BAB X ASURANSI SOSIAL PEGAWAI NEGERI DAN ABRI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB X ASURANSI SOSIAL PEGAWAI NEGERI DAN ABRI"

Transkripsi

1 BAB X ASURANSI SOSIAL PEGAWAI NEGERI DAN ABRI Pegawai negeri maupun meliter Republik Indonesia telah lama mengikuti program jaminan sosial, bahkan untuk program pensiun sudah diadakan sejak zaman Hindia Belanda. Akan tetapi, program-program jaminan sosial yang lainnya baru dilaksanakan sejak tahun 1963, di mana pembiayaanya ditanggung sendiri oleh pegawai negeri yang bersangkutan. Seiring dengan perjalanan waktu, penyelenggaraan program-program jaminan sosial tersebut mengalami pengurangan, penambahan, dan perubahan. Dalam rangka penyelenggaraan program jaminan sosial melalui pola mekanisme sosial, yaitu PT Taspen, Perum Asabri, Perum Astek, Perum Husada Bakti (asuransi kesehatan), dan PT Jasa Raharja (asuransi kecelakaan penumpang dan lalu lintas jalan). Dalam bab ini akan disajikan PT Taspen dan Perum Asabri. A. PROGRAM ASURANSI SOSIAL PEGAWAI NEGERI DAN ABRI Pegawai negeri sipil sebagai aparatur negara dan abdi masyarakat merupakan salah satu unsur penting dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintah, khususnya dalam melaksanakan tugas-tugas nasional. Keberhasilan pegawai negeri dalam menjalankan ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain yang terpenting adalah faktor jaminan sosial untuk pegawai negeri dan keluarganya. Pemberian jaminan sosial pada masa aktif bekerja tidak menjamin sepenuhnya ketenangan kerja pegawai negeri. Oleh kerena itu, jaminan hari tua pegawai negeri dan keluarganya mutlak diperlukan mengingat mempunyai kaitan yang erat dengan ketenangan, semangat dan disiplin kerja, serta dedikasi terhadap tugas-tugas yang diembannya. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 1981, PT Taspen (persero) menyelenggarakan asuransi sosial termasuk asuransi dana pensiun dan tabungan hari tua bagi pegawai negeri sipil, dengan moto pelanyanan tepat orang, tepat waktu, tepat jumlah, serta tepat tempat dilaksanakan dengan sikap sopan, sabar, menusiawi, mudah, dan sederhana.

2 B. PENGERTIAN DAN TUJUAN ASURANSI SOSIAL Asuransi sosial merupakan asuransi yang menyediakan jaminan sosial bagi anggota masyarakat. Karena menyangkut kepentingan-kepentingan masyarakat, juga agar penyelenggaraan dapat berjalan efektif, terarah, dan mempunyai landasan hukum yang kuat, pemerintah menerbitkan peraturan perundang-undangan untuk masing-masing jenis jaminan sosial, seperti jaminan sosial tenaga kerja, jaminan sosial pegawai negeri dan pensiun dan jaminan sosial hari tua. Asuransi sosial ini bertujuan untuk menyediakan jaminan sosial berupa santunan kepada pegawai negeri yang menderita kerugian karena suatu musibah. Untuk merealisasikan tujuan ini, dibutuhkan dana yang dihimpun dari masyarakat yang ikut serta dalam sistem jaminan sosial berupa iuran wajib (premi). Sebagai dana yang terkumpul tersebut disediakan sebagai dana santunan sosial dan dari dana santunan inilah diambilkan sejumlah uang untuk diberikan kepada anggota masyarakat yang berhak memperoleh santunan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku (tujuan pertama). Sebagaian dari dana yang terkumpul, yang untuk sementara tidak digunakan sebagai dana santunan sosial, digunakan untuk membiayai pembangunan (tujuan kedua). Hal ini berarti iuran wajib yang dibayar oleh anggota masyarakat, secara sadar atau tidak merupakan aksi menabung untuk menambah dana investasi diperlukan untuk pembangunan. C. KETENTUAN KETENTUAN PROGRAM TASPEN Setelah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1963, kemudian diikuti dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1963 yang menetapkan bentuk jaminan hari tua bagi pegawai negeri ke dalam tabungan dan asuransi pegawai negeri dengan iuran wajib pegawai negeri atau peserta maupun haknya ditetapkan berlaku surut sejak 1 Juli Dengan demikian, lembaga usaha kesejahteraan Pegawai negeri melalui sistem asuransi mulai dilakukan sejak 1 Juli setelah beberapa tahun berlalu, pemerintah senantiasa berusaha menyempurnakan program-program jaminan sosial tersebut dengan mengoreksi dan menyempurnakan peraturan-peraturan yang telah dikeluarkannya.

3 1. Dasar Hukum Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1963 tentang Pembelanjaan Kesejahteraan Pegawai Negeri menetapkan adanya dua jenis program yang diperuntukkan bagi pegawai negeri, yaitu tabungan dan asuransi pegawai negeri, serta dana kesejahteraan pegawai negeri. Pelaksanaan kedua program tersebut yang mengatur hak dan kewajiban peserta ditentukan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1963 tentang Dana Kesejahteraan Pegawai Negeri (Dasperi). Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 1975 maka secara resmi program Dasperi dibubarkan, demikan pula dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 1981 maka Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1963 dan PP Nomor 10 tahun 1963 dinyatakan tidak berlaku lagi. Saat ini, yang menjadi dasar hukum pelaksanaan program Taspen adalah sebagai berikut Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 1981 tanggal 30 Juli 1981 tentang pengalihan Bentuk Perusahaan Umum Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri Perusahaan Perseroaan (Persero). Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 1981 (tanggal 30 Juli 1981) tentang Asuransi Sosial Pegawai Negeri Sipil. Menurut PP ini, Taspen bertugas : Mengelola asuransi hari tua (tabungan hari tua) pegawai negeri sipil, yang merupakan asuransi dwiguna dikaitkan dengan usia pensiun asuransi kematian. Mengelola dana pensiun, yang merupakan program pensiun yang diterima oleh para penerima pensiun setiap bulan. 2. Peserta dan Kewajiban Peserta Peserta program asuransi hari tua (asuransi dwiguna) terdiri dari : 1. Pegawai negeri sipil (pusat dan daerah otonom) 2. Pegawai BUMN 3. Pejabat-pejabat negara. Kewajiban peserta dalam program asuransi hari tua adalah :

4 1. Membayar iuran wajib sebesar 3.25% dari gaji sebulan (gaji pokok + tunjangan istri + tunjangan anak) dalam hal ini iuran wajib dipotong langsung dari gaji setiap bulan ketika pembayaran gaji bulanan. 2. Memberikan keterangan yang jelas benar mengenai dirinya beserta seluruh keluarganya. 4. Program Asuransi Hari Tua Program asuransi hari tua bertujuan untuk memberikan jaminan keuangan bagi peserta bila ia mencapai usia pensiun atau jaminan keuangan bagi ahli warisnya bila ia meninggal sebelum mencapai usia pensiun atau meninggal ketika menjalani pensiun, atau salah satu keluarganya meninggal (istri atau suami atau anak). Jaminan keuangan diberikan sekaligus (lump sum). Adapun program-program yang termasuk dalam program asuransi hari tua meliputi program jaminan peserta, jaminan keluarga, jaminan pensiun, dan asuransi hari tua. 1. Program Jaminan Peserta Program jaminan peserta dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan peserta yang telah mencapai usia pensiun. Adapun ketentuan program jaminan peserta adalah sebagai berikut : Apabila peserta berhenti dari pegawai negeri sipil karena mencapai usia pensiun, kepadanya diberikan sejumlah uang dengan uang santunan asuransi tabungan hari tua (THT). Apabila peserta berhenti dari pegawai negeri sipil tanpa hak pensiun dan bukan karena meninggal, kepadanya diberikan sejumlah uang seusai dengan nilai tunai tabungan hari tua, yaitu jumlah iuran wajib yang telah dipotong dari gajinya setiap bulan dan telah disetor ke PT Taspen ditambah dengan bunga menurut perhitungan akturial. Apabila peserta meninggal sebelum mencapai usia pensiun, maka keluarga atau ahli warisnya (istri atau suami atau anak atau orang tua) memperoleh sejumlah uang santunan sesuai dengan asuransi tabungan dari tau ditambah dengan santunan asuransi kematian (Askem). 2. Program Jaminan Keluarga

5 Dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 112/KMK/011/1987 dan Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 113/KMK.001/1987 tentang syarat-syarat dan besarnya tabungan hari tua dan asuransi kematian bagi pegawai negeri sipil/pejabat negara, bagi peserta atau keluarganya (istri atau suami atau anak) yang meninggal dunia pada atau sesudah 1 April 1985, menerima hak santunan asuransi kematian yang besarnya sebagai berikut : Apabila istri (suami) meninggal ahli warisnya menerima asuransi kematian sebesar 150 % dari penghasilan terakhir sebulan. Istri (suami) dimaksud adalah istri suami yang sah dan terdaftar pada instansi peserta. Apabila istri dan suami kedua-duanya pegawai negeri sipil (peserta) hak asuransi kematian diberikan dalam kedudukannya sebagai peserta. Apabila anak-anak peserta meninggal dunia, ahli warisnya memperoleh asuransi kematian untuk setiap anak sebesar 75% dari penghasilan terakhir sebulan, dengan ketentuan sebagai berikut. Asuransi kematian anak hanya diberikan maksimal untuk 3 orang anak yang meninggal. Dalam hal ini yang dimaksud dengan anak adalah anak pegawai negeri sipil (peserta) yang terdaftar pada adminsitrasi kepegawaian, tidak harus tertunjang dalam daftar gaji dan sesuai dengan ketentuan ketentuan pegawai yang berlaku. Anak tersebut lahir dalam keadaan hidup, belum berusia 21 tahun bagi yang masih sekolah batas usia 25 tahun (keterangan dari sekolah), belum menikah, dan belum bekerja. 3. Program Jaminan Pensiun Ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk program jaminan pensiun seperti diuraikan berikut ini: Apabila pensiun pegawai negeri sipil meninggal dunia, ahli warisnya (istri atau suami atau anak-anaknya) memperoleh asuransi kematian sebesar 200% dari penghasilan terakhir sebulan (penghasilan terakhir ketika masih aktif sebagai pegawai negeri sipil). Apabila istri (suami) dari pensiunan meninggal, ahli warisnya menerima asuransi kematian sebesar 150% dari penghasilan terakhir sebulan.

6 Apabila anak dari pensiunan meninggal, ahli warisnya menerima asuransi kematian sebesar 75% dari penghasilan terkhir setiap bulan untuk setiap anak, dengan ketentuan bahwa asuransi kematian hanya diberikan maksimal untuk 3 orang anak yang meninggal. Dalam program jaminan pensiun ini, yang dimaksud dengan pensiun adalah pensiun pegawai negeri sipil (peserta) yang diberhentikan dengan hak pensiun pada bulan 1975 dan selanjutnya. Istri (suami) dari pensiunan adalah istri (suami) yang dinikahi ketika masih aktif sebagai pegawai negeri sipil; sedangkan anak-anak dari pensiunan adalah anak-anak yang lahir ketika masih aktif sebagai pegawai negeri sipil. Program Asuransi hari tua (asuransi dwiguna) yang dijelaskan diatas, tidak berlaku bagi pejabat-pejabat negara seperti : A. Presiden dan wakil Presiden B. Ketua dan wakil Ketua MPR C. Ketua, Wakil Ketua DPR D. Ketua, Wakil ketua dan Anggota BAPEKA E. Ketua, Wakil Ketua dan Anggota DPA F. Menteri G. Ketua, Wakil Ketua, Ketua Muda, Hakim anggota pada MA H. Duta Besar luar biasa dan berkuasa penuh RI I. Gubernur, bupati kepala daerah dan walikota J. Pejabat-Pejabat lainnya yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. 5. Dana Pensiun Dana pensiun merupakan badan hukum yang mengelola dan menjalankan program yang menjanjikan manfaat pensiun bagi pesertanya. Badan hukum ini secara rutin mengumpulkan iuran pensiun dari pegawai yang menjadi pesertanya, kemudian membayarkan kembali saat pegawai tersebut sudah tidak bekerja lagi. Menurut pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1963, setiap bulan gaji pegawai negeri sipil dipotong sebesar 10% sebagai dana untuk kesejahteraan mereka. Selanjutnya, menurut Keputusan Presiden Nomor 8 tahun 1977, yang 10% tersebut disediakan untuk (1) iuran wajib asuransi hari tua sebesar 3.25% (2) dana pensiun 4.75% dan (3) iuran wajib asuransi kesehatan sebesar 2%.

7 Di Indonesia dana pensiun dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu dana pensiun pemberi kerja (DPPK) dan dana pensiun lembaga keuangan (DPLK). 1. Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) DPPK adalah dana pensiun yang dibentuk oleh orang atau badan yang memperkerjakan karyawan, selaku pendiri, yang menyelenggarakan Program Pensiun Manfaat Pasti atau Program Pensiun iuran Pasti bagi kepentingan sebagian atau seluruh karyawannya sebagai peserta yang menimbulkan kewajiban terhadap pemberi kerja. 2. Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) DPLK adalah dana pensiun yang dibentuk oleh bank atau perusahaan asuransi jiwa untuk menyelenggarakan Program Pensiun Iuran Pasti bagi perorangan, baik karyawan maupun pekerja mandiri, yang terpisah dari dana pensiun pemberi kerja bagi karyawan bank atau perusahaan asuransi yang bersangkutan. 6. Menghitung Hak Tunjangan Hari Tua Pensiun Rumus perhitungan hak peserta yang berlaku sampai saat ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 45/KMK/013/1992 tanggal 14 Januari 1992 adalah rumus hak THT< rumus hak asuransi kematian, dan menghitung hak peserta. 7. Rumus Hak THT Berdasarkan pasal 3 Keputusan Menteri Keuangan Republi Indoensia Nomor 45/KMK.013/1992, besarnya tabungan hari tua THT peserta adalah sebagai berikut. Rumus hak peserta yang berhenti karena pensiun Hak = 0.55 * MI * P Rumus Hak peserta yang berhenti karena meninggal dunia sebelum pensiun. Hak = 0.55 * Y * P Rumus Hak peserta yang berhenti karena sebab-sebab lain (bukan meninggal dunia) Hak= Faktor * P Adapun besarnya faktor berdasarkan keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 45/KMK/013/1992 adalah sebagai berikut :

8 Masa Iuran (dalam Tahun) Tahun Berhenti

9 Rumus Hak Asuransi Kematian Berdasarkan pasal 4 Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 45/KMK/013/1992, besarnya asuransi kematian adalah sebagai berikut : Asuransi Kematian Peserta B 2* * P Hak = 12 Asuransi Kematian suami atau istri C 1.5* * P Hak = 10 Asuransi Kematian anak C 0.75* * P Hak = 12 Keterangan : MI : Masa Iuran adalah masa iuran sejak diangkat menjadi peserta sampai dengan berhenti. Y : Selisih antara batas usia pensiun (56 tahun ) dan usia Saat menjadi peserta, jika usia meninggal dunia Lebih dari 56 tahun, maka Y adalah selisih antara Usia meninggal dunia dengan usia menjadi peserta. B : Jumlah bulan yang dihitung dari tanggal peserta berhentikan dengan hak pensiun atau meninggal dunia sampai dengan tanggal istri atau suami atau anak peserta meninggal dunia. Apabila meninggal dunia pada saat peserta masih aktif maka C = 0. Faktor adalah besaran yang nilainya masa iuran dan tahun berhenti sebagai peserta. Besarnya tunjangan istri adalah 10% dari gaji pokok, sedangkan untuk tunjangan anak adalah 2% dari gaji pokok.

10 8. Menghitung Hak Peserta Berikut ini diberikan beberapa contoh perhitungan hak peserta (hak peserta pensiun, hak yang akan diterima ahli waris yang sah apabila peserta meninggal dunia sebelum pensiun atau masih aktif bekerja, asuransi kematian istri atau suami peserta masih aktif bekerja, asuransi kematian anak apabila peserta masih aktif bekerja, dan asuransi kematian peserta pensiun). 9. Peserta Pensiun Hak yang diterima peserta pensiun dihitung berdasarkan perumusan sebagai berikut ini. Contoh: Nama Peserta : Arifin Tanggal Lahir : 25 Mei 1944 Status/Jumlah anak TMT kerja : : Kawin/2orang anak Tanggal Pensiun/berhenti : Golongan : III/d Gaji Pokok : Rp ,00 Perhitungan MI = Jadi MI = 33 tahun 1 bulan = tahun P = Gaji pokok = Rp ,00 Tunjangan Istri = Rp ,00 Tunjangan anak = Rp ,00 Hak = 0.55 * MI * P Rp ,00) Rp ,00 1 = 0.55 * 33 2 *Rp ,00 =Rp ,87 (dibulatkan

11 10. Peserta meninggal dunia sebelum pensiun atau aktif Berdasarkan contoh diatas apabila Arifin meninggal dunia pada tanggal 12 Agustus 1998, maka perhitungan haknya adalah sebagai berikut. Hak THT Usia masuk pegawai usia masuk pegawai = 22 tahun 11 hari bulan 07 hari = 22 tahun 11 bulan. Y = 56 usia masuk. 1 Y = = 0.55 * Y * P 1 = 0.55 * *Rp = Rp ,87 dibulatkan (Rp ,00) Hak asuransi kematian Hak = = {2 * 1 * P} B 2* * P 12, karena meninggal pada masa aktif maka B = 0. = 2 * 1 * Rp ,00 = Rp ,00 Hak yang diterima Rp ,87 Dibulatkan Rp ,00 Rp ,00 Rp , Asuransi Kematian Istri atau Suami Peserta Aktif Berdasarkan contoh diatas, apabila istri Arifin meninggal pada tanggal 12 Agustus 1998, maka perhitungan haknya adalah sebagai berikut. Hak asuransi kematian istri:

12 Hak = C 1.5* * P 10, karena meninggal dunia pada masa aktif maka C = 0 = {1.5 * I * P} = 1.5 * 1 * Rp ,00 = Rp. 967,005 (dibulatkan Rp ,00) Asuransi Kematian Anak Peserta Aktif Berdasarkan contoh di atas, apabila anak arifin meninggal dunia pada tanggal yang sama, maka perhintungan haknya adalah sebagai berikut. Hak asuransi kematian anak: Hak = C 0.75* * P 12, karena meninggal pada masa aktif maka C = 0 = {0.75 * 1 * P} = 0.75 * 1 * Rp ,00 = Rp ,50 dibulatkan Rp ,00 Asuransi Kematian Peserta Pensiun Berdasarkan contoh diatas, apabila Arifin kemudian meninggal dunia pada tanggal 25 Desember 2005, maka perhitungan haknya sebagai berikut. Perhitungan B: (-) = 5 tahun 7 bulan = 6 tahun sehingga hak asuransi kematian peserta adalah : B 2* * P = 12 = 7 2* * P 12 = {2 * (1.559) * Rp ,00} = Rp ,06 dibulatkan Rp

13 D. KETENTUAN KETENTUAN PROGRAM ASABRI Pada awalnya, setiap pegawai negeri, termasuk ABRI (TNI dan Polri) menjadi peserta Taspen secara otomatis sejak tahun namun, pada tahun 1971, iuran Taspen untuk ABRI (TNI dan Polri) dan Pegawai Negeri Sipil Departemen Hankam dialihkan dan dikelola menjadi program Asabri. Pengalihan Taspen dan pembentukan program khusus untuk lingkungan Departemen Hankam ini didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut. Adanya rencana penyaluran secara besar-besaran anggota ABRI (TNI dan Polri) ke masyarakat yang akan dimulai pada pertengahan tahun Umur pensiun bagi anggota ABRI (TNI dan Polri) berdasarkan Undang-undang Nomor 6 tahun 1966 berbeda dengan ketentuan yang berlaku bagi pegawai Negeri Sipil berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 tahun 1969, sehingga membawa pengaruh kepada penyelenggaraan program taspen. Tidak lagi disetorkannya iuran taspen peserta ABRI (TNI dan Polri) harus dilakukan sendiri oleh Departemen Hankam; sedangkan jumlah-jumlah tersebut tidak mungkin terbayar seluruhnya karena belum terpupuknya (cadangan) iuran di Departemen Hankam, sebab baru terkumpul sejak April 1970 (setahun). Secara formal, program Asabri dibentuk dengan peraturan Pemerintah Nomor 44 tahun 1971, sedangkan penyelenggaraan diserahkan kepada suatu badan usaha milik negara yang berbentuk perusahaan umum (Perum) yang didirikan dengan peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun adapun ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam program asabri meliputi dasar hukum, peserta dan kewajiban peserta, hak peserta program asabri, santunan program Asabri, dan besarnya santunan sosial, sebagaimana diuraikan berikut ini. Dasar Hukum Program asuransi sosial ABRI (Asabri) memberi perlindungan sosial kepada semua anggota ABRI (darat, laut, udara dan kepolisian) dan pegawai-pegawai negeri sipil (PNS) pada Departemen Hankam/ABRI termasuk calon PNS. Program ini didasarkan pada peraturan-peraturan berikut ini. 1. Peraturan Pemerintah Nomor 44 tahun 1971 tentang Asuransi Sosial ABRI 2. Keputusan Presiden Nomor 56 tahun 1974 juncto Nomor 8 tahun 1977 tentang Iuran

14 3. Wajib Peserta Program Asabri. 4. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun tentang Perum Asabri. 1. Peserta dan Kewajiban Peserta Peserta program Asabri adalah semua anggota ABRI (TNI dan Polri) dan PNS pada Departemen Hankam termasuk calon PNS. Peserta program Asabri berkewajiban membawayar iuran wajib setiap bulan sebesar 3.2% dari penghasilan peserta sebulan. Iuran dipungut setiap bulan dan dipusatkan oleh Departemen Hankam kemudian disalurkan kepada Perum Asabri. 2. Hak Peserta Program Asabri Peserta program Asabri berhak memperoleh santunan asuransi sewaktu-waktu terjadi klaim yang memenuhi ketentuan yang berlaku, berupa santunan asuransi, nilai tunai tunai asuransi, asuransi risiko kematian dan biaya penguburan (uang duka wafat) 3. Santunan Program Asabri Setiap peserta program Asabri yang telah memenuhi persayaratan yang telah ditentukan berhak memperoleh santunan. Adapun ketentuan santunan program Asabri seperti diuraikan berikut ini. 1. Santunan Asuransi diberikan kepada setiap peserta program Asabri yang diberhentikan sebagai anggota ABRI (TNI dan Polri) serta PNS dengan hak pensiun atau hak tunjangan bersifat pensiun terhitung mulai tanggal 1 Agustus 1971 dan seterusnya. 2. Asuransi risiko kematian dan nilai tunai asuransi diberikan kepada setiap peserta program Asabri yang diberhentikan sebagai anggota ABRI (TNI dan Polri) serta PNS tanpa hak pensiun atau hak tunjangan bersifat peinsiund an bukan karena meninggal atau gugur dalam masa dinas aktif terhitung mulai 1 Agustus Nilai tunai asuransi diberikan kepada setiap peserta program Asabri yang diberhentikan sebagai anggota ABRI (TNI dan Polri) serta PNS tanpa hak pensiun atau hak tunjangan bersifat pensiun dan bukan karena maninggal atau gugur dalam masa dinas aktif terhitung mulai tanggal 1 Agustus 1971 dan sesudahnya. 4. Biaya penguburan diberikan kepada ahli waris setiap peserta program Asabri yang meninggal dunia setelah diberhentikan sebagai anggota ABRI (TNI dan Polri) serta PNS

15 dengan hak pensiun atau hak tunjangan bersifat pensiun terhitung mulai tanggal 1 Agustus dan sesudahnya. 4. Besarnya Santunan Sosial Berdasarkan ketentuan tentang santunan program Asabri, besarnya santunan sosial yang diterima peserta program Asabri seperti diuraikan berikut ini. 1. Jumlah santunan (benefit) asuransi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan Nomor SKEP/551/M/X/1983 sebesar 5 (lima) kali penghasilan terakhir bagi peserta yang berhenti dengan hak pensiun/tunjangan bersifat pensiun pada atau sesudah tanggal 1 November Nilai tunai asuransi dihitung dengan rumsu yang ditetapkan dengan surat Keputusan Menhankam/Pangab Nomor KEP/18/VII/1981 dan Nomor KEP/20/IX/1981, sedang perkaliannya disesuaikan dengan SKEP Menhankam tersebut di atas, yaitu sebagai berikut. ax : n ax : m * 5 Penghasilan terakhir a = Singkatan dari anuitet, dimana suatu deretan pembayaran yang sifatnya periodic, dibayarkan dalam jangka waktu tertentu. x = Umur pada saat menjadi peserta n = Masa iuran m = Jangka waktu dari x sampai umur pensiun minimum, sesuai dengan pengangkatan atau golongan pada saat menjadi peserta. 3. Jumlah Santunan (benefit) asuransi resiko kematian ditetapkan berdasarkan Keputusan Menhankam/Pangab Nomor KEP/19/VIII/1977 sesuai pangkat atau golongan dari peserta yang meninggal dunia dengan ketentuan sebagai berikut PATI/PAMEN/Gol IV sebesar 6 kali penghasilan terakhir PAMA/Gol III sebesar 6 ½ kali penghasilan terkhir 3.3. BINTARA/Gol II sebesar 7 kali penghasilan terakhir 3.4. TAMTAMA/Gol I sebesar 7 ½ kali penghasilan terakhir. Biaya penguburan ditetapkan berdasarkan Keputusan Menhankam/Pangab Nomor KEP/04/ii/1982 sebagai berikut:

16 a. Bagi peserta yang dihentikan dengan hak pensiun atau tunjangan bersifat pensiun pada tanggal 31 Juli 1971 atau sesudahnya, tetapi sebelum tanggal 1 Januari 1975, mendapatkan jaminan biaya penguburan sebesar Rp ,00 b. Bagi peserta yang diberhentikan dengan hak pensiun atau tunjangan bersifat pensiun pada tanggal 31 Januari 1975 atau sesudahnya, tetapi sebelum tanggal 1 April 1977 mendapatkan jaminan biaya penguburan sebesar Rp ,00 c. Bagi peserta yang diberhentikan dengan hak pensiun atau tunjangan bersifat pensiun pada atau sesudah tanggal 30 April 1977 mendapatkan jaminan biaya penguburan sebesar Rp ,00

17

18

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 478/KMK. 06/2002 TENTANG PERSYARATAN DAN BESAR MANFAAT TABUNGAN HARI TUA BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 478/KMK. 06/2002 TENTANG PERSYARATAN DAN BESAR MANFAAT TABUNGAN HARI TUA BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 478/KMK. 06/2002 TENTANG PERSYARATAN DAN BESAR MANFAAT TABUNGAN HARI TUA BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL MENTERI KEUANGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul Seiring dengan berkembangnya kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat, kini industri asuransi mulai dilirik oleh masyarakat. Kesadaran masyarakat

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 478/KMK.06/2002 TENTANG PERSYARATAN DAN BESAR MANFAAT TABUNGAN HARI TUA BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 478/KMK.06/2002 TENTANG PERSYARATAN DAN BESAR MANFAAT TABUNGAN HARI TUA BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 478/KMK.06/2002 TENTANG PERSYARATAN DAN BESAR MANFAAT TABUNGAN HARI TUA BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 67 TAHUN 1991 TENTANG ASURANSI SOSIAL ANGKATAN BERSENJATA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 67 TAHUN 1991 TENTANG ASURANSI SOSIAL ANGKATAN BERSENJATA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 67 TAHUN 1991 TENTANG ASURANSI SOSIAL ANGKATAN BERSENJATA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa Prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan Pegawai Negeri Sipil di lingkungan

Lebih terperinci

PENYELENGGARAAN JKK DAN JKM APARATUR SIPIL NEGARA

PENYELENGGARAAN JKK DAN JKM APARATUR SIPIL NEGARA PENYELENGGARAAN JKK DAN JKM APARATUR SIPIL NEGARA Jakarta, 25 Februari 2016 INOVASI LAYANAN PERUSAHAAN Mobil Layanan Layanan 1 Jam Pembayaran Taperum Klim Otomatis 2017 Untuk Seluruh Peserta INOVASI LAYANAN

Lebih terperinci

TABUNGAN HARI TUA (THT)

TABUNGAN HARI TUA (THT) TABUNGAN HARI TUA (THT) 1. Pengertian : Tabungan Hari Tua adalah Program Asuransi Dwiguna yang dikaitkan dengan usia pensiun ditambah dengan Asuransi Kematian. 2. Peserta : Peserta Program THT yaitu Pegawai

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 102 TAHUN 2015 TENTANG ASURANSI SOSIAL PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA, ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA, DAN PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA

Lebih terperinci

BAB II PT TASPEN (PERSERO) KANTOR CABANG UTAMA MEDAN

BAB II PT TASPEN (PERSERO) KANTOR CABANG UTAMA MEDAN 7 BAB II PT TASPEN (PERSERO) KANTOR CABANG UTAMA MEDAN A. Sejarah Singkat PT Taspen adalah suatu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dibidang asuransi yang meliputi, Tabungan Hari Tua (THT) dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA digilib.uns.ac.id 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Sistem Perusahaan biasanya memiliki sistem masing-masing, dikarenakan sistem merupakan suatu tujuan bersama dalam menjalankan perusahaan agar mampu

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul Setiap orang mendambakan kehidupan yang layak, hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, baik memulai wirausaha atau menjadi pegawai sebuah perusahaan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul Perkembangan dunia perekonomian saat ini sangat mempengaruhi pola pikir individu untuk bekerja lebih giat guna mendapatkan penghasilan yang sebesar-besarnya.

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu Penelitian Penelitian dilakukan selama kurang lebih tujuh bulan, yaitu mulai bulan November 2009 sampai dengan Mei 2010. 2. Tempat

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERTAHANAN. Iuran Dana Pensiun. Pengembalian. Nilai Tunai.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERTAHANAN. Iuran Dana Pensiun. Pengembalian. Nilai Tunai. No.387, 2011 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERTAHANAN. Iuran Dana Pensiun. Pengembalian. Nilai Tunai. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBALIAN

Lebih terperinci

PROSEDUR PENGAJUAN KLAIM DAN PERHITUNGAN MANFAAT TABUNGAN HARI TUA SERTA DANA PENSIUN SEBAGAI HAK PESERTA PT TASPEN (PERSERO) CABANG LAMPUNG

PROSEDUR PENGAJUAN KLAIM DAN PERHITUNGAN MANFAAT TABUNGAN HARI TUA SERTA DANA PENSIUN SEBAGAI HAK PESERTA PT TASPEN (PERSERO) CABANG LAMPUNG PROSEDUR PENGAJUAN KLAIM DAN PERHITUNGAN MANFAAT TABUNGAN HARI TUA SERTA DANA PENSIUN SEBAGAI HAK PESERTA PT TASPEN (PERSERO) CABANG LAMPUNG Oleh Elsiana Yunita ABSTRAK Tujuan dari penulisan tugas akhir

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG PT. TASPEN (PERSERO) CABANG SERANG

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG PT. TASPEN (PERSERO) CABANG SERANG BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG PT. TASPEN (PERSERO) CABANG SERANG A. Sejarah berdirinya PT. TASPEN (Persero) PT. TASPEN (Persero) adalah suatu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditugaskan pemerintah untuk

Lebih terperinci

SELAMAT DATANG PESERTA RAPAT KOORDINASI

SELAMAT DATANG PESERTA RAPAT KOORDINASI SELAMAT DATANG PESERTA RAPAT KOORDINASI BKN,BKD dan INSTANSI VERTIKAL Propinsi/Kabupaten/Kota se-jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. 1 Surakarta, 08 Nopember 2011 SOSIALISASI KETASPENAN PROSEDUR

Lebih terperinci

ILUSTRASI DAN PERHITUNGAN BESAR MANFAAT ASURANSI ASABRI

ILUSTRASI DAN PERHITUNGAN BESAR MANFAAT ASURANSI ASABRI 11 2013, No.488 LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2013 TENTANG BESAR MANFAAT ASURANSI ASABRI 1. Umum. ILUSTRASI DAN PERHITUNGAN BESAR MANFAAT ASURANSI ASABRI a.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN BAGI PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN BAGI PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN BAGI PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.116, 2016 KEUANGAN. Hari Raya. Tunjangan. Tahun Anggaran 2016. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5889). PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 92/PMK.05/2013 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 92/PMK.05/2013 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 92/PMK.05/2013 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN PEMBERIAN GAJI/PENSIUN/TUNJANGAN BULAN KETIGA BELAS DALAM

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.488, 2013 KEMENTERIAN PERTAHANAN. Asuransi. ASABRI. Manfaat. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2013 TENTANG BESAR MANFAAT ASURANSI ASABRI

Lebih terperinci

Prosedur Pembayaran Klaim Tabungan Hari Tua (THT) Pada PT. Taspen (Persero) Cabang Bogor

Prosedur Pembayaran Klaim Tabungan Hari Tua (THT) Pada PT. Taspen (Persero) Cabang Bogor Prosedur Pembayaran Klaim Tabungan Hari Tua (THT) Pada PT. Taspen (Persero) Cabang Bogor Nama : Paranita Octavani Freddy NPM : 46213827 Pembimbing : Dr. Budi Santoso, SE, MM BAB I PENDHULUAN Latar Belakang

Lebih terperinci

BAB II PROFIL PERUSAHAAN. menjadi PT. TASPEN (Persero) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang

BAB II PROFIL PERUSAHAAN. menjadi PT. TASPEN (Persero) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang BAB II PROFIL PERUSAHAAN A. Sejarah Singkat PT. Taspen (PERSERO) PT. Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri yang sering disingkat menjadi PT. TASPEN (Persero) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 144/PMK.05/2014 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 144/PMK.05/2014 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 144/PMK.05/2014 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN PEMBERIAN GAJI/PENSIUN/TUNJANGAN BULAN KETIGA BELAS DALAM

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. adalah dengan adanya jaminan sosial bagi pekerja atau pegawai tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. adalah dengan adanya jaminan sosial bagi pekerja atau pegawai tersebut. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pada dasarnya, kesejahteraan pekerja atau pegawai terdiri dari dua hal, yaitu kesejahteraan ketika aktif bertugas dan kesejahteraan purna tugas. Salah satu

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN NOMOR PER- 28 /PB/2006 TENTANG PEMBERIAN GAJI/PENSIUN/TUNJANGAN BULAN KETIGA BELAS DALAM

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Selaras dengan perkembangan dan kemajuan perekonomian suatu negara, setiap

I. PENDAHULUAN. Selaras dengan perkembangan dan kemajuan perekonomian suatu negara, setiap 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Selaras dengan perkembangan dan kemajuan perekonomian suatu negara, setiap penduduk diberikan kesempatan untuk terlibat dengan proses pembangunan ekonomi Negara/ daerah

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.212, 2015 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA ADMINISTRASI KEPEMERINTAHAN. Jaminan Kematian. Jaminan Kecelakaan. Aparatur Sipil Negara. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Lebih terperinci

Perhitungan Hak dan Manfaat Yang Diterima Ahli Waris Peserta Meninggal Aktif Pada PT Taspen (Persero) KC Bandar Lampung

Perhitungan Hak dan Manfaat Yang Diterima Ahli Waris Peserta Meninggal Aktif Pada PT Taspen (Persero) KC Bandar Lampung Perhitungan Hak dan Manfaat Yang Diterima Ahli Waris Peserta Meninggal Aktif Pada PT Taspen (Persero) KC Bandar Lampung (Calculation of Rights and Benefits Received Experts of Participants on Active in

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Gambaran Umum Perusahaan 1. Sejarah dan Perkembangan Perusahaan PT ASABRI (Persero) yang berlokasi di Jl. Mayjen Sutoyo No. 11, Jakarta. PT ASABRI (Persero) adalah Badan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan operasi PT ASABRI (Persero) dilandasi oleh Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 1971, yang menjelaskan bahwa ASABRI adalah suatu jaminan sosial bagi prajurit

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.592, 2012 KEMENTERIAN KEUANGAN. Gaji. Pensiun. Tunjangan Ketiga Belas. Petunjuk Teknis. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 89/PMK.05/2012 TENTANG PETUNJUK

Lebih terperinci

2016, No Mengingat: Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2016 tentang Pemberian Gaji, Pensiun, atau Tunjangan Ketiga Belas kepada Pegawai Negeri

2016, No Mengingat: Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2016 tentang Pemberian Gaji, Pensiun, atau Tunjangan Ketiga Belas kepada Pegawai Negeri No. 899, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. PNS. Prajurit TNI. Anggota POLRI. Pejabat Negara. Penerima Pensiun/Tunjangan. Gaji/Pensiun/Tunjangan ke-13. Pemberian. Juknis. PERATURAN MENTERI

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK IND ONES IA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 102 TAHUN 2015 TENTANG

PRESIDEN REPUBLIK IND ONES IA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 102 TAHUN 2015 TENTANG PRESIDEN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 102 TAHUN 2015 TENTANG ASURANSI SOSIAL PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA, ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA, DAN PEGAWAI APARATUR SIPIL

Lebih terperinci

BAB II PROFIL PERUSAHAAN. Sejarah perjalanan panjang PT Taspen bisa diruntut sejak masa sebelum

BAB II PROFIL PERUSAHAAN. Sejarah perjalanan panjang PT Taspen bisa diruntut sejak masa sebelum BAB II PROFIL PERUSAHAAN A. Sejarah Singkat PT Taspen (Persero) Sejarah perjalanan panjang PT Taspen bisa diruntut sejak masa sebelum kolonialisme Belanda. Pada tahun 1887 pemerintah Belanda menerbitkan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN BAGI PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN BAGI PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN BAGI PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

PROSEDUR PEMBERIAN HAK DAN PERHITUNGAN PREMI ASURANSI TABUNGAN HARI TUA (THT) KEPADA PESERTA PADA PT. TASPEN (PERSERO) KCU JAKARTA Nama : Utari

PROSEDUR PEMBERIAN HAK DAN PERHITUNGAN PREMI ASURANSI TABUNGAN HARI TUA (THT) KEPADA PESERTA PADA PT. TASPEN (PERSERO) KCU JAKARTA Nama : Utari PROSEDUR PEMBERIAN HAK DAN PERHITUNGAN PREMI ASURANSI TABUNGAN HARI TUA (THT) KEPADA PESERTA PADA PT. TASPEN (PERSERO) KCU JAKARTA Nama : Utari Kusuma Putri NPM : 48211065 Kelas : 3DA02 Pembimbing : Dr.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Ketentuan Program Tabungan Hari Tua PNS PT Taspen (Persero) Undang-undang nomor 43 tahun 1999 tentang Perubahan atas Undangundang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada hakekatnya tugas pokok dari sebuah organisasi publik adalah

BAB I PENDAHULUAN. Pada hakekatnya tugas pokok dari sebuah organisasi publik adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada hakekatnya tugas pokok dari sebuah organisasi publik adalah melayani dan memberikan pelayanan terhadap masyarakat, sehingga aparat pemerintah memiliki tanggung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjadi karyawan suatu perusahaan. Sedangkan siklus kehidupan manusia di

BAB I PENDAHULUAN. menjadi karyawan suatu perusahaan. Sedangkan siklus kehidupan manusia di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam rangka mencukupi kebutuhan hidup seseorang haruslah bekerja, baik bekerja secara mandiri atau berwirausaha maupun bekerja menjadi karyawan suatu perusahaan. Sedangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul Seiring dengan berkembangnya ilmu dan teknologi yang pesat pada abad ke-20 berdampak positif pada pembangunan di bidang ekonomi yang ditandai oleh munculnya

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.152, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN> Gaji. Pensiun. Tunjangan. Bulan Ketiga Belas. TA 2014. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5552) PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1981 TENTANG ASURANSI SOSIAL PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1981 TENTANG ASURANSI SOSIAL PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1981 TENTANG ASURANSI SOSIAL PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pegawai Negeri Sipil sebagai alat Negara dan abdi

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.212, 2015 ADMINISTRASI KEPEMERINTAHAN. Jaminan Kematian. Jaminan Kecelakaan. Aparatur Sipil Negara. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 150, 2004 (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456).

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 150, 2004 (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456). LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 150, 2004 (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456). UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2004 TENTANG SISTEM JAMINAN SOSIAL

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2017 TENTANG PEMBERIAN TUNJANGAN HARI RAYA DALAM TAHUN ANGGARAN 2017 KEPADA PEGAWAI NEGERI SIPIL, PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA, ANGGOTA KEPOLISIAN

Lebih terperinci

PROGRAM PENSIUN. 2.2 TNI / POLRI dan PNS dari Kementerian Pertahanan yang diberhentikan sebelum 1 April 1989

PROGRAM PENSIUN. 2.2 TNI / POLRI dan PNS dari Kementerian Pertahanan yang diberhentikan sebelum 1 April 1989 PROGRAM PENSIUN 1. Pengertian : Pensiun adalah jaminan hari tua dan sebagai penghargaan atas jasa-jasa pegawai negeri selama bertahun-tahun bekerja dalam dinas pemerintahan. 2. Peserta : 2.1 Peserta Program

Lebih terperinci

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. yang digunakan oleh aktuaris dari masing-masing perusahaan berbeda-beda.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. yang digunakan oleh aktuaris dari masing-masing perusahaan berbeda-beda. BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN Pembebanan aktuaria merupakan kewajiban bagi aktuaris untuk menghitung dana pensiun bagi peserta program pensiun. Aktuaris perlu menghitung iuran pensiun, kewajiban aktuaria,

Lebih terperinci

tentang - Dr.Sihabudin,SH.,MH - Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan

tentang - Dr.Sihabudin,SH.,MH - Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan tentang - Dr.Sihabudin,SH.,MH - Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan 1 Manajemen Pegawai Negeri Sipil (PNS)? DEFINISI UMUM Pengelolaan PNS untuk menghasilkan Pegawai yang Profesional, memiliki nilai dasar,

Lebih terperinci

KEMENTERIAN PERTAHA REPUBLIK INDONESI/ PERATURAN MENTERI PEP AHANAN NOMOR 13 TAHUN 2( 1 TENTANG

KEMENTERIAN PERTAHA REPUBLIK INDONESI/ PERATURAN MENTERI PEP AHANAN NOMOR 13 TAHUN 2( 1 TENTANG KEMENTERIAN PERTAHA REPUBLIK INDONESI/ PERATURAN MENTERI PEP AHANAN NOMOR 13 TAHUN 2( 1 TENTANG PENGEMBALIAN NILAI TUNAI IURAN DANA LT:NSIUN BAGI PRAJURI- TNI, ANGGOTA POLRI DAN PNS KEM AN/POLRI YANG DIBERHENTIKAN

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN. Pengertian Prosedur menurut Mulyadi (2008:5) Pengertian Prosedur menurut M. Nafarin (2009:9)

BAB II BAHAN RUJUKAN. Pengertian Prosedur menurut Mulyadi (2008:5) Pengertian Prosedur menurut M. Nafarin (2009:9) BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 PENGERTIAN PROSEDUR Pengertian Prosedur menurut Mulyadi (2008:5) Prosedur adalah suatu urut-urutan kegiatan klerikal yang biasanya melibatkan beberapa orang dalam satu departemen

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. yang bertujuan untuk mendapatkan dana pensiun. Menurut Undang-undang

BAB II KAJIAN PUSTAKA. yang bertujuan untuk mendapatkan dana pensiun. Menurut Undang-undang BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tabungan dan Asuransi Pensiun Tabungan dan asuransi pensiun merupakan tabungan jangka panjang yang bertujuan untuk mendapatkan dana pensiun. Menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun

Lebih terperinci

2017, No Nomor 96/PMK.05/2016 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pemberian Gaji, Pensiun, atau Tunjangan Ketiga Belas kepada Pegawai Negeri Si

2017, No Nomor 96/PMK.05/2016 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pemberian Gaji, Pensiun, atau Tunjangan Ketiga Belas kepada Pegawai Negeri Si No.840, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Gaji, Pensiun atau Tunjangan Ke-13. PNS, Prajurit TNI, Anggota POLRI, Pejabat Negara, dan Penerima Pensiun atau Tunjangan. Perubahan. PERATURAN MENTERI

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2016 TENTANG PEMBERIAN GAJI, PENSIUN, ATAU TUNJANGAN KETIGA BELAS KEPADA PEGAWAI NEGERI SIPIL, PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA, ANGGOTA KEPOLISIAN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DIREKSI PT. BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) TBK NOMOR : KP/085/DIR/R

KEPUTUSAN DIREKSI PT. BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) TBK NOMOR : KP/085/DIR/R KEPUTUSAN DIREKSI PT. BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) TBK NOMOR : KP/085/DIR/R PERATURAN DANA PENSIUN DARI DANA PENSIUN LEMBAGA KEUANGAN PT. BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) TBK DIREKSI PT. BANK NEGARA

Lebih terperinci

JAMINAN SOSIAL KETENAGAKERJAAN UNTUK PEKERJA BUMN, SWASTA, MANDIRI, APARATUR SIPIL NEGARA, DAN TNI/POLRI

JAMINAN SOSIAL KETENAGAKERJAAN UNTUK PEKERJA BUMN, SWASTA, MANDIRI, APARATUR SIPIL NEGARA, DAN TNI/POLRI JAMINAN SOSIAL KETENAGAKERJAAN UNTUK PEKERJA BUMN, SWASTA, MANDIRI, APARATUR SIPIL NEGARA, DAN TNI/POLRI http://www.bpjsketenagakerjaan.go.id & http://www.taspen.co.id I. PENDAHULUAN Penyelenggaraan program

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 262/PMK.03/2010 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 262/PMK.03/2010 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 262/PMK.03/2010 TENTANG TATA CARA PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 BAGI PEJABAT NEGARA, PNS, ANGGOTA TNI, ANGGOTA POLRI,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 1977 TENTANG ASURANSI SOSIAL TENAGA KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 1977 TENTANG ASURANSI SOSIAL TENAGA KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 1977 TENTANG ASURANSI SOSIAL TENAGA KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa tenaga kerja mempunyai arti dan peranan yang penting dalam

Lebih terperinci

I. PETUNJUK UMUM PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 UNTUK PENGHASILAN TETAP DAN TERATUR SETIAP BULAN

I. PETUNJUK UMUM PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 UNTUK PENGHASILAN TETAP DAN TERATUR SETIAP BULAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR : 262/PMK.03/2010 TENTANG : TATA CARA PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 BAGI PEJABAT NEGARA, PNS, ANGGOTA TNI, ANGGOTA POLRI DAN PENSIUNANNYA ATAS PENGHASILAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2015 TENTANG PEMBERIAN GAJI/PENSIUN/TUNJANGAN BULAN KETIGA BELAS DALAM TAHUN ANGGARAN 2015 KEPADA PEGAWAI NEGERI SIPIL, ANGGOTA TENTARA NASIONAL

Lebih terperinci

Prosedur Dan Perhitungan Dana Pensiun Pada PT. ASABRI (Persero).

Prosedur Dan Perhitungan Dana Pensiun Pada PT. ASABRI (Persero). Prosedur Dan Perhitungan Dana Pensiun Pada PT. ASABRI (Persero). Nama NPM : 48211267 Pembimbing Jurusan : Syifa Ragustia Prabowo : Dr. Syntha Noviyana, SE, MMSI : D3 Akuntansi Komputer LATAR BELAKANG Perusahaan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1981 TENTANG ASURANSI SOSIAL PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1981 TENTANG ASURANSI SOSIAL PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1981 TENTANG ASURANSI SOSIAL PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Pegawai Negeri Sipil sebagai alat Negara dan abdi

Lebih terperinci

PENYELENGGARAAN PROGRAM JKK DAN JKM BAGI PEGAWAI ASN PUSAT

PENYELENGGARAAN PROGRAM JKK DAN JKM BAGI PEGAWAI ASN PUSAT Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Republik Indonesia PENYELENGGARAAN PROGRAM JKK DAN JKM BAGI PEGAWAI ASN PUSAT Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan: Hak, Tunjangan dan Perlindungan

Lebih terperinci

Peraturan pelaksanaan Pasal 21 ayat (5) Penghasilan yang Dibebankan Kepada Keuangan Negara atau Keuangan Daerah Peraturan Pemerintah

Peraturan pelaksanaan Pasal 21 ayat (5) Penghasilan yang Dibebankan Kepada Keuangan Negara atau Keuangan Daerah Peraturan Pemerintah Peraturan pelaksanaan Pasal 21 ayat (5) Penghasilan yang Dibebankan Kepada Keuangan Negara atau Keuangan Daerah Peraturan Pemerintah Nomor, tanggal 80 Tahun 2010 20 Desember 2010 Mulai berlaku : 1 Januari

Lebih terperinci

MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR

MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 96/PMK.05/2016 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN PEMBERIAN GAJI, PENSIUN, ATAU TUNJANGAN KETIGA BELAS KEPADA

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 37 TAHUN 1991 TENTANG PENGANGKATAN DOKTER SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP SELAMA MASA BAKTI

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 37 TAHUN 1991 TENTANG PENGANGKATAN DOKTER SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP SELAMA MASA BAKTI KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 37 TAHUN 1991 TENTANG PENGANGKATAN DOKTER SEBAGAI PEGAWAI TIDAK TETAP SELAMA MASA BAKTI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa dalam upaya mewujudkan

Lebih terperinci

PROSEDUR PENCATATAN PREMI THT (TABUNGAN HARI TUA) PNS PADA PT. TASPEN(PERSERO) KCU (KANTOR CABANG UTAMA) JAKARTA

PROSEDUR PENCATATAN PREMI THT (TABUNGAN HARI TUA) PNS PADA PT. TASPEN(PERSERO) KCU (KANTOR CABANG UTAMA) JAKARTA PROSEDUR PENCATATAN PREMI THT (TABUNGAN HARI TUA) PNS PADA PT. TASPEN(PERSERO) KCU (KANTOR CABANG UTAMA) JAKARTA Nama NPM : 46211491 Kelas : Rufidayanti Istiqomah : 3DA02 Pembimbing : Dr. Emmy Indrayani

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2004 TENTANG SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2004 TENTANG SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2004 TENTANG SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap orang berhak atas

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN GAJI/PENSIUN/TUNJANGAN BULAN KETIGA BELAS DALAM TAHUN ANGGARAN 2014 KEPADA PEGAWAI NEGERI SIPIL, ANGGOTA TENTARA NASIONAL INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2004 TENTANG SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2004 TENTANG SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2004 TENTANG SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap orang berhak atas

Lebih terperinci

BAB III DESKRIPSI LEMBAGA / INSTANSI

BAB III DESKRIPSI LEMBAGA / INSTANSI BAB III DESKRIPSI LEMBAGA / INSTANSI A. Sejarah Berdirinya PT. TASPEN (PERSERO) Sejarah perjalanan panjang PT Taspen bisa dirunut sejak masa sebelum kolonialisme Belanda. Kala itu, di nusantara ini telah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya seseorang dilahirkan dan tumbuh menjadi tua. Dalam masa tua tersebut seseorang tidak mampu lagi untuk bekerja secara produktif seperti sedia

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. layanan publik yang prima bagi masyarakatnya sesuai yang telah diamanatkan

BAB 1 PENDAHULUAN. layanan publik yang prima bagi masyarakatnya sesuai yang telah diamanatkan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintah memiliki peranan yang sangat penting untuk menyediakan layanan publik yang prima bagi masyarakatnya sesuai yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang. Dalam

Lebih terperinci

PENSION & EXIT SYSTEM. Prodi Administrasi Bisnis

PENSION & EXIT SYSTEM. Prodi Administrasi Bisnis PENSION & EXIT SYSTEM Prodi Administrasi Bisnis Pemberhentian Pemberhentian Undang Undang Keinginan Perusahaan Keinginan Karyawan Kontrak kerja berakhir Kesehatan karyawan Meninggal dunia Perusahaan dilikuidasi/bangkrut

Lebih terperinci

2015, No Mengingat : 1. Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2015 tentang Asuransi Sosial Prajurit Tentara Nasional Indonesia, Anggota Kepoli

2015, No Mengingat : 1. Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2015 tentang Asuransi Sosial Prajurit Tentara Nasional Indonesia, Anggota Kepoli No. 2006, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Dana Iuran. Jaminan. Kecelakaan Kerja. Kematian. TNI. POLRI. ASN. Lingkungan KEMHAN dan POLRI. Penyediaan. Pencairan. Pertanggungjawaban PERATURAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1981 TENTANG ASURANSI SOSIAL PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1981 TENTANG ASURANSI SOSIAL PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 25 TAHUN 1981 TENTANG ASURANSI SOSIAL PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa Pegawai Negeri Sipil sebagai alat Negara dan abdi masyarakat mempunyai potensi yang

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Penghitungan Pajak Penghasilan ( PPh ) pasal 21 PT. Lucky Indah

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Penghitungan Pajak Penghasilan ( PPh ) pasal 21 PT. Lucky Indah BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Penghitungan Pajak Penghasilan ( PPh ) pasal 21 PT. Lucky Indah Keramik Kegiatan kewajiban pemotongan atau pemungutan Pajak Penghasilan pasal 21 karyawan, dilaksanakan

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 222/PMK.05/2014 TENTANG DANA PERHITUNGAN FIHAK KETIGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 222/PMK.05/2014 TENTANG DANA PERHITUNGAN FIHAK KETIGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 222/PMK.05/2014 TENTANG DANA PERHITUNGAN FIHAK KETIGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1898, 2014 KEMENKEU. Dana Perhitungan. Penyelenggaraan. Pihak Ketiga. Pencabutan PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 222/PMK.05/2014 TENTANG DANA PERHITUNGAN

Lebih terperinci

BAB II PT. TASPEN (PERSERO) CABANG UTAMA MEDAN. menyelenggarakan Program Asuransi Sosial Pegawai Negeri Sipil yang terdiri

BAB II PT. TASPEN (PERSERO) CABANG UTAMA MEDAN. menyelenggarakan Program Asuransi Sosial Pegawai Negeri Sipil yang terdiri BAB II PT. TASPEN (PERSERO) CABANG UTAMA MEDAN A. Sejarah Singkat PT Taspen atau Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri adalah badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diberi tugas oleh pemerintah untuk menyelenggarakan

Lebih terperinci

BAGIAN PERTAMA: PETUNJUK UMUM PENGHITUNGAN PPh PASAL 21. I. PETUNJUK UMUM PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 UNTUK PENGHASILAN TETAP DAN TERATUR SETIAP BULAN

BAGIAN PERTAMA: PETUNJUK UMUM PENGHITUNGAN PPh PASAL 21. I. PETUNJUK UMUM PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 UNTUK PENGHASILAN TETAP DAN TERATUR SETIAP BULAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 262/PMK.03/2010 TENTANG TATA CARA PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 BAGI PEJABAT NEGARA, PNS, ANGGOTA TNI, ANGGOTA POLRI DAN PENSIUNANNYA ATAS PENGHASILAN

Lebih terperinci

PERBANDINGAN MATERI POKOK UU NO. 8 TAHUN 1974 JO UU NO. 43 TAHUN 1999 TENTANG POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN DAN RUU TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA (RUU ASN)

PERBANDINGAN MATERI POKOK UU NO. 8 TAHUN 1974 JO UU NO. 43 TAHUN 1999 TENTANG POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN DAN RUU TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA (RUU ASN) PERBANDINGAN MATERI POKOK UU NO. 8 TAHUN 1974 JO UU NO. 43 TAHUN 1999 TENTANG POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN DAN RUU TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA (RUU ASN) NO. 1. Judul Undang-undang tentang Pokok- Pokok kepegawaian

Lebih terperinci