KEMENTERIAN KESEHATAN RI Ind p
|
|
|
- Sugiarto Tan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 KEMENTERIAN KESEHATAN RI Ind p
2 Ind p Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Petunjuk pelaksanaan pemeriksaan tuberkulosis menggunakan alat GeneXpert. Jakarta Kementerian Kesehatan RI ISBN Judul I. TUBERCULOSIS II. CLINICAL LABORATORY TECHNIQUES-STANDART
3 PETUNJUK PELAKSANAAN PEMERIKSAAN TUBERKULOSIS MENGGUNAKAN ALAT GENEXPERT KEMENTERIAN KESEHATAN RI 2015
4 DISCLAIMER Buku ini didanai oleh United States Agency for International Development (USAID) di bawah USAID Challenge TB, Cooperative Agreement No. AID-OAA-A Buku ini menjadi mungkin berkat dukungan yang baik dari rakyat Amerika melalui United States Agency for International Development (USAID). Isi menjadi tanggung jawab Challenge TB dan tidak mencerminkan visi USAID atau Pemerintah Amerika Serikat.
5 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t iii KATA PENGANTAR Indonesia termasuk lima besar negara dengan jumlah penderita tuberkulosis (TB) terbanyak di dunia. Selain dari kasus baru dan pengobatan ulang, peningkatan kasus HIV/AIDS secara langsung berdampak pada peningkatan kasus TB- MDR tersebut. Prevalensi TB yang terus meningkat menjadi salah satu dasar diterapkan metode deteksi cepat TB menggunakan pemeriksaan berbasis biomolekuler, Xpert MTB/RIF. Pelaksanaan pemeriksaan Xpert MTB/RIF dengan alat GeneXpert pada tahap awal ditujukan pada penemuan kasus TB resisten obat dan TB-HIV. Untuk tahap selanjutnya, pemeriksaan ini dapat dimanfaatkan pada pemeriksaan TB pada anak dan TB ekstra paru. Hasil pemeriksaan Xpert MTB/RIF harus mengikuti prosedur operasional yang benar agar mutu hasil pemeriksaan selalu terjamin. Dalam upaya memenuhi tuntutan masyarakat terhadap standar mutu pelayanan laboratorium GeneXpert, maka disusun Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Tuberkulosis Menggunakan Alat GeneXpert sebagai acuan bagi rumah sakit dan laboratorium. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkerja sama, khususnya Kelompok Kerja Laboratorium TB dalam menyusun Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Tuberkulosis Menggunakan Alat GeneXpert ini. Harapan kami semoga buku petunjuk ini bermanfaat. Masukan dan saran yang bersifat membangun untuk penyempurnaan pedoman ini sangat kami harapkan.
6 iv P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t Pengarah Penanggung jawab Editor TIM PENYUSUN : Ir. Sodikin Sadek, M.Kes : dr. Dyah Armi Riana, MARS dr. Christina Widaningrum, MKes. : Agus Susanto, MKM Andriansjah Rukmana, MBiomed, PhD dr. Retno Kusuma Dewi dr. Triya Novita Dinihari dr. Wiwi Ambarwati Kontributor : LRN Molekuler TB-Mikrobiologi FKUI Andriansjah Rukmana, MBiomed, PhD dr. Anis Karuniawati, PhD, SpMK(K) dr. Ardiana Kusumaningrum, SpMK Dra. Ariyani Kiranasari, MBiomed August Jenifer, BSc. dr. Dimas Seto Prasetyo, SpMK dr. Fera Ibrahim, MSc., PhD, SpMK(K) Stephany Angelia Tumewu, S.Si. Laboratorium Patologi Klinik RSUP Dr. Hasan Sadikin dr. Basti Andriyoko, SpPK Subdit Bina Pelayanan Mikrobiologi dan Imunologi dr. Eva Dian Kurniawati Siti Mandarini, S.Si. Subdit Tuberkulosis dr. Irfan Ediyanto dr. Endang Lukitosari dr. Retno Kusuma Dewi KNCV Tuberculosis Foundation Lydia Mursida, S.Si. Novia Rachmayanti, S.Si., MBiomed Pujiyati Herlina, S.Si. Roni Chandra, S.Si., MBiomed Desain sampul : Trishanty Rondonuwu
7 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t v DAFTAR ISI Kata Pengantar Tim Penyusun Daftar Isi Daftar Singkatan iii iv v vi I. Strategi Nasional Untuk Penggunaan GeneXpert 1 II. Pemanfaatan GeneXpert 2 III. Manajemen Cartridge 3 IV. Algoritma Pemeriksaan Xpert MTB/RIF 7 V. Kebutuhan Infrastruktur Laboratorium GeneXpert 10 VI. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) 11 VII. Instalasi dan Pelatihan Alat GeneXpert 13 VIII. Perawatan dan Pemecahan Masalah 14 IX. Pemantapan Mutu 15 X. Pembelian Mesin GeneXpert 17
8 vi P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t DAFTAR SINGKATAN APAR ASP BAST BSC BTA EQA FEFO HBDC HIV IDA IF IFK IFP IRIS INH LCS LPA LRN MOTT MTPTRO NAAT OAT ODHA P2TB PCR PDP PME PMI PPI PPJK SAS SBBK SPC TB WHO Alat Pemadam Api Ringan Authorized Service Provider Berita Acara Serah Terima Biosafety cabinet Basil Tahan Asam External Quality Assurance First Expired First Out High Burden Developing Country Human Immunodeficiency Virus International Dispensary Association Instalasi Farmasi Instalasi Farmasi Kabupaten Instalasi Farmasi Provinsi Immune Reconstitution Inflammatory Syndrome Isoniazid Liquid cerebrospinal Line Probe Assay Laboratorium Rujukan Nasional Mycobacterium Other Than Tuberculosis Manajemen Terpadu Pengobatan Tuberkulosis Resisten Obat Nucleic Acid Amplification Technology Obat Anti Tuberkulosis Orang Dengan HIV AIDS Program Pengendalian Tuberkulosis Polymerase Chain Reaction Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan Pemantapan Mutu Eksternal Pemantapan Mutu Internal Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Perusahaan Pengurusan Jasa Kepabeanan Special Access Scheme Surat Bukti Barang Keluar Sample Processing Control Tuberkulosis World Health Organization
9 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t 1 I. STRATEGI NASIONAL UNTUK PENGGUNAAN GENEXPERT Salah satu prioritas global dalam pengendalian Tuberkulosis (TB) adalah mampu mendeteksi kasus TB secara dini, termasuk kasus BTA negatif yang sering terkait dengan HIV serta meningkatkan kapasitas laboratorium untuk mendiagnosis TB MDR. Tidak ada satupun pemeriksaan laboratorium yang memenuhi kriteria cepat, murah dan mudah. Pemeriksaan biakan dengan media cair yang relatif lebih cepat dari media padat, tetapi dari sisi harga menjadi lebih mahal. Selain itu terdapat pemeriksaan Hain test/ LPA (Line Probe Assay) yang telah direkomendasikan oleh WHO dan mampu mendeteksi TB dan resistensi terhadap INH dan Rifampisin, tetapi membutuhkan laboratorium yang lebih canggih dan biaya yang mahal, sehingga hanya dapat dilaksanakan di laboratorium yang terbatas. Sejak tahun 2010, WHO merekomendasikan penggunaan Xpert MTB/RIF sebagai pemeriksaaan awal untuk diagnosis TB MDR dan TB pada pasien HIV. Pemeriksaan Xpert MTB/RIF merupakan pemeriksaan molekuler dengan teknologi Nucleic Acid Amplification Technology (NAAT) yang dapat mendiagnosis TB dan resistensi terhadap Rifampisin dalam waktu 2 jam. Pada tahun 2013, terdapat rekomendasi WHO yang menambahkan pemeriksaan GeneXpert dapat dilakukan pada LCS untuk mendiagnosis TB meningitis dan tambahan rekomendasi untuk diagnosis TB pada anak dan dewasa, sebagai pemeriksaan lanjutan pada pasien BTA negatif dan diagnosis TB Ekstra Paru bergantung dari ketersediaan sarana di masing-masing negara. Program Nasional Pengendalian TB menggunakan alat GeneXpert sejak tahun Februari 2012 dengan 17 mesin yang terinstal di 9 provinsi dengan dana dari TB CARE I/KNCV. Pemilihan laboratorium untuk penempatan alat tersebut berdasarkan pada kebutuhan program MTPTRO dan TB HIV melalui penilaian kelaikan laboratorium. Penggunaan GeneXpert di Indonesia dimulai dengan Operational Research bekerjasama dengan Tim TORG di 5 laboratorium GeneXpert. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan notifikasi kasus TB dan TB MDR, peningkatan inisasi terapi pasien TB dan TB MDR, pengurangan keterlambatan pengobatan pasien TB MDR, peningkatan deteksi TB dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopis TB dan hasil pemeriksaan GeneXpert terpercaya sebagai marker untuk TB MDR. Pada tahun 2013 melalui dana bantuan GF ATM dilakukan pengadaan 24 mesin GeneXpert. Pada akhir 2014 alat GeneXpert telah ditempatkan di 41 laboratorium di 28 provinsi. Pada tahun 2013 melalui proyek TB REACH, dalam rangka meningkatkan temuan kasus TB, terdapat tambahan 25 mesin GeneXpert yang diinstal di klinik dan RS di DKI Jakarta. Direncanakan pada tahun 2015 Program Nasional Pengendalian TB akan mengadakan 42 mesin GeneXpert tambahan untuk memperkuat MTPTRO. Kebijakan Program Nasional TB menyatakan bahwa pemeriksaan GeneXpert digunakan untuk diagnosis pasien TB MDR dan TB HIV. Penggunaan secara terbatas juga dilakukan pada kasus TB anak dan diagnosis TB MDR dari pasien baru. Selain itu GeneXpert juga digunakan pada beberapa penelitian seperti SPTB (Survey Prevalensi TB), DRS (Drug Resistence Surveillance) dan beberapa penelitian lain sesuai rekomendasi Program Nasional Pengendalian TB.
10 2 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t II. PEMANFAATAN GENEXPERT Tuberkulosis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia dan di Indonesia. Salah satu penyebab peningkatan beban masalah TB antara lain peningkatan kasus HIV dan adanya kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (MDR). Program Nasional Pengendalian TB telah melakukan beberapa terobosan untuk mengatasi permasalahan TB, salah satunya dalam bidang laboratorium adalah penggunaan alat diagnosis cepat yaitu GeneXpert. Penggunaan GeneXpert dengan pemeriksaan Xpert MTB/RIF untuk TB MDR diatur melalui Permenkes No 13 tahun 2013 tentang Pedoman Manajemen Terpadu Pengendalian Tuberkulosis Resisten Obat. Sebagaimana diatur dalam Pedoman Manajemen Terpadu Pengendalian Tuberkulosis Resisten Obat, Xpert MTB/RIF dapat digunakan untuk pasien dengan salah satu atau lebih dari 9 kriteria yang merupakan pasien dengan dugaan kuat atau risiko tinggi terhadap MDR TB, sebagai berikut: 1. Pasien TB gagal pengobatan Kategori 2 2. Pasien TB pengobatan kategori 2 yang tidak konversi setelah 3 bulan pengobatan 3. Pasien TB yang mempunyai riwayat pengobatan TB yang tidak standar serta menggunakan kuinolon dan obat injeksi lini kedua minimal selama 1 bulan 4. Pasien TB pengobatan kategori 1 yang gagal 5. Pasien TB pengobatan kategori 1 yang tidak konversi 6. Pasien TB kasus kambuh (relaps), kategori 1 dan kategori 2 7. Pasien TB yang kembali setelah loss to follow-up (lalai berobat/default 8. Terduga TB yang mempunyai riwayat kontak erat dengan pasien TB MDR 9. Pasien ko-infeksi TB-HIV yang tidak respons secara klinis maupun bakteriologis terhadap pemberian OAT (bila penegakan diagnosis awal tidak menggunakan GeneXpert) Diagnosis TB pada pasien HIV sampai saat ini masih menjadi kendala karena sulitnya mendapatkan konfirmasi bakteriologis. Pada umumnya, pasien HIV sulit mengeluarkan dahak dan hasil pemeriksaan BTA mikroskopis memberikan hasil negatif sehingga diagnosis TB pada pasien HIV sering hanya berdasarkan kondisi klinis pasien. Sejak tahun 2012, diagnosis TB pada pasien HIV menggunakan pemeriksaan Xpert MTB/RIF di beberapa layanan terbatas. Selanjutnya dikembangkan jejaring antar Fasyankes agar seluruh pasien HIV terduga TB dapat mengakses pemeriksaan Xpert MTB/RIF. Pemeriksaan Xpert MTB/RIF dapat digunakan untuk semua pasien yang berasal dari sektor pemerintah dan swasta asal sesuai dengan jejaring yang diatur dalam Program Nasional Pengendalian TB. Semua pasien TB dan TB MDR yang didiagnosis dari pemeriksaan Xpert MTB/RIF harus tercatat, terlaporkan dan mendapatkan pengobatan sesuai standar. Pemanfaatan pemeriksaan Xpert MTB/RIF dapat dikembangkan untuk pemeriksaan spesimen selain dahak, dan alat GeneXpert itu sendiri dapat dikembangkan pemanfaatannya untuk pemeriksaan non TB. Pengembangan pemeriksaan Xpert MTB/RIF untuk spesimen selain dahak dan pemanfaatan alat GeneXpert diputuskan berdasarkan rekomendasi Subdit TB.
11 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t 3 III. MANAJEMEN CARTRIDGE Logistik Program Pengendalian Tuberkulosis (P2TB) merupakan komponen yang penting dalam program pengendalian TB agar kegiatan program dapat dilaksanakan. Cartridge Xpert MTB/RIF merupakan salah satu komponen logistik non OAT yang pengelolaannya masuk ke dalam jejaring pengelolaan logistik P2TB. Pengelolaan tersebut dilakukan pada setiap tingkat, mulai dari tingkat Pusat, Dinkes Provinsi, Dinkes Kab/Kota sampai dengan di Fasyankes, baik rumah sakit, puskesmas maupun fasyankes lainnya yang melaksanakan pelayanan pasien TB. Pengelolan logistik cartridge P2TB merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menjamin agar cartridge tersedia di setiap layanan pada saat dibutuhkan dengan jumlah yang cukup dan kualitas yang baik. Kegiatan pengelolaan cartridge dimulai dari perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, sampai dengan penggunaan, serta adanya sistem manajemen pendukung. Hal ini dapat dilihat pada siklus pengelolaan cartridge dibawah ini. A. Perencanaan Perencanaan adalah kegiatan pertama dalam siklus pengelolaan cartridge. Kegiatan ini meliputi proses penilaian kebutuhan, menentukan sasaran, menetapkan tujuan dan target, menentukan strategi dan sumber daya yang akan digunakan. Perencanaan cartridge berdasarkan kebutuhan program TB (program oriented) bukan budget oriented. Data yang dibutuhkan dalam perencanaan persediaan cartridge adalah: PERENCANAAN PENGGUNAAN DISTRIBUSI MANAJEMEN PENDUKUNG Organisasi Dana Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Jaga Mutu PENYIMPANAN PENGADAAN KEBIJAKAN DAN ASPEK HUKUM 1. Data jumlah suspek TB-MDR, TB-HIV, dan lainnya (TB MDR dari kasus baru, TB anak, TB ekstra paru), 2. Data jumlah penggunaan cartridge di tahun sebelumnya 3. Data stok logistik cartridge yang masih dapat digunakan
12 4 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t B. Pengadaan Pengadaan cartridge merupakan proses penyediaan cartridge yang dibutuhkan pada institusi maupun layanan kesehatan. Pengadaan yang baik harus dapat memastikan cartridge yang diadakan sesuai dengan jenis, jumlah, tepat waktu sesuai dengan kontrak kerja dan harga yang kompetitif. Proses pengadaan harus mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tujuan Pengadaan cartridge adalah: a. Tersedianya cartridge dalam jumlah, jenis, spesifikasi dan waktu yang tepat. b. Didapatkannya cartridge dengan kualitas yang baik, harga yang sesuai dan memperhatikan masa kedaluarsa. Produsen cartridge memberlakukan dua macam harga, yaitu: harga komersial dan harga sesuai konsensus HBDC (High Burden Developing Country). Harga HBDC dapat diakses oleh beberapa negara termasuk Indonesia. Pengadaan cartridge saat ini masih mendapat dukungan Pemerintah Pusat yang berasal dari dana bantuan donor. Dinas Kesehatan Provinsi dan kabupaten/kota diharapkan membuat perencanaan (exit strategies) untuk menjaga kesinambungan persediaan cartridge. C. Penyimpanan Penyimpanan cartridge merupakan suatu kegiatan yang mencakup penyimpanan, pemeliharaan, pencatatan dan pelaporan. Penyimpanan yang sesuai standar akan menjaga mutu, menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab (irasional), menjamin ketersediaan, memudahkan pencarian dan pengawasan cartridge. Kebijakan yang berhubungan dengan penyimpanan logistik cartridge antara lain: 1) Penyimpanan cartridge dilakukan di Instalasi baik di pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota, maupun fasyankes sesuai dengan kebijakan Ditjen Binfar dan Alkes Kemenkes R.I. (One Gate Policy). 2) Penyimpanan cartridge sesuai dengan syarat cara penyimpanan logistik (cartridge) yang baik. 3) Penyimpanan cartridge dilengkapi dengan pencatatan kartu stok dan dicatat di dalam buku inventaris barang. 4) Penyimpanan cartridge sesuai dengan FEFO (First Expired First Out). 5) Cartridge yang telah kedaluarsa dilaporkan dalam laporan bulanan berjalan ke Dinas Kesehatan Provinsi. Rumah sakit berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi untuk pemusnahan cartridge kedaluarsa. Cartridge dimusnahkan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Ketentuan-ketentuan penyimpanan logistik cartridge agar dapat terkelola dengan baik dapat merujuk pada Buku Panduan Pengelolaan Logistik P2TB. D. Permintaan dan Distribusi Logistik Distribusi logistik cartridge adalah kegiatan yang dilakukan dalam pengeluaran dan pengiriman cartridge dari tempat penyimpanan (Instalasi Farmasi/IF) ke tempat lain (IFP/IFK) dengan memenuhi persyaratan baik administratif maupun teknis, untuk memenuhi ketersediaan cartridge dan terjaga kualitasnya sampai di tempat tujuan. Proses distribusi ini harus memperhatikan aspek keamanan, mutu dan manfaat.
13 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t 5 Tujuan distribusi adalah: a. Terlaksananya pengiriman cartridge sesuai kebutuhan dan terencana (jadwal). b. Terjaminnya ketersediaan cartridge di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. c. Terjaminnya mutu cartridge pada saat pendistribusian. Distribusi dilaksanakan berdasarkan permintaan secara berjenjang untuk memenuhi kebutuhan cartridge di setiap jenjang penyelenggara program pengendalian TB. Alur permintaan dan distribusi dilakukan sesuai dengan skema gambar di bawah ini: Subdit TB PPML DINKES PROVINSI DINKES KAB/KOTA FASYANKES/RS/LAB PELAKSANA GENEXPERT Keterangan: Alur permintaan Alur distribusi Tembusan surat permintaan / distribusi Hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses permintaan dan distribusi cartridge adalah: a. Distribusi dari Subdit TB dilaksanakan atas permintaan dari Fasyankes / RS/ LAB pelaksana GeneXpert melalui Dinas Kesehatan Provinsi. Permintaan logistik dilakukan sesuai jadwal dan mencapai batas aman stok minimal (kebutuhan 2 bulan). Apabila cartridge mencapai batas minimal atau habis sebelum jadwal permintaan triwulan, maka diperbolehkan melakukan permintaan cartridge yang disertai dengan keterangan/penjelasan. b. Setelah ada kepastian jumlah logistik cartridge yang akan didistribusikan, maka tingkat yang lebih tinggi mengirimkan surat pemberitahuan kepada tingkat yang dibawahnya mengenai jumlah, jenis dan waktu pengiriman logistik. c. Subdit TB membuat Surat Bukti Barang Keluar (SBBK) dan Berita Acara Serah Terima (BAST). d. Apabila terjadi kelebihan atau kekurangan cartridge maka Institusi yang bersangkutan menginformasikan ke Institusi diatasnya untuk dilakukan relokasi atau pengiriman cartridge tersebut. e. Pengiriman cartridge memperhatikan masa kedaluarsa.
14 6 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t f. Proses distribusi ke tempat tujuan harus memperhatikan sarana/transportasi pengiriman yang memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku. g. Perlu diperhatikan syarat tata cara pengemasan yang dilakukan oleh ekspedisi yang tertuang di dalam kontrak perjanjian kerja sama. h. Penerimaan cartridge dilaksanakan pada jam kerja. i. Penetapan frekuensi pengiriman cartridge memperhatikan antara lain anggaran yang tersedia, jarak dan kondisi geografis, fasilitas gudang dan sarana yang ada. E. Penggunaan Penggunaan cartridge adalah kegiatan/proses penggunaan cartridge P2TB sesuai dengan peruntukan dan aturan yang berlaku. Formulir dan buku pencatatan pelaporan penggunaan cartridge dapat mengacu pada buku Petunjuk Teknis Pemeriksaan Xpert MTB/RIF. F. Sistem Informasi Logistik Program Nasional Pengendalian TB saat ini telah menggunakan sistem informasi untuk pencatatan dan pelaporan Program TB, termasuk sistem informasi tentang pengelolaan cartridge. Untuk pelaporan menggunakan e-tb Manager, mulai dipergunakan sejak tahun G. Pengawasan Mutu Sistem Logistik Pengawasan mutu sistem logistik cartridge adalah kegiatan yang dilakukan untuk memastikan bahwa cartridge yang ada terjamin/terjaga kualitasnya baik mulai dari distribusi, penyimpanan sampai dengan saat digunakan. Pengawasan ini melibatkan NTP, Dinkes Provinsi, dan Fasyankes.
15 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t 7 IV. ALGORITMA PEMERIKSAAN XPERT MTB/RIF Pemanfaatan penggunaan alat tes cepat GeneXpert saat ini ditujukan untuk diagnosis terduga TB resisten obat (MTPTRO), TB-HIV, dan selanjutnya akan dikembangkan untuk diagnosis TB baru pada anak, TB-DM, TB ekstra paru, serta diagnosis pada terduga TB dengan hasil BTA negatif. Sistem rujukan spesimen mengacu kepada pedoman jejaring laboratorium biakan dan uji kepekaan TB. A. Pemeriksaan GeneXpert untuk Diagnosis TB Resisten Obat (TB-MDR) Diagnosis terduga TB Resisten Obat ditegakan berdasarkan uji kepekaan M. tuberculosis baik dengan metode konvensional menggunakan media padat atau cair, maupun menggunakan metode tes cepat (rapid test) dengan GeneXpert atau dengan LPA. Dengan tersedianya alat diagnostik TB Resisten Obat dengan metode cepat menggunakan GeneXpert, maka alur diagnosis TB Resisten obat yang berlaku di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 6.1. Gambar 6.1 Alur pemeriksaan terduga TB resisten obat, terduga TB baru pada ODHA, anak, pasien diabetes mellitus, pasien terduga TB ekstra paru, serta terduga TB dengan hasil BTA negatif.
16 8 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t B. Pemeriksaan GeneXpert untuk Diagnosis TB-HIV Berdasarkan semakin banyaknya suspek HIV di Indonesia, maka diperlukan penemuan kasus TB HIV secara intensif, yaitu dengan: skrining rutin gejala dan tanda TB pada semua ODHA yang berkunjung ke layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP), penegakan diagnosis TB, dan mekanisme yang baik perujukan pasien ke laboratorium. Namun, dalam menentukan diagnosis TB pada pasien HIV ada beberapa kondisi harus diperhatikan di antaranya adalah: Diagnosis TB pada ODHA relatif lebih sulit TB tanpa gejala khas Demam dan penurunan BB merupakan gejala penting Batuk lebih jarang terjadi Sering BTA negatif Gambaran radiologi tidak selalu menunjang penegakan diagnosis TB ekstra paru lebih sering terjadi Pasien ODHA cenderung mengalami infeksi oleh MTB dan berkembang menjadi penyakit. Kelompok pasien tersebut memiliki gambaran klinis yang berbeda (lebih banyak kasus TB ekstra paru, kavitasi lebih sedikit, dan terjadi immune reconstitution inflammatory syndrome (IRIS)), walaupun demikian HIV bukan merupakan faktor resiko untuk TB MDR. Pasien ODHA juga rentan terinfeksi Mycobacterium selain Tuberkulosis (MOTT). Pemanfaatan GeneXpert untuk mendeteksi terduga koinfeksi TB HIV diperlukan karena lebih sensitif mendeteksi TB dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopis. Pemeriksaan GeneXpert lebih sensitif (71.7%) dibandingkan menggunakan pemeriksaan mikroskopis. Selain itu, pemeriksaan tersebut dapat membedakan Mycobacterium tuberkulosis dengan MOTT, dan pengerjaan dapat dilakukan dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan metode konvensional lainnya. C. Pemeriksaan GeneXert Untuk TB Anak Saat ini, beberapa teknologi baru telah didukung oleh WHO untuk meningkatkan ketepatan diagnosis TB Anak, diantaranya pemeriksaan biakan dengan metode cepat yaitu penggunaan metode cair, molekular (LPA=Line Probe Assay dan NAAT=Nucleic Acid Amplification Test, misalnya Xpert MTB/RIF). Metode tersebut tersedia di beberapa laboratorium di seluruh provinsi di Indonesia. WHO mendukung penggunaan Xpert MTB/RIF pada tahun 2010 dan telah mengeluarkan rekomendasi pada tahun 2011 untuk menggunakan Xpert MTB/RIF. Rekomendasi WHO tahun 2014 menyatakan pemeriksaan GenXpert MTB/RIF dapat digunakan untuk mendiagnosis TB MDR dan HIV suspek TB pada anak. Hasil Xpert MTB/RIF negatif tidak menyingkirkan kemungkinan anak sakit TB. Contoh uji yang direkomendasikan untuk pemeriksaan GeneXpert pada TB Anak adalah dahak, baik yang dikeluarkan secara langsung maupun dengan induksi. Apabila contoh uji dahak tidak dapat diperoleh maka contoh uji bilas lambung dapat digunakan.
17 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t 9 D. Pemeriksaan GeneXpert Untuk TB Ekstra Paru Pemeriksaan GeneXpert dapat membantu mempercepat diagnosis TB ekstra paru. Namun, pengambilan contoh uji untuk pemeriksaan TB ekstra paru memerlukan fasilitas dan kemampuan khusus, sehingga tidak dapat dilakukan pada semua faskes. Rekomendasi contoh uji TB ekstra paru untuk pemeriksaan GeneXpert meliputi: 1. Cairan serebrospinal 2. Jaringan 3. Kelenjar getah bening E. Pemeriksaan GeneXpert untuk terduga TB dengan hasil BTA negatif Pada pasien dengan hasil pemeriksaan mikroskopis BTA negatif, pemeriksaan GeneXpert dapat digunakan untuk meningkatkan angka keberhasilan deteksi MTB, karena memiliki sensitivitas yang lebih tinggi dari pemeriksaan mikroskopik.
18 10 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t V. KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR LABORATORIUM GENEXPERT Penempatan alat genexpert memerlukan beberapa persyaratan dan kondisi sesuai dengan standar pelayanan laboratorium TB. Terpenuhinya persyaratan tersebut akan mendukung untuk menjamin pemeriksaan spesimen yang adekuat. 1. Sumber Listrik Mesin genexpert membutuhkan ketersediaan sumber listrik yang stabil dan tidak terputus selama pengujian spesimen berlangsung. Terputusnya aliran listrik dalam waktu yang singkat dapat menyebabkan kegagalan pengujian sehingga cartridge terbuang dengan percuma dan membutuhkan spesimen baru. Pasokan listrik yang tidak stabil juga dapat merusak mesin genexpert dan komputer. Oleh karena itu, stablilizer dan unit power supply (UPS) direkomendasikan dalam penggunaan mesin genexpert. 2. Keamanan Ruangan Ruangan tempat diletakkannya genexpert sebaiknya terjamin keamanannya dari risiko pencurian. 3. Ventilasi Ruang pengolahan spesimen pada laboratorium pemeriksaan Xpert MTB/RIF mempunyai ventilasi yang baik. 4. Penyimpanan cartridge yang adekuat. Berdasarkan rekomendasi pabrikan (Cepheid), cartridge stabil jika disimpan pada suhu 2-28 C. Perencanaan penggunaan cartridge dibutuhkan untuk mencegah berlebihnya stok dan menghindari kedaluarsa. 5. Suhu ruangan tempat mesin genexpert Suhu ruangan mesin genexpert saat bekerja berkisar antara C, tidak berbeda dengan suhu ruangan yang direkomendasikan untuk peralatan laboratorium lainnya. Tempat genexpert membutuhkan pendingin ruangan untuk meyakinkan suhu berada pada kisaran yang direkomendasikan. Suhu ruangan yang sangat tinggi dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kesalahan (error). 6. Pembatasan Penggunaan Komputer GeneXpert Komputer harus digunakan untuk kepentingan pemeriksaan genexpert saja. Penggunaan komputer genexpert untuk kepentingan lain dikhawatirkan dapat merusak sistem perangkat lunak genexpert. Jika terjadi kerusakan pada sistem perangkat lunak genexpert akan membutuhkan waktu untuk memperbaikinya. 7. Keselamatan Kerja (Biosafety) Kondisi preparasi dan pemeriksaan spesimen menggunakan mesin genexpert setara dengan tingkat keselamatan kerja untuk pemeriksaan mikroskopis konvensional. Walaupun demikian, kebutuhan akan pengetahuan dan peralatan biosafety harus dilaksanakan.
19 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t 11 VI. PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) Tuberkulosis ditransmisikan terutama melalui aerosol. Pemeriksaan laboratorium yang melibatkan kegiatan yang menimbulkan aerosol, dapat membahayakan kesehatan petugas laboratorium. Risiko pembentukan dan transmisi aerosol berhubungan dengan prosedur yang sedang dikerjakan, tingginya frekuensi pekerjaan yang berhubungan dengan aerosol, jenis spesimen dan jumlah bakteri dalam spesimen. Pengolahan spesimen pada Xpert MTB/RIF memerlukan proses pengocokan dan pemipetan yang dapat berisiko menimbulkan aerosol. Oleh karena itu, laboratorium harus menerapkan prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI). Tujuan PPI TB secara umum adalah untuk melindungi petugas kesehatan, pengunjung dan pasien dari risiko penularan TB. Beberapa komponen yang perlu diperhatikan terkait dengan PPI untuk pemeriksaan Xpert MTB/RIF adalah: A. Pengumpulan Spesimen Pengumpulan spesimen dahak dilakukan di dahak booth yang terdapat di ruang terbuka dan mendapat sinar matahari langsung, untuk mengurangi kemungkinan penularan akibat percikan dahak yang infeksius. Tempat pengumpulan dahak dilengkapi dengan petunjuk prosedur pengeluaran dahak, tempat cuci tangan dengan air mengalir dan sabun. Dahak tidak boleh dikeluarkan di ruangan tertutup seperti kamar mandi, toilet, ruang kerja, atau ruang tunggu. Pot dahak yang digunakan harus tidak mudah pecah, tidak bocor, bermulut lebar, dan bertutup ulir (> 3 ulir). Untuk pengambilan spesimen ekstra paru dilakukan sesuai dengan prosedur tetap yang berlaku di setiap rumah sakit. B. Pengiriman Spesimen ke Laboratorium Pengiriman spesimen di dalam lingkungan Fasyankes dilakukan sesegera mungkin. Pot dahak atau wadah spesimen harus dimasukkan ke dalam wadah/kotak pembawa yang tertutup pada saat dikirim ke laboratorium. Sedangkan, untuk pengiriman spesimen dari Fasyankes ke laboratorium rujukan GeneXpert, spesimen dikemas sesuai dengan standar International Air Trasportation Association (IATA) dan buku Petunjuk Teknis Pengemasan, Pengiriman, dan Penerimaan Spesimen TB Serta Logistik Laboratorium TB C. Tingkat Keamanan Laboratorium (Biosafety Level Laboratory) Tingkat keamanan pelaksanaan Xpert MTB/RIF setara dengan tingkat keamanan laboratorium mikroskopik TB meliputi tata ruang, peralatan dan fasilitas laboratorium, alat pelindung diri (APD) serta disinfeksi lingkungan kerja dan peralatan. Khusus untuk pengolahan spesimen ekstra paru, harus dilakukan dalam Biosafety Cabinet (BSC). D. Pembuangan dan Pengolahan Limbah Infeksius Seluruh materi biologis dan non-biologis termasuk cartridge yang sudah digunakan harus ditangani sebagai limbah medis yang berpotensi untuk menularkan penyakit. Pembuangan limbah medis harus dipisahkan dari sampah non-infeksius, dilakukan sesegera mungkin dan dilakukan oleh petugas laboratorium yang telah mendapatkan pelatihan biosafety. Limbah medis tersebut harus diotoklaf dan/atau diinsenerasi.
20 12 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t E. Tanggap darurat Dalam penggunaan GeneXpert terdapat risiko bahaya kebakaran dan bahaya materi infeksius. Tanggap darurat mencakup respon terhadap kecelakaan kerja dan bencana alam. Laboratorium harus memiliki prosedur tetap dan fasilitas penanganan kecelakaan kerja dan bencana alam, seperti spill kit dan alat pemadam api ringan (APAR). Langkah yang harus dilakukan bila terjadi kecelakaan di laboratorium adalah: a. Memastikan kecelakaan kerja ditangani sesuai dengan SOP b. Melakukan tindakan pengobatan penderita kecelakaan c. Mengetahui faktor penyebab kecelakaan d. Melakukan perbaikan untuk pencegahan selanjutnya
21 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t 13 BAB VII. INSTALASI DAN PELATIHAN ALAT GENEXPERT A. Instalasi Alat GeneXpert 1. Pelaksana Instalasi dan Pelayanan Perbaikan Alat GeneXpert serta Pelatihan di Tempat Pelaksana Pemeriksaan GeneXpert Instalasi dan pelayanan perbaikan alat genexpert dilakukan oleh penyedia layanan genexpert (Authorized Service Provider) yang bekerja sama secara resmi dengan Program TB Nasional Kemenkes. 2. Penanggung Jawab Instalasi Alat GeneXpert Penanggung jawab instalasi alat GeneXpert adalah LRN Molekuler TB yang berkoordinasi dengan Program TB Nasional. B. Pelatihan pemeriksaan TB menggunakan Xpert MTB/RIF 1. Kebutuhan Sumber Daya Manusia Dalam implementasi GeneXpert di laboratorium dibutuhkan pelatihan agar tercapai hasil pemeriksaan yang akurat. Setiap laboratorium GeneXpert membutuhkan setidaknya 1-2 petugas laboratorium yang memiliki kemampuan teknis laboratorium dan kemampuan mengoperasikan komputer. Pelatihan genexpert juga ditujukan untuk para klinisi dan petugas kesehatan yang berhubungan dengan program TB nasional. Pelatihan bertujuan agar petugas kesehatan dapat menginterpretasikan hasil dan memahami spesimen dengan kualitas baik. 2. Kriteria Tutor GeneXpert Tutor GeneXpert adalah personil yang memiliki latar belakang keahlian di bidang mikrobiologi kesehatan dasar dan yang telah mendapatkan pelatihan aplikasi GeneXpert dari Cepheid. Tutor terdiri dari tim ahli dari Subdit TB, unit di Kementrian Kesehatan yang memiliki tupoksi pembinaan laboratorium, LRN Molekuler TB, mitra serta ahli dari laboratorium TB di Indonesia.
22 14 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t BAB VIII. PERAWATAN DAN PEMECAHAN MASALAH A. Perawatan Alat GeneXpert telah dirancang untuk mencegah kontaminasi silang dan menjamin hasil yang akurat. Namun demikian, alat tersebut harus dirawat dan dibersihkan secara berkala. Perawatan tersebut bertujuan untuk menjamin keakuratan hasil, memastikan sistem berjalan dengan baik dan menghindari terjadinya kerusakan alat. Waktu perawatan alat dilakukan baik secara berkala maupun atas kebutuhan. Perawatan berkala meliputi perawatan harian, mingguan, bulanan dan tahunan. 1. Perawatan harian Membuang cartridge yang telah dipakai Mematikan alat GeneXpert dan komputer setelah digunakan 2. Perawatan mingguan Membersihkan cartridge bay interior 3. Perawatan bulanan Membersihkan batang plunger Membersihkan permukaan alat Membersihkan saringan kipas (hanya untuk GeneXpert R II/warna putih) Menyimpan data pemeriksaan 4. Perawatan tahunan atau setelah 2000 tes per modul - Kalibrasi semua modul sekali setahun atau setelah alat mencapai 2000 tes per modul Perawatan harian, mingguan dan bulanan dilakukan oleh pihak laboratorium. Sedangkan untuk perawatan tahunan atau ketika alat mencapai 2000 tes per modul dilakukan oleh authorized service provider (ASP) lokal. B. Potensi masalah dan solusinya Masalah GeneXpert dapat bersumber dari kesalahan pengelolaan spesimen, kerusakan pada sistem software atau hardware. Langkah yang diambil apabila terjadi permasalahan: 1. Ikuti langkah-langkah pemecahan masalah yang terdapat di dalam buku Petunjuk Teknis Pemeriksaan TB menggunakan GeneXpert. 2. Jika langkah nomor 1 gagal, maka hubungi ASP lokal dan lakukan pemecahan masalah sesuai dengan panduan yang diberikan. 3. Jika langkah nomor 2 gagal, maka laboratorium pemeriksaan Xpert MTB/RIF memberitahukan masalah tersebut kepada LRN molekuler dengan tembusan kepada Subdit TB PPML dan Dinas Kesehatan Provinsi. ASP Lokal harus berkoordinasi dengan LRN molekuler apabila terdapat kerusakan yang harus ditindaklanjuti.
23 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t 15 BAB IX. PEMANTAPAN MUTU Pemantapan mutu laboratorium adalah suatu sistem yang dirancang untuk meningkatkan dan menjamin mutu serta efisiensi pemeriksaan laboratorium secara berkesinambungan sehingga hasilnya dapat dipercaya. Secara khusus tujuan/ manfaat pemantapan mutu laboratorium Xpert MTB/RIF adalah: - Menjamin bahwa hasil pemeriksaan laboratorium yang dilaporkan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, karena hasil pemeriksaan Xpert MTB/RIF berperan sebagai penentu diagnosis. - Mengidentifikasi berbagai tindakan yang berpotensi menimbulkan kesalahan pemeriksaan. - Menjamin bahwa tindakan-tindakan perbaikan yang tepat telah dilakukan. Komponen Pemantapan Mutu Pemeriksaan Xpert MTB/RIF terdiri atas: - Pemantapan Mutu Internal (PMI) atau Internal Quality Control - Pemantapan Mutu External (PME) atau External Quality Assurance (EQA) A. Pemantapan Mutu Internal (PMI) atau Internal Quality Control Pemantapan mutu internal adalah suatu proses pemantauan yang terus menerus, sistematik, dan efektif untuk mendeteksi adanya kesalahan sehingga dapat segera dikoreksi. Pelaksanaan PMI meliputi seluruh proses pemeriksaan molekuler sejak pra analisis sampai pasca analisis: 1. Pra Analisis Pemantapan mutu internal pada tahap pra analisis meliputi tersedianya prosedur tetap serta melaksanakan kegiatan sesuai dengan prosedur tetap tersebut. Prosedur tetap yang harus tersedia adalah: a. Prosedur Tetap Pengumpulan Spesimen b. Prosedur Tetap Pengelolaan Spesimen c. Prosedur Tetap Pemeriksaan Molekuler d. Prosedur Tetap Penyimpanan Reagensia dan cartridge e. Prosedur Tetap K3 dan Pengelolaan Limbah f. Prosedur Tetap Pencatatan dan Pelaporan 2. Analisis Pemantapan mutu internal pada tahap analisis berupa internal quality control yang terdapat di dalam cartridge Xpert MTB/RIF yang berfungsi untuk memastikan pengolahan spesimen dan proses PCR berlangsung dengan baik yang dilakukan secara otomatis oleh alat. Internal Quality Control tersebut terdiri dari sample processing control (SPC) dan probe check control. Sample processing control mengandung spora non-infeksius dalam bentuk kering yang berfungsi untuk memastikan bakteri telah lisis pada proses ekstrasi, memastikan
24 16 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t bahwa pengolahan spesimen berjalan dengan baik dan mendeteksi spesimen yang dapat menghambat proses real-time PCR. Probe Check Control berfungsi untuk mengukur sinyal fluoresens dari probe untuk melihat rehidrasi bead, pengisian tabung reaksi di cartridge, fungsi probe yang berjalan baik dan stabilitas penanda fluoresens. 3. Pasca Analisis Pencatatan dan pelaporan mulai dari pra analisis sampai pasca analisis sesuai dengan prosedur tetap dan secara rutin didokumentasikan selama periode waktu tertentu oleh unit yang bersangkutan. B. Pemantapan Mutu Eksternal (PME) atau External Quality Assurance (EQA) Pemantapan Mutu Eksternal (PME) adalah suatu proses berkala dan berkesinambungan yang dilakukan oleh laboratorium yang lebih tinggi jenjangnya untuk memantau kinerja pemeriksaan Xpert MTB/RIF. Pemantapan mutu eksternal untuk pemeriksaan Xpert MTB/RIF dilakukan melalui supervisi, pelatihan penyegaran dan kalibrasi berkala.
25 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t 17 BAB X. PEMBELIAN MESIN GENEXPERT Pengadaan alat GeneXpert harus dilakukan mengacu pada peraturan yang berlaku untuk pengadaan alat kesehatan. Pengadaan alat GeneXpert dari program Nasional Pengendalian TB dilakukan secara langsung ke produsen yaitu Cepheid melalui International Dispensary Association (IDA) sebagai berikut: Keterangan: 1. Permintaan pengiriman Cartridge/Obat dari Subdit TB ke IDA. 2. IDA mengirimkan salinan dokumen airway bill, invoice, packing list, Certificate of Analysis, dan Certificate of Origin (IDA juga dapat mengirimkan dokumen ASLI tersebut langsung ke Bea Cukai Bandara). 3. Subdit TB mengirimkan surat pemberitahuan impor ke Ditjen Binfar dan Alkes beserta salinan dokumen dari IDA untuk memperoleh Surat Special Scheme Access (SAS). 4. Subdit TB mengirimkan surat pemberitahuan impor Non-API ke instansi Kementerian Perdagangan beserta salinan dokumen dari IDA untuk memperoleh Surat Non-API. 5. Subdit TB mendapatkan surat SAS dari Ditjen Binfar dan Alkes dan Non-API dari Kementerian Perdagangan. 6. Subdit TB mengirimkan Dokumen ke Bea Cukai Pusat untuk mendapatkan surat bebas pajak yang terdiri atas: a. Salinan dokumen Airway bill (ASLI jika dokumen tersebut dikirimkan langsung ke Subdit TB), b. Salinan Invoice (ASLI jika dokumen tersebut dikirimkan langsung ke Subdit TB), c. Salinan Certificate of Analysis (ASLI jika dokumen tersebut dikirimkan langsung ke Subdit TB),
26 18 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t d. Salinan Certificate of Origin (ASLI jika dokumen tersebut dikirimkan langsung ke Subdit TB), e. Surat Keterangan SAS asli dari Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan f. Surat Keterangan Non-API (Angka Pengenal Impor) asli dari Kementerian Perdagangan, g. Salinan Grant Agreement dari GF (Global Fund), dan h. Salinan surat Menteri Keuangan RI kepada Menteri Kesehatan RI mengenai dana Hibah/Grand dari Global Fund (GF). 7. Bea Cukai Pusat mengeluarkan surat pembebasan bea masuk dan pajak. 8. Surat Pembebasan Bea masuk dan Pajak (PBMP) diberikan kepada Perusahaan Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK) untuk dapat mengeluarkan barang dari gudang bandara (obat/cartridge). 9. PPJK mengirimkan surat pemberitahuan kepada Subdit TB bahwa barang (obat/cartridge dapat keluar dari gudang bandara). 10. Dilakukan pengiriman barang (obat/cartridge) langsung dari gudang bandara ke gudang P2PL (Subdit TB). Saat ini, produsen alat GeneXpert telah menunjuk distributor lokal yang juga berperan sebagai ASP lokal. Pengadaan alat GeneXpert selain dari program nasional pengendalian TB akan dilakukan melalui distributor lokal tersebut. Faskes pemerintah dan nonpemerintah yang melakukan tata laksana pasien TB sesuai strategi DOTS mendapatkan surat rekomendasi dari program nasional pengendalian TB dapat memperoleh harga konsensus HBDC. Distributor lokal GeneXpert wajib memberikan informasi kepada program nasional pengendalian TB apabila terdapat faskes baik pemerintah maupun non-pemerintah yang membeli alat GeneXpert dan cartridge Xpert MTB/RIF, sehingga tata laksana pasien TB dan TB MDR yang ditemukan dapat dilakukan sesuai standar. A. Pendanaan Pada tahap awal pemanfaatan alat GeneXpert oleh program nasional pengendalian TB, alat, cardtridge, pelayanan dan pemeliharaannya didukung penuh oleh program dengan sumber pendanaan dari TB CARE dan Global Fund. Untuk kesinambungan pemanfaatan GeneXpert dalam mendukung program pengendalian TB, pendanaan seperti yang disebutkan di atas perlu didorong agar dapat dipenuhi dengan pendanaan yang bersumber dari APBN, APBD dan sumber-sumber lain yang sah menurut undang-undang. B. Suku Cadang Apabila alat GeneXpert mengalami kerusakan dapat difasilitasi oleh program melalui distributor dan penyedia layanan perbaikan dan perawatan lokal untuk perbaikannya dapat digambarkan dengan alur sebagai berikut:
27 P e t u n j u k P e l a k s a n a a n P e m e r i k s a a n G e n e X p e r t 19 Keterangan: 1. Jika terjadi kerusakan alat GeneXpert di laboratorium, faskes mengirimkan laporan ke Dinas Kesehatan Kab/Kota/Provinsi. 2. Untuk membantu mempercepat proses fasilitasi penanganan kerusakan, faskes dapat berkoordinasi langsung dengan Program TB nasional (Subdit TB, Subdit MI dan/lrn) *Subdit TB (Subdit Pengendalian TB) = Unit di Kementerian Kesehatan yang mempunyai tupoksi pengendalian TB ** Subdit MI (Subdit Bina Pelayanan Mikrobiologi dan Imunologi) = Unit di Kementerian Kesehatan yang mempunyai tupoksi pembinaan laboratorium ***LRN (Laboratorium Rujukan Nasional) = Laboratorium Rujukan Nasional untuk Pemeriksaan Molekuler, Serologi, MOTT dan Operasional Riset 3. Dinas Kesehatan Kab/Kota/Provinsi mengirimkan dokumen permohonan fasilitasi perbaikan alat ke ASP. 4. ASP berkoordinasi dengan Program TB Nasional mengenai keluhan kerusakan alat. 5. ASP lokal merespon permohonan fasilitasi perbaikan alat dan dipantau oleh Program TB nasional. C. Pelayanan Purna Jual Dalam rangka menjamin kesinambungan pelayanan pemeriksaan laboratorium dengan alat GeneXpert yang bermutu, disediakan pelayanan purna jual yang meliputi penjaminan ketersediaan perawatan/pemeliharaan, perbaikan, kalibrasi dan suku cadang untuk setiap pengadaan alat GeneXpert yang melalui prosedur yang telah ditetapkan. Layanan tersebut harus disediakan oleh penyedia layanan perbaikan dan perawatan lokal (ASP).
28 Sub Direktorat Bina Pelayanan Mikrobiologi dan Imunologi Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Gedung Adhyatma Lantai 5 Ruang 517 Jl. HR Rasuna Said Blok X 5 Kav. 4-9 Kotak Pos 3097, 1196 Jakarta [email protected] Fax: (021)
BAB I PENDAHULUAN. I.1.Latar Belakang. Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah utama. kesehatan global. TB menyebabkan kesakitan pada jutaan
BAB I PENDAHULUAN I.1.Latar Belakang Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah utama kesehatan global. TB menyebabkan kesakitan pada jutaan manusia tiap tahunnya dan menjadi penyebab kematian kedua dari
Pedoman Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Tuberkulosis
614.542 Ind p Pedoman Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium Tuberkulosis KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2015 Pedoman Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium TB 1 Katalog Dalam Terbitan.
I. PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penularan langsung terjadi melalui aerosol yang mengandung
BIMBINGAN TEKNIS PENCATATAN DAN PELAPORAN TB-HIV
BIMBINGAN TEKNIS PENCATATAN DAN PELAPORAN TB-HIV Bimtek pencatatan dan pelaporan TB-HIV Material: TB: TB 06 (termasuk pemeriksaan untuk Xpert), TB 01, TB 03, 4 (empat) triwulan terakhir, dan (untuk akses
repository.unimus.ac.id
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit kronis yang masih menjadi masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia. Penyakit TBC merupakan penyakit menular
BAB 1 PENDAHULUAN. HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV dapat menyebabkan penderita
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang paling sering mengenai organ paru-paru. Tuberkulosis paru merupakan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tuberkulosis (TB), merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis dan tetap menjadi salah satu penyakit menular mematikan
BAB 1 PENDAHULUAN. Diagnosis tuberkulosis (TB) paru pada anak masih menjadi masalah serius hingga saat ini. Hal
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diagnosis tuberkulosis (TB) paru pada anak masih menjadi masalah serius hingga saat ini. Hal ini disebabkan karena kesulitan yang dihadapi untuk mendiagnosis TB paru
BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. World Health Organization (WHO) memperkirakan sepertiga dari populasi dunia telah terinfeksi
Panduan OAT yang digunakan di Indonesia adalah:
SOP PENATALAKSANAAN TB PARU 1. Pengertian Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB yaitu Mycobacterium tuberculosis. 2. Tujuan Untuk menyembuhkan pasien, mencegah
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. Setelah perang kemerdekaan, TB
BAB 1 PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis. Sumber infeksi TB kebanyakan melalui udara, yaitu
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Sumber infeksi TB kebanyakan melalui udara, yaitu melalui inhalasi
Pengertian. Tujuan. b. Persiapan pasien - c. Pelaksanaan
PEMERINTAH KABUPATEN PONOROGO PUSKESMAS SIMAN Jl. Raya Siman No. 48 Telp. ( 0352 ) 485198 Kode Pos 63471 PONOROGO STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PENCATATAN DAN PELAPORAN PASIEN TB Pengertian Tujuan
2. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431);
BERITA DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 33 TAHUN 2016 SERI B.25 PERATURAN BUPATI CIREBON NOMOR 33 TAHUN 2016 TENTANG PENANGGULANGAN KOLABORASI TB-HIV (TUBERKULOSIS-HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS) KABUPATEN
MULTI DRUG RESISANT TUBERCULOSIS (MDR-TB): PENGOBATAN PADA DEWASA
MULTI DRUG RESISANT TUBERCULOSIS (MDR-TB): PENGOBATAN PADA DEWASA Sumardi Divisi Pulmonologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUGM / KSM Pulmonologi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Abstract Tuberculosis treatment
BAB 1 PENDAHULUAN. Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memperkirakan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memperkirakan sepertiga dari
Peran ISTC dalam Pencegahan MDR. Erlina Burhan Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI RSUP Persahabatan
Peran ISTC dalam Pencegahan MDR Erlina Burhan Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI RSUP Persahabatan TB MDR Man-made phenomenon Akibat pengobatan TB tidak adekuat: Penyedia pelayanan
BAB I PENDAHULUAN. yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. tanah lembab dan tidak adanya sinar matahari (Corwin, 2009).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (Price & Wilson, 2006). Penyakit ini dapat menyebar melalui
PENERAPAN STRATEGI DOTS DI RUMAH SAKIT HBS MODUL F HDL 1
PENERAPAN STRATEGI DOTS DI RUMAH SAKIT HBS MODUL F HDL 1 RUMAH SAKIT PERLU DOTS? Selama ini strategi DOTS hanya ada di semua puskesmas. Kasus TBC DI RS Banyak, SETIDAKNYA 10 BESAR penyakit, TETAPI tidak
BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organization) sejak tahun 1993
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut WHO (World Health Organization) sejak tahun 1993 memperkirakan sepertiga dari populasi dunia telah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis masih
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia. Penyakit ini termasuk salah satu prioritas nasional
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Tuberkulosis 2.1.1.1 Definisi Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman
TUTIK KUSMIATI, dr. SpP(K)
TUTIK KUSMIATI, dr. SpP(K) TB paru problem kesehatan global MODALITAS TES CEPAT MENDETEKSI DR-TB & DS-TB TB Resisten Obat meningkat TB HIV +++ METODE DETEKSI KASUS YANG LAMBAT PASIEN TB HIV + PASIEN DIAGNOSIS
BAB 1 PENDAHULUAN. TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar bakteri TB menyerang paru, tetapi
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh bakteri TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar bakteri TB menyerang paru, tetapi dapat
2017, No Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Neg
No.122, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMKES. TB. Penanggulangan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 67 TAHUN 2016 TENTANG PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DENGAN RAHMAT
BAB I PENDAHULUAN. menular (dengan Bakteri Asam positif) (WHO), 2010). Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan global utama dengan tingkat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan yang penting saat ini. WHO menyatakan bahwa sekitar sepertiga penduduk dunia tlah terinfeksi kuman Tuberkulosis.
EVALUASI PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DAN
EVALUASI PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DAN DETERMINAN KEJADIAN TUBERKULOSIS DI RUMAH TAHANAN NEGARA/ LEMBAGA PEMASYARAKATAN SE EKS KARESIDENAN SURAKARTA TESIS Agung Setiadi S501108003 PROGRAM PASCASARJANA
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular. langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang sebagian besar menyerang paru-paru tetapi juga dapat mengenai
SAFII, 2015 GAMBARAN KEPATUHAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU TERHADAP REGIMEN TERAPEUTIK DI PUSKESMAS PADASUKA KECAMATAN CIBEUNYING KIDUL KOTA BANDUNG
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tuberkulosis (Tb) merupakan penyakit menular bahkan bisa menyebabkan kematian, penyakit ini menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil tuberkulosis
BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Tuberculosis Paru (TB Paru) merupakan salah satu penyakit yang
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar belakang Penyakit Tuberculosis Paru (TB Paru) merupakan salah satu penyakit yang telah lama dikenal dan sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan di berbagai negara di
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia terutama negara berkembang. Munculnya epidemik Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency
Penemuan PasienTB. EPPIT 11 Departemen Mikrobiologi FK USU
Penemuan PasienTB EPPIT 11 Departemen Mikrobiologi FK USU 1 Tatalaksana Pasien Tuberkulosis Penatalaksanaan TB meliputi: 1. Penemuan pasien (langkah pertama) 2. pengobatan yang dikelola menggunakan strategi
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan dunia. Pada tahun 2012 diperkirakan 8,6 juta orang terinfeksi TB dan 1,3 juta orang meninggal karena penyakit ini (termasuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar tuberkulosis menyerang organ paru-paru, namun bisa juga
Lampiran 1. Universitas Sumatera Utara
Lampiran 1 110 Lampiran 2 111 112 Lampiran 3 KUESIONER PENELITIAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KINERJA PETUGAS TB (TUBERCULOSIS) DI RUMAH SAKIT YANG TELAH DILATIH PROGRAM HDL (HOSPITAL DOTS LINGKAGE)
BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan di seluruh
2.1. Supervisi ke unit pelayanan penanggulangan TBC termasuk Laboratorium Membuat Lembar Kerja Proyek, termasuk biaya operasional X X X
26/03/08 No. 1 2 3 4 5 6 URAIAN TUGAS PROGRAM TBC UNTUK PETUGAS KABUPATEN/KOTA URAIAN TUGAS Ka Din Kes Ka Sie P2M Wasor TBC GFK Lab Kes Da Ka Sie PKM MEMBUAT RENCANA KEGIATAN: 1.1. Pengembangan unit pelayanan
BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan Masyarakat. Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat di dunia walaupun upaya pengendalian dengan strategi Directly
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis Paru (TB Paru) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia walaupun upaya pengendalian dengan strategi Directly Observed Treatment Short-course
BAB I PENDAHULUAN. sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Gejala utama adalah batuk selama 2 minggu atau lebih, batuk disertai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Mycobacterium tuberculosis dan menular secara langsung. Mycobacterium
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Etiologi dan Patogenesis Tuberkulosis Paru Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan menular secara langsung. Mycobacterium
BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi kronis yang masih menjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi kronis yang masih menjadi masalah di Dunia. Hal ini terbukti dengan masuknya perhatian terhadap penanganan TB dalam MDGs.
JEJARING PROGRAM NASIONAL PENGENDALIAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA
JEJARING PROGRAM NASIONAL PENGENDALIAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA WIHARDI TRIMAN, dr.,mqih MT-TB Jakarta HP : 0812 660 9475 Email : [email protected] LATAR BELAKANG Thn.1995, P2TB mengadopsi Strategi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis paru (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru tetapi dapat
Lampiran Surat Keputusan Direktur RS Mutiara Hati Mojokerto
Lampiran Surat Keputusan Direktur RS Mutiara Hati Mojokerto 1 Nomor : 050/SK/DIR/VI/2016 Tanggal : 10 Juni 2016 Perihal : Kebijakan Pelayanan Laboratorium di Rumah Sakit Mutiara Hati Mojokerto. KEBIJAKAN
BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kasus infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Peningkatan kasus infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) memerlukan deteksi cepat untuk kepentingan diagnosis dan
BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Pemberantasan penyakit. berperanan penting dalam menurunkan angka kesakitan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan nasional yang dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan serta ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan
BAB 1 PENDAHULUAN. menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (World
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat
BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (Kemenkes RI, 2014). TB saat ini masih menjadi salah
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Bakteri Tahan Asam (BTA) Mycobacterium tuberculosa. Sebagian besar bakteri ini menyerang paru-paru
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) paru merupakan satu penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian. Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh infeksi
EVALUASI PENYIMPANAN DAN DISTRIBUSI OBAT ANTI TUBERKULOSIS DI DINAS KESEHATAN PROVINSI SULAWESI UTARA
EVALUASI PENYIMPANAN DAN DISTRIBUSI OBAT ANTI TUBERKULOSIS DI DINAS KESEHATAN PROVINSI SULAWESI UTARA Tiara Davne Kaunang 1), Adeanne C. Wullur 2), Gayatri Citraningtyas 1) 1) Program Studi Farmasi FMIPA
PROGRAM KERJA INSTALASI LABORATORIUM TAHUN 2015 RUMAH SAKIT ROYAL PROGRESS JL. DANAU SUNTER UTARA, SUNTER PARADISE I, JAKARTA
PROGRAM KERJA INSTALASI LABORATORIUM TAHUN 2015 RUMAH SAKIT ROYAL PROGRESS JL. DANAU SUNTER UTARA, SUNTER PARADISE I, JAKARTA Laboratorium Rs Royal Progress Page 1 1. PENDAHULUAN Citra rumah sakit yang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tuberkulosis Paru adalah penyakit infeksius yang menular yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis Paru adalah penyakit infeksius yang menular yang terutama menyerang parenkim paru yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis (Brunner & Suddarth,
BIMBINGAN TEKNIS PENCATATAN DAN PELAPORAN TB-HIV
BIMBINGAN TEKNIS PENCATATAN DAN PELAPORAN TB-HIV BIMBINGAN TEKNIS PENCATATAN DAN PELAPORAN TB-HIV Bimtek pencatatan dan pelaporan TB-HIV Material: TB: TB 06 (termasuk pemeriksaan untuk Xpert), TB 01, TB
Pedoman Surveilans dan Respon Kesiapsiagaan Menghadapi Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-COV) untuk Puskesmas di Kabupaten Bogor
Pedoman Surveilans dan Respon Kesiapsiagaan Menghadapi Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-COV) untuk Puskesmas di Kabupaten Bogor DINAS KESEHATAN KABUPATEN BOGOR 2014 Pedoman Surveilans
GOOD LABORATORY PRACTICE (PRAKTEK LABORATORIUM YANG BENAR) Hasil pemeriksaan laboratorium digunakan untuk :
GOOD LABORATORY PRACTICE (PRAKTEK LABORATORIUM YANG BENAR) Pelayanan laboratorium merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang diperlukan untuk menunjang upaya peningkatan kesehatan, pencegahan
Rencana Aksi Nasional Penanggulangan TB Melalui Penguatan Laboratorium TB
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Rencana Aksi Nasional Penanggulangan TB Melalui Penguatan Laboratorium TB 2016-2020 Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan
BAB 1 PENDAHULUAN. TB.Paru merupakan penyakit yang mudah menular dan bersifat menahun, disebabkan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis (TB) atau dalam program kesehatan dikenal dengan TB.Paru merupakan penyakit yang mudah menular dan bersifat menahun, disebabkan oleh kuman Mycobacterium
BANTUAN TEKNIS PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PEMANTAUAN TRANSPORTASI SPESIMEN
BANTUAN TEKNIS PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PEMANTAUAN TRANSPORTASI SPESIMEN Yayasan KNCV Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang didukung dan dibiayai oleh Global
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang pada umumnya menyerang jaringan paru, tetapi dapat menyerang organ
BAB 1 PENDAHULUAN. Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC)
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Pada tahun
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. TB sampai saat ini masih tetap menjadi masalah kesehatan dunia yang utama
BAB I PENDAHULUAN. Diperkirakan sekitar 2 miliar atau sepertiga dari jumlah penduduk dunia telah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Diperkirakan sekitar 2 miliar atau sepertiga dari jumlah penduduk dunia telah terinfeksi oleh kuman Mycobacterium tuberculosis pada tahun 2007 dan ada 9,2 juta penderita
2016 GAMBARAN MOTIVASI KLIEN TB PARU DALAM MINUM OBAT ANTI TUBERCULOSIS DI POLIKLINIK PARU RUMAH SAKIT DUSTIRA KOTA CIMAHI
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Menurut Depertemen Kesehatan RI (2008) Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Sampai saat
BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada umumnya Tuberkulosis terjadi pada paru, tetapi dapat
BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Penyakit Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang bagian paru, namun tak
BAB I PENDAHULUAN. perhatian khusus di kalangan masyarakat. Menurut World Health Organization
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) paru merupakan salah satu penyakit yang mendapat perhatian khusus di kalangan masyarakat. Menurut World Health Organization (WHO) 2013, lebih dari
I. PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis. Menurut World Health Organization (WHO)
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkolosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Menurut World Health Organization (WHO) dalam satu tahun kuman M.
Materi Penyuluhan Konsep Tuberkulosis Paru
1.1 Pengertian Materi Penyuluhan Konsep Tuberkulosis Paru Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi kronis
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis merupakan penyakit yang mudah menular dimana dalam tahun-tahun terakhir memperlihatkan peningkatan dalam jumlah kasus baru maupun jumlah angka
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tuberkulosis paru adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Tuberkulosis Tuberkulosis paru adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis, yakni kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru atau di berbagai
BAB II KAJIAN PUSTAKA. pemeriksaan dahak penderita. Menurut WHO dan Centers for Disease Control
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Aspek Epidemiologi Penyakit Tuberkulosis Penularan TB tergantung dari lamanya kuman TB berada dalam suatu ruangan, konsentrasi kuman TB di udara serta lamanya menghirup udara,
Identifikasi Faktor Resiko 1
IDENTIFIKASI FAKTOR RESIKO TERJADINYA TB MDR PADA PENDERITA TB PARU DI WILAYAH KERJA KOTA MADIUN Lilla Maria.,S.Kep. Ners, M.Kep (Prodi Keperawatan) Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun ABSTRAK Multi Drug
Peran ISTC dalam Pencegahan MDR. Erlina Burhan. Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi. FKUI-RS Persahabatan
Peran ISTC dalam Pencegahan MDR Erlina Burhan Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI-RS Persahabatan TB-MDR pada dasarnya adalah suatu fenomena buatan manusia (man-made phenomenon),
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang sudah ada sejak zaman purbakala. Hal ini terbukti dari penemuan-penemuan kuno seperti sisa-sisa tulang belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang sudah ada sejak zaman purbakala. Hal ini terbukti dari penemuan-penemuan kuno seperti sisa-sisa tulang belakang manusia dengan
BAB 1 PENDAHULUAN. untuk mencapai kualitas hidup seluruh penduduk yang lebih baik. Oleh banyak
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan secara umum sering diartikan sebagai upaya multidimensi untuk mencapai kualitas hidup seluruh penduduk yang lebih baik. Oleh banyak negara, pembangunan
BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium Tuberculosis dan paling sering menginfeksi bagian paru-paru.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis dan paling sering menginfeksi bagian paru-paru. Penyebaran penyakit
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular bahkan bisa menyebabkan kematian, penyakit ini menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil tuberkulosis
PEDOMAN MANAJEMEN TERPADU PENGENDALIAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT KEMENTERIAN KESEHATAN RI
1 DAFTAR PENYUSUN Tim Penyusun: Sub Direktorat Tuberkulosis, Ditjen PP PL RSUP Persahabatan Jakarta RSUD. Dr. Soetomo Surabaya DInas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta DInas Kesehatan Propinsi Jawa Timur WHO
PANDUAN PELAYANAN DOTS TB RSU DADI KELUARGA TAHUN 2016
PANDUAN PELAYANAN DOTS TB RSU DADI KELUARGA TAHUN 2016 RUMAH SAKIT UMUM DADI KELUARGA Jl. Sultan Agung No.8A Purwokerto Tahun 2016 BAB I DEFINISI Sampai saat ini, Rumah Sakit di luar negeri termasuk di
PENANGANAN DAN PENCEGAHAN TUBERKULOSIS. Edwin C4
PENANGANAN DAN PENCEGAHAN TUBERKULOSIS Edwin 102012096 C4 Skenario 1 Bapak M ( 45 tahun ) memiliki seorang istri ( 43 tahun ) dan 5 orang anak. Istri Bapak M mendapatkan pengobatan TBC paru dan sudah berjalan
BAB I PENDAHULUAN. Menurut World Health Organization (WHO) Tahun 2011, kesehatan adalah suatu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan salah satu aspek penting yang dicari oleh semua orang. Menurut World Health Organization (WHO) Tahun 2011, kesehatan adalah suatu keadaan sehat yang
BAB I PENDAHULUAN. bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit TB dapat menyebar melalui droplet
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit TB dapat menyebar melalui droplet orang yang terinfeksi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit akibat infeksi Mycobacterium tuberculosis (M.tuberculosis) yang dapat mengenai berbagai organ tubuh, tetapi paling sering mengenai
BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. World. Health Organization (WHO) dalam Annual report on global TB
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Penyakit Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi kronis menular yang masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. World Health
BAB 1 PENDAHULUAN. Kegiatan penanggulangan Tuberkulosis (TB), khususnya TB Paru di
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan penanggulangan Tuberkulosis (TB), khususnya TB Paru di Indonesia telah dimulai sejak diadakan Simposium Pemberantasan TB Paru di Ciloto pada tahun 1969. Namun
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA Skripsi Ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman tuberkulosis ( mycobacterium tuberculosa) yang ditularkan melalui udara (droplet nuclei) saat
BAB I PENDAHULUAN. utama. The World Health Organization (WHO) dalam Annual Report on Global
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah kesehatan global yang utama. The World Health Organization (WHO) dalam Annual Report on Global TB Control 2003 menyatakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tuberkulosis (TB) disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (M.Tb),
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tuberkulosis 2.1.1 Etiologi Tuberkulosis (TB) disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (M.Tb), yaitu kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/um dan tebal 0,3-0,6/um.
BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid merupakan penyakit infeksi tropik sistemik, yang disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang yakni
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang terutama disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, sebagian kecil oleh bakteri Mycobacterium africanum dan Mycobacterium
BAB I PENDAHULUAN. di kenal oleh masyarakat. Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular kronis yang telah lama di kenal oleh masyarakat. Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, bakteri ini mampu
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang terbaru (2010), masih menempatkan Indonesia sebagai negara dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Laporan Tuberkulosis (TB) dunia oleh World Health Organization (WHO) yang terbaru (2010), masih menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah pasien TB terbesar
