LAPORAN PRAKTIKUM PETROLOGI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "LAPORAN PRAKTIKUM PETROLOGI"

Transkripsi

1 LAPORAN PRAKTIKUM PETROLOGI BATUAN BEKU FRAGMENTAL Disusun oleh: Donovan Asriel LABORATORIUM MINERALOGI, PETROLOGI DAN PETROGRAFI PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG APRIL

2 LEMBAR PENGESAHAN Laporan Praktikum Petrologi, Acara: Batuan beku fragmental yang disusun oleh praktikan Donovan Asriel telah diperiksa dan disahkan pada hari : tanggal : waktu : Semarang, April 2015 Asisten Acara, Praktikan, Fandy Fahreza Donovan Asriel NIM NIM

3 DAFTAR ISI Cover... Lembar Pengesahan... Daftar Isi... Daftar Gambar... BAB I PENDAHULUAN Maksud Tujuan Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum... BAB II DASAR TEORI... BAB III METODOLOGI Alat dan Bahan Diagram Alir Kerja... BAB IV HASIL DESKRIPSI Peraga Batuan No Peraga Batuan No Peraga Batuan No Peraga Batuan No Peraga Batuan No Peraga Batuan No. 98P... BAB V PEMBAHASAN Peraga Batuan No Peraga Batuan No Peraga Batuan No Peraga Batuan No Peraga Batuan No Peraga Batuan No. 98P... BAB VI PENUTUP Kesimpulan Saran... DAFTAR PUSTAKA... 3

4 DAFTAR GAMBAR 4.1 Peraga Batuan No Peraga Batuan No Peraga Batuan No Peraga Batuan No Peraga Batuan No Peraga Batuan No. 98P 4

5 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Maksud Mampu mendeskripsikan batuan beku fragmental (piroklastik) secara megaskopis. Mampu menentukan nama batuan tersebut. 1.2 Tujuan Mengetahui dan memahami struktur dan tekstur dari tiap batuan beku fragmental. Mampu menentukan jenis dan nama batuan. Memahami proses pembentukan batuan tersebut. 1.3 Tempat dan Waktu Pelaksanaan hari : Senin tanggal : 13 dan 20 April 2015 waktu tempat : WIB - selesai : Ruang Seminar Gedung Pertamina Sukowati Universitas Diponegoro BAB II 1

6 DASAR TEORI 2.1 Definisi Batuan Piroklastik Batuan piroklastik berasal dari kata Pyro, yaitu api dan Clastics, yaitu pecahan/butiran. Batuan Piroklastk merupakan suatu batuan yang tersusun atas fragmen-fragmen hasil erupsi vulkanik secara eksplosif. (Williams, Turner & Gilber, 1954) Bahan rombakan yang diletuskan dari lubang volkanik, diangkut melalui udara sebagai bahan maupun awan pijar dan diendapkan di atas tanah atau dalam tubuh air. (Hienrich, 1956) Konsolidasi-litififkasi bahan-bahan lepas yang dilemparkan dari pusat volkanik selama erupsi yang bersifat eksplosif. Bahan-bahan lepas tersebut bergerak dari pusat volkanik dalam medium gas, air atau angin. Segera terendapkan di atas permukaan atau dalam air. Erupsi bawah laut - bahan piroklastik segera terendapkan melalui tubuh air ke dalam dasar samudra. 2.2 Pembagian Batuan Piroklastik secara Genetik a) Endapan jatuhan piroklastik (Pyroclastic Fall Deposit) Merupakan suatu Produk endapan jatuhan piroklastik yang dihasilkan oleh Produk vulkanik hasil erupsi gunungapi. Produk erupsi gunung api adalah sangat bervariasi dan sangat tergantung pada komposisi, viskositas dan kandungan gas dari magma yang keluar Produk erupsi, antara lain: Gambar 2.1 Produk jatuhan piroklastik 2

7 Aliran lava Tepra Piroklastik Lahar Gas (a) (b) Gambar 2.2 (a) dan (b) Produk Erupsi b) Berupa material halus (ash) Ash merupakan fragment berukuran < 2 mm, pada umumnya didominasi oleh broken glass shards, broken crystal dan lithic (fragment batuan). Gambar 2.3 Produk Erupsi berupa Ash c) Endapan piroklastik jatuhan memiliki sortasi yang baik sampai membentuk perlapisan d) Endapan Aliran Piroklastik (Pyroclastic Flow Deposit) 3

8 Produk vulkanik lelehan (non-explosive), karena tekanan yang rendah dan bebas dari sumbat lava, bertekstur porfiritik hingga vitrovitrik, tergantung kepada viskositas magmanya. (a) (b) Gambar 2.4 (a) dan (b) Produk Erupsi Berupa Scoria Flows (a) Gambar 2.5 (a) dan (b) Produk Erupsi Berupa Pumice/Ash Flows (b) e) Pyroclastic surge deposits Hasil letusan pada saat pertama dan material dihentakan Sistem pengendapan seretan (traksi). Penyebaran tergantung arah letusan, tetapi biasanya cukup luas Ciri khas, biasanya menebal pada bagian yang lebih rendah Partikel, gas dan air vulkanik konsentrasi rendah yang mengalir dalam mekanisme turbulensi sebagai sebuah gravity flow (runtuhan). Macam-macamnya adalah base, ground, dan ash cloud. Strukturnya crossbedding dengan sortasi yang buruk. 4

9 (a) (b) Gambar 2.6 (a) dan (b) Produk Erupsi Berupa surge deposits f) Macam Lahar 1) Lava basaltik terutama hasil dari erupsi aliran lava shield volcanoes, fissure systems, scoria cones dan spatter 2) Lava Andesitik- terutama hasil dari erupsi aliran lava stratovolcanoes, lava dome 3) Lava Dasitik hingga Rhyolitik, terutama hasil dari erupsi aliran lava stratovolcanoes. Pada umumnya eksplosif dan berasosiasi dengan tepra dan piroklastik aliran (pyroclastic flows). 2.3 Klasifikasi Non Genetik Batuan Piroklastik (Berdasarkan Ukuran dan Bentuk) a) Batuan piroklastik kumpulan tephra yang telah mengalami konsolidasi b) Agglomerate endapan piroklastik dengan ukuran rata-rata piroklast > 64 mm dengan bentuk membulat ( bom > 75 %) c) Pyroclastic breccia batuan piroklastik dengan ukuran rata-rata piroklast > 64 mm dengan bentuk menyudut (blok & bom > 75 %) d) Lapilli tuff batuan piroklastik dengan ukuran rata-rata piroklast 64-2 mm (didominasi lapili) e) Tuff or ash tuff batuan piroklastik dengan ukuran piroklast < 2 mm a. coarse (ash) tuff : 2mm - 1/16mm b. fine (ash) tuff : < 1/16mm 5

10 Gambar 2.7 Klasifikasi Batuan Piroklastik 2.4 Klasifikasi Tuf (Tuff/Ash) a) Berdasarkan ukuran butir i. Tuf kasar berukuran butir pasir (2-1/16 mm) ii. Tuf halus berukuran butir lanau-lempung (<1/16 mm) b) Berdasarkan komposisi butiran i. vitric tuffs tuf gelas ii. cystall tuffs tuf kristal iii. lithic tuffs tuf batu iv. crystall vitric tuffs tuf gelas kristal v. lithic crystall tuffs tuf kristal batu c) Berdasarkan komposisi (mineral/kimia) batuan i. rhyolitic tuffs tuf riolitik ii. dasitc tuffs tuf dasit iii. andesitic tuffs tuf andesitik iv. andesit basaltic tuffs tuf andesitik basaltik v. basaltic tuffs tuf basalt d) Berdasarkan komposisi dominansi pumis atau skoria i. pomiceous tuffs tuf pumis : basaltik-andesitik erupsi strombolian 6

11 ii. scoriaceous tuffs tuf skoria : dasitik-riolitik erupsi plinian, stratovolcano 2.5 Klasifikasi Batuan Piroklastik a) Struktur Dicirikan dengan adanya lubang-lubang gas,sturktur ini dibagi menjadi 3 yaitu: Skoriaan, bila lubang-lubang gas tidak saling berhubungan. Pumisan, bila lubang-lubang gas saling berhubungan. Aliran, bila ada kenampakan aliran dari kristal-kristal maupun lubang-lubang gas Amigdaloidal, Bila lubang-lubang gas terisi oleh mineral-mineral sekunder. b) Tekstur Batuan piroklastik pada umumnya memiliki tekstur holohialin, jadi tersusun seluruhnya atas gelas vulkanik c) Ukuran Butir Tabel 2.1 Ukuran Butir d) Klasifikasi Hasil Keluaran Vulkanik Tabel 2.2 Tabel Klasifikasi Hasil Keluaran Vulkanik Keadaan Pada Saat Dikeluarkan Ukuran Padat/Semi padat Cair memiliki Cair (memiliki bentuk Fragmen (memiliki bentuk khusus struktur khusus) atau struktur internal) internal > 32 mm Volcanic breccias Agglomerat Pumice tuff Tuff Breccia Agglutinate Scoria tuff 32 mm 4 mm Lapili tuff Dribblet agglumerat 7

12 < 4 mm Dribblet agglutinate BAB III METODOLOGI 3.1 Alat dan Bahan Hand Speciment batuan beku fragmental (6 buah) Lembar deskripsi Alat tulis Kamera 3.2 Diagram Alir Kerja Mulai Pengamatan batuan peraga Pendeskripsian batuan secara megaskopis (warna, struktur, tekstur) Pendeskripsian komposisi batuan Membuat hipotesa petrogenesa batuan Penggambaran sketsa batuan Pengklasifikasian/penamaan batuan beku fragmental Pengambilan foto batuan Penyusunan laporan Selesai 8

13 BAB IV HASIL DESKRIPSI 4.1 Batu Peraga Nomor 200 Nomor Peraga Batuan : 200 Hari/Tanggal : Senin/13 April 2015 No. Urut : 1 Jenis Batuan : Batuan Beku Piroklastik Deskripsi Megaskopis : Warna = hijau transparan Struktur = masif Tekstur = holohyalin Sortasi= - Tipe endapan= jatuhan Deskripsi Komposisi : 100% gelasan vulkanik Petrogenesa : Batuan ini berwarna hijau bening, seperti kristal. Berdasarkan strukturnya, batuan ini termasuk masif, yaitu tidak memiliki lubang-lubang gas, padat, dan pejal. Teksturnya berupa holohylain, artinya batuan ini hanya tersusun atas gelasan dengan komposisi 100% gelas vulkanik. Berdasarkan tipe endapan, batuan ini terbentuk akibat mekanisme piroklastik jatuhan. Material-material hasil erupsi terlempar jauh ke atas, lalu jatuh ke bumi dan langsung bercampur dengan air sehingga material tersebut memadat. Foto Batuan : 100% gelas Nama Batuan : Vitric Tuff (Williams, Turner, dan Gilbert, 1954) : Lutyte (Grabau, 1924) : Obsidian (Sifat Fisik Batuan) Gambar 4.1 Batuan Peraga No 200 9

14 4.2 Batu Peraga Nomor 19 Nomor Peraga Batuan : 19 Hari/Tanggal : Senin/20 April 2015 No. Urut : 2 Jenis Batuan : Batuan Beku Piroklastik Deskripsi Megaskopis : Warna = hitam mengkilat Struktur = masif Tekstur = hipokristalin Sortasi= - Tipe endapan= jatuhan Deskripsi Komposisi : gelas vulkanik 80% kristal 20 % Petrogenesa : Batuan ini berwarna hitam mengkilat dengan strukturnya yang masif, yaitu tidak memiliki lubang-lubang gas, padat, dan pejal. Teksturnya berupa hipokristalin, artinya batuan ini tersusun atas sebagian gelasan vulkanik dan sebagian lagi kristal dengan komposisi 80% gelas vulkanik dan 20% sepherolite (mineral plagioklas yang tidak mengkristal). Berdasarkan tipe 10

15 endapan, batuan ini terbentuk akibat mekanisme piroklastik jatuhan. Materialmaterial hasil erupsi terlempar jauh ke atas, lalu jatuh ke bumi dan langsung air tersebut bercampur dengan sehingga material memadat membentuk batuan. Foto Batuan : Gambar 4.2 Batuan Peraga No 19 Nama Batuan : Vitric Tuff (Williams, Turner, dan Gilbert, 1954) : Lutyte (Grabau, 1924) : Obsidian (Sifat Fisik Batuan) 11

16 4.3 Batu Peraga Nomor 46 Nomor Peraga Batuan : 46 Hari/Tanggal : Senin/20 April 2015 No. Urut : 3 Jenis Batuan : Batuan Beku Piroklastik Deskripsi Megaskopis : Warna = abu-abu kehitaman Struktur = skoriaan Tekstur = hipokristalin Sortasi= baik Tipe endapan= jatuhan Deskripsi Komposisi : gelas vulkanik 70% kristal 20 % lithic (< 0,5 mm) 10% Petrogenesa : Batuan ini memiliki warna abu-abu kecoklatan dengan struktur skoriaan, yaitu struktur yang memilliki lubang-lubang gas yang tidak teratur. Adapun teksturnya berupa hipokristalin, artinya batuan ini tersusun atas sebagian gelasan vulkanik dan sebagian lagi kristal dengan komposisi 70% gelas vulkanik, 20% kristal, dan 10% lithic. Berdasarkan tipe endapan, batuan ini terbentuk akibat mekanisme piroklastik surge. Materialnya merupakan hasil 12

17 erupsi yang terlontar lalu menggelinding hingga akhirnya terendapkan dan membentuk batuan. Foto Batuan : Gambar 4.3 Batuan Peraga No 46 Nama Batuan : Vitric Tuff (Williams, Turner, dan Gilbert, 1954) : Lutyte (Grabau, 1924) : Skoria (Sifat Fisik Batuan) 13

18 4.4 Batu Peraga Nomor 40 Nomor Peraga Batuan : 40 Hari/Tanggal : Senin/20 April 2015 No. Urut : 4 Jenis Batuan : Batuan Beku Piroklastik Deskripsi Megaskopis : Warna = abu-abu kecoklatan Struktur = skoriaan Tekstur = holohyalin Sortasi= - Tipe endapan= jatuhan Deskripsi Komposisi : gelas vulkanik 100% Petrogenesa : Batuan ini memiliki warna abu-abu kecoklatan dengan struktur skoriaan, yaitu struktur yang memilliki lubang-lubang gas yang tidak teratur. Adapun teksturnya berupa holohyalin, artinya batuan ini hanya tersusun atas gelasan vulkanik dengan komposisi 100% gelas vulkanik. Berdasarkan tipe endapan, batuan ini terbentuk akibat mekanisme piroklastik jatuhan. Material-material hasil erupsi terlempar jauh ke atas, lalu jatuh ke bumi dan langsung bercampur dengan air sehingga material tersebut memadat membentuk batuan. Foto Batuan : 14

19 Gambar 4.4 Batuan Peraga No 40 Nama Batuan : Vitric Tuff (Williams, Turner, dan Gilbert, 1954) : Lutyte (Grabau, 1924) : Skoria (Sifat Fisik Batuan) 4.5 Batu Peraga Nomor 42 Nomor Peraga Batuan : 42 Hari/Tanggal : Senin/20 April 2015 No. Urut : 5 Jenis Batuan : Batuan Beku Piroklastik Deskripsi Megaskopis : Warna = putih abu-abu Struktur = xenolith Tekstur = hipokritalin Sortasi= buruk Tipe endapan= surge Deskripsi Komposisi : 15

20 gelas < 5% lithic 95% Petrogenesa : Batuan ini memiliki warna putih abu-abu dengan struktur xenolith, yaitu struktur batuan yang memilliki lubang-lubang gas, namun telah terisikan oleh mineral ataupun material lain. Adapun teksturnya berupa hipokristalin, artinya batuan ini tersusun atas sebagian gelasan vulkanik dan sebagian kristal dengan komposisi gelas vulkanik kurang dari 5 % dan lithic 95 %. Berdasarkan tipe endapan, batuan ini terbentuk akibat mekanisme piroklastik aliran. Materialmaterial hasil erupsi mengalir ke permukaan bumi dan langsung bercampur dengan air dan berbagai material lainnya sehingga material tersebut menjadi tercampur aduk satu sama lain. Lalu aliran tersebut berhenti dan terendapkan sehingga membentuk batuan ini. Foto Batuan : Gambar 4.5 Batuan Peraga No 42 Nama Batuan : Lithic Tuff (Williams, Turner, dan Gilbert, 1954) : Rudyte (Grabau, 1924) : Xenolith (Sifat Fisik Batuan) 16

21 4.6 Batu Peraga Nomor 98 P Nomor Peraga Batuan : 98 P Hari/Tanggal : Senin/13 April 2015 No. Urut : 6 Jenis Batuan : Batuan Beku Piroklastik Deskripsi Megaskopis : Warna = hijau gelap transparan Struktur = masif Tekstur = holohyalin Sortasi= - Tipe endapan= jatuhan Deskripsi Komposisi : 100% gelasan vulkanik Petrogenesa : Batuan ini berwarna hijau gelap bening, seperti kristal. Berdasarkan strukturnya, batuan ini termasuk masif, yaitu tidak memiliki lubang-lubang gas, padat, dan pejal. Teksturnya berupa holohylain, artinya batuan ini hanya tersusun atas gelasan dengan komposisi 100% gelas vulkanik. Berdasarkan tipe endapan, batuan ini terbentuk akibat mekanisme piroklastik jatuhan. Materialmaterial hasil erupsi terlempar jauh ke atas, lalu jatuh ke bumi dan langsung bercampur dengan air sehingga material tersebut memadat. Foto Batuan : Gambar 4.1 Batuan Peraga No

22 Nama Batuan : Vitric Tuff (Williams, Turner, dan Gilbert, 1954) : Lutyte (Grabau, 1924) : Obsidian (Sifat Fisik Batuan) BAB V PEMBAHASAN Pada praktikum petrologi acara batuan beku fragmental ini, telah dilakukan pendeskripsian batuan secara megaskopis yang meliputi warna, struktur, tekstur, komposisi, petrogenesa, dan penamaan batuan itu sendiri. Berikut ini merupakan pembahasan dari pendeskripsian keenam batu diatas. 5.1 Batuan Nomor 200 Batuan piroklastik nomor 200 memiliki warna batuan hijau tosca yang bening sehingga tampak transparan. Dari warnanya yang terang itu, dapat diasumsikan kadar komposisi silika pada batuan ini relatif sedikit. Berdasarkan strukturnya, batuan ini termasuk masif, yaitu struktur batuan yang pejal atau kompak tanpa ada retakan-retakan ataupun lubang-lubang gas. Adapun secara teksturnya, batuan ini tergolong tekstur holohyalin, yaitu tekstur yang tidak berbutir atau tidak mempunyai kristal (amorf). Hal itu dilihat dari kenampakan komposisi batuan yang merupakan 100% gelasan. Jika dilihat secara megaskopis dan melalui sampel batuan hand speciment ini, batuan ini terbentuk akibat mekanisme endapan jatuhan. Tentunya mekanisme jenis itu merupakan hasil dari letusan tipe eksplosif. Dari sini, kita dapat mengidentifikasi sifat magma pembentuk batuan ini cenderung asam dengan asumsi magma asam memiliki viskositas yang tinggi sehingga dapat meletus secara eksplosif. Batuan ini terbentuk langsung dari pembekuan magma segar yang keluar melalui lubang kepundan (saluran utama gunung api) sehingga dapat diidentifikasi asal komposisinya termasuk essential. Berdasarkan hasil deskripsi secara megaskopis diatas, batuan ini merupakan batuan beku ekstrusif, yaitu batuan hasil vulkanisme yang bersifat eksplosif dimana batuan berasal dari magma yang terlempar ke udara saat 18

23 terjadi proses erupsi lalu jatuh langsung ke air. Hipotesis ini juga didasarkan pada sifat magma yang bersifat asam sehingga erupsinya pun bersifat eksplosif. Diidentifikasi tempat jatuhan batuan ini terletak tidak jauh dari pusat erupsi, kemungkinan di daerah kawah vulkanik di sekitar gunung api yang selanjutnya mengalami pendinginan dengan sangat cepat dan membentuk batuan ini. Batuan ini pada umumnya digunakan untuk membuat kaca, cermin gelas maupun piring. Dari segi tata ruang, pada umumnya digunakan untuk dekorasi, batu kaca yang dihancurkan dengan ukuran kecil dicampur dengan semen dapat dibuat granit buatan. Pada zaman purba batuan ini banyak digunakan untuk membuat mata lembing, mata panah, dan alat perang lainnya. Setelah melakukan berbagai pendeksripsian, dapat disimpulkan batuan ini disebut Obsidian, berdasarkan sifat fisik batuannya, dan Vitric Tuff (Williams, Turner, dan Gilbert, 1954). 5.2 Batuan Nomor 19 Batuan piroklastik nomor 19 memiliki warna hitam yang mengkilat. Dari warnanya yang gelap tersebut, dapat diidentifikasi kadar komposisi silika pada batuan ini relatif banyak. Berdasarkan strukturnya, batuan ini termasuk masif, yaitu struktur batuan yang pejal atau kompak tanpa ada retakan-retakan ataupun lubang-lubang gas. Adapun secara teksturnya, batuan ini tergolong tekstur hipokristalin, yaitu tekstur batuan tersusun atas sebagian gelasan dan sebagian kristal. Hal itu dilihat dari kenampakan komposisi batuan yang terdiri dari 80% gelas vulkanik dan 20% kristal. Adapun kristal tersebut merupakan sepherolite, yaitu kristal plagioklas yang belum tumbuh menjadi mineral utuh. Jika dilihat secara megaskopis dan melalui sampel batuan hand speciment ini, batuan ini terbentuk akibat mekanisme endapan jatuhan. Tentunya mekanisme jenis itu merupakan hasil dari letusan tipe eksplosif. Dari sini, kita dapat mengidentifikasi sifat magma pembentuk batuan ini cenderung asam dengan asumsi magma asam memiliki viskositas yang tinggi sehingga dapat meletus secara eksplosif. Batuan ini terbentuk langsung dari pembekuan magma segar 19

24 yang keluar melalui lubang kepundan (saluran utama gunung api) sehingga dapat diidentifikasi asal komposisinya termasuk essential. Berdasarkan hasil deskripsi secara megaskopis diatas, batuan ini merupakan batuan beku ekstrusif, yaitu batuan hasil vulkanisme yang bersifat eksplosif dimana batuan berasal dari magma yang terlempar ke udara saat terjadi proses erupsi lalu jatuh langsung ke air. Hipotesis ini juga didasarkan pada sifat magma yang bersifat asam sehingga erupsinya pun bersifat eksplosif. Adapun keterdapatan kristal pada batuan ini merupakan hasil pengkristalan mineral saat masih jauh di bawah permukaan bumi sebelum terjadinya proses erupsi. Hal itu diidentifikasi berdasarkan adanya kristal yang merupakan cikal bakal plagioklas yang terbentuk saat magma masih dalam suhu yang relatif tinggi. Kristal itu kemudian tetap terbawa keatas hingga terjadinya proses erupsi lalu membeku bersama magma dan membentuk batuan ini. Diidentifikasi tempat jatuhan batuan ini terletak tidak jauh dari pusat erupsi, kemungkinan di daerah kawah vulkanik di sekitar gunung api yang selanjutnya mengalami pendinginan dengan sangat cepat dan membentuk batuan ini. Batuan ini pada umumnya digunakan untuk membuat kaca, cermin gelas maupun piring. Dari segi tata ruang, pada umumnya digunakan untuk dekorasi, batu kaca yang dihancurkan dengan ukuran kecil dicampur dengan semen dapat dibuat granit buatan. Pada zaman purba batuan ini banyak digunakan untuk membuat mata lembing, mata panah, dan alat perang lainnya. Setelah melakukan berbagai pendeksripsian, dapat disimpulkan batuan ini disebut Obsidian, berdasarkan sifat fisik batuannya, dan Vitric Tuff (Williams, Turner, dan Gilbert, 1954). 5.3 Batuan Nomor 46 Batuan piroklastik nomor 46 memiliki warna batuan abu-abu kecoklatan. Dari warnanya yang dominan terang itu, dapat diasumsikan kadar komposisi silika pada batuan ini relatif sedikit. Berdasarkan strukturnya, batuan ini termasuk skoriaan, dilihat dari adanya lubang-lubang gas yang tidak teratur. 20

25 Lubang gas itu terbentuk karena adanya perbedaan suhu yang membuat gas di dalam batuan menguap dan membentuk lubang-lubang yang tidak teratur. Sortasi fragmen pada batuan ini termasuk baik dengan ukuran butir < 0,5 mm. Adapun secara teksturnya, batuan ini tergolong tekstur hipokristalin, yaitu tekstur yang tersusun oleh sebagian massa kristal dan sebagian lagi massa gelas vulkanik. Hal itu dilihat dari kenampakan komposisi batuan yang merupakan 70% gelasan, 20% kristal, dan 10% lithic. Jika dilihat secara megaskopis dan melalui sampel batuan hand speciment ini, batuan ini terbentuk akibat mekanisme endapan jatuhan. Tentunya mekanisme jenis itu merupakan hasil dari letusan tipe eksplosif. Dari sini, kita dapat mengidentifikasi sifat magma pembentuk batuan ini cenderung asam dengan asumsi magma asam memiliki viskositas yang tinggi sehingga dapat meletus secara eksplosif. Batuan ini memiliki kristal mineral dan lithic, sehingga dapat diidentifikasi fragmen-fragmen yang terkandung di dalam batuan ini merupakan fragmen yang berasal dari lava yang terdapat pada kerucut vulkanik. Dari identifikasi tersebut menerangkan asal komposisi batuan ini termasuk accessor. Berdasarkan hasil deskripsi secara megaskopis diatas, batuan ini merupakan batuan beku ekstrusif, yaitu batuan hasil vulkanisme yang bersifat eksplosif dimana batuan berasal dari magma yang terlempar ke udara saat terjadi proses erupsi lalu jatuh ke permukaan bumi. Hipotesis ini juga didasarkan pada sifat magma yang bersifat asam sehingga erupsinya pun bersifat eksplosif. Adapun sebelum terjadi proses erupsi, magma yang berada di dalam kepundan menerobos dinding batuan (wall rock) dengan tekanan yang kuat sehingga sebagian material pada wall rock ikut terbawa dan menjadi fragmen dalam pembentukan batuan ini. Batuan ini memiliki lubang gas yang tidak teratur, yang diperkirakan terbentuk ketika terjadi proses erupsi saat magma terlontar ke udara. Ketika itulah terjadi perbedaan suhu antara suhu normal udara dengan suhu dalam magma sehingga timbul penguapan dari dalam magma dan kemudian membentuk lubang-lubang gas. 21

26 Setelah melakukan berbagai pendeksripsian, dapat disimpulkan batuan ini disebut Skoria, berdasarkan sifat fisik batuannya, Vitric Tuff (Williams, Turner, dan Gilbert, 1954), dan Lutyte (Grabau, 1924) 5.4 Batu Nomor 40 Batuan piroklastik nomor 40 memiliki warna batuan abu-abu kecoklatan. Dari warnanya yang dominan terang itu, dapat diasumsikan kadar komposisi silika pada batuan ini relatif sedikit. Berdasarkan strukturnya, batuan ini termasuk skoriaan, dilihat dari adanya lubang-lubang gas yang tidak teratur. Lubang gas itu terbentuk karena adanya perbedaan suhu yang membuat gas di dalam batuan menguap dan membentuk lubang-lubang yang tidak teratur. Adapun secara teksturnya, batuan ini tergolong tekstur holohyalin, yaitu tekstur yang hanya tersusun oleh massa gelas vulkanik. Hal itu dilihat dari kenampakan komposisi batuan yang merupakan 100% gelasan. Jika dilihat secara megaskopis dan melalui sampel batuan hand speciment ini, batuan ini terbentuk akibat mekanisme endapan jatuhan. Tentunya mekanisme jenis itu merupakan hasil dari letusan tipe eksplosif. Dari sini, kita dapat mengidentifikasi sifat magma pembentuk batuan ini cenderung asam dengan asumsi magma asam memiliki viskositas yang tinggi sehingga dapat meletus secara eksplosif. Batuan ini terbentuk langsung dari pembekuan magma segar yang keluar melalui lubang kepundan (saluran utama gunung api) sehingga dapat diidentifikasi asal komposisinya termasuk essential. Berdasarkan hasil deskripsi secara megaskopis diatas, batuan ini merupakan batuan beku ekstrusif, yaitu batuan hasil vulkanisme yang bersifat eksplosif dimana batuan berasal dari magma yang terlempar ke udara saat terjadi proses erupsi lalu jatuh ke permukaan bumi. Hipotesis ini juga didasarkan pada sifat magma yang bersifat asam sehingga erupsinya pun bersifat eksplosif. Adapun batuan ini memiliki lubang gas yang tidak teratur, yang diperkirakan terbentuk ketika terjadi proses erupsi saat magma terlontar ke udara. Ketika itulah terjadi perbedaan suhu antara suhu normal udara 22

27 dengan suhu dalam magma sehingga timbul penguapan dari dalam magma dan kemudian membentuk lubang-lubang gas. Setelah melakukan berbagai pendeksripsian, dapat disimpulkan batuan ini disebut Skoria, berdasarkan sifat fisik batuannya, Vitric Tuff (Williams, Turner, dan Gilbert, 1954), dan Lutyte (Grabau, 1924) 5.5 Batu Nomor 42 Batuan piroklastik nomor 42 memiliki warna batuan putih abu-abu. Dari warnanya yang dominan terang itu, dapat diasumsikan kadar komposisi silika pada batuan ini relatif sedikit. Berdasarkan strukturnya, batuan ini termasuk xenolith, dilihat dari struktur batuan yang telah tercampurkan oleh mineral ataupun material lain. Sortasi fragmen pada batuan ini termasuk buruk dengan ukuran butir > 2,5 mm. Adapun secara teksturnya, batuan ini tergolong tekstur hipokristalin, yaitu tekstur yang tersusun oleh sebagian massa kristal dan sebagian lagi massa gelas vulkanik. Hal itu dilihat dari kenampakan komposisi batuan yang mengandung gelasan < 5% dan lithic 95%. Jika dilihat secara megaskopis dan melalui sampel batuan hand speciment ini, batuan ini terbentuk akibat mekanisme endapan surge. Mekanisme jenis itu merupakan hasil dari letusan tipe eksplosif. Dari sini, kita dapat mengidentifikasi sifat magma pembentuk batuan ini cenderung asam dengan asumsi magma asam memiliki viskositas yang tinggi sehingga dapat meletus secara eksplosif. Batuan ini terbentuk langsung dari pembekuan magma segar yang keluar melalui lubang kepundan (saluran utama gunung api) sehingga dapat diidentifikasi asal komposisinya termasuk essential. Berdasarkan hasil deskripsi secara megaskopis diatas, batuan ini merupakan batuan beku ekstrusif, yaitu batuan hasil vulkanisme yang bersifat eksplosif dimana batuan berasal dari magma yang terlempar ke udara saat terjadi proses erupsi lalu jatuh ke permukaan bumi. Hipotesis ini juga didasarkan pada sifat magma yang bersifat asam sehingga erupsinya pun bersifat eksplosif. Ketika material tersebut jatuh, material tersebut tidak langsung berhenti dan terendapkan, akan tetapi mengalami proses 23

28 penggelindingan yang kemudian ikut membawa material-material lain. Itulah yang menyebabkan adanya fragmen-fragmen pada batuan ini. Setelah melakukan berbagai pendeksripsian, dapat disimpulkan batuan ini disebut Xenolith, berdasarkan sifat fisik batuannya, Lithic Tuff (Williams, Turner, dan Gilbert, 1954), dan Rudyte (Grabau, 1924). 5.6 Batu Nomor 98 P Batuan piroklastik nomor 98 P memiliki warna batuan hijau gelap yang bening sehingga tampak transparan. Dari warnanya yang dominan gelap itu, dapat diasumsikan kadar komposisi silika pada batuan ini relatif banyak. Berdasarkan strukturnya, batuan ini termasuk masif, yaitu struktur batuan yang pejal atau kompak tanpa ada retakan-retakan ataupun lubang-lubang gas. Adapun secara teksturnya, batuan ini tergolong tekstur holohyalin, yaitu tekstur yang tidak berbutir atau tidak mempunyai kristal (amorf). Hal itu dilihat dari kenampakan komposisi batuan yang merupakan 100% gelasan. Jika dilihat secara megaskopis dan melalui sampel batuan hand speciment ini, batuan ini terbentuk akibat mekanisme endapan jatuhan. Tentunya mekanisme jenis itu merupakan hasil dari letusan tipe eksplosif. Dari sini, kita dapat mengidentifikasi sifat magma pembentuk batuan ini cenderung asam dengan asumsi magma asam memiliki viskositas yang tinggi sehingga dapat meletus secara eksplosif. Batuan ini terbentuk langsung dari pembekuan magma segar yang keluar melalui lubang kepundan (saluran utama gunung api) sehingga dapat diidentifikasi asal komposisinya termasuk essential. Berdasarkan hasil deskripsi secara megaskopis diatas, batuan ini merupakan batuan beku ekstrusif, yaitu batuan hasil vulkanisme yang bersifat eksplosif dimana batuan berasal dari magma yang terlempar ke udara saat terjadi proses erupsi lalu jatuh langsung ke air. Hipotesis ini juga didasarkan pada sifat magma yang bersifat asam sehingga erupsinya pun bersifat eksplosif. Diidentifikasi tempat jatuhan batuan ini terletak tidak jauh dari pusat erupsi, kemungkinan di daerah kawah vulkanik di sekitar gunung api 24

29 yang selanjutnya mengalami pendinginan dengan sangat cepat dan membentuk batuan ini. Batuan ini pada umumnya digunakan untuk membuat kaca, cermin gelas maupun piring. Dari segi tata ruang, pada umumnya digunakan untuk dekorasi, batu kaca yang dihancurkan dengan ukuran kecil dicampur dengan semen dapat dibuat granit buatan. Pada zaman purba batuan ini banyak digunakan untuk membuat mata lembing, mata panah, dan alat perang lainnya. Setelah melakukan berbagai pendeksripsian, dapat disimpulkan batuan ini disebut Obsidian, berdasarkan sifat fisik batuannya, dan Vitric Tuff (Williams, Turner, dan Gilbert, 1954). 25

30 BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan Batuan dengan nomor peraga 200 ini berwarna hijau transparan, struktur masif, bertekstur holoyalin. Batuan ini terdiri dari 100 % massa gelas vulkanik. Jadi, dapat disimpulkan bahwa batuan ini bersifat asam dan terbentuk akibat hasil dari endapan piroklastik jatuhan. Batuan ini dinamakan Vitric Tuff (WTG, 1954), Lutyte (Grabau, 1924), dan Obsidian (Russel B. Travis, 1955). Batuan dengan nomor peraga 19 ini berwarna hitam mengkilat, struktur masif, bertekstur holoyalin. Batuan ini terdiri dari 80% massa gelas vulkanik dan 20% kristal. Jadi, dapat disimpulkan bahwa batuan ini bersifat asam dan terbentuk akibat hasil dari endapan piroklastik jatuhan. Batuan ini dinamakan Vitric Tuff (WTG, 1954), Lutyte (Grabau, 1924), dan Obsidian (Russel B. Travis, 1955). Batuan dengan nomor peraga 46 ini berwarna abu-abu kecoklatan, struktur skoriaan, bertekstur hipokristalin, dengan sortasi baik. Batuan ini terdiri dari 70% massa gelas vulkanik, 20% kristal, dan 10% lithic. Jadi, dapat disimpulkan bahwa batuan ini bersifat asam dan terbentuk akibat hasil dari endapan piroklastik jatuhan. Batuan ini dinamakan Vitric Tuff (WTG, 1954), Lutyte (Grabau, 1924), dan Skoria (Russel B. Travis, 1955). Batuan dengan nomor peraga 40 ini berwarna abu-abu kecoklatan, struktur skoriaan, bertekstur holoyalin. Batuan ini terdiri dari 100% massa gelas 26

31 vulkanik. Jadi, dapat disimpulkan bahwa batuan ini bersifat asam dan terbentuk akibat hasil dari endapan piroklastik jatuhan. Batuan ini dinamakan Vitric Tuff (WTG, 1954), Lutyte (Grabau, 1924), dan Skoria (Russel B. Travis, 1955). Batuan dengan nomor peraga 42 ini berwarna putih abu-abu, struktur xenolith, bertekstur hipokristalin, dengan sortasi buruk. Batuan ini terdiri dari massa gelas vulkanik kurang dari 5% dan lithic 95%. Jadi, dapat disimpulkan bahwa batuan ini bersifat asam dan terbentuk akibat hasil dari endapan piroklastik surge. Batuan ini dinamakan Lithic Tuff (WTG, 1954), Rudyte (Grabau, 1924), dan Xenolith (Russel B. Travis, 1955). Batuan dengan nomor peraga 98P ini berwarna hijau transparan, struktur masif, bertekstur holoyalin. Batuan ini terdiri dari 100 % massa gelas vulkanik. Jadi, dapat disimpulkan bahwa batuan ini bersifat asam dan terbentuk akibat hasil dari endapan piroklastik jatuhan. Batuan ini dinamakan Vitric Tuff (WTG, 1954), Lutyte (Grabau, 1924), dan Obsidian (Russel B. Travis, 1955). 6.2 Saran Praktikan perlu menguasai materi praktikum terlebih dahulu sebelum melakukan praktikum guna menghindari banyaknya pertanyaan saat praktikum berlangsung. Pendeskripsian batuan harus dilakukan secara teliti dan jelas sehingga penentuan tata nama dan petrogenesa dapat tepat. 27

32 DAFTAR PUSTAKA Endarto, Danang Pengantar Geologi Dasar. Surakarta: LPP dan UPT UNS Press. Sudarmo, dkk Mineralogi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 28

33 29

PETROGRAFI BATUAN PIROKLASTIK. Agus Hendratno

PETROGRAFI BATUAN PIROKLASTIK. Agus Hendratno PETROGRAFI BATUAN PIROKLASTIK Agus Hendratno TEKTONIK & VOLKANISME VOLCANISME PADA ZONA SUBDUKSI VOLCANISME PADA INTRAPLIT (HOTSPOT) VOLCANIME PADA PUSAT PEMEKARAN BENUA PRODUK ERUPSI GUNUNGAPI Produk

Lebih terperinci

Petrogenesa Batuan Beku

Petrogenesa Batuan Beku Petrogenesa Batuan Beku A. Terminologi Batuan beku adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil pembekuan daripada magma. Magma adalah bahan cair pijar di dalam bumi, berasal dari bagian atas selubung bumi

Lebih terperinci

3.2.3 Satuan lava basalt Gambar 3-2 Singkapan Lava Basalt di RCH-9

3.2.3 Satuan lava basalt Gambar 3-2 Singkapan Lava Basalt di RCH-9 3.2.2.4 Mekanisme pengendapan Berdasarkan pemilahan buruk, setempat dijumpai struktur reversed graded bedding (Gambar 3-23 D), kemas terbuka, tidak ada orientasi, jenis fragmen yang bervariasi, massadasar

Lebih terperinci

BAB II PETROLOGI BATUAN BEKU EKSTRUSI A. PENGERTIAN BATUAN BEKU EKSTRUSIF

BAB II PETROLOGI BATUAN BEKU EKSTRUSI A. PENGERTIAN BATUAN BEKU EKSTRUSIF BAB II PETROLOGI BATUAN BEKU EKSTRUSI A. PENGERTIAN BATUAN BEKU EKSTRUSIF Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya berlangsung dipermukaan bumi. Batuan beku ekstrusif ini yaitu

Lebih terperinci

AsaI Gejaia Volkanisme (Kegunungapian) Pada beberapa tempat di bumi sering tertihat suatu massa cair pijar yang dikenal dengan nama magma, keluar

AsaI Gejaia Volkanisme (Kegunungapian) Pada beberapa tempat di bumi sering tertihat suatu massa cair pijar yang dikenal dengan nama magma, keluar AsaI Gejaia Volkanisme (Kegunungapian) Pada beberapa tempat di bumi sering tertihat suatu massa cair pijar yang dikenal dengan nama magma, keluar mencapai permukaan bumi melalui retakan pada kerak bumi

Lebih terperinci

BENTUKLAHAN ASAL VULKANIK

BENTUKLAHAN ASAL VULKANIK BENTUKLAHAN ASAL VULKANIK Bentuklahan asal vulkanik merupakan bentuklahan yang terjadi sebagai hasil dari peristiwa vulkanisme, yaitu berbagai fenomena yang berkaitan dengan gerakan magma naik ke permukaan

Lebih terperinci

Gambar 3.13 Singkapan dari Satuan Lava Andesit Gunung Pagerkandang (lokasi dlk-13, foto menghadap ke arah barat )

Gambar 3.13 Singkapan dari Satuan Lava Andesit Gunung Pagerkandang (lokasi dlk-13, foto menghadap ke arah barat ) Gambar 3.12 Singkapan dari Satuan Lava Andesit Gunung Pagerkandang, dibeberapa tempat terdapat sisipan dengan tuf kasar (lokasi dlk-12 di kaki G Pagerkandang). Gambar 3.13 Singkapan dari Satuan Lava Andesit

Lebih terperinci

Morfologi dan Litologi Batuan Daerah Gunung Ungaran

Morfologi dan Litologi Batuan Daerah Gunung Ungaran Morfologi dan Litologi Batuan Daerah Gunung Ungaran Morfologi Gunung Ungaran Survei geologi di daerah Ungaran telah dilakukan pada hari minggu 15 Desember 2013. Studi lapangan dilakukan untuk mengetahui

Lebih terperinci

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi Daerah Penelitian Lokasi penelitian berada di daerah Kancah, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung yang terletak di bagian utara Kota Bandung. Secara

Lebih terperinci

Gambar 2.8. Model tiga dimensi (3D) stratigrafi daerah penelitian (pandangan menghadap arah barat laut).

Gambar 2.8. Model tiga dimensi (3D) stratigrafi daerah penelitian (pandangan menghadap arah barat laut). Gambar 2.8. Model tiga dimensi (3D) stratigrafi daerah penelitian (pandangan menghadap arah barat laut). Barat. 18 3. Breksi Tuf Breksi tuf secara megaskopis (Foto 2.9a dan Foto 2.9b) berwarna abu-abu

Lebih terperinci

batuan, butiran mineral yang tahan terhadap cuaca (terutama kuarsa) dan mineral yang berasal dari dekomposisi kimia yang sudah ada.

batuan, butiran mineral yang tahan terhadap cuaca (terutama kuarsa) dan mineral yang berasal dari dekomposisi kimia yang sudah ada. DESKRIPSI BATUAN Deskripsi batuan yang lengkap biasanya dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: 1. Deskripsi material batuan (atau batuan secara utuh); 2. Deskripsi diskontinuitas; dan 3. Deskripsi massa batuan.

Lebih terperinci

OKSIDA GRANIT DIORIT GABRO PERIDOTIT SiO2 72,08 51,86 48,36

OKSIDA GRANIT DIORIT GABRO PERIDOTIT SiO2 72,08 51,86 48,36 PENGERTIAN BATUAN BEKU Batuan beku atau sering disebut igneous rocks adalah batuan yang terbentuk dari satu atau beberapa mineral dan terbentuk akibat pembekuan dari magma. Berdasarkan teksturnya batuan

Lebih terperinci

Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, "api") adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan

Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, api) adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, "api") adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan

Lebih terperinci

Beda antara lava dan lahar

Beda antara lava dan lahar lahar panas arti : endapan bahan lepas (pasir, kerikil, bongkah batu, dsb) di sekitar lubang kepundan gunung api yg bercampur air panas dr dl kawah (yg keluar ketika gunung meletus); LAHAR kata ini berasal

Lebih terperinci

DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK - UNIVERSITAS GADJAH MADA

DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK - UNIVERSITAS GADJAH MADA PRAKTIKUM PETROGRAFI BORANG MATERI ACARA III: PETROGRAFI BATUAN VOLKANOKLASTIK Asisten Acara: 1 2 3 4 Nama Praktikan : NIM : Buku Referensi: McPhie, J, Doyle, M, dan Allen, R, 1993 Volcanic Textures, A

Lebih terperinci

6.padang lava Merupakan wilayah endapan lava hasil aktivitas erupsi gunungapi. Biasanya terdapat pada lereng atas gunungapi.

6.padang lava Merupakan wilayah endapan lava hasil aktivitas erupsi gunungapi. Biasanya terdapat pada lereng atas gunungapi. BENTUK LAHAN ASAL VULKANIK 1.Dike Terbentuk oleh magma yang menerobos strata batuan sedimen dengan bentuk dinding-dinding magma yang membeku di bawah kulit bumi, kemudian muncul di permukaan bumi karena

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Menurut Schieferdecker (1959) maar adalah suatu cekungan yang umumnya terisi air, berdiameter mencapai 2 km, dan dikelilingi oleh endapan hasil letusannya.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lokasi Penelitian Gunungapi Sinabung adalah gunungapi stratovolkano berbentuk kerucut, dengan tinggi puncaknya 2460 mdpl. Lokasi Gunungapi Sinabung secara administratif masuk

Lebih terperinci

BATUAN BEKU IGNEOUS ROCKS

BATUAN BEKU IGNEOUS ROCKS BATUAN BEKU IGNEOUS ROCKS TEGUH YUWONO, S.T ILMU BATUAN SMK N 1 PADAHERANG DEFINISI merupakan batuan yang berasal dari hasil proses pembekuan magma dan merupakan kumpulan interlocking agregat mineral-mineral

Lebih terperinci

LINGKUP VULKANOLOGI TIPE ERUPSI DAN TIPE GUNUNGAPI LINGKUP VULKANOLOGI

LINGKUP VULKANOLOGI TIPE ERUPSI DAN TIPE GUNUNGAPI LINGKUP VULKANOLOGI MODUL III LINGKUP VULKANOLOGI TIPE ERUPSI DAN TIPE GUNUNGAPI BACKGROUND: ERUPSI G. MERAPI PADA APRIL 2006 LINGKUP VULKANOLOGI 1 Ilmu-Ilmu Geologi yang Terkait dengan Vulkanologi Petrologi magmatisme Geokimia

Lebih terperinci

Proses Pembentukan dan Jenis Batuan

Proses Pembentukan dan Jenis Batuan Proses Pembentukan dan Jenis Batuan Penulis Rizki Puji Diterbitkan 23:27 TAGS GEOGRAFI Kali ini kita membahas tentang batuan pembentuk litosfer yaitu batuan beku, batuan sedimen, batuan metamorf serta

Lebih terperinci

Adi Hardiyono Laboratorium Petrologi dan Mineralogi, Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran ABSTRACT

Adi Hardiyono Laboratorium Petrologi dan Mineralogi, Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran ABSTRACT Karakteristik batuan beku andesitik & breksi vulkanik, dan kemungkinan penggunaan sebagai bahan bangunan KARAKTERISTIK BATUAN BEKU ANDESIT & BREKSI VULKANIK, DAN KEMUNGKINAN PENGGUNAAN SEBAGAI BAHAN BANGUNAN

Lebih terperinci

Vulkanisme. Yuli Ifana Sari

Vulkanisme. Yuli Ifana Sari Vulkanisme Yuli Ifana Sari Konsep Penting Vulkanisme: transpot magma dr dlm ke permukaan bumi. Proses alam yg berhubungan dg kegiatan kegunungapian, mulai dr asal usul pembentukan magma di dlm bumi hingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Lamongan dan di sebelah barat Gunung Argapura. Secara administratif, Ranu Segaran masuk

BAB I PENDAHULUAN. Lamongan dan di sebelah barat Gunung Argapura. Secara administratif, Ranu Segaran masuk BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Lokasi penelitian adalah Ranu Segaran, terletak di sebelah timur Gunung Lamongan dan di sebelah barat Gunung Argapura. Secara administratif, Ranu Segaran

Lebih terperinci

BATUAN PEMBENTUK PERMUKAAN TANAH

BATUAN PEMBENTUK PERMUKAAN TANAH BATUAN PEMBENTUK PERMUKAAN TANAH Proses Pembentukan Tanah. Tanah merupakan lapisan paling atas pada permukaan bumi. Manusia, hewan, dan tumbuhan memerlukan tanah untuk tempat hidup. Tumbuh-tumbuhan tidak

Lebih terperinci

MINERAL OPTIK DAN PETROGRAFI IGNEOUS PETROGRAFI

MINERAL OPTIK DAN PETROGRAFI IGNEOUS PETROGRAFI MINERAL OPTIK DAN PETROGRAFI IGNEOUS PETROGRAFI Disusun oleh: REHAN 101101012 ILARIO MUDA 101101001 ISIDORO J.I.S.SINAI 101101041 DEDY INDRA DARMAWAN 101101056 M. RASYID 101101000 BATUAN BEKU Batuan beku

Lebih terperinci

JENIS-JENIS ERUPSI GUNUNG API

JENIS-JENIS ERUPSI GUNUNG API JENIS-JENIS ERUPSI GUNUNG API I. Sistem Vulkanisme dan Jenis-jenis Erupsi Letusan gunung api adalah peristiwa yang berbahaya dan menakutkan tetapi menarik dan menakjubkan. Letusan gunung api sangat bervariasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang berada di dalam wilayah Ring of Fire. Ring

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang berada di dalam wilayah Ring of Fire. Ring BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang berada di dalam wilayah Ring of Fire. Ring of Fire atau disebut juga dengan Cincin Api Pasifik atau Lingkaran Api Pasifik daerah yang

Lebih terperinci

REKAMAN DATA LAPANGAN

REKAMAN DATA LAPANGAN REKAMAN DATA LAPANGAN Lokasi 01 : M-01 Morfologi : Granit : Bongkah granit warna putih, berukuran 80 cm, bentuk menyudut, faneritik kasar (2 6 mm), bentuk butir subhedral, penyebaran merata, masif, komposisi

Lebih terperinci

BAB 12 BATUAN DAN PROSES PEMBENTUKAN TANAH

BAB 12 BATUAN DAN PROSES PEMBENTUKAN TANAH BAB 12 BATUAN DAN PROSES PEMBENTUKAN TANAH Tujuan Pembelajaran Kamu dapat mendeskripsikan proses pembentukan tanah karena pelapukan dan mengidentifikasi jenis-jenis tanah. Di sekitar kita terdapat berbagai

Lebih terperinci

SD kelas 5 - ILMU PENGETAHUAN ALAM BAB 11. PEMBETUKAN TANAH SUBUR DAN STRUKTUR BUMILATIHAN SOAL BAB 11. magma. kawah. lahar. lava

SD kelas 5 - ILMU PENGETAHUAN ALAM BAB 11. PEMBETUKAN TANAH SUBUR DAN STRUKTUR BUMILATIHAN SOAL BAB 11. magma. kawah. lahar. lava SD kelas 5 - ILMU PENGETAHUAN ALAM BAB 11. PEMBETUKAN TANAH SUBUR DAN STRUKTUR BUMILATIHAN SOAL BAB 11 1. Batuan cair dan panas yang terdapat di dalam perut bumi adalah. magma kawah lahar lava Magma adalah

Lebih terperinci

Prosiding Seminar Nasional Kebumian Ke-6 Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, Desember 2013

Prosiding Seminar Nasional Kebumian Ke-6 Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, Desember 2013 PENGARUH KOMPETENSI BATUAN TERHADAP KERAPATAN KEKAR TEKTONIK YANG TERBENTUK PADA FORMASI SEMILIR DI DAERAH PIYUNGAN, BANTUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Abstrak Budi SANTOSO 1*, Yan Restu FRESKI 1 dan Salahuddin

Lebih terperinci

What is a rocks? A rock is a naturally formed aggregate composed of one or more mineral

What is a rocks? A rock is a naturally formed aggregate composed of one or more mineral What is a rocks? A rock is a naturally formed aggregate composed of one or more mineral Batuan(rocks) merupakan materi yang menyusun kulit bumi, yaitu suatu agregat padat ataupun urai yang terbentuk di

Lebih terperinci

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 GEOMORFOLOGI 3.1.1. Morfologi Umum Daerah Penelitian Pengamatan geomorfologi di daerah penelitian dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu metode tidak langsung

Lebih terperinci

BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi 3.1.1 Geomorfologi Daerah Penelitian Secara umum, daerah penelitian memiliki morfologi berupa dataran dan perbukitan bergelombang dengan ketinggian

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Fisiografi Regional Pulau Lombok terbentuk oleh suatu depresi yang memanjang (longitudinal depresion), yang sebagian besar sudah terisi dan tertutupi oleh suatu seri gunungapi

Lebih terperinci

RESUME HASIL KEGIATAN PEMETAAN GEOLOGI TEKNIK PULAU LOMBOK SEKALA 1:

RESUME HASIL KEGIATAN PEMETAAN GEOLOGI TEKNIK PULAU LOMBOK SEKALA 1: RESUME HASIL KEGIATAN PEMETAAN GEOLOGI TEKNIK PULAU LOMBOK SEKALA 1:250.000 OLEH: Dr.Ir. Muhammad Wafid A.N, M.Sc. Ir. Sugiyanto Tulus Pramudyo, ST, MT Sarwondo, ST, MT PUSAT SUMBER DAYA AIR TANAH DAN

Lebih terperinci

Geologi Daerah Sirnajaya dan Sekitarnya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 27

Geologi Daerah Sirnajaya dan Sekitarnya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 27 memiliki ciri-ciri berwarna abu-abu gelap, struktur vesikuler, tekstur afanitik porfiritik, holokristalin, dengan mineral terdiri dari plagioklas (25%) dan piroksen (5%) yang berbentuk subhedral hingga

Lebih terperinci

HUBUNGAN NILAI GAMMA RAY DENGAN BATUAN PIROKLASTIK DI DAERAH CIBIRU DAN SEKITARNYA, KOTA BANDUNG, PROVINSI JAWA BARAT

HUBUNGAN NILAI GAMMA RAY DENGAN BATUAN PIROKLASTIK DI DAERAH CIBIRU DAN SEKITARNYA, KOTA BANDUNG, PROVINSI JAWA BARAT HUBUNGAN NILAI GAMMA RAY DENGAN BATUAN PIROKLASTIK DI DAERAH CIBIRU DAN SEKITARNYA, KOTA BANDUNG, PROVINSI JAWA BARAT Widia Hadiasti 1, Dicky Muslim 2, Zufialdi Zakaria 2 1 PT. Bumi Parahiyangan Energi,

Lebih terperinci

BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi Berdasarkan pembagian Fisiografis Jawa Tengah oleh van Bemmelen (1949) (gambar 2.1) dan menurut Pardiyanto (1970), daerah penelitian termasuk

Lebih terperinci

BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN III.1 GEOMORFOLOGI Berdasarkan pembagian fisiografi Jawa Tengah oleh van Bemmelen (1949) dan Pardiyanto (1979) (gambar 2.1), daerah penelitian termasuk ke dalam

Lebih terperinci

STUDI GENESIS CO-IGNIMBRITE DAERAH PASEKAN DAN SEKITARNYA, KECAMATAN EROMOKO, KABUPATEN WONOGIRI, PROVINSI JAWA TENGAH

STUDI GENESIS CO-IGNIMBRITE DAERAH PASEKAN DAN SEKITARNYA, KECAMATAN EROMOKO, KABUPATEN WONOGIRI, PROVINSI JAWA TENGAH STUDI GENESIS CO-IGNIMBRITE DAERAH PASEKAN DAN SEKITARNYA, KECAMATAN EROMOKO, KABUPATEN WONOGIRI, PROVINSI JAWA TENGAH Ari Yusliandi 1), Hill. G. Hartono 2), Bernadeta S.A 2) 1) Mahasiswa Teknik Geologi,

Lebih terperinci

TRANSIENT VULCANIC ERUPTION

TRANSIENT VULCANIC ERUPTION TRANSIENT VULCANIC ERUPTION Letusan transient dapat terjadi ketika ada kontak antara magma dengan air permukaan atau air bawah permukaan (disebut juga air meteoric, karena dihasilkan oleh air hujan dari

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK GEOLOGI DAERAH VOLKANIK KUARTER KAKI TENGGARA GUNUNG SALAK

KARAKTERISTIK GEOLOGI DAERAH VOLKANIK KUARTER KAKI TENGGARA GUNUNG SALAK Karakteristik geologi daerah volkanik Kuarter kaki tenggara Gunung Salak (Bombon Rahmat Suganda & Vijaya Isnaniawardhani) KARAKTERISTIK GEOLOGI DAERAH VOLKANIK KUARTER KAKI TENGGARA GUNUNG SALAK Bombom

Lebih terperinci

Metamorfisme dan Lingkungan Pengendapan

Metamorfisme dan Lingkungan Pengendapan 3.2.3.3. Metamorfisme dan Lingkungan Pengendapan Secara umum, satuan ini telah mengalami metamorfisme derajat sangat rendah. Hal ini dapat ditunjukkan dengan kondisi batuan yang relatif jauh lebih keras

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA vi DAFTAR ISI JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii LEMBAR PERNYATAAN... iii PRAKATA... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR TABEL... xv SARI... xvi ABSTRACT... xvii BAB I PENDAHULUAN... 1 I.1.

Lebih terperinci

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi 3.1.1 Morfologi Umum Daerah Penelitian Pengamatan geomorfologi di daerah penelitian dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu metode tidak langsung

Lebih terperinci

1 AL A LUVI A FAN A S A l l uvi v a i l fan:

1 AL A LUVI A FAN A S A l l uvi v a i l fan: SEBARAN JENIS TANAH PADA LANSEKAP ANDISOL ANDISOL-1 Tanah berkembang dari abu vulkan (abu vulkan,batu apung, lava,dsb) Tebal lapisan minimal 60 cm Wilayah perbukitan 1 DAERAH FLUVIAL Bila kekuatan alirang

Lebih terperinci

APLIK I AN LAN AN EKAP

APLIK I AN LAN AN EKAP APLIKASI ANALISIS LANSEKAP KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN PERKEBUNAN PADA LASEKAP KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN PERKEBUNAN Suhu : 25 28 0C Curah hujan : 1700 2500 Tekstur : halus sedang Bahaya erosi :

Lebih terperinci

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3. 1 Geomorfologi 3. 1. 1 Morfologi Umum Daerah Penelitian Daerah penelitian terletak pada kompleks gunung api Tangkubanparahu dengan elevasi permukaan berkisar antara

Lebih terperinci

Analisis Litofasies Batuan Vulkanik Pare-Pare di Daerah Lumpue Sulawesi Selatan

Analisis Litofasies Batuan Vulkanik Pare-Pare di Daerah Lumpue Sulawesi Selatan Analisis Litofasies Batuan Vulkanik Pare-Pare di Daerah Lumpue Sulawesi Selatan Ulva Ria Irfan 1*, Kaharuddin, MS 1., Budiman 1, Hamid Umar 1 1 Geological Engineering Study Program, Hasanuddin University,

Lebih terperinci

dan Satuan Batulempung diendapkan dalam lingkungan kipas bawah laut model Walker (1978) (Gambar 3.8).

dan Satuan Batulempung diendapkan dalam lingkungan kipas bawah laut model Walker (1978) (Gambar 3.8). dan Satuan Batulempung diendapkan dalam lingkungan kipas bawah laut model Walker (1978) (Gambar 3.8). Gambar 3.7 Struktur sedimen pada sekuen Bouma (1962). Gambar 3.8 Model progradasi kipas bawah laut

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lokasi Objek Penelitian Berdasarkan bentuk morfologinya, puncak Gunung Lokon berdampingan dengan puncak Gunung Empung dengan jarak antara keduanya 2,3 km, sehingga merupakan

Lebih terperinci

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 4. Dinamika Lithosferlatihan soal 4.3. linier. effusif. sentral. areal. eksplosif

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 4. Dinamika Lithosferlatihan soal 4.3. linier. effusif. sentral. areal. eksplosif SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 4. Dinamika Lithosferlatihan soal 4.3 1. Erupsi gunung api berupa ledakan yang mengeluarkan benda-benda padat seperti batu, kerikil dan debu vulkanik merupakan erupsi....

Lebih terperinci

PEMBAHASAN TEKNIK KOLEKSI, PREPARASI DAN ANALISIS LABORATORIUM

PEMBAHASAN TEKNIK KOLEKSI, PREPARASI DAN ANALISIS LABORATORIUM PEMBAHASAN TEKNIK KOLEKSI, PREPARASI DAN ANALISIS LABORATORIUM Oleh: Hill. Gendoet Hartono Teknik Geologi STTNAS Yogyakarta E-mail: [email protected] Disampaikan pada : FGD Pusat Survei Geologi,

Lebih terperinci

DERET BOWEN DAN KLASIFIKASI BATUAN BEKU ASAM DAN BASA

DERET BOWEN DAN KLASIFIKASI BATUAN BEKU ASAM DAN BASA DERET BOWEN DAN KLASIFIKASI BATUAN BEKU ASAM DAN BASA Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah mineralogi Dosen pengampu : Dra. Sri Wardhani Disusun oleh Vanisa Syahra 115090700111001

Lebih terperinci

01/04/2011 AL A F L ISO IS L L DAN DA ULT UL ISO IS L P L A P DA A DA VUL V K UL A K NIK A 3

01/04/2011 AL A F L ISO IS L L DAN DA ULT UL ISO IS L P L A P DA A DA VUL V K UL A K NIK A 3 APLIKASI ANALISIS LANSEKAP SEBARAN ALFISOL DAN ULTISOL PADA LANSEKAP ALFISOL Kandungan liat pada hor. B lebih tinggi Horison argilik Proses akumulasi liat pada hor. B (argilik, kandik) Beriklim sedang

Lebih terperinci

TEKANAN PADA ERUPSI GUNUNG BERAPI

TEKANAN PADA ERUPSI GUNUNG BERAPI TEKANAN PADA ERUPSI GUNUNG BERAPI ARINI ROSA SINENSIS SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) NURUL HUDA 2017 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Indonesia dikenal dengan negara yang memiliki

Lebih terperinci

Potensi Tanah Mengembang Wilayah Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat

Potensi Tanah Mengembang Wilayah Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat Potensi Tanah Mengembang Wilayah Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat Farach Abdurachman RONNY 1, Zufialdi ZAKARIA 2, dan Raden Irvan SOPHIAN 3 1 Laboratorium Geologi Teknik dan Geoteknik, Fakultas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kastowo (1973), Silitonga (1975), dan Rosidi (1976) litologi daerah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kastowo (1973), Silitonga (1975), dan Rosidi (1976) litologi daerah BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Geologi Regional Menurut Kastowo (1973), Silitonga (1975), dan Rosidi (1976) litologi daerah Padang dan sekitarnya terdiri dari batuan Pratersier, Tersier dan Kwarter. Batuan

Lebih terperinci

Analisis Litofasies Batuan Vulkanik Pare-Pare di Daerah Lumpue Sulawesi Selatan

Analisis Litofasies Batuan Vulkanik Pare-Pare di Daerah Lumpue Sulawesi Selatan Analisis Litofasies Batuan Vulkanik Pare-Pare di Daerah Lumpue Sulawesi Selatan Ulva Ria Irfan 1*, Kaharuddin MS 1., Budiman 1, Hamid Umar 1 1 Geological Engineering Study Program, Hasanuddin University,

Lebih terperinci

STANDAR KOMPETENSI. kehidupan manusia. 1.Mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan dan dampaknya terhadap kehidupan.

STANDAR KOMPETENSI. kehidupan manusia. 1.Mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan dan dampaknya terhadap kehidupan. STANDAR KOMPETENSI Memahami Lingkungan kehidupan manusia. 1.Mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan dan dampaknya terhadap kehidupan. INDIKATOR : I. Mendeskripsikan proses alam endogen

Lebih terperinci

A. BATUAN BEKU ULTRABASA (ULTRAMAFIK)

A. BATUAN BEKU ULTRABASA (ULTRAMAFIK) A. BATUAN BEKU ULTRABASA (ULTRAMAFIK) Batuan Beku Ultrabasa (Ultramafik) adalah batuan beku dan meta -batuan beku dengan sangat rendah kandungan silika konten (kurang dari 45%), umumnya > 18% Mg O, tinggi

Lebih terperinci

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi Bentukan topografi dan morfologi daerah penelitian adalah interaksi dari proses eksogen dan proses endogen (Thornburry, 1989). Proses eksogen adalah proses-proses

Lebih terperinci

Gambar 2.1 Lapis Perkerasan Jalan

Gambar 2.1 Lapis Perkerasan Jalan Lampiran TA19. Contoh penulisan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Kontruksi perkerasan lentur (flexible pavement) merupakan jenis perkerasan dengan aspal sebagai bahan pengikat yang telah banyak digunakan

Lebih terperinci

GARIS-GARIS BESAR ISI PROGRAM MEDIA (GBIM) : Pengembangan Fungsional Geologi : Pemahaman Magma dan Vulkanisme

GARIS-GARIS BESAR ISI PROGRAM MEDIA (GBIM) : Pengembangan Fungsional Geologi : Pemahaman Magma dan Vulkanisme Jenis diklat Mata Diklat Jumlah Jam TIU GARIS-GARIS BESAR ISI PROGRAM MEDIA (GBIM) : Pengembangan Fungsional Geologi : Pemahaman Magma dan Vulkanisme : 16 JP : Setelah mengikuti mata diklat ini, peserta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sedangkan praktikum mineral optik hanya mendeskripsikan mineralnya saja.

BAB I PENDAHULUAN. Sedangkan praktikum mineral optik hanya mendeskripsikan mineralnya saja. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Petrografi merupakan salah satu cabang dari ilmu geologi. Petrografi ini juga merupakan tingkat lanjutan dari mata kuliah sebelumnya yaitu mineral optik. Dalam prakteknya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dibanding erupsi tahun 2006 dan Dari tiga episode tersebut, erupsi terbesar

BAB I PENDAHULUAN. dibanding erupsi tahun 2006 dan Dari tiga episode tersebut, erupsi terbesar BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Pada dekade terakhir ini, Gunung Merapi mengalami erupsi setiap empat tahun sekali, yaitu tahun 2006, 2010, serta erupsi 2014 yang tidak terlalu besar dibanding erupsi

Lebih terperinci

Perbedaan Karakteristik Mineralogi Matriks Breksi Vulkanik Pada Endapan Fasies Proksimal Atas-Bawah Gunung Galunggung

Perbedaan Karakteristik Mineralogi Matriks Breksi Vulkanik Pada Endapan Fasies Proksimal Atas-Bawah Gunung Galunggung Perbedaan Karakteristik Mineralogi Matriks Breksi Vulkanik Pada Endapan Fasies Proksimal Atas-Bawah Gunung Galunggung Eka Dwi Ramadhan 1), Johanes Hutabarat 2), Agung Mulyo 3) 1) Mahasiswa S1 Prodi Teknik

Lebih terperinci

ACARA IX MINERALOGI OPTIK ASOSIASI MINERAL DALAM BATUAN

ACARA IX MINERALOGI OPTIK ASOSIASI MINERAL DALAM BATUAN ACARA IX MINERALOGI OPTIK I. Pendahuluan Ilmu geologi adalah studi tentang bumi dan terbuat dari apa itu bumi, termasuk sejarah pembentukannya. Sejarah ini dicatat dalam batuan dan menjelaskan bagaimana

Lebih terperinci

ASOSIASI BATUAN BEKU TERHADAP LEMPENG TEKTONIK

ASOSIASI BATUAN BEKU TERHADAP LEMPENG TEKTONIK ASOSIASI BATUAN BEKU TERHADAP LEMPENG TEKTONIK Batuan beku adalah batuan yang berasal dari pendinginan magma. Pendinginan tersebut dapat terjadi baik secara Ekstrusif dan Intrusif. Batuan beku yang berasal

Lebih terperinci

STUDI BATUAN VULKANIK PERBUKITAN SEPULUHRIBU, KOTA TASIKMALAYA DAN SEKITARNYA, JAWA BARAT

STUDI BATUAN VULKANIK PERBUKITAN SEPULUHRIBU, KOTA TASIKMALAYA DAN SEKITARNYA, JAWA BARAT M3P-01 STUDI BATUAN VULKANIK PERBUKITAN SEPULUHRIBU, KOTA TASIKMALAYA DAN SEKITARNYA, JAWA BARAT Hernanda Danar Dono 1*, Lucas Donny Setjadji 1 1 Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah

Lebih terperinci

2015, No Indonesia Tahun 1997 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3676); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2012 tentang Keselamatan da

2015, No Indonesia Tahun 1997 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3676); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2012 tentang Keselamatan da BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.620, 2015 BAPETEN. Instalasi Nuklir. Aspek Kegunungapian. Evaluasi. Pencabutan. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG EVALUASI TAPAK

Lebih terperinci

PAPER KARAKTERISTIK HIDROLOGI PADA BENTUK LAHAN VULKANIK

PAPER KARAKTERISTIK HIDROLOGI PADA BENTUK LAHAN VULKANIK PAPER KARAKTERISTIK HIDROLOGI PADA BENTUK LAHAN VULKANIK Nama Kelompok : IN AM AZIZUR ROMADHON (1514031021) MUHAMAD FAISAL (1514031013) I NENGAH SUMANA (1514031017) I PUTU MARTHA UTAMA (1514031014) Jurusan

Lebih terperinci

KUBAH LAVA SEBAGAI SALAH SATU CIRI HASIL LETUSAN G. KELUD

KUBAH LAVA SEBAGAI SALAH SATU CIRI HASIL LETUSAN G. KELUD KUBAH LAVA SEBAGAI SALAH SATU CIRI HASIL LETUSAN G. KELUD AKHMAD ZAENNUDIN Penyelidik Bumi Madya pada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Sari G. Kelud merupakan gunungapi tipe A di Jawa Timur

Lebih terperinci

Definisi Vulkanisme. Vulkanisme

Definisi Vulkanisme. Vulkanisme VULKANISME Definisi Vulkanisme Vulkanisme Semua gejala di dalam bumi sebagai akibat adanya aktivitas magma disebut vulkanisme. Gerakan magma itu terjadi karena magma mengandung gas yang merupakan sumber

Lebih terperinci

Bab III Geologi Daerah Penelitian

Bab III Geologi Daerah Penelitian Bab III Geologi Daerah Penelitian Foto 3.4 Satuan Geomorfologi Perbukitan Blok Patahan dilihat dari Desa Mappu ke arah utara. Foto 3.5 Lembah Salu Malekko yang memperlihatkan bentuk V; foto menghadap ke

Lebih terperinci

PETROLOGI DAN PETROGRAFI SATUAN BREKSI VULKANIK DAN SATUAN TUF KASAR PADA FORMASI JAMPANG, DAERAH CIMANGGU DAN SEKITARNYA, JAWA BARAT

PETROLOGI DAN PETROGRAFI SATUAN BREKSI VULKANIK DAN SATUAN TUF KASAR PADA FORMASI JAMPANG, DAERAH CIMANGGU DAN SEKITARNYA, JAWA BARAT PETROLOGI DAN PETROGRAFI SATUAN BREKSI VULKANIK DAN SATUAN TUF KASAR PADA FORMASI JAMPANG, DAERAH CIMANGGU DAN SEKITARNYA, JAWA BARAT Puteri Rasdita M. Verdiana, Yuyun Yuniardi, Andi Agus Nur Fakultas

Lebih terperinci

TIPE MAGMA MIGRASI MAGMA DAPUR MAGMA TIPE GUNUNGAPI

TIPE MAGMA MIGRASI MAGMA DAPUR MAGMA TIPE GUNUNGAPI TIPE MAGMA MIGRASI MAGMA DAPUR MAGMA TIPE GUNUNGAPI MATA KULIAH FISIKA GUNUNG API UNIVERSITAS GADJAH MADA MAGMA Magma adalah cairan atau larutan silika pijar yang terbentuk secara alamiah dan bersifat

Lebih terperinci

Lokasi : Lubuk Berangin Satuan Batuan : Lava Tua Koordinat : mt, mu A B C D E F G A B C D E F G

Lokasi : Lubuk Berangin Satuan Batuan : Lava Tua Koordinat : mt, mu A B C D E F G A B C D E F G No. Sample : BJL- Nama batuan : Andesit Piroksen Lokasi : Lubuk Berangin Satuan Batuan : Lava Tua Koordinat :. mt,.00.0 mu Sayatan batuan beku, berwarna abu-abu, kondisi segar, bertekstur porfiritik, terdiri

Lebih terperinci

POTENSI ENDAPAN EMAS SEKUNDER DAERAH MALINAU, KALIMANTAN TIMUR

POTENSI ENDAPAN EMAS SEKUNDER DAERAH MALINAU, KALIMANTAN TIMUR POTENSI ENDAPAN EMAS SEKUNDER DAERAH MALINAU, KALIMANTAN TIMUR Adi Hardiyono Laboratorium Petrologi dan Mineralogi, Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran ABSTRACT The purpose study to recognize

Lebih terperinci

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN III.1 Geomorfologi Daerah Penelitian Berdasarkan peta geomorfologi Dam (1994), daerah penelitian berada pada satuan pusat vulkanik (volcanic centre/volcanic cone) dan

Lebih terperinci

BAB III STRATIGRAFI 3. 1 Stratigrafi Regional Pegunungan Selatan

BAB III STRATIGRAFI 3. 1 Stratigrafi Regional Pegunungan Selatan BAB III STRATIGRAFI 3. 1 Stratigrafi Regional Pegunungan Selatan Stratigrafi regional Pegunungan Selatan dibentuk oleh endapan yang berumur Eosen-Pliosen (Gambar 3.1). Menurut Toha, et al. (2000) endapan

Lebih terperinci

HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN KATA PENGANTAR HALAMAN PERSEMBAHAN SARI

HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN KATA PENGANTAR HALAMAN PERSEMBAHAN SARI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii KATA PENGANTAR... iii HALAMAN PERSEMBAHAN... iv SARI... v DAFTAR ISI... vi DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR TABEL & GRAFIK... xii BAB I PENDAHULUAN... 1

Lebih terperinci

A B C D E A B C D E. A B C D E A B C D E // - Nikol X Nikol mm P mm

A B C D E A B C D E. A B C D E A B C D E // - Nikol X Nikol mm P mm No conto : Napal hulu Zona ubahan: sub propilitik Lokasi : Alur S. Napal Nama batuan: lava andesit 0 0.5 mm P1 0 0.5 mm Sayatan andesit terubah dengan intensitas sedang, bertekstur hipokristalin, porfiritik,

Lebih terperinci

Diferensiasi magma pembagian kelas-kelas magma sesuai dengan komposisi kimiawinya yang terjadi pada saat magma mulai membeku.

Diferensiasi magma pembagian kelas-kelas magma sesuai dengan komposisi kimiawinya yang terjadi pada saat magma mulai membeku. Diferensiasi magma Diferensiasi magma Diferensiasi magma pembagian kelas-kelas magma sesuai dengan komposisi kimiawinya yang terjadi pada saat magma mulai membeku. Yang termasuk dalam diferensiasi magma

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Beton merupakan fungsi dari bahan penyusunnya yang terdiri dari bahan semen (Portland cement), agregat kasar, agregat halus, air dan bahan tambah (admixture atau additive).

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasrkan peta geologi daerah Leles-Papandayan yang dibuat oleh N.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasrkan peta geologi daerah Leles-Papandayan yang dibuat oleh N. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Geologi Daerah Penelitian Berdasrkan peta geologi daerah Leles-Papandayan yang dibuat oleh N. Ratman dan S. Gafoer. Tahun 1998, sebagian besar berupa batuan gunung api,

Lebih terperinci

berukuran antara 0,05-0,2 mm, tekstur granoblastik dan lepidoblastik, dengan struktur slaty oleh kuarsa dan biotit.

berukuran antara 0,05-0,2 mm, tekstur granoblastik dan lepidoblastik, dengan struktur slaty oleh kuarsa dan biotit. berukuran antara 0,05-0,2 mm, tekstur granoblastik dan lepidoblastik, dengan struktur slaty oleh kuarsa dan biotit. (a) (c) (b) (d) Foto 3.10 Kenampakan makroskopis berbagai macam litologi pada Satuan

Lebih terperinci

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Perolehan Data dan Lokasi Penelitian Lokasi penelitian pada Peta Geologi Lembar Cianjur skala 1 : 100.000 terletak di Formasi Rajamandala (kotak kuning pada Gambar

Lebih terperinci

Karakteristik Batuan Gunungapi Daerah Manipi Kecamatan Sinjai Barat Kabupaten Sinjai (Implikasinya Terhadap Bencana Alam dan Sumber Daya Geologi)

Karakteristik Batuan Gunungapi Daerah Manipi Kecamatan Sinjai Barat Kabupaten Sinjai (Implikasinya Terhadap Bencana Alam dan Sumber Daya Geologi) Karakteristik Batuan Gunungapi Daerah Manipi Kecamatan Sinjai Barat Kabupaten Sinjai (Implikasinya Terhadap Bencana Alam dan Sumber Daya Geologi) Jusri Mahasiswa Teknik Geologi Universitas Hasanuddin Sari

Lebih terperinci

Struktur batuan beku ekstrusif. a. Masif. b. Columnar joint (kekar kolom)

Struktur batuan beku ekstrusif. a. Masif. b. Columnar joint (kekar kolom) Struktur batuan beku ekstrusif Batuan beku ekstrusif terbentuk karena proses pembekuannya berlangsung di permukaan bumi. Batuan beku ekstrusif akan menghasilkan struktur yang memberi petunjuk mengenai

Lebih terperinci

INTERPRETASI HASIL ANALISIS GEOKIMIA BATUAN GUNUNGAPI RUANG, SULAWESI UTARA

INTERPRETASI HASIL ANALISIS GEOKIMIA BATUAN GUNUNGAPI RUANG, SULAWESI UTARA INTERPRETASI HASIL ANALISIS GEOKIMIA BATUAN GUNUNGAPI RUANG, SULAWESI UTARA Oktory PRAMBADA Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunungapi Sari Gunungapi Ruang (+714 m dpl) yang merupakan gunungapi strato

Lebih terperinci

MENGENAL JENIS BATUAN DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO

MENGENAL JENIS BATUAN DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO MENGENAL JENIS BATUAN DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO Oleh : Akhmad Hariyono POLHUT Penyelia Balai Taman Nasional Alas Purwo Kawasan Taman Nasional Alas Purwo sebagian besar bertopogarafi kars dari Semenanjung

Lebih terperinci

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1. GEOMORFOLOGI Daerah penelitian memiliki pola kontur yang relatif rapat dan terjal. Ketinggian topografi di daerah penelitian berkisar antara 600-1200 m. Morfologi

Lebih terperinci

PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI UNTUK PENGAMATAN BATUAN

PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI UNTUK PENGAMATAN BATUAN PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI UNTUK PENGAMATAN BATUAN Kegiatan : Praktikum Kuliah lapangan ( PLK) Jurusan Pendidikan Geografi UPI untuk sub kegiatan : Pengamatan singkapan batuan Tujuan : agar mahasiswa mengenali

Lebih terperinci

hiasan rumah). Batuan beku korok

hiasan rumah). Batuan beku korok Granit kebanyakan besar, keras dan kuat, Kepadatan rata-rata granit adalah 2,75 gr/cm³ dengan jangkauan antara 1,74 dan 2,80. Kata granit berasal dari bahasa Latingranum. (yang sering dijadikan Granit

Lebih terperinci