BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
|
|
|
- Sri Kusnadi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Sejarah PTAntar Lintas Sumatera Pekanbaru Pada awal tahun 1980 angkutan umum yang ada sagat sedikit hal ini disebabkan karena pada saat itu infrasruktur yang ada masih sagat jelek dan harga kendaraan sagat mahal, sehingga apabila seseorang memiliki kendaraan, sagat jarang yang mau menyewakannya dengan alasan takut kalau kendaraan yang dimiliki mengalami kerusakan. Atau pada intinya pada saat itu kendaraan adalah barang yang sangat berharga sehingga setiap orang yang memilikinya akan selalu memeliharanya dengan sangat baik. 1 Selain faktor infrastruktur yang jelek serta harga kendaraan yang mahal atau sebagai barang yang sangat berharga, pada saat itu mencari ijin untuk mendirikan suatu perusahaan angkutan juga sagat sulit. Padahal pengguna atau konsumen sangat banyak, hal ini membuat seseorang yang akan berpergian harus menunggu lama untuk mendapatkan kendaraan. Terutama pada hari-hari tertentu (sabtu, minggu dan hari-hari besar) di mana kendara-kendaraan umum tersebut selalu penuh sehingga konsumen harus menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan kendaraan yang dapat mengangkut mereka ) hal 54 1 http//alspttransport.com 2 George, Understanding and Managing Organizational Behavior, (Jakarta. New Jersey, 12
2 13 Akhirnya pada tahun 1984 dan berdasarkan pada faktor-faktor di atas serta mempunyai pemikiran bahwa perusahaan otobus memiliki prospek yang baik. Pemikiran ini juga di dukung oleh dana yang cukup untuk membeli 3 armada bus pada saat itu serta adanya pihak-pihak tertentu yang sudah kenal dengan baik dan bersedia untuk membantu mencarikan ijin untuk mendirikan suatu perusahaan otobus. 3 Dengan segenab hati akhirnya berdirilah perusahaan otobus dengan nama perusahaan otobus Antar Lintas Sumatera (PT ALS) pada awal berdirinya, PT ALS melayani trayek Medan-Jakarta dan Medan-Pekanbaru. Karena pada saat itu jumlah armada serta pengetahuaan akan jalan dari para pegemudi sagat terbatas. Sehingga pada awal berdirinya PT ALS juga selain menjadi pemilik ikut menjadi pengemudi. Setelah berdiri selama ini PT ALS terus berkembang dimana pada saat awal berdirinya hanya memiliki 3 (tiga) buah armada sekarang sudah berkembang menjadi 90 armada bus, bahkan pada saat keemasan PT ALS yaitu sekitar tahun 1995 armada yang dimiliki mencapai 155 armada bus dan pada saat itu armada yang beroperasi sangat baik kualitasnya karena oleh PT ALS armada yang beroperasi hanya diberi waktu operasi selama 2 tahun setelah itu akan dijual dan diganti dengan armada yang baru. Selain mengalami kenaikan jumlah armada, perkembangan lain yang telah dicapai oleh PT ALS selama ini adalah PT ALS saat ini juga melayani trayek Medan-Surabaya-Solo, selain trayek lama yaitu Medan-Jakarta dan 3 Sofyan Daulay, S.Pi, (Manager ALS), Wawancara, Pekanbaru,tgl 14 Juni 2014
3 14 Jakarta-Medan dan kesemua trayek ini tersedia patas dan yang biasa, kecuali jarak yang dekat. Selain melayani trayek PT ALS juga melayani penyewaan armada kesemua tempat sesuai dengan keinginan penyewa. PT ALS mulai berdiri yaitu pada tahun 1984 sampai tahun 1999, pimpinan yang lama mengundurkan diri dari pimpinan dengan alasan PT ALS tidak ada kemajuan, bahkan mengalami kemunduran setelah mengalami masa-masa keemasan pada tahun 1995 dan pemilik yang lama juga melihat bahwa usianya sudah tidak muda lagi sehingga digantikan oleh pimpinan yang baru untuk mengisi jabatan direktur menggantikan posisinya. Setelah kursi direktur dipegang oleh pimpinan yang baru, PT ALS dapat bangkit kembali dari masa-masa suram. hal ini terlihat dari jumlah armda bus yang mana sebelum pada tahun 1999 tunggal 60 armada bus, sekarang selama 8 tahun menjadi direktur di PT ALS jumlah armada bus yang dimiliki PT ALS meningkat menjadi 90 armada bus, sehingga jumlah armada bus yang jalan setiap harinya juga ikut bertambah. Selain itu jumalah konsumen yang membutuhkan sewaan armada bus dari hari kehari juga terus bertambah, hal ini disebabkan oleh pelayanana yang diberikan. 4 B. VISI dan MISI PT.ALS Pekanbaru PT ALS Pekanbaru mempunyai identitas yang membawa spirit baru sebagai landasan dalam mengembangkan visi dan misi yang menjadi motor 4 Sofyan Daulay, Program Kerja Perwkilan PT. Antar Lintas Sumatra Pekanbaru,(Pekanbaru. Jl, SM. Amin/ Arengka II. 2013) h. 5
4 15 pembangunan perekonomian masyarakat Pekanbaru sekarang dan masa yang akan datang. Adapun visi dan misi perusahaan PT. ALS Pekanbaru adalah: 5 Visi perusahaan PT.ALS Pekanbaru Menjadi perwakilan bus PT ALS yang mandiri dan kreatif dengan pelayanan paripurna yang memenuhi standar terbaik Misi perusahaan PT ALS Pekanbaru a. Menyelenggarakan fungsi pelayanan konsumen b. Melaksanakan fungsi administrasi secara propesional c. Melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai yang diamanahkan. Motto perusahaan PT ALS Pekanbaru Kepuasan anda adalah kebahagian kami. C. Klasifikasi dan Fasilitas Perusahaan PT ALS Pekanbaru 1. Class Super Executive a. Bus untuk tujuan Pekanbaru-Medan berangkat setiap hari jam : wib. b. Type bus super Executive ( SE. 28) c. Type bangku stell dan dilengkapi sandaran kaki. d. Setiap bangku dilengkapi selimut dan bantal. e. Dilengkapi audio video. f. Ac dan Toilet. g. Area Smoking h. Seat bangku 2-2 i. Snack. 5 Dokumen, Program Kerja Perwkilan PT. Antar Lintas Sumatra Pekanbaru. Tahun 2013
5 16 2. Class executive a. Bus untuk tujuan Pekanbaru-Jawa berangkat setiap hari jam : wib. b. Type bus executive (Seat. 44). c. Type bangku stell. d. Dilengkapi audio vidio. e. Ac dan toilet. f. Seat bangku Class AC Ekonomi. a. Bus untuk tujuan Pekanbaru-Jawa berangkat setiap hari jam :14.00 wib. b. Type bus Ac biasa/ekonomi (seat. 44) c. Type bangku stell. d. Dilengkapi audio (vidio). e. Ac dan non Ac f. Seat bangku Layanan Service Car Layannan atar jemput penumpang (Service Car) berpengaruh besar terhadap penumpang yang ingin menggunakan jasa angkutan PT ALS karena penumpang yang ingin berangkat dari rumahnya menuju kantor PT ALS rata-rata menggunakan armada taxi Pekanbaru yang diperkirakan merogoh biaya antara Rp 50,000-, sampai Rp 100,000-, dengan layanan
6 17 antar jemput gratis PT ALS maka penumpang menjadi tidak terbebani dan merekapun memilih untuk menggunakan jasa angkutan bus PT ALS. D. Struktur Organisasi Untuk mewujudkan tujuan dari suatu organisasi atau perusahaan di perlukan adanya pelaksanaan pelayanan yang baik dan terkoordinir antara para karyawan. Perusahaan yang sejumlah karyawan dengan berbagai posisi diperlukan pengorganisasian sebaik mungkin, untuk itu diperlukan seorang peminpin yang dapat memberikan wewenang dan tanggung jawab kepada bawahannya sesuai dengan prosedur yang berlaku. Selanjutnya dapat dikatakan bahwa organisasi merupakan sekelompok orang yang terorganisir dalam proses pencapaian tujuan organisasi. Suatu tujuan merupakan suatu target yang diharapkan suatu organisasi dari aktivitas orang-orang sebagai anggota organisasi yang terorganisasi dalam suatu struktur dan terproses dalam suatu hubungan kerja sama diantara anggota organisasi tersebut. Secara garis besar tugas dan wewenang masing-masing bagian pada perusahaan PT ALS Pekanbaru adalah sebagai berikut : 6 1. Kepala Perwakilan : a) Bertanggung jawab masalah bus dan penumpang yang melintasi kota pekanbaru serta keamanannya Sofyan Daulay, Program Kerja Perwakilan PT. ALS Pekanbaru,(Pekanbaru, 2013), h.
7 18 b) Berusaha semaksisimal munkin untuk mengisi bus PT ALS pekanbaru terutama yang trif pekanbaru (Reguler). c) Membuat laporan komisi setiap bulan ke kantor pusat (medan). d) Bekerja sama dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan jasa angkuta umum. e) Bekerja sama dengan aparat keamanan, instansi yang berwajib, dinas perhubungan, masyarakat alim ulama, pemuda, dan tikoh masyarakat setempat. f) Memberi pengarahan kepada kru PT ALS pekanbaru yang mengecewakan penumpang (apabila ada terjadi). g) Membuat laporan apabila kru PT ALS yang merugikan perusahaan PT ALS kekantor pusat kedan. h) Memberikan/masukan kepada kantor pusat medan yang sifatnya demi kemajuan perusahaan PT ALS. 2. Administrasi : a) Membuat laporan harian dan mencatat jumlah penumpang stiap hari. b) Membuat surat jalan bus yang berangkat setiap hari sesuai jadwal keberangkatannya. c) Mengisi buku harian setiap hari mengenai jumlah penumpang yang berangkat tiap harjunya d) Membuat laporan setiap bulan: e) Melaporkan kepada kepala perwakilan PT ALS pekanbaru apabila ada hal-hal penting dan masukan-masukan juga kritikan.
8 19 f) Membuat laporan setiap tahun mengenai jumlah penumpang ke kantor pusat medan dan membuat catatan dan surat-surat yang masuk maupun yang keluar. g) Berkoordinasi dengan petugas di lapagan setiap saat, baik dari terminal maupun di kantor. h) Membuat catatan/laporan kepada pengemudi servis Car PT ALS apababila ada penumpang yang hendak di jemput atau di antar. i) Membuat laporan bus tiba dari medan ke pulau jawa ataupun yang datang dari pulau jawa ke medan. 3. Petugas lapangan di kantor/pool PT ALS Pekanbaru. a) Membantu keamanan bus dan penumpang saat berada di kantor / pool PT ALS Pekanbaru. b) Memberikan pelayanan yang baik kepada penumpang yang baru datang maupun yang akan berangkat. c) Mencatat setiap bus yang masuk kantor/pool PT ALS pekanbaru. d) Memberi bantuan kepada pengemudi bus, apabila ada keperluan membeli alat-alat untuk perbaikan bus. e) Memberiakan informasi kepada penumpang yang baru datang untuk di antar kealamat oleh servis PT ALS apabila diperlukan oleh penumpang. f) Memberi keamanan kepada penumpang dan supir dan kru PT ALS sesampai ke pool / kantor PT ALS.
9 20 g) Mengecek penumpang bus yang akan berangkat sesuai dengan tempat duduk yang tertera pada tiket penumpang (sesuai dengan surat jalan bus). h) Membuat laporan tertulis kepada perwakilan apabila ada hal-hal yang penting dan masukan/kritikan untuk dievaluasi. i) Melaporkan kepada aparat kepolisian atau yang berwajip apabila ada hal-hal yang mencurigakan. j) Melarang memasuki bus ataupun kantor bagi orang-orang yang tidak berkepentingan. k) Melaporkan kepada kepala perwakilan tentang perkembangan permasalahan dan hambatan-hanbatan dilapangan. l) Membuat laporan setiap pergantian sip (serah terima tugas). m) Membantu penumpang memasukkan barang-barang ke bagasi bus dan memberi tanda barang (label) penumpang setiap akan keberangkatan. 4. Petugas keamanan a) Membantu menjaga keamanan penumpang, kru bus dan fasilitas yang ada di kantor pool serta di terminal. b) Menjaga keamanan penumpang apabila masuk di kantor dan di terminal. c) Menjaga keamanan lingkungan di kantor dan pool ALS, juga bekerja sama dengan aparat keamanan dan kepolisian apabila ada hal-hal yang dicurigai.
10 21 d) Melarang bagi yang tidak berkepentingan memasuki bus yang baru datang maupun yang baru berangkat. e) Memberikan arahan kepada petugas lapangan/bagian paket, apabila dianggap perlu. f) Memberikan masukan yang positif kepada kepala perwakilan PT ALS dan saran juga kritikan. 5. Petugas bagian paket a) Menerima barang dan mencatat/memasukkan kebuku Expedisi sesuai dengan jumlah barang. b) Mengecek barang, apakah sesuai dengan surat pengantar barang tersebut. c) Menjaga barang/paket agar tidak rusak atau (hilang). d) Memberikan pelayanan yang baik kepada pemilik barang/paket dengan sopan dan ramah (tidak boleh kasar). e) Memberi tahu kepada pemilik barang/paket atau mengantarkan barang tersebut kealamt rumahnya. f) Bertanggung jawab apabila ada barang/paket yang hilang maupun rusak. g) Apabila ada pengambilan barang/paket dilarang memungut biaya secara paksa (sepantasnya). h) Petugas paket mempunyai tugas membantu keamanan bus dan parkir bus, juga turut membantu kelancaran keluar masuk bus di kantor/di pool.
11 22 i) Bekerjasama dengan petugas keamanan kantor PT ALS untuk dilanjutkan kepada pihak berwajib, apabila ada hal-hal yang mencurigakan. j) Apabilan hal-hal penting agar melapor kepada kepala perwakilan PT ALS pekanbaru. k) Tidak dibenarkan tidur ataupun duduk di atas paket. 6. Petugas lapangan di terminal. a) Memberikan pelayanan kepada penumpang bus PT ALS yang turun di terminal. b) Memberikan keamanan dan kenyamana kepada penumpang bus ALS yang baru datang maupun yang akan berangkat. c) Menjual tiket PT ALS sesuai dengan tarif yang telah ditentukan. d) Membantu atau memberitahu kepada supir bus PT ALS untuk memarkirkan kendaraannya pada tempat yang telah ditentukan. e) Petugas PT ALS yang diterminal supaya bekerja sama dengan petugas yang berwenag di terminal. f) Memberi informasi kepada supir bus PT ALS agar melaporkan surat jalan atau buku RIT kepada petugas DISHUB terminal untuk ditandatangani petugas yang bersangkutan. g) Membuat laporan setiap hari jumlah penumpang atau penjualan tiket yang ada di terminal. h) Menjaga keamanan para supir, kenek dan penumpang bus PT ALS di termial.
12 23 i) Menjaga kebersihan kantor PT ALS yang ada di lingkungan terminal. j) Dilarang menjual tiket perusahaan lain di kantor PT ALS yang ada diterminal. k) Melarang orang/pihak lain yang tidak berkepentingan memasuki bus yang berada diterminal seperti penjual rokok, koran, pengamen, dan penjual makanan kejil dll. l) Menjaga nama baik PT ALS.
13 24 SUSUNAN PENGURUS PERW. PT. ANTAR LINTAS SUMATRA KOTA PEKANBARU-PROVINSI RIAU KEP. PERWAKILAN TATA USAHA SOFYAN DAULAY, SPI SRI PUNDAN IRIANTI LIAN PETUGAS LAPANGAN ATAU KANTOR PENGEMUDI SERVIS CAR PETUGAS TERMINAL A.A HASIBUAN LOHO SAIPUL BAHRI LUBIS YUS OMPONG Pasaribu UNTUNG BEN PETUGAS PAKET EFRIZAL HENDRIK NASUTION ALI KEAMANAN MAYOR DAHLAN SIMANJUNTAK
PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 3 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN ORANG DI JALAN DENGAN KENDARAAN UNTUK UMUM
PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 3 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN ORANG DI JALAN DENGAN KENDARAAN UNTUK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BONTANG, Menimbang : a. bahwa pengusaha
BAB I PENDAHULUAN. ini. Oleh karena itulah membangun kepercayaan konsumen dan citra perusahaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Persaingan bisnis bus antar kota dan lintas provinsi baik yang kecil maupun yang besar sangat ketat dalam dewasa ini. Keputusan untuk menggunakan jasa bus
DEPARTEMEN PERBUHUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT
DEPARTEMEN PERBUHUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT GEDUNG KARYA JL. MERDEKA BARAT NO. 8 JAKARTA 10110 TEL. (021) 3506138 3506129, 3506145, 3506204, 3506143 FAX : (021) 3507202, 3506129, 3506145,
BAB II PERKEMBANGAN DAN PERSAINGAN PERUSAHAAN OTOBUS DI KOTA MEDAN Perkembangan Perusahaan Otobus Di Kota Medan
BAB II PERKEMBANGAN DAN PERSAINGAN PERUSAHAAN OTOBUS DI KOTA MEDAN 2.1. Perkembangan Perusahaan Otobus Di Kota Medan Dalam rangka pembangunan daerah, transportasi memegang peranan yang sangat penting.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Perusahaan Profil Perusahaan Visi dan Misi Perusahan Visi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Perusahaan 1.1.1 Profil Perusahaan PO.Harapan Jaya adalah Perusahaan Otobus Harapan Jaya yang bergerak dibidang transportasi dan berdiri sejak tahun 1977. Perusahaan
STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) ANGKUTAN PEMADU MODA TRAYEK BANDARA SULTAN SYARIF KASIM II PEKANBARU BANGKINANG
STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) ANGKUTAN PEMADU MODA TRAYEK BANDARA SULTAN SYARIF KASIM II PEKANBARU BANGKINANG 1. STANDAR TEKNIS KENDARAAN a. Menggunakan kendaraan jenis bus medium/sedang; b. Umur kendaraan
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Umum Proses analisis data dari pembahasan dilakukan setelah selesai melaksanakan inventarisasi atau pengumpulan data, baikyang berupa data primer maupun data sekunder.
KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 84 TAHUN 1999 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ANGKUTAN ORANG DI JALAN DENGAN KENDARAAN UMUM
KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 84 TAHUN 1999 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ANGKUTAN ORANG DI JALAN DENGAN KENDARAAN UMUM MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang : a. bahwa dalam Peraturan Pemerintah Nomor
GUBERNUR SUMATERA BARAT
Menimbang Mengingat GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR 94 Tahun 2014 TENTANG TARIF ANGKUTAN PEMADU MODA DARI DAN KE BANDAR UDARA INTERNASIONAL MINANGKABAU PROVINSI SUMATERA
LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara
LAMPIRAN LAMPIRAN 1 Daftar Pertanyaaan Penelitian Kualitatif Wawancara Narasumber : Pemilik Usaha 1. Sejak kapan usaha ini berdiri? Jawab: Pada bulan Mei 2005 2. Bagaimana sejarah berdirinya usaha ini?
BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN
75 BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN 3.1 Gambaran Umum Dinas Perhubungan 3.1.1 Sejarah Singkat Dinas Perhubungan Pada awalnya Dinas Perhubungan dikenal dengan nama DitJen (Direktorat Jenderal) Perhubungan.
Masing-masing Seksi dipimpin oleh seorang Kepala Seksi bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Angkutan.
Bidang Angkutan 1. Kepala Bidang Angkutan mempunyai tugas pokok melaksanakan penyusunan perumusan kebijakan teknis di bidang angkutan, perencanaan dan penyelenggaraan pelayanan angkutan dalam trayek, angkutan
DALAM DAERAH KABUPATEN BERAU.
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU TAHUN : 2005 NOMOR : 7 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU NOMOR 7 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN TERMINAL TRANSPORTASI JALAN DALAM DAERAH KABUPATEN BERAU. DENGAN RAHMAT
KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM. 35 TAHUN 2003 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ANGKUTAN ORANG DI JALAN DENGAN KENDARAAN UMUM
KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM. 35 TAHUN 2003 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ANGKUTAN ORANG DI JALAN DENGAN KENDARAAN UMUM MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang : a. bahwa dalam Peraturan Pemerintah
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. tersebut dapat menjadi landasan untuk menilai bagaimana Fungsi Terminal
85 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasrkan dari hasil penelitian dan pembahasaan yang dilakukan oleh penulis mendapatkan berbagai informasi, dimana dari informasi dan data-data tersebut dapat
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU TAHUN : 2005 NOMOR : 7 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU NOMOR 7 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN TERMINAL TRANSPORTASI JALAN DALAM DAERAH KABUPATEN BERAU. DENGAN RAHMAT
PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG
PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,
MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 108 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN ORANG DENGAN KENDARAAN BERMOTOR UMUM TIDAK DALAM TRAYEK
BERITA DAERAH KOTA BEKASI
BERITA DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 100 2016 SERI : E PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 100 TAHUN 2016 TENTANG PENGOPERASIAN KENDARAAN BERMOTOR RODA TIGA BERBAHAN BAKAR GAS DI LINGKUNGAN PERUMAHAN DAN KAWASAN
BADAN PENGELOLA TRANSPORTASI JABODETABEK (BPTJ)
FOCUS GROUP DISCUSSION REVIEW KINERJA PRASARANA TERMINAL PENUMPANG DI JABODETABEK DALAM RANGKA ANGKUTAN LEBARAN TAHUN 2016/1437 H BADAN PENGELOLA TRANSPORTASI JABODETABEK (BPTJ) Badan Pengelola Transportasi
-2- Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.494, 2016 KEMENHUB. Angkutan Bermotor. Pencabutan. Orang. Kendaraan PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 32 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN
CONTOH 1 : PERMOHONAN IZIN USAHA ANGKUTAN
LAMPIRAN III KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN Nomor : KM 35 Tahun 2003 Tanggal : 20 Agustus 2003 CONTOH 1 : PERMOHONAN IZIN USAHA ANGKUTAN NAMA PERUSAHAAN / KOPERASI / PERORANGAN *) Alamat lengkap Nomor Telepon
- Kesesuaian harga yang tertera dengan biaya yang harus dibayar. 2. Tingkat Perceived Quality jika dilihat dari sudut pandang konsumen menghasilkan
BAB 6 PENUTUP 6.1. Kesimpulan Hasil pengolahan data dan analisis untuk meningkatkan persepsi kualitas ANDI S Travel dari sudut pandang penumpang rute Bandung-Cirebon PP menghasilkan kesimpulan-kesimpulan
BAB I PENDAHULUAN. sewa. Bus antarkota dalam provinsi (AKDP) adalah klasifikasi perjalanan bus
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angkutan Umum adalah kendaraan umum untuk mengangkut barang atau orang dari satu tempat ke tempat lain, yang disediakan oleh pribadi, swasta, atau pemerintah, yang
PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 14 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN PERIZINAN PENYELENGGARAAN ANGKUTAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 14 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN PERIZINAN PENYELENGGARAAN ANGKUTAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pembinaan,
KAJIAN KINERJA PELAYANAN BUS AKDP PATAS DAN EKONOMI PADA TRAYEK SURABAYA - MALANG
KAJIAN KINERJA PELAYANAN BUS AKDP PATAS DAN EKONOMI PADA TRAYEK SURABAYA - MALANG Aditya Bhaswara, Daniel Julio, Prof. Ir. Harnen Sulistio M.Sc, Ph.D, MT. dan Ir. A. Wicaksono, M. Eng, Ph.D Mahasiswa S1
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. LokasiPengamatan Lokasi pengamatan berada pada terminal Arjosari Kota Malang dan terminal Blitar. Sedangkan survei statis dilakukan di dalam bus sepanjang rute Malang-Blitar.
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Sejarah Singkat Angkutan Umum Executive CV. Karya Inhil Seiring dengan perkembangan zaman, maka berkembang pula kebutuhan manusia. Pada saat ini kebutuhan manusia semakin
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. PT. Interindo Wisata Pekanbaru yang beralamat di Jln. SM. Amin No 134,
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Sejarah Umum Perusahaan PT. Interindo Wisata Pekanbaru yang beralamat di Jln. SM. Amin No 134, Arengka II Pekanbaru adalah salah satu perusahaan jasa perjalanan
BAB 1 PENDAHULUAN 1-1
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini persaingan antar perusahaan jasa semakin ketat. Salah satu perusahaan jasa yang ada adalah perusahaan yang bergerak di bidang transportasi. Mengingat
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Umum Metodologi penelitian adalah cara mencari kebenaran dan asas-asas gejala alam, masyarakat, atau kemanusiaan berdasarkan disiplin ilmu tertentu (Kamus Besar Bahasa
2017, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Perhubungan tenta
No.516, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENHUB. Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek. Penyelenggaraan Angkutan Orang. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN ORANG DENGAN KENDARAAN BERMOTOR UMUM TIDAK DALAM TRAYEK
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN ORANG DENGAN KENDARAAN BERMOTOR UMUM TIDAK DALAM TRAYEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK
SISTEM PEMESANAN TIKET PADA JOGLOSEMAR EXECUTIVE SHUTTLE BUS SEMARANG
Perawaty Panjaitan, Nurdin Bahtiar, Sukmawati Nur Endah SISTEM PEMESANAN TIKET PADA JOGLOSEMAR EXECUTIVE SHUTTLE BUS SEMARANG Perawaty Panjaitan 1), Nurdin Bahtiar 2), Sukmawati Nur Endah 2) Alumni Program
Gambar II.1 bis sekolah gratis kota Bandung (Sumber : Dokumen pribadi 2014)
BAB II BIS SEKOLAH GRATIS KOTA BANDUNG II.1 Bis Sekolah Gratis kota Bandung II.1.1 Latar Belakang Bis Sekolah Gratis kota Bandung Pemerintah kota Bandung mengadakan bis sekolah gratis untuk para pelajar
BAB I PENDAHULUAN. pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jasa adalah tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Perkembangan teknologi dan industri membawa pengaruh besar bagi kehidupan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Perkembangan teknologi dan industri membawa pengaruh besar bagi kehidupan manusia terutama dalam dunia usaha sekarang ini. Bisnis di zaman sekarang ini telah
BAB I PENDAHULUAN. pelanggan yang semakin cerdas, sadar harga, dan banyak menuntut. Kemajuan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pesatnya persaingan dalam dunia bisnis jasa transportasi akhir-akhir ini bukan hanya disebabkan oleh faktor globalisasi, tetapi lebih disebabkan karena pelanggan
BADAN PENGELOLA TRANSPORTASI JABODETABEK (BPTJ)
FOCUS GROUP DISCUSSION REVIEW KINERJA PRASARANA TERMINAL PENUMPANG DI JABODETABEK DALAM RANGKA ANGKUTAN LEBARAN TAHUN 2016/1437 H BADAN PENGELOLA TRANSPORTASI JABODETABEK (BPTJ) 10 TERMINAL DI WILAYAH
BUPATI KUDUS PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 10 TAHUN 2005 TENTANG PEMBERIAN SURAT IZIN KERJA (SIK) DI TERMINAL BUS KABUPATEN KUDUS BUPATI KUDUS,
BUPATI KUDUS PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 10 TAHUN 2005 TENTANG PEMBERIAN SURAT IZIN KERJA (SIK) DI TERMINAL BUS KABUPATEN KUDUS BUPATI KUDUS, Menimbang : a. bahwa dengan semakin banyaknya Perusahaan Otobus
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tempat lainnya dengan menggunakan sebuah kendaraan yang digerakkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Transportasi Transportasi adalah perpindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah kendaraan yang digerakkan oleh manusia atau mesin.
KAJIAN KINERJA OPERASIONAL DAN PELAYANAN ANGKUTAN KARYAWAN DI KAWASAN INDUSTRI JABABEKA I CIKARANG
KAJIAN KINERJA OPERASIONAL DAN PELAYANAN ANGKUTAN KARYAWAN DI KAWASAN INDUSTRI JABABEKA I CIKARANG Panji Pasa Pratama *1, Harnen Sulistio 2, Achmad Wicaksono 2 1 Mahasiswa / Program Magister / Jurusan
BAB III LANDASAN TEORI. instasi pemerintah berdasarkan indikator indikator teknis, administrasif dan
BAB III LANDASAN TEORI A. Standar Operasional Prosedur ( SOP ) Standar Operasional Prosedur adalah pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Transportasi Transportasi adalah pergerakan orang dan barang bisa dengan kendaraan bermotor, kendaraan tidak bermotor atau jalan kaki, namun di Indonesia sedikit tempat atau
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Secara spesifik, tahapan-tahapan langkah yang diambil dalam menghitung
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Langkah Kerja Penelitian Secara spesifik, tahapan-tahapan langkah yang diambil dalam menghitung Kepuasan Operator bus dan kepuasan bersama adalah sebagai berikut :. START
EVALUASI KINERJA OPERASIONAL PELAYANAN TERMINAL TIPE C PADA TERMINAL PADANGAN DI KABUPATEN MOJOKERTO
EVALUASI KINERJA OPERASIONAL PELAYANAN TERMINAL TIPE C PADA TERMINAL PADANGAN DI KABUPATEN MOJOKERTO FERI ANDRI SELFIAN Mahasiswa Program DIII Manajemen Transportasi Program Jurusan Teknik Sipil, Fakultas
I-1 BAB I PENDAHULUAN
I-1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. TINJAUAN UMUM Dalam suatu wilayah atau area yang sedang berkembang terjadi peningkatan volume pergerakan atau perpindahan barang dan manusia yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan
PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MAGELANG,
1 WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MAGELANG, Menimbang : a. bahwa angkutan jalan sebagai salah
BAB I PENDAHULUAN. Dalam upaya mewujudkan pembangunan pemerintah kota pekanbaru
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam upaya mewujudkan pembangunan pemerintah kota pekanbaru Tahun 2012-2017 kota pekanbaru telah ditetapkan sebagai pusat pembangunan wilayah dengan segala konsekuensinya,
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Dari hasil pengolahan data dan analisis yang dilakukan terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh pihak Kramat Djati, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut
BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN
BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN 3.1 Sejarah Organisasi PT Garuda Jaya Sumbar Indah (PT. GJSI) merupakan perusahaan keluarga yang berdiri sejak tahun 1985. PT Garuda Jaya Sumbar Indah bergerak dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Penelitian Sejarah Singkat Perusahaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Penelitian 1.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan Baraya travel merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa transportasi yang saat ini melayani rute perjalanan Jakarta-Bandung.
III. METODOLOGI PENELITIAN. penelitian. Untuk mendapatkan data-data yang diperlukan dalam penelitian ini
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Umum Metodologi penelitian merupakan suatu cara peneliti bekerja untuk memperoleh data yang dibutuhkan yang selanjutnya akan digunakan untuk dianalisa sehingga memperoleh
INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)
INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) INSTANSI : DINAS PERHUBUNGAN KOTA PROBOLINGGO VISI : Pelayanan Jasa Perhubungan yang Berkualitas, Ramah Lingkungan dan Terjangkau Bagi Masyarakat MISI : Mengutamakan Kenyamanan,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan Jasa angkutan umum PT. Primajasa Perdanarayautama adalah perusahaan berbadan hukum yang didirikan sejak 6 September
STANDAR USAHA ANGKUTAN JALAN WISATA. NO ASPEK UNSUR NO SUB UNSUR I. I PRODUK A. Mobil Bus Wisata
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR USAHA ANGKUTAN JALAN WISATA STANDAR USAHA ANGKUTAN JALAN WISATA I. I PRODUK A. Mobil Bus.
BAB I PENDAHULUAN. pemerintah, yang dapat digunakan oleh siapa saja dengan cara membayar atau
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angkutan umum adalah kendaraan umum untuk mengangkut barang atau orang dari satu tempat ke tempat lain, yang disediakan oleh pribadi, swasta, atau pemerintah, yang
BAB I PENDAHULUAN. perkembangan sarana dan prasarana pendukung salah satunya adalah sarana
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ekonomi suatu negara atau daerah tidak terlepas dari pengaruh perkembangan sarana dan prasarana pendukung salah satunya adalah sarana transportasi. Transportasi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN START
BAB III 3.1. Persiapan Persiapan yang dilakukan yaitu pemahaman akan judul yang ada dan perancangan langkah langkah yang akan dilakukan dalam analisa ini. Berikut adalah diagram alir kerangka pikir analisa.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Suatu proses bidang kegiatan dalam kehidupan masyarakat yang paling
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Suatu proses bidang kegiatan dalam kehidupan masyarakat yang paling penting ialah transportasi. Transportasi sangatlah penting bagi masyarakat karena suatu
dimungkinkan terletak diantara pertemuan perencanaan suatu terminal jalur arteri primer Jl. Bekas
2.1 STUDI KASUS TERMINAL PULO GADUNG Dalam studi kasus Terminal Pulogadung ini, mengacu pada standar perencanaan dan perancangan dari studi literatur dan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat.
PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN
PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG T E R M I N A L DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PEKALONGAN, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan
BAB I PENDAHULUAN. tempat ketempat lainnya dengan cepat. Hampir tidak ada lagi tempat-tempat yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Seiring dengan meningkatnya perkembangan zaman, maka meningkat pula segala kegiatan manusia untuk memenuhi keperluannya. Salah satu diantaranya adalah kebutuhan
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR 5.1 Program Dasar Perencanaan 5.1.1 Pelaku Kegiatan Pengguna bangunan terminal adalah mereka yang secara langsung melakukan ativitas di dalam terminal
TERMINAL PENUMPANG/TERMINAL BUS
TERMINAL PENUMPANG/TERMINAL BUS Terminal Bus adalah tempat sekumpulan bus mengakhiri dan mengawali lintasan operasionalnya. Dengan mengacu pada definisi tersebut, maka pada bangunan terminal penumpang
BUPATI JEMBER SALINAN PERATURAN BUPATI JEMBER NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PENYESUAIAN JARINGAN TRAYEK DALAM WILAYAH KOTA KABUPATEN JEMBER
BUPATI JEMBER SALINAN PERATURAN BUPATI JEMBER NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PENYESUAIAN JARINGAN TRAYEK DALAM WILAYAH KOTA KABUPATEN JEMBER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBER, Menimbang : a.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kota Jakarta merupakan Kota Megapolitan yang ada di Indonesia bahkan Jakarta menjadi Ibu Kota Negara Indonesia yang memiliki luas sekitar 661,52 km² (lautan:
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sumber kebutuhan manusia tidak berada di sembarang tempat, sehingga terjadi. 1. manusia yang membutuhkan perangkutan,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Pustaka Menurut Munawar (2005), angkutan dapat didefinisikan sebagai pemindahan orang dan atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan.
Kuisioner Penumpang Bus Damri Dari Bandara
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ESA UNGGUL Jl. Arjuna Utara No. 9 Tol Tomang Kebon Jeruk Jakarta Barat 11150 Bapak/Ibu yang saya hormati, Saya mahasiswa Program Studi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan. penumpang, bus kecil, bus sedang,dan bus besar.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Angkutan Umum Angkutan Umum dapat didefinisikan sebagai pemindahan manusia dan barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan. Kendaraan umum adalah setiap
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan dari hasil seluruh analisis dan pembahasan dalam tugas akhir
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Berdasarkan dari hasil seluruh analisis dan pembahasan dalam tugas akhir ini dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu sebagai berikut: 1. dari hasil analisis
BAB V PENUTUP A. Simpulan
BAB V PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dengan judul Penerapan Customization Layanan dalam Meningkatkan Kepuasan Konsumen Di PO. Haryanto Kudus dan uraian pada bab-bab sebelumnya dari analisis
PERATURAN DAERAH KOTA PRABUMULIH NOMOR 8 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI IZIN TRAYEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PRABUMULIH,
1 PERATURAN DAERAH KOTA PRABUMULIH NOMOR 8 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI IZIN TRAYEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PRABUMULIH, Menimbang : a. bahwa dengan telah terbentuknya Kota Prabumulih,
BADAN PENGELOLA TRANSPORTASI JABODETABEK (BPTJ)
FOCUS GROUP DISCUSSION REVIEW KINERJA PRASARANA TERMINAL PENUMPANG DI JABODETABEK DALAM RANGKA ANGKUTAN LEBARAN TAHUN 2016/1437 H BADAN PENGELOLA TRANSPORTASI JABODETABEK (BPTJ) Badan Pengelola Transportasi
BUPATI ROKAN HILIR PERATURAN DAERAH ROKAN HILIR NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN ANGKUTAN UMUM DI JALAN
BUPATI ROKAN HILIR PERATURAN DAERAH ROKAN HILIR NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN ANGKUTAN UMUM DI JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI ROKAN HILIR, Menimbang : a. bahwa dalam rangka
BAB II GAMBARAN UMUM
BAB II GAMBARAN UMUM A. Sejarah Singkat Perusahaan Sejak pertengahan juni 2009, kota Pekanbaru telah memiliki fasilitas angkutan umum dengan mengedepankan paradigma pelayanan angkutan umum yang baru dan
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota Putussibau Pontianak Kalimantan Barat, dilihat dari potensi daerahnya merupakan salah satu daerah yang memiliki perkembangan sangat pesat. Kota putussibau merupakan
2016, No Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5208); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Lembaran N
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.413, 2016 KEMENHUB. Penumpang dan Angkutan Penyeberangan. Daftar. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 25 TAHUN 2016 TENTANG DAFTAR
