BAB II TINJAUAN UMUM
|
|
|
- Widya Makmur
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Sejarah PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (sekarang di bawah Heidelberg Indocement Group) awal berdiri pada tanggal 1 Juni 1973 dengan nama PT Distinct Indonesia Cement Enterprise (PT DICE) yang memiliki dan mengelola dua pabrik di Citeureup Bogor yaitu Plant 1 dan Plant 2, serta mulai berproduksi pada tanggal 4 Agustus 1975 dengan kapasitas produksi ton semen per tahun. Pada tahun 1978 didirikan pabrik baru yaitu Plant 3 dan Plant 4, yang dikelola oleh PT Perkasa Indonesia Cement Enterprise (PT PICE) dengan kapasitas produksi ton semen per tahun. Kemudian di tahun 1981 pabrik baru dibangun (Plant 5) yang memprouksi semen putih (white cement), serta dikelola oleh PT Perkasa Indah Indonesia Cement Enterprise (PT PIICE) dengan kapasitas produksi ton semen putih per tahun. Pada tahun 1983, Plant 6 didirikan dan dikelola oleh PT Perkasa Agung Utama Indonesia Cement Enterprise (PT PAUICE), dan di tahun 1984 dan 1985 didirikan Plant 8 dan Plant 9 yang masing-masing dikelola oleh PT Perkasa Inti Abadi Indonesia Cement Enterprise (PT PIAICE) dan PT Perkasa Abadi Mulia Indonesia Cement Enterprise (PT PAMICE). Ketiga pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi hingga ton semen per tahun. Pada tanggal 8 Juli 1985, negara membeli 30% saham Indocement dan sisanya dimiliki oleh pihak swasta. Lalu pada tanggal 1 Januari 1986 perusahaan perusahaan tersebut bergabung menjadi PT Indocement Tunggal Prakarsa, dan 6
2 7 pada tanggal 16 Oktober 1989 berdasarkan Surat Izin Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor /SHM/MK.01/1989 PT Indocement Tunggal Prakarsa melakukan Go Public. 2.2 Keadaan Umum Lokasi dan Kesampaian Daerah Daerah penelitian termasuk ke dalam wilayah IUP operasi produksi lempungpasiran (sandy-clay) PT Indocement Tunggal Prakarsa yang secara geografis berada pada koordinat ,40 me ,23 me dan ms ms. Secara administratif, daerah tersebut termasuk ke dalam Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Berikut adalah batas batas daerah penelitian : Sebelah utara Sebelah timur : Kecamatan Cileungsi : Kecamatan Jonggol Sebelah selatan : Kecamatan Sukaraja Sebelah barat : Kecamatan Cibinong Daerah penelitian dapat dicapai dari kota Bandung melalui jalan darat (jalan provinsi dan kabupaten) baik menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua dalam waktu ± 3-4 jam (tergantung kondisi lalu lintas) dengan jarak tempuh ±150 km apabila melalui jalan provinsi (jalur Puncak) dan ± 170 km jika melewati jalan tol Cipularang. Peta lokasi dan kesampaian daerah dapat dilihat pada gambar 2.1.
3 8
4 Topografi Topografi daerah penelitian sebagian besar terdiri dari daerah perbukitan. Daerah perbukitan ini terdiri dari punggungan punggungan, puncak-puncak, dan lembah bukit memiliki elevasi antara mdpl seperti terlihat pada peta topografi daerah penelitian (gambar 2.2) Kemiringan lereng di daerah penelitian termasuk kategori landai hingga terjal antara 0 hingga 28 persen. Sumber : pengamatan lapangan, 2014 Foto 2. 1 Topografi Daerah Penelitian Iklim dan Curah Hujan Daerah penelitian termasuk ke dalam kecamatan Citeureup kabupaten Bogor. Kecamatan Citeureup memiliki iklim tropis dengan suhu rata-rata pada bulan April - Mei 2014 adalah C (gambar 2.3), dengan kelembaban udara rata-rata 81-85% (gambar 2.4), dan persen penguapan harian sebesar 3-5% (gambar 2.5). Curah hujan di daerah penelitian pada bulan April Mei 2014 adalah berkisar antara mm seperti terlihat pada peta distribusi curah hujan bulan April dan Mei 2014 (gambar 2.6 dan 2.7). Hal tersebut dapat juga diartikan pada daerah penelitian memiliki curah hujan yang tinggi hingga sangat tinggi berdasarkan standar yang telah ditetapkan oleh BMKG Kabupaten Bogor.
5 10
6 11 Sumber : [diakses 26/12/2015] Gambar 2. 1 Grafik Suhu Rata-rata Sumber : [diakses 26/12/2015] Gambar 2. 2 Grafik Kelembaban Udara Rata-rata
7 12 Sumber : [diakses 26/12/2015] Gambar 2. 3 Grafik Penguapan Rata-rata Sumber : [diakses 26/12/2015] Gambar 2. 4 Distribusi Curah Hujan April 2014
8 13 Sumber : [diakses 26/12/2015] Gambar 2. 5 Distribusi Curah Hujan Mei Flora dan Fauna Flora atau vegetasi di daerah penelitian didominasi oleh tumbuhan alang alang, sementara di beberapa tempat ditumbuhi oleh pohon petai cina, putri malu, dan bunga matahari (foto 2.2). Fauna atau hewan yang banyak dijumpai antara lain biawak hijau, kadal rumput, dan monyet ekor panjang). Tabel 2. 1 Vegetasi Daerah Penelitian No Nama Umum Nama Ilmiah 1. Alang - alang Imperata cylindrica 2 Petai Cina Leucaena leucocephala 3 Putri malu Mimosa pudica 4 Bunga matahari kecil Helianthus annuus L. Sumber : diakses 04/12/2015
9 14 Sumber : pengamatan lapangan, 2014 Foto 2. 2 Vegetasi Daerah Penelitian 2.3 Geologi Geologi Regional Proses geologi regional daerah Hambalang dimulai pada pada kala Miosen Awal. Pada kala itu, terjadi proses sedimentasi material-material sedimen halus yang membentuk satuan batulempung (yang merupakan satuan tertua) dengan lingkungan pengendapan laut dalam. Pada saat yang sama, terjadi penurunan permukaan air laut di beberapa lokasi yang menyebabkan perubahan lingkungan pengendapan menjadi laut dangkal sehingga kondisi lingkungan pada saat itu memungkinkan untuk diendapkannya batugamping serta berlangsung juga pengendapan sedimen klastik halus berupa batulempung. Pada kala Miosen Tengah, terjadi intrusi andesit yang menerobos satuan batulempung di Hambalang bagian selatan yang disebabkan oleh adanya gaya endogen yang membuat magma terdorong hingga ke permukaan. Setelah kala Plistosen dan memasuki kala Holosen, terjadi pengendapan aluvium sebagai hasil
10 15 sedimentasi rombakan proses eksogen yang terjadi sampai sekarang. Ilustrasi proses geologi yang terjadi di daerah Hambalang dapat diamati pada gambar 2.8. Sumber : Hambalang.pdf [diakses 20/12/2015] Gambar 2. 6 Proses Geologi Daerah Hambalang dan Sekitarnya Stratigrafi Regional Berdasarkan peta geologi regional lembar Bogor (gambar 2.9), sebagian besar daerah penelitian termasuk ke dalam Formasi Jatiluhur (Tmj) dan sisanya termasuk ke dalam formasi breksi dan lava gunung Kencana (Qvk), serta endapan permukaan kipas aluvium (Qav) dan aluvium (Qa). Formasi batuan tersebut dari tua ke muda adalah sebagai berikut : Formasi Jatiluhur (Tmj) Napal dan serpih lempungan, dan sisipan batupasir kuarsa; bertambah pasiran ke arah timur. Bagian atas formasi ini menjemari dengan Formasi Klapanunggal dan berumur Miosen Awal. Breksi dan Lava Gunung Kencana (Qvk) Bongkahan andesit dan breksi andesit dengan banyak sekali fenokris piroksen dan lava basal.
11 16
12 Aluvium (Qa) Lempung, lanau, kerikil dan kerakal; terutama endapan sungai termasuk pasir dan endapan pantai sepanjang Teluk Pelabuhanratu. Kipas alluvium (Qav) Terutama lanau, batupasir, kerikil dan kerakal dari batuan gunungapi Kuarter, diendapkan kembali dengan kipas aluvium. Stratigrafi batuan regional daerah penelitian dapat diamati pada gambar Sumber : peta geologi lembar Bogor, 1998 Gambar 2. 7 Stratigrafi Daerah Penelitian 17
13 Geologi Lokal Batuan yang diketemukan di daerah penelitian mayoritas adalah batu lempung-pasiran, namun ada juga batuan andesit (foto 2.3) yang diketemukan terutama di front yang telah selesai ditambang, yaitu di bagian selatan. Hal itu berkorelasi dengan peta geologi regional (gambar 2.9), karena terdapat intrusi breksi andesit dan lava gunung kencana. Sumber : pengamatan lapangan, 2015 Foto 2. 3 Batu Andesit Ditemukan di Lokasi Penelitian 2.4 Kegiatan Penambangan Operasional Tambang Kegiatan penambangan di lokasi penelitian dimulai dari pembersihan lahan (land clearing), pengupasan tanah pucuk (top soil), penggalian (kombinasi peledakan dan alat mekanis), pemuatan, pengangkutan, pengolahan, hingga reklamasi dan pasca tambang.
14 19 - Pengupasan tanah pucuk Tanah pucuk (top soil) merupakan lapisan tanah paling atas (di atas batuan/material yang akan ditambang) yang memiliki kandungan zat organik yang dapat menyuburkan tanah. Proses pengupasan tanah pucuk dilakukan dengan menggunakan excavator lalu diangkut oleh dump truck ke tempat penyimpanan sementara, baru kemudian digunakan untuk menutupi area yang selesai ditambang (kegiatan reklamasi dan pasca tambang), seperti terlihat pada foto 2.4. Sumber : pengamatan lapangan, 2014 Foto 2. 4 Tanah Pucuk Menutupi Areal Bekas Tambang - Penggalian Kegiatan penggalian atau pemberaian material dilakukan dengan kombinasi antara peledakan dan penggunaan alat mekanis. Peledakan yang dilakukan di lokasi penelitian diawali dengan pengeboran lubang ledak. Alat yang digunakan untuk membuat lubang ledak adalah Atlas Copco ECM 580-Y (Foto 2.5). Target material yang harus diledakkan adalah 2400 ton, dengan geometri peledakan menggunakan pola rectangular, yaitu burden dan spasi memiliki jarak yang sama seperti terlihat pada gambar 2.11.
15 20 Peralatan dan perlengkapan peledakan yang digunakan antara lain : Detonator menggunakan Dayadet buatan PT Dahana. Dinamit menggunakan Dayagel Magnum buatan PT Dahana. Bahan peledak menggunakan DANFO (Dahana Ammonium Nitrate Fuel Oil). Blast machine. Leg wire dan connecting wire. Spesifikasi peralatan dan perlengkapan peledakan dapat dilihat di lampiran E. Sumber : pengamatan lapangan, 2014 Foto 2. 5 Kegiatan Pengeboran Lubang Ledak S Sumber : pengamatan lapangan, 2015 Gambar 2. 8 Ilustrasi Geometri Peledakan
16 21 - Pemuatan dan Pengangkutan Setelah dilakukan peledakan, penambangan dilanjutkan dengan penggunaan alat mekanis. Alat mekanis yang digunakan antara lain : backhoe excavator, wheel loader, dump truck, bulldozer, dan breaker. Daftar lengkap alat mekanis yang digunakan dapat dilihat di tabel Pengolahan Sumber : pengamatan lapangan, 2015 Tahapan selanjutnya setelah dilakukan penggalian, pemuatan, dan pengangkutan adalah pengolahan. Material hasil penambangan diangkut untuk kemudian dimasukkan crusher (foto 2.6). Crusher yang digunakan berjumlah 4 unit dengan tipe yang berbeda (lihat tabel 2.3) dan ditempatkan terpisah (berjalan paralel) sesuai dengan front kerja aktif. Setelah proses pengolahan di crusher, material ditampung di stock room untuk selanjutnya dimuat dan diangkut oleh reclaimer (foto 2.7) dan belt conveyor ke pabrik. Tabel 2. 2 Daftar Alat Mekanis Jenis Nomor Nomor Kapasitas No Merk Tipe Tipe Mesin Daya Alat Mekanis Unit Seri Munjung (hp) 1 Bulldozer B 34 Komatsu D 155 A ,3 m 3 S6D Bulldozer B 35 Caterpillar D8R 1XM ,7 m 3 CAT Bulldozer B 39 Caterpillar D8R 9EM ,7 m 3 CAT.3406.C Crawler Rock Drill CRD 16 Furukawa PCR PCR 200 GS 5 5 Dump Truck DT 43 Caterpillar 769 C 01X ton CAT.3408.PC Dump Truck DT 46 Komatsu HD ton SA6D Dump Truck DT 83 Komatsu HD ton SA6D140E Dump Truck DT 84 Komatsu HD ton SA6D140E Dump Truck DT 93 Komatsu HD 325-6A ton SAA6D140E-3A Dump Truck DT 96 Caterpillar 770 BZZ ton CAT.C Dump Truck DT 105 Caterpillar 770 G ECM ton CAT.C Dump Truck DT 106 Caterpillar 770 G ECM ton CAT.C Compressor HD 10 Atlas Copco ECM-580 Y X006172AE - 6BTA5.9CA Excavator HE 23 Caterpillar 320 L 1KL ,9 m 3 CAT Excavator HE 25 Komatsu PC J ,5 ton S6D5L Excavator HE 31 Kobelco SK850-8LC LY ,8-5,4 m 3 SAA6D140E Excavator HE 33 Kobelco SK200-8SX YN12T ,8-1,3 m 3 J05ETG-KSDP Wheel Loader L 24 Caterpillar 980 C 63X ,8-6,1 m 3 CAT Wheel Loader L 49 Komatsu WA ,4-7 m 3 S6D Wheel Loader L 56 Caterpillar 988 H BXY ,3-7,6 m 3 CAT.C Motor Grader MG 02 Caterpillar 12G 61M CAT Compressor PC 28 Ing. Rand XHP 750 S UJC971 - CAT.3306.BDI - 23 Compactor VR 07 Caterpillar CS 2XN CAT.3116 DIT 145
17 22 Sumber : pengamatan lapangan, 2014 Foto 2. 6 Crusher 5 Sumber : pengamatan lapangan, 2015 Foto 2. 7 Reclaimer di Stock Room
18 23 Tabel 2. 3 Daftar Crusher yang Digunakan No Jenis Ukuran Umpan Daya Listrik Kapasitas Merk Tipe Crusher Crusher (mm) (kv) (ton/jam) 1 Double Roll Jaw Jaw Nordberg C Double Roll Thyssen Krupp Roll Sizer Sumber : pengamatan lapangan, Desain Tambang Lokasi penelitian merupakan tambang lempung-pasiran sehingga sistem penambangan yang digunakan adalah side hill type-quarry dengan jalan masuk langsung seperti terlihat pada peta kemajuan tambang (gambar 2.12).
19 24
LEMBAR PENGESAHAN MOTTO SARI...
DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN MOTTO SARI... i ABSTRACT... ii KATA PENGANTAR...iii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL...vii DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR FOTO...ix DAFTAR LAMPIRAN... x BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Keadaan Umum 2.1.1 Lokasi Kesampaian Daerah Lokasi CV JBP secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak. Provinsi Banten. Secara geografis lokasi
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah Lokasi penambangan batubara PT Milagro Indonesia Mining secara administratif terletak di Desa Merdeka Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara,
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah Secara administratif PT BJA berlokasi di Desa Sungai Payang, Dusun Beruak, Kecamatan Loakulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur,
BAB II TINJAUAN UMUM
10 BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah 2.1.1 Lokasi Lokasi penelitian Tugas Akhir dilakukan pada tambang quarry andesit di PT Gunung Sampurna Makmur. Secara geografis, terletak pada koordinat
BAB II TINJAUAN UMUM
7 BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Sejarah Singkat Perusahaan PT Lotus SG Lestari resmi berdiri sejak tahun 2011. Sebelum beralih kepemilikan PT Lotus SG Lestari bernama PT KML pada tahun yang sama. Adapun bisnis
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi Kesampaian Daerah Daerah penelitian secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kampung Seibanbam II, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, Propinsi Kalimantan Selatan.
DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... Bab
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... Bab vii I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang Masalah... 1 1.2 Tujuan Penelitian... 1 1.3 Identifikasi Masalah...
BAB II TINJAUAN UMUM
9 BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Profil PT Mandiri Sejahtera Sentra (MSS) PT MSS didirikan pada November 2008, dimana perusahaan ini merupakan anak perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, yang memproduksi
BAB II TINJAUAN UMUM
9 BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah Kegiatan penelitian dilakukan di salah satu tambang batubara Samarinda Kalimantan Timur, yang luas Izin Usaha Pertambangan (IUP) sebesar 24.224.776,7
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah Lokasi CV. Jayabaya Batu Persada secara administratif terletak pada koordinat 106 O 0 51,73 BT dan -6 O 45 57,74 LS di Desa Sukatani Malingping Utara
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM Kegiatan penelitian dilakukan di Laboratorium BALAI BESAR KERAMIK Jalan Jendral A. Yani 392 Bandung. Conto yang digunakan adalah tanah liat (lempung) yang berasal dari Desa Siluman
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Sejarah Singkat PT Aneka Tambang Tbk, UBPE Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor adalah salah satu unit bisnis yang dimiliki oleh PT Aneka Tambang (PT Antam) (Persero),
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Profil Perusahaan PT. Cipta Kridatama didirikan 8 April 1997 sebagai pengembangan dari jasa penyewaan dan penggunaan alat berat PT. Trakindo Utama. Industri tambang Indonesia yang
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Sejarah Singkat PT Tarabatuh Manunggal Tbk Perusahaan ini merupakan anak perusahaan PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk yang mengoperasikan produk utama yaitu semen. Pada saat ini
BAB II TINJAUAN UMUM
9 BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Sejarah Perusahaan Sejarah penambangan batubara di Tanjung Enim, Sumatera Selatan dimulai sejak zaman kolonial Belanda tahun 1919 dengan menggunakan metoda penambangan terbuka
BAB II TINJAUAN UMUM
6 BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi Penelitian Secara administrasi, lokasi penelitian berada di Kecamata Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh. Sebelah utara Sebelah selatan Sebelah timur Sebelah
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Leuwigajah TPA Leuwigajah mulai dibangun pada tahun 1986 oleh Pemerintah Kabupaten Bandung karena dinilai cukup cocok untuk dijadikan TPA karena
BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi 3.1.1 Geomorfologi Daerah Penelitian Secara umum, daerah penelitian memiliki morfologi berupa dataran dan perbukitan bergelombang dengan ketinggian
KONDISI UMUM. Sumber: Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Depok (2010) Gambar 12. Peta Adminstratif Kecamatan Beji, Kota Depok
IV. KONDISI UMUM 4.1 Lokasi Administratif Kecamatan Beji Secara geografis Kecamatan Beji terletak pada koordinat 6 21 13-6 24 00 Lintang Selatan dan 106 47 40-106 50 30 Bujur Timur. Kecamatan Beji memiliki
Geologi Daerah Tajur dan Sekitarnya, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat Tantowi Eko Prayogi #1, Bombom R.
Geologi Daerah Tajur dan Sekitarnya, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat Tantowi Eko Prayogi #1, Bombom R. Suganda #2 # Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran Jalan Bandung-Sumedang
II. TINJAUAN PUSTAKA. 1. Wilayah Administratif Kabupaten Tanggamus
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Gambaran Umum Kabupaten Tanggamus 1. Wilayah Administratif Kabupaten Tanggamus Secara geografis wilayah Kabupaten Tanggamus terletak pada posisi 104 0 18 105 0 12 Bujur Timur dan
BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. Secara Geografis Kota Depok terletak di antara Lintang
BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Letak, Luas dan Batas Wilayah Secara Geografis Kota Depok terletak di antara 06 0 19 06 0 28 Lintang Selatan dan 106 0 43 BT-106 0 55 Bujur Timur. Pemerintah
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Geografis Regional Jawa Tengah berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara, Samudra Hindia dan Daerah Istimewa Yogyakarta di sebelah selatan, Jawa Barat di sebelah barat, dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fisiografi Jawa Barat Fisiografi Jawa Barat oleh van Bemmelen (1949) pada dasarnya dibagi menjadi empat bagian besar, yaitu Dataran Pantai Jakarta, Zona Bogor, Zona Bandung
GAMBARAN UMUM WILAYAH
3 GAMBARAN UMUM WILAYAH 3.1. Batas Administrasi dan Luas Wilayah Kabupaten Sumba Tengah merupakan pemekaran dari Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dibentuk berdasarkan UU no.
BAB II Geomorfologi. 1. Zona Dataran Pantai Jakarta,
BAB II Geomorfologi II.1 Fisiografi Fisiografi Jawa Barat telah dilakukan penelitian oleh Van Bemmelen sehingga dapat dikelompokkan menjadi 6 zona yang berarah barat-timur (van Bemmelen, 1949 op.cit Martodjojo,
BAB 3 GEOLOGI SEMARANG
BAB 3 GEOLOGI SEMARANG 3.1 Geomorfologi Daerah Semarang bagian utara, dekat pantai, didominasi oleh dataran aluvial pantai yang tersebar dengan arah barat timur dengan ketinggian antara 1 hingga 5 meter.
Gambar 2. Lokasi Penelitian Bekas TPA Pasir Impun Secara Administratif (http://www.asiamaya.com/peta/bandung/suka_miskin/karang_pamulang.
BAB II KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 2.1 Geografis dan Administrasi Secara geografis daerah penelitian bekas TPA Pasir Impun terletak di sebelah timur pusat kota bandung tepatnya pada koordinat 9236241
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Regional Daerah penelitian berada di Pulau Jawa bagian barat yang secara fisiografi menurut hasil penelitian van Bemmelen (1949), dibagi menjadi enam zona fisiografi
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 FISIOGRAFI Menurut van Bemmelen (1949), fisiografi Jawa Barat dibagi menjadi enam zona, yaitu Zona Dataran Aluvial Utara Jawa Barat, Zona Antiklinorium Bogor, Zona Gunungapi
BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan penambangan terdiri dari tahapan penggalian, pemuatan, dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan penambangan terdiri dari tahapan penggalian, pemuatan, dan pengangkutan. Alat angkut yang umum digunakan adalah dump truck. Produktivitas dump truck sangat
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi Bentukan topografi dan morfologi daerah penelitian adalah interaksi dari proses eksogen dan proses endogen (Thornburry, 1989). Proses eksogen adalah proses-proses
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah Secara administratif wilayah IUP Eksplorasi CV Parahyangan Putra Mandiri, termasuk di dalam daerah Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi 3.1.1 Kondisi Geomorfologi Bentuk topografi dan morfologi daerah penelitian dipengaruhi oleh proses eksogen dan proses endogen. Proses endogen adalah
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi Bentukan topografi dan morfologi daerah penelitian adalah interaksi dari proses eksogen dan proses endogen (Thornburry, 1989). Proses eksogen adalah proses-proses
INVENTARISASI DAN EVALUASI KABUPATEN SUMBAWA BARAT DAN SUMBAWA, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
INVENTARISASI DAN EVALUASI KABUPATEN SUMBAWA BARAT DAN SUMBAWA, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Oleh : A. Sanusi Halim, Iwan A. Harahap dan Sukmawan SubDit Mineral Non Logam S A R I Daerah penyelidikan yang
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Berdasarkan pengamatan awal, daerah penelitian secara umum dicirikan oleh perbedaan tinggi dan ralief yang tercermin dalam kerapatan dan bentuk penyebaran kontur pada
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Regional Fisiografi Jawa Barat dapat dikelompokkan menjadi 6 zona yang berarah barattimur (van Bemmelen, 1949 dalam Martodjojo, 1984). Zona-zona ini dari utara ke
BAB V PEMBAHASAN. 5.1 Tata Ruang Lahan Daerah Penelitian. Menurut penataan ruang Kaupaten Lebak lokasi penambangn ini
BAB V PEMBAHASAN 5.1 Tata Ruang Lahan Daerah Penelitian Menurut penataan ruang Kaupaten Lebak lokasi penambangn ini diperuntukan untuk perkebunan dan budidaya. Disebelah timur lokasi tambang pada jarak
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Daerah penelitian terletak di daerah Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Lokasi Penelitian Daerah penelitian terletak di daerah Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat (pedon AM1 s/d AM8), dan Kabupaten Serang Propinsi Banten (pedon AM9 dan AM10)
BAB III TINJAUAN LOKASI
BAB III TINJAUAN LOKASI 3.1 Gambaran Umum Kota Surakarta 3.1.1 Kondisi Geografis dan Administratif Wilayah Kota Surakarta secara geografis terletak antara 110 o 45 15 dan 110 o 45 35 Bujur Timur dan antara
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Sejarah PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Pada tanggal 20 Desember 2012, melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Perseroan, resmi mengganti nama dari PT Semen Gresik
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Sejarah Perusahaan CV. Putra Parahyangan Mandiri adalah salah satu perusahaan batubara yang terletak di Kec. Satui, Kab. Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan, yang didirikan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Sumatera terletak di sepanjang tepi Barat Daya Paparan Sunda, pada perpanjangan
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Struktur Geologi Sumatera terletak di sepanjang tepi Barat Daya Paparan Sunda, pada perpanjangan Lempeng Eurasia ke daratan Asia Tenggara dan merupakan bagian dari Busur Sunda.
ejournal Teknik sipil, 2012, 1 (1) ISSN ,ejurnal.untag-smd.ac.id Copyright 2012
ejournal Teknik sipil, 2012, 1 (1) ISSN 0000-0000,ejurnal.untag-smd.ac.id Copyright 2012 ANALISA TEKNIS PRODUKSI ALAT BERAT UNTUK PENGUPASAN BATUAN PENUTUP PADA PENAMBANGAN BATUBARA PIT X PT. BINTANG SYAHID
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi Daerah Penelitian 3.1.1 Morfologi Umum Daerah Penelitian Morfologi daerah penelitian berdasarkan pengamatan awal dari peta topografi dan citra satelit,
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Sejarah Perusahaan PT Mandiri Sejahtera Sentra adalah perusahaan swasta yang bergerak di bidang pertambangan andesit. Andesit adalah bahan galian industri, yang umum nya di golongkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kastowo (1973), Silitonga (1975), dan Rosidi (1976) litologi daerah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Geologi Regional Menurut Kastowo (1973), Silitonga (1975), dan Rosidi (1976) litologi daerah Padang dan sekitarnya terdiri dari batuan Pratersier, Tersier dan Kwarter. Batuan
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 GEOMORFOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1.1 Morfologi Umum Daerah Penelitian Geomorfologi daerah penelitian diamati dengan melakukan interpretasi pada peta topografi, citra
DAFTAR ISI. Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR GAMBAR... vi DAFTAR TABEL... vii DAFTAR LAMPIRAN... viii
DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR GAMBAR... vi DAFTAR TABEL... vii DAFTAR LAMPIRAN... viii BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Tujuan Penelitian... 2 1.3 Ruang
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi dan Geomorfologi Regional Secara fisiografis, daerah Jawa Barat dibagi menjadi 6 zona yang berarah timur-barat ( van Bemmelen, 1949 ). Zona tersebut dari arah utara
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Sejarah Singkat PT Nan Riang PT Nan Riang merupakan perusahaan Perseroan Terbatas yang bergerak dibidang usaha pertambangan batubara dan berkedudukan di Muara Tembesi, Batanghari,
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 GEOGRAFIS Jawa bagian barat secara geografis terletak diantara 105 0 00-108 0 65 BT dan 5 0 50 8 0 00 LS dengan batas-batas wilayahnya sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi Dan Kesampaian Daerah Lokasi daerah yang diduga memiliki potensi bahan galian bijih besi secara administratif terletak di Desa Aie Sunsang, Kecamatan Alahan Panjang, Kabupaten
KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN
17 IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Bogor Bogor dengan luasan total 273.930,153 ha terdiri dari kabupaten dan kotamadya, yang masing masing memiliki beberapa kecamatan. Kotamadya Bogor terdiri dari
[TAMBANG TERBUKA ] February 28, Tambang Terbuka
Tambang Terbuka I. Pengertian Tambang Terbuka Tambang Terbuka (open pit mine) adalah bukaan yang dibuat dipermukaan tanah, betujuan untuk mengambil bijih dan akan dibiarkan tetap terbuka (tidak ditimbun
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi 3.1.1 Kondisi Geomorfologi Morfologi yang ada pada daerah penelitian dipengaruhi oleh proses endogen dan proses eksogen. Proses endogen merupakan proses
BAB 2 TATANAN GEOLOGI
BAB 2 TATANAN GEOLOGI Secara administratif daerah penelitian termasuk ke dalam empat wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Sinjai Timur, Sinjai Selatan, Sinjai Tengah, dan Sinjai Utara, dan temasuk dalam
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1. Fisiografi Regional Van Bemmelen (1949) membagi Pulau Sumatera menjadi 6 zona fisiografi, yaitu: 1. Zona Paparan Sunda 2. Zona Dataran Rendah dan Berbukit 3. Zona Pegunungan
KONDISI GEOLOGI DAERAH HAMBALANG DAN SEKITARNYA KECAMATAN CITEUREUP DAN CILEUNGSI KABUPATEN BOGOR, PROPINSI JAWA BARAT
KONDISI GEOLOGI DAERAH HAMBALANG DAN SEKITARNYA KECAMATAN CITEUREUP DAN CILEUNGSI KABUPATEN BOGOR, PROPINSI JAWA BARAT Kholqi Dianardi #1, Bombom R. Suganda #2, #Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemodelan tahanan jenis dilakukan dengan cara mencatat nilai kuat arus yang diinjeksikan dan perubahan beda potensial yang terukur dengan menggunakan konfigurasi wenner. Pengukuran
BAB II TATANAN GEOLOGI REGIONAL
BAB II TATANAN GEOLOGI REGIONAL II.1 FISIOGRAFI DAN MORFOLOGI Secara fisiografis, daerah Jawa Tengah dibagi menjadi lima zona yang berarah timur-barat (van Bemmelen, 1949). Zona tersebut dari arah utara
4.1. Pengolahan Data BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Pengumpulan data merupakan kegiatan mencari data-data yang diperlukan sebagai bahan penulis untuk melakukan analisa untuk melakukan analisa sesuai
Artikel Pendidikan 23
Artikel Pendidikan 23 RANCANGAN DESAIN TAMBANG BATUBARA DI PT. BUMI BARA KENCANA DI DESA MASAHA KEC. KAPUAS HULU KAB. KAPUAS KALIMANTAN TENGAH Oleh : Alpiana Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Mataram
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL Indonesia merupakan tempat pertemuan antara tiga lempeng, yaitu Lempeng Eurasia yang relatif diam, Lempeng Pasifik Barat yang relatif bergerak ke arah baratlaut, dan Lempeng Hindia
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK PENGEMBANGAN PEMUKIMAN (STUDI KASUS DAERAH WADO DAN SEKITARNYA)
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK PENGEMBANGAN PEMUKIMAN (STUDI KASUS DAERAH WADO DAN SEKITARNYA) Nandian Mareta 1 dan Puguh Dwi Raharjo 1 1 UPT. Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Jalan Kebumen-Karangsambung
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Keadaan Geografi PT. Daya Bambu Sejahtera 2.1.1 Lokasi Penambangan Lokasi Penambangan Batubara PT. Daya Bambu Sejahtera secara administratif terletak di Desa Mengupeh, Kecamatan
BAB II TINJAUAN UMUM
8 BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Sejarah Singkat CV Jasa Andhika Raya CV Jasa Andhika Raya (CV JAR) merupakan perusahaan yang bergerak dibidang usaha pertambangan batubara dan berkedudukan di Desa Loa Ulung,
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Geografis Propinsi Jawa Tengah secara geografis terletak diantara 108 30-111 30 BT dan 5 40-8 30 LS dengan batas batas sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah selatan
PROSPEKSI ENDAPAN BATUBARA DI DAERAH KELUMPANG DAN SEKITARNYA KABUPATEN MAMUJU, PROPINSI SULAWESI SELATAN
PROSPEKSI ENDAPAN BATUBARA DI DAERAH KELUMPANG DAN SEKITARNYA KABUPATEN MAMUJU, PROPINSI SULAWESI SELATAN Oleh : Nanan S. Kartasumantri dan Hadiyanto Subdit. Eksplorasi Batubara dan Gambut SARI Daerah
III.1 Morfologi Daerah Penelitian
TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN III.1 Morfologi Daerah Penelitian Morfologi suatu daerah merupakan bentukan bentang alam daerah tersebut. Morfologi daerah penelitian berdasakan pengamatan awal tekstur
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 GEOMORFOLOGI Bentang alam dan morfologi suatu daerah terbentuk melalui proses pembentukan secara geologi. Proses geologi itu disebut dengan proses geomorfologi. Bentang
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Menurut Van Bemmelen (1949), secara fisiografis dan struktural daerah Jawa Barat dapat di bagi menjadi 4 zona, yaitu Dataran Pantai Jakarta, Zona Bogor, Zona Bandung
KONTROL STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP SEBARAN ENDAPAN KIPAS BAWAH LAUT DI DAERAH GOMBONG, KEBUMEN, JAWA TENGAH
KONTROL STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP SEBARAN ENDAPAN KIPAS BAWAH LAUT DI DAERAH GOMBONG, KEBUMEN, JAWA TENGAH Asmoro Widagdo*, Sachrul Iswahyudi, Rachmad Setijadi, Gentur Waluyo Teknik Geologi, Universitas
IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi
IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik 4.1.1 Wilayah Administrasi Kota Bandung merupakan Ibukota Propinsi Jawa Barat. Kota Bandung terletak pada 6 o 49 58 hingga 6 o 58 38 Lintang Selatan dan 107 o 32 32 hingga
RESUME HASIL KEGIATAN PEMETAAN GEOLOGI TEKNIK PULAU LOMBOK SEKALA 1:
RESUME HASIL KEGIATAN PEMETAAN GEOLOGI TEKNIK PULAU LOMBOK SEKALA 1:250.000 OLEH: Dr.Ir. Muhammad Wafid A.N, M.Sc. Ir. Sugiyanto Tulus Pramudyo, ST, MT Sarwondo, ST, MT PUSAT SUMBER DAYA AIR TANAH DAN
BAB IV PENAMBANGAN 4.1 Metode Penambangan 4.2 Perancangan Tambang
BAB IV PENAMBANGAN 4.1 Metode Penambangan Cadangan Batubara yang terdapat dalam daerah penambangan Sangasanga mempunyai kemiringan umum sekitar 10-15 dan dengan cropline yang berada di sisi barat daerah
berukuran antara 0,05-0,2 mm, tekstur granoblastik dan lepidoblastik, dengan struktur slaty oleh kuarsa dan biotit.
berukuran antara 0,05-0,2 mm, tekstur granoblastik dan lepidoblastik, dengan struktur slaty oleh kuarsa dan biotit. (a) (c) (b) (d) Foto 3.10 Kenampakan makroskopis berbagai macam litologi pada Satuan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Lampung Selatan tepatnya secara geografis, terletak antara 5 o 5'13,535''-
4 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Lokasi Penelitian Tempat penelitian secara administratif terletak di Gunung Rajabasa, Kalianda, Lampung Selatan tepatnya secara geografis, terletak antara 5 o 5'13,535''-
BAB I PENDAHULUAN. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) (2014), jumlah penduduk di
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) (2014), jumlah penduduk di Kecamatan Salaman mencapai 68.656 jiwa dengan kepadatan penduduk 997 jiwa/km 2. Jumlah
BAB IV GEOMORFOLOGI DAN TATA GUNA LAHAN
BAB IV GEOMORFOLOGI DAN TATA GUNA LAHAN 4.1 Geomorfologi Pada bab sebelumnya telah dijelaskan secara singkat mengenai geomorfologi umum daerah penelitian, dan pada bab ini akan dijelaskan secara lebih
MENGENAL JENIS BATUAN DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO
MENGENAL JENIS BATUAN DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO Oleh : Akhmad Hariyono POLHUT Penyelia Balai Taman Nasional Alas Purwo Kawasan Taman Nasional Alas Purwo sebagian besar bertopogarafi kars dari Semenanjung
Gambar 9. Peta Batas Administrasi
IV. KONDISI UMUM WILAYAH 4.1 Letak Geografis Wilayah Kabupaten Garut terletak di Provinsi Jawa Barat bagian Selatan pada koordinat 6 56'49'' - 7 45'00'' Lintang Selatan dan 107 25'8'' - 108 7'30'' Bujur
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Regional Fisiografi Jawa Barat dibagi menjadi empat bagian besar (van Bemmelen, 1949): Dataran Pantai Jakarta (Coastal Plain of Batavia), Zona Bogor (Bogor Zone),
EKSPLORASI UMUM ENDAPAN BESI DI KABUPATEN MUARA ENIM, PROVINSI SUMATERA SELATAN
EKSPLORASI UMUM ENDAPAN BESI DI KABUPATEN MUARA ENIM, PROVINSI SUMATERA SELATAN Oleh : Wahyu Widodo dan Bambang Pardiarto (Kelompok Kerja Penelitian Mineral) Sari Kegiatan eksplorasi umum endapan besi
BAB II KEADAAN UMUM DAN KONDISI GEOLOGI
BAB II KEADAAN UMUM DAN KONDISI GEOLOGI 2.1 KESAMPAIAN DAERAH 2.1.1 Kesampaian Daerah Busui Secara geografis, daerah penelitian termasuk dalam daerah administrasi Kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Pasir,
KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Kondisi Fisiografi
III. KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI A. Kondisi Fisiografi 1. Letak Wilayah Secara Geografis Kabupaten Sleman terletak diantara 110 33 00 dan 110 13 00 Bujur Timur, 7 34 51 dan 7 47 30 Lintang Selatan. Wilayah
PROSPEKSI BATUBARA DAERAH AMPAH DAN SEKITARNYA KABUPATEN BARITO TIMUR, PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
PROSPEKSI BATUBARA DAERAH AMPAH DAN SEKITARNYA KABUPATEN BARITO TIMUR, PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Wawang Sri Purnomo dan Fatimah Kelompok Penyelidikan Batubara, Pusat Sumber Daya Geologi SARI Lokasi Penyelidikan
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN... 93
DAFTAR ISI Halaman RINGKASAN... v ABSTRAK... vi KATA PENGANTAR... vii DAFTAR ISI... viii DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR TABEL... xii DAFTAR LAMPIRAN... xiii BAB I. PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1
BAB II DESKRIPSI WILAYAH PERENCANAAN 2.1. KONDISI GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI
BAB II DESKRIPSI WILAYAH PERENCANAAN 2.1. KONDISI GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI Kabupaten Kendal terletak pada 109 40' - 110 18' Bujur Timur dan 6 32' - 7 24' Lintang Selatan. Batas wilayah administrasi Kabupaten
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Jawa Barat dapat dikelompokkan menjadi 6 zona fisiografi yang berarah barat-timur (van Bemmelen, 1949) (Gambar 2.1). Zona-zona tersebut dari utara ke selatan yaitu:
BAB II DESKRIPSI DAERAH STUDI
BAB II 2.1. Tinjauan Umum Sungai Beringin merupakan salah satu sungai yang mengalir di wilayah Semarang Barat, mulai dari Kecamatan Mijen dan Kecamatan Ngaliyan dan bermuara di Kecamatan Tugu (mengalir
KONDISI UMUM. Bogor Tengah, Bogor Timur, Bogor Barat, Bogor Utara, Bogor Selatan, dan Tanah Sareal (Gambar 13).
28 IV. KONDISI UMUM 4.1 Wilayah Kota Kota merupakan salah satu wilayah yang terdapat di Provinsi Jawa Barat. Kota memiliki luas wilayah sebesar 11.850 Ha yang terdiri dari 6 kecamatan dan 68 kelurahan.
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Geografis Daerah Penelitian Wilayah konsesi tahap eksplorasi bahan galian batubara dengan Kode wilayah KW 64 PP 2007 yang akan ditingkatkan ke tahap ekploitasi secara administratif
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perencanaan Embung Logung Dusun Slalang, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus
BAB I PENDAHULUAN 1 Latar Belakang Dalam rangka peningkatan taraf hidup masyarakat dan peningkatan sektor pertanian yang menjadi roda penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, pemerintah berupaya melaksanakan
POTENSI BAHAN GALIAN GRANIT DAERAH KABUPATEN TOLITOLI PROVINSI SULAWESI TENGAH
POTENSI BAHAN GALIAN GRANIT DAERAH KABUPATEN TOLITOLI PROVINSI SULAWESI TENGAH Nanda Prasetiyo Mahasiswa Magister Teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta Wilayah Kabupaten Tolitoli yang terletak di Provinsi
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1. Geomorfologi Daerah Penelitian 3.1.1 Geomorfologi Kondisi geomorfologi pada suatu daerah merupakan cerminan proses alam yang dipengaruhi serta dibentuk oleh proses
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) (2014), kepadatan penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta terutama di Kabupaten Sleman mencapai 1.939 jiwa/km 2. Di
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi Daerah Penelitian Berdasarkan bentuk topografi dan morfologi daerah penelitian maka diperlukan analisa geomorfologi sehingga dapat diketahui bagaimana
