\/lenteri KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA ALINAN
|
|
|
- Sri Salim
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 \/lenteri KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA ALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 /PMK.03/2017 TENT ANG TATA CARA PELAPORAN DAN PENGHITUNGAN PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 ATAS PENGHASILAN PEGAWAI DARI PEMBERI KERJA DENGAN KRITERIA TERTENTU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 3 Peraturan Pemerintah I\omor 41 Tahun 2016 tentang Perlakuan Pajak Penghasilan Pasal 21 atas Penghasilan Pegawai dari Pemberi Kerja dengan Kriteria Tertentu, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Pelaporan clan Penghitungar: Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 atas Penghasilan Pegawai dari Pemberi Kerja dengan Kriteria Tertentu; Mengingat Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2016 tentang Perlakuan Pajak Pehghasilan Pasal 21 atas Penghasilan Pegawai dari Pemberi Kerja dengan Kriteria Tertentu (Lembaran I\egara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 201, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5937);
2 -2- Menetapkan MEMUTUSKAN: PERATURAN MENTER! KEUANGAN TENTANG TATA CARA PELAPORAN DAN PENGHITUNGAN PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 ATAS PENGHASILAN PEGAWAI DARI PEMBER! KERJA DENGAN KRITERIA TERTENTU. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Undang-Undang Pajak Penghasilan adalah Undang Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasi:an sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Per:.ibahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. 2. Perjanjian Kerja Bersama adalah suatu kesepakatan secara tertulis dengan htruf latin dan menggunakan bahasa Indonesia yang dibuat secara bersama-sa:na antara perusahaan dengan organisasi serikat pekerja/ gabungan organisasi serikat pekerja yang sudah terdaftar pada instansi pemerin tah yang bertanggc;.ng jawab di bidang ketenagakerjaan. Pasal 2 ( 1) Atas penghasilan yang diterima a tau diperoleh pegawai yang merupakan orang pribadi dalam negeri berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan, dikenai pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21. (2) Pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan orang pribadi yang bekerja pada pemberi kerja, untuk melaksanakan suatu pekerjaan dalam jabatan atau kegiatan tertentu d.engan memperoleh imbalan yang dibayarkan berdasarkan periode tertentu, penyelesaian pekerjaan, atau ketentuan lain yang ditetapkan pemberi kerja. ){J
3 -3- (3) Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pemotongan pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diterima a tau diperoleh W ajib Pajak orang pribadi dalam negeri se bagaimana diatur dalam Pasal 21 Undang-Undang Pajak Penghasilan. Pasal 3 (1) Pegawai yang menerima penghasilan dari pemberi kerja dengan kriteria tertentu dengan jumlah Penghasilan Kena Pajak dalam 1 (satu) tahun pc_ling banyak sebesar Rp ,00 (lima puluh juta rupiah), dikenai Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 yang bersifat final. (2) Penghasilan Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) merupakan penghasilan neto dikurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Pasal 4 (1) Pemberi kerja dengan kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. merupakan Wajib Pajak Badan yang melakukan kegiatan usaha pada bidang industri: 1. alas kaki; dan/ atau 2. tekstil dan produk tekstil, sebagaimana dimaksud dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia; b. mempekerjakan pegawai langsung paling sedikit (dua ribu) pegawai, sebagaimana dilaporkan pada: 1. Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/ atau Pasal 26 Masa Pajak Juli 2016 untuk tahun pajak 2016; atau
4 -4-2. Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 clan/ atau Pasal 26 Masa Pajak Januari 2017 untuk tahun pajak 2017; c. menanggung seluruh Pajak Penghasilan Pasal 21 atas pegawai sebagaimana climaksucl clalam Pasal 3 ayat (1); cl. pacla tahun sebelumnya melakukan ekspor paling sedikit 50% (lima puluh persen) dari total nilai penjualan tahunan; e. memiliki Perjanjian Kerja Bersama; f. mengikutsertakan pegawainya dalam program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan dan program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan; dan g. tidak mendapatkan atau seclang memanfaatkan: 1. fasilitas Pajak Penghasilan berdasarkan Pasal 31A Undang-Undang Pajak Penghasilan; atau 2. fasilitas Pajak Penghasilan berdasarkan Pasal 29 Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010 tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun Berjalan. (2) Rincian industri alas kaki clan/ atau industri tekstil clan procluk tekstil sebagaimana climaksucl pada ayat (1) huruf a tercantum dalam Lampiran Huruf A yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. (3) Pegawai langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan pegawai yang dipekerjakan langsung oleh perusahaan atau yang menjadi pembebanan perusahaan, tidak termasuk pegawai yang dipekerjakan dari perusahaan alih daya (outsourcing). Pasal 5 (1) Pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) yaitu pegawai yang diperkirakan dalam 1 (satu) tahun memperoleh Peng:iasilan Kena Pajak paling banyak, 19
5 -5- sebesar Rp ,00 (lima puluh juta rupiah), berdasarkan daftar pegawai yang disampaikan pemberi kerja pada saat pelaporan: a. Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26 Masa Pajak Juli 2016 untuk tahun pajak 2016; dan b. Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26 Masa Pajak Januari 2017 untuk tahun pajak (2) Termasuk dalam pengertian pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) yaitu pegawa1 yang mulai bekerja setelah bulan Juli 2016 dan diperkirakan dalam 1 (satu) tahun memperoleh Penghasilan Kena Pajak paling banyak sebesar Rp ,00 (lima puluh ju ta rupiah), berdasarkan daftar pegawai yang disampaikan pemberi kerja pada saat pelaporan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/ atau Pasal 26 Masa Pajak saat pegawai terse but mulai bekerja. (3) Laporan daftar pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) clan ayat (2) adalah sesuai dengan contoh format laporan tercantum dalam Lampiran Huruf B yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Pasal 6 ( 1) Besarnya Pajak Penghasilan Pasa 21 yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) yaitu sebesar 2,5% (dua koma lima persen) atas Penghasilan Kena Pajak. (2) Dalam hal realisasi jumlah Penghasilan Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah melebihi Rp ,00 (lima puluh juta rupiah) dalam 1 (satu) tahun, atas Penghasilan Kena Pajak yang melebihi Rp ,00 (lima puluh juta rupiah) tersebut dikenai pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dengan tarif 15c1o (lima belas persen) dan bersifat final.
6 -6- (3) Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan pada Masa Pajak saat realisasi jumlah Penghasilan Kena Pajak telah melebihi RpS ,00 (lima puluh juta rupiah) dalam 1 (sa:u) tahun sampai dengan Masa Pajak Desember tah:in bersangkutan. (4) Terhadap pegawai yang telah memperoleh Penghasilan Kena Pajak melebihi RpS ,00 (lima puluh juta rupiah) sebagaimana dimaksud pada ayat (2), untuk tahun berikutnya dikenai pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dengan tarif berdasarkan Pasal 17 Undang Undang Pajak Penghasilan. Pasal 7 (1) Perr:beri kerja dengan kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) wajib menghitung, meootong, menyetorkan, dan melaporkan Pajak Penghasilan Pasal 21 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) untuk setiap bulan kalender. (2) Perr:beri kerja dengan kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) wajib memberikan tanda bukti pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 kepada pegawainya yang dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21 setiap melakukan pemotongan. Pasal 8 Contoh penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 atas penghasilan pegawai dari pemberi kerja dengan krite::-ia tertentu tercantum dalam Lampiran Huruf C yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Pasal 9 Ketentuan mengenai tarif Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 berlaku untuk Masa Pajak Juli 2016 sampai dengan Masa Pajak Desember )(j
7 -7- Pasal 10 Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 yang terutang bagi pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) untuk Masa Pajak Januari 2016 sampai dengan Masa Pajak Juni 2016 dihitung berdasarkan Penghasilan Kena Pajak yang disetahunkan, sebanding dengan jumlah bulan pegawai dimaksud bekerja dari Masa Pajak Januari 2016 sampai dengan Masa PajakJuni Pasal 11 (1) Pajak Penghasilan Pasal 21 untuk Masa Pajak Juli 2016 sampai dengan Masa Pajak sebelum diundangkannya Peraturan Menteri ini yang seharusnya dihitung, disetor dan dilaporkan dengan menggunakan tarif yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) namun dihitung, disetor dan dilaporkan dengan menggunakan tarif Pasal 17 Undang-Undang Pajak Penghasilan, dilakukan pembetulan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/ atau Pasal 26. (2) Dalam hal setelah dilakukan pembetulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdapat kelebihan penyetoran, atas kelebihan penyetoran tersebut dikompensasikan ke masa pajak berikutnya. Pasal 12 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
8 -8- Agar setiap orang mengetahuinya, memerin tahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 10 Maret 2017 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, ttd. SRI MULYANI INDRAWATI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 13 Maret 2017 DIREKTUR JENDERAL PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, ttd. WIDODO EKATJAHJANA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2017 NOMOR 398
9 -9- LAMPI RAN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40/PMK.03/2017 TENTANG TATA CARA PEMOTONGAN, PENYETORAN, DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 ATAS PENGHASILAN PEGAWAI DARI PEMBER! KERJA DENGAN KRITERIA TERTENTU A. RINCIAN INDUSTRI ALAS KAKI DAN/ATAU INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL: 1. Industri alas kaki terdiri dari: No. Kategori 1. c Ko de KBLI Na111a Industri industri alas kaki untuk keperluan sehari-hari Kelompok ini Deskripsi mencah.'t.1p usa.ha penibuatan alas kaki keperlua.n sehari-hari dari k 1J.1it dan kulit buatan:-.karet1 kanvas clan kay11:i sepe.rti sepatu harian sepatu sa.ntai ( co.:st.tcd: shoes).t sepatu sandal} sandal kelom dan selop. Termasu.k juga us aha pembua.tan bagian-bagian dari' alas kaki tersehut} seperti atasan. sol dalan11 sol luar J penguat depan, pe:nguat tengah J penguat belakang J, lapisan dan aksesori dari kulit dan luilit buatan. 2. c Industri Sepatu Olah.raga Kelompok ini menca:kup usaha penibuatan sepatu untuk olahraga dari h.- uli t dan. h.!..ili t buatan J karet dan kanvas J seperti sepatu sepak bola J sepatu atletikj, sepatu senam} sepatu Jogging dan sepatu balet. Terma::n.ik juga u.saha pembuatan hagian bagian dari sepatu olahraga tersebutj.rne.liputi atasan, sol luarj sol dalam-', hpisan dan. aksesori. c Industri Sepatu Teknik Lapangan/ Keperlu an Industd. Kelompok ini mencah.1..1p usah. pembuatan sepatu tern1asuk pembuatan bagian-hagian dari sepatu untuk keperluan teknik,. lapanga-:1/.industri dari k:uli t} ku.1.it huatanj karet da.n plastik, se1)erti se1. Jatu "--tahan 1<lmia..... sepatu tahan pari:a;$:: sei atu pengaman.. lfj J
10 Industri tekstil dan produk tekstil terdiri dari: No. l. 2. Kategor:i c (, -- Kode KBU '121 N ama. Industri Industri Pemintalan Benang In du.std Pertenunan (Bukan Pertenuna.n Ka.rung Goni Dan Ka.rung Lainnya) Deskripsi Kelompok ini tnencakup usaha peminta1an serat menj adi benang: kecuali benang j ahit. Termasuk kegiatan penteksturan! penyimpulan, pelipatan clan pencuc:ian benang rajutan filamen buatan a.tau sintetis clan industri henang rajutan dari bubur kayu. Kelompok ini mencakup usaha perte11.i.. man.1 baik yang di buat dengan alat gedogan} alat tenun bukan mesin (ATBML a.lat tenun mesin (ATiv1) ataupun alat tenun lainnya. kecuali industri kain tenun ikat. U saha pertenunan karung goni dan karung lainnya dimasukkan dalam kelompok atau :> c C: Industr:i Penyen1.purnaan Kain Industri Pencetakan Kain Kelompok ini mencah.1.1p usaha pengelantangan.1 pencelupan dan penyempurnaan lainnya untuk kain. Kelompok ini menca1rup usaha pencetakan kain;:c tennasuk juga pencetakan kain motif batik c c Industri Kain Raj utan I:ndustri yang Ivfonghasilkan Kain Keperluan I.ndustri Kelompok in.i mencah.'1.1p usaha penibuatan kain yang dil:niat dengan c.ara ra.jut ataupun ren.da. Kelompok ini mencah.'up usaha pembuatan kain dilap:isi/ ditutupi/ diresapi dengan plastik atau karet dan selanjutnya digi..makan untuk keperluan industri, seperti kain terpaj kain layar;. kain tenda} kain payungj kain kanvas untuk melukis clan kulit in1itasi dari media tekstil. Industri kuli t imitasi dengan media tekstil dimasukkan kelornpok se1ain dalan.1 '!JJ
11 -11- No. l(ategod Ko de KBLI Nama Industri Deskripsi 7. c Industr:i Pakaian J adi (K.onveksi) Kelompok 1111 mencah.1..1p usaha pemhu.at.a.n pakaian jadi Dari Tekstil :konveksi) dari tekstil/kain (tenun n1aupun rajutanj dengan cara m.emotong clan.tnenj ahit se.hingga :siap dipakai: seperti kemeja J celana} kebaya blus;. rok.1, baju bayi pakaian tari dan pakaian olahraga_t baik dari kain tenun nmupun kain 1 ajut yang dijahit. 8. c Indus.tr.i Pakaian J adi ( Konveksi) Kelompok ini mencah.1..1p usaha pemhuatan pakaian jadi Dar:ii. K1.dit (konveksi) dari ki..11it atau kulit imit.asi, dengan cara 111emotong clan menjahit sehingga siap pakai 1 seperti jaket)' mantel, romp1.1' celana dan rok. Termasuk penibuatan aksesori pakaian dari kulit seperti welder's leatf-'r.er o;_urons a tau pakaian kerj a tukang las dad h:tlit.
12 ; B. FORMAT LAPORAN DAFTAR PEGAWAI YANG MENDAPATKAN PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 YANG BERSIFAT FINAL Nama.Perusahaan :... (2) Kepada Alamat Perusahaan :... (3) Yth. Kepala KPP...(1) NPWP :... (4) KLBI :... (5) LAPORAN DAFTAR PEGAWAI YANG MENDAPATKAN PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 YANG BERSIFAT FINAL BULAN... (6) TAHUN (7) Penghasilan No. Nama Pegawai NPWP Pegawai Mulai Bekerja Bruto Sebulan (8) (9) (10) (11) (12) Perkiraan Penghasilan Kena Pajak Setahun (13) Jumlah Pegawai Jumlah Pegawai yang mendapat pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 bersifat final Jumlah Pegawai yang tidak mendapat pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 bersifat final... (14)... (15)... (16) ' ( 17) (18)
13 -13- Petunjuk Pengisian: 1. Nomor (1) 2. Nomor (2) 3. Nomor (3) 4. Nomor (4) 5. Nomor (5) 6. Nomor (6) 7. Nomor (7) 8. Nomor (8) 9. Nomor (9) 10. Nomor (10) 11. Nomor (11) 12. Nomor (12) 13. Nomor (13) 14. Nomor (14) 15. Nomor (15) 16. Nomor (16) 17. Nomor (17) 18. Nomor (18) Diisi dengan Kantor Pelayanan Pajak tempat Perusahaan yang bersangkutan terdaftar. Diisi dengan nama Perusahaan yang bersangkutan. Diisi dengan alamat kantor Perusahaan yang bersangkutan. Diisi dengan No or Pokok Wajib Pajak (NPWP) Perusahaan. yang bersangkutan. Diisi dengan nomor Klasifikasi Baku Lapangan U saha Indonesia. Diisi dengan bulan yang dilaporkan. Diisi dengan tahun yang dilaporkan Diisi dengan nomor urut. Diisi dengan nama pegawai yang mendapat pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 bersifat final. Diisi dengan Nomor Pokok Wajib Pajak pegawai yang mendapat pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 bersifat final. Diisi dengan bulan pegawai yang mendapat pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 bersifat final mulai bekerja. Diisi dengan jumlah penghasilan bruto sebulan pegawai yang mendapat pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 bersifat final Diisi dengan perkiraan. jumlah Penghasilan Kena Pajak setahun pegawai yang mendapat pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 bersifat final Diisi dengan total jumlah pegawai Perusa aan. Diisi dengan jumlah Pegawai yang mendapat pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 bersifat final. Diisi dengan jumlah Pegawai yang tidak mendapat pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 bersifat final Diisi dengan tempat dan tanggal pembuatan laporan. Diisi dengan nama Direktur peru sahaan yang membuat la po ran. r JIJI :.
14 -14- C. CONTOH PENGHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 ATAS PENGHASILAN PEGAWAI DARI PEMBER! KERJA DENGAN KRITERIA TERTENTU: 1. Pada tahun 2015, PT Harambe yang memproduksi sepatu, mengekspor produknya sebesar 45% dari total nilai penjualan sepanjang tahun Pada bulan Juli 2016, jumlah pegawai PT Harambe sebanyak 1700 pegawai dan 500 pegawai dari perusahaan outsourcing. PT Harambe menanggung 50% beban Pajak Penghasilan Pasal 21 atas seluruh pegawainya. PT Harambe mengikuti program BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan dan memiliki perjanjian bersama dengan organisasi serikat kerj a yang terdaftar pada instansi pemerintah yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan. Dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 Masa Pajak Juli 2016, diketahui data sebagai berikut: PenghasHan dibawah PTK.P Status Penghasitar1 Ju.mlah Pegavrai 1000 Penghasillan dilatas PTKP : a. Pegawai Jirang diperkirakan mempero1eh Penghaslian Kena Pajak paling banyal< Rp ,00 dalam 500 satu tahu.n b. Pegmvai yang diperkirakan memperoleh Penghasi.lan Kena Pajak lebih dari 'Rp ,00 dalarn satu tahun Total Cara penghitungan : Dikarenakan PT Harambe tidak memenuhi syarat sebagai Pemberi Kerja dengan kriteria tertentu antara lain: a. Mempekerjakan pegawai langsung minimal 2000 pegawai, PT Harambe hanya mempekerjakan pegawai langsung sebesar 1700 pegawai; b. Menanggung seluruh Pajak Penghasilan Pasal 21 atas pegawai yang menerima penghasilan dari pemberi kerja dengan kriteria tertentu, PT Harambe hanya menanggung 50% beban Pajak Penghasilan Pasal 21 atas pegawainya; IJY,j
15 -15- c. Pada tahun sebelumnya melakukan ekspor paling sedikit 50% dari total nilai penjualan tahunan, PT Harambe hanya melakukan ekspor 45% dari total nilai penjualan tahun Maka PT Harambe tidak berhak melakukan pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 sebesar 2,5% atas 500 pegawainya yang diperkirakan memperoleh Penghasilan Kena Pajak paling banyak Rp ,00 dalam satu tahun. 2. Perusahaan tekstil PT Yudhiasari yang memproduksi pakaian jadi, mengekspor produknya sebesar 55% dari total nilai penjualan sepanjang tahun JumJah pegawai PT Yudhiasari pada daftar pegawai yang disampaikan bersama Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 bulan Juli 2016 sebanyak 3000 orang. Dari 3000 pegawainya, PT Yudhiasari menanggung seluruh beban Pajak Penghasilan Pasal 21 atas 2000 pegawainya. PT Yudhiasari mengikuti program BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan dan memiliki perjanjian bersama dengan organisasi serikat kerja yang terdaftar pada instansi pemerintah yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan. Dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 Masa Pajak Juli 2016, diketahui data sebagai berikut: Penghasilan dibmvah PTK.P Status Penghasilan Jl.unlah Pegm rai 1000 Penghasi1a:n diatas PTKP : a. Pega:vvai yang diperkiraka.n memperoleh Penghasilan Kena Pajak paling banyak RpS ,00 dalam 500 satu tahun h. Pegmvai yang diperkirakan memperoleh Penghasilan Kena Pajak: lebih dari Rp J OO dalan.1 satu tahun Total Cara penghitungan : a. PT Yudhiasari memotong Pajak Penghasilan Pasal 21 dengan tarif 2,5% dan bersifat final terhadap 500 pegawai yang diperkirakan dalam satu tahun memperoleh Penghasilan Kena Pajak paling banyak Rp ,00 pada masa pajak Juli Desember 2016.
16 -16- b. PT Yudhiasari rnernotong Pajak Penghasilan Pasal 21 dengan tarif berdasarkan Pasal 17 UU Pajak Penghasilan terhadap 1500 pegawainya yang diperkirakan rnemperoleh Penghasilan Kena Pajak lebih dari Rp ,00 dalam satu tahun pada rnasa pajak Juli-Desember Pada awal bulan Agustus 2016 terdapat 50 pegawai baru yang rnasuk bekerja di PT Yudhiasari dengan gaji perbulan Rp ,00 sehingga diperkirakan realisasi Penghasilan Kena Pajaknya selama setahun dibawah Rp ,00. Cara penghitungan : a. PT Yudhiasari rnernotong Pajak Penghasilan Pasal 21 dengan tarif 2,5% dan bersifat final terhadap 50 pegawai baru tersebut yang diperkirakan dalam satu tahun rnemperoleh Penghasilan Kena Pajak paling banyak Rp ,00 pada masa pajak Agustus sampai Desember b. Pada PT Yudhiasari rnelampirkan daftar 50 pegawai baru tersebt:it sesuai dengan format sebagairnana terlarnpir dalarn lampiran II Peraturan Menteri ini bersama dengan Surat Pernberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 bulan Agustus. 2.2 Pada bulan November 2016 terdapat 100 pegawai yang sebelumnya diperkirakan memperoleh realisasi Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp ,00, ternyata realisasi Penghasilan Kena Pajaknya menjadi Rp ,00. Komposisi penghasilan pegawai menjadi: Peng1.1asilan dibawah PTKP Status Penghasilan Jutnliah Pegm.vai Penghasilan diatas PTKP: a. Pega\vai yang diperkirakan n1emperoieh Penghasilan Kena 450 Pajak paling ban:vak Rp ,000,00 dalarn satu. tahun b. Pegawai yang diperldrak:an mempe.roieh PenghasHan Kena 1600 Pajak 1ebih dari RpS JOO dalrun satu tabun Total 3050 Cara penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 pada bulan November 2016 : a. PT Yudhiasari memotong Pajak Penghasilan Pasal 21 dengan tarif 2,5% dan bersifat final terhadap 450 pegawai yang,'(j 0
17 -17- cliperkirakan clalam satu tahun memperoleh Penghasilan Kena Pajak paling banyak Rp ,00. b. Terhaclap 100 pegawai yang memperoleh Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp ,00 tersebut, PT Yuclhiasari memotong Pajak Penghasilan Pasal 21 dengan tarif antara lain: 1) 2,5% clan bersifat final atas Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp ,00; 2) 15% clan bersifat final atas Penghasilan Kena Pajak yang melebihi Rp ,00. c. PT Yudhiasari memotong Pajak Penghasilan Pasal 21 dengan tarif berdasarkan Pasal 17 Undang-Undang Pajak Penghasilan kepada 1500 pegawainya. 2.3 Kondisi pacla bulan Januari 2017 sebagai berikut: Status Penghasilan Jumtah Pegavvai Penghasilan dibawajn PTKP 1000 Penghasilan diatas PTKP a,, Pegawai yang diperkirakan mernperoleh Penghasilan KenaPajak 450 paling banyak Rp,50.000,,000,00 dalam satu tahur: b. Pegm:\rai yang dipeddrakan memperoleh Penghasi.lan Kena Pajak lebih dari Rp _,00 dalarn satu tahun 1600 Total Cara Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 pada bulan Januari 2017: a. PT Yudhiasari memotong Pajak Penghasilan Pasal 21 dengan tarif 2,5% dan bersifat final terhadap 450 pegawai yang cliperkirakan clalam satu tahun memperoleh Penghasilan Kena Pajak paling banyak RpS ,00 b. PT Yudhiasari memotong Pajak Penghasilan Pasal 21 dengan tarif berclasq_rkan Pasal 17 Undang-Unclang Pajak Penghasilan kepada 1600 pegawainya. 3. Penghitungan Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 Terhaclap Penghasilan Pegawai Yang Memenuhi Klasifikasi Diberikan Fasilitas Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 Dari Pemberi Kerja Dengan Kriteria Tertentu.
18 Hidayat sejak bl:lan Desember 2015 telah bekerja pada PT Yudhiasari dan memperoleh gaji Rp ,00 sebulan. PT Yudhiasari mengikuti program BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan yang preminya dibayarkan oleh pemberi kerja. Pada bulan Januari 2016 Hidayat hanya menerima pembayaran berupa gaji. Hidayat belum menikah dan tdak mempunyai tanggungan. Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 bulan Januari 2016 adalah sebagai berikut: Gaji Rp ,00 Premi Jaminan Kecelakaan Kerja Rp25.000,00 Premi Jaminan Kematian Premi Jaminan Kesehatan Penghasilan Brute Rp15.000,00 Rp20.000,00 Rp ,00 Pengurangan: Biaya Jabatan 5% x Rp ,00 Penghasilan Neto Sebulan Penghasilan Neto Setahun adalah 12 x Rp5,768,400,00 PTKP Setahun -Untuk Wajib Pajak Sendiri Rp ,00 Rp ,00 Rp ,00 Rp ,00 Penghasilan Kena Pajak Setahun Rp ,00 Pajak Penghasilan Pasal 21 Terutang 5% x Rp ,00 Rp ,00 Pajak Penghasilan Pasal 21 terutang untuk Tahun 016 (6/ 12 x Rpl84.200,00) Rp92.100,00 Pajak Penghasilan Pasal 21 bulan Januari Rp92.100,00 : 6 Rp15.350,00 Pada penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 bulan Februari-Juni 2016, cara penghitungannya sama dengan diatas.. t, ;i A/! 1
19 Hiclayat masuk clalam claftar pegawai yang clisampaikan pemberi kerja pacla saat pelaporan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 clan/atau Pasal 26 Masa Pajak Juli 2016 clan diperkirakan dalam tahun 2016 memperoleh Penghasilan Kena Pajak dibawah Rp ,00 karena hanya memperoleh penghasilan dari PT Yudhiasari berupa gaji sebesar Rp ,00 setiap bulan. Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 bulan Juli 2016 aclalah sebagai berikut: Gaji Premi Jaminan Kecelakaan Kerja Premi Jaminan Kematian Premi Jaminan Kesehatan Penghasilan Bruto Rp ,00 Rp25.000,00 Rp15.000,00 Rp20.000,00 Rp ,00 Pengurangan: Biaya Jabatan 5% x Rp ,00 Rp ,00 Penghasilan Neto Sebulan PTKP Sebulan -Untuk Wajib Pajak Sendiri Rp ,00 Rp ,00 Penghasilan Kena Pajak Sebulan Rp ,00 Pajak Penghasilan Pasal 21 bulan Juli ,5% x Rp ,00 Rp7.675,00 Cata tan: Atas Pajak Penghasilan Pasal 21 bulan Juli-Desember 2016 yang dipotong final, PT Yudhiasari harus membuat Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 (Final) sesuai lampiran 1721-VII Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/ atau Pasal 26. Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 tersebut clilaporkan di Induk Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26 an tara lain pacla: a. Formulir 1721 Bagian C (Objek pajak Final) Induk Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26 pada kolom nomor 4 yaitu penerima penghasilan yang dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21 final lainnya; clan
20 -20- b. Daftar bukti pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/ atau Pasal 26 (Final) di Formulir 1721-III 3.3 Pada Desember 2016, PT. Yudhiasari membuat bukti pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/ atau Pasal Al atas penghasilan Hidayat pada bulan Januari sampai Juni 2016 dengan perhitungan sebagai berikut: Penghasilan Bruto: Gaji Hidayat Januari - Juni 2016 (6 x Rp ,00) Premi Asuransi yang Dibayar Pemberi Kerja (6 x Rp60.000,00) Jumlah Penghasilan Bruto Rp ,00 Rp , 00 Rp ,00 Pengurangan: Biaya Jabatan 5% x Rp ,00 Rpl ,00 Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21: Jumlah Penghasilan Neto J umlah Penghasila:i Neto (Setahun/ Disetahunkan) 12/6 x Rp ,00 Rp ,00 Rp ,00 PTKP Setahun -Untuk Wajib Pajak Sendiri Rp , 00 Penghasilan Kena Pajak disetahunkan Pajak Penghasilan Pasal 21 atas PKP disetahunkan 6/ 12 x (5% x Rp ,00) Pajak Penghasilan Pasal 21 yang telah dipotong mas a sebelumnya Pajak Penghasilan Pas al 21 terutang Pajak Penghasilan Pasal 21 yang telah dipotong atau dilunasi Rp ,00 Rp92.100,00 Rp92.100,00 Rp0,00 Rp92.100,00 PT. Yudhiasari memberikan bukti pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/ atau Pasal 26 kepada Hidayat, antara lain: a. Satu bukti pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/ atau Pasal Al (Januari-Juni 2016); dan }fj)
21 -21-. b. Enam bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 (Final) sesuai lampiran VII Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26 (J-...:ili-Desember 2016). 4. Muhrizal sejak bulan Agustus 2015 telah bekerja pada PT Yudhiasari dan memperoleh gaji Rp ,00 sebulan. Diperkirakan dalam tahun 2016 memperoleh Penghasilan Kena Pajak dibawah Rp ,00. Muhrizal belum menikah dan tidak mempunyai tanggungan. Diperkirakan dalam tahun 2016 memperoleh Penghasilan Kena Pajak dibawah Rp ,00 sehingga Muhrizal masuk dalam daftar pegawai yang disampaikan pemberi kerja pada saat pelaporan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/ atau Pasal 26 Masa Pajak Juli Pada bulan Agustus 2016, Muhrizal mendapatkan bonus sebesar Rp ,00 dan kenaikan gaji menjadi sebesar Rp ,00 sebulan. Dengan PTKP Muhrizal yang sebesar Rp setahun, maka Penghasilan Kena Pajak Muhrizal setahun diperkirakan sebesar Rp ,00. Jumlah Penghasilan Kena Pajak Muhrizal yang dibawah Rp ,00 sampai bulan Oktober 2016 dikenakan tarif Pajak Penghasilan Pasal 21 final sebesar 2,5%, sedangkan jumlah Penghasilan Kena Pajak Muhrizal yang diatas Rp ,00 mulai bulan Oktober 2016 dikenakan tarif Pajak Penghasilan Pasal 21 final sebesar 15%. Detil perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 Muhrizal sebagai berikut:
22 Pre mi -22- Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 Muhrizal untuk Tahun 2016 PTKP Penghasilan PKP Bia ya Penghasilan Bulan I Gaji+Bonus I Asuransi PKP Pasal 21 PPh Pasal Bruto Jabatan Neto Sehulan 1 2S; 1 A1cumu.lasi 1 RpS Rp Rp5.060,000 Rp Rp Rp Rp Rp Rp RpS Rp Rp Q0.000 Rp Rp614,000 3 RpS, Rp RpS Rp Rp Rp Rp RpS Rp RpS Rp Rp Rp Rpl RpS Rp Rp Rp Rp4, Rp30'7.000 Rp >5% PPh 1 Tarif Tarif 6 Rp Rp RpS Rp Rp Rp Rpl Rp RpS Rp RpS Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rpl RpB Rp RpS Rp Rp < Rp Rp Rp % Final 21 Final 10 I Rp Rp RpS Rp Rp7.69L Rpl RpS Rp Rpl RpSl Rp Rp Rp Rp Rp Rp7.69L Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp7 69L Rp3, Rp5R Rp Total Rp Rp Rpl Rp Rp ,.800 Cata tan: Dikarenakan pada tahun 2016 jumlah Penghasilan Kena Pajak Muhrizal telah melebihi Rp ,00, sehingga untuk tahun 2017, perhitungan Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 Muhrizal dikenai tarif berdasarkan Pasal 17 Undang-Undang Pajak Penghasilan. /
23 Astuti masuk bekerja di PT Yudhiasari pada 1 September 2016 dengan penghasilan hanya dari gaji sebesar Rp ,0G. Diperkirakan dalam tahun 2016 memperoleh Penghasilan Kena Pajak dibawah Rp ,00. Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 bulan September 2016 adalah sebagai berikut: Gaji Premi Jaminan Kecelakaan Kerja Premi Jaminan Kematian Premi Jaminan Kesehatan Penghasilan Bruto Rp ,00 Rp25.000,00 Rp15.000,00 Rp20.000,00 Rp , 00 Pengurangan: Biaya Jabatan 5% x Rp ,00 Rp ,00 Penghasilan Neto Se bulan Rp ,00 PTKP Se bulan -Untuk Wajib Pajak Sendiri Rp :00 Penghasilan Kena Pajak Sebulan Rp ,00 Pajak Penghasilan Pas al 21 bulan September ,5% x Rp ,00 Rp7.675,00 Cata tan: Pada penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 bulan September Desember 2016, cara penghitungannya sama dengan diatas. Atas Pajak Penghasilan Pasal 21 bulan September-Desember 2016 yang dipotong final, PT Yudhiasari harus membuat Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 (Final) sesuai lampiran 1721-VII Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 clan/ atau Pasal 26. Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 tersebut dilaporkan di Induk Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26 an tara lain pa<;ia:
24 -24- a. Formulir 1721 Bagian C (objek pajak final) Induk Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/ atau Pasal 26 pada kolom nomor 4 yaitu penerima penghasilan yang dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21 final lainnya; dan b. Daftar bukti pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/ atau Pasal 26 (Final) di Formulir 1721-III. MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, ttd. SRI MULYANI INDRAWATI Salinan sesuai dengan aslinya iro Umum.b. AJf
A. RINCIAN INDUSTRI ALAS KAKI DAN/ATAU INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL: 1. Industri alas kaki terdiri dari:
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 40/PMK.03/2017 TENTANG : TATA CARA PEMOTONGAN, PENYETORAN, DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 ATAS PENGHASILAN PEGAWAI DARI PEMBERI
2017, No MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG TATA CARA PELAPORAN DAN PENGHITUNGAN PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 398, 2017 KEMENKEU. Pelaporan dan Penghitungan Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40/PMK.03/2017 TENTANG TATA
2017, No Mengingat : Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50, Tambah
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.248, 2017 KEMENKEU. Pajak Penghasilan. Bukti. Pemotongan dan/atau Pemungutan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12/PMK.03/201703/2016 TENTANG BUKTI
MENTERIKEUANGAN REPUBLlK INDONESIA SALIN AN
MENTERIKEUANGAN REPUBLlK INDONESIA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 140 /PMK.03/20 17 TENTANG TATA CARA PENGECUALIAN PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN ATAS HASIL INVESTASI ATAU PENGEMBANGAN
SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 16/PMK.03/2010 TENTANG
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 16/PMK.03/2010 TENTANG TATA CARA PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 ATAS PENGHASILAN BERUPA UANG PESANGON, UANG MANFAAT PENSIUN,
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEUANGAN. PPH. Pemotongan. Dibayarkan sekaligus.
No.33, 2010 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEUANGAN. PPH. Pemotongan. Dibayarkan sekaligus. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/PMK.03/2010 TENTANG TATA CARA PEMOTONGAN
MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN
MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN PERA TURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26/PMK.010/2016 TENT ANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTER! KEUANGAN NOMOR 51/KMK.04/2001 TENTANG PEMOTONGAN
2017, No Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5916); Menetapkan MEMUTUSKAN: : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG TATA CARA PENYETOR
No.29, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. PPH. Hak atas Tanah. Bangunan. Pengalihan. Perjanjian Pengikatan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 261/PMK.03/2016
Dasar pengenaan dan pemotongan PPh Pasal 21 pegawai tidak tetap adalah:
PPh Pegawai Tidak Tetap Pegawai tidak tetap/tenaga kerja lepas adalah pegawai yang hanya menerima penghasilan apabila pegawai yang bersangkutan bekerja, berdasarkan jumlah hari bekerja, jumlah unit hasil
CONTOH PENGHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 DITANGGUNG PEMERINTAH ATAS PENGHASILAN PEKERJA PADA KATEGORI USAHA TERTENTU
LAMPIRAN I PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-22/PJ/2009 TENTANG PELAKSANAAN PEMBERIAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 DITANGGUNG PEMERINTAH ATAS PENGHASILAN PEKERJA PADA PEMBERI KERJA YANG BERUSAHA
2017, No tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tenta
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.202, 2017 KEUANGAN. PPH. Penghasilan. Diperlakukan. Dianggap. Harta Bersih. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6120) PERATURAN PEMERINTAH
MENTER! KEUANGAN REPUBLIK JNQONESIA SALIN AN
MENTER! KEUANGAN REPUBLIK JNQONESIA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71/PMK.02/2017 TENTANG PELAPORAN PENGELOLAAN AKUMULASI JURAN PENSIUN PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA,
SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 262/PMK.03/2010 TENTANG
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 262/PMK.03/2010 TENTANG TATA CARA PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 BAGI PEJABAT NEGARA, PNS, ANGGOTA TNI, ANGGOTA POLRI,
PRESIDEN. REPUBLIK in DO I! ES IA. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
SALINAN PRESIDEN REPUBLIK in DO I! ES IA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4l TAHUN 2016 TENTANG PERLAKUAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 ATAS PENGHASILAN PEGAWAI DARI PEMBERI KERJA DENGAN KRITERIA
SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 262/PMK.03/2010 TENTANG
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 262/PMK.03/2010 TENTANG TATA CARA PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 BAGI PEJABAT NEGARA, PNS, ANGGOTA TNI, ANGGOTA POLRI,
LAMPIRAN LAMPIRAN 1. Universitas Kristen Maranatha
LAMPIRAN 1 LAMPIRAN 2 LAMPIRAN 3 LAMPIRAN 4 LAMPIRAN 5 LAMPIRAN 6 Menimbang: DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 137/PMK.03/2005
MENTERIKEUANGAN REPUBUK INDONESlA SALIN AN
MENTERIKEUANGAN REPUBUK INDONESlA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 142/PMK.010/2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTER! KEUANGAN NOMOR 127 /PMK.010/2016 TENTANG PENGAMPUNAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2009 TENTANG TARIF PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 ATAS PENGHASILAN BERUPA UANG PESANGON, UANG MANFAAT PENSIUN, TUNJANGAN HARI TUA, DAN JAMINAN HARI TUA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2009 TENTANG TARIF PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 ATAS PENGHASILAN BERUPA UANG PESANGON, UANG MANFAAT PENSIUN, TUNJANGAN HARI TUA, DAN JAMINAN HARI TUA
MENTER!KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN
MENTER!KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 170/PMK.02/2016 TENTANG PENYEDIAAN DANA PROGRAM PENYESUAIAN PENSIUN EKS PEGAWAI NEGERI SIPIL DEPARTEMEN PERHUBUNGAN
SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 38/PMK.04/2010 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN DAN TATA CARA PEMBETULAN ATAU PENGGANTIAN FAKTUR PAJAK
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 38/PMK.04/2010 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN DAN TATA CARA PEMBETULAN ATAU PENGGANTIAN FAKTUR PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9/PMK.03/2018 TENTANG
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9/PMK.03/2018 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 243/PMK.03/2014 TENTANG SURAT PEMBERITAHUAN (SPT) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26
Lampiran I Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor : PER-32/PJ/2009 Tanggal : 25 Mei 2009 Departemen Keuangan RI Direktorat Jenderal Pajak Masa Pajak SPT Masa Pajak Pasal 21 dan/atau Pasal 26 Formulir
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9/PMK.03/2018 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9/PMK.03/2018 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 243/PMK.03/2014 TENTANG SURAT PEMBERITAHUAN (SPT) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
2017, No dalam huruf a; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b, serta untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6
No.360, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Jenis Kendaraan Bermotor yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Pemberian Pembebasan dari Pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. PERATURAN
MENTERIKETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA
I SALINAN I MENTERIKETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURANMENTERIKETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2016 TENT ANG UANG SERVIS PADA USAHA HOTEL DAN USAHA RESTORAN DI HOTEL DENGAN RAHMAT
2017, No dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Pe
No.694, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Keterlambatan Penyampaian Surat Pemberitahuan, Pembetulan Surat Pemberitahuan, dan Keterlambatan Pembayaran atau Penyetoran Pajak. Pengurangan atau
MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN
MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 229/PMK.05/2016 TENT ANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTER! KEUANGAN NOMOR 30/PMK.05/2015 TENTANG TATA CARA
BAGIAN PERTAMA: PETUNJUK UMUM PENGHITUNGAN PPh PASAL 21. I. PETUNJUK UMUM PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 UNTUK PENGHASILAN TETAP DAN TERATUR SETIAP BULAN
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 262/PMK.03/2010 TENTANG TATA CARA PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 BAGI PEJABAT NEGARA, PNS, ANGGOTA TNI, ANGGOTA POLRI DAN PENSIUNANNYA ATAS PENGHASILAN
2018, No Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan
No.180, 2018 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. SPT. Perubahan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 /PMK.03/2018 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 243/PMK.03/2014
MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN
MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 202 /PMK.03/2015 TENT ANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTER! KEUANGAN NOMOR 9/PMK.03/2013 TENTANG TATA CARA
2017, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, serta untuk melaksanakan ketentuan Pasal 18 ayat (
No. 1043, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Wajib Pajak Dalam Negeri. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 107 /PMK.03/2017 TENTANG PENETAPAN SAAT DIPEROLEHNYA DIVIDEN DAN
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK SALINAN LAMPIRAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-32/PJ/2015 TENTANG
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK SALINAN LAMPIRAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-32/PJ/2015 TENTANG PEDOMAN TEKNIS TATA CARA PEMOTONGAN, PENYETORAN DAN PELAPORAN
Pemotongan yang bersifat final Objek pemotongan (Pasal 2, PP Nomor 68 Tahun 2009) Pemotong (Pasal 1 angka 9, PP Nomor 68 Tahun 2009)
PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 ATAS PENGHASILAN BERUPA UANG PESANGON, UANG MANFAAT PENSIUN, TUNJANGAN HARI TUA, DAN JAMINAN HARI TUA YANG DIBAYARKAN SEKALIGUS Pemotongan yang bersifat final Objek pemotongan
2016, No penilaian kembali aktiva tetap untuk tujuan perpajakan, perlu melakukan penyempurnaan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 191/PMK.0
No. 278, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Aktiva Tetap. Penilaian Kembali. Tahun 2015-2016. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PMK.03/2016 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 228/PMK.03/2017 TENTANG RINCIAN JENIS DATA DAN INFORMASI SERTA TATA CARA PENYAMPAIAN
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 228/PMK.03/2017 TENTANG RINCIAN JENIS DATA DAN INFORMASI SERTA TATA CARA PENYAMPAIAN DATA DAN INFORMASI YANG BERKAITAN DENGAN PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT
MENTER!KEUANGAN REPUBLIK!NDONESIA SALIN AN
... MENTER!KEUANGAN REPUBLIK!NDONESIA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 173/PMK.05/2016 TENT ANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTER! KEUANGAN NOMOR 168/PMK.05/2015 TENTANG MEKANISME
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 191/PMK.010/2015 TENTANG
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 191/PMK.010/2015 TENTANG PENILAIAN KEMBALI AKTIVA TETAP UNTUK TUJUAN PERPAJAKAN BAGI PERMOHONAN YANG DIAJUKAN PADA TAHUN 2015 DAN TAHUN 2016 DENGAN RAHMAT
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72/PMK.03/2010 TENTANG TATA CARA PENGEMBALIAN KELEBIHAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAU PAJAK
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72/PMK.03/2010 TENTANG TATA CARA PENGEMBALIAN KELEBIHAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAU PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH DENGAN
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 262/PMK.03/2010 TENTANG
Menimbang : PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 262/PMK.03/2010 TENTANG TATA CARA PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 BAGI PEJABAT NEGARA, PNS, ANGGOTA TNI, ANGGOTA POLRI, DAN PENSIUNANNYA
SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 163/PMK.03/2012 TENTANG
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 163/PMK.03/2012 TENTANG BATASAN DAN TATA CARA PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS KEGIATAN MEMBANGUN SENDIRI
2017, No c. bahwa untuk melaksanakan simplifikasi ketentuan yang mengatur mengenai rincian jenis data dan informasi serta tata cara penyampaia
No.1977, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Data dan Informasi Perpajakan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 228/PMK.03/2017 TENTANG RINCIAN JENIS DATA DAN INFORMASI
Nama :... (1) NPWP :... (2) Alamat :... (3) Daftar Jumlah Penghasilan dan Pembayaran PPh Pasal 25. Peredaran Usaha (Perdagangan) Alamat
Lampiran I Nama :... (1) NPWP :... (2) Alamat :... (3) Daftar Penghasilan dan Pembayaran PPh Pasal 25 No. NPWP tempat usaha/ gerai (outlet) KPP Lokasi Alamat Peredaran Usaha (Perdagangan) Penghasilan Penghasilan
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEUANGAN. Pemotongan PPH Pasal 21. Tata Cara Pemotongan.
No.691, 2010 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEUANGAN. Pemotongan PPH Pasal 21. Tata Cara Pemotongan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 262/PMK.03/2010 TENTANG TATA CARA
SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 119/PMK.07/2010 TENTANG
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 119/PMK.07/2010 TENTANG PEDOMAN UMUM DAN ALOKASI SEMENTARA DANA TAMBAHAN PENGHASILAN BAGI GURU PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH KEPADA
MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN
, MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PMK.03/2016 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTER! KEUANGAN NOMOR 191/PMK.010/2015 TENTANG PENILAIAN
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 182/PMK.03/2007
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 182/PMK.03/2007 TENTANG TATA CARA PELAPORAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA BAGI WAJIB PAJAK DENGAN KRITERIA TERTENTU YANG DAPAT MELAPORKAN BEBERAPA MASA PAJAK
MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 136/PMK.05/2016
MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 136/PMK.05/2016 TENT ANG PENGELOLAAN ASET PADA BADAN LAYANAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTER!
I. PETUNJUK UMUM PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 UNTUK PENGHASILAN TETAP DAN TERATUR SETIAP BULAN
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR : 262/PMK.03/2010 TENTANG : TATA CARA PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 BAGI PEJABAT NEGARA, PNS, ANGGOTA TNI, ANGGOTA POLRI DAN PENSIUNANNYA ATAS PENGHASILAN
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 /PMK.03/2018 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 243/PMK.03/2014 TENTANG SURAT PEMBERITAHUAN
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 165/PMK.03/2017 TENTANG
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 165/PMK.03/2017 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 118/PMK.03/2016 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG
2017, No Perpajakan Sebagaimana Telah Beberapa Kali Diubah Terakhir Dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009; b. bahwa berdasarkan ketentuan Pa
No.692, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Bunga yang Terbit. Penghapusan Sanksi Administrasi PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 66/PMK.03/2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN
MENTERI KEUANGAN. REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERA TURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 238/PMK. 03/2008 TENT ANG
--. SALINAN PERA TURAN NOMOR 238/PMK. 03/2008 TENT ANG TATA CARA PELAKSANAAN DAN PENGAWASAN PEMBERIAN PENURUNAN TARIF BAGI WAJIB PAJAK BADAN DALAM NEGERI YANG BERBENTUK PERSEROAN TERBUKA, Menimbang Mengingat.
2017, No Peraturan Menteri Keuangan tentang Rincian Kurang Bayar Dana Bagi Hasil Menurut Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota yang Dialokasikan dala
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1466, 2017 KEMENKEU. Dana Bagi Hasil. TA 2017. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 144/PMK.07/2017 TENTANG RINCIAN KURANG BAYAR DANA BAGI HASIL MENURUT
LAMPIRAN I PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : PER-32/PJ/2009 TANGGAL : 25 MEI 2009
LAMPIRAN I PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : PER-32/PJ/2009 TANGGAL : 25 MEI 2009 www.peraturanpajak.com Page : 1 [email protected] www.peraturanpajak.com Page : 2 [email protected]
PETUNJUK UMUM DAN CONTOH PENGHITUNGAN PEMOTONGAN PPh PASAL 21 DAN/ATAU PPh PASAL 26
LAMPIRAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : PER-16/PJ/2016 TENTANG : PEDOMAN TEKNIS TATA CARA PEMOTONGAN, PENYETORAN DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 DAN/ATAU PAJAK PENGHASILAN PASAL 26
SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 262/PMK.03/2010 TENTANG
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 262/PMK.03/2010 TENTANG TATA CARA PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 BAGI PEJABAT NEGARA, PNS, ANGGOTA TNI, ANGGOTA POLRI,
Peraturan Menteri Keuangan 107/PMK.011/2013 tgl 30 Juli 2013
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 107/PMK.011/2013 TENTANG TATA CARA PENGHITUNGAN, PENYETORAN, DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 141/PMK.03/2016 TENTANG
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 141/PMK.03/2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 118/PMK.03/2016 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG
MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN
MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 203/PMK. 04/2017 TENTANG KETENTUAN EKSPOR DAN IMPOR BARANG YANG DIBAWA OLEH PENUMPANG DAN AWAK SARANA PENGANGKUT
SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 117/PMK.07/2010 TENTANG
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 117/PMK.07/2010 TENTANG PEDOMAN UMUM DAN ALOKASI SEMENTARA TUNJANGAN PROFESI GURU PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH KEPADA DAERAH
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.946, 2011 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEUANGAN. Pembayaran PPh. Tata Cara Pemotongan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 257/PMK.011/2011 TENTANG TATA CARA PEMOTONGAN
TENTANG TATA CARA PENGEMBALIAN KELEBIHAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAU PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH
o' MENTERIKEUANGAN SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 72/PMK.03/2010 TENTANG TATA CARA PENGEMBALIAN KELEBIHAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAU PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG
MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 270/PMK TENTANG
MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 270/PMK TENTANG 06/2015. PENYAMPAIAN LAPORAN KEUANGAN BENDAHARA UMUM NEGARA INVESTASI PEMERINTAH TINGKAT
Peraturan pelaksanaan Pasal 21 ayat (5) Penghasilan yang Dibebankan Kepada Keuangan Negara atau Keuangan Daerah Peraturan Pemerintah
Peraturan pelaksanaan Pasal 21 ayat (5) Penghasilan yang Dibebankan Kepada Keuangan Negara atau Keuangan Daerah Peraturan Pemerintah Nomor, tanggal 80 Tahun 2010 20 Desember 2010 Mulai berlaku : 1 Januari
