Fakta Dan Opinio Sekitar G30S

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Fakta Dan Opinio Sekitar G30S"

Transkripsi

1 Fakta Dan Opinio Sekitar G30S Bung Jacky yb, Apa yang bung uraikan hanyalah mempertahankan suara tunggal yg selama ORBA, Suharto berkuasa kita dengarkan itu. Namun, setelah Suharto lengser dan Indonesia memasuki era reformasi-demokrasi, banyak suara bermunculan,... mengungkap banyak fakta-fakta kejadian sekitar G30S itu, yang selamaa Suharto berkuasa digelapkan, diplintir bahkan membalik kenyataan yg terjadi sesungguhnya. Tinggal kita sendiri bisa tidak menggunakan akal sehat untuk menganalisa suara mana yang lebih mendekati kebenaran sesuai kenyataan yang terjadi sesungguhnya saja. Coba sekarang diperhatikan, bagaimana kedekatan dan keakraban jenderal Suharto itu dengan ketiga TOKOH utama G30S, Untung, Latief dan Supardjo. Tentu membuat setiap orang harus berpikir, setidaknya bertanya-tanya lalu apa dan sampai dimana hubungan/peran jenderal Suharto itu dengan G30S??? Mengapa pula saat Kol. Latief yg menemui jenderal Soeharto dan terakhir di RSPAD, malam 30 Sept.1965 untuk meemberi laporan gerakan pencidukan 7 jenderal segera akan dijalankan beberapa jam lagi,... dibantah oleh Suharto semula dengan menyatakan untuk mencheck dirinya benar berada di RSPAD dan kemudian berubah menjadi untuk membunuh dirinya? Jelas, disini Suharto sedang berbohong dan berusaha mengelak mengapa dirinya tidak termasuk jenderal yang disasar Perwira Progresif yang melancarkan G30S itu. Ini pertama. Kedua, Tanggal 21 September 1965 Jenderal Suharto selaku Panglima KOSTRAD, dengan radiogram no. Rdg. T 293/9/1965 memerintahkan Batalyon 454/Diponegoro dan 530/Brawijaya datang ke Jakarta. Menurut pengakuan Kapten Soekarbi dari Yon-530 Brawidjaja menerima radiogram dari jenderal Suharto, untuk hadir mengikuti Peringatan Hari Angkatan Perang, 5 Oktober di Jakarta dengan perlengkapan senjata tempur garis satu. Setelah mendapat Briefing Mayor Bambang Soepeno, dan subuh jam 02, 1 Oktober 1965 itu dapatkan tugas membawa grup sisa Yon 530 itu berjaga di Monas, depan Istana. Yang perlu diperhatikan disini, mengapa Suharto memerintahkan Yon 454/Diponegoro dan Yon 530/Brawijaja datang ke Jakarta untuk mengikuti peringatan Hari Angkatan Perang harus dengan perlengkapan senjata TEMPUR GARIS SATU. Kedua, ternyata dari Yon 454 dan Yon 530 inilah yang dijadikan kekuatan induk bergerak melaksanakan G30S dan ketiga, juga patut diperhatikan, ternyata pasukan-pasukan G30S saat 1 Okboer siang waktu makan tidak juga ada yg mengantar makanan, mereka justru datang ke 1

2 KOSTRAD untuk istirahat dan dapatkan makan, dan pasukan yg menduduki RRI ternyata juga diaplos oleh pasukan KOSTRAD dengan lancar. Artinya, ada kesatuan dan kerjasama erat antara KOSTRAD dan pasukan G30S! Oleh karena itu, SUNGGUH TEPAT apa yang dinyatakan Kol. Latief di muka sidang MAHMILTI II Jawa Bagian Barat, bahwa Jenderal Suharto bermuka dua, semula seolah-olah berada dipihak G30S, tapi juga sekaligus berada dipihak Dewan Jenderal dan kemudian menghancurkan G30S! Kolonel Latief memastikan bahwa keterlibatan Suharto dalam gerakan ini sudah sejak awal sekali. Dua minggu sebelum meletusnya peristiwa G30S, Kol. Latief mengaku menghadap Jenderal Suharto mempersoalkan adanya kegiatan Dewan Jenderal yang merencanakan coup d'etat terhadap Presiden Sukarno. Dua hari sebelum operasi pengambilan enam Jenderal, ia menemui Suharto lagi. Pertemuan Latief terakhir dengan Suharto terjadi di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat "Gatot Subroto", 30 September 1965 pukul 23:00 selama 30 menit. Suharto berada di RSPAD Gatot Subroto, menunggui anaknya Tomy yang sedang dirawat karena tersiram sup panas. Ketiga, seandainya G30S dikatakan satu gerakan militer, mengapa bisa terjadi Let.Kol Untung Samsuri membawahi Kol. Latief bahkan Berigjen Supardjo??? Bagaimana mungkin Let.kol. bisa memerintah perwira yang lebih tinggi pangkatnya? Sesuatu yang tidak masuk akal tapi telah terjadi. Mengapa? Bukankah ini akan membuktikan bahwa tongkat KOMANDO G30S sesungguhnya berada ditangan jenderal Suharto! Jenderal Suharto itulah DALANG G30S sesungguhnya. Keempat, kenyataan yang terjadi dan kita saksikan bersama, justru jenderal Suharto itulah satu-satunya perwira yang BERKEPENTINGAN menghabisi nyawa 7 jenderal yg disasar G30S itu, untuk membuka jalan lapang bagi dirinya menjadi orang pertama TNI. Begitulah saat Panglima Tertinggi Bung Karno menunjuk Pranoto menggantikan jenderal Yani yg meninggal, justru disabot jenderal Suharto. Dan itulah skenario kudeta merangkak jenderal Suharto yang telah diungkap dengan jitu nya oleh Waperdam Dr. Subandrio dalam tulisannya Kesaksian-ku dalam G30S. Begitulah kita semua menyaksikan keberhasilan jenderal Suharto naik singgasana dengan bersimbah darah, karena lebih dahulu harus menumpas G30S yang semula digerakkan, kemudian dengan dalih PKI dalang G30S membasmi komunis di Nusantara, setelah itu tercapailah tujuan menggulingkan Presiden Soekarno,... Salam, ChanCT 2

3 From: Jacky Mardono Tjokrodiredjo Sent: Saturday, May 7, :04 PM Subject: Fakta dan Opini Sekitar G30S. Bung Chan CT Ysh. Terima kasih atas kiriman tulisan dari bung Nesare. Sayang saya tidak memiliki alamat beliau (bung Nesare), sehingga saya tidak bisa berkomunikasi langsung dengan beliau. Memang benar sekali, bahwa saya tidak tahu bahwa bapak Suharto adalah biang kerok provokatornya. Yang saya ketahui sebagai fakta ialah, pada tgl 1 Oktober 1965, telah terjadi penculikan terhadap beberapa perwira TNI AD, yang menurut Letkol Untung, sebagai komandan dari G30S, bahwa para perwira tersebut adalah : 1. Agen CIA. 2. Hidup bermewah-mewah menterlantarkan nasib anak buah. 3. Akan melakukan perebutan kekuasaan, terhadap pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Sukarno. 4. Membentuk dewan revolusi, tanpa menyebutkan peran Presiden Sukarno dalam Dewan Revolusi. Apa tindakan Letkol Untung dengan dewan Revolusinya bukan merupakan tindakan coup? Dewan Revolusi yang diketuai oleh Letkol Untung, adalah pemegang kekuasaan tertinggi di NKRI. dengan mendemisionerkan Kabinet Dwikora, dimana Presiden Sukarno adalah Perdana menteri-nya. 5. Memerintahkan agar di tiap daerah membentuk "Dewan Revolusi", untuk membendung aksi "Dewan Jenderal" yang sudah dipengaruhi CIA. Dari pengumuman2 letkol Untung tgl 1 Oktober 1965, panca tunggal setempat, tanpa ada petunjuk atau perintah dari atasan, telah mengambil sikap, bahwa tindakan G30S adalah : 1. Tindakan coup, karena telah mendemisionerkan Kabinet Dwikora. 2. Menolak perintah dari siapapun untuk membentuk "Dewan Revolusi" di daerah, sampai ada kejelasan dimana presiden Sukarno berada. 3

4 Baru ada petunjuk siapa yang membantu G30S, dengan ditemukannya jenazah korban penculikan, didasar sebuah "sumur tua" didaerah Lubang Buaya. Daerah Lubang Buaya, adalah tempat dimana diadakan latihan bagi ormas PKI, dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia. Daerah Lubang Buaya bukan kawasan AURI. Setelah mendengar pidato Pangkostrad Suharto, pada tgl. 4 Oktobet 1965 di Lubang Buaya, terasa adanya keresahan dilingkungan anggota PKI dan Ormasnya, yang jauh dari Jakarta, antara lain di daerah saya, untuk meninggalkan tempat dan masuk hutan. Beberapa tokoh PKI/Ormasnya saya panggil, dan saya ingatkan agar mereka tidak perlu seperti cacing kepanasan, mendengar pidato Pangkostrad Suharto di Lubang Buaya. Kisah selanjutnya adalah, terjadinya konflik antara angota masyarakat, dimana pada siang hari terjadi perburuan liar terhadap anggota PKI/Ormasnya, sedang pada malam hari terjadilah aksi perampokan, yang diduga kuat pelakunya adalah anggota PKI atau ormasnya. Pada waktu itu, Polres yang saya pimpin adalah satuan ABRI yang relatif paling solid, dibangding satuan ABRI yang berada di wilayah saya. Kongkritnya satuan Kodim. Polres yang saya pimpin memiliki 2 (dua) SST pasukan Perintis, 1 (satu) SST Penjagaan yang merupakan embrio dari Sabhara, dan 1 (satu) SST plus anggota staf Polres. Sementara kekuatan di tiap Polsek, sekitar 13 (tiga belas) sampai 15 (lima belas) orang. Untuk mengatasi "koflik Sosial", Polres mendapat bantuan dari Polda, sehingga tergelar kekuatan, yang terdiri dari 11 (sebelas) SST pasukan Perintis dan Brimob. Pasukan tersebut saya pecah menjadi 66 (enam puluh enam) pos, yang saya sebar diseluruh Polres yang saya pimpin. Sebelum pos2 tergelar, Polres sempat kecolongan, dimana kekuatan G30S, sempat membantai sekelompok orang yang usai menunaikan Sholat Isya, dan 4

5 sekelompok warga desa yang tengah melakukan tugas ronda. Itulah sekelumit kisah di akar rumput, dimana saya oleh pemerintah "didapuk" sebagai pemain. Tentu kisah2 yang terjadi di Polres saya, bukan monopoli Polres saya saja, hanya tentunya modus operandinya yang berbeda. Apa yang terjadi pada prolog tgl 1 Oktober 1965, sangat mempengaruhi sikap warga masyarakat, terhadap apa yang terjadi pada tgl 1 Oktober Demikian untuk menjadikan maklum. Wassalam, Jacky Mardono. From: Chan CT <[email protected]> To: Jacky Mardono Tjokrodiredjo <[email protected]> Sent: Thursday, 5 May 2016, 18:48 Subject: Fw: [GELORA45] Re: Fakta dan Opini Sekitar G30S. Bung Jacky yb, Ini ada seorang netter di Gelora45 mengajukan tanggapan, barangkali perlu bung tanggapi,...? Salam, ChanCT From: mailto:[email protected] Sent: Wednesday, May 4, :01 PM To: [email protected] Subject: RE: [GELORA45] Re: Fakta dan Opini Sekitar G30S. Pak jacky ini kelihatannya orang baik dan waktu terjadi peristiwa 1965 itu tidak mengetahui asal usul biang kerok provokatornya (soeharto). 5

6 Dia hanya melihat peristiwa 1965 itu sebagai kesalahan PKI dimana Untung membunuh para jendral. Lalu dia mendukung pendapatnya dan secara tidak langsung mengatakan bahwa PKI itu sombong dan oleh karena itu rakyat melawan dan terjadilah pembunuhan. Jadi secara keseluruhan, pendapatnya Pak Jacky ini adalah: PKI salah sendiri dibunuh rakyat Indonesia karena sombong. Dia jelas tidak membaca kajian dan penemuan tentang peristiwa berdarah itu dimana Soeharto adalah pelaku utamanya. Jelas dia juga tidak tahu banyak tentang keterlibatan CIA dan badan inteligen negara asing lainnya yang juga bermain. Sekali lagi sudut pandangnya adalah kesalahan PKI. Walaupun tidak bisa dipungkiri sebagai partai politik jelas PKI ada aksi2nya yang tidak disenangi oleh musuh2 politik/ideloginya seperti juga partai2 politik lainnya yang kurang disenangi oleh lawan2 politiknya. Sayangnya dia hanya berhenti sampai disini saja. Dia tidak mampu untuk melihat lebih jauh dimana korban pembunuhan massal beserta anak cucunya itu menderita dlsbg. Dia tidak bisa melihat bahwa ada perbedaan antara PKI dan korban pembunuhan massal. Banyak orang terutama pegiat HAM itu fokusnya adalah korban pembunuhan massal bukan PKI. Yang dikubu mendesak pemerintah meminta maaf itu sudut pandangnya adalah meminta maaf kepada para korban pembunuhan massal, bukan meminta maaf kepada PKI. Apapun kesalahan PKI, pembunuhan massal tidak boleh menjadi justifikasinya!!! Pak Jacky ini tidak mampu melihat ini. Salam Nesare Pak Jacky yb, Terimakasih atas pencerahan yang diberikan dengan penuh kesabaran,... karena belum 6

7 pernah mengenal diri bapak membuat saya salah menangkap tulisan bapak sebelumnya. Maaf atas kelancangan saya yang ternyata 10 tahun lebih muda dari bapak dan ketidak tahuan saya pada keadaan konkrit yang terjadi masa G30S itu, karena seminggu sebelum G30S meletup, tgl. 23 Sept saya sudah terbang ke Beijing untuk melanjutkan sekolah. Pak Jacky sebagai Kompol (Komandan Polisi di Sumatera Barat?) ketika itu, tentu sangat berperan menentukan dalam menertibkan keamanan wilayah, begitu perasaan saya. Apa yang bapak jalankan menghentikan permainan anak-anak menendang bola-kepala manusia dan melompat-lompati jenasah dan kemudian menguburkan jenasah secara baik-baik, tentu sangat terpuji! Tapi, bukankah seharusnya ada langkah selanjutnya, untuk mengusut dan menjerat pelaku kejahatan kemanusiaan dengan HUKUM yang berlaku. Dan dengan demikian tidak membiarkan tindakan brutal berlanjut dan makin meluas jatuhnya KORBAN orang-orang tidak berdosa. Saya yakin, seandainya saja, setiap KOMANDAN aparat keamanan diseluruh wilayah Nusantara menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik, maka bunuh membunuh yang sangat tidak manusiawi dan mengakibatkan jutaan warga dibunuh tanpa mengetahui dimana kesalahan dan dosanya,... TIDAK PERLU TERJADI! Sekalipun juga tidak dapat disangkal, bahwa jenderal Soeharto yg telah merebut inisiatif sejak awal 1-2 Oktober 1965 itu, mulai menjalankan skenario kudeta merangkak sebagaimana dikemukakan Waperdam Dr. Subandrio dalam tulisan Kesaksian-ku. Jenderal Soeharto untuk menggulingkan Presiden Soekarno, justru menggunakan dalih PKI dalang G30S lebih dahulu menggebug dan MEMBASMI PKI yang merupakan pendukung kuat Soekarno itu! Bahkan dilanjutkan dengan membasmi komunis sampai keakar-akarnya di Nusantara ini. Bagaimana Nusantara ini tidak bersimbah darah,...! Begitulah gerak pengejaran, penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang dituduh komunis dilancarkan dengan gencar,... bukan hanya pada tokoh-tokoh utama PKI yang dianggap harus bertanggungjawab atas meletupnya G30S dan pembunuhan atas 6 jenderal dan 1 perwira, tapi juga pada seluruh orang yang dituduh komunis dan Soekarnois,... Jadi, memang sulit bisa dibayangkan Komandan aparat keamanan tidak ikut berperan dalam usaha membasmi, dari pengejaran, penangkapan bahkan membunuhi orang-orang yang dituduh komunis, itulah TUGAS dari atasan yang MUTLAK harus dijalankan. Bukankah begitu,... Salam, ChanCT 7

8 From: Jacky Mardono Tjokrodiredjo Sent: Tuesday, May 3, :31 AM Bung Chan CT Ysh. Terima kasih atas komentar bung Chan CT terhadap Posting saya. Komentar bung Chan mengingatkan saya, atas peristiwa2 yang terjadi sekitar 50 (lima puluh) tahun yang lalu. Saya tidak melanjutkan kisah saya, setelah saya menjumpai anak2 kecil main bola dengan kepala manusia, dan anak2 kecil ber-main2 diatas mayat manusia. Karena itu pada diri bung Chan ada kesan, bahwa saya merestui perbuatan anak2 kecil maupun orang tua mereka, yang telah membunuh orang2 yang dicurigai sebagai anggota G30S/PKI. Saya sama sekali tidak "merestui" perbuatan anak2 kecil tersebut. Untuk ini mohon maaf, kalau ada kesan bahwa saya merestui perbuatan mereka. Anak2 kecil yang sedang bermain bola saya bubarkan, dan "bolanya" diambil oleh anak buah untuk dikubur secara baik-baik. Demikian juga orang2 tua yang ter-tawa2 di lapau, ber-sama2 anak buah saya, mengubur mayat2 yang dijadikan mainan lompat2an anak2. Secara garis besar, tugas kesatuan yang saya pimpin adalah sbb : Siang hari, mencegah perbuatan anarkis oleh warga masyarakat, terhadap orang2 yang dicurigai sebagai sisa2 G30S/PKI. Malam hari, ber-sama2 warga masyarakat menjaga keamanan kampung, dari aksi penjarahan oleh mereka yang merupakan sisa2 G30S/PKI. Dua Pos Pol saya, sempat diserang oleh sisa2 G30S/PKI. Dari anak buah saya luka 3 (tiga) orang, sedang dari "pihak sana" tewas satu orang. Dari pengamatan saya, adanya perbuatan yang bersifat "radikal", sehingga menimbulkan perbuatan tercela yang berupa pelanggaran HAM, ini bukan karena faktor politik, hukum atau ketata negaraan, tapi se-mata2 karena foktor psikologis, yang merupakan reaksi terhadap arogansi PKI dan ormas2nya, sebelum tgl. 1 Oktober

9 Sebaiknya kalau mau diadakan diskusi tentang masa lalu, diikut sertakan pula para psikolog, yang membahas kondisi "kejiwaan sosial" pada waktu itu, yang melatar belakangi terjadinya peristiwa G30S/PKI. Ada-tidak, perbuatan PKI/ormasnya yang telah menimbulkan "luka2 sosial", dihati masyarakat bangsa Indonesia? Demikian tanggapan saya terhadap komentar bung Chan CT. Pada masa sebelum tgl 1 Oktober 1965, bung Chan berada dimana? Bung Chan dengar adanya peristiwa G30S dari siapa? Kalau saya langsung dengar dari pengumuman Letkol Untung, yang disiarkan melalui RRI. Sekitar pukul WIB, kami anggota Panca Tunggal, sudah menarik kesimpulan, bahwa G30S yang dipimpin oleh letkol Untung adalah "Coup". Tanpa menunggu pejunjuk atau perintah dari atasan, kami Panca Tunggal telah mengambil keputusan, menolak perintah Let Kol Untung untuk membentuk Dewan Revolusi. Demikian untuk menjadikan maklum. Wassalam, Jacky Mardono (82). From: Chan CT <[email protected]> Sent: Monday, 2 May 2016, 15:53 Subject: Re: Fakta dan Opini Sekitar G30S. Tapi, bung Jacky,... saya tidak bisa mengerti bung sebagai Komandan ketika itu, TETAP bisa membiarkan anak-anak menendang kepala manusia sebagai bola, bisa membiarkan anak-anak bermain lompat-lompatan diatas mayat-mayat yang telah dibantai orang-tua mereka!!!! Bukankah SIKAP DEMIKIAN itu sama-sama BIADABnya!? Padahal sebagai komandan aparat keamanan, sudah seharusnya menertibkan keamanan, bisa melindungi setiap warga siapapun dia dan apapun KESALAHAN yang dilakukan dari tindak sewenang-wenang siapapun pelakunya! Jadi, aparat keamanan TIDAK seharusnya membiarkan seseorang dianiaya apalagi dibunuh tanpa proses pengadilan! Mengapa 9

10 setelah melihat kepala manusia ditendang-tendang, mayat dilompat-lompati, sebagai komandan tidak menindak pelaku, dan membiarkan begitu saja bahkan mengamini??? Perbuatan tercela tidak seharusnya dilawan dengan perbuatan lebih tercela, kekejaman kemanusiaan tidak seharusnya dilawan dengan kekejaman,... kalau kita semua jor-joran perbuatan tercela, kekejaman kemanusiaan, bagaimana BANGSA ini menjadi bangsa beradab dengan menegakkan HAM yang baik??? Perbuatan tercela, menganiaya, pembunuhan, kekejaman kemanusiaan dan pelanggaran HUKUM, siapapun pelakunya harus dijerat HUKUM dan dijatuhi sanksi HUKUM yang berlaku, dan itulah peran yang harus dipegang TEGUH aparat keamanan/hukum negara! Salam, ChanCT From: Salim Said Sent: Saturday, April 30, :39 AM :40 GMT+07:00 Jacky Mardono Tjokrodiredjo Saya selalu menolak, kalau ada orang yang menyarankan kepada saya, untuk menuliskan pengalaman saya, ketika menghadapi peristiwa G30S/PKI. Terakhir saya berkunjung ke wilayah dimana saya bertugas, tempat yang pada tahun 1965, merupakan tempat saya bergelut menghadapi sisa2 G30S/PKI. Daerah tersebut ternyata talah menjadi suatu daerah, yang benar2 "tata-tentrem-kertaraharja". "Rekonsiliasi" telah berlangsung secara alami. Ex anak buah ternyata telah membaur, dengan masyarakat setempat, yang dulunya dikenal sebagai "daerah merah". Saya mengunjungi suatu tempat, dimana dimasa lalu saya temukan anak2 bermain bola, tetapi yang dijadikan bola adalah kepala manusia. Jelas yang menyediakan bolanya bukan anak buah saya, atau anggota Kodim! Juga saya menjumpai suatu tempat, dimana pada masa lalu anak2 bermain 10

11 lompat2an, diatas mayat2 yang telah dibantai oleh orang tua mereka. Sementara orang tua mereka, mengawasi gerak gerik anak2 mereka sambil tertawa dari sebuah lapau. Pernah serombongan pemuda menghadap saya sambil membawa foto, yang ternyata foto tersebut adalah foto kepala tokoh PKI, yang telah digoroknya. Ditempat resebut tidak ada Pos Polisi, apa lagi Pos Tentara. Saya tidak akan menyebut nama tempat atau nama orang, karena saya tidak ingin ada keluarga dari mereka yang terbebani secara psikis, akibat cerita saya. Menyikapi masa lalu janganlah kita "jor2an" sebagai jagoan HAM. Apa yang disebut sebagai pelanggaran HAM, sesungguhnya adalah "Perbuatan Tercela", yang terjadi pada saat penumpasan G30S/PKI. Kita kenal bahwa perbuatan tercela terdiri dari : 1. Tindak pidana. 2. Pelanggaran disiplin. 3. Pelanggaran disiplin tidak murni/pelanggaran kode etik profesi. Antara pelanggaran HAM dan kejahatan biasa, rumusan saya diatas perlu dikoreksi, oleh para pakar hukum. Saya temukan beberapa mantan anak buah, yang telah hidup membaur dengan masyarakat, dimana pada masa lalu, warga masyarakat meludah, ketika melihat ada anggota Polisi berpatroli. Kesimpulan saya pribadi terhadap peristiwa G30S, "Aktor Intelekualnya" dibelakang G30S adalah PKI. That's all! Kalau sekarang ada kisah2 yang menyatakan, bahwa PKI tidak terlibat, tetapi yang terlibat adalah DN Aidit, saya tidak mengerti apa yang dijadikan bahan argumentasinya. Sebelum tgl 1 Oktober 1965, saya sudah menduduki jabatan komandan, yang dalam mengambil keputusan, sering tanpa harus menunggu petunjuk atau perintah dari atasan. Pada waktu itu doktrinnya adalah : "demi kepentingan revolusi". 11

12 Yang pasti saya tidak mengambil keuntungan pribadi, dari keputusan yang saya ambil. Dibawah ini ada 2 (dua) link, yang menurut pendapat saya, memicu kemarahan baik anggota ABRI, maupun warga masyarakat pada umumnya. Sayang rekamannya kurang bagus. Tapi apa yang diucapkan oleh pak Nas dan Pak Harto, dapat kita temukan dalam buku yang berjudul "Dokumen Terpilih Sekitar G30S/PKI", yang disusun oleh bapak Alex Dinuth. Dengan adanya kemajuan teknologi dibidang informasi, kita dapat melakukan diskusi secara terbuka melalui jaringan internet. Tidak perlu adanya notulis, karena semua terekam dengan baik. Ada interupsipun tidak mengganggu jalannya diskusi, karena semua interupsi dilayani secara terpisah. Wassalam, Jacly Mardono. Pidato pak Harto silahkan Klik : Pidato Pak Nas silahkan klik : 12

Rekonsiliasi Korban HAM-Berat 1965

Rekonsiliasi Korban HAM-Berat 1965 Rekonsiliasi Korban HAM-Berat 1965 Bung Jacky dan bung Ilyas yb, Perkenankanlah saya mengajukan pemikiran G30S/PKI yang sedang dibicarakan ini: 1. Yang terjadi selama ini, sudah lebih 1/2 abad hanyalah

Lebih terperinci

Kenapa Soeharto Tidak Mencegah G30S 1965?

Kenapa Soeharto Tidak Mencegah G30S 1965? Kenapa Soeharto Tidak Mencegah G30S 1965? http://m.kaskus.co.id/thread/5640b87f12e257b1148b4570/kenapa-soeharto-tidak-mencegah-g30s-1965/ PERAN Soeharto dalam Gerakan 30 September (G30S) 1965 ternyata

Lebih terperinci

Mengungkap Kegagalan Gerakan 30 September 1965

Mengungkap Kegagalan Gerakan 30 September 1965 Cerita Pagi Dokumen Supardjo, Mengungkap Kegagalan Gerakan 30 September 1965 Hasan Kurniawan Minggu, 23 Oktober 2016 05:05 WIB http://daerah.sindonews.com/read/1149282/29/dokumen-supardjo-mengungkap-kegagalan-gerakan-30-september-1965-1477110699

Lebih terperinci

Silahkan Baca Tragedi PKI Ini

Silahkan Baca Tragedi PKI Ini Silahkan Baca Tragedi PKI Ini Nusantarapos,- Apakah Pantas Soeharto Diampuni?, Ada seorang ahli sejarah yang sempat meneliti tentang kejadian yang menimpa bangsa kita di tahun 1965, mengatakan bahwa di

Lebih terperinci

Pemberontakan Militer dan Ideologi Peristiwa Madiun, DI/TII, G 30 S/PKI

Pemberontakan Militer dan Ideologi Peristiwa Madiun, DI/TII, G 30 S/PKI Pemberontakan Militer dan Ideologi Peristiwa Madiun, DI/TII, G 30 S/PKI Pemberontakan Militer *PRRI/Permesta Pemberontakan Ideologi PKI tahun 1948 PKI tahun 1965 Pemberontakan PRRI/Permesta Tokoh yang

Lebih terperinci

G 30 S PKI. DISUSUN OLEH Aina Aqila Rahma (03) Akhlis Suhada (04) Fachrotun Nisa (14) Mabda Al-Ahkam (21) Shafira Nurul Rachma (28) Widiyaningrum (32)

G 30 S PKI. DISUSUN OLEH Aina Aqila Rahma (03) Akhlis Suhada (04) Fachrotun Nisa (14) Mabda Al-Ahkam (21) Shafira Nurul Rachma (28) Widiyaningrum (32) G 30 S PKI Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas mata pelajaran Sejarah DISUSUN OLEH Aina Aqila Rahma (03) Akhlis Suhada (04) Fachrotun Nisa (14) Mabda Al-Ahkam (21) Shafira Nurul Rachma (28) Widiyaningrum

Lebih terperinci

Kesaksian Elite PKI tentang Sepak Terjang Aidit

Kesaksian Elite PKI tentang Sepak Terjang Aidit Kesaksian Elite PKI tentang Sepak Terjang Aidit Hasan Kurniawan http://daerah.sindonews.com/read/1053972/29/kesaksian-elite-pki-tentang-sepak-terjang-aidit-1445105212 Minggu, 18 Oktober 2015 05:05 WIB

Lebih terperinci

PEMBERONTAKAN GERAKAN 30 SEPTEMBER PKI 1965

PEMBERONTAKAN GERAKAN 30 SEPTEMBER PKI 1965 PEMBERONTAKAN GERAKAN 30 SEPTEMBER PKI 1965 1. LATAR BELAKANG GERAKAN 30 SEPTEMBER PKI 1965 Pemberontakan PKI tanggal 30 September 1965 bukanlah kali pertama bagi PKI. Sebelumnya, pada tahun 1948 PKI sudah

Lebih terperinci

G 30 S/PKI, Gestapu. dan Penyelesaian Peristiwa G 30 S Secara Beradab

G 30 S/PKI, Gestapu. dan Penyelesaian Peristiwa G 30 S Secara Beradab G 30 S/PKI, Gestapu dan Penyelesaian Peristiwa G 30 S Secara Beradab (Tanggapam wacana Salim Said) JULIUS GUNAWAN Saya belum membaca buku tulisan Salim Said, baik yang berjudul Dari Gestapu ke Reformasi:

Lebih terperinci

Habibi Serahkan Dokumen Tragedi 98

Habibi Serahkan Dokumen Tragedi 98 Habibi Serahkan Dokumen Tragedi 98 Bakal Ada yang Kejang2 Jelang Pilpres 2019 Friday, May 12, 2017 https://www.detikmetro.com/2017/05/habibi-serahkan-dokumen-tragedi-98.html DETIK METRO - Presiden ke-3

Lebih terperinci

Kesaksian Siauw Giok Tjhan dalam Gestapu 1965

Kesaksian Siauw Giok Tjhan dalam Gestapu 1965 Kesaksian Siauw Giok Tjhan dalam Gestapu 1965 Hasan Kurniawan http://daerah.sindonews.com/read/1057848/29/kesaksian-siauw-giok-tjhan-dalam-gestapu-1965-1446312109/ Senin, 2 November 2015 05:05 WIB Siauw

Lebih terperinci

Surat-Surat Buat Dewi

Surat-Surat Buat Dewi Surat-Surat Buat Dewi Di bawah ini kami turunkan surat-surat Presiden Soekarno, yang ditulis dan dikirim kepada istrinya, Ratna Sari Dewi, selama hari-hari pertama bulan Oktober 1965. Surat-surat ini berhasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Berbagai peristiwa sejarah tentu tidak terjadi dengan sendirinya. Peristiwaperistiwa

BAB I PENDAHULUAN. Berbagai peristiwa sejarah tentu tidak terjadi dengan sendirinya. Peristiwaperistiwa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berbagai peristiwa sejarah tentu tidak terjadi dengan sendirinya. Peristiwaperistiwa tersebut sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran, baik itu watak, kepercayaan,

Lebih terperinci

G30S dan Kejahatan Negara

G30S dan Kejahatan Negara Telah terbit Buku: G30S dan Kejahatan Negara Catatan Penyunting Pada tanggal 1 Oktober 1965, sekitar pukul 7 pagi, saya bermain catur dengan ayah saya, Siauw Giok Tjhan di beranda depan rumah. Sebuah kebiasaan

Lebih terperinci

Siapa memfitnah siapa?

Siapa memfitnah siapa? Siapa memfitnah siapa? On Tuesday, April 26, 2016 4:41 PM, Chan CT wrote: Bung Jack yb, Disinilah nampak jelas ada sesuatu yang perlu diteliti dan dipelajari lebih lanjut secara

Lebih terperinci

Cari Kuburan Massal untuk Pelurusan Sejarah

Cari Kuburan Massal untuk Pelurusan Sejarah Cari Kuburan Massal untuk Pelurusan Sejarah Selasa, 26 April 2016 01:43 http://www.beritametro.co.id/feature/cari-kuburan-massal-untuk-pelurusan-sejarah Aktivis HAM menemukan kuburan massal yang diduga

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN Pada bab terakhir dalam penulisan skripsi yang berjudul Peristiwa Mangkok Merah (Konflik Dayak Dengan Etnis Tionghoa Di Kalimantan Barat Pada Tahun 1967), berisi mengenai simpulan

Lebih terperinci

Saatnya Rehabilitasi Bung Karno!

Saatnya Rehabilitasi Bung Karno! Saatnya Rehabilitasi Bung Karno! Bagaimana bisa dikatakan Saatnya Rehabilitasi Bung Karno??? Kalau pemerintah yang berkuasa, khususnya Presiden Jokowi masih saja begitu anti-komunis, sampai-sampai berulangkali

Lebih terperinci

Partai PDIP dan Pembasmian PKI Melalui Supersemar.

Partai PDIP dan Pembasmian PKI Melalui Supersemar. Partai PDIP dan Pembasmian PKI Melalui Supersemar. BY HANDOKO WIZAYA ON OCTOBER 4, 2017POLITIK https://seword.com/politik/partai-pdip-dan-pembasmian-pki-melalui-supersemar/ Menurut Sekretaris Jenderal

Lebih terperinci

Ini Pantauan CIA Saat Kejadian G30S/PKI

Ini Pantauan CIA Saat Kejadian G30S/PKI Selasa 26 September 2017, 15:58 WIB CIA Pantau PKI Momen Krusial! Ini Pantauan CIA Saat Kejadian G30S/PKI Fitraya Ramadhanny detiknews https://news.detik.com/berita/d-3658975/momen-krusial-ini-pantauan-cia-saat-kejadian-g30spki

Lebih terperinci

Buku «Memecah pembisuan» Tentang Peristiwa G30S tahun 1965

Buku «Memecah pembisuan» Tentang Peristiwa G30S tahun 1965 Buku «Memecah pembisuan» Tentang Peristiwa G30S tahun 1965 Tulisan ini bukanlah resensi buku. Melainkan seruan atau anjuran kepada orang-orang yang mempunyai hati nurani dan berperkemanusiaan, atau yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sejarah nasional Indonesia tidak lepas dari pemerintahan Soekarno dan Soeharto, seperti

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sejarah nasional Indonesia tidak lepas dari pemerintahan Soekarno dan Soeharto, seperti BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejarah nasional Indonesia tidak lepas dari pemerintahan Soekarno dan Soeharto, seperti yang kita ketahui dua figur tersebut pernah menjadi presiden Republik Indonesia.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Republik Indonesia sebagai negara

Lebih terperinci

Ben Anderson dan Kudeta Militer 1 Oktober 1965

Ben Anderson dan Kudeta Militer 1 Oktober 1965 Ben Anderson dan Kudeta Militer 1 Oktober 1965 Hasan Kurniawan http://daerah.sindonews.com/read/1070825/29/ben-anderson-dan-kudeta-militer-1-oktober-1965-1450531588 Minggu, 20 Desember 2015 05:05 WIB Ben

Lebih terperinci

Meninjau Kembali Pembantaian 50 Tahun Lalu

Meninjau Kembali Pembantaian 50 Tahun Lalu Wawancara dengan Soe Tjen: Meninjau Kembali Pembantaian 50 Tahun Lalu Tak ada yang memberitahu Soe Tjen tentang nasib ayahnya dan genosida anti-komunis. Sampai ia mendengar kisah itu dari ibunya, setelah

Lebih terperinci

Keterlibatan Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris. dalam Genosida 65

Keterlibatan Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris. dalam Genosida 65 Keterlibatan Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris dalam Genosida 65 Majalah Bhinneka April 2, 2016 http://bhinnekanusantara.org/keterlibatan-pemerintah-amerika-serikat-dan-inggris-dalam-genosida-65/

Lebih terperinci

Ketika Bung Karno Didemo Tentara

Ketika Bung Karno Didemo Tentara Ketika Bung Karno Didemo Tentara http://www.berdikarionline.com/bung-karno-dan-peristiwa-17-oktober-1952/ Apa yang terjadi pada 17 oktober 1952? Pagi-pagi sekali, 17 oktober 1952, 5000-an orang muncul

Lebih terperinci

Inilah latar belakang sikap politik Mayjen Kivlan Zein, yang siap perang terhadap NKRI.

Inilah latar belakang sikap politik Mayjen Kivlan Zein, yang siap perang terhadap NKRI. Bung Roeslan yb, Terimakasih dengan penjelasan tambahan latar belakang Mayjen Kivlan Zein yang menyatakan siap PERANG ini,... setelah bung membaca buku Kivlan Konflik dan Integrasi dan menyimpulkan bahwa

Lebih terperinci

Negara Jangan Cuci Tangan

Negara Jangan Cuci Tangan Negara Jangan Cuci Tangan Ariel Heryanto, CNN Indonesia http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160426085258-21-126499/negara-jangan-cuci-tangan/ Selasa, 26/04/2016 08:53 WIB Ilustrasi. (CNN Indonesia)

Lebih terperinci

BACAAN UNTUK HARI " SEBELAS MARET" HARI "SUPERSEMAR"

BACAAN UNTUK HARI  SEBELAS MARET HARI SUPERSEMAR Kolom IBRAHIM ISA Rabu Sore, 11 Maret 2015 ---------------------- BACAAN UNTUK HARI " SEBELAS MARET" HARI "SUPERSEMAR" SUPERSEMAR Di Satu Tangan, B E D I L Di Tangan Satunya KUDETA Paling CANGGIH, Paling

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kita hidup ditengah derasnya perkembangan sistem komunikasi. Media massa adalah media atau sarana penyebaran informasi secara massa dan dapat diakses oleh masyarakat

Lebih terperinci

Berbagai Kisah G30S Oleh Asvi Warman Adam

Berbagai Kisah G30S Oleh Asvi Warman Adam http://www.kompas.com/kompas-cetak/0209/30/opini/berb04.htm Berbagai Kisah G30S Oleh Asvi Warman Adam PELURUSAN sejarah, berarti menjadikan sejarah yang dulu seragam menjadi beragam. Bila dulu cuma ada

Lebih terperinci

Dengan Sikap MALING TERIAK MALING Tak Mungkin REKONSIALIASI NASIONAL

Dengan Sikap MALING TERIAK MALING Tak Mungkin REKONSIALIASI NASIONAL Kolom IBRAHIM ISA Kemis Siang, 20 Agustus 2015 ----------------------------------- Dengan Sikap MALING TERIAK MALING Tak Mungkin REKONSIALIASI NASIONAL Genosida 1965, suatu kampanye menyeluruh dan total

Lebih terperinci

penjajahan sudah dirasakan bangsa Indonesia, ketika kemerdekaan telah diraih, maka akan tetap dipertahankan meskipun nyawa menjadi taruhannya.

penjajahan sudah dirasakan bangsa Indonesia, ketika kemerdekaan telah diraih, maka akan tetap dipertahankan meskipun nyawa menjadi taruhannya. BAB V KESIMPULAN Keadaan umum Kebumen pada masa kemerdekaan tidak jauh berbeda dengan wilayah lain di Indonesia. Konflik atau pertempuran yang terjadi selama masa Perang Kemerdekaan, terjadi juga di Kebumen.

Lebih terperinci

Soeharto Dan Peristiwa G30S 1965

Soeharto Dan Peristiwa G30S 1965 Soeharto Dan Peristiwa G30S 1965 Senin, 30 September 2013 22:33 WIB 5 Komentar 23459 Views Dalam sejarah yang disusun oleh Orde Baru, Gerakan 30 September (G30S) digerakkan oleh Partai Komunis Indonesia

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Kesimpulan Pada bagian ini merupakan kesimpulan terhadap semua hasil penelitian yang telah diperoleh setelah melakukan pengkajian dan sekaligus memberikan analisis

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Republik Indonesia sebagai negara

Lebih terperinci

KASUS PELANGGARAN HAM BERAT 1965*

KASUS PELANGGARAN HAM BERAT 1965* MASALAH IMPUNITAS DAN KASUS PELANGGARAN HAM BERAT 1965* Oleh MD Kartaprawira Bahwasanya Indonesia adalah Negara Hukum, dengan jelas tercantum dalam Pasal 1 ayat 3 UUD 1945. Siapa pun tidak bisa mengingkari.

Lebih terperinci

Gus Dur minta ma'af atas pembunuhan tahun 1965/66

Gus Dur minta ma'af atas pembunuhan tahun 1965/66 Gus Dur minta ma'af atas pembunuhan tahun 1965/66 (Oleh : A. Umar Said ) Renungan tentang HAM dan demokrasi di Indonesia (pamflet, gaya bebas berfikir) Agaknya, bagi banyak orang, pernyataan Gus Dur dalam

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dalamnya. Untuk dapat mewujudkan cita-cita itu maka seluruh komponen yang

I. PENDAHULUAN. dalamnya. Untuk dapat mewujudkan cita-cita itu maka seluruh komponen yang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perubahan suatu negara untuk menjadi lebih baik dari aspek kehidupan merupakan cita-cita dan sekaligus harapan bagi seluruh rakyat yang bernaung di dalamnya.

Lebih terperinci

NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER

NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER Menimbang : DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa Negara Republik Indonesia sebagai negara

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Seiring berjalannya waktu, dengan perubahan teknologi dan perubahan pergaulan

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Seiring berjalannya waktu, dengan perubahan teknologi dan perubahan pergaulan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam perspektif di Indonesia, dinamika kehidupan terlalu cepat berubah. Seiring berjalannya waktu, dengan perubahan teknologi dan perubahan pergaulan mengakibatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mulai memperoleh akses informasi yang lebih luas dan terbuka.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mulai memperoleh akses informasi yang lebih luas dan terbuka. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sejak keruntuhan kekuasaan Presiden Soeharto ditahun 1998, masyarakat Indonesia mulai memperoleh akses informasi yang lebih luas dan terbuka. Berbagai hal yang

Lebih terperinci

Tap XXXIII/MPRS/1967

Tap XXXIII/MPRS/1967 Tap XXXIII/MPRS/1967 KETIKA memberi sambutan dalam rangka 100 Tahun Bung Karno di Blitar, Rachmawati Soekarnoputri mengusul-kan agar Ketetapan Tap XXXIII/MPRS/1967 dicabut. Menurut Rachmawati, Tap itu

Lebih terperinci

TOKOH G30S, KOLONEL ABDUL LATIEF

TOKOH G30S, KOLONEL ABDUL LATIEF TOKOH G30S, KOLONEL ABDUL LATIEF Februari 20, 2008 Tags: sejarah Oleh : Harsutejo Pemeran G30S ini juga pernah menjadi anak buah Suharto di Divisi Diponegoro. Ia ikut ambil bagian sebagai salah satu komandan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai gagasan pemersatu bangsa Indonesia dengan tujuan melanjutkan revolusi kita

BAB I PENDAHULUAN. sebagai gagasan pemersatu bangsa Indonesia dengan tujuan melanjutkan revolusi kita 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nasakom merupakan hasil buah pikiran Presiden Soekarno yang dijadikannya sebagai gagasan pemersatu bangsa Indonesia dengan tujuan melanjutkan revolusi kita yang belum

Lebih terperinci

BAB 5 SIMPULAN DAN REKOMENDASI. memuat serangkaian peristiwa yang dijalin dan disajikan secara kompleks. Novel

BAB 5 SIMPULAN DAN REKOMENDASI. memuat serangkaian peristiwa yang dijalin dan disajikan secara kompleks. Novel BAB 5 SIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Simpulan Novel Tapol merupakan salah satu prosa fiksi atau cerita rekaan yang memuat serangkaian peristiwa yang dijalin dan disajikan secara kompleks. Novel ini sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Suatu negara tanpa memiliki aparat yang melaksanakan fungsi keamanan dan ketertiban masyarakat, maka negara tersebut tidak akan mampu bertahan lama, karena pelanggaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang berasal dari Tuhan, dan tidak dapat diganggu gugat oleh. Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan salah satu nilai dasar

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang berasal dari Tuhan, dan tidak dapat diganggu gugat oleh. Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan salah satu nilai dasar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia, dan mempunyai derajat yang luhur sebagai manusia, mempunyai budi dan karsa yang merdeka sendiri. Semua

Lebih terperinci

Tanggung Jawab Komando Dalam Pelanggaran Berat Hak Asasi Manusia Oleh : Abdul Hakim G Nusantara

Tanggung Jawab Komando Dalam Pelanggaran Berat Hak Asasi Manusia Oleh : Abdul Hakim G Nusantara Tanggung Jawab Komando Dalam Pelanggaran Berat Hak Asasi Manusia Oleh : Abdul Hakim G Nusantara Impunitas yaitu membiarkan para pemimpin politik dan militer yang diduga terlibat dalam kasus pelanggaran

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Terdapat beberapa hal yang penulis simpulkan berdasarkan permasalahan yang

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Terdapat beberapa hal yang penulis simpulkan berdasarkan permasalahan yang 168 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dipaparkan dalam bab ini merujuk pada jawaban atas permasalahan penelitian yang telah dikaji oleh penulis di dalam bab sebelumnya. Terdapat

Lebih terperinci

SISTEM PRESIDENSIIL TAHUN

SISTEM PRESIDENSIIL TAHUN NAMA : 1. Aris Hadi Pranoto (14144600203) 2. Desi Muji Hartanti (14144600178) 3. Puput Wulandari (14144600191) 4. Muhammad Hafizh Alhanif (14144600215) Kelas: A5-14 SISTEM PRESIDENSIIL TAHUN 1959-1966

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tentang dirinya sendiri. Semua usaha yang tidak menentu untuk mencari identitas-identitas

BAB I PENDAHULUAN. tentang dirinya sendiri. Semua usaha yang tidak menentu untuk mencari identitas-identitas BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Revolusi yang menjadi alat tercapainya kemerdekaan bukan hanya merupakan kisah sentral dalam sejarah Indonesia, melainkan unsur yang kuat dalam persepsi bangsa Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. PKI merupakan sebuah Partai yang berhaluan Marxisme-Lenisme(Komunis).

BAB I PENDAHULUAN. PKI merupakan sebuah Partai yang berhaluan Marxisme-Lenisme(Komunis). 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1. Analisis Masalah PKI merupakan sebuah Partai yang berhaluan Marxisme-Lenisme(Komunis). Partai Komunis Indonesia merupakan partai komunis terbesar ketiga di dunia

Lebih terperinci

G30S - Dokumen Suparjo

G30S - Dokumen Suparjo G30S - Dokumen Suparjo (Harsutejo) Dokumen Suparjo (selanjutnya saya singkat DS) disebut pertama kali dalam buku Jenderal Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas jilid 6 yang terbit pada 1986. Ia menerima DS

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, dapat. disimpulkan bahwa Banyuwangi merupakan wilayah yang rawan

BAB V KESIMPULAN. Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, dapat. disimpulkan bahwa Banyuwangi merupakan wilayah yang rawan BAB V KESIMPULAN Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa Banyuwangi merupakan wilayah yang rawan konflik. Hal ini tidak terlepas dari peristiwa-peristiwa konflik yang terjadi jauh

Lebih terperinci

Gerakan 30 September Hal tersebut disebabkan para kader-kader Gerwani tidak merasa melakukan penyiksaan ataupun pembunuhan terhadap para

Gerakan 30 September Hal tersebut disebabkan para kader-kader Gerwani tidak merasa melakukan penyiksaan ataupun pembunuhan terhadap para BAB 5 KESIMPULAN Gerwani adalah organisasi perempuan yang disegani pada masa tahun 1950- an. Gerwani bergerak di berbagai bidang. Yang menjadi fokus adalah membantu perempuan-perempuan terutama yang tinggal

Lebih terperinci

Bahan Renungan Sekitar G30S, Bung Karno, Suharto dan PKI

Bahan Renungan Sekitar G30S, Bung Karno, Suharto dan PKI Bahan Renungan Sekitar G30S, Bung Karno, Suharto dan PKI Menjelang tanggal 30 September 2011 dalam website http://umarsaid.free.fr/ akan diusahakan penyajian secara berturut-turut tulisan atau artikel

Lebih terperinci

Fakta Dibalik Peristiwa G 30 S PKI

Fakta Dibalik Peristiwa G 30 S PKI Fakta Dibalik Peristiwa G 30 S PKI Terilhami dari tulisan Jarar Siahaan di BatakNews yang berjudul Pantaskah Soeharto Diampuni, dan dari peringatan 9 tahun turunnya Rezim Soeharto, aku coba manuangkan

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.257, 2014 PERTAHANAN. Hukum. Disiplin. Militer. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5591) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

"SUPERSEMAR KISAH JEN. SUHARTO MENGGULINGKAN PRES. SUKARNO LEWAT * * *

SUPERSEMAR KISAH JEN. SUHARTO MENGGULINGKAN PRES. SUKARNO LEWAT * * * Kolom IBRAHIM ISA Sabtu, 01 Maret 2014 ------------------- "SUPERSEMAR KISAH JEN. SUHARTO MENGGULINGKAN PRES. SUKARNO LEWAT SEBUAH SURAT PERINTAH PRESIDEN Bagaimana seorang kepala negara dan kepala pemerintah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berposisi di baris depan, sebagai komunitas sosial yang memotori perwujudan

BAB I PENDAHULUAN. berposisi di baris depan, sebagai komunitas sosial yang memotori perwujudan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di dalam konteks transisi politik di Indonesia, gerakan mahasiswa memainkan peranan yang penting sebagai kekuatan yang secara nyata mampu mendobrak rezim otoritarian.

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.293, 2014 POLHUKAM. Saksi. Korban. Perlindungan. Perubahan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5602) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

Salawati Daud, Walikota Perempuan Pertama Di Indonesia

Salawati Daud, Walikota Perempuan Pertama Di Indonesia Salawati Daud, Walikota Perempuan Pertama Di Indonesia Sabtu, 3 Agustus 2013 14:51 WIB Saya iseng bertanya ke mesin pencari Google: Siapa Walikota Perempuan Pertama di Indonesia? Sejumlah nama pun muncul.

Lebih terperinci

MAKALAH. Pengadilan Atas Kasus Pemberontakan Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah. Pendidikan Pancasila

MAKALAH. Pengadilan Atas Kasus Pemberontakan Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah. Pendidikan Pancasila MAKALAH Pengadilan Atas Kasus Pemberontakan 1965 Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pendidikan Pancasila Dosen Pembimbing : Bpk. Dizar Al-Farizie, SH. Disusun oleh : 1. Dimas Rudi Saputra 2. Imam Bastomi

Lebih terperinci

Dokumen CIA Melacak Penggulingan dan Konspirasi Tragedi G 30 S

Dokumen CIA Melacak Penggulingan dan Konspirasi Tragedi G 30 S Dokumen CIA Melacak Penggulingan dan Konspirasi Tragedi G 30 S http://forum.viva.co.id/sejarah/1043566-dokumen-cia-melacak-penggulingan-dan-konspirasi-tragedi-g-30-s.html Semenjak kemerdekaan, Indonesia

Lebih terperinci

2017, No Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2010

2017, No Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2010 No.1459, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMHAN. Prajurit TNI. Status Gugur/Tewas. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2017 TENTANG STATUS GUGUR ATAU TEWAS BAGI PRAJURIT

Lebih terperinci

BAB II TINDAK PIDANA DESERSI YANG DILAKUKAN OLEH ANGGOTA TNI. mengenai fungsi, tugas dan tanggungjawab mereka sebagai anggota TNI yang

BAB II TINDAK PIDANA DESERSI YANG DILAKUKAN OLEH ANGGOTA TNI. mengenai fungsi, tugas dan tanggungjawab mereka sebagai anggota TNI yang BAB II TINDAK PIDANA DESERSI YANG DILAKUKAN OLEH ANGGOTA TNI Tindak pidana desersi merupakan tindak pidana militer yang paling banyak dilakukan oleh anggota TNI, padahal anggota TNI sudah mengetahui mengenai

Lebih terperinci

Briefing Pers Menyongsong Pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc Untuk Kasus Penghilangan Orang Secara Paksa 1997/1998

Briefing Pers Menyongsong Pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc Untuk Kasus Penghilangan Orang Secara Paksa 1997/1998 Briefing Pers Menyongsong Pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc Untuk Kasus Penghilangan Orang Secara Paksa 1997/1998 Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) Jakarta, 7 November 2009 I. Pendahuluan Menjelang

Lebih terperinci

REPRESENTASI PERAMPASAN HAK HIDUP INDIVIDU YANG DIANGGAP TAPOL DALAM NOVEL MENCOBA TIDAK MENYERAH KARYA YUDHISTIRA ANM MASSARDI

REPRESENTASI PERAMPASAN HAK HIDUP INDIVIDU YANG DIANGGAP TAPOL DALAM NOVEL MENCOBA TIDAK MENYERAH KARYA YUDHISTIRA ANM MASSARDI REPRESENTASI PERAMPASAN HAK HIDUP INDIVIDU YANG DIANGGAP TAPOL DALAM NOVEL MENCOBA TIDAK MENYERAH KARYA YUDHISTIRA ANM MASSARDI Bangga Pramesti Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS, UPI [email protected]

Lebih terperinci

Buku Letjen (Pur) Sintong Panjaitan yang membikin heboh

Buku Letjen (Pur) Sintong Panjaitan yang membikin heboh Buku Letjen (Pur) Sintong Panjaitan yang membikin heboh Diterbitkannya buku Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando tentang berbagai pengalaman Letjen (Pur) Sintong Panjaitan,yang diluncurkan 11 Maret

Lebih terperinci

MENGUNGKAP FAKTA G 30 S/PKI (Catatan Pengalaman Seorang Saksi Sejarah)

MENGUNGKAP FAKTA G 30 S/PKI (Catatan Pengalaman Seorang Saksi Sejarah) MENGUNGKAP FAKTA G 30 S/PKI (Catatan Pengalaman Seorang Saksi Sejarah) Oleh : Sulastomo erkaitan dengan peristiwa G 30S/PKI berikut ini saya sampaikan pengalaman sebagai saksi sejarah. Barangkali saya

Lebih terperinci

KASUS ETIKA PROFESI KASUS ANGELINE. Pembunuhan Berencana Angeline

KASUS ETIKA PROFESI KASUS ANGELINE. Pembunuhan Berencana Angeline KASUS ETIKA PROFESI KASUS ANGELINE Pembunuhan Berencana Angeline A. IDENTIFIKASI ISU 1. ISU FAKTUAL - APA YANG TERJADI? Pembunuhan berencana Angeline yang dilakukan oleh ibu angkat dan pembantunya. - DIMANA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Profesi sebagai polisi mempunyai nilai penting dalam menentukan tegaknya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Profesi sebagai polisi mempunyai nilai penting dalam menentukan tegaknya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Profesi sebagai polisi mempunyai nilai penting dalam menentukan tegaknya hukum dalam masyarakat oleh aparat penegak hukum. Sebagai anggota polisi harus mengetahui

Lebih terperinci

2016, No Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesi

2016, No Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesi No.1388, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BIN. Kode Etik Intelijen. Pencabutan. PERATURAN KEPALA BADAN INTELIJEN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2017 TENTANG KODE ETIK INTELIJEN NEGARA DENGAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK [LN 2002/109 TLN 4235]

UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK [LN 2002/109 TLN 4235] UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK [LN 2002/109 TLN 4235] BAB XII KETENTUAN PIDANA Pasal 77 Setiap orang yang dengan sengaja melakukan tindakan : a. diskriminasi terhadap anak

Lebih terperinci

b. bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan

b. bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

Telah terjadi penembakan terhadap delapan TNI dan empat warga oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM). Bagaimana tanggapan Anda terkait hal ini?

Telah terjadi penembakan terhadap delapan TNI dan empat warga oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM). Bagaimana tanggapan Anda terkait hal ini? Organisasi Papua Merdeka (OPM) terus beraksi dalam beberapa bulan terakhir di Papua. Aparat keamanan dan kepolisian jadi sasaran, termasuk warga sipil. Sudah banyak korban yang tewas karenanya, termasuk

Lebih terperinci

SIARAN PERS LEMBAGA BANTUAN HUKUM (LBH) PADANG Nomor : 03/S.Pers/LBH-PDG/II/2017 tentang

SIARAN PERS LEMBAGA BANTUAN HUKUM (LBH) PADANG Nomor : 03/S.Pers/LBH-PDG/II/2017 tentang SIARAN PERS LEMBAGA BANTUAN HUKUM (LBH) PADANG Nomor : 03/S.Pers/LBH-PDG/II/2017 tentang CATATAN AWAL TAHUN FAIR TRIAL TUMPULKAH HUKUM TERHADAP APARAT PELAKU KEKERASAN? Gambar 1 jumlah kasus 2010-2016

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

AKAR DAN DALANG PEMBANTAIAN MANUSIA TAK BERDOSA. dan PENGGULINGAN BUNG KARNO

AKAR DAN DALANG PEMBANTAIAN MANUSIA TAK BERDOSA. dan PENGGULINGAN BUNG KARNO Kolom IBRAHIM ISA Minggu, 15 Desember 2013 ----------------------- Menyambut Hangat Karya Penting SUAR SUROSO: AKAR DAN DALANG PEMBANTAIAN MANUSIA TAK BERDOSA dan PENGGULINGAN BUNG KARNO Senin, 16 Desember

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 1959 TENTANG PANGKAT-PANGKAT MILITER KHUSUS, TITULER DAN KEHORMATAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 1959 TENTANG PANGKAT-PANGKAT MILITER KHUSUS, TITULER DAN KEHORMATAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 1959 TENTANG PANGKAT-PANGKAT MILITER KHUSUS, TITULER DAN KEHORMATAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: 1. bahwa pangkat-pangkat militer efektif

Lebih terperinci

pengalaman putra 'tokoh integrasi' Tionghoa Indonesia pada 1965

pengalaman putra 'tokoh integrasi' Tionghoa Indonesia pada 1965 'Dicina-cinakan' di jalan: pengalaman putra 'tokoh integrasi' Tionghoa Indonesia pada 1965 Endang NurdinBBC Indonesia 27 Oktober 2017 http://www.bbc.com/indonesia/dunia-41738253?ocid=wsindonesia.chat-apps.in-app-msg.whatsapp.trial.link1_.auin

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 84, 1997 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3713)

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 84, 1997 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3713) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 84, 1997 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3713) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1997 TENTANG PERADILAN MILITER

Lebih terperinci

Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki sejarah panjang untuk mendapatkan kemerdekaannya di tahun Hanya saja, tidak banyak yang

Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki sejarah panjang untuk mendapatkan kemerdekaannya di tahun Hanya saja, tidak banyak yang Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki sejarah panjang untuk mendapatkan kemerdekaannya di tahun 1945. Hanya saja, tidak banyak yang tertarik untuk mempelajari sejarah karena terkesan membosankan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pancasila dan Undang-Undang Dasar Pasal 1 angka 3 UUD 1945 merumuskan

BAB I PENDAHULUAN. Pancasila dan Undang-Undang Dasar Pasal 1 angka 3 UUD 1945 merumuskan 12 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Negara Hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pasal 1 angka 3 UUD 1945 merumuskan secara

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2000 TENTANG PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2000 TENTANG PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2000 TENTANG PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa hak asasi manusia merupakan

Lebih terperinci

Bab I : Kejahatan Terhadap Keamanan Negara

Bab I : Kejahatan Terhadap Keamanan Negara Bab I : Kejahatan Terhadap Keamanan Negara Pasal 104 Makar dengan maksud untuk membunuh, atau merampas kemerdekaan, atau meniadakan kemampuan Presiden atau Wakil Presiden memerintah, diancam dengan pidana

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 4, 1988 (ADMINISTRASI. HANKAM. ABRI. Warga Negara. Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 74, 1997 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3703)

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 74, 1997 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3703) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 74, 1997 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3703) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 1997 TENTANG HUKUM DISIPLIN PRAJURIT

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2002 TENTANG KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2002 TENTANG KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2002 TENTANG KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa keamanan dalam negeri

Lebih terperinci

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN by DANIEL ARNOP HUTAPEA, S.Pd PERTEMUAN KE-3

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN by DANIEL ARNOP HUTAPEA, S.Pd PERTEMUAN KE-3 PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN by DANIEL ARNOP HUTAPEA, S.Pd PERTEMUAN KE-3 Pelanggaran HAM Menurut Undang-Undang No.39 tahun 1999 pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang

Lebih terperinci

V. KESIMPULAN DAN SARAN. Indonesia di Desa Panggungrejo sebagai berikut: 1. Perlawanan Terhadap Belanda Di Lampung ( )

V. KESIMPULAN DAN SARAN. Indonesia di Desa Panggungrejo sebagai berikut: 1. Perlawanan Terhadap Belanda Di Lampung ( ) 58 V. KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan maka, dapat disimpulkan bahwa Proses Perjuangan Lettu CPM Suratno dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Panggungrejo

Lebih terperinci

Pergolakan dan pemberontakan dalam negri yang mengancam disintegrasi bangsa TUGAS

Pergolakan dan pemberontakan dalam negri yang mengancam disintegrasi bangsa TUGAS SMAN 1 CIGUGUR Jl.Sukamulya no 12 Cigugur Kuningan Tlp. 0232873840 STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR INDIKATOR TUJUAN PEMBELAJARAN MATERI EVALUASI Pergolakan dan pemberontakan dalam negri yang mengancam

Lebih terperinci

Pengabdian Majemuk Seorang Pejuang Revolusioner

Pengabdian Majemuk Seorang Pejuang Revolusioner URL : http://www.kompas.com/kompascetak/0206/04/naper/peng12.htm Selasa, 4 Juni 2002 Pengabdian Majemuk Seorang Pejuang Revolusioner Kompas/yunas santhani azis H Maulwi Saelan "KAMI ini sisasisa pengawal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Cikal bakal lahirnya TNI (Tentara Nasional Indonesia) pada awal

BAB I PENDAHULUAN. Cikal bakal lahirnya TNI (Tentara Nasional Indonesia) pada awal BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada saat mempertahankan kemerdekaan, banyak orang Indonesia berjuang untuk membentuk pasukan mereka sendiri atau badan perjuangan Masyarakat. Tradisi keprajuritan

Lebih terperinci