PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING BERBANTUAN CMAPTOOLS
|
|
|
- Djaja Tedja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING BERBANTUAN CMAPTOOLS DALAM PEMBELAJARAN FISIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF DAN MEMPERTAHANKAN RETENSI SISWA Agus Kurniawan Guru SMA Negeri Kota Bandung ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan peningkatan kemampuan kognitif dan daya tahan retensi siswa pada materi ajar listrik arus searah antara kelas yang menerapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan CmapTools dan kelas yang menerapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing tanpa bantuan CmapTools. Penelitian ini menggunakan desain penelitian randomized control group pretest-posttest design dengan pemberian posttest sebanyak tiga kali dalam selang waktu antara posttest selama tujuh hari (satu pekan). Sampel dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas X-2 dan X-3 di salah satu SMA Negeri di Kota Bandung dengan jumlah masing-masing 38 dan 36 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata gain yang dinormalisasi <g> pada kelas yang menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan CmapTools sebesar 0,68, sedangkan skor rata-rata gain yang dinormalisasi <g> pada kelas yang menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing tanpa bantuan CmapTools sebesar 0,54. Meskipun, kriteria gain yang dinormalisasi <g> untuk kedua kelas masuk pada kriteria sedang, namun berdasarkan uji beda rata-rata, pada taraf kepercayaan 95% (signifikansi 0,05) hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan CmapTools secara signifikan dapat lebih meningkatkan kemampuan kognitif siswa dibandingkan model pembelajaran inkuiri terbimbing tanpa bantuan CmapTools. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan CmapTools dapat lebih mempertahankan retensi siswa pada materi ajar listrik arus searah dibandingkan dengan penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing tanpa bantuan CmapTools. Kata kunci: guided inquiry learning model assisted Cmap Tools, cognitive ability, and students retention. ABSTRACT The purpose of this study was to determine differences of the increase of cognitive abilities and students retention durability on material of direct current electricity between the classes that implement guided inquiry learning model assisted CmapTools and classes that implement guided inquiry learning model without the CmapTools. The reaserch design used in this research is randomized control group pretest-posttest design with posttest administration three times in the interval between the posttest for seven days (one week). The samples in this study were the students of class X-2 and X-3 in one of high schools in the city of Bandung with the amount of each class is 38 and 36 students. The results showed that the average scores are normalized gain <g> in class using guided inquiry learning model assisted Cmap Tools of 0.68, while the average score is normalized gain <g> in class using guided inquiry learning model without assistance Cmap Tools of Although, the normalized gain <g> criteria for both classes entry in the medium criteria, however, different test based on the average, at 95% confidence level (0.05) the results of the study indicate that the guided inquiry learning model can significantly aided Cmap Tools more improve students cognitive abilities compared guided inquiry learning model without the help Cmap Tools. In addition, the results of the study also showed that the application of guided inquiry learning model assisted Cmap Tools can be further aided to maintain students retention in teaching materials direct current electricity compared to the use of guided inquiry learning model. Keywords: guided inquiry learning model assisted Cmap Tools, cognitive ability, and students retention. PENDAHULUAN Mata pelajaran fisika merupakan salah satu bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang diadakan dalam rangka mengembangkan kemampuan berpikir dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa sekitar, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, serta dapat mengembangkan keterampilan dan sikap percaya diri. Hal 17
2 ini sejalan dengan beberapa tujuan mata pelajaran fisika di tingkat SMA/MA yang disebutkan bahwa mata pelajaran fisika bertujuan agar siswa memiliki kemampuan memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, obyektif, terbuka, ulet, kritis dan dapat bekerjasama dengan orang lain. Selain itu, pada butir yang lainnya dikatakan bahwa mata pelajaran fisika bertujuan agar siswa menguasai konsep dan prinsip fisika serta mempunyai keterampilan mengembangkan pengetahuan, dan sikap percaya diri sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari uraian di atas tampak pada butir terakhir bahwa penyelenggaraan mata pelajaran fisika di tingkat SMA/MA dimaksudkan sebagai wahana atau sarana untuk melatih para siswa agar dapat menguasai pengetahuan, konsep dan prinsip fisika. Dalam prosesnya pembelajaran fisika bukan hanya menekankan pada penguasaan konsep saja (konten) tetapi juga seyogyanya mengandung keempat hal yaitu: konten atau produk, proses atau metode, sikap, dan teknologi sehingga pemahaman siswa terhadap fisika menjadi utuh dan dapat berguna untuk mengatasi permasalahanpermasalahan yang dihadapinya (Cain dan Evan dalam Depdiknas, 2008: 21). Konten atau produk, berarti bahwa di dalam fisika terdapat fakta-fakta, hukum-hukum, prinsipprinsip, dan teori-teori yang sudah diterima kebenarannya. Proses atau metode, berarti fisika merupakan suatu proses atau metode untuk mendapatkan pengetahuan. Sikap, berarti fisika dapat mengembangkan sikap ilmiah seperti tekun, teliti, terbuka dan jujur. Teknologi, berarti fisika terkait dengan peningkatan kualitas hidup. Dilihat dari tujuannya tersebut, mata pelajaran fisika sangat baik bagi siswa jika dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan. Namun pada kenyataannya, yang terjadi di lapangan masih belum sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil studi pendahuluan di salah satu SMA Negeri di kota Bandung dengan cara menyebarkan angket kepada siswa, wawancara lansung dengan guru mata pelajaran fisika, dan memperhatikan proses pembelajaran di kelas. Dari data hasil penyebaran angket kepada beberapa siswa menunjukkan bahwa fisika termasuk mata pelajaran yang kurang disukai siswa. Hanya 26,41% siswa yang menyenangi fisika, selebihnya 73,59% menjawab tidak suka. Alasan siswa tidak menyukai fisika karena siswa beranggapan bahwa dalam pelajaran fisika terlalu banyak rumus yang dihapalkan sebesar 35,90%, metode pembelajaran yang membosankan sebesar 53,85%, dan kurang menyukai pelajaran hitungan sebesar 10,26%. Kemudian, dari hasil penyebaran angket pun diperoleh 52,83% siswa menganggap fisika sebagai pelajaran yang sulit, 43,40% siswa yang menganggap fisika sebagai pelajaran yang biasa saja tingkat kesulitannya, dan hanya 3,77% siswa yang menganggap fisika pelajaran yang mudah. Dari data hasil wawancara dengan salah satu guru fisika, diketahui bahwa permasalahan yang sering dihadapi guru, yaitu siswa mudah lupa dengan materi pelajaran yang sudah diajarkan oleh guru. Hal ini tampak ketika setiap awal pembelajaran, guru selalu memberikan pertanyaan apersepsi, namun sangat sedikit atau tidak ada siswa yang mampu menjawab dengan benar sesuai dengan keinginan guru. Selain itu, metode yang sering digunakan guru dalam pembelajaran fisika di kelas adalah metode ceramah, diskusi/tanya jawab, dan drilling soal. Adapun dari data hasil observasi pembelajaran fisika di kelas, diketahui bahwa guru lebih sering menjelaskan konsep dan memberikan penguatan pada akhir pembelajaran. Setelah penjelasan konsep, siswa diberi latihan soal dan salah satu siswa mengerjakan di papan 18
3 tulis kemudian guru membahasnya. Kajian pustaka dalam penelitian ini yaitu; dengan melihat data hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan maka dapat dianalisis bahwa sebagian besar proses pembelajaran di kelas masih berpusat pada guru (teacher centered) dan bersifat transfer pengetahuan dari guru ke siswa saja sehingga pembelajaran pun hanya diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menghafal informasi. Siswa lebih diarahkan untuk mengingat berbagai informasi tanpa memaknai informasi yang didapatkannya. Hal ini serupa dengan kondisi yang terjadi di beberapa sekolah lain, seperti yang dilaporkan oleh beberapa peneliti berdasarkan hasil pengamatan di salah satu SMA Negeri di kota Bandung (Rahmat, 2013), salah satu SMA Swasta di kota Bandung (Oktifiyanti, 2012), dan salah satu SMA Negeri di kota Pekanbaru (Norhamidah, 2013). Dari laporan ketiganya mengungkapkan bahwa proses pembelajaran yang terjadi di kelas lebih menekankan pada proses transfer pengetahuan dari guru ke siswa, sehingga tidak menempatkan siswa sebagai pengkonstruk pengetahuan. Akibatnya ketika siswa lulus dari sekolah, mereka tidak mengetahui makna dari teori yang dihafalnya tersebut. Hal ini mengakibatkan rendahnya kemampuan kognitif siswa. Dalam prosesnya, pembelajaran fisika lebih sering menggunakan metode ceramah. Pembelajaran ini selanjutnya disebut sebagai pembelajaran tradisional karena memiliki ciri-ciri yang persis dengan ciri-ciri pembelajaran tradisional yang diungkapkan oleh Abraham dan Renher (1986 dalam Karim et all., 2007). Dari beberapa data di atas dapat disimpulkan bahwa salah satu kemungkinan penyebab rendahnya kemampuan kognitif siswa dikarenakan pelaksanakan pembelajaran fisika di sekolah-sekolah masih menggunakan pembelajaran tradisional. Oleh karena itu, pembelajaran fisika lebih bersifat informatif yakni guru menyampaikan materi kapada siswa secara utuh dan kurang melibatkan siswa dalam proses pembelajarannya. Selain itu, pembelajaran yang hanya berpusat pada guru dan kurang melibatkan siswa dalam proses pembelajarannya, dapat menyebabkan lemahnya retensi (daya ingat) siswa mengenai materi pelajaran yang sudah dipelajarinya. Retensi (daya ingat) siswa adalah banyaknya pengetahuan yang dipelajari oleh siswa yang dapat disimpan dalam memori jangka panjang dan dapat diungkapkan kembali dalam jangka waktu tertentu (Pranata dan Rose, 2007). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Magnesen (dalam De Porter, 2000), bahwa kita mengingat 10% dari yang dibaca, 20% dari yang didengar, 30% dari yang dilihat, 70% dari yang dikatakan, dan 90% dari yang dikatakan dan dilakukan. Sehubungan dengan permasalahan tersebut maka perlu adanya upaya perbaikan proses pembelajaran agar siswa lebih banyak terlibat dalam pembelajaran. Dengan adanya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran akan memudahkan mereka menemukan dan memahami konsep-konsep yang dipelajarinya. Makin banyak siswa terlibat dalam proses pembelajaran, diharapkan semakin kuat retensi (daya ingat) siswa mengenai materi yang dipelajarinya dan diharapkan pula makin tinggi kemungkinan hasil belajar yang dicapainya (sebut kemampuan kognitif). Salah satu model pembelajaran yang dipandang dapat membantu dan memfasilitasi untuk kemampuan kognitif siswa adalah model pembelajaran inkuiri. Terdapat beberapa jenis inkuiri yang dapat digunakan sesuai dengan keadaan siswa yang bersangkutan. Dengan melihat keadaan siswa yang terlihat pada studi pendahuluan maka jenis inkuiri yang cocok digunakan adalah inkuiri terbimbing. Istilah inkuiri terbimbing digunakan karena pada pelaksanaannya guru memberikan bimbingan atau petunjuk yang cukup luas kepada siswa dalam merencanakan 19
4 eksperimen dan perumusan kegiatan. Secara garis besar, proses pembelajaran berbasis inkuiri dapat dituangkan dalam lima tahapan (Gulo, 2002: 44), yaitu 1). mengajukan pertanyaan (permasalahan), 2) merumuskan hipotesis, 3) mengumpulkan data (eksperimen), 4) analisis data, dan 5) membuat kesimpulan. Selain penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing, salah satu upaya lainnya yang terbukti mampu untuk membantu meningkatkan kemampuan kognitif dan mempertahankan retensi siswa adalah metode pemetaan konsep. Dewasa ini telah dikembangkan suatu perangkat lunak (software) yang dapat membantu dalam pembuatan peta konsep yang disebut dengan CmapTools. CmapTools merupakan sebuah software yang dikembangkan oleh Institute for Human and Machine Cognition (IHMC) yang dapat digunakan sebagai alat pemetaan konsep. Dengan menggunakan CmapTools, siswa aktif mencari dan menganalisis informasi secara luas dari seluruh dunia. CmapTools merupakan perangkat lunak yang dapat terhubung dengan jaringan internet dimana siswa bersama-sama dibangun dan terhubung dengan CmapServer. Dengan CmapTools model pengetahuan visual diperkaya dengan sumber-sumber hypermedia (gambar, animasi, video, url html, dll). Materi pembelajaran yang dikaji dalam penelitian ini ialah materi listrik arus searah, materi ajar ini dipilih karena merupakan materi ajar yang sangat dekat dengan fenomena yang sering ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, materi ini juga dapat dibilang materi yang abstrak sehingga pada kenyataannya tidak sedikit siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari konsep-konsep dari materi ajar ini termasuk untuk menerapkannya dalam permasalahan sehari-hari. Oleh karena itu, diharapkan siswa mendapatkan manfaat Gambar 1 Contoh Peta Konsep yang Terintegrasi dengan Media Gambar dan Virtual Laboratory pada Konsep Listrik Arus Searah belajar yang lebih bermakna melalui pembelajaran ini. Berdasarkan permasalahan serta pernyataan yang telah diungkapkan, peneliti bermaksud melakukan penelitian lebih lanjut, mengenai perbedaan peningkatan kemampuan kognitif dan daya tahan retensi siswa, antara kelas yang menggunakan model pembelajaran 20 inkuiri terbimbing berbantuan CmapTools dengan kelas yang menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing tanpa bantuan CmapTools. Hal ini dilakukan dalam rangka mengetahui seberapa besar peran model pembelajaran inkuiri terbimbing dan peta konsep menggunakan CmapTools dalam meningkatkan kemampuan kognitif dan
5 mempertahankan retensi siswa pada materi ajar listrik arus searah. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen semu (quasi experiment) dengan desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah randomized control group pretest posttest design (Fraenkel dan Wallen, 1990). Penelitian ini mempergunakan dua kelas yang diambil secara cluster random 21 sampling dari kelas X yang berjumlah delapan kelas, satu kelas akan menjadi satu kelompok kontrol dan satu kelas lainnya menjadi kelompok eksperimen. Kelompok eksperimen mendapatkan perlakuan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan CmapTools, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan perlakuan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing tanpa bantuan CmapTools. Pola randomized control group pretest posttest design ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1 Desain Penelitian Randomized Control Group Pretest Posttest Design Kelompok Pretest Treatment Posttest Eksperimen T 1 X 1 T 2.1, T 2.2, T 2.3 Kontrol T 1 X 2 T 2.1, T 2.2, T 2.3 (Fraenkel dan Wallen, 2007) Keterangan: T 1 = pretest untuk mengukur kemampuan kognitif siswa. X 1 = treatment berupa penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan CmapTools. X 2 = treatment berupa penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing. T 2.1 = posttest pertama untuk mengukur kemampuan kognitif siswa. T 2.2 = posttest kedua untuk mengukur kemampuan kognitif siswa. T 2.3 = posttest ketiga untuk mengukur kemampuan kognitif siswa. Instrumen yang diberikan ketika posttest (T 2 ) sama dengan pretest (T 1 ). Instrumen yang digunakan sebagai pretest dan posttest dalam penelitian ini merupakan instrumen untuk mengukur kemampuan kognitif siswa yang terdiri dari 33 butir soal pilihan ganda yang meliputi empat dari enam ranah kemampuan kognitif Bloom yang telah direvisi Anderson dan Krathwohl (2001), yaitu hafalan (remember/c1), pemahaman (understand/c2), penerapan (apply/c3), dan analisis (analyze/c4). Instrumen tes telah diuji kelayakannya dengan reliabilitas tes 0,79 dan kriteria tinggi (Arikunto, 2007). Adapun pengulangan posttest sebanyak tiga kali dimaksudkan untuk mengukur daya tahan retensi siswa dengan jangka waktu satu pekan, baik untuk jangka waktu posttest pertama ke posttest kedua ataupun dari posttest kedua ke posttest ketiga. Analisis terhadap perbandingan kemampuan kognitif antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dilakukan dengan melakukan uji beda rata-rata (uji hipotesis) pada N-gain kemampuan kognitif siswa yang sebelumnya telah diuji normalitas dan homogenitasnya. Pengujian beda rata-rata ini dilakukan menggunakan bantuan piranti lunak pengolah data IBM SPSS Statistics 20. Sedangkan, analisis terhadap daya tahan retensi siswa dilakukan dengan melihat skor rata-rata penurunan retensi siswa untuk masingmasing kelas dari posttest 1 ke posttest 3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1) Peningkatan kemampuan kognitif siswa Perbandingan kemampuan kognitif siswa pada materi ajar listrik arus searah antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 2.
6 Tabel 2 Rekapitulasi Skor Rata-Rata Pretest, Posttest 1, dan <g> Kemampuan Kognitif Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kelas Tes Xideal Xmin Xmax X G <g> Pretest 1 0,00 0,52 0,27 Eksperimen Posttest 1 1 0,58 0,94 0,76 0,50 0,68 Kriteria Peningkatan sedang Pretest 1 0,00 0,48 0,25 Kontrol Posttest 1 1 0,36 0,88 0,66 0,41 0,54 Kriteria Peningkatan sedang Perbedaan peningkatan kemampuan kognitif secara keseluruhan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol digambarkan pada Gambar 2. Gambar 2 Skor Rata-Rata Pretest, Posttest 1, dan <g> Kemampuan Kognitif Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Adapun perbedaan peningkatan kemampuan kognitif antara kedua kelas pada setiap ranah kognitif, digambarkan pada gambar 3. Gambar 3 Skor Rata-Rata Gain yang Dinormalisasi Kemampuan Kognitif Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol pada Setiap Ranah Kognitif Berdasarkan diagram pada gambar 2 dapat terlihat bahwa perolehan skor rata-rata gain yang dinormalisasi <g> untuk kedua kelas termasuk kriteria sedang. Hal ini disebabkan keterlaksanaan model pembelajaran tidak 22 terlaksana dengan maksimal (kriteria hampir seluruh kegiatan terlaksana). Namun demikian, secara kuantitas peningkatan kemampuan kognitif yang diperoleh siswa pada kelas eksperimen terlihat lebih tinggi
7 dibandingkan dengan siswa pada kelas kontrol. Hasil pengujian beda rata-rata (uji hipotesis) terhadap skor rata-rata gain yang dinormalisasi <g> dapat disimpulkan bahwa, pada taraf kepercayaan 0,95 (signifikansi 0,05) penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan CmapTools secara signifikan dapat lebih meningkatkan kemampuan kognitif siswa pada materi ajar listrik arus searah dibandingkan dengan penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing tanpa bantuan CmapTools. Hasil pengolahan dan analisis data di atas menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan Cmap Tools lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan kognitif siswa dibanding penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing tanpa bantuan CmapTools. Lebih efektifnya model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan CmapTools dibandingkan dengan pembelajaran inkuiri terbimbing tanpa bantuan CmapTools, sejalan dengan kelebihan dari pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan CmapTools. Menurut Dahar (1996), belajar melalui proses mencari dan menemukan (inkuiri) memungkinkan siswa untuk menggunakan segala potensinya, terutama proses mentalnya untuk menemukan suatu konsep atau prinsip. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan model pembelajaran yang sesuai dengan hakikat manusia untuk selalu mencari pengetahuan secara aktif. Selain itu, dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing, materi pelajaran yang didapatkan siswa akan lebih tahan lama, mudah diingat, lebih mudah diaplikasikan pada kondisi yang berbeda, dapat memunculkan motivasi belajar, dapat melatih kecakapan berpikir secara terbuka, dapat meningkatkan penguasaan konsep, mengembangkan sikap ilmiah, dan dapat mengembangkan pemahaman siswa yang mendalam tentang konsep sains (Bruner dalam Dahar, 1989: 103; Pratt dan Hacket dalam John W McBride et all., 2004: 435; Paul Eggen dan June Main 2001: vii; Tapilouw. dkk. 2009: 121). Hal ini pula yang menyebabkan peningkatan kemampuan kognitif untuk ranah pemahaman (C2) pada kedua kelas mengalami peningkatan yang lebih tinggi dibandingkan pada ranah hafalan (C1), ranah penerapan (C2), ataupun ranah analisis (C3) (lihat Gambar 3). Adapun hadirnya peta konsep berbantuan CmapTools yang telah diintegrasikan dengan berbagai bentuk bahan ajar (teks, gambar, animasi, video, dll) dalam pembelajaran inkuiri terbimbing ini merupakan bantuan media yang berfungsi untuk memperjelas, mempertegas, memberikan pengulangan, dan penguatan terhadap konsep yang diperoleh siswa. Menurut Brinkmann, Kinchin, dan Alias (2005), peta konsep yang dibuat oleh siswa dapat digunakan sebagai alat untuk Tabel 3 Rekapitulasi Skor Rata-Rata Posttest 1, Posttest 2, dan Posttest 3 Kemampuan Kognitif Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kelas Tes Xideal Xmin Xmax X Posttest 1 1 0,58 0,94 0,76 Eksperimen Posttest 2 1 0,55 0,85 0,70 Posttest 3 1 0,52 0,82 0,66 Posttest 1 1 0,36 0,88 0,66 Kontrol Posttest 2 1 0,30 0,79 0,55 Posttest 3 1 0,24 0,73 0,48 Penurnan Retensi 0,10 0,18 23
8 (a) (b) menciptakan pemahaman yang lebih baik (sebut kemampuan kognitif). Selain itu, peta konsep yang dibuat siswa juga dapat digunakan sebagai alat penelitian yang dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman konsep (Novak dan Gowing, 2004). Alasan inilah yang menyebabkan peningkatan kemampuan kemampuan kognitif untuk ranah pemahaman (C2) pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (lihat Gambar 3). 2) Daya tahan retensi siswa Kelas Eksperimen Berikut skor rata-rata posttest 1, posttest 2, dan posttest 3 yang diperoleh siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berikut digambarkan perbandingan grafik kecenderungan (trendline) dari penurunan retensi siswa mengenai materi ajar listrik arus searah antara kelas eksperimen dan kelas kontrol secara eksponensial. Berdasarkan Gambar 4, tampak kemampuan kognitif siswa untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol mengalami penurunan pada posttest 2 dan posttest 3 dengan beracuan pada skor yang diperoleh masing-masing kelas pada posttest 1. Hal ini menunjukkan bahwa retensi siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol mengalami penurunan. Penurunan retensi yang dialami siswa pada kelas eksperimen relatif lebih rendah dari 24 Kelas Kontrol Gambar 4 Perbandingan Retensi Siswa pada Setiap Posstest, (b) Perbandingan Skor Rata-Rata Penurunan Retensi Siswa dari Posttest 1 ke Posttest 3 penurunan retensi yang dialami siswa pada kelas kontrol. Pada kelas eksperimen skor rata-rata Posttest 1, Posttest 2, dan Posttest 3 masing-masing sebesar 0,76, 0,70, dan 0,66. Adapun skor rata-rata Posttest 1, Posttest 2, dan Posttest 3 untuk kelas kontrol masing-masing sebesar 0,66, 0,55, dan 0,48. Berdasarkan data ini dapat kita peroleh penurunan skor rata-rata posttest 3 dan posttest 1 untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol masing-masing sebesar 0,10 dan 0,18. Artinya, siswa pada kelas eksperimen mengalami penurunan retensi (daya ingat) mengenai materi ajar listrik arus searah sebesar 13%, sedangkan siswa pada kelas kontrol mengalami penurunan retensi (daya ingat) mengenai materi ajar listrik arus searah sebesar 27%. Hasil pengolahan dan analisis data di atas menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan CmapTools lebih baik dalam mempertahankan retensi siswa dibanding penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing tanpa bantuan CmapTools. Lebih baiknya model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan CmapTools dalam mempertahankan retensi siswa, dapat dijelaskan berdasarkan tahapan-tahapan model pembelajarannya itu sendiri. Dalam pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan
9 CmapTools, tampak beberapa tahapan yang secara mendasar menuntut siswa melakukan rekognisi (pemanggilan kembali) pengetahuan yang telah diperolehnya pada setiap tahapan sebelumnya. Tahapan pertama, yaitu pada tahap pembuatan peta konsep menggunakan CmapTools. Tahapan kedua, yaitu pada saat siswa berusaha menghubungkan sumber bahan ajar, baik berbentuk teks, gambar, video, atau yang lainnya dengan peta konsep yang telah dibuatnya menggunakan CmapTools. Dan tahapan ketiga, yaitu pada saat ditampilkan CmapTools yang telah terintegrasi dengan berbagai sumber bahan belajar sebagai informasi yang dapat digunakan untuk membandingkan, membenarkan dan atau menguatkan pengetahuan yang mereka peroleh dari kegiatan percobaan. Ketiga tahapan inilah yang menyebabkan retensi siswa pada kelas eksperimen dapat lebih bertahan dibandingkan dengan retensi siswa pada kelas kontrol. Hal ini sejalan dengan pemaparan Porter dan Hernacki (2000: 213), bahwa kita akan mengingat informasi dengan sangat baik jika informasi tersebut dicirikan oleh kualitas-kualitas sebagai berikut: (a) Adanya asosiasi indera terutama indera penglihatan. Pengalaman yang melibatkan penglihatan, bunyi, sentuhan, rasa atau gerakan umumnya sangat jelas dalam memori kita; (b) Adanya konteks emosional seperti cinta, kebahagiaan, dan kesedihan; (c) Kualitas yang menonjol atau berbeda; (d) Asosiasi yang intens; (e) Kebutuhan untuk bertahan hidup; (f) Hal-hal yang memiliki keutamaan pribadi; dan (g) Hal-hal yang diulang-ulang. Selain itu, Novak dan Gowing (2004) menguatkan bahwa, peta konsep yang dibuat siswa juga dapat digunakan sebagai alat penelitian yang dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman konsep dan retensi pengetahuan siswa. Hal ini dikarenakan upaya dalam membuat dan membangun peta konsep menuntut siswa untuk merekognisi ingatan dan pemahaman mereka terhadap berbagai hubungan antara konsep utama dengan beberapa sub-konsep (Inman, Ditson & Ditson, 1998; Ellis, Al Rudnitsky & Silverstein, 2004). Hal inilah yang menyebabkan perbandingan yang menonjol antara penurunan retensi siswa kelas eksperimen dan siswa kelas kontrol untuk ranah pemahaman (C2). Pada kelas eksperimen, skor rata-rata penurunan retensi sebesar 5% sedangkan pada kelas kontrol mencapai 26%. KESIMPULAN Berdasarkan analisis terhadap data hasil penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan CmapTools secara signifikan dapat lebih meningkatkan kemampuan kognitif siswa pada materi ajar listrik arus searah dibandingkan model pembelajaran inkuiri terbimbing tanpa bantuan CmapTools; dan (2) Penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan CmapTools dapat lebih mempertahankan retensi siswa pada materi ajar listrik arus searah dibandingkan model pembelajaran inkuiri terbimbing tanpa bantuan CmapTools. Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti memberikan saran sebagai berikut: (1) Untuk mengantisipasi ketidakterlaksanaan tahapan pembelajaran akibat terbatasnya waktu, maka pembelajaran yang akan diterapkan dalam penelitian sebaiknya disimulasikan atau diujicobakan terlebih dahulu; (2) Guru hendaknya meningkatkan kemampuan dasar dalam mengelola kelas, menampilkan demonstrasi, menyampaikan pertanyaan arahan, memandu eksperimen dan diskusi, serta keterampilan memotivasi siswa; dan (3) Penggunaan CmapTools dan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) bentuk terbuka perlu difahamkan terlebih dahulu kepada siswa supaya pembelajaran bisa lebih efektif sesuai dengan yang telah direncanakan. 25
10 DAFTAR PUSTAKA Anderson, O. W. and David R. K. (2001). A Taxonomy For Learning, Teaching And Assessing. New York: Longman. Arikunto, S. (2007). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Depdiknas. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Depdiknas. Depdiknas. (2008). Strategi pembelajaran MIPA. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan. Fraenkel, J. R. and Wallen, N. E. (2007). How to Design And Evaluate Reaserch In Education, 6 th Edition. Singapore: McGraw-Hill. Karim, S. et all. (2007). Penerapan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Penguasaan konsep Fisika serta Mengembangkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi dan Kecakapan Ilmiah. Proposal Hibah Kompetitif UPI Bandung: Tidak diterbitkan. McBride, J. W. et all. (2004). Using an inquiry approach to teach science to secondary school science teachers. Physics Education Journal. 39 (5), Novak, J. D. and Canas, A. J. (2004). Building on New Constructivist Ideas and CmapTools to Create a New Model for Education1. Institute for Human and Machine Cognition. [Online]: 26
EduHumaniora: Jurnal Pendidikan Dasar ISSN Vol. 8. No.2 Juli 2016 Hal
EduHumaniora: Jurnal Pendidikan Dasar ISSN 2085-1243 Vol. 8. No.2 Juli 2016 Hal 211-216 PENGARUH PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS PENGALAMAN MENGGUNAKAN PERCOBAAN SECARA INKUIRI TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN
BAB I PENDAHULUAN. bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang sangat penting bagi siswa. Seperti
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Fisika merupakan salah satu cabang IPA yang mendasari perkembangan teknologi maju dan konsep hidup harmonis dengan alam. Sebagai ilmu yang mempelajari fenomena alam,
PENERAPAN PENDEKATAN DEMONSTRASI INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN DASAR PROSES SAINS SISWA
http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/gravity ISSN 2442-515x, e-issn 2528-1976 GRAVITY Vol. 3 No. 1 (2017) PENERAPAN PENDEKATAN DEMONSTRASI INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN DASAR PROSES SAINS
Artikel diterima: Oktober 2017; Dipublikasikan: November 2017
Science Education Journal, 1 (2), November 2017, 64-72 E. ISSN. 2540-9859 Article DOI: 10.21070/sej.v1i2.1178 Original Research Article Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching And Learning Berbasis Inquiry
Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 05 No. 02, Mei 2016, ISSN:
Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. No., Mei 6, 6- PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TPS (THINK PAIR SHARE) YANG BERORIENTASI PADA KURIKULUM UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA
JIPFRI: Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika dan Riset Ilmiah
JIPFRI, Vol. 1 No. 2 Halaman: 83-87 November 2017 JIPFRI: Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika dan Riset Ilmiah PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CHILDREN LEARNING IN SCIENCE (CLIS) BERBANTUAN MULTIMEDIA UNTUK
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY PADA KONSEP EKOSISTEM DI KELAS VII SMP NEGERI 15 KOTA TASIKMALAYA JURNAL
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY PADA KONSEP EKOSISTEM DI KELAS VII SMP NEGERI 15 KOTA TASIKMALAYA JURNAL Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat dalam Memperoleh Gelar
MODEL INKUIRI DENGAN TIPE INTEGRATED PADA PEMBELAJARAN IPA DI SMP ARTIKEL. Oleh. Etik Khoirun Nisa NIM
MODEL INKUIRI DENGAN TIPE INTEGRATED PADA PEMBELAJARAN IPA DI SMP ARTIKEL Oleh Etik Khoirun Nisa NIM 090210102023 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENGARUH PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING
Pengaruh Penerapan Problem. (Aunurrofiq Hidayat) 454 PENGARUH PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DIPADU DENGAN AKTIVITAS KOLABORATIF TRUE OR FALSE STRATEGY TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA
Wardah Fajar Hani, 2) Indrawati, 2) Subiki 1) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika. Dosen Pendidikan Fisika FKIP Universitas Jember
PENGARUH MODEL INQUIRY TRAINING DISERTAI MEDIA AUDIOVISUAL TERHADAP HASIL BELAJAR DAN RETENSI HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA (FISIKA) DI MTs 1) Wardah Fajar Hani, 2) Indrawati, 2) Subiki 1)
Abstract. Key words: video demonstration, cognitive aspects of learning achivements and attitudes.
Pengaruh Penggunaan Media Video. (Muhammad Saeful) 241 PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA VIDEO DEMONSTRASI DALAM PEMBELAJARAN FISIKA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR FISIKA PADA SISWA KELAS X SMAN 2 BANTUL TAHUN
Unesa Journal of Chemistry Education Vol. 2, No. 2, pp May 2013 ISSN:
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI PADA MATERI POKOK LARUTAN PENYANGGA UNTUK MELATIH KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA KELAS XI DI SMA NEGERI 1 PLEMAHAN KEDIRI IMPLEMENTATION OF INQUIRY LEARNING
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di SMA Kartika XIX-1 Bandung yang bertempat di jalan Taman Pramuka No. 163. 2. Populasi Populasi dalam
PENERAPAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DENGAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA
PENERAPAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DENGAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA Albertus D Lesmono, Supeno, Tita Riani Program Studi Pendidikan Fisika FKIP
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan IPA diharapkan menjadi wahana bagi peserta didik untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan IPA diharapkan menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya
BAB III METODE PENELITIAN. peningkatan penguasaan konsep dan keterampilan generik sains pada
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian 1. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dan metode deskriptif. Metode quasi experiment digunakan untuk mengetahui
BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan pengalaman pada kegiatan proses pembelajaran IPA. khususnya pada pelajaran Fisika di kelas VIII disalah satu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan pengalaman pada kegiatan proses pembelajaran IPA khususnya pada pelajaran Fisika di kelas VIII disalah satu SMP negeri di kabupaten garut tahun pelajaran
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS DITINJAU DARI KEMAMPUAN AKADEMIK SISWA SMA NEGERI 5 SURAKARTA
1 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS DITINJAU DARI KEMAMPUAN AKADEMIK SISWA SMA NEGERI 5 SURAKARTA SKRIPSI Oleh : SRI WULANNINGSIH K4308057 FAKULTAS KEGURUAN
Cici Wijayanti*) Purwati Kuswarini Suprapto*) Faculty of Educational Science and Teacher s Training Siliwangi University ABSTRACT
The Application of Cooperative Learning Model Type of Group Project on Enviroment Pollution Concept (Experiment Study at 10 th Grade Students of Madrasah Aliyah Public School Tasikmalaya 2012/2013) Cici
MODEL QUANTUM TEACHING DISERTAI METODE EKSPERIMEN DAN DISKUSI DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DI SMP. Winda Ayu Wijayanti, Indrawati, Trapsilo Prihandono
MODEL QUANTUM TEACHING DISERTAI METODE EKSPERIMEN DAN DISKUSI DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DI SMP Winda Ayu Wijayanti, Indrawati, Trapsilo Prihandono Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Jember
BAB III METODE PENELITIAN. penjelasan tentang istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian. Penjelasan
34 BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Berikut ini dikemukakan beberapa definisi operasional yang berkaitan dengan penjelasan tentang istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian. Penjelasan
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR (MP PKB) DISERTAI METODE EKSPERIMEN PADA PEMBELAJARAN FISIKA DI SMP
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR (MP PKB) DISERTAI METODE EKSPERIMEN PADA PEMBELAJARAN FISIKA DI SMP Shaufan Habibi 1), Trapsilo Prihandono 2), Sri Wahyuni 2) Program Studi Pendidikan
MODEL INQUIRY TRAINING DENGAN SETTING KOOPERATIF DALAM PEMBELAJARAN IPA-FISIKA DI SMP
MODEL INQUIRY TRAINING DENGAN SETTING KOOPERATIF DALAM PEMBELAJARAN IPA-FISIKA DI SMP 1) Rica Ayu Bairusi, 2) Subiki, 2) Bambang Supriadi 1) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika 2) Dosen Pendidikan
Sariyani, Purwati Kuswarini, Diana Hernawati ABSTRACT
PERBEDAAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK YANG PROSES PEMBELAJARANNYA MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM SOLVING DAN MODEL PROBLEM POSING PADA MATERI PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA DI KELAS VIII SMP NEGERI 12 KOTA
PENGARUH MODEL GUIDED INQUIRY DISERTAI FISHBONE DIAGRAM TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI
PENGARUH MODEL GUIDED INQUIRY DISERTAI FISHBONE DIAGRAM TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI SKRIPSI Oleh: VALENT SARI DANISA K4308123 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENINGKATAN KECAKAPAN AKADEMIK SISWA SMA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING
Jurnal Pengajaran MIPA, FPMIPA UPI. Volume 12, No. 2, Desember 2008. ISSN:1412-0917 PENINGKATAN KECAKAPAN AKADEMIK SISWA SMA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING
PF-07: EFEKTIFITAS MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY- INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR RASIONAL SISWA
PF-07: EFEKTIFITAS MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY- INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR RASIONAL SISWA Muhamad Gina Nugraha 1*), Kartika Hajar Kirana 2, Duden Saepuzaman 1 1 Jurusan Pendidikan
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM QUIZ PADA KONSEP SISTEM EKSKRESI PADA MANUSIA DI KELAS XI IPA SMA NEGERI 8 KOTA TASIKMALAYA JURNAL
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM QUIZ PADA KONSEP SISTEM EKSKRESI PADA MANUSIA DI KELAS XI IPA SMA NEGERI 8 KOTA TASIKMALAYA JURNAL Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat dalam Memperoleh
MELATIHKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI PADA MATERI LAJU REAKSI KELAS XI SMA NEGERI 1 GRESIK
MELATIHKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI PADA MATERI LAJU REAKSI KELAS XI SMA NEGERI 1 GRESIK EXERCISING SCIENCE PROCESS SKILLS THROUGH IMPLEMENTATION INQUIRY
Kata-kata kunci: minat belajar, hasil belajar aspek kognitif, metode konvensional, media video. Abstract
Perbedaan Minat dan Hasil Belajar Aspek. (Adzan Ramadhan Dirgantara Putra) 361 PERBEDAAN MINAT DAN HASIL BELAJAR ASPEK KOGNITIF ANTARA PEMBELAJARAN FISIKA MENGGUNAKAN MEDIA VIDEO DENGAN PEMBELAJARAN FISIKA
Jurnal Titian Ilmu Vol. IX, No. 1, 2015
PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL INKUIRI TERBIMBING DAN MODEL INKUIRI BEBAS TERMODIFIKASI PEMBELAJARAN FISIKA KELAS X SMA NEGERI 1 BELITANG Arini Rosa Sinensis Dosen Pendidikan Fisika
PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN ACTIVE KNOWLEDGE SHARING
PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN ACTIVE KNOWLEDGE SHARING TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN HASIL BELAJAR RANAH KOGNITF DAN RANAH AFEKTIF SISWA KELAS X SEMESTER GENAP SMA NEGERI 2 KARANGANYAR
PENGARUH PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS IV SD NEGERI KARANGJATI
894 Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 9 ke-5 Tahun 2016 PENGARUH PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS IV SD NEGERI KARANGJATI THE EFFECT OF CONTEXTUAL LEARNING
Pengaruh Model Direct Instruction Berbantuan Simulasi Virtual Terhadap Penguasaan Konsep Siswa
Pengaruh Model Direct Instruction Berbantuan Simulasi Virtual Terhadap Penguasaan Konsep Siswa 1 Baiq Ida Arianti, 2 Hairunnisyah Sahidu, 2 Ahmad Harjono, 2 Gunawan 1,2 Program Studi Pendidikan Fisika
EFEK MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER BERBASIS PETA KONSEP DAN AKTIVITAS TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA
EFEK MODEL PEMBELAJARAN ADVANCE ORGANIZER BERBASIS PETA KONSEP DAN AKTIVITAS TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA Rofiqoh Hasan Harahap dan Mara Bangun Harahap Program Magister Pendidikan Fisika, Universitas
Ikeu Dwi Astuti*) Purwati Kuswarini Suprapto*)
Application of Cooperative Learning Model Type of Question Student Have on The Human Body Excretion System Concept (Experimental Studies at II th Grade Science of the 1 st Public Senior High School Singaparna
BAB I PENDAHULUAN. siswa (membaca, menulis, ceramah dan mengerjakan soal). Menurut Komala
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Rumit, sulit dipahami dan membosankan, tiga kata yang menjadi gambaran betapa pelajaran fisika kurang disukai oleh siswa pada umumnya. Pemahaman konsep, penafsiran grafik,
Arifah Zurotunisa, Habiddin, Ida Bagus Suryadharma Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Malang
PENGARUH PENDEKATAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP HASIL BELAJAR DAN SIKAP ILMIAH SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 1 LAWANG PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA DAN HIDROLISIS GARAM Arifah Zurotunisa, Habiddin, Ida
PENERAPAN KETRAMPILAN PROSES SAINS MELALUI MODEL THINK PAIR SHARE PADA PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA
PENERAPAN KETRAMPILAN PROSES SAINS MELALUI MODEL THINK PAIR SHARE PADA PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA Mahesa Kale 1), Sri Astutik 2), Rif ati Dina 2) 1) Mahasiswa Program S1 Pendidikan Fisika FKIP Universitas
(The Influence of Based Inquiry Learning Model Type of Guided Inquiry to The Students Learning Achievement on Ecosystem) ABSTRACT
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS INQUIRY TIPE GUIDED INQUIRY TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI EKOSISTEM (Studi Eksperimen di Kelas VII SMP Negeri 4 Kota Tasikmalaya Tahun Ajaran 2014/2015)
Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 05 No. 02, Mei 2016, 1-5 ISSN:
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING BERBASIS KEGIATAN LABORATORIUM UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI ELASTISITAS KELAS X SMA NEGERI 2 SIDOARJO Jufita Ratnasari, Wasis Jurusan
PENERAPAN STRATEGI KONFLIK KOGNITIF DISERTAI TEKNIK PETA KONSEP DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA
PENERAPAN STRATEGI KONFLIK KOGNITIF DISERTAI TEKNIK PETA KONSEP DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA JURNAL Oleh LISA NESMAYA NIM 080210102052 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan pembelajaran fisika yang tertuang di dalam kerangka Kurikulum 2013 ialah menguasai konsep dan prinsip serta mempunyai keterampilan mengembangkan pengetahuan dan
PENGARUH METODE PEMBELAJARAN MAKE A MATCH
PENGARUH METODE PEMBELAJARAN MAKE A MATCH BERBANTUAN READING GUIDE TERHADAP PENGUASAAN KONSEP PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA KELAS VIII SMPN 30 PEKANBARU TAHUN AJARAN 2014/2015 Raudhah
PERBEDAAN PEMAHAMAN KONSEP DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS PESERTA DIDIK YANG DIBERI PERLAKUAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL)
Perbedaan Pemahaman Konsep... (Vini Rahayu) 1 PERBEDAAN PEMAHAMAN KONSEP DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS PESERTA DIDIK YANG DIBERI PERLAKUAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DAN PROJECT BASED LEARNING
Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Kalor Siswa SMA
Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Kalor Siswa SMA Rahmawati 1, A.Halim 2, Yusrizal 2 1 Mahasiswa dan 2 Dosen Program Studi Pendidikan IPA, PPs Unsyiah, Aceh
Diterima: 8 Maret Disetujui: 26 Juli Diterbitkan: Desember 2016
Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation dan Motivasi Terhadap Hasil Belajar Siswa Kela VII SMP Dalam Pembelajaran IPA Terpadu Pada Materi Asam, Basa dan Garam The Effect of Group Investigation
USING PROBLEM BASED LEARNING MODEL TO INCREASE CRITICAL THINKING SKILL AT HEAT CONCEPT
0 USING PROBLEM BASED LEARNING MODEL TO INCREASE CRITICAL THINKING SKILL AT HEAT CONCEPT La Sahara 1), Agus Setiawan 2), dan Ida Hamidah 2) 1) Department of Physics Education, FKIP, Haluoleo University,
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE BERBASIS PETA KONSEP TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK LISTRIK DINAMIS
ISSN 301-7651 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE BERBASIS PETA KONSEP TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK LISTRIK DINAMIS Karya Sinulingga Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Medan
Afif Yuli Candra Prasetya dan Suliyanah Jurusan Fisika, Universitas Negeri Surabaya
PENGARUH PENERAPAN METODE EKSPERIMEN DENGAN MODEL PENGAJARAN LANGSUNG (DIRECT INSTRUCTION) TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X PADA MATERI PERPINDAHAN KALOR DI SMA NEGERI 1 KEDUNGADEM BOJONEGORO Afif
RIDA BAKTI PRATIWI K
PENGARUH PENERAPAN METODE EKSPERIMEN DISERTAI MEDIA PEMBELAJARAN ULAR TANGGA TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI DITINJAU DARI AKTIVITAS SISWA KELAS VIII SMP N 1 KEBAKKRAMAT TAHUN AJARAN 2011/2012 SKRIPSI Oleh:
BAB I PENDAHULUAN. Fisika merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang berkaitan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fisika merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang fenomena alam secara sistematis, sehingga proses pembelajarannya
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRI TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI JAMUR DI KELAS X SMK NEGERI 1 RAMBAH TAHUN PEMBELAJARAN 2014/2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRI TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI JAMUR DI KELAS X SMK NEGERI 1 RAMBAH TAHUN PEMBELAJARAN 2014/2015 Heriyanto* ), Rena Lestari 1), Riki Riharji Lubis 2) 1&2)
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen kuasi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen kuasi (quasi experiment) dengan pretest-posttest non-equivalent control group
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA ANIMASI KOMPUTER TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMA
Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 14 Mei 2011 EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA ANIMASI KOMPUTER
Keefektifan CTL Berbantuan Macromedia Flash Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis pada Materi Segiempat
JURNAL KREANO, ISSN : 2086-2334 Diterbitkan oleh Jurusan Matematika FMIPA UNNES Volume 4 Nomor 1 Bulan Juni Tahun 2013 Keefektifan CTL Berbantuan Macromedia Flash Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis pada
BAB I PENDAHULUAN. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan mata pelajaran yang berkaitan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan mata pelajaran yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMA
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMA Desti Anggistia*, Eko Suyanto, I Dewa Putu Nyeneng FKIP Universitas Lampung, Jl. Prof. Dr. Soemantri Brojonegoro No.
Fashion and Fashion Education Journal
FFEJ 3 (1) (2014) Fashion and Fashion Education Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ffe EFEKTIFITAS MEDIA VIDEO DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PEMBUATAN SMOCK JEPANG SISWA SMK NEGERI 03
PENGARUH PROSEDUR SIKLUS BELAJAR 5E TERHADAP HASIL BELAJAR PADA POKOK BAHASAN FLUIDA STATIS
Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 14 Mei 2011 PENGARUH PROSEDUR SIKLUS BELAJAR 5E TERHADAP HASIL BELAJAR PADA POKOK BAHASAN
PENGARUH PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP MINAT BELAJAR DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF IPA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 19 MALANG
PENGARUH PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP MINAT BELAJAR DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF IPA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 9 MALANG Windy Rosyadah M., Susriyati Mahanal, dan Sunarmi. Jurusan Biologi, FMIPA,
KOOPERATIF TIPE STAD TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI CAHAYA DI KELAS VIII SEMESTER II SMP NEGERI 10 MEDAN
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI CAHAYA DI KELAS VIII SEMESTER II SMP NEGERI 1 MEDAN Esti Nora Limbong dan Juniar Hutahaean Jurusan Fisika
UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol.4, No.3. pp , September 2015
MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING PADA MATERI REAKSI REDUKSI-OKSIDASI DI KELAS X SMA NEGERI 12 SURABAYA INCREASING THE STUDENT SCIENCE
Penggunaan Inquiry Lab dalam Pembelajaran IPA Berbasis Inquiry Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa
Penggunaan Inquiry Lab dalam Pembelajaran IPA Berbasis Inquiry Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa Chairul Aspan Siregar1,a 1 SMP Negeri 2 Merbau, Jalan Yos Sudarso, Kepulauan Meranti, Indonesia,
Unnes Physics Education Journal
UPEJ (1) (2012) Unnes Physics Education Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING BERBASIS LABORATORIUM UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi experiment (eksperimen semu) dan deskriptif. Metode eksperimen digunakan untuk
PENGARUH PEMBELAJARAN DIAGRAM ROUNDHOUSE DISERTAI MODUL TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN DI MTSN DEWANTARA
Jurnal EduBio Tropika, Volume 3, Nomor 2, Oktober 2015, hlm. 51-97 Ida Safitri Prodi Magister Pendidikan Biologi PPs Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh Muhibbuddin Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas
JURNAL PEMBELAJARAN FISIKA
MEDIA VIDEO KEJADIAN FISIKA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA ARTIKEL Oleh: Retno Palupi Kusuma Wardhany NIM 090210102071 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi, Populasi, dan Sampel Penelitian 1. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di SMPN Kota Cimahi - Jawa Barat. 2. Populasi dan Sampel Penelitian a. Populasi
Unnes Physics Education Journal PENERAPAN MODEL DISCOVERY TERBIMBING PADA PEMBELAJARAN FISIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF
Info Artikel UPEJ (1) (2012) Unnes Physics Education Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej PENERAPAN MODEL DISCOVERY TERBIMBING PADA PEMBELAJARAN FISIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR
Millathina Puji Utami et al., Model Pembelajaran Children Learning in Science (CLIS)...
1 Model Pembelajaran Children Learning in Science (CLIS) dalam Pembentukan Konsep Fisika Siswa SMA di Kabupaten Jember (Materi Pokok Elastisitas Zat Padat dan Hukum Hooke) (Children Learning in Science
BAB III METODE PENELITIAN. konsep dan keterampilan berpikir kritis siswa menggunakan metode quasi
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi experiment dan metode deskriptif. Gambaran peningkatan penguasaan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (Quasi Experimental
73 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (Quasi Experimental Design) dengan disain matching pretest-posttest control group design yaitu menggunakan
BAB III METODE PENELITIAN
55 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Penelitian ini menguji penerapan model pembelajaran Learning Cycle 7e berbantuan komputer dalam pembelajaran fisika terhadap penguasaan konsep
PENGARUH PENERAPAN QUANTUM LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS X SMA NEGERI 4 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2011/2012
PENGARUH PENERAPAN QUANTUM LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS X SMA NEGERI 4 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SKRIPSI Oleh : FAISAL IMAM PRASETYO K4308035 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
Keywords: inquiry instruction model, interactive computer simulation, direct current circuit, concept mastery, science process skill.
MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI MENGGUNAKAN SIMULASI KOMPUTER INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP RANGKAIAN LISTRIK ARUS SEARAH DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS Supriyatman, M.Pd Mahasiswa S3 Prodi
PENERAPAN METODE SURVEY, QUESTION, READ, RECITE, REVIEW (SQ3R) DALAM PEMBELAJARAN IPA DI SMP
PENERAPAN METODE SURVEY, QUESTION, READ, RECITE, REVIEW (SQ3R) DALAM PEMBELAJARAN IPA DI SMP 1) Ratih Ayu Wijaya, 2) Albertus D. Lesmono, 2) Yushardi 1) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika 2) Dosen
BAB I PENDAHULUAN. Fisika dan sains secara umum terbentuk dari proses penyelidikan secara sistematis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Fisika dan sains secara umum terbentuk dari proses penyelidikan secara sistematis dan terus menerus terhadap suatu gejala alam sehingga menghasilkan produk tertentu.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan kognitif dan keterampilan proses sains siswa pada pembelajaran
PENGARUH PENERAPAN SERVICE LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2011/2012
PENGARUH PENERAPAN SERVICE LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SKRIPSI Oleh : VITA ANGGUN CAHYANI K4308059 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
DESAIN MODEL GUIDED INQUIRY UNTUK EKSPLORASI KESULITAN BELAJAR DAN PENGARUHNYA TERHADAP HASIL BELAJAR SERTA KETERAMPILAN PEMECAHAN MASALAH
DESAIN MODEL GUIDED INQUIRY UNTUK EKSPLORASI KESULITAN BELAJAR DAN PENGARUHNYA TERHADAP HASIL BELAJAR SERTA KETERAMPILAN PEMECAHAN MASALAH Betty Marisi Turnip dan Mariati Purnama Simanjuntak Jurusan Fisika
MODEL PROBLEM BASED LEARNING DENGAN ANALISIS WACANA ISU DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA
MODEL PROBLEM BASED LEARNING DENGAN ANALISIS WACANA ISU DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA 1) Ari Dwi Handrian, 2) Sutarto, 2) Sri Astutik 1) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika 2) Dosen Pendidikan
Nora Hawari Daulay dan Usler Simarmata Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Medan
PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) DAN MODEL KONVENSIONAL PADA MATERI POKOK TEKANAN KELAS VIII SMP NEGERI 5 STABAT
Abstrak. Kata kunci :Eksperimen Inkuiri, Eksperimen Verifikasi, Tingkat Keaktifan, Hasil Belajar.
Pengaruh Perbedaan Metode Eksperimen Berbasis Inkuiri dan Eksperimen Berbasis Verifikasi dalam Praktikum terhadap Tingkat Keaktifan dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VIII SMPN 1 Singojuruh, Banyuwangi
Septi Lilis Suryani dan Eko Hariyono Jurusan Fisika, Universitas Negeri Surabaya. Key Words : academic skill, guided discovery, learning output, heat
PENERAPAN KECAKAPAN AKADEMIK (ACADEMIC SKILL) DALAM MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING (GUIDED DISCOVERY) PADA MATERI KALOR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS X SMA KHADIJAH SURABAYA Septi Lilis Suryani
MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DISERTAI TEKNIK PETA KONSEP DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA
MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DISERTAI TEKNIK PETA KONSEP DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA 1) Hendrasti Kartika Putri, 2) Indrawati, 2) I Ketut Mahardika 1) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika
PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK PADA PEMBELAJARAN FISIKA MATERI KALOR TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X SMA
PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK PADA PEMBELAJARAN FISIKA MATERI KALOR TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X SMA Orien Ratna Wuri, Sri Mulyaningsih Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu
*Maratul Afidah **Ade Purmatisa
38 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE SCRIPT DENGAN PENDEKATAN SETS TERHADAP PENGUASAAN KONSEP SISWA PADA MATERI ZAT ADITIF DAN ADIKTIF (Studi Eksperimen di SMP Da wah Pekanbaru T.A 2016/2017) *Maratul
Darussalam 23111, Banda Aceh. ABSTRAK. Kata Kunci: Kooperatif Tipe Jigsaw, Pencemaran Lingkungan, Berpikir Kritis.
Jurnal 8 Biotik, Rahmatan ISSN: 2337-9812, Vol. 4, No. 1, Ed. April 2016, Hal. 8-14 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PADA KONSEP PENCEMARAN
Citra Yunita dan Khairul Amdani Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Medan
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DENGAN METODE EKSPERIMEN TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI LISTRIK DINAMIS KELAS X SMA DHARMAWANGSA MEDAN T.P
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penguasaan konsep siswa terhadap materi fluida statis diukur dengan tes
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Data Penguasaan Konsep Fluida statis Penguasaan konsep siswa terhadap materi fluida statis diukur dengan tes pilihan ganda sebanyak 15 soal.
Fajrul Wahdi Ginting dan Nurdin Bukit Jurusan Pendidikan Fisika Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan
EFEK MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING MENGGUNAKAN MEDIA PhET TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN KEMAMPUAN BERPIKIR LOGIS SISWA Fajrul Wahdi Ginting dan Nurdin Bukit Jurusan Pendidikan Fisika Program
BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar merupakan pondasi awal dalam
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar merupakan pondasi awal dalam menciptakan siswa-siswa yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap ilmiah. Pembelajaran
