Jurnal Geoaplika (2006) Volume 1, Nomor 1, hal
|
|
|
- Ridwan Agusalim
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Jurnal Geoaplika (2006) Volume 1, Nomor 1, hal P. Setiadji I. A. Sadisun Bandono Pengamatan dan Pengujian Lapangan dalam Karakterisasi Pelapukan Andesit di Purwakarta Diterima : 6 Februari 2006 Disetujui : 1 Maret 2006 Dipresentasikan : 13 April 2006 Geoaplika 2006 P. Setiadji Mahasiswa Program Magister Teknik Geologi, FIKTM ITB Jurusan Diploma 3 Teknologi Mineral, Fakultas Teknik, Universitas Cenderawasih, Papua I. A. Sadisun* KK Geologi Terapan FIKTM ITB Jl. Ganesha 10, Bandung [email protected] Bandono KK Geologi Terapan FIKTM ITB Jl. Ganesha 10 Bandung * Alamat korespondensi Sari Makalah ini menyajikan tentang pengujian insitu menggunakan Schmidt hammer dan point load untuk menentukan derajat pelapukan material dan massa batuan andesit yang berkembang di daerah beriklim tropis. Lokasi penelitian berada di tiga tempat berbeda di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Andesit yang dijumpai merupakan batuan terobosan dan membentuk morfologi perbukitan yang cukup curam. Karakterisasi pelapukan andesit perlu dilakukan untuk menentukan tingkat perubahan yang terjadi pada massa batuan. Penelitian tentang derajat pelapukan memiliki arti penting dari sudut pandang geologi teknik maupun geomekanika. Untuk keperluan karakterisasi derajat pelapukan, dalam penelitian ini telah digunakan metode yang cepat dalam menentukan nilai kekuatan, sederhana dan mudah dioperasikan, serta tidak memerlukan biaya yang mahal. Dengan pertimbangan itu maka dipilih metode pengujian dengan Schmidt hammer dan point load sebagai alat uji kekuatan material batuan secara insitu, melalui kedua pengujian dapat diestimasi nilai kekuatan batuan melalui persamaan empiris. Disamping itu dilakukan juga pengamatan terhadap karakteristik material dan massa batuan seperti perubahan warna, tekstur batuan asal, diskontinuitas dan perbandingan antara komposisi tanah dan batuan. Hasil penelitian ini berupa model pelapukan batuan andesit yang ideal untuk skala massa batuan dan diusulkan sebagai model pelapukan andesit di daerah tropis. Abstract This paper presents insitu tests for both material and mass of andesites by means of Schmidt hammer and point load concerning to determine their degree of weathering at the tropical climate region. The tests were conducted at three different locations of Kabupaten Purwakarta, West Java. The andesites that were found as intrusive rocks formed a hilly morphology. Characterization of weathered andesites was done in order to know any changes within the rock mass caused by weathering. Evaluation of the degree of weathering has an important aspect from the view point of whether engineering geology or geomechanics. In this study, some methods that were quick to determine rock strength, easy to be operated, simple and not expensive were applied to characterize the degree of weathering. Based on all aforementioned considerations, Schmidt hammer and point load were used for insitu testing of the rock strength. Both Schmidt hammer and point load tests can be also used to estimate uniaxial compression strength through empirical equations. Besides, detailed observations of rock material and mass characteristics, such as discoloration, original textures of rock, discontinuity and rock/soil ratio were carried out. An ideal engineering classification of weathered andesites was suggested as a typical model of weathered andesites under tropical climate influence.
2 Pendahuluan Proses pelapukan merupakan hal yang umum dijumpai pada batuan. Apalagi di daerah yang beriklim tropis, adanya pelapukan akan terlihat lebih intensif bahkan dapat terjadi secara simultan (Zhao et al., 1994). Hal ini akan tercermin pada tebalnya tanah residu (residual soil) yang menjadi hasil akhir dari suatu proses pelapukan. Kondisi iklim tropis ikut berperan dalam mempengaruhi sifat keteknikan batuan, terutama kekuatan batuan. Perubahanperubahan yang terjadi pada proses pelapukan kebanyakan berlangsung secara gradual dan biasanya diikuti oleh polapola perubahan yang teratur. Namun demikian profil pelapukan yang terbentuk umumnya berkembang tidak seragam sebagai akibat dari adanya pengaruh yang kompleks, baik secara internal dalam batuan itu sendiri atau pengaruh lain yang bersifat eksternal seperti kondisi iklim, topografi/morfologi, air tanah dan aktifitas organisme (Sadisun dan Bandono, 1998). Secara geologi proses pelapukan bekerja relatif lambat (longterm processes) akan tetapi keberadaannya menjadi penting dari sudut pandang keteknikan. Adanya pelapukan pada batuan sering mengakibatkan rencana desain rekayasa menjadi khas (Sadisun dan Matsui, 1999; Karpuz dan Pasamehmetoglu, 1997; Gafoori et al., 1994; Krank dan Watter, 1983; Dearman et al., 1978). Suatu hal penting yang tidak banyak didiskusikan dalam pelapukan atau profil pelapukan adalah penjelasan tentang pelapukan material batuan (weathering of rock material) dan pelapukan massa batuan (weathering of rock mass). Kedua istilah tersebut memiliki arti dan implikasi berbeda pada penyelidikan geologi teknik. Deskripsi material batuan biasanya dilakukan pada contoh berukuran kecil (scale of hand specimen), sedangkan deskripsi massa batuan dilakukan pada skala ukuran yang lebih besar (Goodman, 1976). Perbedaan keduanya menjadi penting dalam karakterisasi profil pelapukan untuk tujuan geologi teknik yaitu sebagai penentu tingkat pekerjaan keteknikan yang memerlukan pengenalan pelapukan material batuan dasar dan pelapukan massa batuan dasar (Dearman, 1974, 1976; Baynes et al., 1978). Irfan dan Dearman (1978) telah berhasil melakukan karakterisasi profil pelapukan pada batuan granit di bagian baratdaya Inggris yang didasarkan pada pengenalan pelapukan material dan massa batuan dasar. Aplikasi seperti itu untuk profil pelapukan di daerah tropis basah tidak banyak dilakukan dan publikasi lebih banyak mendiskusikan karakterisasi profil dengan istilah horizon morfologi (Deere dan Patton, 1971; Serrano dan Oteo, 1978 dan Brenner et al., 1978). Makalah ini akan mendiskusikan karakaterisasi pelapukan material dan massa batuan andesit di Purwakarta dengan pengujian insitu, dan mengaplikasikan klasifikasi pelapukan batuan berdasarkan Irfan dan Dearman (1978) untuk andesit yang berkembang di daerah beriklim tropis. Geologi Daerah Penelitian Penelitian pelapukan batuan andesit dilakukan di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat pada tiga lokasi berbeda yaitu G. Patapan, G. Kacapi dan G. Cupu (Gambar 1). Fokus penelitian dilakukan pada batuan terobosan andesit terutama tipe andesit hornblende, menurut peta geologi lembar Cianjur (Sudjatmiko, 1972). Batuan ini dijumpai sebagai dyke, volcanic neck dan dome yang memotong Formasi Jatiluhur dan terbentuk selama episode aktivitas volkanik Miosen Akhir Pliosen (Sutanto et al., 1994). Secara fisiografi, daerah penelitian berada dalam Zona Bogor bagian tengah (van Bemmelen, 1949), yang dikenal sebagai jalur antiklinorium yang rumit dan cembung ke arah utara akibat perlipatan yang kuat pada lapisan batuan yang berumur Neogen. Morfologi daerah terdiri dari perbukitan berlereng agak curam (30 70%) dengan puncak berbentuk kerucut. Struktur geologi yang dijumpai berupa kekar gerus (shear joint) dengan arah umum utaraselatan dan timurlautbaratdaya, searah dengan Pola Sunda dan Pola Jawa (Pulunggono dan Martodjojo, 1994). Metodologi Maksud dan tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan karakterisasi pelapukan andesit pada skala material maupun massa batuan, dan menyusun profil pelapukan andesit yang mewakili daerah tropis, dengan 4
3 mengaplikasikan klasifikasi pelapukan Irfan dan Dearman (1978), Tabel 1. Gambar 1. Lokasi dan peta geologi daerah penelitian Penelitian ini sepenuhnya didasarkan pada pekerjaan lapangan yang meliputi pengamatan singkapan dan sumur uji, serta pengujian insitu menggunakan Schmidt hammer dan point load. Tahap kerja lapangan yang dilakukan adalah sebagai berikut : a) Pembuatan dan pengamatan terhadap sumur uji dan quarry untuk menentukan perkembangan derajat pelapukan b) Deskripsi material batuan dalam istilah geologi teknik yang sederhana untuk setiap derajat pelapukan, dan pengukuran struktur serta diskontinuitas sesuai dengan ISRM (1978b). c) Pengujian Schmidt hammer untuk menentukan parameter kekerasan dan kondisi pelapukan batuan dan sekaligus pengambilan contoh (hand specimen). d) Pengambilan foto dan pembuatan penampang dari morfologi yang menggambarkan urutan derajat pelapukan batuan. e) Contoh selanjutnya diuji dengan point load. Penggolongan derajat pelapukan didasarkan atas perbedaan karakteristik yang diperoleh melalui pengamatan perubahan fisik akibat disintegrasi fisik mekanik maupun dekomposisi mineral penyusun batuan, dan pengujian kekerasan dengan Schmidt hammer. Selanjutnya, hasil penggolongan tersebut disusun menjadi profil pelapukan menurut derajat perkembangan pelapukan, mulai dari batuan segar hingga tanah residu, dan hasil pengujian sifat keteknikan diverifikasi dengan point load untuk menentukan nilai estimasi kuat tekan.. Tabel 1. Sistem klasifikasi derajat pelapukan batuan (Irfan dan Dearman, 1978) Istilah Derajat Penciri Utama Tanah Residu Lapuk Sempurna Lapuk Kuat Lapuk Sedang Lapuk Ringan Batuan Segar VI V IV III II I Seluruh material batuan telah terubah menjadi tanah. Struktur massa dan kemas (fabric) material telah rusak. Disini terjadi perubahan volume menjadi lebih besar tetapi tanah belum mengalami transportasi. Seluruh material batuan telah terdekomposisi dan/atau terdisintegrasi menjadi tanah. Struktur massa yang asli sebagian besar masih utuh. Lebih dari tigapuluh lima persen material batuan telah terdekomposisi dan/atau terdisintegrasi menjadi tanah. Batuan segar atau perubahan warna pada batuan masih dapat dijumpai sebagai kerangka diskontinus atau inti batuan. Kurang dari tigapuluhlima persen material batuan telah terdekomposisi dan/atau terdisintegrasi menjadi tanah. Batuan segar atau perubahan warna pada batuan masih dapat dijumpai sebagai kerangka diskontinus atau inti batuan. Perubahan warna menunjukan pelapukan pada material batuan dan permukaan diskontinuitas. Tidak ada tandatanda material batuan mengalami pelapukan; mungkin terdapat sedikit perubahan warna pada permukaan diskontinuitas utamanya. Sebagai hasil akhir, disusun skema klasifikasi derajat pelapukan andesit dan model pelapukan andesit yang berkembang di daerah tropis. Bagan alir metodologi penelitian seperti terlihat pada Gambar 2. 5
4 ekstrapolasi hasil karakteristik pelapukan. Profil disusun berurutan dari bawah ke atas, mulai dari batuan yang segar hingga tanah residu. Dari profil ini dapat dijelaskan riwayat perkembangan derajat pelapukan andesit yang terjadi di Purwakarta. Pengujian InSitu Gambar 2. Skema metodologi penelitian Karakterisasi Pelapukan Karakterisasi material dan massa pelapukan batuan andesit di lapangan terdiri dari dua fase, yaitu pengamatan singkapan pada sumur uji dan quarry, dan pengujian insitu. Pengamatan dan pencatatan dilakukan secara sistematis menurut metode yang diusulkan oleh Fookes dkk. (1971), komite standarisasi ISRM (ISRM, 1978b, 1981), dan IAEG Commission on Engineering Geological Mapping (Matula, 1981) tentang tatacara pendeskripsian dan klasifikasi tanah dan batuan untuk tujuan keteknikan yaitu meliputi: 1) Penentuan nama batuan (lithological rock name), 2) Deskripsi sifatsifat material batuan, 3) Deskripsi sifatsifat tambahan yang dijumpai pada massa batuan. Deskripsi material dan massa batuan berisi tentang : a) sifatsifat material batuan seperti warna, tekstur terdiri dari ukuran butir dan kenampakan tekstur yang lain serta kemas (fabric), kondisi pelapukan (state of weathering), alterasi, dan kekuatan; b) sifatsifat massa batuan, terdiri dari struktur, diskontinuitas dan profil pelapukan dan c) nama batuan berdasarkan pengamatan megaskopis. Karakterisasi dilakukan pada penampang sumur uji untuk material tanah dan batuan lapuk, serta singkapan pada quarry untuk material batuan, baik lateral maupun vertikal. Profil pelapukan disusun dengan melakukan korelasi dan Pengujian insitu dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa persyaratan (Irfan dan Dearman, 1978), yaitu : (1) cepat dan sederhana, termasuk preparasi sampel yang minimum; (2) relevan dengan sifatsifat batuan; (3) relevan dengan masalah keteknikan; dan (4) memiliki kemampuan membedakan antara derajat keteknikan secara tepat. Terutama sekali sesuai untuk tujuan klasifikasi derajat pelapukan batuan. ISRM (1981) merokomendasikan penggunaan Schmidt hammer sebagai peralatan standar untuk penentuan diskontinuitas kekuatan pada massa batuan. Karpuz dan Pasamehmetoglu (1997) merekomendasikan penggunaan Schmidt hammer dan point load untuk karakterisasi massa batuan di lapangan. Pengujian insitu juga dimaksudkan untuk memberi data pendukung terhadap karakterisasi derajat pelapukan batuan. Hasil pengujian yang diperoleh berupa nilai kekerasan Schmidt hammer, R dan indeks kekuatan point load, Is (50) (kg/cm). Nilai Schmidt hammer (Schmidt hammer value/shv) diperoleh dari nilai pantulan (rebound value) sepanjang arah tumbukan (impact) yang tidak horizontal karena dipengaruhi oleh gaya gravitasi dari berbagai derajat. Oleh sebab itu, SHV terlebih dahulu dinormalisasi dengan referensi arah bidang horizontal (Aydin dan Basu, 2005). ISRM (1978a) dan ASTM (2001) menentukan normalisasi SHV dengan kurva koreksi yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat alat. Basu dan Aydin (2004) mengusulkan formulasi analisis untuk nilai pantulan Schmidt hammer dan melakukan percobaan pada berbagai macam batuan. Matula (1981) merekomendasi hasil pengujian indeks point load untuk menentukan nilai uniaxial compressive strength dengan cara empiris. Bieniawski (1984) menyatakan hubungan linear antara indeks poin load dan nilai kuat tekan uniaksial (uniaxial compressive strength/ucs) dengan persamaan UCS = 23*I s(50). 6
5 Hasil dan Diskusi Sumur uji telah dibuat sebanyak dua buah yaitu SU1 dan SU2, berlokasi di G. Patapan. Dari lokasi ini diperoleh perkembangan urutan derajat pelapukan IV, V dan VI yang cukup representative. Satu hasil menarik diperoleh dari SUI yaitu ditemukan lapisan kunci (key bed) yang menjadi kontak antara tanah residu (residual soil) dan (transported soil), yaitu berupa kehadiran lempung hitam yang berisi sisa rumput dan tumbuhan lain, Tabel 2. Tanah residu ditemukan tidak terlalu tebal karena berada pada lereng dengan kemiringan 70% atau 30 o, dan dibedakan dengan lapisan di bawahnya berdasarkan perubahan warna (discoloration), kehadiran fragmen batuan asal dan kondisi pelapukan. Tanah residu berwarna coklat tua yang menunjukkan lingkungan yang dipengaruhi oleh oksidasi. Di bagian bawah tanah residu, warna berubah menjadi coklat kekuningan. Pada SU2, di bagian bawah tanah residu ditemukan lapisan tanah yang telah lapuk sempurna (completely weathered) dan dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian atas dicirikan dengan telah rusaknya tekstur batuan asal, sedangkan di bagian bawah jejak tekstur batuan asal masih dapat ditelusuri melalui sisa batuan atau mineral yang telah lapuk lanjut, Tabel 3. Diskolorasi dan gradasi warna, namun tidak tegas, memberi ciri kedua bagian ini berada dalam kondisi pelapukan yang sama. Paling dasar dari sumur uji yang bisa diamati adalah lapisan yang terdiri dari campuran material tanah dan batuan yang telah lapuk lanjut (highly weathered). Lapisan ini dicirikan dengan adanya jejak rekahan atau diskontinuitas yang semakin nyata dan pelapukan membola (spheroidal weathering). Diskontinuitas semakin kuat dan intensitasnya meningkat menuju bagian yang didominasi batuan (bagian dalam). Proses pelapukan sangat kuat terjadi pada derajat pelapukan ini, sehingga menimbulkan ambiguous antara sifat tanah dan batuan. Sehingga menurut mekanika tanah dan batuan contoh material derajat pelapukan ini tidak dapat di analisis. Suatu metode perlu diciptakan untuk karakterisasi zona transisi (intermediate zone) ini. Kajian menarik untuk diteliti lebih lanjut. Hasil pengukuran dengan Schmidt hammer dan point load menunjukan nilai yang rendah untuk kekuatan derajat pelapukan ini. Hasil karakterisasi material tanah dirangkum dalam Tabel 4. Karakteristik terhadap material batuan dilakukan pada singkapan yang dijumpai di permukaan dan quarry. Material di bawah zona transisi ditentukan berupa batuan yang telah lapuk menengah (moderately weathered). Karakterisitik derajat pelapukan ini berupa diskolorasi yang meluas hingga bagian dalam, diskontinuitas berkembang intesif, rekahan terbuka dan terisi oleh kalsit dan lempung, serta struktur block joint yang cukup rapat. Derajat pelapukan yang lebih rendah ditandai dengan semakin tipis discoloration dan berkurangnya diskontinuitas, digolongkan dalam batuan yang mengalami lapuk ringan (slightly weathered). Discoloration hanya dijumpai pada rind weathering dan sepanjang bidang diskontinu. Nilai Schmidt hammer dan point load berada dalam kategori menengah. Pada batuan segar (fresh rock) gejala discoloration dan diskontinuitas tidak dijumpai dan hasil pengujian dengan Schmidt hammer dan point load menunjukan hasil yang cukup tinggi. Hasil analisis pengujian Schmidt hammer dan point load diberikan dalam Tabel 5. Hasil pengujian insitu, dengan menggunakan Schmidt hammer dan point load, memperlihatkan pola yang hampir mirip (Gambar 3). Hasil pengujian kekerasan dan kekuatan massa batuan berkurang secara linear dengan bertambahnya derajat pelapukan. Tangensial garis Schmidt hammer relatif lebih kecil daripada point load menunjukan hasil pengujian dengan Schmidt hammer cenderung kurang sensitif, terutama pada derajat pelapukan II dan III karena dikontrol oleh diskontinuitas. Sedangkan pada pengukuran point load diperoleh hasil yang lebih sensitif dan stabil. Dari Gambar 3 dapat juga diketahui bahwa kekuatan material berubah drastis dari derajat I ke II, artinya faktor pelapukan secara signifikan mempengaruhi sifat keteknikan andesit di Purwakarta. Selanjutkan kontrol kekuatan dipengaruhi oleh kondisi diskontinuitas. Hasil pengujianschmidt hammer dapat juga diterapkan pada penampang morfologi untuk menggambarkan perubahan dan ketebalan masingmasing derajat pelapukan. Efek pelapukan tampak mempengaruhi pola dan bentuk morfologi, seperti terlihat pada Gambar 4. 7
6 Tabel 2. Penampang sumur uji 1 (SU1) Kedalaman Penampang ( m ) Sumur Uji Deskripsi Warna coklat muda, berbutir halus hingga kasar, terdapat fragmen batuan, tidak memperlihatkan tekstur dan struktur batuan asal, batuan segar dan lapuk bercampur aduk, dijumpai sisa kayu dan tumbuhan. Keterangan Tanah hasil timbunan atau tidak in situ (Transported soil) Warna kehitaman di bagian atas menunjukan sisa dari rumput dan akarnya, dan warna coklat tua, material tanah asli, tekstur halus dan ukuran butir seragam Warna coklat kekuningan (terang) ukuran butir halus dan seragam sedikit sisa butiran batuan berukuran kerikil yang telah lapuk, lunak dan sedikit kompak Tanah residu (Residual soil) Telah lapuk sempurna(completely weathered) Tabel 3. Penampang sumur uji 2 (SU2) Kedalaman Penampang ( m ) Sumur Uji Deskripsi Warna coklat tua, ukuran butir halus dan seragam, tekstur batuan telah hilang, lengket jika basah Warna coklat kekuningan, butir halus dan seragam, memperlihatkan sisa butiran batuan dan mineral yang telah lapuk berwarna hitam Warna coklat keabuabuan, butir halus dan menunjukan tekstur seperti porfiritik atau mottled, sedikit fragmen batuan berukuran kerikil Warna coklat muda, butir halus hingga kasar, dijumpai orientasi retakan halus, di beberapa bagian ditemukan spheroidal weathering dan fragmen batuan berukuran1030 cm dengan kondisi lapuk ringan hingga menengah, material sedikit keras dan kompak Keterangan Tanah residu(residual soil) Telah lapuk sempurna (Completely weathered) Bagian atas Telah lapuk sempurna (Completely weathered) Bagian bawah Telah lapuk lanjut (Highly weathered) 8
7 Tabel 4. Hasil karakterisasi material tanah Ketebalan ( m ) Karakterisasi Kondisi pelapukan dan derajat pelapukan Warna coklat tua, berbutir halus hingga kasar, batuan segar dan lapuk bercampur aduk, dijumpai sisa kayu dan tumbuhan di bagian bawah. Warna kehitaman di bagian atas menunjukan sisa rumput. Warna asli coklat kemerahan, tekstur halus dan ukuran butir seragam. Warna coklat kekuningan, butir halus dan seragam, sisa butiran batuan dan mineral yang telah lapuk berwarna hitam Warna coklat keabuabuan, butir halus dan tekstur seperti porfiritik atau mottled, sedikit fragmen batuan berukuran kerikil Warna coklat muda, butir halus hingga kasar, ada orientasi retakan halus, ditemukan spheroidal weathering dan fragmen batuan berukuran1030 cm dengan kondisi lapuk ringan hingga menengah, material sedikit keras dan kompak Tanah hasil timbunan atau tidak insitu (Transported soil) Tanah residu (residual soil) atau VI Telah lapuk sempurna bagian atas(upper completely weathered) atau Va Telah lapuk sempurna bagian bawah (lower completely weathered) atau Va Telah lapuk lanjut (highly weathered) atau IV Tabel 5. Hasil analisis pengukuran Schmidt hammer dan point load Lokasi G. Cupu G. Kacapi G. Patapan Derajat Nilai pengukuran Schmidt hammer Jumlah Nilai pengukuran point load Jumlah pelapukan Min Maks St. dev. pengukuran Min Maks Ratarata Ratarata St. dev. pengukuran IV III II I IV III II I III II I Nilai Schmidt schmidt hammer I II III IV Derajat pelapukan Indeks point poin load load Schmidt hammer Point load Gambar 3. Hasil pengukuran Schmidt hammer dan point load berdasarkan derajat pelapukan 9
8 dan massa batuan pada setiap derajat pelapukan. Kompilasi hasil pengamatan lapangan dan pengujian insitu, dirangkum dalam Tabel 7 berikut ini Indeks point load y = 2.31Ln(x) 5.76 R 2 = Nilai schmidt hammer Gambar 4. Penampang derajat pelapukan andesit dalam perspektif morfologi yang dibuat berdasarkan hasil pengukuran Schmidt hammer Korelasi antara nilai indeks point load I s(50) ) dan Schmidt hammer (SHV) (Gambar 5), diwakili dengan pola garis yang berubah secara logaritmik, seperti persamaan berikut : I s(50) = 2.31ln(SHV) 5.76 dengan koefisien korelasi (R 2 ) = Berdasarkan persamaan ini secara tidak langsung dapat ditentukan atau estimasi nilai kuat tekan uniaksial dari hasil pengujian Schmidt hammer. Hasil analisis dan estimasi nilai kuat tekan uniaksial dapat dilihat pada Tabel 6. Hasil analisis sifat keteknikan yang telah dilakukan pada pengujian insitu menunjukan bahwa ada perbedaan kekuatan dari material Gambar 5. Korelasi indeks point load dengan nilai Schmidt hammer Kesimpulan Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Klasifikasi pelapukan andesit di Purwakarta dapat disusun berdasarkan karakteristik derajat pelapukannya menjadi tujuh kelas, yaitu mulai dari lapisan terdalam hingga terluar (terdangkal) adalah sebagai berikut : batuan segar (I), batuan lapuk ringan (II), batuan lapuk menengah (III), batuan lapuk kuat (IV), batuan lapuk sempurna bagian bawah (Vb), batuan lapuk sempurna bagian atas (Va) dan tanah residu (VI). Modifikasi dilakukan pada derajat pelapukan V untuk memperlihatkan kontinuitas perkembangan derajat pelapukan. Tabel 6. Hasil analisis pengujian insitu dan estimasi nilai kuat tekan uniaksial berdasarkan derajat pelapukan Derajat Schmidt hammer Point load Estimasi pelapukan Nilai Nilai Nilai UCS* pengukuran Jumlah pengukuran Jumlah (MPa) Ratarata dev rata dev 1984) St. Rata St. (Bieniawski, Pengujian pengujian IV III II I *Dihitung berdasarkan pengujian point load 10
9 Tabel 7. Model klasifikasi derajat pelapukan andesit di Purwakarta Profil Nilai pengukuran Ketebalan* Derajat Poin Schmidt UCS** load (m) Pelapukan hammer (kg/cm 2 ) (MPa) Karakteristik ND VI (Tanah residu) Va (Batuan lapuk sempurna bagian atas) Vb (Batuan lapuk sempurna bagian bawah) IV (Batuan lapuk kuat) III (Batuan lapuk menengah) II (Batuan lapuk ringan) I (Batuan segar) ND ND ND ND < 13 <0.30 < * = ditentukan dari penafsiran ** = dihitung berdasarkan pengujian point load dengan persamaan Bieniawski (1984) Material berupa tanah, warna coklat tua, berukuran lempung, dan lengket. Tidak ada fragmen dan tekstur batuan asal. Material berupa tanah, warna coklat agak kekuningan, berbutir pasir halus sedang, ada sedikit fragmen yang telah lapuk lanjut. Material berupa tanah (dominan) warna coklat keabuabuan, berbutir pasir kasar, fragmen berukuran kerikil dan telah lapuk lanjut, ada jejak tektur porfiritik atau mottled, dan ada indikasi rekahan (diskontinuitas). Material campuran tanah dan batuan, warna tanah coklat terang, batuan abuabu gelap hingga hitam, fragmen telah lapuk ringan hingga menengah, diskontinuitas sangat, rapat, saling potong, terbuka terisi kalsit ada spheroidal weathering dan corestone. Material berupa batuan,warna abuabu tua, tekstur porfiritik, fine grain, diskontinuitas kerapatan sedang, lurus dan relatif sejajar, terbuka terisi kalsit dan lempung,struktur block joint, discoloration cukup dalam. Material berupa batuan, warna abuabu kebiruan hingga kehitaman, tekstur porfiritik, fenokris hornblende dan piroksen, fine grain discoloration tipis pada kulit dan bidang rekahan, diskontinuitas renggang, lurus, rata dan tidak terbuka. Material berupa batuan segar dan masif, warna abuabu kebiruan hingga agak putih, tekstur porfiritik dan terdapat xenolith. 2. Pengujian insitu dengan Schmidt hammer dan point load dapat digunakan untuk menentukan perbedaan derajat pelapukan. Kedua alat dapat menunjukan nilai kekuatan terhadap masingmasing derajat pelapukan. Schmidt hammer memberikan hasil kurang sensitif dibandingkan dengan hasil pengujian point load. Hubungan Is dan SHV di wakili dengan persamaan Is = 2.31 ln SHV 5.76 (R 2 = 0.92) 11
10 3. Hasil kompilasi pengamatan dan pengujian insitu dapat disusun secara lengkap, detail dan sistematis berdasarkan kriteria karakterisasi derajat pelapukan menjadi suatu klasifikasi derajat pelapukan, dan dapat digunakan sebagai model pelapukan andesit yang berkembang di daerah tropis. Daftar Pustaka Aydin, A. dan Basu, A., The Schmidt hammer in rock material characterization. Eng. Geol., 81: 114. Baynes, F.J., Dearman, W.R., dan Irfan, T.Y., Practical assessment of grade in a weathered granite. Bull. Int. Assoc. Eng. Geol., 18: Bemmelen van, R.W., The Geoloy of Indonesia, Vol. IA, General Geology, Martinus Nijhoff The Hogue, hal dan Bieniawski, Z.T., Rock mechanics design in mining and tunneling. Balkema, Rotterdam. Brenner, R.P., Nutalaya, P. dan Bergado, D.T., Weathering effects on some engineering properties of a granite residual soil in Northern Thailand. Proc. II Int. Cong., Int. Assoc. Eng. Geol., Madrid, Session II, V.1, Dearman, W.R., Weathering classification in the characterization of rock for engineering purposes in British practice. Bull. Int. Assoc. Eng. Geol., 9: Dearman, W.R., Weathering classification in the characterization of rock. A revision. Bull. Int. Assoc. Eng. Geol., 13: Dearman, W.R., Baynes, F.J., dan Irfan, T.Y., Engineering grading of weathered granite. Eng. Geol., 12: Deere, D.V., dan Patton, F.D., Slope stability in residual soils. Proc. IV Panam. Conf. Soil Mech. Founda. Eng., San Juan, Puerto Rico, 1: Fokkes, P.G., Dearman, W.R., dan Franklin, J.A., Some engineering aspect of rock weathering with field examples from Dartmoor and elsewhere. W. Eng. Geol., 4: Gafoori, M., Mastropasqua, M., Carter, J.P., dan Airey, D.W., Engineering properties of ashfield shale, Australia. Bull. Int. Assoc. Eng. Geol., 48: Goodman, R.E., Methods of geological engineering in discontinuous rock, West Publishing Co., USA, 472. Irfan, T.Y. dan Dearman, W.R., Engineering classification and index properties of a weathered granite. Bull.Int. Assoc. Eng. Geol., 17: ISRM, 1978a. Commission on standardization of laboratory and field tests. Suggested methods for determining hardeness and abrasiveness of rocks. Int. J. Rock Mech. Min. Sci. Geomech. Abstr., 15: ISRM, 1978b. Commission on standardization of laboratory and field tests. Suggested methods for the quantitative description of discontinuities in rock masses. Int. J. Rock Mech. Min. Sci. Geomech. Abstr., 16: ISRM, Commission on classification of rock and rock masses, Basic geotechnical description of rock masses. Int. J. Rock Mech. Min. Sci. Geomech. Abstr., 18: Karpuz, C dan Pasahmehmetoglu, A.G Field characteristics of Ankara Andesites, Eng. Geol., 1: Krank, K.D. dan Watter, R.J., Geotechnical properties of weathered Sierre Nevada Granodiorite, Bull. Int. Assoc. Eng. Geol., 20: Matula, M., Rock and soil description and classification for engineering geological mapping. Report by the IAEG commission on engineering geological mapping. Bull. Int. Assoc. Eng. Geol., 24: Pulunggono dan Martodjojo, S., Perubahan tektonik Paleogene Neogene merupakan peristiwa terpenting di Jawa, Proc. Geol dan Geotektonik P. Jawa sejak akhir Mesozoik hingga Kuarter, Yogyakarta, Sadisun, I.A., dan Bandono, Pengenalan derajat pelapukan batuan guna menunjang pelaksanaan berbagai pekerjaan sipil 12
11 dan operasi pertambangan. Gakuryoko, Vol. IV, No. 2, Sadisun, I.A., dan Matsui, K., Engineering grades in claystone of Upper Subang Formation and their effect on some change of engineering properties. In. Proc. of 99 JapanKorea Joint Symp. On Rock Engineering, Japan, Serrano, A.A. dan Oteo, C.S., Geotechnical behaviour of the laterite soils of west Africa. Proc. III Int. Assoc. Eng. Geol., Madrid, Session II, V.1, Sutanto, SoeriaAtmadja, R., Maury, R.C., dan Bellon, H., Geochronology of Tertiary volcanism in Java. Proc. Geologi dan Geotektonik P. Jawa sejak akhir Mesozoik hingga Kuarter, Yogyakarta, Zhao, J., Broms, B.B., Zhou, Y., dan Choa, V., A study of the weathering of the Bukit Timah Granit; Part A: review, field observations and geophysical survey. Bull. Int. Assoc. Eng. Geol., 49:
12 14
BAB IV DERAJAT PELAPUKAN ANDESIT DAN PERUBAHAN KEKUATAN BATUANNYA
BAB IV DERAJAT PELAPUKAN ANDESIT DAN PERUBAHAN KEKUATAN BATUANNYA 4.1 Analisis Hasil Uji Schmidt Hammer Hasil uji Schmidt hammer pada andesit di Gunung Pancir, Soreang menunjukkan bahwa tingkat kekerasan
Bab IV Identifikasi Kekuatan Andesit
Bab IV Identifikasi Kekuatan Andesit 4.1 Aturan Pengujian RSCH Identifikasi kekuatan andesit dilakukan dengan menggunakan rock strength classification hammer (RSCH) secara langsung di lapangan. Pengujian
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Batuan memiliki peran penting dalam konstruksi dan daya guna pada semua rancangan yang menyangkut struktur yang dibangun di atas ataupun di dalam batuan tersebut. Parameter
BAB III KARAKTERISTIK PELAPUKAN ANDESIT
BAB III KARAKTERISTIK PELAPUKAN ANDESIT 3.1 Geologi Daerah Penelitian Morfologi daerah penelitian secara umum terdiri dari perbukitan dan dataran yang terbentuk oleh hasil volkanisme masa lampau. Kemiringan
PENGARUH DERAJAT PELAPUKAN TERHADAP POTENSI MENGEMBANG BATULEMPUNG FORMASI SUBANG
PENGARUH DERAJAT PELAPUKAN TERHADAP POTENSI MENGEMBANG BATULEMPUNG FORMASI SUBANG A. Nurjamil, I. A. Sadisun, dan Bandono Departemen Geologi, Institut Teknologi Bandung ABSTRAK Sifat mengembang batulempung
Studi Kestabilan Lereng Menggunakan Metode Rock Mass Rating (RMR) pada Lereng Bekas Penambangan di Kecamatan Lhoong, Aceh Besar
Studi Kestabilan Lereng Menggunakan Metode Rock Mass Rating (RMR) pada Lereng Bekas Penambangan di Kecamatan Lhoong, Aceh Besar Rijal Askari*, Ibnu Rusydy, Febi Mutia Program Studi Teknik Pertambangan,
PENGARUH DERAJAT PELAPUKAN TERHADAP KEKUATAN BATUAN PADA BATUAN BASAL. Departemen Teknik Pertambangan Universitas Hasanuddin 2
PENGARUH DERAJAT PELAPUKAN TERHADAP KEKUATAN BATUAN PADA BATUAN BASAL Purwanto 1, Abdul Muhaimin 1, Djamaluddin 1, Ratna Husain 2, Busthan 2 1 Departemen Teknik Pertambangan Universitas Hasanuddin 2 Departemen
berukuran antara 0,05-0,2 mm, tekstur granoblastik dan lepidoblastik, dengan struktur slaty oleh kuarsa dan biotit.
berukuran antara 0,05-0,2 mm, tekstur granoblastik dan lepidoblastik, dengan struktur slaty oleh kuarsa dan biotit. (a) (c) (b) (d) Foto 3.10 Kenampakan makroskopis berbagai macam litologi pada Satuan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Saat ini pendirian suatu konstruksi terus berkembang seiring dengan kebutuhan manusia terhadap kegiatan tersebut yang terus meningkat. Lebih lanjut lagi,
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 GEOMORFOLOGI Bentang alam dan morfologi suatu daerah terbentuk melalui proses pembentukan secara geologi. Proses geologi itu disebut dengan proses geomorfologi. Bentang
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi Bentukan topografi dan morfologi daerah penelitian adalah interaksi dari proses eksogen dan proses endogen (Thornburry, 1989). Proses eksogen adalah proses-proses
Gambar 4.1 Kompas Geologi Brunton 5008
4.1. Geoteknik Tambang Bawah Tanah Geoteknik adalah salah satu dari banyak alat dalam perencanaan atau design tambang. Data geoteknik harus digunakan secara benar dengan kewaspadaan dan dengan asumsiasumsi
BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi 3.1.1 Geomorfologi Daerah Penelitian Secara umum, daerah penelitian memiliki morfologi berupa dataran dan perbukitan bergelombang dengan ketinggian
III.1 Morfologi Daerah Penelitian
TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN III.1 Morfologi Daerah Penelitian Morfologi suatu daerah merupakan bentukan bentang alam daerah tersebut. Morfologi daerah penelitian berdasakan pengamatan awal tekstur
KONTROL STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP SEBARAN ENDAPAN KIPAS BAWAH LAUT DI DAERAH GOMBONG, KEBUMEN, JAWA TENGAH
KONTROL STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP SEBARAN ENDAPAN KIPAS BAWAH LAUT DI DAERAH GOMBONG, KEBUMEN, JAWA TENGAH Asmoro Widagdo*, Sachrul Iswahyudi, Rachmad Setijadi, Gentur Waluyo Teknik Geologi, Universitas
ESTIMASI GEOLOGICAL STRENGTH INDEX (GSI) SYSTEM PADA LAPISAN BATUGAMPING BERONGGA DI TAMBANG KUARI BLOK SAWIR TUBAN JAWA TIMUR
ESTIMASI GEOLOGICAL STRENGTH INDEX (GSI) SYSTEM PADA LAPISAN BATUGAMPING BERONGGA DI TAMBANG KUARI BLOK SAWIR TUBAN JAWA TIMUR R. Andy Erwin Wijaya 1, Dwikorita Karnawati 2, Srijono 2, Wahyu Wilopo 2,
BAB V ANALISIS EMPIRIS KESTABILAN LERENG
BAB V ANALISIS EMPIRIS KESTABILAN LERENG Selain analisis kinematik, untuk menganalisis kestabilan suatu lereng digunakan sistem pengklasifikasian massa batuan. Analisis kinematik seperti yang telah dibahas
Umur GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
Foto 3.7. Singkapan Batupasir Batulempung A. SD 15 B. SD 11 C. STG 7 Struktur sedimen laminasi sejajar D. STG 3 Struktur sedimen Graded Bedding 3.2.2.3 Umur Satuan ini memiliki umur N6 N7 zonasi Blow (1969)
Foto 3.21 Singkapan Batupasir Sisipan Batulempung Karbonan pada Lokasi GD-4 di Daerah Gandasoli
Lokasi pengamatan singkapan atupasir sisipan batulempung karbonan adalah pada lokasi GD-4 ( Foto 3.21) di daerah Gandasoli. Singkapan ini tersingkap pada salah satu sisi sungai. Kondisi singkapan segar.
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1. Geomorfologi Daerah Penelitian 3.1.1 Geomorfologi Kondisi geomorfologi pada suatu daerah merupakan cerminan proses alam yang dipengaruhi serta dibentuk oleh proses
ANALISIS KONDISI ZONA CAVITY LAYER TERHADAP KEKUATAN BATUAN PADA TAMBANG KUARI BATUGAMPING DI DAERAH SALE KABUPATEN REMBANG
ANALISIS KONDISI ZONA CAVITY LAYER TERHADAP KEKUATAN BATUAN PADA TAMBANG KUARI BATUGAMPING DI DAERAH SALE KABUPATEN REMBANG R. Andy Erwin Wijaya. 1,2, Dwikorita Karnawati 1, Srijono 1, Wahyu Wilopo 1 1)
Geologi Daerah Tajur dan Sekitarnya, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat Tantowi Eko Prayogi #1, Bombom R.
Geologi Daerah Tajur dan Sekitarnya, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat Tantowi Eko Prayogi #1, Bombom R. Suganda #2 # Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran Jalan Bandung-Sumedang
KARAKTERISASI DERAJAT PELAPUKAN ANDESIT DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEKUATAN BATUAN BERDASARKAN PENGUJIAN SCHMIDT HAMMER
KARAKTERISASI DERAJAT PELAPUKAN ANDESIT DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEKUATAN BATUAN BERDASARKAN PENGUJIAN SCHMIDT HAMMER DI DAERAH SOREANG, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi persyaratan
Scan Line dan RQD. 1. Pengertian Scan Line
Scan Line dan RQD 1. Pengertian Scan Line Salah satu cara untuk menampilkan objek 3 dimensi agar terlihat nyata adalah dengan menggunakan shading. Shading adalah cara menampilkan objek 3 dimensi dengan
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi Daerah Penelitian 3.1.1 Morfologi Umum Daerah Penelitian Daerah penelitian berada pada kuasa HPH milik PT. Aya Yayang Indonesia Indonesia, yang luasnya
REKAYASA LERENG STABIL DI KAWASAN TAMBANG TIMAH TERBUKA PEMALI, KABUPATEN BANGKA UTARA, KEPULAUAN BANGKA
REKAYASA LERENG STABIL DI KAWASAN TAMBANG TIMAH TERBUKA PEMALI, KABUPATEN BANGKA UTARA, KEPULAUAN BANGKA Kemala Wijayanti¹, Zufialdi Zakaria 2, Irvan Sophian 2 1 Student at Dept. of Geological Engineering,
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Kestabilan Lereng Batuan
BAB II DASAR TEORI 2.1 Kestabilan Lereng Batuan Kestabilan lereng batuan banyak dikaitkan dengan tingkat pelapukan dan struktur geologi yang hadir pada massa batuan tersebut, seperti sesar, kekar, lipatan
Adi Hardiyono Laboratorium Petrologi dan Mineralogi, Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran ABSTRACT
Karakteristik batuan beku andesitik & breksi vulkanik, dan kemungkinan penggunaan sebagai bahan bangunan KARAKTERISTIK BATUAN BEKU ANDESIT & BREKSI VULKANIK, DAN KEMUNGKINAN PENGGUNAAN SEBAGAI BAHAN BANGUNAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Berdasarkan pengamatan awal, daerah penelitian secara umum dicirikan oleh perbedaan tinggi dan ralief yang tercermin dalam kerapatan dan bentuk penyebaran kontur pada
Foto III.14 Terobosan andesit memotong satuan batuan piroklastik (foto diambil di Sungai Ringinputih menghadap ke baratdaya)
Foto III.14 Terobosan andesit memotong satuan batuan piroklastik (foto diambil di Sungai Ringinputih menghadap ke baratdaya) 3.2.2.1 Penyebaran Satuan batuan ini menempati 2% luas keseluruhan dari daerah
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Secara fisiografi, Pulau Jawa berada dalam busur kepulauan yang berkaitan dengan kegiatan subduksi Lempeng Indo-Australia dibawah Lempeng Eurasia dan terjadinya jalur
Metamorfisme dan Lingkungan Pengendapan
3.2.3.3. Metamorfisme dan Lingkungan Pengendapan Secara umum, satuan ini telah mengalami metamorfisme derajat sangat rendah. Hal ini dapat ditunjukkan dengan kondisi batuan yang relatif jauh lebih keras
Geologi Daerah Perbukitan Rumu, Buton Selatan 19 Tugas Akhir A - Yashinto Sindhu P /
BAB III GEOLOGI DAERAH PERBUKITAN RUMU 3.1 Geomorfologi Perbukitan Rumu Bentang alam yang terbentuk pada saat ini merupakan hasil dari pengaruh struktur, proses dan tahapan yang terjadi pada suatu daerah
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 GEOMORFOLOGI Bentukan topografi dan morfologi daerah penelitian dipengaruhi oleh proses eksogen dan proses endogen. Proses eksogen adalah proses-proses yang bersifat
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi Daerah Penelitian 3.1.1 Morfologi Umum Daerah Penelitian Morfologi secara umum daerah penelitian tercermin dalam kerapatan dan bentuk penyebaran kontur
Ciri Litologi
Kedudukan perlapisan umum satuan ini berarah barat laut-tenggara dengan kemiringan berkisar antara 60 o hingga 84 o (Lampiran F. Peta Lintasan). Satuan batuan ini diperkirakan mengalami proses deformasi
BAB II GEOLOGI REGIONAL
1 BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Daerah Penelitian Penelitian ini dilakukan di daerah Subang, Jawa Barat, untuk peta lokasi daerah penelitiannya dapat dilihat pada Gambar 2.1. Gambar 2.1 Peta Lokasi
BAB IV ANALISIS KINEMATIK
BAB IV ANALISIS KINEMATIK Pada prinsipnya terdapat dua proses untuk melakukan evaluasi kestabilan suatu lereng batuan. Langkah pertama adalah menganalisis pola-pola atau orientasi diskontinuitas yang dapat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fisiografi Jawa Barat Fisiografi Jawa Barat oleh van Bemmelen (1949) pada dasarnya dibagi menjadi empat bagian besar, yaitu Dataran Pantai Jakarta, Zona Bogor, Zona Bandung
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Jawa Barat Fisiografi Jawa Barat (Gambar 2.1), berdasarkan sifat morfologi dan tektoniknya dibagi menjadi empat bagian (Van Bemmelen, 1949 op. cit. Martodjojo, 1984),
Stratigrafi Seismik Laut Dangkal Perairan Celukanbwang, Bali Utara
Stratigrafi Seismik Laut Dangkal Perairan Celukanbwang, Bali Utara I N. Astawa, I W. Lugra dan M. Wijayanegara Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan no. 236, Bandung 40174
dan Satuan Batulempung diendapkan dalam lingkungan kipas bawah laut model Walker (1978) (Gambar 3.8).
dan Satuan Batulempung diendapkan dalam lingkungan kipas bawah laut model Walker (1978) (Gambar 3.8). Gambar 3.7 Struktur sedimen pada sekuen Bouma (1962). Gambar 3.8 Model progradasi kipas bawah laut
DAFTAR PUSTAKA. Bieniawski, Z. T., Rock Mechanics Design in Mining and Tunneling. A.A. Balkema, Amsterdam. 272 hal.
DAFTAR PUSTAKA Adu, A. dan Acheampong, 2003. Importance of geotechnical field mapping in acessing the stability of underground excavation. SME Annual Meeting. Cincinati, Ohio. 6 hal. Alzwar, M., Akbar,
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi Bentukan topografi dan morfologi daerah penelitian adalah interaksi dari proses eksogen dan proses endogen (Thornburry, 1989). Proses eksogen adalah proses-proses
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Infiltrasi Menurut Munaljid dkk. (2015) infiltrasi adalah proses masuknya air dari atas (surface) kedalam tanah. Gerak air di dalam tanah melalui pori pori tanah dipengaruhi
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 GEOMORFOLOGI Daerah penelitian hanya berada pada area penambangan PT. Newmont Nusa Tenggara dan sedikit di bagian peripheral area tersebut, seluas 14 km 2. Dengan
Jurusan Teknik Pertambangan, Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta 2
Estimasi Kekuatan Batugamping Dengan Menggunakan Schmidt Hammer Tipe L Pada Daerah Prospek Tambang Kuari Batugamping Di Gunung Sudo Kabupaten Gunung Kidul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta R. Andy Erwin
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Secara fisiografis, van Bemmelen (1949) membagi Jawa Barat menjadi 4 bagian yaitu Dataran Pantai Jakarta, Zona Bogor, Zona Bandung, dan Zona Pegunungan Selatan Jawa
BAB 3 GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB 3 GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1. GEOMORFOLOGI Daerah penelitian memiliki pola kontur yang relatif rapat dan terjal. Ketinggian di daerah penelitian berkisar antara 1125-1711 mdpl. Daerah penelitian
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Jawa Barat dapat dikelompokkan menjadi 6 zona fisiografi yang berarah barat-timur (van Bemmelen, 1949) (Gambar 2.1). Zona-zona tersebut dari utara ke selatan yaitu:
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Regional Fisiografi Jawa Barat dapat dikelompokkan menjadi 6 zona yang berarah barattimur (van Bemmelen, 1949 dalam Martodjojo, 1984). Zona-zona ini dari utara ke
BAB IV GEOMORFOLOGI DAN TATA GUNA LAHAN
BAB IV GEOMORFOLOGI DAN TATA GUNA LAHAN 4.1 Geomorfologi Pada bab sebelumnya telah dijelaskan secara singkat mengenai geomorfologi umum daerah penelitian, dan pada bab ini akan dijelaskan secara lebih
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Bentuk dan Pola Umum Morfologi Daerah Penelitian Bentuk bentang alam daerah penelitian berdasarkan pengamatan awal tekstur berupa perbedaan tinggi dan relief yang
BAB 3 GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB 3 GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi Daerah Penelitian Geomorfologi daerah penelitian ditentukan berdasarkan intepretasi peta topografi, yang kemudian dilakukan pengamatan secara langsung di
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN III.1 GEOMORFOLOGI III.1.1 Morfologi Daerah Penelitian Morfologi yang ada pada daerah penelitian dipengaruhi oleh proses endogen dan proses eksogen. Proses endogen merupakan
BAB I PENDAHULUAN. besar yang dibangun di atas suatu tempat yang luasnya terbatas dengan tujuan
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Bendungan adalah suatu konstruksi atau massa material dalam jumlah besar yang dibangun di atas suatu tempat yang luasnya terbatas dengan tujuan untuk menahan laju
1) Geometri : Lebar, kekasaran dinding, sketsa lapangan
24 Gambar 2.10 Tipe urat pengisi (Pluijm dan Marshak, 2004) : (a) blocky vein, (b) fibrous vein, (c) dan (d) arah bukaan diskontinuitas sama dengan sumbu fiber Sehingga berdasarkan parameter deskripsi
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Menurut Van Bemmelen (1949), secara fisiografis dan struktural daerah Jawa Barat dapat di bagi menjadi 4 zona, yaitu Dataran Pantai Jakarta, Zona Bogor, Zona Bandung
3.2.3 Satuan lava basalt Gambar 3-2 Singkapan Lava Basalt di RCH-9
3.2.2.4 Mekanisme pengendapan Berdasarkan pemilahan buruk, setempat dijumpai struktur reversed graded bedding (Gambar 3-23 D), kemas terbuka, tidak ada orientasi, jenis fragmen yang bervariasi, massadasar
BAB IV ANALISIS KINEMATIK
BAB IV ANALISIS KINEMATIK 4.1 Data Lereng yang dijadikan objek penelitian terletak di pinggir jalan raya Ponjong Bedoyo. Pada lereng tersebut terdapat banyak diskontinuitas yang dikhawatirkan akan menyebabkan
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1. Geomorfologi Daerah Penelitian Morfologi muka bumi yang tampak pada saat ini merupakan hasil dari proses-proses geomorfik yang berlangsung. Proses geomorfik menurut
RESUME HASIL KEGIATAN PEMETAAN GEOLOGI TEKNIK PULAU LOMBOK SEKALA 1:
RESUME HASIL KEGIATAN PEMETAAN GEOLOGI TEKNIK PULAU LOMBOK SEKALA 1:250.000 OLEH: Dr.Ir. Muhammad Wafid A.N, M.Sc. Ir. Sugiyanto Tulus Pramudyo, ST, MT Sarwondo, ST, MT PUSAT SUMBER DAYA AIR TANAH DAN
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Regional Fisiografi Jawa Barat dibagi menjadi empat bagian besar (van Bemmelen, 1949): Dataran Pantai Jakarta (Coastal Plain of Batavia), Zona Bogor (Bogor Zone),
BAB III STRATIGRAFI 3. 1 Stratigrafi Regional Pegunungan Selatan
BAB III STRATIGRAFI 3. 1 Stratigrafi Regional Pegunungan Selatan Stratigrafi regional Pegunungan Selatan dibentuk oleh endapan yang berumur Eosen-Pliosen (Gambar 3.1). Menurut Toha, et al. (2000) endapan
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 FISIOGRAFI Menurut van Bemmelen (1949), fisiografi Jawa Barat dibagi menjadi enam zona, yaitu Zona Dataran Aluvial Utara Jawa Barat, Zona Antiklinorium Bogor, Zona Gunungapi
Foto 3.5 Singkapan BR-8 pada Satuan Batupasir Kuarsa Foto diambil kearah N E. Eko Mujiono
Batulempung, hadir sebagai sisipan dalam batupasir, berwarna abu-abu, bersifat non karbonatan dan secara gradasi batulempung ini berubah menjadi batuserpih karbonan-coally shale. Batubara, berwarna hitam,
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Menurut Van Bemmelen (1949), secara fisiografis dan struktural daerah Jawa Barat dapat di bagi menjadi 4 zona, yaitu Dataran Pantai Jakarta, Zona Bogor, Zona Bandung
ANALISIS KEKAR PADA BATUAN SEDIMEN KLASTIKA FORMASI CINAMBO DI SUNGAI CINAMBO SUMEDANG JAWA BARAT
Analisis kekar pada batuan sedimen klastika Formasi Cinambo di Sungai Cinambo Sumedang, Jawa Barat (Faisal Helmi) ANALISIS KEKAR PADA BATUAN SEDIMEN KLASTIKA FORMASI CINAMBO DI SUNGAI CINAMBO SUMEDANG
Geologi dan Studi Fasies Karbonat Gunung Sekerat, Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Foto 24. A memperlihatkan bongkah exotic blocks di lereng gunung Sekerat. Berdasarkan pengamatan profil singkapan batugamping ini, (Gambar 12) didapatkan litologi wackestone-packestone yang dicirikan oleh
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi Daerah Penelitian 3.1.1 Morfologi Umum Daerah Penelitian Morfologi daerah penelitian berdasarkan pengamatan awal dari peta topografi dan citra satelit,
Prosiding Seminar Nasional Kebumian Ke-6 Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, Desember 2013
PENGARUH KOMPETENSI BATUAN TERHADAP KERAPATAN KEKAR TEKTONIK YANG TERBENTUK PADA FORMASI SEMILIR DI DAERAH PIYUNGAN, BANTUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Abstrak Budi SANTOSO 1*, Yan Restu FRESKI 1 dan Salahuddin
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL 2.1 Fisiografi Regional Daerah penelitian berada di Pulau Jawa bagian barat yang secara fisiografi menurut hasil penelitian van Bemmelen (1949), dibagi menjadi enam zona fisiografi
Disusun Oleh: Alva. Kurniawann
LAPORAN PENYELIDIKAN SEMENTARA POTENSI EMAS DI HEGARMANAH, KECAMATAN GEGERBITUNG, KABUPATEN SUKABUMI Disusun Oleh: Alva Kurniawann RESEARCH AND DEVELOPMENT OF GEOSCIENCE AND ENVIRONMENTAL MATTER (RED-GEM)
RESUME APLIKASI MEKANIKA TANAH DALAM PERTAMBANGAN
RESUME APLIKASI MEKANIKA TANAH DALAM PERTAMBANGAN A. Pengertian Tanah Sejarah terjadinya tanah, pada mulanya bumi ini berupa bola magma cair yang sangat panas. Karena adanya proses pendinginan permukannya
Gambar 3.13 Singkapan dari Satuan Lava Andesit Gunung Pagerkandang (lokasi dlk-13, foto menghadap ke arah barat )
Gambar 3.12 Singkapan dari Satuan Lava Andesit Gunung Pagerkandang, dibeberapa tempat terdapat sisipan dengan tuf kasar (lokasi dlk-12 di kaki G Pagerkandang). Gambar 3.13 Singkapan dari Satuan Lava Andesit
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1. Geomorfologi Daerah Penelitian 3.1.1 Geomorfologi Kondisi geomorfologi pada suatu daerah merupakan cerminan proses alam yang dipengaruhi serta dibentuk oleh proses
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi Daerah Penelitian Lokasi penelitian berada di daerah Kancah, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung yang terletak di bagian utara Kota Bandung. Secara
Foto 3.24 Sayatan tipis granodiorit (HP_03). Satuan ini mempunyai ciri-ciri umum holokristalin, subhedral-anhedral, tersusun atas mineral utama
Foto 3.24 Sayatan tipis granodiorit (HP_03). Satuan ini mempunyai ciri-ciri umum holokristalin, subhedral-anhedral, tersusun atas mineral utama berupa plagioklas, kuarsa (C6-C7) dan k-feldspar (D3-F3).
BAB VI NIKEL LATERIT DI DAERAH PENELITIAN
BAB VI NIKEL LATERIT DI DAERAH PENELITIAN 6.1. Kondisi dan Penyebaran Singkapan. Geomorfologi daerah penelitian berupa perbukitan dan dataran. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap sebaran singkapan
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Stratigrafi Daerah Nanga Kantu Stratigrafi Formasi Kantu terdiri dari 4 satuan tidak resmi. Urutan satuan tersebut dari tua ke muda (Gambar 3.1) adalah Satuan Bancuh
PAPER GEOLOGI TEKNIK
PAPER GEOLOGI TEKNIK 1. Apa maksud dari rock mass? apakah sama atau beda rock dengan rock mass? Massa batuan (rock mass) merupakan volume batuan yang terdiri dan material batuan berupa mineral, tekstur
PEMETAAN GEOLOGI METODE LINTASAN SUNGAI. Norma Adriany Mahasiswa Magister teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta
PEMETAAN GEOLOGI METODE LINTASAN SUNGAI Norma Adriany Mahasiswa Magister teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta ABSTRAK Daerah penelitian terletak di daerah Gunung Bahagia, Damai, Sumber Rejo, Kota Balikpapan,
BAB III GEOLOGI DAERAH NGAMPEL DAN SEKITARNYA
BAB III GEOLOGI DAERAH NGAMPEL DAN SEKITARNYA Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil penelitian yaitu geologi daerah Ngampel dan sekitarnya. Pembahasan meliputi kondisi geomorfologi, urutan stratigrafi,
BAB II DASAR TEORI. 2.1 Analisis Kestabilan Lereng Batuan
BAB II DASAR TEORI Eskavasi terbuka adalah memindahkan suatu massa dari material tanah (soil) ataupun batuan (rocks) dengan tujuan untuk memudahkan pembuatan konstruksi yang telah direncanakan sebelumnya.
Pencirian BAHAN batuan
Pencirian BAHAN batuan Disediakan oleh: Dr. Wan Zuhairi Wan Yaacob Program Geologi UKM Bahan-bahan bumi Terdapat dua jenis bahan bumi yang utama dalam geologi kejuruteraan:-- (1) Batuan; (2) Tanah terdapat
3.2.3 Satuan Batulempung. A. Penyebaran dan Ketebalan
3.2.3 Satuan Batulempung A. Penyebaran dan Ketebalan Satuan batulempung ditandai dengan warna hijau pada Peta Geologi (Lampiran C-3). Satuan ini tersingkap di bagian tengah dan selatan daerah penelitian,
GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1. Geomorfologi Melalui interpretasi peta topografi dan citra udara serta analisis pola kerapatan kontur yang didasarkan pada klasifikasi van Zuidam, 1985, tatanan umum
ANALISIS TAFONOMI MOLUSKA PADA FORMASI DAMAR DI KALI SIWUNGU TEMBALANG SEMARANG
ANALISIS TAFONOMI MOLUSKA PADA FORMASI DAMAR DI KALI SIWUNGU TEMBALANG SEMARANG ABSTRAK Anis Kurniasih, ST., MT. 1, Ikhwannur Adha, ST. 2 1 Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Semarang,
Geologi Daerah Perbukitan Rumu, Buton Selatan 34 Tugas Akhir A - Yashinto Sindhu P /
Pada sayatan tipis (Lampiran C) memiliki ciri-ciri kristalin, terdiri dari dolomit 75% berukuran 0,2-1,4 mm, menyudut-menyudut tanggung. Matriks lumpur karbonat 10%, semen kalsit 14% Porositas 1% interkristalin.
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi Daerah Penelitian Berdasarkan bentuk topografi dan morfologi daerah penelitian maka diperlukan analisa geomorfologi sehingga dapat diketahui bagaimana
PEMODELAN PARAMETER GEOTEKNIK DALAM MERESPON PERUBAHAN DESAIN TAMBANG BATUBARA DENGAN SISTEM TAMBANG TERBUKA
PEMODELAN PARAMETER GEOTEKNIK DALAM MERESPON PERUBAHAN DESAIN TAMBANG BATUBARA DENGAN SISTEM TAMBANG TERBUKA Supandi Jurusan Teknik Pertambangan, STTNAS Jalan Babarsari, Catur Tunggal, Depok, Sleman Email
BAB IV ANALISIS STRUKTUR GEOLOGI
BAB IV ANALISIS STRUKTUR GEOLOGI 4.1 Struktur Sesar Struktur sesar yang dijumpai di daerah penelitian adalah Sesar Naik Gunungguruh, Sesar Mendatar Gunungguruh, Sesar Mendatar Cimandiri dan Sesar Mendatar
BAB II GEOLOGI REGIONAL
BAB II GEOLOGI REGIONAL A. Fisiografi yaitu: Jawa Bagian Barat terbagi menjadi 4 zona fisiografi menurut van Bemmelen (1949), 1. Zona Dataran Aluvial Utara Jawa 2. Zona Antiklinorium Bogor atau Zona Bogor
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Secara administratif, daerah penelitian termasuk dalam wilayah Jawa Barat. Secara
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lokasi Daerah Penelitian Secara administratif, daerah penelitian termasuk dalam wilayah Jawa Barat. Secara geografis, daerah penelitian terletak dalam selang koordinat: 6.26-6.81
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi Pengamatan geomorfologi di daerah penelitian dilakukan dengan dua tahap, yaitu dengan pengamatan menggunakan SRTM dan juga peta kontur yang dibuat dari
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 GEOMORFOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1.1 Morfologi Umum Daerah Penelitian Geomorfologi daerah penelitian diamati dengan melakukan interpretasi pada peta topografi, citra
GEOLOGI DAERAH KOMPLEK GUNUNG PALASARI MANGLAYANG DAN SEKITARNYA, KABUPATEN SUMEDANG, PROVINSI JAWA BARAT TUGAS AKHIR A
GEOLOGI DAERAH KOMPLEK GUNUNG PALASARI MANGLAYANG DAN SEKITARNYA, KABUPATEN SUMEDANG, PROVINSI JAWA BARAT TUGAS AKHIR A Diajukan sebagai syarat untuk mencapai gelar Sarjana Strata Satu di Program Studi
RANCANGAN GEOMETRI WEB PILAR DAN BARRIER PILAR PADA METODE PENAMBANGAN DENGAN SISTEM AUGER
RANCANGAN GEOMETRI WEB PILAR DAN BARRIER PILAR PADA METODE PENAMBANGAN DENGAN SISTEM AUGER Tommy Trides 1, Muhammad Fitra 1, Desi Anggriani 1 1 Program Studi S1 Teknik Pertambangan, Universitas Mulawarman,
Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur
Umur Analisis mikropaleontologi dilakukan pada contoh batuan pada lokasi NA805 dan NA 803. Hasil analisis mikroplaeontologi tersebut menunjukkan bahwa pada contoh batuan tersebut tidak ditemukan adanya
REKAMAN DATA LAPANGAN
REKAMAN DATA LAPANGAN Lokasi 01 : M-01 Morfologi : Granit : Bongkah granit warna putih, berukuran 80 cm, bentuk menyudut, faneritik kasar (2 6 mm), bentuk butir subhedral, penyebaran merata, masif, komposisi
