BAB II TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Suryadi Tedjo
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saliva Pengertian dan fungsi saliva Saliva adalah cairan yang tidak berwarna dengan konsistensi seperti lendir. Saliva merupakan sekresi yang berkaitan dengan mulut dan diproduksi oleh tiga pasang kelenjar saliva utama, yaitu: kelenjar sublingual, submandibula, dan parotis, yang terletak diluar rongga mulut dan menyalurkan saliva melalui duktus-duktus pendek dalam mulut. 14,15 Saliva memiliki fungsi antara lain: 14 1) Menjaga kadar kelembaban dan membasahi rongga mulut. 2) Melumasi dan melunakkan makanan sehingga proses menelan dan mengecap rasa makanan akan lebih mudah. 3) Pencernaan karbohidrat oleh enzim ptialin dan amilase yang dimulai dalam rongga mulut. Proses ini akan berhenti bila sampai di lambung karena aktivitas dari enzim tersebut akan terhenti dalam suasana asam. 4) Membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan, sisa sel, dan bakteri sehingga menjaga mulut dan gigi geligi agar tetap bersih. 5) Mencegah infeksi, karena mulut dan gigi bersih serta adanya IgA, lisozim, dan laktoferin.
2 7 Pada manusia, sekresi saliva kira-kira 1-1,5 liter per hari, dimana sebagian berasal dari ketiga pasang kelenjar ludah besar. Saliva merupakan larutan yang memiliki komposisi protein, glikoprotein, karbohidrat, enzim ptialin, sel-sel epitel yang lepas, limfosit, dan IgA yang dihasilkan oleh sel-sel plasma di jaringan ikat interstitial dari kelenjar saliva. 14, Anatomi kelenjar saliva Saliva dihasilkan oleh glandula salivari yang terdiri dari tiga pasang glandula yaitu glandula parotis, glandula submandibularis, dan glandula sublingualis. 16 a) Glandula parotis Glandula parotis merupakan kelenjar ludah terbesar, berbentuk irreguler akan tetapi dilihat dari permukaan lateralnya nampak berbentuk segitiga. 16 Glandula parotis terdapat dalam fossa yang pada bagian depan dibatasi oleh margo posterior ramus mandibula dan musculus pterygoideus. Pada bagian belakang fossa dibatasi oleh pars tympanica ossis temporalis, kartilago meatus austici, margo anterior processus mastoidei, dan musculus sternocleidomastoideus. Pada bagian medial, fossa dibatasi oleh processus styloideus, otot-otot stylohyoideus dan styloglossus, arteri carotis interna dan vena juguaris interna. Sedangkan pada bagian ventromedial, fossa dibatasi oleh venter posterior musculi digastrici Duktus parotideus Stenson dibentuk oleh duktus-duktus yang berasal dari lobus-lobus glandula parotis. Duktus parotideus stenson bermuara kedalam
3 8 vestibulum oris pada paila parotidea yang berhadapan dengan gigi Molar kedua atas atau Molar pertama atas. 16,19 Glandula parotis dibungkus oleh fascia yang melekat erat pada permukaannya. Fascia ini dibentuk dari fascia colli superficialis yang di daerah glandula parotis membelah untuk membungkus kelenjar ini (fascia parotideomasseterica). 18,19 Struktur yang terdapat dalam substansi glandula parotis, antara lain: arteri carotis eksterna yang memasuki dan meninggalkan glandula pada fasies profundanya, vena retromandibula (vena facialis posterior), nervus facialis, nodi lymphatici parotidei. 19 Perdarahan glandula parotis berasal dari pembuluh darah yang melewatinya. Sedangkan persarafan glandula parotis didapatkan dari nervus auriculotemporalis. 16 b) Glandula submandibularis Glandula submandibularis besarnya kurang lebih setengah dari besar glandula parotis dan memiliki bentuk oval, pipih, dan terletak dalam trigonum submandibularis. 18 Duktus submandibularis (duktus Whartoni) bermuara ke cavum oris. Plika sublingualis adalah lipatan mukosa dasar kulit yang ditonjolkan oleh duktus Whartoni bersama glandula sublingualis. 19 Perdarahan glandula submandibularis berasal dari cabang-cabang kecil arteri facialis dan arteri submentalis. 16,18
4 9 c) Glandula sublingualis Glandula sublingualis adalah kelenjar ludah besar yang terkecil yang memiliki bentuk memanjang dan sempit. Glandula ini terletak di dasar mulut, pada otot mylohyoideus antara otot geniohyoid, genioglossus, dan hyoglossus pada satu sisi dan facies medialis corpus mandibula pada sisi lain. Pada mandibula terletak pada fovea sublingualis. Glandula sublingualis tertutup langsung oleh membran mukosa mulut dan menonjolkan mukosa membentuk plika sublingualis. 16,18 Glandula sublingualis memiliki perantara 5-20 duktus sempit dan pendek (duktus sublingualis minor dari duktus Rivinus) yang bermuara kedalam rongga mulut pada plika sublingualis. Kelompok lobus disebelah ventral membentuk duktus yang lebih besar yaitu duktus sublingualis mayor yang bermuara kedalam duktus Whartoni, dekat sebelum duktus terakhir ini bermuara pada curunculae. 16 Perdarahan glandula sublingualis berasal dari arteri sublingualis cabang arteri lingualis. 18,19 Gambar 1. Kelenjar Saliva
5 Histologi kelenjar saliva 1) Kelenjar parotis Kelenjar parotis merupakan kelenjar saliva terbesar yang terletak di samping telinga. Jenis kelenjar ini adalah tubuloasiner kompleks (asiner bercabang)yang ada manusia merupakan kelenjar serosa murni. Sel-sel asini kelenjar parotis memiliki ribosomal RNA dengan jumlah yang cukup banyak di bagian basal dibanding dengan sel eksokrin pada kelenjar pankreas. Sel-sel asini kelenjar ini pada manusia mempunyai granula sekresi yang menunjukkan reaksi Periodic Acid Schiff (PAS) positif, yang menunjukkan adanya polisakarida. Granula sekresi ini kaya protein dan mempunyai aktivitas amilase yang besar Kelenjar ini dilingkupi oleh kapsula jaringan ikat retikuler yang tebal dan bercabang masuk membentuk septa-septa yang membagi kelenjar menjadi lobulus-lobulus kecil. 14,15 Dalam jaringan ikat ini terdapat sel-sel lemak, seratserat saraf dari nervus VII, duktus interlobularis serta banyak sel-sel plasma. Sel-sel plasma disini menghasilkan IgA yang berikatan dengan komponen (protein) sekretoris yang dihasilkan oleh sel asini. Kompleks secretory-iga (siga) yang dikeluarkan kedalam saliva bersifat resisten terhadap enzim pencernaan dan berperan dalam mekanisme pertahanan imunologik terhadap zat patogen yang ada di rongga mulut. 14
6 11 Kelenjar parotis mempunyai sistem saluran yang lengkap dari yang terkecil hingga saluran yang besar. Saluran keluar utamanya disebut duktus parotideus dari Stenson (duktus stenson). 17 2) Kelenjar submandibularis Kelenjar submandibularis merupakan kelenjar tubuloasiner kompleks (bercabang)dimana memiliki bagian sekretorisnya tersusun dari asini serosa dan asini mukosa atau disebut kelenjar campuran. 20 Pada manusia kelenjar ini memiliki asini serosa lebih dominan (80%), sedangkan asini mukosa hanya 5%, sehingga disebut kelenjar mukoserosa. 14,15 Sel-sel serosa memiliki granula sekretoris yang memiliki reaksi PAS positif karena adanya karbohidrat, berinti bulat dan sitoplasmanya basofilik (lebih gelap). 14 Sel-sel yang membentuk demiluner Gianuzzi mengandung dan mensekresi lisozim, yang aktivitas utamanya adalah menghidrolisis dinding bakteri. 15 Duktus interkalatus pada kelenjar ini sangat pendek dan tidak berkembang baik, sehingga pada sediaan tidak banyak ditemukan, tetapi duktus striata pada kelenjar berkembang baik dan panjang. 14 Saluran keluar utamanya adalah duktus submandibularis dari Wharton (duktus Wharton) yang bermuara pada ujung papila sublingualis pada dasar rongga mulut dibawah lidah. 15 Kelenjar submandibularis dibungkus kapsula jaringan ikat dan jaringan ikat ini masuk membentuk sekat-sekat yang membatasi lobulus. 15
7 12 3) Kelenjar sublingualis Kelenjar sublingualis merupakan kelenjar ludah mayor terkecil dibanding dengan kelenjar parotis dan submandibularis. Kelenjar ini merupakan jenis kelenjar tubuloasiner kompleks (bercabang) yang juga merupakan kelenjar campuran. Sel asini yang dominan adalah sel-sel mukosa sehingga disebut kelenjar seromukosa. 14 Pada kelenjar ini jumlah sel-sel serosa yang dimiliki hanya sedikit dan tersusun membentuk demiluner Gianuzzi yakni sebuah bangunan mirip bulan sabit dimana sel serosa menempel pada sel mukosa. 15 Duktus interkalatus dan duktus striata jarang terlihat. 14 Kapsula jaringan ikat dari kelenjar ini tidak berkembang dengan baik, tetapi septa-septa kelenjar terlihat cukup jelas. 14 Saluran keluarnya terdapat kurang lebih sebanyak saluran yang disebut sebagai duktus Rivinus yang bermuara di sepanjang lipatan mukosa (plika sublingualis). 14,15 Saluran yang lebih besar yang dimiliki kelenjar ini adalah duktus Bartholini yang bermuara pada kurunkula sublingualis bersama dengan duktus Warthoni Mekanisme sekresi saliva Sekresi saliva terbesar terjadi pada saat pengecapan dan pengunyahan makanan. Pada saat tidak sedang makan, saliva tetap ada, namun aliran saliva dalam rongga mulut sangat sedikit. 15,16 Pada individu sehat, produksi saliva tetap berada dalam rongga mulut sebanyak 0,5 ml sehingga gigi akan terendam dalam saliva dan
8 13 membantu mempertahankan integritas gigi, melindungi gigi, lidah, membran mukosa mulut dan orofaring. 21 Sekresi saliva sebagian besar berada dibawah kontrol sistem saraf otonom (simpatis dan parasimpatis). 15 Rangsang saraf parasimpatis yang disertai vasodilatasi pembuluh darah pada kelenjar berefek pada hasil sekresi saliva banyak dan encer. Sistem parasimpatis memegang peranan lebih banyak dalam mengatur sekresi saliva Sistem parasimpatis akan mengantarkan impuls saraf ke nukleus salivarius, nukleus salivarius superior akan meneruskan rangsang saraf ke kelenjar sublingualis dan submandibularis, nukleus salivarius inferior akan meneruskan rangsang saraf ke kelenjar parotis, sedangkan kelenjar saliva minor akan dipersarafi oleh serabut jaringan parasimpatis dari saraf fasial. 15,17-19 Sekresi saliva memiliki dua jenis reflek, yaitu: reflek sekresi sederhana dan reflek sekresi terkondisi. 25 Reflek sederhana terjadi apabila kemoreseptor dan reseptor tekan di dalam rongga mulut melakukan respon terhadap keberadaan makanan. Reseptor ini akan menghasilkan impuls pada serat afferent lalu membawa informasi tersebut ke medulla oblongata. 25 Rangsang afferent dibawa oleh proses merasakan ke nukleus salivarius di medulla oblongata oleh nervus glossopharingeus, facialis, dan vagus. Sedangkan impuls aferen yang berasal dari kegiatan mengunyah dibawa oleh nervus trigeminus. Reflek terkondisi dapat timbul tanpa adanya rangsang secara oral. Reflek ini dapat terjadi akibat berfikir, melihat, mencium bahkan hanya mendengar. Secara
9 14 sederhana, sinyal yang berasal bukan dari oral dikaitkan secara mental melalui korteks serebri yakni melalui sistem limbik untuk merangsang pusat sekresi saliva di medulla oblongata Laju aliran saliva Jumlah saliva total tanpa stimulasi adalah jumlah total sekresi saliva yang memasuki mulut tanpa adanya stimulus eksogen. 26 Komposisi dari saliva total ini terdiri atas sekresi dari kelenjar saliva mayor dan minor ditambah dengan cairan krevis gingiva, sel epitel skuamosa, bakteri, leukosit, dan kemungkinan sisa makanan, darah, serta virus. 25,26 Rata-rata laju aliran saliva tanpa stimulasi selama periode sadar (16 jam) yakni kurang lebih 0,3 ml/menit, sehingga total volume selama periode ini akan menjadi ± 300 ml saliva. Selama tidur, laju saliva akan turun menjadi 0,1 ml/menit, dan menghasilkan 40 ml saliva dalam 7 jam Faktor yang mempengaruhi laju aliran saliva Faktor yang mempengaruhi laju aliran saliva antara lain: 27 a) Usia Laju aliran saliva meningkat pada usia anak dan dewasa, dan menurun pada usia tua. Fungsi kelenjar saliva menurun pada lansia karena elemen asinus kelenjar telah digantikan oleh jaringan lemak dan jaringan fibrosa. b) Jenis kelamin Laju aliran saliva pada pria lebih tinggi dibanding pada wanita karena kelenjar saliva berukuran yang lebih besar pada pria dibanding pada wanita.
10 15 c) Obat-obatan Penggunaan atropin dan obat kolinergik seperti antidepresan trisiklik, antipsikotik, benzodiazepin, β-blocker, dan antihistamin dapat menurunkan laju aliran saliva. d) Penyakit sistemik Penyakit sistemik seperti diabetes dan hipertensi dapat menurunkan laju aliran saliva. e) Merokok Konsumsi rokok harian yang meningkat dapat mengakibatkan penurunan pada sekresi saliva. f) Alkohol Mengkonsumsi alkohol berlebihan dapat berpengaruh pada penurunan laju aliran saliva. 2.2 Xerostomia Xerostomia (xero = kering, stomia = mulut) didefinisikan sebagai sensasi subjektif dari mulut kering yang dapat dikaitkan dengan penurunan dalam produksi saliva. Saliva memainkan peran penting dalam kesehatan mulut serta sistemik pasien karena merupakan sistem pertahanan utama di rongga mulut, bahkan melindungi semua jaringan keras dan lunak. 28 Individu yang mengeluh mulut kering memiliki banyak penyebab. 29 Xerostomia dapat terjadi oleh karena perubahan kualitas (komposisi) saliva tetapi kuantitas (jumlah saliva) yang tidak berubah. Hal ini merupakan alasan
11 16 ditemukannya beberapa pasien yang terkadang mengeluh mulut kering tetapi memiliki jumlah saliva yang tepat. 30 Setiap individu dapat mengalami xerostomia dengan atau tanpa hiposalivasi, terdapat pula pengalaman hiposalivasi dengan atau tanpa xerostomia, atau mungkin memiliki aliran saliva rata-rata dan sensasi normal. 31 Mulut kering adalah gejala oral yang paling umum dan disertai sensasi tidak menyenangkan yang dapat mempengaruhi semua fungsi mulut dengan kurang baik dan membahayakan setiap orang yang terpapar. Hal ini menyebabkan banyak dampak pada mulut termasuk kekeringan mukosa mulut, kesulitan dalam proses mengunyah dan menelan, kesulitan untuk berbicara, sensasi terbakar pada rongga mulut dan nyeri pada mukosa mulut, menambah kecenderungan kerusakan dari mukosa mulut dan infeksi, peningkatan probabilitas dari infeksi jamur, peningkatan proses demineralisasi gigi dan peningkatan karies gigi, peningkatan angka kejadian halitosis, dan kesulitan untuk pemakaian gigi palsu Keganasan di bidang kepala dan leher Pada tahun 1950 sampai dengan tahun 1960 para ahli merasa yakin jika pengobatan suatu keganasan akan menjadi lebih baik bila diberikan terapi kombinasi, yaitu bedah yang dilanjutkan dengan radiasi. Pada waktu itu juga ilmu pengetahuan tentang operasi rekonstruksi berkembang dengan baik, namun sejak tiga dekade terakhir penanggulangan suatu keganasan lebih diutamakan dengan menggunakan berbagai modalitas serta melakukan tindakan rehabilitasi sesudahnya. 5,33
12 17 a) Nasofaring Prevalensi tumor ganas nasofaring di Indonesia cukup tinggi. Sebagian besar pasien yang datang berobat berada dalam stadium lanjut dan prognosis menjadi buruk. 33 Tumor ganas nasofaring memiliki sifat metastase secara cepat ke kelenjar limfa leher dan mampu melakukan metastasis jauh yaitu ke organorgan seperti paru, hati, dan tulang. Tumor ini berhubungan erat dengan terdapatnya virus Epstein Barr (VEB). 33 Penatalaksanaan tumor ganas nasofaring sebelum tahun 1970 hanya sebatas penyinaran saja, baik untuk stadium I, II, III, dan IV. Namun sejak awal tahun 1970, terapi tumor ganas nasofaring disamping penyinaran juga diberikan kemoterapi (sitostatika). Sampai saat ini, kombinasi penyinaran dan sitostatika masih menjadi terapi pilihan. Bila ditemukan residif dari tumor primer atau metastasis pada leher maka penderita diterapi menggunakan metode penyinaran atau dilakukan reseksi leher. 5,33 b) Hidung dan sinus paranasal Etiologi dari tumor ganas hidung dan sinus paranasal belum ditemukan secara pasti sampai saat ini. Penderita sering terlambat didiagnosis karena tanda dan gejala yang timbul akibat tumor tidak khas, karena lebih mirip dengan gejala inflamasi hidung lainnya, yakni rasa tersumbat dan epistaksis. Berbagai pajanan bahan-bahan industri dihubungkan dengan terjadinya tumor pada daerah ini. 33
13 18 Pada awal tahun 1980 mulai diadakan tindakan operasi untuk penanggulangan tumor pada berbagai stadium, baik pada stadium awal (maksilektomi parsial) maupun pada stadium lanjut (maksilektomi total), serta metode penatalaksanaan tumor ganas hidung dan sinus paranasal selain penyinaran, mulai diberikan terapi sitostatika. Tindakan deseksi leher radikal dilakukan pada tumor hidung dan sinus paranasal yang mempunyai metastasis ke kelenjar limfa leher. Pada stadium lanjut, bila terdapat metastasis jauh dan pembesaran limfa leher maka dilakukan terapi kombinasi penyinaran dan sitostatika. 5,33 c) Laring Tumor laring yang terdapat pada pita suara kebanyakan adalah tumor ganas. Faktor resiko tumor ini adalah lainnya adalah perokokok aktif, konsumsi alkohol, pajanan radiasi, pajanan industri, kekebalan tubuh dan kemungkinan faktor genetik. 33 Apabila penderita mengeluh terdapat suara serak dan nyeri tenggorok bertambah disertai gangguan menelan, sesak napas, pembesaran kelenjar getah bening dan batuk darah, sangat mungkin tumor ini sudah dalam stadium lanjut Radioterapi kepala dan leher Radioterapi adalah metode pengobatan yang menggunakan radiasi sinar pengion sebagai terapi kuratif pada kasus kelainan keganasan. Beberapa bentuk penyakit bukan keganasan yang kadang diterapi dengan radioterapi, contohnya
14 19 pengobatan keloid dan Grave s disease pada kelenjar tiroid. Terkadang juga terapi menggunakan sinar non-pengion, contohnya penggunaan gelombang panas secara bersama-sama untuk mendapatkan respon radikal yang lebih efektif pada kasus tumor-tumor tertentu. 8 Sel-sel yang masih bertahan hidup akan mereparasi kerusakan DNA nya masing-masing. Kemampuan mereparasi DNA sel normal lebih baik dan lebih cepat dibandingkan dengan sel kanker. Keadaan ini dipakai sebagai dasar untuk radioterapi pada kanker, sehingga meskipun sel normal juga terkena radiasi, sel normal mampu segera mereparasi dirinya secara lebih cepat dibandingkan dengan sel kanker. 7,34 Sinar yang digunakan untuk radioterapi adalah : 7 a) Sinar alfa Sinar alfa adalah sinar korpuskuler atau berasal dari partikel dari inti atom. Inti atom terdiri dari proton dan neutron. Sinar ini tidak dapat menembus kulit dan tidak banyak dipakai dalam radioterapi. b) Sinar beta Sinar beta adalah sinar elektron. Sinar ini dipancarkan oleh zat radioaktif yang memiliki energi rendah. Memiliki daya tembus yang terbatas pada kulit yakni sedalam 3-5 mm. Sinar beta digunakan untuk terapi lesi yang superfisial. c) Sinar gamma Sinar gamma adalah jenis sinar elektromagnetik atau foton. Sinar ini dapat menembus lapisan tubuh. Daya tembusnya bergantung dari besar energi
15 20 sinar itu. Makin tinggi energinya atau makin tinggi voltagenya, maka makin besar pula daya tembusnya dan makin dalam letak dosis maksimalnya. 7 Radioisotop yang digunakan pada radioterapi antara lain: 7 a) Calcium 137 : sinar gamma b) Cobalt 60 : sinar gamma c) Radium 226 : sinar alfa, beta, gamma Indikasi radioterapi pada penyakit telinga, hidung, dan tenggorokan adalah: 35 a) Karsinoma telinga luar dan telinga tengah b) Karsinoma maxilla c) Keganasan nasofaring d) Keganasan pada tonsil, lidah, dan orofaring e) Keganasan hipofaring f) Keganasan laring g) Keganasan esophagus Pengaruh radioterapi terhadap saliva Metode radiasi pada daerah leher dan kepala untuk terapi pasien kanker telah terbukti dapat mengakibatkan rusaknya struktur kelenjar saliva dengan berbagai derajat kerusakan pada kelenjar saliva yang terkena radioterapi. Hal ini dapat dibuktikan dengan berkurangnya volume saliva pada pasien dengan terapi radiasi pada daerah leher dan kepala. Jumlah dan derajat keparahan kerusakan jaringan saliva tergantung pada dosis dan lamanya terapi radiasi. 36
16 21 Pengaruh radiasi lebih banyak mengenai sel-sel asini dari kelenjar saliva serosa dibandingkan dengan kelenjar saliva mukosa. Tingkat perubahan kelenjar saliva setelah radiasi yaitu: untuk beberapa hari, terjadi radang kelenjar saliva, dalam kurun waktu satu minggu setelah pemberian terapi terjadi penyusutan parenkim kelenjar sehingga terjadi penyusutan kelenjar saliva dan penyumbatan saluran kelenjar. 4,5,36 Dosis penyinaran sebesar <10 Gy mampu menimbulkan gejala reduksi tidak tetap dari sekresi saliva. Dengan dosis penyinaran sebesar Gy mampu menimbulkan gejala hiposalivasi yang jelas dapat ditunjukkan. Sedangkan dengan dosis penyinaran sebesar Gy, reduksi masih terus berlangsung dan reversibel. Serta dengan dosis penyinaran sebesar >40 Gy mengakibatkan terjadinya perusakan irreversibel jaringan kelenjar dan terjadi hiposalivasi irreversibel Xylitol Xylitol telah diketahui sebagai salah satu bahan kimia organik sejak pertama kali diolah pada tahun 1891 oleh para ahli kimia di Jerman. 37 Xylitol merupakan salah satu contoh substansi natural yang banyak diproduksi oleh alam. 37 Xylitol dapat ditemukan dalam jumlah besar pada pohon birch dan dalam jumlah kecil pada strawberry, raspberry, yellow plum, gandum, beras, dan berbagai kacangkacangan, bahkan xylitol secara alami diproduksi didalam tubuh manusia lebih dari 15 gram perhari selama metabolisme normal. 37,40 Xylitol memiliki karakteristik yang mirip dengan gula pada umumnya. Xylitol memiliki rasa manis dan secara fisik mirip seperti gula. 37 Ciri lain dari xylitol adalah
17 22 adanya sensasi dingin yang menyegarkan saat dikonsumsi. 40,41 Xylitol digolongkan sebagai polialkohol sehingga tidak dapat digolongkan menjadi satu bersama dengan gula karbohidrat lain yang digolongkan dalam monosakarida dan disakarida. 40 Xylitol secara perlahan diserap dan digunakan dalam tubu. 37 Kadar xylitol dalam darah pada manusia dapat mencapai 0,03-0,06 mg/100 ml dan dalam urin dieksresikan dalam jumlah 0,3 mg/jam. 40 Penyerapan xylitol dalam tubuh dapat mengalami adaptasi dalam jumlah total dosis yang dikonsumsi perhari. 37,40 Pada subyek yang belum beradaptasi dengan baik dengan penyerapan xylitol, dosis 0,5 g/kg berat badan akan membuat subyek mengalami diare osmotik. 40 Namun pada subyek yang telah beradaptasi baik dengan xylitol dapat menerima dosis 200 g/hari tanpa mengalami diare. 40 Penggunaan xylitol dalam dosis besar (misalnya g/hari), 1/3 dari jumlah yang dikonsumsi akan diserap dan dimetabolisme di hati. 37,40 Sisanya akan berada di saluran intestinal dan mengalami pemecahan molekul menjadi asam lemak rantai pendek yang kemudian akan diserap dan digunakan oleh tubuh. 37,40 Dalam metabolismenya, xylitol mengikuti metabolisme karbohidrat dan diubah menjadi glikogen, dioksidasi menjadi karbon dioksida dan air, atau digunakan sebagai material untuk bahan pembentukan substansi dalam proses biosintesis, misalnya lemak. 40 Xylitol mengalami metabolisme yang lambat dalam tubuh maka jumlah total dosis yang diterima tidak akan melebihi kapasitas metabolisme seorang individu. 40 Xylitol memiliki efek mereduksi jumlah dan pembentukan plak karena termasuk golongan gula non-fermentasi yang tidak dapat dikonversi menjadi asam
18 23 oleh bakteri mulut, sehingga memiliki kemampuan mengembalikan keseimbangan ph mulut, mereduksi jumlah bakteri Streptococcus mutans, dan meningkatkan aktivitas dari proses remineralisasi enamel dengan cara mengeraskan lesi karies dini yang timbul. Selain itu xylitol juga mampu menstimulasi sekresi kelenjar saliva tanpa produksi asam yang signifikan. 37 Mengkonsumsi xylitol secara berlebihan dapat menyebabkan sakit perut, diare, oral erosive eczema, bahkan dapat menyebabkan gagal ginjal akut. 42
BAB I PENDAHULUAN. Kanker kepala dan leher adalah penyebab kematian akibat kanker tersering
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Kanker kepala dan leher adalah penyebab kematian akibat kanker tersering kedelapan di seluruh dunia. Insiden penyakit ini memiliki variasi pada wilayah dan ras yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Saliva adalah suatu cairan tidak bewarna yang memiliki konsistensi seperti
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saliva 2.1.1 Pengertian dan Fungsi Saliva Saliva adalah suatu cairan tidak bewarna yang memiliki konsistensi seperti lendir dan merupakan hasil sekresi kelenjar yang membasahi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. diekskresikan ke dalam rongga mulut. Saliva dihasilkan oleh tiga pasang kelenjar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saliva 2.1.1 Definisi dan fungsi saliva Saliva merupakan gabungan dari berbagai cairan dan komponen yang diekskresikan ke dalam rongga mulut. Saliva dihasilkan oleh tiga pasang
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Antidepresan adalah terapi obat-obatan yang diberikan pada penderita gangguan depresif. Gangguan depresif adalah salah satu gangguan kesehatan jiwa yang paling sering
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kanker kepala dan leher merupakan salah satu tumor ganas yang banyak
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kanker kepala dan leher merupakan salah satu tumor ganas yang banyak terjadi didunia dan meliputi sekitar 2,8% kasus keganasan (Jemal dkk., 2006). Kanker kepala
HAL-HAL YANG BERPENGARUH PADA KOMPOSISI SEKRESI SALIVA. Departemen Biologi Oral FKG USU
HAL-HAL YANG BERPENGARUH PADA KOMPOSISI SEKRESI SALIVA. Departemen Biologi Oral FKG USU HAL-HAL YANG BERPENGARUH PADA KOMPOSISI DAN SEKRESI SALIVA. Sekresi saliva - fungsi normal - kesehatan rongga mulut.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kanker adalah penyakit keganasan yang ditandai dengan pembelahan sel
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kanker adalah penyakit keganasan yang ditandai dengan pembelahan sel yang tak terkendali dan kemampuan sel-sel tersebut untuk menyerang jaringan lainnya, baik
BAB I PENDAHULUAN. saliva mayor yang terdiri dari: parotis, submandibularis, sublingualis, dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saliva merupakan cairan tubuh yang kompleks dan bermanfaat bagi kesehatan rongga mulut. Saliva disekresi oleh tiga pasang glandula saliva mayor yang terdiri
BAB I PENDAHULUAN. Perbandingan rasio antara laki-laki dan perempuan berkisar 2:1 hingga 4:1.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Data dari GLOBOCAN memperkirakan, terdapat sekitar 14,1 juta ditemukan kasus kanker baru dan tercatat 8,2 juta jiwa meninggal akibat kanker pada tahun 2012 di seluruh
BAB I PENDAHULUAN. melalui mulut, dan pada kalangan usia lanjut. 2 Dry mouth berhubungan dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Dry mouth merupakan keadaan rongga mulut yang kering, berhubungan dengan adanya penurunan aliran saliva. 1 Umumnya terjadi saat cemas, bernafas melalui mulut, dan pada
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Xerostomia Umumnya perhatian terhadap saliva sangat kurang. Perhatian terhadap saliva baru timbul apabila terjadinya pengurangan sekresi saliva yang akan menimbulkan gejala mulut
BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling dominan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling dominan di masyarakat. 1 Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 2004,
BAB 1 PENDAHULUAN. kelenjar saliva, dimana 93% dari volume total saliva disekresikan oleh kelenjar saliva
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar saliva dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem di dalam rongga
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. 2006). Kanker leher kepala telah tercatat sebanyak 10% dari kanker ganas di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kanker leher kepala merupakan kanker yang terdapat pada permukaan mukosa bagian dalam hidung dan nasofaring sampai trakhea dan esophagus, juga sering melibatkan
BAB I PENDAHULUAN. kekurangan insulin, baik total ataupun sebagian. DM menunjuk pada. kumpulan gejala yang muncul pada seseorang yang dikarenakan oleh
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada masa ini Diabetes Melitus (DM) sudah menjadi penyakit yang diderita segala lapisan masyarakat. DM merupakan suatu kondisi abnormal pada proses metabolisme karbohidrat
BAB I PENDAHULUAN. siklus sel yang khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk tumbuh tidak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan kelainan siklus sel yang khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk tumbuh tidak terkendali (pembelahan sel melebihi
BAB VII. Fungsi Indera Pengecap
BAB VII Fungsi Indera Pengecap A. PENDAHULUAN Indera pengecap sangat erhubungan erat dengan indera penciuman. Jika indera penciuman mengalami gangguan, misalnya karena menderita influenza, maka indera
JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar sarjana strata-1 kedokteran umum
1 PENGARUH PEMBERIAN PERMEN KARET XYLITOL TERHADAP LAJU ALIRAN SALIVA (Studi Kasus Pada Pasien Radioterapi Kepala dan Leher di RSUP Dr. Kariadi Semarang) JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA Disusun untuk memenuhi
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada mukosa oral. Saliva yang terbentuk
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saliva adalah cairan oral kompleks yang terdiri atas campuran sekresi dari kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada mukosa oral. Saliva yang terbentuk di rongga
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tempat predileksi terjadinya kanker. Kanker yang paling sering didiagnosa pada
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kanker Kepala dan Leher Kanker dapat terbentuk pada jaringan atau organ yang terdapat di area kepala dan leher. Terdapat lebih dari 30 area di kepala dan leher yang menjadi
BAB I PENDAHULUAN. ganas hidung dan sinus paranasal (18 %), laring (16%), dan tumor ganas. rongga mulut, tonsil, hipofaring dalam persentase rendah.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Karsinoma merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. Hampir 60 % tumor ganas kepala dan leher merupakan karsinoma nasofaring,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Karies Gigi dan S-ECC Karies gigi merupakan penyakit infeksi pada jaringan keras gigi yang menyebabkan demineralisasi. Demineralisasi terjadi akibat kerusakan jaringan
BAB I PENDAHULUAN. ata terbaru yang dikeluarkan Departemen Kesehatan (Depkes) Republik
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang ata terbaru yang dikeluarkan Departemen Kesehatan (Depkes) Republik Indonesia (RI) dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) menunjukkan terjadi peningkatan prevalensi
Gambar 1 urutan tingkat perkembangan divertikulum pernapasan dan esophagus melalui penyekatan usus sederhana depan
EMBRIOLOGI ESOFAGUS Rongga mulut, faring, dan esophagus berasal dari foregut embrionik. Ketika mudigah berusia kurang lebih 4 minggu, sebuah divertikulum respiratorium (tunas paru) Nampak di dinding ventral
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Radioterapi Kanker daerah Kepala dan Leher 2.1.1 Definisi Radioterapi atau terapi radiasi merupakan salah satu metode pilihan dalam pengobatan penyakit maligna dengan menggunakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian ph dan Saliva 1. PH Hasil kali ( produk ) ion air merupakan dasar bagi skala ph, yaitu cara yang mudah untuk menunjukan konsentrasi nyata H + ( dan juga OH - ) didalam
BAB 2 SALIVA. Saliva merupakan salah satu dari cairan di rongga mulut yang diproduksi
BAB 2 SALIVA 2.1 DEFINISI Saliva merupakan salah satu dari cairan di rongga mulut yang diproduksi dan diekskresikan oleh kelenjar saliva dan dialirkan ke dalam rongga mulut melalui suatu saluran. Saliva
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Obat Kardiovaskular yang Digunakan Pasien PJK Obat kardiovaskular yang digunakan pasien PJK adalah obat yang digunakan untuk menjaga agar suplai oksigen selalu seimbang dengan
ABSTRAK GAMBARAN KOMPLIKASI PASIEN KANKER KEPALA DAN LEHER PASCA RADIOTERAPI/KEMOTERAPI DI RSUP SANGLAH TAHUN 2016
ABSTRAK GAMBARAN KOMPLIKASI PASIEN KANKER KEPALA DAN LEHER PASCA RADIOTERAPI/KEMOTERAPI DI RSUP SANGLAH TAHUN 2016 Prevalensi kanker kepala dan leher (KKL) di Indonesia cukup tinggi. Kanker kepala dan
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. kualitas hidup seseorang (Navazesh dan Kumar, 2008; Amerongen, 1991).
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saliva memainkan peranan penting bagi kesehatan rongga mulut (Gupta, 2006). Berkurang atau bertambahnya produksi saliva dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang (Navazesh
Gambar 1. Kelenjar saliva 19
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Saliva Saliva adalah cairan yang terdiri atas sekresi yang berasal dari kelenjar saliva dan cairan sulkus gingiva. 90% dari saliva dihasilkan oleh kelenjar saliva mayor yang
SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 16. SISTEM PENCERNAANLATIHAN SOAL BAB 16. Biasa
SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 16. SISTEM PENCERNAANLATIHAN SOAL BAB 16 1. Proses pencernaan pada mulut menggunakan gigi disebut pencernaan Biasa Mekanik Kimiawi Mekanik dan kimiawi Kunci Jawaban : D Proses
Fungsi Sistem Pencernaan Pada Manusia
Fungsi Sistem Pencernaan Pada Manusia Setiap manusia memerlukan makanan untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Sari makanan dapat diangkut oleh darah dalam bentuk molekul-molekul yang kecil dan sederhana. Oleh
BAB 1 PENDAHULUAN. lebih dari setengahnya terdapat di negara berkembang, sebagian besar dari
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini jumlah penderita kanker di seluruh dunia semakin meningkat. Dari kasus kanker baru yang jumlahnya diperkirakan sembilan juta setiap tahun lebih dari setengahnya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ganja adalah tanaman Cannabis sativa yang diolah dengan cara mengeringkan dan mengompres bagian tangkai, daun, biji dan bunganya yang mengandung banyak resin. 1 Ganja
BAB I PENDAHULUAN. dalamnya terdapat fungsi perlindungan yang mempengaruhi kondisi lingkungan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rongga mulut adalah pintu gerbang sistem pencernaan manusia yang berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Di dalamnya terdapat fungsi perlindungan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. 90% yaitu kelenjar parotis memproduksi sekresi cairan serosa, kelenjar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saliva merupakan cairan rongga mulut yang terdiri dari sekresi kelenjar saliva dan cairan krevikuler gingiva. Produksi saliva oleh kelenjar mayor sekitar 90%
SISTEM IMUN (SISTEM PERTAHANAN TUBUH)
SISTEM IMUN (SISTEM PERTAHANAN TUBUH) FUNGSI SISTEM IMUN: Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit; menghancurkan & menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. batas normal. Menurut laporan ke tujuh dari Komite Nasional Bersama mengenai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi 2.1.1 Definisi dan klasifikasi hipertensi Hipertensi adalah keadaan dimana terjadi kenaikan tekanan darah melebihi batas normal. Menurut laporan ke tujuh dari Komite
TEORI SISTEM IMUN - SMA KELAS XI SISTEM IMUN PENDAHULUAN
TEORI SISTEM IMUN - SMA KELAS XI SISTEM IMUN PENDAHULUAN Sistem Imun merupakan semua mekanisme pertahanan yang dapat dimobilisasi oleh tubuh untuk memerangi berbagai ancaman invasi asing. Kulit merupakan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Diabetes mellitus atau penyakit kencing manis merupakan sindrom yang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Diabetes melitus 2.1.1 Definisi dan klasifikasi diabetes mellitus Diabetes mellitus atau penyakit kencing manis merupakan sindrom yang ditandai dengan hiperglikemia kronik dan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karies Gigi Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses demineralisasi yang progresif pada jaringan keras permukaan gigi oleh asam organis yang berasal dari
Fungsi. Sistem saraf sebagai sistem koordinasi mempunyai 3 (tiga) fungsi utama yaitu: Pusat pengendali tanggapan, Alat komunikasi dengan dunia luar.
Pengertian Sistem saraf adalah sistem yang mengatur dan mengendalikan semua kegiatan aktivitas tubuh kita seperti berjalan, menggerakkan tangan, mengunyah makanan dan lainnya. Sistem Saraf tersusun dari
BAB I PENDAHULUAN. dalam rongga mulut terdapat fungsi perlindungan yang mempengaruhi kondisi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara anatomis sistem pencernaan manusia dimulai dari rongga mulut. Di dalam rongga mulut terdapat fungsi perlindungan yang mempengaruhi kondisi lingkungan saliva
ORGANISASI KEHIDUPAN. Sel
ORGANISASI KEHIDUPAN Sel Sel adalah unit terkecil dari makhluk hidup. Ukuran sangat kecil untuk melihat harus dibantu dengan mikroskop. Kata sel berasal dari bahasa latin cellulae, yang berarti bilik kecil.
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia, maka populasi penduduk lansia juga akan meningkat. 2 Menurut Badan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Proporsi penduduk lanjut usia (lansia) bertambah lebih cepat dibandingkan kelompok usia lain. 1 Seiring dengan meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia, maka
BAB 2 RADIOTERAPI KARSINOMA TIROID. termasuk untuk penyakit kanker kepala dan leher seperti karsinoma tiroid.
BAB 2 RADIOTERAPI KARSINOMA TIROID Dalam dunia medis, radioterapi sudah menjadi perawatan yang sangat umum digunakan. Penggunaannya pun dilakukan untuk berbagai macam penyakit kanker termasuk untuk penyakit
BAB 2 SENDI TEMPOROMANDIBULA. Temporomandibula merupakan sendi yang paling kompleks yang dapat
BAB 2 SENDI TEMPOROMANDIBULA Temporomandibula merupakan sendi yang paling kompleks yang dapat melakukan gerakan meluncur dan rotasi pada saat mandibula berfungsi. Sendi ini dibentuk oleh kondilus mandibula
BAB 6 PEMBAHASAN. tahun, usia termuda 18 tahun dan tertua 68 tahun. Hasil ini sesuai dengan
BAB 6 PEMBAHASAN 6.1. Karakteristik subyek penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata usia sampel penelitian 47,2 tahun, usia termuda 18 tahun dan tertua 68 tahun. Hasil ini sesuai dengan penelitian
Radiotherapy Reduced Salivary Flow Rate and Might Induced C. albicans Infection
ORIGINAL ARTICLE Radiotherapy Reduced Salivary Flow Rate and Might Induced C. albicans Infection Nadia Surjadi 1, Rahmi Amtha 2 1 Undergraduate Program, Faculty of Dentistry Trisakti University, Jakarta
BAB I PENDAHULUAN. kompleks, mencakup faktor genetik, infeksi Epstein-Barr Virus (EBV) dan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karsinoma nasofaring (KNF) adalah tumor ganas yang cenderung didiagnosis pada stadium lanjut dan merupakan penyakit dengan angka kejadian tertinggi serta menjadi
Kanker Paru-Paru. (Terima kasih kepada Dr SH LO, Konsultan, Departemen Onkologi Klinis, Rumah Sakit Tuen Mun, Cluster Barat New Territories) 26/9
Kanker Paru-Paru Kanker paru-paru merupakan kanker pembunuh nomor satu di Hong Kong. Ada lebih dari 4.000 kasus baru kanker paru-paru dan sekitar 3.600 kematian yang diakibatkan oleh penyakit ini setiap
SMP JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN VIII (DELAPAN) ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) SISTEM PENCERNAAN MANUSIA
JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN SMP VIII (DELAPAN) ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) SISTEM PENCERNAAN MANUSIA Salah satu ciri mahluk hidup adalah membutuhkan makan (nutrisi). Tahukah kamu, apa yang
ERYATI DARWIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
ERYATI DARWIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS TRACTUS DIGESTIVUS CAVUM ORIS PHARYNX OESOPHAGUS VENTRICULUS/GASTER INTESTINUM TENUE INTESTINUM CRASSUM KELENJAR PENCERNAAN KELENJAR PADA DINDING TRACTUS
BAB I PENDAHULUAN. saliva mayor dan minor. Saliva diproduksi dalam sehari sekitar 1 2 liter,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saliva merupakan cairan komplek yang dapat dihasilkan dari kelenjar saliva mayor dan minor. Saliva diproduksi dalam sehari sekitar 1 2 liter, yang terdiri dari
Sistem Saraf Tepi (perifer)
SISTIM SYARAF TEPI Sistem Saraf Tepi (perifer) Sistem saraf tepi berfungsi menghubungkan sistem saraf pusat dengan organ-organ tubuh Berdasarkan arah impuls, saraf tepi terbagi menjadi: - Sistem saraf
BAB I PENDAHULUAN. di negara maju terlebih lagi bagi negara berkembang. Angka kematian akibat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Karsinoma rongga mulut merupakan ancaman besar bagi kesehatan masyarakat di negara maju terlebih lagi bagi negara berkembang. Angka kematian akibat kanker terus meningkat
SISTEM PENCERNAAN MANUSIA
SISTEM PENCERNAAN MANUSIA A. MAKANAN DAN FUNGSINYA BAGI MANUSIA Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan manusia, diantaranya adalah makanan. Makanan mempunyai peranan yang sangat penting
BAB I PENDAHULUAN. (D = decayed (gigi yang karies), M = missing (gigi yang hilang), F = failed (gigi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan yang paling sering ditemui dalam kesehatan gigi dan mulut yaitu karies gigi dan penyakit periodontal. Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2000,
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit periodontal adalah penyakit yang umum terjadi dan dapat ditemukan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit periodontal adalah penyakit yang umum terjadi dan dapat ditemukan pada 90% dari populasi dunia. Penyakit periodontal merupakan salah satu penyakit gigi dan
Awal Kanker Rongga Mulut; Jangan Sepelekan Sariawan
Sariawan Neng...! Kata-kata itu sering kita dengar pada aneka iklan suplemen obat panas yang berseliweran di televisi. Sariawan, gangguan penyakit pada rongga mulut, ini kadang ditanggapi sepele oleh penderitanya.
BAB 2 DEFINISI GAG REFLEX. Dari semua permasalahan yang mungkin terjadi di bagian intraoral
BAB 2 DEFINISI GAG REFLEX 2.1 Definisi Dari semua permasalahan yang mungkin terjadi di bagian intraoral radiography, gagging merupakan salah satu masalah terbanyak. Gagging yang juga sering disebut gag
Manfaat Terapi Ozon Manfaat Terapi Ozon Pengobatan / Terapi alternatif / komplementer diabetes, kanker, stroke, dll
Manfaat Terapi Ozon Sebagai Pengobatan / Terapi alternatif / komplementer untuk berbagai penyakit. Penyakit yang banyak diderita seperti diabetes, kanker, stroke, dll. Keterangan Rinci tentang manfaat
Retriksi Cairan dengan Mengunyah Permen Karet Xylitol)
Retriksi Cairan dengan Mengunyah Permen Karet Xylitol) A. Pengertian 1. Retriksi caira Salah satu komplikasi berat dari GGK yaitu terjadinya Gagal Ginjal Terminal (GGT). Penderita GGT hanya dapat memproduksi
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Saliva merupakan cairan rongga mulut yang memiliki peran penting dalam
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saliva merupakan cairan rongga mulut yang memiliki peran penting dalam kesehatan jaringan keras dan lunak didalam rongga mulut. Saliva mempunyai banyak fungsi, diantaranya
SISTEM EKSKRESI PADA MANUSIA
A. GINJAL SISTEM EKSKRESI PADA MANUSIA Sebagian besar produk sisa metabolisme sel berasal dari perombakan protein, misalnya amonia dan urea. Kedua senyawa tersebut beracun bagi tubuh dan harus dikeluarkan
BAB I PENDAHULUAN. Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas yang berasal dari epitel
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas yang berasal dari epitel mukosa nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller. Kesulitan diagnosis dini pada
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rokok merupakan gulungan tembakau yang dirajang dan diberi cengkeh
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Rokok 1. Pengertian Rokok Rokok merupakan gulungan tembakau yang dirajang dan diberi cengkeh kemudian dibungkus dengan kertas rokok berukuran panjang 70 120 mm dengan diameter
Pencernaan mekanik terjadi di rongga mulut, yaitu penghancuran makanan oleh gigi yang dibantu lidah.
Kata pengantar Saat akan makan, pertama-tama yang kamu lakukan melihat makananmu. Setelah itu, kamu akan mencium aromanya kemudian mencicipinya. Setelah makanan berada di mulut, kamu akan mengunyah makanan
BAB 1 PENDAHULUAN. Saliva merupakan cairan rongga mulut yang kompleks yang terdiri atas
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saliva merupakan cairan rongga mulut yang kompleks yang terdiri atas campuran sekresi dari kelenjar saliva mayor dan minor yang ada pada mukosa mulut. 1 Saliva terdiri
Jenis jaringan hewan ada empat macam, yaitu jaringan epitel, jaringan ikat, jaringan otot, dan jaringan saraf.
JARINGAN HEWAN Jenis jaringan hewan ada empat macam, yaitu jaringan epitel, jaringan ikat, jaringan otot, dan jaringan saraf. A. JARINGAN EPITEL Jaringan epitel merupakan jaringan penutup yang melapisi
PERKEMBANGAN EMBRIOLOGI KELENJAR SALIVA DEPARTEMEN BIOLOGI ORAL FKG USU
PERKEMBANGAN EMBRIOLOGI KELENJAR SALIVA LISNA UNITA, DRG.,M.Kes DEPARTEMEN BIOLOGI ORAL FKG USU KELENJAR SALIVA Perkembangan Embriologi Kelenjar saliva berkembang dari ectoderm. Asal perkembangan kelenjar
SISTEM PENCERNAAN. Oleh: dr. Danurwendo Sudomo, Sp.Ok
SISTEM PENCERNAAN Oleh: dr. Danurwendo Sudomo, Sp.Ok PENDAHULUAN Sistem pencernaan bertanggung jawab untuk menghancurkan dan menyerap makanan dan minuman Melibatkan banyak organ secara mekanik hingga kimia
Sistem Pencernaan Manusia
Sistem Pencernaan Manusia Sistem pencernaan pada manusia terdiri atas beberapa organ yang berawal dari mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar dan anus. Pada sistem pencernaan manusia terdiri
TEORI DASAR RADIOTERAPI
BAB 2 TEORI DASAR RADIOTERAPI Radioterapi atau terapi radiasi merupakan aplikasi radiasi pengion yang digunakan untuk mengobati dan mengendalikan kanker dan sel-sel berbahaya. Selain operasi, radioterapi
BAB 2 ANATOMI SENDI TEMPOROMANDIBULA. 2. Ligamen Sendi Temporomandibula. 3. Suplai Darah pada Sendi Temporomandibula
BAB 2 ANATOMI SENDI TEMPOROMANDIBULA Sendi adalah hubungan antara dua tulang. Sendi temporomandibula merupakan artikulasi antara tulang temporal dan mandibula, dimana sendi TMJ didukung oleh 3 : 1. Prosesus
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI 2.1 Karies Gigi 2.1.1 Definisi Karies Gigi Karies gigi adalah suatu proses kronis hilangnya ion-ion mineral dari enamel mahkota gigi atau permukaan akar yang terjadi
SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 11. Organisasi KehidupanLatihan Soal 11.4
1. Perubahan energi yang trjadi didalam kloropas adalah.... SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 11. Organisasi KehidupanLatihan Soal 11.4 Energi cahaya menjadi energi potensial Energi kimia menjadi energi gerak
Organ yang Berperan dalam Sistem Pernapasan Manusia. Hidung. Faring. Laring. Trakea. Bronkus. Bronkiolus. Alveolus. Paru-paru
Exit Hidung Faring Organ yang Berperan dalam Sistem Pernapasan Manusia Laring Trakea Bronkus Bronkiolus Alveolus Paru-paru Hidung Hidung berfungsi sebagai alat pernapasan dan indra pembau. Pada hidung
BAB I PENDAHULUAN. karbohidrat dari sisa makanan oleh bakteri dalam mulut. 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Erosi merupakan suatu proses kimia dimana terjadi kehilangan mineral gigi yang umumnya disebabkan oleh zat asam. Asam penyebab erosi berbeda dengan asam penyebab karies
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ia tumbuh, meliputi rongga mulut, kelenjar saliva, laring, faring, rongga hidung dan sinus
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kanker Kepala dan Leher Kanker kepala dan leher adalah kanker yang tumbuh dari sel skuamous yang melapisi mukosa jaringan di kepala dan leher yang kemudian dikategorikan sesuai
LISNA UNITA, DRG.M.KES DEPARTEMEN BIOLOGI ORAL
LISNA UNITA, DRG.M.KES DEPARTEMEN BIOLOGI ORAL MEKANISME PERTAHANAN IMUN DAN NON IMUN SALIVA SALIVA Pembersihan secara mekanik Kerja otot lidah, pipi dan bibir mempertahankan kebersihan sisi-sisi mulut
MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS
MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS KD 3.8. Menjelaskan mekanisme pertahanan tubuh terhadap benda
ANATOMI DAN FISIOLOGI
ANATOMI DAN FISIOLOGI Yoedhi S Fakar ANATOMI Ilmu yang mempelajari Susunan dan Bentuk Tubuh FISIOLOGI Ilmu yang mempelajari faal (fungsi) dari Ilmu yang mempelajari faal (fungsi) dari alat atau jaringan
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Immunitas Niken Andalasari Sistem Imunitas Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh
BAB I PENDAHULUAN. sel tubuh normal mengadakan mutasi menjadi sel kanker yang kemudian. Penyakit kanker saat ini sudah merupakan masalah kesehatan di
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kanker merupakan penyakit keganasan yang timbul ketika sel tubuh normal mengadakan mutasi menjadi sel kanker yang kemudian tumbuh cepat dan tidak mempedulikan
Jaringan adalah struktur yang dibentuk oleh kumpulan sel yang mempunyai sifat-sifat morfologi dan fungsi yang sama. Jaringan Dasar pada hewan
Jaringan adalah struktur yang dibentuk oleh kumpulan sel yang mempunyai sifat-sifat morfologi dan fungsi yang sama. Jaringan Dasar pada hewan vertebrata ada 4,yaitu: 1. Jaringan epitel 2. Jaringan ikat
INDERA PENCIUMAN. a. Concha superior b. Concha medialis c. Concha inferior d. Septum nasi (sekat hidung)
INDERA PENCIUMAN Indera penciuman adalah indera yang kita gunakan untuk mengenali lingkungan sekitar melalui aroma yang dihasilkan. Seseorang mampu dengan mudah mengenali makanan yang sudah busuk dengan
PENGANTAR KESEHATAN. DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY. Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan
PENGANTAR KESEHATAN DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY PENGANTAR Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan meningkatkan kesehatan, cara mencegah penyakit, cara menyembuhkan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Karsinoma laring adalah keganasan pada laring yang berasal dari sel epitel laring.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karsinoma laring adalah keganasan pada laring yang berasal dari sel epitel laring. Lebih dari 90% penderita karsinoma laring memiliki gambaran histopatologi karsinoma
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. peran penting dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut (Harty and
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Saliva dan Anatomi Glandula Saliva Saliva adalah suatu cairan dalam rongga mulut yang mempunyai peran penting dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut (Harty
BAB I PENDAHULUAN. belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. Data Laboratorium
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker nasofaring merupakan jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. Data Laboratorium Patologi Anatomi FKUI melaporkan
TUTORIAL 2 SISTEM TUBUH 2. Sistem Respirasi Manusia
TUTORIAL 2 SISTEM TUBUH 2 Sistem Respirasi Manusia Sistem Respirasi Manusia Isilah bernapas, seringkali diarikan dengan respirasi, walaupun secara hariah sebenarnya kedua isilah tersebut berbeda. Pernapasan
Bab. Peta Konsep. Gambar 3.1 Orang sedang makan. Mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, dan anus. terdiri dari. Saluran Pencernaan
Bab 3 Sistem Pencernaan Sumber: Dok. Penerbit Gambar 3.1 Orang sedang makan Peta Konsep Pernahkah kamu berpikir dari manakah energi yang kamu peroleh untuk melakukan berbagai aktivitas, seperti berolahraga
BAB VI PEMBAHASAN. Dalam penelitian ini digunakan sebanyak 30 perempuan penderita xerostomia
50 BAB VI PEMBAHASAN 6.1. Subyek Penelitian Dalam penelitian ini digunakan sebanyak 30 perempuan penderita xerostomia yang berusia lanjut, karena penderita xerostomia sering ditemukan pada usia lanjut
BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker adalah pertumbuhan dan penyebaran sel secara tidak terkendali, sering menyerang jaringan sekitar dan dapat bermetastasis atau menyebar ke organ lain (World Health
