BAB II KAJIAN PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Pengertian Belajar Belajar adalah proses penting bagi perubahan prilaku seseorang yang dipikirkan dan dikerjakan melalui pelatihan dan pengalaman (Anni, 2006). Belajar merupakan proses aktif dalam memperoleh pemahaman atau penggetahuan baru sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku (Hudojo, 2005). Belajar merupakan proses dan bukan belajar bukan semata-mata hasil yang akan dicapainya, tetapi proses belajar berlangsung melalui serangkaian pengalaman sehingga terjadi perubahan tingkah laku seseorang atau terjadi pengguatan pada pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Sedangkan menurut Winkel (2005), belajar merupakan suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungannya, yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Belajar juga bukan hanya menghafal dan bukan pila menggingat. Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan dari diri seseorang (Sudjana, 2008). Perubahan dalam proses belajar dapat dilihat dari perubahan pengetahuan, pemahaman dan tingkah laku. Secara umum belajar adalah proses kegiatan dari yang tidak tahu, tidak mengerti, menjadi tahu dan mengerti (Armo F: 1981). Dalam proses belajar mempunyai tiga macam rumusan yaitu (Jhon Burville: 1991): a. Rumusan kuantitatif, belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. b. Rumusan institusional, belajar dipandang sebagai proses validasi (penghabsahan) terhadap penggusaan siswa atas materi-materi yang telah di pelajari. Bukti insttitusional yang menunjukan seseorang telah belajar dapat diketahui dalam hubunganya dengan proses mengajar. c. Rumusan kualitatif, proses memperoleh arti-arti dan pemahamanpemahaman serta cara menafsirkan dunia disekeliling siswa. Pada proses belajar ini ditekankan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang ada sekarang maupun sesudanya. Menurut beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses mengenal dari yang belum tahu menjadi tahu melalui pelatihan dan pengalaman sehingga seseorang memperoleh perubahan tigkah laku, pegetahuan, pemahaman, keterampilan serta nilai sikap yang tidak disebabkan oleh pembawaan, kematangaan, dan kedaan sesaat seseorang, namun terjadi sebagai hasil latihan dalam interaksi. 5

2 6 2. Pembelajaran Matematika Pembelajaran adalah proses yang diselegarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan, dan sikap. (Mudjiono dan Endang, 2007). Pembelajaran merupakan upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan siswa yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dan siswa. Tujuan dari pembelajaran ialah terbentuknya kemampuan bernalar pada diri seseorang yang tercemin melalui kemampuan berfikir kritis dalam memecahkan suatu masalah dikehidupan sehari-hari (PPPG,2004:1). Matematika merupakan salah satu jenis dari enam materi ilmu. didasarkan pada pandangan kontrutivisme, hakikat manusia yakni anak yang belajar matematika dihadapkan pada masalah tertentu berdasarkan pengetahuan yang diperoleh ketika belajar dan berusaha memevahkan masalah (Hamzah, 2007). Pembelajaran matematika adalah suatu proses yang diselegarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa guna memperoleh pengetahuan dan keterampilan matematika, serta menciptakan situasi agar siswa belajar menggunakan berbagai model pembelajaran. Dalam pembelajaran matematika seorang dapat menentukan strategi dalam pembelajaran agar siswa tidak terpusat pada seorang guru tetapi siswa juga diajak dalam proses pembelajaran sehingga terjadi pembelajaran yang efektif dan tujuan suatu pembelajaran dapat dicapai. 3. Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan (Nuharini, 2001). Pembelajaran kooperatif merupakan suatu sistem yang didasarkan pada alasan bahwa manusia sebagai makhluk individu yang berbeda satu sama lain sehingga konsekuensi logisnya manusia harus menjadi makhluk sosial, makhluk yang berinteraksi dengan sesamanya. Model pembelajaran kooperatif berbeda dengan pengajaran langsung. Karena dalam pembelajaraan kooperatif dikembengkan untuk menciptakan hasil belajar akademik, model pembelajaran kooperatif juga efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial (Hasyim, 2009). Tujuan pembelajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi, karena sangat penting untuk dimiliki didalam diri seseorang dan dilakukan dalam organisasi yang bergantung satu sama yang lain. Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa karateristik dalam proses belajar yaitu: a. Siswa belajar kelompok untuk menuntaskan materi. b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki keterampilan tinggi, sedang, rendah.

3 7 c. Anggota kelompok sebisa mungkinberasal dari ras, budaya, suku dan jenis kelamin yang berbeda. d. Penghargaan lebih berorientasi kelompok dibandingkan individu.(ibrahim, 2000:6) Setiap pembelajaran memiliki langkah-langkah yang terstruktur. Berikut merupakan langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif: a. Guru merancang pembelajaran, mempertimbangkan dan menempatkan target pembelajaran yang ingin dicapai oleg guru sesuai dengan tutunan materi pembelajaran. b. Guru merancang lembar observasi kegiatan siswa dalam belajar secara bersama-sama dalam kelompok kecil. c. Dalam melakukan observasi terhadap siswa, guru mengarahkan dan membimbing siswa baik secara individual maupun kelompok, dalam pemahaman materi maupun mengenai sikap dan perilaku siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran. d. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil kerjanya. Langkah-langkah di atas menujukan bahwa proses pembelajaran dimulai dari guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Tahapan ini juga diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja sama untuk memecahkan masalah. Tahap terakhir pada pembelajaran kooperatif meliputi presentasi hasil akhir kelompok dan evaluasi tetang apa yang sudah mereka pelajari. 4. Think Pair and Share (TPS) Think Pair and Share (TPS) adalah proses pembelajaran yang pertama kali dikembangkan oleh Frank Lyman di Universitas Maryland pada tahun TPS merupakan suatu model pembelajaran kooperatif. TPS atau berfikir berpasangan berbagi adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Tujuan pembelajaran TPS melatih siswa untuk saling membantu antar anggota dalam memahami pelajaran ataupun dalam menyelesaikan tugas belajar. Siswa yang lemah akan mendapat bantuan dari temannya yang lebih pandai. Dalam model pembelajaran TPS, guru menciptakan interaksi yang dapat mendorong rasa ingin tahu, ingin mencoba, bersikap mandiri, dan ingin maju. Tahapan utama dalam TPS adalah sebagai berikut (Ibrahim, 2000): a. Tahapan 1: Thinking (berfikir) guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan pelajaran, kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan tesebut dengan mandiri. b. Tahapan 2: Pairing (berpasangan) guru meminta siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirnya pada tahapan pertama. c. Tahapan 3: Sharing (berbagi) pada tahapan akhir,para pesert didik untuk berbagi hasil pemikiran mereka kepada seluruh kelas. Keterampilan

4 berbagidengan seluruh kelas dapat dilakukan dengan menujuk siswa secara sukarela yang bersedia melaporkan hasil kelompoknya atau bergiliran pasangan. Langkah-langkah dalam pembelajaran Think Pair share (TPS) adalah sebagai berikut: a) Pendahuluan Fase 1: persiapan 1. Guru melakukan apersepsi. 2. Guru menjelaskan tentang TPS. 3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. 4. Guru memberikan motivasi. b) Kegiatan inti Fase 2: pelaksanaan pembelajaran TPS Langkah pertama: 1. Guru menyampaikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan. 2. Siswa memperhatikan, mendengarkan dengan aktif penjelasan dan pertanyaan dari guru. Langkah kedua (Berfikir): 1. Siswa berfikir secara inadividual. 2. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memikirkan jawaban kepada siswa untuk memikirkan jawaban dari permasalahan yang disampaikan oleh guru. Langkah ini dapat dikembangkan dengan meminta siswa untuk menulis hasil pemikiran masing-masing. Langkah ketiga (Berpasangan): 1. Setiap siswa mendiskusikan hasil pemikiran masing-masing dengan pasangan. 2. Guru mengorganisasikan siswa untuk berpasangan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk aktif dalam kerja kelompok. Guru memotivasi siswa untuk aktif dalam kerja kelompoknya. Langkah keempat (Berbagi): 1. Siswa berbagi jawaban mereka dengan teman sekelas. 2. Siswa mempresentasikan jawaban atau hasil pemecahan masalah secara individu atau kelompok di depan kelas. Individu atau kelompok yang lain diberi kesempatan untuk bertanya atau memberikan pendapat terhadap hasil diskusi kelompok tersebut. 3. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi terhadap hasil pemecahan masalah yang telah mereka diskusikan, dan memberikan pujian bagi kelompok yang berhasil dan memberi semangat atau motivasi bagi kelompok yang belum berhasil. c) Penutup Fase 3: penutup 8

5 9 1. Dengan bimbingan guru siswa membuat simpulan dari materi yang telah didiskusikan. 2. Guru memberikan evaluasi atau latihan soal mandiri. 3. Siswa diberi PR dari buku paket/lks, atau mengerjakan ulang soal evaluasi. Penerapan pembelajaran kooperatif model TPS memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan pembelajaran TPS antara lain sebagai berikut: a. Akan mendorong siswa untuk lebih aktif bertanya maupun mengeluarkan pendapat serta kreatifr dalam mengembangkan ide-ide kreatifnya. b. Dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. c. Penyampaian materi pelajaran yang diterima oleh siswa dapat bertahan lebih lama. d. Dapat megembangkan sistem diskusi antar siswa, sehingga secara langsung mampu meningkatkan sikap koopertif dan kerja sama antar siswa. e. Dapat mengembangkan kemampuan kognitif siswa. Penggunakan model pembelajaran TPS bertujuan agar siswa mendapatkan kemudahan dalam menerima pelajaran yang diajarkan, karena dalam model ini siswa mempunyai peran yang sangat penting dalam pembelajaran, sebab setiap siswa mempunyai tanggung jawab dalam kelompok masing-masing. Dalam pembelajaran ini juga dapat meningkatkan aktivitas siswa melalui kerja kelompok dan presentasi. Sehingga dalam mempelajari matematika siswa dapat menerima pelajaran dengan mudah dan membantu siswa dalam berinteraksi dengan teman sendri maupun kepada guru. 5. Think Pair and Share (TPS) dalam Matematika Sebagai wujud pendidikan yang bermutu sesuai dengan tuntutan masyarakat di era globalisasi ini dan untuk mengatasi masalah dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan matematika di Indonesia, diperlukan suatu perubahan dalam dunia pendidikan, dan upaya pembaharuan. Proses tersebut terletak pada tanggung jawab guru mengenai bagaimana pembelajaran yang di sampaikan dapat dipahami siswa secara benar. Proses pembelajaran di tentukan sampai sejauh mana guru dapat menggunakan metode dan strategi pembelajaran dengan baik. Oleh sebab itu dalam dunia pendidikan diperlukan adanya sumber daya manusia yang berkualitas sebagai insan yang berilmu pengetahuan, berketrampilan, berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab. Untuk memikirkan cara yang terbaik untuk mempersiapkan siswa menghadapi semua tantangan dunia, para pendidik mengubah isi kurikulum matematika dan cara kita mengajarkannya. Beralih dari fokus aritmatika dan ketrampilan berhitung menjadi kurikulum yang mampu mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir, bernalar dan berkomunikasi secara matematis, dengan tujuan membantu siswa membangun pemahaman konseptual matematika mereka, bukan sekedar mengingat fakta dan aturanaturanya (Suyitno, 2004).

6 10 Pengajaran matematika sepertinya perlu diubah agar memenuhi tujuan tersebut, yaitu bukan lagi mengajar dengan cara memberitahu atau demonstrasi, campuran dari metodologi-metodologi pengajaran dianjurkan agar mampu memasukkan kerja kelompok dan individu serta pengajaran langsung. ( Hudojo, Herman. 2005). Fokusnya adalah menyediakan kesempatan kepada siswa untuk menelusuri dan memecahkan masalah, secara individu maupun bersama teman dan untuk mengembangkan kemampuan matematika mereka. Pembelajaran kooperatif menempati tempat utama dalam pengajaran matematika karena penelitian tentang matematika seringkali dianggap sebagai terbatas, individualistik atau kompetitif, yang semata-mata ditujukan untuk memahami materi atau memecahkan masalah yang ditugaskan. Mungkin tidaklah mengejutkan kalau banyak siswa sekolah dan orang dewasa yang takut dengan matematika dan berusaha menghindarinya. Mereka seringkali percaya kalau hanya ada sedikit orang berbakat yang bisa sukses dalam matematika. Pembelajaran kooperatif kelompok kecil memperhatikan masalah-masalah ini dalam beberapa cara. Strategi-strategi kooperatif bisa dengan mudah dimasukkan ke dalam kelas matematika dasar. Pilihan atas strategi dan ukuran kelompok akan tergantung pada tahun pelajaran, pengalaman siswa dengan pemecahan masalah kooperatif dan aktivitas matematika itu sendiri (Hudojo, Herman. 2005). Berdasarkan pemikiran di atas, maka peran pendidik sangat penting dalam menciptakan keberhasilan dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu seorang guru atau pendidik harus mempunyai strategi tersendiri untuk dapat meningkatkan motivasi belajar siswanya karena tanpa adanya motivasi maka akan sulit untuk mencapai keberhasilan suatu pembelajaran. Maka salah satu strategi pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif adalah guru dapat menggunakan strategi pembelajaran kooperatif model think-pair-share dalam pembelajaran matematika karena disini siswa dapat sharing, berdiskusi dengan teman sebangkunya untuk memecahkan masalah yang dianggap sulit, siswa dapat saling berbagi pengalaman dan dapat mengurangi kebosanan dalam proses pembelajaran sehingga dapat memotivasi siswa untuk belajar dan proses belajar matematika menjadi menyenangkan. 6. Media Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara hanfiah berarti perantara atau pengatar. Media adalah perantara atau pengatarpesan dari pengirim ke penerima pesan (Sadiman, 2003). Dalam poses pembelajaran hendaknya para guru dapat memanfaatkan media pembelajaran intuk mempermudah dalam penyampaian materi pembelajaran. Fungsi atau peran pokok media dalam proses pembelajaran: a) Fungsi AVA (Audiovisual Aids atau Teaching Aids) yang berfungsi memberi pengalaman yang konkret kepada siswa. b) Sebagai sarana komunikasi dan interaksi antara siswa dan media tersebut serta menjadi sumber belajar yang efektif.

7 11 Dengan demikian penggunan media dalam dunia pendidikan pada saat ini sebenarnya bukan hal yang biasa. Diharapkan dalam proses pembelajaran guru dapat menggunakan media pembelajaran agar terjadi motivasi belajar dalam diri siswa serta menambah minat belajar siswa terhadap matematika. Penggunaan media ini sangat bermanfaat sekali bagi siswa maupun guru. 7. Microsoft Powerpoint Microsoft Powerpoint adalah program aplikasi yang banyak digunakan untuk membantu mempresentasikan materi atau data makalah dihadapan orang banyak. Tampilan dari powerpoint adalah berbentuk lembaran (slide). Tiap-tiap slide yang ditampilkan berisi tentang inti dari materi yang dipresentasikan(prawiradilaga, 2007). PowerPoint berjalan di atas komputer PC berbasis sistem operasi Microsoft Windows dan juga Apple Macintosh yang menggunakan sistem operasi Apple Mac OS, meskipun pada awalnya aplikasi ini berjalan di atas sistem operasi Xenix. PowerPoint dapat menyimpan presentasi dalam beberapa format, yakni sebagai berikut: a. PPT (PowerPoint Presentation), yang merupakan data biner dan tersedia dalam semua versi PowerPoint (termasuk PowerPoint 12). b. PPS (PowerPoint Show), yang merupakan data biner dan tersedia dalam semua versi PowerPoint (termasuk PowerPoint 12). c. POT (PowerPoint Template), yang merupakan data biner dan tersedia dalam semua versi PowerPoint (termasuk PowerPoint 12). d. PPTX (PowerPoint Presentation), yang yang merupakan data dalam bentuk XML dan hanya tersedia dalam PowerPoint 12. Aplikasi Microsoft PowerPoint ini pertama kali dikembangkan oleh Bob Gaskins dan Dennis Austin sebagai Presenter untuk perusahaan bernama Forethought, Inc yang kemudian mereka ubah namanya menjadi PowerPoint. Pada tahun 1987, PowerPoint versi 1.0 dirilis, dan komputer yang didukungnya adalah Apple Macintosh. PowerPoint kala itu masih menggunakan warna hitam/putih, yang mampu membuat halaman teks dan grafik untuk transparansi overhead projector (OHP). Setahun kemudian, versi baru dari PowerPoint muncul dengan dukungan warna, setelah Macintosh berwarna muncul ke pasaran. Microsoft pun mengakuisisi Forethought, Inc dan tentu saja perangkat lunak PowerPoint dengan harga kira-kira 14 Juta dolar pada tanggal 31 Juli Pada tahun 1990, versi Microsoft Windows dari PowerPoint (versi 2.0) muncul ke pasaran, mengikuti jejak Microsoft Windows 3.0. Sejak tahun 1990, PowerPoint

8 telah menjadi bagian standar yang tidak terpisahkan dalam paket aplikasi kantoran Microsoft Office System (kecuali Basic Edition). Dalam PowerPoint, seperti halnya perangkat lunak pengolah presentasi lainnya, objek teks, grafik, video, suara, dan objek-objek lainnya diposisikan dalam beberapa halaman individual yang disebut dengan "slide". Istilah slide dalam PowerPoint ini memiliki analogi yang sama dengan slide dalam proyektor biasa, yang telah kuno, akibat munculnya perangkat lunak komputer yang mampu mengolah presentasi semacam PowerPoint dan Impress. Setiap slide dapat dicetak atau ditampilkan dalam layar dan dapat dinavigasikan melalui perintah dari si presenter. Slide juga dapat membentuk dasar webcast (sebuah siaran di World Wide Web). PowerPoint menawarkan dua jenis properti pergerakan, yakni Custom Animations dan Transition. Properti pergerakan Entrance, Emphasis, dan Exit objek dalam sebuah slide dapat diatur oleh Custom Animation, sementara Transition mengatur pergerakan dari satu slide ke slide lainnya. Semuanya dapat dianimaskan dalam banyak cara. Desain keseluruhan dari sebuah presentasi dapat diatur dengan menggunakaan Master Slide, dan struktur keseluruhan dari prsentasi dapat disunting dengan menggunakan Primitive Outliner (Outline). Beberapa hal yang menjadikan media ini menarik untuk digunakan sebagai alat presentasi adalah berbagai kemampuan pengolahan teks, warna,dan gambar, serta animasi-animasi yang bias diolah sendiri sesuai kreatifitaspenggunanya. Pada prinsipnya program ini terdiri dari beberapa unsur rupa, dan pengontrolan operasionalnya. Unsur rupa yang dimaksud, terdiri dari slide,teks,gambar dan bidang-bidang warna yang dapat dikombinasikan dengan latar belakang yang telah tersedia. Media Microsoft Powerpoint digunakan dalam proses belajar mengajar, media Microsoft Powerpoint dapat digunakan untuk menyampaikan materi dengan penyampaian yang menarik. Secara teoritis, sejauh ini media Microsoft Powerpoint di dalam proses belajar mengajar memiliki beberapa kelebihan diantaranya: a. Penyajiannya menarik karena ada permainan warna, huruf dan animasi, baik animasi teks maupun animasi gambar atau foto. b. Lebih merangsang anak untuk mengetahui lebih jauh informasi tentang bahan ajar yang tersaji. c. Pesan informasi secara visual mudah dipahami peserta didik. d. Tenaga pendidik tidak perlu banyak menerangkan bahan ajar yang sedang disajikan. 12

9 13 e. Dapat diperbanyak sesuai kebutuhan, dan dapat dipakai secara berulangulang. f. Dapat disimpan dalam bentuk data optik atau magnetik. (CD/ Disket/Flashdisk), sehingga paraktis untuk di bawa ke mana-mana. Sedangkan dari sisi penggunaan, Microsoft Powerpoint juga memiliki beberapa kekurangan, antara lain sebagai berikut: a. Harus ada persiapan yang cukup menyita waktu dan tenaga. b. Jika yang digunakan untuk presentasi di kelas adalah PC, maka para pendidik harus direpotkan oleh pengangkutan dan penyimpanan PC tersebut. c. Jika layar monitor yang digunakan terlalu kecil (14-15 ), maka kemungkinan besar siswa yang duduk jauh dari monitor kesulitan melihat sajian bahan ajar yang ditayangkan di PC tersebut. d. Para pendidik harus memiliki cukup kemampuan untuk mengoperasikan program ini, agar jalannya presentasi tidak banyak hambatan. Pembuatan media dalam penelitian ini menggunakan Microsoft Powerpoint Sehingga dalam penelitian ini akan di kombinasikan dengan Model pembelajaran Think Pair and Share (TPS) dengan tujuan agar siswa dapat memahami kosep dasar, bentuk umum setiap materidan diharapkan siswa dapat menggembangkan kemampuanya untuk memecahkan masalah serta melatih cara pikir dan bernalar dalam proses pembelajaran. 8. Materi Himpunan Tujuan yang ingi dicapai melalui pembelajaran matematika dijenjang SMP menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP): a. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah; b. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; c. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; d. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; e. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika,

10 14 serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah (Depdiknas 2006: 346). Himpunan adalah kumpulan benda atau obyek yang didefinisikan atau diterangkan dengan jelas. Benda atau obyek yang dimuat dalam suatu himpunan disebut anggota himpunan atau elemen. Materi himpunan di kelas VII SMP mencakup sub pokok bahasan pengertian, notasi, dan penyajian himpunan; konsep himpunan bagian; operasi irisan, gabungan, kurang (difference), dan komplemen pada himpunan; penyajian himpunan dengan diagram Venn, serta menyelesaikan masalah dengan menggunakan diagram Venn dan konsep himpunan. Materi himpunan memiliki standar kompetensi sebagai berikut. Tabel 2.1 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Himpunan Standar Kompetensi Menggunakan konsep himpunan dan diagram Venn dalam pemecahan masalah Kompetensi Dasar Memahami pengertian dan notasi himpunan, serta penyajiannya Memahami konsep himpunan bagian Melakukan operasi irisan, gabungan, kurang (difference), dan komplemen pada himpunan Menyajikan himpunan dengan diagram Venn Menggunakan konsep himpunan dalam pemecahan masalah Untuk lebih memperjelas mengenai sub pokok materi himpunan, dapat dilihat pada peta konsep di bawah ini.

11 15 Gambar 2.1 Peta Pembelajaran Himpunan Pembelajaran himpunan mempunyai beberapa tujuan, yaitu dapat menyatakan masalah sehari-hari dalam bentuk himpunan dan mendata anggotanya; dapat menyebutkan anggota dan bukan anggota himpunan; dapat menyatakan notasi himpunan; dapat mengenal himpunan kosong dan notasinya; dapat menentukan himpunan bagian dari suatu himpunan; dapat menentukan banyak himpunan bagian suatu himpunan; dapat mengenal pengertian himpunan semesta, serta dapat menyebutkan anggotanya; dapat menjelaskan pengertian irisan dan gabungan dua himpunan; dapat menjelaskan kurang (difference) suatu himpunan dari himpunan lainnya; dapat menjelaskan komplemen dari suatu himpunan; dapat menyajikan gabungan atau irisan dua himpunan dengan diagram Venn; dapat menyajikan kurang (difference) suatu himpunan dari himpunan lainnya dengan diagram Venn; dapat menyajikan komplemen suatu himpunan dengan diagram Venn; dapat menyelesaikan masalah dengan menggunakan diagram Venn dan konsep himpunan. 9. Kajian Hasil Penelitian yang Relevan

12 16 Terdapat beberapa penelitian pendahulu yang meneliti tentang Think Pair Share yaitu penelitian yang dilakukan oleh Heni Hendrayani (2010) yang berjudul Penerapan model pembelajaran think pair and share dengan menggunakan media powerpoint pada pola dan barisan bilangan. Hasil penelitian menujukan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan pemahaman pada materi pola dan barisan bilangan pada siswa kelas IV SD Negeri Jeron Nogosari Boyolali Tahun Pelajaran 2010/2011. Peningkatan pemahaman konsep pecahan dapat dibuktikan dengan meningkatnya nilai evaluasi matematika dalam materi pecahan setiap siklusnya yaitu: sebelum tindakan nilai rata-rata evaluasi matematika 62,7 dimana siswa yang mendapat nilai di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 60 sebanyak 20 siswa (53%) pada siklus I nilai rata-rata evaluasi matematika meningkat menjadi 68 sebanyak 26 siswa memperoleh nilai di atas KKM (68%) dan siklus II nilai rata-rata evaluasi matematika meningkat menjadi 74,5 sebanyak 32 siswa memperoleh nilai di atas KKM (84%). Berdasarkan penelitian sebelumnya, maka dibuatlah penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pembelajaran kooperatif model TPS berbantu media powerpoint pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Selo. B. Kerangka Berpikir Pada pembelajaran matematika, masih banyak siswa yang menganggap matematika adalah abstrak. Oleh karena itu, di dalam pembelajaran seorang pengajar harus mampu merancang, memilih, dan menggunakan metode pembelajaran agar siswa dapat memahami tentang tujuan pembelajaran. Di era Globalisasi ini peran teknologi hendaknya dapat dimanfaatkan dengan baik sehingga meninggkatkan minat belajar siswa terhadap matematika. Penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan bukan lah yang biasa lagi dengan tujuan menarik minat belajar siswa dalam pembelajaran matematika, sehingga dapat menghilangkan rasa takut akan matematika. Penggunan media pembelajaran bertujuan untuk memberi pengalaman baru kepada siswa, mempermudah dalam memahami materi yang diajarkan serta menjadi bahan sumber belajar bagi siswa. Penelitian ini akan mengkombinasikan antara model pembelajaran Think Pair and Share (TPS) dengan mengunakan media Powerpoint. TPS merupakan model pembelajaran kooperatif dengan harapan siswa dapat menerima pendapat kelompok dan dapat menyampaikan apa yang mereka ketahui kepada siswa yang lain. Penggunaan media powerpoint dapat membantu proses pembelajaran di kelas sehingga siswa merasa tertarik dan tidak bosan dalam pembelajaran matematika.

Jago Microsoft PowerPoint 2016

Jago Microsoft PowerPoint 2016 Jago Microsoft PowerPoint 2016 Jago Microsoft PowerPoint 2016 Sarwandi & Cyber Creative PENERBIT PT ELEX MEDIA KOMPUTINDO Jago Microsoft PowerPoint 2016 Sarwandi & Cyber Creative 2018 PT Elex Media Komputindo,

Lebih terperinci

POWERPOINT: PENGERTIAN, SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA

POWERPOINT: PENGERTIAN, SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA POWERPOINT: PENGERTIAN, SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA Disusun oleh: Nama : Siti Nafilah NIS : 2142 Kelas : XII TBA Komp. Keahlian : Tata Busana PEMERINTAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Belajar merupakan perkembangan yang dialami oleh seseorang menuju kearah

II. TINJAUAN PUSTAKA. Belajar merupakan perkembangan yang dialami oleh seseorang menuju kearah 8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran Kooperatif 1. Teori Belajar Belajar merupakan perkembangan yang dialami oleh seseorang menuju kearah yang lebih baik. Menurut Sardiman (1986: 22), secara

Lebih terperinci

APLIKASI KOMPUTER. Pokok Bahasan : MS. POWERPOINT (BAGIAN 1) Anggun Puspita Dewi, S.Kom., MM. Modul ke: Fakultas MKCU

APLIKASI KOMPUTER. Pokok Bahasan : MS. POWERPOINT (BAGIAN 1) Anggun Puspita Dewi, S.Kom., MM. Modul ke: Fakultas MKCU APLIKASI KOMPUTER Modul ke: Pokok Bahasan : MS. POWERPOINT (BAGIAN 1) Fakultas MKCU Anggun Puspita Dewi, S.Kom., MM Program Studi Sistem Informasi & MarComm http://www.mercubuana.ac.id Pengertian Presentasi

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori Pada bagian ini peneliti akan membahas beberapa kajian-kajian teori diantaranya ialah tentang hakikat matematika serta pembelajaran matematika dan tujuan pembelajaran

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan eksak yang digunakan hampir

II. TINJAUAN PUSTAKA. Matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan eksak yang digunakan hampir II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Hakikat Matematika Matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan eksak yang digunakan hampir pada semua bidang ilmu pengetahuan. Menurut Suherman (2003:15), matematika

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. juga mengalami sehingga akan menyebabkan proses perubahan tingkah laku pada

II. TINJAUAN PUSTAKA. juga mengalami sehingga akan menyebabkan proses perubahan tingkah laku pada II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembelajaran Kooperatif Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang terjadi sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya. Belajar bukan hanya sekedar mengetahui, tetapi

Lebih terperinci

II. KERANGKA TEORITIS. kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang

II. KERANGKA TEORITIS. kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang II. KERANGKA TEORITIS A. Tinjauan Pustaka 1. Pembelajaran kooperatif Pembelajaran kooperatif adalah sistem pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam proses pembelajaran matematika dan salah satu tujuan dari materi yang

BAB I PENDAHULUAN. dalam proses pembelajaran matematika dan salah satu tujuan dari materi yang A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Pemahaman konsep matematika merupakan salah satu tujuan yang mendasar dalam proses pembelajaran matematika dan salah satu tujuan dari materi yang disampaikan oleh guru.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika dalam dunia pendidikan di Indonesia telah dimasukkan dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sejak usia dini. Matematika adalah salah satu mata pelajaran

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Media merupakan sarana fisik yang digunakan untuk menyampaikan isi atau

II. TINJAUAN PUSTAKA. Media merupakan sarana fisik yang digunakan untuk menyampaikan isi atau 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Media Kartu Bergambar Media merupakan sarana fisik yang digunakan untuk menyampaikan isi atau materi pembelajaran. Media dapat berupa video, gambar, buku, film dan lain sebagainya.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. terjadi dalam diri seseorang dan interaksi dengan lingkungannya. Hal ini sesuai

II. TINJAUAN PUSTAKA. terjadi dalam diri seseorang dan interaksi dengan lingkungannya. Hal ini sesuai II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Belajar Matematika Belajar merupakan proses yang dapat menyebabkan perubahan tingkah laku karena adanya reaksi terhadap situasi tertentu atau adanya proses internal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui bidang pendidikan merupakan salah satu kunci sukses dalam menghadapi era globalisasi. Sehubungan dengan hal

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Komunikasi merupakan hal yang sangat penting bagi manusia. Komunikasi dapat

TINJAUAN PUSTAKA. Komunikasi merupakan hal yang sangat penting bagi manusia. Komunikasi dapat II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kemampuan Komunikasi Matematis Komunikasi merupakan hal yang sangat penting bagi manusia. Komunikasi dapat terjadi dalam berbagai konteks kehidupan termasuk dunia pendidikan. Wahyudin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan bagian yang terpenting dalam bidang ilmu pengetahuan, dalam bidang ini matematika termasuk ke dalam ilmu eksakta yang lebih memerlukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan

BAB I PENDAHULUAN. teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Banyaknya informasi yang disampaikan dalam bahasa matematika seperti tabel, grafik, diagram dan persamaan semakin menjadikan pembelajaran matematika sebagai suatu kajian

Lebih terperinci

Kata media berasal dari bahasa Latin yang berarti medius secara harfiah berarti

Kata media berasal dari bahasa Latin yang berarti medius secara harfiah berarti 10 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Media dalam Pembelajaran Kata media berasal dari bahasa Latin yang berarti medius secara harfiah berarti Istilah media adalah bentuk jamak dari medium yang berarti perantara

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pendidikan tidak terlepas dari tujuan pendidikan yang telah hendak dicapai,

BAB 1 PENDAHULUAN. pendidikan tidak terlepas dari tujuan pendidikan yang telah hendak dicapai, BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia. Penyelenggaraan pendidikan baik secara formal maupun informal harus disesuaikan dengan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIK. a. Kemampuan Komunikasi Matematis

BAB II KAJIAN TEORITIK. a. Kemampuan Komunikasi Matematis BAB II KAJIAN TEORITIK 1. Deskripsi Konseptual a. Kemampuan Komunikasi Matematis Komunikasi secara umum diartikan sebagai suatu cara untuk menyampaikan suatu pesan dari pembawa pesan ke penerima pesan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan matematika merupakan salah satu unsur utama dalam. mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hakikatnya matematika

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan matematika merupakan salah satu unsur utama dalam. mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hakikatnya matematika 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan matematika merupakan salah satu unsur utama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hakikatnya matematika berkedudukan sebagai ilmu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan, sebab tanpa pendidikan manusia akan

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan, sebab tanpa pendidikan manusia akan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu kebutuhan, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus diarahkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting. Manusia tidak

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting. Manusia tidak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Komunikasi dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting. Manusia tidak dapat menghindari berbagai macam bentuk komunikasi karena dengan komunikasi manusia dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diberikan pada setiap jenjang pendidikan di Indonesia mengindikasikan bahwa matematika sangatlah penting untuk

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti dan sikap. baik secara fisik maupun secara mental aktif.

BAB II KAJIAN TEORI. emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti dan sikap. baik secara fisik maupun secara mental aktif. BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Pengertian belajar menurut beberapa ahli Menurut Djamarah dan Syaiful (1999 : 22) Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diperlukan di era globalisasi seperti saat ini. Pemikiran tersebut dapat dicapai

BAB I PENDAHULUAN. diperlukan di era globalisasi seperti saat ini. Pemikiran tersebut dapat dicapai A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Sumber daya manusia yang mempunyai pemikiran kritis, kreatif, logis, dan sistematis serta mempunyai kemampuan bekerjasama secara efektif sangat diperlukan di

Lebih terperinci

II. KERANGKA TEORETIS. Sesuatu yang telah dimiliki berupa pengertian-pengertian dan dalam batasan

II. KERANGKA TEORETIS. Sesuatu yang telah dimiliki berupa pengertian-pengertian dan dalam batasan 6 II. KERANGKA TEORETIS A. Tinjauan Pustaka 1. Berpikir Kritis Sesuatu yang telah dimiliki berupa pengertian-pengertian dan dalam batasan tertentu dapat dikatakan berpikir dimana dapat dikatakan berpikir

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi. Pengembangan

TINJAUAN PUSTAKA. kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi. Pengembangan 8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Efektivitas Pembelajaran Kegiatan pembelajaran merupakan proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi. Pengembangan potensi tersebut

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Model Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perkembangan zaman dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) menghadapi persaingan khususnya dalam bidang IPTEK. Kemajuan IPTEK yang

I. PENDAHULUAN. Perkembangan zaman dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) menghadapi persaingan khususnya dalam bidang IPTEK. Kemajuan IPTEK yang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan zaman dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sangat berperan penting dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sumber daya yang berkualitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Permen 23 Tahun 2006 (Wardhani, 2008:2) disebutkan bahwa tujuan

BAB I PENDAHULUAN. Permen 23 Tahun 2006 (Wardhani, 2008:2) disebutkan bahwa tujuan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pada kurikulum berbasis kompetensi yang tertuang dalam lampiran Permen 23 Tahun 2006 (Wardhani, 2008:2) disebutkan bahwa tujuan pembelajaran matematika adalah:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan dan mengembangkan

I. PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan dan mengembangkan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Melalui pendidikan, manusia dapat mengembangkan potensi yang dimiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dedi Abdurozak, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dedi Abdurozak, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sebagai bagian dari kurikulum di sekolah, memegang peranan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas lulusan yang mampu bertindak atas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Peran pendidikan sangat dibutuhkan dalam mempersiapkan dan

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Peran pendidikan sangat dibutuhkan dalam mempersiapkan dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan terpenting dalam kehidupan manusia. Peran pendidikan sangat dibutuhkan dalam mempersiapkan dan mengembangkan sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan hal penting dalam kehidupan guna membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas adalah mereka yang mampu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di dalam suatu pembelajaran terdapat dua aktivitas inti yaitu belajar dan mengajar. Menurut Hermawan, dkk. (2007: 22), Belajar merupakan proses perubahan perilaku

Lebih terperinci

UPAYA PENINGKATAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP MATERI KUBUS DAN BALOK MELALUI METODE PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE

UPAYA PENINGKATAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP MATERI KUBUS DAN BALOK MELALUI METODE PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE UPAYA PENINGKATAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP MATERI KUBUS DAN BALOK MELALUI METODE PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE (PTK Pembelajaran Matematika di Kelas VIII SMP Negeri 2 Ngrampal) SKRIPSI Untuk memenuhi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indrie Noor Aini, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indrie Noor Aini, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan, matematika diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam rangka mengembangkan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Kata komunikasi berasal dari bahasa latincommunicare, berarti. merupakan proses informasi ilmu dari guru kepada siswa.

BAB II LANDASAN TEORI. Kata komunikasi berasal dari bahasa latincommunicare, berarti. merupakan proses informasi ilmu dari guru kepada siswa. 6 BAB II LANDASAN TEORI A. Kemampuan Komunikasi Matematis Kata komunikasi berasal dari bahasa latincommunicare, berarti berpartisipasi atau memberitahukan. Menurut Toda (Liliweri, 1997) komunikasi sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika berasal dari bahasa Yunani mathein atau manthenein, yang berarti mempelajari. Kebanyakan orang mengatakan bahwa matematika merupakan suatu pelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah AgusPrasetyo, 2015

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah AgusPrasetyo, 2015 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu faktor penting yang peranan dalam tatanan kehidupan manusia, melalui pendidikan manusia dapat meningkatkan taraf dan derajatnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah , BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika adalah pengetahuan atau ilmu mengenai logika dan problemproblem numerik. Matematika membahas fakta-fakta dan hubungannya, serta membahas problem ruang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan mata pelajaran yang diajarkan diberbagai jenis jenjang pendidikan, dimulai dari jenjang pendidikan dasar hingga jenjang perguruan tinggi.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan Ilmu pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) saat ini sangat pesat sehingga informasi yang terjadi di dunia dapat diketahui segera dan waktu serta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jenjang pendidikan di Indonesia mengindikasikan bahwa matematika sangatlah

BAB I PENDAHULUAN. jenjang pendidikan di Indonesia mengindikasikan bahwa matematika sangatlah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diberikan pada setiap jenjang pendidikan di Indonesia mengindikasikan bahwa matematika sangatlah penting untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan sehari-hari. Masalah yang muncul pada kehidupan setiap

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan sehari-hari. Masalah yang muncul pada kehidupan setiap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemecahan masalah merupakan salah satu kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Masalah yang muncul pada kehidupan setiap manusia beragam dari

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. melakukan kegiatan belajar sejak dilahirkan. Syah (2006: 92) mengatakan bahwa

II. TINJAUAN PUSTAKA. melakukan kegiatan belajar sejak dilahirkan. Syah (2006: 92) mengatakan bahwa 11 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Belajar merupakan suatu kegiatan yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Untuk memenuhi kebutuhan dan sekaligus mengembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Pendidikan diyakini akan dapat mendorong memaksimalkan potensi

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. perkembangan ilmu dan teknologi suatu negara. Ketika suatu negara memiliki

1. PENDAHULUAN. perkembangan ilmu dan teknologi suatu negara. Ketika suatu negara memiliki 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan ilmu dan teknologi suatu negara. Ketika suatu negara memiliki sumber daya manusia yang berkualitas

Lebih terperinci

Indah Purnama *) Kartini dan Susda Heleni **) Progam Studi Pendidikan Matematika FKIP UR HP :

Indah Purnama *) Kartini dan Susda Heleni **) Progam Studi Pendidikan Matematika FKIP UR   HP : APPLICATION OF STRUCTURAL APPROACHES COOPERATIVE LEARNING MODEL THINK PAIR SQUARE TO IMPROVE STUDENT LEARNING MATHEMATICS CLASS OF IV SD NEGERI 036 SERUSA KECAMATAN BANGKO KABUPATEN ROKAN HILIR Indah Purnama

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran secara simpel dapat diartikan sebagai produk interaksi

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran secara simpel dapat diartikan sebagai produk interaksi II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran secara simpel dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup. Dalam makna yang lebih kompleks

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari Medium yang

TINJAUAN PUSTAKA. Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari Medium yang 11 TINJAUAN PUSTAKA A. Media maket Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari Medium yang secara harfiah berarti Perantara atau Pengantar yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. didiknya. Sekolah sebagai lembaga pendidikan berusaha secara terus menerus dan

I. PENDAHULUAN. didiknya. Sekolah sebagai lembaga pendidikan berusaha secara terus menerus dan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus segera direspon secara positif oleh dunia pendidikan. Salah satu bentuk respon positif dunia pendidikan adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masalah merupakan suatu hal yang sangat melekat di. kehidupan manusia, mulai dari masalah yang dengan mudah dipecahkan

BAB I PENDAHULUAN. Masalah merupakan suatu hal yang sangat melekat di. kehidupan manusia, mulai dari masalah yang dengan mudah dipecahkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah merupakan suatu hal yang sangat melekat di setiap kehidupan manusia, mulai dari masalah yang dengan mudah dipecahkan sampai kepada masalah yang sulit untuk didapatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terutama dalam mata pelajaran matematika sejauh ini telah mengalami

BAB I PENDAHULUAN. terutama dalam mata pelajaran matematika sejauh ini telah mengalami BAB I PENDAHULUAN A. Latar Balakang Penelitian Pendidikan adalah salah satu faktor penting dalam perkembangan suatu negara. Dengan pendidikan yang lebih baik akan mengarah pada perkembangan suatu negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu proses memanusiakan manusia atau lazim

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu proses memanusiakan manusia atau lazim BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu proses memanusiakan manusia atau lazim disebut dengan proses humanisasi. Proses humanisasi ini tidak diperoleh dengan begitu saja,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang penting

I. PENDAHULUAN. pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang penting I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemajuan suatu bangsa tidak terlepas dari aspek pendidikan sehingga sangat wajar jika pemerintah harus memberikan perhatian yang serius terhadap dunia pendidikan. Pendidikan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara karena maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kualitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik

BAB I PENDAHULUAN. kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan mengembangkan daya pikir

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Hakikat Belajar Manusia dalam hidupnya tidak pernah lepas dari proses belajar, karena dengan belajar pengetahuan seseorang akan terus bertambah. Menurut Syah (2002:89),

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, antara lain pembaharuan kurikulum, peningkatan kualitas tenaga. pendidik dan peningkatan sarana dan pra sarana.

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, antara lain pembaharuan kurikulum, peningkatan kualitas tenaga. pendidik dan peningkatan sarana dan pra sarana. 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pendidikan merupakan salah satu aspek yang berperan penting dalam pembangunan suatu bangsa. Terbukti bahwa hampir di setiap negara, pendidikan menjadi prioritas utama

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hasil Belajar Matematika 2.1.1.1 Hasil Belajar Hasil Belajar Matematika merupakan suatu perubahan yang dicapai oleh proses usaha yang dilakukan seseorang dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di dalam dunia yang terus berubah dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang pesat, manusia dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, sistematis,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Saputro (2012), soal matematika adalah soal yang berkaitan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Saputro (2012), soal matematika adalah soal yang berkaitan BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Soal Matematika Menurut Saputro (2012), soal matematika adalah soal yang berkaitan dengan matematika. Soal tersebut dapat berupa soal pilihan ganda ataupun soal uraian. Setiap

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kemampuan atau potensi dan meningkatkan mutu kehidupan serta martabat

I. PENDAHULUAN. kemampuan atau potensi dan meningkatkan mutu kehidupan serta martabat I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya tujuan dari Pendidikan Nasional yaitu untuk mengembangkan kemampuan atau potensi dan meningkatkan mutu kehidupan serta martabat bangsa Indonesia. Penegasan

Lebih terperinci

KTSP Perangkat Pembelajaran SMP/MTs, KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) Mapel Matematika kls VII s/d IX. 1-2

KTSP Perangkat Pembelajaran SMP/MTs, KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) Mapel Matematika kls VII s/d IX. 1-2 KTSP Perangkat Pembelajaran SMP/MTs, PERANGKAT PEMBELAJARAN STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR Mata Pelajaran Satuan Pendidikan Kelas/Semester : Matematika. : SMP/MTs. : VII s/d IX /1-2 Nama Guru

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu upaya untuk memberikan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu upaya untuk memberikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu upaya untuk memberikan pengetahuan, wawasan, keterampilan dan keahlian tertentu kepada individu guna mengembangkan bakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelajaran ini. Meskipun dianggap penting, banyak siswa yang mengeluh kesulitan

BAB I PENDAHULUAN. pelajaran ini. Meskipun dianggap penting, banyak siswa yang mengeluh kesulitan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan mata pelajaran yang memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Banyak permasalahan yang berkaitan dengan mata pelajaran ini.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Istilah komunikasi berpangkal pada perkataan latin Communis yang artinya membuat

II. TINJAUAN PUSTAKA. Istilah komunikasi berpangkal pada perkataan latin Communis yang artinya membuat II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka 1. Kemampuan Komunikasi Matematis Istilah komunikasi berpangkal pada perkataan latin Communis yang artinya membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kemampuan atau skill yang dapat mendorongnya untuk maju dan terus

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kemampuan atau skill yang dapat mendorongnya untuk maju dan terus BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Memasuki abad ke 21 persaingan dan tantangan di semua aspek kehidupan semakin besar. Teknologi yang semakin maju dan pasar bebas yang semakin pesat berkembang mendorong

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA Dalam menyusun sebuah laporan Penelitian Tindakan Kelas, tentunya penulis tidak dapat hanya mengandalkan pengetahuan pribadi yang dimiliki tanpa bantuan sumber-sumber yang relevan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) efektif untuk kelompok kecil. Model ini menunjukkan efektivitas untuk berpikir

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) efektif untuk kelompok kecil. Model ini menunjukkan efektivitas untuk berpikir 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang efektif untuk kelompok kecil. Model ini menunjukkan efektivitas

Lebih terperinci

2014 PENGGUNAAN ALAT PERAGA TULANG NAPIER DALAM PEMBELAJARAN OPERASI PERKALIAN BILANGAN CACAH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

2014 PENGGUNAAN ALAT PERAGA TULANG NAPIER DALAM PEMBELAJARAN OPERASI PERKALIAN BILANGAN CACAH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang dewasa ini telah berkembang cukup pesat, baik secara teori maupun praktik. Oleh sebab itu maka konsep-konsep

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI Pengertian Belajar Menurut Teori Konstruktivisme. memecahkan masalah, menemukan sesuatu untuk dirinya sendiri.

BAB II KAJIAN TEORI Pengertian Belajar Menurut Teori Konstruktivisme. memecahkan masalah, menemukan sesuatu untuk dirinya sendiri. BAB II KAJIAN TEORI 2.1. Pengertian Belajar Menurut Teori Konstruktivisme Teori konstruktivisme dalam belajar adalah peserta didik agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah sarana yang dapat menumbuh-kembangkan potensipotensi

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah sarana yang dapat menumbuh-kembangkan potensipotensi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan adalah sarana yang dapat menumbuh-kembangkan potensipotensi manusia untuk bermasyarakat dan menjadi manusia yang sempurna. Seperti yang diuraikan pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu disiplin ilmu pengetahuan yang memegang peranan penting dalam kehidupan dan kehadirannya sangat terkait erat dengan dunia pendidikan adalah Matematika.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kualitas pendidikan bangsa, mulai dari pembangunan gedung-gedung,

BAB I PENDAHULUAN. kualitas pendidikan bangsa, mulai dari pembangunan gedung-gedung, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peningkatan mutu pendidikan di Indonesia terus dilakukan sampai saat ini secara berkesinambungan. Berbagai upaya dilakukan demi meningkatkan kualitas pendidikan bangsa,

Lebih terperinci

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia. Pendidikan tidak diperoleh begitu saja dalam waktu yang singkat, namun memerlukan suatu proses pembelajaran sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita menjumpai suatu hal yang erat kaitannya dengan kegiatan berhitung. Bagi setiap orang dan tidak menutup kemungkinan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi dan informasi yang cepat berubah saat ini membutuhkan manusia yang siap dan tanggap. Salah satu cara untuk menghasilkan manusia yang

Lebih terperinci