BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
|
|
|
- Ridwan Atmadjaja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karbon mesopori merupakan material berpori yang menarik perhatian peneliti karena keteraturan geometrinya dan memiliki potensi yang besar untuk berbagai aplikasi, diantaranya untuk adsorpsi, sensor, obat-obatan, dan nanoteknologi (Vinu dkk., 2006). Secara kimia, karbon mesopori relatif tahan terhadap asam dan basa (Ryoo, 1999). Permukaan karbon mesopori juga dapat direkayasa gugus fungsinya melalui perlakuan oksidasi tertentu (Chi dkk., 2012). Karbon mesopori efektif untuk adsorpsi adsorbat berukuran besar, misalnya bakteri laut yang berukuran nm (Markus dkk., 1994). Karbon mesopori juga efektif untuk kapasitor lapis ganda karena lebih memudahkan proses transportasi muatan pada permukaan dibandingkan bahan mikropori (Yuan dkk., 2009), dan juga sebagai cetakan pada sintesis silika mesopori (Kim dkk., 2003) atau matriks oksida logam katalis tertentu (Xiang dkk., 2011). Aplikasi yang diharapkan untuk karbon mesopori hasil sintesis dari penelitian ini adalah untuk adsorben atau matriks molekul besar. Ditinjau dari ketersediaan sumber karbon, karbon mesopori memiliki sumber karbon yang sangat berlimpah. Bermacam-macam limbah organik dapat menjadi prekursor karbon, misalnya limbah ban (Teng dkk., 2000), limbah lumpur organik di perairan (Al-Qodah dan Sawabkah, 2009), serta residu kopi (Saeung dan Boonamnuayvitaya, 2003). Berbagai jenis bahan alam juga dapat menjadi prekursor karbon, sebagian diantaranya karena kaya kandungan gula. Sebagai contoh, fruktosa, glukosa, dan sukrosa terkandung dalam berbagai macam tanaman (Aberoumand dan Deokule, 2009). Analisis terhadap berbagai jenis madu menunjukkan bahwa kandungan fruktosa dan glukosa cukup melimpah. Kandungan fruktosa mencapai 37,68-40,31%, sedangkan glukosa mencapai 27,25-39,56% (Buba dkk., 2013).
2 2 Keunggulan gula sebagai prekursor karbon adalah karena gula larut dalam air sehingga memudahkan proses homogenisasi dengan aktivator (Huang dkk., 2009). Fruktosa membentuk 5-hidroksimetil furfural atau disingkat HMF dengan jalur reaksi lebih singkat dibandingkan glukosa dan sukrosa (Rosatella dkk., 2011). HMF adalah senyawa intermediet pada proses pembentukan humin (Huang dkk., 2009). Humin adalah komponen karamel (Schweizer, 2010) dan karamel adalah materi yang dikarbonisasi pada penelitian ini. Hasil penelitian pendahuluan (Lampiran 2) menunjukkan bahwa fruktosa menghasilkan karbon mesopori dengan volume mesopori lebih besar dibandingkan sukrosa dan glukosa. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan fruktosa sebagai prekursor karbon. Metode sintesis karbon mesopori yang berorientasi pada rekayasa ukuran pori, dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu metode cetakan pori, metode aktivasi kimia, dan gabungan metode cetakan dan aktivasi kimia. Pada metode cetakan pori, mula mula diterapkan metode sintesis tidak langsung dengan cetakan keras (hard template), yaitu cetakan mesopori dengan melibatkan proses infiltrasi prekursor ke dalam cetakan mesopori (Ryoo dkk., 1999; Lee dkk., 1999). Metode ini membutuhkan waktu sintesis yang lama dan menghasilkan ukuran pori yang relatif kecil (< 4 nm). Kekurangan metode tak langsung dengan cetakan keras diatasi dengan metode sintesis langsung (tanpa proses infiltrasi) dengan cetakan tunggal untuk meningkatkan kualitas pori sekaligus mengurangi kerumitan kerja. Sebagai contoh, penggunaan sol silika (Han dan Hyeon, 1999), silika gel (Han dkk., 2003), dan tetraetil ortosilikat (Kim dkk., 2004; Yuan dkk., 2009; You dkk., 2011). Penggunaan metode tersebut menghasilkan ukuran pori maksimum hingga 8 nm. Untuk menghasilkan ukuran pori yang lebih besar lagi, dikembangkan metode sintesis langsung dengan cetakan ganda, misalnya silika sol-surfaktan (Deng dkk., 2007), dan silika sol-asam borat (Lee dkk., 2011). Metode ini mampu menghasilkan ukuran pori (D maks ) hingga 44 nm (ads) dan 22,6 nm (des). Kelemahan metode langsung adalah penerapan temperatur karbonisasi yang cenderung tinggi ( C). Hal itu kemungkinan karena cetakan karbon yang digunakan secara kimia kurang mampu berperan sebagai aktivator pirolisis.
3 3 Penggunaan aktivator kimia ZnCl 2 menawarkan proses sintesis yang efisien karena cenderung bekerja pada temperatur rendah, yaitu C (Onal, dkk., 2006; Zhu dkk., 2008; Huang dkk., 2009). ZnCl 2 berperan sebagai aktivator kimia karbonisasi sekaligus cetakan mesopori (Huang, dkk., 2009). Sebagai aktivator kimia, ZnCl 2 merupakan dehidrator yang mempercepat proses pirolisis dan mencegah pembentukan tar (Marsh dan Harsley, 2006). Namun demikian ZnCl 2 hanya membangun pori karbon hingga ukuran pori 7 nm (Huang dkk., 2009). Permasalahan terkait temperatur karbonisasi yang tinggi pada penggunaan cetakan ganda dan mesoporositas yang relatif kecil pada penggunaan aktivator kimia ZnCl 2 kemungkinan dapat diatasi dengan menggunakan seng borosilikat (ZBS). Hal ini dengan pertimbangan beberapa alasan, diantaranya: 1) ZBS dapat disintesis dengan metode basah (Yi dkk., 2011) sehingga dapat dilakukan secara serentak dengan karamelisasi fruktosa pada sintesis karbon, 2) penggabungan asam borat, silika, dan ZnCl 2 sebagai sistem baru ZBS akan meningkatkan ukuran cetakan pori dibandingkan menggunakan ZnCl 2 saja, 3) ZBS efektif bekerja pada temperatur karbonisasi lebih rendah dibandingkan borosilikat karena titik lelehnya lebih rendah dan peranan Zn 2+ dalam ZBS sebagai aktivator reaksi karbonisasi, 4) prekursor ZBS (asam borat, silikagel, ZnCl 2 ) merupakan penghasil proton dalam air sehingga dapat meningkatkan reaksi karamelisasi. Oleh karena itu pada penelitian ini sintesis karbon dilakukan dengan menggunakan aktivator seng borosilikat. Temperatur karbonisasi tidak hanya berperan pada proses pirolisis, namun juga pada kristalisasi ZBS serta dapat berdampak pada penguapan ZnCl 2 jika terlalu tinggi. Hal itu akan menurunkan kemampuan kimiawi ZBS sebagai aktivator pirolisis. Di sisi lain, jumlah komponen ZBS menentukan ruang cetakan pori dan diperkirakan akan mempengaruhi kinerja Zn 2+ secara kimia sebagai aktivator karbonisasi. Oleh karena itu perlu ditentukan korelasi antara temperatur karbonisasi dan komponen ZBS terhadap kualitas mesopori karbon. Dari uraian pada sub bab ini, maka dapat disimpulkan bahwa sintesis karbon mesopori penting dilakukan terkait karakteristiknya, potensi aplikasi, serta
4 4 kelimpahan prekursornya. Beberapa metode sintesis telah dilakukan yang berkembang ke arah peningkatan efisiensi dan perbaikan kualitas mesopori karbon. Untuk menghasilkan karbon berbahan dasar fruktosa dengan ukuran pori lebih besar dari 7 nm pada temperatur karbonisasi rendah, penggunaan aktivator hasil penggabungan cetakan pori ganda (borosilikat) dengan aktivator kimia (ZnCl 2 ) kemungkinan dapat dilakukan. 1.2 Permasalahan Cetakan pori silika dan borosilikat cenderung meningkatkan porositas karbon di atas 700 C (sub bab 2.1.1), sebaliknya aktivator kimia ZnCl 2 cenderung bekerja pada temperatur rendah (sub bab 2.1.4). Hal itu terkait dengan titik lelehnya yang rendah dan sifatnya sebagai asam Lewis (sub bab 3.1.4). Keadaan lelehan meningkatkan homogenitas aktivator dan perkursor, sedangkan sifat asam Lewis Zn 2+ meningkatkan peranannya sebagai dehidrator yang meningkatkan reaksi karbonisasi sehingga berlangsung secara efektif pada temperatur yang relatif rendah (sub bab 3.1). Seng borosilikat (ZBS) juga meleleh pada temperatur yang cukup rendah, yaitu 500 C (sub bab 2.3.1). Pelelehan ZBS menguntungkan kinerja asam Lewis Zn 2+ di dalam ZBS sebagai aktivator karbonisasi, sehingga keterlibatan Zn 2+ dalam sistem ZBS berpotensi menurunkan temperatur karbonisasi dibandingkan dengan penggunaan borosilikat. Titik didih ZnCl 2 sebesar 732 C (sub bab 3.1.4) sehingga karbonisasi di atas temperatur tersebut. berpotensi menguapkan sisa ZnCl 2 di luar ZBS akibatnya dapat menurunkan proses aktivasi. Dari uraian tersebut diidentifikasi permasalahan (1): Bagaimana korelasi antara temperatur karbonisasi dengan karakter mesopori karbon dari fruktosa dengan aktivator ZBS? Pada penggunaan borosilikat sebagai cetakan pori karbon, komposisi borosilikat mempengaruhi ukuran pori (sub bab 2.1.3) dan pada penggunaan kombinasi silika dan ZnCl 2, penambahan ZnCl 2 juga mempengaruhi ukuran maupun volume mesopori (sub bab 2.1.2). Silikat dan borat berperan secara fisik sebagai cetakan pori, sedangkan Zn 2+ dalam ZBS berperan secara fisik sebagai cetakan pori dan secara kimia sebagai aktivator reaksi karbonisasi. Oleh karena itu
5 5 diidentifikasi permasalahan (2): Bagaimana korelasi antara komposisi ZBS dengan kualitas mesopori karbon dari fruktosa dengan aktivator ZBS? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah mensintesis karbon mesopori dari fruktosa dengan aktivator ZBS pada temperatur karbonisasi lebih rendah dibandingkan penggunaan cetakan pori borosilikat dengan kualitas mesopori lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan aktivator kimia ZnCl Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat untuk perkembangan ilmu Sintesis Anorganik, yaitu menghasilkan metode sintesis dengan kualitas produk mesopori lebih baik serta meningkatkan pemahaman ilmiah terkait sintesis karbon. Selain itu, produk karbon hasil penelitian ini diharapkan layak untuk matriks atau adsorpsi molekul berukuran besar. 1.5 Keaslian dan Kedalaman Sintesis karbon mesopori dengan berbagai metode aktivasi telah dilakukan dengan peningkatan kualitas mesopori dari waktu ke waktu (penjabaran lengkap terdapat pada sub bab 2.1). Dari semua penelitian tersebut, penelitian Huang dkk. (2009) dan Lee dkk. (2011) memberikan inspirasi untuk diusulkannya metode aktivasi baru dalam penelitian ini. Lee dkk. (2011) mensintesis karbon dari sukrosa dengan cetakan borosilikat dan menghasilkan karbon dengan ukuran pori (D maks ) mencapai 44 nm pada temperatur 900 C. Huang dkk. (2009) mensintesis karbon dari fruktosa dengan aktivator kimia ZnCl 2 pada 450 C. Penelitian tersebut menghasilkan karbon mesopori dengan ukuran pori (D maks ) hanya 7 nm. Dari kedua penelitian tersebut, maka digagas pemakaian ZBS sebagai aktivator dengan harapan dapat meningkatkan kualitas mesopori karbon dibandingkan menggunakan ZnCl 2 saja, serta menurunkan temperatur karbonisasi hingga kurang dari temperatur 900 C sebagaimana yang sebelumnya diterapkan pada penggunaan borosilikat.
6 6 Sintesis karbon mesopori dari fruktosa dengan aktivator ZBS melibatkan reaksi karamelisasi fruktosa menghasilkan karamel dan karbonisasi karamel menghasilkan karbon. ZnCl 2, silikagel, dan asam borat menghasilkan proton di dalam air (sub bab hingga sub bab 3.1.6). Proton merupakan katalis reaksi karamelisasi gula (sub bab 3.1.3). Dengan demikian prekursor-prekursor ZBS lebih meningkatkan pembentukan karamel dibandingkan ZnCl 2 saja ataupun gabungan asam borat dan silikagel. Dari penelitian Huang dkk. (2009) diketahui bahwa karamel merupakan material yang dikarbonisasi untuk membentuk dinding pori karbon. Secara kimia, ZBS mengandung ion-ion Zn 2+ yang dapat berperan sebagai aktivator kimia pada reaksi karbonisasi, sementara borosilikat cenderung berperan sebagai cetakan pori saja. Aktivator kimia meningkatkan dekomposisi pirolitik serta menghambat pembentukan tar sehingga meningkatkan produk karbon (berdasarkan uraian pada sub bab 3.1). Selain itu titik leleh ZBS juga lebih rendah dari borosilikat (berdasarkan uraian pada sub bab 2.3.1). Dalam keadaan lelehan terjadi perenggangan ikatan antar atom-atom dan antar ion-ion di dalam kerangka ZBS. Perenggangan ikatan ini menyebabkan gaya tarik basa Lewis dalam kerangka ZBS lebih rendah terhadap Zn 2+ sehingga asam Lewis Zn 2+ dapat bekerja sebagai dehidrator secara baik selama proses karbonisasi. Hal ini mirip dengan kasus penggunaan ZnCl 2 sebagaimana dijelaskan oleh Marsh dan Reinoso (2006), bahwa dalam keadaan lelehan ZnCl 2 lebih mudah berikatan dengan prekursor yang sedang mengalami degradasi secara termal. Proses degradasi tersebut memproduksi molekul H 2 O yang kemudian ditransfer ke ZnCl 2 sehingga terbentuk senyawa hidrat. Molekul hidrat tersebut kemudian dilepaskan kembali akibat peningkatan temperatur. Dengan demikian penggunaan ZBS diperkirakan akan meningkatkan reaksi karbonisasi dengan temperatur lebih rendah dibandingkan penggunaan borosilikat. Pada pembentukan ZBS sendiri, ZnCl 2 meningkatkan pembentukan kerangka ZBS melalui pembentukan tetrahedral ZnO 4 yang berkoordinasi dengan SiO 4 dan BO 4 (dijelaskan pada sub bab 2.3.1). Hal ini karena ion Zn 2+ bersifat asam Lewis (sub bab 3.1.5) yang mampu membentuk ikatan ionik dengan gugus
7 7 silikat (Si-O - ) dan borat (B-O - ) serta mampu berikatan koordinasi dengan gugus Si-OH dan B-OH seperti yang terjadi dengan ligan H 2 O (sub bab 3.1.5). Sebagai cetakan pori, ZBS memiliki ruang cetakan pori lebih besar dari ZnCl 2. Oleh karena itu aktivator ZBS diperkirakan akan memberikan ukuran mesopori dan volume mesopori lebih besar daripada ZnCl 2. Dari tinjauan secara fisika maupun kimia tersebut dapat diprediksikan bahwa dengan penerapan ZBS akan mampu memberikan kualitas karbon mesopori lebih tinggi (ukuran pori dan volume mesopori) dibandingkan ZnCl 2 serta menurunkan temperatur karbonisasi sehingga lebih rendah daripada sintesis menggunakan borosilikat. Untuk membuktikan prediksi tersebut, maka dilakukan tahapan penelitian sebagai berikut: 1. Sintesis karbon mesopori dari fruktosa dengan aktivator ZBS pada berbagai temperatur karbonisasi 2. Sintesis karbon mesopori dari fruktosa dengan aktivator ZBS pada berbagai perbandingan massa SiO 2 /fruktosa 3. Sintesis karbon mesopori dari fruktosa dengan aktivator ZBS pada berbagai perbandingan massa H 3 BO 3 /fruktosa 4. Sintesis karbon mesopori dari fruktosa dengan aktivator ZBS pada berbagai perbandingan massa ZnCl 2 /fruktosa Penggunaan variabel perbandingan massa aktivator dan prekursor mengacu pada penelitian Huang dkk. (2009) dan Zhao dkk. (2007). Pemahaman terkait pembentukan pori karbon, reaksi pada proses sintesis, serta kemampuan karbon hasil sintesis untuk adsorpsi dicapai dengan melakukan kajian tambahan meliputi: 1. Menginvestigasi komponen kristal ZBS yang berperan sebagai pengontrol ukuran mesopori 2. Menentukan tahap-tahap reaksi pada proses karbonisasi 3. Menguji kemampuan produk karbon mesopori untuk adsorpsi protein bovin serum albumin (BSA) dan sianokobalamin dalam vitamin B12.
8 8
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengurangan kadar sulfur (desulfurisasi) dari minyak bumi diberlakukan oleh hampir seluruh negara di dunia karena dampak buruk oksida sulfur bagi lingkungan. Pengurangan
BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, tujuan dari penelitian dan manfaat yang diharapkan. I.
BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, tujuan dari penelitian dan manfaat yang diharapkan. I.1 Latar Belakang Pasir besi merupakan salah satu sumber besi yang dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Material mesopori menjadi hal yang menarik untuk dipelajari terutama setelah ditemukannya material mesopori berstruktur nano yang kemudian dikenal sebagai bahan M41S
BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, tujuan dari penelitian dan manfaat yang diharapkan.
BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, tujuan dari penelitian dan manfaat yang diharapkan. 1.1 Latar Belakang Masalah Mineral besi oksida merupakan komponen utama dari
HASIL DAN PEMBAHASAN. nm. Setelah itu, dihitung nilai efisiensi adsorpsi dan kapasitas adsorpsinya.
5 E. ampas sagu teraktivasi basa-bentonit teraktivasi asam (25 : 75), F. ampas sagu teraktivasi basa-bentonit teraktivasi asam (50 : 50), G. ampas sagu teraktivasi basa-bentonit teraktivasi asam (75 :
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Penelitian Katalis umumnya diartikan sebagai bahan yang dapat mempercepat suatu reaksi kimia menjadi produk. Hal ini perlu diketahui karena, pada dasarnya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini bahan bakar transportasi umumnya masih bergantung pada sumber daya fosil. Ketergantungan terhadap energi berbasis fosil dialami hampir di setiap negara termasuk
2015 KONVERSI LIGNOSELULOSA TANDAN PISANG MENJADI 5-HIDROKSIMETIL-2-FURFURAL (HMF) : OPTIMASI KOMPOSISI
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemenuhan kebutuhan bahan bakar saat ini masih sangat bergantung pada sumber daya fosil. Sumber energi berbasis fosil masih merupakan sumber energi utama yang digunakan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara penghasil tebu yang cukup besar di dunia. Menurut data FAO tahun 2013, Indonesia menduduki peringkat ke-9 dengan produksi tebu per
BAB I PENGANTAR. Prarancangan Pabrik Karbon Aktif dari BFA dengan Aktifasi Kimia Menggunakan KOH Kapasitas Ton/Tahun. A.
BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah yang salah satu hasil utamanya berasal dari sektor pertanian berupa tebu. Indonesia
BAB 4 DATA DAN ANALISIS
BAB 4 DATA DAN ANALISIS 4.1. Kondisi Sampel TiO 2 Sampel TiO 2 disintesa dengan memvariasikan jenis pelarut, block copolymer, temperatur kalsinasi, dan kelembaban relatif saat proses aging. Kondisi sintesisnya
HASIL DAN PEMBAHASAN. = AA diimpregnasi ZnCl 2 5% selama 24 jam. AZT2.5 = AA diimpregnasi ZnCl 2 5% selama 24 jam +
6 adsorpsi sulfur dalam solar juga dilakukan pada AZT2 dan AZT2.5 dengan kondisi bobot dan waktu adsorpsi arang aktif berdasarkan kadar sulfur yang terjerap paling tinggi dari AZT1. Setelah proses adsorpsi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini dijelaskan beberapa hal yang menjadi latar belakang dilakukannya penelitian, disertai dengan tujuan dan manfaat yang ingin dicapai dari penelitian ini. Latar belakang menjelaskan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fuel cell merupakan sistem elektrokimia yang mengkonversi energi dari pengubahan energi kimia secara langsung menjadi energi listrik. Fuel cell mengembangkan mekanisme
I. PENDAHULUAN. Seiring kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. dibutuhkan suatu material yang memiliki kualitas baik seperti kekerasan yang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang semakin pesat, dibutuhkan suatu material yang memiliki kualitas baik seperti kekerasan yang tinggi, porositas yang
BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN
BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN 4.1 SINTESIS SBA-15 Salah satu tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan material mesopori silika SBA-15 melalui proses sol gel dan surfactant-templating. Tahapan-tahapan
Kehidupan. Senyawa kimia dalam jasad hidup Sintesis dan degradasi. 7 karakteristik kehidupan. Aspek kimia dalam tubuh - 2
Kehidupan 7 karakteristik kehidupan Senyawa kimia dalam jasad hidup Sintesis dan degradasi Aspek kimia dalam tubuh - 2 Aspek kimia dalam tubuh - 3 REPRODUKSI: Penting untuk kelangsungan hidup spesies.
I. PENDAHULUAN. serius, ini karena penggunaan logam berat yang semakin meningkat seiring
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pencemaran lingkungan karena logam berat merupakan masalah yang sangat serius, ini karena penggunaan logam berat yang semakin meningkat seiring dengan perkembangan di bidang
METODA AKTIVASI ZEOLIT ALAM DAN APLIKASINYA SEBAGAI MEDIA AMOBILISASI ENZIM α-amilase. Skripsi Sarjana Kimia. Oleh WENI ASTUTI
METODA AKTIVASI ZEOLIT ALAM DAN APLIKASINYA SEBAGAI MEDIA AMOBILISASI ENZIM α-amilase Skripsi Sarjana Kimia Oleh WENI ASTUTI 07132011 JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. cahaya matahari.fenol bersifat asam, keasaman fenol ini disebabkan adanya pengaruh
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Fenol merupakan senyawa organik yang mengandung gugus hidroksil (OH) yang terikat pada atom karbon pada cincin benzene dan merupakan senyawa yang bersifat toksik, sumber pencemaran
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ampas Tebu Ampas tebu adalah bahan sisa berserat dari batang tebu yang telah mengalami ekstraksi niranya pada industri pengolahan gula pasir. Ampas tebu juga dapat dikatakan
Pemanfaatan Kulit Singkong Sebagai Bahan Baku Karbon Aktif
Pemanfaatan Kulit Singkong Sebagai Bahan Baku Karbon Aktif Landiana Etni Laos, Arkilaus Selan Prodi Pendidikan Fisika STKIP Soe, Nusa Tenggara Timur E-mail: [email protected] Abstrak. Karbon aktif merupakan
SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPORI TiO2-SiO2/KITOSAN DENGAN PENAMBAHAN SURFAKTAN DTAB SKRIPSI SARJANA KIMIA. Oleh STEFANI KRISTA BP :
SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPORI TiO2-SiO2/KITOSAN DENGAN PENAMBAHAN SURFAKTAN DTAB SKRIPSI SARJANA KIMIA Oleh STEFANI KRISTA BP : 0910412029 JURUSAN S1 KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
BAB 3 METODE PENELITIAN. Neraca Digital AS 220/C/2 Radwag Furnace Control Indicator Universal
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Alat Neraca Digital AS 220/C/2 Radwag Furnace Control Fisher Indicator Universal Hotplate Stirrer Thermilyte Difraktometer Sinar-X Rigaku 600 Miniflex Peralatan Gelas Pyrex
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Logam Berat Istilah "logam berat" didefinisikan secara umum bagi logam yang memiliki berat spesifik lebih dari 5g/cm 3. Logam berat dimasukkan dalam kategori pencemar lingkungan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Beras yang berasal dari tanaman padi merupakan bahan makanan pokok bagi setengah penduduk dunia termasuk Indonesia. Oleh karena itu, tanaman padi banyak dibudidayakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN Tempurung kelapa merupakan salah satu bahan yang baik dijadikan arang, karena memiliki sifat keras oleh kandungan silikat (SiO 2 ) yang tinggi, kadar karbon terikat
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.2 DATA HASIL ARANG TEMPURUNG KELAPA SETELAH DILAKUKAN AKTIVASI
39 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 PENDAHULUAN Hasil eksperimen akan ditampilkan pada bab ini. Hasil eksperimen akan didiskusikan untuk mengetahui keoptimalan arang aktif tempurung kelapa lokal pada
YAYASAN BINA SEJAHTERA SMK BINA SEJAHTERA 2 BOGOR Jl. Ledeng Sindangsari No. 05 Bogor Jl. Radar baru no. 08 Bogor ULANGAN SEMESTER GANJIL
: XI (Semua Jurusan) Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar! 1. Apa yang dimaksud dengan pengertian istilah-istilah berikut : a. ikatan ionik b. reaksi basa c. reaksi reduksi d. reaksi
I. PENDAHULUAN. Nanoteknologi merupakan teknologi masa depan, tanpa kita sadari dengan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nanoteknologi merupakan teknologi masa depan, tanpa kita sadari dengan nanoteknologi tersebut berbagai aspek persoalan dapat kita selesaikan (Anonim A, 2012). Pengembangan
Hasil dan Pembahasan
Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Menentukan Suhu dan Waktu Karbonisasi Pada penentuan suhu dan waktu karbonisasi yang optimum, dilakukan pemanasan sampel sekam pada berbagai suhu dan waktu pemanasan. Hasil
adsorpsi dan katalisator. Zeolit memiliki bentuk kristal yang sangat teratur dengan rongga yang saling berhubungan ke segala arah yang menyebabkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan dalam bidang industri sampai saat ini masih menjadi tolak ukur perkembangan pembangunan dan kemajuan suatu negara. Kemajuan dalam bidang industri ini ternyata
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saat ini telah banyak industri kimia yang berkembang, baik di dalam maupun di luar negeri, untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Kebanyakan industriindustri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 MINYAK KELAPA SAWIT Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia [11]. Produksi CPO Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya, seperti
Pengaruh Temperatur terhadap Adsorbsi Karbon Aktif Berbentuk Pelet Untuk Aplikasi Filter Air
Pengaruh Temperatur terhadap Adsorbsi Karbon Aktif Berbentuk Pelet Untuk Aplikasi Filter Air Erlinda Sulistyani, Esmar Budi, Fauzi Bakri Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah pencemaran belakangan ini sangat menarik perhatian masyarakat banyak.perkembangan industri yang demikian cepat merupakan salah satu penyebab turunnya kualitas
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. karakterisasi luas permukaan fotokatalis menggunakan SAA (Surface Area
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini akan dibahas mengenai preparasi ZnO/C dan uji aktivitasnya sebagai fotokatalis untuk mendegradasi senyawa organik dalam limbah, yaitu fenol. Penelitian ini
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Zeolit 2.1.1 Pengertian Zeolit Zeolit adalah polimir anorganik unit kerangka tetrahedral AlO4 dan SiO4 yang mempunyai struktur berongga dari Natrium silikat dan berkemampuan
I. PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu material dalam peningkatan produk hasil reaksi tidak
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ilmu material dalam peningkatan produk hasil reaksi tidak terlepas dari peranan bahan katalis (katalisator). Katalis merupakan suatu zat yang mengakibatkan
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Industri mempunyai pengaruh besar terhadap lingkungan, karena dalam prosesnya akan dihasilkan produk utama dan juga produk samping berupa limbah produksi, baik limbah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak 4000 SM, manusia telah mengenal dan mengolah emas, berdasarkan penemuan arkeolog di Bulgaria. Pengolahan emas berlanjut hingga sekarang. Emas menjadi salah satu
Sintesis Nanopartikel ZnO dengan Metode Kopresipitasi
Sintesis Nanopartikel ZnO dengan Metode Kopresipitasi NURUL ROSYIDAH Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember Pendahuluan Kesimpulan Tinjauan Pustaka
Bab II Tinjauan Pustaka
Bab II Tinjauan Pustaka 2.1 Produksi H 2 Sampai saat ini, bahan bakar minyak masih menjadi sumber energi yang utama. Karena kelangkaan serta harganya yang mahal, saat ini orang-orang berlomba untuk mencari
PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 2 (2013), Hal ISSN :
Pengaruh Konsentrasi Aktivator Kalium Hidroksida (KOH) terhadap Kualitas Karbon Aktif Kulit Durian sebagai Adsorben Logam Fe pada Air Gambut Ririn Apriani 1), Irfana Diah Faryuni 1), Dwiria Wahyuni 1)
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian 4.1.1. Hasil penentuan kandungan oksida logam dalam abu boiler PKS Penentuan kandungan oksida logam dari abu boiler PKS dilakukan dengan menggvmakan XRF
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Permanganometri merupakan metode titrasi dengan menggunakan kalium
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Permanganometri Permanganometri merupakan metode titrasi dengan menggunakan kalium permanganat, yang merupakan oksidator kuat sebagai titran. Titrasi ini didasarkan atas titrasi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keberadaan logam berat sebagai polutan bagi lingkungan hidup diawali dengan meningkatnya populasi dan industrialisasi dari proses modernisasi manusia dan lingkungan
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Air merupakan sumber daya alam yang penting bagi semua mahluk hidup. Manusia dalam kehidupan sehari-hari memerlukan air untuk berbagai keperluan mulai dari
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 HASIL PENGUJIAN X-RAY DIFFRACTION (XRD) Pengujian struktur kristal SBA-15 dilakukan dengan menggunakan X-Ray Diffraction dan hasil yang di dapat dari pengujian
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fotokatalis telah mendapat banyak perhatian selama tiga dekade terakhir sebagai solusi yang menjanjikan baik untuk mengatasi masalah energi maupun lingkungan. Sejak
I. PENDAHULUAN. Nanoteknologi diyakini akan menjadi suatu konsep teknologi yang akan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nanoteknologi diyakini akan menjadi suatu konsep teknologi yang akan melahirkan revolusi industri baru di abad 21 (Anonim, 2011). Sekarang ini nanoteknologi memiliki
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Nanopartikel merupakan suatu partikel dengan ukuran nanometer, yaitu sekitar 1 100 nm (Hosokawa, dkk. 2007). Nanopartikel menjadi kajian yang sangat menarik, karena
dapat mencapai hingga 90% atau lebih. Terdapat dua jenis senyawa santalol dalam minyak cendana, yaitu α-santalol dan β-santalol.
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Tanaman Cendana (Santalum album L.) adalah tanaman asli Indonesia yang memiliki aroma yang khas, dimana sebagian besar tumbuh di Propinsi Nusa Tenggara Timur
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam satu atau dua dekade terakhir, banyak penelitian diarahkan untuk produksi bahan bakar kendaraan bermotor dari bahan alam yang terbarukan, khususnya minyak nabati.
BAB VI Kesimpulan dan Saran
BAB VI Kesimpulan dan Saran VII.1 Kesimpulan Studi eksperimental ketahanan material beton terhadap intrusi mikroorganisme dilakukan dengan menggunakan media intrusi air kelapa. Media ini dipilih sebagai
HASIL DAN PEMBAHASAN. Struktur Karbon Hasil Karbonisasi Hidrotermal (HTC)
39 HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur Karbon Hasil Karbonisasi Hidrotermal (HTC) Hasil karakterisasi dengan Difraksi Sinar-X (XRD) dilakukan untuk mengetahui jenis material yang dihasilkan disamping menentukan
BAB I PENDAHULUAN. mengandung bahan anorganik yang berisi kumpulan mineral-mineral berdiameter
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanah lempung mempunyai cadangan yang cukup besar di hampir seluruh wilayah Indonesia namum pemanfaatannya masih belum optimal. Tanah lempung merupakan bahan alam
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
28 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Limbah Padat Agar-agar Limbah hasil ekstraksi agar terdiri dari dua bentuk, yaitu padat dan cair. Limbah ini mencapai 65-7% dari total bahan baku, namun belum
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian ini akan dibahas tentang sintesis katalis Pt/Zr-MMT dan
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini akan dibahas tentang sintesis katalis Pt/Zr-MMT dan uji aktivitas katalis Pt/Zr-MMT serta aplikasinya sebagai katalis dalam konversi sitronelal menjadi mentol
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
13 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Molekul-molekul pada permukaan zat padat atau zat cair mempunyai gaya tarik kearah dalam, karena tidak ada gaya-gaya lain yang mengimbangi. Adanya gayagaya ini
KIMIA. Sesi KIMIA UNSUR (BAGIAN IV) A. UNSUR-UNSUR PERIODE KETIGA. a. Sifat Umum
KIMIA KELAS XII IPA - KURIKULUM GABUNGAN 12 Sesi NGAN KIMIA UNSUR (BAGIAN IV) A. UNSUR-UNSUR PERIODE KETIGA Keteraturan sifat keperiodikan unsur dalam satu periode dapat diamati pada unsur-unsur periode
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. BATUBARA Batubara merupakan batuan sedimentasi berwarna hitam atau hitam kecoklat-coklatan yang mudah terbakar, terbentuk dari endapan batuan organik yang terutama terdiri
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENELITIAN PENDAHULUAN 1. Analisis Sifat Fisiko Kimia Tempurung Kelapa Sawit Tempurung kelapa sawit merupakan salah satu limbah biomassa yang berbentuk curah yang dihasilkan
BAB II LANDASAN TEORI. (Balai Penelitian dan Pengembangan Industri, 1984). 3. Arang gula (sugar charcoal) didapatkan dari hasil penyulingan gula.
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Arang Aktif Arang adalah bahan padat yang berpori dan merupakan hasil pembakaran dari bahan yang mengandung unsur karbon. Sebagian besar dari pori-porinya masih tertutup dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Yulieyas Wulandari, 2013
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Melamin merupakan senyawa kimia bersifat basa yang digunakan terutama sebagai bahan polimer. Tidak ada peraturan yang mengijinkan penambahan langsung melamin ke dalam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berhubungan melalui atom O (Barrer, 1982). Klasifikasi zeolit dapat didasarkan
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Zeolit Zeolit merupakan mineral hasil tambang yang kerangka dasarnya terdiri dari unit-unit tetrahedral alumina (AlO 4 ) dan silika (SiO 4 ) yang saling berhubungan melalui
BAB I PENDAHULUAN. manusia seperti industri kertas, tekstil, penyamakan kulit dan industri lainnya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan dalam bidang industri saat ini cukup pesat. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya industri yang memproduksi berbagai jenis kebutuhan manusia seperti
BAB 4 HASIL DAN ANALISIS
BAB 4 HASIL DAN ANALISIS Sehubungan dengan prekursor yang digunakan yaitu abu terbang, ASTM C618 menggolongkannya menjadi dua kelas berdasarkan kandungan kapur (CaO) menjadi kelas F yaitu dengan kandungan
SINTESIS DAN UJI TOKSISITAS KOMPLEKS LOGAM Mn(II)/Zn(II) DENGAN LIGAN ASAM PIRIDIN-2,6-DIKARBOKSILAT
1 SINTESIS DAN UJI TOKSISITAS KOMPLEKS LOGAM Mn(II)/Zn(II) DENGAN LIGAN ASAM PIRIDIN-2,6-DIKARBOKSILAT Yulien Nilam Sari 1409 100 068 Dosen Pembimbing: Dr. Fahimah Martak, M.Si Jurusan Kimia Fakultas Matematika
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sintesis silika dan alumina berbasis material mesopori telah memberikan banyak keuntungan sejak tahun 1990, terutama sejak ditemukannya MCM-41 yang merupakan bagian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong pesatnya perkembangan di berbagai sektor kehidupan manusia terutama sektor industri. Perkembangan
HASIL DAN PEMBAHASAN. kedua, dan 14 jam untuk Erlenmeyer ketiga. Setelah itu larutan disaring kembali, dan filtrat dianalisis kadar kromium(vi)-nya.
8 kedua, dan 14 jam untuk Erlenmeyer ketiga. Setelah itu larutan disaring kembali, dan filtrat dianalisis kadar kromium(vi)-nya. HASIL DAN PEMBAHASAN Penentuan Kapasitas Tukar Kation Kapasitas tukar kation
I. PENDAHULUAN. Keberadaan logam berat di sistem perairan dan distribusinya, diatur oleh
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberadaan logam berat di sistem perairan dan distribusinya, diatur oleh kesetimbangan dinamik dan interaksi fisika-kimia. Logam berat dalam perairan antara lain
BAB 3 KIMIA TANAH. Kompetensi Dasar: Menjelaskan komponen penyusun, sifat fisika dan sifat kimia di tanah
Kimia Tanah 23 BAB 3 KIMIA TANAH Kompetensi Dasar: Menjelaskan komponen penyusun, sifat fisika dan sifat kimia di tanah A. Sifat Fisik Tanah Tanah adalah suatu benda alami heterogen yang terdiri atas komponenkomponen
BAB I PENDAHULUAN. Bab I Pendahuluan
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penurunan kualitas lingkungan hidup dewasa ini salah satunya disebabkan oleh aktifitas kendaran bermotor yang menjadi sumber pencemaran udara. Gas-gas beracun penyebab
I. PENDAHULUAN. Kebutuhan pada senyawa berukuran atau berstruktur nano khususnya dalam
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan pada senyawa berukuran atau berstruktur nano khususnya dalam bidang sintesis material, memacu para peneliti untuk mengembangkan atau memodifikasi metode preparasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Energi merupakan salah satu kebutuhan wajib bagi seluruh masyarakat dunia, khususnya masyarakat Indonesia. Bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu
Kehidupan. Senyawa kimia dalam jasad hidup Sintesis dan degradasi. 7 karakteristik kehidupan
Kehidupan 7 karakteristik kehidupan Senyawa kimia dalam jasad hidup Sintesis dan degradasi Aspek kimia dalam tubuh - 2 REPRDUKSI: Penting untuk kelangsungan hidup spesies. Reproduksi seksual berkembang
PENGARUH PENAMBAHAN SUKROSA DAN GLUKOSA PADA PEMBUATAN PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING TERHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK
PENGARUH PENAMBAHAN SUKROSA DAN GLUKOSA PADA PEMBUATAN PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING TERHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK (Laporan Penelitian) Oleh RIFKY AFRIANANDA JURUSAN TEKNOLOGI HASIL
PENGARUH SUHU AKTIVASI TERHADAP DAYA SERAP KARBON AKTIF KULIT KEMIRI
PENGARUH SUHU AKTIVASI TERHADAP DAYA SERAP KARBON AKTIF KULIT KEMIRI Landiana Etni Laos 1*), Masturi 2, Ian Yulianti 3 123 Prodi Pendidikan Fisika PPs Unnes, Gunungpati, Kota Semarang 50229 1 Sekolah Tinggi
I. PENDAHULUAN. Alumina banyak digunakan dalam berbagai aplikasi seperti digunakan sebagai. bahan refraktori dan bahan dalam bidang otomotif.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Alumina banyak digunakan dalam berbagai aplikasi seperti digunakan sebagai bahan refraktori dan bahan dalam bidang otomotif. Hal ini karena alumina memiliki sifat fisis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sumber nitrogen pada ternak ruminansia terdiri dari non protein nitrogen dan
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pencernaan Nitrogen di Rumen Nitrogen merupakan senyawa yang penting bagi ternak ruminansia. Sumber nitrogen pada ternak ruminansia terdiri dari non protein nitrogen dan
STANDAR KOMPETENSI. 1.Menjelaskan sifat- sifat
SKL 1. Melakukan percobaan, antara lain merumuskan masalah, mengajukan menguji hipotesis, menentukan variabel, merancang merakit instrumen, mengumpulkan, mengolah menafsirkan data, menarik kesimpulan,
Apa itu Biokimia? Definisi:
BIOKIMIA Definisi: Apa itu Biokimia? Webster s dictionary: Bios = Yunani, artinya hidup Kimia mahluk hidup; Kimia yang terjadi dan menjadi ciri kehidupan. WebNet dictionary: Biokimia adalah kimia dari
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 AREN (Arenga pinnata) Pohon aren (Arenga pinnata) merupakan pohon yang belum banyak dikenal. Banyak bagian yang bisa dimanfaatkan dari pohon ini, misalnya akar untuk obat tradisional
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perindustrian di Indonesia semakin berkembang. Seiring dengan perkembangan industri yang telah memberikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perindustrian di Indonesia semakin berkembang. Seiring dengan perkembangan industri yang telah memberikan kontribusi dalam peningkatan kualitas hidup manusia,
SAP-GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN
SAP-GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN Mata kuliah : Kimia Kode : Kim 101/3(2-3) Deskripsi : Mata kuliah ini membahas konsep-konsep dasar kimia yang disampaikan secara sederhana, meliputi pengertian
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PEDAHULUA A. Latar Belakang Senyawa kovalen koordinasi terbentuk antara ion logam yang memiliki orbital d yang belum terisi penuh (umumnya ion logam transisi) dengan ligan yang memiliki pasangan
Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sekam padi merupakan produk samping yang melimpah dari hasil penggilingan padi. Selama ini pemanfaatan sekam padi belum dilakukan secara maksimal sehingga hanya digunakan
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada masa sekarang kecenderungan pemakaian bahan bakar sangat tinggi sedangkan sumber bahan bakar minyak bumi yang di pakai saat ini semakin menipis. Oleh karena itu,
