BAB II LANDASAN TEORI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II LANDASAN TEORI"

Transkripsi

1 BAB II LANDASAN TEORI A. Gambaran Umum Merjer dan Akuisisi 1. Pengertian Merjer dan Akuisisi Merjer merupakan penggabungan usaha dengan cara suatu perusahaan mengambil alih satu atau lebih perusahaan lainnya. Perusahaan yang diambil alih tersebut akan dibubarkan atau dilikuidasi kemudian, sedangkan perusahaan yang mengambil alih tetap berdiri sebagai badan usaha dan melanjutkan kegiatan operasionalnya (Foster, 1986). Berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 22 dinyatakan bahwa penggabungan usaha dapat mengakibatkan terjadinya legal merger, dengan cara: Aktiva dan kewajiban suatu perusahaan dialihkan ke perusahaan lain dan perusahaan yang melakukan pengalihan (yang diambil alih) dibubarkan, atau Aktiva dan kewajiban dua atau lebih perusahaan dialihkan ke perusahaan baru dan kedua perusahaan yang melakukan pengalihan tersebut dibubarkan. Menurut Foster (1986), akuisisi merupakan usaha membeli perusahaan lain dengan cara membeli saham atau aktiva perusahaan lain. Sedangkan definisi akuisisi dalam PSAK No.22 adalah penggabungan usaha dimana salah satu perusahaan, yaitu pengakuisisi memperoleh kendali atas aktiva netto dan operasi perusahaan yang diakuisisi, dengan memberikan aktiva netto tertentu, mengakui 6

2 7 adanya suatu kewajiban dan mengeluarkan saham. Dengan demikian, perusahaan yang melakukan akuisisi berharap dapat menciptakan keuntungan dengan membeli perusahaan lain dengan kepemilikkan lebih dari 50% dan menjalankan kegiatan perusahaan tersebut. Akusisi dapat dibedakan menjadi akuisisi saham dan akuisisi aktiva. Akuisisi saham merupakan pengambilalihan atau pembelian saham suatu perusahaan dengan menggunakan kas, saham atau sekuritas lain dan biasanya melalui tahap tender offer oleh perusahaan penawar (bidder company) kepada para pemegang saham perusahaan target. Apabila pemegang saham perusahaan target menyetujuinya maka transaksi akan terjadi dan dalam hal ini tidak lagi diperlukan persetujuan pihak manajemen. Oleh karena itu, akuisisi saham sering disebut sebagai pengambilalihan yang tidak bersahabat (hostile takeover). Dalam mempertahankan posisinya agar tidak terjadi hostile takeover, perusahaan target biasanya melakukan strategi pertahanan Pac-man Defense, yang berarti melakukan counter tender offer terhadap perusahaan pengakuisisi (melakukan akuisisi balik). Akusisi aktiva dapat dilakukan dengan cara perusahaan pengakuisisi membekukan sebagian aktiva perusahaan target. Dalam hal ini, akuisisi aktiva membutuhkan persetujuan pemegang saham perusahaan target dalam proses pengambilalihan perusahaan tersebut. Berdasarkan definisi yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa akuisisi adalah pengambilalihan suatu perusahaan dengan tujuan mengendalikan perusahaan target baik melalui penguasaaan saham maupun aktiva perusahaan target.

3 8 2. Jenis jenis Merjer dan Akuisisi Berikut ini adalah jenis jenis merjer dan akuisisi yang dilakukan oleh perusahaan, yaitu: Merjer dan Akuisisi Vertikal, merupakan penggabungan dua atau lebih perusahaan yang memiliki tahapan tahapan produksi yang berbeda dengan keterkaitan masukan (input) atau keluaran (ouput) dalam proses produksi suatu industri. Biasanya penggabungan usaha ini lebih bersifat dari hulu ke hilir. Merjer dan Akuisisi Horisontal, merupakan penggabungan dua atau lebih perusahaan yang memiliki kegiatan usaha sejenis dengan tujuan meningkatkan skala ekonomi. Biasanya tingkat keberhasilan merjer dan akuisisi horisontal lebih besar daripada merjer dan akusisi vertikal karena adanya optimalisasi sinergi dari perusahaan perusahaan yang bergabung tersebut. Tujuan utamanya adalah meningkatkan aktiva maupun pangsa pasar, memasuki segmen pasar baru, menekan biaya dan mengurangi persaingan. Merjer dan Akuisisi Konglomerat, merupakan penggabungan beberapa perusahaan yang tidak berkaitan kegiatan usahanya. Tujuan utamanya adalah agar perusahaan yang diakuisisi dapat meningkatkan stabilitas dan keseimbangan secara keseluruhan dalam portofolio total perusahaan, terutama dalam memanfaatkan dan menghasilkan sumber daya dengan lebih baik. Merjer dan Akuisisi Konsentrik, merupakan penggabungan perusahaan yang sejenis atau mempunyai kesamaan dalam pemanfaatan teknologi mendasar, proses produksi maupun pangsa pasar. Bagi perusahaan yang mengakuisisi,

4 9 akuisisi ini bertujuan untuk memperluas lini produk, peningkatan pangsa pasar dan pemanfaatan teknologi bersama. 3. Motivasi Perusahaan Melakukan Merjer dan Akuisisi Drebin (1982) mengemukakan beberapa tujuan yang dapat dicapai melalui penggabungan usaha, yaitu: Perolehan daerah pemasaran yang lebih luas dan volume penjualan yang lebih besar. Perolehan atau pengembangan organisasi perusahaan yang lebih kuat dan produksi yang lebih baik serta pengelolaan perusahaan yang lebih baik. Penurunan biaya melalui penghematan dan efisiensi pada skala operasi yang lebih besar. Peningkatan pengendalian pasar dan perbaikan posisi bersaing. Diversifikasi produk Perbaikan posisi sehubungan dengan pengadaan bahan baku. Peningkatan dengan titik berat pada modal untuk pertumbuhan sebagai biaya yang rendah atas pinjaman. Memperoleh keuntungan atas pajak penghasilan. Sedangkan Aliamin (1993) dalam penelitiannya terhadap perusahaan perusahaan yang melakukan merjer dan akuisisi di Bursa Efek Jakarta, mengemukakan beberapa motivasi dasar yang mendorong terjadinya merjer dan akuisisi pada perusahaan publik di Indonesia, antara lain:

5 10 Mengurangi persaingan antar perusahaan yang kegiatan usahanya sama atau sejenis ataupun keinginan untuk memonopoli salah satu bidang usaha. Meningkatkan skala ekonomi. Memperluas pasar. Mengamankan bahan baku. Menghemat pajak. Sedangkan motivasi pemanfaatan hutang dan meningkatkan laba menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Sudarsanam (1999) mengemukakan motivasi perusahaan yang melakukan merjer dan akuisisi adalah sebagai berikut: Memaksimalkan kekayaan pemegang saham. Memperbesar ukuran perusahaan karena penghasilan, bonus, status dan kekuasaaan mereka merupakan suatu fungsi dari ukuran perusahaan (Sindrom Empire Building). Menyusun kemampuan manajerial yang saat ini belum digunakan secara maksimal (motivasi pemenuhan diri). Mengurangi resiko dan meminimalkan tekanan biaya finansial dan kebangkrutan (motivasi keamanan pekerjaan). Menghindari pengambilalihan yaitu dengan melakukan counter tender offer terhadap perusahaan pengakuisisi (melakukan akuisisi balik).

6 11 B. Pengaruh Informasi Publik Terhadap Volume Perdagangan Saham Fungsi utama pasar modal adalah untuk memobilisasi dana yang bersumber dari masyarakat untuk diinvestasikan ke berbagai sektor industri. Dalam hal ini, para investor akan bersedia menyalurkan dananya apabila memiliki perasaan aman akan investasinya. Salah satu cara yang dituntut oleh para investor adalah informasi yang jelas, wajar dan tepat waktu sebagai dasar pengambilan keputusan investasinya (Usman dan Barus, 1989). Informasi akan dianggap informatif dan berguna apabila informasi tersebut dapat mengubah keyakinan (belief) sehingga informasi baru ini akan membentuk suatu kepercayaan baru bagi para investor. Kepercayaan baru ini akan mengubah harga melalui perubahan demand dan supply surat berharga (Hastuti dan Sudibyo, 1998). Penelitian eksploratif yang dilakukan Pagalung (1993) menunjukkan beberapa informasi penting yang diserap para investor di Bursa Efek Jakarta sebagai dasar pengambilan keputusan investasinya. Hasil penelitian tersebut disajikan dalam tabel 2.1.

7 12 Sumber Informasi Responden % Laporan Keuangan Sesama broker (stock broker) Surat kabar Pusat data bisnis (PDBI, dll) Majalah ekonomi dan keuangan Investor / pemesanan saham Lain-lain (tips, isu) Sumber: Pagalung (1993) ,86 14,29 12,86 7,14 5,71 4,28 2,86 Tabel 2.1 Sumber Informasi yang Digunakan dalam Pengambilan Keputusan Investasi Saham Karpoff (1986) mengemukakan bahwa meskipun para investor memberikan interpretasi yang sama terhadap informasi publik (public announcement) namun transaksi perdagangan dapat terjadi apabila para investor memiliki pengharapan yang berbeda. Pengharapan yang berbeda terjadi di antara para investor yang melakukan spekulasi dan menimbulkan rangsangan bagi para investor untuk melakukan perdagangan melepaskan posisi spekulatif mereka. Holthausen dan Verrecchia (1990) berpendapat bahwa suatu pengumuman yang tidak membawa informasi baru tidak akan mengubah kepercayaan investor sehingga mereka tidak akan melakukan perdagangan. Sebaliknya dengan adanya perbedaan penafsiran yang konstan, informasi yang baru yang tidak diharapkan

8 13 akan membawa perubahan kepercayaan yang selanjutnya akan memotivasi mereka untuk melakukan kegiatan perdagagan. Kim dan Verrecchia (1991a, 1991b) mendukung kesimpulan Houlthauson dan Verrecchia (1990) dengan menyimpulkan bahwa volume perdagangan merupakan suatu fungsi peningkatan (increasing function) dari perubahan harga absolut, dimana harga merefleksikan tingkat informasi. Perdagangan saham dapat terjadi apabila para investor mempunyai kecermatan yang berbeda terhadap private disclosure information yang mereka peroleh. Predisclosure information asymmetry menyebabkan para investor membentuk predisclosure beliefs dengan membedakan degrees of confidence. Perbedaan dalam bobot informasi publik akan berakibat pada perbedaan perubahan kepercayaan investor, yang mengakibatkan terjadinya perdagangan. Selain itu, Kim dan Verrecchia juga menyimpulkan bahwa reaksi volume perdagangan merupakan suatu increasing function baik dari perbedaan kecermatan para investor pada private predisclosure information maupun perubahan harga absolut. Hartono (1998) mengungkapkan bahwa untuk menguji kandungan informasi suatu pengumuman hanya melibatkan sebuah faktor saja yaitu faktor return abnormal sedangkan pengujian efisiensi pasar secara informasi melibatkan dua faktor yaitu return abnormal dan kecepatan reaksi. Apabila dihubungkan dengan volume perdagangan saham, Beaver (1968) mengungkapkan bahwa suatu publikasi laporan (event) akan memiliki kandungan informasi apabila jumlah lembar saham yang diperdagangkan lebih besar ketika dilakukan publikasi laba, dibandingkan dengan waktu lain selama tahun tersebut. Dengan kata lain, secara

9 14 logis dapat disimpulkan pula bahwa adanya kandungan informasi menyebabkan jumlah lembar saham yang diperdagangkan menjadi lebih kecil ketika suatu event terjadi. Reaksi demikian mungkin merupakan reaksi negatif atau adanya bad news (Bandi dan Hartono, 2000). Morse (1981) mengemukakan bahwa perdagangan saham dapat saja terjadi sebelum adanya pengumuman publik karena adanya perbedaan keyakinan mengenai probabilita perbedaan sinyal yang disebabkan pengumuman tersebut. Perbedaan keyakinan ini mungkin disebabkan informasi asimetri sebelum pengumuman terjadi. Volume perdagangan saham yang terjadi setelah pengumuman publik mungkin disebabkan adanya perbedaan interpretasi dari sinyal yang dilepaskan ke pasar dan atau kembalinya investor dari posisi spekulatif sebelum pengumuman publik ke posisi diversifikasi. Bamber (1986) menyebutkan bahwa perubahan harga merefleksikan perubahan kepercayaan rata-rata pasar secara agregat dan sebaliknya volume perdagangan saham merupakan jumlah tindakan atau perdagangan investor individual. Jadi, reaksi harga atas informasi publik merefleksikan kepercayaan dalam pasar agregat yang merupakan akibat adanya informasi tersebut (Beaver 1968; Kim dan Verrecchia 1991a, 1991b). C. Pengaruh Merjer dan Akuisisi Terhadap Kemakmuran Pemegang Saham Pengumuman merjer dan akuisisi yang merupakan informasi bagi para pelaku pasar akan mempengaruhi harga saham maupun volume perdagangan

10 15 saham, baik dari sisi perusahaan pengakuisisi maupun perusahaan target. Perubahan harga saham kedua perusahaan menunjukkan adanya tingkat kemakmuran pemegang saham, yang diukur melalui besarnya abnormal return perusahaan pengakuisisi maupun perusahaan target. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Agrawal dan Mandelker (1992) menyimpulkan bahwa pemegang saham perusahaan pengakuisisi mengalami kerugian sekitar 10% setelah merjer dilakukan selama lima tahun. Limmack (1991) yang meneliti pengaruh merjer terhadap tingkat kemakmuran pemegang saham dengan mengamati tingkat abnormal return di sekitar tanggal akuisisi dan pada tanggal pengumuman laporan keuangan. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa walaupun secara total tidak ada penurunan tingkat kemakmuran pemegang saham, namun pemegang saham perusahaan pengakuisisi mengalami penurunan tingkat kemakmuran. Sebaliknya, pemegang saham perusahaan target mengalami kenaikan tingkat kemakmuran yang signifikan. Parkinson dan Dobbins (1993) yang meneliti abnormal return yang diperoleh pemegang saham perusahaan yang terlibat dalam pengambilalihan yang tidak bersahabat (hostile takeover), menunjukkan bahwa positif abnormal return yang signifikan diperoleh pemegang saham perusahaan target pada periode 1 bulan sampai 24 bulan sesudah pengumuman. Harga saham perusahaan target meningkat secara drastis pada saat pengumuman akuisisi sedangkan cumulative abnormal return perusahaan pengakuisisi sebelum dan setelah pengumuman tidak signifikan.

11 16 Farlianto (1996) yang meneliti pengaruh akuisisi terhadap kinerja saham perusahaan pengakuisisi di Indonesia selama tahun menyimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan return abnormal saham perusahaan pengakuisisi sebelum dan setelah akuisisi, bahkan hasil penelitiannya menunjukkan kecenderungan yang menurun. Tjandra (1995) meneliti dampak pengumuman akuisisi internal maupun akuisisi eksternal terhadap kemakmuran pemegang saham perusahaan pengakuisisi selama tahun Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa akuisisi internal tidak memberikan abnormal return yang positif sedangkan akuisisi eksternal memberikan abnormal return yang positif karena memberikan kemakmuran bagi pemegang sahamnya. Beberapa penelitian juga dilakukan dengan melihat pengaruh pengumuman merjer dan akuisisi terhadap return saham perusahaan target dimana terdapat return saham yang positif bagi pemegang saham perusahaan target. Morck et al. (1990) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa motivasi perusahaan dalam mengakuisisi perusahaan target akan menghasilkan kinerja yang buruk bagi perusahaan pengakuisisi. Hasil penelitian ini berkaitan dengan teori keagenan bahwa manajemen cenderung untuk meningkatkan laba perusahaannya sehingga posisinya semakin kuat sekaligus memperoleh insentif yang lebih tinggi. Dengan demikian, manajemen termotivasi untuk mengakuisisi perusahaan dalam tahap pertumbuhan walaupun membayar dengan harga yang lebih tinggi pada perusahaan target dalam proses tender offer. Kondisi ini tentu saja menguntungkan perusahaan target.

12 17 Sudarsanam et al. (1996) menyimpulkan bahwa sinergi dari operasional, keuangan dan manajerial dapat menciptakan nilai bagi perusahaan pengakuisisi maupun perusahaan target. Namun pemegang saham perusahaan target memperoleh cumulative abnormal return yang signifikan 20 hari sebelum dan setelah pengumuman merjer. Sedangkan perusahaan pengakuisisi mengalami cumulative abnormal return negatif dan signifikan pada saat pengumuman sampai setelah pengumuman. Sebagian besar penelitian terdahulu menyimpulkan bahwa kemakmuran pemegang saham perusahaan target menikmati keuntungan atas aktivitas merjer dan akuisisi sedangkan perusahaan pengakuisisi tidak. D. Perumusan Hipotesis Pengumuman merjer dan akuisisi yang dipublikasikan akan mempengaruhi investor dalam mengambil keputusan investasinya, yang tercermin dalam volume perdagangan saham dan harga saham. Di sisi lain, Rachmawati (2000) dalam penelitiannya mengenai pengaruh pengumuman merjer dan akuisisi terhadap return saham perusahaan target di Bursa Efek Jakarta menyimpulkan bahwa pemegang saham perusahaan target memperoleh kemakmuran dari aktivitas merjer dan akuisisi. Hasil penelitiannya ditunjukkan dengan adanya rata-rata abnormal return positif yang signifikan yang diperoleh pemegang saham perusahaan target di seputar tanggal pengumuman merjer dan akuisisi, yaitu pada saat diumumkan, beberapa hari sebelum pengumuman dan setelah pengumuman merjer dan akuisisi. Hasil penelitian ini

13 18 mendukung penelitian Sevaes (1991), Datta et al. (1992), Parkinson dan Dobbins (1993) dan Sudarsanam et al. (1996). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu bahwa yang menikmati keuntungan atas aktivitas merjer dan akuisisi adalah para pemegang saham perusahaan target maka peneliti berhipotesis bahwa pasar akan bereaksi positif terhadap pengumuman merjer dan akuisisi yang dilakukan perusahaan target dan hal ini tercermin dalam volume perdagangan saham. Oleh karena itu, peneliti mengajukan hipotesis pertama sebagai berikut: H1: Terdapat perbedaan signifikan pada volume perdagangan saham pada perusahaan target antara periode sebelum tanggal merjer dan akuisisi dan periode setelah tanggal merjer dan akuisisi H2: Terdapat perbedaan signifikan pada harga saham pada perusahaan target antara periode sebelum tanggal merjer dan akuisisi dan periode setelah tanggal merjer dan akuisisi.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Akuisisi Akuisisi dalam terminologi bisnis diartikan sebagai proses pengambilalihan kepemilikan atau pengendalian atas saham atau asset suatu perusahaan lain, dan dalam

Lebih terperinci

PENGARUH PENGUMUMAN LABA TERHADAP PERUBAHAN HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN

PENGARUH PENGUMUMAN LABA TERHADAP PERUBAHAN HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN PENGARUH PENGUMUMAN LABA TERHADAP PERUBAHAN HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2004-2006 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu strategi yang dapat dilakukan perusahaan dalam. yang dapat dilakukan baik dalam bentuk ekspansi internal maupun ekspansi

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu strategi yang dapat dilakukan perusahaan dalam. yang dapat dilakukan baik dalam bentuk ekspansi internal maupun ekspansi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Memasuki era pasar bebas, persaingan usaha di antara perusahaanperusahaan yang ada semakin erat. Kondisi demikian menuntut perusahaan untuk selalu mengembangkan strategi

Lebih terperinci

ANALISIS PERBEDAAN RETURN SAHAM DAN PERUBAHAN VOLUME PERDAGANGAN SEBELUM DAN SESUDAH PENGUMUMAN DIVIDEN

ANALISIS PERBEDAAN RETURN SAHAM DAN PERUBAHAN VOLUME PERDAGANGAN SEBELUM DAN SESUDAH PENGUMUMAN DIVIDEN ANALISIS PERBEDAAN RETURN SAHAM DAN PERUBAHAN VOLUME PERDAGANGAN SEBELUM DAN SESUDAH PENGUMUMAN DIVIDEN SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ini. Pada awalnya, peristiwa akuisisi hanya terbatas pada kalangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ini. Pada awalnya, peristiwa akuisisi hanya terbatas pada kalangan 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori Akuisisi telah menjadi topik populer dalam beberapa tahun terakhir ini. Pada awalnya, peristiwa akuisisi hanya terbatas pada kalangan komunitas pelaku bisnis,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. efisiensi pasar. Efisiensi pasar membahas bagaimana pasar merespon

BAB I PENDAHULUAN. efisiensi pasar. Efisiensi pasar membahas bagaimana pasar merespon BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pasar modal merupakan tempat bagi perusahaan memperoleh dana untuk kegiatan operasi dan ekspansi perusahaan dengan biaya yang lebih murah dibandingkan sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan perekonomian dunia. Sebagai akibat dari kemajuan teknologi

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan perekonomian dunia. Sebagai akibat dari kemajuan teknologi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Era globalisasi merupakan era kemajuan komunikasi, teknologi, dan informasi. Dimana kemajuan tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan perekonomian

Lebih terperinci

PENGARUH MERGER DAN AKUISISI TERHADAP AKTIVITAS VOLUME PERDAGANGAN SAHAM PADA PERUSAHAAN PENGAKUISISI DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)

PENGARUH MERGER DAN AKUISISI TERHADAP AKTIVITAS VOLUME PERDAGANGAN SAHAM PADA PERUSAHAAN PENGAKUISISI DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) PENGARUH MERGER DAN AKUISISI TERHADAP AKTIVITAS VOLUME PERDAGANGAN SAHAM PADA PERUSAHAAN PENGAKUISISI DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Memperoleh Gelar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Salah satu strategi suatu perusahaan untuk mencapai tujuannya menjadi

I. PENDAHULUAN. Salah satu strategi suatu perusahaan untuk mencapai tujuannya menjadi 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu strategi suatu perusahaan untuk mencapai tujuannya menjadi perusahaan yang besar dan mampu bersaing adalah melalui ekspansi, baik dalam bentuk ekspansi internal

Lebih terperinci

Merger dan Akuisisi Pengertian Merger dan Akuisisi Merger Akuisisi Jenis-jenis Merger dan Akusisi a. Merger b. Konsolidasi c.

Merger dan Akuisisi Pengertian Merger dan Akuisisi Merger Akuisisi Jenis-jenis Merger dan Akusisi a. Merger b. Konsolidasi c. 1 Merger dan Akuisisi Barangkali kegiatan yang memperoleh perhatian besar dari masyarakat adalah pada waktu suatu perusahaan mengambil alih (melakukan akuisisi) perusahaan lain, atau penggabungan (merger

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. merger dan akuisisi. Merger merupakan salah satu strategi perusahaan untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. merger dan akuisisi. Merger merupakan salah satu strategi perusahaan untuk BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Merger dan Akuisisi. Kondisi perekonomian dengan persaingannya untuk mempertahankan bisnis perusahaan mendorong semakin aktifnya transaksi di pasar modal, sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempertemukan dua kelompok yang saling berhadapan tetapi yang

BAB I PENDAHULUAN. mempertemukan dua kelompok yang saling berhadapan tetapi yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pasar modal (Capital market) adalah suatu pengertian abstrak yang mempertemukan dua kelompok yang saling berhadapan tetapi yang kepentingannya saling mengisi,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Penggabungan usaha (business combination) adalah pernyataan dua atau lebih

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Penggabungan usaha (business combination) adalah pernyataan dua atau lebih BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Penggabungan Usaha Penggabungan usaha merupakan salah satu strategi untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan menegmbangkan perusahaan. Berdasarkan

Lebih terperinci

PENGARUH MERGER DAN AKUISISI TERHADAP RETURN SAHAM DAN VOLUME PERDAGANGAN SAHAM PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

PENGARUH MERGER DAN AKUISISI TERHADAP RETURN SAHAM DAN VOLUME PERDAGANGAN SAHAM PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PENGARUH MERGER DAN AKUISISI TERHADAP RETURN SAHAM DAN VOLUME PERDAGANGAN SAHAM PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA SKRIPSI Disusun dan Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Guna Memperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melalukan ekspansi usaha. Untuk tujuan tersebut, maka perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. melalukan ekspansi usaha. Untuk tujuan tersebut, maka perusahaan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejalan dengan berkembangnya perekonomian, banyak perusahaan melalukan ekspansi usaha. Untuk tujuan tersebut, maka perusahaan memerlukan dana yang relatif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. baik jangka pendek maupun jangka panjang agar dapat terus bertahan dan mampu

BAB I PENDAHULUAN. baik jangka pendek maupun jangka panjang agar dapat terus bertahan dan mampu BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Memasuki Era pasar bebas, persaingan diantara perusahaan-perusahaan yang ada akan menjadi semakin ketat. Hal ini mendorong pemilik/manajemen perusahaan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. perusahaan untuk tetap, mampu bersaing ada dengan melakukan. penggabungan usaha. Dengan melakukan penggabungan usaha, maka

PENDAHULUAN. perusahaan untuk tetap, mampu bersaing ada dengan melakukan. penggabungan usaha. Dengan melakukan penggabungan usaha, maka BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dunia bisnis telah memasuki masa kebebasan dan keterbukaan diakhir abad ke-20. Tidak ada lagi jarak atau halangan yang selama ini membatasi semua aktifitas bisnis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Informasi merupakan hal yang penting bagi investor dalam menetapkan

BAB I PENDAHULUAN. Informasi merupakan hal yang penting bagi investor dalam menetapkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Informasi merupakan hal yang penting bagi investor dalam menetapkan keputusannya untuk berinvestasi. Hipotesis pasar modal efisien menyatakan bahwa pasar yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. modal juga dapat dijadikan indikator bagi perkembangan perekonomian sebuah

BAB I PENDAHULUAN. modal juga dapat dijadikan indikator bagi perkembangan perekonomian sebuah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pasar modal telah menjadi instrumen perekonomian yang penting bagi sebuah negara. Selain menjadi alternatif tempat untuk berinvestasi dan pembiayaan, pasar

Lebih terperinci

DAMPAK PENGUMUMAN LAPORAN KEUANGAN TERHADAP VARIABILITAS TINGKAT KEUNTUNGAN SAHAM DENGAN MEMPERHATIKAN LABA AKUNTANSI

DAMPAK PENGUMUMAN LAPORAN KEUANGAN TERHADAP VARIABILITAS TINGKAT KEUNTUNGAN SAHAM DENGAN MEMPERHATIKAN LABA AKUNTANSI DAMPAK PENGUMUMAN LAPORAN KEUANGAN TERHADAP VARIABILITAS TINGKAT KEUNTUNGAN SAHAM DENGAN MEMPERHATIKAN LABA AKUNTANSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Lebih terperinci

Bab II LANDASAN TEORI

Bab II LANDASAN TEORI Bab II LANDASAN TEORI 2.1 Merjer 2.1.1 Pengertian Merjer Merjer adalah penggabungan usaha perusahaan mengambil alih satu atau lebih perusahaan lainnya. Perusahaan yang diambil alih akan dibubarkan atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan adalah keseluruhan perbuatan yang dilakukan secara terus-menerus,

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan adalah keseluruhan perbuatan yang dilakukan secara terus-menerus, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perusahaan adalah keseluruhan perbuatan yang dilakukan secara terus-menerus, bertindak keluar untuk memperoleh penghasilan dengan cara memperdagangkan barang-barang,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan usahanya. Globalisasi juga bisa berdampak positif dan negatif,

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan usahanya. Globalisasi juga bisa berdampak positif dan negatif, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era Globalisasi sekarang persaingan perdagangan semakin ketat sehingga menuntut untuk setiap perusahaan untuk lebih kreatif dalam mengembangkan usahanya. Globalisasi

Lebih terperinci

kewajiban, apabila pemegang saham tidak ingin melakukan haknya maka ia dapat

kewajiban, apabila pemegang saham tidak ingin melakukan haknya maka ia dapat BAB I PENDAHULUAN Return saham di pasar modal merupakan satu indikator yang penting untuk mengetahui tingkah laku pasar. Para investor dalam melakukan transaksi di pasar modal, biasanya mereka akan mendasarkan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Laba sebagai Indikator Kinerja Perusahaan

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Laba sebagai Indikator Kinerja Perusahaan BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1. Laba sebagai Indikator Kinerja Perusahaan Menurut PSAK no. 1, tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari pihak ekstern dan pihak intern. Pihak ekstern terdiri dari masyarakat, UKDW

BAB I PENDAHULUAN. dari pihak ekstern dan pihak intern. Pihak ekstern terdiri dari masyarakat, UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penggunaan informasi keuangan dapat dilakukan melalui laporan keuangan yang sangat bermanfaat bagi pemangku kepentingan yang terdiri dari pihak ekstern dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. fragmentasi pasar telah menciptakan persaingan yang sangat ketat antarperusahaan.

BAB I PENDAHULUAN. fragmentasi pasar telah menciptakan persaingan yang sangat ketat antarperusahaan. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini lingkungan bisnis mengalami perubahan yang cukup signifikan, seperti globalisasi, deregulasi, kemajuan ilmu teknologi komputer dan telekomunikasi, serta fragmentasi

Lebih terperinci

FITRI NILAM SARI B

FITRI NILAM SARI B PENGARUH PENGUMUMAN AKUISISI TERHADAP ABNORMAL RETURN SAHAM PERUSAHAAN PENGAKUISISI DI BURSA EFEK INDONESIA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yaitu dengan menjembatani hubungan antara pemilik modal dalam hal ini disebut

BAB I PENDAHULUAN. yaitu dengan menjembatani hubungan antara pemilik modal dalam hal ini disebut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu alternatif bagi perusahaan untuk mendapatkan dana atau tambahan modal adalah melalui pasar modal. Pasar modal memberikan jasanya yaitu dengan menjembatani

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN PUBLIK YANG MELAKUKAN MERGER DAN AKUISISI SELAMA DAN SESUDAH KRISIS MONETER

ANALISIS KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN PUBLIK YANG MELAKUKAN MERGER DAN AKUISISI SELAMA DAN SESUDAH KRISIS MONETER ANALISIS KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN PUBLIK YANG MELAKUKAN MERGER DAN AKUISISI SELAMA DAN SESUDAH KRISIS MONETER (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Go Publik Yang Tergabung Di Bursa Efek Indonesia)

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS. Pasar modal menurut Keppres No.60 tahun 1988 ialah bursa yang merupakan

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS. Pasar modal menurut Keppres No.60 tahun 1988 ialah bursa yang merupakan 8 BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS 2.1. Pasar Modal Pasar modal menurut Keppres No.60 tahun 1988 ialah bursa yang merupakan sarana untuk mempertemukan penawar dan peminta dana jangka panjang dalam bentuk

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Teori Keagenan (Agency Theory) dan laba Konsep manajemen laba menggunakan pendekatan teori keagenan yang terkait dengan hubungan atau kontrak diantara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Krisis moneter yang melanda Asia pada tahun 1997 telah menelan banyak

BAB I PENDAHULUAN. Krisis moneter yang melanda Asia pada tahun 1997 telah menelan banyak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Krisis moneter yang melanda Asia pada tahun 1997 telah menelan banyak korban diberbagai negara Asia tenggara, seperti Singapura, Thailand Malaysia bahkan mengimbas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pasar modal merupakan sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dengan

I. PENDAHULUAN. Pasar modal merupakan sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dengan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pasar modal merupakan sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dengan biaya yang lebih murah. Di samping itu, para investor juga menggunakan pasar modal sebagai sarana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tujuan utama yaitu kelanjutan hidup perusahaan, laba dalam jangka panjang, dan

BAB I PENDAHULUAN. tujuan utama yaitu kelanjutan hidup perusahaan, laba dalam jangka panjang, dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap perusahaan yang merupakan organisasi bisnis umumnya memiliki tiga tujuan utama yaitu kelanjutan hidup perusahaan, laba dalam jangka panjang, dan pengembangan

Lebih terperinci

ANALISIS PERBEDAAN LIKUIDITAS DAN VOLUME PERDAGANGAN SAHAM SEBELUM DAN SESUDAH STOCK SPLIT DI BURSA EFEK INDONESIA

ANALISIS PERBEDAAN LIKUIDITAS DAN VOLUME PERDAGANGAN SAHAM SEBELUM DAN SESUDAH STOCK SPLIT DI BURSA EFEK INDONESIA ANALISIS PERBEDAAN LIKUIDITAS DAN VOLUME PERDAGANGAN SAHAM SEBELUM DAN SESUDAH STOCK SPLIT DI BURSA EFEK INDONESIA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Lebih terperinci

BAB II TINJUAN PUSTAKA. lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. antara pembeli dan penjual dengan resiko untung atau rugi.

BAB II TINJUAN PUSTAKA. lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. antara pembeli dan penjual dengan resiko untung atau rugi. BAB II TINJUAN PUSTAKA 2.1 Pasar Modal Menurut Undang Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, Pasar Modal adalah kegiatan yang berkaitan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. alternatif investasi pada financial assets, sedangkan emiten sebagai pihak yang. memperjualbelikan sekuritas (Tandelilin, 2010:26).

BAB I PENDAHULUAN. alternatif investasi pada financial assets, sedangkan emiten sebagai pihak yang. memperjualbelikan sekuritas (Tandelilin, 2010:26). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam dunia pasar modal, ada dua pihak yang memiliki kepentingan yaitu investor dan emiten. Investor sebagai pihak yang kelebihan dana dapat melakukan alternatif investasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan melonjaknya jumlah saham yang ditransaksikan dan semakin UKDW

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan melonjaknya jumlah saham yang ditransaksikan dan semakin UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dewasa ini pasar modal Indonesia berkembang sangat pesat, hal ini ditandai dengan melonjaknya jumlah saham yang ditransaksikan dan semakin tingginya volume

Lebih terperinci

ANALISIS PENGARUH INFORMASI PENGUMUMAN LAPORAN KEUANGAN TERHADAP ABNORMAL RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN AUTOMOTIVE DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2005

ANALISIS PENGARUH INFORMASI PENGUMUMAN LAPORAN KEUANGAN TERHADAP ABNORMAL RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN AUTOMOTIVE DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2005 ANALISIS PENGARUH INFORMASI PENGUMUMAN LAPORAN KEUANGAN TERHADAP ABNORMAL RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN AUTOMOTIVE DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2005 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. hanya saja pengendaliaan operasionalnya diambil oleh perusahaan pengakuisisi

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. hanya saja pengendaliaan operasionalnya diambil oleh perusahaan pengakuisisi BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Tinjauan Teoretis 2.1.1 Pengertian Akuisisi Akuisisi adalah penggabungan usaha dengan cara membeli saham, kas dan sekuritas lainnya secara tunai. Perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pesat. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya perusahaan yang terdaftar di Bursa

BAB I PENDAHULUAN. pesat. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya perusahaan yang terdaftar di Bursa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pasar modal di Indonesia dewasa ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek

Lebih terperinci

STRATEGI PENETRASI PASAR

STRATEGI PENETRASI PASAR STRATEGI PENETRASI PASAR Adalah suatu strategi untuk meningkatkan penjualan atas produknya, dan pasar yang telah tersedia melalui usaha-usaha pemasaran yang lebih agresif Atau usaha untuk meningkatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk atau disingkat BRI, merupakan salah satu pelaku

BAB I PENDAHULUAN. PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk atau disingkat BRI, merupakan salah satu pelaku BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk atau disingkat BRI, merupakan salah satu pelaku kegiatan ekonomi dalam dunia perekonomian nasional. Di Indonesia, PT. Bank Rakyat Indonesia

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. untuk memakmurkan pemilik perusahaan atau pemegang saham. Tujuan ini dapat

PENDAHULUAN. untuk memakmurkan pemilik perusahaan atau pemegang saham. Tujuan ini dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perusahaan didirikan mempunyai tujuan yang jelas, tujuan perusahaan didirikan adalah untuk memakmurkan pemilik perusahaan atau pemegang saham. Tujuan ini dapat diwujudkan

Lebih terperinci

PERTEMUAN 1 & 2 PENGGABUNGAN USAHA

PERTEMUAN 1 & 2 PENGGABUNGAN USAHA PERTEMUAN 1 & 2 PENGGABUNGAN USAHA Penggabungan Usaha adalah penyatuan entitas-entitas usaha. Penggabungan entitas usaha yang terpisah adalah suatu alternatif perluasan secara internal melalui akuisisi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. membeli surat-surat berharga. Pasar modal adalah suatu situasi dimana para

II. TINJAUAN PUSTAKA. membeli surat-surat berharga. Pasar modal adalah suatu situasi dimana para II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Pasar Modal Pasar modal adalah pasar dimana para investor bertemu untuk menjual atau membeli surat-surat berharga. Pasar modal adalah suatu situasi dimana para pelakunya (penjual

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. para peneliti dapat mentindaklanjuti pada penelitian berikutnya.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. para peneliti dapat mentindaklanjuti pada penelitian berikutnya. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini menguraikan simpulan, keterbatasan dan saran-saran untuk penelitian berikutnya. Simpulan diambil berdasarkan hasil bukti empiris yang diperoleh pada penelitian ini. Keterbatasan

Lebih terperinci

PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN YANG MELAKUKAN RIGHT ISSUE

PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN YANG MELAKUKAN RIGHT ISSUE PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN YANG MELAKUKAN RIGHT ISSUE ( Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang tercatat di Burs Efek Indonesia)

Lebih terperinci