sistem pembinaan seperti yang disebutkan di atas yang hanya berorientasi pada aspek kuantitatif dan kurang memperhatikan pengembangan kualitas SDM dan lingkungan tumbuh KUMKM. Disamping masalah tersebut di atas, masalah sentralisasi pembangunan juga mempengaruhi konsepsi pembangunan KUMKM. Berbagai program pembangunan KUMKM selama empat dekade cenderung bersifat sektoral dan terpusat, ditujukan untuk mencapai suatu target sektoral tertentu. Sebagai contoh misalnya program swasembada pangan, pembangunan pedesaan, daerah transmingrasi, dan sebagainya. Program yang dirancang dalam lingkup makro untuk mendukung program pembangunan nasional, ternyata tidak 69

76 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : dapat dilaksanakan dengan baik di banyak daerah. Pada akhirnya programprogram tersebut hilang atau berganti dengan program lain yang sejenis, yang kemudian juga tidak berhasil mencapai tujuan seperti yang diharapkan. Dalam hal pembinaan KUMKM juga terlihat bahwa program-program dari pusat yang dirancang secara agregatif, tidak selalu sesuai dengan kebutuhan koperasi dan masyarakat yang menjadi anggotanya. Yang lebih parah lagi program-program tersebut adakalanya tidak sesuai dengan kondisi masyarakat dan struktur sosial budaya di daerah setempat. Kesimpulan yang dapat ditarik dari sifat sentralistik dalam banyak program pemberdayaan KUMKM pada masa itu adalah bahwa, program-program pemberdayaan KUMKM hanya diaplikasikan dalam bentuk program-program pendukung pembangunan sektoral. Dengan perkataan lain program-program pemberdayaan KUMKM tidak langsung bertujuan untuk menjadikan KUMKM, sebagai kelompok pengusaha yang mendukung pembangunan ekonomi nasional melalui pengembangan dirinya sendiri. Sedangkan pengembangan kewirausahaan merupakan faktor kunci dari pengembangan diri dari kelompok ini. Berbagai permasalahan di atas, diharapkan akan luruh dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Tetapi sampai sekarang ini kondisi nyata di lapang memperlihatkan bahwa kinerja KUMKM masih belum banyak berubah, bahkan ada kecenderungan eksistensi koperasi dalam sistem perekonomian daerah semakin berkurang. Fenomena ini memang tidak perlu lagi dipertanyakan karena substansi UU Nomor 22 Tahun 1999 sendiri masih diperdebatkan. II. KONSEPSI DAN PENDEKATAN PEMBANGUNAN DALAM ERA OTONOMI DAERAH Sejalan dengan orientasi pembangunan yang diarahkan pada upaya mengejar pertumbuhan, struktur organisasi pembangunan yang terpusat (sentralistik) pada era yang lalu juga menjadi penyebab utama terjadinya ketimpangan pembangunan antara pusat dan daerah. Konsepsi sistem perencanaan yang sentralistik sesuai dengan struktur pemerintah telah mengakibatkan semua perencanaan pembangunan dilakukan di tingkat pusat, untuk dilaksanakan di daerah. Struktur perencanaan yang mengagregatkan program-program pembangunan dalam lingkup makro (nasional) untuk diterapkan dalam lingkup mikro (daerah) ini telah menimbulkan dampak, berupa banyaknya program-program pembangunan yang tidak sesuai atau sulit dilaksanakan di daerah. 70

77 PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DIKALANGAN UMKM DALAM ERA OTONOMI DAERAH (Teuku Syarif ) Menyangkut demokrasi dan demokratisasi, undang-undang otonomi daerah yang banyak diperbincangkan itu, memperlihatkan dua hal utama. Pertama, menyangkut rekrutmen pejabat pemerintah daerah dan kedua, proses legislasi di daerah. Rekrutmen pejabat di daerah, menurut UU ini, dalam praktik, nantinya akan sepenuhnya menjadi kewenangan masyarakat di daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Baik pada di tingkat provinsi, kabupaten dan kota. Pemerintah pusat, dalam hal ini Departemen Dalam Negeri, Menteri Sekretariat Negara dan Panglima TNI, tidak diperkenankan lagi memiliki campur tangan. Penentu siapa yang akan jadi Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan wakil Bupati, Walikota dan wakilnya, adalah masyarakat sendiri. Jelas, hal ini adalah hal baru dan merupakan usaha sungguh-sungguh untuk memberdayakan masyarakat di daerah. Dengan mekanisme ini, masyarakat di daerah diharapkan lebih memiliki kepercayaan dan dukungan yang kuat kepada para pemimpinnya. Terutama kepada Gubernur, Bupati dan Walikota. Sebab dengan demikian, figur-figur tersebut mereka pilih sendiri dan mereka percaya untuk menyelenggarakan pemerintahan di lingkungan mereka sendiri. Harapannya, agar penyelenggaraan pemerintahan dapat memberikan hasil guna dan daya guna yang besar pada masa mendatang Berikut, UU Otonomi Daerah ini juga mengintrodusir kedekatan pemerintah dengan rakyat. Hal ini terkait dengan titik berat otonomi daerah diletakkan pada Kabupaten dan Kotamadya, bukan lagi pada Provinsi, seperti yang berlaku selama ini. Dengan demikian, diharapkan, pelayanan dan perlindungan yang diberikan kepada rakyat yang sebagian besar adalah kalangan UMKM dapat dilakukan secara cepat dan tepat. Yang harus diantisipasi, adanya kenyataan bahwa tidak semua kabupaten dan kotamadya memiliki potensi ekonomi dan sosial yang sama dan memiliki basis yang kuat. Sebab dengan adanya perbedaan potensi ini, akan sangat berpengaruh pada kinerja masing daerah otonom dalam memberikan pelayanan dan perlindungan. Undang-Undang otonomi daerah ini juga tidak menggunakan sistem otonomi yang bertingkat dan residual seperti yang dikenal dalam undangundang sebelumnya. Dalam undang-undang lama, diperlihatkan adanya daerah tingkat I di provinsi, daerah tingkat II di kabupaten dan kotamadya. Dalam sistem lama ini, daerah pada tingkat yang lebih rendah menyelenggarakan urusan yang sifatnya residual. Artinya, yang tidak diselenggarakan pemerintah daerah yang lebih tinggi. Pejabat pemerintah daerah yang lebih tinggi juga sekaligus merupakan atasan pejabat yang ada di daerah otonom yang lebih rendah. Sekarang, Gubernur Kepala Daerah tidak secara otomatis menjadi atasan para bupati dan walikota pada sebuah provinsi. Sementara itu, yang 71

78 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : menjadi kewenangan provinsi hanyalah menyelenggarakan urusan yang sifatnya lintas kabupaten dan lintas kota. Komitmen perubahan ini kemudian dipertegas dalam pasal 78 ayat 2 Undang undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah yang menyebut: penyerahan atau pelimpahan kewenangan Pemerintah Pusat kepada Gubernur atau penyerahan kewenangan atau Penugasan Pemerintah Pusat kepada Bupati/Walikota diikuti dengan pembiayaannya Perlu pula dicatat, undang-undang ini membuktikan bahwa cara lama telah ditinggalkan. Dengan adanya kebijakan otonomi daerah tersebut, diharapkan proses pemberdayaan koperasi dan UMKM yang selama ini sentralistik juga ikut terbawa proses desentralisasi sehingga kebijakan dan program-program yang dilaksanakan dapat disesuaikan dengan permasalahan dan lingkungan tumbuhnya di daerah. Dalam hal ini juga selama lebih dari 8 tahun era otonomi daerah, pemberdayaan koperasi di daerah tetap tidak banyak berubah, bahkan dalam beberapa kasus timbul masalah baru. Sebagai proses pembangunan yang dilaksanakan dalam kondisi lingkungan yang beragam dan dinamis, pemberian otonomi melahirkan dampak positif dan negatif Hasil inventarisasi masalah pemberdayaan koperasi dan UMKM memperlihatkan bahwa dalam era otonomi daerah tingkat keberhasilan pemberdayaan koperasi dan UMKM ternyata tidak lebih baik dibandingkan dengan era sentralisasi sebelumnya. Hal tersebut disebabkan banyak faktor antara lain beragamnya komitmen pemerintah daerah terhadap kepentingan pemberdayaan KUMKM, kurang tersedianya prasarana dan sarana pemberdayaan KUMKM di daerah, sedikitnya atau kurangnya personil yang bisa ditempatkan dalam instansi yang membidangi pemberdayaan KUMKM, serta terbatasnya dana yang dimiliki Pemerintah daerah untuk melaksanakan program-program pemberdayaan KUMKM. Secara lengkap masalah-masalah yang dihadapi dalam pemberdayaan KUMKM selama era otonomi daerah adalah sebagai berikut: 1. Otonomi daerah berimplikasi pada keragaman bentuk instansi yang membidangi KUMKM, yang tidak selalu sesuai dengan kebutuhan pemberdayaan KUMKM. 2. Pemerintah Daerah belum memiliki konsepsi yang jelas tentang arah kebijakan, pendekatan dan pola operasional pemberdayaan Koperasi dan UMKM. 72

79 PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DIKALANGAN UMKM DALAM ERA OTONOMI DAERAH (Teuku Syarif ) 3. Sistem organisasi pemerintahan belum memberikan gambaran yang jelas mengenai komitmen pemerintah daerah untuk mendukung program pemberdayaan KUMKM. 4. Keterlibatan Pemerintah daerah dalam beberapa kegiatan program masih sangat terbatas. 5. Program bimbingan dan penyuluhan perkoperasian di daerah belum dapat dilaksanakan dengan baik. 6. Untuk memperbesar PDB dan PAD Pemerintah daerah lebih mengutamakan pengelolaan sumberdaya dilakukan oleh kalangan usaha menengah dan usaha besar. 7. Kurangnya ketersediaan prasarana dan sarana ekonomi menyebabkan KUMKM tidak terdorong untuk mengembangkan usaha atau membuka usaha baru. 8. Pertumbuhan jumlah UMKM sangat cepat, tetapi belum diimbangi dengan penyediaan prasarana dan sarana yang dibutuhkan. 9. Penarikan bermacam-macam jenis retribusi oleh Pemda dan pungutan lain kepada usaha mikro dan usaha kecil sangat memberatkan. 10. Pemerintah daerah belum mampu mengaitkan program-program lokal, walaupun dengan otonomi daerah sebagian tugas pemerintah pusat dilimpahkan kepada pemerintah daerah. 11. Beberapa program nasional yang relatif berhasil belum dapat dikembangkan oleh daerah. 12. Pemerintah daerah belum menjadikan program penumbuhan unit usaha baru sebagai unsur pendukung utama pembangunan daerah. 13. Kualitas aparat instansi yang membidangi KUMKM di daerah umumnya masih kurang. 14. Tidak semua anggaran pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat dapat diserap dengan baik. 15. Ketidakmampuan aparat pelaksana pemberdayaan KUMKM dalam memanfaatkan serta mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran. 16. Pemerintah daerah masih kurang memperhatikan ketentuan jarak retail modern dengan retail tradisional. 73

80 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : III. PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DALAM ERA OTONOMI DAERAH Pelaksanaan otonomi daerah diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kewirausahaan dikalangan KUMKM. Beberapa kriteria kewirausahaan mengacu pada kondisi UMKM sukses seperti yang dikemukakan oleh (Timmon, Smollen & Dingee, 1985) adalah: 1. Memiliki kreatifitas yang melahirkan inovasi, sehingga mampu menciptakan nilai tambah. Semua UMKM yang sukses menggunakan bahan baku yang bernilai ekonomi rendah untuk diolah menjadi barangbarang yang bernilai ekonomi jauh lebih tinggi. Dari proses pengolahan tersebut terbentuk nilai tambah yang mendukung pendapatan (laba) UMKM. 2. Kemampuan melihat peluang usaha. UMKM mengetahui atau memahami sebelumnya tentang seluk beluk usaha yang akan dilaksanakan, pengetahuan tersebut didasarkan pada pengalaman dan kemampuan pelihat peluang usaha yang didukung oleh ketersediaan sumberdaya dan pasar. Pengetahuan tentang nilai ekonomi barang juga merupakan salah satu aspek yang mendukung keberhasilan usaha mereka, tetapi kurang tersedianya prasarana merupakan masalah yang menjadi kendala yang menghambat aplikasi jiwa inovatif dari kelompok UMKM lainnya. Beberapa prasarana yang dinilai kurang mendukung kemampuan inovatif dari kalangan UMKM adalah kurang tersedianya lembaga-lembaga pendukung, seperti lembaga penelitian, perbankan dan lembaga pemasaran. 3. Keberaniannya menanggung resiko kerugian, yang memungkinkan mereka bisa memperkirakan jenis dan besar resiko yang akan timbul, bila usahanya mengalami hambatan. Kondisi ini juga sangat berbahaya karena bila terjadi sesuatu masalah UMKM yang bersangkutan dapat terjebak dalam resiko kegagalan yang fatal. Secara agregat kemampuan UMKM dalam menghindari resiko kegagalan sudah cukup baik, tetapi sifat spekulasi dari kelompok ini tidak mendukung kemapanan usaha mereka, terlebih lagi dengan sering terjadinya perubahan permintaan pasar karena produk-produk yang dihasilkan adalah barang-barang tersisa yang permintaannya banyak dipengaruhi oleh kecenderungan model (trend/model) dan waktu. Kemampuan UMKM sukses untuk mempersiapkan solusi dalam rangka mengatasi resiko yang timbul dalam pelaksanaan usahanya juga relatif rendah, oleh sebab itu masih diperlukan masukan-masukan dari para stakeholder agar mereka bisa 74

81 PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DIKALANGAN UMKM DALAM ERA OTONOMI DAERAH (Teuku Syarif ) mempersiapkan solusi untuk keluar dari kegiatan usahanya jika terjadi resiko yang bersifat fatal. 4. Kemampuan manajerial yang menghasilkan efisiensi sumberdaya yang relatif. Dalam hal perencanaan atau kemampuan, UMKM dalam merencanakan kegiatan bisnisnya, yang diindikasikan dari sedikitnya kerugian yang pernah dialami oleh UMKM. Kemampuan ini nampaknya berkaitan dengan pengalaman UMKM dan pengetahuan UMKM tentang bisnis yang ditekuninya. Sama dengan kemampuan perencanaan, kemampuan UMKM dalam menata organisasi usaha berpengaruh nyata terhadap keberhasilan usaha UMKM, hal ini dikarenakan sistem organisasi usaha UMKM masih relatif kecil dengan SDM yang hanya bersumber dari lingkungannya (keluarga atau tetangga). Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pengawasan yang pengaruhnya signifikan terhadap keberhasilan usaha UMKM. Kurang berperannya faktor pengawasan dipengaruhi oleh asal tenaga kerja yang sebagian besar masih menggunakan tenaga kerja keluarga atau tetangga, serta skala usaha UMKM yang relatif kecil. Pemberdayaan UMKM pada hakekat bukan saja ditujukan mengikutsertakan kelompok ini agar dapat turut menikmati keberhasilan pembangunan, tetapi yang tidak kalah penting adalah memanfaatkan mereka secara lebih baik sebagai sumberdaya pembangunan yang sangat potensial. Seberapa besar UMKM akan diperankan dalam pembangunan sangat ditentukan oleh orientasi dalam penyusunan konsepsi dasar pembangunan itu sendiri. Konsepsi dasar pembangunan dalam berbagai bentuk kebijakan memang secara normatif selalu menyebutkan bahwa pemberdayaan UMKM merupakan bagian integral dalam pembangunan yang mendapat prioritas penting. Namun demikian sampai sekarang ini keberhasilan pemberdayaan UMKM masih dibatasi oleh berbagai kendala antara lain membaiknya kewirausahaan di kalangan UMKM. Beberapa masalah yang berkaitan dengan pengembangan kewirausahaan dikalangan UMKM dan diharapkan dapat diselesaikan dengan adanya otonomi daerah antara lain: 1. Pemberian Kesempatan Berusaha/Penjatahan Usaha UU Nomor 20 Tahun 2008 secara jelas telah merinci solusi untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengembangan peluang usaha UMKM, tetapi ada satu aspek penting yang mungkin belum dapat diselesaikan dengan UU ini yaitu masalah-masalah Penjatahan Usaha untuk UMKM. Masalah ini memang sudah ikut diatur dalam Undang- Undang tersebut pada pasal 7 ayat 1 butir huruf (f), yang menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah menumbuhkan Iklim usaha 75

82 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang meliputi aspek antara lain (huruf f) kesempatan berusaha. Ruang lingkup aspek yang dimaksud dalam pasal tersebut sangat luas dan berkaitan dengan kebijakan makro tentang semua pelaku usaha termasuk usaha besar dan kalangan lainnya, maka apa yang diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2008 tersebut patut dikhawatirkan tidak akan efektif. Pengaturan kesempatan usaha tersebut juga akan berkaitan langsung dengan kepentingan dunia usaha seperti para investor asing yang sengaja diundang untuk mendorong dunia usaha. Untuk itu maka masalah tersebut harus diatur secara terpisah dalam suatu Undang- Undang, yang mungkin dapat dikaitkan dengan Undang-Undang lainnya seperti Undang-Undang perlindungan usaha dan UU anti monopoli. Dalam konsepsi ekonomi berdasarkan tingkat kelayakan yang didasarkan pada skala usaha, bidang usaha dapat dibedakan dalam tiga kelompok yaitu: 1) bidang usaha yang hanya layak dilaksanakan dalam skala kecil, yang umumnya bersifat padat karya seperti pada beberapa komoditas pertanian dan industri kerajinan; 2) bidang usaha yang tidak dibatasi oleh skala usaha atau bidang usaha yang dapat dilakukan dalam skala kecil maupun skala besar seperti industri makanan, industri tekstil dan produk tekstil, perkebunan, perikanan, penggalian, angkutan dan lain-lain; 3) bidang usaha yang hanya dapat dilaksanakan oleh usaha besar terutama yang berorientasi padat modal seperti pertambangan dan industri besar. Untuk kelompok pertama dan ketiga tidak diperlukan adanya aturan khusus, karena kelompok usaha besar tidak berminat masuk kedalam usaha yang padat karya, sedangkan UMKM tidak akan mungkin untuk masuk ke bidang usaha yang padat modal. Sejalan dengan uraian di atas, maka yang perlu diatur adalah kelompok bidang usaha kedua, karena disini akan terjadi persaingan antara UMKM dengan usaha besar. Usaha besar karena permodalannya lebih kuat akan selalu unggul. Untuk memberikan kesempatan yang lebih luas bagi UMKM maka Pasal 7 ayat (1) huruf d) menetapkan bidang usaha yang dicadangkan untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, serta bidang usaha yang terbuka untuk Usaha Besar dengan syarat harus bekerja sama dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Lebih lanjut dalam pasal 13 ayat 1 huruf e, dijelaskan bahwa untuk melindungi bidang usaha tertentu yang strategis bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah bidang usaha tersebut diperuntukkan bagi usaha mikro dan kecil serta pada huruf f) dijelaskan bahwa usaha 76

83 PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DIKALANGAN UMKM DALAM ERA OTONOMI DAERAH (Teuku Syarif ) besar harus mengutamakan penggunaan produk yang dihasilkan oleh Usaha Mikro dan Kecil melalui pengadaan secara langsung; disamping mencadangkan bidang usaha untuk UMKM. Secara khusus pada pasal 7 ayat (1) huruf g) juga ditegaskan bahwa Pemerintah memprioritaskan pengadaan barang atau jasa dan pemborongan kerja Pemerintah dan Pemerintah Daerah; dan h) memberikan bantuan konsultasi hukum dan pembelaan. Makna dari ketentuan-ketentuan tersebut di atas adalah ditujukan agar UMKM tidak harus bersaing langsung dengan pengusaha besar dan bidang-bidang usaha tersebut tidak didominansi usaha besar. Namun demikian perlu diteliti lagi apakah ada Undang-Undang sebelumnya yang kemungkinan bisa dijadikan dasar hukum oleh para pengusaha besar untuk tetap dapat melaksanakan usaha pada bidang tersebut. Jika hal ini yang terjadi maka perlu dibuat aturan khusus dalam bentuk Undang-Undang sehingga sumberdaya yang ada di kalangan UMKM tidak terbuang percuma. Sayangnya sampai sekarang ini belum ada peraturan perundang-undangan yang secara rinci dan tegas untuk melindungi UMKM dari ekspansi kelompok usaha besar, walaupun peraturan semacam itu sudah diberlakukan dibanyak negara maju. 2. Kemudahan Mendapatkan Perizinan Perizinan untuk UMKM dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu: 1) formalisasi perusahaan UMKM dan 2) formalisasi kegiatan usaha yang dilakukan oleh UMKM. Formalisasi perusahaan adalah bentuk badan dari perusahaan yang dikelola oleh UMKM, seperti Usaha Dagang (UD), Perusahaan perorangan (CV), perusahan kongsi dari beberapa orang (Firma), dan Perseroan Terbatas (PT). Diantara berbagai bentuk Badan usaha tersebut PT merupakan bentuk badan usaha yang sekaligus juga merupakan bentuk badan hukum. Badan hukum lain yang paling efektif untuk mendukung pemberdayaan UMKM adalah koperasi. Bagi kelompok pengusaha mikro yang memiliki karakteristik modal sangat sedikit, kualitas SDM yang relatif rendah, ruang lingkup dan jaringan usaha yang terbatas, konsumen dan segmen pasar yang sudah tertentu (spesifik), serta jenis dan kegiatan usaha yang sangat mudah berganti (dinamis). Dengan karakter perusahaan dan usaha yang demikian, nampak sebagian besar UMK sulit untuk mendapatkan bentuk status badan usaha. Demikian juga dengan karakteristik tersebut kalangan pengusaha mikro agaknya belum dituntut untuk memiliki status badan usaha dan pada situasi tertentu kelompok pengusaha ini idealnya dapat menggunakan badan usaha koperasi. 77

84 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Berbeda dengan pemilikan Badan usaha, pemilikan legalitas perizinan usaha atas kegiatan yang dilakukan oleh UMKM sangat diperlukan karena bentuk perizinan ini merupakan legalitas kegiatan usaha yang dituntut oleh banyak pihak baik dalam proses produksi maupun pemasaran. Oleh sebab itu, dari hasil kajian yang dilakukan oleh Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM dan Koperasi tahun 2008, diketahui bahwa perizinan kegiatan usaha lebih sering dianggap sebagai bentuk formalisasi kegiatan usaha dari kelompok pengusaha mikro tersebut. Adanya perizinan atas kegiatan usaha juga sangat diperlukan oleh kelompok UMKM sendiri untuk: 1) untuk memperluas usaha atau mengembangkan jaringan usaha UMKM, 2) membangun kepercayaan mitra, calon mitra dan atau stakeholder, 3) menghilangkan ketidakjelasan status kegiatan usaha yang berdampak pada kemudahan kontrol yang dilakukan oleh kalangan stakeholder, menghindari dari adanya berbagai pungutan liar dan memberikan kesempatan bagi UMKM untuk mendapatkan insentif dari kalangan stakeholder dalam berbagai bentuk seperti fasilitasi kegiatan usaha, pendidikan, pelatihan dan pengembangan jaringan usaha. Izin kegiatan usaha merupakan suatu bentuk pengaturan (regulasi) yang diimplementasikan dalam bentuk kebijakan pengendalian dari pemerintah terhadap aktifitas individual yang secara langsung maupun tidak langsung menyangkut lingkungan fisik ekonomi dan sosial didaerahnya. Izin usaha selain diperlukan untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif (eksternalitas diseconomics), atas dilakukannya suatu kegiatan usaha yang mengeksploitasi lingkungan, juga diperlukan dalam rangka pembinaan untuk: 1) mempermudah masyarakat dalam mengakses sumber-sumberdaya produktif seperti bahan baku, modal, tenaga kerja, teknologi dan informasi dalam meningkatkan produksi dan produktifitas; 2) melindungi para pengusaha UMKM dari berbagai pungutan liar serta; 3) mendorong terbentuknya jaringan usaha dan atau pengembangkan jaringan usaha yang sudah ada. Kesulitan dalam mendapatkan perizinan dalam empat dasawarsa terakhir ini memang menjadi salah satu masalah besar yang dihadapi oleh kalangan UMKM. Perizinan menjadi sangat sulit karena jenisnya sangat banyak, biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkannya juga cukup besar, serta persyaratan dan birokrasi untuk mendapatkannya sangat sulit untuk ukuran UMKM, khususnya bagi para pengusaha mikro. Untuk mengatasi masalah tersebut dalam UU Nomor 20 Tahun 2008 dalam pasal 12 (1) Aspek perizinan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf e ditujukan untuk: 1) menyederhanakan 78

85 PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DIKALANGAN UMKM DALAM ERA OTONOMI DAERAH (Teuku Syarif ) tata cara dan jenis perizinan usaha dengan sistem pelayanan terpadu satu pintu dan 2) membebaskan biaya perizinan bagi Usaha Mikro dan memberikan keringanan biaya perizinan bagi Usaha Kecil. Lebih lanjut dalam butir (2) dinyatakan bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara permohonan izin usaha diatur dengan Peraturan Pemerintah. Kepentingan UMKM untuk mendapatkan formalitas usaha dalam menghadapi era globalisasi terkait langsung dengan tuntutan persaingan bebas yaitu produktifitas dan daya saing. Untuk tujuan tersebut UMKM harus dapat meningkatkan efisiensi yang salah satunya adalah dengan memperluas jaringan usaha. Jaringan usaha dan kemitraan akan lebih mudah diwujudkan dengan adanya formalisasi baik berupa perizinan usaha dan legalitas badan usaha. Oleh sebab itu masalah perizinan usaha nampaknya menjadi faktor yang lebih penting yang harus diselesaikan oleh kalangan UMKM yang juga harus didukung sepenuhnya oleh komitmen pemerintah. Untuk kasus kesulitan pemilikan badan usaha, memang para anggota yang tergolong pengusaha mikro belum layak untuk memiliki badan hukum sendiri, oleh sebab mereka dapat memanfaatkan badan hukum koperasi. Dalam konsepsi ideal yang sesuai dengan prinsipprinsip dasar koperasi, para anggota koperasi yang sebagian besar adalah UKM bergabung dengan koperasi melalui pemanfaatan koperasi untuk mendukung usaha mereka. Dari adanya kerjasama tersebut akan terbangun sinerji untuk menghadapi berbagai permasalahan lingkungan yang dihadapi oleh kalangan UMKM dan koperasi, yang selanjutnya akan dapat dimanfaatkan oleh koperasi untuk menghadapi hambatanhambatan dari luar terutama yang bersifat externality disecomiecs. Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi efektifitas program satu pintu antara lain: 1) tujuan dan pendekatan sistem perizinan, 2) bentuk instansi dan organisasi, perizinan, 3) kedudukan instansi tersebut dalam struktur organisasi Pemerintah daerah, 4) peraturan perizinan dan pola pelaksanaan pemberian perizinan yang menyangkut prosedur dan tata cara pemberian perizinan, 5) biaya dan pembatasan waktu proses mendapatkan perizinan, 6) sosialisasi perizinan dikalangan UMKM dan para stakeholder serta 7) insentif bagi kalangan UMKM yang telah mendapatkan perizinan. Disamping itu walaupun pada prinsipnya tujuan program tersebut adalah sama, tetapi dalam operasionalisasinya di lapang ada beberapa perbedaan baik dari aspek pendekatan pola pelaksanaan maupun bentuk instansi pelaksananya, sehingga diduga 79

86 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : tingkat pencapaian keberhasilannya antar tiap bentuk Program Pelayanan Perijinan satu Pintu juga berbeda. 3. Kepastian Tempat Usaha Aspek ketiga yang menentukan pengembangan peluang usaha UMKM adalah kepastian tempat usaha. Untuk mendukung kepastian tempat usaha bagi UMKM, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 dalam pasal 7 ayat (1) menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah menumbuhkan iklim usaha dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang meliputi aspek antara lain (huruf d) kepastian tempat usaha. Lebih lanjut dalam pasal 13 ayat (1) dijelaskan bahwa aspek kesempatan berusaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf f ditujukan untuk menentukan peruntukan tempat usaha yang meliputi pemberian lokasi di pasar, ruang pertokoan, lokasi sentra industri, lokasi pertanian rakyat, lokasi pertambangan rakyat, lokasi yang wajar bagi pedagang kaki lima, serta lokasi lainnya. UU Nomor 20 Tahun 2008 mengisyaratkan kepada pemerintah terutama Pemerintah daerah agar pemberian kepastian tempat usaha bagi UMKM khususnya bagi pengusaha mikro dan kecil dijadikan salah satu faktor pertimbangan dalam penyusunan tata ruang daerah. Untuk tujuan tersebut idealnya semua pemerintah daerah mengalokasikan tempat yang sesuai untuk berusaha bagi para pengusaha mikro dan pengusaha kecil, tetapi yang sering menimbulkan masalah adalah tempat usaha bagi para pedagang ritel terutama pedagang kaki lima. Dalam hal ini pemerintah daerah memang juga perlu memperhatikan keindahan daerah/kota, oleh sebab itu jika terjadi masalah yang berkaitan dengan kepastian tempat bagi PKL tersebut hendaknya pemerintah daerah mengambil kebijakan tidak saja dari aspek manusiawi, tetapi juga dari aspek kepentingan UMKM dalam mendukung perekonomian daerah. Bentuk kebijakan yang ditetapkan bisa dengan merelokasikan tempat usaha bagi PKL ketempat yang sesuai dengan karakter usaha mereka atau menata tempat usaha PKL sehingga tidak mengganggu ketertiban dan keindahan. Untuk tujuan ini juga UU Nomor 20 Tahun 2008 dalam pasal 13 ayat 1 butir huruf b juga menjelaskan tentang penetapan alokasi waktu berusaha untuk Usaha Mikro dan Kecil di subsektor perdagangan retail. Lebih lanjut dalam butir (2) dinyatakan bahwa pelaksanaan ketentuan sebagai mana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pengawasan dan pengendalian oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Adanya 80

87 PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DIKALANGAN UMKM DALAM ERA OTONOMI DAERAH (Teuku Syarif ) peraturan yang jelas tentang tempat usaha UMKM ini dapat ideal dijadikan sebagai dasar hukum bagi UMKM khususnya pedagang kaki lima untuk terhindar dari berbagai kebijakan pemerintah daerah yang dibanyak tempat kurang memberikan kesempatan berusaha bagi mereka dengan alasan mengganggu ketertiban umum dan keindahan. Namun demikian sejauhmana peraturan tersebut dapat diimplementasikan belum dapat diprediksi karena tata ruang daerah mutlak menjadi kewenangan pemerintah, sedangkan tiap pemerintah daerah nampaknya masih memiliki persepsi yang berbeda tentang kepentingan pemberdayaan UMKM dalam mendukung pembangunan daerahnya. 4. Pengembangan Kemitraan Unsur yang secara langsung berkaitan pembukaan peluang usaha yang lebih besar untuk UMKM ini, diatur dalam Pasal 11 UU Nomor 20 Tahun 2008 yang menetapkan bahwa aspek kemitraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf d ditujukan untuk: 1) mewujudkan kemitraan antar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah; 2) mewujudkan kemitraan antara Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Usaha Besar; 3) mendorong terjadinya hubungan yang saling menguntungkan dalam pelaksanaan transaksi usaha antar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah; 4) mendorong terjadinya hubungan yang saling menguntungkan dalam pelaksanaan transaksi usaha antara Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Usaha Besar; 5) mengembangkan kerjasama untuk meningkatkan posisi tawar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah; 6) mendorong terbentuknya struktur pasar yang menjamin tumbuhnya persaingan usaha yang sehat dan melindungi konsumen dan mencegah terjadinya penguasaan pasar dan pemusatan usaha oleh perorangan atau kelompok tertentu yang merugikan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Tujuan dan pola kemitraan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tersebut diatas memang sangat idealis dan memberikan harapan besar bagi UMKM maupun calon-calon pengusaha UMKM untuk dapat membangun usaha baru yang sangat menjanjikan. Namun demikian ketentuan UMKM juga jangan terlalu berharap banyak dari Undang-Undang tersebut karena masalah kemitraan adalah masalah ekonomi yang sangat bergantungan pada kepentingan ekonomi dari masing-masing pihak yang bermitra. Kemitraan hanya akan terjadi jika dan hanya jika dua komponen yang akan bermitra mempunyai bentuk saling ketergantungan atau interdependensi. Kemitraan juga baru akan efektif jika dilakukan antara dua unsur yang memiliki bargaining yang sama. Kemitraan yang dibangun antara dua komponen yang memiliki 81

88 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : perbedaan bargaining akan menyebabkan terjadinya eksploitasi dari komponen yang mempunyai bargaining yang lebih kuat, terhadap mitranya yang bargainingnya lemah. Dalam hal ini Sweezi 1981 (dalam Nasution 1991) mengatakan jika dalam suatu sistem terdiri dari komponen-komponen sistem dengan bargaining yang berbeda maka, semua inefisiensi yang terjadi dalam sistem tersebut akan ditanggung oleh komponen sistem yang terlemah. IV. KESIMPULAN DAN SARAN UU Nomor 22 Tahun 2002 tentang Otonomi Daerah diharapkan dapat menjadi bahan acuan yang kondusif dalam menyusun program-program pemberdayaan koperasi dan UMKM yang tidak lagi sentralistik. Peluang pemberdayaan UMKM ini semakin diperbesar dengan diterbitkannya UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Usaha Menengah yang secara jelas merinci solusi untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengembangan peluang usaha UMKM. Ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam UU tersebut, memungkinkan UMKM tidak harus bersaing langsung dengan pengusaha besar. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa ada Undang-Undang sebelumnya yang kemungkinan bisa dijadikan dasar hukum oleh para pengusaha besar untuk tetap dapat melaksanakan usaha pada bidang usaha yang dapat bertabrakan dengan UU tersebut. Sayangnya sampai sekarang ini belum ada peraturan perundang-undangan yang secara rinci dan tegas untuk melindungi UMKM dari ekspansi kelompok usaha besar walaupun peraturan semacam itu sudah diberlakukan di banyak negara maju. Walau bagaimanapun kedua UU tersebut merupakan aset baru bagi kalangan KUMKM yang perannya perlu dioptimalkan. Aspek pertama yang perlu diperhatikan dari adanya kedua UU tersebut adalah kemudahan pemberian perizinan kepada KUMKM. Memang bagi kelompok pengusaha mikro dan kecil yang bergerak pada lapangan usaha tertentu seperti disektor pertanian dan sektor informal perizinan tidak mutlak diperlukan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2008 juga menginformasikan bahwa bagi Koperasi dan UMKM yang bergerak di sektor-sektor lainnya ternyata perizinan belum banyak berdampak positif dalam mendukung peningkatan akses terhadap sumber-sumber daya produktif. Kepentingan UMKM untuk mendapatkan formalitas usaha dalam menghadapi era globalisasi terkait langsung dengan tuntutan persaingan bebas yaitu produktifitas dan daya saing. Untuk tujuan tersebut UMKM harus dapat meningkatkan efisiensi yang salah satunya adalah dengan memperluas 82

89 PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DIKALANGAN UMKM DALAM ERA OTONOMI DAERAH (Teuku Syarif ) jaringan usaha. Jaringan usaha dan kemitraan akan lebih mudah diwujudkan dengan adanya formalisasi baik berupa perizinan usaha dan legalitas badan usaha. Oleh sebab itu masalah perizinan usaha nampaknya menjadi faktor yang lebih penting yang harus diselesaikan oleh kalangan UMKM yang juga harus didukung sepenuhnya oleh komitmen pemerintah. Untuk kasus kesulitan pemilikan badan usaha, memang para anggota yang tergolong pengusaha mkro belum layak untuk memiliki badan hukum sendiri, oleh sebab mereka dapat memanfaatkan badan hukum koperasi. Dalam konsepsi ideal yang sesuai dengan dengan prinsip-prinsip dasar koperasi, para anggota koperasi yang sebagian besar adalah UKM bergabung dengan koperasi melalui pemanfaatan koperasi untuk mendukung usaha mereka. Dari adanya kerjasama tersebut akan terbangun sinerji untuk menghadapi berbagai permasalahan lingkungan yang dihadapi oleh kalangan UMKM dan koperasi, yang selanjutnya akan dapat dimanfaatkan oleh koperasi untuk menghadapi hambatan-hambatan dari luar. Berikutnya era otonomi daerah juga diharapkan mampu mendukung pengembangan peluang usaha UMKM,terutama dari aspek pemberian kepastian tempat usaha. Pemda selayaknya menetapkan lokasi usaha UMKM sebagai salah satu faktor pertimbangan dalam penyusunan tata ruang daerah. Untuk tujuan tersebut idealnya semua pemerintah daerah mengalokasikan tempat yang sesuai untuk berusaha bagi para pengusaha mikro dan pengusaha kecil, tetapi yang sering menimbulkan masalah adalah tempat usaha bagi para pedagang ritel terutama pedagang kaki lima. Dalam hal ini pemerintah daerah memang juga perlu memperhatikan keindahan daerah/kota, oleh sebab itu jika terjadi masalah yang berkaitan dengan kepastian tempat bagi PKL tersebut hendaknya pemerintah daerah mengambil kebijakan tidak saja dari aspek manusiawi, tetapi juga dari aspek kepentingan UMKM dalam mendukung perekonomian daerah. DAFTAR PUSTAKA Anonimous Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian. Departemen Koperasi, Ditjen Bina Lembaga Koperasi, Jakarta. Anonimous The Asia Foundation, 1999, Small and Medium Entreprise Development, Jakarta. Anonimous Policy Reform for Increasing Small and Medium Enterprise Gowth. Study Report. Support by The Asia Foundation and PEG-USAID. 83

90 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Anonimous Medium Enterprise Dynamics : The Barriers Constraining on TheDevelopment of Medium-Size Enterprises. Study Report. Supported by The Asia Foundation. Anonimous Pedoman Pengembangan Kewirausahaan, Basic Penumbuhan Wirausaha Baru, Kementerian Koperasi dan UKM, Deputi Bidang Pengembangan Sumberdaya, Jakarta. Anonimous Kajian Model Penumbuhan Unit Usaha Baru, Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK, Jakarta Anonimous Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Kecil Departemen Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil, Ditjen Pembinaan Koperasi Perkotaan, Jakarta. Berry, Sandee and Rodriguez Small and Medium Enterprise Dynamics In Indonesia. Bulletin of Indonesian Economic Studies, Vol.37, No.3, Clotilde Fonseca, Life-Long Learning in the Knowledge-based Economy: Promises & Challenges, Omar Dengo Foundation, Costa Rica, May Entrepreneurship & Small Business Problem Solving, 2nd ed., Singapore: John Willey & Son. Just.R.E, Hueth.D.L, and Schmit. A Applied Welfare Economics and Public Policy. Prentice-Hall, Inc., USA. McGrath, Rita Gunther, Ian C. MacMillan, Sari Scheinberg Elitist, Risktakers, and Rugged Individualsts? An Explatory Analysis of Cultural Dofferences Between Antrepreneurs and Non-Entrepreneurs. Journal of Business Venturing, 7(2). McGrath, Rita Gunther, Ian C. MacMillan, Elena Ai Yuan Yang, dan William Chai, Does Culture Endure, or Is It Malleable? Issues for Entrepreneurial Economic Development. Journal of Business Venturing, 7(6). Michael, H. Morris, Ramon A. Avila, Jeffrey Allen Individualism and The Modern Corporation: Implications for Innovation and Entrepreneurship, Journal of Management, 19(3). Schumpeter The Theory of Economic Development, Cambridge, M.A. Harvard University. Siu, Wai-sum dan Martin, Robert G. Studies; Entrepreneurs; Behavioral Sciences; Business Conditions; Culture; Business Growth; Psikological Aspects; Social Psichology dalam Long Range Planning Vol: 25 Iss: 6. 84

91 PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DIKALANGAN UMKM DALAM ERA OTONOMI DAERAH (Teuku Syarif ) Soetrisno, Noer Kewirausahaan Dalam Pengembangan UKM di Indonesia. Ekonomi Kerakyatan Dalam Kancah Globalisasi. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Timmon, Smollen & Dingee, An interpreunership sucseded. American Journal of Small Business. Vol 6 (2). W.B. Gartner, J.W. Carland, F. Hoy, and J.O.C. Carland Who Is An Entrepreneur? Is The Wrong Question; Whi Is An Entrepreneur? Is A Question of Worth Asking. American Journal of Small Business. 12(4). W.J. Baumol Entrepreneurship in Economic Theory, The American Economic Review, 58(2) 85

92 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : DAMPAK PENERAPAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG UMKM TERHADAP PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN BAGI UMKM*) Saudin Sijabat**) Abstrak Diterbitkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM adalah agar pelaku usaha mempunyai landasan hukum yang pasti untuk mendapat kesempatan berusaha, dukungan, perlindungan, dan pengembangan usaha, sehingga mampu meningkatkan kedudukan, peran, dan potensi UMKM dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan, dan peningkatan pendapatan rakyat, penciptaan lapangan kerja, dan pengentasan rakyat dari kemiskinan. Walaupun UMKM sudah menunjukkan peranannya dalam perekonomian nasional, tetapi mereka masih tetap banyak menghadapi hambatan dan kendala baik yang bersifat internal maupun eksternal, terutama dalam karakter kewirausahaan. Masalah dan hambatan lainnya adalah dalam hal iklim usaha, produksi dan pengolahan, pemasaran, sumber daya manusia, desain dan teknologi dan permodalan. Kelemahan kewirausahaan di kalangan UMKM, yaitu dalam hal karakter karena: 1) belum memiliki daya kreativitas dan inovasi yang kuat; 2) kurang mampu melihat adanya peluang usaha dari ketersediaan sumberdaya pada suatu daerah dan waktu tertentu; 3) belum mempunyai kemampuan manajerial yang tinggi; 4) kurang menguasai pengetahuan teknis tentang bisnis secara mendalam dan 5) belum berani menanggung resiko kegagalan dari usaha yang dilaksanakan. Untuk meningkatkan karakter kewirausahaan di kalangan UMKM perlu dilakukan pendidikan, pelatihan, dan pendampingan agar tumbuh produktivitas dan daya saing dalam diri mereka. Kata kunci: UMKM, Kewirausahaan, Perdagangan Bebas, produsen dan produk Abstract The issuance of Act No. 20 of 2008 on UMKM for business has a definite legal basis for opportunities, support, protection, and business development, in order to improve the status, role and potential of UMKM in achieving economic growth, equity, and increase public revenues, job creation, and alleviation communities from poverty. Although SMEs have shown their role in the national economy, but there are many obstacles and constraints faced by both internal and external factors *) Artikel diterima 7 April 2011, peer review Mei 2011 review akhir 14 Juni 2011 **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK 86

93 DAMPAK PENERAPAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG UMKM TERHADAP PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN BAGI UMKM (Saudin Sijabat) especially in the entrepreneurial character. Other problems also arise from business environment, production and processing, marketing, human resources, design, technology, and capital. Weaknesses of entrepreneurship among SMEs are based on character, caused by: 1) lack of creativity and strong innovation, 2) unability to see business opportunity from the resources availability in particular region and time, 3) weak managerials shells, 4) lack of technical knowledge in terms of business and 5) unwillingness to take risk of business failure. In order to improve the entrepreneurships among SMEs, the government should deliver education, training, and mentoring to enhance their productivity and internal competitiveness. Keywords: MSME, entrepreneurship, free trade, producer, and product I. PENDAHULUAN Pemberlakuan ACFTA sejak 1 Januari 2010, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengusaha Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM), terutama karena membanjirnya produk Cina yang dinilai akan mengancam produk UMKM baik lokal maupun di pasar internasional. Kecemasan tersebut cukup beralasan karena implementasi kesepakatan ACFTA berpotensi memangkas pangsa pasar produk lokal yang sebagian diproduksi oleh UMKM. Hal tersebut dimungkinkan karena produk-produk Cina untuk kualitas yang sama harganya bisa lebih murah dari produk lokal. Dengan berlakunya perjanjian ACFTA maka bea masuk produk Cina dikurangi bahkan dihapuskan (0%). Ironisnya dalam data BPS tahun 2010 terindikasi bahwa barang-barang Cina yang mengalir deras masuk ke pasar Indonesia, menjadi sumber utama bagi importir Indonesia. Nilai impor produk Cina tahun 2009 mencapai 17,2% dari total impor non migas Indonesia. Sebaliknya, impor Cina dari Indonesia hanya 8,7% dari total impor non migas. Di sini terlihat bahwa penetrasi barangbarang Cina ke pasaran Indonesia jauh lebih gencar ketimbang sebaliknya barang Indonesia yang masuk ke Cina. Dalam hal ini sangatlah wajar apabila dunia usaha nasional khawatir dengan diberlakukannya ACFTA, demikian pula Kementerian Koperasi dan UKM yang mempunyai tugas dan fungsi membina UMKM. Berdasarkan data BPS tahun 2010 jumlah UMKM 99,9% dari jumlah usaha nasional, merupakan katup pengaman ekonomi nasional, dan penyerap tenaga kerja terbesar. Dengan semakin besar masuknya produk Cina sangat berpengaruh kepada UMKM, karena produsen di dalam negeri sebagian besar adalah UMKM. UMKM semakin berat untuk bersaing karena kurang mendapat dukungan dari pemerintah, bahkan sebaliknya mereka banyak dikenakan pungutan-pungutan baik yang resmi maupun yang tidak resmi. Akibatnya ekonomi biaya tinggi 87

94 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : semakin mengurangi daya saing dikalangan UMKM. Kondisi seperti itu tidak sejalan dengan hakekat perjanjian ACFTA yaitu terbukanya pasar bersama bagi para pelaku usaha di dalam satu kawasan tertentu, untuk menciptakan persaingan yang mendorong efisiensi usaha. Daya saing produk lokal tidak terlepas dari kondisi usaha para produsen di dalam negeri yang sebagian besar adalah UMKM. Sebelum dilaksanakannya ACFTA, UMKM sudah menghadapi banyak masalah baik internal maupun lingkungannya. Masalah internal UMKM terutama berkaitan dengan rendahnya rata-rata pemilikan aset dan karakter kewirausahaan. Kedua masalah internal tersebut sangat terkait erat tetapi penyelesaiannya masih dilakukan secara parsial dengan menitikberatkan pada peningkatan aset melalui program perkreditan. Pendekatan dan cara penyelesaian tersebut kurang efektif karena akar permasalahan yang sebenarnya terletak pada kelemahan kewirausahaan UMKM, Lemahnya kewirausahaan UMKM dan kurangnya programprogram pengembangan kewirausahaan serta prasarana pendukung dalam pengembangan UMKM ini sudah disadari sejak lama. Berbagai kebijakan pendukung telah diimplementasikan dalam pendukung UMKM seperti program penyuluhan, pendidikan dan pelatihan serta program inkubator bisnis dan penumbuhan sarjana wirausaha. Namun kenyataannya sampai sekarang ini masih rendah karakter kewirausahaan dikalangan UMKM. Untuk mengantisipasi kelemahan UMKM tersebut pemerintah juga merasa perlu untuk mengupayakan peningkatan kewirausahaan dikalangan UMKM. Upaya tersebut diantaranya telah dituangkan dibeberapa pasal dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM. Dukungan apa saja yang berkaitan dengan peningkatan kewirausahaan dikalangan UMKM, dan seberapa jauh pesan konstitusional tersebut telah dioperasionalkan dalam kebijakan dan program-program pendukung peningkatan kewirausahaan dikalangan UMKM merupakan fokus bahasan dalam tulisan ini. II. KEWIRAUSAHAAN DI KALANGAN UMKM Kualitas SDM yang baik merupakan modal dasar bagi pengembangan kewirausahaan. Salah satu indikator kualitas tersebut dapat dilihat dari kemampuan melakukan efisiensi. Karakter kewirausahaan seseorang merupakan dampak dari: 1) faktor eksternal (pendidikan, pelatihan dan pengalaman serta kesempatan dan 2) faktor internal (bakat, kemampuan yang sangat kuat untuk maju/semangat juang yang tinggi). Salah satu faktor eksternal tersebut adalah kesempatan dan dukungan dari pemerintah melalui kebijakan perundang-undangan. 88

95 DAMPAK PENERAPAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG UMKM TERHADAP PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN BAGI UMKM (Saudin Sijabat) Prinsip dan Tujuan Pemberdayaan UMKM ditetapkan pada Bab III, pasal (4) dan pasal (5) UU Nomor 20 Tahun 2008, yang menjelaskan sebagai berikut; Pasal (4) Prinsip Pemberdayaan UMKM meliputi: 1) penumbuhan kemandirian, kebersamaan, dan kewirausahaan UMKM untuk berkarya dengan prakarsa sendiri; 2) perwujudan kebijakan publik yang transparan, akuntabel, dan berkeadilan; 3) pengembangan usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar sesuai dengan kompetensi UMKM; 4) peningkatan daya saing UMKM dan 5) penyelenggaraan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian secara terpadu. Kemudian pasal (5) Tujuan Pemberdayaan UMKM mencakup: 1) mewujudkan struktur perekonomian nasional yang seimbang, berkembang, dan berkeadilan; 2) menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan UMKM menjadi usaha yang tangguh dan mandiri dan 3) meningkatkan peran UMKM dalam pembangunan daerah, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pendapatan, pertumbuhan ekonomi, dan pengentasan rakyat dari kemiskinan. Pemberdayaan UMKM yang merupakan solusi terbaik untuk mengoptimalkan potensi sumberdaya nasional, sesuai amanat pasal (4) dan pasal (5) UU Nomor 20 Tahun Namun demikian menjadikan UMKM sebagai basis pembangunan daerah yang sekaligus mendukung keberhasilan pembangunan nasional masih dihadapkan pada banyak masalah antara lain: 1) rendahnya produktifitas UMKM yang berdampak pada timbulnya kesenjangan antara UMKM dengan usaha besar; 2) terbatasnya akses UMKM kepada sumberdaya produktif seperti permodalan, teknologi, informasi dan pasar; 3) tidak kondusifnya iklim usaha yang dihadapi oleh UMKM, sehingga terjadi marjinalisasi dari kelompok ini. Syarif (2007) berpendapat bahwa sebagian besar UMKM melaksanakan usaha bukan karena memiliki kemampuan dalam suatu kegiatan bisnis, tetapi hanya karena terdesak oleh kelangkaan lapangan kerja dan atau ikut-ikutan. Dengan demikian motivasi untuk melaksanakan kegiatan usaha bukan karena melihat potensi usaha tetapi hanya melihat keuntungan usaha dari orang. Hal yang seperti ini sangat berbahaya karena bidang usaha tersebut biasanya semakin cepat jenuh dan tidak bisa diharapkan lagi akan memberikan keuntungan yang signifikan. Meskipun UMKM mempunyai peranan penting dalam perekonomian nasional, namun tetap menghadapi berbagai hambatan dan kendala, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Hasil pengamatan di lapangan terlihat bahwa UMKM menghadapi berbagai masalah yang menghambat pengembangan kewirausahaan UMKM, antara lain: 89

96 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Keterbatasaan Penguasaan Sumberdaya Potensial Pada umumnya penguasaan sumberdaya oleh UMKM, baik lahan maupun modal relatif sangat rendah. Pemerintah telah membantu peningkatan modal UMKM melalui program perkreditan dan program pembiayaan produktif. Namun belum ada kebijakan yang mengarah pada pemerataan pemilikan lahan. Kondisi ini menyebabkan sebagian besar UMKM tidak memiliki lahan yang memadai, atau tidak mencapai skala usaha optimal. Oleh sebab itu, produktifitas petani masih relatif rendah. Diketahui bahwa lebih dari 40% UMKM terutama pengusaha mikro dan kecil adalah mereka yang bergerak di sektor pertanian dan perkebunan. Dalam penguasaan sumberdaya modal, Pasal (23) Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2008 ayat (1) menyatakan bahwa untuk meningkatkan akses usaha mikro dan kecil terhadap sumber pembiayaan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal (22), pemerintah dan pemerintah daerah: 1) menumbuhkan, mengembangkan, dan memperluas jaringan lembaga keuangan bukan bank; 2) menumbuhkan, mengembangkan, dan memperluas jangkauan lembaga penjamin kredit dan 3) memberikan kemudahan dan fasilitasi dalam memenuhi persyaratan untuk memperoleh pembiayaan. Ayat (2) Dunia usaha dan masyarakat berperan serta secara aktif meningkatkan akses usaha mikro dan kecil terhadap pinjaman atau kredit. Komitmen yang kuat dari pemerintah melalui pinjaman modal dijadikan dasar pemikiran pemerintah untuk menerbitkan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2008 khususnya pasal 22 dan pasal 23 untuk melaksanakan penguatan permodalan. Sayangnya belum terlihat nyata pengaruh intervensi pemerintah. Hal ini diduga dikarenakan sangat kecilnya dana pemerintah yang disalurkan dibandingkan dengan besarnya jumlah koperasi dan UMKM yang membutuhkannya. Biaya modal di Indonesia tergolong sangat mahal. Sebagai gambaran adalah bahwa suku bunga kredit usaha mikro di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga. Bunga kredit di Indonesia 14-16% per tahun, sementara Malaysia 4,8%, Cina sekitar 6%, dan Singapura 5%*). *) Koran Kompas, Biaya Modal Jadi Titik Lemah, 9 April

97 DAMPAK PENERAPAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG UMKM TERHADAP PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN BAGI UMKM (Saudin Sijabat) 2. Pengembangan Teknologi Pengembangan teknologi UMKM dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain kemampuan SDM untuk mengembangkan teknologi, ketersediaan modal untuk pengadaan teknologi, peranan lembagalembaga penelitian dalam mendukung pengembangan teknologi. Dari aspek pengembangan teknologi dan inovasi di bidang produksi kelompok usaha mikro dan usaha kecil selama dua dekade terakhir juga tidak menunjukkan perkembangan yang berarti. Rendahnya tingkat pengembangan teknologi nampaknya berkorelasi dengan kemampuan dalam mengembangkan pasar dan membangun jaringan usaha. Berbeda dengan kondisi usaha menengah, yang tingkat pendidikannya lebih tinggi yaitu mencapai rata-rata indeks atau setingkat sarjana muda, dan pengalaman berusaha mencapai 8,4 tahun. Pasal 20 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 menyatakan bahwa Pengembangan dalam bidang desain dan teknologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf d dilakukan dengan cara: 1) meningkatkan kemampuan di bidang desain dan teknologi serta pengendalian mutu; 2) meningkatkan kerjasama dan alih teknologi; 3) meningkatkan kemampuan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di bidang penelitian untuk mengembangkan desain dan teknologi baru; 4) memberikan insentif kepada UMKM yang mengembangkan teknologi dan melestarikan lingkungan hidup, dan 5) mendorong UMKM untuk memperoleh sertifikasi hak atas kekayaan intelektual. Secara tegas pasal 20 ini, menginginkan agar kelemahan UMKM terkait rendahnya desain dan teknologi dapat diatasi melalui peningkatan kemampuan skill dan teknologi, agar produk UMKM dapat bersaing dengan produk impor dan produk usaha besar. Dengan demikian, pengendalian mutu dan penerapan standarisasi dalam proses produksi dan meningkatkan kemampuan rancang bangun dan rekayasa UMKM dapat dilakukan dengan baik. Pasal tersebut tentunya akan dapat membangun spesifikasi tugas dan tanggung jawab dalam pengembangan teknologi, sehingga sinkronisasi program-program yang dilaksanakan dapat berjalan dengan baik dan efisien. 3. Pemasaran Kekhawatiran terhadap kemampuan Koperasi dan UMKM (KUMKM) dalam menghadapi perdagangan bebas memang cukup beralasan, jika menilai kemampuan KUMKM hanya dari aspek efisiensi. Sesungguhnya bila diamati secara lebih cermat, efisiensi 91

98 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : merupakan unsur penting dalam mengembangkan kemampuan pemasaran, walaupun diakui masih ada unsur lain yang lebih dominan, misalnya kemampuan bersaing koperasi dan UMKM dalam pasar yang dibangun. Implikasinya KUMKM kurang mampu menguasai pasar dengan diberlakukannya perdagangan bebas, karena dipengaruhi kemampuan mengembangkan informasi. Pada Pasal 18 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 menegaskan bahwa pengembangan bidang pemasaran, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf b dilakukan dengan cara: 1) melaksanakan penelitian dan pengkajian pemasaran; 2) menyebarluaskan informasi pasar; 3) meningkatkan kemampuan manajemen dan teknik pemasaran; 4) menyediakan sarana pemasaran yang meliputi penyelenggaraan uji coba pasar, lembaga pemasaran, penyediaan rumah dagang, dan promosi Usaha Mikro dan Kecil (UMK); 5) memberikan dukungan promosi produk, jaringan pemasaran, dan distribusi dan 6) menyediakan tenaga konsultan profesional dalam bidang pemasaran. Penelitian dan pengkajian pemasaran dalam penjelasan pasal 18 dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah meliputi kegiatan pemetaan potensi dan kekuatan UMKM yang ditujukan untuk menetapkan kebijakan pemerintah dan pemerintah daerah guna pengembangan usaha serta perluasan dan pembukaan usaha baru. Namun amanah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 ini, belum terlaksana dengan baik karena kurang sosialisasi dan belum ada komitmen yang kuat dari pemerintah pusat dan daerah, sehingga para pembina, pengamat, pengusaha besar, dan UMKM kurang mengetahui hak dan kewajiban masing-masing. Implikasinya UMKM melakukan usahanya belum mendapat keberpihakan dari pemerintah, pengembangan produk belum dapat memenuhi permintaan pasar, skala usaha kecil, dan pangsa pasar masih terbatas. Inovasi dan variasi pemasaran yang berkembang dalam bisnis retail dewasa ini adalah jaringan bisnis retail, yang dinamakan sebagai retail networking. Pola ini disetting untuk saling berhubungan satu dengan yang lain, dan salah satu dari jaringan dijadikan sebagai pusat pengendali. Penerapan teknologi informasi pada retail networking dapat meningkatkan daya saing dan distribusi barang yang besar. Dengan menghubungkan setiap cabang dalam retail networking ini, minimal ada dua hal penting yang dapat ditinjau. Pertama pada kecepatan dan 92

99 DAMPAK PENERAPAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG UMKM TERHADAP PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN BAGI UMKM (Saudin Sijabat) ketepatan informasi untuk pelayanan kepada konsumen, dan yang kedua pengendalian stock. Inovasi pemasaran ini, merupakan rekayasa kewirausahaan yang dapat dikembangkan UMKM untuk memasarkan produknya. III. PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN UMKM MENGHADAPI PERDAGANGAN BEBAS Jika berbicara tentang perdagangan bebas pada umumnya pertanyaan yang sering mengemuka adalah apakah Indonesia akan mampu meningkatkan ekspor atau menjadi pasar produk impor, atau kita akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri dengan memanfaatkan produk dalam negeri. Realitasnya Indonesia sudah menjadi pasar berbagai produk impor, mulai dari otomotif, produk pangan dan pertanian, hingga produk rumah tangga, sebagian besar berasal dari Cina. Lebih-lebih selama 15 tahun terakhir banyak komoditas dalam masyarakat kita berasal dari impor. Dengan jumlah penduduk saat ini sekitar 235 juta jiwa, Indonesia adalah pasar yang menarik bagi produsen berbagai produk di dunia. 1. Potensi UMKM Menghadapi Perdagangan Bebas Pengalaman krisis ekonomi tahun 1997/1998 memberikan pelajaran bahwa orientasi pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, telah mempersulit menciptakan pemerataan. Demikian juga pembangunan yang disandarkan pada pembangunan industri skala besar yang berbahan baku impor menyebabkan ekonomi nasional, terjebak kerentanan terhadap gejolak ekonomi dunia. Dalam masa krisis kelompok usaha besar tidak berdaya keluar dari kemelut krisis, sebaliknya koperasi dan UMKM menunjukkan kehandalannya dalam mendukung proses penyembuhan perekonomian nasional. Dari pengalaman tersebut, pemerintah perlu meningkatkan keberpihakan pada pemberdayaan koperasi dan UMKM. Disamping hal ini dapat menanggulangi masalah kemiskinan dan pengangguran yang sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Pada pasal 17 UU Nomor 20 Tahun 2008, pengembangan dalam bidang produksi dan pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 ayat (1) huruf a dilakukan dengan cara: 1) meningkatkan teknik produksi dan pengelolaan serta kemampuan manajemen bagi UMKM; 2) memberikan kemudahan dalam pengadaan sarana dan prasarana produksi dan pengolahan, bahan baku, bahan penolong, dan kemasan bagi produk UMKM; 3) mendorong penerapan standarisasi dalam 93

100 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : proses produksi dan pengolahan dan 4) meningkatkan kemampuan rancang bangun dan perekayasa bagi Usaha Menengah. Tabel. 1 Jumlah Unit Usaha UMKM Menurut Lapangan Usaha Tahun 2009 Sumber : Diolah dari data BPS Tahun 2010 Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa UMKM berada disemua sektor atau lapangan usaha dan menguasai lapangan usaha paling besar yaitu sebesar 99%, sedangkan usaha besar hanya sebesar 0,1%. Komposisi dari kelompok UMKM, menunjukkan usaha mikro mendominasi lapangan usaha sebesar 98%, usaha kecil 1,5%, dan usaha menengah sebesar 0,5%. Jika dilihat dari sektor usaha atau lapangan usaha UMKM paling banyak bergerak pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan sebesar 51%, kemudian sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 28%, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 6%, sektor bangunan sebesar 0,4%, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan sebesar 2,6%, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 0,4%, sektor industri pengolahan sebesar 6,4%, sektor jasa-jasa sebesar 4,6%, dan sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 0,02%. Komitmen pemerintah dan pemerintah daerah dalam pemberdayaan UMKM yang tersebar diberbagai sektor 94

101 DAMPAK PENERAPAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG UMKM TERHADAP PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN BAGI UMKM (Saudin Sijabat) dan terbanyak disektor pertanian (on farm dan off farm) terutama industri pengolahan berbasis hasil pertanian, merupakan keunggulan koperasi dan UMKM untuk merebut pasar dalam perdagangan bebas. Sehingga KUMKM benar-benar menjadi andalan daerah dalam upaya meningkatkan pendapatan asli daerah. Pemberdayaan UMKM yang berbasis sumberdaya manusia dan sumberdaya lokal merupakan solusi terbaik untuk mengoptimalkan potensi sumberdaya nasional, sesuai amanat pasal (4) dan pasal (5) UU Nomor 20 Tahun 2008, untuk menjadikan KUMKM sebagai basis pembangunan daerah yang sekaligus mendukung keberhasilan pembangunan nasional masih dihadapkan pada banyak masalah antara lain: (1) rendahnya produktivitas KUMKM yang berdampak pada timbulnya kesenjangan antara UMKM dengan usaha besar; (2) terbatasnya akses KUMKM kepada sumberdaya produktif seperti permodalan, teknologi, pasar dan informasi; (3) tidak kondusifnya iklim usaha yang dihadapi oleh KUMKM, sehingga terjadi marjinalisasi dari kelompok ini. Dampak dari kondisi tersebut adalah iklim usaha bagi UMKM dan koperasi kurang kondusif. Akibatnya usaha KUMKM tidak pernah mencapai titik marginal produktivitas. Dengan perkataan lain produktivitas UMKM dan koperasi selalu berada di bawah nilai harapan produktivitas yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya, walaupun penyerapan sumberdaya manusia (tenaga kerja) cukup besar digunakan oleh UMKM, seperti tersaji pada Tabel. 2. Tabel. 2 Penyerapan Tenaga Kerja (TK) Menurut Skala Usaha Tahun 2008 dan 2009 Sumber : Diolah dari data BPS Tahun 2009 Berdasarkan data pada Tabel 2 pertumbuhan tenaga kerja UMKM dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2009 meningkat lebih kurang orang atau sekitar 12,22%, pertumbuhan yang paling tinggi dari jumlah tenaga kerja adalah pada usaha mikro lebih 95

102 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : kurang orang, dari segi presentase paling besar yaitu sebesar 15,39%, usaha kecil minus sebesar (67,73%), dan usaha menengah juga minus sebesar (61,01%). Sedangkan pada usaha besar pertumbuhan menurun sebesar orang atau (6,87%). Kondisi ini memberi gambaran bahwa usaha besar tidak dapat menyerap tenaga kerja untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan, sedangkan UMKM dapat diandalkan untuk menampung tenaga kerja, hal ini terbukti dengan adanya pertumbuhan penyerapan tenaga kerja yang cukup besar. Data tersebut mengindikasikan bahwa pada dasarnya UMKM merupakan kelompok usaha yang memiliki potensi besar untuk mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran. Terlebih apabila peningkatan produk serta tenaga kerja peningkatan Σ tenaga kerjanya. 2. Peningkatan Karakter Kewirausahaan UMKM Menghadapi Perdagangan Bebas Dari hasil analisis masalah koperasi dan UMKM yang dilakukan oleh Sekretariat Kementerian Koperasi dan UKM pada tahun 2009, disimpulkan bahwa permasalahan pokok yang dihadapi koperasi dan UMKM pada umumnya adalah: (1) ketidakjelasan visi pembangunan KUMKM; (2) belum adanya basis data dan informasi koperasi dan UMKM yang memadai; (3) desain program pemberdayaan KUMKM yang tidak didasarkan pada hasil kajian dan evaluasi program sebelumnya; (4) usaha mikro dan usaha kecil bergerak dalam sektor formal, tanpa legalitas usaha yang memadai; (5) banyak program pemberdayaan KUMKM yang didasarkan pada konsep bantuan sosial, dan tidak didasarkan pada kerangka pengembangan bisnis; (6) birokrasi pemerintahan yang rigit, sehingga sulit untuk mewujudkan fenomena Structure Follow Strategy dan sulit menerapkan praktek yang terbaik; (7) kurang kompetennya SDM pembina di daerah, serta lemahnya koordinasi dan sinergi lintas pelaku; (8) tidak efektifnya sistem pemantauan pelaporan dan evaluasi pembangunan KUMKM. Kondisi ini mengindikasikan masih banyaknya ketidaksinkronan programprogram pemberdayaan KUMKM, sehingga sinerji dari adanya sistem itu sendiri belum terlihat dengan baik. Perdagangan bebas sulit untuk dihindari oleh semua pelaku usaha di Indonesia termasuk UMK. Oleh karena itu, perdagangan bebas harus dihadapi dengan berkarya. Kesiapan dan pengembangan yang terus menerus dari UMK kita, termasuk di dalamnya pengembangan kewirausahaan UMK. 96

103 DAMPAK PENERAPAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG UMKM TERHADAP PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN BAGI UMKM (Saudin Sijabat) Pelaksanaan perdagangan bebas diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kewirausahaan di kalangan KUMKM melalui pengembangan: (1) Kreatifitas yang melahirkan inovasi sehingga mampu membangun daya saing, dengan mengandalkan potensi sumberdaya lokal yang memiliki keunggulan kompetitif. (2) Kemampuan melihat peluang usaha, dalam arti mengetahui atau memahami sebelumnya seluk beluk usaha yang akan dilaksanakan, dan pengetahuan tentang nilai ekonomi barang, kualitas, manjemen produksi dan pemasarannya. (3) Keberaniannya menanggung resiko kerugian, karena bisa memperkirakan jenis dan besar resiko yang akan timbul, bila usahanya mengalami hambatan. (4) Kemampuan manajerial yang menghasilkan efisiensi sumberdaya yang sejak dari merencanakan kegiatan, yang diindikasikan dari sedikitnya kerugian yang dialami. Kemampuan ini berkaitan dengan pengalaman. (5) Kemampuan dalam menata organisasi usaha yang akan mempengaruhi efektifitas sistem organisasi. (6) Kemampuan pengawasan dalam produksi dan pemasaran Pemberdayaan UMKM pada hakekatnya bukan saja ditujukan untuk mengikutsertakan kelompok ini agar dapat turut menikmati keberhasilan pembangunan, tetapi yang utama adalah mengoptimalkan mereka secara lebih baik sebagai sumberdaya yang potensial. Seberapa besar UMKM akan diperankan dalam pembangunan sangat ditentukan oleh orientasi dalam penyusunan konsepsi dasar pembangunan itu sendiri. Konsepsi dasar pembangunan yang umumnya disusun dalam bentuk normatif selalu menyebutkan bahwa pemberdayaan UMKM merupakan bagian integral dalam pembangunan yang mendapat prioritas penting. Namun demikian sampai sekarang ini keberhasilan pemberdayaan UMKM masih dibatasi oleh berbagai kendala di antaranya belum membaiknya peluang usaha bagi UMKM. Untuk mengatasi masalah tersebut UU Nomor 20 Tahun 2008 secara rinci telah menegaskan perlunya pemberian prioritas dari pemerintah untuk mendukung UMKM dengan mengeleminir berbagai kendala yang akan 97

104 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : dapat memperluas peluang usaha UMKM. Beberapa kebijakan yang diharapkan dapat mendukung pengembangan kewirausahaan bagi UMKM antara lain: (1) Pembukaan Lapangan Usaha Undang-Undang Nomor 20 tahun 2008 secara jelas telah merinci solusi untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pembukaan lapangan usaha bagi UMKM, yang tertuang dalam pasal 7 ayat 1 butir huruf (f). Di sini ditegaskan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah harus menumbuhkan Iklim usaha dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang meliputi beberapa aspek, antara lain (huruf f) kesempatan berusaha. Akan tetapi jika diperhatikan lebih jauh, ruang lingkup aspek yang dimaksud dalam pasal tersebut sangatlah luas dan berkaitan dengan kebijakan makro tentang semua pelaku usaha termasuk usaha besar dan kalangan usaha lainnya. Oleh sebab itu, apa yang diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2008 tersebut patut dikhawatirkan tidak akan efektif. Pengaturan kesempatan usaha tersebut juga akan berkaitan langsung dengan kepentingan dunia usaha, seperti para investor asing yang sengaja diundang untuk mendorong dunia usaha. Untuk itu maka masalah tersebut harus diatur secara terpisah, yang mungkin dapat dikaitkan dengan Undang-Undang lainnya seperti Undang-Undang perlindungan usaha dan Undang-Undang anti monopoli. (2) Legalitas Usaha UMKM Legalitas perizinan usaha atas kegiatan sangat diperlukan oleh UMKM untuk berhubungan dengan banyak pihak, baik dalam proses produksi maupun pemasaran. Oleh sebab itu perizinan dalam kegiatan usaha jangan hanya dianggap sebagai bentuk formalisasi kegiatan usaha saja. Dari kajian yang dilakukan Deputi Pengkajian Sumberdaya UKMK tahun 2008, tentang Formalisasi Usaha Kecil dan Menengah, diketahui bahwa perizinan atas kegiatan usaha juga sangat diperlukan oleh UMKM untuk: 1) untuk memperluas usaha atau mengembangkan jaringan usaha UMKM, 2) membangun kepercayaan mitra, calon mitra dan atau stakeholder, 3) menghilangkan ketidakjelasan status kegiatan usaha yang berdampak pada kemudahan kontrol yang dilakukan oleh kalangan stakeholder, 4) menghindari dari adanya berbagai pungutan liar dan memberikan kesempatan bagi UMKM untuk mendapatkan insentif dari kalangan stakeholder terutama 98

105 DAMPAK PENERAPAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG UMKM TERHADAP PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN BAGI UMKM (Saudin Sijabat) pemerintah dalam berbagai bentuk seperti fasilitasi kegiatan usaha, pendidikan pelatihan dan pengembangan jaringan usaha. Kepentingan UMKM untuk mendapatkan formalitas usaha dalam menghadapi perdagangan bebas terkait langsung dengan tuntutan persaingan bebas yaitu produktifitas dan daya saing. Untuk tujuan tersebut, UMKM harus dapat meningkatkan efisiensi yang salah satunya adalah dengan memperluas jaringan usaha. Jaringan usaha dan kemitraan akan lebih mudah diwujudkan dengan adanya formalisasi perizinan usaha dan legalitas badan usaha. Oleh sebab itu perizinan usaha menjadi faktor yang penting yang harus diselesaikan oleh kalangan UMKM yang harus didukung oleh komitmen pemerintah. Kajian tersebut menyatakan bahwa pengusaha mikro belum layak untuk memiliki badan hukum sendiri. Oleh sebab itu, mereka dapat memanfaatkan badan hukum koperasi. Dalam konsepsi ideal yang sesuai dengan prinsip-prinsip dasar koperasi, para anggota koperasi yang sebagian besar adalah UKM bergabung dengan koperasi melalui pemanfaatan koperasi untuk mendukung usaha mereka. Dari adanya kerjasama tersebut akan terbangun sinerji untuk menghadapi berbagai permasalahan lingkungan yang dihadapi oleh kalangan UMKM, yang selanjutnya akan dapat dimanfaatkan oleh koperasi untuk menghadapi hambatanhambatan dari luar yang berupa dampak negatif. (3) Kepastian Tempat Usaha Untuk mendukung kepastian tempat usaha bagi UMKM, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 dalam pasal 7 ayat (1) menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah menumbuhkan Iklim Usaha dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang meliputi aspek antara lain (huruf d) kepastian tempat usaha. Lebih lanjut dalam pasal 13 ayat 1 dijelaskan bahwa bahwa aspek kesempatan berusaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf f ditujukan untuk: 1) menentukan peruntukan tempat usaha yang meliputi pemberian lokasi di pasar, ruang pertokoan, lokasi sentra industri, lokasi pertanian rakyat, lokasi pertambangan rakyat, lokasi yang wajar bagi pedagang kaki lima serta lokasi lainnya. Pesan yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tersebut di atas mengisyaratkan kepada Pemerintah daerah 99

106 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : agar pemberian kepastian tempat usaha bagi UMKM. Pengusaha mikro dan kecil dijadikan salah satu faktor pertimbangan dalam penyusunan tata ruang daerah. Untuk tujuan tersebut, pemerintah daerah sebaiknya mengalokasikan tempat yang sesuai untuk pengusaha mikro dan pengusaha kecil. (4) Pengembangan Kemitraan Unsur yang secara langsung berkaitan dengan pembukaan peluang usaha yang lebih besar untuk UMKM ini diatur dalam Pasal 11 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 yang menetapkan bahwa aspek kemitraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf d ditujukan untuk: 1) mewujudkan kemitraan antara UMKM; 2) mewujudkan kemitraan antara Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Usaha Besar; 3) mendorong terjadinya hubungan yang saling menguntungkan dalam pelaksanaan transaksi usaha antara UMKM; 4) mendorong terjadinya hubungan yang saling menguntungkan dalam pelaksanaan transaksi usaha antara Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Usaha Besar; 5) mengembangkan kerjasama untuk meningkatkan posisi tawar UMKM; 6) mendorong terbentuknya struktur pasar yang menjamin tumbuhnya persaingan usaha yang sehat dan melindungi konsumen dan (7) mencegah terjadinya penguasaan pasar dan pemusatan usaha oleh orang perorangan atau kelompok tertentu yang merugikan UMKM. Penerapan suatu undang-undang nampaknya belum cukup untuk membangkitkan lembaga ekonomi dan sosial. Banyak peraturan perundang-undangan dikeluarkan tetap cenderung memberikan kesempatan untuk berkembangnya ego sektoral di antara unsur-unsur yang diatur dalam undang-undang tersebut. Namun demikian, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 telah menimbulkan harapan baru bagi para pemikir dan stakeholder UMKM untuk merancang program-program yang dapat mempercepat meningkatkan kewirausahaan UMKM. Dari pengalaman masa lalu, orientasi pembinaan dan pemberdayaan perlu redefinisi program dan kegiatan pembinaan dalam pengembangan UMKM di masa mendatang. Orientasi program lebih diarahkan pada pengembangan kewirausahaan. Kepentingan pengembangan kewirausahaan terkait langsung dengan upaya peningkatan daya saing UMKM sebagai produsen andalan berbagai produk nasional dalam menghadapi pasar bebas.

107 DAMPAK PENERAPAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG UMKM TERHADAP PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN BAGI UMKM (Saudin Sijabat) Kepentingan pengembangan kewirausahaan memang tidak secara spesifik dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun Namun beberapa pasal dalam Undang-Undang tersebut mengarahkan pembinaan UMKM pada kemandirian yang hanya dapat ditumbuhkan melalui pengembangan kewirausahaan. Pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 ditemukan pasal-pasal yang dapat dijadikan dasar bagi penyusunan program-program pengembangan kewirausahaan antara lain: 1) pemberdayaan usaha; 2) penumbuhan iklim usaha; 3) pengembangan Usaha; 4) pembiayaan dan penjaminan usaha; 5) memfasilitasi, mendukung, dan menstimulasi kegiatan kemitraan dan 6) pemerintah melakukan koordinasi dan evaluasi pemberdayaan UMKM. IV. KESIMPULAN DAN SARAN Dampak kehadiran UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM terhadap pengembangan kewirausahaan UMKM belum terlihat nyata, karena peningkatan karakter kewirausahaan di kalangan UMKM sebaiknya diberikan perlindungan terhadap lapangan usaha dan tempat usaha, agar tumbuh produktifitas dan daya saing UMKM, dengan meningkatkan pengendalian pendirian pusat perbelanjaan dan memperhatikan tata ruang dari aspek ekonomis, dan lingkungan. Pendirian pusat perbelanjaan yang tidak terkendali dapat berakibat makin banyak masuk produk-produk impor dan menyebabkan kondisi perang pasar yang tidak terkendali Diberlakukannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008, tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, serta peraturan perundangan lain untuk memberdayakan UMKM, seharusnya dilaksanakan dengan tegas dan efektif terutama tingkat operasional di daerah, sehingga dapat memberi manfaat bagi masyarakat, pelaku usaha, dan birokrasi. Tetapi dalam kenyataannya belum berjalan dengan baik. Untuk itu diperlukan komitmen dari pemerintah dan dunia usaha. Perkembangan bisnis retail dewasa ini sangat gencar melalui jaringan bisnis retail, yang dinamakan sebagai retail networking. Agar UMKM tidak ketinggalan mereka harus menangkap peluang yang ada dengan meningkatkan karakter kewirausahannya, karena penerapan teknologi informasi pada retail networking ini dapat meningkatkan daya saing dan distribusi barang yang besar. Pola ini disetting untuk saling berhubungan satu dengan yang lain, dan salah satu dari jaringan dijadikan sebagai pusat pengendali. 101

108 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Pengembangan UMKM merupakan bagian dari pemberdayaan ekonomi rakyat, juga sekaligus memampukan sektor-sektor ekonomi tradisional dan pemerataan pembangunan baik antar sektor pembangunan, sektor ekonomi, antara wilayah, maupun antar lintas budaya etnis. Oleh sebab itu UMKM dapat ditempatkan sebagai agen pembangunan ekonomi. Diantaranya UMKM harus diberikan kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan usahanya dalam rangka mewujudkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan peningkatan pendapatan rakyat, penciptaan lapangan kerja, dan pengentasan rakyat dari kemiskinan. Kewirausahaan dikalangan UMKM harus ditingkatkan, agar dukungan, perlindungan, peluang, fasilitas, dan pembinaan dari pemerintah dapat dimanfaatkan sesuai dengan yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun Peluang ini harus dimanfaatkan oleh UMKM agar dapat meningkatkan daya saing yang tinggi, sehingga dapat bersaing di berbagai sektor terutama produk impor dan juga dengan pelaku usaha lain. DAFTAR PUSTAKA Asean Web Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation Between ASEAN and the People s Republic of Cina. Phnom Penh, 4 November ASEANWEB, file;//e\acfta\13196.htm, diakses tanggal 8 April. Badan Pusat Statistik Indikator Makro Ekonomi UMKM. BPS dan Kementerian Koperasi dan UKM. Jakarta. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Kajian Pengembangan Formalisasi Usaha Kecil, dan Menengah. Kementerian Koperasi dan UKM. Kementerian Negara Koperasi dan UKM Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Kementerian Negara KUKM R.I. Jakarta. Kementerian Perdagangan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 53/M-DAG/PER/12/2008 tentang Pedoman Penataan Dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Jakarta. Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun Pengesahan ASEAN Trade In Goods Agreement (Persetujuan Perdagangan Barang ASEAN). Kementerian Hukum dan HAM, Jakarta. 102

109 DAMPAK PENERAPAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG UMKM TERHADAP PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN BAGI UMKM (Saudin Sijabat) Manggara, Tambunan Melangkah Ke Depan Bersama UKM. Makalah pada Debat Ekonomi ESEI 2004, Jakarta Convention Centre Sept Nasution Kesiapan UMKM dalam Menghadapi Era Pasar Bebas. Badan Perencanaan Pembanguan Nasional. Jakarta. Presiden Republik Indonesia Peraturan Presiden Republik Indonesia No 112 Tahun 2007 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern. Jakarta. Sekretariat Kementerian Koperasi dan UKM Analisis Masalah Koperasi dan UMKM. Kementerian Koperasi dan UKM. Sijabat, Saudin Sinerji Penerapan UU Nomor 20 Tahun 2008 Terhadap Perbaikan Iklim Usaha dan Pemberdayaan UMKM. Infokop Volume 17 Juli. Soediyono Reksoprayitno Ekonomi Makro, Analis IS-LM dan Permintaan- Penawaran Agregatif. BPFE. Yogyakarta. Syarif, Teuku Kajian Profil UMKM Sukses. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Kementerian Koperasi dan UKM. Syarif, Teuku Prospek Bisnis UMKM Menghadapi Pelaksanaan Kesepakatan AC-FTA Tahun Bahan Diskusi Rutin Peneliti di Lingkungan Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK, Kementerian Koperasi dan UKM. Jakarta Todaro Michael P Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Penerbit Erlangga. Jakarta. 103

110 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : KEWIRAUSAHAAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI UMK*) Joko Sutrisno**) Abstrak Teknologi merupakan kreativitas budaya manusia untuk mempermudah kehidupan. Pengembangan teknologi di kalangan UMKM timbul sebagai kreatifitas jika ada dorongan, baik disebabkan keinginan untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas produk. Keinginan itu sendiri baru akan ada jika pengusaha memiliki kewirausahaan yang cukup baik sehingga mampu melihat peluang dan keuntungan yang akan diperoleh jika dilakukan inovasi teknologi. Namun demikian, dengan kondisi UMKM sekarang yang kurang memahami kewirausahaan, sulit bagi UMKM untuk melakukan inovasi teknologi. Kalaupun ada keinginan untuk menerapkan temuan teknologi, namun sulit diaplikasikan karena tidak memiliki sumberdaya memadai. Kesulitan UMKM untuk melakukan inovasi teknologi sendiri di samping disebabkan oleh ketidakmampuan dalam memperhitungkan keuntungan dari penerapan teknologi tersebut, juga karena belum kondusifnya iklim usaha UMKM. Hasil inovasi teknologi UMKM belum mendapat perlindungan. Banyak temuan teknologi dan peralatan dari lembaga-lembaga penelitian yang belum dapat dimanfaatkan oleh UMKM. Masalah ini menjadi kendala UMKM untuk mendapatkan teknologi tepat guna yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung percepatan pengembangan usaha UMKM. Kendala lain yang menimbulkan masalah adalah belum adanya sistem informasi tentang temuan-temuan teknologi tepat guna yang diperlukan UMKM. Akibatnya, temuan-temuan tersebut belum dapat dimanfaatkan secara luas oleh UMKM. Kata kunci: UMKM, Kewirausahaan, Teknologi, Inovasi, SDM Abstract Technology is the result of human culture to facilitate complete all work in life. Technology development among SMEs grows as creativity if there is encouragement, whether caused by the desire to increase productivity, and quality products. Desire itself will exist if SMEs have a good entrepreneurship so that they can see the opportunities and benefits if using technological innovation. However, with SMEs conditions such as lack of current understanding of entrepreneurship condusive environment, it is difficult for SMEs to innovate technology. Even if there is a desire *) Artikel diterima 7 April 2011, peer review Mei 2011review akhir 14 Juni 2011 **) Kepala Bidang Perkaderan UKM, Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK 104

111 KEWIRAUSAHAAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI UMK (Joko Sutrisno) to use the technology it can be rarely applied due to lack of resources. The difficulties of SMEs to innovate are caused by lack of technologies and calculate advantage gained from the application of technologies and also because of the business climate to SMEs is not conducive. The result of technological innovations among SMEs is not protected. There are also many technological discoveries and tools of research institutions that can not be used by SMEs. This issue became the main obstacles of SMEs to find appropriate technologies to support their business development. The result of their creativity also has not gain sufficient protection. Another obstacle that causes the problem is the lack of information systems to support an appropriate technology required and/or produced by SMEs. Keywords: MSME, entrepreneurship, technology, innovation, human source development I. PENDAHULUAN Pada awal tahun 2010 kondisi perdagangan luar negeri (ekspor dan impor) diramaikan dengan adanya pemberlakuan perjanjian Asean and China Free Trade Agreement (AC-FTA). Kesepakatan ini menimbulkan kekhawatirkan banyak pihak yang diduga akan dapat mengganggu pertumbuhan usaha kalangan pebisnis di dalam negeri. Kekhawatiran itu sendiri timbul karena adanya indikasi ketidaksiapan kalangan dunia usaha untuk menghadapi persaingan bebas tersebut. Namun demikian kesepakatan itu tetap harus dilaksanakan oleh negara-negara penandatangan perjanjian per 1 Januari tahun Berbagai dampak terhadap ketersedian barang dan harga barang-barang (terutama produk Cina dengan harga yang relatif murah) sudah mulai dirasakan oleh masyarakat bisnis. Kondisi inilah yang menyebabkan kegelisahan di kalangan produsen terutama pengusaha kecil dan menengah yang semakin meningkat. Salah satu solusi yang disarankan untuk menghindari dampak negatif dari pasar bebas tersebut adalah dengan melakukan reposisi kedudukan Usaha Mikro dan Kecil (UMK) dengan menumbuhkan kekuatan kondisi internal dan penciptaan iklim usaha yang kondusif bagi UMK. Dalam hal ini peran Pemerintah dan kalangan Stakeholder lainnya sangat diperlukan. Peran penting dari pemerintah adalah membuka peluang usaha yang lebih besar dan membantu meningkatkan daya saing UMK. Pengembangan daya saing UMK dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas SDM, pengembangan teknologi produksi, perkuatan permodalan, memangkas hambatan-hambatan struktural seperti mempermudah perizinan, akses pasar dan menyediakan prasarana dan sarana pendukung lainnya. 105

112 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Pengembangan daya saing UMK memang menjadi faktor kunci dalam menempatkan UMK sebagai unsur yang diharapkan mampu memanfaatkan peluang usaha yang terbuka dari adanya perjanjian AC-FTA. Daya saing sendiri merupakan derivasi dari produktifitas, kualitas dan pengembangan jaringan pasar. Sedangkan produktifitas merupakan hasil dari banyak faktor seperti perbaikan kualitas SDM, modal dan teknologi. Dalam era modern sekarang ini peran teknologi semakin menonjol. Sebaliknya peran manusia dibatasi oleh kemampuan untuk memanfaatkan teknologi. Untuk meningkatkan daya saing UMK, reposisi UMK diperlukan untuk menumbuhkan kekuatan internal dan penciptaan iklim usaha yang kondusif. Keterbatasan UMK terutama dari aspek permodalan dan kualitas SDM, dan teknologi. Teknologi yang diperlukan oleh UMK pada umumnya adalah teknologi tepat guna (TTG) yang tidak banyak menuntut keahlian dan investasi yang besar. Selama empat dasawarsa terakhir, walaupun belum menyeluruh sebagian teknologi produksi UMK telah berkembang, baik karena adanya inovasi yang dilakukan oleh UMK sendiri maupun yang diintroduksi dari pihak luar termasuk pemerintah. Ini terjadi karena beberapa hal yaitu: (1) keterbatasan kemampuan inovasi teknologi; (2) keterbatasan pemilikan modal; (3) kurangnya informasi pengembangan teknologi; (4) kurang ketersediaannya sarana pengembangan teknologi serta (5) belum optimalnya pelaksanakan berbagai program pengembangan teknologi UMK yang dilakukan stakeholder. Kelemahan kondisi internal UMK dari aspek SDM terutama yang berkaitan dengan rendahnya kreatifitas dan inovasi yang terkait dengan kewirausahaan. Pengembangan teknologi oleh UMK tidak selalu dapat dukungan oleh program-program pemerintah. Idealnya, inovasi teknologi muncul dari kalangan UMK sendiri karena merekalah yang tahu persis kebutuhan teknologi yang diperlukan. Hal ini mengimplikasikan lambatnya perkembangan produktifitas dan kualitas produk UMK. Lambatnya perkembangan teknologi UMK merupakan salah satu indikator rendahnya kewirausahaan dan belum efektifnya program-program pemberdayaan UMK dalam menstimulasi mengembangkan teknologi. Kondisi yang demikian tentunya tidak terjadi jika kebijakan dan programprogram pemberdayaan UMK diarahkan pada upaya mendorong UMK untuk lebih kreatif dan inovatif. 106

113 KEWIRAUSAHAAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI UMK (Joko Sutrisno) II. MASALAH PENGEMBANGAN TEKNOLOGI UMK DAN KEWIRAUSAHAAN UMK pada umumnya merupakan kelompok usaha yang banyak menggunakan sumberdaya lokal. Kelompok ini memerlukan jenis teknologi yang sesuai dengan jenis kegiatan usaha dan dengan jenis bahan baku yang tersedia. Teknologi tepat guna diharapkan secara langsung akan mempengaruhi optimalitas pemanfaatan sumber daya lokal. UMK sebagian besar menghadapi produktivitas rendah karena teknologi yang digunakan UMK belum efisien dan belum mampu mendukung peningkatan daya saing produk UMK. Untuk menyusun kebijakan pengembangan teknologi bagi UMKM perlu diketahui terlebih dulu permasalahan dan hambatan yang mempersulit pengembangan teknologi oleh UMK. Masalah dan hambatan tersebut adalah: (1) Rendahnya pemilikan modal yang berhubungan dengan rendahnya kemampuan UMK untuk mengakses ke sumber permodalan dan dapat menyebabkan UMK tidak mampu membeli/menciptakan teknologi. (2) Rendahnya kualitas SDM untuk mengaplikasikan teknologi. (3) Kurangnya informasi teknologi. (4) Rendahnya perlindungan terhadap temuan teknologi dari kalangan UMK. (5) Kurangnya capacity building dibidang teknologi. (6) Kurangnya ketersediaan sarana pendukung aplikasi teknologi. Kelemahan sistem pembinaan salah satunya dapat dilihat dari belum berperannya sistem koordinasi antara instansi pembina di daerah dan pusat. Dalam era otonomi daerah sekarang ini semua instansi pembina di daerah berada dalam satu kendali yaitu pemerintah daerah. Yang menjadi pertanyaan di sini adalah Seberapa jauh dan seberapa besar sebenarnya komitmen pemerintah daerah dalam pemberdayaan UMK dan seberapa besar kemampuan pemerintah daerah untuk mengkoordinasikan instansi-instansi yang ada di bawahnya? Ketidakmampuan untuk membangun koordinasi yang baik juga dapat menjadi preseden buruk bagi pemerintah daerah, karena sekaligus menjadi indikator rendahnya komitmen pemerintah daerah terhadap pemberdayaan UMK atau kinerja manajemen dari pemerintah daerah yang belum optimal. Di sini perlu dikaji kembali sejauhmana tujuan pemberian otonomi kepada pemerintah daerah dapat dicapai, atau mungkin ada masalah-masalah lain 107

114 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : yang berhubungan dengan pelaksanaan otonomi daerah yang menyebabkan peran pemerintah daerah menjadi tidak optimal. Hal-hal tersebut sebenarnya tidak menjadi masalah seandainya orientasi pemerintah dalam pembangunan adalah bukan untuk mengejar pertumbuhan dan atau peningkatan GDP dan PAD semata, tetapi juga pada upaya menciptakan lapangan kerja dan mengurangi angka kemiskinan yang relatif besar di daerah. Namun demikian, ada indikasi bahwa dengan pengetahuan yang terbatas umumnya mereka memiliki sedikit kelebihan yaitu berani memulai menjalankan usaha dan berani mengambil resiko. Sayangnya, keberanian kelompok usaha mikro tersebut kebanyakan hanya didasarkan pada faktor keterpaksaan oleh karena keadaan atau didasarkan pada naluri (feeling). Kondisi ini semakin rawan jika mereka tidak memperoleh sentuhan pemberdayaan, advokasi, pendampingan atau bantuan perkuatan dari luar. Meskipun hal ini tidak menjamin keberhasilan kalangan UMKM, tetapi sedikit banyak akan dapat mengurangi tingkat resiko yang dihadapi mereka. Dalam konteks ini salah satu hal yang dapat dilakukan pemerintah adalah mendorong perkembangan kewirausahaan di lingkungan UMKM melalui berbagai program penyuluhan, pelatihan dan bimbingan termasuk inkubator bisnis. Kewirausahaan adalah kemampuan seseorang untuk berusaha dengan menggunakan logika dan berimajinasi untuk memanfaatkan semua sumberdaya yang dimiliki secara optimal. Kewirausahaan menurut Timmon, Smollen & Dingee, 1985, dalam American Journal of Small Business. Vol 6 tahun ke-2 ditandai dengan beberapa kemampuan yang menjadi faktor kunci dalam pengembangan diri yaitu : (1). Memiliki kreatifitas yang melahirkan inovasi, sehingga mampu menciptakan nilai tambah. Semua UMKM yang sukses menggunakan bahan baku yang bernilai ekonomi rendah untuk diolah menjadi barangbarang yang bernilai ekonomi jauh lebih tinggi. Dari proses pengolahan tersebut terbentuk nilai tambah yang mendukung pendapatan (laba) UMKM. Nilai tambah yang diperoleh dalam hal ini bukan hanya berupa margin ekonomi tetapi juga berupa keuntungan sosial. (2). Kemampuan melihat peluang usaha. UMKM pada umumnya mengetahui atau memahami tentang seluk beluk usaha yang akan dilaksanakan. Pengetahuan tersebut didasarkan pada pengalaman dan kemampuan pelihat peluang usaha yang didukung oleh ketersediaan sumberdaya dan pasar. Pengetahuan tentang nilai ekonomi barang juga merupakan salah satu aspek yang mendukung keberhasilan usaha mereka, tetapi kurang tersedianya prasarana merupakan masalah yang menjadi kendala yang menghambat aplikasi jiwa inovatif dari kelompok 108

115 KEWIRAUSAHAAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI UMK (Joko Sutrisno) UMKM lainnya. Beberapa prasarana yang dinilai kurang mendukung kemampuan inovatif dari kalangan UMKM adalah kurang tersedianya lembaga-lembaga pendukung, seperti lembaga penelitian, perbankan, dan lembaga pemasaran. (3). Keberaniannya menanggung resiko kerugian, karena mereka bisa memperkirakan jenis dan besar resiko yang akan timbul, bila usahanya mengalami hambatan. Kondisi ini juga sangat berbahaya karena bila terjadi sesuatu masalah UMKM yang bersangkutan dapat terjebak dalam resiko kegagalan yang fatal. Secara agregat kemampuan UMKM dalam menghindari resiko kegagalan sudah cukup baik, tetapi sifat spekulasi dari kelompok ini tidak mendukung kemapanan usaha mereka, terlebih lagi dengan sering terjadinya perubahan permintaan pasar karena produk-produk yang dihasilkan adalah barang-barang tersisa yang permintaannya banyak dipengaruhi oleh kecenderungan model (tren model) dan waktu. Kemampuan UMKM sukses untuk mempersiapkan solusi dalam rangka mengatasi resiko yang timbul dalam pelaksanaan usahanya juga relatif rendah, oleh sebab itu masih diperlukan masukanmasukan dari para stakeholder agar mereka bisa mempersiapkan solusi untuk keluar dari kegiatan usahanya jika terjadi resiko yang bersifat fatal. (4). Kemampuan manajerial yang menghasilkan efisiensi sumberdaya yang relatif. Dalam hal perencanaan, kemampuan UMKM untuk merencanakan kegiatan bisnisnya relatif cukup baik, yang diindikasikan dari sedikitnya kerugian yang pernah dialami oleh UMKM. Kemampuan ini nampaknya berkaitan dengan pengalaman UMKM yang ratarata diatas lima tahun dan pengetahuan UMKM tentang bisnis yang ditekuninya. Tidak sama dengan kemampuan perencanaan, UMKM dalam menata organisasi usaha yang nampaknya relatif lebih rendah, Relatif rendahnya kemampuan UMKM dalam membangun sistem organisasi usaha, nampaknya belum berpengaruh nyata terhadap keberhasilan usaha UMKM, hal ini dikarenakan sistem organisasi usaha UMKM masih relatif kecil dengan SDM yang hanya bersumber dari lingkungannya (keluarga atau tetangga). Dalam hal pengawasan kemampuan UMKM masih cukup baik, tetapi pengaruhnya belum begitu besar terhadap keberhasilan usaha UMKM. Kurang berperannya faktor pengawasan nampaknya dipengaruhi oleh asal tenaga kerja yang sebagian besar masih menggunakan tenaga kerja keluarga atau tetangga, serta skala usaha UMKM yang relatif kecil. 109

116 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : III. PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DAN PENINGKATAN KUALITAS TEKNOLOGI Pemberdayaan UMK pada hakekatnya bukan saja ditujukan untuk mengikutsertakan kelompok ini agar dapat turut menikmati keberhasilan pembangunan, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah memanfaatkan mereka secara lebih baik sebagai sumberdaya pembangunan potensial. Seberapa besar UMK akan diperankan dalam pembangunan sangat ditentukan oleh orientasi dalam penyusunan konsepsi dasar pembangunan itu sendiri. Konsepsi dasar pembangunan nasional secara normatif selalu menyebutkan bahwa pemberdayaan UMK merupakan bagian integral dalam pembangunan yang mendapat prioritas penting. Namun demikian sampai sekarang ini keberhasilan pemberdayaan UMKM masih dibatasi oleh berbagai kendala belum membaiknya peluang usaha bagi UMK. Untuk mengatasi masalah tersebut, UU Nomor 20 Tahun 2008 secara rinci telah menegaskan prioritas pemerintah untuk mendukung UMKM dengan mengeliminir berbagai kendala yang mereka hadapi. Asumsi yang mendasari analisis dalam tulisan ini adalah bahwa UMK cenderung untuk menerapkan teknologi tepat guna jika penggunaan teknologi tersebut memberikan manfaat ekonomi. Asumsi ini sesuai dengan pendapat Saunders & Clark, (1992); Son, Narasimhan & Rigins, (1999) yang mengatakan bahwa manfaat akan menjadi insentif penting dalam mengadopsi teknologi tepat guna. Pendapat ini diperkuat dengan pendapat Chwelos et al (2001) yang menyatakan bahwa manfaat ekonomi merupakan penentu adopsi teknologi oleh UMK. Beberapa hasil pengamatan empirik juga menunjukan bahwa manfaat ekonomi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keinginan mengadopsi teknologi tepat guna oleh perusahaan. Variabel-variabel yang digunakan untuk mengukur manfaat ekonomi penggunaan teknologi adalah: (1) biaya investasi, (2) biaya keamanan, (3) biaya transportasi, (4) kecepatan transaksi, dan akurasi transaksi, (5) manajemen pemesanan/pemasaran, (6) volume transaksi serta (7) akurasi transaksi (Khalifa dan Davison, 2006). Adopsi teknologi disatu sisi memang merupakan keharusan bagi UMK untuk meningkatkan kualitas dan produktifitas untuk meningkatkan daya saing. Namun disisi lain, harus mempertimbangkan kelayakan pengadopsian teknologi tersebut. UMK juga dihadapkan pada masalah kelangkaan modal untuk pengadaan peralatan berteknologi. Kesulitan UMK ini terkait dengan rendahnya kepemilikan aset, sedangkan masalah tidak berkembangnya aset UMKM merupakan dampak dari rendahnya produktifitas. Di sini terlihat adanya lingkaran setan (The Vicious Circle) yang tidak berujung pangkal. 110

117 KEWIRAUSAHAAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI UMK (Joko Sutrisno) Menurut Syarif (2008) rendahnya produktifitas dan kualitas produk UMK merupakan penyebab rendahnya pendapatan UMK. Dengan pendapatan yang rendah UMK tidak memiliki tabungan yang dapat mengembangkan permodalan UMK, sehingga tidak mampu mengadopsi teknologi. UMK juga tidak memiliki bargaining untuk menghadapi pasar, baik pasar bahan baku maupun pasar produk. Akibatnya, UMK sering terjebak dalam sistem produksi yang cenderung membentuk pola hubungan Patron client leardership. Dalam pola hubungan ini UMK diperankan sebagai Client, sedangkan para pemilik modal yang menyediakan bahan baku dan membeli produk UMK bertindak sebagai Patron. Dalam pola hubungan ini segala kebijakan yang berhubungan dengan bisnis mutlak ditentukan oleh komponen yang menjadi Patron. Rendahnya kualitas produk UMK menyebabkan sulit memasarkan produknya ke pasar bebas sehingga UMK harus terus terikat pada pembeli tradisional yaitu kelompok pemilik modal yang adalah patronnya. Kondisi ini lebih diperburuk lagi dengan sistem pasar input produksi dan produk UMK yang umumnya bersifat oligopoli dan dikuasai oleh beberapa pedagang yang membentuk kartel. Akibatnya baik dalam pengadaan bahan baku maupun penjualan hasil produk, UMK hanya berperan sebagai penerima harga (Price taker) yang mengakibatkan pendapatan UMK tidak pernah dapat diperbaiki. Untuk memecahkan masalah UMK ini dapat digunakan konsepsi dasar pengembangan kewirausahaan bagi UMK. Secara rinci mengenai konsepsi dasar pemecahan masalah tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. Dari Gambar 1 memberikan informasi bahwa untuk memperbaiki kondisi UMK yang perlu dilakukan adalah melakukan peningkatan kualitas teknologi UMK agar UMK terbebas dari jebakan struktural. Perbaikan teknologi UMK dilakukan melalui inventarisasi dan analisis kebutuhan teknologi yang dilanjutkan dengan penetapan dan adopsi teknologi bagi UMK. Adopsi teknologi yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan UMK juga tidak akan dapat memberikan hasil yang optimal tanpa lebih dulu memperbaiki kualitas kewirausahaan di kalangan UMK. Peningkatan kualitas kewirausahaan diharapkan dapat meningkatkan kemampuan UMK dalam membangun sistem perusahaan yang secara langsung akan dapat meningkatkan produktifitas dan kualitas produk UMK, sehingga memiliki daya saing di pasar. Dengan meningkatnya daya saing dan kewirausahaan, maka diharapkan UMK akan mampu memasuki pasar dengan memperhitungkan berbagai peluang dan resiko secara lebih baik. Adanya peningkatan akses UMK terhadap pasar ini pada akhirnya diharapkan akan terjadi peningkatan kegiatan usaha dan dapat meningkatkan pendapatan UMK. 111

118 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Banyaknya faktor yang menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan teknologi UKM. Berbagai pihak yang terlibat dalam pemberdayaan UMK untuk lebih berhati-hati dalam menentukan jenis teknologi tepat guna yang akan direkomendasikan. Pemilihan teknologi tepat guna yang keliru, tidak saja mengakibatkan terjadinya pemborosan sumberdaya, tetapi juga akan mengurangi kepercayaan kalangan UMK terhadap pemrakarsa atau penyedia teknologi. Hal seperti itu sudah sering terjadi dalam membina UKM selama sepuluh tahun belakangan ini. Penyediaan teknologi tepat guna yang dilakukan oleh pemerintah seperti penggunaan kompor berbahan baku batu bara dan kapal ikan yang dilengkapi dengan pengindraan jarak jauh ternyata tidak dirasakan manfaatnya oleh UMK penerima bantuan. Gambar 1. Konsepsi Dasar Pemecahan Masalah IV. KEWIRAUSAHAAN FAKTOR KUNCI PENGEMBANGAN TEKNOLOGI Kegiatan UMK yang begitu heterogen dan lokasi UMK yang tersebar luas menyebabkan beragamnya kebutuhan teknologi bagi UMK. Kondisi yang demikian menuntut pengembangan teknologi UKM yang beragam sesuai dengan kebutuhan sektoral. Sayangnya selama ini pembinaan dalam rangka peningkatan kualitas teknologi UMK sering diagregatkan melalui 112

119 KEWIRAUSAHAAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI UMK (Joko Sutrisno) program-program yang bersifat one size for all. Kebijakan yang bersifat agregatif dan diikuti dengan pendekatan perencanaan program yang bersifat makro mengakibatnya kegiatan yang dirancang dalam lingkup makro harus diterapkan dalam lingkup lokal, atau bidang-bidang usaha yang berbeda dengan karakteristik dan potensi yang juga berbeda, yang mengakibatkan efektifitasnya menjadi sangat rendah. Hasil pemetaan teknologi usaha mikro dan kecil (UMK) yang dilakukan oleh Kementerian Negara Koperasi dan UMK tahun 2008 menunjukkan bahwa baru sebagian kecil (21,34 %) UMK yang mampu menerapkan teknologi. Inipun terbatas pada UMK yang bergerak dalam bidang manufaktur dan transportasi. UMK yang bergerak di sektor pertanian dan penggalian, teknologi yang digunakannya masih sangat tertinggal. Keterlambatan UMK dalam memanfaatkan teknologi tepat guna untuk memproduksi barang terutama disebabkan oleh keterbatasan yang ada di lingkungan UMK sendiri seperti (1) rendahnya pengetahuan SDM, (2) kesulitan mendapat pinjaman modal untuk membeli peralatan berteknologi madya (tepat guna), (3) kurangnya informasi tentang teknologi yang diperlukan, (4) belum optimalnya peran Lembaga Penelitian dan pengembangan dalam mendukung inovasi teknologi serta (5) belum efektifnya bantuan program-program pemerintah. Semenjak era tahun 70 an, Pemerintah telah melaksanakan berbagai program pengembangan teknologi untuk UMK di segala sektor usaha terutama pertanian dan industri. Sebagian dari program-program tersebut dilaksanakan oleh Kementerian yang membidangi koperasi dan UMK. Berbagai bantuan yang diberikan cenderung lebih banyak mengarah pada penerapan teknologi maju, meskipun, beberapa lainnya diarahkan pada teknologi tepat guna seperti kompor berbahan baku sekam padi dan batu bara, alat perontok padi dan pemipil jagung dengan tenaga kerja manusia, alat penyulingan minyak atsiri berbahan bakar arang, alat pengupas kulit kacang dan sebagainya. Program-program pengembangan teknologi bagi UMK tersebut tidak berkembang karena berbagai hal antara lain: (1) sebagian besar merupakan peralatan yang diintroduksi dari luar negeri, yang menuntut keahlian khusus, sedangkan pengadaan alat kurang diikuti dengan pendidikan pelatihan yang memadai, (2) kualitas alat relatif rendah dan tidak didukung dengan penyediaan suku cadang yang memadai, (3) bersifat parsial tidak diikuti dengan program pengembangan sistem produksi dan pasar, (4) tidak berkesinambungan dan tidak dikuti dengan pembangunan lembaga penelitian dan pengembangannya. Keempat masalah tersebut diperburuk dengan kondisi internal UMK yang relatif lemah sehingga tidak memungkinkan dalam mengadopsi teknologi baru secara mandiri. Kelemahan kondisi internal UMK menyebabkan mereka tidak 113

120 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : mampu melakukan investasi dalam bentuk mengadopsi teknologi. UMK juga sulit untuk dapat mengembangkan pendanaan untuk investasi karena sulitnya mendapat pinjaman dari lembaga perkreditan formal. Idealnya masalah ini dapat diatasi oleh program-program pemberdayaan UMK dibidang permodalan yang selama lebih dari 40 tahun sudah dilaksanakan. Namun demikian, kenyataannya efektifitas program-program itu sendiri masih dipertanyakan oleh banyak pihak. Hal ini dikarenakan UMK yang masih terus menghadapi kendala permodalan. Untuk mempercepat penerapan teknologi di UKM diperlukan adanya perubahan paradigma dalam pemberdayaan UMK, dari paradigma lama yang beranggapan UMK tidak memerlukan teknologi maju ke paradigma baru yang melihat UMK sebagai bagian dari sistem pasar global. Oleh karena UMK lebih berorientasi pada sumberdaya lokal, kelompok ini memerlukan jenis teknologi yang sesuai dengan (1) jenis kegiatan usaha, (2) ketersediaan dan keahlian SDM serta (3) jenis bahan baku yang tersedia. Kesesuaian tersebut secara langsung akan mempengaruhi optimalitas pemanfaatan sumberdaya lokal, sedangkan kesesuaian itu sendiri akan lebih dilakukan jika UMKM sendirilah yang memilih teknologi yang akan diterapkan. Kemampuan memilih ini hanya ada jika UMK sudah memiliki kewirausahaan yang memadai. Oleh sebab itu pengembangan kewirausahaan juga menjadi kata kunci dalam mendorong UMK untuk menggunakan teknologi yang sesuai dengan karakteristiknya. Sejalan dengan permasalahan yang dihadapi UMK dalam pengembangan teknologi tersebut, upaya memberdayakan UMK, lebih dulu diperlukan adanya pengembangan kewirausahaan UMKM. Perkembangan kewirausahaan UMK sendiri akan dapat mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhannya. UMK juga akan mengetahui jenis-jenis dan tingkatan teknologi tepat guna yang dibutuhkan, sesuai dengan karakteristiknya, serta jenis kegiatan dan sektor usaha yang mengandalkan sumberdaya lokal. Selama empat dasawarsa terakhir memang sebagian teknologi produksi UMK telah berkembang, baik oleh karena adanya inovasi baru dikalangan UMK sendiri maupun yang diintroduksi dari luar. Yang menjadi masalah adalah bahwa kemajuan teknologi produksi kalangan UMK di Indonesia jauh tertinggal dibandingkan dengan kemajuan yang dicapai oleh negaranegara lain, seperti Cina, Singapura, Malaysia dan Thailand (Ramlan 2007). Dampaknya adalah produktifitas sebagian besar UMK belum berkembang, dengan akibat akhir daya saingnya relatif rendah. Rendahnya inovasi dan perkembangan teknologi di kalangan UMK ini juga nampaknya tidak terlepas dari masih rendahnya kewirausahaan di kalangan UMK. 114

121 KEWIRAUSAHAAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI UMK (Joko Sutrisno) Demikian juga pengembangan teknologi tepat guna di kalangan UMK terlihat tidak merata pada semua kegiatan usaha UMK. Kondisi ini juga nampaknya dipengaruhi oleh banyak hal antara lain (1) keterbatasan pemilikan modal, kurangnya informasi, serta kurang tersedianya sarana pendukung pengembangan dan adopsi teknologi oleh kalangan UMK. (2) pelaksanaan berbagai program pengembangan teknologi UMK sebagian besar bersifat parsial, sehingga cenderung sering hanya terfokus pada beberapa jenis kegiatan usaha terutama pada jenis produk barang-barang jadi dan jumlah program yang relatif sedikit dan penyebarannya yang tidak merata untuk semua daerah (Hasibuan 2004). Menurut banyak pengamat, kendala utama dalam pengembangan teknologi di UMK adalah keterbatasan pemilikan modal. Masalah internal UMK ini sampai sekarang belum dapat terselesaikan karena pengembangan permodalan UMK masih terus terganjal oleh masalah kesulitan untuk mengakses modal pinjaman dari lembaga-lembaga perkreditan formal (LKF). Walaupun masalah-masalah tersebut merupakan masalah klasik yang sudah cukup lama menghambat pemberdayaan UMK, tetapi sampai sekarang ini belum dapat terselesaikan. Masalah kesulitan akses UMKM terhadap sumbersumber permodalan ini juga tidak terlepas dari rendahnya kewirausahaan di kalangan UMKM. Syarif (2009) berpendapat bahwa yang perlu mendapat perhatian masalah pengembangan teknologi dikalangan UMK penyelesaiannya bukan hanya dengan merekomendasikan atau menyediakan peralatan berteknologi. Dalam masalah ini juga perlu dilihat dan dipertimbangkan berbagai aspek lainnya yang berkaitan dengan adopsi teknologi bagi kalangan UMK, seperti faktor kondisi internal UMK yang diwarnai oleh segala keterbatasannya dan lingkungan ekonomi dan sosial dimana UMK berusaha. Dari aspek pembangunan ekonomi daerah beberapa fenomena baru dalam penerapan teknologi tepat guna juga terlihat pengembangan dipedesaan antara lain misalnya industri kerajinan, seperti industri pakaian dan sepatu yang melahirkan kegiatan-kegiatan baru di daerah tersebut yang menuntut adanya pengembangan teknologi. Kondisi ini sayangnya tidak banyak mempengaruhi kelompok usaha mikro karena kalangan tersebut memiliki modalnya relatif sangat sedikit, sehingga sulit untuk mampu mengadopsi teknologi yang sesuai dengan perkembangan sistem perekonomian di daerahnya. Di sinilah sebenarnya peran dan fungsi stakeholder untuk lebih proaktif melihat peluang usaha yang terbuka atau kesempatan untuk melakukan diversifikasi usaha bagi kalangan UMK. 115

122 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Di samping penguasaan aset yang relatif terbatas, masalah lain yang menjadi fenomena umum di UMK adalah rendahnya pengetahuan kewirausahaan. UMK sulit untuk mendapatkan informasi, mengurus perizinan, dan mengakses sumberdaya produktif. Hasil analisa skala prioritas menunjukkan bahwa masalah tersebut termasuk dalam katagori masalah sangat penting yang harus diselesaikan. UMK belum dapat meningkatkan produksi dan produktifitas usahanya sehinga tidak dapat meningkatkan pendapatannya, apalagi menyisihkan sebagian pendapatannya untuk tambahan modal kerja atau diinvestasikan dalam rangka mengembangkan usahanya. Dari uraian di atas, nampak bahwa faktor sumberdaya manusia adalah akar permasalahan utama bagi pengembangan ekonomi masyarakat yang sebagian besar dibangun oleh kalangan UMK khususnya pengusaha mikro. Kinerja bisnis UMK akan sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya kualitas sumberdaya manusianya, dan kompetensi kewirausahaan di kalangan mereka. Kompetensi kewirausahaan UMK sangat penting karena akan pada tingkat perkembangan produktivitas usaha, kualitas penanganan manajemen, kemampuan pengendalian organisasi, penguasaan tekonologi, pemasaran serta aspek-aspek ekonomi lainnya. Pengembangan kualitas SDM UMK merupakan solusi yang perlu dilaksanakan. Peningkatan capacity building dalam bentuk program-program peningkatan kemampuan teknis dan manajerial UMK sangat diperlukan melalui berbagai bentuk pendidikan, pelatihan, bimbingan, pendampingan dan penyuluhan. Pendidikan dan pelatihan terutama difokuskan pada kelompok usaha produktif baik yang sudah melaksanakan kegiatan usaha (UMK) maupun bagi mereka yang berpotensi untuk melaksanakan kegiatan usaha (calon pengusaha UMK). Untuk tujuan tersebut diperlukan penyediaan dan pengembangan prasarana dan sarana pendidikan dan pelatihan maupun untuk penumbuhan wirausaha baru melalui berbagai model seperti model pendampingan dan inkubator. Dalam hal teknologi masih banyak masalah-masalah dihadapi terkait dengan kelemahan dari UMK. Penggunaan teknologi merupakan indikator kemajuan suatu kegiatan usaha. Dengan teknologi yang memadai diharapkan produksi akan lebih banyak, produktifitas akan menjadi lebih tinggi dan kualitas produk yang dihasilkan akan menjadi lebih baik. Hasil inventarisasi masalah menunjukkan bahwa: 1) Teknologi produksi yang digunakan oleh UMK sangat rendah sehingga kualitas dan produktifitas UMK rendah. Kondisi ini menyebabkan UMK sulit untuk mampu bersaing dalam pasar bebas, yang pada akhirnya UMK tidak mampu mengembangkan skala usahanya. 116

123 KEWIRAUSAHAAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI UMK (Joko Sutrisno) 2) Sulit untuk melakukan inovasi teknologi. UMK belum mampu mengaplikasikan berbagai teknologi tepat guna baik yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri. Kondisi ini menyebabkan sebagian besar UMK masih menggunakan teknologi konvensional yang produktifitas dan kualitasnya rendah. 3) Hasil inovasi teknologi dari kalangan UMK belum mendapat perlindungan dalam bentuk Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), sehingga temuan-temuan tersebut dapat dengan mudah ditiru dan dimodifikasi oleh orang lain, termasuk untuk diproduksi dalam skala besar, yang secara langsung akan memukul kelangsungan usaha dari UMK penemunya sendiri. 4) Banyak temuan teknologi dan peralatan dari lembaga-lembaga penelitian dan Perguruan Tinggi yang belum dapat dimanfaatkan oleh UMK, sehingga kualitas teknologi UMK tetap rendah yang berdampak pada rendahnya produktifitas dan kualitas produk UMK. 5) Penyebarluasan produk inovatif UMK masih sangat lambat, sehingga pasar produk tersebut relatif sempit dan peniruan atas produk yang ditemukan peluangnya akan semakin besar. 6) UMK belum mampu memanfaatkan sistem informasi, sehingga UMK menghadapi kesulitan untuk mengembangkan usahanya dari semua aspek baik dari aspek produksi, permodalan, teknologi dan pasar. Hasil inventarisasi masalah memperlihatkan bahwa rendah kualitas teknologi UMK merupakan masalah lama (klasik) yang belum bisa teratasi. Keadaan ini terkait erat dengan kondisi internal UMK yang diwarnai oleh keterbatasan kualitas SDM serta penguasaan sumberdaya produktif. Karena penguasaan teknologi yang rendah, maka produktifitas dan kualitas produk juga relatif rendah, sehingga sulit untuk meningkatkan daya saingnya. V. KESIMPULAN DAN SARAN Inovasi teknologi adalah salah satu hasil kreatifitas UMK yang akan timbul jika ada dorongan dari dalam diri UMK baik itu dari faktor internal meliputi talenta, keturunan, jiwa untuk maju dan kemampuan dapat dibentuk melalui pendidikan program Pemerintah baik disebabkan keinginan untuk meningkatkan produktifitas, maupun kualitas produk. Keinginan itu sendiri baru akan timbul jika pengusaha memiliki kewirausahaan yang cukup baik sehingga mampu melihat peluang keuntungan dari inovasi teknologi. Namun 117

124 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : demikian, dengan kondisi UMK yang masih kurang memahami kewirausahaan, sulit bagi mereka untuk melakukan inovasi teknologi. Kalaupun ada keinginan untuk menerapkan temuan teknologi tetapi jarang dapat diaplikasikan karena kurang atau memiliki sumberdaya memadai. Kesulitan UMK untuk melakukan inovasi teknologi sendiri disamping disebabkan oleh ketidakmampuan UMK untuk meperhitungkan keuntungan yang akan diperoleh tetapi menurunnya prasarana pendukung, seperti air bersih, listrik, sarana transportasi dan lembaga-lembaga pendukung seperti lembaga penyuluhan dan pelatihan, lembaga informasi, dan lembaga keuangan. Ketidakmampuan untuk mengembangkan teknologi juga terkait langsung dengan kurangnya program-program pengembangan kewirausahaan. Pengembangan teknologi UMK yang seharusnya bisa bersumber dari inovasi teknologi juga belum dapat dilakukan oleh kalangan UMK sendiri. Demikian juga banyak hasil inovasi teknologi dari luar negeri yang dicobakan oleh beberapa UMK, namun keberhasilannya relatif rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal antara lain: (1) teknologi didatangkan atau dibeli dan bukan dialihkan, dalam arti kata keilmuan untuk teknologi tidak ikut dibeli (membeli teknologi tapi bukan membeli sain), (2) SDM UMK pada umumnya belum dipersiapkan untuk mampu menggunakan teknologi tersebut dan (3) kualitas bahan baku yang berbeda dengan kualitas bahan di tempat asalnya. Hasil inovasi teknologi dari kalangan UMK belum mendapat perlindungan, serta banyak temuan teknologi dan peralatan dari lembagalembaga penelitian yang belum dapat dimanfaatkan oleh UMK. Masalah ini menjadi salah satu kendala bagi kalangan UMK yang kreatif dan inovatif untuk mencari teknologi tepat guna yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung usaha koperasi dan UMK. Hasil kreatifitas mereka selama ini ternyata juga kurang mendapat perlindungan. Faktor utama yang menimbulkan masalah ini adalah sulitnya mendapatkan paten Hak Kekayaan Intelektual, baik dikarenakan ketidaktahuan atau ketidakmampuan UMK untuk mendapatkannya, maupun karena biaya untuk mendapatkan hak paten tersebut relatif mahal bagi UMK. Kendala lain yang menimbulkan masalah adalah belum adanya sistem informasi tentang temuan-temuan teknologi tepat guna yang diperlukan dan atau dihasilkan oleh UMK. Akibatnya temuan-temuan tersebut belum dapat dimanfaatkan secara luas oleh UMK. 118

125 KEWIRAUSAHAAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI UMK (Joko Sutrisno) DAFTAR PUSTAKA Anonimous The Asia Foundation, 1999, Small and Medium Entreprise Development, Jakarta. Anonimous Policy Reform for Increasing Small and Medium Enterprise Gowth. Study Report. Support by The Asia Foundation and PEG-USAID. Anonimous Mid Term Action Plan for SME Development: Strategy and Recommendations. Project Report. ADB MSE Development Technical Assistant. Indonesia. Asian Development Bank. Anonimous Medium Enterprise Dynamics: The Barriers Constraining on The Development of Medium-Size Enterprises. Study Report. Supported by The Asia Foundation. Anonimous Pedoman Pengembangan Kewirausahaan, Basic Penumbuhan Wirausaha Baru. Kementerian Koperasi dan UKM. Deputi Bidang Pengembangan Sumberdaya. Jakarta. Anonimous Kajian Model Penumbuhan Unit Usaha Baru. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Jakarta. Anonimous Perhitungan Kinerja UMK Ditinjau dari Aspek Kontribusi Terhadap Berbagai Indikator Makro Ekonomi Serta Survei Kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) UKM. BPS. Jakarta. Anonimous Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Usaha Kecil, dan Usaha Menengah. Kementerian Negara Koperasi UKM. Jakarta. Anonimous Analisis Daftar Inventarisasi Masalah Koperasi dan UMKM. Sekretariat Kementerian Koperasi dan UKM. Jakarta. Antal Szabo Information and Knowledge-based Society and SMEs, The United Nations Economic Commission for Europe (UNECE) Approach. Berry, Sandee and Rodriguez Small and Medium Enterprise Dynamics In Indonesia. Bulletin of Indonesian Economic Studies, Vol.37, No.3, Clotilde Fonseca Life-Long Learning in the Knowledge-based Economy: Promises & Challenges, Omar Dengo Foundation, Costa Rica, May Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Kajian Prospek Pengembangan UKM Inovatif Sukses. 119

126 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Dipta, I. Wayan Membangun Jaringan Usaha Bagi Usaha Kecil dan Menengah. Jakarta. Fajar, Agung Noor Integrasi Program Pembangunan UKM. Makalah Seminar Isue-Isue Strategis Tanggal 20 November Suarja dan Syarif Analisis Dampak Pelaksanaan Perjanjian AC-FTA Terhadap Pertumbuhan UMKM (Mimeo). Sekretariat Kementerian Koperasi dan UKM. Jakarta. Syarif, Teuku Kajian Pengembangan Teknologi Tepatguna di Kalangan UMKM. Sekretariat Kementerian Negara koperasi dan UMKM. Jakarta. Tambunan, Mangara dan Hetti B Damanik Lingkungan yang Kondusif dalam Pengembangan UKM di Indonesia. Makalah Diskusi. Center or Economic and Social Studies (CESS). Tambunan, Mangara Apakah Usaha Menengah Mengalami Stagnasi. Paper Staff, Center for Economic and Social Studies (CESS). Tambunan, Mangara Strategi Industrialisasi Berbasis Usaha Kecil dan Menengah: Sebuah Rekonstruksi pada Masa Pemulihan dan Pasca Krisis Ekonomi. Orasi Ilmiah Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya Fakultas Pertanian IPB, 19 Oktober (tidak dipublikasikan). Timmon, Smollen & Dingee An interpreunership sucseded. American Journal of Small Business. Vol 6 (2). 120

127 ALIANSI STRATEGIS SEBAGAI PRAKTEK KEWIRAUSAHAAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (Achmad H. Gopar ) ALIANSI STRATEGIS SEBAGAI PRAKTEK KEWIRAUSAHAAN USAHA KECIL DAN MENENGAH*) Achmad H. Gopar*) Abstrak Aliansi strategis sebagai praktek kewirausahaan (entrepreneurship practices) telah lama dilakukan oleh berbagai perusahaan, besar maupun kecil. Aliansi strategis dapat terjadi pada dua atau lebih organisasi bekerjasama dalam pengembangan, manufaktur, atau penjualan produk dan jasa. Ada banyak alasan untuk bergabung dalam aliansi strategis: pemanfaatan skala ekonomi, belajar dari pesaing, mengelola risiko dan berbagi biaya, memfasilitasi kolusi tersembunyi, menekan biaya untuk membuka pasar yang baru, dan mengelola ketidakpastian. Dalam semua kasus ini, aliansi strategis adalah suatu usaha untuk mengeksploitasi potensi sinergi antar dua atau lebih perusahaan independen. Ada insentif untuk bekerjasama dalam aliansi strategis, ada juga insentif untuk menipu. Penipuan biasanya menggunakan satu atau lebih dari tiga bentuk: seleksi yang merugikan (adverse selection), kebobrokan moral (moral hazard), dan menahan kewajiban (hold-up). Aliansi strategis dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Suksesnya aliansi strategis tidak hanya tergantung pada jumlah perusahaan bersaing yang telah membentuk aliansi, tapi juga pada manfaat yang dapat diperoleh perusahaan melalui aliansi strategis yang mereka bentuk. Aliansi strategis merupakan peluang bagi usaha kecil dan menengah serta koperasi lokal (KUKM) untuk mengambil keuntungan dari skala ekonomi sambil tetap mempertahankan identitas bisnis mereka masing-masing. Aliansi strategis yang sukses tidak hanya terfokus pada komponen keuangan dan operasional saja, namun juga harus secara seksama dinamika antar personal dalam hal kepercayaan, komitmen, dan keterbukaan komunikasi. Pemerintah dapat membantu KUKM untuk menghubungkan dan mempertemukan mereka untuk membentuk aliansi strategis. Kata kunci: aliansi strategis, sumber daya, skala usaha, sinergi, kompetitif efisiensi, kewirausahaan. Abstract Strategic alliances as a entrepreuneurship practice have been implemented by many companies, small or large. Strategic alliances exist where two or more *) Artikel diterima 14 April 2011, peer review Mei 2011, review akhir 14 Juni 2011 **) Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK, jebolan Center for Cooperatives University of Wisconsin-Madison, USA 121

128 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : organizations cooperate in development, manufacture, or sale of products and services. There are many reasons to join in strategic alliances i.e. exploiting scale of economics, learning from competitor, managing risk and sharing costs, facilitating tacit collusion, lowering cost of entry into new markets, and also managing uncertainty. In all these cases, a strategic alliance is an attempt to exploit potential synergies among independent firms. There are incentives to cooperate in strategic alliances, there are also incentives to cheat. Cheating generally take one or a combination of three forms: adverse selection, moral hazard, or hold-up. Strategic alliances can be a source of a sustainable competitive advantage. The success of alliances depends not only on the number of competing firms that have developed an alliance but also on the benefits that firms gain through their alliances. Strategic alliances represent an opportunity for small and medium enterprises and local cooperatives to take advantage of size economies while maintaining their individual business identities. Successful alliances require not only attention to the financial and operational components, but also diligence in the interpersonal dynamics of trust, commitment, and open communication. The government can help firms and cooperatives in linking and matching them to develop strategic alliances. Keywords : Strategic alliance, resources, business scale, synergy, effective competition, entreuprenurship. I. PENDAHULUAN Pada era globalisasi ekonomi saat ini, pasar menjadi sangat terbuka bagi siapa saja para pelaku ekonomi, sehingga terjadi persaingan yang sangat ketat diantara mereka. Untuk itu para pelaku ekonomi tersebut melakukan berbagai cara dan strategi untuk memenangkan persaingan tersebut. Cullen (1998) menyatakan keberhasilan mereka dalam persaingan ditentukan oleh kemampuan kewirausahaan mereka dan bagaimana mereka mempraktekkannya. Strategi kewirausahaan yang paling sering dipraktekkan antara lain adalah ekspor, lisensi, aliansi strategis, usaha patungan, dan investasi langsung. Setiap usaha tersebut mengandung risiko, modal dan pendapatan. Hubungan antar usaha tidak bisa lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena akan sulit dilaksanakan dan tak akan berkembang. Bentuk hubungan usaha yang semakin umum dilakukan adalah aliansi strategis, yang dibedakan dengan hubungan antara dua atau lebih badan usaha yang secara konvensional berhubungan dalam kegiatan jual beli biasa. Aliansi strategis, menurut Yoshino dan Rangan (1995), adalah kesepakatan antara dua atau lebih badan usaha yang berserikat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama namun masing-masing masih tetap independen didalam formasi kesepakatan aliansi tersebut. Dalam 122

129 ALIANSI STRATEGIS SEBAGAI PRAKTEK KEWIRAUSAHAAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (Achmad H.Gopar ) aliansi, para pihak secara bersama melakukan kontrol dan berkontribusi untuk mencapai tujuan beraliansi. Ada berbagai alasan bagi badan usaha untuk melakukan aliansi strategis, meskipun persepsi kemanfaatan aliansi strategis sangatlah bervariasi, namun setidaknya dapat dibedakan menjadi dua kategori utama, yaitu mereka yang berkepentingan untuk membangun bisnis yang baru atau memperkenalkan produk baru, dan mereka yang berkepentingan dengan bisnis yang sedang berjalan. Alasan utama, yang umumnya dikutip literatur, mengapa suatu badan usaha melakukan aliansi strategis antara lain adalah : (1) untuk mencapai skala ekonomi, (2) untuk meningkatkan akses kemanfaatan terhadap asset yang dimiliki badan usaha lain (seperti kapasitas produksi, teknologi, akses pasar, modal, produk, atau tenaga kerja), (3) untuk mengurangi risiko dengan berpatungan modal untuk mengembangkan produk baru, (4) untuk menggapai pasar yang baru dan (5) untuk mencapai sinergi transformatif melalui proses rasionalisasi, perbaikan sistem dan kemanfaatan lainnya dari proses pembelajaran (Beeby & Booth, 2000; Kale & Singh, 2000; Larsson, dkk, 1998). Ada beragam bentuk aliansi strategis secara hukum maupun institusinya. Gilis (2000) mengemukakan antara lain: persetujuan informal, tim kolektif pengembangan usaha, kontrak untuk prosedur bersama, lisensi, kontrak waralaba, sindikasi dan patungan usaha, merger dan akuisisi. Doz dan Hamel (1998) membuat klasifikasi yang agak berbeda mengenai aliansi ini, yaitu: 1. Aliansi jaringan merupakan pembentukan jaringan atau rantai perusahaan, yang secara gamblang dapat dibandingkan dari perspektif aktivitas bisnisnya yang murni (misalnya; firma dagang yang menjual barang sejenis, biro konsultan dengan orientasi yang sama, perbankan yang menawarkan jasa keuangan yang sama). 2. Aliansi portofolio merupakan bentuk aliansi yang relatif sederhana keterkaitannya dua atau beberapa firma inti membangun aliansi tetapi mereka tetap mempertahankan kultur usaha masing-masing. Beberapa firma inti ini berhubungan melalui relasi kerjasama usaha. 3. Aliansi situs internet merupakan aliansi yang sangat bervariasi dimana satu pihak membangun suatu jaringan kerjasama yang kompleks dengan beberapa pihak lainnya. Untuk itu dibentuklah struktur yang kompleks yang mungkin mencakup keseluruhan hubungan kerjasama secara langsung, tidak langsung, atau mediasi saja. Menurut Barney (2002), aliansi strategis muncul ketika dua atau lebih organisasi independen bekerjasama dalam pengembangan, produksi, dan penjualan suatu produk atau jasa. Aliansi strategis dapat dikelompokkan 123

130 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : menjadi tiga kategori umum yaitu aliansi non-ekuitas, aliansi ekuitas, dan perusahaan patungan (joint-ventures). Pada aliansi non-ekuitas, perusahaan setuju bekerjasama untuk mengembangkan, memproduksi, dan menjual produk atau jasa, tetapi mereka tidak menyatukan posisi ekuitasnya, atau membentuk suatu unit organisasi untuk menjalankan kerjasama mereka. Bahkan kerjasama tersebut dapat dikelola dengan menggunakan berbagai bentuk kontrak. Sebagai contoh aliansi strategis non-ekuitas adalah perjanjian lisensi (dimana satu perusahaan bersepakat untuk menyuplai perusahaan lainnya), dan perjanjian distribusi (dimana satu perusahaan bersepakat untuk mendistribusikan produk perusahaan yang lain). II. KEMANFAATAN ALIANSI STRATEGIS Secara umum, perusahaan memperoleh insentif dari upaya membangun aliansi strategis jika nilai asset yang disatukan dalam aliansi strategis tersebut lebih tinggi dari nilai asset jika dipisahkan masing-masing. Das & Teng (2000) menyatakan bahwa alasan yang paling bisa diterima untuk membangun aliansi strategis sangat sederhana, yaitu untuk mendapatkan nilai maksimal dari sumberdaya yang dimiliki setelah menggabungkannya dengan sumberdaya yang dimiliki pihak lain. Untuk perusahaan yang lebih kecil (UKM) aliansi strategis ini sangatlah bermanfaat, karena aliansi strategis dapat digunakan untuk mengatasi kekurangan dari skala organisasi yang kecil dengan memanfaatkan organisasi yang terbentuk dengan aliansi strategis untuk mencapai keuntungan kompetitif tanpa mengorbankan keluwesan organisasi yang dimiliki mereka sebagai UKM. Penggabungan sumberdaya tersebut sebenarnya tidak lain adalah definisi cakupan ekonomi (economies of scope). Sumber cakupan ekonomi, yang merefleksikan kesempatan untuk mengeksploitasinya semaksimal mungkin dalam aliansi strategis ini, sebagaimana banyak dikemukakan berbagai literatur antara lain adalah: (1) mengeksploitasikan skala ekonomi, (2) pembelajaran dari pesaing, (3) mengelola dan berbagi risiko dan biaya, (4) memfasilitasi kolusi tersembunyi, (5) biaya rendah untuk masuk ke pasar yang baru, (6) biaya rendah untuk masuk/keluar ke/dari industri yang baru maupun ke segmen industri yang baru, (7) mengelola ketidakpastian. Salah satu alasan yang paling sering dikutip dari literatur mengapa suatu perusahaan membangun aliansi strategis adalah untuk mengeksploitasi skala ekonomi, dimana suatu perusahaan jika bergerak sendirian tidak cukup besar untuk mengambil kemanfaatan dari kemungkinan pengurangan biaya. Biaya kegiatan usaha suatu perusahaan jika bergabung membangun suatu aliansi strategis menjadi lebih rendah dibandingkan jika mereka melakukan 124

131 ALIANSI STRATEGIS SEBAGAI PRAKTEK KEWIRAUSAHAAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (Achmad H.Gopar ) kegiatan usaha secara sendiri-sendiri. Perusahaan juga dapat memanfaatkan aliansi strategis untuk belajar keterampilan dan kemampuan dari perusahaan kompetitornya yang mau bergabung melakukan aliansi strategis. Aliansi strategis juga dapat membantu suatu perusahaan untuk mengelola biaya dan membagi risiko yang muncul jika melakukan investasi bisnis yang baru, atau jika perusahaan ada didalam bisnis yang padat teknologi dan komunikasi. Motivasi lain untuk membangun aliansi strategis adalah untuk mengurangi biaya jika memasuki pasar yang baru, terutama pasar luar negeri. Dalam konteks ini, satu pihak membawa produk dan jasa (sebagai sumberdaya) mereka kepada kerjasama aliansi strategis, pihak lain membawa pengetahuan lokal, jaringan distribusi lokal, dan pengaruh politik lokal (sebagai sumberdaya) kepada aliansi. Meskipun regulasi pemerintah lokal sangat memudahkan untuk memasukkan barang dan jasa, namun untuk membangun jaringan distribusi lokal sangatlah mahal dan sulit, karena memerlukan pengetahuan yang cukup tentang kondisi dan kearifan lokal, sedangkan sekutu aliansi lokal mungkin saja yang telah menguasai hal-hal tersebut. Bekerjasama dengan pihak lokal suatu perusahaan bisa mengurangi biaya dan kerumitan untuk memasuki pasar lokal tersebut. Hal yang sama bisa terjadi jika suatu perusahaan ingin memasuki suatu industri atau suatu segmen industri yang baru, karena memerlukan keahlian, kemampuan dan produk yang benar-benar memenuhi kebutuhan lokal. Aliansi strategis dapat membantu suatu perusahaan untuk memasuki suatu industri atau suatu segmen industri dengan cara menghilangkan ataupun mengurangi biaya tinggi untuk menguasai keahlian, kemampuan dan produk. Beberapa perusahaan menggunakan aliansi strategis sebagai mekanisme untuk keluar dari suatu industri atau segmen industri dengan biaya yang lebih murah. Biasanya suatu perusahaan ingin keluar dari suatu industri atau segmen industri jika tingkat kinerjanya pada bisnis tersebut lebih rendah daripada tingkat kinerja yang diharapkan, sedangkan peluang untuk meningkatkannya tidak terlalu besar. Seringkali perusahaan yang ingin keluar dari suatu industri atau segmen industri harus menjual asset yang telah mereka bangun untuk bersaing di bisnis tersebut. Asset tersebut mencakup sumberdaya nyata (tangible) seperti pabrik, pusat distribusi, dan teknologi produk, maupun sumberdaya yang tidak nyata (intangible) seperti merek, hubungan dengan penyuplai dan konsumen, tenaga kerja yang loyal, dan lain sebagainya. Perusahaan seringkali kesulitan untuk memperoleh nilai ekonomis yang maksimal untuk sumberdaya yang mereka miliki tersebut jika mereka ingin keluar dari bisnis yang ingin ditinggalkan tersebut. 125

132 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : III. ANCAMAN DALAM ALIANSI STRATEGIS Bagai dua muka pada sekeping uang koin, selain ada banyak manfaat yang bisa diperoleh perusahaan dari membangun aliansi strategis, juga ada kesempatan untuk menggunakannya sebagai mekanisme mencari keuntungan sesaat yang bisa merugikan salah satu atau semua perusahaan yang membangun aliansi strategis. Ancaman terhadap aliansi strategis ini setidaknya ada tiga cara, yaitu: seleksi yang merugikan (adverse selection), kebobrokan moral (moral hazard), dan menahan kewajiban (hold-up). Suatu perusahaan yang potensial untuk dijadikan sekutu dalam aliansi strategis dapat melakukan adverse selection dengan cara memberikan keahlian, kemampuan dan sumberdaya lainnya tidak sesuai dengan yang dibutuhkan dan dijanjikan untuk membangun aliansi strategis. Sebagai contoh, suatu perusahaan yang membangun aliansi strategis menjanjikan ketersediaan jaringan distribusi yang bagus bagi produk sekutunya, padahal hal tersebut tidak benar atau belum tersedia sama sekali. Perusahaan yang melakukan cara tersebut sebenarnya tidak kompeten untuk diajak membangun aliansi strategis. Seleksi yang merugikan bisa terjadi jika salah satu pihak dalam membangun aliansi strategis mempunyai pengetahuan yang kurang terhadap calon sekutunya dalam membangun aliansi strategis, sedangkan untuk melakukan observasi yang intensif memakan biaya yang sangat besar. Salah satu pihak yang bersekutu dalam aliansi strategis bisa melakukan moral hazard untuk mendapatkan lebih banyak dari sekutunya dengan memberikan lebih sedikit kepada sekutunya. Sebagai contoh, suatu perusahaan yang membangun aliansi strategis di bidang teknik telah sepakat kepada sekutunya untuk mengirimkan insinyur-insinyur terbaiknya dalam membangun aliansi strategis, ternyata hanya mengirimkan tenaga kerja yang tidak mempunyai talenta dan kurang berpengalaman. Tenaga kerja yang kualifikasinya kurang ini tidak akan bisa berkontribusi secara maksimal untuk mensukseskan aliansi strategis, tetapi mereka menggunakan aliansi strategis untuk mentransfer keahlian dan pengalaman yang dipunyai oleh tenaga kerja sekutunya yang lebih tinggi kualifikasinya. Dalam hal ini, sebenarnya tenaga kerja tersebut telah melakukan transfer kekayaan dari perusahaan sekutunya ke perusahaan tempat mereka bekerja. Jika suatu perusahaan yang membangun aliansi strategis melakukan lebih banyak investasi yang transaksinya lebih spesifik daripada yang dilakukan oleh sekutunya dalam aliansi strategis, perusahaan tersebut kemungkinan besar telah melakukan kecurangan yang disebut hold-up. Hal ini terjadi jika suatu perusahaan yang beraliansi membuat permintaan transaksi spesifik lebih 126

133 ALIANSI STRATEGIS SEBAGAI PRAKTEK KEWIRAUSAHAAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (Achmad H.Gopar ) rendah dari yang disepakati, sedangkan perusahaan sekutunya melakukan transaksi yang lebih besar daripada yang dilakukan oleh perusahaan tersebut (Barney, 2002). IV. MEMBANGUN ORGANISASI ALIANSI STRATEGIS Salah satu penentu keberhasilan aliansi strategis adalah bagaimana pengorganisasiannya. Tujuan utama mengorganisasikan aliansi strategis adalah untuk memungkinkan sekutu dalam aliansi strategis bisa meraih semua kemanfaatan dari aliansi strategis, namun tetap meminimalkan peluang bagi salah satu pihak melakukan kecurangan terhadap perjanjian kerjasama. Pengorganisasian aliansi strategis sangatlah khas. Kadangkala memerlukan waktu yang cukup banyak bagi suatu perusahaan untuk menyadari seberapa besar potensi kemanfaatan yang mungkin diraihnya dari aliansi strategis yang dibangunnya bersama sekutu usahanya. Berbagai alat dan mekanisme dapat digunakan untuk meminimalkan peluang kecurangan dalam bertransaksi antar perusahaan yang membangun aliansi strategis: aliansi non-ekuitas, aliansi ekuitas, reputasi perusahaan, perusahaan patung, dan kepercayaan (trust). Memilih sekutu untuk membangun aliansi strategis sangatlah penting dan biasanya sangat sulit, banyak hal harus dipertimbangkan dengan benar, terutama harus mengetahui dan memahami apa yang menjadi tujuan perusahaan sekutu. Satu hal yang penting dipertimbangkan oleh para pihak untuk membangun aliansi strategis adalah saling mengerti dan menerima apa yang menjadi tujuan perusahaan masing-masing. Perusahaan calon sekutu juga harus memiliki keahlian yang melengkapi (complementary skills). Setiap pihak harus berkontribusi lebih dari sekadar modal untuk membangun aliansi strategis, membawa kompetensi lainnya untuk aliansi. Satu pihak dapat membawa keahlian teknis sedangkan sekutunya dapat membawa pengetahuan tentang pasar. Berbagai keahlian dapat dibawa oleh suatu perusahaan untuk kerjasama dalam aliansi strategis: keahlian managerial, fasilitas produksi, atau akses terhadap sumberdaya. Meskipun para pihak telah memenuhi kebutuhan akan keahlian dan sumberdaya untuk aliansi, para pihak tersebut harus membangun kejujuran dan komitmen untuk mencapai tujuan mereka. V. ALIANSI STRATEGIS OLEH USAHA KECIL DAN MENENGAH John Naisbitt (1994) melihat adanya kecenderungan paradoks dunia usaha, dimana usaha kecil dan menengah menjadi semakin dominan dan independen. Walaupun cenderung melibatkan diri kedalam jaringan usaha yang lebih besar, namun mereka tetap memelihara dan tidak mau kehilangan 127

134 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : identitasnya. Jika di masa lalu UKM lebih banyak melakukan merger dengan UKM lainnya, dan diakuisisi oleh perusahaan besar, sekarang cenderung sebaliknya yang terjadi, bahkan semakin banyak usaha besar memecah dirinya menjadi UKM yang independen. Untuk keperluan organisasi yang lebih besar UKM cenderung membangun aliansi strategis, baik dengan sesama UKM maupun dengan usaha besar. Walaupun melakukan kerjasama usaha bukanlah hal baru di kalangan UKM Indonesia, namun jumlah UKM yang membangun aliansi strategis, baik dengan sesama UKM maupun dengan usaha besar, belumlah terlalu banyak. Sebagaimana kita ketahui sebagian besar (sekitar 99%) dari UKM didominasi oleh usaha mikro. Sudah terlalu banyak literatur yang mengemukakan jika usaha mikro ini mempunyai masalah yang menghambat mereka untuk melakukan aliansi strategis, baik masalah internal maupun masalah eksternal. Masalah internal yang umumnya dihadapi oleh UKM adalah keterbatasan sumberdaya asset, sumberdaya manusia berkualitas dan jaringan usaha. Sedangkan masalah eksternal lebih disebabkan oleh iklim usaha yang kurang kondusif bagi UKM, baik yang disebabkan oleh kebijakan makro pemerintah maupun oleh kondisi perekonomian dunia. Permasalahan tersebut menjadi penghambat bagi UKM untuk membangun aliansi strategis dengan pelaku usaha lainnya. Masalah kecilnya organisasi usaha UKM ini sebenarnya menjadi faktor pendorong bagi UKM untuk melakukan aliansi strategis, namun kurangnya asset dan keahlian menjadi faktor penghambat bagi UKM untuk membangun aliansi sinergis. Langkah-langkah yang diperlukan untuk melakukan inisiasi membangun aliansi strategis, seperti memilih calon sekutu untuk beraliansi, kadangkala merupakan kegiatan yang memakan biaya yang cukup mahal, sehingga UKM tidak mampu membiayainya. Namun bagi UKM yang mempunyai tenaga kerja yang menguasai teknologi informasi, langkah inisiasi untuk melakukan aliansi strategis sebenarnya menjadi lebih mudah. Penjajakan untuk mencari sekutu usaha bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi informasi yang sekarang semakin murah dan mendunia, menjangkau sampai ke pelosok pedesaan. Oleh karena itu, langkah-langkah manajerial menjadi lebih penting dilakukan untuk memulai membangun aliansi strategis. VI. ALIANSI STRATEGIS OLEH KOPERASI Dorongan untuk melakukan reorganisasi bagi koperasi di tingkat lokal umumnya adalah untuk meningkatkan skala usaha sehingga bisa meningkatkan efisiensi dan kinerja keuangan dari bisnis yang digeluti koperasi. Namun beberapa riset menunjukkan bahwa tujuan tersebut lebih banyak 128

135 ALIANSI STRATEGIS SEBAGAI PRAKTEK KEWIRAUSAHAAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (Achmad H.Gopar ) tidak tercapai. Parliament and Taitt (1989), sebagaimana dikutip oleh Fulton dkk (1996), mengkaji 24 usaha reorganisasi (amalgamasi, penggabungan, akuisisi) oleh koperasi di Minnesota dan mengevaluasi konsekuensi keuangan hasil reorganisasi tersebut. Hasilnya: indikasi bahwa kemanfaatan finansial sebagaimana diharapkan tidaklah tercapai baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga mereka menyarankan agar koperasi hendaknya berhati-hati untuk melakukan reorganisasi. Ketidakberhasilan reorganisasi tersebut, selain disebabkan oleh kinerja manajemen, ternyata juga disebabkan oleh partisipasi anggota yang minimal. Pengurus dan manajemen menjadi kurang tertarik untuk melakukan reorganisasi, meskipun amalgamasi bisa meningkatkan efisiensi dan kinerja keuangan, karena anggota umumnya lebih menyukai koperasinya dimiliki secara lokal, bukan menjadi cabang usaha dari koperasi besar yang tidak dimiliki secara lokal. Reynolds (1995) menyatakan bahwa anggota lebih menyukai koperasi yang lebih kecil, lebih berciri kearifan lokal dan hubungan antar anggota lebih familiar, kondisi yang mungkin bisa hilang jika koperasi melakukan reorganisasi. Meskipun banyak juga koperasi yang berhasil meningkatkan efisiensi usahanya melalui amalgamasi dan reorganisasi, saat ini lebih banyak koperasi mulai mengkonsolidasikan usahanya dengan membangun aliansi strategis dengan sesama koperasi maupun dengan non koperasi. Dengan membangun aliansi strategis, setiap koperasi dapat meningkatkan efisiensi melalui peningkatan skala usaha, tanpa mengorbankan identitas maupun kearifan lokal yang mereka miliki. Selain peningkatan skala usaha, koperasi bisa berbagi pengalaman dan keahlian dengan sesama koperasi, dan memanfaatkan jaringan usaha yang dibangun melalui aliansi strategis. Namun sebagaimana yang dialami oleh UKM, koperasi kita juga mempunyai permasalahan yang sama, baik internal dan eksternal. Oleh karena itu, untuk mendorong koperasi membangun aliansi strategis, memerlukan upaya yang sama dengan UKM. VII. KESIMPULAN DAN SARAN Pemerintah baru saja mencanangkan gerakan nasional untuk menggalakkan kewirausahaan. Apa yang telah kita bahas tentang aliansi strategis sebenarnya tidak lain adalah praktek kewirausahaan (entrepreneurship practices) yang seharusnya didorong dan disosialisasikan agar berkembang, baik dikalangan UKM maupun di gerakan koperasi. Memang tidak bisa disangkal jika UKM dan koperasi mengalami kesulitan untuk mulai membangun aliansi strategis dengan calon sekutu usahanya karena permasalahan yang melekat pada UKM dan koperasi, seperti rendahnya penguasaan asset, kurangnya 129

136 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : keahlian untuk melakukan aliansi dan tidak mempunyai jaringan usaha. Untuk itulah diperlukan peranan pemerintah untuk memacu UKM dan koperasi menggunakan aliansi strategis sebagai instrumen kewirausahaan untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja keuangannya. Bagaimana pemerintah bisa berperan? Tentunya perlu skenario besar untuk membuat kebijakan pemerintah yang dapat mendorong UKM dan koperasi bisa melakukan aliansi strategis. Namun setidaknya Kementerian Koperasi dan UKM mempunyai dua lembaga yang bisa digunakan untuk mendorong UKM dan koperasi membangun aliansi strategis, yaitu Lembaga Layanan Pemasaran KUKM (LLP KUKM) dan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). Lembaga Layanan Pemasaran KUKM tentunya mempunyai basis data (jika belum punya, harus dibangun dan dikembangkan) yang besar mengenai KUKM dan produknya, serta jaringan pemasaran yang dipunyai KUKM. Jaringan inipun jika belum ada, harus dibangun oleh LLP KUKM tentunya tidak cukup dengan hanya pameran saja. Dengan basis data yang ada, LLP KUKM dapat membuat program link and match, yaitu menyambungkan KUKM yang cocok untuk membangun aliansi strategis. Sebagai contoh, UKM A menghasilkan produk X, namun tidak mempunyai jaringan pemasaran di wilayah tertentu, misalnya Kalimantan, UKM A tidak mempunyai kemampuan, sumberdaya, dan biaya untuk menjajaki dan mencari calon sekutu di Kalimantan, padahal produk sejenis cukup diminati di Kalimantan. Untuk itulah LLP KUKM dapat berperan aktif mencarikan calon sekutu UKM A dengan memanfaatkan basis data yang ada pada Lembaganya. Dengan demikian, KUKM mempunyai peluang membangun aliansi strategis dengan usaha lainnya dengan biaya yang murah, sedangkan LLP KUKM telah melakukan tugasnya secara pas dan tepat. Agar program link and match bisa sukses, LLP KUKM harus membangun basis dan yang besar dan kuat dan memanfaatkan semaksimal mungkin teknologi informasi yang terus berkembang. LPDB tentunya berperan dalam memperbaiki keuangan KUKM. Betapa banyak KUKM yang mempunyai prospek bagus namun terkendala permasalahan keuangan, sehingga tidak bisa membangun aliansi strategis. LPDB sendiri tentunya tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan keuangan dari KUKM. Penulis menyarankan adanya perubahan orientasi kebijakan LPDB dalam mengucurkan kredit kepada KUKM. Jika selama ini LPDB membantu keuangan KUKM dengan cara memberikan kredit, mirip dengan lembaga keuangan perbankan, alangkah baiknya perbantuan tersebut diorientasikan sebagai penyertaan modal kepada KUKM. Melalui penyertaan 130

137 ALIANSI STRATEGIS SEBAGAI PRAKTEK KEWIRAUSAHAAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (Achmad H.Gopar ) modal, LPDB turut serta membenahi bisnis KUKM dan sekaligus memonitor perkembangannya. Memang saat ini penyertaan modal ke KUKM belum digarap maksimal dan kurang sosialisasi, bahkan sepertinya Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1998 tentang Modal Penyertaan pada Koperasi belum dieksploitasikan dan dieksplorasikan dengan maksimal. PP tersebut kiranya perlu disosialisasikan lebih gencar lagi, dan jika ada kekurangannya hendaknya dilakukan revisi peraturan. DAFTAR PUSTAKA Barney, J.B Gaining and Sustaining Competitive Advantage, 2nd ed., New Jersey: Prentice Hall. Beeby, M. and C. Booth Network and inter-organizational learning: a critical review, The Learning Organization, 7:2, Cullen, J Multinational Management: A Strategic Approach. 1st ed., Cincinnati: South-Western College Publishing. Das, T.K. & B. Teng A resource based theory of strategic alliances, Journal of Management, 26:1, Doz, Y.L., Hamel, G. Alliance Advantage: The Art of Creating Value through Partnering, 1st ed., Boston: Harvard Business School. Fulton, J.R., M.P. Pop, and C. Gray Strategic Alliance and Joint Venture Agreements in Grain Marketing Cooperatives, Journal of Cooperatives, Gilis, R.D Strategic Alliances with Question Mark, Modern Management, 12, 4-6. Kale, P., & H. Singh Learning and Protection of Proprietary Assets in Strategic Alliances: Building Relational Capital, Strategic Management Journal, 21, Larsson, R., Bengtsson, L., Hendricksson, K. & J. Sparks The Interorganizational Learning Dilemma: Collective Knowledge Development in Strategic Alliances. Organization Science, 9, Naisbitt, John Global Paradox, alih bahasa: Drs. Budijanto, Binarupa Aksara, Jakarta. Reynolds, B Specialization Networks Offer Alternative to Consolidation of Local Cooperatives, Farmer Cooperatives,

138 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Yoshino, M.Y. & U.S. Rangan Strategic Alliances: an Entrepreneurial Guide to Globalization, Boston, Mass: Harvard Business School Press. 132

139 PENGEMBANGAN KOPERASI DAN UKM DENGAN PENDEKATAN OVOP (Riana Panggabean) PENGEMBANGAN KOPERASI DAN UKM DENGAN PENDEKATAN OVOP*) Riana Panggabean**) Abstrak Tulisan ini bertujuan merumuskan strategi pengembangan Koperasi dan UKM (KUKM) dengan pendekatan One Village One Product (OVOP). Hasil analisa menunjukkan bahwa (1) koperasi dan pihak stakeholder belum siap melakukan kegiatan OVOP, (2) database KUKM belum memadai baik pada OVOP yang sudah berjalan maupun yang direncanakan, (3) belum adanya petunjuk (Grand Design) pengembangan KUKM dengan pendekatan OVOP di tingkat kabupaten, (4) peran UKM dalam kegiatan OVOP menyebar di semua subsistem baik input produksi, produksi, pengolahan, pemasaran maupun sarana penunjang namun belum terintegrasi satu dengan lain sedangkan peran koperasi belum jelas di masing-masing subsistem, (5) pengembangan KUKM belum disiapkan dengan baik ditunjukkan oleh belum adanya kesiapan pembina di tingkat kabupaten untuk merencanakan arah pengembangannya, (6) belum semua stakeholder berperan dalam kegiatan OVOP. Disarankan agar (1) pemerintah tingkat Kabupaten mempersiapkan pendataan KUKM secara valid; (2) perlu disusun Grand Design pengembangan KUKM di tingkat kabupaten secara terpadu; (3) perlu disusun action plan bersama antara koperasi, UKM dengan stakeholder; (4) koperasi perlu ditumbuhkan, dan atau diperkuat baik organisasi maupun usaha; (5) strategi pengembangan koperasi mengikuti kegiatan OVOP yang ada dimasing-masing tempat dan perannya disesuaikan dengan kondisi komoditas yang di-ovop-kan; (6) UKM yang menyebar di masing-masing subsistem agar diintegrasikan supaya nilai tambah dari semua subsistem dapat dinikmati semua pelaku yang ada di OVOP. Kata kunci : Koperasi, UKM, Strategi dan Kebijakan OVOP Abstract This paper aims to describe strategies for the development of cooperatives and SMEs with the approach of OVOP. The showe that (1) cooperative and the stakeholders have not prepared to do OVOP activities, (2) the Database of Cooperatives and SMEs has been inadequate in both planning OVOP, (3) lack of instruction enpowing of Cooperatives and SMEs OVOP at the district (kabupaten) level, (4) the role of SMEs in the OVOP activity has spread across subsystem input, suck as production facilities, processing, marketing and support, alhaus not, it has *) Artikel diterima 7 April 2011, peer review Mei 2011review akhir 14 Juni 2011 **) Peneliti Utama pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK 133

140 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : integrated with one another, (5) development of Cooperatives and SMEs has not been well prepared which is shown by the lack of preparedness of supervisors at the district level to plan the direction of its development, (6) not all stakeholders participate in the activities of OVOP. It is recommended that (1) government should prepare district-level data collection of Cooperatives and SMEs, (2) need to prepare an integrated Grand Design of Cooperative and SME development at the district level, (3) preparing an action plan jointly by the cooperatives, SMEs and Stakeholders, (4) cooperatives need to be grown, and/or strengthened both in organizations and enterprises, (5) cooperative development strategy has to follow the activities of existing OVOP in respective places and roles tailored to the conditions of the commodities for OVOP, (6) SMEs that has spread in respective subsystem needs to be integrated, so that value added of all subsystems can be undertaken by all actors in OVOP. Keywords: Cooperative, SME, Strategy and OVOP policy I. PENDAHULUAN Pendekatan pengembangan UKM melalui OVOP diadopsi dari Program OVOP yang dikembangkan di Jepang dan One Tambon One Product (OTOP) dikembangkan di Thailand sejak tahun Pengembangan OVOP merupakan pengembangan kearifan lokal yang dalam waktu relatif singkat dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat (Iskandar Andi Nuhung, 2007). Keberhasilan kedua negara ini memberi inspirasi di Indonesia untuk mengimplementasikan program yang dimodifikasi sesuai dengan kondisi dan situasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan program OVOP di Thailand adalah: (1) adanya konsistensi pembangunan bertahap; (2) adanya keberpihakan pemerintah kepada pengusaha ekonomi lemah; (3) adanya koordinasi diantara para pelaku pembangunan; (4) adanya faktor rujukan dari raja (panutan dari atas); dan (5) pemanfaatan sumberdaya teknologi; serta (6) memiliki data base yang valid untuk memulai program (Sahat, 2007; Kadin, 2007). Sasaran pengembangan OVOP antara lain: (1) mendorong usaha mikro, usaha kecil dan menengah yang menghasilkan berbagai produk spesifik lokal menjadi usaha komersial dan berkelanjutan; (2) mendorong produk-produk lokal khas daerah yang berasal dari pertanian termasuk perkebunan, peternakan, perikanan, kehutanan menjadi bagian dari kearifan lokal bernilai tinggi; (3) mendorong industrialisasi/usaha ekonomi pedesaan untuk menghasilkan produk komersial dan membuka pasar lokal, regional dan internasional; (4) 134

141 PENGEMBANGAN KOPERASI DAN UKM DENGAN PENDEKATAN OVOP (Riana Panggabean) mendorong terjadinya kerjasama antar stakeholder untuk mengembangkan produk lokal melalui fasilitasi dan pengaturan. Kementerian Koperasi dan UKM c.q. Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK mulai tahun 2008 merintis pengembangan program OVOP di Indonesia. Rintisan tersebut meliputi: (1) koperasi Mitra Tani Parahyangan dibidang komoditas sayur mayur; (2) koperasi Unit Desa Cisurupan Kec. Cisurupan, Kab. Garut dibidang komoditas paprika; (3) koperasi Al-Amin di Kota Tasikmalaya, dibidang komoditas bordir; (4) koperasi Usaha Bahari Tunas Mandiri Kec. Susut, Kab. Bangli Prov. Bali, dengan komoditas buahbuahan; (5) koperasi Kultura Kalamansi Bengkulu, Provinsi Bengkulu dengan komoditas Jeruk Kalamansi; (6) komoditas nenas di Kabupaten Prabumulih Provinsi Sumatera Selatan; dan (7) komoditas carica di Kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah. Sesuai dengan Panduan Operasional (Blue Print One Village One Product) Tahun Kelembagaan koperasi dalam program OVOP bertujuan untuk: (1) memfasilitasi kepastian hukum pada UKM, agar dapat akses dengan pembiayaan; (2) melayani kebutuhan UKM, petani dan kelompok tani dalam penyediaan bahan baku; (3) akses dalam pemasaran dan (4) sarana penunjang yang berkaitan dengan kegiatan OVOP. Hasil pengamatan pada program rintisan tersebut menunjukkan bahwa: (1) pada tujuh kegiatan belum semua koperasi berperan dalam kegiatan OVOP; (2) di beberapa lokasi belum semua UKM berperan pada semua kegiatan OVOP; (3) kesiapan Pembina di tingkat kabupaten untuk memberdayakan petani/pengrajin belum jelas, hal ini ditunjukkan bahwa belum semua Dinas terkait memiliki data base terkait dengan kegiatan OVOP, misalnya: (i) berapa jumlah petani/pengrajin, berapa jumlah UKM dan apa kegiatannya,(ii) berapa produksi komoditas bersangkutan per tahun, (iii) komoditas tersebut diolah untuk apa, (iv) produk olahan akan dijual kemana untuk jangka menengah dan panjang, (v) masalah packaging, angkutan dan prasarana jalan yang belum memadai. Mengingat kegiatan OVOP adalah kegiatan yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir maka informasi seperti itu perlu diketahui dengan jelas. Data dan informasi tersebut diperlukan untuk membuat perencanaan arah pengembangan KUKM. Hasil akhir dari kegiatan ini akan dinilai dari seberapa besar nilai tambah dari semua kegiatan usaha untuk menambah pendapatan semua pelaku yang ada dalam kegiatan OVOP. Oleh sebab itu diperlukan adanya strategi pengembangan KUKM pada kegiatan OVOP. 135

142 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Tulisan ini diharapkan dapat menjadi masukan yang berguna bagi upaya merumuskan strategi pengembangan KUKM melalui pendekatan OVOP. II. KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KOPERASI DAN PENGERTIAN OVOP 1. Kebijakan Umum Pembangunan Koperasi Pembangunan Koperasi Pedesaan tidak terlepas dari pembangunan koperasi secara keseluruhan yang diatur melalui UU Nomor 25 Tahun Koperasi sebagai badan usaha dan sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat perlu dikembangkan dengan sungguh-sungguh agar mampu melaksanakan fungsi dan perannya dalam perekonomian nasional. Oleh sebab itu sasaran pembangunan kopersi di masa datang adalah menetapkan terwujudnya koperasi sebagai badan usaha dan sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang sehat, tangguh, kuat, dan mandiri serta sebagai sokoguru perkonomian nasional. Koperasi diharapkan sebagai wadah untuk menggalang kemampuan ekonomi rakyat di semua kegiatan perekonomian nasional sehingga mampu berperan utama dalam meningkatkan kondisi dan kesejahteraan. Masalah pokok yang dihadapi koperasi adalah (1) masih belum meluasnya pemahaman tentang koperasi sebagai suatu lembaga ekonomi, (2) kurangnya sosialisasi tentang praktek-praktek berkoperasi yang benar (best practise) yang mengakibatkan rendahnya kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi. Oleh sebab itu, menurut UU Nomor 25 Tahun 1992 bahwa prinsip koperasi merupakan satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan berkoperasi. Melaksanakan keseluruhan prinsip koperasi mewujudkan dirinya sebagai badan usaha sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berwatak sosial, yang meliputi: 1) Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka 2) Pengelolaan dilakukan secara demokratis 3) Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota 4) Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal 5) Kemandirian 136

143 PENGEMBANGAN KOPERASI DAN UKM DENGAN PENDEKATAN OVOP (Riana Panggabean) Ada beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi oleh koperasi agar mampu melayani anggota dengan ciri-ciri sebagai berikut: 1) Usaha koperasi aktif, dimana mekanisme manajemen koperasi berlangsung, seperti RAT, audit, proses POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling), aktivitas bisnis berjalan dan ketaatan terhadap Peraturan Perundangan yang berlaku. 2) Kinerja usaha yang semakin sehat, yang ditunjukkan dengan membaiknya struktur permodalan, kondisi kemampuan penyediaan dana, penambahan aset, peningkatan volume usaha, peningkatan kapasitas produksi dan peningkatan keuntungan. 3) Adanya prinsip kohesivitas, yaitu rasa keterikatan anggota terhadap organisasi. Hal ini dapat dilihat berdasarkan persentase kehadiran dalam rapat, loyalitas/kesetiaan terhadap keputusan organisasi, tanggung renteng (risk sharing) dan lain-lain. 4) Memiliki partisipasi kuat dari anggota, yaitu kewajiban dan dukungan anggota. Hal ini nampak dalam hal pemenuhan simpanan pokok dan wajib, menghadiri rapat proses pengambilan keputusan, memanfaatkan pelayanan koperasi dan lain-lain. 5) Orientasi pelayanan khususnya pada anggota dan umumnya pada masyarakat, dicirikan dengan usaha anggota dan adanya pendidikan bagi anggota koperasi. 2. Kebijakan Umum Pembangunan Koperasi Pedesaan Tujuan pembangunan koperasi di pedesaan adalah (1) agar koperasi di pedesaan mampu memberikan kesempatan dan menumbuhkan prakarsa masyarakat pedesaan untuk meningkatkan usaha yang sesuai dengan kebutuhan mereka serta sekaligus mampu memberikan pelayanan yang bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan mereka, (2) meningkatkan kualitas koperasi yang mampu melayani anggota, (3) meningkatkan kemampuan usaha dan perannya untuk mendorong berkembangnya agrobisnis, agroindustri, industri pedesaan, jasa keuangan, dan jasa lainnya termasuk penyediaan kebutuhan pokok, (4) mengembangkan koperasi sekunder yang secara khusus menangani komoditas tertentu, terutama yang mempunyai nilai komersial tinggi untuk pasar dalam dan luar negeri sesuai dengan potensi masyarakat setempat, (5) meningkatkan kualitas pelayanan usaha koperasi di pedesaan serta (6) meningkatkan jaringan kerja sama antar koperasi dan kemitraan usaha dengan badan usaha lainnya. 137

144 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Pengertian One Vilage One Product (OVOP) 1) OVOP adalah suatu pendekatan pengembangan produk unggulan daerah untuk meningkatkan nilai tambah produk unggulan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam wadah KUKM. 2) Tujuan pengembangan OVOP adalah (1) mengembangkan produk unggulan daerah yang memiliki potensi pemasaran lokal maupun internasional, (2) mengembangkan dan meningkatkan kualitas serta nilai tambah produk, agar dapat bersaing dengan produk dari luar negeri (impor) dan (3) meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. 3) Kegiatan OVOP yang dilakukan oleh Kementerian Koperasi dan UKM dalam pengembangan OVOP harus memberdayakan Koperasi sebagai wadah masyarakat (petani, pengepul dan UKM). 4) Prinsip Gerakan OVOP: (1) Lokal Tapi Global Pengembangan Gerakan OVOP ditujukan untuk mengembangkan dan memasarkan satu produk yang bisa menjadi sumber kebanggaan rakyat setempat. (2) Kemandirian dan Kreativitas Prinsip kedua dari Gerakan OVOP adalah kemandirian dan kreativitas. Penghela dari gerakan adalah warga sendiri. Bukanlah pejabat pemerintah yang harus menentukan produk spesifik lokal yang harus dipilih dan dikembangkan, tetapi harus menjadi pilihan rakyat untuk merevitalisasi daerah mereka. Poin penting yang perlu dijadikan pertimbangan adalah jangan memberikan subsidi secara langsung kepada masyarakat setempat. (3) Pengembangan Sumberdaya Manusia Prinsip ketiga dari Gerakan OVOP adalah pengembangan sumberdaya manusia. Inilah merupakan komponen terpenting dari kampanye gerakan ini. Bukanlah pemerintah, tetapi warga masyarakatlah yang harus menghasilkan kekhasan. Kita harus 138

145 PENGEMBANGAN KOPERASI DAN UKM DENGAN PENDEKATAN OVOP (Riana Panggabean) mampu mendorong sumberdaya manusia yang inovatif yang mampu melakukan tantangan baru di sektor pertanian, pemasaran, pariwisata dan bidang lainnya. 5) Peran pemerintahan provinsi lebih ke arah bantuan teknis. Sebagai contoh, menyediakan panduan kepada masyarakat tentang bagaimana cara baik mengembangkan jamur shiitake dan bagaimana membuat minuman baru dan membuat produk olahan dari jeruk. Pemerintah provinsi juga terlibat dalam aktivitas promosi di kotakota besar seperti Jakarta. Dalam kaitan ini pemerintah berperan seperti penjual. Tetapi bagian penting dari semuanya, masing-masing desa, kecamatan dan kota di Indonesia haruslah mampu membuat dan memasarkan produk mereka sendiri dengan sumberdaya, uang dan kemampuannya sendiri. 6) Kriteria Penetapan Program OVOP (1) Merupakan unggulan daerah atau kompetensi inti dan telah dikembangkan secara turun-temurun (2) Merupakan produk khas/unik daerah setempat (3) Berbasis pada sumberdaya alam setempat/lokal (4) Memiliki penampilan dan kualitas produk yang baik (5) Memiliki peluang pasar yang luas, baik domestik maupun internasional (6) Memiliki nilai tambah produk yang tinggi (7) Bisa menjadi penghela bagi ekonomi lokal/setempat III. OVOP DAN KOPERASI SERTA UMK Mengapa pengembangan koperasi dan UKM dilakukan dengan pendekatan OVOP. Kegiatan OVOP merupakan salah satu kegiatan yang harus dikembangkan karena kegiatan banyak berkaitan dengan agribisnis. Salah satu arah pengembangan koperasi di pedesaan adalah mendorong berkembangnya agrobisnis, agroindustri, dan industri pedesaan. Kebijakan ini berkaitan dengan arah pembangunan wilayah di desa (Wardoyo, 1993). Dengan demikian pengembangan kegiatan koperasi juga harus diarahkan kepada kegiatan untuk memenuhi kebutuhan anggota dan masyarakat pedesaan, 139

146 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : khususnya melalui penggunaan teknologi pertanian di desa, ditambah laju pertambahan penduduk dan semakin sempitnya areal pertanian di desa, telah menyebabkan meningkatnya urbanisasi. Oleh sebab itu, pembangunan dan alokasi sumber-sumberdaya ekonomi perlu lebih diarahkan ke pedesaan. Ada tiga alasan yang dikemukakan Raharjo (1984), terkait dengan pentingnya pembangunan pedesaan yaitu: (1) diperhitungkan kemungkinan besar timbul krisis bahan pangan, (2) krisis energi dan (3) krisis tenaga kerja. Dengan demikian salah satu bagian penting dari strategi pembangunan harus menjamin adanya keseimbangan, baik keseimbangan antara kota dan desa, sehingga akibat-akibat buruk dari revolusi hijau bisa diatasi. Pemikiran yang lebih luas dikemukanan oleh Owens (1977), yaitu bahwa perubahan kelembagaan dan organisasi petani agar mereka bisa berpartisipasi dan menikmati hasil pembangunan perlu dilakukan, disamping menganjurkan pertumbuhan industri yang menyebar di desa. Dalam pemikiran ini tersimpul gagasan mendekatkan kegiatan industri dengan pertanian yang saling menunjang. Menurut Bungaran Saragih dan Lanny Syamsir (Kompas, 4 Oktober 1994), koperasi/kud perlu mengantisipasi cara pandang baru. Pada masa lalu, pertanian cenderung dipandang dalam arti sempit, pertanian tidak hanya disisi on-farm saja tetapi juga dari sisi off-farm. Cara pandang baru ini adalah sistem agribisnis. Pendekatan sistem agribisnis merupakan salah satu kegiatan untuk mendukung membantu mengembangkan usaha tani (on-farm). Kegiatan disektor pertanian dititikberatkan pada sisi on farm, yang umumnya menghasilkan barang primer yang biasanya jika produksinya meningkat harganya cenderung turun. Hal ini sering mengakibatkan tidak naiknya bahkan kadangkala turunnya pendapatan petani. Agribisnis mencakup tiga aspek utama, yaitu produksi pertanian, agroindustri serta jasa penunjang. Secara stuktural agribisnis berarti kumpulan unit usaha atau bisnis yang melaksanakan fungsi dari masing-masing sub sistem. Pengertian sistem agribisnis tidak hanya mencakup bisnis pertanian dalam unit skala menengah dan besar, tetapi juga dalam unit usaha skala kecil. Pengembangan agribisnis dapat mewujudkan tiga sasaran pokok, yaitu (1) meningkatkan nilai tambah produk, (2) terciptanya lapangan kerja dan kesempatan berusaha serta (3) menguatkan daya saing di pasaran dalam negeri dan pasaran internasional, sehingga dengan demikian akan dapat menghasilkan devisa dari sektor non migas. Berkembangnya agribisnis, khususnya off farm akan meningkatkan permintaan terhadap komoditi pertanian. Sebagai bisnis, sisi off-farm khususnya agroindustri memiliki keunggulan dan prospek yang cerah. Ciri-ciri bisnis tersebut adalah memiliki elastisitas permintaan 140

147 PENGEMBANGAN KOPERASI DAN UKM DENGAN PENDEKATAN OVOP (Riana Panggabean) terhadap harga produk dan pendapatan yang relatif elastik, struktur pasar yang lebih kompetitif, dan difersivikasi produk yang luas agar lebih luwes dalam menghadapi perubahan pasar. Keunggulan kegiatan agribisnis adalah dalam integrasi antar sub sistem. Jika integrasi tersebut berjalan dengan baik, maka seluruh dan setiap usaha dalam sistem akan memiliki keragaan yang baik pula, dan sebaliknya. Kegiatan agribisnis yang dominan selama ini masih berbasis perkebunan dan kehutanan. Misalnya tebu diproses menjadi gula, kelapa sawit dan karet. Pada masa yang akan datang sudah saatnya untuk juga mengembangkan agribisnis peternakan, tanaman pangan, perikanan dan holtikultura. Selain untuk lebih meningkatkan nilai tambah, pengembangan ini juga akan menyebabkan diversifikasi produk. Agar dapat menikmati lebih banyak nilai tambah, petani harus berusaha sejauh mungkin memiliki dan melaksanakan kegiatan tersebut. Karena off farm agribisnis petani umumnya berskala kecil, maka koperasi merupakan badan usaha yang layak untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Untuk itu koperasi harus berusaha merebut lebih banyak kegiatan off-farm agar nilai tambah yang dihasilkan juga dapat dinikmati oleh anggotanya. Berkaitan dengan pentingnya kegiatan agribisnis ditangani oleh koperasi, Amin Aziz (1993) berpendapat kegiatan agribisnis dapat meningkatkan kemampuan koperasi untuk menciptakan dan memanfaatkan peluang usaha. Bila hal ini dilakukan, koperasi dapat memberi peluang kepada anggotanya sekaligus meningkatkan skala usaha dan meningkatkan mendapatkan akses pasar yang lebih besar. Kegiatan agribisnis dapat meningkatkan kemampuan koperasi untuk menjamin pasar dan harga, hal ini memampukan koperasi menciptakan mekanisme kegiatan usaha. Ini berarti koperasi akan mendorong produktivitas dan efisiensi usaha anggota dan masyarakat untuk memperkuat posisi koperasi dalam mekanisme pasar. Meningkatkan kemampuan organisasi dan manajemen yang dapat ditempuh dengan menyempurnakan struktur organisasi koperasi sehingga terwujud organisasi yang kuat dan luwes untuk dapat memanfaatkan berbagai peluang usaha yang ada. Kondisi ini akan tercipta melalui pelibatan anggota dalam proses perencanaan dan pengawasan. Kondisi ini dapat dicapai melalui meningkatkan kepercayaan anggota dan masyarakat untuk menyimpan dan menyertakan modal dalam koperasi, disamping merupakan modal dari dalam koperasi melalui cadangan yang lebih besar akibat meningkatnya skala usaha. 141

148 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Jaringan usaha merupakan wujud keterkaitan integratif atau interdependen antar koperasi maupun antara koperasi dengan Usaha Milik Swasta dan Negara. Kegiatan tersebut merupakan titik masuk bagi koperasi untuk meningkatkan kepercayaan anggota yang untuk jangka panjang tercipta semangat kekeluargaan dalam koperasi. Unsur-unsur Penting dalam Perencanaan OVOP dan Agribisnis Beberapa unsur-unsur yang memperlihatkan strategisnya kedudukan koperasi dalam perencanaan OVOP, antara lain: (1) Pergeseran struktur dan sistem perekonomian dari pertanian ke industri (agribisnis) memerlukan perubahan sikap ke arah yang lebih modern. Menurut Herrick (1983) Pabrik dan Fatalisme. Pernyataan ini menunjukkan bahwa usaha Koperasi yang mengarah pada industrialisasi mengharuskan Pengurus Koperasi maupun anggotanya memiliki sifatsifat modern. Ciri-ciri manusia modern menurut Soekanto (1983), yaitu: (1) terbukanya terhadap pengalaman baru, (2) senantiasa siap menerima perubahan, (3) peka terhadap masalah yang terjadi di sekitarnya, (4) mempunyai informasi yang lengkap, (5) tidak pasrah pada nasib, (6) menyadari potensi dan (7) berorientasi ke masa datang. Melalui koperasi terbuka kemungkinan melakukan perubahan sikap ke arah yang lebih modern. (2) Pertanian yang mengarah ke industrialisasi memerlukan percepatan perubahan teknologi. Menurut Herrick (1993), teknologi lebih cepat maju dalam aplikasi industri dari pada pertanian, sebab penelitian lebih banyak diarahkan kepada industri. Sukirno (1985), menyatakan perubahan struktur ekonomi dari pertanian ke industri disebabkan perubahan teknologi yang terus menerus berlangsung. Perubahan teknologi yang terjadi dalam proses pembangunan akan menimbulkan perubahan struktur produksi yang bersifat compulsory dan inducive. Artinya, teknologi dapat meningkatkan produktifitas kegiatan-kegiatan ekonomi dan pada gilirannya akan memperluas pasar serta kegiatan perdagangan. Walaupun dalam kegiatan usaha koperasi selama ini, masalah peningkatan teknologi telah diperhatikan, akan tetapi dalam menangani OVOP perlu penanganan yang berbeda. Karena dalam penanganannya perlu terintegrasi satu sama lain. (3) Usaha OVOP menuntut ketersediaan bahan baku berupa produk pertanian. Dengan demikian sektor pertanian harus menjamin kualitas hasil sehingga menjamin terwujudnya keunggulan komparatif. Banyak faktor yang mempengaruhi tersedianya bahan baku pertanian dalam 142

149 PENGEMBANGAN KOPERASI DAN UKM DENGAN PENDEKATAN OVOP (Riana Panggabean) jumlah yang tepat. Dalam hal ini peranan Koperasi perlu ditingkatkan terutama dalam melayani petani sebagai pelaku dalam meningkatkan produksi. (4) Peningkatan produktivitas kerja merupakan sesuatu yang dituntut oleh sektor industri termasuk OVOP. Menurut Herrick (1983), produk marginal kerja lebih tinggi dalam industri daripada dalam pertanian. Peningkatan produktivitas kerja ini akan meningkatkan pendapatan dan melalui peningkatan pendapatan dapat mempengaruhi pola konsumsi. Artinya, tenaga kerja lebih banyak mengkonsumsi barang hasil industri (pertanian). Peranan koperasi dalam mempertinggi produktivitas kerja terkait dengan kemungkinan perluasan lapangan kerja, tidak saja meliputi pertanian akan tetapi juga dalam memproduksi beberapa jenis-jenis barang atau memproses bahan makanan yang diperuntukkan bagi konsumsi penduduk di kota-kota. Koperasi perlu diarahkan pada pembentukan keterampilan-keterampilan yang diperlukan oleh industri pengolahan. (5) Pengembangan OVOP cenderung memerlukan modal, sebagian besar dari modal ini dapat diperoleh dari tabungan anggota baik ia sebagai petani, peternak pengrajin petani yang telah dapat meningkatkan pendapatannya. (6) Untuk lebih menunjang perkembangan OVOP dapat dilakukan dengan skala ekonomi (economics of scale) yaitu upaya penurunan ongkos/unit. Menurut Herrick (1983) skala ekonomi (internal) harus dikaitkan dengan perubahan dalam ukuran perusahaan dan keluaran per unit waktu. Selanjutnya, skala ekonomi dapat diwujudkan oleh adanya pembagian kerja (jika ditangani oleh tenaga kerja yang profesional), penggunaan mesin-mesin kapasitas yang besar, kesempatan menggunakan prinsip pertanggungan dalam keseluruhan barang-barang. (7) Agar produk OVOP tersebut memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif, maka produk yang dikembangkan adalah tropical based comodities yang memiliki nilai komersial yang tinggi (Saragih dan Syamsir, 1994). (8) Untuk dapat merebut dan mempertahankan pangsa pasar, maka produk OVOP tersebut juga harus dapat bersaing dalam hal kualitas dan harga, kepastian/jaminan kelangsungan pasok dan mengikuti corak costumized product (Ibid, 1994). (9) Karena kegiatan yang memberikan nilai tambah terbesar adalah disisi off-farm agribisnis, maka peranan agroindustri dan perdagangan 143

150 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : menjadi sangat penting. Selama ini, agroindustri masih dilaksanakan dalam proses yang bersifat sederhana. Untuk itu, agar nilai tambah dapat lebih ditingkatkan, diperlukan pendalaman terhadap struktur agroindustri dengan menggunakan teknologi yang lebih maju (Ibid, 1994). (10) Karena keterkaitan antara berbagai subsistem dalam agribisnis adalah melalui transaksi maka sistem agribisnis akan berkembang bila biaya transaksi dapat ditekan sehingga volume transaksi dapat ditingkatkan. Untuk itu pengembangan koperasi yang terkait langsung dengan pelaku ekonomi lainnya merupakan alternatif pengembangan agribisnis agar biaya transaksi dapat diminimumkan (Ibid, 1994). (11) Sebagai bentuk kelembagaan usaha, ada beberapa kemungkinan meningkatkan kedudukan koperasi dengan anggotanya. Koperasi dapat memiliki kedudukan sebagai wahana pengumpulan daya anggota, sebagai fasilitator bagi kegiatan usaha anggota serta sebagai suatu perusahaan yang mandiri atau bahkan menjalankan beberapa kegiatan dalam kegiatan OVOP (12) Pengembangan enterpreneurship dan penerapan manajemen profesional juga harus dapat dinilai secara rasional. Dalam kaitannya dengan sistem agribisnis, koperasi harus mampu mengembangkan usaha-usaha yang bersifat komplementer terhadap usaha pokok (diversifikasi vertikal) ke arah hulu atau hilir baik melalui penggabungan usaha antar sesama koperasi maupun melalui kemitraan dengan BUMN atau perusahaan swasta (Ibid, 1994). (13) Kerjasama vertikal antara Koperasi Primer, Pusat Koperasi dan Induk Koperasi perlu dikembangkan lebih lanjut agar koperasi dapat memenuhi economics of scale, sehingga dapat merebut kegiatan offfarm agribisnis termasuk perdagangan internasional. Kemitraan tersebut dapat dilakukan untuk mengelola secara utuh ataupun hanya mengelola suatu subsistem tertentu dalam keseluruhan kegiatan agribisnis (ibid, 1994). (14) Alternatif lain untuk mengembangkan koperasi sebagai pemeran utama dalam agribisnis suatu komoditi secara lebih utuh adalah dengan menjadikan koperasi sebagai inti dan anggotanya sebagai plasma, seperti konsep PIR atau TIR (Ibid, 1994). (15) Dalam mengembangkan koperasi, image masyarakat tentang koperasi selama ini perlu terus diperbaiki. Untuk itu, konsep koperasi OVOP akan dapat memberikan image yang lebih baik. 144

151 PENGEMBANGAN KOPERASI DAN UKM DENGAN PENDEKATAN OVOP (Riana Panggabean) (16) Masing-masing komoditas mempunyai ciri dan karakter yang berbeda pada masing-masing subsistem. Untuk itu peranan penelitian sangat menunjang perencaaan dan pelaksanaan OVOP. IV. KERANGKA KONSEPTOR Pendekatan analisis yang digunakan dalam tulisan ini adalah pendekatan analisis diskriptif diawali dengan membangun kerangka konseptual Gambar 1. Pengumpulan data dilakukan dengan diskusi/temu kordinasi di masing masing kabupaten yang dilakukan melalui diskusi untuk mengidentifikasi masalah. Gambar 1. Model Pengembangan Koperasi dan UKM dengan Pendekatan OVOP V. HASIL IDENTIFIKASI Hasil identifikasi terhadap program rintisan OVOP/Agribisnis yang sudah dilaksanakan mulai tahun 2008 sampai 2011, dijelaskan dalam Tabel 1. Secara umum Tabel 1 menjelaskan bahwa dari 11 OVOP/Agribisnis yang sudah diidentifikasi belum semua memiliki informasi dan data yang lengkap. Kurang lengkapnya data ini berdampak terhadap perencanaan pengembangan KUKM berikutnya. Dari 11 OVOP/Agribisnis, hanya 7 kegiatan yang ada koperasi. Sedangkan 4 kegiatan OVOP lain belum memiliki koperasi. Koperasi dalam kegiatan OVOP/Agribisnis belum sepenuhnya berperan dan mereka belum membangun jaringan usaha dengan UKM. Pada umumnya UKM lebih aktif dari koperasi dan sudah berperan pada input produksi, pengolahan, 145

152 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : pemasaran bahkan ada yang sudah berperan pada angkutan, packing dan promosi. Masalah dalam kegiatan OVOP/agribisnis, antara lain SDM yang masih lemah, belum semuanya UKM maupun koperasi mempunyai akses terhadap sumber modal, masih menggunakan teknologi sederhana, kurangnya kebersamaan antar UKM dan koperasi (capital social yang lemah), pemasaran dan lemahnya komitmen dan perhatian Stakeholder khususnya Pemerintah setempat untuk mendukung kegiatan ini. Sampai saat ini kegiatan ini masih lebih banyak bersifat seremonial, belum ada arah pengembangan Koperasi dan UKM yang jelas di tingkat kabupaten. Tabel 1. Daftar Rintisan dan Peranan Koperasi dan UKM dalam OVOP Sumber: Panduan Operasional/Blue Print OVOP 146

153 PENGEMBANGAN KOPERASI DAN UKM DENGAN PENDEKATAN OVOP (Riana Panggabean) Di bawah ini ada beberapa komoditas OVOP yang sudah diidentifikasi namun informasi belum lengkap, adalah sebagai berikut : 1. Komoditas Carica Kabupaten Wonosobo Budidaya Carica Dieng telah dimulai sejak tahun 1980 dan sampai sekarang sudah berkembang menjadi suatu usaha yang mulai tersistem dari bahan baku, budidaya produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran. Namun sistem ini belum terintegrasi dengan baik. Produk olahannya dari buah meliputi koktil, Sirup, Selai, Jus, dan dodol. Dari produk kulit carica terdiri dari enzim papain, bio gas, pupuk organik dan dari produk biji bibit, farmasi, pupuk dan pakan. Keberhasilan ini merupakan perjuangan semua pelaku usaha yang ada di dalamnya. Hal ini perlu didukung oleh Pemerintah agar semua pelaku meliputi: 200 orang petani, 22 Gapoktan, 22 orang pemasok, 25 unit UKM sebagai produsen mendapat nilai tambah dari hasil usaha ini Tanaman carica adalah komoditas unggulan daerah Wonosobo setelah tanaman kentang mulai surut. Tanaman ini selain potensial untuk dikembangkan juga berguna untuk memulihkan kesuburan tanah. Tanaman Carica hanya tumbuh di Pegunungan Dieng Kabupeten Wonosobo. Direncanakan komoditas ini akan menjadi salah satu komoditas gerakan OPOV dalam rangka menjabarkan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2007 Tentang Percepatan Sektor Riel. Dalam kaitan ini lebih lanjut akan dikembangkan koperasi untuk membantu para petani, kelompok tani dan UKM yang sudah ada menjembatani penyediaan kebutuhan antar pelaku dalam semua sistem (bahan baku, produksi, pemasaran dan penunjang lainnya). Hal ini sesuai dengan fungsi koperasi untuk membantu para anggotanya meliputi (1) melakukan fungsi peningkatan produksi, (2) melakukan prosessing dan pemasaran hasil produksi anggota (3) menyediakan fasilitas kredit, (4) sebagai pemasok bagi kebutuhan anggota, (5) mempercepat alih teknologi melalui pendidikan dan (6) meningkatkan nilai tambah produk anggota. Prospek usaha Carica sangat potensial dilaksanakan oleh KUKM dari hulu hingga hilir agar nilai tambah dapat dinikmati semua pelaku yang ada dalam kegiatan ini. Dukungan data yang ada perlu divalidasi untuk membuat konsep operasional pengembangan koperasi dan OVOP. Informasi seperti pada Tabel 2 perlu dilengkapi dan divalidasi. Permasalahan yang dihadapi antara lain kondisi kultur para petani, belum ditemukan figur pemrakarsa (pioneer) di kalangan para petani, 147

154 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : lemahnya pemasaran, lemahnya akses permodalan, langkanya kegiatan promosi, kesenjangan keterlibatan pemerintah untuk mendukung kegiatan sentra carica, dan lemahnya pendampingan. Untuk pengembangan KUKM berikutnya ada beberapa hal yang perlu dilakukan mulai dari menumbuhkan koperasi, memvalidasi data, membangun jaringan usaha antar UKM sambil menunggu perkembangan koperasi, penguatan kelembagaan. Dalam penguatan koperasi perlu memperhatikan manajemen yang aktif, kinerja yang sehat, prinsip kohesivnes, anggota koperasi perlu berpartisipasi aktif dan kuat dan koperasi mengutamakan pelayanan bagi anggotanya. Pengembangan usaha carica berikutnya perlu didukung data base. Data base yang ada perlu divalidasi untuk membuat rencana pengembangan berikutnya, mengkordinasikan penyusunan grand desain pengembangan KUKM secara terpadu. Tabel 2. Profil Klaster Carica Kab. Wonosobo Sumber : Trisila Juantara Kab Wonosobo, Profil Sentra Holtikultura Kabupaten Cianjur Tabel 3 menjelaskan di sentra holtikultura yang sudah ada Koperasi Tani Parahiangan dengan anggota sebanyak 328 orang. Koperasi ini menangani usaha beras, saprotan dan sayur mayur. Jumlah tenaga kerja 148

155 PENGEMBANGAN KOPERASI DAN UKM DENGAN PENDEKATAN OVOP (Riana Panggabean) yang diserap sebanyak 180 orang. Koperasi Tani Parahiangan telah berperan dalam input produksi, produksi dan pemasaran dan telah bermitra dengan Carrefour, Super Indo, Hotel, Restoran dan Catering. Pengembangan KUKM lebih lanjut memerlukan data dan informasi yang akurat. Oleh sebab itu perlu dilakukan kajian untuk menyusun data base yang berguna untuk membuat perencanaan yang akurat dan valid. Menyusun action plan bersama antara Koperasi, UKM dan stakeholder yang terlibat. Kondisi koperasi yang ada saat ini perlu diperkuat dengan memberikan pengetahuan yang memadai tentang budidaya sayuran, kemitraan dan pemasaran. Hal tersebut perlu diperjelas melalui kebijakan yang terpadu dengan instansi yang terlibat. Tabel 3. Profil Sentra Holtikultura Kab Cianjur Sumber : Panduan Operasional (Blue Print OVOP 2010) 149

156 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Profil Sentra Holtikultura Kabupaten Garut. Pada sentra hortikultura di Kabupaten Garut telah ada Koperasi Mandiri Cisurupan. Jumlah anggota pada koperasi ini tidak jelas, namun tercatat anggota bergabung dalam 14 kelompok tani. Koperasi ini berperan pada teknik budidaya pertanian dibantu oleh pendamping/ penyuluh. Jumlah tenaga kerja, produksi belum jelas. Komoditas hortikultura yang diusahakan adalah sayur-sayuran buah yaitu paprika merah hijau dan kuning. Teknik budidaya sayur di sentra ini telah menganut sistem semi modern. Sentra ini telah mendapatkan bantuan hibah sebesar Rp untuk pengadaan sarana pertanian/green house dari Menteri KUKM. Profil seperti pada Tabel 4. Tabel 4. Profil Sentra Holtikultura Kab Garut Sumber : Panduan Operasional (Blue Print OVOP 2010) Pengembangan koperasi dan UKM berikutnya membutuhkan data based yang valid dan akurat untuk menyusun rencana tindak (Action Plan) bersama antara Koperasi, petani, UKM dan stakeholder lainnya. Action plan ini didukung oleh kebijakan dari Pemerintah setempat untuk pengembangan koperasi dan UKM. 150

157 PENGEMBANGAN KOPERASI DAN UKM DENGAN PENDEKATAN OVOP (Riana Panggabean) Penguatan Koperasi baik organisasi dan usaha perlu dilakukan dibantu dengan peningkatan kemampuan tentang peningkatan kualitas produk, kemitraan dan pasar Program berikutnya adalah penguatan koperasi dan peningkatan produk sayur dan peningkatan kualitas. Dalam pengembangan KUKM berikutnya perlu dilakukan pendataan ulang dan membangun jaringan usaha antara KUKM. 4. Profil Sentra Holtikultura Kabupaten Bangli Di sentra holtikultura Kabupaten Bangli telah ada Koperasi Batari Tunas Mandiri dengan anggota sebanyak orang tergabung dalam 12 kelompok. koperasi telah berperan pada input budaya produksi (usaha benih, pupuk, dan pestisida), produksi dan pemasaran. Produk agribisnis adalah sayur mayur organik terdiri dari paprika, brokoli, tomat chery, kubis, sawi, cabe merah dan terong. Buah-buahan: Jeruk Kintamani, manggis, strawbery, kopi. Sarana produksi, benih, pupuk dan pestisida. Untuk pengembangan berikutnya perlu diperkuat kelembagaan koperasi dan membangun jaringan usaha dengan UKM. Tabel 5. Profil Sentra Holtikultura Kab. Bangli 151

158 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Sumber : Panduan Operasional (Blue Print OVOP 2010) 5. Komoditas Gerabah Desa Banyumulek di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat terdapat Sentra Industri Gerabah. Sentra kerajinan ini sudah cukup terkenal di Pulau Lombok dan pulau sekitarnya, serta telah dijadikan desa wisata andalan yang menjadi tujuan wisatawan saat mencari cenderamata/souvenir yang akan dibawa pulang ke wilayah/ negeri asalnya. Kawasan Banyumulek yang dalam bahasa Sasak berarti air jernih dikenal sebagai wilayah dengan kualitas tanah lempung nomor satu di Pulau Lombok. Tidak aneh, jika pengrajin gerabah banyak muncul di desa ini, dan akhirnya ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat sebagai sentra industri gerabah unggulan Nusa Tenggara Barat. Menurut informasi yang beredar secara turun-temurun, perempuan di desa ini digambarkan sebagai pembuat gerabah selao atau gentong yang sangat ulung. Sedangkan, lelaki dewasanya menjajakan gentong tersebut dengan cara memikulnya keliling kampung. Namun, sejak pariwisata Lombok mulai berkembang (1990-an), gambaran tentang Desa Banyumulek pun mulai berubah. Tak ada lagi lelaki yang memikul gerabah keliling kampung karena telah muncul beberapa art shop yang khusus menjual produk-produk kerajinan gerabah. Sejak tahun-tahun tersebut, kerajinan gerabah Banyumulek pun mulai bervariasi dan tidak hanya membuat kerajinan gentong saja, melainkan telah mulai memproduksi jenis gerabah lain, seperti anglo, wajan, periuk, kendi, dan masih banyak lainnya. Informasi lain yang menggambarkan kedekatan masyarakat Lombok dengan gerabah dijelaskan dalam cerita rakyat (legenda) tentang Dewi Anjani. Menurut legenda tersebut, Dewi Anjani mengirimkan seekor burung pembawa pesan (Manuk Bre) untuk menolong sepasang manusia yang kebingungan menanak beras hasil panen pertama mereka. Melalui burung tersebut, Dewi Anjani lalu 152

159 PENGEMBANGAN KOPERASI DAN UKM DENGAN PENDEKATAN OVOP (Riana Panggabean) rnengajari manusia mengolah tanah gunung menjadi periuk. Mungkin, cerita ini sedikit menggambarkan bagaimana masyarakat Lombok dari dulu memang telah dekat dan menggeluti kerajinan gerabah. Tabel 6. Profil Sentra Gerabah di Provinsi NTB Sumber : Profil Sentra UKM. Dinas Koperasi dan UKM 2008 Pada komoditas gerabah UKM telah berperan dari hulu sampai ke hilir dan UKM telah melakukan pemasaran ekspor sedangkan koperasi belum berfungsi dengan baik. Di sentra gerabah ini stakeholder telah menyusun Grand Design pengembangan KUKM. Grand Design akan digunakan untuk pengembangan KUKM lebih lanjut. Masalah pada sentra ini adalah bahwa data yang ada perlu di update, memperjuangkan awik-awik guide yang sudah ditetapkan di tingkat Kecamatan ditingkatkan menjadi awik-awik ditingkat Gubernur agar dapat digunakan semua pelaku usaha di sentra gerabah. Usaha gerabah dapat di OVOP karena memenuhi syarat, yaitu dilaksanakan secara turun temurun, merupakan produk khas/unik daerah setempat, berbasis pada sumberdaya alam setempat/lokal, memiliki penampilan 153

160 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : dan kualitas produk yang baik, memiliki peluang pasar yang luas, baik domestik maupun internasional, memiliki nilai tambah produk yang tinggi dan menjadi penghela bagi ekonomi lokal/setempat. VI. STRATEGI PENGEMBANGAN KOPERASI DAN UKM DAN OVOP 1. Strategi Unsur yang berkaitan dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM) meliputi: perubahan sikap KUKM dari on-farm kepada sikap off-farm, meningkatkan kemampuan untuk bersaing dalam harga maupun mutu, meningkatkan kemampuan untuk memilih teknologi dan memanfaatkan teknologi yang sesuai, meningkatkan produktivitas kerja, meningkatkan kemampuan berusaha agar lebih efisien, meningkatkan kemampuan untuk pendalaman terhadap struktur agroindustri, meningkatkan kemampuan KUKM menjadi enterpreneurship, meningkatkan kemampuan menjalin kerjasama secara vertikal dan horizontal, mempersiapkan Koperasi sebagai inti, dan meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan skala usaha yang efisien dan menguntungkan. Unsur yang berkaitan dengan subsistem input produksi dan produksi, meliputi: bahan baku, untuk input dan hasil produksi anggota yang tersedia dan kontinu, teknologi, dan prasarana. Unsur yang berkaitan dengan subsistem pengolahan, meliputi: teknologi, kualitas bahan baku yang sesuai dengan spesifikasi sarana teknologi, sarana dan fasilitas pemasaran. Unsur yang berkaitan dengan subsistem pemasaran, meliputi: kebijakan, penelitian, penyuluhan, informasi dan kondisi pasar. Strategi pertama adalah (1) mengadakan penelitian potensi OVOP/agribisnis dan memetakan semua pelaku yang terlibat dalam OVOP/agribisnis. Pelaku dalam OVOP terdiri: jumlah petani/pengrajin, pengepul dan UKM, dan menentukan koperasi yang terlibat; (2) potensi komoditas meliputi komoditas, luas areal, produksi, pengolahan, pasar dan sarana penunjang yang berkaitan; (3) mengadakan sosialisasi kepada semua pihak yang terlibat dalam kegiatan OVOP; (4) menyusun rencana pengembangan OVOP/agribisnis secara bersama antara Koperasi, Petani/pengrajin/pengepul dan UKM serta stakeholder yang terlibat di tingkat kabupaten. 154

161 PENGEMBANGAN KOPERASI DAN UKM DENGAN PENDEKATAN OVOP (Riana Panggabean) Strategi kedua merencanakan produk olahan apa yang akan diproduksi dan menetapkan teknologi yang kompatibel dengan keterampilan pelaku OVOP/agribisnis dan masyarakat dan lingkungannya. Prinsip pengadaan bahan baku yang tersedia dan berkesinambungan diperlukan untuk mendukung struktur agribis yang akan dikembangkan. Strategi ketiga yang berhubungan dengan bidang pemasaran, meliputi: (1) memilih arah pengembangan pemasaran pasar lokal atau ekspor, (2) jaminan harga dan jaminan pasar seperti kegiatan yang telah diatur tataniaganya berupa pengadaan pangan, tata niaga cengkeh, kopi, jeruk, coklat dan komoditi lainnya. Strategi ini menciptakan gugus kesempatan anggota untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam menghadapi kondisi mekanisme pasar, (3) kebutuhan jasa pemasaran dan perkreditan. Strategi keempat: (1) penguatan koperasi meliputi menyempurnakan struktur organisasi dan (2) manajemen Koperasi sesuai dengan usaha OVOP yang akan dikembangkan. Strategi kelima: (1) antisipasi terhadap pembiayaan yang diperlukan untuk kegiatan OVOP, (2) menyusun studi kelayakan. Mengenai pembiayaan ini agar kegiatan OVOP mendapat kemudahan untuk memperoleh fasilitas kredit dari pemerintah seperti: KUR, modal kerja dari LPDB dan sumber permodalan lainnya. Strategi keenam: upaya yang berkaitan dengan perdagangan OVOP baik yang bersifat regional, nasional dan global. Untuk ini KUKM dapat memanfaatkan Jaringan Usaha Koperasi (JUK) kalau masih ada dikembangkan oleh Dewan Koperasi Indonesia (Barijambek, 1992). JUK adalah suatu sistem komunikasi yang bertujuan untuk mengkonsolidasikan kegiatan koperasi dalam satu sistem terpadu berdasarkan komoditi serta persamaan kegiatan, membentuk subsistem dalam bidang produksi, pemasaran, dan distribusi, keuangan dan jasa pelayanan konsultasi, audit. Strategi ketujuh: peranan Pemerintah dalam upaya pengembangan OVOP terutama dalam pemberian bimbingan teknis dan manajemen serta bantuan dan kemudahan yang berkaitan dengan peluang usaha dalam OVOP. Bantuan diperlukan agar memberikan arah dan strategi pengembangan KUKM dalam kegiatan OVOP. 155

162 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Model Pola Pengembangan Agribisnis Koperasi dan UKM Berdasarkan pelaksanaan beberapa rintisan OVOP/agribisnis seperti yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu direncanakan beberapa bentuk/model pola pengembangan OVOP/agribisnis bagi Koperasi/KUD. Model ini bersifat gambaran saja. Model yang riel untuk dilaksanakan tentunya sangat tergantung pada masing-masing pengguna sesuai kebutuhannya. Di antaranya: (1) pola inti dan plasma, (2) pola integrasi koperasi dengan sekunder, (3) pola integrasi dengan koperasi sejenis, (4) pola kerjasama swasta BUMN dan koperasi, (5) pola integrasi koperasi dengan kelompok tani dan kelompok sejenis. Kelima model di atas, dikelompokkan menjadi dua yaitu: model pemantapan jaringan usaha Koperasi dan model kerjasama atau kemitraan antara Koperasi dengan pihak swasta dan BUMN. Model pemantapan jaringan usaha koperasi bertujuan untuk membina kerjasama antar Koperasi (cooperative network) dan membina kewirakoperasian (enterpreneurship) agar menjadi kuat dan berdaya guna dalam masyarakat dalam mengemban peranan koperasi sebagai pelaku ekonomi. Jika jaringan ini menjadi suatu sistem (Koperasi - Pusat Koperasi - Induk Koperasi) mereka dapat memacu efisiensi teknis dan efisiensi sosial sehingga mempunyai kekuatan untuk merebut pasar. Bentuk kerjasama yang diperkirakan dapat dilakukan. Misalnya koperasi sebagai pemasok bahan baku ataupun sebagai pembeli hasil produksi dari anggota, Puskoperasi bertindak dalam subsistem pengolahan atau pemasaran. Kerjasama harus saling menguntungkan dan resiko yang dihadapi diusahakan sedapat mungkin rendah (Mutis, 1992; Iwantono, 1993). Model atau pola-pola pengembangan OVOP/agribisnis untuk pemantapan jaringan usaha koperasi dalam agribisnis yaitu: 1) Pola Inti dan Plasma Pola ini sudah dilaksanakan untuk tanaman perkebunan dan perikanan, dimana inti adalah BUMN/Swasta. Namun posisi koperasi dan petani masih selalu lemah, sebab harga produksi ditentukan oleh pihak inti. Untuk mengatasi masalah ini diharapkan Inkud atau Puskud suatu ketika menjadi Inti, sedangkan plasma adalah koperasi dengan anggota yang tergabung dalam kelompok tani atau kelompok lain sesuai jenis usahanya. Peranan Inti dalam subsistem pemasaran dan subsistem penunjangnya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing subsistem

163 PENGEMBANGAN KOPERASI DAN UKM DENGAN PENDEKATAN OVOP (Riana Panggabean) 2) Pola Integrasi Koperasi dengan Koperasi Sekunder Pola ini merupakan pola agribisnis gabah menjadi beras, perluasan kegiatan agribisnis yang ditangani KUD-KUD Agar KUD dapat melakukan sistem agribisnis beras secara utuh. Dalam pola ini kehadiran Inkud atau Puskud sangat diharapkan untuk membantu KUD dalam perbaikan teknologi (penggilingan beras KUD-KUD) dan pemasaran beras baik untuk stok nasional maupun untuk pasar umum. Dalam pola ini KUD tetap melakukan pembelian dan mengkoordinir petani melalui kelompok tani untuk meningkatkan produksinya. Pola ini juga dapat digunakan untuk membantu perluasan pola agribisnis susu sapi perah 3) Integrasi Koperasi/KUD-KUD sejenisnya Pola ini direncanakan untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan pengrajin kerupuk, pisang sale, dan sejenisnya menjadi kegiatan agribisnis yang dikelola oleh KUD. Saat ini kegiatan ini banyak ditangani oleh kelompok ibu-ibu PKK di daerah industri rumah tangga, yang kesulitan dalam memperoleh teknologi pengolahan dan pemasaran (Badan Litbang, 1994). Dalam pola ini KUD-KUD sejenis berintegrasi (kerja sama) untuk melakukan kegiatan agribisnis. Peran Koperasi/KUD diharapkan dalam subsistem pengolahan dan pemasaran, kelompok tani atau kelompok lain bertindak selaku pemasok bahan baku dari usaha taninya sendiri. Subsistem penunjang diusahakan sesuai dengan kebutuhan masing-masing subsistem. 4) Pola Integrasi Koperasi Potensial dengan Koperasi/KUD Pola ini direncanakan akan dilaksanakan oleh koperasi/kud yang potensial yang ada disetiap kabupaten, untuk melakukan atau mengembangkan kegiatan OVOP/agribisnis yang sudah ada dan kegiatan yang bakal dikembangkan. Dalam pola ini Koperasi potensial/kud berperan menangani subsistem pengolahan dan subsistem pemasaran, sedangkan koperasi/kud-kud yang ada di kabupaten bersangkutan berperan menangani kegiatan input produksi dan subsistem produksi. 5) Model Kemitraan Antara Koperasi dengan BUMN dan Swasta Model ini bertujuan untuk memperluas jaringan kerjasama koperasi/kud baik ditingkat regional, nasional dan internasional. Misalnya dalam kegiatan impor dan ekspor. 157

164 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Bentuk kerjasama yang diperkirakan dapat dilakukan, antara lain koperasi/kud sebagai pemasok bahan baku ataupun sebagai pembeli hasil produksi dari anggota, BUMN atau Swasta bertindak dalam subsistem pengolahan atau pemasaran. Kerjasama harus saling menguntungkan resiko yang dihadapi diusahakan sedapat mungkin rendah (Thoby Mutis, 1992 dan Wiwantono, 1993). Bentuk kerjasama lain yang dapat dilaksanakan antara Koperasi dengan Swasta dan BUMN : (1) joint venture dan (2) pemilikan saham oleh koperasi. Joint venture adalah kerjasama dalam usaha patungan antara koperasi dan BUMN/swasta membentuk usaha secara bersama, dimana BUMN bertindak selaku pemasok bahan baku dalam subsistem input dan produksi atau selaku pengelola subsistem pengolahan dan pemasaran. Masalah permodalan koperasi dapat diatasi melalui pemberian kredit lunak dengan menggunakan penyisihan keuntungan BUMN/Swasta yang diperuntukkan bagi pembinaan koperasi. Melalui usaha patungan ini proses teknologi maupun Know how dapat dilakukan tanpa kedua belah pihak merasa dikurangi hak-hak ekonominya. Pemilikan saham BUMN oleh koperasi, kerjasama ini dapat ditempuh melalui penyisihan keuntungan Koperasi/KUD. Koperasi sebagai pemasok, atau lainnya. Sehingga dalam jangka waktu tertentu pemilikan saham itu sudah jelas share-nya. Namun demikian pemilikan saham oleh koperasi ini seyogyanya dilakukan sebagai suatu proses perkembangan yang kemitraan usaha yang lebih maju. Pemilikan saham BUMN oleh koperasi yang garis usahanya sama sekali tidak terkait, perlu dihindari. Sebab jika tidak terdapat kepentingan ekonomi antara kedua belah pihak, dalam hal ini sulit dipertahankan hubungan yang langgeng. 3. Program Pelaksanaan Garis besar bentuk program pelaksanaan direncanakan dalam (1) jangka pendek, (2) jangka menengah dan (3) jangka panjang. 1) Jangka Pendek Kegiatan yang perlu dilakukan untuk jangka pendek meliputi: (1) melakukan sosialisasi kepada semua pihak pelaksana OVOP/ Agribisnis, (2) membangun komitmen dengan pihak terkait untuk melaksanakan OVOP, (3) melakukan penelitian ulang terhadap 158

165 PENGEMBANGAN KOPERASI DAN UKM DENGAN PENDEKATAN OVOP (Riana Panggabean) semua OVOP/agribisnis dalam rangka penyempurnaan data dan menganalisis kelayakan koperasi melakukan kegiatan OVOP. Penelitian ini diarahkan untuk membuat data based: jumlah petani/ pengepul dan UKM, luas areal identifikasi keberadaan koperasi, (4) penguatan kelembagaan koperasi, (5) membangun jaringan usaha antara KUKM, (6) membuat rencana pengembangan KUKM dengan petani/pengepul, (7) menyusun Grand Strategi Pengembangan KUKM melakukan OVOP/Agribisnis, (8) action plan termasuk pemantapan kegiatan yang sudah ditangani seperti kegiatan agribisnis hortikultura, sapi perah, gabah beras dan tahu tempe. Pelaksanaan kegiatan OVOP/agribisnis, dengan memperhatikan unsur-unsur dan strategi sebagaimana telah dijelaskan diatas dan (9) mengadakan monitoring dan evaluasi untuk membuat nilai keberhasilan KUKM diukur dengan adanya perubahan/peningkatan organisasi dan usaha KUKM dan adanya nilai tambah pendapatan semua pelaku yang terlibat dalam OVOP/agribisnis. 2) Jangka Menengah Kegiatan yang dilaksanakan untuk jangka menengah: (1) action plan sesuai dengan rencana dimasing-masing OVOP/agribisnis atau memantapkan kegiatan agribisnis yang sudah jalan, (2) melakukan identifikasi dan evaluasi terhadap semua kegiatankegiatan agribisnis yang telah dilakukan oleh koperasi/kud dalam rangka menentukan arah pengembangan koperasi/kud. Pada saat ini harus ditentukan koperasi/kud mana yang dikembangkan menjadi industri besar yang diarahkan untuk pasar ekspor, pasar regional dan nasional, (3) menyusun strategi, kegiatan mana yang perlu dikembangkan dan kegiatan yang tidak perlu dilanjutkan, (4) mempersiapkan kebijakan yang diperlukan, (5) mengadakan monitoring dan evaluasi untuk membuat nilai keberhasilan koperasi dan UKM diukur dengan adanya perubahan/peningkatan organisasi dan usaha KUKM dan adanya nilai tambah pendapatan semua pelaku yang terlibat dalam OVOP/agribisnis. 3) Jangka Panjang Kegiatan agribisnis koperasi/kud untuk jangka panjang adalah (1) melaksanakan sistem OVOP/agribisnis secara utuh dan mantap, (2) mengadakan monitoring dan evaluasi untuk membuat nilai keberhasilan KUKM diukur dengan adanya 159

166 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : perubahan/peningkatan organisasi dan usaha Koperasi dan UKM dan adanya nilai tambah pendapatan semua pelaku yang terlibat dalam OVOP/agribisnis. Pada masa ini koperasi/kud tidak lagi sebagai alat namun koperasi/ KUD sebagai pemeran utama dalam jenis kegiatan tertentu dalam sistem OVOP/agribisnis, agar koperasi/kud dapat menjadi (1) soko guru perekonomian, (2) badan usaha dan (3) gerakan ekonomi rakyat di pedesaan. VII. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan Dari penjelasan di atas ada beberapa kesimpulan yang perlu diperhatikan, dijelaskan sebagai berikut: (1) bahwa koperasi dan pihak stakeholder belum siap melakukan kegiatan OVOP; (2) databased KUKM belum memadai baik pada OVOP yang sudah berjalan dan direncanakan; (3) belum adanya petunjuk pengembangan KUKM di tingkat kabupaten (Grand Design); (4) dalam kegiatan OVOP ada yang sudah ada koperasi namun belum berfungsi dan ada koperasi yang tidak ada perlu dibentuk; (5) peran UKM dalam kegiatan OVOP menyebar di semua subsistem input produksi, produksi, pengolahan, pemasaran dan sarana penunjang namun belum terintegrasi satu dengan lain; (6) pengembangan KUKM belum disiapkan dengan baik ditunjukkan oleh belum adanya kesiapan Pembina di tingkat kabupaten untuk merencanakan arah pengembangannya; (7) belum semua stakeholder berperan dalam kegiatan OVOP; (8) strategi pengembangan KUKM dibuat untuk jangka pendek, menengah dan panjang (lihat pada halaman sebelumnya). 2. Implikasi Kebijakan Dari kesimpulan di atas, direkomendasikan beberapa saran, yaitu: (1) pemerintah tingkat kabupaten setempat perlu mempersiapkan pendataan KUKM secara valid; (2) perlu disusun Grand Design pengembangan KUKM di tingkat kabupaten secara terpadu dengan stakeholder; (3) perlu disusun action plan bersama antara koperasi, UKM dengan stakeholder; (4) pada kegiatan OVOP yang sudah ada koperasi perlu diperkuat organisasi maupun usaha; (5) pada kegiatan OVOP yang belum ada koperasi, koperasi perlu ditumbuhkan; (6) strategi pengembangan koperasi mengikuti kegiatan OVOP yang 160

167 PENGEMBANGAN KOPERASI DAN UKM DENGAN PENDEKATAN OVOP (Riana Panggabean) ada dimasing-masing tempat dan perannya disesuaikan dengan kondisi komoditas yang di-ovop-kan; (7) UKM yang menyebar dimasingmasing subsistem agar diintegrasikan supaya nilai tambah dari semua subsistem dapat dinikmati semua pelaku yang ada di OVOP; (8) perlu adanya kebijakan terpadu (Grand Design Pengembangan KUKM dengan pendekatan OVOP/agribisnis) di tingkat kabupaten untuk pelaksanaan kegiatan OVOP. DAFTAR PUSTAKA Anonymous Panduan Operasional (Blue Print One Vilage One Product). Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Profil Sentra UKM dan Profil Business Development Service (BDS). Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Asosiasi Wirausaha Desa Indonesia. One Desa One Product (ODOP). Kadin Indonesia. Badanlitbang Kajian Kegiatan Agribisnis yang dikelola oleh KUD. Barijambek Jaringan Usaha Koperasi (JUK). Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN). Bruce Herrick/Charles P P Kindleberger Economic Development. Mc Graw Hill, Inc. Mutis, Thoby Pengembangan Koperasi Kumpulan dan Karangan Seri Pendidikan Ekonomi. Penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta. Pasaribu, Sahat Program OTOP Thailand dan Tantangan Pengembangan Usaha Mikro, Usaha Kecil Dan Menengah Di Indonesia. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Makalah Seminar Tanggal 7 Mei 2007 di Kementerian Negara Koperasi dan Menegah. PSP-IPB Penyusunan Pola Pengembangan Kegiatan Agribisnis dan Agroindustri Melalui KUD Kerja sama Ditjen Pembinaan Koperasi Pedesaan Dept Koperasi dan PPK dengan Pusat Studi Pembangunan (PSP-IPB) Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Saragih, Bungaran Pengembangan Agribisnis Dalam Pembangunan Ekonomi Nasional sebagai a Leading Sektor. Pusat Studi Pembangunan Institut Pertanian Bogor. 161

168 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Pembangunan Agribisnis Peternakan Dalam Era Industrialisasi. Pusat Studi Pembangunan Institut Pertanian Bogor Agribisnis Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. Studi Pembangunan Institut Pertanian Bogor. Bogor. Trisula Juantara OVOPcaricaDieng. http//caricadieng.blogspost.acom. com/2208/07/sirup-buah. 162

169 PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN JERUK KALAMANSI DENGAN PENDEKATAN OVOP (Akhmad Junaidi) KOTA BENGKULU PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN JERUK KALAMANSI KOTA BENGKULU DENGAN PENDEKATAN OVOP*) Akhmad Junaidi**) Abstrak Pendekatan OVOP di Kota Bengkulu mengikuti konsep membangun suatu regional (Kota) dengan metode dan strategi serta prinsip yang telah dilakukan di Jepang dan Thailand. Proses mengenalkan Jeruk Kalamansi di Kota Bengkulu, dimulai dengan melakukan penelitian dalam bentuk pembuatan demplot/kebun percontohan. Dari hasil penelitian ini, ditemukan bahwa Jeruk Kalamani dapat dibudidayakan di Kota Bengkulu dan memiliki prospek untuk dikomersialkan dalam kebun-kebun masyarakat dan industri skala rumah tangga serta cepat mendatang hasil. Selanjutnya hasil penelitian tersebut disosialisasikan kepada masyarakat melalui tokoh masyarakat (local champion) dan mendapatkan respon positif. Jeruk Kalamansi dinilai telah menjadi produk kebanggaan masyarakat lokal, bernilai tambah dan berdaya saing. Pengenalan budidaya Jeruk Kalamansi merupakan kreativitas dari komersialisasi penelitian yang memiliki potensi dan memberi dampak menciptakan kesempatan berusaha dan lapangan pekerjaan. Kementerian Koperasi dan UKM dan Pemerintah Kota Bengkulu melihat hal tersebut sebagai suatu contoh program permulaan yang dinilai berhasil memberdayakan ekonomi rakyat dan dapat menjadi titik masuk dilaksanakan suatu Gerakan OVOP. Kata Kunci : Jeruk Kalamansi, OVOP, OTOP, Kota Bengkulu, Oita Prefecture, Produk Unggulan, Kompetensi Inti Abstract The OVOP approach in Bengkulu follow a concept of regional development program with the methods, strategies and also principles OVOP which has been done in Japan and Thailand. The process of introducing the Citrus Calamansi in Bengkulu started by conducting research in the form of making demonstration plots (demplot) or a pilot farm for farming business. From these results, it was found that the Citrus Calamansi can be cultivated in the city of Bengkulu and have the prospects to be commercialized in the community and household scale. Then result of the research was disseminated to the public through community leader (local champion) and get a positive response. The Citrus Calamansi products have become the pride of local *) Artikel direview 21 April, peer review Mei, review akhir 14 Juni 2011 **) Peneliti Madya Bidang Koperasi pada Deputi Pengkajian Sumberdaya UKMK Kementerian Koperasi dan UKM 163

170 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : people as a reward for a creative and research work and source potential income in the future. The cultivation of the Citrus Calamansi have high added value and have the prospect to be marketed with high competitiveness. Business of the Citrus Calamansi at the community level has the potential to create job opportunities. Ministry of Cooperatives and SMEs and the Goverment of Bengkulu City saw it as an earlay example of succesfull program that enpowers people economy and entry point of OVOP movement. Keywords: Kalamansi citrus, OVOPm, OTOP, Bengkulu, Oita Prefecture, Potential product, Core competencies I. SEJARAH SINGKAT OVOP Kisah sukses membangun suatu program pengembangan regional dengan pendekatan One Village One Product (OVOP) di Jepang dan Thailand mengilhami Gerakan OVOP di sejumlah negara, termasuk di Indonesia. Adapun nama-nama Gerakan OVOP diberbagai negara antara lain di China One Factory One Product, One City One Product, One District One Product, One Village One Treasure, One Town One Product, One Capital One Product. OVOP di Philipina dikenal dengan One Barangay One Product dan One Region One Vision. Wikipedia-The Free Encyclopedia (2011) menyebutkan bahwa Gerakan The One Village One Product (OVOP, Red. Jepang :Isson Ippin Undō) adalah program pengembangan regional di orang-orang Jepang. Gerakan OVOP ini dimulai di Ōita Prefecture tahun 1979 oleh Morihiko Hiramatsu selanjutnya diimplementasikan sejak tahun Masyarakat Jepang menghasilkan barang-barang terpilih dengan nilai tambah tinggi. Satu desa menghasilkan satu produk utama yang kompetitif sebagai suatu usaha meningkatkan pendapatan dan standar kehidupan penduduk di desa tersebut. Diantara produk yang berhasil dikembangkan dengan pendekatan OVOP di Oita Prefecuture adalah Jamur shiitake, jeruk kabosu, green house mikan, beef, aji, dan barley shōchū. Jamur Shitake merupakan salah satu contoh produk unggulan yang berhasil dikembangkan di Oita Prefeture. Pada tahun 2001, Jamur Shitake ini menguasai 28% pangsa pasar domestik. Khusus Jamur Shitake, I Wayan Dipta (Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK, 2011) mengemukakan Gerakan OVOP berhasil meningkatkan pendapatan petani setempat dengan kenaikan harga Jamur Shitake. Pada saat ini harga 1 kg Jamur Shitake lebih mahal dibandingkan 1 kg Mobil Toyota. Gerakan sejenis OVOP juga dikembangkan di Thailand dengan nama One Tambon One Product (OTOP). Lebih lanjut Wikipedia-The Free Encyclopedia (2011) menyebutkan bahwa One Tambon One Product (OTOP) adalah program stimulus kewirausahaan lokal yang didisain oleh Perdana 164

171 PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN JERUK KALAMANSI DENGAN PENDEKATAN OVOP (Akhmad Junaidi) KOTA BENGKULU Menteri Thailand, Thaksin Shinawat selama tahun Program ini ditujukan untuk mendukung produk-produk lokal yang unik dan dipasarkan oleh Thambon (subdistrict). Program ini dijalankan setelah melihat Jepang berhasil menjalankan gerakan One Village One Product (OVOP). OTOP di Thailand membantu masyarakat pedesaan memperbaiki kualitas produk lokal dan pemasarannya melalui penyediaan promosi di tingkat lokal dan internasional. Pendekatan OTOP Thailand dimulai dengan memilih satu produk yang paling superior diantara produk-produk yang ada di desa itu, dan setiap produk diberikan branding a bintang produk OTOP. Produkproduk OTOP Thailand mencakup kerajinan, baju cotton dan sutra, barangbarang tembikar, asesori fashion, barang-barang rumah tangga, dan makanan. Setelah Junta Militer berkuasa, program OVOP dibatalkan dan dikembalikan dan diberi nama lain. Pendekatan OVOP di Indonesia tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dilakukan di Jepang dan Thailand. Implementasi OVOP di negara kita mengikuti suatu konsep program membangun suatu regional, mungkin bisa tingkat desa, kecamatan, kota dan selanjutnya memilih satu produk utama yang dihasilkan dari kreativitas masyarakat desa. Pendekatan OVOP juga menggunakan sumberdaya lokal, memiliki kearifan lokal dan bernilai tambah tinggi. Produk-produk yang dipilih menjadi Gerakan OVOP tidak hanya dalam bentuk tangible product, tetapi juga dalam wujud intangible product, misalnya produk-produk budaya dan kesenian khas daerah yang memiliki nilai jual tinggi secara global. Martani Husaini mengembangkan konsep OVOP dalam bentuk konsep SAKA SAKTI (Satu Kabupaten/Kota Satu Kompetensi Inti) yaitu suatu konsep yang dikembangkan dalam rangka membangun daya saing suatu daerah dengan menciptakan kompetensi inti bagi daerah tersebut agar dapat bersaing di tingkat global. Konsep ini sangat diperlukan agar sumber daya dan kemampuan yang dimiliki oleh daerah diarahkan untuk menciptakan kompetensi inti. Ada dua konsep dalam membangun kompetensi inti melalui pendekatan Gerakan SAKA SAKTI. Pertama, konsep membangun produk unggulan yaitu mengembangkan produk lokal yang memiliki keunggulan dari sisi keunikan, kekhasan, kemanfaatan yang lebih besar bagi pengguna produk serta memberikan keuntungan yang besar penghasil produk tersebut. Kedua, konsep membangun kompetensi inti daerah, dalam hal ini daerah harus memilih kompetensi inti daerah yang bersangkutan dilihat dari keunikan, kekhasan daerah, kekayaan sumberdaya alam dan peluang untuk menembus pasar internasional serta dampak yang diciptakan. 165

172 INFOKOP VOLUME 19 JULI 2011 : Gerakan OVOP di Indonesia telah menjadi prioritas pembangunan nasional. Hal ini didukung dengan ditetapkannya Inpres No. 5 Tahun 2008 tentang Fokus Program Ekonomi Tahun sebagai kelanjutan dari Inpres No. 6 Tahun 2007 Tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Inpres tersebut ditujukan untuk mendorong efektifitas pengembangan One Village One Product (OVOP). Sasaran Gerakan OVOP di Indonesia adalah berkembangnya sinerji produksi dan pasar. Melalui Inpres ini semua Kementerian, Gubernur dan Bupati/Walikota berkoordinasi dan secara bersama mensukseskan Gerakan OVOP. Dalam rangka menindaklanjuti Inpres tersebut, pada tahun 2007 Menteri Perindustrian telah menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian No. 78/M- IND/PER/9/2007 Tentang Peningkatan Efektivitas Pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) melalui Pendekatan Satu Desa Satu Produk (OVOP). Sasaran program pendekatan OVOP yang dilakukan Kementerian Perindustrian adalah industri kecil dan menengah (IKM) di sentra-sentra IKM yang menghasilkan produk-produk terbaik. Sementara Kementerian Koperasi dan UKM telah menetapkan OVOP sebagai Indikator Kinerja Utama (IKU) dalam mengukur keberhasilan program Kementerian Koperasi dan UKM Pada tahun Kementerian Koperasi dan UKM telah menargetkan milestone OVOP di 100 Kabupaten/ Kota di seluruh Indonesia. Gerakan OVOP merupakan suatu gerakan nasional dan bersifat lintas sektoral, serta melibatkan instansi-instansi terkait. Dalam rangka merealisasikan satu dari 100 milestone OVOP tersebut, Kementerian Koperasi dan UKM menggandeng Bupati/Walikota untuk mendorong agar Kota Bengkulu memiliki produk unggulan yang menjadi kompetensi inti daerah yang bersangkutan. Kota Bengkulu merupakan kota pertama yang mendeklarasikan Jeruk Kalamansi sebagai Produk Unggulan Daerah dengan pendekatan OVOP. Peluncuran Gerakan OVOP Jeruk Kalamansi di Kota Bengkulu telah dilakukan Menteri Koperasi bersama Walikota Bengkulu pada bulan Januari Tahun II. AWAL MULA BUDIDAYA JERUK KALAMANSI KOTA BENGKULU Kota Bengkulu merupakan Ibu Kota Provinsi Bengkulu. Kota ini terletak di kawasan pesisir barat Pulau Sumatera yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia dan berada pada koordinat LS dan BT dengan luas wilayah 151,7 km2. Penduduk kota ini berasal dari berbagai suku bangsa, antara lain : Suku Melayu, Rejang, Serawai, 166

173 PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN JERUK KALAMANSI DENGAN PENDEKATAN OVOP (Akhmad Junaidi) KOTA BENGKULU Lembak, Bugis, Minang, Batak dan lain-lain. Sebelumnya kawasan ini berada dalam pengaruh kerajaan Inderapura dan kesultanan Banten. Kemudian dikuasai Inggris sebelum diserahkan kepada Belanda. Kota ini juga menjadi tempat pengasingan Bung Karno dalam kurun tahun pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Kota ini memiliki beberapa obyek wisata yang sangat potensial untuk dikembangkan yang terdiri atas, Wisata Alam, Wisata Sejarah dan Wisata Budaya. Kota ini memiliki berbagai macam bentuk kerajinan dan makanan yang menjadi khas daerah. Beberapa macam khas daerah tersebut antara lain kain batik besurek, kerajinan kulit lantung, lempuk dan lain-lain. Pada awalnya Jeruk Kalamansi dipercaya berasal dari Amerika Latin. Namun hasil penelusuran penulis menemukan pendapat lain. Food Entrepreneurship Institute (Rahman Said, FEI, 2010) mengemukakan bahwa Kalamansi (nama ilmiah: Citrus microcarpa) adalah pohon buah dalam keluarga Rutaceae yang dikembangkan dan sangat populer di seluruh Asia Tenggara, terutama Philipina. Di Barat, Kalamansi dikenal sebagai jeruk asam, jeruk nipis, China Orange atau Panama Orange. Di Philipina disebut calamansi/kalamansî atau limonsito. Kalamansi adalah semak atau pohon kecil tumbuh 3-6 m, dan berbuah jeruk kecil yang digunakan untuk perasa makanan dan minuman. Meskipun kadang-kadang digambarkan sebagai asli Filipina atau area lainnya di Asia Tenggara, pohon ini sebenarnya hasil dari hibrida antar spesies dalam genus Citrus dan tidak diketahui tumbuh di alam liar. Hibrida antar spesies Citrus telah dibudidayakan begitu lama sehingga asal usul sebagian besar tidak jelas. Pendapat umum menyatakan bahwa sebagian besar spesies dalam budidaya adalah hibrida apomictic kuno dan dipilih kultivar hibrida ini, termasuk persilangan dengan memisahkan marga seperti Fortunella dan 167

STRATEGI PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN NASIONAL : Sebuah Rekomendasi Operasional*) Handito Joewono**) Abstrak

STRATEGI PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN NASIONAL : Sebuah Rekomendasi Operasional*) Handito Joewono**) Abstrak STRATEGI PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN NASIONAL : Sebuah Rekomendasi Operasional*) Handito Joewono**) Abstrak Kewirausahaan diredefinisi sebagai gairah mengembangkan bisnis baru. Bisnis yang dikembangkan

Lebih terperinci

Kewirausahaan atau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, membawa visi ke dalam kehidupan.

Kewirausahaan atau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, membawa visi ke dalam kehidupan. EKO HANDOYO MEMBANGUN KADER PEMIMPIN BERJIWA ENTREPRENEURSHIP DAN BERWAWASAN KEBANGSAAN 12-12 2012 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Kewirausahaan atau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan,

Lebih terperinci

Tantangan dan Peluang UKM Jelang MEA 2015

Tantangan dan Peluang UKM Jelang MEA 2015 Tantangan dan Peluang UKM Jelang MEA 2015 Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 segera dimulai. Tinggal setahun lagi bagi MEA mempersiapkan hal ini. I Wayan Dipta, Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK,

Lebih terperinci

Peran dan Strategi Perkembangan Kewirausahaan dan Tantangannya Dalam Menghadapi Perekonomian di Masa Yang Akan Datang

Peran dan Strategi Perkembangan Kewirausahaan dan Tantangannya Dalam Menghadapi Perekonomian di Masa Yang Akan Datang Peran dan Strategi Perkembangan Kewirausahaan dan Tantangannya Dalam Menghadapi Perekonomian di Masa Yang Akan Datang Dedy Suryadi ( Universitas Bale Bandung, dsuryadi91@yahoo.com) ABSTRAK Tujuan penelitian

Lebih terperinci

PROGRAM KERJA FAKULTAS

PROGRAM KERJA FAKULTAS PROGRAM KERJA FAKULTAS STRATEGI 2030 Untuk mewujudkan tujuan, Fakultas Pertanian IPB menyusun strategi dengan mempertimbangkan asumsi-asumsi sebagai berikut: 1. Berkembangnya kompetensi dan komitmen staf

Lebih terperinci

STUDI AWAL PEMBELAJARAN KEWIRAUSAHAAN DI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SURABAYA

STUDI AWAL PEMBELAJARAN KEWIRAUSAHAAN DI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SURABAYA STUDI AWAL PEMBELAJARAN KEWIRAUSAHAAN DI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SURABAYA Esti Dwi Rinawiyanti Jurusan Teknik Industri, Universitas Surabaya Jl. Raya Kalirungkut 1, Surabaya, Indonesia E-mail: estidwi@ubaya.ac.id

Lebih terperinci

Sambutan Presiden RI pada Peringatan 1 Tahun Gerakan Kewirausahaan Nasional, Jakarta, 8 Maret 2012 Kamis, 08 Maret 2012

Sambutan Presiden RI pada Peringatan 1 Tahun Gerakan Kewirausahaan Nasional, Jakarta, 8 Maret 2012 Kamis, 08 Maret 2012 Sambutan Presiden RI pada Peringatan 1 Tahun Gerakan Kewirausahaan Nasional, Jakarta, 8 Maret 2012 Kamis, 08 Maret 2012 SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA PERINGATAN SATU TAHUN GERAKAN KEWIRAUSAHAAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. macam suku bangsa, kebudayaan dan sumber daya alam serta didukung oleh

BAB I PENDAHULUAN. macam suku bangsa, kebudayaan dan sumber daya alam serta didukung oleh BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak pulau dengan berbagai macam suku bangsa, kebudayaan dan sumber daya alam serta didukung oleh banyaknya jumlah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. daerah, masalah pertumbuhan ekonomi masih menjadi perhatian yang penting. Hal ini

I. PENDAHULUAN. daerah, masalah pertumbuhan ekonomi masih menjadi perhatian yang penting. Hal ini I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam menilai keberhasilan pembangunan dan upaya memperkuat daya saing ekonomi daerah, masalah pertumbuhan ekonomi masih menjadi perhatian yang penting. Hal ini dikarenakan

Lebih terperinci

Review Naskah Akademik dan Raperda Kewirausahaan DI Yogyakarta

Review Naskah Akademik dan Raperda Kewirausahaan DI Yogyakarta Review Naskah Akademik dan Raperda Kewirausahaan DI Yogyakarta Oleh. Dr. Rizal Yaya SE., M.Sc. Ak. CA Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Disampaikan pada FGD Raperda

Lebih terperinci

Perempuan dan Industri Rumahan

Perempuan dan Industri Rumahan A B PEREMPUAN DAN INDUSTRI RUMAHAN PENGEMBANGAN INDUSTRI RUMAHAN DALAM SISTEM EKONOMI RUMAH TANGGA UNTUK PENINGKATAN KUALITAS HIDUP PEREMPUAN DAN ANAK C ...gender equality is critical to the development

Lebih terperinci

PENGUATAN KARAKTERISTIK WIRAUSAHA BERBASIS INKUBASI INOVASI UNTUK KEBERHASILAN USAHA MAHASISWA PMW DI POLITEKNIK NEGERI MALANG

PENGUATAN KARAKTERISTIK WIRAUSAHA BERBASIS INKUBASI INOVASI UNTUK KEBERHASILAN USAHA MAHASISWA PMW DI POLITEKNIK NEGERI MALANG PENGUATAN KARAKTERISTIK WIRAUSAHA BERBASIS INKUBASI INOVASI UNTUK KEBERHASILAN USAHA MAHASISWA PMW DI POLITEKNIK NEGERI MALANG Ita Rifiani Permatasari Ita_djatmika@yahoo.com Suselo Utoyo, ST, MMT sslutoyo@gmail.com

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan agar daya saing Asean meningkat serta bisa menyaingi Cina dan India

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan agar daya saing Asean meningkat serta bisa menyaingi Cina dan India BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lebih dari satu dekade lalu, para pemimpin Asean sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara pada akhir 2015 mendatang. Ini dilakukan agar daya

Lebih terperinci

6. ANALISIS DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Kebijakan di dalam pengembangan UKM

6. ANALISIS DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Kebijakan di dalam pengembangan UKM 48 6. ANALISIS DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 6.1. Kebijakan di dalam pengembangan UKM Hasil analisis SWOT dan AHP di dalam penelitian ini menunjukan bahwa Pemerintah Daerah mempunyai peranan yang paling utama

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara berkembang, sebagian besar perekonomiannya ditopang

I. PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara berkembang, sebagian besar perekonomiannya ditopang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai negara berkembang, sebagian besar perekonomiannya ditopang oleh sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta Usaha Besar. Peranan UMKM tidak lagi

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN INKUBATOR BISNIS: SUATU PEMIKIRAN

PENGEMBANGAN INKUBATOR BISNIS: SUATU PEMIKIRAN PENGEMBANGAN INKUBATOR BISNIS: SUATU PEMIKIRAN Konsep Pengembangan Inkubator Bisnis disusun berdasarkan pengalaman dari berbagai inkubator yang disurvei dan studi literatur atas pelaksanaan praktek terbaik

Lebih terperinci

MENDORONG INOVASI DOMESTIK MELALUI KEBIJAKAN LINTAS LEMBAGA

MENDORONG INOVASI DOMESTIK MELALUI KEBIJAKAN LINTAS LEMBAGA MENDORONG INOVASI DOMESTIK MELALUI KEBIJAKAN LINTAS LEMBAGA PENDAHULUAN Kunci kemajuan suatu bangsa sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh potensi dan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, tetapi

Lebih terperinci

KEWIRAUSAHAAN MELALUI INTEGRASI E-COMMERCE DAN MEDIA SOSIAL

KEWIRAUSAHAAN MELALUI INTEGRASI E-COMMERCE DAN MEDIA SOSIAL Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Workshop KEWIRAUSAHAAN MELALUI INTEGRASI E-COMMERCE DAN MEDIA SOSIAL Malang, 28 April 2017 OUTLINE 1 2 3 PROFIL KEWIRAUSAHAAN DI INDONESIA

Lebih terperinci

IV.B.10. Urusan Wajib Koperasi dan UKM

IV.B.10. Urusan Wajib Koperasi dan UKM 10. URUSAN KOPERASI DAN UKM Pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan langkah yang strategis dalam meningkatkan dan memperkuat dasar kehidupan perekonomian dari sebagian

Lebih terperinci

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 8.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil kajian mengenai strategi pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pacitan, maka prioritas strategi yang direkomendasikan untuk mendukung

Lebih terperinci

Program Mahasiswa Wirausaha Bagi Kopertis dan Perguruan Tinggi Swasta

Program Mahasiswa Wirausaha Bagi Kopertis dan Perguruan Tinggi Swasta Sumber : Kementerian Pendidikan Nasional/Dirjen Dikti/Direktorat Kelembagaan 15 November 2008 Program Mahasiswa Wirausaha Bagi Kopertis dan Perguruan Tinggi Swasta LATAR BELAKANG Hasil Survei Sosial Ekonomi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di hampir semua periode sejarah manusia, kewirausahaan telah mengemban fungsi

BAB I PENDAHULUAN. Di hampir semua periode sejarah manusia, kewirausahaan telah mengemban fungsi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di hampir semua periode sejarah manusia, kewirausahaan telah mengemban fungsi penting dalam kemajuan peradaban modern (Sesen, 2013; Shane dan Venkataraman, 2000).

Lebih terperinci

BAB VI PENDANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

BAB VI PENDANAAN PEMBANGUNAN DAERAH -100- BAB VI PENDANAAN PEMBANGUNAN DAERAH 6.1. Arah Kebijakan Pendanaan Pembangunan Daerah Arah kebijakan pembangunan daerah diarahkan dengan memanfaatkan kemampuan keuangan daerah secara efektif, efesien,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari peran para pengusaha (entrepreneur) baik besar, menengah maupun kecil.

BAB I PENDAHULUAN. dari peran para pengusaha (entrepreneur) baik besar, menengah maupun kecil. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tumbuh dan berkembangnya perekonomian di suatu negara tidak terlepas dari peran para pengusaha (entrepreneur) baik besar, menengah maupun kecil. Wirausaha berperan

Lebih terperinci

KOPI DARAT Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat 7 Oktober 2015

KOPI DARAT Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat 7 Oktober 2015 KOPI DARAT Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat 7 Oktober 2015 Topik #10 Wajib Belajar 12 Tahun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Menjawab Daya Saing Nasional Latar Belakang Program Indonesia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. (entrepreneurship) sering sekali terdengar, baik dalam bisnis, seminar, pelatihan,

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. (entrepreneurship) sering sekali terdengar, baik dalam bisnis, seminar, pelatihan, I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini istilah wirausaha (entrepreneur) dan kewirausahaan (entrepreneurship) sering sekali terdengar, baik dalam bisnis, seminar, pelatihan, program pemberdayaan sampai

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi pembangunan daerah dirumuskan untuk menjalankan misi guna mendukung terwujudnya visi yang harapkan yaitu Menuju Surabaya Lebih Baik maka strategi dasar pembangunan

Lebih terperinci

BAB 5 ARAHAN PENGEMBANGAN USAHA TAPE KETAN SEBAGAI MOTOR PENGGERAK PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL

BAB 5 ARAHAN PENGEMBANGAN USAHA TAPE KETAN SEBAGAI MOTOR PENGGERAK PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL BAB 5 ARAHAN PENGEMBANGAN USAHA TAPE KETAN SEBAGAI MOTOR PENGGERAK PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL Dalam bab ini, akan dijelaskan mengenai temuan studi, kesimpulan serta rekomendasi pengembangan usaha tape

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang UMKM merupakan unit usaha yang sedang berkembang di Indonesia dan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang UMKM merupakan unit usaha yang sedang berkembang di Indonesia dan BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang UMKM merupakan unit usaha yang sedang berkembang di Indonesia dan keberadaannya perlu mendapat dukungan dari semua pihak, baik dari sektor pemerintah maupun non-pemerintah.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Keberhasilan perekonomian suatu negara dapat diukur melalui berbagai indikator

I. PENDAHULUAN. Keberhasilan perekonomian suatu negara dapat diukur melalui berbagai indikator I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan perekonomian suatu negara dapat diukur melalui berbagai indikator ekonomi antara lain dengan mengetahui pendapatan nasional, pendapatan per kapita, tingkat

Lebih terperinci

PEREKONOMIAN INDONESIA

PEREKONOMIAN INDONESIA PEREKONOMIAN INDONESIA Ekonomi kerakyatan, sebagaimana dikemukakan dalam Pasal 33 UUD 1945, adalah sebuah sistem perekonomian yang ditujukan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam bidang ekonomi. Sistem

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2009 TENTANG KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2009 TENTANG KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2009 TENTANG KEPEMUDAAN Menimbang DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, : a. bahwa dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia sejak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan era globalisasi yang terjadi saat ini telah berdampak pada

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan era globalisasi yang terjadi saat ini telah berdampak pada BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan era globalisasi yang terjadi saat ini telah berdampak pada perubahan lingkungan yang menyebabkan semakin ketatnya persaingan dalam dunia industri. Makin

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi pembangunan daerah dirumuskan untuk menjalankan misi guna mendukung terwujudnya visi yang harapkan yaitu Menuju Surabaya Lebih Baik maka strategi dasar pembangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. faktor yang memicu orang-orang untuk mencari pekerjaan.

BAB I PENDAHULUAN. faktor yang memicu orang-orang untuk mencari pekerjaan. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dewasa ini masyarakat kesulitan dalam menemukan lapangan pekerjaan. Banyak sarjana yang menjadi pengangguran, akibatnya pendidikan yang dulunya begitu diagung-agungkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1. Tinjauan Pustaka Tahun 2002 pemerintah melalui Departemen Pertanian RI mengeluarkan kebijakan baru dalam upaya

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kewirausahaan (entrepreneur) merupakan persoalan penting di dalam perekonomian suatu bangsa yang sedang berkembang. Kemajuan atau kemunduran ekonomi suatu bangsa sangat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tuntutan masa depan pembangunan bangsa mengharapkan penduduk yang

BAB I PENDAHULUAN. Tuntutan masa depan pembangunan bangsa mengharapkan penduduk yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di Era Globalisasi dan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat ini, pemerintah sedang melaksanakan pembangunan di segala bidang yang pada hakekatnya bertujuan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Undang-Undang No. 9 Tahun 1995 yang dimaksud usaha kecil adalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Undang-Undang No. 9 Tahun 1995 yang dimaksud usaha kecil adalah 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian UKM Di Indonesia pengertian mengenai usaha kecil masih sangat beragam. Menurut Undang-Undang No. 9 Tahun 1995 yang dimaksud usaha kecil adalah

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bab ini menjelaskan tentang metodologi yang dilakukan dalam penelitian dan dapat dijabarkan seperti pada gambar 3.1 berikut: Gambar. 3.1. Metodologi Penelitian Keterangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkapita sebuah negara meningkat untuk periode jangka panjang dengan syarat, jumlah

BAB I PENDAHULUAN. perkapita sebuah negara meningkat untuk periode jangka panjang dengan syarat, jumlah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan ekonomi adalah proses yang dapat menyebabkan pendapatan perkapita sebuah

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN ENTREPRENEURSHIP PADA MAHASISWA UMS

HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN ENTREPRENEURSHIP PADA MAHASISWA UMS i HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN ENTREPRENEURSHIP PADA MAHASISWA UMS SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat sarjana S-1 Diajukan oleh : DIYAH RETNO NING TIAS F

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Perekonomian Indonesia selalu menarik untuk diteliti dan diperbincangkan. Negara kepulauan terbesar di dunia ini memiliki tantangan tersendiri dalam mengatur kegiatan ekonominya

Lebih terperinci

LD NO.14 PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG PENANAMAN MODAL I. UMUM

LD NO.14 PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG PENANAMAN MODAL I. UMUM I. UMUM PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG PENANAMAN MODAL 1. Pembangunan daerah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, sebagai upaya terus menerus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kewirausahaan merupakan bagian penting dalam pembangunan. Kewirausahaan dapat diartikan sebagai the backbone of economy yaitu syaraf pusat perekonomian atau sebagai

Lebih terperinci

BAB VI SASARAN, INISITIF STRATEJIK DAN PROGRAM PEMBANGUNAN KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM

BAB VI SASARAN, INISITIF STRATEJIK DAN PROGRAM PEMBANGUNAN KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM BAB VI SASARAN, INISITIF STRATEJIK DAN PROGRAM PEMBANGUNAN KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM A. SASARAN STRATEJIK yang ditetapkan Koperasi dan UKM selama periode tahun 2005-2009 disusun berdasarkan berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. informasi (e-commerce), dan akhirnya ke ekonomi kreatif (creative economy).

BAB I PENDAHULUAN. informasi (e-commerce), dan akhirnya ke ekonomi kreatif (creative economy). BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia telah mengalami krisis ekonomi yang menyebabkan jatuhnya perekonomian nasional. Banyak usaha-usaha skala besar pada berbagai sektor termasuk industri, perdagangan,

Lebih terperinci

BAPPEDA KAB. LAMONGAN

BAPPEDA KAB. LAMONGAN BAB IV VISI DAN MISI DAERAH 4.1 Visi Berdasarkan kondisi Kabupaten Lamongan saat ini, tantangan yang dihadapi dalam dua puluh tahun mendatang, dan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki, maka visi Kabupaten

Lebih terperinci

Paradigma umum adalah paradigma yang dimiliki oleh seorang pegawai atau pekerja. Bekerja Penghasilan Rencana Masa Depan

Paradigma umum adalah paradigma yang dimiliki oleh seorang pegawai atau pekerja. Bekerja Penghasilan Rencana Masa Depan BAB II PARADIGMA WIRAUSAHA PELAJAR SMK Pengetahuan tentang wirausaha di kalangan pelajar SMK saat ini sangat minim, hal ini disebabkan karena SMK dibuat untuk mencetak lulusan-lulusan yang siap bekerja.

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka keterpaduan pelaksanaan Pengembangan Ekonomi Kreatif, dengan ini

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DAN KEPELOPORAN PEMUDA, SERTA PENYEDIAAN PRASARANA DAN SARANA KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

INKUBATOR BISNIS Dr. Susilo, SE., MS

INKUBATOR BISNIS Dr. Susilo, SE., MS INKUBATOR BISNIS Dr. Susilo, SE., MS 1 INKUBATOR BISNIS??? Suatu organisasi yang menawarkn berbagai pelayanan pengembangan bisnis dan memberikan akses terhadap ruang/lokasi usaha dengan aturan yang fleksibel.

Lebih terperinci

PERAN INSTITUSI LOKAL DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI WILAYAH (Studi Kasus: Proses Difusi Inovasi Produksi Pada Industri Gerabah Kasongan Bantul, DIY)

PERAN INSTITUSI LOKAL DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI WILAYAH (Studi Kasus: Proses Difusi Inovasi Produksi Pada Industri Gerabah Kasongan Bantul, DIY) PERAN INSTITUSI LOKAL DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI WILAYAH (Studi Kasus: Proses Difusi Inovasi Produksi Pada Industri Gerabah Kasongan Bantul, DIY) TUGAS AKHIR Oleh : ELISA NUR RAHMAWATI L2D000418 JURUSAN

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap pembentukan klaster industri kecil tekstil dan produk tekstil pada Bab IV. Pada bagian ini akan dilakukan analisis terhadap model

Lebih terperinci

BAB IV LANDASAN PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM

BAB IV LANDASAN PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM BAB IV LANDASAN PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UMKM Pancasila dan Undang-undang Dasar Tahun 1945 merupakan landasan ideologi dan konstitusional pembangunan nasional termasuk pemberdayaan koperasi dan usaha

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DAN KEPELOPORAN PEMUDA, SERTA PENYEDIAAN PRASARANA DAN SARANA KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagaimana diketahui bahwa sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 memberikan keleluasaan kepada daerah untuk

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha Kecil dan Menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah. Peran penting tersebut telah mendorong banyak negara

Lebih terperinci

IDE DAN PELUANG DALAM KEWIRAUSAHAAN 1.IDE KEWIRAUSAHAAN

IDE DAN PELUANG DALAM KEWIRAUSAHAAN 1.IDE KEWIRAUSAHAAN IDE DAN PELUANG DALAM KEWIRAUSAHAAN 1.IDE KEWIRAUSAHAAN Karena memulai wirausahaan diawali dengan ide ide.marilah kita mempertimbangkan beberapa sumber inspirasi ide-ide baru. Beberapa penelitian telah

Lebih terperinci

C. Peran Negara dalam Pemaksimalan Competitive Advantages

C. Peran Negara dalam Pemaksimalan Competitive Advantages B. Rumusan Masalah Bagaimana peran pemerintah India dalam mendorong peningkatan daya saing global industri otomotif domestik? C. Peran Negara dalam Pemaksimalan Competitive Advantages Penelitian ini merupakan

Lebih terperinci

I. UMUM PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH

I. UMUM PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH - 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH I. UMUM Penerapan otonomi daerah sejatinya diliputi semangat untuk mewujudkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari negara-negara maju, baik di kawasan regional maupun kawasan global.

BAB I PENDAHULUAN. dari negara-negara maju, baik di kawasan regional maupun kawasan global. BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam perjalanan menuju negara maju, Indonesia memerlukan dana yang tidak sedikit untuk melaksanakan pembangunan nasional. Kebutuhan dana yang besar disebabkan

Lebih terperinci

INDONESIA NEW URBAN ACTION

INDONESIA NEW URBAN ACTION KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT BADAN PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR WILAYAH KEMITRAAN HABITAT Partnership for Sustainable Urban Development Aksi Bersama Mewujudkan Pembangunan Wilayah dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tujuan nasional yang hendak dicapai negara Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tujuan nasional yang hendak dicapai negara Indonesia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu tujuan nasional yang hendak dicapai negara Indonesia sebagaimana ditegaskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah terwujudnya masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR Latar Belakang. maupun non fisik, sumberdaya alam juga sumberdaya manusianya dapat

BAB I PENGANTAR Latar Belakang. maupun non fisik, sumberdaya alam juga sumberdaya manusianya dapat 1 BAB I PENGANTAR 1.1. Latar Belakang Potensi adalah sesuatu yang berguna apabila didayagunakan, oleh karena itu agar potensi yang dimiliki Bangsa Indonesia baik dari segi fisik maupun non fisik, sumberdaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kerja kalah cepat dengan kenaikan jumlah lulusan. Sangat ironis bila kita

BAB I PENDAHULUAN. kerja kalah cepat dengan kenaikan jumlah lulusan. Sangat ironis bila kita BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan kita telah berhasil menghasilkan lulusan dengan tanda lulus belajar untuk masuk ke pasar kerja namun sayangnya kenaikan jumlah lapangan kerja kalah

Lebih terperinci

PENUNJUK UNDANG-UNDANG PERINDUSTRIAN

PENUNJUK UNDANG-UNDANG PERINDUSTRIAN PENUNJUK UNDANG-UNDANG PERINDUSTRIAN 1 (satu) bulan ~ paling lama Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia di bidang Industri sebagaimana

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka keterpaduan pelaksanaan pengembangan Ekonomi Kreatif, dengan ini

Lebih terperinci

WELCOME ADDRESS. Dr. Firdaus Djaelani. Anggota Dewan Komisioner dan Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan

WELCOME ADDRESS. Dr. Firdaus Djaelani. Anggota Dewan Komisioner dan Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan WELCOME ADDRESS Disampaikan Oleh: Dr. Firdaus Djaelani Anggota Dewan Komisioner dan Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan Seminar Nasional REVITALISASI MODAL VENTURA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan

BAB I PENDAHULUAN. sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di Indonesia, kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti

Lebih terperinci

GUBERNUR SULAWESI TENGAH

GUBERNUR SULAWESI TENGAH GUBERNUR SULAWESI TENGAH SAMBUTAN GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN RAPAT KOORDINASI PERENCANAAN DAN EVALUASI PROGRAM KOPERASI, UMKM, INDUSTRI DAN PERDAGANGAN DAERAH SE-PROVINSI SULAWESI TENGAH

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK DAN KETERAMPILAN HIDUP MENJADI WIRAUSAHA PADA MAHASISWA UPN VETERAN JAWA TIMUR ABSTRAK

KARAKTERISTIK DAN KETERAMPILAN HIDUP MENJADI WIRAUSAHA PADA MAHASISWA UPN VETERAN JAWA TIMUR ABSTRAK KARAKTERISTIK DAN KETERAMPILAN HIDUP MENJADI WIRAUSAHA PADA MAHASISWA UPN VETERAN JAWA TIMUR Supamrih ; Maroeto ; Yuliatin Moch Arifin ; Abdullah Fadil ABSTRAK Generasi muda terutama mahasiswa menghadapi

Lebih terperinci

memberikan kepada peradaban manusia hidup berdampingan dengan

memberikan kepada peradaban manusia hidup berdampingan dengan INDONESIA VISI 2050 Latar belakang Anggota Dewan Bisnis Indonesia untuk Pembangunan Berkelanjutan (IBCSD) dan Indonesia Kamar Dagang dan Industri (KADIN Indonesia) mengorganisir Indonesia Visi 2050 proyek

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pengalaman masa lalu telah memberikan pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia, bahwa pembangunan yang dilaksanakan dengan pendekatan top-down dan sentralistis, belum berhasil

Lebih terperinci

INTERVENSI PROGRAM UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS UKM

INTERVENSI PROGRAM UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS UKM INTERVENSI PROGRAM UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS UKM Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Daya Saing Rahma Iryanti Deputi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Deputi Kepala Bappenas Jakarta, 15 Juni

Lebih terperinci

MATRIK 2.3 RENCANA TINDAK PEMBANGUNAN KEMENTERIAN/ LEMBAGA TAHUN 2011

MATRIK 2.3 RENCANA TINDAK PEMBANGUNAN KEMENTERIAN/ LEMBAGA TAHUN 2011 MATRIK 2.3 TINDAK PEMBANGUNAN KEMENTERIAN/ LEMBAGA TAHUN KEMENTERIAN/LEMBAGA: KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 1. Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Lainnya 2012 2013 2014 2012 2013 2014 305,2

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DAN KEPELOPORAN PEMUDA, SERTA PENYEDIAAN PRASARANA DAN SARANA KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

VI. RANCANGAN PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN MELALUI PENGEMBANGAN PETERNAKAN

VI. RANCANGAN PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN MELALUI PENGEMBANGAN PETERNAKAN VI. RANCANGAN PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN MELALUI PENGEMBANGAN PETERNAKAN Paradigma pembangunan saat ini lebih mengedepankan proses partisipatif dan terdesentralisasi, oleh karena itu dalam menyusun

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi sekarang ini terlihat sangat pesat. Perkembangan ini tidak hanya melahirkan era informasi global tetapi

Lebih terperinci

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN 2013 2018 Visi Terwujudnya Kudus Yang Semakin Sejahtera Visi tersebut mengandung kata kunci yang dapat diuraikan sebagai berikut: Semakin sejahtera mengandung makna lebih

Lebih terperinci

PROFESIONALISME DAN PERAN PENYULUH PERIKANAN DALAM PEMBANGUNAN PELAKU UTAMA PERIKANAN YANG BERDAYA

PROFESIONALISME DAN PERAN PENYULUH PERIKANAN DALAM PEMBANGUNAN PELAKU UTAMA PERIKANAN YANG BERDAYA PROFESIONALISME DAN PERAN PENYULUH PERIKANAN DALAM PEMBANGUNAN PELAKU UTAMA PERIKANAN YANG BERDAYA Fahrur Razi Penyuluh Perikanan Muda pada Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan email: fahrul.perikanan@gmail.com

Lebih terperinci

NARASI MENTERI PERINDUSTRIAN RI Pembangunan Industri yang Inklusif dalam rangka Mengakselerasi Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas

NARASI MENTERI PERINDUSTRIAN RI Pembangunan Industri yang Inklusif dalam rangka Mengakselerasi Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas NARASI MENTERI PERINDUSTRIAN RI Pembangunan Industri yang Inklusif dalam rangka Mengakselerasi Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas Sektor industri merupakan salah satu sektor yang mampu mendorong percepatan

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka keterpaduan pelaksanaan Pengembangan Ekonomi Kreatif,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang pesat secara tidak langsung berdampak pada kehidupan masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. yang pesat secara tidak langsung berdampak pada kehidupan masyarakat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Era globalisasi ditandai dengan persaingan yang tajam, pertumbuhan ekonomi yang pesat secara tidak langsung berdampak pada kehidupan masyarakat Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Investasi dapat dilakukan dibanyak sektor, salah satunya adalah sektor

BAB I PENDAHULUAN. Investasi dapat dilakukan dibanyak sektor, salah satunya adalah sektor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi dapat dilakukan dibanyak sektor, salah satunya adalah sektor properti. Pada umumnya banyak masyarakat yang tertarik menginvestasikan dananya di sektor properti

Lebih terperinci

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PETERNAKAN

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PETERNAKAN POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PETERNAKAN H. ISKANDAR ANDI NUHUNG Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Departemen Pertanian ABSTRAK Sesuai

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.4, 2014 EKONOMI. Pembangunan. Perindustrian. Perencanaan. Penyelenggaraan. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5492) UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ulina (2008) melakukan penelitian dengan judul Analisis Faktor-Faktor yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ulina (2008) melakukan penelitian dengan judul Analisis Faktor-Faktor yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Ulina (2008) melakukan penelitian dengan judul Analisis Faktor-Faktor yang Mendorong Keberhasilan Usaha Baru (Studi Kasus pada Crispo Accessories Grand Palladium

Lebih terperinci

BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan

BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan Akuntansi merupakan satu-satunya bahasa bisnis utama di pasar modal. Tanpa standar akuntansi yang baik, pasar modal tidak akan pernah berjalan dengan baik pula karena laporan

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN DAERAH

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN DAERAH BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN DAERAH 5.1 VISI DAN MISI KOTA CIMAHI. Sesuai dengan ketentuan yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur

Lebih terperinci

1. Tujuan Instruksional Umum (TIU) 2. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

1. Tujuan Instruksional Umum (TIU) 2. Tujuan Instruksional Khusus (TIK) Bab 4 Hakekat, Karakteristik dan Nilai-nilai Hakiki Kewirausahaan 1. Tujuan Instruksional Umum (TIU) Mahasiswa dapat menjelaskan hakekat, karakteristik dan nilai-nilai hakiki kewirausahaan 2. Tujuan Instruksional

Lebih terperinci

Inovasi Teknologi Pertanian Mendukung Daya Saing Produk Pertanian

Inovasi Teknologi Pertanian Mendukung Daya Saing Produk Pertanian Inovasi Teknologi Pertanian Mendukung Daya Saing Produk Pertanian Prof. Erizal Jamal Beranjak dari batasan yang diungkap Zuhal (2010), bahwa daya saing suatu bangsa adalah kemampuan dalam mengendalikan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan bagian penting dalam kehidupan perekonomian suatu negara, sehingga merupakan harapan bangsa dan memberikan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa masyarakat adil dan makmur

Lebih terperinci

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN Menimbang BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANGERANG, : a. bahwa dalam pembaruan dan

Lebih terperinci

Membangun Jiwa Wirausaha

Membangun Jiwa Wirausaha Membangun Jiwa Wirausaha Oleh: Dr. Heru Mulyanto, SE, MM Disampaikan pada seminar kewirausahaan di STIE Tunas Nusantara Jakarta 15 Desember 2012 APA PILIHAN ANDA.? Ketika kita memberi, kita akan menerima

Lebih terperinci

DUKUNGAN PENYULUH DI KELEMBAGAAN PETANI PADA PENGUATAN PERKEBUNAN KOPI RAKYAT

DUKUNGAN PENYULUH DI KELEMBAGAAN PETANI PADA PENGUATAN PERKEBUNAN KOPI RAKYAT DUKUNGAN PENYULUH DI KELEMBAGAAN PETANI PADA PENGUATAN PERKEBUNAN KOPI RAKYAT Dayat Program Studi Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Bogor E-mail: sttp.bogor@deptan.go.id RINGKASAN Indonesia merupakan

Lebih terperinci