BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Seksio Sesarea Definisi Seksio Sesarea Seksio sesarea adalah suatu pembedahan untuk melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen dan uterus ibu (Oxorn dan Forte, 2010) Sejarah Seksio Sesarea Menurut Cunnigham, et al. (2013), asal istilah sesarea (caesar) masih belum jelas. Namun, ada tiga penjelasan yang telah dikemukakan mengenai hal ini yaitu: 1. Caesar diambil dari nama pemimpin militer dan politik yaitu Julius Caesar. Menurut legenda, Julius Caesar dilahirkan dengan cara ini. Namun, ibu Julius Caesar hidup selama bertahun-tahun setelah kelahirannya yaitu pada tahun 100 SM hingga akhir abad ke-17 dan operasi itu hampir selalu berakibat fatal. 2. Penjelasan yang menyatakan bahwa nama operasi ini berasal dari hukum Romawi yang dibuat oleh Numa Pompilius (abad ke-8 SM). Ia memerintahkan agar prosedur ini dilakukan pada wanita yang sekarat pada beberapa minggu terakhir kehamilan dengan harapan bayinya dapat diselamatkan. Penjelasan ini menyatakan bahwa lex regia (hukum atau peraturan kaisar saat pertama kali disebut) berubah menjadi lex caesar, lalu dikenal sebagai operasi caesar. Istilah Jerman Kaisersschnitt (sayatan kaisar) mencerminkan asal istilah ini. 3. Kata caesar berasal dari bahasa Latin pada abad pertengahan yaitu caedere yang artinya memotong. Penjelasan inilah yang tampak paling masuk akal, tetapi kapan pertama kalinya istilah ini dipakai untuk operasi masih belum jelas. Karena seksio berasal dari bahasa Latin yaitu seco

2 yang juga berarti memotong, istilah seksio sesarea tampaknya merupakan pengulangan tanpa menambah kejelasan. Seksio sesarea profesional yang pertama dilakukan di Amerika Serikat pada tahun Sebelum tahun 1800, seksio sesarea jarang dilakukan dan biasanya berakibat fatal. Pada tahun 1877, terdapat 33 kematian ibu dari 35 pembedahan sesarea yang dilakukan di London dan Edinburgh (Oxorn dan Forte, 2010) Tipe-Tipe Seksio Sesarea Menurut Oxorn dan Forte (2010), ada beberapa tipe seksio sesarea yaitu: 1. Seksio Sesarea Abdominalis (Insisi Abdominal) Pemilihan insisi abdominal pada seksio sesarea didasarkan pada tipe inisisi uterus yang direncanakan dan perlu atau tidaknya jalan masuk ke perut bagian atas. Seksio sesarea segmen bawah rahim terdiri dari insisi melintang dan insisi membujur (inisisi Pfannenstiel) pada abdomen (Benson dan Pernoll, 2009). Insisi abdominal terdiri dari: a. Insisi Abdominal Melintang Cara ini memungkinkan persalinan seksio sesarea yang aman, sehingga insisi tipe ini merupakan prosedur pilihan. Abdomen dibuka dan uterus disingkapkan. Setelah memasuki peritoneum, letak lipatan peritoneum vesicouterina ditentukan, lalu diinsisi melintang. Lipatan ini dilepaskan dari segmen bawah dan bersama-sama dengan kandung kemih didorong ke bawah, kemudian ditarik agar tidak menutupi lapangan pandang. Pada segmen bawah uterus, dibuat insisi melintang yang kecil. Selanjutnya, luka inisisi ini dilebarkan ke samping dengan menggunakan jari-jari tangan dan berhenti di dekat daerah pembuluhpembuluh darah uterus. Kepala janin diekstraksi atau didorong, diikuti oleh bagian tubuh lainnya, kemudian plasenta dan selaput ketuban. Lalu, insisi melintang tersebut ditutup dengan jahitan catgut

3 bersambung satu lapis atau dua lapis. Kemudian, lipatan vesicouterina dijahit kembali pada dinding uterus dan dinding abdomen ditutup lapis demi lapis (Oxorn dan Forte, 2010). Insisi melintang ini memberikan hasil kosmetik yang lebih baik dan pasien dapat mengenakan pakaian renang bikini tanpa terlihat luka parut. Selain itu, penyembuhan lebih cepat, insisi tidak terlalu sakit, dan risiko pembentukan hernia lebih kecil (Benson dan Pernoll, 2009). b. Insisi Abdominal Membujur Inisisi dilakukan setinggi selubung rektus anterior yang dibebaskan dari lemak subkutan untuk memperlihatkan fascia selebar 2 cm di linea mediana dengan menggunakan skalpel. Teknik lainnya yaitu dengan membuat luka kecil, kemudian menginsisi lapisan fascia dengan gunting. Insisi harus cukup panjang supaya bayi dapat dilahirkan dengan mudah. Oleh sebab itu, panjang insisi harus sesuai dengan perkiraan ukuran janin (Cunningham, et al., 2013). Keuntungan dari inisisi ini adalah lebih cepat dilakukan dibandingkan dengan insisi melintang dan merupakan jalan masuk yang lebih baik ke perut bagian atas (Benson dan Pernoll, 2009). 2. Seksio Sesarea Klasik Seksio sesarea klasik merupakan tindakan yang paling sederhana. Indikasi seksio sesarea klasik adalah plasenta previa, letak janin melintang, dan jika persalinan cepat sangat penting (Benson dan Pernoll, 2009). Insisi dilakukan secara longitudinal di garis tengah dengan menggunakan skalpel ke dalam dinding anterior uterus, lalu dilebarkan ke atas dan ke bawah dengan gunting berujung tumpul. Bayi sering dilahirkan dengan bokong terlebih dahulu sehingga diperlukan luka insisi yang lebar. Janin dan plasenta dikeluarkan, lalu uterus ditutup dengan jahitan tiga lapis. Pada

4 masa modern ini, seksio sesarea klasik sudah hampir tidak dilakukan lagi (Oxorn dan Forte, 2010). 3. Seksio Sesarea Ekstraperitoneal Seksio sesarea ekstraperitoneal dilakukan untuk menghindari histerektomi pada kasus-kasus yang mengalami infeksi luas. Ada 3 metode dalam seksio sesarea ekstraperitoneal, yaitu metode Waters, Latzko, dan Norton. Namun, tekniknya relatif sulit sehingga dapat masuk ke dalam cavum peritoneal dan dapat menyebabkan peningkatan insiden cedera vesicourinaria. Sekarang, tindakan ini sudah jarang digunakan karena tersedianya darah, antibiotik, penurunan insiden kasus terlantar, dan perawatan prenatal yang lebih baik. Walaupun demikian, metode ini tidak boleh dibuang karena dapat digunakan sebagai cadangan bagi kasus-kasus tertentu (Oxorn dan Forte, 2010). 4. Histerektomi Sesarea Histerektomi sesarea merupakan seksio sesarea yang dilanjutkan dengan pengeluaran uterus. Secara teknis, histerektomi sesarea sama seperti histerektomi lainnya, kecuali dalam hal ukuran uterus dan kerapuhan jaringan/pembuluh darah yang luar biasa. Indikasi histerektomi sesarea adalah kegagalan mengendalikan perdarahan (misalnya: akibat atoni yang tidak terkendali, plasenta previa), ruptur uteri, plasenta akreta, infeksi masif uterus yang melibatkan nekrosis jaringan, dan tumor uterus atau serviks (misalnya: leiomioma uteri, karsinoma serviks in situ). Histerektomi subtotal (misalnya: meninggalkan serviks) dilakukan untuk kasus-kasus yang mengancam keselamatan pasien akibat lamanya operasi (biasanya perdarahan) dan risiko histerektomi total. Dengan kata lain, tujuan histerektomi subtotal adalah menyelesaikannya secepat mungkin (Benson dan Pernoll, 2009).

5 Menurut Purwoastuti dan Walyani (2015), seksio sesarea dibagi menjadi elektif dan darurat. 1. Seksio sesarea elektif Seksio sesarea telah direncanakan jauh hari sebelum jadwal melahirkan dengan mempertimbangkan keselamatan ibu maupun janin. 2. Seksio sesarea darurat Seksio sesarea darurat dilakukan ketika proses persalinan telah berlangsung. Hal ini terpaksa dilakukan karena ada masalah pada ibu maupun janin. Menurut Benson dan Pernoll (2009), ada beberapa faktor risiko terjadinya seksio sesarea daruratyaitu bagian terbawah janin letaknya sangat rendah atau sangat tinggi, tidak ada tanda-tanda persalinan atau persalinan sangat lama, umur kehamilan muda, pecah selaput ketuban pada saat persalinan, riwayat seksio sesarea, dan keterampilan operator Penyebab Peningkatan Angka Seksio Sesarea Menurut Maryunani (2014), ada beberapa hal yang dapat menyebabkan meningkatnya angka seksio sesarea, yaitu: a) Umur ibu hamil yang melahirkan lebih tua Frekuensi seksio sesarea meningkat seiring dengan pertambahan usia ibu. Dalam dua dekade terakhir, angka persalinan nulipara meningkat lebih dari dua kali lipat untuk wanita berusia tahun dan menigkat 50% pada wanita berusia tahun. b) Pemantauan denyut jantung janin dengan alat elektronik yang kontinu dan rutin dipakai Walaupun seksio sesarea terutama dilakukan dengan indikasi gawat janin dan jumlah kasus gawat janin hanya sedikit, namun kekhawatiran akan rekaman frekuensi denyut jantung janin yang abnormal mendorong dilakukannya seksio sesarea.

6 c) Umumnya, presentasi bokong dilahirkan dengan seksio sesarea Saat ini, sebagian besar janin dengan presentasi bokong dilahirkan secara seksio sesarea (Cunningham, et al., 2013). d) Persalinan pervaginam midpelvik jarang dilakukan e) Upaya untuk menurunkan tuntutan hukum (malpraktik) Adanya anggapan bahwa akan terjadi kelainan neurologis atau serebral palsy pada neonatus jika seksio sesarea tidak dilakukan. Ini menimbulkan kekhawatiran akan tuntutan malpraktik. Namun sebenarnya, bukti yang menunjukkan adanya keterkaitan antara seksio sesarea dengan penurunan masalah neurologis anak sangatlah kurang. f) Faktor sosial ekonomi dan demografik Seksio sesarea lebih sering terjadi pada ibu dengan golongan ekonomi menengah ke atas dan yang memiliki asuransi jiwa. g) Menurut Sofian (2013), penyebab lain meningkatnya angka seksio sesarea adalah indikasi seksio sesarea semakin luas dan risiko morbiditas/mortalitas semakin kecil. Hal ini disebabkan karena teknik seksio sesarea semakin maju, kemampuan memberikan anestesi yang lebih mantap dan terampil, ampuhnya antibiotik dan kemoterapi Indikasi Seksio Sesarea Seksio sesarea dilakukan jika persalinan pervaginam mengandung risiko yang lebih besar bagi ibu atau janin. Indikasi ini dapat bersifat mutlak atau relatif (Benson dan Pernoll, 2009). Yang termasuk indikasi mutlak adalah setiap keadaan yang membuat kelahiran melalui jalan lahir tidak dapat terlaksana, seperti kesempitan panggul yang sangat berat dan neoplasma yang menyumbat jalan lahir. Sedangkan pada indikasi relatif, kelahiran melalui vagina bisa terlaksana,

7 tetapi ada keadaan tertentu yang menyebabkan kelahiran melalui seksio sesarea akan lebih aman, baik bagi ibu, anak, ataupun keduanya (Oxorn dan Forte, 2010). Indikasi seksio sesarea terbagi dua, yaitu indikasi medis dan indikasi nonmedis. 1. Indikasi Medis Indikasi medis seksio sesarea didasarkan pada tiga faktor, yaitu faktor ibu, uteroplasenta, dan faktor janin (Norwitz dan Schorge, 2007). Tabel 2.1. Indikasi Medis Seksio Sesarea INDIKASI MEDIS SEKSIO SESAREA FAKTOR Absolut Relatif Ibu Induksi persalinan yang gagal Proses persalinan tidak maju (distosia persalinan) Seksio sesarea elektif Penyakit ibu (preeklampsia berat, penyakit jantung, diabetes, kanker serviks) Disproporsi sefalopelvik Uteroplasenta Bedah uterus sebelumnya (sesarea klasik) Riwayat ruptur uterus Obstruksi jalan lahir (fibroid) Riwayat bedah uterus sebelumnya (miomektomi dengan ketebalan penuh) Presentasi funik (tali pusat) pada saat persalinan Plasenta previa, abruptio plasenta berukuran besar Janin Gawat janin/hasil pemeriksaan janin yang tidak meyakinkan Prolaps tali pusat Malpresentasi janin (posisi melintang) Malpresentasi janin (sungsang), presentasi alis, presentasi gabungan) Makrosomia Kelainan janin (hidrosefalus) Sumber : Norwitz dan Schorge, 2007

8 a) Seksio Sesarea Sebelumnya (Oxorn dan Forte, 2010) Pada sebagian besar negara, ada kebiasaan yang dipraktikkan akhirakhir ini yaitu setelah prosedur pembedahan sesarea dikerjakan, maka semua kehamilan yang datang harus diakhiri dengan cara yang sama. Menurut Achadiat (2004), semua kehamilan dengan riwayat seksio sesarea sebelumnya harus diusahakan untuk dilahirkan pervaginam. Namun, pasien dengan riwayat seksio sesarea sebelumnya memiliki risiko ruptur uteri dan gawat janin sampai dengan kematian janin intrauteri.oleh sebab itu, apabila syarat untuk persalinan pervaginam tidak terpenuhi, dapat segera dilakukan seksio sesarea kembali.pasien dengan riwayat seksio sesarea sebelumnya harus melahirkan di suatu rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya yang memiliki kemampuan untuk melakukan seksio sesarea kembali secepatnya.selain itu, menurut Cunningham, et al.(2013), seksio sesarea berulang elektif lebih dipilih oleh banyak wanita karena kenyamanan pada persalinan yang direncanakan dan juga karena ketakutan akan persalinan yang lama dan mungkin berbahaya. b) Persalinan Macet (Purwoastuti dan Walyani, 2015) Ini dapat terjadi pada fase pertama (fase litatasi) atau fase kedua (ketika mengejan). Persalinan macet merupakan penyebab tersering seksio sesarea. Beberapa alasan yang dijadikan pertimbangan ialah kontraksi tidak lagi efektif, janin terlalu besar sementara jalan lahir ibu sempit, dan posisi kepala janin yang tidak memungkinkan dilakukan penarikan dengan vakum maupun forsep. c) Prolaps Tali Pusat (Purwoastuti dan Walyani, 2015) Yaitu jika tali pusat keluar melalui mulut rahim, bisa terjepit sehingga suplai darah dan oksigen ke janin berkurang. Keadaan ini berbahaya jika janin dilahirkan secara normal melalui vagina, sehingga perlu tindakan seksio sesarea segera.

9 d) Gawat Janin (Purwoastuti dan Walyani, 2015) Yaitu jika denyut jantung janin menurun sampai 70 kali per menit, maka harus segera dilakukan seksio sesarea. Normalnya denyut jantung janin adalah 120/160 kali per menit. e) Janin dengan Presentasi Bokong (Oxorn dan Forte, 2010) Sekitar sepertiga dari presentasi bokong harus dilahirkan melalui abdomen. Bukan saja akibat langsung kelahiran vaginal terhadap janin lebih buruk pada presentasi bokong dibanding pada presentasi kepala, tetapi juga terbukti adanya pengaruh jangka panjang sekalipun kelahiran tersebut tanpa abnormalitas. Menurut Leveno, et al. (2009), janin dengan presentasi bokong berisiko lebih besar mengalami prolaps tali pusat dan terjepitnya kepala jika dilahirkan pervaginam dibandingkan janin dengan presentasi kepala. Oleh karena itu, presentasi bokong sering menjadi indikasi untuk dilakukan sesar. f) Kehamilan Kembar (Purwoastuti dan Walyani, 2015) Perlu dipikirkan untuk melakukan seksio sesarea pada kasus janin pertama/terbawah selain presentasi kepala. Pada kasus kehamilan kembar dengan janin hanya memiliki satu kantong ketuban, risiko untuk saling mengait/menyangkut satu sama lain terjadi lebih tinggi sehingga perlu dilakukan seksio sesarea terencana. g) Plasenta Previa (Purwoastuti dan Walyani, 2015) Artinya plasenta terletak di bawah dan menutupi mulut rahim. Plasenta terdiri dari banyak pembuluh darah dan lokasi plasenta yang menutupi jalan lahir sangat rawan dengan terjadinya perdarahan yang dapat mengancam nyawa janin dan ibu. Seksio sesarea untuk plasenta previa sentralis dan lateralis telah menurunkan mortalitas fetal dan maternal (Oxorn dan Forte, 2010).

10 h) Masalah Kesehatan Ibu (Purwoastuti dan Walyani, 2015) Di antaranya: preeklampsia, diabetes, herpes,penderita HIV/AIDS, penyakit jantung, penyakit paru kronik, tumor rahim (mioma) yang ukurannya besar atau menutupi jalan lahir, kista yang menghalangi turunnya janin, serta berbagai keadaan lain merupakan hal-hal yang menyebabkan seksio sesarea lebih diutamakan. i) Masalah Kesehatan Janin (Purwoastuti dan Walyani, 2015) Misalnya pada janin dengan oligohidramnion (cairan ketuban sedikit) atau janin dengan gangguan perkembangan. 2. Indikasi Nonmedis Menurut Maryunani (2014), indikasi nonmedis seksio sesarea adalah permintaan pasien (walaupun tidak ada masalah atau kesulitan dalam persalinan normal). Menurut National Institute of Health (2006) dalam Qin, et al. (2012), angka seksio sesarea yang dilakukan atas permintaan ibu di Cina bagian Tenggara pada tahun 2003 adalah 22%. Padahal, angka seksio sesarea atas permintaan ibu secara global hanyalah sekitar 4-18%.Ini menandakan bahwa kejadian seksio sesarea atas indikasi permintaan ibu tinggi di Cina. Menurut Maryunani (2014), permintaan pasien didukung oleh adanya mitos-mitos yang berkembang di masyarakat yaitu: 1. Anak yang dilahirkan pada tanggal dan jam sekian akan memperoleh rezeki dan kehidupan yang baik. Ini dibuktikan dengan masih banyaknya penduduk di kota-kota besar yang mengaitkan waktu kelahiran dengan penguntungan nasib anak. 2. Ibu takut mengalami kerusakan jalan lahir (vagina) pada persalinan normal. Padahal, penelitian membuktikan bahwa mitos tersebut tidak benar karena penyembuhan luka di daerah vagina hampir sempurna.

11 3. Anggapan bahwa bayi yang dilahirkan dengan seksio sesarea menjadi lebih pandai karena kepalanya tidak terjepit di jalan lahir. Padahal, sebenarnya tidak ada perbedaan kecerdasan bayi yang dilahirkan secara seksio sesarea dengan pervaginam. Selain itu, seksio sesarea dipilih karena kekhawatiran atau kecemasan menghadapi rasa sakit pada persalinan normal (Maryunani (2014). Seksio sesarea akan meningkat atas dasar permintaan istri untuk kepentingan keharmonisan keluarga. Permintaan itu seyogyanya dipenuhi oleh karena merupakan hak azazi manusia-keluarga. Tindakan seksio sesarea tersebut dilakukan dengan insisi Pfannelstiel demi kepentingan kosmetik (Manuaba, dkk., 2007) Kontraindikasi Seksio Sesarea Menurut Benson dan Pernoll (2009), ada beberapa kontraindikasi seksio sesarea, yaitu infeksi piogenik dinding perut, janin abnormal yang tidak dapat hidup, janin mati (kecuali untuk menyelamatkan nyawa ibu), dan kurangnya fasilitas, perlengkapan, atau tenaga yang sesuai Komplikasi Seksio Sesarea Menurut Sofian (2013), ada beberapa komplikasi yang terjadi pada ibu, yaitu: 1. Perdarahan Perdarahan bisa terjadi karena banyak pembuluh darah yang terputus atau terbuka, atonia uteri, dan perdarahan yang terjadi pada placental bed. Kemungkinan pasien akan membutuhkan tranfusi darah.

12 2. Infeksi puerperal (nifas) Infeksi puerpural terbagi menjadi 3 tingkat, yaitu: a. Ringan Terjadi kenaikan suhu dalam beberapa hari saja. b. Sedang Terjadi kenaikan suhu yang lebih tinggi. Selain itu, terjadi dehidrasi dan perut menjadi sedikit kembung. c. Berat Terjadi peritonitis, sepsis, dan ileus paralitik. Ini sering terjadi pada partus terlantar. Sebelum infeksi berat ini muncul, telah terjadi infeksi intrapartum yang disebabkan oleh ketuban yang sudah pecah terlalu lama. Infeksi puerperal ini dapat ditangani dengan pemberian cairan, elektrolit, dan antibiotik yang adekuat dan tepat (misalnya profilaksis selama 24 jam). 3. Cedera pada organ di dekat uterus (usus, kandung kemih, ureter, pembuluh darah) Cedera kandung kemih dapat segera diketahui. Namun, cedera ureter sering terlambat diketahui. Infeksi uterus relatif sering terjadi setelah seksio sesarea (Cunningham, et al., 2013). 4. Kemungkinan akan terjadi ruptur uterus spontan pada kehamilan berikutnya Wanita dengan riwayat seksio sesarea mengalami kejadian ruptur uterus yang lebih tinggi pada kehamilan berikutnya daripada wanita dengan riwayat persalinan pervaginam. Namun, risiko ruptur uterus tergolong rendah (Cunningham, et al., 2013).

13 Menurut Molika (2015), ada beberapa komplikasi seksio sesarea yang dapat terjadi pada bayi yaitu: 1. Komplikasi respiratorik Bayi yang lahir melalui seksio sesarea cenderung membuat napasnya cepat dan tidak teratur karena bayi tidak mengalami tekanan saat lahir seperti bayi yang lahir normal, sehingga cairan paru-parunya tidak bisa keluar. Masalah pernapasan ini dapat terjadi sampai beberapa hari setelah lahir. Menurut Oxorn dan Forte (2010), insiden komplikasi respiratorik lebih tinggi pada bayi prematur yang dilahirkan dengan seksio sesarea. Contoh komplikasi respiratorik adalah atelektasis, hyaline membrane disease, dan respiratory distress syndrome. 2. Risiko tersayatnya bayi Hal ini disebabkan karena habisnya air ketuban sehingga membuat volume ruang dalam rahim menyusut dan ruang gerak bayi akan berkurang serta lebih mudah terjangkau pisau bedah. Selain itu, semburan darah saat operasi membuat bayi sulit terlihat. 3. APGAR yang rendah Angka APGAR adalah angka yang mencerminkan kondisi umum bayi pada menit pertama dan menit kelima.yang menyebabkan angka APGAR rendah adalah efek anestesi dan seksio sesarea, kondisi bayi yang stress menjelang kelahiran, dan bayi yang tidak distimulasi sebagaimana bayi yang lahir normal. 4. Risiko kelahiran prematur Seringkali sulit untuk menghitung umur bayi yang sebenarnya. Bila ternyata bayi masih berumur di bawah 36 minggu (kelahiran prematur), maka akan ada risiko seperti masalah pernapasan, suhu tubuh, dan pencernaan.

14 Sedangkan menurut Benson dan Pernoll (2009), komplikasi pembedahan selama seksio sesarea terdiri dari komplikasi mayor (80%) dan komplikasi minor (20%). a. Komplikasi mayor Yang termasuk komplikasi mayor yaitu trauma pada kandung kemih, laserasi sampai serviks atau vagina, laserasi korpus uterus, laserasi melalui ismus ke ligamentum latum, laserasi pada kedua arteri uterina, trauma usus, dan trauma pada bayi dengan sekuele. Kejadian komplikasi ini lebih tinggi pada kasus-kasus darurat (19%) dibandingkan kasus-kasus elektif (4,2%). b. Komplikasi minor Yang termasuk komplikasi minor yaitu tranfusi darah, trauma pada bayi tanpa sekuele, laserasi minor pada ismus, dan kesulitan melahirkan bayi. Hampir separuh dari pasien-pasien yang menjalani seksio sesarea mengalami komplikasi operasi dan pascaoperasi, sebagian diantaranya bersifat serius dan bisa menyebabkan kematian. Morbiditas standar bagi seksio sesarea adalah sekitar 20% (Oxorn dan Forte, 2010) Lama Perawatan Lama perawatan pasien yang melakukan persalinan pervaginam adalah 3-4 hari, sedangkan pada seksio sesarea adalah 4-5 hari (tergantung keadaan setelah pembedahan). Masa pemulihan untuk persalinan pervaginam adalah sekitar 42 hari, sedangkan pada seksio sesarea adalah 3-4 bulan (Achadiat, 2004). Namun, menurut American Academy of Pediatrics dan American College of Obstetricians and Gynecologists (2007) dalam Cunningham, et al. (2013), aturan untuk lama perawatan pasien di rumah sakit adalah sampai 24 jam setelah persalinan pervaginam tanpa komplikasi dan sampai 96 jam pada seksio sesarea tanpa komplikasi. Tetapi menurut Strong, et al. (1993) dalam Cunningham, et al.

15 (2013), pemulangan pada hari ke-2 pascapartum boleh dilakukan pada wanita tertentu yang memiliki motivasi tinggi Prognosis Dulu, angka morbiditas dan mortalitas untuk ibu dan janin tinggi. Namun, berkat kemajuan yang pesat dalam teknik operasi, anestesi, penyediaan cairan dan darah, indikasi, dan juga antibiotik, maka angka ini pun menjadi sangat menurun. Di rumah sakit yang memiliki fasilitas operasi baik dan tenaga-tenaga yang cekatan, angka kematian ibu tidak tinggi yaitu kurang dari 2 per 1000 (Sofian, 2013). Risiko morbiditas dan mortalitas ini tentu saja berhubungan dengan komplikasi dan faktor-faktor yang memerlukan tindakan, seperti komplikasi anestesi memberi sumbangan 10% dari seluruh kematian ibu. Karena itu, anestesi tetap merupakan penyebab kelima atau keenam kematian ibu (Benson dan Pernoll, 2009). Menurut Villar, et al. (2007) dalam Cunningham, et al. (2013), angka morbiditas ibu menjadi dua kali lipat pada persalinan seksio sesarea daripada pervaginam. Selain itu, persalinan seksio sesarea darurat menyebabkan risiko kematian ibu hampir sembilan kali lipat daripada persalinan pervaginam dan persalinan seksio sesarea elektif menyebabkan risiko hampir tiga kali lipat (Cunningham, et al., 2013). Pada persalinan dengan cara seksio sesarea, nasib janin sangat bergantung pada keadaan janin sebelum dilakukan operasi. Menurut data dari negara-negara yang menjalankan pengawasan antenatal yang baik dan memiliki fasilitas neonatal yang sempurna, angka kematian perinatal sekitar 4-7% (Sofian, 2013). Meskipun mortalitas janin pada seksio sesarea terus menurun, namun angkanya masih dua kali lipat dari angka mortalitas pada persalinan pervaginam (Oxorn dan Forte, 2010).

caesar (seksio sesarea) dengan segala pertimbangan dan risikonya (Manuaba, 2007).

caesar (seksio sesarea) dengan segala pertimbangan dan risikonya (Manuaba, 2007). A. Latar Belakang Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal. Persalinan normal adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1. Kajian Pustaka 2.1.1. Persalinan Seksio Sesaria 2.1.1.1. Definisi Seksio Sesaria seksio sesaria adalah persalinan janin, plasenta, dan selaput melalui

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 15 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Partus Tidak Maju 2.1.1 Definisi Partus Tidak Maju Partus tak maju yaitu persalinan yang ditandai tidak adanya pembukaan serviks dalam 2 jam dan tidak adanya penurunan janin

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Partus/ persalinan menurut cara persalinan : bayi pada LBK dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Partus/ persalinan menurut cara persalinan : bayi pada LBK dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Defenisi Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + uri) yang dapat hidup ke dunia dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain. Partus/ persalinan

Lebih terperinci

Dr.SARMA LUMBANRAJA, Sp.OG (K) ESDH F M SU

Dr.SARMA LUMBANRAJA, Sp.OG (K) ESDH F M SU SEKSIO SESAREA Dr.SARMA LUMBANRAJA, Sp.OG (K) DEFINISI Seksio Sesarea ialah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui l suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim

Lebih terperinci

KEHAMILAN DENGAN FIBROID DAN KOMPLIKASI OBSTETRINYA

KEHAMILAN DENGAN FIBROID DAN KOMPLIKASI OBSTETRINYA KEHAMILAN DENGAN FIBROID DAN KOMPLIKASI OBSTETRINYA Shehla Noor, Ali Fawwad *, Ruqqia Sultana, Rubina Bashir, Qurat-ul-ain, Huma Jalil, Nazia Suleman, Alia Khan Departemen Ginekologi, * Patologi, Fakultas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. para ibu ingin melaksanakan fungsi ini dengan cara yang mereka

BAB 1 PENDAHULUAN. para ibu ingin melaksanakan fungsi ini dengan cara yang mereka BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Melahirkan merupakan fungsi yang bersifat fisiologis. Wajar apabila para ibu ingin melaksanakan fungsi ini dengan cara yang mereka pertimbangkan paling tepat. Anggapan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. uterus ketika usia kehamilan melebihi 28 minggu (Saxena, 2010). Angka kejadian

BAB 1 PENDAHULUAN. uterus ketika usia kehamilan melebihi 28 minggu (Saxena, 2010). Angka kejadian BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seksio sesarea adalah suatu persalinan melalui insisi pada abdomen dan uterus ketika usia kehamilan melebihi 28 minggu (Saxena, 2010). Angka kejadian seksio sesarea

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB II TINJAUAN TEORI 8 BAB II TINJAUAN TEORI A. Tinjauan Teori 1. Pengertian Prematur Persalinan merupakan suatu diagnosis klinis yang terdiri dari dua unsur, yaitu kontraksi uterus yang frekuensi dan intensitasnya semakin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melahirkan normal, ternyata juga bisa dilakukan perabdominal, yang disebut sectio

BAB I PENDAHULUAN. melahirkan normal, ternyata juga bisa dilakukan perabdominal, yang disebut sectio 14 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, para ahli banyak menemukan berbagai penemuan baru, khususnya dibidang kesehatan. Seperti halnya cara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan menyatakan bahwa pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. caesarea yaitu bayi yang dikeluarkan lewat pembedahan perut (Kasdu, 2003)

BAB I PENDAHULUAN. caesarea yaitu bayi yang dikeluarkan lewat pembedahan perut (Kasdu, 2003) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Melahirkan merupakan puncak peristiwa dari serangkaian proses kehamilan, sehingga banyak wanita hamil khawatir, cemas dan gelisah menanti saat kelahiran tiba. Setiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. letak insisi. Antara lain seksio sesaria servikal (insisi pada segmen bawah), seksio

BAB I PENDAHULUAN. letak insisi. Antara lain seksio sesaria servikal (insisi pada segmen bawah), seksio BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seksio sesaria adalah persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. luar biasa. Persalinan biasa disebut juga persalinan spontan adalah Bila bayi lahir

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. luar biasa. Persalinan biasa disebut juga persalinan spontan adalah Bila bayi lahir BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Defenisi Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. Persalinan terjadi dalam dua keadaan yaitu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Definisi Sectio Caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan insisi pada abdomen dan uterus. (Joy, 2009).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Definisi Sectio Caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan insisi pada abdomen dan uterus. (Joy, 2009). BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Sectio Caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan insisi pada abdomen dan uterus. (Joy, 2009). 2.2 Etiologi Peningkatan angka sectio caesarea terus terjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan bantuan atau tanpa bantuan (Manuaba, 2010). waktu (yaitu 12 hari atau lebih melewati tanggal taksiran partus) dan ketuban

BAB I PENDAHULUAN. dengan bantuan atau tanpa bantuan (Manuaba, 2010). waktu (yaitu 12 hari atau lebih melewati tanggal taksiran partus) dan ketuban 22 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dari uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir, dengan bantuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Persalinan adalah suatu proses mendorong keluar hasil konsepsi (janin, plasenta dan

BAB I PENDAHULUAN. Persalinan adalah suatu proses mendorong keluar hasil konsepsi (janin, plasenta dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Persalinan adalah suatu proses mendorong keluar hasil konsepsi (janin, plasenta dan ketuban) dari dalam rahim lewat jalan lahir atau dengan jalan lain (Reeder, 2012).

Lebih terperinci

Distosia. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi

Distosia. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi Distosia Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi Definisi Distosia adalah Waktu persalinan yang memanjang karena kemajuan persalinan yang terhambat. Persalinan lama memiliki definisi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. bundar dengan ukuran 15 x 20 cm dengan tebal 2,5 sampai 3 cm dan beratnya 500

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. bundar dengan ukuran 15 x 20 cm dengan tebal 2,5 sampai 3 cm dan beratnya 500 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Plasenta Previa Plasenta merupakan bagian dari kehamilan yang penting, mempunyai bentuk bundar dengan ukuran 15 x 20 cm dengan tebal 2,5 sampai 3 cm dan beratnya 500 gram. Plasenta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meliputi sebagai berikut : bayi terlalu besar, kelainan letak janin, ancaman

BAB I PENDAHULUAN. meliputi sebagai berikut : bayi terlalu besar, kelainan letak janin, ancaman BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sectio caesaria merupakan proses persalinan atau pembedahan melalui insisi pada dinding perut dan rahim bagian depan untuk melahirkan janin. Indikasi medis dilakukannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan angka kematian ibu (Maternal Mortality Rate) dan angka. kematian bayi (Neonatal Mortality Rate). (Syaiffudin, 2002).

BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan angka kematian ibu (Maternal Mortality Rate) dan angka. kematian bayi (Neonatal Mortality Rate). (Syaiffudin, 2002). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Derajat kesehatan keluarga dan masyarakat ditentukan oleh kesehatan ibu dan anak. Salah satu keberhasilan pembangunan kesehatan ditentukan berdasarkan angka kematian

Lebih terperinci

Sectio Caesarea PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)

Sectio Caesarea PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK) PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK) Sectio Caesarea 1. Pengertian ( Definisi) Persalinan buatan, di mana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa sosial yang ibu dan

BAB I PENDAHULUAN. Kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa sosial yang ibu dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal. Kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa sosial yang ibu dan keluarga nantikan selama 9

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lain, dengan bantuan

Lebih terperinci

dari dalam maupun dari luar dirinya sendiri. Sedangkan respon psikologis adalah

dari dalam maupun dari luar dirinya sendiri. Sedangkan respon psikologis adalah A. Respon Respon adalah tanggapan, reaksi atau jawaban terhadap sesuatu rangsangan baik dari dalam maupun dari luar dirinya sendiri. Sedangkan respon psikologis adalah tanggapan atau reaksi seseorang yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sectio Caesaria (SC), dimana SC didefinisikan sebagai proses lahirnya janin

BAB 1 PENDAHULUAN. Sectio Caesaria (SC), dimana SC didefinisikan sebagai proses lahirnya janin 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu jenis pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah Sectio Caesaria (SC), dimana SC didefinisikan sebagai proses lahirnya janin melalui insisi di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angka kematian ibu bersalin dan angka kematian perinatal merupakan yang paling penting untuk menilai keberhasilan program kesehatan ibu dan anak. Penyebab (AKI) Angka

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Plasenta Previa 2.1.1. Definisi Plasenta Previa Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada bagian segmen bawah rahim, sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bangsa salah satunya diukur dari besarnya angka kematian (morbiditas). Makin

BAB I PENDAHULUAN. bangsa salah satunya diukur dari besarnya angka kematian (morbiditas). Makin BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut World Health Organization (WHO), indikator kesejahteraan suatu bangsa salah satunya diukur dari besarnya angka kematian (morbiditas). Makin tinggi angka tersebut,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut. Section Caesarea

BAB I PENDAHULUAN. sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut. Section Caesarea BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Section Caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut. Section Caesarea juga dapat didefinisikan

Lebih terperinci

Infeksi luka akibat sectio caesaria berbeda dengan luka persalinan normal.

Infeksi luka akibat sectio caesaria berbeda dengan luka persalinan normal. III.4.2 Resiko Persalinan Secara Sectio Caesaria Menurut MeduaSehat.com ( 2006 ), resiko persalinan secara Sectio Caesaria dibagi menjadi : 1. Resiko jangka pendek a. Infeksi pada bekas jahitan Infeksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan yang baik atau kesejahteraan adalah suatu. kondisi dimana tidak hanya bebas dari penyakit.

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan yang baik atau kesejahteraan adalah suatu. kondisi dimana tidak hanya bebas dari penyakit. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan yang baik atau kesejahteraan adalah suatu kondisi dimana tidak hanya bebas dari penyakit. Sehat adalah suatu keadaan dimana seseorang mendefinisikan sesuai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Mobilisasi Dini 1. Pengertian Mobilisasi Dini Mobilisasi dini adalah pergerakan yang dilakukan sedini mungkin di tempat tidur dengan melatih bagian bagian tubuh untuk melakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pada umumnya 80-90% kehamilan akan berlangsung normal dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pada umumnya 80-90% kehamilan akan berlangsung normal dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada umumnya 80-90% kehamilan akan berlangsung normal dan hanya 10-12% kehamilan disertai dengan penyulit atau berkembang menjadi kehamilan patologis. Kehamilan patologis

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Akhir-akhir ini, angka seksio sesarea di dunia telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada awal 1970, angka seksio sesarea di negara maju hanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Morbiditas dan mortalitas ibu dan anak meningkat pada kasus persalinan

BAB I PENDAHULUAN. Morbiditas dan mortalitas ibu dan anak meningkat pada kasus persalinan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Morbiditas dan mortalitas ibu dan anak meningkat pada kasus persalinan abnormal. Persalinan abnormal mengindikasikan adanya faktor komplikasi yang terjadi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Persalinan sectio caesaria adalah proses melahirkan janin melalui insisi pada

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Persalinan sectio caesaria adalah proses melahirkan janin melalui insisi pada BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Persalinan Sectio caesaria Persalinan sectio caesaria adalah proses melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus (histerektomi).(william,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemampuan pelayanan kesehatan suatu negara ditentukan dengan perbandingan tinggi rendahnya angka kematian ibu dan angka kematian perinatal. Dikemukakan bahwa

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. A. Hubungan antara Berat Badan Lahir Rendah dengan Kematian Bayi. CI=18, ,438) sehingga dapat diartikan bahwa bayi dengan BBLR

BAB V PEMBAHASAN. A. Hubungan antara Berat Badan Lahir Rendah dengan Kematian Bayi. CI=18, ,438) sehingga dapat diartikan bahwa bayi dengan BBLR BAB V PEMBAHASAN A. Hubungan antara Berat Badan Lahir Rendah dengan Kematian Bayi di Kabupaten Boyolali Ada hubungan antara berat badan lahir rendah dengan kematian bayi (p-value=0,000). Nilai OR yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertama sebagai penyebab kematian maternal. 2. Pendarahan obstetri secara umum dibagi menjadi perdarahan antepartum

BAB I PENDAHULUAN. pertama sebagai penyebab kematian maternal. 2. Pendarahan obstetri secara umum dibagi menjadi perdarahan antepartum BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perdarahan obstetri merupakan salah satu penyebab terbesar kematian maternal dan mengakibatkan morbiditas dan mortalitas perinatal yang tinggi. Hal ini masih menjadi

Lebih terperinci

PERSALINAN NORMAL ( KALA IV )

PERSALINAN NORMAL ( KALA IV ) PERSALINAN NORMAL ( KALA IV ) Pengertian Bagian kebidanan dan kandungan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo masih mengenal kala IV, yaitu satu jam setelah placenta

Lebih terperinci

PROFIL UMUR DAN PEKERJAAN IBU BERSALIN SECTIO CAESAREA YANG MEMPUNYAI RIWAYAT SECTIO CAESAREA

PROFIL UMUR DAN PEKERJAAN IBU BERSALIN SECTIO CAESAREA YANG MEMPUNYAI RIWAYAT SECTIO CAESAREA PROFIL UMUR DAN PEKERJAAN IBU BERSALIN SECTIO CAESAREA YANG MEMPUNYAI RIWAYAT SECTIO CAESAREA Sri Hartatik*, Henny Juaria* *Akademi Kebidanan Griya Husada, Jl. Dukuh Pakis Baru II no.110 Surabaya Email

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jalan operasi atau sectio caesarea hal ini disebabkan karena ibu memandang

BAB I PENDAHULUAN. jalan operasi atau sectio caesarea hal ini disebabkan karena ibu memandang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di zaman modern ini banyak ibu yang memilih melakukan persalinan dengan jalan operasi atau sectio caesarea hal ini disebabkan karena ibu memandang persalinan dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Proses persalinan merupakan proses kompleks untuk. menggunakan alat dan persalinan operatif yaitu Sectio Caesaria (SC).

BAB I PENDAHULUAN. Proses persalinan merupakan proses kompleks untuk. menggunakan alat dan persalinan operatif yaitu Sectio Caesaria (SC). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Proses persalinan merupakan proses kompleks untuk menyelamatkan ibu maupun bayinya dengan menggunakan berbagai macam metode seperti persalinan pervaginam, persalinan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau jalan lain dengan

BAB I PENDAHULUAN. bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau jalan lain dengan 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau jalan lain dengan bantuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui

BAB I PENDAHULUAN. plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bulan pertama kehidupan merupakan masa paling kritis dalam kelangsungan kehidupan anak. Dari enam juta anak yang meninggal sebelum ulang tahunnya yang ke lima di tahun

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS 2.1 Perdarahan Postpartum Perdarahan postpartum ialah perdarahan yang masif berasal dari tempat implantasi plasenta, robekan dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Persalinan merupakan kejadian fisiologi yang normal dialami oleh

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Persalinan merupakan kejadian fisiologi yang normal dialami oleh 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persalinan merupakan kejadian fisiologi yang normal dialami oleh seorang ibu berupa pengeluaran hasil konsepsi yang hidup didalam uterus melalui vagina ke dunia luar.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. patologis kadang membutuhkan tindakan pembedahan (sectio caesarea).

BAB I PENDAHULUAN. patologis kadang membutuhkan tindakan pembedahan (sectio caesarea). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Persalinan bisa terjadi secara fisiologis maupun patologis. Persalinan patologis kadang membutuhkan tindakan pembedahan (sectio caesarea). Sectio Caesarea didefinisikan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Persalinan Persalinan atau Partus adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui jalan lahir vagina ke dunia luar ( Wiknjosastro,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. ke dunia luar. Beberapa kasus seperti plasenta previa, preeklamsia, gawat janin,

BAB 1 PENDAHULUAN. ke dunia luar. Beberapa kasus seperti plasenta previa, preeklamsia, gawat janin, BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Persalinan merupakan kejadian fisiologi yang normal dialami oleh seorang ibu berupa pengeluaran hasil konsepsi yang hidup di dalam uterus melalui vagina ke dunia luar.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada dibagian bawah kavum

BAB I PENDAHULUAN. dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada dibagian bawah kavum BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Letak sungsang adalah keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada dibagian bawah kavum uteri. Kejadian letak sungsang berkisar

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Plasenta Previa 2

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Plasenta Previa 2 TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Definisi dan Klasifikasi Plasenta previa ialah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim sedemikian rupa sehingga menutupi sebagian atau seluruh dari ostium uteri internum.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Letak sungsang adalah keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan batang berada di bagian bawah kavum uteri. Kejadian letak sungsang berkisar

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. berbagai negara dalam beberapa tahun terakhir. Presentase bedah sesar di Ameika

BAB 1 PENDAHULUAN. berbagai negara dalam beberapa tahun terakhir. Presentase bedah sesar di Ameika BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Bedah sesar merupakan proses pengeluaran janin melaui insisi dinding abdomen dan uterus. 1 Jumlah persalinan dengan bedah sesar terus mengalami peningkatan di berbagai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sectio Caesarea 2.1.1 Defenisi Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi ( janin dan plasenta ) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1. Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian ini adalah prevalensi seksio sesarea dengan indikasi disproporsi fetopelvik yang juga akan meninjau karakteristik

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persalinan Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang dapat hidup di luar rahim melalui jalan lahir atau dengan cara lain (Mochtar, 2000).

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Plasenta previa adalah plasenta yang menutupi ostium uteri internum baik

BAB 1 PENDAHULUAN. Plasenta previa adalah plasenta yang menutupi ostium uteri internum baik BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Plasenta previa adalah plasenta yang menutupi ostium uteri internum baik sepenuhnya atau sebagian atau yang meluas cukup dekat dengan leher rahim yang menyebabkan pendarahan

Lebih terperinci

PENATALAKSANAAN LETAK SUNGSANG. Oleh : Emi Sutrisminah Staf Pengajar Prodi D III Kebidanan FK Unissula Semarang ABSTRAK

PENATALAKSANAAN LETAK SUNGSANG. Oleh : Emi Sutrisminah Staf Pengajar Prodi D III Kebidanan FK Unissula Semarang ABSTRAK PENATALAKSANAAN LETAK SUNGSANG Oleh : Emi Sutrisminah Staf Pengajar Prodi D III Kebidanan FK Unissula Semarang ABSTRAK Setiap ibu hamil mengharapkan kehamilan yang sehat dan normal, begitu juga dengan

Lebih terperinci

MEDICAL INDICATIONS OF SECTIO CAESAREA IN GENERAL DISTRICT HOSPITAL OF PARE KEDIRI YEAR Brivian Florentis Yustanta ABSTRACT

MEDICAL INDICATIONS OF SECTIO CAESAREA IN GENERAL DISTRICT HOSPITAL OF PARE KEDIRI YEAR Brivian Florentis Yustanta ABSTRACT MEDICAL INDICATIONS OF SECTIO CAESAREA IN GENERAL DISTRICT HOSPITAL OF PARE KEDIRI YEAR 2013 2015 Brivian Florentis Yustanta ABSTRACT Sectio caesarea is a surgical operation to deliver baby by opening

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian VBAC VBAC (Vaginal Birth After Cesarean-section) adalah proses melahirkan normal setelah pernah melakukan seksio sesarea. VBAC menjadi isu yang sangat penting dalam

Lebih terperinci

Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 2, Oktober 2016 ISSN

Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 2, Oktober 2016 ISSN PENELITIAN HUBUNGAN PERSALINAN PRESENTASI BOKONG DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA BAYI BARU LAHIR DI RUMAH SAKIT KABUPATEN LAMPUNG UTARA Yeyen Putriana* *Dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Tanjungkarang Pada persalinan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I dan II jarang terjadi perdarahan postpartum. morbiditas lainnya meliputi macam-macam infeksi dan penyakit yang

BAB I PENDAHULUAN. I dan II jarang terjadi perdarahan postpartum. morbiditas lainnya meliputi macam-macam infeksi dan penyakit yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Laserasi perineum merupakan robekan yang terjadi pada perineum sewaktu proses persalinan. Persalinan dengan tindakan seperti ekstraksi forsep, ekstraksi vakum, versi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rahim, tanpa rasa sakit dan koordinasi yang di sebut Braxton Hiks. Kontraksi ini

BAB I PENDAHULUAN. rahim, tanpa rasa sakit dan koordinasi yang di sebut Braxton Hiks. Kontraksi ini BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Selama kehamilan berlangsung dapat terjadi kontraksi ringan pada seluruh rahim, tanpa rasa sakit dan koordinasi yang di sebut Braxton Hiks. Kontraksi ini lebih lanjut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan

BAB I PENDAHULUAN. dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Kesejahteraan suatu bangsa salah satu indikatornya adalah angka kematian maternal dan angka kematian neonatal. Disamping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. macam aspek, diantaranya pertolongan persalinan yang salah satunya adalah

BAB I PENDAHULUAN. macam aspek, diantaranya pertolongan persalinan yang salah satunya adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pelayanan keperawatan bidang kesehatan modern mencakup berbagai macam aspek, diantaranya pertolongan persalinan yang salah satunya adalah sectio caesaria. Di negara

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA SENAM HAMIL DENGAN PROSES PERSALINAN NORMAL DI RUMAH BERSALIN AS SYIFA UL UMMAH GROBOGAN

HUBUNGAN ANTARA SENAM HAMIL DENGAN PROSES PERSALINAN NORMAL DI RUMAH BERSALIN AS SYIFA UL UMMAH GROBOGAN HUBUNGAN ANTARA SENAM HAMIL DENGAN PROSES PERSALINAN NORMAL DI RUMAH BERSALIN AS SYIFA UL UMMAH GROBOGAN SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan bantuan atau tanpa bantuan (Manuaba, 2010).

BAB I PENDAHULUAN. dengan bantuan atau tanpa bantuan (Manuaba, 2010). BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (Janin dari uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir, dengan bantuan atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menggunakan alat dan persalinan operatif yaitu Sectio Caesaria (SC). Prawirahardjo (2010) dalam Septi (2012).

BAB I PENDAHULUAN. menggunakan alat dan persalinan operatif yaitu Sectio Caesaria (SC). Prawirahardjo (2010) dalam Septi (2012). BAB I PENDAHULUAN 1. LatarBelakangMasalah Proses persalinan merupakan proses kompleks untuk menyelamatkan ibu maupun bayinya dengan menggunakan berbagai macam metode seprti persalinan pervagina, persalinan

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S. DENGAN POST SECTIO CAESAREA ATAS INDIKASI PRE EKLAMPSIA BERAT DI BANGSAL CEMPAKA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SRAGEN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S. DENGAN POST SECTIO CAESAREA ATAS INDIKASI PRE EKLAMPSIA BERAT DI BANGSAL CEMPAKA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SRAGEN ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S. DENGAN POST SECTIO CAESAREA ATAS INDIKASI PRE EKLAMPSIA BERAT DI BANGSAL CEMPAKA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SRAGEN KARYA TULIS ILMIYAH Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mendapatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung

BAB I PENDAHULUAN. dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehamilan merupakan fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis dapat

KATA PENGANTAR. Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis dapat KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis dapat menyelesaikan tugas referat yang berjudul Persalinan Sungsang dengan lancar. Dalam pembuatan referat ini, penulis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Millenium development goal (MDG) menargetkan penurunan AKI menjadi

BAB I PENDAHULUAN. Millenium development goal (MDG) menargetkan penurunan AKI menjadi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Perinatal merupakan salah satu masalah kesehatan yang memerlukan perhatian khusus di Indonesia. AKI di Indonesia masih merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asfiksia neonatorum merupakan kegawatdaruratan bayi baru lahir berupa gagal nafas secara spontan dan teratur beberapa saat setelah lahir yang ditandai dengan hipoksemia,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari

BAB I PENDAHULUAN. Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Operasi sesar adalah cara melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen/ laparotomi dan dinding uterus (Cunningham et al., 2010). Dengan banyaknya permintaan

Lebih terperinci

BAB 1. terutama yaitu perdarahan 28%. Sebab lain yaitu eklamsi 24%, infeksi 11%, pelayanan obstetri belum menyeluruh masyarakat dengan layanan yang

BAB 1. terutama yaitu perdarahan 28%. Sebab lain yaitu eklamsi 24%, infeksi 11%, pelayanan obstetri belum menyeluruh masyarakat dengan layanan yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Tinggi rendahnya kematian ibu dan perinatal menjadi ukuran kemampuan pelayanan obstetri suatu negara. Di Indonesia, pada tahun 2008 penyebab langsung kematian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persalinan dan kehamilan merupakan kejadian fisiologis yang normal dalam kehidupan. Kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa sosial bagi ibu dan keluarga. Peranan

Lebih terperinci

KEHAMILAN GANDA. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi

KEHAMILAN GANDA. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi KEHAMILAN GANDA Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi Materi pembelajaran (pengetahuan) Kehamilan Ganda Definisi Kehamilan ganda ialah satu kehamilan dengan dua janin atau lebih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang dilahirkan harus aman dan sehat serta membawa kebahagiaan bagi ibu dan

BAB I PENDAHULUAN. yang dilahirkan harus aman dan sehat serta membawa kebahagiaan bagi ibu dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan dan kesejahteraan ibu merupakan unsur utama dalam menentukan generasi yang akan datang. Proses kehamilan, persalinan dan bayi yang dilahirkan harus aman dan

Lebih terperinci

KOMPLIKASI PADA IBU HAMIL, BERSALIN, DAN NIFAS. Ante Partum : keguguran, plasenta previa, solusio Plasenta

KOMPLIKASI PADA IBU HAMIL, BERSALIN, DAN NIFAS. Ante Partum : keguguran, plasenta previa, solusio Plasenta KOMPLIKASI PADA IBU HAMIL, BERSALIN, DAN NIFAS 1. Ketuban pecah Dini 2. Perdarahan pervaginam : Ante Partum : keguguran, plasenta previa, solusio Plasenta Intra Partum : Robekan Jalan Lahir Post Partum

Lebih terperinci

2. Indikasi Sectio Caesarea

2. Indikasi Sectio Caesarea BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sectio Caesarea 1. Pengertian Sectio Caesarea Sectio Caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi kehamilan merupakan salah satu komplikasi yang dapat terjadi pada kehamilan. Komplikasi kehamilan merupakan salah satu penyebab angka kematian ibu dan janin.

Lebih terperinci

kelahiran hidup. Di Yogyakarta pada

kelahiran hidup. Di Yogyakarta pada A. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN Angka kematian merupakan salah satu indikator status kesehatan masyarakat. Angka kematian yang berhubungan dengan ibu dan anak adalah Angka Kematian Ibu (AKI), Angka

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KOMPLIKASI PASSENGER PADA IBU BERSALIN DI RSUD SUNAN KALIJAGA DEMAK. Yayuk Norazizah, Ristitiati, Ummu Latifah

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KOMPLIKASI PASSENGER PADA IBU BERSALIN DI RSUD SUNAN KALIJAGA DEMAK. Yayuk Norazizah, Ristitiati, Ummu Latifah FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KOMPLIKASI PASSENGER PADA IBU BERSALIN DI RSUD SUNAN KALIJAGA DEMAK Yayuk Norazizah, Ristitiati, Ummu Latifah INTISARI Penyebab langsung AKI adalah perdarahan 45%,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Organization (WHO), salah satunya diukur dari besarnya angka kematian

BAB I PENDAHULUAN. Organization (WHO), salah satunya diukur dari besarnya angka kematian BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Indikator kesejahteraan suatu bangsa menurut World Health Organization (WHO), salah satunya diukur dari besarnya angka kematian saat persalinan. Pada tahun 2006 WHO

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu

BAB I PENDAHULUAN. dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persalinan adalah proses alami yang akan berlangsung dengan sendirinya, melalui jalan lahir atau melalui jalan buatan atau tanpa bantuan atau kekuatan sendiri. Persalinan

Lebih terperinci

ID Soal. Pertanyaan soal Menurut anda KPSW terjadi bila :

ID Soal. Pertanyaan soal Menurut anda KPSW terjadi bila : 4 Oksigen / Cairan & Elektrolit / Nutrisi / Eliminasi / Rekreasi / Aman & 5 Promotif / Preventif/ Kuratif/Rehabilitatif 6 Pengkajian/Penentuan Diagnosis/Perencanaan/ Implementasi/Evaluasi/Lainlain 7 Maternitas/Anak/KMB/Gadar/Jiwa/Keluarga/Komunitas/Gerontik/Manajemen

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU HAMIL DENGAN SIKAP IBU TENTANG SENAM HAMIL DI RSU ISLAM KUSTATI SURAKARTA

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU HAMIL DENGAN SIKAP IBU TENTANG SENAM HAMIL DI RSU ISLAM KUSTATI SURAKARTA HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU HAMIL DENGAN SIKAP IBU TENTANG SENAM HAMIL DI RSU ISLAM KUSTATI SURAKARTA SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Meraih Derajat Sarjana S-1 KEPERAWATAN Disusun Oleh

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Persalinan pervaginam Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan

Lebih terperinci

HUBUNGAN INSIDEN IKTERUS NEONATORUM DENGAN PERSALINAN SECARA VAKUM EKSTRAKSI

HUBUNGAN INSIDEN IKTERUS NEONATORUM DENGAN PERSALINAN SECARA VAKUM EKSTRAKSI HUBUNGAN INSIDEN IKTERUS NEONATORUM DENGAN PERSALINAN SECARA VAKUM EKSTRAKSI SKRIPSI Diajukan Oleh : DYAH AYU SAVITRI J 50005 0030 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2009 BAB I PENDAHULUAN

Lebih terperinci