BAB 4 DASAR TEORI PROSES PENGERINGAN KAYU

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 4 DASAR TEORI PROSES PENGERINGAN KAYU"

Transkripsi

1 BAB 4 DASAR TEORI PROSES PENGERINGAN KAYU 4.1. Konsep Pengeringan Kayu Pengeringan kayu merupakan suatu system yang melibatkan banyak unsur (elemen). Unsur-unsur itu dipadukan secara bersama-sama agar proses pengeringan kayu dapat berlangsung. Secara konsepsional, unsur-unsur itu dapat diperinci sebagai berikut: 1. Kayu, 2. air, 3. panas, 4. media pembawa panas, 5. sirkulasi udara, 6. suhu udara, 7. kelembaban udara, 8. alat (mesin) pengering, 9. ilmu pengeringan dan 10. waktu. Kayu yang diperlakukan sebagai obyek dalam proses pengeringan merupakan produk alam yang sering disebut biomassa. Biomassa kayu berupa Benda padat yang mempunyai sifat yang sangat bervariasi dalam hal sifat-sifat dasar kayu. Sifat dasar ini meliputi (a) sifat kimia, (b) sifat anatomi, (c) struktur kayu (d) sifat fisika. Variabilitas sifat kimia kayu berkait dengan bentuk dan proporsi unsur selulosa, lignin, hemiselulosa dan ekstraktif penyusun kayu. Sementara itu, variabilitas sifat anatomi kayu berkait dengan bentuk, ukuran dan volume dalam persen unsur penyusun kayu, yakni: serat, parenkim, jarijari, pembuluh, saluran dammar, serta jumlah dan jenis noktah yang terdapat pada masingmsing sel tersebut. Variabilitas struktur kayu mencakup proporsi dan kondisi kayu teras dan kayu gubal, lingkaran pertumbuhan, kayu awal dan kayu akhir, kayu dewasa dan juvenile. Variabilitas sifat fisika berkait dengan kerapatan kayu, berat jenis, kadar air kayu, penyusutakayu, daya hantar panas, porusitasserta permeabilitas (Soenardi, 1976). Sebagai sub system yang kedua, air merupakan suatu senyawa antara dua atom hidrogen dan oksigen. Benda ini dapat mewujud dalam tiga bentuk (phase), yaitu cair, uap dan padat. Bentuk mana yang ditampilkan oleh air bergantung pada suhu dan tekanan udara yang melingkupinya. Dalam kaitannya dengan usaha untuk memahami tentang proses pengeringan kayu, bentuk cair dan bentuk uap merupakan bentuk terpenting. Panas merupakan energi yang dihasilkan oleh sumber panas. Panas dinyatakan dalam satuan kalor, yang pengukurannya dilakukan dengan alat kalorimeter. Banyaknya panas dinyatakan dalam satuan kalori atau BTU (British Thermal Unit) atau gram kalori. Satu gram kalori adalah banyaknya panas yang diperlukan bagi air murni sebanyak satu gram untuk meningkatkan suhunya sebesar satu derajat Celcius. Dalam proses pengeringan, panas diperlukan untuk mencapai dua hal, yaitu: (1) meningkatkan tekanan udara dan tekanan uap air yang ada di dalam kayu dan (2) menguapkan air yang terkandung dalam kayu. Media pembawa panas dapat berupa udara, uap atau gas tanur. Media ini berfungsi untuk membawa panas dari sumber panas menuju kepada kayu yang dikeringkan. Di Universitas Gadjah Mada 1

2 samping itu, media ini sekaligus juga untuk mengangkut kelembaban (uap air) untuk dibawa pergi meninggalkan kayu yang dikeringkan. Sirkulasi udara merupakan peristiwa yang terjadi bila ada perpindahan udara dari satu tempat ke tempat yang lain. Sirkulasi udara dapat terjadi secara alami dalam bentuk angin oleh karena adanya perbedaan tekanan udara di antara dua lokasi. Di samping itu, sirkulasi udara juga dapat terjadi secara buatan oleh karena pemaksaan (perekayasaan) dengan pemutaran baling-baling suatu kipas. Oleh karenanya, alat pemaksa sirkulasi tersebutt disebut sebagai kipas angin. Sirkulasi udara ini berfungsi untuk: (1) mempercepat perpindahan panas dari sumber panas ke kayu yang dikeringkan (2) penyebar panas secara merata, (3) mencampur dan mempersiapkan kondisi udara sebelum menyentuh kayu dan (4) membawa pergi kelembaban udara yang divapkan dari permukaan kayu. Suhu udara merupakan terminologi yang digunakan untuk menyatakan tingginya panas suatu media pengering (dalam hal ini udara). Tingginya panas diukur dengan termometer dan dinyatakan dalam satuan derajat. Dalam konteksi ini, terdapat beberapa jenis thermometer yang dikenal, yaitu Fahrenheit (F, maks 212), Celsius (C maks 100), Reamur (R maks 80) dan Kelvin (K maks 273). Suhu berpengaruh secara paralel terhadap evaporasi air dari dalam kayu dan plastisitas kayu. Artinya, semakin tinggi suhu udara, semakin banyak jumlah air yang dievaporasikan dan semakin plastis pula kayu yang dikeringkan. Plastisitas kayu yang melewati Batas tertentu akan mengalami tekanan atau stress, yang akan mengarah kepada terjadinya retak-retak pada kayu. Kelembaban udara merupakan terminologi untuk menyatakan jumlah uap air yang dikandung oleh (terdapat di dalam) udara. Kelembaban udara dinyatakan dalam dua macam, yaitu kelembaban udara mutlak dan kelembaban udara relatif. Kelembaban udara mutlak (absolute) adalah jumlah uap air yang terkandung dalam 1 m3 udara, sehingga dinyatakan dalam gram/m3. Sementara itu, kelembaban udara relatif (Relative Humidity = RH) adalah perbandingan (rasio) antara uap air yang ada (dikandung) di dalam udara bervolume tertentu dan suhu tertentu, dengan uap air maksimum yang dapat dikandung oleh udara pada volume itu. Alat (mesin) pengering dapat dijumpai dalam beberapa macam, baik secara alami maupun buatan. Alat pengering buatan sering disebut dengan nama tanur pengering. Tanur pengering dapat dijumpai dalam berbagai tipe, dengan berbagai vasilitas pengaturan terhadap panas, kelembaban serta sirkulasi udara yang ada di dalamnya. Sumber panas pun juga bervariasi, yakni yang berasal dari listrik, minyak, panas uap air, air panas dan lain inya. Ilmu pengeringan kayu merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang terstruktur, yang terdiri dari teori, kaidali, asas dan hukum. Ilmu pengeringan kayu dihasilkan dari es berpikir dan bereksperimen, yang dilakukan dalam rangka menjawab pertanyaan yang Universitas Gadjah Mada 2

3 muncul terhadap fenomena dan kenyataan yang berhubungan dengan setiap elemen tersebut di atas. Waktu merupakan suatu dimensi khusus yang selalu teruntai dan mengalir berdampingan dan bersama dengan dimensi ruang (panjang, lebar dan tinggi). Oleh karena itu, waktu sering dikonsepkan sebagai dimensi keempat. Waktu selalu menyertai, melingkupi dan sebagai Tatar sekaligus panggung bagi semua keberadaan untuk dapat tampil dalam sosok fenomena maupun reality (kenyataan). Untaian waktu dihitung dalam berbagai satuan, yakni detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, musim, tahun, dsb. Fungsi atau pengaruh waktu dalam pengeringan kayu dapat dinyatakan, bahwa semakin panjang waktu yang menyertai proses pengeringan kayu, semakin banyak pula jumlah air yang dievaporasikan dari kayu, sehingga semakin kering pula kayu yang dimaksud Prinsip Pengeringan Keseluruhan kiat untuk meraih kesuksesan dalam mengeringkan kayu terfokus pada pengaturan keseimbangan antara dua hal. Pertama, evaporasi air dari permukaan kayu kepada udara yang melingkupinya. Kedua, perpindahan air dari bagian dalam kayu menuju ke permukaannya. Ada tiga faktor yang menentukan proses perpindahan air yang berlangsung di dalam kayu, yaitu temperature (suhu) udara, kelembaban udara, dan kecepatan sirkulasi udara yang melingkupi kayu. Temperatur udara mempunyai efek berganda. Pertama, dengan mempengaruhi kelembaban relatif udara, suhu udara berpengaruh terhadap kecepatan evaporasi air dari permukaan kayu. Kedua, suhu udara mempengaruhi kecepatan perpindahan air di dalam kayu dari pusat kayu (empulur) menuju ke bagian permukaan terluar kayu. Dalam hal itu, sangatlah penting untuk mengenali interaksi di antara ketiga fator tersebut di atas. Hal itu disebabkan karena beberapa kenyataan beriktu. Kecepatan hilangnya air dari kayu bergantung pada dua hal, yaitu (1) pada kelembaban udara yang bersinggungan secara langsung dengan lapisan permukaan kayu dan (2) pada tingkat kekeringan permukaan kayu itu sendiri. Kecepatan perpindahan air ke arah luar dalam sepotong kayu bergantung juag pada dua hal, yakni (1) pada tekanan uap pada lapisan yang lebih luar yang selalu lebih rendah dibandingkan dengan tekanan uap pada lapisan kayu yang lebih dalam dan (2) pada perbedaan tekanan uap pada lapisan-lapisan yang berikutnya yang besarnya tidak terlalu berlebihan. Jika lapisan-lapisan kayu di bagian luar lebih kering secara mencolok terhadap lapisan kayu di bagian dalam, maka hambatan yang lebih besar akan menghalangi perpindahan kelembaban ke arah luar. Hambatan itu memang lebih besar bila dibandingkan dengan hambatan yang terjadi ketika tekanan uap pada lapisan kayu yang satu berbeda dengan perbedaan yang relatif kecil terhadap tekanan uap dalam lapisan berikutnya di dalam kayu. Perbedaan tekanan uap ini Universitas Gadjah Mada 3

4 berkonsekuensi terhadap perbedaan kadar air. Dalam keadaan yang ekstrem, hambatan itu mungkin berarti bahwa difusi kelembaban yang berjalan dari lapisan kayu yang lebih dalam menuju ke lapisan kayu yang lebih luar akan mengarah kepada kondisi kemacetan. Dengan kata lain, bila kemacetan difusi itu terjadi, maka kelembaban di bagian dalam (interior) kayu sedang berada dalam kondisi tertutup/ terhalangi, sehingga mengalami stagnasi atau kemandegan. Untuk mengatasi stagnasi kelembaban itu, perlu dilakukan usaha untuk mengawali pergerakan kelembaban tersebut. Dalam beberapa hal, permulaan bagi dimulainya pergerakan kelembaban itu biasanya hanya dapat dicapai melalui caracara artificial, misalnya dengan pengukusan kayu di dalam tanur. Suhu udara dan elembaban relatif atmosfer yang melingkupi kayu, merupakan dua hal penting dalam proses pengeringan. Semakin rendah kelembaban relatif udara, maka udara ini akan semakin berkualitikasi baik untuk dapat mengambil kelembaban dari permukaan sepotong kayu. Sebaliknya, kayu yang berada di dalam lingkungan udara dalam kondisi yang jenuh kelembaban, maka kayu tersebut tidak dapat mengeringkan sama sekali. Sebagai alternatif terhadap hal ini adalah meningkatkan temperatur udara. Temperatur yang tinggi dapat mendorong adanya daya pengering pada diri atmosfer, meskipun atmosfir itu sedang berada dalam kondisi kelembaban relatif yang tinggi. Pada suhu udara F dan kelembaban relative yang tinggi, misalkan 70 80%, masih memungkinkan bagi udara yang ada di daerah tropis untuk mempunyai daya pengering yang cukup. Hal ini disebabkan karena jumlah kelembaban udara demikian diperlukan untuk peningkatan kelembaban pada temperature yang setinggi itu. Peningkatan kelembaban ini dilakukan dengan mengambil kelembaban relatifnya sebesar 1%, pada suhu 60 F. Dalam kaitannya dengan hubungan antara suhu dan kelembaban ini, maka kondisi atmosfir dapat digunakan untuk menerangkan tentang daya pengeringan yang dimiliki oleh udara yang lembab Dalam waktu yang lebih pendek, udara yang ada pada iklim humida pada daerah tropis masih memungkinkan untuk pengeringan secara alami terhadap kayu gergajian sampai pada kadar air yang sama dengan kadar air yang dapat dicapai oleh udara di daerah temperate. Dengan pengecualian tertentu, wilayah di daerah tropika sebenarnya tidak cocok sebagai arena pengeringan kayu, apabila tidak diadakan pengkondisian tertentu terhadap tapak bedengan atau lapangan tempat penimbunan atau penjemuran kayu. Pada kenyataannya, pengeringan kayu di daerah tropis memenunculkan problematika. Problematika utama pada umumnya berupa upaya untuk menahan lajunya kecepatan pengeringan untuk memperkecil tingkat keretakan dan distrosi yang dialami oleh kayu. Pada saat yang sama, pengeringan permukaan biasanya tidak cukup cepat untuk mengindarkan Universitas Gadjah Mada 4

5 pewarnaan cendawan kayu gubal pada kayu gergajian, secara khusus rentan terhadap beberapa serangan, misalnya Me'awls obeche. Dengan berasumsi bahwa tidak adanya perubahan temperatur, maka kelembaban relative udara akan meningkat sejalan terserapnya kelembaban oleh udara tersebut. Hal ini berakibat pada berkurangnya afinitas udara untuk menyerap kelembaban berikutnya. Pada giliran berikutnya, penurunan afinitas udara ini akan memperlambat pengeringan pada lapisan permukaan kayu yang di dekat udara. Ketika udara tidak dapat secara cepat mengabsorbsi kelembaban sebagai akibat dari meningkatnya kelembaban relatif udara, maka perbedaan kadar air menjadi kecil di antara lapisan kayu di bagian dalam dan lapisan kayu bagian luar yang diekspos terhadap beberapa kondisi udara. Kedua faktor itu, yaitu suhu dan kelemban udara, pengaturan kombinasinya diperlukan pula dalam rangka mengatur tegangan pengeringan sehingga mencapai pada pada tingkat minimum. Pengaturan itu lebih mendesak untuk dilakukan apabila proses pengeringan berlangsung sangat cepat. Meskipun mekanisme penggabungan ini merupakan kiat dalam menjalankan prosesnya, pengeringan bagi kayu gergajian yang lebih mudah mengalami pembelahan ujung perlu memperhatikan juga terhadap kecepatan aliran udara. Dalam kaitan ini, aliran udara yang melewati permukaan perlu dibatasi secara proporsional. Perpindahan udara merupakan hal yang penting untuk melindungi peningkatan kelembaban relatif udara. Peningkatan kelembab udara akan menghambat secara serius berlangsungnya babakan penggelindingan proses pengeringan Mekanisme Mengeringnya Kayu Air didalam kayu secara normal berpindah dari bagian yang berkadar air lebih tinggi ke bagian yang lebih rendah kadar airnya. Kenyataan ini mendukung sebuah pernyataan yang sangat lazim diungkapkan, yakni "kayu mengering dari luar ke dalam". Hal ini berarti bahwa apabila kelembaban harus dikeluarkan dari kayu, maka permukaan kayu harus lebih kering daripada kekeringan pada kayu di bagian yang lebih dalam. Dangan perkataan lain, bagian luar kayu hams lebih karing dari pada bagian kayu yang ada di dekat empulur. (Rasmussen, 1961). Dengan prinsip itu, maka seluruh kiat bagi suksesnya pengeringan kayu terletak pada pengaturan keseimbangan antara dua hal. Pertama, evaporasi air dari permukaan kayu. Kedua, perpindahan air dari bagian kayu yang lebih dalam menuju ke bagian permukaan kayu. Pada proses pengeringan terhadap sebagian besar spesies kayu, permukaan serat atau sel kayu lainnya yang berada pada bagian luar kayu teras segera mendapatkan keseimbangan kelembaban dengan atmosfir yang melingkupinya pada saat pengeringan dimulai. Pada saat itulah mulai terbentuknya gradien kelembaban. Universitas Gadjah Mada 5

6 Pada saat awal proses pengeringan itu pula, permukaan serat pada bagian kayu gubal jugs cenderung untuk mencapai tingkat keseimbangan dengan atmosfir pengeringan yang melingkupinya. Tingkat keseimbangan yang demikian segera tercapai apabila sirkulasi udara cukup cepat dalam mengevaporasikan air, secepat kehadiran air tersebut pada permukaan kayu. Akan tetapi, jika sirkulasi udara terlalu lambat, diperlukan waktu yang lebih panjang bagi permukaan kayu gubal untuk mencapai keseimbangan. Untuk mengurangi durasi waktu pengeringan, depresi awal suhu bola basah dalam tanur pengering hams diatur sebesar mungkin. Meskipun demikian, besamya depresi itu dibatasi oleh titik tertentu yang tidak menyebabkan retak ujung atau retak permukaan yang seri us. Kelembaban udara didalam kayu, baik dalam bentuk cairan atau uap, berpindah melalui beberapa bentuk jalan aliran (saluran). Jalan aliran ini meliputi lumen serat dan pembuluh, jari-jari kayu, rongga noktah dan selaput noktah yang terbuka, saluran resin (damar) pada kayu jarum tertentu, ruang interseluler yang lain dan saluran dalam dinding sel (ruang antar selulosa/mikrofibril) yang dapat difungsikan sebagai tempat transit (berpindah). Selama pengeringan berlangsung, sebagian besar kelembaban yang meninggalkan kayu akan berpindah melalui saluran-saluran tersebut dalam segala arah, baik secara longitudinal maupun secara lateral (menyamping). Kayu yang lebih ringan pada umumnya akan mengering lebih cepat daripada kayu yang lebih berat, karena porusitas kayu ringan lebih tinggi daripada porusitas kayu berat Gerakan Air Dalam Proses Pengeringan Gerakan air di dalam kayu dalam proses pengeringan dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok. Pertama, gerakan air yang terjadi pada kondisi di atas titik jenuh serat (TJS). Kedua, gerakan air yang terjadi di bawah titik itu. Gerakan air di dalam kayu yang terjadi di atas tjs, ditandai sepenuhnya dengan gerakan air bebas ke luar dari kayu. Gerakan air ini merupakan perpindahan air dalam bentuk cair (liquid) yang sering disebut juga aliran massa air. Aliran massa air ini dapat terjadi sebagai akibat dari dua hal, yaitu (1) mengeringnya permukaan kayu dan (2) gaya kapiler. Gerakan air di dalam kayu yang terjadi ada kondisi di bawah tjs, ditandai sepenuhnya dengan gerakan air terikat keluar dari kayu. Gerakan air ini merupakan perpindahan air dalam bentuk uap. Gerakan uap air terjadi sebagai akibat dari proses difusi. Masing-masing molekul air terikat di dalam dinding sel dan uap air di dalam lumen (rongga sel) berdifusi melalui berbagai ruang yang ada di dalam kayu. Menurut Haygreen dan Bowyer, (1982), gerakan atau perpindahan air pada kelompok pertama dapat dibayangkan bahwa kayu sebagai suatu seri tabung yang terisi air Universitas Gadjah Mada 6

7 sebagian. Dalam kondisi demikian, air menguap dari salah satu sisi tabung tersebut. Sebagai ilustrasi, secara prinsip terdapat tiga bejana (drum) saling berhubungan secara seri, yakni drum a, drum b dan drum c. Pada salah satu bejana, yaitu drum c, terdapat keran pengucur air. Saat bejana diiisi air, maka bejana yang lain juga akan terisi, clan permukaan air tersebut selalu sama tinggi pada setiap bejana. Apabila ldep pada keran itu dibuka, maka air melalui keran akan keluar dari bejan c. Berkurangnya air pada bejana c niscaya akan dialiri oleh air dari bejana b, sehingga ada gerakan (perpindahan) air dari bejana b ke c. Aliran itu kemudian diikuti juga aliran air dari bejana a ke bejana b. Prinsip seperti itu dapat digunakan sebagai dasar untuk memahami gerakan air di dalam kayu atau proses perpindahan iar berlangsung di dalam kayu. Dengan kata lain, prinsip tersebut dapat dijadikan titik tolak untuk menerangkan mekanisme mengeringnya kayu. Diketahui, bahwa kayu terdiri atas banyak sel yang mempunyai rongga sel dan dinding sel, dan pada dinding sel itu terdapat noktah penghubung antara rongga sel satu terhadap rongga sel yang lain_ Dengan demikian, sel-sel tersebut dapat dipanjang sebagai suatu tabung (bejana) yang saling berhubungan. Gerakan atau perpindahan air pada kelompok kedua berlangsung terhadap air dalam bentuk kelembaban atau uap sebagai akibat dari proses difusi masing-masing molekul air terikat didalam dinding sel dan uap air di dalam lumen (rongga sel). Proses difusi merupakan suatu fenomena yang terjadi kertika air bergerak dari satu tempat ke tempat yang berkonsentrasi air lebih tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah konsentrasi airnya. Oleh karena itu, berlangsungnya proses difusi mempersyaratkan adanya gradien kandungan air atau gradient tekanan uap air, dalam arah melintang dinding sel. Sebaliknya, dinding sel yang jenuh air terikat, dan oleh karenanya tidak terjadi gradient konsentrasi air yang berfungsi sebagai pendorong terjadi perpindahan kelembaban air, tidak akan terjadi proses difusi. Dengan demikian, kecepatan difusi (sering disebut juga sebagai laju difusi) ditentukan oleh tingkat kecuraman gadien kandungan air melintang sel (derajat besarkecilnya perbedaan konsentrasi air antar dua lokasi tersebut di dalam kayu). Disamping itu, laju difusi juga ditentukan oleh suhu udara yang melingkupi kayu, serta struktur, anatomi dan sifat-sifat fisika spesies kayu, terutama porusitas dan permeabilitas. Cepat-lambatnya laju difusi pada suatu spesies kayu dapat sinyatakan dengan koefisien difusi Gaya Penggerak (Pendorong) Perpindahan Air Dari keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa gaya pendorong (penggerak) perpindahan air dalam kayu ada tiga macam. Masing-masing gaya pendorong itu adalah (1) gaya evaporasi, (2) gaya kapiler, dan (3) proses difusi molekul air. Universitas Gadjah Mada 7

8 4.6. Faktor yang Berpengaruh Terhadap Proses Pengeringan Faktor yang berpengaruh terhadap proses pengeringan, menurut Prayitno (1994), dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok: (1) struktur anatomi kayu, (2) sifat fisika kayu dan (3) kondisi lingkungan tempat kayu dikeringkan. Pengaruh yang bersumber dari struktur dan anatomi kayu dapat diperinci lagi dalam: (a) jenis kayu (kayu jarum dan kayu daun), (b) kayu teras dan kayu gubal, (c) lingkaran pertumbuhan, (d) tekstur dan arah serat, (e) kayu reaksi dan bekas cabang. (1) Struktur dan anatomi kayu Berdasarkan struktur dan anatominya, jenis kayu dibedakan antara kayu (berdaun) jarum atau softwood dan kayu berdaun lebar atau hardwood. Kayu jarum bernoktah sedikit jumlahnya dan membran noktah sangat tidak mudah untuk melewatkan air atau uap air. Hal inilah yang menyebabkan, mengapa kayu jarum lebih mudah dan lebih cepat dikeringkan daripada kayu daun. Kayu teras lebih banyak mengandung ekstraktif dibandingkan dengan kandungan pada kayu gubal. Ekstraktif tersebut berada pada dinding sel dan ruang antar selulosa. Mengingat dinding sel dan ruang antar sel menjadi jalan perpindahan uap air dari pusat kayu ke bagian permukaan kayu secara difusi, maka kehadiran ekstraktif akan bersikap sebagai penghalang perpindahan uap air tersebut. Oleh karena itulah, maka kayu teras lebih sulit dikeringkan dibandingkan kayu gubal. Lingkaran pertumbuhan dapat dilihat keberadaannya dari kehadiran kayu awal dan kayu akhir secara bergantian. Lingkaran perumbuhan mempunyai sifat yang berbeda antara arah radial dan tangensial dalam hal permeabilitas. Dalam arah tangensial, lingkaran pertumbuhan lebih mudah dilewati uap air, sebaliknya pada arah radial, lingkaran pertumbuhan itu sangat sulit dilewati uap air. Pengaruh itu tampak nyata pada papan gergajian yang flatsawn (irisan tangensial) dan quarter sawn (irisan radial). Kayu gergajian yang flatsawn akan mudah mengering, sebaliknya kayu yang quarter sawn akan sulit mengering. Dalam hal teksturnya, kayu dibedakan antara kayu yang bertekstur kasar, sedang dan halus. Semakin kasar tekstur kayu, berarti semakin beragam ukuran sel penyusun kayu, dan hal itu membuat kayu semakin mudah dan cepat untuk dikeringkan. Dalam hal arah serat, kayu dibedakan menjadi kayu berserat lurus, miring, berpadu, terpuntir. Semakin lurus orientasi serat penyusun kayu, semakin lama waktu yang diperlukan untuk mengeringkan kayu itu, sebaliknya semakin miring seratnya, kayu semakin cepat dikeringkan. Dari segi kualitas hasil pengeringan, kayu berserat lurus semakin terbebas dari cacat pengeringan dibandingkan dengan kayu berserat miring. Universitas Gadjah Mada 8

9 Kayu reaksi dan bekas cabang akan berpengaruh pada pengeringan karena semakin mudahnya bagian kayu tersebut terlepas dari bagian kayu normal, apalagi pada bekas cabang yang mati. (2) Sifat Fisika Kayu Kerapatan kayu dan berat jenis kayu menggambarkan jumlah dinding sel dan zat infiltrasi serta porusitas kayu. Kayu yang semakin rendah berat jenisnya, akan semakin besar pori-porinya dan semakin besar Pula porusitasnya. Mengingat air dan kelembaban kayu berpindah dari bagian dalam kayu menuju ke bagian permukaan kayu melalui pori, maka semakin besar porinya (semakin besar porusitasnya) semakin cepat kayu tersebut mengemg. Sebaliknya, kayu yang berat jenisnya tinggi, semakin lambat mengering. (3) Kondisi Lingkungan Proses pengeringan kayu akan berjalan semakin cepat apabila suhu udara semakin tinggi, kelembaban udara semakin rendah dan kecepatan sirkulasi udara disekitar permukaan kayu semakin cepat Metode Untuk Meningkatkan Kecepatan Proses Pengeringan Banyak metode digunakan untuk meningkatkan proses pengeringan, yaitu (1) insisi, (2) perendaman dalam air relative lama, (3) pengukusan, (4) pengepresan (pembebanan) kayu dalam arah transversal tangensial? dan (5) peledakan selama penguapan secara lokal. Semua metode itu pada prinsipnya diarahkan untuk peningkatan permeabilitas kayu. Metode insisi dilakukan dengan melukai permukaan kayu berupa celah-celah kecil. Perendaman dimaksudkan untuk melarutkan secara mikrobiologis zat-zat penghambat yang mengurangi permeabilitas kayu. Penguapan kayu diharapkan dapat melelehkan zat ekstraktif dan mengeluarkannya dan kayu. Pengepresan dilakukan agar dinding-dinding sel kayu mengalami retak-retak kecil. Pengepresan dilakukan sampai dengan volume kayu mengecil 5 s.d 15%. Peledakan dalam proses penguapan dilakukan dengan menguapi kayu dalam ruang tertutup sampai pada tekanan tertentu (10 kgf/cm2, kemudian tekanan dilepaskan secara mendadak dan dalam waktu sangat singkat (peledakan). Karena peledakan ini, maka terkoyaklah torus noktah. Torus noktah yang terkoyak akan membuka kembali mulut noktah yang semula tersumbat oleh noktah teraspirasi tersebut. Daftar Pertanyaan 1. Jelaskan pengertian ands tentang konsep pengeringan kayu 2. Sebutkanlah berbagai prinsip pengeringan kayu 3. Jelaskan mekanisme mengeringnya kayu 4. Uraikan berbagai gerakan air dalam proses pengeringan 5. Sebutkan berbagai gays penggerak perpindahan air 6. Sebutkan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap proses pengeringan Universitas Gadjah Mada 9

10 7. Uraikan berbagai metode untuk meningkatkan kecepatan proses pengeringa Universitas Gadjah Mada 10

BAB 3 HUBUNGAN ANTARA KAYU DAN AIR: PENYUSUTAN KAYU

BAB 3 HUBUNGAN ANTARA KAYU DAN AIR: PENYUSUTAN KAYU BAB 3 HUBUNGAN ANTARA KAYU DAN AIR: PENYUSUTAN KAYU 3.1.Keterkaitan Antara Kondisi Kebasahan/Kekeringan Kayu dan Kandungan Air serta Kadar Air Dan uraian pada kuliah kedua minggu yang lalu, dipahami tentang

Lebih terperinci

BAB 8 CONTOH UJI MUATAN KAYU YANG DIKERINGKAN

BAB 8 CONTOH UJI MUATAN KAYU YANG DIKERINGKAN BAB 8 CONTOH UJI MUATAN KAYU YANG DIKERINGKAN 8.1. Fungsi Contoh Uji Bagan suhu dan kelembapan udara yang diterapkan di dalam tanur pengering berpengaruh terhadap tegangan pengeringan yang dialami oleh

Lebih terperinci

BAB 2 HUBUNGAN AIR DAN KAYU: AIR DI DALAM KAYU

BAB 2 HUBUNGAN AIR DAN KAYU: AIR DI DALAM KAYU BAB 2 HUBUNGAN AIR DAN KAYU: AIR DI DALAM KAYU 2.1. Perspektif Hubungan Kayu dan Air Hubungan antara air dan kayu dapat dilihat dari dua perspektif atau dua sudut pandang. Sudut pandang pertama dilakukan

Lebih terperinci

BAB 10 PERLAKUAN PARIPURNA, TEGANGAN PENGERINGAN DAN CASE HARDENING

BAB 10 PERLAKUAN PARIPURNA, TEGANGAN PENGERINGAN DAN CASE HARDENING BAB 10 PERLAKUAN PARIPURNA, TEGANGAN PENGERINGAN DAN CASE HARDENING Perlakuan paripurna adalah perlakuan yang dilaksanakan di dalam tanur pengering pada akhir proses pengeringan. Perlakuan ini dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 24 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sifat Fisis Data hasil pengujian sifat fisis kayu jabon disajikan pada Tabel 4 sementara itu untuk analisis sidik ragam pada selang kepercayaan 95% ditampilkan dalam

Lebih terperinci

BAB 7 SKEDUL SUHU DAN KELEMBABAN

BAB 7 SKEDUL SUHU DAN KELEMBABAN BAB 7 SKEDUL SUHU DAN KELEMBABAN 7.1. Arti dan Tujuan Skedul suhu dan kelembaban merupakan istilah baru sebagai penyempurnaan terhadap istilah skedul pengeringan. Mengapa demikian Istilah skedul pengeringan

Lebih terperinci

Antiremed Fisika. Persiapan UAS 1 Fisika Kelas Berapakah volume batu yang ditunjukan pada gambar di bawah ini?

Antiremed Fisika. Persiapan UAS 1 Fisika Kelas Berapakah volume batu yang ditunjukan pada gambar di bawah ini? Antiremed Fisika Persiapan UAS 1 Fisika Kelas 7 Doc. Name: AR07FIS01UAS Version: 2015-04 halaman 1 01. Berapakah volume batu yang ditunjukan pada gambar di bawah ini? (A) 20 ml (B) 40 ml (C) 40 ml (D)

Lebih terperinci

Pengeringan Untuk Pengawetan

Pengeringan Untuk Pengawetan TBM ke-6 Pengeringan Untuk Pengawetan Pengeringan adalah suatu cara untuk mengeluarkan atau mengilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan menguapkan sebagian besar air yang di kandung melalui penggunaan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. struktural seperti papan pelapis dinding (siding), partisi, plafon (celing) dan lis.

TINJAUAN PUSTAKA. struktural seperti papan pelapis dinding (siding), partisi, plafon (celing) dan lis. 4 TINJAUAN PUSTAKA Kayu jabon (Anthocephalus cadamba M.) memiliki berat jenis 0,48 dan tergolong kayu kelas kuat IV. Berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki dan informasi penggunaan kayu secara lokal oleh

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Badan Standardisasi Nasional (2010) papan partikel merupakan

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Badan Standardisasi Nasional (2010) papan partikel merupakan TINJAUAN PUSTAKA Papan Partikel Menurut Badan Standardisasi Nasional (2010) papan partikel merupakan papan yang terbuat dari bahan berlignoselulosa yang dibuat dalam bentuk partikel dengan menggunakan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tampilan Kayu Pemadatan kayu menghasilkan warna yang berbeda dengan warna aslinya, dimana warnanya menjadi sedikit lebih gelap sebagai akibat dari pengaruh suhu pengeringan

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. (a) (b) (c) Gambar 10 (a) Bambu tali bagian pangkal, (b) Bambu tali bagian tengah, dan (c) Bambu tali bagian ujung.

BAB IV PEMBAHASAN. (a) (b) (c) Gambar 10 (a) Bambu tali bagian pangkal, (b) Bambu tali bagian tengah, dan (c) Bambu tali bagian ujung. 22 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Sifat Anatomi Bambu 4.1.1 Bentuk Batang Bambu Bambu memiliki bentuk batang yang tidak silindris. Selain itu, bambu juga memiliki buku (node) yang memisahkan antara 2 ruas (internode).

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil identifikasi herbarium yang dilakukan mempertegas bahwa ketiga jenis kayu yang diteliti adalah benar burmanii Blume, C. parthenoxylon Meissn., dan C. subavenium Miq. 4.1

Lebih terperinci

SUHU, TEKANAN, & KELEMBABAN UDARA

SUHU, TEKANAN, & KELEMBABAN UDARA SUHU, TEKANAN, & KELEMBABAN UDARA HARLINDA SYOFYAN, S.Si., M.Pd PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR UNIVERSITAS ESA UNGGUL 2016 PSD131-BA-TM11-PGSD_UEU-2016 23/07/2017 1 Tujuan Pembelajaran Mampu mendeskripsikan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. : Cinnamomum burmanii. Panjangnya sekitar 9-12 cm dan lebar 3,4-5,4 cm, tergantung jenisnya. Warna

TINJAUAN PUSTAKA. : Cinnamomum burmanii. Panjangnya sekitar 9-12 cm dan lebar 3,4-5,4 cm, tergantung jenisnya. Warna TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Kayu Manis berikut : Sistematika kayu manis menurut Rismunandar dan Paimin (2001), sebagai Kingdom Divisi Subdivisi Kelas Sub kelas Ordo Family Genus Spesies : Plantae : Gymnospermae

Lebih terperinci

Termometri dan Kalorimetri

Termometri dan Kalorimetri Termometri dan Kalorimetri 1 Termometri adalah cara penentuan temperatur/suhu Kalorimetri/Kalorimeter cara penentuan jumlah panas Hygrometri/Hygrometer cara penentuan kelembaban udara Suhu adalah ukuran

Lebih terperinci

PENENTUAN AIR DALAM RONGGA SEL KAYU

PENENTUAN AIR DALAM RONGGA SEL KAYU KARYA TULIS PENENTUAN AIR DALAM RONGGA SEL KAYU Disusun Oleh: Tito Sucipto, S.Hut., M.Si. NIP. 19790221 200312 1 001 DEPARTEMEN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2009 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

SUHU DAN PERUBAHAN. A. Bagaimana Mengetahui Suhu Suatu Benda?

SUHU DAN PERUBAHAN. A. Bagaimana Mengetahui Suhu Suatu Benda? SUHU DAN PERUBAHAN A. Bagaimana Mengetahui Suhu Suatu Benda? Kalian tentunya pernah mandi menggunakan air hangat, bukan? Untuk mendapatkan air hangat tersebut kita mencampur air dingin dengan air panas.

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN B. Tahapan Proses Pembuatan Papan Serat 1. Pembuatan Matras a. Pemotongan serat Serat kenaf memiliki ukuran panjang rata-rata 40-60 cm (Gambar 18), untuk mempermudah proses pembuatan

Lebih terperinci

BABII TINJAUAN PUSTAKA. Bab ini berisi tentang teori dari beberapa sumber buku seperti buku - buku

BABII TINJAUAN PUSTAKA. Bab ini berisi tentang teori dari beberapa sumber buku seperti buku - buku BABII TINJAUAN PUSTAKA Bab ini berisi tentang teori dari beberapa sumber buku seperti buku - buku laporan tugas akhir dan makalah seminar yang digunakan sebagai inspirasi untuk menyusun konsep penelitian

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Fakultas Kehutanan Univesitas Sumatera Utara Medan. mekanis kayu terdiri dari MOE dan MOR, kerapatan, WL (Weight loss) dan RS (

METODE PENELITIAN. Fakultas Kehutanan Univesitas Sumatera Utara Medan. mekanis kayu terdiri dari MOE dan MOR, kerapatan, WL (Weight loss) dan RS ( 12 METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2017 - Juni 2017. Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan, dan Workshop Fakultas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 ALAT PENGKONDISIAN UDARA Alat pengkondisian udara merupakan sebuah mesin yang secara termodinamika dapat memindahkan energi dari area bertemperatur rendah (media yang akan

Lebih terperinci

KEGIATAN BELAJAR 6 SUHU DAN KALOR

KEGIATAN BELAJAR 6 SUHU DAN KALOR KEGIATAN BELAJAR 6 SUHU DAN KALOR A. Pengertian Suhu Suhu atau temperature adalah besaran yang menunjukkan derajat panas atau dinginnya suatu benda. Pengukuran suhu didasarkan pada keadaan fisis zat (

Lebih terperinci

MORFOLOGI DAN POTENSI. Bagian-Bagian Kayu - Kulit kayu - Kambium - Kayu gubal - Kayu teras - Hati - Lingkaran tahun - Jari-jari

MORFOLOGI DAN POTENSI. Bagian-Bagian Kayu - Kulit kayu - Kambium - Kayu gubal - Kayu teras - Hati - Lingkaran tahun - Jari-jari Kayu Definisi Suatu bahan yang diperoleh dari hasil pemungutan pohon-pohon di hutan, yang merupakan bagian dari pohon tersebut setelah diperhitungkan bagian-bagian mana yang lebih banyak dimanfaatkan untuk

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. kayu yang harus diketahui dalam penggunaan kayu adalah berat jenis atau

TINJAUAN PUSTAKA. kayu yang harus diketahui dalam penggunaan kayu adalah berat jenis atau TINJAUAN PUSTAKA Sifat Fisis Kayu Sifat fisis kayu perlu diperhatikan untuk pengembangan penggunaan kayu secara optimal, baik dari segi kekuatan maupun keindahan. Beberapa sifat fisis kayu yang harus diketahui

Lebih terperinci

FISIKA TERMAL Bagian I

FISIKA TERMAL Bagian I FISIKA TERMAL Bagian I Temperatur Temperatur adalah sifat fisik dari materi yang secara kuantitatif menyatakan tingkat panas atau dingin. Alat yang digunakan untuk mengukur temperatur adalah termometer.

Lebih terperinci

FISIKA TERMAL(1) Yusron Sugiarto

FISIKA TERMAL(1) Yusron Sugiarto FISIKA TERMAL(1) Yusron Sugiarto MENU HARI INI TEMPERATUR KALOR DAN ENERGI DALAM PERUBAHAN FASE Temperatur adalah sifat fisik dari materi yang secara kuantitatif menyatakan tingkat panas atau dingin. Alat

Lebih terperinci

PEMBINAAN OLIMPIADE FISIKA SMP PROPINSI JAWA BARAT

PEMBINAAN OLIMPIADE FISIKA SMP PROPINSI JAWA BARAT PEMBINAAN OLIMPIADE FISIKA SMP PROPINSI JAWA BARAT LEMBAR SOAL LATIHAN DINAMIKA DAN PANAS Waktu : 60 menit Oleh : Drs. Sutrisno, M.Pd JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

Lebih terperinci

PEMBAHASAN UMUM Perubahan Sifat-sifat Kayu Terdensifikasi secara Parsial

PEMBAHASAN UMUM Perubahan Sifat-sifat Kayu Terdensifikasi secara Parsial PEMBAHASAN UMUM Perubahan Sifat-sifat Kayu Terdensifikasi secara Parsial Densifikasi parsial, baik kompresi maupun impregnasi, terbukti dapat meningkatkan sifat-sifat kayu Agatis maupun Mangium. Dari hasil

Lebih terperinci

III. METODOLOGI. Tabel 1 Jenis-jenis pohon sebagai bahan penelitian. Asal Tempat Tumbuh. Nama Daerah Setempat

III. METODOLOGI. Tabel 1 Jenis-jenis pohon sebagai bahan penelitian. Asal Tempat Tumbuh. Nama Daerah Setempat III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini berlangsung dari bulan Pebruari hingga Juni 2009. Identifikasi herbarium dilakukan di Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam Bogor, sementara pengamatan

Lebih terperinci

Universitas Gadjah Mada 1

Universitas Gadjah Mada 1 I. Nama Mata Kuliah : Pengeringan Kayu II. Kode/SKS : KTT 350/ 2,1 III. Prasyarat : Anatomi dan Identifikasi Kayu KTT 210 Fisika Kayu KTT 220 Mekanika Kayu KTT 221 Kimia Kayu KTT 230 IV. Status Matakuliah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan tentang aplikasi sistem pengabutan air di iklim kering

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan tentang aplikasi sistem pengabutan air di iklim kering 15 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Tinjauan tentang aplikasi sistem pengabutan air di iklim kering Sebuah penelitian dilakukan oleh Pearlmutter dkk (1996) untuk mengembangkan model

Lebih terperinci

TRANSPIRASI TUMBUHAN. Tujuan : - Mengukur laju transpirasi pada dua jenis tumbuhan, yaitu Acalypha sp. dan Bauhemia sp.

TRANSPIRASI TUMBUHAN. Tujuan : - Mengukur laju transpirasi pada dua jenis tumbuhan, yaitu Acalypha sp. dan Bauhemia sp. TRANSPIRASI TUMBUHAN Tujuan : - Mengukur laju transpirasi pada dua jenis tumbuhan, yaitu Acalypha sp. dan Bauhemia sp. - Membandingkan laju transpirasi pada dua jenis tumbuhan. - Mengamati jumlah stomata

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 10 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 PSIKROMETRI Psikrometri adalah ilmu yang mengkaji mengenai sifat-sifat campuran udara dan uap air yang memiliki peranan penting dalam menentukan sistem pengkondisian udara.

Lebih terperinci

Metoda-Metoda Ekstraksi

Metoda-Metoda Ekstraksi METODE EKSTRAKSI Pendahuluan Ekstraksi proses pemisahan suatu zat atau beberapa dari suatu padatan atau cairan dengan bantuan pelarut Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larutan yang berbeda dari komponen-komponen

Lebih terperinci

Pengeringan. Shinta Rosalia Dewi

Pengeringan. Shinta Rosalia Dewi Pengeringan Shinta Rosalia Dewi SILABUS Evaporasi Pengeringan Pendinginan Kristalisasi Presentasi (Tugas Kelompok) UAS Aplikasi Pengeringan merupakan proses pemindahan uap air karena transfer panas dan

Lebih terperinci

ANALISA EKONOMIS PERBANDINGAN KAPAL KAYU SISTEM LAMINASI DENGAN SISTEM KONVENSIONAL

ANALISA EKONOMIS PERBANDINGAN KAPAL KAYU SISTEM LAMINASI DENGAN SISTEM KONVENSIONAL ANALISA EKONOMIS PERBANDINGAN KAPAL KAYU SISTEM LAMINASI DENGAN SISTEM KONVENSIONAL Syahrizal & Johny Custer Teknik Perkapalan Politeknik Bengkalis Jl. Bathin Alam, Sei-Alam, Bengkalis-Riau [email protected]

Lebih terperinci

12/3/2013 FISIKA THERMAL I

12/3/2013 FISIKA THERMAL I FISIKA THERMAL I 1 Temperature Our senses, however, are unreliable and often mislead us Jika keduanya sama-sama diambil dari freezer, apakah suhu keduanya sama? Mengapa metal ice tray terasa lebih dingin?

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Adapun taksonomi tanaman kelapa sawit menurut Syakir et al. (2010) Nama Elaeis guineensis diberikan oleh Jacquin pada tahun 1763

TINJAUAN PUSTAKA. Adapun taksonomi tanaman kelapa sawit menurut Syakir et al. (2010) Nama Elaeis guineensis diberikan oleh Jacquin pada tahun 1763 16 TINJAUAN PUSTAKA A. Kelapa sawit Adapun taksonomi tanaman kelapa sawit menurut Syakir et al. (2010) adalah sebagai berikut: Kingdom Divisi Subdivisi Kelas Ordo Famili Sub famili Genus Spesies : Plantae

Lebih terperinci

(trees). Terdapat perbedaan pengertian antara pohon dan tanam-tanaman

(trees). Terdapat perbedaan pengertian antara pohon dan tanam-tanaman DASAR-DASAR STRUKTUR KAYU A. MENGENAL KAYU 1. Pengertian kayu Kayu adalah bahan yang kita dapatkan dari tumbuh-tumbuhan (dalam) alam dan termasuk vegetasi hutan. Tumbuh-tumbuhan yang dimaksud disini adalah

Lebih terperinci

Karakteristik Air. Siti Yuliawati Dosen Fakultas Perikanan Universitas Dharmawangsa Medan 25 September 2017

Karakteristik Air. Siti Yuliawati Dosen Fakultas Perikanan Universitas Dharmawangsa Medan 25 September 2017 Karakteristik Air Siti Yuliawati Dosen Fakultas Perikanan Universitas Dharmawangsa Medan 25 September 2017 Fakta Tentang Air Air menutupi sekitar 70% permukaan bumi dengan volume sekitar 1.368 juta km

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kelapa Sawit dan Tandan Kosong Sawit Kelapa sawit (Elaeis quineensis, Jacq) dari family Araceae merupakan salah satu tanaman perkebunan sebagai sumber minyak nabati, dan merupakan

Lebih terperinci

BAB XII KALOR DAN PERUBAHAN WUJUD

BAB XII KALOR DAN PERUBAHAN WUJUD BAB XII KALOR DAN PERUBAHAN WUJUD Kalor dan Perpindahannya BAB XII KALOR DAN PERUBAHAN WUJUD 1. Apa yang dimaksud dengan kalor? 2. Bagaimana pengaruh kalor pada benda? 3. Berapa jumlah kalor yang diperlukan

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. Kayu memiliki berat jenis yang berbeda-beda berkisar antara

BAB III LANDASAN TEORI. Kayu memiliki berat jenis yang berbeda-beda berkisar antara BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Berat Jenis dan Kerapatan Kayu Kayu memiliki berat jenis yang berbeda-beda berkisar antara 0.2-1.28 kg/cm 3. Berat jenis kayu merupakan suatu petunjuk dalam menentukan kekuatan

Lebih terperinci

Ciri dari fluida adalah 1. Mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah

Ciri dari fluida adalah 1. Mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah Fluida adalah zat aliar, atau dengan kata lain zat yang dapat mengalir. Ilmu yang mempelajari tentang fluida adalah mekanika fluida. Fluida ada 2 macam : cairan dan gas. Ciri dari fluida adalah 1. Mengalir

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hutan Hujan Tropis Hutan adalah satu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya,

Lebih terperinci

MENGAMATI ARUS KONVEKSI, MEMBANDINGKAN ENERGI PANAS BENDA, PENYEBAB KENAIKAN SUHU BENDA DAN PENGUAPAN

MENGAMATI ARUS KONVEKSI, MEMBANDINGKAN ENERGI PANAS BENDA, PENYEBAB KENAIKAN SUHU BENDA DAN PENGUAPAN MENGAMATI ARUS KONVEKSI, MEMBANDINGKAN ENERGI PANAS BENDA, PENYEBAB KENAIKAN SUHU BENDA DAN PENGUAPAN A. Pendahuluan 1. Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari kita sering tidak menyadari mengapa es

Lebih terperinci

PENGETAHUAN DASAR KAYU SEBAGAI BAHAN BANGUNAN

PENGETAHUAN DASAR KAYU SEBAGAI BAHAN BANGUNAN PENGETAHUAN DASAR KAYU SEBAGAI BAHAN BANGUNAN Pilihan suatu bahan bangunan tergantung dari sifat-sifat teknis, ekonomis, dan dari keindahan. Perlu suatu bahan diketahui sifat-sifat sepenuhnya. Sifat Utama

Lebih terperinci

PROSES PENGAWETAN KAYU. 1. Persiapan Kayu untuk Diawetkan

PROSES PENGAWETAN KAYU. 1. Persiapan Kayu untuk Diawetkan PROSES PENGAWETAN KAYU 1. Persiapan Kayu untuk Diawetkan Tujuan dari persiapan kayu sebelum proses pengawetan adalah agar 1 ebih banyak atau lebih mudah bahan pengawet atau larutannya meresap ke dalam

Lebih terperinci

PERESAPAN BAHAN PENGAWET. 1. Faktor-faktor terhadap Peresapan

PERESAPAN BAHAN PENGAWET. 1. Faktor-faktor terhadap Peresapan PERESAPAN BAHAN PENGAWET 1. Faktor-faktor terhadap Peresapan Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap peresapan kayu dapat dibedakan faktor dari luar dan faktor dari dalam kayu. Faktor dari luar meliputi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. KARAKTERISTIK PENGERINGAN LAPISAN TIPIS SINGKONG 4.1.1. Perubahan Kadar Air Terhadap Waktu Proses pengeringan lapisan tipis irisan singkong dilakukan mulai dari kisaran kadar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan target luas lahan yang ditanam sebesar hektar (Atmosuseno,

BAB I PENDAHULUAN. dengan target luas lahan yang ditanam sebesar hektar (Atmosuseno, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sengon merupakan salah satu tanaman cepat tumbuh yang dipilih dalam program pembangunan hutan tanaman industri (HTI) karena memiliki produktivitas yang tinggi dengan

Lebih terperinci

MEKANISME PENGERINGAN By : Dewi Maya Maharani. Prinsip Dasar Pengeringan. Mekanisme Pengeringan : 12/17/2012. Pengeringan

MEKANISME PENGERINGAN By : Dewi Maya Maharani. Prinsip Dasar Pengeringan. Mekanisme Pengeringan : 12/17/2012. Pengeringan MEKANISME By : Dewi Maya Maharani Pengeringan Prinsip Dasar Pengeringan Proses pemakaian panas dan pemindahan air dari bahan yang dikeringkan yang berlangsung secara serentak bersamaan Konduksi media Steam

Lebih terperinci

Proses penggerusan merupakan dasar operasional penting dalam teknologi farmasi. Proses ini melibatkan perusakan dan penghalusan materi dengan

Proses penggerusan merupakan dasar operasional penting dalam teknologi farmasi. Proses ini melibatkan perusakan dan penghalusan materi dengan Proses penggerusan merupakan dasar operasional penting dalam teknologi farmasi. Proses ini melibatkan perusakan dan penghalusan materi dengan konsekuensi meningkatnya luas permukaan. Ukuran partikel atau

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA. Gambar 4.1. Fenomena case hardening yang terjadi pada sampel.

BAB IV ANALISA. Gambar 4.1. Fenomena case hardening yang terjadi pada sampel. BAB IV ANALISA 4.1 FENOMENA DAN PENYEBAB KERUSAKAN KUALITAS PRODUK 4.1.1 Fenomena dan penyebab terjadinya case hardening Pada proses pengeringan yang dilakukan oleh penulis khususnya pada pengambilan data

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tandan Kosong Sawit Jumlah produksi kelapa sawit di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, pada tahun 2010 mencapai 21.958.120 ton dan pada tahun 2011 mencapai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengeringan Pengeringan adalah proses mengurangi kadar air dari suatu bahan [1]. Dasar dari proses pengeringan adalah terjadinya penguapan air ke udara karena perbedaan kandungan

Lebih terperinci

CHAPTER 2. MATTERS & THEIR PHASE BAB 2. ZAT DAN WUJUDNYA

CHAPTER 2. MATTERS & THEIR PHASE BAB 2. ZAT DAN WUJUDNYA CHAPTER 2. MATTERS & THEIR PHASE BAB 2. ZAT DAN WUJUDNYA Ms. Debby 1 CHAPTER 2. MATTERS & THEIR PHASE BAB 2. ZAT DAN WUJUDNYA 1. The Phase of Matter Wujud Zat 2. The Change of 4. The Phase of Matter Interparticular

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Aliran Udara Kipas terhadap Penyerapan Etilen dan Oksigen Pada ruang penyerapan digunakan kipas yang dihubungkan dengan rangkaian sederhana seperti pada gambar 7.

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Perlakuan Terhadap Sifat Fisik Buah Pala Di Indonesia buah pala pada umumnya diolah menjadi manisan dan minyak pala. Dalam perkembangannya, penanganan pascapanen diarahkan

Lebih terperinci

T P = T C+10 = 8 10 T C +10 = 4 5 T C+10. Pembahasan Soal Suhu dan Kalor Fisika SMA Kelas X. Contoh soal kalibrasi termometer

T P = T C+10 = 8 10 T C +10 = 4 5 T C+10. Pembahasan Soal Suhu dan Kalor Fisika SMA Kelas X. Contoh soal kalibrasi termometer Soal Suhu dan Kalor Fisika SMA Kelas X Contoh soal kalibrasi termometer 1. Pipa kaca tak berskala berisi alkohol hendak dijadikan termometer. Tinggi kolom alkohol ketika ujung bawah pipa kaca dimasukkan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman ekaliptus mempunyai sistematika sebagai berikut: Hutan Tanaman Industri setelah pinus. Ekaliptus merupakan tanaman eksotik

TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman ekaliptus mempunyai sistematika sebagai berikut: Hutan Tanaman Industri setelah pinus. Ekaliptus merupakan tanaman eksotik TINJAUAN PUSTAKA Ekaliptus Tanaman ekaliptus mempunyai sistematika sebagai berikut: Division Sub Divisio Class Ordo Famili Genus : Spermatophyta : Angiospoermae : Dicotyledone : Myrtiflorae : Myrtaceae

Lebih terperinci

3. besarnya gaya yang bekerja pada benda untuk tiap satuan luas, disebut... A. Elastis D. Gaya tekan B. Tegangan E. Gaya C.

3. besarnya gaya yang bekerja pada benda untuk tiap satuan luas, disebut... A. Elastis D. Gaya tekan B. Tegangan E. Gaya C. LATIHAN SOAL PERSIAPAN UJIAN KENAIKAN KELAS BAB 1 ELASTISITAS A. Soal Konsep 1. Sifat benda yan dapat kembali ke bentuk semula setelah gaya yang bekerja pada benda dihilangkan merupakan penjelasan dari...

Lebih terperinci

KONSEP DASAR PENGE G RIN I GA G N

KONSEP DASAR PENGE G RIN I GA G N KONSEP DASAR PENGERINGAN Tujuan Instruksional Khusus (TIK) Setelah mengikuti kuliah ini mahasiswa akan dapat menjelaskan konsep dasar pengeringan dan proses Sub Pokok Bahasan Konsep dasar pengeringan Proses

Lebih terperinci

Perpindahan Panas. Perpindahan Panas Secara Konduksi MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh 02

Perpindahan Panas. Perpindahan Panas Secara Konduksi MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh 02 MODUL PERKULIAHAN Perpindahan Panas Secara Konduksi Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Teknik Teknik Mesin 02 13029 Abstract Salah satu mekanisme perpindahan panas adalah perpindahan

Lebih terperinci

BAB FLUIDA A. 150 N.

BAB FLUIDA A. 150 N. 1 BAB FLUIDA I. SOAL PILIHAN GANDA Jika tidak diketahui dalam soal, gunakan g = 10 m/s 2, tekanan atmosfer p 0 = 1,0 x 105 Pa, dan massa jenis air = 1.000 kg/m 3. dinyatakan dalam meter). Jika tekanan

Lebih terperinci

SMP kelas 9 - FISIKA BAB 11. KLASIFIKASI BENDALATIHAN SOAL BAB 11

SMP kelas 9 - FISIKA BAB 11. KLASIFIKASI BENDALATIHAN SOAL BAB 11 1. Perhatikan sifat-sifat zat berikut 1. Susunan partikel sangat teratur 2. Volume tetap 3. Bentuk berubah sesuai wadahnya 4. Jarak antar partikelnya sangat berjauhan 5. Partikel sulit meninggalkan kelompok

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Teori Dasar Steam merupakan bagian penting dan tidak terpisahkan dari teknologi modern. Tanpa steam, maka industri makanan kita, tekstil, bahan kimia, bahan kedokteran,daya, pemanasan

Lebih terperinci

V HASIL DAN PEMBAHASAN

V HASIL DAN PEMBAHASAN V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kadar Air Kadar air merupakan berat air yang dinyatakan dalam persen air terhadap berat kering tanur (BKT). Hasil perhitungan kadar air pohon jati disajikan pada Tabel 6. Tabel

Lebih terperinci

MODUL PRAKTIKUM SATUAN OPERASI II

MODUL PRAKTIKUM SATUAN OPERASI II MODUL PRAKTIKUM SATUAN OPERASI II PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA I. PENGERINGAN A. PENDAHULUAN Pengeringan adalah proses pengeluaran

Lebih terperinci

SOAL BABAK PEREMPAT FINAL OLIMPIADE FISIKA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

SOAL BABAK PEREMPAT FINAL OLIMPIADE FISIKA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG SOAL BABAK PEREMPAT FINAL OLIMPIADE FISIKA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG Tingkat Waktu : SMP/SEDERAJAT : 100 menit 1. Jika cepat rambat gelombang longitudinal dalam zat padat adalah = y/ dengan y modulus

Lebih terperinci

Kayu lapis untuk kapal dan perahu

Kayu lapis untuk kapal dan perahu Standar Nasional Indonesia Kayu lapis untuk kapal dan perahu ICS 79.060.10 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah, definisi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemungkinan akan banyak terjadi peristiwa yang bisa dialami oleh pohon yang

BAB I PENDAHULUAN. kemungkinan akan banyak terjadi peristiwa yang bisa dialami oleh pohon yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam pertumbuhan tumbuhan berkayu/pohon tidak tertutup kemungkinan akan banyak terjadi peristiwa yang bisa dialami oleh pohon yang tumbuh secara normal. Salah satu

Lebih terperinci

PENYUSUNAN SKEDUL SUHU DAN KELEMBABAN DASAR UNTUK PENGERINGAN KAYU BINUANG BERSORTIMEN 83 X 118 X 5000 MM DALAM TANUR PENGERING KONVENSIONAL

PENYUSUNAN SKEDUL SUHU DAN KELEMBABAN DASAR UNTUK PENGERINGAN KAYU BINUANG BERSORTIMEN 83 X 118 X 5000 MM DALAM TANUR PENGERING KONVENSIONAL PENYUSUNAN SKEDUL SUHU DAN KELEMBABAN DASAR UNTUK PENGERINGAN KAYU BINUANG BERSORTIMEN 83 X 118 X 5000 MM DALAM TANUR PENGERING KONVENSIONAL Yustinus Suranto Jurusan Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan

Lebih terperinci

STRUKTUR BUMI. Bumi, Tata Surya dan Angkasa Luar

STRUKTUR BUMI. Bumi, Tata Surya dan Angkasa Luar STRUKTUR BUMI 1. Skalu 1978 Jika bumi tidak mempunyai atmosfir, maka warna langit adalah A. hitam C. kuning E. putih B. biru D. merah Jawab : A Warna biru langit terjadi karena sinar matahari yang menuju

Lebih terperinci

EKSPERIMEN 1 FISIKA SIFAT TERMAL ZAT OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2006 Waktu 1,5 jam

EKSPERIMEN 1 FISIKA SIFAT TERMAL ZAT OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2006 Waktu 1,5 jam EKSPERIMEN 1 FISIKA SIFAT TERMAL ZAT OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2006 Waktu 1,5 jam EKSPERIMEN 1A WACANA Setiap hari kita menggunakan berbagai benda dan material untuk keperluan kita seharihari. Bagaimana

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN A. Sifat Dasar dan Keawetan Alami Kayu Sentang A.1. Anatomi kayu Struktur anatomi kayu mencirikan macam sel penyusun kayu berikut bentuk dan ukurannya. Sebagaimana jenis kayu daun

Lebih terperinci

PENGERINGAN KAYU SECARA UMUM

PENGERINGAN KAYU SECARA UMUM KARYA TULIS PENGERINGAN KAYU SECARA UMUM Disusun Oleh: Tito Sucipto, S.Hut., M.Si. NIP. 19790221 200312 1 001 DEPARTEMEN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2009 KATA PENGANTAR Puji

Lebih terperinci

MARDIANA LADAYNA TAWALANI M.K.

MARDIANA LADAYNA TAWALANI M.K. KALOR Dosen : Syafa at Ariful Huda, M.Pd MAKALAH Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat pemenuhan nilai tugas OLEH : MARDIANA 20148300573 LADAYNA TAWALANI M.K. 20148300575 Program Studi Pendidikan Matematika

Lebih terperinci

PENGANTAR TENTANG KAYU

PENGANTAR TENTANG KAYU Kelompok 9 Anggota Kelompok : 1. Sugi Suryanto 20130110121 2. Badzli Zaki Tamami 20130110123 3. Ega Arief Anggriawan 20130110110 4. M Dede Dimas Wahyu 20130110125 5. Yusli Pandi 20130110112 6. Tanaka Dynasty

Lebih terperinci

Air dalam atmosfer hanya merupakan sebagian kecil air yang ada di bumi (0.001%) dari seluruh air.

Air dalam atmosfer hanya merupakan sebagian kecil air yang ada di bumi (0.001%) dari seluruh air. KELEMBABAN UDARA 1 Menyatakan Kandungan uap air di udara. Kelembapan adalah konsentrasi uap air di udara. Angka konsentasi ini dapat diekspresikan dalam kelembapan absolut, kelembapan spesifik atau kelembapan

Lebih terperinci

BAB XII KALOR DAN PERUBAHAN WUJUD

BAB XII KALOR DAN PERUBAHAN WUJUD BAB XII KALOR DAN PERUBAHAN WUJUD 1. Apa yang dimaksud dengan kalor? 2. Bagaimana pengaruh kalor pada benda? 3. Berapa jumlah kalor yang diperlukan untuk perubahan suhu benda? 4. Apa yang dimaksud dengan

Lebih terperinci

Soal Suhu dan Kalor. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar!

Soal Suhu dan Kalor. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar! Soal Suhu dan Kalor Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar! 1.1 termometer air panas Sebuah gelas yang berisi air panas kemudian dimasukkan ke dalam bejana yang berisi air dingin. Pada

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Karakterisasi Bahan Baku Karet Crepe

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Karakterisasi Bahan Baku Karet Crepe IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakterisasi Bahan Baku 4.1.2 Karet Crepe Lateks kebun yang digunakan berasal dari kebun percobaan Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Ciomas-Bogor. Lateks kebun merupakan

Lebih terperinci

MENENTUKAN JUMLAH KALOR YANG DIPERLUKAN PADA PROSES PENGERINGAN KACANG TANAH. Oleh S. Wahyu Nugroho Universitas Soerjo Ngawi ABSTRAK

MENENTUKAN JUMLAH KALOR YANG DIPERLUKAN PADA PROSES PENGERINGAN KACANG TANAH. Oleh S. Wahyu Nugroho Universitas Soerjo Ngawi ABSTRAK 112 MENENTUKAN JUMLAH KALOR YANG DIPERLUKAN PADA PROSES PENGERINGAN KACANG TANAH Oleh S. Wahyu Nugroho Universitas Soerjo Ngawi ABSTRAK Dalam bidang pertanian dan perkebunan selain persiapan lahan dan

Lebih terperinci

3. KISI-KISI INSTRUMEN SOAL JARINGAN TUMBUHAN. Jenis sekolah. Kurikulum : 2013

3. KISI-KISI INSTRUMEN SOAL JARINGAN TUMBUHAN. Jenis sekolah. Kurikulum : 2013 3. KISI-KISI INSTRUMEN SOAL JARINGAN TUMBUHAN Jenis sekolah Mata Pelajaran Kelas / Semester : SMA : Biologi : XI / 2 (dua) Kurikulum : 2013 Kompetensi Dasar : 3.3 Menerapkan konsep tentang keterkaitan

Lebih terperinci

HIDROMETEOROLOGI Tatap Muka Kelima (SUHU UDARA)

HIDROMETEOROLOGI Tatap Muka Kelima (SUHU UDARA) HIDROMETEOROLOGI Tatap Muka Kelima (SUHU UDARA) Dosen : DR. ERY SUHARTANTO, ST. MT. JADFAN SIDQI FIDARI, ST., MT 1. Perbedaan Suhu dan Panas Panas umumnya diukur dalam satuan joule (J) atau dalam satuan

Lebih terperinci

KALOR. Peta Konsep. secara. Kalor. Perubahan suhu. Perubahan wujud Konduksi Konveksi Radiasi. - Mendidih. - Mengembun. - Melebur.

KALOR. Peta Konsep. secara. Kalor. Perubahan suhu. Perubahan wujud Konduksi Konveksi Radiasi. - Mendidih. - Mengembun. - Melebur. KALOR Tujuan Pembelajaran: 1. Menjelaskan wujud-wujud zat 2. Menjelaskan susunan partikel pada masing-masing wujud zat 3. Menjelaskan sifat fisika dan sifat kimia zat 4. Mengklasifikasikan benda-benda

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. sedangkan diameternya mencapai 1 m. Bunga dan buahnya berupa tandan,

TINJAUAN PUSTAKA. sedangkan diameternya mencapai 1 m. Bunga dan buahnya berupa tandan, [ TINJAUAN PUSTAKA Batang Kelapa Sawit Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan tumbuhan tropis yang berasal dari Nigeria (Afrika Barat). Tinggi kelapa sawit dapat mencapai 24 m sedangkan diameternya

Lebih terperinci

SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA KAYU BONGIN (Irvingia malayana Oliv) DARI DESA KARALI III KABUPATEN MURUNG RAYA KALIMANTAN TENGAH

SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA KAYU BONGIN (Irvingia malayana Oliv) DARI DESA KARALI III KABUPATEN MURUNG RAYA KALIMANTAN TENGAH SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA KAYU BONGIN (Irvingia malayana Oliv) DARI DESA KARALI III KABUPATEN MURUNG RAYA KALIMANTAN TENGAH Oleh/By Muhammad Faisal Mahdie Program Studi Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan

Lebih terperinci

Campuran udara uap air

Campuran udara uap air Campuran udara uap air dan hubungannya Tujuan Instruksional Khusus (TIK) Setelah mengikuti kuliah ini mahasiswa akan dapat menjelaskan tentang campuran udara-uap air dan hubungannya membaca grafik psikrometrik

Lebih terperinci

Bab 4. AIR TANAH. Foto : Kurniatun Hairiah

Bab 4. AIR TANAH. Foto : Kurniatun Hairiah Bab 4. AIR TANAH Foto : Kurniatun Hairiah Apa yang dipelajari? Kapilaritas dan Air Tanah Konsep Enerji Air Tanah Kadar Air dan Potensial Air Mengukur Kadar dan Potensial Air Macam-macam aliran air di dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan bahan yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan fungsinya tidak pernah digantikan oleh senyawa lain. Sebuah molekul air terdiri dari sebuah atom

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peristiwa yang melibatkan kalor sering kita jumpai dalam kehidupan seharihari. Misalnya, pada saat memasak air dengan menggunakan kompor. Air yang semula dingin lama

Lebih terperinci

Lampiran 1 Nilai awal siswa No Nama Nilai Keterangan 1 Siswa 1 35 TIDAK TUNTAS 2 Siswa 2 44 TIDAK TUNTAS 3 Siswa 3 32 TIDAK TUNTAS 4 Siswa 4 36 TIDAK

Lampiran 1 Nilai awal siswa No Nama Nilai Keterangan 1 Siswa 1 35 TIDAK TUNTAS 2 Siswa 2 44 TIDAK TUNTAS 3 Siswa 3 32 TIDAK TUNTAS 4 Siswa 4 36 TIDAK Lampiran 1 Nilai awal siswa No Nama Nilai Keterangan 1 Siswa 1 35 TIDAK TUNTAS 2 Siswa 2 44 TIDAK TUNTAS 3 Siswa 3 32 TIDAK TUNTAS 4 Siswa 4 36 TIDAK TUNTAS 5 Siswa 5 40 TIDAK TUNTAS 6 Siswa 6 40 TIDAK

Lebih terperinci

Xpedia Fisika. Soal Zat dan Kalor

Xpedia Fisika. Soal Zat dan Kalor Xpedia Fisika Soal Zat dan Kalor Doc. Name: XPPHY0399 Version: 2013-04 halaman 1 01. Jika 400 g air pada suhu 40 C dicampur dengan 100 g air pada 30 C, suhu akhir adalah... (A) 13 C (B) 26 C (C) 36 C (D)

Lebih terperinci

PENGANTAR ILMU KIMIA FISIK. Subtitle

PENGANTAR ILMU KIMIA FISIK. Subtitle PENGANTAR ILMU KIMIA FISIK Subtitle PENGERTIAN ZAT DAN SIFAT-SIFAT FISIK ZAT Add your first bullet point here Add your second bullet point here Add your third bullet point here PENGERTIAN ZAT Zat adalah

Lebih terperinci

KALOR. Peristiwa yang melibatkan kalor sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

KALOR. Peristiwa yang melibatkan kalor sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. KALOR A. Pengertian Kalor Peristiwa yang melibatkan kalor sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, pada waktu memasak air dengan menggunakan kompor. Air yang semula dingin lama kelamaan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Nanas merupakan tanaman buah semak yang memiliki nama ilmiah Ananas

II. TINJAUAN PUSTAKA. Nanas merupakan tanaman buah semak yang memiliki nama ilmiah Ananas II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Nanas (Ananas comosus) Nanas merupakan tanaman buah semak yang memiliki nama ilmiah Ananas comosus. Dalam bahasa Inggris disebut pineapple dan orang-orang Spanyol menyebutnya pina.

Lebih terperinci

Jakob Kailola, S.Hut Staf Agroforestri Padamara Tobelo

Jakob Kailola, S.Hut Staf Agroforestri Padamara Tobelo SIFAT FISIK BEBERAPA JENIS KAYU UNGGULAN ASAL TOBELO MENURUT KETINGGIAN DAN KEDALAMAN BATANG Staf Agroforestri Padamara Tobelo PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Penggunaan kayu untuk kebutuhan dari waktu

Lebih terperinci