BAB III DESAIN PRODUK
|
|
|
- Deddy Gunardi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB III DESAIN PRODUK 3.1 STUDY LITERATUR DAN LAPANGAN Inkubator transportasi adalah selungkup diperuntukkan bagi bayi, memiliki bagian transparan untuk dapat melihat bayi, dilengkapi dengan alat pengontrol lingkungan bayi terutama suhu, menggunakan udara yang dipanaskan, dan memenuhi keselamatan pengangkutan bayi. Inkubator transportasi ini harus dapat dengan mudah dimasukkan ke mobil ambulans ataupun dikeluarkan dari ambulans. Inkubator transportasi ini dapat dioperasikan dari satu tempat ke tempat lainnya atau dari rumah sakit ke tempat pasien dan sebaliknya. Fungsi dari inkubator adalah untuk mengalirkan udara panas ke ruangan inkubator dan mempertahankannya pada suhu tubuh normal yaitu 36ºC - 37ºC. Di Indonesia yang beriklim tropis, dimana temperatur udara mencapai 35 ºC. Dari pengambilan data pada mobil yang tidak menggunakan pendingin didapat data sebagai berikut : Tabel 3.1 Pengukuran temperatur pada kendaraan Hari Waktu Temp. Ruangan Depan (ºC) Temp. Ruangan belakang (ºC) Temp. Luar(ºC) Keterangan ,2 38,7 28,1 Cerah ,5 47,1 31 Cerah ,7 38,7 29,7 Berawan ,3 34,4 27 Berawan ,5 26 Cerah ,1 29,5 25 Hujan ,2 40,3 30 Cerah ,6 38,1 29,6 Berawan ,6 29,8 27,4 Berawan ,5 28,8 25 Berawan 29
2 ,4 36,4 28,6 Cerah ,6 Cerah ,3 37,7 28,9 Berawan ,2 31,1 28 Berawan , Hujan Dari pengukuran di atas didapatkan bahwa, kadang temperatur di dalam ruangan kendaraan diatas dari temperatur tubuh normal manusia, kadang dibawah dari temperatur tubuh normal manusia. Maka jika kita merujuk dari hasil pengukuran tersebut, maka inkubator tersebut harus memiliki pendingin pula, tetapi setelah melihat dari ketetapan yang dibuat oleh Menteri Kesehatan tentang standar fisik perlengkapan ambulans gawat darurat medik, dimana setiap ambulans harus menggunakan pendingin seperti tercantum dalam: Kepmekes No. 0152/Yanmed/RSKS/1987 [ lihat lampiran ] Kepmekes No.143/Menkes-kesos/SK/II/2001 [lihat lampiran] Julat suhu antara 10ºC dan 30ºC dianggap julat standar pada mobil ambulans dan rumah sakit (sesuai dengan SNI 11 ) Maka pada Perancangan inkubator transportasi ini menggunakan pemanas saja. 3.2 PERANCANGAN DAN PENGEMBANGAN PRODUK Inkubator transportasi sangat diperlukan untuk memindahkan dari ruangan satu ke ruangan yang lainnnya maupun dari rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya yang jaraknya cukup jauh, tetapi yang ada pada saat ini inkubator transportasi sangat mahal sehingga banyak rumah sakit yang tidak memilikinya. Dalam penelitian ini, penulis mencoba mendisain box temperatur kontrol dan pemilihan sistem kontrol untuk inkubator transportasi yang handal, ringan, aman, murah dan dapat diproduksi di Indonesia. Adapun tahapan pada perancangan dan pengembangan produk inkubator transportasi ini adalah sebagai berikut: 30
3 a. Pernyataan Misi Langkah pendahuluan dalam penelitian ini merupakan uraian tentang inkubator transportasi dan peluang yang dituangkan dalam bentuk pernyataan misi berikut ini: Tabel 3.2 Pernyataan Misi Pernyataan Misi : Box temperatur kontrol dan pemilihan sistem kontrol untuk inkubator transportasi Uraian Produk: box dan system kontrol untuk inkubator transportasi yang handal, ringan, aman, murah dan dapat diproduksi di dalam negeri. Sasaran Bisnis Utama Produk diperkenalkan pada akhir tahun 2008 Memasukki pasar inkubator transportasi Pasar Utama Rumah Sakit Umum milik Pemerintah Pelayanan kesehatan SOS dan Rescue Pasar Kedua Rumah sakit dan klinik swasta Asumsi Produk sesuai standar SNI dan IEC Produk yang handal, ringan, aman dan murah Dapat diproduksi lokal Stakeholder Pembeli dan pengguna Distributor dan penjual Manufacturer Departemen kesehatan / rumah sakit b. Identifikasi Kebutuhan Konsumen Sasaran dalam identifikasi konsumen ini adalah untuk memahami kebutuhan konsumen dan mengkonfirmasikannya kepada tim pengembang [ ]. Dari pernyataan konsumen yang diperoleh melalui survei dituangkan dalam daftar kebutuhan konsumen yang tersusun rapi, dan dalam daftar secara hierarkis dengan bobot kepentingan untuk masing-masing kebutuhan. Tabel 3.3 Daftar kebutuhan konsumen Nama No Responden 1 Farida Danoe Bidan Klinik Bersalin Trio Bunda Pernyataan Pelanggan - ingin dinding bawah tempat tidur bayi tidak panas - ingin tanda sinyal/alarm apabila aliran panas berlebihan Interpretasi Kebutuhan Perlu pelapis/protect panas dinding bawah tempat tidur bayi Perlu kipas yang kuat dan stabil flow 31
4 2 Tri Mulyani Bidan Klinik Bersalin Trio Bunda 3 Annisa Suster Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi 4 Ratna Suster Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi - ingin Dinding control panel tidak panas - mudah dibersihkan bak air,saluran heater & kipas - kipas sering rusak - ingin kontrol kelembaban apabila ruangan terlalu lembab - ingin air dapat dikontrol seberapa habisnya - ingin sinyal system heater apabila terjadi kerusakan Saluran aliran heater tidak keluar/bocor Perancangan system heater yang mudah dipasang dan dibongkar Kipas yang tahan panas & korosif akibat air Perlu pintu katub pengatur bak air Takaran/ukuran air dapat dilihat secara transparan Meminimalkn kerusakan system heater Daftar Hierarki Kebutuhan Data pernyataan pelanggan diolah menjadi daftar interpretasi kebutuhan pelanggan. Jumlah kebutuhan yang cukup banyak ini akan menyulitkan dalam pengembangan selanjutnya. Oleh karena itu, daftar kebutuhan ini dikelompokkan menjadi beberapa hierarki, yaitu menjadi beberapa kebutuhan primer. Kebutuhan primer ini bisa jadi mempunyai beberapa kebutuhan sekunder. Tabel 3.4 Daftar Hierarki Kebutuhan a. Box temperatur kontrol *** Dapat mensuplai panas yang dibutuhkan (heater) *** Tempat air tidak mudah tumpah *** Saluran heater tidak bocor ** Mudah dibersihkan ** Kipas tahan panas & awet *** Sirkulasi oksigen yang baik ** Box Mudah untuk diangkat b. Pemilihan Sistem Kontrol *** Menggunakan alarm ** Memakai Unit : Celcius, Fahrenheit * Mudah terlihat *** Dapat mengatur temperatur *** Mudah dioperasikan 32
5 ** Bentuk Sistem Kontrol sederhana ** Sistem Kontrol tahan lama (tidak cepat rusak) *** Sistem Kontrol aman saat digunakan Penetapan Kepentingan Relatif Tiap Kebutuhan Tingkat kepentingan relatif harus ditetapkan dan sumber daya dialokasikan sesuai dengan disain produk. Bobot nilai kepentingan kebutuhan ini diketahui dengan menggunakan pendekatan survei terhadap pengguna atau pelanggan, karena dapat merespon langsung secara eksplisit terhadap kebutuhan yang signifikan. Tabel 3.5 Penetapan Kepentingan relatif tiap kebutuhan Tingkat Box temperatur kontrol Kepentingan Dapat mensuplai panas yang dibutuhkan (heater) 5 Tempat air tidak mudah tumpah 5 Saluran heater tidak bocor 5 Mudah dibersihkan 4 Kipas tahan panas & awet 4 Sirkulasi oksigen yang baik 4 Box mudah untuk diangkat 3 Pemilihan Sistem Kontrol Menggunakan alarm 5 Memakai Unit : Celcius, Fahrenheit 4 Mudah dibaca 2 Dapat mengatur temperatur 5 Mudah dioperasikan 4 Bentuk Sistem Kontrol sederhana 3 Sistem Kontrol tahan lama (tidak cepat rusak) 4 Sistem Kontrol aman saat digunakan 5 Keterangan: 1 merupakan skala terkecil dan 5 adalah skala terbesar. 33
6 c. Spesifikasi Produk Spesifikasi produk merupakan penjelasan produk tentang hal-hal yang harus dilakukan oleh sebuah produk. Istilah lain dari spesifikasi produk adalah kebutuhan produk dari sebuah produk atau karakteristik engineering. Dari hasil survei dan wawancara konsumen/pelanggan yang dilakukan di rumah sakit, didapat bahwa hampir semua responden menginginkan inkubator transportas yang aman, handal dan murah. Berikut daftar metrik untuk box temperatur kontrol dan pemilihan sistem control pada inkubator transportasi Tabel 3.6 Daftar Metrik No. Metric Kebutuhan Metriks Satuan Box temperatur kontrol dan pemilihan sistem kontrol 1 4,7 Dimensi box temperatur kontrol mm 2 4,7 Bahan box ,3,4 Dimensi box kontrol panel mm 4 2,4,5 Bahan tempat air Dimensi tempat air mm 6 4 Jenis rel box kontrol panel Bahan pegangan box ,10 Jenis alarm ,13 Dimensi alat kontrol mm 10 9,10,11,12,14,15 Jenis alat kontrol Bahan pegangan box Dimensi pegangan box mm 13 1,5 Dimensi kipas mm 14 1,4,6 Dimensi saluran mm 15 1,4 Jenis elemen pemanas Jenis nepel -- 34
7 Matriks kebutuhan-metrik memperlihatkan hubungan antara kebutuhan dan metric. Matriks ini merupakan elemen kunci dalam pengembangan fungsi kualitas. Matriks ini menjelaskan pemetaan hubungan antara kebutuhan dan metric. Berikut ini adalah matriks kebutuhan-metrik dari inkubator transportasi. Tabel 3.7 Hubungan antara kebutuhan dan matriks Metrik Dimensi box Bahan box Kebutuhan 1 Dapat mensuplai panas yang dibutuhkan (heater) 2 Tempat air tidak mudah tumpah 3 Saluran heater tidak bocor 4 Mudah dibersihkan 5 Kipas tahan panas & awet 6 Sirkulasi oksigen yang baik 7 Box mudah untuk diangkat 8 Menggunakan alarm 9 Memakai Unit : Celcius, Fahrenheit 10 Mudah dibaca 11 Dapat mengatur temperatur 12 Mudah dioperasikan 13 Bentuk Sistem Kontrol sederhana 14 Sistem Kontrol tahan lama (tidak cepat rusak) 15 Sistem Kontrol aman saat digunakan Dimensi kontrol panel Bahan tempat air Dimensi tempat air Jenis rel control panel Bahan pegangan box Jenis alarm Dimensi alat kontrol Jenis alat kontrol Bahan pegangan box Dimensi pegangan Dimensi kipas Dimensi saluran Jenis pemanas Jenis nepel 35
8 Klasifikasi konsep Konstruksi box temperatur kontrol Box kipas Elemen pemanas Tempat air kontrol 36
9 Adapun kelebihan dan kekurangan dari masing-masing produk adalah sebagai berikut: Tabel 3.8 usaian dari beberapa produk Bagian Produk Kelebihan Kekurangan Box 1. Kontrolnya muda dilihat 2. Bentuknya yang bagus 1. ringan karena kecilnya 1. Sukar untuk membuatnya 2. Biaya pembuatan cukup mahal 1. Sulit dibuat 2. Biaya pembuatan mahal 1. Mudah dalam membersikannya 2. biaya pembuatan murah 1. Agak kaku bentuknya 2. agak berat 1. Mudah dalam pemasangan 2. lebih simpel 1. sulit didapat Kipas 1. Mudah dalam pemasangan 2. Banyak dipasaran 1. perlu tempat untuk memasangnya 1. Mendisribusi udara lebih baik 1. tidak ada di pasaran 1. Mudah dalam pembuatan 2. Harganya lebih murah Elemen Pemanas 1. Harga lebih murah 1. Agak sulit dalam pembuatan 1. lebih mudah pembuatannya 1. Harganya mahal karena memakai bahan keramik 37
10 Tempat air 1. air tidak tumpah 2. dapat digunakan di inkubator transportasi 1. air dapat kita kontrol karena bahannya transparan 1. jika ada goncangan air didalam dapat keluar 1. lebih murah 1. Pengaturannya kurang Kontrol 1. penunjuk angka nya cukup jelas 1. Agak Mahal Kombinasi konsep box temperatur kontrol dan pemilihan sistem kontrol Tabel 3.9 Kombinasi Konsep Box Kipas Elemen Pemenas Tempat air Kontrol 38
11 Tabel 3.10 Kombinasi 1 Box Kipas Elemen Pemenas Tempat air Kontrol Tabel 3.11 Kombinasi 2 Box Kipas Elemen Pemenas Tempat air Kontrol 39
12 Tabel 3.12 Kombinasi 3 Box Kipas Elemen Pemenas Tempat air Kontrol Tabel 3.13 Kombinasi 4 Box Kipas Elemen Pemenas Tempat air Kontrol 40
13 Tabel 3.14 Kombinasi 5 Box Kipas Elemen Pemenas Tempat air Kontrol Tabel 3.15 Kombinasi 6 Box Kipas Elemen Pemenas Tempat air Kontrol 41
14 Penyaringan Konsep Penyaringan konsep didasarkan pada metode yang dikembangkan oleh Stuart Pugh pada tahun 1980-an dan sering disebut konsep Pugh (Pugh, 1990). Tujuan tahapan ini adalah mempersempit jumlah konsep secara cepat dan untuk memperbaiki konsep. Matriks seleksi atau matriks penyaringan konsep yang digunakan adalah sebagai berikut: Box temperatur control dam pemilihan system kontrol Tabel 3.16 Pemyaringan konsep Kriteria seleksi Ref. Dapat mensuplai panas yang dibutuhkan Saluran panas tidak bocor Mudah dibersihkan Air tidak tumpah saat kemiringan Manufacturing cost Komponen tersedia di pasar Jumlah Jumlah Jumlah Nilai Akhir Peringkat Lanjutkan ya tidak ya tidak tidak ya Keterangan: (+) untuk lebih baik, (0) untuk sama dengan dan (-) untuk lebih buruk, Ref adalah konsep yang dijadikan acuan/referensi yang dipilih adalah konsep 2. 42
15 Penilaian Konsep Tahap ini dilakukan agar alternatif penyelesaian yang ada dapat dibedakan lebih baik diantara konsep yang bersaing tersebut. Disini ada peran bobot kepentingan relatif untuk setiap kriteria seleksi dan memfokuskan pada hasil perbandingan yang lebih baik dengan penekanan pada setiap kriteria seleksi. Box temperatur control Kriteria seleksi Dapat mensuplai panas yang dibutuhkan Tabel 3.17 Penilaian Konsep Beba n Kombinasi 3 Rati ng Nilai Beba n Konsep Kombinasi 1 (Referensi) Nilai Rati Beba ng n Kombinasi 6 Rati ng Nilai Beba n 20% Saluran panas tidak bocor 15% Mudah dibersihkan 10% Air tidak tumpah saat kemiringan 15% Manufacturing cost 25% Komponen tersedia di pasar 15% Skala penilaian adalah sebagai berikut Total ,20 Peringkat lanjutkan kembangkan tidak tidak Kinerja Relatif Sangat buruk dibandingkan referensi Buruk dibandingkan referensi Sama seperti referensi Lebih baik dari referensi Sangat lebih baik dari referensi Nilai
16 Hasil Akhir Konsep adalah sebagai berikut: Gambar 3.1 Konsep dari box temperatur kontrol inkubator transpotasi Gambar 3.2 konsep box kontrol panel 44
17 3.3 KONSEP DISAIN AWAL Setelah pemilihan dan seleksi konsep di dapat disain box temperatur kontrol dan pemilihan sistem kontrol untuk inkubator transportasi sebagai berikut : Rangka box Rangka ini berguna untuk menumpu beban yang diterima dari berat hood maupun berat dari box itu sendiri, ketika box tersebut akan di angkat. Pemilihan material yang digunakan besi dengan tebal 0.8 mm, dipakai karena lebih murah dan kekuatannya tidak begitu jelek dari jenis logam lainnya. Gambar 3.3 Rangka box temperatur kontrol Saluran udara dan box kontrol panel Saluran udara panas tergantung di atas box kontrol panel dan box kontrol panel menggunakan rel yang berguna untuk mempermudah dalam membersikan dan melepaskannya dari box inkubator jika diperlukan. 45
18 Gambar 3.4 Box kontrol panel dan saluran udara panas Tempat air Tempat air berguna untuk menjaga kelembapan udara dalam hood, untuk menjaga agar air tersebut tidak tumpah pada saat inkubator tersebut dalam keadaan bergerak, maka didalamnya terdapat busa yang dapat menyerap air. Pemilihan material Bahan tempat air yang disarankan adalah bahan yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut: 1. Produk yang ringan dan kuat dapat dibuat. Berat jenis polimer rendah dibandingkan dengan logam dan keramik, yaitu 1,0 1,7, yang memungkinkan membuat barang kuat dan ringan. 2. Baik sekali dalam ketahanan air dan ketahanan zat kimia. Pemilihan bahan yang baik akan menghasilkan produk yang mempunyai sifat-sifat baik sekali. 3. Murah 4. Tersedia di pasar. Dari beberapa material yang di temukan dipasaran dari jenis poimer seperti : 46
19 PVC Polietelin Acrylic Maka diambil jenis Acrylic karena mudah untuk dibentuk dari pada bahan lainnya di pasaran. Gambar 3.5 Tempat air Penutup atas box inkubator Penutup ini berguna untuk tempat tumpuan hood inkubator dan tempat menyalurkan udara panas ke hood tersebut. Gambar 3.6. Penutup inkubator 47
20 Pegangan box inkubator Pegangan box inkubator tersebut berguna untuk mengangkat box dari trolly pada waktu pemisahan maupun pada saat ingin dibersihkan. Material yang dipakai adalah stainless steel SS-304, gunanya agar tidak cepat terkena korosi dan kuat. Gambar 3.7 Pegangan box inkubator Pelat box inkubator Gunanya untuk melindungi komponen komponen yang ada didalam box, dalam rancangan ini mempergunakan bahan dari stainless steel SS-304, gunanya agar tidak cepat terkena korosi. Gambar 3.8 Pelat box dan seluruh komponen yang terangkai 48
21 Konsep disain awal sistem kontrol Inkubator Sistem Pemanas S A Arus AC B inverter Gambar 3.9 konsep disain awal sistem kontrol S = sensor temperatur di hood inkubator A = saklar bekerja jika arus AC masuk dan jika arus terputus ia tidak bekerja Batrai 12 V B = saklar bekerja jika arus AC terputus sehingga sistem pemanas menggunakan arus DC dari batrai 12V Gambar 3.10 Sistem kontrol 49
22 Konsep awal pemilihan besarnya daya pemanas Dari disain hood inkubator didapat volume hood = ,42 mm² = 5571,299 cm² didapat dari SNI bahwa pengujian dilakukan pada suhu ruangan 25ºC dengan menaikkan suhu hingga 36-37ºC. Maka : T = T = 11 C Dimana : Cv udara = 0,240 kal / gr. C Kalor yang dipergunakan untuk memanaskan ruangan hood : Masa dari uadara : m = v x Cv m= 5571, 299x0, 240 = 1337,11176 Q = m. Cv. T Q= 1337,11176x0, 24x11 Q = 3529,9704 kal Q= 3529,9704x0, Q = 14, kJ Q= 14769,396J Jika dipilih pemanas dengan daya 100W, tanpa mempertibangkan kehilangan panas yang terjadi, maka waktu yang diperlukan untuk memanaskan hood tersebut : Q 14769,396 t = = = 147,69det P EVALUASI DISAIN Setelah mendapatkan konsep disain yang diinginkan, disain terlebih dahulu di evaluasi untuk mengetahui apakah disain yang kita rancang tersebut aman dan dapat diteruskan pada proses selanjutnya. Untuk evaluasi ini menitik beratkan pada kekuatan bahan yang dipakai pada tumpuan yang dikenakan beban dan aliran udara yang terjadi didalam saluran udara panas. Untuk analisa kekuatan, evaluasi dilakukan 50
23 dengan MSC/NASTRAN, sedangkan untuk aliran udara panas dilakukan pengujian dengan menggunakan digital temperature recorders EVALUASI DENGAN MSC/NASTRAN 1. Evaluasi tumpuan hood Ada 4 tumpuan yang mengikat hood ke box inkubator, tumpuan tersebut harus dapat menahan berat hood tersebut, seperti terlihat dari gambar Gambar 3.11 Tumpuan hood Bahan rangka box yang direncanakan adalah besi dengan [ ] ρ = 7870,001 kg/m³ Cp = 447,688 J/kgºC, K =71,96481 J/s.m.ºC Berat yang diperkirakan dari hood adalah 6,5 kg, maka beban yang terjadi 65 N, dimana di asumsikan gravitasi (g = 10 m/s). 51
24 Hasil analisa 1 Gambar 3.12 Hasil Analisa 1 Pada menganalisa tumpuan hood, beban yang terjadi pada tiap tumpuan di asumsikan rata, sehingga diperoleh beban yang di berikan F = Ftotal/4 F = 65/4 = 16,25 N Maka titik keritis dari tumpuan hood dengan tebal pelat 2 mm, terlihat pada gambar yang di beri lingkaran merah pada elemen 6141 dengan nilai Von Mises Stress = N/mm² [lampiran ] σizin bahan = 331,06 N/mm² σterjadi < σizin 41,9974 N/mm² < 331,06 N/mm² aman 52
25 V1 L1 C1 Y Output Set: MSC/NASTRAN Case 1 Contour: Solid Von Mises Stress Z X F Gambar 3.13 Hasil analisa 2 Pada menganalisa tumpuan hood, beban yang terjadi pada tiap tumpuan di asumsikan rata, sehingga diperoleh beban yang di berikan F = Ftotal/4 F = 65/4 = 16,25 N Maka titik keritis dari tumpuan hood dengan tebal pelat 2 mm, terlihat pada gambar yang di beri lingkaran merah pada elemen dengan nilai Von Mises Stress = N/mm² [lampiran ] σizin bahan = 331,06 N/mm² σterjadi < σizin F F F F F F N/mm² < 331,06 N/mm² aman F F F F F F F Evaluasi tumpuan pegangan box Ada 4 tumpuan yang mengikat hood ke box inkubator, tumpuan tersebut harus dapat menahan berat hood tersebut, seperti terlihat dari gambar 53
26 Gambar 3.14 Tumpuan pegangan box Berat yang diperkirakan dari box dan hood adalah 30 kg, maka beban yang terjadi/ yang harus ditahan sebesar 300 N, dimana di asumsikan dengan gravitasi (g = 10 m/s). Hasil Analisa Gambar 3.15 Hasil Analisa pada tumpuan pegangan box Pada menganalisa tumpuan pegangan box, beban yang terjadi pada tiap tumpuan di asumsikan rata, beban yang terjadi pada lubang baut karena pegangan tersebut dibaut, sehingga diperoleh beban yang di berikan F = Ftotal/4 F = 300/4 = 75 N 54
27 Maka titik keritis dari tumpuan pegangan box dengan tebal pelat 2 mm, terlihat pada gambar yang di beri lingkaran merah pada elemen dengan nilai Von Mises Stress = N/mm² σizin bahan = 331,06 N/mm² σterjadi < σizin N/mm² < 331,06 N/mm² aman Analisa Pada Baut V1 L1 C F F F F Z Output Set: MSC/NASTRAN Case 1 Contour: Solid Von Mises Stress X Y Gambar 3.16 Hasil analisa pada baut Pada menganalisa baut yang dipakai, beban yang terjadi pada tiap baut di asumsikan rata, baut yang dipakai adalah M-8 dan panjang 25 mm dengan jumlah baut 8 buah. F = Ftotal/4 F = 300/8 = 37,5 N Maka titik keritis dari baut, terlihat pada gambar yang di beri lingkaran merah pada elemen 5457 dengan nilai Von Mises Stress = N/mm² σizin bahan = 331,06 N/mm² σterjadi < σizin N/mm² < 331,06 N/mm² aman 55
28 3.5 DETAIL DISAIN Setelah disain yang direncanakan diuji dengan menggunakan perangkat lunak dan dinyatakan aman, maka disain tersebut dapat dibuat menjadi prototipe. Rincian dari disain yang akan di pakai untuk pembuatan prototipe sebagai berikut, sedangkan ukuran ditail dapat dilihat di lampiran: Tabel 3.18 komponen ditail disain Keterangan : Rangka box dibuat agar dapat menahan beban hood maupun tegangan yang terjadi pada saat mengangkat box. Dengan bahan dari besi yang berbentuk profil : Rangka box Keterangan : Pelat penutup rangka box terbuat dari pelat stainlesstell, karena bahan tersebut tidak mudah berkarat dan dapat dibentuk. Pelat penutup rangka Tempat air Keterangan : Tempat air ini berguna untuk mempertahankan kelembapan yang ada dalam hood, tempat air ini di disain dengan menggunakan busa agar pada saat ada goncangan air tidak akan tumpah. Dengan menggunakan bahan dari polimer. 56
29 Keterangan : Pegangan box tersebut menggunakan material stainlesstell, karena tahan terhadap korosi dan kuat. Pegangan box Box Kontrol Saluran udara Keterangan : Box kontrol tersebut terbuat dari pelat stainlesstell, kegunaan dari box tersebut untuk tempat kontrol temperatur dan tempat kedudukan saluran udara panas. Keterangan : Dimana saluran udara ini tempat mengalirnya udara panas ke dalam hood, dan dikontrol pada temperatur 34-36ºC, karena keterbatasnya bahan yang ada di pasaran yang dapat menahan temperatur tinggi, maka untuk prototipe ini menggunakan bahan stainlesstell 57
30 Tabel 3.19 Asesoris pendukung Keterangan Dimana kontrol yang dipakai buatan korea, dimana kenaikan dan turunnya suhu dapat diatur oleh kontrol tersebut. Dengan tipe TZN4S Kontrol temperatur Keterangan Kipas yang dipakai jenis kotak yang banyak dijual dipasaran, kipas ini juga termasuk awet karena rangkanya terbuat dari besi. Kipas Keterangan Pemanas yang dipilih dari filamen dengan daya kalor 100W, karena volume hood tidak terlalu besar. Pemanas Busa Nipple Keterangan Jenis busa yang dipakai, yang dapat menyerap air, tetapi tidak merubah bentuk dari busa itu sendiri. Busa yang dipilih tersebut dapat menyerap air sampai 50%. Keterangan 3 pasang Nipple yang dipakai untuk mengalirkan udara ke hood, dipilih yang ringan dan tidak mudah terkena korosi. 58
31 Keterangan Selang oksigen yang digunakan adalah yang dapat menyalurkan oksigen dengan baik, awet dan yang murah. Selang oksigen Keterangan Baut tersebut digunakan untuk menahan beban dari hood maupun yang terjadi pada pegangan box inkubator. Baut yang dipakai M-8 Baut dan Mur Tiang infus Keyerangan Tiang infus, dipilih dari yang ada di pasaran dengan jenis yang ringan dan dapat di lepas lepas dengan panjang tiang minimal 90 cm sesuai dengan standar SNI, dengan bahan terbuat dari stainlesstell 3.6 Pembuatan Prototipe Pengembangan produk hampir selalu membutuhkan pembuatan dan pengujian prototipe. Sebuah prototipe merupakan penaksiran produk melalui satu atau lebih dimensi. Kegunaan dari pembuatan prototipe box inkubator digunakan untuk memastikan bahwa komponen komponen dan subsistem 59
32 subsistem dari produk bekerja seperti yang diharapkan. Disain yang disetujui untuk dikembangkan menjadi prototipe adalah : Gambar 3.17 Disain prototipe Keterangang 1. Tempat air 2. Pelat box inkubator 3. Pegangan box inkubator 4. Penutup atas Box 5. Rangka dalam box 6. Saluran udara panas 7. Tempat kontrol panel 60
33 Tabel 3.20 Biaya Proses Manufaktur Material Komponen Yang Dibeli Pemrosesan Perakitan Box Inkubator Kontrol temperatur Nipel (3 Pasang) Selang Oksigen (1 m) Kabel pemanas (1 m) Buzzer (Alarm) Termo couple & pemanas W Relay (1 set) Kipas 80x80 (AC) Baut dan Mur M-8 (20 buah) Ring Baut (1 bungkus) Tiang infus Tempat air (2 buah) Saklar lampu (1 buah) Kabel power Total Biaya Langsung Beban Overhead Biaya Total per unit Biaya Total
BAB III DESAIN PENGEMBANGAN PRODUK
BAB III DESAIN PENGEMBANGAN PRODUK 3.1 STUDI LITERATUR Inkubator transportasi adalah selungkup diperuntukkan bagi bayi, memiliki bagian transparan untuk dapat melihat bayi, dilengkapi dengan alat pengontrol
BAB IV EVALUASI PROTOTIPE DAN PENGUJIAN PROTOTIPE
BAB IV EVALUASI PROTOTIPE DAN PENGUJIAN PROTOTIPE Setelah selesai pembuatan prototipe, maka dilakukan evaluasi prototipe, apakah prototipe tersebut telah sesuai dengan SNI atau tidak, setelah itu baru
BAB IV EVALUASI PROTOTYPE DAN PENGUJIAN PROTOTYPE
BAB IV EVALUASI PROTOTYPE DAN PENGUJIAN PROTOTYPE 4.1 EVALUASI PROTOTYPE Setelah selesai pembuatan prototype, maka dilakukan evaluasi prototipe untuk mengetahui apakah prototipe tersebut telah memenuhi
PENDEKATAN RANCANGAN Kriteria Rancangan
25 PENDEKATAN RANCANGAN 4.1. Kriteria Rancangan Pada prinsipnya suatu proses perancangan terdiri dari beberapa tahap atau proses sehingga menghasilkan suatu desain atau prototipe produk yang sesuai dengan
BAB I PENDAHULUAN. kematian per 1000 kelahiran hidup, jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Menurut data hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tergolong tinggi yaitu 34 kematian
RANCANG BANGUN AUTOCLAVE MINI UNTUK UJI KOROSI
No. 08/ Tahun IV. Oktober 2011 ISSN 1979-2409 RANCANG BANGUN AUTOCLAVE MINI UNTUK UJI KOROSI Yatno Dwi Agus Susanto, Ahmad Paid Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir BATAN ABSTRAK RANCANG BANGUN AUTOCLAVE
PENGEMBANGAN PENYANGGA BOX MOBIL PICK UP MULTIGUNA PEDESAAN
PENGEMBANGAN PENYANGGA BOX MOBIL PICK UP MULTIGUNA PEDESAAN Oleh: Hulfi Mirza Hulam Ahmad 2109100704 Dosen Pembimbing Prof. Dr. Ing. Ir. I Made Londen Batan, M.Eng Latar Belakang Prototype box yang dibuat
SELAMAT ATAS PILIHAN ANDA MENGGUNAKAN DISPENSER DOMO
SELAMAT ATAS PILIHAN ANDA MENGGUNAKAN DISPENSER DOMO Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun. Bacalah buku petunjuk pengoperasian ini dengan
SELAMAT ATAS PILIHAN ANDA MENGGUNAKAN DISPENSER DOMO
SELAMAT ATAS PILIHAN ANDA MENGGUNAKAN DISPENSER DOMO Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun. Bacalah buku petunjuk pengoperasian ini dengan
BAB 4 PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA. rangkaian fase pengembangan produk.
78 BAB 4 PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA 4.1 Perencanaan Produk Sebelum memasuki tahap identifikasi kebutuhan pelanggan, terlebih dahulu perlu dilakukan tahap perencanaan produk, yang mana hasil dari perencanaan
Alternatif Material Hood dan Side Panel Mobil Angkutan Pedesaan Multiguna
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 1, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) E-1 Alternatif Material Hood dan Side Panel Mobil Angkutan Pedesaan Multiguna Muhammad Ihsan dan I Made Londen Batan Jurusan Teknik
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian hampir seluruhnya dilakukan di laboratorium Gedung Fisika Material
BAB III METODE PENELITIAN Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah rancang bangun alat. Penelitian hampir seluruhnya dilakukan di laboratorium Gedung Fisika Material Pusat Teknologi Nuklir Bahan
BAB III PEMBUATAN ALAT Tujuan Pembuatan Tujuan dari pembuatan alat ini yaitu untuk mewujudkan gagasan dan
BAB III PEMBUATAN ALAT 3.. Pembuatan Dalam pembuatan suatu alat atau produk perlu adanya sebuah rancangan yang menjadi acuan dalam proses pembuatanya, sehingga kesalahan yang mungkin timbul dapat ditekan
BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL
BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL Pada bab ini dibahas mengenai pemaparan analisis dan interpretasi hasil dari output yang didapatkan penelitian. Analisis penelitian ini dijabarkan dan diuraikan pada
BAB 1 PENDAHULUAN. dibutuhkan di lingkungan, dalam suatu sistem elektronika, dalam industri, dalam bidang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengukuran, pemantauan, dan tampilan nilai suhu adalah bagian sistem yang seringkali dibutuhkan di lingkungan, dalam suatu sistem elektronika, dalam industri, dalam
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suhu atau temperatur udara merupakan kondisi yang dirasakan di permukaan Bumi sebagai panas, sejuk atau dingin. Bumi menerima panas dari penyinaran matahari berupa
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian adalah metode yang digunakan untuk mendekatkan permasalahan yang diteliti sehingga dapat menjelaskan dan membahas permasalahan
RANCANG BANGUN KONSTRUKSI TEMPERATUR KONTROL DAN PEMILIHAN SISTEM KONTROL UNTUK INKUBATOR TRANSPORTASI TESIS
RANCANG BANGUN KONSTRUKSI TEMPERATUR KONTROL DAN PEMILIHAN SISTEM KONTROL UNTUK INKUBATOR TRANSPORTASI TESIS Oleh: I MADE KRISHNA MAHARATHA 6405020109 TESIS INI DIAJUKAN UNTUK MELENGKAPI SEBAGIAN PERSYARATAN
BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI SISTEM
BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI SISTEM Pada bab ini akan dijabarkan mengenai perancangan dan realisasi dari perangkat keras dan perangkat lunak dari setiap modul yang menjadi bagian dari sistem ini.
Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun.
SELAMAT ATAS PILIHAN ANDA MENGGUNAKAN PEMANAS AIR (WATER HEATER) DOMO Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun. Bacalah buku petunjuk pengoperasian
BAB III PERANCANGAN, INSTALASI PERALATAN DAN PENGUJIAN
BAB III PERANCANGAN, INSTALASI PERALATAN DAN PENGUJIAN 3.1 PERANCANGAN ALAT 3.1.1 Design Tabung (Menentukan tebal tabung) Tekanan yang dialami dinding, ΔP = 1 atm (luar) + 0 atm (dalam) = 10135 Pa F PxA
PETUNJUK PENGOPERASIAN
PETUNJUK PENGOPERASIAN LEMARI PENDINGIN MINUMAN Untuk Kegunaan Komersial SC-178E SC-218E Harap baca Petunjuk Pengoperasian ini sebelum menggunakan. No. Pendaftaran : NAMA-NAMA BAGIAN 18 17 16 1. Lampu
BAB 1 PENDAHULUAN. paling populer adalah mikroprosesor. Pada prinsipnya mikroprosesor adalah pusat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Belakangan ini perkembangan teknologi pemrosesan IC (Integrated Circuit) telah sangat luas menyentuh aspek kehidupan kita. Salah satu produk tekhnologi pemrosesan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. jalan Kolam No. 1 / jalan Gedung PBSI Telp , Universitas Medan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan sejak tanggal pengesahan usulan oleh pengelola program studi sampai dinyatakan selesai yang direncanakan berlangsung selama
Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun.
SELAMAT ATAS PILIHAN ANDA MENGGUNAKAN PEMANAS AIR (WATER HEATER) DOMO Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun. Bacalah buku petunjuk pengoperasian
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Area terhadap hasil rancang bangun alat Uji Konduktivitas Thermal Material.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu 3.1.1. TEMPAT Pengujian dilakukan di laboratorium Prestasi Mesin Universitas Medan Area terhadap hasil rancang bangun alat Uji Konduktivitas Thermal Material.
Bab 3 DESKRIPSI PEKERJAAN. 3.1 Gambaran Umum Pekerjaan Lokasi dan Alat
Bab 3 DESKRIPSI PEKERJAAN Uji Model Fisik Pemecah Gelombang Tipe Tiang Pancang Bertirai 3.1 Gambaran Umum Pekerjaan 3.1.1 Lokasi dan Alat Pekerjaan uji fisik yang dilakukan di Laboratorium Gelombang Teknik
TUGAS MAKALAH INSTALASI LISTRIK
TUGAS MAKALAH INSTALASI LISTRIK Oleh: FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO PRODI S1 PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS NEGERI MALANG Oktober 2017 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring jaman
METODE PENELITIAN. Teknik Elektro Universitas Lampung dilaksanakan mulai bulan Februari Instrumen dan komponen elektronika yang terdiri atas:
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian dan perancangan tugas akhir dilakukan di Laboratorium Terpadu Teknik Elektro Universitas Lampung dilaksanakan mulai bulan Februari 2013 sampai dengan
Sistem Monitoring Suhu dan Kelembaban pada Inkubator Bayi Berbasis Mikrokontroler
Sistem Monitoring Suhu dan Kelembaban pada Inkubator Bayi Berbasis Mikrokontroler Heri Mulyono 1, Yuan Novandhya Yudistira 2 1,2 Program Studi Sistem Komputer STMIK Jayanusa Padang [email protected],
BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN
BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN 3.1 Diagram Alir Proses Perancangan Proses perancangan konstruksi mesin pengupas serabut kelapa ini terlihat pada Gambar 3.1. Mulai Survei alat yang sudah ada dipasaran
BAB III METOLOGI PENELITIAN
BAB III METOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Metode yang digunakan adalah untuk mendekatkan permasalahan yang diteliti sehingga menjelaskan dan membahas permasalahan secara tepat. Skripsi ini menggunakan
BAB III PERANCANGAN GREEN MEDICAL BOX PORTABLE
BAB III PERANCANGAN GREEN MEDICAL BOX PORTABLE Green Medical Box Portable dirancang dengan menggunakan sistem refrigerasi yang terintegrasi dengan box. Box terdiri dari dua tingkat, tingkat pertama/bawah
BAB 4 HASL DAN PEMBAHASAN
30 BAB 4 HASL DAN PEMBAHASAN 4.1 UPAL-REK Hasil Rancangan Unit Pengolahan Air Limbah Reaktor Elektrokimia Aliran Kontinyu (UPAL - REK) adalah alat pengolah air limbah batik yang bekerja menggunakan proses
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini akan dibahas mengenai tempat serta waktu dilakukannya pembuatan, alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan alat uji, diagram alir pembuatan alat uji serta langkah-langkah
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
19 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 PENDAHULUAN Pada bab ini akan menjelaskan metode yang akan digunakan dalam Modifikasi, baik teknik dan tahap tahap yang dilakukan untuk memodifikasi. Pada bab ini juga
BAB III METODE PROSES PEMBUATAN
BAB III METODE PROSES PEMBUATAN Dalam bab ini akan dibahas mengenai tempat serta waktu dilakukannya proses pembuatan dapur busur listrik, alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembuatan dapur busur
BAB IV PEMILIHAN MATERIAL DAN INSTALASI
BAB IV PEMILIHAN MATERIAL DAN INSTALASI 4.1 SANDWICH PANEL Tugas pertama dari perancangan sandwich panel adalah memilih material insulasi yang tepat. Hal ini sangat penting karena fungsi utama pemilihan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Perancangan Dan Pembuatan Mesin preheat pengelasan gesek dua buah logam berbeda jenis yang telah selesai dibuat dan siap untuk dilakukan pengujian dengan beberapa
PENCEGAHAN KEBAKARAN. Pencegahan Kebakaran dilakukan melalui upaya dalam mendesain gedung dan upaya Desain untuk pencegahan Kebakaran.
LAMPIRAN I PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG KETENTUAN DESAIN SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN DAN LEDAKAN INTERNAL PADA REAKTOR DAYA PENCEGAHAN KEBAKARAN Pencegahan Kebakaran
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II PENDAHULUAN BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Motor Bakar Bensin Motor bakar bensin adalah mesin untuk membangkitkan tenaga. Motor bakar bensin berfungsi untuk mengubah energi kimia yang diperoleh dari
REKAYASA RANCANG BANGUN TRAINER SISTEM KELISTRIKAN AC MOBIL DAIHATSU ZEBRA
Trainer Sistem Kelistrikan AC Mobil Daihatsu Zebra REKAYASA RANCANG BANGUN TRAINER SISTEM KELISTRIKAN AC MOBIL DAIHATSU ZEBRA Wildan Fahmi D3 Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya e-mail:
PERANCANGAN TEMPERATURE CONTROL SYSTEM PADA INTERNAL FLOW FLUIDA VISCOUS (STUDI KASUS DI PERUSAHAAN KECAP DAN SAUS PT. LOMBOK GANDARIA) Skripsi
PERANCANGAN TEMPERATURE CONTROL SYSTEM PADA INTERNAL FLOW FLUIDA VISCOUS (STUDI KASUS DI PERUSAHAAN KECAP DAN SAUS PT. LOMBOK GANDARIA) Skripsi Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
BAB IV HASIL PEMBUATAN DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan proses pembuatan rangka pada incinerator terlebih
BAB IV HASIL PEMBUATAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Visualisasi Proses Pembuatan Sebelum melakukan proses pembuatan rangka pada incinerator terlebih dahulu harus mengetahui masalah Kesehatan dan Keselamatan Kerja
BAB II PERTIMBANGAN DESAIN
BAB II PERTIMBANGAN DESAIN 2.1 Pertimbangan Desain Hal hal penting dalam pertimbangan desain untuk merancang press tool sendok cocor bebek, hal hal tersebut adalah sebagai berikut : 1. Pemilihan metode
Bab 3 Perancangan dan Pembuatan Reaktor Gasifikasi
Bab 3 Perancangan dan Pembuatan Reaktor Gasifikasi 3.1 Perancangan Reaktor Gasifikasi Perancangan reaktor didasarkan pada rancangan reaktor gasifikasi sekam padi milik Willy Adriansyah. Asumsi yang digunakan
LAPORAN TUGAS AKHIR BAB II DASAR TEORI
BAB II DASAR TEORI 2.1 Dispenser Air Minum Hot and Cool Dispenser air minum adalah suatu alat yang dibuat sebagai alat pengkondisi temperatur air minum baik air panas maupun air dingin. Temperatur air
BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN REAKTOR GASIFIKASI
BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN REAKTOR GASIFIKASI 3.1 Perancangan Reaktor Gasifikasi Reaktor gasifikasi yang akan dibuat dalam penelitian ini didukung oleh beberapa komponen lain sehinga membentuk suatu
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI Proses pengembangan produk secara umum dibagi kedalam beberapa tahap yang biasanya disebut fase. Menurut Karl T. Ulrich dan Steven D. Eppinger dalam bukunya yang berjudul Perancngan
KAJIAN EKSPERIMEN COOLING WATER DENGAN SISTEM FAN
KAJIAN EKSPERIMEN COOLING WATER DENGAN SISTEM FAN Nama : Arief Wibowo NPM : 21411117 Jurusan : Teknik Mesin Fakultas : Teknologi Industri Pembimbing : Dr. Rr. Sri Poernomo Sari, ST., MT. Latar Belakang
BAB II ARUS BOCOR DAN KELEMBABAN UDARA
BAB II ARUS BOCOR DAN KELEMBABAN UDARA II.1 Jenis Isolator Isolator merupakan salah satu bahan dielektrik yang digunakan untuk memisahkan konduktor bertegangan dengan kerangka penyangga yang dibumikan.
ΔL = ΔT. α. L 1. ΔA = ΔT. β. A 1 PEMUAIAN
PEMUAIAN Pengertian Pemuaian Pada pembicaraan tentang suhu pernah dibicarakan bahwa suhu mempengaruhi gerak partikel suatu benda. Benda yang bersuhu tinggi gerak partikelnya lebih cepat dari pada benda
BAB IV METODE PENGUJIAN CIGARETTE SMOKE FILTER
BAB IV METODE PENGUJIAN CIGARETTE SMOKE FILTER 4.1 TUJUAN PENGUJIAN Tujuan dari pengujian Cigarette Smoke Filter ialah untuk mengetahui seberapa besar kinerja penyaringan yang dihasilkan dengan membandingkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Termoelektrik merupakan material yang terbuat dari semikonduktor yang salah satu kegunaannya untuk keperluan pembangkit tenaga listrik. Material semikonduktor dapat
Perbedaan GH di daerah Tropis dan Sub Tropis. Keunggulan Tanaman dalam GH
BANGUNAN PERTANIAN SYARAT MUTU RUMAH TANAMAN GREENHOUSE BY : TIM PENGAMPU MK.MEKANISASI PERTANIAN DEPARTMENT OF AGRICULTURAL ENGINEERING FACULTY OF AGRICULTURAL TECHNOLOGY BRAWIJAYA UNIVERSITY SNI 7604-2010
LAMPIRAN I DATA PENGAMATAN. 1. Data Uji Kinerja Alat Penepung dengan Sampel Ubi Jalar Ungu
LAMPIRAN I ATA PENGAMATAN. ata Uji Kinerja Alat Penepung dengan Sampel Ubi Jalar Ungu Berikut merupakan tabel data hasil penepungan selama pengeringan jam, 4 jam, dan 6 jam. Tabel 8. ata hasil tepung selama
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
24 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 PERENCANAAN DAN PENJELASAN PRODUK Tahap perencanaan dan penjelasan produk merupakan tahapan awal dalam metodologi perancangan. Tahapan perencanaan meliputi penjelasan
INKUBATOR BAYI BERBASIS MIKROKONTROLER DILENGKAPI SISTEM TELEMETRI MELALUI JARINGAN RS 485
INKUBATOR BAYI BERBASISMIKROKONTROLER DILENGKAPI SISTEM TELEMETRI MELALUI JARINGAN RS 485 Roni Wijaya, F. Dalu Setiaji, Daniel Santoso INKUBATOR BAYI BERBASIS MIKROKONTROLER DILENGKAPI SISTEM TELEMETRI
BANGUNAN PERTANIAN SYARAT MUTU RUMAH TANAMAN GREENHOUSE
BANGUNAN PERTANIAN SYARAT MUTU RUMAH TANAMAN GREENHOUSE BY : TIM PENGAMPU MK.MEKANISASI PERTANIAN DEPARTMENT OF AGRICULTURAL ENGINEERING FACULTY OF AGRICULTURAL TECHNOLOGY BRAWIJAYA UNIVERSITY SNI 7604-2010
III. METODE PENELITIAN. Desember 2011 di bengkel Mekanisasi Pertanian Jurusan Teknik Pertanian
III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2011 sampai dengan bulan Desember 2011 di bengkel Mekanisasi Pertanian Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Pertanian
PEMANAS AIR GAS INSTAN
BAHASA INDONESIA PEMANAS AIR GAS INSTAN PETUNJUK PEMASANGAN DAN PENGGUNAAN MODEL: REU-5CFC REU-8CFB REU-10CFB SARAN KHUSUS Gunakan regulator gas serta selang gas yang berkualitas baik. Pemanas air tidak
Katalog Sistem Teknis Enklosur Ringkas AE
Katalog Sistem Teknis Enklosur Ringkas AE 3 4 1 6 3 4 8 7 5 2 Enklosur asli dengan persetujuan yang berlaku di seluruh dunia dan tersedia secara langsung. Berbagai dimensi yang praktis dan aksesori sistem
BAB III PERANCANGAN MINI REFRIGERATOR THERMOELEKTRIK TENAGA SURYA. Pada perancangan ini akan di buat pendingin mini yang menggunakan sel
BAB III PERANCANGAN MINI REFRIGERATOR THERMOELEKTRIK TENAGA SURYA 3.1 Tujuan Perancangan Pada perancangan ini akan di buat pendingin mini yang menggunakan sel surya sebagai energy tenaga surya. Untuk mempermudah
DA V Series BUKU PETUNJUK PENGGUNAAN PEMANAS AIR (WATER HEATER) DAN KARTU GARANSI DAFTAR ISI
NOMOR : P.20.INDO3.00201.0212 DA V Series BUKU PETUNJUK PENGGUNAAN PEMANAS AIR (WATER HEATER) DAN KARTU GARANSI DAFTAR ISI HAL. Kata Pengantar Bagian 1 Bagian 2 Bagian 3 Bagian 4 Bagian 5 Bagian 6 Bagian
SISTEM MONITORING DAN KONTROL OTOMATIS INKUBATOR BAYI DENGAN VISUAL BASIC 6.0 BERBASIS ARDUINO
SISTEM MONITORING DAN KONTROL OTOMATIS INKUBATOR BAYI DENGAN VISUAL BASIC 6.0 BERBASIS ARDUINO Oleh : Rayzah Nur Ilmiyati Pembimbing : Dr. Ir. Andi Adriansyah, M. Eng ABSTRAK Saat ini perkembangan teknologi
BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM. kelembaban di dalam rumah kaca (greenhouse), dengan memonitor perubahan suhu
BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 Metode Penelitian Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah cara mengatur suhu dan kelembaban di dalam rumah kaca (greenhouse), dengan memonitor
BAB III PERANCANGAN. bayi yang dilengkapi sistem telemetri dengan jaringan RS485. Secara umum, sistem. 2. Modul pemanas dan pengendali pemanas
BAB III PERANCANGAN 3.1. Gambaran Umum Sistem Sistem yang akan dirancang dan direalisasikan merupakan sebuah inkubator bayi yang dilengkapi sistem telemetri dengan jaringan RS485. Secara umum, sistem yang
BAB III METODE PENELITIAN. suhu dalam ruang pengering nantinya mempengaruhi kelembaban pada gabah.
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Model Penelitian Penelitian yang dilakukan ini menitik beratkan pada pengukuran suhu dan kelembaban pada ruang pengering menggunakan sensor DHT21. Kelembaban dan suhu dalam
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian adalah metode yang digunakan untuk mendekatakan permasalahan yang diteliti sehingga menjelaskan dan membahas permasalahan secara
III. METODE PENELITIAN. Penelitian, perancangan, dan pembuatan tugas akhir ini dilakukan di Laboratorium
III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian, perancangan, dan pembuatan tugas akhir ini dilakukan di Laboratorium Terpadu Teknik Elektro Universitas Lampung (khususnya Laboratorium
Perangkat keras Stasiun Bumi Pemantau Gas Rumah Kaca (SBPGRK) Versi 1.0 merupakan integrasi antara beberapa komponen, yakni :
II. PERAKITAN KOMPONEN SISTEM Perangkat keras Stasiun Bumi Pemantau Gas Rumah Kaca (SBPGRK) Versi 1.0 merupakan integrasi antara beberapa komponen, yakni : 1. Gas Analyser GA2000Plus yang digunakan sebagai
Prosiding SENTIA 2016 Politeknik Negeri Malang Volume 8 ISSN:
ANALISIS KEKUATAN KOSTUM TIKUS PADA KONSTRUKSI SALURAN KABEL UDARA JARINGAN TEGANGAN MENENGAH SECARA PEMODELAN MENGGUNAKAN CATIA V5 Akhmad Faizin, Dipl.Ing.HTL, M.T. Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri
S o l a r W a t e r H e a t e r. Bacalah buku panduan ini dengan seksama sebelum menggunakan / memakai produk Solar Water Heater.
BUKU PANDUAN SOLAR WATER HEATER Pemanas Air Dengan Tenaga Matahari S o l a r W a t e r H e a t e r Bacalah buku panduan ini dengan seksama sebelum menggunakan / memakai produk Solar Water Heater. Pengenalan
DAFTAR BARANG DAN BAHAN GUNA PERBAIKAN DAN/ATAU PEMELIHARAAN PESAWAT TERBANG YANG MENDAPAT BEA MASUK DITANGGUNG PEMERINTAH UNTUK TAHUN ANGGARAN 2011
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 117/PMK.011/2011 TENTANG BEA MASUK DITANGGUNG PEMERINTAH ATAS IMPOR BARANG DAN BAHAN GUNA PERBAIKAN DAN/ATAU PEMELIHARAAN PESAWAT TERBANG UNTUK TAHUN ANGGARAN
Rancang Bangun Alat Bantu Potong Plat Bentuk Lingkaran Menggunakan Plasma Cutting
Rancang Bangun Alat Bantu Potong Plat Bentuk Lingkaran Menggunakan Plasma Cutting M. Naufal Falah 1, Budianto 2 dan Mukhlis 3 1 Program Studi Teknik Desain dan Manufaktur, Jurusan Permesinan Kapal, Politeknik
Gambar 11 Sistem kalibrasi dengan satu sensor.
7 Gambar Sistem kalibrasi dengan satu sensor. Besarnya debit aliran diukur dengan menggunakan wadah ukur. Wadah ukur tersebut di tempatkan pada tempat keluarnya aliran yang kemudian diukur volumenya terhadap
BAB V ANALISIS DAN INTEPRETASI HASIL
BAB V ANALISIS DAN INTEPRETASI HASIL Pada bab ini akan dilakukan analisis dan interpretasi hasil penelitian yang telah dikumpulkan dan diolah pada bab sebelumnya. Analisis dan intepretasi hasil tersebut
BAB III METODOLOGI. Genset 1100 watt berbahan bakar gas antara lain. 2 perangkat berbeda yaitu engine dan generator atau altenator.
BAB III METODOLOGI 3.1 Desain Peralatan Desain genset bermula dari genset awal yaitu berbahan bakar bensin dimana diubah atau dimodifikasi dengan cara fungsi karburator yang mencampur bensin dan udara
Seed Processing Indonesia
Mesin Ayak / Air screen Cleaner (Seed Grading) SG/SPI-01 185 cm 110 cm Mesin ayak ini berbahan konstruksi besi, memiliki presisi tinggi dan membersihkan dengan sempurna untuk keperluan laboratorium. Mesin
BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI SISTEM
42 BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI SISTEM Pada bab ini dijelaskan pembuatan alat yang dibuat dalam proyek tugas akhir dengan judul rancang bangun sistem kontrol suhu dan kelembaban berbasis mirkrokontroler
BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan, struktur sipil. yang mutlak harus dipenuhi seperti aspek ekonomi dan kemudahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Umum Seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan, struktur sipil dituntut untuk menjadi lebih berkualitas disegala aspek selain aspek kekuatan yang mutlak harus dipenuhi seperti
1. EMISI GAS BUANG EURO2
1. EMISI GAS BUANG EURO2 b c a Kendaraan Anda menggunakan mesin spesifikasi Euro2, didukung oleh: a. Turbocharger 4J 4H Turbocharger mensuplai udara dalam jumlah yang besar ke dalam cylinder sehingga output
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 ATV (All Terrain Vehicle) ATV (All Terrain Vehicle) adalah sebuah kendaraan dengan penggerak mesin menggunakan motor bakar, mengunakan pula rangka khusus yang dirancang sedemikian
Katalog Sistem Teknis Kotak
Katalog Sistem Teknis Kotak Terminal KL 1 4 6 5 3 7 2 Housing kecil dengan persetujuan yang berlaku di seluruh dunia dan tersedia secara langsung dalam berbagai dimensi standar. Aksesori sistem yang praktis
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambar 14. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar mesin sortasi buah manggis hasil rancangan dapat dilihat dalam Bak penampung mutu super Bak penampung mutu 1 Unit pengolahan citra Mangkuk dan sistem transportasi
Pengujian. Produk. Perancangan. Produk. Identifikasi Kondisi Eksisting
Pengujian Produk Perancangan Produk Identifikasi Kondisi Eksisting Identifikasi Kondisi Eksisting Membungkus kedelai yang telah diberi ragi Menimbang ukuran berat Labelling Memanaskan ujung-ujung plastik
BAB III EKSPERIMENTAL
BAB III EKSPERIMENTAL III.1. PERALATAN EKSPERIMENTAL Pada penelitian ini penulis menggunakan alat yang bernama kalorimeter api ( cone calorimeter ). Alat ini merupakan alat uji berskala laboratorium yang
4.1. Menghitung Kapasitas Silinder
BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Menghitung Kapasitas Silinder Pada perencangan alat uji kekentalan plastik ini sampel akan dilebur didalam silinder. Untuk itu dibutuhkan perhitungan untuk mencari
3.2 Pembuatan Pipa Pipa aliran air dan coolant dari heater menuju pipa yang sebelumnya menggunakan pipa bahan polimer akan digantikan dengan menggunak
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian adalah metode yang digunakan untuk mendekatkan permasalahan alahan yang diteliti, sehingga dapat menjelaskan dan membahas permasalahan
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. PENGUJIAN PENDAHULUAN FILTER Dalam pengambilan sampel partikel tersuspensi (TSP) dengan metode high volume air sampling, salah satu komponen utama yang harus tersedia adalah
UNIVERSITAS BINA NUSANTARA
UNIVERSITAS BINA NUSANTARA Jurusan Teknik Industri Tugas Akhir Sarjana Semester Genap tahun 2006/2007 PERANCANGAN DAN PENGEMBANGAN KONSEP PAC PUZZLE ALARM CLOCK Indra Julianto Tjakra NIM: 0700678396 Abstrak
SISTEM MEKANIK MESIN SORTASI MANGGIS
SISTEM MEKANIK MESIN SORTASI MANGGIS Perancangan dan pembuatan mekanik mesin sortasi manggis telah selesai dilakukan. Mesin sortasi manggis ini terdiri dari rangka mesin, unit penggerak, unit pengangkut,
BAB III PERANCANGAN, INSTALASI PERALATAN DAN PENGUJIAN
BAB III PERANCANGAN, INSTALASI PERALATAN DAN PENGUJIAN 3.1 PERANCANGAN ALAT 3.1.1. DESIGN REAKTOR Karena tekanan yang bekerja tekanan vakum pada tabung yang cendrung menggencet, maka arah tegangan yang
Laporan Tugas Akhir Rekayasa Nilai Pembangunan RS Mitra Husada Slawi 29
BAB III PENDEKATAN METODE 3.1 PENDAHULUAN Metodologi adalah tatacara atau jalan yang ditempuh sehubungan dengan penelitian yang dilakukan, yang memiliki langkah-langkah yang sistematis untuk menyelesaikan
BAB III METODE PENELITIAN
34 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian dan perancangan tugas akhir ini dimulai sejak bulan Juli 2013 sampai bulan Mei 2014, dilakukan di Laboraturium Elektronika jurusan Teknik Elektro
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada umumnya tembok atau dinding dibuat dari bahan batu kali atau bata merah yang dilapisi dengan mortar, pada volume besar dan letak bangunan di daerah yang memerlukan
SELAMAT ATAS PILIHAN ANDA MENGGUNAKAN LEMARI PENDINGIN (REFRIGERATOR) DOMO
SELAMAT ATAS PILIHAN ANDA MENGGUNAKAN LEMARI PENDINGIN (REFRIGERATOR) DOMO Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun. Bacalah buku petunjuk pengoperasian
BAB I PENDAHULUAN. yaitu suhu di dalam ruangan menjadi semakin panas dan tidak nyaman.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ruangan yang tertutup dengan pengunjung yang padat memerlukan sistem pendingin ruangan yang mampu menstabilkan suhu ruangan dengan kepadatan pengunjung yang datang.
BAB III SISTEM PENGUJIAN
BAB III SISTEM PENGUJIAN 3.1 KONDISI BATAS (BOUNDARY CONDITION) Sebelum memulai penelitian, terlebih dahulu ditentukan kondisi batas yang akan digunakan. Diasumsikan kondisi smoke yang mengalir pada gradien
BAB I PENDAHULUAN. Istimewa Yogyakarta pada khususnya semakin meningkat. Populasi penduduk
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia pada umumnya dan di Daerah Istimewa Yogyakarta pada khususnya semakin meningkat. Populasi penduduk yang terus meningkat tentu
