KUMPULAN POWER POINT PENDIDIKAN TUNARUNGU 1

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KUMPULAN POWER POINT PENDIDIKAN TUNARUNGU 1"

Transkripsi

1 KUMPULAN POWER POINT MATA KULIAH PENDIDIKAN TUNARUNGU 1

2 Pengertian tunarungu Gearhart (1980) yang dikutip Neely (1982:95-96) dalam The Conference of Executives of American Schools for The Deaf, mendefinisikan tunarungu sebagai berikut: A deaf person is one whose hearing disability is so great that he or she cannot understand speech through the use of the ear alone, with or without a hearing aid. A hard of hearing person is one whose hearing disability makes it difficult to hear but who can, with or without the use of hearing aid, understand speech.

3 lanjutan Hallahan & Kauffman (1991:266) bahwa : Tunarungu merupakan istilah umum yang menunjukkan kesulitan mendengar dari yang ringan sampai yang berat, yang digolongkan ke dalam tuli (deaf) dan kurang dengar (hard of hearing). Orang tuli adalah seseorang yang kehilangan kemampuan mendengar sehingga menghambat proses informasi bahasa melalui pendengaran, baik memakai ataupun tidak memakai alat bantu dengar. Orang yang kurang dengar adalah seseorang yang biasanya dengan menggunakan alat bantu dengar, sisa pendengarannya cukup memungkinkan keberhasilan proses informasi bahasa melalui pendengaran.

4 lanjutan Moores (1982:6) mendefinisikan tunarungu sebagai berikut: A deaf person in a one whose hearing is disable to an extent (usually 70 db ISO or greater) that precludes the understanding of speech through the ear alone, with or without the use of a hearing aid. A hard of hearing is one whose hearing disabled to an extent (usually 35 to 69 db ISO) that make dificult, but does not preclude, the understanding of speech through the ear alone, without or with a hearing aid.

5 seorang tunarungu adalah mereka yang kurang mampu untuk mendengar atau tidak mendengar sama sekali bunyi atau suara pada intensitas tertentu sebagai akibat dari tidak berfungsinya indera pendengaran sebagaimana mestinya, baik tanpa maupun menggunakan alat bantu dengar.

6 Penggolongan ketunarunguan & Batasan Peristilahan didasarkan pada tiga faktor Kemampuan seseorang guna menyimak suara cakapan (conversational speech) Kemampuan untuk membedakan berbagai sumber dan sifat bunyi (daya diskriminasi/pembeda) Batas pengerasan/penguatan bunyi yang dihasilkan ABD (alat bantu dengar) A. Boothroyd, 1982) B

7 Penggolongan ketunarunguan & Batasan Peristilahan Ketunarunguan (Hearing Impairtment) Kehilangan pendengaran (hearing Loss) Gangguan dlm kemampuan Mendeteksi bunyi Gangguan Proses Pendengaran (Auditory Process Disorder) Gangguan dalam kemampuan menafsirkan pola-pola bunyi/sound pattern Total Sangat berat Berat Severe Sedang Moderate Ringan Mild (tingkat kehilangan pendengaran berdasarkan pengukuran Ambang pendengaran dalam decibell) Tuli/Deaf Kurang Dengar /Hard of Hearing (penggambaran berdasarkan fungsi/penggunaan pendengaran) ( p p e

8 Klasifikasi dan jenis-jenis ketunarunguan Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V Kehilangan db, mild hearing losses/ke-tran ringan; daya tangkap thd suara cakapan manusia normal Kehilangan db, moderate hearing losses (ketunarunguan sedang); daya tangkap thd suara cakapan manusia hanya sebagian. Kehilangan db, severe hearing losses (ketunarunguan berat); daya tangkap thd suara cakapan manusia tidak ada. Kehilangan db, profound hearing losses (ketunarunguan sangat berat); daya tangkap thd suara cakapan manusia tidak ada sama sekali Kehilangan lebih dari 120 db, total hearing losses (ketunarunguan total) daya tangkap thd suara manusia tidak ada sama sekali

9 Klasifikasi ketunarunguan (Boothroyd) Berdasarkan Taraf Penguasaan bahasa Berdasarkan Tempat kerusakan Berdasarkan Saat terjadinya Kehilangan pendengaran Berdasarkan Tk kehilangan pendengaran Tuli purna bahasa Tuli pra bahasa Tuli sensoris Tuli konduktif Tunarungu setelah lahir Tunarungu bawaan Sangat berat, lebih dari 120 db Berat, db Sedang berat, db Sedang, db Ringan db

10 Klasifikasi ketunarunguan Berdasarkan saat terjadinya a. ketunarunguan bawaan, artinya ketika anak lahir sudah mengalami tunarungu dan indera pendengarannya sudah tidak berfungsi lagi b. ketunarunguan setelah lahir, artinya terjadi ketunarunguan setelah anak lahir akibat kecelakaan atau suatu penyakit

11 Berdasarkan tingkat kerusakan Kerusakan pada bagian telinga luar dan tengah, shg menghambat bunyibunyian yang akan masuk ke dalam telinga (Tuli konduktif) Kerusakan pada telinga bagian dalam shg tidak dapat mendengar bunyi/suara (tuli sensoris)

12 Berdasarkan taraf penguasaan bahasa Tuli pra bahasa adalah mereka yang menjadi tuli sebelum dikuasainya suatu bahasa (usia 1,6 tahun) artinya anak menyamakan tanda tertentu seperti mengamati, menunjuk, meraih namun belum membentuk sistem lambang. Tuli purna bahasa, adalah mereka yang menjadi tuli setelah menguasai bahasa, yaitu telah menerapkan dan memahami sistem lambang yang berlaku di lingkungan.

13 Threshold Range Description Of Hearing Loss Audibili ty convensi onal speech Without Amplification Discriminat ion capacity For speech Learning modality Audibilit y of conventi onal speech With Amplification Discrimina tion capacity For speech Learning modality db Mild Normal Normal Auditory Normal normal auditory db Moderat Partial Almost Normal Auditory n Vision Normal Almost normal Auditory db Severe None Irrelevant Visual Normal Good Auditory db 121 db or more n vision Profound None Irrelevant Visual Normal Poor Auditory n vision Total None Irrelevant Visual None Irrelevant Visual

14 Selesai

15 Penyebab ketunarunguan

16 Penyebab ketunarunguan (Trybus) Keturunan Penyakit bawaan Komplikasi selama kehamilan dan kelahiran Radang selaput otak (meningitis) Otitis media Luka/radang, penyakit anak-anak

17 Faktor internal diri anak 1. Faktor keturunan dari salah satu atau kedua orangtua yg mengalami ketunarunguan. Kondisi genetik yang berbeda disebabkan oleh gen yang dominan represif dan berhubungan dengan jenis kelamin. 2. Campak jerman (Rubella) yg diderita ibu sewaktu mengandung. 3. Keracunan darah (Toxaminia). Kerusakan pada plasenta yang mempengaruhi pertumbuhan janin.

18 Faktor eksternal anak 1. Anak mengalami infeksi pada saat dilahirkan. 2. Meningitis radang selaput otak 3. Otitis media 4. Penyakit lain atau kecelakaan yang dapat mengakibatkan kerusakan alat pendengaran bagian tengah dan dalam

19 Penyebab terjadinya ketunarunguan tipe konduktif Kerusakan/gangguan yang terjadi pada telinga luar dapat disebabkan antara lain: a. tidak terbentuknya lubang telinga bagian luar yang dibawa sejak lahir b. terjadinya peradangan pada lubang telinga luar (otitis media)

20 Kerusakan/gangguan pada telinga tengah dapat disebabkan oleh: Ruda paksa, adanya tekanan/benturan yang keras yang mengakibatkan perforasi (pecahnya) membran tympany dan lepasnya rangkaian tulang pendengaran. Terjadinya peradangan/otitis media Otosclerosis, yaitu terjadinya pertumbuhan tulang pada kaki tulang stapes yang mengakibatkan tulang tsb tidak dapat bergetar pada oval window (selaput yang membatasi telingan tengah dan dalam) shg getaran tidak dapat diteruskan ke telingan dalam.

21 lanjutan Tympanisclerosis, yaitu adanya lapisan kalsium/zat kapur pada membran timpani dan tulang pendengaran, shg organ tsb tidak dapat menghantarkan getaran ke telingan dalam dengan baik untuk diubah menjadi kesan suara. Anomali congenital dari tulang pendengaran atau tidak terbentuknya tulang pendengaran yang dibawa sejak lahir tetapi gangguan pendengarannya tidak bersifat progresif. Disfungsi tube eustachii (saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan rongga mulut), akibat alergi atau tumor pada nasopharynk.

22 Penyebab terjadinya tunarungu tipe sensorineural Ketunarunguan yang disebabkan oleh faktor genetik, bahwa ketunarunguan tersebut disebabkan oleh gen ketunarunguan yang menurun dari orangtua kepada anaknya. Penyebab ketunarunguan faktor non genetik, antara lain: a. rubella, penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang ibu hamil pada usia kandungan tri semester pertama

23 lanjutan b. Ketidaksesuaian antara darah ibu dan anak. Apabila ibu yang mempunyai darah dengan Rh mengandung janin dengan Rh +, maka sistem pembuangan anti bodi pada ibu tsb akan merusak sel-sel darah Rh + janin anaknya. c. meningitis, radang selaput otak yang disebabkan oleh bakteri yang menyerang labyrinth melalui sistem sel-sel udara pada telinga tengah. Meningitis menjadi penyebab utama ketunarunguan yang bersifat acquired (ketunarunguan yang didapat setelah lahir). d. Trauma akustik, disebabkan oleh suara bising dalam jangka waktu lama.

24 Terima Kasih

25 DAMPAK KETUNARUNGUAN

26 Dampak Ketunarunguan Dampak langsung dari ketunarunguan adalah (1) terbatasnya/kurangnya pemerolehan atau perbendaharaan bahasa (vocabulary) akibatnya mereka mengalami kelambatan dalam perkembangan komunikasi, (2) terhambatnya komunikasi secara reseptif (menangkap/memahami pembicaraan orang lain) dan secara ekspresif (bicara).

27 ketunarunguan sebagai kelainan primer yang bersifat motoris (fisik), dapat mengakibatkan terjadinya kelainan sekunder (dampak) pada berbagai aspek kehidupan dan perkembangan ATR, yaitu dalam kemampuan berbahasa dan berkomunikasi, fungsi sosial, emosi, kognitif, dan proses belajarnya. hilangnya kemampuan mendengar (tunarungu) adalah terhambatnya komunikasi dengan dan diantara kaum tunarungu serta lingkungannya. seseorang mengalami ketunarunguan sejak lahir, ia tidak akan mengembangkan kemampuan berbahasanya secara spontan, shg dlm usaha utk bermasyarakat akan timbul brbgi prmasalahan spt aspek sosial, emosional dan mental.

28 anak tunarungu tidak mampu menangkap kata-kata atau pembicaraan orang lain melalui pendengarannya, sehingga tidak terjadi proses peniruan suara setelah masa meraban. Proses peniruannya hanya terbatas pada peniruan visual atau menangkap pembicaraan orang lain melalui gerak bibir.

29 Fungsi pendengaran (D.A. Ramsdell) fungsi pendengaran bagi manusia ada dalam beberapa jenjang, yaitu (1) sebagai jenjang lambang adalah untuk memahami bunyi bahasa, (2) sebagai jenjang tanda/peringatan yaitu sebagai pertanda akan adanya suatu kejadian dalam lingkungan manusia, dan (3) jenjang primitif dimana bunyi hanya berfungsi sebagai latar belakang segala kegiatan hidup seharihari. Kondisi Ketiga fungsi tersebut berlangsung secara progresif, simultan dan terintegratif.

30 Karakteristik kognitif ATR Inteligensi seorang tunarungu secara potensial pada umumnya sama dengan orang normal, tetapi secara fungsional perkembangannya dipengaruhi oleh tingkat kemampuan berbahasa (Myklebust, dalam Moores, 1982:148). Keterbatasan informasi dan kurangnya daya abstraksi pada seorang tunarungu akan menghambat proses pencapaian pengetahuan yang lebih luas, dengan demikian perkembangan inteligensi secara fungsionalpun terhambat. Hal ini mengakibatkan seorang tunarungu kadang menampakkan keterlambatan dalam belajar.

31 kesulitan akademik yang dihadapi ATR bukanlah karena masalah kognitif yang kurang akan tetapi sebenarnya kesulitan dalam berbahasa. tidak ada perbedaan kuantitatif dalam kemampuan intelektual kaum tunarungu dibandingkan dengan orang mendengar. analisa mendalam terhadap hasil berbagai sub tes, menunjukkan adanya perbedaan kualitatif, oleh karena mereka mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal yang menuntut pemahaman abstrak. walaupun ATR dalam segi kuantitas setara dengan anak yang mendengar, namun dari segi kualitas, anak tunarungu nampak inferior.

32 Karakteristik Sosial emosional Fungsi emosi diartikan sebagai persepsi seseorang tentang dirinya, dan fungsi sosial adalah sebagai persepsi tentang hubungan dirinya dengan orang lain dalam situasi sosial (Boothroyd, 1982). Kekurangan dalam kemampuan berbahasa verbal menyebabkan anak tunarungu sulit mengungkapkan perasaan maupun keinginannya pada orang mendengar, shg hal tersebut menimbulkan perasaan negatif yang dapat mempengaruhi perkembangan emosi dan sosialnya.

33 lanjutan ATR seringkali salah menafsirkan sesuatu, dan hal tersebut menjadi tekanan bagi emosinya, sehingga dapat menghambat perkembangan pribadinya dengan kecenderungan menampilkan sikap menutup diri, atau menampakkan kebimbangan dan keragu-raguan. Sulit untuk bersosialisasi dan kurang dapat menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan situasi dan kondisi baru

34 Implikasi ketunarunguan thd perkemb akademik/belajar sulit dalam mempelajari materi pelajaran yang lebih bersifat verbal, sedangkan untuk materi non verbal seperti keterampilan tangan dan OR, pd umumnya tidak mengalami hambatan berarti. sulit memahami penjelasan guru, apabila guru tidak menggunakan metode komunikasi yang betul-betul sesuai dengan kemapuan berkomunikasi ATR. sulit memahami materi yang bersifat abstrak kesulitan untuk tugas2 kognitif yang banyak mengandalkan kemampuan pemahaman bahasa.

35 See you

36 Sikap dan pola interaksi orangtua dan ATR

37 DEPRIVASI EMOSI KURANG MENdpt PENGALAMAN YG MENYENANGKAN : KASIH SAYANG, CINTA, PERHATIAN, KEGEMBIRAAN, KESENANGAN, KEPUASAN & RASA INGIN TAHU KEHADIRAN ABK DI TENGAH-2 KELUARGA MENGAPA? ANAK ADALAH PERMATA HATI TMPT BERBAGAI TUMPUAN, HARAPAN & CITA-2 SYMBOLIC DEATH CRISIS HANCURNYA CITA-CITA, HARAPAN MASA DEPAN TDK ADA SATU ORANGTUA PUN YG MENGHARAPKAN ANAKNYA CACAT ANAK LBH BANYAK BELJ POLA-2 RESPON UNPLEASANT MUNCUL BERBAGAI KRISIS PSIKOLOGIS KEBERFUNGSIAN KEL SBG DIK, ASUH, DSB TDK SBGMN MESTINYA KRISIS YG BERHUB DGN PERAWATAN, PENGASUHAN, PENDIDIKAN, BIMBINGAN, DSB. MUNCUL SIKAP-SIKAP P.E.N.O.L.A.K. A.N

38 POLA PERKEMBANGAN RESPON ORTU THD ABK POSITIF NEGATIF KEBERHASILAN BERGANTUNG PD INFORMASI YG DIPEROLEH DARI LINGKUNGAN OGDEN & LIPSETT (1982)

39 KRISIS PSIKOLOGIS PADA KELUARGA ABK (MOORES, 1973)

40 Pola Perlakuan Orangtua Overprotection (terlalu melindungi) Pola perilaku ortu dan dampaknya thd tk laku anak Perilaku Orangtua kontak yg berlebihan dgn anak pemberian bantuan kpd nak yg terus menerus. mengawasi kegiatan anak scr berlebihan memecahkan masalah anak Profile Tingkah laku Anak perasaan tidak aman agresif, mudah gugup melarikan diri dari kenyataan sangat bergantung M P O, menyerah kurang mampu mengendalikan emosi kurang PD, homesick mudah terpengaruh menolak tanggungjawab troublemaker sulit dlm bergaul

41 Permisive Rejection memberikan kebebasan untuk berfikir atau berusaha menerima ide/pendapat membuat anak merasa diterima toleran dan memahami kelemahan anak cenderung memberi drpd mnerima bersikap masa bodoh, kaku kurang memperdulikan anak menampilkan sikap permusuhan / dominasi thd anak lanjutan pandai mencari jalan keluar dapat bekerjasama percaya diri penuntut dan tidak sabaran agresif, sulit bergaul pendiam, sadis submissive ( kurang dpt mengerjakan tugas, suka mengasingkan diri, pemalu, mudah tersinggung, penakut)

42 acceptance Domination memberi perhatian dan cinta kasih tulus kpd anak menempatkan anak pada posisi penting mngembangkan hub yg hangat dgn anak respek thd anak mendorong anak utk mnyatakan perasaan dan pendapatnya berkom scr terbuka dan mau mendengarkan masalahnya mendominasi anak kooperatif, bersahabat loyal, emosi stabil ceria dan optimis mau bertanggungjawab jujur, dapat dipercaya memiliki perencanaan jelas utk masa depan realistik (memahami kekuatan & kelemahan dirinya scr objektif bersikap sopan, dan sangat hati-hati pemalu, penurut, lanjutan mudah bingung, inferior tidak bisa bekerjasama

43 lanjutan submission Punitive/ over dicipline senantiasa memberikan sesuatu yg diminta anak membiarkan anak berperilaku semaunya di rumah mudah mmberikan hukuman menanamkan kedisiplinan scr keras tidak patuh tidak bertanggung jawab agresif dan teledor otoriter terlalu percaya diri impulsif, nakal tdk dapat mengambil keputusan sikap bermusuhan atau agresif

44 Jika anak dibesarkan dengan CELAAN, ia belajar MEMAKI Jika anak dibesarkan dengan PERMUSUHAN, ia belajar BERKELAHI Jika anak dibesarkan dengan CEMOOHAN, ia belajar RENDAH DIRI Jika anak dibesarkan dengan PENGHINAAN, ia belajar MENYESALI DIRI Jika anak dibesarkan dengan TOLERANSI, ia belajar MENAHAN DIRI Jika anak dibesarkan dengan DORONGAN, ia belajar PERCAYA DIRI Jika anak dibesarkan dengan SEBAIK-BAIK PERLAKUAN, ia belajar KEADILAN Jika anak dibesarkan dengan PUJIAN, ia belajar MENGHARGAI Jika anak dibesarkan dengan RASA AMAN, ia belajar MENARUH KEPERCAYAAN Jika anak dibesarkan dengan DUKUNGAN, ia belajar MENYENANGI DIRINYA Jika anak dibesarkan dengan KASIH SAYANG DAN PERSAHABATAN, ia belajar MENEMUKAN CINTA DALAM KEHIDUPAN

45 Selesai

46 Perolehan bicara bahasa anak tunarungu

47 Proses perolehan bahasa 1. Mendengar, meniru, mengingat, serta proses persepsi (mengolah rangsangan yang diterima melalui indera). 2. Myklebust (1963) mengemukakan bahwa proses pemerolehan bahasa anak yang mendengar berawal dari adanya pengalaman atau situasi bersama antara bayi dengan ibunya dan orang-orang lain yang berarti baginya dalam lingkungan terdekatnya. Anak tidak diajarkan kata-kata kemudian artinya, melainkan melalui pengalamannya ia belajar menghubungkan antara pengalaman dan lambang bahasa yang diperoleh melalui pendengarannya. Proses ini merupakan dasar dari berkembangnya bahasa batin (inner language). Setelah itu, anak mulai memahami hubungan antara lambang bahasa dengan benda atau kejadian yang dialaminya, dan terbentuklah bahasa reseptif. Setelah bahasa reseptif agak terbentuk, anak mulai mengungkapkan diri melalui kata-kata sebagai awal kemampuan bahasa ekspresif. Setelah anak memasuki usia sekolah, penglihatan berperan dalam perkembangan bahasanya, yaitu melalui kemampuan membaca (bahasa reseptif melalui penglihatan) dan menulis (bahasa ekspresif melalui penglihatan).

48 Bagan perolehan bahasa anak mendengar PERILAKU BAHASA VERBAL (Anak yang mendengar) BAHASA EKSPRESIF VISUAL (Menulis) BAHASA RESEPTIF VISUAL (Membaca) BAHASA EKSPRESIF AUDITORY ( Bicara ) BAHASA RESEPTIF AUDITORI (Mengerti bahasa lingkungan) BAHASA BATIN ( INNER LANGUAGE) Hubungan antara lambang auditori dengan pengalaman sehari-hari P E N G A L A M A N

49 Bagan perolehan bahasa ATR PERILAKU BAHASA VERBAL (Anak tunarungu) BAHASA EKSPRESIF VISUAL (Menulis) BAHASA RESEPTIF VISUAL (Membaca) BAHASA EKSPRESIF AUDITORY ( Bicara ) BAHASA RESEPTIF VISUAL (Mengerti ungkapan bahasa lingkungan) BAHASA BATIN (INNER LANGUAGE) Hubungan antara lambang visual dengan pengalaman sehari-hari P E N G A L A M A N

50 Proses mendengar Kemampuan mendengar mrpk aspek penting dalam proses komunikasi. Telinga berfungsi sbg perantara dari rangsangan bunyi yg menuju ke pusat pengertian (persepsi pendengaran). Pada telinga dalam, pusat persepsi berperan menyeleksi dan menganalisis apa yang didengar.

51 Proses meniru Meniru adalah suatu mekanisme tingkah laku yg cenderung dilakukan oleh manusia untuk mengulangi perbuatan atau perilaku scr sengaja, shg perilaku tsb berangsur-angsur menjadi miliknya.

52 Faktor yg mempengaruhi proses peniruan 1. Komponen pendengaran, baik organ maupun persyarafannya harus dalam kondisi baik/normal. 2. Otak dan persyarafan berfungsi menyampaikan info serta mengolah berbagai rangsangan. 3. Keadaan psikologis, meliputi kemampuan mental (IQ) yang tinggi, kestabilan emosi. 4. Lingkungan yang mendukung

53 Proses mengingat Berkaitan dgn kemampuan daya ingat (mrpk bag dari suatu proses pemerolehan informasi yg berhub dgn kemampuan berfikir seseorang dlm melaksanakan tugas pemecahan masalah). Proses tsb mrpk suatu rangkaian yg dimulai dari kegiatan menangkap info, menyimpannya dan mengungkapkannya kembali. Ada dua bag penting, yaitu daya ingat jangka pendek/short term memory dan daya ingat jangka panjang/long term memory Kemampuan mengingat sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis dan kondisi lingkungan

54 PROSES PERSEPSI Proses memahami dan menginterpretasikan atau menafsirkan info sensoris yang diterima oleh indera Proses pemahaman atau pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus. Stimulus didapat dari proses penginderaan thd objek, peristiwa, atau hubungan2 antar gejala yang selanjutnya diproses oleh otak. Istilah persepsi sering dikacaukan dengan sensasi. Sensasi hanya berupa kesan sesaat, saat stimulus baru diterima otak dan belum diorganisasikan dengan stimulus lainnya dan ingatan-ingatan yang berhubungan dengan stimulus tsb.

55 Proses pengolahan persepsi Melakukan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan. Melakukan perbedaan antara figure (rangsangan inti) dan background (latar belakang). Menciptakan bagian-bagian menjadi satu kesatuan. Kemampuan memadukan berbagai komponen yang terdiri dari bermacam-macam elemen menjadi suatu kesatuan sehingga membentuk satu pengertian tersendiri.

56 Persepsi Auditif Kemampuan untuk memahami dan menginterpretasikan segala sesuatu yang didengar. Persepsi ini mencakup kemampuan: - Kesadaran fonologis : kesadaran bahwa bahasa dapat dipecah ke dalam kata, suku kata, dan fonem (bunyi huruf) - Diskriminasi auditif : kemampuan mngingat perbedaan antara bunyi2fonem dan mengidentifikasi kata2 yang sama dengan kata-kata yang berbeda - Ingatan auditif : kemampuan untuk menyimpan dan mengingat sesuatu yang didengar - Urutan auditif : kemampuan mengingat urutan hal-hal yang disampaikan secara lisan - Perpaduan auditif : kemampuan memadukan elemen2 fonem tunggal atau berbagai fonem menjadi suatu kata yang utuh

57 Terima kasih

58 Tunarungu Ganda

59 Definisi/pengertian tunarungu ganda Anak yang mengalami ketunarunguan juga disertai hambatan atau kelainan lainnya (ganda). Ganda bisa berarti lebih dari satu, atau mengalami dua macam kelainan sekaligus, atau tiga kelainan sekaligus, bahkan mungkin empat kelainan sekaligus.

60 Kelompok ATR ganda 1. ATR-netra, yaitu anak yang mengalami ketunarunguan sekaligus mengalami tunanetra. 2. ATR-grahita, yaitu anak yang mengalami tunarungu sekaligus mengalami tunagrahita. 3. ATR-daksa, yaitu anak yang mengalami tunarungu sekaligus mengalami tunadaksa. 4. ATR sekaligus mengalami tunanetra dan tunagrahita. 5. ATR sekaligus mengalami tunanetra, tunagrahita dan tunadaksa.

61 Penempatan pendidikan ATR ganda 1. Penyerahan (Referal) dari lembaga masyarakat dan rumah sakit. 2. Pemindahan dari program sekolah khusus (SLB-G) kepada program sekolah khusus (SLB-B). Apabila kelainan tambahan yg dialami ATR tidak terlalu berat. 3. Pemindahan dari program SLB-B kepada program SLB-G. Dilaksanakan apabila kelainan tambahan dari anak tsb bertambah berat shg memerlukan pelayanan yang lebih khusus lagi.

62 Beberapa cara menghilangkan perilaku menyimpang ATR ganda 1. Tindakan korektif berlebih (Over correction), sbg salah satu alternatif yg melibatkan hukuman dan usaha mengurangi perilaku menyimpang. Tujuannya adalah untuk mendidik ATR bertanggungjawab penuh thd kerusakan atau kekacauan yg disebabkan perilakunya. Merupakan cara tepat utk menghilangkan perilaku yg tidak pantas, dan dijadikan pola perlakuan yang menetap.

63 lanjutan 2. Time-out. Sbg suatu cara tepat yg bersifat temporer utk mengalihkan perhatian anak dari situasi yang tidak sesuai dgn norma-norma yang berlaku, kpd situasi yang memperkuat perilaku yang diharapkan. Yang perlu diperhatikan dalam time-out: a. pengelolaan time-out. Adanya dialog antara anak dan guru serta perlunya reinforcement.

64 lanjutan b. pengalihan situasi/lokasi yang tidak menyenangkan ATR ganda. Guru dituntut kritis dalam melaksanakan time-out. c. konsistensi prosedur time-out. Prosedur time out harus dilaksanakan scr sistematis sampai pada tahap evaluasi utk memperoleh data tingkat keefektifan program time-out tsb. d. lokasi time-out. Harus secara kontinyu dievaluasi scr cermat guna menjamin bahwa time-out bebas dari sumber reinforcement negatif dan dilaksanakan di dalam ruangan kelas.

65 lanjutan e. periode time-out relatif singkat. Proses time out bagi ATR berlangsung maksimum 10 menit, atau tergantung kondisi ATR. f. reinforcement perilaku. Proses time out dimaksudkan utk mengurangi perilaku yg tidak baik pada ATR ganda, utk itu perlu motivasi pribadi dari guru. g. pemberitahuan hasil proses time-out. Guru harus bertindak bijaksana dengan memberikan alasan-alasan yang tepat.

66 lanjutan 3. Pemantapan perilaku. Dilakukan dengan pemberian reinforcement yg sungguhsungguh dan berlangsung beberapa menit. Kemudian frekuensinya dikurangi. 4. Kontak mata. Harus memperhatikan jarak antara guru dan anak, untuk selanjutnya dilatih bersamaan dgn aktivitas meniru. 5. Aktivitas meniru. Harus diawali dari sesuatu yg sederhana yang berpangkal dari kontak mata dgn berbagai kegiatan.

67 lanjutan 6. Pengembangan konsep. Terjadi apabila anak belajar dan berusaha mengembkannya sesuai dng ketentuan dan cermat. Dilakukan dgn cara guru menjelaskan materi dari bagian-bagian kecil dan dikemb dengan pemahaman lebih lanjut shg anak dapat menghub dari bag-bag materi tsb menjadi materi yang lebih utuh. 7. Belajar mandiri. Anak diberi kesempatan melalui kerja mandiri dalam ruangan khusus/ruangan kerja. Dalam pelaksanaannya ATR ganda harus diberi kesempatan utk melaksanakan aktivitas dan harus menikmati aktivitas tsb. Guru harus memberikan reinforcement melalui ide-ide yang mendukung terlaksananya belajar mandiri.

68 Aktivitas kebutuhan dasar ATR ganda 1. Menyediakan makanan dan perawatan yang layak 2. Melatih menggunakan toilet (toilet training) 3. Mengajarkan keterampilan motorik, bahasa, kognisi, sosial dan merawat diri. 4. Melatih orientasi dalam lingkungan keluarga, masyarakat dan situasi sosial yang bervariasi. 5. Mentranfer tujuan budaya. 6. Meningkatkan keterampilan interpersonal dan sosialisasi. 7. Mengendalikan perilaku anak dan memberikan bimbingan

69 Alhamdulillah

BANG EMOSI YG NORMAL

BANG EMOSI YG NORMAL Drs. Sunaryo, M.Pd. PEMAHAMAN EMOSI SETIAP INDIVIDU MEMILIKI EMOSI DASAR POSITIF & NEGATIF EMOSI HRS DISALURKAN / DIEKSPRESIKAN TKLK MERUPAKAN CERMIN EMOSI ARAH PERKEMBANGAN EMOSI : KESEIMBANGAN EMOSI

Lebih terperinci

HAMBATAN PERHATIAN, KONSENTRASI, PERSEPSI, DAN MOTORIK. Mohamad Sugiarmin

HAMBATAN PERHATIAN, KONSENTRASI, PERSEPSI, DAN MOTORIK. Mohamad Sugiarmin HAMBATAN PERHATIAN, KONSENTRASI, PERSEPSI, DAN MOTORIK Mohamad Sugiarmin PERSEPSI Proses mental yg menginterpretasikan dan memberi arti pd obyek yg ditangkap atau diamati oleh indera. Ketepatan persepsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai rangsangan, terutama melalui indera

Lebih terperinci

DRS. DUDI GUNAWAN,M.Pd

DRS. DUDI GUNAWAN,M.Pd Pemerolehan Bahasa,kesiapan Bicara DRS. DUDI GUNAWAN,M.Pd Persyaratan Perolehan Bahasa Pada Anak 1. Anak perlu memperoleh akses bahasa informasi kebahasaan dalam jumlah yang sangat besar. 2. Anak selalu

Lebih terperinci

BIMBINGAN PADA SISWA DENGAN HAMBATAN. Sosialisasi KTSP

BIMBINGAN PADA SISWA DENGAN HAMBATAN. Sosialisasi KTSP BIMBINGAN PADA SISWA DENGAN HAMBATAN 1 DEFINISI HEARING IMPAIRMENT (TUNARUNGU) TERKANDUNG DUA KATEGORI YAITU: DEAF (KONDISI KEHILANGAN PENDENGARAN YANG BERAT) DAN HARD OF HEARING (KEADAAN MASIH MEMILIKI

Lebih terperinci

2015 PENGGUNAAN MEDIA PLAYDOUGH TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS PERMULAAN ANAK TUNARUNGU YANG DISERTAI CEREBRAL PALSY KELAS VII DI SLB-B YPLB MAJALENGKA

2015 PENGGUNAAN MEDIA PLAYDOUGH TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS PERMULAAN ANAK TUNARUNGU YANG DISERTAI CEREBRAL PALSY KELAS VII DI SLB-B YPLB MAJALENGKA A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Setiap manusia mendapatkan pengetahuan salah satunya dari indera pendengaran. Melalui pendengaran manusia meniru apa yang dikatakan oleh manusia lain. Dari hasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang dikenal dengan istilah adolescence merupakan peralihan dari masa kanakkanak

BAB I PENDAHULUAN. yang dikenal dengan istilah adolescence merupakan peralihan dari masa kanakkanak BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Salah satu fase dalam perkembangan individu adalah masa remaja. Remaja yang dikenal dengan istilah adolescence merupakan peralihan dari masa kanakkanak ke

Lebih terperinci

DRS. DUDI GUNAWAN,M.Pd

DRS. DUDI GUNAWAN,M.Pd DRS. DUDI GUNAWAN,M.Pd Bicara Pemerolehan Bahasa,kesiapan Bicara DRS. DUDI GUNAWAN,M.Pd Pengertian Bicara suatu proses pengucapan bunyi-bunyi bahasa dengan alat ucap manusia. merupakan produksi suara secara

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. diuraikan mengenai pengertian penerimaan diri, aspek-aspek penerimaan diri yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. diuraikan mengenai pengertian penerimaan diri, aspek-aspek penerimaan diri yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bagian ini menjelaskan mengenai teori penerimaan diri ibu tiri yang sejalan dengan fokus penelitian yaitu penerimaan diri ibu tiri yang memiliki anak tunarungu. Menjawab rumusan

Lebih terperinci

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Apakah yang dimaksud dengan ABK (exceptional children)? a. berkaitan dengan konsep/istilah disability = keterbatasan b. bersinggungan dengan tumbuh kembang normal--abnormal, tumbuh

Lebih terperinci

MENGALAMI HAMBATAN, GANGGUAN, KELAMBATAN / MEMILIKI FAKTOR RESIKO SHG UTK MENCAPAI PERKEMBANGAN OPTIMAL DIPERLUKAN LAYANAN/INTERVENSI KHUSUS PERMANEN

MENGALAMI HAMBATAN, GANGGUAN, KELAMBATAN / MEMILIKI FAKTOR RESIKO SHG UTK MENCAPAI PERKEMBANGAN OPTIMAL DIPERLUKAN LAYANAN/INTERVENSI KHUSUS PERMANEN sunardi SIAPA ABK ITU? MENGALAMI HAMBATAN, GANGGUAN, KELAMBATAN / MEMILIKI FAKTOR RESIKO SHG UTK MENCAPAI PERKEMBANGAN OPTIMAL DIPERLUKAN LAYANAN/INTERVENSI KHUSUS SIAPA MEMILIKI MAKNA & SPEKTRUM YG LBH

Lebih terperinci

KEMAMPUAN KHUSUS INDIVIDU & ANTISIPASI PENDIDIKAN

KEMAMPUAN KHUSUS INDIVIDU & ANTISIPASI PENDIDIKAN KEMAMPUAN KHUSUS INDIVIDU & ANTISIPASI PENDIDIKAN III. INDIVIDU2 KHUSUS (EXCEPTIONAL PEOPLE) A. Pengertian Indv yg scr signifikan berbeda dgn indv normal & mengalami hambatan utk mencapai sukses dlm aktivitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diinginkan karena adanya keterbatasan-keterbatasan, baik fisik maupun mental.

BAB I PENDAHULUAN. diinginkan karena adanya keterbatasan-keterbatasan, baik fisik maupun mental. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Setiap manusia berharap dilahirkan dalam keadaan yang normal dan sempurna, akan tetapi tidak semua manusia mendapatkan kesempurnaan yang diinginkan karena adanya keterbatasan-keterbatasan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. fisik yang berbeda-beda, sifat yang berbeda-beda dan tingkah laku yang

BAB I PENDAHULUAN. fisik yang berbeda-beda, sifat yang berbeda-beda dan tingkah laku yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap manusia yang diciptakan ke dunia ini mempunyai keadaan fisik yang berbeda-beda, sifat yang berbeda-beda dan tingkah laku yang berbeda-beda pula. Kesempurnaan

Lebih terperinci

TUMBUH KEMBANG ANAK USIA DINI. Rita Eka Izzaty

TUMBUH KEMBANG ANAK USIA DINI. Rita Eka Izzaty TUMBUH KEMBANG ANAK USIA DINI Rita Eka Izzaty SETUJUKAH BAHWA Setiap anak cerdas Setiap anak manis Setiap anak pintar Setiap anak hebat MENGAPA ANAK SEJAK USIA DINI PENTING UNTUK DIASUH DAN DIDIDIK DENGAN

Lebih terperinci

AUTISME MASA KANAK-KANAK Autis berasal dari kata auto, yg berarti sendiri. Istilah autisme diperkenalkan oleh Leo Kanner, 1943 Pandangan lama: autisme

AUTISME MASA KANAK-KANAK Autis berasal dari kata auto, yg berarti sendiri. Istilah autisme diperkenalkan oleh Leo Kanner, 1943 Pandangan lama: autisme AUTISME MASA KANAK-KANAK Autis berasal dari kata auto, yg berarti sendiri. Istilah autisme diperkenalkan oleh Leo Kanner, 1943 Pandangan lama: autisme mrpk kelainan seumur hidup. Fakta baru: autisme masa

Lebih terperinci

POLA PENGASUHAN ANAK BERWAWASAN GENDER

POLA PENGASUHAN ANAK BERWAWASAN GENDER POLA PENGASUHAN ANAK BERWAWASAN GENDER Pelatihan/TOT Ketahanan Keluarga Berwawasan Gender Pusat Pelatihan Gender dan Peningkatan Kualitas Perempuan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Media 4.1

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan bagi seseorang telah menjadi kebutuhan pokok dan hak-hak dasar baginya

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan bagi seseorang telah menjadi kebutuhan pokok dan hak-hak dasar baginya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan bagi seseorang telah menjadi kebutuhan pokok dan hak-hak dasar baginya selaku warga negara, mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengembangkan

Lebih terperinci

KEMAMPUAN KHUSUS INDIVIDU & ANTISIPASI PENDIDIKAN

KEMAMPUAN KHUSUS INDIVIDU & ANTISIPASI PENDIDIKAN KEMAMPUAN KHUSUS INDIVIDU & ANTISIPASI PENDIDIKAN II. CACAT MENTAL Grahita pikir / memahami. Tuna Grahita ketidakmampuan dalam berpikir. MR / Mental Retardation. awalnya hanya mengacu pd aspek kognitif

Lebih terperinci

Oleh: Nur Hayati, M.Pd

Oleh: Nur Hayati, M.Pd Oleh: Nur Hayati, M.Pd Deteksi Dini Permasalahan Permasalahan Makro Anak Usia Dini Anak yang terlantar, kurang mendapat perhatian terutama untuk mengembangkan potensinya ( misalnya anak jalanan) Diberlakukannya

Lebih terperinci

PENDIDIKAN KHUSUS LANDASAN YURIDIS

PENDIDIKAN KHUSUS LANDASAN YURIDIS PENDIDIKAN KHUSUS LANDASAN YURIDIS UU No.20 Thn.2003 Sistem Pendidikan Nasional Pasal 5 Ayat (2) : Warga Negara yang mempunyai kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan atau sosial berhak memperoleh

Lebih terperinci

Bagaimana? Apa? Mengapa?

Bagaimana? Apa? Mengapa? ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS ( A B K ) Bagaimana? Apa? Mengapa? PENGERTIAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS ( A B K ) Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak yang dalam pendidikan memerlukan pelayanan yang spesifik,

Lebih terperinci

HAMBATAN BELAJAR ANAK TUNARUNGU

HAMBATAN BELAJAR ANAK TUNARUNGU HAMBATAN BELAJAR ANAK TUNARUNGU Anak tunarungu di dalam mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya seringkali dihadapkan kepada berbagai masalah dalam kehidupannya. Anak tunarungu adalah seseorang yang

Lebih terperinci

SENSASI PENDENGARAN Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Umum I yang dibina oleh Ibu Dyah Sulistyorini, M, Psi. Oleh

SENSASI PENDENGARAN Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Umum I yang dibina oleh Ibu Dyah Sulistyorini, M, Psi. Oleh SENSASI PENDENGARAN Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Umum I yang dibina oleh Ibu Dyah Sulistyorini, M, Psi Oleh Diar Arsyianti ( 406112402734) Universitas Negeri Malang Fakultas Ilmu

Lebih terperinci

Dimulai saat konsepsi (pembuahan) yg terjadi secara alamiah sel. reprod. pria (spermatozoa) ± 280 hari sebelum lahir

Dimulai saat konsepsi (pembuahan) yg terjadi secara alamiah sel. reprod. pria (spermatozoa) ± 280 hari sebelum lahir Awal kehidupan Dimulai saat konsepsi (pembuahan) yg terjadi secara alamiah sel reproduksi wanita (ovum) dibuahi sel reprod. pria (spermatozoa) ± 280 hari sebelum lahir KARAKTERISTIK YG PENTING PD MASA

Lebih terperinci

Sebagai pengalaman baru

Sebagai pengalaman baru Sebagai pengalaman baru Sekurang2nya ada 6 macam pengalaman baru yg diperoleh oleh klien dalam proses konseling yaitu : 1. Mengenal konflik internal 2. Menghadapi realitas 3. Mengembangkan konsep diri

Lebih terperinci

PENDIDIKAN KHUSUS PUSAT KURIKULUM BALITBANG DIKNAS

PENDIDIKAN KHUSUS PUSAT KURIKULUM BALITBANG DIKNAS PENDIDIKAN KHUSUS PUSAT KURIKULUM BALITBANG DIKNAS LANDASAN YURIDIS UU No.20 Thn.2003 Sistem Pendidikan Nasional Pasal 5 Ayat (2) : Warga Negara yang mempunyai kelainan fisik, emosional, mental, intelektual,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I. A. Latar Belakang. Anak yang dilahirkan secara sehat baik dalam hal fisik dan psikis

BAB I PENDAHULUAN. I. A. Latar Belakang. Anak yang dilahirkan secara sehat baik dalam hal fisik dan psikis 14 BAB I PENDAHULUAN I. A. Latar Belakang Anak yang dilahirkan secara sehat baik dalam hal fisik dan psikis merupakan harapan bagi semua orangtua yang sudah menantikan kehadiran anak dalam kehidupan perkawinan

Lebih terperinci

FASE PRASEKOLAH (USIA TK) Usia 2-6 tahun Kesadaran sebagai pria atau wanita Dapat mengatur dlm buang air (toilet training) Mengenal beberapa hal yg di

FASE PRASEKOLAH (USIA TK) Usia 2-6 tahun Kesadaran sebagai pria atau wanita Dapat mengatur dlm buang air (toilet training) Mengenal beberapa hal yg di KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN FASE PRASEKOLAH (TAMAN KANAK-KANAK) KANAK) FASE PRASEKOLAH (USIA TK) Usia 2-6 tahun Kesadaran sebagai pria atau wanita Dapat mengatur dlm buang air (toilet training) Mengenal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. segala potensinya. Oleh sebab itu pendidikan harus diterima olah setiap warga negara,

BAB I PENDAHULUAN. segala potensinya. Oleh sebab itu pendidikan harus diterima olah setiap warga negara, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan sangatlah penting bagi setiap manusia dalam rangka mengembangkan segala potensinya. Oleh sebab itu pendidikan harus diterima olah setiap warga negara,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tunarungu 1. Pengertian Anak Tunarungu Anak tunarungu merupakan anak yang mempunyai gangguan pada pendengarannya sehingga tidak dapat mendengar bunyi dengan sempurna atau bahkan

Lebih terperinci

II. Deskripsi Kondisi Anak

II. Deskripsi Kondisi Anak I. Kondisi Anak 1. Apakah Anak Ibu/ Bapak termasuk mengalami kelainan : a. Tunanetra b. Tunarungu c. Tunagrahita d. Tunadaksa e. Tunalaras f. Tunaganda g. Kesulitan belajar h. Autisme i. Gangguan perhatian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara. Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, seperti yang tercantum dalam Undang Undang

Lebih terperinci

Permasalahan Anak Usia Taman Kanak-Kanak Oleh: Nur Hayati, S.Pd PGTK FIP UNY

Permasalahan Anak Usia Taman Kanak-Kanak Oleh: Nur Hayati, S.Pd PGTK FIP UNY Permasalahan Anak Usia Taman Kanak-Kanak Oleh: Nur Hayati, S.Pd PGTK FIP UNY Pendahuluan Setiap anak memiliki karakteristik perkembangan yang berbeda-beda. Proses utama perkembangan anak merupakan hal

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA DAN BERBICARA ANAK TUNARUNGU

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA DAN BERBICARA ANAK TUNARUNGU JASSI_anakku Volume 7 Nomor 1 Juni 007 hlm 101-110 PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA DAN BERBICARA ANAK TUNARUNGU Tati Hernawati Jurusan PLB FIP Universitas Pendidikan Indonesia ABSTRAK Tulisan ini memberikan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN MASA BAYI

PERKEMBANGAN MASA BAYI PERKEMBANGAN MASA BAYI Tahap Masa Bayi Neonatal (0 atau baru Lahir-2 minggu Bayi (2 minggu- 2 tahun) TUGAS PERKEMBANGAN MASA BAYI Belajar makan makanan padat Belajar berjalan Belajar bicara Belajar menguasai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 0486/UI/1992 tentang Taman Kanak-

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 0486/UI/1992 tentang Taman Kanak- BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak usia dini merupakan kelompok potensial dalam masyarakat yang perlu mendapat perhatian dan proritas khusus, baik para orang tua dan lembaga pendidikan. Keputusan

Lebih terperinci

Pengantar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Pengantar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Pengantar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Dita Rachmayani., S.Psi., M.A dita.lecture.ub.ac.id / [email protected] ISTILAH APA SAJA YANG ANDA KETAHUI MENGENAI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS? LABELING Disorder

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan adalah hal yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan adalah hal yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah hal yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Pendidikan tidak hanya bertindak sebagai alat yang dapat meningkatkan kapasitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bicara sebagai suatu symbol linguistic merupakan ekspresi verbal dari

BAB I PENDAHULUAN. Bicara sebagai suatu symbol linguistic merupakan ekspresi verbal dari 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bicara sebagai suatu symbol linguistic merupakan ekspresi verbal dari bahasa yang digunakan individu dalam berkomunikasi. Komunikasi adalah pengiriman dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan merupakan pola perubahan yang dimulai sejak pembuahan, yang berlanjut sepanjang rentang hidup (Santrock, 2007 : 7). Perkembangan adalah hal yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain

BAB I PENDAHULUAN. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DAN STRATEGI PEMBELAJARANNYA. Oleh Mardhiyah, Siti Dawiyah, dan Jasminto 1

IDENTIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DAN STRATEGI PEMBELAJARANNYA. Oleh Mardhiyah, Siti Dawiyah, dan Jasminto 1 IDENTIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DAN STRATEGI PEMBELAJARANNYA Oleh Mardhiyah, Siti Dawiyah, dan Jasminto 1 Abstract: Artikel ini dimaksudkan untuk membantu para guru dalam mengidentifikasi anak berkebutuhan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap orang menginginkan tubuh yang sempurna. Banyak orang yang mempunyai anggapan bahwa penampilan fisik yang menarik diidentikkan dengan memiliki tubuh yang

Lebih terperinci

DISAMPAIKAN PADA KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN DI TEPUS GUNUNGKIDUL, 2013 Aini Mahabbati PLB FIP UNY

DISAMPAIKAN PADA KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN DI TEPUS GUNUNGKIDUL, 2013 Aini Mahabbati PLB FIP UNY DISAMPAIKAN PADA KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN DI TEPUS GUNUNGKIDUL, 2013 Aini Mahabbati PLB FIP UNY Email : [email protected] Gangguan perkembangan adalah permasalahan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK PRASEKOLAH

PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK PRASEKOLAH PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK PRASEKOLAH Pendahuluan Pada hakikatnya, anak manusia, ketika dilahirkan telah dibekali dengan bermacam-macam potensi yakni kemungkinan-kemungkinan untuk berkembang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH. Tubuh manusia mengalami berbagai perubahan dari waktu kewaktu

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH. Tubuh manusia mengalami berbagai perubahan dari waktu kewaktu 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Tubuh manusia mengalami berbagai perubahan dari waktu kewaktu sejak lahir yang meliputi pertumbuhan dan perkembangan. Perubahan yang cukup mencolok terjadi

Lebih terperinci

1. DEFINISI MURID TUNA CAKAP BELAJAR

1. DEFINISI MURID TUNA CAKAP BELAJAR BIMBINGAN BAGI MURID TUNA CAKAP BELAJAR APRILIA TINA L 1. 1. DEFINISI MURID TUNA CAKAP BELAJAR Tuna cakap belajar (Learning Disabilities/LD) Cenderung bersifat internal Pandangan Ahli ttg LD: a. Ahli pendidikan:

Lebih terperinci

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) Kuliah 8 Adriatik Ivanti, M.Psi, Psi

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) Kuliah 8 Adriatik Ivanti, M.Psi, Psi ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) Kuliah 8 Adriatik Ivanti, M.Psi, Psi DEFINISI ADHD Ialah : anak yang memiliki kesulitan memusatkan perhatian dan mempertahankan fokus pada tugas yang sedang

Lebih terperinci

Proses pendengaran terjadi mengikuti alur sebagai berikut: gelombang suara

Proses pendengaran terjadi mengikuti alur sebagai berikut: gelombang suara Fisiologi pendengaran Proses pendengaran terjadi mengikuti alur sebagai berikut: gelombang suara mencapai membran tympani, membran tympani bergetar menyebabkan tulang-tulang pendengaran bergetar. Tulang

Lebih terperinci

Merayakan Ulangtahun Sebagai Strategi Pembelajaran Kosakata Abstrak (Tanggal, Bulan, Tahun) Lisza Megasari, S.Pd

Merayakan Ulangtahun Sebagai Strategi Pembelajaran Kosakata Abstrak (Tanggal, Bulan, Tahun) Lisza Megasari, S.Pd Merayakan Ulangtahun Sebagai Strategi Pembelajaran Kosakata Abstrak (Tanggal, Bulan, Tahun) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Anak Tunarungu kelas 3 SLB Negeri Binjai Oleh: Pendahuluan Anak berkebutuhan

Lebih terperinci

- IQ (inteleqtual quesion) Angka yg menjelaskan ingkat kecerdasan seseorang yg dibandingkan dengan sesamanya dalam 1 populasi

- IQ (inteleqtual quesion) Angka yg menjelaskan ingkat kecerdasan seseorang yg dibandingkan dengan sesamanya dalam 1 populasi LBM 5 Ganggan perilaku pada anak Step 1 - Instabilitas genomic Keidakstabilan keseluruhan geneic yg dimiliki sel - IQ (inteleqtual quesion) Angka yg menjelaskan ingkat kecerdasan seseorang yg dibandingkan

Lebih terperinci

pendengarannya sehingga hal ini berpengaruh pada kemampuan bahasanya. Karena

pendengarannya sehingga hal ini berpengaruh pada kemampuan bahasanya. Karena BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan kesatuan terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari orang tua dan anak (Bahri Djamarah, 2004:16). Orang tua dan anak memiliki keterikatan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN MELIBATKAN PERUBAHAN PERKEMBANGAN MERUPAKAN HASIL DR PROSES KEMATANGAN

PERKEMBANGAN MELIBATKAN PERUBAHAN PERKEMBANGAN MERUPAKAN HASIL DR PROSES KEMATANGAN Oleh: PERKEMBANGAN MELIBATKAN PERUBAHAN PERKEMBANGAN MERUPAKAN HASIL DR PROSES KEMATANGAN KONSEP PERKEMBANGAN PERISTILAHAN: Pertumbuhan (Growth) Perkembangan (Development) Kematangan (Maturation) Penuaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan anak yang berbeda-beda. Begitu pula dengan pendidikan dan

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan anak yang berbeda-beda. Begitu pula dengan pendidikan dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penanganan untuk anak berkebutuhan khusus menjadi suatu tantangan tersendiri bagi penyelenggara pendidikan luar biasa mengingat karakteristik dan kebutuhan anak yang

Lebih terperinci

Anak Autistik dan Anak Kesulitan Belajar. Mohamad Sugiarmin Pos Indonesia Bandung, Senin 27 April 2009

Anak Autistik dan Anak Kesulitan Belajar. Mohamad Sugiarmin Pos Indonesia Bandung, Senin 27 April 2009 Anak Autistik dan Anak Kesulitan Belajar Mohamad Sugiarmin Pos Indonesia Bandung, Senin 27 April 2009 Pengantar Variasi potensi dan masalah yang terdapat pada ABK Pemahaman yang beragam tentang ABK Koordinasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Disability (kekhususan) merupakan konsekuensi fungsional dari kerusakan

BAB I PENDAHULUAN. Disability (kekhususan) merupakan konsekuensi fungsional dari kerusakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Disability (kekhususan) merupakan konsekuensi fungsional dari kerusakan bagian tubuh, atau kondisi yang menggambarkan adanya disfungsi atau berkurangnya suatu fungsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dilihat dari fisik, tetapi juga dilihat dari kelebihan yang dimiliki.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dilihat dari fisik, tetapi juga dilihat dari kelebihan yang dimiliki. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia diciptakan dengan kesempurnaan yang berbeda. Kesempurnaan tidak hanya dilihat dari fisik, tetapi juga dilihat dari kelebihan yang dimiliki. Umumnya seseorang

Lebih terperinci

BAB V PERKEMBANGAN MASA BAYI

BAB V PERKEMBANGAN MASA BAYI BAB V PERKEMBANGAN MASA BAYI PERKEMBANGAN BAYI NEONATAL CIRI-CIRI BAYI NEONATAL Merupakan periode tersingkat Terjadi penyesuaian radikal Merupakan masa terhentinya perkembangan Merupakan pendahuluan dari

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SDLB 8/5/2014 KD BAHASA INDONESIA SD 1

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SDLB 8/5/2014 KD BAHASA INDONESIA SD 1 PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SDLB 8/5/2014 KD BAHASA INDONESIA SD 1 PERUBAHAN POLA PEMBELAJARAN DALAM KURIKULUM 2013 NO STATUS RUMUSAN KURIKULUM BARU 1. Belajar dengan beraktivitas (paham karena melakukan)

Lebih terperinci

PENDEKATAN DAN METODE PEMBELAJARAN ARTIKULASI DAN OPTIMALISASI FUNGSI PENDENGARAN. Oleh : Dra. Tati Hernawati, M.Pd.

PENDEKATAN DAN METODE PEMBELAJARAN ARTIKULASI DAN OPTIMALISASI FUNGSI PENDENGARAN. Oleh : Dra. Tati Hernawati, M.Pd. PENDEKATAN DAN METODE PEMBELAJARAN ARTIKULASI DAN OPTIMALISASI FUNGSI PENDENGARAN Oleh : Dra. Tati Hernawati, M.Pd. ============================================================== Pendekatan dan Metode

Lebih terperinci

STUDI KASUS TENTANG KEMAMPUAN MEMBACA UJARAN ANAK TUNARUNGU DI SLB- B DENA UPAKARA WONOSOBO SKRIPSI

STUDI KASUS TENTANG KEMAMPUAN MEMBACA UJARAN ANAK TUNARUNGU DI SLB- B DENA UPAKARA WONOSOBO SKRIPSI STUDI KASUS TENTANG KEMAMPUAN MEMBACA UJARAN ANAK TUNARUNGU DI SLB- B DENA UPAKARA WONOSOBO SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Lebih terperinci

BAB V PERKEMBANGAN MASA BAYI. Terbagi 2 tahap : - Neonatal (0 atau baru lahir sd ± 2minggu) -Bayi (setelah 2 minggu sd 2 tahun)

BAB V PERKEMBANGAN MASA BAYI. Terbagi 2 tahap : - Neonatal (0 atau baru lahir sd ± 2minggu) -Bayi (setelah 2 minggu sd 2 tahun) BAB V PERKEMBANGAN MASA BAYI Terbagi 2 tahap : - Neonatal (0 atau baru lahir sd ± 2minggu) -Bayi (setelah 2 minggu sd 2 tahun) TUGAS PERKEMBANGAN MASA BAYI Belajar makan makanan padat Belajar berjalan

Lebih terperinci

SENSASI SENSAS dan PERSEPSI PERSE 4/2/

SENSASI SENSAS dan PERSEPSI PERSE 4/2/ SENSASI dan PERSEPSI 4/2/2015 1 SENSASI =PENGAMATAN (PENGINDERAAN) 4/2/2015 2 A. PENGERTIAN PENGAMATAN MANUSIA PENGAMATAN REALITAS (DUNIA OBJEKTIF) 4/2/2015 3 PENGAMATAN Pengamatan / penginderaan : proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap manusia pasti melewati tahap-tahap perkembangan yaitu masa bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, dan masa dewasa. Namun ada suatu masa dimana individu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Autis merupakan gangguan perkembangan yang menghambat berbagai aspek dalam kehidupan anak dengan gangguan autis. Anak autis rata-rata mengalami gangguan perkembangan

Lebih terperinci

PENDIDIKAN KHUSUS & PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS

PENDIDIKAN KHUSUS & PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS PENDIDIKAN KHUSUS & PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS HERRY WIDYASTONO Kepala Bidang Kurikulum Pendidikan Khusus PUSAT KURIKULUM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 6/9/2010 Herry

Lebih terperinci

ALAT IDENTIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (AI ABK)

ALAT IDENTIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (AI ABK) ALAT IDENTIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (AI ABK) DINAS PENDIDIKAN PROPINSI BANTEN PROYEK PENYELENGGARAAN DAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN LUAR BIASA 2002 1 PENGANTAR Anak dengan kebutuhan khusus perlu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada tahun-tahun pertama kehidupan, mendengar adalah bagian. terpenting dari perkembangan sosial, emosional dan kognitif anak.

BAB I PENDAHULUAN. Pada tahun-tahun pertama kehidupan, mendengar adalah bagian. terpenting dari perkembangan sosial, emosional dan kognitif anak. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada tahun-tahun pertama kehidupan, mendengar adalah bagian terpenting dari perkembangan sosial, emosional dan kognitif anak. Kehilangan pendengaran yang ringan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Anak-anak yang Spesial ini disebut juga sebagai Anak Berkebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. Anak-anak yang Spesial ini disebut juga sebagai Anak Berkebutuhan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh sempurna, sehat, tanpa kekurangan apapun. Akan tetapi, terkadang ada hal yang mengakibatkan anak tidak berkembang

Lebih terperinci

AUDIOLOGI. dr. Harry A. Asroel, Sp.THT-KL BAGIAN THT KL FK USU MEDAN 2009

AUDIOLOGI. dr. Harry A. Asroel, Sp.THT-KL BAGIAN THT KL FK USU MEDAN 2009 AUDIOLOGI dr. Harry A. Asroel, Sp.THT-KL BAGIAN THT KL FK USU MEDAN 2009 Definisi : Ilmu yang mempelajari pendengaran MENDENGAR diperlukan 1.Rangsang yg Adekuat bunyi 2.Alat penerima rangsang telinga BUNYI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk sosial. Dalam perkembangannya yang normal,

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk sosial. Dalam perkembangannya yang normal, BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Manusia adalah makhluk sosial. Dalam perkembangannya yang normal, seorang bayi mulai bisa berinteraksi dengan ibunya pada usia 3-4 bulan. Bila ibu merangsang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan berkembang secara normal terutama anak, namun itu semua tidak didapatkan

BAB I PENDAHULUAN. dan berkembang secara normal terutama anak, namun itu semua tidak didapatkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap keluarga menginginkan semua anggota keluarganya dapat tumbuh dan berkembang secara normal terutama anak, namun itu semua tidak didapatkan oleh keluarga

Lebih terperinci

Mata kuliah PERKEMBANGAN & BELAJAR PESERTA DIDIK

Mata kuliah PERKEMBANGAN & BELAJAR PESERTA DIDIK Mata kuliah PERKEMBANGAN & BELAJAR PESERTA DIDIK I. Hakikat Perkembangan&Pertumbuhan Oleh Agung Hastomo, M.Pd 19800811 200604 1002 Sel telur + Sel sperma ZIGOT Berdiferensiasi menjadi Tulang,syaraf, &

Lebih terperinci

Deteksi Potensi Kesulitan. Yusi Riksa Yustiana PPB FIP UPI

Deteksi Potensi Kesulitan. Yusi Riksa Yustiana PPB FIP UPI Deteksi Potensi Kesulitan Belajar Siswa Yusi Riksa Yustiana PPB FIP UPI KESULITAN BELAJAR Hambatan-hambatan yang dialami siswa dalam : menyesuaikan diri dengan situasi pembelajaran/ pendidikan, mengikuti

Lebih terperinci

Adaptif. Adaptif dapat diartikan sebagai, penyesuaian, modifikasi, khusus, terbatas, korektif, dan remedial.

Adaptif. Adaptif dapat diartikan sebagai, penyesuaian, modifikasi, khusus, terbatas, korektif, dan remedial. Adaptif Adaptif dapat diartikan sebagai, penyesuaian, modifikasi, khusus, terbatas, korektif, dan remedial. Pelatihan Adaptif Program latihan yang disesuaikan dengan kebutuhan perorangan yang dikarenakan

Lebih terperinci

BAKAT & INTELEGENSI. Cattel m coba menemukan perbedaan2 individu dlm hal: - ketajaman sensoris (indra) - kekuatan otot 10 aspek - kemampuan mental

BAKAT & INTELEGENSI. Cattel m coba menemukan perbedaan2 individu dlm hal: - ketajaman sensoris (indra) - kekuatan otot 10 aspek - kemampuan mental BAKAT & INTELEGENSI II. BAKAT Menurut Crow & Crow Bakat Kualitas yg dimiliki oleh semua orang dlm tingkat yg beragam / keunggulan khusus dlm bidang perilaku t tentu. Cattel m coba menemukan perbedaan2

Lebih terperinci

Jahoda (Ihrom, 2008), batasan lebih luas Kesehatan mental mencakup : 1) sikap kepribadian yang baik terhadap diri sendiri, kemampuan mengenali diri

Jahoda (Ihrom, 2008), batasan lebih luas Kesehatan mental mencakup : 1) sikap kepribadian yang baik terhadap diri sendiri, kemampuan mengenali diri Jahoda (Ihrom, 2008), batasan lebih luas Kesehatan mental mencakup : 1) sikap kepribadian yang baik terhadap diri sendiri, kemampuan mengenali diri dengan baik. 2) pertumbuhan dan perkembangan serta perwujudan

Lebih terperinci

KONSEP dan MAKNA BELAJAR Belajar dan Pembelajaran Tahun 2013

KONSEP dan MAKNA BELAJAR Belajar dan Pembelajaran Tahun 2013 KONSEP dan MAKNA BELAJAR Belajar dan Pembelajaran Tahun 2013 Anak Belajar dari Kehidupannya Children Learn What They Live (by Dorothy Law Nolte) Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika

Lebih terperinci

ANAK-ANAK DENGAN KELAINAN BICARA DAN BAHASA. bagian-bagian yang berhubungan dengannya seperti fungsi organ bicara

ANAK-ANAK DENGAN KELAINAN BICARA DAN BAHASA. bagian-bagian yang berhubungan dengannya seperti fungsi organ bicara ANAK-ANAK DENGAN KELAINAN BICARA DAN BAHASA A. Definisi Kelainan Bicara dan Bahasa Kelainan bicara dan/atau bahasa adalah adanya masalah dalam komunikasi dan bagian-bagian yang berhubungan dengannya seperti

Lebih terperinci

2015 PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN BAHASA RESEPTIF DAN BAHASA EKSPRESIF PADA ANAK TUNARUNGU USIA SEKOLAH

2015 PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN BAHASA RESEPTIF DAN BAHASA EKSPRESIF PADA ANAK TUNARUNGU USIA SEKOLAH BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan berkebutuhan khusus merupakan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus yang berorientasi pada kebutuhan dan kemampuan yang terdapat pada anak

Lebih terperinci

INTERAKSI DAN KOMUNIKASI

INTERAKSI DAN KOMUNIKASI INTERAKSI DAN KOMUNIKASI Drs Dudi Gunawan, M.Pd INTERAKSI DAN KOMUNIKASI INTERAKSI (hubungan dua orang atau lebih yang saling mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki perilaku) Proses Pembelajaran di Kelas

Lebih terperinci

MENGENAL ANAK TUNAGRAHITA. anak yang biasa-biasa saja, bahkan ada anak yang cepat. Yang menjadi persoalan dalam

MENGENAL ANAK TUNAGRAHITA. anak yang biasa-biasa saja, bahkan ada anak yang cepat. Yang menjadi persoalan dalam 1 MENGENAL ANAK TUNAGRAHITA A. Pengertian Dilihat dari tingkat kecerdasannya, ada anak normal, ada anak di bawah normal, dan ada anak di atas normal. Sehingga dalam belajarnya pun ada anak yang lamban,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sensitif dan akan menentukan perkembangan otak untuk kehidupan dimasa

BAB I PENDAHULUAN. sensitif dan akan menentukan perkembangan otak untuk kehidupan dimasa 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan anak normal, usia 6 tahun merupakan masa yang paling sensitif dan akan menentukan perkembangan otak untuk kehidupan dimasa mendatang. Bayi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Putri Permatasari, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Putri Permatasari, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Terselenggaranya pendidikan di Indonesia telah dijamin seperti yang terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 bahwa : Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan

Lebih terperinci

TUMBUH KEMBANG ANAK YUSI RIKSA YUSTIANA

TUMBUH KEMBANG ANAK YUSI RIKSA YUSTIANA TUMBUH KEMBANG ANAK YUSI RIKSA YUSTIANA PERUBAHAN PADA MANUSIA PERUBAHAN PADA MANUSIA TERJADI KARENA PROSES TUMBUH, MATANG, BELAJAR DAN PERKEMBANGAN TERJADI KARENA MANUSIA ADALAH MAKHLUK YANG TERTINGGI

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Metode eksperimen ini digunakan karena sesuai dengan permasalahan

Lebih terperinci

KESEHATAN MENTAL DLM KEHIDUPAN REMAJA

KESEHATAN MENTAL DLM KEHIDUPAN REMAJA KESEHATAN MENTAL DLM KEHIDUPAN REMAJA Pertemuan 12 Sri Hastuti Handayani, Psi, M.Si KESEHATAN MENTAL DLM KEHIDUPAN REMAJA Pendidikan seks Peran sekolah Kelompok resiko tinggi Kecemasan remaja Tugas perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan Nasional, anak usia dini adalah anak usia 0 (Sejak Lahir) sampai usia

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan Nasional, anak usia dini adalah anak usia 0 (Sejak Lahir) sampai usia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional, anak usia dini adalah anak usia 0 (Sejak Lahir) sampai usia 6 tahun. Secara alamiah perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu proses pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan (insight) dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan ia berkembang Crow

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tunarungu kelas satu SDLB sebanyak enam orang belum mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. tunarungu kelas satu SDLB sebanyak enam orang belum mempunyai 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Berdasarkan hasil studi pendahuluan, diperoleh data bahwa siswa tunarungu kelas satu SDLB sebanyak enam orang belum mempunyai keterampilan membaca permulaan.

Lebih terperinci

LAPORAN OBSERVASI LAPANGAN PERKEMBANGAN DAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

LAPORAN OBSERVASI LAPANGAN PERKEMBANGAN DAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS LAPORAN OBSERVASI LAPANGAN PERKEMBANGAN DAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (Suatu Observasi Lapangan di SDLB Desa Labui, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh) Oleh: Qathrinnida, S.Pd Suatu

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN KOGNITIF (INTELEKTUAL) (PIAGET) Tahap operasional formal (operasi = kegiatan- kegiatan mental tentang berbagai gagasan) Dapat berpikir lo

PERKEMBANGAN KOGNITIF (INTELEKTUAL) (PIAGET) Tahap operasional formal (operasi = kegiatan- kegiatan mental tentang berbagai gagasan) Dapat berpikir lo KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN MASA REMAJA (ADOLESENCE) PERKEMBANGAN KOGNITIF (INTELEKTUAL) (PIAGET) Tahap operasional formal (operasi = kegiatan- kegiatan mental tentang berbagai gagasan) Dapat berpikir logis

Lebih terperinci

ASKEP GANGGUAN PENDENGARAN PADA LANSIA

ASKEP GANGGUAN PENDENGARAN PADA LANSIA ASKEP GANGGUAN PENDENGARAN PADA LANSIA I. PENGERTIAN Berkurangnya Pendengaran adalah penurunan fungsi pendengaran pada salah satu ataupun kedua telinga. Tuli adalah penurunan fungsi pendengaran yang sangat

Lebih terperinci