LAPORAN INSENTIF RISET TERAPAN 2007

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "LAPORAN INSENTIF RISET TERAPAN 2007"

Transkripsi

1 PERAKITAN VARIETAS KACANG PANJANG TAHAN HAMA APHID DAN VIRUS MOSAIK SERTA BERDAYA HASIL TINGGI LAPORAN PROGRAM INSENTIF RISET TERAPAN 2007 Oleh : Kuswanto Budi Waluyo Aminudin Afandhi Heru Kuswantoro Lembaga Penelitian Universitas Brawijaya KEMENTERIAN NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA

2 LEMBAR PENGESAHAN Judul Penelitian Bidang Penelitian Topik penelitian Program Iptek Lama Penelitian DATA RISET : Perakitan Varietas Kacang Panjang Tahan Hama Aphid dan Virus Mosaik serta Berdaya Hasil Tinggi : Ketahanan Pangan : Pemuliaan Tanaman : Terapan : 2 tahun Tahun mulai Riset : 2007 Tahun selesai Riset : 2008 PENELITI UTAMA Nama lengkap : Dr. Ir. Kuswanto, MS Tempat & Tanggal Lahir : Jenis Kelamin : Laki-laki Unit Kerja : Fakultas Pertanian Unibraw SURAT PERJANJIAN TERAKHIR a. Nomor : 39/RT/Insentif/PPK/2007 b. Tanggal : 15 Januari 2007 Mengetahui Malang, 31 Oktober 2007 An. Ketua Lembaga Penelitian Universitas Brawijaya Peneliti Utama, Sekretaris, Ttd ttd Prof. Dr. Ir. Siti Chuzaemi, MS Dr. Ir. Kuswanto, MS NIP NIP

3 DAFTAR ISI Hal DAFTAR ISI 3 DAFTAR GAMBAR 4 DAFTAR TABEL 5 BAB I PENDAHULUAN 7 BAB II STUDI PUSTAKA 10 BAB III PROSEDUR DAN METODOLOGI 16 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 22 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 57 DAFTAR PUSTAKA 58 LAMPIRAN 3

4 DAFTAR GAMBAR Nomor 1 Grafik intensitas serangan Aphid pada persilangan UB34041 x UB Grafik intensitas serangan CABMV pada persilangan UB34041 x UB Grafik intensitas serangan Aphid pada persilangan UB44074 x UB705 4 Grafik intensitas serangan CABMV pada populasi persilangan UB44074 x UB705 5 Grafik intensitas serangan Aphid pada persilangan UB44558 x UB733 6 Grafik intensitas serangan Aphid pada persilangan UB44590 x UB Grafik intensitas serangan CABMV pada populasi persilangan UB44590 x UB Grafik intensitas serangan Aphid pada populasi persilangan UB14023 x UB Grafik intensitas serangan CABMV pada populasi persilangan UB14023 x UB1275 hal

5 Nomor DAFTAR TABEL 1 Genotip/galur yang disilangkan 17 2 Seri Persilangan yang Dibuat Berdasarkan Pemilihan Acak 18 3 Seri persilangan yang terpilih untuk kegiatan silang balik 19 4 Data Karakter Polong Muda dan Polong Kering Setiap Genotip yang Ditanam 5 Seri Persilangan untuk silang balik 21 6 F1 yang disilangkan sendiri 21 7 Intensitas Serangan (%) Aphid pada Persilangan UB34041 x UB Intensitas Serangan (%) CABMV pada Persilangan UB34041 x UB Heritabilitas ketahanan pada Persilangan UB34041 x UB Intensitas Serangan (%) Aphid pada Persilangan UB44074 x UB Intensitas Serangan (%) CABMV pada Persilangan UB44074 x UB Heritabilitas ketahanan pada Persilangan UB44074 x UB Intensitas Serangan (%) Aphid pada Persilangan UB44558 x UB Intensitas Serangan (%) CABMV pada Persilangan UB44558 x UB Heritabilitas ketahanan pada Persilangan UB44558 x UB Intensitas Serangan (%) Aphid pada Persilangan UB44590 x UB Intensitas Serangan (%) CABMV pada Persilangan UB44590xUB Heritabilitas Ketahanan pada Persilangan UB44590 x UB Intensitas Serangan (%) Aphid pada Persilangan UB14023 x UB Intensitas Serangan (%) CABMV pada Persilangan UB14023xUB Heritabilitas Serangan Aphid pada Persilangan UB14023 x UB Nilai χ 2 hitung hasil uji Chi Square ketahanan terhadap Aphid pada populasi F2 hasil persilangan UB34041 x UB Nilai χ 2 hitung uji Chi Square ketahanan terhadap CABMV 35 5 Hal

6 pada populasi F2 hasil persilangan UB34041 x UB Uji Skala serangan Aphid pada persilangan UB34041 x UB Uji Skala serangan CABMV pada persilangan UB34041 x UB Rata-rata dan Heritabilitas Komponen Hasil Seri Persilangan UB34041 x UB Nilai X2 hitung uji Chi Square ketahanan terhadap Aphid pada populasi F2 hasil persilangan UB44074 x UB Nilai X2 hitung uji Chi Square ketahanan terhadap CABMV pada populasi F2 hasil persilangan UB44074 x UB Rata-rata dan Heritabilitas Komponen Hasil Seri Persilangan UB44074 x UB Uji Skala serangan Aphid pada persilangan UB44074 x UB Uji Skala serangan CABMV pada persilangan UB44074 x UB Nilai X2 hitung uji Chi Square ketahanan terhadap Aphid pada populasi F2 hasil persilangan UB44558 x UB Nilai X2 hitung uji Chi Square ketahanan terhadap CABMV pada populasi F2 hasil persilangan UB44558 x UB Rata-rata dan Heritabilitas Komponen Hasil Seri Persilangan UB44558 x UB Nilai X2 hitung uji Chi Square ketahanan terhadap Aphid pada populasi F2 hasil persilangan UB44590 x UB Nilai X2 hitung uji Chi Square ketahanan terhadap CABMV pada populasi F2 hasil persilangan UB44590 x UB Rata-rata dan Heritabilitas Komponen Hasil Seri Persilangan UB44590 x UB Uji Skala serangan Aphid pada persilangan UB44590 x UB Nilai X2 hitung uji Chi Square ketahanan terhadap Aphid pada populasi F2 hasil persilangan UB14023 x UB Nilai X2 hitung uji Chi Square ketahanan terhadap CABMV pada populasi F2 hasil persilangan UB14023 x UB Rata-rata dan Heritabilitas Komponen Hasil Seri Persilangan UB14023 x UB Uji Skala serangan Aphid pada persilangan UB14023 x UB BAB I. PENDAHULUAN 6

7 1.1 Kerangka Riset Produktivitas polong segar rata-rata yang mampu dicapai petani masih tergolong rendah, 4,8 t/ha, sedang potensi di tingkat penelitian dapat mencapai rata-rata 17,4 t/ha. Penyebab rendahnya produksi adalah penyakit mosaik yang disebabkan oleh cowpea aphid borne mosaic virus (CABMV) dan hama aphid. Kehilangan hasil akibat komplek hama dan penyakit tersebut mencapai 60%. Perakitan varietas unggul kacang panjang tahan terhadap virus mosaik dan hama aphid serta berdaya hasil tinggi bertujuan untuk menjaga stabilitas produksi dan menjaga kualitas polong segar yang bebas pestisida. Dengan varietas tahan, kehilangan produksi dan penggunaan pestisida dapat ditekan dan dampak residu terhadap lingkungan menjadi lebih kecil. Dari hasil penelitian sebelumnya telah diperoleh galur-galur yang bereaksi tahan terhadap virus mosaik dan berdaya hasil tinggi. Sementara dari penelitian yang lain telah diperoleh galur-galur yang tahan terhadap hama aphid dan berdaya hasil tinggi. Kedua kelompok galur tersebut dapat disilangkan untuk dirakit menjadi varietas yang tahan terhadap virus mosaik, hama aphid dan berdaya hasil tinggi. Dalam perakitan varietas tahan, diperlukan informasi tentang keragaman genetik ketahanan dan daya hasil serta peran dan jumlah gen ketahanan dari pasangan persilangan. Jumlah dan peran gen dan keragaman genetik diduga dari populasi F2. Dari nilai tersebut dapat ditentukan metode seleksi dan teknik perbaikan genetik ketahanan dan daya hasil. 1.2 Permasalahan Masalah utama dalam peningkatan kualitas dan produksi polong kacang panjang adalah serangan hama dan penyakit. Penyakit penting yang sering menurunkan produksi pada kacang panjang adalah serangan hama aphid dan penyakit mosaik akibat virus mosaik. Dalam pengendalian hama dan penyakit, petani sering menggunakan pestisida sejak umur hari 7

8 dengan interval antara 3-10 hari sekali. Cara ini tidak efektif, tidak efisien, berbahaya terhadap lingkungan dan manusia serta terjadi peningkatan resistensi patogen. Pengendalian yang paling tepat adalah bersifat pencegahan dengan menggunakan varietas tahan. 1.3 Pendekatan Masalah Penanaman varietas tahan dapat mencegah kehilangan hasil, biaya pestisida dapat ditekan, aman terhadap lingkungan dan dapat mencegah residu pestisida pada manusia. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, diperoleh galur-galur yang tahan terhadap virus mosaik, namun tidak tahan terhadap hama aphid, sehingga pada penanaman di lapangan tetap terserang hama aphid. Galur tersebut perlu diinsersi gen ketahanan terhadap aphid agar menjadi galur yang tahan terhadp virus mosaik, hama aphid dan berdaya hasil tiggi. Dari penelitian yang lain telah diperoleh galurgalur yang tahan terhadap hama aphid dan berdaya hasil tinggi. 1.4 Hipotesis Persilangan antar galur kacang panjang tahan terhadap virus mosaik berdaya hasil tinggi dengan galur tahan aphid dan berdaya hasil tinggi, yang diikuti dengan metode seleksi yang tepat, akan dapat diperolah galur-galur harapan kacang panjang yang tahan terhadap virus mosaik dan hama aphid serta berdaya hasil tinggi 1.5 Metode Riset Metode riset yang digunakan meliputi metode persilangan, pendugaan keragaman genetik dan pendugaan jumlah serta peran gen. Persilangan antar tanaman menggunakan metode persilangan IITA Research Guide 42 Hand Crossing of Cowpea (Myers, 1996) dan metode dari PT BISI Kediri. Pendugaan keragaman genetik menggunakan heritabilitas arti luas dan arti sempit. Pendugaan jumlah gen menggunakan analisis segregasi, sedangkan pendugaan peran gen menggunakan uji skala. 8

9 1.6 Arti Penting Riset Hasil akhir dari penelitian ini adalah galur-galur harapan kacang panjang yang tahan terhadap virus mosaik dan hama aphid serta berdaya hasil tinggi. Apabila galur harapan ini dapat segera disebarkan ke masyarakat, maka pada setiap penanaman kacang panjang akan dapat dikurangi atau dihindari penggunaan pestisida. Polong kacang panjang yang diperoleh akan bebas pestisida, sehingga mencegah dampak negatif terhadap manusia dan lingkungan. Kerusakan hasil akibat hama dan penyakit juga dapat dikurangi sehingga hasil polong secara keseluruhan menjadi lebih tinggi. 9

10 BAB II. STUDI PUSTAKA 2.1 Penyakit mosaik dan hama aphid Masalah utama dalam peningkatan kualitas dan produksi polong kacang panjang adalah serangan hama dan penyakit. Penyakit utama yang sering menurunkan produksi pada kacang panjang adalah penyakit mosaik yang disebabkan oleh cowpea aphid borne mosaic virus (CABMV). Daun tanaman yang sakit terdapat gejala mosaik dengan warna hijau dan kuning berselang-seling yang sangat jelas. Terdapat warna hijau gelap di antara tulang daun (dark green vein-banding) atau klorosis interveinal (urat daun), distorsi daun, melepuh dan tanaman menjadi kerdil. Polong dan daun menjadi tidak berkembang, ukuran biji berkurang sehingga produksi secara keseluruhan menurun (Bock and Conti, 1974; Sulyo, 1984; Brunt, 1994a; Moedjiono dkk., 1999). Infeksi virus mosaik pada berbagai tingkat umur menghambat pertumbuhan generatif tanaman (Nurhayati, 1989). Infeksi pada awal pertumbuhan menyebabkan penurunan jumlah polong dan jumlah biji/tanaman masing-masing sebesar 91,39% dan 91,82 % (Sulyo, 1984). CABMV penyebab penyakit mosaik termasuk kedalam potyvirus yang ditularkan secara non persisten oleh beberapa jenis aphid. Beberapa aphid yang bertindak sebagai vektor adalah Myzus persicae, Aphis craccivora, A.fabae, A.gossypii, A.medicaginis dan Macrosiphum euphorbiae (Bock and Conti, 1974; Atiri and Thottappilly, 1984; Brunt, 1994a). CABMV tersebar ke berbagai tempat di dunia juga melalui penularan antar benih dan tanaman terinfeksi (Ndiaye et al., 1993). Virus ini dapat ditularkan secara mekanis melalui cairan perasan daun tanaman sakit (Atiri and Thottappilly, 1984; Hampton et al., 1997). Selain penyakit mosaik, masalah lain yang dihadapi petani dalam budidaya kacang panjang adalah serangan hama aphid. Aphid atau kutu daun (Aphis craccivora Koch) adalah hama utama pada kacang panjang. Aphid hinggap di permukaan bawah daun dan di pucuk-pucuk sulur untuk menghisap cairan tanaman. Daun menjadi keriting dan berkerut, pertumbuhan sulur terhenti dan mati. Aphid juga sering menyerang bunga 10

11 dan polong. Pada tanaman yang terserang, produksi polong dan biji sangat rendah. Tanaman menjadi kerdil dan menjadi cacat ketika populasi meningkat (Ulrichs, 2001). Tanaman yang terserang berat akan menghasilkan daun-daun berwarna kekuningan, kerdil, mengalami malformasi dan kehilangan vigor. Semakin banyak aphid yang menyerang tanaman, daun dan pucuk sulur semakin banyak yang rusak dan akhirnya mati. Apabila yang ditanam jenis rentan dan aphid yang menyerang tidak dikendalikan, maka kerugian hasil rata-rata mencapai 65-70% (Prabaningrum, 1996; Moedjiono et al., 1999). Aphid juga bertindak sebagai vektor cowpea aphid borne mosaic virus (CABMV) yang menyebabkan penyakit mosaik. Aphid kacang panjang yang telah hinggap di daun tanaman, baik yang muda dan dewasa, akan menghisap cairan sel tanaman. Mereka juga ditemukan di pucuk tanaman, bunga dan polong yang sedang berkembang (Schreiner, 2000). Tanaman yang terserang akan mengalami peningkatan laju respirasi, bentuk daun berubah, pertumbuhan kerdil dan bintil akar mengecil. Aphid juga menghasilkan embun madu (honeydew) dan menyebabkan pertumbuhan jamur embun jelaga yang menghambat fotosintesis (Stoll, 1988). Hama aphid merupakan kutu daun yang biasanya membentuk koloni pada daun, batang maupun polong kacang panjang dan menyebabkan polong tidak berkembang. Hasil pengujian beberapa galur kacang panjang terhadap kompleks hama dan penyakit (Moedjiono, Trustinah dan Kasno, 1999) juga menunjukkan bahwa aphid merupakan hama utama yang menyerang kacang panjang. Kondisi realistis di lapang, dalam pengendalian hama dan penyakit, petani sering menggunakan pestisida sejak umur hari dengan interval antara 3-10 hari sekali. Penggunaan pestisida merupakan bagian penting dari proses budidaya tanaman yang tidak mungkin ditinggalkan petani. Banyak petani yang menggunakan pestisida paling manjur, sehingga praktek campur-mencampur pestisida tidak dapat dihindarkan dan penggunaan pestisida menjadi sangat berlebihan. Banyak petani tidak 11

12 menyadari bahwa pencampuran berbagai jenis pestisida, atau pestisida dengan bahan-bahan lain seperti detergen, olie dan minyak tanah, berbahaya bagi kesehatan dan mungkin tidak efektif karena terjadinya resistensi silang hama dengan beberapa jenis pestisida (Untung, 2001). 2.2 Pengendalian hama dan penyakit Cara pengendalian menggunakan pestisida, sangat tidak efektif dan tidak efisien, karena selain membahayakan kesehatan masyarakat, juga berresiko negatip terhadap lingkungan hidup, mengurangi daya saing produk pertanian di pasar global serta terjadinya penurunan efektifitas dan efisiensi pengendalian hama. Pengendalian yang lebih ekomonis adalah penggunaan varietas tahan. Perakitan varietas tahan merupakan alternatif penting dalam perbaikan dan sanitasi produksi. Dengan penanaman varietas tahan virus mosaik dan hama aphid maka penggunaan pestisida dapat dikurangi, lebih aman terhadap lingkungan dan manusia, kehilangan hasil dan beaya produksi dapat ditekan, hasil polong lebih sehat dan konsumen tidak enggan mengkonsumsi. Strategi pengendalian penyakit tanaman dapat dilakukan dengan menurunkan laju infeksi penyakit. Penurunan tersebut antara lain dengan penggunaan varietas tahan penyakit dan protektan (Triharso, 1996). Ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit merupakan kemampuan tanaman untuk mengurangi kerusakan secara umum yang diakibatkan oleh serangan hama atau penyakit (Sumarno, 1992). Secara alamiah kacang panjang mempunyai ketahanan tertentu terhadap penyakit, yaitu ketahanan yang dikendalikan oleh gen-gen. Perkembangan gen ketahanan terjadi sebagai hasil evolusi tanaman inang dan patogen yang telah berlangsung lama dan dapat terbentuk banyak tanaman dengan tingkat ketahanan yang beragam. Pada tanaman yang telah mengalami penggaluran, keragaman tersebut semakin tinggi sehingga dapat diseleksi untuk mendapatkan genotipa yang tahan (Triharso, 1996). Dari genotip tahan dapat dipelajari dan dievaluasi sebagai informasi awal dalam kegiatan perbaikan ketahanan tanaman. Seleksi yang dilaksanakan 12

13 oleh Balitkabi (1998) telah dapat menghasilkan beberapa genotipa kacang panjang dengan reaksi ketahanan terhadap virus mosaik yang berbeda, yaitu tahan, agak tahan, agak rentan dan rentan. Dari genotipa tahan dan agak tahan dapat dipelajari dan dievaluasi sebagai informasi awal dalam kegiatan perbaikan ketahanan tanaman terhadap penyakit mosaik yang disebabkan oleh virus mosaik. Varietas tahan terhadap virus mosaik dapat dirakit dari galur-galur dan hasil seleksi yang mempunyai sifat ketahanan. Ketahanan tanaman merupakan metode yang paling baik dalam pengendalian penyakit virus pada kacang tunggak (Fery and Singh, 1997). Penggunaan kacang panjang varietas tahan terhadap hama aphid tidak dapat menekan perkembangan virus mosaik, karena transmisi virus mosaik tidak hanya melalui aphid (Atiri and Thottappilly, 1984). Menurut saleh dkk. (1993) penggunaan varietas tahan perhadap infeksi virus mosaik dan benih sehat merupakan salah satu alternatif pengendalian penyakit mosaik. Varietas tahan terhadap penyakit (Moedjiono dkk., 1999) adalah salah satu komponen stabilitas hasil varietas kacang panjang. Dengan tersedianya varietas unggul yang memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit, maka kehilangan hasil dan biaya produksi dapat ditekan, serta aman terhadap kelestarian lingkungan. Salah satu tipe ketahanan tanaman yang cocok untuk tanaman kacang panjang adalah toleransi. Toleransi (Smith, 1989) merupakan salah satu tipe ketahanan yang dicirikan dengan hadirnya penyakit namun kerugian yang ditimbulkan minimal. Prosedur pemuliaan untuk ketahanan kacang panjang terhadap hama dan mengikuti metode pemuliaan yang telah banyak diterapkan para pemulia. Beberapa faktor perlu dipertimbangkan dalam memilih prosedur adalah cara pewarisan sifat ketahanan, cara pembiakan tanaman, sifat unggul salah satu tetua, adaptasi dan sifat agronomis tetua sumber gen ketahanan, aksi gen, heritabilitas, cara penularan hama dan minat serta preferensi peneliti (Sumarno, 1992; Soetopo dan Saleh, 1992). Aphid dengan strategi berkembangbiak reproduktif memberikan peluang besar untuk dilakukan skrining dan evaluasi ketahanan di lapang. Siklus 13

14 perkembangbiakan yang cepat juga dapat meningkatkan efisiensi terhadap penilaian ketahanan tanaman di lapang. Penularan secara alami di lapang juga memberikan gambaran akan kondisi sebenarnya di lapang. Berdasarkan pengalaman di lapang, aphid akan selalu muncul dimanapun kacang panjang di tanam. Apabila yang ditanam jenis rentan dan aphid yang menyerang tidak dikendalikan, maka kerugian hasil rata-rata mencapai 65-70% (Prabaningrum, 1996; Moedjiono et al., 1999). Menurut Sumarno (1992), apabila suatu varietas unggul akan diperbaiki ketahanannya terhadap hama atau penyakit, namun ingin dipertahankan sifat-sifat unggulnya, maka petode pemuliaan yang paling tepat adalah back cross, terutama apabila gen donor untuk sifat dikendalikan oleh gen tahan monogenik dan heritabilitas tinggi. Apabila heritabilitas agak rendah atau sedang, maka lebih tepat menggunakan metode bulk dengan seleksi massa. Melalui metode bulk, akan terbentuk banyak famili karena pada setiap individu tanaman F2 akan dijadikan famili. Setelah melalui penyerbukan sendiri selama 3-4 kali diperkiran akan terbentuk keragaman antar famili-famili homosigot yang dapat diseleksi sifat ketahanan atau toleransinya. Pemilihan metode ini juga didukung oleh sifat aphid dalam menyerang kacang panjang, dimana penularannya mudah dilakukan secara alami di lapangan. Menurut Sumarno (1992) Aphid adalah hama yang cara penularannya mudah dilakukan di lapang tanpa inokulasi buatan, sehingga penggunaan metode bulk dan seleksi massa adalah paling tepat. Sumber genetik bahan persilangan telah tersedia dari penelitian sebelumnya. Sumber genetik ketahanan terhadap virus mosaik telah berupa galur-galur harapan yang mempunyai reaksi tahan terhadap virus mosaik dan berdaya hasil tinggi (Kuswanto et al., 2005). Galur-galur tersebut merupakan hasil seleksi dari koleksi di Unibraw yang sedang disiapkan untuk di disebarkan ke masyarakat (Kuswanto et al., 2006a). Sumber genetik ketahanan terhadap hama dan berdaya hasil tinggi sedang dalam tahap penelitian yang diperkirakan akan terbentuk galur-galur tahan hama aphid pada awal tahun 2007 (Kuswanto et al., 2006b). 14

15 Persilangan antara galur-galur yang tahan terhadap virus mosaik berdaya hasil tinggi dengan galur-galur yang tahan terhadap hama aphid berdaya hasil tinggi akan dapat diperoleh galur-galur harapan yang tahan terhadap virus mosaik, tahan terhadap hama aphid serta berdaya hasil tinggi. Evaluasi keragaman genetik, pendugaan peran gen, kajian pola pewarisan dan penentuan metode seleksi yang tepat perlu diterapkan agar diperoleh hasil varietas tahan yang maksimal. Varietas kacang panjang yang mempunyai ketahanan terhadap hama dan penyakit utama sekaligus, akan mempunyai nilai ekonomis dalam jangka waktu lama. Hasil yang diperoleh diharapkan segera dapat disebarkan ke masyarakat untuk membantu memecahkan berbagai permasalahan di atas. 15

16 BAB III. PROSEDUR DAN METODOLOGI Kegiatan 1 : Pembentukan populasi hasil persilangan Tempat : Kebun percobaan FP Universitas Brawijaya Waktu : Desember 2006-Maret 2007 (persilangan pertama) Maret 2007-Juni 2007 (persilangan kedua) Bahan : 5 populasi P1 berupa galur-galur Unibraw tahan virus mosaik (Kuswanto et al., 2005) dan 5 populasi P2 berupa galur-galur Unibraw tahan hama aphid (Kuswanto et al., 2006) Metode Persilangan : Persilangan tanaman, untuk pembentukan F1, BC1.1 dan BC1.2, dilaksanakan di screen house dengan menggunakan metode gabungan antara IITA Research Guide 42 Hand Crossing of Cowpea (Myers, 1996) dan metode dari PT BISI. Kedua metode dikerjakan bergantian tergantung jumlah bunga yang terbentuk. Tahap persiapan terdiri atas 2 kali penanaman, yaitu persilangan antar tetua untuk menghasilkan populasi F1, persilangan balik dan penanaman F1 untuk menghasilkan BC1.1, BC1.2 dan F2 Prosedur : Galur-galur tetua ditanam di lapangan masing-masing 20 tanaman tiap galur sehingga seluruhnya 200 tanaman. Ajir dipasang miring sekitar 90 untuk memudahkan persilangan. Selain persilangan biasa, juga dilakukan persilangan resiprok. Terdapat 5 pasang persilangan dan dari semua persilangan akan dihasilkan 5 populasi F1 dan dan 5 populasi F1r. Pada penanaman ke dua, F1 dan F1r disilangkan dengan masing-masing tetua untuk menghasilkan 5 populasi BC1.1 dan 5 populasi BC1.2. Sebagian tanaman F1 dan F1r dibiarkan menyerbuk sendiri untuk menghasilkan F2. 16

17 Penelitian 1 : (kegiatan 2) Evaluasi keragaman genetik ketahanan kacang panjang terhadap virus mosaik dan hama aphid serta berdaya hasil tinggi Tempat : Kebun percobaan FP Universitas Brawijaya Waktu : Juni 2007 Oktober 2007 Tujuan : Untuk mengetahui keragaman genetik dan daya waris sifat ketahanan terhadap virus mosaik dan hama aphid dari populasi F2 Bahan : 5 populasi P1 berupa galur-galur Unibraw tahan virus mosaik (Kuswanto et al., 2005) dan 5 populasi P2 berupa galurgalur Unibraw tahan hama aphid (Kuswanto et al., 2006), 5 populasi F1, F1r, F2, F2r, BC1.1 dan BC1.2. Terdapat 5 pasangan persilangan. Metode : Evaluasi keragaman genetik diduga heritabilitas arti luas dan heritabilitas arti sempit. Heritabilitas arti luas, untuk mengetahui proporsi ragam genetik terhadap ragam penotip. Heritabilitas arti sempit, untuk mengetahui proporsi ragam genetik aditif terhadap ragam penotip. Pendugaan heritabilitas berdasarkan pengurangan ragam penotip dengan ragam lingkungan Prosedur : P1, P2, masing-masing ditanam 100 tanaman F1, BC1.1, BC1.2 masing-masing di tanam 50 tanaman dan F2 ditanam 500 tanaman agar dapat mengimbangi keragaman yang besar pada generasi segregasi (Mather and Jinks, 1982; Suwarso, 1995; Kuswanto, 2002). Penanaman dilakukan di kebun percobaan FP Unibraw pada awal musim kemarau. Pada umur 2 minggu dilakukan inokulasi virus secara mekanis, yaitu dengan mengoleskan sap (cairan perasan daun) pada permukaan atas daun termuda yang telah membuka penuh, dan telah ditaburi karborundum 600 mesh 17

18 (Noordam, 1973). Sumber inokulum telah tersedia di Laboratorium Pemuliaan Tanaman Unibraw (Kuswanto dkk, 2005). Inokulan disiapkan dengan cara menumbuk halus 1 g daun terinfeksi, ditambah larutan buffer fosfat ph 7 0,01 M dengan perbandingan 1:5 (b/v) kemudian disaring (Nurhayati, 1989; Trustinah, 1999). Denah penanaman untuk satu pasangan persilangan adalah sebagai berikut : P1 P2 BC F1 1.1 BC 1.2 F2 keterangan : : tanaman rentan Seluruhnya terdapat 5 pasangan persilangan, sehingga kondisi di lapangan adalah 5 kali gambar tersebut. Dua minggu sebelum tanam, ditanam dahulu kacang panjang yang rentan terhadap Aphid (hijau super) sebagai sumber penularan hama. Pengamatan : Analisis Data : Skala gejala serangan virus mosaik, skor kerusakan daun, rata-rata populasi aphid per 3 trifoliet pada 3 tanaman contoh, umur berbunga, jumlah polong, panjang polong, bobot polong Metode pendugaan heritabilitas arti luas dan arti sempit menurut Basuki (1995) Heritabilitas arti luas berdasarkan ragam populasi P1, P2, F1 dan F2. 18

19 σ 2 F2 (σ 2 F1 + σ 2 P1 + σ 2 P2)/3 h b 2 = σ 2 F2 Heritabilitas arti sempit berdasarkan ragam F2, BC1.1 dan BC1.2 2σ 2 F2 (σ 2 BC1.1 + σ 2 BC1.2) h n 2 = σ 2 F2 Penelitian 2 : (Kegiatan 3): Pendugaan jumlah dan model aksi gen ketahanan terhadap virus mosaik dan hama aphid serta berdaya hasil tinggi Tempat : Kebun percobaan FP Universitas Brawijaya Waktu : Juni 2007 Oktober 2007 Tujuan Bahan Metode : Untuk menduga jumlah dan model aksi gen ketahanan terhadap virus mosaik dan hama aphid : Populasi F2 hasil penelitian pertama : Metode pendugaan jumlah gen berdasarkan analisis segregasi populasi F2 berdasarkan Strickberger (1976). Dari uji chi-kuadrat dapat diketahui bagaimana pewarisan gen yang mengendalikan ketahanan dalam kaitannya dengan hukum Mendel dan modifikasinya. Model pewarisan gen yang mengendalikan ketahanan terhadap virus mosaik dan hama aphid, yang mempunyai rasio cocok antara nilai pengamatan dan harapan dengan probabilitas paling tinggi, dianggap sebagai model pewarisan gen yang mengendalikan sifat ketahanan. Apabila hasil tersebut menunjukkan adanya interaksi, maka dilanjutkan dengan analisis rerata generasi. Prosedur : Sebanyak 500 tanaman F2 dari masing-masing pasangan persilangan ditanam di lapang. Penanaman dilakukan di 19

20 kebun percobaan FP Unibraw pada awal musim kemarau. Penanaman dilapang juga dimaksudkan untuk memberikan kodisi sebenarnya tentang serangan aphid pada kacang panjang. Dua minggu sebelum tanam, ditanam dahulu border kacang panjang yang rentan terhadap Aphid sebagai sumber penularan hama. Inokulasi virus mosaik dilakukan sebagaimana Kegiatan 2. Pengamatan : Intensitas serangan, skor kerusakan daun, rata-rata populasi aphid per 3 trifoliet pada 3 tanaman contoh, umur berbunga, jumlah polong, panjang polong, bobot polong Analisis Data : Untuk pembagian reaksi 2 kelas ketahanan menjadi tahan dan rentan, perbandingannya adalah 3:1 (dominan lengkap), 9:7 (resesif rangkap), 13:3 (epistasi dominan dan resesif) atau 15:1 (dominan rangkap). Untuk pembagian reaksi 3 kelas ketahanan menjadi tahan, agak tahan dan rentan, perbandingannya adalah 1:2:1 (tanpa dominan), 9:3:4 (epistasi resesif), 9:6:1 (gen-gen rangkap dengan pengaruh komulatif atau 12:3:1 (epistasi dominan). Untuk pembagian reaksi 4 kelas ketahanan menjadi tahan, agak tahan, agak rentan dan rentan, perbandingannya adalah 9:3:3:1. Data pengamatan populasi F2 dikelompokkan untuk menetapkan atau mendekati model pewarisan gen yang diduga. Rasio nilai pengelompokan data dicocokkan dengan setiap nilai harapan dan simpangan, yang diuji dengan analisis Chikuadrat (χ 2 ) dari Crowder (1993). n (O i E i ) χ 2 = i=1 E i dimana : O i = jumlah fenotip ke-i menurut hasil pengamatan E i = jumlah fenotip yang diharapkan Model pengaruh gen diduga melalui analisis rerata generasi 20

21 yang meliputi uji skala dan analisis aksi gen ketahanan dari perhitungan komponen rerata generasi. Untuk mengetahui adanya interaksi gen non-alelik digunakan rumus uji skala dari Hayman and Mather (Singh and Chaudary, 1979) yang merupakan pengembangan dari Mather and Jinks (1982), yaitu : A = 2 B1 P1 F1 B = 2 B2 P2 F1 C = 4 F2 2 F1 P1 P2 D = 2 F2 B1 B2 Varian dari parameter tersebut masing-masing : σ 2 A = 4σ 2 B1 + σ 2 P1 + σ 2 F1 σ 2 B = 4σ 2 B2 + σ 2 P2 + σ 2 F1 σ 2 C = 16σ 2 F2 + 4σ 2 F1 + σ 2 P1 + σ 2 P2 σ 2 D = 4σ 2 F2 + σ 2 B1 + σ 2 B2 Nilai A dan B untuk membuktikan tipe interaksi gen aditif x aditif (aa), aditif x dominan (ad), dominan x dominan (dd). C untuk tipe interaksi gen dd, D untuk tipe interaksi gen aa. C+D untuk tipe interaksi aa dan dd. Apabila terdapat 3 parameter atau lebih yang nilainya =< 0, berarti tidak ada interaksi gen non-alelik. Apabila didapatkan 2 parameter atau lebih > 0, berarti ada interaksi gen non-alelik. Apabila dari hasil pengujian tersebut menunjukkan ada interaksi gen non-alelik, pendugaan parameter genetik ratarata digunakan Model Enam Parameter dari Hayman (Gamble, 1962; Singh and Chaudhary, 1979; Mather and Jinks, 1982) yaitu rerata (m), pengaruh gen aditif (d), pengaruh gen dominan (h), pengaruh tipe interaksi gen aa (i), pengaruh tipe interaksi gen ad (j) dan pengaruh tipe interaksi gen dd (l) dengan rumus sebagai berikut : m = F2 d = B1 - B2 h = F1 4 F2 ½ P1 ½ P2 + 2 B1 + 2 B2 i = 2B1 + 2B2 4F2 j = B1 ½ P1 B2 + ½ P2 l = P1 + P2 + 2 F1 + 4 F2 4 B1 4 B2 varian dari parameter tersebut masing-masing : 21

22 σ 2 m = σ 2 F2 σ 2 d = σ 2 B1 + σ 2 B2 σ 2 h = σ 2 F1 + 16σ 2 F2 + ¼σ 2 P1 + ¼ σ 2 P2 + 4σ 2 B1 + 4σ 2 B2 σ 2 i = 4σ 2 B1 + 4σ 2 B2 + 16σ 2 F2 σ 2 j = σ 2 B1 + ¼σ 2 P1 + σ 2 B2 + ¼ σ 2 P2 σ 2 l = σ 2 P1 + σ 2 P2 + 4σ 2 F1 +16σ 2 F2 + 16σ 2 B1 +16σ 2 B2 Apabila dari hasil pengujian tersebut menunjukkan tidak ada interaksi gen non-alelik, pendugaan parameter genetik rata-rata digunakan Model Tiga Parameter dari Jinks and Jones (Singh and Chaudhary, 1979; Mather and Jinks, 1982) yaitu rerata (m), pengaruh aditif (d), pengaruh dominan (h) m = ½ P1+ ½ P2 + 4 F2-2 B1-2 B2 d = ½ P1 - ½ P2 h = 6 B1 6 B2 8 F21 F1 + (3/2) P1 + (3/2) P2 varian dari parameter tersebut masing-masing : σ 2 m = ¼σ 2 P1 + ¼σ 2 P2 + 16σ 2 F2 + 4σ 2 B1 + 4σ 2 B2 σ 2 d = ¼σ 2 P1 + ¼σ 2 P2 σ 2 h =36σ 2 B1+36σ 2 B2+64σ 2 F2+σ 2 F1+ (9/4)σ 2 P1+(9/4)σ 2 P2 Dari 5 populasi F2, akan diperoleh informasi tentang heritabilitas, jumlah gen dan model peran gen sifat ketahanan terhadap virus mosaik dan hama aphid, umur berbunga dan daya hasil. Berdasarkan hasil tersebut, dapat ditentukan metode seleksi yang akan digunakan. Apabila nilai heritabilitasnya tinggi (>50%), akan dilakukan metode silang balik untuk memasukkan sifat ketahanan. Prosedur silang balik disesuaikan dengan gen ketahanan, dominan atau resesif. Kuswanto et al. (2004) melakukan pemuliaan silang balik berdasarkan gen dominan untuk merakit varietas kacang panjang tahan terhadap virus mosaik. Silang balik dilakukan karena heritabilitas ketahanan termasuk tinggi, sedangkan ketahanan dikendalikan oleh gen dominan. Apabila heritabilitas sifat ketahanan bernilai rendah, dilakukan seleksi menurut metode bulk. Pelaksanaan silang balik dan metode bulk dilakukan setelah percobaan tahun pertama selesai. 22

23 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Sampai dengan laporan kemajuan ini dibuat, kegiatan persilangan pertama dan kedua sudah selesai. Kegiatan penelitian kedua dan ke tiga sudah memasuki tahap panen dan diperkirakan akan selesai pertengahan Oktober Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut : 4.1 Kegiatan 1. Pembentukan populasi hasil persilangan a. Pembentukan F1 Persilangan dilaksanakan bulan Desember 2006 sampai Maret 2007 dan Maret sampai Juni 2007 di Kebun Percobaan Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Brawijaya. Kegiatan persilangan terdiri atas dua tahap. Tahap pertama persilangan antar tetua untuk membentuk populasi F1 dan tahap kedua persilangan balik antara F1 dengan tetua untuk membentuk populasi BC1.1 dan BC1.2. Tabel 1. Genotip/galur yang disilangkan No. Genotip/Galur Keterangan 1 UB Sumber ketahanan terhadap CABMV 2 UB Sumber ketahanan terhadap CABMV 3 UB Sumber ketahanan terhadap CABMV 4 UB Sumber ketahanan terhadap CABMV 5 UB Sumber ketahanan terhadap CABMV 6 UB Sumber ketahanan terhadap CABMV 7 UB Sumber ketahanan terhadap CABMV 8 UB Sumber ketahanan terhadap CABMV 9 UB Sumber ketahanan terhadap CABMV 10 UB Sumber ketahanan terhadap CABMV 11 UB Sumber ketahanan terhadap CABMV 12 UB Sumber ketahanan terhadap CABMV 13 UB Sumber ketahanan terhadap CABMV 14 UB Sumber ketahanan terhadap CABMV 15 UB Sumber ketahanan terhadap CABMV 16 UB Sumber ketahanan terhadap CABMV 17 UB 1275 Sumber ketahanan terhadap Aphids 18 UB 1244 Sumber ketahanan terhadap Aphids 19 UB 1288 Sumber ketahanan terhadap Aphids 20 UB 715 Sumber ketahanan terhadap Aphids 21 UB 705 Sumber ketahanan terhadap Aphids 22 UB 733 Sumber ketahanan terhadap Aphids 23 UB 669 Sumber ketahanan terhadap Aphids 24 UB 1290 Sumber ketahanan terhadap Aphids 23

24 Selama penanaman, tanaman tidak disemprot pestisida. Galur-galur yang dijadikan sebagai tetua persilangan terlihat pada Tabel 1. Galur-galur tersebut, selain sebagai sumber ketahanan terhadap atau aphid, juga telah mempunyai potensi daya hasil tinggi. Nama galur UB adalah singkatan dari Universitas Brawijaya. Semua kegiatan persilangan yang telah berhasil dilakukan dan telah terbentuk biji F1. Tabel 2. Seri Persilangan yang Dibuat Berdasarkan Pemilihan Acak No. P(a) P(b) Jumlah Biji F1 Persilangan (Betina) (Jantan) Hasil Persilangan 1 UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB Jumlah biji yang telah dihasilkan bervariasi, tergantung pada kondisi tanaman dan kesesuaian umur berbunga. Persilangan dari tetua yang mempunyai umur berbunga bersamaan atau hampir bersamaan, selalu 24

25 berhasil dialkukan. Sedangkan untuk seri persilangan yang mempunyai umur berbenga tidak singkron, tidak diperoleh biji. Hasil persilangan dan biji yang terbentuk terlihat pada Tabel 2. Dari semua seri persilangan tersebut, dipilih 6 pasangan yang memberikan hasil terbaik dan jumlah biji yang cukup, untuk dilakukan persilangan balik (Tabel 3). Seleksi didasarkan pada komponen polong muda dan polong kering, seperti bobot polong, panjang polong, diameter polong, volume polong, jumlah biji per polong dan warna polong. Hasil pengamatan karakter polong segar dan polong kering terlihat pada Tabel 4. Dari seri persilangan terpilih juga dilakukan penanaman F1 untuk menghasilkan populasi F2. Tabel 3. Seri persilangan yang terpilih untuk kegiatan silang balik No seri persilangan Tetua Betina (Sumber ketahanan CABMV) Tetua Jantan (Sumber ketahanan Aphid) Jumlah Biji F1 Hasil Persilangan 18 UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB UB

26 Tabel 4. Data Karakter Polong Muda dan Polong Kering Setiap Genotip yang Ditanam Komponen Polong Muda Komponen Polong Kering No. Genotip/Galur Rata-rata Rata-rata Warna aksesi Bobot Polong Panjang Polong Diameter Polong Volume Polong Jumlah polong Panjang Polong Jumlah Bobot 100 (g) (cm) (mm) (ml) Biji (cm) Biji biji 1 UB P UB PH UB P UB PH UB HP UB HP UB H UB H UB H UB HP UB H UB H UB PH UB P UB HP UB HP UB HK UB P UB P UB P UB PH UB P UB HP UB HP

27 b. Pembentukan populasi BC dan populasi F2 Pembentukan populasi BC (backcross) dan F2 dilakukan pada waktu yang sama. Populasi BC diperoleh dengan menyilangkan F1 dengan kedua tetua, sedangkan populasi F2 diperoleh dengan melakukan persilangan sendiri (selfing) F1. Seri persilangan balik dikerjakan terlihat pada Tabel 5. Tabel 5. Seri Persilangan untuk silang balik No. BC1 dari tetua Pa Keterangan 1 UB x F1(UB x UB 1290) untuk memperoleh biji BC1 terhadap Pa 2 UB x F1(UB34041 x UB 1244) untuk memperoleh biji BC1 terhadap Pa 3 UB x F1(UB44074 x UB 705) untuk memperoleh biji BC1 terhadap Pa 4 UB x F1(UB x UB 733) untuk memperoleh biji BC1 terhadap Pa 5 UB x F1(UB44590 x UB 1290) untuk memperoleh biji BC1 terhadap Pa 6 UB x F1(UB14023 x UB 1275) untuk memperoleh biji BC1 terhadap Pa 7 UB 1290 x F1(UB x UB 1290) untuk memperoleh biji BC1 terhadap Pb 8 UB 1244 x F1(UB34041 x UB 1244) untuk memperoleh biji BC1 terhadap Pb 9 UB 705 x F1(UB44074 x UB 705) untuk memperoleh biji BC1 terhadap Pb 10 UB 733 x F1(UB x UB 733) untuk memperoleh biji BC1 terhadap Pb 11 UB 1290 x F1(UB44590 x UB 1290) untuk memperoleh biji BC1 terhadap Pb 12 UB 1275 x F1(UB14023 x UB 1275) untuk memperoleh biji BC1 terhadap Pb Tabel 6. F1 yang disilangkan sendiri Populasi F1 Populasi F2 1 F1(UB x UB 1290) untuk memperoleh biji F2 (Pa x Pb) 2 F1(UB34041 x UB 1244) untuk memperoleh biji F2 (Pa x Pb) 3 F1(UB44074 x UB 705) untuk memperoleh biji F2 (Pa x Pb) 4 F1(UB x UB 733) untuk memperoleh biji F2 (Pa x Pb) 5 F1(UB44590 x UB 1290) untuk memperoleh biji F2 (Pa x Pb) 6 F1(UB14023 x UB 1275) untuk memperoleh biji F2 (Pa x Pb) 33

28 Semua persilangan telah berhasil dilakukan dan telah terbentuk biji hasil silang balik. Dari 6 seri persilangan tersebut dipilih 5 seri persilangan sebagai bahan penelitian selanjutnya, yaitu (UB34041XUB1244), (UB44074XUB705), (UB44558XUB733), (UB44590XUB1290) dan (UB14023XUB1275). Pemilihan hanya 5 seri persilangan disesuaikan dengan rencana yang telah tertulis dalam proposal penelitian. Selanjutnya dilakukan pengujian untuk untuk kegiatan penelitian 1 dan penelitian Penelitian 1. Evaluasi keragaman genetik ketahanan kacang panjang terhadap virus mosaik dan hama aphid serta berdaya hasil tinggi Seri Persilangan UB34041 x UB1244 Hasil analisis intensitas serangan aphid terlihat pada Tabel 7. Dari tabel tersebut terlihat bahwa intensitas serangan pada semua populasi kurang dari 10%, sehingga semua populasi termasuk kategori tahan. Pola intensitas serangan aphid terlihat pada Gambar 1. Tabel 7. Intensitas Serangan (%) Aphid pada Persilangan UB34041 x UB1244 Populasi Umur BC1. BC1. (MST) UB34041 UB1244 F1 UB34041 UB1244 F

29 Intensitas Serangan Aphid pada Populasi Seri Persilangan UB34041 x UB1244 Intensitas Serangan (%) Minggu ke UB34041 UB1244 F1 BC1.UB34041 BC1.UB1244 F2 Gambar 1. Grafik intensitas serangan Aphid pada persilangan UB34041 x UB1244 Intensitas serangan CABMV terlihat pada Tabel 8. Dari tabel tersebut terlihat bahwa nilai intensitas serangan cenderung naik dengan bertambahnya umur tanaman. Pola intensitas serangan terlihat pada Gambar 2. Tabel 8. Intensitas Serangan (%) CABMV pada Persilangan UB34041 x UB1244 Populasi Waktu (MST) UB34041 UB1244 F1 BC1. UB34041 BC1. UB1244 F Intensitas Serangan CABMV pada Populasi Seri Persilangan UB34041 x UB1244 Intensitas Serangan (%) Minggu ke UB34041 UB1244 F1 BC1.UB34041 BC1.UB1244 F2 Gambar 2. Grafik intensitas serangan CABMV pada persilangan UB34041 x UB

30 Nilai heritabilitas ketahanan terhadap aphid dan CABMV terlihat pada Tabel 9. Nilai heritabilitas ketahanan menunjukkan ukuran keragaman genetik ketahanan. Dari tabel tersebut terlihat bahwa heritabilitas ketahanan terhadap aphid maupun heritabilitas ketahanan terhadap CABMV rata-rata bernilai rendah sampai sedang, sehingga memberikan rekomendasi penggunaan metode bulk (curah) pada program seleksi berikutnya. Heritabilitas rendah sampai sedang menunjukkan kecilnya proporsi ragam genetik ketahanan terhadap ragam penotip (total). Ragam genetik ketahanan menunjukkan simpangan kemampuan tanaman memberikan tanggapan terhadap serangan aphid atau virus. Apabila ragam genetik ketahanan bernilai rendah, maka kegiatan seleksi masih kurang teliti. Populasi tersebut perlu ditingkatkan keragaman genetiknya. Tabel 9. Heritabilitas ketahanan pada Persilangan UB34041 x UB1244 Waktu Ketahanan terhadap Aphid Ketahanan terhadap CABMV (MST) Luas Sempit Luas Sempit Keterangan : Heritabilitas (H) tinggi jika H > 0.5, rendah jika H < 0.2, sedang jika 0.2 < H < Seri Persilangan UB44074 x UB705 Hasil analisis intensitas serangan aphid terlihat pada Tabel 10. Dari tabel tersebut terlihat bahwa intensitas serangan pada semua populasi ratarata kurang dari 10%, sehingga semua populasi termasuk kategori tahan. Fluktuasi intensitas serangan menunjukkan tanggapan tanaman terhadap serangan hama aphid. Pola fluktuasi intensitas serangan aphid terlihat pada Gambar 3. Sebagaimana seri persilangan yang lain, pola intensitas serangan selalu meningkat pada awal pertumbuhan tanaman, kemudian menurun dan meningkat lagi pada saat tanaman menjelang berbunga. 36

31 Tabel 10. Intensitas Serangan (%) Aphid pada Persilangan UB44074 x UB705 Populasi Umur BC1. BC1. (MST) UB44074 UB705 F1 UB44074 UB705 F Intensitas Seranga Aphid pada Populasi Seri Persilangan UB44074 x UB705 Intensitas Serangan (%) Minggu ke UB44074 UB705 F1 BC1. UB44074 BC1. UB705 F2 Gambar 3. Grafik intensitas serangan Aphid pada persilangan UB44074 x UB705 Intensitas serangan CABMV terlihat pada Tabel 11. Dari tabel tersebut terlihat bahwa nilai intensitas serangan cenderung naik dengan bertambahnya umur tanaman. Namun, kenaikan intensitas tidak sampai mencapai 40%, sehingga kriteria ketahanan pada semua populasi adalah tahan dan agak tahan. Pola intensitas serangan terliha pada Gambar 4. Tabel 11. Intensitas Serangan (%) CABMV pada Persilangan UB44074 x UB705 Populasi Umur BC1. BC1. (MST) UB44074 UB705 F1 UB44074 UB705 F

32 Intensitas Seranga CABMV pada Populasi Seri Persilangan UB44074 x UB705 Intensitas Serangan (%) Minggu ke UB44074 UB705 F1 BC1. UB44074 BC1. UB705 F2 Gambar 4. Grafik intensitas serangan CABMV pada populasi persilangan UB44074 x UB705 Tabel 12. Nilai heritabilitas ketahanan terhadap aphid dan CABMV terlihat pada Dari tabel tersebut terlihat bahwa heritabilitas arti sempit ketahanan terhadap aphid maupun CABMV rata-rata bernilai rendah sampai sedang, sehingga memberikan rekomendasi penggunaan metode bulk (curah) pada program seleksi berikutnya. persilangan yang lain. Hasil ini sama dengan seri Tabel 12. Heritabilitas ketahanan pada Persilangan UB44074 x UB705 Waktu Ketahanan terhadap Aphid Ketahanan terhadap CABMV (MST) Luas Sempit Luas Sempit Keterangan : Heritabilitas (H) tinggi jika H > 0.5, rendah jika H < 0.2, sedang jika 0.2 < H < Seri Persilangan UB44558 x UB733 Hasil analisis intensitas serangan aphid terlihat pada Tabel 13. Dari tabel tersebut terlihat bahwa intensitas serangan cukup bervariasi pada semua populasi. Fluktuasi intensitas serangan menunjukkan tanggapan tanaman terhadap serangan hama aphid. Pola fluktuasi intensitas serangan aphid terlihat pada Gambar 5. 38

33 Sebagaimana seri persilangan yang lain, pola intensitas serangan selalu meningkat pada awal pertumbuhan tanaman, kemudian menurun dan meningkat lagi pada saat tanaman menjelang berbunga. Penurunan intensitas serangan terjadi pada fase vegetatif cepat, menunjukkan tanaman mampu melakukan pemulihan dan menekan serangan hama aphid. Pada fase tersebut intensitas serangan kurang dari 10%, sehingga semua populasi dapat dikategorikan tahan. Tabel 13. Intensitas Serangan (%) Aphid pada Persilangan UB44558 x UB733 Populasi Umur BC1. BC1. (MST) UB44558 UB733 F1 UB44558 UB733 F Intensitas Seranga Aphid pada Populasi Seri Persilangan UB44558 x UB733 Intensitas Serangan (%) Minggu ke UB44558 UB733 F1 BC1.UB44558 BC1.UB733 F2 Gambar 5. Grafik intensitas serangan Aphid pada persilangan UB44558 x UB733 Intensitas serangan CABMV terlihat pada Tabel 14. Dari tabel tersebut terlihat bahwa nilai intensitas serangan pada semua populasi dari seri persilangan ini adalah nol. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada tanaman bergejala terserang virus, dan tanaman dikategorikan tahan. 39

34 Tabel 14. Intensitas Serangan (%) CABMV pada Persilangan UB44558 x UB733 Populasi Umur BC1. BC1. (MST) UB44558 UB733 F1 UB44558 UB733 F Nilai heritabilitas ketahanan terhadap aphid dan CABMV terlihat pada Tabel 15. Dari tabel tersebut heritabilitas ketahanan terhadap aphid rata-rata bernilai rendah sampai sedang, sehingga memberikan rekomendasi penggunaan metode bulk pada program seleksi berikutnya. Heritabilitas ketahanan terhadap CABMV bernilai nol karena nilai intensitas serangan juga nol. Tabel 15. Heritabilitas ketahanan pada Persilangan UB44558 x UB733 Waktu Ketahanan terhadap Aphid Ketahanan terhadap CABMV (MST) Luas Sempit Luas Sempit Keterangan : Heritabilitas (H) tinggi jika H > 0.5, rendah jika H < 0.2, sedang jika 0.2 < H < Seri Persilangan UB44590 x UB1290 Hasil analisis intensitas serangan aphid terlihat pada Tabel 16. Dari tabel tersebut terlihat bahwa intensitas serangan pada semua populasi ratarata kurang dari 10%, sehingga semua populasi termasuk kategori tahan. Fluktuasi intensitas serangan menunjukkan tanggapan tanaman terhadap serangan hama aphid. Namun, pada seri persilangan ini fluktuasi intensitas serangan tidak terlalu besar. Fluktuasi intensitas serangan aphid dapat dilihat pada Gambar 7. 40

35 Tabel 16. Intensitas Serangan (%) Aphid pada Persilangan UB44590 x UB1290 Populasi (MST) UB44590 UB1290 F1 BC1. UB44590 BC1. UB1290 F Intensitas Seranga Aphid pada Populasi Seri Persilangan UB44590 x UB1290 Intensitas Serangan (%) Minggu ke UB44590 UB1290 F1 BC1.UB44590 BC1.UB1290 F2 Gambar 7. Grafik intensitas serangan Aphid pada persilangan UB44590 x UB1290 Intensitas serangan CABMV terlihat pada Tabel 17. Dari tabel tersebut terlihat bahwa nilai intensitas serangan pada semua populasi sangat bervariasi, menurun pada fase vegetatif cepat dan meningkat kembali pada waktu tanaman menjelang berbunga. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman mampu melakukan pemulihan pada waktu fase vegetatif cepat. Pola perubahan intensitas serangan CABMV terlihat pada Gambar 8. Tabel 17. Intensitas Serangan (%) CABMV pada Persilangan UB44590xUB1290 Populasi Umur BC1. BC1. (MST) UB44590 UB1290 F1 UB44590 UB1290 F

36 Intensitas Seranga CABMV pada Populasi Seri Persilangan UB44590 x UB1290 Intensitas Serangan (%) Minggu ke UB44590 UB1290 F1 BC1.UB44590 BC1.UB1290 F2 Gambar 8. Grafik intensitas serangan CABMV pada populasi persilangan UB44590 x UB1290 Nilai heritabilitas ketahanan terhadap aphid dan CABMV terlihat pada Tabel 18. Dari tabel tersebut terlihat bahwa heritabilitas ketahanan terhadap aphid maupun terhadap CABMV bernilai rendah sampai tinggi. Nilai heritabilitas tinggi berarti keragaman pada penotip lebih ditentukan oleh keragaman genotip, sehingga memberikan harapan terhadap efektivitas seleksi yang akan dilakukan. Apabila seri persilangan ini terpilih untuk dikembangkan, maka metode pemuliaan yang dapat diterapkan adalah metode pedigree atau backcross. Tabel 18. Heritabilitas Ketahanan pada Persilangan UB44590 x UB1290 Waktu Ketahanan terhadap Aphid Ketahanan terhadap CABMV (MST) Luas Sempit Luas Sempit Keterangan : Heritabilitas (H) tinggi jika H > 0.5, rendah jika H < 0.2, sedang jika 0.2 < H < Seri Persilangan UB14023 x UB1275 Hasil analisis intensitas serangan aphid terlihat pada Tabel 19. Dari tabel tersebut terlihat bahwa intensitas serangan pada semua populasi ratarata kurang dari 10%, sehingga semua populasi termasuk kategori tahan. 42

37 Pada seri persilangan ini fluktuasi intensitas serangan juga tidak terlalu besar (Gambar 9). Namun, pola serangan mirip dengan seri persilangan yang lain, yaitu menurun sampai menjelang berbunga, kemudian meningkat lagi. Seri persilangan tidak akan terpilih untuk pemuliaan berikutnya karena tidak tahan terhadap virus mosaik (Tabel 20). Tabel 19. Intensitas Serangan (%) Aphid pada Persilangan UB14023 x UB1275 Populasi Umur BC1. BC1. (MST) UB14023 UB1275 F1 UB14023 UB1275 F Intensitas Seranga Aphid pada Populasi Seri Persilangan UB14023 x UB1275 Intensitas Serangan (%) Minggu ke UB14023 UB1275 F1 BC1.UB14023 BC1.UB1275 F2 Gambar 9. Grafik intensitas serangan Aphid pada populasi persilangan UB14023 x UB1275 Intensitas serangan CABMV terlihat pada Tabel 20. Dari tabel tersebut terlihat bahwa nilai intensitas serangan pada semua populasi sangat bervariasi dan meningkat dengan bertambahnya umur tanaman. Namun, peningkatan intensitas rata-rata masih di bawah 50%. Berdasarkan nilai ini, ketahanan tanaman menjadi berkurang pada menjelang panen. Tanaman tidak mempu melakukan pemuliaan setelah terserang virus mosaik perubahan intensitas serangan CABMV terlihat pada Gambar 10. Pola 43

38 Tabel 20. Intensitas Serangan (%) CABMV pada Persilangan UB14023xUB1275 Populasi Umur BC1. BC1. (MST) UB14023 UB1275 F1 UB14023 UB1275 F Intensitas Seranga CABMV pada Populasi Seri Persilangan UB14023 x UB1275 Intensitas Serangan (%) Minggu ke UB14023 UB1275 F1 BC1.UB14023 BC1.UB1275 F2 Gambar 10. Grafik intensitas serangan CABMV pada populasi persilangan UB14023 x UB1275 Nilai heritabilitas ketahanan terhadap aphid dan CABMV terlihat pada Tabel 21. Dari tabel tersebut terlihat bahwa heritabilitas ketahanan terhadap aphid maupun CABMV rata-rata bernilai rendah sampai sedang, sehingga memberikan rekomendasi penggunaan metode bulk pada program seleksi berikutnya. Tabel 21. Heritabilitas Serangan Aphid pada Persilangan UB14023 x UB1275 Waktu Ketahanan terhadap Aphid Ketahanan terhadap CABMV (MST) Luas Sempit Luas Sempit Keterangan : Heritabilitas (H) tinggi jika H > 0.5, rendah jika H < 0.2, sedang jika 0.2 < H <

39 4.2.2 Penelitian 2. Pendugaan jumlah dan model aksi gen ketahanan terhadap virus mosaik dan hama aphid serta berdaya hasil tinggi Seri Persilangan UB34041 x UB1244 Hasil analisis segregasi sifat ketahanan terhadap aphid terlihat pada Tabel 22. Dari tabel tersebut terlihat bahwa rasio yang dapat diterima sebagai penduga jumlah gen adalah 15:1 dan yang mengendalikan ketahanan terhadap aphid adalah gen dominan ganda (rangkap). Tanaman menjadi tahan apabila terdapat dua gen dominan bersama-sama. Apabila hanya ada satu saja gen dominan, tanaman menjadi rentan. Adanya dua gen dapat menyebabkan terjadinya interaksi antar gen. Tabel 22. Nilai χ 2 hitung hasil uji Chi Square ketahanan terhadap Aphid pada populasi F2 hasil persilangan UB34041 x UB1244 Minggu ke (MST) Kelas (tahan : rentan) 3 : * 70.06* 99.68* 67.84* 81.78* 61.36* 9 : * * * * * * 13 : * 43.61* 66.70* 41.67* 52.41* 36.83* 15 : ns 3.69ns 21.59* 2.32ns 8.78* 0.65ns 3 Kelas (tahan : agak tahan : rentan) 1 : 2 : * * * * * * 9 : 6 : * 91.57* * * * * 9 : 3 : * 12.54* 38.67* 23.99* 50.53* 21.78* 12 : 3 : * 97.87* * * * * 4 Kelas (tahan : agak tahan : agak rentan : rentan) 9 : 3 : 3 : * 98.43* * * * * Keterangan : * berbeda nyata, ns tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% Rasio kecocokan 15:1 diartikan bahwa 15/16 bagian dari seluruh populasi F2 adalah tahan dan 1/16 bagian yang lain adalah rentan. Tanaman menjadi tahan dengan adanya gen dominan T.,.R atau TR. Gengen dominan tersebut bersifat saling menambah dan substitusi serta tidak saling epistatis. Sebaliknya, tanaman menjadi rentan apabila tidak terdapat gen dominan atau hanya mempunyai genotip ttrr. Ekspresi dominan ganda dapat menyebabkan interaksi antar gen, terutama interaksi aditif x dominan 45

40 atau dominan x dominan. Dengan demikian pada populasi ini perlu dilanjutkan dengan uji skala dan analisis aksi gen untuk mengetahui model interaksinya. Tanaman tahan terhadap hama aphid, mempunyai skala kerusakan 0 (tanaman sehat, tidak ada kerusakan), sedang tanaman rentan mempunyai skala serangan 1 (bercak kuning tak teratur) sampai 5 (tunas samping dan titik tumbuh mati). Berdasarkan rasio tersebut, pada populasi segregasi akan diperoleh tanaman sehat sekitar 15/16 bagian. Hasil ini mempunyai implikasi pada besarnya galur-galur tahan yang dapat diseleksi. Dalam suatu populasi bulk akan dapat diseleksi galur-galur tahan maksimal 15/16 bagian dari seluruh anggota populasi. Untuk sifat ketahanan terhadap virus mosaik juga terjadi kondisi yang demikian. Pada generasi F2 atau berikutnya dapat muncul tanaman yang menunjukkan perkembangan sifat ketahanan yang lebih ekstrim dari kedua induknya (transgresi segregatif). Karena sifat ketahanan terhadap Aphid dikendalikan oleh dua gen dominan, maka kondisi demikian hanya akan terjadi pada tanaman yang mempunyai susunan genotip homosigot dominan (TTRR). Apabila tanaman ini dapat diseleksi akan diperoleh galur murni dengan tingkat ketahanan yang tinggi dan tahan lama. Tanaman dengan genotipa homosigot tidak akan mengalami segregasi dan gen ketahanannya tidak akan berubah selama tidak terjadi mutasi. Hasil analisis segregasi ketahanan terhadap CABMV terlihat pada Tabel 23. Dari tabel tersebut terlihat bahwa rasio yang dapat diterima sebagai penduga jumlah gen adalah 15:1, dan yang mengendalikan ketahanan terhadap CABMV adalah gen dominan ganda. Hasil ini sama dengan gen ketahanan terhadap aphid. Pada seri persilangan UB34041 x UB1244, gen-gen yang mengendalikan ketahanan terhadap aphid dan CABMV memang sama-sama bersifat gen dominan ganda, namun secara fisik gen-nya sendiri berbeda. Pada kondisi demikian program seleksi ketahanan terhadap aphid dan CABMV dapat dilakukan bersama-sama, lebih mudah pelaksanaannya dan hasilnya akan lebih teliti. 46

41 Tabel 23. Nilai χ 2 hitung uji Chi Square ketahanan terhadap CABMV pada populasi F2 hasil persilangan UB34041 x UB1244 Minggu ke (MST) Kelas (tahan : rentan) 3 : * 43.57* 55.20* 18.82* 2.10ns 56.20* 9 : * * * * 84.69* 67.89* 13 : * 24.12* 32.34* 9.56* 22.22* * 15 : * 2.33ns 0.02ns 29.79* * * 3 Kelas (tahan : agak tahan : rentan) 1 : 2 : * * * * * * 9 : 6 : * * 32.45* 40.23* * * 9 : 3 : * 41.82* 1.77ns 49.09* * * 12 : 3 : * * 54.80* 23.47* 17.96* 87.16* 4 Kelas (tahan : agak tahan : agak rentan : rentan) 9 : 3 : 3 : * * 55.02* 23.63* 27.95* * Keterangan : * berbeda nyata, ns tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% Hasil uji skala untuk mengetahui model pengaruh gen ketahanan terhadap aphid terlihat pada Tabel 24. Berdasarkan uji skala 6 parameter, pada seri persilangan ini terdapat interaksi gen aditifxdominan. Sifat aditif menunjukkan nilai genetik dari gen ketahanan, sedangkan sifat dominan adalah hasil interaksi antar alel dalam satu lokus. Apabila terjadi interaksi aditifxdominan, maka nilai tersebut akan semakin berarti. Ketahanan tanaman akan semakin tinggi dan proses seleksi pada populasi segregasi akan diperoleh kemajuan genetik yang berarti. Hasil uji skala untuk mengetahui model pengaruh gen ketahanan terhadap virus mosaik terlihat pada Tabel 25. Untuk ketahanan terhadap virus mosaik, terdapat interaksi aditifxdominan dan dominanxdominan. Hasil ini lebih memberikan harapan bahwa dengan seleksi akan diperoleh kemajuan genetik yang lebih berarti. 47

42 Tabel 24. Uji Skala serangan Aphid pada persilangan UB34041 x UB1244 Parameter/ Generasi Minggu ke- (MST) Rata-rata ± SE N 2 n 3 n 4 n 5 n 6 n 7 UB ± ± ± ± ± ±0.06 UB ± ± ± ± ± ±0.04 F ± ± ± ± ± ±0.07 BC ± ± ± ± ± ±0.11 BC ± ± ± ± ± ±0.05 F ± ± ± ± ± ±0.04 Skala A 0.04±0.16ns 0.15±0.14ns 0.06±0.10ns 0.28±0.18ns -0.05±0.14ns -0.16±0.24ns B 0.62±0.15* 0.01±0.11ns 0.13±0.08ns 0.10±0.12ns -0.06±0.13ns -0.20±0.13ns C 0.86±0.15* 0.39±0.14* 0.22±0.08* 0.50±0.15* -0.18±0.18ns -0.14±0.22ns Model m 0.37±0.04* 0.20±0.03* 0.10±0.02* 0.19±0.03* 0.10±0.02* 0.23±0.04* a -0.20±0.10ns 0.08±0.09ns 0.03±0.06ns 0.08±0.10ns 0.03±0.08ns 0.11±0.12ns d -0.51±0.25* -0.35±0.21ns -0.12±0.14ns -0.26±0.25ns 0.18±0.20ns -0.23±0.30ns aa -0.20±0.25ns -0.23±0.21ns -0.03±0.14ns -0.12±0.25ns 0.06±0.18 ad -0.58±0.05* 0.14±0.03* -0.06±0.02* 0.18±0.05* 0.01±0.03 dd -0.46±0.20* 0.07±0.14ns -0.16±0.07* -0.25±0.20ns 0.05±0.13 Keterangan : * berbeda nyata, ns tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% 48

43 Tabel 25. Uji Skala serangan CABMV pada persilangan UB34041 x UB1244 Parameter/ Generasi Minggu ke- (MST) Rata-rata ± SE n 2 n 3 n 4 n 5 n 6 n 7 UB ± ± ± ± ± ±0.11 UB ± ± ± ± ± ±0.11 F ± ± ± ± ± ±0.18 BC ± ± ± ± ± ±0.20 BC ± ± ± ± ± ±0.14 F ± ± ± ± ± ±0.07 Skala A 0.19±0.23ns -0.78±0.18* -0.74±0.23* -1.20±0.35* -1.07±0.45* B -0.38±0.09* -0.41±0.22ns -0.13±0.27ns -0.83±0.33* -2.53±0.35* C -0.35±0.17* -0.93±0.23* -0.55±0.31ns -1.30±0.38* -2.94±0.49* Model m 0.22±0.03* 0.36±0.04* 0.58±0.05* 0.78±0.06* 1.13±0.07* a 0.44±0.11* -0.14±0.12ns -0.32±0.15* 0.04±0.21ns 0.88±0.25* d -0.46±0.27ns -0.27±0.30ns -0.48±0.38ns -1.51±0.52* -0.95±0.61ns aa 0.16±0.27ns -0.27±0.29ns -0.32±0.36ns -0.72±0.50ns -0.65±0.58ns ad 0.57±0.06* -0.37±0.07* -0.61±0.10* -0.38±0.21ns 1.46±0.27* dd 0.03±0.24ns 1.47±0.30* 1.18±0.46* 2.75±0.88* 4.25±1.22* Keterangan : * berbeda nyata, ns tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% 49

44 Hasil pengamatan umur berbunga dan panen serta analisis heritabilitas arti luas dan arti sempit untuk masing-masing variabel terlihat pada Tabel 26. Dari hasil tersebut terlihat bahwa populasi F2 yang akan dikembangkan mempunyai keragaman dan nilai heritabilitas rendah sampai sedang. Apabila seleksi dilakukan melalui variabel-variabel tersebut, maka nilai ini memberikan rekomendasi agar digunakan metode bulk dengan seleksi massa. Namun demikian, kegiatan seleksi akan dilakukan dengan mendasarkan pada heritabilitas sifat ketahanan, sebagaimana hasil yang telah diperoleh pada penelitian 1. Tabel 26. Rata-rata dan Heritabilitas Komponen Hasil Seri Persilangan UB34041 x UB1244 Komponen Populasi Umur Berbunga Jumlah Polong Panjang polong (cm) Jumlah Biji/polong Bobot per polong (g) UB ± ± ± ± ±1.22 UB ± ± ± ± ±0.79 F ± ± ± ± ±1.47 BC ± ± ± ± ±1.18 BC ± ± ± ± ±2.54 F ± ± ± ± ±1.12 H luas H sempit Keterangan : H : heritabilitas, tinggi (>0,5), rendah (< 0,2), sedang (0.2 < H < 0.5) Seri Persilangan UB44074 x UB705 Hasil analisis segregasi sifat ketahanan terhadap aphid terlihat pada Tabel 27. Dari tabel tersebut terlihat bahwa rasio yang dapat diterima sebagai penduga jumlah gen adalah 15:1 dan yang mengendalikan ketahanan terhadap aphid adalah gen dominan ganda. Tanaman menjadi tahan apabila terdapat dua gen dominan bersamasama. Apabila tanaman hanya mengandung satu gen dominan, tanaman menjadi rentan. Adanya dua gen dapat menyebabkan terjadinya interaksi antar gen. 50

45 Tabel 27. Nilai X2 hitung uji Chi Square ketahanan terhadap Aphid pada populasi F2 hasil persilangan UB44074 x UB705 Minggu ke (MST) Kelas (tahan : rentan) 3 : * 18.79* 64.28* 68.10* 62.75* 24.78* 9 : * * * * * * 13 : * 9.55* 39.37* 42.34* 38.15* 12.65* 15 : * 31.10* 1.92ns 3.42ns 1.36ns 16.31* 3 Kelas (tahan : agak tahan : rentan) 1 : 2 : * * * * * * 9 : 6 : * 55.76* 97.55* * * * 9 : 3 : * 36.98* 15.10* 20.15* 31.78* 47.93* 12 : 3 : * 18.21* 98.86* * * 81.98* 4 Kelas (tahan : agak tahan : agak rentan : rentan) 9 : 3 : 3 : * 26.42* 98.90* * * 95.21* Keterangan : * berbeda nyata, ns tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% Hasil analisis segregasi ketahanan terhadap CABMV terlihat pada Tabel 28. Dari tabel tersebut terlihat bahwa rasio yang dapat diterima sebagai penduga jumlah gen adalah 15:1, dan yang mengendalikan ketahanan terhadap CABMV adalah gen dominan ganda. Hasil ini sama dengan gen ketahanan terhadap aphid, sehingga seleksinya dapat dilakukan bersama-sama. Tabel 28. Nilai X2 hitung uji Chi Square ketahanan terhadap CABMV pada populasi F2 hasil persilangan UB44074 x UB705 Minggu ke (MST) Kelas (tahan : rentan) 3 : * 45.35* 80.25* 47.30* 0.57ns 53.08* 9 : * * * * 97.14* 65.63* 13 : * 25.32* 51.72* 27.06* 8.71* * 15 : * 1.66ns 9.53* 0.39ns * * 3 Kelas (tahan : agak tahan : rentan) 1 : 2 : * * * * * * 9 : 6 : * 70.73* * 56.30* * * 9 : 3 : * 5.98ns 21.14* 1.91ns * * 12 : 3 : * 61.41* * 56.68* 18.80* 81.24* 4 Kelas (tahan : agak tahan : agak rentan : rentan) 9 : 3 : 3 : * 62.69* * 56.69* 40.84* * Keterangan : * berbeda nyata, ns tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% 51

46 Hasil pengamatan umur berbunga dan panen serta analisis heritabilitas arti luas dan arti sempit untuk masing-masing variabel terlihat pada Tabel 29. Dari hasil tersebut terlihat bahwa populasi F2 yang akan dikembangkan mempunyai keragaman dan nilai heritabilitas rendah sampai sedang. Apabila seleksi dilakukan melalui variabel-variabel tersebut, maka nilai ini memberikan rekomendasi agar digunakan metode bulk dengan seleksi massa. Namun demikian, kegiatan seleksi akan dilakukan dengan mendasarkan pada heritabilitas sifat ketahanan, sebagaimana hasil yang telah diperoleh pada penelitian 1. Tabel 29. Rata-rata dan Heritabilitas Komponen Hasil Seri Persilangan UB44074 x UB705 Komponen Populasi Umur Berbunga Jumlah Polong Panjang Polong (cm) Jumlah Biji/polong Bobot Polong (g) UB ± ± ± ± ±0.45 UB ± ± ± ± ±0.56 F ± ± ± ± ±0.83 BC ± ± ± ± ±0.83 BC ± ± ± ± ±0.77 F ± ± ± ± ±0.31 H luas H sempit Keterangan : H : heritabilitas, tinggi (>0,5), rendah (< 0,2), sedang (0.2 < H < 0.5) Hasil uji skala untuk mengetahui model pengaruh gen ketahanan terhadap aphid terlihat pada Tabel 30. Berdasarkan uji skala 6 parameter, pada seri persilangan ini terdapat interaksi gen aditifxdominan. Apabila terjadi interaksi aditifxdominan, maka nilai tersebut akan semakin berarti. Ketahanan tanaman akan semakin tinggi dan proses seleksi pada populasi segregasi akan diperoleh kemajuan genetik yang berarti. Uji skala untuk ketahanan terhadap virus mosaik, tidak terdapat interaksi antar gen ketahanan (Tabel 31). Dari berbagai hasil di atas menunjukkan bahwa dua seri persilangan tersebut berpeluang untuk dilakukan pemuliaan lebih lanjut, dengan mendasarkan metode bulk dan seleksi massa. 52

47 Tabel 30. Uji Skala serangan Aphid pada persilangan UB44074 x UB705 Parameter/ Generasi Minggu ke- (MST) Rata-rata ± SE n 2 n 3 n 4 n 5 n 6 n 7 UB ± ± ± ± ± ±0.09 UB ± ± ± ± ± ±0.09 F ± ± ± ± ± ±0.14 BC ± ± ± ± ± ±0.11 BC ± ± ± ± ± ±0.15 F ± ± ± ± ± ±0.05 Skala A -0.22±0.12ns 0.28±0.19ns -0.05±0.11ns 0.38±0.18* 0.46±0.20* -0.10±0.28ns B 0.53±0.17* 0.98±0.22* 0.29±0.21ns -0.07±0.09ns 0.03±0.12ns -0.06±0.34ns C 0.16±0.17ns 0.34±0.23ns 0.28±0.17ns 0.36±0.15* 0.35±0.16* -0.66±0.37ns Model m 0.27±0.03* 0.50±0.04* 0.21±0.03* 0.18±0.03* 0.18±0.03* 0.38±0.05* a -0.38±0.09* -0.34±0.13* -0.16±0.11ns 0.21±0.09* 0.21±0.11ns -0.03±0.19ns d 0.16±0.22ns 0.73±0.32* -0.06±0.26ns -0.10±0.22ns 0.12±0.26ns 0.63±0.46ns aa 0.15±0.21ns 0.92±0.31* -0.04± ±0.22ns 0.13±0.26ns 0.49±0.43 ad -0.75±0.04* -0.70±0.08* -0.34± ±0.04* 0.43±0.05* -0.04±0.16 dd -0.46±0.16* -2.18±0.33* -0.21± ±0.16ns -0.62±0.22* -0.33±0.70 Keterangan : * berbeda nyata, ns tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% 53

48 Tabel 31. Uji Skala serangan CABMV pada persilangan UB44074 x UB705 Parameter/ Generasi Minggu ke- (MST) Rata-rata ± SE n 2 n 3 n 4 n 5 n 6 n 7 UB ± ± ± ± ± ±0.12 UB ± ± ± ± ± ±0.12 F ± ± ± ± ± ±0.16 BC ± ± ± ± ± ±0.17 BC ± ± ± ± ± ±0.19 F ± ± ± ± ± ±0.07 Skala A 0.19±0.18ns -0.04±0.11ns 0.10±0.24ns 0.31±0.40ns -1.53±0.40* B -0.13±0.21ns 0.23±0.16ns -0.12±0.19ns -0.72±0.33* -1.33±0.42* C 0.59±0.21* 0.09±0.16ns -0.45±0.25ns -0.62±0.43ns -2.82±0.47* Model m 0.31±0.04* 0.17±0.03* 0.33±0.04* 0.69±0.06* 1.11±0.07* a 0.00±0.13ns -0.14±0.09ns 0.11±0.14ns 0.48±0.22* -0.27±0.25ns d -0.62±0.30* 0.07±0.22ns 0.36±0.33ns 0.31±0.54ns 0.08±0.62ns aa -0.53±0.29ns 0.11± ± ±0.51ns -0.05±0.59ns ad 0.32±0.07* -0.27± ± ±0.22* -0.21±0.29ns dd 0.48±0.30ns -0.30± ± ±0.98ns 2.91±1.25* Keterangan : * berbeda nyata, ns tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% 54

49 Seri Persilangan UB44558 x UB733 Hasil analisis segregasi sifat ketahanan terhadap aphid terlihat pada Tabel 32. Dari tabel tersebut terlihat bahwa rasio yang dapat diterima sebagai penduga jumlah gen adalah 3:1 dan yang mengendalikan ketahanan terhadap aphid adalah gen dominan tunggal. Rasio 3:1 diartikan bahwa 3/4 bagian dari seluruh populasi F2 adalah tahan dan 1/4 bagian yang lain adalah rentan. Tanaman menjadi tahan dengan adanya gen dominan T. Gen ketahanan dominan tunggal tidak memungkinkan adanya interaksi antar gen, sehingga tidak diperlukan uji skala. Tabel 32. Nilai X2 hitung uji Chi Square ketahanan terhadap Aphid pada populasi F2 hasil persilangan UB44558 x UB733 Minggu ke (MST) Kelas (tahan : rentan) 3 : * 1.97ns 72.71* 75.83* 35.20* 4.20* 9 : * * * * * * 13 : * 7.13* 45.88* 48.50* 19.01* 5.58* 15 : * * 5.48* 7.73* 4.80* 83.51* 3 Kelas (tahan : agak tahan : rentan) 1 : 2 : * 61.55* * * * * 9 : 6 : * * * * * * 9 : 3 : * * 53.66* 29.68* 42.39* * 12 : 3 : * 46.12* * * * 59.42* 4 Kelas (tahan : agak tahan : agak rentan : rentan) 9 : 3 : 3 : * 64.89* * * * * Keterangan : * berbeda nyata, ns tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% Hasil analisis segregasi ketahanan terhadap CABMV terlihat pada Tabel 33. Dari tabel tersebut terlihat bahwa tidak ada rasio yang dapat diterima pada taraf uji 5%, sehingga gen yang mengendalikan ketahanan tidak diketahui. Hasil ini tidak memberikan rekomendasi untuk dilakukan uji lebih lanjut. 55

50 Tabel 33. Nilai X2 hitung uji Chi Square ketahanan terhadap CABMV pada populasi F2 hasil persilangan UB44558 x UB733 Minggu ke (MST) Kelas (tahan : rentan) 3 : * 97.35* 97.35* 97.35* 97.35* 97.35* 9 : * * * * * * 13 : * 65.16* 65.16* 65.16* 65.16* 65.16* 15 : * 21.13* 21.13* 21.13* 21.13* 21.13* 3 Kelas (tahan : agak tahan : rentan) 1 : 2 : * * * * * * 9 : 6 : * * * * * * 9 : 3 : * 96.00* 96.00* 96.00* 96.00* 96.00* 12 : 3 : * * * * * * 4 Kelas (tahan : agak tahan : agak rentan : rentan) 9 : 3 : 3 : * * * * * * Keterangan : * berbeda nyata, ns tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% Hasil pengamatan umur berbunga dan panen serta analisis heritabilitas arti luas dan arti sempit untuk masing-masing variabel terlihat pada Tabel 34. Dari hasil tersebut terlihat bahwa populasi F2 yang akan dikembangkan mempunyai keragaman dan nilai heritabilitas rendah sampai sedang. Apabila seleksi dilakukan melalui variabel-variabel tersebut, maka nilai ini memberikan rekomendasi agar digunakan metode bulk dengan seleksi massa. Walaupun seri persilangan ini tidak akan dipilih untuk seleksi sifat ketahanan, namun dapat digunakan untuk kegiatan penelitian yang lain. Tabel 34. Rata-rata dan Heritabilitas Komponen Hasil Seri Persilangan UB44558 x UB733 Komponen Populasi Umur Berbunga Jumlah Polong Panjang Polong (cm) Jumlah Biji/polong Bobot Polong (g) UB ± ± ± ± ±0.46 UB ± ± ± ± ±0.41 F ± ± ± ± ±0.68 BC ± ± ± ± ±0.56 BC ± ± ± ± ±0.67 F ± ± ± ± ±0.25 H luas H sempit Keterangan : H : heritabilitas, tinggi (>0,5), rendah (< 0,2), sedang (0.2 < H < 0.5) 56

51 Seri persilangan UB44590 x UB1290 Hasil analisis segregasi sifat ketahanan terhadap aphid terlihat pada Tabel 35. Dari tabel tersebut terlihat bahwa rasio yang dapat diterima sebagai penduga jumlah gen adalah 15:1 dan yang mengendalikan ketahanan terhadap aphid adalah gen dominan ganda. Tanaman menjadi tahan apabila terdapat dua gen dominan bersamasama. Apabila tanaman hanya mengandung satu gen dominan, tanaman menjadi rentan. Adanya dua gen dapat menyebabkan terjadinya interaksi antar gen, namun dari hasil uji skala tidak terdapat interaksi gen ketahanan (Tabel 38). Tabel 35. Nilai X2 hitung uji Chi Square ketahanan terhadap Aphid pada populasi F2 hasil persilangan UB44590 x UB1290 Minggu ke (MST) Kelas (tahan : rentan) 3 : * * * * * * 9 : * * * * * * 13 : * * 84.63* 96.88* 68.65* 80.06* 15 : * 28.72* 9.31* 18.31* 2.28ns 7.62* 3 Kelas (tahan : agak tahan : rentan) 1 : 2 : 1 1,007.76* 1,144.10* 1,359.61* 1,483.87* 1,321.36* 1,313.60* 9 : 6 : * * * * * * 9 : 3 : * 57.98* * * * * 12 : 3 : * * * * * * 4 Kelas (tahan : agak tahan : agak rentan : rentan) 9 : 3 : 3 : * * * * * * Keterangan : * berbeda nyata, ns tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% Hasil analisis segregasi ketahanan terhadap CABMV terlihat pada Tabel 38. Dari tabel tersebut terlihat bahwa tidak ada rasio yang dapat diterima pada taraf uji 5%, sehingga gen yang mengendalikan ketahanan tidak diketahui. Hasil ini tidak memberikan rekomendasi untuk dilakukan uji lebih lanjut. Namun nilai X 2 dari rasio 3:1 pada pengamatan ke-3 menunjukkan nilai terkecil dan pada taraf uji 10% menjadi tidak nyata, sehingga gen yang pengendali ketahanan yang paling mendekati adalah dominan tunggal. 57

52 Tabel 36. Nilai X2 hitung uji Chi Square ketahanan terhadap CABMV pada populasi F2 hasil persilangan UB44590 x UB1290 Minggu ke (MST) Kelas (tahan : rentan) 3 : * * 4.48* 21.05* * * 9 : * * * * * * 13 : * * 41.45* 11.63* * * 15 : * 36.97* * 87.86* 1, * 2, * 3 Kelas (tahan : agak tahan : rentan) 1 : 2 : 1 1,581.00* 1, * 31.70* * * * 9 : 6 : * * * * 1, * 2, * 9 : 3 : * * * 94.92* 1, * 2, * 12 : 3 : * * * 41.96* * * 4 Kelas (tahan : agak tahan : agak rentan : rentan) 9 : 3 : 3 : * * * 50.30* * * Keterangan : * berbeda nyata, ns tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% Hasil pengamatan umur berbunga dan panen serta analisis heritabilitas arti luas dan arti sempit untuk masing-masing variabel terlihat pada Tabel 37. Dari hasil tersebut terlihat bahwa populasi F2 yang akan dikembangkan mempunyai keragaman dan nilai heritabilitas rendah sampai sedang, sehingga apabila akan di seleksi sebaiknya menggunakan metode bulk dengan seleksi massa. Walaupun seri persilangan ini tidak akan dipilih untuk seleksi sifat ketahanan, namun dapat digunakan untuk kegiatan penelitian yang lain. Tabel 37. Rata-rata dan Heritabilitas Komponen Hasil Seri Persilangan UB44590 x UB1290 Populasi Komponen UB JUMPOL PANPOL JUMBIPOL BPR UB ± ± ± ± ±0.30 UB ± ± ± ± ±0.39 F ± ± ± ± ±0.46 BC ± ± ± ± ±0.65 BC ± ± ± ± ±

53 F ± ± ± ± ±0.21 H luas ,07 0,12 0,14 0,21 H sempit ,05 0,03 0,04 0,01 Keterangan : H : heritabilitas, tinggi (>0,5), rendah (< 0,2), sedang (0.2 < H < 0.5) 59

54 Tabel 38. Uji Skala serangan Aphid pada persilangan UB44590 x UB1290 Parameter/ Generasi Minggu ke- (MST) Rata-rata ± SE n 2 n 3 n 4 n 5 n 6 n 7 UB ± ± ± ± ± ±0.05 UB ± ± ± ± ± ±0.01 F ± ± ± ± ± ±0.06 BC ± ± ± ± ± ±0.10 BC ± ± ± ± ± ±0.00 F ± ± ± ± ± ±0.02 Skala A 0.07±0.13ns 0.30±0.13* 0.00±0.07ns -0.02±0.01ns -0.13±0.12ns 0.18±0.21ns B 0.17±0.14ns -0.19±0.09* 0.29±0.12* 0.26±0.14ns 0.20±0.18ns -0.10±0.06ns C 0.05±0.14ns 0.04±0.09ns 0.25±0.08* 0.20±0.07* 0.04±0.16ns 0.10±0.16ns Model m 0.17±0.02* 0.12±0.02* 0.09±0.02* 0.06±0.02* 0.11±0.02* 0.11±0.02* a -0.07±0.09ns 0.14±0.07ns -0.10±0.07ns -0.13±0.07ns -0.14±0.10ns 0.21±0.10* d 0.14±0.20ns -0.11±0.16ns -0.02±0.15ns 0.02±0.16ns -0.01±0.22ns -0.01±0.22ns aa 0.19± ±0.16ns 0.03±0.15ns 0.03±0.16ns 0.03± ±0.21 ad -0.10± ±0.02* -0.29±0.02* -0.28±0.02* -0.34± ±0.04 dd -0.43± ±0.09ns -0.32±0.08* -0.27±0.09* -0.10± ±0.18 Keterangan : * berbeda nyata, ns tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% 60

55 Seri persilangan UB14023 x UB1275 Hasil analisis segregasi sifat ketahanan terhadap aphid terlihat pada Tabel 39. Dari tabel tersebut terlihat bahwa rasio yang dapat diterima sebagai penduga jumlah gen adalah 15:1 dan yang mengendalikan ketahanan terhadap aphid adalah gen dominan ganda. Tanaman menjadi tahan apabila terdapat dua gen dominan bersamasama. Apabila tanaman hanya mengandung satu gen dominan, tanaman menjadi rentan. Adanya dua gen dapat menyebabkan terjadinya interaksi antar gen, namun dari hasil uji skala tidak terdapat interaksi antar gen (Tabel 42). Tabel 39. Nilai X2 hitung uji Chi Square ketahanan terhadap Aphid pada populasi F2 hasil persilangan UB14023 x UB1275 Minggu ke (MST) Kelas (tahan : rentan) 3 : * 66.61* * 85.22* 77.64* 40.09* 9 : * * * * * * 13 : * 40.65* 67.36* 54.99* 49.10* 21.91* 15 : * 1.75ns 21.79* 10.45* 6.27* 3.50ns 3 Kelas (tahan : agak tahan : rentan) 1 : 2 : * * * * * * 9 : 6 : * * * * * * 9 : 3 : * 21.09* 96.69* 77.79* 77.16* 45.08* 12 : 3 : * * * * * * 4 Kelas (tahan : agak tahan : agak rentan : rentan) 9 : 3 : 3 : * * * * * * Keterangan : * berbeda nyata, ns tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% Hasil analisis segregasi ketahanan terhadap CABMV terlihat pada Tabel 40. Dari tabel tersebut terlihat bahwa tidak ada rasio yang dapat diterima pada taraf uji 5%, sehingga gen yang mengendalikan ketahanan tidak diketahui. Hasil ini tidak memberikan rekomendasi untuk dilakukan uji lebih lanjut. Populasi F2 dari seri persilangan ini masih dapt dimanfaat untuk tujuan pemuliaan yang lain, misalnya ketahanan terhadap aphid saja atau daya hasil. 61

56 Tabel 40. Nilai X2 hitung uji Chi Square ketahanan terhadap CABMV pada populasi F2 hasil persilangan UB14023 x UB1275 Minggu ke (MST) Kelas (tahan : rentan) 3 : * * 58.16* * * * 9 : * * 68.58* 76.49* * * 13 : * 67.36* * * * * 15 : * 21.79* * 1,146.70* 2,112.19* 3,448.99* 3 Kelas (tahan : agak tahan : rentan) 1 : 2 : * * 87.23* * * * 9 : 6 : * * * 1,245.25* 2,142.95* 3,475.75* 9 : 3 : * 99.33* 1,030.98* 1,396.41* 2,175.90* 3,474.40* 12 : 3 : * * * * * * 4 Kelas (tahan : agak tahan : agak rentan : rentan) 9 : 3 : 3 : * * * * * * Keterangan : * berbeda nyata, ns tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% Hasil pengamatan umur berbunga dan panen serta analisis heritabilitas arti luas dan arti sempit untuk masing-masing variabel terlihat pada Tabel 42. Dari hasil tersebut terlihat bahwa populasi F2 yang akan dikembangkan mempunyai keragaman dan nilai heritabilitas rendah sampai sedang, sehingga apabila akan di seleksi sebaiknya menggunakan metode bulk dengan seleksi massa. Walaupun seri persilangan ini tidak akan dipilih untuk seleksi sifat ketahanan, namun dapat digunakan untuk kegiatan penelitian yang lain. Tabel 41. Rata-rata dan Heritabilitas Komponen Hasil Seri Persilangan UB14023 x UB1275 Populasi Komponen UB JUMPOL PANPOL JUMBIPOL BPR UB ± ± ± ± ±0.34 UB ± ± ± ± ±0.33 F ± ± ± ± ±0.55 BC ± ± ± ± ±0.85 BC ± ± ± ± ±0.44 F ± ± ± ± ±0.21 H luas H sempit Keterangan : H : heritabilitas, tinggi (>0,5), rendah (< 0,2), sedang (0.2 < H < 0.5) 62

57 Tabel 42. Uji Skala serangan Aphid pada persilangan UB14023 x UB1275 Parameter/ Generasi Minggu ke- (MST) Rata-rata ± SE n 2 n 3 n 4 n 5 n 6 n 7 UB ± ± ± ± ± ±0.03 UB ± ± ± ± ± ±0.01 F ± ± ± ± ± ±0.00 BC ± ± ± ± ± ±0.00 BC ± ± ± ± ± ±0.11 F ± ± ± ± ± ±0.04 Skala A -0.07±0.11ns 0.09±0.17ns ±0.14* 0.15±0.15ns -0.04±0.03ns B 0.16±0.14ns -0.04±0.15ns ±0.04ns 0.20±0.10ns 0.47±0.23* C 0.14±0.15ns -0.03±0.18ns 0.01±0.01ns 0.20±0.08* 0.31±0.10* 0.97±0.17* Model m 0.19±0.02* 0.18±0.03* ±0.02* 0.08±0.03* 0.26±0.04* a -0.13±0.08ns 0.09±0.10ns ±0.07* -0.03±0.09ns -0.24±0.11* d -0.08±0.19ns 0.11±0.24ns ±0.16ns 0.04±0.21ns -0.57±0.28* aa -0.06± ± ±0.16ns 0.04±0.21ns -0.54±0.28ns ad -0.23± ± ±0.02* -0.05±0.03ns -0.51±0.05* dd -0.03± ± ±0.09* -0.38±0.14* 0.11±0.23ns Keterangan : * berbeda nyata, ns tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% 63

58 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 1. Heritabilitas sifat ketahanan terhadap aphid dan virus mosaik, masingmasing bernilai rendah sampai sedang. 2. Metode seleksi yang dapat diterapkan pada penelitian selanjutnya adalah metode bulk dengan seleksi massa 3. Gen yang mengendalikan ketahanan terhadap aphid adalah dominan ganda dengan peran gen rerata dan interaksi aditifxdominan 4. Gen yang mengendalikan ketahanan terhadap virus mosaik adalah dominan ganda dengan peran gen rerata dan interaksi aditifxdominan serta dominanxdomian 5. Terpilih 2 seri persilangan yang akan dikembangkan pada penelitian berikutnya : UB34041 x UB 1244 UB44074 x UB Saran Populasi F2 dari seri persilangan terpilih perlu segera diseleksi lebih lanjut untuk mendapatkan galur-galur harapan yang tahan virus mosaik dan hama aphid serta berdaya hasil tinggi. 64

59 DAFTAR PUSTAKA Anonimous Pedoman Pelepasan Varietas Hortikultura (yang telah diperbaiki), Direktorat Perbenihan dan Sarana produksi, Dirjen Hortikultura, 127 hal. Atiri, G.I. and G. Thottappilly Relative Usefulness of Mechanical and Aphid Inoculation as Modes of Screening Cowpeas for Resistance Againts Cowpea Aphid-Borne Mosaic Virus. Trop. Agric. (Trinidad) 61, Bata, H.D., B.B. Singh, S.R. Singh and T.A.O. Ladeinde Inheritance of Resistance to Aphid in Cowpea. Crop Sci. 27, Blackhurst, H.T. and J.C. Miller Jr.. (1980) Cowpea In Hibridization of Crop Plants. pp American Society of Agronomy and Crop Science Society of America Publisher, Madison. Bock, K.R. and M. Conti Cowpea Aphid-Borne Mosaic Virus. In CMI Description of Plant Viruses No BPS Survei Pertanian, Produksi Tanaman Sayuran dan Buah-buahan di Indonesia. BPS, Jakarta Brunt A.A a. Cowpea Moroccan Aphid-Borne Mosaic Potyvirus. In Plant Viruses Online : Descriptions and Lists from the VIDE Database. Australian National University. Canberra Australia. Brunt, A.A b. Cowpea Aphid-Borne Mosaic Virus. Research School of Biological Science, Australia. Crowder, L.V Genetika Tumbuhan (Terjemahan L.Kusdiarti dan Soetarso). Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Departemen Pertanian Basis Data Pertanian, Pusat Data dan Informasi Pertanian, Jakarta. Duriat, A.S Prospek dan Peluang Ekspor Sayuran Indonesia serta Kendala Fitopatologisnya. Dalam Prosiding Konggres /IV dan Seminar Nasional PFI, pp Universitas Sriwijaya, Palembang. Eberhart, S.A. and W.A. Russel Stability parameter for comparing varieties. Crop Sci. 6 : Ferry, R.L. and B.B. Singh Cowpea Genetic : A Review of the Recent Literature. In Advance in Cowpea Research (Eds. Singh, B.B. et al.), pp IITA, Ibadan, Nigeria Finlay, K.W. and G.N. Wilkinson. The analysis of adaptation in plant breeding program. Austr. J. Agron. Res. 14 : Gomez, K.A. and A.A. Gomez Statistical Procedures for Agricultural Research. John Willey & Sons, New York. Hadiastono, T Pengaruh Intensitas Sinar terhadap Tingkat Serangan Penyakit Mosaik pada Kacang Tunggak. Agrivita 19 (3) : Hadiastono, T Pola Sebaran Vektor M. pesicae SulZ dan Intensitas Serangan Potato Leaf Roll Virus pada Tanaman Kentang, Agrivita 26 (2) : Hampton, R.O, G. Thottappily and H.W. Rossel Viral Diseases of Cowpea and Their Control by Resistance-Conferring Genes. In Advance in Cowpea Research (Eds. Singh, B.B. et al.), pp IITA, Ibadan, Nigeria Hidayat Analisis Stabilitas pada Tanaman Tomat dengan Metoda Non- Parameterik. Habitat XI I(4) : Huguenot C., M.T. Furneaux and R.I. Hamilton Further Characterization of Cowpea Aphid-Borne Mosaic and Blackeye Cowpea Mosaic Potyviruses. In Advance in Cowpea Research (Eds. Singh, B.B. et al.), pp IITA, Ibadan, Nigeria 65

60 Indiati, S.W. dan M. Anwari Evaluasi Ketahanan Galur Kacang Hijau terhadap Hama Thrips, Prosiding Lokakarya PERIPI VII, PERIPI-Balitkabi Kanwil Deptan DKI Rekomendasi Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada Tanaman Kacang Panjang di DKI, Jakarta. Kasno, A.; Trustinah, Moedjiono and N. Saleh Perbaikan Hasil, Mutu Hasil dan Ketahanan Varietas Kacang Panjang terhadap CAMV melalui Seleksi Galur pada Populasi Alam Dalam Ringkasan Makalah Seminar Hasil Penelitian Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian. Balitkabi, Malang. Kuswanto, Pendugaan Parameter Genetik Ketahanan Kacang Panjang terhadap Cowpea Aphid Mosaic Virus dan Implikasinya dalam Seleksi, Disertasi. Program Doktor Universitas Brawijaya. Kuswanto, B. Guritno, A. Kasno dan L. Soetopo Pendugaan Jumlah dan Model Aksi Gen Ketahanan Kacang Panjang (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) terhadap Cowpea Aphid Borne Mosaic Virus (CABMV), Agrivita 26 (3) : Kuswanto, B. Guritno, L. Soetopo dan A. Kasno. 2002a. Penentuan Fase Ekspresif Ketahanan Kacang Panjang (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) terhadap Cowpea Aphid Borne Mosaic Virus untuk Studi Genetika Ketahanan, Agrivita XXIV (3) : Kuswanto, L. Soetopo dan S.T. Laili Keragaman Genetik Ketahanan Galurgalur Kacang Panjang terhadap CABMV, Habitat XIV (1) : Kuswanto, L. Soetopo, T. Hadiastono dan A. Kasno Pendugaan Heritabilitas Arti Sempit Ketahanan Kacang Panjang terhadap CABMV Berdasarkan Struktur Kekerabatan, Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati XVI (2) : Kuswanto, L. Soetopo, T. Hadiastono dan A. Kasno Perbaikan ketahanan genetik kacang panjang terhadap CABMV dengan Medode Back Cross, Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati, XVII (2) : Kuswanto, L. Soetopo, T. Hadiastono dan A. Kasno Perakitan varietas kacang panjang tahan CABMV dan berdaya asil tinggi, Laporan PHB XI, Universitas Brawijaya, Malang. Kuswanto, Martiningsih, T., L. Soetopo dan Ainurrasyid Evaluasi ketahanan Kacang Panjang (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) terhadap Penyakit Mosaik (Cowpea Aphid Borne Mosaic Virus) pada populasi BC2 dan BC3, Agrosain Kuswanto, R. Hasri, Y.Sugito dan S. Lestari Pengujian Jumlah Anther dan Waktu Polinasi pada keberhasilan Persilangan Kacang Panjang, Habitat XI (113) : Kuswanto, S Indrato, S.Soekartomo dan A. Soegiyanto Penentuan Waktu Emaskulasi dan Polinasi pada Persilangan Kacang Panjang, Habitat XII (1) : Kuswanto, Sri Lestari P dan A. Andriani. 2002c. Pendugaan Pengaruh Tetua Betina Sifat Ketahanan Kacang Panjang terhadap Cowpea Aphid Borne Mosaic Virus, Habitat XIII (1) : Mather, S.K. and J.L. Jinks Biometrical Genetics. University Press. Cambridge, Great Britain. McClean, P Lecture Note of Quantitative Genetics. Dakota State University, Fargo, ND Moedjiono, Trustinah dan A. Kasno Toleransi Genotipe Kacang Panjang terhadap Komplek Hama dan Penyakit. Dalam Prosiding Simposium V PERIPI Jatim (Ed. S. Ashari dkk), pp Universitas Brawijaya, Malang. Muzayanah, S Seleksi Ketahanan Kacang Panjang (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) Hasil Selfing Populasi BC4 terhadap CABMV, Skripsi, FP Unibraw, Malang 66

61 Noordam, D Identification of Plant Viruses, Methods & Experiments. Centre for Agricultural Publishing and Documentation. Wageningen Nurhayati, E Uji Kerentanan berbagai Umur Kacang Panjang (Vigna sinensis End 1) terhadap Cowpea Aphid-Borne Mosaic Virus. Dalam Prosiding Konggres Nasional X dan Seminar Ilmiah PFI. (Ed. I G.P.Dwijaputra, N. Westen &I.B. Oka), pp Perhimpunan Fitopatologi Indonesia, Denpasar. Palmer, Resistance of Swedes to aphids. In H.F. van Emden, 1972 (Ed.), Aphid Technology. Academic Press, New York. Patel, P.N., J.K. Mlingo, H.K. Leyna, C. Kuwite and E.T. Mmbaga Source of Resistance Inheritance, and Breeding of Cowpea for Resistance to a Strain of Cowpea Aphid-Borne Mosaic Virus from Tanzania. Indian Journal of Genetic, 42 : Peraturan Menteri Pertanian 37/Permentan/OT.140/8/2006 tanggal 31 Agustus 2006, tentang Pengujian, Penilaian, Pelepasan dan Penarikan Varietas Petr, F.C. and K.J. Frey Genotypic Correlations, Dominance, and Heritability of Quantitative Characters in Oats. Crop Sci. 6 : Poespodarsono, S Dasar-Dasar Ilmu Pemuliaan Tanaman. PAU IPB, Bogor. Prabaningrum, L Kehilangan Hasil Panen Kacang Panjang (Vigna sinensis Stikm) akibat Serangan Kutu Kacang Aphis craccivora Koch. Prosiding Seminar Ilmiah Nasional Komoditas Sayuran, pp Saleh, H. Ariawan, T. Hadiastono dan S. Djauhari Pengaruh Saat Infeksi CAMV terhadap Pertumbuhan, Hasil dan Komponen Hasil Tiga Varietas Kacang Tunggak. Dalam Risalah Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan Tahun (Ed. A. Kasno dkk.) Balittan, Malang. Saleh, N. dan Y. Baliadi Pengenalan dan Pengendalian Penyakit Utama pada Kacang Tunggak. Dalam Kacang Tunggak (Ed. A. Kasno dan A. Winarto). pp Schreiner, I Cowpea Aphid (Aphis craccivora Koch). Agricultural Pest of the Pasific, 6, ADAP, Guam Semangun, H Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Singh R.K. and B.D. Chaudhary Biometrical Methods in Quantitative Genetic Analysis. Kalyani Publishers, Ludhiana New Delhi. Singh S.R. and D.J. Allen Pest, Disease, Resistance and Protection in Cowpea, In Advance in Legume Science, Royal Botanic Gardens, Kew, UK Smith, C.M Plant Resistance to Insect, A Fundamental Approach. John Willey & Son., Canada. Soetopo, L. dan N. Saleh Perbaikan Ketahanan Genetik Tanaman terhadap Penyakit. Dalam Prosiding Simposium Pemuliaan Tanaman I. (Ed. A.Kasno et al..) pp PPTI Jawa Timur Stoll, G Natural Crop Protection in the Tropics. Arecol, Switzerland. Sudjana Metode Statistika. Penerbit Tarsito, Bandung, 508 hal Sulyo, Y Pengaruh Perbedaan Waktu Inokulasi CAMV terhadap Hasil Kacang Panjang. Buletin Penelitian Hortikultura XI, Sumardiyono, Y.B., Supratoyo dan Samsuri Penularan Penyakit Mosaik Kacang Panjang oleh Aphis Craccivora. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia 3(1) : Sumarno Pemuliaan untuk Ketahanan terhadap Hama. Dalam Prosiding Simposium Pemuliaan Tanaman I. (Ed. A.Kasno dkk.) pp PPTI Jawa Timur. 67

62 Suwarso Genetika Ketahanan Tembakau Lumajang terhadap Penyakit Lanas dan Pengaruh Sumber Ketahanan terhadap Hasil Panen dan Kualitas Krosok. Disertasi Program Doktor, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Triharso Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University Press., Yogyakarta. Ulrichs, C Cowpea Aphid, Aphis craccivora Koch, Sternorrhyncha : Aphididae, AVRDC, Taiwan. Untung, K., Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu sebagai Paradigma Baru PHT, Makalah Disampaikan pada Rapat Koordinasi program PHT-PR di Depok, 13 Nopember Untung, K Pengendalian Hama Terpadu dengan Pendekatan Interdisipliner. Gallusia, Majalah Peternakan Indonesia, XIII (16) Yulianingsih, R Uji Beda Ketahanan terhadap CABMV pada Kacang Panjang Populasi BC1 dan BC2, serta Persilangan untuk Pembentukan Populasi BC2, Skripsi, FP Unibraw, Malang 68

63 Lampiran : Foto kegiatan Penelitian Searah jarum jam : daun diserang aphid, sulur diserang aphid, musuh aphid muncul pada musim hujan, tanaman untuk kegiatan persilangan, bunga diserang aphid dan sulur diserang aphid parah 69

64 Searah jarum jam : peneliti dan mahasiswa peneliti sedang melakukan persilangan, peneliti dan anggota peneliti, peneliti dan anggota peneliti, kegiatan persilangan, kegiatan persilangan, anggota peneliti dan mahasiswa peneliti 70

65 Searah jarum jam : peneliti dan anggota peneliti saat panen, tenaga lapang sedang merawat tanaman, kondisi tanaman saat berpolong, peneliti bersama anggota peneliti dan para mahasiswa yang sedang dan akan penelitian 71

66 72

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

UNIVERSITAS BRAWIJAYA PERTANIAN LAPORAN HASIL PENELITIAN HIBAH BERSAING XIV/1 TAHUN ANGGARAN 2006 PERAKITAN VARIETAS TANAMAN KACANG PANJANG TOLERAN HAMA APHID DAN BERDAYA HASIL TINGGI Oleh : Kuswanto Lita Soetopo Aminudin Afandi

Lebih terperinci

LAPORAN HASIL PENELITIAN HIBAH KOMPETENSI

LAPORAN HASIL PENELITIAN HIBAH KOMPETENSI BIDANG ILMU PERTANIAN LAPORAN HASIL PENELITIAN HIBAH KOMPETENSI PENGUJIAN GALUR-GALUR HARAPAN KACANG PANJANG UB MENJADI VARIETAS UNGGUL DAN UPAYA MENDAPATKAN HAK PERLINDUNGAN VARIETAS TANAMAN Oleh Prof.

Lebih terperinci

PROSEDUR PEMULIAAN KACANG PANJANG

PROSEDUR PEMULIAAN KACANG PANJANG PROSEDUR PEMULIAAN KACANG PANJANG Varietas Brawijaya 1 Varietas Brawijaya 3 Varietas Brawijaya 4 Varietas Bagong 2 Varietas Bagong 3 Oleh; Kuswanto FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA Prosedur pemuliaan

Lebih terperinci

PERAKITAN VARIETAS TANAMAN KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis (L). Fruwirth) TOLERAN HAMA APHID DAN BERDAYA HASIL TINGGI

PERAKITAN VARIETAS TANAMAN KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis (L). Fruwirth) TOLERAN HAMA APHID DAN BERDAYA HASIL TINGGI PERAKITAN VARIETAS TANAMAN KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis (L). Fruwirth) TOLERAN HAMA APHID DAN BERDAYA HASIL TINGGI Kuswanto, Lita Soetopo, Aminudin Afandhi, Budi Waluyo Fakultas Pertanian Universitas

Lebih terperinci

PROSEDUR PEMULIAAN KACANG PANJANG

PROSEDUR PEMULIAAN KACANG PANJANG PROSEDUR PEMULIAAN KACANG PANJANG Varietas Brawijaya 1 Varietas Brawijaya 3 Varietas Brawijaya 4 Varietas Bagong 2 Varietas Bagong 3 Oleh; Kuswanto FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA Prosedur pemuliaan

Lebih terperinci

PENDUGAAN JUMLAH DAN PERAN GEN TOLERANSI KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) TERHADAP HAMA APHID

PENDUGAAN JUMLAH DAN PERAN GEN TOLERANSI KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) TERHADAP HAMA APHID 46 AGRIVITA VOLUME 29 No 1 FEBRUARI 2007 ISSN : 0126-0537 PENDUGAAN JUMLAH DAN PERAN GEN TOLERANSI KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) TERHADAP HAMA APHID (THE ESTIMATION OF GENES NUMBER AND

Lebih terperinci

PENDUGAAN JUMLAH DAN MODEL AKSI GEN KETAHANAN KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) TERHADAP COWPEA APHID BORNE MOSAIC VIRUS.

PENDUGAAN JUMLAH DAN MODEL AKSI GEN KETAHANAN KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) TERHADAP COWPEA APHID BORNE MOSAIC VIRUS. PENDUGAAN JUMLAH DAN MODEL AKSI GEN KETAHANAN KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) TERHADAP COWPEA APHID BORNE MOSAIC VIRUS Oleh : Kuswanto*), B. Guritno*), L. Soetopo*), A. Kasno**) *) Dosen

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN HIBAH BERSAING PERGURUAN TINGGI XI/2 Tahun Anggaran 2004

LAPORAN PENELITIAN HIBAH BERSAING PERGURUAN TINGGI XI/2 Tahun Anggaran 2004 LAPORAN PENELITIAN HIBAH BERSAING PERGURUAN TINGGI XI/2 Tahun Anggaran 2004 PERAKITAN VARIETAS TANAMAN KACANG PANJANG TAHAN COWPEA APHID BORNE MOSAIC VIRUS (CABMV) DAN BERDAYA HASIL TINGGI Oleh : Kuswanto

Lebih terperinci

PENDUGAAN JUMLAH DAN PERAN GEN TOLERANSI KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) TERHADAP HAMA APHID

PENDUGAAN JUMLAH DAN PERAN GEN TOLERANSI KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) TERHADAP HAMA APHID PENDUGAAN JUMLAH DAN PERAN GEN TOLERANSI KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) TERHADAP HAMA APHID THE ESTIMATION OF GENES NUMBER AND THEIR ACTION OF TOLERANCE TO APHID ON YARDLONG BEAN (Vigna

Lebih terperinci

UJI DAYA HASIL PENDAHULUAN DAN SELEKSI KETAHANAN GALUR-GALUR HARAPAN KACANG PANJANG UNIBRAW TERHADAP CABMV

UJI DAYA HASIL PENDAHULUAN DAN SELEKSI KETAHANAN GALUR-GALUR HARAPAN KACANG PANJANG UNIBRAW TERHADAP CABMV UJI DAYA HASIL PENDAHULUAN DAN SELEKSI KETAHANAN GALUR-GALUR HARAPAN KACANG PANJANG UNIBRAW TERHADAP CABMV Kuswanto*, Astanto Kasno**, Lita Soetopo*, Tutung Hadiastono* *) Fakultas Pertanian Unibraw, **)

Lebih terperinci

SELEKSI GALUR-GALUR HARAPAN KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) UNIBRAW

SELEKSI GALUR-GALUR HARAPAN KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) UNIBRAW SELEKSI GALUR-GALUR HARAPAN KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) UNIBRAW Kuswanto*, Astanto Kasno**, Lita Soetopo*, Tutung Hadiastono* *) Fakultas Pertanian Unibraw, **) Balitkabi ABSTRAK Penelitian

Lebih terperinci

PERAKITAN VARIETAS TANAMAN KACANG PANJANG TAHAN COWPEA APHID BORNE MOSAIC VIRUS (CABMV) DAN BERDAYA HASIL TINGGI

PERAKITAN VARIETAS TANAMAN KACANG PANJANG TAHAN COWPEA APHID BORNE MOSAIC VIRUS (CABMV) DAN BERDAYA HASIL TINGGI LAPORAN PENELITIAN HIBAH BERSAING PERGURUAN TINGGI XI/1 Tahun Anggaran 2003 PERAKITAN VARIETAS TANAMAN KACANG PANJANG TAHAN COWPEA APHID BORNE MOSAIC VIRUS (CABMV) DAN BERDAYA HASIL TINGGI Oleh : Kuswanto

Lebih terperinci

PERBAIKAN KETAHANAN GENETIK KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) TERHADAP CABMV DENGAN METODE BACKCROSS

PERBAIKAN KETAHANAN GENETIK KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) TERHADAP CABMV DENGAN METODE BACKCROSS PERBAIKAN KETAHANAN GENETIK KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) TERHADAP CABMV DENGAN METODE BACKCROSS Kuswanto*), Lita Soetopo*), Tutung Hadiastono*), Astanto Kasno**) *) Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

EVALUASI KERAGAMAN GENETIK TOLERANSI KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis (L). Fruwirth) TERHADAP HAMA APHID

EVALUASI KERAGAMAN GENETIK TOLERANSI KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis (L). Fruwirth) TERHADAP HAMA APHID EVALUASI KERAGAMAN GENETIK TOLERANSI KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis (L). Fruwirth) TERHADAP HAMA APHID EVALUATION OF TOLERANCE GENETIC VARIABILITY TO APHIDS ON YARDLONG BEAN (Vigna sesquipedalis (L).

Lebih terperinci

EVALUASI DAYA WARIS SIFAT KETAHANAN KACANG PANJANG TERHADAP CABMV BERDASARKAN STRUKTUR KEKERABATAN ABSTRAK

EVALUASI DAYA WARIS SIFAT KETAHANAN KACANG PANJANG TERHADAP CABMV BERDASARKAN STRUKTUR KEKERABATAN ABSTRAK EVALUASI DAYA WARIS SIFAT KETAHANAN KACANG PANJANG TERHADAP CABMV BERDASARKAN STRUKTUR KEKERABATAN Oleh Kuswanto*), Lita Soetopo*), Tutung Hadiastono*), Astanto Kasno**) *) Fakultas Pertanian Universitas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine Max [L.] Merrill) merupakan tanaman pangan yang memiliki

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine Max [L.] Merrill) merupakan tanaman pangan yang memiliki I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kedelai (Glycine Max [L.] Merrill) merupakan tanaman pangan yang memiliki nilai gizi yang sangat tinggi terutama proteinnya (35-38%) hampir mendekati protein

Lebih terperinci

KERAGAMAN GENETIK POPULASI BULK F2, F3 DAN F4 KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis (L) Fruwirth) HASIL PERSILANGAN PS x MLG 15151

KERAGAMAN GENETIK POPULASI BULK F2, F3 DAN F4 KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis (L) Fruwirth) HASIL PERSILANGAN PS x MLG 15151 KERAGAMAN GENETIK POPULASI BULK F2, F3 DAN F4 KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis (L) Fruwirth) HASIL PERSILANGAN PS x MLG 15151 (EVALUATION OF GENETIC VARIABILITY ON F2, F3 AND F4 BULK POPULATION OF YARDLONG

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Galur Cabai Besar. Pembentukan Populasi F1, F1R, F2, BCP1 dan BCP2 (Hibridisasi / Persilangan Biparental) Analisis Data

BAHAN DAN METODE. Galur Cabai Besar. Pembentukan Populasi F1, F1R, F2, BCP1 dan BCP2 (Hibridisasi / Persilangan Biparental) Analisis Data 17 BAHAN DAN METODE Studi pewarisan ini terdiri dari dua penelitian yang menggunakan galur persilangan berbeda yaitu (1) studi pewarisan persilangan antara cabai besar dengan cabai rawit, (2) studi pewarisan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kacang panjang diklasifikasikan sebagai berikut :

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kacang panjang diklasifikasikan sebagai berikut : II. TINJAUAN PUSTAKA.1 Kacang Panjang.1.1 Klasifikasi Tanaman Kacang Panjang Tanaman kacang panjang diklasifikasikan sebagai berikut : Kerajaan Divisi Kelas Sub kelas Ordo Famili Genus : Plantae : Spermatophyta

Lebih terperinci

METODE PEMULIAAN TANAMAN MENYERBUK SENDIRI

METODE PEMULIAAN TANAMAN MENYERBUK SENDIRI METODE PEMULIAAN TANAMAN MENYERBUK SENDIRI Metode Pemuliaan Introduksi Seleksi Hibridisasi penanganan generasi bersegregasi dengan Metode silsilah (pedigree) Metode curah (bulk) Metode silang balik (back

Lebih terperinci

( 2 ) untuk derajat kecocokan nisbah segregasi pada setiap generasi silang balik dan

( 2 ) untuk derajat kecocokan nisbah segregasi pada setiap generasi silang balik dan PEMBAHASAN UMUM Penggabungan karakter resisten terhadap penyakit bulai dan karakter yang mengendalikan peningkatan lisin dan triptofan pada jagung merupakan hal yang sulit dilakukan. Hal ini disebabkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kacang panjang (Vigna sinensis L.) tergolong dalam Famili Fabaceae.

BAB I PENDAHULUAN. Kacang panjang (Vigna sinensis L.) tergolong dalam Famili Fabaceae. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kacang panjang (Vigna sinensis L.) tergolong dalam Famili Fabaceae. Golongan kacang panjang ini merupakan tanaman perdu semusim yang memiliki banyak manfaat bagi

Lebih terperinci

UJI ADAPTASI KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) GALUR UNIBRAW

UJI ADAPTASI KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) GALUR UNIBRAW Habitat Vol.XVII (2) : 103-117 Juni 2006 ISSN : 0853-5167 UJI ADAPTASI KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth) GALUR UNIBRAW ADAPTATION TEST OF YARD LONG BEAN (Vigna sesquipedalis L. Fruwirth)

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max [L]. Merrill) merupakan salah satu komoditas pangan

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max [L]. Merrill) merupakan salah satu komoditas pangan 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kedelai (Glycine max [L]. Merrill) merupakan salah satu komoditas pangan dengan kandungan protein nabati yang tinggi dan harga yang relatif murah. Kedelai

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Kedelai merupakan tanaman asli daratan Cina dan telah dibudidayakan sejak 2500

1. PENDAHULUAN. Kedelai merupakan tanaman asli daratan Cina dan telah dibudidayakan sejak 2500 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kedelai merupakan tanaman asli daratan Cina dan telah dibudidayakan sejak 2500 SM. Sejalan dengan makin berkembangnya perdagangan antarnegara yang terjadi pada

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. padi karena banyak dibutuhkan untuk bahan pangan, pakan ternak, dan industri.

I. PENDAHULUAN. padi karena banyak dibutuhkan untuk bahan pangan, pakan ternak, dan industri. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kedelai (Glycine max L) merupakan salah satu komoditas pangan penting setelah padi karena banyak dibutuhkan untuk bahan pangan, pakan ternak, dan industri. Sebagai sumber

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia sebagai sumber utama protein nabati. Kontribusi kedelai sangat

I. PENDAHULUAN. Indonesia sebagai sumber utama protein nabati. Kontribusi kedelai sangat 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kedelai (Glycine max [L.] Merrill) merupakan salah satu bahan pangan penting di Indonesia sebagai sumber utama protein nabati. Kontribusi kedelai sangat dominan dalam

Lebih terperinci

LAPORAN PROGRAM PENERAPAN IPTEK

LAPORAN PROGRAM PENERAPAN IPTEK LAPORAN PROGRAM PENERAPAN IPTEK PENERAPAN TEKNIK SELEKSI KETAHANAN KACANG PANJANG UNTUK PENGENDALIAN HAMA APHID DI DESA JATIKERTO, KECAMATAN KROMENGAN KABUPATEN MALANG Oleh : 1. Izmi Yulianah, SP., MSi.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia tinggi, akan tetapi produksinya sangat rendah (Badan Pusat Statistik,

I. PENDAHULUAN. Indonesia tinggi, akan tetapi produksinya sangat rendah (Badan Pusat Statistik, 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Tanaman kedelai merupakan salah satu contoh dari komoditas tanaman pangan yang penting untuk dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Kebutuhan kedelai di Indonesia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max L. Merrill) merupakan tanaman pangan yang sangat dibutuhkan

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max L. Merrill) merupakan tanaman pangan yang sangat dibutuhkan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kedelai (Glycine max L. Merrill) merupakan tanaman pangan yang sangat dibutuhkan masyarakat. Kedelai biasanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan tempe, tahu, kecap,

Lebih terperinci

PERAKITAN VARIETAS TANAMAN KACANG PANJANG TAHAN COWPEA APHID BORNE MOSAIC VIRUS DAN BERDAYA HASIL TINGGI

PERAKITAN VARIETAS TANAMAN KACANG PANJANG TAHAN COWPEA APHID BORNE MOSAIC VIRUS DAN BERDAYA HASIL TINGGI PERAKITAN VARIETAS TANAMAN KACANG PANJANG TAHAN COWPEA APHID BORNE MOSAIC VIRUS DAN BERDAYA HASIL TINGGI Kuswanto*, Astanto Kasno**, Lita Soetopo*, Tutung Hadiastono* *) Fakultas Pertanian Unibraw, **)

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Kualitatif Karakter kualitatif yang diamati pada penelitian ini adalah warna petiol dan penampilan daun. Kedua karakter ini merupakan karakter yang secara kualitatif berbeda

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max [L.] Merrill) merupakan salah satu tanaman sumber protein

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max [L.] Merrill) merupakan salah satu tanaman sumber protein I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kedelai (Glycine max [L.] Merrill) merupakan salah satu tanaman sumber protein nabati yang penting mengingat kualitas asam aminonya yang tinggi, seimbang dan

Lebih terperinci

menunjukkan karakter tersebut dikendalikan aksi gen dominan sempurna dan jika hp < -1 atau hp > 1 menunjukkan karakter tersebut dikendalikan aksi gen

menunjukkan karakter tersebut dikendalikan aksi gen dominan sempurna dan jika hp < -1 atau hp > 1 menunjukkan karakter tersebut dikendalikan aksi gen 71 PEMBAHASAN UMUM Nisbah populasi F2 untuk karakter warna batang muda, bentuk daun dan tekstur permukaan buah adalah 3 : 1. Nisbah populasi F2 untuk karakter posisi bunga dan warna buah muda adalah 1

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kedelai ( Glycine max (L.) Merrill) merupakan salah satu tanaman penghasil

I. PENDAHULUAN. Kedelai ( Glycine max (L.) Merrill) merupakan salah satu tanaman penghasil I. PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Kedelai ( Glycine max (L.) Merrill) merupakan salah satu tanaman penghasil protein dan lemak nabati yang cukup penting untuk memenuhi nutrisi tubuh manusia. Bagi industri

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Percobaan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Percobaan 11 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juli 2012 di Dusun Bandungsari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Analisis tanah dilakukan

Lebih terperinci

TINDAK GEN KETAHANAN TERHADAP PENYAKIT KARAT (Pucinnia arachidis, Speg.) PADA KACANG TANAH GENE ACTION OF THE RUST DISEASE RESISTANCE IN GROUNDNUT

TINDAK GEN KETAHANAN TERHADAP PENYAKIT KARAT (Pucinnia arachidis, Speg.) PADA KACANG TANAH GENE ACTION OF THE RUST DISEASE RESISTANCE IN GROUNDNUT ISSN 1411 0067 Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. Volume 9, No. 2, 2007, Hlm. 172-177 172 TINDAK GEN KETAHANAN TERHADAP PENYAKIT KARAT (Pucinnia arachidis, Speg.) PADA KACANG TANAH GENE ACTION OF THE

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian dimulai bulan November 2009 sampai dengan bulan Mei 2010. Kondisi curah hujan selama penelitian berlangsung berada pada interval 42.9 mm sampai dengan 460.7

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan salah satu komoditas pangan

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan salah satu komoditas pangan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan salah satu komoditas pangan bergizi tinggi sebagai sumber protein nabati dengan harga terjangkau. Di Indonesia, kedelai banyak

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedelai merupakan tanaman pangan berupa semak yang tumbuh tegak. Kedelai

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedelai merupakan tanaman pangan berupa semak yang tumbuh tegak. Kedelai II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Kedelai 2.1.1 Klasifikasi tanaman kedelai Kedelai merupakan tanaman pangan berupa semak yang tumbuh tegak. Kedelai jenis liar Glycine ururiencis, merupakan kedelai yang

Lebih terperinci

KACANG HIJAU. 16 Hasil Utama Penelitian Tahun 2013 PERBAIKAN GENETIK

KACANG HIJAU. 16 Hasil Utama Penelitian Tahun 2013 PERBAIKAN GENETIK KACANG HIJAU PERBAIKAN GENETIK Kacang hijau semakin menjadi pilihan untuk dibudi dayakan, karena secara teknis agronomis efisien terhadap air dibanding padi atau tanaman palawija lain. Masalah utama budi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedelai telah dibudidayakan sejak abad ke-17 dan telah ditanam di berbagai daerah di

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedelai telah dibudidayakan sejak abad ke-17 dan telah ditanam di berbagai daerah di II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Kedelai 2.1.1 Klasifikasi tanaman kedelai Kedelai telah dibudidayakan sejak abad ke-17 dan telah ditanam di berbagai daerah di Indonesia. Daerah utama penanaman kedelai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max [L.] Merrill) merupakan salah satu komoditas pangan

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max [L.] Merrill) merupakan salah satu komoditas pangan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kedelai (Glycine max [L.] Merrill) merupakan salah satu komoditas pangan strategis ketiga di Indonesia setelah padi dan jagung. Sejalan dengan bertambahnya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kacang panjang (Vigna sinensis L.) merupakan tanaman semusim yang menjalar

I. PENDAHULUAN. Kacang panjang (Vigna sinensis L.) merupakan tanaman semusim yang menjalar I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kacang panjang (Vigna sinensis L.) merupakan tanaman semusim yang menjalar dan banyak dimanfaatkan oleh manusia. Tanaman ini dapat dikonsumsi segar sebagai

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Morfologi dan Agroekologi Tanaman Kacang Panjang. Kacang panjang merupakan tanaman sayuran polong yang hasilnya dipanen

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Morfologi dan Agroekologi Tanaman Kacang Panjang. Kacang panjang merupakan tanaman sayuran polong yang hasilnya dipanen II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi dan Agroekologi Tanaman Kacang Panjang Kacang panjang merupakan tanaman sayuran polong yang hasilnya dipanen dalam bentuk polong muda. Kacang panjang banyak ditanam di

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max [L.] Merril) merupakan salah satu komoditas penting dalam

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max [L.] Merril) merupakan salah satu komoditas penting dalam 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kedelai (Glycine max [L.] Merril) merupakan salah satu komoditas penting dalam hal penyediaan pangan, pakan dan bahan-bahan industri, sehingga telah menjadi

Lebih terperinci

Penelitian I: Pendugaan Ragam dan Model Genetik Karakter Ketahanan terhadap Penyakit Bulai pada Jagung Pendahuluan

Penelitian I: Pendugaan Ragam dan Model Genetik Karakter Ketahanan terhadap Penyakit Bulai pada Jagung Pendahuluan Penelitian I: Pendugaan Ragam dan Model Genetik Karakter Ketahanan terhadap Penyakit Bulai pada Jagung Pendahuluan Kendala biotis yang paling sering terjadi dalam budidaya jagung di Indonesia adalah penyakit

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Pemuliaan Jagung Hibrida

TINJAUAN PUSTAKA. Pemuliaan Jagung Hibrida TINJAUAN PUSTAKA Pemuliaan Jagung Hibrida Kegiatan pemuliaan diawali dengan ketersediaan sumberdaya genetik yang beragam. Keanekaragaman plasma nutfah tanaman jagung merupakan aset penting sebagai sumber

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Labolatorium Lapangan Terpadu Fakultas

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Labolatorium Lapangan Terpadu Fakultas III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Labolatorium Lapangan Terpadu Fakultas Pertanian, Universitas Lampung dari bulan September 2013 sampai dengan Januari

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kedelai (Glycine max [L.] Merrill) merupakan salah satu tanaman

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kedelai (Glycine max [L.] Merrill) merupakan salah satu tanaman II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Kedelai 2.1.1 Taksonomi dan Morfologi Tanaman kedelai (Glycine max [L.] Merrill) merupakan salah satu tanaman pangan dari famili Leguminosae yang berumur pendek. Secara

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 31 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Efisiensi Keberhasilan Hibridisasi Buatan Keberhasilan suatu hibridisasi buatan dapat dilihat satu minggu setelah dilakukan penyerbukan. Pada hibridisasi buatan kacang tanah,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Perbanyakan Inokulum BCMV Persiapan Lahan dan Tanaman Uji

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Perbanyakan Inokulum BCMV Persiapan Lahan dan Tanaman Uji 9 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di kebun percobaan Cikabayan dan Laboratorium Virologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Morfologi Tanaman Cabai

TINJAUAN PUSTAKA Morfologi Tanaman Cabai 3 TINJAUAN PUSTAKA Tanaman cabai (Capsicum annuum L.) termasuk ke dalam kingdom Plantae, divisi Spermatophyta, kelas Dicotyledoneae, ordo Solanes, famili Solanaceae, dan genus Capsicum. Tanaman ini berasal

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Lahan Kering Masam

TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Lahan Kering Masam 4 TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Lahan Kering Masam Definisi lahan kering adalah lahan yang pernah digenangi atau tergenang air pada sebagian besar waktu dalam setahun (Mulyani et al., 2004). Menurut Mulyani

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Produksi kedelai di Indonesia pada tahun 2009 mencapai ton. Namun,

I. PENDAHULUAN. Produksi kedelai di Indonesia pada tahun 2009 mencapai ton. Namun, 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Produksi kedelai di Indonesia pada tahun 2009 mencapai 974.512 ton. Namun, pada tahun 2010 produksi kedelai nasional mengalami penurunan menjadi 907.031

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Trustinah (1993) sistematika (taksonomi) kacang tanah diklasifikasikan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Trustinah (1993) sistematika (taksonomi) kacang tanah diklasifikasikan 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi dan Morfologi Menurut Trustinah (1993) sistematika (taksonomi) kacang tanah diklasifikasikan sebagai berikut. Kingdom Divisi Sub-divisi Class Ordo Famili Genus Spesies

Lebih terperinci

Prof..Dr. Ir. Kuswanto, MS Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Prof..Dr. Ir. Kuswanto, MS Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Prof..Dr. Ir. Kuswanto, MS - 2012 Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya ! Pokok Bahasan 1. Pendahuluan, pengertian 2. Deskripsi karakter kuantitatif 3. Pengaruh genetik dan lingkungan pada karakter

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kedelai merupakan sumber protein penting di Indonesia. Kesadaran masyarakat

I. PENDAHULUAN. Kedelai merupakan sumber protein penting di Indonesia. Kesadaran masyarakat I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kedelai merupakan sumber protein penting di Indonesia. Kesadaran masyarakat akan pemenuhan gizi yang baik semakin meningkat, baik kecukupan protein hewani

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Pemuliaan Tanaman Padi

TINJAUAN PUSTAKA Pemuliaan Tanaman Padi TINJAUAN PUSTAKA Pemuliaan Tanaman Padi Peningkatan hasil tanaman dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan teknik bercocok tanam yang baik dan dengan peningkatan kemampuan berproduksi sesuai harapan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Syarat Tumbuh

TINJAUAN PUSTAKA. Syarat Tumbuh 3 TINJAUAN PUSTAKA Syarat Tumbuh Tanah Jenis tanah yang sesuai untuk pertumbuhan kacang tanah adalah lempung berpasir, liat berpasir, atau lempung liat berpasir. Keasaman (ph) tanah yang optimal untuk

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Kedelai (Glycine max [L.] Merrill) berasal dari daratan Cina, yang kemudian

TINJAUAN PUSTAKA. Kedelai (Glycine max [L.] Merrill) berasal dari daratan Cina, yang kemudian II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Kedelai 2.1.1 Klasifikasi tanaman kedelai Kedelai (Glycine max [L.] Merrill) berasal dari daratan Cina, yang kemudian tersebar ke daerah Mancuria, Korea, Jepang, Rusia,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan salah satu komoditi pangan utama

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan salah satu komoditi pangan utama I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan salah satu komoditi pangan utama setelah padi dan jagung yang merupakan sumber protein utama bagi masyarakat. Pemanfaatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pemuliaan tanaman adalah suatu metode yang secara sistematik merakit

I. PENDAHULUAN. Pemuliaan tanaman adalah suatu metode yang secara sistematik merakit 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Pemuliaan tanaman adalah suatu metode yang secara sistematik merakit keragaman genetik menjadi suatu bentuk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia (Makmur,

Lebih terperinci

Rerata. Variance = Ragam. Varian/ragam (S 2 ) : Standar Deviasi : s = s 2

Rerata. Variance = Ragam. Varian/ragam (S 2 ) : Standar Deviasi : s = s 2 II. KOMPONEN VARIAN SIFAT KUANTITATIF Kuswanto, 2012 1.Statistik sifat kuantitatif Karena sifat kuantitatif akan membentuk distribusi kontinyu dari penotip, maka sifat-sifat tersebut dianalisis dengan

Lebih terperinci

I. TINJAUAN PUSTAKA. Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan salah satu tanaman palawija jenis

I. TINJAUAN PUSTAKA. Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan salah satu tanaman palawija jenis I. TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Botani Kacang Tanah Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan salah satu tanaman palawija jenis Leguminosa yang memiliki kandungan gizi sangat tinggi. Kacang tanah merupakan

Lebih terperinci

HASIL. memindahkan kecambah ke larutan hara tanpa Al.

HASIL. memindahkan kecambah ke larutan hara tanpa Al. 2 memindahkan kecambah ke larutan hara tanpa Al. Analisis Root re-growth (RRG) Pengukuran Root Regrowth (RRG) dilakukan dengan cara mengukur panjang akar pada saat akhir perlakuan cekaman Al dan pada saat

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Botani Tanaman Cabai

TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Botani Tanaman Cabai 3 TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Cabai ditemukan pertama kali oleh Columbus pada saat menjelajahi Dunia Baru. Tanaman cabai hidup pada daerah tropis dan wilayah yang bersuhu hangat. Selang beberapa

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Cabai Lingkungan Tumbuh

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Cabai Lingkungan Tumbuh TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Cabai Capsicum annuum L. merupakan tanaman annual berbentuk semak dengan tinggi mencapai 0.5-1.5 cm, memiliki akar tunggang yang sangat kuat dan bercabang-cabang.

Lebih terperinci

karakter yang akan diperbaiki. Efektivitas suatu karakter untuk dijadikan karakter seleksi tidak langsung ditunjukkan oleh nilai respon terkorelasi

karakter yang akan diperbaiki. Efektivitas suatu karakter untuk dijadikan karakter seleksi tidak langsung ditunjukkan oleh nilai respon terkorelasi 87 PEMBAHASAN UMUM Pemanfaatan lahan yang ada di bawah tegakan tanaman perkebunan dapat memperluas areal tanam kedelai sehingga memacu peningkatan produksi kedelai nasional. Kendala yang dihadapi dalam

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Tanaman Jagung (Zea Mays L.) Jagung (Zea mays L) adalah tanaman semusim dan termasuk jenis rumputan/graminae yang mempunyai batang tunggal, meski terdapat kemungkinan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (2007), benih padi hibrida secara

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (2007), benih padi hibrida secara 8 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengembangan Padi Inbrida di Indonesia Menurut Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (2007), benih padi hibrida secara definitif merupakan turunan pertama (F1) dari persilangan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Stabilitas Galur Sidik ragam dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap karakter pengamatan. Perlakuan galur pada percobaan ini memberikan hasil berbeda nyata pada taraf

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Jagung

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Jagung TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Jagung Jagung merupakan tanaman semusim yang menyelesaikan satu siklus hidupnya selama 80-150 hari. Bagian pertama dari siklus tersebut merupakan tahap pertumbuhan vegetatif

Lebih terperinci

Penelitian III: Seleksi dan Uji Daya Gabung Galur-Galur Hasil Introgresi Gen Resesif Mutan o2 untuk Karakter Ketahanan terhadap Penyakit Bulai

Penelitian III: Seleksi dan Uji Daya Gabung Galur-Galur Hasil Introgresi Gen Resesif Mutan o2 untuk Karakter Ketahanan terhadap Penyakit Bulai Penelitian III: Seleksi dan Uji Daya Gabung Galur-Galur Hasil Introgresi Gen Resesif Mutan o untuk Karakter Ketahanan terhadap Penyakit Bulai Pendahuluan Penyakit bulai merupakan salah satu penyakit utama

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Lokasi penelitian terletak di Kebun Percobaan Leuwikopo. Lahan yang digunakan merupakan lahan yang biasa untuk penanaman cabai, sehingga sebelum dilakukan penanaman,

Lebih terperinci

sehingga diharapkan dapat menghasilkan keturunan yang memiliki toleransi yang lebih baik dibandingkan tetua toleran (segregan transgresif).

sehingga diharapkan dapat menghasilkan keturunan yang memiliki toleransi yang lebih baik dibandingkan tetua toleran (segregan transgresif). PEMBAHASAN UMUM Sorgum merupakan salah satu tanaman serealia yang memiliki toleransi yang tinggi terhadap kekeringan sehingga berpotensi untuk dikembangkan di lahan kering masam di Indonesia. Tantangan

Lebih terperinci

Gambar 1. Varietas TAKAR-1 (GH 4) Edisi 5-11 Juni 2013 No.3510 Tahun XLIII. Badan Litbang Pertanian

Gambar 1. Varietas TAKAR-1 (GH 4) Edisi 5-11 Juni 2013 No.3510 Tahun XLIII. Badan Litbang Pertanian TAKAR-1 dan TAKAR-2, Varietas Unggul Kacang Tanah Terbaru Dua varietas unggul baru kacang tanah yaitu TAKAR-1 dan TAKAR-2 telah dilepas berdasarkan SK Kementan No. 3253/Kpts/SR.120/9/2012 dan No 3255/Kpts/SR.120/9/2012.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. (Vigna sinensis L.) bukan tanaman asli Indonesia. Plasma nutfah tanaman kacang

II. TINJAUAN PUSTAKA. (Vigna sinensis L.) bukan tanaman asli Indonesia. Plasma nutfah tanaman kacang II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kacang Panjang (Vigna sinensis L.) Kacang panjang adalah salah satu jenis sayuran yang sudah sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia maupun dunia. Tanaman kacang panjang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. secara signifikan. Melalui proses seleksi tanaman yang diikuti dengan penyilangan

I. PENDAHULUAN. secara signifikan. Melalui proses seleksi tanaman yang diikuti dengan penyilangan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemuliaan tanaman telah menghasilkan bibit unggul yang meningkatkan hasil pertanian secara signifikan. Melalui proses seleksi tanaman yang diikuti dengan penyilangan dihasilkan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Secara morfologi tanaman jagung manis merupakan tanaman berumah satu

II. TINJAUAN PUSTAKA. Secara morfologi tanaman jagung manis merupakan tanaman berumah satu II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi dan Klasifikasi Jagung Manis Secara morfologi tanaman jagung manis merupakan tanaman berumah satu (monoecious) dengan letak bunga jantan terpisah dari bunga betina pada

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kedelai merupakan komoditas tanaman menjadi sumber protein nabati dan

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kedelai merupakan komoditas tanaman menjadi sumber protein nabati dan 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kedelai merupakan komoditas tanaman menjadi sumber protein nabati dan diolah menjadi berbagai bahan pangan seperti tahu, tempe dan sari kedelai, dan lainnya, yang dikonsumsi

Lebih terperinci

Pokok Bahasan: Pemuliaan untuk Tanaman Menyerbuk Sendiri. Arya Widura R., SP., MSI PS. Agroekoteknologi Universitas Trilogi

Pokok Bahasan: Pemuliaan untuk Tanaman Menyerbuk Sendiri. Arya Widura R., SP., MSI PS. Agroekoteknologi Universitas Trilogi 5 Pokok Bahasan: Pemuliaan untuk Tanaman Menyerbuk Sendiri Arya Widura R., SP., MSI PS. Agroekoteknologi Universitas Trilogi 1. Tanaman menyerbuk sendiri 2. Dasar genetik Pemuliaan Tanaman Menyerbuk Sendiri

Lebih terperinci

PENAMPILAN GENOTIPE-GENOTIPE KACANG TANAH DI LAHAN LEBAK DANGKAL ABSTRAK

PENAMPILAN GENOTIPE-GENOTIPE KACANG TANAH DI LAHAN LEBAK DANGKAL ABSTRAK PENAMPILAN GENOTIPEGENOTIPE KACANG TANAH DI LAHAN LEBAK DANGKAL Fatimah Azzahra dan Koesrini Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) ABSTRAK Penelitian terhadap genotifegenotife kacang tanah di

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Ilmiah Tanaman Kedelai Klasifikasi ilmiah tanaman kedelai sebagai berikut: Divisi Subdivisi Kelas Suku Ordo Famili Subfamili Genus Spesies : Magnoliophyta : Angiospermae

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari

I. PENDAHULUAN. Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan. Jagung adalah salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Jumlah Infestasi terhadap Populasi B. tabaci pada Umur Kedelai yang Berbeda

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Jumlah Infestasi terhadap Populasi B. tabaci pada Umur Kedelai yang Berbeda BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Jumlah Infestasi terhadap Populasi B. tabaci pada Umur Kedelai yang Berbeda 4.1.1 Pengaruh Jumlah Infestasi terhadap Populasi B. tabaci Berdasarkan hasil penelitian

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. fenotipe yang diamati menunjukkan kriteria keragaman yang luas hampir pada

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. fenotipe yang diamati menunjukkan kriteria keragaman yang luas hampir pada IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Pada penelitian F 5 hasil persilangan Wilis x B 3570 ini ditanam 15 genotipe terpilih dari generasi sebelumnya, tetua Wilis, dan tetua B 3570. Pada umumnya

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedelai (Glycine max L) merupakan salah satu tanaman pangan pengasil protein

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedelai (Glycine max L) merupakan salah satu tanaman pangan pengasil protein II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Kedelai 2.1.1 Sejarah Singkat Tanaman Kedelai Kedelai (Glycine max L) merupakan salah satu tanaman pangan pengasil protein nabati. Tanaman ini berasal dari daratan Cina

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Virus pada Pertanaman Mentimun

HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Virus pada Pertanaman Mentimun 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Virus pada Pertanaman Mentimun Bogor dikenal sebagai salah satu daerah sentra pertanian khususnya tanaman hortikultura seperti buah-buahan, cabai, tomat, kacang panjang,

Lebih terperinci

V. KACANG HIJAU. 36 Laporan Tahun 2015 Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

V. KACANG HIJAU. 36 Laporan Tahun 2015 Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi V. KACANG HIJAU 5.1. Perbaikan Genetik Kacang hijau banyak diusahakan pada musim kemarau baik di lahan sawah irigasi maupun tadah hujan. Pada musim kemarau ketersediaan air biasanya sangat terbatas dan

Lebih terperinci

"PEMBENTUKAN GALUR-GALUR HARAPAN KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L.Fruwirth) BERPOLONG UNGU " ABSTRACT

PEMBENTUKAN GALUR-GALUR HARAPAN KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L.Fruwirth) BERPOLONG UNGU  ABSTRACT "PEMBENTUKAN GALUR-GALUR HARAPAN KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis L.Fruwirth) BERPOLONG UNGU " Kuswanto, Budi Waluyo, Puspita Hardinaningsih Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Jl. Veteran Malang,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 18 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengujian Inokulasi Virus Tungro pada Varietas Hibrida dan Beberapa Galur Padi di Rumah Kaca Pengaruh Infeksi Virus Tungro terhadap Tipe Gejala Gambar 2 menunjukkan variasi

Lebih terperinci

Mekanisme Ketahanan, Pola Pewarisan Genetik Dan Screening Pada Varietas Unggul Tahan Hama

Mekanisme Ketahanan, Pola Pewarisan Genetik Dan Screening Pada Varietas Unggul Tahan Hama TUGAS MATA KULIAH PEMULIAAN TANAMAN Mekanisme Ketahanan, Pola Pewarisan Genetik Dan Screening Pada Varietas Unggul Tahan Hama Dewi Ma rufah Oleh : H0106006 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Lebih terperinci

BEGINILAH BEGOMOVIRUS, PENYAKIT BARU PADA TEMBAKAU

BEGINILAH BEGOMOVIRUS, PENYAKIT BARU PADA TEMBAKAU BEGINILAH BEGOMOVIRUS, PENYAKIT BARU PADA TEMBAKAU Annisrien Nadiah, SP POPT Ahli Pertama [email protected] Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya Setiap tahun, produksi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penanaman dilakukan pada bulan Februari 2011. Tanaman melon selama penelitian secara umum tumbuh dengan baik dan tidak ada mengalami kematian sampai dengan akhir penelitian

Lebih terperinci