ANALISIS KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA BURUNG LOVEBIRD (Agapornis) Studi Kasus: Usaha Bapak Tono di Tuban, Jawa Timur YANUARIO SYAHPUTRA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA BURUNG LOVEBIRD (Agapornis) Studi Kasus: Usaha Bapak Tono di Tuban, Jawa Timur YANUARIO SYAHPUTRA"

Transkripsi

1 ANALISIS KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA BURUNG LOVEBIRD (Agapornis) Studi Kasus: Usaha Bapak Tono di Tuban, Jawa Timur YANUARIO SYAHPUTRA DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014

2

3 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Burung Lovebird (Agapornis) Studi Kasus: Usaha Bapak Tono di Tuban, Jawa Timur adalah benar karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. Bogor, Desember 2014 Yanuario Syahputra NIM H

4 ABSTRAK YANUARIO SYAHPUTRA. Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Burung Lovebird (Agapornis) Studi Kasus: Usaha Bapak Tono di Tuban, Jawa Timur. Dibimbing oleh JUNIAR ATMAKUSUMA. Burung Lovebird (Agapornis) merupakan komoditas yang baru memasuki pasar domestik maupun luar negeri beberapa tahun ini yang memiliki keunggulan kompetitif dalam perekonomian nasional. Salah satu penangkar di Kabupaten Tuban adalah Bapak Tono. Adanya peluang dalam memenuhi permintaan dari pengepul dan penghobi mendorong bisnis ini untuk menjalankan usaha. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kelayakan usaha budidaya burung Lovebird dengan studi kasus usaha Bapak Tono ditinjau dari aspek non finansial dan aspek finansial. Pengolahan data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan hasil analisis aspek non finansial usaha Bapak Tono layak untuk dijalankan karena tidak ada kendala dalam aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek hukum, dan aspek sosial lingkungan. Sedangkan menurut perhitungan kriteria investasi diperoleh bahwa usaha Bapak Tono adalah layak untuk dijalankan dengan nilai NPV sebesar Rp , Net B/C sebesar 3.132, IRR sebesar persen, dan payback period usaha ini selama 3 tahun 8 bulan 18 hari. Kata kunci: peluang, analisis non finansial, kriteria investasi ABSTRACT YANUARIO SYAHPUTRA. Analysis on The Business Feasibility of Farming Lovebird (Agapornis) Case Study: Mr. Tono s Business in Tuban, West Java. Supervised by JUNIAR ATMAKUSUMA. Lovebird (Agapornis) is a commodity that is just entering the domestic market and abroad several years with a competitive advantage in the national economy. One breeder in Tuban is Mr. Tono s. The opportunity to meet the demand of collectors and hobbyists has encouraged to conduct business. The purpose of this study was to analyze the feasibility of raising Lovebird of Mr. Tono s business in terms of nonfinancial and financial aspects. Data processing was done qualitatively and quantitatively. Based on the results of the analysis of non-financial aspects Mr. Tono s business was feasible because there are no obstacles in the market aspects, technical aspects, management aspects, legal aspects, environmental and social aspects. Meanwhile, according to the calculation of the financial aspects Mr. Tono s business was feasible with NPV value of Rp , Net B/C of 3.132, IRR of percent, and a payback period 3 years 8 month 18 days. Keywords: change, non-financial analysis, investment criteria

5 ANALISIS KELAYAKAN USAHA BURUNG LOVEBIRD (Agapornis) Studi Kasus: Usaha Bapak Tono di Tuban, Jawa Timur YANUARIO SYAHPUTRA Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014

6

7 Judul Skripsi Nama NIM : Analisis Kelayakan usaha Burung Lovebird (Agapornis) studi Kasus: Usaha Bapak Tono di Tuban, Jawa Timur : Yanuario Syahputra : H Disetujui oleh G{,a/ s : Ir Juniar Atmakusuma. MS Pembimbing ffi Diketahui oleh Tanggal Lulus: 0 2.nru eots

8

9 PRAKATA Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta ala atas segala rahmat dan karunia-nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi ini merupakan hasil penelitian dan pengolahan data yang dilaksanakan pada bulan September sampai Oktober 2013 dengan judul Analisis Kelayakan Usaha Burung Lovebird (Agapornis) Studi Kasus: Usaha Bapak Tono di Tuban, Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha burung Lovebird dengan studi kasus usaha Bapak Tono bila ditinjau dari aspek non finansial dan aspek finansial. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir Juniar Atmakusuma, MS selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan saran dan masukan. Disamping itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada para staf dan dosen Departemen Agribisnis yang telah membantu dalam kelancaran penyelesaian skripsi, dan Bapak Tono selaku pemilik usaha yang telah bersedia memberikan informasi serta menjadi tempat penelitian penulis, serta teman-teman seperjuangan yang ikut membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada abi, umi, kakak, dan adik, serta seluruh keluarga atas segala do a dan kasih sayangnya. Semoga skripsi ini bermanfaat. Bogor, Desember 2014 Yanuario Syahputra

10 DAFTAR ISI DAFTAR TABEL ix DAFTAR GAMBAR ix DAFTAR LAMPIRAN x PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 1 Rumusan Masalah 4 Tujuan Penelitian 7 Manfaat Penelitian 7 TINJAUAN PUSTAKA 7 Sejarah Burung Lovebird (Agapornis) 7 Budidaya Burung Lovebird 8 Penelitian Terdahulu : Kelayakan Produk Hobiis 11 Persamaan dan Perbedaan dengan Penelitian Terdahulu 13 KERANGKA PEMIKIRAN 14 Kerangka Pemikiran Teoritis 14 Kerangka Pemikiran Operasional 20 METODE PENELITIAN 22 Lokasi dan Waktu Penelitian 22 Jenis dan Sumber Data 22 Metode Pengumpulan Data 22 Metode Pengolahan Data 22 Asumsi Dasar Penelitian 27 GAMBARAN UMUM USAHA 28 Lokasi Usaha 28 Sejarah Usaha 29 Varian Lovebird yang Dibudidayakan di Penangkaran Bapak Tono 30 HASIL DAN PEMBAHASAN 34 Analisis Aspek Non finansial 34 Analisis Aspek Finansial 41 SIMPULAN DAN SARAN 51 Simpulan 51 Saran 52 DAFTAR PUSTAKA 53 LAMPIRAN 55

11 DAFTAR TABEL 1 Data pecinta burung kicau di Jawa Timur (2014) 3 2 Data jumlah produksi burung kicau di Kabupaten Tuban dari Januari 2014 sampai September Data jumlah kios burung di Kabupaten Tuban 5 4 Data permintaan dan penawaran usaha milik Bapak Tono 35 5 Rincian biaya tetap usaha peternakan Lovebird milik Bapak Tono 46 6 Rincian biaya variabel 48 DAFTAR GAMBAR 1 Persentase penyebaran hewan peliharaan di pulau Jawa dan Bali 2 2 Persentase burung kicauan yang dipelihara di Indonesia (2012) 2 3 Grafik market share permintaan Lovebird di Kabupaten Tuban 6 4 Glodok 8 5 Perbedaan kelamin dapat dilihat dari bentuk sayap 9 6 Penjodohan Lovebird 10 7 Pengeraman dan penetasan 11 8 Meloloh anakan dengan bubur bayi instan 11 9 Kerangka pemikiran operasional Beragam sertifikat juara kontes lovebird milik Bapak Tono Kontes burung kicau yang diikuti Bapak Tono Lovebird lutino mata merah Lovebird lutino mata hitam Lovebird albino mata merah Lovebird blorok Lovebird pastel kuning Lovebird pastel hijau Lovebird pastel biru Lovebird hitam Lovebird dakocan Lovebird hijau standar Persentase permintaan pelanggan yang terpenuhi oleh Bapak Tono Saluran pemasaran usaha peternakan Lovebird milik Bapak Tono Sarana dan prasarana produksi Masa pengawinan dan pengeraman telur Penanganan pasca lepas sapih Anakan siap jual umur 2 bulan di dalam kandang umbaran Struktur organisasi usaha burung Lovebird (Agapornis) milik Bapak Tono Grafik hubungan nilai NPV dan IRR usaha Bapak Tono 50

12 DAFTAR LAMPIRAN 1 Layout usaha penangkaran Bapak Tono 57 2 Kegiatan usaha burung Lovebird (Agapornis) milik Bapak Tono 58 3 Biaya investasi dan penyusutannya 59 4 Biaya re-investasi usaha peternakan burung Lovebird Bapak Tono 60 5 Proyeksi laba rugi 61 6 Proyeksi cash flow 62 7 Analisis switching value usaha budidaya burung Lovebird milik Bapak Tono 64 8 Kuesioner penelitian untuk analisis kelayakan usaha burung Lovebird di peternakan Bapak Tono, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban 66

13 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Dalam era globalisasi sekarang ini, tingkat daya beli rata rata masyarakat Indonesia semakin meningkat seiring bertambahnya tingkat pendapatan rata rata mereka. Hal ini menyebabkan perubahan beberapa faktor, salah satunya adalah perubahan gaya hidup seperti perubahan kebutuhan tersier menjadi kebutuhan sekunder, dan kebutuhan sekunder menjadi primer. Perubahan ini terjadi dikarenakan masyarakat merasa mampu untuk memenuhi kebutuhan primer seperti sandang, pangan, papan dan mereka akan menggunakan kelebihan pendapatan mereka untuk terus memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier. Contoh kebutuhan tersier adalah hobi, dimana mereka dapat menjernihkan pikiran dari kepenatan sehari hari dengan meluangkan waktu dan terkadang membutuhkan dana tambahan untuk melakukannya. Hobi atau minat merupakan sebuah kebutuhan bagi sebagian masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan waktu luang mereka. Menurut Hurlock (1990), minat adalah sesuatu yang bisa mendorong rasa semangat akan melakkukan sesuatu hal dan dapat berubah ubah. Minat disini dapat menjadi motivasi, bisa turun dan naik dalam siklus kepuasan yang didapatnya sehingga minat ini tidak bersifat permanen. Hobi memelihara burung di Indonesia memang memiliki banyak peminat. Berbagai alasan digunakan oleh para pecinta burung. Burung memiliki keunikan, keindahan suara dan kecantikan warna-warni bulunya yang mampu memberikan kepuasan tersendiri bagi para pemiliknya. Suara dari beberapa jenis burung sangat merdu, yang memukau telinga para pecinta burung sehingga sering diikutsertakan dalam berbagai kontes burung berkicau. Dan memiliki burung jawara kontes akan menambah kepuasan dan kebanggaan bagi para pecinta hobi memelihara burung. Ada juga beberapa jenis burung yang cukup unik. Burung beo dan kakaktua misalnya, keduanya memiliki kemampuan mengikuti suara manusia. Banyak sekali jenis burung yang dapat dipelihara, bahkan ada pula burungburung langka yang mendapat perlindungan dari pemerintah, seperti Kasuari dan Cendrawasih. Untuk memelihara jenis burung ini, harus mendapatkan ijin dari pemerintah. Sebagian besar jenis burung yang banyak dipelihara oleh para pecinta burung adalah burung dengan tampilan cantik dan kicauan merdu. Dan setiap jenis burung punya kecantikan dan keunikannya tersendiri. Hobi memelihara burung, semakin hari semakin banyak peminatnya, meski terkadang hobi ini membutuhkan biaya yang cukup besar. Meski tampak mudah merawatnya karena hanya memerlukan sebuah sangkar dan tempat makan-minum, namun perlu trik khusus, kualitas pakan dan kemampuan melatih yang benar. Berdasar pada penelitian Jepson dan Ladle (2006), sebesar 35,70 persen dari penduduk di Pulau Jawa dan Bali menjadikan burung sebagai hewan peliharaan.

14 2 5% 4% 1% 3% 5% 10% 35,70% 13% 23,30% Gambar 1 Persentase penyebaran hewan peliharaan di pulau Jawa dan Bali Sumber: Jepson dan Ladle (2006) Menurut salah satu artikel burung kicau di Indonesia (Indobird 2012) menyatakan bahwa salah satu burung kicau yang paling banyak dipelihara adalah burung Lovebird dibanding burung kicau lainnya. Sebesar 20 persen penduduk di Indonesia pada tahun 2012 memilih burung Lovebird sebagai peliharaan dibandingkan dengan burung kicauan jenis lain seperti kenari, kacer, murai batu, anis, pleci, dan lainnya. Gambar 2 Persentase burung kicauan yang dipelihara di Indonesia (2012) Sumber : [diakses pada tanggal 2014 Desember 20]

15 3 Burung Lovebird memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan burung kicau lainnya, diantaranya adalah varian warna yang beragam, kemerduan suara, kelincahan, dan bentuk badannya yang kecil membuatnya menarik. Perawatan dari burung Lovebird pun tergolong mudah karena burung ini tahan terhadap penyakit. (Dewi 2011) Kabupaten Tuban merupakan salah satu kota dengan jumlah pecinta burung kicau terbesar di Jawa Timur yaitu mencapai 145 orang aktif. Hal ini berdasarkan data Paguyuban Manuk Oceh Jatim (2014) yang menyatakan bahwa pecinta burung kicau di Jawa Timur terbanyak keempat adalah Kabupaten Tuban. Selain itu, Kabupaten Tuban merupakan salah satu kota yang sering mengadakan kontes burung kicauan. Hampir setiap dua hari sekali diadakan kontes di Kabupaten Tuban dengan berbagai tingkatan dan kriteria penilaian. Tabel 1 Data pecinta burung kicau di Jawa Timur (2014) No. Kabupaten Jumlah Anggota (orang) No. Kabupaten Jumlah Anggota (orang) 1 Madiun Malang Magetan Pasuruan 88 3 Pacitan Probolinggo 87 4 Ponorogo Lumajang Ngawi Jember 95 6 Trenggalek Bondowoso Tulungagung Situbondo 94 8 Blitar Banyuwangi 96 9 Nganjuk Sidoarjo Bojonegoro Gresik Tuban Bangkalan Mojokerto Sampang Kediri Pamekasan Jombang Sumenep Lamongan Surabaya 205 Sumber: Paguyuban Manuk Oceh Jatim (2014) Data dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Tuban (2014) menyebutkan bahwa jumlah produksi rata-rata ternak untuk komoditi burung kicau sebanyak 645,6 ekor per bulan dari Januari sampai September tahun Hasil produksi burung kicau di Kabupaten Tuban relatif stabil dari bulan Januari hingga bulan September. Tabel 2 Data jumlah produksi burung kicau di Kabupaten Tuban dari Januari 2014 sampai September 2014 Komoditi Tahun 2014 Bulan (per ekor) Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Burung kicau Rata-rata produksi 645,56 Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Tuban (2014) Asosiasi Kicau Mania Kabupaten Tuban (AKMT) menyatakan bahwa burung yang paling digemari saat ini adalah burung Lovebird dibandingkan dengan burung kicau yang lain. Bahkan hampir setiap rumah di Kabupaten Tuban ini memiliki burung jenis ini, selain keindahan bulunya burung ini pun tergolong cerdas sehingga ada beberapa penghobi yang melatihnya sebagai teman bermain.

16 4 Banyaknya para pecinta burung kicauan dilirik oleh beberapa pelaku usaha sebagai peluang bisnis baru yang menjanjikan dalam beternak burung kicauan. Dengan banyaknya jenis burung kicauan di Indonesia yang menjadikan peluang bisnis ini berkali lipat. Salah satu penangkar burung Lovebird di Kabupaten Tuban adalah Bapak Tono yang memanfaatkan lahan kosong miliknya untuk dijadikan penangkaran. Bapak Tono adalah penangkar Lovebird pertama di Kabupaten Tuban dan mulai memperkenalkan kepada masyarakat pada tahun Bapak Tono mulai memfokuskan usahanya pada tahun 2009 karena mendapat permintaan dari rekannya yang memiliki kios burung. Pada tahun 2009 Bapak Tono merupakan satu satunya penangkar Lovebird di Kabupaten Tuban dan belum memiliki pesaing, tetapi pada tahun 2012 sampai sekarang Bapak Tono memiliki dua pesaing yaitu Bapak Antok dan Bapak Hari. Permintaan Lovebird yang paling banyak di Kabupaten Tuban adalah kepada Bapak Tono karena pada usaha Bapak Tono ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan yang lain, diantaranya varian warna Lovebird di penangkaran lebih banyak dan variatif sehingga calon pembeli lebih tertarik dan memiliki banyak pilihan, anakan burung yang dijual memiliki postur tubuh besar dan sehat karena beberapa trik perawatan yang khusus dan keunggulan yang terakhir penangkaran Bapak Tono memberikan garansi jenis kelamin burung yang dipilih. Dalam kegiatan usaha budidaya burung Lovebird ini diperlukan dana investasi yang relatif besar dan dana yang telah dikeluarkan diharapkan dapat memberi keuntungan bagi Bapak Tono. Maka dari itu, perlu dilakukan analisis kelayakan terhadap usaha untuk melihat berapa keuntungan dan berapa lama tingkat pengembalian modal untuk beberapa tahun kedepan, sehingga nantinya dapat diketahui apakah usaha ini layak untuk dijalankan atau tidak dilihat dari aspek finansial maupun non-finansial. Rumusan Masalah Data dari Dinas Perekonomian dan Pariwisata Kabupaten Tuban (2014) mengatakan bahwa jumlah kios burung yang masih beroperasi di kawasan Kabupaten Tuban sebanyak kios. Dari 20 kecamatan di Tuban, kecamatan yang memiliki kios terbanyak berada di Kecamatan Tuban sehingga penangkar lebih banyak menjalankan usahanya di kecamatan ini karena kedekatannya dengan pasar induk. Sehingga dapat mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh peternak, seperti biaya transportasi, upah angkut, dan lainnya. Untuk menyalurkan hobi memelihara burung kicau, Asosiasi Kicau Mania Kabupaten Tuban (AKMT) menyelenggarakan acara mingguan berupa kontes burung. Acara ini diadakan setiap hari sabtu dan minggu di setiap kecamatan di Kabupaten Tuban dan bertujuan untuk mempererat silaturahmi antar pecinta burung kicau. Dari berbagai jenis burung kicau hampir semua dilombakan dengan penilaian yang telah ditetapkan panitia dan juri. Salah satu burung kicauan yang paling favorit dilombakan dan banyak pesertanya adalah burung Lovebird karena beberapa keunikan bentuk tubuh dan suara ocehannya.

17 5 Tabel 3 Data jumlah kios burung di Kabupaten Tuban Kecamatan Jumlah kios burung (Tahun 2014) Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Bancar Bangilan Tuban Jatirogo Kenduruan Kerek Merakurak Montong Palang Parengan Plumpang Rengel Semanding Senori Singgahan Soko Tambakboyo Widang Grabagan Jenu Total Sumber : Dinas Perekonomian dan Pariwisata Kabupaten Tuban (2014) Dilihat dari banyaknya kios-kios burung dan perlombaan burung kicau di Kabupaten Tuban merupakan salah satu peluang untuk mengembangbiakkan burung Lovebird karena permintaan yang cukup tinggi. Hal ini menjadi potensi yang dapat dikembangkan khususnya dalam hal penangkaran burung kicau. Peluang ini dimanfaatkan oleh Bapak Tono untuk menjalankan dan mengembangkan usaha penangkaran burung Lovebirdnya. Permintaan burung Lovebird di penangkaran Bapak Tono setiap bulannya sebanyak ekor untuk anakan usia 2 bulan. Permintaan tersebut merupakan permintaan dari para pengepul, pemilik kios, dan penghobi. Sedangkan penangkaran Bapak Tono rata-rata hanya dapat memproduksi 100 ekor anakan setiap bulannya. Terjadinya excess demand ini yang memotivasi Bapak Tono untuk menekuni usaha budidaya burung Lovebird. Dalam Asosiasi Kicau Mania Tuban (AKMT) terdapat 3 anggota yang beternak Lovebird saat ini. Bapak Tono adalah salah satu anggota yang membudidayakan burung Lovebird dan merupakan penangkar pertama di Kabupaten Tuban, skala usaha Bapak Tono pun merupakan yang terbesar dibanding kedua peternak lainnya. Peternak yang lain bernama Bapak Antok dan Bapak Hari, masing masing hanya baru bisa menyuplai ke pasar per bulannya sebanyak 30 ekor dan 20 ekor. Permintaan pasar di Kabupaten Tuban untuk Lovebird sendiri mencapai ekor per bulannya, permintaan terbesar ditujukan kepada Bapak Tono karena dari segi kualitas sudah terjamin dan terbukti dari beberapa kontes burung yang dia juarai, selain itu dari varian warna Lovebird penangkaran milik Bapak Tono lebih banyak sehingga para pembeli akan lebih puas dalam memilih. Berikut gambar grafik market share dari ketiga peternak di Kabupaten Tuban.

18 6 Gambar 3 Grafik market share permintaan Lovebird di Kabupaten Tuban Dalam menjalankan usaha ini pemilik telah mengeluarkan investasi yang besar, seperti pendirian bangunan, pembuatan kandang, pembelian indukan burung Lovebird, exhaust fan, dan inkubator serta peralatan lain untuk mendukung proses produksi. Biaya investasi usaha mencapai Rp Namun investasi yang besar tersebut belum diketahui seberapa besar manfaat yang akan diberikan pada usaha ini. Dalam kegiatan sehari-hari faktor ketidakpastian selalu ada, apalagi dalam sektor peternakan. Untuk itu diperlukan analisis sensitivitas untuk menilai apa yang akan terjadi dengan analisis kelayakan usaha burung Lovebird di penangkaran milik Bapak Tono apabila terjadi perubahaan dalam perhitungan biaya dan manfaat. Perubahan ini didasarkan pada kejadian sebelumnya yang pernah dialami. Salah satu contoh dengan memperhatikan komponen output produksi anakan burung Lovebird yang dapat menurun pada kondisi tertentu, hal ini disebabkan oleh pengaruh cuaca yang berakibat menurunnya daya tetas telur dan daya hidup anakan Lovebird. Kondisi ini akan mempengaruhi penerimaan dan keuntungan usaha budidaya di peternakan Bapak Tono. Melihat kondisi tersebut, peneliti akan melakukan analisis kelayakan usaha burung Lovebird di penangkaran milik Bapak Tono untuk mengevaluasi dan memprediksi kedepannya apakah usaha ini akan memberi keuntungan serta berapa lama tingkat pengembalian terhadap investasi yang telah ditanam. Dengan hasil analisis ini diharapkan nantinya akan diketahui seberapa layak usaha tersebut untuk dijalankan, sehingga dapat menjadi pertimbangan bagi Bapak Tono. Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimana kelayakan usaha budidaya Lovebird dilihat dari aspek non finansial yaitu aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek hukum, dan aspek sosial lingkungan? 2. Bagaimana kelayakan usaha budidaya Lovebird dilihat dari kriteria investasi yaitu Net Present Value (NPV), Net Benefit / Cost Ratio (Net B/C Ratio), Internal Rate of return (IRR), dan Payback Period (PP)? 3. Bagaimana tingkat kepekaan atau sensitivitas dari usaha budidaya burung Lovebird milik Bapak Tono?

19 7 Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas, maka penelitian terhadap usaha budidaya burung Lovebird milik Bapak Tono memiliki beberapa tujuan sebagai berikut: 1. Menganalisis kelayakan usaha budidaya burung Lovebird dilihat dari aspek non finansial yaitu aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek hukum, dan aspek sosial lingkungan. 2. Menganalisis kelayakan usaha budidaya burung Lovebird dilihat dari kriteria investasi yaitu Net Present Value (NPV), Net Benefit adn Cost Ratio (Net B/C Ratio), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP). 3. Menganalisis tingkat kepekaan atau sensitivitas dari usaha budidaya burung Lovebird milik Bapak Tono. Manfaat Penelitian Hasil penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain: 1. Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat menambah kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat luas, menambah wawasan dan berguna untuk mengembangkan daya analisis kelayakan pengembangan usaha serta penerapan teori-teori yang telah diperoleh semasa perkuliahan. 2. Bagi pembudidaya burung Lovebird, penelitian diharapkan dapat memberikan informasi dalam melakukan pertimbangan usaha dan kelayakan usaha untuk keberlanjutannya agar mencapai tujuan usaha yaitu memperoleh keuntungan yang maksimal. 3. Bagi investor, hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu referensi dalam mempertimbangkan penanaman modal pada usaha budidaya burung Lovebird. 4. Bagi akademisi, penelitian ini sebagai informasi dan bahan pembanding untuk penelitian selanjutnya. TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Burung Lovebird (Agapornis) Lovebird merupakan burung endemik Benua Afrika. Lovebird pertama kali ditemukan pada tahun Lovebird merupakan burung kesayangan yang mudah dijinakkan sehingga banyak orang yang ingin memeliharanya. Pada tahun , penjelajah Eropa bernama Fischer menyembunyikan burung Lovebird dikapalnya. Burung tersebut dinamakan Fischer Lovebird. Di Inggris, Lovebird dikenal sebagai burung peliharaan berbulu cantik dan bersuara merdu. Di tempat asalnya, Lovebird dilombakan karena kemerduan suara dan keindahan warnanya. Karena itu, varietas warna Lovebird dari tahun ke tahun bertambah banyak. Padahal, pada awalnya Lovebird hanya memiliki sembilan spesies dengan sembilan warna dasar. Lovebird terus dikembangkan sehingga memiliki warna yang beragam dari hasil persilangan yang terus-menerus

20 8 dilakukan, terutama oleh masyarakat di Benua Eropa. Namun, hanya beberapa spesies yang berhasil dikembangkan dan dikomersialkan (Sitanggang dkk, 2011). Budidaya Burung Lovebird Penangkaran burung Lovebird Kandang yang digunakan untuk tempat hidup burung kicau sangat beragam, yaitu sangkar dan kandang. Hal ini tergantung dari jenis burung yang akan dipelihara. Setiap jenis burung memiliki karakter dan kebiasaan yang berbeda. Burung Lovebird merupakan burung yang memiliki paruh bengkok dan sangat kuat, serta dikenal sebagai hewan pengerat. Oleh karena itu, diperlukan Kandang dari bahan yang tidak bisa rusak karena gigitan Lovebird, yaitu sangkar yang terbuat dari kawat atau logam lainnya. Kawat ram atau sangkar besi yang digunakan berukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm yang bisa ditempati sepasang Lovebird. Kemudian perlu disiapkan tempat untuk bertelur yang terbuat dari kotak kayu dengan ukuran 25 cm x 20 cm x 25 cm dan juga tenggeran. Gambar 4 Glodok Perbedaan burung Lovebird jantan dan betina Terdapat banyak jenis burung Lovebird yang berada di Indonesia, seperti fisher Lovebird, Lovebird mawar, dan Lovebird leher kuning. Masing masing jenis tersebut bersifat not sexually dimorphic. Artinya, antara jantan dan betina memiliki bentuk fisik yang sama. Oleh karena itu, butuh teknik khusus dan pengalaman untuk membedakan antara Lovebird jantan dan betina. Secara fisik jenis kelamin pada Lovebird sangat sulit dibedakan. Jangan tertipu oleh Lovebird yang kawin, karena Lovebird yang kawin belum tentu Lovebird tersebut jantan dan betina. Bisa jadi Lovebird tersebut jantan semua atau betina semua. Cirinya adalah jika kira-kira dua minggu setelah kawin Lovebird tersebut tidak juga bertelur berarti Lovebird tersebut jantan semua dan sebaliknya jika kira-kira 2 minggu setelah kawin Lovebird tersebut bertelur lebih dari 6 telur kemungkinan besar Lovebird tersebut betina semua. Cara yang digunakan kebanyakan orang di Indonesia untuk membedakan jenis kelamin Lovebird adalah dengan cara meraba tulang supit, dimana jika jarak antara kedua tulang supit renggang dan terasa lentur maka Lovebird tersebut biasanya berjenis kelamin betina. Jika jarak antara tulang supit sempit terasa keras biasanya Lovebird tersebut berjenis kelamin jantan. Namun, cara tersebut tidak 100% benar. Untuk cara yang paling akurat yang sering dilakukan oleh orangorang barat yaitu dengan cara tes darah dengan jalan mencabut sehelai bulu Lovebird dimana pada pangkal bulu Lovebird tersebut terdapat sedikit darah yang menempel selanjutnya dibawa ke laboratorium yang khusus untuk meneliti jenis kelamin Lovebird. Cara inilah, cara yang sangat akurat untuk menentukan jenis kelamin Lovebird. Cara lain yang digunakan para penghobi burung ini dengan

21 9 menggunakan jarum atau logam lainnya yang digantung bebas dengan benang kemudian didekatkan diatas kepala burung, jika jarum atau logam bergerak maju mundur maka burung itu jantan dan jika bergerak memutar maka burung itu betina. Gambar 5 Perbedaan kelamin dapat dilihat dari bentuk sayap Pemilihan calon indukan Lovebird bisa bertelur pada usia 8 bulan. Namun, usia tersebut kurang baik untuk produktivitas Lovebird. Pada usia 8 bulan Lovebird belum benar-benar matang untuk berproduksi, sehingga sering terjadi kegagalan dalam penetasan. Kalaupun berhasil kemungkinannya sangat kecil dan kualitas Lovebird yang dihasilkan biasanya kurang bagus. Untuk usia yang bagus yaitu usia 1 tahun, pada usia tersebut Lovebird benar-benar sudah siap untuk berproduksi. Ciri ciri calon indukan betina yang bagus adalah durasi suaranya saat ngekek lumayan panjang, bagian perut sampai pantat menggembung, badan besar dan tegap. Sedangkan ciri calon pejantan yang bagus adalah pen atau alat kelaminnya besar dan panjang, paruh tebal. Penjodohan burung Lovebird Lovebird adalah salah satu jenis burung yang setia dengan pasangannya. Burung ini hanya mau kawin pada satu pasangan saja. Ini berlaku sampai mereka mati. Maka dari itu, perlu ada penanganan khusus untuk menjodohkan Lovebird. Untuk menjodohkan Lovebird, letakkan masing masing jantan betina di sangkar terpisah dan dekatkan kedua sangkar tersebut. Kalau mereka selalu berdekatan maka kemungkinan besar sudah berjodoh. Proses ini biasanya memakan waktu 3 7 hari. Proses penjodohan ini bisa sangat cepat bila dilakukan saat masing masing Lovebird tersebut sudah memasuki masa berahi. Masa birahi ini ditandai dengan perilaku perilaku tertentu, seperti sering berkicau serta melakukan aktivitas aktivitas birahi, yaitu jantan berusaha mengawini benda benda didekatnya, merunduk serta membuka sayap dengan ekor bergerak naik turun. Jika jantan dan betina tersebut sudah berjodoh, maka keduanya siap untuk dimasukkan ke dalam sebuah sangkar penangkaran. Ada hal yang harus diingat: Jika setelah dikumpulkan dalam satu kandang ternyata tidak mau kawin atau selalu kejar kejaran maka dipastburung penjodohan ini telah gagal. Cobalah untuk mengulangi lagi proses ini dengan menukar salah satunya dengan Lovebird yang lain. Ada juga kejadian unik, yaitu pasangan tersebut cerai. Hal ini biasanya terjadi karena kondisi kandang yang kurang nyaman, stres, maupun perebutan makanan.

22 10 Alternatif lain untuk penjodohan adalah dengan mengumpulkan banyak Lovebird sekaligus disebuah kandang yang besar. Paling tidak harus ada lima pasang Lovebird dalam kandang tersebut. Satu hal yang harus diingat pula bahwa Lovebird tidak mengenal poligami atau poliandri seperti layaknya bangsa burung yang lain. Oleh karena itu, jumlah Lovebird yang terdapat dalam kandang besar tersebut antara najntan dan betinna harus sama. Kalau ada sepasang Lovebird yang sudah berjodoh, mereka biasanya langsung masuk ke glodok untuk kawin dan bertelur. Apabila hal tersebut sudah terlihat, maka kita dapat memindahkan sepasang Lovebird tersebut ke kandang penangkaran. Gambar 6 Penjodohan Lovebird Masa bertelur, mengeram, dan menetas Apabila Lovebird sudah mulai kawin, burung akan mencari tempat untuk bertelur. Oleh karena itu, dalam kandang harus disediakan glodok sebagai kotak sarang. Siapkan pula alas pengeraman di dasar glodok tersebut secara insting biasanya Lovebird tetap mencari bahan untuk membuat sarang. Di alam bebas, biasanya mereka mengumpulkan berbagai ranting kecil, tangkai daun, dan sebagainya. Tebarkan ranting ranting kecil, tangkai daun maupun kulit jagung kering didasar kandang. Diusahakan pula untuk tidak menebarkan bahan bahan yang masih basah atau segar. Gunakan yang sudah kering saja. Bahan bahan yang masih segar dapat membusuk di dalam glodok. Hal ini bisa menimbulkan masalah sendiri. Selain itu, jangan gunakan sebagai bahan yang bersifat sintesis seperti serat plastik maupun karet. Bahan bahan sintesis bisa menjadi racun apabila termakan oleh Lovebird. Umumnya Lovebird bertelur sampai enam butir. Jangan khawatir jika Lovebird tidak langsung mengeram. Biasanya burung ini baru akan mengerami telurnya setelah telur ketiga keluar. Pada saat pengeraman, induk Lovebird akan sesekali keluar dari glodok untuk makan, mandi, atau sekadar merentangkan sayap. Telur telur Lovebird akan menetes setelah dierami selama hari. Ada yang unik dari Lovebird, yaitu proses penetasan telur ini bisa memakan waktu cukup lama, yaitu sekitar 24 jam. Hal ini alami dan jangan khawatir karena pada saat proses penetasan tersebut memang sedang terjadi berbagai penyesuaian di dalam tubuh anak Lovebird. Sebaiknya peternak tidak turut campur dalam proses penetasan yang lama ini karena bisa menyebabkan anak Lovebird menjadi tumbuh tidak normal maupun cacat. Mungkin pada saat masa pertama keluar tidak semua telur tersebut bisa menetas atau mandul. Hal ini alami dan tidak perlu terlalu mengkhawatirkan hal ini. Biasanya Lovebird baru benar benar produktif setelah masa bertelur yang kedua dan seterusnya. Mandulnya telur Lovebird biasanya disebabkan oleh induk yang terlalu muda, lingkungan yang tidak sehat dan nutrisi yang tidak cukup atau gizi buruk.

23 11 Jika kemandulan terjadi secara terus menerus maka hal ini patut dicurigai. Cobalah untuk membuka cangkang telur yang tidak menetas tersebut dan lihatlah bagaimana perkembangan embrio Lovebird. Jika embrio itu ternyata ada tetapi hanya setengah jadi, kemungkinan besar ada yang salah dengan proses pengeraman telurnya. Bisa saja telur tersebut tergelincir keluar sarang sehingga tidak tererami oleh induknya. Gambar 7 Pengeraman dan penetasan Pemberian pakan anakan burung Lovebird Untuk meningkatkan produktivitas induk Lovebird dapat dilakukan dengan cara mengambil anak Lovebird pada usia sekitar 4 minggu. Disamping itu, anak Lovebird akan menjadi lebih jinak sehingga juga dapat meningkatkan harga jual Lovebird. Anak Lovebird diletakkan pada sebuah kotak yang di beri alas kain handuk dan diberi lampu 5 watt untuk menjaga kehangatan. Pakan untuk anak Lovebird bisa menggunakan bubur bayi instant yang banyak dijual di toko sekitar. Bubur bayi dicampur dengan air hangat. Pada awalnya campuran yang diberikan dalam bentuk yang tidak terlalu kental. Semakin bertambah umur anak Lovebird, tingkat kekentalan makanan semakin bertambah pula. Alat yang digunakan bisa memakai pipet suntik dengan membuang jarumnya. Pemberian pakan dilakukan minimal tiap 4 jam sekali secara teratur sampai anakan berumur 1,5 bulan. Gambar 8 Meloloh anakan dengan bubur bayi instan Penelitian Terdahulu : Kelayakan Produk Hobiis Analisis kelayakan usaha budidaya burung Lovebird Analisis kelayakan usaha dilakukan untuk mengetahui bermanfaat atau tidak investasi yang dilakukan oleh seorang pengusaha pada usaha yang akan atau sedang dijalankannya sehingga menghindarkan pengusaha tersebut dari kegiatan investasi yang merugikan. Salah satu analisis kelayakan usaha yang dilakukan adalah pada budidaya burung Lovebird. Burung Lovebird sebagai komoditi baru di Indonesia memiliki prospek pengembangan usaha. Namun, budidaya burung Lovebird ini membutuhkan modal yang cukup besar untuk diusahakan sehingga

24 12 dengan adanya analisis kelayakan usaha dapat diketahui berapa manfaat yang didapatkan. Penelitian yang dilakukan oleh Winata (2012) tentang Analisis Usaha Peternakan Tasya Lovebird di Kartasura, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam aspek non finansial usaha ini layak dijalankan yang meliputi aspek pemasaran, anakan Lovebird berusia 2 bulan sampai 3 bulan akan dipasarkan di pulau Jawa dengan harga yang bervarian tergantung warna dan jenis Lovebird dan biasanya para pelanggannya akan datang sendiri kerumah. Aspek teknis terlihat peternakan Tasya ini tidak memiliki kendala baik dalam hal tempat produksi, pengadaan indukan dan bahan baku lain. Aspek manajemen dari peternakan Tasya Lovebird sudah tersusun dengan dengan baik yaitu Bapak Gion sebagai pemimpin dan pemilik usaha ini, Ibu Rahayu sebagai wakil pimpinan, dan memiliki empat karyawan yang masing masing diberikan tugas hampir sama. Aspek lingkungan dari usaha ini dapat mengurangi angka pengangguran daerah Kartasura dan limbah dari peternakan ini dibuang jauh dari lokasi pemukiman sehingga tidak mengganggu lingkungan. Dilihat dari aspek non finansial maka usaha ini layak karena banyak memberikan manfaat bagi pelaku usaha maupun lingkungan sekitarnya. Dilihat dari hasil NPV sebesar Rp , IRR sebesar 3.35 persen, payback period dicapai dalam waktu 24 bulan 14 hari, PI sebesar 2.38, dan BEP sebanyak 158 ekor anakan. Analisis kelayakan usaha ikan hias air tawar Penelitian selanjutnya berkaitan tentang ikan hias air tawar, karena penulis terkendala dengan sedikitnya penelitian tentang burung Lovebird atau burung kicau lainnya maka penulis menggunakan panduan penelitian terdahulu dengan karakteristik komoditi yang sama yaitu ikan hias air tawar. Ada beberapa penelitian terdahulu yang penulis jadikan acuan untuk menulis skripsi ini, seperti penelitian yang dilakukan Rohmawati (2010) tentang Analisis Kelayakan Pengembangan Usaha Ikan Hias Air Tawar pada Arifin Fish Farm di Desa Ciluar Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor. Hasil penelitian dilihat dari aspek teknis menunjukkan bahwa perusahaan tidak mengalami kesulitan dalam tersediaan bahan baku dalam pengadaan atau ketersediaan induk ikan hias air tawar. Dari aspek manajemen menunjukan perusahaan menggunakan struktur organisasi berbentuk garis dan cukup sederhana sehingga mampu menjalankan tugas masingmasing sesuai dengan kewajibannya. Aspek Hukum menunjukkan bahwa Arifin Fish Farm dapat digolongkan dalam usaha perorangan. Aspek pasar usaha ini menunjukkan potensi ikan hias air tawar sangat baik untuk dikembangkan dapat dilihat dari permintaan yang cukup tinggi. Hasil Perhitungan aspek finansial pada usaha ikan hias air tawar dengan rencana pengembangan dengan lahan 800 m2 menunjukan perhitungan nilai NPV yang diperoleh sebesar Rp , nilai Net B/C diperoleh sebesar 4.08, nilai IRR sebesar 60 persen, payback period sebesar 2.03, nilai manfaat bersih yang diperoleh sebesar Rp Pada hasil perhitungan analisis sensitivitas jika terjadi penurunan harga penjualan, maka menunjukkan usaha ini masih tetap layak untuk dilanjutkan. Penurunan harga jual ikan hias sebesar 20 persen per tahun menghasilkan NPV Rp , Net B/C sebesar 2.43 dan IRR sebesar 34 persen. sedangkan penurunan sebesar 30 persen menghasilkan NPV sebesar Rp , Net B/C sebesar 1.79 dan IRR sebesar 24 persen.

25 13 Penelitian yang dilakukan oleh Made (2005) mengenai Analisa Kelayakan Bisnis Usaha Pembudidayaan Ikan Koki pada Lahan Terbatas di Jakarta. Penelitian tersebut mengkaji kelayakan usaha dilihat dari aspek pemasaran, aspek teknis dan aspek finansial. Melihat semakin terbatasnya lahan di daerah perkotaan, maka kawasan perkotaan menjadi objek penelitian dalam hal menerapkan teknologi hemat lahan dan air. Dari hasil analisa dapat dikatakan bahwa usaha budidaya ikan koki pada lahan terbatas di Kota Jakarta layak dilakukan, karena usaha ini dapat memberikan keuntungan bagi pengelolanya. Dilihat dari hasil NPV sebesar Rp , IRR sebesar persen, payback period dicapai dalam 7.32 bulan, Net B/C 2.18 dan BEP tercapai pada tingkat penjualan Rp Tetapi usaha ini sensitif terhadap perubahan harga jual (output) dan perubahan volume produksi minimal 45 persen. Jika terjadi penurunan terhadap faktor-faktor tersebut lebih dari 45 persen maka kegiatan usaha budidaya tidak layak secara finansial untuk dilakukan. Penelitian oleh Rahmawan (2004) berkaitan tentang Analisis Kelayakan Pengembangan Investasi Pengembangan Usaha Pemasok (Supplier) Ikan Hias di Adil Fish Farm, Depok. Penelitian tersebut mengkaji tentang aspek finansial dan aspek non finansial. Dari aspek non finansial diperoleh bahwa pada aspek teknis tidak ada kesulitan dalam pengadaan ikan hias dari petani maupun dalam proses produksinya. Pada aspek manajemen, dengan struktur yang sederhana Adil Fish Farm masih mampu menjalankan manajemen usahanya dengan baik. Pada aspek pasar, adanya permintaan yang kontinu dari pihak konsumen menunjukkan usaha ini masih memiliki peluang pasar yang baik. Pada aspek finansial, usaha ini layak untuk dijalankan karena memiliki NPV sebesar Rp , Net B/C Ratio sebesar 2.35 dan IRR sebesar 61 persen serta keuntungan yang cukup besar yaitu sebesar Rp Pada hasil analisis sensitivitas, untuk kenaikan harga bahan bakar (BBM) maksimal yaitu sebesar 10 persen dan kenaikan harga cacing (pakan) maksimal sebesar 50 persen maka usaha ini tetap layak untuk dilaksanakan. Persamaan dan Perbedaan dengan Penelitian Terdahulu Penelitian-penelitian terdahulu merupakan acuan bagi penelitian dalam menganalisis kelayakan usaha. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Winata (2012), yaitu mengenai lokasi penangkaran Lovebird dan penelitian oleh Winata tidak menggunakan alat analisis sensitivitas dan switching value, sedangkan persamaannya adalah komoditi yang diteliti dan kriteria alat analisis yang digunakan yaitu analisis finansial dan analisis non finansial. Pada penelitian Rohmawati (2010), Made (2005), dan Rahmawan (2004) perbedaan dengan penelitian ini yaitu mengenai lokasi perusahaan dan jenis komoditas yang dikaji dalam penelitian. Sedangkan persamaannya dengan penelitian ini yaitu karakteristik komoditas yang diteliti merupakan produk hobiis dan penelitian ini mengkaji tentang analisis kelayakan usaha dimana kriteria alat analisis yang digunakan yaitu analisis finansial, analisis non finansial dan analisis sensitivitas.

26 14 KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis Studi kelayakan bisnis Menurut Kasmir dan Jakfar (2010), penanaman modal dalam suatu usaha atau proyek, baik untuk usaha baru maupun perluasan usaha yang sudah ada biasanya disesuaikan dengan tujuan dan bentuk badan usahanya. Dalam menjalankan suatu bisnis oleh perusahaan salah satu tujuannya yaitu memperoleh keuntungan (profit), dalam arti seluruh aktivitas perusahaan ditujukan untuk mencari keuntungan bahkan usaha yang bersifat sosial pun pada praktiknya juga perlu memperoleh keuntungan agar mampu membiayai usahanya sendiri, tidak hanya tergantung pada donatur. Agar tujuan perusahaan tersebut dapat tercapai sesuai dengan yang diinginkan maka apabila ingin melakukan investasi dalam memulai suatu usaha sebaiknya didahului dengan suatu studi. Tujuannya adalah untuk menilai apakah investasi yang akan ditanam layak atau tidak untuk dijalankan (sesuai dengan tujuan perusahaan) atau dengan kata lain apakah usaha tersebut dijalankan akan memberikan suatu manfaat atau tidak. Studi tersebut disebut studi kelayakan bisnis. Menurut Ibrahim (2003) dalam Nurmalina, dkk (2009), studi kelayakan bisnis adalah kegiatan untuk menilai besarnya manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan suatu kegiatan usaha. Berdasarkan hal tersebut, studi kelayakan merupakan bahan pertimbangan untuk melakukan pengambilan keputusan mengenai apakah suatu rencana bisnis diterima atau ditolak serta apakah akan menghentikan atau mempertahankan bisnis yang sudah atau sedang dilaksanakan. Studi kelayakan bisnis bertujuan untuk mengetahui tingkat benefit yang dicapai dari suatu bisnis yang akan atau telah dijalankan, memilih alternatif bisnis yang menguntungkan, dan menentukan prioritas investasi berdasarkan pada alternatif bisnis yang menguntungkan tersebut. Selain itu, studi kelayakan bisnis juga dapat digunakan untuk menghindari pemborosan sumberdaya. Menurut Johan (2011) bisnis didefinisikan sebagai sebuah kegiatan atau aktifitas yang mengalokasikan sumber-sumber daya yang dimiliki ke dalam suatu kegiatan produksi yang menghasilkan barang atau jasa, dengan tujuan barang dan jasa tersebut dapat dipasarkan kepada konsumen agar dapat memperoleh keuntungan atau pengembalian hasil. Studi kelayakan adalah sebuah studi untuk mengkaji secara komprehensif dan mendalam terhadap kelayakan sebuah usaha. Layak atau tidak layak dijalankannya sebuah usaha merujuk pada hasil pembandingan semua faktor ekonomi yang akan dialokasikan ke dalam sebuah usaha atau bisnis baru dengan hasil pengembaliannya yang akan diperoleh dalam jangka waktu tertentu. Suatu bisnis dapat dikategorikan layak dengan adanya landasan kelayakan yang mendasarinya sedangkan dikategorikan tidak layak karena ada faktor-faktor ketidaklayakan yang mempengaruhi. Aspek-aspek studi kelayakan bisnis Menurut Nurmalina, dkk (2009), dalam studi kelayakan bisnis terdapat dua kelompok aspek yang perlu diperhatikan yaitu aspek non finansial dan aspek finansial. Aspek non finansial terdiri dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen dan hukum, aspek sosial, ekonomi, dan budaya serta aspek

27 lingkungan. Kasmir dan Jakfar (2010) menyatakan bahwa masing-masing aspek tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan. Hal tersebut menunjukkan bahwa jika salah satu aspek tidak dipenuhi maka perlu dilakukan perbaikan atau tambahan yang diperlukan. 1. Aspek pasar Pasar merupakan aspek yang sangat penting dalam suatu usaha karena berkaitan dengan kelangsungan produksi. Jika pasar menyerap hasil produksi dalam jumlah yang tinggi, tentu tidak menjadi masalah sebab usaha akan mendapatkan keuntungan. Tetapi jika pasar menyerap hasil produksi dalam jumlah yang rendah, akan mendatangkan kerugian pada usaha yang dirintis (Rahardi et al. 1993). Umumnya tujuan studi pasar bertujuan untuk mengukur dan memperkirakan permintaan untuk menilai ketetapan waktu dan harga dari proyek dalam memproduksi barang/jasa. Hal ini sangat penting karena tidak ada proyek yang berhasil tanpa adanya permintaan. Dengan demikian akan terlihat berapa besar volume yang akan dikejar untuk mencapai sasaran laba yang telah ditetapkan dan berapa besar biaya yang harus dikorbankan untuk mencapai tingkat penjualan tersebut. Menurut (Nurmalina et al. 2009) aspek pasar dan pemasaran mempelajari tentang permintaan, penawaran, harga, program pemasaran, dan perkiraan penjualan yang bisa dicapai perusahaan. 2. Aspek teknis Aspek teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan bisnis secara teknis dan pengoperasiaannya setelah bisnis tersebut selesai dibangun (Nurmalina et al. 2009). Aspek ini berpengaruh terhadap kelancaran usaha terutama terhadap proses produksi. Hal yang perlu dianalisis dalam aspek ini adalah sebagai berikut: 1. Penentuan lokasi bisnis Pemilihan lokasi harus dipertimbangkan sebaik-baiknya agar tidak merugikan usaha yang telah dirintis. Menurut Rahardi et al. (1993), penentuan lokasi usaha perlu ditinjau dari aspek-aspek sebagai berikut: a. Aspek teknis-ekonomis Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam aspek teknisekonomis, yaitu: Biaya transportasi Hal ini berkaitan dengan transportasi dari pusat produksi dengan lokasi sumber bahan produksi ataupun lokasi dengan pasar. Sarana jalan Sarana jalan merupakan hal yang penting sebab dapat berpengaruh terhadap biaya pemasaran atau biaya pengangkutan yang mengakibatkan adanya penambahan biaya operasional. Tak jarang suatu lokasi harus dibuatkan sarana jalan terlebih dahulu karena lokasi itu sulit untuk dicapai. Tenaga kerja Ketersediaan tenaga kerja disekitar lokasi dan besarnya upah menjadi hal yang perlu dipertimbangkan. Tersedianya tenaga kerja berpengaruh terhadap biaya produksi. Sewa tanah 15

28 16 Sewa tanah ini ditujukan untuk menjaga jika sewaktu-waktu ada pengembangan usaha, sehingga perlu dicari lokasi yang memiliki harga atau sewa tanah yang ringan. Sarana listrik dan irigasi Ketersediaan listrik dan irigasi berpengaruh terhadap jalannya produksi. b. Aspek iklim Umumnya bisnis perburungan tergantung pada faktor-faktor alam, seperti curah hujan dan sinar matahari. Curah hujan dapat mempengaruhi sumber air. Curah hujan yang sedikit kurang ideal untuk bisnis perburungan. Begitu juga halnya dengan sinar matahari. Sinar matahari berpengaruh terhadap perkembangbiakan burung karena dapat mempengaruhi suhu. Oleh karena itu, aspek iklim merupakan hal yang sangat penting dalam budidaya perburungan, sehingga jenis burung yang akan dibudidayakan hendaknya sesuai dengan iklim suatu daerah. c. Aspek Agronomis Aspek agronomis mencakup topografi, lokasi, jenis, kondisi tanah, dan jenis perairan yang ada di lokasi. Semua ini harus diperhatikan karena sangat berpengaruh pada perkembangan burung. Misalnya pada dataran tinggi (suhu terlalu dingin) burung akan kekurangan nafsu makan. 2. Luas produksi Penentuan luas produksi berkaitan dengan berapa jumlah produksi yang dihasilkan dalam waktu tertentu dengan mempertimbangkan kapasitas teknis dan peralatan yang dimiliki serta biaya yang peling efisien (Kasmir dan Jakfar 2010). Luas produksi dapat dilihat dari aspek ekonomis dan aspek teknis. Jika dari aspek ekonomis yang dilihat adalah berapa jumlah produk yang dihasilkan dengan biaya yang paling efisien, sedangkan dari aspek teknis yang dilihat adalah jumlah produk yang dihasilkan atas dasar kemampuan mesin dan peralatan produksi. Bagi perusahaan yang tergantung pada mesin dan peralatan produksi serta berproduksi berdasarkan pesanan, penentuan luas produksi kurang begitu penting. Menurut Suliyanto (2010) ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan luas produksi, yaitu: a. Batasan permintaan pasar b. Batasan kapasitas mesin c. Batas jumlah dan kemampuan tenaga kerja d. Batasan kemampuan finansial dan manajemen e. Batasan ketersediaan bahan dasar f. Batasan ketersediaan faktor-faktor produksi yang lain 3. Pemilihan mesin peralatan dan teknologi Dalam pemilihan teknologi yang perlu diperhatikan adalah seberapa derajat mekanisasi yang diinginkan dan manfaat ekonomi yang diharapkan. Beberapa kriteria dalam pemilihan teknologi, yaitu ketepatan teknologi dengan bahan baku, keberhasilan penggunaan teknologi di tempat lain, pertimbangan teknologi lanjutan akibat

29 keusangan, dan kemampuan pengetahuan tenaga kerja dan kemungkinan pengembangannya (Nurmalina et al. 2009). 4. Penentuan layout bangunan Layout adalah suatu proses dalam penentuan bentuk dan penempatan fasilitas-fasilitas yang dimiliki suatu perusahaan. Dengan adanya layout dapat memberikan beberapa keuntungan, yaitu memberikan ruang gerak yang memadai untuk beraktivitas dan pemeliharaan, pemakaian ruangan yang efisien, mengurangi biaya produksi maupun investasi, serta memberikan kenyamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja yang lebih baik (Kasmir dan Jakfar 2010). 3. Aspek manajemen dan hukum Manajemen merupakan cara mengatur satu atau beberapa faktor untuk mencapai tujuan yang diharapkan (Rahardi et al. 1993). Dalam hal ini yang perlu dipahami adalah dasar-dasar manajemen proyek, yaitu perencanaan proyek dan dasar-dasar manajemen sumber daya manusia yang terdiri dari deskripsi jabatan, spesifikasi jabatan, struktur organisasi, dan pengadaan karyawan (Suliyanto 2010). Menurut Nitisemito dan Burhan (2004), bentuk organisasi suatu gagasan usaha sebenarnya tidak begitu relevan dengan layak atau tidaknya gagasan usaha. Sebab, bentuk organisasi merupakan suatu rencana yang dapat diubah dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Namun, pengetahuan tentang rencana organisasi perlu dipelajari karena kemampuan untuk mengisi jabatan manajemen mempengaruhi layak tidaknya suatu usaha, sehingga akan menentukan kualitas dan kuantitas dari tenaga manajemen. Aspek hukum merupakan aspek yang digunakan untuk melihat legal atau tidaknya suatu usaha (Nurmalina et al. 2009). Aspek ini juga berguna untuk mempermudah dan memperlancar kegiatan bisnis saat menjalin kerjasama (networking) dengan pihak lain. Aspek hukum mempelajari tentang jaminanjaminan yang bisa disediakan bila menggunakan sumber dana berupa pinjaman, seperti berbagai akta, sertifikat, dan izin usaha. 4. Aspek sosial dan lingkungan Aspek sosial merupakan aspek yang memperhatikan manfaat dan pengorbanan sosial yang dialami oleh masyarakat di sekitar lokasi usaha (Nurmalina et al. 2009). Hal-hal yang dipelajari dalam aspek ini adalah adanya penambahan kesempatan atau pengurangan pengangguran serta bagaimana pengaruh bisnis terhadap lingkungan sekitar lokasi bisnis, seperti lalu lintas yang semakin lancar, adanya penerangan listrik, telepon, dan lain sebagainya. Lingkungan usaha dapat menjadi peluang bagi bisnis yang dijalankan dan dapat pula menjadi ancaman bagi perkembangan bisnis. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis terhadap aspek lingkungan untuk mengetahui kesesuaian lingkungan terhadap bisnis yang dijalankan serta dampak bisnis terhadap lingkungan. Hal ini bertujuan untuk menganalisis apakah kondisi lingkungan mendukung untuk menjalankan bisnis dan apakah bisnis tersebut memberikan dampak positif terhadap lingkungan (Suliyanto 2010). 5. Aspek finansial Menurut Umar (2003) menganalisis aspek keuangan dari suatu studi kelayakan bisnis bertujuan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan, dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan, seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan 17

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoretis Kerangka pemikiran teoretis merupakan suatu penalaran peneliti yang didasarkan pada pengetahuan, teori, dalil, dan proposisi untuk menjawab suatu

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Studi Kelayakan Proyek Proyek merupakan suatu kegiatan untuk membangun sistem yang belum ada. Sistem dibangun dahulu oleh proyek, kemudian dioperasionalkan

Lebih terperinci

II. KERANGKA PEMIKIRAN

II. KERANGKA PEMIKIRAN II. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan kumpulan teori yang digunakan dalam penelitian. Teori-teori ini berkaitan erat dengan permasalahan yang ada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang mempunyai kelestarian alam fauna dengan beragam jenis salah satunya yaitu burung. Para penghobi burung berkicau mungkin sudah tidak

Lebih terperinci

P E N U T U P P E N U T U P

P E N U T U P P E N U T U P P E N U T U P 160 Masterplan Pengembangan Kawasan Tanaman Pangan dan Hortikultura P E N U T U P 4.1. Kesimpulan Dasar pengembangan kawasan di Jawa Timur adalah besarnya potensi sumberdaya alam dan potensi

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Definisi Proyek Menurut Kadariah et al. (1999) proyek merupakan suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1 Sapi 0,334 0, Kerbau 0,014 0, Kambing 0,025 0, ,9 4 Babi 0,188 0, Ayam ras 3,050 3, ,7 7

I. PENDAHULUAN. 1 Sapi 0,334 0, Kerbau 0,014 0, Kambing 0,025 0, ,9 4 Babi 0,188 0, Ayam ras 3,050 3, ,7 7 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu aktivitas ekonomi dalam agribisnis adalah bisnis peternakan. Agribisnis bidang ini utamanya dilatarbelakangi oleh fakta bahwa kebutuhan masyarakat akan produk-produk

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA BURUNG KENARI (Kasus: Usaha Asoy D Canary) SURYANA PERMANA PUTRA

ANALISIS KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA BURUNG KENARI (Kasus: Usaha Asoy D Canary) SURYANA PERMANA PUTRA ANALISIS KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA BURUNG KENARI (Kasus: Usaha Asoy D Canary) SURYANA PERMANA PUTRA DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 PERNYATAAN MENGENAI

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Pembesaran Lele Sangkuriang

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Pembesaran Lele Sangkuriang II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Pembesaran Lele Sangkuriang Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual 3.1.1. Studi Kelayakan Bisnis Bisnis adalah kegiatan yang dilakukan oleh individu dan sekelompok orang (organisasi) yang menciptakan nilai (create

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Pada bagian ini dijelaskan tentang konsep yang berhubungan dengan penelitian kelayakan Usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele Sangkuriang di

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN PERLUASAN USAHA PEMASOK IKAN HIAS AIR TAWAR Budi Fish Farm Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. Oleh: DWIASIH AGUSTIKA A

ANALISIS KELAYAKAN PERLUASAN USAHA PEMASOK IKAN HIAS AIR TAWAR Budi Fish Farm Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. Oleh: DWIASIH AGUSTIKA A ANALISIS KELAYAKAN PERLUASAN USAHA PEMASOK IKAN HIAS AIR TAWAR Budi Fish Farm Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor Oleh: DWIASIH AGUSTIKA A 14105665 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikirian Teoritis Penelitian tentang analisis kelayakan yang akan dilakukan bertujuan melihat dapat tidaknya suatu usaha (biasanya merupakan proyek atau usaha investasi)

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Proyek adalah suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan kemanfaatan (benefit),

Lebih terperinci

Enceng Sobari. Trik Jitu menangkarkan Lovebird. Sang Burung Primadona

Enceng Sobari. Trik Jitu menangkarkan Lovebird. Sang Burung Primadona Enceng Sobari Trik Jitu menangkarkan Lovebird Sang Burung Primadona i DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI... iv DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR TABEL... xii BAB I PENDAHULUAN. 1 BAB II BURUNG LOVEBIRD.

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PETERNAKAN KELINCI ASEP S RABBIT PROJECT, LEMBANG, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT. Oleh : Nandana Duta Widagdho A

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PETERNAKAN KELINCI ASEP S RABBIT PROJECT, LEMBANG, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT. Oleh : Nandana Duta Widagdho A ANALISIS KELAYAKAN USAHA PETERNAKAN KELINCI ASEP S RABBIT PROJECT, LEMBANG, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT Oleh : Nandana Duta Widagdho A14104132 PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. stabilisasi harga masih menjadi hal yang serius hingga saat ini, khususnya

BAB I PENDAHULUAN. stabilisasi harga masih menjadi hal yang serius hingga saat ini, khususnya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan mengenai pemenuhan kebutuhan daging sapi dan stabilisasi harga masih menjadi hal yang serius hingga saat ini, khususnya dalam upaya pengendalian inflasi

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian kelayakan Usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele Sangkuriang dilakukan di Perusahaan Parakbada, Katulampa, Kota Bogor, Provinsi Jawa

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikirian Teoritis 3.1.1 Studi Kelayakan Proyek Studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (biasanya merupakan proyek investasi)

Lebih terperinci

ANALISIS FINANSIAL DAN SENSITIVITAS PETERNAKAN AYAM BROILER PT. BOGOR ECO FARMING, KABUPATEN BOGOR

ANALISIS FINANSIAL DAN SENSITIVITAS PETERNAKAN AYAM BROILER PT. BOGOR ECO FARMING, KABUPATEN BOGOR ANALISIS FINANSIAL DAN SENSITIVITAS PETERNAKAN AYAM BROILER PT. BOGOR ECO FARMING, KABUPATEN BOGOR Abel Gandhy 1 dan Dicky Sutanto 2 Surya University Tangerang Email: abel.gandhy@surya.ac.id ABSTRACT The

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Kelayakan Usaha

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Kelayakan Usaha II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Kelayakan Usaha Studi kelayakan merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, apakah menerima atau menolak suatu gagasan usaha yang direncanakan. Pengertian

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Bisnis Studi kelayakan bisnis merupakan penelitian terhadap rencana bisnis yang tidak hanya menganalisis layak atau tidak

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Maju Bersama, Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Domba Tawakkal, yang terletak di Jalan Raya Sukabumi, Desa Cimande Hilir No.32, Kecamatan Caringin, Kabupaten

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK BERITA RESMI STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI JAWA TIMUR No. 16/02/35/Th. XIII, 16 Februari 2015 Tipologi Wilayah Jawa Timur Hasil Pendataan Potensi Desa 2014 Pendataan Potensi Desa (Podes) dilaksanakan

Lebih terperinci

Jl.Veteran No.53.A Lamongan ABSTRAK

Jl.Veteran No.53.A Lamongan ABSTRAK EVALUASI KELAYAKAN USAHA PENGGEMUKAN DOMBA DAN KAMBING MILIK H. SHOLEH BERDASARKAN ASPEK FINANSIAL DAN NONFINANSIAL DI DESA BANYUTENGAH KECAMATAN PANCENG KABUPATEN GRESIK M. Yusuf 1, Dyah Wahyuning A 1,

Lebih terperinci

PELUANG USAHA PENGEMBANGBIAKAN BURUNG LOVE BIRD

PELUANG USAHA PENGEMBANGBIAKAN BURUNG LOVE BIRD PELUANG USAHA PENGEMBANGBIAKAN BURUNG LOVE BIRD Nama : Angga Rio Pratama Kelas : S1 TI 2C NIM : 10.11.3699 Lingkungan Bisnis STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2010/2011 Peluang Usaha Pengembangbiakan Love Bird (

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data 4.3 Metode Penentuan Narasumber

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data 4.3 Metode Penentuan Narasumber IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di peternakan milik Bapak Sarno yang bertempat di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa barat. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Proyek memiliki beberapa pengertian. Menurut Kadariah et al. (1999) proyek ialah suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Teori Manfaat dan Biaya Dalam menganalisa suatu usaha, tujuan analisa harus disertai dengan definisi-definisi mengenai biaya-biaya dan manfaat-manfaat.

Lebih terperinci

EVALUASI/FEEDBACK KOMDAT PRIORITAS, PROFIL KESEHATAN, & SPM BIDANG KESEHATAN

EVALUASI/FEEDBACK KOMDAT PRIORITAS, PROFIL KESEHATAN, & SPM BIDANG KESEHATAN EVALUASI/FEEDBACK PRIORITAS, PROFIL KESEHATAN, & SPM BIDANG KESEHATAN MALANG, 1 JUNI 2016 APLIKASI KOMUNIKASI DATA PRIORITAS FEEDBACK KETERISIAN DATA PADA APLIKASI PRIORITAS 3 OVERVIEW KOMUNIKASI DATA

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan di bidang peternakan yang semakin luas,

I. PENDAHULUAN. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan di bidang peternakan yang semakin luas, 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Seiring perkembangan ilmu pengetahuan di bidang peternakan yang semakin luas, jenis ternak yang dipelihara oleh masyarakat pun semakin beragam. Beternak

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual Proyek adalah kegiatan-kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan dalam satu bentuk kesatuan dengan mempergunakan sumber-sumber untuk mendapatkan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Restoran Pastel and Pizza Rijsttafel yang terletak di Jalan Binamarga I/1 Bogor. Pemilihan tempat penelitian ini dilakukan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR 4. 1 Kondisi Geografis Provinsi Jawa Timur membentang antara 111 0 BT - 114 4 BT dan 7 12 LS - 8 48 LS, dengan ibukota yang terletak di Kota Surabaya. Bagian utara

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis mengemukakan teori-teori terkait penelitian. Teori-teori tersebut antara lain pengertian proyek, keterkaitan proyek dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. semakin dilirik oleh para penghobi burung kicauan diberbagai daerah.

BAB I PENDAHULUAN. semakin dilirik oleh para penghobi burung kicauan diberbagai daerah. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Beternak burung kicauan seperti lovebird (Agapornis) saat ini semakin dilirik oleh para penghobi burung kicauan diberbagai daerah. Meroketnya harga jual lovebird juga

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Bisnis Gittinger (1986) menyebutkan bahwa proyek pertanian adalah kegiatan usaha yang rumit karena menggunakan sumber-sumber

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI. 2.1 Sejarah Singkat PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur

BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI. 2.1 Sejarah Singkat PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI 2.1 Sejarah Singkat PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur merupakan salah satu unit pelaksana induk dibawah PT PLN (Persero) yang merupakan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perikanan merupakan salah satu subsektor pertanian yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Hal ini dikarenakan sebagian besar wilayah Indonesia terdiri atas perairan

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Simpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini sebagai berikut.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Simpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini sebagai berikut. BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan Simpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini sebagai berikut. 1. Berdasarkan Tipologi Klassen periode 1984-2012, maka ada 8 (delapan) daerah yang termasuk

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Proyek adalah kegiatan-kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam suatu bentuk kesatuan dengan mempergunakan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1.Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), proyek pada dasarnya merupakan kegiatan yang menyangkut pengeluaran modal (capital

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun (juta rupiah)

I. PENDAHULUAN. Tabel 1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun (juta rupiah) 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang memiliki pertumbuhan ekonomi cukup tinggi. Selain Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur menempati posisi tertinggi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (barang/jasa) dibutuhkan peranan supplyer untuk memasok produk yang

BAB I PENDAHULUAN. (barang/jasa) dibutuhkan peranan supplyer untuk memasok produk yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perdagangan di era globalisasi ini semakin berkembang pesat. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat dunia. Dalam rantai produk (barang/jasa) dibutuhkan peranan

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN PENGEMBANGAN USAHA IKAN HIAS AIR TAWAR PADA ARIFIN FISH FARM, DESA CILUAR, KECAMATAN BOGOR UTARA, KOTA BOGOR

ANALISIS KELAYAKAN PENGEMBANGAN USAHA IKAN HIAS AIR TAWAR PADA ARIFIN FISH FARM, DESA CILUAR, KECAMATAN BOGOR UTARA, KOTA BOGOR ANALISIS KELAYAKAN PENGEMBANGAN USAHA IKAN HIAS AIR TAWAR PADA ARIFIN FISH FARM, DESA CILUAR, KECAMATAN BOGOR UTARA, KOTA BOGOR SKRIPSI OOM ROHMAWATI H34076115 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Analisis Kelayakan Usaha Analisis Kelayakan Usaha atau disebut juga feasibility study adalah kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Pada penelitian ini dilakukan analisis kelayakan finansial untuk mengetahui kelayakan pengusahaan ikan lele phyton, serta untuk mengetahui apakah usaha yang dilakukan pada

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kedelai merupakan salah satu tanaman yang menjadi komoditas utama di Indonesia. Bagian yang dimanfaatkan pada tanaman kedelai adalah bijinya. Berdasarkan Sastrahidajat

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan kumpulan teori yang digunakan dalam penelitian. Teori-teori ini berkaitan dengan permasalahan yang ada dalam

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Menurut Kadariah (2001), tujuan dari analisis proyek adalah :

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Menurut Kadariah (2001), tujuan dari analisis proyek adalah : III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Analisis Kelayakan Investasi Pengertian Proyek pertanian menurut Gittinger (1986) adalah kegiatan usaha yang rumit karena penggunaan sumberdaya

Lebih terperinci

2. JUMLAH USAHA PERTANIAN

2. JUMLAH USAHA PERTANIAN BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 61/09/35/Tahun XI, 2 September 2013 HASIL SENSUS PERTANIAN 2013 PROVINSI JAWA TIMUR (ANGKA SEMENTARA) JUMLAH RUMAH TANGGA USAHA PERTANIAN DI PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2013 SEBANYAK

Lebih terperinci

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL Analisis finansial dilakukan untuk melihat sejauh mana Peternakan Maju Bersama dapat dikatakan layak dari aspek finansial. Untuk menilai layak atau tidak usaha tersebut

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI JAWA TIMUR

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI JAWA TIMUR BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI JAWA TIMUR Seuntai Kata Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap 10 (sepuluh) tahun sekali

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS DAN FINANSIALUSAHA RUMAH PEMOTONGAN BABI DI KOTA BANDUNG. Sitanggang, Yanshen Manatap

ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS DAN FINANSIALUSAHA RUMAH PEMOTONGAN BABI DI KOTA BANDUNG. Sitanggang, Yanshen Manatap ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS DAN FINANSIALUSAHA RUMAH PEMOTONGAN BABI DI KOTA BANDUNG Sitanggang, Yanshen Manatap Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Email : Yanshen_simanjuntak@yahoo.com Abstrak

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Pengertian Investasi Kasmir dan Jakfar (2009) menyatakan bahwa investasi adalah penanaman modal dalam suatu kegiatan yang memiliki jangka waktu

Lebih terperinci

VII. ANALISIS FINANSIAL

VII. ANALISIS FINANSIAL VII. ANALISIS FINANSIAL Usaha peternakan Agus Suhendar adalah usaha dalam bidang agribisnis ayam broiler yang menggunakan modal sendiri dalam menjalankan usahanya. Skala usaha peternakan Agus Suhendar

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur 47 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Pada penelitian ini dilakukan analisis kelayakan finansial untuk mengetahui kelayakan pengusahaan ikan lele, serta untuk mengetahui apakah usaha yang dilakukan pada kelompok

Lebih terperinci

Grafik Skor Daya Saing Kabupaten/Kota di Jawa Timur

Grafik Skor Daya Saing Kabupaten/Kota di Jawa Timur Grafik Skor Daya Saing Kabupaten/Kota di Jawa Timur TOTAL SKOR INPUT 14.802 8.3268.059 7.0847.0216.8916.755 6.5516.258 5.9535.7085.572 5.4675.3035.2425.2185.1375.080 4.7284.4974.3274.318 4.228 3.7823.6313.5613.5553.4883.4733.3813.3733.367

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Pengertian Studi Kelayakan Proyek Proyek adalah suatu kegiatan yang mengeluarkan uang atau biaya dengan harapan untuk memperoleh hasil dan

Lebih terperinci

Peternakan Tropika. Journal of Tropical Animal Science

Peternakan Tropika. Journal of Tropical Animal Science ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHA BUDIDAYA PULLET (Studi Kasus pada UD Prapta di Desa Pasedahan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem) Arta, I M. G., I W. Sukanata dan R.R Indrawati Program Studi Peternakan,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. KERANGKA TEORI 2.1.1. Pengertian Studi Kelayakan Bisnis Studi Kelayakan bisnis adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang kegiatan atau usaha atau bisnis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. LATAR BELAKANG MASALAH Dinamika yang terjadi pada sektor perekonomian Indonesia pada masa lalu

BAB I PENDAHULUAN. A. LATAR BELAKANG MASALAH Dinamika yang terjadi pada sektor perekonomian Indonesia pada masa lalu BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Dinamika yang terjadi pada sektor perekonomian Indonesia pada masa lalu menunjukkan ketidak berhasilan dan adanya disparitas maupun terjadinya kesenjangan pendapatan

Lebih terperinci

KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS TERNAK JALAK SUREN

KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS TERNAK JALAK SUREN KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS TERNAK JALAK SUREN Oleh : Taufik Rizky Afrizal 11.12.6036 S1.SI.10 STMIK AMIKOM Yogyakarta ABSTRAK Di era sekarang, dimana ekonomi negara dalam kondisi tidak terlalu baik dan

Lebih terperinci

Jumlah Penduduk Jawa Timur dalam 7 (Tujuh) Tahun Terakhir Berdasarkan Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab./Kota

Jumlah Penduduk Jawa Timur dalam 7 (Tujuh) Tahun Terakhir Berdasarkan Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab./Kota Jumlah Penduduk Jawa Timur dalam 7 (Tujuh) Tahun Terakhir Berdasarkan Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab./Kota TAHUN LAKI-LAKI KOMPOSISI PENDUDUK PEREMPUAN JML TOTAL JIWA % 1 2005 17,639,401

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 78 TAHUN 2013 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2014

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 78 TAHUN 2013 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2014 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 78 TAHUN 2013 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2014 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di sebuah lokasi yang berada Desa Kanreapia Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI

6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI 6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI 6.1 Pendahuluan Industri surimi merupakan suatu industri pengolahan yang memiliki peluang besar untuk dibangun dan dikembangkan. Hal ini didukung oleh adanya

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis Pengertian Usaha

III. KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis Pengertian Usaha III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Pengertian Usaha Menurut Gittinger (1986) bisnis atau usaha adalah suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan

Lebih terperinci

Segmentasi Pasar Penduduk Jawa Timur

Segmentasi Pasar Penduduk Jawa Timur Segmentasi Pasar Penduduk Jawa Timur Sebelum melakukan segmentasi, kita membutuhkan data-data tentang jawa timur sebagaiuntuk dijadikan acuan. Berikut data-data yang dapat dijadikan sebagai acuan. Segmentasi

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Dian Layer Farm yang terletak di Kampung Kahuripan, Desa Sukadamai, Kecamatan Darmaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan

Lebih terperinci

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL Aspek finansial merupakan aspek yang dikaji melalui kondisi finansial suatu usaha dimana kelayakan aspek finansial dilihat dari pengeluaran dan pemasukan usaha tersebut selama

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan dan Investasi Studi kelayakan diadakan untuk menentukan apakah suatu usaha akan dilaksanakan atau tidak. Dengan kata lain

Lebih terperinci

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur Disampaikan dalam Acara: World Café Method Pada Kajian Konversi Lahan Pertanian Tanaman Pangan dan Ketahanan Pangan Surabaya, 26 September 2013 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Pemerintah Provinsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Industri perikanan merupakan kegiatan terorganisir yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan serta lingkungannya, mulai dari pra

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 110 TAHUN 2016

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 110 TAHUN 2016 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 110 TAHUN 2016 TENTANG NOMENKLATUR, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS KEHUTANAN PROVINSI JAWA

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 125 TAHUN 2008

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 125 TAHUN 2008 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 125 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS PEKERJAAN UMUM BINA MARGA PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR MENIMBANG

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor perikanan pada dasarnya dibagi menjadi dua yaitu perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Potensi sektor perikanan tangkap Indonesia diperkirakan mencapai 6,4

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Usaha Mi Ayam Bapak Sukimin yang terletak di Ciheuleut, Kelurahan Tegal Lega, Kota Bogor. Lokasi penelitian diambil secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang berhubungan dengan penelitian studi kelayakan usaha pupuk kompos pada Kelompok Tani

Lebih terperinci

JENIS DAN KARAKTER JANGKRIK Jangkrik di Indonesia tercatat ada 123 jenis yang tersebar di pelosok daerah. Namun hanya dua jenis saja yang umum dibudid

JENIS DAN KARAKTER JANGKRIK Jangkrik di Indonesia tercatat ada 123 jenis yang tersebar di pelosok daerah. Namun hanya dua jenis saja yang umum dibudid RUANG LINGKUP BUDIDAYA PEMELIHARAAN JANGKRIK KALUNG KUNING A. UDJIANTO Balai Penelitian Ternak, Po Box 221, Ciawi Bogor RINGKASAN Komoditas jangkrik ini dapat memberikan tambahan penghasilan disamping

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 17 BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Proyek adalah suatu kegiatan yang mengeluarkan uang atau biaya-biaya dengan harapan akan memperoleh hasil yang secara logika merupakan wadah

Lebih terperinci

A. Kerangka Pemikiran

A. Kerangka Pemikiran III. METODOLOGI PENELITIAN A. Kerangka Pemikiran Penelitian ini mengkaji studi kelayakan pendirian industri pengolahan keripik nangka di kabupaten Semarang. Studi kelayakan dilakukan untuk meminimumkan

Lebih terperinci

RENCANA PENGADAAN BARANG/JASA SUMBER DANA : DPA APBD SKPD DINAS PETERNAKAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN 2012

RENCANA PENGADAAN BARANG/JASA SUMBER DANA : DPA APBD SKPD DINAS PETERNAKAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN 2012 RENCANA PENGADAAN BARANG/JASA SUMBER DANA : DPA APBD SKPD DINAS PETERNAKAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN 2012 URAIAN JENIS PEKERJAAN / KEGIATAN VOLUME SATUAN HARGA SATUAN HARGA TOTAL PAKET LELANG

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis mengemukakan teori-teori terkait penelitian. Teori-teori tersebut antara lain pengertian proyek, keterkaitan proyek dengan

Lebih terperinci

Karya Ilmiah Peluang Bisnis

Karya Ilmiah Peluang Bisnis Karya Ilmiah Peluang Bisnis STMIK AMIKOM YOGYAKARTA Kampus terpadu : Jl. Ring Road Utara, Condong Catur, Depok, Sleman, Yogyakarta DI SUSUN OLEH : Nama : M.Ghufron.Wiliantoro NIM : 10.12.4963 Jurusan :

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN PENGEMBANGAN BISNIS PADA PT DAGANG JAYA JAKARTA

STUDI KELAYAKAN PENGEMBANGAN BISNIS PADA PT DAGANG JAYA JAKARTA STUDI KELAYAKAN PENGEMBANGAN BISNIS PADA PT DAGANG JAYA JAKARTA Santi Nurjanah PT Dagang Jaya Jakarta Jln. Seni Budaya Raya, No.10, Jelambar Baru, Jakarta Barat 11460 potter_251289@yahoo.com ABSTRACT The

Lebih terperinci

BAB II Kajian Pustaka 1.1.Studi Kelayakan

BAB II Kajian Pustaka 1.1.Studi Kelayakan BAB II Kajian Pustaka 1.1.Studi Kelayakan 1. Pengertian Studi Kelayakan Usaha Studi kelayakan usaha perlu dilaksanakan sebelum memulai usaha, namun tidak menutup kemungkinan jika studi ini dilakukan terhadap

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertanian. Tidak dapat dipungkiri bahwa sektor pertanian memegang peranan

I. PENDAHULUAN. pertanian. Tidak dapat dipungkiri bahwa sektor pertanian memegang peranan 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara pertanian (agraris) yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani atau bergerak di bidang pertanian. Tidak dapat dipungkiri

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Metode Pengumpulan Data

IV METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Metode Pengumpulan Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada Laboratorium Percontohan Pabrik Mini Pusat Kajian Buah Tropika (LPPM PKBT) yang berlokasi di Tajur sebagai sumber informasi

Lebih terperinci

PEMBANGUNAN PERPUSTAKAAN DESA/KELURAHAN DI JAWA TIMUR 22 MEI 2012

PEMBANGUNAN PERPUSTAKAAN DESA/KELURAHAN DI JAWA TIMUR 22 MEI 2012 PEMBANGUNAN PERPUSTAKAAN DESA/KELURAHAN DI JAWA TIMUR 22 MEI 2012 OLEH : Drs. MUDJIB AFAN, MARS KEPALA BADAN PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN PROVINSI JAWA TIMUR DEFINISI : Dalam sistem pemerintahan di Indonesia

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Agrifarm, yang terletak di desa Cihideung Udik Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. didaerah Pelabuhan Cirebon, Jawa Barat. Penulis juga meneliti sejak Bulan Februari

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. didaerah Pelabuhan Cirebon, Jawa Barat. Penulis juga meneliti sejak Bulan Februari BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Dalam Penelitian ini penulis akan meneliti kelayakan pembukaan kantor cabang PT Trust Line Marine dalam bidang Keagenan kapal dan perluasan bisnisnya

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2009 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2010

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2009 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2010 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2009 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2010 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang Mengingat : a. bahwa dalam upaya meningkatkan

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2000 TENTANG

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2000 TENTANG PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN PERTAMA PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR NOMOR 8 TAHUN 1996 TENTANG ORGANISASI

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERKIRAAN ALOKASI DANA BAGI HASIL CUKAI HASIL TEMBAKAU KEPADA PROVINSI JAWA TIMUR DAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN

Lebih terperinci

RINGKASAN. masyarakat dalam berkesehatan. Instansi ini berfungsi sebagai lembaga

RINGKASAN. masyarakat dalam berkesehatan. Instansi ini berfungsi sebagai lembaga RINGKASAN EJEN MUHAMADJEN. Analisis Kelayakan Usaha Rumah Jamu di Taman Sringanis, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dibimbing oleh Ir. Netty Tinaprilla,MM Taman Sringanis merupakan wujud kepedulian terhadap

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Penelitian Usaha warnet sebetulnya tidak terlalu sulit untuk didirikan dan dikelola. Cukup membeli beberapa buah komputer kemudian menginstalnya dengan software,

Lebih terperinci