: APARTEMEN BLOOMINGTON
|
|
|
- Surya Sugiarto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 S U R A T P E R J A N J I A N TENTANG JUAL BELI TENAGA LISTRIK ANTARA PT. PLN (Persero) DISTRIBUSI JAKARTA RAYA DAN TANGERANG AREA PELAYANAN PRIMA JAKARTA SELATAN DAN PT ALMARON PERKASA ( APARTEMEN BLOOMINTON) Nomor PIHAK PERTAMA : 0030 PJ/AGA.01.01/APPJS/2015 Nomor PIHAK KEDUA : 004A/LK-PLN/V/2015 Pada hari ini Rabu tanggal delapan bulan Juli tahun Dua ribu lima belas ( ) bertempat di Jakarta kami yang bertanda tangan dibawah ini : I. PT. PLN (Persero) Area Pelayanan Prima Jakarta Selatan, dalam hal ini diwakili oleh Drs. JUSUP HUDIHARTO, selaku Manajer, berdasarkan Surat Kuasa General Manager PT. PLN (Persero) Distribusi Jakarta dan Tangerang No. 010.SKu/432/DISJAYA/2015 tanggal 16 Januari 2015, berkantor di Jalan Warung Buncit Raya No. 10 Jakarta 12740, selanjutnya dalam Surat Perjanjian ini disebut : PIHAK PERTAMA. II. PT. ALMARON PERKASA ( APARTEMEN BLOOMINTON), dalam hal ini diwakili oleh LUCKY BUDIMAN dan IGNATIUS RAINER berdasarkan Surat Kuasa No. 015.B/SK/LGL-AP/I/2015 tanggal 12 Januari 2015, selanjutnya dalam Surat Perjanjian ini disebut : PIHAK KEDUA. PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA selanjutnya secara bersama-sama disebut PARA PIHAK terlebih dahulu menerangkan hal-hal sebagai berikut: 1. Surat Permohonan Pelanggan No.004/LK-PLN/V/2015 tanggal 11 Mei Rekomendasi Sistem No /REN.06.03/A.BLG/2015 tanggal 03 Juni 2015 Nama : APARTEMEN BLOOMINGTON Alamat : Jl. PANGERAN ANTASARI (KEMANG VILLAGE ) NO.36 JAKARTA SELATAN Tarif/Daya : B3/2.770 kva 3. Surat Ijin Penyambungan PIHAK PERTAMA No /150520/1837 tanggal 20 Mei 2015 Berdasarkan hal hal tersebut di atas, PARA PIHAK sepakat untuk membuat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik dengan ketentuan ketentuan sebagaimana tercantum dalam Pasal Pasal sebagai berikut :
2 PASAL 1 MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud Perjanjian ini adalah PIHAK PERTAMA bersedia menjual dan menyalurkan tenaga listrik kepada PIHAK KEDUA, dan PIHAK KEDUA bersedia membeli dan menerima tenaga listrik tersebut yang akan disalurkan oleh PIHAK PERTAMA untuk dipergunakan pada persil 1 dan/ atau bangunan milik PIHAK KEDUA yang beralamat di Jl. PANGERAN ANTASARI (KEMANG VILLAGE ) NO.36 JAKARTA SELATAN. 2. Tujuan Perjanjian adalah sebagai pedoman bagi PARA PIHAK dalam penyaluran tenaga listrik ke persil dan/ atau bangunan milik PIHAK KEDUA. PASAL 2 RUANG LINGKUP Ruang Lingkup Perjanjian ini meliputi: 1. Ketentuan Teknis; 2. Pengoperasian, pemeliharaan, perbaikan, perluasan, rehabilitasi instalasi dan/ atau peralatan listrik; 3. Pemakaian tenaga listrik pada waktu beban puncak; 4. Uang Jaminan Langganan 5. Biaya Penyambungan; 6. Fasilitas bangunan gardu distribusi listrik 7. Larangan menjual-belikan dan/ atau memberikan tenaga listrik; 8. Batas pemilikan; 9. Cara pengukuran dan pembatasan; 10. Peneraan alat ukur; 11. Keamanan instalasi atau peralatan; 12. Tarif Listrik; 13. Pembayaran rekening bulanan dan sanksi keterlambatan; 14. Pajak dan/ atau pungutan; 15. Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) 16. Force Majeure; 17. Hak preferens (istimewa); 18. Persil dan/ atau Bangunan 19. Pengakhiran perjanjian; 20. Penyelesaian perselisihan; 21. Perubahan-perubahan; 22. Berlakunya surat perjanjian. 1 Persil adalah lokasi/ tempat dimana terdapat sebidang tanah yang digunakan untuk bangunan. 2
3 PASAL 3 KETENTUAN TEKNIS 1. PIHAK PERTAMA akan menyalurkan tenaga listrik kepada PIHAK KEDUA dengan daya kva dengan tegangan nominal Volt atau sesuai dengan Tingkat Mutu Pelayanan (TMP) setempat, dengan pasokan TM/TM/TM. 2. PIHAK PERTAMA akan mengupayakan menyalurkan tenaga listrik dengan frekuensi 50 Hertz. 3. Pelaksanaan penyaluran tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini akan dilakukan oleh PIHAK PERTAMA selambat-lambatnya dalam jangka waktu 100 (seratus) hari kerja terhitung sejak tanggal pembayaran Biaya Penyambungan (BP). 4. PIHAK KEDUA akan menyesuaikan peralatan rele (relay : English) pengaman instalasinya dengan peralatan rele pengaman PIHAK PERTAMA dan peralatan rele PIHAK KEDUA dapat dikoordinasikan dengan peralatan rele PIHAK PERTAMA. 5. Peralatan kontrol instalasi PIHAK KEDUA harus tidak peka/ dibuat tidak peka terhadap kedip tegangan sesuai Edaran Direksi PIHAK PERTAMA yang berlaku. 6. Penyaluran tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini dilaksanakan secara terus menerus tanpa terputus-putus, kecuali dalam hal hal sebagai berikut : a. Diperlukan untuk melaksanakan suatu pekerjaan pemeliharaan, perbaikan gangguan, perluasan atau rehabilitasi instalasi PIHAK PERTAMA yang berkaitan dengan instalasi PIHAK KEDUA; b. Terjadi sesuatu hal pada instalasi yang membahayakan kelangsungan penyaluran tenaga listrik, dan/ atau keselamatan umum serta keamanan jiwa manusia; c. Dianggap membahayakan keselamatan umum serta keamanan jiwa manusia; d. Dianggap membahayakan keselamatan umum serta keamanan daerah dan Negara; e. Atas perintah instansi yang berwajib dan/ atau pengadilan; f. Apabila terdapat perubahan standar dalam bidang ketenagalistrikan; g. Apabila terjadi sebab kahar (force majeure); h. Apabila dilakukan pemutusan sementara sesuai ketentuan dalam Surat Perjanjian ini akibat adanya tunggakan dan tagihan Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL); i. Apabila penggunaan tenaga listrik tidak sesuai dengan kesepakatan dan/ atau mengakibatkan gangguan tegangan sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini. 7. Apabila terjadi penghentian penyaluran tenaga listrik karena alasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) Pasal ini maka PIHAK KEDUA tidak berhak untuk menuntut ganti rugi dalam bentuk apapun juga kepada PIHAK PERTAMA. 3
4 8. PIHAK KEDUA wajib memasang instalasi milik PIHAK KEDUA sesuai Standart teknis yang berlaku dan mendapatkan Sertifikat laik Operasi dari Lembaga sertifikasi sesuai dengan UU RI No. 30 tahun 2009 tentang ketenagalistrikan pada pasal 44 ayat 4 : Setiap instalasi tenaga listrik yang beroperasi wajib memiliki Sertifikat laik Operasi dan pasal 54 ayat 1: Setiap orang yang mengoperasikan instalasi tenaga listrik tanpa sertifikat laik operasi sebagaimana yang di maksud dalam pasal 44 ayat 4 (dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp ,- (lima ratus juta rupiah). PASAL 4 PENGOPERASIAN, PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, PERLUASAN, REHABILITASI INSTALASI DAN/ ATAU PERALATAN LISTRIK (1) PIHAK PERTAMA berhak untuk melakukan pekerjaan pengoperasian dan/ atau pemeliharaan dan/ atau perbaikan dan/ atau perluasan dan/ atau rehabilitasi instalasi dan/ atau peralatan listrik miliknya sekurang-kurangnya setiap satu tahun sekali, atau melakukan pekerjaan perbaikan peralatan listrik miliknya setiap saat apabila terjadi gangguan/ kerusakan secara mendadak terhadap instalasi dan/ atau peralatan listrik dimaksud. (2) PIHAK PERTAMA akan memberitahukan kepada PIHAK KEDUA mengenai rencana pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan dan/ atau perbaikan dan/ atau perluasan dan/ atau rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini minimal dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kalender sebelum pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan dimaksud. (3) Apabila diperlukan pekerjaan perbaikan secara mendadak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini sebagai akibat adanya gangguan/ kerusakan instalasi dan/ atau peralatan listrik milik PIHAK PERTAMA, maka PIHAK PERTAMA akan memberitahukan kepada PIHAK KEDUA mengenai pekerjaan perbaikan dimaksud pada hari pelaksanaan pekerjaan tersebut. (4) PIHAK PERTAMA berhak melakukan pemadaman atau penghentian penyaluran tenaga listrik dalam pelaksanaan pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini. Pemadaman/ penghentian penyaluran tenaga listrik dimaksud akan diberitahukan terlebih dahulu oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA dalam waktu 1 x 24 jam sebelum pelaksanaan pemadaman, kecuali apabila dalam keadaan force majeure akan terjadi gangguan atau pemadaman mendadak. (5) PIHAK KEDUA memberi izin kepada PIHAK PERTAMA untuk memasuki halaman/ area tanah atau bangunan miliknya apabila pekerjaan pemeliharaan atau perbaikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini dilaksanakan di halaman/ area tanah milik PIHAK KEDUA atau di bangunan milik PIHAK KEDUA. 4
5 PASAL 5 PEMAKAIAN TENAGA LISTRIK PADA WAKTU BEBAN PUNCAK (1) PIHAK KEDUA dapat menggunakan tenaga listrik yang disalurkan PIHAK PERTAMA sesuai dengan daya dan peruntukkannya baik pada Luar Waktu Beban Puncak (LWBP) maupun Waktu Beban Puncak (WBP), selama tidak terjadi kendala pada sistem penyaluran tenaga listrik PIHAK PERTAMA. (2) Bahwa dalam hal terjadi kendala pada sistem penyaluran tenaga listrik PIHAK PERTAMA, yang mengakibatkan berkurangnya penyaluran tenaga listrik kepada PIHAK KEDUA, maka pada Waktu Beban Puncak, PIHAK KEDUA bersedia untuk mengurangi pemakaian tenaga listrik/ keluar dari sitem jaringan PLN dan akan dipasang Load Limitted Controller (LLC) atau Alat Pengatur Beban Otomatis dengan mengoperasikan Alat Pembangkit Listrik (Genset) milik PIHAK KEDUA dan dikembalikan seperti keadaan semula oleh pihak pertama sistem penyaluran tenaga listrik normal. (3) PIHAK PERTAMA akan menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada PIHAK KEDUA selambat-lambatnya 24 (dua puluh empat) jam sebelum saat terjadinya kendala pada sistem penyaluran tenaga listrik PIHAK PERTAMA. PASAL 6 UANG JAMINAN LANGGANAN (1) Sesuai Keputusan Direksi PT.PLN (Persero) Nomor : 424.K/DIR/2013, tanggal 31 Mei 2013 tentang Uang Jaminan Langganan (UJL) PT. PLN (Persero),maka besarnya UJL adalah :Rp ,- (# Lima Ratus Lima Puluh Empat Juta Rupiah #), dengan rincian sebagai berikut : VA x Rp. 200,-/VA = Rp ,- (2) UJL di bayar lunas sebelum pelaksanaan penyambungan baru tenaga listrik dan/atau perubahan daya (penambahan/pengurangan daya) dengan cara membayar langsung pada Bank-Bank yang tergabung dalam Sistem Pembayaran secara Online (PPOB), dengan mencantumkan nomor Registrasi. (3) Apabila pelanggan Pasang Baru (PB) terbit belum dikenakan UJL,maka diberlakukan TTL (Tarip Tenaga Listrik) Baru, dan apabila Tambah Daya belum Penyesuaian UJL dengan TTL (Tarip Tenaga Listrik) Baru berlaku SK Direksi Nomor 424.K/DIR/2013 tanggal 31 Mei 2013 pasal 9 tentang Ketentuan Peralihan. (4) PIHAK KEDUA yang mengakhiri Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL), baik atas permintaan PIHAK KEDUA maupun karena hal hal lain, maka UJL dapat di restitusi dan akan dibayarkan kembali kepada PIHAK KEDUA setelah diperhitungkan dengan tagihan listrik dan semua hutang kepada PIHAK PERTAMA yang belum di lunasi. (5) PIHAK KEDUA yang mengajukan pengurangan daya, maka UJL akan diperhitungkan sesuai dengan tarif yang berlaku, apabila terdapat kekurangan harus dibayar oleh PIHAK KEDUA kepada PIHAK PERTAMA dan apabila terdapat kelebihan akan direstitusi oleh PIHAK PERTAMA. 5
6 PASAL 7 BIAYA PENYAMBUNGAN (1)Besarnya Biaya Penyambungan (BP) sesuai TDL yang berlaku saat ini ( Sesuai Lampiran Peraturan Menteri ESDM No: 33 Tahun 2014 tanggal 20 Nopember 2014) adalah sebesar : Rp ,- (# Satu Milyar Tujuh Ratus Empat Puluh Tujuh Juta Delapan Ratus Tujuh Puluh Ribu Rupiah #), dengan rincian sebagai berikut : VA x Rp. 631,- / VA = Rp ,- Diluar biaya materai dan Administrasi Bank jika ada. (1) Pembayaran Biaya Penyambungan (BP) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibayar oleh PIHAK KEDUA kepada PIHAK PERTAMA dengan cara membayar langsung pada Bank-Bank yang tergabung dalam Sistem Pembayaran secara Online (PPOB), dengan mencantumkan nomor Registrasi. (2) PIHAK KEDUA yang telah melunasi Biaya Penyambungan dan belum mendapatkan penyambungan daya listrik, menyetujui untuk diterapkan perubahan biaya penyambungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan PIHAK KEDUA menyetujui untuk membayar selisih Biaya Penyambungan apabila : a. Dalam batas waktu sebagaimana dimaksud Pasal 3 ayat (3) Perjanjian ini belum dilaksanakan penyambungan, atau; b. Lewat batas waktu sebagaimana dimaksud Pasal 3 ayat (3) Perjanjian ini, Instalasi PIHAK KEDUA belum siap untuk dilaksanakan penyambungan karena sebab apapun juga. (3) Jika PIHAK PERTAMA telah siap sambung akan tetapi PIHAK KEDUA belum siap, maka PIHAK PERTAMA akan tetap melaksanakan penyambungan dan tagihan rekening akan terbit pada bulan depan setelah PIHAK PERTAMA melaksanakan penyambungan dengan perhitungan Tagihan Rekening Minimum yaitu : Daya tersambung x 40 jam nyala x biaya pemakaian. (4) Biaya Penyambungan yang telah dibayarkan oleh PIHAK KEDUA kepada PIHAK PERTAMA, selanjutnya menjadi hak milik PIHAK PERTAMA dan tidak bisa diganggu gugat oleh PIHAK KEDUA, meskipun Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik ini berakhir karena sebab apapun juga. (5) Apabila PIHAK PERTAMA mengakhiri perjanjian ini secara sepihak sebelum tenaga listrik disalurkan oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA, maka PIHAK PERTAMA akan memberitahukan hal tersebut secara tertulis kepada PIHAK KEDUA disertai dengan alasannya. Dalam kejadian tersebut, maka PIHAK PERTAMA akan mengembalikan seluruh jumlah uang Biaya Penyambungan (BP) yang telah diterima oleh PIHAK PERTAMA dari PIHAK KEDUA. 6
7 P A S A L 8 FASILITAS BANGUNAN GARDU DISTRIBUSI LISTRIK (1). Untuk keperluan penyaluran tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) Perjanjian ini, PIHAK KEDUA akan menyerahkan kepada PIHAK PERTAMA secara cuma cuma penggunaan tanah dan atau ruangan untuk bangunan Sipil Gardu Distribusi dengan status pinjam pakai untuk jangka waktu selama diperlukan oleh PIHAK PERTAMA, sebagai fasilitas Gardu Distribusi Listrik guna penempatan instalasi beserta perlengkapan milik PIHAK PERTAMA yang diperlukan dalam penyaluran tenaga listrik; (2). Lokasi dan luas serta batas batas tanah dan/ atau ruang untuk Gardu Distribusi dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Surat Perjanjian ini; (3). Penyerahan hak pakai atas tanah / ruangan dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini akan dilakukan oleh PIHAK KEDUA kepada PIHAK PERTAMA dengan Perjanjian Pinjam Pakai Tanah/ Ruang untuk Gardu Distribusi Listrik yang ditanda-tangani PARA PIHAK yang akan dituangkan kedalam akta otentik yang dibuat dihadapan Notaris; (4). Biaya yang timbul akibat peningkatan Perjanjian Pinjam Pakai sebagaimana dimaksud ayat (3) Pasal ini kedalam akta otentik yang dibuat dihadapan Notaris sepenuhnya menjadi beban dan tanggung jawab PIHAK KEDUA; (5). Hak atas Tanah atau ruangan dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini tetap menjadi milik PIHAK KEDUA; (6). PIHAK KEDUA menjamin PIHAK PERTAMA dan bertanggung jawab sepenuhnya bahwa PIHAK PERTAMA tetap dapat menggunakan tanah dan/ atau ruangan dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini walaupun terjadi peralihan hak atas tanah dan/ atau bangunan tersebut; (7). PIHAK KEDUA tidak diperkenankan memasuki area tanah atau ruangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini dan atau memindahkan atau mengubah instalasi beserta perlengkapannya milik PIHAK PERTAMA sebagaimana terdapat dalam area tanah dan/ atau ruangan dimaksud tanpa persetujuan tertulis dari PIHAK PERTAMA. (8). PIHAK KEDUA mengijinkan PIHAK PERTAMA atau petugas petugas PIHAK PERTAMA untuk memasuki jalan/ halaman/ daerah/area/ tanah PIHAK KEDUA setiap saat diperlukan untuk memasuki instalasi beserta perlengkapannya milik PIHAK PERTAMA yang terletak di dalam daerah/ area tanah PIHAK KEDUA, guna mengadakan pemeriksaan, pemeliharaan atau perbaikan instalasi tersebut dengan memperhatikan ketentuan mengenai keamanan yang berlaku di area PIHAK KEDUA. (9). Pajak Bumi dan Bangunan yang dikenakan atas tanah dan/ atau bangunan tersebut dalam ayat (1) Pasal ini menjadi beban dan tanggung jawab PIHAK KEDUA. (10). PIHAK KEDUA akan membantu PIHAK PERTAMA untuk mengurus dan mendapatkan ijin ijin yang diperlukan dalam melakukan kegiatan pemasangan atau pembangunan instalasi listrik beserta perlengkapan milik PIHAK PERTAMA. 7
8 PASAL 9 LARANGAN MENJUAL BELIKAN DAN / ATAU MEMBERIKAN TENAGA LISTRIK (1) PIHAK KEDUA dengan alasan apapun tidak berhak untuk menjual atau memberikan kepada pihak lain tenaga listrik yang diterima dan dibeli dari PIHAK PERTAMA di luar persil dan/ atau bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) Perjanjian ini, kecuali dengan persetujuan tertulis terlebih dahulu dari PIHAK PERTAMA. (2) Apabila PIHAK KEDUA menjual atau memberikan tenaga lisitrik kepada pihak lain diluar persil dan/ atau bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) Perjanjian ini tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari PIHAK PERTAMA, maka PIHAK PERTAMA berhak untuk mengakhiri perjanjian ini secara sepihak dengan menyampaikan pemberitahuan secara tertulis terlebih dahulu kepada PIHAK KEDUA selambat lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja sebelum saat pengakhiran. (3) PIHAK KEDUA dilarang untuk menjual atau memberikan kepada pihak lain tenaga listrik yang diterima dan dibeli dari PIHAK PERTAMA. Apabila PIHAK KEDUA melakukan usaha penjualan tenaga listrik harus memenuhi perizinan yang diperlukan sebagai usaha penjualan tenaga listrik yaitu penetapan wilayah usaha dari Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan mendapatkan Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL) dari Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM) atau Pemerintah Provinsi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. PASAL 10 BATAS PEMILIKAN Semua instalasi Listrik setelah alat pengukuran dan pembatas milik PIHAK PERTAMA yang terdapat pada instalasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) Perjanjian ini, baik instalasi tenaga listrik maupun instalasi penerangan di halaman PIHAK KEDUA adalah milik dan tanggung jawab PIHAK KEDUA. PASAL 11 CARA PENGUKURAN DAN PEMBATASAN (1) Pemakaian tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) Perjanjian ini oleh PIHAK KEDUA, akan diukur dengan seperangkat Meter Elektronik yang pembacaannya menggunakan sistem AMR (Automatic Meter Reading) milik PIHAK PERTAMA. (2) Kelas Meter Elektronik yang akan digunakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku di lingkungan PIHAK PERTAMA. (3) Sistem pasokan sambungan listrik PIHAK KEDUA adalah sistem TM/TM/TM *) (Pelanggan TM / diukur di sisi TM / di pasok dengan TM)* * Sistem TM/TM/TM : energi yang digunakan = 1,00 x energi terukur (4) Perangkat meter elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini dipasang pada sisi jaringan Tegangan Menengah TM) (*) instalasi milik PIHAK PERTAMA tersebut dalam Pasal 8 Surat Perjanjian ini. 8
9 (5) Pembatasan daya tersambung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dan (2) Surat Perjanjian ini dilakukan dengan penyetelan rele arus lebih yang bekerja pada : In 100 % Q 3 E In = Q = E = Arus untuk menentukan peneraan rele dengan satuan Ampere (A). Daya tersambung sesuai Pasal 3 ayat (1) Surat Perjanjian ini dengan satuan Volt Ampere. Tegangan sesuai Pasal 3 ayat (1) Surat Perjanjian ini dengan satuan Volt (V). Ketentuan peneraan rele sesuai tabel dibawah ini : Pada arus Waktu Trip 1,05 x In Tidak trip sebelum 60 menit 1,20 x In Trip sebelum 20 menit 1,50 x In Trip sebelum 10 menit 4,00 x In Dikoordinasikan dengan pengaman hubung singkat (OCR) Untuk seting pelanggan I3 dan I4 peleburan baja, batasan seting disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku di lingkungan PIHAK PERTAMA. (6) Jika perangkat alat pengukur dan pembatas Meter Elektronik tersebut, karena sesuatu hal rusak dan/ atau hilang, maka PIHAK KEDUA diwajibkan mengganti perangkat Meter Elektronik tersebut dan untuk perhitungan energi yang tidak terukur yang digunakan PIHAK KEDUA selama Meter Elektronik tersebut rusak dan/ atau hilang berdasarkan pemakaian rata-rata disepakati oleh PARA PIHAK. (7) PIHAK KEDUA tidak diperbolehkan untuk melakukan sistem pasokan listrik secara Pararel dengan Captive Power / Generator Set milik PIHAK KEDUA kecuali PIHAK KEDUA menggunakan Tarif Layanan Premium Diamond dari PIHAK PERTAMA. PASAL 12 PENERAAN ALAT UKUR (1) Meter elektronik yang digunakan untuk mengukur pemakaian tenaga listrik PIHAK KEDUA harus ditera oleh Direktorat Metrologi dan disegel oleh PIHAK PERTAMA, dan biaya peneraan serta penyegelan dimaksud menjadi beban dan tanggung jawab PIHAK PERTAMA. (2) Apabila terjadi keragu raguan dari PIHAK KEDUA terhadap bekerjanya meter elektronik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini, maka PIHAK KEDUA dapat meminta kepada PIHAK PERTAMA untuk dilakukan peneraan kembali meter elektronik dimaksud dan biaya tersebut menjadi beban dan tanggung jawab PIHAK KEDUA. PASAL 13 KEAMANAN INSTALASI ATAU PERALATAN 9
10 PIHAK KEDUA wajib menjaga instalasi atau peralatan milik PIHAK PERTAMA yang terdapat di areal tanah dan atau bangunan milik PIHAK KEDUA agar instalasi atau peralatan dimaksud selalu dalam keadaan baik. PASAL 14 TARIF LISTRIK (1) Tarif listrik yang berlaku untuk jual beli tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) Perjanjian ini adalah Tarif B3 / TM; (2) Apabila terjadi perubahan mengenai tarif listrik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini, maka PIHAK KEDUA akan menyesuaikan tarif listrik dimaksud dengan tarif listrik yang baru. (3) Ketentuan mengenai tarif listrik yang baru sebagai perubahan dari tarif listrik terdahulu akan diberitahukan secara tertulis oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA dan berlaku sejak tanggal diberlakukannya tarif listrik yang baru tersebut. (4) Perubahan tarif sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) Pasal ini akan berlaku dengan sendirinya tanpa dibuatkan Amandemen dengan diberitahukannya secara tertulis oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA. Pemberitahuan dimaksud mengikat kedua belah pihak dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian ini. PASAL 15 PEMBAYARAN REKENING BULANAN DAN SANKSI KETERLAMBATAN (1) Rekening untuk pemakaian tenaga listrik PIHAK KEDUA akan diperhitungkan atas dasar jumlah pemakaian tenaga listrik selama 1 (satu) bulan sesuai dengan hasil pembacaan dan pencatatan meter sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 Perjanjian ini. (2) Pembayaran rekening listrik bulanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini untuk pemakaian tenaga listrik bulan sebelumnya akan dilakukan oleh PIHAK KEDUA antara tanggal 5 (lima) sampai dengan tanggal 20 (dua puluh) pada bulan berikutnya. (3) Perubahan waktu pembayaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal ini akan berlaku dengan sendirinya tanpa dibuatkan Amandemen/ Suplemen dengan diberitahukan secara tertulis oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA. Pemberitahuan dimaksud mengikat PARA PIHAK dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian dan Suplemen. (4) Apabila batas waktu terakhir sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal ini jatuh pada hari Minggu atau hari libur, maka pembayaran rekening listrik dimaksud harus dilakukan pada hari kerja sebelumnya. (5) Apabila ada permintaan dari PIHAK KEDUA, mengenai besarnya rekening listrik bulanan tersebut dalam ayat (1) Pasal ini akan dikirim melalui berupa Invoice oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA antara tanggal 5 sampai dengan tanggal 10 setiap bulan, kecuali apabila tanggal 10 jatuh pada hari Minggu atau hari libur, maka pemberitahuan dimaksud akan disampaikan pada hari kerja berikutnya. (6) Pembayaran rekening listrik bulanan tersebut dalam ayat (2) Pasal ini akan dilakukan oleh PIHAK KEDUA kepada PIHAK PERTAMA dengan cara membayar langsung 10
11 pada Bank-Bank yang tergabung dalam Sistem Pembayaran secara Online (PPOB), sebelum jatuh tempo pembayarannya; (7) a. Apabila PIHAK KEDUA tidak dapat melunasi rekening listrik bulanan sesuai dengan jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal ini, maka PIHAK KEDUA harus membayar biaya keterlambatan kepada PIHAK PERTAMA sebesar 3 (tiga) persen dari jumlah rekening bulanan yang bersangkutan untuk setiap bulan keterlambatan *). *) Yang dimaksud dengan setiap bulan keterlambatan adalah : Pembayaran rekening listrik bulanan yang dilakukan oleh PIHAK KEDUA setelah melewati batas waktu yang telah ditetapkan pada bulan yang bersangkutan. Untuk bulan keterlambatan berikutnya dihitung mulai tanggal 1 (satu) setiap bulan sampai dengan batas waktu terakhir untuk pembayaran rekening listrik bulanan yang bersangkutan dilunasi. b. PARA PIHAK akan menyesuaikan besarnya biaya keterlambatan dengan biaya keterlambatan yang baru yang ditetapkan oleh PIHAK PERTAMA. c. Perubahan biaya keterlambatan sebagaimana dimaksud pada huruf b. ayat ini, akan berlaku dengan sendirinya tanpa dibuatkan Amandemen dengan diberitahukannya secara tertulis oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA dan pemberitahuan tersebut mengikat PARA PIHAK dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian ini. (8) Apabila PIHAK KEDUA tidak dapat melunasi rekening listrik bulanan sampai dengan pukul WIB pada hari terakhir dari jangka waktu pelunasan pembayaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal ini, maka PIHAK PERTAMA akan memberitahukan secara tertulis kepada PIHAK KEDUA mengenai keterlambatan dimaksud dan PIHAK PERTAMA akan melakukan pemutusan sementara penyaluran tenaga listrik. (9) Pelaksanaan pemutusan sementara penyaluran tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam ayat (8) Pasal ini akan dilakukan oleh PIHAK PERTAMA terhitung sejak tanggal diterimanya pemberitahuan pemutusan sementara tersebut oleh PIHAK KEDUA. (10) Penyaluran kembali tenaga listrik yang telah diputus sementara sebagaimana dimaksud dalam ayat (9) Pasal ini akan dilakukan oleh PIHAK PERTAMA setelah rekening listrik yang terhutang berikut biaya keterlambatannya dibayar lunas oleh PIHAK KEDUA. (11) Apabila dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari kalender terhitung sejak tanggal surat pemberitahuan pemutusan sementara tersebut dalam ayat (10) Pasal ini, PIHAK KEDUA tidak dapat melunasi pembayaran rekening listrik bulanan yang terhutang berikut biaya keterlambatan dimaksud dalam ayat (7) Pasal ini, maka PIHAK PERTAMA berhak mengakhiri Perjanjian ini secara sepihak dengan melakukan pemutusan rampung berupa penghentian penyaluran tenaga listrik dengan mengambil sebagian atau seluruh instalasi listrik milik PIHAK PERTAMA yang ada dalam halaman atau bangunan milik PIHAK KEDUA. (12) Penyaluran kembali tenaga listrik yang telah diputus rampung sebagaimana dimaksud dalam ayat (11) Pasal ini akan dilaksanakan oleh PIHAK PERTAMA setelah PIHAK KEDUA menandatangani Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik baru dan 11
12 membayar Biaya Penyambungan serta melunasi semua rekening listrik yang masih terhutang berikut biaya keterlambatannya dan setelah melunasi Tagihan Susulan dan tunggakan lainnya bila ada. (13) PIHAK KEDUA bersedia membayar Rekening Minimum sesuai ketentuan tarif tenaga listrik yang berlaku di lingkungan PIHAK PERTAMA apabila karena suatu hal, kesiapan instalasi di bangunan PIHAK KEDUA belum terpenuhi dan/ atau pemakaian tenaga listrik kurang dari 40 (empat puluh) jam nyala. (14) Apabila pada lokasi PIHAK KEDUA terdapat lebih dari satu IDPEL, dan salah satu IDPEL mengalami Pemutusan Sementara / Bongkar Rampung karena menunggak pembayaran tagihan listrik atau Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL), maka IDPEL lainnya haru dalam keadaan diputus sementara oleh PIHAK PERTAMA. PASAL 16 PAJAK DAN ATAU PUNGUTAN Pajak-pajak dan atau pungutan yang ada sehubungan dengan jual beli tenaga listrik ini menjadi beban dan tanggung jawab PIHAK KEDUA. P A S A L 17 PENERTIBAN PEMAKAIAN TENAGA LISTRIK (1) PIHAK PERTAMA berhak untuk melakukan penertiban pemakaian tenaga listrik terhadap sambungan listrik yang terdapat pada persil dan/ atau bangunan PIHAK KEDUA sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Apabila terdapat temuan penertiban pemakaian tenaga listrik di bangunan PIHAK KEDUA, maka PIHAK PERTAMA akan mengenakan sanksi sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku PASAL 18 PERSIL DAN/ ATAU BANGUNAN (1) Apabila dikemudian hari ternyata pada persil dan/ atau bangunan PIHAK KEDUA pernah ada tunggakan pemakaian listrik dari pemilik lama dan/ atau tagihan susulan akibat Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL), maka PIHAK KEDUA bertanggung jawab menyelesaikannya; (2) PIHAK PERTAMA berhak menebang atau memotong tumbuhan-tumbuhan yang menghalangi jaringan milik PT PLN (Persero) yang berada di pekarangan atau halaman bangunan PIHAK KEDUA; (3) PIHAK KEDUA mengijinkan Kawat/ kabel milik PIHAK PERTAMA berupa jaringan tegangan rendah/ menengah melintas di atas atau di bawah persil dan/ atau bangunan dan/ atau halaman PIHAK KEDUA yang dibangun di atas atau di bawah tanah; 12
13 (4) PIHAK KEDUA mengijinkan PIHAK PERTAMA menempatkan Alat Pengukur dan Pembatas (APP) milik PIHAK PERTAMA sedemikian rupa, sehingga aman dan mudah diperiksa oleh PIHAK PERTAMA; PASAL 19 FORCE MAJEURE Yang dimaksud dengan sebab kahar/ force majeure tersebut dalam Pasal 3 ayat (6) huruf g adalah semua kejadian di luar kemampuan PIHAK PERTAMA untuk mengatasinya, termasuk didalamnya, tetapi tidak terbatas oleh karena adanya peraturan Pemerintah baik Pusat maupun Daerah, atau perintah dari Militer atau Polisi, kerusuhan, huru hara, halilintar, banjir, musim kemarau yang panjang, gangguan gangguan pada peralatan listrik PIHAK PERTAMA yang dapat mengakibatkan gangguan pada kontinuitas penyaluran tenaga listrik tersebut dalam Pasal 3 ayat (1) Perjanjian ini. PASAL 20 HAK PREFERENS ( ISTIMEWA ) (1) Apabila dikemudian hari PIHAK KEDUA dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, maka PIHAK PERTAMA mempunyai hak preferens (hak istimewa) atas tunggakan tagihan rekening listrik dan/ atau tagihan susulan yang belum dilunasi oleh PIHAK KEDUA sesuai dengan ketentuan yang berlaku; (2) PIHAK KEDUA akan menempatkan kedudukan PIHAK PERTAMA sebagai Kreditur Preferens sehingga mengakibatkan tunggakan tagihan rekening listrik/ tagihan susulan harus didahulukan untuk dibayar oleh PIHAK KEDUA yang telah dinyatakan pailit. PASAL 21 PENGAKHIRAN PERJANJIAN (1) Apabila PIHAK KEDUA akan mengakhiri Perjanjian ini, maka PIHAK KEDUA harus memberitahukan terlebih dahulu secara tertulis kepada PIHAK PERTAMA, sekurang kurangnya 2 (dua) bulan sebelum tanggal yang diusulkan untuk pengakhiran dimaksud. (2) Apabila salah satu PIHAK melakukan pemutusan perjanjian, PARA PIHAK sepakat untuk tidak memberlakukan ketentuan Pasal 1266 Kitab Undang Undang Hukum Perdata. PASAL 22 PENYELESAIAN PERSELISIHAN 13
14 (1) Apabila terjadi perselisihan pendapat dalam pelaksanaan Perjanjian ini, maka PARA PIHAK akan menyelesaikan dengan cara musyawarah. (2) Apabila penyelesaian perselisihan dengan cara musyawarah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini tidak tercapai, PARA PIHAK akan menyerahkan penyelesaiannya melalui Pengadilan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. PASAL 23 PERUBAHAN PERUBAHAN (1) Setiap perubahan ketentuan Pasal atau Pasal-pasal Surat Perjanjian ini kecuali untuk perubahan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (4) dan atau Pasal 15 ayat (3) Perjanjian ini setelah disepakati dibuat dalam suatu Amandemen/ Suplemen yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian ini. (2) Usul perubahan ketentuan Pasal atau Pasal pasal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini harus diajukan secara tertulis oleh PIHAK yang berkepentingan kepada pihak yang lainnya selambat lambatnya dalam jangka waktu 2 (dua) bulan sebelum saat perubahan yang diusulkan. PASAL 24 BERLAKUNYA PERJANJIAN Surat Perjanjian ini berlaku sejak tanggal ditandatangani untuk waktu yang tidak terbatas dan dapat diakhiri oleh masing-masing PIHAK dengan memperhatikan ketentuan untuk pengakhiran dimaksud. PASAL 25 P E N U T U P Perjanjian ini dibuat dalam 2 (dua) rangkap, yang masing masing mempunyai kekuatan hukum yang sama, 1 (satu) rangkap untuk PIHAK PERTAMA dan 1 (satu) rangkap untuk PIHAK KEDUA. PIHAK KEDUA PIHAK PERTAMA Meterai 6000 Meterai 6000 LUCKY BUDIMAN IGNATIUS RAINER JUSUP HUDIHARTO Manajer 14
15 15
Tentang JUAL BELI TENAGA LISTRIK. Antara. PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI JAKARTA RAYA DAN TANGERANG Dan PT ALMARON PERKASA
S U R A T P E R J A N J I A N Tentang JUAL BELI TENAGA LISTRIK Antara PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI JAKARTA RAYA DAN TANGERANG Dan PT ALMARON PERKASA Nomor PIHAK PERTAMA : Nomor PIHAK KEDUA : Yang bertanda
- 3 - BAB I KETENTUAN UMUM
- 2 - Nomor 23 Tahun 2014, perlu menetapkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang Tingkat Mutu Pelayanan dan Biaya yang Terkait dengan Penyaluran Tenaga Listrik oleh PT Perusahaan Listrik
2 Menetapkan: 2. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 133, Tambahan Lembar
No.1790, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN ESDM. Tingkat Mutu. Pelayanan. Biaya. Penyaluran. Tenaga Listrik. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN
2017, No Nomor 23 Tahun 2014, perlu menetapkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang Tingkat Mutu Pelayanan dan Biaya yang T
No.485, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-ESDM. Penyaluran Tenaga Listrik PT. PLN. Tingkat Mutu Pelayanan dan Biaya. Pencabutan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA
KETENTUAN UMUM PELANGGAN KECIL PASAL 1 DEFINISI
KETENTUAN UMUM PELANGGAN KECIL PASAL 1 DEFINISI a. "Biaya Pengaliran Kembali" adalah biaya yang harus dibayar oleh Pelanggan dalam rangka pengaliran Gas kembali sebagai akibat adanya penutupan pengaliran
2016, No Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 33 Tahun 2014 ten
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 417, 2016 KEMEN-ESDM. PT. PLN. Penyaluran Tenaga Listrik. Pelayanan. Biaya. Perubahan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 08
PT.PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA (PLN)
PT.PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA (PLN) PELAYANAN Pasal 1 (Ketentuan Umum) 1. Listrik Prabayar (LPB) adalah Produk layanan pemakaian tenaga listrik yang menggunakan meter elektronik prabayar dengan cara pembayaran
KETENTUAN UMUM PELANGGAN INDUSTRI JASA DAN KOMERSIAL / INDUSTRI MANUFAKTUR DAN PEMBANGKITAN LISTRIK *) PASAL 1 DEFINISI
KETENTUAN UMUM PELANGGAN INDUSTRI JASA DAN KOMERSIAL / INDUSTRI MANUFAKTUR DAN PEMBANGKITAN LISTRIK *) PASAL 1 DEFINISI Dalam ketentuan umum ini yang dimaksud dengan: Untuk Pelanggan IJK 1 atau IJK 2 atau
PERJANJIAN PINJAMAN. (Pemberi Pinjaman dan Penerima Pinjaman selanjutnya secara bersama disebut sebagai Para Pihak )
PERJANJIAN PINJAMAN Perjanjian pinjaman ini ( Perjanjian ) dibuat pada hari dan tanggal yang disebutkan dalam Lampiran I Perjanjian ini, oleh dan antara: 1. Koperasi Sahabat Sejahtera Anda, suatu koperasi
SURAT PERJANJIAN SEWA TANAH
SURAT PERJANJIAN SEWA TANAH SURAT PERJANJIAN SEWA TANAH Saya yang bertanda tangan di bawah ini: 1. Nama :.. Tempat, Tgl Lahir :.. Pekerjaan :.. Alamat :.... Nomor KTP/SIM :.. Dalam hal ini bertindak atas
CONTOH SURAT PERJANJIAN SEWA MENYEWA TANAH
CONTOH SURAT PERJANJIAN SEWA MENYEWA TANAH Yang bertanda tangan di bawah ini: 1. Nama : ---------------------------------------------------- Umur : ----------------------------------------------------
Perjanjian Pendaftaran Obligasi Di KSEI Nomor: SP- /PO/KSEI/mmyy
Perjanjian Pendaftaran Obligasi Di KSEI Nomor: SP- /PO/KSEI/mmyy Perjanjian ini dibuat pada hari ini, , tanggal , bulan tahun (dd-mm-yyyy), antara: PT Kustodian Sentral Efek
PERATURAN DIREKSI PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM TIRTA SATRIA KABUPATEN BANYUMAS. NOMOR : 3 Tahun 2016 TENTANG
PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM TIRTA SATRIA KABUPATEN BANYUMAS Jl. Prof. Dr. Suharso No. 52 PURWOKERTO 53114 Telp. 0281-632324 Fax. 0281-641654 Website : www.pdambanyumas.com E-Mail : [email protected]
Perjanjian Agen Pembayaran Nomor: SP- /AP/KSEI/mmyy
Perjanjian Agen Pembayaran Nomor: SP- /AP/KSEI/mmyy Perjanjian ini dibuat pada hari ini, , tanggal , bulan tahun (dd-mm-yyyy), antara: PT Kustodian Sentral Efek Indonesia,
CONTOH SURAT PERJANJIAN SEWA BELI TANAH
CONTOH SURAT PERJANJIAN SEWA BELI TANAH Yang bertanda tangan di bawah ini: 1. ( n a m a ), ( u m u r ), ( pekerjaan ), ( alamat lengkap ), ( nomer KTP / SIM ), dalam hal ini bertindak atas nama diri pribadi
CONTOH SURAT PERJANJIAN PINJAM MEMINJAM RUMAH
CONTOH SURAT PERJANJIAN PINJAM MEMINJAM RUMAH Yang bertanda tangan di bawah ini: 1. Nama : ---------------------------------------------------- Umur : ----------------------------------------------------
TIM PENGELOLA KEGIATAN DESA KECAMATAN... Alamat : UNDANGAN PENGADAAN BARANG/JASA
LAMPIRAN PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 39 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PENGADAAN BARANG/JASA DI DESA A. Contoh Format Surat Undangan Pengadaan Barang/Jasa dan Contoh Format Rencana Anggaran Biaya
KETENTUAN UMUM PELANGGAN INDUSTRI JASA DAN KOMERSIAL / INDUSTRI MANUFAKTUR DAN PEMBANGKITAN LISTRIK *) Pasal 1 DEFINISI
KETENTUAN UMUM PELANGGAN INDUSTRI JASA DAN KOMERSIAL / INDUSTRI MANUFAKTUR DAN PEMBANGKITAN LISTRIK *) Pasal 1 DEFINISI Dalam Ketentuan Umum ini yang dimaksud dengan: Untuk Pelanggan IJK 3 atau IMP 3 (1)
SURAT PERJANJIAN SEWA MENYEWA KIOS
SURAT PERJANJIAN SEWA MENYEWA KIOS 0 SURAT PERJANJIAN SEWA MENYEWA RUKO No. B03/III/17 Pada hari ini, Jum at Tanggal tiga Bulan Maret tahun Dua ribu tujuh belas ( 3Maret-2017 ) bertempat di. Telah terjadi
KETENTUAN-KETENTUAN DAN SYARAT-SYARAT PPJB
KETENTUAN-KETENTUAN DAN SYARAT-SYARAT PPJB Form.# Tgl. R Halaman 1 dari 8 Pasal 1 Letak 1.1. Pengembang dengan ini berjanji dan mengikatkan dirinya sekarang dan untuk kemudian pada waktunya menjual dan
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 118/PMK.03/2016 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 118/PMK.03/2016 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK
- 3 - BAB I KETENTUAN UMUM
- 2-2. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1994 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum (Perum) Listrik Negara Menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor
, (tempat & tanggal)
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 5/28/DPM tanggal 17 November 2003 Lampiran 1 CONTOH PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI ANGGOTA PIPU ============================================================= K
PERJANJIAN SEWA ANTARA PT MNC BANK INTERNASIONAL Tbk DENGAN DEWAN PIMPINAN PUSAT PARTAI PERINDO. 008/MB PP/Sewa 1/2017
PERJANJIAN SEWA ANTARA PT MNC BANK INTERNASIONAL Tbk DENGAN DEWAN PIMPINAN PUSAT PARTAI PERINDO Nomor: 008/MB PP/Sewa 1/2017 Pada hari ini, Senin, tanggal tiga puluh, bulan Januari, tahun Dua ribu tujuh
TIM PENGELOLA KEGIATAN KECAMATAN
LAMPIRAN : PERATURAN BUPATI TANAH LAUT NOMOR 12 TAHUN 2015 TANGGAL 12 JANUARI 2015 TIM PENGELOLA KEGIATAN DESA KECAMATAN Alamat : Jalan Kode Pos. RENCANA ANGGARAN BIAYA Kegiatan: Pekerjaan Tahun Anggaran
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 16, 1999 BURSA BERJANGKA. PERDAGANGAN. KOMODITI. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi. BAPPEBTI. (Penjelasan
CONTOH SURAT PERJANJIAN KREDIT
CONTOH SURAT PERJANJIAN KREDIT PERJANJIAN KREDIT Yang bertanda tangan di bawah ini : I. ------------------------------------- dalam hal ini bertindak dalam kedudukan selaku ( ------ jabatan ------- ) dari
1 KETENTUAN MENDAPATKAN FASILITAS PINJAMAN
PERJANJIAN PINJAMAN Perjanjian pinjaman ini ( Perjanjian ) dibuat pada hari [masukan hari penandatanganan] tanggal [masukkan tanggal penandantangan], oleh dan antara: 1. Koperasi Mapan Indonesia, suatu
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Republik
CONTOH SURAT PERJANJIAN SEWA LOKASI PEMASANGAN PAPAN IKLAN
CONTOH SURAT PERJANJIAN SEWA LOKASI PEMASANGAN PAPAN IKLAN Pada hari ini ( ------------- ), tanggal [( ----- ) ( ------ tanggal dalam huruf ------ )] bulan ( ------------------- ) tahun [( ------ ) ( ------
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN KOMODITI BERJANGKA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN KOMODITI BERJANGKA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa dalam rangka pelaksanaan Undang-undang Nomor
2017, No (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 34); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2012 tentang Kegiatan Usaha Penyediaan
No.40, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-ESDM. Jaringan Tenaga Listrik PT. PLN. Operasi Paralel Pembangkit Tenaga Listrik. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAVA MINERAL REPUBLIK INDONESIA
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAVA MINERAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 09 TAHUN 2011 TENTANG KETENTUAN PELAKSANAAN TARIF TENAGA LlSTRIK YANG DISEDIAKAN OlEH PERUSAHAAN
PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUSI BANYUASIN NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MUSI BANYUASIN
PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUSI BANYUASIN NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MUSI BANYUASIN Menimbang : a. bahwa dengan telah ditetapkan Undang-Undang
BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN. Alur Pengajuan Tambah Daya Listrik
digilib.uns.ac.id 44 BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengamatan Berdasarkan hasil pengamatan penulis selama melaksanakan magang pada tanggal 05 Januari sampai dengan 06 Februari 2015 di
SYARAT DAN KETENTUAN DANA BANTUAN SAHABAT
SYARAT DAN KETENTUAN DANA BANTUAN SAHABAT Syarat dan Ketentuan Dana Bantuan Sahabat ini berlaku bagi Nasabah Dana Bantuan Sahabat yang sebelumnya adalah Nasabah aktif ANZ Personal Loan pada saat produk
Perda No.4/2003. Diubah dg
LEMBARAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 4 TAHUN 2001 SERI A NOMOR 4 PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 12 TAHUN 2001 T E N T A N G PAJAK PENERANGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SEMARANG,
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL. Tarif. Tenaga Listrik. PT. PLN.
No.314, 2010 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL. Tarif. Tenaga Listrik. PT. PLN. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MUARO JAMBI NOMOR : 07 TAHUN 2012 TLD NO : 07
1 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MUARO JAMBI NOMOR : 07 TAHUN 2012 TLD NO : 07 PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUARO JAMBI NOMOR 07 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
KEPUTUSAN DIREKSI PT KLIRING PENJAMINAN EFEK INDONESIA
KEPUTUSAN DIREKSI PT KLIRING PENJAMINAN EFEK INDONESIA Nomor : Kep-005/DIR/KPEI/0505 Perihal : Perubahan Peraturan Kliring dan Penjaminan Penyelesaian Transaksi Kontrak Berjangka Tgl. Diterbitkan : 5 Mei
SURAT PERJANJIAN GADAI TNAH
SURAT PERJANJIAN GADAI TNAH Yang bertanda tangan di bawah ini: 1. Nama : ---------------------------------------------------- Umur : ---------------------------------------------------- Pekerjaan : ----------------------------------------------------
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka pelaksanaan Undang-undang Nomor
Bagian I. Persyaratan Umum
RENCANAA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) PT. PEMBANGKITAN JAWA BALI UNIT PEMBANGKITAN MUARA KARANG JL. PLUIT UTARA NO 2A JAKARTA NAMA PENGADAAN NOMOR RKS NOMOR PP TANGGAL : DIGITAL INDICATING CONTROLLER
DATA PENDUKUNG PT. Perusahaan Listrik Negara
DATA PENDUKUNG PT. Perusahaan Listrik Negara PELAYANAN Pasal 1 (Ketentuan Umum) 1. Listrik Prabayar (LPB) adalah Produk layanan pemakaian tenaga listrik yang menggunakan meter elektronik prabayar dengan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Bahwa dalam rangka pelaksanaan Undang-undang Nomor
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a.
Tanya Jawab Seputar Tarif Tenaga Listrik 2015
Tanya Jawab Seputar Tarif Tenaga Listrik 2015 Mengacu Permen ESDM No. 09 Tahun 2015, Permen ESDM No: 31 Tahun 2014 & Permen ESDM No. 33 Tahun 2014 P T P L N ( P e r s e r o ) J l. T r u n o j o y o B l
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG NOMOR 13 TAHUN 2003 SERI A PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG NOMOR 04 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI PANDEGLANG,
Perjanjian sewa menyewa TANAH DAN BANGUNAN ( RUMAH ) { }
Perjanjian sewa menyewa TANAH DAN BANGUNAN ( RUMAH ) {--------------------------------------------} [, ] PERJANJIAN SEWA MENYEWA TANAH DAN BANGUNAN ( RUMAH ) Perjanjian Sewa Menyewa Tanah dan Bangunan
2015, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 96, Tambahan Lemba
No.963, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA ESDM. Tenaga Listrik. 10 MW. PLTA. Pembelian. Pencabutan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2015 TENTANG PEMBELIAN
PERJANJIAN TENTANG PROGRAM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PRAJABATAN TAHUN DAN IKATAN KERJA TAHUN
PERJANJIAN TENTANG PROGRAM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PRAJABATAN TAHUN 2014 2015 DAN IKATAN KERJA TAHUN 2015-2020 Nomor : /330//2014 Perjanjian ini dibuat di , pada hari, tanggal.bulan. tahun
PEMERINTAH KOTA SURABAYA
PEMERINTAH KOTA SURABAYA RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN TENTANG RETRIBUSI PEMERIKSAAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang a. bahwa
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.
LEMBARAN DAERAH KOTA TARAKAN TAHUN 2010 NOMOR 1 PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KOTA TARAKAN TAHUN 2010 NOMOR 1 PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG PENETAPAN TARIF TENAGA LISIK UNTUK KONSUMEN YANG DISEDIAKAN OLEH PT. PELAYANAN LISIK NASIONAL TARAKAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN KOMODITI BERJANGKA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 9 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN KOMODITI BERJANGKA PRESIDEN, Menimbang : bahwa dalam rangka pelaksanaan Undang-undang Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan
Syarat dan Ketentuan Umum Fasilitas Commonwealth KTA PT Bank Commonwealth
Syarat dan Ketentuan Umum Fasilitas Commonwealth KTA PT Bank Commonwealth Syarat dan Ketentuan Umum untuk Commonwealth KTA PT Bank Commonwealth 1. Definisi Syarat dan Ketentuan Umum ANGSURAN adalah suatu
PERJANJIAN KERJASAMA ANTARA SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DAN. PT BANK MANDIRI (PERSERO) Tbk TENTANG LAYANAN FASILITAS KREDIT
mandiri PERJANJIAN KERJASAMA ANTARA SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DAN PT BANK MANDIRI (PERSERO) Tbk TENTANG LAYANAN FASILITAS KREDIT NOMOR : PJ. 02 TAHUN 2017 NOMOR : DIR.PKS/021/2016 Pada
TENTANG BELANJA DANA HIBAH PENYELENGGARAAN PEMILIHAN BUPATI DAN WAKIL BUPATI KABUPATEN TULANG BAWANG BARAT TAHUN 2017
NASKAH PERJANJIAN HIBAH DAERAH ANTARA PEMERINTAH KABUPATEN TULANG BAWANG BARAT DENGAN PANITIA PENGAWAS PEMILIHAN UMUM KABUPATEN TULANG BAWANG BARAT NOMOR : 180/ /1.02/NPHD/HK/TUBABA/2016 NOMOR : 001/BAWASLU.LA-10/VI/2016
PERJANJIAN KERJASAMA NOMOR
PERJANJIAN KERJASAMA NOMOR ANTARA PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN SEKRETARIAT DITJEN DAN DIREKTORAT INOVAS INDUSTRI DITJEN PENGUATAN INOVASI DENGAN... TENTANG PEMBERIAN BANTUAN PEMERINTAH LAINNYA YANG MEMILIKI
PP 9/1999, PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN KOMODITI BERJANGKA
Copyright (C) 2000 BPHN PP 9/1999, PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN KOMODITI BERJANGKA *36161 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 9 TAHUN 1999 (9/1999) TENTANG PENYELENGGARAAN PERDAGANGAN KOMODITI
BAB IV ANALISIS 4.1 Pencatatan Piutang Pelanggan PT. PLN (Persero) UPJ Ujungberung
BAB IV ANALISIS 4.1 Pencatatan Piutang Pelanggan PT. PLN (Persero) UPJ Ujungberung Piutang PT. PLN (Persero) ada dalam lampiran Keputusan Direksi PT. PLN (Persero) No. 348.K/010/DIR/2007, yaitu : Piutang
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR : 17 TAHUN 2009 SERI B PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR : 17 TAHUN 2009 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA KUASA BUPATI PURWAKARTA,
SYARAT DAN KETENTUAN DANA BANTUAN SAHABAT
Living, Breathing Asia SYARAT DAN KETENTUAN DANA BANTUAN SAHABAT Syarat dan Ketentuan Dana Bantuan Sahabat ini berlaku bagi Nasabah yang permohonan Dana Bantuan Sahabat telah disetujui. Harap membaca Syarat
PERJANJIAN KERJASAMA ANTARA BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DAN. PT BANK MANDIRI (PERSERO) Tbk TENTANG
PERJANJIAN KERJASAMA ANTARA BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DAN PT BANK MANDIRI (PERSERO) Tbk TENTANG FASILITAS PEMBAYARAN PENGHASILAN PEGAWAI NOMOR: HK.201/1/4 BPSDMP-17
KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN (UU KUP)
SUSUNAN DALAM SATU NASKAH DARI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI Menimbang: DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a.
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN
Memperhatikan: berbagai saran dan pendapat dari unsur dan instansi terkait dalam rapat-rapat koordinasi.
KEPUTUSAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 09/KPTS/M/1995 TENTANG PEDOMAN PENGIKATAN JUAL BELI RUMAH MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT, Menimbang : a. bahwa jual beli rumah yang belum selesai dibangun
PERJANJIAN PINJAM MEMINJAM UANG DI PERUSAHAAN
49 PERJANJIAN PINJAM MEMINJAM UANG DI PERUSAHAAN Pada hari ini, Senin tanggal empat bulan satu tahun dua ribu sepuluh (04-01-2010), bertempat di Jakarta, kami yang bertandatangan di bawah ini: 1. Amin,
PERJANJIAN KERJA SAMA ANTARA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN PT POS INDONESIA (PERSERO)
(»0$ HI&ONISIA PERJANJIAN KERJA SAMA ANTARA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN PT POS INDONESIA (PERSERO) Nomor: B/10/11/2016 Nomor: PKS 40/Regional-IV/lll/10/A/0216 TENTANG JASA PENGIRIMAN SURAT,
PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BIAK NUMFOR NOMOR 6 TAHUN 1998 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN
PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BIAK NUMFOR NOMOR 6 TAHUN 1998 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEPALA DAERAH TINGKAT II BIAK NUMFOR Menimbang Mengingat
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a.
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.131, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA EKONOMI. Pajak. Pengampunan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5899) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2016
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN
PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR : 09 TAHUN 2006 PAJAK PENERANGAN JALAN
PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR : 09 TAHUN 2006 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SAMARINDA, Menimbang : a. bahwa pajak daerah dan retribusi daerah merupakan
BUPATI BANGKA TENGAH
BUPATI BANGKA TENGAH SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG USAHA KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA TENGAH, Menimbang : bahwa untuk
H. Kontrak Pengadaan Jasa Konsultansi Pengawasan dengan nilai di atas Rp ,- (lima puluh juta rupiah)
408 H. Kontrak Pengadaan Jasa Konsultansi Pengawasan dengan nilai di atas Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) KONTRAK PENGADAAN JASA KONSULTANSI PENGAWASAN Nomor :.. Nama Kegiatan :.. Nama Pekerjaan
NOMOR: j6/pks-kab-mkw/v/20l4
BAOAN INFORMASI GEOSPASIAL PERJANJIAN KERJA SAMA ANTARA PEMERINTAH KABUPATEN MANOKWARI DENGAN BADAN INFORMASI GEOSPASIAL TENTANG PEMETAAN WILAYAH CALON DAERAH OTONOM BARU KABUPATEN MANOKWARI BARAT NOMOR:
Draft LOGO PIHAK KEDUA KONTRAK KERJASAMA. Antara
Draft LOGO PIHAK KEDUA KONTRAK KERJASAMA Antara PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN (PPK) PADA DIREKTORAT LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN - DIREKTORAT JENDERAL KELEMBAGAAN ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN
SYARAT DAN KETENTUAN FASILITAS DANA BANTUAN SAHABAT
SYARAT DAN KETENTUAN FASILITAS DANA BANTUAN SAHABAT Syarat dan Ketentuan Fasilitas Dana Bantuan Sahabat ( Syarat dan Ketentuan Umum ) ini berlaku bagi Nasabah yang permohonan Fasilitas Dana Bantuan Sahabat
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace diubah: UU 9-1994 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 49, 1983 (ADMINISTRASI. FINEK. PAJAK. Ekonomi. Uang. Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara
PT PLN (PERSERO) KEPUTUSAN DIREKSI PT PLN (PERSERO) NOMOR : 500.K/DIR/2013 TENTANG
PT PLN (PERSERO) KEPUTUSAN DIREKSI PT PLN (PERSERO) NOMOR : 500.K/DIR/2013 TENTANG PENYERAHAN SEBAGIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN KEPADA PERUSAHAAN LAIN DI LINGKUNGAN PT PLN (PERSERO) DIREKSI PT PLN (PERSERO)
1. IMELDA, Mengurus Rumah Tangga, beralamat di Jalan Proklamasi No. 50, RT/RW: 001/001,
PERJANJIAN SEWA MENYEWA Perjanjian Sewa Menyewa (selanjutnya disebut "Perjanjian"), dibuat dan diadakan di Jakarta pada hari ini, Jumat tanggal Dua Puluh Bulan Nopember Tahun Dua Rlbu Lima Belas (20-11-2015)
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN
-1- RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
-1- DRAFT RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan nasional
RESUME SANKSI PERPAJAKAN SANKSI BUNGA
RESUME SANKSI PERPAJAKAN SANKSI BUNGA 1. Pembayaran atau Penyetoran Pajak yang Terutang berdasarkan Surat Pemberitahuan Masa yang Dilakukan Setelah Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran atau Penyetoran Pajak
PEMERINTAH KOTA SURABAYA
SALINAN PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG RETRIBUSI IZIN GANGGUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang : a. bahwa berdasarkan
KETENTUAN BERLANGGANAN
KETENTUAN BERLANGGANAN Pasal 1 Definisi 1. Ketentuan Berlangganan adalah ketentuan yang wajib dipatuhi baik oleh Mitra maupun D&K sehubungan dengan pelayanan PEMBUKAAN AKSES ONLINE PAYMENT POINT berdasarkan
PENUNJUK UNDANG-UNDANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN
PENUNJUK UNDANG-UNDANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN 2008 TATANUSA 1 BULAN ~ Direktur Jenderal Pajak harus menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar Apabila setelah melampaui jangka waktu
BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 22 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PEMUNGUTAN PAJAK AIR TANAH
1 BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 22 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PEMUNGUTAN PAJAK TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan
CONTOH SURAT PERJANJIAN SEWA MENYEWA RUMAH
CONTOH SURAT PERJANJIAN SEWA MENYEWA RUMAH Yang bertanda tangan di bawah ini: 1. Nama : ---------------------------------------------------- Umur : ----------------------------------------------------
