SULISTINA HIDAYATULLAH 1
|
|
|
- Hadi Kusuma
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 ejournal Ilmu Pemerintahan, 3, (1) 2015 : ISSN , ejournal.ip.fisip-unmul.ac.id Copyright 2015 IMPLEMENTASI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN PM 36 TAHUN 2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR KESYAHBANDARAN DAN OTORITAS PELABUHAN DI KOTA SAMARINDA SULISTINA HIDAYATULLAH 1 Abstrak Penelitian ini membahas tentang Implementasi Peraturan Menteri Perhubungan PM 36 Tahun 2012 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan di Kota Samarinda. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Samarinda. Analisis data diawali dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumen yang berkaitan dengan penelitian, dengan menentukan pihak-pihak yang menjadi narasumber Purposive Sampling. Fokus penelitian ini adalah (1) Pelaksanaan Pemenuhan Kelaiklautan Kapal (2) Penertiban Surat Persetujuan Berlayar (3) Penegakan Hukum dibidang keselamatan dan keamanan pelayaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pelaksanaan pengawasan dan penegakan hukum keselamatan dan keamanan dibidang pelayaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan meskipun belum dikatakan efektif dan efisien. Namun terdapat pula kendala yang mempengaruhi seperti sumber daya manusia di atas kapal yang kurang berkualitas. Kata kunci : Peraturan Perundang-undangan, Kantor Kesyahbandaran, Otoritas Pelabuhan Pendahuluan Pelabuhan Samarinda merupakan salah satu pelabuhan yang berada di Kalimantan Timur dan berperan sebagai Pelabuhan Utama di Provinsi Kalimantan Timur merupakan Pelabuhan dengan status diusahakan secara komersil dengan pengertian dari segi Pengusahaan dikelola oleh PT PERSERO Pelabuhan Indonesia IV cabang Samarinda sedangkan dari segi pemerintahan ditangani oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan kota Samarinda. Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan PM 36 Tahun 2012 tentang susunan Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan, bahwa Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Samarinda ditetapkan dalam kategori Kelas II dan dipimpin oleh seorang Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) dengan tugas pokok Meningkat kan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan tugas dan fungsi di bidang keselamatan dan keamanan 1 Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman. [email protected]
2 Implementasi Peraturan Menteri Perhubungan PM 36 Tahun 2012 (Sulistina H) pelayaran, serta pengaturan, pengendalian dan pengawasan kegiatan kepelabuhanan. Dari segi operasional Pelabuhan Samarinda yang sekaligus merupakan pintu gerbang utama perekonomian kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur, bahwa Pelabuhan Samarinda hingga saat ini masih dikunjunggi oleh kapal-kapal Pelayaran Rakyat dan Pelayaran Nusantara untuk muatan antar pulau.untuk lebih meningkatkan fungsi dan peranan Pelabuhan sebagai perangsang pendukung pembangunan dan pengembangan Pelabuhan Samarinda terus diarahkan secara bertahap melalui penambahan sarana atau prasarana, peningkatan mutu, sistem dan ketepatan waktu pelayanan untuk kelancaran angkutan laut di Pelabuhan Samarinda. Demi menciptakan pelayanan publik yang efektif, efisien dan tepat sasaran. Otoritas Pelabuhan merupakan institusi pemerintah di wilayah pelabuhan yang sangat strategis dalam meningkatkan performance pelabuhan nasional. Otoritas Pelabuhan memiliki peran sebagai penyedia infrastruktur pelabuhan dan harus mampu menjalankan prinsip-prinsip bisnis serta harus dapat menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi investasi di pelabuhan. Oleh karena itu peningkatan kualitas dan kompetensi SDM kepelabuhanan ini merupakan prasyarat penting bagi pencapaian tujuan pembangunan pelayaran khususnya dibidang transportasi nasionl pada umumnya. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas maka penulis mencoba melakukan suatu penelitian dengan judul : Implementasi Peraturan Menteri Perhubungan PM 36 Tahun 2012 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan di Kota Samarinda. Selanjutnya rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana Implementasi Peraturan Menteri Perhubungan PM 36 Tahun 2012 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan di Kota Samarinda dan kendala yang dihadapi dalam ImplementasI Peraturan Menteri Perhubungan PM 36 Tahun 2012 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan di Kota Samarinda. Dan tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Implementasi Peraturan Menteri Perhubungan PM 36 Tahun 2012 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan di Kota Samarinda dan untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam Implementasi Peraturan Menteri Perhubungan PM 36 Tahun 2012 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan di Kota Samarinda TEORI DAN KONSEP Kebijakan Publik Kebijakan publik merupakan keputusan politik yang dikembangkan oleh badan dan pejabat pemerintah. Karena itu, karateristik khusus dari kebijakan publik adalah bahwa keputusan politik tersebut diriumuskan oleh apa yang disebut Easton dalam Agustino (2006:8) sebagai otoritas dalam sistem politik, yaitu: para senior, kepala tertinggi, eksekutif, legislatif, para hakim, 423
3 ejournal Ilmu Pemerintahan, Volume 3, Nomor 1, 2015 : administator, penasehat, para raja dan sebagainya. Easton mengatakan bahwa mereka-mereka yang berotoritas dalam sistem politik dalam rangka memformulasi kebijakan publik itu adalah orang-orang yang terlibat dalam urusan sistem politik sehari-hari dan mempunyai tanggungjawab dalam suatu masalah tertentu dimana pada satu titik mereka diminta untuk mengambil keputusan dikemudian hari kelak diterima serta mengikat sebagian besar anggota masyarakat selama waktu tertentu. Implementasi Kebijakan Menurut Wibawa dalam Koryati,dkk ( ) implementasi kebijakan merupakan keputusan mengenai kebijakan yang mendasar, biasanya tertuang dalam Undang-Undang, namun juga dapat berbentuk instruksi-instruksi eksekutif yang penting atau keputusan perundangan. Idealnya keputusankeputusan tersebut menjelaskan masalah-masalah yang hendak ditangani, menetukakan tujuan yang hendak dicapai dan dalam berbagai cara menggambarakan struktur proses implementasi tersebut. Tujuan implementasi kebijakan adalah untuk menetapkan arah tujuan kebijakan publik dapat direalisasikan sebagai hasil dari kegiatan pemerintah. Organisasi Jones dan Mathew (2009:1) menyatakan bahwa organisasi merupakan alat yang digunakan oleh orang dalam mengkoordinasikan tindakan-tindakan mereka guna memenuhi sesuatu yang mereka harapkan atau hargai, yaitu mencapai tujuan. Menurut Griffin (2004:44) berbagai fungsi manajemen dilaksanakan oleh para pimpinan dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Fungsi-fungsi yang ada didalam manajemen diantaranya adalah sebagai berikut : a. Fungsi Perencanaan (Planning) b. Fungsi Pengorganisasian (Organizing) c. Fungsi Pelaksanaan (Actuating) d. Fungsi Pengawasan (Controlling) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa organisasi merupakan suatu kolektivitas orang yang ada dilingkungan, dimana aktivitas yang dilakukannya didesain secara sadar, terkoordinasi, serta diatur oleh para anggotanya dalam tangka mencapai tujuan tertentu. Struktur Organisasi Menurut (Robbins, 2003:176) Struktur organisasi menetapkan cara pembagian, pengelompokan dan pengorganisasian pekerjaan secara formal. Tata Kerja Tata kerja atau metode adalah satu cara bagimana sumber-sumber dan waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin dan tepat sehingga proses kegiatan manajemen dapat dilaksanakan dengan baik dan tepat 424
4 Implementasi Peraturan Menteri Perhubungan PM 36 Tahun 2012 (Sulistina H) pula. Dengan tata kerja yang tepat mengandung arti bahwa proses kegiatan pencapaian tujuan sudah dilakukan secara ilmiah dan praktis. Dalam Peraturan Menteri Perhubungan 36 Tahun 2012 menjelaskan tentang Tata Kerja dalam pasal 38 bahwa dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan, Para Kepala Bidang, Para Kepala Subbagian, Para Kepala Seksi, Kepala Urusan, Kepala Subseksi dan Para Petugas dan Para Penjabat Fungsional wajib menerapkan prinsip koordinasi, intergrasi dan sinkronisasi, baik dalam lingkungan masing-masing maupun antar satuan organisasi di lingkungan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan sesuai tugas masing-masing. Wilayah Kerja Dalam pasal 37 yang menjelaskan tentang Wilayah Kerja adalah satuan tugas yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan yang membawahinya. Wilayah Kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan mempunyai tugas mengkoordinasikan dan melaksanakan keamanan dan keselamatan pelayaran di perairan pelabuhan serta pengaturan, pengendalian dan pengawasan kegiatan kepelabuhanan. Kantor Kesyahbandaran Kantor Secara etimologi kantor berasal dari Belanda Kantor, yang maknanya adalah ruang tempat bekerja kedudukan pimpinan, jawaban instansi dan sebagainya. Dalam bahasa Inggris office memiliki makna yaitu tempat memberikan pelayanan (service), posisi, atau ruang tempat kerja. Kesyahbandaran Syahbandar adalah pejabat pemerintah di pelabuhan yang diangkat oleh Menteri dan memiliki kewenangan tertinggi untuk menjalankan dan melakukan pengawasan terhadap dipenuhinya ketentuan peraturan perundang-undangan untuk menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran. Sesuai dengan fungsinya tugas Syahbandar mengawasi kelaiklautan kapal yang meliputi keselamatan, keamanan, dan ketertiban di pelabuhan. Otoritas Pelabuhan Dalam Undang-Undang No. 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran bahwa Pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batasbatas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang, berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra-dan antarmoda transportasi. selanjutnya pada Undang-Undang yang sama dijelaskan bahwa 425
5 ejournal Ilmu Pemerintahan, Volume 3, Nomor 1, 2015 : Otoritas Pelabuhan (Port Authority) adalah lembaga pemerintah di pelabuhan sebagai otoritas pelabuhan yang melaksanakan fungsi pengaturan, pengendalian dan pengawasan kegiatan kepelabuhanan yang diusahakan secara komersial. (Pasal 1 angka 26 UU Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran). METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini yang menjadi fokus penelitian atau indikator yang akan dibahas oleh penulis adalah pelaksanaan pemenuhan kelaiklautan kapal, penertiban surat persetujuan berlayar dan penegakan hukum dibidang keselamatan dan keamanan pelayaran. Kemudian kendala yang dihadapi dalam Implementasi Peraturan Menteri Peraturan Perhubungan PM 36 Tahun 2012 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan di Kota Samarinda. Sumber data ditentukan menggunakan Teknik Purposive Sampling serta penggunaan prosedur teknik pengumpulan data berupa Penelitian Kepustakaan (Library Research) dan Penelitian Lapangan (Field Work Research) yang terdiri dari Observasi, Wawancara dan Penelitian Dokumen. Data-data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan metode penelitian kualitatif untuk menggambarkan dan menjelaskan secara nyata dan sistematis mengenai Implementasi Peraturan Menteri Perhubungan PM 36 Tahun 2012 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan di Kota Samarinda. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Pemenuhan Kelaiklautan Kapal Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas II Kota Samarinda dalam pelaksanaan pengawasan pemenuhan kelaiklautan kapal telah menerapkan aturan-aturan sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah. Penerapan aturan-aturan terhadap kelaiklautan kapal tersebut dikenakan bagi semua kapal berbendera Indonesia maupun kapal asing. Kelaiklautan Kapal diatur secara tegas dalam pasal 1 ayat (10) Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 tentang pelayaran, menjelaskan Kelaiklautan Kapal adalah keadaan kapal yang memenuhi persyaratan keselamatan kapal, pencegahan pencemaran perairan dari kapal, pengawakan, garis muat, pemuatan, kesejahteraan awak kapal, kesehatan penumpang, status hukum kapal, manajemen keselamatan dan pencegahan pencemaran dari kapal dan manajemen keamanan kapal untuk berlayar di perairan tertentu. Peraturan standar kapal non konvensi berbendera Indonesia tertuang dalam Lampiran Peraturan Menteri Perhubungan KM No. 65 Tahun Peraturan tersebut berisikan standar kualitas hal-hal yang terkait denga kapal dan pengawakannya dan sudah ditandatangani juga oleh Dirjen Perhubungan Laut dalam SK UM 008/20/9DJPL/2012 dan akan diberlakukan pada tanggal 1 Januari Kapal Non Konvesi sendiri merupakan definisi penjelasan tentang kapal. Menurut UU RI No. 21 Tahun 1992, mengenai definisi kapal, kapal adalah jenis 426
6 Implementasi Peraturan Menteri Perhubungan PM 36 Tahun 2012 (Sulistina H) kendaraan air dengan bentuk dan jenis apapun serta digerakan oleh tenaga mekanik dengan menggunakan tenaga angin, kapal termasuk jenis kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan di permukaan air serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah. Jadi dengan adanya peraturan ini merupakan suatu langkah yang maju jika pemerintah sebagai upaya mencapai standard keselamatan pelayaran yang lebih baik. Sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan KM No. 65 Tahun 2009 dalam pasal 1 ayat (2) yang menyatakan bahwa Standard Kapal Non Konvensi (non convention vessel standard) berbendera Indonesia Seperti Kapal KM. CATTLEYA EXPRESS dalam laporan pemeriksaan terdiri dari : a. Kontruksi/bangunan kapal dan stabilitas kapal b. Perlengkapan c. Peralatan d. Permesinan dan pelistrikan e. Garis muat f. Pengukuran kapal g. Pengawakan h. Manajemen operasional (manajemen keselamatan dan keamanan kapal) dan perlindungan lingkungan maritim. sebagimana dalam lampiran 1 Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa Kelaiklautan kapal merupakan hal yang sangat penting dalam rangka pemenuhan kelaiklautan yang handal dan aman selama suatu kapal melakukan pelayaran baik itu nasional maupun internasioanl. Yang terjadi saat ini adalah proses penentuan kelaiklautan kapal belum berjalan secara optimal, masih sering terjadi kesulitan dalam melakukan analisa data dukung untuk pengambilan keputusan laik tidaknya suatu kapal dan lebih didasarkan pada analisa yang sifatnya subjektif. Penertiban Surat Persetujuan Berlayar Surat Persetujuan Berlayar adalah surat persetujuan berlayar yang dikeluarkan oleh Syahbandar untuk berlayar setelah memenuhi kelaiklautan kapal, pengawakan dan keselamatan di atas kapal, stabilitas setelah proses pemenuhan sertifikat dipenuhi sesuai dengan Undang-Undang Pelayaran yang berlaku serta Keputusan KM 01 Tahun 2010 Tentang Penertiban Surat Persetujuan Berlayar. Dalam hal ini prosedur Penertiban Surat Persetujuan Berlayar yang diberikan oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas II Samarinda sudah dilakukan sesuai standar prosedur yang telah ditetapkan, prosedur yang ada juga sudah dimengerti oleh masyarakat yang akan mengurus Surat Persetujuan Berlayar tersebut jadi dalam prosedur yang diberikan sudah baik dalam pelaksanaannya dan masyarakat sebagai pengguna jasa mengerti dan jelas terhadap prosedur yang telah diberikan. Namun sering kali prosedur ini tidak dilaksanakan akibat lemahnya pengawasan sehingga kapal mendapat izin berlayar tanpa pemeriksaan fisik. 427
7 ejournal Ilmu Pemerintahan, Volume 3, Nomor 1, 2015 : Dalam hasil wawancara yang telah dilakukan sebelumnya oleh Kepala Seksi Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli proses pelayanan yang dilakukan oleh pihak Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas II Kota Samarinda dalam memberikan pelayanan sudah memberikan transparasi biaya yang akan dikenakan untuk pengguna jasa. Biaya Penertiban Surat Persetujuan Berlayar yang diberikan tidak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan yaitu Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dalam hal ini yaitu uang perkapalan, dari beberapa hasil wawancara dengan masyarakat ditemukan bahwa adanya biaya lebih yang dikeluarakan oleh masyarakat. Biaya tambahan yang dikeluarkan oleh masyarakat dikeluarkan dengan tujuan agar mereka tidak dipersulit para petugas, tentunya hal ini juga akan sangat berpengaruh terhadap kompetensi petugas. Mekanisme Penertiban Surat Persetujuan Berlayar (Port Clearance) merupakan dokumen yang harus dimiliki setiap kapal yang akan beroperasi diatur secara tegas didalam Keputusan Menteri Perhubungan KM 01 Tahun 2010 Tentang Tata Cara Penertiban Surat Persetujuan Berlayar (Port Clearance). Adapun mekanisme Penertiban Surat Persetujuan Berlayar (Port Clearance) KLM NUR AMINAH menurut peraturan menteri tersebut diatur dalam pasal (7) yang bunyinya : Syahbandar mengeluarkan Surat Persetujuan Berlayar berdasarkan hasil kesimpulan dan resume pemenuhan persyaratan administratif dan teknis kelaiklautan kapal. Dalam hal Syahbandar sebagimana dimaksud pada ayat (1) berhalangan, penandatanganan Surat Persetujuan Berlayar hanya dapat dilimpahkan kepada Syahbandar satu tingkat dibawahnya yang memilki kompetensi dan kualifikasi dibidang Kesyahbandaran. Adapun Surat Persetujuan Berlayar hanya berlaku 24 (dua puluh empat) jam dari waktu tolak yang ditetapkan dan hanya dapat digunakan untuk 1 (satu) kali pelayaran. Hal ini diatur dalam pasal 7 ayat (4) Peraturan Menteri Perhubungan KM 01 Tahun 2010, yang bunyinya : Surat Persetujuan Berlayar (Port Clearance) berlaku 24 (dua puluh empat) jam dari waktu tolak yang ditetapkan dan hanya dapat digunakan untu 1 (satu) kali pelayaran. Kemudian tahap berikutnya diatur dalam pasal 8 : Surat Persetujuan Berlayar yang telah ditandatangani oleh pejabat sebagaimana diatur dalam pasal 7 (tujuh), segera diserahkan kepada pemilik kapal operator atau badan usaha yang ditunjuk menangani kapal untuk diteruskan kepada nahkoda kapal. Setelah Surat Persetujuan Berlayar diterima diatas kapal, nahkoda kapal wajib segera menggerakan kapal untuk berlayar meninggalkan pelabuhan sesuai dengan waktu tolak yang ditentukan. Sebagimana format lampiran II Berdasarkan hasil wawancara maka dapat simpulkan bahwa Penertiban Surat Persetujuan Berlayar yang diberikan oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kota Samarinda Kelas II sudah sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang ada. Pengawasan yang diberikan juga sudah baik ini dapat dilihat 428
8 Implementasi Peraturan Menteri Perhubungan PM 36 Tahun 2012 (Sulistina H) dari prosedur yang telah diberikan cukup mudah dan diinformasikan dengan baik kepada masyarakat. Masyarakat sebagai pengguna jasa pun mengerti alur-alur prosedur yang harus dilalui. Namun dalam proses pelayanannya masih kurang optimal karena adanya pemberian pembiayaan tambahan agar dapat mempercepat proses pelayanan yang diberikan. Penegakan Hukum dibidang Keselamatan dan Keamanan Pelayaran Keselamatan Pelayaran adalah keselamatan kapal itu sendiri sehingga dapat tiba dengan selamat baik itu kondisi kapal serta awak kapal yang bekerja diatas kapal dan berserta muatan kapal itu sendiri dapt tiba dengan selamat sedangkan Keamanan Pelayaran adalah kapal berlayar di lalu lintas pelayaran berlayar dengan aman sesuai dengan tanda-tanda yang telah diproses. Kondisi pelaksanaan dilapangan terhadap keselamatan dan keamanan dalam penerapan kebijakan Negara berbendera dalam hal pelaksanaan pengendalian dibidang administrasi terhadap kapal berbendera Negara dilaksanakan dengan baik sesuai dengan persyaratan administrasi kapal. Namun demikian kurang baik terhadap pengendalian bidang administrasi kapal berbendera Negara yang diakibatkan masih banyaknya kelemahan SDM petugas pemeriksa dalam pemenuhan dan pengendalian administrasi kapal. Penegakan hukum merupakan supremasi hukum yang harus ditegakkan tanpa ada terkecuali, sehingga segala kelengkapan administrasi nahkoda dan awak kapal harus dilengkapi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sesuai dengan ketentuan UNCLOS kelengkapan secara teknis harus tetap dilengkapi oleh nahkoda dan awak kapal. Pelaksanaan penegakan hukum dan peraturan kapal berbendera Negara sudah baik apabila nahkoda dan awak kapal tidak memenuhi hal-hal yang terkait masalah teknis. Demikian pula dengan masalah sosial menunjukkan kurang baik dalam pelaksanaan dilapangan, oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan dan sosialisasi kepada awak kapal bahkan nahkoda untuk selalu memperhatikan hal-hal sosial yang ada didalam kapal. Menurut Bapak Capt. Dean granovic, M.Mar selaku Pengawas Tertib Bandar dan Tertib Berlayar. Beliau mengatakan bahwa Memberikan sosialisasi tentang Undang-Undang yang berlaku di pelayaran baik itu Keputusan Menteri Perhubungan Laut serta melakukan pengawasan secara rutin di lapangan dengan pemeriksaan-pemeriksaan yang berlaku di atas kapal yang dilakukan team Patroli KPLP. Berdasarkan hasil kesimpulan diatas bahwa setiap keamanan lingkungan maritim di perairan Indonesia adalah untuk menjamin keselamatan dan keamanan kapal berbendera Negara dan Nasional selama berlayar dan yang melintas damai di perairan indonesia. Konsep dasar kegiatan pelayaran adalah setiap kegiatan distribusi barang, penumpang dan hewan dan logistik akan membutuhkan alat angkut di perairan atau disebut kapal. Semua kapal yang melakukan kegiatan tersebut diatas bergerak dari satu titik (pelabuhan asal) ke titik lainnya (pelabuhan tujuan) dengan telah memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan berlayar. 429
9 ejournal Ilmu Pemerintahan, Volume 3, Nomor 1, 2015 : Kendala yang dihadapi dalam Implementasi Peraturan Menteri Perhubungan PM 36 Tahun 2012 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan di Kota Samarinda Kendala yang dihadapi Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan di Kota Samarinda dalam melaksanakan pengawasan dan penegakan hukum dibidang keamanan dan keselamatan berlayar mengenai kondisi kapal, seperti hal yang diungkapkan oleh Bapak Capt. Dean granovic, M.Mar selaku Pengawas Tertib Bandar dan Tertib Berlayar. Beliau mengatakan bahwa : Banyaknya pemilik kapal tidak melaporkan Kesyahbandaran mengenai keberadaan kapal serta sertifikat kapal yang tidak di perpanjang dan kondisi fisik dalam pengawasan kapal yang tidak dilaporkan secara efektif dan tranparansi ke pihak Syahbandar selaku pengawas. (wawancara 12 Januari 2015) PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan uraian-uraian yang telah penulis kemukakan pada bab-bab sebelumnya, sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan maka penulis akan menyimpulkan uarian-uraian tersebut sebagai berikut : Implementasi Peraturan Menteri Perhubungan PM 36 Tahun 2012 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan di Kota Samarinda yang terdiri atas para pejabat struktural di Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan di Kota Samarinda telah dilaksanakan dengan baik sesuai ketentuan-ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang ada. Kemudian membentuk sebuah struktur organisasi dan tata kerja sebagai landasan bagi pihak kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan tugas dan fungsi dibidang keamanan dan keselamatan berlayar, serta pengaturan dan pengendalian dan pengawasan kegiatan kepelabuhanan. Namun dalam pelaksanakan kelaiklautan kapal perlu ditingkatkan lagi penerapan dan aturan-aturan yang ada agar para pemilik kapal atau operator kapal dan penumpang kapal memahami mengenai keselamatan dan keamanan pelayaran itu sendiri, Penertiban Surat Persetujuan Berlayar sudah sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang ada, tetapi pelayanan yang diberikan belum berjalan dengan baik dan belum mampu menjalankan tugas yang seharusnya dapat menyelesaikan tugasnya sesuai dengan waktu yang ada, oleh karena itu masih ditemukan adanya pengguna jasa yang membayar uang lebih kepada aparat serta dalam meningkatkan keselamatan pelayaran harus melakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa keselamatan dan keamanan pelayaran adalah tanggungjawab semua pihak baik Pemerintah maupun masyarakat hal ini mengharapakan partisipasi peran masyarakat dalam berbudaya selamat dalam menggunakan tranportasi laut. Namun setiap pelaksanaanya pasti terdapat beberapa kendala yang dihadapi seperti banyakanya kapal tiba dari pelabuhan tujuan yang tidak melaporkan Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan mengenai dokumen kapal berupa sertifikat kapal. 430
10 Implementasi Peraturan Menteri Perhubungan PM 36 Tahun 2012 (Sulistina H) Saran Sesuai dengan hasil penelitian dan kesimpulan yang ada maka penulis memberikan saran sebagai berikut : Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan di Kota Samarinda diharapkan dapat memberikan pelayanan transportasi laut yang cepat, tepat dan selamat sehingga keamanan pelayaran serta keselamatan pelayaran dapat berjalan efektif dan efisien serta dapat mewujudkan transportasi Nasional dan International sesuai Undang-Undang Pelayaran yang diamanatkan. Disarankan kepada pihak Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kota Samarinda untuk lebih meningkatkan sosialisasi yang ada dengan mengelar acara dan pertemuan-pertemuan mengenai sosialisasi keselamatan pelayaran. Kegiatan diperuntunkkan untuk lebih memperkenalkan pentingnya keselamatan pelayaran bagi para awak kapal dan calon penumpang. Perlu diperketat pengawasan dan pelaksanaan yang benar oleh pihak Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan yang baik diatas kapal dalam mengawasi kondisi kelaiklautan kapal yang akan berlayar. Kemudian dalam hal kurangnya SDM yang berkualitas di atas kapal sebaiknya aparatur Kesyahbandaran harus membuat sebuah aturan yang mempertegas bahwa apabila yang tidak menjalankan aturan-aturan yang diberikan maka akan diberikan sanksi atau denda. Daftar Pustaka Agustino, Leo Dasar-dasar Kebijakan Publik. Bandung : Alfabeta Lubis Solly. M Kebijakan Publik. Bandung : Mandar Maju Nawawi, Ismail Public Policy. Surabaya : Grafika Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, bandung : CV Alfabeta Moleong Lexy, J Metode Penelitian Kualitatif, Bandung : PT Remaja Rosadakarya Koryati, dkk Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Wilayah. Yogyakarta : Cipta Mandiri Priansa, Donni Juni, Manajemen Perkantoran, Bandung : CV Alfabeta Siagian, Sondang P Filsafat Administrasi.Bumi Aksara: Jakarta Winarno, Budi, Kebijakan Publik(Teori, Proses dan Studi Kasus), Yogyakarta : Cipta Mandiri Dokumen-dokumen : Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2009 Tentang Kepelabuhanan. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 36 Tahun 2012 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 01 Tahun 2012 Tentang Tata Cara Penertiban Surat Persetujuan Berlayar. 431
11 ejournal Ilmu Pemerintahan, Volume 3, Nomor 1, 2015 : Peraturan Perundang-Undangan No. 51 Tentang Perkapalan Peraturan Menteri Perhubungan KM No. 65 Tahun 2009 Tentang Kapal Non Konvensi Sumber Internet : Supanji, Ipan Muhammad, dkk. (2008) Program Kreativitas Mahasiswa : Prosedur Sertifikasi Laik Laut Kapal Ikan Kasus Kapal Ikan di Pelabuhan Ratu. Institut Pertanian Bogor, diakses pada Tanggal 1 Desember 2012 dari Pieter Batti : Masalah dalam Penerapan UU Pelayaran www. Hukumonline.com (diakses 17 Juni 2011) 432
2 Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5070); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian (Lemb
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.216, 2015 KEMENHUB. Penyelenggara Pelabuhan. Pelabuhan. Komersial. Peningkatan Fungsi. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 23 TAHUN 2015 TENTANG
2016, No kepelabuhanan, perlu dilakukan penyempurnaan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 51 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan L
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1867, 2016 KEMENHUB. Pelabuhan Laut. Penyelenggaraan. Perubahan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 146 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.627, 2012 KEMENTERIAN PERHUBUNGAN. Kantor Kesyahbandaran. Utama. Organisasi. Tata Kerja. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 34 TAHUN 2012 TENTANG
2016, No Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5208); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Lembaran N
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.413, 2016 KEMENHUB. Penumpang dan Angkutan Penyeberangan. Daftar. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 25 TAHUN 2016 TENTANG DAFTAR
PERATURAN DAERAH KABUPATEN NUNUKAN NOMOR 04 TAHUN 2005
PERATURAN DAERAH KABUPATEN NUNUKAN NOMOR 04 TAHUN 2005 TENTANG PENERBITAN SURAT-SURAT KAPAL, SURAT KETERANGAN KECAKAPAN, DISPENSASI PENUMPANG DAN SURAT IZIN BERLAYAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.1955, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENHUB. Dari Dan Ke Kapal. Bongkar Muat. Penyelenggaraan dan Pengusahaan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 152 TAHUN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 276, 2015 KEMENHUB. Penumpang. Angkatan Laut. Pelayanan. Standar. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 37 TAHUN 2015 TENTANG STANDAR PELAYANAN
2 2. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara
No.785, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENHUB. Harga Jual. Jasa Kepelabuhan. Badan Usaha Pelabuhan. Penetapan. Pedoman. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 95 TAHUN 2015
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 78,
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 220, 2015 KEUANGAN. PPN. Jasa Kepelabuhanan. Perusahaan Angkutan Laut. Luar Negeri. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5742). PERATURAN
2 3. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik In
No.1817, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENHUB. Bongkar Muat. Barang. Kapal. Penyelenggaraan. Pengusahaan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 60 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara kepulauan (Archipelagic State) memiliki lebih kurang 17.500 pulau, dengan total panjang garis pantai mencapai 95.181 km
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KM.1 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENERBITAN SURAT PERSETUJUAN BERLAYAR (PORT CLEARANCE)
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KM.1 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENERBITAN SURAT PERSETUJUAN BERLAYAR (PORT CLEARANCE) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK
KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERHUBUNGAN DAN KEPALA BADAN PENGUSAHAAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS BATAM
KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERHUBUNGAN DAN KEPALA BADAN PENGUSAHAAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS BATAM NOMOR: KP 99 TAHUN 2017 NOMOR: 156/SPJ/KA/l 1/2017 TENTANG PENYELENGGARAAN PELABUHAN
2017, No Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan L
No.394, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENHUB. Terminal Khusus. Terminal untuk Kepentingan Sendiri. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 20 TAHUN 2017 TENTANG
PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 05 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH DI PELABUHAN
PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 05 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH DI PELABUHAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam upaya
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 78,
PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA SELATAN
PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA SELATAN NOMOR 22 TAHUN 2012 TENTANG SERTIFIKASI DAN REGISTRASI KENDARAAN DI ATAS AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 78,
2016, No Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5208); 3. Peraturan Pemerintah Nomor
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 431, 2016 KEMENHUB. Penumpang. Angkutan Penyeberangan. Kewajiban. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 28 TAHUN 2016 TENTANG KEWAJIBAN PENUMPANG
2016, No Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5208); 3. Peraturan Pemerintah Nomor
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.430,2016 KEMENHUB. Jasa. Angkutan Penyeberangan. Pengaturan dan Pengendalian. Kendaraan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 27 TAHUN 2016 TENTANG
PERATURAN KESYAHBANDARAN DI PELABUHAN PERIKANAN
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN TANGKAP DIREKTORAT PELABUHAN PERIKANAN PERATURAN KESYAHBANDARAN DI PELABUHAN PERIKANAN SYAHBANDAR DI PELABUHAN PERIKANAN Memiliki kompetensi
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1523, 2013 KEMENTERIAN PERHUBUNGAN. Angkutan Laut. Penyelenggaraan. Pengusahaan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 93 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN
FUNGSI PELABUHAN P P NOMOR 69 TAHUN 2001 SIMPUL DALAM JARINGAN TRANSPORTASI; PINTU GERBANG KEGIATAN PEREKONOMIAN DAERAH, NASIONAL DAN INTERNASIONAL;
FUNGSI PELABUHAN P P NOMOR 69 TAHUN 2001 SIMPUL DALAM JARINGAN TRANSPORTASI; PINTU GERBANG KEGIATAN PEREKONOMIAN DAERAH, NASIONAL DAN INTERNASIONAL; TEMPAT KEGIATAN ALIH MODA TRANSPORTASI; PENUNJANG KEGIATAN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.731, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN. Pencemaran. Perairan. Pelabuhan. Penanggulangan PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN
BUPATI BARITO UTARAA PERATURAN BUPATI BARITO UTARA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG DI SUNGAI BARITO DALAM WILAYAH KABUPATEN BARITO UTARA
BUPATI BARITO UTARAA PERATURAN BUPATI BARITO UTARA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN TAMBAT, LABUH KAPAL LAUT DAN RAKIT KAYU DI SUNGAI BARITO DALAM WILAYAH KABUPATEN BARITO UTARA DENGAN RAHMAT
LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON
LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR : 45 TAHUN : 2001 SERI : D PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN DI KOTA CILEGON DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA CILEGON,
2017, No Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 65, Tambahan Lembaran
No.913, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENHUB. Jasa Pengurusan Transportasi. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 49 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN DAN PENGUSAHAAN JASA
BUPATI TAPIN PERATURAN BUPATI TAPIN NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG
SALINAN BUPATI TAPIN PERATURAN BUPATI TAPIN NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN PERIZINAN ANGKUTAN DAN PENGELOLAAN TAMBATAN DI PERAIRAN KABUPATEN TAPIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang
TENTANG ORGANISASI DAN TAT A KERJA KANTOR PELABUHAN BATAM
MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG ORGANISASI DAN TAT A KERJA KANTOR PELABUHAN BATAM a. bahwa berdasarkan Pasal 88 Undang-Undar.~ Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran diatur dalam mendukung
BUPATI ALOR PERATURAN DAERAH KABUPATEN ALOR NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN PELABUHAN PENGUMPAN LOKAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI ALOR PERATURAN DAERAH KABUPATEN ALOR NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN PELABUHAN PENGUMPAN LOKAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang BUPATI ALOR, : a. bahwa pelabuhan mempunyai peran
MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA
MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTER! PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 25 TAHUN 2016 TENT ANG DAFTAR PENUMPANG DAN KENDARAAN ANGKUTAN PENYEBERANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 1992 TENTANG PELAYARAN [LN 1992/98, TLN 3493]
UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 1992 TENTANG PELAYARAN [LN 1992/98, TLN 3493] BAB XIII KETENTUAN PIDANA Pasal 100 (1) Barangsiapa dengan sengaja merusak atau melakukan tindakan apapun yang mengakibatkan tidak
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.633, 2015 KEMENHUB. Angkutan Penyeberangan. Penyelenggaraan. Perubahan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 80 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 105 TAHUN 2015 TENTANG KUNJUNGAN KAPAL WISATA (YACHT) ASING KE INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 105 TAHUN 2015 TENTANG KUNJUNGAN KAPAL WISATA (YACHT) ASING KE INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2011 TENTANG KUNJUNGAN KAPAL WISATA (YACHT) ASING KE INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2011 TENTANG KUNJUNGAN KAPAL WISATA (YACHT) ASING KE INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id Menimbang
2013, No Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negar
No.386, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN. Kesyahbandaran. Pelabuhan Perikanan. Pedoman. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3/PERMEN-KP/2013
PEMERINTAH KABUPATEN TANGGAMUS
PEMERINTAH KABUPATEN TANGGAMUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGGAMUS NOMOR : 07 Tahun 2011 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN KEPELABUHANAN DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANGGAMUS, Menimbang : a. bahwa
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2015 TENTANG PERLAKUAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS PENYERAHAN JASA KEPELABUHANAN TERTENTU KEPADA PERUSAHAAN ANGKUTAN LAUT YANG MELAKUKAN KEGIATAN
RANCANGAN PERATURAN MENTERI TENTANG PENYELENGGARAAN PELABUHAN PENYEBERANGAN MENTERI PERHUBUNGAN,
Menimbang RANCANGAN PERATURAN MENTERI TENTANG PENYELENGGARAAN PELABUHAN PENYEBERANGAN MENTERI PERHUBUNGAN, : a. bahwa dalam Peraturan Pemerintah Nomor 61 tahun 2009 tentang Kepelabuhanan telah diatur ketentuan
Ratna 1. Universitas Mulawarman
ejournal Administrasi Negara Volume 5, (Nomor 2 ) 2017: 5909-5921 ISSN 0000-0000, ejournal.an.fisip-unmul.ac.id Copyright 2017 STUDI TENTANG PELAKSANAAN SEWA BARANG MILIK NEGARA (BMN) DALAM MENGOPTIMALISASI
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2011 TENTANG KUNJUNGAN KAPAL WISATA (YACHT) ASING KE INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2011 TENTANG KUNJUNGAN KAPAL WISATA (YACHT) ASING KE INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Indonesia
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2015 TENTANG
SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2015 TENTANG PERLAKUAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS PENYERAHAN JASA KEPELABUHANAN TERTENTU KEPADA PERUSAHAAN ANGKUTAN LAUT YANG MELAKUKAN
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 48 TAHUN 2018 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN PELAYANAN PUBLIK KAPAL PERINTIS
MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 48 TAHUN 2018 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN PELAYANAN PUBLIK KAPAL PERINTIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
STATUS REKOMENDASI KESELAMATAN SUB KOMITE INVESTIGASI KECELAKAAN PELAYARAN KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI. Penerima Receiver.
STATUS REKOMENDASI KESELAMATAN SUB KOMITE INVESTIGASI KECELAKAAN PELAYARAN KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI Investigasi Investigation Tanggal Kejadian Date of Occurrence Sumber Source Tanggal Dikeluarkan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1992 TENTANG PELAYARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1992 TENTANG PELAYARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa transportasi mempunyai peranan penting dan strategis
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN 1. Kriteria Pelabuhan yang Dapat Diusahakan Secara Komersial dan Non Komersial a. Kriteria Pelabuhan yang Dapat Diusahakan Secara Komersial 1) Memiliki fasilitas
NOMOR PM 103 TAHUN 2017 TENTANG PENGATURAN DAN PENGENDALIAN KENDARAAN YANG MENGGUNAKAN JASA ANGKUTAN PENYEBERANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 103 TAHUN 2017 TENTANG PENGATURAN DAN PENGENDALIAN KENDARAAN YANG MENGGUNAKAN JASA ANGKUTAN PENYEBERANGAN
BAB I PENDAHULUAN. merupakan kekayaan yang luar biasa bagi bangsa Indonesia. 1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia, yang memiliki lebih dari 17.000 (tujuh belas ribu) pulau yang membentang dari 6 LU sampai 11 LS dan 92 BT sampai
LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2008 NOMOR : 13 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2008 NOMOR : 13 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG TARIF JASA PEMANDUAN DAN PENUNDAAN KAPAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA CILEGON,
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANAH LAUT TAHUN 2012 NOMOR 4
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANAH LAUT TAHUN 2012 NOMOR 4 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH LAUT NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR DI KABUPATEN TANAH LAUT DENGAN RAHMAT
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 503 TAHUN : 2001 SERI : D PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 6 TAHUN 2001 TENTANG PEMANFAATAN KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERANG
2016, No Keputusan Presiden Nomor 65 Tahun 1980 tentang Pengesahan International Convention For The Safety of Life at Sea, 1974; 6. Peratur
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1428, 2016 KEMENHUB. Kendaraan diatas Kapal. Pengangkutan. Tata Cara. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 115 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENGANGKUTAN
BUPATI KOTAWARINGIN TIMUR PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG
SALINAN BUPATI KOTAWARINGIN TIMUR PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG PERIZINAN PENYELENGGARAAN ANGKUTAN SUNGAI DAN DANAU DI KABUPATEN KOTAWARINGIN
PENGERTIAN KAPAL SEBAGAI BARANG DALAM PENEGAKAN HUKUM OLEH PEJABAT DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI
PENGERTIAN KAPAL SEBAGAI BARANG DALAM PENEGAKAN HUKUM OLEH PEJABAT DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI Oleh : Bambang Semedi (Widyaiswara Pusdiklat Bea dan Cukai) Pendahuluan Dengan semakin majunya dunia
BAB I PENDAHULUAN. serta sebagai tempat perpindahan intra-dan antarmoda transportasi.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, Pelabuhan merupakan tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu
WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR
WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 60 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KOTA SURABAYA
BAB II PENGATURAN HUKUM TENTANG TINDAK PIDANA PELAYARAN DI INDONESIA. A. Pengaturan Tindak Pidana Pelayaran Di Dalam KUHP
29 BAB II PENGATURAN HUKUM TENTANG TINDAK PIDANA PELAYARAN DI INDONESIA A. Pengaturan Tindak Pidana Pelayaran Di Dalam KUHP Indonesia merupakan negara maritim terbesar di dunia, yang mana hal tersebut
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pelabuhan merupakan sebuah fasilitas di ujung samudera, sungai, atau danau untuk menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Perkembangan pelabuhan
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 105 TAHUN 2015 TENTANG KUNJUNGAN KAPAL WISATA (YACHT) ASING KE INDONESIA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 105 TAHUN 2015 TENTANG KUNJUNGAN KAPAL WISATA (YACHT) ASING KE INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa
PENYELENGGARAAN ANGKUTAN LAUT DALAM NEGERI BERDASARKAN SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL
PENYELENGGARAAN ANGKUTAN LAUT DALAM NEGERI BERDASARKAN SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL http://images.hukumonline.com I. PENDAHULUAN Laut adalah ruang perairan di muka bumi yang menghubungkan daratan dengan
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.363, 2013 KEMENTERIAN PERHUBUNGAN. Pelabuhan. Tanjung Balai Karimun. Rencana Induk. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 17 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA
*35478 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 1 TAHUN 1998 (1/1998) TENTANG PEMERIKSAAN KECELAKAAN KAPAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Copyright (C) 2000 BPHN PP 1/1998, PEMERIKSAAN KECELAKAAN KAPAL Menimbang: *35478 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 1 TAHUN 1998 (1/1998) TENTANG PEMERIKSAAN KECELAKAAN KAPAL PRESIDEN
2016, No Republik Indonesia Nomor 4152); 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008
No.1339, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMHUB. Penggunaan Kapal Asing. Pemberian Izin. Persyaratan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 100 TAHUN 2016 PM 154 TAHUN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR PM 71 TAHUN 2013 TENTANG SALVAGE DAN/ATAU PEKERJAAN BAWAH AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace dicabut: UU 17-2008 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 98, 1992 (PERHUBUNGAN. Laut. Prasarana. Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara yang dikenal sebagai negara maritim yang sebagian besar luas wilayahnya merupakan perairan dan terdiri atas pulau pulau. Oleh sebab itu
PERATURAN DAERAH PROPINSI SULAWESI TENGAH NOMOR : 03 TAHUN 2007 TENTANG
PERATURAN DAERAH PROPINSI SULAWESI TENGAH NOMOR : 03 TAHUN 2007 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PELABUHAN KAPAL PADA PELABUHAN REGIONAL DI PROPINSI SULAWESI TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR
ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR KESYAHBANDARAN UTAMA
MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTER! PERHUBUNGAN NOMOR PM 34 TAHUN 2012 ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR KESYAHBANDARAN UTAMA bahwa dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.633, 2012 KEMENTERIAN PERHUBUNGAN. Pelabuhan. Tanjung Priok. Rencana Induk. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 38 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA INDUK
BUPATI BANGKA TENGAH
BUPATI BANGKA TENGAH SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 36 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA TENGAH, Menimbang : a. bahwa
Pesawat Polonia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai negara maritim sekaligus negara kepulauan terbesar di dunia, tidak bisa dibantah bahwa pelabuhan menjadi cukup penting dalam membantu peningkatan
Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN KETAPANG dan BUPATI KETAPANG MEMUTUSKAN :
1 BUPATI KETAPANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KETAPANG NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN KEPELABUHANAN, ANGKUTAN SUNGAI, DAN PENYEBERANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG KEPELABUHANAN DI KABUPATEN LAMONGAN
SALINAN PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG KEPELABUHANAN DI KABUPATEN LAMONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LAMONGAN, Menimbang : a.
2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1401, 2016 KEMENHUB. UPP. Kelas III Tanjung Redeb. Standar Pelayanan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 111 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR PELAYANAN
PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 20 TAHUN 2002 TENTANG KETERTIBAN DALAM KAWASAN PELABUHAN PEMERINTAH KOTA TARAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 20 TAHUN 2002 TENTANG KETERTIBAN DALAM KAWASAN PELABUHAN PEMERINTAH KOTA TARAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TARAKAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka
PEMERINTAH KOTA DUMAI
KOTA DUMAI PEMERINTAH KOTA DUMAI PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 16 TAHUN 2005 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KOTA DUMAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DUMAI
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1298, 2013 KEMENTERIAN PERHUBUNGAN. Pelabuhan Tegal. Jawa Tengah. Rencana Induk. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 89 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA
MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA
MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan mengenai pengerukan dan reklamasi sebagaimana diatur dalam Pasal 102 dan Pasal 107 Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun
BUPATI TOLITOLI PROVINSI SULAWESI TENGAH
SALINAN BUPATI TOLITOLI PROVINSI SULAWESI TENGAH PERATURAN BUPATI TOLITOLI NOMOR 63 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN TOLITOLI
Laporan Akhir Studi Penyusunan Kebutuhan Norma, Standar, Pedoman, dan Kriteria (NSPK)di Bidang Pelayaran KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR Undang Undang 17 tahun 2008 tentang Pelayaran, dalam ketentuan umum dinyatakan bahwa keselamatan dan keamanan pelayaran adalah suatu keadaan terpenuhinya persyaratan keselamatan dan keamanan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1998 TENTANG PEMERIKSAAN KECELAKAAN KAPAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1998 TENTANG PEMERIKSAAN KECELAKAAN KAPAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 93 ayat (3) Undang-undang
RANCANGAN KRITERIA DI BIDANG TRANSPORTASI LAUT PENETAPAN KRITERIA DAERAH PELAYARAN KAPAL PELAYARAN RAKYAT
PENETAPAN KRITERIA DAERAH PELAYARAN KAPAL PELAYARAN RAKYAT LAMPIRAN 9 i 1. Ruang Lingkup 2. Acuan 3. Istilah dan Definisi 4. Persyaratan 4.1. Persyaratan Utama 4.2. Kriteria Pelayaran Rakyat 4.3. Daerah
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO SELATAN NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG LALU LINTAS ANGKUTAN SUNGAI, DANAU DAN PENYEBERANGAN
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO SELATAN NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG LALU LINTAS ANGKUTAN SUNGAI, DANAU DAN PENYEBERANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BARITO SELATAN, Menimbang : a. bahwa
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG RETRIBUSI IZIN PENYELENGGARAAN PENGUSAHAAN ANGKUTAN DI PERAIRAN DALAM WILAYAH KABUPATEN BENGKAYANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 1996 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 1996 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran, telah diatur
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara maritim dengan luas wilayah laut terbesar di
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Industri Pertambangan khususnya tambang batu bara dinegara Indonesia sangat pesat pertumbuhannya seiring dengan permintaan pasar dunia akan kebutuhan batu
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM. 84 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN LINAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM. 84 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN LINAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA, Membaca : 1. surat
PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 11 TAHUN 2007 TENTANG RETRIBUSI JASA KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI INDRAMAYU
PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 11 TAHUN 2007 TENTANG RETRIBUSI JASA KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI INDRAMAYU Menimbang : a. bahwa dalam rangka mengatur dan mengurus
Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 1996 Tentang : Kepelabuhanan
Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 1996 Tentang : Kepelabuhanan Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 70 TAHUN 1996 (70/1996) Tanggal : 4 DESEMBER 1996 (JAKARTA) Sumber : LN 1996/107; TLN PRESIDEN
2015, No Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lemb
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1509, 2015 KEMENHUB. Syahbandar. Online. Surat Persetujuan. Pelayanan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 154 TAHUN 2015 TENTANG PELAYANAN SURAT
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1522,2013 KEMENTERIAN PERHUBUNGAN. Pelabuhan Makassar. Sulawesi Selatan. Rencana Induk. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 92 TAHUN 2013 TENTANG
RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN 2010 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN
RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN 2010 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 13, Pasal 18, Pasal 19, Pasal 20, Pasal
WALIKOTA SINGKAWANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT
WALIKOTA SINGKAWANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN WALIKOTA SINGKAWANG NOMOR 65 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS POKOK DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Standar Pelayanan Berdasarkan PM 37 Tahun 2015 Standar Pelayanan Minimum adalah suatu tolak ukur minimal yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 1999 TENTANG ANGKUTAN DI PERAIRAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 1999 TENTANG ANGKUTAN DI PERAIRAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa angkutan di perairan selain mempunyai peranan yang strategis dalam
