BAB 2 LANDASAN TEORI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Transkripsi

1 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 AHP (Analytic Hierarchy Process) Sumber kerumitan masalah pengambilan keputusan bukan hanya ketidakpastian atau ketidaksempurnaan informasi. Penyebab lainnya adalah faktor yang berpengaruh terhadap pilihan-pilihan yang ada, beragamnya kriteria, pemilihan dan jika pengambilan keputusan yang sedang bersaing. Jika sumber kerumitan itu adalah beragamnya kriteria, maka Analytical Hierarchy Process (AHP) merupakan teknik untuk membantu menyelesaikan masalah ini. AHP diperkenalkan oleh Thomas L Saaty pada periode ketika di Wharton School. Menurut beliau, definisi AHP adalah sebagai berikut : "The Analytic Hierarchy Process (AHP) is the original theory of multi-criteria prioritization that derives relative scales of absolute numbers known as priorities from judgments expressed numerically on an absolute fundamental scale. Berdasarkan definisi tersebut diatas, AHP dapat diartikan teori penentuan prioritas secara murni yang digambarkan dalam skala berbentuk angka yang secara absolut ditentukan secara fundamental oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya.

2 16 Dalam perkembangannya, AHP tidak saja digunakan untuk menentukan prioritas pilihan-pilihan dengan banyak kriteria, tetapi penerapannya telah meluas sebagai model alternatif untuk menyelesaikan bermacam-macam masalah seperti memilih portofolio, analisis manfaat biaya, peramalan dan lain-lain. Pendeknya, AHP menawarkan penyelesaian masalah keputusan yang melibatkan seluruh sumber kerumitan seperti yang didefinisikan diatas. Hal ini dimungkinkan karena AHP cukup mengandalkan pada intuisi sebagai input utamanya, namun intuisi harus datang dari pengambilan keputusan yang cukup informatif dan memahami masalah keputusan yang dihadapi. Pada dasarnya AHP adalah suatu teori umum tentang pengukuran. Ia digunakan untuk menemukan skala rasio baik dari perbandingan pasangan yang diskrit maupun kontinu. Perbandingan-perbandingan ini dapat diambil dari ukuran aktual atau dari skala dasar yang mencerminkan kekuatan perasaan dan presensi relatif. AHP memiliki perhatian khusus tentang penyimpangan dari konsistensi, pengukuran dan pada ketergantungan di dalam dan di antara kelompok elemen strukturnya Prinsip-prinsip dasar Analytical Hirarchy Process (AHP) Untuk mengukur kejadian-kejadian yang sifatnya fisik, skala ukuran panjang (meter), temperatur (derajat) atau waktu (detik) sudah biasa digunakan dan dikenal orang banyak, namun bila sesuatu yang diukur adalah mengenai perasaan-perasaan kita tentang persoalan sosial, ekonomi ataupun politik tentu akan lebih sulit

3 17 mengambil patokan ukurannya. Maka penggunaan Prosentase lebih cocok untuk kasus yang terakhir. Solusi ukuran tersebut pun belum memuaskan. Peralatan utama dari model ini adalah sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya adalah persepsi manusia. Jadi perbedaan yang mencolok model AHP dengan model lainnya terletak pada jenis inputnya. Terdapat empat aksioma-aksioma yang terkandung dalam model AHP : 1. Reciprocal Comparison artinya pengambilan keputusan harus dapat memuat perbandingan dan menyatakan preferensinya. Prefesensi tersebut harus memenuhi syarat resiprokal yaitu apabila A lebih disukai daripada B dengan skala x, maka B lebih disukai daripada A dengan skala 1/x 2. Homogenity artinya preferensi seseorang harus dapat dinyatakan dalam skala terbatas atau dengan kata lain elemen- elemennya dapat dibandingkan satu sama lainnya. Kalau aksioma ini tidak dipenuhi maka elemen- elemen yang dibandingkan tersebut tidak homogen dan harus dibentuk cluster (kelompok elemen) yang baru 3. Independence artinya preferensi dinyatakan dengan mengasumsikan bahwa kriteria tidak dipengaruhi oleh alternatif-alternatif yang ada melainkan oleh objektif keseluruhan. Ini menunjukkan bahwa pola ketergantungan dalam AHP adalah searah, maksudnya perbandingan antara elemen-elemen dalam satu tingkat dipengaruhi atau tergantung oleh elemen-elemen pada tingkat diatasnya 4. Expectation artinya untuk tujuan pengambil keputusan. Struktur hirarki diasumsikan lengkap. Apabila asumsi ini tidak dipenuhi maka pengambil

4 18 keputusan tidak memakai seluruh kriteria atau objectif yang tersedia atau diperlukan sehingga keputusan yang diambil dianggap tidak lengkap Selanjutnya Saaty (2001) menyatakan bahwa proses hirarki analitik (AHP) menyediakan kerangka yang memungkinkan untuk membuat suatu keputusan efektif atas isu kompleks dengan menyederhanakan dan mempercepat proses pendukung keputusan. Pada dasarnya AHP adalah suatu metode dalam merinci suatu situasi yang kompleks, yang terstruktur kedalam suatu komponen-komponennya. Artinya dengan menggunakan pendekatan AHP kita dapat memecahkan suatu masalah dalam pengambilan keputusan Prinsip Kerja AHP Prinsip kerja AHP adalah penyederhanaan suatu persoalan kompleks yang tidak terstruktur, stratejik, dan dinamik menjadi bagian-bagiannya, serta menata dalam suatu hierarki. Kemudian tingkat kepentingan setiap variabel diberi nilai numerik secara subjektif tentang arti penting variabel tersebut secara relatif dibandingkan dengan variabel lain. Dari berbagai pertimbangan tersebut kemudian dilakukan sintesa untuk menetapkan variabel yang memiliki prioritas tinggi dan berperan untuk mempengaruhi hasil pada sistem tersebut Prosedur AHP Pada dasarnya langkah-langkah dalam metode AHP meliputi :

5 19 1. Menyusun hirarki dari permasalahan yang dihadapi. Persoalan yang akan diselesaikan, diuraikan menjadi unsur-unsurnya, yaitu kriteria dan alternatif, kemudian disusun menjadi struktur hierarki seperti Gambar 2.2. di bawah ini : Goal Objectives Sub- Objectives Alternatives Gambar 2.1 Struktur Hirarki AHP 2. Penilaian kriteria dan alternatif Kriteria dan alternatif dinilai melalui perbandingan berpasangan. Menurut Saaty (1988), untuk berbagai persoalan, skala 1 sampai 9 adalah skala terbaik dalam mengekspresikan pendapat. Nilai dan definisi pendapat kualitatif dari skala perbandingan Saaty dapat dilihat dibawah ini :

6 20 Tabel 2.1 Skala Penilaian Perbandingan Berpasangan Intensitas Keterangan Kepentingan 1 Kedua elemen sama pentingnya 3 Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yang lainnya 5 Elemen yang satu lebih penting daripada yang lainnya 7 Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen lainnya 9 Satu elemen mutlak penting daripada elemen lainnya 2,4,6,8 Nilai-nilai antara dua nilai pertimbanganpertimbangan yang berdekatan Perbandingan dilakukan berdasarkan kebijakan pembuat keputusan dengan menilai tingkat kepentingan satu elemen terhadap elemen lainnya Proses perbandingan berpasangan, dimulai dari level hirarki paling atas yang ditujukan untuk memilih kriteria, misalnya A, kemudian diambil elemen yang akan dibandingkan, misal A1, A2, dan A3. Maka susunan elemen-elemen yang dibandingkan tersebut akan tampak seperti pada gambar matriks di bawah ini : Tabel 2.2 Contoh matriks perbandingan berpasangan A1 A2 A3 A1 1 A2 1 A3 1

7 21 Untuk menentukan nilai kepentingan relatif antar elemen digunakan skala bilangan dari 1 sampai 9 seperti pada Tabel 1., Penilaian ini dilakukan oleh seorang pembuat keputusan yang ahli dalam bidang persoalan yang sedang dianalisa dan mempunyai kepentingan terhadapnya. Apabila suatu elemen dibandingkan dengan dirinya sendiri maka diberi nilai 1. Jika elemen i dibandingkan dengan elemen j mendapatkan nilai tertentu, maka elemen j dibandingkan dengan elemen i merupakan kebalikannya. Dalam AHP ini, penilaian alternatif dapat dilakukan dengan metode langsung (direct), yaitu metode yang digunakan untuk memasukkan data kuantitatif. Biasanya nilai-nilai ini berasal dari sebuah analisis sebelumnya atau dari pengalaman dan pengertian yang detail dari masalah keputusan tersebut. Jika si pengambil keputusan memiliki pengalaman atau pemahaman yang besar mengenai masalah keputusan yang dihadapi, maka dia dapat langsung memasukkan pembobotan dari setiap alternatif. 3. Penentuan prioritas Untuk setiap kriteria dan alternatif, perlu dilakukan perbandingan berpasangan (pairwise comparisons). Nilai-nilai perbandingan relatif kemudian diolah untuk menentukan peringkat alternatif dari seluruh alternatif. Baik kriteria kualitatif, maupun kriteria kuantitatif, dapat dibandingkan sesuai dengan penilaian yang telah ditentukan untuk menghasilkan bobot dan

8 22 proritas. Bobot atau prioritas dihitung dengan manipulasi matriks atau melalui penyelesaian persamaan matematik. Pertimbangan-pertimbangan terhadap perbandingan berpasangan disintesis untuk memperoleh keseluruhan prioritas melalui tahapan-tahapan berikut: a. Kuadratkan matriks hasil perbandingan berpasangan. b. Hitung jumlah nilai dari setiap baris, kemudian lakukan normalisasi matriks. 4. Konsistensi Logis Konsistensi memiliki dua makna. Pertama adalah bahwa objek-objek yang serupa dapat dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansi. Contohnya anggur dan kelereng dapat dikelompokkan dalam himpunan yang seragam jika bulat merupakan kriterianya, tetapi tidak akan bisa kalau rasa dijadikan kriterianya. Arti kedua adalah menyangkut tingkat hubungan antara objek-objek yang didasarkan kriteria-kriteria tertentu. Contohnya jika manis merupakan kriteria dan madu dinilai 5 kali lebih manis dibandingkan gula dan gula 2 kali lebih manis dibandingkan sirop. Maka seharusnya madu 10 kali lebih manis dibandingkan sirop. Jika madu hanya 4 kali lebih manis dibandingkan sirop, maka penilaian tak konsisten dan proses harus diulang jika ingin memperoleh hasil yang tepat.

9 Mesin Plastik Injeksi Mesin Plastik Injeksi merupakan mesin yang berfungsi untuk merubah,memproses dan membentuk bahan menjadi sebuah bahan yang diinginkan sesuai dengan bentuk dari cetakannya (mold), bahan yang dapat diproses pada mesin ini adalah bahan plastik. Secara singkat dapat digambarkan proses yang terjadi adalah bahan baku plastik yang hendak kita cetak, biasanya berbentuk bubuk, butiran (granular) ataupun dalam bentuk Hancuran (crusher) dilumerkan oleh panas mesin untuk kemudian ditembakkan secara cepat menuju cetakan (mold) yang telah dipasang pada mesin plastik injeksi ini. Proses ini dinilai sangat efektif dan efisien secara ekonomi terutama bila kita hendak memproduksi suatu bentuk benda plastik dalam jumlah yang banyak karena proses pencetakan dengan mesin ini tidak memerlukan waktu yang lama. Tidak hanya itu saja, mesin ini pun memungkinkan menghasilkan beberapa jenis produk lain dengan bentukan berbeda, tanpa harus mengganti seluruh mesin, namun cukup dengan mengganti jenis cetakan (mold) yang diinginkan. Dan keunggulan mesin ini yang lain adalah kemampuannya menghasilkan produk yang sama dalam toleransi (kepresisian) tertentu secara berulang dengan kualitas produk yang sama, hal ini tentu sangat menguntungkan karena saat inipun sudah banyak produk-produk yang terbuat dari plastik memerlukan kepresisian dimensi yang tinggi.

10 24 Gambar 2.2 skema mesin plastik injeksi Prinsip kerja mesin plastik injeksi terdiri dari 4 sistem yaitu : 1. Sistem Injeksi 2. Sistem Molding 3. Sistem Clamping 4. Sistem Control Sistem Clamping Unit ini digunakan untuk menutup mold dan menahannya melawan injection pressure yang dihasilkan nozzle pada saat menyemprotkan material plastik cair pada mold. Semakin besar area produk maka injection pressure yang

11 25 dibutuhkan juga semakin tinggi, maka juga diperlukan kekuatan penutupan mold yang besar. Hal ini perlu agar tidak terjadi kebocoran pada pertemuan antara 2 muka cetakan (parting line). Selain digunakan untuk menutup mold Sistem Clamping ini diperlukan juga untuk membuka mold saat bahan yang dicetak sudah kering. STATIONARY PLATE MOVING PLATE TIE BAR Gambar 2.3 Skema sistem hydraulic Clamp Saat ini dikenal ada 2 jenis system clamping yaitu Clamping Hidrolik (Hydraulic Clamp) seperti tergambar pada Tabel 4.2 dimana disini digunakan silinder hidrolik yang dihubungkan langsung dengan moving plate untuk menggerakan mold. Sistem ini memiliki kelebihan yaitu kekuatan clampingnya tidak turut berubah dengan perubahan suhu mold serta kekuatan clampingnya juga biasanya lebih mudah untuk diatur dan dikontrol

12 26 Lalu yang kedua adalah sistem Linkage / Toggle Clamp dimana disini digunakan mekanisme toggle yang dihubungkan langsung dengan moving plate dan digerakan Hydraulic unit. ACTUATING PIS ACTUATING CYLINDER STATIONARY PLATE MOVING PLATE FRONT LINK REAR LINK Gambar 2.4 Mechanical (toggle) Clamp Beberapa hal positif yang muncul dari sistem ini adalah Sistem Clamping silindernya lebih kecil dibandingkan dengan Hydraulic clamping untuk tonase yang sama sehingga secara dimensi akan kelihatan lebih ringkas. Namun kelemahannya kekuatan clampingnya akan berubah dengan perubahan suhu mold sehingga kekuatannya lebih sukar untuk diatur dan dikontrol Dari kesimpulan diatas maka kami memilih jenis Hydraulic clamping yang paling tepat digunakan untuk produksi, maka kelima pilihan mesin kami memang seluruhnya menggunakan mekanisme Hydraulic clamping

13 Injection Unit Injection unit berfungsi untuk melelehkan plastik (polimer) lalu mengumpulkannya pada screw chamber dan menginjeksikannya ke dalam mold. Setelah masuk kedalam mold injection unit juga berfungsi menahan tekanan selama proses pendinginan. Gambar 2.5 Skema Injection Unit Bagian-bagian dari Injection Unit : 1. Cylinder/barrel Cylinder/Barrelmerupakan tempat kedudukan untuk screw serta heater band

14 28 BARREL Gambar 2.6 Skema dari Barrel 2. Nozzle 1. Open Nozzle Nozzle yang umum digunakan. Nozzle tipe ini tidak memiliki kerugian material saat injeksi. Saat nozzle tidak bersentuhan dengan sprue bushing, material leleh mengalami drolling (keluar dengan sendirinya) 2. Slide Nozzle Slide nozzle dirancang untuk mencegah adanya drolling material plastik Sistem Molding Merupakan bagian dari sistem pada mesin plastik injeksi yang berfungsi sebagai cetakan dari material leleh menjadi produk jadi.

15 29 Secara umum bagian dari cetakan yang penting seperti terlihat pada gambar berikut ini: Gambar 2.7 Sistem Molding Bagian ini tidak akan dibahas lebih lanjut karena memang merupakan bagian terpisah dari mesin plastik injeksi Sistem Kontrol Sistem Kontrol adalah bagian dari mesin yang mengatur kekonsistenan kualitas dari produk yang dihasilkan oleh mesin dalam beberapa kali shot, dimana tuntutan utama dari mesin plastik injeksi adalah bisa menghasilkan produk yang similar dalam jumlah yang banyak (massal) namun kualitasnya selalu terjaga. Sistem kontrol di mesin akan selalu memonitor parameter-parameter yang disetting pada mesin seperti : - temperatur yang muncul terutama pada injection unit

16 30 - tekanan - kecepatan proses injeksi - kecepatan dari pergerakan screw Secara umum sistem kontrol sangat berpengaruh secara langsung terhadap kualitas produk dan efektifitas produksi produk tersebut secara ekonomi. Terdapat beberapa jenis sistem kontrol yang ada pada mesin plastik injeksi mulai dari relay sederhana (on/off control) seperti yang saat ini dimiliki oleh mesin plastik injeksi yang lama hingga yang menggunakan microprocessor canggih. Saat ini teknologi inilah yang banyak digunakan di mesin-mesin plastik injeksi yang baru termasuk kelima produk baru yang sedang dibandingkan, kesemuanya menggunakan kontrol dengan microprocessor yang canggih. 2.3 Pengertian Investasi Menurut Murfidin Haming, S.E., M.Si. dan Salim Basalamah, S.E., M.Si., definisi investasi adalah sebagai berikut :... Investasi adalah pengeluaran untuk mengadakan barang modal pada saat sekarang dengan tujuan untuk menghasilkan keluaran barang atau jasa agar dapat diperoleh manfaat yang lebih besar di masa yang akan datang, selama dua tahun atau lebih. Karena manfaat yang diperoleh dari investasi baru akan diperoleh di masa yang akan datang, maka investasi mengandung risiko ketidakpastian. Semakin jauh waktu pengembalian investasi, semakin besar risiko dari investasi tersebut.

17 31 Investasi dapat berupa pengeluaran untuk memperoleh aktiva riil (seperti bangunan, mesin, kendaraan), aktiva keuangan (seperti saham, obligasi, reksadana) ataupun pendirian sebuah perusahaan, ataupun sebuah proyek yang bertujuan pengenalan atau perluasan produk baru, penelitian dan pengembangan, eksplorasi, dan lain-lain. 2.4 Studi kelayakan proyek / investasi Pada umumnya, investasi menggunakan jumlah dana yang cukup besar, dimana terdapat sejumlah alternatif penggunaan dana tersebut, dan adanya risiko ketidakpastian dari masing-masing alternatif investasi, maka diperlukan evaluasi atas alternatif-alternatif investasi tersebut, yang disebut dengan studi kelayakan. Pengertian dari studi kelayakan menurut Suad Husnan dan Suwarsono Muhammad (2005, p4) adalah sebagai berikut: Studi kelayakan adalah penelitian tentang dapat tidaknya proyek (biasanya suatu proyek investasi) dilaksanakan dengan berhasil Dengan dilakukannya studi kelayakan, diharapkan dapat dipilih alternatif investasi terbaik yang mampu memberikan keuntungan yang optimal dari berbagai aspek, dan dapat terhindarkan dari kegagalan yang dapat menimbulkan kerugian signifikan.

18 Aspek-aspek studi kelayakan investasi Aspek Pasar Menurut Suad Husnan, aspek ini menempati prioritas utama dari studi kelayakan, karena kegagalan yang banyak dijumpai disebabkan tidak tersedianya pasar potensial yang cukup. Hal-hal yang perlu dipahami dari aspek pasar adalah jumlah pasar potensial yang tersedia dan jumlah atau bagian dari pasar yang dapat diraih dari usulan investasi serta strategi pemasaran yang direncanakan untuk merebut konsumen Aspek Teknis Analisa dan evaluasi aspek ini dilakukan setelah evaluasi dan analisa aspek pasar, agar dapat menentukan adanya kesempatan pemasaran yang memadai untuk jangka waktu yang relatif panjang. Hal-hal yang perlu dianalisa dari aspek teknis adalah penentuan lokasi dan lahan, luas produksi, layout dan pemilihan jenis teknologi dan equipment yang diperlukan Aspek Finansial Analisa atas aspek ini dilakukan atas jumlah dana yang diperlukan untuk investasi dan sumber atas dana tersebut, aliran kas atas operasi investasi tersebut, manfaat dan biaya dalam artian finansial sebagai parameter kelayakan pelaksanaan investasi yang juga akan berkaitan dengan aliran kas yang diperoleh.

19 Aspek Organisasi & Manajemen Aspek ini ditinjau dengan tujuan untuk perencanaan pengelolaan proyek investasi setelah selesai pelaksanaannya. Jika pelaksana proyek investasi tidak dapat mengelola modal yang dimilikinya seperti pasar potensial, teknologi dan modal, maka operasi atas proyek investasi yang telah diciptakan tidak dapat berjalan dengan baik dan dapat menimbulkan kerugian yang cukup signifikan. Hal-hal yang diperhatikan dalam aspek ini adalah jenis-jenis pekerjaan yang diperlukan untuk menjalankan operasi, persyaratan yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaan tersebut, dan struktur organisasi yang dapat dipergunakan Aspek Hukum Aspek ini akan mempersiapkan proyek mengenai bentuk badan usaha yang akan dipergunakan jika proyek investasi berupa pendirian perusahaan, atau jaminan yang bisa disediakan jika perusahaan membutuhkan sumber dana untuk investasi berupa pinjaman, juga berbagai akta, sertifikat, izin yang diperlukan yang dibutuhkan dalam investasi yang direncanakan Aspek Ekonomi & Sosial Analisa aspek ini penting dilakukan untuk proyek investasi yang berskala besar, dimana ada peluang bahwa proyek investasi tersebut dapat mempengaruhi perekonomian nasional. Analisa atas proyek investasi seperti ini perlu dilakukan secara luas, dalam arti tidak hanya memperhatikan manfaat dan pengorbanan bagi

20 34 perusahaan yang dianalisa dari aspek finansial, tapi juga manfaat dan pengorbanan bagi semua pihak dalam perekonomian yaitu negara dan masyarakat yang dianalisa dalam aspek ekonomi dan sosial. Dimana aspek ekonomi dan sosial yang terkait dengan antara lain subsidi dan pajak, kebijakan pemerintah, pendistribusian penghasilan, akan mempengaruhi hal-hal yang dipelajari dalam aspek finansialnya. Dengan demikian, peninjauan aspek ekonomi dan sosial ini dilakukan dengan tujuan untuk mengemukakan pengaruh positif baik lokal, regional, maupun nasional dan pengaruh terhadap masyarakat sekitar berkaitan dengan investasi yang dilakukan. 2.6 Penggantian mesin Salah satu bentuk investasi yang dapat dilakukan sebuah perusahaan adalah perolehan aset baru, seperti mesin. Dalam persoalan penggantian dan pembelian mesin, seorang ahli dan industriawan terkenal yaitu Hendry Ford menyatakan bahwa kalau kita membutuhkan suatu mesin baru dan tidak membeli tetapi menyewanya, maka kita harus membayar mesin itu tanpa harus memilikinya. Karena itu sebaiknya mesin yang dibutuhkan tersebut dibeli saja, sebab selain pembelian mesin ini merupakan simpanan (tabungan) yang akan dikembalikan dalam penyusutan, juga akan memudahkan kita dalam pengambilan kebijakan tentang pengunaan mesin tersebut, yaitu misalnya apakah perlu diganti

21 35 dengan mesin yang baru (modern) atau tidak. Jadi dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa sampai pada suatu saat mesin yang kita miliki perlu diganti juga. Pembelian atas mesin baru sebagai sebuah keputusan investasi dapat dilakukan pada beberapa kondisi, antara lain, sebagai modal awal sebuah perusahaan, ditujukan untuk diversifikasi produk, atau untuk mengganti mesin yang lama. Keputusan penggantian mesin lama merupakan keputusan yang akan dihadapi perusahaan secara berkala, namun yang menjadi pertimbangan awal adalah apakah aset yang dimiliki saat ini perlu dihentikan dari penggunaanya atau diteruskan setelah dilakukan perbaikan atau diganti dengan aset baru. Dua alasan utama suatu mesin perlu diganti antara lain : 1. Kerusakan / penurunan kondisi fisik mesin Umur mesin yang telah lanjut menyebabkan penurunan kondisi fisik pada mesin, bahkan kerusakan. Apabila kondisi mesin menurun, maka operasi mesin ini menjadi tidak efisien. Karena pengoperasian atas mesin dengan kondisi seperti ini akan menimbulkan kerugian-kerugian sebagai berikut : - meningkatnya biaya-biaya untuk pengoperasian mesin tersebut, yaitu : o biaya tenaga kerja, dimana waktu kehadiran operator mesin bertambah o biaya pemeliharaan rutin dan reparasi mesin o biaya atas energi yang digunakan untuk operasi mesin

22 36 - penurunan produksi baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitas, karena dibutuhkan waktu produksi yang lebih panjang, sehingga perusahaan memiliki batasan jumlah pemesanan yang dapat dipenuhi akibat penurunan kondisi fisik mesin. Penurunan kondisi mesin tidak hanya mempengaruhi perusahaan dalam hal efisiensi biaya, dan kemampuan mesin berkaitan dengan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan, tapi juga mempengaruhi produktivitas tenaga kerja yang berada disekitar mesin. Apabila lingkungan pekerjaan tidak mendukung, misalnya dengan suara mesin yang ribut atau keras, maka produktivitas akan menurun, karena hal ini akan mempengaruhi kondisi mental dan kesehatan tenaga kerja, yang akan berkaitan dengan keselamatan dalam lingkungan kerja. Jika mesin yang dipakai telah rusak, maka operasi perusahaan akan terhambat. Sehingga pilihan penggantian mesin menjadi suatu keharusan. Namun hal penting yang perlu dipertimbangkan lebih jauh adalah mesin mana yang akan dibeli untuk menggantikan mesin rusak tersebut. 2. Keperluan perubahan dan teknologi Mesin yang dimililiki perusahaan pada dasarnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumen, dimana kebutuhan ini menyangkut kuantitas, kualitas ataupun desain produk.

23 37 Apabila mesin perusahaan memiliki spesifikasi yang tidak cukup untuk memenuhi perubahan permintaan konsumen baik dari segi kualitas ataupun kuantitas secara efisien, maka perusahaan tidak dapat bersaing dengan perusahaan lain yang mampu memenuhi permintaan mereka dengan menggunakan mesin yang lebih baik, dari segi kapasitas maupun teknologi. Selain itu, jika dibutuhkan produk baru yang berbeda, akibat perubahan keinginan dari konsumen. Hal ini menyebabkan perusahaan melakukan perubahan desain produk, baik perubahan yang merupakan perubahan kecil atau besar. Perubahan kuantitas dan kualitas serta desain produk ini dapat menyebabkan mesin yang dimiliki tidak cocok atau tidak dapat dipergunakan lagi. Dengan demikian, penggantian mesin yang lebih baik diharapkan akan menghindarkan perusahaan dari kerugian akibat meningkatnya biaya-biaya operasi mesin, menghindarkan ketidakpuasan pelanggan ataupun konsumen baru, mengurangi risiko kecelakaan kerja dan peningkatan produktivitas karyawan, serta meningkatkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan konsumen, sehingga dapat memperbaiki efisiensi dan efektifitas operasi perusahaan serta posisi persaingan perusahaan. Tiga aspek penting untuk studi kelayakan investasi yang disimpulkan dari alasan utama penggantian aset, yaitu aspek pasar, aspek finansial dan aspek teknik produksi.

24 Aspek-aspek studi kelayakan investasi dalam penggantian mesin Aspek Pasar Aspek ini dalam penggantian mesin memberikan perkiraan pendapatan yang diperoleh dari peramalan permintaan dengan menggunakan data-data dan kondisi di masa lalu. Secara umum, beberapa metode yang digunakan dalam peramalan permintaan yaitu : metode pendapat, metode test / eksperimen, metode survei, metode time series, metode regresi korelasi, dan metode input output. Untuk tujuan peramalan jangka panjang menurut Suad Husnan dan Suwarsono Muhammad, metode yang akan digunakan adalah metode time series dan regresi korelasi. Namun, karena data yang digunakan dalam pembahasan ini berdasarkan data masa lampau, maka metode yang digunakan adalah metode peramalan time series. Metode peramalan time series membentuk suatu persamaan dengan menggunakan scatter diagram yang dibentuk dari data-data dimasa lalu dan tidak memperhatikan hubungan sebab akibat antar variabel. Beberapa cara yang dilakukan dengan metode ini : a. Metode trend linier, dimana scatter diagram membentuk garis lurus yang naik, dan biasanya digunakan untuk produk yang berada dalam siklus pertumbuhan.

25 39 b. Metode trend kuadratik, dimana scatter diagram membentuk parabola c. logaritma linear (trend exponential), dimana scatter diagram naik turun dengan kriterperbedaan yang tidak terlalu banyak dan secara keseluruhan cenderung naik, biasanya digunakan untuk produk yang berada dalam siklus kejenuhan. Metode-metode diatas didukung dengan pendekatan kuadrat terkecil (least square) dengan metode pengawasan peramalan kesalahan kuadrat mean akar (standard error) Trend Linear Dari pengolahan data tahun-tahun sebelumnya dibentuk suatu persamaan trend linear diuraikan sebagai berikut : y = a + b x Σ y = n a + b E x Σ x y = a Σ x + b Σ x2 dimana: y = besarnya nilai yang diramal a = nilai tren pada nilai dasar b = tingkat perkembangan nilai yang diramal x = unit tahun yang dihitung dari periode dasar

26 40 Untuk dapat menghitung besarnya nilai yang diramal, maka nilai a dan nilai b harus dihitung terlebih dahulu dengan metode least square. Untuk menghitung besarnya nilai a dan b tersebut dapat ditempuh dengan dua metode, yaitu: a. Metode Nol Bebas Dalam metode nol bebas ini penentuan letak angka nol pada skala x (penentuan tahun dasar) adalah bebas, yang berarti jumlah nilai dalam skala x dapat sama dengan nol (Ex = 0) dan dapat juga jumlah skala x tidak sama dengan nol, yang berarti jumlah nilai dalam skala x dapat positif atau negatif. Perbedaan penentuan tahun dasar pada metode nol bebas ini hanya akan menyebabkan perbedaan persamaan tren saja, tetapi hasil penghitungan peramalan pada tahun-tahun yang bersangkutan akan tetap sama. b. Metode Titik Tengah Dalam metode titik tengah sebagai tahun dasar ini maka jumlah nilai dalam skala x harus sama dengan nol (Ex=0), sehingga nilai a dan nilai b ditentukan dengan menggunakan formulasi sebagai berikut: ΣY a = b = n ΣXY n dimana: y = besarnya nilai yang diramal a = nilai tren pada nilai dasar

27 41 b = tingkat perkembangan nilai yang diramal x = unit tahun yang dihitung dari periode dasar n = banyaknya data (tahun) Peramalan Trend Eksponensial Fungsi persamaan dari metode ini adalah: y = a. bx yang dapat diubah menjadi fungsi logaritma sebagai berikut : log y = log a + x log b log y = n log a + Σ x log b x log y = Σ x log a + Σ X2 log b Persamaan di atas dapat disederhanakan bila jumlah nilai dalam skala x sama dengan nol (Σ x = 0), sehingga persamaannya menjadi : Σ log y = n log a Σ x log y = Σ x2 log b dimana: y = besarnya nilai yang diramal a = nilai tren pada nilai dasar b = tingkat perkembangan nilai yang diramal x = unit tahun yang dihitung dari periode dasar

28 42 Pengawasan peramalan dilakukan dengan menentukan nilai standard error dari kedua metode diatas. Semakin kecil nilai standard error berarti semakin kecil penyimpangan metode peramalan yang digunakan. Rumus yang digunakan untuk menentukan nilai Standard Error adalah : SE = Σ(Y Y )² n - 2 dimana: SE = nilai standard error Y = nilai sebenarnya Y = nilai yang diramalkan n = jumlah tahun yang diramal Aspek Teknis Dalam penggantian mesin, aspek teknis yang akan dikaji, berkaitan dengan adalah pemilihan jenis teknologi dan equipment yang diperlukan. Patokan umum yang dapat dipakai adalah seberapa jauh derajat mekanisasi yang diinginkan dan manfaat ekonomi yang diharapkan. Sehingga dalam pemilihan teknologi ini, termasuk didalamnya penentuan rencana jumlah produksi dan rencana kapasitas produksi ekonomi.

29 43 Yang dimaksud kapasitas produksi ekonomis adalah: Volume atau jumlah satuan produk yang dihasilkan selama satu satuan waktu tertentu misalnya satu hari, satu bulan atau satu tahun secara menguntungkan. Kapasitas ini harus dibedakan dengan kapasitas teknis yang besarnya ditentukan oleh kemampuan produksi mesin terpasang. Besarnya kapasitas produksi ekonomis ditentukan berdasarkan perpaduan hasil penelitian berbagai macam komponen evaluasi yaitu: perkiraan jumlah penjualan, kemungkinan pengadaan bahan baku pembantu dan tenaga kerja inti untuk menjalankan mesin baru. Dengan teknologi yang memadai, diharapkan memberikan dampak efisiensi yang tinggi dalam proses produksi sekaligus produktivitas yang tinggi pula Aspek Finansial Analisa atas aspek ini dilakukan pada sumber dan jumlah dana yang diperlukan untuk investasi, aliran kas atas operasi investasi tersebut setelah dikenakan pajak, manfaat dan biaya dalam artian finansial sebagai parameter kelayakan pelaksanaan investasi yang juga akan berkaitan dengan aliran kas yang diperoleh. Aliran kas berdasarkan saat terjadinya dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian: a. Aliran kas permulaan (Initial Cashflow / Initial Investment)

30 44 Initial Cashflow merupakan berbagai pengeluaran untuk investasi (outlay) pada awal periode. Dalam pembelian mesin, initial cashflow tidak hanya merupakan uang yang dikeluarkan untuk membeli aktiva tersebut, tapi juga : - biaya pemasangan dan pengiriman, - pengeluaran kas non biaya lainnya seperti meningkatnya kebutuhan modal kerja (investasi modal kerja), - tambahan biaya berdasarkan setelah pajak (contoh : biaya pelatihan), dan - dalam keputusan penggantian, arus kas masuk setelah pajak sehubungan dengan penjualan mesin lama b. Aliran kas operasional (operational cashflow) Operational cashflow merupakan aliran kas yang timbul selama operasi proyek. Ada dua cara untuk menentukan besarnya operational cashflow : - menyesuaikan taksiran laba/rugi akuntansi setelah pajak dan menambahkannya dengan biaya yang sifatnya bukan tunai - menghitung selisih antara jumlah kas yang masuk (cash inflow) dan jumlah kas yang keluar (cash outflow) pada periode tertentu. c. Aliran kas terminal (terminal cashflow) Aliran kas yang diperoleh pada waktu proyek tersebut berakhir disebut terminal cashflow, yang terdiri dari cashflow nilai sisa (residu) investasi tersebut dan pengembalian modal kerja.

31 45 Arus kas akhir ini dihubungkan dengan penghentian proyek / investasi, sehingga berhubungan dengan nilai sisa investasi ditambah dengan perolehan atau dikurangkan dengan kerugian pajak sehubungan dengan penjualannya. Dengan demikian, dalam perhitungan arus kas akhir setelah pajak, melibatkan hal-hal sebagai berikut : - nilai sisa proyek setelah pajak - pengeluaran kas sehubungan dengan penghentian proyek / investasi - pemulihan pengeluaran non biaya (seperti investasi modal kerja) yang terjadi pada awal proyek Biaya-biaya yang diperhitungkan dalam cashflow terkait dengan penggunaan mesin : Biaya Bahan Baku dan Bahan Pembantu Biaya bahan baku adalah biaya yang diperlukan untuk menghasilkan satu satuan barang jadi, sedangkan bahan pembantu adalah bahan yang diperlukan untuk memperlancar jalannya produksi (misal minyak dan bahan pelumas lainnya ) Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung Biaya tenaga kerja yang tidak berhubungan dengan proses produksi secara langsung juga diperhitungkan dalam biaya tetap.

32 Biaya Tenaga Kerja Langsung Biaya tenaga kerja langsung adalah biaya tenaga kerja yang langsung berhubungan dengan proses produksi Biaya Depresiasi atau penyusutan nilai dari suatu barang. Pengertian depresiasi menurut Pujawan (1999, p185) adalah sebagai berikut Depresiasi pada dasarnya adalah penurunan nilai dari properti atau aset karena waktu atau pemakaian. Nilai-nilai yang perlu diketahui di dalam perhitungan depresiasi yaitu: Harga awal peralatan, yaitu harga awal peralatan pada saat peralatan dibeli. Harga akhir peralatan, yaitu perkiraan nilai peralatan pada akhir umurnya. Umurnya peralatan, yaitu jangka waktu penggunaan peralatan. Menurut Pujawan (1999, p188) banyak metode yang dapat dipakai untuk menentukan beban depresiasi tahunan dari suatu asset, antara lain : metode garis lurus, metode saldo menurun, metode jumlah angka tahun, dan metode sinking fund. Metode depresiasi yang paling sederhana dan banyak digunakan adalah metode garis lurus (straight line). Pada cara ini, beban depresiasi tiap

33 47 periode jumlahnya sama. Perhitungan depresiasi garis lurus ini didasarkan pada anggapan-anggapan sebagai berikut : Kegunaan ekonomis dari suatu aktiva akan menurunkan secara proporsional setiap periode. Biaya reparasi dan pemeliharaan tiap-tiap periode jumlahnya relatif tetap. Kegunaan ekonomis berkurang karena lewatnya waktu. Penggunaan aktiva tiap-tiap periode relatif tetap. Dengan adanya anggapan-anggapan di atas, metode garis lurus sebaiknya digunakan untuk menghitung depresiasi mesin. Biaya depresiasi yang dihitung dengan cara ini jumlahnya tetap setiap periode, tidak menghiraukan kegiatan dalam periode tersebut. Rumus : Depresiasi = ( Harga Perolehan Nilai Sisa ) : Umur Ekonomis Biaya Perawatan (Maintenance) Biaya perawatan mengandung pengertian biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memelihara atau menjaga fasilitas atau peralatan pabrik dan mengadakan perbaikan atau penyesuaian atau penggantian yang

34 48 diperlukan agar didapatkan suatu keadaan operasi produksi yang memuaskan sesuai dengan yang direncanakan Biaya Pemakaian listrik Biaya pemakaian listrik adalah biaya yang dibayarkan untuk membiayai pemakaian listrik yang digunakan oleh peralatan pabrik secara langsung Biaya Asuransi Biaya yang dikeluarkan atas premi asuransi barang-barang yang digunakan dalam proses produksi juga diperhitungkan dalam biaya tetap sebagai biaya asuransi Biaya Tidak Terduga Biaya tidak terduga merupakan biaya-biaya yang ditambahkan karena adanya perubahan-perubahan atau adanya kesalahan-kesalahan di dalam perhitungan (adanya under estimates) misalnya : pengaruh inflasi, pengaruh adanya waktu lembur dan tambahan biaya. Biaya depresiasi tidak diperhitungkan dalam arus kas, karena tidak ada pengeluaran kas secara nyata. Selain itu, alokasi biaya depresiasi ini telah diperhitungkan dalam pengeluaran awal (lumpsum outflow cashdiperhitungkan seluruhnya secara langsung).

35 49 Namun demikian, depresiasi tetap diperhatikan karena penting dalam memperhitungkan arus kas dan membuat manajer keuangan harus waspada terhadap ketentuan pajak yang sedang berlaku saat mengevaluasi usulan penganggaran modal. 2.8 Kriteria Penilaian Kelayakan Investasi Metode NPV Net Present Value Metode ini menghitung nilai sekarang (present value) arus kas bersih masa depan setelah pajak, dikurangi pengeluaran awal proyek (dalam hal ini harga beli aktiva tetap). NPV mencerminkan nilai dari suatu proyek pada tingkat laju diskonto (discount rate) tertentu untuk mengukur nilai keuntungan dari suatu investasi. Dengan kata lain, NPV merupakan selisih keuntungan apabila dana diinvestasikan pada tempat yang nil-resiko, misalnya bank, dengan dana diinvestasikan pada proyek yang akan dikaji. Sehingga semakin besar bunga ditawarkan oleh bank (sebagai discount rate) maka akan semakin kecil nilai NPV (lihat Gambar 2.1).

36 50 Gambar 2.8 Nilai NPV terhadap bunga diskonto Proses untuk mengimplementasikan pendekatan ini adalah sebagai berikut: 1. Tentukan Present Value dari setiap arus kas, termasuk arus masuk dan arus keluar, yang didiskontokan pada biaya modal proyek, 2. Jumlah arus kas yang didiskontokan ini didefinisikan sebagai NPV proyek, Menghitung present value dari aliran kas masa datang dengan menggunakan tingkat bunga dan jumlah periode tertentu sebagai berikut (engineering economy tenth edition page 138 E. Paul Degarmo, William G. Sullivan) : dimana : i = tingkat bunga efektif per periode perhitungan K = panjang periode ( 0 k N )

37 51 Fk = Aliran kas masa mendatang pada akhir periode ke-k N = Jumlah periode hitungan Secara matematis NPV dapat dituliskan sebagai berikut : NPV = PV of proceeds PV of out lays Nilai bersih saat ini = Nilai Pendapatan saat ini Nilai investasi saat ini Kriteria keputusan dengan menggunakan metode NPV adalah sebagai berikut : Jika NPV 0,0 maka proyek / pembelian aset dilaksanakan Jika NPV < 0,0 maka proyek / pembelian aset diabaikan Metode Payback Metode ini menunjukkan berapa lama (dalam beberapa tahun) suatu investasi akan bisa kembali (payback period) dengan menunjukkan perbandingan antara initial investment (nilai investasi) dengan aliran kas tahunan atas operasi investasi (proceed). Secara matematis, dirumuskan sebagai berikut : Kriteria keputusan dengan menggunakan metode payback ini adalah : Jika hasil perhitungan payback period payback yang disyaratkan, maka proyek / pembelian aset dilaksanakan

38 52 Jika hasil perhitungan payback period > payback yang disyaratkan, maka proyek / pembelian aset diabaikan Kelemahan : sulitnya menentukan payback period yang disyaratkan, mengacuhkan nilai waktu uang dan arus kas yang terjadi setelah payback. Kelemahan metode payback dalam nilai waktu uang diperbaiki dengan metode Discounted Payback. Metode ini menghitung waktu pengembalian investasi dengan membandingkan Initial Investment dan nilai Present Value aliran kas tahunan operasi investasi. Kriteria keputusan dengan menggunakan metode Discounted Payback sama dengan metode Payback Metode PI - Profitability Index Suad Husnan dan Suwarsono Muhammad (2000, p211) mendefinisikan sebagai berikut : Metode ini menghitung perbandingan antara nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa datang dengan nilai sekarang investasi. Secara matematis dituliskan sebagai berikut : PV of proceeds PI = Initial Investment Kriteria keputusan dengan menggunakan metode PI adalah sbb :

39 53 Jika PI 1,0 maka proyek / pembelian aset dilaksanakan Jika PI < 1,0 maka proyek / pembelian aset diabaikan Metode IRR Internal Rate of Return Definisi menurut Suad Husnan dan Suwarsono Muhammad (2000, p210) : Metode yang menghitung tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa-masa mendatang. Metode ini untuk membuat peringkat usulan investasi dengan menggunakan tingkat pengembalian atas investasi yang dihitung dengan mencari tingkat diskonto yang menyamakan nilai sekarang dari arus kas masuk proyek yang diharapkan terhadap nilai sekarang biaya proyek atau sama dengan tingkat diskonto yang membuat NPV sama dengan nol. Dalam persamaan matematis, IRR adalah pada tingkat suku bunga berapa NPV = 0 (engineering economy tenth edition page 147 E. Paul Degarmo, William G. Sullivan) : Σ Rk ( P/F, i %, k ) - Σ Ek ( P/F, i %, k ) = 0 (pada i =?) dimana : Rk = Penghasilan atau penghematan netto untuk tahun ke-k Ek = Pengeluaran netto termasuk tiap biaya investasi untuk tahun ke-k N = Umur Proyek/periode studi

40 54 Kriteria keputusan dengan menggunakan metode IRR adalah sebagai berikut : Jika IRR tingkat pengembalian yang disyaratkan atau MARR (Minimum Attractive Rate of Return) maka proyek atau pembelian aset dilaksanakan Jika IRR < MARR maka proyek atau pembelian aset diabaikan Metode yang paling baik menurut Suad Husnan dan Suwarsono Muhammad (2000, p218) untuk menentukan kelayakan investasi adalah metode NPV, dengan alasan sebagai berikut : metode payback mengabaikan aliran kas setelah periode payback & tidak ada dasar konsepsi untuk menentukan payback maksimum yang disyaratkan metode PI menggunakan perbandingan yang tidak absolut metode IRR memiliki kemungkinan IRR berganda metode IRR dengan analisa inkremental (selisih) konsisten dengan metode NPV. Namun membutuhkan peramalan jangka panjang yang detail mengenai pertambahan keuntungan dan biaya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. AsiA Day Madiun-Malang, penelitian menggunakan metode-metode penilaian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. AsiA Day Madiun-Malang, penelitian menggunakan metode-metode penilaian BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS A. Tinjauan Penelitian Terdahulu Penelitian oleh Dwi Susianto pada tahun 2012 dengan judul Travel AsiA Day Madiun-Malang, penelitian menggunakan metode-metode penilaian

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 14 LANDASAN TEORI 2.1 Proses Hierarki Analitik 2.1.1 Pengenalan Proses Hierarki Analitik Proses Hierarki Analitik (Analytical Hierarchy Process AHP) dikembangkan oleh Dr. Thomas L. Saaty dari Wharton

Lebih terperinci

BAB II INVESTASI. Setiap perusahaan yang melakukan investasi aktiva tetap selalu

BAB II INVESTASI. Setiap perusahaan yang melakukan investasi aktiva tetap selalu BAB II INVESTASI II.1. Definisi Investasi Setiap perusahaan yang melakukan investasi aktiva tetap selalu mempunyai harapan bahwa perusahaan akan dapat memperoleh kembali dana yang ditanamkan dalam aktiva

Lebih terperinci

Universitas Bina Nusantara

Universitas Bina Nusantara Universitas Bina Nusantara Abstrak Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Skripsi Strata 1 - Semester Genap tahun 2007 / 2008 ANALISA ALTERNATIF INVESTASI MESIN PLASTIK INJEKSI DI POLITEKNIK MANUFAKTUR

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Studi Kelayakan Proyek Dalam menilai suatu proyek, perlu diadakannya studi kelayakan untuk mengetahui apakah proyek tersebut layak untuk dijalankan atau tidak. Dan penilaian tersebut

Lebih terperinci

PENGANGGARAN MODAL (CAPITAL BUDGETING)

PENGANGGARAN MODAL (CAPITAL BUDGETING) Modul ke: PENGANGGARAN MODAL (CAPITAL BUDGETING) Fakultas FEB MEILIYAH ARIANI, SE., M.Ak Program Studi Akuntansi http://www.mercubuana.ac.id Penganggaran Modal ( Capital Budgeting) Istilah penganggaran

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Studi Kelayakan Bisnis 2.1.1 Pengertian Studi Kelayakan Bisnis Kata bisnis berasal dari bahasa Inggris busy yang artinya sibuk, sedangkan business artinya kesibukan. Bisnis dalam

Lebih terperinci

ANALISIS KEPUTUSAN INVESTASI (CAPITAL BUDGETING) Disampaikan Oleh Ervita safitri, S.E., M.Si

ANALISIS KEPUTUSAN INVESTASI (CAPITAL BUDGETING) Disampaikan Oleh Ervita safitri, S.E., M.Si ANALISIS KEPUTUSAN INVESTASI (CAPITAL BUDGETING) Disampaikan Oleh Ervita safitri, S.E., M.Si PENDAHULUAN Keputusan investasi yang dilakukan perusahaan sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup perusahaan,

Lebih terperinci

ANALISIS CAPITAL BUDGETING SEBAGAI SALAH SATU ALAT UNTUK MENGUKUR KELAYAKAN INVESTASI (Studi Pada PT. Wahana Makmur Bersama Gresik)

ANALISIS CAPITAL BUDGETING SEBAGAI SALAH SATU ALAT UNTUK MENGUKUR KELAYAKAN INVESTASI (Studi Pada PT. Wahana Makmur Bersama Gresik) ANALISIS CAPITAL BUDGETING SEBAGAI SALAH SATU ALAT UNTUK MENGUKUR KELAYAKAN INVESTASI (Studi Pada PT. Wahana Makmur Bersama Gresik) Anandhayu Mahatma Ratri Moch. Dzulkirom Achmad Husaini Fakultas Ilmu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kelayakan proyek adalah suatu penelitian tentang layak atau tidaknya suatu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kelayakan proyek adalah suatu penelitian tentang layak atau tidaknya suatu 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Studi Kelayakan Studi kelayakan bisnis atau sering pula disebut dengan studi kelayakan proyek adalah suatu penelitian tentang layak atau tidaknya suatu proyek bisnis

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Analisis Kelayakan Usaha Analisis Kelayakan Usaha atau disebut juga feasibility study adalah kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat

Lebih terperinci

12/23/2016. Studi Kelayakan Bisnis/ RZ / UNIRA

12/23/2016. Studi Kelayakan Bisnis/ RZ / UNIRA Studi Kelayakan Bisnis/ RZ / UNIRA Bagaimana kesiapan permodalan yang akan digunakan untuk menjalankan bisnis dan apakah bisnis yang akan dijalankan dapat memberikan tingkat pengembalian yang menguntungkan?

Lebih terperinci

BAB III TEORI HIERARKI ANALITIK. Proses Hierarki Analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process (AHP)

BAB III TEORI HIERARKI ANALITIK. Proses Hierarki Analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process (AHP) BAB III TEORI HIERARKI ANALITIK 3.1 Pengertian Proses Hierarki Analitik Proses Hierarki Analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process (AHP) pertama kali dikembangkan oleh Thomas Lorie Saaty dari Wharton

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI AKTIVA TETAP PENAMBAHAN MESIN PERCETAKAN PADA LINEZA PRODUCTION SAMARINDA

ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI AKTIVA TETAP PENAMBAHAN MESIN PERCETAKAN PADA LINEZA PRODUCTION SAMARINDA ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI AKTIVA TETAP PENAMBAHAN MESIN PERCETAKAN PADA LINEZA PRODUCTION SAMARINDA Henny Ramadhani Fakultas Ekonomi Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda Email : [email protected]

Lebih terperinci

KONSEP DAN METODE PENILAIAN INVESTASI

KONSEP DAN METODE PENILAIAN INVESTASI KONSEP DAN METODE PENILAIAN INVESTASI 4.1. KONSEP INVESTASI Penganggaran modal adalah merupakan keputusan investasi jangka panjang, yang pada umumnya menyangkut pengeluaran yang besar yang akan memberikan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis mengemukakan teori-teori terkait penelitian. Teori-teori tersebut antara lain pengertian proyek, keterkaitan proyek dengan

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Perubahan lingkungan internal dan eksternal menuntut perusahaan untuk meningkatkan keunggulan kompetitif agar dapat bertahan dan berkembang. Disaat perusahaan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Proyek dan Investasi Yang dimaksud dengan proyek adalah suatu keseluruhan kegiatan yang menggunakan sumber-sumber untuk memperoleh manfaat (benefit), atau suatu kegiatan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. KERANGKA TEORI 2.1.1. Pengertian Studi Kelayakan Bisnis Studi Kelayakan bisnis adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang kegiatan atau usaha atau bisnis

Lebih terperinci

MAKALAH STUDI KELAYAKAN BISNIS PENILAIAN INVESTASI DAN RESIKO INVESTASI

MAKALAH STUDI KELAYAKAN BISNIS PENILAIAN INVESTASI DAN RESIKO INVESTASI MAKALAH STUDI KELAYAKAN BISNIS PENILAIAN INVESTASI DAN RESIKO INVESTASI Disusun Oleh: Paulina Sari 201210170311004 Aulia Pratiwi 201210170311033 Satria Sukanda 201210170311041 FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

Lebih terperinci

Minggu-15. Budget Modal (capital budgetting) Penganggaran Perusahaan. By : Ai Lili Yuliati, Dra, MM

Minggu-15. Budget Modal (capital budgetting) Penganggaran Perusahaan. By : Ai Lili Yuliati, Dra, MM Penganggaran Perusahaan Minggu-15 Budget Modal (capital budgetting) By : Ai Lili Yuliati, Dra, MM Further Information : Mobile : 08122035131 Email: [email protected] 1 Pokok Bahasan Pengertian Penganggaran

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam bab ini penulis menjelaskan tinjauan teori-teori yang terkait yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam bab ini penulis menjelaskan tinjauan teori-teori yang terkait yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini penulis menjelaskan tinjauan teori-teori yang terkait yang digunakan dalam analisa dan pembahasan penelitian ini satu persatu secara singkat dan kerangka berfikir

Lebih terperinci

= Jumlah stasiun kerja. 4. Keseimbangan Waktu Senggang (Balance Delay) Balance delay merupakan ukuran dari ketidakefisienan

= Jumlah stasiun kerja. 4. Keseimbangan Waktu Senggang (Balance Delay) Balance delay merupakan ukuran dari ketidakefisienan Keterangan: n = Jumlah stasiun kerja Ws Wi = Waktu stasiun kerja terbesar. = Waktu sebenarnya pada stasiun kerja. i = 1,2,3,,n. 4. Keseimbangan Waktu Senggang (Balance Delay) Balance delay merupakan ukuran

Lebih terperinci

Aspek Ekonomi dan Keuangan. Pertemuan 11

Aspek Ekonomi dan Keuangan. Pertemuan 11 Aspek Ekonomi dan Keuangan Pertemuan 11 Aspek Ekonomi dan Keuangan Aspek ekonomi dan keuangan membahas tentang kebutuhan modal dan investasi yang diperlukan dalam pendirian dan pengembangan usaha yang

Lebih terperinci

dimana jangka waktu kembalinya dana tersebut melebihi waktu satu tahun. Batas waktu satu

dimana jangka waktu kembalinya dana tersebut melebihi waktu satu tahun. Batas waktu satu A. Pengertian Capital Budgeting Definisi Capital Budgeting menurut Bambang Riyanto (hal 121, thn 1995) adalah keseluruhan proses perencanaan dan pengambilan keputusan mengenai pengeluaran dana dimana jangka

Lebih terperinci

Bab 5 Penganggaran Modal

Bab 5 Penganggaran Modal M a n a j e m e n K e u a n g a n 90 Bab 5 Penganggaran Modal Mahasiswa diharapkan dapat memahami dan menjelaskan mengenai teori dan perhitungan dalam investasi penganggaran modal dalam penentuan keputusan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1.Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), proyek pada dasarnya merupakan kegiatan yang menyangkut pengeluaran modal (capital

Lebih terperinci

INVESTASI DALAM AKTIVA TETAP

INVESTASI DALAM AKTIVA TETAP INVESTSI DLM KTIV TETP nggaran/budget adalah suatu rencana yang menjelaskan arus kas keluar dan arus kas masuk yang diproyeksikan selama periode tertentu dimasa yang akan datang. Peranggaran Modal adalah

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoretis Kerangka pemikiran teoretis merupakan suatu penalaran peneliti yang didasarkan pada pengetahuan, teori, dalil, dan proposisi untuk menjawab suatu

Lebih terperinci

BAB VI ASPEK KEUANGAN. 6.1 Tabel Sumber Pendanaan. Uraian Sumber Dana Jumlah. Bisnis yang dirancang oleh Andalucia Party Planner memerlukan modal awal

BAB VI ASPEK KEUANGAN. 6.1 Tabel Sumber Pendanaan. Uraian Sumber Dana Jumlah. Bisnis yang dirancang oleh Andalucia Party Planner memerlukan modal awal 83 BAB VI ASPEK KEUANGAN 1.1 Kebutuhan Dana Andalucia Party Planner membutuhkan dana dengan rincian sebagai berikut: 6.1 Tabel Sumber Pendanaan Uraian Sumber Dana Jumlah 1. Modal sendiri Rp. 15.150.000

Lebih terperinci

PENILAIAN INVESTASI. Bentuk investasi dibedakan 1. Berdasarkan asset yang dimiliki 2. Berdasarkan lamanya waktu investasi

PENILAIAN INVESTASI. Bentuk investasi dibedakan 1. Berdasarkan asset yang dimiliki 2. Berdasarkan lamanya waktu investasi PENILAIAN INVESTASI I. Pengertian Investasi Investasi adalah penanaman (pengeluaran) modal (uang) waktu sekarang yang hasilnya baru diketahui diwaktu kemudian. Bentuk investasi dibedakan. Berdasarkan asset

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Transportasi Transportasi dapat didefinisikan sebagai usaha dan kegiatan mengangkut atau membawa barang atau penumpang dari suatu tempat ke tempat lainnya. Pengangkutan atau pemindahan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB II TINJAUAN TEORI BAB II TINJAUAN TEORI A. Landasan Penelitian Terdahulu Hellen Mayora Violetha (2014) Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang melakukan penelitian dengan judul Evaluasi Kelayakan

Lebih terperinci

METODE PENILAIAN INVESTASI. Jakarta, 20 Oktober 2005

METODE PENILAIAN INVESTASI. Jakarta, 20 Oktober 2005 METODE PENILAIAN INVESTASI Jakarta, 20 Oktober 2005 Outline Accounting/Average Rate of Return Payback Period Net Present Value Profitability Index Internal Rate of Return 2 Pendahuluan Penilaian investasi:

Lebih terperinci

IV. ANALISA FAKTOR KELAYAKAN FINANSIAL

IV. ANALISA FAKTOR KELAYAKAN FINANSIAL 32 IV. ANALISA FAKTOR KELAYAKAN FINANSIAL 4.1. Identifikasi Indikator Kelayakan Finansial Pada umumnya ada enam indikator yang biasa dipertimbangkan untuk dipakai dalam penilaian kelayakan finansial dari

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Proyek adalah kegiatan-kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam suatu bentuk kesatuan dengan mempergunakan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh penulis pada PT X, mengenai Peranan Capital Budgeting Dalam Pengambilan Keputusan Investasi Untuk Pembelian Mesin

Lebih terperinci

RANGKUMAN BAB 23 EVALUASI EKONOMI DARI PENGELUARAN MODAL (Akuntansi Biaya edisi 13 Buku 2, Karangan Carter dan Usry)

RANGKUMAN BAB 23 EVALUASI EKONOMI DARI PENGELUARAN MODAL (Akuntansi Biaya edisi 13 Buku 2, Karangan Carter dan Usry) RANGKUMAN BAB 23 EVALUASI EKONOMI DARI PENGELUARAN MODAL (Akuntansi Biaya edisi 13 Buku 2, Karangan Carter dan Usry) BIAYA MODAL ( THE COST OF CAPITAL ) Biaya modal mewakili perkiraan tingkat pengembalian

Lebih terperinci

Magister Manajemen Univ. Muhammadiyah Yogyakarta

Magister Manajemen Univ. Muhammadiyah Yogyakarta XII. Penganggaran Modal (Capita l Budgeting) i 1. Pengantar Investasi aktiva tetap merupakan salah satu investasi yang mendapat perhatian karena jangka waktu pengembalian biasanya lebih dari satu tahun,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia usaha dewasa ini ditandai dengan semakin. meningkatnya persaingan yang ketat di berbagai bidang usaha, hal ini

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia usaha dewasa ini ditandai dengan semakin. meningkatnya persaingan yang ketat di berbagai bidang usaha, hal ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perkembangan dunia usaha dewasa ini ditandai dengan semakin meningkatnya persaingan yang ketat di berbagai bidang usaha, hal ini menyebabkan banyak perusahaan

Lebih terperinci

ANALISIS ASPEK KEUANGAN DALAM MANAJEMEN PROYEK *)

ANALISIS ASPEK KEUANGAN DALAM MANAJEMEN PROYEK *) ANALISIS ASPEK KEUANGAN DALAM MANAJEMEN PROYEK *) A. Dasar Dasar Proyek 1. Batasan Proyek Clive Gray mendifinisikan proyek sebagai kegiatan-kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam satu

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Maintenance Menara BTS 2.1.1 Pengertian Menara BTS Menara BTS adalah tower yang yang terbuat dari rangkaian besi atau pipa baik segi empat atau segi tiga, atau hanya berupa pipa

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Analisis Investasi Tambang Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan endapan bahan galian yang meliputi

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Sistem Agribisnis Agribisnis sering diartikan secara sempit, yaitu perdagangan atau pemasaran hasil pertanian.sistem agribisnis sebenarnya

Lebih terperinci

II. KERANGKA PEMIKIRAN

II. KERANGKA PEMIKIRAN II. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan kumpulan teori yang digunakan dalam penelitian. Teori-teori ini berkaitan erat dengan permasalahan yang ada

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Bisnis Gittinger (1986) menyebutkan bahwa proyek pertanian adalah kegiatan usaha yang rumit karena menggunakan sumber-sumber

Lebih terperinci

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Menurut Surakhmad, (1994: ), metode deskriptif analisis, yaitu metode

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Menurut Surakhmad, (1994: ), metode deskriptif analisis, yaitu metode BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Metodelogi Penelitian Menurut Surakhmad, (1994:140-143), metode deskriptif analisis, yaitu metode yang memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Studi Kelayakan Studi kelayakan dapat dilakukan untuk menilai kelayakan investasi, baik pada sebuah proyek maupun bisnis yang sedang berjalan (Subagyo, 2007). Studi kelayakan

Lebih terperinci

Bab 6 Teknik Penganggaran Modal (Bagian 1)

Bab 6 Teknik Penganggaran Modal (Bagian 1) M a n a j e m e n K e u a n g a n 96 Bab 6 Teknik Penganggaran Modal (Bagian 1) Mahasiswa diharapkan dapat memahami, menghitung, dan menjelaskan mengenai penggunaan teknik penganggaran modal yaitu Payback

Lebih terperinci

BAB V KEPUTUSAN INVESTASI

BAB V KEPUTUSAN INVESTASI BAB V KEPUTUSAN INVESTASI A. Tujuan Kompetensi Khusus Setelah mengikuti perkuliahan, diharapkan mahasiswa mampu: Memahami Pentingnya Keputusan Investasi Mampu Menghitung Cash Flow Proyek Investasi Memahami

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Definisi Proyek Menurut Kadariah et al. (1999) proyek merupakan suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan

Lebih terperinci

VII. RENCANA KEUANGAN

VII. RENCANA KEUANGAN VII. RENCANA KEUANGAN Rencana keuangan bertujuan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan. Untuk melakukan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Terkait penulisan skripsi ini, ada beberapa penulis terdahulu yang telah melakukan penelitian yang membahas berbagai persoalan mengenai analisis kelayakan usaha. Adapun skripsi

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

KERANGKA PEMIKIRAN. 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Studi kelayakan merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, apakah menerima atau menolak dari suatu gagasan

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. penelitian ini, maka penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut:

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. penelitian ini, maka penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut: BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan permasalahan serta maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, maka penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut: 1. Estimasi incremental

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 8 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Budget Budget adalah ungkapan kuantitatif dari rencana yang ditujukan oleh manajemen selama periode tertentu dan membantu mengkoordinasikan apa yang dibutuhkan untuk diselesaikan

Lebih terperinci

Proudly present. Penganggaran Modal. Budi W. Mahardhika Dosen Pengampu MK.

Proudly present. Penganggaran Modal. Budi W. Mahardhika Dosen Pengampu MK. Proudly present Penganggaran Modal Budi W. Mahardhika Dosen Pengampu MK 081-331-529-764 www.bwmahardhika.com PENGANGGARANMODAL (CapitalBudgeting) ANALISIS PENGANGGARAN MODAL (ANALISIS USULAN INVESTASI)

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Investasi dan Proyek 2.2 Pengertian Bisnis 2.3 Pengertian Studi Kelayakan Bisnis

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Investasi dan Proyek 2.2 Pengertian Bisnis 2.3 Pengertian Studi Kelayakan Bisnis BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Investasi dan Proyek Kasmir dan Jakfar berpendapat bahwa investasi dapat diartikan sebagai penanaman modal dalam suatu kegiatan yang memiliki jangka waktu relatif panjang

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS FINANSIAL

VIII. ANALISIS FINANSIAL VIII. ANALISIS FINANSIAL Analisis aspek finansial bertujuan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan.

Lebih terperinci

Bab 7 Teknik Penganggaran Modal (Bagian 2)

Bab 7 Teknik Penganggaran Modal (Bagian 2) M a n a j e m e n K e u a n g a n 103 Bab 7 Teknik Penganggaran Modal (Bagian 2) Mahasiswa diharapkan dapat memahami, menghitung, dan menjelaskan mengenai penggunaan teknik penganggaran modal yaitu Accounting

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. pengambilan keputusan baik yang maha penting maupun yang sepele.

BAB II LANDASAN TEORI. pengambilan keputusan baik yang maha penting maupun yang sepele. BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Manusia dan Pengambilan Keputusan Setiap detik, setiap saat, manusia selalu dihadapkan dengan masalah pengambilan keputusan baik yang maha penting maupun yang sepele. Bagaimanapun

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. sumber-sumber dalam jangka panjang yang akan bermanfaat pada beberapa

BAB II LANDASAN TEORI. sumber-sumber dalam jangka panjang yang akan bermanfaat pada beberapa BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Investasi Investasi adalah pengaitan sumber-sumber dalam jangka panjang untuk menghasilkan laba di masa yang akan datang (Mulyadi, 2001:284). Investasi juga dapat didefinisikan

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang berhubungan dengan penelitian studi kelayakan usaha pupuk kompos pada Kelompok Tani

Lebih terperinci

Pertemuan 12 Investasi dan Penganggaran Modal

Pertemuan 12 Investasi dan Penganggaran Modal Pertemuan 12 Investasi dan Penganggaran Modal Disarikan Gitman dan Sumber lain yang relevan Pendahuluan Investasi merupakan penanaman kembali dana yang dimiliki oleh perusahaan ke dalam suatu aset dengan

Lebih terperinci

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP) Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP) Definisi AHP (Analytic Hierarchy Process) merupakan suatu model pengambil keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty yang menguraikan masalah multifaktor

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Proyek dan Investasi Yang dimaksud dengan proyek adalah suatu keseluruhan kegiatan yang menggunakan sumber-sumber untuk memperoleh manfaat (benefit), atau suatu kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini persaingan di dunia usaha semakin ketat. Apabila perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini persaingan di dunia usaha semakin ketat. Apabila perusahaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pada saat ini persaingan di dunia usaha semakin ketat. Apabila perusahaan tidak dapat bersaing, maka perusahaan tersebut dapat kalah dalam persaingan dan

Lebih terperinci

BAB IV KERANGKA PEMIKIRAN

BAB IV KERANGKA PEMIKIRAN 23 BAB IV KERANGKA PEMIKIRAN 4.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 4.1.1 Studi Kelayakan Usaha Proyek atau usaha merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan manfaat (benefit) dengan menggunakan sumberdaya

Lebih terperinci

PENGANGGARAN MODAL. Rona Tumiur Mauli Caroline Simorangkir, SE.,MM. Modul ke: Fakultas EKONOMI & BISNIS. Program Studi AKUNTANSI

PENGANGGARAN MODAL. Rona Tumiur Mauli Caroline Simorangkir, SE.,MM. Modul ke: Fakultas EKONOMI & BISNIS. Program Studi AKUNTANSI PENGANGGARAN MODAL Modul ke: Fakultas EKONOMI & BISNIS Rona Tumiur Mauli Caroline Simorangkir, SE.,MM. Program Studi AKUNTANSI www.mercubuana.ac.id Dasar-Dasar Penganggaran Modal Definisi dan Metode Metode

Lebih terperinci

BAB II KEPUTUSAN INVESTASI

BAB II KEPUTUSAN INVESTASI BAB II KEPUTUSAN INVESTASI II.1. Pengertian Investasi Investasi dapat diartikan sebagai pengaitan sumber-sumber dalam jangka panjang untuk menghasilkan laba di masa yang akan datang (Mulyadi, 2001: 284).

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Daya Mandiri merencanakan investasi pendirian SPBU di KIIC Karawang.

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Daya Mandiri merencanakan investasi pendirian SPBU di KIIC Karawang. 42 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Dalam upaya mengembangkan usaha bisnisnya, manajemen PT Estika Daya Mandiri merencanakan investasi pendirian SPBU di KIIC Karawang. Langkah pertama

Lebih terperinci

Penganggaran Modal 1 BAB 10 PENGANGGARAN MODAL

Penganggaran Modal 1 BAB 10 PENGANGGARAN MODAL Penganggaran Modal 1 BAB 10 PENGANGGARAN MODAL Penganggaran Modal 2 KERANGKA STRATEGIK KEPUTUSAN PENGANGGARAN MODAL Keputusan penganggaran modal harus dihubungkan dengan perencanaan strategi perusahaan

Lebih terperinci

Investasi dalam aktiva tetap

Investasi dalam aktiva tetap Investasi dalam aktiva tetap Investasi dalam aktiva tetap Secara konsep Investasi dalam aktiva tetap tidak ada perbedaan dengan Investasi dalam aktiva lancar Perbedaannya terletak pada waktu dan cara perputaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. agar dapat mempertahankan dan mengembangkan usahanya. Dalam persaingan

BAB I PENDAHULUAN. agar dapat mempertahankan dan mengembangkan usahanya. Dalam persaingan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dewasa ini, persaingan yang terjadi di dalam dunia usaha begitu ketat, sehingga setiap perusahaan dituntut untuk dapat mengambil tindakan yang tepat agar

Lebih terperinci

ANALISIS KEPUTUSAN INVESTASI

ANALISIS KEPUTUSAN INVESTASI ANALISIS KEPUTUSAN INVESTASI Dalam pengambilan keputusan investasi, opportunity cost memegang peranan yang penting. Opportunity cost merupakan pendapatan atau penghematan biaya yang dikorbankan sebagai

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Produksi Secara umum produksi diartikan sebagai suatu kegiatan atau proses yang mentransformasikan masukan (input) menjadi hasil keluaran (output). Dalam arti sempit, pengertian

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. (Purposive) dengan alasan daerah ini cukup representatif untuk penelitian yang

METODOLOGI PENELITIAN. (Purposive) dengan alasan daerah ini cukup representatif untuk penelitian yang IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Tempat dan Waktu Penelitian Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan Maret 2011, bertempat di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor,

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah penulis uraikan dalam bab sebelumnya, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Sampai

Lebih terperinci

Oleh : Ani Hidayati. Penggunaan Informasi Akuntansi Diferensial Dalam Pengambilan Keputusan Investasi

Oleh : Ani Hidayati. Penggunaan Informasi Akuntansi Diferensial Dalam Pengambilan Keputusan Investasi Oleh : Ani Hidayati Penggunaan Informasi Akuntansi Diferensial Dalam Pengambilan Keputusan Investasi Keputusan Investasi (capital investment decisions) Berkaitan dengan proses perencanaan, penentuan tujuan

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS FINANSIAL

VIII. ANALISIS FINANSIAL VIII. ANALISIS FINANSIAL Analisis finansial bertujuan untuk menghitung jumlah dana yang diperlukan dalam perencanaan suatu industri melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan kumpulan teori yang digunakan dalam penelitian. Teori-teori ini berkaitan dengan permasalahan yang ada dalam

Lebih terperinci

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP) Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP) Definisi AHP (Analytic Hierarchy Process) merupakan suatu model pengambil keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty yang menguraikan masalah multifaktor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia usaha sekarang ini, persaingan yang terjadi semakin ketat.

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia usaha sekarang ini, persaingan yang terjadi semakin ketat. BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PENELITIAN Dalam dunia usaha sekarang ini, persaingan yang terjadi semakin ketat. Setiap perusahaan dituntut untuk dapat mengambil tindakan-tindakan untuk dapat mengembangkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Untuk dapat memperoleh kualitas beton yang baik dalam proses pembangunan, selain material yang baik, pemilihan perancah yang berkualitas juga sangat diperlukan. Perancah

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah penulis lakukan pada Warnet Pelangi, maka penulis menyimpulkan bahwa: 1. Warnet Pelangi belum menerapkan

Lebih terperinci

KRITERIA PENILAIAN INVESTASI

KRITERIA PENILAIAN INVESTASI KRITERIA PENILAIAN INVESTASI Konsep Nilai Waktu Uang Jika Anda dihadapkan pada 2 pilihan di mana pilihan pertama adalah diberi uang pada saat ini (misalkan tanggal 1 Januari 2001) diberi uang sebesar Rp1.000.000,00,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. suatu badan usaha, instansi, individu atau perorangan.

BAB II LANDASAN TEORI. suatu badan usaha, instansi, individu atau perorangan. BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Aset Menurut Siregar (2004:178) aset adalah barang atau sesuatu barang yang mempunyai nilai ekonomi, nilai komersial atau nilai tukar yang dimiliki oleh suatu badan usaha, instansi,

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Pada bagian ini dijelaskan tentang konsep yang berhubungan dengan penelitian kelayakan Usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele Sangkuriang di

Lebih terperinci

ANALISIS STUDI KELAYAKAN INVESTASI PEMBUKAAN CABANG BARU PADA USAHA JASA FOTOKOPI DAULAY JAYA

ANALISIS STUDI KELAYAKAN INVESTASI PEMBUKAAN CABANG BARU PADA USAHA JASA FOTOKOPI DAULAY JAYA ANALISIS STUDI KELAYAKAN INVESTASI PEMBUKAAN CABANG BARU PADA USAHA JASA FOTOKOPI DAULAY JAYA Nama : Rani Eva Dewi NPM : 16212024 Jurusan : Manajemen Pembimbing : Nenik Diah Hartanti, SE.,MM Latar Belakang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini, banyak perusahaan yang melakukan inovasi-inovasi agar kondisi

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini, banyak perusahaan yang melakukan inovasi-inovasi agar kondisi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Saat ini, banyak perusahaan yang melakukan inovasi-inovasi agar kondisi perusahaannya tetap dalam keadaan sehat. Dengan kondisi perusahaan yang sehat, maka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada umumnya tujuan utama setiap perusahaan adalah meningkatkan dan mengoptimalkan

BAB I PENDAHULUAN. Pada umumnya tujuan utama setiap perusahaan adalah meningkatkan dan mengoptimalkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang penelitian Pada umumnya tujuan utama setiap perusahaan adalah meningkatkan dan mengoptimalkan laba. Hal tersebut dapat dicapai salah satunya melalui Investasi. Investasi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sukirno (2003), investasi adalah pengeluaran atau penanaman modal bagi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sukirno (2003), investasi adalah pengeluaran atau penanaman modal bagi BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Investasi Sukirno (2003), investasi adalah pengeluaran atau penanaman modal bagi perusahaan untuk membeli barang modal dan perlengkapan produksi untuk menambah

Lebih terperinci

ANALISIS INVESTASI BUDI SULISTYO

ANALISIS INVESTASI BUDI SULISTYO ANALISIS INVESTASI BUDI SULISTYO ASPEK INVESTASI UU & PERATURAN BIDANG USAHA STRATEGI BISNIS KEBIJAKAN PASAR LINGKUNGAN INVESTASI KEUANGAN TEKNIK & OPERASI ALASAN INVESTASI EKONOMIS Penambahan Kapasitas

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Proyek adalah suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan kemanfaatan (benefit),

Lebih terperinci

BAB IX Analisis Keputusan Investasi Modal

BAB IX Analisis Keputusan Investasi Modal BAB IX Analisis Keputusan Investasi Modal A. Tujuan Instruksional : 1. Umum : Mahasiswa bisa menganalisis untuk keputusan investasi modal 2. Khusus : Mahasiswa memahami dan dapat melakukan analisis keputusan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Investasi menurut Mulyadi, R.A. Supriyono (2001, h.284) merupakan pengkaitan

BAB I PENDAHULUAN. Investasi menurut Mulyadi, R.A. Supriyono (2001, h.284) merupakan pengkaitan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Investasi menurut Mulyadi, R.A. Supriyono (2001, h.284) merupakan pengkaitan seluruh sumber dana dalam jumlah besar dan menyangkut jangka waktu yang panjang (lebih

Lebih terperinci