BAB II KAJIAN PUSTAKA
|
|
|
- Inge Darmadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 A. Hakikat Pendidikan IPA SD BAB II KAJIAN PUSTAKA 1. Pengertian Pendidikan IPA SD Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu ilmu yang dipelajari oleh semua jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Sujana (2013, hlm. 15) berpendapat bahwa Ilmu pengetahuan alam atau sains merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari mengenai alam semesta beserta isinya, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya yang dikembangkan oleh para akhli berdasarkan proses ilmiah. Selain itu Powler (dalam Samatowa, 2006, hlm. 2) juga mengemukakan pendapatnya bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan secara sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil observasi dan eksperimen. Berdasarkan pendapat diatas tentang pengertian IPA, dapat ditarik kesimpulan bahwa IPA adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala alam beserta isinya yang tersusun secara teratur berdasarkan hasil observasi dan eksperimen yang dilakukan oleh para ahli. 2. Tujuan Pendidikan IPA SD Tujuan pendidikan IPA dalam KTSP tahun 2006 (dalam Sujana, 2013, hlm ) adalah sebagai berikut. a. Memperoleh keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan, serta keteraturan alam. b. Mengembangkan pengetahuan dan konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. c. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, serta masyarakat. d. Mengembangkan keterampilan proses untuk melakukan penyelidikan terhadap alam sekitar, memecahkan masalah, serta membuat keputusan. e. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, serta melestarikan lingkungan alam. f. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai satu ciptaan tuhan. g. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP/MTs. 12
2 13 3. Ruang Lingkup IPA SD Menurut Sujana (2013, hlm. 18) secara umum ruang lingkup mata pelajaran sains di Sekolah Dasar (SD) adalah sebagai berikut. a. Makhluk hidup dan proses kehidupan yaitu manusia, hewan, tumbuhan, serta interaksinya. b. Materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi, air, udara, tanah, dan batuan. c. Listrik dan magnet, energi dan panas, gaya dan pesawat sedehana, cahaya dan bungi, tata surya, bumi, serta benda-benda langit lainnya. d. Kesehatan, makanan, penyakit, serta cara mencegahnya. e. Sumber daya alam, kegunaan, pemeliharaan, serta pelestariannya. B. Pendidikan IPA di Sekolah Dasar Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik masing-masing, termasuk IPA.IPA memiliki karakteristik yang berbeda.untuk dapat mencapai tujuan yang diharapkan pada saat pembelajaran IPA harus memperhatikan prinsip-prinsip tertentu.dalam bahan ajar PLPG 2010 (dalam Sujana, 2013, hlm ) terdapat enam prinsip dalam melaksanakan pembelajaran IPA, yaitu prinsip motivasi, prinsip latar, prinsip menemukan, prinsip belajar sambil menemukan (learning by doing), prinsip belajar sambil bermain, dan prinsip sosial. 1. Prinsip Motivasi Prinsip motivasi memiliki maksud bahwa dalam pembelajaran IPA guru harus memberikan motivasi yang hebat agar siswa mau belajar, karena karakteristikanak usia SD selain membutuhkan motivasi dari dalam dirinya, anak juga masih sangat membutuhkan motivasi dari lingkungan sekitar (motivasi dari luar dirinya). 2. Prinsip Latar Pada saat melakukan pembelajaran IPA, harus memperhatikan latar setiap siswa, karena setiap siswa memiliki latar belakang pengetahuan, keterampilan, pengalaman dan latar belakang lainnya yang berbeda-beda. 3. Prinsip Menemukan Dalam melaksanakan pembelajaran IPA hendaknya memperhatikan agar siswa mau menemukan sesuatu secara mandiri dalam pembelajarannya. 4. Prinsip Belajar sambil Melakukan Pengetahuan yang didapat melalui kegiatan seperti percobaan atau observasi akan beratahan lebih lama. Oleh karena itu, dalam pembelajaran IPA
3 14 diharapkan guru selalu mendorong siswa agar melakukan sesuatu untuk memperoleh pengetahuan. 5. Prinsip Belajar sambil Bermain Karakteristik siswa usia SD masih senang dengan bermain. Oleh karena itu, untuk dapat memotivasi siswa dan menciptakan suasana agar siswa mau belajar, salahsatunya bisa dengan menggunakan permainan, dengan begitu anak akan lebih tertarik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. 6. Prinsip Sosial Manusia merupakan makhluk sosial, oleh karena itu pembelajaran IPA diharapkan dapat menciptakan sikap sosial seperti kerja sama, saling menghargai, dan sebagainya. Selain harus memperhatikan prinsip-prinsip dalam melaksanakan pembelajaran, hal yang tidak kalah pentingnya adalah seorang guru harus memahami bagaimana karakteristik anak pada usia SD. Usia siswa SD biasanya berkisar antara 6-12 tahun. Pada rentang umur tersebut merupakan masa sekolah, dimana siswa pada masa ini sudah siap mengikuti pembelajaran.masa sekolah ini sering pula disebut sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Samatowa (2006) membagi masa keserasian sekolah ini menjadi dua fase yaitu. a. Masa kelas rendah sekolah dasar, masa ini usia siswa sekitar 6 sampai 8 tahun. Tingkatan kelas usia tersebut berkisar antara kelas I sampai III, oleh karena itu kelas I sampai kelas III termasuk dalam kategori kelas rendah. b. Masa kelas tinggi sekolah dasar, masa ini usia siswa berada pada kisaran 9 sampai 12 tahun. Tingkatan kelas pada usia tersebut, yaitu kelas IV sampai kelas VI dikategorikan sebagai kelas tinggi. C. Model Sains Teknologi Masyarakat (STM) 1. Pengertian Model Sains Teknologi Masyarakat(STM) Istilah Sains Teknologi Masyarakat terjemahan dari bahasa Inggris science technology society, yang dikemukakan oleh John Ziman dalam bukunya Teaching and Learning about Science and Society. Pembelajaran yang menggunakan science technology society merupakan pembelajaran yang
4 15 menggunakan teknologi sebagai penghubung antara sains dan masyarakat (Poedjiadi, 2005). Model Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan salah satu model pembelajaran yang memperhatikan antara kemajuan sains dan teknologi serta dampak yang ditimbulkan bagi kehidupan masyarakat.hal ini sejalan dengan pendapat Widodo, dkk.(2007, hlm. 69) bahwa Model STM adalah stategi pembelajaran yang dikembangkan agar siswa menyadari akan produk serta dampak sains dan teknologi bagi masyarakat. 2. Karakteristik Model Sains Teknologi Masyarakat (STM) Yager (dalam Asy ari, 2006, hlm. 64) merumuskan karakteristik STM sebagai berikut. a. Berawal dari identifikasi masalah-masalah lokal yang ada kaitannya dengan sains dan teknologi oleh siswa (dengan bimbingan guru). b. Penggunaan sumberdaya setempat baik sumber daya manusia maupun material. c. Keikutsertaan siswa secara aktif dalam mencari informasi yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. d. Pengidentifikasian cara-cara yang memungkinkan sains dan teknologi untuk memecahkan masalah hari depan. e. Dilaksanakan menurut strategi pembuatan keputusan. Setiap siswa harus menggunakan informasi sebagai bukti, baik untuk membuat keputusan tentang sehari-hari maupun keputusan tentang masa depan masyarakat. f. Belajar tidak hanya berlangsung di dalam kelas atau sekolah, tetapi juga di luar sekolah atau di lapangan nyata. g. Penekanan pada keterampilan proses yang dapat digunakan siswa dalam memecahkan masalah mereka sendiri. h. Membuka wawasan siswa tentang pentingnya kesadaran karir/ profesi, terutama karir yang berkaitan dengan sains dan teknologi. i. Adanya kesempatan bagi siswa untuk memperoleh pengalaman dalam berperan sebagai warga negara yang telah identifikasi. 3. Tujuan Model Sains Teknologi Masyarakat(STM) Menurut Nurohman (dalam Taryati, 2010, hlm. 32) bahwa STM dikembangkan dalam pembelajaran dengan tujuan sebagai berikut. a. Siswa mampu menghubungkan realitas sosial dengan topik pembelajaran di kelas. b. Siswa mampu menggunakan berbagai jalan untuk menyikapi berbagai isu yang berkembang di masyarakat berdasarkan pandangan ilmiah. c. Siswa mampu menjadikan dirinya sebagai warga masyarakat yang memiliki tanggung jawab sosial.
5 16 4. Kelebihan dan Kekurangan Model Sains Teknologi Masyarakat(STM) a. Kelebihan Model STM Menurut Hairida (dalam Sukarsih, dkk., 2012) kelebihan penggunaan model STM dalam pembelajaran adalah sebagai berikut. 1) Meningkatkan literasi sains para siswa, meningkatkan perhatian siswa terhadap sains dan teknologi serta perhatian terhadap interaksi antara sains, teknologi dan masyarakat. 2) Pemahaman yang lebih baik dalam sains. 3) Meningkatkan kemampuan berpikir kritis, bernalar logis, memecahkan masalah secara kreatif. 4) Peningkatan kemampuan membuat keputusan terhadap permasalahan yang menyangkut sains, teknologi, dan masyarakat. b. Kelemahan Model STM Berikut adalah kelemahan Model STM menurut Sukarsih, dkk (2012). 1) Kurangnya bahan pengajaran yang dimiliki guru, sehingga proses pembelajaran tidak berjalan dengan lancar, disarankan kepada para guru yang ingin merancang suatu KBM dengan model STM untuk memperluas wawasannya dengan banyak membaca buku atau bertanya kepada narasumber. 2) Pembelajaran dengan model STM memerlukan sedikit tambahan waktu jika dibandingkan dengan pembelajaran yang biasa. Oleh karena itu guru harus merinci secara cermat pembagian waktu pembelajaran agar tidak menyita waktu untuk pokok pembahasan yang lain. 3) Dibutuhkan tambahan dana untuk menerapkan model STM dalam pembelajaran, sementara anggaran yang tersedia sangat terbatas, maka harus dicari jalan keluarnya. 5. Tahap-TahapModel Sains Teknologi Masyarakat(STM) Adapun tahap-tahap penggunaan model STM adalah: tahap invitasi, tahap eksplorasi, tahap solusi, dan tahap aplikasi (Asy ari, 2006, hlm. 67). a. Tahap Invitasi Pada tahap ini guru mengemukakan issue atau masalah yang ada di masyarakat sekitar yang dapat diamati atau dipahami oleh siswa, siswa didorong untuk dapat mengemukakan pengetahuan awalnya mengenai konsep yang akan dibahas. b. Tahap Eksplorasi Pada tahap ini siswa melalui aksi dan reaksinya sendiri berusaha memahami atau mempelajari situasi baru yang merupakan masalah baginya.siswa terlibat secara aktif dalam pembentukan konsep. Hal tersebut dapat ditempuh
6 17 dengan cara observasi, wawancara, eksperimen, diskusi, mendengarkan radio, melihat TV, atausearching di internet. c. Tahap Solusi Pada tahap ini siswa menganalisis fenomena yang menjadi pokok bahasan dan mendiskusikan bagaimana cara pemecahan masalahnya. d. Tahap Aplikasi Pada tahap ini siswa diberikan kesempatan untuk menggunakan keterampilan atau pengetahuan yang telah diperoleh.siswa melakukan aksi nyata berupa kampanye atau ajakan berbuat, laporan lisan atau tulisan dalam mengatasi masalah yang dimunculkan pada tahap invitasi. D. Hasil Belajar Hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah melakukan kegiatan pembelajaran.hasil belajar yang dicapai tentunya sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, untuk mengukur tingkat keberhasilan belajar maka dilakukan evaluasi pembelajaran sehingga dapat dilihat sejauh mana hasil belajar siswa.hamalik (2008, hlm. 30) menyatakan bahwa Hasil belajar merupakan terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Menurut Bundu (2006, hlm. 17) mengemukakan bahwa Hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai siswa dalam mengikuti program belajarmengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Jadi dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perubahan perilaku seseorang akibat adanya proses belajar yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. E. Materi Daur Air dan Kegiatan Manusia yang dapat Mempengaruhinya 1. Daur Air Air sangat penting bagi kehidupan, meskipun air digunakan secara terus menerus air tetap tersedia walaupun pada saat-saat tertentu adakalanya terjadi kelangkaan air bersih.tersedianya air di bumi ini terjadi karena adanya daur air.haryanto (2004, hlm. 179) berpendapat bahwa Daur air merupakan
7 18 perubahan yang terjadi pada air secara berulang dalam pola tertentu.air hujan yang jatuh ke bumi sebagian akan meresap ke dalam tanah dan keluar sebagai mata air. Sebagian lagi akan mengalir ke permukaan tanah. Air di permukaan tanah akan mengalir ke tempat yang lebih rendah, misalnya sungai dan terus mengalir sampai ke laut. Air di sungai dan laut mendapat panas matahari dan mengalami penguapan sehingga terbentuklah awan, setelah itu turun hujan kembali. Proses tersebut terjadi secara terus-menerus. Gambar 2.1 Proses Terjadinya Daur Air (Azmiyawati, C, dkk. 2008, hlm. 146) 2. Kegiatan Manusia yang dapat Mempengaruhi Daur Air Terdapat beberapa kegiatan manusia yang dapat memberikan dampak negatif terhadap proses daur air. Kegiatan manusia yang dapat mempengaruhi daur air menurut Panut (2007) diantaranya yaitu pencemaran air, penebangan pohon di hutan, dan berkurangnya penyerapan air oleh tanah. F. Teori Belajar yang Mendukung Model Sains Teknologi Masyarakat 1. Teori Piaget Tentang Perkembangan Kognitif Manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya sehingga setiap individu sejak lahir memiliki kemampuan untuk mengembangkan pengetahuannya. Piaget (Widodo, dkk., 2007, hlm. 2) membagi tahap-tahap perkembangan intelektual setiap individu sebagai berikut.
8 19 a. Sensori Motor (0-2 tahun) b. Praoperasional (2-7 tahun) c. Operasional Konkrit (7-11 tahun) d. Operasional Formal (11 tahun ke atas) Menurut tingkat perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Piaget, siswa sekolah dasar berada dalam tahap operasional konkret yang pada umumnya usia siswa sekolah dasar berada diantara 7-11 tahun. Pada tahap ini siswa berpikir sesuai dengan pengalaman yang dialami dalam kehidupan nyatanya.siswa yang berada pada tahap operasional konkret masih sangat membutuhkan benda-benda konkret untuk membantu dalam mengembangkan kemampuan intelektualnya. Oleh karena itu, pada saat proses pembelajaran berlangsung guru diharapkan menggunakan benda yang konkret atau mengaitkan pembelajaran kepada kehidupan nyata yang dialami oleh siswa itu sendiri. 2. Teori Belajar Bruner Dengan teorinya yang disebut free discovery learning Bruner (dalam Budiningsih, 2005, hlm. 41) mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Bruner bahwa dengan menggunakan model STM siswa akan menemukan konsep-konsep dengan sendirinya, kemudian siswa dituntut untuk dapat mencari solusi dari hasil eksplorasinya terhadap lingkungan sekitar dan mengaplikasikan secara nyata dalam kehidupannya. 3. Teori Belajar Bermakna Ausubel Inti dari teori Ausubel (dalam Budiningsih, 2005, hlm. 43) yaitu belajar seharusnya merupakan asimilasi yang bermakna bagi siswa.materi yang dipelajari diasimilasikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dalam bentuk struktur kognitif. Berdasarkan teori tersebut maka pembelajaran menggunakan model STM dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna karena dalam model STM siswa diberikan informasi menganai isu yang terjadi di masyarakat, hal tersebut akan
9 20 lebih memotivasi siswa dalam belajar karena sumber belajar berada di lingkungan meraka dan pembelajaran pun akan menjadi lebih bermakna. G. Penelitian yang Relevan Beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Penelitian yang dilakukan oleh Ande Ismawan (2013), dengan judul Implementasi Model Pembelajaran STM (Sains Teknologi Masyarakat) Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Tentang Konsep Pesawat Sederhana di Kelas V SDN Salawangi I Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka.Berdasarkan pelaksanaan tindakan dengan menerapkan model STM, dari siklus I sampai siklus III berhasil meningkatkan kinerja guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar. Kinerja guru pada siklus I mencapai 44,4%, siklus II 77,7%, dan siklus III 100%. Peningktan aktivitas siswa yaitu pada siklus I 47,77%, siklus II 53,88%, dan siklus III 80,55%. Sedangkan peningkatan hasil belajar siswa yaitu siklus I 54,7%, siklus II 65%, dan siklus III 72,9%.Dengan demikian, penggunaan model STM pada materi pesawat sederhana dapat meningkatkan kinerja guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa kelas V SDN Salawangi I. 2. Penelitian yang dilakukan oleh Tita Rohayati (2010), dengan judul Penerapan Model Pembelajaran Sains Teknogi Masyarakat (STM) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Peristiwa Alam yang Terjadi di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian tindakan kelas. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah lembar observasi, lembar wawancara, catatan lapangan, dan tes hasil belajar siswa.penelitian dilakukan dalam tiga siklus, dengan menerapkan model pembelajaran STM telah berhasil meningkatkan hasil belajar siswa, dari data awal diperoleh data siswa yang tuntas sebanyak 30,8%, mengalami peningkatan pada siklus I 46,2%, siklus II 61,5%, dan siklus III 92%.Dengan demikian, penerapan model pembelajaran STM pada materi peristiwa alam yang terjadi di Indonesia dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
10 21 3. Berikut ini penelitian yang dilakukan oleh Siti Patonah Rahayu (2010) dengan judul penelitian Penerapan Model Sains Teknologi Masyarakat (STM) untuk Meningkatkan Kemampuan Kerja Ilmiah Siswa pada Materi Daur Air. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Mengacu model siklus yang di adaptasi dari Kemmis dan Mc. Taggart. Dengan instrumen penelitian observasi, wawancara, tes hasil belajar, dan catatan lapangan.penelitian dilakukan tiga siklus. Penerapan model pembelajaran STM berhasil meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan hasil belajar siswa. Kemampuan kerja ilmiah mengalami peningkatan terbukti dari siklus I yang hanya mencapai 2,9%, pada siklus II menjadi 23,5%, dan pada siklus III mengalami peningkatan lagi menjadi 82,3%. Selain itu hasil belajar siswa juga meningkat dari data awal yang hanya 33,35%, pada siklus I menjadi 55,9%, siklus II 76,47%, dan pada siklus III menjadi 91,17%. Berdasarkan data tersebut maka penerapan model pembelajaran STM dapat meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan hasil belajar siswa. H. Hipotesis Tindakan Adapun hipotesis tindakan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Jika model Sains Teknologi Masyarakat(STM) diterapkan pada materi daur air dan kegiatan manusia yang dapat mempengaruhinya di kelas V SDN Sukakerta Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang maka hasil belajar siswa akan meningkat.
PENERAPAN METODE EKSPERIMEN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPA MATERI DAUR AIR
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah dasar (SD) adalah salah satu wujud pendidikan dasar formal dimana seseorang mendapatkan pengetahuan dasar. Pendidikan dasar merupakan fondasi yang penting
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SD Ilmu pengetahuan alam (IPA) merupakan bagian dari ilmu pegetahuan atau sains yang semula berasal dari bahasa
PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI ENERGI PANAS
Jurnal Pena Ilmiah: Vol. 1, No. 1 (2016) PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI ENERGI PANAS Eneng Siti Fatimah Nurlela 1, Atep Sujana
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Kajian Teori 2.1.1. Ilmu Pengetahuan Alam untuk SD/MI Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Sekolah Dasar (SD)/Madrasah
BAB II UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENERAPKAN METODE INKUIRI PADA PEMBELAJARAN IPA TENTANG POKOK BAHASAN SIFAT-SIFAT CAHAYA
10 BAB II 10 UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENERAPKAN METODE INKUIRI PADA PEMBELAJARAN IPA TENTANG POKOK BAHASAN SIFAT-SIFAT CAHAYA A. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Sekolah
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN. dari penelitian tindakan kelas ini yang terdiri dari : Hasil Belajar, Belajar dan
1 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Kajian Pustaka Penelitian ini mengutip beberapa pendapat para ahli yang mendukung dan relavansi dari penelitian tindakan kelas ini yang terdiri dari :
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MATERI GAYA MAGNET MELALUI METODE INKUIRI TERBIMBING
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MATERI GAYA MAGNET MELALUI METODE INKUIRI TERBIMBING Fatmawaty Sekolah Dasar Negeri Hikun Tanjung Tabalong Kalimantan Selatan ABSTRAK Penelitian ini bertujuan
Shanty Della Setiasih¹, Regina Lichteria Panjaitan², Julia³. Program Studi PGSD Kelas UPI Kampus Sumedang Jl. Mayor Abdurahman No.
Jurnal Pena Ilmiah: Vol. 1, No. 1 (2016) PENGGUNAAN MODEL INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SIFAT-SIFAT MAGNET DI KELAS V SDN SUKAJAYA KECAMATAN JATINUNGGAL KABUPATEN SUMEDANG
materi yang ada dalam suatu pengajaran.
7 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Pemahaman Konsep Pemahaman konsep terdiri dari dua kata yang harus kita mengerti yaitu pemahaman dan konsep, dua kata tersebut yang harus kita pahami terlebih
BAB II KAJIAN PUSTAKA
4 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hakikat Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) didefinisikan sebagai kumpulan pengetahuan yang tersusun secara terbimbing. Hal ini
BAB II KAJIAN TEORI. A. Hakikat Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) 1. Pengertian Contextual Teaching and Learning (CTL)
10 BAB II KAJIAN TEORI A. Hakikat Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) 1. Pengertian Contextual Teaching and Learning (CTL) Menurut Suprijono Contextual Teaching and Learning (CTL)
BAB I PENDAHULUAN. Tujuan pendidikan Sekolah Dasar adalah memberikan bekal pengetahuan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan pendidikan Sekolah Dasar adalah memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan dasar bagi siswa dalam mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewi Diyanti, 2014
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Belajar adalah suatu proses yang komplek yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Belajar adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
A. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) telah menunjukan perkembangan yang sangat pesat. Kemajuan IPTEK bukan hanya dirasakan oleh beberapa orang saja melainkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Elis Juniarti Rahayu, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu yang membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasari oleh fakta dan didapat melalui
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Defenisi Pembelajaran Pembelajaran merupakan terjemahan dari learning yaitu suatu proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan secara sadar oleh seseorang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Alam semesta beserta isinya diciptakan untuk memenuhi semua kebutuhan makhluk hidup yang ada di dalamnya. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Ilmu Pengetahuan Alam Ilmu Pengetahuan Alam dikenal juga dengan istilah sains. Sains berasal dari bahasa Latin yaitu scientia yang berarti saya tahu. Dalam
PENERAPAN PENDEKATAN QUANTUM TEACHING DALAM PEMBELAJARAN IPA DI KELAS V SDN 2 JOGOMERTAN
PENERAPAN PENDEKATAN QUANTUM TEACHING DALAM PEMBELAJARAN IPA DI KELAS V SDN 2 JOGOMERTAN Oleh: Afif Rifai 1, Suhartono 2, Ngatman 3 FKIP, PGSD Universitas Sebelas Maret e-mail: [email protected] Abstract:
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah IPA merupakan salah satu mata pelajaran bagian dari kurikulum yang harus dikuasai siswa sesuai tingkat sekolah dari jenjang dasar sampai tingkat lanjutan. Semakin
BAB I PENDAHULUAN. 1. IPA merupakan mata pelajaran yang mempelajari tentang alam.
A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan alam dan segala sesuatu yang terdapat didalamnya. Iskandar (1996, hlm. 1) menyatakan
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI GAYA GESEK
Jurnal Pena Ilmiah: Vol. 1, No. 1 (2016) PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI GAYA GESEK Ai Nurhayati 1, Regina Lichteria Panjaitan 2, Dadan Djuanda 3
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan di Indonesia dewasa ini telah mendapat perhatian yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di Indonesia dewasa ini telah mendapat perhatian yang sangat besar, terutama pendidikan di tingkat dasar dan menengah. Pendidikan ditujukan untuk
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori Kajian teori ini merupakan uraian mengenai teori-teori menurut pendapat dari beberapa ahli yang digunakan untuk mengembangkan dan mendukung penelitian ini. Pembahasan
BAB I PENDAHULUAN. Menurut Langeveld pendidikan adalah pemberian bimbingan dan bantuan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Langeveld pendidikan adalah pemberian bimbingan dan bantuan rohani kepada orang yang belum dewasa agar mencapai kedewasaan (Syaripudin, T: 2009, 5).
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Ilmu Pengetahuan Alam Ilmu alam atau dalam bahasa Inggris disebut natural science atau ilmu pengetahuan alam adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aktivitas Belajar Aktivitas belajar siswa merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar mengajar. Kegiatan kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang
BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana tujuan pembelajaran IPA di atas yakni menumbuh kembangkan pengetahuan dan keterampilan, maka hal ini sesuai dengan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan
BAB II KAJIAN PUSTAKA. eduaktif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1.Pembelajaran Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai eduaktif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik (Djamarah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ilmu pengetahuan merupakan ilmu yang sangat penting di dunia ini. Ilmu pengetahuan yang berkembang sekarang ini sangat beragam. Salah satunya adalah ilmu tentang alam.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teori BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1.1 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball Throwing Snowball throwing menurut asal katanya berarti bola salju bergulir dapat diartikan sebagai metode pembelajaran
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sebuah kata yang sangat erat kaitannya dalam kehidupan sehari-hari. Kata pendidikan pun sudah tidak asing lagi di dengar oleh seluruh lapisan
1.1 Latar Belakang Masalah
1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Pendidikan sangat penting dan berpengaruh bagi kehidupan manusia karena dengan pendidikan manusia dapat berdaya guna dan mandiri. Namun masalah pendidikan menjadi
PENGARUH MODE LEARNING CYCLE DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI GAYA MAGNET
Jurnal Pena Ilmiah: Vol. 1, No. 1 (2016) PENGARUH MODE LEARNING CYCLE DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI GAYA MAGNET Fitriah Nur Fadillah 1, Regina Lichteria Panjaitan 2, Riana Irawati
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Yuanita, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu hal penting bagi peserta didik untuk menghadapi masa depannya. Pendidikan sekolah merupakan suatu proses kompleks yang mencakup
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan proses
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan proses kehidupan manusia dan merupakan kebutuhan primer yang mutlak diperlukan oleh manusia
Penerapan Pendekatan Inquiri untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran IPA di SDN Siumbatu
Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 3 No. 1 ISSN 2354-614X Penerapan Pendekatan Inquiri untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran IPA di SDN Siumbatu Nuriati, Najamuddin Laganing, dan Yusdin
PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DAPAT MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA TERHADAP PELAJARAN IPA DI SEKOLAH DASAR. Erlinda
PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DAPAT MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA TERHADAP PELAJARAN IPA DI SEKOLAH DASAR Erlinda Guru SDN 018 Rantau Sialang [email protected] ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk
BAB II KAJIAN PUSTAKA
5 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Kajian Teori 2.1.1. Hakekat Ilmu Pengetahuan Alam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu yang mempelajari tentang peristiwaperistiwa yang terjadi di alam. Ilmu Pengetahuan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan mata pelajaran yang wajib dipelajari siswa sekolah dasar. IPA berguna untuk memberikan pengetahuan kepada siswa mengenai fenomena-fenomena
Penerapan Metode Eksperimen pada Materi Sifat Cahaya Pada Mata Pelajaran IPA Kelas V SDN 1 Balukang Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Penerapan Metode Eksperimen pada Materi Sifat Cahaya Pada Mata Pelajaran IPA Kelas V SDN 1 Balukang Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Suarni, Haeruddin, dan Andi Imrah Dewi Mahasiswa Program Guru
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Teori 2.1.1 Ilmu Pengetahuan Alam Dalam bahasa inggris Ilmu Pengetahuan Alam disebut natural science, natural yang artinya berhubungan dengan alam dan science artinya
BAB III METODE PENELITIAN
1 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Cikampek Barat III Desa Cikampek Barat Kec. Cikampek Kab. Karawang. Alasan dipilihnya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan terjemahan dari kata-kata bahasa inggris Natural Science secara singkat sering disebut science. Natural artinya alamiah,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan suatu gambaran untuk kemampuan yang ada pada diri seseorang. Kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu berbeda-beda, dengan adanya
MODEL PEMBELAJARAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM)
MODEL PEMBELAJARAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM) Dwi Gusfarenie Abstrak Berkembangnya sains berimbas pada kemajuan teknologi yang dipergunakan bagi kesejahteraan manusia sehingga menuntut masyarakat
BAB II KAJIAN PUSTAKA
8 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Hakikat IPA IPA didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan tentang objek dan fenomena alam yang diperoleh dari hasil pemikiran dan penyelidikan ilmuwan yang dilakukan dengan
BAB II KAJIAN PUSTAKA. suatu proses terjadinya peristiwa. Menurut Rusminiati (2007: 2) metode
10 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Metode Demonstrasi Demonstrasi adalah peragaan atau pertunjukan untuk menampilkan suatu proses terjadinya peristiwa. Menurut Rusminiati (2007: 2) metode demonstrasi adalah
BAB I PENDAHULUAN. bentuk pengalaman belajar yang berlangsung dalam lingkungan keluarga, mungkin sejak lahir sampai akhir hayat.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang di usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan.
BAB II KAJIAN TEORI. Pembelajaran merupakan proses komunikasi du arah, mengajar dilakukan oleh
7 BAB II KAJIAN TEORI A. Pembelajaran IPA di SD 1. Pembelajaran Pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hasil Belajar Menurut Lindgren dalam Agus Suprijono (2011: 7) hasil pembelajaran meliputi kecakapan, informasi, pengertian, dan sikap. Hal yang sama juga dikemukakan
BAB I PENDAHULUAN. bahasa inggris Natural Sains secara singkat sering disebut Science. Natural
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu pengetahuan alam atau IPA merupakan terjemahan dari kata-kata bahasa inggris Natural Sains secara singkat sering disebut Science. Natural artinya alamiah,berhubungan
SANTI BBERLIANA SIMATUPANG,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam menjalani kehidupannya setiap individu wajib menempuh pendidikan di lembaga formal maupun lembaga non formal. Sesuai dengan yang diperintahkan oleh pemerintah
BAB II KAJIAN TEORI 2.1. Kajian Teori Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam Ruang Lingkup IPA SD/MI
BAB II KAJIAN TEORI 2.1. Kajian Teori 2.1.1. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam IPA atau Ilmu Pengetahuan Alam dari segi istilah dapat diartikan sebagai ilmu yang berisi pengetahuan alam. Ilmu artinya pengetahuan
BAB II PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES DAN HASIL BELAJAR. perbuatan secara efisien dan efektif untuk mencapai suatu hasil tertentu,
BAB II PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES DAN HASIL BELAJAR A. Pendekatan Keterampilan Proses Keterampilan berarti kemampuan menggunakan pikiran, nalar dan perbuatan secara efisien dan efektif untuk mencapai
BAB II KAJIAN PUSTAKA
11 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) 1. Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada muatan Kurikulum 2013 adalah mata pelajaran yang memiliki peranan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Eva Agustina,2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau Sains berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan
BAB I PENDAHULUAN. Sesuai dengan paparan mengenai pendidikan tersebut maka guru. mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam dirinya.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa : Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMAHAMI GAYA MAGNET MELALUI METODE EKSPERIMEN DI KELAS V SD NEGERI 3 KRAJAN JATINOM KLATEN TAHUN 2012 NASKAH PUBLIKASI
UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMAHAMI GAYA MAGNET MELALUI METODE EKSPERIMEN DI KELAS V SD NEGERI 3 KRAJAN JATINOM KLATEN TAHUN 2012 NASKAH PUBLIKASI Oleh: ADI SUNGKAWA A54B090021 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Hakikat Pemebelajaran IPA Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berasal dari Bahasa Inggris, yaitu natural science. Nature artinya berhubungan dengan alam atau yang bersangkut paut dengan
UPAYA MENINGKATKAN PARTISIPASI DAN HASIL BELAJAR SAINS PADA MATERI SIFAT DAN PERUBAHAN WUJUD SUATU BENDA MELALUI PENERAPAN METODE DISCOVERY LEARNING
UPAYA MENINGKATKAN PARTISIPASI DAN HASIL BELAJAR SAINS PADA MATERI SIFAT DAN PERUBAHAN WUJUD SUATU BENDA MELALUI PENERAPAN METODE DISCOVERY LEARNING UNTUK SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI I GOMBANG
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ery Nurkholifah, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan, pemerataan kesempatan
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI ENERGI PANAS
Jurnal Pena Ilmiah: Vol. 1, No. 1 (2016) PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI ENERGI PANAS Ririn Siti Komariah 1, Herman Subarjah
BAB II KAJIAN PUSTAKA
6 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Pembelajaran IPA a. Latar Belakang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan haanya penguasaan kumpulan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori Berikut ini akan dijelaskan mengenai kajian teori yang digunakan pada penelitian ini, antara lain Tinjauan Tentang Belajar IPA di SD, Hakekat Ilmu Pengetahuan Alam
PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PERUBAHAN WUJUD BENDA
Jurnal Pena Ilmiah: Vol. 1, No. 1 (2016) PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PERUBAHAN WUJUD BENDA Gina Rosarina 1, Ali Sudin, Atep Sujana 3 123 Program
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Neng Ela, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pada dasarnya setiapa individu menginginkan kehidupan yang lebih baik. Salah satu upaya untuk mencapai keinginan tersebut adalah dengan meningkatkan sumber
Kata kunci : Macromedia flash, sains teknologi masyarakat, IPA
PENGGUNAAN MACROMEDIA DALAM PENDEKATAN SAINS TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT (STM) UNTUK PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPA SISWA KELAS IV SD NEGERI PENGARINGAN PEJAGOAN Oleh: Sudi 1), Wahyudi 2), Ngatman 3) FKIP,
Penerapan Pendekatan Kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Gaya Magnet di Kelas V SDN 2 Labuan Lobo Toli-Toli
Penerapan Pendekatan Kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Gaya Magnet di Kelas V SDN 2 Labuan Lobo Toli-Toli Andi Rahmi Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan Fakultas Keguruan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. belajar. Pada prinsipnya belajar adalah berbuat, tidak ada belajar jika tidak
8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Aktivitas Belajar Aktivitas belajar adalah tindakan atau perbuatan yang dilakukan dalam belajar. Pada prinsipnya belajar adalah berbuat, tidak ada belajar jika tidak ada
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada saat ini telah menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Membahas masalah pendidikan tidak dapat terlepas dari pengertian pendidikan secara umum. Pendidikan memiliki ruang lingkup yang sangat luas. Pendidikan pada
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hasil Belajar IPA Kelas V Nana Sudjana (2002: 22) mengatakan hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil
BAB 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Tujuan utama pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) agar siswa memahami konsep-konsep IPA secara sederhana dan
BAB 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Tujuan utama pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) agar siswa memahami konsep-konsep IPA secara sederhana dan mampu menggunakan metode ilmiah, bersikap ilmiah untuk
BAB II KAJIAN PUSTAKA. mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, keadaan atau proses sesuatu,
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Metode eksperimen Metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran, siswa melakukan percobaan dengan mengalami sendiri sesuatu yang dipelajari atau melakukan sendiri, mengikuti
BAB II KAJIAN PUSTAKA
5 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Kajian Teori 2.1.1. Ilmu Pengetahuan Alam 2.1.1.1. Pengertian IPA Dalam Puskur, Balitbang Depdiknas (2009 : 4) bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari
BAB I PENDAHULUAN. manusia untuk mengembangkan pengetahuan dan kepribadiannya. Pendidikan ini
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar yang dilakukan oleh manusia untuk mengembangkan pengetahuan dan kepribadiannya. Pendidikan ini memiliki peranan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
12 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam 1. Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran yang di kembangkan pada tingkat sekolah dasar,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dapat membentuk persamaan dan kemauan siswa, metode ini juga melibatkan
7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Metode Eksperimen Eksperimen adalah bagian yang sulit dipisahkan dari Ilmu Pengetahuan Alam. Eksperimen dapat dilakukan di laboratorium maupun di alam terbuka. Metode ini mempunyai
BAB I PENDAHULUAN. Eka Atika Sari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan yang utama. Peranan guru adalah menciptakan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Kajian Teori 2.1.1. Hakekat Ilmu Pengetahuan Alam Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar adalah program untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan keterampilan, sikap dan
BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Ilmu pengetahuan alam atau sains (science) diambil dari kata latin Scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan
