INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "INSTITUT PERTANIAN BOGOR"

Transkripsi

1 RANCANG BANGUN BUBUU LIPAT MODIFIKASI DAN PENGGUNAAN CACING TANAH (Lumbricus rubellus) SEBAGAI UMPAN ALTERNATIF UNTUK PENANGKAPAN SPINY LOBSTER ZULKARNAIN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012

2

3 PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Rancang Bangun Bubu Lipat Modifikasi dan Penggunaan Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) Sebagai Umpan Alternatif Untuk Penangkapan Spiny Lobster adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian disertasi ini. Bogor, Januari 2012 Zulkarnain NRP C

4

5 ABSTRACT ZULKARNAIN. Design and Construction of Collapsible Pot Modification and Use Earthworm (Lumbricus rubellus) as Bait Alternatives for Catching Spiny Lobster. Under supervision of MULYONO S. BASKORO, SULAEMAN MARTASUGANDA, and DANIEL R. MONINTJA. In Indonesia, the use of special pots to catch lobsters has not been much done and undeveloped, so that the necessary effort to develop a lobster pot fishing gear through technological improvements or modifications of existing gear. There are organisms that originated from the mainland are expected to have economic potential as a natural alternative for lobster bait, ie earthworms (Lumbricus rubellus). The general objective of the research is to make improvements and reveal the effectiveness of pot construction and the use of alternative bait in the lobster resource utilization. The experiment was conducted in two stages carried out since the year 2008 to The first stage is a laboratory-scale research and the second stage is a field-scale research with the experimental fishing in the eastern coast of the Pelabuhanratu Bay waters of West Java. The result of this study show that catch of collapsible pot consisted of the main target and by-catch. The main target catches were composed by lobster, consisting of three species, namely scalloped spiny lobster (Panulirus homarus), painted rock lobster (Panulirus versicolor), and ornate rock lobster (Panulirus ornatus). On the other hand the by-catch which consisting of a group of crustaceans (sea swimming crabs), group molluscs (cuttlefish-sepia sp.), groups of fish (grouper, Epinephelus maculatus), and groups of crustaceans (shrimp, Squilla mantis). Fishing trials to measure the effectiveness of collapsible pot modifications and bait of sardines has been performed for 31 days of fishing trip. The use of collapsible pot experiments has a different effectiveness in acquiring lobster catches (F value α = 5% = 9.44> F tabel = or p-value = <0.05). Trials to measure the effectiveness of collapsible pot side doors modification and bait earthworms have been performed for 20 days fishing trip The statisticaly analysis show that two types of collapsible pot and two kind of baits in this research are significantly different (α = 5%). Furthermore analysis comparison about lobster catch between type of collapsible pot show that the standard of collapsible pot is better compared with modifications. While collapsible pot using earthworms better than the collapsible pot that uses sardine (standard of bait). The collapsible pot modification can reduce by-catch by 50% compared with the standard. Earthworms have a high protein content, also have good feedback resistance in sea water compared with bait sardines. Earthworms bait fat content decreased more rapidly with an average reduction of 65.48% ± 3.04 compared with sardines 41.51% ± Keywords: Spiny lobster, collapsible pot modification, earthworm

6

7 RINGKASAN ZULKARNAIN. Rancang Bangun Bubu Lipat Modifikasi dan Penggunaan Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) Sebagai Umpan Alternatif Untuk Penangkapan Spiny Lobster. Dibimbing oleh MULYONO S. BASKORO, SULAEMAN MARTASUGANDA, dan DANIEL R. MONINTJA. Penangkapan lobster, secara umum merupakan kegiatan perikanan tangkap skala kecil yang memiliki keterbatasan dalam upaya pemanfaatan sumberdaya perikanan, seperti keterbatasan dalam perolehan input teknologi (IPTEK), sehingga cenderung statis dalam penggunaan teknologi alat tangkap yang digunakan. Di sisi lain, metode penangkapan dari alat tangkap dan cara penangkapan lobster yang digunakan akan memiliki keunggulan dan kekurangan dalam perolehan hasil tangkapan lobster baik dalam jumlah, ukuran dan kualitasnya. Bubu adalah alat tangkap perangkap atau jebakan yang sifatnya pasif. Penggunaan bubu untuk penangkapan lobster sesungguhnya adalah memakai bubu yang umum digunakan untuk menangkap ikan-ikan karang. Bubu ini ukurannya bermacam-macam yang disesuaikan dengan kedalaman air. Bubu dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan letak mulut bubu. Jenis yang pertama dengan satu mulut bubu yang terletak pada bagian atas bubu, dan jenis kedua yaitu bubu dengan satu atau dua mulut bubu yang terletak di bagian samping bubu. Umpan merupakan salah satu faktor penting untuk menunjang keberhasilan suatu operasi penangkapan dan berfungsi sebagai perangsang yang memikat target penangkapan dan sangat berpengaruh untuk meningkatkan laju tangkap bubu. Di Indonesia, penggunaan bubu yang khusus untuk menangkap lobster belum banyak dilakukan dan belum berkembang, sehingga diperlukan upaya pengembangan alat tangkap bubu lobster melalui perbaikan teknologi atau modifikasi dari alat tangkap yang ada. Terdapat organisme yang berasal dari wilayah daratan yang diduga memiliki potensi ekonomis sebagai alternatif umpan alami bagi lobster, yaitu cacing tanah (Lumbricus rubellus). Tujuan umum penelitian adalah untuk melakukan perbaikan teknologi bubu dan mengkaji efektivitasnya serta penggunaan jenis umpan alternatif dalam pemanfaatan sumber daya lobster. Sedangkan tujuan khusus penelitian ini adalah : (1) Mengkaji dan menciptakan bubu lobster sebagai upaya perbaikan teknologi dengan melakukan modifikasi terhadap desain dan konstruksi bubu standar; (2) Menentukan kandungan kimia umpan alami, baik umpan standar maupun umpan alternatif berdasarkan lama perendaman; (3) Mengkaji efektivitas penangkapan lobster dengan menggunakan bubu lobster hasil modifikasi dengan umpan standar; dan (4) Mengkaji efektivitas penangkapan lobster dengan menggunakan bubu lobster hasil modifikasi dengan umpan alternatif. Penelitian dilaksanakan sejak tahun Tahap pertama adalah penelitian skala laboratorium, yang terdiri dari kegiatan desk study terhadap studi desain dan konstruksi bubu lobster dan pemilihan jenis umpan alternatif. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan rancang bangun bubu lobster modifikasi. Terkait dengan umpan, juga dilakukan uji proksimat untuk kadar protein dan lemak kasar berdasarkan perbedaan lama perendaman di laut. Tahap kedua

8 adalah penelitian skala lapangan dengan melakukan uji coba penangkapan di perairan pesisir timur Teluk Pelabuhanratu, Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode desk study, deskriptif dan uji coba penangkapan (experimental fishing). Data primer yang dikumpulkan adalah produksi tangkapan dengan satuan cacah individu (ekor) dan berat (gram) lobster sebagai Hasil Tangkapan Utama (HTU) dan Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) lainnya sebagai by-catch, dan kandungan kimiawi (kadar protein dan lemak) umpan. Analisis data menggunakan Analisis sidik ragam Rancangan Acak Lengkap dan Rancangan Acak Kelompok. Bila faktor dan/ atau perlakuan berbeda nyata maka dilakukan uji lanjutan. Data hasil tangkapan tersebut diolah dengan menggunakan aplikasi Statistical Analysis System (SAS) versi portable for Windows. Pengujian kandungan kimiawi umpan dilakukan dengan analisis proksimat (A.O.A.C.1980) khusus untuk analisis kadar protein dan kadar lemak kasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bubu lipat modifikasi memiliki spesifikasi yang berbeda dengan bubu lipat standar. Modifikasi bubu lipat pintu samping terletak pada ukuran bubu (pxlxt = 60 cm x 45 cm x 30 cm) yang lebih besar dibandingkan bubu lipat standar yang umumnya digunakan untuk menangkap rajungan (pxlxt = 50 cm x 30 cm x 20 cm), Slope net (sudut kemiringan pintu masuk bubu) atas dan bawah : 22,5, Ukuran pintu masuk cukup lebar, yaitu 30 cm x 14 cm (panjang x tinggi), Terdapat pintu jebakan bentuk kisi-kisi bahan plastik yang berfungsi untuk memudahkan target masuk ke dalam bubu dan sulit untuk keluar, Sumbu lipatan bubu terletak 20 cm dari bagian depan bubu. Modifikasi bubu lipat pintu atas terletak pada ukuran bubu (pxlxt = 60 cm x 45 cm x 30 cm) lebih besar dibandingkan bubu lipat standar (pxlxt = 50 cm x 30 cm x 20 cm) dengan bagian atasnya menyempit, slope net (sudut kemiringan pintu masuk bubu): 70, ukuran pintu masuk cukup lebar, yaitu 30 cm x 14 cm (panjang x tinggi), terdapat pintu jebakan bentuk kisi-kisi bahan plastik yang berfungsi untuk memudahkan target masuk ke dalam bubu dan sulit untuk keluar, sumbu lipatan bubu terletak 15 cm dari bagian depan bubu. Cacing tanah yang akan dijadikan umpan alternatif adalah adalah Lumbricus rubellus. Efektivitas bubu lipat modifikasi dan umpan cacing tanah ini perlu diuji lebih lanjut dalam pengujian skala lapangan (experimental fishing). Uji coba penangkapan untuk mengukur efektivitas bubu lipat modifikasi dan umpan tembang telah dilakukan selama 31 hari trip penangkapan. Komposisi hasil tangkapan utama adalah lobster 42 ekor (35,0%) terdiri dari 3 spesies, yaitu Lobster hijau pasir (Panulirus homarus) 39 ekor (32,5%), Lobster hijau (Panulirus versicolor) 2 ekor (1,7%), dan Lobster mutiara (Panulirus ornatus) 1 ekor (0,8%). Hasil Tangkapan Sampingan atau by-catch dengan total 78 ekor (65,0%) yang terdiri dari kelompok krustasea (rajungan) 59 ekor (49,2%), kelompok moluska (sotong-sepia sp.) 14 ekor (11,7%), kelompok ikan (kerapu tutul- Epinephelus maculatus dan sinreng- Canthigaster sp.) 5 ekor (4,2%). Penggunaan bubu lipat penelitian, baik bubu lipat modifikasi pintu samping, bubu lipat modifikasi pintu atas maupun bubu lipat standar dengan umpan tembang (standar) memiliki efektivitas yang berbeda dalam memperoleh hasil tangkapan lobster (F value α=5% = 9,44 > F tabel = 3,097 atau p-value = < 0.05). Bubu lipat rajungan sebagai standar pengujian (0,8 ekor ± 0,03) lebih baik dalam memperoleh rata-rata tangkapan lobster dibandingkan dengan kedua bubu

9 lipat modifikasi, yaitu bubu lipat modifikasi pintu samping (0,5 ekor ± 0,02) dan bubu lipat modifikasi pintu atas (0,1 ekor ± 0,01). Bubu lipat modifikasi pintu samping (0,5 ekor ± 0,02) lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu atas (0,1 ekor ± 0,01) terhadap rata-rata hasil tangkapan lobster. Efektivitas bubu lipat standar (6,7%) lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu samping (3,8%) dan bubu lipat modifikasi pintu atas (0,8%). Sementara, nilai efektivitas bubu lipat modifikasi pintu samping (3,8%) lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu atas (0,8%). Bubu lipat modifikasi, baik modifikasi pintu atas (0,6 ekor ± 0,05) maupun pintu samping (0,7 ekor ± 0,02) menangkap rata-rata hasil tangkapan sampingan (by-catch) lebih sedikit dibandingkan dengan bubu lipat standar (1,5 ekor ± 0,04). Uji coba penangkapan untuk mengukur efektivitas bubu lipat modifikasi pintu samping dan umpan cacing tanah telah dilakukan selama 20 hari trip penangkapan. Komposisi hasil tangkapan utama adalah lobster 31 ekor (33,7%), terdiri dari 3 spesies, yaitu lobster hijau pasir (Panulirus homarus) 29 ekor (31,5%), lobster hijau (Panulirus versicolor) 1 ekor (1,1%), dan lobster mutiara (Panulirus ornatus) 1 ekor (1,1%). Hasil tangkapan sampingan (HTS) atau bycatch dengan total 61 ekor (66,3%) yang terdiri dari kelompok krustasea (rajungan) 33 ekor (35,9%), kelompok moluska (sotong-sepia sp.) 22 ekor (23,9%), kelompok ikan (kerapu tutul-epinephelus maculatus) 5 ekor (5,4%), dan kelompok krustasea (udang ronggeng- Squilla mantis) 1 ekor (1,1%). Faktor bubu lipat, baik bubu lipat modifikasi pintu samping maupun bubu lipat standar berbeda nyata pada taraf α = 5%. Dalam hal ini bubu yang paling baik digunakan adalah tetap bubu lipat rajungan sebagai standar pengujian (Mean = 0,96025) dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu samping (Mean = 0,82358). Efektivitas bubu lipat standar (9,2%) lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu samping (3,8%). Namun demikian, bubu lipat modifikasi pintu samping dapat mereduksi by-catch hingga 50% dibandingkan penggunaan bubu lipat rajungan (standar). Perlakuan umpan, baik umpan cacing tanah maupun tembang berbeda nyata pada taraf α = 5%. Dalam hal ini umpan yang paling baik digunakan adalah cacing tanah (Mean = ) dibandingkan dengan umpan tembang (Mean = ). Efektivitas bubu lipat yang menggunakan umpan cacing tanah (9,2%) lebih besar dibandingkan dengan yang menggunakan umpan tembang (3,8%). Bubu yang menggunakan umpan cacing tanah dapat mereduksi by-catch hingga 36,8% dibandingkan dengan bubu lipat yang menggunakan umpan tembang. Umpan cacing tanah mengalami penurunan kadar protein yang cukup lambat dengan rata-rata penurunan 9,76% ± 0,40 dibandingkan dengan umpan tembang 34,90% ± 3,40. Dengan demikian, selain cacing tanah memiliki kandungan protein yang tinggi, juga memiliki ketahanan umpan yang cukup tinggi dibandingkan dengan umpan tembang. Umpan cacing tanah mengalami penurunan kadar lemak yang lebih cepat dengan rata-rata penurunan 65,48% ± 3,04 dibandingkan dengan umpan tembang 41,51% ± 3,44. Kata kunci: Lobster, bubu lipat modifikasi, cacing tanah,

10

11 Hak Cipta milik Institut Pertanian Bogor (IPB), Tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah. b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

12

13 RANCANG BANGUN BUBU LIPAT MODIFIKASI DAN PENGGUNAAN CACING TANAH (Lumbricus rubellus) SEBAGAI UMPAN ALTERNATIF UNTUK PENANGKAPAN SPINY LOBSTER ZULKARNAIN Disertasi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012

14 Penguji Luar Komisi Pembimbing: Penguji pada Ujian Tertutup: Dr. Ir. M. Imron, M.Si Dr. Ir. Diniah, M.Si Penguji pada Ujian Terbuka: Prof. Dr. Ir. Bambang Murdiyanto, M.Sc Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Dr. Suharyanto, M.Si Direktur Sekolah Pascasarjana Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta

15 Judul Disertasi : Rancang Bangun Bubu Lipat Modifikasi dan Penggunaan Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) Sebagai Umpan Alternatif Untuk Penangkapan Spiny Lobster. Nama : Zulkarnain NIM : C Program Studi : Teknologi Kelautan Disetujui Komisi Pembimbing Prof. Dr. Ir. Mulyono S. Baskoro, M.Sc. Ketua Dr. Sulaeman Martasuganda, M.Sc Anggota Prof. Dr. Ir. Daniel R. Monintja Anggota Mengetahui Ketua Program Studi Teknologi Kelautan Dekan Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Ir. Mulyono S. Baskoro, M.Sc. Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr Tanggal Ujian : 13 Januari 2012 Tanggal Lulus:

16

17 PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia- Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam penelitian ini adalah Rancang Bangun Bubu Lipat Modifikasi dan Penggunaan Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) Sebagai Umpan Alternatif Untuk Penangkapan Spiny Lobster. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Mulyono S. Baskoro, M.Sc selaku ketua komisi pembimbing; Bapak Dr. Sulaeman Martasuganda, M.Sc, dan Prof. Dr. Ir. Daniel R. Monintja selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak memberikan saran, arahan, bimbingan, dan ilmu. Bahkan lebih jauh, penulis diberikan motivasi dan rasa percaya diri untuk segera menyelesaikan studi. Demikian juga kepada Prof. Takafumi Arimoto yang telah membimbing selama exchange student di Tokyo University of Marine Science and Technology, beserta teman sejawat di Laboratorium TPI dan Departemen PSP. Doa saya kepada Allah Yang Maha Kuasa untuk selalu memberikan limpahan rahmat dan karunia kepada Bapak semua. Ucapan terima kasih disampaikan kepada Mukhlish, Diki, Awang, yang telah membantu dalam pengumpulan dan pengolahan data serta semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyelesaian disertasi ini. Penghargaan dan terima kasih tidak terhingga penulis sampaikan kepada istri Renny Juniarti S.Pi dan anakku Hafizh Reza Prasetya, Ir. Djuli Kuncoro, Muhammad Iwan S.E., Siti Sundari atas segala doa, kesabaran, dorongan dan pengertian yang diberikan secara tulus ikhlas selama penulis menempuh pendidikan. Kepada semua pihak yang tidak penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu langsung atau tidak langsung, semoga Allah SWT membalas kebaikan tersebut dengan rahmat dan pahala berlipat ganda. Terakhir penulis berharap semoga karya ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, Amin. Bogor, Januari 2012 Zulkarnain

18

19 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 19 Mei 1963 sebagai anak ketiga dari Bapak Muhammad Sueb (alm) dan Ibu Supinah (almh). Menikah pada tahun 1998 dengann Renny Juniarti dan dikaruniai anak Hafizh Reza Prasetya. Pendidikan sarjana ditempuh di Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan, IPB, lulus tahun Penulis bekerja sebagai dosen di Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB sejak tahun Pada tahun 2002 penulis lulus S2 pada Program Studi Teknologi Kelautan, Program Pascasarjana IPB. Pada tahun 2005 penulis melanjutkan studi S3 pada Program Studi Teknologi Kelautan, Sekolah Pascasarjana IPB. Pada bulan April 2007 penulis terpilih dan ikut dalam program Exchange Student program satu tahun hingga April 2008 di Tokyo University of Marine Science and Technology. Karya berkaitan dengan disertasi, adalah publikasi yang telah diterbitkan bulan Juli tahun 2011 di Buletin PSP Volume XIX, No.2: 45-57, dengan judul Pengembangan Desain Bubu Lobster yang Efektif, dan di Buletin PSP Volume XIX, No. 3 Desember 2011, dengan judul Efektivitas Bubu Lipat Modifikasi dan Penggunaan Umpan Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) pada penangkapan Spiny Lobster ( Panulirus spp.) di Perairan Pesisir Timur Teluk Pelabuhanratu Jawa Barat.

20

21 DAFTAR ISTILAH Umpan alami (natural bait) Bubu (pot) Bubu lipat (collapsible pot) Umpan yang berasal dari bahan alami yang digunakan untuk memikat ikan sehingga mendekati umpan tersebut Alat penangkap ikan yang termasuk dalam klasifikasi perangkap dengan desain khusus untuk menangkap ikan dan krustasea Alat penangkap ikan yang termasuk dalam klasifikasi perangkap dengan desain khusus untuk menangkap ikan dan krustasea, dimana alat tangkap tersebut dapat dilipat menjadi posisi datar karena memiliki sumbu lipatan Efektivitas (effectivity) Tingkat pencapaian hasil terhadap suatu tujuan Daerah penangkapan ikan (fishing ground) Tempat berlindung (shelter) Tempat bersembunyi (hiding place) Unit penangkapan (fishing unit) Penebaran (setting) Pengangkatan (hauling) Perangkap (trap) Daerah yang menjadi tujuan operasi penangkapan ikan Suatu tempat atau bentuk bangunan yang dapat dijadikan tempat untuk berlindung dari predator bagi ikan dan krustasea. Suatu tempat atau bentuk bangunan yang dapat dijadikan tempat untuk bersembunyi dari predator bagi ikan dan krustasea. Unit penangkapan ikan yang terdiri atas nelayan, kapal dan alat tangkap Pemasangan alat tangkap di daerah penangkapan Proses pengangkatan alat tangkap ke atas kapal dalam operasi penangkapan Alat penangkapan ikan yang prinsip kerjanya menjebak ikan untuk masuk ke dalam alat dengan pikatan tertentu

22 Modifikasi (modification) Perubahan secara fisik terhadap spesifikasi suatu benda tertentu Cacing tanah (earthworm) Hasil tangkapan sampingan (by-catch) Nocturnal Umpan (bait) Teknologi tepat guna Hewan darat dari Kelas Oligochaeta, Famili Lumbricidae dan spesies Lumbricus rubellus yang hidup di tanah yang terlindung dari sinar matahari, lembab, gembur, dan mengandung banyak serasah. Habitat ini sangat spesifik bagi cacing tanah untuk tumbuh dan berkembang biak dengan baik. Tubuh selalu menghasilkan banyak lendir Hasil tangkapan dari suatu alat tangkap yang bukan target tangkapan Sifat dan tingkah laku ikan yang aktif pada waktu malam hari Bahan fisik maupun kimia yang dapat memberikan rangsangan ikan tertentu dalam tujuan penangkapan Teknologi yang sesuai dan dibutuhkan oleh masyarakat

23 DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... Halaman xxi xxiii xxvii 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Tujuan umum Tujuan khusus Manfaat Penelitian Hipotesis Kerangka Pemikiran Novelty TINJAUAN PUSTAKA Perbaikan Teknologi Bubu Makanan Alami Lobster Mekanisme Makan Bahan Rangsangan Umpan bersifat Kimiawi Indera Penciuman Pelepasan Bahan Kimiawi Umpan Simulasi Makan dan Pikatan Kimiawi Taksonomi, Morfologi, Habitat dan Penyebaran Lobster Tingkah Laku Lobster METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian skala laboratorium Penelitian skala lapangan Alat dan Bahan Penelitian Penelitian skala laboratorium Penelitian skala lapangan Kerangka Penelitian Metodologi Penelitian Pengumpulan data Penelitian skala laboratorium Penelitian skala lapangan Kegiatan operasi penangkapan Analisis data Penelitian skala laboratorium Penelitian skala lapangan xix

24 Halaman 4 HASIL PENELITIAN Desain dan Konstruksi Bubu Lobster Perkembangan penangkapan lobster Perkembangan desain bubu lobster Analisis penentuan desain bubu lobster Desain bubu lobster yang efektif Rancang bangun bubu lipat modifikasi dan standar Pemilihan umpan alternatif Efektivitas Bubu Lipat Dengan Umpan Ikan Tembang (Standar) Komposisi hasil tangkapan (total) Efektivitas bubu lipat penelitian Efektivitas Bubu Lipat Modifikasi Pintu Samping dan Umpan Cacing Tanah Komposisi hasil tangkapan (total) Perbedaan efektivitas bubu lipat Perbedaan efektivitas umpan Perubahan Kadar Protein dan Lemak Umpan PEMBAHASAN Bubu Lipat Bubu Lipat dan Umpan Standar Bubu Lipat Modifikasi dan Umpan Cacing Tanah Umpan Alternatif KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xx

25 DAFTAR TABEL Halaman 1 Deskripsi dan respons tingkah laku krustasea terhadap rangsangan kimiawi Alat dan bahan penelitian Alat dan bahan utama penelitian Alat dan bahan utama penelitian Spesifikasi alat tangkap bubu lipat penelitian Spesifikasi alat tangkap bubu lipat penelitian Spesifikasi bubu lipat modifikasi pintu samping Spesifikasi bubu lipat modifikasi pintu atas Profil asam amino (g/100g protein) cacing tanah (Lumbricus rubellus) Komposisi hasil tangkapan total ukuran jumlah (ekor) dan ukuran berat (gram) Komposisi hasil tangkapan lobster berdasarkan jenis bubu lipat Analisis sidik ragam model terhadap total hasil tangkapan lobster Nilai efektivitas bubu lipat Komposisi hasil tangkapan total jumlah (ekor) dan berat (gram) Analisis sidik ragam perlakuan terhadap total hasil tangkapan lobster Analisis sidik ragam masing-masing faktor terhadap total hasil tangkapan lobster Komposisi hasil tangkapan berdasarkan jenis bubu lipat Uji Duncan untuk faktor bubu lipat terhadap hasil tangkapan lobster Nilai efektivitas bubu lipat Komposisi hasil tangkapan berdasarkan jenis umpan Uji Duncan untuk faktor umpan terhadap hasil tangkapan lobster Nilai efektivitas umpan xxi

26 xxii

27 DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Kerangka pemikiran Organ penciuman dan sensilla dari spiny lobster Tingkat pelepasan asam amino dari umpan buatan yang berisi 2 g campuran bahan kimia dalam 100 g bahan pengemulsi dibandingkan dengan umpan alami Bagian-bagian tubuh lobster Penyebaran geografis lobster hijau pasir (Panulirus homarus Linnaeus 1758) Penyebaran geografis lobster bunga (Panulirus longipes Milne Edwards 1868) 32 7 Penyebaran geografis lobster mutiara (Panulirus ornatus Fabricius 1798) Penyebaran geografis lobster batu (Panulirus penicillatus Olivier Penyebaran geografis lobster bambu coklat (Panulirus polyphagus Herbst 1793) Penyebaran geografis lobster hijau (Panulirus versicolor Latreille 1804) Lokasi penelitian di Pelabuhanratu Jawa Barat Kerangka Penelitian Perendaman umpan untuk sampel uji proksimat (Kadar protein dan lemak kasar) Alat tangkap bubu lipat penelitian sistem longline Perahu penelitian Pemasangan umpan cacing Pemasangan umpan Setting alat tangkap Hauling alat tangkap Hasil tangkapan lobster Hasil tangkapan rajungan Hoop net atau perangkap krendet untuk menangkap lobster dengan ukuran diameter bingkai : cm xxiii

28 Halaman 23 Bubu lobster dengan desain dan penggunaan bahan yang berbeda : (a) Bahan bambu; (b) Bahan serat pelepah daun kelapa; (c) Bahan kayu; (d) Bingkai baja ringan dan jaring polyethilene; (e) Bentuk mata jaring dari kawat baja yang dilas; dan (f) Bahan kawat ayam Bubu lipat (collapsible pot) untuk menangkap rajungan bentuk kotak dengan ukuran PxLxT = 55 x 35 x 20 cm Ilustrasi penggunaan trigger pada mulut bubu kepiting Ilustrasi penggunaan trigger pada mulut bubu kepiting Desain bubu lipat rajungan sebagai bubu lipat standar untuk acuan modifikasi Tahapan pembuatan desain bubu lipat modifikasi pintu samping Tahapan pembuatan desain bentuk pintu jebakan bentuk kisikisi pada mulut bubu lipat modifikasi pintu samping Desain bubu lipat modifikasi pintu samping (MPS) dengan pintu jebakan yang berbentuk kisi-kisi Desain bubu lipat modifikasi pintu atas (MPA) dengan pintu jebakan yang berbentuk kisi-kisi Proses rancang bangun bubu lipat modifikasi dan bubu lipat standar Bubu lipat modifikasi pintu samping Bubu lipat modifikasi pintu atas Bubu lipat standar (bubu lipat rajungan) Cacing tanah (Lumbricus rubellus) Bagian-bagian tubuh cacing tanah (Lumbricus rubellus) Komposisi hasil tangkapan total dalam jumlah (ekor) Komposisi hasil tangkapan total dalam berat (gram) Komposisi hasil tangkapan lobster dan by-catch dalam jumlah (ekor) Komposisi hasil tangkapan lobster dan by-catch dalam berat (gram) Rata-rata jumlah (ekor) hasil tangkapan per trip antara lobster dengan by-catch Komposisi panjang karapas (mm) lobster hasil tangkapan Komposisi berat (gram) lobster hasil tangkapan xxiv

29 Halaman 45 Komposisi hasil tangkapan lobster berdasarkan jenis bubu lipat Rata-rata jumlah (ekor) lobster yang tertangkap per trip ± SE antara bubu lipat Standar, MPS dengan bubu lipat MPA Rata-rata jumlah (ekor) by-catch yang tertangkap per trip ± SE antara bubu lipat Standar, MPS dengan bubu lipat MPA Komposisi hasil tangkapan total dalam jumlah (ekor) Komposisi hasil tangkapan total dalam berat (gram) Komposisi hasil tangkapan total dalam jumlah (ekor) Rata-rata hasil tangkapan (ekor) per trip ± SE antara lobster dengan by-catch Komposisi selang kelas panjang karapas (mm) lobster hasil tangkapan Lobster hijau pasir dengan telur yang melekat pada pleopod Komposisi selang kelas berat (gram) lobster hasil tangkapan Rata-rata hasil tangkapan lobster (ekor) per trip ± SE berdasarkan penggunaan bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (MPS) dengan bubu lipat Standar (S) Rata-rata hasil tangkapan by-catch (ekor) per trip ± SE berdasarkan penggunaan bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (MPS) dengan bubu lipat Standar (S) Rata-rata hasil tangkapan lobster (ekor) per trip ± SE berdasarkan penggunaan bubu lipat dengan umpan cacing tanah dan umpan tembang (S) Rata-rata hasil tangkapan by-catch (ekor) per trip ± SE berdasarkan penggunaan bubu lipat dengan umpan cacing tanah dan umpan tembang (S) Perubahan kadar protein umpan cacing tanah dan tembang berdasarkan lama perendaman Rata-rata perubahan kadar protein (% ± SE) umpan cacing tanah dan tembang berdasarkan lama perendaman Perubahan kadar lemak umpan cacing tanah dan tembang berdasarkan lama perendaman Rata-rata perubahan kadar lemak (% ± SE) umpan cacing tanah dan tembang berdasarkan lama perendaman xxv

30 xxvi

31 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Data respon hasil tangkapan 3 jenis bubu lipat dengan umpan tembang Data respon hasil tangkapan 2 jenis bubu lipat dengan umpan cacing tanah dan umpan tembang Respon data hasil tangkapan lobster jenis bubu lipat dengan umpan tembang Data syntax 3 jenis bubu lipat dengan umpan tembang Analisis ANOVA dengan aplikasi SAS untuk 3 jenis bubu lipat dengan umpan tembang Respon data hasil tangkapan lobster jenis bubu lipat modifikasi pintu samping (MPS) dan standar (S) dengan jenis umpan cacing tanah dan tembang (standar) Data syntax 2 jenis bubu lipat dengan umpan cacing tanah dan umpan tembang Hasil analisis ANOVA dengan aplikasi SAS untuk 2 jenis bubu lipat dengan umpan cacing tanah dan umpan tembang Respon data hasil tangkapan lobster berdasarkan jenis bubu lipat modifikasi pintu samping (MPS) dan standar (S) Respon data hasil tangkapan lobster berdasarkan jenis umpan cacing tanah dan tembang (standar) Kondisi umpan sebelum dan sesudah perendaman Hasil tangkapan bubu lipat penelitian xxvii

32

33 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumber daya perikanan laut Indonesia yang berada di wilayah tropis memiliki keanekaragaman hayati laut (biodiversity) tertinggi di dunia. wilayah perairan pantai dengan keanekaragaman ekosistem dan variabilitas organisme lautnya merupakan sumber daya perikanan yang penting bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia. Keanekaragaman hayati laut tersebut diantaranya adalah jenis-jenis ikan karang konsumsi (kakap, kerapu, baronang, kuwe), ikan karang hias, spiny lobster (udang karang), rajungan (blue swimming crab), kepiting bakau (mud crab), ikan layur dan berbagai jenis ikan pelagis lainnya yang bermigrasi ke perairan pantai. Upaya pemanfaatan sumber daya ikan dilakukan dengan menggunakan berbagai tingkatan teknologi, baik teknologi tingkat tinggi (moderen), tingkat madya dan tradisional. Pemanfaatan sumber daya ikan yang dilakukan masyarakat nelayan kebanyakan dilakukan di perairan pantai dan didominasi oleh kegiatan perikanan tangkap skala kecil yang sangat besar dalam jumlah unit penangkapan dan jumlah nelayan. Pada umumnya, kegiatan perikanan tangkap skala kecil memiliki keterbatasan dalam upaya pemanfaatan sumberdaya perikanan. Keterbatasan yang dapat dikategorikan sebagai permasalahan utama selain aspek modal, adalah keterbatasan input teknologi (IPTEK). Kegiatan Perikanan tangkap skala kecil cenderung statis dalam upaya pengembangan teknologi yang digunakan. Kondisi ini akan mempengaruhi produktivitas usaha yang dijalankan, seperti menurunnya hasil tangkapan per upaya penangkapan, kualitas hasil tangkapan dan nilai jual yang rendah, sehingga secara keseluruhan dapat mengurangi keragaan usaha yang dilakukannya. Pemilihan input teknologi penangkapan akan disesuaikan dengan target tangkapan. Target ikan hasil tangkapan yang seharusnya dipilih adalah jenis ikan unggulan dengan tujuan memperoleh nilai jual yang tinggi dengan kualitas yang diinginkan oleh pasar, baik dalam keadaan hidup maupun segar. Lobster merupakan komoditas perikanan unggulan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi dalam perdagangan produk perikanan tingkat lokal maupun

34 2 internasional. Kondisi lobster yang memberikan nilai jual tinggi adalah lobster dalam keadaan hidup dan lengkap bagian-bagian tubuhnya, yaitu belum ada bagian dari tubuhnya yang putus atau hilang. Perikanan lobster di setiap wilayah perairan pantai di Indonesia dengan habitat yang sesuai merupakan salah satu kegiatan industri perikanan tangkap yang berbasis masyarakat yang memiliki keunggulan komperatif karena potensi sumber daya lokal yang cukup besar, permintaan pasar dan harga yang tinggi. Operasi penangkapan lobster dilakukan di perairan pantai dengan teknologi dan cara penangkapan yang bervariasi. Penangkapan lobster yang dilakukan oleh nelayan termasuk dalam kegiatan perikanan tangkap skala kecil. Jenis alat tangkap yang kebanyakan digunakan adalah perangkap jaring yang disebut dengan jaring gilnet dasar monofilamen (sirang), perangkap krendet (jodang) dan perangkap bubu (pot) yang belum berkembang secara luas di Indonesia. Alat tangkap tersebut menggunakan berbagai jenis umpan sebagai bahan atraktor untuk keberhasilan memperoleh hasil tangkapan lobster. Sedangkan cara penangkapan lobster adalah penangkapan yang dilakukan dengan penyelaman dengan alat kompresor udara dan atau/ pembiusan yang secara umum menggunakan potassium dan /atau akar tumbuh-tumbuhan (akar bore). Alat tangkap perangkap yang digunakan untuk menangkap lobster bersifat pasif dan proses tertangkapnya lobster akan mempengaruhi kualitas hasil tangkapannya. Kondisi lobster yang tertangkap dengan perangkap jaring gillnet dasar monofilamen dan perangkap krendet adalah terperangkap dan terbelit oleh jaring. Selama proses terperangkap, lobster akan berusaha untuk melepaskan diri dan hal ini dapat menyebabkan kondisi lobster tidak lengkap karena dapat saja terjadi bahwa ada bagian dari anggota tubuhnya yang terputus atau kondisi lobster sudah tidak utuh lagi. Alat tangkap tersebut tidak memiliki fungsi pelindung bagi lobster saat terperangkap pada alat tangkap terhadap predator yang memangsanya. Sebaliknya, alat tangkap bubu memberikan kondisi lobster yang tertangkap dengan kualitas yang prima, karena lobster terperangkap dalam bubu yang memiliki ruang untuk lobster dapat bergerak dengan leluasa, lobster tidak terbelit jaring dan bubu memiliki fungsi pelindung bagi lobster yang tertangkap dari serangan predator. Sementara itu, cara penangkapan lobster

35 3 dengan penyelaman, baik yang menggunakan alat kompresor udara maupun bahan pembiusan selain akan merusak habitat juga beresiko tinggi terhadap keselamatan nelayan sebagai operator dalam kegiatan penangkapan. Secara umum, kondisi suatu perairan dengan potensi lobster di perairan tersebut dan tingkat upaya penangkapan di daerah penangkapan (fishing ground) akan mempengaruhi besarnya perolehan hasil tangkapan lobster oleh nelayan, baik dalam jumlah maupun ukuran. Demikian juga dengan metode penangkapan dari alat tangkap dan cara penangkapan lobster yang digunakan akan memiliki keunggulan dan kekurangan dalam perolehan hasil tangkapan lobster baik dalam jumlah, ukuran dan kualitasnya. Dengan demikian, jumlah, ukuran dan kualitas lobster yang tertangkap akan dipengaruhi oleh kondisi perairan, potensi lobster, tingkat upaya penangkapan di fishing ground, desain dan konstruksi alat tangkap, dan penggunaan jenis umpan. Beberapa penelitian yang terkait dengan perikanan bubu, target hasil tangkapan lobster dan penggunaan umpan telah dilakukan, seperti Fielder (1965), Shelton (1981), Monintja dan Budihardjo (1982), Meenakumari and Rajan (1985), Miller (1990), Groneveld (2000), Eno et al. (2001), Salthaug (2002), Brouck et al. (2006), dan Archdale et al. (2007). Dengan keterbatasan input teknologi (IPTEK) dalam kegiatan perikanan tangkap skala kecil dan hal itu juga terjadi dalam perikanan lobster serta belum berkembangnya penggunaan bubu yang khusus untuk menangkap lobster, maka diperlukan penelitian tentang rancang bangun bubu lipat modifikasi dan penggunaan umpan alternatif untuk penangkapan lobster, sehingga dapat memberikan informasi penting dalam pengembangan teknologi penangkapan lobster. 1.2 Perumusan Masalah Perkembangan teknologi perikanan tangkap di Indonesia pada tingkat teknologi skala madya dan moderen merupakan hasil adopsi paket teknologi yang telah dikembangkan berdasarkan kegiatan penelitian-penelitian sebelumnya dari negara-negara maju, seperti Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa lainnya. Kegiatan penangkapan lobster dari berbagai

36 4 tingkatan skala usaha yang dijalankan, terutama perikanan tangkap skala kecil kebanyakan belum mempertimbangkan aspek efisiensi dan efektivitas alat tangkap terhadap target hasil tangkapan yang diperoleh atau dapat dikatakan bahwa produktivitas alat tangkap masih rendah, atau justru menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Dengan mempertimbangkan bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya lobster yang cukup besar, harga lobster cukup tinggi dan memiliki potensi pasar potensial yang sangat besar, baik tingkat lokal maupun ekspor, maka pendekatan aspek teknis menjadi penting, bahwa alat tangkap yang digunakan harus memiliki kriteria alat tangkap yang ramah terhadap lingkungan. Beberapa kriteria yang termasuk alat tangkap yang ramah lingkungan, adalah : memiliki selektivitas yang tinggi, tidak destruktif terhadap habitat, tidak membahayakan nelayan, menghasilkan ikan yang berkualitas baik, hasil tangkapan yang tidak membahayakan kesehatan konsumen, meminimumkan hasil tangkapan yang terbuang, memberikan dampak minimum terhadap keanekaragaman sumber daya hayati, dan tidak menangkap spesies yang dilindungi atau terancam, serta kegiatan perikanan tangkap yang dapat diterima secara sosial. Keberhasilan suatu usaha perikanan tangkap tergantung pada beberapa faktor yang saling menunjang. Seperti yang dikemukakan oleh Grofit (1980), bahwa pemanfaatan sumber daya hayati laut khususnya perikanan tangkap bertujuan untuk mendapatkan hasil yang maksimum tanpa membahayakan kelestarian sumberdaya ikan dengan biaya yang se-efisien mungkin. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka teknologi yang diterapkan perlu memenuhi persyaratan, yaitu alat tangkap yang efektif dan efisien dengan bahan yang baik, perbaikan kapal, alat bantu dan perlengkapan kapal serta metode operasi penangkapan yang handal. Kondisi tersebut di atas juga harus didukung oleh suatu ketentuan yang bersifat politis, yaitu bahwa dalam kegiatan usaha perikanan tangkap akan selalu mengacu pada kegiatan penangkapan ikan yang akan diakui oleh dunia internasional, yaitu upaya pemanfaatan sumberdaya ikan dan peningkatan produksi perikanan tangkap melalui cara-cara pemanfaatan yang efektif, efisien dan bertanggung jawab. Efektif yang memberikan hasil tangkapan yang optimal; efisien yang memudahkan cara pengoperasian alat tangkap dan

37 5 penanganan hasil tangkapan ikan; dan bertanggung jawab yang tidak merusak habitat dan menjaga kelestarian sumber daya ikan. Dalam upaya menciptakan atau melakukan perbaikan teknologi, maka perancangan alat dan metode penangkapan ikan harus mengacu pada referensi yang mendukung tujuan pengembangan. Eksisting teknologi yang ada dan informasi dari publikasi hasil penelitian dengan topik yang sesuai akan mengarahkan pencapaian tujuan pengembangan kepada sesuatu yang menjadi lebih baik. Khusus untuk perikanan bubu dan lobster sebagai target tangkapan, maka upaya perbaikan teknologi tidak hanya kepada aspek teknis alat tangkap, tetapi juga faktor umpan yang dipertimbangkan dapat memberikan efektivitas yang baik dalam perolehan target hasil tangkapan dan efisien dalam pengoperasian alat tangkap tersebut. Beberapa permasalahan tentang perikanan bubu dan umpan yang digunakan dalam penangkapan lobster, yaitu: (1) Ukuran bubu yang relatif besar, berat dan kaku; (2) Pintu mulut bubu yang terbuka yang memungkinkan target dapat meloloskan diri; (3) Jenis umpan yang berasal dari laut cukup tersedia, namun pengadaannya tetap bersaing dengan kebutuhan konsumsi masyarakat dan kebutuhan pakan ternak, sehingga pengadaannya membutuhkan biaya yang relatif besar. Sebaliknya, untuk mencapai keberhasilan dalam penangkapan lobster, maka dibutuhkan kriteria yang terkait dengan: (1) Ukuran bubu yang relatif kecil dan efisien dalam pengoperasiannya; (2) Diperlukan rekayasa pintu jebakan pada pintu masuk bubu sehingga dapat mereduksi pelolosan target tangkapan; (3) Diperlukan umpan alternatif yang dapat menggantikan kebutuhan umpan yang umumnya digunakan dan tidak memerlukan biaya yang relatif besar. Mengacu dengan adanya kendala dan peluang pengembangan dalam upaya perbaikan teknologi perikanan bubu, maka diperlukan kajian. Kajian yang dapat dilakukan adalah studi desain dan konstruksi alat tangkap bubu, studi efektivitas bubu dan penggunaan umpan alternatif melalui metode experimental fishing serta pengujian terhadap kadar protein dan lemak umpan selama perendaman di laut. Hasil kajian diharapkan dapat menjadi acuan awal pengembangan perikanan bubu dan penggunaan jenis umpan alternatif sebagai paket teknologi yang efektif dalam pemanfaatan sumber daya lobster.

38 6 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan umum Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan perbaikan teknologi bubu dan mengkaji efektivitasnya serta penggunaan jenis umpan alternatif dalam pemanfaatan sumber daya lobster Tujuan khusus Tujuan penelitian secara khusus, adalah : (1) Mengkaji dan menciptakan bubu lobster sebagai upaya perbaikan teknologi dengan melakukan modifikasi terhadap desain dan konstruksi bubu standar. (2) Menentukan laju penurunan kandungan kimia (protein dan lemak) umpan alami, baik umpan standar maupun umpan alternatif berdasarkan lama perendaman. (3) Mengkaji efektivitas penangkapan lobster dengan menggunakan bubu lobster hasil modifikasi dengan umpan standar. (4) Mengkaji efektivitas penangkapan lobster dengan menggunakan bubu lobster hasil modifikasi dengan umpan alternatif. 1.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa informasi teknologi penangkapan lobster hasil modifikasi dan penggunaan umpan alternatif. Informasi ini selanjutnya dapat dijadikan acuan dalam upaya pengembangan IPTEK bagi masyarakat nelayan sebagai paket teknologi tepat guna pada tahap awal dalam pemanfaatan sumber daya lobster. Dalam rangka penyempurnaan hasil penelitian, informasi ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi kegiatan penelitian lanjutan untuk pengembangannya. 1.5 Hipotesis Berdasarkan tahapan penelitian yang akan dilakukan, maka hipotesis penelitian ini, adalah : (1) Terdapat perbedaan efektivitas penggunaan bubu lobster modifikasi dengan bubu standar dalam memperoleh hasil tangkapan lobster. (2) Terdapat perbedaan efektivitas penggunaan bubu lobster modifikasi dengan bubu standar dalam memperoleh hasil tangkapan sampingan (by-catch).

39 7 (3) Terdapat perbedaan efektivitas penggunaan umpan alternatif dengan umpan standar dalam memperoleh hasil tangkapan lobster. 1.6 Kerangka Pemikiran Perikanan lobster dalam konsteks perikanan tangkap di Indonesia, secara umum merupakan kegiatan perikanan tangkap skala kecil yang didominasi oleh masyarakat nelayan di wilayah pesisir pantai. Masyarakat nelayan skala kecil masih memiliki keterbatasan dalam hal akses permodalan dan input IPTEKS, sehingga kecenderungannya bersifat statis dalam penggunaan alat tangkap yang digunakan. Berbagai alat tangkap digunakan untuk pemanfaatan sumberdaya lobster, seperti krendet, gillnet dasar nylon monofilament, bubu, dan cara penangkapan dengan penyelaman. Komoditas lobster akan terkait dengan kondisi yang prima dan kualitas yang baik untuk setiap individu lobster, yaitu dalam keadaan hidup, lengkap bagian tubuhnya dan memiliki ukuran berat yang diminta oleh pasar. Proses tertangkapnya lobster akan menjadi penting untuk dapat memenuhi kondisi prima dan kualitas lobster yang baik serta pemanfaatannya menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan. Bubu biasanya digunakan oleh nelayan untuk menangkap dan mempertahankan target tangkapan yang diinginkan yaitu lobster dan jenis krustasea lainnya yang juga target yang baik, seperti halnya ikan bersirip, gastropoda dan moluska (Miller 1990). Lebih dari itu, bubu juga mewakili alat tangkap yang berguna untuk kegiatan pemanenan sumberdaya ikan yang bertanggung jawab. Bubu adalah alat tangkap yang selektif, hasil tangkapan di bawah ukuran ekonomis dapat dikembalikan ke perairan tanpa melukainya, sedikit hasil tangkapan sampingan atau by-catch (Groneveld 2000) dan mempunyai dampak yang minimum terhadap komunitas dasar perairan (Eno et al 2001). Bubu merupakan jenis alat tangkap pasif yang dioperasikan di dasar perairan untuk menangkap sumberdaya perikanan demersal. Di Indonesia, penggunaan alat tangkap bubu yang khusus untuk kegiatan penangkapan lobster (udang barong atau udang karang) secara komersial belum dilakukan, karena bubu yang digunakan oleh nelayan selama ini hanya untuk menangkap ikan, rajungan dan kepiting bakau. Dibandingkan dengan negara-negara lain, maka alat tangkap bubu merupakan alat tangkap utama pada kegiatan penangkapan lobster

40 8 dan telah berkembang menjadi usaha perikanan tangkap yang berkelanjutan. Harga lobster per kilogram di tingkat nelayan sangat tinggi, sehingga penangkapan lobster menjadi salah satu usaha andalan bagi masyarakat nelayan, karena dengan kuantitas hasil tangkapan minimum dan kualitas yang prima akan tetap memberikan keuntungan usaha sekaligus memberikan peningkatan pendapatannya. Pengoperasian alat tangkap bubu biasanya menggunakan umpan untuk memberikan hasil tangkapan yang optimal sesuai dengan target. Umpan merupakan salah satu faktor yang sangat besar pengaruhnya pada keberhasilan penangkapan, baik jenis umpan, sifat dan cara pemasangannya (Sadhori 1985). Selanjutnya dijelaskan pula bahwa umpan merupakan salah satu bentuk rangsangan (stimulus) yang bersifat fisika dan kimia yang dapat memberikan respons bagi ikan-ikan tertentu dalam proses penangkapan. Beberapa ahli perikanan sependapat bahwa umpan merupakan alat bantu (perangsang) yang memikat sasaran penangkapan dan sangat berpengaruh untuk meningkatkan laju tangkap bubu (Rahardjo dan Linting 1993). Beberapa jenis umpan yang berasal dari perairan laut untuk kegiatan penangkapan lobster, diantaranya adalah ikan rucah dan siput laut (Kholifah 1998), umpan kanikil (Chiton sp) dan kepala ikan kembung (Rastrelliger sp) (Sopati 2005). Sementara, umpan yang berasal dari wilayah daratan yang digunakan untuk penangkapan lobster adalah kulit kambing dan kulit sapi (Moosa dan Aswandy 1984), keong mas (Babylonia spirata L) (Sopati 2005), dan kelapa yang dibakar (Kholifah 1998). Kondisi saat ini, jenis umpan alami yang berasal dari perairan laut cukup tersedia, namun memiliki harga yang cukup tinggi, sehingga untuk pengadaan umpan akan meningkatkan biaya operasi penangkapan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif jenis umpan lainnya yang lebih ekonomis dan efektif dengan daya pikat yang baik dalam proses penangkapannya, yaitu jenis umpan yang berasal dari wilayah daratan. Berdasarkan kondisi tersebut di atas yang menjelaskan bahwa terdapat kendala dengan perikanan tangkap skala kecil dan sebaliknya juga terdapat peluang yang cukup besar dalam pemanfaatan sumberdaya lobster, sehingga diperlukan upaya pengembangan melalui kegiatan penelitian. Kerangka pemikiran dapat dilihat pada Gambar 1.

41 9 PERIKANAN LOBSTER UPAYA PENGEMBANGAN PELUANG - Sumber daya lobster cukup besar - Harga lobster cukup tinggi - Pasar sangat terbuka (lokal/ekspor) - Teknologi alat tangkap bubu cukup berkembang - Ukuran bubu yang relative besar, berat dan kaku - Alat tangkap bubu lipat cukup efisien dan efektif untuk menangkap gurita dan rajungan - Aspek penelitian terkait dengan alat tangkap dan tingkah laku lobster cukup banyak - Pintu mulut bubu yang terbuka memungkinkan target dapat meloloskan diri PERIKANAN TANGKAP SKALA KECIL KENDALA - Kurangnya pertimbangan aspek efisiensi dan efektivitas alat tangkap - Lobster hasil tangkapan dapat saja dalam kondisi ada angota tubuh yang terputus atau cacat - Statis dalam pengembangan IPTEKS - Alat tangkap bubu khusus untuk menangkap lobster belum berkembang - Jenis umpan alami yang berasal dari laut cukup tersedia, namun kebutuhannya bersaing dengan kebutuhan untuk konsumsi, pengolahan dan peternakan, sehingga harga umpan relatif mahal - Diperlukan rekayasa pintu jebakan pada pintu masuk bubu sehingga dapat mereduksi pelolosan target tangkapan KAJIAN ALAT TANGKAP BUBU LOBSTER DAN UMPAN ALTERNATIF YANG EFEKTIF Gambar 1 Kerangka pemikiran 1.7 Novelty Novelty disertasi ini adalah: (1) Rancang bangun bubu lipat modifikasi yang berbeda dengan bubu lipat standar, dalam hal: (i) adanya penggunaan rekayasa pintu jebakan pada mulut bubu yang terbuat dari bahan plastik berbentuk kisi-kisi, (ii) ukuran mulut bubu lipat modifikasi yang lebih besar dibandingkan dengan ukuran mulut bubu lipat standar yang memberikan peluang target lobster lebih mudah dan cepat masuk ke dalam bubu, dan (iii) sudut slope net pada pintu masuk bubu memiliki sudut yang sama antara bagian bawah dan atas, yaitu 22,5 yang merupakan sudut dengan kemiringan yang kecil yang memudahkan lobster bergerak ke arah mulut bubu meskipun posisi bubu saat di dasar perairan dalam posisi terbalik,

42 10 (2) Penggunaan jenis umpan alami yang berbeda dan efektif yang berasal dari daratan dibandingkan dengan jenis umpan standar, yaitu: cacing tanah (Lumbricus rubellus).

43 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perbaikan Teknologi Dalam upaya menciptakan atau melakukan perbaikan teknologi, maka perancangan alat dan metode penangkapan ikan akan selalu diawali dengan mengetahui tingkah laku dari ikan. Tingkah laku ikan menurut He (1989) adalah adaptasi dari badan ikan terhadap lingkungan internal dan lingkungan eksternal, sedangkan reaksi ikan merupakan respon yang berhubungan dengan tingkah laku ikan karena adanya rangsangan eksternal. Taxis merupakan salah satu tingkah laku yaitu yang berhubungan dengan arah gerakan terhadap rangsangan secara eksternal. Grofit (1980) menyatakan bahwa pemanfaatan sumberdaya hayati laut khususnya perikanan tangkap bertujuan untuk mendapatkan hasil yang optimum tanpa membahayakan kelestarian sumberdaya ikan dengan biaya yang se-efisien mungkin. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka teknologi yang diterapkan perlu memenuhi persyaratan, yaitu alat tangkap yang efektif dan efisien dengan bahan yang baik, perbaikan kapal, alat bantu dan perlengkapan kapal serta metode operasi penangkapan yang handal. Menurut Fridman (1988), merancang alat tangkap adalah proses mempersiapkan uraian teknis dan menggambar alat tangkap agar dapat memenuhi syarat-syarat penanganan alat, teknis, operasional (penggunaan), ekonomis dan sosial. Penyelesaian masalah yang terdapat dalam memproduksi alat tangkap agar memenuhi sifat-sifat tersebut adalah komplek, pertama karena sifat teknologi yang komplek dan kedua karena beberapa sifat yang bertentangan harus digabungkan. Pada dasarnya, untuk merancang alat tangkap, cukup bila dipunyai pengalaman praktek menangkap ikan dan mampu melaksanakan perhitungan teknis. Dengan pengetahuan ini, rencana dan spesifikasi alat tangkap ikan dapat dikembangkan dan alat dibuat dan diuji di laut. Jika alat tangkap yang baru kurang memuaskan, maka perlu dimodifikasi atau bahkan dirancang dari permulaan dengan memperhitungkan kesalahan sebelumnya.

44 12 Selanjutnya Fridman (1988) juga menyatakan bahwa kualitas utama dari alat tangkap dan rancangannya yaitu kelayakan ekonomis dan efisiensi penangkapan, yang tergantung dari banyak faktor seperti adanya sumber daya perikanan, kebutuhan pasar akan ikan dan harganya, biaya operasi armada penangkapan, jumlah, ukuran, dan jenis perahu di tempat tersebut, jauh dekatnya dari pelabuhan, tersedianya bahan dan komponen alat tangkap dan teknik yang mendukung konstruksi dan merawat armada, pengelolaan sumber daya perikanan (peraturan dan hambatan operasionalnya), keadaan hidrometeorologi, tersedianya nelayan dan tenaga ahli dan tergantung juga pada kondisi teknik dan kondisi ekonomi lainnya. Rancang bangun yang baru seharusnya disesuaikan sedapat mungkin dengan syarat-syarat tersebut di atas dan kondisi teknik, ekonomi serta sosial lainnya. Ayodhyoa (1981) menyatakan bahwa terdapat indikator perkembangan dan kemajuan metode penangkapan (fishing methods) dari perikanan tradisional ke perikanan industri, yaitu : (1) Perubahan usaha penangkapan dari seekor demi seekor ke arah usaha penangkapan dalam jumlah banyak. Hasil tangkapan ini tidak hanya diperuntukkan untuk waktu itu, tetapi diharapkan dapat dipergunakan pula untuk sesuatu jangka waktu, menyesuaikan diri dengan situasi harga pasaran. Hal ini menyebabkan alat yang dipergunakan haruslah lebih besar dan efektif; (2) Perubahan fishing ground ke arah yang lebih jauh dari pantai, dan sehubungan dengan itu terjadi pula perubahan dari kedalaman perairan, yaitu dari perairan dangkal ke arah perairan yang lebih dalam; (3) Penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin. Perkembangan teknologi telah mampu menggantikan manusia yang menjaga alat yang digunakan dengan mesin yang serba otomatis, sehingga dengan pengurangan tenaga buruh maka keuntungan akan lebih besar. 2.2 Bubu Bubu adalah alat tangkap perangkap atau jebakan yang sifatnya pasif. Penggunaan bubu untuk penangkapan lobster sesungguhnya adalah memakai bubu yang umum digunakan untuk menangkap ikan-ikan karang. Bubu ini ukurannya bermacam-macam yang disesuaikan dengan kedalaman air. Bubu

45 13 dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan letak mulut bubu. Jenis yang pertama dengan satu mulut bubu yang terletak pada bagian atas bubu, dan jenis kedua yaitu bubu dengan satu atau dua mulut bubu yang terletak di bagian samping bubu (Thomas 1973). Bentuk bubu bermacam-macam, diantaranya silinder, segi banyak dan bulat setengah lingkaran. Satu unit bubu umumnya terdiri atas : badan bubu, mulut bubu, tempat umpan, pemberat, tali-temali dan pelampung atau pelampung tanda. Pengoperasiannya cukup mudah, yaitu dengan memasang bubu diantara karang-karang dengan cara menyelam atau diturunkan dengan tali. Setelah pemasangan bubu maka bubu ditinggal sekurangnya 24 jam baru kemudian diangkat (Subani 1978). Alat tangkap yang banyak dipergunakan untuk menangkap lobster adalah jaring insang tiga lembar (trammel net), sedangkan alat tangkap bubu sebagai alat tangkap alternatif masih belum banyak dikenal meskipun di luar negeri sudah umum dilakukan. Konstruksi bubu lobster diusahakan dalam keadaan stabil di dasar perairan dan pintu masuk serendah mungkin untuk memudahkan lobster memasuki bubu. Rangka bubu keseluruhannya memakai rangka dari besi behel berdiameter 0,8 cm, badan jaring menggunakan jaring sintetis multifilamen dengan mesh size 0,5 inchi dan kantung umpan memakai bahan kawat kasa. Ukuran bubu ke arah panjang 100 cm, lebar 40 cm dan tinggi 30 cm. Pintu masuk panjang cm, lebar 20 cm dan tinggi cm atau ukuran pintu masuk disesuaikan dengan besar kecilnya lobster yang ada di daerah penangkapan (Martasuganda 2003). Beberapa alat tangkap yang dikonstruksikan khusus untuk penangkapan lobster menurut Everett (1972) diacu dalam Monintja dan Budihardjo (1982) adalah : (1) semi-cylindrecal pot, (2) Trapezoidal pot, dan (3) Square pot. Namun penggunaan jenis konstruksi yang cocok akan sangat banyak tergantung pada jenis perairan, jenis lobster, kuat arus dan konfigurasi dasar laut. Pengadopsian jenis perangkap bubu, perlu dilakukan percobaan terlebih dahulu dan mungkin pula bahwa pada alat tersebut harus diadakan beberapa rekonstruksi (O Farrell 1971 diacu dalam Monintja dan Budihardjo 1982). Percobaan penelitian di lapangan dengan membandingkan lobster pot tipe jepang dengan bubu tradisional terhadap hasil tangkapan lobster di Perairan Teluk

46 14 Pelabuhanratu (Monintja dan Budihardjo 1982) menunjukkan bahwa efektifitas lobster pot dalam penangkapan lobster cukup baik dan secara nyata hasil tangkapannya lebih besar dari pada bubu tradisional yang biasa digunakan nelayan. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Thomas (1954) diacu dalam Shelton and Hall (1981) yang melakukan pengujian terhadap alat tangkap bubu antara scottish creel dengan traditional cornish inkwell pot yang memberikan hasil tangkapan lobster jenis Homarus gammarus masing-masing adalah 66 ekor dan 48 ekor dalam 384 hauling. Secara statistik menunjukkan bahwa hasil tangkapan lobster dari setiap alat tangkap bubu tersebut terbukti tidak berbeda nyata dalam jumlah dan ukuran. Bennet (1974) diacu dalam Shelton and Hall (1981) menyatakan bahwa hasil tangkapan dari alat tangkap perangkap yang diberikan umpan adalah hasil dari serangkaian kejadian yang kompleks dan bervariasi. Karakteristik fisik dari alat tangkap perangkap merupakan bagian akhir yang menentukan dalam rangkaian ini. Pada mulanya dengan pengetahuan awal dari hewan yang terpikat secara kimiawi di dalam perairan dan berakhir dengan masuk ke dalam perangkap, memakan umpan dan berusaha untuk melepaskan diri. Pengamatan lobster dalam tangki percobaan (Shelton 1981) menjelaskan bahwa masuknya lobster ke dalam perangkap mungkin diperlambat oleh kesulitan pengalaman dalam menemukan pintu masuk. Lobster membutuhkan waktu yang cukup lama dalam berusaha mendapatkan jalan ke arah umpan hingga pada bagian sisi dari perangkap, khususnya jika ada bagian dari jaring yang tersentuh tangan yang terkontaminasi umpan, dimana ada periode waktu bagi lobster dalam usaha memakan jaring yang terkontaminasi umpan tersebut. Phillips et al. (1980) menyatakan bahwa desain yang tepat dari perangkap adalah membuat lobster dapat masuk melalui mulut bubu dan menyulitkannya untuk keluar. Bubu yang dipakai di Selandia Baru untuk penangkapan lobster memiliki bukaan mulut yang berbentuk lingkaran dan terletak di bagian atas bubu dan berhasil menangkap lobster (Gorman 1996).

47 Makanan Alami Lobster Umpan merupakan salah satu faktor penting untuk menunjang keberhasilan suatu operasi penangkapan, khususnya untuk alat tangkap yang bersifat pasif seperti bubu. Seperti yang dinyatakan oleh Raharjo dan Linting (1993), bahwa umpan merupakan perangsang yang memikat sasaran penangkapan dan sangat berpengaruh untuk meningkatkan laju tangkap bubu. von Bonded and Marchand (1935) diacu dalam Fielder (1965) menyatakan bahwa : Banyak kontroversial yang muncul di sekitar pertanyaan mengenai apakah krustasea adalah hewan pemakan bangkai, atau apakah hal tersebut suka membeda-bedakan dalam makanannya. Adalah suatu yang bersifat alami bahwa sekali waktu terjadi kelangkaan makanan, krustasea akan memakan apapun, tetapi percobaan-percobaan yang telah dilakukan dalam skala laboratorium dan juga di laut membuktikan secara meyakinkan bahwa metode penangkapan yang terbaik untuk semua makanan adalah yang menggunakan umpan segar. Mereka kemudian menggunakan aspek morfologi tertentu untuk menduga kemungkinan sumber-sumber makanan. Berdasarkan kondisi ini, mereka mengabaikan ikan yang bersisik sebagai sumber makanan karena mereka terlalu bergerak cepat dan menduga moluska seperti kekerangan sebagai sumber makanan yang disukainya. Hickman (1946) diacu dalam Fielder (1965) telah memeriksa gastric mill dalam perut dari sejumlah besar lobster Jasus lalandei dan menemukan sisa-sisa makanan dari jenis moluska, spiny lobster, kepiting, ekinodermata, dan rumput laut. Selanjutnya, juga ditemukan hubungan dari material moluska dengan puncak musim spiny lobster betina yang baru moulting dan menduga bahan makanan moluska adalah makanan istimewa untuk keperluan pengerasan skeleton atau karapas lobster. Lindberg (1955) diacu dalam Fielder (1965) telah menguji isi perut sejumlah besar lobster Panulirus interruptus Randall dan menemukan makanan utama seperti cacing laut, moluska, bulu babi, ganggang laut, dan Bryozoa. Alga dan sisa-sisa ikan jarang ditemukan. Dia menyimpulkan bahwa P. interruptus adalah omnivora dan terutama sebagai hewan pemulung. Ia juga menunjukkan bahwa hasil tangkapan nelayan yang lebih besar ketika umpan segar digunakan

48 16 dibandingkan dengan umpan busuk. George (1957) diacu dalam Fielder (1965) menyatakan bahwa lobster Panulirus Cygnus adalah pemulung berdasarkan hasil pengamatannya terhadap adanya rumput laut, pecahan karang, sisa ikan, Foraminifora, fragmen-fragmen kerang, dan partikel-partikel pasir dalam isi perut lobster. Telah diperiksa bagian gastric mill dari isi perut 30 spesimen lobster Jasus lalandei yang ditangkap oleh penyelam di dekat Tanjung Jaffa. Berkisar dari isi perut yang kosong hingga hampir penuh dan berisi jenis makanan yang serupa dengan yang digambarkan oleh penulis lainnya, yaitu berisi kepingan hewan yang dominan di daerah ini, dan termasuk gastropods, pelecypods, krustasea (termasuk lobster lainnya, udang dan rajungan), landak laut, bryozoa, dan ganggang dengan beberapa partikel pasir. Tidak ada sisa-sisa ikan yang ditemukan, tetapi hanya sedikit yang diamati di daerah tersebut. Dengan pengecualian dari krustasea, semua spesies lain adalah sessile atau bergerak lamban. Sulit untuk menentukan apakah krustasea dimakan dalam keadaan hiduphidup, tetapi beberapa jenis rajungan dan udang, termasuk Leander intermedius (Stimpson), Paguristes frontalis (Milne-Edwards), Naxia aurita (Latreille), Ozius truncates (Milne-Edwards), Helice haswellianus (Whitelegge) dan Ovalipes bipustulatus (Milne-Edwards) tetap dipertahankan dalam akuarium yang berisi spiny lobster dan tidak dibunuh dan dimakan. Di sisi lain, rajungan mati dan lobster mati, terutama mereka yang baru saja dilemparkan, dimakan. Makanan yang tersisa di akuarium lebih dari satu hari, yaitu cukup lama untuk menjadi busuk, tidak pernah dimakan (Fielder 1965). Percobaan-percobaan yang telah dilakukan dalam skala laboratorium menunjukkan bahwa Jasus lalandei memakan makanan yang disukainya jika diberikan pilihan, dan memilih umpan-umpan alami yang ada di laut sebelum digunakan jenis makanan alami di darat (daging hewan). Selanjutnya, Fielder (1965) menyatakan bahwa terdapat beberapa kondisi terkait dengan tingkah laku makan lobster Jasus lalandei tentang makanan yang disukai, yaitu : (1) Lobster Jasus lalandei memiliki tingkah laku makan yang selektif, yaitu jika diberikan pilihan makanan; (2) Umpan yang berasal dari laut, seperti ikan dan hiu lebih disukai daripada umpan yang berasal dari daratan, seperti kuda dan kelinci; (3)

49 17 Umpan segar lebih disukai dari pada umpan busuk; dan (4) Umpan cumi-cumi termasuk jenis umpan yang efisien seperti halnya umpan ikan. 2.4 Mekanisme Makan Kegiatan makan adalah proses yang berirama, kebanyakan kegiatan makan berlangsung selama tengah malam. Rekaman kegiatan makan yang dibuat dalam skala laboratorium dengan kondisi terang dan gelap yang konstan, menunjukkan bahwa irama makan ini banyak terjadi secara terus menerus dalam kondisi gelap yang konstan, tetapi tidak terjadi terus menerus dalam kondisi terang yang konstan. Lobster Jasus lalandei terangsang untuk makan oleh perubahan dari terang ke gelap (Fielder 1965). Selanjutnya dikatakannya juga, bahwa lobster Jasus lalandei dalam akuarium makan menurut pola tetap. Ketika lobster mencari makan menemukan beberapa potensi makanan itu digenggam oleh walking leg (kaki jalan) dan maxilliped pertama. Lobster kemudian berusaha untuk kembali ke tempat penampungan sebelum benar-benar memakan makanan. Jika tempat penampungan tidak tersedia dekat, sebuah sudut dari akuarium dicari dan kemudian lobster mulai makan. Mekanisme makan tidak efisien dan banyak potensi makanan hilang. Makanan dicengkeram erat oleh mandibula dan kaki jalan kemudian digunakan untuk menarik makanan dari mandibula, merobek sepotong kecil dari massa makanan. Tiga pasang maxilliped memanipulasi makanan dengan gerakan melingkar dan bantuan kaki jalan pertama dalam merobek potongan dari makanan. Perlakuan ini cenderung menghancurkan massa makanan dan seekor lobster makan selalu dikelilingi oleh awan partikel makanan kecil yang hilang dan cenderung mencemari air di akuarium (Fielder 1965). 2.5 Bahan Rangsangan Umpan bersifat Kimiawi Gunarso (1985) menyatakan bahwa untuk memudahkan dalam menangkap ikan selain menggunakan alat tangkap, dibutuhkan juga taktik dan metode yang tepat. Metode untuk dapat membawa ikan ke dalam posisi yang dikehendaki ataupun ke dalam area suatu jenis alat tangkap tertentu, banyak tergantung antara lain kepada jenis ikan, kondisi fisiologis ikan, musim atau

50 18 bahkan perubahan waktu dalam sehari. Taktik-taktik tersebut diantaranya adalah menarik perhatian ikan (fish attraction), mengejuti ikan (fish frightening), merangsang ikan agar melompat (inducing fish to jump) dan membius ikan (stupeying). Taktik menarik perhatian ikan menjadi beberapa cara, yaitu : rangsangan umpan bersifat kimiawi (chemical bait), rangsangan ikan bersifat penglihatan (optical bait), rangsangan umpan bersifat pendengaran (acoustic bait) dan rangsangan umpan bersifat listrik (electrical bait). Zat kimia yang bertindak sebagai perantara dalam komunikasi antara organisme dengan organisme disebut dengan semiokemikal dan terdiri dari alelokemikal (Law and Regnier 1971 diacu dalam Kusumah 1988) dan feromon (Mathews and Mathews 1978 diacu dalam Anonymous 1990). Amoniak adalah bentuk utama ekskresi nitrogen oleh kebanyakan hewan akuatik. Ikan-ikan teleostei mengekskresikan 60% hingga 90% nitrogen dalam bentuk amoniak ke perairan dan sebagian besar dikeluarkan oleh insang. Bentuk lain dari ekskresi nitrogen adalah urea, kreatin, kreotenin, trimetilalanin oksida dan asam amino. Amoniak merupakan jalur efisien dari ekskresi nitrogen yang dihasilkan dari proses katabolisme protein dalam tubuh (Saridewi 1998 diacu dalam Munadi 2006). Umpan daging hiu setelah direndam dalam air laut, warnanya menjadi putih, teksturnya mengeras dan bau amis dari darah segar berganti menjadi bau pesing. Zat yang dapat dijadikan indikator bau pesing tersebut adalah amoniak (Hendrotomo 1989). Asam amino merupakan salah satu substansi kimia yang sangat sensitif terhadap indera pengecapan ikan. Alanin, glisin dan prolin merupakan jenis asam amino utama perangsang nafsu makan pada beberapa spesies ikan meskipun komposisi asam amino aktif ini berbeda untuk setiap spesies ikan (Fujaya 2002). Berbagai jaringan hewan yang berasal dari darat maupun laut dapat berfungsi sebagai umpan untuk penangkapan lobster. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap efisiensi relatif dari umpan alami dan umpan buatan untuk lobster, Homarus gammarus berdasarkan hasil pengujian laboratorium dan experimental fishing menunjukkan bahwa : (1) Dibandingkan dengan umpan alami, umpan buatan dapat menarik dan menangkap lobster dengan efisiensi yang dapat diterima, (2) Ada keterbatasan dalam penggunaan umpan buatan sebagai

51 19 pengganti total umpan alami pada sebuah skala komersial. Tetapi mungkin bahwa kombinasi umpan buatan dengan sedikit umpan alami akan menjadi solusi yang paling efektif untuk masalah-masalah saat ini bagi nelayan lobster komersial. Hasil ini menegaskan pengamatan sebelumnya yang dibuat pada kondisi laboratorium (Mackie 1973 diacu dalam Mackie 1978) bahwa campuran dari bahan umum dan bahan kimia yang larut dalam air dan bukan satu bahan kimia yang penting untuk mendorong respons tingkah laku pencarian makanan oleh lobster. Ikan dan beberapa invertebrata merespons perbedaan dalam konsentrasi asam amino, asam lemak (molekul komponen lipid, termasuk steroid), alkohol, salinitas dan temperatur (Kobayashi and Fujiwara 1987 diacu dalam Kingsford et al. 2002). Menyertakan suhu di sini, karena faktor salinitas dan suhu air mempengaruhi kerapatan dan suhu dapat mempengaruhi penyebaran dan aktivitas rangsangan kimia. 2.6 Indera Penciuman Crawford and De Smidt (1922) diacu dalam Fielder (1965) menunjukkan bahwa reseptor untuk indera penciuman Panulirus argus Latreille terletak pada flagellae dari antenna dan juga direkam oleh reseptor sensori pada kaki lobster. Lindberg (1955) diacu dalam Fielder (1965) menyatakan bahwa spiny lobster mendeteksi makanannya dengan penglihatan dan bau, dan bahwa lobster yang tidak memiliki antennule (karena putus) kurang mampu menemukan makanan. Selanjutnya dikatakannya juga bahwa lobster yang buta menunjukkan tingkah laku mencari makan yang normal, tapi kemampuan mereka untuk menangkap mangsa yang bergerak telah menjadi lemah. Dia menemukan rambutrambut sensori pada semua anggota badan dan mengamati bahwa deteksi makanan oleh kaki adalah hal yang biasa. Deteksi visual dan deteksi kimiawi terhadap munculnya makanan menjadi faktor yang saling melengkapi pada lobster Jasus lalandei, meskipun deteksi visual tidak sangat efisien. Antennule lobster terus-menerus aktif menguji kondisi air. Darah ikan dimasukkan ke dalam akuarium yang menyebabkan merangsang kegiatan antennule dan melakukan orientasi terhadap titik distribusi

52 20 rangsangan. Flagella pendek dari antennule, yang memiliki rambut sensori menjadi aktif dan setelah pengujian air, mengarahkan ke rangsangan. Sepotong ikan jatuh ke dalam akuarium dan antennule mengikuti gerakan seperti tenggelam. Akhirnya antennule berorientasi terhadap partikel makanan tersebut, dan jika cukup dekat dengan lobster, maka makanan tersebut akan dimakan. Indra rambut berada pada dasar kaki jalan dan mungkin di dalam ruang branchial. Seringkali makanan tidak terdeteksi sampai lobster berjalan di atasnya. Demikian pula, makanan ditempatkan di belakang atau ke satu sisi lobster, mungkin makanan tersebut akan dideteksi oleh indera rambut ini. Akan ditunjukkan kemudian bahwa lobster Jasus lalandei biasanya makan pada kondisi gelap dan bahwa mereka dapat makan cukup memadai dalam kegelapan total. Oleh karena itu akan tampak bahwa lokasi makanan dengan kandungan kimiawinya tersebut memberikan arti bahwa deteksi kimiawi lebih penting dari pada deteksi visual (Fielder 1965). Dalam spiny lobster dan krustasea lain, sumber bau diperantarai pola tingkah laku mencari yang digerakkan terutama oleh syaraf indera kimiawi (chemosensory neuron) dalam antennule (Steullet et al. 2001). Indra kimiawi adalah sangat penting dalam mediasi pola tingkah laku bagi banyak hewan. Dalam krustasea, peran indra kimiawi telah dibuktikan dalam interaksi makan, interaksi di tempat penampungan, interaksi seksual dan interaksi sosial (Zulandt and Moore 1999 diacu dalam Steullet et al. 2001). Lobster dan krustasea lain memiliki berbagai jenis setae, termasuk sensilla dalam sistem syaraf indera kimiawi (Hallberg et al diacu dalam Steullet et al. 2001). Chemosensilla ini didistribusikan melalui hampir seluruh permukaan tubuh lobster, termasuk antena pertama (antennule), antenna kedua, mulut, kaki, cephalothorax, perut dan telson (Cate and Derby 2001 diacu dalam Steullet et al. 2001). Namun, itu adalah syaraf chemoreceptor di antennule, dengan lateral dan medial flagella, yang terutama menengahi respons jarak jauh pada lobster dan crayfish untuk sumber bau yang berbahan kimia (Giri and Dunham 2000 diacu dalam Steullet et al. 2001). Krustasea mengandalkan indra penciuman mereka untuk mendeteksi mangsa dan menemukan pasangan (Atema and Voigt 1995 diacu dalam Mead

53 21 and Weatherby 2002). Lobster mendeteksi bau ini dari sumber-sumber yang jauh melibatkan indera kimiawi (chemosensory) setae yang disebut aesthetasc terletak di antennule (Hallberg et al diacu dalam Mead and Weatherby 2002). Meminimalkan jarak di mana molekul-molekul bau harus berdifusi sebelum menjumpai sensilla adalah sangat penting untuk penciuman efektif karena dua alasan. Pertama, difusi molekul adalah proses yang lamban, dengan banyak isyarat kimia yang khas seperti asam amino yang memiliki koefisien difusi sekitar 10-9 m 2 /detik dalam air (Lide 1991 diacu dalam Mead and Weatherby 2002). Oleh karena itu, meningkatkan akses fluida secara substansial dapat mengurangi waktu yang diperlukan untuk molekul pembau berdifusi ke permukaan sensillar, sehingga lobster dapat merespons lebih cepat. Selain itu, Kedua, ketika fluida yang mengandung pembau dekat permukaan aesthetasc dan proses difusi cepat, perubahan konsentrasi pembau lebih akurat dan cepat tercermin pada permukaan sensillar (Mead dan Koehl 2000 diacu dalam Mead and Weatherby 2002). Organ penciuman spiny lobster Florida, Panulirus argus, terdiri dari susunan padat sensilla pada cabang-cabang lateral antennule (Gambar 2). Masing-masing sensillum tersusun tipis, dengan selubung berpori dari kutikula yang di dalamnya terdapat dendrite berbulu halus yang bercabang lebih dari 300 syaraf indera kimiawi (chemosensory neuron) utama, ditambah dengan populasi sel-sel pembantu dari nonneuronal (Grunert and Ache 1988 diacu dalam Trapido- Rosethal 1990). 2.7 Pelepasan Bahan Kimiawi Umpan Kelayakan dua produk olahan dari ikan herring, yaitu tepung ikan dan tepung ikan yang diasamkan, sebagai substrat kemo-atraktan (pikatan kimiawi) yang berfungsi sebagai umpan komersial untuk American lobster (Homarus americanus) telah dilakukan pengujian di laboratorium. Ikan kering homogenat diuji sebagai standar untuk perbandingan. Tiga substrat yang diuji untuk tingkat pikatan, dan berbagai metode, termasuk pencernaan proteolitik, telah dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan tingkat pikatan. Setelah penggabungan substrat pikatan kimiawi ke pertalian yang sesuai, maka laju pelepasan pikatan

54 22 kimiawi secaraa temporal dipantau. Akhirnya, kualitas pikatan kimiawi itu dievaluasi dengan menggunakan juvenil lobster. Kedua tepung ikan tersebut telah ditemukan menjadi sumber pikatan kimiawi yang baik (Daniel et al. 1989). Keterangan : A dan B : organ penciuman terdiri dari aesthetasc sensilla yang terdapat pada filamen lateral antennule; C : Setiap sensillum berisi dendrite dari syaraf indera primer yang memiliki sel tubuh dan axon yang berlokasi di dalam lumen antennule. Distal, dendrit yang mengandung bagian-bagiann dari sensilla dengan panjang sekitar 700 pm dan memiliki diameter internal 18 pm. Perangsang eksogen melewati kutikula berpori untuk menghubungi dendrite. Struktur sensillarr dari Grunert and Ache (1988) diacu dalam Trapido-Rosethal (1990). Gambar 2 Organ penciuman dan sensilla dari spiny lobster Meskipun tingkat pikatannya dalam tepung ikan jauh lebih rendah dari padaa tepung ikan yang diasamkan, tepung ikan bisa diangkat ke tingkat yang

55 23 sama baiknya melalui inkubasi dengan protease tertentu. Pikatan kimiawi dilepaskan dari dua pengujian umpan yang memiliki pola pelepasan temporal yang serupa dan membangkitkan respons mencari makanan yang sama seperti pikatan kimiawi yang dilepaskan dari umpan ikan herring alami. Namun, ikan kering homogenat ternyata mengandung kadar pikatan kimiawi yang jauh lebih tinggi dari pada tepung ikan. Ini mungkin saja terjadi, karena suhu yang lebih rendah digunakan untuk menyiapkan ikan kering homogenate (Daniel et al. 1989). Sebuah metode untuk mendeteksi fluorometrik asam amino telah digunakan untuk menentukan laju pelepasan zat kimia dari umpan ikan mackerel dan umpan buatan didasarkan pada bahan ekstrak udang. Untuk kedua umpan, pelepasan pikatan kimiawi sebagai pemikat potensi makan awalnya tinggi dan menurun pesat dalam kurun waktu 1,5 jam pertama dengan kondisi air laut yang mengalir. Dari 2 hingga 24 jam kemudian, laju pelepasan menurun pada kecepatan yang lebih rendah (Lokkeborg 1990). Efektivitas dari semua umpan berhubungan dengan laju difusi bahan kimia yang terkandung pada atraktan yang berasal dari bahan yang tidak larut ke lingkungan. Umpan buatan yang paling efisien adalah umpan yang telah dipersiapkan dengan memasukkan baik secara ekstrak seluruh sprats, Sprattus sprattus L. atau campuran bahan kimia attraktan murni ke dalam matriks padat dari blok padat kalsium sulfat terdehidrasi. Laju pelepasan atraktan dan efektivitas umpan buatan ditemukan secara kritis tergantung pada bentuk kristal dari blok kalsium sulfat (Mackie et al. 1978). Banyak umpan yang belum diketahui efektivitasnya telah diajukan selama bertahun-tahun pada asumsi yang masuk akal bahwa bahan kimia atraktan adalah komponen jaringan yang spesifik seperti tetesan minyak atau senyawa yang larut dalam air yang berdifusi dari umpan dan terdeteksi oleh indera penciuman kimiawi lobster (Mackie et al. 1978). Penentuan laju pelepasan bahan kimia dari umpan buatan yang mengandung kelompok senyawa amino bebas, seperti asam amino, yang ditentukan untuk berbagai umpan buatan dan untuk satu umpan alami. Hasilnya (Gambar 3) menyediakan satu penjelasan untuk efisiensi rendah dari umpan

56 24 buatan yang dibuat dari agar-agar sebagai bahan pengemulsi lebih dari 24 jam periode penangkapan. Sekitar setengah asam amino telah tersebar dari agar-agar dalam 1 jam dan proses difusi pada dasarnya terjadi secara keseluruhan dalam 6 jam. Sebaliknya, pelepasan senyawaa amino baik dari daging ikan sebelah atau umpan buatan yang dibuat dengan gipsum atau gelatin adalah sebuah proses yang lebih lambat dan laju pelepasan mendekati konstan setelah 6-24 jam periode penangkapan (Mackie et al. 1978). Keterangan : = bahan pengemulsi agar = bahan pengemulsi gipsum = bahan pengemulsi gelatin = 1000 g daging ikan sebelah (European plaice) Gambar 3 Tingkat pelepasan asam amino dari umpan buatan yang berisi 2 g campuran bahan kimia dalam 100 g bahan pengemulsi dibandingkan dengan umpan alami Pikatan kimiawi (atraktan) yang mungkin terkait dengan tegas terikat dengan air dan proses difusi yang terjadi ke dalam air laut akan lambat dan berkesinambungan sampai suatu keadaan ekuilibrium telah tercapai. Sebaliknya, laju difusi dari umpan buatan diuji dalam waktu 24 jam harus jauh lebih cepat karena atraktan akan larut dalam fase kelebihan air yang terkandung dalam struktur yang tak berbentuk dari fase padat kalsium sulfat (Mackie et al. 1978). Selanjutnya dijelaskan juga, bahwa perbandingan langsungg yang dibuat dalam percobaan ini menunjukkan bahwa campuran bahan kimia di dalam umpan buatan seefektif umpan ikan asin mackerel, tetapi hanya sekitar 50% seefektif umpan segar untuk lobster. Dapat disimpulkan bahwa umpan buatan akan berhasil mendorong tingkah laku pencarian makanan oleh lobster di habitat alaminya dengan efisiensi yang tidak kurang dari setengah dari umpan alami.

57 Simulasi Makan dan Pikatan Kimiawi Hewan air termasuk krustasea memanfaatkan 'sinyal kimia' (rangsangan kimia) yang terbawa air untuk mengidentifikasi potensi dan berorientasi ke arah mangsa, untuk menghindari predator dan untuk menemukan lokasi pasangannya (Rittschof 1992 diacu dalam Lee and Meyers 1996). Sinyal kimia khusus ini diakui terlepas dari kompleksitas kimia lingkungan perairan Oleh karena itu, ekologi kimia hewan air sangat penting baik fisiologis dan tingkah laku untuk memahami status dan peran hewan dalam lingkungan perairan. Fungsi dari sinyal-sinyal kimia tertentu menjadi lebih signifikan dalam mengelola sistem biologi yang dioptimalkan untuk satu spesies hewan air sejak sinyal kimiawi ini mengatur tingkah laku makan dan mengontrol reproduksi (Lee and Meyers 1996). Hirarki tingkah laku krustasea diklasifikasikan berdasarkan responnya terhadap rangsangan kimia menjadi lima fase (Tabel 1), yaitu : (1) deteksi (detection), di mana hewan menjadi sadar akan kehadiran rangsangan kimia; (2) orientasi (orientation), dimana hewan mempersiapkan untuk melakukan gerakan karena tertarik atau menolak; (3) pergerakan (locomotion), di mana terjadi pergerakan karena tertarik atau menolak; (4) inisiasi untuk makan (initiation of feeding), di mana hewan mulai menangani dan mengkonsumsi makanan (incitant atau menekan), dan (5) kelanjutan atau penghentian makan (continuation or termination of feeding), dimana hewan makan sampai kekenyangan atau jera (Lee and Meyers 1996). Deskripsi model tingkah laku adalah asosiasi tingkah laku tertentu dengan respons lima fase ini. Krustasea menunjukkan empat kategori utama tingkah laku chemotactic : antennule menjentikkan, yang tampaknya paling sensitif, menyelidik gerakan-gerakan yang dibuat oleh pereiopods yang mendahului pergerakan; pergerakan oleh krustasea, benar menunjukkan ketertarikan atau penolakan; dan pergerakan bagian mulut yang menunjukkan stimulasi umum dalam memakan makanan. Akhirnya, makanan dan kualitas lingkungan memiliki efek langsung pada efektivitas daya tarik/stimulan makanan; Pendeteksian makanan dan stimulasi makan pada akhirnya menentukan nilai komersial dari suatu makanan hewan air (Lee and Meyers 1996).

58 26 Empat asosiasi tingkah laku dasar yang terkait dengan chemoreception telah dijelaskan bagi sebagian besar spesies krustasea, yaitu : (1) Menjentikkan Antennule tampaknya yang paling sensitif (2-4 kali lipat dibandingkan dengan pergerakan) dan tingkah laku meresapi terkait dengan perilaku chemoreception dari kejauhan. Menjentikkan Antennule telah digunakan berulang kali untuk menilai batas-batas fisiologis penerimaan kimia dalam krustasea (Pittet et al diacu dalam Lee and Meyers 1996). Krustasea dapat mendeteksi larutan senyawa organik yang sangat encer, terutama asam amino, gula dan nukleotida. (2) Pergerakan oleh bagian mulut menunjukkan rangsangan makan yang umum dan dapat berfungsi dengan baik dalam jarak dan kontak chemoreception. (3) Gerakan-gerakan menyelidiki yang dibuat oleh pereiopod biasanya mendahului pergerakkan dan muncul untuk melayani dalam upaya mencari daerah sumber kimiawi, khususnya endapan dasar perairan, untuk kemungkinan adanya mangsa. (4) Pergerakkan oleh krustasea yang menunjukkan benar-benar tertarik atau menolak. Ke-empat asosiasi tingkah laku ini mungkin memiliki korelasi fisiologis karena penelitian telah menunjukkan bahwa antennule dan pereiopod dactyl berhubungan dengan jarak yang berkaitan dengan deteksi chemoattraction, orientasi dan pergerakkan, sementara bagian mulut berhubungan dengan kontak chemoreception yang terkait dengan penanganan makanan dan konsumsi (Derby and Atema 1982 diacu dalam Lee and Meyers 1996). Tabel 1 Deskripsi dan respons tingkah laku krustasea terhadap rangsangan kimiawi (Lee and Meyers 1996a) No. Fase Respons tingkah laku 1. Detection 1. Antennule flick (antennule dijentikkan atau dikibaskan) 2. Antennule wipe (antennule diseka) 3. Maxilliped beat (maxilliped bergerak dengan tempo) 4. Dactyl wave (Gerakan Antennule digerakkan dengan cepat dari satu sisi ke sisi lainnya Antennule dibelai oleh maxilliped Maxilliped melakukan gerakan tempo cepat (> 10 beat/menit) Mactyl pereiopod melambai perlahan (1 gelombang = 10 detik) bergelombang dari dactyl) 5. Dactyl wipe (Dactyl diseka) Dactyl dibelai oleh maxilliped 6. Head bob Bagian anterior terangkat dari substrat dasar

59 27 Tabel 1 (Lanjutan) No. Fase Respons tingkah laku 2. Orientation 7. Dactyl rake (Dactyl melakukan Penyapuan di dasar) 8. Dactyl probe (Dactyl mengorek) 9. Dactyl dig (Dactyl menggali) 10. Turn (Menoleh) 3. Locomotion 11. Walk (Berjalan) 12. Run (Berlari) 13. Search (Mencari atau berjalan) 4. Initiation of feeding 5. Continuation of feeding 14. Frantic search (Mencari dengan panik) 15. Grab (Menggenggam) 16. Lunge (Menyergap) 17. Pounce (Menerkam) 18. Hold (Memegang) 19. Taste (Rasa) 20. Ingest (Menelan) 21. Reject (Menolak) Dactyl pereiopod menyeret di permukaan substrat Dactyl pereiopod digunakan untuk mengorek substrat Dactyl pereiopod digunakan untuk menggali ke dalam substrat dan substrat menyentuh tubuh Krustasea menoleh kea rah atau menjauh dari sinyal kimiawi Krustasea berjalan dari satu lokasi ke lokasi lainnya Krustasea berlari dari satu lokasi ke lokasi lainnya Krustasea mencari sebuah tempat yang luas atau berjalan dengan cara yang disengaja Tingkah laku pencarian yang intensif (berlari) Krustasea menyambar sumber atau mengambil pada sumber dengan cheliped atau dactyl Krustasea melompat maju ke arah sumber Krustasea melompat maju ke arah bawah menyentuh sumber atau substrat dengan thorax Sumber sinyal kimia dipegang dengan cheliped Sumber sinyal kimia pindah ke mulut, kontak langsung dengan mulut Sumber sinyal kimiawi pindah ke mulut dan tertelan seluruhnya atau sebagian Sumber sinyal kimiawi dijatuhkan dan krustasea mengabaikannya

60 28 Keterangan : (1) Detection : Persepsi sinyal kimia oleh chemoreceptor di antennule, mulut dan pereipod (2) Orientation : Posisi krustasea berubah relatif terhadap posisi sebelum stimulasi, tetapi tidak bergerak dan terus melakukan respon seperti pada fase 1 (3) Locomotion : Krustasea mulai melakukan gerakkan, baik menuju atau menjauhi dari sumber sinyal kimiawi, dan sesekali terus melakukan respon seperti pada fase 1 dan fase 2 (4) Initiation of feeding : Krustasea tiba pada sumber sinyal kimia, berhenti bergerak dan menangani makanan dengan cheliped dan bagian mulut sehingga chemoreceptor terkena sinyal kimiawi. Krustasea terus melakukan respon seperti pada fase 1 dan fase 2 (5) Continuation of feeding : Krustasea baik menelan atau menolak makanan, mengakhiri makan dan terus melakukan respon seperti pada fase 1, fase 2 dan fase Taksonomi, Morfologi, Habitat dan Penyebaran Lobster Tubuh lobster diselubungi dengan kerangka kulit yang keras dan berzat kapur serta terdapat duri-duri. Pada kerangka kulit ini terdapat warna-warna yang indah. Duri-duri besar dan kecil yang kukuh serta tajam-tajam mulai dari ujung sungut kedua (second antenna), kepala, bagian belakang badannya (abdomen) dan lembaran ekornya (Subani 1978).

61 29 Gambar 4 Bagian-bagian tubuh lobster ( 2 Jan 2010) Menurut Holthuis (1991), lobster yang terkaitt dengan Genus Panulirus, diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Animalia Phyllum : Arthropoda Class : Crustacea Order : Decapoda Sub Order : Macrura Reptantiaa Super Family : Palinuroidea Family : Palinuridae Genus : Panulirus Species : Panulirus argus Panulirus cygnus Panulirus echinatus Panulirus gracilis

62 30 Panulirus guttatus Panulirus homarus (Linnaeus 1758) Panulirus inflatus Panulirus interruptus Panulirus japonicus Panulirus laevicauda Panulirus longipes (Milne Edwards 1868) Panulirus marginatus Panulirus ornatus (Fabricius 1798) Panulirus pascuensis Panulirus penicillatus (Olivier 1791) Panulirus polyphagus (Herbst 1793) Panulirus regius Panulirus stimpsoni Panulirus versicolor (Latreille 1804) Menurut Williams (1986), jenis lobster yang tertangkap di perairan selatan Jawa adalah : (1) Lobster hijau pasir (Panulirus homarus); (2) Lobster bunga (Panulirus longipes); (3) Lobster mutiara (Panulirus ornatus); (4) Lobster batu (Panulirus penicillatus); (5) Lobster bambu coklat (Panulirus polyphagus); dan (6) Lobster hijau (Panulirus versicolor). Ciri-ciri khusus lobster yang hidup di seluruh perairan pantai di Indonesia adalah (Moosa dan Aswandy 1984; Holthuis 1991) : (1) Lobster hijau pasir (Panulirus homarus Linnaeus 1758) Lobster ini bernama Scalloped spiny lobster (nama Inggris) dan Udang karang (nama Indonesia). Lobster ini mempunyai warna dasar kehijauan atau kecoklatan dengan dihiasi bintik-bintik terang tersebar di seluruh permukaan segmen abdomen. Kaki berbercak-bercak putih. Ukuran panjang tubuh maksimum adalah 31 cm, panjang karapas 12 cm dan ratarata panjang tubuh antara cm. Panulirus homarus aktif di malam hari dan hidup berkoloni. Lobster mendiami perairan dangkal antara 1 90 meter, kebanyakan berada pada kedalaman 1 5 meter dan tinggal diantara

63 31 batu-batu, sering di zona ombak, kadang-kadang di air agak keruh. Lobster muda mempunyai toleransi yang cukup besar terhadap kekeruhan, sedangkan lobster dewasa lebih menyukai perairan yang cerah. Penyebaran secara geografis lobster ini berada di Indo-Pasifik Barat, Afrika Timur ke Jepang, Indonesia, Australia dan Kaledonia Baru. Penyebaran lobster ini di wilayah perairan Pulau Jawa adalah di perairan Teluk Pelabuhanratu, Pameungpeuk, Pacitan, Tanjung Panaitan, dan Kepulauan Seribu. Gambar 5 Penyebaran geografis lobster hijau pasir (Panulirus homarus Linnaeus 1758) (2) Lobster bunga (Panulirus longipes Milne Edwards 1868) Lobster ini bernama Longlegged spiny lobster ( nama Inggris). Lobster ini berwarna dasar kecoklatan dengan warna kebiruan pada ruas I antenna. Abdomen berbintik-bintik putih. Kaki jalan berbintik-bintik putih dengan warna pucat memanjang pada tiap-tiap ruas kaki. Ukuran panjang tubuh maksimum adalah 30 cm dengan rata-rata panjang tubuh antara cm, dan maksimumm panjang karapas 12 cm dengann rata-rata panjang karapas antara 8 10 cm. Panulirus longipes mendiami tempat yang sedikit terlindung dan menyukai perairan yang bersifat oseanik. Lobster ini tinggal

64 32 di dalam lubang batu atau karang dan padaa malam hari naik ke tubir untuk mencari makan. Lobster hidup di air yang jernih atau sedikit keruh pada kedalaman antara 1 18 m (meskipun ditemukan juga pada kedalaman perairan 122 m) di daerah berbatu dan terumbu karang, aktif di malam hari dan hidup soliter. Penyebaran geografis lobster ini berada di Indo-Pasifik Barat, Afrika Timur ke Jepang dan Polinesia. Dua sub-spesies yang dikenali sebagai PI longipes adalah lobster wilayah barat yang mendiami dari Afrika Timur ke Thailand, Taiwan, Filipina dan Indonesia, sedangkan lobster wilayah timur yang dikenali dengan sub-spesies PI femoristriga mendiami Jepang, Maluku, Papua New Guinea, Australia timur, Kaledonia baru dan Polinesia. Penyebaran lobster ini di wilayah perairan Pulau Jawa adalah di perairan Pangandaran dan Situbondo. Gambar 6 Penyebaran geografis lobster bunga (Panulirus longipes Milne Edwards 1868) (3) Lobster mutiara (Panulirus ornatus Fabricius 1798) Lobster ini bernamaa Ornate spiny lobster (nama Inggris). Lobster ini memiliki warna dasar biru kehijauan sampai biru kekuningan. Segmen

65 33 abdomen berwarna kegelapan pada bagian tengah dan bagian sisi mempunyai bercak putih. Kaki bercak putih. Lobster ini mendiami perairan dangkal di pantai antara 1 8 m yang kadang-kadang sedikit keruh, tetapi juga ditemukan pada kedalaman lebih dari 50 m. Hidup di substrat berpasir dan berlumpur, kadang-kadang di bawah batu dan terumbu karang. Lobster ini memiliki ukuran panjang maksimum hingga 50 cm, tetapi biasanya ukurannya jauh lebih kecil, yaitu antara cm. Penyebaran geografis lobster ini berada di Indo-Pasifik Kepulauan Solomon, Papua New Guinea, Australia, Kaledonia Baru dan Fiji. Tahun 1988, lobster ini ditemukan di pantai timur Israel di Mediterania. Penyebaran lobster ini di wilayah perairan selatan Pulau Jawa adalah di perairan Teluk Pelabuhanra atu, Pameungpeuk, Tanjung Panaitan, dan kepulauan Barat dari Laut Merah dan Afrika Timur, ke selatan Jepang, Seribu. Gambar 7 Penyebaran geografis lobster mutiara (Panulirus ornatus Fabricius 1798)

66 34 (4) Lobster batu (Panulirus penicillatus Olivier 1791) Lobster ini bernamaa pronghornn spiny lobster (namaa Inggris) dan udang barong (nama Indonesia). Lobster ini berwarna dasar hijau muda sampai hijau kecoklatan. Lobster jantan biasanya berwarna lebih gelap. Kaki berwarna putih. Mendiami perairan dangkal antara 1 4 m dengan substrat berbatu. Kondisi air jernih, tidak dipengaruhi oleh sungai, seringkali dalam zona surfing dan dalam perairan bergelombang. Oleh karena itu sering berada di dekat pantai dan pulau-pulau kecil. Lobster ini aktif pada malam hari dan hidup soliter. Panjang tubuh maksimum sekitar 40 cm, panjang tubuh lobster dewasaa sekitar 30 cm. Lobster jantann biasanya jauh lebih besar dibandingkan betina. Penyebaran geografis berada di Indo-Pasifik Barat dan Pasifik Timur : Laut Merah, timur Afrika ke Jepang, Hawaii, Samoa dan Kepulauan Tuamotuu dan lebih ke timur ke pulau-pulau lepas pantai barat Amerika (Pulau Clipperton, Kepulauan Revillagigedo, Pulau Cocos, Kepulauan Galapagos) dan di beberapa daerah dekat pantai Meksiko (Sinaloa, Nayarit dan Guerrero). Penyebaran lobster ini di wilayah perairan selatan Pulau Jawa adalah di perairan Teluk Pelabuhanratu, Pameungpeuk, Pacitan, dan Tanjung Panaitan. Gambar 8 Penyebaran geografis lobster batu (Panulirus penicillatus Olivier 1791)

67 35 (5) Lobster bambu coklat (Panulirus polyphagus Herbst 1793) Lobster ini bernama mud spiny lobster (nama Inggris) dan udang barong (nama Indonesia). Lobster ini memiliki warna dasar hijau muda kebiruan dengan garis putih melintang terdapat pada setiap segmen. Kaki bercak putih. Panulirus polyphagus mendiami perairan yang keruh dan sering ditemukan hidup pada dasar laut yang berlumpurr dengan kisaran kedalaman perairan antaraa 3 90 m, tapi biasanya pada kedalaman di bawah 40 m. Panjang tubuh maksimumm dapat mencapai 40 cm dengan rata-rata panjang tubuh antara cm. Penyebaran geografis berada di Indo-Pasifik Barat : mulai dari pantai Pakistan dan India ke Vietnam, Filipina, Indonesia, Barat Laut Australia dan Teluk Papua. Penyebaran lobster ini di wilayah perairan selatan Pulau Jawa adalah di perairan Teluk Pelabuhanratu, Pameungpeuk, dan Tanjung Panaitan. Gambar 9 Penyebaran geografis lobster bambu coklat (Panulirus polyphagus Herbst 1793)

68 36 (6) Lobster bambu hijau (Panulirus versicolor Latreille 1804) Lobster ini bernama painted spiny lobster (nama Inggris) dan udang barong (nama Indonesia). Lobster ini memiliki warna-warni yang indah. Antenna berwarna merah jambu di bagian dasarnya dan warna yang serupa juga terlihat pada bagian sisi karapas. Warna dasar lobster adalah hijau terang dengan garis putih melintang yang diapit oleh garis hitam. Pada lobster yang masih muda warna dasarnya adalah kebiruan atau keunguan. Panulirus versicolor mendiami perairan dangkal dari sublitoral hingga ke kedalaman 15 m, di daerah terumbu karang, di perairan yang jernih dan daerah surfing. Lobster ini aktif pada malam hari dan hidup soliter. Panjang tubuh maksimum dapat mencapai 40 cm dan rata-rata panjang tubuh adalah kurang dari 30 cm. Penyebaran geografis beradaa di Indo- Pasifik Barat : mulai dari Laut Merah dan seluruh pantai timur Afrika, ke selatan Jepang, Mikronesia, Melanesia, Australia Utara dan Polinesia. Penyebaran lobster ini di wilayah perairan Pulau Jawa adalah di perairan Teluk Pelabuhanratu, Pameungpeuk, Tanjung Panaitan, kepulauan Seribu, dan Situbondo. Gambar 10 Penyebaran geografis lobster hijau (Panulirus versicolor Latreillee 1804)

69 Tingkah Laku Lobster Lobster atau udang karang disebut juga udang barong. Lobster ini hidup pada perairan berbatu karang dan di dasar laut yang berpasir karang halus dengan perairan yang mempunyai iklim tropis dan mempunyai suhu rata-rata 28ºC (Suman et al. 1993; Moosa dan Aswandy 1984). Lobster termasuk organisme yang bersifat nocturnal, yaitu mempunyai sifat tidak aktif bergerak dalam mencari makan dan sumber makanannya pun terdiri dari binatang-binatang laut yang hidupnya menetap pada dasar perairan di sekelilingnya, seperti mollusca, bivalvia, bulu babi, teripang, dan bangkai ikan. Lobster keluar dari persembunyiannya pada malam hari untuk mencari makan, dan meskipun lobster hidup pada perairan yang lebih dalam pada siang hari, pada malam hari biasanya akan menuju perairan yang lebih dangkal sampai dengan kedalaman kurang lebih satu meter (Moosa dan Aswandy 1984). Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Phillips and Cobb (1980), bahwa pada malam hari lobster meninggalkan liang untuk mencari makan pada daerah terdekat dengan habitatnya, seperti pada batu karang datar dan hamparan rumput laut dan karena lobster adalah hewan nocturnal. Pada saat bulan bulan gelap udang karang akan bergerak bebas dan beraktivitas sampai pada kedalaman meter. Waktu tersebut sangat cocok untuk dilakukan penangkapan lobster. Lobster merupakan organisme yang bersifat fototaksis negatif. Pada fase bulan purnama udang karang akan bergerak ke arah yang lebih dalam sampai kedalaman lebih dari 20 meter, atau membenamkan diri ke dalam substrat dan bersembunyi di dalam karang (Prasetyani 2001). Kegiatan penangkapan lobster akan sangat tergantung dari penggunaan umpan sebagai sumber makanannya. Makanan alami yang digemari lobster adalah dari jenis binatang lunak (mollusca), seperti keong dan kekerangan; binatang berkulit duri (echinodermata), seperti bulu babi, bintang laut dan teripang atau lili laut (Moosa dan Aswandy 1984). Pada alat tangkap krendet, jenis umpan yang biasa digunakan untuk menangkap lobster adalah ikan rucah, jenis-jenis molusca dan gastropoda serta kelapa bakar (Kholifah 1998).

70 38 Penggunaan kulit hewan dapat dijadikan sebagi umpan alternatif karena kandungan protein dalam kulit hewan tersebut. Moosa dan Aswandy (1984), menyatakan bahwa protein kulit hewan terdiri dari 96% protein terbentuk (fibrous protein) dan 4% protein tak terbentuk (globural protein). Protein terbentuk terdiri dari atas kolagen, elastin dan keratin. Adanya komponen-komponen dalam kulit tersebut, memungkinkan penggunan kulit tersebut sebagai umpan untuk menangkap lobster, sesuai dengan sifat lobster yang menyukai jenis makanan atau umpan yang mengandung protein dan lemak yang tinggi. Umpan yang mempunyai komposisi protein, lemak dan chitine yang tinggi serta mempunyai bau yang menyengat sangat disukai oleh lobster. Umpan kulit kambing dapat digunakan sebagai umpan alternatif pada alat tangkap krendet, selain umpan krunken (kelapa bakar) dan siput laut (Kholifah 1998). Selain umpan kulit kambing, umpan dari jenis kulit hewan lainnya seperti kulit sapi juga dapat digunakan sebagai umpan alternatif pada alat tangkap krendet untuk meningkatkan hasil tangkapan lobster (Febrianti 2000). Tertangkapnya lobster dengan menggunakan umpan asli atau umpan buatan tidak saja karena umpan tersebut mengandung urea, serta perangkap juga berfungsi sebagai tempat berlindung (shelter) dari predator (Williams 1988).

71 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian tentang rancang bangun bubu lobster modifikasi dan penggunaan umpan alternatif untuk penangkapan lobster dilakukan berdasarkan penelitian skala laboratorium dan skala lapangan Penelitian skala laboratorium (1) Kajian desain dan konstruksi dan pembuatan bubu lobster penelitian serta pemilihan umpan alternatif. Kegiatan kajian desain dan konstruksi bubu lobster dan pemilihan umpan alternatif dilakukan pada bulan Januari 2008 hingga Desember Informasi data penelitian diperoleh dalam bentuk buku dan artikel jurnal dari perpustakaan, yaitu di Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK-IPB Bogor, Fakultas Peternakan IPB Bogor, LSI-IPB Bogor, Balai Pengembangan Perikanan Laut Muara Baru Jakarta, Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan Semarang, dan Perpustakaan Tokyo University of Marine Science and Technology (TUMSAT) Tokyo, Japan. Selain itu, informasi data penelitian juga diperoleh dengan pengunduhan artikel jurnal melalui internet (e-journal), baik jurnal Fisheries Science, Fisheries Research, Australian Journal of Marine and Fresh Water Research, ICES Journal Marine Science dan sebagainya. Sedangkan rancang bangun bubu lobster modifikasi dilakukan pada bulan Januari Juni Gambar desain bubu lobster modifikasi yang telah tercipta, menjadi acuan untuk dilakukan rancang bangun bubu lipat modifikasi sesuai dengan desain yang dihasilkan. Bingkai (frame) bubu dibuat di Cirebon, kemudian dilakukan pemasangan badan jaring dan konstruksi lainnya di Laboratorium Teknologi Penangkapan Ikan, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. (2) Analisis protein dan lemak umpan dilakukan di Laboratorium Konservasi Satwa Langka dan Harapan, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, LPPM IPB.

72 Penelitian skala lapangan (1) Pengujian bubu lobster modifikasi dengan menggunakan umpan tembang sebagai umpan standar yang biasa digunakan nelayan dalam penangkapan lobster. Kegiatan ini dilakukan pada bulan Juli dan Agustus 2011 di perairan Teluk Pelabuhanratu. (2) Pengujian bubu lobster modifikasi dengan umpan alternatif yang dilakukan pada bulan Agustus dan September 2011 di perairan Teluk Pelabuhanratu. (3) Pengambilan sampel umpan berdasarkan lama perendaman di air laut sebagai sampel analisis protein dan lemak umpan. Kegiatan ini dilakukan pada bulan September 2011, dimana pengambilan sampel dilakukan di Pelabuhanratu. Gambar 11 Lokasi penelitian di Pelabuhanratu Jawa Barat

73 Alat dan Bahan Penelitian Penelitian skala laboratorium (1) Kajian desain dan konstruksi dan pembuatan bubu lobster penelitian serta pemilihan umpan alternatif Alat dan bahan penelitian dalam kegiatan desain bubu lipat modifikasi terdiri dari perangkat komputer yang terhubung dengan sistem internet yang digunakan untuk mengunduh informasi jurnal terkait dengan referensi konstruksi bubu dan umpan, peralatan tulis-menulis, Kamera digital untuk mereproduksi foto dalam bentuk file. Alat dan bahan penelitian dalam kegiatan pembuatan bubu lipat penelitian terdiri dari jaring PE ms 1,5 inci 210 D/18, benang PE dia. 2 mm dan 5 mm, lembar plastik tebal 1 mm, pisau, gunting, meteran gulung panjang 5 meter, dan coban plastik. (2) Analisis protein dan lemak umpan Alat dan bahan yang digunakan adalah sampel ikan tembang dan cacing tanah yang diperoleh dari pengambilan sampel di lapangan. Analisis protein umpan dibutuhkan masing-masing 0,25 gram sampel, selenium 0,25 gram, 3 ml H 2 SO 4 pekat, 50 ml aquades, 20 ml NaOH 40%, 10 ml H 3 B0 3 2%, 2 tetes indicator Brom Cresol Green-Methyl Red warna merah muda, HCL 0,1 N, destilasi titrasi, labu Erlenmeyer, dan botol labu kjeldahl. Analisis lemak umpan dibutuhkan masing-masing 2 gram sampel, kapas, kertas saring, labu soxhlet, dan pelarut lemak Penelitian skala lapangan Alat dan bahan penelitian skala lapangan yang bersifat umum dan digunakan dalam pengujian bubu lobster modifikasi dengan menggunakan umpan tembang dan pengujian bubu lobster modifikasi dengan umpan alternatif antara lain adalah timbangan, salinometer, Thermometer batang, ember, karamba apung, mistar, alat tulis camera digital, dan laptop seperti terlihat pada Tabel 2.

74 42 Tabel 2 Alat dan bahan penelitian No. Alat dan bahan Spesifikasi Kegunaan 1 Timbangan Kapasitas 2 kg dan 5 kg Pengukuran berat (gram) per ekor hasil tangkapan 2 Salinometer Portable Pengukuran salinitas permukaan perairan 3 Thermometer batang Portable Pengukuran suhu permukaan perairan 4 Ember Kapasitas 5 kg Tempat penampungan umpan dan hasil tangkapan 5 Karamba apung 4 m x 4 m x 2 m Tempat penampungan hasil (pxlxt) 6 Penggaris Panjang 30 cm dan 50 cm tangkapan Pengukuran panjang karapas lobster, panjang ikan, dan lebar karapas rajungan 7 Alat tulis Pencatatan data respon hasil experimental fishing 8 Kamera digital Dokumentasi kegiatan 9 Laptop Toshiba Penyimpanan data penelitian (1) Pengujian bubu lobster modifikasi dengan menggunakan umpan tembang Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 1 unit perahu milik nelayan lokal, 1 unit alat tangkap bubu lipat penelitian dengan sistem longline, timbangan masing-masing dengan maksimum kapasitas beban 2 kg dan 5 kg, salinometer, thermometer batang, 2 buah ember, 1 unit karamba apung milik nelayan, bandul tali, alat tulis, penggaris, kamera digital dan laptop. Bahan yang digunakan adalah tembang (kondisi segar) yang akan digunakan sebagai umpan untuk kegiatan selama 31 trip operasi penangkapan. Alat dan bahan utama penelitian dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Alat dan bahan utama penelitian No. Alat dan bahan Spesifikasi Kegunaan 1 Perahu 9 m x 1,2 m x 0,8 m (pxlxt) Experimental fishing 2. Alat tangkap bubu lipat penelitian : (a) 4 buah bubu lipat modifikasi pintu samping (MPS) satu pintu (b) 4 buah bubu lipat modifikasi pintu atas (MPA) satu pintu Ukuran bubu lipat 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt). Frame bubu besi galvanis dia. 6 mm. Perolehan data respon hasil experimental fishing (c) 4 buah bubu lipat standar (S) dua pintu Jaring bubu (cover net) PE ms 1,5 inci 210 D/18. 3 Ikan tembang (segar) 1 kg = ekor Umpan pada bubu lipat

75 43 (2) Pengujian bubu lobster modifikasi dengan umpan alternatif Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 1 unit perahu milik nelayan lokal, 1 unit alat tangkap bubu lipat penelitian dengan sistem longline, timbangan masing-masing dengan maksimum kapasitas beban 2 kg dan 5 kg, salinometer, thermometer batang, 2 buah ember, 1 unit karamba apung milik nelayan, bandul tali, alat tulis, penggaris, kamera digital dan laptop. Bahan yang digunakan adalah tembang (kondisi segar) yang akan digunakan sebagai umpan standar dan cacing tanah (kondisi hidup) untuk kegiatan selama 20 trip operasi penangkapan. Alat dan bahan utama penelitian dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Alat dan bahan utama penelitian No. Alat dan bahan Spesifikasi Kegunaan 1 Perahu 9 m x 1,2 m x 0,8 m (pxlxt) Experimental fishing 2. Alat tangkap bubu lipat penelitian : (d) 6 buah bubu lipat modifikasi pintu samping (MPS) satu pintu (e) 6 buah bubu lipat standar (S) dua pintu Ukuran bubu lipat 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt). Frame bubu besi galvanis dia. 6 mm. Jaring bubu (cover net) PE ms 1,5 inci 210 D/18. Perolehan data respon hasil experimental fishing 3 Tembang (segar) Berat gram Umpan pada bubu lipat 4 Cacing tanah (hidup) Berat gram Umpan pada bubu lipat (3) Pengambilan sampel umpan berdasarkan lama perendaman di air laut Alat dan bahan yang digunakan adalah 7 kantong sampel ikan tembang yang masing-masing kantong sampel terdiri dari 4-5 ekor atau gram dan 7 kantong sampel cacing tanah yang masing-masing kantong sampel terdiri dari gram. Masing-masing kantong sampel merupakan hasil perendaman di dalam air laut dengan waktu perendaman masing-masing 0, 1, 2, 3, 6, 9, dan 12 jam. Untuk mempertahankan kondisi sampel dalam keadaan beku, maka diperlukan es batu yang dihancurkan dan stirofoam box.

76 Kerangka Penelitian Skematik kerangka penelitian dapat dilihat pada Gambar 12, dimana terdapat input, proses dan output yang akan menegaskan langkah dan tahapan penelitian. Input terdiri dari kondisi eksisting permasalahan desain dan konstruksi bubu dan umpan serta kebutuhan yang diperlukan dalam rangka pengembangan. Pada kondisi ini diharapkan ada solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dan pada akhirnya dapat menjadi acuan yang baik dalam upaya pengembangan. Proses merupakan ruang lingkup penelitian yang terdiri dari tahap penelitian awal yang mereprestasikan kondisi eksisting permasalahan dan upaya pembuatan desain dan konstruksi bubu lobster. Terkait dengan aspek teknis bubu, maka kajian awal untuk pemilihan jenis umpan alternatif juga dilakukan untuk menjadi paket penelitian yang utuh bahwa alat tangkap bubu disandingkan dengan penggunaan umpan alternatif pilihan. Hasil tahap penelitian awal akan dilanjutkan dengan tahapan penelitian berikutnya, yaitu studi efektivitas bubu lobster modifikasi dengan menggunakan umpan standar dan umpan alternatif dengan melakukan kegiatan experimental fishing skala lapangan. Untuk dapat menjawab aspek efektivitas umpan, maka dilakukan juga dilakukan analisis kandungan kimia alami umpan berdasarkan lama perendaman di laut. Secara keseluruhan akan dilakukan pembahasan terkait dengan pencapaian tujuan penelitian. Output atau keluaran dalam penelitian ini adalah informasi tentang desain dan konstruksi bubu lobster modifikasi dan umpan alternatif yang bermanfaat bagi pengembangan teknologi penangkapan lobster yang efektif, efisien dan ramah lingkungan serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat nelayan. 3.4 Metode penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat parsial tergantung pada bentuk rancangan penelitian yang akan dilakukan, baik dalam penelitian skala laboratorium maupun skala lapangan.

77 45 INPUT MASALAH BUBU DAN UMPAN - Ukurannya besar, berat, massif dan kaku - Pintu bubu terbuka sehingga peluang pelolosan target tangkapan sangat besar - Umpan yang berasal dari laut tersedia, tapi bersaing dengan kebutuhan konsumsi masyarakat dan harga cukup mahal KEBUTUHAN - Ukurannya kecil dan efisien yang dapat dioperasikan oleh perahu kecil dengan jumlah alat tangkap yang banyak - Diperlukan rekayasa pintu jebakan pada pintu masuk bubu sehingga dapat mereduksi pelolosan target tangkapan dari bubu - Diperlukan umpan alternatif PROSES STUDI DESAIN DAN KONSTRUKSI BUBU LOBSTER & PEMILIHAN UMPAN ALTERNATIF EKSISTING PENANGKAPAN LOBSTER ALAT TANGKAP UMPAN ANALISIS DAN PEMILIHAN RANCANGAN DESAIN UMPAN ALTERNATIF RANCANG BANGUN SKALA LABORATORIUM PENGUJIAN SKALA LAPANGAN KANDUNGAN KIMIAWI UMPAN EFEKTIVITAS BUBU LOBSTER KETAHANAN UMPAN EFEKTIVITAS UMPAN ANALISIS OUTPUT RANCANG BANGUN BUBU LOBSTER TEPAT GUNA & UMPAN ALTERNATIF YANG EFEKTIF Gambar 12 Kerangka penelitian

78 Pengumpulan Data Penelitian skala laboratorium (1) Kajian desain dan konstruksi dan pembuatan bubu lobster penelitian serta pemilihan umpan alternatif Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode desk study terhadap informasi dan perkembangan bubu yang diperoleh dari jurnal penelitian dan buku-buku perikanan tangkap lainnya. Metode deskriptif akan digunakan untuk memberikan gambaran terhadap desain dan konstruksi bubu dan jenis umpan alternatif yang akan dihasilkan dalam penelitian ini. Perkembangan desain bubu yang sudah ada akan menentukan dalam analisis pemilihan desain bubu standar sebelum dimodifikasi sebagai tujuan pengembangan desain bubu lobster. Tahap tahap pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut : (a) Melakukan kunjungan ke berbagai perpustakaan untuk memperoleh informasi dalam bentuk buku dan artikel jurnal, yaitu di Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK-IPB Bogor, LSI-IPB Bogor, Balai Pengembangan Perikanan Laut Muara Baru Jakarta, Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan Semarang, dan Perpustakaan Tokyo University of Marine Science and Technology (TUMSAT) Tokyo, Japan. (b) Melakukan pengunduhan artikel jurnal melalui internet (e-journal), baik jurnal Fisheries Science, Fisheries Research, Australian Journal of Marine and Fresh Water Research, ICES Journal Marine Science dan sebagainya. (2) Analisis protein dan lemak umpan Sampel umpan penelitian (cacing tanah dan tembang) untuk analisis protein dan lemak dilakukan dengan perendaman di laut dengan waktu perendaman yang berbeda, yaitu 0 jam, 1 jam, 2 jam, 3 jam, 6 jam, 9 jam dan 12 jam. Waktu perendaman adalah ± 12 jam yang dimulai dari sore hari menjelang malam hingga keesokan pagi harinya. Masing-masing umpan dimasukkan ke dalam kantong umpan dari bahan kawat kasa aluminium dan posisi sampel umpan terendam pada kedalaman 2-3 meter dan tergantung pada tali

79 48 Tabel 5 Spesifikasi alat tangkap bubu lipat penelitian No. Bagian alat tangkap Spesifikasi 1 Pelampung tanda (floating buoy) (4 buah) Plastik dia. 30 cm 2 Tali pelampung (floating line) (2 buah) PE dia. 10 mm; Panjang 25 m 3 Pemberat (sinker) (2 buah) Batu ± 30 kg 4 Tali pemberat (sinker line) (2 buah) PE dia 10 mm; Panjang 5 m 5 Tali utama (main line) (1 set) PE dia. 10 mm; Panjang 130 m 6 Tali cabang (branch line) (12 buah) PE dia 6 mm; Panjang 5 m 7 Bubu lipat modifikasi pintu samping (4 buah) Frame besi galvanis dia 6 mm Cover net PE ms 1,5 inci d18 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt) 8 Bubu lipat modifikasi pintu atas (4 buah) Frame besi galvanis dia 6 mm Cover net PE ms 1,5 inci d18 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt) 9 Bubu lipat standar (4 buah) Frame besi galvanis dia 6 mm Cover net PE ms 1,5 inci d18 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt) (2) Pengujian bubu lobster modifikasi dengan umpan alternatif Setiap bubu lipat penelitian, baik bubu lipat modifikasi pintu samping, maupun bubu lipat standar akan menggunakan jenis umpan yang berbeda, yaitu tembang (Sardinella spp) dan cacing tanah (Lumbricus rubellus). Penyusunan bubu lipat penelitian dalam satu rangkaian sistem longline disusun secara acak. Spesifikasi bubu lipat penelitian dapat dilihat pada Tabel 6 dan Gambar 14. Tabel 6 Spesifikasi alat tangkap bubu lipat penelitian No. Bagian alat tangkap Spesifikasi 1 Pelampung tanda (floating buoy) (4 buah) Plastik dia. 30 cm 2 Tali pelampung (floating line) (2 buah) PE dia. 10 mm; Panjang 25 m 3 Pemberat (sinker) (2 buah) Batu ± 30 kg 4 Tali pemberat (sinker line) (2 buah) PE dia 10 mm; Panjang 5 m 5 Tali utama (main line) (1 set) PE dia. 10 mm; Panjang 130 m 6 Tali cabang (branch line) (12 buah) PE dia 6 mm; Panjang 5 m 7 Bubu lipat modifikasi pintu samping (6 buah) Frame besi galvanis dia 6 mm Cover net PE ms 1,5 inci d18 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt) 8 Bubu lipat standar (6 buah) Frame besi galvanis dia 6 mm Cover net PE ms 1,5 inci d18 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt)

80 47 dan terikat pada bambu bagan tancap. Setiap selesai waktu perendaman, maka sampel umpan dimasukkan ke dalam plastik sampel dan disimpan sementara pada kotak stirifoam yang berisi es curah. Keesokan pagi, seluruh sampel dimasukkan ke dalam freezer untuk dibekukan. Tembang dimasukkan ke dalam kantung umpan Sampel dalam kantung umpan siap untuk direndam Cacing tanah dimasukkan ke dalam kantung umpan Gambar 13 Perendaman umpan untuk sampel uji proksimat (Kadar protein dan lemak kasar) Penelitian skala lapangan (1) Pengujian bubu lobster modifikasi dengan menggunakan umpan tembang Setiap bubu lipat penelitian, baik bubu lipat modifikasi pintu samping, bubu lipat modifikasi pintu atas maupun bubu lipat standar akan menggunakan jenis umpan yang sama, yaitu tembang (Sardinella spp). Penyusunan bubu lipat penelitian dalam satu rangkaian sistem longline disusun secara acak. Spesifikasi bubu lipat penelitian dapat dilihat pada Tabel 5 dan Gambar 14.

81 49 Pelampung tanda Plastik dia 30 cm Kolom perairan Tali pelampung PE dia.10 mm Panjang 25 m Kedalaman < 15 m Pemberat Batu ±30 kg Tali utama Bubu lipat penelitian Tali cabang Dasar perairan Pemberat Gambar 14 Alat tangkap bubu lipat penelitian sistem longline Kegiatan operasi penangkapan (1) Setting alat tangkap Kegiatan operasi penangkapan dilakukan di perairan pesisir pada kedalaman perairan antara 5 12 meter. Substrat dasar perairan terdiri dari pasir, lumpur dan batu karang. Perjalanan ke daerah penangkapan hanya membutuhkan waktu 10 menit. Setting atau pemasangan alat tangkap bubu lipat penelitian ke dasar perairan dilakukan pada sore hari kurang lebih antara pukul WIB. Kegiatan setting membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Persiapan setting dilakukan dengan memasang umpan ikan tembang pada masing-masing bubu. Kondisi umpan tembang adalah segar karena diperoleh dengan membeli langsung dari hasil tangkapan bagan tancap. Seperti yang diungkapkan oleh Fielder (1965), bahwa lobster lebih menyukai jenis umpan dalam keadaan segar (fresh) dan diduga selain kandungan zat yang dimilikinya juga berkaitan dengan aroma (bau) kimiawi yang juga ditimbulkannya Setelah umpan selesai dipasangkan pada setiap bubu lipat penelitian, kapal bergerak perlahan dan unit alat tangkap bubu lipat sistem longline di setting ke perairan yang dimulai dari pelampung tanda pertama, tali pemberat, pemberat dan satu-persatu bubu lipat diturunkan dan bagian terakhir adalah pelampung tanda kedua. Bersamaan dengan dilakukan

82 50 setting alat tangkap bubu lipat juga dilakukan pengukuran terhadap suhu dan salinitas pada tempat dan waktu tersebut. Gambar 15 Perahu penelitian Gambar 16 Pemasangan umpan cacing Gambar 17 Pemasangan umpan tembang Gambar 18 Setting alat tangkap (2) Soaking time alat tangkap Soaking time atau lama perendaman alat tangkap bubu lipat penelitian dilakukan selama ± 12 jam, yaitu mulai sore hari hingga keesokan pagi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, bahwa lama perendaman (soaking time) bubu untuk penangkapan lobster adalah 12 jam, yaitu pada malam hari (Miller and Rodger 1996). Lobster termasuk organisme yang bersifat nocturnal, dimana lobster keluar dari persembunyiannya pada malam hari untuk mencari makan. Meskipun lobster hidup pada perairan yang lebih dalam pada siang hari, pada malam hari biasanya akan menuju perairan yang lebih dangkal sampai dengan kedalaman kurang lebih satu meter (Moosa dan Aswandy 1984). Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Phillips and Cobb (1980), bahwa pada malam hari lobster meninggalkan liang untuk mencari makan padaa daerah terdekat dengan habitatnya, seperti

83 51 pada batu karang datar dan hamparan rumput laut dan karena lobster adalah hewan nocturnal. (3) Hauling alat tangkap Hauling atau pengangkatan alat tangkap bubu lipat penelitian ke atas perahu dilakukan pada sore hari kurang lebih antara pukul WIB. Kegiatan hauling didahului dengan pengangkatan pelampung tanda, tali pelampung hingga pemberat, kemudian satu-persatu bubu lipat penelitian diangkat dengan memperhatikan kondisi substrat dasar pada bubu lipat. Hasil tangkapan dikeluarkan dari bubu lipat penelitian dan dilakukan pengukuran, yaitu jumlah (ekor) lobster per bubu, berat (gram) lobster per ekor, panjang karapas lobster, begitu juga dengan hasil tangkapan lainnya. Kemudian dicatat jenis lobster dan hasil tangkapan lainnya. Kegiatan hauling membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Sebelum kembali ke pantai, hasil tangkapan lobster dan ikan dimasukkan ke dalam karamba untuk ditampung dan dibesarkan. Gambar 19 Hauling alat tangkap Gambar 20 Hasil tangkapan lobster Gambar 21 Hasil tangkapan rajungan

84 Analisis Data Penelitian skala laboratorium (1) Kajian desain dan konstruksi dan pembuatan bubu lobster penelitian serta pemilihan umpan alternatif Informasi yang terkait dengan gambar desain dan konstruksi bubu serta target spesies akan menentukan dalam analisis pemilihan desain bubu standar, bentuk bubu lobster, dimensi bubu lobster dan bahan bubu lobster. Analisis pemilihan desain bubu standar dilakukan melalui tahap kajian perkembangan penangkapan lobster dan perkembangan desain bubu lobster. Demikian juga dengan pemilihan umpan alternatif. Berdasarkan hasil kajian akan dilakukan pembuatan gambar desain bubu lobster yang secara teknis dapat menjadi acuan pengembangan rancang bangun bubu lobster yang diduga efektif. (2) Analisis protein dan lemak umpan (a) Analisis protein kasar dilakukan dengan mengambil sebanyak 0,25 gram sampel, dimasukkan ke dalam labu kjeldahl 100 ml dan tambahkan selenium 0,25 gram dan 3 ml H 2 SO 4 pekat. Kemudian dilakukan destruksi (pemanasan dalam keadaan mendidih) selama 1 jam, sampai larutan jernih. Setelah dingin ditambahkan 50 ml aquades dan 20 ml NaOH 40%, lalu didestilasi. Hasil destilasi ditampung dalam labu erlenmeyer yang berisi campuran 10 ml H 3 BO 3 2% dan 2 tetes indicator Brom Cresol Green-Methyl Red warna merah muda. Setelah volume hasil tampungan (destilat) menjadi 10 ml dan berwarna hijau kebiruan, destilasi dihentikan dan destilasi dititrasi dengan HCL 0,1 N sampai dengan berwarna merah muda. Perlakuan yang sama juga dilakukan terhadap blanko. Dengan metode ini akan diperoleh kadar Nitrogen total yang dihitung dengan rumus: (S-B) x NHCL x 14 N (%) = x 100% W x 1000 N (%) B W = volume titran sampel (ml) = volume titran blanko (ml) = bobot sampel kering (mg)

85 53 Kadar protein diperoleh dengan mengalikan kadar Nitrogen dengan faktor perkalian untuk berbagai bahan pangan berkisar antara 5,18 6,38 (AOAC 1980). (b) Analisis kadar lemak kasar dilakukan dengan mengambil 2 gram sampel disebar di atas kapas yang beralaskan kertas saring dan digulung membentuk thimble, lalu dimasukkan ke dalam labu soxhlet. Kemudian dilakukan ekstrasi selama 6 jam dengan pelarut lemak berupa heksan sebanyak 150 ml. Lemak yang terekstrak dikeringkan dalam oven pada suhu 100 C selama 1 jam. Kadar lemak kasar dihitung dengan rumus Bobot lemak terekstrak Kadar lemak (%) = x 100% Bobot sampel Penelitian skala lapangan (1) Hasil tangkapan Hasil tangkapan lobster akan dikelompokkan dalam selang kelas panjang karapas (mm) dan selang berat (gram) yang dihitung menggunakan rumus distribusi frekuensi menurut Walpole (1995), yaitu: K = 1 + 3,3 log n Lebar kelas (i) = Nilai terbesar Nilai terkecil K Keterangan: K = Jumlah kelas n = Banyaknya data (2) Efektivitas bubu lipat penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimen penangkapan (experimental fishing) Pola Rancangan Acak Lengkap dan Rancangan Acak Kelompok. Pengujian bubu lobster modifikasi dengan menggunakan umpan tembang menggunakan 1 faktor, yaitu penggunaan 3 bentuk bubu yang berbeda, yaitu: bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (MPS), bubu lipat Modifikasi Pintu Atas (MPA) dan bubu lipat Standar (S) dan menggunakan perlakuan umpan tembang (Standar). Jumlah ulangan penelitian ini adalah 31 trip.

86 54 Pengujian bubu lobster modifikasi dengan umpan alternatif menggunakan 2 faktor, yaitu penggunaan 2 bentuk bubu yang berbeda, yaitu: bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (MPS) dan bubu lipat Standar (S) dan menggunakan 2 perlakuan, yaitu umpan cacing tanah dan tembang (Standar). Masing-masing perlakuan menggunakan 3 bubu lipat penelitian, baik bubu lipat MPS maupun Standar (S) dengan jumlah ulangan penelitian sebanyak 20 trip. Pengamatan hasil penelitian mencakup produksi tangkapan dengan satuan cacah individu (ekor) dan berat (gram) lobster sebagai Hasil Tangkapan Utama (HTU) dan Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) lainnya sebagai bycatch per trip operasi penangkapan. Sebaran normal data akan diperiksa dengan aplikasi MINITAB. Bila data tidak menyebar normal, maka akan dilakukan transformasi akar kuadrat terhadap data awal dengan rumus (Y + ½) ½ (Mattjik dan Sumertajaya, 2006). Efektivitas bubu lipat penelitian akan diuji berdasarkan perhitungan Analisis Sidik Ragam (Walpole 1995) terhadap faktor bubu lipat dengan uji F untuk mengetahui apakah hasil tangkapan lobster (ekor) berbeda di antara penggunaan bubu lipat MPS, MPA dan bubu lipat S. Begitu juga di antara penggunaan bubu lipat MPS dan bubu lipat S, maupun di antara penggunaan umpan cacing tanah dan tembang (S). Data hasil tangkapan tersebut diolah dengan menggunakan aplikasi Statistical Analysis System (SAS) versi portable for Windows. Nilai efektivitas bubu lipat penelitian akan diperhitungkan berdasarkan prosentase jumlah lobster yang tertangkap pada jenis bubu lipat tertentu terhadap total bubu lipat yang dioperasikan untuk keseluruhan trip penangkapan. Nilai efektivitas umpan diperhitungkan sebagai prosentase jumlah lobster yang tertangkap pada bubu lipat yang menggunakan jenis umpan tertentu terhadap total bubu lipat yang dioperasikan untuk keseluruhan trip penangkapan.

87 4 HASIL PENELITIAN 4.1 Desain dan Konstruksi Bubu Lobster Bentuk konstruksi mulut bubu pada bubu dengan pintu samping kebanyakan adalah bentuk bulat dan ditempatkan pada posisi di tengah, sehingga lobster dapat masuk ke dalam bubu, tapi sulit untuk keluar karena sulit menjangkau ketinggian mulut bubu. Pada kondisi tersebut, maka bubu harus memiliki ukuran tinggi yang cukup untuk menempatkan posisi mulut bubu yang tidak dapat dijangkau dengan mudah oleh lobster. Bila tidak mengikuti kondisi tersebut, dimana bentuk mulut bubu tidak lagi berbentuk bulat dan ketinggian posisi mulut bubu tidak terlalu tinggi dari dasar bubu, maka lobster akan mudah masuk dan juga mudah meloloskan diri. Dengan demikian untuk posisi pintu bubu yang tidak terlalu tinggi dibutuhkan suatu rekayasa pintu jebakan yang memudahkan lobster masuk dan sulit meloloskan diri Perkembangan penangkapan lobster Kegiatan penangkapan lobster di Indonesia masih menggunakan teknologi alat tangkap sederhana (tradisional) dengan usaha penangkapan skala kecil. Operasi penangkapan dilakukan dengan menggunakan perahu bercadik, mesin penggerak kombinasi motor tempel dan layar. Secara umum, alat tangkap yang digunakan adalah jenis alat tangkap jaring insang dasar monofilamen (bottom gillnet monofilament) dan jenis perangkap krendet (hoop net). Lobster yang tertangkap oleh kedua alat tangkap tersebut umumnya terbelit atau terpuntal jaring yang dapat menyebabkan adanya bagian anggota tubuh lobster yang putus atau patah, seperti kaki dan/atau antenanya, sehingga proses tertangkapnya lobster dapat menurunkan kualitas hasil tangkapan. Alat tangkap lainnya adalah trawl dasar (bottom trawl). Trawl merupakan alat tangkap yang sangat efektif, yaitu ikan dan biota laut lainnya akan tertangkap di dasar perairan yang disapu oleh alat tangkap tersebut. Salah satu hasil tangkapan trawl dasar adalah lobster yang hidup pada substrat pasir dan lumpur. Selain menggunakan alat tangkap, ada cara penangkapan lobster lainnya, yaitu kegiatan pembiusan (stupefying device) yang dilakukan dengan cara menyelam dengan bantuan kompresor udara pada kedalaman air lebih dari 5

88 56 meter. Pembiusan lobster biasanya menggunakan bahan kimia beracun seperti potassium sianida. Pembiusan dengan potassium sianida merupakan cara penangkapan yang dilarang karena dapat mengancam kelestarian sumberdaya perikanan dan merusak habitatnya (Purbayanto dan Subandi 2005), serta menyebabkan kualitas hasil tangkapan rendah dimana lobster yang tertangkap tidak dapat bertahan hidup lebih lama. Sementara itu, di Indonesia, penggunaan bubu untuk kegiatan penangkapan lobster secara komersial belum banyak dilakukan, karena bubu yang digunakan oleh nelayan selama ini hanya untuk menangkap ikan, rajungan dan kepiting bakau. Jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya, dimana alat tangkap bubu merupakan alat tangkap utama untuk kegiatan penangkapan lobster dan telah berkembang menjadi kegiatan usaha perikanan tangkap yang berkelanjutan. Namun demikian, ukuran alat tangkap bubu tersebut cukup besar, yaitu kisaran ukuran panjang x lebar x tinggi adalah (1 1,2 m) x (0,6 0,8 m) x (0,4 0,6 m), bentuknya masif, kaku dan terlalu berat, sehingga tidak efisien bila dioperasikan di atas perahu yang berukuran kecil. Bubu biasanya digunakan untuk menangkap dan mempertahankan target tangkapan yang diinginkan yaitu lobster dan jenis krustasea lainnya yang juga target yang baik, seperti halnya ikan bersirip, gastropoda dan moluska (Miller 1990). Lebih dari itu, bubu juga mewakili alat tangkap yang berguna untuk kegiatan pemanenan sumberdaya ikan yang bertanggung jawab. Bubu adalah alat tangkap yang selektif, hasil tangkapan di bawah ukuran ekonomis dapat dikembalikan ke perairan tanpa melukainya, sedikit hasil tangkapan sampingan atau by-catch (Groneveld 2000) dan mempunyai dampak yang minimum terhadap komunitas dasar perairan (Eno et al. 2001). Pengoperasian alat tangkap bubu biasanya menggunakan umpan untuk memberikan hasil tangkapan yang optimal sesuai dengan target. Umpan merupakan salah satu faktor yang sangat besar pengaruhnya pada keberhasilan penangkapan, baik jenis umpan, sifat dan cara pemasangannya (Sadhori 1985). Selanjutnya dijelaskan pula bahwa umpan merupakan salah satu bentuk rangsangan (stimulus) yang bersifat fisika dan kimia yang dapat memberikan respons bagi ikan-ikan tertentu dalam proses penangkapan.

89 Perkembangan desain bubu lobster Kegiatan penangkapan lobster yang dilakukan oleh nelayan kebanyakan belum mempertimbangkan aspek efektivitas alat tangkap terhadap hasil tangkapan yang diperoleh atau dapat dikatakan bahwa produktivitas alat tangkap masih rendah, atau justru menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Pengertian efektivitas pada alat tangkap adalah suatu kemampuan alat tangkap untuk mendapatkan hasil tangkapan yang optimum sesuai dengan tujuan penangkapan. Tujuan penangkapan yang dimaksud harus mempertimbangkan adanya upaya untuk menjaga keberlangsungan sumberdaya perikanan, yaitu penggunaan teknologi alat tangkap yang ramah lingkungan yang sesuai dengan Code of Conduct for Resposible Fisheries (CCRF). Krendet adalah alat tangkap pasif dan tergolong ke dalam perangkap untuk menangkap lobster (BPPI 1990). Keuntungan alat tangkap ini selain bentuknya sangat sederhana dan mudah dalam pembuatannya, alat tangkap ini juga relatif murah biaya pembuatannya, karena pada umumnya hanya menggunakan jaring bekas. Krendet merupakan perangkap yang tidak memiliki dimensi ruang seperti halnya bubu, bentuk bingkai krendet biasanya bulat atau persegi panjang dengan diameter atau panjang sisi bingkai antara cm. Jaring yang digunakan merupakan lembaran jaring 2 hingga 3 rangkap yang berfungsi sebagai penjerat atau perangkap (Direktorat Jenderal Perikanan 1989). Sama halnya dengan jaring insang dasar nylon monofilamen, kondisi lobster yang tertangkap dengan perangkap krendet adalah terbelit atau terpuntal oleh jaring. Selama proses terperangkap, diduga bahwa lobster akan berusaha untuk melepaskan diri dan hal ini dapat saja menyebabkan kondisi lobster stress dan cidera dengan anggota badan yang tidak lengkap karena ada bagian dari anggota tubuhnya yang terputus atau kondisi lobster sudah tidak utuh lagi. Konstruksi perangkap krendet (Gambar 22) yang tidak memiliki dimensi ruang, dapat dikatakan bahwa alat tangkap tersebut tidak memiliki fungsi pelindung bagi lobster saat terperangkap terhadap predator yang dapat saja dengan mudah memangsanya. Bubu merupakan alat tangkap yang dirancang untuk menangkap berbagai jenis ikan dan krustasea, dengan berbagai bentuk dan terbuat dari berbagai bahan.

90 58 Bubuu memiliki satu atau lebih bukaan mulut. Bubu biasanya dioperasikan di dasar perairan dengan sistem tunggal maupun rawai. Bubu dilengkapi dengan tali pelampung untuk menghubungkan bubu dengan pelampung. Pelampung berfungsi untuk menunjukkan posisi pemasangan bubu (Nedelec and Prado 1990). Gambar 222 Hoop net atau perangkap krendet untuk menangkap lobster dengan ukuran diameter bingkai : cm (Sumber : Thomas 1973) Meenakumari and Rajan (1985) telah menguji bubuu yang dibuat dengan desain dan bahan yang berbeda (Gambar 23) seperti bahan bambu, serat pelepah daun kelapa, serat pelepah daun palem merah, bahan kayu, bingkai baja ringan dan jaring polyethylene, batang baja ringan, bentuk mata jaring dari kawat baja yang dilas, kawat ayam, dan kawat besi galvanis. Melalui kegiatan ujicoba penangkapan diperoleh kesimpulan, bahwa bubu yang terbuat dari bambu memiliki konstruksi yang lemah dan rapuh. Bubu yang terbuat dari bahan kayu cukup berat dan tidak disukai. Bubu yang terbuat dari bahan logam, yaitu batang baja ringan dan mata jaring dari kawat baja yang dilas serta dilindungi secara utuh oleh lapisan plastik telah memberikan kinerja yang efisien dan memiliki dayaa tahan pakai lebih lama. Dengan demikian, bubu yang diinginkan adalah bahwa bubu tidak berat, mudah dibuat, menggunakan bahan yang tahan lama.

91 59 (a) (b) (c) (d) Gambar 23 (e) (f) Bubuu lobster dengan desain dan penggunaan bahan yang berbeda : (a) Bahan bambu; ( b) Bahan serat pelepah daun kelapa; (c) Bahan kayu; (d) Bingkai baja ringan dan jaring polyethilene; (e) Bentuk mata jaring dari kawat bajaa yang dilas; dan (f) Bahan kawat ayam (Sumber : Meenakumari and Rajan 1985) Kondisi saat ini di Indonesia, penggunaan bubu untuk menangkap lobster secara komersial belum dilakukan, bubuu digunakann untuk menangkap ikan, rajungan dan kepiting bakau. Dalam perkembang gannya, secara konstruktif, bingkai bubu lobster terbuat dari batang besi (mild steel rod) berdiameter antara 0,8 1 cm yang dilas membentuk kotak dengan selang ukuran panjang x lebar x tinggi adalah ( cm) x (60 80 cm) x (40 60 cm). Kemudian bubu dibungkus dengan jaring PE mesh size 1 inci. Kebanyakan bubu lobster memiliki dua pintu samping, tetapi ada juga bubu lobster dengan satu pintu atas. Pintu masuk bubu lobster berbentuk bulat terbuka dengan diameter sekitar cm. Dengan demikian, konstruksi bubu saat inii adalah masif dan kaku, relatif cukup besar, berat dan tidak efisien karena tidak dapat menyimpan bubu dalam jumlah banyak di atas dek kapal penangkap ikan. Bentuk pintu masuk bubu yang terbuka menyebabkan lobster yang telah masuk ke dalam bubu akan dapat keluar dengan mudah dan juga bubuu dapat menangkap berbagai jenis ikan lainnya sebagai hasil tangkapan sampingan (by-catch).

92 60 Bubu lipat (collapsible pot) telah dioperasikan secara komersial oleh nelayan di Jepang untuk menangkap gurita (Archdale et al. 2003) dan untuk menangkap rajungan di Thailand (Boutson et al. 2009). Demikian juga di Indonesia, penggunaan bubu lipat untuk menangkap rajungan telah dilakukan oleh nelayan di sepanjang pantai utara Laut Jawa, Lampung, Madura, Maluku dan Sulawesi Selatan. Bubu lipat berbentuk kotak (box type) atau empat persegi panjang dengann ukuran panjang x lebar x tinggi yaitu 55 x 35 x 20 cm 3 (Gambar 24). Bingkai utama bubu lipat terbuatt dari besi galvanis dengan ukuran diameter 0,4 cm dan dibungkus dengan jaring polyethylene (PE) dengan mesh size 2,5 cm. Bubuu tersebut dapat dilipat untuk dibuka dan ditutup dengan mudah dari bagian poros tengah bubu. Bila dibandingkan, maka ukuran volume bubu lipat rajungan adalah 1/15 kali ukuran volume bubu lobster yang masif dan kaku. Gambar 24 Bubu lipat (collapsible pot) untuk menangkap rajungan bentuk kotak dengan ukuran PxLxT = 555 x 35 x 20 cm 3 (Sumber : Boutson et.al. 2009) Bubu lipat merupakan alat tangkap yang lebih disukai karena dapat dibawa dalam jumlah besar dalam perahu-perahu kecil yang biasanya dipakai dalam kegiatan penangkapan (Anonymous 1986) dan cocok untuk dioperasikan padaa berbagai tipe dasar perairan dan variasi selang kedalaman, serta tidak mahal namun kuat (Krouse 1989; Miller 1990). Lebih jauh dikatakan oleh Miller (1990), bahwa kualitas bubu lipat sebagai perangkap adalah karena hasil tangkapan dalam keadaan hidup dengan kualitas yang sangat baik, hasil tangkapan di bawah ukuran ekonomis (underr size) dapat dikembalikan ke perairan dalam keadaan hidup dan biaya penangkapan rendah.

93 61 Efektivitas alat tangkap adalah suatu kemampuan alat tangkap untuk mendapatkan hasil tangkapan yang optimum sesuai dengan tujuan penangkapan (Baskoro et al. 2006). Pemilihan bahan untuk alat tangkap telah menjadi sangat penting, yaitu bahwa efisiensi alat tangkap dapat ditingkatkan 3 10 kali dengan memilih bahan yang sesuai (von Brandt 1984). Hasil tangkapan suatu alat tangkap dipengaruhi oleh efektivitas alat dan efisiensi cara operasi. Efektivitas alat tangkap secara umum tergantung pada faktor-faktor, antara lain : parameter alat tangkap itu sendiri (rancang bangun dan konstruksi), pola tingkah laku ikan, ketersediaan atau kelimpahan ikan dan kondisi oseanografi (Fridman, 1988). Desain bubu secara fisik berpengaruh terhadap efektivitas dan selektivitas alat tangkap. Bubu telah dipertimbangkan di antara alat tangkap yang paling efektif dan multiguna. Kendala utama dalam perikanan bubu adalah bahwa peluang terjadinya pelolosan hasil tangkapan cukup besar dan hal tersebut terkait dengan desain pintu masuk bubu. Archdale et al. (2007) mengatakan bahwa metode yang efektif digunakan untuk memperkecil pelolosan rajungan dari bubu adalah kemiringan corong pintu masuk ke arah atas, membuat ruang/kamar terpisah di dalam bubu untuk meningkatkan retensi atau menempatkan pintu pemicu (trigger) pada mulut bubu (Gambar 25), jendela, alat tambahan lainnya di dalam pintu masuk untuk mencegah pelolosan. Hingga saat ini, belum ada desain pintu jebakan yang dapat dipasang pada bubu lipat. Selanjutnya dikatakannya juga, bahwa bentuk pintu masuk dapat mempengaruhi mudahnya bagi target spesies rajungan untuk masuk ke dalam dan keluar dari bubu. Corong dengan pintu terbuka akan memudahkan target spesies memasuki bubu, sementara pintu masuk bentuk celah sempit sulit untuk melewatinya dan membutuhkan upaya untuk membuka celah pintu sehingga dapat masuk ke dalam bubu. Bentuk pintu masuk dengan celah sempit memastikan bahwa sekali target tertangkap maka tidak dapat meloloskan diri. Sementara dengan bentuk pintu masuk terbuka, target yang tertangkap dalam bubu dapat menemukan pintu keluar dan biasanya berhasil meloloskan diri.

94 62 Gambar 25 Ilustrasi penggunaan trigger pada mulut bubu kepiting (Sumber : Archdale et al. 2007) Penggunaan pintu pemicu (trigger) pada pintu masuk sangat efektif untuk pencegahan pelolosan rajungan dari bubu (Gambar 26), selama tidak menghalangi target spesies untuk masuk ke dalam bubu (Salthaug 2002). Kemudian ditegaskan oleh Brouck et al. (2006) bahwa spiny lobster yang telah masuk ke dalam perangkap bubu pada dasarnya mudah bagi pemangsa untuk memakannya, seperti gurita dapat memasuki bubu, memakan lobster dan meloloskan diri dari berbagai bentuk pintu masuk bubu. Dengan demikian, secara konstruksi, bubu sebaiknya menggunakan jenis bubu lipat, yaitu bubu yang dapat dibuka dan dipasang kembali dengan mudah dan memiliki efisiensi dalam penanganan bubu di atas kapal penangkap. Bentuk pintu masuk bubu lobster yang terbuka tanpaa penghalang akan memudahkan hasil tangkapan untuk dapat meloloskan diri ke luar bubu. Untuk dapat mengatasi hal tersebut, maka padaa pintu bubuu harus memiliki pintu jebakan ertentu yang memudahkan target masuk ke dalam bubu dan sulit untuk keluar. Gambar 26 Ilustrasi penggunaan trigger pada mulut bubu kepiting (Sumber : Salthaug 2002)

95 Analisis penentuan desain bubu lobster Keberhasilan suatu usaha perikanan tangkap tergantung pada beberapa faktor yang saling menunjang. Seperti yang dikemukakan oleh Grofit (1980), bahwa pemanfaatan sumberdaya hayati laut khususnya perikanan tangkap bertujuan untuk mendapatkan hasil yang optimum tanpa membahayakan kelestarian sumberdaya ikan dengan biaya yang se-efisien mungkin. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka teknologi yang diterapkan perlu memenuhi persyaratan, yaitu alat tangkap yang efektif dan efisien dengan bahan yang baik, perbaikan kapal, alat bantu dan perlengkapan kapal serta metode operasi penangkapan yang handal. Beberapa kegiatan penelitian tentang alat tangkap bubu yang telah dilakukan dan/atau dipublikasikan, yaitu : Pengaruh penggunaan umpan dan konstruksi funnel terhadap hasil tangkapan bubu laut dalam di Teluk Palabuhanratu (Purbayanto et al d ); Selektivitas bubu yang dilengkapi dengan celah pelolosan terhadap ikan kakap (Purbayanto et al a ); Hasil tangkapan bubu laut dalam di Teluk Palabuhanratu (Purbayanto et al b ); Eksplorasi sumberdaya ikan laut dalam menggunakan bubu di Teluk Palabuhanratu (Purbayanto et al c ); Bubu plastik sebagai metode alternatif penangkapan ikan hias ramah lingkungan (Purbayanto et al. 1998); Studi tentang penggunaan tiga bentuk corong (funnel) yang berbeda terhadap komposisi hasil tangkapan ikan hias dengan menggunakan bubu sayap (Mawardi 2000); Bubu sayap (basket trap with wings), alat tangkap ikan-ikan karang yang ramah lingkungan (Mawardi 1999); Gaya hidrodinamika pada bubu lipat berdasarkan perbedaan kecepatan dan sudut datang arus yang diobservasi di kolam penelitian (Iskandar 2007 a ); Perbedaan kemampuan tangkap terhadap kepiting karang Jepang antara gillnet dan bubu lipat berumpan (Iskandar et al. 2007); Analisa hasil tangkapan rajungan pada bubu lipat dengan konstruksi yang berbeda (Iskandar 2007 b ); Bubu (trap) : Serial teknologi penangkapan ikan berwawasan lingkungan (Martasuganda 2003); Studi komparatif terhadap bubu lobster (lobster pot) tipe Jepang dan bubu tradisional dalam penangkapan udang barong (Panulirus spp.) di Pelabuhanratu, Jawa Barat (Monintja dan Budihardjo 1982).

96 64 Beberapa pertimbangan dalam menentukan bubu lobster yang diduga efektif, yaitu : (1) Pemilihan bahan-bahan konstruksi bubu, yaitu : bahan-bahan mudah diperoleh, kekuatan bahan baik dan tahan lama, harga bahan tidak mahal, mudah untuk diperbaiki dan konstruksi alat tangkap bubu tidak berat. (2) Konstruksi bubu, yaitu : Bubu berbentuk kotak persegi panjang dan /atau trapesium, adanya kemiringan jaring (slope net) pada pintu masuk bubu sebagai jalan masuk ke dalam bubu dengan sudut kemiringan jaring lebih kecil dari 45 (untuk bubu pintu samping), memiliki rekayasa pintu jebakan pada mulut bubu yang memudahkan lobster masuk dan sulit keluar. (3) Efisien dalam operasi penangkapan, yaitu : ukuran bubu yang ideal bagi nelayan tradisional, mudah dalam penanganan alat tangkap bubu dan hasil tangkapan di atas kapal, dan cukup tempat di atas dek kapal untuk menempatkan alat tangkap bubu saat persiapan operasi setting dan hauling. (4) Mengikuti ketentuan yang bersifat politis, yaitu bahwa dalam kegiatan usaha perikanan tangkap akan selalu mengacu pada kegiatan penangkapan ikan yang diakui oleh dunia internasional, yaitu upaya pemanfaatan sumberdaya ikan dan peningkatan produksi perikanan tangkap melalui caracara pemanfaatan yang efektif dan bertanggung jawab Desain bubu lobster yang efektif Berdasarkan kondisi pertimbangan di atas maka pemilihan desain bubu yang dijadikan standar adalah jenis bubu lipat yang biasa digunakan untuk menangkap rajungan. Bubu lipat standar adalah bubu lipat rajungan yang dijadikan acuan untuk dimodifikasi dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan ukuran bubu lipat rajungan yang dioperasikan di Indonesia. Ukuran bubu lipat standar yang digunakan nelayan untuk penangkapan rajungan adalah 50 cmm x 30 cm x 20 cm (panjang x lebar x tinggi). Bubu lipat standar dapat dilihat pada Gambar 27.

97 65 20 cm 30 cm (Sumber : Boutson et.al. 2009) Gambar 27 Desain bubu lipat rajungan sebagai bubu lipat standar untuk acuan modifikasi

98 66 Beberapa tahapan dan perubahan desain dan konstruksi dalam penyusunan desain dan konstruksi bubu lipat modifikasi dan bentuk pintu masuk kisi-kisi pada mulut bubu lipat seperti terlihat pada Gambar 28 dan Gambar 29. Pintu jebakan bentuk kisi-kisi Pintu jebakan bentuk kisi-kisi Gambar 28 Tahapan pembuatan desain bubu lipat modifikasi pintu samping

99 67 Pintu jebakan bentuk kisi-kisi tegak dengan celah tertutup Pintu jebakan bentuk kisi-kisi tegak dengan celah terbuka Pintu jebakan bentuk kisi-kisi celah ellips terbuka Gambar 29 Tahapan pembuatan desain bentuk pintu jebakan bentuk kisi-kisi pada mulut bubu lipat modifikasi pintu samping

100 68 Berdasarkan hasil tahapan desain yang telah dilakukan, maka desain bubu lipat lobster yang diduga efektif, yaitu: (1) Bubu lipat lobster modifikasi pintu samping (satu pintu) dengan rekayasa pintu jebakan berbentuk kisi-kisi (Gambar 30). Bubu lipat modifikasi pintu samping berbentuk kotak (box type atau rectangular type with single entrance) dengan ukuran panjang x lebar x tinggi adalah 60 cm x 45 cm x 30 cm. Perbandingan volume : 1/7 kali dengan bubu lobster bentuk masif dan kaku. Bagian depan bubu membentuk sudut kemiringan 22,5 (slope net) sebagai jalan ke pintu masuk mulut bubu. Bingkai (frame) bubu menggunakan besi galvanis berdiameter 0,6 cm dan jaring polyethylene (PE) untuk pembungkus bubu dengan 210 D/18, mesh size 1,5 inci. Pintu jebakan yang ditempatkan pada ujung mulut bubu adalah kisi-kisi ke arah bagian dalam bubu dan terbuat dari plastik dengan ketebalan 1 mm. Poros lipatan bubu terletak diantara jarak 20 cm dan 40 cm dari posisi memanjang. Tabel 7 Spesifikasi bubu lipat modifikasi pintu samping No. Bagian Konstruksi Spesifikasi 1 Nama : Bubu lipat modifikasi pintu samping (MPS) 2 Bentuk bubu Empat persegi panjang (box type) 3 Ukuran bubu 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt) 4 Jumlah pintu masuk 1 pintu; pintu samping 5 Jenis modifikasi: - Ukuran bubu lebih besar dibandingkan bubu lipat standar (pxlxt = 50 cm x 30 cm x 20 cm) - Slope net (sudut kemiringan pintu masuk bubu) atas dan bawah : 22,5 - Ukuran pintu masuk cukup lebar, yaitu 30 cm x 14 cm (panjang x tinggi) - Terdapat pintu jebakan bentuk kisi-kisi bahan plastik yang berfungsi untuk memudahkan target masuk ke dalam bubu dan sulit untuk keluar - Sumbu lipatan bubu terletak 20 cm dari bagian depan bubu 6 Bingkai (frame) Besi galvanis, dia. 6 mm. 7 Badan jaring (cover net) PE ms 1,5 inci, 210 D/18

101 69 Pintu jebakan bentuk kisi-kisi Gambar 30 Desain bubu lipat modifikasi pintu samping (MPS) dengan pintu jebakan yang berbentuk kisi-kisi

102 70 (2) Bubu lipat modifikasi pintu atas dengan pintu jebakan yang berbentuk kisikisi (Gambar 31). Bubu lipat modifikasi pintu atas berbentuk trapesium (trapezoidal type with single entrance) dengan ukuran selang panjang x lebar x tinggi adalah (30 60) cm x 45 cm x 30 cm. Perbandingan volume : 1/9 kali dengan bubu bentuk masif dan kaku. Bagian depan dan belakang sisi samping membentuk sudut kemiringan 70 (slope net) sebagai jalan masuk ke arah pintu atas. Bahan yang digunakan adalah besi galvanis sebagai bingkai (frame) berdiameter 0,6 cm dan jaring polyethylene (PE) untuk pembungkus bubu dengan 210 D/18, mesh size 1,5 inci. Pemicu pintu masuk yang ditempatkan pada ujung mulut bubu adalah kisi-kisi ke arah bagian dalam bubu dan terbuat dari plastik dengan ketebalan 1 mm. Poros lipatan bubu terletak pada satu sisi bagian atas ujung slope net. Tabel 8 Spesifikasi bubu lipat modifikasi pintu atas No. Bagian Konstruksi Spesifikasi 1 Nama : Bubu lipat modifikasi pintu atas (MPA) 2 Bentuk bubu Trapesium (trapezoidal type) 3 Ukuran bubu 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt) 4 Jumlah pintu masuk 1 pintu; pintu atas 5 Jenis modifikasi: - Ukuran bubu lebih besar dibandingkan bubu lipat standar (pxlxt = 50 cm x 30 cm x 20 cm) dengan bagian atas menyempit. - Slope net (sudut kemiringan pintu masuk bubu): 70 - Ukuran pintu masuk cukup lebar, yaitu 30 cm x 14 cm (panjang x tinggi) - Terdapat pintu jebakan bentuk kisi-kisi bahan plastik yang berfungsi untuk memudahkan target masuk ke dalam bubu dan sulit untuk keluar - Sumbu lipatan bubu terletak 15 cm dari bagian depan bubu 6 Bingkai (frame) Besi galvanis, dia. 6 mm. 7 Badan jaring (cover net) PE ms 1,5 inci, 210 D/18

103 71 Pintu jebakan bentuk kisi-kisi Gambar 31 Desain bubu lipat modifikasi pintu atas (MPA) dengan pintu jebakan yang berbentuk kisi-kisi

104 Rancang bangun bubu lipat modifikasi dan standar Pembuatan bingkaii (frame) bubu lipat modifikasi dan bubu lipat standar dilakukan oleh kelompok usaha pembuat bubu lipat di Cirebon. Ukuran dan bentuk bingkai disesuaikan dengan gambar desain bubu lipat modifikasi. Jumlah bubuu lipat yang akan dibuat sesuai dengan kebutuhan kegiatan pengujian melalui metode experimental fishing. Proses selanjutnya adalah pemasangan badan jaring (cover net) untuk semua bubu lipat modifikasi dan bubuu lipat standar. Setelah semua badan jaring terpasang pada masing-masing bingkai bubu lipat, maka dilakukan pembuatan pintu jebakan bentuk kisi-kisi yang tebuat dari bahan lembaran plastik dengan ketebalan 1 mm. Pemasangan badan jaring pada bingkai Pintu jebakan bentuk kisi-kisi Membuat lubang pada pintu jebakan Pemasangan pintu jebakan Gambar 32 Proses rancang bangun bubu lipat modifikasi dan bubu lipat standar

105 73 Bubu lipat standar yang akan digunakan dalam pengujian, adalah ukuran yang sama dengan ukuran bubuu lipat modifikasi, yaitu 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt). Penyesuaian ukuran bubu lipat standar dengan ukuran bubu lipat modifikasi adalah untuk memberikan keseragaman dalam ukuran yang sebenarnya. Hasil rancang bangun bubu lipat modifikasi dan bubu lipat standar dapat dilihat pada Gambar 33, 34 dan Gambar 35. Gambar 33 Bubu lipat modifikasi pintu samping Gambar 34 Bubu lipat modifikasi pintu atas

106 74 Gambar 35 Bubu lipat standar (bubu lipat rajungan) 4.2 Pemilihan umpan alternatif Pengoperasian bubu biasanyaa menggunakan umpan untuk memberikan hasil tangkapann yang optimum sesuai dengan target. Menurut Subani dan Barus (1989), umpan merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang keberhasilan suatu operasi penangkapan ikan, khususnya untuk alat tangkap pasif seperti bubu dan pancing. Umpan digunakan dalam pengoperasian bubu berfungsi sebagai pemikat dengan tujuan agar target tertarik untuk masuk ke dalam bubu. Berdasarkan kondisinya, umpan dapat dibedakan ke dalam umpan hidup (live bait) ) dan umpan mati (dead bait), sedangkan menurut asalnya umpan dapat dibedakan ke dalam umpan alami (natural bait) dan umpan buatan (artificial bait). Efektivitas umpan ditentukan oleh bentuk rangsangan (stimulus) yang bersifat fisik dan kimiawi yang dimilikinya agar dapat memberikan respons terhadap ikan-ikan tertentu dalam tujuan penangkapan ikan (Purbayanto et al. 2006; Fitri 2008). Desain bubu dan umpan secara bersama-sama dapat menentukan pilihan target spesies yang akan ditangkap dan selang ukuran target spesies yang tertangkap sesuai dengann harga pasar yang tinggi (Miller 1990).

107 75 Begitu juga dengan lobster, umpan merupakan salah satu faktor penting sebagai bahan atraktor dalam memikat lobster. Umpan yang mengandung unsur lemak, protein dan chitine serta adanya bau yang menyengat merupakan umpan yang sangat baik sebagai bahan atraktor untuk memikat lobster (Fielder 1965; Phillips and Cobb 1980; Moosa dan Aswandy 1984). Jenis makanan alami lobster adalah jenis binatang lunak seperti bulu babi, bintang laut, teripang, lili laut, siput laut dan kekerangan lainnya (Fielder 1965). Umpan yang berasal dari perairan laut yang biasa digunakan oleh nelayan adalah ikan rucah, siput laut (Kholifah 1998), umpan kanikil (Chiton sp), kepala ikan kembung (Rastrelliger sp) (Sopati 2005). Umpan yang berasal dari wilayah daratan adalah kelapa bakar (Kholifah 1998), kulit kambing dan kulit sapi (Febrianti 2000), dan keong mas (Babylonia spirata L) (Sopati 2005). Lobster lebih menyukai jenis umpan dalam keadaan segar (fresh) dan diduga selain kandungan zat yang dimilikinya juga berkaitan dengan aroma (bau) kimiawi yang juga ditimbulkannya. Banyak kontroversial yang muncul di sekitar pertanyaan mengenai apakah krustasea adalah hewan pemakan bangkai, atau apakah hal tersebut suka membeda-bedakan dalam makanannya. Adalah suatu yang bersifat alami bahwa sekali waktu terjadi kelangkaan makanan, krustasea akan memakan apapun, tetapi percobaan-percobaan yang telah dilakukan dalam skala laboratorium dan juga di laut membuktikan secara meyakinkan bahwa metode penangkapan yang terbaik untuk semua makanan yang menggunakan umpan segar. Mereka kemudian menggunakan aspek morfologi tertentu untuk menduga kemungkinan sumber-sumber makanan. Berdasarkan kondisi ini, mereka tidak menganggap ikan yang bersisik sebagai makanannya, karena mereka terlalu bergerak cepat dan menduga bahwa moluska seperti kekerangan sebagai sumber makanan yang disukainya (Fielder 1965). Berdasarkan hal tersebut, dapat diindikasikan bahwa penggunaan umpan alami yang segar dan mengandung bahan rangsangan umpan bersifat kimiawi akan memberikan daya tarik bagi lobster. Terdapat organisme yang berasal dari wilayah daratan yang diduga memiliki potensi ekonomis sebagai alternatif umpan alami bagi lobster, yaitu cacing tanah (Lumbricus rubellus). Cacing tanah sangat potensial untuk

108 76 dikembangkan sebagai bahan pangan dan pakan karena kandungan nutrisinya cukup tinggi, dimana komposisi kimia cacing tanah (g/100g), yaitu energi 110,50 kalori; protein 19,77; lemak 2,48; karbohidrat 2,25; air 72,69 dan abu 2,93 (Raharti 1999; Soenanto 2000), dan sebagai umpan ikan (Sihombing 1999). Umpan yang mengandung asam amino diidentifikasi dapat menjadi stimulus dan atraktor makan pada ikan dan krustasea. Hampir semua studi mengenai rangsangan kimia untuk tingkah laku makan menunjukkan bahwa rangsangan makan pada ikan dan krustasea akan hilang seiring dengan hilangnya kandungan asam amino pada umpan (Engas and Lokkeborg 1994). Profil asam amino esensial cacing tanah dan bekicot termasuk sangat baik sebagai bahan makanan untuk ikan dan udang (Sihombing 1999). Profil asam amino cacing tanah dan bekicot dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9 Profil asam amino (g/100g protein) cacing tanah (Lumbricus rubellus) Profil asam amino Cacing tanah* Esensial : - Arginin 7,30 - Fenilalanin 5,10 - Histidin 3,80 - Isoleusin 5,30 - Leusin 6,20 - Lisin 7,30 - Metionin 2,00 - Treonin 6,00 - Triptofan 2,10 - Valin 4,40 Non-esensial : - Alanin 5,40 - Asam aspatat 10,50 - Asam glutamat 13,20 - Glisin 4,30 - Prolin 5,10 - Serin 5,80 - Sistein 1,80 - Tirosin 4,60 Sumber : * Sabine (1982) Pendekatan penggunaan umpan alami yang berasal dari wilayah daratan adalah bahwa umpan tersebut dapat dibudidayakan secara sederhana sehingga pengadaannya tidak membutuhkan biaya yang besar. Kegiatan pemeliharaan dalam budidaya cacing tanah (Lumbricus rubellus) tidak dibutuhkan lahan yang luas atau biaya pakan yang mahal, karena pemeliharaan cacing tanah bersifat zero feed cost (Edwards and Lotfy1972 diacu dalam Pardamean 2002). Selama ini

109 77 cacing tanah hanya diambil dari alam bebas dan masyarakat mengumpulkannya saat musim hujan sebagai bahan pangan (Sihombing 1999). Kondisi saat ini, jenis umpan alami yang berasal dari perairan laut masih tersedia, namun memiliki harga yang cukup tinggi dan bersaing dengan kebutuhan tingkat konsumsi ikan oleh masyarakat, sehingga untuk pengadaan umpan akan meningkatkan biaya operasi penangkapan. Dengan demikian, diperlukan alternatif jenis umpan lainnya yang lebih ekonomis yang berasal dari wilayah daratan, yaitu cacing tanah yang diharapkan hasilnya akan cukup efektif dengan daya pikat yang baik dalam proses penangkapannya. Gambar 36 Cacing tanah (Lumbricus rubellus) Gambar 37 Bagian-bagian tubuh cacing tanah (Lumbricus rubellus) (sumber: Kumolo 2011)

110 78 Hagner and Engemann (1968) mengklasifikasikan cacing tanah Lumbricus rubellus sebagai berikut : Kingdom : Animalia Divisi : Vermes Filum : Annelida Kelas : Oligochaeta Ordo : Opisthopora Family : Lumbricidae Genus : Lumbricus Spesies : Lumbricus rubellus Bubu lipat modifikasi pintu samping dan bubu lipat pintu atas dengan penambahan pintu jebakan bentuk kisi-kisi bahan plastik merupakan desain dan konstruksi yang pertama kali dibuat. Bentuk pintu masuk bubu yang terbuka menyebabkan lobster yang telah masuk ke dalam bubu akan dapat keluar dengan mudah dan juga bubu dapat menangkap berbagai jenis ikan lainnya sebagai hasil tangkapan sampingan (by-catch). Oleh karena itu, penggunaan pintu jebakan pada mulut bubu diharapkan selain memudahkan lobster masuk ke dalam bubu dan sulit meloloskan diri, tetapi juga dapat mengurangi hasil tangkapan sampingan (by-catch) Cacing tanah sebagai hewan yang berasal dari daratan sudah sering dilakukan sebagai umpan untuk memancing ikan di perairan umum. Kegiatan experimental fishing menggunakan bubu lipat modifikasi dengan menggunakan umpan cacing merupakan kegiatan uji coba penangkapan yang juga pertama kali dilakukan. Melalui pengujian, diharapkan dapat diukur efektivitasnya bila dibandingkan dengan bubu lipat standar dan umpan standar. 4.3 Efektivitas Bubu Lipat Dengan Umpan Ikan Tembang (Standar) Komposisi hasil tangkapan (total) Selama penelitian 31 trip operasi penangkapan diperoleh komposisi hasil tangkapan dalam jumlah (ekor) yang terdiri dari kelompok krustasea (lobster) sebagai Hasil Tangkapan Utama (HTU) dengan total 42 ekor (35,0%) terdiri dari 3 spesies, yaitu Lobster hijau pasir (Panulirus homarus) 39 ekor (32,5%), Lobster hijau (Panulirus versicolor) 2 ekor (1,7%), dan Lobster mutiara (Panulirus ornatus) 1 ekor (0,8%).

111 79 Komposisi hasil tangkapan dalam berat (gram) yang terdiri dari kelompok krustasea (lobster) sebagai Hasil Tangkapan Utama (HTU) dengan total 2840 gram (33,4%) terdiri dari 3 spesies, yaitu Lobster hijau pasir (Panulirus homarus) 2605 gram (30,6%), Lobster hijau (Panulirus versicolor) 115 gram (1,4%), dan Lobster mutiara (Panulirus ornatus) 120 gram (1,4%). Komposisi hasil tangkapan dalam jumlah (ekor) untuk Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) atau by-catch dengan total 78 ekor (65,0%) yang terdiri dari kelompok krustasea (rajungan) 59 ekor (49,2%), kelompok moluska (sotong- Sepia sp.) 14 ekor (11,7%), kelompok ikan (kerapu tutul- Epinephelus maculatus dan sinreng- Canthigaster sp.) 5 ekor (4,2%). Komposisi hasil tangkapan dalam berat (gram) untuk Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) atau by-catch dengan total 5665 gram (66,6%) yang terdiri dari kelompok krustasea (rajungan) 4175 gram (49,1%), kelompok moluska (sotong- Sepia sp.) 830 gram (9,8%), kelompok ikan (kerapu lumpur- Epinephelus maculatus dan sinreng- Canthigaster sp.) 660 gram (7,8%). Komposisi hasil tangkapan (total) baik ukuran jumlah (ekor) maupun ukuran berat (gram) dapat dilihat pada Tabel 10, Gambar 38 dan 39. Tabel 10 Komposisi hasil tangkapan total ukuran jumlah (ekor) dan ukuran berat (gram) Jumlah Berat No. Hasil tangkapan (ekor) % (gram) % 1 Utama: a. Krustasea (lobster) Lobster hijau pasir (Panulirus homarus) , Lobster hijau (Panulirus versicolor) Lobster mutiara (Panulirus ornatus) sub-total HTU , Sampingan (By-catch): a. Krustasea (rajungan) Rajungan (Portunus pelagicus) Rajungan (Portunus sanguinolentus) Rajungan (Carybdis natator) , Rajungan (Carybdis feriatus) , sub-total , b. Moluska Sotong (Sepia sp) sub-total c. Ikan Kerapu tutul (Epinephelus maculatus) Singreng (Canthigaster sp.) sub-total sub-total HTS , Total Hasil Tangkapan ,

112 80 Sotong, 14 ekor (11,7%) Ikan, 5 ekor (4,2%) Lobster, 42 ekor (35,0%) Rajungan, 59 ekor (49,2%) Gambar 38 Komposisi hasil tangkapan total dalam jumlah (ekor) Ikan, 660 gram (7,8%) Lobster, gram (33,4%) Sotong, 830 gram (9,8%) Rajungan, gram (49,1%) Gambar 39 Komposisi hasil tangkapan total dalam berat (gram)

113 81 Berdasarkan komposisi total dalam jumlah (ekor) diperoleh bahwa hasil tangkapann lobster sebagai HTU dibandingkan dengan HTS masing-masing adalah 42 ekor (35,0%) dan 78 ekor (65,0%), dimana by-catch lebih besar dibandingkan dengan HTS (Gambar 40). Berdasarkan komposisi total dalam berat (gram) diperoleh bahwa hasil tangkapann lobster sebagai HTU dibandingkan dengan HTS masing-masing adalah 2840 gram (33,4%) dan 5665 gram (66,6%), dimana jumlah by-catch lebih besar dibandingkan dengan HTS (Gambar 41). Gambar 40 Komposisi hasil tangkapan lobster dan by-catch dalam jumlah (ekor) Gambar 41 Komposisi hasil tangkapan lobster dan by-catch dalam berat (gram) Berdasarkan rata-rata hasil tangkapan dalam jumlah (ekor) per trip ± SE untuk lobster adalah 1,4 ekor ± 0,038 dan by-catch sebesar 2, 5 ekor ± 0,045, yaitu bahwa hasil tangkapann by-catch (ekor) adalah 56% lebih banyak dibandingkan dengann HTU lobster (Gambar 42).

114 82 Gambar 42 Rata-rata jumlah (ekor) hasil tangkapan dengan by-catch per trip antara lobster Lobster yang dominan tertangkap adalah jenis lobster hijau pasir (Panulirus homarus). Lobster yang tertangkap dominann pada selang kelas panjang karapas mm (17 ekor) yang juga merupakan ukuran lobster yang masih kecil (baby lobster) (Gambar 43). Berdasarkan selang kelas berat (gram), bahwa lobster yang tertangkap sebanyak 39 ekor merupakan di bawah ukuran ekonomis, karena di bawah 100 gram harga lobster sangat rendah, selain juga karena memang ukuran yang masih kecil untuk dimanfaatkan (Gambar 44). Ukuran lobster yang tertangkap didominasi oleh ukuran dibawah size ekonomi. Daerah penangkapan dalam penelitian ini adalah perairan dengan kedalaman yang cukup dangkal, yaitu < 15 meter. Sehingga ada kecenderungann bahwa di daerah tersebut merupakan daerah pembesaran lobster. Hasil Tangkapan Lobster (ekor) SELANG KELAS PANJANG KARAPAS (mm) Gambar 43 Komposisi panjang karapas (mm) lobster hasil tangkapan

115 83 Hasil Tangkapan Lobster (ekor) di bawah size ekonomis SELANG KELAS BERAT (gram) Gambar 44 Komposisi berat (gram) lobster hasil tangkapan Efektivitas bubu lipat penelitian Berdasarkan penggunaan bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (MPS), bubu lipat Modifikasi Pintu Atas (MPA) dan bubu lipat Standar (S) selama 31 trip operasi penangkapan tersebut dengan menggunakan umpan tembang, maka komposisi hasil tangkapan lobster sebagai Hasil Tangkapan Utama (HTU), masing-masing adalah 14 ekor (33,3%), 25 ekor (29,5%), dan 3 ekor (7,1%), sedangkan komposisi Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) atau by-catch, masingmasing adalah 22 ekor (28,2%), 44 ekor (56,4%), dan 9 ekor (11,5%) (Tabel 11 dan Gambar 45). Tabel 11 Komposisi hasil tangkapan lobster berdasarkan jenis bubu lipat Jenis bubu lipat (S) (MPS) (MPA) No. Hasil tangkapan Jumlah Jumlah Jumlah (ekor) % (ekor) % (ekor) % 1 Utama: lobster Sampingan: By-catch Total

116 84 Jumlah (ekor) Lobster Rajungan Sotong Ikan HASIL TANGKAPAN Bubu Lipat Standar (S) Bubu Lipat Modifikasi Pintu Samping (MPS) Bubu Lipat Modifikasi Pintu Atas (MPA) Gambar 45 Komposisi hasil tangkapan lobster berdasarkan jenis bubu lipat Berdasarkan hasil analisis sidik ragam untuk total hasil tangkapan lobster (Tabel 12) menunjukkan bahwa faktor bubu lipat dengan perlakuan umpan tembang berpengaruh nyata (F value = 9,44 > F tabel = 3,097 atau p-value = < 0.05) pada taraf nyata 5%. Demikian juga bila dilihat dari perbedaan nilai ratarata hasil tangkapan lobster (ekor) per trip ± SE, dimana terlihat bahwa bubu lipat standar (0,8 ekor ± 0,03) lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat MPS (0,5 ekor ± 0,02) dan MPA (0,1 ekor ± 0,01). Bubu lipat MPS (0,5 ekor ± 0,02) lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat MPA (0,1 ekor ± 0,01) (Gambar 46). Sementara rata-rata hasil tangkapan by-catch (ekor) per trip ± SE, dimana terlihat bahwa bubu lipat modifikasi lebih sedikit, yaitu masing-masing untuk MPS (0,7 ekor ± 0,02) dan MPA (0,6 ekor ± 0,05) dibandingkan dengan bubu lipat standar (1,5 ekor ± 0,04) (Gambar 47). Meskipun bubu lipat modifikasi memberikan hasil tangkapan sampingan (by-catch) yang lebih sedikit dibandingkan dengan hasil tangkapan bubu lipat standar, namun jenis hasil tangkapan sampingan tersebut juga memiliki nilai komersial yang baik.

117 85 Tabel 12 Analisis sidik ragam model terhadap total hasil tangkapan lobster Sumber keragaman Perlakuan Galat Total Koreksi F tabel = 3,,097 db Jumlah kuadrat Kuadrat Tengah F (0,05) 9.44* Probabilitas Gambar 46 Rata-rata jumlah (ekor) lobster yang tertangkap per trip ± SE antara bubu lipat Standar, MPS dengann bubu lipat MPA Rata-rata Jumlah by-catch (ekor) per Trip +/- SE JENIS BUBU LIPAT Bubu lipat Standar (S) Bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (MPS) Bubu lipat Modifikasi Pintu Atas (MPA) Gambar 47 Rata-rata jumlah (ekor) by-catch Standar, MPS dengann bubu lipat yang tertangkap per trip ± SE antara bubu lipat MPA

118 86 Pengujian bubu lipat penelitian, yaitu bubu lipat modifikasi pintu samping, modifikasi pintu atas dan bubu lipat standar telah dilakukan selama 31 trip dengan menggunakan umpan tembang sebagai umpan standar. Pengujian ini untuk melihat respons hasil tangkapan lobster dari masing-masing bubu lipat, sehingga dapat diketahui efektivitasnya. Unit alat tangkap penelitian menggunakan sistem longline yang dapat diperhitungkan nilai efektivitasnya, yaitu prosentase jumlah lobster yang tertangkap pada jenis bubu lipat tertentu terhadap total bubu lipat yang dioperasikan untuk keseluruhan trip penangkapan (Tabel 13). Tabel 13 Nilai efektivitas bubu lipat Jumlah Jumlah Jumlah Efektivitas No. Jenis lobster Hari bubu bubu lipat bubu lipat operasi lipat/trip (ekor) (trip) (bubu) (%) 1 Standar (S) Modifikasi Pintu Samping (MPS) Modifikasi Pintu Atas (MPA) Berdasarkan perhitungan nilai efektivitas bubu lipat pada Tabel 13 di atas, maka efektivitas bubu lipat standar (6,7%) lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu samping (3,8%) dan bubu lipat modifikasi pintu atas (0,8%). Sementara, nilai efektivitas bubu lipat modifikasi pintu samping (3,8%) lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu atas (0,8%). Bubu lipat modifikasi pintu samping memberikan hasil tangkapan yang lebih sedikit dibandingkan dengan bubu lipat standar. Hal yang perlu diperhatikan adalah pada konstruksi pintu jebakan yang terkait dengan ketebalan bahan dan lebar kisi-kisi. Permasalahannya adalah apakah keberadaan pintu jebakan memberikan dampak terhadap sulitnya lobster masuk ke dalam bubu. Sementara, bubu lipat modifikasi pintu atas kemungkinan besar terkait dengan tingginya sudut kemiringan pintu masuk (slope net) menuju pintu atas. Namun demikian, bubu lipat modifikasi tetap memperoleh hasil tangkapan lobster, meskipun tidak sebanyak hasil tangkapan bubu lipat standar.

119 Efektivitas Bubu Lipat Modifikasi Pintu Samping dan Umpan Cacing Tanah Komposisi hasil tangkapan (total) Selama penelitian 20 trip operasi penangkapan diperoleh komposisi hasil tangkapan yang terdiri dari : kelompok krustasea (lobster) sebagai Hasil Tangkapan Utama (HTU) dengan total 31 ekor (33,7%) terdiri dari 3 spesies, yaitu Lobster hijau pasir (Panulirus homarus) 29 ekor (31,5%), Lobster hijau (Panulirus versicolor) 1 ekor (1,1%), dan Lobster mutiara (Panulirus ornatus) 1 ekor (1,1%). Komposisi hasil tangkapan dalam berat (gram) yang terdiri dari kelompok krustasea (lobster) sebagai HTU dengan total 1925,5 gram (27,0%) terdiri dari 3 spesies, yaitu Lobster hijau pasir (Panulirus homarus) 1780,5 gram (25,0%), Lobster hijau (Panulirus versicolor) 55 gram (0,8%), dan Lobster mutiara (Panulirus ornatus) 90 gram (1,3%). Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) atau by-catch dengan total 61 ekor (66,3%) yang terdiri dari kelompok krustasea (rajungan) 33 ekor (35,9%), kelompok moluska (sotong-sepia sp.) 22 ekor (23,9%), kelompok ikan (kerapu tutul- Epinephelus maculatus) 5 ekor (5,4%), dan kelompok krustasea (udang ronggeng- Squilla mantis) 1 ekor (1,1%). Komposisi hasil tangkapan dalam berat (gram) untuk by-catch dengan total 5207 gram (73,0%) yang terdiri dari kelompok krustasea (rajungan) 3331 gram (46,7%), kelompok moluska (sotong-sepia sp.) 1312 gram (18,4%), kelompok ikan (kerapu tutul- Epinephelus maculatus dan sinreng- Canthigaster sp.) 494 gram (6,9%), dan kelompok krustasea (udang ronggeng- Squilla mantis) 70 gram (1,0%). Komposisi hasil tangkapan (total) baik ukuran jumlah (ekor) maupun ukuran berat (gram) dapat dilihat pada Tabel 14, Gambar 48 dan 49. Berdasarkan komposisi total (ekor) diperoleh bahwa hasil tangkapan lobster sebagai HTU dibandingkan dengan HTS masing-masing adalah 31 ekor (33,7%) dan 61 ekor (66,3%), dimana by-catch lebih besar dibandingkan dengan HTS (Gambar 50). Rata-rata hasil tangkapan (ekor) per trip ± SE untuk lobster adalah 1,6 ekor ± 0,04 dan by-catch sebesar 3,1 ekor ± 0,11 (Gambar 51).

120 88 Tabel 14 Komposisi hasil tangkapan total jumlah (ekor) dan berat (gram) Jumlah Berat No. Hasil tangkapan (ekor) % (gram) % 1 Utama: a. Krustasea (lobster) Lobster hijau pasir (Panulirus homarus) , Lobster hijau (Panulirus versicolor) Lobster mutiara (Panulirus ornatus) sub-total HTU , Sampingan (By-catch): a. Krustasea (rajungan) Rajungan (Portunus pelagicus) Rajungan (Portunus sanguinolentus) Rajungan (Carybdis natator) Rajungan (Carybdis feriatus) , sub-total , b. Moluska Sotong (Sepia sp) , sub-total , c. Ikan Kerapu tutul (Epinephelus maculatus) Singreng (Canthigaster sp.) sub-total d. Krustasea (udang) Udang ronggeng (Squilla mantis) sub-total sub-total HTS , Total Hasil Tangkapan , Sotong 22 ekor (23,9%) Ikan 5 ekor (5,4%) Udang 1 ekor (1,1%) Lobster 31 ekor (33,7%) Rajungan 33 ekor (35,9%) Gambar 48 Komposisi hasil tangkapan total dalam jumlah (ekor)

121 89 Ikan 494,0 gram (6,9%) Sotong 1312,0 gram (18,4%) Udang 70,0 gram (1,0%) Lobster 1925,5 gram (27,0%) Rajungan 3331,0 gram (46,7%) Gambar 49 Komposisii hasil tangkapan total dalam berat (gram) Gambar 50 Komposisi hasil tangkapan total dalam jumlah (ekor) Gambar 51 Rata-rata hasil tangkapan (ekor) per trip ± SE antara antara lobster dengan by-catch

122 90 Lobster yang dominan tertangkap adalah jenis lobster hijau pasir (Panulirus homarus). Lobster yang tertangkap dominan pada selang kelas panjang karapas mm (18 ekor) yang merupakan ukuran lobster yang masih kecil (baby lobster) (Gambar 52). Pada trip ke-8 tertangkap se-ekor jenis lobster hijau pasir (Panulirus homarus) dengan ukuran panjang karapas 120 mm dan berat 120 gram sudah memiliki telur (Gambar 53). Berdasarkan selang kelas berat (gram) lobster yang tertangkap sebanyak 30 ekor merupakan di bawah ukuran ekonomis, karena di bawah 100 gram harga lobster sangat rendah, selain juga karena memang ukuran yang masih kecil untuk dimanfaatkan (Gambar 54). Hasil Tangkapan Lobster (ekor) Selang Kelas Panjang Karapas (mm) Gambar 52 Komposisi selang kelas panjang karapas (mm) lobster hasil tangkapan Gambar 53 Lobster hijau pasir dengan telur yang melekat pada pleopod

123 91 Hasil Tangkapan Lobster (ekor) di bawah size ekonomis Selang Kelas Berat (gram) Gambar 54 Komposisi selang kelas berat (gram) lobster hasil tangkapan Hasil analisis sidik ragam untuk total hasil tangkapan lobster (Tabel 15) menunjukkan bahwa faktor bubu lipat dan perlakuan umpan berpengaruh nyata (F value = 3,45 > F tabel = 2.72 atau p-value = < 0.05) pada taraf nyata 5%. Tabel 15 Analisis sidik ragam perlakuan terhadap total hasil tangkapan lobster Sumber keragaman db Jumlah kuadrat Kuadrat Tengah F (0,05) Probabilitas Perlakuan * Galat Total Koreksi Dari hasil analisis sidik ragam masing-masing faktor terlihat bahwa jenis umpan berpengaruh terhadap hasil tangkapan pada taraf nyata 5%, dengan p value = 0,0296 < Jenis bubu berpengaruh terhadap hasil tangkapan (α = 5%), dengan p value = < Di antara bubu dan umpan tidak ada interaksi pada taraf nyata 5% terlihat pada p value = > 0.05 (Tabel 16). Tabel 16 Analisis sidik ragam masing-masing faktor terhadap total hasil tangkapan lobster Sumber keragaman db Kuadrat Tengah F (0,05) Probabilitas Umpan ,92* Bubu ,38* Interaksi Umpan-Bubu ,

124 Perbedaan efektivitas bubu lipat Berdasarkan penggunaan bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (MPS) dengan bubu lipat Standar (S) selama 20 trip operasi penangkapan tersebut dengan mengabaikan penggunaan umpan, maka komposisi hasil tangkapan dapat dilihat pada Tabel 17. Perolehan bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (MPS) untuk kelompok krustasea (lobster) sebagai Hasil Tangkapan Utama (HTU) dengan total 9 ekor (29,0%), sementara komposisi hasil tangkapan perolehan bubu lipat Standar (S) adalah kelompok krustasea (lobster) 22 ekor (71,0%). Perolehan bubu lipat MPS untuk Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) atau bycatch dengan total 20 ekor (32,8%), sementara komposisi hasil tangkapan perolehan bubu lipat Standar (S) untuk by-catch dengan total 41 ekor (67,2%). Tabel 17 Komposisi hasil tangkapan berdasarkan jenis bubu lipat Jenis bubu lipat Standar Modifikasi Pintu Samping No. Hasil tangkapan Jumlah Jumlah (ekor) % (ekor) % 1 Utama: lobster Sampingan: By-catch Dari hasil pengujian dengan uji Duncan, terlihat bahwa kedua jenis bubu, baik bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (MPS) maupun bubu lipat Standar (S) berbeda nyata pada taraf nyata 5%. Dalam hal ini bubu yang paling baik digunakan adalah bubu lipat Standar (S) dengan nilai Mean 0,96025 yang lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (MPS) yaitu yaitu 0,82358 (Tabel 18). Tabel 18 Uji Duncan untuk faktor bubu lipat terhadap hasil tangkapan lobster Mean dengan nilai yang sama tidak berbeda nyata pada taraf nyata 5% Duncan group Jenis bubu lipat n Mean A Standar (S) 40 0,96025 B Modifikasi Pintu Samping (MPS) 40 0,82358 Rata-rata hasil tangkapan lobster per trip ± SE dengan menggunakan bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (MPS) adalah 0,5 ekor ± 0,03, sedangkan bubu lipat Standar (S) adalah 1,1 ekor ± 0,05 (Gambar 55). Rata-rata hasil tangkapan

125 93 by-catch per trip ± SE dengan menggunakan bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (MPS) adalah 1 ekor ± 0,08, sedangkan bubuu lipat Standar (S) adalah 2 ekor ± 0,08. (Gambar 56). Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan analisiss terlihat bahwa bubu lipat modifikasi pintu samping berhasil menangkap lobster dalam keadaan hidup dan lengkap semua anggota badannya, meskipun rata-rata hasil tangkapannya masih kecil hingga kemampuan menangkap lobster hanya 50% dari bubuu lipat standar. Hasil ini juga memberikan nilai efektivitas yang relatif sama dengan pengujian sebelumnya. Namun demikian, bubu lipat modifikasi dapat mengurangi by-catch hingga 50% dibandingkan penggunaan bubu lipat standar (S). Gambar 555 Rata-rata hasil tangkapan lobster (ekor) per trip ± SE berdasarkan penggunaan bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (MPS) dengan bubuu lipat Standar (S)

126 94 Gambar 56 Rata-ratpenggunaan bubuu lipat Modifikasi Pintu Samping (MPS) dengann bubu lipat hasil tangkapan by-catch (ekor) per trip ± SE berdasarkan Standar (S) Pengujian berdasarkan faktor bubu lipat, yaitu bubu lipat modifikasi pintu samping dan bubu lipat standar telah dilakukan selama 20 trip. Pengujian ini untuk melihat respons hasil tangkapan lobster dari masing-masing bubu lipat, sehingga dapat diketahui efektivitasnya. Unit alat tangkap penelitian menggunakan sistem longline yang dapat diperhitungkan nilai efektivitasnya, yaitu prosentase jumlah lobster yang tertangkap pada jenis bubu lipat tertentu terhadap total bubu lipat yang dioperasikan untuk keseluruhan trip penangkapann (Tabel 19) ). Tabel 19 Nilai efektivitas bubu lipat No. 1 2 Jumlah Jenis lobster bubu lipat (ekor) Standar (S) 22 Modifikasi Pintu Samping (MPS) 9 Jumlah Hari operasi (trip) Jumlah bubu lipat/trip (bubu) Efektivitas bubu lipat (%)

127 95 Berdasarkan perhitungan nilai efektivitas bubu lipat pada Tabel 19 di atas, maka efektivitas bubu lipat standar (9,2%) lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu samping (3,8%). Bubu lipat modifikasi pintu samping memberikan hasil tangkapan yang lebih sedikit dibandingkan dengan bubu lipat standar yang merupakan hasil yang sama dengan pengujian sebelumnya, sehingga bubu lipat standar dapat dikatakan lebih baik dalam memberikan hasil tangkapan lobster Perbedaan efektivitas umpan Berdasarkan penggunaan umpan cacing tanah dengan umpan tembang (standar) selama 20 trip operasi penangkapan dengan mengabaikan jenis bubu lipat yang digunakan, maka komposisi hasil tangkapan dapat dilihat pada Tabel 20. Perolehan bubu lipat dengan umpan cacing tanah untuk kelompok krustasea (lobster) sebagai HTU dengan total 22 ekor (71,0%), sementara komposisi hasil tangkapan perolehan bubu lipat dengan umpan tembang (standar) adalah kelompok krustasea (lobster) 9 ekor (29,0%). Perolehan bubu lipat dengan umpan cacing tanah untuk by-catch dengan total 24 ekor (39,3%), sementara komposisi hasil tangkapan perolehan bubu lipat dengan umpan tembang (Standar) by-catch dengan total 37 ekor (60,7%). Tabel 20 Komposisi hasil tangkapan berdasarkan jenis umpan Jenis umpan Tembang Cacing tanah No. Hasil tangkapan Jumlah Jumlah (ekor) % (ekor) % 1 Utama: lobster Sampingan: By-catch Dari hasil pengujian dengan uji Duncan, terlihat bahwa kedua jenis umpan, baik umpan cacing tanah maupun umpan ikan tembang (standar) berbeda nyata pada taraf nyata 5%. Dalam hal ini bahwa umpan cacing tanah lebih baik dibandingkan dengan umpan standar yang biasa digunakan oleh nelayan, dimana nilai Mean umpan cacing tanah sebesar lebih besar dibandingkan dengan penggunaan umpan tembang (standar) yaitu (Tabel 21).

128 96 Tabel 21 Uji Duncan untuk faktor umpan terhadap hasil tangkapan lobster Mean dengan nilai yang sama tidak berbeda nyata pada taraf nyata 5% Duncan group Jenis umpan n Mean A Tembang (standar) B Cacing tanah Rata-rata hasil tangkapan lobster per trip ± SE dengan bubu lipat yang menggunakan umpan cacing tanah adalah 1,1 ekor ± 0,03, sedangkan bubu lipat yang menggunakan umpan tembang (standar) adalah 0,5 ekor per trip ± 0,03 (Gambar 57). Rata-rata hasil tangkapan by-catch per trip ± SE dengan bubu lipat yang menggunakan umpan cacing tanah adalah 1,2 ekor ± 0,06, sedangkan bubu lipat yang menggunakan umpan tembang (standar) adalah 1,9 ekor ± 0,08 (Gambar 58). Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan umpan cacing tanah memberikan nilai efektivitas yang lebih baik dengan kemampuan menangkap lobster lebih dari 50% dibandingkan dengan bubu lipat yang menggunakan umpan tembang (standar). Gambar 57 Rata-ratpenggunaan bubuu lipat dengan umpan cacing tanah dan umpan tembang hasil tangkapan lobster (ekor) per trip ± SE berdasarkan (S)

129 97 Gambar 58 Rata-rata hasil tangkapan by-catch (ekor) per trip ± SE berdasarkan penggunaan bubu lipat dengan umpan cacing tanah dan umpan tembang (S) Pengujian berdasarkan faktor umpan, yaitu bubu lipat yang menggunakan umpan ikan tembang dan cacing tanah telah dilakukan selama 20 trip. Pengujian ini untuk melihat respons hasil tangkapan lobster dari bubu lipat yang menggunakan masing-masingg jenis umpan, sehingga dapat diketahui efektivitasnya. Unit alat tangkap penelitian menggunaka an sistem longline dapat diperhitungkan nilai efektivitasnya, yaitu sebagai prosentase jumlah lobster yang tertangkap pada bubuu lipat yang menggunakan jenis umpan tertentu terhadap total bubu lipat yang dioperasikan untuk keseluruhan trip penangkapan. Tabel 22 Nilai efektivitas umpan No. Jenis umpan 1 Tembang (standar) 2 Cacing tanah (alternatif) Jumlah lobster Jumlah Hari operasi Jumlah bubuu lipat/trip Efektivitas bubu lipat (ekor) (trip) (bubu) (%) Berdasarkan perhitungann nilai efektivitas umpan pada Tabel 22 di atas, maka efektivitas bubu lipat yang menggunakan umpan cacing tanah (9,2%) lebih besar dibandingkan dengan yang menggunakan umpan tembang ( 3,8%).

130 Perubahan Kadar Protein dan Lemak Umpan Berdasarkan hasil analisis kadar protein (%) gram dalam 100 gram, maka diketahui bahwa data awal umpan cacing tanah mengandun ng 18,45% dan terjadi penurunan kadar protein (%) yang diperhitungkan dari dataa awal. Analisis yang diperhitungkan berdasarkan lama perendaman selama 1 jam, 2 jam, 3 jam, 6 jam, 9 jam, dan 12 jam dan terjadi penurunan berturut-turut adalah 5,53% %, 8,56%, 10,35%, 10,41% %, 11,27%,, dan 12,41%. Begitu juga dengan umpan tembang (standar) dimana hasil analisis kadar protein (%) gram dalam 100 gram diketahui bahwa data awal umpan tembang mengandungg 11,67% dan terjadi penurunan kadar protein (%) yang diperhitungkan dari data awal yang lebih besar dibandingkan dengan umpan cacing tanah. Analisis yang diperhitungkan berdasarkan lama perendaman selamaa 1 jam, 2 jam, 3 jam, 6 jam, 9 jam, dan 12 jam dan terjadi penurunan berturut-turut adalah 5,40% %, 12,77%, 43,44%, 45,16%, 50,90% %, 51,76% (Gambar 59). Dengann demikian, bahwa cacing tanah mengalami penurunan kadar protein yang cukup lambat dengann rata-rata penurunan 9,76% ± 0,40 dibandingkan dengan umpan tembang 34,90% ± 3,40 (Gambar 60). Gambar 59 Perubahan kadar protein umpan cacing tanah dan tembang berdasarkan lamaa perendamann

131 99 Gambar 60 Rata-rata perubahan kadar protein (% ± SE) umpan cacing tanah dan tembang berdasarkan lama perendaman Berdasarkan hasil analisis kadar lemak (%) gram dalam 100 gram, maka diketahui bahwa data awal umpan cacing tanah mengandung 2, 11% dan terjadi penurunann kadar lemak (%) yang diperhitungkan dari data awal. Analisis yang diperhitungkan berdasarkan lama perendaman selama 1 jam, 2 jam, 3 jam, 6 jam, 9 jam, dan 12 jam dan terjadi penurunan berturut-tur rut adalah 45,2%, 46, 45%, 59,72%, 72,99%, 78,20%, dan 90,52%. Begitu juga dengan umpan tembang (standar) dimana hasil analisis kadar lemak (%) gram dalam 1000 gram diketahui bahwa data awal umpan tembang mengandung 1,04% dan terjadi penurunan kadar lemak (%) yang diperhitungkan dari dataa awal yang lebih kecil dibandingkan dengan umpan cacing tanah. Analisis yang diperhitungkan berdasarkan lama perendaman selama 1 jam, 2 jam, 3 jam, 6 jam, 9 jam, dan 12 jam dan terjadi penurunan berturut-turutt adalah 23,08%, 24,04%, 32, 69%, 37,50%, 55,77%, 75,96% (Gambar 61). Dengan demikian, bahwa cacing tanah mengalami penurunan kadar lemak yang lebih cepat dengan rata-rata penurunan 65,48% ± 3,04 dibandingkan dengan tembang 41,51% ± 3,44 (Gambar 62).

132 100 Gambar 61 Perubahan kadar lemak umpan cacing tanah dan tembang berdasarkan lamaa perendamann 90 Rata-rata penurunan kadar lemak (%) +/- SE JENIS UMPAN Cacing tanah Tembang Gambar 62 Rata-ratberdasarkan lamaa perendamann perubahan kadar lemak (% ± SE) umpan cacing tanah dan tembang

133 101 Penurunan kadar protein (%) umpan cacing tanah yang lebih lambat menunjukkan bahwa cacing tanah lebih tahan lama dalam waktu perendaman dibandingkan dengan umpan tembang (standar) dan hal ini dapat menjadi acuan penjelasan bahwa cacing tanah adalah umpan yang efektif dalam penangkapan lobster dengan alat tangkap bubu lipat. Hasil perendaman terhadap umpan cacing tanah dan tembang terlihat terjadi beberapa perubahan seperti warna umpan, dan bau khas dari masingmasing umpan. Semakin lama di rendam, warna umpan terlihat berubah, seperti cacing tanah akan berubah menjadi berwarna hitam, lumer dan lengket. Saat masih dalam keadaan basah cacing tanah masih berbau khas dan segar, namun setelah mengering akan berbau busuk. Umpan tembang dalam keadaan basah, setelah dilakukan perendaman tidak terlalu terlihat perubahannya, karena umpan tembang yang direndam adalah utuh per ekor ikan dan berbau khas ikan segar. Namun saat sudah mulai kering akan tercium bau ikan yang tidak segar lagi dan ikan terlihat mulai pucat. Perubahan fisik umpan setelah perendaman dapat dilihat pada Lampiran 11.

134

135 5 PEMBAHASAN 5.1 Bubu Lipat Bubu lipat modifikasi pintu samping dan bubu lipat pintu atas dengan penambahan pintu jebakan bentuk kisi-kisi merupakan desain dan konstruksi yang pertama kali dibuat. Cacing tanah sebagai hewan yang berasal dari daratan sudah sering dilakukan sebagai umpan untuk memancing ikan di perairan umum. Kegiatan experimental fishing menggunakan bubu lipat modifikasi dengan menggunakan umpan cacing merupakan kegiatan uji coba penangkapan yang juga pertama kali dilakukan. Melalui pengujian, diharapkan dapat diukur efektivitasnya bila dibandingkan dengan bubu lipat standar dan umpan standar. Spesifikasi bubu lipat pintu samping dengan pintu jebakan yang berbentuk kisi-kisi adalah : bentuk bubu empat persegi panjang (box type); ukuran 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt); memiliki satu pintu masuk di bagian samping; sudut slope net (bagian atas dan bawah) adalah 22,5 ; bingkai bubu bahan besi galvanis berdiameter 6 mm; badan jaring (cover net) bahan Polyethylene (PE) mesh size 1,5 inci 210 D/18; pintu jebakan bentuk kisi-kisi bahan plastik dengan tebal 1 mm. Spesifikasi bubu lipat pintu atas dengan pintu jebakan yang berbentuk kisi-kisi adalah : bentuk bubu trapesium (trapezoidal type); ukuran 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt); memiliki satu pintu masuk di bagian atas; sudut slope net (bagian samping) adalah 70 ; bingkai bubu bahan besi galvanis berdiameter 6 mm; badan jaring (cover net) bahan Polyethylene (PE) mesh size 1,5 inci 210 D/18. pintu jebakan bentuk kisi-kisi bahan plastik dengan tebal 1 mm. Bubu lipat modifikasi pintu samping dengan bubu lipat modifikasi pintu atas secara konstruksi berbeda posisi pintu masuknya. Kedua bubu lipat modifikasi juga berbeda dengan bubu lipat standar yang merupakan bubu lipat rajungan. Pengujian bubu lipat modifikasi terhadap bubu lipat standar merupakan pengujian terhadap bubu lipat acuan. Bubu lipat standar mungkin saja hanya memperoleh hasil tangkapan rajungan dan tidak mendapatkan lobster karena bubu lipat standar adalah bubu rajungan dengan bentuk pintu masuk yang

136 104 menyempit (slit type). Bubu lipat modifikasi mungkin saja dapat menangkap keduanya, baik lobster maupun rajungan. 5.2 Bubu Lipat dan Umpan Standar Hasil tangkapan bubu lipat penelitian pada pengujian efektivitas bubu lipat, yaitu bubu lipat modifikasi pintu samping, bubu lipat modifikasi pintu atas dan bubu lipat standar dengan menggunakan umpan tembang telah dilakukan selama 31 trip. Hasil tangkapan terdiri dari lobster (lobster hijau pasir - Panulirus homarus, lobster hijau - Panulirus versicolor, dan lobster mutiara - Panulirus ornatus), rajungan blue swimming crab, sotong-sepia sp., kerapu tutul- Epinephelus maculatus, dan Singreng - Canthigaster sp.. Hasil pengujian efektivitas bubu lipat penelitian, yaitu antara bubu lipat modifikasi pintu samping, bubu lipat modifikasi pintu atas dengan bubu lipat standar menunjukkan bahwa bubu lipat standar lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi. Sementara, bubu lipat modifikasi pintu samping lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu atas. Bubu lipat standar penelitian untuk menangkap lobster memiliki ukuran pxlxt lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat standar untuk menangkap rajungan, sehingga bubu lipat standar penelitian diduga memiliki peluang yang lebih besar untuk menangkap lobster lebih banyak bila dibandingkan dengan bubu lipat standar yang biasa dipakai untuk menangkap rajungan; Bubu lipat modifikasi pintu samping hanya memiliki satu pintu, sama halnya dengan bubu lipat modifikasi pintu atas. Sedangkan bubu lipat standar memiliki dua pintu samping, sehingga diduga akan memberikan peluang yang cukup besar bagi lobster untuk memasuki bubu lipat standar dengan catatan bahwa posisi jatuhnya bubu lipat standar saat dilakukan setting alat tangkap dan berada di dasar perairan dalam keadaan tidak terbalik. Bila posisi bubu lipat standar terbalik di dasar perairan akan menempatkan sudut slope net akan menjadi cukup tinggi yaitu 67,5 yang dapat menyulitkan lobster untuk bergerak menuju pintu masuk. Bubu lipat modifikasi pintu atas memiliki sudut slope net yang paling tinggi, yaitu 70 dan hanya berhasil menangkap 3 ekor lobster yang merupakan jumlah yang sedikit dibandingkan dengan hasil tangkapan lobster

137 105 pada bubu lipat standar dan bubu lipat modifikasi pintu samping masing-masing 25 ekor dan 14 ekor. Kondisi sudut slope net yang cukup tinggi diduga akan menyulitkan bagi lobster untuk mencapai pintu masuk bubu. Di Selandia Baru untuk penangkapan lobster memiliki bukaan mulut yang berbentuk lingkaran dan terletak di bagian atas bubu dan berhasil menangkap lobster (Gorman, 1996). Bubu lipat yang dilakukan modifikasi hanya menggunakan satu pintu adalah untuk lebih membesarkan volume ruangan dalam bubu lipat, sehingga bubu lipat diduga dapat memiliki peluang untuk memperoleh lobster lebih dari satu ekor. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Thomas (1954) yang diacu dalam Shelton and Hall (1981) yang melakukan pengujian terhadap alat tangkap bubu antara scottish creel (pintu samping jumlah satu pintu) dengan traditional cornish inkwell pot (pintu atas jumlah satu pintu) yang memberikan hasil tangkapan lobster jenis Homarus gammarus masing-masing adalah 66 ekor dan 48 ekor dalam 384 hauling. Secara statistik menunjukkan bahwa hasil tangkapan lobster dari setiap alat tangkap bubu tersebut terbukti tidak berbeda nyata dalam jumlah dan ukuran; Ukuran pintu masuk bubu lipat modifikasi, baik modifikasi pintu samping maupun pintu atas memiliki ukuran pintu masuk yang cukup luas, yaitu 30 cm x 14 cm (panjang x tinggi/ atau lebar) dibandingkan dengan ukuran pintu masuk bubu lipat standar penelitian. Pintu masuk bubu lipat standar berbentuk ellips atau slit type merupakan bentuk pintu masuk yang mengerucut seperti bentuk lubang di batu karang dengan ukuran yang sempit. Celah yang kecil dapat membuat lobster tetap berusaha masuk ke dalam bubu, terutama untuk lobster yang berukuran kecil. Sementara, meskipun bubu lipat modifikasi memiliki ukuran yang cukup luas, namun penggunaan pintu plastik bentuk kisi-kisi dapat saja mengganggu bagi lobster untuk masuk ke dalam bubu. Penggunaan pintu pemicu bentuk kisi-kisi pada mulut bubu lipat modifikasi selain berfungsi untuk memberikan peluang bagi lobster untuk mudah masuk, tetapi sulit untuk keluar dan sekaligus bagian dari upaya untuk mengurangi hasil tangkapan sampingan (by-catch). Seperti yang diungkapkan oleh Phillips et al., (1980) bahwa desain yang tepat dari perangkap adalah membuat lobster dapat masuk melalui mulut bubu dan menyulitkannya untuk

138 106 keluar. Pengamatan lobster dalam tangki percobaan (Shelton, 1981) menjelaskan bahwa masuknya lobster ke dalam perangkap mungkin diperlambat oleh kesulitan pengalaman dalam menemukan pintu masuk. Lobster membutuhkan waktu yang cukup lama dalam berusaha mendapatkan jalan ke arah umpan hingga pada bagian sisi dari perangkap, khususnya jika ada bagian dari jaring yang tersentuh tangan yang terkontaminasi umpan, dimana ada periode waktu bagi lobster dalam usaha memakan jaring yang terkontaminasi umpan tersebut. Namun, dapat saja bahwa pemasangan pintu pemicu bentuk kisi-kisi justru dapat menghalangi bagi lobster untuk masuk. Pada kondisi tersebut diperlukan penelitian lanjutan yang terkait dengan performa bubu lipat modifikasi terkait dengan cara dan keberhasilan lobster memasuki bubu lipat modifikasi. Hasil tangkapan lobster memiliki ukuran yang masih kecil (baby lobster) dengan ukuran berat (gram) < 100 gram. Hal ini diduga karena kegiatan penangkapan dilakukan pada kedalaman yang cukup dangkal, yaitu antara 5 15 meter dengan substrat dasar perairan lumpur, pasir dan berkarang. Berdasarkan informasi dari nelayan setempat bahwa perairan di daerah penelitian sering tertangkap juvenil lobster oleh alat tangkap bagan tancap pada kedalaman < 10 meter. Sehingga diduga bahwa perairan tersebut sebagai tempat bertelurnya lobster (spawning ground) hingga berkembang menjadi lobster kecil (baby lobster). Pada musim tertentu di perairan tersebut, lobster dengan ukuran kecil akan berlimpah dan penggunaan bubu lipat akan memberikan hasil tangkapan lobster. Menurut Goni et al. (2003), bahwa kondisi matang gonad secara fisiologi (size at maturity) untuk lobster betina dari spiny lobster di Perairan Mediterania terjadi pada ukuran panjang karapas antara mm. Sedangkan untuk lobster jantan dari lobster yang sama terjadi pada ukuran panjang karapas 82,5 mm. Bila dibandingkan dengan lobster hasil tangkapan yaitu ukuran panjang karapas < 70 mm, maka kondisinya belum dalam keadaan matang gonad. Peran IPTEK dalam pengembangan perikanan bubu menjadi sangat penting untuk tujuan-tujuan yang berhubungan dengan aspek pemanfaatan sumber daya dan aspek keberlanjutan sumber daya. Faktor yang menjadi daya tarik bagi nelayan dalam memanfaatkan sumber daya lobster adalah selain memiliki harga yang cukup tinggi, lobster yang tertangkap dalam keadaan hidup

139 107 dengan ukuran kecil (di bawah size ekonomis) dapat dikembangkan kegiatan budidaya pembesaran dalam karamba apung. Dengan kata lain, bahwa penangkapan lobster dengan alat tangkap bubu lipat dapat memberikan manfaat lain, yaitu perolehan bibit lobster dari alam untuk kegiatan usaha budidaya pembesaran. 5.3 Bubu Lipat Modifikasi dan Umpan Cacing Tanah Hasil tangkapan bubu lipat penelitian pada pengujian efektivitas bubu lipat modifikasi pintu samping dan bubu lipat standar dengan menggunakan umpan cacing tanah dan umpan tembang selama 20 trip, relatif homogin dengan hasil tangkapan pada pengujian efektivitas bubu lipat dengan umpan tembang (standar) yang telah dilakukan sebelumnya (31 trip). Hasil tangkapan terdiri dari lobster (lobster hijau pasir - Panulirus homarus, lobster hijau - Panulirus versicolor, dan lobster mutiara - Panulirus ornatus), rajungan - swimming crab, sotong-sepia sp., kerapu tutul- Epinephelus maculatus, dan udang ronggeng- Squilla mantis. Lobster yang dominan tertangkap adalah jenis lobster hijau pasir (Panulirus homarus). Lobster yang tertangkap berada pada selang kelas panjang karapas < 77 mm yang merupakan ukuran lobster yang masih kecil (baby lobster). Berdasarkan selang kelas berat (gram) lobster yang tertangkap sebanyak 30 ekor merupakan di bawah ukuran ekonomis, karena di bawah 100 gram harga lobster sangat rendah, selain juga karena memang ukuran yang masih kecil untuk dimanfaatkan. Namun demikian salah satu jenis lobster hijau pasir (Panulirus homarus) yang tertangkap pada trip ke-8 dengan ukuran panjang karapas (CL) 72 mm dan berat 120 gram sudah memiliki telur. Kondisi matang dewasa pertama lobster memiliki ukuran panjang karapas yang berbeda-beda. Seperti yang diungkapkan oleh Montgomery (1992) bahwa tidak ada perbedaan secara signifikan dalam panjang karapas (CL) antara ukuran lobster pada saat matang dewasa pertama dan ukuran lobster saat pemuliaan. Kriteria Pencapaian matang dewasa ini adalah kehadiran setae yang berkembang dengan baik, atau adanya telur melekat pada pleopods (kaki renang). Tidak ada

140 108 perbedaan signifikan dalam panjang karapas (CL) antara ukuran lobster pada saat matang dewasa pertama dan ukuran lobster saat pemuliaan (Montgomery 1992). Umumnya kondisi matang dewasa didefinisikan sebagai ukuran pertama atau usia di mana 50% dari hewan mencapai kematangan seksual (Somerton 1980 diacu dalam Montgomery 1992). Aiken dan Waddy (1980) diacu dalam Montgomery (1992) menjelaskan berbagai karakteristik lobster yang telah digunakan untuk menentukan matang dewasa, yaitu termasuk perubahan dalam hubungannya dengan morfometrik, dimorfisme dari pleopods, kondisi ovarium, kehadiran telur, kehadiran kelimpahan spermatophoric, dan perubahan dalam sternalis. Sebuah pengetahuan tentang ukuran di mana hewan mencapai kondisi matang dewasa dapat menjadi penting dalam pengelolaan stok. Hal ini memungkinkan, yaitu kombinasi informasi tentang distribusi panjang individu dan perkiraan proporsi hewan yang mampu berkembang biak dalam populasi. Hal ini dapat digunakan juga sebagai ukuran yang mendasari ukuran minimum yang legal dan /atau usia untuk hewan yang diperbolehkan untuk ditangkap. Tujuan dalam pengelolaan adalah untuk melindungi hewan yang cukup matang dewasa dari kegiatan penangkapan sehingga stok yang ada cukup untuk mempertahankan populasi, atau untuk mempromosikan ukuran maksimum yang tertangkap dari jenis yang diinginkan dari individu dengan ukuran tertentu dalam populasi (Alen 1954 diacu dalam Montgomery 1992). Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa faktor bubu lipat (bubu lipat modifikasi pintu samping dan bubu lipat standar) dan perlakuan umpan (cacing tanah dan tembang) yang dilakukan secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan lobster (F value α=5% = 3,45 > F tabel = 2.72 atau p- value = < 0.05). Selanjutnya, hasil analisis sidik ragam untuk masingmasing faktor, yaitu untuk penggunaan jenis bubu lipat (bubu lipat modifikasi pintu samping dan bubu lipat) berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan lobster (p value α=5% = < 0.05). demikian juga dengan penggunaan jenis umpan (cacing tanah dan tembang) berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan lobster (p value α=5% = 0,0296 < 0.05). Sedangkan di antara bubu dan umpan tidak ada interaksi terhadap perolehan hasil tangkapan lobster (p value α=5% = >

141 ). Pada kondisi tersebut diperlukan analisis lanjutan untuk melihat perbedaan efektivitas masing-masing diantara faktor bubu lipat dan perlakuan umpan dalam memperoleh hasil tangkapan lobster. Atau dengan kata lain bahwa faktor bubu lipat dan perlakuan umpan masing-masing berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan lobster. Gunarso (1985) menyatakan bahwa untuk memudahkan dalam menangkap ikan selain menggunakan alat tangkap, dibutuhkan juga taktik dan metode yang tepat. Selain adanya interaksi yang saling ketergantungan, antara lain seperti kepada jenis ikan, kondisi fisiologis ikan, musim atau bahkan perubahan waktu dalam sehari. Taktik dalam penangkapan dengan bubu diperlukan bagaimana bubu dapat menarik perhatian lobster (lobster attraction) bahwa bubu dapat berfungsi sebagai tempat berlindung (shelter) atau tempat bersembunyi (hiding place) dan taktik penggunaan umpan untuk tujuan menimbulkan rangsangan umpan bersifat kimiawi (chemical bait). Faktor bubu lipat saat di dasar dapat berfungsi sebagai tempat berlindung (shelter) atau tempat bersembunyi (hiding place), sedangkan penggunaan umpan dapat menimbulkan bau akibat faktor kimiawi umpan (chemical bait). Hasil uji Duncan terhadap faktor bubu lipat adalah bahwa kedua jenis bubu, baik bubu lipat modifikasi pintu samping maupun bubu lipat Standar berbeda nyata pada taraf α = 5%. Dalam hal ini bubu yang paling baik digunakan adalah tetap bubu lipat Standar (Mean = 0,96025) dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu samping (Mean = 0,82358). Hasil uji duncan juga diperkuat oleh analisis rata-rata hasil tangkapan lobster per trip bubu lipat standar (1,1 ekor ± 0,05) lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu samping (0,5 ekor ± 0,03). Demikian juga dengan nilai efektivitas bubu lipat, yaitu bahwa efektivitas bubu lipat standar (9,2%) lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu samping (3,8%). Kondisi ini sama dengan hasil yang diperoleh dalam pengujian sebelumnya, yaitu bahwa efektivitas bubu lipat standar lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu samping dan bubu lipat modifikasi pintu atas yang telah dilakukan experimental fishing dengan menggunakan umpan tembang. Hal ini menegaskan kembali bahwa bubu

142 110 standar masih lebih baik dalam perolehan hasil tangkapan lobster dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi. Rata-rata hasil tangkapan sampingan (by-catch) per trip bubu lipat modifikasi pintu samping (1 ekor ± 0,08) lebih sedikit dibandingkan dengan bubu lipat standar (2 ekor ± 0,08). Kondisi ini dapat dikatakan bahwa bubu lipat modifikasi dapat mereduksi by-catch hingga 50% dibandingkan penggunaan bubu lipat standar. Namun demikian, jenis by-catch yang tertangkap juga memiliki nilai komersial yang cukup tinggi, seperti rajungan, ikan kerapu dan sotong. Meskipun dapat mereduksi by-catch bagi bubu lipat modifikasi pintu samping dan bubu lipat standar memperoleh hasil tangkapan lobster dan by-catch dalam keadaan hidup. Hasil tangkapan jenis lobster memiliki ukuran yang masih kecil, sehingga diperlukan aspek pengelolaan yang baik dalam memanfaatkan lobster dengan ukuran di bawah size ekonomis. Salah satu bentuk upaya pengelolaan yang menjadi pilihan adalah pengembangan budidaya pembesaran lobster, dimana bibit lobster ditangkap dari alam sebagai hasil tangkapan bubu lobster kemudian dimasukan ke dalam karamba apung. Bubu biasanya digunakan oleh nelayan untuk menangkap dan mempertahankan target tangkapan yang diinginkan yaitu lobster dan jenis krustasea lainnya yang juga target yang baik, seperti halnya ikan bersirip, gastropoda dan moluska (Miller 1990). Lebih dari itu, bubu juga mewakili alat tangkap yang berguna untuk kegiatan pemanenan sumberdaya ikan yang bertanggung jawab. Bubu adalah alat tangkap yang selektif, hasil tangkapan di bawah ukuran ekonomis dapat dikembalikan ke perairan tanpa melukainya, sedikit hasil tangkapan sampingan atau by-catch (Groneveld 2000) dan mempunyai dampak yang minimum terhadap komunitas dasar perairan (Eno et al., 2001). Lebih jauh dikatakan oleh Miller (1990), bahwa kualitas bubu lipat sebagai perangkap adalah karena hasil tangkapan dalam keadaan hidup dengan kualitas yang sangat baik, hasil tangkapan di bawah ukuran ekonomis (under size) dapat dikembalikan ke perairan dalam keadaan hidup dan biaya penangkapan rendah. Umpan merupakan salah satu faktor penting untuk menunjang keberhasilan suatu operasi penangkapan, khususnya untuk alat tangkap yang

143 111 bersifat pasif seperti bubu. Seperti yang dinyatakan oleh Raharjo dan Linting (1993), bahwa umpan merupakan perangsang yang memikat sasaran penangkapan dan sangat berpengaruh untuk meningkatkan laju tangkap bubu. Percobaan-percobaan yang telah dilakukan dalam skala laboratorium menunjukkan bahwa lobster Jasus lalandei memakan makanan yang disukainya jika diberikan pilihan, dan memilih umpan-umpan alami yang ada di laut sebelum digunakan jenis makanan alami di darat (daging hewan). Selanjutnya, Fielder (1965) menyatakan bahwa terdapat beberapa kondisi terkait dengan tingkah laku makan lobster Jasus lalandei tentang makanan yang disukai, yaitu : (1) Lobster Jasus lalandei memiliki tingkah laku makan yang selektif, yaitu jika diberikan pilihan makanan; (2) Umpan yang berasal dari laut, seperti ikan dan hiu lebih disukai daripada umpan yang berasal dari daratan, seperti kuda dan kelinci; (3) Umpan segar lebih disukai dari pada umpan busuk; dan (4) Umpan cumi-cumi termasuk jenis umpan yang efisien seperti halnya umpan ikan. Hasil uji Duncan terhadap perlakuan umpan adalah bahwa kedua jenis umpan, baik umpan cacing tanah maupun tembang berbeda nyata pada taraf α = 5%. Dalam hal ini umpan yang paling baik digunakan adalah cacing tanah (Mean = ) dibandingkan dengan umpan tembang (Mean = ). Hasil uji duncan juga diperkuat oleh analisis rata-rata hasil tangkapan lobster per trip bahwa bubu lipat yang menggunakan umpan cacing tanah (1,1 ekor ± 0,03) lebih baik dibandingkan dengan bubu lipat yang menggunakan umpan tembang (0,5 ekor ± 0,03). Demikian juga dengan hasil perhitungan nilai efektivitas umpan, yaitu bahwa efektivitas bubu lipat yang menggunakan umpan cacing tanah (9,2%) lebih besar dibandingkan dengan yang menggunakan umpan tembang (3,8%). Rata-rata hasil tangkapan sampingan (by-catch) per trip untuk bubu lipat yang menggunakan umpan cacing tanah (1,2 ekor ± 0,06) lebih sedikit dibandingkan dengan bubu lipat yang menggunakan umpan tembang (1,9 ekor ± 0,08). Hasil analisis menunjukkan bahwa pengoperasian bubu yang menggunakan umpan cacing tanah dapat mereduksi by-catch hingga 36,8% dibandingkan dengan bubu lipat yang menggunakan umpan tembang.

144 Umpan Alternatif Cacing tanah sebagai hewan yang berasal dari daratan sudah sering dilakukan sebagai umpan untuk memancing ikan di perairan umum. Kegiatan experimental fishing menggunakan bubu lipat modifikasi dengan menggunakan umpan cacing merupakan kegiatan uji coba penangkapan yang juga pertama kali dilakukan. Hal-hal yang berhubungan dengan umpan sebagai atraktor dalam penangkapan ikan ditentukan oleh kandungan kimia umpan yang digunakan. Kandungan kimia tersebut erat kaitannya sebagai perangsang bau yang meliputi kandungan proksimat (protein dan lemak), asam amino, asam lemak dan amoniak. Seperti yang dikatakan Sadhori (1985) menjelaskan bahwa umpan merupakan salah satu bentuk rangsangan (stimulus) yang bersifat fisika dan kimia yang dapat memberikan respons bagi ikan-ikan tertentu dalam proses penangkapan. Begitu juga dengan lobster, umpan merupakan salah satu faktor penting sebagai bahan atraktor dalam memikat lobster. Umpan yang mengandung unsur lemak, protein dan chitine serta adanya bau yang menyengat merupakan umpan yang sangat baik sebagai bahan atraktor untuk memikat lobster (Fielder 1965; Phillips and Cobb 1980; Moosa dan Aswandy 1984). Hasil uji proksimat terhadap kadar protein umpan berdasarkan 6 tahap lama perendaman, yaitu lama perendaman 1, 2, 3, 6, 9, dan 12 jam terlihat bahwa cacing tanah mengalami penurunan kadar protein yang cukup lambat dengan ratarata penurunan 9,76% ± 0,40 dibandingkan dengan umpan tembang 34,90% ± 3,40. Dengan demikian, selain cacing tanah memiliki kandungan protein yang tinggi, juga memiliki ketahanan umpan yang cukup tinggi dibandingkan dengan umpan tembang. Dalam protein kasar banyak mengandung asam amino yang berguna untuk menjadi stimulus makan bagi target tangkapan. Seperti yang diungkapkan Engas and Lokkeborg (1994), bahwa umpan yang mengandung asam amino diidentifikasi dapat menjadi stimulus dan atraktor makan pada ikan dan krustasea. Hampir semua studi mengenai rangsangan kimia untuk tingkah laku makan menunjukkan bahwa rangsangan makan pada ikan dan krustasea akan hilang seiring dengan hilangnya kandungan asam amino pada umpan. Sedangkan

145 113 cacing tanah mengalami penurunan kadar lemak yang lebih cepat dengan ratarata penurunan 65,48% ± 3,04 dibandingkan dengan umpan tembang 41,51% ± 3,44. Rantai kimia pada kandungan asam lemak apabila terpotong akan berpengaruh pada pembentukan komponen yang bertanggung jawab atas rangsangan bau. Berdasarkan hasil penelitian di Samudera Pasifik, bahwa umpan yang mengandung banyak lemak menghasilkan tangkapan yang lebih baik dibandingkan dengan umpan yang mengandung lemak yang kurang (King 1986 diacu dalam Rahardjo dan Linting 1993). Pendekatan penggunaan umpan alami yang berasal dari wilayah daratan adalah bahwa umpan tersebut dapat dibudidayakan secara sederhana sehingga pengadaannya tidak membutuhkan biaya yang besar. Kegiatan pemeliharaan dalam budidaya cacing tanah (Lumbricus rubellus) tidak dibutuhkan lahan yang luas atau biaya pakan yang mahal, karena pemeliharaan cacing tanah bersifat zero feed cost (Edwards and Lotfy 1972 diacu dalam Pardamean 2002). Penggunaan cacing tanah sebagai umpan alternatif akan mengurangi tekanan terhadap pemanfaatan ikan rucah dalam upaya pengembangan perikanan bubu lobster.

146

147 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Kesimpulan dalam penelitian rancang bangun bubu lipat modifikasi dan penggunaan cacing tanah (Lumbricus rubellus) sebagai umpan alternatif untuk penangkapan spiny lobster, yaitu : (1) Bubu lipat yang dibuat sebagai upaya perbaikan teknologi penangkapan ikan adalah bubu lipat modifikasi pintu samping dan bubu lipat modifikasi pintu atas masing-masing dengan rekayasa pintu jebakan berbentuk kisi-kisi dengan ukuran 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt), sudut slope net (bagian atas dan bawah) adalah 22,5 dan 70. (2) Umpan cacing tanah mengalami penurunan kadar protein yang cukup lambat dengan rata-rata penurunan 9,76% ± 0,40 dibandingkan dengan umpan tembang 34,90% ± 3,40. Dengan demikian, selain cacing tanah memiliki kandungan protein yang tinggi, juga memiliki ketahanan umpan yang cukup tinggi dibandingkan dengan umpan tembang. Umpan cacing tanah mengalami penurunan kadar lemak yang lebih cepat dengan rata-rata penurunan 65,48% ± 3,04 dibandingkan dengan umpan tembang 41,51% ± 3,44. (3) Kedua bubu lipat modifikasi dan bubu lipat rajungan berhasil memperoleh hasil tangkapan lobster dan rajungan. Efektivitas bubu lipat rajungan sebagai standar pengujian (6,7%) lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu samping (3,8%) dan bubu lipat modifikasi pintu atas (0,8%) dalam memperoleh hasil tangkapan lobster. Efektivitas bubu lipat modifikasi pintu samping (3,8%) lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu atas (0,8%) dalam memperoleh hasil tangkapan lobster. (4) Bubu lipat modifikasi pintu samping dan bubu lipat rajungan berhasil memperoleh hasil tangkapan lobster dan rajungan. Faktor bubu lipat, baik bubu lipat modifikasi pintu samping maupun bubu lipat standar berbeda nyata pada taraf α = 5%. Efektivitas bubu lipat rajungan sebagai standar

148 116 dalam pengujian (9,2%) lebih besar dibandingkan dengan bubu lipat modifikasi pintu samping (3,8%) dalam memperoleh hasil tangkapan lobster. Sementara untuk perlakuan umpan, baik umpan cacing tanah maupun tembang berbeda nyata pada taraf α = 5%. Efektivitas bubu lipat yang menggunakan umpan cacing tanah (9,2%) lebih besar dibandingkan dengan yang menggunakan umpan tembang (3,8%) dalam memperoleh hasil tangkapan lobster. 6.2 Saran (1) Diperlukan penelitian lanjutan yang terkait dengan pemilihan bahan plastik dengan ketebalan tertentu untuk pintu jebakan hubungannya dengan proses masuknya lobster ke dalam bubu lipat modifikasi pintu samping. (2) Diperlukan penelitian lanjutan tentang kekuatan bingkai (frame) bubu lipat yang dapat bertahan secara statis di dasar perairan terhadap pengaruh kecepatan arus tertentu yang dilakukan pada skala laboratorium. (3) Diperlukan uji kandungan asam amino dan asam lemak umpan untuk dapat melihat penurunannya dalam proses perendaman umpan dalam air laut. (4) Upaya pengembangan kegiatan komersial dalam pemanfaatan lobster perlu dilakukan kegiatan budidaya pembesaran lobster pada karamba apung.

149 DAFTAR PUSTAKA Anonymous Simpler and More Effective Modernized Methods: Pot Fishing. Yamaha Fisheries Journal. Volume 27 : 1 8p. Anonymous Peranan Feromon sebagai Senyawa Bioaktif dalam Proses Pelapukan Kayu. Laporan Penelitian (Tidak Dipublikasikan). Fakultas matematika dan Ilmu pengetahuan Alam. Institut Pertanian Bogor. 33 hal. [AOAC] Association of Official Analytical Chemists Official Methods of Analysis of the Association of Official Analytical Chemists. Washington : AOAC Inc. Archdale VM, Anasco CP, Kawamura Y, and Tomiki S Effect of Two Collapsible Pot Designs on Escape Rate and Behavior of the Invasive Swimming Crabs Charybdis japonica and Portunus pelagicus. Fisheries Research. Elsevier B.V. All rights reserved. Volume 85 : p. Archdale VM, Anraku K, Yamamoto T, and Higashitani N Behavior of the Japanese Rock Crab Ishigani Charybdis japonica towards Two Collapsible Baited Pots: Evaluation of Capture Effectiveness. Fisheries Science. The Japanese Society of Fisheries Science. Japan. Volume 69: p. Ayodhyoa AU Metode Penangkapan Ikan. Cetakan Pertama. Yayasan Dewi Sri. Bogor. 97 hal. Baskoro MS, Telussa RF dan Purwangka F Efektivitas Bagan Motor di Perairan Waai, Pulau Ambon. Prosiding Seminar Perikanan Tangkap. ISBN : Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Hlm [BPPI] Balai Pengembangan Penangkapan Ikan Krendet Alat Tangkap Lobster. Balai Pengembangan Penangkapan Ikan. Semarang. 36 hlm. von Brandt A Fish Catching Methods of the World. Fishing News (Books), London. 240p. Boutson A., Mahasawasde C, Mahasawasde S, Tunkijjanukij S and Arimoto T Use of Escape Vents to Improve Size and Species Selectivity of Collapsible Pot for Blue Swimming Crab Portunus pelagicus in Thailand. Fisheries Science. The Japanese Society of Fisheries Science. Japan. Volume 75 : 25 33p.

150 118 Brouck DJ, Saunders TM, Ward TM, Linnane AJ Effectiveness of a Two- Chambered Trap in Reducing within-trap Predation by Octopus on Southern Spiny Rock Lobster. Fisheries Research. Elsevier B.V. All rights reserved. Volume 77 (3) : p. Daniel PC and Bayer RC Fish byproducts as chemo-attractant substrates for the American lobster (Homarus americanus): Concentration, quality and release characteristics. Fisheries research 7: p. [DJP] Direktorat Jenderal Perikanan Krendet Alat Tangkap Lobster. Buletin Warta Mina Tahun III Nopember No. 32. Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian. Jakarta. Hlm Engas A and Lokkeborg S Abundance Estimation Using Bottom Gillnet and Longline the Role of Fish Behaviour. Di dalam : Ferno A, Olsen S. editor. Marine Fish Behaviour in Capture and Abundance Estimation. Fishing News p. Eno CN, MacDonald DS, Kinnear JA, Awos SC, Chapman CJ, Clark RA, Bunker FPD, Munro C Effects of Crustacean Traps on Benthic Fauna. ICES Journal. Marine. Science. Volume 58 : 11 20p. [FAO] Food and Agricultural Organization Code of Conduct for Resposible Fisheries. Rome. Febrianti L Pengaruh Umpan Pikatan Kulit Hewan (Kulit Sapi dan Kulit Kambing) Terhadap Hasil Tangkapan Menggunakan Krendet dan Tingkah Laku Mencari Makan Udang Karang (Lobster) di Perairan Baron Kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 49 hal. Fielder DR The Spiny Lobster, Jasus lalandei (H Milne-Edwards) in South Australia. Australian Journal of Marine and Fresh Water Research. Volume 16 : p. Fitri ADP Respons Penglihatan dan Penciuman Ikan Kerapu Terhadap Umpan Terkait Dengan Efektivitas Penangkapan. [Disertasi] tidak dipublikasikan. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 216 hlm. Fridman AL Perhitungan Dalam Merancang Alat Penangkapan Ikan. Balai Penelitian Perikanan laut, penerjemah. Semarang. Terjemahan dari : Calculation in design fishing gears. 304 hlm. Fujaya Y Fisiologi Ikan. Dasar Pengembangan Teknologi Perikanan. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin. Makassar dengan Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. 204 hal.

151 119 Goni R., A. Quetglas, and O. Renones Size at maturity, fecundity and reproductive potential of a protected population of the spiny lobster Palinurus elephas (Fabricius, 1787) from the western Mediterranean. Marine Biology (2003) 143: p Gorman, T Pot and Trap Fishing Gear and Boats. Fishing Boat World. Vol. 8, No p. Grofit E The Fishing Technology Unit (FTU). Fisheries Technical Papers. Rome. 48p. Groneveld JC Stock Assessment, Ecology and Economics as Criteria for Choosing Between Trap and Trawl Fisheries for Spiny Lobster Palinurus delagoae. Fisheries Research. Elsevier B.V. All rights reserved. Volume 48 : p. Gunarso W Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Alat, Metoda dan Taktik Penangkapan. Diktat kuliah (Tidak Dipublikasikan). Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor. 148 hal. Hagner R W, Egenmann J G Invertebrate Zoology. New York. Macmillan. He P Fish Behaviour and its Application in Fisheries. Newfoundland and Labrador Institute of Fisheries and Marine Technology. Canada. 157p. Hendrotomo M Studi dan Analisis Hasil Tangkapan dengan Menggunakan Umpan yang berbeda pada rawai Cucut (Hiu) Permukaan di Pelabuhanratu. Skripsi (Tidak Dipublikasikan). Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor. 96 hal. Holthuis LB FAO Species Catalogue. Vol. 13. Marine Lobsters of the World. An annotated and illustrated catalogue of species of interest to fisheries known to date. FAO Fisheries Synopsis. No. 125, Vol. 13. Rome, FAO Januari Iskandar MD a. Hydrodynamic Force of Collapsible Pot in Different Current Speed and Attack Angle Observed in the Flume Tank Jurnal Mangrove dan Pesisir. Vol. VII No. 1. Padang. ISSN Iskandar MD, Suzuki Y, Shiode D, Hu F, Tokai T Catchability Difference of Gill Net and Collapsible Baited Pot For Japanese Rock Crab. Indonesian Fisheries Research Journal Agency for Marine and Fisheries Research. Vol. 12 No. 2. Jakarta. Hal ISSN

152 120 Iskandar MD b. Analisa Hasil Tangkapan Rajungan Pada Bubu Lipat Dengan Konstruksi yang Berbeda. Prosiding. Seminar Nasional Perikanan dan Kelautan. Pengembangan Iptek Perikanan dan Kelautan Berkelanjutan Dalam Mendukung Pembangunan Nasional. UNDIP. Semarang. Hal ISBN Kholifah N Pengaruh Pikatan dengan Umpan Kulit Kambing Terhadap Hasil Tangkapan Lobster Menggunakan Jaring Krendet di Perairan Baron Gunung Kidul, Yogyakarta. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 33 hlm. Kingsford MJ, Lewis JM, Shanks A, Lindeman KC, Morgan SG and Pineda J Sensory environments, larval abilities and local sef-recruitment. Bulletin of Marine Science. 70: p. Krouse JS Performance and Selectivity of Trap Fisheries for Crustaceans. In: Caddy, J.F. (Ed.), Marine Invertebrate Fisheries: Their Assessment and Manage ment. John Wiley and Sons, New York p. Kumolo D C Kaya Raya Dari Budidaya Cacing Tanah dan Cacing Sutra. Yogya. Arta Pustaka. 88 hal. Kusumah A Pengaruh Angin dan Tinggi Letak Feromon Kelamin terhadap Tangkapan Ngengat Umbi Kentang di Dalam gudang. Tesis (Tidak Dipublikasikan). Jurusan Entomologi. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. 38 hal. Lee PG and Meyers SP Chemoattraction and Feeding Stimulation in Crustaceans. Aquaculture Nutrition. 2: p. Lee PG. and Meyers SP. 1996a. Chemoattraction and feeding stimulation. In: Crustacean Nutrition (D Abramo, L., Conklin, D. & Akiyama. D. eds). World Aquaculture Society, Baton Rouge, LA. (in press). Lokkeborg S Rate of release of potential feeding attractants from natural and artificial bait. Fish.. Res., 8, Mackie AM, Grant PT, Shelton RGJ, Hepper BT and Walne PR The relative efficiencies of natural and artificial baits for the lobster, Homarus gammarus : laboratory and field trials. J. Cons. Int. Explor. Mer. 39 (2): p. Martasuganda S Bubu (Trap) : Serial Teknologi Penangkapan Ikan Berwawasan Lingkungan. Departemen Pemanfaatan sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 69 hal.

153 121 Mattjik A.A. dan I.M. Sumertajaya Perancangan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan MINITAB. Jilid 1. Edisi ke-2:juli IPB Press. 334 hal Mawardi W Bubu Sayap (Basket Trap with Wings) an Environmental Friendly of Reef Fishes Fishing Gear. Proceeding of The 3rd JSPS International Seminar on Fisheries Science in Tropical Area. Bali. Mawardi W Study on Three Different Types of Funnel on Catch Composition of Ornamental Fish Using Bubu Sayap (Basket Trap with Wings) in Belebuh Bay, Lampung. Proceeding of The JSPS International Symposium on Fisheries Science in Tropical Area. Bogor. Mead KS and Weatherby TM Morphology of stomatopod chemosensory sensilla facilitates fluid sampling. Invertebrate Biology 121(2): p. Meenakumari B and Rajan KVM Studies on Materials for Traps for Spiny Lobsters. Fisheries Research. Elsevier B.V. All rights reserved. Volume 3 : p. Miller RJ Effectiveness of Crab and Lobster Traps. Canadian Journal of Fisheries and Aquatic Science. Ottawa, Canada. Volume 47, No. 4, April p. Miller R.J and R.S. Rodger Soak times and fishing strategy for American lobster. Elsevier Science. Fisheries Research 26:p Monintja DR dan Budihardjo S Suatu Studi Komparatif Terhadap Lobster Pot Tipe Jepang dan Bubu Tradisional dalam Penangkapan Udang Barong (Panulirus spp.) di Pelabuhanratu, Jawa Barat. Buletin Perikanan. Vol 1 No. 2. Hal 1-9. Montgomery S.S Size at first maturity and at onset of breeding in female Jasus verreauxi (Decapoda: Palinuridae) from New South Wales Water, Australia. Australian Journal Marine Freshwater Research. 43, Moosa MK dan Aswandy I Udang Karang (Panulirus sp) dari Perairan Indonesia. Proyek Studi Pengembangan Alam Indonesia, Studi Hayati Potensi Ikan, Lembaga Oseanografi Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. 41 hlm. Munadi A Analisis Sekresi untuk Tujuan Pengumpulan Ikan Hiu dalam Penangkapan Ikan. Skripsi (Tidak Dipublikasikan). Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 82 hal. Nedelec C and Prado J Definition and Classification of Fishing Gear Categories. Rome:FAO. 235p.

154 122 Pardamean R Volume Pengembangan dan Palatabilitas Kerupuk Tapioka dengan Penambahan Tepung Cacing Tanah (Lumbricus rubellus). Skripsi (Tidak Dipublikasikan). Program Studi Teknologi Hasil Ternak. Jurusan Ilmu Produksi Ternak. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. 40 hlm. Phillips B.F. and S.J.Cobb The Biology and Management of Lobster. Ecology and Management Vo. II. Academic Press Inc. (London) Ltd. 385p. Phillips BF, Morgan GR, and Austin CM Synopsis of Biological Data on the Western Rock Lobster Panulirus cygnus (George, 1962). Food and Agricultural Organization of the United Nation. Rome. 64p. Prasetyani Analisa Pengaruh Fase Bulan Terhadap Pola Penyebaran dan Aktivitas Lobster (Panulirus sp) pada Bulan Juli Agustus di Perairan Selatan Kabupaten Kebumen. Skripsi (tidak dipublikasikan). Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 43 hal. Purbayanto A, Husni E, Susanto A b. Hasil Tangkapan Bubu Laut Dalam di Teluk Palabuhanratu, Jurnal Ilmiah Pertanian Gakuryokushi, Vol. XII No. 2 Juli 2006 Hal ISSN Purbayanto A, Mawardi W, Husni E, Riyanto M c. Eksplorasi Sumberdaya Ikan Laut Dalam Menggunakan Bubu di Teluk Palabuhanratu, Prosiding Seminar Nasional Perikanan Tangkap. Dept. PSP FPIK IPB, Agustus 2006 Hal ISBN Purbayanto A, Susanto A dan Husni E d. Pengaruh Penggunaan Umpan dan Konstruksi funnel Terhadap Hasil Tangkapan Bubu Laut Dalam di Teluk Palabuhanratu. Biota, 12 (2): Purbayanto A dan Subandi N Efek paparan sianida terhadap tingkat pemutihan (bleaching) terumbu karang. Warta Pesisir & Lautan, Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL-IPB), Edisi No. 2: hal Purbayanto A, Martasuganda S, Mawardi W, Mangunsukarto K dan Puspito G Bubu Plastik Sebagai Metode Altrnatif Penangkapan Ikan Hias Ramah Lingkungan. Proc. Agri-Bioche. Symp II. Tokyo. P: Rahardjo P dan Linting ML Penelitian Jenis Umpan Untuk Bubu Laut. Jurnal Penelitian Perikanan Laut (77): Raharti Seri Panduan Usaha : Tepung Cacing. LIPI Press, Jakarta.

155 123 Salthaug A Do Triggers in Crab Traps Affect the Probability of Entry? Fisheries Research. Elsevier B.V. All rights reserved. Volume 58 : p. Sabine JR The Nutritive Value of Earthworm Meal. In: Explore the World of Earthworms. Inseat Lecturer Hall, UPLB College, Laguna. Sadhori Teknologi Penangkapan Ikan. CV. Yasaguna. Jakarta. Shelton RGJ How lobsters get into creels. Scott Fisheries Bulletin. 46p. Shelton RGJ and Hall WB A comparison of the efficiency of the scottish creel and the inkwell pot in the capture of crabs and lobsters. Fisheries Research. Vol p. Sihombing DTH Satwa Harapan I : Pengantar Ilmu dan Tehnologi Budidaya. Pustaka Wirausaha Muda. Bogor. 234 hlm. Soenanto H Budidaya Cacing Tanah (Lumbricus rubellus. Penerbit CV. Aneka. Solo. Sopati E Penentuan Jenis dan Peletakkan Umpan pada Jarring Krendet dan Pengaruhnya Terhadap Hasil Tangkapan Lobster di Teluk Pelabuhanratu, Jawa barat. [Skripsi] tidak dipublikasikan. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 57 hlm. Steullet P, Dudar O, Flavus T, Zhoe M and Derby CD Selective ablation of antennulear sensila on the Caribbean spiny lobster Panulirus argus suggest that dual antennular chemosensory pathways mediate odorant activation of searching and localization of food. The Journal of Experimental Biology 204: p. Subani W dan Barus HR Alat Penangkap Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jornal Penelitian Perikanan Laut. Yakarta. Departemen Pertanian, Balai Penelitian Perikanan Laut. 248 hlm. Subani W Perikanan Udang Barong (spiny lobster) dan Prospek Masa Depannya. Prosiding Seminar ke II Perikanan Udang Maret Lembaga Penelitian Perikanan Laut. Badan Penelitian Pengembangan Perikanan, Jakarta. Hal Suman A, Rizal M dan Subani W Status Perikanan Udang Karang di Perairan Pangandaran, Jawa Barat. Jurnal Penelitian Perikanan Laut No. 81. Jakarta. Hal : 1-7. Thomas HJ A Comparison of Some Methods Used in Lobster and Crab Fishing. Scooish fisheries information pamphlets. 4 th Edition. Marine Laboratory, Aberden. Department of Agriculture and Fisheries for Scotland. 19p.

156 124 Trapido-Rosenthal HG, William ES and Gleeson RA Ectonucleotidase Activities Associated with the Olfactory Organ of the Spiny Lobster. International Society for Neurochemistry. Raven Press, Ltd., New York. Journal of Neurochemistry. 55: 88-96p. Wahyudi I., N Probosunu, Supardjo S.D., dan Soeparno Studi Efektivitas Jenis Umpan Krendet Pada Penangkapan Lobster (Panulirus spp.). Jurnal Krustasea Indonesia. September Jilid 1. No. 2: hal Walpole RE Pengantar Statistik. Sumantri B, penerjemah. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Terjemahan dari : Introduction to Statistics. 515 hlm. Williams AB Lobster Identification, World Distribution, and US Trade. Marine Fisheries Review, National Marine Fisheries Service Vol. 48 No.2. Williams AB Lobster of the World. Osprey Books, New York, USA. 186p. Zulkarnain, M.S. Baskoro, S. Martasuganda, dan D.R.Monintja Pengembangan Desain Bubu Lobster yang Efektif. Buletin PSP. Vol. XIX. No.2. Hal

157 LAMPIRAN

158 127 Lampiran 1 Data respon hasil tangkapan 3 jenis bubu lipat dengan umpan tembang TRIP 1 Set : /5 Juli 2011 Haul : /6 Juli 2011 T : 26 ; 25; 26 S: 33 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus S Ikan Panulirus homarus MPS Ikan Panulirus homarus MPS Ikan Portunus pelagicus MPA Ikan Charybdis natator Total Lobster S ikan MPS ikan 3 ekor 2 bubu 1 bubu Total 5 S Ikan 2 bubu MPS ikan 2 bubu MPA Ikan 1 bubu

159 128 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 2 Set : /6 Juli 2011 Haul : /7 Juli 2011 T : 25 ; 26 ; 26 S: 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus MPS Ikan Panulirus homarus S Ikan Charybdis natator MPS Ikan Charybdis natator Total Lobster S ikan MPS ikan 2 ekor 1 bubu 1 bubu Total 4 S Ikan 2 bubu MPS ikan 2 bubu

160 129 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 3 Set : /7 Juli 2011 Haul : /8 Juli 2011 T : 26 ; 26 ; 26 S: 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Charybdis natator MPS Ikan Charybdis natator Total Lobster 0 ekor Total 2 S Ikan 1 bubu MPS ikan 1 bubu

161 130 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 4 Set : /9 Juli 2011 Haul : /10 Juli 2011 T : 26 ; 25 ; 26 S: 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus MPS Ikan Panulirus homarus S Ikan Charybdis natator MPS Ikan Portunus pelagicus Total Lobster S ikan MPS ikan 3 ekor 2 bubu 1 bubu Total 4 S Ikan 2 bubu MPS ikan 2 bubu

162 131 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 5 Set : /10 Juli 2011 Haul : /11 Juli 2011 T : 25 ; 26 ; 26 S: 33 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus S Ikan Lobster mutiara (Panulirus ornatus) S Ikan Epinephelus manuculatus MPS Ikan Portunus pelagicus Total Lobster S ikan 2 ekor 2 bubu Total 4 S Ikan 3 bubu MPS ikan 1 bubu

163 132 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 6 Set : /11 Juli 2011 Haul : /12 Juli 2011 T : 26 ; 26 ; 26 S: 33 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 MPS Ikan Panulirus homarus S Ikan Portunus sanguinolentus MPS Ikan Charybdis natator Total Lobster MPS ikan 1 ekor 1 bubu Total 3 S Ikan 1 bubu MPS ikan 2 bubu

164 133 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 7 Set : /12 Juli 2011 Haul : /13 Juli 2011 T : 26 ; 27 ; 26 S: 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Charybdis natator MPS Ikan Charybdis natator MPA Ikan Carybdis feriatus Total Lobster 0 ekor Total 3 S Ikan 1 bubu MPS ikan 1 bubu MPA Ikan 1 bubu

165 134 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 8 Set : /13 Juli 2011 Haul : /14 Juli 2011 T : 26 ; 26 ; 25 S: 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan MPA Ikan Total Lobster 0 ekor Total 2 S Ikan 1 bubu MPA Ikan 1 bubu

166 135 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 9 Set : /15 Juli 2011 Haul : /16 Juli 2011 T : 22 ; 22 ; 22 S: 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus 1 85 Portunus pelagicus MPS Ikan Panulirus homarus MPA Ikan Portunus pelagicus MPS Ikan Charybdis natator Total Lobster S ikan MPS ikan 2 ekor 1 bubu 1 bubu Total 4 S Ikan 1 bubu MPS ikan 2 bubu MPA ikan 1 bubu

167 136 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 10 Set : /16 Juli 2011 Haul : /17 Juli 2011 T : 25 ; 26 ; 26 S: 33 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus MPA Ikan Panulirus homarus 1 60 Charybdis natator MPS Ikan Portunus sanguinolentus Total Lobster S ikan MPS ikan 3 ekor 1 bubu 1 bubu Total 3 S Ikan 1 bubu S ikan 1 bubu MPS ikan 1 bubu

168 137 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 11 Set : /18 Juli 2011 Haul : /19 Juli 2011 T : 25 ; 26 ; 26 S: 33 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus MPS Ikan Panulirus homarus S Ikan Epinephelus maculatus Total Lobster S ikan MPS ikan 3 ekor 1 bubu 1 bubu Total 3 S Ikan 2 bubu MPS ikan 1 bubu

169 138 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 12 Set : /20 Juli 2011 Haul : /21 Juli 2011 T : 24 ; 23 ; 23 S: 34 ; 34 ; 34 Lobster By-cath Total No Jenis Bubu Umpan Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Charybdis natator Total Lobster 0 ekor Total 1 S Ikan 1 bubu

170 139 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 13 Set : /21 Juli 2011 Haul : /22 Juli 2011 T : 26 ; 25 ; 26 S: 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Charybdis natator MPS Ikan Charybdis natator Total Lobster 0 ekor Total 2 S Ikan 1 bubu MPS ikan 1 bubu

171 140 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 14 Set : /22 Juli 2011 Haul : /23 Juli 2011 T : 26 ; 25 ; 26 S: 33 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus Portunus sanguinolentus MPS Ikan Lobster hijau (Panulirus versicolor) S Ikan Portunus sanguinolentus MPS Ikan Charybdis natator Total Lobster S ikan MPS ikan 3 ekor 2 bubu 1 bubu Total 4 S Ikan 2 bubu MPS ikan 2 bubu

172 141 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 15 Set : /23 Juli 2011 Haul : /24 Juli 2011 T : 27 ; 26; 27 S: 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 MPS Ikan Panulirus homarus MPA Ikan Panulirus homarus MPS Ikan Charybdis natator S Ikan Portunus sanguinolentus Total Lobster MPS ikan MPA ikan 2 ekor 1 bubu 1 bubu Total 4 MPS ikan 2 bubu MPA ikan 1 bubu S Ikan 1 bubu

173 142 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 16 Set : /24 Juli 2011 Haul : /25 Juli 2011 T : 25 ; 26 ; 26 S: 33 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus 1 50 Charybdis natator MPS Ikan Lobster hijau (Panulirus versicolor) S Ikan Total Lobster S ikan MPS ikan 2 ekor 1 bubu 1 bubu Total 3 S Ikan 2 bubu MPS ikan 1 bubu

174 143 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 17 Set : /25 Juli 2011 Haul : /26 Juli 2011 T : 23 ; 23 ; 23 S: 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 MPS Ikan Sepia sp MPA Ikan Sepia sp S Ikan Portunus sanguinolentus Total Lobster 0 ekor Total 3 S Ikan 1 bubu MPS ikan 1 bubu MPA ikan 1 bubu

175 144 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 18 Set : /27 Juli 2011 Haul : /28 Juli 2011 T : 25 ; 26 ; 26 S: 33 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus MPS Ikan Panulirus homarus S Ikan Sepia sp S Ikan Charybdis natator Total Lobster S ikan MPS ikan 2 ekor 1 bubu 1 bubu Total 4 S Ikan 3 bubu MPS ikan 1 bubu

176 145 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 19 Set : /28 Juli 2011 Haul : /29 Juli 2011 T : 23 ; 23 ; 23 S: 34 ; 34 ; 33 Lobster By-cath Total No Jenis Bubu Umpan Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram Total Lobster 0 ekor Total 0

177 146 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 20 Set : /29 Juli 2011 Haul : /30 juli 2011 T : 23 ; 24 ; 25 S: 35 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus MPS Ikan Epinephelus maculatus MPS Ikan Charybdis natator Total Lobster S ikan 2 ekor 1 bubu Total 3 S Ikan 1 bubu MPS ikan 2 bubu

178 147 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 21 Set : /30 Juli 2011 Haul : /31 Juli 2011 T : 26 ; 27 ; 26 S: 34 ; 34 ; 35 Lobster By-cath Total No Jenis Bubu Umpan Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Sepia sp Total Lobster 0 Total 1 S Ikan 1 bubu

179 148 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 22 Set : /31 Juli 2011 Haul : /1 Agustus 2011 T : 27 ; 26 ; 26 S: 34 ; 34 ; 35 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus S Ikan Cantthigaster sp S Ikan Carybdis feriatus Total Lobster S ikan 1 ekor 1 bubu Total 3 S Ikan 3 bubu

180 149 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 23 Set : /1 Agustus 2011 Haul : /2 Agustus 2011 T : 26 ; 25 ; 26 S: 34 ; 33 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 0 0 Total Lobster 0 ekor Total 0

181 150 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 24 Set : /2 Agustus 2011 Haul : /3 Agustus 2011 T : 26 ; 26 ; 27 S: 34 ; 34 ; 35 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus S Ikan Sepia sp MPA Ikan Portunus pelagicus Total Lobster S ikan 1 ekor 1 bubu Total 3 S Ikan 2 bubu MPA Ikan 1 bubu

182 151 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 25 Set : /3 Agustus 2011 Haul : /4 Agustus 2011 T : 26 ; 25 ; 26 S: 34 ; 33 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 0 0 Total Lobster 0 ekor Total 0

183 152 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 26 Set : /4 Agustus 2011 Haul : /5 Agustus 2011 T : 26 ; 26 ; 26 S: 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus S Ikan Portunus pelagicus S Ikan Carybdis feriatus Sepia sp MPA Ikan Charybdis natator Total Lobster S ikan 2 ekor 1 bubu Total 4 S Ikan 3 bubu MPA Ikan 1 bubu

184 153 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 27 Set : /6 Agustus 2011 Haul : /7 Agustus 2011 T : 26 ; 26 ; 26 S: 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 MPS Ikan Panulirus homarus S Ikan Carybdis feriatus MPS Ikan Charybdis natator MPA Ikan Portunus pelagicus Total Lobster MPS ikan 1 ekor 1 bubu Total 4 S Ikan 1 bubu MPS ikan 2 bubu MPA Ikan 1 bubu

185 154 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 28 Set : /7 Agustus 2011 Haul : /8 Agustus 2011 T : 26 ; 26 ; 26 S: 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Portunus sanguinolentus S Ikan Carybdis feriatus MPS Ikan Total Lobster 0 ekor Total 3 S Ikan 2 bubu MPS ikan 1 bubu

186 155 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 29 Set : /8 Agustus 2011 Haul : /9 Agustus 2011 T : 26 ; 26 ; 26 S: 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus 1 65 Charybdis natator MPA Ikan Panulirus homarus S Ikan Carybdis feriatus S Ikan Portunus pelagicus Total Lobster S ikan MPA ikan 2 ekor 1 bubu 1 bubu Total 4 S Ikan 3 bubu MPA Ikan 1 bubu

187 156 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 30 Set : /9 Agustus 2011 Haul : /10 Agustus 2011 T : 26 ; 26 ; 26 S: 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus Sepia sp S Ikan Carybdis natator MPS Ikan Total Lobster S ikan 1 ekor 1 bubu Total 3 S Ikan 2 bubu MPS ikan 1 bubu

188 157 Lampiran 1 (Lanjutan) TRIP 31 Set : /10 Agustus 2011 Haul : /11 Agustus 2011 T : 26 ; 26 ; 26 S: 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 MPS Ikan Panulirus homarus 1 60 Portunus pelagicus S Ikan Sepia sp S Ikan Portunus sanguinolentus Total Lobster MPS ikan 1 ekor 1 bubu Total 3 S Ikan 2 bubu MPS ikan 1 bubu

189 158 Lampiran 2 Data respon hasil tangkapan 2 jenis bubu lipat dengan umpan cacing tanah dan umpan tembang TRIP 1 Set : /15 Agustus 2011 Haul : /16 Agustus 2011 T : 26 ; 26 ; 26 S: 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Cacing Panulirus homarus Portunus pelagicus S Cacing Panulirus homarus 1 60 Portunus pelagicus S Cacing Portunus sanguninolentus Portunus sanguninolentus S Ikan Portunus sanguninolentus MPS Ikan Total Lobster S Cacing 3 ekor 2 bubu Total 5 S Cacing 3 bubu S Ikan 1 bubu MPS Ikan 1 bubu

190 159 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 2 Set : /16 Agustus 2011 Haul : /17 Agustus 2011 T : 26 ; 26,5 ; 26 S : 36 ; 37 ; 36,5 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus S Cacing Charybdis natator S Ikan Charybdis feriatus Charybdis natator MPS Ikan Charybdis natator MPS Ikan Charibdis feriatus Total Lobster S ikan 1 ekor 1 bubu Total 5 S Ikan 2 bubu S Cacing 1 bubu MPS Ikan 2 bubu

191 160 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 3 Set: /17 Agustus 2011 Haul: /18 Agustus 2011 T : 26 ; 25 ; 25,5 S : 35 ; 34 ; 34,5 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus Portunus pelagicus S Ikan Charybdis feriatus S Ikan Charybdis feriatus S Cacing Epinephelus coioides Charybdis natator MPS Ikan Charybdis natator MPS Ikan Sepia sp Total Lobster S Ikan 2 lobster 1 bubu Total 6 S Ikan 3 bubu S Cacing 1 bubu MPS Ikan 2 bubu

192 161 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 4 Set : /19 Agustus 2011 Haul : /20 Agustus 2011 T : 25 ; 23 ; 24 S : 35 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Ikan Panulirus homarus S Cacing Portunus sanguinolentus S Ikan Portunus sanguinolentus S Ikan Charybdis feriatus Total Lobster S Ikan 1 ekor 1 bubu Total 4 S Ikan 3 bubu S Cacing 1 bubu

193 162 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 5 Set : /22 Agustus 2011 Haul : /23 Agustus 2011 T : 23 ; 24 ; 23 S : 34 ; 34 ; 34,5 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Cacing Panulirus homarus S Cacing Charybdis feriatus S Ikan Charybdis feriatus Total Lobster S Cacing 1 ekor 1 bubu Total 3 S Cacing 2 bubu S Ikan 1 bubu

194 163 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 6 Set : /23 Agustus 2011 Haul : /24 Agustus 2011 T : 22 ; 22 ; 23 S : 34 ; 34 ; 35 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 MPS Cacing Panulirus homarus MPS Ikan Ikan Singreng S Cacing Charybdis feriatus Total Lobster MPS Cacing 1 ekor 1 bubu Total 3 MPS Cacing 1 bubu MPS Ikan 1 bubu S Cacing 1 bubu

195 164 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 7 Set : /25 Agustus 2011 Haul : /26 Agustus 2011 T : 23 ; 23 ;23 S : 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 MPS Cacing Panulirus homarus MPS Ikan Portunus sanguinolentus S Ikan Charybdis natator Total Lobster MPS Cacing 1 ekor 1 bubu Total 3 MPS Cacing 1 bubu MPS Ikan 1 bubu S Ikan 1 bubu

196 165 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 8 Set : /5 September 2011 Haul : /06 September 2011 T : 27 ; 27 ; 27 S : 35 ; 34 ; 35 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Cacing Panulirus homarus MPS Cacing Panulirus homarus S Ikan Charybdis feriatus Charybdis natator MPS Ikan Charybdis natator MPS Cacing Charybdis natator Total Lobster S Cacing MPS Cacing 2 ekor 1 bubu 1 bubu Total 5 S Cacing 1 bubu S Ikan 1 bubu MPS Cacing 2 bubu MPS Ikan 1 bubu

197 166 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 9 Set : /6 September 2011 Haul : /07 September 2011 T : 23 ; 23 ; 23 S : 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Cacing Panulirus homarus S Ikan Charybdis feriatus MPS Ikan Panulirus versicolor Total Lobster 2 ekor S Cacing 1 bubu MPS Ikan 1 bubu Total 3 S Cacing 1 bubu S Ikan 1 bubu MPS Ikan 1 bubu

198 167 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 10 Set : /10 September 2011 Haul : /11 September 2011 T : 22 ; 22 ; 22 S : 33 ; 33 ; 33 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Cacing Panulirus homarus S Cacing Charybdis feriatus S Cacing Charybdis feriatus Sepia sp MPS Ikan Charybdis feriatus MPS Cacing Charybdis natator Total Lobster S Cacing 1 ekor 1 bubu Total 5 S Cacing 3 bubu MPS Ikan 1 bubu MPS Cacing 1 bubu

199 168 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 11 Set : /12 September 2011 Haul : /13 September 2011 T : 23 ; 24 ; 24 S : 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Cacing Panulirus homarus S Cacing Sepia sp Total Lobster S Cacing 1 ekor 1 bubu Total 2 S Cacing 2 bubu

200 169 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 12 Set : /14 September 2011 Haul : /15 September 2011 T : 23 ; 23 ; 23 S : 34 ; 34,5 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Cacing Panulirus homarus S Ikan Portunus pelagicus S Ikan Sepia sp Total Lobster S Cacing 2 ekor 1 bubu Total 3 S Cacing 1 bubu S Ikan 2 bubu

201 170 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 13 Set : /17 September 2011 Haul : /18 September 2011 T : 24 ; 23 ; 23 S : 33 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Cacing Panulirus homarus S Cacing Sepia sp MPS Ikan Epinephelus coioides Total Lobster S 1 ekor Cacing Total 3 S Cacing 2 bubu MPS Ikan 1 bubu

202 171 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 14 Set : /18 September 2011 Haul : /19 September 2011 T : 24 ; 23 ; 23 S : 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Cacing Panulirus homarus 1 90 Sepia sp S Ikan Sepia sp Total Lobster S Cacing 1 ekor 1 bubu Total 3 S Cacing 1 bubu S Ikan 1 bubu

203 172 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 15 Set : /23 September 2011 Haul : /24 September 2011 T : 23 ; 23 ; 23 S : 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 MPS Cacing Panulirus homarus Total Lobster MPS Cacing 1 ekor 1 bubu Total 1 MPS Cacing 1 bubu

204 173 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 16 Set : /24 September 2011 Haul : /25 Septembner 2011 T : 23 ; 23 ; 23 S : 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 MPS Ikan Panulirus homarus S Ikan Panulirus homarus MPS Ikan Sepia sp MPS Cacing Sepia sp Total Lobster 2 ekor MPS Ikan 1 bubu S Ikan 1 bubu Total 4 MPS Ikan 2 bubu MPS Cacing 1 bubu S Ikan 1 bubu

205 174 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 17 Set : /25 September 2011 Haul : /26 September 2011 T : 23 ; 22 ; 22 S : 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 MPS Ikan Panulirus homarus S Cacing Sepia sp S Ikan Squilla mantis Total Lobster MPS Ikan 1 ekor 1 bubu Total 3 MPS Ikan 1 bubu S Ikan 1 bubu S Cacing 1 bubu

206 175 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 18 Set : /26 September 2011 Haul : /27 September 2011 T : 23 ; 23 ; 22 S : 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 MPS Cacing Panulirus homarus Total Lobster MPS Cacing 1 ekor 1 bubu Total 1 MPS Cacing 1 bubu

207 176 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 19 Set : /27 September 2011 Haul : /28 September 2011 T : 22 ; 22 ; 22 S : 35 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S ikan Panulirus ornatus Total Lobster S Ikan 1 ekor 1 bubu Total 1 S Ikan 1 bubu

208 177 Lampiran 2 (Lanjutan) TRIP 20 Set : /28 September Haul : /29 September 2011 T : 22 ; 22 ; 22 S : 34 ; 34 ; 34 No Jenis Bubu Umpan Lobster By-cath Total Jenis ekor gram Jenis ekor gram ekor gram 1 S Cacing Panulirus homarus MPS Cacing Panulirus homarus 1 40,5 1 40,5 MPS Cacing Sepia sp S Ikan Sepia sp S Ikan Epinephelus coioides Total 4 160, ,5 Lobster 4 ekor S cacing 1 bubu MPS Cacing 1 bubu Total 5 S cacing 1 bubu MPS Cacing 2 bubu S Ikan 2 bubu

209 178 Lampiran 3. Respon data hasil tangkapan lobster jenis bubu lipat dengan umpan tembang Hasil Tangkapan Lobster (ekor) berdasarkan Trip Jenis Bubu Lipat No. Standar Modifikasi Pintu Samping Modifikasi Pintu Atas (S) (MPS) (MPA) total rataan SD SE

210 179 Lampiran 4. Data syntax 3 jenis bubu lipat dengan umpan tembang DATA bubu; INPUT umpan$ bubu$ ulangan lobsterekor; CARDS; umpan bubu ulangan lobsterekor ikan s 1 2 ikan s 2 2 ikan s 3 0 ikan s 4 2 ikan s 5 2 ikan s 6 0 ikan s 7 0 ikan s 8 0 ikan s 9 1 ikan s 10 2 ikan s 11 1 ikan s 12 0 ikan s 13 0 ikan s 14 2 ikan s 15 0 ikan s 16 1 ikan s 17 0 ikan s 18 1 ikan s 19 0 ikan s 20 2 ikan s 21 0 ikan s 22 1 ikan s 23 0 ikan s 24 1 ikan s 25 0 ikan s 26 2 ikan s 27 0 ikan s 28 0 ikan s 29 1 ikan s 30 2 ikan s 31 0 ikan mps 1 1 ikan mps 2 1 ikan mps 3 0 ikan mps 4 1 ikan mps 5 0 ikan mps 6 1

211 180 umpan bubu ulangan lobsterekor ikan mps 7 0 ikan mps 8 0 ikan mps 9 1 ikan mps 10 0 ikan mps 11 2 ikan mps 12 0 ikan mps 13 0 ikan mps 14 1 ikan mps 15 1 ikan mps 16 1 ikan mps 17 0 ikan mps 18 1 ikan mps 19 0 ikan mps 20 0 ikan mps 21 0 ikan mps 22 0 ikan mps 23 0 ikan mps 24 0 ikan mps 25 0 ikan mps 26 0 ikan mps 27 2 ikan mps 28 0 ikan mps 29 0 ikan mps 30 0 ikan mps 31 1 ikan mpa 1 0 ikan mpa 2 0 ikan mpa 3 0 ikan mpa 4 0 ikan mpa 5 0 ikan mpa 6 0 ikan mpa 7 0 ikan mpa 8 0 ikan mpa 9 0 ikan mpa 10 1 ikan mpa 11 0 ikan mpa 12 0 ikan mpa 13 0 ikan mpa 14 0 ikan mpa 15 1 ikan mpa 16 0 ikan mpa 17 0

212 181 umpan bubu ulangan lobsterekor ikan mpa 18 0 ikan mpa 19 0 ikan mpa 20 0 ikan mpa 21 0 ikan mpa 22 0 ikan mpa 23 0 ikan mpa 24 0 ikan mpa 25 0 ikan mpa 26 0 ikan mpa 27 0 ikan mpa 28 0 ikan mpa 29 1 ikan mpa 30 0 ikan mpa 31 0 ; TITLE ' HASIL ANALISIS RAGAM RAL lobsterekor '; proc glm data=bubu; class umpan bubu; model lobsterekor=umpan bubu umpan*bubu; means umpan bubu umpan*bubu/duncan; run; mps : bubu lipat modifikasi pintu samping mpa : bubu lipat modifikasi pintu atas s : bubu lipat standar

213 182 Lampiran 5. Analisis ANOVA dengan aplikasi SAS untuk 3 jenis bubu lipat dengan umpan tembang Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F Model * Error Corrected Total F table = 3,097 Source DF Type I SS Mean Square F Value Pr > F umpan bubu * umpan*bubu Pr>F : < 0,05 atau < taraf nyata 5% : berbeda nyata Level of bubu N Mean lobsterekor Std Dev mpa mps s

214 183 Lampiran 6. Respon data hasil tangkapan lobster jenis bubu lipat modifikasi pintu samping (MPS) dan standar (S) dengan jenis umpan cacing tanah dan tembang (standar) umpan bubu ulangan lobsterekor Cacing ps 1 0 Cacing ps 2 0 Cacing ps 3 0 Cacing ps 4 0 Cacing ps 5 0 Cacing ps 6 1 Cacing ps 7 1 Cacing ps 8 1 Cacing ps 9 0 Cacing ps 10 0 Cacing ps 11 0 Cacing ps 12 0 Cacing ps 13 0 Cacing ps 14 0 Cacing ps 15 1 Cacing ps 16 0 Cacing ps 17 0 Cacing ps 18 1 Cacing ps 19 0 Cacing ps 20 1 Cacing s 1 3 Cacing s 2 0 Cacing s 3 0 Cacing s 4 0 Cacing s 5 1 Cacing s 6 0 Cacing s 7 0 Cacing s 8 1 Cacing s 9 1 Cacing s 10 1 Cacing s 11 2 Cacing s 12 2 Cacing s 13 1 Cacing s 14 1 Cacing s 15 0 Cacing s 16 0 Cacing s 17 0 Cacing s 18 0

215 184 umpan bubu ulangan lobsterekor Cacing s 19 0 Cacing s 20 3 ikan ps 1 0 ikan ps 2 0 ikan ps 3 0 ikan ps 4 0 ikan ps 5 0 ikan ps 6 0 ikan ps 7 0 ikan ps 8 0 ikan ps 9 1 ikan ps 10 0 ikan ps 11 0 ikan ps 12 0 ikan ps 13 0 ikan ps 14 0 ikan ps 15 0 ikan ps 16 1 ikan ps 17 1 ikan ps 18 0 ikan ps 19 0 ikan ps 20 0 ikan s 1 0 ikan s 2 1 ikan s 3 2 ikan s 4 1 ikan s 5 0 ikan s 6 0 ikan s 7 0 ikan s 8 0 ikan s 9 0 ikan s 10 0 ikan s 11 0 ikan s 12 0 ikan s 13 0 ikan s 14 0 ikan s 15 0 ikan s 16 1 ikan s 17 0 ikan s 18 0 ikan s 19 1 ikan s 20 0

216 185 Lampiran 7. Data syntax 2 jenis bubu lipat dengan umpan cacing tanah dan umpan tembang DATA bubu; INPUT umpan$ bubu$ ulangan lobsterekor; CARDS; Umpan Bubu Ulangan Trans-data Cacing mps Cacing mps Cacing mps Cacing mps Cacing mps Cacing mps Cacing mps Cacing mps Cacing mps Cacing mps Cacing mps Cacing mps Cacing mps Cacing mps Cacing mps Cacing mps Cacing mps Cacing mps Cacing mps Cacing mps Cacing s Cacing s Cacing s Cacing s Cacing s Cacing s Cacing s Cacing s Cacing s Cacing s Cacing s Cacing s Cacing s Cacing s Cacing s Cacing s Cacing s Cacing s Cacing s Cacing s ikan mps ikan mps

217 186 Umpan Bubu Ulangan Trans-data ikan mps ikan mps ikan mps ikan mps ikan mps ikan mps ikan mps ikan mps ikan mps ikan mps ikan mps ikan mps ikan mps ikan mps ikan mps ikan mps ikan mps ikan mps ikan s ikan s ikan s ikan s ikan s ikan s ikan s ikan s ikan s ikan s ikan s ikan s ikan s ikan s ikan s ikan s ikan s ikan s ikan s ikan s ; TITLE ' HASIL ANALISIS RAGAM RAL lobsterekor '; proc glm data=bubu; class umpan bubu; model lobsterekor=umpan bubu umpan*bubu; means umpan bubu umpan*bubu/duncan; run; mps: bubu lipat modifikasi pintu samping s : bubu lipat standar

218 187 Lampiran 8. Hasil analisis ANOVA dengan aplikasi SAS untuk 2 jenis bubu lipat dengan umpan cacing tanah dan umpan tembang Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F Model * Error Corrected Total Source DF Type I SS Mean Square F Value Pr > F umpan * bubu * umpan*bubu Means with the same letter are not significantly different. Duncan Grouping Mean N umpan A Cacing B ikan Means with the same letter are not significantly different. Duncan Grouping Mean N bubu A s B ps

219 188 Lampiran 9. Respon data hasil tangkapan lobster berdasarkan jenis bubu lipat modifikasi pintu samping (MPS) dan standar (S) Hasil Tangkapan Lobster (ekor) berdasarkan Trip Jenis Bubu Lipat No. Modifikasi Pintu Samping Standar (MPS) (S) total 9 22 rataan SD SE

220 189 Lampiran 10 Respon data hasil tangkapan lobster berdasarkan jenis umpan cacing tanah dan tembang (standar) Hasil Tangkapan Lobster (ekor) berdasarkan Trip jenis umpan No. Cacing tanah Tembang total 22 9 rata SD SE

221 190 Lampiran 11 Kondisi umpan sebelum dan sesudah perendaman

222 Lampiran 11 (Lanjutan) 191

223 192 Lampiran 12 Hasil tangkapan bubu lipat penelitian Nama lokal : Udang Barong Nama Indonesia : Lobster Hijau Pasir Nama Inggris : Scalloped Spiny Lobster Nama Latin : Panulirus homarus Nama lokal : Udang Barong Nama Indonesia : Lobster Hijau Bambu Nama Inggris : Painted Rock Lobster Nama Latin : Panulirus versicolor Nama lokal : Udang Barong Nama Indonesia : Lobster Mutiara Nama Inggris : Ornate Rock Lobster Nama Latin : Panulirus ornatus Nama lokal : Rajungan Nama Indonesia : Rajungann Nama Inggris : Blue swimming Crab Nama Latin : Portunus pelagicus

224 193 Lampiran 12 (Lanjutan) Nama lokal : Rajungan macan Nama Indonesia : Rajungan Nama Inggris : Crucifix swimming crab Nama Latin : Charybdis feriatus Namaa lokal : Rajungan batu Namaa Indonesia : Rajungan Namaa Inggris : Ridged swimming crab Namaa Latin : Charybdis natator Namaa Indonesia : Rajungan Namaa Inggris : Blood-spotted swimming crab Namaa Latin : Portunus sanguinolentus Namaa lokal : Kerapu Balong Namaa Indonesia : Kerapu tutul Namaa Inggris : Orange-spotted grouper Namaa Latin : Epinephelus maculatus

225 194 Lampiran 12 (Lanjutan) Nama lokal : Ikan Singreng Nama Inggris : Sharpnosed Puffer Nama Latin : Canthigaster sp. Nama lokal : Cumi Batok Nama Indonesia : Sotong Nama Inggris : Cuttlefish Nama Latin : Sepia sp Nama lokal : Udang Mantis Nama Indonesia : Udang Mantis Nama Inggris : Mantis Shrimp Nama Latin : Squilla mantis

5 PEMBAHASAN 5.1 Bubu Lipat

5 PEMBAHASAN 5.1 Bubu Lipat 5 PEMBAHASAN 5.1 Bubu Lipat Bubu lipat modifikasi pintu samping dan bubu lipat pintu atas dengan penambahan pintu jebakan bentuk kisi-kisi merupakan desain dan konstruksi yang pertama kali dibuat. Cacing

Lebih terperinci

4 HASIL PENELITIAN. 4.1 Desain dan Konstruksi Bubu Lobster

4 HASIL PENELITIAN. 4.1 Desain dan Konstruksi Bubu Lobster 4 HASIL PENELITIAN 4.1 Desain dan Konstruksi Bubu Lobster Bentuk konstruksi mulut bubu pada bubu dengan pintu samping kebanyakan adalah bentuk bulat dan ditempatkan pada posisi di tengah, sehingga lobster

Lebih terperinci

BULETIN PSP ISSN: X Volume XIX No. 3 Edisi Desember 2011 Hal

BULETIN PSP ISSN: X Volume XIX No. 3 Edisi Desember 2011 Hal BULETIN PSP ISSN: 5-86X Volume XIX No. 3 Edisi Desember Hal 39-5 EFEKTIVITAS BUBU LIPAT MODIFIKASI DAN PENGGUNAAN UMPAN CACING TANAH (Lumbricus rubellus) PADA PENANGKAPAN SPINY LOBSTER(Panulirus spp.)

Lebih terperinci

KOREKSI KONSTRUKSI PERANGKAP JODANG PENANGKAP KEONG MACAN DI PALABUHANRATU, SUKABUMI, JAWA BARAT AYU ADHITA DAMAYANTI

KOREKSI KONSTRUKSI PERANGKAP JODANG PENANGKAP KEONG MACAN DI PALABUHANRATU, SUKABUMI, JAWA BARAT AYU ADHITA DAMAYANTI KOREKSI KONSTRUKSI PERANGKAP JODANG PENANGKAP KEONG MACAN DI PALABUHANRATU, SUKABUMI, JAWA BARAT AYU ADHITA DAMAYANTI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS

Lebih terperinci

PERBANDINGAN HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN DENGAN MENGGUNAKAN DUA KONSTRUKSI BUBU LIPAT YANG BERBEDA DI KABUPATEN TANGERANG

PERBANDINGAN HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN DENGAN MENGGUNAKAN DUA KONSTRUKSI BUBU LIPAT YANG BERBEDA DI KABUPATEN TANGERANG PERBANDINGAN HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN DENGAN MENGGUNAKAN DUA KONSTRUKSI BUBU LIPAT YANG BERBEDA DI KABUPATEN TANGERANG Oleh: DONNA NP BUTARBUTAR C05400027 PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN

Lebih terperinci

Perbandingan Hasil Tangkapan Rajungan Pada Alat Tangkap Bubu Kerucut dengan Umpan yang Berbeda

Perbandingan Hasil Tangkapan Rajungan Pada Alat Tangkap Bubu Kerucut dengan Umpan yang Berbeda Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Tangkap (4): 14-18, Desember 16 ISSN 337-436 Perbandingan Hasil Tangkapan Rajungan Pada Alat Tangkap Bubu Kerucut dengan Umpan yang Berbeda The Comparison Catch of Swimming

Lebih terperinci

3 METODOLOGI. Sumber: Google maps (2011) Gambar 9. Lokasi penelitian

3 METODOLOGI. Sumber: Google maps (2011) Gambar 9. Lokasi penelitian 3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan dengan pengumpulan data di lapangan sejak tanggal 16 Agustus 2011 hingga 31 September 2011 di Desa Kertajaya, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi,

Lebih terperinci

PENGARUH POSISI UMPAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN BUBU LIPAT (Effect of bait position on catch of collapsible pot)

PENGARUH POSISI UMPAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN BUBU LIPAT (Effect of bait position on catch of collapsible pot) BULETIN PSP ISSN: 0251-286X Volume 21 No. 1 Edisi April 2013 Hal 1-9 PENGARUH POSISI UMPAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN BUBU LIPAT (Effect of bait position on catch of collapsible pot) Oleh: Dahri Iskandar

Lebih terperinci

KELIMPAHAN UDANG KARANG BERDURI (Panulirus spp) DI PERAIRAN PANTAI WATUKARUNG PACITAN SKRIPSI

KELIMPAHAN UDANG KARANG BERDURI (Panulirus spp) DI PERAIRAN PANTAI WATUKARUNG PACITAN SKRIPSI KELIMPAHAN UDANG KARANG BERDURI (Panulirus spp) DI PERAIRAN PANTAI WATUKARUNG PACITAN SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Sains Oleh: Laksito Nugroho M 0401037 JURUSAN

Lebih terperinci

PERBANDINGAN HASIL TANGKAPAN BUBU LIPAT KOTAK DENGAN BUBU LIPAT KUBAH TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN

PERBANDINGAN HASIL TANGKAPAN BUBU LIPAT KOTAK DENGAN BUBU LIPAT KUBAH TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN PERBANDINGAN HASIL TANGKAPAN BUBU LIPAT KOTAK DENGAN BUBU LIPAT KUBAH TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN REMBANG, JAWA TENGAH The Comparison Between Trap Catcher Folding

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN DESAIN BUBU LOBSTER YANG EFEKTIF. Oleh: Zulkarnain 1*, Mulyono S. Baskoro 1, Sulaeman Martasuganda 1, dan Daniel Monintja 1

PENGEMBANGAN DESAIN BUBU LOBSTER YANG EFEKTIF. Oleh: Zulkarnain 1*, Mulyono S. Baskoro 1, Sulaeman Martasuganda 1, dan Daniel Monintja 1 BULETIN PSP ISSN: 0251-286X Volume XIX No. 2 Edisi Juli 2011 Hal 45-57 PENGEMBANGAN DESAIN BUBU LOBSTER YANG EFEKTIF Oleh: Zulkarnain 1*, Mulyono S. Baskoro 1, Sulaeman Martasuganda 1, dan Daniel Monintja

Lebih terperinci

STUDI PENDAHULUAN LETAK MULUT BUBU DAN TINGKAH LAKU UDANG KARANG HIJAU PASIR SITI NURAFIAH ANWAR SKRIPSI

STUDI PENDAHULUAN LETAK MULUT BUBU DAN TINGKAH LAKU UDANG KARANG HIJAU PASIR SITI NURAFIAH ANWAR SKRIPSI STUDI PENDAHULUAN LETAK MULUT BUBU DAN TINGKAH LAKU UDANG KARANG HIJAU PASIR (PUllu!irus homurus) Oleh: SITI NURAFIAH ANWAR C05497039 SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada

Lebih terperinci

Jl. Raya Jakarta Serang Km. 04 Pakupatan, Serang, Banten * ) Korespondensi: ABSTRAK

Jl. Raya Jakarta Serang Km. 04 Pakupatan, Serang, Banten * ) Korespondensi: ABSTRAK Jurnal Perikanan dan Kelautan p ISSN 289 3469 Volume 6 Nomor 2. Desember 216 e ISSN 254 9484 Halaman : 95 13 Efektifitas Celah Pelolosan Pada Bubu Lipat Terhadap Hasil Tangkapan Rajungan di Teluk Banten

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Bubu ( Traps

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Bubu ( Traps 4 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Bubu (Traps) Bubu merupakan alat penangkapan ikan yang pasif (pasif gear). Alat tangkap ini memanfaatkan tingkah laku ikan yang mencari tempat persembunyian maupun

Lebih terperinci

PENGARUH BENTUK DAN LETAK CELAH PELOLOSAN (Escape Gap) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR TERHADAP KELESTARIANSUMBERDAYA IKAN

PENGARUH BENTUK DAN LETAK CELAH PELOLOSAN (Escape Gap) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR TERHADAP KELESTARIANSUMBERDAYA IKAN PENGARUH BENTUK DAN LETAK CELAH PELOLOSAN (Escape Gap) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR TERHADAP KELESTARIANSUMBERDAYA IKAN Hadiah Witarani Puspa 1), T. Ersti Yulika Sari 2), Irwandy Syofyan 2) Email : [email protected]

Lebih terperinci

Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 1. No. 1, Desember 2010: 24-31

Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 1. No. 1, Desember 2010: 24-31 Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 1. No. 1, Desember 2010: 24-31 PENGARUH PERBEDAAN JENIS UMPAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (PORTUNUS PELAGICUS) DENGAN BUBU LIPAT DI PERAIRAN BUNGKO, KABUPATEN CIREBON.

Lebih terperinci

EFEKTIVITAS CELAH PELOLOSAN (ESCAPE GAP) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR UNTUK MENUNJANG KELESTARIAN SUMBERDAYA IKAN

EFEKTIVITAS CELAH PELOLOSAN (ESCAPE GAP) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR UNTUK MENUNJANG KELESTARIAN SUMBERDAYA IKAN EFEKTIVITAS CELAH PELOLOSAN (ESCAPE GAP) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR UNTUK MENUNJANG KELESTARIAN SUMBERDAYA IKAN Silka Tria Rezeki 1), Irwandy Syofyan 2), Isnaniah 2) Email : [email protected] 1) Mahasiswa

Lebih terperinci

STATUS PERIKANAN LOBSTER (Panulirus spp.) DI PERAIRAN KABUPATEN CILACAP

STATUS PERIKANAN LOBSTER (Panulirus spp.) DI PERAIRAN KABUPATEN CILACAP 52 STATUS PERIKANAN LOBSTER (Panulirus spp.) DI PERAIRAN KABUPATEN CILACAP Arif Mahdiana dan Laurensia SP. Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Sains dan Teknik Unsoed Email : [email protected]

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Luas terumbu karang Indonesia kurang lebih 50.000 km 2. Ekosistem tersebut berada di wilayah pesisir dan lautan di seluruh perairan Indonesia. Potensi lestari sumberdaya

Lebih terperinci

IKHWANUL CHAIR NAWAR PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2013

IKHWANUL CHAIR NAWAR PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2013 ANALISIS HASIL TANGKAPAN ALAT PENANGKAPAN JARING INSANG SATU LEMBAR (GILLNET) DAN TIGA LEMBAR (TRAMMEL NET) DI PERAIRAN PANTAI CERMIN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI IKHWANUL CHAIR NAWAR 090302056 PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI KECEPATAN MERAYAP KEPITING BAKAU (Scylla serrata) PADA BENTUK MATA JARING DAN SUDUT KEMIRINGAN YANG BERBEDA

IDENTIFIKASI KECEPATAN MERAYAP KEPITING BAKAU (Scylla serrata) PADA BENTUK MATA JARING DAN SUDUT KEMIRINGAN YANG BERBEDA Jurnal Ilmu Pertanian dan Perikanan Juni 2014 Vol. 3 No.1 Hal : 11-17 ISSN 2302-6308 Available online at: http://umbidharma.org/jipp IDENTIFIKASI KECEPATAN MERAYAP KEPITING BAKAU (Scylla serrata) PADA

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan wilayah yang memiliki ciri khas kehidupan pesisir dengan segenap potensi baharinya seperti terumbu karang tropis yang terdapat di

Lebih terperinci

5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan

5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan 50 5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan Kegiatan penangkapan ikan oleh nelayan bubu di Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Pontianak ditujukan untuk menangkap ikan kakap merah (Lutjanus sanguineus),

Lebih terperinci

WAKTU PENANGKAPAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata) DI PERAIRAN LONTAR KABUPATEN SERANG BANTEN

WAKTU PENANGKAPAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata) DI PERAIRAN LONTAR KABUPATEN SERANG BANTEN WAKTU PENANGKAPAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata) DI PERAIRAN LONTAR KABUPATEN SERANG BANTEN (Mud Crab Fishing Time in Lontar Water Serang Regency Banten) Ririn Irnawati 1), Adi Susanto 1), Siti Lulu Ayu

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI SUMBERDAYA PERIKANAN DI PERAIRAN PEMANGKAT KABUPATEN SAMBAS EKA SUPRIANI

KAJIAN EKONOMI SUMBERDAYA PERIKANAN DI PERAIRAN PEMANGKAT KABUPATEN SAMBAS EKA SUPRIANI KAJIAN EKONOMI SUMBERDAYA PERIKANAN DI PERAIRAN PEMANGKAT KABUPATEN SAMBAS EKA SUPRIANI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007 ii PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Analisis Komparasi

2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Analisis Komparasi 6 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisis Komparasi Kabupaten Klungkung, kecamatan Nusa Penida terdapat 16 desa yang mempunyai potensi baik sekali untuk dikembangkan, terutama nusa Lembongan dan Jungutbatu. Kabupaten

Lebih terperinci

PENGGUNAAN CELAH PELOLOSAN PADA BUBU LIPAT KEPITING BAKAU (SKALA LABORATORIUM)

PENGGUNAAN CELAH PELOLOSAN PADA BUBU LIPAT KEPITING BAKAU (SKALA LABORATORIUM) PENGGUNAAN CELAH PELOLOSAN PADA BUBU LIPAT KEPITING BAKAU (SKALA LABORATORIUM) (Applicaton of Collapsible Mud Crab with Escape Gap in Laboratory Scale) Adi Susanto 1), Ririn Irnawati 1) 1) Jurusan Perikanan,

Lebih terperinci

PENGARUH PERIODE HARI BULAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN DAN TINGKAT PENDAPATAN NELAYAN BAGAN TANCAP DI KABUPATEN SERANG TESIS JAE WON LEE

PENGARUH PERIODE HARI BULAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN DAN TINGKAT PENDAPATAN NELAYAN BAGAN TANCAP DI KABUPATEN SERANG TESIS JAE WON LEE PENGARUH PERIODE HARI BULAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN DAN TINGKAT PENDAPATAN NELAYAN BAGAN TANCAP DI KABUPATEN SERANG TESIS JAE WON LEE SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010 PERNYATAAN

Lebih terperinci

Rikza Danu Kusuma *), Asriyanto, dan Sardiyatmo

Rikza Danu Kusuma *), Asriyanto, dan Sardiyatmo PENGARUH KEDALAMAN DAN UMPAN BERBEDA TERHADAP HASIL TANGKAPAN LOBSTER (PANULIUS SP) DENGAN JARING LOBSTER (BOTTOM GILL NET MONOFILAMENT) DI PERAIRAN ARGOPENI KABUPATEN KEBUMEN Rikza Danu Kusuma *), Asriyanto,

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Potensi Pengembangan Usaha Penangkapan Ikan 2.2 Komoditas Hasil Tangkapan Unggulan

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Potensi Pengembangan Usaha Penangkapan Ikan 2.2 Komoditas Hasil Tangkapan Unggulan 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Potensi Pengembangan Usaha Penangkapan Ikan Pengembangan merupakan suatu istilah yang berarti suatu usaha perubahan dari suatu yang nilai kurang kepada sesuatu yang nilai baik. Menurut

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di beberapa negara, telah mendorong meningkatnya permintaan komoditas perikanan dari waktu ke waktu. Meningkatnya

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN MATA PANCING GANDA PADA RAWAI TEGAK TERHADAP HASIL TANGKAPAN LAYUR

PENGARUH PENGGUNAAN MATA PANCING GANDA PADA RAWAI TEGAK TERHADAP HASIL TANGKAPAN LAYUR Pengaruh Penggunaan Mata Pancing.. terhadap Hasil Tangkapan Layur (Anggawangsa, R.F., et al.) PENGARUH PENGGUNAAN MATA PANCNG GANDA PADA RAWA TEGAK TERHADAP HASL TANGKAPAN LAYUR ABSTRAK Regi Fiji Anggawangsa

Lebih terperinci

ANALISIS DAMPAK PENAMBANGAN PASIR LAUT TERHADAP PERIKANAN RAJUNGAN DI KECAMATAN TIRTAYASA KABUPATEN SERANG DJUMADI PARLUHUTAN P.

ANALISIS DAMPAK PENAMBANGAN PASIR LAUT TERHADAP PERIKANAN RAJUNGAN DI KECAMATAN TIRTAYASA KABUPATEN SERANG DJUMADI PARLUHUTAN P. ANALISIS DAMPAK PENAMBANGAN PASIR LAUT TERHADAP PERIKANAN RAJUNGAN DI KECAMATAN TIRTAYASA KABUPATEN SERANG DJUMADI PARLUHUTAN P. SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007 PERNYATAAN MENGENAI

Lebih terperinci

PERBEDAAN UMPAN DAN KEDALAMAN PERAIRAN PADA BUBU LIPAT TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN BETAHWALANG, DEMAK

PERBEDAAN UMPAN DAN KEDALAMAN PERAIRAN PADA BUBU LIPAT TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN BETAHWALANG, DEMAK PERBEDAAN UMPAN DAN KEDALAMAN PERAIRAN PADA BUBU LIPAT TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN BETAHWALANG, DEMAK Nadia Adlina, Aristi Dian Purnama Fitri *), Taufik Yulianto

Lebih terperinci

PROPORSI DAN KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN JARING TIGA LAPIS (TRAMMEL NET) DI PELABUHAN RATU

PROPORSI DAN KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN JARING TIGA LAPIS (TRAMMEL NET) DI PELABUHAN RATU Proporsi dan Komposisi Hasil Tangkapan Jaring Tiga Lapis (Trammel Net) di Pelabuhan Ratu (Hufiadi) PROPORSI DAN KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN JARING TIGA LAPIS (TRAMMEL NET) DI PELABUHAN RATU ABSTRAK Hufiadi

Lebih terperinci

PENGGUNAAN CELAH PELOLOSAN PADA BUBU TAMBUN TERHADAP HASIL TANGKAPAN KERAPU KOKO DI PULAU PANGGANG, KEPULAUAN SERIBU DIDIN KOMARUDIN

PENGGUNAAN CELAH PELOLOSAN PADA BUBU TAMBUN TERHADAP HASIL TANGKAPAN KERAPU KOKO DI PULAU PANGGANG, KEPULAUAN SERIBU DIDIN KOMARUDIN PENGGUNAAN CELAH PELOLOSAN PADA BUBU TAMBUN TERHADAP HASIL TANGKAPAN KERAPU KOKO DI PULAU PANGGANG, KEPULAUAN SERIBU DIDIN KOMARUDIN MAYOR TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN

Lebih terperinci

STRATEGI PENGEMBANGAN DAYA SAING PRODUK UNGGULAN DAERAH INDUSTRI KECIL MENENGAH KABUPATEN BANYUMAS MUHAMMAD UNGGUL ABDUL FATTAH

STRATEGI PENGEMBANGAN DAYA SAING PRODUK UNGGULAN DAERAH INDUSTRI KECIL MENENGAH KABUPATEN BANYUMAS MUHAMMAD UNGGUL ABDUL FATTAH i STRATEGI PENGEMBANGAN DAYA SAING PRODUK UNGGULAN DAERAH INDUSTRI KECIL MENENGAH KABUPATEN BANYUMAS MUHAMMAD UNGGUL ABDUL FATTAH SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2016 iii PERNYATAAN

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jenis ikan yang hidup di daerah terumbu karang dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia digolongkan menjadi dua, yaitu ikan hias (ornamental fish) dan ikan

Lebih terperinci

PENGARUH PERBEDAAN ATRAKTOR TERHADAP HASIL TANGKAPAN JUVENIL LOBSTER DENGAN KORANG DI DESA SANGRAWAYAN, PALABUHANRATU

PENGARUH PERBEDAAN ATRAKTOR TERHADAP HASIL TANGKAPAN JUVENIL LOBSTER DENGAN KORANG DI DESA SANGRAWAYAN, PALABUHANRATU Marine Fisheries ISSN 2087-4235 Vol. 3, No. 2, November 2012 Hal: 129-133 PENGARUH PERBEDAAN ATRAKTOR TERHADAP HASIL TANGKAPAN JUVENIL LOBSTER DENGAN KORANG DI DESA SANGRAWAYAN, PALABUHANRATU The Effect

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYALURAN KREDIT DI BANK UMUM MILIK NEGARA PERIODE TAHUN RENALDO PRIMA SUTIKNO

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYALURAN KREDIT DI BANK UMUM MILIK NEGARA PERIODE TAHUN RENALDO PRIMA SUTIKNO ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYALURAN KREDIT DI BANK UMUM MILIK NEGARA PERIODE TAHUN 2004-2012 RENALDO PRIMA SUTIKNO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013 PERNYATAAN MENGENAI

Lebih terperinci

PENGARUH UMPAN DAN LAMA PERENDAMAN ALAT TANGKAP JEBAK (BUBU LIPAT) TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI DESA SEMAT, JEPARA

PENGARUH UMPAN DAN LAMA PERENDAMAN ALAT TANGKAP JEBAK (BUBU LIPAT) TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI DESA SEMAT, JEPARA PENGARUH UMPAN DAN LAMA PERENDAMAN ALAT TANGKAP JEBAK (BUBU LIPAT) TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI DESA SEMAT, JEPARA Influence of Bait and Soaking Time of Jebak ( Collapsible

Lebih terperinci

PERBANDINGAN HASIL DAN KOMPOSISI TANGKAPAN JARING INSANG PERMUKAAN DAN JARING INSANG DASAR DI PERAIRAN DESA SEI NAGALAWAN SERDANG BEDAGAI

PERBANDINGAN HASIL DAN KOMPOSISI TANGKAPAN JARING INSANG PERMUKAAN DAN JARING INSANG DASAR DI PERAIRAN DESA SEI NAGALAWAN SERDANG BEDAGAI PERBANDINGAN HASIL DAN KOMPOSISI TANGKAPAN JARING INSANG PERMUKAAN DAN JARING INSANG DASAR DI PERAIRAN DESA SEI NAGALAWAN SERDANG BEDAGAI RURI PERWITA SARI 090302004 PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA

Lebih terperinci

ANALISIS PERBEDAAN JENIS UMPAN DAN LAMA WAKTU PERENDAMAN PADA ALAT TANGKAP BUBU TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN DI PERAIRAN SURADADI TEGAL

ANALISIS PERBEDAAN JENIS UMPAN DAN LAMA WAKTU PERENDAMAN PADA ALAT TANGKAP BUBU TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN DI PERAIRAN SURADADI TEGAL ANALISIS PERBEDAAN JENIS UMPAN DAN LAMA WAKTU PERENDAMAN PADA ALAT TANGKAP BUBU TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN DI PERAIRAN SURADADI TEGAL Rizqi Laily Catur Putri *), Aristi Dian Purnama Fitri, dan Taufik

Lebih terperinci

STUDY ON THE PVC TRAP FOR ELL (Monopterus albus)

STUDY ON THE PVC TRAP FOR ELL (Monopterus albus) STUDY ON THE PVC TRAP FOR ELL (Monopterus albus) By Dedi yandra ) Nofrizal 2) and IrwandySyofyan 2) Abstract For purpose to examine and compare efectiveness of the PVC and traditional trap for catching

Lebih terperinci

UJI COBA BUBU BUTON DI PERAIRAN PULAU BATANTA KABUPATEN SORONG, PROPINSI PAPUA

UJI COBA BUBU BUTON DI PERAIRAN PULAU BATANTA KABUPATEN SORONG, PROPINSI PAPUA UJI COBA BUBU BUTON DI PERAIRAN PULAU BATANTA KABUPATEN SORONG, PROPINSI PAPUA Oleh : * HAMZAN ARISMA NASUTION C05497037 SKRIPSI Sebagai Salah Satu Syarat untukmemperoleh Gelar Sarjana pada Fakultas Perikanan

Lebih terperinci

ANALISIS KAPASITAS PENANGKAPAN (FISHING CAPACITY) PADA PERIKANAN PURSE SEINE DI KABUPATEN ACEH TIMUR PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Y U S T O M

ANALISIS KAPASITAS PENANGKAPAN (FISHING CAPACITY) PADA PERIKANAN PURSE SEINE DI KABUPATEN ACEH TIMUR PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Y U S T O M ANALISIS KAPASITAS PENANGKAPAN (FISHING CAPACITY) PADA PERIKANAN PURSE SEINE DI KABUPATEN ACEH TIMUR PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Y U S T O M SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

Lebih terperinci

KAJIAN PENGELOLAAN HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN PUKAT UDANG: STUDI KASUS DI LAUT ARAFURA PROVINSI PAPUA AZMAR MARPAUNG

KAJIAN PENGELOLAAN HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN PUKAT UDANG: STUDI KASUS DI LAUT ARAFURA PROVINSI PAPUA AZMAR MARPAUNG KAJIAN PENGELOLAAN HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN PUKAT UDANG: STUDI KASUS DI LAUT ARAFURA PROVINSI PAPUA AZMAR MARPAUNG SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2006 KAJIAN PENGELOLAAN HASIL TANGKAPAN

Lebih terperinci

SELEKSI UMPAN DAN UKURAN MATA PANCING TEGAK. (Selection on bait and hook number of vertical line) Oleh:

SELEKSI UMPAN DAN UKURAN MATA PANCING TEGAK. (Selection on bait and hook number of vertical line) Oleh: Marine Fisheries ISSN 2087-4235 Vol. 3, No.2, November 2012 Hal: 169-175 SELEKSI UMPAN DAN UKURAN MATA PANCING TEGAK (Selection on bait and hook number of vertical line) Oleh: Noor Azizah 1 *, Gondo Puspito

Lebih terperinci

DAYA TANGKAP BUBU LIPAT YANG DIOPERASIKAN OLEH NELAYAN TRADISIONAL DI DESA MAYANGAN KABUPATEN SUBANG

DAYA TANGKAP BUBU LIPAT YANG DIOPERASIKAN OLEH NELAYAN TRADISIONAL DI DESA MAYANGAN KABUPATEN SUBANG DAYA TANGKAP BUBU LIPAT YANG DIOPERASIKAN OLEH NELAYAN TRADISIONAL DI DESA MAYANGAN KABUPATEN SUBANG Catchability of Collapsible Pot Operated by Traditional Fishermen in Mayangan Village, Subang Regency

Lebih terperinci

PENGARUH MODIFIKASI KABAM (TRAP) TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN SELUANG (Rasbora sp)

PENGARUH MODIFIKASI KABAM (TRAP) TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN SELUANG (Rasbora sp) Siti Aminah :Pengaruh Modifikasi Kabam PENGARUH MODIFIKASI KABAM (TRAP) TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN SELUANG (Rasbora sp) THE INFLUENCE OF MODIFICATION KABAM (TRAP) AGAINST CATCHES SELUANG (Rasbora sp)

Lebih terperinci

PENAMBAHAN ENZIM PAPAIN PADA PAKAN KOMERSIAL TERHADAP RETENSI PROTEIN DAN EFISIENSI PAKAN IKAN SIDAT (Anguilla bicolor)

PENAMBAHAN ENZIM PAPAIN PADA PAKAN KOMERSIAL TERHADAP RETENSI PROTEIN DAN EFISIENSI PAKAN IKAN SIDAT (Anguilla bicolor) SKRIPSI PENAMBAHAN ENZIM PAPAIN PADA PAKAN KOMERSIAL TERHADAP RETENSI PROTEIN DAN EFISIENSI PAKAN IKAN SIDAT (Anguilla bicolor) Oleh : DAVID ABDIEL LIONO SURABAYA JAWA TIMUR FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Lokasi Penelitian Cirebon merupakan daerah yang terletak di tepi pantai utara Jawa Barat tepatnya diperbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Lokasi penelitian

Lebih terperinci

Moch. Prihatna Sobari 2, Diniah 2, dan Danang Indro Widiarso 2 PENDAHULUAN

Moch. Prihatna Sobari 2, Diniah 2, dan Danang Indro Widiarso 2 PENDAHULUAN ANALISIS MAXIMUM SUSTAINABLE YIELD DAN MAXIMUM ECONOMIC YIELD MENGGUNAKAN BIO-EKONOMIK MODEL STATIS GORDON-SCHAEFER DARI PENANGKAPAN SPINY LOBSTER DI WONOGIRI 1 (Analysis of Maximum Sustainable Yield and

Lebih terperinci

PENGGUNAAN BENTUK DAN POSISI CELAH PELOLOSAN PADA BUBU LIPAT KEPITING BAKAU. Shape and Position Escape Gap Application of Collapsible Mud Crab Trap

PENGGUNAAN BENTUK DAN POSISI CELAH PELOLOSAN PADA BUBU LIPAT KEPITING BAKAU. Shape and Position Escape Gap Application of Collapsible Mud Crab Trap Marine Fisheries ISSN 2087-4235 Vol. 4, No. 2, November 2013 Hal: 109-114 PENGGUNAAN BENTUK DAN POSISI CELAH PELOLOSAN PADA BUBU LIPAT KEPITING BAKAU Shape and Position Escape Gap Application of Collapsible

Lebih terperinci

PENGGUNAAN JENIS DAN BOBOT UMPAN YANG BERBEDA PADA BUBU LIPAT KEPITING BAKAU

PENGGUNAAN JENIS DAN BOBOT UMPAN YANG BERBEDA PADA BUBU LIPAT KEPITING BAKAU Jurnal Ilmu Pertanian dan Perikanan Juni 2013 Vol. 2 No.1 Hal : 55-61 ISSN 2302-6308 Available online at: http://umbidharma.org/jipp PENGGUNAAN JENIS DAN BOBOT UMPAN YANG BERBEDA PADA BUBU LIPAT KEPITING

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 33 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Ukuran Mata Jaring Lintasan Masuk Bubu Hasil pengamatan terhadap tingkah laku kepiting bakau saat melewati bidang lintasan masuk menunjukkan bahwa kepiting bakau cenderung

Lebih terperinci

STUDI PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP DI KABUPATEN NIAS SABAR JAYA TELAUMBANUA

STUDI PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP DI KABUPATEN NIAS SABAR JAYA TELAUMBANUA STUDI PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP DI KABUPATEN NIAS SABAR JAYA TELAUMBANUA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan

Lebih terperinci

EVALUASI KINERJA KEUANGAN SATUAN USAHA KOMERSIAL PERGURUAN TINGGI NEGERI BADAN HUKUM DARSONO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014

EVALUASI KINERJA KEUANGAN SATUAN USAHA KOMERSIAL PERGURUAN TINGGI NEGERI BADAN HUKUM DARSONO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 1 EVALUASI KINERJA KEUANGAN SATUAN USAHA KOMERSIAL PERGURUAN TINGGI NEGERI BADAN HUKUM DARSONO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI SERTA

Lebih terperinci

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Perairan Palabuhanratu terletak di sebelah selatan Jawa Barat, daerah ini merupakan salah satu daerah perikanan yang potensial di Jawa

Lebih terperinci

ANALISIS BIPLOT UNTUK MEMETAKAN MUTU SEKOLAH YANG SESUAI DENGAN NILAI UJIAN NASIONAL SUJITA

ANALISIS BIPLOT UNTUK MEMETAKAN MUTU SEKOLAH YANG SESUAI DENGAN NILAI UJIAN NASIONAL SUJITA ANALISIS BIPLOT UNTUK MEMETAKAN MUTU SEKOLAH YANG SESUAI DENGAN NILAI UJIAN NASIONAL SUJITA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan

Lebih terperinci

HASAN BASRI PROGRAM STUDI

HASAN BASRI PROGRAM STUDI PENGARUH KECEPATAN ARUS TERHADAP TAMPILAN GILLNET : UJI COBA DI FLUME TANK HASAN BASRI PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN JENIS SHELTER YANG BERBEDA PADA BUBU DASAR TERHADAP HASILTANGKAPAN DI PERAIRAN KABUPATEN BARRU SULAWESI SELATAN

PENGARUH PENGGUNAAN JENIS SHELTER YANG BERBEDA PADA BUBU DASAR TERHADAP HASILTANGKAPAN DI PERAIRAN KABUPATEN BARRU SULAWESI SELATAN Jurnal Galung Tropika, 3 (2) Mei 2014, hlmn 1-7 ISSN 2302 4178 PENGARUH PENGGUNAAN JENIS SHELTER YANG BERBEDA PADA BUBU DASAR TERHADAP HASILTANGKAPAN DI PERAIRAN KABUPATEN BARRU SULAWESI SELATAN THE INFLUENCE

Lebih terperinci

Karya sederhana ini kupersembahkan kepada kedua orang tziaku sebagai ungkapan terima kasih yang tak terhingga atas segala pengorbanannya demi

Karya sederhana ini kupersembahkan kepada kedua orang tziaku sebagai ungkapan terima kasih yang tak terhingga atas segala pengorbanannya demi Karya sederhana ini kupersembahkan kepada kedua orang tziaku sebagai ungkapan terima kasih yang tak terhingga atas segala pengorbanannya demi keberhasilankzr ggpj, PENGARUH KEDALAMAN POSISI MATA PANCING

Lebih terperinci

MUHAMMAD SULAIMAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

MUHAMMAD SULAIMAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR PENDEKATAN AKUSTIK DALAM STUDI TINGKAH LAKU IKAN PADA PROSES PENANGKAPAN DENGAN ALAT BANTU CAHAYA (THE ACOUSTIC APPROACH TO FISH BEHAVIOUR STUDY IN CAPTURE PROCESS WITH LIGHT ATTRACTION) MUHAMMAD SULAIMAN

Lebih terperinci

PEMANFAATAN DAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN LAUT BERKELANJUTAN

PEMANFAATAN DAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN LAUT BERKELANJUTAN PEMANFAATAN DAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN LAUT BERKELANJUTAN Tri Wiji Nurani, Domu Simbolon, Akhmad Solihin, Shinta Yuniarta Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSP), Fakultas Perikanan

Lebih terperinci

PERBANDINGAN HASIL PENGGEROMBOLAN METODE K-MEANS, FUZZY K-MEANS, DAN TWO STEP CLUSTER

PERBANDINGAN HASIL PENGGEROMBOLAN METODE K-MEANS, FUZZY K-MEANS, DAN TWO STEP CLUSTER PERBANDINGAN HASIL PENGGEROMBOLAN METODE K-MEANS, FUZZY K-MEANS, DAN TWO STEP CLUSTER LATHIFATURRAHMAH SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010 PERNYATAAN MENGENAI TUGAS AKHIR DAN SUMBER

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rajungan merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia. Berdasarkan data ekspor impor Dinas Kelautan dan Perikanan Indonesia (2007), rajungan menempati urutan ke

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN MODEL KEBIJAKAN ENERGI TERBARUKAN BERBASIS HUTAN TANAMAN RAKYAT UNTUK INDUSTRI BIOMASA YANG BERKELANJUTAN ERWIN SUSANTO SADIRSAN

PENGEMBANGAN MODEL KEBIJAKAN ENERGI TERBARUKAN BERBASIS HUTAN TANAMAN RAKYAT UNTUK INDUSTRI BIOMASA YANG BERKELANJUTAN ERWIN SUSANTO SADIRSAN PENGEMBANGAN MODEL KEBIJAKAN ENERGI TERBARUKAN BERBASIS HUTAN TANAMAN RAKYAT UNTUK INDUSTRI BIOMASA YANG BERKELANJUTAN ERWIN SUSANTO SADIRSAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 i

Lebih terperinci

RESPON PENCIUMAN IKAN KERAPU MACAN (Ephinephelus fuscoguttatus) TERHADAP UMPAN : PENGUJIAN SKALA LABORATORIUM. Deka Berkah Sejati SKRIPSI

RESPON PENCIUMAN IKAN KERAPU MACAN (Ephinephelus fuscoguttatus) TERHADAP UMPAN : PENGUJIAN SKALA LABORATORIUM. Deka Berkah Sejati SKRIPSI RESPON PENCIUMAN IKAN KERAPU MACAN (Ephinephelus fuscoguttatus) TERHADAP UMPAN : PENGUJIAN SKALA LABORATORIUM Deka Berkah Sejati SKRIPSI DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Jenis Hasil Tangkapan Hasil tangkapan pancing ulur selama penelitian terdiri dari 11 famili, 12 genus dengan total 14 jenis ikan yang tertangkap (Lampiran 6). Sebanyak 6

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci: Jumlah tangkapan; struktur ukuran; jenis umpan; ikan demersal dan rawai dasar

ABSTRAK. Kata kunci: Jumlah tangkapan; struktur ukuran; jenis umpan; ikan demersal dan rawai dasar RESPON IKAN DEMERSAL DENGAN JENIS UMPAN BERBEDA TERHADAP HASIL TANGKAPAN PADA PERIKANAN RAWAI DASAR Wayan Kantun 1), Harianti 1) dan Sahrul Harijo 2) 1) Sekolah Tinggi Teknologi Kelautan (STITEK) Balik

Lebih terperinci

PRODUKTIVITAS ULAT TEPUNG (Tenebrio molitor L.) PADA FASE LARVA DENGAN MEDIA MENGANDUNG ONGGOK SKRIPSI ACHMAD RIZAL

PRODUKTIVITAS ULAT TEPUNG (Tenebrio molitor L.) PADA FASE LARVA DENGAN MEDIA MENGANDUNG ONGGOK SKRIPSI ACHMAD RIZAL PRODUKTIVITAS ULAT TEPUNG (Tenebrio molitor L.) PADA FASE LARVA DENGAN MEDIA MENGANDUNG ONGGOK SKRIPSI ACHMAD RIZAL PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PRODUKSI TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK SIFAT FISIK TEPUNG IKAN SERTA TEPUNG DAGING DAN TULANG SKRIPSI FAUZAN LATIEF

KARAKTERISTIK SIFAT FISIK TEPUNG IKAN SERTA TEPUNG DAGING DAN TULANG SKRIPSI FAUZAN LATIEF KARAKTERISTIK SIFAT FISIK TEPUNG IKAN SERTA TEPUNG DAGING DAN TULANG SKRIPSI FAUZAN LATIEF PROGRAM STUDI NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 RINGKASAN FAUZAN LATIEF.

Lebih terperinci

STUDI EFEKTIVITAS BUBU LIPAT MODIFIKASI PINTU ATAS DAN PINTU SAMPING DENGAN JENIS UMPAN KANIKIL

STUDI EFEKTIVITAS BUBU LIPAT MODIFIKASI PINTU ATAS DAN PINTU SAMPING DENGAN JENIS UMPAN KANIKIL STUDI EFEKTIVITAS BUBU LIPAT MODIFIKASI PINTU ATAS DAN PINTU SAMPING DENGAN JENIS UMPAN KANIKIL (Chiton sp.) PADA PENANGKAPAN LOBSTER (Panulirus spp.) DI PALABUHAN RATU, JAWA BARAT DIKI PATRA PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

ANALISIS HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (PORTUNUS PELAGICUS) MENGGUNAKAN BUBU LIPAT DI MUARA TEBO NELAYAN 1 KECAMATAN SUNGAILIAT KABUPATEN BANGKA

ANALISIS HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (PORTUNUS PELAGICUS) MENGGUNAKAN BUBU LIPAT DI MUARA TEBO NELAYAN 1 KECAMATAN SUNGAILIAT KABUPATEN BANGKA AKUATIK- Analisis Jurnal Efektifitas Sumberdaya Hasil Perairan Tangkapan Bubu Lipat Terhadap Hasil Tangkapan Rajungan (Portunus pelagicus) Di Volume 9. Muara Nomor. Tebo 2. Tahun Nelayan 2015 1 Kecamatan

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem perikanan pantai di Indonesia merupakan salah satu bagian dari sistem perikanan secara umum yang berkontribusi cukup besar dalam produksi perikanan selain dari perikanan

Lebih terperinci

HUBUNGAN EFEKTIVITAS SISTEM PENILAIAN KINERJA DENGAN KINERJA KARYAWAN PADA KANTOR PUSAT PT PP (PERSERO), TBK JULIANA MAISYARA

HUBUNGAN EFEKTIVITAS SISTEM PENILAIAN KINERJA DENGAN KINERJA KARYAWAN PADA KANTOR PUSAT PT PP (PERSERO), TBK JULIANA MAISYARA HUBUNGAN EFEKTIVITAS SISTEM PENILAIAN KINERJA DENGAN KINERJA KARYAWAN PADA KANTOR PUSAT PT PP (PERSERO), TBK JULIANA MAISYARA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 PERNYATAAN MENGENAI

Lebih terperinci

Pengaruh penambahan ekstrak minyak tenggiri pada umpan bubu terhadap hasil tangkapan ranjungan di perairan Malalayang, Kota Manado

Pengaruh penambahan ekstrak minyak tenggiri pada umpan bubu terhadap hasil tangkapan ranjungan di perairan Malalayang, Kota Manado Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Tangkap (1): 3-7, Juni 015 ISSN 337-4306 Pengaruh penambahan ekstrak minyak tenggiri pada umpan bubu terhadap hasil tangkapan ranjungan di perairan Malalayang, Kota

Lebih terperinci

UJI COBA DUA JENIS BUBU PENANGKAP KEONG MACAN DI PERAIRAN KARANG SERANG KABUPATEN TANGERANG

UJI COBA DUA JENIS BUBU PENANGKAP KEONG MACAN DI PERAIRAN KARANG SERANG KABUPATEN TANGERANG UJI COBA DUA JENIS BUBU PENANGKAP KEONG MACAN DI PERAIRAN KARANG SERANG KABUPATEN TANGERANG Oleh: Diniah 1), D. Lismawati 2) dan S. Martasuganda 1) 1) Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut

Lebih terperinci

PERBANDINGAN ANTARA UNWEIGHTED LEAST SQUARES (ULS) DAN PARTIAL LEAST SQUARES (PLS) DALAM PEMODELAN PERSAMAAN STRUKTURAL MUHAMMAD AMIN PARIS

PERBANDINGAN ANTARA UNWEIGHTED LEAST SQUARES (ULS) DAN PARTIAL LEAST SQUARES (PLS) DALAM PEMODELAN PERSAMAAN STRUKTURAL MUHAMMAD AMIN PARIS PERBANDINGAN ANTARA UNWEIGHTED LEAST SQUARES (ULS) DAN PARTIAL LEAST SQUARES (PLS) DALAM PEMODELAN PERSAMAAN STRUKTURAL MUHAMMAD AMIN PARIS SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Alat Tangkap di Kabupten Indramayu Hasil inventarisasi jenis alat tangkap yang digunakan di Kabupaten Indramayu (Tabel 6) didominasi oleh alat tangkap berupa jaring, yakni

Lebih terperinci

4 HASIL. Gambar 8 Kapal saat meninggalkan fishing base.

4 HASIL. Gambar 8 Kapal saat meninggalkan fishing base. 31 4 HASIL 4.1 Unit Penangkapan Ikan 4.1.1 Kapal Jumlah perahu/kapal yang beroperasi di Kecamatan Mempawah Hilir terdiri dari 124 perahu/kapal tanpa motor, 376 motor tempel, 60 kapal motor 0-5 GT dan 39

Lebih terperinci

STRATEGI PENGELOLAAN PERIKANAN JARING ARAD YANG BERBASIS DI KOTA TEGAL BENI PRAMONO

STRATEGI PENGELOLAAN PERIKANAN JARING ARAD YANG BERBASIS DI KOTA TEGAL BENI PRAMONO STRATEGI PENGELOLAAN PERIKANAN JARING ARAD YANG BERBASIS DI KOTA TEGAL BENI PRAMONO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2006 ABSTRAK BENI PRAMONO. Strategi Pengelolaan Perikanan Jaring

Lebih terperinci

PENGARUH UMPAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP PANCING TONDA DI KECAMATAN TANJUNG MUTIARA KABUPATEN AGAM PROVINSI SUMATERA BARAT OLEH

PENGARUH UMPAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP PANCING TONDA DI KECAMATAN TANJUNG MUTIARA KABUPATEN AGAM PROVINSI SUMATERA BARAT OLEH PENGARUH UMPAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP PANCING TONDA DI KECAMATAN TANJUNG MUTIARA KABUPATEN AGAM PROVINSI SUMATERA BARAT OLEH MUHAMMAD KURNIAWAN FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

PENGARUH WAKTU PENANGKAPAN KEPITING BAKAU

PENGARUH WAKTU PENANGKAPAN KEPITING BAKAU PENGARUH WAKTU PENANGKAPAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata) PADA BULAN TERANG DAN GELAP TERHADAP HASILTANGKAPAN BUBU DI MALIGI, KECAMATAN SASAK RANAH PESISIR KABUPATEN PASAMAN BARAT Yutra Nedi, Eni Kamal

Lebih terperinci

PENGARUH PERBEDAAN JENIS UMPAN DAN LAMA PERENDAMAN BUBU TERHADAP HASIL TANGKAPAN LOBSTER (Panulirus sp.) DI PERAIRAN ARGOPENI KABUPATEN KEBUMEN

PENGARUH PERBEDAAN JENIS UMPAN DAN LAMA PERENDAMAN BUBU TERHADAP HASIL TANGKAPAN LOBSTER (Panulirus sp.) DI PERAIRAN ARGOPENI KABUPATEN KEBUMEN PENGARUH PERBEDAAN JENIS UMPAN DAN LAMA PERENDAMAN BUBU TERHADAP HASIL TANGKAPAN LOBSTER (Panulirus sp.) DI PERAIRAN ARGOPENI KABUPATEN KEBUMEN The Effect of Differences of Using Bait and Soaking Time

Lebih terperinci

Dahri Iskandar 1. Fakultas Perikanandan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Masuk : 11 Juni 2012, diterima :14 Juli 2012 ABSTRAK

Dahri Iskandar 1. Fakultas Perikanandan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Masuk : 11 Juni 2012, diterima :14 Juli 2012 ABSTRAK PENGARUH PENGGUNAAN BENTUK ESCAPE VENT YANG BERBEDA PADA BUBU LIPAT TERHADAP HASIL TANGKAPAN KEPITING BAKAU (Effect of Different Escape Vent on Collapsible Pot For Catching Mud Crab) Dahri Iskandar 1 1

Lebih terperinci

Jurnal KELAUTAN, Volume 2, No.1 April 2009 ISSN : LIMBAH IKAN SEBAGAI ALTERNATIF UMPAN BUATAN UNTUK ALAT TANGKAP PANCING TONDA

Jurnal KELAUTAN, Volume 2, No.1 April 2009 ISSN : LIMBAH IKAN SEBAGAI ALTERNATIF UMPAN BUATAN UNTUK ALAT TANGKAP PANCING TONDA LIMBAH IKAN SEBAGAI ALTERNATIF UMPAN BUATAN UNTUK ALAT TANGKAP PANCING TONDA Indah Wahyuni Abida Firman Farid Muhsoni Aries Dwi Siswanto Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo E-mail:

Lebih terperinci

Muhamad Farhan 1), Nofrizal 2), Isnaniah 2) Abstract

Muhamad Farhan 1), Nofrizal 2), Isnaniah 2) Abstract THE EFFECT OF HOOK TYPE (TYPE J, KIRBY AND CYRCLE) ON LONGLINE CATCHES (MINI LONG LINE) IN THE TELUK PAMBANG, SUBDISTRICT BANTAN, DISTRICT BENGKALIS, PROVINCE OF RIAU By Muhamad Farhan 1), Nofrizal 2),

Lebih terperinci

Metode Menarik Perhatian Ikan (Fish Attraction) Muhammad Arif Rahman, S.Pi

Metode Menarik Perhatian Ikan (Fish Attraction) Muhammad Arif Rahman, S.Pi Metode Menarik Perhatian Ikan (Fish Attraction) Muhammad Arif Rahman, S.Pi Prinsip dari metode ini adalah mengumpulkan ikan dalam ruang lingkup suatu alat tangkap. Dalam menarik perhatian ikan, digunakan

Lebih terperinci

SIFAT FISIK DAN FUNGSIONAL TEPUNG PUTIH TELUR AYAM RAS DENGAN WAKTU DESUGARISASI BERBEDA SKRIPSI RATNA PUSPITASARI

SIFAT FISIK DAN FUNGSIONAL TEPUNG PUTIH TELUR AYAM RAS DENGAN WAKTU DESUGARISASI BERBEDA SKRIPSI RATNA PUSPITASARI SIFAT FISIK DAN FUNGSIONAL TEPUNG PUTIH TELUR AYAM RAS DENGAN WAKTU DESUGARISASI BERBEDA SKRIPSI RATNA PUSPITASARI PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hasil tangkapan sampingan (bycatch) menjadi masalah ketika bycatch yang dikembalikan ke laut (discarded) tidak semuanya dalam keadaan hidup atau berpeluang baik untuk

Lebih terperinci

ANALISIS IMPLEMENTASI MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA ( STUDI KASUS PENGEMBANGAN PELABUHAN MAKASSAR )

ANALISIS IMPLEMENTASI MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA ( STUDI KASUS PENGEMBANGAN PELABUHAN MAKASSAR ) ANALISIS IMPLEMENTASI MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA ( STUDI KASUS PENGEMBANGAN PELABUHAN MAKASSAR ) TEGUH PAIRUNAN PUTRA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

KETERKONTROLAN BEBERAPA SISTEM PENDULUM SAKIRMAN

KETERKONTROLAN BEBERAPA SISTEM PENDULUM SAKIRMAN KETERKONTROLAN BEBERAPA SISTEM PENDULUM SAKIRMAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Keterkontrolan

Lebih terperinci

PENGARUH REGULASI, PERSAINGAN DAN KEKUATAN BELI TERHADAP HUBUNGAN PEMASOK-RITEL MODEREN DAN KINERJA PEMASOK DI JAKARTA DEDIE S.

PENGARUH REGULASI, PERSAINGAN DAN KEKUATAN BELI TERHADAP HUBUNGAN PEMASOK-RITEL MODEREN DAN KINERJA PEMASOK DI JAKARTA DEDIE S. PENGARUH REGULASI, PERSAINGAN DAN KEKUATAN BELI TERHADAP HUBUNGAN PEMASOK-RITEL MODEREN DAN KINERJA PEMASOK DI JAKARTA DEDIE S. MARTADISASTRA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 PERNYATAAN

Lebih terperinci

UJI COBA PENGGUNAAN BERBAGAI MACAM BAHAN BUBU UNTUK PENANGKAPAN LOBSTER DI DANAU MANINJAU

UJI COBA PENGGUNAAN BERBAGAI MACAM BAHAN BUBU UNTUK PENANGKAPAN LOBSTER DI DANAU MANINJAU UJI COBA PENGGUNAAN BERBAGAI MACAM BAHAN BUBU UNTUK PENANGKAPAN LOBSTER DI DANAU MANINJAU Eko Pramono Sipayung 1),H. Bustari 2), Irwandy Syofyan 2) Email : [email protected] 1) Mahasiswa Fakultas

Lebih terperinci

MODEL PEMBERIAN KOMPENSASI BAGI PENGANGGUR UNTUK MENCAPAI KESEJAHTERAAN EKONOMI HADI KUSWANTO

MODEL PEMBERIAN KOMPENSASI BAGI PENGANGGUR UNTUK MENCAPAI KESEJAHTERAAN EKONOMI HADI KUSWANTO MODEL PEMBERIAN KOMPENSASI BAGI PENGANGGUR UNTUK MENCAPAI KESEJAHTERAAN EKONOMI HADI KUSWANTO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan

Lebih terperinci

Hasil Tangkapan Rajungan (Portunus pelagicus) dengan Menggunakan Alat Tangkap Bubu Lipat yang Didaratkan di TPI Tanjung Sari Kabupaten Rembang

Hasil Tangkapan Rajungan (Portunus pelagicus) dengan Menggunakan Alat Tangkap Bubu Lipat yang Didaratkan di TPI Tanjung Sari Kabupaten Rembang Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013, Halaman 243248 Online di : http://ejournals1.undip.ac.id/index.php/maquares Hasil Tangkapan Rajungan (Portunus pelagicus) dengan Menggunakan Alat Tangkap Bubu Lipat yang

Lebih terperinci