History of Robert Boden Powel

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "History of Robert Boden Powel"

Transkripsi

1

2 History of Robert Boden Powel Nama Baden Powell dikenal dan dihormati di seluruh penjuru dunia sebagai pria yang selama 83 tahun melalui dua kehidupan yang berbeda, sebagai prajurit yang berjuang demi negaranya, dan sebagai seorang yang bekerja aktif untuk kedamaian dan persaudaraan melalui Scout Movement. Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, dikenal sebagai B-P, lahir di 6 Stanhope Street (sekarang 11, Stanhope Terrace) Paddington, London pada 22 Februari Beliau adalah anak laki-laki ke-enam dan anak ke-delapan dari 10 bersaudara dari Reverend Baden Powell, seorang Professor di Universitas Oxford. Ayah B-P wafat ketika B-P berusia 3 tahun. B-P kemudian beliau diasuh oleh ibunya, bersekolah di Rose Hill School, Tunbridge Wells, dimana pada usia 12 tahun beliau kemudian mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya ke Charterhouse School, salah satu sekolah ternama di Inggris. Sekolah ini terletak di London ketika B-P pertama masuk, tapi kemudian Charterhouse School pindah ke Godalming, Surrey. Selama di Charterhouse School B-P juga mempelajari seni kerajinan kayu, seni peran, piano dan biola. Di sekitar tempat baru Charterhouse School terdapat hutan-hutan, yang out-ofbounds of people (akar dari istilah OUTBOND), diluar pengetahuan orang-orang. Disinilah B-P mula-mula belajar kehidupan survival. B-P biasa berburu dan memasak kelinci diatas api kecil, sehingga asapnya tidak terlihat oleh guru-gurunya yang mencarinya karena tidak mengikuti pelajaran. Ini kemudian akan menjadi sangat berguna dalam perjalanan karirnya. Liburannya tidak pernah terbuang sia-sia. Dengan saudara-saudaranya beliau selalu berpetualang. Pada suatu liburan mereka mengadakan ekspedisi pelayaran seputar

3 pantai selatan Inggris. Di liburan lainnya mereka menyelusuri sungai Thames menuju sumbernya menggunakan kano. Selama itu B-P belajar seni dan kerajinan yang sangat berguna baginya. B-P kemudian mengikuti seleksi masuk kemiliteran dan mendapat posisi kedua dari ribuan pendaftar. Karier B-P dalam dunia kemiliteran meningkat dalam waktu singkat. Tak lama setelah masuknya B-P di kemiliteran, B-P beliaungkat menjadi Kolonel. Pada 1876 B-P ditugaskan ke India sebagai prajurit muda yang menyukai Kepramukaan dan pembuatan peta. Sepulangnya dari sana, beliau menyelenggarakan pelatihan Kepramukaan dan pembuatan peta untuk para prajurit. Metode B-P sama sekali tidak kuno pada masa-masa itu; unit kecil atau patrol bekerjasama dibawah satu pimpinan, dengan penghargaan menarik pada patrol terbaik. B-P memberi penghargaan berupa badge yang melukiskan titik kompas arah utara. Desain tradisional dari titik kompas utara diberikan pada peserta pelatihan terbaik untuk motivasi. Badge Pramuka yang ada saat ini sangat serupa dengan badge tersebut. Kemudian beliau ditugaskan di Balkan, Afrika Selatan dan Malta. Pada masa perang Boer, B-P dan 800 laki-laki lainnya terpaksa bertahan dalam Mafeking, sebuah kota kecil di Afrika Selatan selama 217 hari, menghadapi pasukan bangsa Boer berkekuatan 9000 orang. Selama di Mafeking, B-P melatih para Kadet Pengirim Pesan yang dimilikinya dengan penuh efisien dan kejeniusan sehingga dapat melakukan banyak tugas dalam rangka bertahan menghadapi pasukan bangsa Boer. Tes yang cukup berat bagi kemampuan Kepramukaan B-P. Keberanian dan kemampuan yang ditunjukkannya menimbulkan kesan mendalam bagi Inggris. Setelah perang Boer berakhir, B-P melatih para prajurit Afrika Selatan dan mendesain sebuah seragam yang kemudian menjadi dasar seragam Scout Movements. Ketika di Afrika pernah mengalahkan kerajaan Zulu dan mengambil kalung manik kayu milik Raja Dinizulu. Selama di Afrika, B-P menulis Aids To Scouting yang sebenarnya ditujukan untuk memberi petunjuk pada tentara muda Inggris agar dapat melakukan tugas penyelidik dengan baik. Pulang ke Inggris pada 1903, beliau menjadi pahlawan nasional. Beliau juga mengetahui Aids To Scouting" telah dibaca oleh para pemuda dan organisasi-organisasi di seluruh penjuru negeri sebagai pramukaan program petualangan mereka. Beliau mendiskusikan hal ini dengan Sir William Smith, pendiri Boys Brigade, dan para pemimpin muda lainnya. B-P merevisi Aids To Scouting", menjadi buku kepramukaan untuk pemuda dan organisasi-organisasi kepemudaan. Beliau merencanakan sebuah perkemahan untuk mencoba ide-idenya. Perkemahan tersebut diselenggarakan pada 25

4 Juli hingga 9 Agustus 1907 pulau Brownsea, Poole, Dorset. Beliau membawa serta 22 pemuda dari Boys Brigade, berkemah bersama mereka, dibawah pimpinannya. Pimpinan pasukan saat itu Letjen. Robert Baden Powell. Asistennya B.W. Green, H. Robson dan P.W. Everett. Perkemahan ini sangat sukses sedemikian hingga mengilhaminya membuat buku "Scouting for Boys", dipublikasikan dalam 6 bagian mulai Januari Pada akhir 1908 buku ini telah diterjemahkan dalam 5 bahasa,sampai saat ini (Januari 2003) telah diterjemahkan dalam 35 bahasa. Sketsa-sketsa dalam buku tersebut semuanya adalah hasil karya B-P, kebanyakan berdasarkan karirnya yang sangat menarik. Secara spontan para anak laki-laki mulai membentuk Scout Troops di seluruh penjuru negeri. Pada September 1908 Baden-Powell telah membangun sebuah kantor untuk mengelola jumlah mereka yang terus meningkat. Kepramukaan menyebar dengan cepat di Kerajaan Inggris dan negara-negara lainnya sampai kemudian dipraktekkan secara luas di seluruh dunia, kecuali di negaranegara totaliter-komunis (Kepramukaan menganut paham demokratis dan kesukarelaan). Kepramukaan memasuki Kanada pada Mei Kepramukaan dimulai di banyak komunitas pada waktu yang hampir bersamaan sehingga tidak dapat diketahui komunitas mana yang memulainya. Tahun 1909, raja Edward VII, yang sangat tertarik pada Gerakan baru ini, menyatakan bahwa Gerakan Kepramukaan sangat penting sehingga akan menjadi pengabdian yang sangat besar bagi Inggris bila B-P bersedia mengundurkan diri dari kemiliteran dan mencurahkan diri pada Kepramukaan (saat itu pangkat B-P mencapai Inspektur Jenderal Kavaleri). Hal ini disetujui B-P, beliau pensiun pada 1910 pada usia 53 tahun, dan kemudian mencurahkan segala energi dan antususiasme demi pengembangan Boy Scouting dan Girl Guiding. Girl Guiding dimulai pada 1909 ketika para anak perempuan mengikuti Scout Rally yang pertama di Crystal Palace, London dan bertanya pada B-P bagaimana mereka bisa menjadi seorang pramuka. Beliau berkeliling ke seluruh penjuru dunia, dimanapun beliau diperlukan, untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan Scout Movements dan memberi inspirasi sejauh yang beliau pribadi dapat berikan. Raja Edward VII bahkan menciptakan King s Scout Badge, penghargaan dari raja untuk pramuka teladan Inggris yang berupa badge, yang kemudian berubah menjadi Queen s Scout Badge oleh ratu Elizabeth. Pada 1912 beliau bertemu dan kemudian menikah dengan Olave Soames yang secara terus-menerus membantu dan menemaninya mengabdi pada Scout Movements.

5 Mereka memiliki tiga orang anak (Peter, Heather and Betty). Olave Lady Baden-Powell kemudian dikenal sebagai World Chief Girl Guide. Tahun 1916 berdiri kelompok Pramuka usia Siaga, yang disebut CUB (anak serigala) dengan buku The Jungle Book, berisi cerita tentang Mowgli anak didikan rimba karangan Rudyard Kipling sebagai cerita pembungkus kegiatan CUB tersebut. Tahun 1918 B-P membentuk ROVER SCOUT (Pramuka usia Penegak) untuk menampung pemuda yang berusia lebih dari 17 tahun, tetapi masih senang berkegiatan di bidang Kepramukaan. Tahun 1922 B-P menerbitkan buku Roverring To Success yang berisi panduan bagi para pramuka Penegak dalam menghadapi hidupnya, agar mencapai kebahagiaan. Buku ini menggambarkan seorang pemuda yang harus mengayuh sampannya sendiri menuju pantai kebahagiaan, yang di hadapannya terdapat karang-karang yang berbahaya, yaitu : karang perjudian, karang wanita, karang minuman keras & merokok, karang mementingkan diri sendiri dan mengorbankan orang lain (munafik), serta karang tidak ber-tuhan. International Scout Jamboree pertama diselenggarakan di Olympia, London pada Pada penutupan International Scout Jamboree B-P diakui para pramuka dan pimpinan pramuka sebagai Chief Scout of the World, bukan sebagai gelar kehormatan, melainkan pengakuan mereka kepada B-P sebagai pendiri World Scout (Gerakan Pramuka Sedunia). Sorak sorai yang selalu mengiringi kedatangannya, yang berubah menjadi keheningan ketika beliau mengangkat tangannya, cukup membuktikan bahwa beliau telah mengambil hati dan imajinasi pengikutnya di negara manapun mereka tinggal. Saat jambore "Coming Of Age" tahun 1929 (jambore dunia ketiga) di Arrowe Park, Birkenhead, Inggris, Pangeran kerajaan Wales mengumumkan bahwa B-P akan mendapat gelar kehormatan dari raja George V. Berita ini diterima dengan penuh sukacita. B-P menerima gelar Lord Baden-Powell of Gilwell setelah sebelumnya menerima gelar Baron. Gilwell Park adalah pusat pelatihan internasional untuk para pramuka yang terletak di hutan Epping, diluar London, Inggris. Sejak tahun 1920 dibentuk Dewan Internasional dengan 9 orang anggota dan Biro Sekretariat di London, Inggris. Pada tahun 1958 Biro Kepramukaan Sedunia (putra) dipindahkan dari London ke Ottawa, Kanada. Tanggal 1 Mei 1968 Biro Kepramukaan Sedunia dipindahkan lagi ke Jenewa, Swiss. Biro Kepramukaan Sedunia (putra) hanya mmpunyai 40 tenaga staf, yang ada di Jenewa dan 5 kantor kawasan, yaitu di Costa Rica, Mesir, Filipina, Swiss dan Nigeria.

6 Kepramukaan bukan satu-satunya minat B-P. Beliau juga menyukai dunia peran, memancing, bermain polo dan berburu. Beliau adalah seniman yang baik, bekerja dengan pensil dan cat air. Beliau juga tertarik pada seni pahat dan membuat film keluarga. B-P menulis tidak kurang dari 32 buku. Beliau menerima gelar kehormatan dari minimal 6 universitas. Selain itu, 19 penghargaan bidang Kepramukaan dari manca negara dan 28 dekorasi dari manca negara dipersembahkan untuknya. Pada 1938, B-P menderita sakit dan kemudian kembali ke Afrika, yang telah banyak memberi arti dalam kehidupannya, untuk menikmati masa-masa pensiun di Nyeri, Kenya. Ternyata sangat sulit baginya untuk berdiam diri, sehingga beliau kemudian secara kontinu membuat buku dan sketsa. B-P wafat pada 8 Januari 1941, pada usia 83 tahun. Beliau dimakamkan di Saint Peter s Churchyard, Nyeri, dengan pemandangan gunung Kenya. Di pusaranya tertulis kata-kata "Robert Baden-Powell, Chief Scout of the World, born February 22nd, 1857, died January 8th, 1941". Terukir pula pada pusaranya badge Boy Scout dan Girl Guide dan lingkaran dengan titik di tengah yang bermakna Gone Home. Lady Olave Baden-Powell melanjutkan tugasnya, memasyarakatkan Kepramukaan dan Girl Guide di seluruh dunia sampai beliau wafat pada Beliau dimakamkan di sisi Baden-Powell di Nyeri. Baden Powell telah menulis pesan perpisahan untuk para Pramuka, untuk disampaikan setelah beliau wafat : "Dear Scouts - If you have ever seen the play "Peter Pan" you will remember how the pirate chief was always making his dying speech because he was afraid that possibly when the time came for him to die he might not have time to get it off his chest. It is much the same with me, and so, although I am not at this moment dying, I shall be doing so one of these days and I want to send you a parting word of good-bye. Remember, it is the last time you will ever hear from me, so think it over. I have had a most happy life and I want each one of you to have as happy a life too. I believe that God put us in this jolly world to be happy and enjoy life. Happiness doesn't come from being rich, nor merely from being successful in your career, nor by selfindulgence. One step towards happiness is to make yourself healthy and strong while you are a boy, so that you can be useful and so you can enjoy life when you are a man.

7 Nature study will show you how full of beautiful and wonderful things God has made the world for you to enjoy. Be contented with what you have got and make the best of it. Look on the bright side of things instead of the gloomy one. But the real way to get happiness is by giving out happiness to other people. Try and leave this world a little better than you found it and when your turn comes to die, you can die happy in feeling that at any rate you have not wasted your time but have done your best. "Be Prepared" in this way, to live happy and to die happy- stick to your Scout Promise always when you have ceased to be a boy - and God help you to do it. Your friend, Robert Baden-Powell" Pesan ini tidak bertanggal, tetapi kemungkinan ditulis sebelum 1929 karena masih menggunakan nama "Robert Baden-Powell", bukan "Baden-Powell of Gilwell". Lady Baden-Powell mengatakan bahwa surat ini, dimasukkan dalam amplop yang ditujukan pada para Boy Scout, ditemukan di antara surat-surat lainnya yang selalu dibawa dalam perjalanan mereka dalam amplop bertuliskan dalam masa kematianku This fact sheet is adapted from one of the same name published by The Scout Association, United Kingdom. (sumber : Daftar Istilah scout = pramuka scout movements = gerakan Kepramukaan dunia patrol = unit terkecil dalam satuan, contoh : regu, sangga, rakit scout troops = satuan sejenis ambalan, pasukan, racana boy scout = gerakan Kepramukaan untuk laki-laki girl guide = gerakan Kepramukaan untuk perempuan scout rally = perlombaan para pramuka international scout jamboree = jambore pramuka sedunia boy scouting = Kepramukaan bagi anak laki-laki girl guiding = Kepramukaan bagi anak perempuan

8 chief scout of the world = pendiri gerakan Kepramukaan WOSM

9 Proses Pendirian GERAKAN PRAMUKA Pendidikan Kepramukaan di Indonesia merupakan salah satu segi pendidikan nasional yang penting, yang merupakan bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, sejarah Kepramukaan di Indonesia perlu kita pelajari, dengan maksud : 1. Agar mengetahui proses pembentukan dan perkembangan Gerakan Pramuka dan mengetahui pula peranan apa yang dilakukan dalam perjuangan bangsa Indonesia 2. Agar mengetahui dan memahami kedudukan Gerakan Pramuka dalam hubungannya dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia 3. Agar dapat memahami kebijaksanaan dalam menyelenggarakan usaha pendidikan kepramukaan di Indonesia Masa Hindia Belanda... Sejak tahun 1908, buku Scouting For Boys yang ditulis oleh Baden Powell untuk para pramuka, telah tersebar ke banyak negara, termasuk Belanda. Gagasan yang termuat dalam buku tersebut telah menarik perhatian banyak masyarakat Belanda, yang kemudian gagasan tersebut dibawa pula ke Indonesia. Organisasi kepramukaan di Indonesia dimulai oleh adanya cabang "Nederlandse Padvinders Organisatie" (NPO) pada tahun 1912, yang pada saat pecahnya Perang Dunia I memiliki

10 kwartir besar sendiri serta kemudian berganti nama menjadi "Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging" (NIPV) pada tahun Pemimpin-pemimpin pergerakan nasional kemudian tertarik pula atas gagasan Baden Powell tersebut, dan membentuk organisasi-organisasi kepramukaan yang bertujuan membentuk manusia Indonesia menjadi kader Pergerakan Nasional. Organisasi Kepramukaan yang diprakarsai oleh bangsa Indonesia adalah "Javaanse Padvinders Organisatie" (JPO); berdiri atas prakarsa S.P. Mangkunegara VII pada tahun Kenyataan bahwa kepramukaan itu senapas dengan pergerakan nasional, seperti tersebut di atas dapat diperhatikan pada adanya "Padvinder Muhammadiyah" yang pada 1920 berganti nama menjadi "Hisbul Wathon" (HW); "Nationale Padvinderij" yang didirikan oleh Budi Utomo; Syarikat Islam mendirikan "Syarikat Islam Afdeling Padvinderij" yang kemudian diganti menjadi "Syarikat Islam Afdeling Pramuka" dan lebih dikenal dengan SIAP, Nationale Islamietishe Padvinderij (NATIPIJ) didirikan oleh Jong Islamieten Bond (JIB) dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO) didirikan oleh Pemuda Indonesia. Sumpah Pemuda yang dicetuskan dalam Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928, benarbenar menjiwai gerakan kepramukaan nasional Indonesia untuk bergerak lebih maju. Pada tahun 1930 dengan adanya Indonesische Padvinders Organizatie (INPO), Pramuka Kesultanan (PK), dan Pramuka Pemuda Sumatera (PPS) bergabung menjadi Kepramukaan Bangsa Indonesia (KBI). Kemudian terbentuklah PAPI yaitu "Persaudaraan Antara Pramuka Indonesia" pada tahun 1931, yang kemudian berkembang menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepramukaan Indonesia (BPPKI) pada bulan April Antara tahun bermunculan gerakan kepramukaan Indonesia baik yang bernafas utama kebangsaan maupun agama. Kepramukaan yang bernafas kebangsaan dapat dicatat Pramuka Indonesia (PI), Padvinders Organisatie Pasundan (POP), Pramuka Kesultanan (PK), Sinar Pramuka Kita (SPK) dan Kepramukaan Rakyat Indonesia (KRI). Sedangkan yang bernafas agama Pramuka Ansor, Al Wathoni, Hizbul Wathon, Kepramukaan Islam Indonesia (KII), Islamitische Padvinders Organisatie (IPO), Tri Darma (Kristen), Kepramukaan Azas Katholik Indonesia (KAKI), Kepramukaan Masehi Indonesia (KMI).

11 Sebagai upaya untuk menggalang kesatuan dan persatuan, Badan Pusat Persaudaraan Kepramukaan Indonesia BPPKI merencanakan "All Indonesian Jamboree". Rencana ini mengalami beberapa perubahan baik dalam waktu pelaksanaan maupun nama kegiatan, yang kemudian disepakati diganti dengan "Perkemahan Kepramukaan Indonesia Oemoem" disingkat PERKINO dan dilaksanakan pada tanggal Juli 1941 di Yogyakarta. Masa Bala Tentara Dai Nippon... "Dai Nippon"! Itulah nama yang dipakai untuk menyebut Jepang pada waktu itu. Pada masa Perang Dunia II, bala tentara Jepang mengadakan penyerangan dan Belanda meninggalkan Indonesia. Partai dan organisasi rakyat Indonesia, termasuk gerakan kepramukaan, dilarang berdiri. Para tokoh pramuka banyak yang masuk organisasi Seinendan, Keibodan dan Pemebla Tanah Air (PETA). Namun upaya menyelenggarakan PERKINO II tetap dilakukan. Bukan hanya itu, semangat kepramukaan tetap menyala di dada para anggotanya. Masa Republik Indonesia... Sebulan sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, beberapa tokoh kepramukaan berkumpul di Yogyakarta dan bersepakat untuk membentuk Panitia Kesatuan Kepramukaan Indonesia sebagai suatu panitia kerja, menunjukkan pembentukan satu wadah organisasi kepramukaan untuk seluruh bangsa Indonesia dan segera mengadakan Kongres Kesatuan Kepramukaan Indonesia. Kongres yang dimaksud, dilaksanakan pada tanggal Desember 1945 di Surakarta dengan hasil terbentuknya Pandu Rakyat Indonesia. Perkumpulan ini didukung oleh segenap pimpinan dan tokoh serta dikuatkan dengan "Janji Ikatan Sakti", lalu pemerintah RI mengakui sebagai satu-satunya organisasi kepramukaan yang ditetapkan dengan keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No.93/Bag. A, tertanggal 1 Februari Tahun-tahun sulit dihadapi oleh Pandu Rakyat Indonesia karena serbuan Belanda. Bahkan pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1948 waktu diadakan api unggun di halaman gedung Pegangsaan Timur 56, Jakarta, senjata Belanda mengancam dan memaksa Soeprapto menghadap Tuhan, gugur sebagai Pramuka, sebagai patriot yang membuktikan cintanya pada

12 negara, tanah air dan bangsanya. Di daerah yang diduduki Belanda, Pandu Rakyat Indonesia dilarang berdiri. Keadaan ini mendorong berdirinya perkumpulan lain seperti Kepramukaan Putera Indonesia (KPI), Pramuka Puteri Indonesia (PPI), Kepramukaan Indonesia Muda (KIM). Masa perjuangan bersenjata untuk mempertahankan negeri tercinta merupakan pengabdian juga bagi para anggota pergerakan kepramukaan di Indonesia, kemudian berakhirlah periode perjuangan bersenjata untuk menegakkan dan mempertahakan kemerdekaan itu, pada waktu inilah Pramuka Rakyat Indonesia mengadakan Kongres II di Yogyakarta pada tanggal Januari Kongres ini antara lain memutuskan untuk menerima konsepsi baru, yaitu memberi kesempatan kepada golongan khusus untuk menghidupkan kembali bekas organisasinya masing-masing dan terbukalah suatu kesempatan bahwa Pandu Rakyat Indonesia bukan lagi satu-satunya organisasi kepramukaan di Indonesia dengan keputusan Menteri PP dan K nomor 2344/Kab. tertanggal 6 September 1951 dicabutlah pengakuan pemerintah bahwa Pramuka Rakyat Indonesia merupakan satu-satunya wadah kepramukaan di Indonesia, jadi keputusan nomor 93/Bag. A tertanggal 1 Februari 1947 itu berakhir sudah. Mungkin agak aneh juga kalau direnungi, sebab sepuluh hari sesudah keputusan Menteri No. 2334/Kab. itu keluar, maka wakil-wakil organisasi kepramukaan mengadakan konferensi di Jakarta. Pada saat inilah tepatnya tanggal 16 September 1951 diputuskan berdirinya Ikatan Pramuka Indonesia (IPINDO) sebagai suatu federasi. Pada 1953 Ipindo berhasil menjadi anggota kepramukaan sedunia. Ipindo merupakan federasi bagi organisasi kepramukaan putera, sedangkan bagi organisasi puteri terdapat dua federasi yaitu PKPI (Persatuan Kepramukaan Puteri Indonesia) dan POPPINDO (Persatuan Organisasi Pramuka Puteri Indonesia). Kedua federasi ini pernah bersama-sama menyambut singgahnya Lady Baden-Powell ke Indonesia, dalam perjalanan ke Australia.

13 Dalam peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-10 Ipindo menyelenggarakan Jambore Nasional, bertempat di Ragunan, Pasar Minggu pada tanggal Agustus 1955, Jakarta. Ipindo sebagai wadah pelaksana kegiatan kepramukaan merasa perlu menyelenggarakan seminar agar dapat gambaran upaya untuk menjamin kemurnian dan kelestarian hidup kepramukaan. Seminar ini diadakan di Tugu, Bogor pada bulan Januari Seminar Tugu ini menghasilkan suatu rumusan yang diharapkan dapat dijadikan acuan bagi setiap gerakan Kepramukaan di Indonesia. Dengan demikian diharapkan kepramukaan yang ada dapat dipersatukan. Setahun kemudian pada bulan November 1958, Pemerintah RI, dalam hal ini Departemen PP dan K mengadakan seminar di Ciloto, Bogor, Jawa Barat, dengan topik "Penasionalan Kepramukaan". Kalau Jambore untuk putera dilaksanakan di Ragunan Pasar Minggu-Jakarta, maka PKPI menyelenggarakan perkemahan besar untuk puteri yang disebut Desa Semanggi bertempat di Ciputat. Desa Semanggi itu terlaksana pada tahun Pada tahun ini juga Ipindo mengirimkan kontingennya ke Jambore Dunia di MT. Makiling Filipina. Kelahiran Gerakan Pramuka... Latar Belakang Lahirnya Gerakan Pramuka Gerakan Pramuka lahir pada tahun 1961, jadi kalau akan menyimak latar belakang lahirnya Gerakan Pramuka, orang perlu mengkaji keadaan, kejadian dan peristiwa pada sekitar tahun Dari ungkapan yang telah dipaparkan di depan kita lihat bahwa jumlah perkumpulan kepramukaan di Indonesia waktu itu sangat banyak. Jumlah itu tidak sepandan dengan jumlah seluruh anggota perkumpulan itu. Peraturan yang timbul pada masa perintisan ini adalah Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960, tanggal 3 Desember 1960 tentang rencana pembangunan Nasional Semesta

14 Berencana. Dalam ketetapan ini dapat ditemukan Pasal 330. C. yang menyatakan bahwa dasar pendidikan di bidang kepramukaan adalah Pancasila. Seterusnya penertiban tentang kepramukaan (Pasal 741) dan pendidikan kepramukaan supaya diintensifkan dan menyetujui rencana Pemerintah untuk mendirikan Pramuka (Pasal 349 Ayat 30). Kemudian kepramukaan supaya dibebaskan dari sisa-sisa Lord Baden Powellisme (Lampiran C Ayat 8). Ketetapan itu memberi kewajiban agar Pemerintah melaksanakannya. Pada 9 Maret 1961 Presiden/Mandataris MPRS mengumpulkan tokoh-tokoh dan pemimpin gerakan kepramukaan Indonesia, bertempat di Istana Negara. Pada hari Kamis malam Presiden mengungkapkan bahwa kepramukaan yang ada harus diperbaharui, metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepramukaan yang ada dilebur menjadi satu yang disebut Pramuka. Presiden juga menunjuk panitia yang terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Menteri P dan K Prof. Prijono, Menteri Pertanian Dr.A. Azis Saleh dan Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa, Achmadi. Panitia ini tentulah perlu sesuatu pengesahan. Dan kemudian terbitlah Keputusan Presiden RI No.112 Tahun 1961 tanggal 5 April 1961, tentang Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka dengan susunan keanggotaan seperti yang disebut oleh Presiden pada tanggal 9 Maret Masih dalam bulan April itu juga, keluarlah Keputusan Presiden RI Nomor 121 Tahun 1961 tanggal 11 April 1961 tentang Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Anggota Panitia ini terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prof. Prijono, Dr. A. Azis Saleh, Achmadi dan Muljadi Djojo Martono (Menteri Sosial). Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, sebagai Lampiran Keputusan Presiden R.I Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka. Kelahiran Gerakan Pramuka ditandai dengan serangkaian peristiwa yang saling berkaitan yaitu : 1. Pidato Presiden/Mandataris MPRS dihadapan para tokoh dan pimpinan yang mewakili organisasi kepramukaan yang terdapat di Indonesia pada 9 Maret 1961 di Istana Negara. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI TUNAS GERAKAN PRAMUKA.

15 2. Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961, tentang Gerakan Pramuka yang menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepramukaan yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi anakanak dan pemuda Indonesia, serta mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang dijadikan pedoman, petunjuk dan pegangan bagi para pengelola Gerakan Pramuka dalam menjalankan tugasnya. Tanggal 20 Mei adalah Hari Kebangkitan Nasional, namun bagi Gerakan Pramuka memiliki arti khusus dan merupakan tonggak sejarah untuk pendidikan di lingkungan ketiga. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PERMULAAN TAHUN KERJA. 3. Pernyataan para wakil organisasi kepramukaan di Indonesia yang dengan ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka, dilakukan di Istana Olahraga Senayan pada 30 Juli Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI IKRAR GERAKAN PRAMUKA. 4. Pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, diikuti defile Pramuka untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang didahului dengan penganugerahan tanda penghargaan dan kehormatan berupa Panji Gerakan Kepramukaan Nasional Indonesia (Keppres No. 448 Tahun 1961) pada 14 Agustus Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PRAMUKA. Dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka ditetapkan bahwa dasar Gerakan Pramuka adalah Pancasila dan bahwa tujuan Gerakan Pramuka adalah mendidik anak-anak dan pemudapemuda Indonesia dengan Prinsip-Prinsip Dasar Metodik Pendidikan Kepramukaan (sekarang PDK dan MK) yang pelaksanaannya diserasikan dengan keadaan, kepentingan, dan perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia sehingga menjadi manusia-manusia Indonesia yang baik, dan anggota masyarakat Indonesia yang berguna bagi pembangunan bangsa dan negara. Ketentuan dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka tentang Prinsip-Prinsip Dasar Metodik Pendidikan Kepramukaan (sekarang PDK dan MK) ternyata mampu membawa banyak perubahan sehingga Gerakan Pramuka dapat mengembangkan kegiatannya secara meluas. Prinsip-Prinsip Dasar Metodik Pendidikan Kepramukaan (sekarang PDK dan MK) sebagaimana dirumuskan oleh B-P tetap dipegang, akan tetapi cara pelaksanaannya diserasikan dengan

16 keadaan dan kebutuhan Nasional di Indonesia, dengan keadaan dan kebutuhan regional di masing-masing daerah di Indonesia, bahkan juga diserasikan dengan keadaan dan kebutuhan lokal di masing-masing desa di Indonesia. Gerakan Pramuka Diperkenalkan... Gerakan Pramuka ternyata jauh lebih kuat organisasinya, dan ternyata memperoleh tanggapan dari masyarakat luas, sehingga dalam waktu singkat organisasinya telah berkembang dari kota-kota sampai kampung-kampung dan desa-desa. Jumlah anggotanya meningkat dengan pesat. Kemajuan pesat tersebut juga karena sistem Majelis Pembimbing yang dijalankan oleh Gerakan Pramuka pada tiap tingkat, dari tingkat Nasional sampai tingkat Gugus Depan. Mengingat bahwa (saat itu) ± 80% penduduk Indonesia tinggal di desa dan mengingat pula bahwa (saat itu) ± 75% penduduk Indonesia adalah keluarga petani, maka Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pada tahun 1961 menganjurkan supaya para pramuka menyelenggarakan kegiatan di bidang pembangunan masyarakat desa. Pelaksanaan anjuran itu, terutama di Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta, kemudian di Jawa Timur dan Jawa Barat telah menarik perhatian pada pemimpin masyarakat Indonesia. Maka pada tahun 1966 Menteri Pertanian dan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mengeluarkan Instruksi Bersama tentang pembentukan Satuan Karya Pramuka Taruna Bumi. Saka Taruna Bumi dibentuk dan diselenggarakan khusus untuk memungkinkan adanya kegiatan-kegiatan Pramuka di bidang pendidikan cinta pembangunan pertanian dan pembangunan masyarakat desa secara lebih nyata dan intensif. Kegiatan-kegiatan Saka Taruna Bumi ternyata membawa pembaharuan, bahkan membawa semangat untuk mengusahakan penemuan-enemuan baru (inovasi) pada pemuda-pemuda desa yang selanjutnya mempengaruhi seluruh rakyat desa. Kemudian muncul pula Saka Pramuka Dirgantara, Saka Pramuka Bahari, Saka Pramuka Bhayangkara, yang menyelenggarakan kegiatan-kegiatan di bidang pendidikan cinta Dirgantara, pendidikan cinta Bahari, dan pendidikan cinta ketertiban masyarakat. Saka-saka tersebut terdiri dari pramuka-pramuka Penegak (usia tahun) dan pramuka Pandega

17 (usia tahun) yang berminat. Pramuka Siaga (usia 7 10 tahun) dan pramuka Penggalang (usia tahun) tidak ikut dalam Saka-Saka tersebut, akan tetapi para Penegak dan Pandega dalam gugus depannya menjadi instruktur bagi adik-adiknya dan rekanrekan pramuka lainnya mengenai kecakapan yang diperolehnya sebagai anggota Saka yang dimaksudkan. Perluasan Gerakan Pramuka sampai di desa-desa, kegiatan di bidang pembangunan pertanian dan pembangunan masyarakat desa, dan pembentukan serta penyelenggaraan Saka-Saka telah mengalami kemajuan pesat sehingga menarik perhatian badan internasional seperti UNICEF, FAO, UNESCO, ILO dan Boy Scout World Bureau. Pada tahun 1970 Menteri Transmigrasi dan Koperasi dan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mengeluarkan instruksi tentang partisipasi Gerakan Pramuka dalam menyelenggarakan transmigrasi dan pembinaan gerakan Koperasi. Dan berhubung dengan masalah drop-out (anak-anak yang berhenti bersekolah di tengah jalan), Gerakan Pramuka juga mengarahkan perhatiannya kepada pendidikan kejuruan, untuk memberi bekal hidup kelak kepada anak-anak, pemuda-pemuda, terutama kepada mereka yang drop-out tersebut. Untuk itu diadakan kerjasama dengan Departemen Perindustrian. Dalam rangka usaha peningkatan kecakapan, ketrampilan dan bakti masyarakat, Gerakan Pramuka mengadakan kerjasama dengan banyak instansi, seperti PMI, Bank Indonesia (Tabanas dan Tappelpram), Departemen Pekerjaan Umum, Departemen P & K, Departemen Agama, dan lain-lain.

18 Ketika Didirikan Sejarah gugus depan bermula dari timbulnya keinginan beberapa mahasiswa yang pernah aktif dalam Gerakan Pramuka untuk berkegiatan Kepramukaan di kampus ITS. Beberapa diantaranya adalah Kak Essy Arijoeni, Kak Bangun Moelja S. dan Kak Singgih Setyo S. Kakak-kakak kita berkumpul untuk pertama kali di Perumahan Dosen Blok T-11 (Kediaman Kak Essy). Dalam diskusi yang diadakan di Perumdos T-11 itu, Kakak-kakak kita memaparkan bagaimana keprihatinan Kakak-kakak kita melihat kondisi anak-anak di daerah gebangkeputih. Atas dasar itulah akhirnya Kakak-kakak kita memilih untuk mengadakan kegiatan Kepramukaan di Kampus ITS dengan tujuan mengadakan kegiatan alternatif bagi anak-anak gebang-keputih yang dapat meningkatkan kemampuan mereka. Usaha untuk mewujudkan keinginan tersebut ternyata mendapat dukungan dari pihak Rektorat ITS, Kwartir Cabang Surabaya dan Kwartir Daerah Jawa Timur. Usaha ini dimulai ketika diadakan latihan perdana pada hari Minggu tanggal 6 Juni 1982, pukul WIB. Latihan perdana ini bertempat di sebelah timur kampus Tingkat Satu Bersama (TSB) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Setelah itu latihan secara rutin dijalankan, anggota yang bergabung semakin banyak dan kegiatan partisipasi baik di tingkat Kwartir Cabang, Kwartir Daerah bahkan kegiatan tingkat Nasional diikuti. Keberadaan Gugus Depan Persiapan ITS semakin kokoh dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Rektor ITS No. 1546/PT.12/T/83 tentang Gugus Depan Pramuka di Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Proses menjadi Gugus Depan Resmi dengan mengajukan surat permohonan peresmian dan nomor gugus depan mengandung sejarah yang cukup penting. Surat permohonan tersebut

19 berisi permohonan nomor 610 dan 611 untuk nomor gugus depan, yang bermakna tanggal enam bulan enam (tanggal diadakannya latihan perdana), sedangkan angka 10 dan 11 bermakna tanggal 10 bulan 11 (tanggal peresmian gugus depan). Setelah dengan persiapan yang cukup, maka akhirya pada tanggal 10 Nopember 1983 bertepatan dengan HUT ITS XXIII, bertempat di Gedung Olahraga (GOR) ITS dilaksanakan peresmian gugus depan oleh utusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Kak Brigjen. Sudirman (Andalan Nasional) atas nama Kwartir Daerah Jawa Timur, ditandai dengan penyerahan bendera Gugus Depan Surabaya 610 kepada Kak Essy Arijoeni dan bendera Gugus Depan Surabaya 611 kepada Kak Sonny Soenarsono, disaksikan oleh utusan Kwartir Cabang Surabaya. Demikianlah sejarah singkat berdirinya Gugus Depan Surabaya yang berpangkalan di kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

20 SCOUT MOTTO. BE PREPARED berarti siap sedia baik fisik maupun mental walaupun harus menghadapi bahaya, untuk menolong orang lain. Semakin banyak ketrampilan kepramukaan yang dimiliki seorang pramuka, seorang pramuka akan semakin siap untuk mengimplementasikan motto tersebut. Ketika seseorang mengalami kecelakaan, seorang pramuka siap sedia untuk menolong karena telah dibekali ilmu pertolongan pertama. Karena telah dibekali ketrampilan lifesaving, seorang pramuka mampu menolong anak kecil yang jatuh ke sungai. Dengan selalu berlatih, seorang pramuka akan selalu siap sedia untuk melakukan yang terbaik dalam keadaan darurat. Tapi Baden Powell tidak hanya berfikir mengenai siap sedia ketika terjadi musibah saja. Ide motto BE PREPARED yang dimunculkan Baden Powell memiliki makna bahwa setiap pramuka harus menyiapkan dirinya untuk menjadi warganegara yang berguna dan membantu orang lain menjadi bahagia. Baden Powell ingin setiap pramuka selalu siap sedia untuk bekerja demi segala hal baik yang ditawarkan oleh kehidupan dan pantang menyerah dalam menghadapi segala rintangan yang menghadang. Siap sedia untuk kehidupan untuk hidup bahagia dan tanpa perlu merasa kecewa, karena selalu mengusahakan yang terbaik. Itulah pengertian dari Scout Motto.

21 Apa Itu Pramuka GERAKAN SELF-EDUCATION UNTUK KAUM MUDA Kepramukaan adalah gerakan self-education bagi kaum muda. Anggota Pramuka di tiap negara di dunia tergabung dalam organisasi kepramukaan (NSO = National Scout Organization) yang ada di tiap negara tersebut. WOSM (World Organization of the Scout Movement), mengelola NSO-NSO tersebut yang terdaftar pada WOSM sehingga menjadi satu kesatuan organisasi kepramukaan sedunia. Secara garis besar, anggota WOSM terdiri dari kaum muda yang bergabung dalam WOSM dan orang dewasa yang ingin memberi kontribusi dalam pengembangan anggota muda WOSM. TUJUAN, PRINSIP, DAN METODE KEPRAMUKAAN Tujuan Kepramukaan adalah untuk membantu kaum muda dalam mengembangkan kecakapan fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual baik sebagai individu maupun bagian masyarakat serta memberi kontribusi dalam usaha membangun dunia yang lebih baik. Prinsip Kepramukaan terkandung dalam kode etik kepramukaan dan kode kehormatan yang dianut tiap Pramuka. Prinsip Kepramukaan berisi nilai-nilai tentang komitmen aktif dan konstruktif seseorang pada nilai spiritual kehidupan, pada masyarakat dan pada dirinya. Metode Kepramukaan adalah kerangka pendidikan yang luas terdiri atas elemen-elemen yang terpadu sebagai sebuah sistem untuk menyediakan lingkungan yang aktif dan kaya bagi kaum muda. Metode Kepramukaan didasarkan pada bagaimana kaum muda berkembang secara alami, baik perkembangan sifat, kebutuhan maupun minat pada tahap-tahap perkembangan yang berbeda. Tujuan, prinsip dan metode Kepramukaan adalah dasar sistem pendidikan dalam Kepramukaan.

22 SCOUTING CHARACTERISTICS. A Movements For Young People, Especially Suited For Adolescents Walaupun sistem pendidikan Kepramukaan sangat sesuai untuk usia remaja, tapi harus diperhatikan bahwa batas maksimal usianya tergantung pada faktor definisi muda dari sudut pandang pendidikan yang ada di masyarakat. Secara umum, batas maksimal usia bergantung pada tingkat kedewasaan seseorang secara umum dimana seseorang tidak lagi memerlukan pendekatan sistem pendidikan Kepramukaan untuk meneruskan proses self-education. Batas minimal usia bergantung pada tingkat minimal kedewasaan seseorang untuk mengikuti sistem pendidikan Kepramukaan sehingga dia dapat mengambil manfaat dari sistem pendidikan tersebut. Adalah jelas sekali bahwa tingkat-tingkat kedewasaan ini tidak hanya dapat diukur dengan usia, tetapi juga dengan memperhatikan beberapa tahun kedepan dimana dia akan memasuki periode kedua dalam kehidupannya. A movements of young people, supported by adults Kaum muda dalam gerakan Keramukaan didukung oleh orang dewasa, yang berperan untuk memfasilitasi dan menyediakan kondisi yang diperlukan untuk perkembangan kaum muda. Sebagai anggota sebuah gerakan self-education, dan dalam semangat bekerja sama dengan orang dewasa, kaum muda berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, dengan tetap memperhatikan tingkat kedewasaan, kemampuan dan pengalaman, untuk menjamin relevansi atas apa yang ditawarkan Kepramukaan untuk mereka. Open To All Sifat keanggotaan gerakan Kepramukaan sedunia adalah terbuka untuk semua orang yang bersedia menganut tujuan, prinsip dan metode Kepramukaan tanpa memperhatikan suku, agama, ras, latar belakang sosial atau jenis kelamin orang tersebut. Voluntary

23 Semua anggota gerakan Kepramukaan sedunia dengan sukarela menjadi anggota. Kepramukaan tidak memaksa seseorang untuk masuk menjadi anggota atau untuk tetap menjadi anggota. Tiap orang yang berkeinginan menjadi anggota wajib berkomitmen pada dirinya untuk menghormati kode etik Kepramukaan dan bertindak berdasarkan kode etik Kepramukaan. Non Political Gerakan Kepramukaan sedunia adalah gerakan non-politik dan bukan bagian dari organisasi politik tertentu. Di sisi lain, sistem pendidikan Kepramukaan bertujuan untuk membantu kaum muda menjadi, dan berkembang, sebagai individu sekaligus bagian masyarakat yang bertanggung jawab dan konstruktif. Tujuan ini tidak dapat dicapai bila kaum muda anggota gerakan Kepramukaan sedunia terasing dari realita sosio-politis di lingkungan mereka. Pendekatan pendidikan Kepramukaan, oleh karena itu, mendorong kaum muda untuk mengeluarkan pendapat mereka dan menambil peran aktif dan kosntruktif di masyarakat sesuai dengan nilai-nilai Kepramukaan. Independent Walaupun gerakan Kepramukaan sedunia bekerja sama dengan banyak organisasi di luar gerakan Kepramukaan sedunia dan menerima banyak dukungan dari para penyumbang dana di seluruh dunia, Kepramukaan, pada semua tingkat, adalah independen dan bebas dari kontrol pihak manapun. Complementary To Other Forms Of Education Pendidikan Kepramukaan adalah pendidikan non-formal. Dengan kata lain, pendidikan Kepramukaan bukan bagian dari sistem pendidikan formal (seperti sekolah) atau sistem pendidikan informal (seperti media komunikasi, teman). Kepramukaan tidak ingin menghasilkan apa yang mampu dihasilkan oleh sekolah, keluarga, klub hobi, dan lain-lain. Kepramukaan melengkapi apa yang mampu dihasilkan sistem pendidikan formal dan sistem pendidikan informal dengan mengisi kekosongan didalamnya. Relevant To Young People

24 Pendidikan Kepramukaan diharapkan dapat sesuai untuk kaum pada beragam lingkungan sosio-kultural tempat mereka tumbuh, dan secara kontinu berusaha memenuhi kebutuhan kaum muda menghadapi perubahan dunia yang makin cepat. Sebagai sebuah gerakan, salah satu tantangan terbesar gerakan Kepramukaan sedunia adalah secara kontinu berusaha menyesuaikan aspirasi kaum muda dan memenuhi kebutuhan mereka tanpa meninggalkan tujuan, prinsip dan metode Kepramukaan.

25 Prinsip dasar Kepramukaan & Metode Kepramukaan Prinsip Dasar Kepramukaan Merupakan norma hidup bagi Pramuka, memuat prinsip dasar yang menjadi landasan hidup bagi Pramuka. Prinsip dasar tersebut menjadi acuan bagi Pramuka dalam mengembangkan dirinya. Prinsip dasar kepramukaan terdiri dari empat hal, yaitu: Iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa; Peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya; Peduli terhadap diri pribadinya; Taat kepada Kode Kehormatan Pramuka (satya dan darma janji dan kode moral). Metode Kepramukaan Merupakan pedoman untuk anggota pramuka melaksanakan pembinaan di lingkungan Pramuka, baik di tingkat satuan, gugusdepan atau tingkat yang lebih tinggi. Metode ini disusun dari berbagai bagian yang merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan, antara lain: Pengamalan Kode Kehormatan Pramuka Kode kehormatan ini digunakan sebagai dasar dari seluruh aktifitas dari anggota pramuka. Belajar Sambil Melakukan Pendidikan dalam Gerakan Pramuka merupakan proses dari rekaman pengalaman saat melakukan kegiatan. Kepramukaan bukanlah suatu textbook yang harus dihafalkan, namun merupakan kegiatan. perencanaan melakukan evaluasi merupakan satu rangkaian kegiatan. Feedback (debrief) untuk menggali pengalaman dan hal-hal yang menjadi pelajaran dalam seluruh rangkaian kegiatan memegang peranan penting dalam suatu kegiatan. Sistem Berkelompok Sistem berkelompok dalam Gerakan Pramuka merupakan wadah berlatih anggota untuk bisa bersinergi dengan orang lain, bekerjasama, berlatih untuk memimpin dan dipimpin. Satuan dalam Gerakan Pramuka dikelompokkan sesuai dengan perkembangan jiwa dalam satu satuan untuk memastikan pengembangan diri mereka sesuai dengan lingkungan tempat mereka hidup.

26 Kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani peserta didik Kegiatan menantang tidak selalu mengandung resiko yang cukup besar bagi pesertanya. Inti dari kegiatan menantang adalah bagaimana kita bisa membuat suatu kegiatan menjadi menarik, menantang untuk diselesaikan. Setiap kegiatan kepramukaan harus dieksplorasi nilai pendidikan yang terkandung didalamnya karena Pramuka merupakan organisasi pendidikan. Kegiatan kepramukaan bisa dilakukan oleh siapa saja namun menjadi sesuatu yang berbeda saat tingkat tantangan kegiatan menyesuaikan dengan kondisi peserta (kondisi mental, fisik, finansial dan kesehatan). Kegiatan di alam terbuka Berkegiatan di alam terbuka akan membuat sesorang lebih ekspresif dan bebas, Dari sini akan timbul kreatifitas dalam menyelesaikan persoalan yang ada. Berada di alam terbuka akan membuat seseorang menjadi lebih kuat dan menghargai lingkungan dimana dia tinggal. Apakah alam terbuka berarti harus di hutan? BELUM TENTU! Istilah alam terbuka mengajak kita untuk lebih banyak bergaul dengan lingkungan sekitar kita, belajar dari situ, membebaskan pikiran tanpa dihalangi oleh dinding kelas. Sistem Tanda Kecakapan Pramuka memberi penghargaan bagi mereka yang telah mencapai tingkat atau skill tertentu dengan memberikan badge yang membuktikan bahwa si pemakai mempunyai kualitas sesuai dengan yang tertera pada badge. Hal ini untuk memacu anggotanya untuk meningkatkan kemampuan serta standarisasi. Sistem Satuan Terpisah untuk satuan putera dan puteri Pendidikan untuk semua, baik putra maupun putri. Pramuka memberi kegiatan yang bisa dilaksanakan oleh putra maupun putri tanpa melanggar norma. Sistem satuan terpisah diterapkan pada lingkungan tinggal serta tempat istirahat (tidur). Satuan terpisah ini tidak didefinisikan sebagai pemisahan segala hal dalam gerakan pramuka, tetapi satuan terpisah ini lebih didefinisikan kepada perbedaan kebutuhan antara anggota putra dan putrid sehingga memicu untuk dipisahkannya beberapa hal dalam gerakan pramuka (misal: Pola Pembinaan) Kiasan Dasar Simbol / Istilah / kiasan yang digunakan didalam gerakan pramuka mendefinisikan sesuatu. Umumnya, simbol-simbol / kiasan kiasan yang dipergunakan didalam gerakan pramuka selalu berhubungan dengan alam sekitar dan mudah dikenal.

27 Simbol simbol yang digunakan memiliki makna tertentu yang berhubungan dengan sesuatu yang diwakilinya. Misalkan, raimuna. Raimuna adalah kegiatan bertemunya seluruh pimpinan pramuka penegak pandega baik ditingkat kwartir ranting, cabang, daerah maupun nasional. Dalam bahasa aslinya (bahasa PAPUA), raimuna berarti pertemuan kepala suku untuk menghasilkan suatu kebaikan.

28 Pertolongan Pertama Penderita gawat darurat adalah penderita yang berada dalam keadaan terancam jiwanya dan bila tidak dilakukan pertolongan segera akan meninggal dunia Keberhasilan penanganan kasus gawat darurat tergantung pada: 1. Kecepatan Pertolongan a. Kecepatan ditemukan / diketahuinya keadaan pasien b. Kecepatan dilakukannya pertolongan pertama c. Kecepatan dalam memindahkan / transportasi penderita ke tempat rujukan 2. Kualitas Pertolongan a. Kemampuan mengetahui adanya kasus gawat darurat (kemampuan membedakan kasus tidak gawat dan tidak darurat) b. Kemampuan memberikan pertolongan pertama dengan tepat sesuai kemampuannya (pengetahuan dan ketrampilan penolong) sampai penderita diserahkan pada tenaga medis Secara garis besar, usaha pertolongan pertama pada kasus gawat darurat dapat terjadi pada: 1. Keadaan sehari-hari baik berupa kecelakaan lalu lintas jalan raya, kecelakaan kerja maupun kecelakaan di rumah tangga 2. Keadaan yang terjadi tiba-tiba. Misalnya kebakaran, bencana alam, kecelakaan pesawat terbang Untuk memberikan pengetahuan penanganan penderita gawat darurat pada orang awam khususnya pertolongan pertama sebelum ditangani oleh petugas medis terdapat 5 hal pokok yaitu: 1. Memberikan pengetahuan tentang kejadian-kejadian yang dapat menyebabkan terjadinya korban gawat darurat. 2. Memberikan pengetahuan tentang anatomi tubuh kita secara garis besar dengan gangguan fungsi yang menyebabkan penderita dalam keadaan gawat darurat. 3. Mengetahui tahap-tahap tindakan pertolongan pertama dan mengetahui cara memberikan prioritas dalam penanganan korban. 4. Mengetahui tindakan yang tepat untuk melakukan pertolongan pertama pada penderita gawat darurat. 5. Mengetahui tindakan selanjutnya untuk mendapat bantuan lebih lanjut (cara meminta tolong, cara membawa transportasi penderita) ke pusat/ fasilitas medis yang sesuai dengan kasusnya.

29 Pengetahuan tentang anatomi tubuh dan gangguan fungsi yang dapat menyebabkan kasus gawat darurat, meliputi: 1. Sistem pernapasan, contoh : hypoxia 2. Sistem peredaran darah, contoh : shock 3. Sistem kesadaran, contoh : pingsan PROSEDUR PENANGANAN START APAKAH ANDA & KORBAN BERADA DALAM BAHAYA? Yes JAUHKAN KORBAN DARI BAHAYA. PINDAHKAN KORBAN HANYA JIKA BENAR-BENAR DIPERLUKAN No 1. PERIKSA KESADARAN KORBAN 2. BEBASKAN SALURAN PERNAPASAN 3. PERIKSA KONDISI PERNAPASAN 4. PERIKSA DENYUT NADI APAKAH KORBAN SADAR? Yes 1. RAWAT JIKA TERDAPAT LUKA-LUKA 2. CARI PERTOLONGAN JIKA DIPERLUKAN No APAKAH KORBAN DAPAT BERNAPAS? Yes APAKAH KORBAN BERNAPAS DENGAN BERSUARA? Yes BUKA DAN BERSIHKAN SALURAN PERNAPASAN No No APAKAH ADA DENYUT NADI? 1. RAWAT / OBATI LUKA-LUKA YANG MENGANCAM No Yes KESELAMATAN 2. TEMPATKAN KORBAN DALAM POSISI PEMULIHAN 3. MEMANGGIL MEMINTA BANTUAN/PERTOLONGAN 4. BERIKAN 10 BANTUAN PERNAPASAN DARI MULUT KE MULUT 5. MEMANGGIL BANTUAN AMBULANS 6. LANJUTKAN BANTUAN PERNAPASAN SAMPAI PERTOLONGAN DATANG 1. MEMANGGIL AMBULANS 2. BERIKAN BANTUAN PERNAPASAN DAN TEKAN / POMPA DADANYA SAMPAI PERTOLONGAN DATANG

30 Pengetahuan Berkemah PERSONAL CLOTHING AND EQUIPMENT Pakaian / seragam : Tidak mudah beradapatasi dengan cuaca Mudah kering Menjaga suhu tubuh Meloloskan uap air Tidak mengganggu gerak tubuh Nyaman dipakai Sepatu / alas kaki : Melindungi engkel, jempol dan tumit kaki Sol sepatu harus mempunyai ketebalan yang cukup untuk melindungi dari batuan tajam Sol dari bahan karet Pada dasarnya sepatu yang dipakai dapat disesuaikan dengan kondisi medan, kemampuan daya beli serta selera Perlengkapan Standar Perorangan Peta dan Kompas PERLENGKAPAN REGU Pakaian Makanan dan minuman Pisau lipat First aid kit dan obat-obatan pribadi Korek api tahan air Lampu senter (flash light) Tenda Alat masak Peralatan pemanjatan Alat komunikasi Etc Pemicu api

31 Alat berteduh (tenda/fly sheet) Sunglass ( kaca mata hitam) MAKANAN Kalori yang dibutuhkan 4000 kal per orang/ hari Komposisi gizi yang memadai Mudah didapatkan Tidak asing Kemasan tidak mudah rusak Tahan lama Mudah dalam pengepakan Siap saji dan tidak banyak mempergunakan air ALAT MASAK DI ALAM TERBUKA Kompor bahan bakar padat atau gas Misting Sendok garpu Veldples Gelas plastik atau alumunium Panci Dan lain-lain, disesuaikan dengan lamanya perjalanan dan kondisi alam CARA MEMASAK Siapkan kompor dan cari air Siapkan bahan makanan yang akan dimasak Kompor yang mempergunakan bahan bakar yang mudah terbakar pengisiannya diluar tenda Proses memasak dilakukan dengan hati-hati sehingga tidak menyebabkan kebakaran

32 Diupayakan masak tidak dalam tenda / bivak LOAD PACKING AND CARRYING Beban maksimum yang dapat dibawa oleh setiap orang dalam ranselnya adalah 1/3 dari berat tubuhnya RANSEL / DAY PACK Ransel terbuat dari bahan kedap air Mempunyai bantalan empuk pada bagian punggung Memiliki sabuk pinggang atau pengikat ke tubuh Tidak menggangu gerakan tubuh Mempunyai kantong-kantong luar yang cukup untuk penyimpanan barang yang kecil dan harus segera dikeluarkan CONTOH RANSEL

33 PENGEPAKAN RANSEL Susun barang yang ringan dibagian bawah, yang sedang ditengah dan yang berat paling atas, sehingga distribusi berat akan bertumpu pada pundak bukan pada pinggang Simpan barang yang empuk pada bagian punggung untuk memberikan kenyamanan pada punggung Simpan barang-barang yang akan segera dipakai pada kantong ransel bagian luar serta mudah dijangkau oleh tangan. Pisahkan barang-barang yang berbau dan keras dari makanan Lapisi bagian dalam ransel dengan plastik Cara yang cukup efektif menahan resapan air disamping ransel dilapisi dengan plastik, setiap barang yang dipak dimasukkan kedalam suatu wadah/tempat yang terbuat dari bahan kedap air. Sebagai contoh pakaian dimasukan kedalam kantong plastik yang ukuran dan ketebalannya disesuaikan dengan jumlah pakaian yang kita bawa. CONTOH PENGEPAKAN DAN PEMAKAIAN RANSEL

34 TENTS AND SHELTER Fungsi tenda dan shelter memberikan perlindungan terutama pada saat kita tidur dari pengaruh cuaca di alam terbuka Shelter sifatnya tidak permanen dan tingkat perlindungannya tidak menyeluruh, contoh shelter : bivak alam, flysheet CONTOH TENDA DAN SHELTER Tenda regu Tenda doom Tenda hoop (setengah lingkaran memanjang) Bivak dari ponco Bivak alam dll CARA MENDIRIKAN TENDA DAN SHELTER Pasang tenda membelakangi arah angin / melawan arah angin (up wind) Pasak tenda sebelum memasang tiang dan tali Tegakkan tenda pada bagian yang membelakangi arah angin pasang pasak, baru kemudian tegakkan bagian lainnya. Pasang tali penegang lainnya. Usahakan tenda tidak berkerut, karena akan mengurangi kecepatan air turun. Dan jika dibiarkan dapat menampung air pada waktu hujan.

35 MEMILIH LOKASI BERKEMAH Tanah datar, tidak ada tunggul kayu, tidak pada jalur air Dekat dengan sumber air (mata air atau sungai ) Tidak pada daerah rawan longsor dan banjir Diupayakan tidak dibawah pepohonan yang besar Tidak pada cerukan gunung, karena cerukan akan menampung udara dingin pada malam hari Jika berkemah di Bumi Perkemahan upayakan lokasi tenda dekat dengan shleter untuk memudahkan pergerakan apabila terjadi hal-hal yang sifatnya darurat dan tenda tidak dapat melindungi dari keadaan tersebut. Upayakan tidak pada jalur perlintasan hewan, karena akan mengggangu serta menghindari perusakan dan penyerangan oleh hewan tersebut Memahami dan mengetahui apa-apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan di sekitar lokasi perkemahan Upayakan meninggalkan tempat berkemah pada kondisi semula STOVE AND FIRES Stoves and fires secara terjemahan bebas adalah kompor dan perapian untuk masak. Kompor untuk memasak di alam terbuka harus praktis dan mudah dibawa serta tidak memakan tempat dalam pengepakan. Kompor masak ada yang berbahan bakar gas, cair (spirtus) dan padat (parafin) Alternatif memasak selain mempergunakan kompor adalah dengan mermbuat perapian (fire) dengan bahan-bahannya berasal dari lingkungan sekitar tempat berkemah misalnya ranting, dedaunan kering, biji pohon pinus, kayu bakar, dll

36 Api unggun dibuat dengan cara menumpuk kayu-kayu kering, dengan pemicu api dari serpihan kayu yang kita serut, ranting kering atau biji pinus. WARMTH AND COMFORT Syarat syarat kenyamanan dalam perjalanan di alam terbuka : Tenda/shelter/bivak yang dipergunakan harus mempunyai alas yang dapat menahan dingin dari tanah Alas tidur mempergunakan matras Posisi tidur berada pada bagian atas apabila tanah tempat tidur agak miring Simpanlah perlengkapan kedalam kantong plastik agar tetap kering Sepatu tempatkan pada bagian luar tenda, ganti pakaian yang basah dengan yang kering Minum minuman yang menghangatkan tubuh seperti susu coklat panas, kopi panas atau teh panas manis. Simpanlah barang-barang yang diperlukan segera pada tempat yang mudah dijangkau Apabila kita mempergunakan kantong tidur (sleeping bag) jangan terlalu menutupi seluruh tubuh karena akan menyulitkan kita untuk dapat bergerak cepat apabila ada hal-hal yang bersifat darurat. Jika cuaca cerah jemurlah pakaian atau peralatan yang basah agar kering Bersihkan alat-alat yang sudah dipakai Simpan cadangan logistik seperti baterai, makanan, dll pada tempat yang terlindung dan mudah dijangkau Kesimpulannya dalam melakukan perjalanan

37 kita harus nyaman, hangat bila tidur, nyaman & enak bila makan, leluasa& nyaman dalam perjalanan (waktu berjalan kaki) H Y G I E N E Pengertian hygiene disini adalah bahwa apa yang kita pergunakan dan yang kita makan harus dalam keadaan relatif bersih sehingga tidak menimbulkan penyakit selama atau sesudah kegiatan berlangsung. Pastikan air yang dikonsumsi layak dipakai/dikonsumsi, dengan cara dijerang terlebih dahulu sampai mendidih kurang lebih 10 menit Cuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar atau makan, bersihkan kompor serta alat makan setelah dan sebelum dipakai, sebaiknya setelah dipakai cucilah dengan air panas. Apabila tidak tersedia tempat buang air besar maka buatlah lubang dibawah permukaan tanah dengan kedalaman kurang lebih cm dan setelah dipergunakan timbunlah dengan tanah, tempat penimbunan kotoran minimal berjarak 60 meter dari tempat mata air atau sungai. Upayakan seluruh rangkaian kegiatan diacarakan berakhir paling lambat pukul malam Jika anggota regu terdiri dari putra dan putri sebaiknya tempat mandi, cuci kakusnya dipisah

38 RUBBISH DISPOSAL JENIS-JENIS SAMPAH Sampah organik, adalah sampah yang dapat diurai oleh zat renik tanah dan dapat membantu menggemburkan tanah, contoh sampah yang terbuat dari bahan alami seperti daun pembungkus nasi, kotoran (tinja) manusia yang ditimbun, dll Sampah anorganik, jenis sampah ini tidak dapat diurai oleh zat renik tanah dan mengakibatkan tanah terpolusi, contoh sampah jenis ini adalah bahanbahan yang terbuat dari plastik atau zat kimia lainnya dan biasanya sifat zatnya tidak hilang. Sampah basah/cair dan sampah kering atau padat. Contoh sampah basah/cair adalah air bekas mencuci peralatan makan, contoh sampah kering atau padat adalah kaleng bekas minuman, sisa makanan, dll. PENANGANAN SAMPAH Penanganan sampah berbeda bergantung kepada jenisnya Sampah organik dan anorganik dipisahkan terlebih dahulu sebelum dibuang Sampah organik dibuang dengan cara membuat lubang dibawah permukaan tanah dengan kedalaman tertentu dan ditimbun, sampah anorganik dikumpulkan dalam suatu wadah misalnya kantong plastik yang diikat ujungnya lalu dibuang ke tempat penimbunan sampah. Sampah limbah cair dapat dibuang dengan cara menggali lubang yang lokasinya harus jauh dari sumber mata air atau sungai

39 SAFETY FACTOR Pengertian safety factor disini adalah, faktor keselamatan berkegiatan merupakan hal terpenting, seluruh rangkain kegiatan tertata dengan baik dengan mempergunakan peralatan dan perlengkapan yang memadai sehingga tidak membahayakan keselamatan fisik maupun jiwa baik secara perorangan maupun secara berkelompok/ beregu. FOR YOUR SAFETY Pemilihan lokasi tapak perkemahan Pemilihan rute yang aman menuju tapak perkemahan Pemilihan perlengkapan, peralatan dan pakaian yang disesuaikan dengan kebutuhan Pemilihan bahan bakar dan jenis kompor, ini hal yang penting diperhatikan karena berkaitan erat dengan keselamatan selama berada di tapak perkemahan. Contoh apabila kita akan mengganti tabung gas lakukanlah hal tersebut diluar tenda dan apabila dilakukan pada malam hari jauhkan dari sumber api seperti lilin atau lentera. Perhatikan tata cara memasak, sedapat mungkin memasak dilakukan pada tenda khusus yang beberapa bagiannya terbuka lebar sehingga tidak menampung asap yang terlalu banyak, apabila kondisi cuaca tidak memungkinkan memasak di tenda khusus memasak, memasak dapat dilakukan didalam tenda tidur dan tempatnya harus dekat dengan pintu tenda. Simpanlah peralatan dengan tertata rapi, sehingga tidak membahayakan kita pada saat tidur, misalnya peralatan berujung tajam kita tempatkan pada bagian luar tenda. Pastikan mempergunakan bahan bakar untuk memasak atau untuk keperluan lainnya sesuai dengan peruntukannya, anak-anak disarankan untuk mempergunakan kompor yang mempergunakan bahan bakar parafin saja.

40 Buat perlindungan dari hewan yang mungkin masuk ke areal tapak perkemahan Pastikan semua perlengkapan, jadwal acara kegiatan, jumlah personil yang terlibat tercatat dan secara berkala diadakan pengecekan ulang. Memberikan pengetahuan dan peringatan kepada anggota regu terhadap apaapa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan selama dalam perjalanan, di dalam tapak perkemahan sampai kembali pulang kerumah. SLEEPPING BAGS Pengertian Sleeping Bags adalah wadah atau tempat tidur yang fungsinya melindungi dan mempertahankan suhu tubuh kita selama kita tidur, fungsi lainnya adalah untuk menjaga agar tubuh kita tidak langsung menyentuh tanah yang dapat menyerap panas tubuh kita. Jenis, bahan dan bentuk kantung tidur bermacam macam bergantung kepada peruntukan dan kebutuhannya, sarung bisa juga kita sebut sleeping bag (kantong tidur) karena mempunyai beberapa kesamaan fungsi dengan kantung tidur buatan pabrik. Agar kita lebih nyaman lagi menggunakan kantung tidur sebaiknnya kantung tidur tidak langsung menyentuh tanah atau dasar tenda, dengan mempergunakan alas yang terbuat dari bahan matras atau bahan lainnya yang dapat menjaga suhu tubuh tetap stabil. Bentuk sleeping bag (kantong tidur) buatan pabrik : o Kepompong, jenis ini biasanya menutup seluruh anggota tubuh kita mulai dari kepala sampai dengan kaki.

41 o Sleeping yang hanya melindungi badan sampai dengan leher, untuk jenis ini diupayakan diberikan tambahan topi, kupluk sebagai pelindung kepala dari penguapan panas tubuh. ACCESS AND CONSERVATION Access & conservation adalah tata cara memasuki tapak perkemahan dan perlindungan terhadap alam disekitarnya Yang harus diperhatikan: Memilih rute perjalanan yang mudah ditempuh Pastikan lokasi perkemahan dekat dengan Rumah Sakit, Poliklinik atau Puskesmas Buat rute perjalanan secara rinci untuk memudahkan evakuasi apabila terjadi kecelakaan dan untuk dipergunakan pihak-pihak yang berkepentingan misalnya orang tua anggota regu, pemerintahan setempat, dll Proses surat surat perijinan yang ada kaitannya dengan lokasi perkemahan atau perizinan dari aparat yang berwenang Perhatikan larangan larangan yang tidak boleh dilanggar di areal perkemahan agar tidak membahayakan kita Pelihara lingkungan hidup disekitar lokasi perkemahan dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak mengotori sumber air (mata air) atau sungai yang ada di lokasi perkemahan Tidak meninggalkan limbah yang tidak dapat didaur ulang oleh alam di lokasi perkemahan

42 Tidak merusak atau membabat seenaknya pepohonan maupun tumbuhan yang ada disekitar lokasi perkemahan Tidak menangkap, membunuh (jika tidak perlu) dan menggangu habitat hewan yang ada disekitar lokasi perkemahan. Peran pembina, pelatih, instruktur dan guru adalah penting untuk memberikan contoh yang baik bagi peserta kegiatan, berperan untuk menjaga serta mengawasi peserta untuk tidak berbuat hal-hal yang membahayakan dirinya maupun kelompok dan tetap mengingatkan untuk selalu menjaga lingkungan alam disekitar areal perkemahan. WHEATHER Ada beberapa hal yang mudah dalam mengetahui kondisi cuaca : Usahakan untuk mempelajari tentang cuaca dan perubahannya walaupun secara garis besarnya saja Himpun semua data prakiraan cuaca sebelum kita berangkat, data-data tersebut dapat diperoleh dari siaran laporan di televisi, radio, surat kabar, badan meteorologi dan geofisika setempat, atau pada pusat informasi dilokasi perkemahan. Mengenal gejala-gejala alam pada waktu memulai dan dalam perjalanan (berkemah), misalnya kita dapat melihat awan mendung, hembusan angin, satwa dan lain-lain. CHECKLIST AND REPORT Checklist adalah daftar perlengkapan dan peralatan yang dibawa baik peroarangan maupun beregu, Report adalah laporan perjalanan/perkemahan yang dibuat secara descriptif yang memuat segala sesuatu yang ada kaitannya dengan kegiatan

43 perjalanan/perkemahan yang dilakukan. Misalnya ; laporan perjalanan, laporan kondisi perjalanan, dll.

44 APA GUNA KELUH KESAH Apa guna keluh kesah Apa guna keluh kesah Pramuka tak kenal bersusah Apa guna keluh kesah GARA-GARA JANDA MUDA Gara-gara janda muda 2x Rumah tangga jadi rusak Pom...pom...pom Dua cincin di jarinya Tanda mata di dunia Pom...pom...pom Kawin lari tidak baik Lebih baik bunuh diri Pom...pom...pom Bunuh diri tidak baik Lebih baik cari lain Pom...pom...pom Cari lain susah banget Lebih baik beli jadi Pom...pom...pom la...la...la...senangnya jadi Pramuka la...la...la...akhirnya dapat Pramuka bam...bam...bam...dor 2x 2x 2x 2x 2x 2x 2x 2x 2x

45 MARS GUGUSDEPAN Surabaya Kibaran panji tunasku Kobaran rasa hatiku Wadah tuk menempa jiwa muda Abdikan dirimu tuk nusa bangsamu Persada Indonesia Satyamu penyuluh jiwa Arungi samudera hidupmu Surabaya 610 Surabaya 611 Tetap harum namamu Abadi selamanya

46

Sejarah Gerakan Pramuka

Sejarah Gerakan Pramuka Sejarah Gerakan Pramuka Gerakan Pramuka lahir pada tahun 1961, jadi kalau akan menyimak latar belakang lahirnya Gerakan Pramuka, orang perlu mengkaji keadaan, kejadian dan peristiwa pada sekitar tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dimulai Sejak hari

BAB I PENDAHULUAN. dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dimulai Sejak hari BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Sejarah menunjukkan bahwa pemuda Indonesia mempunyai saham besar dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dimulai Sejak hari Kebangkitan Nasional tanggal

Lebih terperinci

43 Universitas Indonesia

43 Universitas Indonesia BAB IV GAMBARAN UMUM ORGANISASI GERAKAN PRAMUKA DI INDONESIA 4.1. Kelahiran Gerakan Kepanduan Gerakan ini dimulai pada tahun 1907 ketika Robert Baden-Powell, seorang letnan jendral angkatan bersenjata

Lebih terperinci

SEJARAH GERAKAN PRAMUKA AWAL KEPRAMUKAAN DI INDONESIA

SEJARAH GERAKAN PRAMUKA AWAL KEPRAMUKAAN DI INDONESIA 1 Masa Hindia Belanda SEJARAH GERAKAN PRAMUKA AWAL KEPRAMUKAAN DI INDONESIA Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa pemuda Indonesia mempunyai saham besar dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia

Lebih terperinci

Berikut pengertian masing-masing menurut Undang-undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka:

Berikut pengertian masing-masing menurut Undang-undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka: 1. Materi Pengetahuan Umum Kepramukaan untuk Penggalang Materi Pengetahuan Umum Kepramukaan adalah materi yang secara umum harus diketahui oleh pramuka, yang meliputi : Mengenal Pramuka Gerakan Pramuka

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR: 220 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN POKOK-POKOK ORGANISASI GERAKAN PRAMUKA

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR: 220 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN POKOK-POKOK ORGANISASI GERAKAN PRAMUKA KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR: 220 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN POKOK-POKOK ORGANISASI GERAKAN PRAMUKA Menimbang Ketua, : a. bahwa untuk keseragaman dan keselarasan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. ini banyak membawa pengaruh positif maupun negatif bagi penggunanya. Apabila

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. ini banyak membawa pengaruh positif maupun negatif bagi penggunanya. Apabila BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Komunikasi) dewasa ini banyak membawa pengaruh positif maupun negatif bagi penggunanya. Apabila generasi muda

Lebih terperinci

BAB II KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER YANG TERKANDUNG DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG GERAKAN PRAMUKA

BAB II KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER YANG TERKANDUNG DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG GERAKAN PRAMUKA BAB II KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER YANG TERKANDUNG DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG GERAKAN PRAMUKA A. Sejarah Gerakan Pramuka Gagasan Boden Powell yang cemerlang dan menarik mengenai konsep

Lebih terperinci

Mengenal Sosok Panutan dalam Perkembangan Karakter Pramuka Indonesia

Mengenal Sosok Panutan dalam Perkembangan Karakter Pramuka Indonesia Mengenal Sosok Panutan dalam Perkembangan Karakter Pramuka Indonesia Baden Powell lahir di London, Inggris pada tanggal 22 Februari 1857 dengan nama Robert Stephenson Smyth Baden Powell. Nama Baden Powell

Lebih terperinci

PEDOMAN MATERI. Created By : Reka Kerja KM D Universitas Kanjuruhan Malang PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN KANJURUHAN

PEDOMAN MATERI. Created By : Reka Kerja KM D Universitas Kanjuruhan Malang PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN KANJURUHAN PEDOMAN MATERI Created By : Reka Kerja KM D Universitas Kanjuruhan Malang Supervised By : LEM DI KA GERAKAN PRAMUKA PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN KANJURUHAN MALANG 2016

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan kepribadian ditujukan untuk mengembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Smith Baden Powell yang kemudian lebih dikenal dengan Bapak Pandu Sedunia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Smith Baden Powell yang kemudian lebih dikenal dengan Bapak Pandu Sedunia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Munculnya gerakan kepanduan dunia dipelopori oleh Robert Stephenson Smith Baden Powell yang kemudian lebih dikenal dengan Bapak Pandu Sedunia (22 Februari 1857-8

Lebih terperinci

LAMPIRAN KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 104 Tahun 2004 TANGGAL : 18 Oktober 2004 ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA PEMBUKAAN

LAMPIRAN KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 104 Tahun 2004 TANGGAL : 18 Oktober 2004 ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA PEMBUKAAN LAMPIRAN KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR : 104 Tahun 2004 TANGGAL : 18 Oktober 2004 ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA PEMBUKAAN Bahwa persatuan dan kesatuan bangsa dalam negara kesatuan yang adil dan makmur, materiil

Lebih terperinci

Sejarah Gerakan Pramuka Dunia

Sejarah Gerakan Pramuka Dunia Sejarah Gerakan Pramuka Dunia Kelahiran Gerakan Pramuka Dunia dimulai pada Tahun 1907 ketika Robert Baden Powell, seorang Letnan Jendral Angkatan Bersenjata Britania Raya, dan William Alexander Smith,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah UU No 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA PEMBUKAAN

ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA PEMBUKAAN LAMPIRAN KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 34 Tahun 1999 TANGGAL : 3 Mei 1999 ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA PEMBUKAAN Bahwa persatuan dan kesatuan bangsa dalam negara kesatuan yang adil dan

Lebih terperinci

Kegiatan Pramuka. Kegiatan yang dapat diikuti semua golongan Pramuka

Kegiatan Pramuka. Kegiatan yang dapat diikuti semua golongan Pramuka Kegiatan Pramuka Oleh : Sudiharto (Waka Binawasa Kwaran Kecamatan Cilandak) Dalam Kepramukaan terdapat banyak kegiatan. Semua kegiatan kepramukaan sesuai dengan metoda pendidikan kepramukaan. Metoda Pendidikan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KETUA KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR: 166 TAHUN 2002 TENTANG. Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka,

KEPUTUSAN KETUA KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR: 166 TAHUN 2002 TENTANG. Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, KEPUTUSAN KETUA KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR: 166 TAHUN 2002 TENTANG PENYEMPURNAAN PETUNJUK PENYELENGGARAAN SATUAN KARYA PRAMUKA KELUARGA BERENCANA Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Menimbang

Lebih terperinci

KURSUS PEMBINA PRAMUKA MAHIR TINGKAT DASAR 2008 RACANA KH. AHMAD DAHLAN DAN NYI HJ. AHMAD DAHLAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

KURSUS PEMBINA PRAMUKA MAHIR TINGKAT DASAR 2008 RACANA KH. AHMAD DAHLAN DAN NYI HJ. AHMAD DAHLAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO 1 KATA PENGANTAR ١ ل سلا م عليکم ورحمة ١ لل ه وبرکا ته Salam Pramuka! Alhamdulillahirobbil alamin, kami panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah menciptakan kami sebagai khalifah-nya di

Lebih terperinci

GERAKAN PRAMUKA IKIP BANDUNG HINGGA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA TAHUN

GERAKAN PRAMUKA IKIP BANDUNG HINGGA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA TAHUN 1 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Gerakan Pramuka Indonesia adalah nama organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan yang dilaksanakan di Indonesia, Kata "Pramuka" merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan untuk membentuk kepribadian peserta didik seperti yang dimaksud dalam tujuan gerakan pramuka tidak dapat dilaksanakan dalam waktu yang singkat secara sekaligus,

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2009 TENTANG PENGESAHAN ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2009 TENTANG PENGESAHAN ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2009 TENTANG PENGESAHAN ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan peranan Gerakan Pramuka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Dasar Kegiatan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Dasar Kegiatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gerakan pramuka sebagai satu-satunya wadah kegiatan kepanduan di sekolah merupakan tempat pendidikan bagi anak-anak yang dilaksanakan dengan penuh kegembiraaan, penuh

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 005 TAHUN 1989 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN TANDA SATUAN GERAKAN PRAMUKA

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 005 TAHUN 1989 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN TANDA SATUAN GERAKAN PRAMUKA KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 005 TAHUN 1989 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN TANDA SATUAN GERAKAN PRAMUKA Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Menimbang : 1. bahwa Gerakan Pramuka

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR: 220 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN POKOK-POKOK ORGANISASI GERAKAN PRAMUKA

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR: 220 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN POKOK-POKOK ORGANISASI GERAKAN PRAMUKA KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR: 220 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN POKOK-POKOK ORGANISASI GERAKAN PRAMUKA Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Menimbang : a. bahwa untuk

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA HASIL MUNASLUB GERAKAN PRAMUKA TAHUN 2012

ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA HASIL MUNASLUB GERAKAN PRAMUKA TAHUN 2012 ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA HASIL MUNASLUB GERAKAN PRAMUKA TAHUN 2012 ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA PEMBUKAAN Bahwa persatuan dan kesatuan bangsa dalam negara kesatuan yang adil dan makmur, materiil

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.131, 2010 PENDIDIKAN. Kepramukaan. Kelembagaan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5169) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan kepribadian ditujukan untuk mengembangkan

Lebih terperinci

PRAMUKA EKSTRAKULIKULER WAJIB DI SEKOLAH. Saipul Ambri Damanik

PRAMUKA EKSTRAKULIKULER WAJIB DI SEKOLAH. Saipul Ambri Damanik Jurnal Ilmu Keolahragaan Vol. 13 (2) Juli Desember 2014: 16-21 PRAMUKA EKSTRAKULIKULER WAJIB DI SEKOLAH Saipul Ambri Damanik Abstrak: Pendidikan Kepramukaan sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler Wajib pada

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2004 TENTANG PENGESAHAN ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2004 TENTANG PENGESAHAN ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.legalitas.org KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2004 TENTANG PENGESAHAN ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI KEPEMIMPINAN DALAM KEGIATAN EKSTRAKURIKULER KEPRAMUKAANDI SMK PGRI BATANG

BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI KEPEMIMPINAN DALAM KEGIATAN EKSTRAKURIKULER KEPRAMUKAANDI SMK PGRI BATANG BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI KEPEMIMPINAN DALAM KEGIATAN EKSTRAKURIKULER KEPRAMUKAANDI SMK PGRI BATANG Pada bab ini peneliti akan melakukan analisis dari survey baik pustaka maupun lapangan. Dalam hal ini

Lebih terperinci

TUGAS KLIPING PRAMUKA

TUGAS KLIPING PRAMUKA TUGAS KLIPING PRAMUKA NAMA : Dwi Aji S. KELAS : X-2 No. ` : 09 Sejarah Pramuka internasional A.Sejarah Hidup Lord Bodden Powell Pencetus berdirinya Gerakan Pramuka sedunia adalah Lord Bodden Powell. Beliau

Lebih terperinci

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka,

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, KEPUTUSAN KETUA KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR: 05 TAHUN 1984 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN SATUAN KARYA PRAMUKA WANABAKTI Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Menimbang : 1. bahwa untuk

Lebih terperinci

BAB 2 DATA DAN ANALISA

BAB 2 DATA DAN ANALISA 3 BAB 2 DATA DAN ANALISA 2.1 Data Umum 2.1.1 Gerakan Pramuka Gerakan Pramuka Indonesia adalah nama organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikankepanduan yang dilaksanakan di Indonesia.

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka meningkatkan peranan Gerakan Pramuka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehidupan manusia dalam masyarakat, baik sebagai pribadi maupun sebagai kolektivitas, senantiasa berhubungan dengan nilai-nilai, norma, dan moral. Kehidupan

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA PEMBUKAAN

ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA PEMBUKAAN ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA PEMBUKAAN Bahwa sesungguhnya kemerdekaan rakyat Indonesia yang telah diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 031/KN/78 TAHUN 1978 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN GLADIAN PIMPINAN SATUAN PENEGAK

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 031/KN/78 TAHUN 1978 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN GLADIAN PIMPINAN SATUAN PENEGAK KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 031/KN/78 TAHUN 1978 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN GLADIAN PIMPINAN SATUAN PENEGAK Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Menimbang Mengingat : a.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan kepribadian ditujukan untuk

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 53 TAHUN 1985 PETUNJUK PENYELENGGARAAN SATUAN KARYA BAKTI HUSADA

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 53 TAHUN 1985 PETUNJUK PENYELENGGARAAN SATUAN KARYA BAKTI HUSADA KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 53 TAHUN 1985 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN SATUAN KARYA BAKTI HUSADA Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka ; Menimbang : 1. bahwa untuk kesejahteraan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Proses pendidikan diselenggarakan dalam rangka mengembangkan pengetahuan, potensi, akal dan perkembangan diri manuisa, baik itu melalui jalur pendidikan formal,

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 055 TAHUN 1982 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN TANDA PENGENAL GERAKAN PRAMUKA

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 055 TAHUN 1982 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN TANDA PENGENAL GERAKAN PRAMUKA KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 055 TAHUN 1982 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN TANDA PENGENAL GERAKAN PRAMUKA Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Menimbang Mengingat : 1. bahwa

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NO. 238 TAHUN 1961 TENTANG GERAKAN PRAMUKA

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NO. 238 TAHUN 1961 TENTANG GERAKAN PRAMUKA KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NO. 238 TAHUN 1961 TENTANG GERAKAN PRAMUKA KAMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa anak-anak dan pemuda Indonesia perlu dididik untuk menjadi manusia

Lebih terperinci

PERAN GERAKAN PRAMUKA DALAM MENINGKATKAN PERILAKU HIDUP SEHAT DI MASYARAKAT

PERAN GERAKAN PRAMUKA DALAM MENINGKATKAN PERILAKU HIDUP SEHAT DI MASYARAKAT PERAN GERAKAN PRAMUKA DALAM MENINGKATKAN PERILAKU HIDUP SEHAT DI MASYARAKAT Azrul Azwar Disampaikan pada Mukernas &Simposium Nasional IAKM, Pontianak 9 Juli 2012 1 GERAKAN PRAMUKA Gerakan Pramuka adalah

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI (OBYEK PENELITIAN)

BAB II DESKRIPSI (OBYEK PENELITIAN) BAB II DESKRIPSI (OBYEK PENELITIAN) 2.1 Sejarah Organisasi Scouting yang di Indonesia dikenal dengan istilah Kepramukaan, dikembangkan oleh Lord Baden Powell sebagai cara membina kaum muda di Inggris yang

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 056 TAHUN 1982 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN KARANG PAMITRAN

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 056 TAHUN 1982 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN KARANG PAMITRAN KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 056 TAHUN 1982 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN KARANG PAMITRAN Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Menimbang : 1. bahwa dalam rangka usaha meningkatkan

Lebih terperinci

AD/ART GERAKAN PRAMUKA TAHUN 2009 Hlm. 13 dari 13

AD/ART GERAKAN PRAMUKA TAHUN 2009 Hlm. 13 dari 13 AD/ART GERAKAN PRAMUKA TAHUN 2009 Hlm. 13 dari 13 2. Usul perubahan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka diterima oleh Musyawarah Nasional jika disetujui oleh sekurang-kurangnya tiga perempat dari jumlah suara

Lebih terperinci

PROGRAM KERJA GUGUS DEPAN XI /076 PANGKALAN SMP NEGERI 8 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2013/2014. Disusun Oleh. Dewan Kerja Penggalang

PROGRAM KERJA GUGUS DEPAN XI /076 PANGKALAN SMP NEGERI 8 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2013/2014. Disusun Oleh. Dewan Kerja Penggalang PROGRAM KERJA GUGUS DEPAN XI.06.03.075/076 PANGKALAN SMP NEGERI 8 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Disusun Oleh Dewan Kerja Penggalang XI.06.03.075/076 GERAKAN PRAMUKA GUDEP XI.06.03.075/076 PANGKALAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan kepribadian ditujukan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PENANAMAN KEDISIPLINAN SISWA MELALUI KEGIATAN PRAMUKA DI MA YMI WONOPRINGGO

BAB IV ANALISIS PENANAMAN KEDISIPLINAN SISWA MELALUI KEGIATAN PRAMUKA DI MA YMI WONOPRINGGO 64 BAB IV ANALISIS PENANAMAN KEDISIPLINAN SISWA MELALUI KEGIATAN PRAMUKA DI MA YMI WONOPRINGGO Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada kegiatan ekstrakurikuler pramuka di MA YMI Wonopringgo, peneliti

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR: 225 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN MAJELIS PEMBIMBING GERAKAN PRAMUKA

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR: 225 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN MAJELIS PEMBIMBING GERAKAN PRAMUKA KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR: 225 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN MAJELIS PEMBIMBING GERAKAN PRAMUKA Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Menimbang : a. bahwa untuk mendukung

Lebih terperinci

Perlengkapan pribadi untuk pendakian antara lain:

Perlengkapan pribadi untuk pendakian antara lain: Perlengkapan Dasar dan Persiapan Perjalanan Keberhasilan seseorang dalam melakukan perjalanan ditentukan oleh perencanaan dan persiapan sebelum melakukan perjalanan. Gagal dalam melakukan sebuah perencanaan

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN NILAI-NILAI DEMOKRASI DALAM KEGIATAN PRAMUKA

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN NILAI-NILAI DEMOKRASI DALAM KEGIATAN PRAMUKA IMPLEMENTASI PENDIDIKAN NILAI-NILAI DEMOKRASI DALAM KEGIATAN PRAMUKA (Studi Kasus Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka Di SMP Negeri 1 Baturetno Kabupaten Wonogiri Tahun Ajaran 2012/2013) NASKAH PUBLIKASI

Lebih terperinci

PETUNJUK PELAKSANAAN GUGUS DEPAN GERAKAN PRAMUKA YANG BERPANGKALAN DI KAMPUS PEGURUAN TINGGI

PETUNJUK PELAKSANAAN GUGUS DEPAN GERAKAN PRAMUKA YANG BERPANGKALAN DI KAMPUS PEGURUAN TINGGI PETUNJUK PELAKSANAAN GUGUS DEPAN GERAKAN PRAMUKA YANG BERPANGKALAN DI KAMPUS PEGURUAN TINGGI KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR: 180 A TAHUN 2011 KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA i DAFTAR

Lebih terperinci

PETUNJUK PELAKSANAAN KURSUS PEMBINA PRAMUKA MAHIR TINGKAT DASAR (KMD) 2017

PETUNJUK PELAKSANAAN KURSUS PEMBINA PRAMUKA MAHIR TINGKAT DASAR (KMD) 2017 PETUNJUK PELAKSANAAN KURSUS PEMBINA PRAMUKA MAHIR TINGKAT DASAR (KMD) 2017 RACANA RADEN MAS SAID-NYI AGENG SERANG IAIN SURAKARTA Bekerjasama dengan PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN CABANG SUKOHARJO PANDUAN

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. sebagai propinsi dengan jumlah penduduk tiga

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. sebagai propinsi dengan jumlah penduduk tiga 230 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Propinsi Jawa Barat sebagai propinsi dengan jumlah penduduk tiga terbesar di Pulau Jawa memiliki isu sentral kepadatan penduduk dengan segala permasalahannya.

Lebih terperinci

Pramuka Garuda Penegak

Pramuka Garuda Penegak Pramuka Garuda Penegak Pramuka Garuda ialah tingkatan tertinggi dalam setiap golongan Pramuka (Siaga, Penggalang, Penegak, Pandega). Seorang peserta didik yang telah mencapai tingkatan terakhir dalam golongannya,

Lebih terperinci

ADIK-ADIK PRAMUKA YANG SAYA BANGGAKAN DI SELURUH INDONESIA, WABARAKATUH, SALAM SEJAHTERA BAGI KITA SEMUA, SALAM PRAMUKA,

ADIK-ADIK PRAMUKA YANG SAYA BANGGAKAN DI SELURUH INDONESIA, WABARAKATUH, SALAM SEJAHTERA BAGI KITA SEMUA, SALAM PRAMUKA, ADIK-ADIK PRAMUKA YANG SAYA BANGGAKAN DI SELURUH INDONESIA, KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA SAMBUTAN KETUA KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA PADA PERINGATAN HARI PRAMUKA KE 56 TAHUN 2017 YANG TERHORMAT,

Lebih terperinci

DAMPAK PEMBINAAN KEPRAMUKAAN TERHADAP TANGGUNG JAWAB SOSIAL PESERTA DIDIK

DAMPAK PEMBINAAN KEPRAMUKAAN TERHADAP TANGGUNG JAWAB SOSIAL PESERTA DIDIK DAMPAK PEMBINAAN KEPRAMUKAAN TERHADAP TANGGUNG JAWAB SOSIAL PESERTA DIDIK oleh : Lani Widia Astuti & Eka Jayadiputra Program Studi PPKn Universitas Islam Nusantara, Bandung ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi

Lebih terperinci

TANDA PENGENAL GERAKAN PRAMUKA

TANDA PENGENAL GERAKAN PRAMUKA TANDA PENGENAL GERAKAN PRAMUKA Tanda Pengenal Gerakan Pramuka adalah tanda yang dikenakan oleh seorang Pramuka pada Seragam Pramuka yang menunjukan jati dirinya sebagai seorang Pramuka, satuan tempatnya

Lebih terperinci

BUPATI SEMARANG SAMBUTAN BUPATI SEMARANG PADA ACARA RENUNGAN BADEN POWELL DAY

BUPATI SEMARANG SAMBUTAN BUPATI SEMARANG PADA ACARA RENUNGAN BADEN POWELL DAY 1 BUPATI SEMARANG SAMBUTAN BUPATI SEMARANG PADA ACARA RENUNGAN BADEN POWELL DAY TANGGAL 21 PEBRUARI 2015 HUMAS DAN PROTOKOL SETDA KABUPATEN SEMARANG Assalamu alaikum Wr. Wb. 2 Salam sejahtera bagi kita

Lebih terperinci

GUGUSDEPAN KOTA CIREBON PANGKALAN IAIN SYEKH NURJATI CIREBON

GUGUSDEPAN KOTA CIREBON PANGKALAN IAIN SYEKH NURJATI CIREBON PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN KURSUS PEMBINA PRAMUKA MAHIR TINGKAT DASAR (KMD)TAHUN 2017 Cirebon, 25 s.d 30 Juli 2017 RACANA SYEKH NURJATI NYI MAS RARASANTANG GUGUSDEPAN KOTA CIREBON 04.033-04.034 PANGKALAN

Lebih terperinci

BAB III GERAKAN PRAMUKA DAN TANDA JABATAN PRAMUKA

BAB III GERAKAN PRAMUKA DAN TANDA JABATAN PRAMUKA BAB III GERAKAN PRAMUKA DAN TANDA JABATAN PRAMUKA 3. 1 Organisasi Gerakan Pramuka Organisasi Gerakan Pramuka adalah organisasi yang menangani seluruh kegiatan kepramukaan yang ada di Indonesia. Organisasi

Lebih terperinci

Sambutan Presiden RI Pd Pertemuan dg Veteran dan Pejuang Perang..., tgl 23 Mar 2014, di Bali Minggu, 23 Maret 2014

Sambutan Presiden RI Pd Pertemuan dg Veteran dan Pejuang Perang..., tgl 23 Mar 2014, di Bali Minggu, 23 Maret 2014 Sambutan Presiden RI Pd Pertemuan dg Veteran dan Pejuang Perang..., tgl 23 Mar 2014, di Bali Minggu, 23 Maret 2014 SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA PERTEMUAN DENGAN VETERAN DAN PEJUANG PERANG

Lebih terperinci

Sambutan Presiden RI pada Jambore Nasional IX Gerakan Pramuka th 2011, Kab. OKI, 2 Juli 2011 Sabtu, 02 Juli 2011

Sambutan Presiden RI pada Jambore Nasional IX Gerakan Pramuka th 2011, Kab. OKI, 2 Juli 2011 Sabtu, 02 Juli 2011 Sambutan Presiden RI pada Jambore Nasional IX Gerakan Pramuka th 2011, Kab. OKI, 2 Juli 2011 Sabtu, 02 Juli 2011 SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA JAMBORE NASIONAL IX GERAKAN PRAMUKA TAHUN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR 180.A TAHUN 2008 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN PRAMUKA GARUDA

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR 180.A TAHUN 2008 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN PRAMUKA GARUDA KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR 180.A TAHUN 2008 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN PRAMUKA GARUDA Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Menimbang : a. bahwa Gerakan Pramuka senantiasa

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN 1. SEJARAH PRAMUKA 1.1 SEJARAH GERAKAN PRAMUKA Berbicara tentang Gerakan Pramuka, maka tidak akan terlepas dari pada sejarah pendiri dari Gerakan Kepanduan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 029/KN/77 TAHUN 1977 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN GELADIAN PIMPINAN REGU PENGGALANG

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 029/KN/77 TAHUN 1977 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN GELADIAN PIMPINAN REGU PENGGALANG KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 029/KN/77 TAHUN 1977 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN GELADIAN PIMPINAN REGU PENGGALANG Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Menimbang Mengingat : 1.

Lebih terperinci

Melebihi batas waktu yang telah ditentukan panitia, dengan rincian sebagai berikut : Lebih 2 menit dari waktu yang telah ditentukan = - 15 point

Melebihi batas waktu yang telah ditentukan panitia, dengan rincian sebagai berikut : Lebih 2 menit dari waktu yang telah ditentukan = - 15 point LOMBA LKBBT a. Ketentuan Umum 1) Jenis Perlombaan a) LKBBT dasar b) Formasi dan Variasi 2) Ketentuan Peserta a) Peserta yaitu pelajar SMP/MTs/sederajat Se-Jawa Barat. b) Setiap pleton terdiri dari 12 orang,

Lebih terperinci

PETUNJUK PELAKSANAAN. Samarinda, November 2016 BAB I PENDAHULUAN

PETUNJUK PELAKSANAAN. Samarinda, November 2016 BAB I PENDAHULUAN 1 PETUNJUK PELAKSANAAN LOMBA LINTAS ALAM GUGUSDEPAN UNIVERSITAS MULAWARMAN XXIII Samarinda, 11-14 November 2016 BAB I PENDAHULUAN A. DASAR PEMIKIRAN Gerakan Pramuka sebagai wadah organisasi pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. siswa, Departemen Pendidikan Nasional yang tertuang dalam rencana srategis

BAB I PENDAHULUAN. siswa, Departemen Pendidikan Nasional yang tertuang dalam rencana srategis 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Upaya peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia, khususnya siswa, Departemen Pendidikan Nasional yang tertuang dalam rencana srategis (Renstra) Depdiknas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. konsep perilaku apa yang dapat dilaksanakan oleh individu-individu dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. konsep perilaku apa yang dapat dilaksanakan oleh individu-individu dalam BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Peran Istilah peran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti peranan sandiwara (film), tukang lawak pada permainan makyong, perangkat tingkah yang berkedudukan di masyarakat.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dunant. Bemula dari perjalanan bisnis yang Ia lakukan, namun pada. Kota kecil di Italia Utara bernama Solferino pada tahun 1859.

BAB I PENDAHULUAN. Dunant. Bemula dari perjalanan bisnis yang Ia lakukan, namun pada. Kota kecil di Italia Utara bernama Solferino pada tahun 1859. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Palang Merah terbentuk dari situasi sulit di dunia seperti peperangan dan bencana alam. Awal mula terbentuknya Palang Merah yaitu pada abad ke-19, atas prakarsa seorang

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 230 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN PRAMUKA PEDULI

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 230 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN PRAMUKA PEDULI KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR : 230 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN PRAMUKA PEDULI Menimbang Mengingat Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, : a. bahwa dalam upaya mengimplementasikan

Lebih terperinci

BAB III SEPUTAR GERAKAN PRAMUKA. 1. Istilah Gerakan Pramuka, Pramuka dan kepramukaan. Kepramukaan dan Metode Pendidikan Kepramukaan.

BAB III SEPUTAR GERAKAN PRAMUKA. 1. Istilah Gerakan Pramuka, Pramuka dan kepramukaan. Kepramukaan dan Metode Pendidikan Kepramukaan. BAB III SEPUTAR GERAKAN PRAMUKA A. Sekilas Tentang Gerakan Pramuka di Indonesia 1. Istilah Gerakan Pramuka, Pramuka dan kepramukaan Selama ini istilah Gerakan Pramuka, Pramuka serta Kepramukaan sering

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR 43 TAHUN 1997 PETUNJUK PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PRAMUKA PENEGAK DAN PANDEGA

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR 43 TAHUN 1997 PETUNJUK PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PRAMUKA PENEGAK DAN PANDEGA KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR 43 TAHUN 1997 PETUNJUK PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PRAMUKA PENEGAK DAN PANDEGA BAB I PENDAHULUAN 1. Umum a. Gerakan Pramuka mempunyai tugas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. organisasi-organisasi pergerakan yang lain. Budi Utomo, disamping dikenal

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. organisasi-organisasi pergerakan yang lain. Budi Utomo, disamping dikenal BAB I PENDAHULUAN. A. LATAR BELAKANG Munculnya berbagai perkumpulan atau organisasi berlandaskan pendidikan dan politik bertugas untuk mensejahterakan bangsa Indonesia terutama di bidang pendidikan agar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Baden Powell, seorang letnan jendral angkatan bersenjata Britania Raya, dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Baden Powell, seorang letnan jendral angkatan bersenjata Britania Raya, dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kelahiran Gerakan Pramuka Dunia dimulai pada tahun 1907 ketika Robert Baden Powell, seorang letnan jendral angkatan bersenjata Britania Raya, dan William Alexander

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah. Di antara berbagai program dan kegiatan pembangunan Nasional, salah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah. Di antara berbagai program dan kegiatan pembangunan Nasional, salah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Di antara berbagai program dan kegiatan pembangunan Nasional, salah satunya adalah pembangunan di bidang pendidikan yang di kenal dengan sebutan pendidikan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang PENDAHULUAN A. Latar Belakang Remaja dalam bahasa latin adolescence berarti tumbuh menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa. Rentang waktu usia remaja dibedakan menjadi tiga, yaitu : 12-15

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR: 214 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN DEWAN KERJA PRAMUKA PENEGAK DAN PRAMUKA PANDEGA

KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR: 214 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN DEWAN KERJA PRAMUKA PENEGAK DAN PRAMUKA PANDEGA KEPUTUSAN KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA NOMOR: 214 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN DEWAN KERJA PRAMUKA PENEGAK DAN PRAMUKA PANDEGA Ketua, Menimbang : a. bahwa Dewan Kerja Pramuka Penegak

Lebih terperinci

RANCANGAN MENGAJAR ( RM )

RANCANGAN MENGAJAR ( RM ) RM - 3.3 RANCANGAN MENGAJAR ( RM ) PELATIHAN / PENATARAN : KMD ALAT BANTU POKOK BAHASAN : FORUM PRAMUKA SIAGA, PAPAN TULIS PENGGALANG, PENEGAK, OVERHEAD PROJECTOR PANDEGA. MOVIE PROJECTOR WAKTU : 6 x 45

Lebih terperinci

KETENTUAN KEGIATAN SELEKSI KONTINGEN RAIMUNA NASIONAL 2017 KWARCAB KOTA SEMARANG TAHUN 2017

KETENTUAN KEGIATAN SELEKSI KONTINGEN RAIMUNA NASIONAL 2017 KWARCAB KOTA SEMARANG TAHUN 2017 KETENTUAN KEGIATAN SELEKSI KONTINGEN RAIMUNA NASIONAL 2017 KWARCAB KOTA SEMARANG TAHUN 2017 I. PENDAHULUAN Sesuai dengan kelender kegiatan dan keputusan Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka tahun 2013,

Lebih terperinci

ANGGARAN RUMAH TANGGA GERAKAN PRAMUKA HASIL MUNASLUB GERAKAN PRAMUKA TAHUN 2012

ANGGARAN RUMAH TANGGA GERAKAN PRAMUKA HASIL MUNASLUB GERAKAN PRAMUKA TAHUN 2012 ANGGARAN RUMAH TANGGA GERAKAN PRAMUKA HASIL MUNASLUB GERAKAN PRAMUKA TAHUN 2012 BAB I NAMA DAN TEMPAT Pasal 1 Nama (1) Organisasi ini bernama Gerakan Pramuka yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KWARTIR DAERAH 11 JAWA TENGAH NOMOR : 089 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN OPERASIONAL PRAMUKA PEDULI KWARTIR DAERAH 11 JAWA TENGAH

KEPUTUSAN KWARTIR DAERAH 11 JAWA TENGAH NOMOR : 089 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN OPERASIONAL PRAMUKA PEDULI KWARTIR DAERAH 11 JAWA TENGAH KEPUTUSAN KWARTIR DAERAH 11 JAWA TENGAH NOMOR : 089 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN OPERASIONAL PRAMUKA PEDULI KWARTIR DAERAH 11 JAWA TENGAH Ketua Kwartir Daerah 11 Jawa Tengah Menimbang : 1. Bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

- 1 - PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG GERAKAN PRAMUKA

- 1 - PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG GERAKAN PRAMUKA - 1 - PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG GERAKAN PRAMUKA I. UMUM Salah satu tujuan bernegara yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik

Lebih terperinci

Tata Upacara Pramuka Penegak

Tata Upacara Pramuka Penegak Tata Upacara Pramuka Penegak Tata Upacara Pramuka Penegak A. Pengertian Upacara adalah serangkaian perbuatan yang ditata dalam suatu ketentuan, peraturan yang wajib dilaksanakan dengann khidmat, sehingga

Lebih terperinci

BUPATI SEMARANG SAMBUTAN BUPATI SEMARANG SELAKU KAMABICAB PADA ACARA PEMBUKAAN LOMBA ORIENTEERING KEPRAMUKAKAAN TAHUN 2015 TANGGAL 1 PEBRUARI 2015

BUPATI SEMARANG SAMBUTAN BUPATI SEMARANG SELAKU KAMABICAB PADA ACARA PEMBUKAAN LOMBA ORIENTEERING KEPRAMUKAKAAN TAHUN 2015 TANGGAL 1 PEBRUARI 2015 1 BUPATI SEMARANG SAMBUTAN BUPATI SEMARANG SELAKU KAMABICAB PADA ACARA PEMBUKAAN LOMBA ORIENTEERING KEPRAMUKAKAAN TAHUN 2015 TANGGAL 1 PEBRUARI 2015 HUMAS DAN PROTOKOL SETDA KABUPATEN SEMARANG 2 Assalamu

Lebih terperinci

POLA DAN MEKANISME PEMBINAAN PRAMUKA PANDEGA

POLA DAN MEKANISME PEMBINAAN PRAMUKA PANDEGA POLA DAN MEKANISME PEMBINAAN PRAMUKA PANDEGA NOMOR: 176 TAHUN 2013 BAB I PENDAHULUAN 1. Umum a. Gerakan Pramuka adalah organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi

Lebih terperinci

RENCANA KERJA GUGUSDEPAN GERAKAN PRAMUKA KABUPATEN MALANG AIRLANGGA GAYATRI PANGKALAN SMP NEGERI 1 TUMPANG TAHUN ANGGARAN

RENCANA KERJA GUGUSDEPAN GERAKAN PRAMUKA KABUPATEN MALANG AIRLANGGA GAYATRI PANGKALAN SMP NEGERI 1 TUMPANG TAHUN ANGGARAN RENCANA KERJA GUGUSDEPAN GERAKAN PRAMUKA KABUPATEN MALANG 22099 22100 AIRLANGGA GAYATRI PANGKALAN SMP NEGERI 1 TUMPANG TAHUN ANGGARAN 2008 2009 BAB I PENDAHULUAN 1. Umum a. Dengan Keputusan Kwartir Nasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Alfitra Salam, APU, Makalah Simposium Satu Pramuka Untuk Satu Merah Putih,

BAB I PENDAHULUAN. 1 Alfitra Salam, APU, Makalah Simposium Satu Pramuka Untuk Satu Merah Putih, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu upaya penting yang dapat menunjang pembentukan watak, karakter dan akhlak manusia adalah melalui pendidikan secara terus menerus. Pendidikan yang

Lebih terperinci

PETUNJUK PELAKSANAAN SELEKSI DEWAN KERJA CABANG BANYUMAS KWARTIR CABANG BANYUMAS TAHUN 2017

PETUNJUK PELAKSANAAN SELEKSI DEWAN KERJA CABANG BANYUMAS KWARTIR CABANG BANYUMAS TAHUN 2017 PETUNJUK PELAKSANAAN SELEKSI DEWAN KERJA CABANG BANYUMAS KWARTIR CABANG BANYUMAS TAHUN 2017 A. PENDAHULUAN Gerakan Pramuka adalah suatu organisasi formal yang bergerak dalam bidang pendidikan non formal

Lebih terperinci

Buku Materi Pramuka Penegak Ambalan Pandawa Srikandi Gudep SMA Negeri 1 Purwodadi KATA PENGANTAR

Buku Materi Pramuka Penegak Ambalan Pandawa Srikandi Gudep SMA Negeri 1 Purwodadi KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr.Wb. Salam Pramuka Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas karunia dan rahmat-nya kumpulan materi ini dapat tersusun dalam format yang demikian sederhana

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 4, 1988 (ADMINISTRASI. HANKAM. ABRI. Warga Negara. Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

LEMBAR PENILAIAN PRAMUKA GARUDA GOLONGAN SIAGA

LEMBAR PENILAIAN PRAMUKA GARUDA GOLONGAN SIAGA GOLONGAN SIAGA 1 Menjadi contoh yang baik dalam Perindukan Siaga, di rumah, di sekolah atau di lingkungan pergaulannya, sesuai dengan isi Dwisatya dan Dwidarma. 2 Telah menyelesaikan SKU tingkat Siaga

Lebih terperinci

Nomor : 01/SAKOMA.SBY/IX/ September 2016 Lampiran : 4 lembar Perihal : Pemberitahuan

Nomor : 01/SAKOMA.SBY/IX/ September 2016 Lampiran : 4 lembar Perihal : Pemberitahuan GERAKAN PRAMUKA SATUAN KOMUNITAS PRAMUKA MA ARIF NU CABANG KOTA SURABAYA Jalan Makam Peneleh 70 76 Telp. 5317470, 5465352 Fax. 5343541 Surabaya 60274 E-mail : [email protected] Website : http://sakomasurabaya.wordpress.com

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace dicabut: UU 3-2002 lihat: UU 1-1988 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 51, 1982 (HANKAM. POLITIK. ABRI. Warga negara. Wawasan Nusantara. Penjelasan

Lebih terperinci

Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka

Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka 1 10 TUGAS PRAMUKA DI MEDIA SOSIAL 1. Mempelajari dan menerapkan apa yang boleh dan dilarang dilakukan di media sosial, untuk kemudian menyadari bahwa konten yang diunggah akan dilihat, dipahami, dan dimengerti

Lebih terperinci

PETUNJUK TEKNIS LOMBA LINTAS ALAM GUGUSDEPAN UNIVERSITAS MULAWARMAN XXII Samarinda,19-23 April 2014

PETUNJUK TEKNIS LOMBA LINTAS ALAM GUGUSDEPAN UNIVERSITAS MULAWARMAN XXII Samarinda,19-23 April 2014 PETUNJUK TEKNIS LOMBA LINTAS ALAM GUGUSDEPAN UNIVERSITAS MULAWARMAN XXII Samarinda,19-23 April 2014 A. NAMA KEGIATAN Lomba Lintas Alam Gugusdepan Universitas Mulawarman ke XXII Tahun 2014 (LLAGUM XXII

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG STANDAR DAN PENGELOLAAN RUMAH AMAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci