Rencana Strategis RENCANA STRATEGIS

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Rencana Strategis RENCANA STRATEGIS"

Transkripsi

1

2 RENCANA STRATEGIS DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN PACITAN PENYUSUN RENCANA STRATEGIS SKPD 2016 ii

3 Rencana Strategis Dinas Perhubungan ini disusun oleh: Tim Penyusun Renstra Penanggung Jawab Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Ketua Sekretaris Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Sekretaris Kepala Sub Bagian Program Evaluasi dan Pelaporan Anggota 1. Staf Sekretariat 2. Staf Bidang Manajemen Lalu Lintas dan Angkutan 3. Staf Bidang Sarana dan Prasarana Transportasi 4. Staf Bidang Pos, Telekomunikasi dan Informatika i

4 KATA PENGANTAR Dalam rangka meningkatkan pembangunan daerah di Kabupaten Pacitan sebagai langkah penyesuaian perkembangan dan kemajuan di berbagai aktivitas di berbagai bidang saat ini, maka diperlukan penyesuaian Rencana Strategis (Renstra) Dinas Perhubungan sebagai wujud penjabaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) tahun Kabupaten Pacitan. Penyusunan Rencana Strategis SKPD telah disesuaikan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Daerah Hal ini dalam rangka mencapai keterpaduan dan sinkronisasi perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian kegiatan yang telah diprogramkan dapat dilakukan melalui regulasi, forum koordinasi dan musyawarah rencana pembangunan. Rencana strategis Dinas perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pacitan menerapkan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik antara lain; efisiensi, efektivitas, transparansi, akuntabilitas dan partisipasi. Selanjutnya dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan program tahunan akan dievaluasi sebagai perwujudan laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Dan diharapkan kualitas serta kuantitas kinerja yang telah ditetapkan sesuai indikatornya dapat terukur. ii

5 Penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan ini masih diperlukan banyak masukan masukan terkait situasi dan kondisi yang semakin berkembang, untuk itu saran dan kritik sangat diharapkan guna perbaikan dalam penyusunanya Pacitan 2016 KEPALA DINAS PERHUBUNGAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KABUPATEN PACITAN WIDY SUMARDJI, Ssos. Pembina Utama Muda NIP iii

6 DAFTAR ISI JUDUL... i PENYUSUN RENCANA STRATEGIS SKPD... ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... v BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Landasan Hukum Maksud dan Tujuan Sistematika Penulisan... 5 BAB 2 GAMBARAN PELAYANAN DINAS PERHUBUNGAN Tugas Fungsi dan Struktur Organisasi Uraian Tugas dan fungsi Sekretariat Bidang Manajemen Lalu Lintas dan Angkutan Bidang Prasarana Transportasi Bidang Pengembangan Keselamatan Transportasi Kelompok Jabatan Fungsional Struktur Organisasi Sumber Daya SKPD Kinerja Pelayanan SKPD Jaringan jalan Sarana dan prasarana perlengkapan jalan Angkutan umum Angkutan Pedesaan Angkutan Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) Angkutan Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP) Angkutan Antar Jemput Angkutan Perbatasan Angkutan Paratransit iv

7 2.3.4 Sarana dan Prasarana Transportasi Terminal Tempat pemberhentian angkutan Layanan Keselamatan transportasi Layanan Pemeriksaan Kendaraan bermotor Layanan Parkir Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Peningkatan Mutu Pelayanan Peningkatan Kesadaran Masyarakat Tantangan dan Peluang Pengembangan SKPD Tantangan Pengembangan Pelayanan Peluang Pengembangan Pelayanan BAB 3 ISU ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Permasalahan Bidang Perhubungan Telaahan Visi Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Telaahan Renstra Kementerian/Lembaga Renstra Kementerian Perhubungan Renstra Kementerian Komunikasi dan Informatika Renstra Dinas Perhubungan dan LLAJ Propinsi Jawa Timur Program Prioritas Pembangunan Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Kebijakan Tataran Transportasi Wilayah Jawa Timur Telaahan Terhadap Strategi Penataan Ruang Wilayah Kabupaten Pacitan Penentuan Isu Isu Strategis Arah pengembangan transportasi jalan Arah pengembangan transportasi udara dan laut v

8 BAB 4 VISI MISI TUJUAN SASARAN STRATEGI DAN KEBIJAKAN Visi dan Misi Kepala Daerah Tujuan Sasaran Jangka Menengah Strategi Kebijakan SKPD BAB 5 RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN INDIKATOR KINERJA KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF BAB 6 INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD BAB 7 PENUTUP vi

9 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 dalam pasal 1 mengenai ketentuan umum, Rencana Strategis SKPD yang selanjutnya disingkat Renstra SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode 5 (lima) tahun. Renstra Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan Tahun disusun berdasarkan isu strategis dan rumusan permasalahan perhubungan yang terjadi di Kabupaten Pacitan. Rumusan permasalahan perhubungan diperoleh dari jaring aspirasi masyarakat yang dikumpulkan oleh anggota tim pengumpul Renstra Dinas Perhubungan dan rumusan hasil evaluasi pembangunan sektor perhubungan, serta mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pacitan Renstra Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan Tahun merupakan suatu proses yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai dalam kurun waktu 1 (satu) sampai 5 (lima) tahun, dengan memperhitungkan potensi, peluang, dan kendala yang ada atau yang mungkin timbul. Renstra Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan Tahun adalah jawaban konkrit terhadap terciptanya sistem transportasi yang efektif, efisien, dan berkualitas yang merupakan tuntutan masyarakat Kabupaten Pacitan. Dengan melakukan perbuatan nyata secara sistematis dan bertahap pada seluruh Program/Kegiatan yang telah ditetapkan, yang dirumuskan secara kolektif oleh pimpinan bersama tim kerja untuk dikomunikasikan kepada seluruh komponen organisasi dan diimplementasikan guna mencapai guna mencapai visi dan misi Pemerintah Kabupaten Pacitan. 1

10 1.2 Landasan Hukum Sebagai landasan dalam menentukan rencana strategis Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan disusun berdasarkan: 1. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2003 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional 3. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan. 4. Undang-Undang Nomor 22Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan 5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah 6. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah 7. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan 8. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 tentang Angkutan Jalan 9. Instruksi Presiden RI Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Insatansi Pemerintah 10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Daerah 11. Peraturan Daerah Nomor -- Tahun ---- tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Pacitan Tahun

11 1.3 Maksud dan Tujuan Rencana Strategis Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan ini merupakan bagian dari dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya Penetapan Rencana Strategis dijadikan sebagai acuan dan pedoman dalam menentukan arah kebijakan dalam melaksanakan dan mengembangkan program dalam kurun waktu 5 (lima) tahun mendatang. Adapun tujuan rencana strategis Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan adalah adalah: 1. Menerjemahkan menjabarkan rencana program dan kegiatan serta menetapkan target kinerja dan pendanaan indikatif sebagai bentuk komitmen organisasi bagi pencapaian kinerja yang optimal. 2. Mewujudkan perencanaan dan penganggaran terpadu yang berbasis hasil/kinerja yang terukur, transparan, dan akuntabel. 3. Menciptakan mekanisme pelaksanaan program dan kegiatan SKPD yang fokus, tidak tumpang tindih, dan terintegrasi. 4. Menciptakan mekanisme pengendalian dan evaluasi pelaksanaan pembangunan di bidang perhubungan yang efektif dan efisien, serta 5. Sebagai acuan dalam penyusunan rencana kerja dan Anggaran, Penetapan Kinerja serta Penilaian Kinerja Tahunan; 1.4 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan rencana strategis Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan adalah sebagai berikut: BAB I : Pendahuluan Memuat latar belakang, landasan hokum, maksud dan tujuan, serta sitematika penulisan 3

12 BAB II BAB III BAB IV BAB V BAB VI BAB VII : Gambaran Pelayanan Dinas Perhubungan Memuat tugas, fungsi dan struktur organisasi, sumber daya, kinerja pelayanan, serta tantangan dan peluang SKPD : Isu isu Strategis Berdasarkan Tugas dan Fungsi Memuat identifikasi permasalahan berdasarkan tugas dan fungsi, Telaahan visi misis dan program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, Telaahan Renstra Kementerian dan Lembaga, telaahan rencana tata ruang wilayah dan kajian lingkungan strategis, penentuan isu isu strategis. : Visi Misi Tujuan Sasaran Strategi Kebijakan Memuat visi, misi, tujuan sasaran jangka menengah, strategi kebijakan SKPD. : Rencana Program dan Kegiatan Indikator Konerja Kelompok Sasaran dan Pendanaan Indikatif Memuat tentang program dan kegiatan lokalitas kewenangan SKPD, program dan kegiatan lintas SKPD dan program kegiatan kewilayahan : Indikator Kinerja SKPD Yang Mengacu Pada Tujuan Sasaran RPJMD Memuat indikator yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD guna mendukung visi misi Kepala Daerah : Penutup Berisi ringkasan singkat dari maksud dan tujuan penyusunan dokumen Renstra SKPD, disertai dengan harapan bahwa dokumen ini mampu menjadi pedoman pembangunan 5 (lima) tahun kedepan oleh SKPD 4

13 BAB II GAMBARAN UMUM 2.1 Tugas, Fungsi, dan Struktur Organisasi SKPD Sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Pacitan yang Peraturan Pelaksanaanya atau Peraturan Bupati tentang Uraian Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan belum disahkan, akan tetapi kami telah memberikan usulan tentang Struktur Organisasi Tata Kerja. Dinas Perhubungan merupakan unsur pelaksana bidang perhubungan dipimpin oleh Kepala Dinas yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah. Dinas Perhubungan dalam melaksanakan tugas urusan bidang perhubungan memiliki penyelenggarakan fungsi: a. Perumusan kebijakan, pelaksanaan kebijakan, pelaksanaan evaluasi dan pelaporan, serta pelaksanaan administrasi Lalu Lintas dan Angkutan; b. Perumusan kebijakan, pelaksanaan kebijakan, pelaksanaan evaluasi dan pelaporan, serta pelaksanaan administrasi Prasarana Transportasi; dan c. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya Struktur organisasi Dinas Perhubungan terdiri dari : 1. Kepala Dinas; 2. Sekretariat; a. Sub Bagian Umum, Kepegawaian, dan Keuangan; b. Sub Bagian Program,Evaluasi, dan Pelaporan 3. Bidang Lalu Lintas dan Angkutan; a. Seksi Manajemen dan Rekayasa; b. Seksi Angkutan 5

14 c. Seksi Pengujian Sarana 4. Bidang Prasarana Transportasi; a. Seksi Pembangunan Prasarana Transportasi; b. Seksi Pengoperasian dan Perawatan Prasarana Transportasi; c. Seksi Penerangan Jalan Umum. 5. Bidang Pengembangan dan Keselamatan Transportasi; a. Seksi Pemaduan Moda dan Teknologi Perhubungan; b. Seksi Badan Usaha dan Jasa Usaha Angkutan; c. Seksi Keselamatan 6. Kelompok Jabatan Fungsional Uraian tugas dan fungsi 1. Sekretariat Sekretariat berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Perhubungan dipimpin oleh seorang Sekretaris. Sekretariat mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Dinas Perhubungan bidang ketatausahaan, keuangan, kepegawaian, program, evaluasi dan pelaporan sertamelaksanakan tugas-tugas lain yang di berikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya. Sekretariat dalam melaksanakan tugas menyelenggarakan fungsi: a) Penyelenggaraan dan pengelolaan rumah tangga, sarana dan perlengkapan; b) Pelaksanaan surat-menyurat, kearsipan dan perpustakaan; c) Pembinaan dan pengembangan serta pengelolaan administrasi kepegawaian; 6

15 d) Penyelenggaraan dan pengelolaan administrasi keuangan; e) Penyusunan program kerja dan laporan serta pelaksanaan evaluasi dan pengendalian; f) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala DinasPerhubungan sesuai dengan tugas dan fungsinya. 1) Sub Bagian Umum, Kepegawaian, dan Keuangan Sub Bagian Umum, Kepegawaian, dan Keuangan berada di bawah dan bertanggung jawab kepada sekretaris. Sub Bagian Umum, Kepegawaian, dan Keuangan dipimpin oleh Kepala Sub Bagian. Sub Umum, Kepegawaian, dan Keuangan, mempunyai tugas : a) Menyusun rencana kerja ketatausahaan, keprotokolan, rumahtangga, pengadaan dan kepegawaian; b) Melaksanakan pengelolaan surat-menyurat, tata naskah dinas, tata kearsipan, urusan rumah tangga, keamanan kantor dan penyelenggaraan upacara, pertemuan, rapat dinas dan kepustakaan; c) Melaksanakan tugas-tugas keprotokolan dan administrasi perjalanan dinas; d) Melaksanakan analisa kebutuhan dan pengadaan serta pengadministrasian perlengkapan kantor dan perbekalan lain serta inventarisasi terhadap barang-barang; e) Melaksanakan penyusunan laporan pertanggungjawaban atas barang inventaris; 7

16 f) Melaksanakan administrasi kepegawaian yang meliputi pengumpulan data kepegawaian, buku induk pegawai, mutasi, kenaikan pangkat, kenaikan gaji berkala, pembinaan karier, pengurusan penghargaan dan kesejahteraan pegawai serta pensiun pegawai; g) Mengelola administrasi tentang kedudukan dan hak pegawai, menyusun administrasi dan evaluasi kepegawaian serta penyiapan bahan pembinaan pegawai; h) Menyiapkan dan mengusahakan peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan disiplin pegawai; i) Melaksanakan pengendalian dan evaluasi ketatausahaan, keprotokolan, rumahtangga, pengadaan dan kepegawaian; j) Melaksanakan koordinasi pengembangan kualitas sumber daya aparatur dengan instansi pelaksana pendidikan dan pelatihan; k) Melaksanakan pengelolaan anggaran; l) Melaksanakan pembukuan perhitungan anggaran dan verifikasi serta perbendaharaan; m) Menyiapkan keuangan perjalanan dinas dan biayabiaya lain sebagai pengeluaran dinas; n) Melaksanakan evaluasi, menyusun laporan dan pertanggungjawaban atas pelaksanaan keuangan; o) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris sesuai dengan tugas dan fungsinya. 2) Sub Bagian Program,Evaluasi, dan Pelaporan Sub Bagian Program,Evaluasi, dan Pelaporan berada dibawah dan bertanggung jawab kepada sekretaris. 8

17 Sub Bagian Program,Evaluasi, dan Pelaporan dipimpin oleh Kepala Sub Bagian. Sub Bagian Program,Evaluasi, Pelaporan dan Keuangan, mempunyai tugas: a) Menyiapkan dan mengendalikan bahan dalam rangka perumusan rencana dan program pembangunan di bidang Perhubungan; b) Melaksanakan tata laksana program, evaluasi dan pelaporan; c) Mengadakan evaluasi dan pengendalian terhadap pelaksanaan program dan anggaran; d) Menyusun laporan kegiatan Bidang Perhubungan; e) Mendokumentasikan data hasil pelaksanaan program dan evaluasi bidang Perhubungan; f) Melaksanakan pengelolaan data statistik bidang Perhubungan; g) Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait tentang perencanaan kegiatan pembangunan dan rehabilitasi; Menghimpun dan mengolah data, menyiapkan bahan penyusunan rencana anggaran pendapatan dan belanja dinas; h) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris sesuai dengan tugas dan fungsinya. 2. Bidang Lalu Lintas Dan Angkutan Bidang Lalu Lintas dan Angkutan berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Perhubungan melalui sekretaris dinas. Bidang Lalu Lintas dan Angkutandipimpin oleh Kepala Bidang. Bidang Lalu Lintas dan Angkutan mempunyai tugas melaksanakan sebagian 9

18 tugas Dinas Perhubungan di bidang lalu lintas dan angkutan serta melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, pelaksanaan kebijakan, serta evaluasi dan pelaporan di Bidang Lalu Lintas dan Angkutan. Bidang Lalu Lintas dan Angkutan dalam melaksanakan tugas: a) Penyusunan bahan perencanaan program bidang lalu lintas dan angkutan ; b) Pelaksanaan perencanaan program pembangunan bidang lalu lintas dan angkutan; c) Pelaksanaan pengendalian program pembangunan bidang lalu lintas dan angkutan; d) Pelaksanaan pengumpulan dan pengolahan data statistik lalu lintas dan angkutan; e) Pelaksanaan pengawasan evaluasi dan pelaporan program bidang lalu lintas dan angkutan f) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas Perhubungan sesuai dengan tugas dan fungsinya. 1) Seksi Manajemen dan Rekayasa; Seksi Manajemen dan Rekayasa berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan. Seksi Manajemen dan Rekayasa dipimpin oleh Kepala Seksi. Seksi Manajemen dan Rekayasa mempunyai tugas menyiapkan penyusunan, pelaksanaan, pembinaan, pengawasan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan kegiatan: a) Penetapan prioritas angkutan massal melalui penyediaan lajur atau jalur atau jalan khusus; 10

19 b) Pemberian prioritas keselamatan dan kenyamanan pejalan kaki; c) Pemberian kemudahan bagi penyandang cacat; d) Pemisahan atau pemilahan pergerakan arus lalu lintas berdasarkan peruntukan lahan, mobilitas, dan aksesibilitas; e) Pengendalian Lalu Lintas pada persimpangan; f) Pengendalian Lalu Lintas pada ruas Jalan; dan/atau g) Perlindungan terhadap lingkungan h) Persetujuan hasil analisis dampak lalu lintas pada Jalan Kabupaten; i) Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi lalu lintas jalan; j) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan sesuai dengan tugas dan fungsinya. 2) Seksi Angkutan Seksi Angkutan berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan. Seksi Angkutan dipimpin oleh Kepala Seksi. Seksi Angkutan mempunyai tugas menyiapkan penyusunan, pelaksanaan, pembinaan, pengawasan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan kegiatan: a) Penyediaan angkutan umum untuk jasa angkutan orang dan/atau barang dalam Daerah Kabupaten; b) Penetapan kawasan perkotaan untuk pelayanan angkutan perkotaan dalam 1 (satu) Daerah Kabupaten; c) Penetapan rencana umum jaringan trayek perkotaan dalam 1 (satu) Daerah Kabupaten; 11

20 d) Penetapan rencana umum jaringan trayek pedesaan yang menghubungkan 1 (satu) daerah kabupaten; e) Penetapan tarif kelas ekonomi untuk angkutan orang yang melayani trayek angkutan perkotaan dan perdesaan di wilayah kabupaten; f) Penerbitan izin trayek penyelenggaraan angkutan sungai dan danau untuk kapal yang melayani trayek dalam daerah kabupaten; g) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan sesuai dengan tugas dan fungsinya. 3) Seksi Pengujian Sarana Seksi Pengujian Sarana berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan. Seksi Angkutan Tidak Dalam Trayek dipimpin oleh Kepala Seksi. Seksi Pengujian Sarana, mempunyai tugas menyiapkan penyusunan, pelaksanaan, pembinaan pengawasan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan kegiatan: a) Melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan serta evaluasi dan pelaporan di bidang pengujian berkala kendaraan bermotor; b) Rancang bangun kendaraan yang tidak diatur dalam peraturan perundangan-undangan; c) Pendataan perbengkelan umum dan perakitan kapal Pemeliharaan dan pengembangan fasilitas pendukung dan simpul transportasi d) Penerbitan izin kelaikan terkait dengan perawatan dan perbaikan kapal; 12

21 e) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan sesuai dengan tugas dan fungsinya. 3. Bidang Prasarana Transportasi Bidang Prasarana Transportasi berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Perhubungan melalui sekretaris dinas. Bidang Prasarana Transportasi dipimpin oleh Kepala Bidang. Bidang Prasarana Transportasi mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Dinas Perhubungandi bidang prasarana transportasi sertamelaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, serta evaluasi dan pelaporan di Bidang Prasarana Transportasi. Bidang Prasarana Transportasi dalam melaksanakan tugas menyelenggarakan fungsi: a) Penyusunan bahan perencanaan program bidang bidangprasarana transportasi; b) Pelaksanaan perencanaan program pembangunan bidangprasarana transportasi; c) Pelaksanaan pengendalian program pembangunan bidangprasarana transportasi; d) Pelaksanaan pengumpulan dan pengolahan data statistikbidang prasarana transportasi; e) Pelaksanaan pengawasan evaluasi dan pelaporan program bidang prasarana transportasi f) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas Perhubungan sesuai dengan tugas dan fungsinya. 13

22 1) Seksi Pembangunan Prasarana Transportasi Seksi Pembangunan Prasarana Transportasi berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Prasarana Transportasi. Seksi Pembangunan Prasarana Transportasi dipimpin oleh Kepala Seksi. Seksi Pembangunan Prasarana Transportasi mempunyai tugas menyiapkan penyusunan, pelaksanaan, pembinaan, pengawasan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan kegiatan: a) Melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan serta evaluasi dan pelaporan di bidang penyediaan perlengkapan jalan di Jalan Kabupaten; b) Penerbitan izin penyelengaraan dan pembangunan simpul transportasi fasilitas parkir ; c) Pembangunan dan penerbitan izin pelabuhan pengumpan lokal; d) Pembangunan dan penerbitan izin pembangunan pelabuhan sungai dan danau; e) Penerbitan izin pengerjaan pengerukan di wilayah perairan pelabuhan pengumpan lokal f) Penerbitan izin reklamasi di wilayah perairan pelabuhan pengumpan lokal;. g) Penerbitan izin reklamasi di wiayah perairan pelabuhan pengumpan lokal; h) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Prasarana Transportasi sesuai dengan tugas dan fungsinya 14

23 2) Seksi Pengoperasian dan Perawatan Prasarana Transportasi Seksi Pengoperasian dan Perawatan Prasarana Transportasi berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Prasarana Transportasi. Seksi Pengoperasian dan Perawatan Prasarana Transportasi dipimpin oleh Kepala Seksi. Seksi Pengoperasian dan Perwatan Prasarana Transportasi, mempunyai tugas menyiapkan penyusunan, pelaksanaan, pembinaan, pengawasan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan kegiatan: a) Penerbitan izin pengelolaan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) di dalam Daerah Lingkungan Kerja) DLKR/(Daerah Lingkungan Kepentingan) DLKP pelabuhan pengumpan lokal: b) Pengelolaan dan pengoperasian simpul transportasi; c) Monitoring dan pendataan prasarana simpul transportasi; d) Pemeliharaan dan perbaikan prasarana simpul transportasi; e) Penerbitan izin usaha di area simpul transportasi f) Pengoperasian dan penerbitan izin pengoperasian pelabuhan, sungai, dan danau; g) Penerbitan izin usaha badan usaha pelabuhan di pelabuhan pengumpan lokal; h) Penerbitan izin pengoperasian pelabuhan selama 24 jam untuk pelabuhan pengumpan lokal; i) Pengembangan sistem informasi manajemen pengoperasian prasarana transportasi; 15

24 j) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Prasarana Transportasi sesuai dengan tugas dan fungsinya. 3) Seksi Penerangan Jalan Umum Seksi Penerangan Jalan Umum berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Prasarana Transportasi. Seksi Penerangan Jalan Umum dipimpin oleh Kepala Seksi. Seksi Penerangan Jalan Umum, mempunyai tugas menyiapkan penyusunan, pelaksanaan, pembinaan, pengawasan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan kegiatan: a) Pelayanan penerangan jalan umum; b) Melaksanakan pengelolaan dan perawatan penerangan jalan umum; c) Melaksanakan inventarisasi sarana dan prasarana penerangan jalan umum; d) Melaksanakan pengawasan, pengendalian dan evaluasi kegiatan penerangan jalan umum; e) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Prasarana Transportasi sesuai dengan tugas dan fungsinya. 3. Bidang Pengembangan Keselamatan Transportasi Bidang Pengembangan Keselamatan Transportasi berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Perhubungan melalui sekretaris dinas. Bidang Pengembangan Keselamatan Transportasi dipimpin oleh Kepala Bidang. 16

25 Bidang Pengembangan Keselamatan Transportasi mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Dinas Perhubungan di bidang pengembangan dan keselamatan transportasi serta melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas Perhubungan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Bidang Pengembangan dan Keselamatan Transportasi dalam melaksanakan tugas dan menyelenggarakan fungsi: a) Penyusunan bahan perencanaan program bidang pemaduan moda, teknologi perhubungan, dan keselamatan; b) Pelaksanaan perencanaan program pembangunan bidang pemaduan moda, teknologi perhubungan, dan keselamatan; c) Pelaksanaan pengendalian program pembangunan bidang pemaduan moda, teknologi perhubungan, dan keselamatan; d) Pelaksanaan pengumpulan dan pengolahan data statistik bidang pemaduan moda, teknologi perhubungan, dan keselamatan; e) Pelaksanaan pengawasan evaluasi dan pelaporan program bidang pemaduan moda, teknologi perhubungan, dan keselamatan; f) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas Perhubungan sesuai dengan tugas dan fungsinya. 17

26 1) Seksi Pemaduan Moda dan Teknologi Perhubungan Seksi Pemaduan Moda dan Teknologi Perhubungan berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Pengembangan dan Keselamatan Transportasi. Seksi Pemaduan Moda dan Teknologi Perhubungan dipimpin oleh Kepala Seksi. Seksi Pemaduan Moda dan Teknologi Perhubungan, mempunyai tugas menyiapkan penyusunan, pelaksanaan, pembinaan, pengawasan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan kegiatan: a) Penyediaan angkutan pemaduan moda; b) Rencana umum jaringan trayek pemaduan moda; c) Fasilitasi angkutan perintis dalam provinsi d) Fasilitasi perizinan angkutan perkotaan dan pedesaan yang melampaui batas 1 (satu) daerah provinsi; e) Pengelolaan data dan informasi transportasi; f) Pengelolaan sistem informasi manajemen dan komunikasi transportasi serta pengembangan transportasi; g) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Pengembangan dankeselamatan Transportasi sesuai dengan tugas dan fungsinya. 2) Seksi Badan Usaha dan Jasa Usaha Angkutan Seksi Badan Usaha dan Jasa Usaha Angkutan berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Pengembangan dankeselamatan Transportasi. Seksi Badan Usaha dan Jasa Usaha Angkutan dipimpin oleh Kepala Seksi. 18

27 Seksi Badan Usaha dan Jasa Usaha Angkutanmempunyai tugas menyiapkan penyusunan, pelaksanaan, pembinaan, pengawasan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan kegiatan: a) Perizinan usaha jasa terkait bongkar muat barang, jasa pengurusan transportasi, angkutan perairan pelabuhan, penyewaan peralatan angkutan laut atau peralatan jasa terkait dengan angkutan laut, tally mandiri dan depo peti kemas; b) Perizinan usaha bongkar muat barang jasa pengurusan transportasi; c) Penyelenggaraan fasilitasi perizinan bangunan dan peralatan serta klasifikasi perbengkelan umum; d) Penerbitan izin usaha jasa terkait dengan perawatan dan perbaikan kapal e) Penerbitan izin usaha angkutan laut pelayaran rakyat bagi orang perorangan atau badan usaha yang berdomisili dan yang beroperasi pada lintas pelabuhan dalam daerah Kabupaten; f) Penerbitan izin usaha angkutan laut bagi badan usaha yang berdomisili dalam daerah Kabupaten dan beroperasi pada lintas pelabuhan di daerah Kabupaten g) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Pengembangan dankeselamatan Transportasi sesuai dengan tugas dan fungsinya. 19

28 3) Seksi Keselamatan. Seksi Keselamatan berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Pengembangan dankeselamatan Transportasi. Seksi Keselamatan dipimpin oleh Kepala Seksi. Seksi Keselamatan, mempunyai tugas menyiapkan penyusunan, pelaksanaan, pembinaan, pengawasan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan kegiatan: a) Audit, inspeksi dan identifikasi lokasi potensi kecelakaan serta lokasi rawan kecelakaan, inspeksi keselamatan sarana dan prasarana, pengamatan dan pemantauan keselamatan transportasi serta kelaikan sarana transportasi; b) Manajemen keselamatan transportasi; c) Fasilitasi sarana dan prasarana keselamatan transportasi d) Promosi dan kemitraan keselamatan tranportasi; e) Pengembangan teknologi dan sistem informasi keselamatan transportasi; f) Standardisasi, regulasi, dan harmonisasi bidang keselamatan transportasi; g) Penertiban standar norma dan regulasi keselamatan transportasi; h) Pencegahan, penindakan dan Penegakan hukum bidang transportasi; i) Penyidikan kasus hukum bidang transportasi; j) Operasional lalu lintas dan angkutan, perparkiran, sarana dan prasarana tranportasi; k) Koordinasi penertiban lalu lintas dan angkutan; 20

29 l) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Keselamatan Transportasi sesuai dengan tugas dan fungsinya. 4. Kelompok Jabatan Fungsional Kelompok jabatan fungsional mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Dinas Perhubungan sesuai dengan keahlian dan kebutuhan. Kelompok jabatan fungsional terdiri dari sejumlah tenaga fungsional yang diatur dan ditetapkan berdasarkan peraturan perundangundangan. Kelompok jabatan fungsional dipimpin oleh seorang tenaga fungsional senior yang ditunjuk. Jumlah tenaga fungsional ditentukan berdasarkan kebutuhan dan beban kerja. Jenis dan jenjang jabatan fungsional diatur berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kelompok jabatan fungsional mempunyai tugas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 21

30 Kepala Dinas. Kelompok Jabatan Fungsional. Sekretaris. Kepala Sub Bagian Umum, Kepegawaian, dan Keuangan Kepala Sub Bagian Program, Evaluasi, dan Pelaporan Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Kepala Bidang Prasarana Transportasi Kepala Bidang Pengembangan Keselamatan Transportasi Kepala Seksi Manajemen dan Rekayasa Kepala Seksi Pembangunan Prasarana Transportasi Kepala Seksi Pemanduan moda & teknologi perhubungan Kepala Seksi Angkutan Kepala Seksi Pengoperasian dan Perawatan Prasarana Transportasi Kepala Seksi Badan Usaha & Jasa Usaha Angkutan Kepala Seksi Pengujian Sarana Kepala Seksi Penerangan Jalan Umum Kepala Seksi Keselamatan

31 2.2 Sumber Daya SKPD Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya Dinas Perhubungan didukung dengan beberapa aparatur yang terdiri dari PNS, Tenaga Kontrak, dan Tenaga PP 31. Berdasarkan jumlah, golongan/ruang dan latar belakang pendidikan formal maupun struktural, aparatur diklasifikasikan sebagai berikut: a. Klasifikasi menurut golongan/ruang Tabel II.1 Jumlah Sumber Daya Manusia Berdasarkan Golongan/Ruang No Golongan A B C D E 1 IV III II I 1 Non PNS Jumlah Sumber: Dishubkominfo 2015 b. Kasifikasi menurut jabatan structural dan fungsional Tabel II.2 Jumlah Sumber Daya Manusia Berdasarkan Jabatan Struktural maupun Fungsional A No Jabatan Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Struktural 1 Kepala Dinas Eselon IIb Eselon IIb 1 2 Eselon IIIa Eselon IIIa 1 3 Eselon IIIb Eselon IIIb 3 4 Eselon Iva Eselon Iva 10 1 B Fungsional 1 Pengujian Kendaraan Bermotor Penyelia 1 Pelaksana 3 2 Pranata Komputer Sumber: Dishubkominfo

32 c. Klasifikasi menurut tingkat pendidikan formal dan pendidikan pelatihan struktural dam teknis Tabel II.3 Jumlah Sumber Daya Manusia Berdasarkan Tingkat Pendidikan No Jenjang Pendidikan Jenis kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan A Pendidikan Formal 1 S3 2 S S1/D D D SMU/SMK SMP SD B C Diklat Struktural 1 Diklatpim Diklatpim Diklatpim Diklat/Workshop/Bintek Teknis 1 Perencanaan transportasi Manajamen Angkutan 0 3 Keselamatan transportasi Manajemen terminal Pengujian kendaraaan bermotor PPNS 4 4 Sumber: Dishubkominfo 2016 Dalam rangka peningkatan Sumber Daya Manusia perlu diupayakanpengiriman personel untuk diikutsertakan pendidikan dan pelatihanstruktural dan fungsional maupun bidang teknis lainnya. Sampai tahun 2016data pengiriman peserta pendidikan dan pelatihan Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan adalah sebagai berikut: 24

33 Tabel II.4Data Pendidikan dan Pelatihan Kebutuhan dan Yang telah DiiikutiOleh SDM Dinas Perhubungan NO Nama Diklat Yang Ada Kebutuhan 1. Diklatpim Diklatpim Diklatpim PPNS 4-5. PKB 4-6. Perencanaan Trasnportasi 1-7. Orientasi 2 LLAJ 2-8. Manajemen Bendahara 1-9. Perhubungan Laut Motoris Manajemen angkutan Umum 1 - Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2015) 2.3 Kinerja Pelayanan SKPD Jaringan Jalan Pelayanan moda angkutan jalan mempunyai karakteristik, antara lain dapat melayani sampai ke pelosok dan sangat fleksibel. Untuk jangka pendek investasinya lebih rendah. Moda ini efisien untuk melayani lintas yang tidak terlalu jauh dan dengan muatan relatif kecil, akan tetapi untuk lintas jauh dan muatan yang besar menjadi tidak efisien, dan dari segi kelestarian alam dan lingkungan hidup tidak menguntungkan. Kinerja pelayanan untuk transportasi jalan, yaitu selamat, aksesibilitas, terpadu, kapasitas, teratur, lancar dan cepat, kemudahan, tepat waktu, nyaman, tarif terjangkau, tertib, aman, polusi rendah dan efisien. Mobilitas di Kabupaten Pacitan saat ini tertumpu pada keandalan dan tingkat pelayanan jaringan jalan. Angkutan penumpang maupun barang hampir seluruhnya diangkut melalui angkutan jalan. Penurunan tingkat pelayanan dan kapasitas jalan sangat mempengaruhi kelancaran pergerakan dan menyebabkan 25

34 biaya sosial yang tinggi terhadap pemakai jalan. Kondisi jaringan jalan yang lebih terinci dilihat pada tabel berikut: Tabel II.5 Panjang jalan menurut keadaan jalan dan status jalan tahun Status Jalan Keadaan Jalan Negara Jalan Provinsi Jalan Kabupaten Jenis Permukaan a. Diaspal b. Kerikil c. Tanah d. Tidak Dirinci Jumlah Kondisi Jalan a. Baik b. Sedang c. Rusak d. Rusak Berat Jumlah Kelas Jalan a. Kelas I b. Kelas II c. Kelas III d. Kelas III A e. Kelas III B f. Kelas III C g. Tidak Dirinci Jumlah Sumber: Profil Statistik Kabupaten Pacitan (2015) Luas prasarana jaringan jalan itu masih relatif kecil memiliki daya hubung pelayanan wilayah setiap satu kilometer jaringan jalan kabupaten melayani 0,575 kilometer persegi wilayah Kabupaten Pacitan.Aksesibilitas yang terukur dari pelayanan terhadap 26

35 penduduk Kabupaten Pacitan berkisar satu kilometer jaringan jalan mewakili lebih kurang 751 orang penduduk. Satu kilometer jaringan jalan yang ada memiliki kemampuan pelayanan sebesar daya hubung transportasi terhadap pelayanan jangkauan pusat-pusat pelayanan antara pusat pelayanan Jaringan jalan di Kabupaten Pacitan terbentuk dari jaringan jalan primer dan sekunder maupun jaringan jalan lain dibawahnya yang memungkinkan terjadinya pergerakan eksternal dan internal di seluruh wilayah kabupaten Pacitan. Jaringan jalan primer adalah jalur jalan Pacitan-Ponorogo, Pacitan -Solo dan Pacitan-Trenggalek. Jalur jalan Pacitan- Ponorogo merupakan jalan yang paling penting dalam menunjang pemerintahan maupun perekonomian terutama di wilayah utara. Sedangkan jalur Pacitan-Solo merupakan jalur ke pusat perekonomian terutama Solo dan Yogyakarta. Di kawasan barat Kabupaten Pacitan cukup banyak terdapat kawasan wisata yang sudah berkembang, sehingga jalan ini sangat vital keberadaannya karena merupakan akses menuju obyek wisata tersebut. Prasarana jalan di Kabupaten Pacitan dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsi jalan, yaitu: 1) Jalan Kolektor Primer a). Kolektor 1 (K-1): jalan kolektor primer 1 yang melintasi Kabupaten Pacitan adalah kolektor primer yang menghubungkan Kabupaten Pacitan dengan kota Solo dan Yogyakarta dan menghubungkan Kabupaten Pacitan dengan kota Surabaya sebagai ibukota provinsi. Ruas jalan tersebut adalah ruas jalan Glonggong Pacitan sepanjang 35,4 kilometer (dari arah Yogya/Solo) dan ruas jalan Pacitan Batas Trenggalek sepanjang 54,54 kilometer (ke arah Surabaya). 27

36 b). Kolektor 2 (K-2): jalan kolektor primer 2 yang melintasi Kabupaten Pacitan adalah jalan kolektor primer yang menghubungkan Kabupaten Pacitan dengan Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Wonogiri. Ruas jalan tersebut adalah ruas jalan Pacitan Arjosari Batas Ponorogo sepanjang 45,17 kilometer (ke arah Ponorogo) dan ruas jalan Arjosari Nawangan sepanjang 46,75 kilometer (ke arah Wonogiri) 2) Jalan Lokal Primer Jalan lokal primer berfungsi menghubungkan kota jenjang I dengan persil atau kota jenjang II dengan persil atau kota jenjang III dengan jenjang III atau jenjang III dengan persil atau berfungsi menghubungkan antar kota kecamatan. Ruas jalan yang berfungsi sebagai jalan lokal primer adalah jalanjalan yang menghubungkan antar kota kecamatan di Kabupaten Pacitan. Tabel II.6 Daftar ruas Jalan Nasional di Kabupaten Pacitan Nama Ruas Panjang Baik Sedang Buruk Total Kecamatan (km) (km) (km) (km) (km) Pacitan-Glonggong 7,685 Donorojo 7, ,685 Pacitan-Glonggong 8,85 Punung 0,9 6,315 1,635 8,85 Pacitan-Glonggong 16,95 Pringkuku - 0,165 6,785 6,95 Pacitan-Glonggong 7,032 Pacitan - 6,272 0,76 7,032 40,517 Pacitan-Panggul 4,407 Pacitan 1,157 3,25 0 4,407 Pacitan-Panggul 13,45 Kebonagung - 13,309 0,141 13,45 Pacitan-Yogya -Panggul 12,35 Tulakan - 11,962 0,388 12,35 Pacitan-Panggul 16,825 Ngadirojo - 16,66 0,165 16,825 Pacitan-Panggul 11,575 Sudimoro 0,5 10,93 0,145 11,575 58,607 Sumber: RTRW Kabupaten Pacitan (2010) 28

37 Tabel II.7Daftar ruas Jalan Provinsi di Kabupaten Pacitan Nama Ruas Panjang Baik Sedang Buruk Total Kecamatan (km) (km) (km) (km) (km) Arjosari-Nawangan- Bandar 13,14 Arjosari 12,74 0,40 13,14 Arjosari-Nawangan- Bandar 31,14 Nawangan 15,74 10,00 5,40 31,14 Arjosari-Nawangan- Bandar 4,00 Bandar 3,28 0,72 4,00 48,28 Dengok-Pacitan 7,57 Pacitan 7,41-0,16 7,57 Dengok-Pacitan 13,40 Arjosari 13,40-13,40 Dengok-Pacitan 27,70 Tegalombo 17,88 9,72 0,10 27,70 48,67 Sumber: RTRW Kabupaten Pacitan (2010) Tabel II.8 Daftar ruas jalan kabupaten di Kabupaten Pacitan No Panjang Lebar Nama Ruas Ruas (km) (km) Kecamatan 6 Tulakan-Tegalombo 16 3,5 Tulakan 7 Ketro-Siahung 5,1 3,5 Tulakan 11 Pentung-Jetak 8,5 3,5 Tulakan 12 Tulakan-Wonokerto 10,3 3,5 Tulakan 42 Ketro-Kasihan 8 3,5 Tulakan 54 Wonosidi-Tengul 5,1 3 Tulakan 48 Bonsiak-Sepang-Jetak 2 3 Tulakan 16 Jetak-Sidomulyo 8,1 3,5 Tulakan 17 Hadiwarno-Jetak 13 3,5 Tulakan 80 Ketrowonojoyo-Ngile 9 3,5 Tulakan 49 Genting-Padi 5 3,5 Tulakan 4 Punung-Arjosari 18,7 3,5 Arjosari 27 Mentoro-Gunungsari 7,3 4 Arjosari 44 Jatimalang-Karanggede 17,15 3,5 Arjosari 6 Tulakan-Tegalombo 16 3,5 Tegalombo 28 Gemaharjo-Watupatok 14,7 3,5 Tegalombo 26 Mangunharjo-Bandar 18 3,5 Tegalombo 42 Kerto-Kasihan 8 3,5 Tegalombo 43 Tegalombo-Bandar 11,2 3,5 Tegalombo 52 Tegalombo-Kemuning 11,2 3 Tegalombo 29

38 No Panjang Lebar Nama Ruas Ruas (km) (km) Kecamatan 61 Gemaharjo-Binade 1,45 3 Tegalombo 3 Jeruk-bandar 13 3,5 Bandar 8 Gemaharjo-Watupatok 14,7 3,5 Bandar 24 Watupatok-Bts.Badegan 8,5 3,5 Bandar 26 Mangunharjo-Bandar 18 3,5 Bandar 43 Tegalombo-Bandar 11,2 3,5 Bandar 47 Bangunsari-Watupatok 7,2 3 Bandar 52 Tegalombo-Kemuning 11,2 3 Bandar 58 Nawangan-Ngunut 8,5 3 Bandar 64 Bangunsari-Bts.Ponorogo 8,1 3,5 Bandar 14 Punung-Kalak 14 4 Donorojo 15 Sukodono-Kalak 14,4 3,5 Donorojo 23 Belah-Sukodono 2,96 3,5 Donorojo 46 Widoro-Cemeng 16,4 3 Donorojo 50 Sendang-Pantai Klanyar 5 3 Donorojo 63 Donorojo-Ploso 10,23 3 Donorojo 75 Punung-Mantren 4,5 3 Donorojo 77 Donorojo-Belah 9 3 Donorojo 10 Tokawi-Bts.Jateng 9,9 3,5 Nawangan 45 Penggung-Sidorejo 7 3,5 Nawangan 58 Nawangan-Ngunut 8,5 3 Nawangan 59 Sempu-ngromo 6,5 3,5 Nawangan 70 Nawangan-Petungsinarang 3 3 Nawangan 13 Sukorejo-Klepu 18,1 3,5 Sudimoro 51 Pagerlpr-Pagerkidul 7 3 Sudimoro 17 Hadiwarno-Jetak 13 3,5 Ngadirojo 39 Hadiwarno-Bogoharjo 11 3,5 Ngadirojo 41 Ngadirojo-Wonokarto 14,7 3,5 Ngadirojo 65 Cangkring-Sembowo 12,84 3 Ngadirojo 66 Wonokarto-Bts.Ponorogo 9 3 Ngadirojo 67 Kluwih-Hadiwarno 11,9 3 Ngadirojo 2 Kayen-Sidomulyo 8,095 4 Ngadirojo 16 Jetak-Sidomulyo 8,1 3,5 Kebonagung 35 Plumbungan-Sidomulyo 9,15 3 Kebonagung 36 Ketrowonojoyo-Sidomulyo 11,7 3,5 Kebonagung 30

39 No Panjang Lebar Nama Ruas Ruas (km) (km) Kecamatan 37 Sidomulyo-wawaran 4,7 3,5 Kebonagung 38 Ketrowonojoyo-Ngile 9 3,5 Kebonagung 53 Gunungpegat-Kb.agung 3,9 3 Kebonagung 1 bangunsari-ngadirejan 6,7 4 Pacitan 27 Mentoro-Gunungsari 7,3 4 Pacitan 32 Sambong-Tamansari 4,95 3 Pacitan 34 Simoboyo-Plumbungan 3,5 3 Pacitan 53 Gunungpegat-Kb.agung 3,9 3 Pacitan 60 Sidoharjo-Sedeng 3,2 3 Pacitan 1 bangunsari-ngadirejan 6,7 4 Pringkuku 4 Punung-Arjosari 18,7 3,5 Pringkuku 19 Dadapan-Watukarang 16 3,5 Pringkuku 22 Pringkuku-Darsono 10,2 3,5 Pringkuku 28 Punung-Ploso 9,5 3,5 Pringkuku 32 Sambong-Tamansari 4,95 3 Pringkuku 33 Candi-Srau 5,3 3,5 Pringkuku 56 Sugihwaras-Soko 2,5 3,5 Pringkuku 57 Pagah-Sebrok 4 3 Pringkuku 62 Jiubang-Darsono - 3 Pringkuku 79 Ngadirejan-Pringkuku 1,1 3 Pringkuku 4 Punung-Arjosari 18,7 3,5 Punung 14 Punung-Kalak 14 4 Punung 25 Wareng-Kendal 5,48 3,5 Punung 28 Punung-Ploso 9,5 3,5 Punung 29 Gondosari-Ploso-Batas Jateng 7,9 3,5 Punung 30 Gondosari-bts.Jateng 12 3 Punung 55 Klader-Piton 6 3 Punung 63 Donoharjo-Ploso 10,23 3 Punung 75 Punung-Mantren 4,5 3 Punung 76 Mantren-Donorojo 2,3 3 Punung Total panjang(km) Lebar Rata-rata (m) 776,885 3,35 Sumber: RTRW Kabupaten Pacitan (2010) 31

40 Tabel II.9 Daftar ruas jalan poros di Kabupaten Pacitan No Panjang Lebar Nama Ruas Ruas (km) (m) Kecamatan Perkerasan 936 Ketro-Pagutan-Arjosari 9,7 3,5 Arjosari Batu-Tanah 951 Tamanasri-Sedayu 4,6 3 Arjosari Batu-Tanah 952 Karangrejo-Tinatar 2,3 3,5 Arjosari Batu-Tanah 953 Karanggede-Temon 6,2 3 Arjosari Batu-Tanah 954 Borang-Kalikuning 2,8 3 Arjosari Batu-Tanah 956 Kedungbendo-Temon 3,3 3 Arjosari Batu-Tanah 960 Nawangan-Petusinarang 11,5 3 Bandar Aspal-Batu 967 Kledung-Ploso 6,2 3 Bandar Aspal-Batu 968 Panjing-Jeruk 8,7 3 Bandar Batu-Tanah 969 Tumpuk-Watupatok 4 3 Bandar Batu-Tanah 970 Tumpuk-Kledung 7,7 3 Bandar Batu-Tanah 973 Kendal-Gondanglegi 3,2 3 Bandar Batu-Tanah 901 Donorojo-Bts.Jateng 4,7 3 Donorojo Aspal-Batu 902 Klepu-Sawahan 3 3 Donorojo Aspal-Batu 903 Cemeng-Belah 5,7 3,5 Donorojo Aspal-Batu 904 Klepu-Gedompol 2,8 3 Donorojo Aspal-Batu 905 Klepu-Sekar 9 3,5 Donorojo Aspal-Batu 906 Donorojo-Sekar 8,3 4 Donorojo Aspal-Batu 907 Gedompol-Widoro 9,65 3,5 Donorojo Aspal-Batu 908 Kalak-Sawahan 4 3,5 Donorojo Aspal-Batu 911 Bomo-Sekar 4,8 3,5 Donorojo Aspal-Batu 914 Wareng-Sekar 1,7 3,5 Donorojo Aspal-Batu 924 Sirnoboyo-Kangen 3 3 Kebonagung Aspal-Batu 930 Karanganyar-Katipugal 2 3,5 Kebonagung Aspal-Batu 931 Karanganyar-Waru 3,6 3,5 Kebonagung Aspal-Batu 932 Katipugal-Pantai 4,5 3,5 Kebonagung Aspal-Batu 933 Wonogondo-Punjun-Sanggrahan 4,2 3,5 Kebonagung Aspal-Batu 934 Sanggrahan-Wonoanti 3 3,5 Kebonagung Aspal-Batu 934 Sanggrahan-Punjung-Gembuk 4,9 3,5 Kebonagung Aspal-Batu 936 ketro-pagutan-arjosari 9,7 3,5 Kebonagung Aspal-Batu 938 Kalipelus-Pantai 2,9 3,5 Kebonagung Aspal-Batu 940 Plumbungan-Mercusuar 4 3 Kebonagung Aspal-Tanah 941 Klesem-Pantai 4,4 3 Kebonagung Aspal-Tanah 32

41 No Panjang Lebar Nama Ruas Ruas (km) (m) Kecamatan Perkerasan 942 Ketepung-Tambakrejo 4,2 3,5 Kebonagung Aspal-Batu 944 Gembuk-Gawang-Ps.Wati 5,9 3 Kebonagung Aspal-Batu 945 Gembuk-Worawari 1,4 3 Kebonagung Aspal-Batu 948 Karangnongko-Kalitani 4 3 Kebonagung Aspal-Batu 949 Plumbungan-Krajan 4 3,5 Kebonagung Aspal-Batu 950 Kalipelus-Krajan 2,4 3 Kebonagung Aspal-Batu 936 ketro-pagutan-arjosari 9,7 3,5 Nawangan Aspal-Batu 951 Tamanasri-Sedayu 4,6 3 Nawangan Batu 952 Karangrejo-Tinatar 2,3 3,5 Nawangan Batu 953 Karanggede-Temon 6,2 3 Nawangan Batu 954 Borang-Kalikuning 2,8 3 Nawangan Batu 956 Kedungbendo-Temon 3,3 3 Nawangan Batu 981 Wonokarto-Baosan kidul 3,4 3 Ngadirojo Aspal-Batu 982 Wonokarto- Wonodadikulon 9,5 3 Ngadirojo Aspal-Batu 983 Wonodadikulon-Cabe-wonokarto 7,5 3 Ngadirojo Aspal-Batu 984 Wonodadiwetan-Klepu 8 3 Ngadirojo Aspal-Batu 986 Nogosari-Wonosidi 1,6 3 Ngadirojo Batu 988 Bogoharjo-Pagerlor 2,2 3 Ngadirojo Batu 989 Pagerejo-Padi 5,9 4 Ngadirojo Batu 994 Bodak-Slora 4,5 Ngadirojo Aspal-Batu 916 Mendololor-Palem-Jaten 3,7 3,5 Pringkuku Aspal-Batu 920 Pringkuku-Poko 2,2 3,5 Pringkuku Aspal-Batu 951 Tamanasri-Sedayu 4,6 3 Pringkuku Batu-Tanah 909 Punung-Jatisari-Ploso 6 3,5 Punung Batu 911 Bomo-Sekar 4,8 3,5 Punung Aspal-Batu 914 Wareng-Sekar 1,7 3,5 Punung Batu 915 Punung-Nglebeng-Nampol 3,3 3,5 Punung Batu 916 Mendololor-Palem-Jaten 3,7 3,5 Punung Aspal-Batu 917 Bomo-Sugihwaras 5,5 3,5 Punung Batu 918 Ploso-Kebonsari 4,6 3,5 Punung Aspal-Batu 919 Piton-Bomo 4,2 4 Punung Batu 984 Wonodadiwetan-Klepu 8 3 Sudimoro Aspal-Batu 992 Sembowo-BTS.Ponorogo 4,6 4 Sudimoro Aspal-Batu 995 Pagerlor-Grabak 2,5 3 Sudimoro Batu-Tanah 996 Sudimoro-Karangsono 3,6 3,5 Sudimoro Aspal-Batu 33

42 No Panjang Lebar Nama Ruas Ruas (km) (m) Kecamatan Perkerasan 997 Ketanggung-Gupaan 3,6 3 Sudimoro Batu-Tanah 957 Tegalombo-Ploso 2 3 Tegalombo Batu-Tanah 967 Kedung-Ploso 6,2 3 Tegalombo Aspal-Batu 936 ketro-pagutan-arjosari 9,7 3,5 Tulakan Aspal-Batu 937 Gembuk-Wonoanti 4,1 3,5 Tulakan Batu 954 Borang-Kalikuning 2,8 3 Tulakan Batu 958 Kebondalem-Ngile 6 3 Tulakan Batu 974 Jatigunung-Gasang 3 3 Tulakan Aspal-Batu 976 Kluwih-Padi 6,6 3 Tulakan Aspal-Batu 980 Ngumpul-Tanjunglor 4,2 3 Tulakan Batu 823 Bolosingo-Sedayu 1,2 3,5 Pacitan Aspal 925 Gupit-Kembang 2,5 3,5 Pacitan Aspal-Batu 926 Bangusari-Sidoharjo 1,7 3 Pacitan Aspal 927 Bengkel-PLN-Sambong 6,7 3 Pacitan Aspal-Batu 928 Swmanten-Ponggok- 5,3 3,5 Pacitan Aspal-Batu Tamansari 940 Plumbungan-Mercusuar 4 3 Pacitan Aspal-Batu 951 Tamansari-Sedayu 4,6 3 Pacitan Batu-Tanah Total Panjang Jalan Poros (km) 396,15 Rata-rata lebar jalan (m) 3,27 Sumber: RTRW Kabupaten Pacitan (2010) 34

43 Tabel II.10 Panjang jalan dan kerapatan jalan di Kabupaten Pacitan luas Panjang Panjang Panjang Panjang Panjang Total Kerapatan Kecamatan wilayah Jalan Jalan Jalan Jalan Jalan Panjang jalan (km²) Nasional Provinsi Kabupaten Poros Kota Jalan (km/km²) (km) (km) (km) (km) (km) (km) Pacitan 77,1 11,4 7,6 29,6 26,0 60,0 134,6 1,8 Kebonagung 124,9 13,5 0,0 54,6 68, ,2 1,1 Arjosari 117,1 0,0 26,5 43,2 28,9 0 98,6 0,8 Punung 108,8 8,9 0,0 90,6 33, ,3 1,2 Donorojo 109,1 7,7 0,0 76,5 53, ,9 1,3 Pringkuku 132,9 7,0 0,0 79,0 10,5 0 96,5 0,7 Ngadirojo 95,9 16,8 0,0 72,4 38, ,3 1,3 Tulakan 161,6 12,4 0,0 90,1 36, ,9 0,9 Sudimoro 71,9 11,6 0,0 25,1 22,3 0 59,0 0,8 Bandar 117,3 0,0 4,0 100,4 41, ,7 1,2 Tegalombo 149,3 0,0 27,7 80,6 8, ,5 0,8 Nawangan 124,1 0,0 31,1 34,9 28,9 0 94,9 0,8 Kab.Pacitan 1389,9 89,1 96,9 776,9 396,2 60,0 1419,1 1,0 Sumber: RTRW Kabupaten Pacitan (2010)

44 Sebagian besar ruas jalan di Kabupaten Pacitan sudah memiliki perkerasan aspal dengan presentase 90,25 persen, perkerasan kerikil 9,59 persen dan tanah sebesar 0,15 persen. Jalan-jalan dengan jenis permukaan yang belum beraspal seluruhnya merupakan jalan Kabupaten. Permasalahan jaringan jalan Kabupaten Pacitan adalah adanya kerusakan jalan akibat medan yang kritis sehingga rawan longsor dan tarse jalan yang curam karena mengikuti kontur tanah disamping hal tersebut sistem drainase yang kurang bagus sangat berpengaruh terhadap kondisi jalan. Selain itu masih banyak ruas jalan yang sempit, khususnya pada ruas jalan Kabupaten yang hanya memiliki rata-rata lebar hanya 3,5 meter. Khusus untuk jalan-jalan pendukung pariwisata, minimal lebar jalan yang diperlukan adalah 5,5 meter. Kondisi jaringan jalan nasional di Kabupaten Pacitan mengalami peningkatan di tahun 2014, jika dibandingkan dengan tahun Kenaikan ini dapat dilihat dari meningkatnya persentase jalan dalam kondisi baik sebesar lebih dari tiga ratus persen jika dibandingkan dengan tahun Kecenderungan ini juga terjadi di Jalan Provinsi dan Jalan Kabupaten. Data lebih rinci tentang permukaan jalan dan kondisi jalan khususnya pada jalan kabupaten dan jalan poros bersumber dari Bappeda Kabupaten Pacitan. Jalan poros yang sebagian besar merupakan jalan kerikil dan tanah memiliki persentase yang cukup panjang yaitu 9,74 persen, jalan-jalan tersebut perlu ditingkat jenis permukaannya mengingat jalan poros adalah jalan pendukung jalan kabupaten yang memiliki fungsi besar pada aksesibilitas suatu wilayah Sarana dan prasarana perlengkapan jalan Jaringan pelayanan jalan juga tidak terlepas kaitannya dengan perlengkapan fasilitas jaringan pelayanan jalan. Fasilitas jaringan pelayanan jalan ini meliputi rambu-rambu, marka jalan, pemberi isyarat lalu lintas dan fasilitas pendukung lainnya. Fasilitas tersebut sangat berpengaruh dalam menciptakan ketertiban dan keteraturan dalam berlalu lintas. Di Kabupaten Pacitan, fasilitas jaringan pelayanan jalan saat ini

45 sudah sangat cukup untuk melayani dan mengatur lalu lintas, tetapi tidak menutup kemingkinan masih terdapat beberapa realisasi yang masih harus diperhatikan perencanaannya. berikut fasilitas jaringan prasarana jalan yang sudah ada maupun yang belum terealisasi dengan baik. Tabel II.11 Sarana dan prasarana perlengkapan jalan No. Jenis Perlengkapan Jalan Kebutuhan Realisasi % Pencapaian 1. Rambu-rambu % 2. Marka Jalan % 3. Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas % 4. Alat Pengendali & Pengamanan Pemakai Jalan % 5. Fasilitas Pendukung Lainnya % Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2015) Jumlah kebutuhan rambu rambu lalu lintas mencakup seluruh jalan nasional, jalan propinsi dan jalan kabupaten. Berikut jumlah rambu dan kebutuhan pada jalan di seluruh wilayah Kabupaten Pacitan Tabel II.12 Jumlah dan kebutuhan rambu lalu lintas Klasifikasi Jalan Jalan Nasional / Negara Jalan Propinsi Jalan Kabupaten Dalam Kota Luar Kota Jumlah dan Kondisi Jenis Rambu Baik Sedang Rusak Kebutuhan Peringatan Perintah Larangan Petunjuk Peringatan Perintah Larangan Petunjuk Peringatan Perintah Larangan Petunjuk Peringatan Perintah Larangan

46 Petunjuk Peringatan Jalan Kota Perintah Larangan Petunjuk Peringatan Total Perintah Larangan Petunjuk Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2015) Tabel II.13 Jumlah dan Kebutuhan Delineator Ruas Jalan Jumlah / Kondisi Kebutuhan Baik Sedang Rusak Pacitan-Solo 500 Jalan Propinsi 5500 Jalan Kabupaten Jalan Kota TOTAL Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2013) Tabel II.14 Jumlah dan kebutuhan pagar pengaman Klasifikasi Jalan Jumlah / Kondisi Kebutuhan Baik Sedang Rusak Jalan Nasional/Negara Dalam Kota Luar Kota Jalan Propinsi Jalan Kabupaten Jalan Kota - 0,000 TOTAL Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2013)

47 Tabel II.15 Jumlah dan kebutuhan marka jalan Klasifikasi Jalan Jumlah/Kondisi Kebutuhan Baik Sedang Rusak Jalan Nasional/Negara Dalam Kota Luar Kota Jalan Propinsi Jalan Kabupaten Jalan Kota Total Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2013) Tabel II.16 Daftar Ruas Jalan yang telah dilengkapi Marka Klasifikasi Jalan Panjang Jalan yang telah Panjang Jalan yang telah dilengkapi marka tepi (km) dilengkapi marka tengah (km) Jalan Nasional/Negara Dalam kota Luar Kota - Jalan Propinsi Jalan Kabupaten Jalan Kota TOTAL Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2013) Tabel II.17 Jumlah dan kebutuhan APILL/traffic light, warning light Klasifikasi Jalan Jumlah / Kondisi Kebutuhan Keterangan Baik Sedang Rusak Jalan Dalam Kota WL=9;TL=6 Nasional/Negara Luar Kota WL=8;TL=4 Jalan Propinsi WL=7;TL=2 Jalan Kabupaten WL=4;TL=3 Jalan Kota TOTAL Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2013)

48 2.3.3 Angkutan Umum Pelayanan angkutan penumpang transportasi jalan belum sepenuhnya terpadu dengan transportasi lain. Konsumen yang ingin alih moda (intermoda) harus beberapa kali berganti kendaraan hal ini disebabkan kurang maksimumnya fungsi terminal. Keterpaduan angkutan jalan lainya juga dinilai dari belum adanya beberapa daerah yang terjangkau trayek yang ada terutama pada wilayah pedesaan. Selama ini masih sebatas usaha mandiri angkutan berpelat hitam, berikut data kendaraan berplat di Kabupaten Pacitan: Tabel II.18 Banyaknya kendaraan bermotor plat hitam di Kabupaten Pacitan tahun Jenis Kendaraan Jumlah Kecamatan Sepeda Truck/ Mini Bus/ Jeep/Sedan Motor Pick-up Station Wagon Tahun Tahun Tahun Sumber: Kabupaten Pacitan Dalam Angka (2013) Kelancaran arus lalu lintas jalan relatif cukup lancar. Hal ini tidak terlepas dari tidak terbatasnya daya dukung dan kondisi permukaan jalan serta kedisiplinan pemakai jalan. Tertib berlalu lintas pada Kabupaten Pacitan sudah sangat baik. Hal ini menumbuhkan jarang terlihat titik-titik kemacetan pada ruas jalan.pelanggaran terhadap peraturan dan rambu-rambu lalu lintas jalan memiliki angka yang cukup rendah dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Topografi Kabupaten Pacitan sebagian besar merupakan wilayah yang datar (kecuali wilayah timur dan sebagian di selatan yang berbatasan dengan wilayah pegunungan), menyebabkan geometrik jalan dapat sedikit sulit dilewati berbagai moda transportasi termasuk kendaraan tak bermotor (becak dan sepeda)

49 Untuk pelayanan angkutan penumpang masih menggunakan angkutan pedesaan dengan jumlah kurang lebih 900 angkutan yang terdiri dari angkutan PLAT HITAM dan juga angkutan Plat Kuning. Gambar II.1 Kondisi Angkutan Pedesaan di Kab Pacitan 1. Angkutan Pedesaan Untuk melayani jalur antar pedesaan maupun antar daerah kecamatan, di wilayah Kabupaten Pacitan telah tersedia angkutan pedesaan kelas ekonomi dengan menggunakan mobil penumpang umum. Pada tabel di bawah ini dapat dilihat jalur trayek yang melayani angkutan pedesaan di Kabupaten Pacitan

50 Tabel II.19 Jalur trayek angkutan umum di Kabupaten Pacitan Kode Tarif batas No Jarak Traye Jalur trayek. (km) Bawah Atas k 1. A Pacitan-Semanten-Arjosari-Kebondalem Pacitan Semanten Pacitan Arjosari AB Pacitan-Sambong-Ponggok Pacitan-Sambong AC Kebondalem-Grenjeng-Petung Sinarang-Bandar Kebondalem-Grenjeng Kebondalem-Petung Sinarang AD Tegalombo-Kledung-Bandar Tegalombo-Kledung AF Kebondalem-Tegalombo-Gemaharjo Kebondalem-Tegalombo B Pacitan-Semanten-Arjosari-Tremas-Mlati Pacitan-Tremas D Pacitan-Semanten-Arjosari-Nawangan Pacitan-Semanten-Arjosari-Nawangan-Bandar DA Arjosari-Gondang-Nawangan Arjosari-Gondang Pacitan-Semanten-Arjosari-Gayuhan-Karanggede E Pacitan-Gayuhan Pacitan-Mentoro-Purworejo-Tambakrejo Gunungsari 10. C Pacitan-Purworejo Pacitan-Tambakrejo Pacitan-Ketro-Pentung-Wonanti-Jetak G Pacitan-Ketro Pacitan-Pentung Pacitan-Wonanti Pacitan Nglaran

51 No. Kode Traye k Tarif batas Jarak Jalur trayek (km) Bawah Atas Pacitan-Ketro-Sanggrahan-Gembuk H Pacitan-Sanggrahan Pacitan-Tulakan-Wonosidi-Wonokarto K Pacitan-Tulakan Pacitan-Wonosidi Ngadirojo-Hadiwarno-Sidomulyo-Jetak L Ngadirojo-Hadiwarno Ngadiojo-Sidomulyo Ngadirojo-hadiwarno-Sudimoro M Ngadirojo-Sudimoro Pacitan-Tulakan-Lorok T Pacitan-Tulakan Tulakan-Wonosidi-Wonokarto TA Tulakan-Wonosidi Tulakan-Bubakan-Ngile TB Tulakan-Bubakan Tulakan-Bubakan-Kasihan TC Tulakan-Bubakan Pacitan-Tulakan-Lorok-Sudimoro TD Pacitan-Tulakan Pacitan-Lorok Pacitan-Kebonagung-Sidomulyo-Kalipelus Karangnongko 21. I Pacitan-Kebonagung Pacitan-Sidomulyo Sidomulyo-Wora Wari-Jetak IA Sidomulyo-Wora wari Sidomulyo-Wawaran IB Pacitan-Dadapan-Candi-Watukarang-Dersono Kalak 24. O Pacitan-Dadapan

52 No. Kode Traye k Tarif batas Jalur trayek Jarak (km) Bawah Atas Pacitan-Candi Pacitan-Watukarang Pacitan-Dersono Pacitan-Purwosari-Karangnongko-Plumbungan U Pacitan-Purwosari Pacitan-Karangnongko Punung-Wareng-Sukodono-Klepu-Kalak P Punung-Wareng Punung-Sukodono Punung-Klepu Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2015) Pada tabel di atas dapat diketahui untuk jalur Pacitan-Semanten- Arjosari-Nawangan-Bandar sejauh 62 kilometer merupakan trayek dengan tarif angkutan minimal dan maksimal yang tertinggi, yaitu Rp sebagai batas bawah tarif dan Rp sebagai batas atas tarif. Selain itu, ada beberapa jalur yang memiliki kesamaan batas bawah tarif, yaitu jalur trayek Pacitan-Semanten, Kebondalem-Grenjeng, Pacitan- Purworejo, Ngadirojo-Hadiwarno, Tulakan-Bubakan, dan Punung-Wareng, yaitu dengan tarif batas bawah sebesar Rp 1.485dan Rp 2.700untuk tarif batas atas. Tabel II.21 Jumlah penumpang angkutan umum Kabupaten Pacitan Tahun No Uraian Jumlah penumpang bis Jumlah penumpang MPU

53 Total jumlah penumpang Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2015) Tabel II.22 Jumlah penumpang angkutan umum menurut kecamatan Di Kabupaten Pacitan tahun 2015 Jumlah penumpang No Kecamatan Bis MPU Total jumlah penumpang (1) (2) (3) (4) (5= ) 1 Donorojo Punung Pringkuku Pacitan Kebonagung Arjosari Nawangan Bandar Tegalombo Tulakan Ngadirojo Sudimoro Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2013) 2. Angkutan Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) Angkutan Antar Kota Antar Provinsi di Kabupaten Pacitan dilayani oleh empat jalur trayek dengan daya angkut penumpang dan orang. Jumlah armada terbanyak adalah jalur trayek Pacitan - Jakarta sebanyak 76 armada dengan dua armada cadangan, yang memiliki daya angkut orang untuk setiap armada bus. Sedangkan jumlah armada paling sedikit adalah jalur

54 trayek Pacitan - Yogyakarta sebanyak delapan armada, yang memiliki daya angkut orang untuk setiap bus. Tabel II.23 Trayek antar kota antar provinsi dan jumlah armadanya No. Jalur trayek Jenis Jumlah Armada Kendaraan Pacitan Sumatra Bus besar Pacitan - Jakarta Bus besar Pacitan Solo Bus besar Pacitan - Yogyakarta Bus sedang Pacitan Bandung Bus besar Jumlah Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2015) 3. Angkutan Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP) Jenis bus yang melayani angkutan antar kota dalam propinsi di Kabupaten Pacitan berkapasitas tempat duduk Tabel II.24 Trayek angkutan antar provinsi dan jumlah armada di Kabupaten Pacitan No. Jalur trayek Jenis Jumlah Kendaraan Armada 1. Pacitan - Surabaya Bus besar 8 2. Pacitan - Ponorogo Bus sedang Pacitan - Trenggalek Bus sedang 6 Jumlah 49 Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2015) 4. Angkutan Antar Jemput Untuk melayani jalur antar propinsi, Kabupaten Pacitan juga melayani dengan menyediakan angkutan antar jemput yang memilki kapasitas penumpang tidak lebih dari 15 tempat duduk dengan jumlah armada sebanyak 29 unit. Secara lebih jelas mengenai jumlah armada serta trayeknya dapat dilihat pada tabel berikut

55 Tabel II.25 Angkutan Antar Jemout Kabupaten Pacitan No Jalur Trayek Jenis Jumlah Kendaraan Armada 1 Pacitan Ponorogo Surabaya Mini Bus 21 2 Pacitan - Ponorogo Malang Mini Bus 8 3 Lorok Trenggalek Surabaya Mini Bus 16 4 Tulakan Trenggalek Malang Mini Bus 2 5 Pacitan Solo Mini Bus 6 6 Pacitan Jogjakarta Mini Bus 9 Jumlah 62 Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2015) 5. Angkutan Perbatasan Angkutan pedesaan yang melayani antar kota antar propinsi merupakan angkutan umum penumpang yang berada diwilayah perbatasan. Jenis moda angkutan sebagian besar dilayani dengan kendaraan bus kecil kapasitas penumpang tempat duduk. Adapun trayek yang dilayani adalah sebagai berikut: Tabel II.26 Trayek Angkutan Perbatasan di Kabupaten Pacitan No. Jalur trayek Jenis Jumlah Kendaraan Armada 1. Punung Giriwoyo-Baturetno Bus Kecil 4 2. Punung Giriwoyo-Pracimantoro Bus Kecil 35 Punung-Giribelah-Pracimantoro Bus Kecil 3. Bandar Nawangan-Purwantoro Bus Kecil 2 Jumlah 41 Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2015) 6. Angkutan Paratransit Angkutan paratransit merupakan angkutan yang cukup vital di beberapa kota besar di Indonesia. Melihat kebutuhan dari masyarakat untuk memenuhi rute angkutan hingga sampai ke rute

56 rute yang tidak dapat terjangkau oleh angkutan umum lainnya maka angkutan paratransit seperti becak, delman, ojek dan bajaj sangat berperan. Demikian pula yang terjadi pada Kabupaten Pacitan terdapat beberapa angkutan paratransit seperti becak yang beroperasi di beberapa wilayah Kabupaten Pacitan. Tabel II.27 Rasio ijin trayek Kabupaten Pacitan Tahun 2010 s.d 2015 No Uraian Izin trayek perkotaan Izin trayek perdesaan Jumlah izin trayek Jumlah penduduk 540, Rasio izin trayek 0,020% 0,023% 0,023% 0,023% 0,023% 0,023% Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2015) Tabel II.28 Rasio ijin trayek Kabupaten Pacitan Menurut kecamatan tahun 2015 No Kecamatan Jumlah izin trayek Total Jumlah Rasio izin jumlah penduduk Perkotaan Perdesaan trayek izin trayek 1 Donorojo % 2 Punung % 3 Pringkuku % 4 Pacitan % 5 Kebonagung % 6 Arjosari % 7 Nawangan % 8 Bandar % 9 Tegalombo % 10 Tulakan % 11 Ngadirojo % 12 Sudimoro % Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2015)

57 2.3.4 Sarana Dan Prasarana Tranportasi 1. Terminal Untuk menunjang kelancaran transportasi baik antar kota maupun antar desa, maka keberadaan terminal sangat dibutuhkan dan penting keberadaanya. Sampai tahun 2016 ini Kabupaten Pacitan hanya memiliki satu terminal tipe A, yaitu terminal di Jalan Gatot Subroto. Sedangkan untuk terminal tipe B dan tipe C di Kabupaten Pacitan antara lain: 1. Terminal Ngadirojo 2. Terminal Arjowinangun, 3. Terminal Gemaharjo, 4. Terminal Donorojo, 5. Terminal Punung, 6. Terminal Jeruk. Adapun data terminal beserta fungsi-fungsinya dan kondisi pengoperasiannya saat ini disajikan dalam bentuk tabel di bawah ini. Tabel II.29 Jenis, fungsi dan kondisi terminal saat ini No. Uraian Fungsi Kondisi 1. Terminal Bus Sebagai terminal untuk Sudah memenuhi persyaratan sebagai angkutan umum AKAP, AKDP terminal type A dan MPU 2. Terminal Ngadirojo Sebagai terminal MPU dan AKDP Sering digunakan untuk jualan sebagai akibat pasar tumpah, sehingga fungsi terminal berkurang 3. Terminal Arjowinagun Sebagai terminal MPU/ Kondisi fisik kurang memadai Angkutan 4. Terminal Gemaharjo Sebagai terminal MPU dan Halte AKDP Kondisi fisik kurang memadai dan posisi yang kurang strategis dan berdekatan dengan pasar 5.. Terminal Donorojo Sebagai terminal MPU dan Posisi kurang strategis sebagai Halte AKAP kendaraan enggan untuk masuk

58 No. Uraian Fungsi Kondisi 6. Terminal Jeruk Sebagai terminal MPU Sudah memenuhi persyaratan sebagai terminal tipe C Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2015) Tabel II.30 Jumlah terminal Tahun 2010 s.d 2015 Kabupaten Pacitan No Uraian Type A Type B Type C Jumlah Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2015) Pada tahun 2016 telah dilaksanakan P3D Terminal tipe A ke Pemerintah Pusat dan Terminal tipe B ke Pemerintah Provinsi seperti diamanahkan dalam UU nomor 23 tahun Mulai tahun 2017 Pemerintah Kabupaten/Kota hanya memiliki kewenangan mengelola terminal tipe C. Kondisi terminal tipe C yang ada di Kabupaten Pacitan memerlukan penganganan yang lebih karena kondisi bangunan terminal yang kurang memadai dan masih kurang tertatanya angkutan bus dan angkutan penunjang lainnya, serta lokasi terminal yang kurang strategis seperti dekat dengan lokasi pasar. Secara fungsional terminal merupakan tempat penampungan dan pengelompokan angkutan umum dan melayani penduduk yang menuju ke luar kota dan dalam kota tanpa menganggu tingkat pelayanan fungsi kota. Pelayanan terhadap aktifitas di Kabupaten Pacitan dilayani oleh satu buah terminal Bus tipe A yang mempunyai trayek Antar Kota Antar Propinsi dan Antar Kota Dalam Propinsi sehingga pelayanan mengarah pada jalur eksternal, yaitu jalur ke luar kota Pacitan. Terdapat juga dua buah terminal tipe C (Terminal Arjowinangun dan Terminal Jeruk) yang hanya

59 digunakan oleh MPU (Angkutan kota atau angkutan pedesaan) untuk jalur regional Kabupaten, yaitu trayek Antar Kota dan Kecamatan di Desa Arjowinangun dan di Desa Jeruk. Pelayanan termnal MPU ini lebih mengarah pada pelayanan internal Kabupaten. Terminal Penumpang Kota Pacitan melayani angkutan umum berupa bus, dengan rute sebagai berikut: 1. Pacitan Ponorogo 2. Pacitan Trenggalek 3. Pacitan Lorok 4. Pacitan Wonogiri Solo 5. Pacitan Wonogiri Yogyakarta 6. Pacitan Surabaya 7. Pacitan Jakarta 8. Pacitan - Bandung 9. Pacitan Sumatera Rute bus tersebut melalui terminal bus antar kota dan kegiatannya pulang pergi antar kota. Sedangkan untuk mobil penumpang umum (MPU) rutenya antar kota kecamatan pulang pergi melalui terminal taksi, dengan rute sebagai berikut: 1. Pacitan Arjosari 2. Pacitan Nawangan 3. Pacitan Bandar 4. Pacitan Donorojo 5. Pacitan Punung 6. Pacitan Pringkuku 7. Pacitan Tulakan 8. Pacitan Kebonagung 9. Pacitan Ngadirojo

60 Tabel II.31 Data keadaan angkutan Bus AKAP dan AKDP di Terminal Bus Pacitan No. Jalur TrayeK Nama PO Kurang Aktif idak Aktif Jumlah Aktif Beroperasi Beroperasi Bus Beroperasi 1 Pacitan 1 Aneka Jaya Ponorogo 2 PO Jaya II Jumlah Pacitan Solo 1 Aneka Jaya Muncul 4 Jumlah Aneka Jaya Sumba Putra Sedyo Mulyo Pacitan 4 Tunggal dara Jakarta 5 Gajah Mungkur Pacitan Jaya Putra Jumlah 4 Pacitan Jaya Pacitan Putra Jogja 2 Maju Lancar 4 4 Jumlah Pacitan - Surabaya 1 Aneka Jaya 8 8 Jumlah Jumlah Total Sumber: Dishubkominfo Kab Pacitan (2015) Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan tampak bahwa ijin yang dikeluarkan oleh Pemerintah untuk angkutan pedesaan yang singgah di Terminal Pacitan yang paling tinggi adalah untuk jalur 5 (Pacitan- Sedeng- Pringkuku- Punung-Dersono) sebanyak 89 ijin, kemudian Jalur A (Pacitan-Semanten-Arjosari-Kebondalem)

61 sebanyak 75 ijin, selanjutnya Jalur O (Pacitan-Dadapan-Candi- Watu Karung-Dersono-Kalak) sebanyak 65 ijin, serta Jalur T (Pacitan-Tulakan-Lorok) sebanyak 61 ijin. Sementara untuk 11 jalur V trayek yang lain jumlah ijin yang diberikan dibawah angka untuk 4 jalur yang disebutkan pada 2. Tempat Pemberhentian Angkutan Tempat pemberhentian kendaraan merupakan sarana yang disediakan untuk melayani penumpang naik dan turun. Tempat tempat ini terdiri dari beberapa yang telah dilengkapi dengan fasilitas ruang tunggu maupun yang masih berupa tanda pemberhentian kendaraan. Untuk yang telah disediakan ruang tunggu atau disebut dengan halte terdapat 13 halte yang tersebar di 11 kecamatan (Kecamatan Arjosari belum ada halte yang dibangun). Sedangkan tempat pemberhentian lain berupa tanda atau rambu ada hampir semua wilayah kecamatan dan beberapa pasar yang banyak menjadi pusat bangkitan penumpang. 3. Layanan Keselamatan Transportasi Keselamatan transportasi merupakan prioritas sebagaimana dalam perencanaan penanganan keselamatan transportasi nasional guna mensukseskan untuk mengurangi angka kecelakaan dengan program Road Map To Zero Accident. Perencanaan penanganan muatan lebih secara komprehenship dalam rangka mendukung program Road Map To Zero Overloading. Layanan keselamatan transportasi di Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan didukung dengan Kegiatan Pengendalian dan Penanganan Kecelakaan Lalu Lintas. Melalui kegiatan tersebut dapat melakukan pencegahan secara preventif dan reventif terjadinya kecelakaan lalu lintas

62 a. Kecelakaan lalu lintas Tingkat keselamatan transportasi jalan relatif masih rendah. Hal ini terlihat dari angka kecelakaan yang cukup tinggi. Namun, apabila diperbandingkan dengan angka kecelakaan di kabupaten/kota di Jawa Timur yang lain, angka kecelakaan di Kabupaten Pacitan masih lebih rendah. Dari berikut dapat membandingkan antara jumlah kejadian kecelakaan baik kecelakaan terhadap korban dan kerugian material. Tabel II.32 Banyaknya kecelakaan lalu lintas setiap bulan tahun 2014 Bulan Jumlah Korban (jiwa) Kerugian Frekuensi Uang Kejadian Meninggal Luka Berat Luka Ringan (Rp. 000) Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Sumber: Kabupaten Pacitan dalam Angka (2015) b. Pelangaran Lalu Lintas

63 Kelancaran arus lalu lintas di Kabupaten Pacitan cukup baik, hal ini tidak terlepas dari tersedianya sarana dan prasarana lalu lintas yang memadai serta kondisi jalan permukaan yang layak yang didukung dengan disiplin dari pemakai jalan. Hal ini tidak menumbuhkan adanya kemacetan-kemacetan pada ruas jalan. Perilaku bertransportasi dari pemakai jalan sangat baik. Terlihat rendahnya tingkat pelanggaran terhadap peraturan dan rambu-rambu lalu lintas jalan Topografis Kabupaten Pacitan terdiri atas daerah pantai, dataran rendah dan perbukitan, sehingga geometrik jalan tidak terlalu mudah untuk dilewati moda transportasi khususnya kendaraan tidak bermotor. Untuk mencapai kemudahan dalam melakukan perjalanan banyak digunakan angkutan umum barang dan orang. Tabel II.33 Banyaknya pelanggaran lalu lintas dan besarnya denda tahun 2014 Tahun Jenis Pelanggaran Besarnya Denda (Rupiah) Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Sumber: Kabupaten Pacitan dalam Angka (2015) 4. Layanan Pemeriksaan Kendaraan Bermotor Selain keteraturan dalam perambuan dan pengguna kendaraan, terdapat satu variabel yang cukup penting, yaitu keteraturan kendaraan dalam melakukan uji kelayakan kendaraan (KIR) yang dilaksanakan enam bulan sekali. Dari kendaraan yang melakukan uji KIR, terdapat mobil

64 barang dan merupakan angka yang paling besar dibandingkan dengan jumlah kendaraan lainnya yang melakukan uji KIR. Jenis kendaraan yang melakukan uji KIR, meliputi pick up, truk, angkutan umum baik jenis MPU maupun minibus/bus, kereta gandengan, kereta tempelan Tabel II.34 Banyaknya kendaraan uji petik/kir menurut jenis kendaraan tahun Jenis Jumlah Kendaraan Uji Rata-Rata No. Kendaraan Kend. Uji/ Tahun 1 MOBIL PENUMPANG MOBIL BUS MOBIL BARANG KENDARAAN KHUSUS KERETA GANDENGAN KERETA TEMPELAN Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2015) Terlihat pada gambar di atas, di Kabupaten Pacitan angka wajib uji untuk masing-masing jenis kendaraan masih belum terpenuhi karena angka kendaraan yang telah diujikan belum melebihi setengah dari ketentuan wajib uji yang telah ditetapkan kecuali terutama untuk jenis mobil penumpang umum (MPU). 5. Layanan Parkir Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan memberikan rekomendasi (ijin) penyelenggaraan dan pembangunan fasilitas parkir untuk umum serta pengelolaan, pemantauan pembinaan penyelenggaraan parkir. Dalam hal ini sesuai dengan jenis retibusi dibedakan antara parkir tempi jalan umum dan parkir

65 khusus. Untuk parkir jalan umum juga dikenakan parkir berlangganan yang penarikan retribusinya bersaman dengan pajak kendaraan di samsat. Dalam rangka peningkatan pelayanan parkir, diperlukan tenaga juru parkir yang profesional dan mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pelayanan parkir di tepi jalan umum telah ditentukan ruas jalansebagai berikut: Tabel II.36 Penetapan Lokasi Parkir Berlangganan di Kabupaten Pacitan No Lokasi 1. Jl. Jaksa Agung Suprapto 2. Jl. Tengku Imam Bonjol 3. Jl. Pangeran Diponegoro 4. Jl. Ahmad Yani 5. Jl. Panglima Sudirman 6. Jl. DI. Panjaitan 7. Jl. Pacitan Solo: a. Radius 100m depan Pasar Donorojo b. Radius 100m depan Pasar Punung c. Radius 50m depan Pasar Ngadirejan 8. Jl. Pacitan-Ponorogo a. Radius 100m depan Pasar Arjosari dan 50 m dari pertigaan arah nawangan b. Radius 100m depan Pasar Kebondalem c. Radius 50m depan Pasar Grindulu d. Radius 100m depan Pasar Gemaharjo 9. Jl. Pacitan-Trenggalek a. Radius 50m depan Pasar Ketro b. Radius 100m depan Pasar Tulakan dan 100arah Tegalombo c. Radius 100m depan Pasar Wiyoro 10. Jl. Pacitan-Purwantoro Radius 50m depan Pasar Jeruk 11. Jl. Pacitan-Bandar radius 50m depan Pasar Bandar 12. Jl. Tulakan-Ponorogo radius 50m depan Pasar Montongan 13. Jl. Punung-Gondosari radius 50m dan jalan Gondosari-Tinatar raidius 50m dari pertigaan pasar

66 14. Jl. Pacitan-Yogyakarta radius 50m depan Pasar Tangkluk 15. Jl. Sidomulyo-Wonoanti radius 50m depan Pasar Wonoanti 16. Jl. Sudimoro-Bubakan radisu 50 m depan Pasar Sudimoro Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2015) Peningkatan Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) Sebagai SKPD yang menangani retribusi daerah Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan mengelola pendarapatan daerah. Dalam rangka peningkatan PAD, Dinas Perhubungan telah melaksanakan intensifikasi dan ekstensifikasi sehingga terjadi peningkatan, adapun perolehan PAD tahun 2008 s/d 2013 adalah sebagai berikut : Tabel II.41 Peningkatan PAD Periode No Obyek PAD Retribusi Pelayan Parkir di tepi jalan umum 2. Retribusi PKB Retribusi Pengendalian , Menara Telekomunikasi 4. Retribusi Terminal Retribusi Tempat Khusus Parkir 6. Retribusi ijin trayek Jumlah , Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2015) Pendanaan dalam sektor transportasi merupakan belanja Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan yang meliputi fisik maupun non fisik. Belanja fisik dilaokasikan pada pembiayaan sarana dan prasrana LLAJ yang meliputi pengadaan pembangunan dan pemeliharaan. Sedangkan non fisik dialokasikan pada kegiatan intensifikasi, sosialisasi dan penyuluhan, monitoring dan pengumpulan data base bidang perhubungan. Seementara pendanaan bidang komunikasi dan informatika dialokasikan pada kegiatan penyuluhan dan pembinaan serta

67 penyebarluasan informasi pembangunan daerah. Adapun rincian alokasi pendanaan sektor transportasi adalah sebagai berikut:

68 Tabel II.44Pendanaan sektor transportasi Sumber Lain (Juta Rupiah) berupa hibah / swadaya Dana APBD (Juta Rupiah) DAK (Juta Rupiah) Peruntukan/ masyarakat, sponsor, No Alokasi perusahaan, dll Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Sarana dan Prasarana LLAJ A. Fisik 1. Pembangunan gedung kantor Pengadaan Perlengkapan Gedung Kantor 3.Pembangunan Halte,Bus,Taxi, gedung terminal 4.Pembangunan Sarana Pengendali dan Pengaman lalu lintas 5. Pemeliharaan APILL

69 Sumber Lain (Juta Rupiah) berupa hibah / swadaya Dana APBD (Juta Rupiah) DAK (Juta Rupiah) Peruntukan/ masyarakat, sponsor, No Alokasi perusahaan, dll Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) TOTAL B. Non Fisik 1.Peningkatan dan Pengelolaan Administrasi Perkantoran 2.Penyusunan Dokumen Lingkungan 2. Sosialisasi Kebijakan dibidang Perhubungan 3. Penyusunan kebijakan, norma,

70 Sumber Lain (Juta Rupiah) berupa hibah / swadaya Dana APBD (Juta Rupiah) DAK (Juta Rupiah) Peruntukan/ masyarakat, sponsor, No Alokasi perusahaan, dll Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) standar, prosedur bid.perhubungan 4. Monitoring dan Evaluasi dan Pelaporan 5. Intensifikasi PAD bidang Perhubungan 6. Fasilitas Pelayanan Bidang Perhubungan 7. Rehabilitasi /pemeliharaan Prasarana Balai PKB 8. Rehabilitasi /pemeliharaan terminal/pelabuh

71 Sumber Lain (Juta Rupiah) berupa hibah / swadaya Dana APBD (Juta Rupiah) DAK (Juta Rupiah) Peruntukan/ masyarakat, sponsor, No Alokasi perusahaan, dll Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) an 9. Kegiatan Pemilihan dan pemberian penghargaan bagi para sopir/ juru mudi (AKUT) 10. Kegiatan Peningkatan Disiplin Menggunakan Angkutan 11. Kegiatan Pengendalian Disiplin Pengoperasian Angkutan Umum Di jalan raya 12. Pembinaan

72 Sumber Lain (Juta Rupiah) berupa hibah / swadaya Dana APBD (Juta Rupiah) DAK (Juta Rupiah) Peruntukan/ masyarakat, sponsor, No Alokasi perusahaan, dll Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) usaha perbengkelan Kendaraan Bermotor 13. Kegiatan Uji Kelayakan sarana transportasi guna keselamatan penumpang 14. Pengumpulan database bidang perhubungan 15. Pengembangan Pelayanan Perhubungan Laut 16. Pengendalian dan

73 Sumber Lain (Juta Rupiah) berupa hibah / swadaya Dana APBD (Juta Rupiah) DAK (Juta Rupiah) Peruntukan/ masyarakat, sponsor, No Alokasi perusahaan, dll Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Penaggulangan Kecelakaan Lalu lintas 17. Pembinaan dan Pengembangan Jaringan Komunikasi dan informasi 18. Pembinaan dan Pengembangan Sumber daya komunikasi dan Informasi 19. Pengkajian dan Pengembangan Sistem Informasi Pembinaan Jasa Titipan dan

74 Sumber Lain (Juta Rupiah) berupa hibah / swadaya Dana APBD (Juta Rupiah) DAK (Juta Rupiah) Peruntukan/ masyarakat, sponsor, No Alokasi perusahaan, dll Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Telekomunikasi TOTAL Jalan dan Jembatan 1.Pembangunan Jalan dan Jembatan 2.Rehabilitasi Pemeliharaan jalan dan jembatan 1. Program Inspeksi Kondisi Jalan dan Jembatan 4.Pembangunan Jalan dan

75 Sumber Lain (Juta Rupiah) berupa hibah / swadaya Dana APBD (Juta Rupiah) DAK (Juta Rupiah) Peruntukan/ masyarakat, sponsor, No Alokasi perusahaan, dll Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Jembatan Perdesaan TOTAL Penerangan Jalan Umum 1. Perbaikan Saluran Tutup (Trotoar) 2. Pembangunan Penerangan Jalan Umum (PJU) 3. Pemeliharaan Rutin Penerangan

76 Sumber Lain (Juta Rupiah) berupa hibah / swadaya Dana APBD (Juta Rupiah) DAK (Juta Rupiah) Peruntukan/ masyarakat, sponsor, No Alokasi perusahaan, dll Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Jalan Umum (PJU) TOTAL Sumber: Dinas Perhubungan, Dinas Bina Marga, dan Dinas Cipta Karya Kabupaten Pacitan (2015)

77 2.3.7 Peningkatan Mutu Pelayanan Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan pada tahun 2015 Dinas Perhubungan telah mengupayakan sistem pelayanan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan. Adapun Indek Kepuasan Masyarakat ( IKM ) adalah sebagai berikut : Tabel II.45Penilaian Indek Kepuasan Masyarakat No Periode Penilaian Nilai IKM Predikat 1. Juni Desember 12,25 Baik 2. Januari Juni 12,14 Baik Sumber: Dishubkominfo Kab. Pacitan (2015) Peningkatan Kesadaran Masyarakat Dalam rangka peningkatan kesadaran masyarakat khususnya kesadaran tertib Lalu Lintas dan Angkutan pada Tahun 2015 telah di laksanakan kegiatan, antara lain : 1. Kegiatan sosialisasi dan pembinaan kepada pengusaha dan pengemudi Angkutan; 2. Kegiatan sosialisasi keselamatan transportasi darat dan laut (kapal 7 GT); 3. Lomba Pelajar Pelopor tertib lalu lintas; 4. Operasi penertiban

78 Tabel II.46 Pencapaian Kinerja PelayananDinas Perhubungan Kabupaten Pacitan NO ASPEK/FOKUS/BIDANG KONDISI KINERJA REALISA TARGET URUSAN/ INDIKATOR AWAL PERIODE REALISASI CAPAIAN SI CAPAIAN KINERJA PEMBANGUNAN RPJMD CAPAIAN 2016 DAERAH ASPEK PELAYANAN UMUM Fokus Layanan Urusan Wajib 7 Perhubungan 7.1 Jumlah arus penumpang angkutan umum 7.2 Jumlah ijin trayek yang dikeluarkan setiap tahun (%) 7.3 Jumlah wajib uji KIR Jumlah pelabuhan laut/udara Jumlah Terminal Bis/sub terminal Jumlah Angkutan darat Jumlah uji KIR angkutan umum Lama pengujian kelayakan angkutan umum (KIR) (menit) 7.9 Tersedianya angkutan umum yang melayani wilayah yang telah tersedia jaringan jalan untuk jaringan jalan kabupaten/kota ,19 74, , ,4

79 7.10 Tersedianya angkutan umum yang melayani jaringan trayek yang menghubungkan daerah tertinggal dan terpencil dengan wilayah yang telah berkembang pada wilayah yang telah tersedia jaringan jalan kabupaten/kota 7.11 Tersedianya halte pada setiap kab/kota yang telah dilayani angkutan umum dalam trayek 7.12 Tersedianya terminal angkutan penumpang pada setiap kab/kota yang telah dilayani angkutan umum dalam trayek 7.13 Tersedianya fasilitas perlengkapan jalan (rambu, marka dan guardrill) dan penerangan jalan umum (PJU) pada jalan kabupaten/kota 7.14 Tersedianya unit pengujian kendaraan bermotor bagi kab/kota yang memiliki populasi kendaraan wajib uji minimal 4000(empat ribu) kendaraan wajib uji 7.15 Tersedianya SDM di bidang terminal pada kab/kota yang telah memiliki terminal 7.16 Tersedianya SDM di bidang pengujian kendaraan bermotor pada kab/kota yang telah , ,32 62, , ,67 91, , ,7 60, ,

80 melakukan pengujian berkala kendaraan bermotor 7.17 Tersedianya SDM di bidang MRLL, , Evaluasi Andalalin, Pengelolaan Parkir pada Kab/kota 7.18 Tersedianya SDM yang memiliki kompetensi sebagai pengawas kelaikan kendaraan pada setiap perusahaan angkutan umum 7.19 Terpenuhinya standar keselamatan ,19 59,33 59,07 97, ,8 bagi angkutan umum yang melayani trayek di dalam kab/kota 7.20 Terpenuhinya standar keselamatan , kapal dengan ukuran dibwah 7 GT yang beroperasi pada lintas dalam kab/kota 7.21 Tersedianya SDM yang mempunyai kompetensi sebagai awak kapal angkutan laut dengan ukuran dibawah 7 GT 7.22 % penerapan norma, standar, kebijakan bidang perhubungan 7.23 % prasarana dan fasilitas ,45 86, perhubungan dalam kondisi baik 7.24 % angkutan laik jalan , % pemenuhan sarana prasarana , perhubungan 7.26 Tersedianya fasilitas perlengkapan 26,09 27,8 27,01 28,29 28,62 29,12 39,82 33,78

81 jalan (rambu, marka dan guardril) pada jalan Kabupaten (%) 25 Komunikasi dan Informatika 25.1 Jumlah jaringan komunikasi Jumlah surat kabar nasional/lokal Jumlah penyiaran radio/tv lokal Cakupan pengembangan dan pemberdayaan KIM tingkat kecamatan (%) , Pelaksanaan diseminasi dan pendistribusian informasi nasional melalui: 25.7 Media massa seperti majalah, radio, dan tv (kali/th) 25.8 Media baru seperti website (media ada/hari ada/hari ada/hari ada/hari ada/hari ada/hari ada/hari ada/hari online) 25.9 Media tradisional seperti pertunjukan rakyat (kali/th) Media interpersonal seperti sarasehan, ceramah/diskusi, dan lokakarya (kali/th) Media luar ruang seperti media buletin, leaflet, booklet, brosur, spanduk, baliho (kali/th) Cakupan masyarakat yang terlayani , TI (%) % pengelolaan informasi publik ASPEK DAYA SAING DAERAH Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastuktur 1 Perhubungan 1.1 Rasio panjang jalan per jumlah 0, , , ,1186 0, , , ,011654

82 kendaraan 1.2 Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum 1.3 Jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/ terminal per tahun Sumber: Hasil Analisa Dishubkominfo Kab. Pacitan (2016)

83 2.4 Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan SKPD Tantangan Pengembangan Pelayanan Didalam pengembang pelayanan Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan memiliki bebera tantangan yang dihadapi. Tantangan tersebut meliputi internal maupun eksternal SKPD 1) Weakness (Kelemahan) a) Kurang optimalnya SDM pelaksana dari segi kualitas dan kuantitas b) Sarana dan prasarana yang kurang memadai c) Mekanisme dan perancanaan kerja kurang optimal d) Belum optimalnya pengelolaan administrasi dan pelayanan publik yang masih tradisional walaupun sudah ada aplikasi sistem informasi e) Kurangnya dukungan dana operasional 2) Treat (Ancaman) a) Kondisi geografis yang bergunung-gunung sehingga sistem transportasi tidak efektif dan efisien b) Rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengujian kendaraan bermotor, perijinan angkutan dan ketertiban lalu lintas. c) Sering terjadinya kecelakaan lalu lintas d) Kemacetan lalu lintas di pasar tumpah dan tanah longsor e) Meningkatnya jumlah kendaraan Peluang Pengembangan Pelayanan Selain tantangan ada beberapa hal yang menjadi kekuatan dalam pengembangan pelayanan SKPD., Kekuatan dan peluang pengembangan pelayanan bidang perhubungan Komunikasi dan Informatika sebagai berikut: 1) Strength (Kekuatan) a) Adanya peraturan perudang-undangan yang mendasari kinerja Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan 75

84 b) Tersedianya sumber daya manusia yang telah mengikuti diklat teknis fungsional/struktural c) Terdapat sistem informasi yang mendukung pelayanan publik di Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan d) Motivasi dan dedikasi karyawan cukup tinggi 2) Opportunity (Peluang) a) Wilayah jaringan transportasi di wilayah kabupaten Pacitan cukup luas b) Adanya dukungan stack holder (Organda, BPTD, Paguyuban d) c) Adanya program jalur lintas selatan (JLS) d) Adanya dukungan dari APBD II,APBD I dan APBN e) Berkembangnya pusat perekoniman di wilayah f) Berkembangnya jumlah kendaraan sehingga meningkatkan PAD g) Adanya perintisan transportasi laut dan udara. Berdasarkan analisa lingkungan tersebut di atas maka dapat dilakukan analisa swot dengan mengitegrasikan kekuatan (S),Kelemahan (W), - Peluang (O), dan Ancaman (T), sebagai berikut: 76

85 Tabel II.47 ANALISA SWOT Strength/Kekuatan (S) Weakness/Kelemahan (W) A L I Adanya peraturan perudang-undangan yang mendasari Kurang optimalnya SDM pelaksana dari segi kualitas dan kinerja Dinas Kabupaten Pacitan kuantitas A L E Tersedianya sumber daya manusia yang telah mengikuti Sarana dan prasarana yang kurang memadai diklat teknis fungsional/struktural Mekanisme dan perancanaan kerja kurang optimal Terdapat sistem informasi yang mendukung pelayanan Belum optimalnya sistem pengelolaan administrasi dan publik di Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan pelayanan yang masih tradisional walaupun sudah ada Motivasi dan dedikasi karyawan cukup tinggi aplikasi sistem informasi Kurangnya dukungan dana operasional Opportunity/Peluang (O) SO WO Wilayah jaringan transportasi di wilayah kabupaten Pacitan Mewujudkan kelancaran jaringan transportasi dan program Meningkatkan kemampuan SDM yang proporsional cukup luas JLS Meningkatkan sarana dan prasarana lalu lintas dan Adanya dukungan stacke holder (Organda, BPTD, Meningkatkan pelayanan publik yang berorientasi pada angkutan jalan serta pelayanan publik Paguyuban dll) ketepatan, kecepatan dan kepuasan masyarakat dengan Meningkatkan sistem pelayanan dan administrasi yang Adanya program jalur lintas selatan (JLS) pelayanan berbasis Information Tecnology (IT) berbasis Information Tecnology (IT) Adanya dukungan dari APBD II,APBD I dan APBN Meningkatkan kerjasama dengan stacke holder yang Berkembangnya pusat perekoniman di wilayah berkesinambungan Berkembangnya jumlah kendaraan sehingga meningkatkan PAD Adanya perintisan transportasi laut dan udara. Threat/Ancaman(T) ST WT

86 Kondisi geografis yang bergunung-gunung sehingga sistem Meningkatkan kesadaran dan peran serta masyarakat Efisiensi dalam penganggaran transportasi tidak efektif dan efisien bidang lalu lintas dan angkutan jalan Mengoptimalkan sarana dan prasarana yang ada Rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengujuan Meningkatkan pembinaan dan penertiban lalu lintas dan Mengoptimalkan SDM yang ada kendaraan bermotor, perijinan angkutan dan ketertiban lalu angkutan jalan lintas. Sering terjadinya kecelakaan lalu lintas Kemacetan lalu lintas di pasar tumpah dan tanah longsor Meningkatnya jumlah kendaraan Sumber:Hasil Analisa Dishubkominfo Kab. Pacitan (2015)

87 BAB III ISU ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD Permasalahan Bidang Perhubungan Beberapa permasalahan yang terkait dengan bidang Perhubungan sebagai berikut: 1. Kebutuhan sarana dan prasarana transportasi belum memadahi 2. Tingginya tingkat kecelakaan di jalan raya 3. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengujian kendaraan bermotor, perijinan angkutan dan ketertiban lalu lintas. 4. Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor 3.2. Telaahan Visi, Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Penyusunan Rencana Strategis SKPD sangat dipengaruhi dan merupakan penjabaran yang lebih detail dari perencanaan pembangunan daerah Kabupaten Pacitan sehingga semua langkah-langkah yang disusun dalam Renstra Dinas Perhubungan sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Pacitan Tahun Visi Kabupaten Pacitan: TERWUJUDNYA MASYARAKAT PACITAN YANG SEJAHTERA Misi Kabupaten Pacitan: Sesuai dengan visi Terwujudnya Masyarakat Pacitan Yang Sejahtera, maka ditetapkan misi pembangunan Kabupaten Pacitan sebagai upaya yang ditempuh dalam mewujudkan visi, sebagaimana berikut : Misi 1 : Profesionalisme birokrasi dalam rangka meningkatkan pelayanan prima dan mewujudkan tata pemerintahan yang baik. Misi 2 Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Misi 3 : Meningkatkan akses dan kualitas pendidikan masyarakat. 79

88 Misi 4 : Misi 5 : Meningkatkan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi yang bertumpu pada potensi unggulan Pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar Misi 6 : Pengembangan tatanan kehidupan masyarakat yang berbudaya, berkepribadian dan memiliki keimanan serta memantapkan kerukunan umat beragama Telaahan terhadap visi, misi dan program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah memberikan gambaran peran serta dan keterlibatan langsung Dinas Perhubungan. Hal ini ditunjukkan melalui: a. Pernyataan misi ke 2: Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pada misi kedua ini, Dinas Perhubungan berperan dalam kemudahan aksebilitas mayarakat dan pengendalian terhadap polusi melalui pengawasan emisi gas buang kendaraan serta informasi kepada masyarakat. b. Pernyataan misi ke 3: Meningkatkan akses dan kualitas pendidikan masyarakat. Pada misi ketiga ini, Dinas Perhubungan berperan dalam penyediaan angkutan dan sarana keselamatan sekolah serta layanan informasi. c. Pernyataan misi ke 4: Meningkatkan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi yang bertumpu pada potensi unggulan. Pada misi keempat ini Dinas Perhubungan berperan dalam penyediaan angkutan yang mampu mengakses barang dan orang serta informasi di seluruh wilayah Kabupaten Pacitan. d. Pernyataan misi ke 5: Pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar. Pada misi ini terlihat jelas peran serta Dinas Perhubungan dalam memberikan pelayanan berupa pembangunan, pemeliharaan dan pengendalian sarana dan prasarana perhubungan komunikasi dan informatika. Selain telaahan terhadap visi dan misi Kepala Daerah terpilih yang telah 80

89 diuraikan di atas, Dinas Perhubungan juga memiliki keterkaitan langsung dalam menunjang pelaksanaan pembangunan dalam bentuk programprogram pembangunan, sebagai berikut: a. Program pembangunan prasarana fasilitas perhubungan b. Program rehabilitasi dan pemeliharaan prasarana dan fasilitas LLAJ c. Program peningkatan pelayanan angkutan d. Program pembangunan sarana dan prasarana perhubungan e. Program pengendaliandan pengamanan lalu lintas f. Program peningkatan kelayakan pengoperasian kendaraan bermotor 3.3 Telaahan Renstra Kementerian/Lembaga Renstra Kementerian Perhubungan Kebijakan Umum Kementerian Perhubungan dalam pembangunan dan penyelenggaraan transportasi ( ) meliputi hal-hal sebagai berikut: 1. Menurunnya angka kecelakaan transportasi; Strategi: Peningkatan efektivitas pengawasan terhadap pemenuhan standar Keselamatan transportasi; Peningkatan peran serta masyarakat dan badan usaha; Peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana keselamatan transportasi; Penguatan kelembagaan. 2. Menurunnya jumlah gangguan keamanan dalam penyelenggaraan transportasi; Strategi: Peningkatan efektivitas pengawasan terhadap pemenuhan standar keamanan transportasi; Peningkatankoordinasidalamrangkamencegahterjadinyatindakanmelaw an hukum di sektor transportasi. 3. Meningkatnya kinerja pelayanan sarana dan prasarana transportasi; Strategi: Peningkatan kehandalan sarana dan prasarana transportasi serta 81

90 penataan Jaringan / rute; Penyusunan pedoman standar pelayanan sarana da prasarana transportasi; Implementasi standar pelayanan public padasarana dan prasarana transportasi. 4. Terpenuhinya SDM Transportasi dalam jumlah dan kompetensi sesuai dengan kebutuhan; Strategi: Menyusun Man Power Planning SDM transpotasi; Menyusun Training Needs Analysis (TNA) SDM transportasi; Mengembangkan kapasitas diklat SDM transportasi; Menata regulasi penyelenggaraan diklat SDM transportasi; Meningkatkan tata kelola diklat dan kualitas lulusan; Meningkatkan penyerapan lulusan diklat transportasi. 5. Meningkatnyakualitaspenelitiansesuaidengankebutuhan; Strategi: Peningkatankuantitasdankualitassumberdayapeneliti Peningkatan sinergitas antara Badan Litbang Perhubungan dengan pengguna jasapenelitian; Peningkatankerjasamapenelitianantarlembagariset& industry; Penyempurnaan regulasi dan kelembagaan untuk penguatan peran Badan Litbang Perhubungan. 6. Meningkatnya kinerja capaian dalam mewujudka good governance; Strategi: Penuntasan agenda reformasi birokrasi; Integrasi system manajemen dan pelaporan kinerja dan keuangan; Penyederhaan perizinan dan penerapane-government di lingkungan Kemenhub. 7. Meningkatnya penetapan regulasi dalam implementasi kebijakan bidang perhubungan; Strategi: Pemetaanarah/kebutuhan kerangka regulasi; Peningkatan koordinasi dengan instansi lainnya; 82

91 Percepatanpenyusunanperaturanperundang-undangan; Percepatan pelaksanaan penyederhanaan dan harmonisasi regulasi dan evaluasi peraturan perundang-undangan yang tumpang tindih. 8. Menurunnya emisi gas rumah kaca (GRK) dan meningkatnya penerapan teknologi ramah lingkungan pada sektor transportasi; Strategi: Pembangunan sarana dan prasarana transportasi yang ramah lingkungan dan tahan terhadap dampak perubahan iklim; Pemanfaatan bahan bakar yang berbasis energi baru terbarukan; Penerapan system manajemen transportasi dalam rangka peningkatan penggunaan angkutan umum. 9. Meningkatnya kualitas kinerja pengawasan dalam rangka mewujudkan Clean Governance; Strategi: Mengoptimalkan peran InspektoratJ enderal sebagai consultant dan quality assurance; Peningkatan kualitas hasil pengawasan serta SDM pengawasan. 10. Meningkatnya kapasitas sarana dan prasarana transportasi dan keterpaduan system transportasi antarmoda/multimoda; Strategi: Peningkatan kualitas perencanaan pembangunan sarana dan prasarana transportasi; Pembangunan sarana dan prasarana transportasi yang berdasarkan outcomes; Pembangunan jaringan pelayanan yang terintegrasi antarmoda; Mendorong pembangunan infrastruktur transportasi melalui kerjasama Pemerintah dan badan usaha serta melalui pembiayaan swasta; Penyiapan konsep dan implementasi angkutan laut dari barat ke timur Indonesia. 11. Meningkatnya layanan transportasi di daerah rawan bencana, perbatasan, terluar, terpencil dan khususnya di wilayah timur Indonesia (WTI). Strategi: Mempercepat pembangunan infrastruktur transportasi guna memperkecil 83

92 kesenjangan antar wilayah timur dan barat; Meningkatkankapasitassaranadanprasaranatransportasi; Penyediaansaranaangkutankeperintisandi wilayahperbatasan, terluar, terpencildanrawanbencana Renstra Dinas Perhubungan dan LLAJ Popinsi Jawa timur A. PROGRAM 1. Program Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Berdasarkan sasaran dan arah kebijakan tersebut di atas, maka langkahlangkah yang akan dilaksanakan dijabarkan ke dalam program-program pembangunan, yang dibagi menjadi dua kategori, yaitu program prioritas dan penunjang, disertai kegiatan-kegiatan pokok yang akan dijalankan. a) Program Prioritas Utama Program Pembangunan, Pemeliharaan dan Perbaikan Prasarana dan Fasilitas LLAJ Program ini bertujuan meningkatkan pembangunan, pemeliharaan, dan perbaikan prasarana dan saran lalu lintas jalan raya untuk mendukung tercapainya system transportasi jalan yang memadai. Kegiatan pokok yang dilaksanakan dititikberatkan, antara lain, pada : (1) Penataan system transportasi wilayah di Jawa Timur. (2) Peningkatan keselamatan transportasi jalan. (3) Peningkatan pelayanan dan kelancaran angkutan umum dan barang, serta penanggulangan muatan lebih melalui penindakan secara tegas. (4) Peningkatan dan pengembangan fasilitas jalan, serta efektivitas peran dan fungsi jembatan timbang b) Pembangunan transportasi berkelanjutan, terutama di perkotaan. Program Penunjang Program Peningkatan Aksesibilitas Pelayanan Angkutan LLAJ Program ini bertujuan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan angkutan lalu lintas jalan raya, yang aman, murah dan terjangkau. Kegiatan pokok yang dilaksanakan dititikberatkan, antara lain, pada: (1) Pembangunan transportasi umum perkotaan, dan juga pedesaan, yang terpadu dan terjangkau, berbasis masyarakat dan wilayah. 84

93 (2) Peningkatan kesadaran masyarakat untuk menggunakan angkutan umum. (3) Pengembangan keterpaduan transportasi dan tata guna lahan dan demand management. (4) Fasilitasi pengembangan angkutan massal berbasis jalan dan rel di perkotaan yang padat (Kota Metropolitan). (5) Penyediaan pelayanan angkutan umum perintis, terutama bagi masyarakat di wilayah yang masih terisolasi dan daerah terpencil (6) Pengembangan system kerja sama swasta dan koperasi dalam pelayanan angkutan perintis (pengadaan sarana dan operasi), dan angkutan perkotaan dan pedesaan yang berbasis masyarakat dan berwawasan lingkungan c) Penataan untuk menciptakan kemudahan akses transportasi antar-moda ke pelabuhan bandara, terminal dan stasiun. 2. Program Transportasi Laut Transportasi laut mempunyai peran sangat penting bagi perekonomian Jawa Timur. Hampir 99% kegiatan ekspor-impor diangkut menggunakan transportasi laut. Transportasi laut juga sangat penting bagi pergerakan perdagangan antar pulau (dalam negeri) yang dilayani armada pelayaran nasional. Berdasarkan sasaran dan arah kebijakan tersebut diatas, maka langkah-langkah yang akan dilaksanakan dijabarkan kedalam program pembangunan prioritas dan penunjang, disertai kegiatan-kegiatan pokok yang akan dijalankan a) Program Prioritas Program Pembangunan dan Perbaikan Prasarana dan Fasilitas Transportasi Laut Progam ini bertujuan meningkatkan kualitas dan kuantitsa prasarana transportasi laut untuk mendukung pengembangan perekonomian Jawa Timur. Kegiatan pokok yang dilaksanakan dititik beratkan, antara lain pada: (1) Pembangunan, pemeliharaan dan perbaikan prasarana transportasi laut. (2) Pengembangan pembangunan terminal peti kemas (3) Peningkatan pelayanan transportasi laut bagi wilayah kepulauan 85

94 (4) Pemeliharaan dan Perbaikan sarana bantu navigasi pelayaran (SNBP) (5) Pengembangan usaha di bidang pelabuhan melalui kerjasama pihak swasta, out-sourching maupun public private partnership, pada lokasi pelabuhan potensial sebagai akses sentra produksi dan pemasaran komoditas antar-wilayah, termasuk untuk penumpang. b) Program Penunjang Program Pembangunan dan Peningkatan Prasarana Transportasi Laut Program ini bertujuan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan transportasi laut yang nyaman, murah dan terjangkau. Kegiatan pokok yang dilaksanakan dititikberatkan, antara lain, pada (1) Fasilitasi pembangunan pelabuhan laut di dearah (2) Fasilitasi pengopersian kapal laut perintis 3. Program Transportasi Udara Transportasi udara memiliki keunggulan kecepatan dibanding moda transportasi lainnya, menjadi sarana transportasi bagi wisatawan, pengusaha, dan masyarakat. Transportasi udara di Jawa Timur perlu dikelola sesuai standart keselamatan penerbangan internasional dan interkoneksi dengan moda lainnya. Wisatawan mancanegara yang datang Jawa Timur menggunakan transportasi udara, karena itu untuk menarik wisatawan mancanegara, selain promosi tempat daerah tujuan wisata dan jaminan keamanan di daerah tersebut, diperlukan adanya jaminan keselamatan penerbangan di wilayah udara Indonesia. Jaminan itu dapat diwujudkan, baik oleh lembaga pemerintah pemegang otoritas pengelola transportasi udara maupun operator bandara dan perusahaan penerbangan dengan memenuhi standar keselamatan penerbangan Internasional yang telah ditetapkan oleh ICAO (Internasional Civil Aviation Organization) Berdasarkan sasaran dan arah kebijakan tersebut di atas, maka langkahlangkah yang akan dilaksanakan dijabarkan kedalam program pembangunan prioritas dan penunjang, disertai kegiatan-kegiatan pokok yang akan di jalankan. a) Program Prioritas Program Pembangunan dan Perbaikan Prasarana 86

95 dan Fasilitas Transportasi Udara Progam ini bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan transportasi udara di bandara yang sudah ada, serta mengembangkan pembangunan prasarana transportasi udara di daerah-daerah potensial strategis untuk mendukung pengembangan perekonomian Jawa Timur. Kegiatan pokok yang dilaksanakan dititik beratkan, antara lain pada : (1) Peningkatan dan pengembangan kualitas pelayanan transportasi udara di Bandara Juanda, baik terminal internasional maupun domestic. (2) Pemeliharaan, dan perbaikan sarana prasarana transportasi udara di Bandara juanda (3) Fasilitasi revitalisasi lapangan udara Trunojoyo, Sumenep. (4) Penyelesaian pembangunan Lapangan udara perintis di Kabupaten Pacitan dan Pulau Bawean, Kebupaten Gresik. (5) Peningkatan sarana dan prasarana Bandara Militer Abdulrahman Saleh dan Iswahyudi untuk melayani penerbangan sipil (6) Fasilitasi pembangunan lapangan udara di wilayah kabupaten / kota yang strategis dan potensial b) Program Penunjang Program Pembangunan dan Peningkatan Prasarana Transportasi Udara Program ini bertujuan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan transportasi laut yang nyaman, murah dan terjangkau Kegiatan pokok yang dilaksanakan dititikberatkan, antara lain, pada: (1) Pembangunan jalan akses Bandara Abdurrahman Saleh, Malang (2) Fasilitasi pembangunan Bendara Blimbingsari, Banyuwangi. (3) Fasilitasi pembangunan Bandara Notohadinegoro, Jember. B. Prioritas pembangunan Proses Pembangunan pada dasarnya untuk mencapai berbagai tujuan untuk seluruh lapisan masyarakat, namun demikian, mengingat keterbatasan sumber daya yang ada, maka rencana pembangunan tidak dapat dilaksanakan secara serentak, sehingga diperlukan adanya prioritas pelaksanaan pembangunan. Penentuan prioritas pembangunan didasarkan 87

96 pada pemikiran berikut ini: 1. Tingkat permasalahan yang ada di lapangan 2. Tingkat manfaat terhadap kebutuhan masyarakat 3. Multiplier effect terhadap kegiatan pembangunan 4. Efisiensi dan efektifitas kegiatan pembangunan 5. Kebijakan dan program strategis skala makro regional atau nasional 6. Ketersediaan sumber daya, baik sumber dana, Sumber Daya Manusia, teknologi maupun sumber daya pembangunan lainnya. Berdasarkan kriteria tersebut, maka prioritas pembangunan Bidang Perhubungan dan Postel adalah sebagai berikut : 1. Prioritas pembangunan sangat mendesak a. Pembangunan dan Penataan Angkutan Umum Perkotaan. b. Peningkatan standard an kualitas pelayanan yang menyangkut aspek keamanan dan keselamatan, sehingga bisa menekan angka kecelakaan. c. Pembangunan infrastruktur perhubungan dan LLAJ pada wilayah kepulauan dan wilayah selatan Jawa Timur. d. Peningkatan Kapasitas pelabuhan Tanjung Perak untuk jangka Pendek dan Pembangunan pelabuhan Peti Kemas di Tanjung Bulu Kab. Bangkalan e. Peningkatan KA Kommuter pada wilayah Gerbangkertosusilo dan Malang Raya serta angkutan massal lintas Tengah 2. Prioritas pembangunan strategis a. Perencanaan penanganan keselamatan transportasi untuk mengurangi kecelakaan dengan program Road Map To Zero Accident. b. Pembangunan dan Penataan Angkutan Umum Massal Perkotaan. c. Perencanaan Penanganan Muatan Lebih Secara Komprehenship dalam Rangka Mendukung program Road Map To Zero Overloading. d. Pembangunan Bandara Perintis dan Bandara Nasional e. Penataan dan Pemabangunan Sistem Kepulauan Nasional, Regional dan Lokal. f. Perencanaan Pembangunan Pelabuhan Laut Internasional. 88

97 g. Perencanaan Pembangunan Bandara Internasional h. Perencanaan pembangunan dan pelayanan prioritas di wilayah kepulauan dan selatan Jawa Timur. 3. Prioritas pembangunan penunjang a. Pengembangan teknologi Transportasi untuk meningkatkan koordinasi lintas stakeholders, manajemen data dan informasi, baik skala regional, Nasional maupun global b. Peningkatan koordinasi lintas stake holders, koordinasi pembangunan lintas pemerintah (pusat, propinsi, kabupaten dan kota), asosiasi pengusaha bidang perhubungan dan postel, dunia usaha masyarakat c. Peningkatan pelayanan terpadu bidang perhubungan dan postel dalam memberikan pelayanan dalam mendukung suksesnya penyelenggaraan hari besar dan berbagai kepentingan Nasional lainnya yaitu: - Peningkatan pelayanan umum perijinan dan non perijinan bidang perhubungan - Peningkatan koordinasi, fungsi dan peran bidang perhubungan delam penyelenggaraan Pelayanan terpadu dalam berbagai kegiatan Hari Nasional dan kepentingan Nasional Daerah - Peningkatan manajemen pembangunan Bidang Perhubungan dan Postel. - Pemantapan tugas dan optimalisasi fungsi kelembagaan - Peningkatan kualitas SDM - Peningkatan prasarana dan sarana 89

98 3.4 Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Kebijakan Tataran Transportasi Regional Jawa timur Dalam fungsi wilayah dan perkotaan Propinsi Jawa Timur, Kabupaten Pacitan merupakan bagian dari SWP Madiun dan sekitarnya. Kabupaten Pacitan memiliki rencana fungsi wilayah sebagai pemerintahan, pertanian, perkebunan, perikanan, pertambangan, pendidikan, kesehatan dan pariwisata. Berdasarkan pola pengelompokan perekonomian dan dominasi kegiatannya, dalam sistem perwilayahan Jawa Timur, terjadi pemusatan kotakota yang terlalu ke Utara. Berdasarkan kondisi ini, perlu adanya upaya untuk menyeimbangkan pertumbuhan dengan mengembangkan wilayah Selatan Jawa Timur. Kabupaten Pacitan merupakan wilayah yang harus diprioritaskan pengembangannya melalui Konsep Pengembangan Selatan-Selatan yaitu jalur Pacitan Trenggalek Tulungagung - Banyuwangi. Kedudukan Kabupaten Pacitan dalam konstelasi wilayah Koridor pantai selatan Jawa tidak lepas dari sistem kota-kota yang ada. Kota Pacitan merupakan pusat kegiatan lokal bagi daerah-daerah lain di sekitarnya. Sebagai pusat kegiatan lokal wilayah,pacitan menjadi wilayah penghubung antar kota-kota sekitar baik di wilayah Jawa Timur (Citragung) maupun Jawa Tengah dan DIY (Pawonsari). Letak Kabupaten Pacitan yang berada di wilayah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadikan peran Pacitan sebagai pintu masuk Jawa Timur di wilayah pantai selatan Jawa. Perencanaan tata ruang yang dimuat dalam dokumen RTRW Provinsi Jawa Timur yang mengatur arahan pengembangan Pacitan menempatkan wilayah ini menjadi penting di masa yang akan datang. Pengembangan koridor pantai selatan akan berdampak pada pola penggunaan lahan dan perkembangan kegiatan/aktivitas di wilayah Kabupaten Pacitan. Meningkatnya intensitas penggunaan lahan dan aktivitas perkotaan akan membangkitkan arus lalu lintas dan meningkatkan aktivitas perekonomian. Hal ini tentu saja sejak awal harus diantisipasi dan dikendalikan agar tidak berkembang secara tidak beraturan dan tidak lagi sesuai dengan dokumen tata ruang yang diatur dalam peraturan daerah Telahaan terhadap Strategi Penataan Ruang Wilayah Kabupaten Pacitan 90

99 Sebelum disusunnya strategi pengembangan Pacitan, perlu adanya suatu konsep skenario pengembangan wilayah Pacitan. Skenario ini disusun berdasarkan pertimbangan terhadap isu permasalahan serta potensi dan prospek pengembangan di wilayah Kabupaten Pacitan baik dari aspek fisik, sumber daya alam (SDA), ekonomi dan sistem prasarana wilayah. Pertimbangan yang lain yaitu terhadap tujuan-tujuan kebijakan makro dan mikro Wilayah Kabupaten Pacitan. Berdasarkan hal-hal terbut, maka pengembangan kegiatan/ekonomi di Kabupaten Pacitan yang menjadi dasar perumusan struktur ruang harus mempertimbangkan: 1. Kegiatan ekonomi yang tidak memerlukan dukungan lahan relatif luas; 2. Pengembangan lahan di wilayah Utara dan Barat hendaknya dikendalikan secara ketat karena terkait dengan fungsi sebagai kawasan perlindungan bagi wilayah bawahnya; 3. Kondisi lahan di wilayah Tengah yang rawan longsor, menyebabkan wilayah ini relatif kurang berkembang, sehingga interaksi antara wilayah Utara dan Selatan relatif rendah. 4. Wilayah Kars Pacitan Barat yang terletak di wilayah Selatan Barat merupakan kawasan Kars kelas 1, sehingga di wilayah ini tidak boleh dilakukan kegiatan pertambangan; 5. Kegiatan ekonomi diarahkan pada pemberdayaan ekonomi lokal dengan sektor pariwisata sebagai sektor penggerak di hilir yang pada akhirnya akan menarik sektor-sektor primer untuk berkembang (mis: perikanan laut, lobster, melinjo, janggelan, jeruk, batu aji, keramik dan gerabah); 6. Pelayanan fasilitas dan prasarana perkotaan hendaknya dilakukan dengan sistem banyak pusat, meskipun dengan skala yang lebih rendah; dan 7. Prioritas pengembangan ditekankan pada wilayah Selatan dengan penekanan fungsi Utama sebagai pariwisata pantai dan gua. Berdasarkan hal-hal tersebut, maka skenario pengembangan wilayah Kabupaten Pacitan adalah: wilayah berkembang sesuai kecenderungan perkembangan wilayah saat ini. Struktur perwilayahan dilakukan dengan dengan asumsi sebagai berikut: 91

100 1. Pembagian Wilayah Pembangunan lebih berorientasi pada pembagian wilayah administrasi; 2. Setiap wilayah Pembangunan terdiri dari dari empat wilayah administrasi Kecamatan; 3. Penentuan pusat dilakukan pada kecamatan yang terletak di tengahtengah, selain juga mempertimbangkan kelengkapan fasilitas perkotaan dan orde kota Berdasarkan skenario tersebut, kondisi yang diharapkan di masa datang, yaitu: Perkembangan leading sektor (dalam hal ini sektor pariwisata) yang diharapkan mampu menjadi sektor penggerak sektor-sektor lainnya, khususnya sektor pertanian (dalam arti luas) sebagai SDA yang dominan, berkembang sesuai peluang pasar dan peningkatan kualitas produk, penambahan nilai produk pada proses pengolahan. Besarnya perkembangan melalui proses peningkatan sarana prasarana dasar secara bertahap terseleksi sesuai dengan daya tenaga serta dana yang tersedia. Diperlukan prioritas kawasan andalan dengan sektor/subsektor yang diunggulkan untuk memperoleh hubungan pengaruh perkembangan kumulatif/multiplier effect yang tinggi. Harapan perkembangan tercapai melalui akselerasi pembangunan bertahap, berjalan dalam jangka menengah atau jangka panjang karena sektor yang satu menunggu hasil pembangunan sektor lain terlebih dahulu, sehingga perkembangan ekonomi wilayah berjalan relatif lambat dan lama. Untuk memenuhi skenario tersebut, maka dilakukan penetapan strategibagi tiap-tiap sektor. Penetapan serta penyusunan Strategi Perwilayahan Pembangunan Kabupaten Pacitan dilakukan berdasarkan skenario pengembangan wilayah Pacitan.Visi, misi, tujuan dan strategi disusun dengan mempertimbangkan isu permasalahan serta potensi dan prospek pengembangan di wilayah Kabupaten Pacitan baik dari aspek fisik, sumber daya alam (SDA) ekonomi serta tujuan internal Pengembangan Wilayah Kabupaten Pacitan. 92

101 Strategi yang akan dikembangkan dalam upaya penataan ruang Kabupaten Pacitan sebagaimana yang tercantum dalam RTRW Provinsi Jawa Timur, adalah : 1. Strategi pengembangan berdasarkan kebijakan makro; 2. Strategi struktur ruang wilayah Kabupaten Pacitan; 3. Strategi pola ruang wilayah Kabupaten Pacitan; 4. Strategi pengelolaan kawasan lindung dan budidaya; 5. Strategi penataan kawasan pedesaan dan perkotaan 6. Strategi penataan sistem prasarana wilayah; 7. Strategi penataan kawasan strategis; 8. Strategi penataan wilayah pesisir; dan 9. Strategi penataan ruang darat, ruang laut, dan ruang udara. 3.5 Penentuan Isu-Isu Strategis Berdasarkan identifikasi permasalahan dan telahaan dari beberapa dokumen perencanaan lainnya, maka isu-isu strategis yang ada di bidang Perhubungan Komunikasi dan Informatika sebagai berikut: Arah pengembangan transportasi Jalan Berdasarkan hasil dari penetapan tataran transportasi lokal Kabupaten pacitan ada beberapa rencana arah pengembangan transportasi jalan di Kabupaten Pacitan antara lain: 1. Pengembangan jaringan jalan Pengembangan jaringan jalan adiarahkan untuk memeberikan aksesibilitas pada wilayah selatan sebagai jaringan alternatif untuk menghindari konsentrasi diwilayah Kota (pusat). Selain pembangunan jalan lingkar juga direncanakan berbagai progam yang direncanakan secara bertahap, yaitu: a. Tahun Pelebaran jalan Donorojo-pacitan-Sudimoro menjadi 7 meter 2 lajur - Pembangunan jalan lingkar selatan kota - Pembangunan jalan lingkar utara kota menjadi 16 meter 4 lajur dan pelebaran jalan Pacitan Pringkuku menjadi 7 meter 2 lajur - Peningkatan status/fungsi dan pelebaran jalan Bandar-Jeruk menjadi 7 meter 2 lajur 93

102 - Peningkatan status/fungsi dan pelebaran ruas jalan Pacitan- Ponorogo menjadi 7 meter 2 lajur - Pelebaran jalan Donorojo-Pacitan-Sudimoro menjadi 7 meter 2 lajur - Pembangunan jalan selatan selatan menjadi 16 meter 4 lajur b. Tahun Pelebaran jalan Punung-Ploso-Tinatar-Karangede menjadi 7 meter 2 lajur - Pelebaran jalan Donorojo-Kalak-Punung-Tinatar-Jatimalang menjadi 7 meter 2 lajur - Pelebaran jalan Jeruk-Ploso-Gemaharjo-Tegalombo-Tulakan menjadi 7 meter 2 lajur - Pelebaran jalan Tulakan-Slahung menjadi 7 meter 2 lajur - Pelebaran jalan Pacitan-Tegalombo-Ponorogo menjadi 7 meter 2 lajur - Pelebaran jalan Pringkuku-Watukarung-Dadapan menjadi 7 meter 2 lajur - Pelebaran jalan Donorojo-Pacitan-Sudimoro menjadi 7 meter 2 lajur - Pelebaran jalan Jatigunung-Sidomulyo menjadi 7 meter 2 lajur 2. Pengembangan jalur lambat Non Motorized Tranportation (NMT) merupakan salah satu angkutan yang dijumpai di Pacitan, antara lain sepeda dan becak. Keberadaaannya saat ini bercampur dengan kendaraan bermotor. Untuk memperlancar lalu lintas karena bercampurnya lalu lintas kendaraaan bermotor dengan tidak bermotor dan cukup banyaknya pergerakan angkutan tidak bermotor ini, maka perlu jalur pemisah antara keduannya. 3. Pengembangan angkutan massal Rencana pengembangan angkutan massal merupakan salah satu pentahapan kebijakan Kabupaten Pacitan. Sebagai kota yang memiliki penduduk tidak lebih dari setengah juta jiwa dan bila digabungkan dengan kota-kota kecamatan sekitarnya, diperkirakan akan memiliki pergerakan mobilitas yang tinggi. Rencana pengembangan angkutan massal umum dapat dikembangkan sistem Bus Rapid Transit (BRT). Untuk pengembangan angkutan masal ini juga didukung pengembangan 94

103 angkutan feeder yang menuju kota-kota kecamatan maupun beberapa wilayah pemukiman di dalam Kota Pacitan. 4. Penyediaan Bus Sekolah Bus sekolah disediakan bagi pelajar yang lokasi antara tempat tinggal cukup jauh dari lokasi sekolahnya. Biasanya pelajar yang berada dikota-kota kecamatan sekitar Kota Pacitan yang umumnya bersekolah di Pacitan. Kalau menggunakan angkutan umum tarif cukup mahal, setidaknya penyediaan bus sekolah turut membantu meringankan beban masyarakat pinggiran kota Pacitan. 5. Bus Wisata dilokasi Wisata Untuk meningkatkan minat mengunjungi wisata dibeberapa lokasi wisata yang ada di Kabupaten Pacitan perlu dilakukan inovasi dan penyegaran. Salah satunyanya mengadakan bus khusus wisata yang hanya dioperasikan dilokasi wisata itu. 6. Kereta gantung di teluk Pacitan Untuk menambah nilai lebih dan menyenangkan pengunjung tempat wisata yang akan melihat Teluk Pacitan dari atas, perlu dibuatkan kereta gantung. Kelebihan teluk Pacitan dibandingkan dengan daerah wisata lainnya perlu mendapatkan perhatian serius dalam upaya mengenalkan obyek wisata lain di Kabupaten Pacitan. Pengadaan kereta gantung dapat melibatkan pihak swasta, tidak harus mengorbankan APBD. 7. Pengembangan Terminal Terminal merupakan simpul dalam sistem jaringan transportasi jalan yang berfungsi sebagai pelayanan umum yang memiliki fungsi tpelayanan. Adapun fungsi terminal adalah tempat naik dan tururn penumpang dan atau bongkar muat barang, untuk pengendalian lalu lintas dan angkutan umum, serta berfungsi sebagai tempat pemberhentian intra dan antar moda transportasi. Sesuai dengan fungsinya maka penyelenggaran terminal berperan menunjang tersediannya jasa transportasi yang sesuai dengan tingkat kebutuhan lalu lintas dan pelayanan angkutan yang selamat, aman, cepat, tepat, teratur dan dengan biaya yang terjangkau masyarakat. Rencana pembanguan terminal baru sudah dilakukan studi kelayakan pada tahun 2007, Pembangunan 95

104 Kontruksi tahap I tahun 2010 dan pembangunan Kontruksi Tahap II tahun 2011 oleh Direktorat Lalu Lintas Angkutan Jalan, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan. 8. Penanganan melalui manajemen lalu lintas Pengelolaan lalu lintas adalah pengaturan pergerakan orang dan barang pada jaringan jalan dengan aman dan efisien yang memperhatikan kepentingan umum melalui perencanaan dan pelaksanaan beberapa elemen manajemen lalu lintas yang terkoordinasi dengan baik. Secara umum terdapat beberapa delapan pengelolaan lalu lintas kota sebagai berikut: a. Pengaturan yang mempengaruhi waktu dan tempat pembangkit perjalanan, misalnya; pengaturan waktu jam kerja, perubahan tata guna lahan, pemunutan biaya perjalanan b. Pengetauran yang mempengaruhi pemilihan moda angkutan kota, misalnya; sistem parkir, pengaturan parkir, peningkatan angkutan umum, penyediaan fasilitas pejalan kaki dan sepeda c. Pengaturan yang mempengaruhi pemilihan rute, misalnya; pengaturan jalan akses, panduan rute d. Pembagin pemakain jalan, misalnya; jalan satu arah, jalur khusus bus, jalan/area khusus pejalan kaki, rute khusus angkutan berat e. Pengaturan pertemuan jalan, misalnya; pertemuan dengan skala prioritas, pertemuan jalan dengan lampu pengatur lalu lintas f. Pengaturan parkir, misalnya; penyediaan tempat parkir, pengaturan pemungutan biaya parkir, pemasangan informasi g. Pengaturan untuk keselamatan, misalnya: pembatasan kecepatan, pemisahan antara lajur cepat dengan lambat, penyediaan fasilitas penyeberangan, pengaturan pertemuan jalan h. Pengaturan untuk pelestarian lingkungan, misalnya; pengaturan kendaraan menerus, pembatasan kecepatan. 9. Pengoperasian bajaj Bajaj disebut dengan anngkutan jenis para transit, karena pelayanannya dapat dari pintu ke pintu, dalam KM 35 tahun 2005 disebut sebagai angkutan lingkungan. 96

105 10. Pembuatan Area Traffic Control system (ATCS) dan Transport Manajemen System (ITS) Seiring kemajuan sistem teknologi informasi, dalam upaya pelayanan lalu lintas angkutan jalan yang modern pembangunan sisten tramsportasi cerdas dan terintegrasi menjadi sebuah kebutuhan yang sangat penting. 11. Pembuatan taman lalu lintasperbaikan dan penambahan Traffic light Upaya peningkatan pengetahuan berlalu lintas sejak dini harus didukung dengan fasilitas berupa taman lalu lintas. Hal ini dimaksudkan agar perubahan perilaku berkendara dijalan raya menjadi tertib dan lancar Arah Pengembangan transportasi udara dan laut 1. Pembangunan bandar udara Rencana pembangunan bandar udara tetapi masih terganjal dengan regulasi keselamatan transportasi udara sebab lokasi yang direncakan merupakan area latih milik TNI Angkatan Udara. Lokasi direncanakan di Lingkungan Barehan, Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan/Kabupaten Pacitan. 2. Pembangunan pelabuhan laut Pembangunan pelabuhan laut di teluk Pacitan diharapkan dapat membantu pengembangan Kabupaten Pacitan dengan program minapolitan. Tahun 2011 telah dimulai pembangunan tahap I dan ditahun berikutnya diharapkan tahap berikutnya dapat dilaksanakan hingga selesai. Proses pembangunan sampai dengan Rencana Strategis Dinas Perhubungan ini disusun belum selesai. 97

106 BAB IV VISI MISI TUJUAN SASARAN STRATEGI DAN KEBIJAKAN 4.1 Visi dan Misi Kepala Daerah 1. Visi Visi pembangunan daerah Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih sebagaimana tertuang dalam RPJMD merupakan gambaran arah pembangunan pada masa hendak dicapai pada masa jabatan selama 5 (lima) tahun sesuai misi yang diemban. Berdasar pada kondisi daerah, potensi, kondisi, permasalahan, tantangan dan peluang dalam pembangunan daerah dan mengacu pada visi Kepala Daerah terpilih dalam pelaksanaan pemilihan umum Kepala Daerah, maka dalam periode , Visi Kabupaten Pacitan adalah: MAJU DAN SEJAHTERA BERSAMA RAKYAT Penjelasan untuk masing-masing kata kunci dari visi diatas adalah: Maju, memiliki makna bahwa pembangunan daerah dan masyarakat Pacitan mengarah ke depan menuju ke kondisi lebih baik, yang merupakan perwujudan sinergi semua pelaku pembangunan dengan mengoptimalkan semua potensi dan memperhatikan permasalahan yang ada. Sejahtera, mengandung makna suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial baik material maupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan dan ketentraman yang memungkinkan bagi setiap masyarakat untuk mengadakan pemenuhan kebutuhan jasmani, rohani dan sosial yang sebaik-baiknya. 2. Misi Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. Misi dapat dirumuskan menjadi alasan mengapa organisasi ada. Suatu alasan menjelaskan jati diri yang sesungguhnya dari Pemerintah Daerah. Berdasarkan pengertian diatas, maka misi Kabupaten Pacitan , sebagai berikut: 98

107 Misi Pertama Misi Kedua Misi Ketiga Misi Keempat : Membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif dan akuntabel : Meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan sosial masyarakat : Membangun perekonomian masyarakat dengan menggerakkan potensi daerah didukung ketersediaan infrastruktur yang memadai : Meningkatkan kesalehan sosial dan harmonisasi antar seluruh lapisan masyarakat 3. Tujuan dan Sasaran Perumusan tujuan dan sasaran merupakan salah satu tahap perencanaan kebijakan, yang merupakan dampak (impact) keberhasilan pembangunan daerah sesuai pencapaian berbagai program prioritas terkait. Tujuan adalah pernyataan-pernyataan tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai visi, melaksanakan misi dengan menjawab isu strategis daerah dan permasalahan pembangunan daerah. Sedangkan sasaran adalah hasil yang diharapkan dari suatu tujuan yang diformulasikan secara terukur, spesifik, mudah dicapai, rasional, untuk dapat dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan. Tujuan dan sasaran pembangunan daerah mempunyai peran penting sebagai rujukan utama dalam perencanaan pembangunan daerah secara keseluruhan. Penentuan tujuan dan sasaran adalah tahap perumusan sasaran strategis yang menunjukkan tingkat prioritas tertinggi dalam perencanaan pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya akan menjadi dasar penyusunan arsitektur kinerja pembangunan daerah secara keseluruhan. 4.2 Tujuan Sasaran Jangka Menengah Tujuan merupakan penjabaran dari misi dan didasarkan pada kunci keberhasilan yang akan dicapai selama kurun waktu 5 (lima) tahun mendatang. Adapun tujuan yang diwujudkan Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan adalah sebagai berikut: 99

108 1. Meningkatkan mutu pelayanan publik yang berorientasi pada ketepatan, kecepatan, dan kelancaran serta berbasis tecnology informasi (IT) 2. Meningkatkan ketertiban, kelancaran dan keselamatan lalu lintas dan angkutan yang berorientasi pada menurunnya angka kecelakaan. 3. Meningkatkan sarana dan prasarana bidang transportasi, komunikasi dan informatika Sasaran adalah penjabaran dari tujuan secara terukur sesuai tujuan yang hendak dicapai/dihasilkan secara nyata oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan dalam jangka waktu 5 tahun. Sarasan yang ingin dicapai adalah Meningkatnya layanan infrastruktur dasar yang menjangkau seluruh wilayah, dengan rician arah kebijakan sebagai berikut: 1. Meningkatnya mutu pelayanan publik, adapun sebagai indikatornya antara lain: a) Tercukupinya SDM secara kuantitatif dan kualitatif; b) Ketepatan, kecepatan, keterbukaan dan kelancaran pelayanan publik; c) Terwujudnya sistim pelayanan yang berbasis tekhnologi informasi. 2. Meningkatnya ketertiban, kelancaran dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan, dengan indikator: a) Terlaksananya operasi penertiban, kelancaran dan keselamatan lalu lintas dan angkutan; b) Terlaksananya koordinasi penanganan kecelakaan lalu lintas yang efektif dan efisien; c) Terbinanya pengusaha dan pengemudi angkutan umum; d) Terlaksananya sosialisasi tertib lalu lintas dan angkutan terhadap pelajar / anak sekolah. e) Terlaksananya pengujian kendaraan bermotor secara berkala. f) Optimalisasi peran BPTD, ORGANDA dan Paguyuban Angkutan Umum. 3. Meningkatnya sarana, prasarana transportasi, dengan indikator antara lain: a) Terpenuhinya sarana perlengkapan jalan 100

109 b) Terpenuhinya dan terpeliharanya kebutuhan fasilitas utama dan penunjang terminal c) Terpenuhinya jumlah armada transportasi yang memenuhi persyaratan d) Terpenuhinya sarana dan prasarana uji kendaraan bermotor. e) Terpenuhinya data dan sarana pelayanan publik 101

110 VISI Tabel IV.1Keterkaitan (interelasi) Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Rencana Strategis Tahun Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan : Menjadikan Transportasi, Komunikasi dan Informatika sebagai penunjang, penggerak dan pendorong pembangunan daerah yang maju, adil, sejahtera dan berbudaya. Misi Pertama : Membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif dan akuntabel Misi Kedua : Meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan sosial masyarakat Misi Ketiga : Membangun perekonomian masyarakat dengan menggerakkan potensi daerah didukung ketersediaan infrastruktur yang memadai Misi Keempat : Meningkatkan kesalehan sosial dan harmonisasi antar seluruh lapisan masyarakat No. Tujuan Sasaran Indikator sasaran Tahun Target Kinerja Pada Tahun dasar I II III IV V Meningkatnya sarana dan prasarana serta Meningkatnya layanan infrastruktur dasar % Penerapan norma keselamatan bidang pendukung yang menjangkau perhubungan keselamatan dan seluruh wilayah 33,9% 43,5% 53,2% 63,0% 73,1% 83,4% keamanan pelayanan transportasi % prasarana dan fasilitas perhubungan dalam kondisi baik 31,7% 50% 55,8% 61,4% 66,7% 71,7%

111 Sumber: Hasil Analisa Dishubkominfo Kab. Pacitan (2016) % Angkutan laik jalan (lulus uji) % pemenuhan sarana dan prasarana perhubungan % tersedianya sarana pengendali dan pengamanan lalu lintas 39,4% 39,5% 39,6% 39,7% 39,7% 39,6% 36,8% 43,5% 47,8% 52,1% 56,4% 60,7% 64,6% 70% 76,1% 82,4% 83,8% 95,2%

112 4.3 Strategi Kebijakan SKPD Faktor kunci keberhasilan adalah faktor yang berkaitan dan sangat berpengaruh secara luas dalam pencapaian tujuan dan misi organisasi sehingga lebih memfokuskan strategis organisasi secara efektif dan efisien. Faktor kunci ini sangat dipengaruhi oleh bagaimana stake holders menerima kesuksesan maupun kegagalan dalam pencapaian misi dan tujuan organisasi tersebut. Faktor kunci keberhasilan memungkinkan suatu organisasi untuk mengembangkan suatu rencana strategis yang lebih mudah dalam pengkomunikasian, pensosialisasian, penerapan, dan melaksanakan serta pengevaluasiannya. Adapun faktor kunci keberhasilan Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan adalah: a. Peningkatan mutu pelayanan publik yang berorientasi pada ketepatan, kecepatan, dan kelancaran serta berbasis tecnology Informasi (IT) b. Peningkatan dan pengoptimalan sarana dan prasarana transportasi serta sarana pelayanan publik c. Meningkatkan kemampuan dan memberdayakan SDM yang proporsional d. Meningkatkan hubungan dan kerjasama dengan masyarakat maupun stacke holder yang berkesinambungan dalam bidang transportasi e. Meningkatkan pembinaan dan penertiban lalu lintas dan angkutan untuk mewujudkan kelancaran jaringan transportasi f. Efisiensi dalam penggunaan anggaran 104

113 BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF Rencana Program dan Kegiatan adalah cara untuk melaksanakan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan serta upaya yang dilakukan untuk mengetahui capaian keberhasilan sasaran dan tujuan. Sedangkan Program dimaksudkan sebagai kumpulan kegiatan yang sistematis dan terpadu untuk mendapatkan hasil yang dilaksanakan SKPD guna mencapai sasaran tertentu. Dengan adanya program dan kegiatan diharapkan pula dapat menyelesaikan permasalahan permasalahan yang dihadapi. Program dan Kegiatan Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan yang direncanakan untuk Periode Tahun meliputi: 1. Pelayanan Administrasi Perkantoran Indikator hasil (outcome): Tertib pengelolaan administrasi umum perkantoran, program ini didukung dengan kegiatan: a) Peningkatan pengelolaan administrasi perkantoran Indikator keluaran (output): jumlah dan jenis administrasi perkantoran yang dikelola dan ditingkatkan kualitasnya 2. Program pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan Indikator hasil (outcome): Terpenuhinya sarana dan prasarana perhubungan, program ini didukung dengan kegiatan: a) Perencanaan pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan b) Penyusunan kebijakan norma standar dan prosedur bidang perhubungan c) Koordinasi dalam pembangunanprasarana dan fasilitas perhubungan d) Sosialisasi kebijakan perhubungan e) Pembangunan sarana dan prasarana jembatan timbang f) Peningkatan pengelolaan terminal angkutan sungai, danau dan 105

114 penyeberangan g) Peningkatan pengelolaan terminal angkutan darat h) Monitoring evaluasi dan pelaporan i) Intensifikasi PAD bidang perhubungan j) Pembinaan dan inventarisasi kapal 3. Rehabilitasi dan pemeliharaan prasarana dan fasilitas LLAJ Indikator hasil (outcome): Berfungsinya prasarana dan faslitas LLAJ dengan baik, program ini didukung dengan kegiatan: a) Rehabilitasi/pemeliharaan sarana alat pengujian kendaraan bermotor b) Rehablitasi/pemeliharaan prasarana balai pengujian kendaraan bermotor c) Rehabilitasi/Pemeliharaan sarana dan prasarana jembatan timbang d) Rehailitasi/pemeliharaan terminal/pelabuhan e) Pemeliharan traffic light f) Rehabilitasi/pemeliharaan fasilitas perparkiran 4. Peningkatan pelayanan angkutan Indikator hasil (outcome) Meningkatnya pelayanan angkutan orang, barang dan khusus, program ini disukung dengan kegiatan: a) Penyuluhan bagi para sopir/juru mudi untuk peningkatan keselamatan penumpang b) Peningkatan disiplin masyarakat menggunakan angkutan c) Temu wicara pengelolaan angkutan umum guna meningkatkan keselamatan penumpang d) Uji kelayakan sarana transportasi guna keselamatan penumpang e) Pengendalian disiplin pengoperasian angkutan umum di jalan raya f) Penciptaan keamanan dan kenyamanan penumpang di lingkungan terminal g) Peralatan kemanan dalam keadaan darurat dan perlengkapan pertolongan pertama h) Penataan tempat-tempat pemberhentian angkutan umum i) Penciptaan disiplin dan pemeliharaan kebersihan dilingkungan terminal j) Penciptaan pelayanan cepat, tepat mudah dan mudah 106

115 k) Pengumpulan dan analisa data base pelayanan umum l) Pengembangan sarana dan prasarana pelayanan jasa angkutan m) Fasilitasi perijinan di bidang perhubungan n) Sosialisasi penyuluhan ketertiban lalu lintas o) Pemilihan dan pemberian penghargaan sopir/juru mudi (awak angkutan umum teladan) p) Koordinasi dalam peningkatan pelayanan angkutan q) Pembinaan usaha perbengkelan kendaraan bermotor r) Pengumpulan data base bidang perhubungan 5. Program pembangunan sarana dan prasarana perhubungan Indikator hasil (out come): Terpenuhinya sarana dan prasarana perhubungan, didukung dengan kegiatan: a) Pembangunan gedung terminal b) Pembangunan halte bus, taxi gedung terminal c) Pembangunan jembatan penyeberangan gedung terminal d) Pengembangan sarana terminal angkutan darat e) Pengembangan pelayanan perhubungan laut 6. Program pengendalian dan pengamanan lalu lintas Indikator hasil (outcome): Terpenuhinya sarana pegendali dan pengaman lalu lintas, program ini didukung kegiatan: a) Pengadaan rambu rambu lalu lintas b) Pengadaan marka jalan c) Pengdaan pagar pengaman jalan d) Pengadaan sarana pengendali dan pengaman lalu lintas e) Pengumpulan data base kecelakaan lalu lintas f) Pengadaan garis kejut g) Pengadaan alat pengujian kendaraan bermotor h) Pengendalian dan penanggulangan kecelakaan lalu lintas 7. Program peningkatan kelaikan pengoperasian kendaraan bermotor Indikator hasil (outcome) Meningkatnya pelayanan pengujian kendaraan bermotor, 107

116 a) Pembangunan balai pengujian kendaraan bermotor b) Pengadaan alat pengujian kendaraan c) Pelaksanaan uji petik kendaraan bermotor Penetapan indikator kinerja bertujuan untuk memberikan gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian misi dan visi dinas pada kurun waktu 5 (lima) tahun. Hal ini ditunjukan dari akumulasi pencapaian indikator outcome program setiap tahun atau indikator capaian yang bersifat mandiri setiap tahun sehingga kondisi kinerja yang diinginkan pada akhir periode rencana strategis dapat dicapai. Target masing-masing kegiatan disajikan pada tabel VI. 108

117 Tabel V.1Penetapan Target Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Yang Dilaksanakan Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan Kondisi Kinerja Kondisi Kinerja No. Bidang Urusan/Program/ Indikator Kinerja pada awal periode Renstra Target Capaian Setiap Tahun pada akhir periode Renstra (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 1 Urusan Perhubungan 1.1 Program Pelayanan Administrasi Perkantoran tertib pengelolaan administrasi perkantoran Program pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan % Penerapan Norma standar kebijakan bidang perhubungan 33,9% 14% 29% 43% 57% 71% Program Rehabilitasi dan pemeliharaan prasarana dan fasilitas LLAJ % Prasarana dan fasilitas perhubungan dalam kondisi baik 31,7% 50,0% 55,8% 61,4% 66,7% 71,7% 71,7% 1.4 Program Peningkatan Pelayanan angkutan % angkutan laik jalan 39,4% 39,5% 39,6% 39,7% 39,7% 39,6% 39,6% 1.5 Program Pembangunan sarana dan prasarana perhubungan % pemenuhan sarana dan prasarana perhubungan 36,8% 43,5% 47,8% 52,1% 56,4% 60,7% 60,7% 1.6 Program Pengendalian dan Pengamanan lalu lintas

118 Kondisi Kinerja Kondisi Kinerja No. Bidang Urusan/Program/ Indikator Kinerja pada awal periode Renstra Target Capaian Setiap Tahun pada akhir periode Renstra (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Tersedianya fasilitas perlngkapan jalan (rambu, marka dan guardrail) pada jalan kabupaten Sumber: Hasil Analisa Dishubkominfo Kab. Pacitan (2016) 64,6% 70,0% 76,1% 82,4% 88,8% 95,2% 95,2%

119 Rencana Program, Kegiatan, Indikator Kinerja, Kelompok Sasaran, dan Pendanaan Indikatif Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan No Bidang Urusan Pemerintahan Kondisi Kinerja Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kondisi Kinerja pada akhir Indikator Kinerja Program dan Program Prioritas Awal RPJMD periode RPJMD (outcome) Pembangunan (2015) target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp PROGRAM PADA SETIAP SKPD 1.1 Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 1.2 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Tingkat pemenuhan kebutuhan dasar operasional SKPD Tingkat pemenuhan kebutuhan dan pemeliharaan sarana prasarana kerja sesuai standar daerah Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur 1.4 Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan Tingkat disiplin aparatur Hasil nilai Evaluasi SAKIP SKPD CC > B > B > B > B > B > B PERHUBUNGAN 2.1 Pembangunan prasarana dan fasilitas Perhubungan 2.2 Rehabilitasi dan pemeliharaan prarsarana LLAJ Persentase penerapan norma keselamatan bidang perhubungan % prasrana dan fasilitas perhubungan dalam kondisi baik 33,90% 43% ,20% ,00% ,10% ,40% % % 50% % % % % % Peningkatan Pelayanan Angkutan % Angkutan laik jalan (lulus uji) 39% 40% % % % % % Pembangunan sarana dan prasarana Perhubungan 2.4 Pengendalian dan Pengamanan lalu lintas % pemenuhan sarana dan prasarana perhubungan % tersedianya sarana pengendali dan pengamanan lalu lintas 37% 43% % % % % % % 70% % % % % % Jumlah Sumber : Hasil Analisa Dishubkomifo Kabupaten Pacitan (2016)

120

121 BAB 7 PENUTUP Rencana Strategis Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan tahun merupakan arah program pembangunan yang hendak dicapai dalam kurun waktu 5 (lima) tahun yang akan datang ( ). Penyusunan Rencana Strategis Tahun (Renstra ) ini mempertimbangkan hasil dan konsepsi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun guna kesinambungan pelaksanaan pembangunan Kabupaten Pacitan di waktu yang akan datang. Untuk mencapai keterpaduan dan sinkronisasi perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian kegiatan yang telah diprogramkan dapat dilakukan melalui regulasi, forum koordinasi dan musyawarah rencana pembangunan. Dalam pelaksanaannya Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan wajib menerapkan prinsipprinsip tata kelola pemerintahan yang baik antara lain; efisiensi, efektivitas, transparansi, akuntabilitas dan partisipasi. Hal tersebut dalam rangka melaksanakan kegiatan pencapaian visi, misi dan arah pembangunan yang tertuang dalam Renstra Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan. Renstra tahun ini akan dijabarkan ke dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT) Dinas Perhubungan sebagai dokumen perencanaan daerah untuk kurun waktu 1 (satu) tahun. Selanjutnya dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan program tahunan akan dievaluasi sebagai perwujudan laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Dan diharapkan kualitas serta kuantitas kinerja yang telah ditetapkan sesuai indikatornya dapat terukur. 113

122 114

RENCANA STRATEGIS

RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS 2016-2021 DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN PACITAN 2017 Dinas Perhubungan Kabupaten Pacitan ii PENYUSUN RENCANA STRATEGIS PERANGKAT DAERAH Rencana Strategis 2016-2021 Dinas Perhubungan ini

Lebih terperinci

BUPATI PACITAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATIPACITAN NOMOR 18 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI PACITAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATIPACITAN NOMOR 18 TAHUN 2015 TENTANG BUPATI PACITAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATIPACITAN NOMOR 18 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN RINCIAN DANA DESA SETIAP DESA DI KABUPATEN PACITAN TAHUN ANGGARAN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BUPATI PACITAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI PACITAN NOHOR 6 TAHUN 2015 TENTANG BESARAN DAN TATA CARA PENCAIRAN ALOKASI DANA DESA

BUPATI PACITAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI PACITAN NOHOR 6 TAHUN 2015 TENTANG BESARAN DAN TATA CARA PENCAIRAN ALOKASI DANA DESA BUPATI PACITAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI PACITAN NOHOR 6 TAHUN 2015 TENTANG BESARAN DAN TATA CARA PENCAIRAN ALOKASI DANA DESA TAHUN ANGGARAN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG BIAHA ESA BUPATI PACITAN,

Lebih terperinci

BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI LUMAJANG NOMOR 75 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA UNSUR ORGANISASI DINAS PERHUBUNGAN

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA UNSUR ORGANISASI DINAS PERHUBUNGAN BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA UNSUR ORGANISASI DINAS PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI CIAMIS, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI PACITAN PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI PACITAN PROVINSI JAWA TIMUR BUPATI PACITAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN DESA DI KABUPATEN PACITAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAMA ESA BUPATI PACITAN, Menimbang: bahwa guna

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 27 TAHUN 2007

BERITA DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 27 TAHUN 2007 BERITA DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 27 TAHUN 2007 PERATURAN BUPATI PACITAN NOMOR 42 TAHUN 2007 TENTANG URAIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN PACITAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 37 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

SALINAN. Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 114, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5887);

SALINAN. Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 114, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5887); SALINAN BUPATI BULUNGAN PROPINSI KALIMANTAN UTARA PERATURAN BUPATI BULUNGAN NOMOR 48 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN BULUNGAN

Lebih terperinci

-2- Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679); 6. Undang-Un

-2- Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679); 6. Undang-Un pas GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 78 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BUPATI CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH

BUPATI CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH BUPATI CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI CILACAP NOMOR 94 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN CILACAP DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

- 1 - BUPATI KEPULAUAN SANGIHE PROVINSI SULAWESI UTARA PERATURAN BUPATI KEPULAUAN SANGIHE NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG

- 1 - BUPATI KEPULAUAN SANGIHE PROVINSI SULAWESI UTARA PERATURAN BUPATI KEPULAUAN SANGIHE NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG - 1 - BUPATI KEPULAUAN SANGIHE PROVINSI SULAWESI UTARA PERATURAN BUPATI KEPULAUAN SANGIHE NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN

Lebih terperinci

WALIKOTA SINGKAWANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT

WALIKOTA SINGKAWANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT WALIKOTA SINGKAWANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN WALIKOTA SINGKAWANG NOMOR 65 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS POKOK DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1968 tentang Berlakunya Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1967 dan Pelaksanaan Pemerintahan di Propinsi

Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1968 tentang Berlakunya Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1967 dan Pelaksanaan Pemerintahan di Propinsi - 2-3. 4. 5. 6. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1968 tentang Berlakunya Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1967 dan Pelaksanaan Pemerintahan di Propinsi Bengkulu (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR RIAU NOMOR 77 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI RIAU

PERATURAN GUBERNUR RIAU NOMOR 77 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI RIAU PERATURAN GUBERNUR RIAU NOMOR 77 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI RIAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR RIAU, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI JEPARA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI JEPARA NOMOR 41 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI JEPARA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI JEPARA NOMOR 41 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN BUPATI JEPARA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI JEPARA NOMOR 41 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN,SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN JEPARA DENGAN

Lebih terperinci

BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 53 TAHUN 2016

BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 53 TAHUN 2016 SALINAN BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 53 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN BLITAR

Lebih terperinci

BUPATI SUMBAWA PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN BUPATI SUMBAWA NOMOR 67 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI SUMBAWA PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN BUPATI SUMBAWA NOMOR 67 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI SUMBAWA PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN BUPATI SUMBAWA NOMOR 67 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN SUMBAWA DENGAN

Lebih terperinci

BUPATI PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN BUPATI PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI PROBOLINGGO NOMOR : 67 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KARJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN PROBOLINGGO

Lebih terperinci

BUPATI DEMAK PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI DEMAK NOMOR 53 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI DEMAK PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI DEMAK NOMOR 53 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN BUPATI DEMAK PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI DEMAK NOMOR 53 TAHUN 2016 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI, KEDUDUKAN, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN DEMAK DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BUPATI WAY KANAN PROVINSI LAMPUNG

BUPATI WAY KANAN PROVINSI LAMPUNG -1- BUPATI WAY KANAN PROVINSI LAMPUNG PERATURAN BUPATI WAY KANAN NOMOR 45 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN WAY KANAN DENGAN

Lebih terperinci

BUPATI BANTUL PERATURAN BUPATI BANTUL NOMOR 58 TAHUN 2008 T E N T A N G RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN BANTUL

BUPATI BANTUL PERATURAN BUPATI BANTUL NOMOR 58 TAHUN 2008 T E N T A N G RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN BANTUL BUPATI BANTUL PERATURAN BUPATI BANTUL NOMOR 58 TAHUN 2008 T E N T A N G RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN BANTUL BUPATI BANTUL, Menimbang : a. bahwa sebagai tindak lanjut

Lebih terperinci

KEDUDUKAN, ORGANISASI, TATA KERJA DAN URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI

KEDUDUKAN, ORGANISASI, TATA KERJA DAN URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI KEDUDUKAN, ORGANISASI, TATA KERJA DAN URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN PADANG LAWAS UTARA BAB XXVI KEDUDUKAN, ORGANISASI, TATA KERJA DAN URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN

Lebih terperinci

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 48 TAHUN 2008 TENTANG

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 48 TAHUN 2008 TENTANG . BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 48 TAHUN 2008 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK, FUNGSI, DAN URAIAN TUGAS JABATAN STRUKTURAL PADA DINAS PERHUBUNGAN, INFORMATIKA, DAN KOMUNIKASI KABUPATEN

Lebih terperinci

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA SALINAN BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLATEN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLATEN, BUPATI KLATEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI KLATEN NOMOR 55 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN SUSUNAN ORGANISASI TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN KLATEN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

WALIKOTA PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR

WALIKOTA PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN WALIKOTA PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA PROBOLINGGO NOMOR 95 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KOTA

Lebih terperinci

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI GARUT NOMOR 60 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN GARUT

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI GARUT NOMOR 60 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN GARUT BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI GARUT NOMOR 60 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN GARUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GARUT, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI JAWA TENGAH

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI JAWA TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR 55 TAHUN 2016

PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR 55 TAHUN 2016 PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR 55 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN KARAWANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BUPATI KUANTAN SINGINGI PROVINSI RIAU

BUPATI KUANTAN SINGINGI PROVINSI RIAU BUPATI KUANTAN SINGINGI PROVINSI RIAU PERATURAN BUPATI KUANTAN SINGINGI NOMOR 36 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN KUANTAN

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 61 TAHUN 2008 T E N T A N G

PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 61 TAHUN 2008 T E N T A N G PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 61 TAHUN 2008 T E N T A N G PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN, KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KABUPATEN MUSI RAWAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BUPATI PACITAN PERATURAN BUPATI PACITAN NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI PACITAN PERATURAN BUPATI PACITAN NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG BUPATI PACITAN PERATURAN BUPATI PACITAN NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG URAIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN PACITAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PACITAN

Lebih terperinci

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 53 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 53 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN SALINAN BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 53 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 66 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS PERHUBUNGAN, INFORMASI DAN KOMUNIKASI PROVINSI BALI

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 66 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS PERHUBUNGAN, INFORMASI DAN KOMUNIKASI PROVINSI BALI GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 66 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS PERHUBUNGAN, INFORMASI DAN KOMUNIKASI PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang

Lebih terperinci

DINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN PERIZINAN TERPADU KABUPATEN BOYOLALI

DINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN PERIZINAN TERPADU KABUPATEN BOYOLALI KATA PENGANTAR Puji syukur kami sampaikan kehadirat Allah S.W.T yang telah melimpahkan berkah dan rahmat-nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Dinas Penanaman Modal

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER

PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBER NOMOR 2 TAHUN 2006 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN JEMBER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBER,

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 79 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 79 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 79 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN SIDOARJO DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

KEPUTUSAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 60 TAHUN 2004 TENTANG URAIAN TUGAS JABATAN STRUKTURAL PADA DINAS PERHUBUNGAN KOTA TASIKMALAYA

KEPUTUSAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 60 TAHUN 2004 TENTANG URAIAN TUGAS JABATAN STRUKTURAL PADA DINAS PERHUBUNGAN KOTA TASIKMALAYA WALIKOTA TASIKMALAYA KEPUTUSAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 60 TAHUN 2004 TENTANG URAIAN TUGAS JABATAN STRUKTURAL PADA DINAS PERHUBUNGAN KOTA TASIKMALAYA WALIKOTA TASIKMALAYA Menimbang : a. bahwa dengan

Lebih terperinci

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 58 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 58 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 58 TAHUN 2014 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, RINCIAN TUGAS DAN TATA KERJA KANTOR PERHUBUNGAN KABUPATEN WONOSOBO DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,

GUBERNUR JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 77 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 24 TAHUN 2008 T E N T A N G TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN, KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA MADIUN NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN

PERATURAN WALIKOTA MADIUN NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN WALIKOTA MADIUN SALINAN PERATURAN WALIKOTA MADIUN NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN WALIKOTA MADIUN, Menimbang : a.

Lebih terperinci

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 60 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KOTA SURABAYA

Lebih terperinci

WALIKOTA TASIKMALAYA,

WALIKOTA TASIKMALAYA, WALIKOTA TASIKMALAYA PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI DAN RINCIAN TUGAS UNIT DINAS PERHUBUNGAN, KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

WALIKOTA TASIKMALAYA

WALIKOTA TASIKMALAYA WALIKOTA TASIKMALAYA KEPUTUSAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 16 TAHUN 2003 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI DAN RINCIAN TUGAS UNIT DINAS PERHUBUNGAN KOTA TASIKMALAYA WALIKOTA TASIKMALAYA Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 40 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 40 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 40 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERUMAHAN, KAWASAN PERMUKIMAN DAN

Lebih terperinci

BUPATI SUMBAWA BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BUPATI SUMBAWA BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT BUPATI SUMBAWA BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN BUPATI SUMBAWA BARAT NOMOR 23 TAHUN 2017 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

WALIKOTA TANGERANG SELATAN

WALIKOTA TANGERANG SELATAN SALINAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI DAN TATA KERJA, KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KOTA TANGERANG SELATAN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI KUNINGAN NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN BUPATI KUNINGAN NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG PERATURAN BUPATI KUNINGAN NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS POKOK, FUNGSI DAN URAIAN TUGAS SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN KUNINGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN

TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN (Berdasarkan Peraturan Bupati Sigi Nomor 28 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Perangkat Daerah) A. Kepala Dinas Kepala

Lebih terperinci

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR s BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI GRESIK NOMOR 67 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

Lebih terperinci

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR p BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI GRESIK NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN GRESIK DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA SEMARANG

PERATURAN WALIKOTA SEMARANG PERATURAN WALIKOTA SEMARANG NOMOR 28 TAHUN 2008 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN, KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KOTA SEMARANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SEMARANG, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2009 T E N T A N G

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2009 T E N T A N G BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2009 T E N T A N G TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN, KOMUNIKASI DAN INFORMASI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI SUBANG NOMOR : TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN SUBANG BUPATI SUBANG,

PERATURAN BUPATI SUBANG NOMOR : TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN SUBANG BUPATI SUBANG, PERATURAN BUPATI SUBANG NOMOR : TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN SUBANG BUPATI SUBANG, Menimbang : a. bahwa Dinas Perhubungan Kabupaten Subang telah dibentuk dengan

Lebih terperinci

1) Sub Bagian umum Sub Bagian Umum mempunyai tugas : a) melaksanakan kegiatan ketatausahaan dan ketatalaksanaan. b) melaksanakan pengelolaan urusan su

1) Sub Bagian umum Sub Bagian Umum mempunyai tugas : a) melaksanakan kegiatan ketatausahaan dan ketatalaksanaan. b) melaksanakan pengelolaan urusan su PERATURAN BUPATI NGANJUK NOMOR 41 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN DAN SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN NGANJUK I. TUGAS POKOK Dinas Perhubungan mempunyai tugas

Lebih terperinci

WAKTU PELAKSANAAN (BULAN) LOKASI PEKERJAAN

WAKTU PELAKSANAAN (BULAN) LOKASI PEKERJAAN PA : TRI MUDJIHARTO,S.Sos,MM SKPD : BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KAB.PACITAN NO NAMA PA PEKERJAAN METODE PENGADAAN VOLUME LOKASI PEKERJAAN PERKIRAAN 1 Rehabilitasi Pengaman Tebing Sungai Ponggok

Lebih terperinci

BUPATI GROBOGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI GROBOGAN NOMOR 61 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI GROBOGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI GROBOGAN NOMOR 61 TAHUN 2016 TENTANG BH INNEKA TU NGGAL IKA BUPATI GROBOGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI GROBOGAN NOMOR 61 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS POKOK, FUNGSI, URAIAN TUGAS JABATAN DAN TATA KERJA

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA YOGYAKARTA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA YOGYAKARTA, WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 80 TAHUN 2016 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI, KEDUDUKAN, TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KOTA YOGYAKARTA DENGAN

Lebih terperinci

BUPATI KULON PROGO DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 63 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, FUNGSI, TUGAS

BUPATI KULON PROGO DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 63 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, FUNGSI, TUGAS SALINAN BUPATI KULON PROGO DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 63 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, FUNGSI, TUGAS SERTA TATA KERJA PADA DINAS PERHUBUNGAN DENGAN

Lebih terperinci

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 39 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 39 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 39 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG

Lebih terperinci

-1- GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 118 TAHUN 2016 TENTANG

-1- GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 118 TAHUN 2016 TENTANG -1- GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 118 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN ACEH DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR ACEH,

Lebih terperinci

BUPATI MANDAILING NATAL

BUPATI MANDAILING NATAL - 1 - BUPATI MANDAILING NATAL PERATURAN BUPATI MANDAILING NATAL NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN DAN INFORMATIKA KABUPATEN MANDAILING NATAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng mempunyai tugas pokok melaksanakan kewenangan otonomi daerah di bidang perhubungan.

Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng mempunyai tugas pokok melaksanakan kewenangan otonomi daerah di bidang perhubungan. LAMPIRAN XII : PERATURAN BUPATI BULELENG NOMOR : 54 TAHUN 2015 TANGGAL : 20 Oktober 2015 TENTANG : TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS DAERAH KABUPATEN BULELENG DINAS PERHUBUNGAN I. TUGAS POKOK. Dinas Perhubungan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLATEN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLATEN, BUPATI KLATEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI KLATEN NOMOR 59 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN SUSUNAN ORGANISASI TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA SATUAN POLISI PAMONG PRAJA KABUPATEN KLATEN DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI SRAGEN NOMOR 118 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN SRAGEN BUPATI SRAGEN,

PERATURAN BUPATI SRAGEN NOMOR 118 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN SRAGEN BUPATI SRAGEN, SALINAN PERATURAN BUPATI SRAGEN NOMOR 118 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN SRAGEN BUPATI SRAGEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 5 Peraturan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

PEMERINTAH KOTA TANGERANG RINGKASAN RENSTRA DINAS PERHUBUNGAN PERIODE 2014 2018 Penyusunan RENSTRA Dinas Perhubungan periode 2014-2018 merupakan amanat perundangan yang diantaranya adalah Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLATEN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLATEN, BUPATI KLATEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI KLATEN NOMOR 48 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN SUSUNAN ORGANISASI TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA KABUPATEN KLATEN

Lebih terperinci

SALINAN. Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 114, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5887);

SALINAN. Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 114, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5887); SALINAN BUPATI BULUNGAN PROPINSI KALIMANTAN UTARA PERATURAN BUPATI BULUNGAN NOMOR 38 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN

Lebih terperinci

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR p BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI GRESIK NOMOR 66 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PERTANAHAN KABUPATEN GRESIK DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 77 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 77 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 77 TAHUN 2016 TENTANG RINCIAN TUGAS DINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU KABUPATEN WONOSOBO DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI PANDEGLANG NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA INSPEKTORAT KABUPATEN PANDEGLANG

PERATURAN BUPATI PANDEGLANG NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA INSPEKTORAT KABUPATEN PANDEGLANG PERATURAN BUPATI PANDEGLANG NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA INSPEKTORAT KABUPATEN PANDEGLANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PANDEGLANG, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN

TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bukittinggi No 9 tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kota Bukittinggi, Tugas Pokok Dinas Perhubungan Kota Bukittinggi

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN BLITAR NOMOR : 188/ / /KPTS/2017 TENTANG

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN BLITAR NOMOR : 188/ / /KPTS/2017 TENTANG PEMERINTAH KABUPATEN BLITAR DINAS PERHUBUNGAN JL. Raya Dandong Nomor 53 - Srengat Telepon/Faximile (0342) 555330 Email : [email protected] KEPUTUSAN KEPALA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN BLITAR NOMOR

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PELALAWAN NOMOR 20 TAHUN 2002 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN PELALAWAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PELALAWAN NOMOR 20 TAHUN 2002 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN PELALAWAN Menimbang : PERATURAN DAERAH KABUPATEN PELALAWAN NOMOR 20 TAHUN 2002 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN PELALAWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PELALAWAN,

Lebih terperinci

BUPATI TASIKMALAYA PERATURAN BUPATI TASIKMALAYA NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT DI LINGKUNGAN DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN TASIKMALAYA

BUPATI TASIKMALAYA PERATURAN BUPATI TASIKMALAYA NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT DI LINGKUNGAN DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN TASIKMALAYA BUPATI TASIKMALAYA PERATURAN BUPATI TASIKMALAYA NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT DI LINGKUNGAN DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN TASIKMALAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TASIKMALAYA,

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 59 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLATEN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLATEN, BUPATI KLATEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI KLATEN NOMOR 49 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN SUSUNAN ORGANISASI TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU

Lebih terperinci

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 68 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 68 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 68 TAHUN 2016 TENTANG RINCIAN TUGAS DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG KABUPATEN WONOSOBO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 33 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN, INFORMATIKA DAN KOMUNIKASI

BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 33 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN, INFORMATIKA DAN KOMUNIKASI BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 33 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN, INFORMATIKA DAN KOMUNIKASI BUPATI MADIUN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan

Lebih terperinci