Enhanced Oil Recovery \di Indonesia
|
|
|
- Ridwan Kartawijaya
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 bagian IV Enhanced Oil Recovery \di Indonesia Untuk memberikan ilustrasi betapa rumitnya proses produksi migas dari perut bumi, Rachmat yang juga dosen Trisakti paling suka mengambil perumpamaan tentang kapur tulis yang dicelupkan ke dalam botol tinta. Anda dapat melihat warna biru yang merambat ke atas seolah ada gaya yang menarik tinta naik ke atas. Gaya apakah itu? Itu adalah apa yang kita kenal dengan gaya kapiler. Nah, sekarang anda diminta untuk mengeluarkan tinta dari kapur tulis itu. Tentu sulit bukan? Rachmat memulai penjelasannya. Kira-kira seperti itulah kesulitan memproduksi minyak dari dalam pori-pori batuan reservoir. Dapat dimengerti kalau minyak yang dapat kita sedot keluar rata-rata hanya sepertiga dari kandungan minyak di dalam bumi. Besarnya perolehan minyak ini tergantung pada jenis tenaga alamiah yang mendorong minyak sehingga lebih mudah mengalir ke sumur produksi, seperti daya dorong air dari aquifer, dorongan dari gas terlarut yang mengembang, dan pengembangan gas bebas di atas zona minyak (gas cap) karena turunnya tekanan selama produksi berlangsung. Tahapan produksi yang mengandalkan energi alamiah ini disebut sebagai primary recovery. 55
2 Enhanced Oil Recovery di Indonesia Pertambang a Rachmat Sudibjo Untuk menambah perolehan dari minyak tersisa, dibor sumur-sumur baru untuk menyuntikkan air atau gas ke dalam reservoir. Tujuan utamanya adalah mempertahankan tekanan dan mendesak minyak ke sumur produksi. Pada tahap secondary recovery inipun peningkatan perolehan minyak hanya sekitar 10-15%, sehingga total perolehan kumulatif menjadi 40-45%. Mengapa kenaikannya tidak terlalu besar? Rachmat kembali mengambil analogi: Kejadian ini seperti kalau kita membilas baju yang terkena minyak dengan air. Walaupun kita bilas dengan berember-ember air, hanya sedikit minyak yang dapat dibersihkan. Nah, sekarang bilas dengan air sabun, maka dengan mudah minyak akan terlepas dan baju menjadi kembali bersih. Sebenarnya baju kita juga berpori, terdiri dari helaian benang yang ditenun menyilang membentuk rongga pori-pori diantaranya, serupa dengan pori-pori batuan. Sekarang kalau butiran minyak yang terperangkap dalam pori-pori batuan, kita desak dengan air hanya sedikit minyak yang bisa kita dapatkan walaupun diinjeksi dengan air berjuta-juta ton, jelas Rachmat. Coba kita injeksikan air Rinso ke dalam perut bumi, kata Rachmat bergurau, maka minyak yang tersisa dalam pori-pori batuan dengan mudah bisa kita keluarkan. Tahapan lanjut ini kita sebut tertiary recovery atau EOR. Tentu saja di lapangan bahan injeksi yang dipakai bukan Rinso, tapi Surfactant, nama jenis deterjen yang merupakan singkatan dari Surface Active Agent. Tapi bagian yang tersulit adalah bahwa surfaktan yang dipilih harus mampu menurunkan tegangan permukaan dari sistem minyak-air dari 32 dyne per cm pada kondisi normal menjadi seperseribu dyne per cm. Rachmat mengambil perumpamaan: Butiran minyak sisa itu ibaratnya seperti butiran kuning telor setengah matang, walaupun encer tapi utuh karena terlindung oleh selaput tipis yang menyelimuti. Seandainya tegangan selaput kuning telur itu dapat diperkecil, maka selaput tersebut akan pecah dan kuning telurnya akan berhamburan keluar. Jadi itulah yang terjadi, waktu injeksi air dilakukan, butiran-butiran minyak yang tersisa hanya berputar ditempat, terperangkap oleh penyempitan rongga batuan yang berukuran mikron. Butiran minyak tersebut bisa lolos apabila selaput butiran itu menjadi sangat tipis dan lentur hingga dapat menerobos keluar dari pori-pori batuan. Penipisan selaput itu terjadi apabila tegangan permukaannya dapat diturunkan secara drastis 56
3 dengan menggunakan surfaktan atau menginjeksikan gas yang dapat berbaur (miscible) dengan minyak sehingga tegangan permukaannya sangat kecil. Termasuk dalam jenis EOR ini adalah injeksi gas bumi bertekanan tinggi, seperti topik Kolokium Rachmat di ITB, injeksi CO 2 yang mudah terlarut, baik dalam minyak maupun air (ingat Coca-Cola). Metode terakhir ini sudah banyak dilakukan secara komersial terutama di Amerika Serikat. Di Indonesia penerapan injeksi surfaktan hingga saat ini banyak yang masih dalam tahap laboratorium, terkecuali di lapangan Minas yang sudah masuk pada tahap field test. Lapangan Minas merupakan lapangan minyak terbesar di Indonesia, berukuran 28x10 km 2 dengan kandungan minyak sebesar 8.7 miliar barel. Separuh dari kandungan lapangan ini sudah diproduksikan secara primary dan secondary recovery. Agar optimal, injeksi surfaktan di lapangan Minas ini dikombinasikan dengan polimer dan alkalin (ASP). Tambahan larutan polimer ini berfungsi untuk mengentalkan air injeksi agar air yang diinjeksikan tidak lari mendahului minyak yang didesak sehingga proses pendesakan menjadi efektif. Rachmat terlibat dalam proyek surfaktan ini, bergabung dalam tim ahli ITB, sewaktu menjabat sebagai Staf Khusus Menteri, tahun Tim ini bertugas untuk ikut melakukan evaluasi dari hasil penelitian laboratorium yang dilakukan sekaligus oleh tiga universitas terkemuka di Austin, Houston, dan New Mexico, Amerika Serikat. Saya senang karena disana dapat bertemu dengan pakar-pakar senior yang hampir seumur hidupnya berkecimpung di bidang EOR. Saya diminta bergabung dengan Tim ITB ke Amerika untuk mengevaluasi hasil penelitian laboratorium di ketiga universitas tersebut untuk menentukan go or no-go proyek ini ke tahap selanjutnya, Rachmat menjelaskan. Tambahan produksi yang diharapkan dari proyek ini secara kumulatif paling sedikit adalah 500 juta barel, kurang lebih 5% dari total kandungan awal minyak lapangan ini. Ini jumlah yang tidak sedikit, jika dibandingkan dengan penemuanpenemuan baru dan bahkan akan melebihi cadangan lapangan minyak di Cepu-Bojonegoro yang dioperasikan oleh Exxon bersama Pertamina. Dengan diterapkannya proses injeksi kimia ini maka lapangan Minas sudah melalui semua tahapan produksi, mulai dari tahap primary, 57
4 Enhanced Oil Recovery di Indonesia Pertambang a Rachmat Sudibjo secondary dan tertiary recovery. Rachmat sendiri bertindak sebagai Team Leader saat Minas memasuki tahap secondary recovery pada tahun Evalusi dilakukan secara intensif dengan menggunakan simulasi reservoir yang kalau tidak salah untuk pertama kali dilakukan di Indonesia. Saat itu injeksi air (water flooding) disuntikkan melalui sumur-sumur injeksi yang dibor pada pinggiran (peripheral) lapangan yang memberikan efek lebih kepada pencegahan penurunan tekanan reservoir dibanding dengan pendesakan minyak. Pada saat ini, Caltex sudah menggunakan pola sumur yang lebih rapat, dimana sumur injeksi di bor secara selang-seling dengan sumur produksi sehingga air yang diinjeksikan langsung mendorong minyak dari sumur injeksi ke sumur produksi. Hasil simulasi reservoir yang dilakukan oleh Tim Rachmat menunjukan bahwa pendesakan minyak yang dilakukan secara peripheral ini tidak sebesar yang diklaim oleh Caltex, sehingga mereka harus mengembalikan kepada pemerintah insentif yang sudah terlanjur mereka ambil. Sebelum pengembangan lapangan Minas dilanjutkan pada tahap tertiary recovery, pihak Caltex melakukan screening dan memilih beberapa metode diantaranya adalah light steam flooding (LSF). Dinamakan demikian karena minyak Minas tergolong ringan. Pilihan LSF ini diambil tidak dengan tujuan untuk mengencerkan minyak supaya mudah mengalir seperti umumnya dilakukan pada proyek steam flood, tetapi mengejar tambahan perolehan minyak melalui proses penguapan (stripping). Hasil field-test ternyata tidak terlalu menggembirakan sehingga akhirnya pilihan dialihkan kepada injeksi surfaktan, yang berlangsung hingga saat ini. Saya tidak tahu apakah dalam penelitian LSF ini, Caltex memperhitungkan pengaruh temperatur terhadap kelarutan minyak di dalam air. Dalam kondisi normal kelarutan minyak dalam air (immiscible) dapat diabaikan. Tapi pada temperatur tinggi, seperti yang ditunjukkan dalam tesis saya, kelarutan minyak dalam air bisa mencapai hingga 20%, sehingga efek stripping menjadi jauh berkurang. Inilah yang mungkin menyebabkan penerapan LSF di Minas kurang berhasil, komentar Rachmat. 58
5 Gambar 25. Tim Lemigas sedang Meninjau Lapangan Minas Menurut Rachmat, rata-rata biaya untuk EOR adalah sebesar USD per barel, sehingga secara jangka panjang harga minyak harus berada jauh di atas tingkat itu. Dalam kondisi harga minyak yang terkadang melampaui USD 100 per barel, masih belum cukup alasan bagi perusahaan minyak untuk menerapkan EOR secara besar-besaran. Walaupun proyek EOR merupakan proyek intensifikasi yang diterapkan di lapangan yang sudah ada, resikonya masih tetap tinggi. Lebih sering perusahaan memilih eksplorasi, menambah cadangan secara ekstensifikasi. Ambil contoh pada penerapan injeksi surfaktan. Setidaknya ada tiga faktor yang harus diperhatikan. Faktor pertama, larutan surfaktan mudah terabsorbsi oleh batuan reservoir, sehingga dibutuhkan konsentrasi surfaktan yang lebih besar dan tentu dengan biaya lebih mahal. Faktor kedua, larutan surfaktan sangat sensitif terhadap kadar garam (salinitas) air formasi. Karena proses sedimentasi terjadi di lingkungan laut, pada umumnya salinitas air formasi relatif tinggi yang dapat mengakibatkan surfaktan mengalami degradasi. Faktor ketiga, larutan surfaktan juga mengalami degradasi pada temperatur yang tinggi, sehingga metode ini tidak dapat diterapkan pada reservoir yang dalam. Harus diingat bahwa pada kondisi 59
6 Enhanced Oil Recovery di Indonesia Pertambang a Rachmat Sudibjo apapun, tegangan permukaan pada front pendesakan minyak-air tetap dipertahankan sebesar 10-4 dyne per cm. Jadi, banyak faktor yang bisa menyebabkan kegagalan. Oleh karena itu, Lemigas mempunyai peluang besar apabila mampu memberikan jasa laboratorium dan pemodelan proses EOR secara numerik, karena hanya perusahaan besar yang mau membangun sarana laboratorium sendiri untuk keperluan yang sangat spesifik ini. Gambar 26. Fasilitas di Duri Steam Flood 60
7 Setelah berhasil melakukan kajian lapangan Minas, Lemigas diminta oleh Pertamina untuk melakukan kajian perencanaan proyek EOR di lapangan Duri. Dengan kandungan awal minyak sebesar 6.5 miliar barel, lapangan Duri merupakan lapangan minyak raksasa kedua di Indonesia. Pada tahap primary recovery, produksi lapangan Duri hanya berkisar 30 ribu barel per hari, dan faktor perolehan minyak hanya sekitar 10% dari kandungan minyak dalam perut bumi. Untuk meningkatkan produksi, Caltex menggunakan metode perangsangan (stimulasi) sumur dengan memasukan uap air ke sumur produksi. Untuk keperluan itu produksi sumur harus dihentikan dan setelah uap air masuk ke dasar sumur, sumur ditutup kurang lebih satu minggu menunggu uap air memanasi formasi di sekitar lubang sumur. Kemudian sumur dibuka kembali untuk diproduksikan selama beberapa minggu, lalu ditutup lagi untuk pemanasan dan begitu seterusnya. Metode ini bukan termasuk kategori EOR (ciri EOR harus ada sumur injeksi), dan karena dilaksanakan dengan sistem buka-tutup, metode ini disebut huff and puff. Hasilnya memang membantu menaikan produksi, tapi hanya bersifat percepatan dan bukan menaikan perolehan (cadangan) minyak. Satu-satunya cara untuk dapat menaikan produksi secara masif sekaligus menaikan perolehan minyak adalah steamflood yang diterapkan melalui pemboran sumur dengan pola yang lebih rapat. Pada saat Caltex mengusulkan ide ini, Pertamina selaku pemegang manajemen Production Sharing Contractor (PSC) menanggapinya secara hati-hati mengingat investasinya yang besar. Kepala BKKA, Jack Zahar bahkan punya ide dan secara serius mempresentasikan di forum konvensi Indonesian Petroleum Association (IPA), untuk menambang minyak Duri dalam arti yang sesungguhnya dengan menggali tanah overburden. Walaupun struktur lapangan Duri sangat dangkal yaitu sekitar m, namun mengingat kendalanya terlalu besar ide ini tidak diteruskan. Pertamina menyetujui proposal Caltex dengan syarat harus diawali dengan kajian yang komprehensif. Proyek yang besar dan ambisius ini diberi nama Duri Steam Flood (DSF) yang kemudian menjadi proyek terbesar di dunia jauh melebihi produksi Kern River di California. Pertanyaan kemudian muncul, siapa yang akan menjalankan kajian dari 61
8 Enhanced Oil Recovery di Indonesia Pertambang a Rachmat Sudibjo proyek raksasa ini? Jawaban dari Pertamina firm, Lemigas. Untuk kesekian kalinya Lemigas kembali mendapat kepercayaan untuk melaksanakan pekerjaan yang sangat vital. Tapi kali ini tantangan yang dihadapi oleh Rachmat dan timnya tidak main-main, jauh lebih besar dan kompleks. Selama ini software yang digunakan Lemigas adalah jenis black oil. Dalam memodelkan proses steam flooding, software yang digunakan harus mampu memperhitungkan perubahan karakteristik batuan dan fluida reservoir, proses pemindahan panas dan thermodinamika selama berlangsung pemanasan di dalam reservoir. Bagi Rachmat proses pendesakan uap air ini tidak terlalu asing karena tesis yang dia kerjakan di Perancis justru berkaitan dengan hal itu. Dengan luas sekitar 18x10 km 2, pengembangan lapangan Duri dilakukan secara bertahap pada 12 area dengan target puncak produksi sebesar 300 ribu barel per hari. Hasil evaluasi dari Tim Lemigas menunjukan bahwa dengan produksi sebesar itu diperlukan paling sedikit 4000 sumur tergantung dari skenario produksi pada masing-masing area pengembangan tersebut. Dengan jumlah sumur sebesar itu bisa dibayangkan kendala operasi yang harus dihadapi mengingat banyak sumur yang mengalami kepasiran (sand problem), banyak pasir yang ikut terproduksi karena ikatan batuan yang tidak terlalu solid, ciri khas dari reservoir dangkal. Beruntung bagi Rachmat, problem inipun sudah dia kenal karena merupakan topik dari skripsi sarjana yang dia kerjakan di lapangan Duri tahun1971. Sebenarnya Rachmat kurang suka dengan topik skripsi ini karena analisis penyelesaiannya lebih banyak bersifat pendekatan empirik-statistik daripada pendekatan teoritis-matematis. Karena itu dia harus mengumpulkan data sebanyak mungkin agar hasil statistiknya cukup kredibel. Dia mendapat izin dari pembimbingnya untuk membongkar file sekitar 70 sumur dan meneliti jenis penyelesaian sumur dan derajat problematiknya. Dia baru menyadari betapa pentingnya arti dari skripsi itu bagi dirinya saat dia mendapat tugas melakukan evaluasi perencanaan Steam Flooding di lapangan yang sama 10 tahun kemudian. 62
9 Gambar 27. Boiler Pembangkit Uap di DSF Pendekatan studi Steam Flooding yang dilakukan adalah multidisipliner yang melibatkan displin ilmu geologi, teknik perminyakan dan teknik kimia untuk kajian fasilitas lapangan yang lebih komplek. Tim Rachmat mendapat bantuan dari Bona Situmorang untuk masalah pengembangan geologi dan Maizar Rachman untuk pengolahan lapangan. Semula Tim Leader dari studi DSF ditunjuk Sutomo Sudomo dibantu oleh Erzat Gomaa dari Caltex untuk pengenalan software thermal yang digunakan. Tapi karena suatu alasan Sutomo mengundurkan diri dan Tim Leader akhirnya dipegang langsung oleh Rachmat. Untuk membangkitkan uap yang diperlukan, sekitar 20% dari minyak yang diproduksi harus disisihkan dan dibakar. Ini berarti sekitar 60 ribu barel minyak bumi harus dibakar setiap hari. Suatu jumlah yang tidak sedikit. Sebelumnya Caltex pernah melakukan studi penggunaan batubara sebagai alternatif pembangkit panas. Dengan ratusan ribu ton batubara yang harus dibakar per hari, di samping perlu dibangun infrastruktur berupa jalur kereta api dari Dumai ke Duri sepanjang 100 km juga perlu disediakan gerbong pengangkut batubara yang terus menerus bergerak tanpa putus. Belum lagi produk sampingan berupa 63
10 Enhanced Oil Recovery di Indonesia Pertambang a Rachmat Sudibjo abu yang menggunung yang penanganannya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Alternatif lain yang dilihat adalah keberadaan sumber air panas dekat perbatasan Sumatra Barat, namun karena suhunya tidak cukup tinggi pilihan inipun ditinggalkan. Beberapa tahun setelah studi DSF selesai dikerjakan, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menawarkan kepada Lemigas kemungkinan pemanfaatan pembangkit listrik tenaga nuklir sebagai pembangkit uap air. Teknologi yang ditawarkan adalah High Temperatur Reactor (HTR), yang bersifat modular sehingga reaktornya tidak terlalu besar karena dibagi menjadi beberapa modul kecil. Keunggulan dari reaktor bersuhu tinggi ini adalah di samping membangkitkan uap yang diperlukan untuk proyek DSF, tenaga listrik yang dibangkitkan dapat disalurkan untuk menggerakan pompa di sumur produksi. Rachmat mendukung ide tersebut dan ikut aktif berpartisipasi bersama Tim BATAN. Karena berbagai pertimbangan, alternatif inipun akhirnya tidak dipilih dan penggunaan minyak bumi sebagai bahan bakar tetap diteruskan, sampai kemudian Asamera menemukan gas yang cukup besar di Grissik, Jambi. Gambar 28. Fasilitas dan Pipa Distribusi pada Proyek DSF 64
11 Sekitar tahun 1994, beberapa tahun setelah studi DSF selesai, Asamera mengusulkan pengembangan lapangan gas yang ditemukannya di Jambi. Saat itu belum ada infrastruktur yang menunjang transportasi sumber gas yang terletak di tengah hutan tersebut. Jarak terdekat dengan sentra industri di Jawa Barat sekitar km sehingga tidak ada satu konsumen pun yang berminat membeli gas Asamera. Jalan keluar satu-satunya adalah menyalurkan sumber gas tersebut ke Duri untuk menggantikan minyak yang dibakar. Pemerintah menyambut positif usulan tersebut karena selama ini memang pemerintah belum merasa nyaman atas pembakaran minyak Duri tersebut. Untuk merealisasi rencana tersebut, perlu dibangun pipa antara Duri-Grissik yang berjarak sekitar 540 km. Mengingat bahwa pembangunan pipa ini berada di luar lingkup PSC, A. Qoyum, Direktur Utama PGN, menangkap peluang itu dengan mengusulkan kepada pemerintah agar PGN diberi kesempatan untuk membangun pipa tersebut dengan sistem toll-fee. Awalnya pihak Caltex merasa keberatan, khawatir proyek DSF yang sudah berjalan jauh terganggu. Untuk mengatasi hal itu, Pemerintah membentuk Tim di bawah koordinasi Suyitno Patmosukismo, Dirjen Migas waktu itu, dan Rachmat yang sudah menjabat Direktur EP Migas dilibatkan langsung dalam Tim. Akhirnya Caltex setuju dengan prinsip no gain no loss, artinya minyak Duri yang seharusnya dibakar, ditukar (swap) dengan gas Asamera tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Untuk pembangunan pipa ini, PGN mendapatkan dukungan pendanaan dari Asian Development Bank (ADB). Rachmat yang mengetahui seluk beluk proyek DSF diikut sertakan sebagai wakil Pemerintah dalam Tim yang melakukan negosiasi dengan pihak ADB di Manila dan European Bank di Luxembourg. Bagi PGN pembangunan pipa Duri-Grissik ini merupakan milestone yang monumental yang kelak akan mentransformasi PGN dari distributor gas kota menjadi world-class company. 65
12 Enhanced Oil Recovery di Indonesia Pertambang a Rachmat Sudibjo 66
Di tengah kesibukannya berkarya di Kementerian ESDM, Rachmat
bagian XVII Menjadi Dosen Teknik Perminyakan Di tengah kesibukannya berkarya di Kementerian ESDM, Rachmat sempat meluangkan waktu untuk menjadi dosen Teknik Perminyakan di Universitas Trisakti, Jakarta.
KEGIATAN OPERASI DAN PRODUKSI MINYAK DAN GAS BUMI DI PT. MEDCO E&P INDONESIA ( S&C SUMATERA ) FIELD SOKA
KEGIATAN OPERASI DAN PRODUKSI MINYAK DAN GAS BUMI DI PT. MEDCO E&P INDONESIA ( S&C SUMATERA ) FIELD SOKA Diajukan untuk Memenuhi Syarat Permohonan Kuliah Kerja Lapangan O l e h Veto Octavianus ( 03111002051
BAB II INJEKSI UAP PADA EOR
BAB II INJEKSI UAP PADA EOR Enhanced Oil Recovery (EOR) adalah istilah dari kumpulan berbagai teknik yang digunakan untuk meningkatkan produksi minyak bumi dan saat ini banyak digunakan pada banyak reservoir
Setahun setelah kembali dari studinya di Perancis sebagai kader
bagian V Simulasi Reservoir Setahun setelah kembali dari studinya di Perancis sebagai kader spesialis pada tahun 1978, Rachmat mendapat tugas untuk terjun langsung mengerjakan simulasi reservoir yang diterapkan
THERMAL FLOODING. DOSEN Ir. Putu Suarsana MT. Ph.D
THERMAL FLOODING DOSEN Ir. Putu Suarsana MT. Ph.D Outline : Pengenalan Injeksi Thermal Beberapa Cara Injeksi Thermal Penerapan Injeksi Thermal Pada Lapangan Pengenalan Injeksi Thermal Injeksi thermal adalah
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ketergantungan dunia pada minyak bumi dan pertumbuhan permintaan dunia diduga akan terus menyebabkan kenaikan harga sumber energi utama dunia ini. Diperkirakan permintaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Minyak bumi telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap ekonomi dunia hingga saat ini. Persediaan akan panas, cahaya, dan transportasi bergantung terhadap
SINERGI LITBANG, POTENSI PENGEMBANGAN PRODUK BAHAN KIMIA UNTUK EOR DARI SKALA LAB. KE KOMERSIAL
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL SINERGI LITBANG, POTENSI PENGEMBANGAN PRODUK BAHAN KIMIA UNTUK EOR DARI SKALA LAB. KE KOMERSIAL Jakarta, 13 Februari 2014 BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ENERGI
KAJIAN LABORATORIUM MENGENAI PENGARUH SALINITAS, PERMEABILITAS DAN KONSENTRASI SURFAKTAN TERHADAP PEROLEHAN MINYAK PADA PROSES INJEKSI SURFAKTAN
Seminar Nasional Cendekiawan ke 3 Tahun 2017 ISSN (P) : 2460-8696 Buku 1 ISSN (E) : 2540-7589 KAJIAN LABORATORIUM MENGENAI PENGARUH SALINITAS, PERMEABILITAS DAN KONSENTRASI SURFAKTAN TERHADAP PEROLEHAN
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut BP Statistical Review 2011, sejak tahun 2003 untuk pertama kalinya Indonesia mengalami defisit minyak dimana tingkat konsumsi lebih tinggi dibanding tingkat produksi.
PROBLEM OPEN-ENDED OSN PERTAMINA 2014 BIDANG KIMIA
PROBLEM OPEN-ENDED OSN PERTAMINA 2014 BIDANG KIMIA TOPIK 1 BIOMASSA SEBAGAI SUMBER ENERGI Biomasa merupakan bahan organik yang tersedia secara terbarukan, umumnya berasal dari tumbuhan yang digunakan sebagai
Bab 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
Bab 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak ribuan tahun yang lalu, minyak bumi telah digunakan oleh manusia untuk berbagai keperluan. Usaha pencarian sumber minyak di dalam bumi mulai dilakukan pada tahun
Production Sharing Contract
bagian VI Production Sharing Contract Apa yang dikerjakan oleh Rachmat bersama Timnya dalam melakukan studi resevoir sebenarnya tidak terlepas dari pelaksanaan pengawasan yang dilakukan di bawah sistem
Potensi panas bumi di Indonesia merupakan yang terbesar di. Panas Bumi dan Teknologi BAB IV. Reservoir. 4.1 Reservoir Panas Bumi
BAB IV Reservoir Panas Bumi dan Teknologi Potensi panas bumi di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia. Sayangnya, potensi tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Salah satu kendalanya adalah
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) pertama kali muncul pada tahun 1858 ketika minyak mentah ditemukan oleh Edwin L. Drake di Titusville (IATMI SM STT MIGAS
Bab IV Model dan Optimalisasi Produksi Dengan Injeksi Surfaktan dan Polimer
Bab IV Model dan Optimalisasi Produksi Dengan Injeksi Surfaktan dan Polimer Pada bab ini akan dijelaskan tentang model yang telah dibuat oleh peneliti sebelumnya kemudian dari model tersebut akan dioptimalisasi
Bab I Pendahuluan. I.1 Maksud dan Tujuan
Bab I Pendahuluan I.1 Maksud dan Tujuan Pemboran pertama kali di lapangan RantauBais di lakukan pada tahun 1940, akan tetapi tidak ditemukan potensi hidrokarbon pada sumur RantauBais#1 ini. Pada perkembangan
BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. dinilai cukup berhasil dari segi administrasi publik, namun dari sisi keuangan
BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN 4.1. Sejarah Objek Penelitian Keberhasilan proses otonomi daerah dapat dinilai dari tata kelola administrasi dan keuangan di masing-masing pemerintah daerah. Meskipun
), bikarbonat (HCO 3- ), dan boron (B). Hal ini dapat mempengaruhi penurunan pertumbuhan dan perkembangan pada sektor pertanian.
1. Apa yang dimaksud dengan gas metana batubara (Coal Bed Methane) Gas metana batubara (Coal Bed Methane) adalah suatu gas alam yang terperangkap di dalam lapisan batubara (coal seam). Gas metana ini bisa
2017, No Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4435) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah No
No.116, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-ESDM. Kontrak Bagi Hasil Gross Split. Pencabutan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 08 TAHUN 2017 TENTANG KONTRAK
STUDI LABORATORIUM PENGARUH KONSENTRASI SURFAKTAN POLIMER TERHADAP RECOVERY FACTOR DENGAN BERBAGAI SALINITAS
STUDI LABORATORIUM PENGARUH KONSENTRASI SURFAKTAN POLIMER TERHADAP RECOVERY FACTOR DENGAN BERBAGAI SALINITAS Ricky 1), Sugiatmo Kasmungin 2), M.Taufiq Fathaddin 3) 1) Mahasiswa Magister Perminyakan, Fakultas
Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN:
PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK DENGAN INJEKSI AIR DENGAN PENEMBAHAN POLIMER KONSENTRASI RENDAH SKALA LABORATORIUM Havidh Pramadika, Sugiatmo Kasmungin, Kartika Program Studi Teknik Perminyakan, Universitas
BAB I PENDAHULUAN. Dalam beberapa tahun terakhir, metode pengurasan minyak tahap lanjut
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Dalam beberapa tahun terakhir, metode pengurasan minyak tahap lanjut atau EOR (Enhanced Oil Recovery) menjadi pokok bahasan yang ramai diperbincangkan. Metode EOR
Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN:
STUDI LABORATORIUM MENGENAI PENGARUH PENINGKATAN KONSENTRASI SURFAKTAN TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI MINYAK PADA INJEKSI SURFAKTAN DENGAN KADAR SALINITAS AIR FORMASI YANG BERVARIASI Tommy Viriya dan Lestari
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penggunaan energi dari fosil seperti minyak dan gas bumi (migas) telah mempengaruhi segala bidang kehidupan manusia saat ini dan diprediksikan akan terus meningkat
STUDI KELAYAKAN PENERAPAN INJEKSI SURFAKTAN DAN POLIMER DI LAPANGAN X MENGGUNAKAN SIMULATOR NUMERIK TESIS EMA FITRIANI NIM :
STUDI KELAYAKAN PENERAPAN INJEKSI SURFAKTAN DAN POLIMER DI LAPANGAN X MENGGUNAKAN SIMULATOR NUMERIK TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung
Gambar 1.1 Proses Pembentukan Batubara
1. Bagaimana terbentuknya? Gas metana batubara terbentuk selama proses coalification, yaitu proses perubahan material tumbuhan menjadi batubara. Bahan organik menumpuk di rawa-rawa sebagai tumbuhan mati
Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia Simposium Nasional IATMI 2009 Bandung, 2-5 Desember Makalah Profesional IATMI
Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia Simposium Nasional IATMI 2009 Bandung, 2-5 Desember 2009 Makalah Profesional IATMI 08-036 Upaya Peningkatan Produksi Pada Struktur Rantau Zona 600 Yang Sudah Dilakukan
II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Metode EOR
II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Metode EOR Metode peningkatan perolehan minyak tingkat lanjut atau Enhanced Oil Recovery (EOR) adalah suatu teknik peningkatan produksi minyak setelah tahapan produksi
STUDI PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK DI ZONA A LAPANGAN X DENGAN METODE INJEKSI AIR
STUDI PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK DI ZONA A LAPANGAN X DENGAN METODE INJEKSI AIR TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung Oleh : RADEN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam tugas akhir ini akan dilakukan perancangan bejana tekan vertikal dan simulasi pembebanan eksentrik pada nozzle dengan studi kasus pada separator kluster 4 Fluid
Study Peningkatan Oil Recovery Pada Injeksi Surfaktan-Polimer Pada Batuan Karbonat
Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Lembaga Penelitian Universitas Trisakti Vol. 3, No. 1, Januari 2018, ISSN (p): 0853-7720, ISSN (e): 2541-4275 Study Peningkatan Oil Recovery Pada Injeksi Surfaktan-Polimer
Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang
Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan minyak, maka berbagai cara dilakukan untuk dapat menaikkan produksi minyak, adapun beberapa cara yang dapat dilakukan
BAB I PENDAHULUAN. pencemaran lingkungan yang cukup serius selama 30 tahun terakhir ini.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Polusi yang disebabkan karena minyak merupakan salah satu isu pencemaran lingkungan yang cukup serius selama 30 tahun terakhir ini. Pencemaran oleh minyak terjadi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Industri yang berhubungan dengan sistem distribusi fluida tentunya memerlukan instrumen untuk mengalirkannya. Untuk fluida termampatkan maka diperlukan kompresor,
BAB I PENDAHULUAN I.1.
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Beberapa tahun ini produksi minyak bumi selalu mengalami penurunan, sedangkan konsumsi minyak selalu mengalami penaikan. Menurut Pusat Data Energi dan Sumber Daya
BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Perkembangan Neraca Listrik Domestik Indonesia [2].
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Saat ini, kebutuhan listrik telah menjadi kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan listrik sendiri didasari oleh keinginan manusia untuk melakukan aktivitas lebih mudah
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Tinjauan Objek Studi Profil PT. Chevron Pacific Indonesia
BAB I 1.1 Tinjauan Objek Studi PENDAHULUAN 1.1.1 Profil PT. Chevron Pacific Indonesia PT. Chevron Pacific Indonesia (PT. CPI) merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi dan eksploitasi
INDONESIAN 2050 PATHWAYS CALCULATOR SEKTOR PASOKAN ENERGI: PRODUKSI BATUBARA, MINYAK DAN GAS BUMI. Sekretariat Badan Litbang ESDM 2
INDONESIAN 2050 PATHWAYS CALCULATOR SEKTOR PASOKAN ENERGI: PRODUKSI BATUBARA, MINYAK DAN GAS BUMI Andriani Rahayu 1 dan Maria Sri Pangestuti 2 1 Sekretariat Badan Litbang ESDM 2 Indonesian Institute for
ISBN
ISBN 978-979-98831-1-7 Proceeding Simposium Nasional IATMI 25-28 Juli 2007, UPN Veteran Yogyakarta STUDI KEMUNGKINAN PENGGUNAAN FIBER SEBAGAI SARINGAN PASIR DI INDUSTRI MIGAS Oleh : Suwardi UPN VETERAN
MENENTUKAN LAJU ALIR BAHAN BAKAR GAS, AIR DAN UDARA YANG OPTIMAL PADA STEAM GENERATOR
MENENTUKAN LAJU ALIR BAHAN BAKAR GAS, AIR DAN UDARA YANG OPTIMAL PADA STEAM GENERATOR Yudi Efendi*, Utama PS**, Aman** *PT.Chevron Pacific Indonesia, Duri Riau **Jurusan Teknik Kimia FT UR [email protected]
Kesalahan pembulatan Kesalahan ini dapat terjadi karena adanya pembulatan angka-angka di belakang koma. Adanya pembulatan ini menjadikan hasil
BAB V PEMBAHASAN Simulasi reservoar merupakan usaha untuk menirukan/memodelkan suatu reservoar yang sesungguhnya dengan model matematis sehingga perilaku reservoar di masa yang akan datang dapat diprediksi.
2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 136
No.1188, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-ESDM. Kontrak Bagi Hasil Gross Split. Perubahan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN
BAB IV KAJIAN KEEKONOMIAN GAS METANA-B
BAB IV KAJIAN KEEKONOMIAN GAS METANA-B Sebelum dilakukan perhitungan keekonomian dari pengusahaan Gas Metana- B sesuai dengan prosedur penelitian yang telah diuraikan pada Bab III, kita harus melakukan
BAB I PENDAHULUAN I.1
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Penelitian Energi memiliki peranan penting dalam menunjang kehidupan manusia. Seiring dengan perkembangan zaman, kebutuhan akan energi terus meningkat. Untuk dapat
GEOTHERMAL SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF
GEOTHERMAL SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas MID AMISCA 2008 Disusun oleh: Kelompok 1 Kelompok 2 Fazri Azhar (10507001) Dinda Husna (10507057) Mila Vanesa (10507013) Sukmawati
KARAKTERISASI SURFAKTAN POLIMER PADA SALINITAS PPM DAN SUHU 85 C
Seminar Nasional Cendekiawan ke 3 Tahun 2017 ISSN (P) : 2460-8696 Buku 1 ISSN (E) : 2540-7589 KARAKTERISASI SURFAKTAN POLIMER PADA SALINITAS 15.000 PPM DAN SUHU 85 C Radityo Danisworo 1, Sugiatmo Kasmungin
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam rangka meningkatkan produksi migas di Indonesia ini, ada 2 langkah upaya yang dapat dilakukan, yakni secara ekstensifikasi dan intensifikasi. Langkah ekstensifikasi
STUDI KESTABILAN BUSA MENGENAI PENGARUH SUHU DAN ELEKTROLITSERTA KONSENTRASI SURFAKTAN DENGAN DAN TANPA MINYAK
Seminar Nasional Cendekiawan ke 3 Tahun 2017 ISSN (P) : 2460-8696 Buku 1 ISSN (E) : 2540-7589 STUDI KESTABILAN BUSA MENGENAI PENGARUH SUHU DAN ELEKTROLITSERTA KONSENTRASI SURFAKTAN DENGAN DAN TANPA MINYAK
Gambar 11. Perbandingan hasil produksi antara data lapangan dengan metode modifikasi Boberg- Lantz pada sumur ADA#22
Sekali lagi dari Gambar 9 dapat dilihat bahwa perbandigan kurva produksi metode modifikasi Boberg-Lantz dengan data lapangan berpola mendekati. Hal ini dapat dilihat dari kecenderungan kenaikan produksi
BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN
BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan Chevron didirikan pada tahun 1879 di Pico Canyon, California. Saat ini, Chevron Corporation yang berkantor pusat di San Ramon, California, Amerika Serikat
REKOMENDASI KEBIJAKAN Tim Reformasi Tata Kelola Migas. Jakarta, 13 Mei 2015
REKOMENDASI KEBIJAKAN Tim Reformasi Tata Kelola Migas Jakarta, 13 Mei 2015 Outline Rekomendasi 1. Rekomendasi Umum 2. Pengelolaan Penerimaan Negara Dari Sektor Minyak dan Gas Bumi 3. Format Tata Kelola
BAB I PENDAHULUAN. serta alasan penulis memilih obyek penelitian di PT. X. Setelah itu, sub bab
BAB I PENDAHULUAN Bab pendahuluan dalam tesis ini menguraikan latar belakang dilakukannya penelitian dimana akan dibahas mengenai potensi sumber daya panas bumi di Indonesia, kegiatan pengembangan panas
Seminar Nasional Cendekiawan 2015 ISSN:
ANALISIS SIFAT PATAHAN (SEALING-LEAKING) BERDASARKAN DATA TEKANAN, DECLINE CURVE, DAN CONNECTIVITY INJECTION PADA LAPANGAN DIMA Alfredo, Djoko Sulistyanto Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Trisakti
Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia
Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia Simposium Nasional dan Kongres X Jakarta, 12 14 November 2008 Makalah Profesional IATMI 08-027 STUDI LABORATORIUM UNTUK REAKTIVASI LAPANGAN-X DENGAN INJEKSI KIMIA
Tinjauan Pustaka. Enhanced oil recovery adalah perolehan minyak dengan cara menginjeksikan bahanbahan yang berasal dari luar reservoir (Lake, 1989).
Bab II Tinjauan Pustaka II.1 Enhanced Oil Recovery (EOR) Enhanced oil recovery (EOR) adalah metode yang digunakan untuk memperoleh lebih banyak minyak setelah menurunnya proses produksi primer (secara
Metodologi Penelitian. Mulai. Pembuatan model fluida reservoir. Pembuatan model reservoir
Bab III Metodologi Penelitian III.1 Diagram Alir Penelitian Diagram pada Gambar III.1 berikut ini merupakan diagram alir yang menunjukkan tahapan proses yang dilakukan pada penelitian studi simulasi injeksi
DEWAN ENERGI NASIONAL OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014
OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014 23 DESEMBER 2014 METODOLOGI 1 ASUMSI DASAR Periode proyeksi 2013 2050 dimana tahun 2013 digunakan sebagai tahun dasar. Target pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata sebesar
Dokumen Kurikulum Program Studi : Doktor Teknik Perminyakan Lampiran III
Dokumen Kurikulum 2013-2018 Program Studi : Doktor Teknik Perminyakan Lampiran III Fakultas : Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Teknologi
Bab I. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dengan berjalannya waktu jumlah cadangan migas yang ada tentu akan semakin berkurang, oleh sebab itu metoda eksplorasi yang efisien dan efektif perlu dilakukan guna
PETA PERKEMBANGAN INDUSTRI PERMINYAKAN DUNIA
PETA PERKEMBANGAN INDUSTRI PERMINYAKAN DUNIA PETA PERKEMBANGAN INDUSTRI PERMINYAKAN DUNIA Tahun Sejarah Perkembangan Migas Dunia Akhir 1800 Rockeffeler memulai bisnisnya di Cleveland, Ohio. Yaitu dengan
BAB I PENDAHULUAN. Pada akhir Desember 2011, total kapasitas terpasang pembangkit listrik di
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Energi listrik adalah energi yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Pada akhir Desember 2011, total kapasitas terpasang pembangkit listrik di Indonesia mencapai
PERENCANAAN PATTERN FULL SCALE UNTUK SECONDARY RECOVERY DENGAN INJEKSI AIR PADA LAPANGAN JAN LAPISAN X1 DAN LAPISAN X2
PERENCANAAN PATTERN FULL SCALE UNTUK SECONDARY RECOVERY DENGAN INJEKSI AIR PADA LAPANGAN JAN LAPISAN X1 DAN LAPISAN X2 Jannisto Harrison Mongan Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan
FULL DEVELOPMENT OF PIPELINE NETWORKING AT X FIELD
Seminar Nasional Cendekiawan ke 3 Tahun 2017 ISSN (P) : 2460-8696 Buku 1 ISSN (E) : 2540-7589 FULL DEVELOPMENT OF PIPELINE NETWORKING AT X FIELD Fazri Apip Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknik Kebumian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Industri perminyakan adalah salah satu industri strategis yang memegang peranan sangat penting saat ini, karena merupakan penyuplai terbesar bagi kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurunnya angka produksi minyak dan gas bumi dewasa ini memberikan konsekuensi yang cukup besar bagi kehidupan masyarakat. Kebutuhan akan sumber daya minyak dan gas
MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,
S A L I N A N PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENGELOLAAN AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN HULU MINYAK DAN GAS SERTA PANAS BUMI DENGAN
STRATEGI MENGATASI KEHETEROGENITASAN DENGAN INJEKSI SURFAKTAN PADA POLA FIVE SPOT UNTUK MENINGKATKAN FAKTOR PEROLEHAN MINYAK TUGAS AKHIR
STRATEGI MENGATASI KEHETEROGENITASAN DENGAN INJEKSI SURFAKTAN PADA POLA FIVE SPOT UNTUK MENINGKATKAN FAKTOR PEROLEHAN MINYAK TUGAS AKHIR Oleh: ZUL FADLI NIM 122553 Diajukan sebagai salah satu syarat untuk
THE VIET TRI PAPER DESKRIPSI PERUSAHAAN DESKRIPSI PROSES
THE VIET TRI PAPER DESKRIPSI PERUSAHAAN THE VIET TRI PAPER, sebuah perusahaan negara, didirikan pada tahun 1961 dan berlokasi di propinsi Phu Tho. Viet Tri berada pada peringkat empat dalam hal kapasitas
I. PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu dan teknologi di dunia terus berjalan seiring dengan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ilmu dan teknologi di dunia terus berjalan seiring dengan timbulnya masalah yang semakin kompleks diberbagai bidang kehidupan, tidak terkecuali dalam bidang
Gambar 3.1. Struktur Perusahaan
BAB 3 GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 3.1. Sejarah Singkat PT. X Berdasarkan data yang diperoleh melalui Laporan Tahunan 2009, PT. X didirikan pada 9 Juni 1980 di bawah hukum Republik Indonesia dan memulai usahanya
Bab II Tinjauan Pustaka
Bab II Tinjauan Pustaka II.1 Injeksi Air Injeksi air merupakan salah satu metode Enhanced Oil Recovery (aterflood) untuk meningkatkan perolehan minyak yang tergolong injeksi tak tercampur. Air injeksi
Dokumen Kurikulum Program Studi : Magister Teknik Perminyakan Lampiran III
Dokumen Kurikulum 2013-2018 Program Studi : Magister Teknik Perminyakan Lampiran III Fakultas : Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut
Sinergi antar Kementerian dan instansi pemerintah sebagai terobosan dalam pengembangan panasbumi mencapai 7000 MW di tahun 2025
Sinergi antar Kementerian dan instansi pemerintah sebagai terobosan dalam pengembangan panasbumi mencapai 7000 MW di tahun 2025 Disajikan oleh: Roy Bandoro Swandaru A. Pendahuluan Pemerintah telah berkomitmen
KAJIAN LABORATORIUM MENGENAI KETERBASAHAN BATUAN PADA RESERVOIR YANG MENGANDUNG MINYAK PARAFIN PADA PROSES IMBIBISI
KAJIAN LABORATORIUM MENGENAI KETERBASAHAN BATUAN PADA RESERVOIR YANG MENGANDUNG MINYAK PARAFIN PADA PROSES IMBIBISI Siti Kartika, Sugiatmo Kasmungin Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Trisakti
KELAKUAN FASA CAMPURAN ANTARA RESERVOAR-INJEKSI-SURFAKTAN UNTUK IMPLEMENTASI ENHANCED WATER FLOODING
PROCEEDING SIMPOSIUM NASIONAL IATMI 2001 Yogyakarta, 3-5 Oktober 2001 KELAKUAN FASA CAMPURAN ANTARA RESERVOAR-INJEKSI-SURFAKTAN UNTUK IMPLEMENTASI ENHANCED WATER FLOODING Sugihardjo 1, Edward Tobing 1,
2017, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Panas Bumi adalah sumber energi panas yang terkand
No.30, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LINGKUNGAN HIDUP. Panas Bumi. Tidak Langsung. Pemanfaatan. Pencabutan (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6023). PERATURAN
Bab III Gas Metana Batubara
BAB III GAS METANA BATUBARA 3.1. Gas Metana Batubara Gas metana batubara adalah gas metana (CH 4 ) yang terbentuk secara alami pada lapisan batubara sebagai hasil dari proses kimia dan fisika yang terjadi
METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. ALAT DAN BAHAN Peralatan yang digunakan adalah jangka sorong, destilator, pompa vacum, pinset, labu vacum, gelas piala, timbangan analitik, tabung gelas/jar, pipet, sudip,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2017 TENTANG PANAS BUMI UNTUK PEMANFAATAN TIDAK LANGSUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2017 TENTANG PANAS BUMI UNTUK PEMANFAATAN TIDAK LANGSUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan
ARTIKEL TUGAS INDUSTRI KIMIA ENERGI TERBARUKAN. Disusun Oleh: GRACE ELIZABETH ID 02
ARTIKEL TUGAS INDUSTRI KIMIA ENERGI TERBARUKAN Disusun Oleh: GRACE ELIZABETH 30408397 3 ID 02 JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS GUNADARMA 2011 ENERGI TERBARUKAN Konsep energi
learning, sharing, meaningful
learning, sharing, meaningful Home System & Technology of Geothermal Development of Geothermal Events Contents Irsamukhti Monday, October 15, 2012 Fasilitas Lapangan Uap Pada Pembangkit Listrik Tenaga
UPAYA PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK MENGGUNAKAN METODE CHEMICAL FLOODING DI LAPANGAN LIMAU
UPAYA PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK MENGGUNAKAN METODE CHEMICAL FLOODING DI LAPANGAN LIMAU Oleh : Eko Bagus Wibowo - UPN Veteran Yogyakarta Aris Buntoro - UPN Veteran Yogyakarta M. Natsir - Unit Bisnis
I. DISTRIBUSI MATA KULIAH PER SEMESTER PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN
I. DISTRIBUSI MATA KULIAH PER SEMESTER PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN SEMESTER 1 NO. LAMA BARU MATA KULIAH K R P sks 1 PUM.301 PUM.306 Matematika I 3 2 3 2 IFI.401 IFI.301 Fisika Dasar I 3 2 3 3 MKI.
Kata kunci: recovery factor, surfactant flooding, seven-spot, saturasi minyak residu, water flooding recovery factor.
Pengembangan Persamaan untuk Mengestimasi Recovery Factor dari Surfactant Flooding pada Pola Injeksi Seven-Spot Gerdhy Ferdian* Dr. Ir. Leksono Mucharam** Abstrak Pemilihan metode peningkatan perolehan
PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK DENGAN INJEKSI GAS CO 2 DAN SURFAKTAN SECARA SEREMPAK
IATMI 2005-56 PROSIDING, Simposium Nasional Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) 2005 Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, 16-18 November 2005. SARI PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK DENGAN
BAB I PENDAHULUAN. PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, (PGN) merupakan perusahaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, (PGN) merupakan perusahaan salah satu perusahaan dibawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang transportasi
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Dalam kegiatan operasional industri minyak banyak ditemukan berbagai macam alat pengoperasian untuk mencapai hasil yang diinginkan dalam wujud peralatan
Pada tahun 1968, Ir. Gufron, salah seorang dosen Teknik Perminyakan,
bagian III Berkarya di Lemigas Pada tahun 1968, Ir. Gufron, salah seorang dosen Teknik Perminyakan, memanggil Rachmat bersama mahasiswa lainnya ke kantornya. Kita masih punya sisa dana proyek Survey. Saya
BAB 1 PENDAHULUAN. Besarnya konsumsi listrik di Indonesia semakin lama semakin meningkat.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Besarnya konsumsi listrik di Indonesia semakin lama semakin meningkat. Kenaikan konsumsi tersebut terjadi karena salah satu faktornya yaitu semakin meningkatnya jumlah
IKATAN AHLI TEKNIK PERMINYAKAN INDONESIA. Simposium Nasional IATMI 2009 Bandung, 2 5 Desember 2009
IKATAN AHLI TEKNIK PERMINYAKAN INDONESIA Simposium Nasional IATMI 29 Bandung, 2 5 Desember 29 Implementasi Pilot Waterflooding Lapangan Bunyu Region KTI Bagi Aspek Lingkungan Oleh: Ahmad Syaifuddin Erwin
PENGARUH TEMPERATUR LINGKUNGAN TERHADAP EFISIENSI TURBIN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (PLTP)
PENGARUH TEMPERATUR LINGKUNGAN TERHADAP EFISIENSI TURBIN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (PLTP) MKE-3 NK.Caturwati, Imron Rosyadi, Febriana Irfani C. Jurusan Teknik Mesin Universitas Sultan Ageng
LAPORAN KUNJUNGAN KERJA SPESIFIK KOMISI VII DPR RI KE PROVINSI KALIMANTAN TIMUR MASA PERSIDANGAN III TAHUN SIDANG
LAPORAN KUNJUNGAN KERJA SPESIFIK KOMISI VII DPR RI KE PROVINSI KALIMANTAN TIMUR MASA PERSIDANGAN III TAHUN SIDANG 2014-2015 KOMISI VII DEWAN PERWAKILAN RAKYAT INDONESIA 2015 BAGIAN I PENDAHULUAN A. LATAR
BAB 1 PENDAHULUAN. tersebut merupakan kebutuhan yang esensial bagi keberlangsungan hidup
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam baik yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui. Sumber daya alam tersebut merupakan kebutuhan
Perkiraan Luas Reservoir Panas Bumi dan Potensi Listrik Pada Tahap Eksplorasi (Studi Kasus Lapangan X)
Jurnal of Eart, Energy, Engineering ISSN: 2301 8097 Jurusan Teknik perminyakan - UIR Perkiraan Luas Reservoir Panas Bumi dan Potensi Listrik Pada Tahap Eksplorasi (Studi Kasus Lapangan X) Estimation Geothermal
BAB I PENDAHULUAN. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengungkapkan pada 2015 ini diperkirakan jumlah penduduk Indonesia sekitar 250 juta jiwa dengan pertumbuhan
