BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
|
|
|
- Agus Setiawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang memberikan pengaruh sangat besar bagi tumbuh kembangnya anak. Dengan kata lain, secara ideal perkembangan anak akan optimal apabila mereka bersama keluarganya (Puspita, 2008). Tentu saja keluarga yang dimaksud adalah keluarga yang benarbenar menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya, sehingga anak memenuhi tugas perkembangannya serta memperoleh berbagai jenis kebutuhannya baik fisikorganis, sosial maupun psiko-sosial dengan baik. Ditemukan beberapa anak yang kurang beruntung dalam masyarakat. Mereka adalah anak yang tidak lagi tinggal bersama dengan ayah dan ibunya lantaran berbagai macam alasan (Lestari, 2008: 18). Ketiadaan keluarga dalam kehidupan seorang anak, menjadikannya terombang-ambing oleh keadaan lingkungan sekitar. Karena mereka tidak memiliki fondasi yang kuat untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, di dalam
2 2 keluargalah anak dilatih dan dididik untuk mengembangkan kemampuan dasar yang di milikinya. Sehingga mencapai prestasi sesuai dengan kemampuan dasar yang di miliki dan memperlihatkan perubahan perilaku dalam berbagai aspeknya serta mampu menemukan identitas dirinya secara positif. Selain itu keluarga merupakan tempat untuk menanamkan aspek sosial agar bisa menjadi anggota masyarakat yang mampu berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Sehingga anak tanpa merasa malu akan mampu berbaur dengan teman sebaya dan masyarakatnya. Tidak adanya figur orang tua dalam kehidupan anak, menyebabkan pertumbuhan mereka berjalan tanpa adanya pengawasan, perhatian maupun kasih sayang orang tua. Anak-anak yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya akan cenderung mengalami keguncangan. Mereka akan merasakan kehilangan tokoh panutan, cerminan nilai-nilai hidup sebagai tauladan, serta pengarah dan pendukung karakter mereka (Bastaman, 1995: 172). Tidak ada seorang yang menghargai kegiatannya, dan memberikan patokan yang jelas dalam tindakannya, seorang anak akan berjalan sesuai dengan
3 3 kehendak dirinya sendiri. Hal ini akan berpotensi menimbulkan penyimpangan perilaku pada diri anak seperti kenakalan misalnya. Salah satu upaya yang direspon oleh masyarakat untuk mengatasi penyimpangan perilaku di atas adalah dengan mendirikan panti asuhan sebagai pengganti keluarga. Panti asuhan tersebut memfokuskan kelangsungan hidup bagi anak-anak yatim, piatu, yatim piatu, anak-anak terlantar dan anak-anak keluarga kurang mampu dengan memberikan pendidikan yang layak, perlindungan, dan kasih sayang bagi mereka yang nantinya akan membantu kelangsungan hidup mereka untuk menjadi pribadi yang mandiri. Meskipun panti asuhan bukanlah tempat terbaik bagi mereka, namun setidaknya tempat itulah yang dapat memeberikan makna sebuah keluarga dan nilai-nilai pegangan dalam hidup bagi mereka ( diakses pada tanggal pukul 22:43 WIB). Oleh karena itu panti asuhan merupakan suatu lembaga yang sangat berperan untuk membentuk perkembangan anak-anak yang tidak memiliki keluarga ataupun yang tidak tinggal bersama dengan keluarga.
4 4 Seorang anak memiliki sebuah keluarga (orang tua) namun karena ketidakmampuan untuk mendidik dan memberikan kasih sayang secara utuh, maka anak tersebut dititipkan di sebuah lembaga sosial yang disebut dengan panti asuhan ( diakses pada tanggal pukul 22:56 WIB). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Save the Children dan Kementerian Sosial (Kemensos) dengan dukungan dari UNICEF pada tahun yang bertujuan untuk merangkum asesmen mendalam dari 37 panti asuhan yang tersebar di 6 provinsi lengkap dengan analisis hukum dan kebijakan dalam konteks penyelenggaraan panti asuhan. Penelitian ini terangkum dalam modul Standar Nasional Untuk Lembaga Kesejahteraan Sosia Anak tahun Dari penelitian tersebut ditemukan jumlah panti asuhan di seluruh Indonesia diperkirakan antara s.d yang mengasuh sampai setengah juta anak, ini yang kemungkinan merupakan jumlah panti asuhan terbesar di seluruh dunia. Pemerintah Indonesia sendiri hanya memiliki dan menyelenggarakan sedikit dari panti asuhan tersebut, lebih dari 99% panti asuhan
5 5 diselenggarakan oleh masyarakat, terutama organisasi keagamaan. Penelitian ini memberikan potret mendalam tentang situasi anak-anak dan pengasuhan yang mereka dapatkan di panti asuhan. Penelitian ini menemukan bahwa, tidak seperti asumsi luas yang ada, hanya ada persentasi yang sangat kecil untuk anak-anak di panti asuhan yang benar-benar yatim piatu (6%) dan 90% di antaranya memiliki salah satu atau kedua orang tua. Kebanyakan anak-anak ditempatkan di panti asuhan oleh keluarganya yang mengalami kesulitan ekonomi dan juga secara sosial dalam konteks tertentu, dengan tujuan untuk memastikan anak-anak mereka mendapatkan pendidikan. Kenyataanya, kebanyakan panti asuhan tidak memberikan ''pengasuhan'' sama sekali, melainkan menyediakan akses pendidikan. Secara eksplisit, hal ini tertera dalam pendekatan pengasuhan, pelayanan yang diberikan, dan sumberdaya yang diberikan oleh panti asuhan. Hampir tidak ada asesmen tentang adanya kebutuhan pengasuhan anak-anak baik sebelum, selama, maupun selepas mereka meninggalkan panti asuhan. Kriteria seleksi anak-anak dan praktek rekrutmen sangat
6 6 mirip di hampir semua panti asuhan yang diases dan mereka fokus kepada anak-anak usia sekolah, keluarga miskin, keluarga yang kurang beruntung dan yang terlalu tua ''untuk mengasuh sendiri''. Kenyataannya, ''pengasuhan'' di panti asuhan ditemukan sangat kurang. Hampir semua fokus ditujukan untuk memenuhi kebutuhan kolektif, khususnya kebutuhan materi sehari-hari sementara kebutuhan emosional dan pertumbuhan anak-anak tidak dipertimbangkan. Sekali anak-anak memasuki panti asuhan, mereka diharapkan untuk tinggal di sana sampai lulus dari SMA kecuali mereka melahggar peraturan atau tidak berprestasi di sekolah. Kurangnya staf secara umum, termasuk staf yang telah mendapatkan pelatihan professional, berarti bahwa anak-anak cenderung untuk melakukan sendiri hampir seluruh pengasuhan dan anak-anak yang lebih dewasa umumnya mengasuh di panti asuhan. Pada kenyataannya penelitian ini menemukan bahwa banyak panti asuhan yang tidak akan berfungsi tanpa kerja anak-anak. Di sejumlah panti asuhan yang disurvey, anak-anak bekerja dan lebih lanjut dilakukan untuk mendukung
7 7 ekonomi panti asuhan. Hal ini mendatangkan pertanyaan serius tentang apakah keberadaan panti asuhan ini diselenggarakan untuk anak-anak atau oleh anak-anak serta memunculkan pertanyaan serius tidak hanya segi etik dan praktek professional dan penghargaan terhadap hak-hak anak ( ile=print&sid=674/ diakses 19 Desember pukul WIB). Panti asuhan secara fisik umunya berbentuk asrama. Di dalam asrama ini terdapat satu atau lebih petugas yang bertindak sebagai bapak atau ibu pengasuh (Pattimahu, diakses pada tanggal jam 15:32 WIB). Anakanak panti asuhan diasuh oleh pengasuh yang menggantikan peran orang tua dalam kesehariannya. Dalam hal ini seorang penyuluh atau pada umumnya disebut dengan orang tua asuh, mengambil alih peran orang tua menjaga dan meberikan bimbingan kepada anak agar anak menjadi manusia dewasa yang berguna dan bertanggung jawab atas dirinya dan terhadap masyarakat di kemudian hari sesuai dengan aturan agama.
8 8 Di dalam panti asuhan juga terdapat anak asuh lain dimana mereka dikelompokkan dalam jumlah yang besar kemudian ditempatkan dalam satu ruangan. Keadaan seperti ini membuat kurang meratanya pengawasan dan bimbingan yang diberikan kepada anak sehingga dapat menghambat pembentukan konsep diri anak (Pattimahu, Diakses Pada Tanggal jam 15:32 WIB). Penelitian yang dilakukan Goldfard menunjukkan bahwa anak yang dibesarkan di dalam panti asuhan, cenderung mengalami hambatan dalam perkembangan kepribadiannya, misalnya cenderung untuk menarik diri dari lingkungannya serta gangguan perkembangan fisik maupun mental. (Pattimahu, e/psychology/2005/artikel_ pdf diakses pada tanggal jam 15:32 WIB). Seperti yang peneliti sebutkan di atas bahwa peran panti asuhan sendiri hanyalah sebagai lembaga yang memberikan pelayanan pengganti, dalam hal ini berarti menggantikan fungsi keluarga. Digantikannya fungsi keluarga oleh panti asuhan apabila anak memang sudah tidak mempunyai orang tua
9 9 lagi atau anak mempunyai orang tua tetapi orang tua tersebut belum mampu berfungsi sebagai satuan keluarga asuh secara wajar. Anak yang dibesarkan di panti asuhan biasanya sulit mendapatkan perhatian yang sama dari bapak atau ibu pengasuh mereka, karena mereka harus berbagi perhatian dengan begitu banyak anak asuh lainnya. Selain itu mereka akan mengalami kekurangan akan kasih sayang, begitu juga kurangnya perhatian dikarenakan figur pengasuh yang selalu berganti-ganti. Kadang hal seperti ini membuat anak asuh cenderung merasa tidak diperhatikan atau tidak disukai orang lain. Kondisi seperti ini tentunya akan menghambat perkembangan konsep diri yang positif. Apalagi hal ini diperkuat oleh ciri-ciri orang yang memiliki konsep diri negatif seperti yang disebutkan oleh Brooks dan Emmert yang salah satunya adalah cenderung merasa tidak disukai atau diperhatikan (Pattimahu, e/psychology/2005 diakses tanggal jam 15:32) Keadaan yang demikian, merupakan faktor yang mempengaruhi rasa percaya diri anak yang tinggal dipanti asuhan yaitu merasa minder untuk melakukan
10 10 sesuatu yang berhubungan dengan orang lain. Takut salah, tidak disukai, menjadikan hal utama yang ada di dalam benak mereka. Padahal rasa percaya diri merupakan atribut yang paling berharga pada diri seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Dikarenakan dengan adanya rasa percaya diri yang tinggi, seseorang mampu mengaktualisasikan segala potensi dirinya secara maksimal. Seorang anak yang mempunyai rasa percaya diri tinggi, mereka akan mudah berinteraksi dengan orang lain dan lingkungannya misalnya mudah akrab dan suka bekerja sama. Adapun orang yang rasa percaya dirinya rendah, mereka cenderung egois, dan menutup diri dengan orang lain. Percaya diri dibutuhkan dalam berbagai aspek, mulai dari hal kecil sampai hal besar. Dan percaya diri adalah kunci sukses di bidang apapun, baik sukses secara materi ataupun sukses dalam hal non materi seperti seorang penyuluh misalnya. Di dalam kesehariannya, seorang penyuluh selalu berhubungan dengan orang banyak, yang tidak jarang memberikan materi kepada sebuah jama ah ataupun kelompok. Tanpa didasari dengan adanya rasa percaya diri,
11 11 seorang penyuluh akan sulit menjadi pembicara yang baik, sehingga apa yang diucapkannya tidak begitu diyakini oleh mad unya. Contoh lainnya adalah dalam sebuah keluarga, rasa percaya diri sangatlah dibutuhkan. Seorang suami yang tidak percaya diri akan sulit menjadi pemimpin yang baik, sehingga keputusan dalam keluarga cenderung ditentukan oleh istri atau pihak lain seperti mertua dan orang tua. Menurut Arifin (1994: 7), salah satu tujuan bimbingan penyuluhan agama bagi anak adalah mampu menghindarkan diri dari segala gangguan mental maupun spiritual, serta mampu mengatasinya berdasarkan nilai-nilai keagamaan yang telah mendasari hidupnya. Gangguan tersebut diantaranya adalah rendahnya rasa percaya diri. Dengan demikian bimbingan dan penyuluhan agama Islam hendaknya mampu mendorong kearah memahami akan apa yang dialami dan dimiliki oleh seorang anak, serta menyadarkan tentang pengembangan terhadap potensi dirinya agar mampu hidup selaras dengan petunjuk Allah. Hal yang demikianakan menjadikan anak merasa nyaman dan tidak minder dengan keadaan dirinya
12 12 maupun status sosialnya yang merupakan pemberian dari Yang Maha Kuasa. Dalam hal ini panti asuhan Al Hikmah Desa Wonosari Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang merupakan sebuah panti asuhan di bawah Dinas Sosial yang memberikan layanan sosial terhadap anak-anak yatim, anak-anak miskin dan anak-anak terlantar untuk diasuh dan dibimbing agar dapat hidup mandiri, berperilaku baik sesuai dengan ajaran agama. Jika tidak dibina dan diperhatikan dengan baik, anak yatim dan anak terlantar dikhawatirkan tidak dapat mengatasi situasi-situasi kritis dan terlalu mengikuti gejolak emosinya. Oleh sebab itu besar kemungkinan anak asuh akan terperangkap ke jalan yang salah. Hal tersebut seringkali disebabkan oleh kurang adanya kemampuan anak untuk mengarahkan emosinya secara positif, mengingat emosi adalah dorongan untuk bertindak (Goleman,1996:7) Oleh sebab itu dalam sistem pengajarannya, Panti Asuhan Al Hikmah ini menerapkan pola asuh layaknya pondok pesantren dengan agama sebagai fondasi utamanya. Selain belajar di tingkat pendidikan formal, di dalam panti asuhan anak juga diajarkan pendidikan
13 13 non formal berupa pendidikan keagamaan dan juga kewirausahaan seperti halnya berternak kambing, sapi, dan mengelola sebuah toko material dan juga listrik. Dengan adanya bimbingan keagamaan dan kegiatan penunjang seperti kewirausahaan di harapkan nantinya akan berpengaruh khususnya pada tingginya rasa percaya diri anak panti. Pendekatan agama itu, lebih menitik beratkan pada pengendalian diri seorang anak yang merasa kehilangan kasih sayang dan pelindungan dalam kehidupannya. Hal ini menjadikan anak enggan berbaur dengan khalayak umum layaknya anak-anak pada umumnya. Hal tersebut yang menumbuhkan kepedulian panti asuhan untuk memberikan bantuan dalam bentuk pelaksanaan bimbingan penyuluhan agama Islam, dimana dalam pelaksanaan menggunakan pendekatan yang bersifat individual maupun kelompok guna mempengaruhi jiwa anak dalam perubahan dan perkembangan terhadap kemampuan dirinya dalam memecahkan problem yang dihadapi secara mandiri. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan diatas, maka permasalahan yang di kaji adalah seberapa besar pengaruh bimbingan penyuluhan
14 14 agama Islam terhadap percaya diri anak di panti asuhan Al Hikmah Desa Wonosari Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang? 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah menguji secara empiris pengaruh bimbingan penyuluhan agama Islam terhadap rasa percaya diri anak di Panti Asuhan Al Hikmah Desa Wonosari Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang. Adapun manfaat penelitian ini dapat ditinjau secara teoritis maupun praktis Manfaat Penelitian Manfaat Teoritis, yaitu penelitian ini diharapkan mampu menambah hazanah keilmuan yang berkaitan dengan bimbingan penyuluhan dan percaya diri Secara Praktis, yaitu hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan pijakan dalam memberikan penyuluhan kepada anak panti asuhan pada umumnya, dan kepada lembaga panti asuhan pada khususnya.
15 Tinjauan Pustaka Berdasarkan hasil kajian terhadap penelitian terdahulu, terdapat beberapa penelitian yang memiliki kedekatan dengan tema yang peneliti angkat yaitu: Penelitian dengan judul Pengaruh Bimbingan Penyuluhan Agama Islam Terhadap Rasa Percaya Diri Anak, Di Panti Asuhan Al Hikmah Wonorejo, Ngaliyain, Semarang sejauh pengetahuan penulis belum pernah dilakukan. Namun meskipun demikian, ada beberapa penelitian terdahulu atau kajian-kajian yang ada relevansinya dengan penelitian ini. Hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut: Penelitian dengan judul Pengaruh Bimbingan Dan Penyuluhan Islam Terhadap Rehabilitasi Remaja Nakal di Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Antasena (Hidayati 2004). Dalam skripsi ini membahas seberapa besar pengaruh bimbingan dan penyuluhan agama Islam terhadap kenakalan remaja. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pengaruh yang signifikan, artinya ada pengaruh yang sedang antara bimbingan dan penyuluhan Islam terhadap remaja nakal di panti sosial Marsudi Putra (PSMP) ANTASENA.
16 16 Penelitian lainnya dengan judul Hubungan Kepercayaan Diri Dengan Interaksi Sosial Pada Alumni Pondok Pesantren Desa Kalirejo Kecamatan Singorojo Kabupaten Kendal ( Wibowo 2010). Penelitian ini membahas hubungan kepercayaan diri dengan interaksi sosial. Bahwa rasa percaya diri sangat berpengaruh signifikan terhadap interaksi sosial di Desa Kalirejo Kecamatan Singorojo Kabupaten Kendal. Percaya diri merupakan faktor yang dapat digunakan sebagai prediktor dalam menumbuhkan dan meningkatkan Interaksi Sosial. Semakin tinggi rasa percaya diri, maka semakin tinggi interaksi sosialnya. Penelitian lainnya yang masih ada relevansinya yaitu penelitian Wanto (2011), dengan judul Model Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills) Bagi Remaja Panti Asuhan Al Hikmah Wonosari Ngaliyan Semarang. Penelitian ini membahas model pendidikan life skills bagi remaja Panti Asuhan Al Hikmah Wonosari Ngaliyan Semarang yaitu melalui aspek personal skill, thinking skill, social skill dan vocasional skill. Pada aspek personal skill yakni melalui pendidikan keagamaan aspek thinking skill melalui problem solving sederhana aspek sosial skill melalui sosialisasi atau
17 17 system kekeluargaan dan aspek vokasional skill meliputi bimbingan ketrampilan baik melalui pelatihan di luar maupun di dalam panti asuhan. Dari beberapa penelitian di atas, sejauh ini belum ada yang khusus membahas pengaruh bimbingan penyuluhan agama Islam terhadap tingkat kepercayaan diri anak, di panti asuhan Al Hikmah Desa Wonosari Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang. Selain sebagai penunjang, penelitian ini juga menjadi penelitian baru dari penelitian-penelitian sebelumnya, karena dalam penelitian tersebut terdapat hal yang belum dikaji oleh peneliti yang lain, yaitu mengenai pengaruh bimbingan penyuluhan agama Islam yang dikaitkan dengan tingkat kepercayaan diri. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian yang berkaitan dengan hal tersebut.
BAB I PENDAHULUAN. Ada beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai resiliency pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Ada beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai resiliency pada remaja. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ann I. Alriksson-Schmidt, MA, MSPH, Jan
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang, karena pada masa ini remaja mengalami perkembangan fisik yang cepat dan perkembangan psikis
BAB I PENDAHULUAN. panti tidak terdaftar yang mengasuh sampai setengah juta anak. Pemerintah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia menempati urutan pertama di dunia sebagai negara dengan jumlah panti asuhan terbesar yaitu mencapai 5000 hingga 8000 panti terdaftar dan 15.000 panti
BAB I PENDAHULUAN. bahwa mereka adalah milik seseorang atau keluarga serta diakui keberadaannya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan anak selalu ada kebutuhan untuk dikasihi dan merasakan bahwa mereka adalah milik seseorang atau keluarga serta diakui keberadaannya. Keluarga
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. jenis kelamin, status ekonomi sosial ataupun usia, semua orang menginginkan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap manusia senantiasa mendambakan kehidupan yang bahagia. Mencari kebahagiaan dapat dikatakan sebagai fitrah murni setiap manusia. Tidak memandang jenis kelamin,
BAB I PENDAHULUAN. sosial yang eksis hampir di semua masyarakat. Terdapat berbagai masalah sosial
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Anak terlantar merupakan salah satu penyandang masalah kesejahteraan sosial yang eksis hampir di semua masyarakat. Terdapat berbagai masalah sosial yang menjadi
BAB I PENDAHULUAN. pendidikan di sekolah, potensi individu/siswa yang belum berkembang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Nasional mengharapkan upaya pendidikan formal di sekolah mampu membentuk pribadi peserta didik menjadi manusia yang sehat dan produktif. Pribadi
BAB I PENDAHULUAN. dan berfungsinya organ-organ tubuh sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Individu sejak dilahirkan akan berhadapan dengan lingkungan yang menuntutnya untuk menyesuaikan diri. Penyesuaian diri yang dilakukan oleh individu diawali dengan penyesuaian
BAB I PENDAHULUAN hingga (Unicef Indonesia, 2012). Menurut Departemen Sosial
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara dengan jumlah panti asuhan terbesar di dunia dengan perkiraan jumlah lembaga pengasuhan anak pada tahun 2007 sekitar 5.250 hingga 8.610 (Unicef
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. makhluk sosial. Pada kehidupan sosial, individu tidak bisa lepas dari individu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya selain sebagai makhluk individu, manusia juga merupakan makhluk sosial. Pada kehidupan sosial, individu tidak bisa lepas dari individu lainnya.
1.1 Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perjalanan hidup seorang anak tidak selamanya berjalan dengan baik. Beberapa anak dihadapkan pada pilihan yang sulit bahwa anak harus berpisah dari keluarganya
BAB I PENDAHULUAN. emosional. Salah satu tahap yang akan dihadapi individu jika sudah melewati. masa anak-anak akhir yaitu masa remaja.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap manusia pasti mengalami perkembangan tahap demi tahap yang terjadi selama rentang kehidupannya. Perkembangan tersebut dapat terjadi pada beberapa aspek, yaitu
BAB IV ANALISIS PERANAN POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PENYESUAIAN SOSIAL ANAK DI DESA WONOSARI KECAMATAN KARANGANYAR
BAB IV ANALISIS PERANAN POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PENYESUAIAN SOSIAL ANAK DI DESA WONOSARI KECAMATAN KARANGANYAR Atas dasar hasil penelitian yang telah dipaparkan pada bab tiga, maka akan dilakukan
BAB I PENDAHULUAN. pemutusan hubungan kerja atau kehilangan pekerjaan, menurunnya daya beli
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Krisis moneter yang berkepanjangan di negara kita telah banyak menyebabkan orang tua dan keluarga mengalami keterpurukan ekonomi akibat pemutusan hubungan kerja atau
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Panti sosial asuhan anak menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (2004:4) adalah suatu lembaga usaha kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk mampu mengatasi segala masalah yang timbul sebagai akibat dari interaksi dengan lingkungan sosial dan harus mampu menampilkan
BAB I PENDAHULUAN. bangsa. Dalam pertumbuhannya, anak memerlukan perlindungan, kasih sayang
BAB I PENDAHULUAN l.l Latar Belakang Masalah Anak merupakan aset bangsa yang tak ternilai harganya. Merekalah yang akan menerima kepemimpinan dikemudian hari serta menjadi penerus perjuangan bangsa. Dalam
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup tanpa
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup tanpa manusia lain dan senantiasa berusaha untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Hubungan antar manusia merupakan
BAB I PENDAHULUAN. asuh dan arahan pendidikan yang diberikan orang tua dan sekolah-sekolah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pola pembangunan SDM di Indonesia selama ini terlalu mengedepankan IQ (kecerdasan intelektual) tetapi mengabaikan EQ (kecerdasan emosi) terlebih SQ (kecerdasan
I. PENDAHULUAN. Keluarga adalah satuan sosial yang paling mendasar, dan terkecil dalam
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keluarga adalah satuan sosial yang paling mendasar, dan terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak (baik yang dilahirkan ataupun diadopsi). Menurut
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Landasan hukum upaya pelayanan kesejahteraan sosisal bagi anakanak terlantar diatas menjadi patokan dalam membentuk suatu lembaga pengganti peran dan fungsi
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah Komunikasi adalah sebuah kebutuhan naluriah yang ada pada semua makhluk hidup. Tak hanya manusia, binatang juga melakukan proses komunikasi diantara sesamanya, dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek Anak merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa harus dijaga dan dipelihara karena dalam dirinya melekat harkat, martabat, dan hak-hak
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN. gambaran pengalaman psikososial remaja yang tinggal di panti asuhan.
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini, peneliti menjelaskan simpulan dan saran yang berhubungan dengan masalah penelitian yang dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran pengalaman
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan dapat bertahan hidup sendiri.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan dapat bertahan hidup sendiri. Interaksi dengan lingkungan senantiasa dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhannya. Salah satu
BAB I PENDAHULUAN. Di zaman modern ini perubahan terjadi terus menerus, tidak hanya perubahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di zaman modern ini perubahan terjadi terus menerus, tidak hanya perubahan kearah yang lebih baik tetapi perubahan ke arah yang semakin buruk pun terus berkembang.
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Kebijakan pembangunan pendidikan tahun 2010-2014 memuat enam strategi, yaitu: 1) perluasan dan pemerataan akses pendidikan usia dini bermutu dan berkesetaraan gender, 2) perluasan
BAB I PENDAHULUAN. menjadi orang tua dari anak-anak mereka. Orang tua merupakan individu yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak merupakan anugrah yang sangat berarti bagi orang tua karena setelah pasangan menikah, peran selanjutnya yang di dambakan adalah menjadi orang tua dari anak-anak
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat saat ini,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat saat ini, membawa banyak perubahan dalam setiap aspek kehidupan individu. Kemajuan ini secara tidak langsung
BAB II LANDASAN TEORI. rendah atau tinggi. Penilaian tersebut terlihat dari penghargaan mereka terhadap
BAB II LANDASAN TEORI II. A. Harga Diri II. A. 1. Definisi harga diri Harga diri merupakan evaluasi individu terhadap dirinya sendiri secara rendah atau tinggi. Penilaian tersebut terlihat dari penghargaan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kesuksesan yang dicapai seseorang tidak hanya berdasarkan kecerdasan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesuksesan yang dicapai seseorang tidak hanya berdasarkan kecerdasan akademik (kognitif) saja namun juga harus diseimbangkan dengan kecerdasan emosional, sehingga
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. merupakan masa yang banyak mengalami perubahan dalam status emosinya,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa yang sangat penting di dalam perkembangan seorang manusia. Remaja, sebagai anak yang mulai tumbuh untuk menjadi dewasa, merupakan
BAB I PENDAHULUAN. Manusia memerlukan mitra untuk mengembangkan kehidupan yang layak bagi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Manusia sejak awal kelahirannya adalah sebagai mahluk sosial (ditengah keluarganya). Mahluk yang tidak dapat berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam menjalani kehidupan manusia memiliki rasa kebahagiaan dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam menjalani kehidupan manusia memiliki rasa kebahagiaan dan memiliki rasa kesedihan. Kebahagiaan memiliki tujuan penting di dalam kehidupan manusia. Setiap individu
LAYANAN BIMBINGAN KONSELING TERHADAP KENAKALAN SISWA
LAYANAN BIMBINGAN KONSELING TERHADAP KENAKALAN SISWA (Studi Situs SMK 1 Blora) TESIS Diajukan Kepada Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk Memenuhi Salah
2015 HUBUNGAN ANTARA ATTACHMENT PADA PENGASUH DENGAN SELF-DISCLOSURE REMAJA DI PANTI SOSIAL ASUHAN ANAK WISMA PUTRA BANDUNG
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pada umumnya, individu dibesarkan dalam sebuah keluarga yang memiliki orang tua lengkap yang terdiri dari seorang ibu dan seorang ayah. Namun, tidak semua
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Tris Yuniar, 2015 Peranan panti sosial asuhan anak dalam mengembangkan karakter kepedulian sosial
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Anak-anak merupakan aset bangsa yang tak ternilai harganya, akan menjadi penerus perjuangan bangsa nantinya, tetapi masih banyak sekali anakanak yang kehilangan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. berhubungan dengan orang lain (Stuart & Sundeen, 1998). Potter & Perry. kelemahannya pada seluruh aspek kepribadiannya.
7 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep diri 2.1.1. Pengertian Konsep diri Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam masyarakat, seorang remaja merupakan calon penerus bangsa, yang memiliki potensi besar dengan tingkat produktivitas yang tinggi dalam bidang yang mereka geluti
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. keberadaan orang lain dalam hidupnya. Dorongan atau motif sosial pada manusia,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah mahluk sosial, yang berarti manusia tidak dapat hidup sendiri. Didalam situasi dan keadaan seperti apapun manusia selalu membutuhkan keberadaan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. merawat dan memelihara anak-anak yatim atau yatim piatu. Pengertian yatim
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Panti Asuhan merupakan lembaga yang bergerak di bidang sosial untuk membantu anak-anak yang sudah tidak memiliki orang tua. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
A. LATAR BELAKANG PENELITIAN
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri bagi manusia, sehingga pada masa ini kepribadian individu cenderung berubah-berubah tergantung dari apa yang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Sekolah pada dasarnya merupakan lingkungan sosial yang berfungsi sebagai tempat bertemunya individu satu dengan yang lainnya dengan tujuan dan maksud yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan sosial anak telah dimulai sejak bayi, kemudian pada masa kanak-kanak dan selanjutnya pada masa remaja. Hubungan sosial anak pertamatama masih sangat
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Seorang anak sejak lahir tentu sejatinya membutuhkan kasih sayang yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seorang anak sejak lahir tentu sejatinya membutuhkan kasih sayang yang diberikan oleh orang tua. Keluarga inti yang terdiri atas ayah, ibu dan saudara kandung
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Saat ini globalisasi berkembang begitu pesat, globalisasi mempengaruhi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saat ini globalisasi berkembang begitu pesat, globalisasi mempengaruhi segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Dilihat dari prosesnya, globalisasi
BAB I PENDAHULUAN. adalah aset yang paling berharga dan memiliki kesempatan yang besar untuk
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja merupakan salah satu kelompok di dalam masyarakat. Kehidupan remaja sangat menarik untuk diperbincangkan. Remaja merupakan generasi penerus serta calon
Tristanti PLS UNY
Tristanti PLS UNY [email protected] Tujuan pendidikan baik pendidikan formal maupun informal bertujuan membentuk karakter dan mengembangkan bakat atau kemampuan dasar, serta kebaikan sosial. Siswa bebas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara hakiki, manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain untuk bisa mempertahankan hidupnya. Proses kehidupan manusia yang dimulai
BAB I PENDAHULUAN. kehidupan. Keluarga menjadi tempat pertama seseorang memulai
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam kehidupan. Keluarga menjadi tempat pertama seseorang memulai kehidupannya. Keluarga membentuk
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan kemampuan siswa. Dengan pendidikan diharapkan individu (siswa) dapat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan dan kemampuan siswa. Dengan pendidikan diharapkan individu (siswa) dapat mengembangkan potensi-potensinya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini pendidikan senantiasa menjadi sorotan bagi masyarakat khususnya di Indonesia yang ditandai dengan adanya pembaharuan maupun eksperimen guna terus
BAB I PENDAHULUAN. dengan keluarga utuh serta mendapatkan kasih sayang serta bimbingan dari orang tua.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan, setiap manusia memiliki dambaan untuk hidup bersama dengan keluarga utuh serta mendapatkan kasih sayang serta bimbingan dari orang tua. Perhatian
A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan hak bagi semua warga Negara Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan hak bagi semua warga Negara Indonesia. Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan Sumber Daya Manusiayang berkualitas dan berkarakter.
BAB I PENDAHULUAN. digolongkan pada individu yang sedang tumbuh dan berkembang (Yusuf,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja adalah individu yang benar-benar berada dalam kondisi perubahan yang menyeluruh menuju ke arah kesempurnaan, sehingga remaja digolongkan pada individu
BAB I PENDAHALUAN. A. Latar Belakang Masalah. status sebagai orang dewasa tetapi tidak lagi sebagai masa anak-anak. Fase remaja
BAB I PENDAHALUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja adalah fase kedua dalam kehidupan setelah fase anak-anak. Fase remaja disebut fase peralihan atau transisi karena pada fase ini belum memperoleh status
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Panti Sosial Asuhan Anak adalah suatu lembaga usaha kesejahteraan sosial
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Panti Sosial Asuhan Anak adalah suatu lembaga usaha kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial pada
2017, No MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PELAKSANAAN PENGASUHAN ANAK. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemeri
No.220, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SOSIAL. Pengasuhan Anak. Pelaksanaan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6132) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Keluarga merupakan kesatuan sosial yang terdiri atas suami istri dan anakanaknya,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan kesatuan sosial yang terdiri atas suami istri dan anakanaknya, kerap sekali keluarga itu tidak hanya terdiri dari suami istri dan anakanaknya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama bagi anak yang memberi dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah satunya adalah
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, manusia selalu membutuhkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, manusia selalu membutuhkan orang lain. Kehidupan manusia mempunyai fase yang panjang, yang di dalamnya selalu mengalami
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dengan berbagi tugas seperti mencari nafkah, mengerjakan urusan rumah tangga,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak merupakan anugerah dan amanah yang Allah berikan kepada sepasang suami istri dalam membangun sebuah keluarga. Orang tua memiliki kewajiban untuk memenuhi
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan Sumberdaya Manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang
I. PENDAHULUAN. Lingkungan keluarga seringkali disebut sebagai lingkungan pendidikan informal
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan koloni terkecil di dalam masyarakat dan dari keluargalah akan tercipta pribadi-pribadi tertentu yang akan membaur dalam satu masyarakat. Lingkungan
BAB I PENDAHULUAN. untuk bisa mempertahankan hidupnya. Sebagai mahluk sosial manusia tidak lepas
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain untuk bisa mempertahankan hidupnya. Sebagai mahluk sosial manusia tidak lepas dari interaksi
ARIS RAHMAD F
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DANKEMATANGAN SOSIAL DENGAN PRESTASI BELAJAR Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Diajukan Oleh : ARIS RAHMAD F. 100 050 320
13 PEMENUHAN KEBUTUHAN PENDIDIKAN ANAK ASUH DI PANTI SOSIAL ASUHAN ANAK
13 PEMENUHAN KEBUTUHAN PENDIDIKAN ANAK ASUH DI PANTI SOSIAL ASUHAN ANAK Oleh: Sella Khoirunnisa, Ishartono & Risna Resnawaty ABSTRAK Pendidikan pada dasarnya merupakan hak dari setiap anak tanpa terkecuali.
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI A. Kompetensi Interpersonal 1. Pengertian Kompetensi Interpersonal Menurut Mulyati Kemampuan membina hubungan interpersonal disebut kompetensi interpersonal (dalam Anastasia, 2004).
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak adalah titipan Yang Mahakuasa. Seorang anak bisa menjadi anugerah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak adalah titipan Yang Mahakuasa. Seorang anak bisa menjadi anugerah sekaligus ujian untuk orangtuanya. Dalam perkembangannya pendidikan terhadap anak merupakan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. jiwa, kepribadian serta mental yang sehat dan kuat. Selayaknya pula seorang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mahasiswa adalah salah satu bagian dari civitas akademika pada perguruan tinggi yang merupakan calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Untuk itu diharapkan
BAB II KAJIAN TEORI. Menurut Havighurst (1972) kemandirian atau autonomy merupakan sikap
BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Kemandirian 2.1.1 Pengertian Kemandirian Menurut Havighurst (1972) kemandirian atau autonomy merupakan sikap individu yang diperoleh selama masa perkembangan. Kemandirian seseorang
BAB 1 PENDAHULUAN. menganggap dirinya sanggup, berarti, berhasil, dan berguna bagi dirinya sendiri,
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Harga diri adalah penilaian seseorang mengenai gambaran dirinya sendiri yang berkaitan dengan aspek fisik, psikologis, sosial dan perilakunya secara keseluruhan.
BAB I PENDAHULUAN. Fungsi keluarga yang utama ialah mendidik anak-anaknya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keluarga sebagai kelompok masyarakat terkecil terbentuk oleh ikatan dua orang dewasa yang berlainan jenis kelamin, wanita dan pria serta anak-anak yang mereka lahirkan.
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN TEMAN SEBAYA DENGAN KEBERMAKNAAN HIDUP PADA REMAJA YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN TEMAN SEBAYA DENGAN KEBERMAKNAAN HIDUP PADA REMAJA YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi sebagai persyaratan guna memperoleh derajat S-1 Psikologi Diajukan
B A B PENDAHULUAN. Setiap manusia yang lahir ke dunia menginginkan sebuah kehidupan yang
B A B I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap manusia yang lahir ke dunia menginginkan sebuah kehidupan yang nyaman dan bahagia, yaitu hidup dengan perlindungan dan kasih sayang dari kedua orang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai dari usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Panti Asuhan adalah suatu lembaga usaha sosial yang mempunyai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Panti Asuhan adalah suatu lembaga usaha sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan sosial kepada anak terlantar dengan melaksanakan penyantunan
BAB I PENDAHULUAN. dalam menunjukkan bahwa permasalahan prestasi tersebut disebabkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan terbesar yang dihadapi siswa adalah masalah yang berkaitan dengan prestasi, baik akademis maupun non akademis. Hasil diskusi kelompok terarah yang
BAB I PENDAHULUAN. memperoleh pendidikan yang seluas-luasnya. Pendidikan dapat dimaknai sebagai
BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Pendidikan sebagai hak asasi manusia telah dilindungi oleh undangundang dan hukum, sehingga setiap individu memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang
BAB I PENDAHULUAN. pembeda. Berguna untuk mengatur, mengurus dan memakmurkan bumi. sebagai pribadi yang lebih dewasa dan lebih baik lagi.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Diciptakan dengan istimewa serta sempurna. Dengan memiliki akal pikiran dan hati yang dapat
BAB 1 PENDAHULUAN. berhubungan dengan manusia lainnya dan mempunyai hasrat untuk
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pada hakekatnya manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat lepas berhubungan dengan manusia lainnya dan mempunyai hasrat untuk berkomunikasi atau bergaul dengan
BAB VI PENUTUP. Menanamkan nilai mahabbatulloh dapat meningkatkan keimanan yang
BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan 1. Nilai-nilai mental dalam membentuk karakter religius santri di Pondok Pesantren Nurul Ulum Kota Blitar dan Pondok Pesantren Nasyrul Ulum Kabupaten Blitar. Penanaman nilai-nilai
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi, dimana usianya berkisar tahun dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa transisi, dimana usianya berkisar 10-13 tahun dan berakhir antara usia 18-22 tahun (Santrock, 2003: 31). Lebih rinci, Konopka dalam
BAB I PENDAHULUAN. yang disetujui bagi berbagai usia di sepanjang rentang kehidupan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap individu memiliki tugas perkembangan yang sudah terbagi menjadi beberapa fase dalam rentang kehidupan individu. Menurut Hurlock (1999) tugas perkembangan merupakan
