SISTEM PEMILU DI MEKSIKO
|
|
|
- Fanny Tedja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 SISTEM PEMILU DI MEKSIKO Meksiko merupakan negara federal yang terdiri atas tiga puluh satu negara bagian dan satu Distrik Federal Kota Meksiko, yang menjadi tempat kedudukan cabang-cabang pemerintahan federal. Sistem pemerintahan Meksiko adalah presidensial. Baik kekuasaan Federasi maupun ketiga puluh dua negara bagian didasarkan pada prinsip pembagian kekuasaan di antara cabang-cabang Eksekutif, Legislatif dan Yudisial. Kekuasaan eksekutif Federal terletak di tangan Presiden Republik Meksiko, di setiap 31 negara bagian terletak pada Gubernur masing-masing negara bagian dan pada Kepala Pemerintahan untuk Distrik Federal. Seluruhnya dipilih setiap enam tahun dan tidak bisa dipilih kembali. Cabang legislatif Federal berada pada Congreso de la Union (Kongres Nasional/Union Congress) yang dibagi menjadi Camara de Senados (Chamber of Senate/Majelis Tinggi/Upper Chamber) dan Camara de Deputados (Chambber of Deputies/Majelis Rendah/Lower Chamber). Cabang Legislatif di 32 negara bagian memiliki kamar tunggal, yang ada di 31 negara bagian disebut Kongres Daerah (Local Congresses) dan satu di Distrik Federal disebut Majelis Legislatif (Legislative Assembly). Seluruh anggota legislatif dipilih untuk periode tiga tahun, kecuali anggota Majelis Tinggi (Upper Chamber) selama periode 6 tahun. Cabang yudisial negara federasi diberikan kepada Mahkamah Agung (Supreme Court of Justice of the Nation), yang terdiri atas sebelas menteri dipilih dengan suara dua per tiga anggota Majelis Tinggi, diajukan oleh Presiden untuk menjabat selama 15 tahun. Cabang Yudisial di 32 negara bagian terletak di masing-masing Mahkamah Agung. Konstitusi menyatakan bahwa seluruh negara bagian federasi harus menerapkan pemerintahan kota (municipalities) sebagai basis pembagian teritorial, politik dan administratif. Sebuah dewan kota dipilih melalui pemilihan umum secara langsung, di setiap kota. Setiap pemerintahan
2 kota terdiri atas seorang Presiden kota (Municipal President) dan sejumlah petugas dan pengurus. Konstitusi menyatakan pemilu sebagai satu-satunya cara yang paling legitimate dan valid untuk membentuk dan memperbaharui cabang-cabang Eksekutif Federal dan Legislatif negara bagian dan Dewan Kota. A. Cabang Eksekutif Cabang eksekutif federal tertinggi berada pada Presiden Negara Meksiko. Di samping memimpin pemerintahan Republik, Presiden juga Kepala Negara dan Angkatan Bersenjata. Presiden dipilih setiap enam tahun melalui pemilihan langsung, hak pilih universal, dan prinsip mayoritas relatif atau sederhana. Konstitusi sangat melarang pemilihan kembali presiden. B. Cabang Legislatif Cabang Legislatif Federal berada pada Kongres Nasional (Congreso de la Union), yang terbagi atas Chamber of Senate (Majelis Tinggi) dan Chamber of Deputies (Majelis Rendah). Chamber of Senate (Majelis Tinggi) Majelis Tinggi terdiri atas 128 anggota yang dipilih untuk periode enam tahun dan hanya dapat dipilih kembali setelah periode paruh waktu (midterm period). Sebelum 1994, Senat memiliki 64 anggota, dua untuk masing-masing negara bagian dan distrik federal. Para senator dipilih dengan berbagai peraturan pluralitas, hasilnya hingga tahun 1988 semua senator adalah anggota PRI (Partai Revolusioner Institusional). 1 Dari 128 anggota Senat, tiga senator dipilih di setiap tiga puluh dua negara bagian. Untuk tujuan ini partai politik harus mengajukan sebuah daftar dengan dua formula untuk para kandidatnya. Dua dari kursi dialokasikan melalui prinsip mayoritas relatif, yaitu mereka menjadi milik 1 International IDEA, Desain Sistem Pemilu: Buku Panduan Baru International IDEA, diterjemahkan oleh Perludem, 2016, hal. 110.
3 partai yang mendapatkan jumlah suara terbanyak, dan yang ketiga diangkat melalui prinsip minoritas, yakni untuk partai yang mendapatkan suara terbanyak kedua. Tiga puluh dua kursi selebihnya diisi dengan sistem perwakilan proporsional, menurut daftar pemilih di satu distrik berwakil majemuk nasional. Seluruh suara untuk senat dijumlah total di tingkat nasional. Rumus yang dipakai adalah metode Largest Remainder menggunakan kuota Hare dan 2% ambang batas. Chamber of Deputies (Majelis Rendah) Majelis Rendah terdiri atas 500 anggota yang menjabat selama periode tiga tahun dan tidak boleh dipilih kembali dalam periode yang dekat. Dari 500 anggota Majelis Rendah: dipilih dengan First Past The Post (FPTP) atau mayoritas sederhana dalam distrik beranggota tunggal (single member district/smd). Pemilu 300 anggota Majelis Rendah federal melalui prinsip mayoritas relatif diselenggarakan dalam 300 distrik berwakil tunggal. Pembagian 300 distrik di antara 32 negara bagian dilakukan sesuai dengan persentasi populasi yang tinggal di masing-masing negara bagian. Berdasarkan hasil yang didapat dalam sensus penduduk dan tempat tinggal yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun di Meksiko, Konstitusi menyatakan bahwa tidak ada negara bagian yang mendapatkan kurang dari dua distrik federal berwakil tunggal. Jumlah kursi yang dialokasikan ke masing-masing partai menggunakan metode Largest Remainder dan Kuota Hare dan berlaku ambang batas 2% berdasarkan total suara nasional lainnya dipilih dengan perwakilan proporsional dengan sistem daftar partai dalam lima distrik berwakil majemuk masing-masing 40 kursi. Pembagian kursi menggunakan Kuota Hare dengan sisa suara terbanyak (Largest Remainder). Daftar pengurutan peringkat bersifat tertutup
4 sehingga wakil-wakil yang berada dalam urutan tertinggi terpilih lebih dahulu dan pemilih tidak bisa mengubah urutan dalam daftar. Tidak boleh ada partai politik yang memiliki lebih dari 300 anggota Majelis Rendah yang terpilih oleh kedua prinsip tersebut, yaitu mayoritas sederhana dan perwakilan proporsional. Jadi, jika partai politik bercita-cita mendapatkan mayoritas absolut kursi (251 kursi) karena kinerja elektoralnya, hukum mencegahnya untuk mencapai mayoritas yang disyaratkan (dua per tiga dari jumlah kursi) yang diperlukan untuk menyetujui reformasi konstitusional oleh partai itu sendiri. Untuk menjamin proporsionalitas antara suara-kursi, tidak ada partai politik yang diperbolehkan mendapatkan jumlah total anggota Majelis Rendah, yang melebihi delapan poin dari persentasi suara nasional atas namanya. Contohnya, jika suatu partai politik memenangkan 35% pemilu, partai itu tidak berhak mendapatkan lebih dari 43 persen kursi, yaitu lebih dari 215 dari 500 kursi. Satu-satunya pengecualian dalam Konstitusi terhadap ketentuan ini adalah dalam hal partai politik mencapai persentasi keseluruhan kursi Majelis yang melebihi jumlah persentasi suara nasional plus 8% melalui suara mayoritas relatif dalam distrik berwakil tunggal. Misalnya, jika sebuah partai memenangkan 235 distrik berwakil tunggal (hingga 47% dari total) dengan 35% jumlah suara, aturan proporsionalitas 8% tidak dapat diterapkan sekalipun perbedaan antara suara dan kursi akan berjumlah hingga 12 persen. Anggota Majelis Rendah Federal tidak boleh dipilih kembali untuk masa jabatan berikutnya, meskipun larangan ini tidak berlaku bagi pengganti anggota Majelis Rendah yang belum pernah menjabat. Dalam kasus ini, mereka dapat menjadi anggota Majelis Rendah untuk masa jabatan berikutnya. Akan tetapi, anggota Majelis Rendah tidak dapat dipilih untuk masa jabatan berikutnya sebagai pengganti. Pendistribusian kembali 300 distrik yang paling mutakhir di antara 32 negara bagian dalam rangka menjamin bahwa setiap anggota mewakili segmen populasi yang seimbang dan karenanya memenuhi prinsip kesetaraan suara, diverifikasi antara bulan April 2004 hingga Januari 2005
5 berdasarkan sensus penduduk yang dilaksanakan tahun Pendistribusian distrik yang baru ini akan berlaku hingga paruh waktu pemilu federal pada Juli 2009 dan pendistribusian distrik yang baru akan terjadi sebelum pemilu presiden dan legislatif Bagan berikut ini menunjukkan distribusi 300 distrik berwakil tunggal di 32 negara bagian, yang merupakan hasil dari perbaikan yang dilakukan pada tahun 2004 dan berlaku hingga paruh waktu Pemilu Negara Bagian Jumlah distrik Aguascalientes 3 Baja California 8 Baja California Sur 2 Campeche 2 Chiapas 12 Chihuahua 9 Coahuila 7 Colima 2 Distrik Federal 27 Durango 4 State of Mexico 40 Guanajuato 14 Guerrero 9 Hidalgo 7 Jalisco 19 Michoacan 12 Morelos 5 Nayarit 3 Nuevo Leon 12
6 Oaxaca 11 Puebla 16 Queretaro 4 Quintana Roo 3 San Luis Potosi 7 Sinaloa 8 Sonora 7 Tabasco 6 Tamaulipas 8 Tlaxcala 3 Veracruz 21 Yucatan 5 Zacatecas 4 TOTAL 300 Pemilihan Majelis Rendah melalui prinsip perwakilan proporsional. Untuk berpartisipasi dalam pemilu anggota Majelis Rendah, partai politik harus menunjukkan bahwa ia memiliki calon yang terdaftar untuk kursi Majelis Rendah untuk dipilih melalui prinsip mayoritas sederhana di sedikitnya 200 dari 300 distrik berwakil tunggal. Jika hal ini sesuai dengan persyaratan ini, partai politik dapat mengajukan pendaftaran daftar kandidat regional di lima distrik berwakil banyak. Daftar regional ini tertutup dan diblok, berarti urutan pencalonannya tetap dan tidak ada di antara mereka dapat dihilangkan. Agar sebuah partai berhak mendapatkan anggota perwakilan proporsional di Majelis Rendah, ia harus mendapatkan sekurang-kurangnya 2 persen dari total suara yang diberikan untuk pemilu ini. Konstitusi menyatakan bahwa jika partai politik memenuhi persyaratan 2 persen yang disebutkan di atas dapat mengalokasikan sejumlah perwakilan proporsional anggota Majelis Rendah per distrik menurut persentasi suara nasional yang dimenangkan dengan memperhatikan ketentuan mengenai maksimum jumlah kursi yang
7 dapat dimiliki sebuah partai (300) dan ketentuan proporsionalitas dalam rasio suara/kursi 8 persen, jika dapat diterapkan. Undang-Undang pemilu merinci formula dan prosedur yang dapat diterapkan untuk mengangkat anggota Majelis Rendah perwakilan proporsional, dengan mempertimbangkan hipotesis atau skenario yang diatur oleh ketentuanketentuan yang telah disebutkan sebelumnya. 2 Instituto Federal Electoral (IFE)/Instituto Nacional Electoral (INE) menggunakan metode Sainte Lague Murni untuk mengalokasikan kursi di antara negera-negara bagian. IFE menciptakan SMD dengan penduduk yang kurang lebih setara dalam masing-masing negara bagian, umumnya lebih mengutamakan mengikuti batas-batas kota daripada mencapai daerah-daerah pemilihan dengan populasi setara, dan juga membagi negara itu menjadi lima daerah pemilihan dengan 40 wakil untuk keperluan pemilihan memperebutkan kursi daftar perwakilan proporsional. Masing-masing partai mengusulkan seorang kandidat di daerah pemilihan berwakil tunggal dan menyampaikan daftar peringkat 40 kandidat untuk masing-masing lima daerah pemilihan. Partai-partai bisa membentuk koalisi total atau parsial untuk tujuan pemilu, mengajukan kandidat yang sama di beberapa distrik atau berbagi daftar perwakilan proporsional. Jika mereka melakukan itu, mereka harus menyerahkan kesepakatan kepada IFE yang menjelaskan bagaimana suara dalam koalisi akan dialokasikan. Jika partai-partai membentuk sebuah koalisi untuk memilih presiden, mereka harus membentuk koalisi untuk pertarungan dewan perwakilan dan senat juga. Dalam Pemilihan tahun 2000, dua dari tiga kandidat presiden didukung oleh koalisi-koalisi. Dalam pemilihan legislatif tahun 2003, terdapat koalisi parsial antara PRI dengan Partai Hijau yang maju bersama di 97 daerah pemilihan dengan satu wakil dan terpisah di 203 daerah pemilihan, dan memiliki daftar perwakilan proporsional terpisah (partai-partai menyepakati bagaimana membagi suara dari 97 daerah pemilihan untuk 2 Instituto Nacional Electoral (INE), The Mexican Electoral System,
8 keperluan memberika kursi ke kandidat-kandidat daftar perwakilan proporsional). 3 Semua partai menggunakan prosedur yang relatif tertutup untuk menyeleksi kandidat, yaitu penunjukan elit, konvensi tertutup atau pemilihan pendahuluan (primary election) tertutup dan dikontrol ketat. Secara umum prosedur pencalonan sudah terbuka pada tahun-tahun belakangan, tetapi para kandidat masih sangat tergantung pada partai. Di samping itu, partaipartai mengontrol sebagian besar belanja kampanye, bahkan dalam pemilihan tingkat distrik dan negara bagian, dan daftar tertutup mengurangi insentif bagi para kandidat untuk berkampanye. 4 Pengganti anggota Majelis Rendah dan Majelis Tinggi dapat dipilih untuk masa jabatan selanjutnya sebagai anggota, jika mereka belum pernah menjabat, namun anggota Majelis Tinggi dan Majelis Rendah tidak boleh dipilih menjadi pengganti untuk masa jabatan berikutnya. Sistem hukum federal tidak mengakui jenis mekanisme demokrasi semilangsung seperti plebisit, referensi, inisiatif warga negara atau penarikan perwakilan yang dipilih secara bebas. 5 Reformasi Legislatif di Meksiko 6 Pada tahun 1996 terjadi reformasi legislatif yang secara keseluruhan mempengaruhi sistem pemilu di banyak elemen yang berhubungan: a) dalam komposisi Chamber of Deputies (Majelis Rendah) Batas maksimum perwakilan dari kekuatan elektoral utama ditentukan 300 deputi terpilih berdasarkan dua prinsip (mayoritas dan proporsional), misalnya 60% dari 500 kursi. Tingkat maksimum over-representation (keterwakilan lebih) ditentukan pada 3 International IDEA, Desain Sistem Pemilu: Buku Panduan Baru International IDEA, diterjemahkan oleh Perludem, 2016, hal International IDEA, Desain Sistem Pemilu: Buku Panduan Baru International IDEA, diterjemahkan oleh Perludem, 2016, hal Instituto Nacional Electoral (INE), The Mexican Electoral System, 6 ACE Project, Electoral Reform in Mexico,
9 8 poin dalam hubungan suara-kursi untuk seluruh partai politik, sebagai pengimbang batas maksimum yang ditentukan bagi perwakilan kekuatan elektoral utama, untuk mencoba memperkuat proporsionalitas. Peningkatan ambang batas suara yang diperlukan oleh partai politik untuk mengambil bagian dalam penentuan kursi untuk perwakilan proporsional dari 1,5% menjadi 2%. b) Senat (Majelis Tinggi) Prinsip perwakilan proporsional dimasukkan untuk memilih 32 dari 128 anggota. Sekarang tiga senator dipilih dengan cara yang sama di 32 satuan federal: dua berdasarkan prinsip mayoritas relatif dan yang ketiga ditunjuk dengan prinsip minoritas utama; 32 lainnya akan dipili berdasarkan prinsip perwakilan proporsional dengan cara sistem daftar di satu-satunya daerah pemilihan nasional plurinominal. Ambang batas suara untuk penentuan kursi senat berdasarkan perwakilan proporsional juga ditentukan 2% dari suara yang diberikan pada tingkat nasional. c) Partai politik dan Kelompok Satu prosedur tunggal dibentuk bagi organisasi politik untuk mendapatkan pendaftaran sebagai partai politik nasional. Bentuk kedua yang ada hingga saat itu karenanya dihapus, yang terdiri atas pendaftaran bersyarat sehingga organisasi politik harus mendapatkan pengakuan untuk dapat mengambil bagian dalam pemilu federal. Persyaratan untuk pendaftaran partai politik dibuat lebih fleksibel: sebagai ganti minimum 75 ribu anggota di tingkat nasional sebagaimana yang diharuskan sebelumnya, sekarang dipersyaratkan 3 ribu anggota di sekurang-kurangnya 10 dari 32 satuan federal, atau 300 di sedikitnya 100 dari 300 daerah pemilihan uninominal; jumlah total harus lebih rendah dari 0,13% dari daftar pemilih yang digunakan dalam pemilu federal biasa terdekat sebelum aplikasi dibuat. Persentasi yang diharuskan untuk partai politik nasional untuk tetap
10 terdaftar: minimum 2%. Konsep kelompok politik nasional, yang dapat mengambil bagian dalam proses pemilu federal diakui, dengan menandatangani dan mendaftarkan perjanjian ikut serta dengan sebuah partai politik kepada penyelenggara pemilu. Mereka harus memiliki sedikitnya tujuh ribu anggota di seluruh negara, sebuah badan pengelola di tingkat nasional dan kantor di sedikitnya 10 satuan federal. Mereka mengurus sistem pajak khusus dan pendanaan publik. d) Reformasi untuk meningkatkan kondisi-kondisi keadilan dalam pertandingan politik elektoral. Jaminan akan keadilan yang lebih besar dalam akses bebas kepada radio dan televisi selama periode pemilu dibangun, terlepas dari 15 menit yang dikelola secara permanen. Selama periode pemilu 30% akan didistribusikan secara setara dan 70% secara proporsional berdasarkan kekuatan elektoral. Waktu tambahan tidak hanya hingga 250 jam untuk radio dan 200 jam untuk televisi dalam proses pemilu dalam pemilu Presiden (yang dikurangi setengahnya dalam pemilu legislatif secara ketat), namun juga penerimaan bulanan hingga 10 ribu slot iklan atas nama Federal Electoral Institute di radio dan 400 di televisi, dari masing-masing durasi 20 detik. Hak untuk mengklarifikasi informasi yang diberikan oleh media selama kampanye pemilu diakui ketika dipandang bahwa mereka teal memutarbalikkan fakta atau situasi yang mengacu pada kegiatan atau karakter pribadi. Ditetapkan bahwa pendanaan publik harus mengambil preferensi di atas jenis lainnya yang dibolehkan dan diatur oleh hukum. Pendanaan publik mengambil tiga bentuk: pemeliharaan kegiatan rutin yang permanen, biaya kampanye dan kegiatan khusus sebagai satuan kepentingan publik. Sumbangan tanpa nama (anonim) dilarang dan batasan baru ditetapkan untuk pendanaan oleh pendukung.
11 Meningkatnya wewenang pengawasan oleh Komisi Perpajakan Sumber Daya Partai politik dan Kelompok. Di antara kewenangan ini audit keuangan partai politik dan kelompok serta kunjungan verifikasi dimasukkan, dengan tujuan memperkuat pemenuhan kewajiban mereka dan kebenaran laporan mereka. Aturan-aturan diubah sehingga IFE/INE dapat menentukan batas biaya kampanye. e) Kemungkinan hukum bagi formasi koalisi elektoral diperluas. f) Berkenaan dengan masalah keadilan elektoral: Tindakan inkonstitusionalitas mengenai hal-hal elektoral berkenaan dengan Undang-Undang Pemilu yang diketahui publik pada tingkat federal dan daerah, diketahui, mengakui partai politik sebagai satu-satunya subjek hukum yang memiliki kewenangan untuk mengajukannya ke Mahkamah Agung Nasional. Undang-undang Pemilu Federal dan daerah harus diundangkan dan diterbitkan paling sedikit 90 hari sebelum dimulainya proses pemilu. Tidak boleh ada modifikasi hukum yang mendasar yang dibuat selama proses pemilu. Mekanisme banding persidangan dan penyelesaian sengketa penyelenggara pemilu meningkat untuk menjamin perlindungan hak-hak elektoral dan mereka yang bersifat publik. Sistem perbaikan konstitusional yang baru mengenai persidangan dan penyelesaian kewenangan elektoral dibentuk, ditujukan terhadap organisasi dan pengembangan, juga untuk menyelesaikan pertentangan yang muncul di dalam mereka. Pengadilan Pemilu dimasukkan ke dalam Peradilan Federasi sebagai organ yang dikhususkan dalam hal kewenangan jurisdiksional maksimum, dengan pengecualian tindakan-tindakan inkonstitusionalitas. g) Konstitusi dan undang-undang negara bagian harus memasukkan prinsipprinsip dasar dan menjamin kesamaan dengan yang dibentuk terkait masalah
12 kepemiluan di tingkat federal. h) Sistem politik-elektoral Distrik Federal diubah: Majelis Perwakilan (Representatives' Assembly) diubah menjadi Majelis Legislatif (Legislative Assembly) dan mendapat kewenangan baru. Pemilihan langsung kepala pemerintahan distrik federal ditentukan selama periode enam tahun, dengan kewenangan yang meningkat secara signifikan. 7 -o0o- Jakarta, 22 Maret 2017 Catherine Natalia Perludem 7 ACE Project, Electoral Reform in Mexico,
NEGARA-NEGARA YANG MELAKUKAN PERUBAHAN SISTEM PEMILU
NEGARA-NEGARA YANG MELAKUKAN PERUBAHAN SISTEM PEMILU SISTEM PEMILU Pilihan atas sistem pemilu merupakan salah satu keputusan kelembagaan yang paling penting bagi negara demokrasi di manapun. Pilihan sistem
SISTEM PEMILU DI JERMAN
SISTEM PEMILU DI JERMAN Jerman merupakan demokrasi parlementer berbentuk negara federasi. Organ konstitusi yang sangat dikenal masyarakat adalah Parlemen Federal, Bundestag. Anggotanya dipilih langsung
LEMBAGA PENYELENGGARA PEMILU DI JERMAN
LEMBAGA PENYELENGGARA PEMILU DI JERMAN Jerman merupakan sebuah negara republik federal yang terdiri atas 16 negara bagian (Länder). Kekuasaan legislatif dibagi antara Bundestag dan Landtage (Parlemen Negara
Tujuan, Metodologi, dan Rekan Survei
Sejak reformasi dan era pemilihan langsung di Indonesia, aturan tentang pemilu telah beberapa kali mengalami penyesuaian. Saat ini, empat UU Pemilu yang berlaku di Indonesia kembali dirasa perlu untuk
PEMILU. Oleh : Nur Hidayah
PEMILU Oleh : Nur Hidayah A. PENGERTIAN PEMILU Merupakan salah satu sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang berdasarkan pada demokrasi perwakilan. Pemilu diartikan sebagai mekanisme penyeleksian dan
Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1
S T U D I K A S U S Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1 F R A N C I S I A S S E S E D A TIDAK ADA RINTANGAN HUKUM FORMAL YANG MENGHALANGI PEREMPUAN untuk ambil bagian dalam
BAB I PENDAHULUAN. Pasca reformasi tahun 1998, landasan hukum pemilihan umum (pemilu) berupa Undang-Undang mengalami perubahan besar meskipun terjadi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pasca reformasi tahun 1998, landasan hukum pemilihan umum (pemilu) berupa Undang-Undang mengalami perubahan besar meskipun terjadi kesinambungan dibandingkan dengan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pemilihan umum
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pemilihan umum secara langsung
MENGANALISIS SISTEM PEMERINTAHAN DI BERBAGAI NEGARA
MENGANALISIS SISTEM PEMERINTAHAN DI BERBAGAI NEGARA A. SISTEM PEMERINTAHAN PARLEMENTER Sistem pemerintahan di mana kepala pemerintahan dipegang oleh presiden dan pemerintah tidak bertanggung jawab kepada
DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN...1 A. Latar Belakang...1. B. Rumusan Masalah...7. C. Tujuan Penelitian...8. D. Manfaat Penelitian...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...i HALAMAN PENGESAHAN...ii HALAMAN PERNYATAAN...iii KATA PENGANTAR...iv DAFTAR ISI...vii DAFTAR TABEL...xi INTISARI...xii ABSTRACT...xiii BAB I PENDAHULUAN...1 A. Latar Belakang...1
I. PENDAHULUAN. Pemilihan Umum (Pemilu) di Negara Indonesia merupakan sarana pelaksanaan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemilihan Umum (Pemilu) di Negara Indonesia merupakan sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat, hal tersebut sebagaimana dicantumkan dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG- UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG
2008, No.2 2 d. bahwa Partai Politik merupakan sarana partisipasi politik masyarakat dalam mengembangkan kehidupan demokrasi untuk menjunjung tinggi k
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2, 2008 LEMBAGA NEGARA. POLITIK. Pemilu. DPR / DPRD. Warga Negara. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4801) UNDANG-UNDANG
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG PARTAI POLITIK LOKAL DI ACEH
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG PARTAI POLITIK LOKAL DI ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 95 Undang- Undang Nomor 11
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG PARTAI POLITIK LOKAL DI ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG PARTAI POLITIK LOKAL DI ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan
USULAN ASOSIASI ILMU POLITIK INDONESIA (AIPI) TERHADAP RUU PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN 1
USULAN ASOSIASI ILMU POLITIK INDONESIA (AIPI) TERHADAP RUU PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN 1 USULAN UMUM: MEMPERKUAT SISTEM PRESIDENSIAL 1. Pilihan politik untuk kembali pada sistem pemerintahan
RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 71/PUU-XV/2017. I. PEMOHON 1. Hadar Nafis Gumay (selanjutnya disebut sebagai Pemohon I);
RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 71/PUU-XV/2017 Presidential Threshold 20% I. PEMOHON 1. Hadar Nafis Gumay (selanjutnya disebut sebagai Pemohon I); 2. Yuda Kusumaningsih (selanjutnya disebut sebagai
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pemilihan umum secara langsung
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pemilihan umum secara langsung
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2002 TENTANG PARTAI POLITIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2002 TENTANG PARTAI POLITIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan
PERUBAHAN KETIGA UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN
MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA PERUBAHAN KETIGA UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945-77 - - 78 - MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA PERUBAHAN KETIGA
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KOMISI PEMILIHAN UMUM,
KOMISI PEMILIHAN UMUM PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENETAPAN JUMLAH DAN TATA CARA PENGISIAN KEANGGOTAAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI ATAU DEWAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
TINJAUAN SINGKAT TENTANG SISTEM PEMILU
TINJAUAN SINGKAT TENTANG SISTEM PEMILU YANG DIUSULKAN DALAM RANCANGAN AMANDEMEN TERHADAP UU No. 3/1999 Tentang Pemilu ISI: Pengantar Beberapa Kriteria untuk Menilai Sistem Pemilihan Beberapa Petunjuk Praktis
RENCANA AKSI GLOBAL MENANG DENGAN PEREMPUAN: MEMPERKUAT PARTAI PARTAI POLITIK
RENCANA AKSI GLOBAL MENANG DENGAN PEREMPUAN: MEMPERKUAT PARTAI PARTAI POLITIK Sebagai para pemimpin partai politik, kami memiliki komitmen atas perkembangan demokratik yang bersemangat dan atas partai
DAFTAR PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI TENTANG PENGUJIAN UU PEMILU DAN PILKADA
DAFTAR PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI TENTANG PENGUJIAN UU PEMILU DAN PILKADA NO NO. PUTUSAN TANGGAL ISI PUTUSAN 1 011-017/PUU-I/2003 LARANGAN MENJADI ANGGOTA DPR, DPD, DPRD PROVINSI, DAN DPRD KABUPATEN/KOTA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemilihan umum
NOMOR 31 TAHUN 2002 TENTANG PARTAI POLITIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2002 TENTANG PARTAI POLITIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang a. bahwa kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan
Ringkasan Putusan.
Ringkasan Putusan Sehubungan dengan sidang pembacaan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 110,111,112,113/PUU-VII/2009 tanggal 7 Agustus 2009 atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN
PEMILU JERMAN 2017: PARTAI, ISU DAN MASA DEPAN POLITIK JERMAN
PEMILU JERMAN 2017: PARTAI, ISU DAN MASA DEPAN POLITIK JERMAN EKO PRASOJO DEKAN DAN GURU BESAR FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI UNIVERSITAS INDONESIA Sistem Pemilihan Umum di Jerman (Pemilihan Bundestag -1)
PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA
PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa penyelenggaraan pemilihan umum
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemilihan umum
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 101, 2011 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5246) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN
PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1/DPR RI/TAHUN 2009 TENTANG TATA TERTIB
PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1/DPR RI/TAHUN 2009 TENTANG TATA TERTIB Menimbang : a. bahwa dalam rangka melaksanakan kehidupan kenegaraan yang demokratis konstitusional berdasarkan
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
MATRIKS PERBANDINGAN PERUBAHAN PERATURAN PEMERINTAH NO. 5 TAHUN 2009 dan PERATURAN PEMERINTAH NO. 83 TAHUN 2012 TENTANG BANTUAN KEUANGAN KEPADA PARTAI POLITIK PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan adalah dimensi penting dari usaha United Nations Development Programme (UNDP) untuk mengurangi separuh kemiskinan dunia
Pembaruan Parpol Lewat UU
Pembaruan Parpol Lewat UU Persepsi berbagai unsur masyarakat terhadap partai politik adalah lebih banyak tampil sebagai sumber masalah daripada solusi atas permasalahan bangsa. Salah satu permasalahan
PEMILIHAN UMUM. R. Herlambang Perdana Wiratraman, SH., MA. Departemen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya, 6 Juni 2008
PEMILIHAN UMUM R. Herlambang Perdana Wiratraman, SH., MA. Departemen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya, 6 Juni 2008 Sub Pokok Bahasan Memahami Sistem Pemilu dalam Ketatanegaraan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Anggaran Rumah Tangga PARTAI KERJA RAKYAT INDONESIA Halaman 1
BAB I Pasal 1 ATRIBUT 1. PAKAR INDONESIA mempunyai atribut yang terdiri Lambang, Bendera, Panji, Gordon, Hymne, dan Mars Partai; 2. Ketentuan lebih lanjut tentang Panji, Gordon, Hymne, Mars dan penggunaan
MATERI TES TERTULIS DAN WAWANCARA PPK Materi test tulis : Pancasila dan UUD
MATERI TES TERTULIS DAN WAWANCARA PPK Materi test tulis : Pancasila dan UUD 1945 yang diamandemen Hukum, terdiri dari: Pemahaman Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum Pemahaman
2008, No.59 2 c. bahwa dalam penyelenggaraan pemilihan kepala pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pem
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.59, 2008 OTONOMI. Pemerintah. Pemilihan. Kepala Daerah. Perubahan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844) UNDANG-UNDANG REPUBLIK
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.245, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEMERINTAH DAERAH. Pemilihan. Gubernur. Bupati. Walikota. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5588) PERATURAN
PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2003 TENTANG PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN
PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2003 TENTANG PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN I. UMUM 1. Dasar Pemikiran Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.182, 2014 LEGISLATIF. MPR. DPR. DPD. DPRD. Kedudukan. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5568) UNDANG-UNDANG REPUBLIK
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 60/PUU-XIII/2015 Persyaratan Menjadi Calon Kepala Daerah Melalui Jalur Independen
RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 60/PUU-XIII/2015 Persyaratan Menjadi Calon Kepala Daerah Melalui Jalur Independen I. PARA PEMOHON 1. M. Fadjroel Rachman, Pemohon I 2. Saut Mangatas Sinaga, Pemohon II
PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA
PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:
RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA
RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 56/PUU-XI/2013 Parlementary Threshold, Presidential Threshold, Hak dan Kewenangan Partai Politik, serta Keberadaan Lembaga Fraksi di DPR I. PEMOHON Saurip Kadi II. III.
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2001 TENTANG PENETAPAN JUMLAH DAN TATA CARA PENGISIAN KEANGGOTAAN
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2001 TENTANG PENETAPAN JUMLAH DAN TATA CARA PENGISIAN KEANGGOTAAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROPINSI DAN KABUPATEN/KOTA YANG BARU DIBENTUK Menimbang
SEJARAH PEMILU DUNIA
SEJARAH PEMILU DUNIA PENGERTIAN PAKAR Secara etimologis kata Demokrasi terdiri dari dua kata Yunani yaitu damos yang berarti rakyat atau penduduk suatu tempat dan cratein atau cratos yang berarti kedaulatan
RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 51/PUU-XI/2013 Tentang Kewenangan KPU Dalam Menetapkan Partai Politik Peserta Pemilu
RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 51/PUU-XI/2013 Tentang Kewenangan KPU Dalam Menetapkan Partai Politik Peserta Pemilu I. PEMOHON Partai Serikat Rakyat Independen (Partai SRI), dalam hal ini diwakili
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG PARTAI POLITIK LOKAL DI ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG PARTAI POLITIK LOKAL DI ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan
BAB II DESKRIPSI (OBYEK PENELITIAN) hukum kenamaan asal Austria, Hans Kelsen ( ). Kelsen menyatakan
BAB II DESKRIPSI (OBYEK PENELITIAN) 2.1 Sejarah Singkat Organisasi Keberadaan Mahkamah Konstitusi (MK) baru diperkenalkan oleh pakar hukum kenamaan asal Austria, Hans Kelsen (1881-1973). Kelsen menyatakan
PEMANDANGAN UMUM FRAKSI KEBANGKITAN BANGSA DPR RI TERHADAP KETERANGAN PEMERINTAH TENTANG RUU PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DPR/DPRD DAN DPD
PEMANDANGAN UMUM FRAKSI KEBANGKITAN BANGSA DPR RI TERHADAP KETERANGAN PEMERINTAH TENTANG RUU PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DPR/DPRD DAN DPD Disampaikan oleh juru bicara FKB DPR RI : Dra. Bariyah Fayumi, Lc Anggota
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI POLITIK
www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI POLITIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA MENJADI UNDANG-UNDANG
UU 22/2003, SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
Copyright (C) 2000 BPHN UU 22/2003, SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH *14124 UNDANG-UNDANG REPUBLIK
PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA
SALINAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
2012, No Mengingat membentuk Undang-Undang tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.117, 2012 POLITIK. PEMILU. DPR. DPD. DPRD. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5316) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR
SEKILAS PEMILU PARTAI POLITIK PESERTA PEMILU
SEKILAS PEMILU 2004 Pemilihan umum (Pemilu) adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI POLITIK
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI POLITIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:
RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN
RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN Nomor 51/PUU-XIII/2015 Pembentukan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015, Pengusungan Pasangan Calon oleh Partai Politik, Sanksi Pidana Penyalahgunaan Jabatan dalam Penyelenggaraan
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2018 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH,
BAB III BAWASLU DALAM MENYELESAIKAN SENGKETA PEMILU. A. Kewenangan Bawaslu dalam Menyelesaikan Sengketa Pemilu
41 BAB III BAWASLU DALAM MENYELESAIKAN SENGKETA PEMILU A. Kewenangan Bawaslu dalam Menyelesaikan Sengketa Pemilu Pemilihan umum merupakan pesta demokrasi yang dilakukan untuk memilih seorang pemimpin.
ATURAN PEMILU RAYA KM-ITB 2013
ATURAN PEMILU RAYA KM-ITB 2013 BAB I KETENTUAN UMUM PASAL 1 PENGERTIAN (1) Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: a. Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung yang selanjutnya disebut KM-ITB
RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN Perkara Nomor 51/PUU-XI/2013 Tentang Kewenangan KPU Dalam Menetapkan Partai Politik Peserta Pemilu
RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN Perkara Nomor 51/PUU-XI/2013 Tentang Kewenangan KPU Dalam Menetapkan Partai Politik Peserta Pemilu I. PEMOHON Partai Serikat Rakyat Independen (Partai SRI), dalam hal ini
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT,
UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang:
PENINGKATAN NILAI PARTISIPASI PEMILIH
Policy Brief [05] Kodifikasi Undang-undang Pemilu Oleh Sekretariat Bersama Kodifikasi Undang-undang Pemilu MASALAH Demokrasi bukanlah bentuk pemerintahan yang terbaik, namun demokrasi adalah bentuk pemerintahan
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dengan Persetujuan Bersama
www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN
2013, No Mengingat dan tata cara seleksi, pemilihan, dan pengajuan calon hakim konstitusi serta pembentukan majelis kehormatan hakim konstitusi;
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.167, 2013 HUKUM. Kehakiman. Mahkamah Konstitusi. Penyelenggaraan. Perubahan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5456) PERATURAN PEMERINTAH
RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 73/PUU-XII/2014 Kedudukan dan Pemilihan Ketua DPR dan Ketua Alat Kelengkapan Dewan Lainnya
RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 73/PUU-XII/2014 Kedudukan dan Pemilihan Ketua DPR dan Ketua Alat Kelengkapan Dewan Lainnya I. PEMOHON 1. Megawati Soekarnoputri dan Tjahjo Kumolo, selaku Ketua Umum Partai
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI POLITIK
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI POLITIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
Berdasarkan Pasal 22E ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pemilu dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia,
PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2003 TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH I. UMUM 1. Dasar
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI POLITIK
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI POLITIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
BAB II PEMBAHASAN. A. Pengaturan Mengenai Pengisian Jabatan Presiden dan Wakil Presiden di Indonesia
BAB II PEMBAHASAN A. Pengaturan Mengenai Pengisian Jabatan Presiden dan Wakil Presiden di Indonesia Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas kedaulatan rakyat sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat
PEDOMAN TEKNIS VERIFIKASI SYARAT CALON PENGGANTI ANTARWAKTU ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH PEMILIHAN UMUM TAHUN 2009
PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 02 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN TEKNIS VERIFIKASI SYARAT CALON PENGGANTI ANTARWAKTU ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH PEMILIHAN UMUM TAHUN
2018, No Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2014 tentang P
No.29, 2018 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEGISLATIF. MPR. DPR. DPD. DPRD. Kedudukan. Perubahan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6187) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.155, 2009 (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5074)
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.155, 2009 (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5074) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2009 TENTANG PENGADILAN TINDAK
ANOTASI UNDANG-UNDANG BERDASARKAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG
ANOTASI UNDANG-UNDANG BERDASARKAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH,
PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA
PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
STATUTA ASOSISI MAHKAMAH KONSTITUSI DAN INSTITUSI SEJENIS SE-ASIA
STATUTA ASOSISI MAHKAMAH KONSTITUSI DAN INSTITUSI SEJENIS SE-ASIA Pembukaan Presiden atau Kepala mahkamah konstitusi dan institusi sejenis yang melaksanakan kewenangan konstitusional di Asia: MENGINGAT
RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 72/PUU-XV/2017
RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 72/PUU-XV/2017 Presidential Threshold 20% I. PEMOHON 1. Mas Soeroso, SE. (selanjutnya disebut sebagai Pemohon I); 2. Wahyu Naga Pratala, SE. (selanjutnya disebut sebagai
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA MENJADI UNDANG-UNDANG
IMPLIKASI HUKUM KOALISI PARTAI POLITIK DALAM MEMBENTUK PEMERINTAHAN YANG EFEKTIF
IMPLIKASI HUKUM KOALISI PARTAI POLITIK DALAM MEMBENTUK PEMERINTAHAN YANG EFEKTIF Oleh I Gede D.E. Adi Atma Dewantara I Dewa Gde Rudy Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Udayana Abstract In the
