BAB II TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Liani Kurnia
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Motivasi Motivasi adalah sebuah alasan untuk berperilaku. Sebuah motif adalah energi kuat yang mengaktifkan perilaku dan memberikan tujuan serta arah untuk perilaku tersebut (Del I. Hawkins 2013). Motivasi adalah apa yang membuat orang bergerak, kekuatan pendorong untuk semua perilaku manusia (Mittal 2004). Beerli dan Mart mengemukakan (dalam Patricia Oom do Valle 2006) bahwa motivasi adalah kebutuhan yang mendorong individu untuk bertindak dengan cara tertentu untuk mencapai kepuasan yang diinginkan. Dengan definisi-definisi tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah sebuah kekuatan penggerak bagi seseorang dalam melakukan segala sesuatu untuk mencapai keinginannya. Seseorang berperilaku karena memiliki sebuah alasan tertentu. Contohnya, seorang turis yang pergi ke luar negeri untuk membeli sebuah barang yang diinginkannya, dimana barang tersebut hanya ada di negara tujuan tersebut, maka ia memiliki alasan kenapa ia berbelanja hingga ke luar negeri dikarenakan ia ingin membeli produk tersebut. Penting adanya motivasi karena motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan dan mendukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil yang optimal (Prabu 2005) Teori Hirarki Maslow Teori kebutuhan Maslow merupakan salah satu dari teori motivasi yang mana adalah sebuah teori makro yang dirancang untuk menjelaskan sebagian besar perilaku manusia dalam istilah umum.
2 Gambaran teori Hierarki Kebutuhan Maslow, atas dasar sebagai berikut menurut Hasibuan (dalam Prabu 2005): a. Manusia adalah makhuk sosial yang berkeinginan. Ia selalu menginginkan sesuatu yang lebih banyak. Keinginan ini akan terus-menerus dirasakanan, dan hanya akan berhenti bila akhir hayatnya tiba. b. Suatu kebutuhan yang telah dipuaskan tidak menjadi alat motivator bagi pelakunya, hanya kebutuhan yang belum terpenuhi yang akan menjadi motivator. Artinya seseorang memiliki motivasi untuk melakukan sesuatu ketika kebutuhan/hal tersebut belum terpenuhi. c. Kebutuhan manusia tersusun dalam suatu jenjang/hierarki, yakni dimulai dari tingkat kebutuhan yang terendah yaitu physicological hingga kebutuhan paling tinggi yaitu self-actualization. Gambar 2.1: Hirarki Maslow. Sumber: (Del I. Hawkins 2013) 1. Physiological. Makan, air, tidur, dan sampai batas seks adalah motivasi fisiologis (Del I. Hawkins 2013). Kebutuhan ini merupakan kebutuhan
3 dasar yang dibutuhkan oleh manusia seperti kebutuhan akan makanan, minum, tidur, bernapas, buang air besar/kecil hingga kebutuhan manusia akan seks. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka manusia tidak membutuhkan kebutuhan tingkat atas lainnya. 2. Safety. mencari keselamatan fisik dan aman, stabilitas, lingkungan yang akrab, dan sebagainya adalah manifestasi dari kebutuhan akan rasa aman (Del I. Hawkins 2013). Kebutuhan akan rasa aman ini dibutuhkan oleh setiap manusia untuk melindungi dirinya dari keadaan bahaya. Kebutuhan ini seperti kebutuhan akan dirinya sendiri, keluarganya dan kerabatnya, kebutuhan akan kesehatan, kebutuhan akan moralitas serta kebutuhan akan harta. 3. Belongingness. Motif ini tercermin dalam keinginan untuk cinta, persahabatan, persatuan, dan penerimaan kelompok (Del I. Hawkins 2013). Setiap manusia membutuhkan rasa mencintai dan dicintai baik oleh keluarga, teman maupun pasangan hidup, kemudian manusia pun membutuhkan rasa memiliki yang dapat didapatkan dalam sebuah persahabatan dan rasa diterima oleh kelompoknya. Hal ini membuat mereka merasakan sebuah kehangatan dalam hidup. 4. Esteem. Keinginan untuk status, keunggulan, harga diri, dan gengsi adalah contoh kebutuhan harga diri. Kebutuhan ini berhubungan dengan perasaan individu dari kegunaan dan prestasi (Del I. Hawkins 2013). Kebutuhan ini dibutuhkan manusia untuk memenuhi keinginannya yang tinggi dan mempertahankan harga dirinya, seperti kebutuhan akan prestasi dan diperhatikan orang lain. Contohnya seorang pengusaha sukses ingin memiliki sebuah sebuah tas mewah koleksi Damien Hirst dengan harga setengah milyar untuk memenuhi kebutuhannya agar terlihat statusnya bahwa ia adalah seorang yang kaya raya dan diperhatikan oleh orang banyak. 5. Self-Actualization. Melibatkan keinginan untuk pemenuhan diri, untuk menjadikan semuanya adalah mampu menjadi. (Del I. Hawkins 2013). Kebutuhan ini untuk menjadikan seseorang menjadi yang terbaik sesuai
4 dengan kemampuan yang dimilikinya. Seseorang akan membuat sebuah kreatifitas untuk menjadikan dirinya mampu berkreasi, mampu memecahkan masalah dalam kehidupan serta mudah menerima fakta yang ada. Hal tersebut membuat seseorang merasa bahwa dirinya adalah orang yang hebat atau mampu dalam segala hal Proses Motivasi Motivasi berkenaan kepada sebuah proses yang memimpin orang untuk berperilaku seperti yang mereka lakukan (Solomon 2004). Menurut Schiffman dan Kanuk (dalam Suhartanto 2008) proses motivasi dapat digambarkan sebagai berikut. Pembelajaran terdahulu Kebutuhan, keinginan, dan hasrat yang tidak terpenuhi Ketegangan Dorongan Perilaku Tujuan atau kebutuhan yang terpenuhi Proses kognitif Pengurangan ketegangan Gambar 2.2: Proses Motivasi. Sumber: Schifman dan Kanuk (dalam Suhartanto 2008) Ketika suatu kebutuhan, keinginan dan hasrat yang belum terpenuhi timbul, seseorang akan merasakan adanya ketegangan (tension) dalam dirinya yang mendorong mereka berusaha untuk mengurangi atau menghilangkan ketegangan tersebut. Tensi atau ketegangan tersebut dapat dikurangi atau
5 dihilangkan dengan cara memenuhi dan mengkonsumsi kebutuhan dan keinginan yang orang tersebut miliki. Ketika keinginan dan kebutuhan tersebut telah terpenuhi atau telah dikonsumsi, maka adanya pengurangan ketegangan. 2.2 Pemasaran Pariwisata Menurut Rosenbaum dan Tombak (dalam Malin Sundstrom 2011) mengemukakan bahwa pariwisata dan perjalanan adalah fenomena global dan memiliki dampak besar pada pengembangan masyarakat pada banyak tingkatan. Kent et al, Turner dan Reisinger mengemukakan (dalam Malin Sundstrom 2011) permintaan wisata didorong oleh berbagai motif dan salah satu dari mereka adalah belanja, yang mewakili bagian yang signifikan dari pendapatan industri tersebut, serta dari sektor ritel secara keseluruhan. Menurut Macintosh (dalam Yoeti 2006) pariwisata adalah sejumlah gejala dan hubungan yang timbul, mulai dari interaksi antara wisatawan di suatu pihak, perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan kepada wisatawan dan pemerintah serta masyarakat yang bertindak sebagai tuan rumah dalam proses menarik dan melayani wisatawan tersebut. Menurut Oka A. Yoeti (dalam Muljadi 2009) mengemukakan bahwa pemasaran pariwisata (tourism marketing) adalah seluruh kegiatan untuk mempertemukan permintaan (demand) dan penawaran (supply), sehingga pembeli mendapat kepuasan dan penjual mendapat keuntungan maksimal dengan risiko seminimal mungkin. Pemasaran pariwisata adalah upaya mengidentifikasikan kebutuhan dan keinginan wisatawan, serta menawarkan produk wisata yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan wisatawan dengan maksud agar usaha pariwisata dapat memberikan pelayanan yang maksimal kepada wisatawan (Muljadi 2009). Berdasarkan definisi-definisi di atas, penulis mendefinisikan bahwa pemasaran wisata adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh pariwisata dalam
6 memenuhi kebutuhan dan keinginan wisatawan dengan cara menawarkan produk yang diinginkan oleh wisatawan, sehingga dapat memberi kepuasan kepada wisatawan dan usaha pariwisata mendapatkan keuntungan yang maksimal. Ada tiga aspek penting dari produk pariwisata yang perlu mendapat perhatian dari para pengelola atau pemasar dalam bidang kepariwisataan, yaitu: (Muljadi 2009) a. Attraction, yakni segala sesuatu baik itu berupa daya tarik wisata alam dan budaya yang menarik bagi wisatawan untuk datang ke suatu daerah tujuan wisata. b. Accessibility atau aksesibilitas, artinya kemudahan untuk mencapai daerah tujuan wisata yang dimaksud melalui berbagai media tranportasi berupa udara, laut, atau darat. c. Aminities, maksudnya berbagai fasilitas yang dapat memberikan kenyamanan dan kepuasan bagi para wisatawan selama melakukan perjalanan wisata di suatu daerah tujuan wisata. Dengan adanya berbagai macam wisata yang menarik baik itu wisata alam yang indah, wisata kuliner dengan cita rasa tinggi, wisata budaya, wisata bersejarah, serta aksesibilitas yang mudah dijangkau dan adanya berbagai fasilitas yang mendukung kenyamanan bagi para wisatawan selama berwisata, maka dapat membuat wisatawan tertarik berkunjung ke negara tersebut, karena kenyamanan yang akan ia dapatkan selama berwisata. 2.3 Motivasi Turis Berbelanja Menurut Babin et al. (dalam Fathonah 2009) motivasi berbelanja dikategorikan dalam dua aspek yaitu aspek hedonic dan utilitarian. Motivasi belanja secara hedonik lebih mengarah pada rekreasi, kesenangan, intrinsik, dan stimulasi yang berorientasi motivasi. Motif belanja hedonik adalah kebutuhan setiap individu dimana ia merasa senang dan bahagia (Subagio 2011). Jadi motif belanja hedonik lebih mementingkan kepada mencari kesenangan dalam berbelanja untuk memuaskan diri sendiri.
7 Menurut Hirschman dan Holbrook (dalam Malin Sundstrom 2011), dalam penelitian konsumen, konsumsi hedonistic telah menjadi salah satu teori alat untuk menyelidiki mengapa dan bagaimana orang belanja. Menurut Arnold dan Reynolds (dalam Kim 2006) dengan menggunakan studi kualitatif kuantitatif, mereka menyelidiki mengenai hedonik, alasan mengapa orang pergi berbelanja, dan menemukan enam kategori dari motivasi belanja, yaitu: 1. Adventure motivation - berbelanja dipandang sebagai sebuah petualangan. Petualangan berbelanja mengacu pada belanja untuk kegembiraan, petualangan, dan stimulasi. Itu juga mengacu kepada mengalami lingkungan yang berbeda yang merangsang indra. 2. Social shopping tujuan utama pebelanja (shopper) dalam belanja adalah untuk bersosialisasi atau berinteraksi dengan orang lain. Belanja sosial menekankan kepada manfaat belanja dengan teman dan keluarga. 3. Gratification shopping - berbelanja digunakan sebagai hadiah. Kepuasan berbelanja mengacu pada belanja sebagai suatu cara untuk menciptakan perasaan positif, untuk merasa lebih baik atau memberikan hadiah istimewa untuk diri sendiri. Dengan arti bahwa dengan berbelanja dapat memberikan hadiah kepada diri sendiri berupa kesenangan dan kepuasan. 4. Idea shopping - berbelanja dilakukan untuk mengetahui informasi terbaru mengenai tren baru, fashion dan produk. Dengan pergi berbelanja, maka orang yang belanja (shopper) dapa mengetahui dengan sendirinya fashion apa yang sedang tren saat ini. 5. Role shopping - shopper mencerminkan kenikmatan yang dirasakan saat berbelanja untuk orang lain dan menemukan hadiah sempurna. Jadi shopper merasakan sebuah kenikmatan yang dirasakan ketika pergi berbelanja dengan orang lain. 6. Value shopping - tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menemukan harga yang murah sekali. Jadi nilai belanja mengacu pada sukacita berburu barang murah, menemukan diskon, dan mencari barang obral.
8 Menurut Genuend et al (dalam Malin Sundstrom 2011), motif belanja utilitarian adalah evaluasi atas dasar keputusan pembelian yang rasional dan kebutuhan fungsional dari pelanggan. Babin et al., (dalam Kim 2006) aspek utiliarian dari perilaku konsumen diarahkan ke arah memuaskan kebutuhan fungsional atau ekonomi, Hirschman & Holbrook (dalam Kim 2006) dan belanja dibandingkan dengan tugas dan nilai yang berbobot pada keberhasilan atau penyelesaian. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa motif belanja utilitarian adalah kebutuhan seseorang yang menggunakan sisi rasionalnya ketika berbelanja. Mereka mementingkan akan keefektifan dan keefisienan dalam berbelanja yang mana berbeda dengan motif hedonik. Mengadaptasi item dari skala yang dikembangkan oleh Babin et al.,& Kim ditemukan dua dimensi dari motivasi utilitarian, diantaranya: (Kim 2006) 1. Efisiensi (efficiency). Efisiensi mengacu pada kebutuhan konsumen untuk menghemat waktu dan sumber daya. 2. Prestasi (achievement). Mengacu pada tujuan dimana berhasil belanja dalam mencari produk tertentu yang telah direncanakan di awal perjalanan. Maka dapat disimpulkan dari dua dimensi tersebut, seseorang berbelanja dengan cara menghemat waktu akan tetapi semua kebutuhan yang telah direncanakan sejak awal perjalanan terpenuhi. Menurut Babin; Bloch & Richins; Sherry; Fischer & Arnold; Hirschman (dalam Kim 2006), berbeda dengan perspektif utilitarian, belanja dipandang sebagai pengalaman positif di mana konsumen secara emosional tetap bisa menikmati pengalaman yang berhubungan dengan kegiatan belanja tanpa memperhatikan dari apakah atau tidak pembelian itu dibuat. Aspek hedonic dari belanja telah didokumentasikan dan diuji sebagai kegembiraan, gairah, sukacita, perasaan gembira (festive), escapism/keadaan memasuki alam khayal, fantasi, petualangan, dll.
9 Penelitian yang dilakukan oleh Sundstrom dan Lundberg, menyatakan bahwa ada faktor lain yang memotivasi turis dalam berbelanja, yaitu: (dalam Malin Sundstrom 2011) 1. Association made with the destination. Hal-hal yang berhubungan dengan tempat tujuan wisata. Hal ini lebih kepada bagaimana pandangan wisatawan terhadap tempat/negara yang ia kunjungi untuk melakukan perjalanan wisata belanja. 2. Experience of the destination. Pengalaman wisatawan berbelanja di tempat tujuan wisata, diantaranya seperti memiliki perasaan yang sangat gembira (delightful), pengalaman menyenangkan atau tidak menyenangkan (fun/not fun), pengalaman yang buruk atau tidak buruk (bad/not bad) dan buruk sekali (terrible) ketika berbelanja. Satisfaction of the destination merupakan salah satu faktor yang memotivasi turis untuk berbelanja (Patricia Oom do Valle 2006). Dengan pengalaman yang telah dirasakan oleh wisatawan dalam berbelanja, maka dicaritahu apakah mereka puas atu tidak dengan berbelanja di tempat tujuan wisata tersebut. Menurut Baker dan Crompton (dalam Patricia Oom do Valle 2006) mendefinisikan kepuasan sebagai keadaan emosional wisatawan setelah merasakan pengalaman selama perjalanan. Menurut Ross dan Iso-Ahola, Noe dan Uysal, Bramwell, Schofield (dalam Patricia Oom do Valle 2006) kepuasan dapat digunakan sebagai ukuran untuk mengevaluasi produk dan jasa yang ditawarkan di tempat tujuan. Penelitian menunjukkan bahwa kepuasan yang wisatawan alami dalam spesifikasi tempat tujuan adalah faktor yang menentukan wisatawan meninjau kembali untuk berkunjung (Patricia Oom do Valle 2006). Artinya, ketika wisatawan merasakan sebuah kepuasan atau ketidakpuasan akan tempat tujuan wisata yang telah mereka kunjungi, hal tersebut dijadikan tolak ukur bagi wisatawan untuk datang kembali ke tempat tersebut atau tidak. Jika para turis merasakan kepuasan yang mereka alami setelah berbelanja di tempat tujuan
10 wisata, maka mereka akan datang kembali ketika mereka ingin pergi berwisata. Akan tetapi jika mereka tidak merasa puas akan pengalaman yang telah mereka alami ketika berada di tempat tujuan wisata, maka para turis tidak akan kembali lagi untuk berwisata ke tempat tujuan wisata tersebut. Sehingga ketika wisatawan merasakan puas dengan produk yang ia dapat, puas dengan pelayanan yang ia dapat di retail, sehingga ia akan merasa puas dengan pengalaman berbelanja yang ia alami di tempat tujuan wisata tersebut. Hal ini dapat membuat para wisatawan tersebut datang lagi ke tempat tujuan wisata tersebut ketika mereka membutuhkan produk yang sama, mereka akan datang lagi untuk membelinya. Menurut Timotius (dalam Malin Sundstrom 2011) saat ini penelitian pada wisatawan yang belanja telah teridentifikasi dalam dua kategori dari wisatawan berdasarkan dasar dari teori motivasi. Pertama, turis berbelanja (shopping tourist) dan kedua, pembelanja pariwisata (tourism shopper). Kategori pertama (shopping tourist) terdiri dari wisatawan yang berbelanja sebagai alasan utama mereka untuk bepergian. Mereka pergi berwisata dengan tujuan memang untuk berwisata belanja. Kategori kedua (tourism shopper) terdiri dari wisatawan yang memiliki alasan lain untuk bepergian, tetapi terlibat dalam kegiatan belanja selama perjalanan. Ketika seorang turis pergi ke suatu negara untuk keperluan lain sebagai tujuan utama mereka, maka mereka meluangkan waktu atau menggunakan waktu luang mereka untuk pergi berbelanja. Jadi, meskipun tujuan utama mereka pergi berwisata bukan untuk belanja, namun mereka menyisipkan kegiatan belanja dalam perjalanan mereka.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA o 2.1 Wisata dan Belanja o 2.1.1 Wisata o 2.1.1.1 Definisi Wisata Pengertian wisata menurut Undang-Undang Nomor 9 tahun 1990 tentang Kepariwisataan, didefinisikan sebagai kegiatan
BAB 1 PENDAHULUAN. bisnis ritel modern, khususnya di bidang fashion agar dapat memenangkan
xviii BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemikiran berorientasikan pasar telah menjadi kebutuhan bagi para pelaku bisnis ritel modern, khususnya di bidang fashion agar dapat memenangkan persaingan. Syarat
BAB I PENDAHULUAN. bentuk diskon atau potongan harga kepada pelanggan. Motivasi menurut
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan bisnis yang ketat dewasa ini telah merambah ke segala sub sektor perdagangan dan menjangkau daerah pemasaran yang luas. Banyak bisnis dengan karakteristik
Bab V Kesimpulan dan Saran BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Penelitian ini menganalisis mengenai dimensi motivasi berbelanja hedonic yang
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Penelitian ini menganalisis mengenai dimensi motivasi berbelanja hedonic yang diadopsi dari Arnold & Reynold (2003). Penelitian ini menggunakan metode survey
BAB II LANDASAN TEORI. memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide, atau
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Perilaku Konsumen Perilaku konsumen didefinisikan Philip Kotler dan Kevin Lane Keller (2008:166) sebagai studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan teori 1. Motivasi Hedonis Motivasi hedonis adalah motivasi konsumen untuk berbelanja karena berbelanja merupakan suatu kesenangan tersendiri sehingga tidak memperhatikan
BAB I PENDAHULUAN. mendapatkan barang yang menjadi keperluan untuk sehari-hari dengan jalan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada mulanya belanja merupakan suatu konsep yang menunjukan suatu sikap untuk mendapatkan barang yang menjadi keperluan untuk sehari-hari dengan jalan menukarkan sejumlah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada masa kini, sebagian besar masyarakat semakin merasakan informasi sebagai salah satu kebutuhan pokok disamping kebutuhan akan sandang, pangan dan papan. Kebutuhan
BAB II TINJUAN PUSTAKA. restoran adalah kepribadian restoran, yakni menggambarkan apa yang dilihat dan dirasakan
BAB II TINJUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Atribut Restoran Menurut Sopiah (2008) atribut restoran memiliki suatu kepribadian beberapa restoran juga memiliki atribut yang jelas dibenak konsumen. Dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam menghadapi persaingan dunia yang semakin global dan ketat, perusahaan dituntut untuk mengelola usahanya dengan baik sehingga perusahaan mampu bersaing dengan
BAB I - PENDAHULUAN 1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I - PENDAHULUAN 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini pusat perbelanjaan modern atau dikenal dengan sebutan mall mengalami pergeseran fungsi. Pada mulanya masyarakat ke mall khusus untuk
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dari bahasa Yunani hedone yang diartikan sebagai pleasure atau kenikmatan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Nilai hedonis Ide dari nilai hedonis muncul dari sudut pandang bagaimana cara manusia berpikir mengenai nilai, salah satunya adalah hedonism, yang berasal dari
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan manusia kebutuhan konsumen merupakan dasar bagi semua pemasaran modern. Kebutuhan merupakan intisari dari konsep pemasaran. Kunci bagi kelangsungan hidup perusahaan,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Umumnya, masyarakat lebih mengutamakan penampilan luar (fashion up date) untuk berbagai tujuan. Penampilan luar terkadang menyiratkan kemampuan orang untuk
BAB 1 Perilaku Konsumen
BAB 1 Perilaku Konsumen Tujuan Pembelajaran Pembaca memahami mengenai mengenai sejumlah konsep yaitu: 1. Definisi Perilaku Konsumen. 2. Perspektif Utilitarianisme. 3. Perspektif Hedonisme. 4. Sisi Positif
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Banyaknya kebutuhan konsumen yang bervariasi memberikan peluang bagi para peritel untuk mendapatkan konsumen
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Banyaknya kebutuhan konsumen yang bervariasi memberikan peluang bagi para peritel untuk mendapatkan konsumen sebanyakbanyaknya bagi usaha mereka. Kebutuhan konsumen
PENGANTAR KEBUTUHAN DASAR MANUSIA MASLOW. 02/02/2016
PENGANTAR SEKITAR TAHUN 1950, ABRAHAM MASLOW (PSIKOLOG DARI AMERIKA) MENGEMBANGKAN TEORI TENTANG KEBUTUHAN DASAR MANUSIA YANG DIKENAL DENGAN ISTILAH HIERARKI KEBUTUHAN DASAR MANUSIA MASLOW. 1 HIERARKI
BAB I PENDAHULUAN. Beberapa contoh bentuk pusat perbelanjaan modern seperti minimarket,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dewasa ini perkembangan bisnis ritel di Indonesia sudah semakin pesat. Hal ini ditandai dengan keberadaan pasar tradisional yang mulai tergeser oleh munculnya
BAB II LANDASAN TEORI. kebutuhan mereka. Demikian juga halnya, manusia juga memiliki motivasi
BAB II LANDASAN TEORI Keinginan dan kebutuhan yang berbeda-beda pada setiap manusia dapat memotivasi dirinya untuk melakukan sesuatu. Schiffman dan Kanuk (2008:72) berpendapat bahwa motivasi merupakan
BAB I PENDAHULUAN. Daerah Istimewa Yogyakarta.Bidang industri restoran cepat saji terutama menjadi salah satu yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada saat ini perkembangan dunia bisnis semakin meningkat, terutama untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.Bidang industri restoran cepat saji terutama menjadi salah
BAB I PENDAHULUAN. banyak pusat perbelanjaan, seperti Jogjatronic Mall, Ramai Family Mall,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebutuhan dan keinginan konsumen akan barang dan jasa berkembang terus dan mempengaruhi perilaku belanja produk. Perusahaan dalam usahanya untuk memproduksi dan memasarkan
III. KERANGKA PEMIKIRAN
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsumen dan Perilaku Konsumen Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, mendefinisikan bahwa konsumen adalah setiap
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Motivasi Motivasi berasal dari kata Latin movere yang berarti dorongan atau menggerakkan. Motivasi (motivation) dalam manajemen hanya ditujukan pada sumber daya manusia
BAB II GEJALA SHOPAHOLIC DI KALANGAN MAHASISWA
BAB II GEJALA SHOPAHOLIC DI KALANGAN MAHASISWA 2.1. Pengertian Shopaholic Shopaholic berasal dari kata shop yang artinya belanja dan aholic yang artinya suatu ketergantungan yang disadari maupun tidak.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam menghadapi persaingan dunia yang semakin global dan ketat, perusahaan dituntut untuk mengelola usahanya dengan baik sehingga perusahaan mampu bersaing dengan
BAB V PENUTUP. mengetahui hubungan antara variabel Atribut Produk dan Motif Hedonic terhadap
BAB V PENUTUP Bab ini merupakan kesimpulan dari hasil yang telah disajikan pada bab sebelumnya. Bab ini juga berisikan keterbatasan penelitian dan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya. Penelitian ini
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam era globalisasi setiap perusahaan berupaya untuk menunjukkan keunggulan-keunggulannya agar dapat bertahan dalam persaingan bisnis yang semakin ketat.
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Pada jaman yang modern ini, banyak berbagai usaha bisnis yang mempunyai tujuan untuk memuaskan pelanggan. Salah satu bisnis yang sedang berkembang di lingkungan perkotaan
BAB 1 PENDAHULUAN. Setiap makhluk hidup memiliki kebutuhan, tidak terkecuali manusia. Menurut
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap makhluk hidup memiliki kebutuhan, tidak terkecuali manusia. Menurut Asmadi (2008), kebutuhan setiap individu berbeda-beda, namun pada dasarnya mempunyai kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN. Dalam era globalisasi ini pengelolaan sumber daya manusia merupakan hal
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam era globalisasi ini pengelolaan sumber daya manusia merupakan hal penting dalam agenda bisnis. Para pemimpin perusahaan yang berhasil adalah mereka yang mampu
I. PENDAHULUAN Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan yang perlu diberdayakan karena selain sebagai sumber penerimaan daerah kota Bogor serta pengembangan dan pelestarian seni
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kegiatan pemasaran tidak bisa terlepas dari aktifitas bisnis yang bertujuan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan pemasaran tidak bisa terlepas dari aktifitas bisnis yang bertujuan pada pencapaian profit. Fokus utama kegiatan pemasaran adalah mengidentifikasikan peluang
BAB II LANDASAN TEORI. Peroses pengambilan keputusan merupakan suatu psikologis dasar yang
6 BAB II LANDASAN TEORI A. Pembelian Tidak Terencana Peroses pengambilan keputusan merupakan suatu psikologis dasar yang memiliki peran penting dalam memahami bagaimana konsumen mengambil keputusan (Kotler
BAB1 PENDAHULUAN. Pembelian tidak terencana dalam swalayan merupakan salah satu faktor
BAB1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembelian tidak terencana dalam swalayan merupakan salah satu faktor perhatian para pemasar atau produsen. Banyak perusahaan menghabiskan sejumlah besar sumber dayanya
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia 2.2. Pengertian Motivasi
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia Sedarmayanti (2010) mengatakan bahwa Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) yaitu suatu kebijakan dan praktik menentukan aspek "manusia"
BAB 2 TINJAUAN TEORI DAN HIPOTESIS. konsumen melakukan dan apa yang mereka lakukan. Schiffman dan
BAB 2 TINJAUAN TEORI DAN HIPOTESIS 2.1. Tinjauan Teori 2.1.1. Perilaku Konsumen 1. Pengertian Perilaku Konsumen Perilaku konsumen pada hakikatnya untuk memahami Mengapa konsumen melakukan dan apa yang
BAB I PENDAHULUAN. secara profesional agar terwujud keseimbangan antara kebutuhan karyawan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Manusia memiliki peranan yang sangat penting dalam sebuah perusahaan karena menjadi penentu jalannya perusahaan. Sumber daya manusia perlu dikelola secara
2015 PENGARUH STORE ATTRIBUTE TERHADAP LOYALITAS WISATAWAN DIKONTROL OLEH MOTIVASI BERBELANJA
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Wisata belanja merupakan salah satu sektor industri pariwisata yang mengalami pertumbuhan yang signifikan di dunia. Berbelanja sudah menjadi suatu hal yang
Kata-kata kunci: Perilaku Konsumen, Motivasi Berbelanja, Toko Eceran
ABSTRAKSI. Bisnis ritel merupakan kegiatan usaha menjual barang atau jasa kepada perorangan untuk keperluan diri sendiri, keluarga, atau rumah tangga. Sedangkan eceran adalah suatu bidang pemasaran yang
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Menurut Mowen dan Minor (2002:10), impulse buying didefinisikan
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Impulse Buying Menurut Mowen dan Minor (2002:10), impulse buying didefinisikan sebagai tindakan membeli yang sebelumnya tidak diakui
BAB II TEORI MOTIVASI DAN PERILAKU KONSUMEN. Motivasi dalam Bahasa Inggris disebut motivation yang berasal dari Bahasa
BAB II TEORI MOTIVASI DAN PERILAKU KONSUMEN A. Teori Motivasi 1. Pengertian Motivasi Konsumen Motivasi dalam Bahasa Inggris disebut motivation yang berasal dari Bahasa Latin movere yang berarti dorongan
BAB 1 PENDAHULUAN. tujuannya mereka terus memperjuangkan tujuan lama, atau tujuan pengganti.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perubahan kebiasaan berbelanja sebagai bentuk mencari suatu kesenangan adalah merupakan suatu motif berbelanja baru. Motivasi merupakan konsepsi yang dinamis
BAB I PENDAHULUAN. sekunder dan tersier. Semua kebutuhan tersebut dipenuhi melalui aktivitas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap individu memiliki kebutuhan yang terdiri dari kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Semua kebutuhan tersebut dipenuhi melalui aktivitas ekonomi berupa konsumsi.
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Peranan manusia sebagai sumber daya dalam organisasi semakin diyakini kepentingannya baik sekarang maupun di kemudian hari, sehingga makin mendorong perkembangan
Relationship marketing selanjutnya disebut RM berkembang dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Relationship marketing selanjutnya disebut RM berkembang dalam dunia bisnis karena para pelaku bisnis menyadari bahwa untuk mengembangkan dan mempertahankan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan kebutuhan konsumen yang bervariasi memberikan peluang bagi para pelaku bisnis terutama di
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan kebutuhan konsumen yang bervariasi memberikan peluang bagi para pelaku bisnis terutama di bidang fashion. Kenyataan ini menyebabkan banyak bermunculan
TEORI HIRARKI KEBUTUHAN
7 TEORI HIRARKI KEBUTUHAN Motivasi : Teori Hirarki Maslow menyusun teori motivasi manusia, dimana variasi kebutuhan manusia dipandang tersusun dalam bentuk hirarki atau berjenjang. Setiap jenjang kebutuhan
membeli dapat diartikan bahwa konsumen menjalani sutu proses pencarian toko
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bagi sebagian besar orang, berkunjung ke suatu pusat perbelanjaan adalah suatu keharusan dan bagian dari aktivitas atau kehidupan rutin setiap hari. Aktivitas
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pengertian dan Tujuan Motivasi. proses sebagai langkah awal seseorang melakukan tindakan akibat
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Motivasi 2.1.1.1 Pengertian dan Tujuan Motivasi Istilah motivasi berasal dari bahasa latin, yakni movere, yang berarti dorongan atau menggerakkan. Menurut
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
15 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemasaran Banyak ahli yang telah memberikan definisi atas pemasaran ini. Definisi tersebut sering berbeda antara para ahli yang satu dengan ahli yang lain. Perbedaan ini
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagaimana dimaklumi bahwa perkembangan teknologi dan globalisasi sangat mempengaruhi dalam setiap kegiatan dunia usaha saat ini. Hal ini menyebabkan perkembangan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 1. Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh Brand Experience terhadap Customer Satisfaction pada Trans Studio Bandung, maka dapat disimpulkan nilai P value
BAB I PENDAHULUAN. mendorong peningkatan daya beli dan kebutuhan berwisata. Waktu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perilaku dan tren konsumen telah berubah secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan kelas menengah baru di Indonesia mendorong peningkatan daya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Frekuensi Kunjungan Posyandu 1. Pengertian Posyandu Posyandu merupakan suatu forum komunikasi, alih teknologi dan pelayanan kesehatan masyarakat oleh dan untuk masyarakat yang
BAB I PENDAHULUAN. dengan kegiatan masyarakat yang sering mengunjungi mall atau plaza serta melakukan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring berkembangnya perekonomian Indonesia dari tahun ke tahun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), masyarakat Indonesia cenderung merubah perilaku gaya
BAB II LANDASAN TEORI. konsumen melakukan dan apa yang mereka lakukan. Schiffman dan Kanuk
BAB II LANDASAN TEORI 2.1.Perilaku Konsumen 2.1.1. Pengertian Perilaku Konsumen Perilaku konsumen pada hakikatnya untuk memahami Mengapa konsumen melakukan dan apa yang mereka lakukan. Schiffman dan Kanuk
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Manajemen Sumber Daya Manusia 2.2. Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam menjalankan roda aktivitasnya, suatu perusahaan maupun organisasi tidak lepas dari kebutuhan akan sumber daya. Sumber daya manusia (SDM)
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI A. Motivasi Terbentuknya persepsi positif pekerja terhadap organisasi, secara teoritis merupakan determinan penting terbentuknya motivasi kerja yang tinggi. Para pekerja adalah manusia
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perilaku konsumen dalam melakukan keputusan pembelian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perilaku konsumen dalam melakukan keputusan pembelian didasarkan atas apa yang didengar, dilihat, dan dirasakan. Selain itu hal tersebut juga dipengaruhi oleh
Jurnal Digest Marketing Vol. 3 No.1, Januari Juli, 2018 ISSN : X
ANALISIS MOTIF BELANJA HEDONIS WANITA BERBUSANA HIJAB PRODUK ZOYA (THE ANALYSIS OF HEDONIC SHOPPING MOTIVATION OF ZOYA PRODUCT ON HIJAB WOMEN) Johannes 1, Novita Ekasari 2 dan Eka Lestari 3 1) Lecturer
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Manajemen proyek kontruksi Proyek konstruksi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang hanya satu kali dilaksananakan dan umumnya berjangka waktu pendek. Proyek konstruksi juga
BAB I PENDAHULUAN. Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata merupakan salah satu faktor penting dalam perkembangan perekonomian suatu daerah. Kota Bandung melalui Dinas Pariwisata dan Budaya berupaya untuk mengembangkan
Motif Ekstrinsik. Motif yang timbul dari rangsangan luar. Contoh : pemberian hadiah jika seseorang dapat menyelesaikan tugas dengan baik.
M o t i f Motive motion Gerakan; sesuatu yang bergerak; menunjuk pada gerakan manusia sebagai tingkah laku. Rangsangan pembangkit tenaga bagi terjadinya tingkah laku. Keadaan dalam diri subyek yang mendorong
PENGARUH HEDONIC SHOPPING MOTIVATION
PENGARUH HEDONIC SHOPPING MOTIVATION TERHADAP KEPUTUSAN BERKUNJUNG PENGARUH HEDONIC SHOPPING MOTIVATION TERHADAP KEPUTUSAN BERKUNJUNG Dian Febriana Susanti Hari Mulyadi Abstract Since the 2010 until 2012,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Usaha ritel di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat beberapa tahun terakhir ini. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya bermunculan
BAB I PENDAHULUAN. semakin banyaknya pusat-pusat perbelanjaan seperti department store, factory
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan dunia fashion yang semakin meningkat diiringi dengan semakin banyaknya pusat-pusat perbelanjaan seperti department store, factory outlet, butik
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berkembangnya dunia modemenyebabkan tingginya tuntutan pada mode di kehidupan modern saat ini. Banyak masyarakat khususnya di Surabaya memperhatikan gaya hidup dan
Kebutuhan Dasar Manusia Menurut Abraham Maslow Abraham Maslow membagi kebutuhan dasar manusia ke dalam lima tingkat berikut: 1. Kebutuhan fisiologis
Abraham Maslow membagi kebutuhan dasar manusia ke dalam lima tingkat berikut: 1. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan paling dasar, antara lain pemenuhan oksigen dan pertukaran gas, kebutuhan cairan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI A. Motivasi 1. Pengertian Kata motivasi berasal dari bahasa latin yaitu movere, yang berarti bergerak ( move ). Motivasi menjelaskan apa yang membuat orang melakukan sesuatu, membuat
BAB I PENDAHULUAN. selera konsumen dan perubahan yang terjadi pada lingkungan sekitarnya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era globalisasi, dunia perdagangan dewasa ini terjadi persaingan didalam memasarkan produk atau jasa. Kegiatan pemasaran memiliki peran yang sangat penting dalam
